Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Peradangan ini

meliputi sinus maksila (sinusitis maksila), sinus frontal (sinusitis frontal), sinus ethmoid

(sinusitis ethmoid), dan sinus sphenoid (sinusitis sphenoid). Peradangan dapat mengenai

beberapa mukoperios sinus paranasal saja, sedangkan peradangan yang mengenai semua

mukoperios sinus paranasal disebut pansinusitis (Ilmu Peyakit THT FKUI, 2007)..

Umumnya kejadian ini disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga disebut rinosinusitis.

Penyebab utama dari sinusitis adalah common cold yang merupakan infeksi virus, yang

selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Infeksi atau peradangan sinus umumnya terjadi

sebagai kelanjutan infeksi hidung. Setiap kondisi dalam hidung seperti rhinitis akut dan

infeksi, rhinitis alergi, rhinitis vasomotor, polip nasi, deviasi septum nasi dan hipertrofi konka

dapat menghambat aliran keluar cairan hidung cenderung menyebabkan infeksi dari sinus.

(Ilmu Peyakit THT FKUI, 2007).

Sinusitis adalah penyakit yang banyak ditemukan di seluruh dunia. Sinusitis bakterial

adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik dan jenis

sinusitis yang paling banyak ditemukan adalah sinusitis maksilaris. Sinus yang paling sering

terkena adalah sinus etmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus

sfenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum Highmore, letaknya dekat akar

gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus sehingga disebut sinusitis

dentogen. Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan

intrakranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Sedangkan

kasus sinusitis dengan sumber dentogen terhitung 10% dari semua kasus sinus maksilaris.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. Y
Usia : 31 tahun
Alamat : Pagelaran
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Penjual di kantin sekolah
No. Rekam Medis : 4472xx
Tanggal Pemeriksaan : 15 Januari 2018

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama : Kedua hidung buntu

Riwayat Sakit Sekarang : Pasien datang ke Poli THT RSUD Kanjuruhan dengan
keluhan hidung buntu kanan dan kiri sejak tiga minggu yang lalu. Awalnya pasien hanya
merasa pilek biasa, namun semakin lama keluhan tersebut bertambah berat hingga pasien
merasa sulit bernapas. Menurut pasien buntu ada kedua hidung ini sama beratnya pada
hidung kanan dan kiri. Pasien juga mengeluh kadang hidungnya keluar ingus berwarna
kuning kehijauan disertai bau busuk. Pasien mengaku lima hari ini penciumannya berkurang.
Selain itu, pasien merasa kemeng di daerah pipi dan dahi, yang diperberat ketika pasien
menunduk seperti gerakan sujud dan rukuk saat sholat. Pasien mengeluh nyeri kepala,
semakin berat jika menunduk dan berkurang saat istirahat. Pasien merasa di pipi terasa penuh
dan tertekan. Pasien sudah membeli obat flu di apotek namun keluhan tidak berkurang.
Keluhan nyeri pada telinga disangkal, keluar cairan dari telinga disangkal, grebeg-grebeg
pada telinga disangkal, keluhan nyeri tenggorokan disangkal, keluhan batuk disangkal,
keluhan sulit menelan disangkal, keluhan demam disangkal, keluhan gigi berlubang
disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu:


• Pasien mengaku belum pernah merasakan keluhan seperti ini sebelumnya.

2
Riwayat Penyakit Keluarga:
• Ibu pasien menderita asma, serangan terutama ketika terkena debu rumah.

Riwayat Pengobatan
• Pasien mengaku sering mengkonsumsi obat warung untuk menghlangkan sakit
kepalanya
Riwayat Alergi
• Pasien memiliki alergi terhadap dingin, ketika pagi hari dan malam hari pasien sering
bersin-bersin. Sering menggosok-gosok hidng (+)

2.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital:
Frekuensi nadi : 78 x/menit, reguler, isi cukup
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Frekuensi nafas : 16 x/menit, reguler
Suhu Axilla : 36,5º C
Status Generalis:
Kepala& Leher : Normochepali, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Thorax : Cor : S1, S2 single, mur-mur (-) gallop (-)
Pulmo:Vesikuler breath sound (+|+) Rh -|- Wh -|-
Abdomen : Flat, soefl, BU (+) N
Ektremitas : Akral hangat kering merah, CRT <2’’ ed -|-

3
Status Lokalis Telinga, hidung dan tenggorokan :

TELINGA
Dextra Sinistra
Aurikula Radang (-), nyeri tekan tragus (-) Radang (-), nyeri tekan tragus (-)
Retroaurikula Radang (-), nyeri tekan (-) Radang (-), nyeri tekan (-)
Meatus
akustikus Mukosa hiperemi (-) Mukosa hiperemi (-)
eksternus
Utuh, hiperemis (-), reflex cahaya Utuh, hiperemis (-), reflex cahaya
Membran
jam 5, warna putih mengkilat jam 7, warna putih mengkilat
timpani

Intak (+) RC (+)


HIDUNG
Sekret (-), massa (-),hiperemis (+) Sekret (-) massa (-) hiperemis (-)
Vestibulum
Allergic crease (-) Allergic crease (-)
Konka inferior Edem konka (+), hiperemis (+) Edem konka (+), hiperemis (+)
Meatus nasi
Pus (-), polip (-) Pus (-), polip (-)
media
Kavum nasi Sekret (-) Sekret (-)
Mukosa Hiperemis (+) Hiperemis (+)
Sekret - -
Septum normal normal

Edema konka (+) Hiperemi (+)

FARING
Arkus faring DBN DBN
T1, hiperemi (-), kripta (-), T1, hiperemi (-), kripta (-),
Tonsil
detritus (-), permukaan rata detritus (-), permukaan rata

4
Uvula Simetris, hiperemi (-), oedem (-)
Palatum mole Simetris, hiperemi (-)
Dinding faring Mukosa halus, hiperemi (-), refleks muntah +/+

Foto Klinis Pasien

Regio Fasialis:
Inspeksi : Pembengkakan pipi (-), deformitas wajah (-) Allergic shiners (+)
Palpasi : Nyeri tekan maksila dextra (+) Nyeri tekan regio frontalis (+)
Pemeriksaan Gigi: Lengkap , caries gigi (-)

2.4 Pemeriksaan Penunjang

5
Foto waters: -Tampak perselubungan pada sinus frontalis da maksillaris dextra/sinistra
-Sinus-sinus lain tidak tampak kelainan
-Mukosa nasal menebal
-Tidak tampak deviasi septum nasi
Kesimpulan: Sinusitis frontalis dan maksillaris bilateral dengan air fluid level di sinus
maksilaris bilateral.
2.5 Diagnosis
Sinusitis Maxilaris dan Sinusitis Frontalis bilateral
Rhinitis Alergi
2.6 Diagnosis Banding
Polip nasal

2.7Penatalaksanaan
• Terapi:
• Co Amoxiclav 3x625 mg

6
• Na diclofenac 2x50 mg
• Nasacort spray 1x1
• Cetirizine 1x10 mg
• Kontrol 1 minggu  pro irigasi sinus
2.8 Monitoring
• Keluhan subjektif (Hidung tersumbat, produksi sekret, pembauan)
• Tanda-tanda rekurensi (keluhan subjektif berulang)
2.9 Edukasi
1. Edukasi bahwa penyakit yang diderita pasien disebabkan infeksi kuman pada suatu
ruangan di bagian wajah. Penyakit ini bisa di sembuhkan.
2. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi keluhan, dan membunuh kuman
penyebab infeksi.
3. Pasien dianjurkan untuk istirahat yang cukup agar kondisi tubuh dapat prima sehingga
proses penyembuhan penyakit dapat cepat berjalan.
4. Kompres air hangat pada wajah untuk meringankan gejala.
5. Antibiotik harus diminum sampai habis walaupun gejala sudah hilang agar
penyembuhan berlangsung baik dan tidak terjadi komplikasi.
6. Menghindari hal-hal yang dapat mencetuskan pilek dan batuk dengan cara menjaga
kebersihan diri serta segera berobat jika mengalami batuk dan pilek.
7. Menjelaskan kepada pasien untuk menghindari alergen penyebab alergi pasien
8. Menjelaskan untuk kontrol 1 minggu
2.10 Prognosa
• Ad Vitam : dubia ad bonam
• Ad Fungsionam : dubia ad bonam
• Ad Sanasionam : dubia ad bonam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

7
3.1 Definisi
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai

atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya ialah

selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh

infeksi bakteri.Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai

semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena dalah sinus etmoidalis

dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi (FK

UI, 2007).

Gambar 1. Anatomi Sinus Paranasal

Sinus paranasal adalah perluasan bagian respiratorik cavitas nasi yang berisi udara ke

dalam ossa cranii berikut: os frontal, os etmoid, os sfenoid, dan os maxilla. Sinus paranasal

mulai terbentuk pada fetus usia 3 sampai 4 bulan. Nama sinus-sinus tersebut bersesuaian

dengan nama tulang-tulang yang ditempatinya. Seluruh sinus paranasal memiliki muara

(ostium) ke dalam rongga hidung. Drainase yang berasal dari sinus maksila, sinus frontal,

sinus etmoid anterior bermuara di meatus media sementara sinus etmoid posterior dan sinus

sfenoid bermuara di meatus superior

3.2 Etiologi

8
Beberapa faktor etiologi dan faktor predisposisi antara lain ISPA akibat virus,

bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung,

kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks

osteomeatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi yaitu dikarenakan bakteri anaerob yang

ditemukan sebagai penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar,

kelainan imunologi, diskinesia silia seperti pada sindrom kartagener dan diluar negri adalah

penyakit fibrosis kistik (Mangunkusumo, 2001).

3.3 Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh potensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens

mukosiliar didalam KOM. Mucus juga mengandung substansi antimicrobial dan zat-zat yang

berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara

pernapasan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema,

mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium

tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative didalam rongga sinus yang menyebabkan

terjadinya transudasi, mula-mula serous (Rubin, dkk, 2005).

Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non bacterial dan biasanya sembuh

dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Sampai Bila kondisi ini menetap, secret yang

terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Secret

menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagi rinosinusitis akut bacterial. Jika terapi tidak

berhasil, inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa

makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar. Sampai akhirnya

perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan

kista (Rubin, dkk, 2005).

9
Etiologi sinusitis adalah sangat kompleks. Hanya 25% disebabkan oleh infeksi,

selebihnya 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom

(Cora, 2003). Sinusitis bisa disebabkan oleh:

1. Alergi : rinitis alergi.

2. Non alergi: trauma, paparan zat kimia, imunodefisiensi, fibrosis kistik


Alergen

Interaksi makrofag dan limfosit T

Peleapsan mediator inflamasi

Reaksi cepat Reaksi lambat

Odem
Vasodilatasi Pe permeabilitas kapiler

Sumbatan pada hidung

Rinore

Odem

Kontraksi otot polos bronkus Sesak nafas

Gangguan ventilasi

pH sinus

Gerakan silia dalam sinus

Mukus tidak dapat dialirkan

Retensi mukus hipoksia

Eksudat purulen Infeksi Tumbuhnya kuman patogen

Tekanan pada sinus Pilek bau Kuman menyebar

Nyeri

Gambar 2. Patofisiologi Sinusitis (Ballenger, 1985).

10
Gambar 3. Hubungan Rinitis Alergi dengan Sinusitis

11
3.4 Klasifikasi

Berdasarkan konsensus tahun 2004, sinusitis dibagi menjadi tiga berdasarkan

waktunya, yaitu:

1. Rinosinusitis akut: gejala terjadi selama 4 minggu atau kurang dari 4 minggu

2. Rinosinusitis subakut: gejala terjadi lebih dari 4 minggu dan kurang dari 12 minggu

3. Rinosinusitis kronik: gejala lebih dari 12 minggu

Berdasarkan penelitian, Bakteri utama pada sinusitis akut adalah:

– Streptococcus pneumonia (30 – 50 %)

– Haemophylus influenzae (20 – 40 %)

– Moraxella catarrhalis (4%)

Sedangkan Bakteri utama pada sinusutis kronik tergantung pada faktor predisposisi,

namun bakteri yang ada lebih condong ke arah bakteri gram negatif dan anaerob.

Berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi menjadi (Peter, 1997)

1. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), segala sesuatu yang

menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis. Contohnya Rinitis Akut

(influenza) dan Polip, septum deviasi.

2. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan

sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar). Bakteri penyebabnya adalah

Streptococcus pneumoniae, Hamophilus influenza, Steptococcus viridans, Staphylococcus

aureus, Branchamella catarhatis.

3.5 Manifestasi Klinis

Keluhan utama sinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/ rasa tekanan pada

muka dan ingus purulen yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai

gejala sistemik seperti demam dan lesu.

12
Keluhan nyeri atau rasa tekanan didaerah sinus yang terkena merupakan ciri khas

sinusitis akut, serta nyeri juga terasa ditempat lain.

• Sinusitis maksila : nyeri pada pipi

• Sinusitis etmoid : nyeri diantara atau dibelakang kedua bola mata

• Sinusitis frontal : nyeri didahi atau seluruh kepala

• Sinusitis sfenoid : nyeri di verteks, oksipital, belakang bola mata, daerah mastoid

Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang

menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Keluhan sinusitis kronik tidak khas, kadang-

kadang hanya satu atau 2 dari gejala berikut seperti sakit kepala kronik, post nasal drip,

batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba

eustacheus, gangguan ke paru seperti bronkhitisdan serangan asma yang meningkat dan sulit

diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis (FK UI, 2007).

Gejala subjektif

• Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan sekret pasca nasal.

• Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok

• Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu

• Nyeri / sakit kepala

• Gejala mata karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-lakrimalis

• Gejala saluran napas, berupa batuk dan kadang terdapat komplikasi di paru

• Gejala saluran cerna,karena mukopus yang tertelan.

Gejala objektif

• Gejala objektif→berupa pembengkakan di daerah muka.

o Sinusitis maksilaris→di pipi dan kelopak mata bawah

o Sinusitis frontal→di dahi dan kelopak mata atas

o Sinusitis etmoid→jarang bengkak,kecuali bila ada komplikasi

13
• Pada rinoskopi anterior tampak konka hiperemis dan edema

o Sinusitis maksila,frontal dan etmoid anterior tampak mukopus di meatus medius

o Sinusitis etmoid poterior dan sfenoid tampak nanah keluar dari meatus superior

• Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip) (Boeies, dkk,

1989).

3.6 Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan

nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas

adalah adanya pus dimeatus medius atau didaerah meatus superior.

Kriteria Rinosinusitis akut menurut American Academy of Otolaringology & American

Rhinologic Society adalah sebagai berikut:

Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada

pembengkakan dan kemerahan didaerah kantus medius.

Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT scan. Foto polos posisi

waters, PA atau lateral , umumnya hanya mampu menilai kondisi-kondisi sinus-sinus besar.

Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas udara cairan atau penebalan mukosa. CT

scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung

14
dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya.

Namun, karena mahal hanya dikerjakan sbagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang

tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator saat melakukan

operasi sinus.

Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.

Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus

medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil dari

pungsi sinus maksila (Merry, 2001).

3.7 Diagnosis Banding

Diagnosis banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak sensitif

dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan kokain, rinitis alergika,

rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang dengan gejala pilek dan kongesti

nasal.

Rhinorrhea cairan serebrospinal harus dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat

cedera kepala. Pilek persisten unilateral dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma

atau benda asing nasal. Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi

adalah diagnosis alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah. Pasien dengan

demam memerlukan perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi

sinusitis saja atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau abses

intrakranial (Michael, 1987).

3.8 Pengobatan

Sinusitis maxillaris akut umumnya di terapi dengan:

1. Antibiotik spektrum luas, seperti: amoxicillin, ampicillin, atau eritromisin. Alternatif lain

berupa amoxicillin/klavulanat, sefaklor, sefuroksim, dan trimetoprim plus sulfonamid.

15
2. Dekongestan, seperti: pseudoefedrin, tetes hidung fenilefrin (neosynephrine) atau

oksimetazolin dapat diberikan selama beberapahari pertama infeksi namun kemudian

harus dihentikan.

3. Analgetik untuk meringankan gejala, seperti aspirin dan asetaminofen.

4. Kompres air hangat pada wajah untuk meringankan gejala.

Dengan terapi tersebut, pasien biasanya memperlihatkan tanda-tanda perbaikan dalam

dua hari dan proses penyakit biasanya menyembuh dalam 10 hari meskipun konfirmasi

radiologis dalam hal kesembuhan total memerlukan waktu 2 minggu atau lebih. Kegagalan

penyembuhan dengan suatu terapi aktif menunjukan organisme tidak lagi peka terhadap

antibiotik atau antibiotik tersebut gagal mencapai lokulasi infeksi. Pada kasus demikian,

ostium sinus dapat odem sehingga drainase sinus terhambat dan terbentuk abses sejati. Bila

demikian, terdapat indikasi irigasi antrum segera (George et al, 1997)

Pengobatan yang diberikan ditujukan untuk infeksi dan faktor-faktor penyebab Infeksi

secara bersama-sama. Di samping pemberian antibiotik dan dekongestan, juga perlu

diperhatikan predisposisi kelainan obstruksi yang disebabkan karena rinitis alergi.

Pengobatan untuk rinitis alergi terdiri atas 5 bagian utama , yaitu :

1. Menghindari alergen penyebab.

Dapat dilakukan dengan mengisolasi penderita dari alergen, menempati suatu sawar

antara penderita dan alergen atau menjauhkan dari penderita alergen. Untuk pencegahan

ini, diperlukan identifikasi alergen dan menghindari aleregn penyebab (avoidance). Dalam

pengelolaan penderita alergi inhalan, menganjurkan penderita untuk menghindari alergen

penyebab tidaklah mudah, sehingga poliklinik THT RSUD Dr. Soetomo telah mengadakan

kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit (PKMRS) mengenai debu rumah

kepada penderita dan keluarganya (Roesmono, 1980 dan Elfahmi, 2001 dalam Cora, 2003)

2. Pengobatan simptomatis.

16
Diberikan bila pencegahan terhadap alergen penyebab tidak memberikan hasil yang

memuaskan. Ada 4 golongan obat yang dapat di berikan, yaitu golongan antihistamin,

simpatomimetik, kortikosteroid dan stabilisator mastosit. Antihistamin, merupakan

senyawa kimia yang dapat melawan kerja histamin dengan mekanisme inhibisi kompetitif

pada lokasi reseptor histamin. Ada dua macam antihistamin, yaitu antihistamin

penghambat reseptor H1 (AH1) dan antihistamin penghamb at reseptor H2 (AH2).48

Antihistamin H1 sampai saat ini dikenal 2 macam, yaitu antihistamin klasik dan

antihistamin generasi kedua atau baru. Golongan antihistamin H1 klasik yang sering

digunakan adalah etanolamin, etilendiamin, alkelamin, fenotiazin, siproheptadin,

hidroksizin, pirezin. Efek antihistamin klasik, yaitu antihistaminik, yaitu menghilangkan

gejala-gejala alergi dan antikolinergik, yaitu mengurangi sekresi kelenjar eksorin, sekresi

saliva sehingga dapat mengurangi gejala rinore, tetapi dapat juga menyebabkan keringnya

mukosa mulut dan tenggorok serta sedatif, yaitu merupakan efek samping yang paling

sering terjadi (Roesmono, 1980 dan Oedono, 1999 dalam Cora, 2003)

Golongan antihistamin generasi baru yang beredar di pasaran , yaitu terfenadin,

loratidin, astemizol, oxatomide, mequitazine dan cetirizine. Golongan ini tidak

mempunyai hubungan kimia yang langsung dengan histamin, hanya mempunyai suatu

struktur nitrogen aromatik yang sama dalam bentuk piperidin, piperazin atau piridin. Efek

antihistamin baru, yaitu sebagai antihistaminic long action, dimana waktu paruhnya lama,

sehingga cukup diberika 1 x sehari. Hal ini karena ikatannya dengan reseptor H1 lebih

sukar lepas, sehingga efek terapinya lebih lama, selain dari itu efek antikolinergiknya lebih

ringan dari non sedatif karena tidak menembus sawar otak serta stabiliator sel mastosit,

sehingga dapat mencegah terjadinya degranulasi atau penglepasan mediator amine-

vasoaktif dengan mencegah influk ion Ca kedalam sel mastosit. Dengan demikian

antihistamin generasi kedua ini dapat mencegah gejala-gejala yang ditimbulkan, baik oleh

17
mediator yang sudah terbentuk (preformed ) maupun yang belum terbentuuk (newly

generated) (Oedono, 1999 dalam Cora, 2003).

Antihistamin H2 seperti simetidin dan ranitidin dapat berguna bila diberikan bersama

antihistamin H1 sumbatan hidung, tetapi untuk pengobatan polip hidung tidak

memberikan hasil (Oedono, 1999 dalam Cora, 2003). Golongan simpatomimetik

(dekongestan). Penggunaan obat ini mengurangi edema mukosa hidung melalui

rangsangan reseptor alfa dan menghambat penglepasan histamin dari mastosit melalui

rangsangan reseptor beta. Obat –obat dekongestan dapat dibedakan menjadi dekongestan

sistemik, biasanya peroral, misalnya fenil propanolamin, efedrin HCI dan pseudeoefedrin

HCI, dan dekongestan lokal yang terdiri dari derivat imidazolin (oxymetazoline,

xylometazoline), derivat simpatomimetik (fenilefrin, fenil propanolamine, efedrin HCI).

Suatu dekongestan dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan antihistamin H1

lokalisata peroral pada pengobatan rinitis alergi.

Pemakain lama antihistamin lokal dan dekongestan tidak dianjurkan, karena

antihoistamin lokal dapat menimbulkan sensitisasi dan dekongestan lokal dapat

menimbulkan iritasi dan “rebound phenomenon” seperti pada rinitis medikamentosa,

sehingga pemakaian obat ini dibatasi 3 – 4 hari. Pada obstruksi hidung yang berat dapat

diberikan obet tetes efedrin 0,5-1%, maka sumbatan akan hilang setelah 10 menit selama 2

sampai 4 jam. Obat dekongestan yang paling sedikit efek sampingnya yaitu

oxymetazoline.48 Ipatropium bromide, adalah obat selain mempunyai efek

parasimpatolitik juga mempunyai efek anti kolinergik dan efek topikal yang tinggi serta

memiliki atropine like effect. Semula obat ini dipakai sebagai bronkodilator dengan nama

dagang atrovent dan dapat mengurangi rinore pada penderita rinitis alergi, rhinitis

vasomotor dan common cold (Oedono, 1999 dalam Cora, 2003).

18
Kortikosteroid. Bila hasil pengobatan antihistamin dan dekongestan belum berhasil

maka dapat diberikan kortikosteroid secara sistemik maupun intranasal. Pengobatan lokal

dengan beklometason atau flunisolid lebih disukai, karena kerjanya langsung dan efek

sampingnya yang rendah. Untuk pemberian yang efektif biasanya memerlukan beberapa

hari sampai beberapa minggu. Efek kortikosteroid ialah menghambat aktifitas histamin

dan zat kinin vasoaktif, menstabilkan membran sehingga penglepasan zat mediator

dihambat, tetapi tidak menghambat interaksi antar antigen dan antibodi. Di laporkan

pemberian kortikosteroid dapat mengurangi besarnya polip hidung.48 Stabilisator

mastosit, yang termasuk dalam golongan ini adalah natrium kromolin dan ketotifen. Efek

natrium kromolin (sodium kromoglikat) ialah menurunkan pengelepasan zat mediator,

sehingga dianggap sebagai pengobtan pencegahan dan diberikan sebelum terjadi kontak

dengan alergen. Efek sampingnya minimal, terutama berupa iritasi lokal. Pemakaian pada

polip hidung belum dapat dibuktikan keberhasilannya. Ketotifen, sebagai stabilisator sel

mastosit, diserap dalam saluran cerna dan dalam bentuk utuh keluar lewat urine dan tinja.

Efek sampingnya sama seperti antihistamin H1. Trombosit secara reversibel, sehingga

penggunaan kombinasi kedua obat tersebut sebaiknya dihindari (Oedono, 1999 dan

Elfahmi, 2001 dalam Cora, 2003).

3. Imunoterapi (desensitisasi, hiposensitisasi).

Pemberian imunoterapi dapat dipertimbangkan bila cara-cara konservatif tidak berhasil.

Dasar dari imunoterapi adalah menyuntikkan alergen penyebab secara bertahap dengan

dosis kecil yang makin meningkat untuk menginduksi toleransi pada penderita alergi.

Suatu dosis imunoterapi yang efektif (optimal) akan menimbulkan perubahanperubahan

klinis dan imunologik sebagai berikut: 1) Kenaikan pada Ig D khususnya antibody

penghambat Ig G1 dan Ig G4 yang tetap akan tinggi selama imunoterapi diberikan. Peran

Ig G1 dan Ig G4 diduga untuk menetralkan alergen sebelum mencapai Ig E yang terikat di

19
sel mastosit. Besarnya kenaikan Ig G yang terbentuk dipengaruhi oleh dosis alergen yang

diberikan . 2) kenaikan kadar Ig E pada imunoterapi, kemudian turun perlahan-lahan

sampai lebih rendah dari kadar sebelum imunoterapi dalam waktu 18-24 bulan, kemudian

dapat naik lagi dalam waktu 1-2 tahun setelah imunoterapi dihentikan. 3) kenaikan kadar

Ig A dan Ig G dalam sekret hidung. 4) Berkurangnya responsivitas limfosit secara invitro,

5) meningkatkan nilai ambang dosis alergen yang digunakan pada tes provaksi hidung. 6)

Supresi reaksi lambat pada tes kulit intradermal terhadap alergen spesifik. 7) berkurangnya

penglepasan histamin oleh basofil. Dari berbagai penelitian menunjukkan sekitar 60-90 %

kasus memberikan respons dengan imunoterapi konvensional. Secara umum hasil

imunoterapi dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu : 1) Penderita mengalami

perbaikan klinik sampai imunoterapi dihentikan. 2) Penderita mengalami perbaikan klinik

selama imunoterapi, tetapi kadang-kadang timbul gejala yang dapat diatasi dengan terapi

medikamentosa. 3) Hilangnya keluhan selama imunoterapi tidak berbeda dengan keadaan

sebelumnya.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan imunoterapi, yaitu tindakan

menghindari alergen yang kurang adekuat, pemilihan jenis alergen yang tidak tepat, dosis

yang diberikan kurang cukup dan diagnosis yang salah (Roesmono 1980 dalam Cora,

2003). Meskipun imunoterapi efektif untuk pengobatan rinitis alergi, namun efektivitasnya

belum dapat dipastikan pada pengobatan polip hidung. Kontra indikasi pemberian

desensitisasi ialah golongan penyakit kolagen dan glomerulonefritis karena dapat

menyebabkan penyakit bertambah aktif. Pada kehamilan pemberian imunoterapi harus

lebih hati-hati. Beberapa penulis menyatakan sebaiknya tidak diberikan, karena dapat

menyebabkan malformasi pada bayi yang dilahirkan. Sebaliknya ada yang menyatakan

bahwa antigen yang diberikan tidak dapat melalui sawar (barier) plasenta (Roesmono 1980

dalam Cora, 2003).

20
4. Penatalaksanaan komplikasi atau faktor-faktor yang memperburuk.

Kelemahan, stress emosi, perubahan suhu yang mendadak, infeksi yang menyertai,

deviasi septum dan paparan terhadap polutan udara lainnya yang dapat mencetuskan,

memperhebat dan mempertahankan gejala -gejala yang menyertai rinitis alergi, polip

hidung dan sinusitis. Penanganan faktor-faktor ini sama pentingnya dengan pengobatan

yang ditujukan terhadap alerginya.

5. Pengobatan operatif baru dilakukan bila pengobatan medikamantosa gagal.

Pembedahan disini untuk mengurangi gejala alergi seperti sinusitis dan polip nasi.

Tindakan ini memungkinkan ventilasi dan drenase hidung serta mengupayakan aliran

hidung dan sinus yang memadai.4,26 Pengobatan pada sinusitis maksila kronis, pada

prinsipnya memperbaiki drenase dan menormalkan kembali atau membuang lapisan

mukosa yang telah mengalami kerusakan. Perubahan pada mukosa sinus dapat bersifat

reversibel dan ireversibel sehingga, pengobatan sinusitis maksila, terdiri atas :(Sharma,

2001 dan Oedono, 1999 dalam Cora, 2003).

Pengobatan konservatif. Secara klinis untuk mengetahui keadaan mukosa yang

reversibel sangat sulit, jika pengobatan secara konservatif tidak berhasil. Pengobatan ini

meliputi obat antialergi dan dekongestan, obat mukolitik untuk mengencerkan sekret ;obat

analgetik, untuk mengurangi rasa nyeri, obat antibiotik, sebaiknya disesuaikan dengan

hasil pemeriksaan mkirobilogik dan kultur resistensi kuman. Biasanya diberikan antibiotik

yang mempunyai spektrum luas selama 10-14 hari. Termasuk pula pengobatan diatermi,

dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermi). Dengan pengobatan ini

maka temperatur sinus akan naik antara 1,7 sampai 2,2 C, sehingga akan memperbaiki

vaskularisasi sinus maksila. Diatermi dapat diberikan selama 10 hari dan tidak boleh

digunakan dalam keadaan akut. Memperbaiki lingkungan yang jelek sekitar penderita,

21
lingkungan udara yang bersih, terutama pada anak-anak dapat membantu mempercepat

kesembuhan (Sharma, 2001 dan Lund, 1997 dalam Cora, 2003).

Pungsi dan irigasi sinus maksila termasuk pengobatan konservatif, diperlukan untuk

mengeluarkan sekret dari rongga sinus maksila yang dapat dilakukan melalui ostium sinus

maksila di meatus medius, meatus inferior dan fosa kanina. Dilakukan maksimal enam

kali setiap 2 – 3 hari sekali. Jika terdapat nanah (pus), berarti pengobatan konservatif tidak

berhasil dan dipertimbangkan pengobatan secara operatif. Kontraindikasi pungsi sinus

maksila ialah tidak boleh dilakukan pada saat ada infeksi akut karena dapat

mengakibatkan oesteomielitis dan trauma pada maksila. Antrostomi intranasal, yaitu

tindakan membuat lubang pada meatus inferior yang menghubungkan rongga hidung dan

sinus maksila, untuk drainase sekret dan ventilasi sinus maksila. Biasanya dilakukan pada

penderita yang memerlukan irigasi berulang kali dan tidak dapat dilakukan pungsi sinus

dengan anestesi lokal. Antrostomi yang cukup baik ialah yang diameternya cukup lebar,

pemanen dan letaknya serendah mungkin pada dasar hidung. Bersama antrostomi dapat

dilakukan operasi lain yang bertujuan untuk reseksi septum dan konkotomi (Lund, 1997

dalam Cora, 2003)

Pengobatan operatif radikal. Dengan operasi Calddwell-Luc bila kerusakan mukosa

sudah ireversibel dan gagal dengan pengobatan konservatif. Operasi ini dilakukan dengan

membuat sayatan sublabial kurang lebih dari 2 cm diatas sulkus ginggivobukalis dari

insisivus 2 samapi molar 1. Sayatan dilanjutkan sampai periosteum, kemudian periosteum

dilepaskan dan mukosa pipi tarik ke atas. Selanjutnya dibuat lubang pada fosa kanina dan

melalui lubang tersebut mukosa yang inversibel dibersihkan (Lund, 1997 dalam Cora,

2003). Bedah sinus endoskopik fungsional. Tindakan ini ditujukan untuk membersihkan

kelainan di kompleks ostiomeatal dengan mempergunakan endoskop (teleskop). Hal ini

dilakukan pada sinusitis maksila kronis yang disebabkan oleh penyebaran infeksi dari

22
fokus infeksi di sinus etmoid anterior, terutama dari infundibulum etmoid dan resesus

frontal. Ventilasi dan drenase sinus maksila akan terbentuk kembali melalui jalan alamiah,

sehingga setelah beberapa waktu sinus akan kembali normal, sehingga pembedahan

radikal tidak diperlukan lagi (Lund, 1997 dalam Cora, 2003

Penatalaksanaan sinusitis dibagi atas:

1. Medikamentosa

Medikamentosa sinusitis dibagi atas pengobatan pada orang dewasa dan pada anak –

anak.

a. Orang dewasa

i. Terapi awal:

- Amoxicillin 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau

- TMP-SMX 160mg-800mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari

ii. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir

- Amoxicillin 1000 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau

- Amoxicillin/Clavulanate 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari,

atau

- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari.

iii. Pasien dengan gagal pengobatan

- Amoxicillin 1500mg dengan klavulanat 125 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari,

atau

- Amoxicillin 1500mg per oral 2 kali sehari dengan Clindamycin 300 mg per oral 4

kali sehari selama 10 hari, atau

- Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari.

b. Anak – anak

i. Terapi awal: Pengobatan oral selama 10 hari dengan:

23
- Amoxicillin 45-90 mg/kg/hari terbagi dalam dua atau tiga dosis sehari, atau

- Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam dua dosis sehari, atau

- Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari.

ii. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir: Pengobatan oral selama 10

hari dengan:

- Amoxicillin 90 mg/kg/hari (maksimal 2 gram) plus Clavulanate 6,4 mg/kg/hari,

keduanya terbagi dalam dua dosis sehari, atau

- Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam dua dosis sehari, atau

- Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari.

2. Diatermi

Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan sinusitis

dengan memperbaiki vaskularisasi sinus.

3. Tindakan pembedahan

Terdapat tiga pilihan operasi yang dapat dilakukan pada sinusitis maksilaris, yaitu

unisinektomi endoskopik dengan atau tanpa antrostomi maksilaris, prosedur Caldwell-

Luc, dan antrostomi inferior. Saat ini, antrostomi unilateral dan unisinektomi endoskopik

adalah pengobatan standar sinusitis maksilaris kronis refrakter. Prosedur Caldwell-Luc

dan antrostomi inferior antrostomy jarang dilakukan (Peter, 1997). Bedah Sinus

Endoskopik Fungsional

Tindakan ini merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan

tindakan operasi. Tujuannya adalah untuk membersihkan kelainan di KOM dengan

mempergunakan endoskopi. Hal ini dilakukan pada sinusitis maksila kronis yang

disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus infeksi di sinus ethmoid anterior, terutama

di infubdibulum ethmoid dan resesus frontal.

24
3.9 Komplikasi

Sejak ditemukan antibiotik, komplikasi sinusitis maksila telah menurun secara drastis.

Komplikasi sinusitis maksila terjadi jika sinusitis tersebut menjadi kronis. Komplikasi yang

dapat terjadi ialah(Pandi et al, 1990 dan Wright et al 1997 dalam Cora 2003):.

1. Oesteomielitis dan abses subperiostal

Oesteomielitis maksila jarang terjadi, tersering adalah osteomielitis frontal dan

biasanya ditemukan pada anak. Oesteomielitis sinus maksila dapat menyebabkan

timbulnya fistula oroantal yaitu fistula yang menggabungkan rongga mulut dan sinus

maksila. Penyebab terjadinya fistula ini selain karena komplikasi sinusitis maksila ke

dalam juga karena tindakan ekstraksi gigi molar atas, kista gigi, tumor palatum dan sinus

maksila serta trauma pada operasi gigi atau sinus maksila. Gejala klinis berupa keluarnya

cairan yang berbau busuk dari sinus maksila ke dalam mulut. Pada pemeriksaan , bila

lubangnya besar akan terlihat lubang yang menghubungkan rongga mulut dan sinus

maksila tetapi bila lubangnya kecil dapat diperiksa dengan memasukkan udara yang

melewati fistula. Fistula yang baru dan kecil dapat menutup dengan sendirinya. Bila fistula

cukup besar dan kronis perlu tindakan operasi plastik selain pengobatan sinusitisnya.

2. Kelainan orbita

Paling sering berasal dari sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila.

Penyebaran infeksinya melalui tromboflebilitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat

ditimbulkan ialah edema palpebra selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan

trombosis sinus kavernosus. Edema palpebra, biasanya dari sinusitis etmoid dan

ditemukan pada anak-anak. Selulitis orbita, edemanya bersifat difus, belum terbentuk

nanah (pus) dan isi orbita telah diinvasi bakteri. Pada abses subperiostal, pus telah

terbentuk di antara periorbita dan dinding tulang orbita, serta menyebabkan proptosis dan

kemosis. Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita.

25
Tampak gejala neuritis optikus, kebutaan dan bercampur unilateral, keterbatasan gerak otot

ekstraokuler mata yang terserang. Proptosis makin bertambah dengan tanda khas adanya

kemosis konjungtiva. Trombosis sinus kavernosus, komplikasi ini merupakan akibat

penyebaran bakteri melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus, sehingga terbentuk

suatu tromboflebitis septik. Tampak gejala – gejala oftalmoplegia, komosis, konjungtiva,

gangguan penglihatan yang berat, kelemahan dan tanda-tanda meningitis karena letak

sinus berdekatan dengan saraf cranial II,III,IV,VI dan otak. Penderita edema palpebra

dapat berobat jalan dengan pemberian antibiotik serta tetes hidung. Penderita tahap

selulitis orbita dan komplikasi yang lebih berat harus dirawat di rumah sakit dan diberi

antibiotik intravena dosis tinggi serta dilakukan tindakan membebaskan pus dari rongga

abses. Prognosis pada komplikasi ini, angka kematian sebesar 60-80%. Gejala sisa

trombosis kavernosus seringkali berupa atrofi optikus.

3. Mukokel

Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul di dalam sinus. Kista ini paling

sering pada sinus maksila dan tersering berupa kista retensi mukus dan biasanya tidak

berbahaya. Mukokel yang terinfeksi dan berisi pus disebut piokel. Patogenesisnya

dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu obstruksi dan peradangan. Gambaran klinis sesuai

dengan sinusitis maksila kronis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan

radiologik, sinoskopi dan ditemukan pada operasi Caldwell-Luc. Diagnosis pasti

ditegakkan dengan pemeriksaan histoptologik. Pengobatan dengan eksplorasi sinus untuk

mengangkat semua mukosa yang terinfeksi, sehingga drenase sekret dan ventilasi sinus

maksila menjadi baik.

4. Kelainan intrakranial

Meningitis, abses ekstradural, abses subdural, abses otak dan tromboss sinus

cavernosus.

26
5. Kelainan paru

 Bronkitis kronis, bronkiektasis dan asma bronchial.

 Adanya kelainan sinus paranasal yang disertai dengan kelainan paru

 disebut sindrom sinobronkitis.

3.10 Prognosis

Prognosis sinusitis sangat baik dengan kurang lebih 70% pasien sembuh tanpa

pengobatan. Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh secara

spontan tanpa pemberian antibiotik. Terkadang juga penderita bisa mengalami relaps setelah

pengobatan namun jumlahnya sedikit yaitu kurang dari 5 %. Komplikasi dari penyakit ini

bisa terjadi akibat tidak ada pengobatan yang adekuat yang nantinya akan dapat

menyebabkan sinusitis kronik, meningitis, brain abscess, atau komplikasi extra sinus lainnya

(Piccirillo, dkk, 1997). Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan

pengobatan yang dini maka akan mendapatkan hasil yang baik. Untuk komplikasinya bisa

berupa orbital cellulitis, cavernous sinus thrombosis, intracranial extension (brain abscess,

meningitis) dan mucocele formation (Rukmini, 1997).

27
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan hidung buntu kanan dan kiri sejak tiga

minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh kadang hidungnya keluar ingus berwarna kuning

kehijauan disertai bau busuk satu minggu yang lalu. Selain itu, tiga hari yang lalu pasien

merasa kemeng di daerah pipi dan dahi, yang diperberat ketika pasien menunduk, merasa

tertekan di pipi dan penciuman berkurang. Pada keluhan yang dialami pasien tersebut,

menurut Academy of Otolaringology & American Rhinologic Society, sudah memenuhi

kriteria diaganosis untuk sinusitis, yaitu gejala mayor (nyeri atau rasa tertekan di pipi,

kongesti nasal, dan hiposmia). Sedangkan menurut waktunya, termasuk sinusitis akut.

Sedangkan penyebab sinusitis dari pasien ini mengaarah pada penyebab rhinogen,

dimana pasien memiliki riwayat alergi dingin, pada saat dingin pasien sering bersin-bersin.

Keluhan berat di pipi dan nyeri kepala saat menunduk mengarah pada sinusitis maksillaris

dan frontalis, namun masih harus dibuktikan dengan pencitraan foto waters.

Pada pemeriksaan objektif status lokalis regio nasal dextra sinistra, pada rhinoskopi

anterior didapatkan konka edem bilateral, tidak tampak sekret, pada regio fasialis tidak

didapatkan pembengkakan wajah. Pada palpasi sinus didapatkan nyeri tekan pada sinus

maksillaris biatera dan sinus frontalis. Pada teori, pemeriksaan fisik untuk sinusitis Inspeksi

yang diperhatikan ialah adanya pembengkakan pada muka, pipi sampai kelopak mata bawah,

kelopak mata atas. Palpasi terdapat nyri tekan pada pipi dan nyeri ketuk gigi menunjukkan

adanya sinusitis maksila. Pada sinusitis frontal terdapat nyeri tekan di dasar sinus frontal,

yaitu pada bagian medial atap orbita. Sinusitis ethmoid menyebabkan rasa nyeri tekan di

daerah kantus medius. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior tanda khasnya

adalah adanya pus di meatus medius pada sinusitis maksila, ethmoid anterior dan

28
frontal.Sedangkan adanya pus di meatus superior pada sinusitis ethmoid posterior dan

sphenoid. Transiluminasi mempunyai manfaat yang terbatas, hanya dapat dipakai untuk

memeriksa sinus maksila dan frontal, bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia. Bila

pada pemeriksaan transiluminasi tampak gelap di daerah infraorbita, mungkin berarti

anthrum terisi pus atau mukosa anthrum menebal. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior,

sesuai terori terdapat pembengkakan konka inferior dextra dan sinistra, hiperemi mukosa,

namun tidak tampak sekret.

Rencana pemeriksaan penunjang pada pasien ini adalah foto waters (posisi

oksipitomental). Hal ini sesuai teori Pemeriksaan radiologi rutin untuk memeriksa sinus

paranasal ialah posisi water’s (oksipitomental), terutama untuk melihat adanya kelainan di

sinus maksila, frontal, dan ethmoid. Posisi postero-anterior untuk menilai sinus frontal dan

posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sphenoid, dan ethmoid.

Pemeriksaan radiologi khusus dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi rutin

meragukan. Pemeriksaan ini terdiri atas radiologi dengan bahan kontras, USG, Computed

Tomography Scanning (CT-Scan). Sinoskopi merupakan pemeriksaan ke dalam sinus maksila

dengan menggunakan endoskopi. Endoskopi dimasukkan melalui lubang yang dibuat di

meatus inferior atau di fosa kanina. Dengan alat ini dapat dilihat keadaan dalam sinus, apakah

ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista, keadaan mukosa apakah

reversibel atau irreversibel dan keadaan ostium.

Pada hasil pemeriksaan waters, ditemukan perselubungan di sinus frontalis dan

maksillaris biateral, serta penebalan mukosa nasal, diseerai air fluid level pada sinus

maksillaris bilateral. Hal ini berkorelasi dengan hasil pemerikaan fisik pada pasien.

Dari anamnesis, permeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien mendapat

terapi sesuai teori untuk sinusitis akut yaitu antibiotik broad spectum berupa co amoxiclav

3x625mg selama 10 hari, anti iflamasi Na diclofenac 2x50 mg, dekongestan nasal berupa

29
nasacort spray, dan antihistamin untuk alergi. Tujuan terapi pada sinusitis adalah

mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan mencegah kondisi penyakit menjadi

kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi

sinus-sinus pulih kembali.

Untuk pasien dengan sinusitis akut, irigasi sinus belum diperlukan, dan diindikasikan

untuk pasien dengan sinusitits sub akut. Irigasi sinus diperlukan tindakan untuk

mengeluarkan sekret dari rongga sinus maksila yang dilakukan melalui ostium sinus maksila.

Jalur irigasi biasanya terletak dibawah konka inferior, setelah sebelumnya dilakukan

kokainisasi pada membran mukosa. Sedangkan jalur alternatif adalah melalui pendekatan

sublabial dimana jarum ditusukkan melalui celah bukalis gusi menembus fosa insisiva. Irigasi

secara berulang setiap minggu ini bertujuan untuk mengembalikan aktivitas normal mukosa.

Jika mukosa tidak pulih, maka pus akan terbentuk lagi sehingga perlu pertimbangan

pengobatan secara operatif. Kontra indikasi pungsi ini adalah tidak boleh dilakukan pada saat

infeksi akut masih berlangsung oleh karena dapat mengakibatkan osteomielitis dan trauma

pada maksila.

30
BAB V

KESIMPULAN

Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan sinusitis maksilaris bilateral dan sinusitis

frontalis bilateral. Kriteria diagnosis pasien ini berdasarkan mayor dari krteria Academy of

Otolaringology & American Rhinologic Society yaitu terdapat nyeri atau rasa tertekan di pipi,

kongesti nasal, dan hiposmia. Pasien memiliki riwayat alergi terhadap dingin.

Pada pemeriksaan foto waters didapatkan Sinusitis frontalis dan maksillaris bilateral

dengan air fluid level di sinus maksilaris bilateral. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang, pasien mendapat terapi Co Amoxiclav 3x625 mg, Na diclofenac

2x50 mg, Nasacort spray 1x1, Cetirizine 1x10 mg.

Prognosis pada pasien ini baik, namun perlu diedukasi pada pasien bahwa penyakit ini

harus rutin berobat, tidak bisa langsung sembuh, dan kemungkinan berulang juga tinggi.

Selain itu perlu juga diedukasi bahwa terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi

keluhan, membunuh kuman penyebab infeksi, pasien dianjurkan untuk istirahat yang cukup

agar kondisi tubuh dapat prima sehingga proses penyembuhan penyakit dapat cepat berjalan,

kompres air hangat pada wajah untuk meringankan gejala, Antibiotik harus diminum sampai

habis walaupun gejala sudah hilang agar penyembuhan berlangsung baik dan tidak terjadi

komplikasi, Menghindari hal-hal yang dapat mencetuskan pilek dan batuk dengan cara

menjaga kebersihan diri serta segera berobat jika mengalami batuk dan pilek, serta

menjelaskan kepada pasien untuk menghindari alergen penyebab alergi pasien.

31
DAFTAR PUSTAKA

Endang Mangun kusumo, N Rifki. Sinusitis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar NH (eds). Buku

Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL, edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI:2001.hal 120-4

Mabry RL, Marple BF. The Medical Management of Sinusitis In: Rice DH, Schaefar SD

(eds) Endoscopic Paranasal Sinus Surgery. 3th ed.Philadelphia: William &

Wilkins;2004 p:95-104

Dudley L. Paranasal sinus Infection. In: Ballenger JJ, Snow JB (eds). Otorhinolaryngology –

Head and neck Surgery. Baltimore: Williams & Walikins:1996. pp 163-70

Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR,Higler PA,

editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed.Philadelphia, PA: WB

Saunders Company; 1989. p.173-90

Kennedy E. Chronic Sinusitis. November 28, 2005. Available

from:http://www.emedicine.com. Accessed June 14, 2015

Abdel Razek OA, Poe D. Chronic Sinusitis Medical Treatment. June 7, 2004.Available from:

http://www.emedicine.com. Accessed June 14, 2015

32