Anda di halaman 1dari 102

LAPORAN AKTUALISASI

NILAI-NILAI DASAR PROFESI APARATUR SIPIL NEGARA DAN


KEDUDUKAN DAN PERAN ASN
PADA
PUSAT PENELITIAN DAN PENGKAJIAN PERKARA,
DAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN
KEPANITERAAN DAN SEKRETARIAT JENDERAL
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PELATIHAN DASAR CPNS GOL III

NamaPeserta : Zaka Firma Aditya, S.H.,M.H.


Kelas/No. Presensi : Kelas A / 25
NIP : 19920529 201801 1 001
Jabatan : Peneliti Ahli Pertama
Pusat Penelitian dan Pengkajian
Unit Kerja :
Perkara dan Pengelolaan Perpustakaan
Coach : Sobana, S.Sos.,M.M.
Arief Iswanto, S.A.P.
Mentor : Helmi Kasim, S.S.,S.H.,M.H.

PUSDIKLAT TEKFUNGHAN BADIKLAT KEMHAN


BEKERJA SAMA DENGAN
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, Juli 2018


ii

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI
ASN DAN
KEDUDUKAN DAN PERAN ASN

Disusun oleh:
Zaka Firma Aditya, S.H.,M.H.
NIP. 19920529 201801 1 001

Telah disetujui oleh pembimbing


pada 3 Juli 2018

Mentor, Coach I,

Helmi Kasim, S.S.,S.H.,M.H., Sobana, S.Sos,M.M.


NIP. 19751231 200604 1 009 NIP. 19640615 199003 1 001

Mengetahui/menyetujui,
a.n. Kepala
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tekfunghan
Kabid Opsdiklat

Sarma Balige Panjaitan, S.Sos.


Kolonel Adm NRP 51458
iii

LEMBAR PENGUJIAN
LAPORAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI ASN DAN
KEDUDUKAN DAN PERAN ASN

Telah diuji di depan penguji


Pada 3 Juli 2018

Penguji,

Afriyanto, S.Kom
NIP. 197904092006041001
iv

DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................... i


Lembar Pengesahan ........................................................................... ii
Lembar Pengujian ............................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................................. iv
Daftar Tabel ........................................................................................ vi
Daftar Gambar .................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Dasar Hukum ........................................................................... 3
C.Tujuan ....................................................................................... 4
D. Manfaat .................................................................................... 4
E. Ruang Lingkup Kegiatan .......................................................... 5
F. Sistematika Penulisan .............................................................. 5

BAB II GAMBARAN UMUM ORGANISASI


A. GAMBARAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI . 6
I. Struktur Organisasi di Mahkamah Konstitusi ......................... 6
II. Tugas Pokok dan Fungsi Mahkamah Konstitusi.................... 11
III. Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi ...................................... 12
IV. Nilai-Nilai Dasar Mahkamah Konstitusi ............................... 13

B. GAMBARAN UMUM TENTANG PUSAT PENELITIAN DAN


PENGKAJIAN PERKARA, DAN PENGELOLAAN
PERSPUSTAKAAN (PUSLITKA) MAHKAMAH KONSTITUSI ... 13
I. Gambaran Umum Organisasi di Pusat Penelitian dan Pengkajian
Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan .................................. 13
II. Visi dan Misi Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MK RI ............................ 15

BAB III RENCANA AKTUALISASI .................................................... 16


v

A. INDIKATOR NILAI DASAR AKTUALISASI ............................ 16


B. RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI ............................. 22

BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISASI .......................................... 58


A. Capaian Aktualisasi .................................................................. 58
B. Masalah dan Cara Mengatasi .................................................. 83
C. Kegiatan Yang Tidak Terlaksana ............................................. 85
D. Kegiatan Tambahan ................................................................. 86
E. Analisis Dampak ...................................................................... 90
F. Rencana Aksi ........................................................................... 93

BAB V PENUTUP ............................................................................... 95

LAMPIRAN
vi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Capaian Kegiatan Aktualisasi ............................................. 58

Tabel 4.2 Capaian Kegiatan Tambahan ............................................. 59


vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Struktur Organisasi Kepaniteraan MK ............................ 8


Gambar 2.2. Struktur Organisasi Mahkamah Konstitusi ..................... 10
Gambar 2.3 Struktur Organisasi Puslitka MK RI ................................. 14
Gambar 4.1 kegiatan Morning Review ................................................ 62
Gambar 4.2. kegiatan Sharing Session Penulisan Hukum ................. 65
Gambar 4.3. Kegiatan Sharing Session Penelitian Hukum ................. 67
Gambar 4.4. FGD Internal Kajian Pendahuluan .................................. 71
Gambar 4.5. FGD Internal Kajian Pendahuluan bersama Peneliti Senior
Sekaligus Mentor Bapak Helmi Kasim ............................ 71
Gambar 4.6. FGD Internal Kajian Pendahuluan bersama Kepala Bidang
Penelitian dan Pengkajian Perkara ................................ 72
Gambar 4.7. FGD Internal Kajian Pendalaman bersama Kepala Bidang
Penelitian dan Pengkajian Perkara ................................ 72
Gambar 4.8. Pembagian Kelompok Tim Penulisan Jurnal .................. 74
Gambar 4.9. Penulisan Jurnal Bersama Tim ...................................... 75
Gambar 4.10. Revisi Pertama Jurnal yang telah di submit ................. 75
Gambar 4.11. Revisi Akhir Jurnal yang telah di submit ....................... 76
Gambar 4.12. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti ........ 77
Gambar 4.13. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti ........ 78
Gambar 4.14. Bedah buku “Kontroversi Undang-Undang Tanpa
Pengesahan Presiden” oleh Dr. Fajar Laksono ......... 80
Gambar 4.15. Notifikasi penerimaan abstrak dari International Conference
on Comparative Law ASIAN-COL 2018 UMY Yogjakarta
dan International Law of Asean Conference 2018, UITM
Malaysia ...................................................................... 83
Gambar 4.16. Pemaparan dan diskusi english day ............................. 88
Gambar 4.17. Lest Toefl LIA kelas A intermediate 4 ........................... 89
Gambar 4.18. Praktek Input Berkas Permohonan secara Online dalam
Pilkada Serentak Tahun 2018 ..................................... 90
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)
yang bekerja pada instansi pemerintah. Pasal 10 Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, menyebutkan bahwa
ASN mengemban 3 (tiga) fungsi atributif berupa melaksanakan kebijakan
publik yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan (fungsi pelaksana kebijakan
publik), memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas
(fungsi pelayanan publik) dan mempererat persatuan dan kesatuan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (fungsi perekat dan pemersatu
bangsa).
ASN memiliki peran yang teramat penting dalam rangka
menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban modern,
demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi dalam penyelenggaraan
pelayanan kepada masyarakat secara adil dan merata. Tujuan akhirnya
adalah dalam rangka mencapai tujuan negara sebagaimana tercantum
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap
bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Namun, dalam rangka mencapai tujuan nasional tersebut tentunya
banyak tantangan yang harus dihadapi oleh ASN, karena setiap tahunnya
tantangan yang dihadapi semakin banyak dan berat, baik tantangan yang
berasal dari luar maupun dari dalam. Tantangan yang seringkali menjadi
penyakit dalam tubuh ASN adalah berkaitan dnegan rendahnya pelayanan
publik, adanya konflik kepentingan dan tingginya tingkat korupsi
di lembaga pemerintahan. Sehingga, ASN harus meningkatkan
2

profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta dituntut


harus bersih dan bebas dari praktek-praktek Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN).
Pada prakteknya, implementasi dari fungsi, tugas serta peran ASN
sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 5 Tahun 2014 tidaklah mudah.
Dalam hal ini, seorang ASN dituntut kesungguhan, kedisiplinan, motivasi,
inovasi dan komitemen serta menjalankan tugasnya dengan penuh
tanggungjawab. Keberhasilan pegawai ASN dalam melakukan pelayanan
publik akan meningkatkan kredibilitas unit kerja dan mendorong
keberhasilan institusinya. Selain itu, dalam menjalankan tugas dan
fungsinya, ASN juga wajib menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan
bangsa dimana kepentingan kelompok, individu dan golongan harus
dikesampingkan demi kepentingan negara dan masyarakat luas.
Dalam rangka membentuk birokrasi yang profesional, diperlukan
adanya pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan
Pelatihan dasar CPNS (Latsar CPNS) adalah salah satu syarat bagi calon
PNS untuk diangkat menjadi PNS. Pendidikan dan pelatihan dasar CPNS
dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan
wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, pengetahuan dasar
tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas dan
budaya organisasinya agar nantinya mampu melaksanakan tugas dan
perannya sebagai pelayanan masyarakat.
Berdasarkan UU 5/2014, pendidikan dan pelatihan dasar bagi
CPNS menggunakan pola baru di dalam pelaksanaannya. Diklatsar dibagi
menjadi 2 (dua) sesi yaitu on campus dan off campus. On campus adalah
diklatsar dimana peserta calon PNS menerima teori-teori tentang nilai-nilai
dasar profesi ASN agar dapat dimengerti, dipahami dan
di implementasikan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Teori-teori
yang diberikan selama on campus diantaranya; (1) wawasan kebangsaan
dan bela negara; (2) Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu dan Anti Korupsi atau biasa disingkat ANEKA; (3) Pelayanan Publik;
(4) Whole of Government dan (5) Manajemen ASN. Sementara itu, off
3

campus adalah pendidikan dimana peserta harus melakukan aktualisasi


nilai-nilai ANEKA yang telah dipelajari pada saat on campus dalam
lingkungan kerjanya masing-masing.
UU No. 5 Tahun 2014 bertekad mengelola ASN agar menjadi
semakin profesional dengan tujuan utama membangun aparat sipil negara
yang memiliki integritas, profesional dan netral serta bebas dari intervensi
politik, bebas dari KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik
yang berkualitas bagi masyarakat. Pola baru ini diterapkan karena adanya
perubahan pola pikir ASN dari yang semula cenderung ingin dilayani
publik menjadi pola melayani publik. Proses pembelajaran dan pendidikan
ini juga bertujuan untuk mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai
dengan tuntutan kebutuhan pembangunan. Tujuan akhirnya adalah
terbentuknya ASN profesional yang produktif, efektif dan efisien dalam
bekerja serta memiliki jiwa nasionalisme, etika publik, berkomitmen untuk
menjunjung mutu, berkomitmen untuk bekerja secara akuntabel dan
berkomitmen untuk anti korupsi.

B. DASAR HUKUM
I. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan
Negara;
II. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur
Sipil Negara;
III. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2015 Tentang
Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2015-2019;
IV. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 Tentang
Manajemen Pegawai Negeri Sipil;
V. Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 25 Tahun
2017 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar
CPNS Golongan III.
4

C. TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai dari pendidikan dan pelatihan dasar
CPNS ini adalah mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN
dalam kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di Pusat Penelitian dan
Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia, meliputi:
I. Mengaktualisasikan nilai-nilai Akuntabilitas sehingga
memiliki tanggungjawab dan integritas tinggi terhadap apa
yang akan dan sudah dikerjakan;
II. Mengaktualisasikan nilai-nilai Nasionalisme sehingga dalam
bekerja dilandasi atas semangat dan nilai-nilai pancasila;
III. Mengaktualisasikan nilai-nilai Etika Publik sehingga dapat
menciptakan lingkungan pelayanan yang baik;
IV. Mengaktualisasikan nilai-nilai Komitmen Mutu sehingga
dapat mewujudkan pelayanan prima yang mengedepankan
inovasi, kreatifitas dan efisiensi;
V. Mengaktualisasikan nilai-nilai Anti Korupsi sehingga dapat
mewujudkan disiplin dan budaya positif yang anti korupsi di
lingkungan kerja.

D. MANFAAT
I. Mampu mewujudkan Akuntabilitas dalam menjalankan tugas
di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia;
II. Mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bela Negara
dalam menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian
Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka)
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
III. Mampu menjunjung tinggi standar Etika Publik dalam
menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian
5

Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka)


Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
IV. Mampu mengedepankan kinerja untuk peningkatan mutu
pelayanan di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia;
V. Mampu mewujudkan sikap dan perilaku Anti Korupsi dalam
menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian
Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka)
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

E. RUANG LINGKUP KEGIATAN


Aktualisasi kegiatan nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan
selama 80 (delapan puluh hari) mulai tanggal 26 Februari 2018 sampai
tanggal 2 Juli 2018 bertempat di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara,
dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia. Untuk daftar lengkap dan jadwal kegiatan selama aktualisasi
dapat dilihat dalam lampiran.

F. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan laporan aktualisasi ini terdiri dari 5 (lima)
BAB. Bab I adalah bab pendahuluan yang berisi latar belakang, dasar
hukum, tujuan, manfaat, waktu dan tempat pelakasanaan dan sistematika
penulisan. Bab II adalah bab yang berisi gambaran umum organisasi,
terdiri atas gambaran umum Mahkamah Konstitusi dan gambaran unit
kerja yang di dalamnya berisi struktur organisasi, visi dan misi organisasi,
tugas pokok dan fungsi, serta nilai-nilai dasar organisasi. Bab III adalah
rancangan aktualisasi, bab IV adalah Capaian Aktualisasi dan Analisis
Dampak, dan Bab V adalah Penutup.
BAB II
GAMBARAN UMUM ORGANISASI

A. GAMBARAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI


I. Struktur Organisasi di Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan salah satu lembaga yang
memegang kekuasaan kehakiman yang dibentuk setelah amandemen
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI
Tahun 1945). Di dalam amandemen ketiga UUD 1945, dilakukan
perubahan cukup signifikan pada Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman
dengan mengubah Pasal 24 dan menambahkan tiga Pasal baru dalam
ketentuan Pasal 24 UUD 1945. Ketentuan mengenai MK pertama kali
disebutkan dalam Pasal 24 ayat (2) yang berbunyi “kekuasaan kehakiman
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata
usaha negara, dan oleh sebuah mahkamah konstitusi.” Sedangkan
ketentuan khusus mengenai MK diatur didalam Pasal 24C UUD 1945.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia Mahkamah Konstitusi
sebagai organ konstitusional mengemban tugas dan fungsi untuk
mengawal konstitusi, agar dilaksanakan dan dihormati baik penyelenggara
kekuasaan negara maupun warga negara. Mahkamah konstitusi menurut
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (UU MK) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang berfungsi
menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan dalam rangka
menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai
dengan kehendak rakyat dan cita demokrasi. Jimly Asshiddiqie
sebagaimana dikutip Maruarar Siahaan (2011:8) mengatakan bahwa
dalam konteks ketatanegaraan, Mahkamah Konstitusi dikonstruksiskan
7

sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan


konstitusional ditengah kehidupan masyarakat, Mahkamah Konstitusi
bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan
dilaksanakan oleh semua komponen negara secara konsisten dan
bertanggung jawab.
Mahkamah Konstitusi diketuai oleh seorang Ketua Mahkamah
Konstitusi dan seorang wakil ketua Mahkamah Konstitusi. Sedangkan
Hakim Konstitusi berjumlah 9 (sembilan) orang yang dipilih dan diusulkan
oleh Presiden, Dewan perwakilam rakyat (DPR) dan Mahkamah Agung
(MA) masing-masing 3 (tiga) orang. Dalam menjalankan tugasnya
mengawal tegaknya konstitusi, hakim konstitusi dibantu secara teknis
administratif oleh Kepaniteraan dan Kesekretariatan Jenderal.
Berdasarkan Peraturan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi
Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan
dan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi, MK mendapatkan
dukungan layanan teknis administratif dan administrasi umum dari
Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal selaku birokrasi MK. Kepaniteraan
merupakan jabatan fungsional yang menjalankan tugas teknis
administratif peradilan mahkamah konstitusi. Tugas teknis administratif
kepaniteraan sebagaimana dalam Pasal 2 ayat (2) Persekjen 13/2017
antara lain:
1. Koordinasi pelaksanaan teknis peradilan di Mahkamah Konstitusi;
2. Pembinaan dan pelaksanaan administrasi perkara;
3. Pembinaan pelayanan teknis kegiatan peradilan di Mahkamah
Konstitusi; dan
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh ketua Mahkamah
Konstitusi sesuai dengan bidang tugasnya.
Sementera itu di dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
kepaniteraan juga memiliki kewenangan sebagai berikut:
1. Menyatakan permohonan telah memenuhi kelengkapan atau belum
memenuhi kelengkapan;
8

2. Menerbitkan akta yang menyatakan bahwa permohonan telah


dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi terhadap
permohonan yang lengkap;
3. Menerbitkan Akta yang menyatakan bahwa Permohonan telah
dicatat dalam Buku Permohonan Tidak Diregistrasi terhadap
permohonan yang tidak lengkap;
4. Menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan
memberitahukan kepada pemohon disertai dengan pengembalian
berkas permohonan;
5. Menetapkan hari sidang pertama dalam jangka waktu paling lama
14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku
Registrasi Perkara Konstitusi dan jadwal sidang;
6. Menetapkan penugasan panitera pengganti dalam pelayanan
perkara dan menetapkan petugas persidangan dalam pelayanan
persidangan; dan
7. memberikan pertimbangan pengangkatan, pemindahan, penilaian
dan pemberhentian panitera muda dan panitera pengganti.

Kepaniteraan dipegang oleh seorang panitera selaku pejabat


eselon 1 dan dibantu oleh 3 (tiga) panitera muda yaitu panitera muda 1,
panitera muda II dan panitera muda III selaku pejabat eselon 2.
Sedangkan panitera muda dibantu oleh 9 (sembilan) orang panitera
pengganti tingkat I dan 27 (dua Puluh tujuh) Panitera Pengganti tingkat I
dan II. Secara lengkapnya, struktur organisasi kepaniteraan di Mahkamah
Konstitusi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Struktur kepaniteraan Mahkamah Konstitusi


9

Sedangkan Sekterariat Jenderal dikepalai oleh seorang Sekretaris


Jenderal selaku Pejabat Eselon 1 dan membawahi biro-biro dan pusat-
pusat yang kedudukannya setara eselon 2. Di dalam Pasal 14 ayat (2)
Persekjen 13/2017, Sekretariat Jenderal menjalankan tugas teknis
administrasi di Mahkamah Konstitusi, meliputi:
1. Koordinasi pelaksanaan administratif di lingkungan Kepaniteraan
dan Sekretariat Jenderal;
2. Penyusunan rencana dan program dukungan teknis administratif;
3. Pelaksanaan kerja sama dengan masyarakat dan hubungan antar
lembaga;
4. Pelaksanaan dukungan fasilitas kegiatan persidangan; dan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Ketua Mahkamah
Konstitusi sesuai dengan bidang tugasnya.
Sekretariat Jenderal dalam melaksanakan tugasnya, juga
menyelenggarakan fungsi:
1. Koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran;
2. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi
ketatausahaan, administrasi hakim, administrasi kepaniteraan dan
risalah, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama,
hubungan masyarakat dan hubungan antarlembaga, tata usaha
pimpinan dan protokol, arsip dan dokumentasi, pembinaan dan
penataan organisasi dan tata laksana;
3. Pelaksanaan dukungan fasilitas kegiatan persidangan;
4. Penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan
pelayanan pengadaan barang/jasa;
5. Fasilitasi kesekretariatan tetap asosiasi Mahkamah Konstitusi se-
Asia dan/atau institusi sejenis;
6. Penelitian dan pengkajian perkara, pengelolaan perpustakaan dan
sejarah konstitusi;
7. Pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi;
8. Pelaksanaan pendidikan Pancasila dan Konstitusi;
9. Pelaksanaan pengawasan intern; dan
10

10. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Ketua Mahkamah


Konstitusi.

Sementara itu, kewenangan yang dimiliki oleh Sekretariat Jenderal


antara lain:
1. Menetapkan rencana strategis, program kerja dan anggaran
Mahkamah Konstitusi;
2. Menetapkan tata cara pengelolaan organisasi dan tata kerja,
sumber daya manusia, keuangan, serta barang milik negara;
3. Menandatangani perjanjian kerja sama; dan
4. Menetapkan peraturan, keputusan dan aturan kebijakan.

Di dalam struktur organisasi Kesekretariatan Jenderal terdapat 5


(lima) biro dan 3 (tiga) Pusat, yaitu biro Perencanaan dan Keuangan, Biro
Sumber Daya Manusia dan Organisasi, Biro Hukum dan Administrasi
Kepaniteraan, Biro Hubungan masyarakat dan Protokol dan Biro Umum,
serta Pusat Penelitian, pengkajian perkara dan pengelolaan
perpustakaan, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Pusat
pendidikan Pancasila dan konstitusi dan sebuah inspektorat. Secara
lengkap susunan organisasi Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi
dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Struktur organisasi sekretariat jenderal mahkamah konstitusi


11

I. Tugas Pokok dan Fungsi Mahkamah Konstitusi


MK mendapatkan kewenangan konstitusional sebagaimana
dinyatakan di dalam Pasal 24C ayat (1) dan (2) UUD 1945. Pasal tersebut
menetapkan secara limitatif kewenangan Mahkamah Konstitusi yang
meliputi 4 (empat) kewenangan dan 1 (satu) kewajiban, yaitu:
1. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar;
2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar;
3. Memutus pembubaran partai politik;
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

MK juga memiliki satu kewajiban konstitusional berupa memberikan


putusan atas pendapat dewan perwakilan rakyat (DPR) mengenai dugaan
pelanggaran oleh presiden dan/atau presiden menurut undang-undang
dasar. Kewajiban konstitusional MK ini kemudian dijabarkan secara
terprinci dalam Pasal 10 UU MK yang berbunyi MK wajib memberikan
putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa Presiden
dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum
berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak
pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan tidak lagi memenuhi
syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Disamping 4 (empat) kewenangan Konstitusional dan 1 (satu)
kewajiban konstitusional, MK juga memiliki kewenangan tambahan berupa
memutus perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil
pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Terkait dengan kewenangan
tambahan tersebut, MK memiliki dasar kewenangan berupa:
1. Putusan MK No. 97/PUU-XI/2013 terkait Pengujian Materiil Pasal
236C Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang pada pokoknya
menyatakan MK berwenang mengadili Perselisihan Hasil Pemilihan
umum kepala daerah selama belum ada undang-undang yang
mengatur mengenai hal tersebut.
12

2. Pasal 157 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, dimana


MK berwenang mengadili perkara perselisihan penetapan
perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan gubernur, bupati dan
walikota sampai dibentuknya badan peradilan khusus.

II. Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi


Di dalam rencana strategis Mahkamah konstitusi 2015-2019,
menyebutkan bahwa seiring dengan filosofi kehadiran MK dalam peradilan
konstitusi yang mengemban tugas dan fungsi mengawal tegaknya
konstitusi demi terwujudnya indonesia menjadi negara hukum yang
demokratis, maka MK menetapkan visi:
“MENGAWAL TEGAKNYA KONSTITUSI MELALUI PERADILAN
KONSTITUSI MODERN DAN TERPERCAYA”
Sedangkan untuk merefleksikan visi tersebut, MK kemudian menetapkan
2 (dua) misi yaitu:
1. Membangun sistem peradilan konstitusi yang mampu mendukung
penegakan konstitusi
2. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hak
konstitusional warga negara

III. Nilai-Nilai Dasar Mahkamah Konstitusi


Nilai-nilai yang ada di Mahkamah Konstitusi dibagi menjadi 3 (tiga)
bagian yaitu nilai-nilai dasar, nilai i4-court dan nilai indeep (4 pilar). Nilai-
nilai dasar terdiri atas 10 nilai yaitu: (1) Nilai ketuhanan; (2) Nilai
kemanusiaan; (3) Nilai persatuan; (4) Nilai permusyawaratan; (5) Nilai
keadilan; (6) Nilai kejujuran; (7) Nilai kemandirian; (8) Nilai keterbukaan;
(9) Nilai empati; (10) Nilai toleransi. Nilai i4-Court terdiri atas 9 Nilai, atara
lain: (1) Integrity; (2) Independent; (3) Impartial; (4) Integrated; (5)
Competence; (6) Objective; (7) Upbringing; (8) Religious; (9) Trustwhorty.
Sedangkan nilai 4 pilar (indep) teridri atas: (1) Integritas; (2) Disiplin; (3)
Dedikasi; dan (4) Profesional.
13

B. GAMBARAN UMUM TENTANG PUSAT PENELITIAN DAN


PENGKAJIAN PERKARA, DAN PENGELOLAAN
PERSPUSTAKAAN (PUSLITKA) MAHKAMAH KONSTITUSI

I. Gambaran Umum Organisasi di Pusat Penelitian dan


Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan
Pusat penelitian dan pengkajian perkaram, dan pengelolaan
perpustakaan (Puslitka) merupakan salah satu struktur organisasi dari
kesekretariatan jenderal Mahkamah konstitusi yang selevel dengan eselon
II. Puslitka merupakan suporting unit yang keberadaannya diranah
Sekretariat Jenderal yang memberikan dukungan kepada Mahkamah
Konstitusi dan memiliki keterkaitan langsung dengan proses penyelesaian
perkara-perkara yang ditangani MK. Berdasarkan Pasal 86 Persekjen
13/2017, Puslitka memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengkajian
perkara, pengelolaan perpustakaan dan sejarah konstitusi. Sementara itu,
dalam Pasal 87 Persekjen 13/2017, Puslitka mengemban 9 (sembilan)
fungsi, yakni:
1. Pelaksanaan penelitian;
2. Pelaksanaan pengkajian perkara;
3. Pelaksanaan penelaahan perkara;
4. Pelaksanaan penyiapan konsep pendapat hukum;
5. Pelaksanaan penyusunan dan pengembangan karya tulis ilmiah;
6. Pengelolaan terbitan berkala ilmiah;
7. Penyusunan naskah akademis draft peraturan;
8. Pengelolaan perpustakaan dan sejarah konstitusi; dan
9. Pelaksanaan ketatausahaan Pusat.

Sedangkan struktur organisasi dari Puslitka berdasarkan pasal 88


Persekjen 13/2017, yaitu:
1. Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara;
2. Bidang Perpustakaan dan Sejarah Konstitusi;
3. Subbagian Tata Usaha; dan
14

4. Kelompok jabatan fungsional.


Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan
Perpustakaan mempunyai tugas mengoordinasikan pelaksanaan
penelitian, pengkajian perkara, penyiapan konsep pendapat hukum,
penyusunan dan pengembangan karya tulis ilmiah, pengelolaan terbitan
berkala ilmiah, serta penyusunan naskah akademis (pasal 89). Bidang
Perpustakaan dan Sejarah Konstitusi mempunyai tugas melaksanakan
pengelolaan, pengembangan, pelayanan perpustakaan dan pusat sejarah
konstitusi (pasal 90). Sedangkan Subbagian Tata Usaha mempunyai
tugas melakukan ketatausahaan Pusat (pasal 91). Secara lengkapnya,
struktur organisasi dari pusat P4 dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3. Struktur organisasi di lingkungan pusat P4 MK RI

II. Visi dan Misi Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MK RI
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai suporting unit
khususnya kepada hakim kosntitusi, puslitka memiliki visi sebagai berikut:
TERSEDIANYA BAHAN SUBSTANTIF DALAM RANGKA
MENGAWAL TEGAKNYA KONSTITUSI MELALUI PERADILAN
MODERN DAN TERPERCAYA
15

Sedangkan misi yang hendak diemban oleh puslitka diantaranya:


1. Menyusun rencana dan program penelitian dan pengkajian perkara
dan pengelolaan perpustakaan
2. Melaksanakan program penelitian dan pengkajian perkara dan
pengelolaan perpustakaan

Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh puslitka adalah


peningkatan dukungan kualitas dan kuantitas bahan substansi untuk
pembuatan Putusan Mahkamah Konstitusi, melalui penelitian, pengkajian
perkara, penelaahan perkara dan penyusunan konsep pendapat hukum
dengan sasarn berupa pengingkatan kapasitas dukungan substansif
Pusat penelitian, pengkajian perkara dan pengelolaan perpustakaan
dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
BAB III

RENCANA AKTUALISASI

A. INDIKATOR NILAI DASAR AKTUALISASI


Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki 3 (tiga) fungsi strategis dalam
kerangka kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yaitu melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh pejabat pembina
kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
(fungsi pelaksana kebijakan publik), memberikan pelayanan publik yang
profesonal dan berkualitas (fungsi pelayanan publik) dan mempererat
persatuan dan kesatuan Negara Kesautuan Republik Indonesia (fungsi
perekat dan pemersatu bangsa). Di dalam menjalankan fungsi
strategisnya tersebut, ASN dituntut untuk mafhum dan mengaktualisasikan
nilai dasar ASN berupa Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi atau biasa disingkat ANEKA. Nilai-
nilai dasar ANEKA ini harus tergurat dalam hati dan pola pikiran setiap
ASN dimanapun dan kapanpun dia berada.

1. Akuntabilitas
Akubtabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada
setiap leve organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam
memberikan pertanggungjawaban laporan kegiatan kepada
atasannya. Menurut Bevaola Kusumasari, dkk (2015:7), akuntabilitas
merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk
memenuhi tanggungjawab yang menjadi amanahnya. Amanah
seorang ASN adalah menjamin terwujudnya nilai publik. Nilai-nilai
tersebut antara lain:
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar jetika terjadi
konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelopok dan pribadi.
17

b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan


mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan

Adapun nilai-nilai dasar akuntabilitas adalah kepemimpinan,


transparansi, integritas, tanggungjawab, keadilan, kepercayaan,
keseimbangan, kejelasan, konsistensi, partisipatif, netral dan
mendahulukan kepentingan publik.

2. Nasionalisme
Secara politis, makna nasionalisme merupakan manifestasi kesadaran
nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu
bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan
penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya
maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Menurut
Yudi Latief, dkk (2015:1), nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu
sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak
menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sedangkan dalam
arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang
wajar terhadap bangsa dan negara dan sekaligus menghormati
bangsa lain.

Selain itu, dikenal juga nasionalisme pancasila, yaitu pandangan


atau paham kecintaan manusia indonesia terhadap bangsa dan tanah
airnya yang didasarkan pada nilai-nilai pancasila. Prinsip nasionalisme
bangsa indonesia dilandasi nilai-nilai pancasila yang diarahkan agar
bangsa indonesia senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan,
kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan
pribadi dan golongan, menunjukan sikap rela berkorban demi
kepentingan bangsa dan negara, bangga terhadap bangsa indoneisa
serta tidak merasa rendah diri, mengakui persamaan derajat,
18

persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama


bangsa serta mengembangkan sikap tenggang rasa sesama manusia.

Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN,


bahkan tidak sekedar wawasan saja tetapi juga kemampuan
mengaktualisasikan nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan
tugasnya merupakan hal yang lebih penting. Diharapkan dengan
nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi
berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara.
Pegawai ASN akan berpikir tidak lagi sektoral dengan mental
blocknya, tetapi senantiasa mementingkan kepentingan yang lebih
besar yakni bangsa dan negara (Yudi Latief, dkk, 2015:5).

Beberapa nilai dasar dari nasionalisme diantaranya; cinta tanah air,


memelihara ketertiban, disiplin, musyawarah mufakat, kekeluargaan,
menghormati kehormatan, tanggungjawab, kepentingan bersama,
gotong royong, hidup sederhana, kerja keras, religius, menghargai
orang lain dan patriotisme.

3. Etika Publik
Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik didefinisikan
sebagai refleksi terhadap standar/norma yang menentukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan publik (wahyudi Kumorotomo, 2015:5). Weihrich dan koontz
(2005:46) mendefinisikan etika sebagai “the dicipline dealing with what
is good and with moral duty and obligation”. Secara spesifik Collins
Cobuild (1990:480) mendefinisikan etika sebagai “an idea or moral
belief that influences the behaviour, attitudes and philosophy of life of
a agroup of people”.

Dalam UU 5/2014 tentang ASN, terdapat juga nilai-nilai dasar etika


publik, diantaranya:
19

a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila


b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar negara
Republik Indonesia Tahun 1945
c. Menjalankan tugas dengan penuh profesional dan tidak
memihak
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif
f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik
h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi
k. Menghormati komunikasi, konsultasi dan kerjasama
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir

4. Komitmen Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
melebihi harapan konsumen atau pengguna. William F. Christoper dan
Carl G. Thor (2001:xi) mengatakan “quality can be defined as
producing and delivering to customers without error and without waste
superior customer values in the products and services that each
customer needs and wants quality is depend on one mind individually.”
20

Penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi pada layanan prima


sudah tidak dapat ditawar lagi ketika lembaga pemerintah ingin
meningkatkan kepercayaan publik. Apabila setiap lembaga
pemerintah dapat memberikan layanan prima kepada masyarakat
maka akan menimbulkan kepuasan bagi pihak-pihak yang dilayani.

Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam komitmen mutu antara lain


efektifitas, efisiensi, inovasi dan berorientasi mutu. Efektif diartikan
sebagai berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Efisien diartikan berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan pemborosan. Inovasi diartikan
sebagai penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan.
Sedangkan berorientasi mutu diartikan sebagai komitemn pada
kepuasan pelanggan.
5. Anti Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio dan corruptus yang berarti
kerusakan atau kebobrokan. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun
1999 tentang Penegahan Tindak Pidana Korupsi jounto Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi, disebutkan bahwa terdapat 7 (tujuh) kelompok tindak pidana
korupsi yaitu; kerugian keuangan negara, suap menyuap, pemerasan,
perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan
dalam pengadaan dan gratifikasi.

Sementara itu, Syed Husein Alatas juga menyebutkan 7 (tujuh) jenis


krupsi yaitu; korupsi transaktif, korupsi ekstroaktif, korupsi investif,
korupsi nepolistik, korupsi autogenik, korupsi suportif dan korupsi
defensif. Sedangkan nilai-nilai dasar dari anti korupsi adalah jujur, adil,
mandiri, disiplin, tanggungjawab, kerja keras, sederhana, berani, adil,
transparansi dan religious.
21

Sementara itu, selain ANEKA juga terdapat peran dan kedudukan ASN
yang masuk dalam agenda ketiga pelatihan dasar CPNS berupa
manajemen ASN, Whole of Government dan pelayanan publik.
1. Manajemen ASN
Menurut pasal 1 UU 5/2014, manajemen ASN adalah pengelolaan
ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki
nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik dan bersih dari
praktek KKN. Manajemen ASN lebih menekankan pada pengaturan
profesi pegawai, harapannya agar selalu tersedia sumber daya ASN
yang unggul selaras dengan perkembangan zaman.

2. Whole of Government
Whole of Government (WOG) adalah pendekatan penyelenggaraan
pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif
pemerintahan dari kesatuan sektor dalam ruang lingkup koordinasi
yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan
kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik.

3. Pelayanan Publik
Berdasarkan Pasal 1 UU 25/2009 tentang Pelayanan Publik,
pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
jasa, barang, dan/atau pelayanan administrasi yang diselenggarakan
oleh penyelenggara pelayanan publik.

B. RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI


Rancangan kegiatan aktualisasi yang akan saya lakukan di unit kerja
bidang penelitian dan pengkajian perkara (puslitka), pusat penelitian,
pengkajian perkara dan pengelolaan perpustakaan (P4) Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia, terdiri dari 9 (sembilan) kegiatan,
secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
22

1. Sharing Session Penulisan Hukum (legal writing)


saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius).
Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala
bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran,
masukan dan kritik dari beliau (musyawarah mufakat). Saya akan
menggunakan tutur kata dan etika serta sopan santun saat
berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan beliau (Etika
Publik: Santun). Kemudian ketika saya membuat proposal, saya
akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia
yang baku yang sesuai EYD (Komitmen Mutu: kecermatan,
ketelitian). Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan
membaginya secara adil dan proporsional dengan teman yang lain
(Komitmen Mutu: Partisipatif,keadilan) dan ketika mengadakan
rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan
berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan
menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak
akan memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme:
musyawarah, mufakat). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan
tersebut kepada peneliti dan/atau calon peneliti lainnya (Etika Publik:
keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan sharing session
ini, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab
dengan menggunkana tata bahasa dan penulisan yang sesuai EYD
(Komitmen Mutu: jujur, Amanah, tanggungjawab). Secara
keseluruhan, kegiatan sharing session penulisan hukum termasuk
dalam manajemen ASN, karena kegiatan sharing session penulisan
hukum bertujuan untuk pengembangan kompetensi calon peneliti itu
sendiri.

2. Sharing Session Legal Research (Normatif dan Sisio Legal)


Saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius).
Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala
bidang penelitian dan pengkajian perkara, teliti, berorientasi pada
23

hasil). Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan


membaginya secara proporsional dengan teman yang lain (keadilan)
dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan
waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai dasar
musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan
yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapat
pribadi (Nasionalisme: Adil, Musyawarah, Responsif, Partisipatif).
Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti
lainnya (Etika Publik: Keterbukaan) dan ketika membuat laporan
kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh
tanggungjawab (komitmen mutu: tanggungjawab, dedikasi,
disiplin, jujur, amanah). Saya akan melaporkan hasil kegiatan
sebagaimana mestinya (anti korupsi: Jujur, Tanggungjawab.
Kegiatan sharing session legal research termasuk dalam kategori
manajemen ASN, karena kegiatan sharing session ini bertujuan untuk
pengembangan kompetensi calon peneliti dalam melakukan penelitian
hukum (legal research).

3. Morning Review
Saya memulai kegiatan ini dengan berdoa kepada Tuhan YME agar
diberikan kelancaran. (nasionalisme: Religius, Ketuhanan) Saya
kemudian mengusulkan kepada atasan saya untuk kegiatan morning
review, saya dengan senang hati akan menerima saran dan masukan
dari beliau. Saya juga ketika mengusulkan dan mendiskusikannya
dengan atasan akan menggunakan tutur kata yang baik dan sopan
santun. (Etika Publik: Sopan, Santun) Setelah kegiatan disetujui,
saya kemudian akan mendiskusikan konsep morning review disertai
dengan jadwal kegiatannya, sekali lagi saya akan senang menerima
masukan dan saran. Setelah konsep dan jadwal kegiatan sudah
dimantapkan, saya kemudian akan mensosialisasikan kegiatan
morning review ini kepada para peneliti lainnya baik melalui pesan
langsung maupun lewat media sosial (Etika Publik: Keterbukaan).
24

Tentunya saya dalam mensosialisasikan kegiatan ini menggunakan


kata-kata yang sopan dan baik serta padat berisi (Komitmen Mutu:
Keterbukaan, Kejelasan). Setelah kegiatan selesai dilaksanakan,
saya akan membuat laporan hasil kegiatan dan menyerahkannya
kepada atasan (Komitmen Mutu: Tanggungjawab. Dalam membuat
laporan kegiatan saya akan mengerjakannya dengan jujur, cermat dan
penuh tanggungjawab (Anti Korupsi: Jujur, Amanah). Kegiatan
morning review ini masuk dalam kategori manajemen ASN dan
Whole of Government.

4. Focus Group Discussion Perkara-Perkara Termutakhir (Analisis


Perkara yang Telah Diputuskan)
Saya memulai kegiatan dengan berdoa kepada Tuhan YME
(Nasionalisme: religius), saya kemudian mengusulkan adanya
kegiatan FGD tersebut kepada kepala bidang penelitian dan
pengkajian perkara terlebih dahulu (Etika Publik: Komunikatif).
Ketika bertatap muka dan berdiskusi dengan beliau, saya akan
menggunakan sopan santun dan tata bahasa yang baik (Etika Publik
: Sopan, Santun). Saya akan menerima segala saran dan masukan
dari beliau (Etika Publik: Responsif). Ketika beliau menyetujuinya,
kemudian saya akan bermusyawarah dengan peneliti lain untuk
membuat konsep kegiatan (Nasionalisme: Musyawarah mufakat,
komunikatif). Saya tidak akan memaksakan pendapat/ide pribadi.
Justru saya akan menerima saran dan masukan dari peneliti yang lain.
Ketika konsepnya sudah dibentuk dan jadwal kegiatannya sudah
pasti, maka saya akan mensosialisasikan kegiatan tersebut dengan
peneliti yang lain (Keterbukaan). Terakhir, ketika kegiatan sudah
terlaksana, saya akan membuat laporan hasil kegiatan, saya akan
menulisnya dengan cermat dan jujur untuk kemudian saya serahkan
kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
(Akuntabilitas dan anti korupsi: Tanggungjawab, Jujur). Kegiatan
FGD perkara-perkara mutakhir ini masuk dalam kategori manajemen
25

ASN, yaitu meningkatakan kompetensi peneliti dalam melakukan


pengkajian dan penelaahan perkara.

5. Pembuatan dan Penulisan Jurnal Hukum


Saya kemudian mendiskusikan rencana kegiatan penulisan jurnal
bersama peneliti yang lain, saya akan menerima saran dan masukan
dari para peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat,
komunikatif). Kemudian saya akan membentuk tim kecil untuk
penulisan jurnal dengan anggota yang proporsional dan adil (Etika
Publik: keadilan). Saya kemudian mengadakan rapat untuk
menentukan isu hukum yang akan diangkat, saat rapat tersebut saya
menggunakan dasar-dasar permusyawaratan untuk mufakat, saya
tidak akan memaksakan pendapat sendiri (nasionalisme:
Musyawarah mufakat). Saya melakukan pembagian tugas yang adil
dan proporsional dalam mencari referensi (Etika Publik: Keadilan).
Kemudian di dalam melakukan penulisan, saya akan cermat dan teliti
serta menggunakan kaidah bahasa Indonesia baku dan sesuai EYD.
Selain itu, saya juga akan mengedepankan kode etik penulisan jurnal
dan menghindari praktek-praktek plagiarisme (Komitmen mutu:
kecermatan, ketelitian). Kegiatan ini termasuk dalam manajemen
ASN terutama menyangkut peningkatan kompetensi peneliti dalam
mengeluarkan produk penulisan.

6. Pembuatan pacta integritas calon Peneliti di Puslitka MKRI


saya akan memulainya dengan berdoa kepada Tuhan YME agar
diberikan kemudahan dan kelancaran (Nasionalisme: Religius). saya
akan melakukan diskusi dengan peneliti yang lain membahasa
pembuatan pacta integritas calon peneliti di P4. Saya akan senang
menerima masukan dan saran dari teman peneliti yang lain (Etika
Publik: Responsif, Komunikatif). Saya kemudian akan mengusulkan
pembuatan pacta integritas calon peneliti kepada kepala bidang
penelitian dan pengkajian perkara, tentunya dalam mengusulkannya
26

saya akan menggunakan sopan santun, etika yang baik serta


menggunakan bahasa indonesia yang sesuai kaidah EYD (Komitmen
Mutu: Cermat, Teliti). Setelah disetujui, saya kemudian akan
melakukan pengkajian secara cermat terkait perlu tidaknya
pembuatan pacta integritas calon peneliti (Komitmen Mutu: Cermat,
Teliti). Setelah itu, hasil kajian tersebut akan saya serahkan kepada
atasan (Akuntabilitas: Responsif). Saya kemudian akan membuat
FGD untuk membahas draft pacta integritas calon peneliti tersebut
bersama peneliti lain. Saya akan menggunakan prinsip musyawarah
mufakat, saya tidak akan memaksakan kehendak pribadi dan saya
akan dengan senang hati menerima kritik, saran dan masukan dari
peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat,
komunikatif). Saya kemudian bersama peneliti yang lain akan
membuat draft pacta integritas calon peneliti dan membandingkannya
dengan yang ada di LIPI. Saya akan dengan penuh kecermatan,
kehatia-hatian dan ketelitian dalam menyusun draft pacta integritas
calon peneliti tersebut. Draft pacta integritas calon peneliti yang telah
disusun kemudian saya serahkan kepada atasan untuk disetujui
(Komitmen Mutu: kecermatan, ketelitian). Setelah disetujui, saya
kemudian akan mensosialisasikannya kepada peneliti lainnya baik
secara langsung maupun melalui media sosial. Dalam
mensosialisasikannya, tentunya saya akan menggunakan kalimat
yang baik dan benar yang sesuai EYD serta padat berisi. (Etika
publik: Keterbukaan, komunikatif). Secara keseluruhan, kegiatan
pembuatan pacta integritas calon peneliti ini masuk dalam kategori
manajemen ASN dan Whole of Government.

7. Sharing Session Penyusunan Naskah Akademis Dan Legal


Drafting
Saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius).
Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala
bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran
27

dan kritik dari beliau. Saya akan menggunakan tutur kata dan sopan
santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan
beliau (Etika Publik: Komunikatif, Responsif). Kemudian ketika
saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan
menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD
(Komitmen Mutu: Kecermatan, Ketelitian). Kemudian ketika saya
menyusun kepanitiaan, saya akan membaginya secara proporsional
dengan teman yang lain dan ketika mengadakan rapat untuk
penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha
menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima
segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan
memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme:
Musyawarah Mufakat, komunikatif). Saya juga akan
mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika
Publik, Keterbukaan, Komunikatif) dan ketika membuat laporan
kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh
tanggungjawab. Saya akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana
mestinya (anti korupsi: Tanggungjawabn, kejujuran). Secara
keseluruhan, kegiatan sharing session penyusunan Naskah Akademis
dan Legal Drafting termasuk kedalam manajemen ASN, karena
kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi calon peneliti.

8. Bedah Buku Hukum


saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius).
Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala
bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran
dan kritik dari beliau. Saya akan menggunakan tutur kata dan sopan
santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan
beliau (Etika Publik: Sopan, Santun, Komunikatif). Kemudian ketika
saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan
menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD
(Komitmen Mutu: Cermat, teliti). Kemudian ketika saya menyusun
28

kepanitiaan, saya akan membaginya secara proporsional dengan


teman yang lain dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema
kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai
dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan
masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan
kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme: Musyawarah). Saya juga
akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya
(Etika Publik: Keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan,
saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab.
Saya akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana mestinya (anti
korupsi: Tanggungjawab, jujur). Secara keseluruhan, kegiatan ini
masuk dalam kategori Manajemen ASN, karena melalui kegiatan
bedah buku ini, peneliti dan/atau calon peneliti dapat meningkatkan
pengetahuan dan kompetensinya.

9. Conference Allert
Dalam mencari info-info conference terupdate, saya memulainya
dengan bedoa agar diberikan kelancaran dan kemudahan
(Nasionalisme: Religius). Saya mencari info-info conference dengan
cermat dan teliti terutama mengenai tema conference yang saya cari
dibatasi untuk tema hukum (Komitmen Mutu: Cermat, Teliti,
Berorientasi mutu) Kemudian saya membuat kelender conference
yang dibuat menggunakan aplikasi google calender dan aplikasi
sejenis. Dalam membuat kalender tersebut, saya membuatnya
dengan teliti dan penuh kecermatan. Selanjutnya saya
mensosialisasikan adanya kalender conference tersebut kepada para
peneliti dan/atau calon peneliti (Etika Publik: Keterbukaan). Setelah
adanya peneliti dan/atau calon peneliti yang tertarik mengikuti
conference, kemudian saya akan membentuk tim penulisan secara
adil dan proporsional. Secara keseluruhan, kegiatan ini masuk dalam
kategori Manajemen ASN yaitu untuk pengembangan kompetensi.
29

Nama : ZAKA FIRMA ADITYA, S.H.,M.H.


Unit Kerja : Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara
Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MKRI
Identifikasi Isu : Belum optimalnya nuansa Kekompakan dan Nuansa Akademis di Lingkungan Puslitka MKRI.
Analisis dampak : Apabila isu ini tidak teratasi, maka dikhawatirkan nuansa akademis di puslitka menjadi
berkurang yang berimbas pada berkurangnya kualitas produk yang dikeluarkan oleh puslitka,
diantaranya penelitian tahunan, penelaahan perkara, pengkajian perkara, pembuatan naskah
akademis, pembuatan konsep pendapat hukum dan tulisan-tulisan yang lain baik dalam jurnal
maupun proceeding. Selain itu, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan terdapat
peneliti-peneliti baru puslitka yang menjadi peneliti yang attach secara langsung ke hakim konstitusi.
Akibatnya, ketika nantinya para peneliti di puslitka telah attach secara langsung kepada hakim
padahal nuansa akademis di puslitka belum optimal, maka dikhawatirkan kualitas dukungan
substantif peneliti terhadap putusan hakim dapat berkurang. Dampak terparah dari adanya
problematika ini adalah menurunyya kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi.
Isu yang diangkat : Masing-masing peneliti telah Memiliki Kesibukan masing-masing sebagai peneliti yang
melekat langsung kepada Hakim Konstitusi sehingga nuansa kekompakan, kerjasama dan nuansa
akademis di Puslitka cenderung berkurang.
Gagasan Pemecahan Isu : Meningkatkan dan menghidupkan kembali kekompakan dan nuansa akademis di
lingkungan puslitka melalui pengembangan kompetensi ASN (manajemen ASN) berupa kegiatan
sharing session penulisan hukum untuk calon peneliti CPNS, sharing session legal research, morning
review, Focus Group discussion perkara-perkara termutakhir, pembuatan dan penulisan jurnal
hukum, pembuatan pacta integritas calon peneliti, sharing session penyusunan naskah akademis
dan legal drafting, bedah buku hukum dan conference allert.
30

KETERKAITAN KONTRIBUSI PENGUATAN


NO KEGIATAN TAHAPAN OUTPUT/HASIL SUBSTANSI TERHADAP NILAI-NILAI
KEGIATAN KEGIATAN MATA VISI MISI ORIENTASI
PERKULIAHAN ORGANISASI
1 2 3 4 5 6 7
1. Mendiskusikan kepala bidang Dalam Dengan Peningkatan
1 SHARING SESSION dan mengusulkan penelitian dan mengusulkan terlaksananya kualitas peneliti
PENULISAN HUKUM rencana kegiatan pengkajian kegiatan sharing kegiatan dalam
UNTUK CALON sharing session perkara session penulisan sharing session melakukan
PENELITI CPNS penulisan hukum mengetahui hukum, saya penulisan penulisan
untuk peneliti rencana kegiatan memulainya hukum untuk hukum baik
CPNS kepada sharing session dengan membaca peneliti CPNS, dalam bentuk
kepala bidang penulisan hukum doa maka dapat telaah perkara,
penelitian dan untuk Calon (Nasionalisme: meningkatkan legal opinion
pengkajian perkara Peneliti CPNS religius). Saat kualitas peneliti maupun anotasi
2. Membuat proposal kepala bidang saya khususnya putusan dapat
kegiatan meliputi penelitian dan mengusulkannya CPNS dalam memperkuat
latar belakang, pengkajian dan melakukan nilai-nilai di
tujuan dan perkara mendiskusikannya penulisan mahkamah
manfaat dari mengetahui latar dengan kepala hukum. konstitusi
kegiatan sharing belakang, tujuan bidang penelitian Tujuannya, khususnya nilai
session penulisan dan manfaat dari dan pengkajian nantinya agar indep (4 pilar)
hukum untuk rencana kegiatan perkara, saya akan tulisan-tulisan yaitu integritas,
peneliti CPNS sharing session menerima saran, dalam bentuk disiplin,
kepada kepala penulisan hukum masukan dan kritik telaah perkara dedikasi dan
bidang penelitian untuk Calon dari beliau dan legal profesional.
dan pengkajian Peneliti CPNS. (musyawarah opinion yang
perkara Proposal kegiatan mufakat). Saya akan digunakan
disetujui atasan akan hakim konstitusi
3. Membuat dan Terbentuknya tim menggunakan tutur dalam
menyusun tim kepanitiaan untuk kata dan etika memeriksa dan
kepanitian untuk sharing session serta sopan santun memutus
31

sharing session penulisan hukum saat berhadapan perkara menjadi


penulisan hukum bagi calon peneliti dan bertemu semakin
untuk peneliti CPNS sekaligus berkualitas,
CPNS berdiskusi dengan kompleks dan
4. Mendiskusikan Terpilihnya tema beliau (Etika padat berisi.
mengenai tema kegiatan yang Publik: Santun). Sehingga,
kegiatan dan representatif, Kemudian ketika kegiatan ini juga
narasumber terpilihnya saya membuat dapat
sekaligus narasumber yang proposal, saya mewujudkan
menentukan waktu kompeten dan akan cermat dalam visi MK dalam
kegiatan profesional dan penulisan dan mengawal
waktu kegiatan menggunakan tegaknya
5. Menghubungi narasumber bahasa indonesia konstitusi
narasumber mengetahui yang baku yang melalui
waktu dan tempat sesuai EYD peradilan
pelaksanaan (Komitmen Mutu: konstitusi yang
kegiatan dan kecermatan, modern dan
mengkonfirmasi ketelitian). terpercaya.
kehadirannya Kemudian ketika
6. Mensosialisasikan Para peneliti saya menyusun
kegiatan sharing dan/atau calon kepanitiaan, saya
session penulisan peneliti akan membaginya
hukum untuk mengetahui secara adil dan
peneliti CPNS waktu dan tempat proporsional
kepada para kegiatan sharing dengan teman
peneliti session penulisan yang lain
hukum (Komitmen Mutu:
7. Melaksanakan Terlaksananya Partisipatif,keadil
kegiatan kegiatan dengan an) dan ketika
lancar dan tanpa mengadakan rapat
hambatan serta untuk penentuan
dihadiri oleh tema kegiatan dan
peneliti dan /atau waktu kegiatan,
32

calon peneliti saya akan


8. Membuat laporan Atasan berusaha
hasil kegiatan dan mengetahui menggunakan nilai
menyerahkannya pertanggungjawa dasar musyawarah
kepada kepala ban kegiatan untuk mufakat dan
bidang penelitian dalam bentuk menerima segala
dan pengkajian laporan hasil saran dan
perkara kegiatan masukan yang
membangun, saya
tidak akan
memaksakan
kehendak/pendapa
9. Evaluasi kegiatan Diketahuinya t pribadi
kelemahan dan (Nasionalisme:
kelebihan dari musyawarah,
pelaksanaan mufakat). Saya
kegiatan juga akan
sehingga dapat mensosialisasikan
menjadi acuan kegiatan tersebut
untuk kepada peneliti
pelaksanaan lainnya (Etika
kegiatan Publik:
selanjutnya keterbukaan) dan
ketika membuat
laporan kegiatan,
saya akan
membuatnya
dengan jujur dan
penuh
tanggungjawab
dengan
menggunkana tata
bahasa dan
33

penulisan yang
sesuai EYD
(Komitmen Mutu:
jujur, Amanah,
tanggungjawab).
Saya kemudian
akan melaporkan
hasil kegiatan
sebagaimana
mestinya (Anti
Korupsi: Amanah,
jujur,
tanggungjawab).

Secara
keseluruhan,
kegiatan sharing
session penulisan
hukum termasuk
dalam manajemen
ASN karena
kegiatan ini
bertujuan untuk
pengembangan
dan peningkatan
kompetensi dasar
calon peneliti
dalam melakukan
penulisan hukum
yang nantinya akan
sangat berguna
ketika menjalankan
tupoksi peneliti.
34

2 SHARING SESSION 1. Mendiskusikan kepala bidang


Dalam Tugas seorang Peningkatan
LEGAL RESEARCH ( dan mengusulkan penelitian dan
mengusulkan peneliti adalah kualitas peneliti
NORMATIF DAN rencana kegiatan pengkajian kegiatan pelatihan melakukan dalam
SOCIO LEGAL) sharing session perkara penelitian hukum, penelitian dan melakukan
penelitian hukum mengetahui saya memulainya pengkajian penelitian
normative dan rencana sharing dengan membaca perkara, oleh hukum baik
socio legal kepada session penelitian
doa sebab itu secara
kepala bidang hukum normatif (Nasionalisme: peneliti normative
penelitian dan dan socio legal religius). Saat diwajibkan untuk maupun
pengkajian perkara bagi calon peneliti
saya tahu dan sociolegal dapat
2. Membuat proposal kepala mengusulkannya
bidang mafhum meningkatkan
kegiatan meliputi penelitian dan
dan mengenai kualitas
latar belakang, pengkajian mendiskusikannya penelitian putusan-
tujuan dan perkara dengan kepala hukum. putusan MK itu
manfaat dari mengetahui latar bidang penelitian Terlaksananya sendiri.
kegiatan sharing belakang, tujuan dan pengkajian kegiatan Sehingga
session penelitian dan manfaat dari perkara, teliti, sharing session nantinya
hukum normative rencana sharing berorientasi pada penelitian dengan
dan socio legal hasil). Kemudian
session penelitian hukum baik bertambahnya
hukum normatif ketika saya normative kualitas putusan
dan socio legal menyusun maupun sosio hakim,
untuk kepanitiaan, saya
Calon legal, dapat berdampak
Peneliti CPNS.akan membaginya meningkatkan pada kembali
Proposal kegiatansecara pemahaman, tingginya tingkat
disetujui atasan proporsional pengetahuan kepercayaan
3. Membuat dan Terbentuknya tim dengan teman dan skill peneliti masyarakat
menyusun tim kepanitian yang yang lain dalam terhadap MK.
kepanitian untuk representatif dan(keadilan) dan melakukan Secara
sharing session profesional ketika mengadakan penelitian usbtantif,
penelitian hukum rapat untuk hukum. kegiatan ini
normative dan penentuan tema Kegiatan ini akan
socio legal kegiatan dan waktu sangat berdampak
4. Mendiskusikan Terpilihnya tema kegiatan, saya diperlukan untuk pada nilai-nilai
35

mengenai tema kegiatan yang akan berusaha mendukung dasar di MK


kegiatan dan representatif, menggunakan nilai secara subtantif yaitu nilai
narasumber terpilihnya dasar musyawarah kepada hakim integrity,
sekaligus narasumber yang untuk mufakat dan konstitusi independent,
menentukan waktu kompeten dan menerima segala terhadap objective,
kegiatan profesional dan saran dan perkara-perkara dedikasi,
waktu kegiatan masukan yang yang sedang profesional
5. Menghubungi narasumber membangun, saya ditangani. dan
narasumber mengetahui tidak akan Sehingga, thrustwhorty.
waktu dan tempat memaksakan terlaksananya
pelaksanaan kehendak pribadi kegiatan ini
kegiatan dan (Nasionalisme: dapat
mengkonfirmasi Adil, mewujudkan visi
kehadirannya Musyawarah, MK dalam
6. Mensosialisasikan Para peneliti Responsif, mengawal
kegiatan sharing dan/atau calon Partisipatif). Saya tegaknya
session kepada peneliti juga akan konstitusi
para peneliti lain mengetahui mensosialisasikan melalui
waktu dan tempat kegiatan tersebut peradilan
kegiatan kepada peneliti konstitusi yang
pelatihan lainnya (Etika modern dan
penulisan hukum Publik: terpercaya.
7. Melaksanakan Terlaksananya Keterbukaan) dan
kegiatan kegiatan dengan ketika membuat
lancar dan tanpa laporan kegiatan,
hambatan saya akan
8. Membuat laporan Atasan membuatnya
hasil kegiatan dan mengetahui dengan jujur dan
menyerahkannya pertanggungjawa penuh
kepada kepala ban kegiatan tanggungjawab
bidang penelitian dalam bentuk (komitmen mutu:
dan pengkajian laporan hasil tanggungjawab,
perkara kegiatan dedikasi, disiplin,
36

jujur, amanah).
9. Evaluasi kegiatan Diketahuinya Saya akan
kelemahan dan melaporkan hasil
kelebihan dari kegiatan
pelaksanaan sebagaimana
kegiatan mestinya (anti
sehingga dapat korupsi: Jujur,
menjadi acuan Tanggungjawab.
untuk
pelaksanaan Kegiatan sharing
kegiatan session legal
selanjutnya research dapat
meningkatakna
kompetensi calon
peneliti dalam
melakukan
penelitian hukum
baik secara
normative maupun
socio legal
sehingga kegiatan
ini termasuk dalam
kategori
manajemen ASN.
3 MORNING REVIEW 1. Mengusulkan Atasan Saya memulai Kegiatan Pelaksanaan
kegiatan morning mengetahui kegiatan ini dengan morning review kegiatan
review kepada rencana berdoa kepada merupakan morning review
kepala bidang diadakannya Tuhan YME agar kegiatan yang ini secara
penelitian dan kegiatan morning diberikan dapat substansial
pengkajian perkara review kelancaran. memperkuat visi dapat
37

2. Membuat konsep Terbentuknya (nasionalisme: MK dalam meningkatkan


morning review konsep kegiatan Religius, mengawal nilai-nilai
dan morning review Ketuhanan) Saya tegaknya organisasi di
mendiskusikannya yang sifatnya kemudian konstitusi MK antara lain
dengan kepala humanis dan mengusulkan melalui nilai kejujuran,
Bidang penelitian santai kepada atasan peradilan keterbukaan,
dan pengkajian saya untuk konstitusi yang empati,
perkara kegiatan morning modern dan toleransi dan
review, saya terpercaya. persatuan di
dengan senang Karena, dalam MK pada
3. Mensosialisasikan Para peneliti dan hati akan kegiatan ini, umumnya dan
kegiatan morning calon peneliti menerima saran para peneliti di unit kerja P4
review kepada mengetahui dan masukan dari dituntut untuk pada
para peneliti kegiatan morning beliau. Saya juga saling terbuka, khususnya.
review ketika empati, jujur dan
4. Melaksanakan Kegiatan mengusulkan dan toleransi dalam
kegiatan morning terlaksana mendiskusikannya naunsa
review setiap dengan lancar dengan atasan kebathinan yang
jumpat pagi dan sesuai akan mengedepanka
rencana menggunakan tutur n persatuan dan
kata yang baik dan kesatuan.
5. Melaporkan hasil Kepala bidang sopan santun.
morning review penelitian dan (Etika Publik:
kepada kepala pengkajian Sopan, Santun)
pusat dan kepala perkara Setelah kegiatan
bidang penelitian mengetahui hasil disetujui, saya
dan pengkajian dari morning kemudian akan
perkara dalam review mendiskusikan
bentuk laporan konsep morning
tertulis review disertai
dengan jadwal
6. Melakukan Tersusunnya kegiatannya, sekali
evaluasi hasil evaluasi lagi saya akan
38

pelaksanaan pelaksanaan senang menerima


kegiatan morning morning review masukan dan
review dalam setiap bulan saran. Setelah
setiap bulan konsep dan jadwal
kegiatan sudah
dimantapkan, saya
kemudian akan
mensosialisasikan
kegiatan morning
review ini kepada
para peneliti
lainnya baik
melalui pesan
langsung maupun
lewat media sosial
(Etika Publik:
Keterbukaan).
Tentunya saya
dalam
mensosialisasikan
kegiatan ini
menggunakan
kata-kata yang
sopan dan baik
serta padat berisi
(Komitmen Mutu:
Keterbukaan,
Kejelasan).
Setelah kegiatan
selesai
dilaksanakan, saya
akan membuat
laporan hasil
39

kegiatan dan
menyerahkannya
kepada atasan
(Komitmen Mutu:
Tanggungjawab.
Dalam membuat
laporan kegiatan
saya akan
mengerjakannya
dengan jujur,
cermat dan penuh
tanggungjawab
(Anti Korupsi:
Jujur, Amanah).

Kegiatan morning
review ini masuk
dalam kategori
manajemen ASN
karena dapat
meningkatkan
pengetahuan
kompetensi calon
peneliti terhadap
isu-isu yang
sedang
berkembang
melalui sharing
knowledge.
4 FOCUS GROUP 1. Mengusulkan kepala bidang Saya memulai Pelaksanaan Kegiatan FGD
DISCUSSION kepada kepala penelitian dan kegiatan dengan FGD perkara- perkara-perkara
PERKARA- bidang penelitian pengkajian berdoa kepada perkara muktakhir
PERKARA dan pengkajian perkara Tuhan YME termukhtakhir secara
40

TERMUTAKHIR perkara terkait mengetahui (Nasionalisme: dapat substansial


(ANALISIS kegiatan morning rencana kegiatan religius), saya meningkatkan dapat
PERKARA YANG review setiap FGD perkara- kemudian kualitas dan meningkatkan
TELAH jumat pagi perkara mengusulkan kemampuan nilai-nilai dasar
DIPUTUSKAN) termutakhir adanya kegiatan peneliti dalam di MK yaitu
2. Membuat konsep Terbentuknya FGD tersebut menelaah dan keterbukaan,
FGD dan konsep FGD kepada kabid menganalisis empati dan
mendiskusikannya yang representatif terlebih dahulu perkara-perkara toleransi
dengan kepala (Etika Publik: yang sedang karena dengana
bidang penelitian Komunikatif). dan telah danya FGD ini,
dan pengkajian Ketika bertatap disidangkan. para peneliti
perkara muka dan Peneliti memiliki dapat saling
3. Mensosialisasikan Para peneliti berdiskusi dengan fungsi strategis terbuka dan
kepada peneliti dan/atau calon beliau, saya akan yaitu membantu saling bertukar
mengenai kegiatan peneliti menggunakan secara langsung pikiran, gagasan
FGD meliputi mengetahui sopan santun dan dan secara dan ide satu
tempat dan waktu dan tempat tata bahasa yang substansial sama lain.
waktunya pelaksanaan baik (Etika Publik: terhadap para Selain itu,
FGD Sopan, Santun). hakim dalam kegiatan ini juga
4. Melaksanakan Kegiatan FGD Saya akan memutus dapat
kegiatan terlaksana menerima segala perkara- memperkuat
dengan lancar saran dan perkaranya. nilai indep (4
5. Melaporkan hasil Kepala bidang masukan dari Sehingga visi pilar) di MK
kegiatan FGD penelitian dan beliau (Etika MK dalam yaitu nilai
kepada kepala pengkajian Publik: “mengawal dedikasi dan
bidang penelitian perkara Responsif). Ketika tegakknya nilai
dan pengkajian mengetahui hasil beliau konstitusi profesionalism
perkara FGD sekaligus menyetujuinya, melalui e
mendapatkan kemudian saya peradilan
evaluasi akan konstitusi yang
bermusyawarah Modern,
dengan peneliti lain Terpercaya,
untuk membuat independen dan
41

konsep kegiatan adil” dapat


(Nasionalisme: terwujud.
Musyawarah
mufakat,
komunikatif).
Saya tidak akan
memaksakan
pendapat/ide
pribadi. Justru saya
akan menerima
saran dan
masukan dari
peneliti yang lain.
Ketika konsepnya
sudah dibentuk
dan jadwal
kegiatannya sudah
pasti, maka saya
akan
mensosialisasikan
kegiatan tersebut
dengan peneliti
yang lain
(Keterbukaan).
Terakhir, ketika
kegiatan sudah
terlaksana, saya
akan membuat
laporan hasil
kegiatan, saya
akan menulisnya
dengan cermat dan
jujur untuk
42

kemudian saya
serahkan kepada
kabid
(Akuntabilitas dan
anti korupsi:
Tanggungjawab,
Jujur).

Kegiatan FGD
perkara-perkara
mutakhir ini masuk
dalam kategori
manajemen ASN
karena dapat
meningkatkan
kompetensi calon
peneliti dalam
mengkaji serta
menelaah perkara-
perkara.

5 PEMBUATAN DAN 1. Mendiskusikan Para calon Saya mengawali Penulisan jurnal Pelaksanaan
PENULISAN kegiatan peneliti kegiatan dengan oleh peneliti MK kegiatan
JURNAL HUKUM pembuatan dan mengetahui berdoa merupakan pembuatan dan
penulisan jurnal rencana kegiatan (Nasionalisme: salah satu penulisan jurnal
hukum kepada sekaligus Religius). Saya langkah agar hukum yang
para peneliti CPNS tergugah untuk kemudian misi MK dalam memenuhi
MK mengikutinya mendiskusikan “meningkatkan kaidah etik
2. Membentuk tim Terbentuknya tim rencana kegiatan pemahaman penulisan jurnal
kecil untuk penulisan jurnal penulisan jurnal masyarakat dapat
penulisan jurnal bersama peneliti mengenai hak meningkatkan
3. Mendiskusikan isu Terpilihnya isu yang lain, saya konstitusional nilai-nilai dasar
43

hukum yang akan hukum akan menerima warga negara” di MK yaitu


diangkat kontemporer saran dan dapat terwujud, kejujuran,
yang akan masukan dari para karena secara profesional,
ditulis/dibahas peneliti yang lain tidak langsung kemandirian
4. Mencari referensi Terpilihnya (Nasionalisme: tulisan-tulisan dan objektif.
dan bahan hukum referensi- Musyawarah peneliti MK yang
untuk penulisan referensi hukum mufakat, dimuat di dalam
jurnal hukum yang mendukung komunikatif). jurnal akan
penulisan Kemudian saya menjadi bacaan
5. Melakukan Terselesaikannya akan membentuk dan konsumsi
pembuatan jurnal, penulisan jurnal tim kecil untuk masyarakat
editing yang penulisan jurnal secara luas
disesuaikan dengan anggota Kegiatan ini
dengan manuskrip yang proporsional secara tidak
serta melakukan dan adil (Etika langsung dapat
finishing Publik: keadilan). meningkatkan
6. Submit artikel Artikel jurnal Saya kemudian kemampuan
jurnal yang telah tersubmit mengadakan rapat peneliti dalam
dibuat ke jurnal untuk menentukan mengkonsepsik
terakreditasi isu hukum yang an ide dan
akan diangkat, saat gagasannya
rapat tersebut saya yang biasanya
menggunakan diaktualisasikan
dasar-dasar dalam
permusyawaratan pendapat-
untuk mufakat, pendapat
saya tidak akan hukum (legal
memaksakan opinion) yang
pendapat sendiri digunakan oleh
(nasionalisme: para hakim
Musyawarah dalam memutus
mufakat). Saya perkaranya.
melakukan
44

pembagian tugas
yang adil dan
proporsional dalam
mencari referensi
(Etika Publik:
Keadilan).
Kemudian di dalam
melakukan
penulisan, saya
akan cermat dan
teliti serta
menggunakan
kaidah bahasa
Indonesia baku
dan sesuai EYD.
Selain itu, saya
juga akan
mengedepankan
kode etik penulisan
jurnal dan
menghindari
praktek-praktek
plagiarisme
(Komitmen mutu:
kecermatan,
ketelitian).
Kegiatan ini dapat
meningkatkan
kemampuan dan
kompetensi peneliti
dalam melakukan
penulisan hukum
baik itu di jurnal,
45

makalah maupun
dalam bentuk legal
opini, anotasi
putusan dan
eksaminasi
putusan. Sehingga
kegiatan ini
termasuk dalam
manajemen ASN.

6 PEMBUATAN 1. Mendiskusikan Para Pertama, saya Pembuatan Pacta integritas


PACTA INTEGRITAS rencana peneliti/calon akan memulainya pacta integritas calon peneliti
CALON PENELITI DI pembuatan Pacta peneliti ikut serta dengan berdoa dapat menjadi acuan
P4 MKRI Integritas calon dalam proses kepada Tuhan meningkatkan calon peneliti
peneliti P4 diskusi YME agar kewaspadaan dalam
bersama dengan pembuatan pacta diberikan para peneliti melaksanakan
para peneliti integritas kemudahan dan agar tidak tugasnya
lainnya. kelancaran terjebak pada dengan penuh
(Nasionalisme: kebebasan rasa
2. Mengusulkan Atasan Religius). saya berakademiknya tanggungjawab
kepada kepala mengetahui akan melakukan yang terkadang dan intergirtas.
bidang penelitian rencana diskusi dengan sangat rawan Sehingga,
dan pengkajian pembuatan pacta peneliti yang lain untuk dengan adanya
perkara integritas calon dan membahas disalahgunakan pacta integritas
peneliti pembuatan pacta dan disalah calon peneliti ini
3. Melakukan Tersusunnya integritas calon artikan. dapat
pengkajian dan kajian tentang peneliti P4 karena Sehingga, meningkatkan
membuat latar pentingnya selama ini belum dengan adanya nilai-nilai dasar
belakang, tujuan pembuatan pacta ada. Saya akan pacta integritas di MK yaitu nilai
dan manfaat integritas calon senang menerima calon peneliti di kejujuran,
pembuatan pacta peneliti di P4 masukan dan P4 ini, para keterbukaan,
integritas calon saran dari teman peneliti akan integritas,
peneliti di P4 untuk peneliti yang lain sangat berhati- disiplin dan
46

selanjutnya (Etika Publik: hati dan netral profesional.


diserahkan kepada Responsif, dalam
kepala pusat dan Komunikatif). memberikan
kepala bidang. Saya kemudian pendapatnya,
akan mengusulkan sehingga visi
pembuatan pacta MK dalam
4. Melakukan Focuss Para peneliti integritas calon mengawal
Group Discussion dan/atau calon peneliti di P4 tegaknya
secara intensif peneliti turut aktif kepada atasan konstitusi
dengan para dalam proses saya, tentunya melalui
peneliti untuk pembahasan/disk dalam peradilan
pembuatan draft usi pembuatan mengusulkannya konstitusi yang
pacta integritas pacta integritas saya akan modern dan
sekaligus meminta calon peneliti menggunakan terpercaya,
masukan dan sopan santun, etika dapat tercapai.
saran dari peneliti yang baik serta
senior lainnya. menggunakan
bahasa indonesia
5. Membuat draft Tersusunnya yang sesuai kaidah
pacta integritas draft kode pacta EYD (Komitmen
calon peneliti P4 integritas calon Mutu: Cermat,
dan peneliti di P4 Teliti). Setelah
membandingkanny disetujui, saya
a dengan kode etik kemudian akan
peneliti di LIPI melakukan
serta kemudian pengkajian secara
meminta saran cermat terkait perlu
masukan dari tidaknya
kepala pusat dan pembuatan pacta
kepala bidang integritas calon
kemudian peneliti di P4
mendiskusikannya (Komitmen Mutu:
kembali melalui Cermat, Teliti).
47

FGD. Setelah itu, hasil


kajian tersebut
6. Melaporkan hasil Atasan akan saya
dari FGD dan isi menyetujui draft serahkan kepada
pacta integritas pacta integritas kabid
calon peneliti yang calon peneliti (Akuntabilitas:
telah disepakati Responsif). Saya
untuk selanjutnya kemudian akan
diserahkan kepada membuat FGD
kepala pusat dan untuk membahas
kepala bidang draft pacta
penelitian dan integritas calon
pengkajian perkara peneliti tersebut
untuk dilakukan bersama peneliti
pengesahan. lain. Saya akan
menggunakan
7. Mensosialisasikan Para peneliti prinsip
pacta integritas dan/atau calon musyawarah
calon peneliti P4 peneliti mufakat, saya tidak
kepada seluruh mengetahui akan memaksakan
peneliti adanya pacta kehendak pribadi
dilingkungan P4 integritas calon dan saya akan
MKRI. peneliti di P4 dengan senang
MKRI hati menerima
kritik, saran dan
masukan dari
peneliti yang lain
(Nasionalisme:
Musyawarah
mufakat,
komunikatif).
Saya kemudian
bersama peneliti
48

yang lain akan


membuat draft
pacta integritas
dan
membandingkanny
a dengan yang ada
di LIPI. Saya akan
dengan penuh
kecermatan,
kehatia-hatian dan
ketelitian dalam
menyusun draft
pacta integritas
tersebut. Draft
kode etik yang
telah disusun
kemudian saya
serahkan kepada
atasan untuk
disetujui
(Komitmen Mutu:
kecermatan,
ketelitian). Setelah
disetujui, saya
kemudian akan
mensosialisasika
kepada peneliti
lainnya baik secara
langsung maupun
melalui media
sosial. Dalam
mensosialisasikann
ya, tentunya saya
49

akan
menggunakan
kalimat yang baik
dan benar yang
sesuai EYD serta
padat berisi. (Etika
publik:
Keterbukaan.
Secara
keseluruhan,
kegiatan
pembuatan pacta
integritas calon
peneliti ini masuk
dalam kategori
manajemen ASN
karena dengan
adanya pacta
integritas ini, maka
calon peneliti akan
sangat berhati-hati
dan cermat serta
teliti dalam
melakukan tugas
pokok dan
fungsinya.

7 SHARING SESSION 1. Mengusulkan dan kepala bidang Dalam Penyusunan Pelaksanaan


PENYUSUNAN mendiskusikan penelitian dan mengusulkan nashkah kegiatan ini
NASKAH AKADEMIS kegiatan sharing pengkajian kegiatan sharing akademis dapat
DAN LEGAL session perkara session penulisan merupakan meningkatkan
DRAFTING penyusunan mengetahui hukum, saya salah satu nilai-nilai dasar
naskah akademik rencana kegiatan memualainya tupoksi baru dari di MK, karena
50

kepada kepala sharing session dengan membaca puslitka pasca dalam


bidang penelitian penyusunan doa persekjen penyusunan
dan pengkajian Naskah akademis (Nasionalisme: 13/2017. Melalui naskah
perkara dan legal drafting religius). Saat naskah akademis,
2. Menyusun kepala bidang saya akademis ini, tentunya para
proposal kegiatan penelitian dan mengusulkannya nantinya tujuan peneliti di untut
meliputi latar pengkajian dan yang diharapkan untuk disiplin,
belakang, tujuan perkara mendiskusikannya agar jujur dan
dan manfaat mengetahui latar dengan kepala penyusunan profesional.
kegiatan sharing belakang, tujuan bidang penelitian kebijakan di Oleh sebab itu,
session dan manfaat dari dan pengkajian lingkungan nilai-nilai yang
penyusunan rencana sharing perkara, saya akan Mahkamah dapat dikuatkan
naskah akademik session menerima saran Konstitusi dapat dari adanya
dan penyusunan dan kritik dari optimal dan kegiatan
menyerahkannya Naskah akademis beliau. Saya akan tanpa celah di pelatihan
kepada kepala dan legal drafting. menggunakan tutur dalamnya (tidak penyusunan
bidang penelitian Proposal kegiatan kata dan sopan multitafsir/ambig naskah ademis
dan pengkajian disetujui atasan santun saat u). Oleh sebab ini adalah nilai
perkara berhadapan dan itu, para peneliti kejujuran, nilai
3. Membuat danTerbentuknya tim bertemu sekaligus di puslika competence,
menyusun tim
kepanitiaan berdiskusi dengan sesungguhnya nilai
kepanitian untukkegiatan sharing beliau (Etika dituntut untuk IntegritasDisipl
pelatihan session Publik: menguasai skill in;
penyusunan penyusunan Komunikatif, pembuatan nilaiDedikas;
naskah akademik Naskah akademis Responsif). naskah dan
dan legal drafting Kemudian ketika akademis. Profesional.
4. Mendiskusikan Terbentuknya saya membuat Apabila kegiatan
mengenai tema tema kegiatan proposal, saya ini terlaksana,
kegiatan dan yang representatif akan cermat dalam maka dapat
narasumber dan terpilihnya penulisan dan meningkatkan
sekaligus waktu kegiatan menggunakan terwujudnya visi
menentukan waktu sharing session bahasa indonesia MK dalam
kegiatan penyusunan yang baku yang mengawal
51

Naskah akademis sesuai EYD tegaknya


dan legal drafting (Komitmen Mutu: konstitusi
5. Menghubungi Fiksasi Kecermatan, melalui
narasumber narasumber Ketelitian). peradilan
6. Melaksanakan Kegiatan Kemudian ketika konstitusi yang
kegiatan terlaksana saya menyusun modern dan
dengan lancar kepanitiaan, saya terpercaya.
dihadiri oleh para akan membaginya
peneliti dan/atau secara
calon peneliti proporsional
7. Melaporkan hasil Atasan dengan teman
kegiatan kepada mengetahui yang lain dan
kepala bidang laporan hasil ketika mengadakan
penelitian dan kegiatan sharing rapat untuk
pengkajian perkara session penentuan tema
penyusunan kegiatan dan waktu
Naskah akademis kegiatan, saya
dan legal drafting akan berusaha
menggunakan nilai
dasar musyawarah
untuk mufakat dan
8. Evaluasi kegiatan Diketahuinya menerima segala
kelemahan dan saran dan
kelebihan dari masukan yang
pelaksanaan membangun, saya
kegiatan tidak akan
sehingga dapat memaksakan
menjadi acuan kehendak pribadi
untuk (Nasionalisme:
pelaksanaan Musyawarah
kegiatan Mufakat,
selanjutnya komunikatif).
Saya juga akan
52

mensosialisasikan
kegiatan tersebut
kepada peneliti
lainnya (Etika
Publik:
Keterbukaan,
Komunikatif) dan
ketika membuat
laporan kegiatan,
saya akan
membuatnya
dengan jujur dan
penuh
tanggungjawab.
Saya akan
melaporkan hasil
kegiatan
sebagaimana
mestinya (anti
korupsi:
Tanggungjawabn,
kejujuran).

Kegiatan ini masuk


dalam kategori
manajemen ASN
karena kegiatan ini
bertujuan untuk
meningkatkan
kompetensi calon
peneliti dalam
menyusun naskah
akademis.
53

8 BEDAH BUKU 1. Mengusulkan dan Atasan Dalam Kegiatan bedah Secara


HUKUM mendiskusikan mengetahui mengusulkan buku hukum substansial,
kegiatan bedah rencana kegiatan kegiatan pelatihan merupakan kegiatan bedah
buku hukum bedah buku penulisan hukum, salah satu buku hukum ini
kepada kepala hukum saya memualainya kegiatan dalam dapat
bidang penelitian dengan membaca rangka menguatkan
dan pengkajian doa mendorong dan nilai-nilai dasar
perkara (Nasionalisme: meningkatkan yang ada di MK
2. Menyusun Terbentuknya religius). Saat pengetahuan yaitu nilai
proposal kegiatan proposal kegiatan saya peneliti dalam competence,
meliputi latar dan diketahui mengusulkannya memahami nilai integritas,
belakang, tujuan atasan. Atasan dan perkembangan nilai disiplin
dan manfaat mengetahui mendiskusikannya ilmu hukum. dan nilai
kegiatan bedah rencana kegiatan, dengan kepala Kegiatan ini profesional.
buku hukum dan latar belakang, bidang penelitian secara
menyerahkannya maksud dan dan pengkajian substantif dapat
kepada kepala tujuan kegiatan perkara, saya akan berdampak
bidang penelitian menerima saran pada kualitas
dan pengkajian dan kritik dari peneliti alam
perkara beliau. Saya akan mengkaji dan
3. Mendiskusikan Terbentuknya menggunakan tutur menelaah
mengenai tema tema kegiatan kata dan sopan perkara. Selain
kegiatan dan sekaligus santun saat itu, peneliti
pemilihan terpilihnya berhadapan dan nantinya dapat
narasumber untuk narasumber yang bertemu sekaligus saling bertukar
membedah buku akan diundang berdiskusi dengan pikiran dan
hukum beliau (Etika gagasan yang
4. Menghubungi Narasumber Publik: Sopan, kedepannya
Narasumber mengetahui Santun, dapat
waktu dan tempat Komunikatif). bermanfaat
pelaksanaan Kemudian ketika ketika peneliti
kegiatan dan saya membuat diminta hakim
mengkonfirmasi proposal, saya untuk
54

kehadirannya akan cermat dalam menjelaskan


penulisan dan duduk perkara
menggunakan yang sedang
5. Sosialisasi Para peneliti bahasa indonesia dihadapi. Oleh
kegiatan kepada dan/atau calon yang baku yang sebab itu,
para peneliti peneliti sesuai EYD kegiatan ini
dan/atau calon mengetahui (Komitmen Mutu: secara
peneliti rencana kegiatan Cermat, teliti). substansial
bedah buku Kemudian ketika dapat
hukum saya menyusun meningkatkan
kepanitiaan, saya visi MK dalam
akan membaginya mengawal
secara tegaknya
6. Melaksanakan Terlaksananya proporsional konstitusi
kegiatan kegiatan dan dengan teman melalui
dihadiri oleh para yang lain dan peradilan
peneliti dan/atau ketika mengadakan konstitusi yang
calon peneliti rapat untuk modern dan
7. melaporan hasil Atasan penentuan tema terpercaya.
kegiatan kepada mengetahui kegiatan dan waktu Ditambah lagi,
kepala bidang laporan hasil kegiatan, saya dapat juga
penelitian dan kegiatan bedah akan berusaha menguatkan
pengkajian perkara buku hukum menggunakan nilai misi Mk dalam
dasar musyawarah rangka
untuk mufakat dan membangun
menerima segala sistem peradilan
saran dan konstitusi yang
8. evaluasi kegiatan Diketahuinya masukan yang mampu
kelemahan dan membangun, saya mendukung
kelebihan dari tidak akan penegakan
pelaksanaan memaksakan konstitusi.
kegiatan pendapat pribadi
sehingga dapat (Nasionalisme:
55

menjadi acuan Musyawarah).


untuk Saya juga akan
pelaksanaan mensosialisasikan
kegiatan kegiatan tersebut
selanjutnya kepada peneliti
lainnya (Etika
Publik:
Keterbukaan) dan
ketika membuat
laporan kegiatan,
saya akan
membuatnya
dengan jujur dan
penuh
tanggungjawab.
Saya akan
melaporkan hasil
kegiatan
sebagaimana
mestinya dan tidak
akan memakai
dana kegiatan
untuk kepentingan
pribadi (anti
korupsi:
Tanggungjawab,
jujur).

Secara
keseluruhan,
kegiatan ini masuk
dalam kategori
Manajemen ASN
56

9 CONFERENCE 1. Mencari info Tersedianya info- Dalam mencari Kegiatan Pelaksanaan


ALLERT conference info conference info-info mengikuti kegiatan
terupdate baik terupdate baik conference conference oleh pembuatan
level nasional level nasional terupdate, saya peneliti atau calon dan penulisan
maupun maupun memulainya peneliti MK jurnal hukum
internasional internasional dengan bedoa merupakan salah yang
agar dberikan satu langkah agar memenuhi
2. Membuat kalender Terbentuknya kelancaran dan misi MK dalam kaidah etik
conference kalender yang kemudahan “meningkatkan penulisan
menginfokan (Nasionalisme: pemahaman jurnal dapat
jadwal Religius). Saya masyarakat meningkatkan
conference- mencari info-info mengenai hak nilai-nilai dasar
conference conference dengan konstitusional di MK yaitu
3. Mensosialisasikan Para peneliti cermat dan teliti warga negara” kejujuran,
kepada peneliti dan/atau calon terutama mengenai dapat terwujud, profesional,
dan/atau calon peneliti tema conference karena secara kemandirian
peneliti melalui mengetahui yang saya cari tidak langsung dan objektif.
media daring adanya dibatasi untuk tulisan-tulisan
(online) conference tema hukum peneliti MK yang
dalam waktu (Komitmen Mutu: dipresentasikan
dekat Cermat, Teliti, dan dimuat di
Berorientasi dalam
mutu). Kemudian proceeding/jurnal
saya membuat konferensi akan
kelender menjadi bacaan
conference yang dan konsumsi
dibuat masyarakat
menggunakan secara luas
aplikasi google Kegiatan ini
calender dan secara tidak
aplikasi sejenis. langsung dapat
57

Dalam membuat meningkatkan


kalender tersebut, kemampuan
saya membuatnya peneliti dalam
dengan teliti dan mengkonsepsikan
penuh kecermatan. ide dan
Kemudian saya gagasannya yang
mensosialisasikan biasanya
adanya kalender diaktualisasikan
conference dalam pendapat-
tersebut kepada pendapat hukum
para peneliti (legal opinion)
dan/atau calon yang digunakan
peneliti (Etika oleh para hakim
Publik: dalam memutus
Keterbukaan). perkaranya.
Setelah adanya Selain itu, dengan
peneliti dan/atau mengikuti
calon peneliti yang conference, maka
tertarik mengikuti peneliti atau calon
conference, saya peneliti akan
akan membentuk berpikir secara
tim penulisan global dan go
secara adil dan internasional.
proporsional.
Secara
keseluruhan,
kegiatan ini masuk
dalam kategori
Manajemen ASN
yaitu untuk
pengembangan
kompetensi.
58
BAB IV
PELAKSANAAN AKTUALISASI

A. Capaian Aktualisasi
Kegiatan Habituasi merupakan salah satu rangkaian dalam
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III yang
diatur dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor
21 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihsan Dasar
Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III. Kegiatan habituasi
merupakan kegiatan off campus, dimana dalam proses kegiatan
habituasi ini menekankan pada penerapan dan pelaksanaan Aktualisasi
yang telah diseminarkan pada rencana aktualisasi di tempat kerja
dengan menyajikan berbagai bukti yang relevan.

Kegiatan Habituasi penulis dilaksanakan di Pusat Penelitian dan


Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka)
Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia, dan dilaksanakan selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja
mulai tanggal 26 Februari 2018 sampai tanggal 22 Juni 2018. Dalam
penerapan aktualisasi sebagai gagasan pemecahan isu penulis dalam
meningkatkan nuansa kekompakan dan nuansa akademis di
lingkungan puslitka MK RI, penulis melakukan kegiatan-kegiatan
sebagaimana telah direncanakan dan disusun dalam rancangan
kegiatan aktualisasi. Adapun kegiatan yang telah terlaksana adalah
sebagai berikut :

Tabel. 4.1.Capaian Kegiatan Aktualisasi

PENCAPAIAN
NO KEGIATAN
YA TIDAK

1 Morning Review V

2 Sharing Session Penulisan Hukum (legal V


59

writing)

3 Sharing Session Penelitian Hukum (Legal


V
Research)

4 Sharing Session Penyusunan Naskah


V
Akademis dan Legal Drafting

5 Focus Group Discussion perkara-perkara


V
mutakhir

6 Pembuatan dan penulisan jurnal hukum V

7 Pembuatan pacta integritas calon Peneliti Di


V
Puslitka MKRI
8 Bedah Buku Literatur Hukum V

9 Conference Allert V

Selain kegiatan diatas, penulis juga melakukan kegiatan-kegiatan


diluar kegiatan yang telah direncanakan dalam rancangan aktualisasi.
Kegiatan-kegiatan tersebut berupa kegiatan institusional (tugas institusi dan
atas perintah atasan) dan kegiatan lainnya yang mendukung dalam
memecahkan isu yang diangkat oleh penulis. Adapun kegiatan yang akan
diuraikan dalam laporan ini dibatasi hanya untuk kegiatan yang mendukung
dalam pemecahan isu yang diangkat oleh penulis di puslika MKRI, antara
lain:

Tabel. 4.2. Capaian Kegiatan Tambahan selama masa Habituasi

KEGIATAN TAMBAHAN
PENCAPAIAN
NO KEGIATAN WAKTU
TERCAPAI TIDAK
Focus Group Discussion 26 Februari 2018
1 V
Pof. Yuzuru Shimada
Focus Group Discussion 8 Maret 2018
2 V
Pajak Penerangan Jalan
3 English Day Setiap hari jumat V
60

Setiap Rabu dan


Les TOEFL LIA Kelas
4 Jumat Pukul 07.30 V
Intermediate 4
s/d 09.00 wib
Workshop Penanganan Bekasi, 20-22 April
5 Pilkada Serentak Tahap 2018 V
1
Workshop Penanganan Bekasi, 15-17 Mei
6 Pilkada Serentak Tahap 2018 V
2

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kegiatan aktualisasi yang telah

tercapai adalah sebagai berikut:

I. KEGIATAN MORNING REVIEW

1. MORNING REVIEW

NILAI URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN TEKNIK


DASAR PELAKSANAAN AKTUALISASI AKTUALISASI DAN KUALITAS
ANEKA KEGIATAN HASIL KEGIATAN
Etika Publik Mengusulkan dan Tercapai Teknik Aktualisasi
mengkomunikasikan  Teknik Membangun Komunikasi
kegiatan morning dan Diskusi
review kepada atasan A. Uraian Penggunaan Teknik
sehingga atas Teknik membangun komunikasi
mengetahui adanya digunakan penulis sebagai langkah
kegiatan morning awal dalam penerapan Aktualisasi
review dengan cara melakukan Koordinasi
Akuntabilitas Menentukan PIC Tercapai dengan atasan.
Kegiatan Morning
Review B. Manfaat Bagi Pihak Lain
Dengan adanya koordinasi dan
komunikasi, maka dapat
Akuntabilitas mencatat saran, Tercapai membangun kesamaan persepsi,
masukan, serta membangun komunikasi antar
informasi peserta pegawai dan keterbukaan informasi
morning review untuk serta adanya saran dan masukan
selanjutnya dibuat serta review kegiatan yang telah
notulensi kegiatan dilakukan maupun akan dilakukan.
morning review
C.Perwujudan Visi Organisasi
Kegiatan morning review merupakan
kegiatan yang dapat memperkuat visi
MK dalam mengawal tegaknya
konstitusi melalui peradilan konstitusi
yang modern dan terpercaya.
Karena, dalam kegiatan ini, para
peneliti dituntut untuk saling terbuka,
empati, jujur dan toleransi dalam
naunsa kebathinan yang
61

mengedepankan persatuan dan


kesatuan.

Kegiatan morning review dilakukan pertama kali pada tanggal 28


Februari 2018 bertempat di ruang rapat Puslitka lantai 9 dan dihadiri
langsung oleh kepala Puslitka. Dalam kegiatan ini, penulis dan CPNS
Peneliti lainnya berkoordinasi dan berdiskusi terkait kegiatan-kegiatan
yang hendak dilakukan selama habituasi. Kepala Puslitka menghendaki
untuk adanya harmonisasi kegiatan diantara CPNS peneliti lainnya agar
kegiatan-kegiatan yang ada nantinya dapat diselesaikan secara
bersama-sama dan tanpa mengganggu kegiatan-kegiatan lain ke
depannya. Kegiatan morning review disepakati diadakan setiap hari
senin pukul 08.00 s/d 09 .00 wib.

Kegiatan morning review ini mendapatkan apresiasi dari kepala


Puslitka meskipun kegiatan ini baru sebatas untuk CPNS Peneliti dan
belum diikuti oleh pegawai lainnya di lingkungan Puslitka. Akan tetapi,
kedepannya, kepala Puslitka sudah merencanakan kegiatan serupa yang
diikuti oleh seluruh pegawai dan peneliti di lingkungan Puslitka yang
akan diadakan setiap hari selasa diawal bulan pukul 08.00 s/d 09.30 wib
di ruang rapat kepala Puslitka.

Secara umum, kegiatan morning review ini berkaitan dengan Etika


Publik dan Akuntabilitas yang tercantum dalam ANEKA. Salah satu
indikator dari Etika Publik adalah sopan dan santun dalam berkomunikasi
dan berkoordinasi. Sedangkan akuntabilitas merupakan sebuah
tanggung jawab, dalam kegiatan koordinasi dibutuhkan suatu tanggung
jawab dalam membuat sebuah kegiatan. Sehingga, diharapkan dalam
pelaksanaan kegiatan maka dapat membangun kesamaan persepsi,
62

membangun komunikasi antar pegawai dan keterbukaan informasi serta


adanya saran dan masukan serta review kegiatan yang telah dilakukan
maupun akan dilakukan. Terdapat beberapa indikator keberhasilan dari
kegiatan ini, yakni:

Sebelum : Belum adanya kesepahaman antara Peserta Latsar CPNS


dengan Kepala Puslitka, peneliti serta pegawai di lingkungan
Puslitka dalam pelaksanaan kegiatan aktualisasi isu
Sesudah : Terciptanya kesepahaman persepsi dan keterbukaan terkait
pelaksanaan kegiatan Aktualisasi dengan isu yang akan
diangkat serta kegiatan-kegiatan lainnya yang akan dilakukan
Hasil : Kegiatan morning review diharapkan dapat menyamakan
persepsi sehingga dalam pelaksaanaan kegiatan dapat sesuai
dengan yang diharapkan.

Gambar 4.1. Kegiatan Morning review


63

II. SHARING SESSION PENULISAN HUKUM (LEGAL WRITING)

2. SHARING SESSION PENULISAN HUKUM (LEGAL WRITING)


NILAI URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN TEKNIK
DASAR PELAKSANAAN AKTUALISASI AKTUALISASI DAN KUALITAS
ANEKA KEGIATAN HASIL KEGIATAN
Etika Publik mengusulkan Tercapai Teknik Aktualisasi
kepada kepala  Teknik Membangun Komunikasi
Bidang dan Diskusi
penelitian dan
pengkajian A.Uraian Penggunaan Teknik
perkara Puslitka Teknik membangun komunikasi
Etika Publik Mendiskusikan Tercapai dan diskusi dilakukan dengan
dan menentukan melalui hasil koordinasi dengan
waktu dan kepala bidang penelitian dan
tempat kegiatan pengkajian perkara serta
dalam morning berkoordinasi dengan narasumber
review sharing session.
Akuntabilitas Mengkonfirmasi Tercapai
kepada kepala B. Manfaat Bagi Pihak Lain
bidang penelitian Sharing session ini bermanfaat
dan pengkajian bagi peserta khususnya CPNS
perkara terkait Peneliti dalam memahami tips dan
waktu dan trik dalam penulisan hukum yang
tempat kegiatan kedepannya berguna untuk
Komitmen Terlaksananya Tercapai mengoptimalkan kemampuan
Mutu kegiatan dengan peneliti dalam menulis di jurnal,
lancar dan tanpa kajian-kajian, mau[un telaah
hambatan, terhadap suatu perkara.
peserta sharing
session C.Perwujudan Visi Organisasi
menghadiri Dengan terlaksananya kegiatan
kegiatan dan sharing session penulisan hukum
berdiskusi untuk peneliti CPNS, maka dapat
dengan meningkatkan kualitas peneliti
narasumber khususnya CPNS dalam
dengan penuh melakukan penulisan hukum.
antusias. Tujuannya, nantinya agar tulisan-
tulisan dalam bentuk telaah
perkara dan legal opinion yang
akan digunakan hakim konstitusi
dalam memeriksa dan memutus
perkara menjadi semakin
berkualitas, kompleks dan padat
berisi. Sehingga, kegiatan ini juga
dapat mewujudkan visi MK dalam
mengawal tegaknya konstitusi
melalui peradilan konstitusi yang
modern dan terpercaya.

Kegiatan sharing session penulisan hukum (legal writing)


dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2018 bertempat di ruang rapat
lantai 9 Puslitka dan dihadiri oleh seluruh CPNS Peneliti. Adapun
64

yang menjadi narasumber sharing session penulisan hukum (legal


writing) adalah Bisariyadi, S.H.,L.LM., peneliti muda puslitka
dengan tema yang dipaparkan adalah Penulisan Artikel Ilmiah
(power poin terlampir).

Dalam menyusun kegiatan sharing session penulisan hukum


ini, penulis terlebih dahulu mengkoordinasikan dengan kepala bidang
penelitian dan pengkajian perkara yaitu Dr. Fajar Laksono,
S.sos.,M.H. Penulis terlebih dahulu membuat Term of Reference
kegiatan untuk diusulkan kepada kepala bidang agar mengetahui
maksud dan tujuan kegiatan serta manfaatnya (terlampir).
Selanjutnya, kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara yang
menentukan narasumber dan beliau juga yang menghubunginya
narasumber secara langsung.

Adapun kegiatan sharing session penulisan hukum ini


berjalan lancar dimana masing-masing peserta secara antusias
bertanya dan berdiskusi dengan narasumber terkait teknik penulisan
hukum khususnya untuk penulisan jurnal dan artikel ilmiah hasil
penelitian. Selain itu, terdapat beberapa perubahan kondisi sebelum
dan sesudah diadakannya kegiatan sharing session penulisan
hukum ini, yaitu:

Sebelum : Belum adanya gambaran dari CPNS Peneliti


tentang penulisan hukum baik dalam jurnal
ilmiah, kajian-kajian maupun telaah terhadap
perkara
Sesudah : CPNS Peneliti mengetahui tips dan trick dalam
penulisan hukum
Hasil dan Manfaat : terlaksananya kegiatan sharing session
penulisan hukum untuk peneliti CPNS, dapat
meningkatkan kualitas peneliti khususnya CPNS
dalam melakukan penulisan hukum. Tujuannya
agar tulisan-tulisan dalam bentuk telaah perkara
65

dan legal opinion yang akan digunakan hakim


konstitusi dalam memeriksa dan memutus
perkara menjadi semakin berkualitas, kompleks
dan padat berisi. Sehingga, kegiatan ini juga
dapat mewujudkan visi MK dalam mengawal
tegaknya konstitusi melalui peradilan konstitusi
yang modern dan terpercaya.

Gambar 4.2. Kegiatan Sharing Session Penulisan Hukum

III. SHARING SESSION LEGAL RESEARCH

3. SHARING SESSION LEGAL RESEARCH


NILAI URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN
DASAR PELAKSANAAN AKTUALISASI TEKNIK AKTUALISASI DAN
ANEKA KEGIATAN KUALITAS HASIL KEGIATAN
Etika Publik mengusulkan Tercapai Teknik Aktualisasi
kepada kepala  Teknik Membangun
Bidang penelitian Komunikasi dan Diskusi
dan pengkajian
perkara Puslitka A.Uraian Penggunaan Teknik
Etika Publik Mendiskusikan Tercapai Teknik membangun komunikasi
dan menentukan dan diskusi dilakukan dengan
waktu dan tempat melalui hasil koordinasi dengan
kegiatan dalam kepala bidang penelitian dan
morning review pengkajian perkara serta
Akuntabilitas Mengkonfirmasi Tercapai berkoordinasi dengan
kepada kepala narasumber sharing session.
bidang penelitian
dan pengkajian B. Manfaat Bagi Pihak Lain
66

perkara terkait Sharing session ini bermanfaat


waktu dan tempat bagi peserta khususnya CPNS
kegiatan Peneliti dalam memahami tips
Komitmen Terlaksananya Tercapai dan trik dalam penelitian
Mutu kegiatan dengan hukum yang kedepannya
lancar dan tanpa berguna untuk
hambatan, mengoptimalkan kemampuan
peserta sharing peneliti dalam mengkaji dan
session menelaah suatu perkara.
menghadiri
kegiatan dan C.Perwujudan Visi Organisasi
berdiskusi dengan Peningkatan kualitas peneliti
narasumber dalam melakukan penelitian
dengan penuh hukum baik secara normative
antusias. maupun sociolegal dapat
meningkatkan kualitas putusan-
putusan MK itu sendiri.
Sehingga nantinya dengan
bertambahnya kualitas putusan
hakim, berdampak pada
kembali tingginya tingkat
kepercayaan masyarakat
terhadap MK. Secara usbtantif,
kegiatan ini akan berdampak
pada nilai-nilai dasar di MK
yaitu nilai integrity, independent,
objective, dedikasi, profesional
dan thrustwhorty.

Kegiatan sharing session penulisan hukum (legal writing)


dilaksanakan pada tanggal 12 April 2018 bertempat di ruang rapat
lantai 9 Puslitka dan dihadiri oleh seluruh CPNS Peneliti (daftar hadir
terlampir). Adapun yang menjadi narasumber sharing session penulisan
hukum (legal writing) adalah Pan Muhammad Faiz K.W.,
S.H.,MCL.,P.hd., Peneliti Madya puslitka dengan tema yang
dipaparkan adalah penelitian hukum (power poin terlampir).

Dalam menyusun kegiatan sharing session penulisan hukum ini,


terlebih dahulu penulis mengkoordinasikan dengan kepala bidang
penelitian dan pengkajian perkara. Penulis membuat Term of
Reference kegiatan untuk diusulkan kepada kepala bidang agar
mengetahui maksud dan tujuan kegiatan serta manfaatnya (terlampir).
Selanjutnya, kepala bidang yang mengusulkan nama narasumber dan
beliau juga yang menghubunginya secara langsung. Terdapat
67

beberapa hasil yang dicapai setelah dilaksanakannya kegiatan sharing


session penelitian hukum ini, antara lain:

Sebelum : Belum adanya gambaran dari CPNS Peneliti


tentang penelitian hukum baik secara normative
maupun sosio legal.
Sesudah : CPNS Peneliti mengetahui tips dan trick dalam
melakukan penelitian hukum
Hasil : terlaksananya kegiatan sharing session
dan penelitian hukum untuk peneliti CPNS, dapat
Manfaat meningkatkan kualitas peneliti dalam melakukan
penelitian hukum baik secara normative maupun
socio-legal yang selanjutnya dapat meningkatkan
kualitas putusan-putusan MK itu sendiri.
Sehingga nantinya dengan bertambahnya
kualitas putusan hakim, berdampak pada kembali
tingginya tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap MK. Secara usbtantif, kegiatan ini akan
berdampak pada nilai-nilai dasar di MK yaitu nilai
integrity, independent, objective, dedikasi,
profesional dan thrustwhorty.

Gambar 4.3. Sharing Session Penelitian Hukum


68

IV. FOCUS GROUP DISCUSSION

4. FOCUS GROUP DISCUSSION


NILAI URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN TEKNIK
DASAR PELAKSANAA AKTUALISASI AKTUALISASI DAN KUALITAS
ANEKA N KEGIATAN HASIL KEGIATAN
Nasionalisme Membuat Tercapai Teknik Aktualisasi
konsep FGD  Teknik Berfikir Kreatif dan
dan Diskusi
mendiskusikann
ya dengan A.Uraian Penggunaan Teknik
atasan dan Teknik Berfikir Kreatif dan diskusi
CPNS Peneliti dilakukan dengan diskusi dengan
lainnya atasan yaitu kepala puslitka dan
Komitmen Menentukan Tercapai CPNS Peneliti lainnya agar ada
Mutu PIC kegiatan kesepahaman kegiatan.
sekaligus
menentukan B. Manfaat Bagi Pihak Lain
jadwal kegiatan Dengan adanya diskusi dan
kerja sama dalam kegiatan FGD
ini maka dapat menciptakan
kekompakan dan kerjasama
serta menumbuhkan budaya
kritis melalui diskusi terkait
dengan perkara-perkara yang
masuk di MK.

C.Perwujudan Visi Organisasi


Kegiatan FGD perkara-perkara
muktakhir secara substansial
dapat meningkatkan nilai-nilai
dasar di MK yaitu keterbukaan,
empati dan toleransi karena
dengana danya FGD ini, para
peneliti dapat saling terbuka dan
saling bertukar pikiran, gagasan
dan ide satu sama lain. Selain
itu, kegiatan ini juga dapat
memperkuat nilai indep (4 pilar)
di MK yaitu nilai dedikasi dan
nilai profesionalisme

Focus Group Discussion merupakan kegiatan rutin dan terjadwal yang


dilakukan oleh CPNS Peneliti. Kegiatan ini, terbagi menjadi 2 (dua) yaitu
FGD institusional dan FGD Internal. FGD Institusional merupakan FGD
yang dilakukan Puslitka untuk memperdalam kajian terhadap perkara-
perkara yang membutuhkan pendalaman secara khusus. Pada FGD
Institusional, narasumber berasal dari luar institusi yang memiliki keahlian
dibidangnya masing-masing sesuai dengan perkara yang sedang
69

membutuhkan pendalaman tersebut. Biaya untuk kegiatan FGD


Institusional telah dianggarkan dalam pagu anggaran Mahkamah Konstitusi
dan kegiatan tersebut dihadiri oleh peneliti, panitera, panitera pengganti
dan hakim konstitusi. Adapun kegiatan FGD institusional yang telah
dilakukan diantaranya:

1. FGD bertajuk “Jaminan dan Perlindungan Hak Privasi Warga Negara


Dan Akses Informasi Keuangan Di Jepang” pada tanggal 26 Februari
2018, bertempat di Ruang Rapat Besar Lantai 11. Narasumber
kegiatan FGD ini adalah Prof. Yuzuru Shimada dari Nagoya
University.
2. FGD bertajuk “Dasar dan Arah Kebijakan Negara dalam
Pemungutan Pajak Penggunaan Listrik” pada tanggal 8 Maret 2018
bertempat di aula lantai dasar gedung Mahkamah Konstitusi.
Narasumber kegiatan ini adalah Prof. Jamal Wiwoho (Guru Besar
Universitas Sebelas Maret Surakarta / Irjen DIKTI) dan Yustinus
Prastowo (Ahli Pajak, Center for Indonesia Tax Analysis/CITA).

Selain itu, dilaksanakan juga kegiatan FGD Internal yang dilakukan


oleh internal peneliti Puslitka untuk mengkaji perkara. Kegiatan FGD
internal ini beberapa kali dihadiri oleh mentor yaitu Bapak Helmi Kasim,
S.S.,S.H.,M.H. dan Bapak Dr. Fajar laksono, S.Sos.,M.H. kegiatan FGD
Internal dibagi menjadi 2 (dua) yaitu berupa kajian pendahuluan dan kajian
pendalaman. Adapun masing-masing CPNS Peneliti memegang perkara
secara berurutan dan bergantian untuk nantinya dilakukan FGD. Beberapa
perkara yang menjadi tanggungjawab penulis untuk dikaji selama masa
habituasi, diantaranya:

FGD KAJIAN PENDAHULUAN


PENCAPAIAN
NO PERKARA
TERCAPAI TIDAK
1 Perkara Nomor 2/PUU-XVI/2018 V
2 Perkara Nomor 20/PUU-XVI/2018 V
3 Perkara Nomor 27/PUU-XVI/2018 V
70

4 Perkara Nomor 34/PUU-XVI/2018 V


5 Perkara Nomor 41/PUU-XVI/2018 V
6 Perkara Nomor 48/PUU-XVI/2018 Sudah ada jadwal,
masih Proses

FGD KAJIAN PENDALAMAN


NO PENCAPAIAN
PERKARA
TERCAPAI TIDAK
1 Perkara Nomor 84/PUU-XV/2017 V
2 Perkara Nomor 56/PUU-XV/2017 V
3 Perkara Nomor 2/PUU-XVI/2018 V
4 Perkara Nomor 15/PUU-XVI/2018 Sudah ada jadwal,
masih Proses

Di dalam FGD Internal, pekara yang dikaji kemudian didiskusikan


bersama-sama secara mendalam. Setelah mendapat saran, kritik dan
masukan, kemudian hasil kajian diperbaiki untuk selanjutnya di upload di
menu internal website Mahkamah Konstitusi. Sedangkan khusus untuk
hasil FGD kajian pendalaman, naskah kajian di jilid dan ditandatangani oleh
kepala puslitka untuk selanjutnya dibuatkan nota dinas kepada sekretaris
jenderal MK RI. Setelah mendapat Acc dari sekjen, naskah kajian
selanjutnya digandakan dan di distribusikan kepada peneliti yang attach
kepada hakim, panitera dan hakim konstitusi. Sedangkan untuk berkas
digital hasil kajian diupload di menu internal website mahkamah konstitusi.

Terdapat beberapa manfaat dari adanya kegiatan Focus group


discussion ini, yaitu:

Sebelum: FGD dan kajian hanya dilakukan oleh peneliti yang melekat
langsung kepada hakim konstitusi sehingga secara kelembagaan, puslitka
belum memiliki produk hasil kajian.
71

Sesudah : Hasil kajian tidak hanya dikerjakan oleh peneliti yang melekat
kepada hakim konstitusi, tetapi juga peneliti yang berada di pusat.
Sehingga, secara kelembagaan, puslitka memiliki produk berupa naskah
kajian.

Hasil dan Manfaat : Kegiatan FGD perkara-perkara muktakhir secara


substansial dapat meningkatkan nilai-nilai dasar di MK yaitu keterbukaan,
empati dan toleransi karena dengana danya FGD ini, para peneliti dapat
saling terbuka dan saling bertukar pikiran, gagasan dan ide satu sama lain.
Selain itu, kegiatan ini juga dapat memperkuat nilai indep (4 pilar) di MK
yaitu nilai dedikasi dan nilai profesionalisme

Gambar 4.4. FGD Internal kajian pendahuluan

Gambar 4.5. FGD Internal Kajian Pendahuluan bersama Peneliti Senior


Puslitka sekaligus Mentor Bapak Helmi Kasim, S.S.,S.H.,M.H.
72

Gambar 4.6. FGD Internal Kajian Pendalaman bersama Kepala Bidang Penelitian
dan Pengkajian Perkara PUSLITKA, Bapak Dr. Fajar Laksono, S.Sos., M.H.

Gambar 4.7. FGD Internal Kajian Pendalaman bersama Kepala Bidang Penelitian
dan Pengkajian Perkara PUSLITKA, Bapak Dr. Fajar Laksono, S.Sos., M.H.
73

V. PEMBUATAN DAN PENULISAN JURNAL HUKUM

5. PEMBUATAN DAN PENULISAN JURNAL HUKUM


NILAI URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN TEKNIK
DASAR PELAKSANAA AKTUALISA AKTUALISASI DAN KUALITAS
ANEKA N KEGIATAN SI HASIL KEGIATAN
Akuntabilitas Mendiskusikan Tercapai Teknik Aktualisasi
kegiatan  Teknik Membangun Komunikasi
pembuatan dan dan Diskusi
penulisan jurnal
hukum kepada A.Uraian Penggunaan Teknik
para peneliti Teknik membangun komunikasi dan
CPNS MK diskusi dilakukan dengan melalui
Akuntabilitas Membentuk tim Tercapai diskusi kepada CPNS Peneliti
kecil untuk lainnya terkait kegiatan pembuatan
penulisan jurnal dan penulisan jurnal hukum.

Komitmen Mendiskusikan Tercapai B. Manfaat Bagi Pihak Lain


Mutu isu hukum yang Meningkatkan nuansa akademis
akan diangkat bagi para CPNS Peneliti sekaligus
upaya untuk memperoleh nilai/poin
peneliti.
Komitmen Submit artikel Tercapai C. Perwujudan Visi Organisasi
Mutu jurnal yang telah
Pelaksanaan kegiatan pembuatan
dibuat ke jurnal dan penulisan jurnal hukum yang
terakreditasi memenuhi kaidah etik penulisan
jurnal dapat meningkatkan nilai-nilai
dasar di MK yaitu kejujuran,
profesional, kemandirian dan
objektif.

Kegiatan pembuatan dan penulisan jurnal merupakan tindak lanjut


dari kegiatan Sharing Session Penulisan Hukum. Kegiatan ini dilaksanakan
setiap hari senin setelah morning review. Dalam kegiatan ini, CPNS peneliti
dibagi menjadi tim-tim kecil untuk penulisan jurnal, antara lain:

 Tim 1: Fuad, Kiki


 Tim 2: Mery, Erlina
 Tim 3 : Zaka, reza, dan Sharfina

Tim-tim kecil ini kemudian mencari tema penulisan untuk selanjutnya


dibuatkan outline artikel jurnal. Setelah itu, masing-masing tim akan intensif
mendiskusikan tema yang hendak ditulis. Ouput dari kegiatan ini adalah
submit artikel jurnal ke jurnal-jurnal hukum terakreditasi nasional. Adapun
74

untuk tim penulis (Tim 3) telah beberapa kali submit untuk artikel jurnal
selama masa habituasi ini, antara lain:

1. Artikel jurnal dengan judul “Rekonstruksi Hierarki Peraturan


Perundang-Udangan Di Indonesia”, Jurnal Negara Hukum yang
diterbitkan oleh DPR RI - terakreditasi. Sedang dalam proses
penerbitan. (terlampir)
2. Artikel jurnal dengan judul “Penerapan Modal Sosial dalam Praktek
Peradilan yang Berbasis kepekaan Sosial”, Jurnal Legality Fakultas
Hukum Universitas Muhammadiyah Malang-terakreditasi, Sedang
dalam proses penerbitan. (terlampir)

Terdapat beberapa perubahan sebelum dan sesudah


dilaksanakannya kegiatan pembuatan dan penulisan jurnal ini, antara lain:

Sebelum : Belum adanya tim penulisan jurnal di puslitka

Sesudah : Terbentuk tim penulisan jurnal sehingga CPNS


Peneliti dapat lebih produktif dalam menulis
Hasil dan Manfaat : Pelaksanaan kegiatan pembuatan dan
penulisan jurnal hukum dapat meningkatkan
produktifitas CPNS Peneliti dalam menulis yang
berpengaruh pada capaian SKP

Gambar 4.8. Pebagian Kelompok tim penulisan jurnal


75

Gambar 4.9. Penulisan Jurnal

Gambar 4.9. Penulisan jurnal bersama tim

Gambar 4.10. Revisi pertama jurnal yang telah di submit


76

Gambar 4.11. Revisi akhir jurnal yang telah di submit

VI. PEMBUATAN PACTA INTEGRITAS CALON PENELITI

6 PEMBUATAN PACTA INTEGRITAS CALON PENELITI


NILAI DASAR URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN TEKNIK
.
ANEKA PELAKSANAAN AKTUALIS AKTUALISASI DAN KUALITAS HASIL
KEGIATAN ASI KEGIATAN

Akuntabilitas Mendiskusikan Tercapai Teknik Aktualisasi


rencana  Teknik Membangun Komunikasi dan
pembuatan Pacta Diskusi
Integritas calon
peneliti P4 A. Uraian Penggunaan Teknik
bersama dengan Teknik membangun komunikasi
para peneliti digunakan penulis sebagai langkah
lainnya. mendiskusikan dan mensosialisasikan
rencana pembuatan pacta integritas
calon peneliti.

B. Manfaat Bagi Pihak Lain


Dengan adanya sosialisasi maka
diharapkan seluruh calon peneliti
dapat mengetahui komitmen dari para
calon peneliti khususnya CPNS.
77

Etika Publik Melakukan Tercapai C.Perwujudan Visi Organisasi


Focuss Group Pembuatan pacta integritas dapat
Discussion meningkatkan kewaspadaan para
secara intensif peneliti agar tidak terjebak pada
kebebasan berakademiknya yang
dengan para
terkadang sangat rawan untuk
peneliti untuk disalahgunakan dan disalah artikan.
pembuatan draft Sehingga, dengan adanya pacta
pacta integritas integritas calon peneliti di P4 ini, para
sekaligus peneliti akan sangat berhati-hati dan
meminta netral dalam memberikan
masukan dan pendapatnya, sehingga visi MK dalam
saran dari mengawal tegaknya konstitusi melalui
peneliti senior peradilan konstitusi yang modern dan
lainnya. terpercaya, dapat tercapai.

Pembuatan pacta integritas merupakan salah satu komitmen dari


CPNS Peneliti dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai peneliti
dengan penuh rasa tanggungjawab dan integritas. Adapun pembuatan
pacta integritas ini dibawah arahan langsung dari kepala bidang penelitian
dan pengkajian perkara.

Gambar 4.12. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti


78

Gambar 4.13. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti

VII. BEDAH BUKU HUKUM

7. BEDAH BUKU HUKUM


NILAI DASAR URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN
ANEKA PELAKSANAAN AKTUALISA TEKNIK AKTUALISASI DAN
KEGIATAN SI KUALITAS HASIL KEGIATAN

Akuntabilitas Mengusulkan dan Tercapai Teknik Aktualisasi


mendiskusikan  Teknik Membangun
kegiatan bedah Komunikasi dan Diskusi
buku hukum
kepada kepala A.Uraian Penggunaan Teknik
bidang penelitian Teknik membangun
dan pengkajian komunikasi dan diskusi
perkara dilakukan dengan melalui
Komitmen Mendiskusikan Tercapai diskusi kepada atasan dan
Mutu mengenai tema CPNS Peneliti lainnya terkait
kegiatan dan kegiatan bedah buku hukum.
79

pemilihan
narasumber untuk B. Manfaat Bagi Pihak Lain
membedah buku Meningkatkan pengetahuan
hukum khususnya CPNS Peneliti
Komitmen Sosialisasi Tercapai mengenai literaur klhusunya
Mutu kegiatan kepada buku-buku hukum.
para peneliti
dan/atau calon C. Perwujudan Visi Organisasi
peneliti Kegiatan bedah buku hukum
merupakan salah satu kegiatan
dalam rangka mendorong dan
meningkatkan pengetahuan
peneliti dalam memahami
perkembangan ilmu hukum.
Kegiatan ini secara substantif
dapat berdampak pada kualitas
peneliti alam mengkaji dan
menelaah perkara. Selain itu,
peneliti nantinya dapat saling
bertukar pikiran dan gagasan
yang kedepannya dapat
bermanfaat ketika peneliti
diminta hakim untuk
menjelaskan duduk perkara
yang sedang dihadapi. Oleh
sebab itu, kegiatan ini secara
substansial dapat meningkatkan
visi MK dalam mengawal
tegaknya konstitusi melalui
peradilan konstitusi yang
modern dan terpercaya.
Ditambah lagi, dapat juga
menguatkan misi Mk dalam
rangka membangun sistem
peradilan konstitusi yang
mampu mendukung penegakan
konstitusi.

Kegiatan Bedah Buku hukum merupakan salah satu kegiatan yang


bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan CPNS Peneliti dalam
memahami literatur-literatur khususnya buku hukum baik buku nasional
maupun internasional. Kegiatan ini dijadwalkan untuk dilaksanakan sekali
dalam sebulan, dan untuk kegiatan bedah buku hukum perdana dilakukan
pada 29 Maret 2018 dengan narasumber Dr. Fajar Laksono, S.Sos.,M.H.
Adapun buku yang dibedah adalah buku karangan beliau sendiri berjudul
“Kontroversi Undang-Undang Tanpa Pengesahan Presiden” terbitan UII
Press.
80

Kedepannya, bedah buku hukum akan lebih ditingkatkan dan


diperluas kembali cakupannya tidak hanya sebatas buku tetapi juga jurnal-
jurnal maupun artikel-artikel ilmiah hukum baik dari dalam negeri maupun
luar negeri. Oleh karena itu, selanjutnya, kegiatan bedah buku hukum akan
diganti menjadi kegiatan “bedah literatur hukum”.

Gambar 4.14. Bedah buku “Kontroversi Undang-Undang Tanpa


Pengesahan Presiden” oleh Dr. Fajar Laksono, S.Sos.,M.H.

VIII. CONFERENCE ALLERT

7 CONFERENCE ALLERT
NILAI DASAR URAIAN CAPAIAN URAIAN PENGGUNAAN
. ANEKA PELAKSANAAN AKTUALISASI TEKNIK AKTUALISASI DAN
KEGIATAN KUALITAS HASIL KEGIATAN

Akuntabilitas Mencari info Tercapai Teknik Aktualisasi


conference  Teknik Membangun
terupdate baik Komunikasi
level nasional
maupun A.Uraian Penggunaan Teknik
internasional Teknik membangun komunikasi
Komitmen Mutu Mensosialisasikan Tercapai dan diskusi dilakukan dengan
kepada peneliti melalui diskusi CPNS Peneliti
dan/atau calon lainnya terkait kegiatan
peneliti melalui conference yang akan datang.
media daring
(online) B. Manfaat Bagi Pihak Lain
Meningkatkan pengetahuan
khususnya CPNS Peneliti
81

mengenai conference-
conference dan CPNS peneliti
dapat mengikutinya.

C. Perwujudan Visi Organisasi

Kegiatan mengikuti conference


oleh peneliti atau calon peneliti
MK merupakan salah satu
langkah agar misi MK dalam
“meningkatkan pemahaman
masyarakat mengenai hak
konstitusional warga negara”
dapat terwujud, karena secara
tidak langsung tulisan-tulisan
peneliti MK yang dipresentasikan
dan dimuat di dalam
proceeding/jurnal konferensi akan
menjadi bacaan dan konsumsi
masyarakat secara luas Kegiatan
ini secara tidak langsung dapat
meningkatkan kemampuan
peneliti dalam mengkonsepsikan
ide dan gagasannya yang
biasanya diaktualisasikan dalam
pendapat-pendapat hukum (legal
opinion) yang digunakan oleh
para hakim dalam memutus
perkaranya. Selain itu, dengan
mengikuti conference, maka
peneliti atau calon peneliti akan
berpikir secara global dan go
internasional.

Kegiatan Conference Allert merupakan salah satu kegiatan yang


bertujuan untuk meningkatkan akses informasi dari adanya kegiatan
conference-conference yang akan diselenggarakan baik nasional maupun
internasional. Diharapkan dengan adanya conference allert ini, CPNS
Peneliti dapat memiliki jadwal conference jauh hari sebelum diadakannya
conference dan CPNS peneliti dapat mempersiapkan dengan matang untuk
mengikutinya. Sebagai tindak lanjut kegiatan ini, beberapa abstrak artikel
berhasil lolos tahap seleksi dan akan dipresentasikan dalam internasional
conference, antara lain:

1. Abstrak dengan judul “implementing Welfare State in Indonesia


by Forcing Economic Law Development to Face Globalization
Impacts””. Tim penulis: Mery Christian Putri. Asian Conference of
82

Comparative Law 2018, Universitas Muhammadiyah Yogjakarta


3-4 Mei 2018 (Letter of Acceptance terlampir)
2. Abstrak dengan judul “Disputes resolutin of local elections results
through special election court: Comparison between Indonesia,
Thailand, Singapore, and Philipines”. Tim penulis: Zak Firma
Aditya, M. Reza Winata dan Rizkysyabana Yulistyaputri. Asian
Conference of Comparative Law 2018, Universitas
Muhammadiyah Yogjakarta 3-4 Mei 2018 (Letter of Acceptance
terlampir)
3. Abstrak dengan judul “Constitutional Rights Of Indonesian
Citizens In Expressing And Purposing Opinions On Internet In
The Regime Of The ITE Act”, Tim Penulis; Zaka Firma Aditya. 3 rd
International Summer Conference, Universitas Jember,
September 2018.
4. Abstrak dengan judul “The Protection of ASEAN Community Law
in Cyberspace”, Tim Penulis; Zaka Firma Aditya, International
Law Conference 2018, UITM Malaysia, September 2018.
83

Gambar 4.15. Notifikasi penerimaan abstrak dari International


Conference on Comparative Law ASIAN-COL 2018 UMY Yogjakarta
dan International Law of Asean Conference 2018, UITM Malaysia

B. Masalah dan Cara Mengatasi Selama Aktualisasi

Kegiatan Aktualisasi yang dilaksanakan di Pusat Penelitian dan


Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah
Konstitusi dalam implementasinya tidak sesempurna sebagaimana dalam
rancangan aktualisasi, karena pastinya terdapat permasalahan yang
ditimbulkan dalam pelaksanaannya. Adapun permasalahan yang
ditimbulkan adalah sebagai berikut :

Kegiatan 1 : Morning Review

Nilai- Nilai Cara Mengatasi Selama


Permasalahan
Dasar ANEKA Aktualisasi
Akuntabilitas Terbenturnya jadwal kegiatan Berkoordinasi dengan CPNS
Komitmen morning review dengan kegiatan- Peneliti lainnya untuk
kegiatan dan tugas-tugas menyesuaikan jadwal
Mutu
institusional dari kepala Puslitka. morning review agar lebih
fleksibel.
Jadwal kegiatan Morning
84

review dapat dialihkan tidak


hanya hari senin tetapi bisa
juga dihari lainnya sesuai
dengan kebutuhan

Kegiatan 4 : Focus Grop Discussion

Nilai- Nilai Cara Mengatasi Selama


Permasalahan
Dasar ANEKA Aktualisasi
Nasionalisme Terbenturnya jadwal kegiatan FGD Melakukan koordinasi dengan
dengan kegiatan-kegiatan dan kepala Puslitka untuk
tugas-tugas institusional dari menyesuaikan jadwal kegiatan
Komitmen kepala Puslitka. FGD agar lebih fleksibel,
Mutu Kegiatan FGD yang telah terjadwal namun tetap dapat memenuhi
setiap hari senin (FGD kajian target yang telah ditetapkan
pendahuluan) dan Selasa (FGD yaitu perkara harus sudah
Kajian Pendalaman) terkadang dikaji dalam kajian
tidak terlaksana akibat adanya pendahuluan paling lambat H-
tugas-tugas institusional yang 1 sebelum adanya sidang
urgent. pendahuluan, dan H+7 setelah
kesimpulan untuk kajian
pendalaman.

Kegiatan 5 : PEMBUATAN DAN PENULISAN JURNAL HUKUM

Nilai- Nilai Cara Mengatasi Selama


Permasalahan
Dasar ANEKA Aktualisasi
Akuntabilitas Terkendala dengan padatnya Menyesuaikan jadwal kegiatan
kegiatan institusional yang agar lebih fleksibel dan
Komitmen dilakukan oleh masing-masing CP situasional.
Mutu NS Peneliti, sehingga pembuatan Melaksanakan kegiatan ini
dan penulisan jurnal hukum tidak diluar jam kantor
85

efektif.
Hanya beberapa CPNS Peneliti
yang masih konsisten untuk
melakukan kegiatan ini

Kegiatan 7 : KEGIATAN BEDAH BUKU HUKUM

Nilai- Nilai Cara Mengatasi Selama


Permasalahan
Dasar ANEKA Aktualisasi
Akuntabilitas Terkendala dengan padatnya Koordinasi dan konsultasi
Komitmen kegiatan institusional, sehingga dengan kepala bidang
Mutu kegiatan bedah buku yang penelitian dan pengkajian
direncanakan setiap bulan baru perkara dan juga mentor.
dapat dilaksanakan sekali.
Terkendala sulitnya mencari
narasumber kegiatan, mengingat
sangat sibuknya senior peneliti
yang melekat pada hakim
konstitusi

C. Kegiatan yang tidak terlaksana

Terdapat 1 (satu) kegiatan yang tidak tercapai/tidak terlaksana dalam


masa habituasi ini, meskipun telah di rencanakan di dalam rancangan
aktualisasi yaitu kegiatan Sharing Session Pembuatan Naskah Akademik
dan Legal Drafting. Adapun beberapa penyebab kegiatan ini tidak
terlaksana, antara lain:
1. Padatnya kegiatan institusional yang mendadak dan urgent;
2. Sulitnya mencari narasumber kegiatan karena Peneliti senior yang
melekat pada hakim konstitusi memiliki kegiatan yang sangat
padat;
86

3. Atas arahan kepala Puslitka, bahwa kegiatan Sharing Session


Pembuatan Naskah Akademik dan Legal Drafting sudah
direncanakan dan dianggarkan tersendiri yaitu melalui diklat yang
akan dilaksanakan di Kementrian Hukum dan HAM. Pembuatan
naskah akademik merupakan tupoksi baru peneliti berdasarkan
Persekjen MK Nomor 13 Tahun 2017;
4. Pada dasarnya, pembuatan naskah akademik sama dengan
penelitian hukum lainnya. Materi pembuatan anskah akademik
sudah diakomodir ketika melakukan kegiatan sharing session
penulisan hukum dan sharing session penelitian hukum.

D. Kegiatan Tambahan

I. Focus Group Discussion


Focus Group Discussion dilaksanakan oleh Puslitka untuk
memperdalam kajian terhadap perkara-perkara yang membutuhkan
pendalaman secara khusus. Pada FGD Institusional, narasumber
berasal dari luar institusi yang memiliki keahlian dibidangnya masing-
masing sesuai dengan perkara yang sedang membutuhkan pendalaman
tersebut. Biaya untuk kegiatan FGD Institusional telah dianggarkan
dalam pagu anggaran Mahkamah Konstitusi dan kegiatan tersebut
dihadiri oleh peneliti, panitera, panitera pengganti dan hakim konstitusi.
Adapun kegiatan FGD institusional yang telah dilakukan diantaranya:

1. FGD bertajuk “Jaminan dan Perlindungan Hak Privasi Warga


Negara Dan Akses Informasi Keuangan Di Jepang” pada
tanggal 26 Februari 2018, bertempat di Ruang Rapat Besar
Lantai 11. Narasumber kegiatan FGD ini adalah Prof. Yuzuru
Shimada dari Nagoya University.
2. FGD bertajuk “Dasar dan Arah Kebijakan Negara dalam
Pemungutan Pajak Penggunaan Listrik” pada tanggal 8 Maret
2018 bertempat di aula lantai dasar gedung Mahkamah
Konstitusi. Narasumber kegiatan ini adalah Prof. Jamal Wiwoho
87

(Guru Besar Universitas Sebelas Maret Surakarta / Irjen DIKTI)


dan Yustinus Prastowo (Ahli Pajak, Center for Indonesia Tax
Analysis/CITA).

II. English Day


English day merupakan kegiatan dimana dalam sehari CPNS Peneliti
menggunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi yakni setiap hari
jumat. Selain itu, kegiatan ini juga berlangsung dalam bentuk diskusi
yang secara rutin dilaksanakan dengan tema yang berbeda setiap
pekannya. Topik yang dibahas dalam English Day adalah isu-isu hukum
terkini termasuk isu hukum yang berkaitan dengan Undang-Undang yang
sedang diuji di Mahkamah Konstitusi. Kegiatan ini secara langsung dapat
membantu pemecahan isu yang ada di Puslitka yaitu meningkatkan
nuansa akademis di lingkungan Psulitka sekaligus peningkatan
kompetensi para peneliti untuk dapat menghasilkan output yang secara
konkret menjadi dukungan substansial penyusunan putusan Mahkamah
Konstitusi. Kegiatan ini dapat meningkatan kemampuan berbahasa
Inggris peneliti. Adapun tema dalam English Day selama proses
habituasi adalah sebagai berikut:

No Tanggal Pelaksanaan Tema Keterangan


1 16 Maret 2018 Constitutional Terlaksana
Democracy
2 23 Maret 2018 General Principle of Terlaksana
Law
3 6 April 2018 Cyber Crime Terlaksana
4 13 April 2018 - Tidak terselenggara
karena tugas
institusional.
5 20 April 2018 Online mass Terlaksana
transportation
service
6 27 April 2018 - Tidak terselenggara
karena tugas
institusional.
7 4 Mei 2018 - Tidak terselenggara
karena tugas
institusional.
8 11 Mei 2018 Law Enforcement in Terlaksana
88

Reformation Era
9 18 Mei 2018 - Tidak terselenggara
karena tugas
institusional.
10 25 Mei 2018 Action Plan for Terlaksana dengan
following Friday baik
program pasca
Habituation

Gambar 4.16. Pemaparan dan diskusi dalam english day


89

III. Les TOEFL


Kegiatan ini diselenggarakan oleh Biro Kepegawaian dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Mahkamah Konstitusi RI.
Penguasaan bahasa asing khususnya bahasa inggris menjadi salah satu
hal yang sangat penting di wilayah kerja Mahkamah Konstitusi. Sebagai
calon peneliti ini mejadi salah satu bekal dalam mendukung tugas pokok
dan fungsinya dalam memberikan dukungan substantif terhadap Hakim
Mahkamah Konstitusi tentunya harus menguasai pemahaman dan literatur
baik skala nasional maupun internasional. Selain itu, peneliti dituntut untuk
dapat menghasilkan produk penelitian dan produk penulisan yang mampu
dikonsumsi oleh masyarakat secara luas tidak terkecuali di Indonesia saja,
melainkan juga masyarakat internasional melalui conference-conference
tingkat internasional maupun melalui jurnal-jurnal terakreditasi
internasional.

Gambar 4.17. Foto Bersama pasca LES TOEFL LIA kelas A


intermediate 4 bersama teacher Ms. Rewina
IV. Workshop Penanganan Pilkada Serentak
Kegiatan workhsop penanganan pilkada serentak merupakan salah
satu kegiatan institusional yang sifatnya wajib terutama pada pegawai
yang masuk dalam gugus tugas dalam rangka persiapan menjelang
90

penanganan pilkada serentak yang dimulai pada awal juli 2018 ini.
Kegiatan ini dilaksanakan 2 (dua) tahap, yakni:

1. Workhsop penanganan pilkada serentak tahap I berlangsung


di Bekasi pada tanggal 20-22 April 2018;
2. Workhsop penanganan pilkada serentak tahap II berlangsung
di Bekasi pada tanggal 15-17 Mei 2018.

Gambar 4.18. Praktek input berkas permohonan perkara


secara online dalam penanganan pilkada serentak 2018

E. Analisis Dampak

Berbagai kegiatan yang telah Penulis rancang sebelumnya,


sebagaimana telah diuraikan pada Bab Rancangan Aktualisasi tentu
memiliki dampak dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan Rancangan
Aktualisasi, pelaksanaan berbagai kegiatan membawa dampak pada
terarahnya kegiatan dan tahapan kegiatan yang saya lakukan demi
tercapainya output yang diharapkan dalam rangka menjawab isu yang
91

muncul dan menjadikan kegiatan-kegiatan tersebut memiliki kontribusi


dalam tercapainya Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Pada dasarnya, Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penulis telah


berhasil meningkatkan kekompakan dan menghidupkan kembali nuansa
akademis di lingkungan Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan penulis juga mendapat
dukungan penuh dari kepala Puslitka, Kepala Bidang penelitian dan
pengkajian perkara, mentor dan peneliti senior puslitka.

Diaktualisasikan dan tidaknya nilai nilai dasar ASN dalam


pelaksanaan program aktualisasi dan kegiatan selama proses habituasi
dapat memiliki dampak terhadap proses dan hasil atau capaian kegiatan.
Penulis berusaha untuk menganalisis dampak ke dalam dua bagian yaitu
dampak aktualisasi nilai-nilai dasar ANEKA serta dampak jika pelaksanaan
program tidak mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ANEKA.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam poin 4.3 bahwa terdapat 1 (satu)
kegiatan yang tidak terlaksana selama proses masa habituasi ini, yakni
kegiatan sharing session pembuatan naskah akademis dan legal drafting.
Alasan tidak terlaksananya kegiatan ini antara lain:
1. Padatnya kegiatan institusional yang mendadak dan urgent;
2. Sulitnya mencari narasumber kegiatan karena Peneliti senior yang
melekat pada hakim konstitusi memiliki kegiatan yang sangat
padat;
3. Atas arahan kepala Puslitka, bahwa kegiatan Sharing Session
Pembuatan Naskah Akademik dan Legal Drafting sudah
direncanakan dan dianggarkan tersendiri yaitu melalui diklat yang
akan dilaksanakan di Kementrian Hukum dan HAM. Pembuatan
naskah akademik merupakan tupoksi baru peneliti berdasarkan
Persekjen MK Nomor 13 Tahun 2017;
4. Pada dasarnya, pembuatan naskah akademik sama dengan
penelitian hukum lainnya. Materi pembuatan anskah akademik
92

sudah diakomodir ketika melakukan kegiatan sharing session


penulisan hukum dan sharing session penelitian hukum.
Adapun dampak yang ditimbulkan dari tidak dilaksanakannya kegiatan
yang telah direncanakan oleh penulis yaitu sharing session pembuatan
naskah akademis dan legal drafting sebenarnya tidak menimbulkan
masalah yang mengkhawatirkan, karena kepala Puslitka sudah
merencanakan untuk melaksanakan kegiatan tersebut dalam bentuk diklat
yang akan diselenggarakan di Kemnetrian Hukum dan HAM. Kegiatan
tersebut akan dilaksanakan ditahun 2019, mengingat anggarannya baru di
usulkan ditahun 2018 ini.
93

BAB V

PENUTUP

A. SIMPULAN

I. Kegiatan habituasi yang dilaksanakan penulis di Pusat Penelitian


dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka)
Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia merupakan kegiatan untuk menerapkan dan
mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yang terkandung dalam
ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,
dan Anti Korupsi), sehingga dapat meningkatkan kinerja,
profesionalistas, serta meningkatkan nuansa akademis di
lingkungan Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) yang ouputnya dapat
meningkatkan dukungan subtantif peneliti di puslitka kepada hakim-
hakim konstitusi dalam memeriksa dan memutus perkara-perkara
yang ada. Adapun kegiatan Habituasi yang telah tercapai meliputi :
a. Kegiatan sharing session penulisan hukum;
b. Kegiatan sharing session penelitian hukum;
c. Kegiatan morning review setiap pekan;
d. Kegiatan focus group discussion perkara-perkara
mutakhir;
e. Pembuatan dan penulisan jurnal hukum;
f. Pembuatan pacta integritas calon peneliti MKRI;
g. Kegiatan bedah buku hukum; dan
h. Kegiatan conference allert.
II. kegiatan habituasi yang dilakukan oleh penulis telah mampu
menghidupkan kembali kekompakan dan nuansa akademis di
lingkungan Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan
Pengelolaan Perpustakaan (puslitka) Kepaniteraan dan Sekretariat
Jenderal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Meningkatnya
94

kekompakan dan nuansa akademis ini akan berdampak pada


meningkatnya dukungan subtantif peneliti khususnya peneliti di
puslitka dalam mendukung hakim-hakim konstitusi dalam
menyelesaikan perkara.

B. SARAN

I. Perlu adanya koordinasi yang intensif dengan kepala Puslitka agar


kegiatan-kegiatan yang hendak dilakukan oleh penulis mendapatkan
dukungan penuh dan tidak berbenturan dengan jadwal-jadwal
kegiatan puslitka lainnya.
II. CPNS Peneliti di puslitka harus meningkatkan kekompakannya lagi
dalam menjalankan kegiatan-kegiatan aktualisasinya khususnya
mengharmonisasikan kegiatan-kegiatan antara CPNS Peneliti satu
dengan lainnya.