Anda di halaman 1dari 9

Siti Setiati eJKI

Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty dan Kualitas Hidup Pasien


Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan
Pelayanan Kedokteran di Indonesia*

Siti Setiati

Departemen Ilmu Penyakit Dalam,


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
*Disampaikan pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 7 September 2013

Abstrak
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana
penyakit terkait usia lanjut. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti
sistem sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu terjadi
pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan masa otot, peningkatan masa dan sentralisasi
lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Masalah yang sering dijumpai pada pasien
geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia,
depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan intelektual,
kolon irritable, impecunity, dan impotensi. Di masa yang akan datang diperlukan tempat rawat
jalan terpadu dan perawatan kasus akut geriatri di rumah sakit di seluruh Indonesia. Program
lainnya adalah nutrisi usia lanjut, tempat istirahat sementara, layanan psiko-geriatri dan dementia
care, dukungan care giver, pencegahan penyakit kronis dan konseling, serta menyiapkan moda
transportasi yang sesuai.
Kata kunci: geriatri, penurunan fungsi, sindrom geriatri.

Geriatric Medicine, Sarcopenia, Frailty and Geriatric Quality of Life:


Future Challenge in Education, Research and Medical Service in Indonesia

Abstract
Geriatry is a branch of medicine that focuses on premature aging and the management of
illnesses related to senility. The process of senility will decrease the function of organ systems such
as sensoric system, central nervous system, digestive, cardiovascular, and respiratory system.
Moreover, it will cause alteration in body composition in which muscle mass will be reduced, fat
mass will be increased and centralized, and intramuscular mass will be increased. Problems that
are often encountered in geriatric patients are geriatric syndrome that covers: immobilization,
instability, incontenentia, insomnia, depression, infection, immune deficiency, hearing and vision
disorder, intellectual disorder, irritable colon, impecunity, and impotention. In the future, it will be
required for hospitals throughout Indonesia to provide an integrated outpatient center and acute
geriatric care. Other programs include geriatric nutritional care, temporary resting place, psycho-
geriatric service, dementia care, care giver support, chronic illness prevention and counseling, as
well as preparing appropriate mode of transportation.
Keywords: geriatric, decrease of function, geriatric syndrome.

234
Vol. 1, No. 3, Desember 2013 Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty

Geriatric Medicine, Sejarah Terbentuknya Geriatric medicine berasal dari kata geron (usia
Ilmu Geriatri dan Gerontologi lanjut) dan iatreia (perawatan penyakit), sehingga
Kata geriatri pertama kali ditemukan pada tahun geriatric medicine diartikan sebagai cabang ilmu
5000 SM dalam Ayurveda, naskah kedokteran India kedokteran yang memelajari penyakit dan masalah
kuno. Ayurveda terdiri atas 8 cabang, salah satunya kesehatan pada usia lanjut menyangkut aspek
ilmu geriatri (rasayana) yang didefinisikan sebagai preventif, diagnosis, dan tata laksana.4 Saat ini ilmu
rasayanam cha tat jneyam yat jara vyadhi nashanam geriatri menjadi sangat penting dan wajib dipahami
yang berarti cabang ilmu kedokteran dengan fokus tenaga kesehatan karena secara global jumlah
pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkait populasi penduduk usia lanjut semakin meningkat.
usia lanjut.1 Aristoteles, menggunakan kata eugeria
(eu berarti perilaku baik dan geria berarti perlakuan Demografi Usia Lanjut
terhadap usia lanjut) pada buku pertamanya yang Prevalensi usia lanjut lebih dari 60 tahun
ditulis tahun 367 SM. Kata eugeria digunakan untuk meningkat lebih cepat dibandingkan populasi
menjelaskan successful ageing, yaitu hidup lama, kelompok umur lainnya karena peningkatan angka
bahagia, mandiri, dan tidak sakit. Pada zaman harapan hidup dan penurunan angka kelahiran.
Romawi Kuno (45 SM-476 M), Seneca menulis Data demografi dunia menunjukkan peningkatan
bahwa usia tua merupakan penyakit yang tidak populasi usia lanjut 60 tahun atau lebih meningkat
dapat disembuhkan, namun dapat ditunda dengan tiga kali lipat dalam waktu 50 tahun; dari 600 juta
latihan jasmani dan diet yang tepat. Pada tahun 898- pada tahun 2000 menjadi lebih dari 2 miliar pada
980 M, Algizar seorang dokter Arab menulis buku tahun 2050. Hal itu menyebabkan populasi usia
kesehatan pada usia lanjut mengenai kepikunan, lanjut lebih atau sama dengan 80 tahun meningkat
cara meningkatkan memori, dan gangguan tidur. terutama di negara maju. Jumlah penduduk usia
Avicenna pada tahun 1025 M menulis buku The lanjut di Indonesia mencapai peringkat lima besar
Canon of Medicine: Regimen of Old Age yang terbanyak di dunia, yakni 18,1 juta pada tahun
menyatakan bahwa usia lanjut memerlukan tidur 2010 dan akan meningkat dua kali lipat menjadi
yang cukup, latihan jasmani seperti berjalan dan 36 juta pada tahun 2025. Angka harapan hidup
berkuda, diet tepat, serta tata laksana konstipasi.2 penduduk Indonesia mencapai 67,8 tahun pada
Pada tahun 1849 George Day membuat publikasi tahun 2000-2005 dan menjadi 73,6 tahun pada
pertama mengenai penyakit pada usia lanjut. tahun 2020-2025.5 Proporsi usia lanjut meningkat
Rumah sakit geriatri moderen pertama 6% pada tahun 1950-1990 dan menjadi 8% saat
didirikan dr. Laza Lazarevic pada tahun 1881 di ini. Proporsi tersebut diperkirakan naik menjadi
Belgrade, Serbia. Charcot mempelajari penyakit 13% pada tahun 2025 dan menjadi 25% pada
yang biasa terjadi pada usia lanjut dan memberikan tahun 2050. Pada tahun 2050 seperempat
saran untuk membentuk spesialisasi perawatan penduduk Indonesia merupakan penduduk usia
usia lanjut. Istilah geriatri diperkenalkan pertama lanjut, dibandingkan seperduabelas penduduk
kali pada tahun 1909 oleh dr. Ignatz Leo Nascher Indonesia saat ini.6 Isu penting peningkatan
(Bapak Geriatri). Nascher menekankan bahwa usia populasi usia lanjut adalah perlunya rencana
lanjut dan penyakitnya harus mendapat tempat strategis perawatan kesehatan usia lanjut untuk
tersendiri dalam ilmu kedokteran.3 meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas
Ilmu kedokteran geriatri moderen di Inggris hidup yang mengacu pada konsep baru proses
dipelopori oleh Marjorie Warren. Ibu Geriatri itu menua (aging).
menyatakan bahwa pasien dengan kondisi kronis
dapat pulih menjadi mandiri dengan tatalaksana Aging dan Successful of Aging
yang benar. Warren memperkenalkan konsep Aging merupakan proses alamiah yang
team- based rehabilitation dan alat bantu mobilitas terjadi terus menerus dan dimulai sejak manusia
pada penanganan pasien geriatri. Tokoh geriatri dilahirkan. Terdapat banyak definisi proses menua,
lainnya yaitu Bernard Isaacs memerkenalkan namun teori yang paling banyak dianut saat ini
istilah geriatric giants: imobilisasi dan instabilitas, adalah teori radikal bebas dan teori telomer. Teori
inkontinensia, dan gangguan fungsi kognitif.4 radikal bebas menyatakan proses menua terjadi
Gerontologi berasal dari kata gerontos (usia akibat akumulasi radikal bebas yang merusak
lanjut) dan logos (ilmu). Dengan demikian dapat DNA, protein, lipid, glikasi non-enzimatik, dan turn
diartikan sebagai ilmu yang memelajari seluk beluk over protein. Kerusakan di tingkat selular akhirnya
kehidupan individu usia lanjut. menurunkan fungsi jaringan dan organ.7

235
Siti Setiati eJKI

Teori telomer menyatakan hilangnya telomer hal, yaitu kebebasan untuk bertindak, rasa kompeten,
secara progresif menyebabkan proses menua. dan rasa keterikatan dengan sesama. Model SA
Telomer merupakan sekuens DNA yang terletak psikologis akan tercapai jika terdapat mekanisme
di ujung kromosom yang berfungsi mencegah kompensasi yang baik terhadap keterbatasan akibat
pemendekan kromosom selama replikasi usia dan optimalisasi kemampuan yang tersisa,
DNA. Telomer akan memendek setiap kali sel sehingga usia lanjut, bahkan dengan multipatologi,
membelah. Bila telomer terlalu pendek maka sel dapat mengalami SA.11
berhenti membelah dan menyebabkan replicative Aspek sosial menekankan pada kemampuan
senescence.8 usia lanjut untuk berinteraksi positif dengan sesama
Masalah umum pada proses menua adalah dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Fungsi
penurunan fungsi fisiologis dan kognitif yang sosial yang baik ditunjukkan dengan mempunyai
bersifat progresif serta peningkatan kerentanan pekerjaan yang mendapat penghasilan, menghadiri
usia lanjut pada kondisi sakit. Laju dan dampak kegiatan keagamaan, dan aktif pada kegiatan amal.
proses menua berbeda pada setiap individu karena Aspek sosial juga dapat menjadi faktor protektif
dipengaruhi faktor genetik serta lingkungan.7,8 terhadap kejadian mistreatment pada usia lanjut.11
Proses menua mengakibatkan penurunan
fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, Karakteristik Pasien Geriatri
saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan dan Sindrom Geriatri
sistem respirasi. Selain itu terjadi pula perubahan Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut yang
komposisi tubuh, yaitu penurunan massa otot, memiliki karakteristik khusus yang membedakannya
peningkatan massa dan sentralisasi lemak, serta dari pasien usia lanjut pada umumnya. Karakteristik
peningkatan lemak intramuskular. Perlu diingat pasien geriatri yang pertama adalah multipatologi,
bahwa perubahan fisik yang berhubungan dengan yaitu adanya lebih dari satu penyakit kronis
proses menua normal bukanlah penyakit. Individu degeneratif. Karakteristik kedua adalah daya
yang menunjukkan karakteristik menua dikatakan cadangan faali menurun karena menurunnya
mengalami usual aging, sedangkan individu yang fungsi organ akibat proses menua. Karakteristik
tidak atau memiliki sedikit karakteristik menua yang ketiga adalah gejala dan tanda penyakit
disebut successful aging (SA).8 yang tidak khas. Tampilan gejala yang tidak khas
SA merupakan konsep multidimensi yang seringkali mengaburkan penyakit yang diderita
berkaitan dengan kondisi fisik, psikologis, dan pasien. Karakteristik berikutnya adalah penurunan
fungsi sosial. Dimensi operasional SA yang paling status fungsional yang merupakan kemampuan
sering dipakai adalah menurut Rowe dan Kahn seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-
yang meliputi tiga aspek, yaitu bebas dari penyakit hari. Penurunan status fungsional menyebabkan
dan hendaya, fungsi kognitif yang baik, dan tetap pasien geriatri berada pada kondisi imobilisasi
aktif di dalam kehidupan.9 yang berakibat ketergantungan pada orang lain.
SA berarti memerpanjang usia dan Karakteristik khusus pasien geriatri yang sering
mengupayakan agar penyakit terkait usia terjadi di dijumpai di Indonesia ialah malnutrisi. Setiati et
usia setua dan sedekat mungkin dengan kematian. al12 melaporkan malnutrisi merupakan sindrom
Pemeliharaan fungsi fisik yang baik tercermin geriatri terbanyak pada pasien usia lanjut yang
pada kemampuan untuk melakukan aktivitas dirawat (42,6%) di 14 rumah sakit.
harian, mulai dari hal sederhana seperti makan,
berpakaian, dan naik tangga sampai kegiatan yang Sindrom Geriatri
lebih kompleks seperti belanja dan menggunakan
Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri
alat transportasi. Model SA biologis dapat dicapai
adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi,
dengan pencegahan primer seperti berhenti
instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi,
merokok, latihan jasmani, penggunaan vaksin
defisiensi imun, gangguan pendengaran dan
yang tepat, dan penurunan kolesterol.10
penglihatan, gangguan intelektual, kolon irritable,
Aspek SA yang kedua adalah aspek psikologis
impecunity, dan impotensi.
yang menekankan pada pentingnya kepuasan
Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/
subjektif usia lanjut terhadap kehidupannya.
tirah baring selama 3 hari atau lebih, diiringi gerak
Perspektif subjektif tersebut mempunyai nilai yang
anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan
sama penting dengan penilaian objektif mengenai
fungsi fisiologis. Imobilisasi menyebabkan komplikasi
kesehatan. Rasa puas akan dipengaruhi oleh tiga
lain yang lebih besar pada pasien usia lanjut bila tidak

236
Vol. 1, No. 3, Desember 2013 Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty

ditangani dengan baik. Gangguan keseimbangan disabilitas fisik, ketidakseimbangan, jatuh, fraktur
(instabilitas) akan memudahkan pasien geriatri panggul, dan mortalitas.14
terjatuh dan dapat mengalami patah tulang. Pasien geriatri sering disertai penyakit
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai kronis degeneratif. Masalah yang muncul sering
keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu tumpang tindih dengan gejala yang sudah lama
yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan diderita sehingga tampilan gejala menjadi tidak
frekuensi dan jumlahnya, sehingga mengakibatkan jelas. Penyakit degeneratif yang banyak dijumpai
masalah sosial dan higienis. Inkontinensia pada pasien geriatri adalah hipertensi, diabetes
urin seringkali tidak dilaporkan oleh pasien melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit
atau keluarganya karena malu atau tabu untuk kardiovaskular. Penelitian multisenter di Indonesia
diceritakan, ketidaktahuan dan menganggapnya terhadap 544 pasien geriatri yang dirawat inap
sebagai sesuatu yang wajar pada orang usia lanjut mendapatkan prevalensi hipertensi dan diabetes
serta tidak perlu diobati. Prevalensi inkontinensia melitus sebesar 50,2% dan 27,2%.12
urin di Indonesia pada pasien geriatri yang dirawat Kondisi multipatologi mengakibatkan seorang
mencapai 28,3%. Biaya yang dikeluarkan terkait usia lanjut mendapatkan berbagai jenis obat
masalah inkontinensia urin di poli rawat jalan dalam jumlah banyak. Terapi non-farmakologi
Rp 2.850.000,- per tahun per pasien.13 Masalah dapat menjadi pilihan untuk mengatasi masalah
inkontinensia urin umumnya dapat diatasi pada pasien usia lanjut, namun obat tetap menjadi
dengan baik jika dipahami pendekatan klinis dan pilihan utama sehingga polifarmasi sangat sulit
pengelolaannya. dihindari. Prinsip penggunaan obat yang benar dan
Insomnia merupakan gangguan tidur yang tepat pada usia lanjut harus menjadi kajian multi/
sering dijumpai pada pasien geriatri. Umumnya interdisiplin yang mengedepankan pendekatan
mereka mengeluh bahwa tidurnya tidak memuaskan secara holistik.
dan sulit memertahankan kondisi tidur. Sekitar 57%
orang usia lanjut di komunitas mengalami insomnia Elderly Abuse, Etik, dan Isu Hukum-Medis
kronis, 30% pasien usia lanjut mengeluh tetap terjaga Elderly abuse atau mistreatment adalah
sepanjang malam, 19% mengeluh bangun terlalu tindakan yang bertujuan untuk mencederai/
pagi, dan 19% mengalami kesulitan untuk tertidur. berisiko mencederai usia lanjut atau kegagalan
Gangguan depresi pada usia lanjut kurang caregiver untuk memenuhi kebutuhan dasar usia
dipahami sehingga banyak kasus tidak dikenali. lanjut maupun melindungi usia lanjut dari cedera.
Gejala depresi pada usia lanjut seringkali Hal tersebut mencakup kekerasan fisik, eksploitasi
dianggap sebagai bagian dari proses menua. finansial, kekerasan seksual, emotional abuse,
Prevalensi depresi pada pasien geriatri yang neglect, atau penelantaran usia lanjut. Faktor
dirawat mencapai 17,5%.12 Deteksi dini depresi risiko elderly abuse adalah usia lanjut yang tinggal
dan penanganan segera sangat penting untuk sendiri, usia di atas 75 tahun, pendapatan rendah,
mencegah disabilitas yang dapat menyebabkan gangguan kognitif, riwayat kekerasan dalam
komplikasi lain yang lebih berat. keluarga, dan ketergantungan usia lanjut kepada
Infeksi sangat erat kaitannya dengan caregiver untuk masalah finansial dan tempat
penurunan fungsi sistem imun pada usia lanjut. tinggal. Hal yang memprihatinkan adalah abuser
Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran biasanya orang terdekat, seperti anak, anggota
kemih, pneumonia, sepsis, dan meningitis. keluarga lain, dan pasangan hidup.15 Diperlukan
Kondisi lain seperti kurang gizi, multipatologi, dukungan, pelatihan, dan pelayanan khusus untuk
dan faktor lingkungan memudahkan usia lanjut mengidentifikasi dan mengurangi elderly abuse.
terkena infeksi. Untuk usia lanjut yang tidak dapat merawat diri
Gangguan penglihatan dan pendengaran sendiri, geriatrician dapat mengenali hal tersebut
juga sering dianggap sebagai hal yang biasa akibat dan merekomendasikan pengawalan hukum untuk
proses menua. Prevalensi gangguan penglihatan perawatan usia lanjut. Geriatrician juga harus
pada pasien geriatri yang dirawat di Indonesia mengerti masalah etik karena orang usia lanjut
mencapai 24,8%.12 Gangguan penglihatan seringkali tidak dapat membuat keputusan untuk
berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu diri sendiri terutama jika berada dalam kondisi
senggang, status fungsional, fungsi sosial, dan demensia atau delirium. Dalam situasi tersebut
mobilitas. Gangguan penglihatan dan pendengaran geriatrician membutuhkan pengacara atau wakil
berhubungan dengan kualitas hidup, meningkatkan dari keluarga yang berwenang dalam membantu

237
Siti Setiati eJKI

membuat keputusan. Geriatrician harus dapat yang kurang. Penurunan massa otot adalah massa
menilai apakah pasien memiliki tanggung jawab otot kurang dari 2 kali standar deviasi referensi
hukum dan kompeten untuk mengerti kondisi yang populasi laki-laki atau perempuan dewasa muda
dihadapinya dan membuat keputusan. yang sehat di daerah tersebut. Kriteria diagnosis
Informed consent harus selalu dilakukan tersebut sulit diterapkan di Indonesia karena
dokter di setiap langkah pemeriksaan dan tindakan. belum ada data normatif besaran massa otot
Harus disampaikan terlebih dahulu semua informasi pada populasi dewasa muda serta data referensi
yang dapat dipahami oleh pasien dan keluarga, kekuatan otot pada berbagai kelompok usia dan
termasuk menyampaikan kondisi terburuk yang jenis kelamin. Selain itu, hingga kini belum ada
mungkin terjadi, seperti prognosis penyakit, kondisi standar teknik pengukuran besaran massa otot
penyembuhan pascapembedahan atau rencana untuk usia lanjut. Teknik yang dianggap sebagai
home care bila pasien memasuki kondisi terminal. baku emas adalah pemeriksaan dual-energy X-ray
absorptiometry (DEXA). Teknik lainnya adalah
Sarkopenia dan Sindrom Frailty bioelectric impedans, computed tomography,
Sarkopenia berasal dari bahasa Yunani magnetic resonance imaging, serta pengukuran
sarx (otot) dan penia (kehilangan); yang berarti ekskresi kreatinin urin, pengukuran antropometri
kehilangan massa otot. Istilah itu pertama kali dan aktivasi netron. Pengukuran kekuatan otot
diperkenalkan oleh Irwin Rosenberg pada tahun yang direkomendasikan oleh EWGSOP adalah
1988. Sarkopenia merupakan sindrom yang ditandai mengukur kekuatan genggam tangan sedangkan
dengan berkurangnya massa otot rangka serta performa fisik dapat diukur dengan skoring
kekuatan otot secara progresif dan menyeluruh. short physical performance battery (SPPB) yang
Sarkopenia umumnya diiringi inaktivitas fisik, merupakan penjumlahan skor dari 3 tes: kecepatan
penurunan mobilitas, cara berjalan yang lambat, berjalan biasa 4 menit, keseimbangan, dan tes
dan enduransi fisik yang rendah. duduk berdiri. Alternatif pengukuran lainnya
Sarkopenia merupakan kondisi yang dapat adalah tes berjalan 6 menit, tes timed go-up and
terjadi pada usia lanjut yang sehat. Walaupun go, dan tes kekuatan menaiki tangga. Salah satu
sarkopenia terutama terjadi pada usia lanjut, terdapat cara deteksi dini sarkopenia adalah penurunan
kondisi lain yang dapat menyebabkan sarkopenia kecepatan berjalan yakni kurang dari 0,8 meter/
pada dewasa muda, seperti malnutrisi, gaya hidup detik pada tes jalan 4 menit.17
sedenter, keganasan, dan cachexia. Sarkopenia
dimulai saat usia 40-50 tahun dan melaju sekitar Prevalensi Sarkopenia
0,6% setiap tahun berikutnya. Penurunan massa Prevalensi sarkopenia di Amerika dan Eropa
otot dengan laju tersebut biasanya belum memiliki sekitar 5%-13% pada usia 60-70 tahun dan 11%-
dampak buruk, namun ketika otot tidak digunakan 50% pada usia di atas 80 tahun.18 Di Asia prevalensi
seperti pada kondisi sakit penurunan massa otot sarkopenia 8%-22% pada perempuan dan 6%-23%
memberikan dampak buruk. pada laki-laki.19 Setiati et al,20 melaporkan jumlah
Sarkopenia merupakan fenomena kompleks pasien dengan kekuatan genggam tangan yang
dengan etiologi multifaktorial. Proses terjadinya rendah sebesar 8% dan mobilitas terbatas sebesar
sarkopenia melibatkan interaksi sistem saraf tepi 2,8% dari 251 pasien geriatri rawat jalan.
dan sentral, hormonal, status nutrisi, imunologis, Sarkopenia memiliki peran penting pada
dan aktifitas fisik yang kurang. Pada tingkat patogenesis dan etiologi sindrom frailty. Frailty
molekular, sarkopenia disebabkan penurunan merupakan sindrom klinis yang disebabkan
kecepatan sintesis protein otot dan/atau akumulasi proses menua, inaktivitas fisik akibat
peningkatan pemecahan protein otot yang tidak tirah baring lama dan turunnya berat badan, nutrisi
proporsional. Proses neuropati paling berpengaruh yang buruk, gaya hidup serta lingkungan yang
karena bertanggungjawab pada degenerasi tidak sehat, penyakit penyerta, polifarmasi serta
saraf motor alfa yang mensarafi serabut otot dan genetik dan jenis kelamin perempuan. Faktor
menyebabkan kehilangan motor unit.16 tersebut saling berkaitan membentuk siklus dan
Menurut The European Working Group on menyebabkan malnutrisi kronis disertai disregulasi
Sarcopenia in Older People (EWGSOP), diagnosis hormonal, inflamasi dan faktor koagulasi. Kondisi
sarkopenia dapat ditegakkan bila didapatkan sarkopenia menyebabkan penurunan kapasitas
setidaknya dua dari tiga kriteria berikut: massa otot fisik sehingga usia lanjut membutuhkan usaha
rendah, kekuatan otot buruk, dan performa fisik yang jauh lebih besar untuk melakukan aktivitas

238
Vol. 1, No. 3, Desember 2013 Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty

fisik tertentu dibanding usia muda. Kurangnya intrinsik adalah mobilitas, keseimbangan, kekuatan,
aktivitas fisik menyebabkan down regulation daya tahan, nutrisi, dan kinerja neuromotor dan
sistem fisiologis tubuh terutama kardiovaskular tujuh domain lain adalah masalah medik, akses
dan muskuloskeletal sehingga kondisi sarkopenia terhadap sarana kesehatan, penampilan, penilaian
menjadi semakin berat. Perubahan itu menurunkan kesehatan pribadi, status fungsional, keadaan
laju resting metabolism dan total energy expenditure emosi, dan status sosial.24 Pengkajian tersebut
yang merupakan gambaran khas malnutrisi sebenarnya telah rutin dikerjakan sebagai bagian
kronis. Siklus frailty terus berputar dan akhirnya Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G).
menyebabkan disabilitas serta ketergantungan.
Kriteria diagnosis sindrom frailty menurut The Upaya Memertahankan Kualitas Hidup
Frailty Task Force dari American Geriatric Society Usia Lanjut dan Geriatri
adalah bila terdapat tiga dari lima gejala berikut: Pencegahan dan tatalaksana yang tepat
penurunan berat badan yang tidak diinginkan terhadap sarkopenia dan frailty merupakan salah
(4-5 kg dalam 1 tahun); kelelahan yang disadari satu upaya untuk memertahankan dan memerbaiki
sendiri; kelemahan (kekuatan genggam tangan kualitas hidup usia lanjut. Mekanisme sarkopenia
<20% pada tangan dominan); kecepatan berjalan yang multifaktorial menyebabkan tatalaksana
yang kurang; dan penurunan aktivitas fisik (<20% sarkopenia juga harus dilakukan secara holistik.
pengeluaran kalori).21,22 Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah
Prevalensi frailty menurut The Cardiovascular asupan diet protein, vitamin & mineral yang cukup,
Health Study mencapai 7% pada usia lanjut serta olah raga teratur. Perlu pemantauan rutin
di masyarakat berusia 65 tahun ke atas dan kemampuan dasar seperti berjalan, keseimbangan,
mencapai 30% pada usia lanjut 80 tahun atau lebih. fungsi kognitif, pencegahan infeksi dengan
Prevalensi pada perempuan dengan hendaya vaksin, serta antisipasi kejadian yang dapat
berusia 65 tahun menurut The Women’s Health menimbulkan stres misalnya pembedahan elektif
and Aging Study mencapai 28%. Setiati et al,23 dan reconditioning cepat setelah mengalami stres
mendapatkan prevalensi sindrom frailty pada 270 dengan renutrisi dan fisioterapi individual.24
pasien usia lanjut rawat jalan yakni kondisi pre-frail Nutrisi yang berperan pada sarkopenia adalah
sebesar 71,1 % sedangkan frailty sebesar 27,4%. protein, vitamin D, antioksidan, selenium, vitamin
Frailty dipertimbangkan sebagai proses E, dan C. Protein merupakan nutrisi utama yang
berkelanjutan dari robustness ke kondisi pre-frail berperan pada sarkopenia. Asupan protein yang
hingga kondisi frail. Seseorang dengan kondisi dianjurkan untuk orang dewasa adalah 0,8 g/
pre-frail dapat berubah menjadi kondisi frailty atau kg berat badan/hari. Orang usia lanjut umumnya
bahkan membaik menjadi tidak frail. Konsep frailty mengonsumsi protein kurang dari angka kecukupan
yang dinamis itu memungkinkan kesempatan gizi (AKG). Penelitian multisenter di 15 propinsi di
intervensi untuk mencegah seseorang dengan Indonesia mendapatkan bahwa 47% usia lanjut
kondisi pre-frail jatuh dalam kondisi frailty.22 Pada mengonsumsi protein kurang dari 80% AKG.
tahapan pre-frail, cadangan fisiologis masih dapat Proporsi protein yang adekuat merupakan faktor
mengkompensasi kerusakan dan masih mungkin penting; bukan dalam jumlah besar pada sekali
kembali sempurna. Bila pasien telah jatuh pada makan.26 Hal penting lainnya adalah kualitas protein
status frailty, dapat timbul manifestasi klinis yang baik, yaitu protein sebaiknya mengandung
seperti malnutrisi, ketergantungan fungsional, asam amino esensial. Leusin adalah asam amino
tirah baring lama, luka tekan, gangguan jalan, esensial dengan kemampuan anabolisme protein
kelemahan umum, dan penurunan fungsi kognitif. tertinggi sehingga dapat mencegah sarkopenia.
Lebih jauh lagi dapat ditemukan komplikasi frailty Leusin dikonversi menjadi hydroxy-methyl-butyrate
yaitu jatuh berulang dan fraktur, peningkatan lama (HMB). Suplementasi HMB meningkatkan sintesis
perawatan di rumah sakit, infeksi nosokomial, protein dan mencegah proteolisis.
mobilitas memburuk dan ketergantungan total, Nutrisi kedua yang berperan penting pada
hingga kematian.24 sarkopenia dan kekuatan massa otot adalah vitamin
Deteksi dini sindrom frailty merupakan bagian D. Orang usia lanjut berisiko mengalami defisiensi
penting tata laksana frailty. Metode yang dapat vitamin D. Setiati et al,27 mendapatkan prevalensi
diterapkan adalah pengukuran clinical global defisiensi vitamin D pada usia lanjut sebesar 35,1%.
impression measure for frailty yaitu penilaian Rendahnya kadar vitamin D memiliki risiko 4 kali lipat
domain intrinsik dan tujuh domain lainnya. Domain untuk menjadi frailty. Suplementasi vitamin D pada

239
Siti Setiati eJKI

usia lanjut dengan defisiensi vitamin D bermanfaat untuk mengumpulkan data medik, psikososial,
untuk mencegah sarkopenia, penurunan status kemampuan fungsional, dan keterbatasan pasien
fungsional, dan risiko jatuh. Sumber vitamin D usia lanjut. Pendekatan multidimensi berusaha
banyak didapatkan pada ikan salmon, tuna, dan untuk menguraikan berbagai masalah pada pasien
makarel. Pajanan sinar matahari juga merupakan geriatri, mengidentifikasi semua aset pasien,
salah satu sumber vitamin D, namun letak geografis, mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan,
waktu berjemur, kandungan melanin dalam kulit, dan mengembangkan rencana asuhan yang
dan penggunaan tabir surya dapat memengaruhi berorientasi pada kepentingan pasien. Pendekatan
kandungan vitamin D. Salah satu bentuk vitamin D paripurna pasien geriatri berbeda dengan pengkajian
adalah alfacalcidol yang merupakan analog vitamin medik standar dalam tiga hal, yaitu fokus pada
D non-endogen. Alfacalcidol bermanfaat untuk pasien usia lanjut yang memiliki masalah kompleks;
mencegah jatuh, meningkatkan keseimbangan, mencakup status fungsional dan kualitas hidup;
fungsi dan kekuatan otot.28 memerlukan tim yang bersifat interdisiplin.31
Faktor lain yang berperan penting pada Fasilitas pelayanan seperti ruang perawatan
sarkopenia adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik harus dikelola dengan prinsip interdisiplin
dapat menghambat penurunan massa dan fungsi karena menangani pasien geriatri memerlukan
otot dengan memicu peningkatan massa dan keterampilan khusus dan pemahaman mendalam.
kapasitas metabolik otot sehingga memengaruhi Petugas kesehatan dalam tim interdisiplin
energy expenditure, metabolise glukosa, dan pelaksanaan P3G dikenal sebagai tim terpadu
cadangan protein tubuh. Resistance training geriatri; terdiri atas dokter spesialis ilmu penyakit
merupakan bentuk latihan yang paling efektif dalam, dokter spesialis psikiatri, dokter spesialis
untuk mencegah sarkopenia dan dapat ditoleransi rehabilitasi medik, dokter gigi, perawat, ahli gizi,
dengan baik pada orang tua. Program resistance tim rehabilitasi medik, dan ahli farmasi klinis.
training dilakukan selama 30 menit setiap sesi, 2 Tim terpadu di rumah sakit diharapkan dapat
kali seminggu.29 Untuk mencegah sarkopenia juga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
diperlukan asupan protein yang adekuat. Kedua pada usia lanjut, namun di Indonesia saat ini baru
intervensi tersebut harus berjalan beriringan, terdapat beberapa rumah sakit yang secara resmi
karena pemberian nutrisi tanpa aktivitas fisik dapat memiliki tim terpadu geriatri.31
menyebabkan overfeeding, yang akan dikonversi
menjadi lemak, sehingga justru membahayakan. Evidence Based Medicine dan Value Based
Aktivitas fisik tanpa asupan nutrisi yang adekuat Medicine di Bidang Geriatri
menyebabkan keseimbangan protein negatif Pengkajian pasien geriatri dengan pendekatan
dan menyebabkan degradasi otot.30 Kombinasi P3G yang bersifat multidimensi dan interdisiplin
resistance training dengan intervensi nutrisi berupa memerlukan pemahaman pendekatan kedokteran
asupan protein yang cukup dengan kandungan berbasis bukti (evidence based medicine/EBM).
leusin, khususnya HMB yang adekuat, merupakan EBM mengintegrasikan ekpertise klinis dan
intervensi terbaik untuk memelihara kesehatan bukti ilmiah dari penelitian menjadi keputusan
otot orang usia lanjut.26 Hal terpenting yang perlu yang digunakan dalam menatalaksana pasien.
digarisbawahi adalah sarkopenia merupakan faktor Ekspertise klinis meliputi pengalaman, pendidikan,
kunci dalam patogenesis frailty pada usia lanjut dan kemampuan klinis tenaga kesehatan,
serta merupakan kondisi yang dapat dimodifikasi. sedangkan bukti ilmiah terbaik didapatkan dari
Oleh karena itu peran nutrisi dan aktivitas fisik penelitian klinis yang relevan menggunakan metode
menjadi modalitas utama dalam pencegahan serta yang baik. Integrasi yang baik dari komponen
tatalaksana sarkopenia dan frailty. tersebut dalam membuat keputusan tatalaksana
akan memengaruhi keluaran klinis yang optimal
Comprehensive Geriatric Management dan kualitas hidup pasien.
Dalam merawat dan menatalaksana pasien Penerapan EBM dalam tatalaksana pasien
geriatri tercakup dua komponen penting yakni geriatri menjadi sangat penting mengingat pada
pendekatan tim dan P3G yang merupakan bagian P3G rencana penatalaksanaan pasien bersifat
comprehensive geriatric management (CGM). lebih individual dan setiap keunikan maupun
Pendekatan paripurna pasien geriatri merupakan karakter pasien benar-benar dihargai. Langkah-
prosedur pengkajian multidimensi. Diperlukan langkah untuk menerapkan EBM meliputi
instrumen diagnostik yang bersifat multidisiplin mengkaji pasien, menanyakan pertanyaan klinis,

240
Vol. 1, No. 3, Desember 2013 Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty

mendapatkan bukti, menelaah bukti mengenai diiringi dengan langkah para penentu kebijakan
validitas dan kemamputerapannya. Selain itu dalam mengembangkan pelayanan terintegrasi
juga menerapkan hasil dengan mengintegrasikan untuk usia lanjut. Hal itu dapat dilakukan dengan
hasil telaah dengan ekpertise klinis dan preferensi mendirikan tempat rawat jalan terpadu dan
pasien dalam tatalaksana sesuai konsep P3G. perawatan kasus akut geriatri di rumah sakit di
Pengertian EBM juga terus mengalami seluruh Indonesia. Program lainnya adalah nutrisi
perkembangan dan penyempurnaan dengan usia lanjut, tempat istirahat sementara, layanan
memerhatikan nilai pasien. Dengan demikian, psiko-geriatri dan dementia care, dukungan care
EBM bukan saja didasarkan atas bukti yang giver, pencegahan penyakit kronis dan konseling,
sahih tetapi juga integrasi penelitian yang handal, digitalisasi CGA, serta menyiapkan moda
pendapat ahli, dan nilai-nilai yang dimiliki pasien. transportasi yang sesuai. Pemerintah diharapkan
Pasien memiliki nilai-nilai, pendapat dan harapan membentuk badan perlindungan bagi usia lanjut
khusus terhadap kondisi kesehatannya, sekaligus yang mengalami frailty maupun demensia untuk
menjadi orang yang menentukan penilaian menghindari abuse pada usia lanjut. Marilah kita
terhadap tindakan yang ditawarkan kepadanya. melayani dan memberi kenyamanan kepada para
Hal itulah yang disebut kualitas hidup berdasarkan usia lanjut agar setiap orang tua dapat menikmati
nilai-nilai yang dimiliki pasien yang menjadi dasar hidup sehat, semangat, dan terhormat. Bila saat
Value Based Medicine (VBM). Terkait dengan ini kita telah memberi dasar infrastruktur yang baik
penerapan EBM dan VBM dalam tatalaksana terkait kebijakan dalam pengembangan pelayanan
pasien geriatri, penelitian di bidang geriatri menjadi kesehatan terhadap usia lanjut di Indonesia, kita
sangat penting untuk tatalaksana pasien geriatri di sendiri dan para generasi muda nantinya juga akan
Indonesia. menjadi bagian dari populasi usia lanjut yang akan
merasakan manfaatnya.
Konsep Baru Proses Menua
Setiap individu pasti mengharapkan usia
panjang dengan kondisi sehat, sejahtera dan Daftar Pustaka
akhirnya meninggal dengan tenang dan damai. 1. Mukherjee PK, Nema NK, Venkatesh P, Debnath
Konsep menua saat ini tidak hanya berfokus PK. Changing scenario for promotion and
pada pencapaian individu dalam kesuksesan development of Ayurveda – way forward. Journal of
finansial, status kesehatan atau partisipasi sosial. Ethnopharmacology. 2012;143(2):424-34.
Setiap individu juga diharapkan dapat memerkaya 2. Mulley G. A History of geriatrics and gerontology.
kapasitas diri dalam berinteraksi dengan lingkungan European Geriatric Medicine. 2012;3(4):225-7.
dan mampu beradaptasi terhadap berbagai 3. Barton A, Mulley G. History of the development
perubahan seiring tuntutan zaman. Komponen of geriatric medicine in the UK. Postgrad Med J.
usia panjang yang perlu disesuaikan antara lain: 2003;79:229-34.
pembenahan kebiasaan dan gaya hidup dengan 4. Mulley G. A brief history of geriatrics. J Gerontol A
makanan sehat dan latihan fisik, intervensi Biol Sci Med. 2004;59:1132-52.
farmakologis yang dapat memerpanjang usia, dan 5. Badan Pusat Statistik [Internet]. Data untuk
kemampuan adaptasi terhadap kemajuan zaman. perencanaan pembangunan dalam era desentralisasi;
Setua apapun seseorang harus mampu bertahan 2013 [diakses Juni 2013]. Diunduh dari: http://www.
hidup dengan mandiri dan menikmati masa tua datastatistik-indonesia.com.
dengan nyaman sepanjang individu tersebut 6. Abikusno N. Older population in Indonesia: trends,
mampu merespons dengan baik setiap perubahan issues and policy responses. Bangkok: YNFPA
dan mau beradaptasi Indonesia, 2007.
7. Chodzko-Zajko, Ringel, Miller R. Biology of aging and
Penutup longevity. In: Halter BJ, Ouslander JG Tiinneti ME,
Memberikan pelayanan kesehatan yang Studenski S, Higj KP, Asthana K, editors. Hazzard’s
berkualitas untuk usia lanjut merupakan geriatric medicines and gerontology. 6th ed. New York:
tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia McGraw-Hill Health Professions Divisons; 2009.
karena populasinya yang terus meningkat. Visi 8. Warner HR, Sierra F, Thompson LV. Biology of aging.
yang sesuai dengan konsep baru proses menua In: Fillit HM, Rockwood K, Woodhouse K, editors.
yakni usia panjang dengan kualitas hidup yang Brocklehurst’s textbook of geriatric medicine and
lebih baik dan hidup secara terhormat harus gerontology. 7th ed. New York: Saunders; 2010.

241
Siti Setiati eJKI

9. Cocsco TD, Prina AM, Parales J, Stephan BCM, 21. Rockwood K, Hogan DB, MacKnight C.
Brayne C. Lay perspectives of successful ageing: a Conceptualisation and measurement of frailty in
systematic review and meta-ethnography. BMJ Open elderly people. Drugs Aging. 2000;17:295-302.
2013;3:200-70. 22. Topinková E. Aging, disability, and frailty. Ann Nutr
10. Marina L, Ionas L. Active aging and successful Metab. 2008;52(Suppl 1):6-11.
ageing as explicative models of positive evolutions 23. Setiati S, Seto E, Sumantri S. Frailty profile of elderly
to elderly people. Scientific Annals of the ‘Al. I. Cuza’ outpatient in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta.
University. Sociology & Social Work. 2012;5:79-91. In press. 2013.
11. Kanning M, Schlicht. A bio-psycho-social model 24. Setiati S, Rizka A. Sarkopenia dan frailty: sindrom geriatri
of successful aging through the variable “physical baru. Dalam: Setiati S, Dwimartutie N, Harimurti K,
activity”. Eur Rev Aging Phys Act. 2008;5:79-87. Dewiasty E (editor). Chronic degenerative disease in
12. Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R, Sari elderly: update in diagnostic & management. Jakarta;
W, Verdinawati T. Prevalensi geriatric giant dan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia; 2011:69-75.
kualitas hidup pada pasien usia lanjut yang dirawat di 25. Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R. Predictors
Indonesia: penelitian multisenter. In Rizka A (editor). and scoring system for health-related quality of
Comprehensive prevention & management for the life in an Indonesian community-dwelling elderly
elderly: interprofessional geriatric care. Jakarta: population. Acta Med Indones. 2011;43(4):237-42.
Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia; 2013:183. 26. Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R, Yudho
13. Setiati S, Santoso B, Istanti R. Estimating the annual MN, Purwoko Y, et al. Profile of nutrient intake in
cost of overactive bladder in Indonesia. Indones J urban metropolitan and urban non-metropolitan
Intern Med. 2006:38(4):189-92. Indonesia elderly population and factors associated
14. John EC, Vincent AC. Vision impairment and hearing with energy intake: multi-centre study. In press. 2013.
loss among community dwelling older American: 27. Setiati S, Oemardi M, Sutrisna B, Supartondo. The
implications for health and functioning. Am J of Pub role of ultraviolet-B from sun exposure on 25(OH)D
Health. 2004;94(5):823-9. and parathyroid hormone level in elderly women in
15. National Institute of Justice [Internet]. Elder abuse; Indonesia. Asian J Gerontol Geriatr. 2007;2:15-22.
June 2013 [diakses July 2013]. Diunduh dari: http:// 28. Richy F. Dukas L, Schacht E. Differential effects of
www.nij.gov/topics/crime/elder-abuse/. D-hormone analogs and native vitamin D on the risk
16. Narici M, Mafulli N. Sarcopenia: characteristics, of falls: a comparative meta-analysis. Calcif Tissue
mechanism, and functional significance. British Med Int. 2008;82:02-107.
Bulletin. 2010;95:139-59. 29. Waters DL, Baumgartner RN, Garry PJ, Vellas
17. Morley HE. Sarcopenia: diagnosis and treatment. J B. Advantages of dietary, exercise-related, and
Nutr Health Aging. 2008;12:452-6 therapeutic interventions to prevent and treat
18. Tanko LB, Movsesyan L, Mouritzen U, Christiansen sarkopenia in adult patients: an update. Clinical
C, Svendsen OL. Appendicular lean tissue mass and Interventions in Aging. 2010(5):259-70.
the prevalence of sarcopenia among healthy women. 30. Sullivan DH, Johnson LE. Nutrition and aging. In:
Metabolism. 2002;51(1):69-74. Halter JB, Ouslander JG. Tinetti ME. Studenski S,
19. Chien M-Y, Huang T-Y, Wu Y-T. Prevalence of High KP, Astana S (editors). Hazzard’s geriatric
sarcopenia estimated using bioelectrical impedance medicine and gerontology. 6th ed. New York: Mc Graw
analysis prediction equation in community-dwelling Hill; 2009.p.439-57.
elderly people in Taiwan. J Am Geriatr Soc. 31. Soejono CH. Pengaruh pendekatan paripurna
2008;561:1710-15. pasien geriatri terhadap efektivitas dan biaya (CEA)
20. Setiati S, Seto E, Sumantri S. A pilot study of perawatan pasien geriatri di ruang rawat inap akut
sarcopenia in elderly outpatient Cipto Mangunkusumo [disertasi]. Jakarta: Universitas Indonesia; 2007.
Hospital Jakarta. In press. 2013.

242