Anda di halaman 1dari 22

Keputusan Bersama Direktur Jenderal

Perhubungan Darat, Direktur Jenderal


Anggaran dan Deputi Kepala Bappenas Bidang
Prasarana

No.: 95./HK.101/DRJD/1999,
No. Kep-37 /A/1999 dan No. 3990/D.VI/06/1999
tanggal 28 Juni 1999

tentang :

Kriteria, Tolok Ukur dan Mekanisme


Pembiayaan atas Pelayanan Umum Angkutan
Kereta Api Penumpang Kelas Ekonomi.
Pembiayaan atas Perawatan dan Pengoperasian
Prasarana Kereta Api serta Biaya Atas
Penggunaan Prasarana Kereta Api
KEPUTUSAN BERSAMA

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT,


DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN
DAN
DEPUTI KEPALA BAPPENAS BIDANG PRASARANA

Nomor : SK.95/HK.101/DRJD/99
Nomor : KEP-37/A/1999
Nomor : 3998/D.VI/06/1999

Tentang

KRITERIA, TOLOK UKUR DAN MEKANISME PEMBIAYAAN ATAS PELAYANAN UMUM


ANGKUTAN KERETA API PENUMPANG KELAS EKONOMI, PEMBIAYAAN ATAS
PERAWATAN DAN PENGOPERASIAN PRASARANA KERETA API SERTA BIAYA ATAS
PENGGUNAAN PRASARANA KERETA API

DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT,


DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN,
DAN
DEPUTI KEPALA BAPPENAS BIDANG PRASARANA

Menimbang : Bahwa untuk menindaklanjuti Keputusan Bersama


Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan dan
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional Nomor KM 14 Tahun, Nomor 83/KMK.03/1999
dan Nomor KEP. 024/K/03/1999 perlu ditetapkan
Keputusan Bersama Direktur Jenderal Perhubungan
Darat, Direktur Jenderal Anggaran, dan Deputi
Kepala Bappenas Bidang Prasarana tentang
Kriteria Ekonomi, Pembiayaan atas Perawatan dan
Pengoperasian Prasarana Kereta Api, serta Biaya
atas Penggunaan Kereta Api;

Mengingat : 1. Undang-undang No. 13 Tahun 1992 Tahun 1992


tentang Perkeretaapian (LN Tahun 1992
No.47,TLN No.3479);
2. Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas (LN Tahun 1995 NO. 13;
TLN No. 34587);
3. Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 1990
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Jawatan (Perjan) Kereta Api menjadi
Perusahaan Umum (Perum) Kereta Api (LN
Tahun 1990 No. 82);
4. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 1998
tentang Perusahaan Perseroan (LN Tahun
1998 No. 15 TLN NO. 3731);
5. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1998
tentang Perusahaan Umum(Perum) (LN Tahun
1998 No. 16, TLN No. 3731);
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1998
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum
(Perum) Kereta Api menjadi Perusahaan
Perseroan (Persero);
7. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 1998
tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan
Wewenang Menteri Keuangan Selaku Pemegang
Saham atau Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) pada Perusahaan Perseroan Kepada
Menteri Negara Pendayaagunaan Badan Usaha
Milik Negara (LN Tahun 1998 No. 82, TLN
No. 3758);
8. Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1998
tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api
(LN Tahun 1998 No. 133, TLN No. 3777);
9. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1998
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta
Api (LN Tahun 1998 No. 189, LN No. 3785);
10. Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1974
tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen;
11. Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994
tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara, sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Keputusan Presiden
No. 6 Tahun 1999;
12. Keputusan Presiden No.61 Tahun 1998
tentang Kedudukan, Tugas, Susunan,
Organisasi dan Tata Kerja Departemen,
sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden No. 192 Tahun 1998;
13. Keputusan Presiden No. 38 Tahun 1999
tentang Jenis dan Kriteria Perusahaan
Perseroan Tertentu yang dapat Dikecualikan
dari Pengalihan Kedudukan, Tugas dan
Kewenangan Menteri Keuangan selaku
Pemegang Saham atau Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) kepada Menteri Negara
Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara;
14. Keputusan Presiden No. 39 Tahun 1999
tentang Pengecualian Terhadap Perusahaan
Perseroan (Persero) PT Kereta Api dari
Pengalihan Kedudukan, Tugas, dan
Kewenangan Menteri Keuangan Selaku
Pemegang Saham atau Menteri Negara
Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara;
15. Keputusan Bersama Menteri Perhubungan,
Menteri Keuangan dan Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No.
KM. 19 tahun 1999 No.83/KMK.03/1999 No.
KEP.024/K/03/1999 tentang Pembiayaan atas
Pelayanan Umum Angkutan Kereta Api
Penumpang Kelas Ekonomi, Pembiayaan Atas
Perawatan dan Pengoperasian Prasarana
Kereta Api, serta Biaya Atas Pengguna
Prasarana Kereta Api;
16. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM
91/OT.002/Phb-80 dan KM 164/OT.002/Phb-80
tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Perhubungan, sebagaimana telah
di ubah terakhir dengan Keputusan Menteri
Perhubungan No. KM 59 Tahun 19998;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN BERSAMA DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN


DARAT, DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN, DAN DEPUTI
KEPALA BAPPENAS BIDANG PRASARANA TENTANG
KRITERIA, TOLOK UKUR DAN MEKANISME PEMBIAYAAN
ATAS PELAYANAN UMUM ANGKUTAN KERETA API
PENUMPANG KELAS EKONOMI, PEMBIAYAAN ATAS
PERAWATAN DAN PENGOPERASIAN PRASARANA KERETA
API, SERTA BIAYA ATAS PENGGUNAAN PRASARANA
KERETA API.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:


1. Pembiayaan atas pelayanan umum angkutan kereta api
penumpang kelas ekonomi (Public Service Obligation/PSO)
adalah subsidi pemerintah kepada penumpang kereta api kelas
ekonomi, yang dihitung berdasarkan selisih antara biaya
yang dikeluarkan untuk operasi angkutan kereta api sesuai
dengan kriteria dan tolok ukur pelayanan umum angkutan
kereta api yang efesien dengan biaya angkutan kereta api
penumpang yang tarifnya ditetapkan oleh pemerintah.
2. Pembiayaan atas perawatan dan pengoperasian prasarana
kereta api (Infrastructure Maintenance and Operation/IMO)
adalah biaya yang harus ditanggung oleh Pemerintah atas
perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api yang
dimiliki Pemerintah.
3. Biaya atas penggunaan prasarana kereta api (Track Acess
Charges/TAC) adalah biaya yang harus dibayar oleh Badan
Penyelenggara kepada Pemerintah atas penggunaan prasarana
kereta api yang dimiliki Pemerintah.

BAB II
KRITERIA DAN TOLOK UKUR PEMBIAYAAN ATAS PELAYANAN UMUM ANGKUTAN
KERETA API PENUMPANG KELAS EKONOMI

Bagian Pertama
Kriteria

Pasal 2

(1) Pelayanan angkutan kereta api penumpang kelas ekonomi


mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
a. laik operasi;
b. mempunyai jadwal tetap dan teratur, dengan toleransi
keterlambatan maksimum rata-rata 15% dari waktu
tempuh;
c. kapasitas tersedia maksimum 106 tempat duduk per
kereta untuk kereta api jarak menengah dan jarak jauh,
dan 6 penumpang per m2 untuk kereta api jarak dekat;
d. dioperasika dengan maksimum 150% dari kapasitas
tersedia;
e. kecepatan rata-rata minimal 40 km/jam untuk kereta api
jarak menengah dan jarak jauh, dan 30 km/jam untuk
kereta api jarak dekat;
f. berhenti pada stasiun-stasiun, sebagai simpul yang
membutuhkan pelayanan angkutan kereta api penumpang
kelas ekonomi;
(2) Pelayanan angkutan kereta penumpang kelas ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai fasilitas
pelayanan yang masih berfungsi dengan baik, sekurang-
kurangnya sebagai berikut:
a. jendela/pintu;
b. kursi dengankonstruksi tetap yang mempunyai sandaran;
c. toilet kecuali untuk kereta api jarak dekat;
d. lampu;
e. kipas angin;
f. air sesuai kebutuhan minimal per orang kecuali jarak
dekat;
g. pemadam kebakaran;
h. rak bagasi

Bagian Kedua
Tolok Ukur

Pasal 13

(1) Biaya operasi angkutan kereta api penumpang kelas ekonomi


yang efesien dihitung dengan menggunakan metode biaya total
operasi.
(2) Perhitungan biaya yang dikeluarkan untuk operasi angkutan
kereta api penumpang kelas ekonomi, dihitung dengan
menggunakan data produksi angkutan.
(3) Biaya angkutan kereta api penumpang kelas ekonomi yang
ditetapkan oleh Pemerintah merupakan pendapat bagi Badan
Penyelenggara yang dihitung berdasarkan tarif yang berlaku
dikalikan dengan kapasitas penumpang per trip (dengan
okupansi rata-rata 0,9 dalam keadaan normal) ditambah
pendapatan non operasi yang dihitung secara proposional
untuk jasa pelayanan ekonomi.

Pasal 4

Komponen-komponen biaya pengoperasian angkutan kereta api pe


penumpang kelas ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(2) terdiri dari biaya:
a. Penyusutan sarana yang merupakan milik Badan Penyelenggara,
terdiri dari:
1) lokomotif;
2) kereta.
b. pemeliharan sarana, terdiri dari
1) lokomotif;
2) kereta
c. pelumas;
d. BBM atau sumber energi lain;
e. awak, terdiri dari:
1) biaya tetap;
2) biaya premi awak;
f. penggunaan prasarana;
g. stasiun;
h. umum;
i. kantor pusat;

Pasal 5
(1) Perhitungan harga satuan biaya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 diatur sebagai berikut:
a. biaya pemeliharaan sarana dan prasarana biaya awak dan
BBM atau sumber energi yang lain dilakukan sesuai
dengan standar teknis atau petunjuk teknis
pemeliharaan dan operasi;
b. biaya umum dan kantor pusat dihitung secara
proposional untuk pelayanan angkutan kereta api
penumpang kelas ekonomi secara efesien yang ditetapkan
oleh Pemerintah;
c. biaya penyusutan sarana dihitung berdasarkan jam
pemakaian atas nilai perolehan tahun berjalan;
d. biaya penggunaan prasarana dihitung secara proposional
untuk pelayanan angkutan kereta api penumpang kelas
ekonomi;

Pasal 6

(1) Biaya operasi satuan tiap-tiap pelayanan angkutan kereta


api penumpang kelas ekonomi dihitung dalam satuan Rp/Pnp-
Km, yang merupakan penjumlahan masing-masing komponen biaya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.
(2) Biaya operasi total tiap-tiap pelayanan angkutan kereta api
penumpang kelas ekonomi dihitung berdasarkan biaya operasi
satuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikalikan dengan
jumlah jarak yang ditempuh dan dikalikan jumlah penumpang
per trip.

Pasal 7

Formula perhitungan pembiayaan atas pelayanan umum angkutan


kereta api penumpang kelas ekonomi sebagai tercantum dalam
Lampiran I Keputusan Bersama ini.

BAB III
KRITERIA DAN TOLOK UKUR PEMBIAYAAN ATAS PERAWATAN DAN
PENGOPERASIAN PRASARANA KERETA API

Bagian Pertama
Kriteria

Pasal 8

(1) Perawatan merupakan seluruh pekerjaan yang bertujuan untuk


memulihkan dan/atau mempertahankan kondisi prasarana pada
tingkat tertentu sesuai dengan kelas yang ditetapkan.
(2) Perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilaksanakan agar kereta api dapat beroperasi sesuai dengan
tingkat kualitas pelayanan yang ditetapkan berdasarkan
standar teknis atau petunjuk teknis perawatan.
(3) Kegiatan perawatan prasarana kereta api sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) merupakan kegiatan perawatan dan
perbaikan yang pelaksanaannya di jabarkan dalam kegiatan
setiap tahun.
(4) kegiatan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3), meliputi perawatan:
a. jalan kereta api, yang terdiri:
1) perbaikan rel;
2) perbaikan bantalan;
3) penambahan ballast;
4) pemcokan;
5) lingkungan.
b. Jembatan;
c. Wesel;
d. Persinyalan
e. Instalasi listrik aliran atas;
f. Terowongan.

Pasal 9
Pengoperasian prasarana api, meliputi kegiatan;
a. pengaturan dan pengendalian perjalanan kereta api;
b. pengoperasian persinyalan, telekomunikasi dan listrik
aliran atas;
c. pengoperasian wesel manual;
d. pemeriksaan dan penjagaan jalan rel, jembatan dan
terowongan.

Bagian Kedua
Tolok Ukur

Pasal 10

(1) Biaya perawatan prasarana kereta api sesuai jenis kegiatan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, dihitung berdasarkan
volume perawatan per kegiatan dikalikan harga satuan.
(2) Perhitungan volume perawatan per kegiatan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dihitung sesuai jenis kegiatan
perawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dengan
menggunakan standar teknis atau petunjuk teknis perawatan
secara berkesinambungan.
(3) harga satuan biaya perawatan prasarana dihitung berdasarkan
jenis kegiatan perawatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
sesuai harga satuan yang ditetapkan oleh pemerintah
dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Total biaya perawatan prasarana kereta api dihitung
berdasarkan total kegiatan dikalikan volume dikalikan harga
satuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) ditambah biaya
umum dan kantor pusat yang dihitung secara proposional
untuk kegiatan perawatan prasarana kereta api.

Pasal 11
(1) Biaya pengoperasian prasarana kereta api sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 dihitung berdasarkan standar gaji
pegawai Badan Penyelenggara yang telah disetujui oleh
Pemerintah dikalikan dengan jumlah kebutuhan pegawai sesuai
standar pengoperasian prasarana kereta api secara efisien
untuk seluruh jenis kegiatan pengoperasian prasarana kereta
api
(2) Total biaya pengoperasian prasarana kereta api dihitung
berdasarkan biaya sebgaimana dimaksud dalam ayat (1)
ditambah biaya umum dan kantor pusat yang dihitung secara
proposional untuk kegiatan pengoperasian prasarana kereta
api.

Pasal 12
Formula perhitungan pembiayaan atas perawatan dan pengoperasian
prasarana kereta api sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
Keputusan bersama ini.

BAB IV
KRITERIA DAN TOLOK UKUR BIAYA ATAS PENGGUNAAN
PRASARANA KERETA API

Bagian Pertama
Kriteria

Pasal 13

Biaya atas penggunaan prasarana kereta api merupakan biaya yang


dibayarkan oleh Badan Penyelenggara kepada Pemerintah atas
penggunaan prasarana kereta api.

Bagian Kedua
Tolok Ukur
Pasal 14

(1) Biaya penggunaan prasarana kereta api dihitung berdasarkan


beban penggunaan prasarana yang berdampak pada biaya
perawatan, biaya pengoperasian dan penyusutan prasarana
dengan memprhitungkan prioritas prasarana kereta api.

(2) Biaya penggunaan prasarana kereta api sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) dihitung berdasarkan biaya perawatan dan
pengoperasian sebagaimana dimeksud dalam Pasal 8 dan Pasal
9 dikalikan dengan suatu faktor pembebanan yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat dengan
memperhitungkan prioritas penggunaan prasarana kereta api
ditambah penyusutan prasarana kereta api.

Pasal 15

Penyusutan prasarana kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal


14 dihitung secara tahunan sesuai dengan umur teknis prasarana
kereta api dan nilai perolehan pada tahun berjalan.

Pasal 16

Formula perhitungan pembiayaan atas penggunaan prasarana kereta


api sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Keputusan bersama
ini.

BAB V
MEKANISME PEMBIAYAAN ATAS PELAYANAN UMUM ANGKUTAN KERETA
API PENUMPANG KELAS EKONOMI, PEMBIAYAAN ATAS PERAWATAN DAN
PENGOPERASIAN PRASARANA KERETA API DAN BIAYA ATAS
PENGGUNAAN PRASARANA KERETA API
Bagian Pertama
Mekanisme Pembiayaan atas Pelayanan Umum Angkutan Kereta
Api Penumpang Kelas Ekonomi

Pasal 17

(1) Direktur Jenderal Perhubungan Darat menerbitkan Memo


Koordinasi yang berisi penetapan atas pelayanan umum
angkutan kereta api penumpang kelas ekonomi dan pembiayaan
atas pelayanan umum angkutan kereta api kelas ekonomi
berdasarkan kriteria dan tolok ukur dalam Keputusan Bersama
ini.
(2) Badan Penyelenggara menghitung nilai pembiayaan atas
pelayanan umum angkutan kereta api kelas ekonomi sesuai
Memo Koordinasi dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat
dan diintegrasikan dalam Penyusunan Rencana Kerja Anggaran
Badan Penyelenggara.
(3) Perhitungan nilai pembiayaan atas pelayanan umum angkutan
kereta api kelas ekonomi sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) diusulkan ke Direktur Jenderal Perhubungan Darat.

Pasal 18

(1) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan evaluasi


dan persetujuan terhadap kelayakan pemberian pembiayaan
atas pelayanan umum angkutan kerea api penumpang kelas
ekonomi yang diusulkan oleh Badan Penyelenggara.
(2) Hasil evaluasi dan persetujuan pembiayaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh Direktur Jenderal
perhubungan Darat kepada Menteri Perhubungan untuk
diusulkan kepada Menteri Keuangan dan/atau Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
(3) Departemen Perhubungan meneruskan usulan pemberian
pembiayaan atas pelayanan umum angkutan kereta api
penumpang kelas ekonomi yang ditetapkan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dan mengusulkan ke Bappenas
dan/atau Departemen Keuangan untuk memperoleh alokasi
anggaran

Pasal 19

(1) Bappenas dan/atau Departemen Keuangan melakukan evaluasi


dan persetujuan anggaran sesuai dengan kemampuan pembiayaan
Negara untuk pelayanan umum angkutan kereta api penumpang
kelas ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18.

(2) Deputi Kepala Bappenas Bidang Prasarana dan/atau Direktur


Jenderal Anggaran Departemen Keuangan melakukan
penilaian/pembahasan anggaran terhadap pelayanan umum
angkutan kereta api kelas ekonomi yang selanjutnya
memberikan persetujuan berupa penetapan alokasi anggaran
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 20

Penetapan alokasi anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19


diserahkan kepada Departemen Perhubungan dan/atau Badan
Penyelenggara yang selanjutnya Direkotrat Jenderal Perhubungan
Darat menyiapkan Petunjuk Operasional untuk ditetapkan oleh
Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan.

Pasal 21

(1) Berdasarkan alokasi anggaran yang telah ditetapkan


beserta Petunjuk Operasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20, disusun kontrak kerja antara
Direktorat Jenderal perhubungan Darat dengan Badan
Penyelenggara.
(2) Kontrak Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perhubungan
Darat dan Direktur Utama Badan Penyelenggara
(3) Nilai pembiayaan dan Kinerja Kontrak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dimuat dalam Rencana Kerja
Anggaran Badan Penyelenggara

Pasal 22

(1) Badan Penyelenggara melaporkan pelaksanaan kegiatan


dan penggunaan biaya ata pelayanan umum angkutan
kereta api penumpang kelas ekonomi kepada Direktorat
Jenderal Perhubungan Darat dengan tembusan kepada
Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan dan Kepala
Bappenas serta Deputi Kepala Bappenas dan Direktur
Jenderal Anggaran Departemen Keuangan.
(2) Berdasarkan laporan sebagaiman dimaksud dalam ayat (1)
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan
evaluasi dan melaporkan ke Menteri Perhubungan.

Bagian Kedua
Mekanisme Pembiayaan atas Perawatan dan Pengoperasian
Prasarana Kereta Api

Pasal 23

(1) Direktur

Pasal 24
(1) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan
evaluasi dan persetujuan terhadap kelayakan pemberian
pembiayaan atas perawatan dan/atau pengoperasian
prasarana kereta api yang diusulkan oleh Badan
Penyelenggara.

(2) Hasil evaluasi dan persetujuan pembiayaan yang


diusulkan Badan Penyelenggara sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) disampaikan oleh Direktur Jenderal
Perhubungan Darat kepada Menteri Perhubungan untuk
diusulkan kepada Menteri Kuangan dan/atau Menteri
Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas

(3) Departemen Perhubungan meneruskan usulan pemberian


pembiayaan atas perawatan dan pengoperasian pembiayaan
atas perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api
yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat 92)
dan mengusulkan ke Bappenas dan/atau Departemen
Keuangan untuk memperoleh alokasi anggaran.

Pasal 25
(1) Bappeas dan/atau Departemen Keuangan melakukan
evaluasi dan penilaian kemampuan pembiayaan Negara
atas perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api
ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24

(2) Deputi Kepala Bappenas Bidang Prasarana dan/atau


Direktur Jenderal Anggaran Departemen Keuangan
melakukan evaluasi anggaran terhadap pemberian
pembiayaan atas perawatan dan pengoperasian perasarana
kereta api utnuk memberikan persrtujuan berupa
penetapan alokasi anggaran sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 26
Persetujuan alokasi anggaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 diserahkan kepada Departemen Perhubungan dan
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyiapkan Petunjuk
Operasional untuk ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal
Departemen Perhubungan

Pasal 27
(1) Berdasarkan persetujuan alokasi anggaran dan Petunjuk
Operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26,
disusun kontrak kerja antara Direktorat Jenderal
Perhubungan Darat dengan Badan penyelenggara

(2) Kontrak kerja sebagiamana dimaksud dalam ayat (1)


ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perhubungan
Darat dan Direktur Utama Badan Penyelenggara.

(3) Nilai pembiayaan dan kinerja kontrak sebagaimana


dimaksud dalam ayat (2) dimuat dalam Rencana Kerja
Anggaran Badan Penyelenggara

Pasal 28
(1) Badan Penyelenggara melaporkan penggunaan biaya atas
perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api
kepada Direktur Jenderal Perhubungan Darat dengan
tembusan kepada Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan
dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas
(2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) Direktur Jenderal Perhubungan Darat melakukan
evaluasi dan melaporkan ke Menteri Perhubungan

Pasal 29
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melaksanakan
perhitungan terhaadp:
a. biaya perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api
yang diberikan;
b. penyusutan atas penggunaan prasarana kereta api yang
dibangun/dimiliki oleh Pemerintah dan telah
dioperasikan.

Pasal 30
(1) Badan Penyelenggara menyampaikan usulan kepada
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mengenai :
a. biaya atas penggunaan prasarana kereta api
b. pembebasan biaya atas penggunaan prasarana kereta
api tertentu.

(2) Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Deputi Kepala


Bappeas Bidang Prasarana dan Direktur Jenderal
Anggaran Departemen Keuangan melakukan evaluasi dan
penilaian terhadap biaya atas penggunaan prasarana
kereta api untuk ditetapkan pada Rencana Kerja
Anggaran Badan Penyelenggara.

Pasal 31
Biaya atas penggunaan prasaran kereta api harus disetorkan
oleh Badan Penyelenggara kepada Pemerintah

BAB VI
PEMANTAPAN DAN EVALUASI

Pasal 32
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal
Anggaran dan Deputi Bidang Prasarana Bappenas melakukan
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan atas pembiayaan pelayanan
umum angkutan kereta api kelas ekonomi serta pembiayaan perawatan
dan/atau pengoperasian prasarana kereta api serta penggunaan
prasarana kereta api.

BAB VII
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 33
(1) Badan Penyelenggara segera memperbaiki prasarana kereta api
yang rusak akibat terjadinya kecelakaan kereta api dan
biaya yang dikeluarkan lebih dahulu dibayar oleh Badan
Penyelenggara;

(2) Biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan


diperhitungkan kemudian dengan Pemerintah apabila
terjadinya kecelakaan kereta api bukan karena
kelalaian Badan Penyelenggara.

(3) Aapabila kecelakaan kereta api sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) disebabkan karena kelalaian Badan
Penyelenggara, maka biaya perbaikan menjadi tanggung
jawab Badan Peyelenggara

Pasal 34
(1) Untuk menyempurnakan perhitungan pembiayaan atas
pelayana umum angkutan kereta api penumpang kelas
ekonomi, pembiayaan atas perawatan dan penggunaan
prasarana kereta api dan biaya atas penggunaan
prasarana kereta api dalam keputusan ini, Direktorat
Jenderal perhubungan Darat dan Bappenas Bidang
Prasarana dapat meninjau kembali dasar perhitungan
pembiayaan atas pelayanan umum kereta api penumpang
kelas ekonomi, pembiayaan atas perawatan dan/atau
pengoperasian prasarana kereta api dan biaya atas
penggunaan prasarana kereta api.

(2) Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


harus diberitahukan kepada Menteri Perhubungan,
Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 35
Keputusan Bersama ini mulai berlkau pada tanggal ditetapkan

Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 28 Juni 1999

DIREKTUR JENDERAL DIREKTUR JENDERAL DEPUTI KEPALA BAPPENAS


PERHUBUNGAN DARAT ANGGARAN BIDANG PRASARANA
SANTO BUDIONO DARSJAH Prof.Dr.Ir. Bambang B.
Soedjito,MRP

Anda mungkin juga menyukai