Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS

VARICELLA

Disusun Oleh :
dr. Fadhillah Syafitri Suhatril

Pembimbing :
dr. Ridhafika Ulfa

Puskesmas Kecamatan Palmerah


Program Internsip Angkatan III
DKI JAKARTA
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

Varicella merupakan infeksi akut primer yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.
Virus tersebut menyerang mukosa dan kulit. Infeksi primer virus ini menyebabkan penyakit
varicella, sedangkan reaktivasinya menyebabkan herpes zoster. Varicella memiliki nama lain
chicken pox dan cacar air.
Etiologi varicella dan herpes zoster pertama kali disarankan oleh von Bo'kay pada
tahun 1892, berdasarkan pengamatan dari anak kecil yang menderita varicella setelah
terpapar orang dewasa dengan herpes zoster. Penularan oleh virus varicella-zoster
ditunjukkan dengan menginokulasi anak-anak yang tidak memiliki riwayat varicella dengan
cairan dari lesi herpes zoster; Anak-anak ini menderita varicella kemudian. Cacar air
(varicella) umumnya menginfeksi anak-anak usia 1 sampai 9 tahun, namun dapat juga
menyerang orang dewasa. Infeksi primer pada orang dewasa dapat disertai dengan
pneumonia interstisial. Infeksi pada orang yang immunocompromised sering menyebabkan
penyakit yang parah. Pada sebagian besar daerah dengan iklim sedang, lebih dari 90% orang
menderita varicella sebelum remaja dengan insiden 13 sampai 16 kasus per 1.000 orang per
tahun. Di daerah beriklim tropis, infeksi virus varicella-zoster pada orang dewasa lebih sering
daripada anak-anak.
Di negara barat kejadian varisela terutama meningkat pada musim dingin dan awal
musim semi, sedangkan di Indonesia virus menyerang pada musim peralihan antara musim
panas ke musim hujan atau sebaliknya. Namun, varisela dapat menjadi penyakit musiman
jika terjadi penularan dari seorang penderita yang tinggal di populasi padat, ataupun
menyebar di dalam satu sekolah. Sebelum pengenalan vaksinasi pada anak usia 15 tahun,
90% individu di daerah beriklim sedang telah mengalami infeksi primer.
Varicella merupakan penyakit yang sangat menular, 75 % anak terjangkit penyakit ini
setelah tertular virus varicella-zoster. Varisela menular melalui sekret saluran pernapasan,
percikan ludah, terjadi kontak dengan lesi cairan vesikel, pustula, dan secara transplasental.
Individu dengan zoster juga dapat menyebarkan varisela. Vaksin hidup yang dilemahkan
yang mengandung Oka Strain virus varicella zoster, yang dirancang pada tahun 1970 dan
kemudian untuk pencegahan varicella pada anak-anak dan orang dewasa yang sehat, sejak
tahun 1980.

2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1.IDENTITAS PASIEN
a. Nama : An. AD
b. Usia Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Pekerjaan : Pelajar
d. Alamat : Palmerah – Jakarta Barat
e. Agama : Islam
f. Suku : Jawa
g. Tanggal Pemeriksaan : kami, 8 Maret 2018

2.2.ANAMNESIS
2.2.1. KELUHAN UTAMA :
Gatal-gatal dan timbul bintil-bintil berair pada seluruh tubuh.
2.2.2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
Keluhan dialami pasien sejak 1 hari sebelum datang ke ruang poli umum
Puskesmas Kecamatan Palmerah. Keluhan dimulai dengan munculnya bintil-bintil
berair pada tangan. Rabu, 7 maret 2018, muncul bintil-bintil berair yang lain di
tangan pada sore hari. Kamis, 8 maret pada pagi hari, bintil-bintil berair muncul di
kepala, badan, leher dan kaki. Kemudian pada pemeriksaan ditemukan kelainan kulit
berupa bintil-bintil berair jernih pada tangan, leher, kepala, badan dan kaki. Belum
terjadi demam pada pasien dan pasien belum mengkonsumsi obat sebelumnya.
2.2.3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :
Pasien belum pernah mengalami seperti ini sebelumnya
2.2.4. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA :
Adik pasien pernah menderita cacar air sebelumnya, sudah berobat dan sudah
sembuh dari cacar air.

2.3.PEMERIKSAAN FISIK
2.3.1. STATUS GENERALIS
 Keadaan Umum : Cukup
 Kesadaran : Komposmentis (E4V5M6)
 Status Gizi : Baik
o TB : 116 cm
o BB : 26 Kg
 Tekanan Darah : 100/90 mmHg
 HR : 84 x/menit
 RR (Laju Napas) : 24 x/menit
 Suhu : 37.30C

3
2.3.2. STATUS INTERNUS
 Kepala : Skuama (-), vesikel (+)
 Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra
(-/-), injeksi siliar (-/-), injeksi konjungtiva (-/-), sekret
mukopurulen (-/-)
 Hidung : Discharge (-), nafas cuping hidung (-/-), nyeri tekan (-/-)
 Telinga : Bentuk normal, discharge (-/-), nyeri tekan (-/-)
 Mulut : krusta hemoragik (-), bercak putih di mukosa mulut (-)
 Tenggorokan : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Leher : Simetris, pembesaran kelenjar getah bening (-)
 Dada :
 Paru : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Jantung : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Ekstremitas :
 Akral hangat ++/++, edema tungkai --/--, CRT <2 detik ++/++

2.3.3. STATUS DERMATOLOGIK

Lokasi Effloresensi Gambar

Dahi Vesikel soliter

4
Leher sebelah kiri Vesikel soliter

Dada dan Perut Vesikel diskret

Tangan kiri vesikel diskret

5
Telapak tangan kanan vesikel soliter

Tungkai bawah kanan vesikel diskret

2.4.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

2.5.DIAGNOSA BANDING
a. Variola
b. Impetigo
c. Herpes Simplek
d. Poxvirus
e. Infeksi streptokokus grup A

2.6.DIAGNOSA KERJA
 Varicella

6
PENATALAKSANAAN

 Acyclovir 4 x 400 mg (dibuat sediaan puyer)


 Paracetamol syrup 3 x 2 cth.
Medikamentosa  Cetrizin syrup 1 x 1 cth.
 Salep asiclovir untuk vesikel yang sudah pecah.
 Imunos syrup 1 x 1 cth.

 Menjelaskan kepada ibu pasien untuk


mengawasi munculnya lesi baru.
 Menjelaskan pada ibu untuk memberi
Non-medikamentosa obat penurun panas ketika demam.
 Menjelaskan kepada ibu untuk menjaga
agar vesikel tidak pecah.

2.7.PROGNOSIS
 Quo ad sanam : Dubia ad bonam
 Quo ad vitam : Dubia ad bonam
 Quo ad kosmetikan : Dubia ad bonam
 Quo ad functionam : Dubia ad bonam

7
BAB III

PEMBAHASAN

Varicella merupakan infeksi primer dari virus varicella-zoster yang ditandai dengan
demam bersamaan dengan munculnya ruam pada kulit dan terkadang mukosa. Sakit kepala,
malaise, dan kehilangan nafsu makan. Ruam dimulai sebagai makula, kemudian cepat
berkembang menjadi papula, diikuti oleh tahap vesikuler dan pengerasan lesi. Krusta dapat
terjadi setelah 1 sampai 2 minggu. Virus varicella-zoster dapat menular melalui kontak
langsung dengan lesi kulit atau melalui hembusan nafas dari individu yang terinfeksi. Virus
tersebut mengandung genom DNA ganda dan merupakan famili Herpesviridae.

Virus varicella-zoster adalah virus DNA dari famili herpes dan sangat menular.
Manusia adalah satu-satunya sumber dan virus memasuki host melalui konjungtiva dan
selaput lendir nasofaring. Pada akhir fase viremik kedua, gejala prodromal non-spesifik
seperti sakit kepala, demam dan malaise terjadi. Hal ini diikuti oleh pruritis dan ruam
makulopapular yang menjadi vesikular sebelum krusta terjadi biasanya sekitar lima hari
kemudian. Penderita menular dari dua hari sebelum perkembangan ruam sampai pengerasan
vesikula terjadi. Infeksi primer umumnya memberikan imunitas seumur hidup namun infeksi
simtomatik telah dilaporkan dan 13,3% individu dengan varicella melaporkan episode
sebelumnya dari serangan hickenpox dan infeksi ulang subklinis telah terdeteksi secara
serologis. Gambaran klinis pada varicella berbentuk polimorf. Masa inkubasi virus varicella-
zoster berlangsung 14 sampai 21 hari dengan gejala klinis demam, malaise, dan nyeri
kepala. Kemudian diikuti adanya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu
beberapa jam berubah menjadi vesikel. Vesikel pada cacar air berbentuk khas berupa tetesan
embun (tear drops).

Manifestasi klinis varisela terdiri atas 2 stadium yaitu stadium prodormal, stadium
erupsi. Pada stadium prodormal, individu akan merasakan demam yang tidak terlalu tinggi
selama 1-3 hari, mengigil, nyeri kepala anoreksia, dan malaise. Kemudian menyusul stadium
erupsi, timbul ruam-ruam kulit “ dew drops on rosepetals” tersebar pada wajah, leher, kulit
kepala dan secara cepat akan terdapat badan dan ekstremitas. Penyebarannya bersifat
sentrifugal (dari pusat). Makula kemudian berubah menjadi papula, vesikel, pustula, dan
krusta. Erupsi ini disertai rasa gatal. Perubahan ini hanya berlangsung dalam 8-12 jam,
sehingga varisela secara khas dalam perjalanan penyakitnya didapatkan bentuk papula,
vesikel, dan krusta dalam waktu yang bersamaan, ini disebut polimorf.

Gejala yang mungkin terjadi pada masa prodormal varicella yaitu nyeri pada 41%
pasien, gatal pada 27%, dan parestesia pada 12%. Selama penyakit akut, pasien mungkin
mengalami hal berikut:

 Nyeri (90%)
 Ketidakberdayaan dan depresi (20%)
 Gejala flu-like (12%)

8
Presentasi yang paling umum adalah ruam vesikular, yang paling sering menyerang
dermatom toraks Setelah menderita sakit prodromal dan parestesia, makula dan papula
eritematosa berkembang dan berkembang menjadi vesikula dalam waktu 24 jam.Vesikel
akhirnya menjadi krusta dan sembuh. Kehilangan rasa sakit dan sensori adalah gejala yang
biasa terjadi. Kelemahan motorik juga terjadi dan sering terlewatkan saat pemeriksaan.

Diagnosis varicella ditegakkan berdasarkan pada karakteristik klinis dari ruam yang
mudah dibedakan dari variola dari tahap perkembangan lesi kulit. Pengobatan yang
dilakukan ditujukan untuk menghilangkan gejala. Acetaminophen digunakan untuk
mengendalikan demam, cairan diberikan untuk hidrasi, dan obat topikal diberikan untuk
ruam pruritus. Pengobatan dengan asiklovir intravena wajib dillakukan pada pasien yang
berisiko atau terbukti klinis memiliki varicella yang sudah menyebar luas, atau pada bayi
baru lahir yang terpapar virus varicella-zoster sesaat setelah kelahiran bayi. Pada anak sehat,
pengobatan antiviral tidak wajib dilakukan, namun pengobatan dengan asiklovir oral dalam
waktu 24 jam dapat menurunkan gejala demam dan mengurangi lesi kulit dalam sehari.

Dalam membantu penegakan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium.


Dapat dilakukan percobaan Tzank dengan mengambil kerokan dasar vesikel, kemudian
dilakukan pembuatan sediaan hapus yang diwarnai dengan giemsa. Pada kasus virus
varicella-zoster yang resisten terhadap asiklovir, deteksi mutasi pada timidin kinase dapat
ditentukan dengan analisis PCR. MRI dapat digunakan jika ada dugaan myelitis atau
ensefalitis. Pungsi lumbal dapat membantu jika ada tanda-tanda myelitis atau ensefalitis.

Pilihan pengobatan didasarkan pada hal berikut:


 Usia pasien
 Status kekebalan tubuh pasien
 Durasi gejala
 Presentasi.

Obat antiviral berguna untuk mengurangi durasi gejala dan kemungkinan neuralgia
postherpetik, terutama saat dimulai dalam 2 hari setelah onset ruam. Asiklovir oral dapat
diresepkan pada pasien sehat yang memiliki kasus tipikal. Dibandingkan dengan asiklovir
oral, obat lain (misalnya valasiklovir, penciclovir, famciclovir) dapat mengurangi durasi
nyeri pasien. Varicella zoster immune globulin (VariZIG) diindikasikan untuk pemberian
kepada individu berisiko tinggi dalam waktu 10 hari (idealnya dalam waktu 4 hari) paparan
cacar air. Kelompok risiko tinggi meliputi anak dan orang dewasa tanpa imunisasi, bayi baru
lahir dengan varicella sesaat sebelum atau sesudah melahirkan, bayi prematur, bayi kurang
dari usia di bawah 1 tahun, orang dewasa tanpa bukti kekebalan tubuh, dan wanita hamil.

Asiklovir memiliki 2 keterbatasan-bioavailabilitas dan adanya beberapa strain virus


varicella-zoster yang resisten. Obat lain, termasuk valacyclovir, penciclovir, dan famciclovir,
juga tersedia. Studi menunjukkan bahwa, bila dibandingkan dengan asiklovir oral, obat baru
dapat mengurangi durasi nyeri pasien. Varicella zoster immune globulin (VariZIG)

9
diindikasikan untuk pemberian kepada individu berisiko tinggi dalam waktu 10 hari
(idealnya dalam 4 hari) paparan cacar air (varicella zoster virus).

Pada bulan Juli 2013, CDC mengeluarkan rekomendasi terbaru untuk penggunaan
varicella-zoster immune globulin (VariZIG) untuk mengurangi tingkat keparahan infeksi
VZV, memperluas jendela profilaksis postexposure bagi mereka yang berisiko tinggi
terhadap varicella berat. Persetujuan asli FDA untuk VariZIG direkomendasikan digunakan
dalam 4 hari, namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pengobatan ini efektif
hingga 10 hari setelah terpapar.

Rekomendasi lainnya termasuk penggunaan VariZIG pada pasien berikut; Pasien


tanpa imunompromi tanpa bukti kekebalan, Bayi baru lahir yang ibunya memiliki gejala
varicella antara 5 hari sebelum dan 2 hari setelah melahirkan, Bayi prematur yang dirawat di
rumah sakit yang lahir pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih yang ibunya tidak memiliki
bukti kekebalan terhadap varicella, Bayi prematur yang dirawat di rumah sakit yang lahir
kurang dari 28 minggu masa kehamilan atau yang memiliki berat kurang dari 1000g saat
lahir, terlepas dari bukti kekebalan ibu mereka terhadap varicella, dan wanita hamil tanpa
bukti imunitas.

Perawatan bedah mungkin diperlukan untuk komplikasi zoster, seperti fasciitis


necrotik. Tiga obat yang dapat membantu mengurangi rasa sakit, gejala dan kejadian
neuralgia postherpetic. Semua 3 agen dapat digunakan selama 7-10 hari, tergantung pada
respon. Asiklovir hanya tersedia dalam bentuk intravena.

 Acyclovir ;
Pasien akan mengalami sedikit rasa sakit tetapi perbaikan lesi kulit lebih cepat bila
digunakan dalam 48 jam dari onset ruam. Dapat mencegah kekambuhan.
 Famcyclovir ;
Ketika obat ini berbiotransformmasi menjadi penciclovir metabolit aktif, dapat
menghambat sintesis / replikasi DNA virus.

Valacyclovir ;
Lebih mahal tetapi memiliki dosis rejimen yang lebih nyaman daripada
asiklovir.

Komplikasi pada varicella-zoster yang umumnya terjadi yaitu superfesif


streptokokus atau staphylococcal. Jika virus mengenai mata, diperlukan pengobatan
antiviral jangka panjang. Distribusi trigeminal dan usia lanjut meningkatkan risiko
komplikasi. Komplikasi lainnya meliputi:

Fasciitis Necrotik

Komplikasi gastrointestinal

Hemoragik ensefalitis

Kelemahan motor

Neuralgia postherpetic (paling umum) (Patofisiologi yang
mendasari kondisi ini mungkin melibatkan cedera saraf perifer atau
aktivasi virus lanjutan tanpa lesi, mirip dengan zoster sin herpete.)

10

Vasculopathy.

Neuralgia postherpetic merupakan komplikasi infeksi virus
varicella-zoster yang paling umum, yang mempengaruhi hingga
50% pasien yang berusia lebih dari 60 tahun. Sebagian besar kasus
bersifat sementara, namun banyak kasus bertahan secara kronis,
yang mengganggu produktivitas dan kualitas hidup. Tidak ada
hubungan yang jelas antara hilangnya fungsi saraf perifer dan nyeri
neuralgia postherpetik.

11
BAB IV

KESIMPULAN

Telah dilaporkan kasus dengan diagnosis varicella pada pasien nama An. M
usia 8 tahun. Pada aloanamnesis dengan ibu pasien, didapatkan gatal dan timbul bintil-
bintil berair pada seluruh tubuh. Keluhan dialami pasien sejak sehari sebelum datang
ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Dr.H.Soewondo Kendal. Adik pasien pernah
menderita varicella tetapi sudah berobat dan sudah sembuh. Lesi awal terletak di
tangan pasien, kemudian keesokan paginya ditemukan lesi baru di kepala, badan,
leher, dan kaki. Ditemukan kelainan berupa vesikel yang tersebar pada seluruh tubuh
pasien. Lesi vesikel diskret pada perut, dada, tangan kiri, dan kaki kanan, sedangkan
lesi vesikel soliter ditemukan pada dahi, leher sebelah kiri, dan telapak tangan kanan.

Pada kasus ini, pasien mendapatkan terapi medikamentosa berupa Acyclovir


400mg 4 kali sehari yang dibuat sediaan puyer. Untuk penurun panas pasien diberi
paracetamol syrup 2 sendok teh 3 kali sehari. Intrizin syrup satu sendok teh sekali
sehari. Secara topikal diberi salep fuson untuk vesikel yang sudah pecah, dan diberi
Imunos syrup satu sendok teh sekali sehari untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Prognosis pada kasus ini yaitu quo ad sanam adalah dubia ad bonam, quo ad
vitam adalah dubia ad bonam, quo ad fungsionam adalah dubia ad bonam dan untuk
quo ad kosmetikan adalah dubia ad bonam.

12
DAFTAR PUSTAKA

Handoko RP. Penyakit virus. Dalam: Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
5th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
h.115.

Arvin AM. Varicella-zoster virus. Dalam: Clinical Microbilogy Reviews.

Vol. 9 No. 3. California: Stanford; 1996. h.361-81.z

Mueller NH, Donald HG, Randall JC, Ravi M, Maria AN. Varicella Zoster Virus
Infection: Clinical Features, Molecular Pathogenesis of disease, and Latency.
United state ; 2008.

Putra AP. Varicella Pada Wanita Dewasa usia 28 tahun. Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung.. 2013. Medula Vol. 1: 110-16

Ronald FL, Jack DS, Carrington D, Shali MT, Juan PK, Edi V, Roberto R.
Varicella Zoster Virus (Chickenpox) Infection in Pregnancy. NIH Public Access.
2011; 118: 1155-62.

Pace D. Review of Varicella Zoster Virus: from Epidemiologi to Prevention.


Malta Medical Journal vol. 10; 2008.

Sterling JC, Kurtz JB, Viral Infection (Varicella and zoster). Textbook of
Dermatology. 2006. Oxford: Blackwell Science : 1095-995.

Furuta Y, Fukuda S, Suzuki S, et al. Detection of varicella-zoster virus DNA in


patients with acute peripheral facial palsy by the polymerase chain reaction, and
its use for early diagnosis of zoster sine herpete. J Med Virol. 1997. 52:316-9.

Anderson, WE. Varicella-virus zoster.http://www.medicine.medscape.com


diakses tanggal 8 Agustus 2017.

Klein NP, Fireman B, Yih WK, Lewis E, Kulldorff M, Ray P, et al. Measles-
mumps-rubella-varicella combination vaccine and the risk of febrile seizures.
Pediatrics. 2010. 126:1-8.

Galil K, Choo PW, Donahue JG, Platt R. The sequelae of herpes zoster . Arch
Intern Med. 1997. 157:1209-13.

Rowbotham MC, Fields HL. The relationship of pain, allodynia and thermal
sensation in post-herpetic neuralgia. Brain. 1996. 119 :347-54.

13