Anda di halaman 1dari 7

Islam Adalah Darah Dagingmu

3877 clicks
05/11/2007

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya Islam adalah


darah dagingmu, tangisilah dirimu dan sayangilah ia, jika kamu tidak menyayangi
maka tidak akan disayang. Hendaknya yang menjadi temanmu adalah orang yang
mengajakmu berzuhud terhadap dunia dan cinta terhadap akhirat. Perbanyaklah
mengingat mati, perbanyaklah memohon ampun atas dosa-dosamu yang telah lalu
dan mohonlah keselamatan kepada Allah dalam menjalani sisa-sisa umurmu.

Dinukil dari Imam yang zuhud, ahli ibadah dan wara' bernama Sufyan Ats-Tsauri dari
wasiat-wasiat, nasihat dan kalimat yang penuh hikmah yang bertebaran dalam kitab-kitab
Thabaqat, biografi para ulama dlan kitab-kitab berharga lainnya. Seluruh apa yang beliau
nasihatkan begitu berharga, memancar di dalamnya ruh yang khusyu' dan bercahaya.

Di antara nasihat yang paling berharga dari Sufyan Ats-Tsauri adalah wasiat yang beliau
tulis untuk sebagian saudara beliau, yang meminta nasihat dan wejangan dari beliau. Di
antaranya tertulis:

Janganlah engkau mengambil ilmu agama melainkan kepada orang yang sangat cinta
kepada agamanya, karena perumpamaan orang yang tidak mencintai agamanya bagaikan
dokter yang sakit dan tidak mampu mengobati penyakit pada dirinya. Bagaimana mungkin
ia akan mengobati orang lain dan menasihatinya?

Wahai saudaraku, sesungguhnya Islam adalah darah dagingmu, tangisilah dirimu dan
sayangilah ia, jika kamu tidak menyayangi maka tidak akan disayang. Hendaknya yang
menjadi temanmu adalah orang yang mengajakmu berzuhud terhadap dunia dan cinta
terhadap akhirat. Perbanyaklah mengingat mati, perbanyaklah memohon ampun atas dosa-
dosamu yang telah lalu dan mohonlah keselamatan kepada Allah dalam menjalani sisa-sisa
umurmu.

Imam Ats-Tsaury telah menjelaskan bahwasanya mempelajari Islam pada selain ahli wara'
dan taqwa merupakan pengkhianatan terhadap diri sendiri, mampukah seorang dokter yang
tak mampu mengobati dirinya sendiri dia akan dapat mengobati orang lain?

Betapa tepatnya perumpamaan Imam ini tentang agama sebagaimana darah dan daging,
karena agama yang benar adalah ruh manusia dan intinya, maka apabila agama ini lenyap
seakan-akan bukan dikatakan sebagai manusia lagi. Sebagaimana jika manusia telah hilang
darah dan dagingnya, dapatkah ia disebut sebagai manusia?

Sesungguhnya orang-orang yang menyeru kaum muslimin hari ini untuk mengikuti ajaran
sekulerisme, mereka telah mendudukkan sampah ke derajat agama, menipu kaum muslimin
bahwa mereka mampu hidup tanpa Islam dan mengambil sesuatu yang bertentangan dengan
Islam.

Akan tetapi nasihat Sufyan Ats-Tsaury sebagai sanggahan terhadap pemikiran atheis yang
meremehkan pengaruh Islam dalam kehidupan manusia. Apakah yang dilakukan oleh
seoarang muslim bila telah meyakini bahwa agamanya adalah dasar yang menjadikan dia
ada dan inti dari hidupnya? (tentulah ia akan berkata):

‫ك أمممسر م‬
‫ت نوأننناس أنوومل اسلممسسلممميِنن‬ ‫ب اسلنعالنمميِنن * لن نشمريِ ن‬
‫ك لنهم نوبمنذلم ن‬ ‫ي نونمنمامتيِ مللم نر ب‬ ‫قمسل إمون ن‬
‫صلنمتيِ نونممسمكيِ نونمسحنيِا ن‬
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama meyerahkan diri (kepada Allah) (Al-
An'am: 162-163)

Sesungguhnya kemuliaan umat Islam akan terwujud manakala ada orang-orang yang yakin
bahwa Islam adalah darah dan dagingnya bahkan manakah yang lebih berharga antara darah
dan daging dengan ruh dan jiwa?

Sekali-kali umat Islam ini tidak akan kembali berjaya, tegak, berkuasa dengan lurus bagi
manusia melainkan jika mereka kembali mengambil pelajaran sebagaimana yang dikatakan
oleh Imam ini, menguatkan ikatannya terhadap Islam dan meletakkannya pada tempat yang
semestinya dalam rangka membina pribadi dan mengatur masyarakat.

Sungguh sangat mengherankan orang-orang yang terkena fitnah dan provokasi dari orang
yang merendahkan martabat Islam, melecehkan orang-orang yang berpegang teguh
dengannya. Mereka tak lebih dari para pembeo orang-orang atheis yang tidak pernah
merasakan lezatnya iman dan ketenangan dengan hidayah Islam. Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang sesat yang ingin menyebarkan kesesatan tersebut kepada setiap hati.

Diambil dari Haakadza..Tahaddatsas Salaf edisi bahasa Indonesia Potret Kehidupan Para
Salaf karya Dr. Musthafa Abdul Wahid. Penerbit : At-Tibyan

&copycopyleft 2001-2006 Perpustakaan-Islam.Com Powered by eNdonesia 8.3

Perlindungan Islam Terhadap Jiwa dan HartaBy suryadhie


30/08/2007 3556 clicks
Allah azza wa jalla berfirman

‫سككمم إحان ا‬
ً‫ار ركاًرن بحككمم ررححيِمما‬ ‫ريِاً أرييِرهاً الاحذيِرن آرمكنوُا لَ ترأمكككلوُا أرممروُالرككمم برميِنرككمم حباًملرباًحطحل حإلَ أرمن ترككوُرن تحرجاًررةم رعمن ترررا ض‬
‫ض حممنككمم رولَ ترمقتككلوُا أرمنفك ر‬
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang
batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan
janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S.
An-Nisaa:29)
Agama Islam mengakui dan melindungi hak milik perseorangan, asal diperolehnya dengan jalan yang halal. Sebab itu,
diperintahkan kepada orang-orang beriman, supaya jangan memakan atau mengambil harta sesamanya dengan jalan yang
tidak halal. Itu namanya memakan harta yang haram. Mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak
halal itu banyak macamnya, misalnya dengan jalan mencuri, merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli
barang yang terlarang dan riba.

Salah satu jalan yang dihalalkan pengambilan dan pertukaran harta ialah perniagaan, jual beli yang dilakukan suka sama
suka antara sipenjual dan si pembeli dengan cara jujur dan tidak ada penipuan di dalamnya. Termasuk mengambil dan
memakan harta orang lain dengan cara yang batil, memajukan perkara ke depan pengadilan, supaya menjadi sah menurut
hukum secara lahir, sedang pada hakikatnya adalah harta orang lain. Allah SWT berfirman:

‫رولَ ترأمكككلوُا أرممروُالرككمم برميِنرككمم حباًملرباًحطحل روتكمدكلوُا بحرهاً إحرلىَ املكحاكاًحم لحترأمكككلوُا فرحريِمقاً حممن أرممروُاحل الاناً ح‬
‫س حباًلمثحم روأرمنتكمم ترمعلركموُرن‬

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang
bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan
sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS
Al-Baqarah:188)

Dapatlah dipahami bahwa putusan hakim (pengadilan) tidak dapat menjadikan yang haram itu menjadi halal
menjadi haram pada sisi Tuhan, karena yang haram tetap haram dan yang halal tetap halal. Nabi saw. sesudah
memberikan keputusan tentang suatu perkara harta benda, beliau pernah mengucapkan bahwa beliau
memutuskannya menurut apa yang kelihatan menurut lahirnya, tetapi mungkin salah seorang di antara yang
berperkara, yang satu lebih pintar lebih pandai berbicara dan lawannya, sehingga beliau memenangkan orang itu.
Selanjutnya beliau memperingatkan, kalau putusan itu tidak tepat, berarti beliau memberikan kepada orang yang
menang bara api. Kalau dia mau, silakan nengambi1nya sedikit atau banyak. Putusan Nabi sendiri tidak
menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Berkenaan dengan perniagaan sebagai suatu cara pemindahan dan peredaran harta yang dihalalkan, berdasarkan
sukarela antara kedua belah pihak, si penjual dan si pembeli, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
berkenaan dengan perniagaan ini. Ada perniagaan yang haram disebabkan oleh beberapa keadaan, misalnya
menjual barang yang haram, barang terlarang memakan, meminum atau memakainya dan barang yang berasal
dari curian dan rampasan. Seterusnya menjual barang yang tidak terang keadaannya, belum tentu baiknya atau
tidak dapat dikirakan berapa jumlah yang sebenarnya. Terlarang pula mengurangi sukatan, ukuaran dan
timbangan.

Berkenaan dengan mengurangi sukatan, ukuran dan timbangan ini disebuutkan dalam firman Firman Allah
SWT:

‫سكن ترأمحويِل‬
‫سترحقيِحم رذلحرك رخميِرر روأرمح ر‬
‫س املكم م‬ ‫روأرموكفوُا املركميِرل إحرذا حكملتكمم روحزكنوُا حباًملقح م‬
‫س ر‬
‫طاً ح‬
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Isra’:35)

‫َروإحرذا ركاًكلوُكهمم أرمو رورزكنوُكهمم يِكمخ ح‬.‫سترموُكفوُرن‬


‫سكرورن‬ ‫َالاحذيِرن إحرذا امكرتاًكلوُا رعرلىَ الاناً ح‬.‫َروميِرل لحملكمطرففحفيِرن‬.
‫س يِر م‬
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran
dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain,
mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin:1-3)

Dalam melakukan perniagaan ini hendaklah ada kejujuran dan tidak ada penipuan. Dalam suatu hadis
disebutkan, bahwa Rasulullah saw pada suatu waktu lewat di tempat orang menjual bahan makanan dan beliau
tertarik melihatnya. Kemudian beliau memasukan tangannya dalam bahan makanan itu dan tangan Beliau
kelihatan basah. Nabi bertanya kepada penjual bahan makanan, apa sebabnya begitu? Dijawab karena kena
hujan. Nabi bersabda: “Mengapa tidak diletakkan sebelah atas supaya kelihatan. Kemudian beliau memberikan
ancaman keras, dengan sabda beliau yang artinya:

“Siapa yang menipu kita, dia bukan golongan kita”. (HR. Muslim).

Kaurn saudagar apabila menjual barang yang ada cacatnya, hendaklah hal itu diterangkan dan siapa yang
mengetahuinya wajib pula menerangkannya kepada si pembeli. Sabda Beliau yang artinya:

“Seseorang menjual barang yang ada cacatnya, wajib menjelaskan cacat itu dan bagi orang yang
mengetahuinvu, wajib pula menjelaskannya”.(Diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi).

Di samping perlindungan terhadap hak milik, diperlukan pula perlindungan terhadap nyawa. Sebab itu terlarang
mumbunuh orang, apalagi membunuh diri sendiri, karena Allah itu sangat sayang kepada hambaNya.
Membunuh itu adalah suatu kejahatan dan dosa besar, bisa menggemparkan dan mengganggu keamanan
masyarakat. Sebab itu, dalam ayat lain disebutkan, bahwa siapa yang melanggar hak milik dan membunuh orang
kepadanya diancam akan beroleh siksaan neraka di hari akhirat dan hukum kisas di dunia.

Allah SWT berfirman:

‫سيِمرا‬ ‫صحليِحه رناًمرا روركاًرن رذلحرك رعرلىَ ا‬


‫اح يِر ح‬ ‫ف نك م‬ ‫رورممن يِرمفرعمل رذلحرك كعمدروامناً روظكملمماً فر ر‬
‫سموُ ر‬

”Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan
memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisaa:30)

Apabila perlindungan terhadap hak milik dan nyawa dapat berjalan dengan baik, tentu akan terciptalah
keamanan dan ketenteraman dalam masyarakat. Sebaliknya dengan tidak ada perlindungan terhadap hak milik
dan nyawa, akan terjadilah kekacauan dan silang sengketa yang tidak habis-habisnya.

Belajar agama boleh dari buku atau harus langsung ke ulama?Posted by admin
28/03/2007 4621 clicks
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:
Bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan
belajar kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang
menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari
pada benarnya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:
Bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan belajar
kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang menyatakan:
barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya?

Beliau menjawab:
Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bisa diperoleh dengan mempelajarinya dari para ulama dan dari kitab. Karena,
kitab seorang ulama adalah ulama itu sendiri, dia berbicara kepadamu tentang isi kitab itu. Jika tidak
memungkinkan menuntut ilmu dari ahli ilmu maka ia boleh mencari ilmu dari kitab. Akan tetapi memperoleh
ilmu melalui ulama lebih dekat (mudah) daripada memperoleh ilmu melalui kitab, karena orang yang
memperoleh ilmu melalui kitab akan banyak menemui kesulitan dan membutuhkan kesungguhan yang besar,
dan akan banyak perkara yang akan dia fahami secara samar sebagaimana terdapat dalam kaidah syar'iyyah dan
batasan yang ditetapkan oleh para ulama. Maka dia harus mempunyai tempat rujukan dari kalangan ahli ilmu
semampu mungkin.

Adapun perkataan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih
banyak dari pada benarnya. Perkataan ini tidak benar secara mutlak, tetapi juga tidak salah secara mutlak. Jika
seseorang mengambil ilmu dari semua kitab yang dia lihat, maka tidak ragu lagi bahwa dia akan banyak salah.
Adapun orang yang mempelajarinya bersandar kepada kitab orang-orang yang telah dikenal ketsiqahannya,
amanahnya, dan ilmunya, maka dalam hal ini dia tidak akan banyak salah bahkan dia akan banyak benarnya
dalam perkataannya.

Diambil dari Kitabul 'Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin