Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

Skizofrenia Paranoid

F20.0

Oleh:

Robert Vip Argayasin 1730912310122


Ryan Anggita Nugroho 1730912310123
Lusi Utami 1730912320067
Maulidatul Junaidah 1730912320082

Pembimbing:

dr. H. Achyar Nawi Husein, Sp.KJ

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
RSUD Ansari Saleh Banjarmasin
Mei 2018
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. NH

TTL : Banjarmasin, 1 Juli 1978

Usia : 39 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Pagatan Besar, Pelaihari

Pendidikan Terakhir : Sarjana Pendidikan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia

Status Perkawinan : Menikah

Tanggal masuk MRS : 29Mei 2018

Nomor RMK : 38-97-46

II. RIWAYAT PSIKIATRIK

Diperoleh dari autoanamnesis dan heteroanamnesis pada hari Selasa,

29Mei 2018 pukul 18.00 WITA di IGD RSUD Ansari Saleh Banjarmasin bersama

dengan suami pasien.

A. KELUHAN UTAMA/ALASAN UTAMA

Memukul-mukul perut

2
B. KELUHAN TAMBAHAN

Pasien mulai bicara meracau dan curiga suaminya berselingkuh sejak

sekitar 2 bulan yang lalu. Pasien juga mengaku melihat ular yang keluar dari

kemaluannya sejak 1 hari SMRS.

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Heteroanamnesis

Pasien saat ini sedang hamil ketiga dan memukul-mukul perutnya sejak

pagi hari 29 Mei 2018. Pasien juga bicara meracau dan curiga suaminya

berselingkuh sejak sekitar 2 bulan yang lalu. Pasien memukul-mukul perut dan

mengaku melihat ular yang keluar dari kemaluannya sejak 1 hari SMRS.

Sebelumnya, yaitu sekitar 7-8 tahun yang lalu, saat hamil anak kedua,

tepatnya saat usia kehamilan sekitar 32 minggu, pasien memiliki keluhan yang

sama dengan sekarang, yakni memukul-mukul perut serta bicara meracau, suami

pasien juga mengatakan jika pasien terkadang memukul-mukul tanaman dan

pohon. Saat kehamilan pertama, pasien normal saja. Kemudian pasien dirawat di

RSJD Sambang Lihum sekitar 10 hari. Selama dirawat pasien tidak diberi obat-

obatan jiwa yang ditakutkan dapat mengancam janin. Sewaktu awal hamil kedua,

dokter kandungan menyarankan agar pasien berhenti mengkonsumsi obat jiwa

yang telah dikonsumsi pasien sekitar 3 tahun sebelum hamil kedua. Menurut

suami pasien, pasien mengalami perubahan perilaku menjadi pendiam dan

kemudian mulai bicara meracau di antara kehamilan pertama dan kehamilan

kedua, tepatnya sekitar 3 tahun sebelum hamil kedua. hal ini disebabkan oleh

pasien yang gagal diangkat menjadi guru TK. Kemudian pasien berobat jalan di

RSJD Sambang Lihum dan mulai minum obat jiwa secara rutin. Jarak kehamilan

3
Autoanamnesis

Pasien mengeluh melihat ular keluar dari kemaluannya sejak 1 hari SMRS.

Pasien juga mengaku melihat banyak ular di rumahnya. Pasien juga merasa bahwa

di dalam kandungannya terdapat ular. Sejak 2 bulan yang lalu, pasien merasa

suami pasien berselingkuh. Pasien tidak merasa bahwa dirinya sakit.

D. RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA

1. Riwayat Psikiatri

Pasien sebelumya pernah mengalami perubahan perilaku menjadi pendiam

kemudian mulai bicara meracau di antara kehamilan pertama dan kehamilan

kedua. Sebelumnya pasien gagal diangkat menjadi guru TK. Kemudian pasien

berobat jalan di RSJD Sambang Lihum dan mulai minum obat secara rutin. Pasien

sempat berhenti mengkonsumsi obat saat pasien hamil anak kedua. Kemudian

pasien mulai melihat ular dan merasa mengandung anak ular saat hamil yang

kedua, yaitu sekitar 7-8 tahun yang lalu.

2. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif

Pasien tidak pernah mengkonsumsi NAPZA.

3. Riwayat Penyakit Dahulu (Medis)

Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes melitus (-), trauma

kepala (-), kejang (-).

4. Riwayat Kepribadian Sebelumnya

Pasien merupakan pribadi yang baik, tenang, suka bersosialisasi dengan

warga sekitar, serta sering membantu sesama.

4
E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

1. Riwayat Antenatal dan Natal

Pasien tidak mengetahui riwayat antenatal, pasien mengaku lahir dibantu

oleh bidan di klinik bidan.

2. Riwayat Infancity/Masa Bayi (0-1,5 tahun) Basic Trust vs Mistrust

Pasien tidak mengetahui riwayat pertumbuhan dan perkembangan pada usia

0-1,5 tahun.

3. Riwayat infanticy (1,5-3 tahun) Autonomy vs Shame and Doubt

Pasien tidak mengetahui riwayat pertumbuhan dan perkembangan pada usia

1,5-3 tahun.

4. Riwayat Pre School Age/Masa Sekolah (3-6 tahun) Initiative vs Guil

Pasien tidak mengingat riwayat pertumbuhan dan perkembangan pada usia

3-6 tahun. Pasien hanya mengingat bahwa ia tidak pernah sakit berat.

5. Riwayat School Age/Masa Sekolah (6-12 tahun) Industry vs Inferiority

Pada usia ini pasien mulai bersekolah. Pasien mengaku bahwa ia tidak

memiliki masalah saat di sekolah.

6. Riwayat Adolenscance (12-20 tahun) Identity vs Role Difussion/Identity

Confusion

Pasien bersekolah sampai SMA kelas 3, kemudian melanjutkan kuliah.

Pasien merupakan pribadi yang tidak kesulitan untuk melakukan kontak sosial

dengan orang lain.

5
F. RIWAYAT MASA DEWASA

1. Riwayat Pendidikan

Pendidikan terakhir pasien adalah sarjana pendidikan. Pasien adalah anak

dengan prestasi sedang dan selalu naik kelas.

2. Riwayat Pekerjaan

Setelah lulus kuliah, pasien tidak bekerja, menunggu pengangkatan guru

TK. Sampai saat ini pasien tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga.

3. Riwayat Perkawinan

Pasien sudah menikah.

4. Riwayat Keagamaan

Pasien rajin beribadah sejak kecil sampai sekarang.

5. Riwayat Psikoseksual

Tidak terdapat perilaku psikoseksual yang menyimpang.

6. Riwayat Aktivitas Sosial

Sebelum sakit pasien merupakan pribadi yang baik, suka bersosialisasi.

Pasien dapat bersosialisasi dengan baik terhadap keluarga dan lingkungan

masyarakat.

7. Riwayat Hukum

Pasien tidak memiliki riwayat bermasalah dengan hukum.

8. Riwayat Penggunaan Waktu Luang

Pasien menggunakan waktu luang dengan berdiam diri, melakukan aktivitas

rumah tangga dan terkadang jalan-jalan.

6
9. Riwayat Kehidupan Sekarang

Pasien tidak memiliki keluhan perubahan perilaku selama pasien rutin

meminum obat. Pasien tinggal bersama suami dan kedua anaknya. Pasien dapat

merawat suami dan anak-anaknya dengan baik.

10. Riwayat Keluarga

Perempuan

Laki-laki

Pasien

11. Persepsi Pasien tentang Kehidupannya

Sulit untuk dievaluasi.

12. Impian, Fantasi dan Nilai-Nilai

Sulit untuk dievaluasi

III. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan

Pasien merupakan seorang perempuan, wajah dan penampilan pasien

tampak sesuai usia dan pasien tampak terawat.

7
2. Perilaku dan aktivitas motorik : Normoaktif

3. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif, perasaan, ekspresi

1. Mood : Hipotym

2. Afek : Menyempit

3. Keserasian : Serasi

C. Gangguan Persepsi

1. Halusinasi A / V / O / T / G :–/+/–/–/–

2. Ilusi A / V / O / T / G :–/–/–/–/–

3. Depersonalisasi : Tidak

4. Derealisasi : Tidak

D. Pembicaraan

Kualitatif : spontan, intonasi rendah, artikulasi jelas

Kuantitatif : sedikit, logore (-), blocking (-)

E. Proses Pikir

1. Bentuk pikir : Non Realistik

2. Arus pikir : lambat

3. Isi pikir

Preokupasi : (-)

Waham : (+) curiga

F. Fungsi Sensorium dan Kognitif

1. Kesadaran : Compos Mentis, jernih

2. Daya konsentrasi : Baik

8
3. Orientasi

Waktu/Tempat/Orang :+/+/+

4. Daya ingat

Jangka segera : Baik

Jangka pendek : Baik

Jangka menengah : Baik

Jangka panjang : Baik

5. Intelegensia : Baik

6. Perhatian : Baik

7. Kemampuan membaca dan menulis : Baik

8. Kemampuan visuospasial : Baik

9. Pikiran abstrak : Baik

10. Kapasitas intelegensia : Baik

11. Bakat kreatif : SDE

12. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik

G. Kemampuan pengendalian Impuls : Riwayat Terganggu

H. Daya Nilai

1. Norma sosial : baik

2. Uji daya nilai : baik

3. Penilaian realita : terganggu

I. Tilikan : Derajat 1

Pasien tidak menyadari kalau pasien

mengalami gangguan jiwa

J. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya

9
VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

A. Status Interna :

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi : 88 kali /menit, reguler, kuat angkat

Respirasi : 20 kali/menit

Suhu : 36,3oC

 Kulit : tidak terdapat anemis, purpura, ikterik, hiperpigmentasi.

 Kepala dan leher: normosefali, tidak terdapat pembesaran KGB, tidak ada

peningkatan JVP dan bruit carotis.

 Mata: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan (-/-), mata

berair (-/-), ptosis (-/-), pupil isokor. Funduskopi (tidak dilakukan).

 Telinga: serumen minimal, sekret (-/-)

 Hidung: epistaksis (-/-)

 Mulut: perdarahan gusi (-), pucat (-), sianosis (-), stomatitis (-), gigi

berlubang (gerahan).

 Toraks: dbn, wheezing (-/-), ronki (-/-)

 Jantung: dbn, S1 S2 tunggal, irama regular, murmur (-), gallop (-)

 Abdomen: BU(+)

 Punggung: skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-), nyeri ketok ginjal (-)

 Ekstremitas: gerak sendi normal, deformitas (-), kemerahan (-), varises

(-), panas (-), massa (-), edema (-), kelemahan ekstrimitas superior dextra.

B. Status Neurologis

Nervus I-XII : dbn

Rangsang Meningeal : (-)

10
Gejala peningkatan TIK : (-)

Refleks fisiologis : dbn

Refleks patologis : (-)

V. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

Aksis 1 : F20.0Skizofrenia Paranoid

Aksis II : Tidak terdiagnosis

Aksis III : O00-O099 Kehamilan, kelahiran anak, dan masa nifas

Aksis IV : Masalah Pekerjaan

Aksis V : GAF scale 60-51 gejala sedang, disabilitas sedang.

VI. DAFTAR MASALAH

A. Organobiologik

Ada

B. Psikologik

Halusinasi Visual

Waham curiga

Penilaian realita terganggu

Tilikan derajat 1

C. Sosiologik

Tidak mengganggu, karena pasien tidak membuat keributan ataupun

menakuti lingkungan sekitar.

11
VII. PROGNOSIS

Diagnosis penyakit : dubia ad bonam

Ciri kepribadian : dubia ad bonam

Diagnosis stressor : dubia ad malam

Perjalanan penyakit : dubia ad malam

Usia saat menderita : dubia ad malam

Pendidikan : dubia ad bonam

Lingkungan sosial : dubia ad bonam

Pengobatan psikiatri : dubia ad malam

Kesimpulan : dubia ad malam

VIII. TERAPI

PO: Stelosi 5 mg ½ - 0 -½

IX. DISKUSI

Dari anamnesis didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna yaitu

gaduh gelisah, halusinasi visual, waham curiga, dan bentuk pikir nonrealistik.

Keadaan ini merupakan gejala klinis yang bermakna baik berupa sindrom atau

pola perilaku maupun sindrom atau pola psikologik, gejala klinis bermakna ini

menimbulkan penderitaan (distress) dan disabilitas bagi pasien dan keluarganya.

Berdasarkan konsep gangguan jiwa dari PPDGJ III yang merujuk ke DSM-III hal

ini dapat disimpulkan sebagai Gangguan Jiwa.1

Gangguan Jiwa adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologik

seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan

dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di

12
dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,

disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik,

atau biologi, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan

antara orang itu dan masyarakat. Gangguan jiwa sendiri terdiri atas psikotik dan

nonpsikotik, sedangkan psikotik sendiri terbagi atas sindrom psikotik organik dan

sindrom psikotik fungsional.1

Terdapat beberapa butir-butir diagnosis sindrom psikosis, diantaranya,3

 Hendaya berat dalam kemampuan menilai realitas, bermanifestasi dalam

gejala : kesadaran diri (awareness) yang terganggu, daya nilai norma sosial

(judgement) terganggu, dan daya tilikan diri (insight) terganggu.

 Hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, bermanifestasi dalam gejala positif

: gangguan asosiasi pikirian (inkoherensi), isi pikiran yang tidak wajar

(waham), gangguan persepsi (halusinasi), gangguan perasaan (tidak sesuai

dengan situasi), perilaku yang aneh atau tidak terkendali (disorganized), dan

gejala negatif : (afek tumpul, respons emosi minimal), gangguan hubungan

sosial (menarik diri, pasif, apatis), gangguan proses pikir (lambat, terhambat),

isi pikiran yang stereotip dan tidak ada inisiatif, perilaku yang sangat terbatas

dan cenderung menyendiri (abulia).

 Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam

gejala : tidak mampu berkerja, menjalin hubungan sosial, dan melakukan

kegiatan rutin.

Berdasarkan anamnesis pada pasien ini terpenuhi gejala-gejala

psikosisnya, sehingga pasien dapat digolongkan ke dalam gangguan jiwa psikotik.

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien ini tidak ditemukan

13
penyakit/gangguan sistemik atau otak yang menjadi pencetus keluhan. Pasien juga

tidak ada konsumsi obat-obatan maupun minum minuman beralkohol.

Berdasarkan teori urutan blok-blok diagnosis jiwa yang berdasarkan suatu hierarki

dan paling tertinggi adalah gangguan jiwa organik dan pada pasien ini tidak

didapatkan kelainan ataupun penyakit sistemik dan otak,maka pada pasien ini

sindrom psikotik organik dapat disingkirkan sehingga mengarah ke diagnosis

sindrom psikotik fungsional.2

Sindrom otak organik ialah gangguan jiwa yang psikotik atau non psikotik

yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak. Gangguan fungsi jaringan

otak ini, dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang tertama mengenai otak

(meningoensefalitis, gangguan pembuluh darah otak, tumor otak, dan sebagainya)

atau yang terutama di luar otak (tipus, endometritis, payah jantung, toksemia

kehamilan, intoksikasi, dan sebagainya).

Pembagian menjadi psikotik dan non psikotik menunjukkan kepada

gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan

menahun. Gejala utama sindrom otak organic akut ialah, kesadaran yang menurun

dan sesudahnya terdapat amnesia, pada sindrom otak organik menahun ialah

demensia.2

Gambaran utama gangguan otak organik4

1. Gangguan fungsi kognitif

Daya ingat (memori), daya pikir (intellect), belajar (learning).

2. Gangguan sensorium

Gangguan kesadaran, dan perhatian

3. Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang

14
 Persepsi (halusinasi)

 Isi pikiran (waham/delusi)

 Suasana perasaan dan emosi (depresi, gembira, cemas)

Gangguan sindrom otak organik mungkin timbul karena disebabkan oleh

epilepsi. Epilepsi ialah perubahan kesadaran yang mendadak dalam waktu yang

terbatas dan berulang-ulang dengan atau tanpa pergerakan yang involunter dan

sebabnya bukan karena kelainan seperti gangguan peredaran darah, kadar glukosa

darah yang rendah, gangguan emosi, pemakaian obat tidur, atau keracunan.2

Pada epilepsi mekanisme yang mengatur semua ini rupanya sudah kacau,

sehingga sewaktu waktu energi itu dikeluarkan ke sembarang tempat atau seluruh

tubuh. Mekanisme yang mengatur sekian banyak sel mengenai penerimaan,

penyimpanan dan distribusi energi ini sama sekali belum diketahui asal usul dan

cara kerjanya, sehingga Gibbs mengatakan “sering kita tidak mengetahui mengapa

seseorang mengalami serangan epilepsi, akan tetapi yang sebenarnya lebih

mengherankan ialah mengapa kebanyakan orang TIDAK mengalami serangan

epilepsi”.2

Mengapa pada akhirnya terjadi gangguan elektrobiokimiawi seperti ini

belum diketahui. Tetapi pada gangguan ini nyata ada: 2

a. Perubahan potensial listrik seperti direkam sebagai

elektroensefalogram

b. Bermacam macam gangguan kesadaran

c. Gangguan fungsi susunan saraf vegetatif

d. Kejang kejang atau gangguan jiwa

15
Pada setiap gangguan yang timbul dalam serangan yang berulang ulang,

kita harus waspada akan sesuatu “gangguan serangan” (seizure disorder) atau

epilepsi. Bila penyebab kekacauan proses elektrobiokimiawi itu (sehingga timbul

epilepsi) diketahui, maka epilepsi itu dikatakan “simtomatis”. Bila tidak diketahui

dikatakan “idiopatik”, “genuine” atau “kriptogenik”, yang artinya masih

tersembunyi. Kira kira 77% dari semua epilepsi adalah idiopatik.2

Psikofarmaka yang diberikan pada pasien skizofrenia adalah antipsikotik

dimana pada skizofrenia terdapat sindrom psikosis fungsional. Antipsikotik

sendiri mempunyai gejala sasaran dimana prinsip dalam penggunaan

psikofarmaka yaitu harus sesuai target dan antipsikotik mempunyai target sasaran

yaitu untuk sindrom psikosis. Beberapa butir-butir diagnostik sindrom psikosis

yang digunakan sebagai indikasi penggunaan antipsikosis adalah:2,3

 Hendaya berat dalam kemampuan daya menilai realitas (reality testing

ability), bermanifestasi dalam gejala: kesadaran diri (awareness) yang

terganggu, daya nilai sosial (judgement) terganggu, dan daya tilikan diri

(insight) terganggu.

 Hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, bermanifestasi dalam gejala

POSITIF: gangguan aosiasi pikiran (inkoherensi), isi pikir yang tidak wajar

(waham), gangguan persepsi (halusinasi), gangguan perasaan (tidak sesuai

dengan situasi), perilaku yang aneh atau tidak terkendali (disorganized), dan

gejala NEGATIF: gangguan perasaan (afek tumpul, respon emosi minimal),

gangguan hubungan sosial (menarik diri, pasif, apatis), gangguan proses piker

(lambat, terhambat), isi pikiran yang strerotip dan tidak ada inisiatif, perilaku

yang sangat terbatas dan cenderung menyendiri (abulia)

16
 Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam

gejala: tidak mampu bekerja, menjalin hubungan sosial, dan melakukan

kegiatan rutin.

Adapun obat psikofarmaka yang ideal yaitu yang memenuhi syarat-syarat

antara lain sebagai berikut3-6:

1. Dosis rendah dengan efektivitas terapi dalam waktu relatif singkat

2. Tidak ada efek samping, kalaupun ada relatif kecil

3. Dapat menghilangkan dalam waktu relatif singkat gejala positif maupun

negatif skizofrenia

4. Lebih cepat memulihkan fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat)

5. Tidak menyebabkan kantuk

6. Memperbaiki pola tidur

7. Tidak menyebabkan habituasi, adiksi, dan dependensi

8. Tidak menyebabkan lemas otot

9. Kalau mungkin pemakaiannya dosis tunggal (single dose)

10. Untuk pasien hamil, sebaiknya diberikan obat antipsikotik yang aman bagi

janin yang dikandung dan tidak berpotensi tertogenik.

Pada laporan kasus kali ini, pasien mendapat terapi stelosi 5 mg ½ - 0 -½.

Stelosi berisi trifloperazine yang merupakan obat antipsikotik tipikal dan

termasuk golongan C dalam penggolongan obat bagi ibu hamil.

Pasien diberikan antipsikosis stelosi yang merupakan antipsikotik tipikal

yang mempunyai efektivitas yang lebih baik dalam mengontrol gejala positif.

Obat ini mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor dopamine (D2). Sindrom

psikosis berkaitan dengan aktivitas neurotransmitter dopamine yang mengikat

17
(hiperaktivitas system dopaminegik sentral), obat ini dapat memblokade

dopamine pada reseptor post sinaps di otak khususnya di system limbic dan

system ekstrapiramidal (dopamine D2 receptor antagonis). Obat ini efektif

menekan gejala positif yang ada pada pasien yaitu gaduh gelisah memukul-mukul

perut dan waham curiga. Obat ini juga realtif aman untuk janin yang dikandung

pasien.

Tidak ada obat antipsikosis yang merupakan kontraindikasi dalam

kehamilan, walaupun demikian, obat dengan resiko defek pada kelahiran,

prematuritas atau komplikasi neonatal harus dihindari jika terdapat obat alternatif

lainnya sebagai substitusi Wanita hamil dan menyusui merupakan kriteria ekslusi

pada clinical trials, baru akhir-akhir ini wanita dengan usia produktif dapat

dipartisipasi dalam penelitian ini. Sehingga terdapat kesenjangan pengetahuan

terhadap efek obat antipsikosis terhadap perkembangan fetus dan neonatus. aturan

utamanya ialah hindari memberikan obat terhadap ibu hamil (terutama trimester

pertama) dan ibu menyusui, kecuali jika penyakit mental yang diidap parah. Dan

ditentukan apakah efek terapi lebih besar daripada efek samping yang mungkin

diterima fetus maupun neonatus. pasien dapat memilih untuk meneruskan terapi,

karena pasien tidak menginginkan rekurensi. Jika pasien bersama dengan psikiater

dan dokter kandungan memutuskan untuk meneruskan terapi psikofarmaka

selama kehamilan, dosis harus dikalibrasi sesuai dengan perubahan fisiologis

setiap trimester. Walaupun tidak ada antidepresan yang dikaitkan dengan

kematian dalam kandungan dan kecacatan yang fatal, namun selective serotonin

reuptake inhibitors (SSRIs) dan tricyclic antidepressants (TCAs) dapat

menyebabkan transient perinatal syndrome. Mood stabilizers dapat menyebabkan

18
peningkatan resiko teratogenik seperti kelainan jantung dan defek neural tube,

tetapi wanita dengan penyakit bipolar memiliki resiko relaps yang tinggi jika

tanpa terapi rumatan. Lithium dapat meningkatkan resiko ebstein’s anomaly.

Beberapa peneliti menyarankan bagi semua wanita usia produktif yang

diterapi dengan antipsikosis untuk mengkonsumsi suplemen folat. Pemberian obat

antipsikosis pada atau mendekati saat persalinan dapat menyebabkan bayi over

sedasi saat persalinan. Sehingga memerlukan respiratoir. Dapat juga menyebab

bayi ketergantungan obat, yang memerlukan detoksifikasi dan terapi withdrawal

syndrome. Neonatal withdrawal syndrome dan hipertensi pulmonar berhubungan

dengan pemberian SSRI pada trimester ketiga. Semua obat psikiatri diseksresikan

melalui asi sehingga ibu tidak dianjurkan untuk menyusui.

Tabel 1. Obat Antipsikosis dan Kategori Keamanannya pada Kehamilan

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari

PPDGJ-III. Jakarta : PT Nuh Jaya, 2001.

2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya:

Airlangga University Press, 2009.

3. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi

ke-2. 2010. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2010.

4. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: PT

Nuh Jaya, 2007.

5. ISFI. ISO Indonesia. Obat dalam Kehamilan. Volume 39. Jakarta : PT Anem

Kosong Anem, 2004; 128-129, 136-137, 214-215, 350-351.

20