Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No.

1 / Januari 2014

Sikap Ibu Rumah Tangga Terhadap Tes HIV/AIDS di Sleman Yogyakarta

Nanik Setiyawati*), Zahroh Shaluhiyah**), Kusyogo Cahyo***)


*)
Politeknik Kesehatan Kemenkes Jurusan Kebidanan Yogyakarta
Korespondensi: nanik_setiyawati@yahoo.com
**)
Magister Promosi Kesehatan Universitas Diponegoro
***)
Bagian Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM UNDIP

ABSTRAK
Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga semakin meningkat dan di Kecamatan Sleman telah terdapat
kasus kematian ibu rumah tangga. Tes HIV/AIDS menjadi pintu gerbang program penanganan dan
pencegahan HIV/AIDS, namun belum ada kunjungan masyarakat untuk VCT di Puskesmas Sleman.
Penelitian ini untuk mengetahui sikap ibu rumah tangga terhadap tes HIV/AIDS di Sleman. Jenis
penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan Focus Group Discussion (FGD) dan triangulasi dengan
indepth interview. Informan berjumlah 48 orang yang terbagi dalam 8 kelompok FGD dan informan
sekunder 2 orang untuk triangulasi. Analisis data dengan content analysis. Hasil penelitian ini
menggambarkan bahwa seluruh kelompok ibu rumah tangga mendukung tes HIV/AIDS. Kelompok
ibu rumah tangga dengan suami bukan kelompok rentan tertular HIV menganggap ibu rumah tangga
tidak mungkin tertular HIV dan laki-lakilah yang harus tes HIV. Hanya kelompok ibu rumah tangga
yang berdomisili di desa peduli HIV/AIDS yang tahu tentang definisi, penyebab, penularan,
pengobatan, perawatan HIV/AIDS dan tes HIV/AIDS. Sikap seluruh kelompok ibu rumah tangga
terhadap tes HIV/AIDS dipengaruhi oleh sikap suami terhadap tes HIV/AIDS.
Kata kunci : sikap, ibu rumah tangga, tes HIV/AIDS

ABSTRACT
Attitudes Towards Testing For HIV/AIDS Among Housewife In Sleman Yogyakarta; Cases
of HIV/AIDS on housewives is increasing and in Sleman district there have been cases of
death of a housewife. HIV/AIDS testing is the gateway program management and prevention
of HIV/AIDS, but no visits to the health center VCT in Sleman. Study was to determine the
attitude of the housewife to test HIV/AIDS in Sleman. This research is a qualitative research
Focus Group Discussion (FGD) and triangulation with indepth interview. Informants totaling
48 people, divided into 8 groups of FGD and 2 people for triangulation. Data analysis with
content analysis. The results of this study illustrate that the entire group of housewives support
HIV/AIDS test. The group housewife with a husband instead of contracting HIV vulnerable
groups considered unlikely housewives infected with HIV and men who have an HIV test.
Only the group of housewives who live in the village of care HIV/AIDS who knows about the
definition, causes, transmission, treatment HIV/AIDS and HIV/AIDS testing. The attitude of
the whole group of housewives to test for HIV/AIDS affected by the husband’s attitude towards
HIV/AIDS test.
Keywords: Attitudes, housewife, testing for HIV / AIDS

56
Sikap Ibu Rumah Tangga ... (Nanik S, Zahroh S, Kusyogo C)

PENDAHULUAN yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota


Lebih dari 150 negara di dunia telah pariwisata memiliki tingkat lalu lintas manusia
melaporkan adanya penyakit infeksi Human yang sangat tinggi yang membawa serta berbagai
Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno kebudayaan dan sangat memungkinkan
Deficiency Syndrom (HIV/AIDS). HIV/AIDS terjadinya berbagai perilaku berisiko tertular
merupakan pembunuh nomor empat di dunia atau menularkan HIV dan AIDS (PPDIY,
dengan usia penderita paling banyak berada pada 2010). Serosurvei tahun 2004 terhadap
rentang usia 15 sampai dengan 49 tahun. populasi berisiko tinggi di Kota Yogyakarta,
Seringkali penyakit HIV/AIDS terlambat saat ini Yogyakarta telah masuk pada level
diketahui karena orang sering tidak mengetahui epidemi terkonsentrasi (concencrated
jika dirinya sudah terinfeksi. Kelompok paling epidemic level) (Subroto, 2009). Pada
rentan terkena infeksi HIV/AIDS adalah pertengahan tahun 2011 jumlah kasus HIV
perempuan muda (Susilowati, 2011). sebanyak 1418 kasus dan AIDS sebanyak 536.
Hasil surveilans perilaku di beberapa kota Prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk
di Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari pada tahun 2008 untuk propinsi Daerah
separuh kelompok lelaki dengan mobilitas tinggi Istimewa Yogyakarta sebesar 7,5 berada pada
membeli jasa seks setahun terakhir ini. Sebagian peringkat 10 dan meningkat pada tahun 2011
besar lelaki tersebut mempunyai pasangan tetap menjadi 15,5 pada peringkat nomor 8
yaitu isterinya. Diperkirakan ada sekitar 7-10 juta (Depkes, 2011). Laporan surveylans kasus
lelaki pelanggan penjaja seks di Indonesia, namun HIV/AIDS provinsi Daerah Istimewa
kurang dari 10 persen yang mau melindungi dari Yogyakarta tahun 1993-2011 diperoleh data
risiko penularan dengan menggunakan kondom jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS
secara teratur pada setiap kegiatan seks adalah 322 atau sekitar 35%. Berdasarkan data
komersial (PPNI, 2002). seluruh penderita HIV/AIDS ibu rumah tangga
Peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia menduduki peringkat keempat yaitu sebanyak
dalam 4 tahun terakhir menunjukkan peningkatan 150 kasus dimana peringkat pertama adalah
yang cukup signifikan. Data dari Ditjen pekerjaan tidak diketahui sebanyak 488 kasus,
Pengendalian Penyakit Menular dan profesional non medis sebanyak 195 kasus, dan
Pengendalian Lingkungan (PPM dan PL) peringkat ketiga adalah wiraswasta sebanyak
Kementerian Kesehatan RI, tahun 2008 157 kasus. Hal ini menunjukkan kasus HIV/
ditemukan kasus HIV sebanyak 489 kasus, AIDS khususnya di provinsi Daerah Istimewa
AIDS sebanyak 4969 kasus (Depkes, 2008). Yogyakarta telah memasuki ranah rumah tangga
Sedangkan tahun 2011 meningkat yatiu kasus (Dinkes DIY, 2012).
HIV sebanyak 21031 kasus dan untuk AIDS Populasi risiko tertular HIV/AIDS di
sebanyak 4162 kasus (Depkes, 2011). Kabupaten Sleman menunjukkan angka tertinggi
Persentase kasus AIDS baru pada perempuan dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi
pada bulan Juni 2006 adalah 16,9% dan tahun Daerah Istimewa Yogyakarta. Pesatnya
2011 meningkat menjadi 35,1%. Diantara perkembangan tempat hiburan di Sleman
perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS di dimanfaatkan untuk bisnis prostitusi. Sejumlah
Indonesia periode tahun 2006-2011, ibu rumah salon dan tempat pijat yang memberikan layanan
tangga menduduki peringkat pertama plus mulai bermunculan (Susanto, 2008).
(Kemenkes, 2011). Penolakan atau bungkam mengenai HIV
Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah menjadi norma di masyarakat. HIV adalah
merupakan salah satu propinsi di Indonesia penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan

57
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No. 1 / Januari 2014

beronset lambat, menyebabkan kondisi sakit dan penduduk perempuan sebanyak 32.648 orang
berakibat kematian. Kebanyakan orang tidak sementara penduduk laki-laki sebanyak 31.614.
mengetahui bagaimana HIV bisa ditularkan Berdasarkan informasi dari kader di
secara tidak rasional takut tertular dari orang kecamatan Sleman belum adanya kesadaran
terinfeksi HIV. Penularan HIV sering masyarakat di kecamatan Sleman untuk
dihubungkan dengan pelanggaran moral yang melakukan tes HIV/AIDS walaupun sudah
berkaitan dengan perilaku seksual, sehingga terdapat kasus kematian ibu karena mereka
orang yang terinfeksi HIV dicap telah melakukan masih menganggap bahwa HIV/AIDS adalah
hal yang buruk. Sikap seperti ini yang membuat penyakit pekerja seks komersial yang merupakan
kasus HIV/AIDS sulit ditangani karena belum penyakit kotor sedangkan mereka merasa aman
diketahuinya atau status HIV disembunyikan, dan bersih karena di daerah mereka tidak
sehingga tidak dapat dilakukan upaya terdapat lokalisasi dan mereka tidak pernah
penanggulangan HIV/AIDS. Cara untuk bersinggungan dengan para pekerja seks. Selain
mengetahui apakah seseorang sudah positif itu masih ada ketakutan dicap negatif oleh
terinfeksi HIV atau tidak dengan melakukan tes masyarakat jika datang ke puskesmas untuk
HIV. Tes HIV merupakan upaya yang dilakukan melakukan tes HIV/AIDS. Informasi yang
pemerintah untuk mengurangi kasus HIV/AIDS diperoleh dari bidan di Puskesmas Sleman
(Susilowati, 2011). menyatakan meskipun di wilayah mereka tidak
Puskesmas Sleman secara resmi membuka terdapat lokalisasi namun ada perilaku berisiko
layanan VCT pada bulan April 2011 berupa yang dilakukan masyarakatnya yaitu pada
layanan konseling sebelum dan setelah tes HIV. kelompok petani yang menggunakan wanita
Pelaksanaan tes HIV dilakukan di RSUD pekerja seks di daerah Bantul dan Kulonprogo.
Sleman. Berbagai upaya telah dilakukan Pada malam hari ketika mereka mengairi sawah,
Puskesmas Sleman untuk mensosialisasikan mereka bersama-sama bersepeda datang ke
HIV/AIDS dan VCT ke masyarakat namun sekitar sungai Progo yang terdapat WPS dengan
belum ada kunjungan masyarakat secara tarif murah. Berdasarkan hal tersebut mendorong
sukarela untuk melakukan tes HIV/AIDS atau peneliti untuk melakukan penelitian mengenai
datang ke layanan VCT di Puskesmas Sleman. sikap ibu rumah tangga terhadap tes HIV/AIDS
Salah satu desa di Kecamatan Sleman yaitu desa di Sleman, Yogyakarta.
Pandowoharjo berhasil menjadi juara I desa
Peduli HIV/AIDS tingkat Provinsi Daerah METODE PENELITIAN
Istimewa Yogyakarta namun di desa lain yang Penelitian ini adalah penelitian kualitatif
juga berada di kecamatan Sleman pada tanggal dengan focus group discussion (FGD)
30 Oktober 2011 terdapat kasus kematian ibu sebanyak 8 kelompok ibu rumah tangga yaitu
rumah tangga dengan anemia kronis, diare kronis, kelompok I adalah, ibu rumah tangga dengan
stomatitis, badan sangat kurus dengan suami pekerjaan rentan tertular HIV/AIDS
pemeriksaan HIV positif. Diduga ibu rumah (sopir, buruh luar kota), kelompok II adalah,
tangga tersebut tertular HIV/AIDS dari suaminya ibu rumah tangga dengan suami pekerjaaan
yang mempunyai riwayat sering berganti rentan tertular HIV/AIDS (militer, pelayaran,
pasangan seksual. Data dari bagian swasta luar kota), kelompok III adalah, ibu
kependudukan dan pemerintahan Kecamatan rumah tangga dengan suami bukan termasuk
Sleman menyatakan jumlah perempuan di kelompok rentan tertular HIV/AIDS, kelompok
kecamatan Sleman bulan Desember 2011 lebih IV adalah, ibu rumah tangga yang hamil dengan
banyak daripada jumlah penduduk laki-laki yaitu suami pekerjaaan rentan tertular HIV/AIDS,

58
Sikap Ibu Rumah Tangga ... (Nanik S, Zahroh S, Kusyogo C)

kelompok V adalah, ibu rumah tangga yang kelompok III dan VIII seluruh informan berusia
hamil dengan suami bukan termasuk kelompok di atas 35 tahun serta kelompok IV, V dan VI
pekerjaaan rentan tertular HIV/AIDS, seluruh informan berusia antara 20 sampai 35
kelompok VI adalah, ibu rumah tangga usia tahun. Berdasarkan agama sebagian besar
reproduksi sehat, kelompok VII adalah, ibu kelompok ibu rumah tangga beragama Islam.
rumah tangga yang tinggal di desa peduli HIV/ Berdasarkan pendidikan terakhir sebagian besar
AIDS (desa Pandowoharjo) dan kelompok informan berpendidikan SMA.
VIII adalah, ibu yang tinggal di luar desa peduli Berdasarkan pekerjaan suami, sebagian
HIV/AIDS. Dalam penelitian ini teknik sampel besar informan kelompok I mempunyai suami
non probabilitas yaitu purposive sampling. dengan pekerjaan buruh luar kota dan sebagian
Purposive sampling adalah pengambilan kecil adalah sopir. Separuh dari informan
sampel sumber data dengan memilih sampel yang kelompok II mempunyai suami dengan profesi
dianggap kaya informasi, dianggap paling tahu militer dan sebagian kecil adalah pelayaran.
tentang masalah yang akan diteliti (Sugiyono, Sebagian besar informan kelompok III dan V
2011). Informan primer sebanyak 48 orang mempunyai suami dengan pekerjaan PNS
dengan kriteria telah mendapatkan sosialisasi (Pegawai Negeri Sipil). Sebagian besar informan
tentang HIV/AIDS dan memenuhi kriteria kelompok IV dan VI mempunyai suami dengan
kelompok FGD. Triangulasi dalam penelitian ini pekerjaan buruh swasta. Separuh informan
dilakukan triangulasi sumber dan triangulasi kelompok VII mempunyai suami dengan
teknik pengumpulan data yaitu dengan indepth pekerjaan swasta dan separuh informan
interview kepada 2 orang bidan yaitu bidan kelompok VIII mempunyai suami dengan
Puskesmas Sleman sebagai tim penanggulangan pekerjaan PNS.
HIV/AIDS dan bidan Poskesdes
Pandowoharjo. Penelitian dilakukan sejak bulan Sikap Ibu Rumah Tangga terhadap tes HIV/
Mei sampai Juni 2012. AIDS
Data penelitian dianalisis menggunakan Berdasarkan hasil diskusi pada kelompok
analisis kualitatif bersifat terbuka yang II dan III seluruh informan menyatakan tes HIV
menggunakan proses induktif, artinya dalam penting untuk mengetahui status HIV seseorang
pengujian hipotesa-hipotesa bertitik tolak dari namun pada kelompok I hanya sebagian besar
data yang terkumpul kemudian disimpulkan. informan menyatakan bahwa tes HIV itu penting.
Proses berfikir induktif dimulai dari data yang Kelompok V menyatakan belum mengetahui
terkumpul kemudian diambil kesimpulan secara tentang tes HIV karena belum pernah
umum (Sudarti, 2000). Analisis data dalam mendapatkan sosialisasi tes HIV dan belum tahu
penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki bagaimana tes HIV. Seluruh informan menyetujui
lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai tes HIV sebagai prosedur wajib dalam periksa
di lapangan. Analisis data menggunakan metode kehamilan untuk antisipasi penularan dan
content analysis. pengobatan bayinya namun dari kelompok VI
menambahkan tes pada ibu hamil asalkan ada
HASIL DAN PEMBAHASAN keringanan biaya atau gratis. Pertanyaan tentang
Karakteristik informan pendapat ibu mengenai tes HIV, jawaban
Karakteristik informan dalam penelitian informan diataranya sebagai berikut:
ini berdasarkan usia, kelompok I, II dan VII
sebagian besar informan berusia di atas 35 tahun,

59
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No. 1 / Januari 2014

“Kalau saya tetap perlu kita nggak tahu “...PSK ada pengguna narkoba terus
siapa yang sudah kena kan nggak ada yang suka gonta-ganti pasangan”
bedanya kecuali kalau sudah parah baru (UMR, 34 tahun, suami swasta)
kelihatan”
(LAS, 42 tahun, suami militer) ...termasuk ibu-ibu rumah tangga gini
apalagi suaminya kita nggak setiap hari
Seluruh informan pada kelompok I dan II pulang”
menyatakan orang yang harus melakukan tes (LIN, 39 tahun, suami sopir)
HIV adalah mereka yang termasuk dalam
kelompok risiko tinggi (high risk people) dan Seluruh kelompok ibu rumah tangga
kelompok rentan. Kelompok III menyatakan mendukung jika tes HIV diwajibkan pada ibu
hanya laki-laki yang harus tes HIV. Kelompok hamil dan termasuk dalam rangkaian pemeriksaan
IV menyatakan yang harus tes HIV adalah kehamilan. Mereka menyatakan pendapat
kelompok narkoba, PSK (Pekerja Seks bahwa tes HIV pada ibu hamil sebaiknya
Komersial), ibu hamil, laki-laki yang suka gonta- merupakan prosedur yang wajib dilakukan pada
ganti pasangan seks, dan semua orang. saat pemeriksaan kehamilan dengan berorientasi
Sedangkan menurut pendapat kelompok V pada kesehatan ibu dan bayinya, demi bayi yang
adalah mereka yang suka pergaulan bebas, dikandungnya, namun harapannya tes HIV tidak
pengguna narkoba, PSK, istri-istri dan ibu hamil. memberatkan secara biaya. Alasan seseorang
Menurut kelompok VI yaitu pada semua orang bersedia melakukan tes HIV/AIDS pada
khususnya PSK, orang yang suka ganti pasangan informan kelompok I, II dan III adalah karena
dan ibu hamil. Kelompok VII menyatakan mereka ingin mengetahui status HIV, bebas biaya
kelompok risiko tinggi dan kelompok rentan tes HIV serta ada ajakan kader atau bersama
sedangkan kelompok VIII kelompok berisiko dengan teman-teman untuk tes HIV. Pada
tinggi tertular HIV yaitu PSK, pecandu narkoba informan kelompok II alasan tes HIV juga karena
dan separuh menyatakan kelompok rentan yaitu mempunyai pengetahuan yang baik dan telah
ibu hamil, sopir dan istri-istrinya. Pertanyaan mendapatkan informasi baik tentang HIV maupun
tentang siapa yang harus melakukan tes HIV, tentang tes HIV serta adanya kesadaran diri untuk
menurut jawaban informan diantaranya adalah melakukan tes HIV. Kelompok IV adalah
sebagai berikut: mereka yang merasa berisiko, biaya gratis, suami
kelompok rentan, dan ingin mengetahui status
“Tes HIV itu perlu terutama mereka yang HIVnya. Menurut kelompok V dan VI adalah
berisiko supaya bisa tahu tertular atau agar tahu status HIV dan dari kelompok VI
tidak sehingga tidak menularkan pada menambahkan untuk mencegah penularan
orang lain” terutama ke bayi dan karena jenis pekerjaanya
(EV, 25 tahun, suami swasta ) berisiko tinggi tertular HIV. Menurut kelompok
VII karena kesadaran individu kemudian faktor
“Suami yang berisiko yang nggak pernah
luar seperti motivasi, biaya dan cara mengajak.
pulang sepengetahuan saya terutama
Kelompok VIII menyatakan alasan orang tes
sopir-sopir “
HIV adalah karena gratis dan ada temannya.
(ANI, 37 tahun, suami PNS)
Sedangkan alasan seseorang tidak bersedia
“...ibu hamil, karena biar tahu janin seluruh kelompok menyatakan merasa aman
yang dikandungnya itu positif apa tidak” tidak tertular HIV. Pada kelompok I melakukan
(MRN, 35 tahun, suami buruh) tes HIV/AIDS menurut sebagian besar informan
adalah karena mereka takut terhadap hasil tes,

60
Sikap Ibu Rumah Tangga ... (Nanik S, Zahroh S, Kusyogo C)

takut terhadap stigma yang ada dan tidak tahu “HIV masih tabu...nanti kalau tes dikira
tempat pelayanan tes HIV/AIDS. Sedangkan kenapa-kenapa jadi daripada isin
pada kelompok II alasan orang tidak bersedia mending gak usah tes.....petugasnya
tes HIV adalah karena malas jika harus tidak bisa jaga rahasia”
mengantri, biaya mahal, percaya dengan (SUS, 47 tahun, suami PNS)
pasangan dan kurangnya informasi tentang HIV
serta tingkat pendidikan yang rendah. Informan Pendapat tentang prosedur tes HIV adalah
kelompok III berpendapat karena takut dan seluruh kelompok ibu rumah tangga menyatakan
malu. Alasan orang tidak mau tes HIV menurut konseling perlu dilakukan dengan memperhatikan
informan karena biaya takut hasil, takut prosedur privasi dalam konseling baik privasi secara
dan takut stigma. Menururt informan kelompok ruangan atau tempat dan petugas juga harus bisa
VII adalah biaya, merasa aman dan tidak punya menjaga rahasia. Kelompok III berpendapat
kesadaran serta pengaruh luar (tokoh dan teman) konseling akan menambah pengetahuan dan
sedangkan menurut kelompok VIII karena malu, mendapat dukungan mental sehingga lebih siap
takut, petugas dan tidak tahu tempat tes. untuk tes HIV. Tempat konseling adalah yang
Pendapat informan tentang alasan orang bersedia nyaman dan ada ruang khusus konseling. Bagi
dan tidak bersedia tes HIV diantaranya adalah sebagian besar informan kelompok I menyatakan
sebagai berikut: ada tempat khusus konseling HIV yang tenang
dan nyaman sehingga informan dapat lebih
“Gratis mbak jadi gak perlu terbuka dengan konselor, selain itu tempat
mengeluarkan uang.. orang sini kalau konseling juga harus mudah dijangkau oleh
disuruh yang mbayar-mbayar pada gak transportasi. Materi konseling sebelum tes HIV
mau....” adalah yang berkaitan dengan HIV/AIDS, tes
(SUS, 47 tahun, suami PNS) HIV/AIDS, pengobatan serta dukungan secara
“Biasanya dianter tokoh atau kader nanti psikis. Petugas konseling yang diharapkan
kan bareng-barang mau datang” informan adalah yang ramah, sabar, bisa diajak
(HAR, 37 tahun, suami wiraswasta) berdiskusi, dapat menjaga rahasia dan
mempunyai pengetahuan yang baik khususnya
“Selain takut HIV mengerikan kalau saya tentang HIV dan telaten. Menurut kelompok VI,
juga takut nanti ketahuan...” petugas harus punya kepribadian sabar, ramah
(WHY, 31 tahun, suami buruh luar kota) selain itu menguasai ilmu khususnya tentang HIV/
“Iya juga bisa nggak tahu mau tes AIDS serta berjenis kelamin yang sama dengan
kemana, gek wis isin dulu meh takon” orang yang akan tes HIV.
(TUM, 43 tahun, suami buruh luar kota) “Mbayangke HIV saja sudah ngeri...
“...masih ada yang menganggap aku apalagi ketahuan misal positif jadi ya
nggak bakal keno jadi nggak mau tes, bagus mbak kalau ada konseling biar
suamiku setialah...wah hari gini kalau lebih membuat tidak ngeri tapi kadang
kita masih pegang omongan suami harus kita merasa malu ya kalau ketahuan jadi
waspada” mungkin tempatnya jangan yang terbuka
(TYS, 47 tahun, suami swasta) ada ruangan khusus, ya mungkin biar
nggak ngeri, dijelaskan dulu HIV
bagaimananya, petugasnya yang ramah
biar nggak tambah ngeri...”
(LAS, 42 tahun, suami militer)

61
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No. 1 / Januari 2014

Menurut teori Reasoned-Action (Fisbein- mereka bersedia tes HIV jika ada temannya atau
Ajzen) sikap terhadap perilaku dipengaruhi diajak kader. Teman dan kader menjadi
adanya hasil pertimbangan untung dan rugi dari motivator positif untuk melakukan tes HIV/
perilaku tersebut (Ogden, 2000). Meskipun AIDS. Sedangkan menurut kelompok ibu rumah
informan belum mengetahui tentang tes HIV dan tangga yang tinggal di desa siaga peduli HIV/
prosedur tes HIV namun mereka berpendapat AIDS menyatakan provokasi negatif dari teman
tes HIV bisa memberi keuntungan bagi mereka, dan tidak ada contoh dari tokoh masyarakat
dengan tes HIV mereka dapat menambah menjadi alasan seseorang tidak bersedia untuk
pengetahuan tentang HIV/AIDS dan tes HIV, tes HIV. Untuk mengatasi rasa takut terhadap
mengetahui status HIV sehingga dapat mencegah prosedur tes, hasil tes dan stigma dapat diatasi
segera khususnya pada ibu hamil agar bayi yang dengan pemberian informasi tentang HIV/AIDS
dikandungnya dapat ditangani segera. Sedangkan dan tes HIV, dukungan teman, ajakan kader dan
kerugian tes HIV menurut informan adalah rasa layanan VCT gratis.
takut, malu, biaya serta waktu. Namun bagi Menurut Utami menyatakan bahwa salah
informan kelompok desa siaga peduli HIV/AIDS satu faktor pembentuk sikap adalah media
mereka berpendapat tidak ada rugi melakukan (Utami, 2008). Selama ini penggambaran ODHA
tes HIV. Pertimbangan bahwa tes HIV dan HIV/AIDS di media menakutkan, mematikan
memberikan keuntungan inilah yang menjadikan dan tidak ada obatnya akibatnya masyarakat
mereka mendukung adanya tes HIV terutama memberikan cap negatif pada HIV/AIDS.
pada kelompok rentan dan tidak rentan tertular Demikian pula dengan kelompok ibu rumah
HIV/AIDS. tangga yang menyatakan alasan tidak bersedia
Teori sosial kognitif menyatakan sikap tes HIV/AIDS karena takut dengan hasil dan
dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik stigma yang ada. Dengan adanya informasi
lingkungan fisik maupun sosial (Bandura, 1962). tentang HIV/AIDS dan tes HIV yang benar
Lingkungan fisik dari pendapat informan melalui media yang ada diharapkan mereka lebih
diantaranya bentuk layanan, tempat layanan yang siap dan tidak perlu takut untuk tes HIV.
mudah dijangkau dan biaya. Pada kelompok ibu
rumah tangga dengan suami rentan (militer, Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan Tes
pelayaran, swasta luar kota) mereka tidak mau HIV AIDS
tes HIV karena malas mengantri untuk Berdasarkan tabel 1 tampak kelompok ibu
mendapatkan pelayanan VCT. Dengan suami rumah tangga yang berdomisili di desa peduli
yang mobilitas tinggi dan secara ekonomi mampu HIV/AIDS (kelompok VII) memiliki
mereka akan memilih pelayanan yang cepat. pengetahuan yang lebih jika dibandingkan
Berbeda dengan kelompok ibu rumah tangga dengan kelompok lain. Bagi kelompok ibu rumah
dengan suami rentan (sopir, buruh luar kota) yang tangga di desa peduli HIV/AIDS, tes HIV tidak
sangat mempertimbangkan biaya dalam tes HIV memberikan kerugian dan sangat
seperti biaya tes gratis, tempat yang mudah menguntungkan.
dijangkau transportasi. bagi kelompok ini biaya Teori sosial kognitif menyatakan faktor
menjadi pertimbangan utama dalam tes HIV. personal yang termasuk pengetahuan dipengaruhi
Lingkungan sosial yang mempengaruhi sikap oleh adanya lingkungan fisik dan sosial.
ibu adalah dukungan suami, teman, kader, tokoh Pengetahuan informan pada kelompok desa siaga
masyarakat dan stigma HIV/AIDS. Dukungan peduli HIV/AIDS terlihat lebih jika dibandingkan
dapat bersifat positif namun juga dapat bersifat kelompok yang lain. Hal ini bisa terjadi karena
negatif. Menurut kelompok I, II, III dan VIII di desa ini mendapatkan paparan informasi yang

62
Sikap Ibu Rumah Tangga ... (Nanik S, Zahroh S, Kusyogo C)

lebih dibandingkan desa yang lain. Informasi yang Jelas sekali pada kelompok ibu rumah tangga
mereka peroleh selain dari Puskesmas, mereka yang berdomisili di desa Peduli HIV/AIDS
juga mendapatkan informasi dari PKBI dan mereka lebih banyak mendapatkan informasi
menjadikan desa mereka sebagai binaan PKBI sehingga pengetahuan mereka juga lebih baik.
sejak desa mereka dicanangkan menjadi juara I Selain itu di desa ini juga telah memanfaatkan
desa Peduli HIV/AIDS tingkat Provinsi daerah media sebagai sarana sosialisasi HIV/AIDS
Istimewa Yogyakarta. Sementara dari desa lain diantaranya spanduk yang bertuliskan layanan
sosialisasi hanya dari Puskesmas saja. Poskesdes VCT di depan Poskesdes mereka sehingga
di desa ini memasukkan program pencegahan masyarakat tidak asing lagi mendengar istilah
dan penanggulangan HIV/AIDS dalam program VCT dan HIV/AIDS. Saat ini Poskesdes sedang
kerja Poskesdes. menyusun koran desa yang memuat informasi
Salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan termasuk HIV/AIDS yang rencananya
pengetahuan adalah informasi atau media. akan dibagiakn gratis kepada warganya serta
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan meluncurkan program PAJAK (Pandowoharjo
formal maupun non formal dapat memberikan Jaringan Komunikasi) yaitu memanfaatkan
pengaruh jangka pendek (immediate impact) jaringan komunikasi seluler untuk memberikan
sehingga menghasilkan perubahan atau informasi yang cepat kepada kadernya dan dapat
peningkatan pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). diteruskan ke warganya.

Tabel 2. Pengetahuan Informan tentang HIV/AIDS dan Tes HIV/AIDS


KELOMPOK
I II III IV V VI VII VIII
Informan gejala, definisi HIV/ gejala, definisi HIV definisi, definisi, definisi, Definisi
tahu penularan AIDS dan tes penularan, dan tes HIV, penyebab penyebab, penyebab penularan,
tentang: pencegahan HIV pencegahan penyebab, penularan penularan HIV, siapa yang
HIV gejala, siapa yang penularan HIV siapa yang penularan harus tes
siapa saja penularan harus tes HIV siapa yang harus tes HIV, gejala,
yang harus pencegahan prosedur tes, harus tes hasil tes. pengobatan
tes HIV orang yang tempat tes HIV prosedur
definisi tes, harus tes, tes,
siapa yang tempat tes tempat tes
harus tes, HIV hasil tes
tempat tes

Belum tahu Penyebab Pengobatan Penyebab Gejala, gejala HIV gejala, tidak ada Penyebab
tentang: HIV, prosedur,hasil HIV/ AIDS pengobatan pengobatan pengobatan gejala,
pengobatan tes pengobatan hasil tes definisi tes, HIV definisi pengobatan
HIV/ AIDS definisi tes, prosedur tes tes HIV prosedur
definisi tes, prosedur, prosedur tes. tes, tempat
prosedur tes, hasil tes. tes hasil tes
hasil, tempat
tes
Keuntungan tahu status, tahu status tahu status tahu status, tahu status tahu status, tahu status tahu status
tes lebih siap HIV HIV, menambah HIV, menambah HIV, HIV
untuk menambah pengetahuan menambah pengetahuan menambah
pengobatan, pengetahuan pengalaman pengetahuan penanganan pengetahuan
perawatan. proteksi diri. dapat diobati segera. pengalaman
segera
Kerugian biaya dan malu, takut takut, malu, takut malu, biaya, takut tes dan tidak ada malu, biaya
tes takut stres waktu. tidak tahu (prosedur, depresi, biaya waktu
status, uang hasil, stigma) beban pikiran

63
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No. 1 / Januari 2014

Sikap terhadap Layanan VCT di Puskesmas Sikap dipengaruhi adanya faktor lingkungan
Sleman sosial (dukungan suami, pengaruh teman, tokoh
Informan menyatakan alasan seseorang masyarakata, kader, petugas) dan lingkungan fisik
bersedia datang ke layanan VCT adalah jika (sarana dan prasarana Puskesmas) (Bandura,
biaya VCT gratis, ingin mengetahui tentang 1962). Kelompok ibu rumah tangga menyatakan
informasi HIV/AIDS, ingin mengetahui tentang mereka bersedia datang ke Puskesmas jika biaya
status HIV dan adanya kesadaran untuk datang VCT gratis. Biaya menjadi salah satu
ke layanan VCT. Sementara kelompok VII penghambat bagi ibu rumah tangga
menambahkan karena adanya dukungan tokoh memanfaatkan layanan VCT di Puskesmas
masyarakat, ada yang mengajak dan cara namun di sisi lain Puskesmas tidak bisa
mengajak sesuai dengan kondisi masyarakat memberikan layanan gratis karena ada aturan
sedangkan kelompok V menyatakan jika ada Perda yang sudah mengatur tarif pelayanan di
imbalan seperti mendapatkan sembako. Puskesmas. Sebagai solusinya Puskesmas
Pendapat informan tentang alasan seseorang mengembangkan kerjasama dengan berbagai
tidak bersedia datang ke layanan VCT adalah pihak diantaranya PKBI. PKBI dapat
jika harus membayar, adanya rasa takut terhadap memberikan layanan gratis VCT namun belum
prosedur tes, takut terhadap hasil tes dan malu. bisa memberikan layanan keseluruh desa di
Kelompok VII menambahkan yaitu tidak adanya Kecamatan Sleman.
dukungan suami dan tokoh masyarakat serta Bagi kelompok desa peduli HIV/AIDS,
adanya provokasi negatif dari teman. Pendapat dukungan tokoh masyarakat menjadi motivator
informan tentang hal tersebut dia atas tampak mereka untuk memanfaatkan layanan VCT yang
dalam pernyataan berikut: ada. Sikap tokoh masyarakat terhadap tes HIV/
AIDS dapat menjadi contoh bagi warganya untuk
“Ada yang bilang kalau tahu jadi mau melakukan tes HIV. Namun sebaliknya tidak
malah...orang jawa bilangnya gini ada dukungan tokoh masyarakat terhadap tes
mendingan aku ra ngerti daripada aku HIV/AIDS seperti tidak memberikan informasi
ngerti malah dadi pikiran” kepada warganya dapat membuat warganya
(WHY, 31 tahun, suami buruh luar kota) khususnya ibu rumah tangga tidak mau datang
“...kalau saya kok yang berisiko tadi ke layanan VCT di Puskesmas.
malah malu ya ke Puskesmas mungkin
yang kesana justru kader-kader karena Keyakinan Ibu Rumah Tangga terhadap
ingin tahu” Dukungan Suami, Teman dan Tokoh
(DEW,49 tahun, suami PNS) Masyarakat
Seluruh informan yakin bahwa suami
“Dia sadar, biasanya ibu-ibu muda yang mendukung sikap mereka terhadap tes HIV.
punya pengetahuan lebih bagus” Kelompok IV, V dan VI kurang yakin teman dan
(LAS, 42 tahun, suami militer) tokoh masyarakat mendukung tes HIV bahkan
“..malu juga bu, kan malu di pendaftaran bagi kelompok VI tokoh maysarakat kurang
bilang mau ke VCT padahal pendaftaran didengarkan oleh warganya. Seluruh informan
antri terus nanti juga kelihatan orang” menyatakan suami adalah orang yang paling
(ANI, 37 tahun, suami PNS) berpengaruh pada sikap mereka terhadap tes
HIV/AIDS. Pernyataan informan diantaranya
sebagai berikut:

64
Sikap Ibu Rumah Tangga ... (Nanik S, Zahroh S, Kusyogo C)

“Suami saya yang penting saya nggak melakukan tes HIV. Ada pendapat dari informan
neko-neko kalau untuk kesehatan yang menyatakan mereka juga mendengarkan
mendukung “ apa yang dikatakan tokoh masyarakat. Demikian
(SUN, 32 tahun, suami swasta). pula suami cenderung juga mendengarkan apa
kata tokoh mereka. Dalam penanggulangan HIV
“Ya mendukung, nek dalam keluarga khususnya pada ibu rumah tangga, sebaiknya ada
harus saling mendukung mbombong.... pendidikan kesehatan atau sosialisasi pada tokoh
petugasnya harus sosialisasi dulu ke masyarakat sehingga tokoh bisa menggerakkan
masyarakat atau ke suami jadi bisa para suami untuk mendukung tes HIV. Hal nyata
mengijinkan” yang peneliti alami pada penelitian ini adalah
(SUR, 44 tahun, suami PNS adanya sikap dari tokoh masyarakat yang tidak
“Suami saya kebetulan dukuh juga... ya mengijinkan warganya untuk hadir dalam FGD
dia sangat mendukung buktinya pas saya karena dengan alasan untuk menjaga warganya
pamit diskusi ini dia bilang mbok ibu- yang kebetulan kelompok ibu hamil agar tidak
ibune yang lain yo diajak” datang supaya lebih fokus pada kehamilannya
(LIN, 34 tahun, suami wiraswasta) saja dan khawatir jika ada apa-apa di
belakangnya yang berhubungan dengan
“Tempat saya ada yang nggak pandangan negatif tentang HIV/AIDS.
mendukung, ini tadi sebenarnya yang Kekhawatiran ini bisa jadi karena tokoh
mau datang berdua tapi yang satu masyarakat belum mengetahui tentang HIV/
dibilangin bu dukuhe nggak usah datang AIDS yang justru ibu hamil sangat rentan dalam
saja nanti malah di tes segala malah masalah penularan HIV, mereka dapat
dikira kenapa sudah dijaga saja hamilnya menularkan HIV ke bayinya namun pendapat
(MRN, 35 tahun, suami buruh). dari tokoh masyarakat justru ibu hamil sebaiknya
tidak usah ikut kegiatan seperti ini. Sikap ini dapat
Seharusnya sosialisasi Puskesmas juga menjadi faktor penghambat dalam program
menyasar pada suami sebagai kepala keluarga pencegahan dan penanggulangan HIV khususnya
dan sangat sesuai pada masyarakat dengan kultur program PMTCT (Prevention of Mother To
patrilineal seperti di kecamatan Sleman ini. Dalam Child Transmission). Namun ada pula yang
teori sosial kognitif, suami, teman dan tokoh tokoh masyarakat sangat mendukung warganya
mayarakat serta petugas kesehatan termasuk terbukti dengan menyatakan kalau bisa lebih
dalam kelompok lingkungan sosial yang banyak warganya yang dilibatkan dalam
mempengaruhi sikap ibu terhadap tes HIV. Jika penelitian ini dan termasuk dari desa
suami mendukung tes HIV maka bisa dipastikan Pandowoharjo juga merencanakan akan
istri dan anggota keluarga lainnya dapat mengeluarkan peraturan desa tentang
melakukan tes HIV, demikian pula sebaliknya jika penanggulangan HIV/AIDS di wilayah mereka.
suami tidak mendukung tes HIV, kemungkinan
isteri dan anggota keluarga lain melakukan tes SIMPULAN
HIV sangat kecil. Dukungan teman biasanya Sikap ibu rumah tangga terhadap tes HIV
terwujud dalam berasama-sama melakukan tes bahwa seluruh informan mendukung pelaksanaan
HIV dan ibu rumah tangga menyukai kegiatan tes HIV. Sikap kurang baik terdapat pada
yang ada temannya, namun secara keputusan kelompok ibu dengan suami tidak rentan tertular
tetap suamilah yang lebih berpengaruh. Bahkan HIV/AIDS yaitu menganggap ibu tidak mungkin
adapula provokasi dari teman untuk tidak terkena HIV dan hanya laki-laki yang harus

65
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 / No. 1 / Januari 2014

melakukan tes HIV. Sikap informan terhadap Notoatmodjo S. 2007. Promosi Kesehatan dan
stigma ODHA adalah tidak ada diskriminasi dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta: Jakarta.
mendukung ODHA, sedangkan stigma terjadi PPDIY. 2010. Peraturan Daerah Provinsi
bila ODHA adalah pasangannya yaitu pada Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 12
kelompok ibu rumah tangga dengan suami rentan Tahun 2010 tentang Penanggulangan Human
tertular HIV/AIDS (militer, pelayaram, swasta Immunodefficiency Virus (HIV) dan
luar kota), ibu rumah tangga desa peduli HIV/ Acquired Immuno Defficiency Sindrome
AIDS dan ibu rumah tangga di luar desa peduli (AIDS).
HIV/AIDS. Sikap terhadap layanan VCT adalah PPNI. 2002. Wanita Penjaja Seks,
seluruh informan mendukung keberadaan Pelanggannya dan HIV/AIDS. Pengurus
layanan VCT di Puskesmas meskipun mereka Pusat PPNI: Jakarta.
belum mendapat sosialisasi. Sikap kurang baik
terjadi pada kelompok ibu hamil dengan suami Subroto, Y. 2009. HIV/AIDS di Jogja
tidak rentan yang menganggap layanan VCT di Meningkat 200%. Diunduh tanggal 10
Puskesmas sulit diterima karena masyarakat Maret 2009 dari SatuDunia.mht
masih malu dan takut dianggap terkena HIV/ Sudarti Kresno,dkk. 2000. Aplikasi Metode
AIDS. Orang yang paling berpengaruh dalam Kualitatif dalam Penelitian Kesehatan.
sikap ibu terhadap tes HIV adalah suami. FKM UI: Jakarta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif
KEPUSTAKAAN Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung.
Bandura, A. 1962. Social Learning Through Susanto A. 2008. Populasi Risiko tertular
Imitation. Dalam M.R. Jones (Ed), HIVAIDS di Sleman Tertinggi.
Nebraska Symposium On Motivation.Vol http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/10/
10. University of Nebraska Press: Lincoln. 13081197/populasi.risiko.tertular.hivaids.
Depkes. 2008. Statistik Kasus HIV/AIDS di di.sleman.tertinggi
Indonesia: Dilapor s.d. Desember 2008. Tana Susilowati. 2011. Modul Pengobatan dan
Ditjen PPM dan PL Depkes RI: Jakarta. Perawatan Pasien HIV dan AIDS Panduan
Depkes. 2011. Statistik Kasus HIV/AIDS di Pelatihan Klinis Bagi Tenaga Kesehatan di
Indonesia: Dilapor s.d. Desember 2011. Puskesmas dalam Pengobatan dan
Ditjen PPM dan PL Depkes RI: Jakarta. Perawatan Orang yang Terinfeksi HIV
Dinas Kesehatan Propisi Daerah Istimewa Bagian A (Bab I-V). Center for Health
Yogyakarta. 2012. Data Kasus Policy and Social Change (CHPSC):
HIV&AIDS DIY. Yogyakarta. Yogyakarta.
Kemenkes. 2011. Laporan Situasi Utami, Sri Rahayuningsih. 2011. Psikologi
Perkembangan HIV & AIDS di Indonesia, Umum 2. 2008.
30 Juni 2006 sampai dengan 30 Juni 2011. http//www.google.com diunduh 2 Februari 2011.
Jakarta.
Jane,Ogden. 2000. Health Psychology A Text
Book. Open University Press: Buckingham-
Philadelphia.

66