Anda di halaman 1dari 16

Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM

REKONSTRUKSI HUKUM PERLINDUNGAN DAN PENEGAKAN HAM BAGI IBU RUMAH TANGGA
TERHADAP RISIKO TERTULAR HIV/AIDS DARI SUAMINYA1

Nanik Trihastuti dan Pujiyono


Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Jl Prof Soedarto, SH Tembalang, Semarang
email: msnanik@yahoo.com

Abstract
The number of HIV cases in Indonesia shows that there is an increase in incidents that happen among women,
particularly housewives. It, then, is followed by an increase in the percentage of HIV cases on children because
they are contracted from their biological mothers. The implication of this will cause a lot of suffers for mothers and
children who live with HIV/AIDS, and their families due to the emergence of stigma and discrimination. The
reconstruction of concept of legal protection towards this risk is urgently needed because the positive law tends
to protect the individual rights of husbands as sufferers without taking into account the rights of wives and children.

Keywords : Reconstruction of Law, Housewives‟s Human Right, HIV/AIDS

Abstrak
Kasus HIV di Indonesia menunjukkan peningkatan insiden terhadap ibu rumah tangga yang diikuti dengan
meningkatnya persentase kasus HIV pada anak karena tertular dari ibu kandungnya. Hal ini terjadi pada mereka
yang memiliki suami yang memiliki kebiasaan berisiko seperti penggunaan narkoba suntik terkontaminasi dan
hubungan seks ekstra marital. Kondisi seperti ini mengakibatkan berbagai penderitaan bagi ibu dan anak yang
hidup dengan HIV/AIDS , maupun keluarganya karena munculnya stigma dan diskriminasi. Rekonstruksi konsep
perlindungan hukum terhadap adanya risiko ini bersifat mendesak karena hukum positif cenderung melindungi
hak individu suami sebagai penderita tanpa mengindahkan hak asasi isteri maupun anak.

Kata Kunci : Rekonstruksi Hukum, HAM Ibu Rumah Tangga, HIV/AIDS

A. Pendahuluan produktif antara 15-24 tahun terinfeksi HIV. Di Asia


1. Latar Belakang Tenggara, terdapat 5 negara terbesar penyumbang
AIDS (Acquired Immune Deficiency 99% kasus infeksi HIV, yaitu India, Indonesia,
Syndrome) dilaporkan pertamakali pada tahun 1981 Myanmar, Nepal dan Thailand. Dari kelima negara
di Amerika Serikat, dan hingga saat ini telah menyebar ini, Indonesia adalah satu-satunya Negara yang
di seluruh dunia termasuk Indonesia, dan telah masih mengalami peningkatan kasus baru.2
membunuh sekitar 25 juta orang serta menginfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)
lebih dari 40 juta orang lainnya. Setiap hari sekitar menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel
2000 anak-anak usia 15 tahunn ke bawah terinfeksi darah putih yang bernama sel CD4, sehingga dapat
HIV akibat penularan dari ibu ke bayinya, sekitar 1400 merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada
anak-anak usia dibawah 15 tahun meninggal akibat akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit
AIDS, sementara sekitar 6000 orang dalam usia walaupun yang sangat ringan sekalipun, sedangkan
1
Laporan Hasil Penelitian Fundamental Dibiayai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Penerimaan Negara Bukan Pajak
(PNBP)UniversitasDiponegoroTahunAnggaran 2014, melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Universitas Diponegoro Nomor DIPA
– 023.04.02.189185/2014 tanggal 05 Desember 2013
2
Progress Report WHO SEARO, 2011, sebagaimana dikutip dari Rencana Aksi Nasional Pengendalian HIV dan AIDS Sektor Kesehatan 2014-
2019, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013, hlm. 3

514
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) dari berkurangnya akses ke layanan, kehilangan
merupakan dampak atau efek dari martabat dan meningkatnya kemiskinan.
perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh makhluk Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka muncul
hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk permasalahan apakah ibu rumah tangga berhak untuk
menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan mendapatkan perlindungan hukum terhadap risiko
sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh tertular virus HIV dari suami pengidap HIV/AIDS,
melemah atau menghilangnya sistem kekebalan mengingat ibu rumah tangga sebagaimana manusia
tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel pada umumnya juga memiliki hak untuk hidup, dan
darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. hidup sehat sebagai wujud Hak Asasi Manusia yang
Virus HIV memang tidak langsung melekat padanya.
menyebabkan AIDS., sebab untuk menjadi AIDS Berbagai ketentuan Perundang-undangan
yang mematikan,.dibutuhkan waktu beberapa tahun. yang mengatur mengenai upaya penegakan HAM
Dengan tidak adanya obat, serum maupun vaksin perempuan seperti , jaminan atas HAM yang secara
yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV umum diatur dalam Pasal 28 A-J Undang-Undang
penyebab penyakit AIDS, menjadikan penyakit ini Dasar NRI 1945 amandemen kedua, dan Undang-
menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM, maupun
masyarakat, meskipun demikian fakta di lapangan yang secara khusus diatur melalui Undang-Undang
menunjukkan angka penderita penyakit ini tidak Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan
menurun/berkurang, akan tetapi justru semakin Diskriminasi Terhadap Perempuan, Undang-Undang
meningkat. Perkawinan No. 1 Tahun 1970, UU Nomor 23 Tahun
Perkembangan terakhir menunjukkan 2004 tentang Penghapusan KDRT, serta UU No. 29
adanya peningkatan insiden yang terjadi pada Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dalam
perempuan. Meskipun secara kumulatif persentase kenyataannya belum mampu memenuhi kebutuhan
kasus AIDS pada perempuan hanya sebesar 28%, tersebut karena berbagai hukum positif tersebut
akan tetapi dalam 5 tahun terakhir dilaporkan terjadi cenderung melindungi hak individu suami sebagai
peningkatan kasus pada perempuan dari 34,4% di penderita HIV/AIDS tanpa mengindahkan hak asasi
tahun 2008 menjadi 42% di tahun 2012, bahkan pada isteri maupun anak.
bulan Januari hingga Juni 2013, hampir 32,7% dari Konstruksi hukum yang baru sebagai “ius
780 kasus AIDS atau sebanyak 255 kasus terjadi constituendum” yang diharapkan mampu mengatasi
pada perempuan. Dari jumlah tersebut, 43% atau 108 persoalan kekosongan hukum tersebut merupakan
kasus diantaranya ditemukan pada ibu rumah tangga, hal mendesak yang harus segera dibangun, baik
yang diikuti dengan meningkatnya persentase kasus dengan cara menjelaskan, menafsirkan atau
HIV pada anak dari 1,8% pada tahun 2010 menjadi melengkapi peraturan perundang-undangannya.
2,6% di akhir tahun 2012.3
Implikasi dari tertularnya istri ini akan 2. Metode Penelitian
mengakibatkan berbagai penderitaan yang tidak Penelitian ini merupakan penelitian non-
hanya diderita oleh isteri/ibu rumah tangga tersebut, doktrinal, yaitu penelitian yang mengkonsepkan
akan tetapi juga karena terdapat fakta bahwa ibu-ibu hukum sebagai perilaku dan aksi, sehingga tergolong
yang terjangkit virus HIV ini melahirkaan anak-anak penelitian empirik yang bersifat nomologik dengan
yang ternyata juga menderita HIV/AIDS karena silogisme induktif. Ranah dari kajian ini adalah untuk
tertular dari ibu kandungnya. Di samping itu, keluarga menemukan hukum dalam perilaku masyarakat
dan anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS rentan hukum sebagai fenomena simbolik dalam aksi dan
terhadap stigma dan diskriminasi, yang dapat dilihat interaksi masyarakat.

3
Ibid.,hlm. 9

515
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
Studi “socio-legal”, yang mengacu kepada Melalui berbagai ketentuan hukum positif
pemikiran realisme dalam ilmu hukum, yang meyakini yang btelah diterbitkan, Negara berusaha melakukan
bahwa meskipun hukum adalah sesuatu yang upaya semaksimal mungkin untuk menghapuskan
dihasilkan melalui proses yang dapat segala bentuk diskriminasi warganegaranya termasuk
dipertanggungjawabkan secara logika imperatif, terhadap perempuan , baik yang meliputi kekerasan
namun “ the life of law has not been logic, it is ( socio- di wilayah publik maupun di wilayah domestik.
psychological) experience”4 ini, juga menggunakan Sesuai dengan tuntutan Hukum Kodrat
Analisa Gender yang dilaksanakan untuk bahwa agar hukum positif sesuai dengan standar-
mengidentifikasi dan memahami ada atau tidak standar moral prapositif , maka upaya tersebut
adanya dan sebab terjadinya ketidaksetaraan dan dipenuhi dengan cara merumuskan standar-standar
ketidakadilan gender , termasuk pemecahan itu dalam bentuk hak konkret yang dapat dimasukkan
permasalahannya. ke dalam hukum positif sendiri sebagai jaminan
Validasi data dilakukan dengan teknik bahwa hukum itu tidak melanggar norma praposistif
triangulasi baik terhadap metode dilakukan untuk tersebut.5 Jadi hak-hak asasi manusia merupakan
mengecek validitas data yang diperoleh melalui usaha untuk menterjemahkan keyakinan-keyakinan
“Confidential indepth interview”, maupun terhadap tentang martabat manusia ke dalam bahasa hukum
sumber dengan cara mencari dan membandingkan yang konkret dengan tujuan agar hak-hak itu
perbedaan dan persamaan pada saat sumber seperlunya dapat dipaksakan pelaksanaannya di
menyampaikan data dan kesesuaiannya dengan depan pengadilan.
dokumen yang menjadi data penelitian Semua upaya yang dilakukan oleh Pemerintah harus
dilandasi dengan semangat bahwa keberadaan
3. Kerangka Teori Negara hukum harus mampu membahagiakan
Dalam Mukadimah dari Deklarasi Universal rakyatnya sesuai dengan tujuan Negara dengan
tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang telah dilandaskan pada semangat empati, dedikasi,
diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 determinasi dan komitmen yang tinggi.6
Desember 1948, terdapat pengakuan bahwa Hak
Asasi Manusia merupakan hak yang dimiliki manusia B. Hasil dan Pembahasan
secara kodrati tanpa pengecualian dan keistimewaan 1. Urgensi Dilakukannya Rekonstruksi Konsep
bagi golongan, kelompok maupun tingkat sosial Perlindungan dan Penegakan HAM untuk
manusia tertentu. Hak-hak tersebut mencakup antara Mencegah Risiko Tertular HIV/AIDS dari Suami
lain hak atas kehidupan, keamanan, kebebasan kepada Istrinya
berpendapat dan merdeka dari segala bentuk Penularan HIV/AIDS di Indonesia akhir-akhir
penindasan yang wajib dijunjung tinggi, tidak saja oleh ini mulai bergeser dari kelompok rentan ke kelompok
individu dari suatu Negara yang mengakui risiko rendah, seperti ibu rumah tangga dan bayi.
keberadaan dan menghargai HAM itu sendiri, akan Terdapat kecenderungan jumlah ODHA pada anak
tetapi harus pula dijamin oleh Negara tanpa ada akan meningkat, demikian juga dengan proyeksi
perkecualiannya. Oleh karena keberlakuan hak-hak ODHA pada anak yang tertular HIV melalui ibu akan
asasi adalah universal dan absolut, maka setiap mengalami peningkatan. Kondisi ini sangat
penyangkalan terhadap mereka dalam kerangka mengkawatirkan mengingat rentetan dampak sebagai
struktur-struktur sosial modern itu dianggap dengan akibat tertularnya ibu rumah tangga oleh HIV yang
sendirinya merupakan penghinaan dan penindasan ditularkan oleh suaminya. Selama tidak ada obat
terhadap manusia. untuk menyembuhkannya , serta tidak ada vaksin
4
Soetandyo Wignjosoebroto, sebagaimana dikutip dari Sulistyowati Irianto, Memperkenalkan Studi Sosiolegal dan Implikasi Metodologisnya,
dalam Sulistyowati Irianto & Shidarta (ed.), 2011, Metode Penelitian Hukum : Konstelasi dan Refleksi, Jakarta,Yayasan Pustaka Obor Indonesia,
hlm.176
5
Franz -Magnis Suseno, Etika Politik, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, hlm. 134
6
Satjipto Rahardjo, 2008, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, Yogyakarta, Genta Press

516
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
untuk mengebalkan tubuh terhadap penyakit Untuk mengurangi risiko, seseorang memilih
tersebut, maka hanya ada satu jalan yang dapat untuk berhubungan seks dengan satu orang
diperbuat yaitu melakukan tindakan-tindakan pasangan tetap, sementara orang lain yang memiliki
preventif. kebiasaan memiliki pasangan seks lebih dari
Pemberian jenis obat anti – retroviral pada seorang mengurangi risiko tertular dengan cara
penderita HIV/AIDS hanya bertujuan untuk menekan menggunakan alat pelindung berupa kondom. Bagi
perkembangan dari virus HIV yang ada di dalam sementara orang, penggunaan kondom dapat
tubuh, sehingga orang yang mengalami infeksi HIV/ mengurangi kenyamanan dan mengurangi
AIDS akan dapat terbebas dari gejala AIDSnya. Hal kenikmatan selama berhubungan.
ini tidak berarti akan menjadikan penderita menjadi Rantai penularan HIV juga dapat terjadi
sembuh, melainkan hanya mengurangi gejalanya selama proses kehamilan, proses persalinan atau
saja, sedangkan penderita HIV/AIDS ini masih dapat proses menyusui. Ini dikenal dengan “transmisi
menularkan penyakit HIV/AIDS kepada orang lain. vertikal” , sebab selain ditularkan dari satu orang
Pada banyak kasus, ditemukan isteri yang dewasa ke yang lain, ini juga dapat ditularkan secara
hanya diam di rumah dan pada saat gadis tidak vertikal dari ibu ke bayi. Sekitar 30% bayi yang lahir
melakukan perilaku berisiko, ternyata terkena HIV. dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular.
Mereka ternyata tertular dari suaminya yang Dalam kaitannya dengan status infeksi HIV terdapat
melakukan hubungan seksual berganti-ganti beberapa hal yang perlu diwaspadai:
pasangan. Transmisi /penularan virus HIV dari suami a. Seseorang tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi
kepada ibu rumah tangga terjadi melalui hubungan HIV
seks. Kaum perempuan lebih rentan tertular HIV b. Seseorang tahu bahwa dirinya terinfeksi namun
dibandingkan laki-laki, baik ditinjau dari aspek biologis tidak memahami cara penularannya
maupun sosial. c. Seseorang tahu bahwa dirinya terinfeksi HIV dan
Dari aspek biologis, bentuk organ reproduksi dia tahu cara penularan akan tetapi tidak peduli,
perempuan memungkinkan lebih banyak sehingga dia tidak melakukan upaya pencegahan
menanggung cairan sperma yang kemungkinan agar penyakitnya tidak menular kepada orang lain.
mengandung virus HIV, sedangkan dari aspek sosial, HIV dalam kenyataannya bukan hanya
perempuan harus menjalankan tugas rangkap, tidak merupakan masalah kesehatan , akan tetapi juga
hanya di ranah domestik dengan berbagai menjadi masalah masyarakat, mengingat efeknya
kegiatannya mengurus rumah tangga, dan tidak yang luar biasa dari HIV ini dalam masyarakat. Secara
sedikit yang harus bekerja di sektor publik. Di sisi sosial, ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) seringkali
yang lain, dengan posisinya laki-laki jauh lebih dapat mendapatkan stigma sehingga diperlakukan secara
menentukan nasib dirinya untuk tertular atau tidak, diskriminatif. Stigma dapat terjadi dimana saja, dan
serta mencari cara supaya tidak menularkan kapan saja, baik di tengah keluarga, masyarakat,
dibandingkan kaum perempuan. sekolah, tempat peribadatan, tempat kerja, maupun
Virus HIV dapat menyebar dari laki-laki ke tempat layanan hukum dan kesehatan. Stigma juga
wanita atau dari wanita ke laki-laki. Seseorang dapat dapat dilakukan oleh seseorang dalam kapasitas
mendapatkan HIV dari partner seksnya yang tampak pribadi maupun professional, maupun oleh lembaga
sehat, akan tetapi sebenarnya mengidap HIV. Sebuah melalui berbagai kebijakannya.
upaya yang pasti untuk menghindarkan diri dari HIV Stigma ini muncul oleh karena berbagai
adalah tidak melakukan hubungan seks, akan tetapi sebab. Bagi kalangan terdidik, mereka tahu bahwa
bagi sementara orang hal ini dianggap sesuatu yang AIDS disebabkan karena virus , akan tetapi bagi
tidak mungkin dilakukan karena pada dasarnya sebagian masyarakat, HIV.AIDS adalah penyakit yang
manusia dewasa membutuhkn seks. menyerang kelompok sosial tertentu dengan perilaku
seksual berisiko tinggi. Berdasarkan pemahaman ini,

517
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
maka isu HIV/AIDS adalah isu yang kurang pantas harus segera diselesaikan melalui berbagai aturan
untuk dibicarakan dalam masyarakat yang beragama hukum positif alam rangka mencegah terus terjadinya
dan bermoral, karena transmisinya biasanya dikaitkan “gender inequalities”.
dengan hal-hal yang melanggar norma agama 2. Konsep Hukum Ideal (Ius Constituendum) untuk
maupun moral. Dalam konteks ini HIV/AIDS dipahami Memberikan Akses Keadilan dan Perlindungan
sebagai “kutukan Tuhan” sebagai akibat dosa seksual hukum bagi Ibu Rumah Tngga terhadap risiko
maupun perbuatan lainnya. tertular HIV/AIDS dari suaminya
Adanya stigma dan diskriminasi terhadap a. Penegakan Hak Konstitusional Perempuan
penderita maupun keluarganya justru menyebabkan Hak konstitusional warga Negara
penderita menutup diri dan tidak ingin status yang meliputi hak asasi manusia dan hak
penyakitnya diketahui orang lain termasuk oleh warga Negara dijamin dalam Undang-Undang
keluarganya, bahkan oleh pasangannya sendiri. Dasar Negara Republik Indonesia
Sebagai pasangan seks, seorang isteri perlu Tahun1945. Hak konstitusional ini dimiliki oleh
mengetahui mengenai kondisi kesehatan pasangan setiap individu warga Negara tanpa
untuk menjamin kondisi kesehatannya sendiri. Dalam pembedaan , baik dari suku, agama,
konteks infeksi HIV, sebenarnya seseorang perlu keyakinan politik, maupun jenis kelamin. Hal
memastikan bahwa dia tidak akan tertular HIV dari ini ditegaskan dalam UUD NRI 1945 bahwa “
pasangan seksnya. Setiap orang berhak bebas dari perlakuan
Dalam struktur kehidupan masyarakat yang yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun
sangat dipengaruhi oleh keyakinan agama maupun dan berhak mendapatkan perlindungan
budaya khususnya patriarkhi, sangat sulit bagi terhadap perlakukan yang bersifat diskriminatif
seorang isteri untuk menanyakan secara langsung itu”. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka
kepada suaminya mengenai status kesehatannya terhadap setiap tindakan atau ketentuan yang
khususnya apakah dia terinfeksi HIV atau tidak, atau mendiskriminasikan warga tertentu , hal
menanyakan kebiasaan suaminya yang berisiko tersebut adalah pelanggaran terhadap hak
tertular HIV. Dalam konteks suami tahu bahwa dirinya asasi manusia dan hak konstitusional warga
terinfeksi HIV dan dia tahu cara penularan akan tetapi Negara, sehingga dengan sendirinya
tidak peduli, sehingga dia tidak melakukan upaya bertentangan dngan UUD NRI 1945.
pencegahan agar penyakitnya tidak menular kepada Perlindungan dan pemenuhan hak
istrinya , dan istripun tahu bahwa suaminya mengidap konstitusional warga Negara harus dilakukan
HIV/AIDS, isteri seharusnya memiliki hak untuk sesuai dengan kondisi warga Negara yang
menolak berhubungan seks tanpa menggunakan beragam, sesuai dengan kenyataan bahwa
proteksi demi kesehatan dirinya dan keturunannya. dalam masyarakat Indonesia terdapat
Dalam hal-hal seperti inilah terjadi gender perbedaan kemampuan ( yang disebabkan
inequalities (ketidakadilan gender) sebagai akibat dari karena struktur sosial yang berkembang
adanya “gender differences” yang berasal dari cenderung memarginalisasikannya) untuk
kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama, mengakses perlindungan dan pemenuhan hak
keyakinan tradisi dan kebiasaan bahkan asumsi ilmu yang diberikan oleh Negara.7
pengetahuan. Kondisi “gender differences” inilah yang
8
Loc.Cit.
7
Jimly Asshiddiqie, Makalah, Lokakarya Nasional Komnas Perempuan “Merawat dan Memenuhi Jaminan Hak Konstitusional Warga Negara”, 19
Mei 2010, Jakarta, Komnas Perempuan

518
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
Salah satu kelompok warga Negara hukum adalah patriarkhi karena ia seringkali
yang karena kondisinya membutuhkan berisikan sesuatu yang menggambarkan
perlakuan yang khusus adalah perempuan karakter umum dari hukum. 10 Sebagai
yang karena “perbedaan dan pembedaan” akibatnya hukum yang dihasilkan bias gender.
yang dihasilkan dan dilanggengkan oleh tidak hanya terjadi pada teori hukum, akan
struktur masyarakat patriarkis tidak dapat tetapi juga pada peraturan perundang-
mengakses perlindungan dan pemenuhan hak undangan.
konstitusionalnya. Hal ini mutlak dilakukan Dengan menggunakan positivisme
mengingat tanpa adanya perlakuan khusus , hukum sebagai landasan pengundangan dan
justru akan mempertahankan diskriminasi pelaksanaan suatu peraturan, maka Negara
terhadap perempuan dan tidak mampu akan “terpaksa” menafikan adanya kebutuhan
mencapai keadilan.8 keadilan secara khusus yang dibutuhkan oleh
Berdasarkan teori sistem Hukum kelompok tertentu, berdasarkan pemahaman
sebagaimana dinyatakan oleh Lawrence M. bahwa dalam hukum kumpulan masyarakat
Friedman, upaya penegakan hak merupakan kumpulan individu yang otonom
konstitusional perempuan sebagaimana dan memiliki hak-hak yang sama, sehingga
dijamin oleh UUDNRI 1945 harus dilakukan hukum harus dapat berlaku obyektif dan netral
secara komprehensif, baik melalui aspek kepada setiap individu dalam masyarakat.11
aturan, struktur maupun dari sisi budaya. Hal Aspek budaya (patriarkhi) juga memberikan
ini disebabkan meskipun terdapat peraturan pengaruh yang besar pada peraturan dan
perundang-undangan yang menjamin penegakannya. Dengan bertemunya ideologi
pelaksanaan hak konstitusional perempuan, patriarki yang ada dalam masyarakat dengan
namun tidaklah cukup karena peraturan positivisme hukum dalam perumusan peran
perundang-undangan ini harus diikuti dengan serta tanggung jawab suami dan isteri dalam
penegakan hukum yang sensitif gender dan suatu peraturan sebagaimana tergambar
perubahan budaya yang cenderung dalam Pasal 31 ayat (3) UU Nomor 1 Tahun
diskriminatif terhadap perempuan. 1974 tentang Pokok Perkawinan dengan
Dalam perspektif penganut teori menyatakan bahwa “suami adalah kepala
hukum feminis, hukum di Indonesia banyak rumah tangga dan isteri adalah ibu rumah
dipengaruhi oleh positivisme hukum dan tangga”, telah mengakibatkan kerugian bagi
melakukan diskriminasi terhadap perempuan, perempuan.
karena positivisme yang dilakukan dengan b. Kriminalisasi Sebagai Upaya Perlindungan
kecenderungan legisme telah melegalisir Dan Penegakan Ham Ibu Rumah Tangga
peraturan perundang-undangan yang bias Terhadap Risiko Tertular HIV/AIDS oleh
gender kedalam penerapannya yang Suaminya
kemudian merugikan perempuan. 9 Hal ini Untuk mendapatkan sebuah konsep
disebabkan oleh ideologi maskulin yang hukum ideal dalam rangka memberikan
mendasari positivisme hukum yang berakibat perlindungan dan penegakan HAM sesuai
hukum dan akibat-akibat yang ditimbulkan kajian ini, maka peneliti menggunakan model
oleh teori hukum adalah refleksi dari nilai-nilai penafsiran Progresif, yang digagas oleh
maskulin, sehingga ia tidak berbicara atas Satjipto Rahardjo yang tidak berhenti hanya
nama perempuan atau kelompok pada pembacaan teks harafiah saja.
terpinggirkan lainnya. Secara tradisional, teori Penafsiaran ini tidak selalu bertumpu pada
9
Niken Savitri, 2008, HAM Perempuan : Kritik Teori Hukum Feminis terhadap KUHP, Bandung, Refika Aditama, hlm. 85
10
Ibid., hlm 81-82
11
Ibid., hlm. 6
12
Satjipto Rahardjo, 2006, Hukum Dalam Jagat Ketertiban, Jakarta, Penerbit UKI Press, hlm. 171

519
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
logika , melainkan juga meninggalkan rutinitas atau hukum. Dalam konsep penafsiran
logika , karena penafsiran dilakukan dengan progresif, hukum untuk manusia harus
melompat tidak ada hubungan logis antara seimbang dengan paradigma manusia untuk
konsep yang lama dengan yang baru.12 hukum, dalam arti diperlukan adanya
Dengan mengacu pada teori dari keseimbangan antara “statika” dengan
William J. Chambliss dan Robert B. Seidman “dinamika” , antara “peraturan” dan jalan yang
, maka bekerjanya dan prospek hukum terbuka”.14
ditentukan oleh lembaga pembuat hukum Dalam kajian ini, penerapan konsep
(Rule sanctioning Institutions), pemegang penafsiran progresif, didasarkan pada suatu
peran hukum ( Rule Occupant) yang pemikiran bahwa Suami yang telah
dipengaruhi oleh kekuatan masyarakat dan menularkan HIV/AIDS baik secara sengaja
individu atau kekuatan-kekuatan lingkungan, maupun tidak sengaja pada hakikatnya
dan pemegang peran hukum melakukan didasari oleh argumentasi bahwa telah terjadi
umpan balik (feedback) pada lembaga “ gender related violence” , yang dimaknai
pembuat hukum yang menghasilkan norma sebagai kekerasan gender yang disebabkan
dan lembaga penerap sanksi hukum dalam oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada
pelaksanaan sanksi atau hukuman.13 dalam masyarakat , yaitu bentuk pemerkosaan
Sesuai dengan tujuan hukum terhadap perempuan termasuk perkosaan
sebagaimana dikehendaki oleh pembentuk dalam perkawinan. Dalam hal ini perkosaan
undang-undang, hukum harus senantiasa terjadi jika seseorang melakukan paksaan
dapat dipergunakan untuk tujuan umum, yaitu untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa
adanya keadilan bagi semua pihak, bukan kerelaan yang bersangkutan.
hanya untuk melindungi tersangka dari adanya Oleh karena „gender related violence
ketidakadilan karena penafsiran analogi, “ ini terjadi dalam rumah tangga, yaitu dalam
namun juga melindungi adanya ketidakadilan konteks hubungan antara suami dan isteri,
bagi korban yang terlanggar haknya oleh maka digunakan konstruksi Kekerasan Dalam
suatu perbuatan yang pada waktu dirumuskan Rumah Tangga, sebagaimana dimaksudkan
belum terpikirkan pemaknaannya oleh si oleh Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor
pembuat undang-undang. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Penafsiran yang dilakukan demi Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yaitu setiap
keadilan kaum minoritas, termasuk kaum perbuatan terhadap seseorang terutama
perempuan harus merupakan penafsiran yang perempuan, yang berakibat timbulnya
“tidak biasa” dalam arti lepas dari konsep atau kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
pengertian yang lama , serta memahami seksual, psikologis, dan/atau penelantaran
proses hukum sebagai proses pembebasan rumah tangga termasuk ancaman untuk
terhadap suatu konsep yang konvensional, melakukan perbuatan, pemaksaan,atau
yang tidak dapat lagi digunakan untuk perampasan kemerdekaan secara melawan
melayani kehidupan masa kini. hukum dalam lingkup rumah tangga.
Model penalaran progresif ini tidak “Gender related violence” dalam
hanya ditujukan untuk mendapatkan keadilan kasus penularan HIV/AIDS oleh suami kepada
belaka dan mengabaikan aspek kepastian, istrinya ini menunjuk pada ketentuan Pasal 5
akan tetapi keadilan harus dicapai dengan huruf a,b dan c, Undang-Undang Nomor 23
tetap mempertimbangkan dibutuhkannya Tahun 2004 yaitu kekerasan dalam rumah
kepastian dalam penerapan suatu peraturan tangga terhadap orang dalam lingkup rumah
13
William J. Chambliss dan Seidman, Robert B. Law, 1971, Order and Power, Addison-Wesley Publishing Company, p. 12
14
Loc.Cit.

520
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
tangganya, dengan cara kekerasan fisik seks yang menuntut adanya pemuasan
kekerasan psikis dan kekerasan seksual (sexual grativication).
sekaligus. Pada diri seorang perempuan,
Menurut Pasal 6 Undang-Undang Nomor 23 peristiwa terangsangnya organ seks akan
Tahun 2004, Kekerasan fisik se-bagaimana disertai dengan respon berupa produksi
dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah kelenjar-kelenjar aksesoris (accessoris gland)
perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, yang terdapat dalam liang sanggama.
jatuh sakit, atau luka berat. Untuk kekerasan Produksi kelenjar ini berupa cairan pelicin
psikis sebagaimana dimaksud oleh Pasal 5 (lubricant) yang akan berfungsi untuk
huruf b, diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang melindungi permukaan liang sanggama dari
Nomor 23 Tahun 2004 yaitu perbuatan yang gesekan penis pada waktu hubungan seks
mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa berlangsung. Dalam peristiwa pemaksaan,
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk alur fisiologis ini kemungkinan gagal terjadi,
bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau sehingga kelenjar-kelenjar aksesoris tidak
penderitaan psikis berat pada seseoran, mensekresi cairan pelicin yang
sedangkan yang dimaksud dengan mengakibatkan “vaginal intercourse” berisiko
Kekerasan Seksual sebagaimana dimaksud untuk menyebabkan iritasi dan memungkinkan
oleh Pasal 5 huruf c , diatur dalam Pasal 8 penetrasi virus apabila partner adalah OTDHA
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 , (Orang Dengan HIV/AIDS).
meliputi a. pemaksaan hubungan seksual Berdasarkan Pasal 5 huruf a,b dan
yang dilakukan terhadap orang yang menetap c, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
dalam lingkup rumah tangga tersebut; dan b. tersebut, maka pelanggaran terhadap
pemaksaan hubungan seksual terhadap salah ketentuan Pasal 5 a,b dan c Undang-Undang
seorang dalam lingkup rumah tangganya Nomor 23 tahun 2004 akan dikenai sanksi
dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/ pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 44
atau tujuan tertentu. sampai dengan Pasal 48 Undang-Undang ini.
Hal ini didasarkan pada argumentasi Dalam konteks perbuatan pemaksaan atau
bahwa hubungan seks yang tidak diasarkan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang
pada adanya kesukarelaan khususnya pada yang terikat dalam perkawinan yang sah
diri seorang perempuan, akan menimbulkan sebagaimana yang dilakukan oleh suami
risiko untuk terjadinya perlukaan permukaan pengidap HIV/AIDS (OTDHA) terhadap
liang sanggama, daripada hubungan seks istrinya seharusnya juga dapat dilakukan
yang didasari kesukarelaan. kriminalisasi.
Sebagaimana diketahui, hubungan Keputusan untuk melakukan
seks (sexual-intercourse) terdiri dari tahapan- kriminalisasi terhadap suami pengidap HIV/
tahapan proses yang melibatkan fungsi mental AIDS yang menularkannya kepada isterinya
dan psikologis yang memungkinkan aktivitas ini diperoleh melalui proses analisis gender
seksual tersebut berjalan sesuai tahapan sebagai upaya untuk mengatasi ketidakadilan
fisiologis. Secara fisiologis, tahap awal untuk gender yang berkaitan dengan upaya
proses terjadinya “sexual-intercourse” pada perlindungan istri atau ibu rumah tangga dari
umumnya dimulai dengan adanya “desire” risiko penularan HIV/AIDS oleh suaminya,
(hasrat) yang dapat dimulai dari pikiran atau khususnya dalam rangka memberikan makna,
mental. Proses tersebut apabila berlanjut akan konsepsi, asumsi , ideologi dan praktik
menyebabkan terangsangnya organ-organ hubungan baru antara kaum perempuan dan

521
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
laki-laki , serta implikasinya terhadap aspek- Hanafiyah maupun Malikiyah, relasi seksual
aspek kehidupan lainnya yang lebih luas. hendaknya lebih transparan, dimana
Analisis gender dilakukan melalui transformasi hubungan seksual harus dilakukan secara
sosial yang merupakan proses dekonstruksi sehat dan harus ada kesediaan kedua pihak
peran gender dalam seluruh aspek kehidupan untuk saling menerima dan memberi
yang merefleksiksikan perbedaan-perbedaan hendaknya dilakukan secara tulus, bukan
gender yang telah melahirkan ketidakadilan paksaan.
gender. Realitas yang dijumpai di dalam
Dalam perspektif Islam, Al- Qur‟an masyarakat sangatlah berbeda dan jauh dari
sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam pandangan dan pemahaman ulama tersebut.
pada dasarnya mengakui bahwa kedudukan Pandangan keagamaan yang mayoritas
laki-laki dan perempuan adalah sama. dianut, sangat bias nilai-nilai patriarkhi, yaitu
Keduanya diciptakan dari satu nafas (living bahwa kenikmatan seksual hanya menjadi
entity). Konsep korelasi terpenting tentang milik laki-laki, dalam arti hanya para suami
hubungan lelaki-perempuan dan pernikahan saya yang memiliki hak monopoli sekksual
itu adalah usaha membangun budi pekerti atas istrinya, sedangkan para isteri harus
yang luhur (al-akhlaq al-karimah). Oleh karena menuruti keinginan suami. Isteri berkewajiban
itu, asas pergaulan lelaki-perempuan itu memenuhi permintaan seksual suami, tetapi
sendiri haruslah suci, jujur dan terbuka tidak sebaliknya . Pandangan tersebut
(berdimensi sosial) dan tidak boleh semata- ironisnya dinisbahkan pada bunyi hadits Nabi
mata sebagai alat dan wahana pemuasan Muhammad, SAW :” Apabila seorang suami
nafsu rendah, sehingga harus tertutup, gelap mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia
dan dirahasiakan.15 Sesuai dengan konsep ini, menolak ( abat) dan (karena itu) suami menjadi
suami dan isteri memerlukan sikap saling marah, maka malaikat akan melaknat isteri
membantu , saling mendukung, saling tersebut sampai pagi‟. (Hadits Riwayat Bukhari
melindungi dan saling mencocoki dan Muslim). 18 Apabila Hadits tersebut
sebagaimana pakaian mencocoki tubuh, dan dipahami secara tesktual, maka akan
tujuan kita berpakaian adalah sekaligus untuk menimbulkan kesan kuat adanya superioritass
perhiasan dan perlindungan badan.16 laki-laki atas perempuan. Lebih fatal lagi,
Hubungan yang serba “saling” bahwa pemahaman yang sangat tekstualis itu
tersebut hanya dapat diwujudkan dalam wujud dijadikan sebagai alat legitimasi bagi kaum
relasi yang setara dan seimbang bukan dalam laki-laki untuk memaksa perempuan dalam hal
relasi yang timpang dimana satu pihak hubungan seksual.
mendominasi yang lainnya. Oleh sebab itu, Berdasarkan penafsiran progresif,
harus ada upaya untuk menghilangkan maka kata “abat” (isteri menolak) dalam
dominasi, baik dominasi suami maupun konteks tersebut harus diketahui alasannya,
dominasi isteri dalam kehidupan perkawinan, misalkan atas dasar apa, si isteri melakukan
karena setiap bentuk dominasi selalu berujung penolakan.Apabila penolakan isteri terhadap
pada pengabaian dan pengingkaran hak asasi ajakan suaminya untuk berhubungan intim
manusia.17 tanpa didasari oleh alasan-alasan yang logis,
Dalam pembahasan mengenai relasi atau tidak beralasan, maka tentu pantas
seksual, berdasarkan pandangan fiqh Mazhab memperoleh hukuman berupa kutukan
15
Siti Musdah Mulia, 2007, Islam & Inspirasi Kesetaraan Gender, Yogyakarta, Kibar Press, hlm 67
16
Ibid., hlm. 79
17
Ibid., hlm. 75
18
Ibid., hlm. 94
19
Lihat Q.S. an-Nisa‟ 4 : 128 sebagaimana dikutip dari Loc.Cit.

522
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
malaikat. Dalam keadaan demikian, ia yang menyerahkan diri sendiri. Sikap tunduk
dipandang sebagai nusyus. Di sisi yang lain, semacam ini bukan merupakan penegasan
apabila penolakan isteri sungguh-sungguh di dari norma-norma yang tradisional, sebaliknya
dasarkan pada alasan-alasan kemanusiaan, ini merupakan tantangan yang mendasar untuk
atau karena kondisi suami yang akan akan norma-norma tersebut.
menyebabkan kesengsaraan isteri , maka Demikian pula halnya alam agama
dalam hal ini kesalahan ada pada pihak laki- Hindu, melalui konsep “ Arda Nareswari”, yaitu
laki (suami) dan iapun harus dipandang ajaran yang menyatakan bahwa perempuan
“nusyuz‟ dan juga mendapat kutukan para dan laki-laki adalah satu adanya, maka
malaikat.19 kedudukan laki-laki dan perempuan sama di
Mengacu pada pendapat ini, maka dalam hal apapun, baik di ranah domestik
dalam hal terjadi pemaksaan untuk maupun publik. 21 Melayani suami dalam
berhubungan intim oleh suami kepada agama Hindu adalah Darma perempuan,
isterinya, padahal si suami tahu bahwa ia sehingga ia harus melayani suaminya dalam
mengidap HIV/AIDS, maka disimpulkan kondisi apapun. Penolakan hanya dibenarkan
bahwa kesalahan ada pada suami. Semua sepanjang untuk menghormati hari-hari suci
bentuk kekerasan dan pemaksaan tidak atau perempuan sedang menstruasi.
sejalan dengan prinsip-prinsip perkawinan Meskipun demikian, hukum adat (pararem)
yang diajarkan Islam, seperti “ mawaddah wa yang merupakan pelaksanaan awig-awig atau
rahmah (cinta dan kasih sayang) , dan putusan kepala adat, mengijinkan seorang
wa‟asyruhunna bil ma‟ruf (pergaulan yang perempuan untuk menolak suaminya dalam
santun). Hal ini bahkan tidak sejalan dengan hal si suami mengidap penyakit yang
penegasan Al-Qur ‟an tentang tujuan berpotensi menulari istrinya. Ini semua
perkawinan, yaitu mewujudkan keluarga didasarkan pada alasan kemanusiaan.
sakinah ( damai dan bahagia).20 Dengan mendasarkan pada ajaran-
Dalam perspektif agama Kristen, ajaran tersebut di atas, ketidakadilan gender
dalam surat Paulus kepada Jemaat di Efesus dalam kajian ini seharusnya dapat diatasi
Pasal 5 ayat 22 sampai dengan 33, dijelaskan melalui penafsiran baru sebagai suatu proses
bahwa isteri berada di dalam kekuasaan pembebasan dari konsep tradisional yang
suaminya dalam konteks perlindungan dan tidak lagi sesuai dengan kondisi dan
pemeliharaan. Perlindungan ini harus perkambangan jaman. Dengan kriminalisasi,
dimaknai perlindungan menyangkut maka terhadap peristiwa “gender related
kebutuhan mental, psikologis dan fisik. violence”tersebut di atas akan diatasi dengan
Berdasarkan pengajaran ini, istri harus tunduk menggunakan hukum pidana.
kepada suami “seperti kepada Tuhan.” Sikap Hukum pidana dikenal sebagai
tunduk ini bukan lagi seperti yang terdapat pedang bermata dua, di satu pihak ia bertujuan
dalam norma-norma budaya dan dipaksakan melindungi setiap individu dari segala jenis
pada perempuan yang dianggap lebih rendah. kejahatan yang melukai kepentingan
daripada laki-Iaki dalam budaya Yahudi hukumnya, baik yang berkaitan dengan tubuh,
maupun kafir; Sikap tunduk ini dapat dipilihnya nyawa maupun harta benda. Di sisi yang lain,
dengan bebas, siap untuk pasangannya hukum pidana dalam melakukan perlindungan
“seperti untuk Tuhan,” yaitu, sebagai murid atas individu tersebut , ternyata juga harus
Tuhan, seseorang yang mengikuti jejak-Nya memberikan individu (dalam hal ini individu
sebagai hamba, yang didorong oleh kasih yang disangka atau diduga dan diputuskan
20
QS.ar-Ruum, 21 Loc.Cit.
21
Wawancara dengan Dr. Anak Agung Sudiyana, Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) Denpasar

523
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
bersalah melakukan pelanggaran atau pidana bukan sarana utama (premum
kejahatan) perlukaan baik atas tubuh (dalam remidium) “ia” hadir digunakan ketika sarana
hal ini kemerdekaan), atas nyawa ( berupa hukum lain tidak memadai. Praktik perundang-
pemberian sanksi hukuman mati), dan harta undangan menunjukkan hal yang sebaliknya,
benda ( berupa pemberian hukuman denda). hukum pidana dengan sanksinya yang keras
Hal ini membuat hukum pidana sebagai digunakan hampir di semua produk legislasi,
hukum yang memiliki kaitan erat dengan hak baik undang-undang murni hukum pidana
asasi manusia , karena hukum pidana dalam maupun hukum administrasi. Penjelasan di
penegakannya akan mengambil hak-hak atas memberikan peringatan kepada kita
paling mendasar dari individu yang diputuskan semua, apabila akan melakukan kriminalisasi
bersalah melakukan pelanggaran atas aturan- dalam arti menetapkan suatu perbuatan yang
aturannya. semula bukan tindak pidana menjadi
Penegakan hukum pidana perbuatan yang dapat dipidana harus dikaji
diharapkan dapat menjaga seseorang dengan secara mendalam, terlebih terhadap
melindungi kebebasannya , integritas perbuatan yang ada hubungan khusus antara
tubuhnya , nyawa dan harta bendanya dari pelaku tindak pidana dengan korbannya
pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain. seperti adanya hubungan suami istri.
Di sisi yang lain, tanpa dapat dihindari , pada Dalam kriminalisasi seperti ini
waktu melakukan perlindungan atas HAM banyak pertimbangan harus dilakukan, tidak
tersebut, hukum pidana juga melanggar HAM hanya semata-mata melihat bahwa telah ada/
orang lain dengan cara yang sama dengan terjadi perbuatan yang merugikan pihak lain,
menerapkan sanksi yang mengambil atau akan tetapi persoalan hubungan sosial anak-
merampas hak-hak dasar tersebut. Oleh istri dengan suami harus juga mendapat porsi
sebab itu, penegakan dan perumusan hukum yang utama dalam menentukan kebijakan
pidana harus dilakukan melalui pertimbangan kriminalisasi, penentuan sanksi pidana
dan dasar yang kuat. Dalam hal ini, asas maupun pemidanaannya. Hal ini didasarkan
legalitas menjadi dasar bagi pengenaan pada pemikiran bahwa dalam konteks sosial,
sanksi hukuman yang melanggar HAM suami adalah kepala rumah tangga,
tersebut. penanggungjawab nafkah dan pelindung
Hukum pidana dengan sanksinya keluarga, terlebih apabila terjadi
yang keras berkaitan erat dengan pengenaan ketergantungan ekonomi bagi keluarga (anak
penderitaaan, perampasan hak asasi dan istri) kepada suami. Sistem nilai sosial dan
manusia, sehingga menimbulkan dampak agamapun harus menjadi perhatian dalam
negatif yang luar biasa berkaitan dengan pelibatan hukum pidana dalam penentuan
masalah stigma sosial (cap jahat), degradasi kriminalisasi, jenis sanksi dan persoalan
moral, prisonisasi dan lain-lain. Oleh karena pidana dan pemidanaan. Oleh karena itu
itu penentuan tindak pidana dan penerapan harus ada ruang kebijakan yang bersifat
sanksi pidana harus ada jaminan (garansi) selektif dan limitatif.
bahwa pidana memang diperlukan. Keterlibatan Hukum pidana dalam
Hukum pidana hadir sebagai sarana upaya melakukan kriminalisasi terhadap
atau obat terakhir (ultimum remedium) dan kasus suami yang mengidap penyakit HIV/
diberlakukan dengan memperhatikan asas AIDS dan dengan sengaja tidak
subsidiaritas. Sebagai salah satu sarana memberitahukan kalau dia mengidap HIV saat
pengatur tertib hidup masyarakat, hukum bersetubuh, hendaknya tidak hanya ditujukan

524
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
dalam upaya memberikan perlindungan tahuannya bahwa suami mengidap penyakit
terhadap hak perempuan (istri) untuk menolak HIV. Untuk suami yang tidak menyadari bahwa
persetubuhan karena suami menderita dirinya terinfeksi dan berpotensi menulari
penyakit (HIV/AIDS), akan tetapi juga harus istrinya, tidak dikriminalisasi dengan
memberikan perlindungan hak lain terhadap pertimbangan bahwa sosialisasi mengenai
wanita tersebut, bahwa sebagai istri wanita infeksi HIV baik dalam aspek cara penularan
berhak atas nafkah, perlindungan dan kasih dan perilaku berisiko belum merata. Hal ini
sayang. Hal ini dilakukan agar jangan sampai akan mengakibatkan pemahaman masyarakat
terjadi bahwa upaya untuk memberikan secara umum belum cukup untuk membuat
perlindungan hak yang satu akan menutup masyarakat ber-perilaku protektif.
atau mengabaikan hak lain sehingga justru Dari segi formulasi delik (tindak
merugikan perempuan tersebut (isteri). Oleh pidana), dapat dirumuskan beberapa alternatif
sebab itu harus ada keseimbangan dan perumusan delik, yaitu sebagai delik materiil,
dipertimbangkan secara komprehensif. delik formil dan delik aduan. Formulasi dalam
Suami pengidap HIV/AIDSpun harus delik materiil terjadi jika Suami pada saat
diperhatikan, apakah akibat perilaku seksual melakukan hubungan kelamin dengan istrinya
menyimpang (berzina/”suka jajan”) atau dengan sengaja tidak memberitahukan bahwa
tertular biasa. Hal ini sangat penting berkaitan dirinya mengidap HIV/AIDS dan akibat tidak
dengan unsur sikap batin (mens rea/ sikap memberitahukan bahwa dirinya mengidap
batin yang jahat) dari pelaku tindak pidana. penyakit tersebut terjadi penularan penyakit,
Kebijakan pelibatan hukum pidana harus sehingga si Istri mengidap penyakit HIV/AIDS.
dilakukan secara selektif dan limitatif, baik Sesuai dengan sifat dari delik materiil, untuk
dalam kriminalisasi, penetapan sanksi, dapat dikatakan telah terjadi tindak pidana
maupun dalam penjatuhan sanksi pidana. apabila telah timbul akibat, dalam hal ini
Apabila merujuk kepada ketentuan perbuatan Suami yang dengan sengaja tidak
yang terdapat dalam Pasal 4 Undang-Undang memberitahukan bahwa dirinya mengidap
Nomor 23 Tahun 2004, penghapusan penyakit HIV/AIDS mengakibatkan si Istri
kekerasan dalam Rumah Tangga bertujuan terjangkit penyakit tersebut.
untuk mencegah segala bentuk kekerasan Sebagai suatu kebijakan perumusan
dalam rumah tangga; melindungi korban tindak pidana, bisa juga dirumuskan sebagai
kekerasan dalam rumah tangga; menindak delik formil tergantung titik berat perumusan
pelaku kekerasan dalam rumah tangga; dan perbuatan yang bagaimana yang dirumuskan
memelihara keutuhan rumah tangga yang sebagai tindak pidana. Formulasi dalam delik
harmonis dan sejahtera, maka upaya formil terjadi jika Suami pada saat melakukan
kriminalisasi dalam kajian ini juga didasarkan hubungan kelamin dengan istrinya dengan
pada tujuan tersebut. sengaja tidak memberitahukan bahwa dirinya
Dalam kriminalisasi, harus dilakukan mengidap HIV/AIDS . Sesuai dengan sifat
terhadap sebab suami yang benar-benar tahu delik formil, Suami yang dengan sengaja tidak
bahwa dirinya mengidap HIV/AIDS dan memberitahukan kalau dia mengidap HIV/
penyakit tersebut akibat perilaku seksual AIDS kepada istrinya pada saat bersetubuh,
menyimpang /salah (zinah/”suka jajan”) dan sudah dapat dikatakan melakukan tindak
dengan sengaja tidak memberitahukan pidana meskipun belum/tidak timbul akibat
kepada istrinya bahwa dia mengidap penyakit penularan penyakit HIV kepada istrinya.
tersebut pada saat melakukan hubungan Dalam delik formil yang dipentingkan adalah
suami istri. Jadi bukan karena ketidak telah dilakukan perbuatan yang dilarang dalam

525
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
rumusan delik, dalam hal ini adalah “Suami Formulasi Delik Penjabaran
Delik Materii l Suami yang pada saat bersetubuh dengan istrinya mengetahui bahwa dirinya
yang mengetahui bahwa dirinya mengidap mengidap penyakit HIV, dengan sengaja tidak mem berit ahukan kepada istrinya
HIV/AIDS, pada saat bersetubuh dengan dan mengakibatkan istrinya terjangkit penyakit HIV
Delik Formil Suami yang pada saat bersetubuh dengan istrinya mengetahui bahwa dirinya
istrinya dengan sengaja telah tidak mengidap penyakit HIV, dengan sengaja tidak memberitahukan bahwa dirinya
memberitahukan kepada Istri bahwa dirinya mengidap penyakit HIV

mengindap HIV/AIDS” , jadi tidak perlu harus Suami yang pada saat bersetubuh dengan istrinya mengetahui bahwa dirinya
timbul akibat dan seandainya timbul akibat mengidap penyakit HIV dan memberitahukan bahwa dirinya mengidap penyakit
HIV mem aksa istrinya untuk bersetubuh
sifatnya hanya kebetulan. Delik Aduan Penuntutan terhadap tindak pidana tersebut dapat dilakukan apabila ada
pengaduan dari si istri
Kriminalisasi lain dalam delik formil
juga dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu
Suami yang pada saat bersetubuh dengan Alternatif formulasi tindak pidana
istrinya mengetahui bahwa dirinya mengidap sebagaimana diuraikan tersebut di atas
HIV/AIDS dan memberitahukan bahwa dirinya menunjukkan bahwa sikap mempidana tidak
mengidap penyakit tersebut akan tetapi harus mengorbankan kompleksitas hubungan
melakukan pemaksaan terhadap istrinya keluarga antara suami (pelaku tindak pidana)
untuk bersetubuh. Dalam hal ini rumusan dan istri (anak) selaku korban, dengan
deliknya juga merupakan delik formil, yang dikenakannya pidana terhadap suami jangan
berbeda dalam rumusan ini adalah bahwa membuat istri (anak) menjadi korban yang
suami mengetahui bahwa dia mengidap kedua kalinya. Oleh karena itu sikap atau
penyakit HIV dan juga telah memberitahukan kebijakan mempidana (punitive attitute) harus
kepada istrinya, akan tetapi melakukan dibarengi dengan kebijakan untuk mengobati
pemaksaan kepada istrinya untuk melakukan (therapeutic attitude), sehingga perlu ada
persetubuhan. Perbuatan yang dilarang dalam kebijakan negara yang diintegrasikan dalam
hal ini adalah melakukan pemaksaan kebijakan hukum pidana berupa adanya
persetubuhan, meskipun sudah perintah pengadilan (Hakim) agar terpidana/
memberitahukan kepada Istrinya bahwa terdakwa serta korban diobati dengan biaya
dirinya mengidap penyakit HIV. Negara.
Mengingat adanya hubungan Dalam hukum positif, seperti halnya
khusus antara pelaku tindak pidana dan yang diatur dalam Pasal 44 ayat (2) KUHP apabila
korban sebagai suami istri, demi keutuhan pelaku tindak pidana terbukti mengidap penyakit
keluarga, perlindungan terhadap Istri anggota jiwa (gila), Hakim berdasarkan kekuasaan yang
keluarga sangat bijak apabila dari segi dimiliki dapat memerintahkan agar terdakwa
penuntutan delik, tindak pidana ini dirumuskan diberikan perawatan di Rumah Sakit Jiwa sebagai
sebagai delik formil, sehingga ada ruang bagi masa percobaan dengan biaya Negara.
Istri untuk mengambil keputusan yang terbaik Kebijakan ini perlu dilakukan untuk kriminalisasi
bagi kepentingan dirinya dan anggota tindak pidana di atas, mengingat HIV/AIDS adalah
keluarganya untuk menentukan penyakit yang sulit pengobatannya, memerlukan
berlangsungnya proses pidana, karena biaya mahal dan bersifat endemic. (therapeutic
sewaktu-waktu laporannya dapat dicabut attitude ), sebagaimana disebutkan Karl
(sebelum proses pemeriksaan pengadilan Menninger dalam bukunya “The Crime of
dimulai). Dengan dicabutnya laporan tersebut Punishment”
otomatis proses hukum berhenti. Peluang-
seperti ini perlu diberikan mengingat adanya
hubungan khusus (suami istri), keputusan
proses ditentukan oleh si Istri sendiri .
Berkaitan dengan hal ini, beberapa
alternatif formulasi tindak pidananya adalah:

526
Nanik Trihastuti dan Pujiyono, Rekonstruksi Hukum Perlindungan dan Penegakan HAM
C. Simpulan dan Saran karena ketidaktahuannya bahwa suami
Berdasarkan hasil penelitian dan mengidap HIV/AIDS. Peristiwa ini menunjukkan
pembahasan dapat ditarik kesimpulan, sebagai terjadinya gender related violence yang
berikut: dimaknai sebagai kekerasan gender yang
1. Rekonstruksi terhadap Konsep Perlindungan disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan
dan Penegakan HAM untuk Mencegah Risiko yang ada dalam masyarakat , yaitu bentuk
Tertular HIV/AIDS dari Suami kepada Istrinya pemerkosaan terhadap perempuan dalam
mendesak untuk dilakukan mengingat telah perkawinan yang terjadi karena suami
terjadi gender inequalities (ketidakadilan melakukan paksaan terhadap istrinya untuk
gender) sebagi akibat dari adanya “gender mendapatkan pelayanan seksual tanpa
differences” yang berasal dari kebijakan kerelaan dari yang bersangkutan. Oleh karena
pemerintah, keyakinan, tafsir agama, „gender related violence “ ini terjadi dalam
keyakinan tradisi dan kebiasaan bahkan rumah tangga, yaitu dalam konteks hubungan
asumsi ilmu pengetahuan. Gender inequalities antara suami dan isteri, maka digunakan
ini disebabkan karena adanya potensi tidak konstruksi Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
didapatkannya informasi mengenai status sebagaimana dimaksudkan oleh Pasal 1 angka
suaminya sebagai pengidap HIV/AIDS, 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004
meskipun sebenarnya hal tersebut merupakan tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
hak isteri untuk memastikan bahwa dirinya Rumah Tangga,, dengan menggunakan
tidak akan tertular . Hal ini disebabkan adanya beberapa alternatif formulasi delik (tindak
kekhawatiran munculnya stigma dan perlakuan pidana), yaitu sebagai delik materiil, delik formil
diskriminatif dari masyarakat, sehingga suami dan delik aduan.
menutup diri untuk memberikan informasi, Berdasarkan simpulan di atas, maka dapat
serta adanya potensi pemaksaan untuk disampaikan saran sebagai berikut :
melakukan hubungan seks tanpa pelindung 1. Oleh karena proses kriminalisasi terjadi dalam
yang akan mengakibatkan penularan HIV/ konteks hubungan suami isteri dan berkaitan
AIDS kepada isteri. Gender inequalities dengan persoalan penularan HIV/AIDS yang
berkaitan dengan potensi risiko penularan dan sangat peka di dalam masyarakat, maka
potensi terhadap pemaksaan untuk melakukan penggunaan sanksi pidana ini perlu dilakukan
hubungan seks ini belum mendapatkan dengan hati-hati
pengaturan dalam peraturan perundang- 2. Sosialisasi mengenai HIV/AIDS dan cara
undangan di Indonesia. penularan serta pencegahannya harus terus
2. Konsep hukum ideal yang didapatkan sebagai dilakukan agar masyarakat mampu mengambil
hasil rekonstruksi terhadap konsep tindakan protektif untuk mencegah penularan
perlindungan dan penegakan HAM ibu rumah HIV dan mengurangi stigma dan perlakuan
tangga terhadap risiko tertular HIV/AIDS dari diskriminatif terhadap OTDHA.
suami kepada isterinya, adalah dengan
melakukan kriminalisasi terhadap suami yang DAFTAR PUSTAKA
benar-benar tahu bahwa dirinya mengidap HIV/ Buku
AIDS dan penyakit tersebut akibat perilaku
Asshiddiqie, Jimly , Makalah, Lokakarya Nasional
seksual menyimpang /salah (zinah/”suka
Komnas Perempuan “Merawat dan
jajan”) dan dengan sengaja tidak
memberitahukan kepada istrinya bahwa dia Memenuhi Jaminan Hak Konstitusional
mengidap penyakit tersebut pada saat Warga Negara”, 19 Mei 2010, Jakarta,
melakukan hubungan suami istri. Jadi bukan Komnas Perempuan

527
Y.A. Triana Ohoiwutun, Sel Berfasilitas Istimewa

Chambliss, William J. dan Seidman, Robert B. Law,


1971, Order and Power, Addison-Wesley
Publishing Company
Irianto, Sulistyowati , Memperkenalkan Studi
Sosiolegal dan Implikasi Metodologisnya,
dalam Sulistyowati Irianto & Shidarta (ed.) ,
2011, Metode Penelitian Hukum : Konstelasi
dan Refleksi, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia,
Musdah Mulia, Siti, 2007, Islam & Inspirasi Kesetaraan
Gender, Yogyakarta: Kibar Press
Progress Report WHO SEARO, 2011, sebagaimana
dikutip dari Rencana Aksi Nasional
Pengendalian HIV dan AIDS Sektor
Kesehatan 2014-2019, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2013
Rahardjo, Satjipto, 2006, Hukum Dalam Jagat
Ketertiban, Jakarta: Penerbit UKI Press
Rahardjo, Satjipto, 2008, Negara Hukum yang
Membahagiakan Rakyatnya, Yogyakarta:
Genta Press
Savitri, Niken, 2008, HAM Perempuan : Kritik Teori
Hukum Feminis terhadap KUHP, Bandung:
Refika Aditama
Suseno, Franz -Magnis , Etika Politik, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama

Undang-Undang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Pokok-
Pokok Perkawinan
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga
Undang-Undang Nomor . 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran

528
529