Anda di halaman 1dari 11

Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

Oleh : Illinia Ayudhia Riyadi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang dihadapi di
Indonesia adalah terjadinya kesenjangan dan ketimpangan ekonomi yang begitu besar antar
provinsi. Hal ini dapat terlihat dari sebaran produk domestik regional bruto (PDRB) yang sebesar
58 persen terpusat di Pulau Jawa, sementara sisanya tersebar untuk pulau-pulau besar lainnya,
yakni Sumatera (23 persen); Kalimantan (9 persen), Sulawesi (5 persen); Nusa Tenggara,
Maluku dan Papua (4 persen); Bali (1 persen). Kondisi ini mengindikasikan bahwa kegiatan
ekonomi hanya terpusat di Pulau Jawa, sehingga jumlah uang beredar pun hanya bersirkulasi di
pulau tersebut, sementara pulau-pulau lainnya mengalami keterbatasan dalam pergerakan roda
ekonomi sehingga jumlah uang yang beredar pun terbatas pula.

Ketimpangan ekonomi juga terlihat antar provinsi di Indonesia. Tiga provinsi yang konsisten
kaya (ditandai dengan PDRB yang selalu mencapai nilai tertinggi dari tahun ke tahun) adalah
DKI Jakarta, Riau dan Kalimantan Timur. Sebagai pusat kegiatan bisnis dan pemerintahan,
tentunya kegiatan ekonomi berkembang begitu pesat di Jakarta. Tidak mengherankan bila
provinsi ini memiliki PDRB tertinggi dari tahun ke tahun. Adapun perekonomian Riau bergerak
dengan cepat salah satunya ditopang kuat oleh sektor perkebunan kelapa sawit sebagai
penunjang utama, sedangkan Kalimantan Timur ditopang oleh aktivitas pertambangan batubara
di sana. Kegiatan ekonomi yang dilakukan pada masing-masing tiga provinsi tersebut
menyebabkan roda perekonomian di sana bergerak sehingga menciptakan aktivitas yang
menggerakkan perputaran uang.

Ironisnya, provinsi Maluku dan Nusa Tenggara merupakan provinsi di Indonesia yang konsisten
miskin. Hal ini mengindikasikan tidak adanya aktivitas perekonomian yang berkembang secara
signifikan di sana, sehingga menyebabkan perputaran uang beredar pun terbatas. Rakyat yang
hidup provinsi tersebut pun secara konsisten mengalami kemiskinan menahun. Kondisi ini
memang sudah banyak disadari oleh banyak kalangan, baik pemerintah maupun akademisi.
Namun, sejauh ini, pembahasan mengenai ketimpangan ekonomi di Indonesia hanya menjadi
suatu wacana yang dibahas di berbagai forum, tanpa adanya tindak lanjut penjabaran secara
konkret langkah-langkah yang harus diterapkan dalam mengatasi ketimpangan tersebut. Intinya,
solusi dalam mengatasi masalah ketimpangan ini harus diarahkan pada usaha menciptakan
aktivitas ekonomi yang berkelanjutan di masing-masing provinsi yang sesuai dengan karakter
budaya dan masyarakat provinsi tersebut.

Pentingnya Kebijakan Moneter di Tingkat Daerah

Solusi dalam memecahkan masalah ketimpangan antar daerah ini perlu didukung oleh kebijakan
moneter di tingkat daerah. Saat ini, kebijakan moneter yang dipengang oleh Bank Indonesia
hanya fokus pada tataran makroekonomi saja. BI hanya fokus menjalankan tugasnya
mengendalikan nilai rupiah melalui instrumen penetapan tingkat bunga acuan (BI Rate).
Penetapan BI rate ini memang penting, karena dibutuhkan untuk mengendalikan tingkat investasi
maupun aliran modal. Namun, manfaat yang dari penetapan instrumen BI rate ini hanya
dirasakan di level makro saja. Penetapan BI rate yang tepat tidak serta merta membawa
perubahan terhadap struktur perekonomian provinsi-provinsi di daerah. Dengan demikian,
diperlukan kebijakan moneter yang mampu memberikan efek secara menyeluruh, tidak hanya di
level makro saja tetapi juga harus mencakup tataran di level mikro.

Kebijakan moneter yang mampu mempengaruhi perekonomian di daerh perlu diimplementasikan


sesegera mungkin. Kebijakan tersebut dapat dilakukan melalui penetapan jumlah uang beredar di
masing-masing daerah, tidak hanya mencakup level provinsi saja, tetapi juga level
kotamadya/kabupaten. BI harus dapat menetapkan jumlah uang beredar yang ideal harus tersedia
di tiap provinsi agar kegiatan perekomiannya bergerak. Penetapan jumlah uang beredar di tiap
provinsi itu harus mempertimbangkan luas wilayah, jumlah penduduk dan skala usaha ekonomi
dari provinsi tersebut. Dengan adanya penetapan jumlah uang beredar di tiap provinsi oleh BI,
maka diharapkan kebijakan moneter tersebut dapat efektif menggerakan roda perekonomian di
tiap provinsi di Indonesia.

Pentingnya Kebijakan Fiskal di Tingkat Daerah

Kebijakan moneter di tingkat daerah melalui penetapan jumlah uang beredar di tiap provinsi
tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya sinergi dengan kebijakan fiskal. Kebijakan
fiskal diperlukan untuk mengarahkan pengaliran uang ke daerah-daerah melalui berbagai
program pembangunan yang telah direncanakan. Melalui instrumen belanja pemerintah, maka
perlu adanya penjabaran proyek-proyek pembangunan yang penting untuk dilakukan dalam
rangka memberikan multiplier effect terhadap pergerakan roda perekonomian di daerah atau
provinsi di Indonesia. Pelaksanaan proyek pembangunan di tingkat daerah harus diarahkan
sedemikian rupa hingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di daerah tersebut.
Perlu diingat bahwa pelaksanaan proyek pembangunan di daerah bukan ditujukan sebagai “aji
mumpung” memperkaya kontraktor, tetapi harus memberdayakan masyarakat, menciptakan
lapangan kerja dan membantu dalam sirkulasi pergerakan jumlah uang beredar di daerah.
Pelaksanaan proyek pembangunan di daerah diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
setempat sehingga mengurangi disparitas ekonomi yang terjadi selama ini.

Komitmen Bersama

Memang, upaya untuk mengatasi ketimpangan ekonomi yang terjadi antar daerah/provinsi di
Indonesia melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter tidaklah mudah untuk diterapkan. Hal ini
disebabkan karena begitu banyak pemangku kebijakan (stake holder) yang terlibat dapat
pengaturan kebijakan fiskal maupun moneter. Implementasi kebijakan fiskal cenderung
memiliki time lag yang cukup panjang karena butuh persetujuan dari berbagai stake
holder sebelum tahap implementasinya. Permasalahan time lag antar kebijakan fiskal maupun
moneter inilah yang harus dijembatani secara bijak. Perlu adanya komitmen bersama dari
berbagai pemangku kebijakan untuk memecahkan masalah ketimpangan ekonomi ini melalui
sinergi kebijakan fiskal maupun moneter. Apabila sinergi dari kedua kebijakan ini dapat
diimplementasikan dengan baik, maka masalah ketimpangan ekonomi antar daerah akan dapat
terpecahkan. Masyarakat daerah di luar Pulau Jawa dapat turut menikmati hasil pembangunan
ekonomi dan merasakan peningkatan kesejahteraan secara signifikan.

Pemekaran wilayah merupakan strategi mempercepat proses pembangunan Indonesia

Pemekaran daerah secara intensif berkembang di Indonesia sebagai salah satu jalan untuk
pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Setelah
berjalan lebih dari lima tahun, banyak pihak ragu apakah tujuan pemekaran tersebut dapat
tercapai atau tidak. Meski saat ini pemekaran tidak dapat dielakkan lagi dalam situasi politik
yang terjadi namun upaya membangun penilaian yang lebih obyektif akan bermanfaat dalam
menentukan arah kebijakan pemekaran selanjutnya.

Studi ini menyimpulkan bahwa selama lima tahun berjalan posisi daerah induk dan kontrol selalu
lebih baik dari daerah otonom baru dalam semua aspek. Oleh karena itu diperlukan masa
persiapan sebelum dilakukan pemekaran, baik pengalihan aparatur, dan penyiapan infrastruktur
perekonomian dan pemerintahan. Satu hal yang pasti adalah pembagian potensi ekonomi yang
merata menjadi syarat mutlak agar daerah otonom baru dapat sebanding dengan daerah induk.
Dalam jangka pendek juga diperlukan perubahan pola belanja aparatur dan pembangunan yang
akan menciptakan permintaan barang dan jasa setempat serta dukungan penuh terhadap
pengembangan sektor pertanian sebagai basis ekonomi daerah otonom baru.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa daerah-daerah pemekaran yang menjadi cakupan wilayah
studi, secara umum memang tidak berada dalam kondisi awal yang lebih baik dibandingkan
daerah induk atau daerah kontrol. Namun setelah lima tahun dimekarkan, ternyata kondisi daerah
otonom baru (DOB) juga secara umum masih tetap berada di bawah kondisi daerah induk dan
daerah kontrol. Pertumbuhan ekonomi daerah otonom baru (DOB) lebih fluktuatif dibandingkan
dengan daerah induk yang relatif stabil dan terus meningkat. Memang pertumbuhan ekonomi
daerah pemekaran (gabungan DOB dan daerah induk) menjadi lebih tinggi dari daerah-daerah
kabupaten lainnya, namun masih lebih rendah dari daerah kontrol. Hal ini berarti, walaupun
daerah pemekaran telah melakukan upaya memperbaiki perekonomian, di masa transisi
membutuhkan proses, belum semua potensi ekonomi dapat digerakkan. Sebagai leading sector di
daerah DOB, sektor pertanian sangat rentan terhadap gejolak harga, baik harga komoditi maupun
hal-hal lain yang secara teknis mempengaruhi nilai tambah sektor pertanian. Oleh karena itu,
kemajuan perekonomian DOB sangat tergantung pada usaha pemerintah dan masyarakat dalam
menggerakkan sektor tersebut. Porsi perekonomian daerah DOB yang lebih kecil dibandingkan
daerah lain dalam perekonomian satu wilayah (propinsi) mengindikasikan, bahwa secara relatif
daerah DOB belum memiliki peran dalam pengembangan perekonomian regional.
Keputusan untuk memekarkan suatu daerah harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sangat
penting untuk mempersiapkan suatu daerah yang menginginkan pemekaran. Periode persiapan
ini perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dalam periode masa persiapan yang bisa jadi
mencapai 10 tahun, maka pemerintah pusat dan daerah induk dapat melakukan fasilitasi dan
persiapan hal-hal berikut: pengangkatan dan pengalihan aparatur pemerintahan sesuai fungsi dan
kapasitasnya, penyiapan infrastruktur perekonomian dan fasilitas pemerintahan, serta
infrastruktur penunjang bagi aparatur pemerintah beserta keluarganya. Setelah seluruh persiapan
dan fasilitasi tersebut diberikan dalam waktu yang memadai, maka evaluasi selanjutnya akan
menentukan apakah daerah tersebut memang akhirnya layak untuk dimekarkan atau tidak. Selain
persiapan dan pemberian fasilitasi, sumber daya yang adapun perlu diatur pembagiannya dengan
seksama. Sumber daya tersebut meliputi: sumber daya alam, sumber daya manusia dan
infrastruktur penunjang lainnya.

Pembagian yang tidak merata atau memiliki kesenjangan yang terlalu besar akan berimplikasi
pada tidak adanya perubahan yang signifikan, khususnya di daerah DOB. Oleh karena itu, peran
pemerintah pusat dalam pembagian daerah pemekaran perlu dipertegas dalam perundangan yang
berlaku. Pada aspek perekonomian daerah DOB, program-program pemerintah sebaiknya
diarahkan pada upaya mendukung sektor utama yakni pertanian dalam arti luas, baik
ketersediaan infrastuktur penunjang maupun tenaga-tenaga penyuluh di lapangan, dan lain
sebagainya. Pengembangan sektor-sektor lainnya diarahkan pada upaya mendukung sektor
utama sehingga percepatan di daerah pemekaran dapat terwujud. Di sektor pendidikan, studi
yang lebih mendalam diperlukan untuk melihat penurunan angka partisipasi sekolah di daerah
baru. Secara nyata diperlukan adanya perubahan pola belanja aparatur dan pembangunan di
kabupaten setempat, sehingga dalam jangka pendek akan tercipta permintaan barang dan jasa
yang dapat mendukung terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pola belanja
aparatur juga diarahkan secara langsung pada peningkatan pelayanan publik, baik secara fisik
maupun non fisik. Sehingga dalam jangka panjang keuangan pemerintah sendiri akan
meningkatkan pendapatan dan kemandirian fiskal.
Pengembangan SDM dan kewirausahaan berperan dalam kemajuan daerah

Tujuan penelitian atau penulisan ini adalah untuk mengidentifikasi kontribusi


kewirausahaan secara umum terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan
pembangunan Indonesia, serta bagaimana peran dan perkembangan kewirausahaan dalam
menghadapi tantangan perekonomian Indonesia di masa yang akan datang serta bagaimana
meningkatkan daya saing dan kualitas operasional kewirausahaan dalam menghadapi
perekonomian global.
Kewirausahaan bertujuan meningkatkan daya saing, menyediakan lapangan kerja,
mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Perkembangan kewirausahaan terus meningkat yang
sampai saat ini di Indonesia terdapat 52,6 juta usaha mikro kecil dan menengah (Bisnis.Com, 7
Maret 2013). Perkembangan kewirausahaan yang terus meningkat harus diimbangi dengan aspek
dan strategi serta peran pemerintah yang dapat mengoptimalkan potensi kewirausahaan.
Keberhasilan pembangunan UMKM (kewirausahaan) dari aspek kualitatif menurut
Nasution antara lain dicerminkan dari meningkatnya pemahaman tentang berwirausaha dan
meningkatnya kewirausahaan dan kualitas produk yang berdampak langsung terh\adap
peningkatan daya saing kewirausahaan.
Globalisasi dn liberalisasi merupakan sebuah kenyataan, wirausaha masa kini tidak bisa
lagi menghindar dari situasi dan kondisi perdagangan bebas dunia, apalagi kalau ingin berperan
lebih besar di perekonomian dunia. Untuk menghadapi tantangan tersebut, dibutuhkan wirausaha
-wirausaha yang tahan banting, punya daya saing global dan memegang nilai-nilai luhur dan
cinta pada negerinya. Mudradjad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia tanggal 21 Oktober
2008 mengemukakan bahwa kewirausahaan terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive
karena 1) tidak memiliki utang luar negeri, 2) tidak banyak utang ke perbankan karena dianggap
unbankable , 3) menggunakan input local , 4) berorientasi ekspor.
Untuk menumbuhkembangkan dan menghadapi tantangan perlu kebijakan dan strategi
dari pemerintah yang memberikan perhatian bagi para wirausaha dalam meningkatkan daya
saing dan kualitas kewirausahaan dalam menghadapi krisis finansial global. Hasil penelitian
atau penulisan ini menjelaskan bahwa kewirausahaan memiliki kontribusi terhadap
perekonomian Indonesia terdapat faktor-faktor yang menjadi tantangan terhadap perkembangan
kewirausahaan, serta faktor ke wirausahaan mempunyai peran penting dalam peningkatan
kapabilitas kewirausahaan di Indonesia.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka penulis menarik kesimpulan dari makalah yang
berjudul “Peran dan Strategi Perkembangan Kewirausahaan dan Tantangannya Dalam
Menghadapi Perekonomian Di Masa Yang Akan Datang” sebagai berikut :

1. Kewirausahaan saat ini tidak bisa lagi menghindar dari situasi dan kondisi perdagangan bebas
dunia, wirausaha perlu akses pasar sebesar-besarnya ke pasar dunia, dan sebaliknya juga dituntut
oleh pelaku uasaha global untuk membuka pasar domestik.
2. Untuk menghadapi tantangan dalam menghadapi perekonomian di masa yang akan datang,
dibutuhkan wirausaha-wirausaha yang tahan banting, punya daya saing global dan memegang
nilai-nilai luhur dan cinta pada negerinya.
3. Kewirausahaan dirasakan semakin penting peranannya dalam pengembangan perekonomian
nasional, kewirausahaan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kontribusinya
pada peningkatan pertumbuhan perekonomian sekaligus pemerataan pertumbuhan ekonomi.
4. Dengan memperhatikan karakter dan kebiasaan warga Indonesia serta memahami
kewirausahaan sebagai implementasi kemandirian, pola pendekatan kewirusahaan yang sesuai
dikembangkan di Indonesia adalah mendorong peningkatan kegairahan berwirausaha dengan
arahan kebijakan yang memberikan kemudahan yang harus didukung oleh pemerintah.
5. Intervensi pemerintah yang bersifat top – down tetap diperlukan tetapi sebaliknya tidak terlalu
jauh agar tidak kontra produktif dan pada situasi seperti ini peran serta pemerinta sangat
dibutuhkan tetapi diarahkan untuk yang sifatnya mendukung dan mengapresiasi kewirausahaan.
6. Dalam rangka pengembangan kewirausahaan nasional yang lebih efektif perlu
dipertimbangkan untuk membentuk lembaga koordinasi pengembangan kewirausahaan nasional
yang tetap menjaga aspek sinergi dan kebersamaan dari segenap komponen bangsa dengan
memberikan akses koordinasi yang lebih terstruktur.
7. Potensi pengembangan kewirausahaan yang sudah tersedia di banyak kementerian, lembaga,
dunia usaha, BUMN, perguruan tinggi, sekolah dan masyarakat pada umumnya akan
menghasilkan jutaan wirausaha baru yang kreatif, inovatif dan berdaya saing global bila
dikoordinasikan dengan baik.
Selain Faktor modal dan kemajuan teknologi adapun faktor sumber daya alam dan sumber
daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu Negara.
Sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu Negara merupakan anugerah yang perlu disyukuri,
sebab tidak semua Negara memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan lengkap.
Sumber daya alam seperti hutan dengan segala isinya, hasil pertambangan sudah sewajarnya
digunakan untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakatnya. Dalam konsep pembangunan
yang berkelanjutan, sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomis tinggi hendaknya tidak
dieksploitasi. Sebab keberadaannya perlu dipikirkan untuk generasi yang akan datang. Jangan
sampai hasil hutan dijarah habis sehingga mengakibatkan hutan gundul dan pada gilirannya
dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya alam
haruslah dilakukan secara bertanggung jawab. Artinya harus dilakukan secara bijaksana untuk
melestarikan persediaan sumber daya alam tersebut, sehingga generasi sekarang dan
mendatang dapat menikmatinya. Pengelolaan sumber daya alam haruslah sedemikian rupa,
sehingga sumber daya alam itu selalu dapat ditingkatkan persediaannya melalui usaha
eksplorasi dan eksploitasi, peningkatan efisiensi proses produksi serta dengan bantuan
teknologi untuk dapat meningkatkan proses daur ulang. Berdasarkan hal tersebut diatas, dalam
pengelolaan sumber daya alam diperlukan suatu kebijakan yang bertanggung jawab.

Penduduk, masyarakat atau istilahnya sumber daya manusia merupakan aset penting dalam
pembangunan mengingat penduduk sebagai agent of development, sehingga tidaklah
berlebihan bila dikatakan berhasil tidaknya pembangunan ditentukan oleh sikap penduduk
selama proses pembangunan berlangsung.

Sumber daya manusia sebagai agent of development, pelaksana dan penentu berhasil tidaknya
pembangunan. Sumber daya manusia merupakan faktor produksi dalam proses pembangunan,
sehingga bentuk dan sistem yang ada merupakan produk dari sumber daya manusia yang
dimiliki. Sumber daya manusia yang handal merupakan asset dalam pembangunan.
Permasalahan muncul apabila sumber daya manusia yang dimiliki sangat terbatas dengan
kualitas yang sangat rendah. Di Negara sedang berkembang pada umumnya sumber daya
manusia yang dimiliki melimpah dengan kualitas yang rendah. Dengan kondisi seperti ini jelas
sangat menghambat proses pembangunan. Oleh karena itu perlu adanya manajemen sumber
daya manusia yang baik. Manusia merupakan sumber daya yang paling penting bagi suatu
organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuannya. Berapun sempurnanya aspek teknologi dan
keuangan, tampa didukung oleh manusianya, maka tujuan organisasi akan sulit dicapai. Atas
dasar itulah maka faktor sumber daya manusia perlu dibina dan dikembangkan.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, maka diperlukan suatu strategi
pembangunan sumber daya manusia. Salah satu strategi pengembangan sumber daya manusia
baik itu perusahaan ataupun pemerintahan adalah pengembangan sistem pendidikan dan
pelatihan yang sesuai, pengembangan sistem penilaian prestasi kerja dan sistem pemberian
imbalan, mengefektifkan pelaksanaan rekrutmen dan seleksi, perencanaan anggaran untuk
sumber daya manusia serta membina hubungan dan komunikasi karyawan.

Modal manusia dapat menjadi sumber daya manusia yang handal dalam pembangunan apabila
kualitasnya tinggi. Dalam hal ini sumber daya manusia dalam pembangunan memiliki peranan
penting dalam kaitannya untuk meningkatkan kualitas pembangunan dan menjaga
kelangsungan pembangunan itu sendiri. Era informasi dan teknologi yang berkembang dewasa
ini semakin membuktikan bahwa penguasaan teknologi yang baik akan berdampak pada
kualitas maupun kuantitas pembangunan itu sendiri. Agar teknologi dapat dikuasai, maka
dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Guna mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibutuhkan beberapa upaya
diantaranya adalah dengan melakukan pengembangan sumber daya manusia. Beberapa upaya
untuk mengembangkan sumber daya manusia, diantaranya adalah terdapatnya pendidikan
yang diorganisasikan secara formal pada tingkat dasar, menengah dan pendidikan pada tingkat
tinggi. Mamfaat dari adanya pendidikan bagi pembangunan ekonomi bagi suatu bangsa secara
umum dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif, karena adanya peningkatan
pengetahuan dan keahlian dan tersedianya kesempatan kerja yang lebih luas.

Keterkaitan SDM dan SDA sebagai Modal Pembangunan Pembangunan suatu bangsa
memerlukan aspek pokok yang disebut dengan sumber daya (resources) baik SDA atau Natural
resources maupun SDM atau human resources.
Kedua sumber daya ini sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu pembangunan.
Namun untuk mendukung suatu pembangunan, SDM adalah yang terpenting , karena jika sebuah
negara memiliki suatu SDM yang terampil dan berkualitas maka ia akan mampu mengelola SDA
yang jumlahnya terbatas.

Untuk Negara-negara berkembang, dimana terdapat “Labour Surplus Economy” artinya modal
pembangunan tak dapat dituangkan hanya pada tersedianya atau kemungkinan tersedianya dana
investasi.Pembanguan tersebut akan terlalu mahal dan juga akan mengalami hambatan apabila
sesuatu waktu sumber investasi menjadi terbatas, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari
masyarakat. Selain itu jumlah SDM yang besar hendaknya dijadikan sebagai keunggulan karena
jumlah penduduk yang besar apabila dapat dibina dan dikerahkan sebagai tenaga kerja yang
efektif akan merupakan modal pembangunan yang besar yang sangat menguntungkan bagi usaha
– usaha disegala bidang. Antara dinamika jumlah penduduk dan proses pertumbuhan ekonomi
terdapat hubungan timbal balik yang erat. Hubungan ini dicerminkan dalam hal bahwa penduduk
merupakan factor dinamika pokok pertumbuhan ekonomi memberikan pengaruh yang aktif
terhadap dinamika besarnya penduduk di pihak lain, sehingga pada saat tertentu akan terjadi
suatu keseimbangan rasional antara jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi timbul pada dasarnya dalam bentuk :
Pertama, penduduk sebagai konsumen. Syarat-syarat terpenting untuk pertumbuhan ekonomi
yang seimbang adalah bahwa barang-barang yang dihasilkan betul-betul dibutuhkan masyarakat,
sebab justru penduduk merupakan konsumen tunggal barang-barang dan jasa-jasa. Dalam hal ini
penduduk merupakan factor utama perumbuhan ekonomi. Dengan adanya pengaruh penduduk
terhadap pertumbuhan ekonomi dari sudut pandang konsumen perlu dibedakan antara momen-
momen positif dan negative dari pengaruh tersebut. Pengaruh positif pertumbuhan jumlah
penduduk terhadap perkembangan ekonomi berkaitan dengan timbulnya tambahan permintaan
baru, yang dapat terjadi jika dalam sector produksi ditarik sumber-sumber tambahan. Timbulnya
permintaan tambahan itu pda akhirnya tercermin di dalam produksi, karena pemuasan kebutuhan
penduduk meningkat dengan adanya perbaikan penggunaan sumber-sumber produksi. Tetapi
pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi bersifat episodic. Pengaruh tersebut
biasanya mempunyai arti apabila dalam negeriterdapat simpanan yang secara nyata belum
digunakan atau sumber-sumber lain yang mungkin ditarik ke dalam perputaran perekonomian.
Dan Pertumbuhan penduduk yang cepat akan berpengaruh secara negative terhadap pertumbuhan
perekonomian nasional, jika penduduk yang tidak bekerja disbanding yang bekerja bertambah
sampai tingkat tertentu. Misalnya pada Negara-negara yang tingkat perekonomianya masih
rendah. Kedua, penduduk sebagai sumber tenaga kerja. Pertambahan jumlah penduduk
merupakan sumber tenaga kerja baru, oleh karena itu merupakan factor pertumbuhan ekonomi.
Dalam hal ini tenaga kerja tersebut dapat bekerja secara produktif dan akhirnya dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi. Secara Umum tingkat pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi daripada
tingkat pertumbuhan penduduk atau tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita harus lebih
tinggi dari pada tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan demikian penekanan pada pertumbuhan
ekonomi itu sangat penting, tetapi harus dikoreksi dengan azas keadilan soaial melalui
kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan.

Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/11645001#readmore