Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis ( TB ) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis (MTB) 1. Jalan masuk untuk organisme MTB adalah
saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Sebagian besar
infeksi TB menyebar lewat udara, melalui terhirupnya nukleus droplet yang berisikan
organisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi2. Bakteri ini bila sering masuk
dan terkumpul di dalam paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada
orang dengan daya tahan tubuh yang rendah) dan dapat menyebar melalui pembuluh
darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TB dapat menginfeksi
hampir seluruh organ tubuh seperti: paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang,
kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling
sering terkena yaitu paru.1
Menurut laporan WHO tahun 2013, diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB
pada tahun 2012 dimana 1,1 juta orang (13%) diantaranya adalah pasien TB dengan
HIV positif. Diperkirakan terdapat 2,9 juta kasus TB pada tahun 2012 dengan jumlah
kematian karena TB mencapai 410.000 kasus termasuk diantaranya adalah 160.000
orang wanita dengan HIV positif.3

Diagnosis TB ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan bakteriologis.
Hanya 5% penderita TB fase awal yang memberikan gejala klinis, sehingga sulit
mendapatkan sputum untuk pemeriksaan bakteriologis. Untuk dapat melakukan
pemeriksaan sputum BTA dibawah mikroskop, dibutuhkan kuman baru yang
jumlahnya paling sedikit 5000 kuman dalam satu mililiter dahak. Sebuah penelitian di
San Fransisco menyatakan bahwa 17% penderita TB memiliki hasil sputum BTA (-).
Oleh karena itu, apabila diagnosis TB paru ditegakkan semata-mata berdasarkan
pemeriksaan BTA (+), akan banyak penderita TB paru yang tidak terdiagnosis.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis
sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi
terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.1,4,5

B. Epidemiologi
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia, dan
sebagian besar negara-negara di dunia.4 Laporan TB dunia oleh WHO yang
terbaru (2006), masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar
nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar
539.000 dan jumlah kematian sekitar 101.000 pertahun. Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 1995, menempatkan TB sebagai penyebab kematian ketiga
terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan
merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.6 Baik di
Indonesia maupun di dunia, TB masih tetap menjadi problem kesehatan dunia
yang utama. Walaupun sudah lebih dari seabad sejak penyebabnya ditemukan
oleh ilmuwan Jerman, Robert Koch, pada tahun 1882, TB belum dapat diberantas
bahkan terus berkembang.2 Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat pada
saat ini diduga disebabkan oleh berbagai hal, yaitu (1) diagnosis yang tidak tepat,
(2) pengobatan yang tidak adekuat, (3) program penanggulangan tidak
dilaksanakan dengan tepat, (4) infeksi endemik human immuno-deficiency virus
(HIV), (5) migrasi penduduk, (6) mengobati sendiri (self treatment), (7)
meningkatnya kemiskinan, dan (8) pelayanan kesehatan yang kurang memadai.4,7

2
C. Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium
bovis, sangat jarang disebabkan oleh Mycobacterium avium. Mycobacterium
merupakan kuman batang tahan asam, yang dapat hidup selama berminggu-
minggu dalam keadaan kering, tapi mati dengan suhu 60°C dalam cairan suspensi
selama 15-20 menit. Mycobacterium memiliki ukuran panjang 1-4/um dan tebal
0,3-0,6/um 1
Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak ( Lipid ). Lipid inilah
yang membuat kuman Jebih tahan terhadap asam sehinnga disebut bakteri tahan
asam (BTA) . Kuman dapat tahan hidup pada keadaan kering maupun dingin,
karena kuman berada dlam keadaan dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat
bangkit kembali dan menjadi aktif kembali.

Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyukai jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan
oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari bagian lain, sehingga
bagian apikal paru-paru merupakan tempat predileksi tuberkulosis.

D. Patofisiologi
Penyakit TB dapat berkembang pada seseorang melalui dua cara. Yang pertama
dapat terjadi pada seseorang yang telah beberapa tahun terinfeksi TB dan telah
sembuh sempurna. Ketika kesehatannya menurun karena penyakit lain seperti
AIDS atau diabetes, atau karena penyalahgunaan alkohol maupun kurangnya
kepedulian terhadap kesehatan karena menjadi tuna wisma, infeksi TB dapat
menjadi penyakit TB. Pada cara ini, seseorang dapat menjadi sakit beberapa bulan
atau bahkan beberapa tahun setelah mereka menghirup kuman TB.2
Kuman TB dalam droplet nuclei yang terhirup dapat mencapai alveolus.
Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme imunologis
nonspesifik. Makrofag alveolus akan memfagosit kuman TB di mana sebagian
besar kuman TB akan hancur. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag

3
tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam
makrofag. Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang biak akan
menyebabkan makrofag mengalami lisis, dan kuman TB membentuk koloni di
tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut fokus
primer Ghon.1,2

Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju


kelenjar limfe regional. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di
saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika
fokus primer terletak di lobus bawah atau tengah, kelenjar limfe yang terlibat
adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika fokus primer terletak di apeks
paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan
gabungan antara fokus primer, kelenjar limfe regional yang membesar
(limfadenitis), dan saluran limfe yang meradang (limfangitis).1,2

Setelah imunitas seluler terbentuk, fokus primer di jaringan paru biasanya


mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah
mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan
mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi penyembuhannya tidak sesempurna
fokus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama
bertahun-tahun dalam kelenjar ini.1,2

Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. Komplikasi yang terjadi


dapat disebabkan oleh fokus di paru atau di kelenjar limfe regional. Fokus primer
di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis dan pleuritis fokal. Jika
terjadi nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan keluar
melalui brokus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas).

Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi


penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman
menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Sedangkan
pada penyebaran hematogen, kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan

4
menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang
menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.1,2

E. Diagnosis TB Paru
Dalam upaya pengendalian TB secara nasional, maka diagnosis TB paru pada
orang dewaswa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan
bakteriologis, yaitu pemeriksaan mikroskopis langsung, dan biakan dan tes cepat.3
Apabila pemeriksaan bakteriologis negatif, maka penegakan diagnosis TB
dapat dilakukan secara klinis dan penunhjang (setidak-tidaknya pemeriksaan foto
toraks) yang sesuai dan ditegakkan oleh dokter yang terbiasa menangani TB.3
Pada sarana terbatas, penegakkan diagnosis secara klinis dilakukan setelah
pemberian terapi antibiotika spectrum luas (Non OAT dan Non Kuinolon) yang
tidak memberikan perbaikan klinis.3
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis dan
pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran
spesifik pada TB paru, sehingga dapat menyebabkan overdiagnosis atau
underdiagnosis.

F. Pemeriksaan Radiologi pada Tuberkulosis


Rekomendasi World Health Organization (WHO) mengenai pemeriksaan X-foto
toraks pada tuberkulosis:
 X-foto thoraks adalah alat diagnostic sensitif untuk skrining tb aktif. X-
foto thoraks memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk skrining TB
paru dibandingkan skrining untuk gejala TB.8
 X-foto thoraks yang abnormal adalah indikasi untuk evaluasi diagnostik
lengkap. Semua pasien dengan temuan radiologis sugestif TB pada X-foto
thoraks harus dievaluasi untuk TB dengan uji diagnostik bakteriologis. X-
foto thoraks dapat digunakan sebagai diagnostik tambahan, meskipun

5
spesifitasnya rendah. Diagnosis yang dikonfirmasi secara bakteriologis
selalu lebih disarankan.9
 X-foto thoraks adalah alat diagnostik penting pada TB anak. X-foto
thoraks berguna dalam mendiagnosis TB paru dan TB ekstra paru pada
anak yang dikombinasikan dengan riwayat, bukti infeksi TB dan
pengujian mikrobiologi.10
 X foto thoraks bisa membantu dalam mendiagnosa tb pada pasien dengan
HIV, sebelum menyediakan pengobatan untuk infeksi TB laten.11
 X- foto toraks dapat dijadikan alat skrining yang diperlukan untuk
mengidentifikasi partisipan yang memenuhi syarat untuk pemeriksaan
bakteriologis.12

Kelainan pada foto toraks bisa sebagai usul tetapi bukan sebagai diagnosa utama
pada TB. Namun, Foto toraks bisa digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan
TB paru pada orang-orang yang dengan hasil tes tuberkulin ( +) dan tanpa
menunjukkan gejala.13

1. Bila klinis ditemukan gejala tuberkulosis paru, hampir selalu ditemukan


kelainan pada foto roentgen.
2. Bila klinis ada dugaan terhadap penyakit tuberkulosis paru, tetapi pada
foto roentgen tidak terlihat kelainan, maka ini merupakan tanda yang kuat
bukan tuberkulosis.
3. Sebaliknya, bila tidak ada kelainan pada foto toraks belum berarti tidak
ada tuberkulosis, sebab kelainan pertama pada foto toraks baru terlihat
sekurang -kurangnya 10 minggu setelah infeksi oleh basil tuberkulosis.
4. Sesudah sputum positif pada pemeriksaan bakteriologi, tanda tuberkulosis
yang terpenting adalah bila ada kelainan pada foto toraks.
5. Ditemukannya kelainan pada foto toraks belum berarti bahwa penyakit
tersebut aktif.

6
6. Dari bentuk kelainan pada foto roentgen memang dapat diperoleh kesan
tentang aktivitas penyakit, namun kepastian diagnosis hanya dapat
diperoleh melalui kombinasi dengan hasil pemeriksaan klinis/laboraturis.
7. Pemeriksaan roentgen penting untuk dokumentasi, menentukan lokalisasi,
proses dan tanda perbaikan ataupun perburukan dengan melakukan
perbandingan dengan foto-foto terdahulu.
8. Pemeriksaan roentgen juga penting untuk penilaian hasil tindakan terapi
seperti Pneumotoraks torakoplastik, torakoplastik dsb
9. Pemeriksaan roentgen tuberculosis paru saja tidak cukup dan dewasa ini
bahkan tidak boleh dilakukan hanya dengan fluoroskopi. Pembuatan foto
roentgen adalah suatu keharusan, yaitu foto posterior anterior (PA), bila
perlu disertai proyeksi-proyeksi tambahan seperti foto lateral, foto khusus
puncak AP-lordotik dan tekhnik-tekhnik khusus lainnya.

G. Gambaran Radiologis Tuberkulosis


1. Tuberkulosis paru primer.13
Lokasi kelainan biasanya terdapat pada satu lobus, dan paru kanan lebih
sering terkena, terutama di daerah lobus bawah, tengah dan lingula serta
segmen anterior lobus atas. Kelainan foto toraks pada tuberculosis primer
ini adalah adalah limfadenopati, parenchymal disease, miliary disease,
dan efusi pleura. Pada paru bisa dijumpai infiltrat dan kavitas. Salah satu
komplikasi yang mungkin timbul adalah Pleuritis eksudatif, akibat
perluasan infitrat primer ke pleura melalui penyebaran hematogen.
Komplikasi lain adalah atelektasis akibat stenosis bronkus karena
perforasi kelenjar ke dalarn bronkus. Baik pleuritis maupun atelektasis
pada anak-anak mungkin demikian luas sehingga sarang primer
tersembunyi dibelakangnya.

7
Gambar 1: Tuberkulosis primer pada pasien dewasa, gambaran radiologi paru kiri
menunjukan konsolidasi ekstensif pada lobus superior paru (kiri). Limfadenopati
pada pasien tuberkulosis primer (kanan).14

Gambar 2: Konsolidasi pada daerah apical pada pasien tuberkulosis paru primer.14

8
Gambar 3: Tuberkulosis milier, nodul 2-3 mm difus (kiri). CT scan paru menunjukan
nodul dengan distribusi yang random.14

2. Tuberkulosis paru sekunder


Tuberkulosis yang bersifat kronis ini terjadi pada orang dewasa atau
timbul reinfeksi pada seseorang yang semasa kecilnya pernah menderita
tuberculosis primer, tetapi tidak diketahui dan menyembuh sendiri.
Kavitas merupakan ciri dari tuberculosis sekunder.14 Bercak infiltrat yang
terlihat pada foto roentgen biasanya dilapangan atas dan segmen apikal
lobi bawah. Kadang-kadang juga terdapat di bagian basal paru yang
biasanya disertai oleh pleuritis. Pembesaran kelenjar limfe pada
tuberkulosis sekunder jarang dijumpai.

9
Gambar 4: Tuberkulosis post-primer, gambaran x-foto thorkas yang
menunjukan fibrosis pada lobus superior bilateral paru (kiri). Kavitas pada
apikal paru yang ditunjukan pada pemeriksaan CT-scan (kanan).14

Klasifikasikasi tuberkulosis sekunder menurut American Tuberculosis


Association ( ATA ).13

a. Tuberkulosis minimal : luas sarang-sarang yang kelihatan tidak melebihi


daerah yang dibatasi oleh garis median, apeks dan iga 2 depan, sarang-sarang
soliter dapat berada dimana saja. Tidak ditemukan adanya kavitas
b. Tuberkulosis lanjut sedang ( moderately advance tuberculosis ) : Luas sarang -
sarang yang berupa bercak infiltrat tidak melebihi luas satu paru. Sedangkan
bila ada kavitas, diameternya tidak melebihi 4 cm. Kalau bayangan sarang
tersebut berupa awan - awan menjelma menjadi daerah konsolidasi yang
homogen, luasnya tidak boleh melebihi 1 lobus paru .
c. Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberkulosis ) : Luas daerah yang
dihinggapi sarang-sarang lebih dari 1 paru atau bila ada lubang -lubang, maka
diameter semua lubang melebihi 4 cm.

H. Penatalaksanaan Tuberkulosis
1. Prinsip Pengobatan TB.3
Obat Anti Tuberkulosis adalah komponen terpenting dalam pengobatan
TB. Pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip:

10
 Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT yang tepat
mengandung minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya
resistensi.
 Diberikan dalam dosis yang tepat.
 Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO
(Pemgawas Menelan Obat) sampai selesai pengobatan.
 Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi
dalam tahap awal seta tahap lanjutan untuk mencegah
kekambuhan.
2. Tahapan pengobatan TB.3
Pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dan tahap
lanjutan dengan maksud:
 Tahap awal: pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan
pada tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efekif
menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan
meminimaisirpengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin
sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan
selama 2 bulan, pada umumnya dengan pengobatan secara teratur
dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun
setelah pengobatan selama 2 minggu.
 Tahap Lanjutan. Pengobatan tahap lanjutan merupakan tahap yang
penting untuk membunuh sisa kuman yang masih ada dalam tubuh
khususnya kuman persisten sehingga pasien dapat sembuh dan
mencegah terjadinya kekambuhan.
3. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia.3
a. Kategori 1 : 2(HRZE) / 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
 Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis
 Pasien TB paru terdiagnosis klinis

11
 Pasien TB ekstra paru

Gambar 5: Kisaran dosis OAT lini pertama pasien dewasa.

b. Kategori 2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah
diobati sebelumnya (pengobatan ulang):
 Pasien kambuh
 Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1
sebelumnya
 Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to
follow up)

I. Komplikasi

a. Komplikasi dini: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, Pancet’s

arthropathy.15
b. Komplikasi lanjut: Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis, fibrosis paru,
kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas.15

12
BAB III
RINGKASAN

1. Tuberkulosis ( TB ) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan


oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB).
2. Menurut laporan WHO tahun 2013, diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB
pada tahun 2012.
3. Diagnosis TB paru ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan bakteriologis dan pemeriksaan
radiologis.
4. X-foto thoraks adalah alat diagnostic sensitif untuk skrining tb aktif, alat
diagnostik penting pada TB anak, dan membantu mendiagnosa tb pada pasien
dengan HIV.
5. Gambaran radiologi x-foto thoraks pasien dengan TB paru primer adalah
konsolidasi yang biasanya terletak di bagian apeks dan gambaran
limfadenopati di daerah hilar.
6. Gambaran radiologis x-foto thoraks pada pasien dengan TB milier adalah
nodul 2-3 mm dengan distribusi random.
7. Gambaran radiologi pada pasien dengan tuberkulosis pasca primer/sekunder
adalah kavitas ataupun fibrosis pada daerah apikal paru.
8. Penanganan TB paru menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan
dosis dan penggunaan yang disesuaikan berdasarkan kategori pasien TB paru.
9. Komplikasi TB paru dapat bersifat dini seperti efusi pleura dan komplikasi
lanjut seperti Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis.

13
DAFTAR PUSTAKA
1. Amin Z, Bahar S. Tuberkulosis paru. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi
I , Simadibrata KM, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi
IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI , 2006:
998-1005, 1045-9.
2. Price. A,Wilson. L. M. Tuberkulosis Paru. Dalam: Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit, bab 4, Edisi VI. Jakarta: EGC, 2004 : 852-64
3. Gerakan Terpadu Nasional Penanganan TB. 2014. Buku Pedoman Nasional
Penanggulangan TB. edisi 1. cetakan pertama. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
4. Gerakan Terpadu Nasional Penanganan TB. 2007. Buku Pedoman Nasional
Penanggulangan TB. edisi 2. cetakan pertama. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2006. Tuberkulosis, Pedoman Diagnosis
dan Penatalaksanaan di Indonesia, Citra Grafika, Jakarta.
6. NN. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 27 Juli 2009. Diunduh
dari http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2007.pdf
7. Anonym. 2003. Prevalence and Incidence of Tuberculosis, (Cureresearch),
Available: http://www.Cureresearch.com/Tuberculosis/Prevalence.htm
(Akses: 18 Mei 2009)
8. World Health Organization. Systematic screening for active tuberculosis:
Principles and recommendations. Geneva: World Health Organization; 2013
(WHO/HTM/TB/2013.04;
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/84971/1/9789241548601_eng.pdf?ua
=1,accessed 27 September 2016).
9. TB Care I. International standards for tuberculosis care, third edition. The
Hague: TB CARE I; 2014
(http://www.who.int/tb/publications/ISTC_3rdEd.pdf, accessed 5 October
2016).

14
10. World Health Organization. Guidance for national tuberculosis programmes
on the management of tuberculosis in children, second edition. Geneva:
World Health
Organization;2014(WHO/HTM/TB/2014.03;http://apps.who.int/medicinedocs
/documents/s21535en/s21535en.pdf, accessed 5 October 2016).
11. International Commission on Radiology Education. In:International Society of
Radiology [website]. Reston, VA: International Society on Radiology; 2016
(http://www.isradiology.org/goed_tb_project/imaging.php, accessed 4
October 2016).
12. World Health Organization. Tuberculosis prevalence surveys: a handbook.
Geneva: World Health Organization; 2011 (WHO/HTM/TB/2010.17;
http://www.who.int/tb/advisory_bodies/impact_measurement_taskforce/resou
rces_documents/thelimebook/en/, accessed 5 October 2016).
13. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2005.
14. Burill J, Williams C, Bain G, Conder G, Hine A, Rakesh R. Tuberculosis: A
Radiologic Review. RadioGraphics. 2007;(5).
15. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis Paru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
6. Jakarta : Internal Publishing, 2014. h. 871.

15