Anda di halaman 1dari 7

Kekerasan di Tempat Kerja

Apakah anda pemarah, pernah memukul, meludahi, mengancam,

mengintimidasi, meneriaki, melecehkan (secara seksual maupun suku/asal (rasis))

ataupun mengasingkan bawahan maupun rekan kerja? Jika ya, maka berhati-hatilah,

karena anda telah melakukan kekerasan di tempat kerja.

Saat ini, kekerasan di tempat kerja dapat dikategorikan sebagai kejahatan yang

membutuhkan perhatian serius bagi para pemberi kerja, pembuat kebijakan/peraturan,

dan masyarakat.

Di beberapa media massa sering kita dengar berita mengenai pembunuhan di

tempat kerja, namun hal itu merupakan bagian kecil dari kecelakaan akibat kekerasan

di tempat kerja. Penyerangan, kekerasan domestik (dalam rumah tangga), ancaman,

pelecehan (termasuk pelecehan seksual), dan tekanan fisik maupun emosi, merupakan

kekerasan di tempat kerja yang sering tidak dilaporkan kepada perusahaan.

Survei kekerasan nasional, Departemen Keadilan Amerika Serikat menyatakan

bahwa terjadi kekerasan di tempat kerja sebanyak 1.7 juta selama tahun 1993-1999,

dan 95% diantaranya merupakan kekerasan yang sederhana namun sangat

mengganggu.

Survei Uni Eropa terhadap 15,800 pewawancara di 15 negara menunjukan

bahwa 4% (6 juta) pekerja mengalami kekerasan fisik, 2% (3 juta) mengalami

pelecehan seksual, dan 8% (12 juta) merasa terintimidasi dan dimarahi.

Di Inggris, survei kekerasan yang dilakukan oleh konsorsium pengecer Inggris

pada tahun 1995 menemukan bahwa lebih dari 11,000 pekerja merupakan korban dari
kekerasan fisik, dan 350,000 pekerja mengalami ancaman dan kekerasan verbal

selama tahun 1994-1995.

Kekerasan di tempat kerja sangatlah bervariasi, mulai dari tindakan yang

menyinggung atau ucapan yang mengancam sampai pembunuhan. NIOSH (National

Institute of Occupational Safety and Health – Lembaga Nasional Kesehatan dan

Keselamtan Kerja Amerika Serikat) mendefinisikan kekerasan di tempat kerja sebagai

tindak kekerasan (termasuk ancaman dan kekerasan fisik) yang ditujukan kepada

seseorang yang sedang bekerja atau sedang bertugas.

Berikut merupakan variasi dari perilaku kekerasan ditempat kerja: pembunuhan,

pemerkosaan, perampokan, membuat luka, serangan fisik, menendang, menggigit,

memukul, meludahi, mencakar, meremas, mencubit, pelecehan (termasuk seksual dan

merendahkan asal/suku), pemarah, intimidasi, ancaman, pengasingan dari pergaulan,

meninggalkan pesan yang menyinggung, postur yang mengancam, gerakan yang

kasar, mengganggu dengan alat kerja, sikap yang bermusuhan, sumpah serapah,

teriakan, memanggil dengan sebutan nama yang buruk, sindiran, dan mendiamkan

dengan sengaja.

Kekerasan di tempat kerja dapat digolongkan menjadi beberapa kategori:

Tipe 1, kekerasan yang dilakukan oleh penjahat yang tidak memiliki hubungan dengan

tempat kerja, yang bertujuan untuk melakukan perampokan ataupun kejahatan

lainnya.

Tipe 2, kekerasan pada pekerja oleh pelanggan, klien, pasien, murid, ataupun oleh

orang yang diberikan jasanya oleh perusahaan.


Tipe 3, kekerasan yang dilakukan oleh sesama pekerja, supervisor, atau manajer yang

masih bekerja ataupun mantan pekerja.

Tipe 4, kekerasan yang dilakukan di tempat kerja oleh orang yang tidak bekerja di sana,

namun mempunyai hubungan dengan pemberi kerja, seperti kerabat dan teman

yang suka menyiksa.

Pencegahan dari bahaya ini memerlukan 2 tingkatan. Tingkat pertama, bertujuan

untuk mencegah terjadinya kekerasan atau setidaknya mengurangi. Tingkat kedua, jika

tindak kekerasan sudah terjadi, yaitu dukungan yang dibutuhkan oleh orang yang

mengalami kekerasan, dukungan ini untuk meminimalisir efek yang berbahaya dan

mencegah timbulnya rasa bersalah dari si korban setelah kejadian sehingga dapat

mencegahnya membuat laporan/keluhan.

Komponen dari program pencegahan kekerasan di tempat kerja bisa mencakup

hal-hal berikut:

 Pernyataan kebijakan perusahaan mengenai kekerasan dan ancaman, seperti

peraturan mengenai penggunaan obat-obatan, alkohol, dan segala bentuk

penghinaan.

Tindakan pencegahan juga dapat dilakukan saat melakukan rekruitmen, dengan

mengidentifikasi dan menyaring orang-orang yang berpotensi melakukan tindak

kekerasan.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat peraturan yang melarang

penggunaan Napza/obat-obatan terlarang dan alkohol selama berada di tempat

kerja.
 Survei keamanan dan jajak pendapat

Identifikasi semua situasi/kondisi yang bermasalah dan faktor resiko para pekerja

dapat dilakukan untuk mengantisipasi kekerasan di tempat kerja yang mungkin

muncul.

Survei keamanan di tempat kerja dan penempatan supervisor keamanan yang

dapat mengendalikan keadaan konfrontatif agar tidak berkembang menjadi

kekerasan juga dapat dilakukan.

 Prosedur penanganan terhadap ancaman dan tindakan yang mengancam.

Dalam banyak kesempatan, tindak kekerasan sering didahului dengan adanya

ancaman. Ancaman bisa dilakukan secara terbuka/langsung atau

tersembunyi/tidak langsung, dikatakan/verbal atau tidak dikatakan/non verbal

(tindakan), jelas maupun samar.

Dalam bentuk lain, bisa dilakukan pengamatan perilaku yang bisa mengarah

kepada tindak kekerasan. Hal ini bisa dilakukan oleh rekan kerja tanpa

memberitahu subjek yang diamatinya.

Menangani ancaman atau perilaku yang mengancam - mendeteksi,

mengevaluasi, dan mencari cara untuk menanganinya - bisa jadi merupakan

satu-satunya kunci terpenting dalam mencegah kekerasan.

 Penunjukan dan pelatihan tim respon

Program pencegahan kekerasan di tempat kerja harus menugaskan personil yang

secara spesifik bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan anti kekerasan

perusahaan, mencakup juga evaluasi ancaman dan manajemen krisis. Tim ini
harus mempunyai kewenangan, mendapatkan pelatihan, dan dukungan yang

diperlukan untuk melaksanakan tugas mereka.

 Akses terhadap sumber di luar perusahaan, seperti para professional di bidang

penilaian ancaman/kekerasan

 Pelatihan manajemen dan pekerja

Pelatihan harus bisa mencakup seluruh pekerja baru maupun yang lama,

supervisor, dan manajer; dilakukan secara teratur/terjadwal; dan menjabarkan

mengenai topik-topik berikut:

- Kebijakan perusahaan mengenai pencegahan kekerasan di tempat kerja

- Faktor resiko yang bisa menyebabkan peningkatan ancaman ataupun

kekerasan

- Peringatan dini mengenai tanda-tanda masalah perilaku

- Cara-cara mencegah atau mencairkan situasi yang tegang atau perilaku

yang mengancam

- Informasi mengenai perbedaan kebudayaan untuk lebih sensitif terhadap

perbedaan rasial

- Rencana aksi standar untuk situasi yang penuh kekerasan, termasuk

ketersediaan bantuan, respon terhadap sistem alarm, dan prosedur

komunikasi

- Lokasi dan sistem operasi peralatan keselamatan seperti sistem alarm,

juga mengenai jadwal perawatannya dan prosedur pengoperasiannya

- Cara untuk melindungi diri sendiri dan rekan kerja, termasuk penggunaan

sistem berpasang-pasangan (Buddy system)


- Kebijakan dan prosedur pelaporan dan pencatatan

- Kebijakan dan prosedur perawatan medis, konsultasi, dan kompensasi

atau bantuan hukum setelah kecelakaan akibat kekerasan

 Pengukuran respon krisis

- Penerapan sistem pelaporan yang seragam terhadap bentuk penghinaan,

kemarahan, ancaman dan perilaku yang tidak pantas, serta tinjauan ulang

terhadap laporan tersebut

- Pengukuran frekuensi dan tingkat keparahan kekerasan di tempat kerja

agar dapat diketahui apakah program pencegahan kekerasan ini

menghasilkan efek

- Analisa trend/kecenderungan dan rata-rata angka kecelakaan akibat

kekerasan, jam kerja yang hilang, dll

- Survei terhadap pekerja sebelum dan sesudah bekerja atau pergantian

shift; atau mengaplikasikan pengukuran keamanan atau sistem baru untuk

menentukan efektifitas program

- Mengikuti strategi-strategi terbaru dalam menangani kekerasan di tempat

kerja

 Penerapan standar perilaku yang konsisten, termasuk prosedur kedisiplinan

yang efektif.

Pendisiplinan karyawan akibat bertindak kasar, mengancam atau tindak

kekerasan memiliki 2 tujuan. Untuk orang yang melakukan tindak kekerasan,

tindakan pendisiplinan bertujuan untuk mengganjar tindakannya dan

mencegahnya supaya tidak berulang. Bagi para pekerja yang lain, hal itu bisa
menandakan ketegasan komitmen perusahaan akan penyediaan tempat kerja

yang bebas dari ancaman dan kekerasan, serta meningkatkan keyakinan

karyawan bahwa keselamatan mereka memang dilindungi dengan tegas namun

adil.

Untuk mencapai tujuan ini, hukuman dan tindakan pendisiplinan harus – dan

harus bisa dilihat – proporsional, konsisten, beralasan, dan adil. Tindakan

pendisiplinan yang sewenang-wenang, sikap pilih kasih, dan tidak menghargai

hak dan kehormatan karyawan hanya akan mengakhiri dan merusak dukungan

terhadap program pencegahan kekerasan. Ketidaksukaan atas tindakan yang

tidak adil hanya akan meningkatkan atau bahkan meyebabkan perilaku yang

bermasalah.

Referensi:
 Critical Incident Response Group; Workplace Violence; National Center for the
Analysis of Violent Crime FBI Academy, Quantico, Virginia
 Chappell, Duncan and Vittorio Di Martino; Violence at Work; Asian-Pacific
Newsletter on Occupational Health and Safety, volume 6, number1, April 1999
 National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH); Violence,
Occupational Hazards in Hospital
 Health and Safety Executive; Violence at work, A guide for employers
 European Agency for Safety and Health at Work; Facts, Violence at work

Anda mungkin juga menyukai