Anda di halaman 1dari 13

KAJIAN SISTEM PENYANGGAAN PADA PENAMBANGAN EMAS RAKYAT

DI DESA CIHONJE DAN DESA PANINGKABAN, KECAMATAN GUMELAR,


KABUPATEN BAYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :
Reny Kurniawati
Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta
No. Hp : 085228432050, email : kurniawatireny12@gmail.com

Ringkasan

Pada saat pembuatan lubang bukaan tegangan awal secara lokal akan berubah menjadi
tegangan terinduksi sehingga massa batuan disekitar dinding lubang bukaan menerima tegangan
terinduksi (induced stresses). Distribusi tegangan di dinding lubang bukaan berbeda dari tegangan
sebelum batuan tergali. Dalam banyak kasus tegangan terinduksi ini akan melampaui batas
kekuatan massa batuan dan menyebabkan ketidakstabilan lubang bukaan bawah tanah.
Kestabilan lubang bukaan dipengaruhi oleh karakteristik massa batuan yang berada
disekitar lubang bukaan. Apabila kestabilan disekitar lubang bukaan terganggu maka dapat
mengakibatkan terjadinya keruntuhan (failure) yang dapat mengganggu perkerjaan penambangan
maupun mengganggu keselamatan pekerja. Sehingga untuk mencegah terjadinya keruntuhan
tersebut dibutuhkan sistem penyanggaan yang tepat sesuai dengan karakteristik massa batuan
disekitar lubang bukaan pertambangan rakyat Desa Cihonje dan Paningkaban, Kecamatan
Gumelar, Kabupaten Banyumas.
Untuk meperoleh sistem penyanggaan yang sesuai dengan lubang bukaan maka perlu
kajian sistem penyanggaan yang telah diterapkan dan analisis karakteristik massa batuan di sekitar
lubang bukaan. Analisis yang dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran bentuk
penyanggaan awal pada lubang bukaan, pengukuran bidang lemah yang berada di lapangan,
pegambilan conto batuan disekitar lubang bukaan, dan penelitian di laboratorium. Kegiatan
tahapan tersebut memiliki tujuan agar penyanggaan yang diterapkan dapat efesien, ekonomis dan
memberikan jaminan keamanan bagi para pekerja dan kegiatan-kegiatan dalam lubang bukaan
tersebut.

Kata kunci : Lubang bukaan, Faktor keamanan, Penyanggaan Kayu

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Potensi ketidakstabilan yang terjadi pada lubang bukaan tambang bawah tanah selalu
membutuhkan penanganan khusus terutama atas dua hal, yaitu produksi yang dihasilkan dan
keselamatan pekerja. Kestabilan lubang bukaan sangat dipengaruhi karakteristik massa batuan
disekitar lubang bukaan. Apabila kestabilan lubang bukaan terganggu mengakibatkan keruntuhan
(failure) yang bisa mengganggu produktivitas penambangan maupun keselamatan para perkerja.
Sehingga untuk dapat mempertahankan kestabilan lubang bukaan diperlukan suatu sistem
penyanggaan yang sesuai dengan karakteristik massa batuan di sekitar lubang bukaan. Selain itu
juga perlu mengetahui seberapa lama sistem penyanggaan tersebut dapat menjamin tidak
terjadinya keruntuhan, maka dibutuhkan juga analisis peranan kekuatan sistem penyanggan dalam
mengatasi ketidakstabilan lubang bukaan yang terjadi.

1.2. Tujuan Penelitian


Penelitian yang akan dilakukan ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan memahami karakteristik kekuatan massa batuan.
2. Mengetahui dan mengidentifikasi kestabilan pada lubang bukaan
3. Mendesain sistem penyanggaan yang sesuai dengan karakteristik massa batuan sehingga
dapat dilakukan pengkajian pada sistem penyanggaan yang telah dilakukan.

1.3. Rumusan Masalah


Pembahasan mengenai sistem penyanggaan sangat penting mengingat batuan yang sama
memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Apabila dilakukan pembuatan lubang bukaan dapat
memungkinkan munculnya bidang lemah batuan disekitar lubang bukaan tersebut dan distribusi
tegangan yang berbeda dari sebelum dilakukan penggalian dan setelah dilakukan penggalian. Hal
ini menyebabkan terjadinya ketidakstabilan lubang bukaan seperti terjadinya runtuhan. Untuk
dapat mempertahankan stand up time pada lubang bukaan tersebut diperlukan sistem
penyanggaan yang sesuai dengan karakteristik kekuatan batuan.

1.4. Batasan Masalah


Dalam analisa ini masalah yang akan dibahas adalah mengarah pada sistem penyanggaan
yang sesuai dengan karakteristik kekuatan massa batuan. Hal ini meliputi:
1. Menggunakan pengukuran bidang diskontinu dilapangan untuk menentukan perkiraan
parameter kualitas massa batuan berdasarkan RQD (Rock Quality Designation)
2. Mengukur indeks kekuatan batuan di lapangan dengan batuan Schmidt Hammer
3. Pengambilan sample di lapangan yang akan digunakan untuk pengujian di laboratorium
4. Pengujian sifat fisik dan mekanik batuan untuk menentukan karakteristik kekuatan batuan
5. Menggunakan metode empirik yaitu dengan pendekatan klasifikasi massa batuan, Rock
Mass Rating dan Q-System (Bieniawski, 1989)
6. Permodelan menggunakan software Phase2 untuk mengetahui tegangan yang berada
disekitar lubang bukaan horizontal (cross cut)
7. Perhitungan faktor keamanan (FK) menggunakan beberapa pendekatan yang telah
dilakukan berdasarkan Mohr-Coloumb, Hoek-Brown (2002), dan Saptono (2012)
8. Metode kinematika dengan menggunakan stereografis menurut Schmidt untuk
menentukan bentuk bidang runtuhan yang mungkin terjadi pada lubang bukaan horizontal
(cross cut)
9. Mendesain sistem penyanggaan yang sesuai dengan karakteristik massa batuan pada
lubang bukaan horizontal (cross cut)

1.5. Hipotesa
Karakteristik massa batuan dapat menentukan penyebaran tegangan saat dilakukan
penggalian lubang bukaan. Selain itu juga dapat menentukan kriteria keruntuhan lubang bukaan
yang digunakan sebagai salah satu parameter untuk mendesain sistem penyanggaan yang sesuai.
Klasifikasi massa batuan, bentuk keruntuhan, perhitungan faktor keamanan dan sistem
penyanggaan dapat digunakan untuk mencegah terjadinya keruntuhan pada lubang bukaan.

1.6. Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian yang dilakukan adalah:
1. Mengetahui dan memahami karakteristik sifat kekuatan massa batuan
2. Mengetahui dan memahami keruntuhan yang dapat terjadi di sekitar lubang bukaan
3. Menganalisis dan menentukan sistem penyanggaan yang sesuai dengan karakteristik
massa batuan tersebut

II. Lokasi Penelitian


2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di desa Cihonje dan desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar,
Kabupaten Banyumas. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu bagian wilayah Provinsi Jawa
Tengah yang secara astronomi terletak diantara 10839’17”–10927’15” Bujur Timur dan
715’05”–737’10” Lintang Selatan. Sedangkan Kecamatan Gumelar berada di ujung paling barat
Kabupaten Banyumas.

Gambar 2.1
Peta Kesampaian Daerah Lokasi Penelitian

2.2 Penambangan
Usaha pertambangan di Banyumas termasuk dalam pertambangan rakyat. Pengusahaan
bahan galian di wilayah ini meliputi kegiatan penambangan dan pengolahan bahkan sampai
pemasaran. Penambangan dilakukan dengan cara menggali lubang bukaan vertikal (shaft) dengan
kedalaman 20 - 45 m yang kemudian dilanjutkan dengan membuat lubang bukaan horizontal
(cross cut) dengan panjang 10 – 20 m. Ukuran lubang bukaan adalah 1x1 m sehingga untuk setiap
satu lubang bukaan hanya dapat dimasuki 2 orang pekerja tambang rakyat.

Gambar 2.2
Bentuk Lubang Bukaan

III Hasil Penelitian


3.1. Penentuan Indeks Kekuatan Batuan
Penentuan tingkat kekuatan batuan dilapangan menggunakan peralatan indeks
kekuatan batuan yaitu Schmidt hammer. Alat ini terdiri dari piston yang dikombinasikan
dengan pegas. Piston secara otomatis terlepas dan menumbuk permukaan kontak dengan
batuan ketika hammer ditekan kearah permukaan batuan. Piston tersebut akan segera
memantul kembali ke arah dalam hammer. Jarak pantul piston yang terbaca pada
indikator dinyatakan sebagai nilai pantul Schmidt hammer.
Tabel 3.1
Penentuan Nilai UCS dengan Schmidt Hammer
Nilai Rebound (R) UCS (MPa)
Lokasi rata- rata-
min max min max
rata rata
singkapan 1 18,00 18,00 19,00 7,84 7,84 8,21
singkapan 2 12,00 18,55 26,00 5,99 8,04 11,24
singkapan 3 12,00 18,73 28,00 5,99 8,11 12,30
singkapan 4 12,00 20,51 28,00 5,99 8,78 12,30

3.2. Rock Quality Designation (RQD


Perhitungan RQD dengan menggunakan metode tidak langsung yaitu dengan
parameter masukan jarak spasi kekar. Pengukuran jarak spasi kekar dengan cara metode
scan line, yaitu garis bentangan yang mencakup seluruh kekar dipermukaan. Data yang
diperoleh adalah data dari 4 singkapan di sekitar lubang bukaan.
Tabel 3.2
Data RQD Lokasi Penelitian
Spasi kekar rata-rata Jumlah total kekar
RQD (%)
Nama (m) per meter (λ)
Lokasi
Rata- Rata- Rata-
Min Maks Min Maks Min Maks
rata rata rata
Singkapan 1 0,03 0,15 0,53 28,25 6,58 1,85 22,68 85,88 98,48
Singkapan 2 0,01 0,06 0,45 56,69 17,44 2,19 2,30 47,96 97,90
Singkapan 3 0,08 0,30 0,86 13,03 3,31 1,17 62,59 95,60 99,37
Singkapan 4 0,02 0,11 0,36 44,31 9,04 2,79 6,46 77,08 96,75
RQD rata-rata 23,50 76,63 98,12

3.3. Kuat Tekan Uniaksial


Uji kuat tekan uniaksial atau Uniaxial Compressive Strength (UCS) digunakan
untuk mengetahui kekuatan massa batuan. Conto yang diuji diambil dari batuan disekitar
lubang bukaan pada kedalaman 5-10 m dari permukaan. Setelah conto diperoleh
kemudian dilakukan coring untuk memdapatkan conto batuan berbentuk silinder. Ukuran
conto yang diuji memiliki tinggi dua kali diameter (L/D=2), dilakukan koreksi pada
tegangan apabila dimensi conto tidak memenuhi L/D=2.
Tabel 3.3
Kesimpulan Hasil Uji Uniaxial Compressive Strength (UCS)
Max
σc E
No Kondisi Conto Load v
(MPa) (MPa)
(MPa)
1 Minimum 2,00 2,00 64,83 0,06
Jenuh
2 Rata-rata 3,97 3,97 239,81 0,13
Lanjutan Tabel 3.3

3 Maksimum 5,97 5,97 420,88 0,21


4 Minimum 4,45 4,45 95,91 0,06
5 Kering Rata-rata 5,99 5,99 322,34 0,15
6 Maksimum 7,96 7,96 539,11 0,21
7 Minimum 5,88 5,88 96,18 0,08
8 Natural Rata-rata 8,76 8,76 511,41 0,15
9 Maksimum 15,08 15,08 923,60 0,27

3.4. Kuat Geser Langsung


Pengujian geser langsung bertujuan untuk mendapatkan harga kohesi dan sudut
geser dalam. Terdapat dua pengujian kuat geser yaitu pengujian kuat geser langsung
puncak dan kuat geser sisa.
Tabel 3.4
Hasil Uji Kuat Geser Langsung
Kohesi Sudut Geser Rata-rata
No Kondisi
Batuan (MPa) Dalam Kohesi ϕ
1 Kering 1 0,118 31º
2 Kering 2 0,1 40º 0,19 35,00º
3 Kering 3 0,34 34º
4 Natural 1 0,079 51º
5 Natural 2 0,15 23º
6 Natural 3 0,06 46º 0,16 37,40º
7 Natural 4 0,24 34º
8 Natural 5 0,255 33º
9 Jenuh 1 0,02 36º
10 Jenuh 2 0,045 43º 0,04 38,00º
11 Jenuh 3 0,055 35º

3.5 Klasifikasi Massa Batuan


3.5.1 Klasifikasi Q-System
Tabel 3.5
Nilai Q-System pada Singkapan

Singkapan Singkapan Singkapan Singkapan


Parameter
1 2 3 4
Rock Quality Designation (RQD) 85,88 47,96 95,6 77,08
Jumlah set kekar (Jn) 4 15 4 9
Angka kekasaran kekar (Jr) 3 3 3 3
Angka Alterasi kekar (Ja) 0,75 0,75 0,75 0,75

Angka reduksi kondisi air (Jw) 0,66 0,5 0,5 0,5

Faktor reduksi tegangan (SRF) 5 5 5 5


Nilai Q-System 11,34 1,28 9,56 3,43
3.5.2 Klasifikasi RMR
Beberapa parameter yang harus dimasukan dalam klasifikasi RMR yaitu kuat tekan
uniaksial, RQD, jarak spasi kekar, kondisi diskontinu, kondisi air tanah. Setiap parameter
memiliki bobot nilai tersendiri yang kemudian dijumlahkan sehingga akan mendapatkan nilai
klasifikasi RMR. Nilai pembobotan telah dijelaskan pada bab selanjutnya.

3.6. Orientasi Data Kekar


Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan di beberapa singkapan di sekitar
lubang bukaan, didapat orientasi data kekar dimasing-masing singkapan. Data tersebut
kemudian diolah menggunakan stereonet sehingga diketahui arah umumnya dan
banyaknya keluarga kekar (Joint set) yang ada.
Tabel 4.11
Orientasi Bidang Diskontinu
Singkapan Joint Set 1 Joint Set 2
No Lokasi Dip Direction Dip Direction Dip Direction
(º) (º) (º) (º) (º) (º)
1 Singkapan 1 88 293 34 283 47 108
2 Singkapan 2 85 113 83 210 11 116
3 Singkapan 3 88 293 43 369 55 99
4 Singkapan 4 78 20 42 333 65 116

3.7 Nilai Kohesi dan Sudut Gesek Dalam Menggunakan Klasifikasi RMR
Nilai kuat tekan uniaksial didapat dari uji kuat tekan uniaksial yaitu 6 MPa. Konstanta mi
didapat dari tabel nilai konstanta mi untuk intact rock yang dikeluarkan oleh Hoek (2002).
Berdasarkan analisis petrografi yang telah dilakukan, conto yang digunakan memiliki kandungan
mineral karbonat sehingga conto termasuk dalam tipe batuan Sparitic Limestone yang memliki
nilai mi =10. Pada saat penambangan tidak lakukan peledakan danmassa batuan tidak terdistribusi
sehingga diperoleh nilai D=0.

Gambar 3.1
Nilai Sudut Gesek Dalam dan Kohesi Menurut Hoek-Brown (2002)
Sehingga diperoleh nilai :
 kohesi (c) = 0,037 x 6 MPa = 0,22 MPa
 Sudut geser dalam (ϕ) = 30º

3.8 Nilai Kohesi dan Sudut Gesek Dalam Menggunakan Klasifikasi RMR
Sehingga diperoleh nilai :
 kohesi (c) = 0,26 MPa
 Sudut gesek dalam (ϕ) = 41º

Gambar 3.2
Nilai Sudut Gesek Dalam dan Kohesi Menurut Saptono (2012)

IV. Pembahasan
4.1 Kuat Tekan Massa Batuan
Nilai kuat tekan uniaksial yang diperoleh dari pengujian laboratorium menghasilkan
variasi nilai kuat tekan yang berbeda. Kuat tekan batuan pada kondisi jenuh sebesar 3,97 MPa,
dan pada kondisi natural 8,76 MPa. Kuat tekan batuan pada kondisi natural lebih besar dari nilai
kuat tekan pada kondisi jenuh. Hal ini karena ikatan partikel pada batuan akan melemah seiring
dengan meningkatkan kadar air yang terkandung pada batuan tersebut.
Korelasi nilai rebound yang diperoleh dari pengukuran menggunakan Schmidt hammer
pada bidang diskontinu dilapangan dan menggunakan parameter tambahan bobot isi batuan
didapat nilai kuat tekan batuan rata-rata sebesar 8,55MPa. Variasi nilai kuat tekan tersebut
menunjukkan satu rentang yang tidak jauh berbeda. Nilai yang didapat tetap dalam satu nilai
bobot dalam parameter klasifikasi geomekanika. Nilai kuat tekan massa batuan didaerah
penelitian 3,97 MPa hingga 8,76 MPa, berdasarkan klasifikasi ISRM termasuk dalam batuan low
strength atau batuan lemah.

4.2. Orientasi Data Kekar


4.2.1 Batuan Kondisi Jenuh (ϕ=0)
Pada saat kondisi batuan jenuh dengan asumsi sudut gesek dalam (ϕ) sama dengan 0º,
terdapat potensi keruntuhan pada setiap singkapan. Hal ini dikarenakan sudut gesek dalam batuan
(ϕ=0) lebih kecil dari sudut perpotongan yang dibentuk oleh dua kekar pada singkapan.
Keruntuhan yang dapat terjadi pada lubang bukaan adalah keruntuhan dengan bentuk
baji. Pada saat terjadi keruntuhan ketahanan geser bidang gelincir dipengaruhi oleh rembesan-
rembesan air yang terdapat pada dinding-dinding lubang bukaan. Sehingga untuk menghindari
keruntuhan maka direkomendasikan penyanggan disepanjang dinding lubang bukaan.
4.2.2 Batuan Kondisi Natural (ϕ=0)
Dari keempat singkapan terdapat potensi runtuhan baji karena sudut gesek dalam massa
batuan lebih kecil dari sudut pepotongan antar kekar, dan sudut perpotongan antar kekar lebih
kecil dari sudut kemiringan lubang bukaan. Maka direkomendasikan menggunakan penyanggaan
untuk dapat mencegah runtuhnya lubang bukaan.

4.3. Korelasi Nilai RMR dan Q-system


Hubungan antara RMR dan Q pada pengukuran dilapangan menunjukan Q berbanding
lurus dengan nilai RMR, setiap kenaikan nilai RMR diiringin dengan kenaikan nilai Q. Korelasi
tersebut memberikan hasil bahwa massa batuan yang berada pada daerah penelitian adalah
homogen, isotrop, dan kontinu sehingga penyanggaan aktif tidak dapat diterapkan pada lubang
bukaan tersebut.
Tabel 4.1
Nilai RMR dan Q-system
Nama Lokasi RMR Q-system Q-system*
Singkapan 1 54 11,34 3,04
Singkapan 2 35 1,28 0,37
Singkapan 3 51 9,56 2,18
Singkapan 4 39 3,43 0,57
*menggunakan persamaan menurut Bienawaski (1989) dan Jethwa, dkk(1982)

Gambar 4.1
Hubungan Nilai RMR dan Q-system

4.4. Permodelan Phase2

Gambar 4.2
Arah Deformasi
Pada kedua permodelan terjadi perpindahan disekitar lubang bukaan. Perpindahan
maksimal adalah 0,0283 m (Saptono 2012) dan 0,0343 m (Hoek-Brown 2002). Maka untuk dapat
mengurangi perpindahan digunakan penyanggaan pada dinding dan atap lubang bukaan. Sesuai
dengan korelasi nilai RMR dan Q pada pengukuran dilapangan, lubang bukaan tidak dapat
diterapkan menggunakan penyangga aktif sehingga direkomendasikan menggunakan penyangga
kayu dengan metode three piece timbering pada bagian dinding kanan, kiri, dan atap lubang
bukaan.

4.5. Kajian Kestabilan Pada Lubang Bukaan


Nilai faktor yang digunakan sebagai acuan keamanan adalah menurut Hoek. E, Kaiser.
P.K. dan Bawden.W.F., 1993.Untuk keadaan aman nilai FK > 1,3 umumnya digunakan untuk
bukaan tambang sementara (temporary). Untuk FK > 1,5 digunakan untuk bukaan tambang
permanen. Nilai faktor keamanan tersebut berdasarkan lubang bukaan dengan dimensi lebih dari
5x5 m.
Lubang bukaan pada tambang rakyat emas di Desa Cihonje dan Paningkaban memiliki
panjang atap, lantai, dan tinggi lubang bukaan 0,8x1x1 m. Berdasarkan kuat tekan batuan dan
ukuran lubang bukaan yang kecil maka faktor keamanan dapat dikatakan aman apabila memiliki
nilai FK > 1,3 (Saptono,2012). Apabila terdapat nilai faktor keamanan yang lebih kecil dari
standar keamanan disarankan untuk menggunakan penyangga atau redesain ukuran.
4.5.1 Kajian lubang bukaan menggunakan nilai kohesi dan sudut gesek dalam Hoek-
Brown (2002)

Gambar 4.3
Nilai sigma 1 dan 3 dengan nilai kohesi dan sudut gesek dalam menggunakan kalsifikasi Hoek-
Brown (2002)
Hasil analisis terhadap kestabilan lubang bukaan horizontal (cross cut), pada
bagian atap, dinding kanan, dan dinding kiri lubang bukaan dikategorikan tidak aman
dengan nilai FK terkecil 1,03 dan nilai FK terbesar 1,11 pada bagian atap (roof).
Direkomendasikan menggunakan penyangga untuk mencegah terjadinya keruntuhan.
Tabel 4.2
Nilai Faktor Keamanan Menggunakan Nilai Kohesi dan Sudut Gesek Dalam berdasarkan Hoek-
Brown (2002)
No Posisi jarak sigma 1 sigma 3 kohesi ϕ FK kondisi
1 left wall 0,17 4,2 1,2 0,22 30 1,03 Tidak aman
2 left wall 0,51 3,6 1,05 0,22 30 1,06 Tidak aman
3 left wall 0,85 3,9 1,05 0,22 30 1,00 Tidak aman
4 roof 1,14 4,2 1,35 0,22 30 1,11 Tidak aman
5 roof 1,41 4,2 1,2 0,22 30 1,03 Tidak aman
6 roof 1,68 4,5 1,35 0,22 30 1,05 Tidak aman
7 right wall 2,17 3,9 1,2 0,22 30 1,08 Tidak aman
8 right wall 2,51 3,6 1,05 0,22 30 1,06 Tidak aman
9 right wall 2,85 4,2 1,2 0,22 30 1,03 Tidak aman

4.5.2 Kajian lubang bukaan menggunakan nilai kohesi dan sudut gesek dalam Saptono
(2012)
Hasil analisis terhadap kestabilan lubang bukaan horizontal (cross cut), untuk semua
bagian lubang bukaan dikategorikan aman dengan nilai FK terkecil 1,33 dan FK terbesar 1,43.
Untuk lebih meningkatkan kepercayaan terhadap kestabilan maka direkomendasikan
menggunakan penyanggaan. Sigma 1 dan sigma 3 pada bagian atap lubang bukaan bernilai lebih
besar dari nilai sigma 1 dan sigma 3 pada bagian dinding kiri dan dinding kanan lubang bukaan.
Nilai FK terkecil terletak pada dinding kanan dan kiri lubang bukaan. Hal ini dikarenakan arah
deformasi lubang bukaan cenderung menuju dinding kiri dan dinding kanan lubang bukaan.
Sehingga perpindahan massa batuan terbesar terjadi pada dinding kiri dan dinding kanan lubang
bukaan.

Gambar 4.4
Nilai sigma 1 dan 3 dengan nilai kohesi dan sudut gesek dalam menggunakan kalsifikasi
Saptono (2012)

Tabel 4.3
Nilai Faktor Keamanan Menggunakan Nilai Kohesi dan Sudut Gesek Dalam berdasarkan
Saptono (2012)
No Posisi sigma 1 sigma 3 kohesi ϕ FK kondisi
1 left wall 4,5 1,5 0,26 41 1,43 Aman
2 left wall 4,5 1,35 0,26 41 1,33 Aman
3 left wall 4,5 1,35 0,26 41 1,33 Aman
4 roof 4,9 1,65 0,26 41 1,43 Aman
5 roof 4,9 1,5 0,26 41 1,34 Aman
6 roof 4,9 1,65 0,26 41 1,43 Aman
7 right wall 4,5 1,35 0,26 41 1,33 Aman
8 right wall 4,5 1,35 0,26 41 1,33 Aman
9 right wall 4,9 1,65 0,26 41 1,43 Aman

Faktor keamanan berdasarkan klasifikasi Hoek-Brown (2002) memiliki nilai yang


lebih kecil daripada faktor keamanan berdasarakan Saptono (2012). Klasifikasi Hoek-
Brown (2002) berdasarakan batuan kuat (Hard rock) yang cenderung tidak mengalami
pelapukan. Menurut klasifikasi tersebut kekuatan batuan pada daerah penelitian termasuk
dalam batuan lemah (σ’cm = 0,85 MPa).
Klasifikasi Saptono (2012) berdasarkan pada batuan lemah yang telah mengalami
pelapukan. Perhitungan menggunakan klasifikasi Saptono (2012) diperoleh nilai sudut
gesek dalam dan kohesi yang lebih besar daripada menggunakan Hoek-Brown (2002).
Untuk dapat menambah kepercayaan terhadap kestabilan maka direkomendasikan
menggunakan penyanggaan pada lubang bukaan. Grafik FK terhadap jarak keliling
lubang bukaan horizontal (cross cut).
Gambar 5.14
Grafik Perbedaan Perhitungan FK Lubang Bukaan Berdasarkan Klasifikasi Hoek&Brown
(2002) Dan Saptono (2012)
Perhitungan Tinggi Runtuh
• Tinggi runtuh lubang bukaan klasifikasi RMR = 0,55 m
• Tinggi runtuh lubang bukaan Saptono (2012) = 0,52 m
• Tinggi runtuh lubang bukaan Hoek-Brown (2002) = 0,86 m

4.6. Kajian Sistem Penyanggaan


4.6.1. Penyanggaan Kayu
Panjang cap 80 cm dan panjang post 100 cm, jarak antar wedge 75 cm. diameter ujung
cap dan post 10 cm dengan tekanan yang diterima pada cap 0,110 ton Konsumsi kayu pada cap
adalah 6280 cm3, post 15700 cm3, dan wedge 3462 cm3. Sehingga kosumsi kayu pada satu set
peyanggaan adalah sebesar 25.442 cm3.
4.6.2. Sistem Penyanggaan Menggunakan Rock Quality Designation (RQD)
Penggunaan rock bolt memperhatikan nilai RQD. Kisaran penggunaan rockbolt
berdasarkan nilai RQD 23 hingga 75. Kualitas batuan dengan RQD di bawah 23 akan
menghancurkan batuan, sementara RQD diatas 75 tidak membutuhkan rockbolt. Dilihat dari nilai
RQD, lubang bukaan tidak dibutuhkan pemakaian rockbolt.
Sistem penyanggaan yang digunakan pada daerah penelitian, lubang bukaan horizontal
(cross cut) menggunakan sistem penyanggaan three piece timbering sehingga sesuai dengan
karakteristik massa batuan disekitar lubang bukaan.

V. Kesimpulan dan Saran


5.1. Kesimpulan
1. Nilai kuat tekan yang diperoleh pada pengujian di laboratorium dengan pengukuran di
lapangan menggunakan korelasi nilai rebound mendapatkan rentang nilai kuat tekan yang
tidak jauh berbeda. Kuat tekan batuan lubang bukaan antara 4 MPa hingga 8 MPa
menurut klasifikasi ISRM termasuk dalam batuan low strength
2. Orientasi data kekar pada 4 singkapan dengan memasukan sudut gesek dalam pada
keadaan jenuh (ϕ=0º), lubang bukaan berpontesi mengalami runtuhan baji. Orientasi data
kekar dengan memasukan sudut gesek dalam massa batuan (ϕ=37º) juga berpotensi
runtuhan baji. Hal ini karena sudut perpotongan bidang diskontinu lebih besar dari sudut
gesek dalam. Direkomendasikan menggunakan penyanggaan untuk menghindari
keruntuhan.
3. Massa batuan pada daerah penelitain temasuk dalam fair rock dengan nilai RMR 45.
Korelasi nilai RMR dan Q-system menunjukkan bahwa massa batuan yang berada pada
daerah penelitian adalah homogen, isotrop, dan kontinu sehingga penyangga aktif tidak
dapat diterapkan pada lubang bukaan tersebut.
4. Arah deformasi disekitar lubang bukaan terjadi pada atap, dinding, dan lantai lubang
bukaan. Perpindahan maksimum setelah dilakukan penggalian menggunakan klasifikasi
Hoek-Brown (2002) sebesar 0,0343 m sedangkan menggunakan klasifikasi Saptono
(2012) sebesar 0,0283 m.
5. Kestabilan lubang bukaan menggunakan perhitungan Mohr-coloumb memiliki nilai rata-
rata 1,06 (tidak aman) untuk kohesi dan sudut gesek dalam (ϕ) klasifikasi Hoek-Brown
(2002), dan 1,36 (aman) menggunakan klasifikasi Saptono (2012). Perhitungan tebal
plastik pada lubang bukaan apabila diasumsikan lubang bukaan berbentuk lingkaran
plastik adalah 0,52 m sesuai dengan perhitungan tinggi runtuh menggunakan klasifikasi
RMR (ht=0,55). Maka untuk menambah kepercayaan terhadap kestabilan lubang bukaan
direkomendasikan menggunaan penyanggaan.
6. Sesuai dengan karakteristik massa batuan dan jenis penyanggaan yang digunakan,
rekomendasi sistem penyanggaan pada lubang bukaan horizontal (cross cut) tambang
rakyat di Desa Cihonje dan Desa Paningkaban adalah penyangga kayu dengan metode
three piece set. Jarak antar wedge 0,75 m, panjang cap 0,8 m, dan panjang post 1 m. Kayu
yang digunakan untuk penyanggaan lebih sedikit karena jarak antar wedge lebih lebar.
Berdasarkan PKKI (1979), kayu pada penyanggaan hanya dapat bertahan selama 5 tahun.
Sehingga harus dilakukan pergantian kayu penyangga yang telah digunakan lebih dari 5
tahun.
5.2. Saran
1. Kayu yang digunakan pada sistem penyanggaan diganti secara rutin sesuai dengan
standar PKKI. Hali ini untuk mencegah terjadinya keroposan atau pengurangan kekuatan
kayu pada sistem penyanggaan yang dapat mengakibatkan keruntuhan.
2. Melakukan analisis terhadap tinggi muka air tanah disekitar lubang bukaan untuk
mengetahui pengaruhnya terhadap kestabilan lubang bukaan.

VI. Daftar Pustaka


1. Astawa Rai,Made., Kramadibrata,Suseno., dan Wattimena,Ridho K. 2012. Catatan Kuliah
Mekanika Batuan. Bandung. Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang, ITB.
2. Bieniawski.Z.T., 1989, Engineering Rock Mass Classifications, John Willey & Son, New
York.
3. Biron,C, dan Arioglu,E., 1983. Design of Supports in Mines, Department of Mining
Engineeering, Istanbul Technical University.
4. Goodman, R.E., 1989, Introduction to Rock Mechanics, Second Edition, Jhon Willey and
Sons.
5. Hoek,E. and Brown,E. T., 1980, Underground Excavations in Rock, Institution of Mining and
Metallurgy, London.
6. Hoek,E. 2002. Rock Engineering, Course Notes by Evert Hoek, Evert Hoek Consulting
Engineer Inc. Kanada.
7. Indarto, S, dkk, 2014 , Batuan Pembawa Emas Pada Mineralisasi Sulfida Berdasarkan Data
Petrografi Dan Kimia Daerah Cihonje, Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah, Pusat Penelitian
Geoteknologi, LIPI.
8. Lauffer, H., 1958, Gebirgsklassifizierung fȕr den stollenbau. Geo Bauwesen.
9. Obert, L., W. I. Duvall, and R. H., Merrill.1960, Design of underground openings in
competent rock, Government Printing Office, U.S. Bureau of Mines Bulletin 587.
10. Palmstorm A., 1974, Characterization of jointing density and the quality of rock masses ( in
Norwegian), Internal report, A.B. Berdal , Norway
11. Peng, Suping and Zhang, Jincai, 2007, Engineering Geology for Underground Rocks,
Springer, New York.
12. Priest SD., 1993, Discontinuity analysis for rock engineering, Chapman & Hall, London.
13. Saptono,S, 2012, “Pengembanngan Metode Analisis Stabilitas Lereng Berdasarkan
Karakteristik Batuan di Tambang Terbuka Batubara”, Disertasi, Institut Teknologi Bandung.
14. Villaescusa E. dan Yves Potvin, 2004, Ground Support in Mining and Underground
Construction, Taylor & Francis Group plc, London.
15. _______________, 2002, Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI NI-5),
Badan Standarisasi Nasional, Indonesia.