Anda di halaman 1dari 11

Telah disetujui/diterima Pembimbing

Hari/Tanggal :
Tanda tangan :

LAPORAN PENDAHULUAN

Dengan Subaraknoid Hemoragik

Di Ruang NHCU

PROGRAM PROFESI NERS PSIK FK UNSRI


“ Keperawatan Gawat Darurat ”

Oleh :

Fitrian Irya Nata, S.Kep


04064881618034

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2017
A. Anatomi Pembuluh Darah Otak

Otak dibungkus oleh selubung mesodermal, meninges. Lapisan luarnya adalah


duramater dan lapisan dalamnya, dibagi menjadi arachnoidea dan piamater.

a) Duramater

Durameter adalah suatu struktur fibrosa yang kuat dengan suatu lapisan
dalam (meningeal) dan lapisan luar (periostal). Kedua lapisan dural yang
melapisi otak umumnya bersatu, kecuali di tempat di tempat dimana keduanya
berpisah untuk menyediakan ruang bagi sinus venosus (sebagian besar sinus
venosus terletak diantara lapisan-lapisan dural), dan di tempat dimana lapisan
dalam membentuk sekat diantara bagian-bagian otak.

b) Arachnoidea

Membrana arachnoidea melekat erat pada permukaan dalam dura dan hanya
terpisah dengannya oleh suatu ruang potensial, yaitu spatium subdural. Ia
menutupi spatium subarachnoideum yang menjadi liquor cerebrospinalis, cavum
subarachnoidalis dan dihubungkan ke piamater oleh trabekulae dan septa-septa
yang membentuk suatu system rongga-rongga yang saling berhubungan. Cavum
subaracnoidea adalah rongga di antara arachnoid dan piamater yang secara
relative sempit dan terletak di atas permukaan hemisfer cerebrum, namun rongga
tersebut menjadi jauh bertambah lebar di daerah-daerah pada dasar otak.
Pelebaran rongga ini disebut cisterna arachnoidea, seringkali diberi nama
menurut struktur otak yang berdekatan. Cisterna ini berhubungan secara bebas
dengan cisterna yang berbatasan dengan rongga sub arachnoid.

c) Piamater

Piamater merupakan selaput jaringan penyambung yang tipis yang menutupi


permukaan otak dan membentang ke dalam sulcus,fissure dan sekitar pembuluh
darah diseluruh otak.
B. Pengertian Perdarahan Subaraknoid

Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan tiba-tiba ke dalam rongga diantara


otak dan selaput otak (rongga subaraknoid). Diantara lapisan dalam (pia mater) dan
lapisan tengah (arachnoid mater) para jaringan yang melindungan otak (meninges).

C. Etiologi Perdarahan Subaraknoid

Etiologi yang paling sering menyebabkan perdarahan subarakhnoid adalah


ruptur aneurisma salah satu arteri di dasar otak dan adanya malformasi arteriovenosa
(MAV). Terdapat beberapa jenis aneurisma yang dapat terbentuk di arteri otak
seperti:

1. Aneurisma sakuler (berry)

Aneurisma ini terjadi pada titik bifurkasio arteri intrakranial. Lokasi


tersering aneurisma sakular adalah arteri komunikans anterior (40%), bifurkasio
arteri serebri media di fisura sylvii (20%), dinding lateral arteri karotis interna
(pada tempat berasalnya arteri oftalmika atau arteri komunikans posterior 30%),
dan basilar tip (10%). Aneurisma dapat menimbulkan deficit neurologis dengan
menekan struktur disekitarnya bahkan sebelum rupture. Misalnya, aneurisma
pada arteri komunikans posterior dapat menekan nervus okulomotorius,
menyebabkan paresis saraf kranial ketiga (pasien mengalami dipopia).

2. Aneurisma fusiformis

Pembesaran pada pembuluh darah yang berbentuk memanjang disebut


aneurisma fusiformis. Aneurisma tersebut umumnya terjadi pada segmen
intracranial arteri karotis interna, trunkus utama arteri serebri media, dan arteri
basilaris. Aneurisma fusiformis dapat disebabkan oleh aterosklerosis dan/atau
hipertensi. Aneurisma fusiformis yang besar pada arteri basilaris dapat menekan
batang otak. Aliran yang lambat di dalam aneurisma fusiformis dapat
mempercepat pembentukan bekuan intraaneurismal terutama pada sisi-sisinya.
Aneurisma ini biasanya tidak dapat ditangani secara pebedahan saraf, karena
merupakan pembesaran pembuluh darah normal yang memanjang, dibandingkan
struktur patologis (seperti aneurisma sakular) yang tidak memberikan kontribusi
pada suplai darah serebral.

3. Aneurisma mikotik

Aneurisma mikotik umumnya ditemukan pada arteri kecil di otak. Terapinya


terdiri dari terapi infeksi yang mendasarinya dikarenakan hal ini biasa
disebabkan oleh infeksi. Aneurisma mikotik kadang-kadang mengalami regresi
spontan, struktur ini jarang menyebabkan perdarahan subarachnoid.

Malformasi arterivenosa (MAV) adalah anomaly vasuler yang terdiri dari


jaringan pleksiform abnormal tempat arteri dan vena terhubungkan oleh satu
atau lebih fistula. Pada MAV arteri berhubungan langsung dengan vena tanpa
melalui kapiler yang menjadi perantaranya. Pada kejadian ini vena tidak dapat
menampung tekanan darah yang datang langsung dari arteri, akibatnya vena
akan merenggang dan melebar karena langsung menerima aliran darah tambahan
yang berasal dari arteri. Pembuluh darah yang lemah nantinya akan mengalami
ruptur dan berdarah sama halnya seperti yang terjadi paada aneurisma. MAV
dikelompokkan menjadi dua, yaitu kongenital dan didapat. MAV yang didapat
terjadi akibat thrombosis sinus, trauma, atau kraniotomi.

D. Patofisiologi Perdarahan Subaraknoid

Perdarahan subarakhnoid disebabkan oleh pecahnya aneurisma atau malformasi


arteri vena yang perdarahannya masuk ke rongga subarakhnoid, sehingga
menyebabkan cairan serebrospinal (CSS) terisi oleh darah. Darah didalam didalam
CSS akan menyebabkan vasospasme sehingga dapat menimbulkan gejala sakit
kepala yang hebat secara mendadak.

E. Tanda dan Gejala Perdarahan Subaraknoid

Sebelum pecah aneurisma biasanya tidak menyebabkan gejala-gejala sampai


menekan saraf atau bocornya darah dalam jumlah sedikit, biasanya sebelum
pecahnya besar (yang menyebabkan sakit kepala). Kemudian menghasilkan tanda
bahaya, seperti berikut di bawah ini :
a. Sakit kapala, yang bisa tiba-tiba tidak seperti biasanya dan berat (kadangkala
disebutsakit kepala thunderclap).

b. Nyeri muka atau mata.

c. Penglihatan ganda.

d. Kehilangan penglihatan sekelilingnya.

e. Tanda bahaya bisa terjadi hitungan menit sampai mingguan sebelum pecah.
Pecahnya bisa terjadi karena hal yang tiba-tiba, sakit kepala hebat yang
memuncak dalamhitungan detik. Hal ini seringkali diikuti dengan kehilangan
kesadaran yang singkat.

f. Beberapa orang tetap dalam koma atau tidak sadar.

g. Yang lainnya tersadar, merasa pusing dan mengantuk.

h. Mereka bisa merasa gelisah.

i. Dalam hitungan jam atau bahkan menit, orang bisa kembali menjadi mengantuk
dan bingung. Mereka bisa menjadi tidak bereaksi dan sulit untuk bangun. Dalam
waktu 24 jam, darah dan cairan cerebrospinal disekitar otak melukai lapisan
pada jaringan yang melindungi otak (meninges), menyebabkan leher kaku sama
seperti sakit kepala berkelanjutan, sering muntah, pusing, dan rasa sakit di
punggung bawah. Frekwensi naik turun pada detak jantung dan bernafas
seringkali terjadi, kadangkala disertai kejang.

j. Kelelahan atau lumpuh pada salah satu bagian tubuh (paling sering terjadi).

k. Kehilangan perasa pada salah satu bagian tubuh. Kesulitan memahami dan
menggunakan bahasa (aphasia).Gangguan hebat bisa terjadi dan menjadi
permanen dalam hitungan menit atau jam.Demam adalah hal yang biasa selama
5 sampai 10 hari pertama
F. Tujuan Penatalakasanaan Perdarahan Subarakhnoid

Peradarahan subarakhnoid adalah identifikasi sumber perdarahan dengan


kemungkinan bisa diintervensi dengan pembedahan atau tindakan intravascular lain.
Jalan napas harus dijamin aman dan pemantauan invasive terhadap central venous
pressure dan atau pulmonary artery pressure, seperti juga terhadap tekanan darah
arteri, harus terus dilakukan. Untuk mencegah penigkatan tekanan intracranial,
manipulasi pasien harus dilakukan secara hati-hati dan pelan-pelan, dapat diberikan
analgesic dan pasien harus istirahat total.

PSA yang disertai dengan peningkatan tekanan intracranial harus diintubasi dan
hiperventilasi. Pemberian ventilasi harus diatur untuk mencapai PCO2 sekitar 30-35
mmHg. Beberapa obat yang dapat diberikan untuk menurunkan tekanan intracranial
seperti6 :  Osmotic agents (mannitol) dapat menurunkan tekanan intracranial secara
signifikan (50% dalam 30 menit pemberian).  Loop diuretics (furosemide) dapat
juga menurnukan tekanan intracranial  Intravenous steroid (dexamethasone) untuk
menurunkan tekanan intracranial masih kontroversial tapi direkomendasikan oleh
beberapa penulis lain. Setelah itu tujuan selanjutnya adalah pencegahan perdarahan
ulang, pencegahan dan pengendalian vasospasme, serta manajemen komplikasi
medis dan neurologis lainnya. Tekanan darah harus dijaga dalam batas normal dan
jika perlu diberi obat-obat antihipertensi intravena, seperti labetalol dan nikardipin.
Akan tetapi, rekomendasi saat ini menganjurkan penggunaan obat-obat anti
hipertensi pada PSA jikalau MABP diatas 130 mmHg. Setelah aneurisma dapat
diamankan, sebetulnya hipertensi tidak masalah lagi, tetapi sampai saat ini belum ada
kesepakatan berapa nilai amannya. Analgesic seringkali diperlukan, obat- obat
narkotika dapat diberikan berdasarkan indikasi. Dua factor penting yang
dihubungkan dengan luaran buruk adalah hiperglikemia dan hipertermia, karena itu
keduanya harus segera dikoreksi. Profilaksis terhadap thrombosis vena dalam (deep
vein thrombosis) harus dilakukan segera dengan peralatan kompresif sekunsial,
heparin subkutan dapat diberikan setlah dilakukan penatalaksanaan terhadap
aneurisma. Calcium channel blocker dapat mengurangi risiko komplikasi iskemik,
direkomendasikan nimodipin oral. 1,6 Hasil penelitian terakhir yang dilakukan
mengemukakan bahwa penambahan obat cilostazol oral pada microsurgical clipping
dapat mencegah kejadian vasospasme serebral dengan menurunkan resikoresiko yang
memperparah kejadian vasospasme serebral.

G. Pemeriksaan Penunjang

a) Elektrokardiografi, mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak


dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

b) Laboratorium (kimia darah, fungsi ginjal, urinalisasi, hematologi, hemostasis,


gula darah, urinalisis, analisis gas darah dan elektrolit)

c) Foto thorak untuk melihat adanya gambaran kardiomegali sebagai penanda


adanya hipertensi untuk resiko stroke

d) CT scan atau MRI untuk membedakan stroke iskemik dengan perdarahan.


CT.scan, memperlihatkan adanya cidera, hematoma, iskhemia infark. Magnetik
Resonance imaging (MRI), menunjukan ada yang mengalami infark.

e) Angiografi cerebral, membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik


seperti: perdarahan, obstruksi, atau arteri adanya ruptur.

f) Analisis cairan serebrospinal jika diperlukan. Fungsi lumbal, menunjukan


adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis embolis serebral dan
tekanan intracranial (TIK). Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung
darah menunjukkan adanya haemoragik subarachnoid, perdarahan intra kranial.

G. Komplikasi Perdarahan Subaraknoid

1. Hidrosefalus dapat terbentuk dalam 24 jam pertama karena obstruksi aliran CSS
dalamsistem ventrikular oleh gumpalan darah.

2. Perdarahan ulang pada PSA muncul pada 20% pasien dalam 2 minggu
pertama.Puncak insidennya muncul sehari setelah PSA. Ini mungkin berasal dari
lisis gumpalananeurisma.
3. Vasospasme dari kontraksi otot polos arteri merupakan simtomatis pada 36%
pasien.

4. Defisit neurologis dari puncak iskemik serebral pada hari 4-12.

5. Disfungsi hipotalamus menyebabkan stimulasi simpatetik berlebihan, yang


dapatmenyebabkan iskemik miokard atau menurunkan tekanan darah labil.

6. Hiponatremia dapat muncul sebagai hasil pembuangan garam serebral.

7. Aspirasi pneumonia dan komplikasi lainnya dapat muncul.

I. Prognosis

1. Vasospasme dan perdarahan ulang adalah komplikasi paling sering pada


perdarahan subarachnoid. Tanda dan gejala vasospasme dapat berupa status
mental, defisit neurologis fokal. Vasospasme akan menyebabkan iskemia
serebral tertunda dengan dua pola utama, yaitu infark kortikal tunggal dan lesi
multiple luas. Perdarahan ulang mempunyai mortalitas 70%. Untuk mengurangi
risiko perdarahan ulang sebelum dilakukan perbaikan aneurisma, tekanan darah
harus dikelola hati-hati dengan diberikan obat fenilefrin, norepinefrin, dan
dopamine (hipotensi), labetalol, esmolol, dan nikardipi (hipertensi). Tekanan
darah sistolik harus dipertahankan >100 mmHg untuk semua pasien selama ±21
hari. Sebelum ada perbaikan, tekanan darah sistolik harus dipertahankan
dibawah 160 mmHg dan selama ada gejala vasospasme, tekanan darah sistolik
akan meningkat sampai 1200- 220 mmHg. Selain vasopasme dan perdarahan
ulang, komplikasi lain yang dapat terjadi adalah hidrosefalus, hiponatremia,
hiperglikemia dan epilepsi

2. Angka ketahanan hidup dihubungkan dengan tingkatan PSA saatmunculnya.


Laporan menggambarkan angka ketahanan hidup 70% untuk grade I,60% untuk
grade II, 50% untuk grade III, 40% untuk grade IV dan 10% untuk grade V
Daftar Pustaka

Herdman, T. Heather. (2015). Nanda Internatinal Inc Diagnosis keperawatan : definisi


dan klasifikasi 2015 - 2017

Scanlon, Valerie C.(2006). Buku ajar anatomi dan fisiologi. Ed.3. Jakarta : EGC

Sloane, Ethel. (2003). Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC
Setyopranoto I. Stroke: Gejala dan Penatalaksanaan. CDK 185/Vol.38 no.4/Mei-Juni
2011.

Tanto, Chris. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.4. Cetakan.1. Jakarta : Media
Aesculaplus

Mahmudah, Raisa. 2014. Jurnal Left Hemiparesis e.c Hemorrhagic Store, 2, 70-79

Misbach, Jusuf. 1999. Stroke aspek diasnotik, patofisiologi, manajemen. Jakarta : FKUI
PATHWAY CVD HEMORAGIK

Web Of Caution CVD Hemoragik CVD HEMORAGIK

Faktor resiko : Ruptur arteri Pecahnya aneurisma


- Genetik
Perdarahan Intraserebral Malformasi arteri vena
- Riwayat penyakit kardiovaskular
Hemoragia intraserebrum atau hematoma intraserebrum Masuk kerongga subarachnoid
- Hipertensi

- Merokok Dinding pembuluh darah kecil, rusak vasospasme

- Fibrilasi atrium Hematoma cerebral Oklusi pembuluh darah


Iskemik
Penurunan kesadaran Peningkatan tekanan intrakranial
Penurunan alirah
Defisit neurologi
darah ke otak
Sekresi mukus kental didalam Suplai darah ke otak menurun
lumen bronkiolus Perubahan metabolisme Hemiparese
aerob menjadi anaerob kiri/kanan
Penurunan alirah darah ke otak
Diameter brokiolus mengecil
Suplai nutrien (glukosa & Defisit perawatan
Ketidakefektifan pola nafas O2) ke otak menurun
Secret bertahan di saluran nafas diri
Dilakukan operasi
( tindakan EVD) Hipoksia
Reflek batuk menurun
Perfusi jaringan
Luka serebral tidak efektif
Akumulasi sputum insisi
Peningkatan
leukosit
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Anda mungkin juga menyukai