Anda di halaman 1dari 141

BUKU PRAKTIKUM

BLOK 1

HUMANIORA DAN MASALAH KESEHATAN

PENYUSUN:
dr. Irawan Fajar Kusuma, M.Sc.
dr. Cholis Abrori, M.Kes., M.Pd.Ked.

FAKULTAS KEDOKTERAN

0
UNIVERSITAS JEMBER
2013

1
PENGANTAR

Segala puji kami ucapkan kepada Allah Subhana wa Ta’ala yang telah
melimpahkan rahmatnya, sehingga buku praktikum Blok Humaniora dan Masalah
Kesehatan ini dapat terwujud. Blok ini merupakan blok pertama dari keseluruhan blok
belajar dalam Kurikulum Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas
Jember. Pada blok ini peserta didik belajar menyiapkan diri sebagai seorang
mahasiswa kedokteran dan calon dokter, bagaimana beradaptasi dengan
keanekaragaman masyarakat dengan memanfaatkan kemampuan komunikasi,
teknologi informasi untuk menunjang karirnya di masa depan, pengenalan kepada
masalah kesehatan di Indonesia, konsep sehat sakit dan pengenalan pada sistem
pelayanan kesehatan.

Dalam buku praktikum ini terdapat 10 sesi praktikum yang diselenggarakan di


dalam kelas laboratorium dan juga diselenggarakan di lapangan baik Puskesmas,
Klinik, atau pun komunitas. Materi dari praktikum ini sebagian besar merupakan
materi pengenalan bagi mahasiswa baru Fakultas Kedoktera Universitas Jember.
Dalam buku ini ada materi mengenai kompetensi dokter di Indonesia yang wajib
diketahui dan dipahami serta dipraktikkan oleh setiap mahasiswa kedokteran
sehingga dalam belajarnya, mereka mengacu pada standar tersebut. Selain itu,
mahasiswa akan berpraktik bagaimana memanfaatkan teknologi informasi untuk
menunjang belajarnya. Dalam kegiatan di lapangan, mahasiswa akan “terpapar”
dengan suasana klinik yaitu pengenalan struktur organisasi Puskesmas maupun
program kerjanya. Di tingkat komunitas, mahasiswa akan mulai berinteraksi dengan
masyarakat melalui topik perilaku hidup bersih dan sehat serta kesehatan masyarakat
agroindustri.

Terima kasih kami ucapan kepada narasumber, sejawat, dan seluruh pihak yang
terlibat dalam penyusunan buku ini. Semoga buku ini dapat dilaksanakan sesuai tujuan
yang diharapkan. Kritik dan saran untuk perbaikan sangat diharapkan demi
kesempurnaan buku ini.
Jember, Agustus 2013

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

Judul Halaman
Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Pendahuluan 3
Metode Belajar 13
Jadwal Kegiatan 16
Praktikum 1: Telaah Kompetensi Dokter 19
Praktikum 2: Pemanfaatan TI dalam kedokteran 23
Praktikum 3: Visitasi Puskesmas Pengenalan Puskesmas 30
Praktikum 4: Telaah artikel ilmiah 34
Praktikum 5: Visitasi Puskesmas Program kerja Puskemas 43
Praktikum 6: Telaah kasus etika 52
Praktikum 7: Visitasi Komunitas PHBS 55
Praktikum 8: Pengenalan alat mikrobiolgi dan mikrobiologi air 80
Praktikum 9: Visitasi Komunitas: Masalah Kesehatan agroindustri 97
Praktikum 10: Visitasi Komunitas: Masalah Kesehatan Kerja 129

PENDAHULUAN

1. Gambaran Umum Blok


Blok ini berisi tentang strategi belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Jember,
humaniora, etika, hukum, komunikasi, teknologi informasi, pengantar epidemiologi
dan pelayanan kesehatan di Indonesia yang memberikan keterampilan generik
sebagai mahasiswa maupun sebagai dokter.

2. Tujuan Umum Blok

3
Blok ini bertujuan membekali peserta didik untuk dapat belajar dengan efektif dan
efisien dengan beradaptasi pada lingkungan belajar, masyarakat, peraturan-
peraturan, serta membekali landasan etik, hukum, moral, memiliki kemampuan
komunikasi, teknologi informasi untuk menunjang karir sebagai dokter,
pengenalan berbagai masalah kesehatan di Indonesia, konsep sehat-sakit dan
pengenalan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia

3. Keterkaitan dengan blok lain


Blok ini merupakan blok pertama yang menjadi dasar bagi seluruh blok berikutnya.

4. Hasil Belajar Blok


1) Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia
(Kodeki)
2) Menjaga rasa percaya diri, kebenaran, dan integritas
3) Menegakkan kebenaran dan menunjukkan rasa hormat dalam hubungan
dokter-pasien
4) Menunjukkan pendekatan empati dan holistik
5) Memiliki kekuatan personal dan membatasi diri berkaitan dengan prakteknya
sebagai dokter
6) Menghormati semua orang apapun statusnya
7) Berperilaku dengan cara yang dapat diterima oleh setiap orang, apapun
statusnya, membuat kontribusi yang berharga pada ketentuan pelayanan, dan
memiliki tugas yang unik
8) Mengidentifikasi dan berusaha memecahkan konflik yang muncul
9) Mempertimbangkan gagasan dari orang lain sebagai umpan balik
10) Menghargai keragaman sosial dan budaya di masyarakat
11) Menunjukkan sikap menghormati penderitaan seseorang, gaya hidup, serta
budaya pasien dan kolega
12) Memahami sumber prasangka dan diskriminasi berkenaan dengan usia,
gender, orientasi seksual, kebangsaan, kekurangan (cacat), dan status sosial
ekonomi
13) Menunjukkan pemahaman dan menerima tanggungjawab hukum, dengan
menghormati hak azasi manusia, peresepan obat, penyalahgunaan fisik dan

4
seksual, Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki), persoalan kesehatan, sakit,
atau surat kematian, dan pengadilan
14) Menunjukkan pemahaman dan tunduk pada Undang-undang Praktik
Kedokteran No. 29/2004
15) Menunjukkan pemahaman peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan
yang mengatur praktek dokter
16) Menunjukkan sikap hormat kepada pasien/klien
17) Membangun empati dan kebenaran
18) Mendapatkan keluhan dan harapan pasien
19) Mendapatkan informasi perorangan atau yang sensitif
20) Mendengarkan penuh perhatian dan menyediakan waktu yang cukup kepada
pasien untuk menyampaikan isi hatinya
21) Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menggunakan keyakinan,
kepentingan, dan harapannya terhadap sumber, alam, dan pegelolaan sakitnya
22) Menggunakan bahasa yang tepat (sesuai usia, bahasa ibu, dan tingkat
pendidikan dari pasien) yang nantinya digunakan ketika bertanya,
merangkum informasi, menerangkan diagnosis, serta pilihan pegelolaan
pasien
23) Menunjukkan pemahaman komunikasi nonverbal dari pasien
24) Melindungi dan mengembangkan martabat, kerahasiaan dan rasa percaya diri
pasien/klien setiap saat
25) Mengelola komputerisasi
26) Membangun cara sendiri untuk menjaga perkembangan lanjut dalam
pengetahuan
27) Berpartisipasi aktif dalam program pendidikan/pelatihan dan pengalaman
belajar yang lain
28) Memelihara sikap keraguan yang sehat dan ingin mengetahui bukti secara
ilmiah
29) Memanfaatkan pelayanan pencarian literatur menggunakan database
elektronik
30) Melakukan telaah kritis literatur kedokteran dan kaitan dengan pasien
31) Mereview kinerja profesionalnya dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya
32) Mengidentifikasi karakteristik masyarakat agroindustri

5
33) Menunjukkan pemahaman faktor-faktor sosiobudaya berperan dalam
masyarakat agroindustri
34) Mampu menetapkan masalah-masalah kesehatan dalam lingkup populasi
tertentu.
35) Menentukan urutan prioritas masalah.
36) Menjelaskan konsep sehat dan sakit.
37) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang.
38) Menjelaskan interaksi antarfaktor yang menentukan derajat kesehatan.
39) Menjelaskan indikator kesehatan masyarakat.
40) Menetapkan dan mengukur faktor risiko.
41) Menjelaskan sumber-sumber data yang dapat digunakan untuk menentukan
masalah kesehatan
42) Menjelaskan masalah kesehatan di Indonesia (triple burden disease).
43) Menjelaskan perbedaan masalah kesehatan negara berkembang dan negara
maju.
44) Mengidentifikasi jenis pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum.
45) Menjelaskan pengertian pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier.
46) Menjelaskan tipe-tipe pelayanan Rumah Sakit.
47) Menguraikan bentuk pelayanan kesehatan pribadi.
48) Mengidentifikasi struktur organisasi pelayanan kesehatan masyarakat
primer / Puskesmas.
49) Menguraikan fungsi dan kedudukan Puskesmas.
50) Menguraikan tata kerja/bentuk-bentuk kerja sama Puskesmas dengan
instansi pelayanan kesehatan lain atau Pemerintah.
51) Menguraikan asas penyelenggaraan Puskesmas.
52) Menjelaskan upaya/program-program kesehatan yang ada di Puskesmas.
53) Menjelaskan peranan Posyandu dalam system pelayanan kesehatan
Indonesia.
54) Menguraikan masalah dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
55) Menjelaskan pengertian dokter keluarga.
56) Menguraikan sejarah perkembangan dokter keluarga.
57) Menjelaskan pengertian keluarga, fungsi keluarga dan komposisi keluarga.
58) Menjelaskan alasan keluaraga sebagai objek pelayanan.
59) Menguraikan tujuan pelayanan dokter keluarga.
6
60) Menguraikan ciri-ciri pelayanan dokter keluarga.
61) Menjelaskan praktik pelayanan dokter keluarga.
62) Menjelaskan manfaat pelayanan dokter keluarga.
63) Menjelaskan masalah dalam pelayanan dokter keluarga di Indonesia saat ini.
64) Membandingkan pelayanan dokter keluarga di beberapa negara.
65) Menyadari bahwa pasien merupakan kesatuan bio-psiko-sosio-kultural.
66) Mengidentifikasi pertimbangan etika dalam hubungan profesional dengan
pasien.
67) Menjelaskan model hubungan dokter pasien.
68) Menjelaskan status profesi dokter saat ini.
69) Menguraikan ciri profesionalitas dokter.
70) Menguraikan standar etika kedokteran.
71) Menjelaskan pendekatan-pendekatan masalah etika.
72) Menguraikan kesamaan kedudukan dokter pasien.
73) Menentukan masalah-masalah kesehatan lingkungan agroindustri secara
umum.
74) Menjelaskan pengaruh faktor sosial budaya dalam masalah kesehatan
masyarakat agroindustri.
75) Menguraikan masalah pestisida pada masyarakat agroindusti dan dampaknya.
76) Menguraikan masalah kesehatan kerja pada masyarakat agroindustri.
77) Menguraikan masalah air pada masyarakat agroindustri dan pengelolaannya.
78) Menguraikan masalah makanan dan pengelolaanya.
79) Menguraikan masalah limbah dan pengelolaannya.
80) Menjelaskan masalah penyebaran vektor terutama nyamuk dan tikus pada
masyarakat agroindustri.

5. Dasar Pengetahuan
Untuk dapat menguasai kompetensi blok ini, peserta didik memerlukan dasar
pengetahuan:
1. Strategi Belajar
2. Filsafat ilmu
3. Etika dan hukum kedokteran
4. Standar Kompetensi Dokter Indonesia

7
5. Sejarah Perkembangan Ilmu Kedokteran
6. Pengantar evidence-based medicine
7. Pemanfaatan teknologi informasi
8. Ilmu Komunikasi
9. Bahasa sebagai alat komunikasi
10. Ilmu sosial dan budaya dasar
11. Sosiologi kedokteran
12. Sosiologi masyarakat agroindustri
13. Masalah kesehatan di Indonesia.
14. Masalah dalam etika kedokteran.
15. Pengantar epidemiologi dan biostatistik.
16. Pelayanan kesehatan di Indonesia.
17. Konsep pelayanan kedokteran keluarga.
18. Pelayanan kesehatan primer (Puskesmas).
19. Masalah kesehatan agroindustri.
20. Kesehatan lingkungan di area agroindustri
21. Kesehatan dan keselamatan kerja di daerah agroindustri

6. Praktikum Penunjang
a. Telaah Kompetensi Dokter
b. Pemanfaatan TI untuk Kedokteran
c. Visitasi Puskesmas: Pengenalan Puskesmas
d. Telaah artikel ilmiah
e. Visitasi Puskesmas: Program kerja Puskemas
f. Telaah kasus etika
g. Visitasi Komunitas: PHBS
h. Pengenalan alat mikrobiolgi dan mikrobiologi air
i. Visitasi Komunitas: Masalah kesehatan agroindustri
j. Analisis Masalah Agromedis

7. Keterampilan Medik

8
a. Komunikasi efektif
b. Komunikasi dengan masyarakat
c. Teknik presentasi
d. Teknik wawancara
e. Anamnesis identitas

8. Bagian Yang terlibat


1. MEU
2. MKU
3. Teknologi informasi
4. Ilmu Kesehatan Masyarakat

9
9. Pohon Topik HUMANIORA DAN MASALAH KESEHATAN

Strategi Belajar Masalah Kesehatan Sistem Pelayanan Aspek Sosial Budaya Pengenalaan
Komunikasi Komunitas Kesehatan Konsep sehat sakit Agromedik
Adult learning Pelayanan primer sekunder Etika dan hukum Pengertian agromedik
PBL Pengantar Epidemiologi dan tersier UUPK dan sumpah dokter Ruang lingkup
KBK Demografi Struktur organisasi Hubungan dokter pasien agromedik
SKDI Morbiditas puskesmas Kesehatan lingkungan
Malpraktik
Teknologi Mortalitas Sistem rujukan Kesehatan kerja
Informasi Faktor risiko Sistem pembiayaan PHBS
Masalah kesehatan kesehatan
prioritas Kedokteran keluarga
Masalah pelayanan
kesehatan

10
9. Prasyarat Blok
Sebelum mengikuti blok ini peserta didik harus sudah lulus SMA dengan
kemampuan IPA dan memiliki kemampuan membaca referensi dalam Bahasa
Inggris.

10. Referensi Utama


- Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Balai Pustaka, Jakarta
- Setiadi, Elly M., 2005. Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila untuk Perguruan
Tinggi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
- Sumarsono, et. al., 2001. Pendidikan Kewarganegaraan, PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta
- James A. Marcum. 2008. An Introductory Philosophy of Medicine: Humanizing
Modern Medicine. Baylor University. Texas, USA.
- Fred Gifford. 2011. Philosophy of Medicine. North Holland, Netherland.
- The Liang Gie, 2004. Filsafat Ilmu, Penerbit Liberty, Yogyakarta
- Norcini, 2002. ABC Teaching and Learning in Medicine: Problem-Based Learning.
BMJ
- Dent, J.A., Harden, R. M. (2006). A Practical Guide for Medical Teachers. London:
Elsevier.
- Dunphy, B.C., & Williamson, S.L. (2004). In pursuit of expertise. Advances in
Health Science Education, vol. 9, pp.107 -127.
- Gagne, R. M. (1970). The Condition of Learning. (2nd Ed). New York: Holt,
Rinehart, and Winston.
- Kember, D. (1991). Instructional design for meaningful learning. Instructional
Science, 20, 289 – 310.
- Ormrod, J.E. (2007) Human Learning, (5th ed). Upper Saddle River, New Jersey:
Pearson Education.
- Yulyanti. (2010). Peran Teknologi Informasi dalam Bidang Kesehatan. Jakarta
- Arif, M. A (2011). Peran Teknologi Informasi bagi Dunia Kesehatan. Yogyakarta:
AMIKOM
- Fuad, A. (2005). Peran teknologi Informasi untuk Mendukung Manajemen
Informasi Rumah Sakit.
http://anisfuad.blog.ugm.ac.id/2005/09/13/peran-teknologi-informasi-untuk-
mendukung-manajemen-informasi-kesehatan-di-rumah-sakit/
- Abrahamson J.H. 1984. Metode Survei dalam Kedokteran Komunitas.edisi ketiga.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Soekidjo, N. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi 2 , Rineka Cipta ,
Jakarta.
- Azwar, Azrul. 1997. Pengantar Epidemiologi. Jakarta Binarupa Aksara.
- Budiarto, Eko. 2002. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.
- Entjang, Indan. 2004. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Citra Aditya.
- Dainur. 2004. Materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.
- Notoatmodjo, S. 2004. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

11
- Candra, Budiman. 2000. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta: EGC.
- Friedman. Harold.H.. 1985. Diagnosis Medis Berorientasikan Masalah. Boston,
Massachussets: Little, Brown and Company.
- Depkes RI. 2003. Kebijakan Dasar Puskesmas.
- Azwar, A. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: EGC
- Azwar, A. 1996. Menuju Pelayanan Kesehatan yang Lebih Bermutu. Jakarta.
- Direktorat Kesehatan Komunitas. Manajemen Puskesmas. Ditjen Bina Kesehatan
Masyarakat.
- Azwar, A. 2004. Reformasi Pelayanan Kesehatan. Jakarta: EGC
- Azwar, A. 2004. Standardisasi Pelayanan Kesehatan. Jakarta: EGC
- Riarto, S & Trisnantoro, L (2011). Kebijakan Pembiayaan Kesehatan.
http://pmmc.or.id/news/health-news/72-kebijakan-pembiayaan-
kesehatan-.html
- Azwar, A. 2002. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
- Azwar, A. 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: EGC
- Lee Gan,G., Azwar.A,Wonodirekso.S 2004. A Primer on Family Medicine Practice.
Singapore: Singapore International Foundation.
- Blum HL. 1972. Planning for Health; Development Application of Social Change
Theory. New York: Human Science Press.
- Departemen Kesehatan RI. 1998. Paradigma Sehat, Pola Hidup Sehat, dan Kaidah
Sehat. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat..
- Hanafiah, Y., & Amir, A., 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC,
Jakarta
- Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
- Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992
- Undang-Undang Praktik Kedokteran No. 29 tahun 2006
- Sagiran. 2006. Panduan Etika Medis. Yogyakarta: PSKI FK UMY.
- Azwar, A. 1991. Profesi Kedokteran, Tantangan dan Harapan. Jakarta
- Sampurna, B. 2007. Praktik Kedokteran sebagai Hak Istimewa. Jakarta: FK
Universitas Indonesia
- Vardiansyah, Dani, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi, Ghalia Indonesia, Jakarta
- Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
- Warsito, 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia.
- Haryanto, H. (2012). Problematika Sosial Budaya Masyarakat Kehutanan dan
Pertanian. Universitas Tanjungpura
- Kurnia, A. (2011). Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Pertanian. Jakarta.
- Hartomo & Aziz, A., 1990. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
- Muzaham, Fauzi., 1995. Memperkenalkan sosiologi Kesehatan. Jakarta: UI-Press.
- Hagen, D et al. 2007. Agromedicine Programme. University of Kansas Medical
Center
- Azwar, A. (1979). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC
- Mukono. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.
- Slamet, Juli Soemirat. 2004. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
- Widyastuti, Palupi. 2000. Bahaya Bahan kimia pada Kesehatan Manusia dan
Lingkungan. Jakarta: EGC.

12
- Frederick, Gunther. 2000. Environmental Epidemiology. New York: Lewis
Publisher.
- ________. 2002. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. RS Persahabatan. UIP
- Sumakmur. 2004. Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC
- Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008). Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan
- Azwar, A. 1983. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Jakarta: EGC

13
II. METODE BELAJAR

Kurikulum berbasis kompetensi ini dilaksanakan dengan strategi belajar


berdasarkan paradigma baru pendidikan dokter yang dikenal dengan SPICES, dengan
strategi utama belajar berdasarkan masalah atau problem-based learning (PBL).
Kegiatan belajar dilaksanakan berdasarkan modul yang berisi skenario masalah yang
menjadi trigger atau pemicu dalam belajar dengan melalui diskusi tutorial. Informasi
diperoleh melalui belajar mandiri, kuliah, konsultasi pakar, dan praktikum. Informasi
yang telah diperoleh didiskusikan dalam kelompok sesuai jadwal dengan seorang
fasilitator. Untuk melatih ketrampilan medik peserta didik diberikan latihan dalam skills
lab, praktek lapangan, serta praktek kerja klinik.

a. Diskusi Tutorial
Diskusi tutorial dalam kelompok beranggotakan 10-12 mahasiswa dan dipandu
oleh tutor yang bertugas sebagai fasilitator. Dalam berdiskusi mahasiswa akan
dihadapkan pada masalah dalam bentuk skenario modul sebagai triger dalam diskusi.
Satu skenario modul diselesaikan dalam dua kali pertemuan dengan selang waktu 3-4
hari. Diskusi dilakukan dengan metode seven jumps (tujuh langkah) yang terdiri dari:
(1) mengklarifikasi istilah/konsep
(2) menetapkan permasalahan
(3) menganalisis masalah
(4) menarik kesimpulan langkah (3)
(5) menentukan tujuan belajar
(6) belajar mandiri
(7) menarik kesimpulan dari seluruh informasi yang telah ada.
Langkah (1) sampai dengan (5) dilaksanakan pada pertemuan pertama, langkah (6)
dilaksanakan di luar kelompok, sedangkan (7) dilaksanakan pada pertemuan kedua.

b. Kuliah
Kuliah dilaksanakan untuk memperjelas konsep atau teori yang sulit atau khusus
sehingga membutuhkan pakar untuk meningkatkan pemahaman, Kuliah dilaksanakan
dalam bentuk konsultasi interaktif berdasarkan masalah. Kuliah dapat diselenggarakan
secara terjadwal, maupun atas permintaan mahasiswa bila diperlukan.

14
c. Praktikum
Praktikum bertujuan meningkatkan atau memperjelas pemahaman suatu materi
serta menambah ketrampilan bekerja di laboratorium. Beberapa materi akan lebih
mudah dipahami dengan melakukan praktikum laboratorium maupun lapangan baik di
Puskesmas maupun komunitas sehingga konsep atau teori menjadi lebih mudah.

d. Pelatihan Keterampilan Medik


Pelatihan ketrampilan medik bertujuan melatih ketrampilan medik mahasiswa
dengan menggunakan model pembelajaran yang ada seperti manekin, phantom, pasien
simulasi dan lainnya. Selain itu, pelatihan juga menggunakan prinsip role model dimana
antarmahasiswa berperan sebagai dokter dan pasien. Materi pelatihan berupa
komunikasi dasar, penyuluhan, komunikasi dokter pasien, komunikasi dengan tokoh
masyarakat dan lainnya.

e. Konsultasi Pakar
Konsultasi pakar dilaksanakan secara terjadwal atau atas permintaan mahasiswa
apabila menemui kesulitan dalam memahami konsep atau teori ketika diskusi kelompok
maupun belajar mandiri. Konsultasi pakar bisa dilaksanakan dalam kelompok kecil
maupun besar tergantung kebutuhan.

f. Belajar Mandiri
Belajar mandiri dilaksanakan dalam rangka menggali informasi yang lebih luas
atau lebih dalam tentang suatu materi yang terkait dengan masalah yang sedang
dipelajari sehingga dapat memahami kasus secara interdisiplin ilmu.

g. Evaluasi
Evaluasi Blok dilaksanakan pada minggu keenam dengan mempertimbangkan
proses selama mengikuti kegiatan belajar-mengajar, etika, dan penguasaan
pengetahuan. Komponen penilaian terdiri atas kegiatan ujian teori dan praktikum
(70%) dan tutorial (30%). Dengan ketentuan pencapaian masing-masing komponen
nilai tidak boleh kurang dari 60 untuk dapat lulus blok. Bobot masing-masing
komponen nilai ditetapkan oleh tim blok.

15
Nilai akhir blok berupa angka 0-100 dengan penjenjangan seperti matriks berikut.

ANGKA HURUF NILAI KETERANGAN

80,00 - 100 A 4 Sangat baik

70,00 - 79,99 B 3 Baik

60,00 - 69,99 C 2 Cukup

50,00 - 59,99 D 1 Kurang

0 - 49,99 E 0 Sangat kurang

16
III. JADWAL KEGIATAN BELAJAR

BLOK 1: HUMANIORA DAN MASALAH KESEHATAN

MINGGU JAM SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT


07.00-08.00 - - -
08.00-10.00 Overview TUTORIAL KULIAH 3 TUTORIAL
10.00 – SKILLS LAB
I PRAKTIKUM 2
11.00
Dasar-dasar TI
11.00-12.00 KULIAH 1
PRAKTIKUM 1
KULIAH 2
12.00-14.00 Telaah Kompetensi
Dokter
07.00-08.00 -
PRAKTIKUM 3
PRAKTIKUM 4
08.00-10.00 Visitasi : TUTORIAL SKILLS LAB TUTORIAL
Telaah Jurnal
Pengenalan
II 10.00-11.00
Puskesmas KULIAH 4
11.00-12.00 Kuliah 5 KULIAH 6
12.00-
14.00
07.00-08.00 -
08.00-10.00 TUTORIAL KULIAH 9 TUTORIAL
PRAKTIKUM 5
10.00 – SKILLS LAB
Visitasi:
11.00
III Program kerja KULIAH 7
PRAKTIKUM 6
Puskemas
11.00-12.00 Telaah kasus
Etika
12.00-14.00 KULIAH 8 -
07.00-08.00 -
08.00-10.00 TUTORIAL KULIAH 13 TUTORIAL
PRAKTIKUM 7
PRAKTIKUM 8
Visitasi SKILLS LAB
Pengenalan alat
10.00-11.00 Komunitas: PHBS KULIAH 10
IV mikrobiolgi dan
mikrobiologi air
11.00-12.00
12.00 –
KULIAH 11 KULIAH 12 -
14.00
07.00-08.00 - - -
PRAKTIKUM 9
08.00-10.00 TUTORIAL KULIAH 17 TUTORIAL
Visitasi
SKILLS LAB PRAKTIKUM 10
Komunitas:
10.00-11.00 Analisis Masalah Kuliah 18
V Masalah
KULIAH 14 Agromedis
kesehatan
11.00 – agroindustri
12.00
12.00-14.00 KULIAH 15 KULIAH 16

VI 09.00-11.00 UJIAN BLOK


VII 09.00-11.00 UJIAN REMEDIASI

17
TOPIK KULIAH :

1. Kuliah 1 : Filsafat Ilmu

2. Kuliah 2 : KBK model SPICES

3. Kuliah 3 : Peran teknologi informasi dalam belajar

4. Kuliah 4 : Pengantar Epidemiologi

5. Kuliah 5 : Indikator Kesehatan Masyarakat

6. Kuliah 6 : Evidence Based Medicine

7. Kuliah 7 : Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia

8. Kuliah 8 : Sistem asuransi kesehatan

9. Kuliah 9 : Kedokteran keluarga

10. Kuliah 10 : Konsep Sehat Sakit

11. Kuliah 11 : Etika dan Hukum Kesehatan

12. Kuliah 12 : Sumpah Dokter dan Praktik UUPK

13. Kuliah 13 : Komunikasi efektif

14. Kuliah 14 : Aspek Sosiobudaya

15. Kuliah 15 : Ruang lingkup agromedis

16. Kuliah 16 : Kesehatan lingkungan di area agroindustri

17. Kuliah 17 : Kesehatan kerja di area agroindustri

18. Kuliah 18 : Ilmu Perilaku (PHBS)

18
TOPIK PRAKTIKUM :

1. Praktikum 1: Telaah Kompetensi Dokter


2. Praktikum 2: Dasar-dasar TI
3. Praktikum 3: Visitasi Puskesmas Pengenalan Puskesmas (Struktur dan Organisasi)
4. Praktikum 4: Telaah artikel ilmiah
5. Praktikum 5: Visitasi Puskesmas Program kerja Puskemas
6. Praktikum 6: Telaah kasus etika
7. Praktikum 7: Visitasi Komunitas PHBS
8. Praktikum 8: Pengenalan alat mikrobiolgi dan mikrobiologi air
9. Praktikum 9: Visitasi Komunitas: Masalah kesehatan agroindustri
10. Praktikum 10: Analisis Masalah Agromedis

TOPIK KETERAMPILAN MEDIK :

1. Keterampilan Medik 1: Pengantar Komunikasi


2. Keterampilan Medik 2: Komunikasi Massa
3. Keterampilan Medik 3: Wawancara
4. Keterampilan Medik 4: Teknik Presentasi
5. Keterampilan Medik 4: Komunikasi dokter dalam tim dan pemuka masyarakat

19
PRAKTIKUM I
TELAAH KOMPETENSI DOKTER

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 1 (Telaah kompetensi dokter)
Laboratorium : Lab. Pendidikan Kedokteran

a. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa memiliki kemampuan mengidentifikasi kompetensi yang harus
dikuasai profesi dokter
2) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk membedakan berbagai tingkat
kompetensi
3) Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam sesuai
dengan tingkat kompetensi.
4) Mahasiswa mampu melakukan refleksi diri sejauhmana mahasiswa mampu
menguasai kompetensinya.

b. Pengantar
Seorang dokter dalam bekerja dalam profesinya dituntut untuk professional.
Sejak tahun 1982, pendidikan dokter di Indonesia mengacu pada Kurikulum Inti
Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) I yang menitik beratkan pada penguasaan
disiplin ilmu. Sesuai dengan percepatan ilmu kedokteran dan kesehatan, disepakati
bahwa KIPDI I akan diperbaiki dan diperbarui setiap 10 tahun. Pada tahun 1994,
KIPDI II diterbitkan dan masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu
sehingga gambaran dokter yang dihasilkan belum terinci secara eksplisit.
Standar Kompetensi Dokter disusun untuk memperbaiki KIPDI II tahun 2004 yang
sudah saatnya diganti. Menurut SK Mendiknas no 045 / U/ 2002, kompetensi adalah

20
seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang
sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-
tugas di bidang tertentu. Elemen-elemen kompetensi terdiri dari:
a. Landasan kepribadian
b. Penguasaan ilmu dan ketrampilan
c. Kemampuan berkarya
d. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasar ilmu
dan keterampilan yang dikuasai
e. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dan
keterampilannya.

Berikut beberapa manfaat dari standar kompetensi dokter di Indonesia:


1. Standar kompetensi dokter merupakan acuan utama bagi institusi pendidikan
kedokteran dalam mengembangkan kurikulumnya masing masing sehingga
walaupun kurikulum berbeda, tetapi dokter yang dihasilkan dari berbagai
institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi.
2. Standar kompetensi dokter dijadikan sebagai acuan utama bagi Departemen
Kesehatan maupun Dinas Kesehatan dalam pengembangan sumber daya
manusia kesehatan, dalam hal ini dokter, agar dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang baik.
Beberapa area kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang dokter adalah:
1. Komunikasi efektif
2. Keterampilan klinis
3. Landasan ilmiah ilmu kedokteran
4. Pengelolaan masalah kesehatan
5. Pengelolaan informasi
6. Mawas diri dan pengembangan diri
7. Etika, moral, medikolegal, dan profesionalisme, serta keselamatan pasien.

Kompetensi dokter layanan kedokteran primer termuat dalam dokumen Konsil


Kedokteran Indonesia (KKI) tahun 2012 berjudul “STANDAR KOMPETENSI DOKTER”
yang menjabarkan dalam 7 area kompetensi :

21
1. AREA KOMUNIKASI EFEKTIF; mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal
dan nonverbal dengan
pasien semua usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega, dan profesi lain.
2. AREA KETERAMPILAN KLINIS; melakukan prosedur klinis dalam menghadapi
masalah kedokteran sesuai dengan kebutuhan pasien dan kewenangannya.
3. AREA LANDASAN ILMIAH ILMU KEDOKTERAN; mengidentifikasi, menjelaskan, dan
merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran-
kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum.
4. AREA PENGELOLAAN MASALAH KESEHATAN : mengelola masalah kesehatan
individu, keluarga, maupun masyarakat secara komprehensif, holistik, bersinambung,
koordinatif, dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan primer.
5. AREA PENGELOLAAN INFORMASI : mengakses, mengelola, menilai secara kritis
kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan
masalah, atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di
tingkat primer.
6. AREA MAWAS DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI : melakukan praktik kedokteran
dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannya; mengatasi masalah
emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi
kemampuan profesinya; belajar sepanjang hayat; merencanakan, menerapkan, dan
memantau perkembangan profesi secara sinambung.
7. AREA ETIKA, MORAL, MEDIKOLEGAL DAN PROFESIONALISME SERTA
KESELAMATAN PASIEN : berprilaku profesional dalam praktik kedokteran serta
mendukung kebijakan kesehatan; bermoral dan beretika serta memahami isu etik
maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran; menerapkan program
keselamatan pasien.

c. Alat dan Bahan


1) Laptop/PC yang terhubung jaringan internet
2) Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012

d. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai bekerja
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok

22
3) Dalam setiap kelompok, carilah sebuah kasus terkait dengan kompetensi dokter
dari internet atau sumber yang lain misalnya dokter yang melayani penyakit
tertentu kemudian dilakukan analisis berdasarkan Standar Kompetensi dokter
Indonesia tahun 2012.
4) Mintalah persetujuan kasus tersebut kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan standar kompetensi
dokter sebagai instrumen bekerja
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan
8) Mempresentasikan hasil analisis masing-masing kelompok dan
mendiskusikannya
9) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a. Judul
b. Pendahuluan
c. Ringkasan kasus
d. Hasil telaah kasus
e. Kesimpulan dan Saran
f. Kepustakaan
g. Lampiran (print out kasus)

e. Referensi
1. Standar Kompetensi Dokter Indonesia Tahun 2012
2. Dent, H & Harden, R. (2006). Practical Guide for Medical Teachers. New York:
Elsevier.

23
PRAKTIKUM 2
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KEDOKTERAN

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 1 (Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Kedokteran)
Laboratorium : Laboratorium Pendidikan Kedokteran

a. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa memiliki kemampuan mengenal berbagai sumber informasi dalam
kedokteran
2) Mahasiswa mampu mencari sumber informasi yang digunakan untuk menunjang
belajarnya.
3) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengelola informasi yang didapatkan
melalui berbagai sumber informasi yang
4) Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat sesuai
dengan informasi yang didapatkan melalui berbagai sumber informasi

b. Pengantar
Mahasiswa kedokteran diharuskan untuk dapat mengakses, mengelola, menilai
secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan
menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam kaitan pelayanan
kesehatan di tingkat primer.
Untuk itu, seorang lulusan dokter harus mampu menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan
pencegahan dan promosi kesehatan serta penjagaan dan pemantauan status
kesehatan pasien.
Mahasiswa kedokteran dituntut untuk:
1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik (internet)

24
2. Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan
validitasnya.
3. Menetapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan sebuah
informasi
4. Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi, untuk menghimpun data
relevan menjadi arsip pribadi
5. Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi
informasi ilmiah secara sistematik.
6. Meningkatkan kemampuan secara terus menerus, dalam merangkum dan
menyimpan arsip.
Mahasiswa juga harus mampu untuk memahami manfaat dan keterbatasan
teknologi informasi. Mahasiswa harus menerapkan prinsip teori teknologi informasi
dan komunikasi untuk membantu penggunaannya dengan memperhatikan secara
khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya.
Dalam hal ini, mahasiswa harus mampu memanfaatkan informasi kesehatan yaitu:
1. Memasukkan data dan menemukan kembali database dalam praktik kedokteran
secara efisien.
2. Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dengan
menganalisis arsipnya.
3. Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu dan
pelayanan kesehatan.
Informatika kedokteran adalah disiplin yang berkaitan erat dengan
pemanfaatan komputer dan teknologi komunikasi di bidang kedokteran. Edward H.
Shortliffe mendefinisikan informatika kedokteran sebagai berikut: "Disiplin ilmu
yang berkembang dengan cepat yang berurusan dengan penyimpanan, penarikan
dan penggunaan data, informasi, serta pengetahuan biomedik secara optimal untuk
tujuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan”. Pakar informatika
kedokteran lainnya, Haux mengatakan dengan istilah "systematic processing of
information in medicine".
Informatika kedokteran berhubungan dengan semua ilmu dasar dan terapan
dalam kedokteran dan terkait sangat erat dengan teknologi informasi modern, yaitu
komputer dan komunikasi. Posisinya di kedokteran berada di persilangan antara
berbagai disiplin ilmu dasar dan terapan di kedokteran serta disiplin di luar

25
kedokteran, seperti ilmu informasi, komputer, statistika, dan psikologi. Secara
terapan, aplikasi informatika kedokteran meliputi rekam medis elektronik, sistem
pendukung keputusan medis, sistem penarikan informasi kedokteran, hingga
pemanfaatan internet dan intranet untuk sektor kesehatan, termasuk
pengembangan sistem informasi klinis. Informatika kedokteran sebagai disiplin
baru berkembang terutama karena kesadaran bahwa pengetahuan kedokteran tidak
akan mampu terkelola (unmanageable) oleh metode berbasis kertas (paper-based
methods).
Menurut Shortliffe, subdomain dalam informatika kedokteran (atau kesehatan)
adalah sebagai berikut:
a. Bioinformatika bekerja pada proses molekuler dan seluler. Riset dan aplikasi
bioinformatika memfasilitasi upaya-upaya rekayasa genetik, penemuan
vaksin, hingga ke riset besar tentang human genome project.
b. Medical imaging (informatika pencitraan) mengkaji aspek pengolahan data
dan informasi digital pada level jaringan dan organ. Kemajuan pada sistem
informasi radiologis, PACS (picture archiving communication systems),
sistem pendeteksi biosignal adalah beberapa contoh terapannya.
c. Informatika klinis, yang menerapkan pada level individu (pasien), mengkaji
mengenai berbagai inovasi teknologi informasi untuk mendukung pelayanan
pasien, komunikasi dokter pasien, serta mempermudah dokter dalam
mengumpulkan hingga mengolah data individu.
d. Informatika kesehatan masyarakat yang berfokus kepada populasi untuk
mendukung pelayanan, pendidikan dan pembelajaran kesehatan masyarakat.
Para ahli informatika kedokteran memiliki organisasi yang menghimpun tokoh,
peneliti, organisasi (baik akademik, pendidikan, penelitian maupun pelayanan)
serta industri yang memiliki aktivitas dalam informatika kedokteran yaitu
International Medical Informatics Association (IMIA). Organisasi ini memiliki
beberapa workgroup maupun special interest group yang masing-masing memiliki
bidang kajian informatika kedokteran yang berbeda-beda seperti aspek pendidikan,
standar, informatika kedokteran untuk negara berkembang dan lain sebagainya.
Organisasi ini juga memiliki organisasi berdasarkan region, misalnya untuk Asia
Pasifik terdapat Asia Pacific Medical Informatics Association (APAMI). Setiap tiga

26
tahun sekali, IMIA mengadakan pertemuan kongres yang dikenal dengan tajuk
MEDINFO. Pada tahun 2007 MEDINFO akan dilaksanakan di Brisbane.
Informatika Kesehatan merupakan ilmu yang mengkaji penggunaan Teknologi
Informatika dalam menyelesaikan masalah kesehatan. pendekatan Kesehatan
merupakan pendekatan yang sangat berbeda dengan kedokteran. Kita kenal dalam
kesehatan beberapa pendekatan, antara lain :
a. Promotif
b. preventif,
c. Kuratif dan
d. Rehabilitatif.
Kesehatan merupakan pendekatan preventif dan promotif. Oleh karenanya
dalam kajian ilmu terjadi pemisahan dari kedokteran. Berkembang kemudian
Kesehatan masyarakat. Pada Informatika Kesehatan terdapat hal yang prinsip yang
sangat berbeda dengan Informatika Kedokteran. Pada Informatika Kesehatan
beberapa penelusuran masalah akan berawal dari eviden base. Karena itu cakupan
informatika kesehatan merupakan cakupan massal bukan individu. Indikator-
indikator kesehatan tidak terbentuk secara individu tetapi merupakan komulatif
dari massa/public. pada informatika kesehatan tidak dilakukan intervensi secara
personal tetapi secara public. Pada informatika Kesehatan tidak berbasis kuratif dan
rehabilitatif tetapi menekankan pendekatan promotif dan preventif. Teknologi pada
Informatika Kesehatan digunakan untuk melakukan intervensi secara publik
dengan cakupan yang luas.
Banyak rumah sakit menggunakan sistem informasi untuk menangani
transaksi yang berhubungan dengan karyawan, juru medis, dan pasien. Sistem
informasi terkadang diperluas, tidak hanya pada pemakaian internal, melainkan
juga pemakaian eksternal ( pengunjung ) agar memudahkan mencari data pasien
yang sedang menginap di rumah sakit. Teknologi informasi juga diterapkan pada
peralatan - peralatan medis, misalnya pada CT scan ( Computer Tomography ). CT
scan adalah peralatan medis yang mampu memotret bagian dalam dari seseorang
tanpa dilakukan pembedahan, yakni dengan menggunakan teknologi sinar X.
Dalam hal ini Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan sangat memiliki
peran yang sangat signifikan untuk menolong jiwa manusia serta riset-riset di
bidang kedokteran. Teknologi Informasi digunakan untuk menganalisis organ tubuh

27
manusia bagian dalam yang sulit dilihat, untuk mendiagnosa penyakit, menemukan
obat yang tepat untuk mengobati penyakit, dan masih banyak lagi.
Dengan adanya Teknologi Informasi saat ini dapat mempermudah Dokter dan
Perawat dalam memonitor kesehatan pasien monitor detak jantung pasien lewat
monitor komputer, aliran darah, memeriksa organ dalam pasien dengan sinar X.
Sebagai contoh saat perawatan Almarhum Mantan Presiden Soeharto di Rumah
Sakit Pertamina Jakarta, tahun 2008. Dengan teknologi modern bisa memonitor,
bahkan menggantikan fungsi organ dalam seperti Jantung, Paru-paru dan Ginjal. Itu
merupakan teknologi kesehatan yang digabungkan dengan teknologi Informasi dan
Komputer sebagai pemanfaatan telematika juga berperan penting didalamnya.
Teknologi informasi berupa Sistem Computerized Axial Tomography (CAT)
digunakan untuk menggambar struktur bagian otak dan mengambil gambar
seluruh organ tubuh yang tidak bergerak dengan menggunakan sinar-X. Sedangkan
untuk yang bergerak menggunakan sistem Dynamic Spatial Reconstructor (DSR)
yang dapat digunakan untuk melihat gambar dari berbagai sudut organ tubuh.
Single Photon Emission Computer Tomography (SPECT) merupakan sistem
komputer yang mempergunakan gas radioaktif untuk mendeteksi partikel-partikel
tubuh yang ditampilkan dalam bentuk gambar. Bentuk lain adalah Position
Emission Tomography (PET) juga merupakan sistem komputer yang dapat
menampilkan gambar yang menggunakan isotop radioaktif. Selain itu Nuclear
Magnetic Resonancemerupakan teknik mendiagnosis dengan cara
memagnetikkan nucleus (pusat atom) dari atom hidrogen.
Saat ini telah ada temuan baru yaitu komputer DNA, yang mampu
mendiagnosis penyakit sekaligus memberi obat. Ehud Shapiro beserta timnya dari
institut Sains Weizmann, Rehovot, Israel, telah membuat komputer DNA ultrakecil
yang mempu mendiagnosis dan mengobati kanker tertentu. Komponen penyusun
komputer DNA adalah materi genetik yang diketahui urutan basanya. Seperti
diketahui bahwa urutan gen secara intrinsik mempunyai kemampuan inheren
untuk mengolah informasi layaknya komputer. Oleh karena itu trilyunan mesin
biomolekul yang bekerja dengan ketepatan lebih dari 99,8% itu, dapat dikemas
dalam setetes larutan. Komputer DNA menggunakan untai nukleotida sebagai
masukan data, dan molekul biologi aktif sebagai larutan data dapat menghasilkan

28
sistem kendali logis dari proses-proses biologi. Mesin ini bahkan mampu
mengerjakan soal-soal matematik.
c.

Alat dan Bahan


1) Laptop yang terhubung jaringan internet
2) Referensi tentang Teknologi Informasi

d. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai bekerja
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, carilah sebuah kasus yang terkait dengan pemanfaatan
teknologi informasi dalam bidang kedokteran
4) Mintalah persetujuan kasus tersebut kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan prinsip-prinsip
pemanfaatan teknologi informasi sebagai instrumen bekerja dari sisi promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Analisis dilakukan mengenai: manfaat teknologi informasi, keuntungan teknologi
informasi dalam bidang kedokteran, kerugiannya serta dampak yang positif dan
negatif dari teknologi tersebut.

29
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan
8) Mempresentasikan hasil analisis masing-masing kelompok dan
mendiskusikannya.
9) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut:
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran

e. Referensi
1. Yulyanti. (2010). Peran Teknologi Informasi dalam Bidang Kesehatan. Jakarta
2. Arif, M. A (2011). Peran Teknologi Informasi bagi Dunia Kesehatan.
Yogyakarta: AMIKOM
3. Fuad, A. (2005). Peran teknologi Informasi untuk Mendukung Manajemen
Informasi Rumah Sakit

30
PRAKTIKUM 3
VISITASI PUSKESMAS: PENGENALAN PUSKESMAS

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 3 (Visitasi Puskesmas: Pengenalan Puskesmas)
Laboratorium : Laboratorium Pendidikan Kedokteran

A. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis pelayanan primer yang ada di
Indonesia.
2) Mahasiswa memiliki kemampuan mengenali berbagai struktur organisasi yang
ada di Puskesmas
3) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengkaji fungsi dari masing-masing
struktur yang ada di Puskesmas.
4) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan hubungan antar bagian di
dalam struktur organisasi tersebut.
5) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menguraikan hubungan antara
Puskesmas dengan institusi lain baik yang setara maupun di atasnya.

B. Pengantar

Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang


merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan
terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan.
Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografi dan keadaan

31
infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah
kerja puskesmas.
Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.000.
penduduk. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu
ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yaitu Puskesmas
Pembantu dan Puskesmas Keliling.Pelayanan kesehatan yang diberikan di
Puskesmas adalah pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan pengobatan
(kuratif), upaya pencegahan (preventif), peningkatan kesehatan (promotif) dan
pemullihan kesehatan (rehabilitatif) yang ditujukan kepada semua penduduk dan
tidak dibedakan jenis kelamin dan golongn umur, sejak pembuahan dalam
kandungan sampai tutup usia
Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas
masing-masing Puskesmas. Penyusunan struktur organisasi Puskesmas di satu
kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan
penetapannya dilakukan dengan Peraturan Daerah.
Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi Puskesmas sebagai
berikut :
a. Kepala Puskesmas
b. Unit Tata Usaha yang bertanggung jawab membantu Kepala Puskesmas dalam
pengelolaan :
1. Data dan Informasi
2. Perencanaan dan Penilaian
3. Keuangan
4. Umum dan Kepegawaian
c. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas :
1. Upaya Kesehatan Masyarakat termasuk pembinaan terhadap UKBM
2. Upaya Kesehatan Perorangan
d. Jaringan Pelayanan Puskesmas :
1. Unit Puskesmas Pembantu
2. Unit Puskesmas Keliling
3. Unit Bidan di Desa/Komunitas
1. Kriteria Personalia

32
Kriteria personalia yang mengisi struktur organisasi Puskesmas disesuaikan dengan
tugas dan tanggung jawab masing-masing unit Puskesmas. Khusus untuk Kepala
Puskesmas, kriteria tersebut dipersyaratkan harus seorang sarjana di bidang
kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat.
2. Eselon Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas adalah penanggung jawab pembangunan kesehatan di tingkat
kecamatan. Sesuai dengan tanggung jawabnya tersebut dan besarnya peran Kepala
Puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan
maka jabatan Kepala Puskesmas setingkat dengan eselon II-B
Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang memenuhi syarat untuk menjabat jabatan
eselon II-B, ditunjuk pejabat sementara yang sesuai dengan kriteria Kepala
Puskesmas yakni seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum
pendidikannya mencakup bidang kesehatan masyarakat, dengan kewenangan yang
setara dengan pejabat tetap.

Berikut ini adalah contoh struktur organisasi di Puskesmas

33
C.Alat dan Bahan
1) Peralatan tulis
2) Kamera dokumentasi
3) Transportasi
4) Komputer / laptop

D.Tugas
1. Mahasiswa mendatangi Puskesmas yang telah ditentukan
2. Mahasiswa meminta izin kepada Kepala Puskesmas
3. Mahasiswa mendengarkan penjelasan (sambutan) yang akan disampaikan oleh
Kepala Puskesmas atau yang mewakili
4. Mahasiswa berdiskusi dan bertanya mengenai topik-topik yang telah ditentukan
5. Mahasiswa mengamati beberapa data (grafik, gambar atau laporan) yang ada di
Puskesmas dengan dipandu oleh Kepala Puskesmas atau yang mewakili.
6. Pada akhir sesi, Kepala Puskesmas menutup sesi praktikum
7. Mahasiswa pamit kepada Kepala Puskesmas
8. Mahasiswa membuat laporan yang akan diberikan kepada koordinator blok.
9. Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran

E. Referensi
1. Azwar, A. 1999. Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia. Jakarta: EGC
2. Depkes RI. 2003. Kebijakan Dasar Puskesmas.
3. Direktorat Kesehatan Komunitas. Manajemen Puskesmas. Ditjen Bina
Kesehatan Masyarakat.

34
PRAKTIKUM 4
TELAAH ARTIKEL ILMIAH

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 4 (Telaah Artikel Ilmiah)
Laboratorium : Laboratorium Pendidikan Kedokteran

A. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa memiliki kemampuan membedakan berbagai jenis artikel, jurnal,
makalah yang memiliki content ilmiah.
2) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan struktur artikel jurnal yang
diterbitkan dalam jurnal
3) Mahasiswa mampu menjelaskan dengan baik isi dari setiap struktur yang ada
dalam jurnal
4) Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat yang
berdasarkan isi artikel dalam jurnal.

B. Pengantar
Artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk tulisan yang berisi hasil dari sebuah
penelitian ilmiah. Penulisan Jurnal harus mengikuti aturan yang sudah ditentukan
oleh penerbit Jurnal yang sudah terakreditasi. Secara umum, sebuah artikel dalam
jurnal terdiri dari:

1. Judul
Judul Jurnal harus informatif mengenai penelitian yang dilakukan. Judul dibuat
dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Judul artikel yang baik bersifat ringkas,
informatif dan deskriptif, terdiri dari sejumlah kata yang seminimal mungkin, tepat
menggambarkan isi tulisan yang mengandung konsep atau hubungan antar konsep;

35
tepat dalam memilih dan menentukan urutan kata. Judul disusun tidak terlalu
spesifik. Penggunaan singkatan atau formula kimia sebaiknya dihindari. Judul ditulis
dengan huruf besar (kapital), istilah bahasa asing ditulis dengan huruf miring
(italic).

2. Nama dan Alamat Penulis

Nama diri penulis ditulis tanpa mencantumkan gelar dan penulisan nama dari satu
artikel ke artikel lainnya harus tetap/konsisten, hal ini penting untuk pengindeksan
nama pengarang. Keterangan tentang program yang ditempuh, alamat penulis
dan/atau e-mail yang dicantumkan harus jelas, dan diletakkan pada catatan kaki
(foot note) di halaman judul dengan ukuran huruf (font) yang lebih kecil dari ukuran
huruf pada isi teks.
Contoh:
Pengaruh Pemberian Ekstrak Mengkudu terhadap Tekanan Darah
Irawan Fajar Kusuma
Universitas Jember

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat


e-mail:irawanfk99@yahoo.com

3. Abstrak

Abstrak merupakan miniatur dari isi Jurnal secara keseluruhan. Pada umumnya
hanya terdiri dari satu paragraf dengan satu spasi dan tidak lebih dari 200 kata.
Informasi yang perlu ditulis dalam abstrak meliputi tinjauan singkat permasalahan
penelitian, tujuan penelitian, metodologi penelitian serta temuan penelitian. Jangan
lupa menambahkan kata kunci pada bagian akhir dari Abstrak. Abstrak ditulis
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Abstrak merupakan sari tulisan yang
meliputi latar belakang penelitian secara ringkas, tujuan, teori, bahan dan metode
yang digunakan, hasil temuan serta simpulan. Rincian perlakuan tidak perlu
dicantumkan, kecuali jika memang merupakan tujuan utama penelitian. Abstrak
bersifat konsisten dengan isi artikel dan self explanatory, artinya mengandung

36
alasan mengapa penelitian dilakukan (rasionalisasi & justifikasi), dan tidak merujuk
kepada grafik, tabel atau acuan pustaka. Abstrak ditulis dilengkapi dengan 3 – 5 kata
kunci, yaitu istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang
dibahas dalam artikel.

4. Pendahuluan
Bagian Pendahuluan pada umumnya berisi latar belakang penelitian,
permasalahan, pemecahan masalah, serta tujuan penelitian. Dalam menguraikan
permasalahan dan pemecahan masalah juga dijelaskan landasan teori secara
singkat yang mendasari pemikiran penulis. Landasan teori yang digunakan harus
berasal dari hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan permasalahan dan
telah diterbitkan dalam jurnal terakreditasi.
Dalam pendahuluan dikemukakan suatu permasalahan/konsep/hasil penelitian
sebelumnya secara jelas dan ringkas sebagai dasar dilakukannya penelitian yang
akan ditulis sebagai artikel ilmiah. Pustaka yang dirujuk hanya yang benar-benar
penting dan relevan dengan permasalahan untuk men”justifikasi” dilakukannya
penelitian, atau untuk mendasari hipotesis. Pendahuluan juga harus menjelaskan
mengapa topik penelitian dipilih dan dianggap penting, dan diakhiri dengan
menyatakan tujuan penelitian tersebut.

5. Metode Penelitian
Bagian Metode Penelitian menguraikan secara singkat mengenai rancangan
penelitian (model penelitian), populasi, teknik sampling, instrumen penelitian serta
pengolah data yang akan dilakukan. Jangan lupa untuk mencantumkan sumber
rujukan yang digunakan pada setiap metode yang digunakan.
Alur pelaksanaan penelitian harus ditulis dengan rinci dan jelas sehingga peneliti
lain dapat melakukan penelitian yang sama (repeatable and reproduceable).
Spesifikasi bahan-bahan harus rinci agar orang lain mendapat informasi tentang
cara memperoleh bahan tersebut. Jika metode yang digunakan telah diketahui
sebelumnya, maka acuan pustakanya harus dicantumkan. Jika penelitian terdiri dari
beberapa eksperimen, maka metode untuk masing-masing eksperimen harus
dijelaskan.

37
6. Pembahasan
Bagian Pembahasan berisi uraian mengenai hasil pengolahan data serta temuan
yang didapatkan baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Biasanya hasil
pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Temuan penelitian harus
menjawab tujuan penelitian yang nantinya akan dijadikan sebagai dasar dalam
membuat simpulan dan saran
Hasil penelitian dalam bentuk data merupakan bagian yang disajikan untuk
menginformasikan hasil temuan dari penelitian yang telah dilakukan. Ilustrasi hasil
penelitian dapat menggunakan grafik/tabel/gambar. Tabel dan grafik harus dapat
dipahami dan diberi keterangan secukupnya. Hasil yang dikemukakan hanyalah
temuan yang bermakna dan relevan dengan tujuan penelitian.
Temuan di luar dugaan yang tidak sesuai dengan tujuan penelitian harus mendapat
tempat untuk dibahas. Jika artikel melaporkan lebih dari satu eksperimen, maka
tujuan setiap penelitian harus dinyatakan secara tegas dalam teks, dan hasilnya
harus dikaitkan satu sama lain.
Dalam Pembahasan dikemukakan keterkaitan antar hasil penelitian dengan teori,
perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian lain yang sudah
dipublikasikan. Pemnbahasan menjelaskan pula implikasi temuan yang diperoleh
bagi ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya.

7. Simpulan
Simpulan merupakan jawaban singkat dari masalah penelitian. Saran dibuat
berdasarkan simpulan dan sebaiknya mengacu pada tindakan praktis atau berupa
usulan untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Simpulan merupakan
penegasan penulis mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Saran hendaknya
didasari oleh hasil temuan penelitian, berimplikasi praktis, pengembangan teori
baru (khusus untuk program doktor), dan atau penelitian lanjutan.

8. Daftar Pustaka
Daftar Pustaka berisi semua rujukan atau referensi yang digunakan penulis pada
seluruh isi jurnal. Cara menuliskan Daftar Pustaka biasanya mengikuti aturan dari
penerbit jurnal. Tidak diperkenankan menggunakan rujukan atau referensi yang
tidak dapat menjamin otoritas keilmuannya.

38
Bahan rujukan (referensi) yang dimasukkan dalam daftar pustaka hanya yang
benar-benar disebutkan dalam naskah artikel. Penulisan daftar rujukan secara
lengkap dilakukan pada halaman baru. Agar penulisan daftar pustaka lengkap, maka
daftar dibuat sebagai tahap penulisan paling akhir. Naskah dibaca dari awal sampai
akhir, lalu ditulis dalam daftar semua referensi yang ada dalam naskah dan daftar
tersebut digunakan untuk menyusun daftar pustaka.
Gaya penulisan pada setiap jumal tidak sama, sehingga harus dipelajari dengan
seksama bagaimana gaya/style dari jumal yang akan dikirimi naskah artikel.
Konteks rujukan yang dicantumkan hanya yang benar-benar ada kaitannya dengan
isi penelitian. Perlu diminimalkan pencantuman referensi dari skripsi, tesis,
disertasi, abstrak, in press. Bahan rujukan berbahasa asing ditulis sesuai dengan
aslinya. Penggunaan et at, dalam bahan rujukan hanya digunakan jika jumlah
penulis terdiri lebih dari 6 orang.
Penulisan daftar pustaka masing-masing bidang ilmu mengikuti pedoman yang
dikeluarkan oleh organisasi intemasional yang menerbitkan publikasi berkala (lihat
lampiran). Dalam sistem penulisan nama dipergunakan sistem penulisan nama
penulis secara intemasional (yaitu, nama keluarga sebagai entry). Apabila nama
keluarga penulis tidak jelas, maka dituliskan nama penulis secara lengkap.

9. Lain-Lain
Catatan kaki (footnotes): ditulis di bagian bawah dan biasa digunakan sebagai
informasi program studi dan alamat penulis. Dalam bidang ilmu sosial, catatan kaki
merupakan keterangan atau penjelasan atas teks tulisan yang dicatat pada bagian
bawah halaman teks tulisan yang bersangkutan dan diberi tanda tertentu. Penulisan
catatan kaki sebaiknya dibatasi dan biasanya menggunakan ukuran huruf yang lebih
kecil daripada huruf dalam teks.

CONTOH TEKNIK PENULISAN NASKAH ARTIKEL

Petunjuk bagi Calon Penulis

1.) Artikel yang akan diterbitkan dalam Jurnal Terakreditasi


2.) Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan huruf Times

39
New Romans (font 12), disusun sistematik dengan urutan sebagai berikut: a) Judul
dengan huruf kapital (singkat dan jelas), b) Nama penulis ditulis di bawah judul
(tanpa gelar) diikuti nama institusi, Universitas Padjadjaran. c) Abstrak dalam
bahasa Inggris dan Indonesia (maksimum 150 kata), d) Kata kunci (keywords) 3-5
kata. Sebagai catatan kaki (footnote) dituliskan Program Studi dan Bidang Kajian
Utama, serta alamat korespondensi penulis, e) Pendahuluan, f) Metode, g) Hasil dan
Pembahasan, h) Kesimpulan dan Saran, i) Ucapan terima kasih (bila ada) dan,j)
Daftar Pustaka. .Abstrak ditulis dengan jarak 1 spasi. Isi naskah ditulis dengan spasi
rangkap, jumlah halaman naskah keseluruhan tidak melebihi 15 halaman dengan ,
format atas dan kiri berjarak 4 cm, kanan dan bawah 3 cm dari tepi kertas kuarto.
3.) Naskah artikel diserahkan dalam bentuk soft-copy dan file elektroniknya
(disket atau CD) bersamaan, dengan berkas pendaftaran ujian tesis atau disertasi ke
Sub Bagian Akademik.
4.) Ilustrasi dalam bentuk foto, gambar, grafik/tabel harus utuh, jelas terbaca.
Penulisan judul tabel letaknya di bagian atas, nama gambar termasuk grafik
letaknya di bagian bawah, dengan nomor urut angka Arab. Foto (hitam putih)
besamya antara ¼ halaman sampai ½ halaman. ludul foto ditulis di bagian bawah
foto. Untuk ilmu eksakta, penulisan satuan ukuran menggunakan sistem IU
(Intemational Unit System).
5.) Daftar Pustaka / rujukan dalam isi naskah disusun berdasarkan bidang ilmu
masing-masing mengikuti pedoman yang dikeluarkan oleh organisasi intemasional
yang menerbitkan publikasi berkala
6.) Naskah yang masuk akan diseleksi, diberi catatan dan dikirimkan kepada
redaktur ahli (penyunting ahli) untuk dikoreksi dan diberi catatan. Selanjutnya
penulis melakukan pembetulan naskah dan mengirimkan kembali naskah yang
telah dibetulkan dalam suatu CD.
7.) Penulis yang naskahnya dimuat dalam jumal akan menerima terbitan satu
eksemplar.

Proses Penulisan Naskah


Terdapat banyak sekali jumal ilmiah untuk setiap bidang ilmu karena hampir di
setiap negara maju, organisasi profesi ilmiahnya menerbitkan jumal yang bertaraf
intemasional. Diantara jumal-jumal ilmiah tersebut tentu saja masing-masing

40
memiliki inhouse style yang berbeda-beda.
Di lain fihak, kualitas suatu jumal ilmiah sangat ditentukan antara lain oleh kualitas
kerjasama antara pengelola jumal (dewan redaksi), penyunting ahli dan penulis
artikel ilmiah. Bagi seorang peneliti, adalah suatu prestasi yang membanggakan
apabila artikel ilmiah yang ditulis dari penelitian yang telah di lakukannya dapat
dipublikasikan dalam salah satu jumal ilmiah. Oleh karena itu langkah pertama yang
harus dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan cara mengikuti gaya
selingkung dari jumal yang diharapkan akan mempublikasikan tulisan yang dibuat.
Secara singkat tahapan yang harus dilalui adalah :
a) Dapatkan dan cermati petunjuk bagi calon penulis yang biasanya dicantumkan
pada setiap penerbitan jumal.
b) Tulislah naskah sesuai dengan ketentuan yang dipersyaratkan (format, jenis
dan ukuran kertas, marjin (batas) kiri, atas, kanan, bawah dan lain-lain). Prinsip
utamanya adalah mengerti dan memahami dengan benar pengertian tentang
komponen-komponen penyusun (batang tubuh) suatu artikel.
c) Diamkan naskah yang sudah ditulis untuk sementara waktu, kemudian bacalah
kembali, biasanya akan banyak ditemukan kesalahan dalam naskah yang telah
dibuat.
d) Setelah penulis anggap sempuma, mintalah teman atau kolega untuk membaca
dan berdiskusi serta memberikan komentamya. Pertimbangkan komentar mereka
dalam memperbaiki naskah kita.

Pengiriman Naskah
Sebelum dikirimkan kepada dewan redaksi (penyunting ahli), naskah artikel yang
telah disusun diberikan kepada tim pembimbing / promotor untuk ditelaah dan
dikoreksi. Setelah naskah selesai diperbaiki sesuai dengan saran tim pembimbing /
promotor, naskah artikel dilampirkan dalam berkas pengajuan UT/UD, disertai 1
lembar surat pemyataan bahwa naskah telah diperiksa, dikoreksi dan disetujui tim
pembimbing / promotor. Setelah lulus UT/UD dan telah melakukan revisi, naskah
artikel ilmiah (yang telah direvisi) dikirimkan ke perpustakaan sebagai prasyarat
wisuda, dengan mengikuti cara pengiriman naskah kepada dewan redaksi seperti
yang telah ditetapkan sebagai berikut : lembar surat permohonan pemuatan artikel,
eksemplar naskah artikel dalam bentuk print out, CD berisi file naskah dengan

41
menyebutkan word processor yang digunakan. Perpustakaan akan melanjutkan
pengiriman naskah artikel tersebut kepada Dewan Redaksi.

Daftar Pustaka / Rujukan


Penulisan daftar pustaka masing-masing bidang ilmu disusun mengikuti pedoman
yang dikeluarkan oleh organisasi intemasional yang menerbitkan publikasi berkala.
Cantumkan nama semua penulis bila tidak lebih dari 6 orang, dan bila lebih dari 6
orang penulis, tuliskan nama 6 penulis pertama dan selanjutnya et al. Jumlah
rujukan sebaiknya dibatasi sampai 25 buah dan secara umum merujuk pada tulisan
yang terbit dalam satu dekade terakhir.
Perlu dihindari penggunaan abstrak sebagai rujukan. Materi yang telah dikirim
untuk publikasi tetapi belum diterbitkan harus dirujuk dengan menyebutkannya
sebagai pengamatan yang belum dipublikasi (unpublished observation) seizin nara
sumber. Makalah yang telah diterima untuk publikasi tetapi belum terbit dapat
digunakan sebagai rujukan dengan perkataan “in press” .
Hendaknya juga dihindari rujukan berupa komunikasi pribadi (personal
communication), kecuali untuk informasi yang tidak mungkin diperoleh dari
sumber umum. Sebutkan nama sumber dan tanggal komunikasi, dapatkan izin
tertulis dan konfirmasi ketepatan dari sumber komunikasi.

C. Alat dan Bahan


1) Laptop yang terhubung jaringan internet
2) Referensi Penulisan Artikel dalam jurnal

D. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai bekerja
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, carilah sebuah artikel jurnal dari internet
4) Mintalah persetujuan artikel tersebut kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok dengan memperhatikan langkah-
langkah penulisan artikel ilmiah.
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan.

42
8) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan
d) Hasil telaah
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (print out jurnal

E. Referensi
Mufida, E. (2012). Kerangka Penulisan Karya Ilmiah dalam bentuk jurnal. Jakarta.

43
PRAKTIKUM 5
VISITASI PUSKESMAS: PROGRAM KERJA PUSKESMAS

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 5 (Visitasi Puskesmas: Program Kerja)
Laboratorium : Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

A. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa mampu mengidentifcikasi berbagai kerjasama antar bagian dan
profesi di Puskemas
2) Mahasiswa memiliki kemampuan mengenali kerjasama berbagai struktur
organisasi yang ada di Puskesmas
3) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengkaji fungsi dari masing-masing
struktur yang ada di Puskesmas kaitannya dengan fungsi dari bagian lain.
4) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan hubungan antar bagian
di dalam struktur organisasi tersebut.
5) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menguraikan hubungan antara
Puskesmas dengan institusi lain baik yang setara maupun di atasnya.

B. Pengantar

Upaya Dan Asas Penyelenggaraan Puskesmas

Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas yakni terwujudnya


Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, Puskesmas bertanggung jawab
menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang
keduanya jika ditinjau dari system kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua, yakni :

44
1. Upaya Kesehatan Wajib
Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional, dan global, serta yang mempunyai daya ungkit tinggi
untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus
diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya
kesehatan wajib tersebut adalah :
a. Upaya Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan

2. Upaya Kesehatan Pengembangan


Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan permasalahan keehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang
disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan
dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni :
a. Upaya Kesehatan Sekolah
b. Upaya Kesehatan Olah Raga
c. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
d. Upaya Kesehatan Kerja
e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
f. Upaya Kesehatan Jiwa
g. Upaya Kesehatan Mata
h. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Upaya laboratoriom medis dan laboratorium kesehatan masyarakat serta upaya
pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan
pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan Puskesmas.
Perawatan kesehatan masyarakat merupakan pelayanan penunjang baik upaya
kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Apabila perawatan

45
kesehatan masyarakat menjadi permasalahan spesifik di daerah tersebut, maka
dapat dijadikan sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan.
Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula bersifat upaya inovasi,
yakni upaya lain diluar upaya Puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan
kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka
mempercepat tercapainya visi Puskesmas.
Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh Puskesmas
bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan masukan
dari BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib
Puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta
peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan
pengembangan pilihan Puskesmas ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan
kabupaten/kota. Dalam keadaan tertentu upaya kesehatan pengembangan
Puskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota.
Apabila Puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan
pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan
kabupaten/kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu
dinas kesehatan kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional
lainnya.
Dalam keadaan tertentu, masyarakat membutuhkan pula pelayanan rawat inap.
Untuk ini di Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan rawat inap tersebut yang
dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan tenaga, sarana,
dan prasarana sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut di beberapa daerah tertentu telah muncul pula kebutuhan
masyarakat terhadapt pelayanan medik spesailistik. Dalam hal ini, apabila ada
kemampuan, di Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan medik spesialistik
tersebut, baik dalam bentuk rawat jalan maupun rawat inap. Keberadaan pelayanan
medik spesialistik di Puskesmas hanya dalam rangka mendekatkan pelayanan
rujukan kepada masyarakat yang membutuhkan. Status dokter dan atau tenaga
spesialis yang bekerja di Puskesmas dapat sebagai tenaga konsulen atau tenaga
tetap fungsional Puskesmas yang diatu oleh dinas kesehatan kabupaten/kota
setempat.

46
Perlu diingat meskipun Puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik
spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan fungsi Puskesmas tetap
sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggungjawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya.

Asas Penyelenggaraan Puskesmas

Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus


menerapkan asas penyelenggaraan Puskesmas secara terpadu. Asas penyelenggaraan
Puskesmas tersebut dikembangkan dari ketiga fungsi Puskesmas. Dasar pemikirannya
adalah pentingnya menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi Puskesmas dalam
menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya
kesehatan pengembangan. Asas penyelenggaraan Puskesmas yang dimaksud adalah :
1. Asas Pertanggungjawaban Wilayah
Asas penyelenggaraan Puskesmas yang pertama adalah pertanggungjawaban
wilayah. Dalam arti Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini Puskesmas harus
melaksanakan berbagai kegiatan, antara lain sebagai berikut :
a. Menggerakkan pembangunan berbagai sector tingkat kecamatan sehingga
berwawasan kesehatan.
b. Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya
c. Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh
masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya
d. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertam (primer) secara merata dan
terjangkau di wilayah kerjanya
Diselenggarakan upaya kesehatan strata pertama oleh Puskesmas Pembantu.,
Puskesmas Keliling, Bidan di Desa serta berbagai upaya kesehatan di luar gedung
Puskesmas lainnya (outreach activities) pada dasarnya merupakan realisasi dari
pelaksanaan asas pertanggungjawaban wilayah.
2. Asas Pemberdayaan Masyarakat

47
Asas penyelenggaraan Puskesmas yang kedua adalah pemberdayaan masyarakat.
Dalam arti Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga, dan masyarakat,
agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas.Untuk ini,
berbagai potensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukan Badan
Penyantun Puskesmas (BPP). Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh
Puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat antara lain :
a. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak : Posyandu, Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB)
b. Upaya Pengobatan : Posyandu, Pos Obat Desa (POD)
c. Upaya Perbaikan Gizi : Posyandu, Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi
(Kadarzi)
d. Upaya Kesehatan Sekolah : dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua/wali
murid, Saka Bakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren)
e. Upaya Kesehatan Lingkungan : Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa
Percontohan kesehatan Lingkungan (DPKL)
f. Upaya Kesehatan Usia Lanjut : Posyandu Usila, Panti Wreda
g. Upaya Kesehatan Kerja : Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
h. Upaya Kesehatan Jiwa : Posyandu, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat
(TPKJM)
i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional : Taman Obat Keluarga (TOGA),
Pengobatan Pengobatan Tradisional (Battra)
j. Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (inovatif) : dana sehat, Tabungan Ibu
Bersalin (Tabulin), mobilisasi dana keagamaan

3. Asas Keterpaduan
Asas penyelenggaraan Puskesmas yang ketiga adalah keterpaduan. Untuk mengatasi
keterbatasan sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaraan
setiap upaya Puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu, jika mungkin sejak
dari tahap perencanaan. Ada dua macam keterpaduan yang perlu diperhatikan,
yakni :
a. Keterpaduan Lintas Program
Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan penyelenggaraan
berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggung jawab Puskesmas. Contoh
keterpaduan lintas program antara lain :

48
1) Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) : keterpaduan KIA dengan P2M, Gizi,
Promosi Kesehatan, Pengobatan
2) Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) : keterpaduan kesehatan lingkungan dengan
promosi kesehatan, pengobatan, kesehatan gigi, kesehatan reproduksi
remaja, dan kesehatan jiwa
3) Puskesmas Keliling : keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, gizi, promosi
kesehatan, kesehatan gigi
4) Posyandu : Keterpaduan KIA dengan KB, Gizi, P2M, kesehatan jiwa, promosi
kesehatan
b. Keterpaduan Lintas Sektor
Keterpaduan lintas sector adalah upaya memadukan penyelenggaraan upaya
Puskesmas (wajib, pengembangan, dan inovasi) dengan berbagai program dari
sector terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatandan dunia
usaha. Contoh keterpaduan lintas sektor antara lain :
1) Upaya Kesehatan Sekolah : keterpaduan sector kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama
2) Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sector kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama, pertanian
3) Upaya Kesahatan Ibu dan Anak : keterpaduan sector kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK, PLKB
4) Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sector kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pertanian, pendidikan,, agama, koperasi, dunia usaha, PKK,
PLKB
5) Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan ; keterpaduan sector kesehatan
dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, koperasi, dunia usaha,
organisasi kemasyarakatan
6) Upaya Kesehatan Kerja : keterpaduan sector kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, tenaga kerja, dunia usaha

4. Asas Rujukan
Asas penyelenggaraan Puskesmas yang keempat adalah rujukan. Sebagai sarana
pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh Puskesmas

49
terbatas. Padahal Puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai
permasalahan kesehatannya. Untuk membantu Puskesmas menyelesaikan berbagai
masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka
penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas (wajib, pengembangan, dan inovasi) harus
ditopang oleh asas rujukan.
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas kasus penyakit
atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal
adalam arti dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan
kesehatan lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan
kesehatan yang sama.
Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas ada
dua macam rujukan yang dikenal yakni :
a. Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila
suatu Puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka
Puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih
mampu (baik horizontal maupun vertikal. Sebaliknya pasien paska rawat inap yang
hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke Puskesmas.
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :
1) Rujukan kasusu untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik
(misalnya operasi) dan lain-lain.
2) Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih lengkap
3) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten untuk melakukan bimbingan tenaga Puskesmas dan atau pun
menyelenggarakan pelayanan medik di Puskesmas
b. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
Cakupan rujukan pelayanan kesehatanadalah masalah kesehatan masyarakat,
misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana.
Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu Puskesmas
tidak mampu menyelenggarakan supaya kesehatan masyarakat wajib dan
pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi
kebutuhan masyarakat. Apabila suatu Puskesmas tidak mampu menanggulangi

50
masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak mampu menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat, maka Puskesmas merujuknya ke dinas kesehatan
kabupaten/kota.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :
1) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual,
bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai, dan bahan makanan.
2) Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan kejadian
luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan
gangguan kesehatan karena bencana alam.
3) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan
tanggung jawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau
penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (antara lain Usaha Kesehatan
Sekolah, Usaha Kesehatan Kerja, Usaha Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh
air bersih) kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. Rujukan operasional
diselenggarakan apabila Puskesmas tidak mampu.

C. Alat dan Bahan


1) Peralatan tulis
2) Kamera dokumentasi
3) Transportasi
4) Komputer / laptop

D. Tugas
- Mahasiswa mendatangi Puskesmas yang telah ditentukan
- Mahasiswa meminta izin kepada Kepala Puskesmas
- Mahasiswa mendengarkan penjelasan (sambutan) yang akan disampaikan oleh
Kepala Puskesmas atau yang mewakili
- Mahasiswa berdiskusi dan bertanya mengenai topik-topik yang telah ditentukan
- Mahasiswa mewawancarai petugas kesehatan yang ada di Puskesmas dengan
dipandu oleh Kepala Puskesmas atau yang mewakili.
- Mahasiswa melakukan observasi terhadap dokumen program-program yang ada
di Puskesmas

51
- Pada akhir sesi, Kepala Puskesmas menutup sesi praktikum
- Mahasiswa pamit kepada Kepala Puskesmas
- Mahasiswa membuat laporan yang akan diberikan kepada koordinator blok I
- Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (Dokumentasi dan lainnya)

E. Referensi
Azwar, A. 1999. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2003. Kebijakan Dasar Puskesmas.
Direktorat Kesehatan Komunitas. Manajemen Puskesmas. Ditjen Bina Kesehatan
Masyarakat.

PRAKTIKUM 6
TELAAH KASUS ETIKA

52
Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan
Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 6 (Telaah Kasus Etika)
Laboratorium : Laboratorium Pendidikan Kedokteran

A. Tujuan Belajar:
1) Mahasiswa memiliki kemampuan membedakan masalah etik dan hukum
profesi dokter
2) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk menetapkan, mengkaji, manganalisis
masalah etik dan hukum profesi dokter
3) Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam
masalah etik dan hukum profesi dokter

B. Pengantar

Dalam menjalankan profesinya seorang dokter seringkali menghadapi


berbagai persoalan yang menyangkut etik dan hukum. Untuk dapat
menyelesaikan masalah etik, seorang calon dokter harus mempelajari secara
langsung atau dengan mengkaji kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat.
Calon dokter juga perlu belajar dari pengalaman dokter lain bagaimana
mengambil keputusan yang tepat terhadap berbagai permasalahan terkait
dengan profesinya. Pada paktikum ini mahasiswa berlatih bagaimana
menyelesaikan kasus terkait dengan profesinya kelak.
Salah cara menyelesaikan permasalahan etik dan hukum dalam profesi
dokter adalah menggunakan kerangka berfikir “CoRE-Value” sebagai instrumen
dalam mengambil keputusan. CoRE-Value merupakan kepanjangan dari Codes of
professional conduct, Regulation, Ethical principle, dan Value.
1) Codes of professional conduct merupakan aturan dan kesepakatan terkait
dengan profesi dokter, yaitu Sumpah Dokter, Kode Etik Kedokteran
Indonesia.

53
2) Regulation, merupakan peraturan perundang-undangan terkait dengan
profesi dokter, antara lain Undang-undang Praktik Kedokteran, Undang-
undang Kesehatan.
3) Ethical principle, yaitu prinsip dasar etik yang terdiri atas beneficence,
nonmaleficence, justice, dan autonomy
4) Value, yaitu nilai-nilai yang berlaku dan diyakini oleh pasien, klinisi, dan
yang lain (keluarga pasien, institusi, pegawai), nilai-nilai ini dipengaruhi
oleh faktor sosial-budaya dan agama di masyarakat.

Regulation

Codes of professional Ethical Principles


conduct

Value

Gambar “CoRE-Value framework”

C. Alat dan Bahan


1) Laptop yang terhubung jaringan internet
2) Referensi Etik dan Hukum di bidang kedokteran

D. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai bekerja
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, carilah sebuah kasus profesi dokter terkait dengan
etik dan hukum dari internet

54
4) Mintalah persetujuan kasus tersebut kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan CoRE-Value
framework sebagai instrumen bekerja
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan
8) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (print out kasus)

E. Referensi
Manson, Helen M., 2012. The development of the CoRE-Values frameworks
as an aid to ethical decision-making, Medical Teacher 34:e258-e268

55
PRAKTIKUM 7
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 7 (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Laboratorium : Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

A. Tujuan Belajar :
1) Mahasiswa memiliki kemampuan menguraikan pengertian PHBS
2) Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengurai berbagai tujuan PHBS
3) Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil ke

B. Pengantar

PHBS adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota
keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat. serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya
setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berupaya memberikan pengalaman belajar bagi
perorangan, keluarga, kelompok masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi,
member informasi dan melakukan edukasi, guna menigkatkan pengetahuan, sikap
dan perilaku, melalui pendekatan advokasi, bina suasana (social support) dan
gerakan masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup
sehat, dalam rangka menjaga, memelihara dan menigkatkan kesehatan masyarakat.
(Depkes RI,2002)

56
PHBS itu ragamnya sangat banyak. Misalnya mengenai gizi: makan beranekaragam
makanan, minum tablet tambah darah, mengonsumsi garam beryodium,
memberi bayi dan balitya kapsul vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti
membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan. Setiap rumah
tangga dianjurkanuntuk melasanakan semua perilaku kesehatan.
Tujuan PHBS:
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani,
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan,
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan,
4. Mencegah timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lainnya
5. Menanggulangi penyakit dan masalah-masalah kesehatan lain, dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan
6. Memanfaatkan pelayanan kesehatan
7. Mengembangkan dan menyelenggarakan upaya kesehatan bersumber
daya masyarakat
Promosi kesehatan dan PHBS di Kabupaten/Kota dikoordinasikan melalui
tiga sentra, yaitu Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Puskesmas merupakan pusat kegiatan promosi kesehatan dan PHBS di tingkat
kecamatan dengan sasaran baik individu yang datang ke Puskesmas maupun
keluarga dan masyarakat di wilayah Puskesmas. Rumah Sakit bertugas
melaksanakan promosi kesehatan dan PHBS kepada individu dan keluarga yang
datang ke Rumah Sakit. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaksanakan promosi
kesehatan untuk mendukung promosi kesehatan dan PHBS yang dilaksanakan oleh
Puskesmas dan Rumah Sakit serta sarana pelayanan kesehatan lainnya yang ada di
Kabupaten/Kota. Penanggung jawab dari semua kegiatan promosi kesehatan dan
PHBS di daerah adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota harus dapat mengkoordinasikan dan menyusun kegiatan promosi
kesehatan dan PHBS di wilayahnya dengan melibatkan sarana-sarana kesehatan
yang ada di Kabupaten/Kota tersebut. Program PHBS secara operasional
dilaksanakan di Puskesmas oleh petugas promosi kesehatan Puskesmas dengan

57
melibatkan lintas program dan lintas sektor terkait dengan sasaran semua keluarga
yang ada di wilayah Puskesmas.
Manajemen PHBS di Puskesmas dilaksanakan melalui penerapan fungsi-
fungsi manajemen secara sederhana untuk memudahkan petugas promosi
kesehatan atau petugas lintas program di Puskesmas dalam pelaksanaan program
PHBS di Puskesmas. Manajemen PHBS di Puskesmas dilaksanakan melalui empat
fungsi tahapan Manajemen sesuai kerangka konsep sebagai berikut :
1. Pengkajian dilakukan terhadap masalah kesehatan, masalah perilaku
(PHBS) dan sumber daya. Luaran pengkajian adalah pemetaan masalah
PHBS yang dilanjutkan dengan rumusan masalah.
2. Perencanaan berbasis data akan menghasilkan rumusan tujuan, rumusan
intervensi dan jadwal kegiatan
3. Penggerakan pelaksanaan, merupakan inplementasi dari intervensi
masalah terpilih, yang penggerakannya dilakukan oleh petugas promosi
kesehatan, sedangkan pelaksanaannya bisa oleh petugas promosi
kesehatan atau lintas program dan lintas sektor terkait.
4. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan menggunakan format
pertemuan bulanan, sedangkan penilaian dilakukan pada enam bulan
pertama atau akhir tahun berjalan.
Evaluasi keberhasilan pembinaan PHBS dilakukan dengan melihat indikator
PHBS ditatanan rumah tangga. Namun demikian, karena tatanan rumah tangga
saling berkait dengan tatanan-tatanan lain, maka pembinaan PHBS dilaksanakan
tidak hanya di tatanan rumah tangga, Sasaran dari program PHBS tersebut
mencakup lima tatanan:
1. Tatanan rumah tangga
2. Institusi pendidikan
3. Tempat kerja
4. Tempat umum
5. Sarana kesehatan
Indikator PHBS di tatanan rumah tangga:
1. persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. memberi bayi ASI eksklusif
3. menimbang balita setiap bulan

58
4. ketersediaan air bersih (mencuci tangan dengan air bersih dan sabun,
pengelolaan air minum dan makan di rumah tangga)
5. ketersediaan jamban sehat
6. kesesuaian luas lamtai dengan jumlah penghuni
7. lantai rumah bukan tanah
8. tidak merokok dalam rumah
9. melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. makan buah dan sayur setiap hari,
Pedoman tentang Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertuang dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor:
2269/MENKES/PER/XI/2011 sebagai berikut:

1. Persalinan Di Tolong Oleh Tenaga Kesehatan

Adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para
medis lainnya). Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu
persalinan, sehingga keselamatan ibid an bayi lebih terjamin. Apabila terdapat kelainan
dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.
Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan perlatan yang
aman,bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan
lainnya.

Tanda persalinan
1. Ibu mengalami mulas-mulas yang timbulnya semakin sering dan semakin kuat.
2. Rahim terasa kencang bila diraba, terutama pada saat mulas.
3. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir.
4. Keluar cairan ketuban yang berwarna jernih kekuningan dari jalan lahir.
5. Merasa seperti mau buang air besar
Bila ada salah satu tanda persalinan tersebut, yang harus dilakukan adalah:
1. Segera hubungi tenaga kesehatan (bidan/dokter)
2. Tetap tenang dan tidak bingung
3. Ketika merasa mulas bernapas panjang, mengambil napas melalui hidung dan
mengeluarkan melalui mulut untuk mengurangi rasa sakit.

59
Bahaya persalinan
1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas.
2. Keluar darah dari jalan lahir sebelum melahirkan.
3. Tali pusat atau tangan/kaki nayi terlihat pada jalan lahir.
4. Tidak kuat mengejen.
5. Mengalami kejang-kejang.
6. Air ketuban keluar dari jalan lahir sebelum terasa mulas.
7. Air ketuban keruh dan berbau.
8. Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar.
9. Gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.
10. Keluar darah banyak setelah bayi lahir Bila ada tanda bahaya, ibu harus segera
dibawa kebidan/dokter.

Peran kader
1. Melakukan pendataan jumlah seluruh ibu hamil di wilayah kerjanya dengan
memberi tanda seperti menempelkan stiker.
2. Menganjurkan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya di bidang/ dokter.
3. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan
penyuluhan tentang pentingnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di
fasilitas kesehatan, misalnya melalui penyuluhan kelompok di posyandu, arisan,
pengajian, dan kunjungan rumah.
4. Bersama tokoh masyarakat setempat berupaya untuk menggerakan masyarakat
dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung keselamatan ibu dan bayi seperti dana
sosial bersalin, tabungan ibu bersalin, ambulans desa, calondonor darah, warga
dan suami siap Antar jaga, dan sebagainya.
5. Menganjurkan ibu dan bayinya untuk memeriksakan kesehatan ke bidan/dokter
selama masa nifas (40 hari setelah melahirkan) sedikitnya tiga kali pada hari
minggu pertama, ketiga, dam keenam setelah melahirkan.
6. Menganjurkan ibu ikut keluarga berencana setelah melahirkan.
7. Menganjurkan ibu memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja sampai bayi berumur 6
bulan (ASI Eksklusif).

60
2. Memberi Bayi Asi Ekslusif
Adalah bayi usia 0-6 hanya diberi ASI saja tanpa memberikan tambahan makanan atau
minuman lain. ASI adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang
cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan
baik. Air Susu ibu pertama berupa cairan bening berwarna kekuningan (kolostrum),
sangat baik untuk bayi karena mengandung zat kekebalan terhadap penyakit.
Keunggulan ASI
1. Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan
perkembangan fisik serta kecerdasan.
2. Mengandung zat kekebalan.
3. Melindungi bayi dari alergi.
4. Aman dan terjamin kebersihan, karena langsung disusukan kepada bayi dalam
keadaan segar.
5. Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat diberikan kapan
saja dan di mana saja.
6. Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernapasan bayi.
Sebelum menyusui ibu harus yakin mampu menyusui bayinya dan mendapat
dukungan dari keluarga. Bayi segera dieteki/disusui sesegera mungkin paling lambat 30
menit setelah melahirkan untuk memasang agar ASI cepat keluar dan menghentikan
pendarahan. Teteki/susui bayi sesering mungkin sampai ASI keluar, setelah itu berikan
ASI sesuai kebutuhan bayi, waktu dan lama menyusui tidak perlu dibatasi, dan berikan
ASI dari kedua payudara secara bergantian. Berikan hanya ASI saja hingga bayi berusia 6
bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, selain ASI diberikan pula Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI) dalam bentuk makanan lumat dan jumlah yang sesuai dengan perkembangan
umur bayi. Pemberian ASI tetap dilanjutkam hingga berusia 2 tahun.

Cara menyusui
Sebelum menyusui bayi, terlebih dahulu ibu mencuci kesua tangannya dengan
menggunakan air bersih dan sabun sampai bersih. Lalu bersihkan kedua putting susu
dengan kapas yang telah di rendam terlebih dahulu demngan air hangat. Waktu
menyusui bayi, sebaiknya ibu duduk atau berbaring dengan santai, pikiran ibu harus
dalam keadaan tenang (tidak tegang).

61
Pegang bayi pada belakang bahunya. Tidak pada dasar kepala. Upayakan badan bayi
menghadap rada badan ibu,rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah
payudara ibu. Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu. Jauhkan hidung bayi dari
payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan lengan ibu bagian dalam. Bayi di
susui dengan cara bergantian dari susu sebelah kiri, lalu kesebelah Kanan sampaibayi
merasa kenyang. Setelah selesai menyusui, mulut bayi dan kedua pipi bayi di bersihkan
dengan kapas yang telah di rendam air hangat. Sebelum di tidurkan, bayi harus di
sendawakan dulu supaya udara yang terhisap bias keluar dengan cara meletekkan bayi
tegak lurus pada ibu dan perlahan-lahan di usap belakangnya sampai bersendawa.
Udara akan keluar dengan sendirinya.

Manfaat memberikan ASI


Bagi ibu:
1. Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi.
2. Mengurangi pendarahan setelah persalinan.
3. Mampercepat pemulihan kesehatan ibu.
4. Menunda kehamilan berikutnya.
5. Mengurangi resiko terkena kanker payudara.
6. Lebih praktis krena ASI lebih mudah di berikan pada saat bayi membutuhkan.
Bagi bayi:
1. Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengeng.
2. Bayi tidak sering sakit.
Bagi keluarga:
1. Praktis dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian susu formula dan
perlengkapannya.
2. Tidak perlu waktu dan tenaga untuk menyediakan susu formula misalnya
merebus air dan perlengkapannya.
Menjaga mutu dan jumlah produksi ASI
1. Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, banyak makan. Sayuran dan buah-
buahan. Makan lebih banyak dari biasanya.
2. Banyak minum air putih paling sedikit 8 gelas sehari.
3. Cukup istirahat dengan tidur siang/berbaring selama 1-2 jam dan menjaga
ketenangan pikiran.

62
4. Susui bayi sesering mungkin dari kedua parudara kiri dan kanan secara
bergantian hingga bayi tenang dan puas.
Dukungan suami, orang tua, ibu mertua, dan keluarga lainnya sangat diperlukan agar
upaya pemberian ASI Eklusif selama enam bulan bias berhasil. Ibu yang bekerja tetap
bias nemberikan ASI Eklusif pada bayi caranya:
1. Berikan ASI sebelum berangkat kerja.
2. Selama bekerja, bayi tetap nisa diberi ASI dengan cara memerah ASI sebelum
berangkat kerja dan ditampung digelas yang bersih dan tertutup untuk diberikan
kepada bayi dirumah.
3. Setelah pulang bekerja, bayi disusui kembali seperti biasa.

Cara menyimpan ASI di rumah


1. ASI yang disimpan di rumah di tempat yang sejuk akan tahan 6-8 jam.
2. ASI yang disimpan di dalam termos berisi es batu akan tahan 24 jam.
3. ASI yang disimpan di lemari es akan tahan 3 kali 24 jam.
4. ASI yang disimpan di freezer akan tahan selama 2 minggu.

Cara memberikan ASI yang disimpan.


1. Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air bersih.
2. Apabila ASI diletakan diruangan yang sejuk, segera berikan sebelum masa
simpan berakhir (8 jam).
3. Apabila ASI disimpan dalam termos atau lemari es, ASI yang disimpan dalan
gelas bersih tertutup dihangatkan dengan cara direndam dalam mangkok berisi
air hangat, kemudian ditunggu sampai ASI terasa hangat (tidak dingin).
4. ASI diberikan dengan sendok yang bersih, jangan pakai botol atau dot, karena
botol dan dot lebih sulit dibersihkan dan menghindari terjadinya bingung puting
susu pada bayi.
5. Apa peran kader untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI Eklusif?
6. Mendata jumlah seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir yang ada di
wilayah kerjanya.
7. Menberikan penyuluhan kepada ibu hamil, dan ibu menyusui diposyandu.
Tentang pentingnya memberikan ASI Eklusif.

63
8. Melakukan kunjungan ruma kepada ibu nifas yang tidak dating ke posyandu dan
menganjurkan agar ritin memeriksakan kesehatan bayinya serta mempersiapkan
diri untuk memberikan ASI Eklusif.

3. Menimbang Balita Setiap Bulan


Penimbangan balita di maksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan.
Penimbangan balita di lakukan setiap bulan mulai dari umur 1 tahun sampai 5 tahun
diposyandu. Setelah balita ditimbang di buku KIA (kesehatan ibu dan anak)
atau kartu menuju sehat (KMS) maka akan terlihat berat badannya naik atau tidak naik
(lihat perkembangannya)
Naik, bila:
1. Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna pada KMS.
2. Garis pertumbuhannya pindah ke pita warna di atasnya.
Tidak naik, bila:
1. Garis pertumbuhannya menurun.
2. Garis pertumbuhannya mendatar.
3. Garis pertumbuhannya naik tetapi warna yang lebih muda.
Tanda balita gizi kurang
1. Berat badan tidak naik selama 3 bulan berturut-turut, badannya kurus.
2. Mudah sakit.
3. Tampak lesu dan lemah.
4. Mudah menangis dan rewel.
5. Ada berapa macam gizi pada balita?
6. Gizi buruk pada balita ada 3 macam, yaitu:
7. Kwashiorkor
8. Marasmus
9. Marasmus-kwashiorkor.

Tanda-tanda balita gizi buruk


Tanda-tanda gizi buruk pada kwashiorkor:
1. Edema seluruh tubuh (terutama pada punggung kaki)
2. Wajah bulat dan sembab.
3. Cengeng dan/rewel/apatis.

64
4. Perut buncit.
5. Rambut kusam dan mudah di cabut.
6. Bercak kulit yang luas dan kehitaman/bintik kemerahan.
Tanda-tanda gizi buruk pada marasmus:
1. Tampak sangat kurus.
2. Wajah seperti orang tua.
3. Cengeng/rewel/apatis.
4. Iga gambang, perut cekung.
5. Otot pantat mengendor.
6. Pengeriputanotot lengan dan tungkai.
Manfaat penimbangan balita setiap bulan di posyandu
1. Untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat.
2. Untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita.
3. Untuk mengetahui balita yang sakit, (demam/batuk/diare).
4. Berat badan dua bulan berturut-turut tidak naik, balita yang berat badannya
BGM (Bawah Garis Merah) dan dicurigai Gizi buruk sehingga dapat segera di
rujuk ke puskesmas.
5. Untuk mengetahui kelengkapan Imunisasi.
6. Untuk mendapatkan penyuluhan gizi.

Peran kader
1. Mendata jumlah seluruh balita yang ada di wilayah kerjanya.
2. Memantau jumlah kunjungan ibu yang dating balitanya diposyandu.
3. Memanfaatkan setiap kesempatan didesa/kelurahan untuk memberikan
penyuluhan tentang pentingnya penimbangan balita, misalnya penyuluhan
kelompok diposyandu, arisan, pengajian, kunjungan rumah dan penyuluhan
massa (pengeras suara di mesjid, pengumuman kelurahan, poster, slebaran dll)
4. Melakukan kunjungan rumah kepada ibu yang tidak dating keposyandu
membawa balitanya dan menganjurkan agar rutin menimbang balitanya di
poyandu.
5. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian dan mendorong
masyarakat sepeti: lomba balita sehat, lomba memasak makanan balita sehat,
kegiatan makan bersama untuk balita dan sebagainya.

65
4. Menggunakan Air Bersih

Air adalah kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk minum, memasak,
mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, dan
sebagainya, Agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar sakit. Air bersih secara fisik
dapat dibedakan melalui indra kita, antara lain (dapat dilihat, dirasa, dicium, dan
diraba):
1. Air tidak berwarna harus bening/jernih.
2. Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa dan kotoran
lainnya.
3. Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak payau, dan tidak
pahit harus bebas dari bahan kimia beracun.
4. Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau belerang.
Manfaat menggunakan air bersih
1. Terhindar dari gangguan penyakit seperti Diare, Kolera, Disentri, Thypus,
Kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan.
2. Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya.
Sumber air bersih
1. Mata air
2. Air sumur atau air sumur pompa
3. Air ledeng atau perusahaan air minum
4. Air hujan
5. Air dalam kemasan
Menjaga kebersihan sumber air bersih
1. Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan sampah paling
sedikit 10 meter.
2. Sumber mata air harus dilindungi dari pencemaran.
3. Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus dijaga bangunannya
atidak rusak seperti lantai sumur tidak boleh retak, bibir sumur harus diplester
dan sumur sebaiknya diberi penutup.
4. Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak
berlumut pada lantai/lantai dinding sumur. Ember/gayung pengambil air harus

66
tetap bersih dan diletakan di lantai (ember/gayung digantung di tiang sumur).
Meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman penyakit. kuman penyakit
dalam air mati pada suhu 100 derajat C (saat mendidih).

Peran Kader
1. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki
ketersediaan air bersih dirumahnya.
2. Melakukan pendataan rumah tangga yang sulit mendapatkan air bersih.
3. Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah tangga
yang sulit untuk mendapatkan air bersih.
4. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat berupaya
untuk memberi kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan air bersih di
lingkungan tempat tinggalnya.
5. Mengadakan arisan warga untuk membangun sumur gali atau sumur pompa
secara bergilir.
6. Membentuk kelompok pemakai air pompa (POKMAIR) untuk memelihara
sumber air bersih yang dipakai secara bersama, bagi daerah sulit air.
7. Menggalang dunia usaha setempat untuk member bantuan dalam penyediaan air
bersih.
8. Memanfaatkan setiap kesempatan didesa/kelurahan untuk memberkan
penyuluhan tentang pentingnya menggunakan air bersih, misalnya melalui
penyuluhan kelompok diposyandu, prtemuan Dasa Wisma, arisan, pengajian,
pertemuan desa/kelurahan, kunjungan rumah dan lain-lain.

5. Mencuci Tangan Dengan Air Brsih Dan Sabun


Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit. Bila
digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat masuk
ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan penyakit. Sabun dapat membersihkan kotoran
dan membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan kuman masih tertinggal di
tangan.

Waktu mencuci tangan memakai sabun

67
a. Setiap kali tangan kita kotor (setelah; memegang uang, memegang binatang,
berkebun, dll).
b. Setelah buang air besar
c. Setelah menceboki bayi atau anak
d. Sebelum makan dan menyuapi anak
e. Sebelum memegang makanan
f. Sebelum menyusui bayi

Manfaat mencuci tangan


a. Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan
b. Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri, Typus, kecacingan,
penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Flu burung atau Severe
Acute Respiratory Syndrome (SARS).
c. Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman.

Cara mencuci tangan yang benar


a. Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun.
b. Bersihkan telapak, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung tangan.
c. Setelah itu keringkan dengan lap bersih.

Peran kader
a. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan
penyuluhan tentang pentingnya perilaku cuci tangan, misalnya penyuluhan
kelompok diposyandu, arisan, pengajian, pertemuan kelompok Dasa Wisma, dan
kunjungan rumah.
b. Mengadakan kegiatan gerakan cuci tangan bersama untuk menarik perhatian
masyarakat, misalnya pada peringaan hari-hari besar kesehatan atau ulang tahun
kemerdekaan.

6. Menggunakan Jamban Sehat


Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia
yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung)
yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkanya.

68
Jenis jamban yang digunakan
1. Jamban cemplung
Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan
kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran kedasar lubang. Untuk
jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.
2. Jamban tangki septik/leher angsa
Adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik
kedap air yang befungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran
manusia yang dilengkapi dengan resapan.

Memilih jenis jamban


Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air.
Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk:
a. Daerah yang cukup air
b. Daerah yang padat penduduk, karena dapat menggunakan “multiple
latrine” yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh
beberapa jamban (satu lubang dapat menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban)
c. Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan
kurang lebih 60 cm dari permukaan air pasang.
Setiap anggota rumah tangga harus menggunakan jamban untuk buang air besar/buang
air kecil.
Manfaat menggunakan jamban
a. Menjaga lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau.
b. Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya.
c. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular
penyakit Diare, Kolera Disentri,Typus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan,
penyakit kulit, dan keracunan.

Syarat jamban sehat


a. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan
lubang penampungan minimal 10 meter)
b. Tidak berbau.

69
c. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
d. Tidak mencemari tanah sekitarnya.
e. mudah dibersihkan dan aman digunakan.
f. Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
g. Penerangan dan ventilasi yang cukup.
h. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai.
i. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih.

Cara memelihara jamban sehat


a. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air.
b. Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih.
c. Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat.
d. Tidak ada serangga,(kecoa,lalat,) dan tikus yang berkeliaran.
e. Tersedia alat pembersih (sabun, sikat, dan air bersih).
f. Bila ada kerusakan, segera perbaiki.

Peran kader dalam membina masyarakat


a. Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki serta
menggunakan jamban dirumahnnya.
b. Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah rumah
tangga yang belum memiliki jamban sehat.
c. Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat berupaya
untuk menggerakan masyarakat untuk memiliki jamban.
d. Mengadakan arisan warga untuk membangun jamban sehat secara bergilir.
e. Menggalang dunia usaha setempat untuk member bantuan dalam penyediaan
jamban sehat.
f. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberi
penyuluhan tentang pentingnya memiliki dan menggunakan jamban sehat,
misalnya melalui penyuluhan kelompok di posyandu, pertemuan kelompok Dasa
Wisma, arisan, pengajian, pertemuan desa/kelurahan, kumjungan rumah dan
lain-lain.

70
g. Meminta bantuan petugas Puskesmas setempat untuk memberikan bimbingan
teknis tentang cara-cara membuat jamban sehat yang sesuai dengan situasi dan
kodisi daerah setempat.

7. Memberantas Jentik Di Rumah Sekali Seminggu


Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik
secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. PJB adalah pemeriksaan tempat-tempat
perkembangbiakan nyamuk (tempat-tempat penampungan air) yang ada didalam
rumah seperti bak mandi/WC, vas bunga, tatakan kulkas, dll dan diluar rumah seperti
talang air, alas pot kembang, ketiak daun, lubang pohon, pagar bambu, dll yang
dilakukan secara teratur sekali dalam seminggu.
Pemeriksa PJB
a. Anggota rumah tangga
b. Kader
c. Juru pemantau jentik (Jumatik)
d. Tenga pemeriksa jentik lainnya.

Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M plus (Menguras,


Menutup, Mengubur, plus Menghindari gigitan nyamuk). PSN merupakan kegiatan
memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular berbagai penyakit seperti
Demam Berdarah Dengue, Chikungunya, Malaria, Filariasis (kaki gajah) di tempat-
tempat perkembangannya.
3 M Plus adalah tiga cara plus yang dilakukan pada saat PSN yaitu:
a. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi,
tatakan kulkas, tatakan pot kembang dan tempat air minum burung.
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak control,
lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat menampung air hujan.
c. Mengubur ataumenyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air
seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik yang dibuang sembarangan
(bekas botol/gelas akua, plastik kresek, dll).
Plus Menghindari gigitan nyamuk, yaitu:
a. Menggunakan kelambu ketika tidur.

71
b. Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya obat nyamuk ;
bakar, semprot, oles/usap ke kulit, dll.
c. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian didalam kamar.
d. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi yang memadai
e. Memperbaiki saluran talang air yang rusak
f. Menaburkan larvasida (bubuk pembunuh jentik) di tempat-tempat yang sulit
dikuras misalnya di talang air atau di daerah sulit air.
g. Memilihara ikan pemakan jentik di kolam/bak penampung air, misalnya ikan
cupang, ikan nila, dll.
h. Menanam tumbuhan pengusir nyamuk misalnya, Zodia,Lavender,Rosemerry, dll.

Manfaat Rumah Bebas Jentik


a. Populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularan penyakit dengan
perantara nyamuk dapat dicegah atau dikurangi.
b. Kemungkinan terhindar dari berbagai penyakit semakin besar seperti Demam
Berdarah Dengue (DBD), Malaria, Cikungunya atau kaki gajah.
c. Lingkungan rumah menjadi bersih dan sehat.

Cara Pemeriksaan Jentik Berkala


a. Mengunjungi setiap rumah tangga yang ada di wilayah kerja untuk memeriksa
tempat yang sering menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk/tempat
penampungan air di dalam dan di luar rumah serta memberikan penyuluhan
tentang PSN kepada anggota rumah tangga.
b. Menggunakan senter untuk melihat keberadaan jentik.
c. Jika ditemukan jentik, anggota rumah tangga diminta untuk ikut.
Menyaksikan/melihat jentik, kemudian langsung dilanjutkan dengan PSN kepada
anggota rumah tangga
d. Mencatat hasil pemeriksaan jentik pada Kartu Jentik Rumah (kartu yang
ditinggalkan di rumah) dan pada formulir pelaporan ke puskesmas.

72
Peran kader
a. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan
penyuluhan tentang PSN dan PJB, misalnya melalui penyuluhan kelompok
diposyandu, pertemuan kelompok Dasa Wisma, arisan, pengajian, pertemuan
desa/kelurahan, kunjungan rumah dan melalui media cetak (poster, slebaran,
spanduk).
b. Bersama pemerintah desa/kelurahan tokoh masyarakat setempat menggerakan
masyarakat untuk melakukan PSN dan PJB.
c. Melakukan pemeriksaan jentik berkala secara teratur setiap minggu dan
mencatat angka jentik yang ditemukan pada Kartu Jentik Rumah.
d. Mengumpulkan data angka bebas jentik dari setiap rumah tangga yang ada di
wilayah kerja dan melaporkan secara rutin kepada puskesmas terdekat untuk
mendapat tindak lanjut penanganan bila terjadi masalah/kasus.
e. Menginformasikan angka jentik yang ditemukan kepada setiap rumah tangga
yang dikunjungi sekaligus memberikan penyuluhan agar tetap melaksanakan
pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dan menegur secara baik apabila
masih terdapat jentik nyamuk.

8. Makan Buah Dan Sayur Setiap Hari


Setiap anggota rumah tangga mengkonsunsi minimal 3 porsi buah dan 2 porsi
sayuran atau sebaliknya setiap hari. Makan sayur dan buah setiap hari sangat penting,
karena:
a. Mengandung vitamin dan mineral, yang mengatur pertumbuhan dan
pemeliharaan tubuh.
b. Mengandung serat yang tinggi.

Manfaat vitamin yang ada di dalam sayur dan buah


a. Vitamin A untuk pemeliharaan kesehatan mata
b. Vitamin D untuk kesehatan tulang
c. Vitamin E untuk kesuburan dan awet muda
d. Vitamin K untuk pembekuan darah
e. Vitamin C meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
f. Vitamin B mencegah penyakit beri-beri

73
g. Vitamin B12 meningkatkan nafsu makan.

Serat adalah makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sangat berfungsi untuk
memelihara usus. Serata tidak dapat dicerna oleh pencernaan sehingga serat tidak
menghasilkan tenaga dan dibuang melalui tinja. Serat tidak untuk mengenyangkan
tetapi dapat menunda pengosongan lambung sehingga orang menjadi tidak cepat lapar.
Manfaat makanan berserat, yaitu:
a. Mencegah diabetes .
b. Melancarkan buang air besar.
c. Menurunkan berat badan.
d. Membantu proses pembersihan racun (detoksifikasi)
e. Membuat awet muda.
f. Mencegah kanker
g. Memperindah kulit, rambut dan kuku.
h. Membantu mengatasi Anemia (kurang darah)
i. Membantu perkembangan bakteri yang baiok dalam usus.
Sayur harus dimakan 2 porsi setiap hari, dengan ukuran satu porsi sama dengan satu
mangkuk sayuran segar atau setengah mangkuk sayuran matang. Sebaiknya sayuran
dimakan segar atau dikukus, karena jika direbus cenderung melarutkan vitamin dan
mineral. Buah-buahan harus dimakan 2-3 kali sehari. Contohnya, setiap kali makan
setengah mangkuk buah yang diiris, satu gelas jus atau satu buah jeruk, apel, jambu biji
atau pisang. Makanlah berbagai macam buah karena akan memperkaya variasi zat gizi
yang terkandung dalam buah. Semua sayur bagus dimakn, terutama sayuran yang
berwarna (hijau tua, kuning, dan oranye) seperti bayam, kangkung, daun katuk, wortel,
selada hijau atau daun singkong. Semua buah bagus untuk dimakan, terutama yang
berwarna (merah, kuning) seperti mangga, papaya, jeruk, jambu biji atau apel lebih
banyak kandungan vitamin dan mineral serta seratnya. Pilihan buah dan sayur yang
bebas pestisida dan zat berbahaya lainnya. Biasanya ciri-ciri sayur dan buah yang baik
ada sedikit lubang bekas dimakan ulat dan tetap segar.

Mengolah sayur dan buah


Konsumsi sayur dan buah yang tidak merusak kandungan gizinya adalah dengan
memakannya dalam keadaan mentah atau dikukus. Direbus dengan air akan melarutkan

74
beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah tersebut.
Pemanasan tinggi akan menguraikan beberapa vitamin seperti vitamin C.

Peran keluarga
a. Memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayur dan buah.
b. Menyediakan sayur dan buah setiap hari di rumah dengan harga terjangkau.
c. Perkenalan sejak dini kepada anak kebiasaan makan sayur dan buah pagi, siang,
dan malem
d. Memanfaatkan setiap kesempatan di rumah untuk mengingatkan tentang
pentingnya makan sayur dan buah.

9. Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari


Setiap anggota keluarga melakukan aktivitas fisik 30 menit setiap hari. Aktivitas
fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran
tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan
mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.

Jenis aktivitas fisik yang dapat dilakukan


a. Bisa berupa kegiatan sehari-hari, yaitu: berjalan kaki, berkebun, kerja tana,
mencuci pakaian, mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga, membawa
belanjaan.
b. Bisa berupa olah raga, yaitu: push up, lari ringan, bermain bola, berenang, senam,
bermain tenis, yoga, fitness, angkat beban/berat.
Durasi
Aktivitas fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30menit dalam sehari,
sehingga dapat menyehatkanjantung, paru-paruserta alat tubuh lainnya. Jika lebih
banyak waktu yang di gunakan untuk beraktivitas fisik maka manfaat yang di peroleh
juga lebih banyak. Jika kegiatan ini di lakukan setiap hari secara teratur maka dalam
waktu 3 bulan kedepan akan terasa hasilnya.

Cara melakukan aktifitas yang benar


a. Lakukan secara bertahap hingga mencapai 30 menit.jika belum terbiasa dapat di
mulai dengan beberapa menit setiap hari dan di tingkatkan secara bertahap.

75
b. Lakukan aktivitas fisik sebelum makan atau 2 jam sesudah makan.
c. Awali aktivitas fisik dengan pemanasan dan peregangan.
d. Lakukan gerakan ringan dan perlahan ditingkatkan sampai sedang.
e. Jika sudah terbiasa melakukan aktivitas tersebut, lakukan secara rutin paling
sedikit 30 menit setiap hari.

Keuntungan aktivitas fisik teratur


a. Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah
tinggi, kencing manis, dll.
b. Berat badan terkendali
c. Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat
d. Bentuk tubuh menjadi bagus
e. Lebih percaya diri
f. Lebih bertenaga dan bugar
g. Secara keseluruhan keadaan kesehatan menjadi lebih baik

Tips dalam beraktivitas fisik :


Jalan cepat : perlu sepatu yang lebih enak di pakai agar kaki nyaman dan sehat, apalagi
untuk berjalan ke ke kantor atau naik tangga. Cara lain yaitu dengan berenang, lakukan
renang secepat mungkin dengan nafas yang dalam.
Peran keluarga dan kader

a. Manfaatkan setiap kesempatan di rumah untuk mengingatkan tentang


pentingnya melakukan akytivitas fisik.
b. Bersama anggota keluarga sering melakukan kegiatan fisik secara bersama,
misalnya kalan pagi bersama, membersihkan rumah secara bersama-sama, dll.
c. Ada pembagian tugas untuk membersihkan rumah atau melaksanakan pekerjaan
di rumah.
d. Kader mendorong lingkungan tempat tinggal untuk menyediakan fasilitas
olahraga dan tempat bermain untuk anak.
e. Kader memberikan penyuluhan tentang pentingnya melakukan aktivitas fisik.

76
10. Tidak Merokok Di Dalam Rumah

Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam rumah. Rokok ibarat pabrik
bahan kimia. Dalam satu batang rokok yang di hisap akan di keluarkan sekitar 4.000
bahan kimia berbahaya, diantanya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan
Carbon monoksida (CO). Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan
aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker. CO menyebabkan
berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati.

Perokok aktif dan perokok pasif


Perokok aktif adalah orang yang mengkonsumsi rokok secara rutin dengan sekecil
apapun walaupun itu Cuma 1 batang dalam sehari. Atau orang yang menghisap rokok
walau walau tidak rutin sekalipun atau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap
rokok Cuma sekedar menghembuskan asap walau tidak diisap masuk ke dalam paru-
paru.
Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang lain
atau orang yang berada dalam satu ruangan tertutup dengan orang yang sedang
merokok.
Rumah adalah tempat berlindung, termasuk dari asap rokok. Perokok pasif harus berani
menyuarakan haknya tidak menghirup asap rokok.

Bahaya perokok aktif dan perokok pasif


a. Menyebabkan kerontokan rambut
b. Gangguan pada mata, seperti katarak.
c. Kehilangan pendengaran lebih awal dibanding bukan perokok.
d. Menyebabkan paru-paru kronis.
e. Merusak gigi dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.
f. Menyebabkan stroke dan serangan jantung.
g. Tulang lebih mudah patah.
h. Menyebabkan kanker kulit.
i. Menyebabkan kemandulan dan impotensi.
j. Menyebabkan kanker rahim dan keguguran.

77
Cara berhenti merokok
Ada 3 cara untuk berhenti merokok, yaitu Berhenti Seketika, Menunda, dan Mengurang.
Hal yang paling utama adalah niat dan tekad yang bulat untuk melaksanakan cara
tersebut:
1. Seketika
Cara ini merupakan upaya yang paling berhasil. Bagi perokok berat, mungkin perlu
bantuan tenaga kesehatan untuk mengatasi efek ketagihan karena rokok mengandung
zat Adiktif.
2. Menunda
Perokok dapat menunda menghisap rokok pertama 2 jam setiap hari sebelumnya dan
selama 7 hari berturut-turut.
Sebagai contoh : seorang perokok biasanya merokok setiap hari pada pukul 07.00 pagi,
maka pada:
Hari 1 : pukul 09.00
Hari 2 : pukul 11.00
Hari 3 : pukul 13.00
Hari 4 : pukul 15.00
Hari 5 : pukul 17.00
Hari 6 : pukul 19.00
Hari 7 : pukul 21.00
3. Mengurangi
Jomlah rokok yang diisap setiap hari dikurangi secara berangsur-angsur dengan jumlah
yang sama sampa 0 batang pada hari ke 7 atau yang ditetapkan.
Misalnya dalam sehari-hari seorang perokok menghabiskan 28 batang rokok maka Si
perokok dapat merencanakan pengurangan jumlah rokok selama 7 hari dengan jumlah
pengurangan sebanyak 4 batang sehari.
Sebagai contoh:
Hari 1 : 24 btang
Hari 2 : 20 batang
Hari 3 : 16 batang
Hari 4 : 12 batang
Hari 5 : 8 batang
Hari 6 : 4 batang

78
Hari 7 : 0 batang

Peran keluarga dan kader untuk menciptakan Rumah Tanpa Asap Rokok
a. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada
seluruh anggota keluarga.
b. Menggalang kesepakatan keluarga umtuk mwnciptakan Rumah Tanpa Asap
Rokok.
c. Menegur anggoata rumah tangga yang merokok di dalam rumah.
d. Tidak memberi dukungan kepada orang yang merokok dalam bentuk apapun,
antara lain dengan tidak memberikan uang untuk membeli rokok,tidak
memberikan kesempatan siapa pun untuk merokok di dalam rumah, tidak
menyediakan asbak.
e. Tidak menyuruh anaknya membelikan rokok untuknya.
f. Orang tua bisa menjadi panutan dalam perilaku tidak merokok.
g. Melarang anak tidak merokok bukan karena alasan ekonomi, tetapi justru karena
alas an kesehatan.

Mencegah penyakit dengan Berhenti Merokok


Kisah perokok yang terkena srtroke dan kanker paru-paru.
Contoh kasus:
Pak Sukro berusia 45 tahun, menderita stroke sejak 2 tahun terakhir sebagai akibat
perilakunya menjadi perokok berat sejak usia 15 tahun. Saat ini pak sukro sudah tidak
dapat lagi berbicara dengan jelas, berdiri dengan tegak dan berjalan dengan sempurna
sehingga tidak dapat menikmati masa tuanya dengan kekayaan yang telah
dikumpulkannya semasa produktif dulunya. Sebagian besar hartanya telah terkuras
dalam proses pengobatan atau perawatan penyakit yang dideritanya.
Pak Purnama berusia 54 tahun, divonis oleh dokter menderita kanker paru-paru dan
dirawat selama 2 bulan di rumah sakit. Dia berpesan kepada sanak sodaranya dan
handai taulannya untuk tidak mengikuti pola hidupnya sebagai perokok yang dapat
mengakibatkan berbagai penyakit seperti kanker paru yang sakit luar biasa
dirasakannya

79
C. Alat dan Bahan
1) Alat tulis
2) Kuesioner PHBS
3) Referensi PHBS
D. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai survey
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, menentukan tempat yang akan menjadi target kuesioner
mengenai PHBS (survey dan wawancara)
4) Mintalah persetujuan kepada pembimbing praktikum
5) Lakukan wawancara pada penduduk target mengenai PHBS dan lakukan
observasi pada di lingkungan penduduk
6) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan indikator PHBS
7) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
8) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan
9) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan Observasi
d) Hasil Observasi dan wawancara
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (Dokumentasi)

E. Referensi
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2008). Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan
2. Azwar, A. 1983. Pengantar Pendidikan Kesehatan. Jakarta: EGC
3. Notoatmodjo, S. (2003). Ilmu perilaku. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran

80
PRAKTIKUM 8
PENGENALAN ALAT MIKROBIOLOGIS DAN PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGIS AIR

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 8 (Mikrobiologi Dasar)
Laboratorium : Laboratorium Mikrobiologi

A. Tujuan :

1. mengenalkan mahasiswa alat-alat yang digunakan pada pratikum mikrobiologi


2. memeriksa kualitas air secara mikrobiologis
3. menentukan kualitas air secara mikrobiologis

B. Pengantar

Pemeriksaan Bakteriologis Air

Kualitas air minum ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia, sesuai Permenkes 492/Menkes/Per/IV/2010, tentang Persyaratan Kualitas
Air Minum, yang mencantumkan parameter sebagai standar penetapan kualitas air
minum, meliputi parameter fisik, bakteriologis, kimia, dan radioaktif. Parameter
bakteriologis dan kimia (anorganik) merupakan parameter yang terkait langsung
dengan kesehatan, sedangkan parameter fisik dan kimia lainnya merupakan parameter
yang tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Parameter bakteriologis air pada
dasarnya terdiri dari beberapa jenis bakteri (jenis patogen) yang merupakan bagian
dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit, seperti penyakit saluran
pencemaan. Agent ini dapat hidup di dalam berbagai media, hewan, dan manusia secara
berantai serta menjalani siklus hidupnya sehingga merupakan mekanisme untuk
mempertahankan hidupnya .Penyakit yang berhubungan dengan air terbagi menjadi

81
empat kelompok, salah satunya, penyakit disebabkan bakteri dalam air setelah air ini
diminum seseorang, kemudian orang tersebut sakit .
Pemeriksaan bakteriologis air minum memerlukan organisme indikator
sebagaimana analisis air mengacu pada kehadiran mikroorganisme dalam air minum
membuktikan air tersebut tercemar bahan tinja dari manusia/hewan berdarah panas
atau hasil pembusukan materi organik. Hal ini berpeluang bagi mikroorganisme
patogen, secara berkala terdapat dalam saluran pencernaan, untuk masuk dalam air
minum. Organisme indikator memenuhi syarat, antara lain.
1. Terdapat dalam air tercemar dan tidak ada dalam air tidak tercemar,
2. Terdapat dalam air bila ada mikroorganisme patogen,
3. Jumlahnya berkorelasi dengan kadar polusi,
4. Mempunyai kemampuan bertahan hidup lebih besar daripada patogen,
5. Mempunyai sifat yang seragam dan mantap,
6. Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan,
7. Jumlahnya lebih banyak daripada organisme patogen (hal ini menyebabkan lebih
mudah terdeteksi), dan
8. Mudah dideteksi dengan teknik-teknik laboratorium yang sederhana.
Beberapa bakteri atau kelompoknya dievaluasi sebagai organisme indikator, di
antaranya, E. coli dan coliform lainnya, memenuhi hampir semua syarat indikator ideal.
Bakteri tersebut dianggap indikator pencemaran bakteriologis air minum. Coliform
merupakan grup bakteri yang digunakan sebagai indicator adanya polusi kotoran dan
kondisi sanitasiyang tidak baik terhadap makanan, air dan susu. Ciri ciri coliform yaitu
bentuk batang merupakan bakteri Gram negative, tidak membentuk spora, aerobic atau
anaerobik fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas
dalam waktu 24-48 jam dan suhu 35 oC. Adanya bakteri coliform di dalam makanan atau
minuman menunjukkan adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik yang berbahaya
bagi kesehatan. Bakteri coliform dapat dibedakan dua kelompok yaitu coliform fecal ,
misalnya Escherichia coli dan coliform nonfecal , misalnya Enterobacter aerogenes.
Pemeriksaan bakteriologis air bersih penting dilakukan sebagai sebuah tindakan
kewaspadaan dini dan analisa faktor resiko air bersih sebagai sumber penularan
penyakit dan masalah kesehatan.

82
Berikut daftar alat-alat mikrobiologi yang perlu dikenal:
Alat-alat elektrik
1. Mikroskop cahaya
2. Autoklaf elektrik
3. Incubator
4. Hot plate & stirrer
5. Colony counter
6. Biological Safety Cabinet (BSC)
7. Mikropipet

Alat-alat gelas dan keramik


1. Cawan Petri
2. Pipet ukur
3. Pipet tetes
4. Tabung reaksi
5. Labu Erlenmeyer
6. Glass beads
7. Mortar & pestle
8. Beaker glass
9. Buncen burner
10. Gelas ukur
11. Batang L / Drugalsky
12. Tabung durham

Alat-alat non gelas


1. Jarum inokulum / ose
2. Pinset
3. Rubber bulb

83
C. Alat dan Bahan

1. Mikroskop Cahaya (Brightfield Microscope)

Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop cahaya.
Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat
denganmata telanjang. Pada umumnya mata tidak mampu membedakan benda dengan
diameter lebih kecil dari 0,1 mm. berikut merupakan uraian tentang cara penggunaan
bagian-bagiandan spesifikasi mikroskop cahaya.

Bagian-bagian Mikroskop:
1. Eyepiece / oculars (lensa okuler)
Untuk memperbesar bayangan yang dibentuk lensa objektif
2. Revolving nosepiece (pemutar lensa objektif)
Untuk memutar objektif sehingga mengubah perbesaran
3. Observation tube (tabung pengamatan / tabung okuler)

84
4. Stage (meja benda), Spesimen diletakkan di sini
5. Condenser (condenser)
Untuk mengumpulkan cahaya supaya tertuju ke lensa objektif
6. Objective lense (lensa objektif)
Memperbesar spesimen
7. Brightness adjustment knob (pengatur kekuatan lampu)
Untuk memperbesar dan memperkecil cahaya lampu
8. Main switch (tombol on-off)
9. Diopter adjustmet ring (cincin pengatur diopter)
Untuk menyamakan focus antara mata kanan dan kiri
10. Interpupillar distance adjustment knob (pengatur jarak interpupillar)
11. Specimen holder (penjepit spesimen)
12. Illuminator (sumber cahaya)
13. Vertical feed knob (sekrup pengatur vertikal)
Untuk menaikkan atau menurunkan object glass
14. Horizontal feed knob (sekrup pengatur horizontal)
Untuk menggeser ke kanan / kiri objek glas
15. Coarse focus knob (sekrup fokus kasar)
Menaik turunkan meja benda (untuk mencari fokus) secara kasar dan cepat
16. Fine focus knob (sekrup fokus halus)
Menaik turunkan meja benda secara halus dan lambat
17. Observation tube securing knob (sekrup pengencang tabung okuler)
18. Condenser adjustment knob (sekrup pengatur kondenser)
Untuk menaik-turunkan kondenser

Prosedur Operasi

1. Menyalakan lampu
a. tekan tombol on (8)
b. atur kekuatan lampu dengan memutar bagian (7)
2. Menempatkan spesimen pada meja benda
a. Letakan objek glas diatas meja benda (4) kemudian jepit dengan (11). Jika
meja benda belum turun, diturunkan dengan sekrup kasar (15)

85
b. Cari bagian dari objek glas yang terdapat preparat ulas (dicari dan
diperkirakan memiliki gambar yang jelas) dengan memutar sekrup vertikal
dan horizontal (13) dan (14)
3. Memfokuskan
a. Putar Revolving nosepiece (2) pada perbesaran objektif 4x lalu putar sekrup
kasar (15) sehingga meja benda bergerak ke atas untuk mencari fokus
b. Setelah fokus perbesaran 4 x 10 didapatkan, maka putar (2) pada perbesaran
selanjutnya yaitu perbesaran objektif 10x. kemudian putar sekrup halus (16)
untuk mendapatkan fokusnya
c. Lakukan hal yang sama jika menggunakan perbesaran yang lebih tinggi

4. Tambahan
a. Jika perlu interpupillar distance adjustment knob (10) dapat digeser, hal ini
akan mengubah dua bayangan yang akan diterima oleh 2 mata menjadi
gambar yang tunggal sehingga sangat membantu dalam mengatasi kelelahan
mata
b. Jika perlu diopter adjustment knob (9) dapat diatur untuk memperoleh
bayangan focus yang seimbang antara mata kanan dan kiri
c. Pengaturan condenser (5) akan memperjelas bayangan yang tampak dengan
mensetting pada posisi tertinggi (cahaya penuh)

Perbesaran total
Ukuran specimen yang diamati dapat diperoleh dengan mengalikan perbesaran lensa
okuler dengan lensa objektif. Misal = Okuler (10x) x Objektif (40x) = 400x

Penggunaan minyak imersi


Semakin kecil nilai daya pisah, akan semakin kuat kemampuan lensa untuk memisahkan
dua titikyang berdekatan pada preparat sehingga struktur benda terlihat lebih jelas.
Daya pisah dapat diperkuat dengan memperbesarkan indeks bias atau menggunakan
cahaya yang memiliki panjang gelombang (λ) pendek. Biasanya dapat digunakan minyak
imersi untuk meningkatkan indeks bias pada perbesaran 10 x 100
a. Jika fokus pada perbesaran 10 x 40 telah didapatkan maka putar ke perbesaran
objektif 100x

86
b. tetesi minyak imersi 1 – 2 tetes dari sisi lensa
c. Jika telah selesai menggunakan mikroskop, bersihkan lensa objektif 100x
dengan kertas lensa yang dibasahi xylol

Autoklaf (Autoclave)

Diagram autoklaf vertical

1. Tombol pengatur waktu mundur (timer)


2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. kelep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (dH2O)
9. Sekrup pengaman
10. batas penambahan air

Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang
digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang
digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121 oC (250oF).
Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15

87
Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit
untuk 121oC.

Cara Penggunaan :

1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air
kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut.
Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup
harus dikendorkan.
3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang
keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.
4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
5. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf
terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup
(dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak
tekanan mencapai 2 atm.
6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun
hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge
menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi
autoklaf dengan hati-hati.

Inkubator (Incubator)

88
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau
memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur
suhu dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042
misalnya adalah 10-70oC.

Hot plate stirrer dan Stirre bar

Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan
suatu larutan denganpengadukan. Pelat (plate) yang terdapat dalam alat inidapat
dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan
bantuan batang magnetHot plate dan magnetic stirrer seri SBS-100 dari SBS®misalnya
mampu menghomogenkan sampai 10 L, dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600
rpm dan dapat dipanaskan sampai 425oC.

Colony counter

89
Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah
diinkubasi di dalam cawan karenaadanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut
dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan
pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah
koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.

Mikropipet (Micropippete) dan Tip

Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil,
biasanya kurang dari 1000 μl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet,misalnya
mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette)
antara 1μl sampai 20 μl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya
tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 μl. dalam
penggunaannya, mukropipet memerlukan tip

90
Cara Penggunaan :

1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan


lancarnya mikropipet.
2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.
3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke
dalam lagi.
4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm.
5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka
cairan akan masuk ke tip.
6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan.
7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan semaksimal
mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip.
8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan
terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang
berfungsi mendorong tip keluar.

Cawan Petri (Petri Dish)

Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat


dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri
tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm
dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-
kira cukup diisi media sebanyak 10 ml.

Pipet Ukur (Measuring Pippete)

91
Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui.
Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1
ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan pipet ukur dengan
bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan
dikeluarkan menikuti
skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harustepat sejajar dengan mensikus cekung
cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar.

Pipet tetes (Pasteur Pippete)

Fungsinya sama dengan pipet ukur, namun volume yang dipindahkan tidak diketahui.
Salah satu penerapannya adalah dalam menambahkan HCl / NaOH saat mengatur pH
media, penambahan reagen ada uji biokimia, dll.

Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube)

Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan


menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup
tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media
padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut
fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tubeagar) dan agar miring (slants agar). Untuk
membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas
permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan

92
hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar
resiko kontaminasi. Untuk alas an efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml
tiap tabung.

Labu Erlenmeyer (Erlenmeyer Flask)

Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang. Labu Erlenmeyer dapat
digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media,
menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dll. Terdapat beberapa pilihan
berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250
ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dsb.

Gelas ukur (Graduated Cylinder)

Berguna untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur
memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur volume
larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan meniskus cekung larutan.

93
Batang L (L Rod)

Batang L bermanfaat untuk menyebarkan cairan di permukaan agar supaya bakteri yang
tersuspensi dalam cairan tersebut tersebar merata. Alat ini juga disebut spreader.

Mortar dan Pestle

Mortar dan penumbuk (pastle) digunakan untuk menumbuk atau menghancurkan


materi cuplikan, misal daging, roti atau tanah sebelum diproses lebih lanjut.

Beaker Glass

Beaker glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Di dalam mikrobiologi, dapat
digunakan untuk preparasi media media, menampung akuades dll.

Pembakar Bunsen (Bunsen Burner)

Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar
bunsen. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari
bawah dan diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut.
Untuk sterilisasi jarum ose atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk
memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas). Perubahan
bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.

94
Glass Beads

Glass Beads adalah manik-manik gelas kecil yang digunakan untuk meratakan suspensi
biakan dengan menyebarkan beberapa butir di atas permukaan agar dan digoyang
merata. Glass beads digunakan pada teknik spread plate yang fungsinya sama dengan
batang L atau Spreader.

Tabung Durham

Tabung durham berbentuk mirip dengan tabung reaksi namun ukurannya lebih kecil
dan berfungsi untuk menampung/menjebak gas yang terbentuk akibat metabolisme
pada bakteri yang diujikan. Penempatannya terbalik dalam tabung reaksi dan harus
terendam sempurna dalam media (jangan sampai ada sisa udara).

Jarum Inokulum
Jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan ke
media baru. Jarum inoculum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum
sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk
lingkaran (loop) dan disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang berbentuk
lurus disebut inoculating needle/Transfer needle. Inoculating loop cocok untuk
melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok digunakan
untuk inokulasi secara tusukan pada agar tegak (stab inoculating). Jarum inokulum ini
akan sangat bermanfaat saat membelah agar untuk preprasi Heinrich’s Slide Culture.

Pinset

Pinset memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk mengambil benda dengan
menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik.

95
Pipet Filler / Rubber Bulb

Filler adalah alat untuk menyedot larutan yang dapat dipasang pada pangkal pipet ukur.
Karet sebagaibahan filler merupakan karet yang resisten bahan kimia. Filler memiliki 3
saluran yang masing-masing saluran memiliki katup. Katup yang bersimbol A (aspirate)
berguna untuk mengeluarkan udara dari gelembung. S (suction) merupakan katup yang
jika ditekan maka cairan dari ujung pipet akan tersedot ke atas. Kemudian katup E
(exhaust) berfungsi untuk mengeluarkan cairan dari pipet ukur.

D. Cara Kerja

Analisis dilakukan dengan mengambil contoh air sebanyak tiga kali, masing-masing 100
ml dan ditempatkan dalam botol erlenmeyer steril. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan
bakteriologis metode MPN dengan prosedur sebagai berikut :
1.. Pemeriksaan Kualitiatif
Pemeriksaan ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut yaitu:
1. 1 Uji Presumtif ( Presumtitive Coliform Count),
Uji untuk mengetahui angka terkaan tertinggi ( Most Probable Number) kuman
coliform tiap 100 ml contoh air, ada 2 metode , yaitu metode 155, digunakan bila contoh
air yang akan diperiksa tampak cukup jernih dan metode 333, digunakan bila contoh air
yang kana diperiksa tampak cukup keruh.Pada uji presumsif metode 333, terdapat tiga
kelompok tabung reaksi yang berisi medium cair laktosa dan tabung durham .
Kelompok pertama terdiri dari 3 tabung reaksi dan ke dalam masing-masing tabung

96
reaksi berisi 10 ml medium ditambah 10 ml sampel air. Kelompok kedua terdiri dari 3
tabung reaksi dan ke dalam masing –masing tabung berisi 5 ml medium dan 1 ml
sample air. Kelompok ketiga terdiri dari 3 tabung reaksi berisi 5 ml medium dan 0.1 ml
sample air. Semua tabung reaksi tersebut diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam. Bila
tidak terdapat cukup gas (<10%) pada tabung durham dinyatakan presumtif negative,
diinkubasi 24 jam lagi. Bila ternyata cukup gas ( 10% atau lebih) pada tabung durham,
dinyatakan presumtif positif. Kemudian dicatat banyaknya tabung reaksi yang presumtif
positif pada masing-masing kelompok. Menggunakan tabel Mc Crady untuk mengetahui
Most Probable Number ( MPN) kuman Coliform tiap 100 ml sample air.
2. Uji Penguat ( Confirmed test)
Uji penguat dilakukan dengan menginokulasi satu ose biakan dari tabung yang
memberikan hasil uji positif ke media agar EMB ( Eosin Methylene Blue). Selanjutya
cawan petri diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam, kemudian diamati koloni bakteri
yang tumbuh. Koloni bakteri yang berwarna hijau metalik menunjukkan koloni bakteri
koliform. Selain itu, uji penguat juga dilakukan dengan menginokulasi 1mL biakan dari
tabung yang memberiksan hasil uji positif, pada uji penduga ke media BGLB( Briliat
green bile lactose ). Tabung berisi media dan biakan diinkubasi pada suhu 37oC selama
24 jam, kemudian diamati perubahan warna yang terjadi dan gas yang terbentuk
3. Uji Pelengkap ( Complete test)
Uji pelengkap dilakukan apabila terdapat hasil positif dari uji penguat, yaitu terdapat
koloni bakteri yang berwarna hijau metalik pada media EMB. Koloni tersebut
selanjutnya dilakukan pewarnaan Gram.

E. Referensi

Benson, 2001. Microbiological Applications Lab Manual . Eighth Edition.The


McGraw−Hill Companie

97
PRAKTIKUM 9
VISITASI KOMUNITAS: PENGENALAN KESEHATAN LINGKUNGAN AGROINDUSTRI

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 9 (Kesehatan Lingkungan Agroindustri)
Laboratorium : Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

A. Tujuan Belajar :

1)Mahasiswa memiliki kemampuan menguraikan ruang lingkup kesehatan


agroindustri
2)Mahasiswa memiliki kemampuan untuk melakukan survey terhadap masalah
kesehatan lingkungan di area agroindustri
3)Mahasiswa mampu memberikan saran yang strategis dalam rangka
meningkatkan kesehatan lingkungan area agroindustri
4)Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengurai berbagai perbedaan
lingkungan social agroindustri dan lingkungan urban
5)Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat

B. Pengantar

Masalah-masalah kesehatan di berbagai lingkungan memiliki masalah yang


hampir sama, walaupun pada bagian tertentu mempunyai karakteristik yang
berbeda-beda. Bisa jadi masalah-masalah kesehatan tersebut mempunyai jenis/
macam yang sama akan tetapi mepunyai frekuensi kejadian kejadian yang berbeda
atau mempunyai faktor-faktor lain yang berbeda pula. Misalnya masalah sanitasi
pada masyarakat industri terutama dampak yang ditimbulkan oleh limbah pabrik
pabrik baik di tanah, air (sungai, laut) dan udara berupa asap pabrik sedangkan
pada lingkungan pertanian tentu saja masalah kesehatan berkisar pada penggunaan

98
penggunaan pestisida yang tidak terkendali atau banyaknya vektor penyakit seperti
nyamuk, cacing dan lainnya walaupun di lingkungan industri juga ada vektor-vektor
tersebut. Penyakit jantung koroner pada kedua lingkungan tersebut juga akan
didapati namun frekuensi kejadiannya antara keduanya mungkin berbeda. Demikian
seterusnya untuk masalah-masalah lainnya akan mengalami perkembangan sesuai
dinamika di lingkungan masing-masing. Suatu kejadian penyakit yang pada tahun
ini mungkin menjadi masalah besar, bisa jadi di tahun berikutnya bukan merupakan
penyakit. Pada bab ini hanya akan dibacarakan masalah-masalah kesehatan yang
secara umum dijumpai pada lingkungan agroindustri dan masalah-masalah lainnya
mengikuti perkembangan yang ada. Ada kemungkinan yang sebelumnya menjadi
masalah lingkungan industri (misalnya polusi udara) akan “menular” pada
lingkungan pertanian yaitu pada waktu kegiatan bertani / berkebun tidak lagi
menerapkan sistem yang tradisional tetapi sistem mekanik dengan didirikannya
pabrik-pabrik pengolah hasil pertanian.
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai proses terjadinya penyakit
bahwa penyakit terjadi akibat interaksi yang terjadi antara faktor inang (host), agent,
dan lingkungan (model ekologi). Ilmu kedokteran klinik sebagian besar bertumpu
pada faktor inang (imunitas, penyakit sebelumnya) dan agent (bakteri, virus,
parasit) sedangkan faktor lingkungan diperlajari pada ilmu kesehatan dengan objek
komunitas. Mengubah keadaan / kualitas lingkungan tidak dapat dikerjakan secara
sendiri-sendiri namun harus melibatkan orang banyak.Tidak mungkin untuk
memberantas vektor penyakit demam Dengue hanya dikerjakan oleh satu orang atau
satu keluarga saja. Misalnya di suatu kampung terdapat lima rumah yang positif
mengandung jentik nyamuk Aedes sp, dan yang menguras bak mandinya hanya satu
rumah A saja, maka tindakan kesehatan satu rumah A yang mempunyai sedikit
“kesadaran” tersebut akan sia-sia. Mengapa? Bisa jadi nyamuk yang membawa virus
Dengue berasal dari dari empat rumah lainnya, sehingga kegiatan pemberantasan
jentik nyamuk harus dilakukan secara bersama-sama dan satu waktu oleh
masyarakat. Itulah uniknya kesehatan lingkungan. Lain halnya jika seseorang
mengidap hiperkolesterolemia. Kadar kolesterolnya hanya ditentukan oleh perilaku
makan orang itu. Tidak mungkin orang lain makan makanan tinggi kolesterol dan
orang yang hiperkolesterolemia tadi jadi naik kolesterolnya.

99
Lingkungan pun mempunyai beberapa komponen yang tidak hanya terdiri
dari lingkungan fisik saja tetapi bisa berupa lingkungan sosial ekonomi, lingkungan
biologis seperti yang diterangkan sebagai model roda pada bab sebelumnya. Pada
tulisan yang singkat ini hanya akan dipaparkan masalah kesehatan fisik.
Beberapa masalah kesehatan lingkungan pada masyarakat agroindustri adalah
masalah air, masalah makanan, masalah limbah, masalah sampah dan masalah
penyebaran vektor penyakit.

Masalah Air
Syarat Air Minum
Mengingat bahwa pada dasarnya tidak ada air yang seratus persen murni dalam
arti sesuai benar dengan syarat air yang patut untuk kesehatan, maka biar
bagaimanapun harus diusahakan air yang ada sehingga syarat yang dibutuhkan tersebut
harus terpenuhi, atau paling tidak mendekati syarat-syarat yang dikehendaki. Dengan
demikian bagaimana syarat-syarat air yang baik, haruslah diketahui oleh setiap petugas
kesehatan termasuk dokter. Pada saat ini telah tersusun syarat-syarat air yang
dipandang baik, yang secara umum dibedakan atas tiga hal, yaitu :
1. Syarat fisika
Air yang sebaiknya dipergunakan untuk minum ialah air yang tidak berwarna, tidak
berasa, tidak berbau, jernih dengan suhu sebaiknya dibawah suhu udara sehingga
menimbulkan rasa nyaman.
Syarat fisik ini adalah syarat yang sederhana sekali, karena dalam praktek sehari-
hari sering ditemui air yang memenuhi semua syarat di atas, tetapi jika ditinjau dari segi
kesehatan tidak memenuhi syarat karena mengandung bibit penyakit misalnya.
Dari sudut ini dimengerti bahwa jika salah satu dari syarat fisik ini tidak terpenuhi,
maka besar kemungkinan air itu tidak sehat (karena beberapa zat kimia, mineral,
ataupun zat organis / biologis yang terdapat dalam air dapat mengubah warna, bau,
rasa, dan kejernihan). Tetapi jika semua syarat di atas terpenuhi, belum tentu air
tersebut baik untuk diminum, karena mungkin mengandung zat ataupun bibit penyakit
yang membahayakan kesehatan.
2. Syarat bakteriologis
Secara teoritis semua air minum hendaknya dapat terhindar dari kemungkinan
terkontaminasi dengan bakteri, terutama yang bersifat patogen. Namun dalam

100
kehidupan sehari-hari, amat sukar untuk menentukan apakah air tersebut benar-benar
sucihama atau tidak. Karena itulah, untuk mengukur apakah air minum bebas dari
bakteri atau tidak, pegangan yang dipakai adalah E. coli. Tergantung dari cara
pemeriksaan yang dilakukan, maka jumlah E. coli yang masih dibenarkan terdapat
dalam sumber air minum bermacam-macam. Pada pemeriksaan air minum dengan
memakai prosedur Membrane Filter Technique, maka 90% dari contoh air yang
diperiksa selama 1 bulan, harus bebas dari E. coli. Selanjutnya dari yang mengandung E.
coli, jumlah kuman ini tidak boleh lebih dari 3 untuk setiap 50 cc air, tidak boleh lebih
dari 4 untuk setiap 100 cc air, tidak boleh lebih dari 7 untuk setiap 200 cc air, serta tidak
boleh lebih dari 13 untuk setiap 500 cc air.
Bila terjadi penyimpangan dari ketentuan-ketentuan di atas, maka air tesebut
dianggap tidak memenuhi syarat dan oleh karena itu perlu diselidiki lebih lanjut.
Dipakainya E. coli sebagai patokan utama untuk menentukan apakah air minum
memenuhi syarat bakteriologis atau tidak ialah karena pada umumnya bibit penyakit ini
ditemui pada kotoran manusia serta secara relatif lebih sukar dimatikan dengan
pemanasan air.
3. Syarat kimia
Air minum yang baik ialah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat
kimia ataupun mineral, terutama yang berbahaya bagi kesehatan. Selanjutnya
diharapkan pula zat ataupun bahan kimia yang terdapat didalam air minum , tidak
sampai menimbulkan kerusakan pada tempat penyimpanan air; sebaliknya zat ataupun
bahan kimia dan atau mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, hendaknya harus terdapat
dalam kadar yang sewajarnya dalam sumber air minum tersebut.
Pengelolaan Air untuk Minum
Air yang tidak memenuhi syarat untuk langsung diminum perlu diolah terlebih
dahulu sehingga memenuhi syarat kesehatan. Pekerjaan ini disebut “treatment of water”
yang dengan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi banyak cara melakukannya.
Ditinjau dari perlu atau tidaknya pengelolaan, dapat dibedakan beberapa macam
air, yaitu:
1. Air yang sama sekali tidak membutuhkan pengelolaan; jadi air tersebut dapat
langsung diminum, biasanya berupa air tanah yang tidak terkontaminasi.
2. Air yang hanya membutuhkan pekerjaan desinfeksi saja; umumnya berupa air dalam
tanah ataupun air permukaan yang diperkirakan hampir tidak terkontaminasi,

101
mempunyai warna yang jernih dan mengandung E. coli pada pemeriksaan bulanan
tidak lebih dari 50 untuk setiap 100 ml air.
3. Air yang membutuhkan penyaringan pasir cepat yang lengkap atau alat pengolahan
air lainnya yang sejenis dengan ini, yang dilanjutkan dengan chlorination secara
tetap. Biasanya dilakukan pada air yang telah tercemar atau yang mengandung E.
coli lebih dari 5000 pada setiap 100 ml air yang berasal dari 20% sampel yang
diperiksa setiap bulan.
4. Air yang membutuhkan pengolahan tambahan setelah sebelumnya dilakukan proses
pengolahan dengan saringan pasir cepat dan chlorination. Pengolahan tambahan
yang dilakukan misalnya pre-sedimentation ataupun penyimpanannya selama 30
hari atau lebih yang sebelumnya telah ditambahkan pula zat chlor. Biasanya
dilakukan pada air yang mengandung E. coli pada 20% sampel air yang diperiksa
setiap 2 bulan sekali lebih dari 5000 MPN pada setiap 100 ml, tapi jumlah ini tidak
lebih dari 20.000 pada setiap 100 ml air pada 5% dari sampel yang diperiksa.
5. Air yang membutuhkan pengolahan air secara istimewa yang biasanya dilakukan
pada air yang sama sekali tidak sehat, tetapi karena keadaan memaksa terpaksa
diipergunakan. Air macam ini ditandai dengan ditemukannya E. coli sebanyak lebih
dari 250.000 MPN pada setiap 100 ml air pada tiap kali pemeriksaan
Untuk mengelola lima macam air yang terdapat di alam ini, kini berbagai cara telah
dikenal, yang secara umum dapat dibedakan atas :
1. Pengelolaan secara alamiah
Biasanya dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) ataupun pengendapan
(sedimentation). Proses ini dapat berlangsung di alam (kali, danau) ataupun sumber
air yang terdapat di rumah tangga ataupun sumber air untuk penduduk kota. Air
dibiarkan pada tempatnya, dan kemudian terjadilah koagulasi dari zat-zat yang
terdapat di dalam air. Adanya koagulasi yang membentuk endapan ini akan
menjernihkan air, karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengelolaan air dengan menyaring
Dikenal 2 macam saringan yaitu saringan pasir lambat (slow sand filter) yang
diperkenalkan di London pada tahun 1829, serta saringan pasir cepat (rapid sand
filter) yang diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1893. Pada saringan pasir
lambat aliran air berdasarkan gaya gravitasi, sedangkan pada saringan pasir cepat
dipergunakan tekanan. Untuk saringan pasir cepat perlu dilakukan pengolahan air

102
sebelumnya, misalnya dengan menambahkan zat koagulan ataupun dengan
melakukan proses sedimentasi.
3. Pengelolaan air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang ditambahkan ada 2 macam, yaitu :
a. yang bertujuan untuk mempercepat terjadinya proses koagulasi, jadi zat yang
ditambahkan adalah zat koagulan;
b. yang bertujuan untuk mensucihamakan atau membunuh bibit penyakit yang ada
di dalam air.
Zat kimia yang biasa ditambahkan adalah chlor dan ini disebut chlorination
4. Pengelolaan air dengan mengalirkan udara
Proses ini disebut aeration yang tujuannya ialah untuk menghilangkan rasa serta
bau yang tidak enak,menghilangkan gas-gas yang tidak dibutuhkan (CO 2, metan,
hydrogen sulfide), menaikkan derajat keasaman air (karena kadar CO 2 dihilangkan),
menambah gas-gas yang diperlukan ataupun untuk mendinginkan air.
5. Pengelolaan air dengan memanaskannya hingga mendidih
Pengelolaan air jenis ini ditujukan terutama untuk membunuh kuman-kuman yang
terdapat di dalam air.
Chlorination atau pemberian zat chlor dalam rangka membersihkan air minum
dari kuman-kuman penyakit adalah hal yang paling sering dilakukan. Jumlah chlor yang
diperlukan untuk membunuh kuman , amat dipengaruhi oleh keadaan air itu sendiri;
jika air lebih keruh tentu saja dibutuhkan chlor yang lebih banyak. Namun demikian
kadar chlor dalam air tidak boleh berlebihan, karena meskipun bibit penyakit dapat
dibunuh, tetapi jika kadar chlor sisa dalam air minum tinggi, tentu saja tidak baik untuk
kesehatan. Untuk air minum, kadar chlor yang dipandang sesuai dengan kesehatan ialah
antara 0,1-0,2 ppm.
Hasil chlorination yaitu kemampuan membunuh kuman yang terdapat di dalam
air, kecuali dipengaruhi oleh jumlah chlor yang dipakai , juga dipengaruhi oleh berbagai
faktor lainnya, yaitu lamanya air bereaksi dengan chlor, suhu air (makin tinggi suhu
makin baik hasilnya), keasaman air (makin rendah pH, makin baik hasilnya) serta
jumlah aktif chlor yang terdapat (makin tinggi prosentasenya, maka makin sedikit
pemakaiannya.
Sebenarnya daya membunuh yang dimiliki oleh chlor tergantung dari chlor aktif
yang terdapat. Makin rendah zat persenyawaan chlor mengandung aktif chlor, maka

103
makin banyak zat tersebut dibutuhkan. Kekuatan chlor larut dalam air disebut chlor
aktif. Sedangkan aktif chlor yang terdapat pada berbagai senyawaan chlor berbeda-
beda. Gas chlor (Cl2) misalnya, mengandung 100% chlor aktif, kaporit (CaOCl)
mempunyai 60%-70% chlor aktif, sedangkan hipoklorit (Ca (OCl) 2) mengandung 15%-
30% chlor aktif.

Pengolahan Air Minum untuk Umum


Pada umumnya air minum untuk kepentingan umum (ledeng misalnya)
diperoleh dari air permukaan tanah yang telah terkontaminasi (misalnya air kali). Oleh
karena itulah pengolahan air minum untuk kepentingan umum ini dilakukan lebih
kompleks. Pada suatu instalasi air minum, biasanya tersedia beberapa fasilitas yang
terdiri atas :
1. Pipa yang mengalirkan air ke instalasi air minum (supply line)
2. Bak penampung untuk pengendapan pertama (pre-sedimantation-tank)
3. Bak pemberi obat-obat kimia (chemical feeder)
4. Bak pencampur (mixing device)
5. Bak penampung untuk pengendapan kedua (Dortmund tank/accelerator)
6. Saringan pasir cepat (rapid sand filter)
7. Bak pemberi chlor (chlorinator)
8. Bak penampung air bersih yang siap dialirkan ke konsumen (clear wastage storage
kelder)
Proses pengolahan air untuk kepentingan umum adalah sebagai berikut :
1. Air sungai dialirkan atau dipompa. Tempat pengambilan air disebut intake. Air
diendapkan pada parit-parit lebar dan panjang
2. Setelah diendapkan beberapa waktu, kemudian air dialirkan ke instalasi
penyaringan (melalui pengukuran debit air)
3. Air diendapkan di bak pertama
4. Kemudian air dialirkan melalui tempat pembubuhan obat kimia berupa zat
koagulan, biasanya merupakan aluminium sulfat (tawas) Al 2(SO4)3 dan larutan kapur
CaCO3 yang tujuannya untuk membentuk endapan
5. Agar zat koagulan ini dapat bercampur dengan sempurna, maka ada dua cara yang
ditempuh, yaitu :
a. menerjunkan air;

104
b. mengalirkan air melalui parit yang berbelok-belok, yang disebut mixing device
6. Bila air telah bercampur dengan baik, maka timbul kepingan yang lebih besar.
Selanjutnya untuk memberikan kesempatan pengendapan, air dialirkan ke dalam
bak pengendapan kedua yang disebut Dortmund tank atau accelerator. Dalam bak ini
terjadi pemisahan antara kotoran dengan air yang sudah bersih
7. Air yang sudah nampak bersih ini dialirkan melalui saringan pasir yang disebut
rapid sand filter. Meskipun air ini sudah tampak bersih tetapi masih terdapat
kemungkinan mengandung bakteri
8. Untuk membunuh bakteri tersebut, air kemudian dialirkan ke sebuah chlorinator;
disini dibubuhi zat chlor dengan syarat sisa chlor ialah 0,1-0,2 ppm
9. Air yang sudah bersih ini, selanjutnya ditampung dalam bak penampung air bersih
untuk kemudian siap didstribusikan kepada para konsumen

Masalah Sampah
Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan (refuse) sebenarnya hanya sebagian
dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi,
atau harus dibuang, sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Dalam
ilmu kesehatan, keseluruhan dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan,
tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang tersebut, disebut benda-benda sisa
atau benda-benda bekas (waste). Kecuali sampah (refuse), kotoran manusia (human
waste), air limbah dan atau air bekas (sewage), serta sisa-sisa industri (industrial waste)
termasuk pula ke dalamnya.

Sumber dan Macam Sampah


Tergantung dari tingkat kemajuan hidup masyarakat, sumber dan macam
sampah berbeda-beda. Secara umum dapat disimpulkan bahwa makin maju tingkat
kebudayaan masyarakat, makin kompleks pula sumber dan macam sampah yang
ditemui.
Dalam kehidupan sehari-hari, dikenal beberapa sumber sampah misalnya :
1. dari rumah tangga;
2. dari daerah pemukiman;
3. dari daerah perdagangan;
4. dari daerah industri;

105
5. dari daerah peternakan;
6. dari daerah pertanian;
7. dari daerah pertambangan;
8. dari jalan dan lain sebagainya.
Tergantung dari sumber ini, maka macam dan komposisi sampah beraneka ragam.
Demikian pula jumlah yang dihasilkan, karena jumlah sampah pada umumnya
ditentukan oleh :
1. kebiasaan hidup masyarakat;
2. musim atau waktu;
3. standart hidup;
4. macam masyarakat; dan
5. cara pengelolaan sampah.
Sedangkan macam sampah, dikenal beberapa cara pembagian. Ada yang
membaginya atas dasar zat pembentuk, yaitu :
1. sampah organik; dan
2. sampah in organik.
Ada pula yang membaginya atas dasar sifat, yaitu :
1. sampah yang mudah membusuk;
2. sampah yang tidak mudah membusuk;
3. sampah yang mudah terbakar;
4. sampah yang tidak mudah terbakar.

Pengelolaan Sampah
Sebagai sesuatu yang tidak dipergunakan lagi, yang tidak dapat dipakai lagi, yang
tidak disenangi dan yang harus dibuang, maka sampah tentu saja harus dikelola dengan
sebaik-baiknya, sehingga hal-hal yang negatif bagi kehidupan tidak sampai terjadi.
Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika
sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit serta tidak
menjadi medium perantara menyebarluasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus
terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara, air atau tanah, tidak
menimbulkan bau (segi estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya.
Pengelolaan sampah meliputi 3 hal pokok, yaitu :
1. Penyimpanan sampah (refuse storage)

106
Yang dimaksud adalah tempat sampah sementara sebelum sampah tersebut
dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang / dimusnahkan. Sampah basah
dikumpulkan bersama sampah basah. Demikian juga sampah kering, sampah yang
mudah terbakar dan yang tidak mudah terbakar hendaknya ditempatkan secara
terpisah. Maksud dari pemisahan ini adalah untuk memudahkan pemusnahannya.
2. Pengumpulan sampah (refuse collection)
Sampah yang telah disimpan sementara kemudian dikumpulkan untuk kemudian
dibuang atau dimusnahkan. Karena jumlah sampah yang dikumpulkan cukup besar,
maka perlu dibangun rumah sampah. Lazimnya penanganan masalah ini
dilaksanakan oleh pemerintah atau oleh masyarakat secara gotong-royong. Jika
sampah tidak terlalu banyak, dapat dibangun suatu kontainer yang ditempatkan di
daerah yang mudah dicapai penduduk serta mudah juga dicapai kendaraan
pengangkut sampah.
Sama halnya dengan penyimpanan sampah, maka dalam pengumpulan sampah ini
sebaiknya juga dilakukan pemisahan. Dikenal 2 macam cara :
a. Sistem duet, artinya disediakan 2 tempat sampah, masing-masing untuk
sampah basah dan sampah kering.
b. Sistem trio, yaitu disediakan 3 bak sampah, masing-masing untuk sampah
basah, sampah kering yang mudah dibakar, dan sampah kering yang mudak
terbakar (sepeti kaca, kaleng, dan sebagainya)
3. Pembuangan sampah (refuse dispossal), termasuk pengangkutan
dan pemusnahan sampah
Pembuangan atau pemusnahan ini adalah tahap terakhir yang harus dilakukan
dalam pengelolaan sampah. Pembuangan sampah biasanya dilakukan di daerah
tertentu sehingga tidak mengganggu kesehatan manusia. Syarat-syarat yang harus
dipenuhi dalam membangun tempat pembuangan sampah adalah :
a. dibangun tidak dekat dengan sumber air minum atau sumber air lainnya yang
dipergunakan oleh manusia (mencuci, mandi, dan sebagainya)
b. tidak pada tempat yang sering terkena banjir
c. ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia
Jarak yang sering dipakai sebagai pedoman adalah sekitar 2 km dari perumahan
penduduk, sekitar 15 km dari laut, dan sekitar 200 m dari sumber air. Sebelum
sampai ke tempat ini, sampah perlu diangkut dari tempat-tempat pengumpulan

107
dengan menggunakan armada pengangkut sampah; berupa kendaraan yang
mempunyai tutup untuk mencegah berseraknya sampah dan melindungi dari bau.

Masalah Air Limbah


Yang dimaksudkan dengan air limbah atau air kotor atau air bekas adalah air
yang tidak bersih dan mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan
kehidupan manusia dan atau hewan, dan lazimnya muncul karena hasil perbuatan
manusia (termasuk industrialisasi).

Sumber dan Macam Air Limbah


Sama halnya dengan sampah, maka sumber serta macam air limbah sangat
dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat. Makin tinggi tingkat kebudayaan
masyarakat, makin kompleks pula sumber serta macam air limbah yang ditemui.
Dalam kehidupan sehari-hari, sumber air limbah yang lazim dikenal ialah :
1. yang berasal dari rumah tangga (domestic sewage), misalnya air dari kamar mandi
dan dapur;
2. yang berasal dari perusahaan (commercial wastes), misalnya dari hotel, restoran, dan
kolam renang;
3. yang berasal dari industri (industrial wastes), seperti dari pabrik baja, pabrik tinta,
dan pabrik cat;
4. yang berasal dari sumber lainnya, seperti air hujan yang bercampur dengan air
comberan, dan lain sebagainya.
Tergantung dari sumbernya ini, maka macam serta komposisi air limbah beraneka
ragam. Pada umumnya susunan air kotor terdiri dari 3 komponen yang utama, yaitu :
1. bahan padat;
2. bahan cair; dan
3. bahan gas.
Kesemua bahan-bahan ini berada dalam air limbah dalam bentuk :
a. bahan yang mengapung (floating material);
b. bahan yang larut (dissolved solids);
c. bahan koloidal (colloids);
d. bahan mengendap (sediment); serta
e. bahan melayang (dispersed solids).

108
Pengotoran Air
Pengotoran air timbul karena berbagai macam sebab, tergantung sumber serta macam
air limbah itu sendiri. Untuk menentukan derajat pengotoran air limbah ada beberapa
cara, yaitu :
1. mengukur adanya E. coli dalam air. Ukuran yang dipakai biasanya jumlah E. coli
untuk setiap ml air limbah.
2. mengukur suspended solid yang biasanya dinyatakan dalam ppm
3. mengukur zat-zat yang mengendap dalam air limbah, dinyatakan dalam ppm
4. mengukur kadar oksigen yang larut, dinyatakan dalam ppm. Pengukuran kadar
oksigen yang larut ini sangat penting, karena dengan diketahuinya kadar oksigen,
dapat ditentukan apakah air tersebut dapat dipakai untuk kehidupan. Ada beberapa
cara yang dikenal untuk mengukur kadar oksigen dalam air limbah, yaitu :
a. Chemical Oxygen Demand (COD), ialah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air secara
sempurna.
b. Biochemical Oxygen Demand (BOD), yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air secara
sempurna dengan memakai ukuran proses biokimia yang terjadi di dalam
larutan air limbah tersebut.
c. Demand of Oxygen (DO)
Untuk mendapatkan gambaran selengkapnya tentang keadaan air limbah ini, maka
berikut ini adalah perbandingan dengan air minum :
Hal yang diukur Air limbah (rata-rata) Air minum (rata-rata)
1. E. Coli 10-10 Kurang dari 2
2. Suspended solids (benda 300-400 ppm 0-3 ppm
melayang)
3. Zat yang mengendap 3-12 ppm 0 ppm
4. Oksigen yang larut 0-2 ppm 5-9 ppm
5. BOD (oksigen yang 300 ppm 0-3 ppm
dibentuk proses biokimia)

109
Pengolahan Air Limbah
Pengolahan air limbah pada dasarnya bertujuan untuk :
1. melindungi kesehatan anggota masyarakat dari ancaman terjangkitnya penyakit. Hal
ini mudah dipahami karena air limbah sering dipakai sebagai tempat
berkembangbiaknya berbagai macam bibit penyakit;
2. melindungi timbulnya kerusakan tanaman, terutama jika air limbah tersebut
mengandung zat organis yang mengganggu kelangsungan hidup;
3. menyediakan air bersih yang dapat dipakai untuk keperluan hidup sehari-hari,
terutama jika sulit ditemukan air yang bersih.
Dalam kehidupan sehari-hari , pengolahan air limbah dilakukan dalam 2 bentuk, yaitu
1. menyalurkan air limbah tersebut jauh dari daerah tempat tinggal, tanpa diolah
sebelumnya
2. menyalurkan air limbah tersebut setelah diolah sebelumnya, dan kemudian dibuang
ke alam
Jika air limbah tersebut dibuang begitu saja tanpa diolah sebelumnya, maka ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1. tidak sampai mengotori sumber air minum
2. tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor
3. tidak mengganggu kesenangan hidup, misalnya dari segi pemandangan dan bau
4. tidak mencemarkan alam sekitarnya, misalnya merusak tempat rekreasi, berenang,
dan sebagainya.
Air yang dibuang tanpa diolah sebelumnya ini biasanya dilakukan oleh rumah tangga.
Ada 2 cara yang sering ditempuh :
1. Sistem riol
Yaitu suatu jaringan pembuangan air limbah yang dimulai dari daerah perumahan,
masuk ke daerah pemukiman, dan kemudian dialirkan ke tempat pembuangan air
air limbah yang biasanya merupakan sungai atau laut.
2. Septic tank
Adalah suatu unit penampungan dan penyaluran air limbah (dan juga kotoran
manusia) di dalam tanah yang dibuat permanen. Prinsip septic tank :
a. tersedianya bak penampung untuk memisahkan bahan padat dari air limbah,
dimana bahan padat ini akan mengalami proses pembusukan oleh bakteri
anaerobik.

110
b. ruang rembesan, ialah lubang atau sumur yang diisi lapisan pasir kasar atau
kerikil, pasir halus, tanah liat campur pasir, ijuk, dan ditengahnya dialirkan
saluran pipa. Disini terjadi penguraian bahan yang tersisa oleh bakteri aerobik.
Air yang tidak diolah, jika didiamkan dalam suatu tempat yang terbuka (misalnya
danau) , ternyata dapat menjernihkan diri sendiri (self purification) yang terdiri dari
beberapa proses, yaitu :
1. Degradation, ialah wujud awal dari air limbah dimana tampak air kotor
2. Decomposition, ialah proses penguraian zat-zat yang terdapat dalam air limbah atas
bantuan sinar matahari dan udara, terbentuklah gas serta bahan-bahan endapan
3. Recovery, ialah lanjutan tahap kedua dimana air telah tampak jernih dan telah
tampak tanda kehidupan, misalnya tumbuhnya plankton
4. Cleaner water, ialah air sudah tampak bersih dan jernih, air bisa hidup didalamnya.
Setelah tahap ini, air telah stabil namun belum cukup baik untuk diminum

Untuk berhasilnya suatu proses self purification, diperlukan beberapa syarat,yaitu :


1. Faktor fisis, berupa cahaya matahari yang membunuh bakteri, gelombang air yang
menambah pengudaraan dan pengenceran, sedimentasi berupa pengendapan
bahan-bahan berat serta suhu.
2. Faktor kimia, seperti adanya bahan-bahan racun dalam air limbah yang akan
mempersulit penjernihan, adanya zat koagulan yang akan mempercepat
pengendapan, adanya oksigen yang akan mempermudah proses oksidasi.
3. Faktor biologi, berupa bakteri yang ada dalam air limbah yang dapat saling
memakan, ataupun plankton yang memetabolisme zat-zat yang mengapung atau
melayang dalam air
Air limbah yang langsung dibuang tanpa diolah sebelumnya selalu menimbulkan
masalah bagi kesehatan, karena itu perlu diolah terlebih dahulu. Tujuan pengolahan air
limbah hanya memisahkan benda-benda padat dari air limbah, atau untuk sekedar
menetralkan air tesebut dan kemudian disalurkan ke alam sehingga tidak sampai
membahayakan kehidupan. Pengolahan air kotor pada dasarnya mengenal beberapa
cara, yaitu :
1. pemisahan secara mekanis;
2. pemisahan secara hidrolis;
3. pemisahan secara koagulasi kimiawi;

111
4. pemisahan secara reaksi fisik dan kimia;
5. pemisahan secara reaksi biologik; dan
6. desinfeksi.

Masalah Pengawasan Arthropoda Dan Rodentia


Telah sejak lama diketahui bahwa beberapa macam arthropoda (binatang dengan
tubuh bersegmen, mempunyai rangka luar serta anggota gerak yang berbuku-buku)
serta rodentia (binatang menyusui yang mengerat) dapat mendatangkan gangguan
kesehatan bagi manusia. Karena itu diusahakan berbagai cara untuk membunuh atau
paling tidak menjauhkan arthropoda dan rodentia dari lingkungan hidup manusia,
sehingga gangguan kesehatan yang ditimbulkannya dapat dihindarkan.
Pada saat ini dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak cara
untuk mengawasi arthropoda dan rodentia. Hal ini perlu diketahui oleh petugas
kesehatan. Beberapa jenis arthropoda perlu diawasi karena binatang ini dapat terkena
infeksi. Jika kebetulan binatang tersebut menggigit manusia, maka bibt penyakit yang
dikandungnya akan masuk ke tubuh manusia sehingga timbullah penyakit. Sedangkan
pengawasan terhadap rodentia perlu diadakan kecuali karena mungkin kena penyakit
akibat gigitan binatang tersebut yang kebetulan terinfeksi, juga karena pada tubuh
rodentia dapat hidup beberapa jenis arthropoda, yang jika sempat menggigit manusia
dapat pula menimbulkan penyakit. Pengawasan terhadap arthropoda makin bertambah
penting, jika diketahui pula bahwa beberapa jenis binatang ini senang hidup di tempat
kotor. Jika arthropoda tersebut telah hinggap pada kotoran manusia kemudian hinggap
pula pada makanan, maka kuman penyakit yang menempel pada tubuh, kaki, atau bulu-
bulu kaki binatang ini akan mencemari makanan, sehingga menimbulkan penyakit bagi
yang memakannya.
Kesemua kelas arthropoda perlu diawasi, hanya saja karena sifatnya yang khusus,
maka pengawasan terhadap insekta lebih diprioritaskan, yang dikenal dengan sebutan
pengawasan serangga atau insect control. Sebagaimana arthropoda, pengawasan rodent
juga mengenal prioritas terutama pada tunneling rodent (hidup terutama di terowongan
serta mempunyai cakar yang tajam pada kaki depan), karena jenis ini senang hidup di
sekitar tempat tinggal manusia.
Pada saat ini, berkat penemuan-penemuan baru yang berhasil dicapai, diketahui
bahwa serangga dapat menimbulkan penyakit tidak hanya melalui gigitan atau isapan

112
darah saja, tetapi dapat juga secara mekanis, yaitu dengan menempelnya bibit penyakit
pada tubuh serangga tersebut. Selain itu, golongan lain dari arthropoda yang bukan
serangga serta binatang tidak bertulang belakang lainnya dapat pula mendatangkan
penyakit bagi manusia. Dengan penemuan-penemuan baru ini, pengertian vektor
menjadi lebih luas. Saat ini yang disebut vektor adalah arthropoda atau invertebrata
lainnya yang menimbulkan penyakit infeksi pada manusia dengan jalan memindahkan
bibit panyakit yang dibawanya pada manusia melalui gigitan pada kulit atau selaput
lendir, ataupun meninggalkan bibit penyakit yang dibawa pada bahan makanan atau
bahan-bahan lainnya, sehingga mendatangkan penyakit bagi manusia yang memakan
atau mempergunakan bahan-bahan tersebut.
Dengan demikian, penularan penyakit yang disebabkan oleh vektor tersebut kepada
manusia dapat dibedakan menjadi 2 cara, yaitu :
1. Penyebaran secara mekanik, disebut pula penyebaran pasif, yakni pindahnya bibit
penyakit yang dibawa vektor kepada bahan-bahan yang dipergunakan manusia
(umumnya makanan) dan jika bahan (makanan) tersebut dipergunakan (dimakan)
timbullah penyakit. Contohnya penyakit disentri yang disebabkan tercemarnya
makanan atau minuman oleh kuman disentri yang dibawa lalat., gosokan tangan
yang baru saja dipakai untuk meremuk vektor pinjal pada mata, sehingga bibit
penyakit yang ada di dalam tubuh vektor tersebut masuk melalui selaput lendir ke
dalam tubuh.
2. Penyebaran secara biologi, disebut juga penyebaran aktif. Disini bibit penyakit hidup
serta berkembang biak di dalam tubuh vektor dan jika kebetulan vektor tersebut
menggigit manusia (nyamuk misalnya), maka bibit penyakit masuk ke dalam tubuh
sehingga timbullah penyakit.

Pengawasan
Pengertian luas dari pengawasan vektor ialah melakukan berbagai hal yang dipandang
bermanfaat, sehingga kehidupan arthropoda dan atau rodentia menjadi sulit, tidak
dapat berkembang biak atau dimatikan sehingga tidak menimbulkan penyakit bagi
manusia. Untuk itu jelas diperlukan pengetahuan lengkap tentang segala hal yang
menyangkut vektor tersebut, setidaknya meliputi :
1. Siklus kehidupan vektor

113
2. Ekologi vektor, misalnya rodent hidup di air, padang rumput, terowongan ataupun
pohon-pohon. Sedangkan arthropoda tergantung stadiumnya, misalnya telur
nyamuk diletakkan di air.
3. Tingkah laku vektor. Beberapa serangga senang berpindah-pindah tempat,
sedangkan yang lain keluar dari sarangnya terutama pada malam hari.
4. Cara berpindahnya bibit penyakit. Jika berpindah melalui gigitan, usahakan jangan
sampai menggigit manusia, misalnya nyamuk dengan cara memasang kelambu atau
kawat nyamuk.
5. Cara transmisi vektor. Ada vektor yang mempunyai kemampuan terbang beratus-
ratus kilometer dan ada juga yang pindah dengan bantuan pihak ketiga, misalnya
dengan menempel pada kendaraan atau tubuh manusia.
Banyak cara yang dilakukan untuk mpengawasan arthropoda dan rodentia yang secara
umum dibedakan menjadi :
1. Pengawasan mekanik atau fisik
Cara ini adalah yang cara paling tua dan masih dijumpai sampai saat ini, yaitu
dengan pemukulan, menggunakan kawat kassa, kelambu, alat pendingin (ruangan),
alat pemanas (ruangan) ataupun memakai pelindung yang dialiri arus listrik
2. Pengawasan kimiawi
Digunakan zat kimia yang sifatnya dapat untuk mematikan, mengusir ataupun
menimbulkan daya tarik. Zat kimia yang menimbulkan daya tarik, dimaksudkan
untuk mengumpulkan binatang tersebut pada suatu tempat untuk kemudian
dimusnahkan. Zat kimia yang tujuannya mematikan sesuatu yang dapat merusak
atau mengganggu kesehatan disebut pestisida. Jika ditinjau dari sudut ilmu
kesehatan lingkungan, suatu zat kimia hanya dapat dipakai sebagai pestisida jika
memenuhi syarat sebagai berikut :
a. tdak membahayakan kesehatan manusia, baik secara langsung yaitu meracuni
tubuh karena masuk melalui pernafasan atau pun kulit (biological concentration),
ataupun secara tidak langsung seperti misalnya memakan bahan makanan yang
mengandung pestisida (tropic concentration),
b. hanya membunuh binatang yang ingin dibunuh, jadi tidak sampai mematikan
hewan ataupun tumbuhan lainnya,
c. mempunyai daya bunuh yang tinggi (efektif dengan dosis rendah),

114
d. mudah dipergunakan. Cara mempergunakan pestisida bermacam-macam, ada
yang menaburkan bubuknya langsung, ada yang dilarutkan dalam air kemudian
disebar dengan semprotan, dan sebagainya, dan
e. harganya murah.
Saat ini sebagai akibat penggunaan pestisida yang kurang bertanggung jawab,
timbul masalah baru dalam hal pengawasan arthropoda dan rodentia yaitu
terjadinya resistensi pada kedua jenis binatang tersebut. Selain itu terganggunya
kelestarian lingkungan juga timbul sebagai akibat sampingan yaitu ikut matinya
binatang atau tumbuhan lain yang terkena.
3. Pengawasan biophysical
Pengawasan cara ini pada dasarnya perpaduan dari dua macam cara, yakni fisik dan
cara biologi. Prinsip yang dipakai disini adalah pertama menangkap binatang
tersebut (biasanya jenis jantan, jadi secara fisik), dan kemudian disterilkan dengan
mempergunakan sinar gamma (jadi secara biologi), untuk kemudian dilepas kembali
ke alam. Karena sterilisasi ini, maka tidak akan terjadi pembuahan sehingga jumlah
binatang dapat dikontrol. Jika cara ini akan dipergunakan, harus diperhatikan
beberapa hal, misalnya harus diketahui bahwa jumlah jenis jantan tidak begitu
banyak, sehingga upaya sterilisasi yang dilakukan tidak sia-sia, tidak sukar
menangkap binatang tersebut. Yang terpenting ialah memperhatikan biaya yang
dibutuhkan; jika biayanya tinggi, tentu saja tidak baik dilakukan.
4. Pengawasan Biologis
Prinsipnya ialah dengan memanfaatkan binatang lainnya yang menjadi musuh dari
arthropoda atau rodentia. Ada dua cara pendekatan yang sering dilakukan yakni :
a. membawa binatang yang menjadi musuh dari daerah lain ke daerah yang ingin
diawasi. Prinsip ini dilakukan, jika diketahui bahwa di daerah yang ingin diawasi
tidak ditemukan binatang yang akan dibawa tersebut.
b. menciptakan keadaan lingkungan sedemikian rupa, sehingga binatang yang
menjadi musuh dan telah berada di daerah tersebut dapat lebih berkembang
biak, dan dengan demikian dapat membunuh atau memusnahkan arthropoda
atau rodentia yang ingin diawasi.
Macam dari hewan yang diharapkan dapat membunuh arthropoda dan rodentia
tersebut beraneka ragam. Dapat disebut misalnya : laba-laba, burung atau ikan
untuk mengawasi serangga, serta kucing atau anjing untuk mengawasi rodentia.

115
5. Pengawasan Kultural
Prinsipnya ialah menciptakan keadaan lingkungan sehingga tidak menguntungkan
arthropoda atau rodentia dengan jalan mengubah kebiasaan atau sikap hidup yang
tidak menguntungkan. Misalnya tidak membiarkan tergenangnya air di pekarangan,
membersihkan daerah tempat tinggal dan lain sebagainya. Membiasakan mengganti
jenis tanaman, memilih waktu tanam yang tepat, dan sebagainya, juga termasuk
pengawasan kultural, karena dengan mengganti jenis tanaman serta memilih waktu
tanam yang tepat, dapat dihindari terjangkit hama tanaman. Sebab seperti yang
sudah diketahui kebanyakan serangga memakan satu jenis tanaman saja.; jadi jika
jenis tanaman diganti-ganti, maka serangga tersebut tidak sempat berkembang biak,
karena bahan makanan yang dibutuhkan tidak tersedia. Dengan perkataan lain, jika
dapat ditumbuhkan kebiasaan mengganti-ganti jenis tanaman tersebut artinya
memutus rantai makanan dari serangga yang hendak dikontrol.

6. Pengawasan Terintegrasi
Karena pada dasarnya amat sulit mengharapkan hasil yang maksimal jika hanya satu
macam cara pengawasan saja yang dilakukan, maka pada saat ini di banyak negara di
dunia diterapkan pengawasan secara terintegrasi, artinya dipergunakan kombinasi
dari berbagai cara yang telah disebutkan diatas. Dengan cara integrasi ini maka
kelemahan-kelemahan yang mungkin dimiliki oleh setiap cara dapat saling
dikurangi.
Dalam menerapkan cara terintegrasi ini, biasanya dilakukan studi yang mendalam
tentang macam arthropoda dan rodentia yang akan diawasi yang umumnya
dibedakan menjadi empat macam, yakni :
a. Key pest, ialah arthropoda atau rodentia yang diduga menjadi penyebab utama
munculnya gangguan terhadap kesehatan, jadi yang sebenarnya harus diawasi.
b. Occasional pest, ialah arthropoda atau rodentia yang kadang-kadang terdapat di
tampat yang akan diawasi, dan diduga bukan penyebab utama timbulnya
penyakit.
c. Potential pest, ialah golongan arthropoda atau rodentia lainnya yang ditemukan
di daerah yang akan diawasi dan diduga pada suatu saat mempunyai potensi
sebagai penyebab munculnya penyakit.

116
d. Migrant pest, ialah arthropoda atau rodentia yang berasal dari daerah lain, jadi
sebelumnya tidak ditemukan di daerah yang akan diawasi.
Dengan dilakukannya pembagian seperti di atas, maka cara pengawasan yang
dilakukan dapat lebih terarah. Dengan demikian tidak sampai membunuh arthropoda
atau rodentia yang tidak berbahaya atau yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia.
Pembagian seperti ini adalah mutlak jika cara integrasi akan dilakukan, karena jika
sampai arthropoda atau rodentia yang dibutuhkan manusia ikut terbunuh, maka apa
yang disebut pengawasan biologis yakni salah satu yang diintegrasikan tersebut pasti
tidak akan berlangsung.
Agar pengawasan terhadap arthropoda dan rodentia ini berjalan dengan baik dan
memberikan hasil yang diharapkan, maka dibanyak negara di dunia telah dikeluarkan
suatu peraturan khusus yang mengatur pelaksanaannya. WHO sendiri memberikan
perhatian yang cukup serius tentang peraturan tersebut. Oleh WHO telah dikeluarkan
suatu pedoman yang mengatur pemakaian pestisida dalam program kesehatan
masyarakat, yang menetapkan tidak saja pengawasan mutu dari produk yang
dipergunakan (quality control), tetapi juga tata cara penggunaannya di lapangan.
Untuk Indonesia, pengawasan arthropoda dan rodentia memang masih bersifat
sangat sederhana, karena dana dan tenaga yang tersedia belum memadai. Karena itu
harapan sebenarnya lebih banyak dipulangkan kepada usaha masyarakat sendiri.
Sayangnya harapan ini masih sulit terpenuhi karena pengertian masyarakat terhadap
masalah ini masih sangat kurang.
Pada saat ini di beberapa kota besar di Indonesia telah mulai dikenal adanya
perusahaan yang bergerak khusus dalam pest control. Ditanganinya pekerjaan ini oleh
mereka yang lebih profesional memang menggembirakan. Hanya saja dalam
pelaksanaannya masih diperlukan pengaturan yang lebih terarah, karena sebagai suatu
perusahaan mereka tentu lebih memperhitungkan keuntungan. Disinilah nantinya akan
muncul masalah, karena penyemprotan yang dilakukan tidak dengan dosis yang tepat
akan menimbulkan resistensi, suatu masalah yang tidak mudah dicarikan jalan
keluarnya kelak.

Pengawasan Nyamuk
Nyamuk adalah serangga yang termasuk ordo diptera. Macamnya banyak dan
tersebar hampir merata di seluruh pelosok bumi kecuali di lautan, di kutub ataupun di

117
padang pasir yang amat kering. Diperkirakan tidak kurang dari 2.500 spesies ditemui di
permukaan bumi. Sekalipun tidak semua spesies mendatangkan penyakit bagi manusia,
namun diantara berbagai jenis serangga maka nyamuk adalah yang paling ditakuti.
Karena babarapa diantaranya dapat mendatangkan penyakit yang membahayakan
kehidupan seperti misalnya Anopheles yang mendatangkan penyakit malaria, Aedes
aegypti yang menimbulkan penyakit demam berdarah, Culex mansonia dan Anopheles
gambiae yang mendatangkan penyakit filariasis serta Culex tarsalis yang mendatangkan
penyakit encephalitis.
Sebagaimana telah diuraikan, maka untuk mendapatkan hasil pengawasan
nyamuk yang sempurna, diperlukan pengetahuan yang cukup tentang siklus kehidupan
nyamuk, etiologinya, sifat-sifat nyamuk, dan cara penularan penyakit yang ditimbulkan
oleh nyamuk. Tentang siklus kehidupan nyamuk telah diketahui bahwa nyamuk salah
satu jenis serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Nyamuk betina yang
dewasa meninggalkan telurnya di dalam atau di dekat air. Sekali bertelur menghasilkan
telur sekitar 50 sampai 200 buah, dan selama masa hidupnya dapat bertelur beberapa
kali. Tergantung dari jenis nyamuk, maka telurnya ada yang sendiri-sendiri mengapung-
apung di atas permukaan air (bentuk float), atau ada yang mengelompok satu dengan
lainnya, dan kelompok ini mengapung-apung di atas permukaan air (bentuk raft). Jika
keadaan tempat sesuai dengan kebutuhannya, maka masa telur ini antara 2 sampai 3
hari. Tetapi jika keadaan tempat bertelur tersebut dingin atau terlalu panas, maka telur
ini dapat dipertahankan lebih lama.
Telur yang telah matang akan menetas membentuk tempayak (larva), yang
tergantung dari jenis nyamuknya mempunyai bentuk serta sifat tersendiri. Pada nyamuk
Anopheles, larvanya rata dengan permukaan air, sedangkan pada nyamuk Culex
membuat sudut dengan permukaan air. Stadium larva ini berlangsung antara 4 sampai
10 hari. Banyak jenis larva dapat berenang aktif di dalam air. Mereka membutuhkan
bahan makanan disamping udara yang didapatnya dari permukaan air.
Bentuk kepompong (pupa) yang kemudian menyusul, berlangsung selama kira-
kira 2 hari. Pupa juga membutuhkan udara segar, tetapi tidak membutuhkan bahan
makanan. Selanjutnya setelah bentuk pupa dilalui, maka muncullah bentuk dewasa,
yang sebelum pergi meninggalkan tempat “kelahiran” tersebut, mengering dahulu di
atas permukaan air, menunggu sayapnya kering.

118
Adapun sifat nyamuk dewasa berbeda-beda, karena semuanya tergantung dari jenis
nyamuk tersebut. Sifat umum yang dipunyai adalah :
1. nyamuk betina membutuhkan darah untuk pembentukan telur, sedangkan nyamuk
jantan tidak. Sebab itu nyamuk betina menggigit manusia atau hewan, sedangkan
nyamuk jantan lebih senang tetap tinggal di daerah dimana ia “dilahirkan”.
2. dengan sayap yang dimilikinya, maka nyamuk dapat terbang dari satu tempat ke
tempat lain. Hanya saja jarak yang dapat dicapainya biasanya tidak jauh, kecuali
Anopheles yang dapat terbang antara 1½ sampai 30 km.
3. dalam mencari mangsanya ia memilih waktu-waktu tertentu; ada yang menyenangi
malam hari, tetapi ada pula yang justru menggigit mangsanya pada siang hari.
Jika ditinjau dari tempat hidupnya, nyamuk dibedakan atas beberapa macam, yakni :
1. nyamuk yang senang hidup di air payau (salt marsh type)
2. nyamuk yang memilih tempat hidupnya berupa genangan air yang bersifat
sementara, dibedakan atas :
a. Temporary pool type, ialah nyamuk yang senang mengeram di genangan air yang
sifatnya sementara seperti bekas injakan kerbau, manusia, dan lain sebagainya.
b. Artificial container type, ialah nyamuk yang senang mengeram pada genangan air
yang terdapat dalam kaleng-kaleng bekas yang dibuang sembarangan oleh
manusia.
c. Treehole type, ialah nyamuk yang senang mengeram pada genangan air yang
bersifat sementara yang terdapat pada lubang-lubang pohon. Ditemukan
terutama pada daerah yang sering hujan.
d. Rock pool type, ialah sama halnya dengan treehole type, hanya saja disini yang
dipilih genangan air yang terdapat di lubang-lubang batu karang.
Jika ditinjau dari tempat persembunyiannya, maka nyamuk dapat pula dibedakan atas
dua jenis, yakni :
1. Natural resting stations type, ialah nyamuk yang memilih tempat bersembunyi dalam
lubang-lubang yang ditemui secara alamiah, misalnya pada pohon-pohon, batu
karang, dan lain sebagainya.
2. Artificial resting stations type, ialah nyamuk yang memilih tempat bersembunyi
dalam tempat-tempat yang berbentuk karena hasil pekerjaan manusia, baik yang
sifatnya sengaja ataupun yang tidak sengaja (karena kecerobohan). Misalnya dalam
rumah, dalam kaleng kosong, dan lain sebagainya.

119
Dengan mengetahui berbagai sifat nyamuk di atas, maka akan dapat dipilih cara
pengawasan nyamuk yang tepat, artinya yang benar-benar efektif untuk membunuh
atau paling tidak menghindarkan nyamuk dari lingkungan kehidupan manusia. Hanya
saja sebelum usaha ini dilakukan, haruslah ada data yang lengkap terlebih dahulu
tentang segala hal yang menyangkut nyamuk tersebut terutama yang berhubungan
dengan daerah yang dipakai sebagai tempat berkembang biak, jenis dari nyamuk
tersebut, dan lain sebagainya. Karena itulah upaya pengawsan biasanya sering didahului
dengan suatu penelitian atau survey. Dalam melakukan survey nyamuk ada dua prinsip
dasar yang dikerjakan, yakni :
1. melakukan pemetaan daerah, yakni menentukan daerah-daerah yang dicurigai
menjadi tempat bersarangnya nyamuk, misalnya rawa-rawa, seluruh air yang
tergenang, dan lain sebagainya. Pemetaan ini dianggap pokok karena dengan
diketahuinya daerah tersebut dapat dilakukan pengawasan secara intensif, serta
hasil yang diperoleh akan lebih memuaskan. Terutama jika ditinjau dari sudut
ekonomi, karena tidak perlu mengawasi daerah yang terlalu luas.
2. melakukan kunjungan lapangan ke daerah yang dicurigai. Tujuan kunjungan
lapangan ini, kecuali untuk memastikan lokasi daerah yang dicurigai, juga untuk
mengidentifikasi jenis nyamuk apa yang terdapat di daerah tersebut. Pekerjaan
identifikasi ini dianggap penting, karena dengan demikian dapat diketahui apakah
nyamuk yang ditemukan berbahaya atau tidak. Tentu saja pengawasan selanjutnya
hanya ditujukan kepada jenis nyamuk yang berbahaya saja; dengan demikian
penghematan dana dapat pula dilakukan.
3. identifikasi nyamuk ini biasanya dilakukan dengan mengambil contoh air dari
tempat yang diduga sarang nyamuk. Dalam mengambil contoh air ini, dipergunakan
tangguk bertangkai panjang yang dipasang dengan jaring halus. Pengambilan contoh
air harus dilakukan dengan gerakan yang cepat, karena larva nyamuk peka sekali
terhadap gangguan dan segera akan menyelam sehingga tidak dapat diambil. Dari
bentuk larva, pupa serta ciri-ciri yang ditemukan pada nyamuk dapat dibedakan
jenis nyamuk tersebut. Misalnya larva Anopheles mengapung datar di permukaan air,
sedangkan Culex mengapung dengan membentuk sudut dengan permukaan air.
Membedakan nyamuk dapat pula dilakukan dengan melihat sifat-sifat nyamuk
dewasa, misalnya dari bentuk sayap atau posisi tubuh ketika menggigit mangsanya.
Nyamuk Anopheles berbintik-bintik pada sayap serta posisinya menungging ketika

120
menggigit mangsanya, sedangkan jenis Culex sayapnya umumnya polos, serta posisi
ketika menggigit sejajar dengan permukaan kulit.
Setelah diketahui jenis nyamuk yang harus diawasi, pekerjaan dilakukan dengan
pengawasan itu sendiri. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam, yakni :
1. Pengawasan yang ditujukan pada bentuk muda dari nyamuk (stadium telur, larva,
dan pupa). Ada beberapa cara pengawasan yang dilakukan pada bentuk muda dari
nyamuk ini, yang dibedakan atas :
a. secara fisik atau mekanis, misalnya dengan mengeringkan rawa-rawa, menimbun
air yang tergenang, membuat air selokan mengalir dengan lancer.
b. secara kimia, yakni menyiram permukaan air dengan zat kimia tertentu
(minyak), dengan demikian larva dan pupa tidak dapat mengambil udara segar
yang dibutuhkannya.
c. secara biologis misalnya memelihara beberapa jenis ikan di rawa-rawa, yang
memakan telur, larva, serta pupa nyamuk.
d. secara kultural, misalnya mengubah sikap masyarakat yang tidak baik dan
merugikan kesehatan lingkungan.
2. Pengawasan yang ditujukan pada nyamuk dewasa
Sama halnya dengan pengawasan nyamuk pada usia muda, maka disini cara
pengawasan yang dapat dilakukan dibedakan pula atas beberapa macam, yakni :
a. secara fisik atau mekanis, yakni dengan memasang kawat kassa,
mempergunakan kelambu, atau memukul nyamuk dengan alat pemukul.
b. secara kimia, yakni mempergunakan berbagai macam insektisida dengan sifat-
sifatnya yang ada untuk mematikan nyamuk, mengatur pertumbuhan, membuat
steril, menarik perhatian nyamuk ataupun mengusirnya. Zat kimia yang dipakai
untuk insektisida banyak macamnya, satu dengan lainnya mempunyai kebaikan
ataupun kerugian-kerugian.
c. secara biologis, misalnya dengan membiarkan hidup binatang seperti cecak di
rumah yang akan menangkap nyamuk sebagai mangsanya. Binatang lain yang
merupakan musuh nyamuk, dan karena itu dapat dimanfaatkan sebagai salah
satu cara pengawasan biologis ialah kelelawar, berbagai jenis reptil, serta unggas.
d. secara kultural, yakni dengan mengubah kebiasaan manusia yang buruk yang
dipandang menguntungkan kehidupan nyamuk. Misalnya mengeringkan rawa-
rawa, memotong dedaunan yang terlalu lebat, tidak membuang kaleng-kaleng

121
bekas sembarangan, membuat saluran air yang memenuhi syarat kesehatan, dan
lain sebagainya.
Tentunya cara terbaik yang dilakukan dalam pengawasan nyamuk ini ialah jika dapat
ditujukan terutama ketika nyamuk masih berada dalam stadium muda. Karena dengan
dapat dibunuhnya nyamuk dalam stadium muda ini, dapat dicegah bertambah
banyaknya nyamuk yang mungkin sempat dihasilkan oleh nyamuk betina dewasa. Lebih
dari itu, nyamuk pada stadium muda dipandang lebih menguntungkan kesehatan
manusia. Sarang nyamuk tersebut umumnya tidak berada dalam lingkungan daerah
tempat tinggal, sehingga jika digunakan zat kimia pada sarang tersebut tidak akan
menimbulkan problem keracunan pada manusia. Tidak demikian halnya jika nyamuk
telah dewasa, sebab penggunaan zat insektisida di daerah perumahan, memberikan
kemungkinan yang besar ikut teracuninya manusia, misalnya melalui residu insektisida
yang menempel pada bahan makanan, sebagaimana banyak ditemui di negara-negara
yang sudah berkembang.

Masalah Makanan
Makanan diperlukan untuk kehidupan, karena dari makanan didapatkan energi
(tenaga) yang diperlukan untuk melangsungkan berbagai faal tubuh. Ilmu kedokteran
atau kesehatan telah lama mengetahui bahwa antara makanan dan kesehatan terdapat
hubungan yang erat. Seseorang yang memakan makanan yang tidak mengandung cukup
gizi mudah terserang penyakit kekuarangan gizi. Selanjutnya telah diketahui pula bahwa
bagi orang-orang tertentu ada jenis makanan yang tidak dapat dikonsumsinya, karena
penyakit tersebut akan menyebabkan alergi. Selanjutnya ilmu kedokteran atau kesehatn
memperhaikan pula cara mengelola bahan makanan, karena jika cara mengelola
tersebut salah, misalnya dimasak berlebihan, akan rusaklah beberapa zat yang terdapat
dalam bahan makanan.
Kesemua hal yang menyangkut makanan ini, memang menjadi perhatian ilmu
kedokteran dan kesehatan. Namun jika ditinjau dari ilmu kesehatan lingkungan,
ternyata tidak termasuk bidang perhatiannya. Dari sudut ilmu kesehatan lingkungan
perhatian terutama ditujukan pada higiene dan sanitasi makanan tersebut, yakni
bagaimana mengusahakan agar makanan tidak sampai tercemar atau tidak
mengandung zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan.

122
Demikianlah dalam membicarakan tentang higiene dan sanitasi makanan (food
sanitation), maka permasalahan yang menyangkut nilai gizi kurang diperhatikan,
demikian pula halnya yang menyangkut komposisi bahan makanan yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh. Pembicaraan dalam sanitasi makanan lebih ditekankan pada upaya
membebaskan makanan dari zat-zat yang membahayakan kehidupan, atau mencegah
agar bahan makanan yang mengandung zat-zat yang membahayakan kehidupan tidak
sampai dikonsumsi.
Penyebab
Secara umum jika membicarakan apa yang menyebabkan makanan menjadi
berbahaya bagi kehidupan, maka penyebab tersebut dapat dibedakan menjadi dua
macam, yakni :
1. Makanan tersebut dicemari oleh zat-zat yang membahayakan kehidupan. Jadi
dalam kategori ini, makanan tersebut semula tidak mengandung zat-zat yang
membahayakan tubuh. Tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya mengandung zat
yang membahayakan kesehatan.
2. Dalam makanan itu sendiri telah terdapat zat-zat yang membahayakan
kesehatan; karena itu makanan tersebut sebenarnya tidak boleh dimakan.
Namun karena tidak tahu atau karena lalai, atau karena dalam keadaan darurat,
makanan yang mengandung zat yang membahayakan kesehatan ini dikonsumsi
oleh seseorang.
Berbagai hal yang dapat menjadi penyebab (baik yang berasal dari luar
ataupun yang berasal dari makanan itu sendiri), jika ditinjau dari sanitasi makanan,
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yakni :
1. Golongan parasit
Golongan parasit yang mencemari makanan ialah amoeba dan berbagai jenis
cacing. Amoeba dapat menimbulkan penyakit disentri amoeba, sedangkan cacing
dapat menimbulkan penyakit cacingan. Dalam kehidupan sehari-hari sering
ditemukan penyakit cacing yang disebabkan karena memakan daging atau ikan
yang mengandung telur cacing atau cacing, yang kurang atau tidak dimasak
sebelumnya. Penyakit cacing yang sering ditemukan ialah yang disebabkan oleh
Taenia saginata, Taenia solium, Trichinosis, dan Diphyllobotrium.
2. Golongan mikroorganisme

123
Berbagai jenis bakteri yang dapat menimbulkan penyakit melalui makanan ialah
Shigella yang menimbulkan penyakit disentri basiler, Salmonella yang
menimbulkan penyakit tifoid, paratifoid, dan bentuk-bentuk lainnya,
Streptococcus menimbulkan penyakit scarlet fever atau septic sore throat, serta
berbagai macam virus yang menimbulkan penyakit seperti hepatitis, dan lain
sebagainya.
3. Golongan kimia
Pencemaran makanan karena zat kimia, biasanya terjadi karena kecelakaan,
misalnya meletakkan insektisida berdekatan dengan bumbu dapur. Pembungkus
makanan yang terbuat dari logam dapat menyebabkan keracunan makanan
karena zat kimia dalam logam itu. Adapun zat kimia yang sering mencemari
makanan ialah antimoni, arsen, cadmium, tembaga, sianida, fluor, timah hitam,
dan seng.
4. Golongan fisik
Pencemaran makanan yang disebabkan golongan fisik misalnya bahan radioaktif.
5. Golongan racun (toxin)
Adanya racun dalam makanan dapat dibedakan atas dua macam, yakni :
a. yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang hidup atau berada dalam
makanan tersebut. Jadi disini yang mendatangkan penyakit bukan
mikroorganismenya, tetapi toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme
tersebut. Misalnya toksin yang dihasilkan oleh Botulisme, Staphylococcus, dan
Clostridium welchii.
b. Bahan makanan itu sendiri telah mengandung racun, yang karena tidak tahu,
lalai, atau dalam keadaan darurat, terpaksa dimakan. Contoh tumbuh-
tumbuhan yang mengandung racun ialah kacang castor, Ergotism, cendawan,
rhubarb (sejenis bayam), solanine (sejenis kentang). Contoh hewan ialah
kerang-kerangan.

Cara Mengelola Bahan Makanan


Tujuan mengelola bahan makanan ialah agar tercipta makanan yang memenuhi
syarat kesehatan, mempunyai citarasa yang “sesuai”, serta mempunyai bentuk yang
merangsang selera makan. Jika tujuan kesehatan yang dibicarakan, khususnya yang ada

124
hubungannya dengan kesehatan lingkungan, maka dalam mengelola bahan makanan ini
ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, ialah :
a. masaklah bahan makanan tersebut dengan cukup, sehingga mikroorganisme atau
parasit yang terdapat didalamnya dan merugikan kesehatan musnah, tetapi dalam
memanaskan bahan makanan ini harus dijaga tidak sampai berlebihan karena
mungkin ada zat makanan yang bisa rusak. Telah diketahui adanya hubungan antara
suhu, kuman yang terdapat dalam bahan makanan, dengan waktu memanaskan yang
diperlukan untuk membunuh kuman. Hubungan ini disebut “time-temperature
relationship”. Suhu yang dipakai ialah panas, sedangkan waktu yang dibutuhkan
untuk membunuh kuman tersebut tergantung dari suhu optimum yang dimiliki oleh
masing-masing mikroorganisme yang memang berbeda-beda. Berdasarkan derajat
suhu optimum dalam pertumbuhannya, maka mikroorganisme dibedakan menjadi :
thermophylic (suhu optimum 450-600C), mesophylic (200-450C), dan psychrophylic
(tumbuh cepat dibawah 00C atau lebih rendah dan beberapa jenis mikroorganisme
juga tumbuh dengan baik pada 00-200C).
Jika suhu dinaikkan, maka makin cepat mikroorganisme dimatikan, jadi makin
pendek waktu yang diperlukan. Daya tahan mikroorganisme terhadap suhu panas
dinyatakan dalam jangka waktu kematian terhadap termis (thermal death time) yaitu
jangka waktu yang diperlukan untuk mematikan sejumlah mikroorganisme tertentu
(dalam semua bentuk tingkat kehidupannya) yang berada dalam keadaan tertentu
dengan derajat suhu tertentu pula. Kematian karena termis (thermal death)
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni :
1) konsentrasi mikroorganisme; makin tinggi jumlahnya per ml, makin lama waktu
yang dibutuhkan untuk mematikannya;
2) riwayat hidup mikroorganisme sebelumnya, yang menyangkut suhu ketika
pembiakan, umurnya, fase pertumbuhan, serta komposisi substrat dimana
mikroorganisme tersebut tumbuh, yang ditentukan oleh kandungan air, pH, dan
zat-zat lain.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bigelow dan Esty terhadap 115.000 spora
dari flat sour bacteria per ml corn juice dengan pH 6,1 mendapatkan hubungan
antara suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan spora tersebut sebagai
berikut :

125
Suhu (dalam 0C) Waktu membunuh semua spora (dalam
detik)
100 1.200
105 600
110 190
115 70
120 19
125 7
130 3
135 1

Untuk tiap macam mikroorganisme, waktu dan suhu yang dibutuhkan berbeda-
beda. Demikianlah hasil dari berbagai percobaan memberikan angka sebagai berikut
:
Nama bakteri Suhu (C0) Waktu (detik)
Gonococcus 2-3 50
Salmonella thyphosa 4,3 60
Staphylococcus aureus 18,8 60
Eschericia coli 20-30 57,3
Streptococcus 15 70-75
thermophillus
Lactobacillus bulgaricus 30 71

Pengetahuan tentang adanya hubungan suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk
membunuh semua jenis mikroorganisme ini, banyak dimanfaatkan dalam sanitasi
makanan, misalnya dalam proses pasteurisasi. Tergantung dari cara melakukannya,
aka pasteurisasi dibedakan menjadi dua macam yakni:
- dengan suhu tinggi waktu pendek (high temperaturere short time), misalnya pada
susu yang dilakukan dengan suhu 71,70 C selama 16 detik;
- dengan suhu rendah waktu panjang (low temperature long time) misalnya pada
susu yang dilakukan dengan suhu 62,80C selama 30 menit
b. Pada waktu pengelolaan makan tersebut, buanglah bagian dari bahan makanan yang
mengandung zat yang membahayakan tubuh atau telah tidak bermanfaat lagi,
sebaliknya bagian yang mengandung zat yang dibutuhkan tubuh tidak boleh sampai
terbuang.

126
c. Olahlah bahan makanan tersebut dengan mempergunakan alat yang selalu
terpelihara kebersihannya, demikian pula kebersihan orang yang akan mengelola
bahan makanan, harus pula dijaga.
d. Hindarkan mengelola bahan makanan yang mengandung racun, atau berdekatan
dengan zat racun.
Pengawasan higiene dan sanitasi makanan di Indonesia dilaksanakan dalam rangka:
1. melaksanakan pendidikan kesehatan
2. pengamatan dan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan makanan
3. pemeriksaan perusahaan-perusahaan makanan
Tanggung jawab pemeriksaan perusahaan dilimpahkan kepada Puskesmas yang
harus melakukan pemeriksaan sekurang-kurangnya sekali dalam 6 bulan.
Pemeriksaan dilakukan dengan mempergunakan formulir yang telah disediakan.
Dalam formulir tersebut terdapat 4 hal yang harus diperiksa, terdiri dari
pemeriksaan terhadap:
a. kebersihan umum dan fasilitas;
b. tempat pengelolaan makanan dan minuman
c. kamar kecil dan tempat suci
d. karyawan
Pada pemeriksaan kebersihan umum dan fasilitas, hal-hal yang harus diperhatikan
meliputi;
a. keadaan dinding, langit-langit, lantai dan ruangan
b. sistem penghawaan
c. perlindungan terhadap lalat, tikus, dan lain-lain serangga
d. sumber persediaan air
e. pembuangan kotoran dan air selokan
Pada pemeriksaan tempat pengelolaan makanan dan minuman, hal-hal yang harus
diperhatikan meliputi:
a. fasilitas pencucuian
b. cara-cara mendesinfeksi;
c. pengawasan mutu
d. pembuangan kotoran cair
e. pengumpulan dan pembuangan sampah
f. penyimpanan bahan mentah

127
g. penyimpanan makanan jadi
h. perlindungan terhadap debu, uap, dan gas
Pada pemeriksaan kamar kecil dan tempat cuci, hal-hal yang harus diperhatikan
meliputi:
a. tempat buang air besar dan buang air kecil
b. tempat mencuci dan mandi yang harus dilengkapi dengan sabun
c. prasarana sanitasi
Sedangkan pada pemeriksaan karyawan, hal-hal yang harus diperhatikan meliputi:
a. surat keterangan kesehatan yang masih berlaku
b. kebersihan dan kerapian umum
c. kebiasaan menangani makanan / minuman
d. kesehatan mereka pada waktu pemeriksaan
Jika terdapat hal-hal yang mencurigakan, maka Puskesmas harus membuat
laporan tertulis kepada kantor kesehatan tingkat Kabupaten (Dinkes), jika perlu
disertai contoh makanan dan minuman, guna dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Suatu perusahaan makanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dapat
diusulkan pencabutan ijin usahanya.

C. Alat dan Bahan


1) Alat tulis
2) Kuesioner
3) Referensi Kesehatan Lingkungan Agroindustri

D. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai survey
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, menentukan tempat yang akan menjadi target
survey kesehatan lingkungan.
4) Mintalah persetujuan kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan berbagai indikator
kesehatan lingkungan
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan

128
8) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (dokumentasi)

E. Referensi
1. Azwar, A. (1979). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC
2. Mukono. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.
3. Slamet, Juli Soemirat. 2004. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
4. Widyastuti, Palupi. 2000. Bahaya Bahan kimia pada Kesehatan Manusia dan
Lingkungan. Jakarta: EGC.
5. Frederick, Gunther. 2000. Environmental Epidemiology. New York: Lewis
Publisher.
6. Notoatmodjo, S. (2003). Ilmu perilaku. Jakarta: EGC Penerbit Buku
Kedokteran

129
PRAKTIKUM 10
VISITASI KOMUNITAS: PENGENALAN KESEHATAN KERJA AGROINDUSTRI

Judul Blok : Blok 1 Humaniora dan Masalah Kesehatan


Kode Blok : PDU 1758
SKS : 1 SKS
Metode Belajar : Praktikum
Waktu Pertemuan : 1 x 180 menit
Pertemuan ke : 10 (Kesehatan Kerja Agroindustri)
Laboratorium : Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

A. Tujuan Belajar :

1)Mahasiswa memiliki kemampuan menguraikan ruang lingkup kesehatan kerja


pada area agroindustri
2)Mahasiswa memiliki kemampuan untuk melakukan survey terhadap masalah
kesehatan kerja di area agroindustri
3)Mahasiswa mampu memberikan saran yang strategis dalam rangka
meningkatkan kesehatan kerja di area agroindustri
4)Mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengurai berbagai perbedaan
lingkungan social agroindustri dan lingkungan urban dalam kesehatan kerja
5)Mahasiswa memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat

B. Pengantar

Pada daerah agraris, ada banyak penyakit yang terjadi. Penyakit-penyakit ini
merupakan penyakit yang dicetuskan oleh keadaan-keadaan tertentu pada daerah
agraris.
Tabakosis adalah nama penyakit sebagai akibat pengaruh debu tembakau. Debu
tersebut dihirup oleh pekerja-pekerja, ketika daun tembakau dikeringkan. Terutama
daun tembakau yang telah disimpan lama dan lapuk menghasilkan banyak debu.
Gangguan kesehatan pada tabakosis mungkin disebabkan jamur yang tumbuh di daun
tembakau, tapi mungkin pula sebagai akibat nikotin yang dikandungnya. Pengalaman
menunjukkan, bahwa menghirup udara yang mengandung debu tembakau yang cukup

130
banyak memudahkan terjadinya radang paru-paru. Sampai saat ini tidaklah banyak
tentang tabakosis dikemukakan dalam kepustakaan, maka dari itu persoalan penyakit
tersebut belum begitu jalas betul. Namun sebagai pegangan sebaiknya segala kelainan
paru-paru pada pekerja-pekerja yang mengolah daun tembakau diobeti seperlunya
antara lain dengan antibiotika dan memindahkannya ke tempat kerja yang kurang atau
tidak berdebu.
Byssinosis selain terdapat di perusahaan pemintalan dan pertenunan ternyata
menghinggapi pula pekerja-pekerja di perkebunan kapas, yang memisahkan biji kapas
dari serat-seratnya. Kadang-kadang pada pekerja yang disebut ”ginning” tersebut
prevalensi sakit oleh debu kapas juga tinggi. Tapi pada umumnya para ahli sependapat
bahwa bahaya penyakit byssinosis pada ginning tidak begitu berbahaya mengingat sifat
pekerjaan yang biasanya sementara, musiman, dikerjakan di tempat kerja terbuka di
luar rumah, dan udara pada pekerjaan demikian relatif tidak berdebu. Di negara
Mesirlah mula-mula dilaporkan tentang adanya byssinosis pada pekerjaan-pekerjaan
ginning.
Bagassosis adalah penyakit paru-paru oleh karena bagasse yaitu ampas tebu
sesudah tebu diperas diambil gulanya. Bagasse yang lama disimpan, kering, rapuh, dan
berjamur yang menyebabkan penyakit tersebut. Tanda-tandanya adalah penyakit
radang alat pernafasan akut, sebabnya diduga jamur yang tumbuh pada bagasse. Gejala-
gejala seperti eneg, muntah, demam tinggi, menggigil, batuk, sianosis, dan lain-lain
terlihat pada bagassosis. Pengobatan ditujukan kepada radang paru-paru dan penderita
diberi istirahat secukupnya. Pencegahan dilakukan dengan usaha-usaha agar bagasse
tidak menimbulkan debu di udara misalnya dibasahi dan diusahakan jangan sampai
terlalu lama disimpan sebelum dipakai atau dibuang.
Penyakit radang alat pernafasan akut juga terjadi pada pekerja-pekerja yang
membuat kasur dari bahan-bahan kapas yang jelek atau kualitas rendah. Radang ini
disebabkan oleh Aerobacter cloacae yang hidup di kapas lembab pada musim
penghujan. Bakteri tersebut biasa terdapat banyak di tanah, mungkin berasal dari
kotoran manusia atau hewan. Terapi adalah dengan antibiotika.
Asma terdapat pada pekerja-pekerja yang mengerjakan biji-bijian atau hasil
lainnya. ”Grain asthma” adalah penyakit asma terhadap butir-butir beras dan gandum.
”Tamarind asthma” adalah akibat alergi alat pernafasan kepada buah tamarind. Asma
juga terjadi terhadap bahan-bahan halus, seperti tepung, misalnya ”fluor asthma”, yang

131
disebabkan alergi kepada kutu-kutu tepung atau kepada tepungnya sendiri. Umum
diketahui bahwa banyak peristiwa asma disebabkan oleh karena kepekaan kepada
tepung sari dari berbagai pohon-pohonan yang dibawa angin dan dihirup penderita.
Tanda-tanda asma adalah sesak nafas, terutama sulit pada waktu mengeluarkan nafas.
Terdengar khusus suara-suara pernafasan yang tanpa stetoskop pun bisa terdengar.
Pengobatan adalah dengan obat-obat bronkodilator atau steroid lokal, tetapi yang
terpenting adalah memindahkan pekerja dari pekerjaan yang menyebabkan ia
menghirup alergennya.
Jamur seperti Sporotrichosis hidup di rumpun pepohonan, sehingga pekerja yang
bersentuhan atau luka oleh duri rumpun tersebut mungkin dihinggapi penyakit
tersebut. Dermatosis oleh karena jamur adalah khas sifatnya menahun, ditengah
menyembuh sedangkan dipinggir justru proses aktif, disertai perasaan-perasaan gatal
dan panas. Obatnya baik dalam ataupun luar adalah antijamur. Jamur selain itu sering
tumbuh pada bahan-bahan organik yang membusuk, apabila bahan-bahan tersebut
diangkat atau diangkut, debu yang mengandung jamur terhirup oleh pekerja-pekerja
dan mengakibatkan penyakit jamur pada paru-paru seperti misalnya pernah dilaporkan
tentang peristiwa Aspergillosis paru-paru pekerja yang mengolah gandum. Dalam hal
terakhir ini, masker sangat membantu usaha pencegahan.
Kecelakaan akibat kerja terjadi pada pengambilan hasil-hasil dari pohon tinggi,
seperti pemetikan pala, kelapa, kenari, dan lain-lain. Terutama harus mendapatkan
cukup perhatian ialah kecelakaan-kecelakaan pada pengambilan kayu dari penebangan
hingga pengangkutannya di kehutanan. Cara penebangan harus disertai usaha-usaha
pencegahan kecelakaan. Penimbunan kayu harus dilaksanakan memenuhi cara-cara
yang benar, demikian pula pengangkutannya. Sedangkan pekerja-pekerja diwajibkan
memakai pakaian-pakaian pelindung yang cukup, antara lain topi keselamatan, sepatu
bot, baju kerja, dan lain-lain. Perkakas-perkakas kerja harus aman juga.
Seperti halnya di pertambangan, Ancylostomiasis merupakan penyakit yang sering
dialami pekerja-pekerja pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Untuk itu harus
diusahakan higiene lingkungan dan perorangan yang baik.
Pekerjaan-pekerjaan di pertanian, perkebunan, dan kehutanan di beberapa daerah
menghadapi bahaya-bahaya gigitan kalajengking atau ular. Racun-racun dari hewan
berbisa ini dapat digolongkan menjadi dua :

132
1. Hemotoksik, yang meracuni darah dengan menghancurkan butir darah merah
dan pembuluh darah;
2. Neurotoksik, yang merusak saraf
3. Bila terjadi gigitan ular atau kalajengking biasanya susah dibedakan oleh jenis
ular atau kalajengking apa, kecuali jika hewannya tertangkap. Umumnya harus
segera diusahakan agar racun tidak menjalar ke seluruh tubuh dengan mengikat
bagian atas tubuh yang luka, mengeluarkan darah dari luka dengan
melebarkannya memakai pisau bersih atau steril. Ikatan paling lama 30 menit
dan selalu dibuka untuk jangka waktu itu selama 1 menit, bila tidak jaringan
bagian bawah ikatan akan rusak oleh karena terganggu peredaran darahnya. Di
kota-kota besar atau di klinik-klinik khusus sering tersedia antivenom, ialah
bahan untuk menetralisir bisa hewan tersebut. Pakaian pelindung sangat
berguna untuk pencegahan antara lain celana panjang dan sepatu bot.

Kecelakaan Akibat Jenis Pekerjaan


Jenis-jenis pekerjaan mempunyai peranan besar dalam menentukan jumlah dan
macam kecelakaan. Kecelakaan-kecelakaan di perusahaan berlainan dengan kecelakaan-
kecelakaan di perkebunan, kehutanan, pertambangan atau perkapalan. Demikian pula
jumlah dan macam kecelakaan di berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses.
Demikian juga pada berbagai pekerjaan yang tergolong kapada suatu kesatuan operasi.
Kecelakaan-kecelakaan di pertambangan merupakan akibat-akibat ledakan, rubuh
dinding dan atap tambang, jatuh ketika menaiki atau menuruni tangga, selipnya lori, dan
lain-lain. Kecelakaan-kecelakaan dalam hubungan industri maritim misalnya tenggelam,
ditelan ikan, luka oleh barang-barang atau binatang-binatang laut berbisa, dan lain-lain.
Kecelakaan di perkebunan atau kehutanan antara lain kejatuhan kayu, jatuh, luka-luka
oleh perkakas tangan, dan lain-lain. Kecelakaan di dek kapal selain kecelakaan-
kecelakaan biasa, juga bahaya jatuh ke laut atau tenggelam. Kecelakaan yang
berhubungan dengan pembangunan rumah-rumah ialah jatuh, kejatuhan bahan
bangunan, luka-luka oleh perkakas, dan lain-lain. Selain itu pada penggunaan perkakas,
karena tangan yang terutama digunakan, umumnya luka-luka terjadi di tangan. Mesin-
mesin yang berputar dapat mengadakan tarikan-tarikan sehingga baju yang longgar
atau rambut yang terurai ditarik oleh bagian-bagian yang bergerak tersebut dan
berbahaya, misalnya menyebabkan lepasnya kulit kepala atau bahkan kematian. ”Punch

133
machine” yaitu suatu mesin yang membuat lubang dan lain-lain tidak jarang
menyebabkan putusnya tangan. Atau gergaji listrik untuk pemotongan kayu atau
lempeng aluminium sering pula menyebabkan kecelakaan besar pada tangan. Pekerjaan
yang berhubungan dengan arus listrik terutama bervoltase tinggi kadang-kadang
mendatangkan bahaya terutama bagi mereka yang tidak tahu seluk beluk listrik. Kawat-
kawat listrik harus tertutup oleh isolasinya, bila tidak akan menimbulkan hubungan
pendek, kebakaran, dan berbahaya bagi para pekerja. Arus listrik bertekanan tinggi
hanya boleh diperiksa oleh ahlinya. Lemari sakelar juga hanya boleh dimasuki oleh
ahlinya dan selalu tertutup dan terkunci. Perbaikan-perbaikan arus listrik hanya
dikerjakan apabila arusnya dimatikan. Kecelakaan oleh arus listrik umumnya sangat
tergantung dari lintasan arus dalam tubuh; umumnya arus yang melalui jantung sangat
berbahaya. Memberikan pertolongan kepada korban hanya dilakukan dengan
menggunakan isolator atau sesudah arus dimatikan. Untuk beberapa perusahaan, petir
dapat menimbulkan kebakaran, hal ini terjadi misalnya pada perusahaan tekstil.
Industri-industri kimia yang menggunakan bahan-bahan terbakar menghadapi bahaya
kebakaran. Untuk perusahaan apapun sebaiknya tersedia alat-alat pemadam kebakaran
terutama untuk menyelamatkan dari bahaya api. Jarak pemadam kebakaran harus
dekat, karena dalam peristiwa kebakaran, manusia dan api seolah berlomba-lomba.
Sebagai jalan keluar, untuk tujuan penyelamatan harus ada pintu-pintu darurat yang
cukup banyaknya dan tetap penempatannya.

Alat-alat Pelindung Diri


Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat,
peralatan dan lingkungan kerja sangat perlu diutamakan. Namun kadang-kadang
keadaan bahaya masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat-
alat pelindung diri (personal protective devices) dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Enak dipakai;
2. Tidak mengganggu kerja; dan
3. Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya.
Pakaian kerja harus dianggap suatu alat perlindungan terhadap bahaya-bahaya
kecelakaan. Pakaian tenaga kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya
berlengan pendek, pas (tidak longgar) pada dada atau punggung, tidak berdasi dan
tidak ada lipatan-lipatan yang mungkin mendatangkan bahaya. Wanita sebaiknya

134
memakai celana panjang, jala rambut, baju yang pas, dan tidak memakai perhiasan-
perhiasan. Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan-bahan kimia korosif, tetapi
justru berbahaya pada lingkungan kerja dengan bahan-bahan dapat meledak oleh aliran
listrik statis.
Alat-alat proteksi diri beraneka ragam macamnya. Jika digolong-golongkan
menurut bagian-bagian tubuh yang dilindunginya, maka jenis alat-alat proteksi diri
dapat dilihat pada daftar sebagai berikut :
1. Kepala : pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai
2. Mata : kacamata dari berbagai gelas
3. Muka : perisai muka
4. Tangan dan jari-jari : sarung tangan
5. Kaki : sepatu
6. Alat pernafasan : respirator/masker khusus
7. Telinga : sumbat telinga, tutup telinga
8. Tubuh : pakaian kerja dari berbagai bahan

Untuk memilih alat-alat pelindung diri menurut keperluannya, dapat dilihat pada daftar
berikut :

ALAT-ALAT PELINDUNG DIRI MENURUT KEPERLUANNYA

Faktor Bahaya Bagian Tubuh yang Perlu Dilindungi Alat-alat Proteksi Diri
Topi logam atau plastik, lapisan
Benda berat atau Kepala, betis, tungkai pelindung (deckker) dari kain,
kekerasan Pergelangan kaki, kaki dan jari kaki kulit, logam, dsb
Sepatu steelbox toe
Benda sedang
tidak terlalu Kepala Topi aluminium atau plastik
berat
Benda-benda Kepala Topi plastik atau logam
besar Mata Goggles (kacamata yang
beterbangan Muka menutupi seluruh samping
Jari, tangan, lengan mata), kacamata yang
Tubuh sampingnya tertutup

135
Tameng plastik
Sarung tangan kulit berlengan
panjang
Betis, tungkai, mata kaki
Jaket atau jas kulit
Pelindung dari kulit, berlapis
logam, dan tahan api
Topi, kap khusus
Kacamata
Kepala
Benda-benda Jaket kulit atau zeildoek
Mata
kecil Sarung tangan, pakaian
TubuhLengan, tangan, jari
beterbangan berlengan panjang
Tungkai kaki
Pelindung-pelindung betis,
tungkai, dan mata kaki
Mata Goggles, kacamata sisi kanan kiri
tertutup
Debu
Muka Penutup muka dari plastik
Alat pernafasan Respirator/masker khusus
Topi plastik berlapis asbes
Kepala
Goggles, kacamata
Mata
Penutup muka dari plastik
Muka
Percikan api Sarung tangan asbes berlengan
Jari, tangan, lengan
atau logam panjang
Betis, tungkai
Pelindung dari asbes
Matakaki, kaki
Sepatu kulit
Tubuh
Jaket asbes atau kulit
Gas, asap, atau Mata Goggles
fumes Muka Penutup muka khusus
Alat pernafasan Membahayakan jiwa secara
Tubuh langsung : gas masker khusus
Jari, tangan, lengan dengan filter, Tidak
Betis, tungkai membahayakan jiwa secara
Matakaki, kaki langsung : gas masker
bermacam-macam
Pakaian karet, plastik, atau

136
bahan lain yang tahan kimiawi
Sarung tangan plastik, karet,
berlengan panjang dan anggota-
anggota badan itu diolesi
dengan barrier cream
Pelindung dari plastik atau karet
Sepatu yang konduktif (yang
menyalurkan aliran listrik)
karena mungkin sekali gas itu
eksplosif
Topi plastik/karet
Kepala Goggles
Mata Penutup dari plastik
Muka Respirator khusus tahan
Cairan dan
Alat pernafasan kimiawi
bahan-bahan
Jari, tangan, lengan Sarung plastik/karet
kimiawi
Tubuh Pakaian plastik/karet
Betis, tungkai Pelindung khusus dari
Matakaki, kaki plastik/karet
Sepatu karet, plastik, atau kayu
Topi asbes
Sarung, pakaian, pelindung dari
Kepala asbes atau bahan lain yang
Lain-lain bagian tahan panas/api
Panas
Kaki Sepatu dengan zool kayu atau
Mata bahan lain tahan panas
Goggles dengan lensa tahan
sinar infrared
Topi plastik
Kepala
Sarung tangan plastik, karet
Tangan, lengan, jari
Basah dan air berlengan panjang
Tubuh
Pakaian khusus
Kaki, tungkai
Sepatu bot karet
Terpeleset, jatuh Kaki Sepatu anti slip, kayu (gabus)

137
Topi plastik, logam
Kepala Sarung tangan kulit, dilapisi
Jari, tangan, lengan logam, berlengan panjang
Terpotong,
Tubuh Jaket kulit
tergosok
Betis, tungkai Celana kulit dengan knie atau
Matakaki, kaki engkel dekker
Sepatu dilapisi baja, zool kayu
Topi plastik, karet, pici (kap)
kapas atau wol
Kepala
Barrier cream, pelindung plastik
Muka
Dermatitis atau Barrier cream, sarung tangan
Jari, tangan, lengan
radang kulit karet, plastik
Tubuh
Penutup karet, plastik
Betis, tungkai, matakaki, kaki
Sepatu karet, zool kayu, sandal
kayu (bakiak)
Topi plastik, karet
Kepala Sarung tangan karet tahan
Jari, tangan, lengan sampai 10.000 volt selama 3
Listrik
Tubuh, betis, tungkai, matakaki, menit
kaki Pelindung yang bahannya dari
karet
Bahan peledak Kaki Sepatu kayu, percikan api
Pici, terutama wanita berambut
Kepala
panjang
Jari, tangan , lengan
Mesin-mesin Sarung tangan tahan api
Tubuh
Jaket dari karet, plastik, zeildoek
Betis, matakaki
Celana tahan api atau dekker
Goggles, kacamata dengan filter
Sinar silau Mata
khusus atau lensa polaroid
Goggles, penutup muka,
Mata kacamata dengan filter khusus
Percikan api dan
Muka Penutup muka dengan kacamata
sinar silau pada
Tubuh filter khusus
pengelasan
Kaki Jaket tahan api (asbes) atau kulit
Sepatu dilapisi baja

138
Topi khusus
Kepala
Penyinaran Goggles, kacamata dengan filter
Mata
sedang lensa
Muka
Pelindung muka khusus
Topi khusus
Kepala
Penyinaran kuat Goggles dengan filter khusus,
Mata, muka
dari logam atau plastik
Sarung tangan karet dilapisi
Penyinaran Jari, tangan, lengan timah hitam
radioaktif Tubuh Jaket karet atau kulit, dilapisi
timah hitam
Gas atau aerosol Alat pernafasan Respirator khusus
radioaktif Seluruh badan Pakaian khusus
Pelindung khusus : dimasukkan
Gaduh suara Telinga ke lubang telinga atau penutup
lubang telinga

C. Alat dan Bahan


1) Alat tulis
2) Kuesioner
3) Alat Dokumentasi
4) Referensi Kesehatan Kerja Agroindustri

D. Tugas
1) Tetapkan pemimpin kelompok sebelum memulai survey
2) Pemimpin kelompok membagikan tugas dalam kelompok
3) Dalam setiap kelompok, menentukan tempat yang akan menjadi target survey
kesehatan kerja.
4) Mintalah persetujuan kepada pembimbing praktikum
5) Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok menggunakan berbagai indikator
kesehatan kerja.
6) Catatlah dengan baik hasil diskusi kelompok
7) Konsultasikan dengan pembimbing bila menemukan kesulitan
8) Laporkan hasil diskusi kelompok dengan sistematika sebagai berikut

139
a) Judul
b) Pendahuluan
c) Ringkasan kasus
d) Hasil telaah kasus
e) Kesimpulan dan Saran
f) Kepustakaan
g) Lampiran (dokumentasi)

E. Referensi
1. ________. 2002. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. RS Persahabatan. UIP
2. Sumakmur. 2004. Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC
3. Notoatmodjo, S. 2003. Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC

AjjahcjahdvjnajvnsckJSKCAIKCSAKNJNJ DKJN

140