Anda di halaman 1dari 6
DELAPAN LATAR PENOLAKAN WARGA _ATAS REALISASI PEMBANGUNAN PROYEK SARANA WISATA ALAM PT. SEGARA KOMODO LESTARI DI LOH BUAYA PULAU RINCA DAN PT. KOMODO WILDLIFE ECOTOURISM DI PULAU PADAR DAN LOH LIANG PULAU KOMODO ‘Aksi penolakan warga dalam Kawasan Taman Nasional Komodo secara khusus dan warga Manggarai Barat pada umumnya terkait Realisasi Proyck Usaha jasa dan sarana wisata alam ‘oleh PT. Segara Komodo Lestari di Loh Buaya Pulau Rinca dan PT. Komodo Wildlife Ecotourism di Pulau Padar dan Loh Liang Pulau Komodo bukan tanpa alasan. ‘Alasan utama penolakan wargs adalah terkait asas manfaat terhadap masyarakat lokal selanjutnya adalah dampaknya terhadap keberlanjutan konservasi. Berikut saya mencoba merangkum ragam alasan penolakan warga, sclain dua alasan yang sudah disebutkan. 1. Penguasaan (pengelolaan) pihak swasta atas titik-titik strategis dalam kawasan Taman ‘Nasional Komodo tidak membawa manfaat apa-apa terhadap masyarakat dalam kawasan dan untuk Manggarai Barat pada umumnya. Masalah yang muncul justru terjadi privatisasi dan pencaplokan sumber daya publik atas lahan dalam kawasan TNK. Pengalaman buruk pernah terjadi. Pada 2003 sampai dengan 2012 Taman Nasional Komodo pernah dikelola oleh PT. Putri Naga Komodo. Dengan mengantongi SK Kemenhut No. 195/Menhut - 1/2004 tanggal 9 September 2003, PT Putri Naga Komodo. diberikan Ijin untuk Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) selama 30 tahun terhitung ‘Tidak hanya itu, pada Mei 2015 beredar luas berita yang menunjukkan adanya ‘pengklaiman atas pulau Mawan oleh Alam Kul Kul. Pulau Mawan adalah salah sara pulau yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Kehadiran pihak swasta dalam pengelolaan kawasan strategis Taman Nasional Komodo ‘akan menambah beban penderitaan bagi masyarakat dalam kawasan dan juga para pelaku usaha wisata lokal. Seperti diketahui izin usaha yang diberikan kepada pihak swasta adalah izin usaha jasa ddan sarana pariwisata alam, dimana pihak swasta tidak hanya akan merealisasikan proyek fisik seperti pengadaan villa dan menyediakan jasa pramuwisata tetapi juga akses terhadap jalur-jalur wisata akan dikontro! secara ketat.Jika ini yang terjadi maka ragam usaha masyarakat setempat seperti homestay, penginapan, kapal wisata dan naturalis guide akan tersingkir dengan sendirinya. Realisasi proyek fisik seperti villa, homestay dan tempat publik fisik lainnya dalam kawasan taman Nasional Komodo akan membawa dampak buruk pada keberlanjutan Kealamiahan kawasan Taman Nasional Komodo. Ruang hidup dan penghidupan (habitat) satwa komodo dan hewan lainnya akan terganggu. Siklus dan rantai eksosistem alamiah akan rusak. Suasana alam yang liar akan menjadi bising dan berpolusi (tanah dan dara). Dalam tataran kebijakan dan regulasi, terkesan, Pemerintah Pusat melalui Balai Taman Nasional Komodo dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat tidak berpihak pada masyarakat dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Dalam melalui Polegate nap nar days ta yang a (aoe oR membuka akses jalan), tctapi bahkan secara sistematis menyingkirkan warga dalam ‘kawasan itu sendiri, Alasan penolakan lain, yang paling teknis dan sederbana adalah menghindari masukaya pihak swasta (investor) untuk mengelola kawasan konservasi Taman Nasional Komodo. Sebab, jika mengizinkan dua perusahaan swasta ini mengelola kawasan strategis dalam kawasan Taman Nasional Komodo bukan tidak mungkin pihak swasta Inin akan berbondong-bondong merebut akses dan manfaat pembangunan yang seharusnya dinikmati masyarakat setempat. Olch karenanya pare pihak menentang keras rencana realisasi Proyek Usaha jasa dan sarana wisata alam yang dilakukan oleh PT. Segara Komodo Lestari di Loh Buaya Pulau Rinca dan PT. Komodo Wildlife Ecotourism i Pulau Padar dan Loh Liang Pulau Komodo. ‘Alasan yang paling dasariah adalah: kehadiran Taman Nasional Komodo adalah untuk: tujuan konservasi bukan investasi. Dengan demikian, segala apapun bentuk investasi yang terjadi dalam Taman Nasional Komodo, sudah jelas tidak sesuai lagi dengan tujuan awal Kehadiran TNK sebagai area konservasi. Untuk itu, tujuan itu dengan tegas menolak. Investasi untuk tujuan pengembangan pariwisata dalam TNK sudah pasti menambah penderitaan dan kesengsaraan saudara-saudara kita hidup dalam kawasan TNK. Sudah ‘menjadi suatu yang tidak terbantahkan bahwa kehadiran TNK sejak tahun 80an dengan Jjelas telah menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat, budaya, mata pencaharian yang sudah menjadi warisan lintas generasi penduduk dalam kawasan, Pertama, ketika TINK masuk, penduduk dalam kawasan pun akhimnya tidak lagi dapat berburuh dan bertani, Jantas mereka didorong untuk melaut alias menjadi nelayan. Kedua, seakan tidak puas dengan konservasi di wilayah darat, TNK pun memperluas area konservasi ke dacrah laut, Hal inj lagi-lagi menambah derita masyarakat dalam kawasan. Laut, arena ‘mereka mencari hidup dirampas atas nama konservasi. Ketiga, terhadap semua itu mereka