Anda di halaman 1dari 2

SIARAN PERS »

Tidak Ada Privatisasi di Taman Nasional


Komodo
Kamis, 09 AUG 2018
SIARAN PERS, Nomor : SP. 436 /HUMAS/PP/HMS.3/08/2018

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis,


9 Agustus 2018. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan
Ekosistem KLHK, Wiratno, menegaskan bahwa tidak ada privatisasi dalam
pembangunan wisata alam di Taman Nasional Komodo (TNK). Wiratno
menjelaskan, yang ada adalah pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Sarana
Wisata Alam (IUPSWA), dimana ada hak dan kewajiban serta sanksi apabila
ada pelanggaran dari pemegang izin.

“Dalam pengembangan wisata alam di taman nasional, tentu diperlukan


bangunan sarana dan prasarana untuk mendukung kunjungan wisatawan,
seperti toilet, tempat makan, dan lain-lain. Untuk itu, pengembangan
pariwisata alam diperbolehkan, tapi hanya di zona pemanfaatan, dan harus
melibatkan masyarakat sekitar”, tegas Wiratno saat memberikan
keterangan pers di Jakarta (9/08/2018).

TNK merupakan salah satu taman national di Nusa Tenggara Timur, yang
memiliki satu-satunya hewan purba yang masih tersisa, yaitu Komodo. TN
seluas 173.300 ha ini meliputi wilayah daratan dan perairan, dan dikelola
berdasarkan zonasi, yaitu: zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona
tradisional, zona khusus dan zona perlindungan bahari.

Pada wilayah daratan, 70% merupakan ekosistem savana dan habitat


Komodo. Dari 146 pulau terdapat 8 pulau terfavorit kunjungan wisatawan
yaitu Pulau Padar, Pulau Komodo, Rinca, Pulau Gili Lawa Daratan, Pulau Gili
Lawa Lautan, Pulau Kambing, Pulau Kalong, dan Pink Beach di Pulau
Komodo.

Pengunjung TNK saat ini mencapai 120 ribu orang per tahun atau sekitar 10
ribu orang per bulan, yang perlu mendapatkan keamanan, kenyamanan,
dan kepuasan saat berwisata, yang perlu didukung sarana dan prasana
(sarpras). “Kunjungan wisata tersebut berkontribusi menyumbang
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 29 milyar rupiah per
tahun”, kata Wiratno.

Saat ini terdapat dua Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) di TNK yaitu
PT. SKL di Pulau Rinca dan PT. KWE di Pulau Komodo dan Pulau Padar. PT.
SKL diberikan IUPSWA di Pulau Rinca akhir 2015 lalu, seluas 22,1 Ha atau
0,1% dari luas Pulau Rinca 20.721,09 Ha. Sementara yang diizinkan untuk
pembangunan sarpras maksimal 10% dari luas izin yang diberikan atau
hanya seluas 2,21 Ha.

PT. KWE mendapat IUPSWA di Pulau Komodo dan Pulau Padar pada
September 2014, seluas 426,07 Ha, terdiri atas 274,13 Ha atau 19,6% dari
luas Pulau Padar (1.400,4 Ha) dan 151,94 Ha atau 0,5% dari luas Pulau
Komodo (32.169,2 Ha). Sarpras yang dapat dibangun sekitar 42,6 Ha.

Terkait areal usaha, dikatakan Wiratno, kedua izin ini berada di ruang usaha
pada Zona Pemanfaatan. Prosedur penerbitan izin kedua perusahaan
tersebut juga sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Sebagaimana disyaratkan dalam aturan pembangunan dan pengembangan


rencana pengelolaan tidak boleh mengganggu lintasan Komodo dan sarang
Komodo. Ditambahkan Wiratno kedua perusahaan tersebut dalam hal
pembangunan fisik seperti bangunan, sudah menggunakan konsep kearifan
lokal dan ramah lingkungan baik dari segi material maupun tata cara
pelaksanaannya. "Mereka menggunakan bahan bangunan material bambu
dari bajawa, menggunakan solar panel dan konsep zero waste", ucap
Wiratno.

"Pada saat ini kedua perusahaan tersebut masih dalam proses


pembangunan konstruksi, dengan terus dimonitor oleh KLHK",
pungkasnya.(*)

Penanggung jawab berita:


Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi – 081977933330