Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sectio Caesarea (latin “caedare”=“membedah”) adalah suatu persalinan
buatan untuk mengeluarkan janin, dimana janin dilahirkan dengan membuat
sayatan (insisi) pada dinding uterus yang masih utuh melalui dinding depan
perut atau vagina dengan syarat uterus dalam keadaan utuh serta berat janin
diatas 500 gram atau umur kehamilan >28 minggu.1,2,3,4
Sectio Caesarea memiliki dua tipe utama menurut tempat dilakukannya
irisan dalam pembedahan, yaitu segmen atas dan segmen bawah uterus. 5
Irisan tersebut menyebabkan luka. Luka akibat operasi, termasuk post sectio
caesarea, jika tidak diobservasi dengan baik maka dapat timbul komplikasi
luka. Komplikasi luka post sectio caesarea adalah timbulnya hematoma,
infeksi dan dehisensi luka tanpa atau dengan eviserasi.4
Wound dehiscence (dehisensi luka) adalah salah satu komplikasi dari
proses penyembuhan luka yang didefinisikan sebagai keadaan dimana
terbukanya kembali sebagian atau seluruhnya luka operasi. Keadaan ini
sebagai akibat kegagalan proses penyembuhan luka operasi.11,12 Dehisensi
dapat berupa terlepasnya sebagian atau keseluruhan jahitan pada kulit beserta
lapisan jaringan lain.9
Dehisensi luka operasi abdomen memiliki angka mortalitas yang cukup
tinggi hingga mencapai angka 45%. Insiden dari dehisensi luka operasi
abdomen dilaporkan mencapai angka 0.4% - 3.5%. 9 Dehisensi luka dapat
diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain faktor teknis, karakteristik
pasien, faktor lokalis, dll.12,13
Penatalaksanaan pasien dengan dehisensi luka operasi abdomen dapat
diawali dengan terapi medikasi kemudian dilanjutkan dengan terapi non-
operatif maupun operatif. 9,12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1. Sectio Caesarea


2.1.1. Definisi Sectio Caesarea
Sectio Caesarea berasal dari bahasa latin “caedare” yang berarti
“membedah”. Bedah cesar adalah pembedahan yang dilakukan dengan
pengirisan dinding perut dan peranakan untuk melahirkan
(mengeluarkan) janin. 1
Sectio Caesarea memiliki beberapa definisi dalam ilmu
kedokteran. Sectio Caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana
janin dilahirkan dengan membuat sayatan (insisi) pada dinding uterus
yang masih utuh melalui dinding depan perut atau vagina dengan syarat
uterus dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram atau umur
kehamilan >28 minggu. 2,3,4

2.1.2. Tipe Sectio Caesarea


Terdapat dua tipe utama Sectio Caesarea, yaitu segmen atas dan
segmen bawah.5
1) Segmen atas
Sectio Caesarea segmen atas adalah pembedahan melalui
sayatan vertikal pada dinding abdomen yang lebih dikenal
dengan classical incission (sayatan klasik).
Tipe ini memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan
keluar bayi. Tipe ini jarang digunakan karena lebih berisiko
terhadap kelahiran. Seringkali diperlukan luka insisi yang lebih
lebar karena bayi sering dilahirkan dengan bokong dahulu.
Indikasi dilakukannya Sectio Caesarea segmen atas adalah jika
sulit dilakukan insisi segmen bawah (adanya pembuluh darah
besar pada dinding anterior, vesica urinaria yang letaknya tinggi
dan melekat, mioma segmen bawah uterus), bayi letak lintang,
kelainan plasenta previa anterior, malformasi uterus.

2) Segmen bawah
Sectio Caesarea segmen bawah meliputi dua jenis:
a) Insisi melintang
Melalui sayatan secara mendatar. Pada jenis ini, dibuat
sayatan kecil dibawah uterus, kemudian dilebarkan dengan
jari-jari tangan dan berhenti di daerah pembuluh-pembuluh
3

darah uters. Pada sebagian besar persalinan, posisi kepala


bayi terletak di balik sayatan, sehingga harus diekstraksi
atau didorong, diikuti oleh bagian tubuh lainnya, dan
plasenta serta selaput ketuban.
b) Insisi membujur
Hampir sama dengan sayatan pada insisi melintang, hanya
saja letak sayatan menjadi vertikal dibawah uterus.

2.2. Luka
2.2.1. Klasifikasi Luka
Luka, termasuk luka operasi, diklasifikasikan menjadi 4 kategori
menurut tingkat kontaminasinya, yakni clean wounds, clean-
contaminated wounds, contaminated wounds dan dirty and infected
wounds. 6
1. Clean wounds (Luka Bersih)
Clean wounds merupakan luka tanpa infeksi dan tidak disertai
reaksi inflamasi. Luka ini akan sembuh melalui primary union.
Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika
diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan
terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
4

2. Clean-contaminated wounds (Luka Bersih Terkontaminasi)


Clean-contaminated wounds adalah luka operasi dimana traktus
respiratorius, alimentary, genitalia dan traktus urinarius terlibat
tanpa adanya kontaminasi. Kemungkinan timbulnya infeksi luka
adalah 3% - 11%.
3. Contaminated wounds (Luka Terkontaminasi)
Contaminated wounds termasuk luka terbuka, luka trauma atau
kecelakaan misalnya saja laserasi jaringan, fraktur terbuka dan
luka tusuk.
4. Dirty and infected wounds (Luka Kotor dan Infeksi)
Dirty and infected wounds adalah luka yang benar-benar telah
terkontaminasi kuman. Contoh dari luka ini adalah perforasi
organ dan abses.

Sedangkan berdasarkan kedalaman dan luas lukanya, luka dapat


diklasifikasikan menjadi 4 stadium, yaitu 6:
1. Stadium I: Luka Superfisial “Non-Blanching Erithema” yaitu
luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
2. Stadium II: Luka “Partial Thickness” yaitu hilangnya lapisan
kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis.
Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti
abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
3. Stadium III: Luka “Full Thickness” yaitu hilangnya kulit
keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan
yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan
yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis,
dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara
klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa
merusak jaringan sekitarnya.
4. Stadium IV: Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan
otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang
luas.

2.2.2. Jenis Luka Sectio Caesarea


5

Luka Sectio Caesarea menurut jenisnya terbagi menjadi 3 jenis,


yaitu 4:
1. Sectio Caesarea Transperitonealis Profunda
Merupakan pembedahan yang paling banyak dilakukan dengan
insisi di segmen bawah uterus. Keunggulan pembedahan ini
adalah perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak. Bahaya
peritonitis tidak besar. Parut pada uterus umumnya kuat
sehingga bahaya rupture uteri dikemudian hari tidak besar
karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa
banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka
dapat sembuh lebih sempurna.

2. Sectio Caesaria Corporal atau Classic Sectio Caesarea


Merupakan pembuatan insisi pada bagian tengah korpus uteri
sepanjang 10-12 cm dengan ujung bawah di atas batas plika
vesiko-uterine. Insisi ini dibuat hanya diselenggarakan apabila
ada halangan untuk melakukan section caesarea
transperitonealis profunda (misalnya melekat eratnya uterus
pada dinding perut karena section caesarea yang dahulu, insisi
di segmen bawah uterus mengandung bahaya perdarahan banyak
berhubungan dengan letaknya plasenta pada plasenta previa).
Kekurangan pembedahan ini disebabkan oleh lebih besarnya
bahaya peritonitis, dan kira-kira 4 kali lebih bahaya rupture uteri
pada kehamilan yang akan datang. Sesudah section caesarea
klasik sebaiknya dilakukan sterilisasi atau histerektomi.

3. Extraperitoneal Sectio Caesarea


Sectio Caesarea ini dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi
puerperal, akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap
infeksi, pembedahan section caesarea ini sekarang tidak banyak
lagi dilakukan. Pembedahan tersebut sulit dalam tekniknya.

2.2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyembuhan Luka


6

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka


dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu faktor lokal,
faktor sistemik, dan faktor teknik. Dilihat pada tabel di bawah, dari
masing-masing kelompok berhubungan dengan efek penyembuhan
luka, masing-masing dapat menyebabkan disrupsi, nekrosis, reduksi
lokal kolagen, dan inhibisi formasi kolagen baru atau kombinasi dari ini
semua. Keluaran kegagalan penyembuhan luka dapat berupa infeksi
minor sampai tidak terjadi penyembuhan sama sekali, dan mayor
wound dehiscence. 7

Gambar: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka 2


Teknik operasi dan perawatan luka juga sangat berpengaruh
terhadap penyembuhan luka operasi. Teknik subcutaneous stitch
closure lebih baik dibandingkan dengan teknik subcutaneous drain
dalam mengurangi disrupsi luka. Teknik tersebut juga mendapatkan
hasil operasi yang baik dalam hal komplikasi dan penyembuhan luka
operasi. 7
Jenis insisi dinding abdomen juga mempengaruhi terjadinya
wound dehiscence, insisi yang sering digunakan adalah longitudinal
7

(midline=sagital) dan transversal (pfannenstiel, Maylard,


supraumbilikal). Jenis jahitan pada luka yang kurang baik sehingga
terjadinya wound dehiscence tersebut. 7
Penggunaan low molecular weight heparin sebagai profilaksis
terjadinya trombolik vena dan menurunkan risiko terjadinya hematom
sehingga mengurangi terjadinya penyembuhan luka yang kurang baik. 7

2.2.4. Proses Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka dapat didefinisikan sebagai proses fisiologis
dimana tubuh mengganti dan memperbaiki fungsi dari jaringan yang
rusak. Terdapat dua mekanisme dimana luka dapat mengalami
kesembuhan dan seleksi mekanismenya tergantung dari keadaan luka
itu sendiri. Bagaimanapun proses secara umum dari kedua mekanisme
tersebut kurang lebih sama, hanya saja mungkin ada sedikit perbedaan
dalam waktu penyembuhannya. 8
1. Primary Intention 8
Penyembuhan melalui primary intention memakan waktu yang
singkat tanpa terpisahnya tepi luka dan dengan pembentukan
jaringan parut yang minimal. Proses ini berlangsung melalui tiga
tahap yang berbeda, yakni:
Inflammatory
Pada hari pertama penyembuhan luka, respon inflamasi
mengakibatkan pengeluaran cairan dari jaringan, akumulasi sel
dan fibroblast serta meningkatnya suplai darah menuju luka.
Leukosit dan sel-sel lainnya akan menghasilkan enzim
proteolitik yang akan menyingkirkan debris dari jaringan yang
rusak. Respon ini adalah respon untuk menyiapkan jaringan
yang cedera untuk proses penyembuhan. Proses ini berlangsung
3-7 hari.
Proliferative
Setelah proses debridement selesai, fibroblast mulai membentuk
matriks kolagen pada luka yang dikenal dengan jaringan
granulasi. Kolagen merupakan substansi protein yang
merupakan konstituen utama pada jaringan ikat.
8

Remodelling
Setelah proses deposit kolagen selesai, vaskularisasi ke luka
perlahan-lahan berkurang dan permukaan jaringan parut menjadi
lebih pucat. Jumlah jaringan parut yang terbentuk, ditentukan
oleh jumlah jaringan granulasi yang dihasilkan sebelumnya.

Gambar: Tahapan Penyembuhan Luka Primer (primary intention) 3

2. Secondary Intention 8
Pada luka yang gagal mengalami penyembuhan melalui primary
intention, diperlukan proses penyembuhan yang lama dan lebih
kompleks. Penyembuhan luka melalui secondary intention
disebabkan oleh infeksi, trauma berlebihan, dan adanya jaringan
yang hilang.
Dalam proses ini, luka dtinggal dalam keadaan terbuka dan
dibiarkan sembuh dari lapisan terdalam ke lapisan terluar.
Jaringan granulasi terbentuk dan mengandung miofibroblas. Sel
ini khusus membantu penutupan luka melalui kontraksi. Proses
ini jauh lebih lambat dibandingkan primary intention. Jaringan
granulasi yang berlebihan mungkin saja terbentuk dan perlu
disingkirkan karena dapat menghambat proses epitalisasi.

2.2.5. Komplikasi Luka Sectio Caesarea


Komplikasi luka termasuk luka operasi post sectio caesarea
adalah timbulnya hematoma, infeksi dan dehisensi luka tanpa atau
dengan eviserasi. 4

2.3. Wound Dehiscence


9

2.3.1. Definisi Wound Dehiscence


Wound dehiscence (dehisensi luka) adalah terbukanya kembali
luka operasi pada daerah berongga maupun pada daerah kompak.
Dehisensi dapat berupa terlepasnya sebagian atau keseluruhan jahitan
pada kulit beserta lapisan jaringan lain. Pada daerah berongga seringkali
tampak jahitan kulit masih utuh namun jahitan pada lapisan lebih dalam
(lemak atau muskulatur) terlepas. Pada daerah kompak seperti
ekstremitas jahitan kulit dapat terbuka sebagian atau keseluruhan
dengan disertai jahitan pada jaringan subkutan sampai muskulatur. 9
Dehisensi luka adalah terpisahnya lapisan-lapisan fascia pada
luka operasi, hal ini merupakan komplikasi tersering dari infeksi
pembedahan yang dalam. Tidak ada penyebab tunggal yang
bertanggung jawab untuk dehisensi luka, kombinasi dari beberapa
faktor diyakini mempengaruhi terjadinya dehisensi luka. Jika sistem
pendukung penyembuhan luka gagal beroperasi sebelum terjadinya
penyatuan fungsional dan struktural, maka tepi luka akan hancur. 11
Dehisensi luka sering terjadi pada luka-luka post operasi
abdomen. Dehisensi luka operasi abdomen adalah komplikasi berat dari
luka post operasi yang sering terjadi. Dehisensi luka operasi abdomen
banyak dikaitkan dengan infeksi yang terjadi pada luka post operasi. 9
Dehisensi luka adalah salah satu komplikasi dari proses
penyembuhan luka yang didefinisikan sebagai keadaan dimana
terbukanya kembali sebagian atau seluruhnya luka operasi. Keadaan ini
11,12
sebagai akibat kegagalan proses penyembuhan luka operasi.
Dehisensi luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kolagen
meluas di daerah luka. 9
2.3.2. Epidemiologi
Dehisensi luka operasi abdomen memiliki angka mortalitas yang
cukup tinggi hingga mencapai angka 45%. Insiden dari dehisensi luka
operasi abdomen dilaporkan mencapai angka 0.4%-3.5%. Berdasarkan
data yang diperoleh dari 19 negara, Healthcare Cost and Utilization
Project (HCUP) melaporkan bahwa angka kejadian dehisensi luka
operasi abdomen adalah 1.95 tiap 1000 populasi yang memiliki resiko
10

untuk terjadinya dehisensi. Dehisensi dilaporkan terjadi pada 1,3%


pasien usia <45 dan 5,4% pada pasien usia >45 tahun. Dehisensi luka
operasi abdomen juga dilaporkan terjadi pada 2.6% dari seluruh jumlah
luka laparatomi mid-line. 9
Dehisensi luka 8 kali lebih sering terjadi pada luka dengan insisi
vertical dibandingkan insisi transversal pada dinding abdomen bagian
bawah. Pada luka insisi vertikal, insiden dari dehisensi parsial dan
komplit mencapai angka 2.94% sedangkan pada insisi transversal
dinding bagian bawah abdomen tidak ditemukan adanya dehisensi
komplit dan dehisensi parsial terjadi sekitar 0.37%. 10
11

2.3.3. Etiologi
Dehisensi luka operasi abdomen dapat diakibatkan oleh faktor
teknis, karakteristik pasien dan faktor lokalis. Faktor teknis meliputi
kegagalan teknik penutupan luka. Karakteristik pasien dan faktor
lokalis yang mempengaruhi dehisensi luka adalah malnutrisi, kadar
albumin yang rendah, masalah pernapasan dan infeksi luka. 12,13
Selain faktor-faktor tersebut, terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi terjadinya dehisensi luka. Faktor-faktor tersebut adalah
anemia, jaundice, uremia, diabetes, hipoalbuminemia, chronic
obstructive pulmonary disease (COPD), malignansi, penggunaan
steroid, obesitas, dan infeksi luka. 13
Sepsis luka merupakan satu-satunya faktor resiko yang terpenting
dalam terjadinya dehisensi luka. Faktor resiko lainnya hanya
berkontribusi dalam proses terjadinya infeksi. Dehisensi luka pada
anak-anak juga menyatakan bahwa dehisensi luka seringkali terjadi
pada pasien dengan infeksi luka abdomen, peritonitis dan malnutrisi.
12,13

Semua faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi luka operasi


akan meningkatkan terjadinya dehisensi luka operasi. Secara klinis
biasanya terjadi pada hari ke 6 - 9 paska operasi dengan gejala suhu
badan yang meningkat disertai tanda peradangan disekitar luka. 12,13

2.3.4. Faktor Risiko


Faktor risiko terjadinya wound dehiscence dibedakan atas faktor
preoperasi yang berhubungan erat dengan kondisi dan karakteristik
penderita, faktor operasi yang berhubungan dengan jenis insisi dan
tehnik penjahitan, serta faktor pascaoperasi. 13
Faktor risiko preoperasi meliputi jenis kelamin (laki-laki lebih
rentan dibandingkan wanita), usia lanjut (>50 tahun), operasi
emergensi, obesitas, diabetes mellitus, gagal ginjal, anemia, malnutrisi,
terapi radiasi dan kemoterapi, keganasan, sepsis, penyakit paru
obstruktif serta pemakaian preparat kortikosteroid jangka panjang. 12,14
Faktor risiko operasi antara lain 12,14:
12

A. Jenis insisi: Tehnik insisi mediana lebih rentan untuk terbuka


daripada transversal dikarenakan arah insisinya yang
nonanatomik, sehingga arah kontraksi otot-otot dinding perut
berlawanan dengan arah insisi sehingga akan mereganggkan
jahitan operasi.
B. Cara penjahitan: Pemilihan tehnik penutupan secara lapis demi
lapis juga berperan dalam terjadinya komplikasi ini. Tehnik ini
di satu sisi memiliki keuntungan yaitu mengurangi kemungkinan
perlengketan jaringan, namun di sisi lain mengurangi efektifitas
dan kekuatannya.
C. Tehnik penjahitan: tekhnik penjaitan terputus cenderung lebih
aman daripada tekhnik penjaitan kontinyu.
D. Jenis benang: Pemakaian benang chromic catgut juga dapat
menjadi suatu perhatian khusus, dikarenakan kecepatan
penyerapannya oleh tubuh sering kali tidak dapat diperkirakan.

Faktor-faktor pascaoperasi yang dapat meningkatkan terjadinya


dehisensi luka antara lain 12,14:
A. Peningkatan tekanan intra abdomen misalnya batuk, muntah,
ileus dan retensio urin. Tekanan intraabdominal yang tinggi akan
menekan otot-otot dinding abdomen sehingga akan teregang.
Regangan otot dinding abdomen iniah yang akan menyebabkan
berkurangnya kekuatan jahitan bahkan pada kasus yang berat
akan menyebabkan putusnya benang pada jahitan luka operasi
dan keluarnya jaringan dalam rongga abdomen.
13

B. Perawatan pasca operasi yang tidak optimal


Perawatan luka pasca operasi yang tidak optimal memudahkan
terjadinya infeksi pada luka sehingga memudahkan pula
terjadinya dehisensi luka operasi.
C. Nutrisi pascaoperasi yang tidak adekuat.
Asupan nutrisi yang tidak adekuat terutama protein salah
satunya akan menyebabkan hipoalbuminemia, keadaan ini akan
mengurangi sintesa kolagen yang merupakan bahan dasar
penyembuhan luka. Defisiensi tersebut akan mempengaruhi
proses fibroblasi dan kolagenisasi yang merupakan proses awal
penyembuhan luka.
D. Terapi radiasi dan penggunaan obat antikanker: radiasi pasca
operasi dapat menyebaban buruknya penyembuhan luka operasi
karena terjadinya fibrosis dan mikroangiopati.

2.3.5. Klasifikasi
Berdasarkan waktu terjadinya dehisensi luka operasi dapat dibagi
menjadi dua 9:
1) Dehisensi luka operasi dini: terjadi kurang dari 3 hari paska
operasi yang biasanya disebabkan oleh teknik atau cara
penutupan dinding perut yang tidak baik.
2) Dehisensi luka operasi lambat: terjadi kurang lebih antara 7 hari
sampai 12 hari paska operasi. Pada keadaan ini biasanya
dihubungkan dengan usia, adanya infeksi, status gizi dan faktor
lainnya.
14

2.3.6. Patogenesis
Penyebab dari dehisensi luka operasi abdomen dapat
dikategorikan dalam satu dari empat kategori berikut, yakni 9:
1. Robekan benang jahit yang melalui fasia
2. Knot slippage.
3. Rusaknya benang jahit.
4. Ikatan benang jahit yang longgar atau interval jahitan yang
sangat jarang.
Robeknya benang jahit sangat jarang terjadi dengan bahan
modern sekarang ini. Knot slippage dan ikatan benang jahit yang
longgar kemungkinan merupakan kesalahan dari ahli bedah. Penyebab
tersering dari kegagalan akut luka operasi adalah robeknya benang jahit
yang melalui fasia atau kerusakan fasia. 9
Faktor yang mengakibatkan kerusakan fasia masih menjadi
perdebatan. Kondisi pasien yang terkait sebagai faktor resiko dari
dehisensi luka telah disajikan pada tabel di atas. Kadang-kadang pasien
menderita kerusakan fasia yang merupakan akibat sekunder dari
jaringan nekrotik akibat infeksi dari dinding abdomen. Pasien yang
memiliki faktor resiko yang lebih banyak, memiliki resiko yang lebih
besar untuk mengalami kerusakan akut luka operasi dibandingkan
pasien tanpa faktor resiko. Faktor predominan untuk kerusakan fasia
adalah faktor ahli bedah, terlebih lagi teknik penutupan luka yang tidak
tepat. 9

2.3.7. Manifestasi Klinik


Dehisensi luka seringkali terjadi tanpa gejala khas, biasanya
penderita sering merasa ada jaringan dari dalam rongga abdomen yang
bergerak keluar disertai keluarnya cairan serous berwarna merah muda
dari luka operasi. Pada pemeriksaan didapatkan luka operasi yang
terbuka. Terdapat pula tanda-tanda infeksi umum seperti adanya rasa
nyeri, edema dan hiperemis pada daerah sekitar luka operasi, dapat pula
terjadi pus atau nanah yang keluar dari luka operasi. 9
Biasanya dehisensi luka operasi didahului oleh infeksi yang
secara klinis terjadi pada hari keempat hingga sembilan pascaoperasi.
15

Penderita datang dengan klinis febris, hasil pemeriksaan laboratorium


didapatkan jumlah leukosit yang sangat tinggi dan pemeriksaan
jaringan di sekitar luka operasi didapatkan reaksi radang berupa
kemerahan, hangat, pembengkakan, nyeri, fluktuasi dan pus. 12

2.3.8. Diagnosis
Dehisensi luka abdomen terjadi dengan atau tanpa eviserasi.
Eviserasi mengindikasikan keluarnya isi peritoneum melalui fasia yang
tidak menyatu. Dehisensi tanpa eviserasi dapat dideteksi dengan
penampakan klasik dari cairan berwarna salmon mengalir dari luka dan
eviserasi termanifestasi ketika jahitan disingkirkan. Sebagai
perbandingan pada infeksi luka bedah superficial, dimana terdapat
manifestasi berupa cairan purulen dari luka insisi diatas lapisan fasia
dan ketika luka telah terbuka seluruhnya, tidak ditemukan eviserasi.
Waktu rata-rata terjadinya dehisensi dari waktu pembedahan adalah
berkisar antara 2-7 hari. 9
Dehisensi mengacu pada terpisahnya lapisan fasia. Dehisensi
sebagian besar terjadi sekitar lima hari pasca operasi dengan secret yang
serosanguineus, dan berhubungan dengan infeksi fasia dan nekrosis
jaringan. Pasien dengan sekret serosanguinous yang berlebihan dari
luka harus diawasi dengan ketat. Eksplorasi luka sesegera mungkin
dalam kamar operasi harus dipertimbangkan. Diagnosis dari dehisensi
luka masih merupakan diagnosis klinis. Jika dicurigai diagnosis
mengarah pada dehisensi luka, maka tempat yang paling tepat adalah
kamar operasi. 9
16

2.3.9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan dehisensi luka operasi abdomen
dapat diawali dengan terapi medikasi berupa pemberian antibiotik yang
tepat, obat-obat analgetik dan resusitasi cairan. Setelah itu,
penatalaksanaan lanjut dapat berupa terapi non-operatif maupun
operatif tergantung dari kondisi dehisensi luka yang dialami oleh
pasien. Terapi non-operatif antara lain berupa sterile occlusive wound
dressing, use of absorbant and binder, dan vacuum assisted closure.
Selain terapi non-operatif, terapi operatif sangat dianjurkan untuk
pasien dengan dehisensi luka. 9,12
A. Penanganan Non-operatif/Konservatif 9
Penanganan non-operatif diberikan kepada penderita yang
sangat tidak stabil dan tidak mengalami eviserasi. Hal ini
dilakukan dengan penderita berbaring di tempat tidur dan
menutup luka operasi dengan kassa steril atau pakaian khusus
steril. Penggunaan jahitan penguat abdominal dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi perburukan luka operasi
terbuka. 9
Selain perawatan luka yang baik, diberikan nutrisi yang
adekuat untuk mempercepat penutupan kembali luka operasi.
Diberikan pula antibiotik yang memadai untuk mencegah
perburukan dehisensi luka. 9
B. Penanganan operatif 9
Penanganan operatif dilakukan pada sebagian besar
penderita dehisensi. Ada beberapa jenis operasi yang dilakukan
pada dehisensi luka yang dilakukan antara lain rehecting atau
penjahitan ulang luka operasi yang terbuka, mesh repair,
vacuum pack, abdominal packing, dan Bogota bag repair. 9
Jenis operasi rehecting atau penjahitan ulang paling sering
dilakukan hingga saat ini. Tindakan ini dilakukan pada pasien
dengan keadaan stabil, dan penyebab terbukanya luka operasi
murni karena kesalahan tekhnik penjahitan. 9
Pada luka yang sudah terkontaminasi dilakukan tindakan
debridemen terlebih dahulu sebelum penutupan kembali luka
17

operasi. Dalam perencanaan jahitan ulangan perlu dilakukan


pemeriksaan yang baik seperti laboratorium lengkap dan foto
throraks. Selain penjahitan ulang dilakukan pula tindakan
debridement pada luka. 9,11
Tindakan awal yang dilakukan adalah eksplorasi melalui
dehisensi luka jahitan secara hati-hati dan memperlebar sayatan
jahitan lalu mengidentifikasi sumber terjadinya dehisensi
jahitan. Tindakan eksplorasi dilakukan dalam 48 ± 72 jam sejak
diagnosis dehisensi luka operasi di tegakkan. Tehnik yang sering
digunakan adalah dengan melepas jahitan lama dan menjahit
kembali luka operasi dengan cara satu lapisan sekaligus.
Pemberian antibiotik sebelum operasi dilakukan, membebaskan
omentum dan usus di sekitar luka. Penjahitan ulang luka operasi
dilakukan secara dalam, yaitu dengan menjahit seluruh lapisan
abdomen menjadi satu lapis. Pastikan mengambil jaringan
cukup dalam dan hindari tekanan berlebihan pada luka. Tutup
kulit secara erat dan dapat dipertimbangkan penggunaan drain
luka intraabdominal. Jika terdapat tanda- tanda sepsis akibat
luka, buka kembali jahitan luka operasi dan lakukan perawatan
luka operasi secara terbuka dan pastikan kelembaban jaringan
terjaga. 11
Prinsip pemilihan benang untuk penjahitan ulang adalah
benang monofilament nonabsorbable yang besar. Penjahitan
dengan tehnik terputus sekurangnya 3 cm dari tepi luka dan
jarak maksimal antar jahitan 3 cm, baik pada jahitan dalam
ataupun pada kulit. Jahitan penguat dengan karet atau tabung
plastic lunak (5-6 cm) dapat dipertimbangkan guna mengurangi
erosi pada kulit. Jangan mengikat terlalu erat. Jahitan penguat
luar diangkat setidaknya setelah 3 minggu. 9
Selain Rehecting, banyak tekhnik yang dilakukan untuk
menutup dehisensi luka secara sementara maupun permanen.
Metode yang biasa dilakukan antara lain mesh repair, yaitu
18

penutupan luka dengan bahan sintetis yaitu mesh yang


berbentuk semacam kasa halus elastis yang berfungsi sebagai
pelapis pada jaringan yang terbuka tersebut dan bersifat diserap
oleh tubuh. Namun mesh repair menimbulkan angka komplikasi
yang cukup tinggi. Dilaporkan terdapat sekitar 80% pasien
dengan mesh repair mengalami komlplikasi dengan 23%
mengalami enteric fistulation. 9
Selain itu digunakan pula vacuum pack. Teknik ini
menggunakan sponge steril untuk menutup luka operasi yang
terbuka kembali setelah itu ditutup dengan vacuum bag dengan
sambungan semacam suction di bagian bawahnya. Tekhnik lain
yang digunakan adalah Bogota bag. Tekhnik ini dilakukan pada
dehisensi yang telah mengalami eviserasi. Bogota bag adalah
kantung dengan bahan dasar plastik steril yang merupakan
kantong irigasi genitourin dengan daya tampung 3 Liter yang
digunakan untuk menutup luka operasi yang terbuka kembali.
Plastik ini dijahit ke kulit atau fascia pada dinding abdomen
anterior. 9

Teknik jahitan sangat berpengaruh pada penyembuhan luka.


Penutupan fasia sebaiknya tidak terlalu erat menyebabkan gangguan
aliran darah dan menyebabkan nekrosis. Penyembuhan luka lebih
bergantung pada aliran darah yang lancar daripada penyatuan luka. Jika
kondisi pasien kritis, penjahitan sekaligus seluruh lapisan
ekstraperitoneal dilakukan dengan menggunakan jahitan retensi atau
plat plastik, untuk mengurangi ketegangan jahitan. Tegangan pada luka
didistribusikan pada area yang lebih luas sehingga dapat mencegah
nekrosis karena iskemia. 9,12
Dehisensi dinding abdomen subkutan tidak memerlukan
intervensi operasi apabila tidak ada infeksi. Indikasi operasi ditentukan
oleh perjalanan klinis dan risiko inkarserasi atau kerusakan usus kecil
19

oleh jahitan dari penutupan fasia. Jika paru-paru dalam keadaan baik,
penggunaan korset dapat mencegah pemisahan. 9,12
Eviserasi dapat membahayakan viabilitas usus karena
menyebabkan inkarserasi atau pengeringan. Hal tersebut merupakan
indikasi absolut untuk operasi. Loop usus yang keluar dibungkus
dengan kasa steril yang dibasahi larutan salin atau ringer laktat.
Kemudian luka dibuka seluruhnya untuk menilai keseluruhan usus
kecil. Untuk menutup dinding abdomen tanpa memberikan ketegangan,
seluruh usus kecil dipijat menuju lambung, kemudian isi usus disedot
dengan suction. Abdomen kemudian diirigasi dengan larutan ringer
laktat. Setelah itu dilakukan penjahitan untuk menutup dinding
abdomen. 9,12
20

BAB III
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Luka Sectio Caesarea menurut jenisnya terbagi menjadi 3 jenis, yaitu
Sectio Caesarea Transperitonealis Profunda, Sectio Caesaria
Corporal atau Classic Sectio Caesarea, dan Extraperitoneal Sectio
Caesarea.

2. Dehisensi luka adalah salah satu komplikasi dari kegagalan proses


penyembuhan luka yang didefinisikan sebagai keadaan dimana
terbukanya kembali sebagian atau seluruhnya luka operasi.

3. Dehisensi luka lebih sering terjadi pada luka dengan insisi vertical
dibandingkan insisi transversal pada dinding abdomen bagian bawah.

4. Dehisensi luka dapat disebabkan diantaranya oleh robekan benang


jahit yang melalui fasia, knot slippage, rusaknya benang jahit, ikatan
benang jahit yang longgar atau interval jahitan yang sangat jarang.

5. Faktor risiko dehisensi luka operasi berhubungan dengan jenis insisi,


teknik penjahitan, peningkatan tekanan intraabdominal, perawatan
pascaoperasi yang tidak optimal, nutrisi pascaoperasi inadekuat.

6. Dehisensi luka ditatalaksana dengan terapi medikasi awal berupa


pemberian antibiotik, analgetik, dan resusitasi cairan yang tepat dan
kemudian dapat dilanjutkan terapi non-operatif (konservatif) maupun
operatif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Indiarti, M.T. 2007. Caesar, Kenapa Tidak? Yogyakarta: Matera Publishing.


21

2. Wiknjosastro, H. 2010. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

3. Saifuddin, A.B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal


Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

4. Saifuddin, A.B. 2005. Ilmu Kandungan. Ed. 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

5. Chalik, T.M.A., dan Hartanto, H. 2002. Danfort: Buku Saku Obstetri dan
Ginekologi. Jakarta: Widya Medika.

6. The Centers for Disease Controls. 2015. Surgical Wound Classifications.


www.cdc.gov (Diakses pada 18 April 2017)

7. Guo, S, dan Di Pietro, L.A. 2010. Factors Affecting Wound Healing. J Dent
Res. 2010 Mar; 89(3): 219–229. Dalam National Center for Biotechnology
Information https://www.ncbi.nlm.nih.gov (Diakses pada 18 April 2017)

8. Prasetyono, T.O.H. 2009. General Concept of Wound Healing. Medical


Journal Indonesia. Vol. 18. No.3. Juli-September. mji.ui.ac.id/journal (Diakses
pada 18 April 2017)

9. Sjamsudidajat R, De Jong W. 2005. Luka Operasi. Dalam: Buku Ajar Ilmu


Bedah Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta

10. Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwono.

11. Baxter, H. 2003. Management of surgical wound. Nur Time 99 (13).

12. Spiloitis J, Tsiveriotis K, Datsis A, et al. 2009. Wound dehiscence: is still a


problem in the 21th century: a retrospective study. World Journal of
Emergency Surgery 4.

13. Webster C, Neumayer L, Smout R, et al. 2003. Prognostic models of


abdominal wound dehiscence after laparotomy. Journal of Surgical Research.
109 (2).

14. Makela J, Kiviniemi H, Juvonen T, et al. 2005. Factors influencing wound


dehiscence after midline laparotomy. American journal of surgery. 170 (4).