Anda di halaman 1dari 15

Analisa Tipe Iklim Berdasarkan Curah Hujan Dan

Kesesuaian Pola Tanam di Kecamatan Brondong Kabupaten


Lamongan

Di susun oleh :

Dodi Andrean Wijaya (160311100031)

Program studi Agroteknologi

Fakultas Pertanian

Universitas Trunojoyo Madura

2017
DAFTAR ISI

Daftar Isi..................................................................................................................i

BAB 1 : Pendahuluan
1.1.Latar Belakang................................................................................................1-2
1.2.Tujuan ...............................................................................................................2
1.3.Manfaat..............................................................................................................2
1.4.Metodologi......................................................................................................2-5

BAB 2 : Isi
2.1 Hasil Analisa Tabel........................................................................................6-8
2.2 Pembahasan..................................................................................................8-10

BAB 3 : Penutup

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................11
3.2 Saran...............................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................12

LAMPIRAN........................................................................................................13

i
Bab I
Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Hujan berkaitan erat dengan iklim dan cuaca. Hujan adalah titik-titik air
yang jatuh dari awan melalui lapisan atmosfer ke permukaan bumi melalui proses
alam. Hujan turun ke permukaan bumi selalu didahului dengan adanya
pembentuan awan, karena adanya penggabungan uap air yang ada di atmosfer
melalui proses kondensasi, maka terbentuklah butir-butir air yang bila lebih berat
dari gravitasi akan jatuh berupa hujan.
Iklim dan cuaca memiliki banyak kesamaan, tetapi keduanya tidak identik.
Meski cuaca dan iklim bukanlah dua hal yang identik keduanya dipaparkan dalam
kombinasi variabel-variabel atmosfer yang sama. Elemen –elemen itu yang paling
utama adalah sinar matahari, temperatur, uap air, dan angin.
Iklim sangat berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di
bumi terutama tumbuhan, faktor pendukung tumbuh dan berkembangnya
tumbuhan salah satunya adalah iklim. Iklim terutama curah hujan juga
berpengaruh terhadap pergantian tanaman di suatu wilayah karena setiap tanaman
yang akan di tanam harus menyesuaikan iklim dan curah hujan pada setiap
bulannya agar dapat di peroleh ketersediaan air yang cukup, tidak mengalami
gagal panen dan di peroleh hasil yang maksimal.

Kecamatan Brondong merupakan bagian wilayah kabupaten Lamongan


yang terletak di sebelah utara (daerah pantura), yang meliputi areal seluas
7.013,62 Ha atau 70.13 km. terdiri dari:

 Tanah sawah: 1.012,70 ha


 Tanah tegalan/ladang: 2.564,50 ha
 Tanah pekarangan: 335,42 ha
 Tanah hutan: 1.729,30 ha
 Tanah lain-lain: 1.371,70 ha

1
Dengan masyarakatnya yang mayoritas adalah petani, maka curah hujan
sangat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat. Curah hujan akan sangat
mempengaruhi jenis dan pola tanam. Dengan demikian dibutuhkan proses analisa
curah hujan yang ada di suatu wilayah perlu dilakukan untuk memudahkan para
petani mengetahui pola tanam apa yang sesuai dengan curah hujan yang ada di
daerah tersebut.

1.2 Tujuan analisa

a. Untuk mengetahui curah hujan dan tipe iklim di Kecamatan Brondong


Kabupaten lamongan.
b. Untuk mengetahui kesesuaian pola tanam dengan tipe iklim di Kecamatan
Brondong Kabupaten Lamongan.
c. Menentukan tanaman yang cocok ditanam di Kecamatan Brondong
Kabupaten Lamongan pada tahun berikutnya.

1.3 Manfaat analisa

1. Mengetahui tipe iklim sesuai data curah hujan yang diperoleh.


2. Mempermudah para petani dalam melakukan proses pergiliran tanaman
untuk tahun kedepan.
3. Mengetahui pola tanam yang cocok untuk kecamatan Bantaran.

1.4 Metodologi

Metode yang digunakan yaitu sistem klasifikasi iklim menurut


Oldeman.Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada
jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe
iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.

2
Oldeman membuat sistem baru dalam klasifikasi iklim yang dihubungkan
dengan pertanian menggunakan unsur iklim hujan. Ia membuat dan
menggolongkan tipe-tipe iklim di Indonesia berdasarkan pada kriteria bulan-bulan
basah dan bulan-bulan kering secara berturut-turut. Kriteria dalam klasifikasi
iklim didasarkan pada perhitungan bulan basah (BB), bulan lembab (BL) dan
bulan kering (BK) dengan batasan memperhatikan peluang hujan, hujan efektif
dan kebutuhan air tanaman.

Konsepnya adalah:

1. Padi sawah membutuhkan air rata-rata per bulan 145 mm dalam musim
hujan.
2. Palawija membutuhkan air rata-rata per bulan 50 mm dalam musim
kemarau.
3. Hujan bulanan yang diharapkan mempunyai peluang kejadian 75% sama
dengan 0,82 kali hujan rata-rata bulanan dikurangi 30.
4. Hujan efektif untuk sawah adalah 100%.
5. Hujan efektif untuk palawija dengan tajuk tanaman tertutup rapat adalah
75%.

Dapat dihitung hujan bulanan yang diperlukan untuk padi atau palawija (X)
dengan menggunakan data jangka panjang yaitu:

Padi sawah:
145 = 1,0 (0,82 X -30)
X = 213 mm/bulan

Palawija:
50 = 0,75 (0,82 X - 30)
X = 118 mm/ bulan.

3
213 dan 118 dibulatkan menjadi 200 dan 100 mm/bulan yang digunakan sebagai
batas penentuan bulan basah dan kering.

Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim
merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang
terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah
bulan kering berturut-turut dalam setahun.
Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu :
Zone A :bulan basah berturut-turut > 9 bulan.
Zone B :bulan basah berturut-turut 7 – 9 bulan.
Zone C :bulan basah berturut-turut 5 – 6 bulan.
Zone D :bulan basah berturut-turut3 – 4 bulan.
Zone E :bulan basah berturut-turut< 3 bulan.
Sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkan angka yaitu :
Sub 1 :bulan kering berturut-turut < 2 bulan.
Sub 2 :bulan kering berturut-turut 2 – 3 bulan.
Sub 3 :bulan kering berturut-turut 4 – 6 bulan.
Sub 4 :bulan kering berturut-turut > 6 bulan.

Gambar 1.1 Piramida klasifikasi iklim Oldeman

4
Tipe Iklim Penjabaran
Sesuai untuk padi terus menerus tetapi produksi kurang karena
A1, A2 pada umumnya kerapatan fluks radiasi matahari rendah
sepanjang tahun
Sesuai untuk padi terus menerus dengan perencanaan awal
B1 musim tanam yang baik. Produksi tinggi pada musim
kemarau.
Dapat tanam padi dua kali setahun dengan varietas umur
B2 pendek dan musim kering yang pendek cukup untuk tanam
palawija.
C1 Tanam padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun.
Setahun hanya dapat satu kali padi dan penanaman palawija
C2,C3,C4
yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering.
Tanam padi umur pendek satu kali dan biasanya produksi bisa
D1 tinggi karena kerapatan fluks radiasi matahari tinggi. Waktu
tanam palawija cukup.
Hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija setahun,
D2,D3,D4
tergantung pada adanya persediaan air irigasi.
Daerah ini umumnya terlalu kering, mungkin hanya dapat satu
E
kali palawija, itupun tergantung adanya hujan.

Tabel 1.1 Klasifikasi tipe iklim Oldeman

5
Bab II
Isi

2.1 Hasil analisa Tabel

1. Data curah hujan Kecamatan Brondong 2009/2014

DATA CURAH HUJAN


RATA-
No BLN/THN
RATA KETERANGAN
2009 2010 2011 2012 2013 2014

1 Januari 273 377 756 1108 843 489 641 BB

2 Februari 96 255 189 482 0 255 212,83 BB

3 Maret 112 377 299 580 290 285 323,83 BB

4 April 28 380 466 48 333 230 247,5 BB

5 Mei 185 254 454 243 387 247 295 BB

6 Juni 82 289 60 73 299 74 146,166 BL

7 Juli 0 278 0 0 132 79 81,5 BK

8 Agustus 0 104 0 0 0 0 17,33 BK

9 September 0 292 10 0 0 23 54,166 BK

10 Oktober 0 420 70 9 19 0 86,33 BK

11 November 52 202 244 193 75 48 135,66 BL

12 Desember 125 806 776 693 338 490 538 BB

6
C3

 Dari segitiga Oldeman tersebut diperoleh tipe iklim C3.


Tabel 2. Tipe iklim menurut Oldeman

7
2.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang didapat dari dinas P.U. Pengairan
kabupaten Lamongan tepatnya di kecamatan Brondong menunjukkan bahwa
curah hujan rata-rata setiap bulan dalam enam tahun dari tahun 2009-2014 adalah
terdapat bulan basah sebanyak 6 bulan. Untuk bulan keringnya sebanyak 4bulan.
sedangkan bulan lembabnya hanya 2 bulan. Berdasarkan data tersebutjika bulan
basah(BB) berjumlah 6, bulan kering(BK) berjumlah 4, dan bulan lembab(BL)
berjumlah 2 menurut Oldeman tipe iklim Kecamatan Brondong Kabupaten
Lamongan termasuk ke dalam tipe iklim C3. Dimana dalam setahunhanya dapat
menanam satu kali padi dan penanaman palawija dua kali. Namun untuk
penanaman palawija yang kedua harus berhati-hati jangan jatuh atau ditanam pada
bulan kering.

8
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan
pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat
dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena
tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan
dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun, irigasi juga biasa
dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian
menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di
Indonesia biasa disebut menyiram.Irigasi mempunyai tujuan utama untuk
menciptakan kondisi kelembaban tanah(lapisan perakaran tanaman) yang
optimum bagi pertumbuhan tanaman. Peran Irigasi dalam peningkatan produksi
pertanian sangat menentukan dan tidak bisa diabaikan terutama untuk daerah yang
curah hujannya kurang.

Drainase atau pengatusan adalah pembuangan massa air secara alami atau
buatan dari permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini
dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan
air. Irigasi dan drainase merupakan bagian penting dalam penataan sistem
penyediaan air di bidang pertanian maupun tata ruang.

sistem irigasi dan draenase yang baik sangat mendukung pola tanam karena
jika di daerah tersebut tidak mempunyai sistem irigasi yang baik yang terjadi
adalah pada saat musim penghujan akan terjadi kelebihan air dan pada saat musim
kemarau akan kekurangan air sehingga produktivitas dari tanaman yang di tanam
tidak terlalu baik atau kurang maksimal.

Di Kecamatan Brondong, tepatnya di desa Sedayulawas, dari hasil study


lapang dalam satu tahun rata-rata petani dapat melakukan dua kali panen. Dari
analisis data yang dilakukan di daerah tersebut ada dua pola tanam yang
dilakukan. Yang pertama yaitu bahwa pola tanam hanya satu kali padi dan satu
kali penanaman palawija. Yang kedua, pola tanam yang dilakukan yaitudua kali
padi.

9
Sistem pola tanam yang keduaini tidak sesuai dengan tipe iklim C3 menurut
Oldeman. Pola tanam tersebut dapat dilaksanakan karenan faktor sistem irigasi
yang memadai. Para petani yang memiliki lahan di sekitar bengawan solo dapat
melakukan dua kali penanaman padi. Petani mengalirkan air yang diambil dari
bengawan solo menggunakan alat bantu berupa diesel.

10
Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan

1. Jenis tanaman, pola tanam, dan teknik budidaya di suatu daerah


dipengaruhi oleh iklim.
2. Di daerah kabupaten Lamongan, memiliki rata-rata curah hujan yang tidak
sama setiap bulanya ,terdapat 6 bulan basah dan 4 bulan kering serta 2
bulan lembab.
3. Menurut metode oldemen, daerah Lamongan berada pada C3 dimana pola
tanamnya setahun hanya satu kali padi dan palawija kedua harus hati-hati
jangan jatuh pada bulan kering.
4. Penanaman Di kecamatan Brondong, tepatnya di desa Sedayulawas, para
petani yang memiliki lahan di sekitar bengawan solo dapat melakukan dua
kali penanaman padi, ini dikarenakan sumber pengairan yang melimpah.

3.2 Saran

Sebaiknya para petani mengetahui tipe iklim di daerahnya dan


memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas dan efisiennya
mereka menanam sebuah komoditas, jangan hanya berpicu pada kebiasaan bertani
yang sudah berjalan turun-temurun. Selain itu peran pemerintah dalam
mendukung pertanian daerah sangatlah penting agar dapat memaksimalkan hasil
produksi.

11

Daftar pustaka
T.Trewartha Gleen Dan H.Horn lyle. 1995. Pengantar iklim edisi kelima.
Yogyakarta.Universitas Gadjah Mada.

Hadisusanto,Nugroho. 2010. Aplikasi hidrologi. Malang. Jogja Mediautama.

12

LAMPIRAN
13