Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

GANGGUAN DEPRESI

PEMBIMBING :
AKBP dr. Karjana, Sp.KJ

DISUSUN OLEH :
Mutammima Rizqiyani
1102014173

Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
Periode 02 Juli 2018 – 04 Agustus 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini, banyak orang yang mengalami stress, kecemasan, galau dan
kegelisahan yang berlarut–larut. Namun, sebagian besar orang berpikir dan
beranggapan bahwa stress dan depresi, bukanlah benar-benar suatu gangguan
mental. Mereka menganggap bahwa depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa
hilang dengan sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu
gangguan yang lebih dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah
kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau secara langsung.

Setiap orang pasti mengalami berbagai masalah dan rintangan dalam hidupnya.
Jika seseorang dalam hidupnya mudah putus asa dan tidak kuat menghadapi
masalah hidupnya, orang tersebut bisa mngelami depresi bahkan bisa menjadi
stress. Depresi bukan saja dialami oleh orang dewasa tetapi anak-anak juga bisa
mengalami depresi yang tidak mengenal kelas sosial. Banyak faktor yang
menyebabkan seseorang menjadi depresi dan terpuruk. Depresi merupakan salah
satu penyebab utama kejadian bunuh diri (suicide). Sebanyak 40% penderita
depresi mempunyai ide untuk bunuh diri, dan hanya lebih kurang 15% saja yang
sukses melakukannya.

Jumlah penderita depresi wanita dua kali lebih banyak dari pria, tetapi pria lebih
berkecenderungan bunuh diri. Di Amerika Serikat, 17% orang pernah mengalami
depresi pada suatu saat dalam hidup mereka, dengan jumlah penderita saat ini lebih
dari 19 juta orang. Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama
saat ini, yang mendapat perhatian serius. Dinegara-negara berkembang, WHO
memprediksikan bahwa pada tahun 2020, depresi akan menjadi salah satu gangguan
mental yang banyak dialami dan depresi berat akan menjadi penyebab kedua
terbesar kematian setelah serangan jantung. Berdasarkan data WHO tahun 1980,
hamper 20% - 30% dari pasien rumah sakit di Negara berkembang mengalami
gangguan mental emosional seperti depresi.

Tema utama pada kasus bunuh diri ini umumnya meliputi suatu krisis yang
menyebabkan penderitaan yang mendalam (intens) disertai perasaan tak berdaya
dan taka da harapan, konflik antara keinginan untuk bertahan dengan stress yang
tak tertanggungkan lagi, persepsi pasien bahwa ia tak mempunyai banyak pilihan
lagi, dan keinginan untuk melepaskan dirinya dari masalahnya. Bunuh diri
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Namun, bunuh diri dapat
dicegah dengan tepat waktu dan dengan penanganan yang tepat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Depresi
2.1.1 Definisi

Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai


masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif,
gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta
bipolar.

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan


dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa
putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.

Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka
orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan,
karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya .

2.1.2 Epidemiologi

Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup
sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25%. Sekitar 10% perawatan primer
dan 15% dirawat di rumah sakit. Pada anak sekolah didapatkan prevalensi sekitar
2%. Pada usia remaja didapatkan prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan
depresif berat.
1. Jenis Kelamin
Perempuan 2x lipat lebih besar disbanding laki-laki. Diduga adanya
perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stresor psikososial
antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari
tentang ketidakberdayaan.
Pada penelitian yang dilakukan NIMH (2002) ditemukan bahwa
prevalensi yang tinggi pada wanita dibandingkan pria kemungkinan
dikarenakan adanya ketidakseimbangan regulasi hormon yang langsung
mempengaruhi substansi otak yang mengatur emosi dan mood
contohnya dapat dilihat pada situasi PMS (Pre Menstrual Syndrome).
Untuk wanita yang telah menikah, depresi dapat diperparah dengan
masalah keluarga dan pekerjaan, merawat anak dan orangtua lanjut usia,
kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan.
2. Usia
Rata-rata usia sekitar 40 tahun-an. Hampir 50% onset diantara
usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak
atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat
diusia kurang dari 20 tahun. Mungkin berhubungan dengan
meningkatnya pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat dalam
kelompok usia tersebut.
3. Status Perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan
interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah.
Wanita yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk
menderita depresi dibandingkan dengan wanita yang menikah namun
hal ini berbanding terbalik untuk laki-laki.
4. Faktor Sosioekonomi dan Budaya

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Academy on


An Aging Society (2000) didapatkan data bahwa pada kelompok
responden dengan pendapatan rendah ditemukan tingkat depresi yang
cukup tinggi yaitu sebesar 51%. Pada penelitian Akhtar (2007)
ditemukan tingkat depresi terendah pada kelompok pendidikan Sekolah
Menengah Atas (SMA) sebesar (9,1%) dan sebaliknya tingkat depresi
yang tertinggi ditemukan pada responden dengan kelompok pendidikan
yang lebih tinggi sebesar (13,4%).
2.1.3 Etiologi

Etiologi depresi terdiri dari:

1. Faktor genetik

Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan gangguan


bipolar terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak kembar, suatu bukti
adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga tersebut.

Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam
perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola penurunan genetika
adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. Bukan saja tidak mungkin untuk
menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan
memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada
sekurangnya beberapa orang. Penelitian keluarga menemukan bahwa sanak saudara
derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan 2 sampai
3 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama.

2. Faktor Biokmia

Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam


metabolit amin biogenik yang mencakup neurotransmitter norepinefrin, serotonin
dan dopamine (Gambar 2.1.4.1). Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa
selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa penyebab
lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi yaitu neurotransmitter asam amino
khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida neuroaktif, regulasi
neurendokrin dan neuroanatomis.
Gambar 2.1.4.1. Mekanisme terjadinya depresi dengan etiologi

neurotransmitter

3. Faktor Lingkungan

Enam bulan sebelum depresi, pasien depresi mengalami lebih banyak peristiwa
dalam hidupnya. Mereka merasa kejadian ini tidak memuaskan dan mereka keluar
dari lingkungan sosial. 80% serangan pertama depresi didahului oleh stress, tetapi
angka ini akan jatuh menjadi hanya 50% pada serangan berikutnya. Pasien depresi
diketahui juga lebih sering pada anak yang kehilangan orang tua di masa kanak-
kanak dibandingkan dengan populasi lainnya.

Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa peristiwa
kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama
gangguan mood daripada episode selanjutnya. Satu teori yang diajukan untuk
menjelaskan pengamatan tersebut adalah bahwa stress yang menyertai episode
pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan yang
bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai
neurotransmitter dan sistem pemberi sinyal intraneuronal. Hasil akhir dari
perubahan tersebut akan menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih
tinggi untuk menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya
stresor external.

2.1.4 Gejala

Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan


minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati
atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktivitas,
kemampuan kognitif, bicara dan fungsi vegetative (termasuk tidur, aktivitas seksual
dan ritme biologik yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya
interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan.
Adapun gambaran klinik dari pasien depresi ini antara lain :
1. Adanya gejala psikologis berupa penurunan vitalitas umum, yang mungkin
dinyatakan pasien sebagai suatu kehilangan dan sedih. Biasanya dia
menarik diri dari kehidupan sosialnya. Segala sesuatu kelihatannya tanpa
harapan, selalu murung, ansietas mungkin ada atau pasien mungkin
mencoba untuk menyembunyikan keluhannya (depresi senyum).
2. Variasi diurnal, dimana semua gejala cenderung memburuk pada dini hari
dan membaik di siang hari.
3. Bunuh diri, dapat menjadi tanda awal penyakit. Kemungkinan bunuh diri
sulit diduga sebelumnya, tetapi selalu harus diperhitungkan. Pikiran bunuh
diri seharusnya selalu ditanyakan dan jika ada harus dianggap serius.
Penderita depresi jarang membunuh keluarganya, tetapi kalau terjadi
biasanya karena dia merasa harus menyelamatkan keluarganya dari
kehidupan yang sengsara.
4. Retardasi atau perlambatan berpikir biasa ditemukan dan dicerminkan
dalam pembicaraan serta pergerakannya. Ada kemiskinan pikiran dan
kesulitan berkonsentrasi. Pada kasus lain agitasi mungkin menjadi gejala
dominan, disertai dengan adanya kegelisahan motorik yang nyata.
5. Perasaan bersalah sering ditemukan disertai mengomeli diri sendiri dan
turunnya penilaian diri. Dalam kasus berat, bisa timbul waham dimana
penyakit yang dideritanya merupakan suatu hukuman untuk dosanya di
masa lampau, baik itu dosa yang dikhayalkannya maupun kesalahan yang
memang benar-benar pernah ia lakukan. Pasien juga bisa merasa bahwa dia
dipandang rendah dan dituduh bejad oleh orang lain. Kemungkinan ada
keasyikan sendiri, hipokondriasis dan waham hipokondria. Mungkin juga
ada waham kemiskinan atau waham nihilistik.
6. Halusinasi jarang ditemukan, tetapi dapat timbul pada kasus berat.
7. Depersonalisasi dan derealisasi tidak jarang terjadi. Pasien menyatakan
bahwa dia kehilangan perasaan dan mempunyai sensasi asing. Dia merasa
tidak nyata dan baginya benda-benda terlihat tidak nyata.
8. Pikiran dan tindakan berisi perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri
mungkin ditemukan.
9. Insomnia sering ditemukan. Gejala khasnya pasien mula-mula bangun dini
hari, kemudian semakin lama semakin pagi dan bahkan akhirnya dapat
menjadi insomnia total.
10. Anoreksia, konstipasi, gangguan pencernaan, penurunan berat badan,
amenore dan kehilangan libido biasa ditemukan. Mungkin terjadi kelelahan
dan letargi, atau tanda autonom ansietas.

Pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua pertiga
pasien depresi, dan 10-15% melakukan bunuh diri. Mereka yang dirawat dirumah
sakit dengan percobaan bunuh diri dan ide bunuh diri mempunyai umur hidup lebih
panjang dibanding yang tidak dirawat. Beberapa pasien depresi terkadang tidak
menyadari ia mengalami depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood
meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan aktifitas yang sebelumnya
menarik bagi dirinya.
2.1.5 Diagnosis

Menurut PPDGJ III, kriteria diagnosis episode depresif (F32) adalah sebagai

berikut:


Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat) :

1. Afek depresif

2. Kehilangan minat dan kegembiraan

3. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah


(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala Lainnya :

1. Konsentrasi dan perhatian berkurang


2. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
3. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
4. Pandangan masa depan yang suram dan psimistik
5. Gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri
6. Tidur terganggu

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung

cepat. 


Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat
(F32.2) hanya digunakan untuk episode depresif tunggal (yang pertama). Episode
depresif berikutnya harus diklasifikasikan dibawah salah satu diagnosis gangguan

depresif berulang (F33.-). 



Pedoman Diagnostik


F32.0 Episode Depresif Ringan 


Tabel 2. Episode depresi ringan

 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut diatas 


 Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya: 1) sampai dengan 2).

 Tidak boleh ada gejala berat diantaranya. 


 Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 
 sekitar 2 minggu. 


 Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.

F32.1 Episode Depresif Sedang

Tabel 3. Episode depresi sedang

 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode

depresi ringan. 


 Ditambah 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya. 



 Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 
 minggu.

 Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, 
 pekerjaan dan

urusan rumah tangga

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik

Tabel 4. Episode depresi berat tanpa gejala psikotik

 Semua 3 gejala utama depresi harus ada. 


 Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan 
 beberapa di antaranya

harus berintensitas berat. 


 Bila ada gejala penting ( misalnya agitasi atau retardasi 
 psikomotor) yang

mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan

banyak gejalanya secara rinci.
 Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh

terhadap episode depresif berat masih dapa dibenarkan. 


 Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang- kurangnya 2 minggu, akan


tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk

menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu. 


 Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau

urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas. 



F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik

Tabel 5. Episode depresi berat dengan gejala psikotik

 Episode depresif berat yang memenuhi kriteri menurut F32.2 tersebut


diatas.
 Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham malapetaka yang
mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi
auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau
menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor
yang berat dapat menuju stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan afek (mood-congruent).

2.1.6 Penatalaksanaan

Pengobatan pasien dengan gangguan mood harus diamanahkan pada sejumlah


tujuan. Pertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua, pemeriksaan diagnostik
yang lengkap pada pasien harus dilakukan. Ketiga, suatu rencana pengobatan harus
dimulai yang menjawab bukan hanya gejala sementara tetapi juga kesehatan pasien
selanjutnya (Kaplan, 2010).
1. Terapi Farmakologis

Antidepresan yang tersedia sekarang cukup bervariasi di dalam efek


farmakologisnya. Variasi tersebut merupakan dasar untuk pengamatan bahwa
pasien individual mungkin berespons terhadap antidepresan lainnya. Variasi
tersebut juga merupakan dasar untuk membedakan efek samping yang terlihat pada
antidepresan.
- Golongan Trisiklik : Amytriptyline, Imipramine, Clomipramine,
Tianeptine
- Golongan Tetrasiklik : Maprotiline, Mianserin, Amoxapine.
- Golongan MAOI_Reversible ( REVERSIBLE INHIBITOR OF
MONOAMIN OXYDASE-A-(RIMA) : Moclobemide
- Golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) : Sertraline,
Paroxentine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, citalopram.
- Golongan Atipical : Trazodone, Mirtazapine, Venlafaxine.

2. Terapi Non Farmakologis

Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yang digunakan dalam pengobatan


depresif berat adalah terapi kognitif, terapi interpersonal dan terapi perilaku
(Kaplan, 2010). NIMH (2002) telah menemukan predictor respons terhadap
berbagai pengobatan sebagai berikut ini : (1) disfungsi sosial yang rendah
menyatakan respons yang baik terhadap terapi interpersonal, (2) disfungsi kognitif
yang rendah menyatakan respons yang baik terhadap terapi kognitif-perilaku dan
farmakoterapi, (3) disfungsi kerja yang tinggi mengarahkan respons yang baik
terhadap farmakoterapi, (4) keparahan depresi yang tinggi menyatakan respons
yang baik terhadap terapi interpersonal dan farmakoterapi.

2.1.7 Prognosis

Gangguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan


pasien cenderung mengalami kekambuhan. Episode depresif yang tidak diobati
berlangsung 6 sampai 13 bulan, sementara sebagian besar episode yang diobati
berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan antidepresan sebelum 3 bulan hampir
selalu menyebabkan kembalinya gejala.
Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif
berat memiliki kemungkinan 50% untuk pulih dalam tahun pertama. Banyak
penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi indikator prognostik yang baik
dan buruk di dalam perjalanan gangguan depresif berat. Episode ringan, tidak
adanya gejala psikotik, fungsi keluarga yang stabil, tidak adanya gangguan
kepribadian, tinggal dalam waktu singkat di rumah sakit dalam waktu yang singkat,
dan tidak lebih dari satu kali perawatan di rumah sakit adalah indikator prognostik
yang baik. Prognosis buruk dapat meningkat oleh adanya penyerta gangguan
distimik, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, gejala gangguan kecemasan, dan
riwayat lebih dari satu episode sebelumnya.

2.2 Suicide
2.2.1 Definisi
Kata suicide berasal dari bahasa Latin yang berarti “membunuh diri
sendiri”. Bunuh diri adalah kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan
disengaja. Edwin Schneidman mendefinisikan bunuh diri sebagai tindakan
pembinasaan yang disadari dan ditimbulkan diri sendiri, dipandang sebagai malaise
multidimensional pada kebutuhan individual yang menyebabkan suatu masalah
dimana tindakan dirasakan sebagai pemecahan yang terbaik. Bunuh diri bukan
tindakan acak atau tidak berujuan. Sebaliknya, bunuh diri merupakan cara keluar
dari masalah atau krisis yang hampir selalu menyebabkan penderitaan yang kuat.
Bunuh diri adalah berhubungan dengan kebutuhan yang dihalangi atau tidak
terpenuhi, perasaan keputusasaan dan ketidakberdayaan, konflik ambivalen antara
keinginan hidup dan tekanan yang tidak dapat ditanggung, menyempitnya pilihan
yang dirasakan, dan kebutuhan untuk meloloskan diri, orang yang bunuh diri
menunjukan tanda tanda penderitaan.

2.2.2 Epidemiologi
Setiap tahun lebih dari 30.000 orang mati karena bunuh diri di Amerika
Serikat. Angka percobaan bunuh diri kira-kira 650.000. Kira-kira terdapat 85 bunuh
diri dalam sehari di Amerika Serikat – sekitar 1 bunuh diri tiap 20 menit. Angka
bunuh diri di Amerika Serikat rata-rata antara 12,5 per 100.000 di abad ke-20,
dengan angka 17,4 per 100.000 selama Depresi Besar tahun 1930. Bunuh diri saat
ini berada di peringkat sembilan untuk keseluruhan penyebab kematian di Amerika
Serikat, setelah penyakit jantung, kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit paru
obstruktif kronik, kecelakaan, pneumonia, influenza, dan diabetes melitus. Angka
bunuh diri di Amerika Serikat berada di titik tengah angka untuk negara industri
seperti yang dilaporkan ke PBB. Di dunia, angka bunuh diri berkisar lebih dari 25
per 100.000 orang.

2.2.3 Faktor resiko

Jenis Kelamin. Laki-laki melakukan bunuh diri empat kali lebih banyak
dibandingkan perempuan, suatu angka yang stabil pada semua usia. Meskipun
demikian, perempuan empat kali lebih besar kemungkinannya untuk melakukan
percobaan bunuh diri dibandingkan laki-laki.

Usia. Angka bunuh diri meningkat seiring dengan usia menegaskan makna dari
krisis usia pertengahan. Di antara laki-laki, puncak bunuh diri setelah usia 45 tahun;
pada perempuan, angka terbesar bunuh diri yang berhasil dilakukan terdapat setelah
usia 55 tahun. Angka 40 per 100.000 populasi terdapat pada laki-laki berusia 65
tahun dan lebih. Orang berusia tua melakukan percobaan bunuh diri lebih jarang
dibandingkan orang muda tetapi lebih sering berhasil. Meskipun mereka hanya 10
persen dari populasi total, 25 persen bunuh diri dilakukan orang yang lebih tua.
Angka untuk 75 tahun atau lebih melebihi tiga kali angka di antara orang muda.

Status Perkawinan. Perkawinan yang dilengkapi oleh anak tampaknya


mengurangi risiko bunuh diri secara signifikan. Angka bunuh diri adalah 11 per
100.000 untuk orang yang menikah; lajang, orang yang tidak pernah menikah
memiliki angka keseluruhan hampir dua kali lipat dari itu. Meskipun demikian,
orang yang sebelumnya pernah menikah menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi
dibandingkan mereka yang tidak pernah menikah; 24 per 100.000 pada janda atau
duda, dan 40 per 100.000 pada orang yang bercerai, dengan laki-laki bercerai
memiliki angka 69 bunuh diri per 100.000 dibandingkan dengan 18 per 100.000
untuk perempuan yang bercerai. Bunuh diri terjadi lebih sering dari biasanya pada
orang yang terisolasi secara sosial dan memiliki riwayat keluarga bunuh diri
(percobaan atau sesungguhnya). Orang yang melakukan yang disebut anniversary
suicide melakukan bunuh diri pada hari saat anggota keluarganya melakukan bunuh
diri.

Pekerjaan. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar risiko bunuh
dirinya, tetapi penurunan status sosial juga meningkatkan risiko bunuh diri.
Pekerjaan, pada umumnya, melindungi orang dari bunuh diri. Di antara tingkat
pekerjaan, profesional, terutama dokter, dari dahulu dianggap memiliki risiko
bunuh diri paling tinggi, tetapi studi terkini yang paling baik menemukan tidak ada
risiko bunuh diri yang meningkat untuk dokter laki-laki di Amerika Serikat.
Sebaliknya, data Skandinavia dan Inggris terkini menunjukkan bahwa angka bunuh
diri untuk dokter laki-laki dua sampai tiga kali dari angka bunuh diri yang
ditemukan pada populasi laki-laki umum dengan usia yang sama. Populasi khusus
yang memiliki risiko adalah musisi, dokter gigi, petugas penagak hukum,
pengacara, dan agen asuransi. Bunuh diri lebih tinggi pada penganggur
dibandingkan dengan orang yang bekerja. Angka bunuh diri meningkat selama
resesi ekonomi dan menurun selama waktu perang dan saat banyak orang yang
dipekerjakan.

Bunuh Diri pada Dokter. Dokter perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk
bunuh diri dibandingkan degan perempuan lain. Di Amerika Serikat angka bunuh
diri tiap tahun untuk dokter perempuan adalah kira-kira 41 per 100.000,
dibandingkan dengan 12 per 100.000 pada semua perempuan kulit putih di atas usia
25 tahun. Demikian juga, di Inggris dan Wales, angka bunuh diri untuk dokter
perempuan yang tidak menikah adalah 2,5 kali dari angka bunuh diri pada
perempuan tidak menikah di populasi umum, meskipun dapat dibandingkan dengan
angka bunuh diri dari kelompok profesional perempuan lainnya.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa dokter yang melakukan bunuh diri memiliki
gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang paling lazim di antara dokter dan korban
bunuh diri dokter adalah gangguan depresif dan ketergantungan zat. Beberapa bukti
menunjukkan bahwa dokter perempuan memiliki risiko seumur hidup yang sangat
tinggi untuk mengalami gangguan mood. Seorang dokter yang melakukan bunuh
diri sering mengalami kesulitan profesi, pribadi, atau keluarga baru-baru ini. Dokter
perempuan dan laki-laki melakukan bunuh diri lebih sering secara signifikan
dengan overdosis zat dan lebih jarang dengan senjata dibandingkan orang-orang di
populasi umum; ketersediaan obat dan pengetahuan mengenai merupakan faktor
penting di dalam bunuh diri oleh dokter.

Metode. Angka keberhasilan laki-laki yang lebih tinggi untuk bunuh diri terkai
dengan metode yang mereka gunakan: senjata api, gantung diri, atau lompat dari
tempat tinggi. Perempuan lazimnya mengonsumsi zat psikoaktif overdosis atau
racun, tetapi penggunaan senjata api saat ini meningkat. Di negara dengan hukum
pengendalian senjata, penggunaan senjata menurun sebagai metode bunuh diri.
Secara global, metode bunuh diri yang paling lazim adalah gantung diri.

Kesehatan Fisik. Hubungan penyakit dan kesehatan fisik dengan bunuh diri cukup
bermakna. Perawatan medis sebelumnya tampaknya merupakan indikator bunuh
diri yang berhubungan positif: 32 persen orang yang melakukan bunuh diri pernah
mendapatkan perhatian medis dalam 6 bulan sebelum kematiannya. Studi
postmortem menunjukkan bahwa penyakit fisik ada pada 25 hingga 75 persen
korban bunuh diri, dan penyakit fisik diperkirakan sebagai faktor yang turut
berperan pada hampir 50 persen bunuh diri.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan penyakit dan turut berperan di dalam bunuh
diri maupun percobaan bunuh diri adalah hilangnya mobilitas, terutama ketika
aktivitas fisik penting bagi pekerjaan dan kesengangan; cacat, terutama pada
perempuan; serta nyeri yang sulit sembuh dan kronis. Di samping efek langsung
penyakit, efek sekundernya – contohnya, gangguan hubungan dan hilangnya status
pekerjaan – merupakan faktor prognostik yang buruk.
Kesehatan Jiwa. Faktor psikiatrik yang sangat bermakna di dalam bunuh diri
mencakup penyalahgunaan zat, gangguan depresif, skizofrenia, dan gangguan jiwa
lainnya. Hampir 95 persen orang yang melakukan atau mencoba bunuh diri
memiliki diagnosis gangguan jiwa. Gangguan depresif berperan di dalam 80 persen
dari angka ini, skizofrenia 10 persen, dan demensia atau delirium 5 persen. Di antara
semua orang dengan gangguan jiwa, 25 persen memiliki ketergantungan alkohol
dan memiliki diagnosis ganda. Orang dengan depresi waham memiliki risiko bunuh
diri paling tinggi. Risiko bunuh diri pada orang dengan gangguan depresif kira-kira
15 persen, dan 25 persen orang dengan riwayat prilaku impulsif atau tindakan
kekerasan juga memiliki risiko bunuh diri yang tinggi. Perawatan psikiatrik
sebelumnya untuk alasan apapun meningkatkan risiko bunuh diri.

Pasien Psikiatrik. Risiko pasien psikiatrik untuk melakukan bunuh diri adalah 3
hingga 12 kali dibandingkan dengan yang bukan pasien psikiatrik. Derajat risikonya
bervariasi bergantung pada usia, jenis kelamin, diagnosis, dan status pasien rawat
inap atau rawat jalan. Setelah penyesuaian untuk usia, pasien psikiatrik laki-laki
dan perempuan yang pernah dirawat sebelumnya masing-masing memiliki lima dan
sepuluh kali lebih tinggi risiko bunuh diri, daripada yang lainnya di populasi umum.
Untuk pasien rawat jalan laki-laki dan perempuan yang belum pernah di rawat di
rumah sakit untuk terapi psikiatrik, masing-masing risiko bunuh dirinya tiga dan
empat kali lebih tinggi daripada yang lainnya di populasi umum. Risiko bunuh diri
yang lebih tinggi untuk pasien psikiatrik yang pernah dirawat mencerminkan fakta
bahwa pasien dengan gangguan jiwa berat cenderung untuk dirawat – contohnya,
pasien dengan gangguan depresif yang membutuhkan terapi elektrokonvulsi.
Diagnosis psikiatrik yang memiliki risiko bunuh diri paling tinggi pada kedua jenis
kelamin adalah gangguan mood.

Gangguan Depresif. Gangguan mood merupakan diagnosis yang paling lazim


dikaitkan dengan bunuh diri. Karena risiko bunuh diri pada gangguan depresif
terutama meningkat ketika pasien sedang depresi, kemajuan psikofarmakologis 25
tahun terakhir mungkin telah menurunkan risiko bunuh diri pada pasien dengan
gangguan depresif. Meskipun demikian, angka bunuh diri yang disesuaikan dengan
usia untuk pasien dengan gangguan mood diperkirakan sekitar 400 per 100.000
untuk pasien laki-laki dan 180 per 100.000 untuk pasien perempuan.

Skizofrenia. Risiko bunuh diri pada pasien dengan skizofrenia cukup tinggi.
Hingga 10 persen meninggal karena bunuh diri. Onset skizofrenia biasanya pada
masa remaja atau dewasa awal, dan sebagian besar pasien yang bunuh diri ini
melakukannya beberapa tahun pertama penyakitnya; dengan demikian, pasien
skizofrenik yang melakukan bunuh diri masih berusia muda.

Ketergantungan Alkohol. Hingga 15 persen orang dengan ketergantungan alkohol


melakukan bunuh diri. Angka bunuh diri untuk mereka yang alkoholik diperkirakan
sekitar 720 per 100.000 setiap tahunnya; di Amerika Serikat, antara 7.000 dan
13.000 orang dengan ketergantungan alkohol melakukan bunuh diri setiap
tahunnya.

Ketergantungan Zat Lain. Sejumlah studi di berbagai negara menemukan adanya


peningkatan risiko bunuh diri pada mereka yang menyalahgunakan zat. Angka
bunuh diri pada mereka yang ketergantungan heroin kira-kira 20 kali angka
populasi umum. Ketersediaan zat dengan jumlah letal, penggunaan IV, gangguan
kepribadian antisosial terkait, gaya hidup berantakan, dan impulsivitas, merupakan
beberapa faktor predisposisi untuk perilaku bunuh diri, pada orang dengan
ketergantungan zat terutama ketika mereka sedang disforik, depresi, atau
intoksikasi.

Perilaku Bunuh Diri Sebelumnya. Percobaan bunuh diri sebelumnya mungkin


merupakan indikator terbaik bahwa pasien memiliki peningkatan risiko bunuh diri.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa kira-kira 40 persen pasien depresi yang bunuh
diri pernah mencobanya sebelumnya. Risiko percobaan bunuh diri kedua paling
tinggi dalam 3 bulan setelah percobaan yang pertama.

2.2.4 Etiologi

Faktor Sosiologis
Teori Durkheim. Di dalam upaya untuk menjelaskan pola statistik, Durkheim
membagi bunuh diri menjadi tiga kategori sosial: egoistik, altruistik, dan anomik.

- Bunuh diri egoistik berlaku bagi mereka yang tidak terintegrasi kuat ke
dalam kelompok sosial manapun. Tidak adanya integrasi keluarga
menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah lebih rentan bunuh diri
dibandingkan orang yang menikah serta mengapa pasangan yang memiliki
anak adalah kelompok yang baik terlindungi. Komunitas pedesaan lebih
memiliki integrasi sosial dibandingkan daerah perkotaan sehingga bunuh
diri lebih sedikit.
- Bunuh diri altruistik berlaku untuk mereka yang rentan terhadap bunuh diri
karena integrasi mereka yang berlebihan ke dalam kelompok, dengan bunuh
diri merupakan perkembangan integrasi – contohnya, serdadu Jepang yang
mengorbankan hidupnya di dalam peperangan.
- Bunuh diri anomik berlaku bagi orang yang integrasinya ke dalam
masyarakat terganggu sehingga mereka tidak dapat mengikuti norma
perilaku yang lazim. Anomik menjelaskan mengapa perubahan drastis
situasi ekonomi membuat orang lebih rentan daripada mereka yang
sebelumnya terjadi perubahan kekayaan. Di dalam teori Durkheim, anomik
juga mengacu pada ketidakstabilan sosial dan pecahnya standar dan nilai
masyarakat.

Faktor Biologis. Berkurangnya serotonin sentral memainkan peranan di dalam


perilaku bunuh diri. Suatu kelompok di Institut Karolinska di Swedia adalah yang
pertama kali memperhatikan bahwa konsentrasi metabolit serotonin 5-hidroxyin-
doleacetic acid (5-HIAA) yang rendah di cairan serebrospinal (CSS) lumbal terkait
dengan perilaku bunuh diri. Temuan ini telah di kemukakan beberapa kali di dalam
kelompok diagnostik yang berbeda. Studi neurokimia postmortem melaporkan
adanya sedikit penurunan serotonin itu sendiri atau 5-HIAA di batang otak atau
korteks frontalis korban bunuh diri. Studi reseptor postmortem melaporkan
perubahan bermakna di tempat pengikatan serotonin prasinaps dan pascasinaps
pada korban bunuh diri. Jika dipertimbangkan bersama, studi CSS, neurokimia, dan
reseptor menyokong hipotesis bahwa berkurangnya serotonin sentral terkait dengan
bunuh diri. Studi terkini juga melaporkan beberapa perubahan sistem noradrenergik
pada korban bunuh diri.

2.2.5 Perilaku parasuicidal


Parasuicide adalah istilah yang diperkenalkan untuk mengambarkan pasien
yang mencederai diri sendiri dengan mutilasi diri (cth. Menyayat kulit) tetapi
biasanya tidak ingin mati. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kira-kira 4 persen
pasien di rumah sakit psikiatrik menyayat diri mereka sendiri; rasio perempuan
banding laki-laki adalah hampir 3:1. Insiden mencederai diri sendiri pada pasien
psikiatrik diperkirakan 50 kali dibandingkan populasi umum. Psikiater
memperhatikan bahwa pelaku telah mencederai dirinya sendiri selama beberapa
tahun.
Pasien ini biasanya berusia 20-an dan dapat juga lajang atau sudah menikah.
Sebagian besar sayatan bersifat halus, tidak kasar, biasanya dilakukan sendiri
dengan pisau cukur, pisau, pecahan gelas, atau cermin. Pergelangan tangan, lengan,
paha, dan tungkai adalah yang paling sering disayat; wajah, payudara, dan abdomen
yang jarang di sayat. Sebagian besar orang yang menyayat diri mereka sendiri
menyatakan tidak merasa sakit dan memberikan alasan seperti marah pada diri
sendiri atau orang lain, meredakan ketegangan dan keinginan untuk mati. Sebagian
besar digolongkan memiliki gangguan kepribadian dan secara signifikan lebih
tertutup, neurotik, dan bermusuhan dibandingkan kontrol. Penyalahgunaan alkohol
dan zat lain lazim melakukannya, dan sebagian besar pelaku pernah mencoba bunuh
diri. Mutilasi diri sendiri di pandang sebagai perusakan diri terlokalisasi, dengan
salah penanganan impuls agresif yang disebabkan oleh keinginan tidak disadari
seseorang untuk menghukum dirinya sendiri atau objek yang diintrojeksikan.

2.2.6 Terapi

Evaluasi potensi bunuh diri melibatkan anamnesis riwayat psikiatrik yang lengkap;
pemeriksaan menyeluruh mengenai keadaan mental pasien; dan pertanyaan
mengenai gejala depresif, pikiran, niat, rencana dan percobaan bunuh diri. Jika
dipertimbangkan semuanya, tidak adanya rencana di masa mendatang, memberikan
milik pribadi, membuat surat wasiat dan baru-baru ini mengalami kehilangan
mengesankan peningkatan risiko bunuh diri. Keputusan untuk merawat pasien di
rumah sakit bergantung pada diagnosis, keparahan depresi dan gagasan bunuh diri,
kemampuan pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah, situasi hidup pasien,
ketersediaan dukungan sosial, dan tidak adanya atau adanya faktor risiko bunuh
diri.

Terapi Rawat Inap vs Rawat Jalan. Perlu atau tidaknya merawat pasien dengan
gagasan bunuh diri di rumah sakit merupakan suatu keputusan yang paling penting
untuk dibuat. Tidak semua pasien dengan gagasan bunuh diri perlu perawatan di
rumah sakit; beberapa dari mereka dapat diterapi dengan rawat jalan. Tetapi tidak
adanya sistem dukungan sosial yang kuat, riwayat perilaku impulsif, dan rencana
tindakan bunuh diri adalah indikasi perawatan. Untuk memutuskan apakah terapi
rawat jalan dapat dilakukan, klinisi harus menggunakan pendekatan klinis
langsung. Mereka harus meminta pasien yang dianggap berpotensi bunuh diri untuk
menghubungi saat merasa tidak pasti mengenai kemampuan mereka untuk
mengendalikan impuls bunuh diri. Pasien dapat membuat perjanjian seperti ini
dengan dokter yang memiliki hubungan dengan mereka menguatkan kembali
keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengendalikan
impuls tersebut dan untuk mencari pertolongan.

Sebagai balasan terhadap komitmen pasien, klinisi harus siap 24 jam bagi
pasien. Jika pasien yang dianggap secara serius ingin bunuh diri tidak dapat
membuat komitmen tersebut, perawatan rumah sakit darurat segera diindikasikan;
pasien dan juga keluarga pasien harus diberi saran. Meskipun demikian, jika pasien
akan diterapi secara rawat jalan, terapis harus mencatat nomor telepon rumah dan
kantor pasien untuk keadaan gawat darurat; kadang-kadang, pasien menutup
telepon tiba-tiba saat telepon di malam hari atau hanya memberikan nama pada
layanan penjawab telepon. Jika pasien menolak perawatan di rumah sakit, keluarga
harus bertanggung jawab untuk berada bersama pasien selama 24 jam dalam sehari.
Meskipun pasien yang digolongkan berpotensi bunuh diri akut dapat
memiliki prognosis yang baik, pasien dengan potensi bunuh diri kronis sulit diterapi
dan mereka melelahkan orang yang merawat mereka. Pengamatan konstan oleh
perawat khusus, pengasingan, dan pengikatan tidak dapat mencegah bunuh diri saat
pasien yakin melakukannya. Terapi elektrokonvulsi mungkin perlu untuk beberapa
pasien depresi berat, yang dapat memerlukan beberapa kali sesi terapi.

Untuk dapat membantu menentukan seseorang dengan risiko bunuh diri


dirawat atau tidak dapat menggunakan SAD PERSONS Scale yang telah
dimodifikasi. Skala ini telah dipakai luas dan terdiri dari 10 faktor risiko bunuh diri.
Jika skor >= 6, maka pasien tersebut membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Tetapi jika skornya <= 5, maka pasien tersebut dapat dirawat jalan.

GAMBAR 2 ■ SAD PERSONS Scale yang telah dimodifikasi.


Sumber : Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock: buku ajar psikiatri klinis. 2010. Ed. 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
DAFTAR PUSTAKA

Ismail, R. I. & Siste, K., 2010, Gangguan Depresi, Dalam Elvira,Silvia D.,
Hadisukanto, Gitayanti, Buku Ajar Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.

Kaplan and Saddock. Comprehensive Textbook Of Psychiatry. 7th Ed. Lippincott


Wiliams And Wilkins. Philadelphia, 2010.

Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan PPDGJ-III


“Gangguan Depresi”. PT Nuh Jaya. Jakarta, 2013.

World Health Organization. Preventing suicide a global imperative: executive summary.


Di unduh pada www.who.int/mediacentre/factsheets/fs398/en tanggal 13 Juli 2018.

World Health Organization. Preventing suicide a resource for general physicians. Di unduh
pada www.who.int/mediacentre/factsheets/fs398/en tanggal 13 Juli 2018.