Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA

KELOMPOK PEKERJA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas Tahun
Ajaran 2016/2017

Disusun Oleh :

Kelompok 6 / AJ1 B19

1. Dhinar Retno Panitis 131611123032


2. Ari Kurniawati 131611123041
3. Dewi Fajarwati Prihatiningsih 131611123042
4. Sindhu Agung Laksono 131611123043
5. Robeta Lintang Dwiwardani 131611123044
6. Hermansyah 131611123045
7. Ezra Ledya Sevtiana Sinaga 131611123046

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2016

KATA PENGANTAR

1
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema “Asuhan Keperawatan
Komunitas pada Kelompok Pekerja” dengan baik.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Pihak-pihak tersebut adalah:

1. Dosen pengampu selaku koordinator Mata Kuliah Komunitas 2 Ibu Eka


Mishbahatul M. Has., S.Kep., Ns., M.Kep.
2. Dosen Pembimbing makalah SGD Asuhan Keperawatan Komunitas pada
Kelompok Pekerja Ibu Rista F., S.Kep., Ns., M.Kep
3. Orang tua yang telah memberi izin dan do’a restu serta telah mendukung
penulis dalam menyusun makalah.
4. Teman-teman kelas AJ1 B19 fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
yang juga telah mendukung penulis dalam membuat makalah.
5. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis telah berusaha sebaik-baiknya untuk menyusun makalah ini. Namun,


makalah ini tentunya masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Surabaya, 29 September 2016

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

2
1.1 Latar Belakang
Dalam kondisi perkembangan pembangunan ke arah industrialisasi
persaingan pasar semakin ketat, sangat diperlukan tenaga kerja yang sehat dan
produktif. Searah dengan hal tersebut kebijakan pembangunan dibidang
kesehatan ditujukan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
seluruh masyarakat, termasuk masyarakat pekerja. Masyarakat pekerja
mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan
tujuan pembangunan dimana dengan berkembangnya IPTEK dituntut adanya
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mempunyai produktivitas
yang tinggi hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era
globalisasi.
Sejalan dengan semakin berkembangnya berbagai jenis industri serta
majunya teknologi, penggunaan bahan dan produksi bahan kimia juga semakin
meningkat.Bukan hanya sektor industri, tetapi juga merambat ke sektor lainnya.
Kesehatan dan keselamatan kerja karyawan merupakan suatu hal yang sangat
penting, baik perusahaan formal maupun informal. Perusahaan formal umumnya
sudah mempunyai sistem kesehatan dan keselamatan kerja yang sudah baku,
tetapi industri industri di sektor informal masih banyak yang belum memiliki
dan belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang di harapkan
(Wahit;323;2009)
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 tenaga kerja di Indonesia
mencapai 100.316.007, yaitu 64,63% pekerja laki-laki dan 35,37% pekerja
wanita. Peningkatan ini selain dilihat dari segi positif dengan bertambahnya
tenaga produktif, status kesehatan dan gizi pekerja umumnya belum mendapat
perhatian yang berakibat akan menurunkan produktivitas kerja dan biaya
produksi menjadi tidak efisien.
Pada umumnya kesehatan tenaga kerja sangat mempengaruhi
perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada
negara-negara yang sudah maju. Secara umum bahwa kesehatan dan lingkungan
dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi. Dimana industrialisasi banyak
memberikan dampak positif terhadap kesehatan, seperti: meningkatnya
penghasilan tenaga kerja, kondisi tempat tinggal yang lebih baik dan
meningkatkan pelayanan, tetapi kegiatan industrialisasi juga memberikan

3
dampak yang kurang baik terhadap kesehatan di tempat kerja dan masyarakat
pada umumnya. Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan
perubahan secara global dibidang pembangunan secara umum di dunia,
Indonesia juga melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik
dalam bidang teknologi maupun industri yang berwawasan kesehatan. Hal ini
perlu diperhatikan karena masih banyak terjadi kasus-kasus penyakit karena
hubungan dengan pekerjaan dan lingkungan. Seperti faktor mekanik (proses
kerja, peralatan), faktor fisik (panas, bising, radiasi), dan faktor kimia. Masalah
perokok pasif, stres, gizi tenaga kerja juga merupakan hal yang sangat penting
yang perlu diperhatikan karena masih banyak tenaga kerja yang meremehkan hal
tersebut.
Promosi kesehatan di tempat kerja adalah upaya memberdayakan tenaga
kerja untuk memelihara, meingkatkan dan melindungi kesehatannya. Upaya
promosi kesehatan yang diselenggarakan di tempat kerja, selain untuk
memberdayakan tenaga kerja di tempat kerja untuk mengenali masalah dan
tingkat kesehatannya serta mampu mengatasi, memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatannya sendiri juga memelihara dan meningkatkan tempat
kerja yang sehat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Keperawatan Komunitas?
2. Apa yang dimaksud dengan Kelompok Pekerja?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan komunitas pada komunitas area
lingkungan kerja.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mampu menjelaskan tentang keperawatan komunitas
2. Mampu menjelaskan keperawatan komunitas khusus kelompok

pekerja

4
BAB II
KONSEP TEORI

1. KEPERAWATAN KOMUNITAS
Menurut Sounders (1991), komunitas sebagai tempat atau kumpulan
orang orang atau sistem sosial. Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1990),
komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah
nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat,serta terikat oleh rasa
identitas suatu komunitas (Wahit, 2009).

Menurut Depkes RI, keperawatan komunitas merupakan suatu upaya


pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikut sertakan tim
kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan
individu, keluarga, dan masyarakat yang lebih tinggi (Wahit, 2009).

2. KELOMPOK PEKERJA
2.1. Pengertian Pekerja

5
Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah
dan imbalan dalam bentuk lain. Dalam definisi tersebut terdapat dua unsur yaitu
orang yang bekerja dan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Hal
tersebut berbeda dengan definisi dari tenaga kerja, dalam ketentuan Pasal 1 UU
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa, ”Tenaga
Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun
untuk masyarakat”.
2.2. Kewajiban Pekerja
a. Wajib melakukan pekerjaan.
b. Wajib menaati aturan dan petujuk pengusaha
c. Kewajiban membayar ganti rugi dan denda

2.3. Hak pekerja


a. Hak mendapat upah/gaji,
b. Hak untuk mendapat istirahat/cuti
c. Hak untuk mendapatkan pengurusan perawatan dan pengobatan
d. Hak untuk mendapatkan surat keterangan.

2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan kelompok pekerja.


Faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan kelompok pekerja,
antara lain sebagai berikut :
a. Faktor fisik meliputi :
 Kebisingan
 Suhu
 Kelembapan udara
 Kecepatan angin
 Getaran
 Radiasi
 Tekanan udara

b. Faktor kimia meliputi :


 Gas
 Uap debu
 Fume
 Kabut
 Asap

c. Faktor biologis meliputi :


 Bakteri
 Virus
 Jamur
 Cacing

6
d. Faktor fisiologis meliputi :
 Sikap dan cara kerja
 Jam kerja
 Istirahat
 Shift kerja
 Lembur

e. Faktor mental meliputi :


 Suasana kerja
 Hubungan antara pekerjaan
 Pengusaha

2.5. Masalah Kesehatan Kerja yang Menurunkan Produktivitas Kerja


a. Penyakit umum pada pekerja antara lain kusta, TB paru, penyakit
jantung, kanker, kecacatan dan lain-lain
b. Penyakit yang timbul akibat kerja, misalnya pneumoconiosis dan
dermatosis. Pneumoconiosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh
asbes, dengan gejala seperti batuk, sesak nafas, nyeri dada, dan sianosis.
c. Gizi buruk. Gizi buruk saat ini telah bermunculan hampir disemua
kabupaten, hal ini disebabkan :
 Kurangnya pengetahuan masyarakat akan kebutuhan gizi bagi
anggota keluarga
 Ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi bagi
anggota keluarga
 Pola hidup yang salah
 Stok bahan makanan yang tidak ada.
(Wahit, 2009)

2.6. Upaya Pencegahan Penyakit Di Lingkungan Pekerja


Upaya yang dilakukan agar penyakit dilingkungan pekerja menjadi
baik adalah sebagai berikut :
a. Subsitusi, yaitu mengganti bahan yang berbahaya dengan yang kurang
atau tidak berbahaya
b. Isolasi, mengisolasi proses-proses berbahaya dari perusahaan
c. Ventilasi umum, mengalihkan udara sebanyak hitungan ruan kerja
d. Ventilasi keluar setempat, menghisap udara dari suatu ruang kerjaagar
bahan-bahan yang berbahaya dihisap dan dialihkan keluar

7
e. Alat pelindung perorangan, misalnya masker, kacamata, sarung
tangan, sepatu, topi, penutup telinga, dan pakaian pelindung
f. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan berkala
g. Informasi sebelum bekerja
h. Pendidikan tentang kesehatan kerja dan keselamatan kerja.

2.7. Fungsi Perawat Dalam Kesehatan Pekerja


a. Membantu dokter perusahaan dalam menyusun rencana kerja.
b. Melaksanakan program kerja yang telah dilaksanakan.
c. Memelihara dan mempertinggi mutu pelayanan.
d. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan.
e. Menilai keadaan kesehatan tenaga kerja.
f. Menyelenggarakan pendidikan kepada tenaga kerja.
g. Turut ambil bagian dalam usaha keselamatan kerja.

2.8. Menurut American Association of Occupational Health Nurses, ruang


lingkup pekerjaan perawat pada kelompok pekerja adalah :
a. Health promotion / Protection
Meningkatkan derajat kesehatan, kesadaran dan pengetahuan
tenaga kerja akan paparan zat toksik di lingkungan kerja. Merubah
faktor life style dan perilaku yang berhubungan dengan resiko bahaya
kesehatan.

b. Worker Health / Hazard Assessment and Surveillance


Mengidentifikasi masalah kesehatan tenaga kerja dan menilai
jenis pekerjaannya .
c. Workplace Surveillance and Hazard Detection
Mengidentifikasi potensi bahaya yang mengancam kesehatan
dan keselamatan tenaga kerja.
Bekerjasama dengan tenaga profesional lain dalam penilaian
dan pengawasan terhadap bahaya.
d. Primary Care
Merupakan pelayanan kesehatan langsung terhadap penyakit
dan kecelakaan pada tenaga kerja, termasuk diagnosis keperawatan,
pengobatan, rujukan dan perawatan emergensi.
e. Counseling

8
Membantu tenaga kerja dalam memahami permasalahan
kesehatannya dan membantu untuk mengatasi dan keluar dari situasi
krisis
f. Management and Administration
Sebagai manejer pelayanan kesehatan dengan tanggung-jawab
pada progran perencanaan dan pengembangan, program pembiayaan
dan manajemen
g. Research
Mengenali pelayanan yang berhubungan dengan masalah
kesehatan, mengenali faktor – faktor yang berperanan untuk
mengadakan perbaikan.
h. Legal-Ethical Monitoring
Perawat komunitas harus sepenuhnya memahami ruang
lingkup pelayanan kesehatan pada tenaga kerja sesuai perundang-
undangan, mampu menjaga kerahasiaan dokumen kesehatan tenaga
kerja.
i. Community Organization
Mengembangkan jaringan untuk meningkatkan pelayanan
kepada tenaga kerja. Perawat yang bertanggung-jawab dalam
memberikan perawatan tenaga kerja haruslah mendapatkan petunjuk-
petunjuk dari dokter perusahaan atau dokter yang ditunjuk oleh
perusahaan. Dasar-dasar pengetahuan prinsip perawatan dan prosedur
untuk merawat orang sakit dan korban kecelakaan adalah merupakan
pegangan yang utama dalam proses perawatan.
Seorang perawat komunitas melalui program pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan hendaknya selalu membantu karyawan / tenaga
kerja untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.

2.9. Higiene Industri


Higiene industri adalah sarana untuk membina dan mengembangkan
tenaga kerja menjadi sumber daya manusia yang disiplin didikatif, penuh
tanggung jawab, dan mampu bekerja secara produktif dan efisien (Soeripto,
2008).

9
2.10. Fungsi dan Tugas Perawat dalam higiene industri
dan tugas perawat dalam usaha K3 di Industri adalah sebagai berikut
(Effendy, Nasrul, 1998) :
a. Fungsi
 Mengkaji masalah kesehatan
 Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
 Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap
pekerja
 Penilaian

b. Tugas
 Pengawasan terhadap lingkungan pekerja
 Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan
 Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
 Membantu dalam penilaian keadaan kesehatan pekerja
 Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan
perawatan di rumah kepada pekerja dan keluarga pekerja yang
mempunyai masalah
 Pendidikan kesehatan mengenai keluarga berencana terhadap
pekerja dan keluarga pekerja.

2.11. Pengawasan Untuk Mengunakan Alat Kerja

Pengawasan yang dilakukan dalam menggunakan alat kerja serta


penyediaan alat-alat kesehatan untuk mendukung keamana penggunaan
alat kerja dilakukan melalui cara-cara dibawah ini.

a. Pekerja harus dilatih dan dididik untuk memahami bahaya yang ada,
cara menghindarinya, dan cara menggunakan alat-alat keselamatan
b. Sarung tangan, kacamata dan pakaian pelindung harus digunakan
saat bekerja
c. Air untuk mandi dan cuci mata harus cukup tersedia, terutama untuk
membersihkan bahaya korosif

10
d. Pakaian pelindungan yang digunakan hrus dicuci tiap hari
e. Unit operasi yang tidak memungkinkan ventilasi keluar memerlukan
masker yang dialiri udara atau masker gas. Masker tersebut
digunakan untuk keperluan darurat, yaitu jika bahan-bahan yang
sangat bahaya sedang diolah
f. Pekerja yang mengolah bahan diwajibkan mencuci tangan sebersih-
bersihnya sebelum merokok, minum atau makan
g. Pekerja wajib melapor untuk diperiksa pada saat kejadian kecelakaan
pertama

BAB III
KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KESEHATAN KERJA


DENGAN APLIKASI KASUS DI KOMUNITAS PEKERJA
DI RUANGAN SEKTOR A5 DI PERUSAHAAN ROKOK
PT. “ Kretek” DI KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH

Sekelompok mahasiswa keperawatan melakukan kegiatan praktik keperawatan


komunitas untuk kesehatan kerja di komunitas pekerja di perusahaan rokok PT
KRETEK di kabupaten kudus jawa tengah selama 1 Bulan mulai dari tanggal 30
Agustus 2016 sampai 30 September 2016. Mahasiswa tersebut melakukan pengkajian
kepada para pekerja di ruangan sektor A5 yang berjumlah 100 orang, berdasarkan data dari
HRD perusahaan ini di dapat data umum sebagai berikut:

No. Karakteristik Frekuensi/ jumlah

11
Jenis kelamin

1. a. Laki-laki 40 orang
b. Perempuan
60 orang

Jenis pekerjaan

a. Pengelintingan 55 orang
b. Pengepakan
2.
c. Pengawas 35 orang

10 orang

Usia

a. 25-35 tahun 35 orang


b. 36-46 tahun
c. 47-57 tahun 40 orang
3. d. 58-60 tahun
20 orang

5 orang

Tingkat pendidikan

a. Tamat SD 30 orang
b. Tamat SMP
4.
c. Tamat SMA 45 orang

25 orang

Lama bekerja

a. 5-10 tahun 15 orang


b. 11-15 tahun
c. 16-20 tahun 35 orang
5. d. 21-25 tahun
e. > 25 tahun
30 orang

15 orang

5 orang

12
A. PENGKAJIAN
1. Data Inti
a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Perusahaan rokok PT KRETEK berada di wilayah kabupaten
kudus jawa tengah dengan luas bangunan pabrik keseluruhan sebesar 1
Ha. Pabrik ini berada di tepi jalan raya yang merupakan akses utama di
kota kudus. Terdiri dari beberapa ruangan sektor yang didalamnya
terdapat berbagai macam pekerjaan industri yang berhubungan dengan
tembakau dan rokok diantaranya adalah bagian penyortiran tembakau,
penyimpanan tembakau, produksi tembakau, pelintingan rokok,
pengepakan rokok, ruang laboratorium uji tembakau, dll. Ruangan sektor
A5 merupakan salah satu ruangan di perusahan rokok PT KRETEK yang
terbagi menjadi beberapa bagian tugas didalamnya yaitu bagian
pelintingan, pengepakan rokok dan pengawasan. Jumlah pekerja di
ruangan sektor A5 sebanyak 100 orang (perincian berdasarkan
karakteristik umum ada di tabel yang tersedia di awal) sebagaian besar
bekerja adalah orang jawa 85 orang (85%) dan berasal dari madura
sebanyak 15 orang (15%).

b. Status kesehatan komunitas


Dari pengkajian (anamnesa) dan kuisioner yang dilakukan
mahasiswa langsung kepada para pekerja diruangan sektor A5
didapatkan hasil:
1. Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas
68 orang pekerja (68%) menegeluhkan sering batuk-batuk
15 orang (15%) pekerja mengeluhkan sering pusing
Sisanya 17 orang (17%) tidak ada keluhan
2. Tanda-tanda vital*
TD:
< 110/70 mmHg : 5 orang (5%)
110/70mmHg-130/90mmHg : 75 orang (75%)
>130/90 mmHg : 20 orang (20%)
3. Nadi:
60-80x/menit : 90 orang (90%)
80-100x/menit : 10 orang (10%)
4. RR:
16-24x/menit : 90 orang (90%)
>24x/ menit : 10 orang (10%)
5. Suhu tubuh:

13
36,5°C-37°C : 100 orang (100%)
c. Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir) *
1. ISPA : 20 orang/ kasus (20%)
2. PPOK : 5 orang (5%)
3. Diare : 5 orang (5%)
4. Batuk : 35 orang (35%)
5. Demam : 15 orang (15%)
6. Sisanya tidak ada laporan keluhan penyakit 20 orang (20%)
Ket: (*) : data dari klinik perusahaan pada tanggal 12 November
2012

d. Riwayat penyakit komunitas


Data diambil dari 68 orang pekerja (68%) yang mengeluhkan
sering batuk-batuk, kami melakukan pengkajian dengan memberikan
kuisioner kepada 68 pekerja tersebut, dengan hasil:

No. Karakteristik Frekuensi Presentase


%

Menderita batuk berdahak minimal 30


1. kali setahun, sekurang-kurangnya 2 20 orang 29,4%
tahun beruntun

2. Mempunyai riwayat merokok 40 orang 58,8%

Terpajan langsung dengan bahan


3. 68 orang 100%
produk

Mempunyai keluarga dengan riwayat


4. 6 orang 8,82%
bronkitis dan emsifema

Sering mengalami sesak nafas saat


5. aktivitas sedang (jalan cepat, naik 10 orang 6,8%
tangga)

Pernah merasa sesak atau nafas sulit


6. 5 orang 7,35%
bahkan pada saaat istirahat

Pernah merasa sesak nafas menetap


7. 5 orang 7,35%
dan makin lama makin berat

8. Saat Batuk selalu berdahak dan beriak 45 orang 66,1%

14
Pernah memeriksakan ke dokter atau
tempat pelayanan kesehatan baik
9. umum maupun yang ada di perusahaan 5 orang 7,35%
dan positif dinyatakan penderita PPOK
(bronkhitis kronis, emfisema)

Pernah merasa dada terasa berat saat


10. 20 orang 29,4%
bernafas

e. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi komunitas


Para pekerja mendapat istirahat makan siang dari peusahaan,
makan siang rutin dilaksanakan tiap pukul 13.00 WIB di kantin pabrik.
f. Pola pemenuhan cairan dan elektrolit
Selama bekerja kebutuhan cairan pekerja didapat dari minuman
yang dibawa oleh para pekerja dari rumah.
g. Pola istirahat tidur
Para pekerja mengatakan bahwa istirahat tidur mereka biasanya
dilakukan pada malam hari saat pulang bekerja karena waktu bekerja
mereka adalah 9 jam mulai pukul 8 pagi-5 sore.
h. Pola eliminasi
Saat dilakukan anamnesa kepeada para pekerja Sebanyak 35
orang dari 55 orang (63,6%) pekerja bagian pelintingan rokok
mengatakan pernah sakit “anyang-anyangan”, hal ini ternyata
disebabkan oleh 20 orang (57,1%) kurang sering minum air putih saat
bekerja, 15 orang (42,8%) menahan BAK karena jarak kamar mandi
dengan ruang pelintingan agak jauh. Sedangkan pada bagian
penegepakan sebanyak 15 orang dari 35 orang pekerja (42,8%)
mengeluhkan sakit “anyang-anyangan” hal ini disebabkan karena 10
orang (66,6%) kurang sering minum air putih saat bekerja, 5 orang
(33,3%) menahan BAK karena jarak kamar mandi dengan ruangan agak
jauh.
i. Pola aktivitas gerak
Saat dilakukan anamnesa kepada para pekerja sebanyak 55 orang
dari 55 orang (100%) jumlah pekerja pelintingan rokok mengeluhkan
sering merasa pegal di daerah leher dan punggungnya. Saat dilakukan
observasi secara langsung ternyata sebanyak 30 orang (54,5%) pekerja

15
duduk dengan posisi duduk yang salah/ terlalu membungkuk, 25 orang
(43,5%) tidak menggerak-gerakkan badannya untuk merelaksasi
tubuhnya/ berada dalam posisi duduk yang sama dalam waktu yang
lama. Sedangkan dibagian pengepakan dari 35 orang pekerja 25 orang
(71,4%) mengeluhkan sering merasa pegal di daerah leher dan
punggungnya 10 orang (28,6%) tidak ada keluhan. Penyebabnya 15
orang (60%) duduk dengan posisi duduk yang salah, 10 orang (40%)
tidak menggerak-gerakkan badannya untuk merelaksasi tubuhnya atau
berada dalam posisi duduk yang sama dalam waktu yang lama. Untuk
bagaian pengawasan tidak ada keluhan.
j. Pola pemenuhan kebersihan diri
Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 25 orang dari
35 orang pekerja dibagian pengepakan (71,4%) tidak mencuci tangan
setelah bekerja sisanya 10 orang (28,6%) mencuci tangan tapi dengan
prosedur yang kurang benar, sedangkan sebanyak 40 orang dari 55
orang pekerja dibagian pelintingan (72,7%) tidak mencuci tangan
setelah bekerja, sisanya 15 orang (27,3%) mencuci tangan tapi dengan
prosedur yang kurang benar.
k. Status psikososial
Antar kelompok pekerja tidak pernah mengalami pertengkaran
atau perselisihan karena mereka menganggap semua pekerja saling
bersaudara karena sudah bekerja bersama dalam waktu yang lama, antar
pekerja saling membantu dan memberikan dukungan bila ada masalah.
l. Status pertumbuhan dan perkembangan
a) Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan
Berdasarkan data dari klinik perusahaan semua pekerja
mendapatkan asuransi kesehatan, dan bisa periksa atau berobat
secara gratis di klinik tersebut tetapi data klinik perusahaan
menunjukkan:

No. Karakteristik Frekuensi Presentase (%)

Pekerja yang memeriksakan


1. 25 orang 25%
kesehatan secara rutin ke klinik

2. Pekerja yang memeriksakan 35 orang 35%

16
kesehatannya saat sakit saja

Pekerja yang tidak pernah/


belum pernah datang ke klinik
3. 40 orang 40%
untuk memeriksakan
kesehatannya

b) Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan


Setelah dilakukan pengkajian melalui observasi langsung kepada
100 pekerja di ruangan sektor A5 didapatkan hasil:

Jenis
No. Karakteristik Ferekuensi Presentase(%)
pekerjaan

1. Tidak a. Pelintingan 55 orang 100%


b. Pengepakan
menggunakan
c. pengawasan 35 orang 100%
masker saat bekerja
10 orang 100%

2. Tidak a. Pelintingan 55 orang 100%


b. Pengepakan
menggunakan
c. Pengawasa 35 orang 100%
sarung tangan saat
n
bekerja 10 orang 100%

Pola peri
c) lHasil tidak sehat dalam komunitas
Saat dilakukan observasi didapatkan data sebanyak 25 orang dari 35 orang
pekerja dibagian pengepakan (71,4%) tidak mencuci tangan setelah bekerja
sisanya 10 orang (28,6%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang
benar, sedangkan sebanyak 40 orang dari 55 orang pekerja dibagian
pelintingan (72,7%) tidak mencuci tangan setelah bekerja, sisanya 15 orang
(27,3%) mencuci tangan tapi dengan prosedur yang kurang benar.

2. DATA LINGKUNGAN FISIK


Luas bangunan pabrik rokok ini seluas 1 Ha terdiri dari ruangan
sektor A1-A5 (A1-A4: gudang tembakau, A5: laboratorium, A6: penyortiran
A5: pelintingan, pengepakan rokok), kantin, masjid, klinik, garasi untuk

17
angkutan perusahaan, aula perusahaan, tempat penyaringan limbah pabrik.
Sedangkan untuk ruangan sektor A5 sendiri memiliki luas bangunan 100x50
meter bentuk bangunan berupa ruangan luas yang lapang dengan meja-meja
tempat pelintingan, pengepakan dan terdapat 2 kamar mandi di dalamnya.
Jenis bangunannya permanen atap bangunan berupa genting sintesis dengan
dinding terbuat dari tembok dengan lantai dari semen/ plesteran, ventilasi di
ruangan ini berasal dari jendela –jendela kecil di atas tembok yang berjumlah
masing-masing 10 buah di kiri dan kanan sisi bangunan total 20 buah,
penerangan ruangan berasal dari pintu ruangan besar yang di buka saat jam
kerja bila menjelang sore terdapat lampu neon yang memberikan
pencahayaan diruangan ini. Kebersihan di dalam ruangan cukup rapi dan
bersih. Kondisi kamar mandi bersih tetapi jumlahnya sangat terbatas dan
jaraknya cukup jauh dari tempat pengolahan.
Pembuangan limbah perusahaan di olah dengan melakukan
penyaringan zat-zat berbahaya dengn alat penyaring yang berada di ruang
penyaringan limbah di sebelah ruangan sektor A5 (di belakang pabrik) dan
sisanya di buang disungai besar yang ada di kota kudus.

3. PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL


Di perusahaan PT. KRETEK terdapat sebuah klinik kesehatan yang
disediakan untuk seluruh pekerja dan pegawai diperusahaan ini. Sumber daya
yang ada di klinik ini adalah terdapat 1 orang dokter umum, 2 perawat dan 3
petugas nonmedis, fasilitas alat yang dimiliki klinik ini terdiri dari 2 kamar
tidur, obat-obatan yang cukup lengkap dan memiliki 1 ambulance. Sistem
rujukan di perusahaan ini bekerja sama dengan RSUD kabupaten kudus.
Selain itu di perusahaan ini memiliki 1 kantin yang berisi barang-barang
keperluan sehari-hari para pekerja dan pegawai lokasi mini market ini di
bagian depan pabrik disamping klinik.

4. EKONOMI
Rata-rata penghasilan pekerja di ruangan sektor 7 untuk bagian
pelintingan dan pengepakan sekitar 1-1,5 juta rupiah sedangkan untuk bagian
pengawas sekitar 1,5-2 juta rupiah.

18
5. KEAMANAN DAN TRANSPORTASI
Sistem keamanan perusahaan cukup baik dengan adanya satpam di
setiap sektor ruangan dan juga adanya CCTV di tiap ruang produksi. Untuk
penanggulangan kebakaran terdapat alat pemadam kebakaran manual di
setiap ruangan produksi dan perusahaan ini juga memiliki 1 unit mobil
pemadam kebakaran milik perusahaan selain itu perusahaan juga bekerjasama
dengan dinas pemadam kebakaran kota untuk menanggulangi jika terjadi
masalah kebakaran. Penanggualangan polusi dengan dipasang alat blower
untuk ventilasi agar tidak terjadi polusi di dalam pabrik.

6. POLITIK DAN KEAMANAN


Perusahaan rokok PT. KRETEK merupakan perusahaan milik swasta
yang dimiliki oleh Tn. HK.

7. SISTEM KOMUNIKASI
Sarana komunikasi yang digunakan oleh pekerja di ruangan sektor
A5 sebagaian besar menggunakan alat komunikasi telfon genggam (HP)
sebagai alat komunikasi antara pekerj, keluarga dan masyarakatnya.
Sednagkan sistem komunikasi dalam perusahaan menggunakan telfon yang
ada disetiap ruangan sektor dan apabila ada informasi atau pengumuman
dari perusahaan akan disiarkan melalui pengeras suara yang ada di setiap
ruangan di perusahaan ini. Bahasa yang digunakan untuk komunikasi antar
pekerja sehari-hari di ruangan sektor A5 mayoritas dengan menggunakan
bahasa jawa dan sebagaian kecil menggunakan bahasa madura.

8. PENDIDIKAN
Data yang didapat dari HRD perusahaan rokok PT. KRETEK
didapatkan data tingkat pendidikan pekerja di ruangan sektor A5 adalah
sebagai berikut:

Tingkat pendidikan

a. Tamat SD 30 orang
b. Tamat SMP
c. Tamat SMA 45 orang

19 25 orang
Saat dilakukan pengkajian dengan kuisioner tentang pengetahuan
pekerja terhadap pentingnya penggunaan standart keselamatan kerja di
perusahaan rokok terhadap kesehatan pekerja, di dapatkan data:
1. 70 orang (70%) dari pekerja tidak mengetahui
2. 30 orang (30%) dari pekerja mengetahui

9. REKREASI
Berdasarkan data yang didapat dari perusahaan, Hari libur untuk
pegawai dan pekerja diperusahaan ini adalah tiap hari minggu, di setiap hari
jum’at pagi biasanya diadakan senam aerobik bersama oleh perusahaan yang
dilakukan di lapangan olah raga yang ada di belakang perusahaan.
Di akhir tahun biasanya juga diadakan rekreasi bersama yang di
fasilitasi oleh perusahaan yang juga dilakukan secara giliran atau gantian di
tiap ruangan sektor/ bagian produksi dalam perusahaan ini.

20
BAB IV

ANALISA DATA DAN PRIORITAS MASALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI KOMUNITAS PEKERJA DI RUANGAN SEKTOR A5 DI PERUSAHAAN


ROKOK PT. KRETEK DI KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH

A. Analisa Data
Dari hasil pendataan, maka data-data yang ada dianalisa sebagai berikut :
Tabel 4.1 Analisa data kesehatan kerja dengan aplikasi kasus di komunitas pekerja di ruangan sektor a5 di perusahaan rokok PT. “
KRETEK” di Kabupaten Kudus Jawa Tengah pada tanggal 31 Oktober 2016
Sasaran Data Domain Kelas Kode Masalah
Keperawatan

18
Komunitas DO : Domain I : Kelas 2 : 00215 Defisiensi kesehatan
Promosi Menejemen komunitas
1. 68 orang pekerja (68%) dari 100 pekerja di ruangan Kesehatan Kesehatan
sektor A5 menegeluhkan sering batuk-batuk
2. 68 orang (100%) dari 68 orang pekerja yang sering
batuk terpajan langsung dengan bahan produk
(tembakau).
3. 20 orang (29,4%)dari 68 pekerja yang sering batuk
mengalami batuk menahun sekurang-kurangnya
selama 2 tahun.
4. 45 orang (66,1%) dari 68 pekeja yang sering batuk
saat batuk selalu berdahak dan beriak.
5. 5 orang (7,35%) dari 68 pekerja yang sering batuk
positif didiagnosa PPOK
6. 20 orang (29,4%) dari 68 pekerja yang sering batuk
merasa dada berat saat bernafas.
7. Riwayat penyakit pekerja ruangan sektor A5 dalam
satu tahun terakhir; ISPA: 20 orang/ kasus (20%),
PPOK: 5 orang (5%), batuk 35 orang (35%).
Perilaku kesehatan
DS : Pekerja mengatakan mengeluhkan sering batuk- cenderung beresiko
batuk.

1. Pekerja yang tidak menggunakan masker dan


sarung tangan di ruangan sektor A5 sebanyak 100
orang dari 100 orang pekerja (100%).
2. 25 orang (71,4%) dari 35 orang pekerja dibagian
pengepakan di ruangan sektor A5 tidak mencuci
tangan setelah bekerja.
3. 40 orang (72,7%) dari 55 orang pekerja dibagian

pelintingan di ruangan sektor A5 tidak mencuci

19
B. PENAMPISAN MASALAH
Dari hasil analisa data, dilaporkan data yang kemudian dilakukan penapisan masalah untuk menentukan prioritas masalah, adapun
penapisan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.2 Penapisan masalah asuhan keperawatan komunitas di komunitas pekerja di ruangan sektor A5 di perusahaan rokok PT.
Kretek di Kabupaten Kudus Jawa Tengah

Diagnosa keperawatan Pentingnya Perubahan positif untuk Penyelesaian untuk Total Score
penyelesaian masalah penyelesaian di komunitas peningkatan kualitas hidup
1 : rendah 0 : tidak ada 0 : tidak ada
2 : sedang 1 : rendah 1 : rendah
3 : tinggi 2 : sedang 2 : sedang
3 : tinggi 3 : tinggi

Defisiensi kesehatan 3 3 3 9
komunitas (00215)

Perilaku kesehatan 3 3 2 8
cenderung beresiko (00188)

Ketidak efektifan
pemeliharaan kesehatan 2 2 7
(00099)

20
3

C. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


Berdasarkan scoring di atas, maka prioritas diagnosa keperawatan komunitas pada pekerja perusahaan rokok di ruangan
sektor A5 PT KRETEK adalah sebagai berikut:

No. Diagnosa Keperawatan Score

1. Defisiensi kesehatan komunitas (00215) 9

2. Perilaku kesehatan cenderung beresiko (00188) 8

3. Ketidak efektifan pemeliharaan kesehatan (00099) 7

21
BAB VI

RENCANA DAN STRATEGI POKJAKES KOMUNITAS PEKERJA

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI KOMUNITAS PEKERJA DI RUANGAN SEKTOR A5 DI PERUSAHAAN


ROKOK PT. KRETEK DI KABUPATEN KUDUS JAWA TENGAH

A. Intervensi Keperawatan untuk Komunitas Pekerja


Dari hasil analisa data yang telah dilakukan, maka didapatkan diagnosa keperawatan komunitas sesuai prioritas dan disusunlah kriteria
intervensi dan hasil pada asuhan keperawatan kelompok/komunitas menggunakan pendekatan prevensi primer, sekunder, dan tersier.
Adapun perencanaan yang akan kami laksanakan adalah sebagai berikut.
Tabel 6.1 Intervensi kperawatan asuhan keperawatan komunitas di Komunitas Pekerja di Ruangan Sektor A5 di Perusahaan Rokok PT.
Kretek di Kabupaten Kudus Jawa Tengah
DATA DIAGNOSA TUJUAN NOC NIC
(NANDA/INCP)

22
Kasus agregat komunitas Domain 1 : Tujuan : Prevensi Primer : Prevensi Primer :
pekerja :
Promosi Meningkatnya
1. 68 orang pekerja (68%) Kesehatan kesadaran
dari 100 pekerja di komunitas Domain VII; Kesehatan Domain 7: Komunitas
ruangan sektor A5 1. Defisiensi pekerja untuk Komunitas.
menegeluhkan sering kesehatan mengatasi Kelas D; Manajemen Risiko
batuk-batuk dengan komunitas masalah Kelas BB; Kesejahteraan Komunitas
perincian: (00215) kesehatan komunitas  6484:Manajemen lingkungan:
2. 68 orang (100%) dari 2. Perilaku yang  2701:Status Kesehatan komunitas
68 orang pekerja yang kesehatan dihadapi. Komunitas.  6489:Manajemen lingkungan:
sering batuk terpajan cenderung  2700:Kompetensi Komunitas. keselamatan pekerja.
langsung dengan bahan beresiko  2704:Ketahanan Komunitas  6520:Skrining kesehatan
produk (tembakau). (00188)  6610:Identifikasi resiko.
3. 20 orang (29,4%)dari 3. Ketidak Kelas CC; Perlindungan
68 pekerja yang sering efektifan kesehatan komunitas Domain 7; Komunitas
batuk mengalami batuk pemeliharaan  2807:Keefektifan skrining
menahun sekurang- kesehatan kesehatan komunitas Kelas C; Peningkatan
kurangnya selama 2 (00099)  2808:Keefektifan program kesehatan komunitas
tahun. komunitas .  8500: Pengembangan kesehatan
4. 45 orang (66,1%) dari  2806: Kesiapan komunitas komunitas.
68 pekeja yang sering terhadap bencana .  7970: Monitor kebijakan
batuk saat batuk selalu kesehatan
berdahak dan beriak.

23
5. 5 orang (7,35%) dari 68 Prevensi Sekunder : Prevensi Sekunder :
pekerja yang sering
batuk positif didiagnosa
PPOK
6. 20 orang (29,4%) dari Kelas T; Kontrol resiko dan Domain 3; Perilaku
68 pekerja yang sering keamanan Kelas O; Terapi perilaku
batuk merasa dada berat Level 3: Intervensi Level 3; Intervensi
saat bernafas.  1902:Kontrol resiko .  4310: Terapi aktifitas
7. Riwayat penyakit  1934:Keamanan dan  4350:Manajemen perilaku
pekerja ruangan sektor kesehatan serta perawatan  4360:Modifikasi perilaku
A5 dalam satu tahun lingkungan .
terakhir; ISPA: 20 Domain 4; Keamanan
orang/ kasus (20%), Domain V; Kesehatan yang Kelas V; Manajemen resiko
PPOK: 5 orang (5%), dirasakan.  6480: Manajemen lingkungan.
batuk 35 orang (35%).  6486: Manajemen lingkungan;
8. Pekerja yang tidak Kelas U; Kesehatan dan keamanan .
menggunakan masker Kualitas Hidup  6650: Surveilance .
dan sarung tangan di Level 3: Intervensi
ruangan sektor A5  2008:Status kenyamanan . Domain 6; Sistem kesehatan
sebanyak 100 orang  2009:Status kenyamanan; Kelas Y; Mediasi terhadap sistem
dari 100 orang pekerja lingkungan .
(100%).  2006:Status kesehatan kesehatan
9. 70 orang (70%) dari individu .  7320:Manajemen kasus
100 pekerja diruangan  2000:Kualitas hidup  7400:Panduan sistem
sektor A5 tidak  2005:Status kesehatan peserta kesehatan .
mengetahui pentingnya didik
K3 bagi kesehatan dan Kelas A; Manajemen sistem
keselamatan mereka Kelas EE; Kepuasan terhadap kesehatan
10. Hanya 30 orang (30%) perawatan  7620:Pengontrolan berkala .
dari 100 pekerja  3014:Kepuasan klien .  7726:Preceptor; peserta didik.
diruangan sektor A5  3015:Kepuasan manajemen

24
13. 40 orang(72,7%) dari Prevensi Tersier : Prevensi Tersier :
55 orang pekerja
dibagian pelintingan di
ruangan sektor A5 tidak
mencuci tangan setelah Domain VI; Kesehatan Domain 5; Keluarga
bekerja. keluarga Kelas X; Perawatan siklus
14. 15 orang (27,3%)dari Kelas Z; Kualitas hidup kehidupan.
55 orang pekerja keluarga  7040: Dukungan terhadap
dibagian pelintingan di Level 3: Intervensi caregiver.
ruangan sektor A5  2605:Partisipasi tim  7140: Dukungan keluarga.
mencuci tangan tapi kesehatan dalam keluarga .
dengan prosedur yang
kurang benar
15. 55 orang dari 55 orang
(100%) jumlah pekerja
dibagian pelintingan
rokok di ruangan sektor
A5 mengeluhkan sering
merasa pegal di daerah
leher dan punggungnya.
a. 30 orang (54,5%)
dari 55 orang
pekerja dibagian
pelintingan rokok
di ruangan sektor
A5 duduk dengan
posisi duduk yang
salah/ terlalu
membungkuk.
b. 25 orang (43,5%)
dari 55 orang

25
26
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesehatan kerja merupakan bidang khusus ilmu kesehatan yang di
tujukan kepada masyarakat pekerja dan sekitar perusahaan agar memperoleh
derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial.
Kegunaannya untuk mencapai derajat keaehatan dan kesejahteraan tenaga kerja
serta meningkatkan produksi yang berlandeaskan pada meningkatkan efisiensi
dan daya produktivitas faktor manusia dalam produksi. Tugas keperawatan yang
dapat dilakukan oleh perawat industri meliputi kesehatan lingkungan kerja,
kesehatan pekerjadan keselamatan kerja.

B. SARAN
1. Bagi Pekerja
Mereka akan lebih memahami dan mau berperilaku sehat dan baik di
dalam tempat kerja maupun diluar tempat kerja. Kepuasan kerja akan
meningkat ketika mereka menyadari bahwa perusahaan peduli dengan
kesehatan mereka. Pada akhirnya pekerja sehat tentu akan lebih optimal
dalam produktivitas kerja.
2. Bagi Perusahaan
Perusahaan yang menyelenggarakan program PKDTK (Promosi
Kesehatan Dalam Tempat Kerja) tentu lebih memperlihatkan kepada
karyawannya bahwa mereka peduli terhadap kesehatan pekerja. Hal ini
dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Pekerja yang puas dengan
iklim kerja mereka tentu akan lebih loyal kepada perusahaan. Dengan
demikian,angka turn over pekerja akan semakin rendah. Akibatnya biaya
untuk proses rekruitmen dan pelatihan karyawan baru,akan berkurang.
Pekerja sehat tentu akan lebih produktif yang akan meningkatkan
produktivitas perusahaan pada akhirnya. Selain itu pekerja sehat juga akan
mengurangi biaya kompensasi perusahaan untuk mengobati karyawan yang
sakit. Lebih jauh lagi,perusahaan juga dapat memperoleh citra positif baik
dari masyarakat,pemerintah maupun para mitra pebisnis mereka.

29
DAFTAR PUSTAKA

http//www.academia.edu/62111163/askep_komunitas_kesehatan_kerja.
Diakses pada 30 September 2016 jam 17.30

30
Mubarok,Wahit Iqbal,dkk. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas. Jakarta :
Salemba Medika

Soeripto. 2008. Hiegiene Industri. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia

Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga : aplikasi dalam praktik.


Jakarta : EGC

UNIMED-NonDegree-22832-babII_fero_2.pdf-Adobe Reader. Diakses pada


tanggal 30 September 2016 jam 17.00

31