Anda di halaman 1dari 27

PT PLN (PERSERO)

KESEPAKATAN BERSAMA
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH
PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

Pengelolaan Sistem Proteksi


Trafo – Penyulang 20 kV

2016

PT. PLN (Persero) TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH


PT. PLN (Persero) DISTRIBUSI JAWA TENGAH & DIY

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV i


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

KESEPAKATAN BERSAMA

PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI


TRAFO – PENYULANG 20 kV

PT. PLN (Persero) TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

DENGAN

PT. PLN (Persero) DISTRIBUSI JAWA TENGAH & DIY

(2016)

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV ii


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

DAFTAR ISI

Kesepakatan Bersama Disjabar i


Kesepakatan Bersama Disjateng & DIY ii
Daftar Isi iii
Bab I Pendahuluan 1
Bab II Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 3
2.1 Penetapan atau Perencanaan Koordinasi Sistem Proteksi 3
2.2 Investigasi Penyebab Gangguan Trafo Trip 4
2.3 Pemulihan Pasca Gangguan 5
2.4 Pengembangan Pola Pengaman Trafo-Penyulang 5
2.5 Pengelolaan UFR Untuk Pelepasan Beban Penyulang 6
2.6 Penyetelan Ulang (Resetting) Sistem Proteksi 6
2.7 Pemeliharaan Sistem Proteksi 7
Bab III Faktor Teknis Yang Diperhatikan Dalam Koordinasi 8
3.1 Pola Operasi dan Konfigurasi Sistem 9
3.2 Kemampuan Trafo Terhadap Beban Lebih (Overload) 9
3.3 Ketahanan Trafo Terhadap Gangguan Hubung Singkat 9
3.4 Trafo Arus (CT) Untuk Relai Proteksi 10
3.5 Statistik Gangguan 11
3.6 Penutup Balik Otomatis (Recloser) 11
3.7 Pentanahan Sistem dan Konfigurasi Belitan Trafo 12
3.8 Kondisi Spesifik Yang Berpotensi Menyebabkan PMT Trip 12
3.9 Pengaman Yang Berlapis dan Sumber DC 13
3.10 Waktu Pemisahan Gangguan 15
3.11 Penggunaan Pola Pengaman Non Kaskade 15

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV iii


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

KESEPAKATAN BERSAMA
DALAM PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO - PENYULANG 20 KV

BAB I
PENDAHULUAN

Sehubungan dengan perubahan Organisasi PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat


Pengatur Beban Jawa Bali menjadi PT PLN (Persero) Transmisi Jawa Bagian Barat,
Tengah,Timur dan P2B serta Pengelolaan pemeliharaan asset 20 kV dari PT PLN (Persero)
Distribusi kepada PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali sesuai
Surat Direktur Operasi No. 293/455/DITUSAHA/1996/K Tanggal 09 Juli 1996 perihal
Pelimpahan Pengelolaan Operasi dan Batas Kepemilikan Aset dan Surat dari Direktur
Operasi Jawa Bali No. 04149/104/DITOPJB/2011 tanggal 30 Desember 2011 perihal
Pemeliharaan Kubikel 20 kV GI, maka diperlukan kesepakatan bersama dalam pengelolaan
sistem proteksi trafo - penyulang 20 kV agar :

 Batas wewenang dan tanggung jawab menjadi jelas, serta


 Kemungkinan terjadi kesalahan dalam koordinasi sistem proteksi dapat diperkecil.

Setelah serah terima asset, maka batas pengelolaan sistem proteksi seperti Gambar I.1,
diatur sebagai berikut :
150/20 kV

NGR

ASET MILIK Incomming


PT PLN (Persero) TRANS-JBT
Feeder
ASET MILIK
PT PLN (Persero) Distribusi

PENYULANG 20 kV
Gambar - I.1
BATAS PEMILIKAN ASSET INSTALASI 20 kV

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 1


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

PLN Trans-JBT :
1. Sistem proteksi trafo berikut sistem catu daya dan wiringnya yang meliputi :
 Pengaman utama terhadap gangguan internal trafo tidak perlu dikoordinasikan
dengan sisi hilir, sehingga tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan ini.
 Pengaman terhadap gangguan external trafo (OCR/GFR dan SBEF) harus
dikoordinasikan dengan sistem pengaman penyulang 20 kV.

PLN-P2B :
1. UFR yang terpasang di kubikel 20 kV untuk kebutuhan load shedding (koordinasi dengan
P2B)
2. OLS yang terpasang untuk kebutuhan load shedding.

PLN Distribusi :
1. Sistem proteksi penyulang, kopel dan rel 20 kV harus dikoordinasikan dengan sisi hulu
(OCR, DGR/GFR ).
2. Penentuan penempatan lokasi UFR di kubikel 20 kV untuk kebutuhan dan target load
shedding.
3. Sistem proteksi khusus penyulang konsumen tegangan menengah, gardu hubung harus
dikoordinasikan dengan sisi hulu.
4. Penentuan penempatan lokasi UFR untuk konsumen tegangan tinggi.
5. Pemasangan UFR untuk kepentingan manajemen beban.

LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan yang diatur dalam kesepakatan bersama ini meliputi kegiatan yang
diuraikan sebagai berikut :

1. PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO-PENYULANG 20 KV.


Bab II memberikan penjelasan tentang penyelesaian masalah sistem proteksi oleh kedua
belah pihak dan kewajiban masing-masing pihak dalam pengelolaan sistem proteksi.

2. FAKTOR TEKNIS YANG DIPERHATIKAN DALAM KOORDINASI PROTEKSI TRAFO-


PENYULANG 20 KV.
Bab III memberikan garis besar tentang karakteristik peralatan primer, kondisi sistem dan
statistik gangguan yang perlu diperhatikan dan diikuti dalam melakukan koordinasi sistem
proteksi.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 2


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

BAB II
PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO – PENYULANG 20 KV

Kepemilikan dan pengelolaan aset 20 kV telah dilimpahkan dari PLN Transmisi Jawa Bagian
Tengah ke PLN Distribusi sesuai Surat Direktur Operasi No. 293/455/DITUSAHA/1996/K
Tanggal 09 Juli 1996 perihal Pelimpahan Pengelolaan Operasi dan Batas Kepemilikan
Aset namun pemeliharaan penyulang 20 kV dilaksanakan PLN Transmisi Jawa Bagian
Tengah sesuai dengan Surat dari Direktur Operasi Jawa Bali No.
04149/104/DITOPJB/2011 tanggal 30 Desember 2011 perihal Pemeliharaan Kubikel 20
kV GI, Agar diperoleh kejelasan tentang batas kewajiban dan tanggung jawab dalam
mengelola sistem proteksi trafo – penyulang 20 kV, maka disusun aturan pelaksanaan yang
meliputi kegiatan sebagai berikut :

 Penetapan setelan/ koordinasi sistem proteksi,


 Investigasi penyebab gangguan,
 Proses pemulihan pasca gangguan,
 Pengembangan sistem proteksi,
 Pengelolaan relai frekuensi rendah (UFR) untuk pelepasan beban penyulang (P2B),
 Penyetelan ulang (resetting) sistem proteksi,
 Pemeliharaan sistem proteksi.

2.1 PENETAPAN ATAU PERENCANAAN KOORDINASI SISTEM PROTEKSI


Pelaksanaan koordinasi sistem proteksi pada masing-masing instalasi di trafo dan penyulang
berpedoman pada pengoperasian sistem 20 kV radial, yang dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Setelan relai untuk OCR, GFR/DGR, SBEF (50/51/51G/67G) dan recloser, ditetapkan
oleh masing-masing pihak dengan mengikuti batasan-batasan teknis dengan tetap
memperhatikan kualitas pelayanan, seperti yang ditetapkan pada BAB III atau,
2. Setelan relai didiskusikan kembali bila ada kasus khusus yang belum diatur pada Bab
III.
Kewajiban masing-masing pihak dalam menetapkan koordinasi sistem proteksi trafo –
penyulang 20 kV sebagai berikut :

PLN Trans-JBT :
 Menyediakan data hubung singkat di rel tegangan tinggi (150 dan 70 kV) yang akan
dipakai PLN Distribusi sebagai dasar dalam menetapkan setelan rele OCR/GFR (50/51)
penyulang 20 kV.
 Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele SBEF di NGR dan OCR (51S) di
incoming sisi sekunder trafo.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 3


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

 Menginformasikan kepada PLN Distribusi setelan rele tersebut di atas berikut data trafo
arusnya.
 Bila ada perubahan setelan rele disisi pengaman trafo, maka prosedur yang diikuti adalah
sesuai penjelasan pada butir 2.5.
PLN Distribusi :

 Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele OCR dan DGR/GFR (50/51/51G/67G) di


sisi penyulang 20 kV.
 Menginformasikan kepada PLN Transmisi Jawa Bagian Tengah setelan rele penyulang
tersebut berikut data transformator instrument untuk relai proteksi.
 Bila ada perubahan setelan rele disisi penyulang, maka prosedur yang diikuti adalah
sesuai penjelasan pada butir 2.5.

2.2 INVESTIGASI PENYEBAB GANGGUAN TRAFO TRIP.

Untuk menyelesaikan masalah sistem proteksi yang menyebabkan PMT trafo trip, akan
dilakukan oleh Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN (Persero)
Transmisi Jawa Bagian Tengah dan PT PLN (Persero) Distribusi. Dengan cara ini
masing-masing pihak akan mendapatkan informasi yang sama dan aktual, untuk selanjutnya
akan diperoleh penyelesaian yang optimal, baik untuk jangka panjang maupun jangka
pendek.

2.2.1 Sumber data investigasi gangguan


Untuk keperluan investigasi, data gangguan yang berlaku adalah data yang bersumber dari :

Hirarki – 1 :  DFR atau (digital fault recorder)


 SCADA di APD DISTRIBUSI atau RCC P3B JB
 Rekaman gangguan berupa osilografi rele atau besaran yang
diukur rele

Hirarki – 2 :  Indikasi rele yang bekerja

Hirarki – 3 :  Laporan Operator

Hirarki tersebut di atas menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap data.

2.2.2 Kewajiban masing-masing pihak

Kewajiban masing-masing pihak dalam melaksanakan investigasi gangguan adalah sebagai


berikut :
PLN Trans-JBT :

 Menyediakan data sesuai butir 2.2.1, yang tersedia disisi incoming 20 kV.
 Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN (Persero) Trans-JBT dan
PT PLN (Persero) Distribusi melakukan investigasi bersama.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 4


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

PLN Distribusi :
 Menyediakan data sesuai butir 2.2.1, yang tersedia disisi penyulang dan rel 20 kV.
 Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN (Persero) Trans-JBT dan
PT PLN (Persero) Distribusi melakukan investigasi bersama.
Laporan hasil investigasi dibuat oleh Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT
PLN (Persero) Trans JBT dan PT PLN (Persero) Distribusi.

2.2.3 Penerapan/ Implementasi Hasil Investigasi


Penerapan hasil investigasi bersama pada masing-masing instalasi, baik berupa setelan relai
atau pekerjaan lainnya seperti perbaikan, penyempurnaan dan pengembangan sistem
proteksi, menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik aset dan pelaksanaannya
dilaporkan kepada Manajemen kedua belah pihak.

2.3 PEMULIHAN PASCA GANGGUAN

Sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi dampak Through-Fault Current, maka apabila
terjadi gangguan dengan indikasi moment perlu dilakukan investigasi dan atau pernyataan
dari pejabat yang berwenang atau yang diberi wewenang bahwa sumber gangguan telah
ditemukan dan jaringan telah aman untuk dinormalkan.

2.4 PENGEMBANGAN POLA PENGAMAN TRAFO – PENYULANG


Kaidah dasar dalam koordinasi penyetelan relai arus lebih (pola kaskade), adalah dengan
menyetel relai disisi hilir lebih cepat dari sisi hulu dengan beda waktu minimal 0.3-0.4
detik.
Kaidah dasar penyetelan batas arus lebih adalah sebesar 1.2 kali kemampuan peralatan
terendah. Setelan tersebut harus dipastikan masih dapat bekerja dengan baik.

Bila kaidah dasar pada pola kaskade tersebut tidak dapat memberikan pengamanan
yang optimum pada trafo dan penyulang, maka perlu diterapkan Pola Non Kaskade
sesuai dengan kesepakatan bersama.

Bila dijumpai kondisi seperti tersebut di atas maka masing-masing pihak berkewajiban
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Kewajiban PLN Trans-JBT :
 PLN TRANS-JBT APP memberitahukan kepada PLN APD DISTRIBUSI.
 Memberi saran alternatif penyelesaiannya.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 5


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

Kewajiban PLN Distribusi :


 PLN APD DISTRIBUSI mempelajari dan mengupayakan alternatif penyelesaian
masalah tersebut.

2.5 PENGELOLAAN UFR UNTUK PELEPASAN BEBAN PENYULANG


Rele UFR untuk keperluan pelepasan beban yang ada saat ini sebagian terpasang pada
kubikel incoming 20 kV milik PLN (Persero) P2B dan sebagian lagi terpasang pada kubikel
20 kV lainnya milik PLN Distribusi, diperlukan kejelasan dalam pengelolaan UFR yang diatur
sebagai berikut :

Kewajiban PLN P2B :


 Menentukan nilai setting UFR dan alokasi pelepasan beban pada setiap tahapan
frekuensi.
 Menerapkan setting yang telah ditetapkan pada UFR yang terpasang di kubikel 20 kV.
 Menyampaikan perubahan setelan dan hasil uji
Kewajiban PLN Distribusi :
 Menentukan lokasi kubikel yang masuk dalam program pelepasan beban.
 Memberikan laporan secara real time perihal unjuk kerja UFR.
 Memberikan informasi kepada PLN Trans JBT apabila ada perubahan beban yang
menjadi target pelepasan.

2.6 PENYETELAN ULANG (RESETTING) SISTEM PROTEKSI


Setiap melakukan perubahan setelan relai (OCR, DGR/GFR dan autoreclose), terlebih dahulu
harus diketahui dan disetujui oleh kedua belah pihak secara tertulis.
Setelah dilakukan perubahan setelan, relai harus diuji pada nilai setelan yang baru (sesuai
dengan keputusan Direksi No. 075.K/016/DIR/1996, tanggal 9 Agustus 1996), dimana
pelaksanaannya dilakukan oleh pemilik aset dan hasil pengujian disampaikan ke masing-
masing unit terkait.

Kewajiban PLN Trans-JBT :


 Menentukan dan menerapkan nilai setting yang baru dari pengaman trafo sesuai
kaidah.

 APP terkait menyampaikan hasil penerapan perubahan setting kepada PLN APD
Distribusi.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 6


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

Kewajiban PLN Distribusi :

 Menentukan dan menerapkan nilai setting yang baru dari penyulang sesuai kaidah.

 APD DISTRIBUSI menyampaikan penerapan perubahan setting kepada PLN Trans-


JBT APP terkait.

2.7 PEMELIHARAAN SISTEM PROTEKSI


Pemeliharaan peralatan dan sistem proteksi dilakukan dengan mengikuti petunjuk sesuai
Surat Keputusan Direksi No. 075.K/016/DIR/1996, tanggal 09 Agustus 1996 tentang
Pedoman Petunjuk Pemeliharaan Proteksi, Surat dari Direktur Operasi Jawa Bali
No.04149/104/DITOPJB/2011 tanggal 30 Desemberli 2011 perihal Penyampaian Nota
Kesepakatan, dan pelaksanaannya menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik aset.

Kewajiban PLN Trans-JBT :

 Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi yang terpasang


pada kubikel 20 kV incoming.

Kewajiban PLN Distribusi :

 Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi yang terpasang


di semua kubikel 20 kV

 Menyiapkan hal-hal yang terkait dengan proses pemeliharaan kubikel 20 kV.

 Menjamin ketersediaan sparepart yang dibutuhkan apabila terjadi kerusakan.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 7


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

BAB III
FAKTOR TEKNIS YANG DIPERHATIKAN DALAM KOORDINASI
PENGAMAN TRAFO - PENYULANG

Kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam melakukan koordinasi proteksi sistem adalah
terjaminnya kontinuitas penyaluran tenaga listrik yang diukur dengan indeks sering dan
lamanya padam.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah dan lama padam pada penyediaan tenaga
listrik, antara lain :
a. jumlah gangguan pada peralatan primer,
b. kondisi sistem/ jaringan dan
c. kinerja sistem proteksi.
Agar sistem proteksi dapat bekerja sesuai dengan fungsinya, maka dalam melakukan
koordinasi sistem pengaman harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

 Keamanan peralatan,
 Keamanan sistem,
 Kebutuhan konsumen.

Perhatian terhadap keamanan peralatan dan sistem serta kebutuhan konsumen harus
diberikan secara proporsional, agar secara sistem akan diperoleh indeks sering dan lama
padam yang optimum. Pengamanan yang berlebih terhadap peralatan dan sistem dapat
menyebabkan tingginya jumlah padam, sedangkan perhatian yang berlebih terhadap
kebutuhan konsumen dapat membahayakan peralatan dan sistem .
Lamanya waktu pemulihan setelah terjadi gangguan sangat tergantung pada tingkat
kerusakan peralatan atau luas padam yang ditimbulkan. Sebagai contoh bahwa kerusakan
permanen pada trafo akan menyebabkan pemadaman yang luas dan waktu pemulihan yang
lebih lama serta biaya untuk perbaikan yang lebih tinggi.

Dengan memperhatikan hal tersebut maka dalam mengkoordinasikan sistem pengaman


trafo, keamanan dari trafo tersebut merupakan faktor yang harus lebih diperhatikan

Hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan koordinasi pengaman trafo dan penyulang
antara lain sebagai berikut :

 Pola operasi dan konfigurasi sistem,


 Kemampuan trafo terhadap beban lebih,
 Ketahanan trafo terhadap gangguan hubung singkat eksternal,
 Trafo arus untuk relai proteksi,
 Statistik gangguan,
 Penutup balik otomatis,

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 8


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

 Pentanahan sistem dan konfigurasi belitan trafo,


 Kondisi spesifik yang berpotensi menyebabkan PMT trafo trip,
 Ketahanan kabel terhadap gangguan hubung singkat tanah,
 Pengamanan yang berlapis dan sumber DC,
 Waktu pemisahan gangguan,
 Penggunaan Pola Pengaman Non kaskade.

3.1 POLA OPERASI DAN KONFIGURASI SISTEM


Pola yang dipakai pada pengoperasian sistem 20 kV adalah radial, dimana secara normal
jaringan 20 kV tidak dioperasikan paralel, dengan netral sistem 12 Ohm, dengan panjang
saluran baku sesuai SPLN 59 : 1985, tentang keandalan pada sistem distribusi 20 kV.

3.2 KEMAMPUAN TRAFO TERHADAP BEBAN LEBIH ( OVERLOAD )


Sesuai standar international IEC 354 tahun 1991 diijinkan untuk membebani trafo melebihi
nilai pengenal seperti yang disebutkan pada papan nama (name plate). Namun disadari
bahwa pembebanan lebih tersebut akan mengurangi umur trafo dan pengurangan umur
tersebut tidak dapat ditetapkan secara akurat hanya dengan mengandalkan data operasi
rutin.
Memperhatikan suhu sekitar rata-rata (ambient temperature) yang lebih tinggi dari nilai
standard serta faktor umur, maka kemampuan trafo menjadi lebih rendah dari nilai pengenal
pada name plate.
Meskipun pembebanan lebih terhadap trafo tenaga menurut IEC dijikan namun hendaknya
hal tersebut sajauh mungkin dihindari dan bila terpaksa dilkukan harus dengan persetujuan
pemilik instalasi (PLN Trans-JBT).

3.3 KETAHANAN TRAFO TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT EKSTERNAL


Dalam melakukan koordinasi pengaman trafo, dampak termis dan mekanis sebagai akibat
dari arus gangguan eksternal perlu diperhatikan. Untuk arus gangguan rendah yang
mendekati julad (range) beban-lebih, pengaruh mekanis kurang diperhitungkan, kecuali bila
jumlah gangguan eksternal tersebut cukup tinggi. Pada arus gangguan yang mendekati batas
kemampuan desain trafo, dampak mekanis lebih dominan dibandingkan dengan pengaruh
thermis.
Menurut standar internasional IEC, ketahanan trafo terhadap gangguan hubung singkat
eksternal adalah 2 detik (trafo baru).
Walaupun ketahanan trafo terhadap arus hubung singkat ekternal dalam standar
international ditetapkan 2 detik tetapi mempertimbangkan usia trafo, maka waktu kerja relai
OCR di sisi incoming untuk gangguan di rel 20 kV ditentukan 1 detik (kecuali kondisi tertentu
yang disepakati).

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 9


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

Sampai batas tertentu arus gangguan hubung singkat eksternal akan menyebabkan
penurunan umur sebagai akibat pengaruh thermis. Namun diatas batas tersebut pengaruh
thermis bersamaan dengan pengaruh dinamis akan menyebabkan penurunan umur trafo
secara progresif dan penurunan tersebut akan dipercepat lagi bila jumlah gangguan makin
tinggi.
ANSI/ IEEE C57.109-1985 merekomendasikan bahwa untuk arus gangguan yang besarnya
melebihi atau sama dengan 50% dari gangguan maksimum ( 0.5 In/Xt), maka waktu
pemutusan gangguan harus dipercepat (tidak lagi mengikuti karakteristik termis trafo).

Memperhatikan hal tersebut diatas dan mempertimbangkan dioperasikannya recloser untuk


gangguan fasa-fasa, maka rele high set di penyulang untuk gangguan fasa-fasa harus
diaktifkan. Setelan rele high set penyulang 20 kV maksimum waktu kerja 0,2 detik dengan
arus maksimum adalah:

 Trafo kapasitas 60 MVA maksimum 2,0 kali In trafo


 Trafo kapasitas 50 MVA maksimum 2,2 kali In trafo
 Trafo kapasitas 30 MVA maksimum 2,4 kali In trafo
 Trafo kapasitas 20 MVA maksimum 2,6 kali In trafo
 Trafo kapasitas 16 MVA maksimum 3,0 kali In trafo
 Trafo kapasitas 10 MVA maksimum 3,2 kali In trafo

Sedangkan High Set di sisi Incoming diseting pada arus 4 kali Arus Nominal Trafo dengan
waktu kerja 0,4 detik. Contoh Typical setting dapat dilihat pada lampiran 1-5

3.4 TRAFO ARUS ( CT ) UNTUK RELAI PROTEKSI

Trafo arus untuk relai proteksi pada penyulang 20 kV menggunakan kelas P (istilah dalam
IEC 185), yang ketelitiannya dijamin baik sampai dengan arus lebih tertentu, sesuai dengan
beban (burden) trafo arus yang tertera pada papan nama (name plate), misalnya 5P10 atau
5P20 dengan beban 10 VA.
Spesifikasi tersebut yang menyatakan 10 atau 20 kali arus nominal CT akan menjadi batas
atas dalam memilih setelan arus untuk relai momen di penyulang.

Bila batas atas tersebut tidak sesuai dengan batas seperti ditetapkan pada butir 3.3 maka
yang dipilih adalah nilai yang terkecil

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 10


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

3.5 STATISTIK GANGGUAN


Dari data statistik diketahui bahwa penyebab trip dan kerusakan trafo yang paling dominan
adalah akibat dari arus gangguan external yang terjadi pada penyulang. Semakin tinggi
jumlah gangguan external maka semakin besar peluang terjadinya kerusakan trafo.
Kondisi tersebut merupakan kendala yang penyelesaiannya memerlukan koordinasi antara
PLN TRANS -BT dengan PLN APD DISTRIBUSI.
Untuk mengurangi kerusakan trafo oleh kondisi tersebut tidak dapat hanya mengandalkan
pada system proteksi. Untuk mengurangi kerusakan trafo sebagai akibat dari tingginya
jumlah gangguan external, cara yang paling efektif adalah dengan menurunkan jumlah
gangguan jumlah gangguan jaringan yang dipasok oleh trafo tersebut.
Pada saat terjadi gangguan di jaringan 20 kV yang mengerjakan indikasi moment, maka PLN
DISTRIBUSI harus melakukan pemeriksaan sebelum proses penormalan.

3.6 PENUTUP BALIK OTOMATIS ( RECLOSER )

Penggunaan recloser pada SUTM merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan
keandalan pasokan daya disistem 20 kV khususnya untuk menurunkan jumlah dan lama
padam saat terjadi gangguan temporer yang umumnya berupa gangguan tanah.
Disisi lain bekerjanya recloser dirasakan oleh trafo sebagai meningkatnya jumlah gangguan
external yang membahayakan trafo khususnya bila recloser beroperasi pada gangguan fasa-
fasa maupun gangguan permanen yang terletak didekat rel 20 kV pada system dengan
pentanahan langsung (solid).
Dengan uraian diatas maka dalam mengaktifkan recloser perlu memperhatikan faktor-faktor
sebagai berikut :

3.6.1 Pengoperasian Autoreclose/recloser


 Autoreclose/Recloser dioperasikan hanya untuk gangguan tanah.
 Autoreclose/Recloser hanya dioperasikan pada penyulang SUTM.
 Autoreclose/Recloser dapat dioperasikan untuk gangguan fasa-fasa dengan syarat
setelan rele moment di penyulang mengikuti kaidah yang diatur dalam butir 3.3.
 Autoreclose/Recloser tidak aktif jika rele moment bekerja.
 Reclaime time untuk recloser di gardu induk disetel ≥3 menit
3.6.2 Angka keluar SUTM
 Autoreclose/Recloser di GI dioperasikan bila angka keluar penyulang SUTM tidak
melebihi 0.59 kali/km/tahun dengan panjang saluran baku sesuai SPLN atau tidak
melebihi 32 km (hasil studi PT PLN (Persero) JTK, No. RDLMK 95-45 tanggal 11
September 1995). Jika panjang saluran melebihi panjang baku (32 km), maka
diperlukan tambahan recloser pada SUTM tersebut.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 11


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

3.7 PENTANAHAN SISTEM DAN KONFIGURASI BELITAN TRAFO (KHUSUS UNTUK


DKI JAYA & TANGERANG, JAWA BARAT, JAWA TIMUR DAN BALI)

Pola pengaman gangguan tanah disesuaikan dengan pola pentanahan netral system. Dengan
adanya Netral Grounding Resistor (NGR) maka dalam mengamankan sistem selain
memperhatikan keamanan trafo juga perlu memperhatikan keamanan NGR itu sendiri.

Karakteri rele SBEF di sisi Incoming dipilih Long Time Inverse (LTI) dengan criteria :
 Typical arus seting
- 0,1-0,2 kali Arus Nominal NGR (12 ohm),
- 0,3-0,4 kali Arus Nominal NGR (40 ohm),
- 0,4 kali Arus Nominal NGR (500 ohm).
 Waktu kerja pada Arus Nominal NGR sebesar
- ≤ 50% batas kemampuan thermos NGR (12, 40 ohm).
- 30% batas kemampuan thermis NGR (500 ohm).
 Untuk trip sisi Primer diperlambat 3 detik dari setting diatas.

3.8 KONDISI SPESIFIK YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN PMT TRAFO TRIP


3.8.1 Yang disebabkan oleh kegagalan sistem pengaman

Dari pengalaman operasi, penyebab tripnya PMT trafo pada saat terjadi gangguan di
penyulang, disamping koordinasi sistem proteksi yang tidak tepat, dapat juga disebabkan
oleh hal-hal sebagai berikut :

 Kelambatan pembukaan PMT penyulang,


 Kegagalan proteksi penyulang, sebagai akibat dari : a/. trafo arus jenuh, b/. relai
pengaman rusak, c/. suplai DC terganggu dan d/. sirkit tripping tidak sempurna.
 Pengaman utama trafo salah kerja.

Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun koordinasi system proteksi
sudah dilakukan secara optimal, namun peluang trip PMT trafo pada saat gangguan
penyulang masih tetap ada. Bila kondisi ini ditemukan, maka perlu dilakukan investigasi
bersama sesuai prosedur yang diuraikan butir 2.2.

3.8.2 Yang disebabkan oleh pola operasi tidak sesuai


Seringkali dijumpai bahwa PMT trafo ikut trip oleh kondisi sebagai berikut :
 Gangguan pada penyulang terjadi pada saat penyulang tersebut paralel dengan
penyulang lain.
 Pada sistem 20 kV dengan NGR tahanan Rendah 12 Ohm, trafo trip pada saat
pemisah/ cut out di jaringan terbuka satu fasa.
Pola operasi pada kondisi diatas diharapkan untuk dihindari

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 12


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

3.9 PENGAMAN YANG BERLAPIS DAN SUMBER DC

Pada dasarnya setiap bagian dari sistem harus masuk ke dalam daerah pengamanan sistem
proteksi. Untuk menghindari keadaan dimana ada bagian sistem yang tidak teramankan
karena gagalnya sistem proteksi maka diusahakan agar setiap bagian dari sistem harus
diamankan minimal oleh dua sistem pengaman berlapis (redundance).
Untuk mengurangi kemungkinan kedua sistem pengaman gagal bersama-sama maka agar
diusahakan bagian dari peralatan proteksi yang dipakai bersama-sama oleh kedua sistem
pengaman tersebut seminimal mungkin.
Untuk mendapatkan sistem pengaman yang berlapis, maka disamping mengandalkan pada
pengaman utama diperlukan pengamanan cadangan yang dapat diperoleh dengan cara
sebagai berikut :
 Pengaman cadangan lokal atau,
 Pengaman cadangan - jauh dari sistem proteksi yang berada di gardu induk jauh.

Jika sistem proteksi di gardu induk yang jauh karena alasan operasional tidak dapat
difungsikan sebagai pangaman cadangan-jauh maka perlu dipertimbangkan pemisahan
sumber DC untuk pengaman cadangan trafo dan penyulang 20 kV (lihat gambar L.3.1).
Kriteria dalam menentukan GI-GI yang perlu pemisah sumber DC ditetapkan kemudian
oleh PLN Trans-JBT dan PLN Distribusi.

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 13


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

150 kV

150 kV
d

20
kV a a a

a a a

Keterangan :
a. OCR Penyulang 20 kV.
b. OCR Trafo sisi 20 kV.
c. OCR Trafo sisi Primer.
d. OCR Gardu Induk Jauh

Gambar-L.3.1
Daerah pengaman trafo - penyulang 20 kV

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 14


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

3.10 WAKTU PEMISAHAN GANGGUAN


Tuntutan konsumen terhadap mutu pelayanan semakin meningkat, antara lain yang
menginginkan berkurangnya jumlah dan lama kedip tegangan yang diakibatkan gangguan
pada sistem. Gangguan kedip tegangan dirasakan oleh konsumen dan seringkali
mengakibatkan motor-motor di konsumen trip. Lama kedip tegangan dipengaruhi langsung
oleh fault clearing time dari sistem.

Mengingat tuntutan pelayan yang semakin meningkat, maka perlu diupayakan agar fault
clearing time dapat lebih singkat, namun tidak boleh mengorbankan selektifitas

3.11 PENGGUNAAN POLA PENGAMAN NON KASKADE

Sebagaimana diuraikan diatas, bahwa pola pengaman yang digunakan saat ini (pola
kaskade) ada kalanya tidak memberikan pengamanan yang optimal terhadap trafo, terutama
dalam selektifitas dan clearing time. Selektifitas baru dapat tercapai bila instantaneous relai
sisi 20 kV trafo (incoming) dinon-aktifkan. Kondisi ini memberikan peluang kerusakan trafo
oleh gangguan eksternal menjadi relatif besar, karena gangguan pada rel 20 kV di-clearkan
dalam waktu relatif lama (yang umumnya tidak dilengkapi dengan pengaman busbar).
Perkembangan teknologi (baru) relai dapat memberikan solusi terhadap masalah diatas. Pola
yang digunakan dengan teknologi baru tersebut disebut pola non kaskade. Pada pola non
kaskade, relai-relai disisi penyulang 20 kV dapat dikomunikasikan dengan relai disisi hulunya
(incoming), dimana meskipun momen relai-relai dikedua sisi trafo diaktifkan, namun masih
tetap diperoleh selektifitas yang baik (Gambar-L.3.2 dan Gambar –L3.3).

Jika pola kaskade tidak dapat lagi memberikan solusi untuk memenuhi tuntutan konsumen
dan tuntutan kemanan trafo, maka atas kesepakan bersama penggunaan pola non-kaskade
perlu diterapkan

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 15


PT PLN (PERSERO) PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

Gambar-L.3.2.
Skema Pola Non Kaskade

Tripping Logic Pola non Kaskade

t>
OCR I >>
Incoming tCBFPy
& OR

t >> Trip
& Incoming

OCR
Penyulang
t> OR

t >>
Trip
Penyulang

Gambar-L.3.3. Triping Logic Pola Non Kaskade

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV 16


18
PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

POLA KOORDINASI PROTEKSI TRAFO DISTRIBUSI WILAYAH


JAWA TENGAH TAHUN 2012
SOLID
1. GFR Trafo sisi 150 kV
REL 150 kV (tanpa belitan delta/Yy Tipe)
POLA KASKADE
JJenis Relai : OCR non-Directional
1. OCR Sisi 150 kV Karakteristik : Standard Inverse IEC
Jenis Relai : OCR non-Directional Is : 0.4 x In trafo
Is : 1.2 x In Trafo ts : (0.3-0.5)x t incoming
ts : 1.5 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) TRAFO (Ihs 1p bus 20kV) (SI)
Im : (1.2-1.3) x (In trafo x (1/Z(p.u) DISTRIBUSI Im : blok
Tm : Instantaneous
1. GFR Trafo sisi 150 kV
(tanpa belitan delta/Yy Tipe)
Jenis Relai : OCR non-Directional
2. OCR Sisi 20 kV
LAMPIRAN 2

Karakteristik : Standard Inverse IEC


Jenis Relai : OCR non-Directional Is : 0.5 x In trafo

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV


Is : 1.2 x In Trafo ts : 1.5 dtk (Ihs 1p bus 20kV) (SI)
ts : 1 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) Im : blok
(0.7 dtk untuk Trafo Unindo)
I high seT-1: 4 x In trafo
T high se-1 : 0.7 dtk (Definite) 3. GFR Trafo sisi 20 kV
I high seT-2: 6 x In trafo
T high se-2 : 0.4 dtk (Definite)
REL 20 kV Jenis Relai : GFR non-Directional
Is : 0.4 x In Trafo
ts : 1 det (Ihs 1p di bus 20kV) (SI)
3. Penyulang 20 kV I high seT-1 : 3 x In Trafo
Jenis Relai : OCR non-Directional t high set-1 : 0.7 s (Definite)
Is : 1.2 x In CCC atau In CT I high seT-2 : 4,5 x In Trafo
ts : 0.6 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) t high set-2 : 0.4 s (Definite)
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

Im : 2.0 x In Trafo (60 MVA)


2.2 x In Trafo (50 MVA) Penyulang
2.4 x In Trafo (30 MVA) 20 kV 4. GFR Penyulang
PT PLN (PERSERO)

3.0 x In Trafo (16 MVA) Jenis Relai : GFR Non-Directional


3,2 x In Trafo (10 MVA) Is : 0.5 x (1.2 xIn CCC atau In CT)
tm : 0,3 s (Definite) ts : 0.5 det (Ihs 1p di bus 20 kV) (SI)
Im : 1.5 x In Trafo (60 MVA)
1.65 x In Trafo (50 MVA)
1.8 x In Trafo (30 MVA)
1.95 x In Trafo (20 MVA)
2,25 x In Trafo (16 MVA)
2.4 x In Trafo (10 MVA)
tm : 0.3 s (Definite)
Update : Agustus 24, 2012
20
PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI

POLA KOORDINASI PROTEKSI TRAFO DISTRIBUSI WILAYAH


JAWA TENGAH TAHUN 2016
SOLID
1. GFR Trafo sisi 150 kV
POLA KASKADE & NON REL 150 kV (tanpa belitan delta/Yy Tipe)
KASKADE
JJenis Relai : OCR non-Directional
1. OCR Sisi 150 kV Karakteristik : Standard Inverse IEC
Jenis Relai : OCR non-Directional Is : 0.4 x In trafo
Is : 1.2 x In Trafo ts : (0.3-0.5)x t incoming
ts : 1.5 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) TRAFO (Ihs 1p bus 20kV) (SI)
Im : (1.2-1.3) x (In trafo x (1/Z(p.u) DISTRIBUSI Im : blok
Tm : Instantaneous
1. GFR Trafo sisi 150 kV
(tanpa belitan delta/Yy Tipe)
Jenis Relai : OCR non-Directional
2. OCR Sisi 20 kV
LAMPIRAN 4

Karakteristik : Standard Inverse IEC


Jenis Relai : OCR non-Directional Is : 0.5 x In trafo

Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV


Is : 1.2 x In Trafo ts : 1.5 dtk (Ihs 1p bus 20kV) (SI)
ts : 1 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) Im : blok
(0.7 dtk untuk Trafo Unindo)
Im1 : 4.0 x In trafo
tm1 : 0.6 dtk (Definite) 3. GFR Trafo sisi 20 kV
Im2 : 5.0 x In trafo
tm2 : 0.4 dtk (Definite)
REL 20 kV Jenis Relai : GFR non-Directional
Is : 0.4 x In Trafo
3. Penyulang 20 kV ts : 1 det (Ihs 1p di bus 20kV) (SI)
Jenis Relai : OCR non-Directional Im1 : 3.0 x In Trafo
Is : 1.2 x In CCC atau In CT tm1 : 0.6 s (Definite)
ts : 0.6 det (Ihs pp di bus 20kV) (SI) Im2 : 4,0 x In Trafo
Im1 : 2.0 x In Trafo (60 MVA) tm2 : 0.4 s (Definite)
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH

2.2 x In Trafo (50 MVA)


2.4 x In Trafo (30 MVA) Penyulang 4. GFR Penyulang
3.0 x In Trafo (16 MVA) 20 kV Jenis Relai : GFR Non-Directional
PT PLN (PERSERO)

3,2 x In Trafo (10 MVA) Is : 0.5 x (1.2 xIn CCC atau In CT)
tm1 : 0,3 s (Definite) ts : 0.5 det (Ihs 1p di bus 20 kV) (SI)
Im2 : 4.8 x In Trafo Im1 : 1.5 x In Trafo (60 MVA)
tm2 : Instantaneous 1.65 x In Trafo (50 MVA)
1.8 x In Trafo (30 MVA)
1.95 x In Trafo (20 MVA)
2,25 x In Trafo (16 MVA)
2.4 x In Trafo (10 MVA)
tm1 : 0.3 s (Definite)
Im2 : 3.3 x In Trafo
tm2 : Instantaneous
Update : Mei 10, 2016