Anda di halaman 1dari 4

STRUKTUR BERPIKIR SISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI

DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF OBJEK DAN SPASIAL

Asep Saepul Hamdani, Lisanul Uswah Sadieda, Kusaeri, dan Fauziyah Wulandari
Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya
Jl. Jend. Ahmad Yani 117 Surabaya, Jawa Timur
E-mail: _________________________

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (a) mendeskripsikan struktur berpikir dalam memecahkan
masalah dimensi tiga pada siswa bergaya kognitif objek, (b) mendeskripsikan struktur berpikir
dalam memecahkan masalah dimensi tiga pada siswa bergaya kognitif spasial. Subjek
penelitian dalam penelitian ini adalah dua siswa yang memiliki gaya kognitif objek dan dua
siswa yang memiliki gaya kognitif spasial. Pemilihan subjek penelitian berdasarkan hasil OSIQ
(Object Spatial Imagery Questionaire) dan kemampuan komunikasi siswa. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian berupa tes tulis yang diselesaikan dengan menggunakan metode
Think aloud dan wawancara berbasis tugas. Tahap pertama, subjek menyelesaikan tes tulis
dengan menggunakan metode think aloud. Tahap kedua, peneliti melakukan wawancara
berbasis tugas terhadap subjek. Berdasarkan hasil think aloud dan wawancara berbasis tugas,
dibuat struktur berpikir masing-masing subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur
berpikir subjek bergaya kognitif objek dimulai dari memahami masalah, memodelkan masalah,
merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah, memeriksa jawaban yang diperoleh,
kemudian kembali ke tahap memahami masalah, dan seterusnya sampai memeriksa kembali
jawaban yang diperolehnya. Sedangkan struktur berpikir subjek bergaya kognitif spasial
dimulai dari memahami masalah, memodelkan masalah, merencanakan penyelesaian,
menyelesaikan masalah, memeriksa jawaban yang diperoleh.

Kata Kunci: Struktur berpikir, Gaya kognitif objek, gaya kognitif spasial.

ABSTRACT

Keywords:

1
PENDAHULUAN
Penelitian tentang pemecahan masalah geometri yang dilakukan siswa pada satu
cabang matematika, yaitu geometri, telah banyak dilakukan. Ozerem dalam penelitiannya
menemukan bahwa siswa mengalami miskonsepsi dalam memecahkan masalah geometri.1
Di waktu dan tempat yang berbeda, Kariadinata mengemukakan bahwa banyak persoalan
geometri yang sulit diselesaikan oleh siswa, diantaranya adalah mengonstruksi bangun
ruang.2 Selanjutnya, Mudakir mengatakan bahwa geometri menempati posisi yang paling
memprihatinkan di antara cabang matematika yang lain, mengingat sebesar 90,63% siswa
mengalami kesulitan dalam penguasaan konsep geometri dimensi tiga.3
Namun, para peneliti tersebut hanya sebatas mengungkap kesalahan ataupun
kesulitan yang dialami siswa dalam memecahkan masalah geometri dan belum sampai
pada mengungkap struktur berpikir siswa.
Kesulitan dan kesalahan yang dialami oleh siswa dalam memecahkan suatu
masalah diakibatkan oleh tidak ada atau kurangnya informasi atau skema tentang masalah
yang diberikan. Skema itulah yang disebut dengan struktur kognitif. Oleh karena struktur
kognitif adalah skema yang terdapat dalam otak manusia, maka struktur kognitif tersebut
tidak dapat diamati. Namun ketika siswa memecahkan suatu masalah, maka tentu dia
mengalami proses pemecahan masalah yang melibatkan struktur kognitifnya. Proses
pemecahan masalah yang melibatkan struktur kognitif ini disebut dengan proses berpikir.
Kemudian, berdasarkan proses berpikir tersebut dapat dibuat stuktur berpikir siswa yang
digambarkan dengan menggunakan diagram alur.
Lebih lanjut, menurut Piaget, ketika siswa memecahkan masalah, tentu pada
prosesnya siswa mengalami asimilasi dan akomodasi sebelum mencapai ekuilibrasi atau
disekuilibrasi. Asimilasi merupakan proses pengintegrasian informasi yang baru ke dalam
skema yang sudah terbentuk.4 Sedangkan akomodasi merupakan proses pengintegrasian
informasi baru melalui pembentukan skema baru atau pengubahan skema baru lama untuk
menyesuaikan dengan informasi yang diterima.5 Sedangkan ekuilibrasi adalah keadaan
seimbang antara asimilasi dan akomodasi.
Setiap orang cenderung mengalami proses asimilasi dan akomodasi yang berbeda
ketika memecahkan masalah, bergantung pada seberapa banyak skema atau struktur
kognitif yang dimilikinya. Selain itu, ada salah satu hal yang dapat mempengaruhi
kecenderungan seseorang dalam memecahkan masalah. Hal itu adalah gaya kognitif. Pada
tahun 1971, Paivo mengklasifikasikan gaya kognitif ke dalam gaya kognitif visualizer dan
gaya kognitif verbalizer. Sementara itu, pada tahun 2006 Blazhenkova dan Kozhevnikov
menemukan bahwa jika ditinjau dari data yang diperoleh dari teknologi neuroimaging,
1
Aysen Ozerem, “Misconceptions In Geometry And Suggested Solutions For Seventh Grade Students”,
International Journal of New Trends in Arts, Sports& Science Education, 1:4, (2012), 31.
2
Kariadinata dalam Pitriani, Tesis: “Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Program Komputer Cabri 3D
Untuk Meningkatkan Kemampuan Visual-Spatial Thinking Dan Habit Of Thinking Flexibly Siswa SMA”,
diakses melalui repository.upi.edu pada tanggal 7 Agustus 2017 pukul 11.48 WIB
3
Mudakir dalam Pitriani, Tesis: “Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Program Komputer Cabri 3D
Untuk Meningkatkan Kemampuan Visual-Spatial Thinking Dan Habit Of Thinking Flexibly Siswa SMA”,
diakses melalui repository.upi.edu pada tanggal 7 Agustus 2017 pukul 11.48 WIB
4
Subanji, Proses Berpikir Penalaran Kovariasional Pseudo Dalam Mengkonstruksi Grafik Fungsi Kejadian
Dinamik Berkebalikan, Disertasi unpublished Universitas Negeri Surabaya, (2007), 6.
5
Ibid, halaman 6.
2
gaya kognitif visualizer terbagi menjadi dua, yaitu gaya kognitif objek dan gaya kognitif
spasial. Berdasarkan temuan tersebut, Blazhenkova dan Kozhevnikov mengklasifikasikan
tiga kognitif, yaitu gaya kognitif objek, gaya kognitif spasial, dan gaya kognitif
verbalizer.6
Pada penelitian ini, gaya kognitif yang dibahas adalah gaya kognitif visualizer,
yaitu gaya kognitif objek dan spasial. Hal ini disebabkan telah banyak peneliti yang
melakukan penelitian tentang gaya kognitif verbalizer dan visualizer. Hasil penelitian
tentang kreativitas matematika dan gaya kognitif yang dilakukan oleh Pitta-Pantazi dan
Christou menunjukkan bahwa gaya kognitif spasial terkait dengan kemampuan
matematika yang baik. Penelitian lain menyimpulkan bahwa gaya kognitif spasial
memiliki relasi positif dengan pembelajaran matematika.7 Simpulan dari penelitian
tersebut didukung oleh temuan dari penelitian lain yang menyimpulkan bahwa gaya
kognitif spasial memiliki relasi positif dengan kemampuan geometri transformasi.8
Siswa yang memiliki gaya kognitif berbeda akan memecahkan masalah dengan
cara berbeda pula, bahkan siswa dengan gaya kognitif tertentu disinyalir akan mengalami
kesulitan dalam memecahkan suatu masalah matematika. Sebagai contoh, siswa dengan
gaya kognitif objek menafsirkan grafik sebagai suatu gambar saja. Hal tersebut
menyebabkan siswa yang memiliki gaya kognitif objek akan mengalami kesulitan
memecahkan masalah matematika yang melibatkan grafik. Sementara itu, Marilena dalam
penelitiannya mengatakan, gaya kognitif spasial mempunyai relasi positif dengan masalah
geometri, namun sebaliknya dengan gaya kognitif objek.9
Erhan Selcuk Haciomeroglu mengatakan dalam penelitiannya bahwa penelitian
tentang hubungan antara gaya kognitif visualizer (gaya kognitif objek dan gaya kognitif
spasial) dengan kemampuan matematika dan struktur berpikir siswa masih sangat
sedikit.10 Blazhenkova dan Kozhevnikov telah membuat instrumen untuk
mengklasifikasikan gaya kognitif siswa. Instrumen tersebut adalah Object-Spatial Imagery
Questionnaire (OSIQ) dan Object-Spatial Imagery and Verbal Questionnaire (OSIVQ).11
Lebih lanjut, Xenia menyarankan adanya penelitian kualitatif yang membahas tentang
bagaimana cara siswa yang memiliki gaya kognitif berbeda dalam memecahkan
permasalahan geometri.12

6
Xenia Xistouri, “Elementary Student’s Transformational Geometry Abilities and Cognitive Style”,
Proceedings of CERME 7, (February, 2011), 570.
7
Chusnul Khotimah Galatea, “Mental Computation Strategies By 5thgraders According To Object-Spatial-
Verbal Cognitive Style”, Proceeding of International Conference On Research, Implementation And Education
Of Mathematics And Sciences Yogyakarta State University, (2014), 125.
8
Xenia Xistouri, “Elementary Student’s Transformational Geometry Abilities and Cognitive Style”,
Proceedings of CERME 7, (February, 2011), 575.
9
Marilena Chrysostomou, “Cognitive Styles And Their Relation To Number Sense And Algebraic Reasoning”,
Proceedings of CERME 7, (February, 2011), 288.
10
Erhan Selcuk Haciomeroglu, “Object-spatial Visualization and Verbal Cognitive Styles, and Their Relation
to Cognitive Abilities and Mathematical Performance”, Educational Sciences: Theory & Practice,16:3, (June,
2016), 988.
11
Olesya Blazhenkova – Maria Kozhevnikov, “The New Object-Spatial-Verbal Cognitive Style Model: Theory
and Measurement”, Applied Cognitive Psychology, (Mey, 2009), 642.
12
Xenia Xistouri, “Elementary Student’s Transformational Geometry Abilities and Cognitive Style”,
Proceedings of CERME 7, (February, 2011), 577.
3
Beberapa penelitian terkait struktur berpikir siswa telah dilakukan oleh peneliti
lain. Sandha Soemantri pada 2015 telah melakukan penelitian tentang defragmenting13
struktur berpikir siswa. Beliau berhasil menata dan memperbaiki struktur berpikir siswa
yang awalnya salah menjadi struktur berpikir yang benar.14 Erna Gunawati juga telah
melakukan penelitian tentang defragmenting struktur berpikir untuk memperbaiki
kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada materi balok pada tahun 2015. Erna
Gumawati pun berhasil menata struktur berpikir siswa yang awalnya salah, menjadi
struktur berpikir yang benar.15
Namun, para peneliti terdahulu tidak menjelaskan letak asimilasi, akomodasi,
ekuilibrasi, dan disekuilibrasi pada gambar struktur berpikir subjek penelitian. Sehingga
gambar yang dihasilkan cenderung mirip dengan langkah-langkah pemecahan masalah
yang dibentuk menjadi diagram alur dan bukan struktur berpikir. Menurut peneliti, jika
menggambarkan struktur berpikir maka seharusnya tergambar pula proses asimilasi,
akomodasi, ekuilibrasi, dan disekuilibrasi.
Berangkat dari logika berpikir tersebut, maka penelitian ini bertujuan:
mendeskripsikan struktur berpikir dalam memecahkan masalah dimensi tiga pada siswa
bergaya kognitif objek, (b) mendeskripsikan struktur berpikir dalam memecahkan masalah
dimensi tiga pada siswa bergaya kognitif spasial.

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA kelas X yang terdiri atas dua
siswa yang memiliki gaya kognitif objek dan dua siswa yang memiliki gaya kognitif
spasial. Subjek dipilih berdasarkan hasil tes OSIQ dan kemampuan komunikasi siswa.
Kemampuan komunikasi siswa penting untuk dipertimbangkan karena pada penelitian
ini pengumpulan data menggunakan tes tulis yang diselesaikan dengan menggunakan
metode think aloud dan wawancara berbasis tugas. Dalam penelitian ini siswa diminta
menuliskan jawaban dan menjelaskan secara lisan apa yang dia pikirkan selama dia
menyelesaikan tes tulis tersebut. Metode ini dikenal dengan metode think aloud. Metode
ini adalah metode yang tepat untuk mengetahui apa yang sulit dan yang mudah bagi
siswa serta bagaimana alur atau proses berpikirnya. Setelah subjek menyelesaikan tes
tulis, peneliti mewawancarai subjek berdasarkan jawaban yang tertera dan berdasarkan
penjelasan yang disampaikan oleh subjek secara lisan saat ia menyelesaikan masalah.
Berdasarkan kedua metode tersebut, peneliti membuat struktur berpikir masing-masing
subjek. Pada penelitian ini peneliti mengambil subbab sudut antar garis dalam ruang
dimensi tiga. Adapun instrumen penelitian adalah:

13
Defragmenting struktur berpikir merupakan teknik yang digunakan untuk mengubah struktur berpikir siswa
dengan terlebih dahulu menganalisa kesalahan struktur berpikir siswa tersebut, kemudian dari bagan yang
dihasilkan, alur yang terlewati (kesalahan siswa) akan diperbaiki.
14
Sandha Soemantri, Tesis: “Defragmenting Struktur Berpikir Siswa pada Masalah Geometri Bangun Ruang”,
(Malang: Universitas Negeri Malang, 2015)
15
Erna Gunawati, Tesis: ”Defragmenting Struktur Berpikir Melalui Refleksi untuk Memperbaiki Kesalahan
Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Materi Balok”, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2015)
4