Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

RULES of INFERENCES

MATA KULIAH MATEMATIKA DISKRET

Dosen pengampu : Drs. Muhammad Fauzan M.Sc.St

Disusun oleh :

Krisna Nugraha ( 16305141072 )

Matematika S-1

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSIITAS NEGERI YOGYAKARTA

SEMESTER KHUSUS 2017/2018


ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3

1. Latar Belakang ............................................................................................. 3

2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3

3. Tujuan .......................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4

1. Pembuktian Validitas Argumen .................. Error! Bookmark not defined.

2. Validitas Pembuktian ................................. Error! Bookmark not defined.

2.1. Modul Ponens ...................................... Error! Bookmark not defined.

2.2. Modul Tollens ...................................... Error! Bookmark not defined.

2.3. Penambahan Dusjungsi ........................ Error! Bookmark not defined.

2.4. Penyederhanaan Konjungsi.................. Error! Bookmark not defined.

2.5. Silogisme Disjungsi ............................. Error! Bookmark not defined.

2.6. Silogisme Hipotesis .............................................................................. 8

2.7. Dilema................................................................................................... 8

BAB III PENUTUP ................................................................................................ 9

A. Kesimpulan .................................................................................................... 9

B. Saran ............................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10


3

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Matematika merupakan kajian abstrak yang rumit. Karena itu untuk
mempelajari matematika kita harus menerima fakta bahwa banyak konsep
matematika yang tidak dapat dirumuskan dengan cara yang sederhana. Untuk
menyatakan bahwa suatu pernyataan adalah benar, harus dibuktikan kebenaran dari
kajian tersebut.

Suatu argumen matematis diterima sebagai pernyataan yang benar karena


adanya bukti. Bukti bahwa suatu pernyataan matematis adalah pernyataan yang
benar dinamkan teorema. Beberapa teorema pada topik yang sama akan membentuk
logika. Untuk mempelajari suatu topik matematika kita harus menyusun argumen-
argumen matematis dalam topik tersebut, tidak cukup hanya dengan membaca
penjelasannya. Dengan memahami bukti dari suatu teorema maka bukti tersebut
dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan situasi baru.

Dalam makalah ini kita akan mempelajari beberapa cara penarikan kesimpulan
dalam peraturan sepakbola, diantaranya dengan menggunakan validitas argumen

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara penarikan kesimpulan dalam peraturan sepakbola
menggunakan pembuktian validitas argumen?

3. Tujuan
Makalah ini disusun dengan maksud untuk memberikan tambahan pengetahuan
sekaligus sebagai tugas matakuliah Matematika Diskret Semester Khusus
2017/2018.
4

BAB II
PEMBAHASAN
1. PEMBUKTIAN VALIDITAS ARGUMEN

Suatu argument disebut valid jika untuk sembarang pernyataan yang


disubtitusikan kepada hipotesa, jika semua hipotesa tersebut benar, maka
kesimpulan juga benar.

Sebaliknya, jika semua hipotesa benar tetapi ada kesimpulan yang salah, maka
argument tersebut dikatakan tidak valid (invalid).

Sebagai contoh argument berikut:

 Pemain itu offside atau berada didepan bek lawan

Pemain itu tidak offside

Jadi,Pemain itu berada didepan bek lawan

Misal:

p : Pemain itu bermain sebagai bek

q : Pemain itu bermain sebagai gelandang.

maka argument diatas mempunyai symbol sebagai berikut:

p∨q

~p

∴q

Selanjutnya kita ubah argumen diatas menjadi pernyataan kondisional yang


berkoresponden dengan argument tersebut, yaitu dengan cara meng-konjungsi-kan
premis-premis, kemudian hasilnya di-implikasi-kan dengan konklusi.

Jadi, argument contoh diatas mempunyai pernyataan kondisional yang


berkoresponden yaitu:

[(p ∨ q) ∧ ~p ] ⇒ q
5

Pernyataan kondisional yang berkoresponden tersebut kemudian dibuat table


kebenaran. Jika tabel kebenaran yang dihasilkan berupa tautologi, maka argument
tersebut valid. Jika bukan, maka argument tersebut tidak valid.

p q ~p pvq (pvq)˄ ~p [(pvq)˄ ~p]Þq


B B S B S B
B S S B S B
S B B B B B
S S B S S B

Jadi karena kesimpulan argumen bernilai benar atau tautologi maka contoh soal
ini adalah argumen yang valid.

Cara lain untuk membuktikan kesahan argumen yang lebih baik dan lebih singkat
dengan bukti formal adalah dengan menggunakan hukum-hukum penggantian dan
juga aturan penyimpulan seperti yang tercantum berikut ini.

2. Validitas Pembuktian

a) MODUS PONENS

Modus ponens adalah metode penarikan kesimpulan apabila ada pernyataan

"p → q" dan diketahui "p" maka bisa ditarik kesimpulan "q".

Contoh dalam kalimat:


p : Pemain lawan melakukan pelanggaran.
q : Wasit menghadiahkan kartu kuning.
p→q : Jika pemain lawan melakukan pelanggaran maka wasit
menghadiakan kartu kuning
p : Pemain lawan melakukan pelanggaran.
kesimpulan(q) : Wasit menghadiahkan kartu kuning.

Tabel kebenaran modus ponens ((p → q) ʌ p) → q :


6

b) MODUS TOLLENS

Modus tollens adalah metode penarikan kesimpulan apabila ada pernyataan "p
→ q" dan diketahui "-q" maka bisa ditarik kesimpulan "-p".

Contoh dalam kalimat:


p : Pemain lawan melakukan pelanggaran.
q : Wasit menghadiahkan kartu kuning.
p→q : Jika pemain lawan melakukan pelanggaran maka wasit
menghadiakan kartu kuning.
-q : Wasit .tidak menghadiahkan kartu kuning.
kesimpulan(-p) : Pemain lawan tidak melakukan pelanggaran.
Tabel kebenaran modus tollens ((p → q) ʌ -q) → -p:

c) PENAMBAHAN DISJUNGSI

Penarikan kesimpulan dengan menambahkan disjungsi didasarkan pada fakta


yakni jika suatu kalimat dihubungkan dengan "v" maka kalimat itu akan bernilai
benar jika sekurang-kurangnya salah satu komponennya bernilai benar.

Contoh dalam kalimat:


p : Kick-off dilakukan pada awal permainan.
q : Kick-off dilakukan setelah gool.
kesimpulan (p v q) : Kick-off dilakukan pada awal permainan atau setelah gool.
Tabel kebenaran penambahan disjungsi (p ʌ q) → (p v q)
7

d) PENYEDERHANAAN KONJUNGSI
Jika suatu kalimat dihubungkan dengan "ʌ" maka dapat diambil salah satu
komponennya secara khusus.
Contoh dalam kalimat:
pʌq : Kick-off dilakukan pada awal permainan dan setelah gool.

kesimpulan1(p) : Kick-off dilakukan pada awal permainan..


kesimpulan2(q) : Kick-off dilakukan setelah gool.
Tabel kebenaran penyederhanaan konjungsi (p ʌ q) → p atau (p ʌ q) → q

e) SILOGISME DISJUNGSI

Silogisme disjungsi adalah penarikan kesimpulan dimana jika diberikan dua


pilihan "p" atau "q" sedangkan "q" tidak dipilih maka kesimpulannya yang dipilih
adalah "p".
Contoh kalimat:
pvq : Tendangan bebas itu dilakukan oleh gelandang atau striker.
-q : Tendangan bebas itu tidak dilakukan oleh striker.
kesimpulan(p) : Tendangan bebas itu dilakukan oleh gelandang.
Tabel kebenaran silogisme disjungsi ((p v q) ʌ -q) → p atau ((p v q) ʌ -p) → q

f) SILOGISME HIPOTESIS

Silogisme Hipotesis adalah jika diketahui "p → q" dan "q → r" maka
kesimpulannya "p → r".
8

Contoh kalimat:
p : Pemain itu latihan rutin keras setiap hari dengan bagus.
q : Pemain itu bisa bermain di tim utama.
r : Pemain itu mendapatkan perpanjangan kontrak.
p→q : Jika Pemain itu latihan rutin keras setiap hari dengan bagus
maka bisa bermain di tim utama.
q→r : Jika pemain itu bisa bermain di tim utama maka pemain itu
mendapatkan perpanjangan kontrak.

kesimpulan (p → r) : Jika pemain itu latihan rutin keras setiap hari dengan
bagus maka pemain itu mendapatkan perpanjangan kontrak.
Tabel kebenaran silogisme hipotesis (p → q) ʌ (q → r) → (p → r).

g) DILEMA
Dilema adalah penarikan kesimpulan jika diketahui "p v q" dan "p → r" dan "q →
r" maka kesimpulannya adalah "r".
Contoh kalimat:
p : Hari ini Tim A menang besar.
q : Kemarin TIM B juara liga Indonesia.
r : Saya akan dikasih bola.
pvq : Hari ini tim A menang besar dan kemarin Tim B juara liga
Indonesia.

p→r : Jika hari ini Tim A menang besar maka saya akan dikasih bola.
q→r : Jika kemarin Tim B juara liga Indonesia maka saya akan dikasih
bola.
kesimpulan(r) : Saya akan dikasih bola.
tabel kebenaran dilema ((p v q) ʌ (p → r) ʌ (q → r)) → r
9

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Premis adalah pernyataan-pernyataan, data, bukti atau dasar yang


digunakan untuk menarik suatu kesimpulan. Sehingga suatu premis dapat berupa
aksioma, hipotesa, definisi atau pernyataan yang sudah dibuktikan sebelumnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan argument adalah kumpulan kalimat yang
terdiri atas satu atau lebih premis yang mengandung bukti-bukti (evidence) dan
suatu ( satu ) konklusi. Konklusi ( kesimpulan ) adalah pernyataan yang
dihasilkan berdasarkan data yang terdapat dalam premis-premis.

Konklusi sebaiknya diturunkan dari premis-premis atau premis-premis


selayaknya mengimplikasikan konklusi. Dalam argumentasi yang valid, konklusi
akan bernilai benar jika setiap premis yang digunakan di dalam argumen juga
bernilai benar.

Validitas berasal dari kata valid (kata sifat) yang berarti tepat, benar,
shahih,dan abasah, yang selanjutnya dibendakan menjadi validitas yang
mempunyai arti ketepatan, kebenaran, kesahihan, dan keabsahan. ketika kita akan
menarik suatu kesimpulan dari premis-premis beberapa cara yang
digunakan diantaranya adalah Modus Ponens, Modus Tollens, dan Silogisme.

B. Saran

Diharapkan mahasiswa dapat memahamai mata kuliah logika matematika dan


mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
10

DAFTAR PUSTAKA

Raga Marga, Rafael.2007. Pengantar Logika. Jakarta : Grasindo.

http : // www. Scribd. Com/doc/3591392/ Bab-VI-Validitas Pembuktian.