Anda di halaman 1dari 13

Begini Cara Mudah dan Contoh

Pencatatan Akuntansi Saham serta Obligasi


14 Desember 2016 Wadiyo Akuntansi, Manajemen Keuangan, Saham dan Obligasi 0

Pencatatan akuntansi saham dan obligasi sebaiknya dilakukan dengan baik, rapih dan
diarsipkan secara teratur.

Bagaimana cara pencatatan akuntansi terhadap obligasi dan saham? baca terus sampai tamat

ya

Cara, contoh dan langkah-langkah pencatatannya akan saya bagi menjadi beberapa tiga
bagian.

Bagian pertama, pencatatan secara umum untuk semua jenis surat berharga, misalnya saham
dan obligasi.

Bagian kedua, membahas tentang pencatatan akuntansi abligasi.

Dan bagian ketiga, akan dibahas cara pencatatan akuntansi saham beserta contoh-contohnya.

***

01. Pencatatan Akuntansi Surat Berharga


Surat-surat berharga seperti obligasi dan saham yang dibeli oleh perusahaan di-debitkan
dalam rekening Surat-surat Berharga dengan jumlah senilai harga perolehannya.

Harga perolehan surat berharga adalah harga beli ditambah semua biaya pembelian

Harga perolehan surat berharga adalah harga kurs ditambah komisi, provisi, meterai dan
biaya-biaya lain yang timbul pada saat pembelian.

Bila surat berharga yang dibeli berupa obligasi dan pembeliannya dilakukan tidak ada tanggal
pembayaran bunga, maka akan menimbulkan masalah bunga berjalan.

Bunga berjalan adalah bunga yang dibayarkan oleh pembeli untuk jangka waktu tanggal
bunga terakhir sampai tanggal pembelian.

Bunga berjalan ini tidak termasuk dalam harga perolehan obligasi, tapi dicatat tersendiri.

Ada 2 (dua) rekening yang dapat didebit untuk mencatat pembayaran bunga berjalan, yaitu:

1. Rekening Pendapatan Bunga


2. Rekening Piutang Pendapatan Bunga.

Pemilihan salah satu rekening di atas akan berakibat pada pencatatan bunga yang diterima
pertama kali.

Penjualan surat-surat berharga akan menimbulkan laba atau rugi jika harga jual tidak sama
dengan harga perolehannya.
Bila obligasi, seperti pada waktu membeli maka pada waktu penjualannya juga akan
menimbulkan masalah bunga berjalan.

Dan cara mudah untuk melakukan pencatatan akuntansi saham dan obligasi adalah dengan
menyusun prosedur yang benar, contohnya bisa dibaca di: Accounting Tools dan SOP.

Untuk memperjelas tentang pencatatan surat-surat berharga, berikut ini di sajikan contoh dan
urutan langkah-langkahnya.

***

02. Pencatatan Akuntansi Obligasi


Untuk memudahkan dalam pemahaman, langsung saya menggunakan contoh. Sedangkan
tentang definisi obligasi dapat anda baca di artikel pengertian obligasi dan cara menentukan
harganya.

Perhatikan contoh pencatatan Obligasi berikut ini:

Misalnya pada tanggal 01 Agustus 2014 dibeli 10 lembar obligasi PT Berkah Jaya dengan
nominal per lembar sebesar Rp. 50.000 dengan kurs 101.

Bunga obligasi 12% per tahun dan dibayarkan setiap tanggal 01 Mei dan 01 November.

Pada saat pembelian dibayar provisi dan meterai sebesar Rp. 5.000.

Tanggal 01 Desember 2014 seluruh obligasi PT Berkah Jaya dengan kurs 102, biaya
penjualan sebesar Rp. 3.000.

Jurnal untuk mencatat pembelian obligasi tanggal 01 Agustus 2014 adalah sebagai berikut :
Perhitungan:

Harga kurs : 101/100 X Rp. 500.000 = Rp. 505.000

Provisi dan materai = Rp. 5.000

Harga perolehan obligasi :

Rp. 505.000 + Rp. 5.000 = Rp. 510.000

Bunga berjalan :

Tanggal bunga terakhir : 01 Mei 2014

Tanggal pembelian : 01 Agustus 2014

Periode bunga berjalan : 3 bulan

3/12 X 12% X Rp. 500.000 = Rp. 15.000

Selanjutnya rekening Pendapatan Bunga di-debit untuk mencatat bunga berjalan yang
dibayar.

Penggunaan rekening ini akan mempengaruhi jurnal pencatatan penerimaan bunga pada
tanggal 01 November 2014 di mana semua penerimaan bunga ini akan dikreditkan ke
rekening Pendapatan Bunga.

Jurnal yang dibuat pada tanggal 01 November 2014 adalah sebagai berikut :
Perhitungan:

Periode bunga : 01 Mei – 01 November = 6 bulan

6/12 x 12% x Rp. 500.000 = Rp. 30.000

Selain di-debitkan dalam rekening Pendapatan Bunga, bunga berjalan dapat dicatat dengan
mendebit rekening Piutang Pendapatan Bunga sehingga jurnal yang dibuat untuk mencatat
pembelian obligasi tanggal 01 Agustus 2014 adalah sebagai berikut :

Pada tanggal penerimaan bunga 01 November 2014 jurnal yang dibuat sebagai berikut :

Kedua cara di atas memberikan hasil yang sama yaitu pendapatan bunga sebesar Rp. 15.000.
Sebagaimana lazimnya sebuah transaksi jual beli, maka transaksi penjualan obligasi dapat
menimbulkan laba atau rugi.

Perhitungan laba atau rugi dilakukan dengan membandingkan harga jual bersih dengan harga
perolehannya.

Harga jual bersih adalah harga jual dikurangi dengan biaya-biaya penjualan. Sedangkan
penerimaan bunga berjalan dicatat tersendiri.

Masih menggunakan contoh soal akuntansi tentang pencatatan surat berharga di atas :

Harga jual PT Berkah Jaya pada tanggal 01 Desember 2014 dihitung sebagai berikut :

Harga kurs : 102/100 x Rp. 500.000 = Rp. 510.000

Biaya penjualan = Rp. 3.000

Harga jual : Rp. 510.00 – Rp. 3.000 = Rp. 507.000


Perhitungan Bunga Berjalan:

Sedangkan bunga berjalan dihitung sejak 01 November sampai dengan 01 Desember 2014 :

1/12 x 12% x Rp. 500.000 = Rp. 5.000

Laba atau rugi penjualan dihitung sebagai berikut :

Jurnal untuk mencatat penjualan obligasi tanggal 01 Desember 2014 adalah sebagai berikut :

Periode perhitungan bunga didasarkan pada hari yang sebenarnya dan satu tahun
diperhitungkan sebanyak 360 hari.
Hari terjadinya transaksi tidak diperhitungkan, tapi tanggal jatuh temponya diperhitungkan.

Misalnya obligasi dengan tanggal bunga 01 Mei dan 01 November dibeli pada tanggal 9
Agustus 2014.

Jumlah hari bunga dihitung sebagai berikut:

***

03. Pencatatan Akuntansi Saham

Agar mudah dalam memahami cara pencatatan akuntansi saham, saya pun langsung
menggunakan contoh.

Perhatikan contoh berikut ini:


Misalnya pada tanggal 1 Agustus 2014 dibeli saham preferen (prioritas) 14% dari PT Moga
Berkah, dengan nominal Rp. 10.000 per lembar dengan kurs 104.

Provisi dan meterai yang dibayar sebesar Rp 5.000.

Dividen dibayarkan setiap akhir tahun.

Pada tanggal 15 Februari 2015 saham-saham tersebut dijual kembali dengan kurs 108 dan
biaya penjualan Rp. 4.000.

Pembelian saham dicatat dalam rekening surat berharga dengan jumlah sebesar harga
perolehan yaitu harga kurs ditambah biaya-biaya pembelian yang terdiri dari komisi, provisi
dan meterai.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembelian saham tanggal 1 Agustus 2014 adalah sebagai
berikut :

Perhitungan :

Harga kurs : 104/100 x 100 lembar x Rp. 10.000 = Rp. 1.040.000

Provisi dan meterai = Rp. 5.000

Harga perolehan saham : Rp. 1.040.000 + Rp. 5.000 = Rp. 1.045.000


Walaupun dividen saham preferen (prioritas) itu sudah pasti jumlahnya, biasanya tidak ada
perhitungan dividen berjalan pada saat pembelian atau penjualan.

Pada tanggal 31 Desember 2014 dividen yang diterima sebesar :

14% x Rp. 1.000.000 = Rp. 14.000

Dicatat sebagai berikut :

Kas Rp. 14.000


Pendapatan Dividen Rp. 14.000

Seperti halnya obligasi, laba rugi penjualan saham dihitung dengan membandingkan harga
jual dengan harga penolehannya.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat penjualan saham tanggal 15 Februari 2015 adalah sebagai
berikut :

Perhitungan :

***

04. Pencatatan Perubahan Nilai Saham


Bila seluruh saham perusahaan diubah nilai nominalnya, maka tindakan ini disebut
REKAPITALISASI.
Perubahan nilai nominal ini akan merubah juga akte pendirian perusahaan dan harus disetujui
oleh para pemegang saham.

Dalam rekapitalisasi, akun Modal Saham yang lama ditutup dan diganti dengan akun Modal
Saham yang baru.

Akun Agio Saham yang timbul dari saham lama juga ditutup dan diganti dengan Agio Saham
modal yang baru.

Bila modal saham baru nilainya lebih besar dari modal saham lama, maka selisihnya
didebitkan ke rekening Laba Tidak Dibagi.

Tapi bila saham baru nilainya lebih kecil dari saham lama, maka selisihnya dikreditkan pada
Agio Saham baru.

Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh sebagai berikut:

Modal PT Terangkanlah sebagai berikut:

Modal saham 10.000 lembar, nominal @Rp 1.000 = Rp 10.000.000


Agio Saham = Rp 1.000.000
Laba Tidak Dibagi = Rp 3.500.000

Total Modal:
= Rp 10.000.000 + Rp 1.000.000 + Rp 3.500.000 = Rp 14.500.000
Ada 2 kemungkinan yang bisa dilakukan dalam rekapitalisasi, yaitu:

Kemungkinan I:

Modal saham lama diubah atau ditukar dengan saham baru yang nilai nominalnya Rp 1.200
per lembar.

Pencatatan jurnal akuntansinya adalah sebagai berikut:

(Debit) Modal Saham (10.000 lembar @Rp 1.000) = Rp 10.000.000


(Debit) Agio Saham = Rp 1.000.000
(Debit) Laba Tidak Dibagi = Rp 1.000.000
(Kredit) Modal Saham = Rp 12.000.000

Kemungkinan II:

Modal saham lama ditukar dengan saham baru yang nilai nominalnya Rp 600 per lembar.

Jurnal pencatatan akuntansinya adalah sebagai berikut:

(Debit) Modal Saham (10.000 lembar @Rp 1.000) = Rp 10.000.000


(Debit) Agio Saham = Rp 1.000.000
(Debit) Modal Saham = Rp 6.000.000
(Kredit) Agio Saham = Rp 5.000.000

Bila rekapitalisasi merupakan usaha untuk menghilangkan defisit atau untuk menurunkan
nilai aktiva maka disebut Quasi Reorganisasi atau Corporate Readjustment.

05. Kesimpulan
Pembelian saham biasanya dilakukan beberapa kali dengan nilai nominal yang berbeda-beda.

Perbedaan harga perolehan ini akan mempengaruhi penentuan besarnya laba atau rugi pada
saat penjualan surat berharga.

Harga perolehan saham yang dibebankan pada waktu penjualan sebaiknya ditentukan dengan
cara identifikasi khusus, yaitu membebankan harga perolehan sesuai dengan fisiknya.

Sehingga jika yang dijual adalah saham pembelian pertama maka harga perolehan yang
dibebankan adalah harga perolehan saham pembelian pertama.

Bila timbul kesulitan untuk menyamakan harga perolehan dengan fisiknya, maka harga
perolehan yang dibebankan pada saat penjualan.

Bisa ditentukan dengan metode FIFO (First in First Out) atau dengan metode rata-rata
tertimbang (weighted average).
Dan pembahasan detail mengenai 2 metode tersebut bisa dibaca di : Sebelum Anda
Menentukan Metode Perhitungan HPP, Pelajari Perbandingan Metode FIFO, LIFO, dan Rata-
rata Tertimbang.

Demikian pembahasan tentang cara, contoh, dan langkah-langkah pencatatan akuntansi


saham dan obligasi.