Anda di halaman 1dari 22

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sanitasi Lingkungan

a. Pengertian Sanitasi Lingkungan

Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitik

beratkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang

mempengaruhi derajat kesehatann (Azwar, 2004).

Sanitasi lingkungan hakikanya adalah suatu kondisi lingkungan

yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya

status kesehataan yang optimum pula (Notoatmodjo, 2009).

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dirumuskan bahwa

sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan

pada penguasaan pada berbagai faktor lingkungan berpengaruh positif

terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum (Notoatmodjo,

2009).

b. Pengertian Lingkungan

Lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan

sekitar mahluk hidup yang optimum sehingga berpengaruh positif

terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum (Notoatmodjo,

2009).
9

c. Ruang L ingkup Sanitasi Lingkungan

Notoatmodjo (2009) menjelaskan bahwa ruang lingkup sanitasi

lingkungan, meliputi :

1) Perumahan (housing)

Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi manusia. Yang

dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Rumah merupakan

tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga sebagai tempat untuk

menghabiskan sebagian waktunya, sehingga kondisi kesehatan

perumahan sangat berperan sebagai media penularan penyakit diantara

keluarga atau tetangga sekitarya. (Notoatmodjo, 2009)

Salah satu ukuran yang akan digunaakan untuk menilai kesehatan

perumahan diantaranya adalah luas lantai rumah/tempat tinggal. Luas

lantai rumah tempat tinggal selain sebagai idikator untuk menilai

kemampuan sosial masyarakat, scara tidak langsung juga dikaitkan

dengan kesehatan lingkungan keluarga atau tempat tinggal

(perumahan). Dalam luas lantai erat kaitanya dengan tingat kepadatan

hunian atau rata-rata luas lahan untuk setiap anggota keluarga.

Selanjutnya pengelompokan rumah tangga menurut luas lantai

menggunakan asumsi rata-rata jumlah keluarga dalam rumah tangga

4-13 orang. (Notoatmodjo, 2009)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu

rumah adalah :
10

a) Faktor lingkungan, baik fisik, biologis maupun lingkungan sosial.

b) Tingkat kemampuan ekonomi masarakat.

c) Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat.

d) Kebijaksanaan (peraturan-peraturan) pemerintah yang menyangkut

tata guna tanah.

Adapun mengenai persyaratan rumah yang sehat adalah :

a) Bahan bangunan yang digunakan merupakan bahan yang baik

b) Terdapat ventilasi yang baik

Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam dan

pengeluaran udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah

maupun mekanis. Tersedianya udara segar dalam rumah atau

ruangan utama yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga apabila

suatu ruangan tidak meiliki sistem ventilasi yang baik dan over

crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan

kesehatan (Gunawan et al, 2002).

Rumah yang memenuhi syarat ventilasi baik akan

mempertahankan kelembaban yang sesuai dengan temperatur

kelembaban udara (Azwar, 2004). Standar luas ventilasi rumah,

menurut Kepmenkes RI No. 829 tahun 1999, adalah minimal 10%

luas lantai. Menurut Frinck dalam Sulistyiorini (2007) setiap ruang

yang dipakai sebagai ruang kediaman sekurang-kurangnya terdapat

satu jendela lubang ventilasi yang langsung berhubungan dengan

udara luar, bebas rintangan, dengan luas 10% luas lantai.


11

Ruangan yang ventilasinya kurang baik akan membahayakan

kesehatan khususnya saluran pernapasan. Terdapat bakteri di udara

disebabkan adanya debu dan uap air. Jumlah bakteri udara akan

bertambah jika penghuni ada yang menderita penyakit saluran

pernapasan, seperti TBC, Influenza, dan ISPA.

c) Cahaya

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak

kurang dan tidak terlalu banyak. Penerangan ada dua macam, yaitu

penerangan alami dan buatan. Penerangan alami sangat penting

untuk menerangi rumah dan menerangi kelembaban. Penerangan

alami diproleh dari masuknya sinar matahari kedalam ruangan

melalui jendela, celah melalui bagian lain dari rumah yang terbuka,

selain berguna untuk penerangan sinar ini juga mengurangi

kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan

membunuh kuman penyebab penyakit tertentu, misalnya untuk

membunuh bakteri adalah cahaya pada panjang gelombang 4000A

sinar ultra violet (Azwar, 2004).

Cahaya matahari disamping berguna untuk menerangi ruangan,

mengusir serangga (nyamuk) dan tikus, juga dapat menimbun

beberapa penyakit menular misalnya TBC, cacar, influenza,

penyakit kulit atau mata, terutama matahari langsung. Selain itu

sinar matahari yang mengandung sinar ultra violet baik untuk

pertumbuhan tulang anak-anak (Suryono, 2009).


12

d) Luas bangunan rumah

Menurut Kepmenkes RI (1999) luas ruangan tidur minimal 8 m 2

dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang. Bangunan yang sempit dan

tidak sesuai degan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak

kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh

penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran

pernafasan seperti ISPA. Ruangan yang sempit akan membuat

nafas sesak dan mudah tertular penyakit oleh anggota keluarga

yang lain. Kepadatan hunian rumah akan meningkatkan suhu

ruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang

akan meningkatkan kelembaban akibat uap air dari pernapasan

tersebut. Dengan demikian, semakin banyak jumlah penghuni

rumah maka semakin cepat udara ruangan mengalami pencemaran

gas atau bakteri. Dengan banyaknya penghuni, maka kadar oksigen

dalam ruangan menurun dan diikuti oleh peningkatan CO 2 ruangan

adalah penurunan kualitas udara dalam rumah.

2) Penyediaan air bersih

Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih

cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum,

masak, mandi, mencuci, dan sebagainaya. Menurut perhitungan WHO

di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 20-60 liter per
13

hari. Sedangkan dinegara berkembang, termasuk Indonesi tiap orang

memerlukan air antara 30-60 liter perhari. (WHO, 2009).

Air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan-persyaratan

kesehatan baik syarat fisik, syarat bakteriologi maupun syarat kimia.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum,

mandi, masak, mencuci dan sebagainya (Notoatmadjo, 2007).

Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting

adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan

minum (termasuk untuk memasak) air harus mempunyai persyaratan

khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit. Penggunaan air

bersih mempunyai dampak pada kebersihan makanan dan minuman

serta higiene perseorangan. Penggunaan air bersih berpengaruh baik

terhadap kesehatan.

Notoatmodjo (2009), meyatakan bahwa agar air minum tidak

menimbulkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan

memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan. Persyaratan kesehatan

tersebut aalah :

a) Syarat fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak

berwarna), tidak berasa, suhu udara dibawah suhu diluarnya,

sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Cara

mengenal air yang memenuhi syarat fisik ini tidak sukar karena

akan mudah terlihat oleh mata telanjang.


14

b) Syarat Bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus terbebas dari segala

bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah

air minum terkotaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan

memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan

100 cc air terdapat kurang dari 4 bakter E. Coli maka air terseut

sudah memenuhi syarat kesehatan

c) Syarat Kimia

Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam

jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu

zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologi pada

manusia.

Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air ideal antara

lain sebagai berikut :

Tabel 2.1
Bahan-bahan atau zat kimia dalam Air

Jenis Bahan Kadar yang dibenarkan (mg/liter)


Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat Organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
Karbondioksida (CO2) 0
Sumber: Notoatmodjo, 2007

Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air

minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam dapat diterima

sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut


15

diatas, asalkan tidak tercemar oleh kotoran terutama kotoran

manusia dan binatang. Mata air atau sumur yang ada dipedesaan

harus mendapatkan pengawsan dan perlindungan agar tidak

dicemari oleh penduduk yang menggunakan air itu.

3) Kepemilikan Jamban

Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area

permukiman timbul masalah yang disebabkan oleh pembuangan

kotoran manusia yang meningkat. Penyebaran peyakit yang bersumber

pada kotoran manusia (feces) dapat melalui beragai macam jalan atau

cara. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Air
Tinj
a
Tanga
n
Makanan
Tinj
Tinj minuman
sayur-sayuran a
a
Lalat

Tinj
a
Tanah

(Sumber: Notoatmodjo, 2007)

Gambar 2.1
Skema Penyebaran Penyakit

Dari sekema tersebut nampak jelas bahwa peranan tinja dalam

penyebaran penyakit sangat besar di samping dapat langsung

mengkontaminasi makanan, minuman, air, tanah, serangga, (lalat,


16

kecoa, dan sebagainya), dan bagian-bagian tubuh dapat terkontamnasi

oleh tinja tersebut. Benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh tinja

dan seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu merupakan

penyebab penyakit untuk orang lain.

Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan

cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran

penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang

disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, disentri, kolera,

bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing

tambang, cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya (Notoadjmodjo,

2009).

Jamban adalah bangunan untuk tempat buang air besar dan buang

air keil. Buang air besar dan buang air kecil harus didalam jamban,

jangan disungai atau disembarang tempat karena dapat menimbulkan

penyakit. Syarat-syarat jamban sehat adalah sebagai berikut

(Notoadjmodjo, 2009) :

a) Jamban harus punya dinding atau pintu agar orang yang berada

didalamnya tidak terlihat

b) Jamban sebaiknya mempunyai atap untuk perlindungan terhadap

hujan dan panas, cahaya dapat masuk ke dalam jamban karena

cahaya matahari berguna untuk mematikan kuman


17

c) Lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air seperti semen atau

papan yang disusun rapat. Lantai ini perlu agar air kotor tidak

meresap ke dalam tanah dan lantai mudah dibersihkan.

d) Jamban harus mempunyai ventilasi yang cukup untuk pertukaran

udara agar udara di dalam jamban tetap segar.

e) Lubang penampungan kotoran letaknya antara 10-15 meter dari

sumber air bersih agar sumber air tidak tercemar, didalam jamban

harus tersedia air bersih dan sabun untuk membersihkn diri. Untuk

jamban model cemplung lubang jamban mempunyai tutup yang

rapat agar lalat, kecoa, dan serangga lain tidak dapat keluar masuk

tempat penampungan kotoran.

f) Lubang saluran air kotor pada lantai letaknya lebih rendah dari pada

lubang jamban.

g) Jamban sebaiknya tidak dibuat ditempat yang digenangi air. Untuk

daerah rawa atau daerah yang sering banjir letak lantai jamban harus

lebih tinggi daripada permukaan air yang tinggi pada waktu banjir,

jamban sebaiknya diberi lampu untuk penerangan.

h) Lubang penampang kotoran harus mempunyai pipa saluran udara

yang cukup tinggi agar gas yang timbul dapat disalurkan keluar.

Model dan bentuk jamban yang memenuhi syarat kesehatan

antara lain: jamban model angsa dapat dibangun didalam rumah secara

tersendiri atau digabung dengan kamar mandi. Model ini disebut model

leher angsa karena saluran kotorannya bengkok seperti leher angsa. Bila
18

disiram dengan air, kotoran akan terdorong ke lubang penampungan

tetapi masih ada sisa air yang tertinggal didalam saluran yang bengkok

tersebut. Air yang tertinggal ini menutup saluran kotoran sehingga bau

yang berasal dari lubang tidak dapat keluar. Air ini juga berfungsi

mencegah keluar masuknya lalat dan serangga lain ke dalam lubang

penampungan kotoran.

Jamban model cemplung adalah jamban yang paling sederhana.

Jamban dibangun langsung diatas lubang penampungan kotoran.

Lubang penampungan kotoran digali sedalam 2 sampai 3 meter dengan

lingkaran tengah kira-kira 80 cm (Suharto, 2009).

Menurut Depkes RI (2009) pemeliharaan jamban harus dilakukan

dengan baik, yaitu:

a) Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering

b) Disekeliling jamban hendaknya selalu bersih dan kering

c) Tidak ada sampah berserakan, rumah jamban dalam keadaan

baik

d) Lantai selalu bersih tdak ada kotoran yang terlihat, lalat dan kecoa

tidak ada, tersedia alat pembersih.

e) Bila ada bagian yang rusak segara diperbaiki atau diganti.

4) Pembuangan air limbah

Sesuai zat yang terkandung didalam air limbah ini, maka air limbah

yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai

gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain :


19

a) Menjadi transmisi atau media penyebab berbagai penyakit

b) Menjadi media berkembang biaknya mikroorganisme patogen

c) Menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk

d) Menimbulkan bau yang tidak enak

e) Sumber pencemaran air

f) Mengurangi produktivitas manusia

Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut

diatas diperlukan pengolahan limbah dengan baik, yaitu dengan

cara :

a) Pengenceran

b) Kolam oksidasi

c) Irigasi

5) Pembuangan sampah

Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak

dipakai lagi oleh manusia atau benda padat yang sudah tidak dipakai

lagi dalam suatu kegiatan manusia. Sampah erat kaitanya dengan

kesehatan manusia, karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup

berbagai mikroorganisme penyebab bakteri. Oleh karena itu, sampah

harus dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin tidak menggangu

atau mengancam kesehatan masyarakat. Cara-cara pengelolaan sampah

anara lain :

a) Pengumpulan dan pengangkutan sampah

b) Pemusnahan dan pengolahan sampah :


20

(1) Ditanam

(2) Dibakar

(3) Dijadikan pupuk

2. Penyakit Diare

a. Definisi

Diare adalah penyakit yang ditandai bertambahnya frekuensi

defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan

konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau lendir

(Suraatmaja, 2007).

Menurut WHO (2008), diare didefinisikan sebagai berak cair tiga

kali atau lebih dalam sehari semalam. Berdasarkan waktu serangannya

terbagi menjadi dua, yaitu diare akut (< 2 minggu) dan diare kronik

(≥ 2 minggu) (Widoyono, 2008).

b. Klasifikasi diare

Menurut Depkes RI (2000), jenis diare dibagi menjadi empat yaitu:

1) Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari

(umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi,

sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi

penderita diare.

2) Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat

disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat,

kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.


21

3) Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari

secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan

berat badan dan gangguan metabolisme.

4) Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderita diare (diare

akut dan diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit

lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

Menurut Suraatmaja (2007), jenis diare dibagi menjadi dua

yaitu:

1) Diare akut, yaitu diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan

anak yang sebelumnya sehat.

2) Diare kronik, yaitu diare yang berlanjut sampai dua minggu atau

lebih dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak

bertambah selama masa diare tersebut.

c. Etiologi diare

Menurut Widoyono (2008), penyebab diare dapat dikelompokan

menjadi:

1) Virus: Rotavirus.

2) Bakteri: Escherichia coli, Shigella sp dan Vibrio cholerae.

3) Parasit: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan

Cryptosporidium.

4) Makanan (makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak

lemak, sayuran mentah dan kurang matang).

5) Malabsorpsi: karbohidrat, lemak, dan protein.

6) Alergi: makanan, susu sapi.


22

7) Imunodefisiensi.

d. Gejala diare

Menurut Widjaja (2002), gejala diare pada balita yaitu:

1) Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah.Suhu badannya pun

meninggi.

2) Tinja bayi encer, berlendir, atau berdarah.

3) Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan

empedu.

4) Anusnya lecet.

5) Gangguan gizi akibat asupan makanan yang kurang.

6) Muntah sebelum atau sesudah diare.

7) Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).

8) Dehidrasi.

e. Epidemiologi diare

Epidemiologi penyakit diare, adalah sebagai berikut (Depkes RI,

2009).

1) Penyebaran Kuman

Kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar melalui fecal

oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja

dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku

yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan

meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan

ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4/6 bulan pada pertama
23

kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak

pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak

mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah

membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak,

dan tidak membuang tinja dengan benar.

2) Faktor Penjamu

Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare.

Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa

penyakit dan lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai

dua tahun, kurang gizi, campak, immunodefisiensi, dan secara

proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

3) Faktor lingkungan dan perilaku.

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis

lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan

pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan

perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena

tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang

tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat

menimbulkan kejadian diare.

f. Distribusi penyakit diare

Distribusi penyakit diare berdasarkan orang (umur) sekitar 80%

kematian diare tersebut terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun. Data

organisasi kesehatan dunia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa dari


24

sekitar 125 juta anak usia 0-11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun

yang tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita

sekitar 1,4 milyar kali per tahun. Jumlah tersebut menunjukan bahwa

total kejadian diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475

juta dan anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali per tahun

(Amiruddin, 2007).

g. Penularan diare

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus

dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui jalur fekal oral yang terjadi

karena:

1) Melalui air yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya,

tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar

pada saat disimpan di rumah. Pencemaran ini terjadi bila tempat

penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar

menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.

2) Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi,

mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut

dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap

dimakanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang

memakannya (Widoyono, 2008). Sedangkan menurut (Depkes RI,

2009) kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral

antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan

atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku yang


25

dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan

risiko terjadinya diare, yaitu: tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu)

secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol

susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air

minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah

buang air besar, tidak mencuci tangan sesudah membuang tinja anak,

tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah menyuapi anak dan tidak

membuang tinja termasuk tinja bayi dengan benar.

h. Penanggulangan diare

Menurut Depkes RI (2009), penanggulangan diare antara lain:

1) Pengamatan intensif dan pelaksanaan SKD (Sistem Kewaspadaan

Dini) Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data tentang

jumlah penderita dan kematian serta penderita baru yang belum

dilaporkan dengan melakukan pengumpulan data secara harian pada

daerah fokus dan daerah sekitarnya yang diperkirakan mempunyai

risiko tinggi terjangkitnya penyakit diare. Sedangkan pelaksanaan

SKD merupakan salah satu kegiatan dari surveilance epidemiologi

yang kegunaanya untuk mewaspadai gejala akan timbulnya KLB

(Kejadian Luar Biasa) diare.

2) Penemuan kasus secara aktif Tindakan untuk menghindari terjadinya

kematian di lapangan karena diare pada saat KLB di mana sebagian

besar penderita berada di masyarakat.


26

3) Pembentukan pusat rehidrasi Tempat untuk menampung penderita

diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan pada keadaan

tertentu misalnya lokasi KLB jauh dari puskesmas atau rumah sakit.

4) Penyediaan logistik saat KLB Tersedianya segala sesuatu yang

dibutuhkan oleh penderita pada saat terjadinya KLB diare.

5) Penyelidikan terjadinya KLB Kegiatan yang bertujuan untuk

pemutusan mata rantai penularan dan pengamatan intensif baik

terhadap penderita maupun terhadap faktor risiko.

6) Pemutusan rantai penularan penyebab KLB Upaya pemutusan rantai

penularan penyakit diare pada saat KLB diare meliputi peningkatan

kualitas kesehatan lingkungan dan penyuluhan kesehatan.

i. Pencegahan diare

Menurut Depkes RI (2009), penyakit diare dapat dicegah melalui

promosi kesehatan antara lain:

1) Meningkatkan penggunaan ASI (Air Susu Ibu).

2) Memperbaiki praktek pemberian makanan pendamping ASI.

3) Penggunaan air bersih yang cukup.

4) Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

5) Penggunaan jamban yang benar.

6) Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi

yang benar.

7) Memberikan imunisasi campak.


27

3. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Diare

Kondisi kesehatan masyarakat maupun kesehatan individu

merupakan suatu permasalahan yang sangat komplek dan dipengaruhi

banyak faktor baik itu faktor lingkungan, faktor hereditas/ keturunan,

faktor prilaku dan faktor pelayanan kesehatan. Menurut model segitiga

epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat interaksi satu sama lain yaitu

antara faktor lingkungan, agent dan host. Faktor yang secara langsung

maupun tidak langsung dapat menjadi penentu pendorong terjadinya

diare. Seseorang yang daya tahan tubuhnya kurang, maka akan mudah

terserang penyakit. Faktor kesehatan lingkungan merupakan faktor yang

paling besar mempengaruhi tingkat kesehatan, diare merupakan penyakit

berbasis lingkungan yang sebagian besar penularannya melalui air,

sehingga untuk penanggulangan diare diperlukan upaya perbaikan

sanitasi lingkungan (Zubir, 2006).

Penyakit yang merupakan penyakit berbasis lingkungan antara lain

diare, kolera, campak, tifus, malaria, demam berdarah dan influensa.

Artinya, penyakit-penyakit tersebut dalam penularannya sangat besar

diengaruhi oleh permasalahan kesehatan lingkungan, terutama sanitasi

lingkungan yang buruk. Masalah-masalah pada sanitasi lingkungan

antara lain kepemilikan jamban keluarga yang sesuai standar kesehatan,

penyediaan air bersih, perumahan, pembuangan sampah dan pembuangan

air limbah (Notoatmodjo, 2006).


28

B. Kerangka Konsep dan Kerangka Kerja

1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang

dilakukan. Penyusunan kerangka konsep membantu peneliti untuk

membuat hipotesis, menguji hubungan tertentu dan membantu

menghubungkan hasil penemuan dengan teori yang telah ada

(Notoatmodjo, 2010).
Kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut :

Bakteri E. coli
Makanan & Minuman

Jamban Keluarga

Sarana Air Bersih

Sanitasi Orang Kejadian


Tempat Pembuangan
Lingkungan
Sampah Diare

Perumahan

Sistem Pembuangan Air


Limbah

Prilaku

Keterangan:
: Tidak diketahui

: Diketahui

Sumber: Notoatmodjo, 2009 dan Depkes RI, 2007


Gambar 2.2
Kerangka Konsep

2. Kerangka Kerja
29

Kerangka operasioanal/ kerangka kerja adalah pentahapan

(langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah) mulai dari penatapan

populasi, sampel dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal penelitian

akan dilaksanakan (Nursalam, 2005). Kerangka kerja dalam penelitian

yang akan penyusun lakukan dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut ini:

Ada
Hubungan
Sanitasi Lingkungan

Penyediaan Air Bersih Kejadian


Kepemilikan Jamban
Pembuangan sampah Diare

Tidak ada
hubungan

Gambar 2.3
Kerangka Kerja Penelitian

C. Hipotesis Penelitian

Menurut sugiono (2012), hipotesis merupakan salah satu jawaban

sementara terhadap rumusan penelitian. Berdasarkan pengertian tersebut

maka yang menjadi hipotesis penelitian ini adalah: “ada hubungan antara

sanitasi lingkungan dengan kejadian diare di Desa Raharja Kecamatan

Purwaharja Kota Banjar”.