Anda di halaman 1dari 15

REVIEW : STUDI KELAYAKAN BISNIS

Tugas Mata Kuliah Studi Kelayakan Bisnis


Dosen : Ibu Sitti Hadijah, SPd., M.Ak

Disusun Oleh

LINA INDRIYATI

C 02 08 006

UNIVERSITAS SULAWESI BARAT


2017 / 2018

Studi Kelayakan Bisnis 1


STUDI KELAYAKAN BISNIS

A. Pengertian Studi Kelayakan


Pengertiann studi kelayakan menurut para ahli diantara:
1. Menurut Kasmir dan Jakfar (2012:7) “studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan
yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan
dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan”.
2. Menutut Umar H (2007:5) studi kelayakan bisnis merupakan penelitian sebuah
rencana bisnis yang bukan hanya menganalisis layak atau tidaknya suatu bisnis
dijalankan, tetapi juga pengontrolan kegiantan operasionalnya secara rutin dalam
rangka untuk pencapaian tujuan serta keuntungan yang maksimal untuk jangka
waktu yang tidak ditentukan
3. Menurut Husnan dan Muhammad (2004:4) studi kelayakan bisnis, yang juga disebut
studi kelayakan proyek adalah sebuah penelitian yang menjelaskan tentang dapat
tidaknya suatu proyek (biasanya sebuah proyek investasi) dilaksanakan dengan
berhasil. Istilah “proyek”diartikan sebagai bentuk pendirian suatu usaha baru atau
pengenalan suatu produk baru, modifikasi produk yang sudah ada.
4. Menurut Siswanto Sutojo (2002:7) hal-hal yang harus diketahui dalam studi
kelayakan yaitu:
a. Ruang lingkup kegiatan proyek.
b. Bagaimana cara kegiatan proyek itu sendiri dilakukan.
c. Evalusi berbagai aspek-aspek yang dapat menenentukan keberhasiln proyek
secara keseluruhan.
d. Sarana apa yang diperlukan oleh proyek.
e. Hasil dari kegiatan proyek, biaya-biaya yang ditanggun untuk memperoleh hasil
proyek tersebut.
f. Langkah-langkah pendirian proyek atau perluasan proyek, serta jadwal masing-
masing dari proyek

B. Tujuan Studi Kelayakan


Husnan dan Muhamad (2000) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya studi
kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar

Studi Kelayakan Bisnis 2


untukkegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Tentu saja studi kelayakan ini akan
memakan biaya, tetapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan risiko
kegagalan suatu proyek yang menyangkut investasi dalam jumlah besar.
Studi Kelayakan dibuat untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak dan
masing-masing pihak mempunyai kepentingan serta keinginan yang berbeda. Menurut
Kasmir dan Jakfar (2007) studi kelayakan bisnis memiliki lima tujuan mengapa studi
kelayakan perlu dilakukan sebelum melakukan sebuah proyek atau usaha, yaitu:
1. Menghindari resiko kerugian
2. Mempermudah perencanaan
3. Memudahkan Pelaksanaan Pekerjaan
4. Memudahkan Pengawasan
5. Memudahkan Pengendalian

C. Manfaat Studi Kelayakan Bisnis


Kasmir dan Jakfar (2012) Hasil penelitian studi kelayakan sangat diperlukan oleh
berbagai pihak terutama para pihak yang berkepentingan terhadap proyek atau usaha
yang akan dijalankan (stakeholder). Hasil penelitian yang dianggap layak harus dapat
dipertanggung jawabkan, sehingga para stakeholder merasa yakin dan percaya terhadap
hasil dari studi kelayakan yang telah dilakukan. Pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap hasil studi kelayakan, yaitu:
1. Pemilik usaha
2. Pihak Kreditur
3. Pihak Manajemen Perusahaan
4. Pihak Pemerintah
5. Pihak Masyarakat luas

D. Tahap-tahap dalam Studi Kelayakan Bisnis


Tahapan dalam studi kelayakan dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan
dalam studi kelayakan juga untuk keakuratan penilaian. Berikut tahap-tahap studi
kelayakan yang umumnya dilakukan (Husein Umar 2003:p21):
1. Penemuan Ide
Ciptakan produk atau jasa yang dapat berpotensi terjual dan dapat menguntungkan.
Penelitian terhadap permintaan dan kebutuhan pasar, serta jenis produk atau jasa

Studi Kelayakan Bisnis 3


yang akan dibuat harus dilakukan. Penelitian tersebut harus mengacu pada
pemenuhan kebutuhan pasar yang masih belum terpenuhi.
2. Tahap Penelitian
Pada tahap ini, penelitian yang lebih dalam dilakukan dengan menggunakan metode-
metode ilmiah. Dimuali dari pengumpulkan data, pengolah data menggunakan teori-
teori yang relevan, serta melakukan analisis dan interpretasi hasil pengolahan data
dengan menggunakan alat-alat analisis yang sesuai.
3. Tahap Evaluasi Proyek
Terdapat tiga evaluasi proyek. Pertama, melakukan evaluasi terhadap usulan proyek
yang akan dijalankan. Kedua, melakukan evaluasi proyek yang sedang berjalan. Dan
yang Ketiga, melakukan evaluasi pada proyek yang baru selesai dibangun.
4. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak
Apabila terdapat lebih dari satu usulan proyek yang dianggap layak dan terdapat
keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manajemen untuk menjalankan proyek-
proyek tersebut. Pemilihan proyek yang dianggap paling penting harus dilakukan
5. Tahap Rencana Pelaksanaan Proyek Bisnis
Setelah terdapat proyek yang sudah terpilih untuk dijalankan, maka perlu dibuat suatu
rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri. Dimulai dari
menentukan jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan
dana dan sumber daya yang diperlukan dan lain-lain.
6. Tahap Pelaksanaan Proyek Bisnis
Setelah semua persiapan selesai, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan proyek.

E. Aspek Menilai Studi Kelayakan


Menurut Jakfar dan Kasmir (2012) terdapat tahap-tahap yang telah ditentukan
dalam pembuatan dan penilaian studi kelayakan. Setiap tahapan mempunyai berbagai
aspek yang harus diukur, diteliti serta dinilai berdasarkan ketentuannya. Setiap aspek
saling terkait, jadi jika ada salah satu aspek yang tidak terpenuhi, maka harus dilakukan
penambahan atau perbaikan yang diperlukan.
Gambaran secara ringkas mengenai prioritas aspek-aspek studi kelayakan yang
perlu dilakukan secara umum, dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Studi Kelayakan Bisnis 4


Gambar Aspek-aspek Penilaian Studi Kelayakan Sumber: Kasmir & Jakfar, 2003
1. Aspek Hukum
Aspek hukum mempelajari tentang:
a. Bentuk badan usaha yang akan digunakan
b. Jaminan-jaminan yang bisa disediakan kalau akan menggunakan sumber dan
yang berupa pinjaman
c. Berbagai akta, sertifikat, izin yang diperlukan dan sebagainya.
2. Aspek Manajemen dan SDM
Freddy Rangkuti (2012:) mengemukakan bahwa manajemen meliputi dua hal
pokok, yaitu manajemen waktu dan manajemen operasi. Manajemen waktu mengulas
tentang rencana penyusunan dan perkiraan waktu yang akan digunakan dalam
implementasi bisnis (proyek). Sementara manajemen operasional mengemukakan
tentang tiga hal pokok, yaitu jenis pekerjaan yang diperlukan, struktur organisasi yang
dibuat, persyaratan dan penunjukan tenaga-tenaga yang akan menempati jabatan
tertentu, ketiga hal pokok tersebut mengandung: deskripsi pekerjaan, lingkup
tanggung jawab, koordinasi dan lingkup pengawasan.

Studi Kelayakan Bisnis 5


Lebih dalam lagi dijelaskan mengenai aspek manajemen dan sumber daya
manusia (Subagyo,2007) :
a. Job Analysis, yaitu menganalisis jabatan yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan tertentu.
b. Job specification, yaitu menentukan persyaratan dan kualifikasi yang
diperlukan untuk mengisi suatu jabatan.
c. Mendesain struktur organisasi, yaitu menyusun struktur organisasi yang
menggambarkan jenjang manajemen, kedudukan jabatan dan struktur
pertanggungjawaban dalam perusahaan.
d. Job Descripion, yaitu uraian pekerjaan yang menjelaskan tentang pekerjaan
teknis anggota organisasi yang menjabat pekerjaan tertentu.
e. Mendesain sistem kompensasi, yaitu menguraikan struktur penggajian secara
lengkap untuk semua jabatan dalam pekerjaan berdasarkan garis structural dan
fungsional. .
3. Aspek Operasional
Menurut Kasmir dan Jakfar (2012) aspek ini berkaitan dengan penentuan
lokasi proyek atau, tata letak (layout), penyusunan peralatan perusahaan, proses
produksinya dan pemilihan teknologi.
Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penilaian terhadapmaspek
teknis atau operasi, yaitu:
a. Dapat menentukan lokasi dengan tepat, baik untuk lokasi pabrik, gudang, cabang,
atau kantor pusat
b. Dapat menentukan layout yang sesuai dengan proses bisnis atau produksi yang
dipilih
c. Dapat menentukan teknologi yang tepat untuk menjalankan bisnis atau
produksinya
d. Dapat menentukan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini dan masa yang
akan datang
4. Aspek Pasar dan Pemasaran
Pasar dan pemasaran merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Kegiatan pasar selalu disertai oleh pemasaran dan kegiatan dari
pemasaran itu sendiri adalah untuk menciptakan atau mencari pasar.

Studi Kelayakan Bisnis 6


Umar (2005) menyatakan pasar merupakan tempat dimana bertemunya
penjual dan pembeli, atau saling bertemunya kekuatan permintaan dengan
penawaran untuk membentuk suatu harga. Dalam praktiknya pasar di definisikan
lebih luas, transaksi penjualan tidak hanya dilakukan pada suatu tempat saja
melainkan dapat dilakukan melalui sarana elektronik seperti internet, telepon, dan
lain-lain.
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang mampu dibeli oleh para
konsumen selama periode tertentu berdasarkan sekelompok kondisi tertentu,
sedangkan penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dijual
oleh para produsen dalam jangka waktu tertentu dan berdasarkan sekelompok
kondisi tertentu pula.
Suci Sucipto (2010) mengemukakan bahwa kajian yang dilakukan dalam
aspek pasar dan pemasaran bertujuan untuk menguji sejauh mana pemasaran dari
produk yang dihasilkan perusahaan dapat mendukung pengembangan usaha atau
bisnis yang direncanakan. Agar kajian aspek pasar dan pemasaran sesuai dengan
rencana (pangsa pasar), dan semua itu bergantung pada penerapan strategi
pemasaran yang dipilih. Terdapat empat hal pokok yang dapat ditelaah dalam aspek
pasar, yaitu:
a. Potensi Pasar (Market Potential)
Sucipto (2010) menyatakan bahwa potensi pasar adalah peluang
penjualan optimum yang dapat dicapai oleh seluruh penjualan baik saat ini
maupun yang akan datang atau potensi pasar adalah seluruh
permintaan/kebutuhan konsumen yang didasarkan pada dua faktor yaitu
jumlah konsumen potensial dan daya beli. Konsumen potensial adalah
konsumen yang memiliki keinginan/hasrat untuk membeli, sedangkan daya
beli adalah kemampuan konsumen untuk membeli barang/produk. Dengan
melihat potensi pasar maka dapat dilakukan evaluasi apakah ada atau tidak
potensi untuk memasarkan barang/produk di pasar.
b. Pengukuran dan Peramalan Permintaan
1. Mengukur Permintaan Pasar Saat Ini
Manajemen perlu mengestimasi tiga aspek dari permintaan pasar
sekarang. Ada tiga metode praktis untuk mengestimasi permintaan saat
ini, yaitu:

Studi Kelayakan Bisnis 7


a. Mengestimasi Total Permintaan Pasar.
b. Mengestimasi Wilayah Permintaan Pasar
c. Mengestimasi Penjualan Aktual dan Pangsa Pasar
2. Meramal Permintaan Mendatang
a. Survey niat pembeli
b. Pendapat para tenaga penjual (Wiraniaga)
c. Pendapat para ahli
d. Analisis regresi
e. Analisis deret waktu.
Menurut Tull dan Kahle dalam Fandy Tjiptono (2008): Strategi pemasaran
merupakan alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan
dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui
pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar
sasaran Menurut Kotler & Keller (2009).
Semua strategi pemasaran dibuat berdasarkan STP. Langkah pertama
adalah melakukan segmentasi (segmentation) yaitu dengan melakukan
pengelompokan dari sekeluruhan pasar, langkah penetapan sasaran pasaryaitu
memilih satu atau lebih segmen pasar untuk dimasuki (Targeting), dan yang terakhir
adalah penentuan posisi pasar (Positioning)
1. Segmentation
Menurut Fandy Tjiptono (2008:211), segmentasi pasar adalah proses
pengelompokan keseluruhan pasar yang berbeda kedalam kelompok-
kelompok atau segmen-segmen yang memiliki kesamaan dalam keinginan,
kebutuhan dan prilaku serta respon terhadap program-program pemasaran
spesifik. Perusahaan mencari berbagai cara yang berbeda dalam memilih
pasar dan mengembangkan profil semua segmen pasar yang didapatkan.
Umumnya variable yang digunakan perusahaan dalam melakukan
segmentasi pasarnya adalah variable geografis, demografis atau psycografis.
Adapun dasar untuk segmentasi pasar tersebut antara lain:
a. Segmentasi Pasar Konsumen Dibagi menjadi empat variabel, yakni :
1. Segmentasi Geografis. Segementasi ini membutuhkan pembagian pasar menjadi
unit geografis yang berbeda seperti negara, wilayah, daerah, kota atau bahkan
lingkungan sekitar.

Studi Kelayakan Bisnis 8


2. Segmentasi Demografis. Segmentasi ini membagi pasar menjadi
klompok berdasarkan variabel seperti usia, jenis kelamin, ukuran
keluarga, siklus hidup keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan,
agama, ras, generasi, dan kebangsaan. Faktor demografis adalah
dasar paling umum yang digunakan untuk menetapkan segmentasi
kelompok pelanggan.
3. Segmentasi Psikografis. Segmentasi ini membagi membeli menjadi
kelompok berbeda berdasarkan kelas sosial, gaya hidup atau juga
karakteristik kepribadian dalam suatu kelompok demografis yang
sama.
4. Segmentasi Prilaku. Segmentasi ini membagi pembeli menjadi
kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, penggunaan, atau
respon terhadap sebuah produk.
b. Segmentasi Pasar Bisnis
Konsumen dan pemasar bisnis menggunakan banyak variabel
yang sama untuk menetapkan segmen pasar mereka. Pembeli bisnis
dapat disegmentasikan secara Geografis, Demografis, atau lewat
pencarian manfaat. tetapi pemasar bisnis juga menggunakan variabel
tambahan seperti karakteristik operasi, pendekatan pembelian, faktor
situasional dan karakteristik pribadi pelanggan. Dengan mengejar segmen
dan bukannya seluruh pasar, perusahaan dapat menghantarkan proposisi
nilai yang tepat bagi masing-masing segmen yang dilayani.
c. Segmentasi Pasar International
Perusahaan dapat melakukan segmentasi pasar international
dengan suatu kombinasi variabel. Perusahaan dapat menetapkan segmen
berdasarkan letak Geografis, Pasar dunia juga bisa disegmentasikan
berdasarkan faktor ekonomi. Selain itu faktor politik, hukum, dan budaya
juga bisa dijadikan kombinasi variable untuk segmentasi pasar secara
international.
2. Targeting
Pasar yang sudah disegmentasi berdasarkan kebutuhan atau segmennya
kemudian dipilih satu atau lebih segmen yang disebut target untuk dilayani. Target

Studi Kelayakan Bisnis 9


dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan internal organisasi dan berdasarkan
besarnya target yang diperkirakan dapat memberikan profitabilitas yang tinggi untuk
perusahaan.
Pada umumnya terdapat beberapa alternatif untuk pemilihan target pasar antara lain:
a. Sasaran pasar yang sama (Un-differentiated Marketing)
b. Sasaran pasar majemuk (Differentiated Marketing)
c. Sasaran pasar terkonsentrasi (Concetrated Marketing)
d. Extensive Segmenting
e. Selective Segmenting
3. Positioning
Menurut Amstrong dan Kotler (2008:p61) Penempatan atau positioning adalah
sebuah pengaturan produk atau bauran pemasaran agar posisi produk atau jasa
jelas, diinginkan dan berbeda, serta menciptakan kesan yang dapat diingat oleh
konsumen. Dengan positioning produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan
dapat dipahami dan dihargai oleh konsumen, melebihi produk atau jasa para pesaing.
Positioning berkaitan dengan nilai (value) dan manfaat (benefit) yang ditempatkan
pada benak konsumen. Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan
sebagai penentuan posisi, yaitu:
a. Atribut (attribute positioning) berkaitan dengan penempatan yang didasarkan
pada atribut, seperti derajat kepentingan (importance), keunikan
(distinctiveness), dapat dikomunikasikan (communicability), mendahului (pre-
emptive), keterjangkauan produk atau jasa baik aspek ekonomi dan fisik
(affordability), serta laba yang diperoleh (profitability)
b. Tarif dan mutu (price dan quality positioning), seperti pelayanan yang cepat, tarif
atau harga yang lebih murah, rasa bintang lima dengan harga kaki lima.
c. Jenis produk/jasa yang banyak digunakan (Application positioning)
d. Pengguna/pemakai dari produk/jasa yang banyak digunakan (user positioning)
dan kelas produk.
e. Penempatan pesaing (competitor positioning) dimana penempatan dapat
dilakukan berdasarkan manfaat yang ditimbulkan (benefit).

Studi Kelayakan Bisnis 10


5. Aspek Keuangan

Menurut Siswanto Sutojo (2000) aspek keuangan sendiri adalah rencana


investasi proyek yang disebut juga ilmu pembiayaan investasi proyek atau capital
budgeting. Sedangkan menurut sofyan (2003) analisis aspek keuangan adalah
kegiatan melakukan penilaian dan penentuan satuanrupiah terhadap aspek-aspek
yang dianggap layak dari keputusan yang dibuat dalam tahapan analisis usaha.
Menurut Sofyan (2003), kegiatan analisis keuangan dapat dikelompokkan
kedalam tiga kegiatan utama yaitu:
1. Rekapitulasi penerimaan usaha,
Unsur penerimaan usaha meliputi:
a. Perkiraan penjualan yang telah dihitung pada analisis pemasaran
b. Harga jual yang ditetapkan
c. Tambahan pendapatan lain-lain yang mungkin diperoleh karenaadanya pendirian
usaha ini.
2. Rekapitulasi biaya usaha,
yaitu membuat rekap dari semua biaya usaha yang sudah dihasilkan atau
diputuskan. Unsur biaya usaha meliputi: biaya praoperasi, biaya investasi, biaya
operasi. Pengelompokkan biaya meliputi biaya penyusutan, biaya amortisasi,
biaya bunga.
3. Membuat laporan aliran
yaitu menguji aliran kas masuk yang dihasilkan berdasarkan kriteria
keuangan yang ada. Secara umum laporan kas dapat diperoleh dengan cara
mengurangi total rekap perkiraan penerimaan dengan total rekap perkiraan biaya
usaha.
Dalam analisis dari aspek keuangan diperlukan data yang akan dipakai
untukmencari besar-besaran yang dibutuhkan dalam perhitungan dan teori yang
mendukung dalam penilaian studi kelayakan meliputi kebutuhan dana, sumber dana,
biaya modal dan struktur modal, nilai waktu dari uang, depresiasi, amortisasi dan pajak

Studi Kelayakan Bisnis 11


KESIMPULAN DARI TUGAS REVIEW MATERI MANFAAT STUDI KELAYAKAN BISNIS

Mata kuliah ini bertujuan memberikan pemahaman dalam membuat studi kelayakan
bisnis dengan mempertimbangkan aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek
keuangan dan aspek ekonomi serta analisis kriteria investasi.

MANFAAT STUDI KELAYAKAN BISNIS


Studi kelayakan bisnis merupakan penelitian yang sangat penting untuk dilakukan
sebelum seseorang atau sekelompok orang memulai sebuah usaha. Beberapa manfaat studi
kelayakan bisnis, antara lain:
1. Menghindari resiko kerugian
Studi kelayakan bisnis bermanfaat untuk membantu pelaku bisnis menghindari
resiko kerugian. Jika pelaku bisnis melewatkan studi kelayakan bisnis dalam
perencanaan bisnisnya, ia akan kesulitan untuk mengetahui apakah bisnis tersebut dapat
mendatangkan keuntungan atau justru kerugian untuknya. Dengan adanya studi
kelayakan bisnis, pelaku bisnis dapat menghindari resiko kerugian dengan langkah
menunda atau membatalkan rencana bisnis yang mendapatkan penilaian tidak layak
dalam studi kelayakan bisnis.
2. Memudahkan perencanaan bisnis
Studi kelayakan bisnis dapat membantu pelaku bisnis untuk menyusun rencana
kegiatan bagi perusahaan. Studi kelayakan bisnis yang telah dilakukan sebelum bisnis
dibangun akan memudahkan pelaku bisnis menentukan program perusahaan seperti apa
yang dapat mendatangkan benefit lebih bagi perusahaan.
3. Memudahkan pelaksanaan bisnis
Studi kelayakan bisnis akan berguna untuk membantu pelaku bisnis
merealisasikan program-program perusahaan. Pelaku bisnis dapat mengevaluasi
kebijakan apa yang sekiranya akan memberikan keuntungan dan kebijakan apa yang
justru akan menimbulkan kerugian.
4. Memudahkan pengawasan
Studi kelayakan bisnis memiliki banyak aspek untuk diteliti. Laporan dari
berbagai aspek yang diteliti dalam studi kelayakan bisnis ini nantinya akan memudahkan
pelaku bisnis untuk melakukan pengawasan pada perusahaannya. Studi kelayakan

Studi Kelayakan Bisnis 12


bisnis juga memudahkan pelaku pengawasan untuk memberikan data jika sewaktu-
waktu dilaksanakan audit, baik secara internal maupun eksternal.
5. Memudahkan pengendalian
Studi kelayakan bisnis berguna pula untuk memudahkan proses pengendalian
dalam perusahaan. Jika sewaktu-waktu terjadi gangguan, pelaku bisnis dapat dengan
cepat menentukan aspek mana yang menjadi pusat dari kekacauan tersebut.
Selanjutnya, pelaku bisnis dapat dengan cepat pula mengendalikan masalah yang
muncul dengan mencari solusi berdasarkan studi kelayakan bisnis yang telah dilakukan
sebelumnya.
Studi kelayakan bisnis tidak hanya berguna untuk para pelaku bisnis. Terdapat
pihak-pihak lain yang membutuhkan studi kelayakan bisnis untuk membantu mereka
mencapai kepentingan masing-masing. Pihak-pihak tersebut antara lain:
1. Pihak Investor
Investor adalah pihak yang menanamkan modal ke sebuah perusahaan.
Laporan studi kelayakan bisnis berguna bagi investor untuk menentukan seberapa
besar modal yang akan ia tanam di sebuah perusahaan. Hasil studi kelayakan
bisnis yang baik akan membuat investor berani menanamkan modal yang besar.
Sebaliknya, hasil studi kelayakan bisnis yang buruk akan membuat investor
menghindari menanam modal di sebuah perusahaan.
2. Pihak Kreditor
Bagi perusahaan yang membutuhkan modal besar, pelaku bisnis biasanya
mengajukan pinjaman pada pihak Bank. Bank sebagai kreditor akan menggunakan
laporan studi kelayakan bisnis sebagai dasar pengambilan keputusan apakah akan
memberikan pinjaman atau tidak memberikan pinjaman ke suatu perusahaan. Hasil
studi kelayakan bisnis yang bagus akan meningkatkan kepercayaan kreditor kepada
pengusaha.
3. Pihak Manajemen Perusahaan
Pihak manajemen perusahaan memerlukan laporan studi kelayakan bisnis
sebagai indikator atas manajemen yang telah diterapkan selama ini. Studi
kelayakan bisnis juga berguna bagi pihak manajemen untuk mengetahui besaran
dana yang akan dibutuhkan serta dapat pula digunakan sebagai pedoman dalam
melaksanakan atau mengolah proyek di masa depan.

Studi Kelayakan Bisnis 13


4. Pihak Pemerintah
Suatu bisnis membutuhkan izin dari pemerintah untuk kepentingan legalitas.
Studi kelayakan bisnis dapat digunakan oleh pemerintah sebagai dasar
pengambilan keputusan dalam memberikan izin usaha atau proyek.
5. Pihak Masyarakat
Suatu bisnis tidak hanya membutuhkan izin dari pemerintah, namun juga
dari masyarakat yang ada di sekitar lokasi usaha. Studi kelayakan bisnis dapat
digunakan oleh masyarakat untuk meninjau apakah sebuah badan usaha yang
hendak dibangun di kawasan tersebut ramah lingkungan dan dapat bermanfaat bagi
kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Studi Kelayakan Bisnis 14


Referensi :
Husein Umar, Studi Kelayakan Bisnis, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Kasmir, Jakfar, Studi Kelayakan Bisnis, Prenada Media, Jakarta, 2003
Suliyanto, Studi Kelayakan Bisnis, CV. Andi Offset. Yogyakarta, 2010

Studi Kelayakan Bisnis 15