Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aktivitas seksual merupakan komponen kebutuhan biologis dalam

kehidupan manusia yang berguna untuk mendapatkan keturunan dan melestarikan

spesies. Namun tak jarang aktivitas seksual menjadi suatu masalah akibat dampak

dari masalah lain atau juga dapat menjadi penyebab masalah lain. Masalah

aktivitas seksual dalam rumah tangga dapat disebabkan oleh salah satu pihak

(suami atau istri) atau keduanya mengalami gangguan atau disfungsi seksual

(Nafisah, 2015). Hubungan seks atau hubungan kelamin bukan untuk prokreasi

saja seperti pada hewan, tetapi pada manusia juga untuk rekreasi, komersial,

dan status. Dan bukan hanya untuk kepuasan di ranjang tetapi untuk

kebahagiaan keluarga (Bambang, 2008).

Disfungsi seksual secara luas didefinisikan oleh DSM-IV sebagai

“sebuah gangguan dalam proses yang memiliki karakteristik siklus respon seksual

atau rasa sakit terkait dengan hubungan seksual. Disfungsi seksual adalah

gangguan pada setiap komponen siklus respon seksual, yang menyebabkan fungsi

seksual pada tubuh seseorang melemah. Pada wanita faktor psikologis seperti

kecemasan dapat mempengaruhi fungsi seksual 70% disfungsi seksual

disebabkan karena faktor psikologis. Seorang wanita lebih sering mengalami

1
gejala kecemasan dibanding dengan laki-laki. Stressor pencetus kecemasan pada

seseorang dapat disebabkan oleh ancaman terhadap integritas dan ancaman

terhadap sistem diri seseorang (Lidia, 2008).

Pada pria disfungsi seksual mengacu kepada kesulitan terlibat dalam

hubungan seks, meliputi gangguan dalam gairah seks (libido), kemampuan untuk

mencapai atau menjaga ereksi (disfungsi ereksi atau impoten), kemampuan

untuk mencapai orgasme dan ejakulasi (Hiola, 2013). Disfungsi seksual ini dapat

disebabkan oleh berbagai gangguan dan penyakit, baik fisik maupun mental.

Penyakit fisik yang dapat menyebabkan disfungsi seksual umumnya merupakan

penyakit kronik seperti DM, anemia, kurang gizi, maupun penyakit otak dan

sumsum tulang. Selain itu dapat disebabkan oleh penyakit yang langsung secara

organik menyerang kelamin.

Disfungsi seksual dapat juga disebabkan oleh penggunaan narkoba, obat

penenang, alkohol, dan rokok. Penyakit mental yang menyebabkan disfungsi

seksual adalah psikosis, skizofrenia, neurosis cemas, histerik, obsesif-kompulsif,

depresif, fobia, serta retardasi mental dan gangguan intelegensia.

Berdasarkan penelitian tentang perilaku seksual dan disfungsi seksual

serta upaya pencarian pertolongan pada orang yang berusia 40-80 tahun yang

dilaksanakan di beberapa negara Asia termasuk Indonesia, dilaporkan dari 6700

orang 82% laki-laki dan 64% wanita usia lanjut menyatakan pernah melakukan

hubungan seksual selama satu tahun terakhir. Saat dilakukan wawancara, 20%-

30% mengeluh mengalami disfungsi seksual seperti ejakulasi dini, gangguan

ereksi pada pria, dan khususnya pada wanita dilaporkan seperti tidak tertarik

2
terhadap seksual, kesulitan dalam lubrikasi, dan kesulitan untuk mencapai

orgasme (Lidia, 2008).

Ereksi merupakan proses transformasi penis yang lemas (flaccid) menjadi

organ yang tegang (rigid). Ereksi merupakan hasil dari satu interaksi yang

komplet dari faktor psikogenik, neuro endokrin, dan mekanisme vaskular yang

bekerja pada jaringan ereksi penis. Orgasmus adalah perasaan kepuasan seks

sebagai akibat dari pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (seksual

tension) setelah terjadinya fase rangsangan (excitement) yang memuncak pada

fase plateu (menyebabkan rangsangan) yang maksimal (Harahap, 2006).

Disfungsi ereksi (DE) adalah masalah medis yang signifikan dan

umum, yang dapat menjatuhkan ego seorang pria dan mengancam hubungan

kebahagiaan yang telah ada (Susanto,2011). Insidensi disfungsi ereksi paling

banyak pada lelaki lebih muda dari 40 tahun, tetapi meningkat sesuai usia.

Walaupun hubungan langsung dengan proses penuaan tidak jelas, disfungsi ereksi

diasumsikan sebagai gejala proses penuaan pada laki-laki. Disfungsi ereksi diduga

berhubungan dengan kondisi medis pasien (hipertensi, aterosklerosis,

hiperlipidemia, DM, gangguan psikiatrik) atau obat yang dikonsumsi untuk

penyakit tersebut (Kharisma, 2017).

Hasil survei Massachusets Male Aging Study (MMAS), yang dilakukan

pada pria usia 40 sampai 70 tahun mendapatkan 52% responden menderita

DE derajat tertentu, yaitu DE total diderita sebesar 9,6%, sedang 25,2% dan

minimal sebesar 17,2%. Walaupun di Indonesia tidak terdapat survei yang

cukup besar, namun darigambaran penderita DE yang datang ke klinik

3
impotensi diperkirakan hasilnya tidak jauh berbeda (Susanto, 2011). Prevalensi

disfungsi ereksi di Indonesia belum diketahui secara tepat, diperkirakan 16% laki-

laki usia 20 – 75 tahun di Indonesia mengalami disfungsi ereksi (Mulyani, 2013).

Impotensi adalah ketidaksanggupan penis untuk mendapatkan atau

menjaga suatu ereksi dalam menyelenggarakan suatu hubungan seksual (sexual

intercourse). Ejakulasi dini adalah suatu keadaan di mana seorang pria sudah

mendapatkan orgasmus dan berejakulasi sebelum ia sendiri menghendakinya.

Libido ialah semua kekuatan dari dorongan seks, yakni dorongan untuk

mencapai kepuasan seksual (seksual pleasure seeking) (Harahap, 2006).

Ejakulasi dini merupakan gangguan disfungsi seksual pria yang paling

sering dijumpai. Ejakulasi dini memengaruhi sekitar 14-30% pria berusia lebih

dari 18 tahun, 30%-40% pria yang aktif secara seksual, dan 75% pria di saat

tertentu di dalam kehidupannya. Di seluruh dunia, ada sekitar 22-38% penderita

ejakulasi dini. Menurut Carson C dan Gunn K (2006), sekitar 25%-40% dari

semua pria menderita ejakulasi dini. Beberapa sumber ahkan menyebutkan 30-

75% dari semua pria di dunia menderita ejakulasi dini (Anugroho, 2012).

Kriteria ED ditujukan untuk mereka yang memenuhi kriteria umum

disfungsi seksual, yaitu ketidakmampuan pasangan seksual dalam mengendalikan

ejakulasi secara cukup untuk menikmati hubungan seksual. Bermanifestasi

sebagai terjadinya ejakulasi sebelum/segera setelah aktivitas seks dimulai

(sekitar 15 detik); tidak cukup ereksi untuk memungkinkan terjadinya

hubungan seks (Anugroho, 2012).

4
Disfungsi seksual harus dicari penyebabnya sehingga dapat ditanggulangi

secara menyeluruh. Apabila tidak diatasi dapat menimbulkan maslaah yang lebih

besar. Disfungsi seksual mungkin terjadi seumur hidup atau didapat yang

berkembang setelah periode normal sebelumnya. Disfungsi mungkin saja dapat

terjadi secara umum ataupun situasional (Nafisah, 2015).

5
BAB II

ANATOMI dan FISIOLOGI

A. Anatomi Penis

Sistem reproduksi pria terdiri atas testis, saluran kelamin, kelenjar

tambahan, dan penis. Penis seperti kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak

meruncing ke depan. Penis adalah organ seks utama yang letaknya di antara kedua

pangkal paha. Panjang penis orang Indonesia dalam keadaan flaksid dengan

mengukur dari pangkal dan ditarik sampai ujung adalah sekitar 9 sampai 12

cm. Sebagian ada yang lebih pendek dan sebagian lagi ada yang lebih

6
panjang. Pada saat ereksi yang penuh, penis akan memanjang dan membesar

sehingga menjadi sekitar 10 cm sampai 14 cm (Puspita, 2016).

Bagian utama daripada penis adalah bagian erektil atau bagian yang dapat

mengecil atau flaksid dan bisa membesar sampai keras. Bila dilihat dari

penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni2 batang korpus

kavernosadi kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah disebut korpus

spongiosa. Kedua korpus kavernosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang

disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di

luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck (Puspita, 2016).

B. Fisiologi Ereksi

Ereksi yang normal memerlukan fungsi penuh dari berbagai sistem

fisiologik: vaskuler, saraf dan hormonal. Pasien juga harus menerima

stimulus seksual. Ereksi penis berlangsung melalui beberapa fase

1. Fase flasid.

Aliran vena dan arteri minimal, kadar gas darah ekual terhadap kadarnya

dalam darah vena.

2. Fase pengisian lambat

Peningkatan aliran darah di arteri pudenda selama tonus sistolik dan diastolik.

Penurunan tekanan arteri pudenda interna, tekanan intracavernosus tidak berubah.

Pemanjangan sebagian penis.

3. Fase tumescent(pengisian cepat)

Peningkatan tekanan intracavernosus sampai ereksi mencapai maksimal. Penis

menunjukkan pembesaran dan pemanjangan serta berdenyut. Aliran darah arteri

7
menurun sejalan dengan peningkatan tekanan. Ketika tekanan intracavernosus

meningkat melebihi tekanan diastolik, aliran hanya terjadi pada saat sistolik.

4. Fase ereksi maksimal

Tekanan intracavernosus dapat meningkat menyamai tekanan sistolik. Tekanan

arteri pudenda interna meningkat tapi tetap lebih rendah dari tekanan sistemik.

Aliran arteri lebih rendah dari fase pengisian tapi lebih tinggi dari fase flasid.

Walaupun kanal vena biasanya tertekan, aliran vena sedikit lebih tinggi

dibandingkan pada fase flasid. Kadar gas darah mendekati kadar di arteri.

5. Fase ereksi rigid atau skeletal

Akibat kontraksi muskulus ischiocavernosus, tekanan intracavernosus meningkat

melebihi tekanan sistolik, sehingga ereksi menjadi rigid. Selama fase ini hampir

tidak ada aliran darah ke arteri cavernosus, tapi durasi yang pendek mencegah

timbulnya iskhemia atau kerusakan jaringan.

6. Fase detumescent (pengosongan)

Setelah ejakulasi, muncul tonus simpatis, sehingga otot polos sekitar sinusoid dan

arteriol kontraksi. Pengurangan aliran darah ini efektif menimbulkan keadaan

flasid, mengurangi sebagian besar darah dari sinusoid dan membuka

kembali

kanan vena. Penis kembali pada kondisi flasid, baik besarnya maupun panjangnya

(Kharisma, 2017).

8
C.

Siklus Respon Seksual

Bolte mengemukakan model linear untuk menjelaskan siklus respons

seksual. Ia mengemukakan lima fase, yaitu:

1. Fase kehendak/libido seksual (sexual desire/libido)

Fase ini terdiri dari berbagai fantasi, imajinasi, khayalan tentang aktivitas

seksual dan kehendak dorongan yang berhubungan dengannya.

2. Fase perangsangan seksual (sexual excitement, arousal)

Fase ini terdiri dari perasaan subjektif tentang rangsang seksual, kenikmatan, dan

perubahan fisiologis yang menyertai. Perubahan utama pada pria adalah penis

mulai berdiri dan menegang. Sedangkan pada wanita, ditandai dengan

menyempitnya pembuluh darah di panggul, pelumasan (lubrikasi) dan

“pengembangan” vagina, “pembengkakan” organ kelamin luar.

3. Fase plateau

Fase menuju orgasme. Testis pria tertarik ke skrotum. Vagina terus

“mengembang” karena aliran darah meningkat, klitoris menjadi sangat sensitif.

Pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah meningkat secara bertahap.

Spasme otot mulai terjadi di wajah, tangan, kaki seiring dengan

meningkatnya tegangan otot-otot.

4. Fase orgasme

9
Fase ini merupakan puncak (climax) kenikmatan seksual yang diiringi kontraksi

ritmis dan pelepasan tegangan seksual yang kuat dan mendadak. Pada pria,

terjadi kontraksi ritmis otot-otot dasar penis, diikuti dengan ejakulasi. Pada

wanita, vagina berkontraksi.

5. Fase resolution (reflection, satisfaction)

Fase terakhir, final, istirahat, ditandai dengan keintiman/kemesraan yang

meningkat, suasana nyaman, relaksasi otot, kelelahan. Kepuasan

pasangan merupakan hal penting pada fase ini (Anugroho, 201

D. Fisiologi Ejakulasi

Ejakulasi adalah suatu proses pengeluaran sperma sebagai akhir dari aksi

seksual pria. Aksi seksual pria terdiri dari tahap-tahap :

1. Ereksi : impuls saraf parasimpatik arteri penis berdilatasi darah memenuhi

sinusoid jar.kavernosa penis jar. Erektil penis menggembung penis

membesarpenis menggembung

penis membesar

10
2. Lubrikasi : impuls saraf parasimpatik merangsang kel uretra & bulbouretra

menghasilkan lendir lubrikan

3. Emisi : rangsang seksual meningkat refleks simpatis pleksus hipogastric

kontraksi vas deferens & ampula sperma keluar, bercampur mukus dari kel

vesikula seminalis terbentuk cairan semen di duktus ejakulatorius

4. Ejakulasi : pengisian cairan di uretra

merangsang saraf pudendal ke korda sakralis kontraksi otot ischiocavernosus dan

bulbocavernosus menekan jar erektil penis timbul tekanan ritmik yang mendorong

cairan semen keluar dari uretra (Naldi, 2010).

11
BAB II

DISFUNGSI SEKSUAL

A. Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi atau erectile dysfunction (ED) adalah ketidak mampuan

yang menetap seorang pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang

cukup guna melakukan aktifitas seksual yang memuaskan.Kegagalan mencapai

atau mempertahankan ereksi yang sesuai untuk hubungan seksual disfungsi ereksi

atau impotensi dapat disebabkan oleh faktor psikologik atau fisik.

Mengalami kegagalan ereksi sesekali bukan berarti impotensi, tetapi

seorang yang terlalu cemas tentang kemampuannya melakukan tindakan seks

mungkin akan benar – benar mengalaminya secara kronik. Rasa cemas daat

menyebabkan disufngsi ereksi, yang semakin menabah tingkat kecemasan pria

yang bersangkutan sehingga masalah menjadi semakin parah. Impotensi juga

dapat ditimbulkan oleh keterbatasan fisik, termasuk kerusakan saraf, obat tertentu

yang enggannggu fungsi otonom, dan gangguan aliran darah ke penis (Purnomo,

2016).

Seringkali penyebab disfungsi ereksi tidak hanya disebabkan oleh salah

satu faktor saja tetapi oleh beberapa faktor seara bersamaan. Untuk memudahkan,

penyebab disfungsi ereksi disingkat sebagai IMPOTEN

12
Inflamasi Prostatis
Mekanis Penyakit peyronie
Psikogenik Ansietas, depresi, konflik rumah tangga,

perasaan bersalah dan norma agama


Oklusif vaskuler Arteriogenik : hipertensi, rokok,

hiperlipidemia, diabetes mellitus, penyakit

pembuluh darah perifer

Venogenik : kegagalan mekanisme veno –

oklusif (karena perubahan anatomis dan

degeneratif)
Trauma Fraktur penis, cedera korda spinalis, trauma

penis
Ekstra faktor Latrogenik : pembedahan pada daerah

pelvis, prostatektomi

Lain – lain : usia lanjut, gagal ginjal kronik,

sirosis hepar, priapismus aliran rendah


Neurogenik Kelainan pada otak : tumor, cedera otak,

epilepi, CVA, parkinson

Kelainan pada medula spinalis : tumor,

cedera, tabes dorsalis

Kelainan pada saraf perifer : diabetes

melitus dan defiiensi vitamin.

Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita

adalah sebagai berikut: membuat diagnosa dari disfungsi seksual, mencari

etiologi dari disfungsi seksual tersebut, pengobatan sesuai dengan etiologi

disfungsi seksual. Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri

13
dari pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex

theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).

Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi

seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat

mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi

antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien

dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi

hanya sedikit yang peduli. Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan

kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual

pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita,

begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu

dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan

wawancara keluhan terpisah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi

atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan,

sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat

etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat dilakukan

penatalaksanaan yang tepat pula (Mulyani, 2013)

B. Ejakulasi Dini

14
Ejakulasi dini adalah salah satu disfungsi seksual pada lelaki yang ditandai

dengan ejakulasi yang selalu atau hampir selalu terjadi sebelum 1 menit saat

penetrasi penis ke dalam vagina. Klasifikasi ejakulasi dini dibedakan menjadi 2

berdasrkan onset kejadiannya. Ejakulasi dini primer (sudah lama) dan ejakulasi

dini sekunder (didapat). Ejakulasi dini primer dirasakan sejak pertama kali

melakukan hubungan seksual dan akan menetap selama hidup. Ejakulasi dini

sekunder ditandai dengan sebelumnya ejakulasi normal, tetapi secara perlahan-

lahan atau mendadak terjadi ejakulasi dini (Purnomo, 2016).

Etiologi ejakulasi dini kompleks dan multifaktor, meliputi interaksi antara

faktor psikologis dan biologis. Faktor psikologis meliputi: efek pengalaman dan

pengkondisian seksual pertama kali (termasuk pengalaman seks di usia dini,

hubungan seks pertama kali, dsb), terburu-buru ingin mencapai klimaks atau

orgasme, teknik seksual, frekuensi aktivitas seksual, nrasa bersalah, cemas,

penampilan seksual, problematika hubungan, dan penjelasan psikodinamika.

Faktor biologis meliputi: ketidaknormalan kadar hormon seks dan kadar

neurotransmiter, ketidaknormalan aktivitas refleks sistem ejakulasi, permasalahan

tiroid tertentu, peradangan dan infeksi prostat atau saluran kemih, ciri (traits)

yang diwariskan, teori evolutionary, sensitivitas penis, reseptor dan kadar

neurotransmiter pusat, degree of arousability, kecepatan refleks ejakulasi. Riset

terbaru menduga hipersensitivitas penis merupakan salah satu penyebab yang

mendasari ejakulasi dini.

Faktor lainnya yang dapat juga berperan, seperti: impotensi (disfungsi

ereksi), kerusakan sistem saraf akibat pembedahan atau trauma (luka),

15
ketergantungan narkotika dan obat (trifluoperazin) yang digunakan untuk

ejakulasi dini, mengobati cemas dan gangguan mental lainnya (Anugroho,

2012).

Gambaran klinis dibagi menurut klasifikasi ejakulasi dini yaitu ejakulasi

dini primer dan ejakulasi dini sekunder :

Ejakulasi dini primer

Ciri khasnya: ejakulasi terlalu cepat, baik sebelum penetrasi (memasuki

vagina) atau <1–2 menit setelahnya, dengan intravaginal ejaculation latency time

(IELT ) sekitar 0–2 menit. Untuk kegunaan praktis, ejakulasi primer adalah jika

terjadi dalam waktu satu menit setelah penetrasi ke vagina.

Ejakulasi dini sekunder

Menurut American Psychiatric Association, ejakulasi dini sekunder

ditandai oleh ejakulasi yang menetap atau berulang dengan rangsangan yang

minimal sebelum, pada saat, atau sejenak setelah penetrasi dan sebelum ejakulasi

yang sesungguhnya diharapkan terjadi. Ciri khasnya: waktu untuk ejakulasi

pendek namun biasanya tidak secepat ejakulasi dini primer (Anugroho, 2012).

Penatalaksanaan dibagi menjadi 2 yaitu :

Non Farmakologi : Manuver stop-start yang dikembangkan oleh Seman, yakni

menghambat rasa akan ejakulasi dengan cara menghentikan-memulai lagi

rangsangan seksual secara berluang. Teknik ini kemudian dimodifikasi menjadi

teknik memeras (squezze) penis oleh Masters & Johnson, yakni menghambat rasa

mau ejakulasi dengan memeras glans penis (Purnomo, 2016). Farmakologi :

Pemberian obat topikal berupa lidokain-prilokain (5%) dalam bentuk krim, jel

16
atau semprot pada penis 20-30 menit sebelum persetubuhan. Kemudian

menggunakan kondom agar obat lokal tidak diserap oleh vagina. Inhibitor selektif

reuptake serotonin atau selective serotonin (5-HT) reuptake inhibitors (SSRI)

adalah pilihan pertama untuk pengobatan ejakulasi dini primer, diantaranya adalah

paroxetine (20-40 mg/hari) dan fluoxetine (10-60 mg/hari) yang dipergunakan

sesuai kebutuhan atau setiap hari (Purnomo, 2016).

C. Ejakulasi Retrograd

Retrograde ejakulasi adalah air mani tidak keluar saat ejakulasi.

(Purnomo,2003) Ejakulasi retrograde terjadi ketika semen memasuki kandung

kemih dan tidak keluar melalui uretra saat ejakulasi. (Linda et al, 2011) Ejakulasi

retrograde mengacu pada aliran parsial ejakulasi ke dalam kandung kemih, bukan

ejakulasi antegrade dimana air mani didorong keluar uretra. Hal ini dapat terjadi

karena baik gangguan struktural atau fungsional dari proses ejakulasi. (Anthony et

al, 2008)

Umumnya retrograde ejakulasi didapatkan pada pria (Linda et al,

2011).Ditemukan pada umur 40-70 sebanyak 25% . (Anthony et al, 2008).

Penyabab kelainan ini antara lain : diabetes, beberapa obat, termasuk obat yang

digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi) dan pembedahan

untuk prostat atau uretra. (Linda et al, 2011)

Pada kondisi normal saat laki-laki orgasme, sperma dilepaskan dari

masing-masing testis, sperma kemudian bergerak melalui sebuah tabung yang

disebut vas deferens mengarah ke prostat, di mana sperma bercampur dengan air

mani. Otot pada pembukaan kandung kemih (leher kandung kemih)

17
mengencangkan untuk mencegah air mani masuk ke kandung kemih saat lewat ke

dalam tabung di dalam penis (uretra). Ini adalah otot yang sama yang berlaku

pada urin di kandung kemih sampai buang air kecil. Dengan retrograde ejakulasi,

otor leher kandung kemih tidak menegang dengan benar. Akibatnya sperma dapat

memasuki kandung kemih bukannya didorong keluar dari tubuh melalui penis.

(Linda et al, 2011)

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan masalah dengan otot yang

menutup kandung kemih selama ejakulasi antara lain: (Purnomo,2003) Operasi,

seperti operasi leher kandung kemih atau operasi prostat.Efek samping obat

tertentu digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, pembesaran prostat dan

gangguan mood. Kerusakan saraf yang disebabkan oleh kondisi medis seperti

diabetes, ,multiple sclerosis atau cedera saraf tulang belakang. (Purnomo,2003)

Kapsul prostat dan leher kandung kemih memiliki alpha-adnergik reseptor.

Alpha-bockers akan menghambat reseptor alfa-adrenergik sehingga menyebabkan

relaksasi dari kapsul prostat (leher buli-buli). Relaksasi ini lah yang

mengakibatkan aliran balik semen ke dalam buli-buli.

Diferensial diagnosis harus dikejar untuk pasien yang hadir dengan

berejakulasi tidak adaa atau volume rendah (seperti anejaculation, obstruksi dari

duktus ejakulasi atau vesikula seminalis, atau anomali kongenital, dari organ seks

aksesori), dengan pemeriksaan fisik lengkap dan USG transrectal.

(Purnomo,2003). Ejakulasi retrograde tidak mempengaruhi kemampuan untuk

ereksi atau mengalami orgasme, tapi ketika mencapai klimaks, sperma masuk ke

kandung kemih bukannya keluar melalui penis. Gejala dan tanda-tanda ejakulasi

18
retrograde antara lain: Adanya sebagian urin setelah orgasme Air mani sedikit atau

tidak keluar saat ejakulasi (Matthew & Keith, 2009)

Pemeriksaan fisik dan Lab

Urine yang diambil segera setelah ejakulasi akan menunjukan sejumlah

besar sperma dalam urin. (Lipshultz et al, 2007). Analisa semen untuk menilai

volume dan kekentalan semen serta menilai jumlah, kecepatan, percepatan

gerakan dan bentuk sperma. (Purnomo,2003)

Penatalaksanaan: Hentikan meminum obat yang menyebabkan retrograde

ejakulasi. Ejakulasi retrograde yang disebakan oleh diabetes atau operasi dapat

diobati dengan obat seperti pseudoefedrin atau imipramine ( Bhasin & Basson,

2011). Operasi bukan merupakan pilihan pengobatan untuk ejakulasi retrograde

(Matthew & Keith, 2009) Prognosis kasus ini jika ejakulasi retrograde disebabkan

oleh obat, menghentikan obat akan kembali menjadi ejakulasi normal. Jika

ejakulasi retrograde disebabkan oleh operasi atau diabetes, bisa tidak dapat

diperbaiki kembali. (Lipshultz et al, 2007).

Kondisi ini dapat menyebabkan infertilitas. Namun, air mani sering dapat

dikeluarkan dari kandung kemih dan dapat digunakan sebagai tehnik reproduksi

bantu untuk mencapai kehamilan. (Matthew & Keith, 2009).

D. Hematospermia

Hematospermia atau disebut juga hemospermia adalah didapatkannya

darah pada semen. Keadaan ini seringkali membuat penderita menjadi takut dan

panik karena menduga terkena penyakit kelamin atau kanker kalamin. Insiden

19
hematospermia sangat jarang, yakni didapatkan 0,5% dari populasi yang

menjalani skrining kanker prostat (Basuki .B ,2016).

Pada umumnya sebagian besar heamtospermia merupanakan kondisi

benigna dan dapat sembuh sendiri, terutama jika terjadi pada pria berusia

kurang dari 40 tahun, dan tanpa menderita faktor resiko, atau tidak dissrtai

dengam gejala penyakit lain. Meskipun keadaain ini benigna, namun evaluasi

yang menyeluruh perlu dilakukan, yakni meliputi anamnesis yang cermat,

pemeriksaan fisis, dan penujang guna menyingkirkan adanya patologi lain.

Faktor resiko yang perlu dicermati yang sering menyertai hematospermia

adalah riwayat kanker, kelainan bawaan system urogenital dan kelainan darah

(Basuki .B ,2016).

Penyebab hematospermia meliputi bakteri, Chlamydia trachomatis,

ureaplasma, virus herpes simpleks, Cytomegalovirus, dan parasit. Infeksi

Urogenitaldan kondisi peradangan dipertimbangkan account untuk 39-55% dari

pasien. Keganasan Urogenital dan trauma mencapai 4-13%. Dalam 30-70%

kasus, patologi tidak diklarifikasi setelah penilaian menyeluruh (Hideki Fuse,

2011).

Infeksi penyebab tersering hematospermia, yakni lebih kurang 40%. Di

samping itu penyebab lain, adalah aktivitas seksual yang berlebihan, atau

melakukan senggama terputus, tidak melakukan aktivitas seksual ( abstinensia

yang terlalu lama ), dan perlukaan prostat akibat tindakan biopsy. Penyebab lain

yang perlu diperhatikan adalah inflamasi, kanker, kelainan pembuluh darah,

20
kelainan stuktur urogenitalm penyakit liver kronis dan hipertensi (Basuki .B ,

2016).

Hematospermia iatrogenic disebabkan oleh instrumentasi urogenital

atau biopsy prostat, hal ini merupakan penyebab pada lelaki berusia di atas 40

tahun. Hematospermia yang berulang atau menetap, apalagi jika disertai dengan

demam, mengigil, berat badan menurun, dan nyeri tulang, harus dilakukan

pemeriksaan yang lebih teliti. Dimulai dari pemeriksaan prostat dan PSA, guna

mencari kemungkinan adanya keganasan prostat. Pada kelompok usia ini, tidak

jarang disebabkan infeksi urogenital, inflamasi, kelainan vaskuler, batu, tumor,

dan kelainan sistemik yang menyebabkan perdarahan. Pada pemeriksaaan,

perlu di perhatikan adanya infeksi atau inflamasi daerah skrotum serta isinya,

massa testis, epididymis, dan funikulus spermatikus, kemudian diperiksa colok

dubur dengan menilai ukuran prostat, fluktuasi, nyeri, simetri, konsistensi dan

dicari kemungkinan terabanya nodul (Basuki .B ,2016).

Hematospermia biasanya sembuh sendiri dalam banyak kasus, berhenti

terjadi dari waktu ke waktu, terutama untuk pasien berusia di bawah 40 tahun.

Dalam sebuah penelitian prospektif. menyimpulkan bahwa pada pasien yang

mengalami hematospermia tanpa pembengkakan, infeksi, atau keganasan,

hematospermia sembuh secara spontan di lebih dari 88% pasien dengan durasi

penyakit rata-rata 1,5 bulan. Karena hematospermia memiliki tingkat

persistensi yang lebih tinggi pada pasien dengan perdarahan vesikalinal mani,

kista midline, pelebaran vesikal mani, dan usia lebih tua dari 50 tahun, sangat

21
penting bahwa kondisi yang mendasari didiagnosis dengan benar dan ditangani

untuk mengatasi hematospermia sepenuhnya.

Demikian pula, salah satu aspek terpenting dalam mengelola

hematospermia adalah kepastian pasien. Dokter harus mengevaluasi pasien,

menyingkirkan kondisi yang mengancam jiwa seperti kanker, dan mengurangi

kecemasan dan stres sementara memberikan tindak lanjut dan pengamatan yang

tepat. Pembedahan harus dilakukan dan pengobatan yang tepat harus diberikan

berdasarkan sifat patofisiologis hematospermia. Dokter perawatan primer harus

dapat dengan aman mengelola kondisi idiopatik yang sering muncul sebagai

hematospermia. Konsultasi cepat dengan spesialis harus diperoleh jika pasien

memiliki gejala berulang,

PSA tinggi, atau temuan yang tidak biasa selama pemeriksaan fisik.

Pasien berusia di atas 40 tahun dengan faktor risiko tinggi seperti gejala

rekuren, hematuria, atau riwayat kanker prostat diperlukan untuk mencari ahli

urologi untuk pemeriksaan terperinci. Jika vesikula seminalis melebar, dan

pasien tidak memiliki resolusi hematospermia setelah terapi konservatif, maka

22
pasien dapat memilih untuk menjalani tusukan vesikular mani bilateral dan

injeksi obat dengan panduan ultrasound untuk menghentikan hematospermia

(Yiji Suh, 2017 )

23
BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Disfungsi seksual adalah gangguan setiap komponen yang membuat

sistem seksual melemah pada pria maupun wanita. Disfungsi seksual harus

dicari penyebabnya dan mendapatkan penangan yang tepat. Bila hal ini terjadi

dalam waktu yang lama pada seseorang akan menyebabkan gangguan psikologi

bagi penderitanya.

24
DAFTAR PUSTAKA

Anugroho, D. 2012. Ejakulasi Dini. Fakultas Kedokteran Universitas Palangka


Raya. RS PKU Muhammadiyah. Palangka Raya. Journal Hal 1-5.

Anthony S, fauci, et all. “Harrison’s Principle of Internal Medicine.17th edition”.


New York : McGraw-Hill Profesional. 2008. P.2754

Bambang, W. dkk. 2008. Hubungan Antara Budaya Dan Disfungsi Seksual. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan,
Surabaya. Journal Publikasi. Hal 2.

Bhasin S, Basson R. “Sexual Dysfunction in men and woman”. In: Kronenberg HM,
Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, eds. Williams Textbook of
Endocrinology. 12th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011: chaf 20.
From : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/001282.htm

Harahap, R. 2006. Disfungsi Seksual pada Penderita Diabetes Mellitus Pria.


Departemen Biologi. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Journal. Hal 1-4.

Hastuti, L. dkk. 2008. Hubungan Antara Kecemasan Dengan Aktivitas Dan


Fungsiseksual Pada Wanita Usia Lanjut Di Kabupaten Purworejo. Bagian
Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, FK UGM, Yogyakarta. Berita
Kedokteran. Hal 176-177.

Hideki Fuse, Akira Komiya, Tetsuo Nozaki, Akihiko Watanabe, 2011,


Hematospermia: etiology, diagnosis, and treatment, Department of
Urology, Graduate School of Medicine and Pharmaceutical Sciences for
Research, University of Toyama, Hal. 154-155.

Hiola, Z, dkk. 2013. Pengaruh Obesitas Terhadap Terjadinya Disfungsi Seksual


Pria. Bagian Biologi Universitas Sam Ratulan. Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ramtulangi. Journal Hal 1-5

Kharisma, Y. 2017. Tinjauan Umum Penyakit Disfungsi Ereksi. Fakultas


Kedokteran. Universitas Islam Bandung. Makalah. Hal 2.

25
Linda J. Vorvick, et all. “Retrograde Ejaculation”. USA : University of
Washington.2011. From :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002261/

Lipshultz LI, Thomas AJ, Khera M. “Surgical management of male infertility”. In:
Campbell-Walsh Urology: 9th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;
2007:chap 20. From : http://www.NEJM.com/health/retrograde-
ejaculation/DS00913/DSECTION=treatments-and-drugs

Matthew Roberts, MD, FRCSC and Keith Jarvi, MD, FRCSC. “Steps in the
investigation and management of low semen volume in the infertile man”. Can
Urol Assoc J. 2009 December; 3(6): 479-485. From :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/PMC2792416/

Mulyani. 2013. Disfungsi Ereksi. Makalah. Hal 2-18

Nadil, 2010. Fungsi Reproduksi dan Hormonal Pria. Fisiologi


KedokteranUnswagati. Cirebon. Materi Kuliah. Slide 15- 17.

Nafisah, F. Dkk. 2015. Kelainan dan Disfungsi Seksual. Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa Fakultas Kedokteranuniversitas Padjadjaranrumah Sakit Dr. Hasan
Sadikin Bandung. Makalah. Hal 2-4.

Purnomo, Basuki B. Dasar-dasar Urologi edisi kedua. Jakarta : CV Sagung Seto.


2003.

Puspita, N. 2016. Disfungsi Ereksi. Referat. Hal 6.

Susanto, M. 2011. Sildenafil Dalam Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi. Bagian


Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jakarta. Journal. Hal
1-2.

Yiji Suh , Jason Gandhi, Gunjan Joshi, Min Yea Lee, Steven J. Weissbart , Noel L.
Smith, Gargi Joshi , Sardar Ali Khan, 2017, Etiologic classification,
evaluation, and management of hematospermia, Translational Andrology
and Urology, Vol 6 No 5, Hal. 960.

26