Anda di halaman 1dari 78

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 67/PERMENTAN/SM.050/12/2016
TENTANG
PEMBINAAN KELEMBAGAAN PETANI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembinaan


kelembagaan petani telah ditetapkan Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013 tentang
Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan
Kelompoktani;
b. bahwa untuk memberikan kepastian hukum dalam
pelayanan dan pembinaan Kelompok Tani dan Gabungan
Kelompok Tani, Peraturan Menteri Pertanian Nomor
82/Permentan/OT.140/8/2013 tentang Pedoman
Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompoktani
perlu ditinjau kembali;
c. bahwa untuk menindaklanjuti amanat Pasal 19 ayat (4)
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem
Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, serta
Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang
Pembinaan Kelembagaan Petani;
-2-

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem


Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4660);
2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 131,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5433);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2009 tentang
Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan
Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 87, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5018);
5. Peraturan Presiden Nomor 154 Tahun 2014 tentang
Kelembagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 311);
6. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang
Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
7. Peraturan Presiden Nomor 45 tahun 2015 tentang
Kementerian Pertanian (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 85);
-3-

8. Keputusan Presiden Nomor 121/P/2014 tentang


Pembentukan Kementerian dan Pengangkatan Menteri
Kabinet Kerja Periode Tahun 2014-2019;
9. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Pertanian (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1243);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG PEMBINAAN
KELEMBAGAAN PETANI.

Pasal 1
(1) Kelembagaan Petani ditumbuhkembangkan dari, oleh,
dan untuk petani guna memperkuat dan
memperjuangkan kepentingan petani.
(2) Kelembagaan Petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. kelompok tani;
b. gabungan kelompok tani;
c. asosiasi komoditas pertanian; dan
d. dewan komoditas pertanian nasional.

Pasal 2
(1) Untuk meningkatkan kapasitas Kelembagaan Petani
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dilakukan
pembinaan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
melibatkan Kelembagaan Penyuluhan dan Penyuluh.
(3) Pembinaan Kelembagaan Petani sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
-4-

Pasal 3
Instrumen pembinaan Kelembagaan Petani sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 terdiri atas:
a. Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK) dan Rencana
Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK); dan
b. Sistem Kerja Latihan, Kunjungan dan Supervisi (Sistem
Kerja LAKU SUSI).

Pasal 4
(1) RDK dan RDKK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf a wajib disusun oleh kelompok tani.
(2) Sistem Kerja LAKU SUSI sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 huruf b wajib dilakukan oleh Penyuluh.
(3) Penyusunan RDK dan RDKK sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(4) Sistem Kerja LAKU SUSI sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 5
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 82/Permentan/ OT.140/8/2013
tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan
Kelompoktani (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor 1055), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 6
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
-5-

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2016

MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

AMRAN SULAIMAN

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 28 Desember 2016

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

WIDODO EKATJAHJANA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2016 NOMOR 2038


-6-

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 67/Permentan/SM.050/12/2016
TANGGAL : 20 Desember 2016

PEMBINAAN KELEMBAGAAN PETANI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sektor pertanian mempunyai peranan strategis terutama sebagai penyedia


pangan rakyat Indonesia, berkontribusi nyata dalam penyediaan bahan
pangan, bahan baku industri, bioenergi, penyerapan tenaga kerja yang
akan berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan dan menjaga
pelestarian lingkungan. Untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian
pangan diperlukan Pelaku Utama dan Pelaku Usaha profesional, andal,
berkemampuan manajerial, kewirausahaan dan organisasi bisnis. Oleh
karena itu, Pelaku Utama dan Pelaku Usaha mampu membangun
usahatani yang berdaya saing dan berkelanjutan sehingga dapat
meningkatkan posisi tawarnya. Untuk itu, kapasitas dan kemampuan
Pelaku Utama dan Pelaku Usaha terus ditingkatkan, salah satunya
melalui penyuluhan dengan pendekatan pembinaan kelembagaan petani
yang mencakup penumbuhan dan pengembangan kelembagaan petani,
sehingga petani dapat berkumpul untuk menumbuhkembangkan
kelembagaannya menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) yang
berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang
baik, dan berkelanjutan.

Penguatan kelembagaan petani sangat diperlukan dalam rangka


perlindungan dan pemberdayaan petani. Oleh karena itu, petani dapat
menumbuhkembangkan kelembagaan dari, oleh, dan untuk petani guna
memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani itu sendiri sesuai
dengan perpaduan antara budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal petani.
Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 87/PUU-
XI/2013 bahwa Pasal 70 ayat (1), harus dimaknai sebagai kelembagaan
petani termasuk kelembagaan petani yang dibentuk oleh para petani,
-7-

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013


tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan Gabungan Kelompoktani
perlu disempurnakan, sebagai upaya memberikan kepastian hukum dan
kepastian usaha dalam pelayanan dan pembinaan Kelompok Tani dan
Gabungan Kelompok Tani.

B. Tujuan

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk memberikan acuan dalam


penyelenggaraan pembinaan Kelembagaan Petani.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Pembinaan Kelembagaan Petani meliputi:


1. Kelompok Tani;
2. Gabungan Kelompok Tani;
3. Asosiasi Komoditas Pertanian; dan
4. Dewan Komoditas Pertanian Nasional.

D. Pengertian

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


1. Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari,
oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan
kepentingan petani, mencakup Kelompok Tani, Gabungan Kelompok
Tani, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian
Nasional.
2. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan adalah kumpulan
petani/peternak/pekebun yang dibentuk oleh para petani atas dasar
kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi,
dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk
meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
3. Klasifikasi Kemampuan Poktan adalah pemeringkatan kemampuan
Poktan ke dalam 4 (empat) kategori yang terdiri dari: Kelas Pemula,
Kelas Lanjut, Kelas Madya dan Kelas Utama yang penilaiannya
berdasarkan kemampuan Poktan.
-8-

4. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Gapoktan adalah


kumpulan beberapa Kelompok Tani yang bergabung dan bekerjasama
untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.
5. Kelembagaan Ekonomi Petani adalah lembaga yang melaksanakan
kegiatan usahatani yang dibentuk oleh, dari, dan untuk petani, guna
meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani, baik yang
berbadan hukum maupun yang belum berbadan hukum.
6. Asosiasi Komoditas Pertanian adalah kumpulan dari petani, Kelompok
Tani, dan/atau Gabungan Kelompok Tani yang mengusahakan
komoditas sejenis untuk memperjuangkan kepentingan petani.
7. Dewan Komoditas Pertanian Nasional adalah suatu lembaga yang
beranggotakan Asosiasi Komoditas Pertanian untuk memperjuangkan
kepentingan petani.
8. Pertanian adalah kegiatan mengelola sumberdaya alam hayati dengan
bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen untuk
menghasilkan komoditas pertanian yang mencakup tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu
agroekosistem.
9. Usahatani adalah kegiatan dalam bidang Pertanian, mulai dari
produksi/budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, sarana
produksi, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang.
10. Komoditas Pertanian adalah hasil dari Usahatani yang dapat
diperdagangkan, disimpan, dan/atau dipertukarkan.
11. Pelaku Utama selanjutnya disebut Petani adalah Warga Negara
Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang
melakukan Usahatani di bidang tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan/atau peternakan.
12. Pelaku Usaha adalah setiap orang yang melakukan usaha sarana
produksi Pertanian, pengolahan dan pemasaran hasil Pertanian, serta
jasa penunjang Pertanian yang berkedudukan di wilayah hukum
Republik Indonesia.
13. Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi Pelaku Utama
dan Pelaku Usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan
mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar,
teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian
-9-

fungsi lingkungan hidup.


14. Penyuluh Pertanian adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang
melakukan kegiatan Penyuluhan Pertanian, baik penyuluh Pegawai
Negeri Sipil, penyuluh swasta, maupun penyuluh swadaya.

BAB II
KELOMPOK TANI

Penumbuhan dan pengembangan Poktan dilakukan melalui pemberdayaan


Petani, dengan perpaduan dari budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal untuk
meningkatkan Usahatani dan kemampuan Poktan dalam melaksanakan
fungsinya. Penyebutan Poktan dimaksud dapat menggunakan nama antara
lain paguyuban, syarikat dan ikatan yang selaras dengan budaya, kearifan
lokal dan tidak menyimpang dari karakteristik (ciri, unsur pengikat, fungsi)
dan dasar penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan Petani.

Pemberdayaan Petani dilakukan melalui kegiatan pelatihan dan penyuluhan


dengan pendekatan kelompok. Kegiatan penyuluhan melalui pendekatan
kelompok untuk mendorong terbentuknya Kelembagaan Petani yang mampu
membangun sinergitas antar Petani dan antar Poktan dalam upaya mencapai
efisiensi usaha. Selanjutnya, dalam upaya meningkatkan kemampuan Poktan
dilakukan pembinaan dan pendampingan oleh Penyuluh Pertanian, dengan
melaksanakan penilaian Klasifikasi Kemampuan Poktan secara berkelanjutan
yang disesuaikan dengan kondisi perkembangannya.

A. Karakteristik Poktan

Poktan merupakan Kelembagaan Petani non formal dengan kriteria


sebagai berikut:
1. Ciri Poktan
a. saling mengenal, akrab dan saling percaya di antara sesama
anggota;
b. mempunyai pandangan dan kepentingan serta tujuan yang sama
dalam berusaha tani; dan
c. memiliki kesamaan dalam tradisi dan/atau pemukiman,
kawasan/hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi dan
sosial, budaya/kultur, adat istiadat, bahasa serta ekologi.
- 10 -

2. Unsur Pengikat Poktan


a. kawasan Usahatani yang menjadi tanggungjawab bersama di
antara anggota;
b. kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh sebagian besar
anggota;
c. kader yang mampu menggerakkan Petani dengan kepemimpinan
yang diterima oleh anggota;
d. pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan
kesepakatan bersama; dan
e. motivasi dari tokoh masyarakat dalam menunjang program yang
telah ditetapkan.
3. Fungsi Poktan
a. kelas belajar: Poktan merupakan wadah belajar mengajar bagi
anggota untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan
sikap agar tumbuh dan berkembang menjadi Usahatani yang
mandiri melalui pemanfaatan dan akses kepada sumber informasi
dan teknologi sehingga dapat meningkatkan produktivitas,
pendapatan serta kehidupan yang lebih baik;
b. wahana kerja sama: Poktan merupakan tempat untuk memperkuat
kerjasama, baik di antara sesama Petani dalam Poktan dan
antarpoktan maupun dengan pihak lain, sehingga diharapkan
Usahatani lebih efisien dan mampu menghadapi ancaman,
tantangan, hambatan serta lebih menguntungkan; dan
c. unit produksi: Usahatani masing-masing anggota Poktan secara
keseluruhan merupakan satu kesatuan usaha yang dapat
dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi usaha, dengan
menjaga kuantitas, kualitas dan kontinuitas.

B. Penumbuhan Poktan

1. Dasar Penumbuhan Poktan


a. penumbuhan Poktan dapat dimulai dari kelompok-
kelompok/organisasi sosial yang ada di masyarakat, antara lain
kelompok pengajian, kelompok arisan, kelompok remaja desa,
kelompok adat, selanjutnya melalui kegiatan Penyuluhan
Pertanian didorong untuk menumbuhkan Poktan, sehingga terikat
oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan
- 11 -

produksi dan produktivitas serta pendapatan dari usahataninya;


b. anggota Poktan harus memiliki kegiatan Usahatani sebagai mata
pencaharian utama;
c. Poktan dapat ditumbuhkan dari Petani dalam satu wilayah satu
RW/dusun atau lebih, satu desa/kelurahan atau lebih,
berdasarkan domisili, hamparan/lahan Usahatani atau jenis
Usahatani sesuai dengan kebutuhan mereka di wilayahnya;
d. Poktan ditumbuhkembangkan dari, oleh dan untuk Petani dengan
jumlah anggota antara 20 sampai dengan 30 orang Petani atau
disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan
usahataninya;
e. kegiatan Poktan yang dikelola berdasarkan kesepakatan anggota,
sesuai jenis usaha dan/atau unsur-unsur subsistem agribisnis
(pengadaan sarana produksi Pertanian, budidaya/produksi, panen
dan pasca panen, pemasaran, pengolahan hasil Pertanian, dan
lain-lain).
Dalam penumbuhan Poktan, yang perlu diperhatikan yaitu kesamaan
kepentingan, sumberdaya alam, sosial-ekonomi, keakraban, saling
mempercayai, dan keserasian hubungan antar anggota untuk
kelestarian kehidupan berkelompok, sehingga setiap anggota merasa
memiliki dan menikmati manfaat dari setiap kegiatan.
2. Prinsip-prinsip Penumbuhan Poktan
a. kebebasan, artinya menghargai setiap Petani untuk berkelompok
sesuai keinginan dan kepentingan bersama;
b. keterbukaan, artinya kegiatan Poktan harus dilaksanakan dengan
memperhatikan aspirasi anggota;
c. partisipatif, artinya semua anggota terlibat dan memiliki hak serta
kewajiban yang sama dalam mengembangkan serta mengelola
Poktan (merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan
mengevaluasi);
d. keswadayaan, artinya pengembangan kemampuan menggali
potensi setiap anggota dalam penyediaan dana, sarana produksi,
dan pemanfaatan sumberdaya untuk mewujudkan kemandirian
Poktan;
e. kesetaraan, artinya hubungan antar Pelaku Utama dan Pelaku
Usaha harus merupakan mitra sejajar; dan
f. kemitraan, artinya kerjasama berdasarkan prinsip saling
- 12 -

membutuhkan, saling menghargai, saling menguntungkan, dan


saling memperkuat antar Pelaku Utama dan Pelaku Usaha.
3. Pelaksanaan Penumbuhan Poktan
Pelaksanaan Penumbuhan Poktan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan Penumbuhan Poktan
1) Penyuluh Pertanian mengidentifikasi melalui pengumpulan data
dan informasi Petani yang belum menjadi anggota Poktan,
meliputi:
a) jumlah Petani dalam satu wilayah RW/dusun dan/atau
dalam satu desa/kelurahan;
b) kondisi Petani dan keluarganya;
c) tingkat pemahaman Petani tentang Kelembagaan Petani;
d) organisasi sosial yang anggotanya Petani; dan
e) domisili dan sebaran Petani, serta jenis Usahatani.
2) Penyuluh Pertanian menjelaskan kepada tokoh-tokoh Petani dan
aparat desa hal-hal sebagai berikut:
a) pengertian, ruang lingkup, tujuan, dan manfaat
membentuk Poktan untuk kepentingan Usahatani serta
hidup bermasyarakat;
b) proses penumbuhan; dan
c) penyusunan rencana kerja.
3) Penyuluh Pertanian kemudian melakukan pertemuan kelompok-
kelompok atau kelembagaan sosial dan pertemuan di tingkat
RW/dusun dalam satu desa/kelurahan, dengan materi sebagai
berikut:
a) syarat-syarat menjadi calon anggota Poktan;
b) pemahaman tentang Poktan, meliputi pengertian Poktan,
tujuan dan manfaat berkelompok;
c) kewajiban dan hak setiap anggota dan pengurus;
d) fungsi Poktan;
e) ketentuan dalam Poktan; dan
f) ciri-ciri Poktan yang kuat dan mandiri.
b. Proses Penumbuhan Poktan
1) Penyuluh Pertanian melakukan sosialisasi tentang penumbuhan
Poktan kepada tokoh-tokoh Petani setempat dan aparat
desa/kelurahan;
2) pertemuan atau musyawarah Petani yang dihadiri oleh tokoh
- 13 -

masyarakat, pamong desa/kelurahan, instansi terkait, dengan


didampingi Penyuluh Pertanian;
3) menyepakati pembentukan Poktan yang dituangkan dalam surat
pernyataan dengan diketahui Penyuluh Pertanian;
4) pengurus Poktan terdiri atas Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan
seksi-seksi sesuai unit usaha yang dimiliki, dengan syarat
sebagai berikut:
a) dipilih dari dan oleh perwakilan anggota secara demokratis;
b) berdomisili di wilayah Poktan;
c) mampu membaca dan menulis;
d) tidak berstatus sebagai aparat/ PNS/ pamong desa;
e) memiliki waktu yang cukup untuk memajukan Poktan; dan
f) memiliki semangat, motivasi dan kemampuan memimpin
Poktan.
5) setiap Poktan melakukan pertemuan lanjutan dengan dihadiri
seluruh anggota untuk menyusun dan/atau menetapkan
rencana kerja; dan
6) setiap Poktan harus didaftarkan di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan dan datanya
dimuat dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan
Pertanian (SIMLUHTAN).

C. Pengembangan Poktan

Pengembangan Poktan diarahkan pada (a) penguatan Poktan menjadi


Kelembagaan Petani yang kuat dan mandiri; (b) peningkatan kemampuan
anggota dalam pengembangan agribisnis; dan (c) peningkatan
kemampuan Poktan dalam menjalankan fungsinya.

1. Penguatan Poktan menjadi Kelembagaan Petani yang Kuat dan


Mandiri, melalui:
a. memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama;
b. melaksanakan pertemuan secara berkala dan berkesinambungan
(rapat anggota, rapat pengurus, dan rapat lainnya);
c. menyusun rencana kerja dalam bentuk Rencana Definitif
Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok
(RDKK) berdasarkan kesepakatan dan dilakukan evaluasi secara
- 14 -

partisipatif;
d. memiliki pengadministrasian Kelembagaan Petani;
e. memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu
sampai dengan hilir;
f. memfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar;
g. sebagai sumber pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha
Petani umumnya dan anggota khususnya;
h. menumbuhkan jejaring kerjasama kemitraan antara Poktan
dengan pihak lain;
i. mengembangkan pemupukan modal usaha, baik iuran anggota
maupun penyisihan hasil kegiatan usaha bersama; dan
j. meningkatkan kelas kemampuan Poktan yang terdiri atas Kelas
Pemula, Kelas Lanjut, Kelas Madya, dan Kelas Utama, sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Peningkatan Kemampuan Anggota dalam Pengembangan Usahatani
Upaya peningkatan kemampuan anggota dalam mengembangkan
Usahatani, meliputi:
a. memperlancar proses identifikasi kebutuhan dan masalah dalam
menyusun rencana dan memecahkan masalah dalam
usahataninya;
b. meningkatkan kemampuan anggota dalam menganalisis potensi
pasar, peluang usaha, potensi wilayah dan sumber daya yang
dimiliki, untuk mengembangkan komoditi yang diusahakan guna
memberikan keuntungan yang optimal;
c. menumbuhkembangkan kreativitas dan prakarsa anggota untuk
memanfaatkan setiap peluang usaha, informasi, dan akses
permodalan;
d. meningkatkan kemampuan anggota dalam mengelola Usahatani
secara komersial, berkelanjutan dan ramah lingkungan;
e. meningkatkan kemampuan anggota dalam menganalisis potensi
usaha menjadi unit usaha yang dapat memenuhi kebutuhan pasar
dari aspek kuantitas, kualitas dan kontinuitas;
f. mengembangkan kemampuan anggota dalam menghasilkan
teknologi spesifik lokasi; dan
g. mendorong dan mengadvokasi anggota agar mau dan mampu
melaksanakan kegiatan simpan-pinjam guna pengembangan modal
Usahatani.
- 15 -

3. Peningkatan Kemampuan Poktan dalam Menjalankan Fungsinya.


Pembinaan dilaksanakan secara berkesinambungan dan diarahkan
pada upaya peningkatan kemampuan Poktan dalam melaksanakan
fungsinya sebagai (1) kelas belajar; (2) wahana kerjasama; dan (3) unit
produksi, sehingga mampu mengembangkan Usahatani dan menjadi
Kelembagaan Petani yang kuat dan mandiri.
a. Kelas Belajar
Peningkatan kemampuan Poktan melalui proses belajar mengajar
diarahkan untuk mempunyai kemampuan sebagai berikut:
1) mengidentifikasi dan merumuskan kebutuhan belajar;
2) merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan belajar;
3) menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi anggota;
4) melaksanakan pertemuan dan pembelajaran secara kondusif
dan tertib;
5) menjalin kerjasama dengan sumber-sumber informasi dalam
proses belajar mengajar, baik yang berasal dari sesama
anggota, instansi pembina maupun pihak terkait;
6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif;
7) aktif dalam proses belajar-mengajar, termasuk mendatangkan
dan berkonsultasi kepada kelembagaan Penyuluhan Pertanian,
dan sumber-sumber informasi lainnya;
8) mengemukakan dan memahami keinginan, pendapat dan
masalah anggota;
9) merumuskan kesepakatan bersama, dalam memecahkan
masalah dan melakukan berbagai kegiatan; dan
10) merencanakan dan melaksanakan pertemuan berkala, baik
internal maupun dengan instansi terkait.
b. Wahana Kerjasama
Peningkatan kemampuan Poktan sebagai wahana kerjasama,
diarahkan untuk memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) menciptakan suasana saling kenal, saling percaya mempercayai
dan selalu berkeinginan untuk bekerjasama;
2) menciptakan suasana keterbukaan dalam menyatakan pendapat
dan pandangan diantara anggota untuk mencapai tujuan
bersama;
3) mengatur dan melaksanakan pembagian tugas/kerja diantara
anggota sesuai dengan kesepakatan bersama;
- 16 -

4) mengembangkan kedisiplinan dan rasa tanggungjawab


diantara anggota;
5) merencanakan dan melaksanakan musyawarah agar tercapai
kesepakatan yang bermanfaat bagi anggota;
6) melaksanakan kerjasama penyediaan sarana dan jasa
Pertanian;
7) melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan;
8) mentaati dan melaksanakan kesepakatan, baik yang dihasilkan
secara internal maupun dengan pihak lain;
9) menjalin kerjasama dan kemitraan usaha dengan pihak
penyedia sarana produksi, pengolahan, pemasaran hasil
dan/atau permodalan; dan
10) melakukan pemupukan modal untuk keperluan pengembangan
usaha anggota.
c. Unit Produksi
Peningkatan kemampuan Poktan sebagai unit produksi, diarahkan
untuk memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan
produksi yang menguntungkan berdasarkan informasi yang
tersedia dalam bidang teknologi, sosial, permodalan, sarana
produksi dan sumberdaya alam lainnya;
2) menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, serta
rencana kebutuhan Poktan atas dasar pertimbangan efisiensi;
3) memfasilitasi penerapan teknologi (bahan, alat, cara) Usahatani
oleh anggota sesuai dengan rencana kegiatan;
4) menjalin kerjasama dan kemitraan dengan pihak lain yang
terkait dalam pelaksanaan Usahatani;
5) mentaati dan melaksanakan kesepakatan, baik yang dihasilkan
secara internal maupun dengan pihak lain;
6) mengevaluasi kegiatan dan rencana kebutuhan bersama,
sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan kegiatan
yang akan datang;
7) meningkatkan kesinambungan produktivitas dan kelestarian
sumberdaya alam dan lingkungan; dan
8) mengelola administrasi secara baik dan benar.
4. Penilaian Kelas Kemampuan Poktan
Penumbuhan dan pembinaan Poktan diarahkan pada upaya
peningkatan kemampuan Poktan dengan pendekatan aspek
- 17 -

manajemen dan aspek kepemimpinan dari fungsi-fungsi Poktan


sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi.
Penilaian kelas kemampuan Poktan dilakukan setiap tahun
oleh Penyuluh Pertanian dan dikukuhkan sesuai dengan
jenjang klasifikasi kemampuan Poktan. Tata cara penilaian
kelas kemampuan Poktan lebih lanjut diatur dengan Peraturan
tersendiri.

BAB III
GABUNGAN KELOMPOK TANI

Kelembagaan Petani ditumbuhkembangkan untuk memenuhi kelayakan usaha


skala ekonomi dan efisiensi usaha, sehingga berfungsi sebagai unit usaha
penyedia sarana dan prasarana produksi, unit Usahatani/produksi, unit
usaha pengolahan, unit usaha pemasaran dan unit usaha keuangan mikro
(simpan pinjam).
Pada tahap pengembangannya, Gapoktan dapat memberikan pelayanan
informasi, teknologi, dan permodalan kepada anggotanya serta menjalin
kerjasama melalui kemitraan usaha dengan pihak lain. Penggabungan Poktan
ke dalam Gapoktan, diharapkan akan menjadikan Kelembagaan Petani yang
kuat dan mandiri serta berdaya saing.

A. Karakteristik Gapoktan
Gapoktan yang mampu mandiri dan berdaya saing, memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1. Ciri Gapoktan
a. memiliki aturan/norma tertulis yang disepakati dan ditaati
bersama;
b. melaksanakan pertemuan berkala dan berkesinambungan, antara
lain rapat anggota dan rapat pengurus;
c. menyusun dan melaksanakan rencana kerja Gapoktan sesuai
dengan kesepakatan dan melakukan evaluasi secara partisipatif;
d. memfasilitasi kegiatan usaha bersama mulai dari sektor hulu
sampai dengan sektor hilir;
e. memfasilitasi Usahatani secara komersial berorientasi agribisnis;
f. melayani informasi dan teknologi bagi Usahatani anggota Poktan
yang bergabung dalam Gapoktan dan Petani lainnya;
- 18 -

g. menjalin kerjasama melalui kemitraan usaha antara Gapoktan


dengan pihak lain; dan
h. melakukan pemupukan modal usaha, baik melalui iuran anggota
maupun dari penyisihan hasil usaha Gapoktan dan sumber
lainnya yang sah dan tidak mengikat.
2. Unsur Pengikat Gapoktan
Unsur pengikat Gapoktan meliputi adanya:
a. tujuan untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi
Usahatani;
b. pengurus dan pengelola unit-unit usaha Gapoktan yang
profesional untuk memajukan Usahatani Gapoktan sesuai
permintaan pasar dan kebutuhan anggota;
c. pengembangan komoditas produk unggulan yang merupakan
industri Pertanian perdesaan;
d. kegiatan pengembangan usaha melalui kerjasama kemitraan
untuk meningkatkan posisi tawar Gapoktan mulai dari sektor hulu
sampai hilir; dan
e. manfaat bagi Petani sekitar dengan memberikan kemudahan
memperoleh sarana dan prasarana produksi, modal, informasi,
teknologi, pemasaran, dan lain-lain.
3. Fungsi Gapoktan
a. Unit Usaha Penyedia Sarana dan Prasarana Produksi
Gapoktan sebagai fasilitator layanan kepada seluruh anggota
untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi antara lain pupuk,
benih bersertifikat, pestisida, alat mesin Pertanian, dan
permodalan Usahatani yang bersumber dari kredit/permodalan
Usahatani maupun dari swadana Petani/sisa hasil usaha.
b. Unit Usahatani/Produksi
Gapoktan memiliki unit usaha yang memproduksi komoditas
untuk memenuhi kebutuhan anggotanya dan kebutuhan pasar
sehingga dapat menjamin kuantitas, kualitas, dan kontinuitas
hasil.
c. Unit Usaha Pengolahan
Gapoktan dapat memberikan pelayanan, baik berupa
penggunaan alat mesin Pertanian maupun teknologi dalam
pengolahan hasil produksi komoditas, mencakup proses
- 19 -

pengolahan, sortasi/grading dan pengepakan untuk meningkatkan


nilai tambah produk.
d. Unit Usaha Pemasaran
Gapoktan dapat memberikan pelayanan/fasilitasi pemasaran hasil
Pertanian anggotanya, baik dalam bentuk pengembangan jejaring
dan kemitraan usaha dengan pihak lain, maupun pemasaran
langsung. Dalam pengembangannya, Gapoktan memberikan
pelayanan informasi harga komoditas kepada anggotanya agar
tumbuh dan berkembang menjadi Usahatani mandiri.
e. Unit Usaha Keuangan Mikro (simpan-pinjam)
Gapoktan dapat memfasilitasi permodalan Usahatani kepada
anggota melalui kredit/permodalan Usahatani maupun dari
swadana Petani/sisa hasil usaha.

B. Penumbuhan Gapoktan

1. Dasar Penumbuhan Gapoktan


a. penumbuhan Gapoktan dimulai dari musyawarah yang partisipatif
pada masing-masing Poktan untuk menyepakati keikutsertaan
kelompoknya dalam Gapoktan, tanpa ada unsur pemaksaan;
b. Gapoktan tumbuh dari Poktan-poktan yang ada di
desa/kelurahan, selanjutnya melalui kegiatan Penyuluhan
Pertanian, diarahkan dengan menumbuhkan Gapoktan yang
terikat dengan kepentingan bersama untuk mengembangkan skala
Usahatani yang menguntungkan dan efisien; dan
c. penggabungan Poktan dalam Gapoktan dilakukan oleh Poktan
yang berada dalam satu wilayah desa/kelurahan atau
penggabungan Poktan yang berada dalam satu wilayah kecamatan
untuk menggalang kepentingan bersama secara kooperatif.
2. Prinsip-prinsip Penumbuhan Gapoktan
a. kebebasan, artinya Gapoktan dapat mengembangkan unit
jasa/usaha otonom sesuai kebutuhan, seperti unit
Usahatani/produksi, unit usaha pengolahan, unit usaha
pemasaran dan unit usaha keuangan mikro/simpan pinjam serta
unit jasa penunjang lainnya;
b. kesepahaman, artinya anggota Gapoktan memahami tujuan dan
manfaat dari Gapoktan;
- 20 -

c. partisipatif, artinya anggota Gapoktan memiliki peluang yang sama


dalam pengambilan keputusan dalam pengelolaan dan
pengembangan usaha Gapoktan;
d. kesukarelaan, artinya keanggotaan Gapoktan bersifat sukarela
(atas dasar kesadaran sendiri) tanpa paksaan;
e. keswakarsaan, artinya penumbuhan Gapoktan didasarkan pada
kemauan, kebutuhan dan inisiatif para anggota Gapoktan;
f. keterpaduan, artinya penumbuhan Gapoktan didasarkan pada
keinginan saling mendukung dan saling melengkapi antar
anggota untuk memperkuat dan mengembangkan usahataninya;
dan
g. kemitraan, artinya pengembangan pola-pola kerjasama dalam
Gapoktan melalui kemitraan usaha berdasarkan prinsip saling
membutuhkan, saling menghargai, saling menguntungkan dan
saling memperkuat.
3. Pelaksanaan Penumbuhan Gapoktan
Penumbuhan Gapoktan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Penyuluh Pertanian melakukan identifikasi terhadap potensi
Poktan-poktan, melalui pengumpulan data dan informasi
perkembangan Poktan, antara lain:
a) kondisi Usahatani dari Poktan;
b) Poktan yang belum menjadi anggota Gapoktan;
c) tingkat pemahaman Poktan tentang Gapoktan; dan/atau
d) klasifikasi kemampuan Poktan dari aspek manajemen dan
kepemimpinan yang dikaitkan dengan fungsi Poktan.
2) Penyuluh Pertanian memberikan penjelasan data dan informasi
kepada tokoh Petani setempat serta aparat desa/kelurahan
mengenai:
a) pengertian tentang Gapoktan, meliputi ruang lingkup,
tujuan dan manfaat menumbuhkan Gapoktan;
b) proses dan langkah-langkah penumbuhan Gapoktan; dan
c) penyusunan rencana kerja dan cara kerja Gapoktan.
b. Proses Penumbuhan Gapoktan
1) Penyuluh Pertanian melakukan sosialisasi melalui pertemuan
Poktan-poktan dan pertemuan RW/dusun dalam satu
desa/kelurahan, dengan materi sebagai berikut:
- 21 -

a) pemahaman tentang Gapoktan, meliputi pengertian, ruang


lingkup, tujuan dan manfaat menumbuhkan Gapoktan;
b) kewajiban dan hak setiap Petani yang menjadi anggota,
serta pengurus Gapoktan;
c) ketentuan yang berlaku dalam Gapoktan; dan
d) syarat-syarat calon anggota.
2) Membuat pernyataan kesepakatan tertulis oleh Poktan-poktan
tentang penumbuhan Gapoktan;
3) Langkah-langkah membuat kesepakatan dalam Gapoktan:
a) Penyuluh Pertanian memfasilitasi pertemuan pembentukan
Gapoktan yang dihadiri oleh para ketua Poktan yang akan
bergabung, aparat desa/kelurahan atau pamong desa,
tokoh masyarakat dan instansi terkait;
b) Penyuluh Pertanian memfasilitasi terbentuknya Gapoktan,
meliputi nama Gapoktan dan pengurus (Ketua, Sekretaris,
Bendahara, dan Seksi-seksi sesuai kebutuhan);
c) membuat berita acara penumbuhan Gapoktan yang
disahkan oleh Kepala Desa/Lurah dan diketahui oleh
Penyuluh Pertanian, sebagai bahan penyusunan programa
desa/kelurahan;
d) menyusun daftar Poktan yang memenuhi syarat untuk
bergabung dalam Gapoktan; dan
e) setelah programa desa/kelurahan disusun, pengembangan
Gapoktan menjadi bahan bagi Rencana Kerja Tahunan
(RKT) Penyuluh Pertanian.
4) Gapoktan harus didaftarkan di satuan kerja yang melaksanakan
tugas penyuluhan di kecamatan dan datanya dimuat dalam
SIMLUHTAN.
c. Ketentuan Gapoktan
1) Gapoktan beranggotakan paling kurang 3 (tiga) Poktan, dengan
syarat sebagai berikut:
a) adanya kepentingan untuk meningkatkan skala usaha dan
efisiensi dalam pelayanan kepada para Petani;
b) semua anggota Poktan sepakat membentuk Gapoktan yang
dibuktikan dengan pernyataan tertulis;
c) Poktan memiliki usaha yang sama atau saling melengkapi;
dan
- 22 -

d) Poktan berkedudukan di desa/kelurahan atau beberapa


desa/kelurahan dalam satu kecamatan.
2) Pengurus Gapoktan terdiri atas Ketua, Sekretaris, Bendahara,
dan seksi-seksi sesuai unit usaha yang dimiliki, dengan syarat
sebagai berikut:
a) dipilih dari dan oleh perwakilan anggota secara demokratis;
b) berdomisili di wilayah Gapoktan;
c) mampu membaca dan menulis;
d) tidak berstatus sebagai aparat/ PNS/ pamong desa;
e) memiliki waktu yang cukup untuk memajukan Gapoktan;
dan
f) memiliki semangat, motivasi dan kemampuan memimpin
Gapoktan.
3) Tertib administrasi dan pembukuan keuangan.
4. Peningkatan Kemampuan Gapoktan
Peningkatan kemampuan Gapoktan dimaksudkan agar dapat
berfungsi sebagai (a) unit usaha sarana dan prasarana produksi, (b)
unit Usahatani/produksi, (c) unit usaha pengolahan, (d) unit usaha
pemasaran, (e) unit usaha keuangan mikro (simpan-pinjam), dan (f)
unit penyedia informasi serta unit jasa penunjang lainnya.
a. Unit Usaha Sarana dan Prasarana Produksi
Sebagai unit usaha sarana dan prasarana produksi, Gapoktan
harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) menyusun rencana kebutuhan dan penyediaan sarana dan
prasarana produksi Pertanian dari setiap anggota Gapoktan;
2) mengorganisasikan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana
produksi Pertanian dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) terkait dan lembaga usaha sarana dan prasarana
produksi Pertanian; dan
3) menjalin kerjasama/kemitraan usaha dengan pihak penyedia
sarana dan prasarana produksi Pertanian (pabrik dan kios
saprodi), permodalan, pengolahan, dan/atau pemasaran hasil.
b. Unit Usahatani/Produksi
Sebagai unit Usahatani/produksi, Gapoktan memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1) merencanakan dalam mengembangkan Usahatani yang
menguntungkan berdasarkan informasi yang tersedia dalam
- 23 -

bidang teknologi, sosial, ekonomi, permodalan, sarana produksi


dan sumber daya alam lainnya yang berbasis kawasan;
2) memfasilitasi penerapan teknologi (bahan, alat, cara) Usahatani
yang direkomendasikan Badan Litbang Pertanian/BPTP sesuai
dengan rencana kegiatan Gapoktan;
3) menjalin kerjasama/kemitraan usaha dengan pihak lain yang
terkait dalam pelaksanaan Usahatani;
4) melaksanakan kesepakatan, baik yang dihasilkan bersama
dalam Gapoktan maupun kesepakatan dengan pihak lain;
5) mengevaluasi kegiatan bersama dan rencana kebutuhan
Gapoktan, sebagai bahan perencanaan kegiatan yang akan
datang;
6) meningkatkan kesinambungan produktivitas dan kelestarian
sumber daya alam dan lingkungan;
7) merumuskan kesepakatan bersama, baik dalam memecahkan
masalah maupun untuk melaksanakan berbagai kegiatan; dan
8) merencanakan dan melaksanakan pertemuan secara berkala,
baik di dalam Gapoktan, antar Gapoktan atau dengan Poktan,
serta dengan instansi/lembaga terkait.
c. Unit Usaha Pengolahan
Sebagai unit usaha pengolahan, Gapoktan memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1) menyusun rencana kebutuhan peralatan pengolahan hasil
Usahatani anggota;
2) menjalin kerjasama/kemitraan usaha dengan pihak penyedia
peralatan Pertanian dan penyedia saprodi serta pengusaha
pengolahan hasil-hasil Pertanian dan pelaku pasar;
3) mengembangkan kemampuan anggota dalam pengolahan
produk-produk hasil Pertanian; dan
4) mengorganisasikan kegiatan produksi Usahatani anggota ke
dalam unit-unit usaha pengolahan dan pemasaran.
d. Unit Usaha Pemasaran
Sebagai unit usaha pemasaran, Gapoktan memiliki kemampuan
sebagai berikut:
- 24 -

1) mengidentifikasi, menganalisis potensi dan peluang pasar


berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk mengembangkan
komoditi/produk dari Usahatani anggota guna memberikan
keuntungan usaha yang lebih optimal;
2) merencanakan kebutuhan pasar berdasarkan sumberdaya
yang dimiliki dengan memperhatikan segmentasi pasar;
3) menjalin kerjasama/kemitraan usaha dengan pelaku pasar dan
pihak pemasok produk-produk hasil Pertanian; dan
4) mengembangkan kemampuan memasarkan produk-produk
hasil Pertanian.
e. Unit Usaha Keuangan Mikro
Sebagai unit usaha keuangan mikro, Gapoktan memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1) menumbuhkembangkan kreativitas dan prakarsa anggota
untuk memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan agribisnis
yang tersedia;
2) menumbuhkembangkan aksesibilitas anggota terhadap
sumber-sumber pembiayaan agribisnis yang tersedia;
3) meningkatkan kemampuan anggota dalam mengelola keuangan
mikro secara komersial;
4) mengembangkan kemampuan anggota untuk menggali sumber-
sumber usaha yang mampu meningkatkan permodalan;
5) mendorong dan mengadvokasi anggota agar mau dan mampu
menyisihkan hasil usaha guna pengembangan modal usaha;
dan
6) mendorong dan mengadvokasi anggota Gapoktan agar mau dan
mampu melakukan kegiatan simpan-pinjam, menyisihkan hasil
Usahatani guna memfasilitasi pengembangan modal usaha.
f. Unit Penyedia Informasi
Mengembangkan pelayanan terhadap anggota dalam penyediaan
informasi, antara lain informasi tentang (1) sarana produksi
Pertanian, (2) harga Komoditas Pertanian, (3) peluang dan
tantangan pasar, (4) perkiraan iklim, dan ledakan organisme
pengganggu tumbuhan dan/atau wabah penyakit hewan menular,
(5) pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan, (6) pemberian subsidi
dan bantuan modal, (7) ketersediaan lahan Pertanian. Untuk
menunjang kegiatan unit penyedia informasi, Gapoktan
- 25 -

diharapkan dapat memanfaatkan cyber-extension atau penyedia


informasi Pertanian lainnya.
g. Unit Jasa Penunjang lainnya
Gapoktan dapat mengembangkan unit jasa penunjang lainnya
yang dapat mendukung pengembangan agribisnis di wilayahnya.

C. Pengembangan Gapoktan

Pengembangan Gapoktan dilakukan agar fungsi Gapoktan dapat berdaya


guna dan berhasil guna dengan ruang lingkup pengembangan, meliputi:
1. Peningkatan dan perluasan Usahatani serta jenis Usahatani
berorientasi pasar dan berbasis kawasan;
2. Peningkatan kerjasama melalui jejaring kerjasama dan kemitraan
usaha, baik dengan sektor hulu maupun dengan sektor hilir; dan
3. Fasilitasi penguatan Gapoktan menjadi KEP berbasis
Poktan/Gapoktan yang berbadan hukum untuk meningkatkan posisi
tawarnya dalam bentuk koperasi atau Badan Usaha Milik Petani
(BUMP).
Pengembangan Gapoktan dilakukan melalui pendampingan Penyuluh
Pertanian dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memperluas fungsi unit-unit usaha dalam Gapoktan, serta
meningkatkan kapasitas usaha dan/atau jenis usaha yang berskala
ekonomi;
2. Pemberdayaan Usahatani melalui pengembangan jenis-jenis
usaha/diversifikasi usaha berorientasi pasar dan berbasis kawasan
agribisnis;
3. Fasilitasi pembentukan jejaring agribisnis (kerjasama dan kemitraan)
antar Pelaku Utama dan Pelaku Usaha; dan
4. Meningkatkan kemampuan Gapoktan agar mampu membentuk KEP
yang berbadan hukum.

D. Penilaian Kelas Kemampuan Gapoktan


Penumbuhan dan pembinaan Gapoktan diarahkan pada upaya
peningkatan kemampuan Gapoktan dengan pendekatan aspek manajemen
dan aspek kepemimpinan dari fungsi-fungsi Gapoktan sebagai (a) unit
usaha sarana dan prasarana produksi, (b) unit Usahatani/produksi, (c)
unit usaha pengolahan, (d) unit usaha pemasaran, (e) unit usaha
- 26 -

keuangan mikro (simpan-pinjam), dan (f) unit penyedia informasi serta


unit jasa penunjang lainnya. Penilaian kelas kemampuan Gapoktan
diatur lebih lanjut dengan Peraturan tersendiri.

PETANI PETANI PETANI

RUMAH TANGGA PETANI


1 Poktan 2 Gapoktan
PETANI PETANI

1. PENUMBUHAN 2. PENGEMBANGAN
a. Identifikasi petani potensial calon anggota; a. Peningkatan kelas kemampuan;
b. Revitalisasi poktan non aktif; b. Penumbuhan gapoktan;
c. Penataan poktan non aktif; c. Pengembangan unit-unit kegiatan bersama;
d. Pembinaan organisasi dan manajemen. d. Pengembangan jejaring dan kemitraan usaha.

Gambar 1 Mekanisme Penumbuhan dan Pengembangan Poktan dan


Gapoktan

Strategi pemberdayaan Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan), seperti


tertera pada Gambar 2.

PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN OLEH PENYULUH


 Penataan Kelembagaan Petani
 Organisasi dan Manajemen Usaha
 Aspek Legal Formal
 Teknis Produksi/Teknologi

Petani Poktan Gapoktan

Pengembangan Gapoktan
Perluasan Peningkatan Fasilitasi
usahatani dan jejaring pengembangan
peningkatan kerjasama dan gapoktan
jenis usahatani kemitraan menjadi KEP
usaha

SINERGI PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN PENYULUH PERTANIAN DENGAN PIHAK LAIN


(KEMITRAAN USAHA)
 Pengembangan Jejaring Kemitraan Usaha
 Diversifikasi Produk
 Pengelolaan Unit Usaha

Gambar 2 Strategi Pemberdayaan Poktan dan Gapoktan

BAB IV
ASOSIASI KOMODITAS PERTANIAN

Pembentukan Asosiasi Komoditas Pertanian ditujukan untuk meningkatkan


posisi tawar melalui peningkatan profesionalisme dalam mengelola Usahatani
- 27 -

dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi secara lebih baik. Asosiasi


Komoditas Pertanian merupakan lembaga independen nirlaba yang dibentuk
oleh, dari, dan untuk Petani dalam membela kepentingan para Petani
berkaitan dengan jenis usaha para anggota asosiasi. Petani dalam
mengembangkan asosiasinya dapat mengikutsertakan Pelaku Usaha, pakar,
dan/atau tokoh masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan Petani.
Asosiasi dapat dibentuk secara berjenjang dari pusat sampai dengan di wilayah
kabupaten/kota.

Asosiasi Komoditas Pertanian bertugas:


1. menampung dan menyalurkan aspirasi Petani;
2. mengadvokasi dan mengawasi pelaksanaan kemitraan Usahatani;
3. memberikan masukan kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah
dalam perumusan kebijakan perlindungan dan pemberdayaan Petani;
4. mempromosikan Komoditas Pertanian yang dihasilkan anggota, di dalam
negeri dan di luar negeri;
5. mendorong persaingan Usahatani yang adil;
6. memfasilitasi anggota dalam mengakses sarana produksi dan teknologi;
dan
7. membantu menyelesaikan permasalahan dalam berusahatani.

Pembentukan asosiasi dapat diinisiasi oleh para Petani yang telah mengelola
Usahatani secara intensif, selanjutnya dapat ditingkatkan menjadi organisasi
formal, berbadan hukum dengan susunan, jumlah dan jangka waktu
kepengurusan asosiasi disusun secara efisien dan demokratis.

BAB V
DEWAN KOMODITAS PERTANIAN NASIONAL

Dewan Komoditas Pertanian Nasional sebagai mitra pemerintah dalam


perumusan strategi dan kebijakan perlindungan dan pemberdayaan Petani.
Dalam pengembangan Dewan Komoditas Pertanian Nasional dapat
mengikutsertakan Pelaku Usaha, pakar dan/atau tokoh masyarakat yang
peduli pada kesejahteraan Petani.
Dewan Komoditas Pertanian Nasional bersifat nirlaba, mandiri, profesional dan
mampu mengelola dan mengembangkan tugas dan fungsi lembaga. Oleh
karena itu, dalam melaksanakan tugas dan fungsinya tidak bertujuan untuk
memperoleh keuntungan finansial. Dewan Komoditas Pertanian Nasional
- 28 -

dibentuk di pusat, provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan.


Organisasi Dewan Komoditas Pertanian Nasional terdiri dari unsur-unsur (1)
tokoh masyarakat; (2) Petani dan Pelaku Usaha; (3) Asosiasi Komoditas
Pertanian; (4) pakar; (5) akademisi; dan/atau (6) konsumen produk dan jasa
agribisnis.

Dewan Komoditas Pertanian Nasional berfungsi sebagai wadah dalam


memperjuangkan kepentingan Petani, dengan tugas antara lain:
1. menampung dan penyalurkan aspirasi Pelaku Utama dan Pelaku Usaha
mengenai pengembangan agribisnis;
2. memberikan masukan kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
mengenai pengembangan agribisnis;
3. memberikan data, informasi, dan masukan kepada Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau Pelaku Utama dan Pelaku Usaha; dan
4. membantu mediasi antar Asosiasi Komoditas Pertanian.

BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGORGANISASIAN

Pembinaan dan pengembangan Kelembagaan Petani, dilakukan melalui


penciptaan iklim yang kondusif agar Petani mampu berprakarsa dan
berinisiatif dengan difasilitasi dalam pelayanan informasi dan kepastian usaha
dan kepastian hukum. Pembinaan dan pengembangan Kelembagaan Petani
harus diselenggarakan pada setiap tingkatan wilayah administrasi
pemerintahan.

Pengorganisasian penumbuhan, pembinaan dan pengembangan Kelembagaan


Petani berada pada satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan, satuan kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota dan provinsi, dan satuan kerja yang menyelenggarakan
urusan penyuluhan Pusat sesuai dengan kewenangannya.

A. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Petani di Desa/Kelurahan


Penyuluh Pertanian sebagai pelaksana operasional di Wilayah Kerja
Penyuluh Pertanian (WKPP) melakukan pembinaan dan pengembangan
Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan) di desa/kelurahan dengan
kegiatan sebagai berikut:
- 29 -

1. mengidentifikasi dan menginventarisasi Kelembagaan Petani (Poktan


dan Gapoktan) yang ada di WKPP, termasuk Kelembagaan Petani yang
ditumbuhkan melalui program dari masing-masing subsektor;
2. menghadiri pertemuan/musyawarah yang diselenggarakan oleh
Poktan dan Gapoktan;
3. melaksanakan kunjungan ke Poktan dan Gapoktan untuk
menyampaikan berbagai informasi dan teknologi Usahatani;
4. memfasilitasi Poktan dan Gapoktan dalam melakukan identifikasi
potensi wilayah, penyusunan RDK dan RDKK, serta bertanggungjawab
terhadap kebenaran dan validitas RDK dan RDKK;
5. menyusun programa Penyuluhan Pertanian desa/kelurahan;
6. membimbing berbagai keterampilan Usahatani serta melakukan
pembinaan dalam penerapannya;
7. membantu Petani untuk mengidentifikasi permasalahan Usahatani
serta memilih alternatif pemecahannya;
8. menginventarisasi masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh anggota,
Poktan, dan Gapoktan untuk dibawa dalam pertemuan di BP3K;
9. melakukan pencatatan keanggotaan serta kegiatan Poktan dan
Gapoktan yang tumbuh dan berkembang di wilayah kerjanya;
10. menumbuhkembangkan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan
kewirausahaan anggota Poktan dan Gapoktan serta pelaku agribisnis
lainnya;
11. memfasilitasi terbentuknya Poktan dan Gapoktan serta
pembinaannya;
12. melaksanakan forum penyuluhan desa/kelurahan (musyawarah/
rembug tani, temu wicara serta koordinasi Penyuluhan Pertanian);
13. melaksanakan penilaian kemampuan Poktan dan Gapoktan dalam
melaksanakan fungsinya, serta memfasilitasi pengukuhan kelas
kemampuan Poktan dan Gapoktan;
14. berkoordinasi dan bersinergi dengan organisasi Petani/
kemasyarakatan dalam melakukan pembinaan Kelembagaan Petani;
dan
15. melaporkan kegiatan penyuluhan dan pemutakhiran data Poktan dan
Gapoktan kepada Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan.
Kepala desa/lurah sebagai penanggungjawab pengembangan
Kelembagaan Petani di wilayah desa/kelurahan.
- 30 -

B. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Petani di Kecamatan


Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan melakukan pembinaan dan pengembangan Kelembagaan
Petani (Poktan dan Gapoktan) di kecamatan dengan kegiatan sebagai
berikut:
1. penyusunan programa Penyuluhan Pertanian kecamatan yang
disesuaikan dengan programa Penyuluhan Pertanian desa/kelurahan
dan/atau unit kerja lapangan;
2. memfasilitasi terselenggaranya programa Penyuluhan Pertanian
desa/kelurahan atau unit kerja lapangan di wilayah kerja satuan kerja
yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan;
3. memfasilitasi proses pembelajaran Petani dan pelaku agribisnis
lainnya sesuai dengan kebutuhan;
4. menyediakan dan menyebarkan informasi dan teknologi Usahatani;
5. melaksanakan kaji terap dan percontohan Usahatani melalui
penerapan teknologi spesifik lokasi yang direkomendasikan oleh Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP);
6. mensosialisasikan rekomendasi teknologi dan mengupayakan akses
kepada sumber informasi dan sumberdaya lain yang dibutuhkan
Petani;
7. melaksanakan forum penyuluhan kecamatan (musyawarah/rembug
tani, temu wicara dan koordinasi Penyuluhan Pertanian);
8. memfasilitasi kerjasama antara Petani, Penyuluh Pertanian, dan
peneliti serta pihak lain dalam pengembangan dan penerapan
teknologi Usahatani yang menguntungkan serta akrab lingkungan;
9. menumbuhkembangkan kemampuan manajerial, kepemimpinan,
kewirausahaan Kelembagaan Petani serta pelaku agribisnis lainnya;
10. menyediakan fasilitas pelayanan konsultasi bagi para Petani dan atau
masyarakat lainnya yang membutuhkan;
11. memfasilitasi terbentuknya Gapoktan dan pembinaannya;
12. menginventarisasi Poktan dan Gapoktan yang berada di wilayah
kecamatan;
13. memfasilitasi Poktan dan Gapoktan dalam merekapitulasi RDK dan
RDKK dan bertanggungjawab terhadap validitas RDK dan RDKK;
14. mengusulkan kepada kelembagaan Penyuluhan Pertanian
kabupaten/kota, Kelembagaan Petani yang layak untuk memperoleh
fasilitasi dari lembaga/instansi di pusat/provinsi/kabupaten/kota
- 31 -

serta pemangku kepentingan lain sesuai kemampuan dan jenis usaha


yang dikembangkan;
15. melakukan kompilasi dan validasi hasil penilaian kemampuan Poktan,
Gapoktan, dan memfasilitasi pengukuhan kelas kemampuan Poktan
dan Gapoktan;
16. melakukan pemutakhiran data Kelembagaan Petani melalui
SIMLUHTAN secara rutin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan;
dan
17. melaporkan kegiatan penyuluhan dan hasil pemutakhiran data
Kelembagaan Petani kepada Pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota.
Camat sebagai penanggungjawab pengembangan Kelembagaan Petani di
wilayah kecamatan.

C. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Petani di Kabupaten/Kota


Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota melakukan pembinaan dan pengembangan Kelembagaan
Petani (Poktan, Gapoktan, dan Asosiasi) di kabupaten/kota dengan
kegiatan sebagai berikut:
1. menyusun programa Penyuluhan Pertanian kabupaten/kota, terutama
berisi rencana kegiatan penyuluhan di wilayah kabupaten/kota dan
memberikan dukungan kegiatan Penyuluhan Pertanian di wilayah
kecamatan dan desa/kelurahan;
2. melaksanakan pengumpulan bahan, pengolahan dan pengemasan
serta penyebaran berbagai bahan informasi dan teknologi yang
diperlukan Petani dan pelaku agribisnis lainnya dalam
mengembangkan usahataninya;
3. memfasilitasi penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan Petani
serta terlaksananya berbagai forum penyuluhan;
4. melakukan sinergi dengan satuan kerja perangkat daerah di
kabupaten/kota untuk pembinaan Kelembagaan Petani yang
berkaitan dengan pengembangan komoditas/diversifikasi produk dan
manajemen usaha;
5. menginventarisasi data Kelembagaan Petani di wilayah kabupaten/
kota;
6. melakukan bimbingan dan penilaian dalam rangka pengembangan
Kelembagaan Petani;
- 32 -

7. mengusulkan kepada satuan kerja yang melaksanakan urusan


Penyuluhan Pertanian di provinsi, Kelembagaan Petani yang layak
untuk mendapatkan fasilitasi dari satuan kerja di
Pusat/provinsi/kabupaten/kota serta pemangku kepentingan lain
sesuai kemampuan dan jenis usaha yang dikembangkan;
8. melakukan supervisi, kompilasi dan validasi hasil penilaian
kemampuan Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan) serta
memfasilitasi pengukuhan kelas kemampuan Poktan dan Gapoktan di
wilayah kabupaten/kota; dan
9. melakukan pemutakhiran data Kelembagaan Petani melalui
SIMLUHTAN secara rutin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan;
dan
10. melaporkan kegiatan penyuluhan dan hasil pemutakhiran data
Kelembagaan Petani kepada Pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi.
Bupati/walikota sebagai penanggungjawab pengembangan Kelembagaan
Petani di wilayah kabupaten/kota.
Mekanisme Fasilitasi Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan), seperti
tertera pada Gambar 3.

Petani Poktan Gapoktan

Inventarisasi di satuan kerja yang


melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan

Verifikasi, validasi,
dan registrasi di
SIMLUHTAN satuan kerja yang
melaksanakan
urusan penyuluhan
di kab/kota

Fasilitasi Kelembagaan Petani

Pemerintah Pemerintah SK Bupati/ Walikota


Pusat Prov/Kab/Kota Swasta tentang Kelembagaan
Petani

Gambar 3 Mekanisme Fasilitasi Kelembagaan Petani


- 33 -

D. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Petani di Provinsi


Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di
provinsi melakukan pembinaan dan pengembangan Kelembagaan Petani
(Poktan, Gapoktan, dan Asosiasi) di wilayah provinsi dengan kegiatan
sebagai berikut:
1. menyusun programa Penyuluhan Pertanian provinsi, terutama berisi
rencana kegiatan penyuluhan di provinsi dan memberikan dukungan
kegiatan penyuluhan di kabupaten/kota;
2. melakukan koordinasi, sinkronisasi lintas sektoral, optimalisasi
partisipasi masyarakat dalam menumbuhkembangkan Kelembagaan
Petani;
3. melakukan monitoring dan bimbingan teknis penumbuhan serta
pembinaan Kelembagaan Petani;
4. menyampaikan informasi mengenai berbagai arahan dan petunjuk
pelaksanaan tentang penumbuhan dan pengembangan, serta
pembinaan Kelembagaan Petani dan penyelenggaraan Penyuluhan
Pertanian;
5. melakukan sinergi dengan satuan kerja perangkat daerah di provinsi
yang berkaitan dengan pengembangan komoditas/diversifikasi produk
dan manajemen usaha;
6. menginventarisasi Kelembagaan Petani yang berada di wilayah
provinsi;
7. mengusulkan kepada Kementerian Pertanian/instansi lain,
Kelembagaan Petani yang layak untuk memperoleh fasilitasi dari
satuan kerja di Pusat/provinsi/kabupaten/kota serta pemangku
kepentingan lain sesuai kemampuan dan jenis usaha yang
dikembangkan;
8. melakukan pembinaan dan pemantauan, kompilasi dan validasi hasil
penilaian kemampuan Kelembagaan Petani di wilayah
kabupaten/kota; dan
melakukan pemutakhiran data Kelembagaan Petani melalui
SIMLUHTAN secara rutin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan;
dan
9. melaporkan kegiatan penyuluhan dan hasil pemutakhiran data
Kelembagaan Petani kepada Kepala Badan Penyuluhan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (Badan PPSDMP).
- 34 -

Gubernur sebagai penanggungjawab pengembangan Kelembagaan Petani


di wilayah provinsi.

E. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Petani di Pusat

Kepala Badan PPSDMP sebagai penanggungjawab operasional di Pusat,


melakukan pembinaan dan pengembangan Kelembagaan Petani dengan
kegiatan sebagai berikut:
1. menyusun programa Penyuluhan Pertanian nasional, terutama berisi
rencana kegiatan penyuluhan di Pusat dan memberikan dukungan
terhadap penyelenggaraan penyuluhan di provinsi dan kabupaten/
kota;
2. menetapkan kebijakan penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan
Petani;
3. menyusun norma, standar, pedoman, dan kriteria penilaian
Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan);
4. menyelenggarakan bimbingan serta fasilitasi pembinaan di provinsi
dan kabupaten/kota;
5. melakukan identifikasi, pengolahan dan analisis data Kelembagaan
Petani;
6. melakukan berbagai kajian untuk menyempurnakan penetapan
kebijakan, serta penyusunan norma, standar, pedoman, dan kriteria
penilaian Kelembagaan Petani;
7. memfasilitasi apresiasi pengembangan Kelembagaan Petani;
8. melakukan pengendalian, kompilasi dan validasi, serta mengolah dan
menganalisis hasil penilaian kemampuan Kelembagaan Petani (Poktan
dan Gapoktan); dan
9. melaporkan kegiatan penyuluhan dan hasil pemutakhiran data
Kelembagaan Petani kepada Menteri Pertanian.

BAB VII
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

A. Monitoring

Monitoring merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terencana,


sistimatis dan berkesinambungan untuk memantau proses pelaksanaan
- 35 -

pembinaan Kelembagaan Petani (Poktan, Gapoktan, Asosiasi, dan Dewan


Komoditas Pertanian Nasional). Monitoring dilaksanakan dengan cara
membandingkan output kegiatan dengan rencana yang telah ditetapkan,
juga dirumuskan permasalahan yang menyebabkan tidak tercapainya
hasil yang diharapkan. Selanjutnya, ditetapkan tindakan yang harus
dilakukan agar proses pembinaan Kelembagaan Petani terlaksana sesuai
dengan tujuan.

Tindakan yang diambil dimaksudkan untuk melakukan perbaikan dan


penyempurnaan proses pembinaan Kelembagaan Petani agar terlaksana
lebih efisien dan efektif, sebagai bahan untuk penyusunan rencana
kebijakan dan kegiatan tahun berikutnya.

Pelaksanaan monitoring pada masing-masing tingkatan wilayah, sebagai


berikut:
1. di wilayah kecamatan, dilakukan oleh satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan;
2. di wilayah kabupaten/kota, dilakukan oleh satuan kerja yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota;
3. di wilayah provinsi, dilakukan oleh satuan kerja yang melaksanakan
urusan penyuluhan di provinsi; dan
4. di Pusat, dilakukan oleh Badan PPSDMP.

Kegiatan monitoring meliputi:


1. aspek perencanaan dalam penumbuhan dan pengembangan
Kelembagaan Petani;
2. keadaan dan ketersediaan fasilitas kerja Penyuluhan Pertanian;
3. penilaian proses pelaksanaan pembinaan Kelembagaan Petani;
4. kinerja penyuluh dan petugas lainnya dalam penyuluhan dan
pendampingan;
5. peningkatan sumber daya manusia Petani; dan
6. pengembangan aspek statika (organisasi dan administrasi) dan aspek
dinamika (kegiatan dan kepengurusan) serta aspek manajerial dan
kepemimpinan (kaderisasi anggota organisasi).
- 36 -

B. Evaluasi

Evaluasi merupakan penilaian efektifitas dan efisiensi atas hasil suatu


kegiatan melalui pengumpulan dan penganalisisan data dan informasi
secara sistematik dengan mengikuti prosedur tertentu dan kaidah ilmiah
serta diakui keabsahannya. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan
realisasi terhadap rencana serta dampak pembinaan Kelembagaan Petani.
Evaluasi pembinaan Kelembagaan Petani perlu dilaksanakan secara
teratur, baik evaluasi awal (pre-evaluation), evaluasi proses (on-going
evaluation), evaluasi akhir (post/terminal evaluation), maupun evaluasi
dampak (ex-post evaluation).

C. Pelaporan

Hasil monitoring dan evaluasi dilaporkan secara periodik dan berjenjang


mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai
dengan Pusat untuk mengetahui perkembangan Kelembagaan Petani dari
waktu ke waktu. Oleh karena itu, Penyuluh Pertanian dan petugas
lainnya perlu membuat laporan sebagai bahan pertimbangan dalam
perumusan, perencanaan dan penyusunan kebijakan tahun berikutnya.
Penyuluh Pertanian merekapitulasi data Kelembagaan Petani yang baru
tumbuh dan berkembang, selanjutnya dilaporkan kepada Pimpinan
satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan dengan
melampirkan berita acara penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan
Petani. Data ini dicatat sebagai database di kecamatan, selanjutnya oleh
Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan disampaikan kepada satuan kerja yang melaksanakan urusan
penyuluhan di kabupaten/kota melalui SIMLUHTAN.

Data dan informasi pembinaan, penumbuhan dan pengembangan


Kelembagaan Petani disiapkan oleh Penyuluh Pertanian, meliputi:
1. nama, alamat anggota Poktan dan Gapoktan;
2. jenis usaha;
3. jumlah anggota;
4. status kelas kemampuan Poktan dan Gapoktan;
5. permasalahan yang dihadapi;
6. kegiatan pembinaan, penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan
Petani yang dilaksanakan serta hasilnya; dan
- 37 -

7. lain-lain sesuai dengan program spesifik lokasi.

Laporan pembinaan, penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan


Petani menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari evaluasi kinerja
Penyuluh Pertanian (e-evaluh).

Satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan


merekapitulasi data dan informasi perkembangan Kelembagaan Petani di
wilayahnya, meliputi:
1. nama dan jumlah Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan);
2. jumlah anggota Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan);
3. nama dan jumlah Kelembagaan Petani (Poktan dan Gapoktan) yang
telah melakukan jejaring dan kerjasama kemitraan Usahatani; dan
4. lain-lain yang berkaitan dengan pembinaan, penumbuhan dan
pengembangan Kelembagaan Petani.

Pelaporan dilaksanakan secara berkala sebagaimana alur pelaporan


sebagai berikut (Gambar 4):
1. Penyuluh Pertanian menyampaikan laporan kepada Pimpinan satuan
kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan atas dasar
inventarisasi/pencatatan kegiatan penumbuhan dan pengembangan
Kelembagaan Petani di wilayah kerjanya (WKPP);
2. pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan menyampaikan laporan kepada Pimpinan satuan kerja
yang melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota;
3. pimpinan satuan kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Pimpinan satuan
kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi; dan
4. pimpinan satuan kerja yang melaksanakan urusan penyuluhan di
provinsi menyampaikan laporan kepada Badan PPSDMP.
- 38 -

Kementerian Pertanian
Pusat

Satuan kerja yang melaksanakan


urusan penyuluhan di provinsi Provinsi

Satuan kerja yang melaksanakan


urusan penyuluhan di Kabupaten/Kota
kabupaten/kota

Satuan kerja yang melaksanakan


Kecamatan
tugas penyuluhan di kecamatan

Penyuluh Pertanian Desa/kelurahan

Gambar 4 Alur Pelaporan Pembinaan Kelembagaan Petani

BAB VIII
PENDANAAN

Pendanaan pembinaan Kelembagaan Petani dapat bersumber dari Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota, APBD provinsi
dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sumber lain
yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB IX
PENUTUP

Pembinaan Kelembagaan Petani bersifat dinamis dan dapat dilakukan


perubahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan dalam
pengembangan pembangunan Pertanian.
MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

AMRAN SULAIMAN
- 39 -

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 67/Permentan/SM.050/12/2016
TANGGAL : 20 Desember 2016

PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK TANI


DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan suatu keharusan


untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bahan baku industri;
memperluas lapangan kerja dan lapangan berusaha; meningkatkan
kesejahteraan petani; mengentaskan masyarakat dari kemiskinan
khususnya di perdesaan; meningkatkan pendapatan nasional; serta
menjaga kelestarian lingkungan.

Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, perlu memiliki


tanggung jawab untuk mewujudkan sasaran produksi dan produktivitas
serta target pencapaian swasembada dan swasembada pangan
berkelanjutan. Instrumen yang digunakan dalam menyusun sasaran
tersebut, dilakukan melalui penyusunan Rencana Definitif Kelompok Tani
(RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK).

RDK merupakan rencana kerja usahatani dari Kelompok Tani untuk


periode satu tahun yang berisi rincian kegiatan tentang sumber daya dan
potensi wilayah, sasaran produktivitas, pengorganisasian dan pembagian
kerja serta kesepakatan bersama dalam pengelolaan usahatani, kemudian
RDK dijabarkan lebih lanjut menjadi RDKK.

RDKK merupakan alat perumusan untuk memenuhi kebutuhan sarana


produksi dan alat mesin pertanian, baik yang berasal dari
kredit/permodalan/subsidi usahatani maupun dari swadana petani.
Penyusunan RDK dan RDKK merupakan kegiatan strategis yang harus
dilaksanakan secara serentak dan tepat waktu, sehingga diperlukan
- 40 -

suatu gerakan untuk mendorong Kelompok Tani menyusun RDK dan


RDKK sesuai dengan kebutuhan petani. Mengingat kemampuan petani
dalam penyusunan RDK dan RDKK masih terbatas, maka penyuluh
pertanian perlu mendampingi dan membimbing Kelompok Tani.

B. Tujuan

Penyusunan RDK dan RDKK bertujuan untuk:


1. memberikan arah dan kebijakan dalam penyusunan rencana kegiatan
usahatani;
2. meningkatkan kapasitas Kelompok Tani dalam penyusunan rencana
kegiatan usahatani; dan
3. meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian dalam membimbing
Kelompok Tani untuk menyusun rencana kegiatan usahatani.

C. Sasaran

Sasaran Penyusunan RDK dan RDKK meliputi:


1. penyelenggara penyuluhan pertanian di Pusat, provinsi,
kabupaten/kota, dan pelaksana penyuluhan di desa/kelurahan; dan
2. pelaku utama dan pelaku usaha di bidang pertanian.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Penyusunan RDK dan RDKK meliputi:


5. Rencana Definitif Kelompok Tani (RDK);
6. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK);
7. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani Pupuk Bersubsidi (RDKK
Pupuk Bersubsidi);
8. gerakan penyusunan dan pelaksanaan RDK dan RDKK;
9. pengorganisasian;
10. supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan; dan
11. pendanaan.
- 41 -

E. Pengertian

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


15. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan adalah kumpulan
petani/peternak/pekebun yang dibentuk oleh para petani atas dasar
kesamaan kepentingan; kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi,
dan sumberdaya; kesamaan komoditas; dan keakraban untuk
meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
16. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Gapoktan adalah
kumpulan beberapa Poktan yang bergabung dan bekerjasama untuk
meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.
17. Rencana Definitif Kelompok Tani yang selanjutnya disebut RDK adalah
rencana kerja usahatani dari Poktan untuk satu tahun, yang disusun
melalui musyawarah dan berisi rincian tentang sumberdaya dan
potensi wilayah, sasaran produktivitas, pengorganisasian dan
pembagian kerja, serta kesepakatan bersama dalam pengelolaan
usahatani.
18. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut
RDKK adalah rencana kebutuhan sarana produksi pertanian dan alat
mesin pertanian untuk satu musim/siklus usaha yang disusun
berdasarkan musyawarah anggota Poktan yang merupakan alat
pesanan sarana produksi pertanian Poktan kepada Gapoktan atau
lembaga lain (penyalur sarana produksi pertanian dan perbankan),
termasuk perencanaan kebutuhan pupuk bersubsidi.
19. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani Pupuk Bersubsidi yang
selanjutnya disebut RDKK Pupuk Bersubsidi adalah rencana
kebutuhan pupuk bersubsidi untuk satu tahun yang disusun
berdasarkan musyawarah anggota Poktan yang merupakan alat
pesanan pupuk bersubsidi kepada Gapoktan atau penyalur sarana
produksi pertanian.
20. Pertanian adalah kegiatan mengelola sumberdaya alam hayati
dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen
untuk menghasilkan komoditas pertanian yang mencakup tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan dalam suatu
agroekosistem.
21. Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi Pelaku Utama
dan Pelaku Usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan
- 42 -

mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar,


teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian
fungsi lingkungan hidup.
22. Penyuluh Pertanian adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang
melakukan kegiatan penyuluhan Pertanian, baik penyuluh PNS,
penyuluh swasta, maupun penyuluh swadaya.
23. Usahatani adalah kegiatan dalam bidang Pertanian, mulai dari
produksi/budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, sarana
produksi, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang.
24. Pelaku Utama yang selanjutnya disebut Petani adalah Warga Negara
Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang
melakukan Usahatani di bidang tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan/atau peternakan.
25. Pelaku Usaha adalah setiap orang yang melakukan usaha sarana
produksi Pertanian, pengolahan dan pemasaran hasil Pertanian, serta
jasa penunjang Pertanian yang berkedudukan di wilayah hukum
Republik Indonesia.

BAB II
RENCANA DEFINITIF KELOMPOK TANI

RDK disusun untuk perencanaan kegiatan pengembangan Usahatani Poktan,


termasuk kebutuhan sarana produksi dan alat mesin Pertanian (saprotan),
dalam jangka waktu satu tahun.

RDK merupakan bahan dalam penyusunan programa penyuluhan


desa/kelurahan dan selanjutnya digunakan sebagai bahan usulan
pelaksanaan penyuluhan di desa/kelurahan melalui Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Desa/Kelurahan (Musrenbangdes).

A. Penyusunan RDK
RDK disusun dengan tahapan sebagai berikut:
1. pertemuan pengurus Poktan yang didampingi oleh Penyuluh
Pertanian dalam rangka persiapan penyusunan RDK dengan ruang
lingkup antara lain (a) evaluasi pelaksanaan kegiatan Poktan tahun
- 43 -

sebelumnya, (b) evaluasi produksi dan produktivitas rata-rata yang


dicapai anggota Poktan, dan (c) rencana penyusunan RDK dan RDKK;
2. pertemuan anggota Poktan dipimpin oleh ketua Poktan, didampingi
oleh Penyuluh Pertanian, meliputi antara lain (a) mengidentifikasi
potensi dan masalah dalam pengembangan Usahatani; (b)
menetapkan jenis komoditas yang akan diusahakan dan sasaran
produksi; (c) membahas pola tanam/pola Usahatani, kebutuhan
sarana produksi dan teknologi yang akan digunakan; (d)
merencanakan kegiatan Poktan lainnya, misalnya gerakan perbaikan
irigasi, pemberantasan OPT, pemupukan modal; (e)
mengorganisasikan dan menyusun pembagian kerja; dan (f)
menyusun dan menyepakati RDK kegiatan Usahatani;
3. RDK dituangkan dalam bentuk sesuai dengan Format 1 yang
ditandatangani oleh ketua Poktan dan menjadi pedoman bagi
anggota Poktan dalam menyelenggarakan kegiatan usahataninya;
4. RDK disusun paling lambat pada akhir Januari sebelum pelaksanaan
Musrenbangdes; dan
5. Penyuluh Pertanian bersama pengurus Gapoktan melakukan
rekapitulasi RDK desa/kelurahan dalam bentuk sesuai dengan
Format 2, sebagai bahan penyusunan rencana kegiatan Gapoktan
dan rencana pendampingan Penyuluh Pertanian di Wilayah Kerja
Penyuluh Pertanian (WKPP).

B. Materi RDK

Materi RDK terdiri atas:


1. Pola tanam dan pola Usahatani yang disusun atas dasar
pertimbangan:
a. aspek teknis, meliputi agroekosistem dan teknologi;
b. aspek ekonomi, meliputi permintaan pasar, harga, dan
keuntungan Usahatani; dan
c. aspek sosial, meliputi kebijakan pemerintah, kerja sama Poktan
dan dukungan masyarakat dengan memperhatikan kelestarian
lingkungan hidup.
2. Sasaran produktivitas didasarkan atas:
a. potensi wilayah Poktan; dan
b. produktivitas dari masing-masing komoditas.
- 44 -

3. Teknologi Usahatani:
a. ketersediaan teknologi; dan
b. rekomendasi teknologi.
4. Sarana produksi dan permodalan, didasarkan atas:
a. luas areal Usahatani Poktan;
b. teknologi yang akan diterapkan; dan
c. kemampuan permodalan anggota Poktan.
5. Kegiatan penguatan kapasitas Poktan, meliputi:
a. pertemuan rutin Poktan;
b. kursus tani/sekolah lapang;
c. demplot atau demfarm; dan
d. penilaian kelas kemampuan Poktan.
6. Jadwal kegiatan, mengacu kepada rencana kegiatan Usahatani; dan
7. Pembagian tugas disesuaikan dengan kesediaan dan kesepakatan
Poktan.

BAB III
RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI

A. Penyusunan RDKK

RDKK disusun mengacu pada RDK masing-masing Poktan dengan


tahapan sebagai berikut:
1. pertemuan pengurus Poktan yang didampingi oleh Penyuluh Pertanian
untuk persiapan penyusunan RDKK dengan materi antara lain (a)
evaluasi realisasi RDKK musim tanam sebelumnya, dan (b) rencana
penyusunan RDKK;
2. pertemuan anggota Poktan dipimpin oleh ketua Poktan, didampingi
Penyuluh Pertanian, dengan materi antara lain (a) membahas dan
menetapkan saprotan yang akan digunakan; (b) menghitung dan
menyepakati daftar kebutuhan saprotan untuk memenuhi 6 tepat
(tepat jenis, jumlah, waktu, tempat, harga dan mutu); dan (c)
menetapkan kebutuhan saprotan yang akan dibiayai swadana
Petani, kredit, atau sumber pembiayaan Usahatani lainnya
termasuk dari subsidi pemerintah;
3. RDKK disusun dan dituangkan dalam bentuk sesuai dengan Format
3 dan ditandatangani oleh ketua Poktan;
- 45 -

4. selanjutnya RDKK tersebut diperiksa kelengkapan dan kebenarannya


untuk disetujui dan ditandatangani oleh Penyuluh Pertanian
Pendamping;
5. penyusunan RDKK dilaksanakan paling lambat satu bulan sebelum
jadwal tanam;
6. RDKK yang telah disusun dibuat rangkap 3 ( tiga), lembar pertama
untuk Gapoktan, lembar kedua untuk Penyuluh Pertanian
Pendamping, dan lembar ketiga sebagai arsip Poktan;
7. pengurus Gapoktan melakukan rekapitulasi RDKK dari Poktan dan
dituangkan sesuai dengan Format 4a, yang ditandatangani oleh ketua
Gapoktan. Poktan yang belum bergabung dalam Gapoktan, maka
RDKK direkapitulasi oleh Penyuluh Pertanian Pendamping dan
dituangkan sesuai dengan Format 4b.
Selanjutnya, rekapitulasi RDKK tersebut (Format 4a atau Format 4b)
diperiksa kelengkapan dan kebenarannya untuk disetujui dan
ditandatangani oleh Penyuluh Pertanian Pendamping, dan diketahui
oleh kepala desa/lurah kemudian disampaikan kepada satuan kerja
yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan (Gambar 1); dan
8. Rekapitulasi RDKK ( Format 4a atau 4b) dibuat rangkap tiga, lembar
pertama untuk satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan, lembar kedua untuk Penyuluh Pertanian Pendamping, dan
lembar ketiga sebagai arsip Poktan dan arsip Gapoktan. Rekapitulasi
RDKK disusun paling lambat satu bulan sebelum jadwal tanam.

B. Materi RDKK

Materi RDKK terdiri dari:


1. jenis dan luas masing-masing komoditas yang diusahakan;
2. jumlah kebutuhan:
a. benih/bibit;
b. pupuk;
c. pestisida;
d. biaya garapan dan pemeliharaan; dan
e. biaya alat dan mesin Pertanian (budidaya, panen dan pasca panen).
3. kebutuhan biaya lain yang terkait dengan jenis usaha yang dikelola
anggota Poktan seperti untuk sub sektor tanaman pangan, sub
sektor hortikultura, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan
- 46 -

dan jenis usaha pengolahan pangan disesuaikan dengan sarana


produksi yang diperlukan;
4. jadwal penggunaan saprotan (sesuai kebutuhan lapangan); dan
5. masing-masing kebutuhan tersebut ditentukan secara rinci (jumlah
dan nilai uangnya), baik yang akan dibiayai secara swadana maupun
melalui kredit atau fasilitasi pembiayaan lainnya.

BAB IV
RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI
PUPUK BERSUBSIDI

Dalam rangka peningkatan efektivitas penyaluran pupuk bersubsidi, maka


kebutuhan pupuk harus berdasarkan kebutuhan Petani, pekebun, dan
peternak yang disusun secara berkelompok dalam bentuk RDKK Pupuk
Bersubsidi.

Tujuan penyusunan RDKK Pupuk Bersubsidi adalah membantu Petani,


pekebun, dan peternak untuk merencanakan pengadaan dan penyediaan
pupuk bersubsidi sesuai azas enam tepat (tepat jumlah, jenis, waktu, tempat,
mutu dan harga).

RDKK Pupuk Bersubsidi merupakan rencana kebutuhan pupuk Poktan selama


satu tahun, yang selanjutnya dilakukan rekapitulasi secara berjenjang dari
desa/kelurahan sampai Pusat. Hasil rekapitulasi tersebut digunakan sebagai
dasar usulan kebutuhan pupuk bersubsidi tingkat nasional tahun berikutnya.
RDKK Pupuk Bersubsidi tersebut sekaligus juga digunakan sebagai alat
pesanan pupuk bersubsidi kepada penyalur/pengecer resmi pupuk bersubsidi.
Fasilitasi pupuk bersubsidi diberikan kepada Petani dengan luas lahan
maksimal dua hektar dan hanya akan diberikan kepada setiap Petani yang
bergabung dalam Poktan. Pengurus Poktan diharapkan mendorong Petani
lainnya untuk bergabung dalam Poktan serta bersama-sama menyusun RDKK
Pupuk Bersubsidi.

A. Penyusunan RDKK Pupuk Bersubsidi

RDKK Pupuk Bersubsidi disusun berdasarkan RDK yang telah disusun


oleh Poktan, dengan tahapan sebagai berikut:
- 47 -

1. penyusunan RDKK Pupuk Bersubsidi dilakukan oleh Poktan secara


musyawarah yang dipimpin oleh ketua Poktan dan didampingi
Penyuluh Pertanian;
2. RDKK Pupuk Bersubsidi dituangkan dalam bentuk sesuai dengan
Format 5 dan ditandatangani oleh ketua Poktan;
3. pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran RDKK Pupuk Bersubsidi
dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Pendamping sebelum disetujui dan
ditandatangani;
4. penyusunan RDKK Pupuk Bersubsidi paling lambat selesai pada
awal Februari; dan
5. RDKK Pupuk Bersubsidi yang telah disusun dibuat rangkap lima,
lembar pertama untuk penyalur/pengecer resmi (sebagai pesanan),
lembar kedua untuk kepala desa/lurah, lembar ketiga untuk
Penyuluh Pertanian Pendamping, lembar keempat untuk ketua
Gapoktan, dan lembar kelima untuk ketua Poktan.

B. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi

1. Pengurus Gapoktan melakukan rekapitulasi RDKK Pupuk


Bersubsidi dari Poktan dan dituangkan sesuai dengan Format 6a,
serta ditandatangani oleh ketua Gapoktan. Bagi Poktan yang belum
bergabung dalam Gapoktan, maka RDKK direkapitulasi oleh Penyuluh
Pertanian Pendamping dan dituangkan sesuai dengan Format 6b.
Selanjutnya rekapitulasi RDKK tersebut (Format 6a atau 6b) diperiksa
kelengkapan dan kebenarannya sebelum disetujui dan ditandatangani
oleh Penyuluh Pertanian Pendamping, dan diketahui oleh kepala
desa/lurah.
2. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi (Format 6a dan 6b) dibuat
rangkap empat, lembar pertama untuk satuan kerja yang
melaksanakan tugas prasarana dan sarana Pertanian di kecamatan,
lembar kedua untuk satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan, lembar ketiga untuk Penyuluh Pertanian
Pendamping, dan lembar keempat sebagai arsip Gapoktan atau
Poktan. Rekapitulasi RDKK paling lambat selesai pada akhir
Februari.
- 48 -

3. Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas prasarana dan


sarana Pertanian di kecamatan melakukan rekapitulasi RDKK Pupuk
Bersubsidi kecamatan sekaligus menandatangani (Format 7).
Selanjutnya, rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi tersebut diperiksa
kelengkapan dan kebenarannya sebelum disetujui dan ditandatangani
oleh Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan serta diketahui oleh Camat. Dalam hal di kecamatan tidak
terbentuk satuan kerja yang melaksanakan tugas prasarana dan
sarana Pertanian, maka peran satuan kerja tersebut digantikan oleh
Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan.
4. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi kecamatan (Format 7) dibuat
rangkap empat, lembar pertama untuk Dinas Pertanian/Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) yang melaksanakan urusan prasarana dan
sarana Pertanian, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
dan/atau peternakan di kabupaten/kota, lembar kedua untuk satuan
kerja yang melaksanakan urusan Penyuluhan Pertanian di
kabupaten/kota, lembar ketiga dan keempat untuk arsip satuan kerja
yang melaksanakan tugas prasarana dan sarana Pertanian di
kecamatan dan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi kecamatan paling
lambat selesai pada akhir Maret.
5. Kepala Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan prasarana
dan sarana Pertanian, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
dan/atau peternakan di kabupaten/kota melakukan rekapitulasi
RDKK Pupuk Bersubsidi kabupaten/kota sekaligus menandatangani
(Format 8).
6. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi kabupaten/kota dibuat rangkap
empat, lembar pertama untuk Dinas Pertanian/SKPD yang
melaksanakan urusan prasarana dan sarana Pertanian, tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan dan/atau peternakan di provinsi,
lembar kedua untuk satuan kerja yang melaksanakan urusan
penyuluhan di provinsi, lembar ketiga untuk satuan kerja yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota, dan lembar
keempat sebagai arsip untuk Dinas Pertanian/SKPD yang
melaksanakan urusan prasarana dan sarana Pertanian, tanaman
- 49 -

pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan di


kabupaten/kota. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi kabupaten/
kota paling lambat selesai pada akhir April.
7. Kepala Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan prasarana
dan sarana Pertanian, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
dan/atau peternakan di provinsi melakukan rekapitulasi RDKK Pupuk
Bersubsidi provinsi sekaligus menandatangani (Format 9).
8. Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi provinsi dibuat rangkap
empat, lembar pertama untuk Kementerian Pertanian melalui
Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, lembar kedua
untuk Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pertanian, lembar ketiga untuk satuan kerja yang melaksanakan
urusan penyuluhan di provinsi, dan lembar keempat sebagai arsip
untuk Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan prasarana
dan sarana Pertanian, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
dan/atau peternakan di provinsi. Rekapitulasi RDKK Pupuk
Bersubsidi provinsi paling lambat selesai pada akhir Mei.

KEMENTERIAN PERTANIAN P usat

Rekapitulasi RDKK
Provinsi Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan
(selesai paling lambat akhir Mei) urusan prasarana dan sarana pertanian, tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau Provinsi
peternakan di provinsi

Rekapitulasi RDKK Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan


Kabupaten/Kota urusan prasarana dan sarana pertanian, tanaman
(selesai paling lambat akhir April) pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau Kabupaten/Kota
peternakan di kabupaten/kota

Rekapitulasi RDKK
Satuan kerja yang melaksanakan Satuan kerja yang melaksanakan
Kecamatan
tugas penyuluhan di kecamatan (selesai paling lambat akhir
Maret)
tugas prasarana dan sarana pertanian
Kecamatan
di kecamatan

Rekapitulasi RDKK
Desa/Kelurahan
(selesai paling lambat awal
Februari) Desa/Kelurahan
Penyuluh Pertanian
di WKPP

Fasilitasi Penyusunan RDKK


oleh Penyuluh Pertanian Gapoktan
Pendamping

Poktan Poktan Poktan Poktan

Petani Petani Petani Petani


- 50 -

Gambar 1 Alur/Mekanisme Penyusunan dan Rekapitulasi RDKK Pupuk


Bersubsidi

BAB V
GERAKAN PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN RDK DAN RDKK

Untuk mendukung keberhasilan pengembangan Usahatani diperlukan


partisipasi aktif Petani, baik oleh aparat pembina maupun pemangku
kepentingan lain dalam gerakan penyusunan dan pelaksanaan RDK dan RDKK
termasuk RDKK Pupuk Bersubsidi. Gerakan tersebut, dilakukan melalui
peningkatan kemampuan Petani dalam melaksanakan Usahatani sesuai
anjuran teknologi secara berkelompok dan berencana dengan azas
musyawarah. Dalam penyusunan RDK dan RDKK, Poktan difasilitasi Penyuluh
Pertanian sesuai dengan tugas dan fungsi yang dituangkan dalam rencana
kerja Penyuluh Pertanian di WKPP.
Fasilitasi penyusunan RDK dan RDKK dilakukan melalui praktik langsung dan
simulasi sehingga proses penyusunan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
riil Petani.

A. Persiapan Penyusunan RDK dan RDKK

1. Penyuluh Pertanian di WKPP melakukan sosialisasi manfaat dan


kegunaan RDK dan RDKK bagi Petani, pengurus Poktan sebagai
perencanaan dalam pengembangan Usahatani;
2. Penyuluh Pertanian di WKPP melakukan inventarisasi faktor-faktor
yang mempengaruhi kegiatan Usahatani anggota Poktan; dan
3. anggota Poktan mempersiapkan data dan informasi untuk menyusun
RDK dan RDKK.

B. Pelaksanaan Gerakan RDK dan RDKK

1. pencanangan gerakan penyusunan RDK dan RDKK di desa/kelurahan


dilakukan oleh kepala desa/kelurahan dengan melibatkan tokoh
masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya;
2. pencanangan gerakan penyusunan RDK dan RDKK dilaksanakan di
setiap tingkatan, yang bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan,
- 51 -

membangun kesadaran dan mendorong Petani serta pemangku


kepentingan lain untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut;
3. gerakan penyusunan RDK dan RDKK di desa/kelurahan dilaksanakan
secara serentak pada Januari, melalui antara lain:
a. mengadakan pertemuan dengan ketua dan pengurus Poktan yang
ada di desa/kelurahan untuk mengatur dan menetapkan jadwal
musyawarah Poktan;
b. menggerakkan anggota Poktan untuk hadir dan aktif dalam
musyawarah Poktan;
c. mendorong Petani lain untuk bergabung dan berpartisipasi aktif di
dalam Poktan; dan
d. menghadirkan kepala desa/lurah dalam musyawarah Poktan.
4. Instansi pembina di masing-masing tingkatan, melakukan
bimbingan dan pengawasan terhadap penyusunan RDK dan RDKK.

Januari
RDK

RDKK
Setiap akhir musim tanam/siklus usaha

RDKK RDKK RDKK


MT I MT II MT III

RDKK Pupuk Bersubsidi Rekapitulasi RDKK Pupuk Bersubsidi


(untuk tahun berikutnya) Desa/Kelurahan

Awal Februari Akhir Februari

Gambar 2 Keterkaitan Penyusunan RDK, RDKK dan RDKK


Pupuk Bersubsidi

BAB VI
PENGORGANISASIAN

Organisasi pelaksana pembinaan penyusunan RDK dan RDKK secara


berjenjang dilakukan di Pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan di
desa/kelurahan.
- 52 -

A. Desa/Kelurahan

Penyuluh Pertanian di desa/kelurahan bertanggung jawab dalam


pelaksanaan pendampingan penyusunan RDK dan RDKK, dengan tugas
sebagai berikut:
1. melakukan identifikasi kemampuan Poktan dalam menyusun RDK
dan RDKK;
2. menyusun jadwal pelaksanaan pendampingan penyusunan RDK dan
RDKK;
3. memfasilitasi penyusunan RDK dan RDKK; dan
4. melaporkan hasil pendampingan penyusunan RDK dan RDKK di
desa/kelurahan kepada satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan, sebagai bahan informasi dan perencanaan
pembinaan lebih lanjut.

B. Kecamatan

Satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan


bertanggungjawab dalam pengawalan pelaksanaan penyusunan RDK dan
RDKK, berkoordinasi dengan petugas teknis terkait, dengan tugas sebagai
berikut:
1. menyebarluaskan petunjuk teknis penyusunan RDK dan RDKK,
sebagai acuan bagi Penyuluh Pertanian di desa/kelurahan;
2. menjelaskan petunjuk teknis penyusunan RDK dan RDKK, kepada
Penyuluh Pertanian di desa/kelurahan;
3. menyusun jadwal pengawalan dan pendampingan penyusunan RDK
dan RDKK di desa/kelurahan;
4. melakukan kompilasi dan validasi data tentang perkembangan
penyusunan RDK dan RDKK, berdasarkan laporan dari Penyuluh
Pertanian di desa/kelurahan;
5. melakukan monitoring dan evaluasi penyusunan RDK dan RDKK,
sebagai bahan informasi dan perencanaan kegiatan lebih lanjut; dan
6. melaporkan perkembangan penyusunan RDK dan RDKK ke Dinas
Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota.
- 53 -

C. Kabupaten/Kota

Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di


kabupaten/kota bertanggungjawab dalam pembinaan penyusunan RDK
dan RDKK, yang berkoordinasi dengan dinas terkait di kabupaten/kota,
dengan tugas sebagai berikut:
1. menyusun petunjuk teknis p enyusunan RDK dan RDKK
kabupaten/kota, sebagai acuan pelaksanaan penyuluhan di
kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan;
2. mensosialisasikan petunjuk teknis penyusunan RDK dan RDKK
kabupaten/kota kepada pelaksana penyuluhan di kabupaten/kota,
kecamatan, desa/kelurahan;
3. menyusun rencana dan melaksanakan pembinaan penyusunan RDK
dan RDKK di setiap kecamatan;
4. melakukan kompilasi dan validasi data tentang perkembangan
penyusunan RDK dan RDKK berdasarkan laporan dari kecamatan,
sebagai bahan perumusan kebijakan pembinaan lebih lanjut;
5. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyusunan RDK
dan RDKK, sebagai bahan informasi dan perencanaan kegiatan lebih
lanjut; dan
6. melaporkan perkembangan penyusunan RDK dan RDKK ke Dinas
Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi
sebagai bahan perumusan kebijakan operasional dan implementasi
pembinaan penyusunan RDK dan RDKK.

D. Provinsi

Dinas Pertanian/SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di


provinsi, bertanggungjawab dalam pembinaan penyusunan RDK dan
RDKK, yang berkoordinasi dengan satuan kerja terkait di provinsi
termasuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), dengan tugas
sebagai berikut:
1. menyusun petunjuk pelaksanaan penyusunan RDK dan RDKK
provinsi sebagai acuan bagi pelaksanaan penyuluhan di provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan;
- 54 -

2. mensosialisasikan petunjuk pelaksanaan penyusunan RDK dan RDKK


provinsi kepada pelaksana penyuluhan di provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan dan desa/kelurahan;
3. menyusun rencana dan melaksanakan pembinaan penyusunan RDK
dan RDKK;
4. melakukan kompilasi dan validasi data tentang perkembangan
penyusunan RDK dan RDKK berdasarkan laporan dari
kabupaten/kota, sebagai bahan perumusan kebijakan pembinaan
lebih lanjut;
5. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan hasil pembinaan
penyusunan RDK dan RDKK bersama dengan satuan kerja lingkup
Pertanian di provinsi, sebagai bahan informasi dan perumusan
perencanaan program di provinsi; dan
6. melaporkan perkembangan penyusunan RDK dan RDKK ke Badan
PPSDMP dengan tembusan ke satuan kerja terkait di provinsi sebagai
bahan perumusan kebijakan dan implementasi pembinaan
penyusunan RDK dan RDKK.

E. Pusat

Badan PPSDMP bertanggungjawab dalam kebijakan pembinaan


pelaksanaan penyusunan RDK dan RDKK, dengan tugas sebagai berikut:
1. menyusun Pedoman Pelaksanaan Penyusunan RDK dan RDKK,
berkoordinasi dengan unit eselon I terkait sebagai acuan bagi
pelaksana penyuluhan dan instansi terkait di provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan;
2. mensosialisasikan Pedoman Pelaksanaan Penyusunan RDK dan RDKK
kepada pelaksana penyuluhan dan instansi terkait di provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan;
3. menyusun rencana dan melaksanakan pembinaan penyusunan RDK
dan RDKK;
4. melakukan kompilasi dan validasi data tentang perkembangan
penyusunan RDK dan RDKK berdasarkan laporan dari provinsi,
sebagai bahan perumusan kebijakan pembinaan lebih lanjut; dan
5. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyusunan RDK
dan RDKK bersama dengan Eselon I terkait sebagai bahan informasi
dan perumusan perencanaan program nasional.
- 55 -

BAB VII
SUPERVISI, MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

A. Supervisi dan Monitoring

Supervisi dan monitoring dilaksanakan secara terkoordinasi, berkala dan


berkelanjutan untuk memperlancar penyusunan RDK dan RDKK melalui
pemantauan terhadap pelaksanaan penyusunan, permasalahan, serta
pemecahannya. Supervisi dan monitoring dilaksanakan secara berjenjang,
sebagai berikut:
1. supervisi dan monitoring oleh Pusat dilaksanakan bersamaan dengan
pengawalan dan pendampingan kegiatan penyuluhan ke provinsi dan
kabupaten/kota;
2. supervisi dan monitoring dari provinsi dilaksanakan melalui
pembinaan penyelenggaraan kegiatan penyuluhan ke kabupaten/
kota;
3. supervisi dan monitoring dari kabupaten/kota ke kecamatan
dilaksanakan pada awal dan akhir musim tanam/siklus usaha;
4. pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan wajib melakukan supervisi dan monitoring kepada
Penyuluh Pertanian dalam memfasilitasi penyusunan dan pengusulan
RDK dan RDKK; dan
5. Penyuluh Pertanian wajib memfasilitasi penerapan teknologi sesuai
dengan rekomendasi, sebagai dasar penyusunan kebutuhan saprotan
dalam RDK dan RDKK.

B. Evaluasi dan Pelaporan

Evaluasi dan pelaporan dilaksanakan secara berjenjang untuk


mengetahui perkembangan dan permasalahan dalam penyusunan RDK
dan RDKK, sebagai bahan perbaikan perencanaan di masa yang akan
datang.

Pelaporan pengusulan RDK dan pelaporan rekapitulasi RDKK,


merupakan instrumen dalam pengamanan penyaluran pupuk bersubsidi.
- 56 -

BAB VIII
PENDANAAN

Pendanaan penyusunan RDK dan RDKK dapat bersumber dari Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota, APBD provinsi
dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta sumber lain
yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

BAB IX
PENUTUP

Peraturan Menteri ini disusun sebagai acuan dalam penyusunan RDK dan
RDKK sehingga memotivasi penumbuhan dan pengembangan Poktan, serta
pengembangan Usahatani. Mekanisme penyusunan RDK dan RDKK dilakukan
melalui kerjasama dan sinergitas antara satuan kerja Penyuluhan Pertanian,
kelembagaan teknis, serta kelembagaan penelitian dan pengembangan
Pertanian. Penyusunan RDK dan RDKK merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Pembinaan Kelembagaan Petani.

MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

AMRAN SULAIMAN
- 57 -

LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 67/Permentan/SM.050/12/2016
TANGGAL : 20 Desember 2016

SISTEM KERJA LATIHAN, KUNJUNGAN DAN SUPERVISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

LAKU SUSI merupakan sistem kerja penyuluhan pertanian untuk


mewujudkan petani yang profesional, andal, berkemampuan manajerial,
dan kewirausahaan, melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan
keterampilan Petani yang perlu disesuaikan dengan perkembangan
teknologi pertanian, teknologi informasi dan komunikasi, dan kebutuhan
pelatihan bagi Petani dan Penyuluh Pertanian. Supervisi pendampingan
penyuluh kepada Petani dilakukan oleh pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan dan/atau Penyuluh
Urusan Supervisi (Supervisor).

Pelaksanaan Sistem Kerja LAKU SUSI merupakan kegiatan strategis yang


harus dilaksanakan secara terjadwal, teratur, terarah dan berkelanjutan
sebagai suatu sistem penyiapan SDM Pertanian menuju kedaulatan
pangan yang berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan.

B. Tujuan

Sistem Kerja LAKU SUSI bertujuan untuk:


1. memberikan acuan bagi penyelenggara penyuluhan dan pemangku
kepentingan lainnya dalam pelaksanaan kegiatan LAKU SUSI di Pusat,
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan;
2. menetapkan prosedur operasional pelaksanaan Sistem Kerja LAKU
SUSI; dan
3. meningkatkan kinerja Penyuluh Pertanian untuk melakukan
pengawalan dan pendampingan.
- 58 -

C. Sasaran

Sasaran Sistem Kerja LAKU SUSI meliputi:


1. Penyuluh Pertanian; dan
2. penyelenggara penyuluhan dan pemangku kepentingan lain di Pusat,
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Sistem Kerja LAKU SUSI meliputi:


1. kebijakan sistem penyelenggaraan penyuluhan pertanian;
2. pelaksanaan LAKU SUSI;
3. monitoring, evaluasi dan pelaporan; dan
4. pendanaan.

E. Pengertian

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


1. Penyuluhan Pertanian adalah proses pembelajaran bagi Pelaku Utama
dan Pelaku Usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan
mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar,
teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian
fungsi lingkungan hidup.
2. Penyuluh Pertanian adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang
melakukan kegiatan Penyuluhan Pertanian, baik penyuluh PNS,
penyuluh swasta, maupun penyuluh swadaya.
3. Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian yang selanjutnya disebut WKPP,
adalah daerah binaan Penyuluh Pertanian yang terdiri dari satu atau
beberapa desa/kelurahan.
4. Sistem Kerja Latihan, Kunjungan, dan Supervisi yang selanjutnya
disebut Sistem Kerja LAKU SUSI adalah pendekatan yang memadukan
antara pelatihan bagi penyuluh yang ditindaklanjuti dengan
Kunjungan berupa pendampingan kepada Petani/Poktan secara
terjadwal dan didukung dengan supervisi teknis dari penyuluh senior
serta ketersediaan informasi teknologi sebagai materi Kunjungan.
- 59 -

5. Latihan adalah suatu kegiatan alih pengetahuan dan keterampilan,


baik berupa teori maupun praktek dari fasilitator kepada Penyuluh
Pertanian melalui metode partisipatif untuk meningkatkan
kemampuan mendampingi dan membimbing Poktan.
6. Kunjungan adalah kegiatan pendampingan dan bimbingan Penyuluh
Pertanian kepada Petani secara personal dan dalam kelembagaan
petani (Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani/Kelembagaan
Ekonomi Petani).
7. Supervisi adalah pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan
penyuluh dalam pengawalan dan pendampingan kelembagaan petani
agar sesuai dengan rencana dan sekaligus membantu memecahkan
permasalahan yang tidak bisa dipecahkan di lapangan.
8. Pelaku Utama yang selanjutnya disebut Petani adalah Warga Negara
Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang
melakukan usahatani di bidang tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan/atau peternakan.
9. Pelaku Usaha adalah setiap orang Warga Negara Indonesia yang
melakukan usaha sarana produksi pertanian, pengolahan dan
pemasaran hasil pertanian, serta jasa penunjang pertanian yang
berkedudukan di wilayah Republik Indonesia.
10. Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari,
oleh, dan untuk Petani guna memperkuat dan memperjuangkan
kepentingan Petani, mencakup Kelompok Tani, Gabungan Kelompok
Tani, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian
Nasional.
11. Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Poktan adalah kumpulan
petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan; kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan
sumberdaya; kesamaan komoditas; dan keakraban untuk
meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
12. Gabungan Kelompok Tani yang selanjutnya disebut Gapoktan adalah
kumpulan beberapa Kelompok Tani yang bergabung dan bekerjasama
untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.
13. Usahatani adalah kegiatan dalam bidang pertanian, mulai dari
produksi/budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, sarana
produksi, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang.
- 60 -

BAB II
KEBIJAKAN SISTEM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN PERTANIAN

A. Arah Kebijakan

Untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan Petani, maka


arah kebijakan penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian dilakukan melalui
pemantapan sistem Penyuluhan Pertanian yang terpadu dan
berkelanjutan sehingga dapat menghasilkan Petani dan Pelaku Usaha
yang berkarakter, memiliki jiwa kewirausahaan, mandiri dan berdaya
saing mendukung bioindustri berkelanjutan.

Sistem Kerja LAKU SUSI sebagai bagian dari penyelenggaraan Penyuluhan


Pertanian, merupakan pendekatan yang memadukan antara pelatihan
bagi Penyuluh Pertanian, dan ditindaklanjuti dengan Kunjungan berupa
pendampingan kepada Petani/Kelembagaan Petani secara terjadwal serta
didukung dengan Supervisi teknis dari Penyuluh Pertanian senior, dan
ketersediaan informasi teknologi sebagai materi Kunjungan.

B. Strategi

Strategi pemantapan sistem penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian yang


terpadu dan berkelanjutan untuk mendukung Sistem kerja LAKU SUSI,
meliputi:
1. peningkatan sinergitas penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian
antarkelembagaan Penyuluhan Pertanian, dinas teknis, dan lembaga
penelitian;
2. penguatan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan sebagai Pusat Koordinasi Program dan Pelaksanaan
Kegiatan Pembangunan Pertanian di Kecamatan;
3. pemberdayaan Penyuluh Pertanian PNS, Swadaya dan Swasta;
4. pemberdayaan Kelembagaan Petani dan kelembagaan ekonomi Petani
(BUMP) menjadi kelembagaan yang mandiri dan berdaya saing;
5. pengembangan dan penyebaran informasi/materi Penyuluhan
Pertanian melalui sistem teknologi, informasi dan komunikasi
pertanian; dan
6. peningkatan dukungan prasarana dan sarana Penyuluhan Pertanian.
- 61 -

Strategi pemantapan sistem penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian


dijabarkan sebagai berikut:
1. Peningkatan sinergitas penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian
antarkelembagaan Penyuluhan Pertanian, satuan kerja teknis, dan
lembaga penelitian, dalam penguatan satuan kerja yang melaksanakan
tugas penyuluhan di kecamatan sebagai Pusat Koordinasi
Pelaksanaan Program dan Kegiatan Pembangunan Pertanian di
Kecamatan, melalui:
a. pengembangan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan
di kecamatan sebagai Pusat Data dan Informasi Pertanian; dan
b. menjalin pengembangan kerjasama kemitraan usaha dengan pihak
lain.
2. Pemberdayaan Penyuluh Pertanian PNS, Swadaya dan Swasta, melalui:
a. peningkatan kompetensi Penyuluh Pertanian melalui
pelatihan/diklat (diklat dasar, diklat alih kelompok, dan diklat
teknis agribisnis);
b. bimbingan teknis/apresiasi/Latihan Kunjungan/magang/studi
banding;
c. uji kompetensi Penyuluh Pertanian;
d. penumbuhan dan pengembangan peran Penyuluh Pertanian
Swadaya;
e. optimalisasi peran Penyuluh Pertanian Swasta; dan
f. evaluasi kinerja Penyuluh Pertanian PNS secara berkelanjutan dan
berjenjang.
3. Pemberdayaan Petani, Kelembagaan Petani dan kelembagaan ekonomi
Petani (BUMP) menjadi kelembagaan yang mandiri dan berdaya saing,
melalui:
a. peningkatan manajemen pengelolaan Kelembagaan Petani dan
kelembagaan ekonomi Petani;
b. pemberdayaan Petani melalui pelatihan dan magang di bidang
pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan ketahanan
pangan di P4S;
c. penumbuhan dan pengembangan Pos Penyuluhan Desa
(Posluhdes);
d. pemberdayaan masyarakat di daerah tertinggal melalui
pengembangan masyarakat (Community Development);
- 62 -

e. pengembangan Kelembagaan Petani dan KEP melalui


pengembangan jejaring dan kemitraan usaha;
f. pengawalan dan pendampingan Penyuluh Pertanian di sentra
produksi melalui rembug tani, kursus tani, hari lapang Petani, dan
lainnya;
g. pengawalan dan pendampingan Penyuluh Pertanian dalam
penyusunan RDK dan RDKK;
h. peningkatan kemampuan Kelembagaan Petani dan KEP; dan
i. penumbuhan dan pengembangan Kelembagaan Petani (Poktan,
Gapoktan) dan KEP.
4. Pengembangan dan penyebaran informasi/materi Penyuluhan
Pertanian melalui sistem teknologi, informasi dan komunikasi
pertanian, meliputi:
a. pengembangan sistem cyber extension dan SIMLUHTAN berbasis
internet;
b. penyusunan materi penyuluhan dan penyebarluasan informasi
melalui media elektronik (televisi dan radio), media cetak (Majalah
Ekstensia, leaflet, brosur, liptan, dan poster), dan e-learning;
c. penyediaan informasi melalui tabloid dan majalah pertanian;
d. pengembangan database Penyuluhan Pertanian terintegrasi dalam
bidang kelembagaan penyuluhan, Kelembagaan Petani, dan
ketenagaan penyuluhan;
e. peningkatan hubungan kerjasama antarkelembagaan yang
melaksanakan tugas penyuluhan, satuan kerja teknis, dan
lembaga penelitian dalam diseminasi informasi teknologi; dan
f. pengembangan data base Penyuluhan Pertanian terintegrasi.
5. Peningkatan dukungan prasarana dan sarana, melalui:
a. dukungan penyediaan sarana pembelajaran penyuluhan,
komputer, dan pengadaan alat bantu penyuluh lainnya; dan
b. pemanfaatan lahan satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan sebagai media pembelajaran penyuluh
melalui kegiatan kaji terap teknologi bekerjasama dengan BPTP.

C. Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan Pertanian diselenggarakan untuk kepentingan sasaran, yaitu


Pelaku Utama dan Pelaku Usaha yang bergabung dalam Kelembagaan
- 63 -

Petani dan KEP, agar mereka mau dan mampu menolong dan
mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi,
permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan
kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian
fungsi lingkungan.

Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian akan efektif bagi Pelaku Utama


dan Pelaku Usaha, apabila setiap tahun dilakukan penyusunan rencana
kegiatan dimulai dari penyusunan programa Penyuluhan Pertanian
desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
Selanjutnya Penyuluh Pertanian yang bertugas di desa/kelurahan
menyusun dan melaksanakan rencana kerja tahunan berdasarkan
programa Penyuluhan Pertanian desa/kelurahan.

Penyuluh Pertanian melakukan penyuluhan dengan menggunakan


pendekatan partisipatif melalui mekanisme kerja dan metode Penyuluhan
Pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi Pelaku
Utama dan Pelaku Usaha. Materi Penyuluhan Pertanian disusun
berdasarkan kebutuhan dan kepentingan Pelaku Utama dan Pelaku
Usaha yang berisi unsur-unsur: pengembangan sumber daya manusia
dan peningkatan modal sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi,
ekonomi, manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan. Materi
penyuluhan bersifat spesifik lokasi yang penyajiannya mampu
menumbuhkan dan mengembangkan motivasi Petani dalam
mengembangkan usahataninya.

Penyuluhan Pertanian diselenggarakan oleh kelembagaan penyuluhan


pemerintah, mulai dari Pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan
desa/kelurahan. Dalam pelaksanaan Penyuluhan Pertanian difasilitasi
oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan swasta melalui kerjasama, baik
antarkelembagaan penyuluhan maupun lintas sektoral. LAKU SUSI
sebagai sistem kerja yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian yang
diselenggarakan oleh kelembagaan penyuluhan di kecamatan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Penyelenggaraan Penyuluhan
Pertanian.
- 64 -

Keterkaitan LAKU SUSI dengan Sistem Penyelenggaraan Penyuluhan


Pertanian dapat dilihat pada Gambar 1.

SISTEM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN

PUSAT PROV KAB/KOTA KEC DESA/KEL


SASARAN
Tim Supervisi Tim Supervisi Tim Supervisi Supervisi Kunjungan
Terpadu Terpadu Terpadu
materi

BPPSDMP SKPD yang SKPD yang


melaksanakan melaksanakan Satker yang
KJF urusan urusan melaksanakan
Penyuluh tugas
DITJEN
penyuluhan penyuluhan
penyuluhan
P Permentan
prov kab/kota ttg
TEKNIS KJF Penyuluh KJF Penyuluh kecamatan E Pembinaan
KJF/ Pimpinan N Kelembagaan
BADAN satker yg Petani
LITBANGT Dinas Dinas melaksanakan Y
AN Teknis Teknis tugas U 8 – 16
PERGURU terkait terkait penyuluhan kec Poktan
AN TINGGI BPTP LITBANG L dan
Supervisor,
Peneliti programmer,
U Gapoktan
Profesional UPT Pendamping
lingkup
sumberdaya H
PUSDATIN BPPSDMP Sistem Informasi,
Profesional Profesional SMS gateway
Call Centre

6 5 4 3 2 1

melatih melatih dilatih kunjungan

Melaporkan Melaporkan Identifikasi Masalah

Gambar 1 Sistem Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian

BAB III
PELAKSANAAN LAKU SUSI

LAKU SUSI dilaksanakan melalui tahapan dan mekanisme kerja sebagai


berikut:

A. Penetapan Jadwal LAKU SUSI

Jadwal pelaksanaan LAKU SUSI ditetapkan pada awal tahun atau akhir
tahun oleh satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan berdasarkan programa Penyuluhan Pertanian dan Rencana
Kerja Tahunan Penyuluh Pertanian (RKTPP), melalui proses sebagai
berikut:
1. rapat koordinasi penetapan jadwal LAKU SUSI dapat dilaksanakan
bersamaan dengan rapat perencanaan kegiatan satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan lainnya;
- 65 -

2. rapat dipimpin oleh Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas


penyuluhan di kecamatan/Penyuluh Pertanian Urusan Program
(Programmer);
3. peserta terdiri dari semua Penyuluh Pertanian yang berada di Wilayah
Kerja satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan beserta ketua/pengurus dari Poktan dan Gapoktan;
4. rapat bertujuan untuk menyusun jadwal pelaksanaan Latihan,
Kunjungan, Supervisi dan jadwal pertemuan di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan; dan
5. rapat koordinasi menghasilkan antara lain jadwal Latihan, jadwal
Kunjungan, jadwal Supervisi, dan jadwal pertemuan di satuan kerja
yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan seperti contoh
jadwal Latihan dan Kunjungan pada Gambar 2. Jadwal Latihan,
Kunjungan, dan Supervisi disesuaikan dengan kondisi di masing-
masing satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan.

Minggu I Minggu II
Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari
I II III IV V I II III IV V

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Kunjungan Penyuluh pertanian ke Pertemuan Penyuluh Pertanian di 1. Pelatihan Penyuluh Pertanian di


Poktan/Gapoktan; Satker yg melaksanakan tugas Satker yg melaksanakan tugas
2. Supervisi langsung ke lapangan penyuluhan di kec untuk mereview penyuluhan di kec;
hasil kunjungan 2. Supervisi teknis oleh Penyuluh
oleh Pimpinan Satker yg
melaksanakan tugas penyuluhan di Pertanian senior dan pejabat
kec/ Penyuluh Pertanian SKPD yang melaksanakan urusan
Supervisor. penyuluhan di kab/kota.

Gambar 2 Contoh Jadwal dan Mekanisme Pelaksanaan LAKU SUSI

Minggu I:
1. Penyuluh Pertanian di WKPP melakukan Kunjungan kepada empat
Poktan selama empat hari kerja (hari ke I, II, III, dan IV);
- 66 -

2. pada saat Penyuluh Pertanian di WKPP melakukan Kunjungan ke


Poktan (hari ke I, II, III, dan IV), Pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan/Supervisor dapat
melakukan Supervisi ke lapangan; dan
3. hari ke-5, Penyuluh Pertanian dan Pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan melakukan pertemuan
untuk menelaah dan mengkonsultasikan hasil Kunjungan ke
Petani/Poktan/Gapoktan/KEP dan hasil Supervisi yang dilakukan
oleh Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan/Supervisor.

Minggu II:
1. Penyuluh Pertanian di WKPP melanjutkan melakukan Kunjungan
kepada minimal empat Poktan selama empat hari kerja (hari ke I, II,
IV, dan V); dan
2. pada hari ke III, semua Penyuluh Pertanian mengikuti Latihan di
satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan,
sekaligus dilakukan Supervisi teknis oleh Penyuluh Pertanian senior
dan pejabat dari SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota.
Setiap Penyuluh Pertanian di WKPP dapat membina 8 - 16 Poktan,
Gapoktan, dan KEP serta dijadwalkan mengunjungi setiap Poktan minimal
sekali dalam dua minggu. Jadwal Kunjungan Penyuluh Pertanian ke
Poktan, Gapoktan, dan KEP dapat disesuaikan dengan kesepakatan pada
rembug tani. Apabila jumlah Poktan di WKPP lebih dari 8 Poktan, maka
Penyuluh Pertanian dapat melakukan Kunjungan lebih dari satu Poktan
setiap hari. Apabila ada Poktan di WKPP menjadi pelaksana kegiatan
program tertentu, maka Penyuluh Pertanian dapat menambahkan waktu
Kunjungan ke Poktan tersebut.

B. Persiapan dan Pelaksanaan LAKU SUSI

1. Latihan
a. Persiapan Pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan
1) Menetapkan Materi Pelatihan
- 67 -

Materi pelatihan ditetapkan melalui langkah-langkah berikut:


a) Identifikasi Potensi dan Masalah Pengembangan Usahatani
di WKPP
(1) saat Kunjungan, Penyuluh Pertanian melakukan
identifikasi potensi dan masalah yang dihadapi oleh
Petani/Poktan/Gapoktan/KEP, meliputi pengembangan
Usahatani, manajemen Kelembagaan Petani dan lain-
lain sesuai dengan Format 1;
(2) berdasarkan hasil identifikasi potensi dan masalah
pengembangan Usahatani, manajemen Kelembagaan
Petani dan lain-lain, ditetapkan urutan prioritas materi
pelatihan yang dibutuhkan; dan
(3) menelaah Programa Penyuluhan Pertanian Desa/
Kelurahan dan Kecamatan pada tahun berjalan.
Apabila ada potensi dan masalah yang belum tercantum
dalam programa, maka dapat dilakukan revisi terhadap
programa tersebut.
b) Identifikasi Kebutuhan Materi Pelatihan
“Materi pelatihan yang dibutuhkan” (dari hasil identifikasi
potensi dan masalah) dibandingkan dengan kemampuan
Penyuluh Pertanian dalam memfasilitasi Petani melalui
diskusi dengan semua Penyuluh Pertanian pada pertemuan
rutin hari ke V, minggu II di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan. Hasil
diskusi sesuai dengan Format 2.
2) menyepakati dan menetapkan bersama materi pelatihan yang
akan dilatihkan kepada para Penyuluh Pertanian di satuan
kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan dan
menetapkan narasumber untuk materi yang akan dilatihkan
termasuk rencana waktu pelaksanaannya, sesuai dengan
Format 3; dan
3) selanjutnya pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan melaporkan kepada pimpinan SKPD
yang melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota
tentang rencana pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja
yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan. Apabila
- 68 -

narasumber tidak tersedia di satuan kerja yang melaksanakan


tugas penyuluhan di kecamatan atau di wilayah kecamatan,
agar dapat difasilitasi dan didukung oleh narasumber dari
instansi terkait di kabupaten/kota.
b. Pelaksanaan Pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan
1) Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan Penyuluh Pertanian tentang hal-hal nyata dan
baru sebagai materi dalam membina Petani/Poktan/
Gapoktan/KEP;
2) Pelatihan dilaksanakan di satuan kerja yang melaksanakan
tugas penyuluhan di kecamatan secara rutin setiap dua
minggu sekali, kegiatan pelatihan bagi penyuluh dapat
disinergikan dengan pelatihan tematik/pelatihan teknis yang
dilaksanakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian dengan
metoda on the job training (OJT).
3) peserta pelatihan yaitu Penyuluh Pertanian yang berada di
wilayah satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan;
4) materi pelatihan dapat berasal dari:
a) materi pelatihan mengacu pada hasil identifikasi
kebutuhan pelatihan sesuai dengan Format 2;
b) materi pelatihan tentang penumbuhan dan penguatan
Poktan, Gapoktan dan KEP mengacu pada: 1) Pedoman
Pembinaan Kelembagaan Petani; 2) Buku I: Kelompok
Tani Sebagai Kelas Belajar; 3) Buku II: Kelompok Tani
Sebagai Wahana Kerjasama; 4) Buku III: Kelompok Tani
Sebagai Unit Produksi; 5) Buku IV: Pembentukan
Koperasitani; 6) Petunjuk Pelaksanaan Penilaian
Kemampuan Kelompok Tani; 7) Petunjuk Pelaksanaan
Peningkatan Kemampuan Kelompok Tani; dan 8) Petunjuk
Pelaksanaan Pengembangan Kelembagaan Ekonomi
Petani.
5) pelatihan dilakukan dengan pendekatan andragogy dan
pemecahan masalah serta dapat dikombinasikan dengan
pengamatan langsung pada lahan percontohan di satuan kerja
yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan sebagai
- 69 -

sarana pembelajaran;
6) narasumber pelatihan terdiri dari Penyuluh Pertanian di
satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di
kecamatan yang menguasai materi atau instansi/lembaga
terkait yang sesuai dengan bidangnya antara lain: KCD, UPT
kecamatan, Penyuluh Pertanian swadaya, SKPD yang
melaksanakan urusan Penyuluhan Pertanian di
kabupaten/kota, satuan kerja teknis terkait kabupaten/kota,
praktisi, perbankan, tenaga profesional pertanian. Apabila
diperlukan, maka narasumber dapat berasal dari SKPD yang
melaksanakan urusan Penyuluhan Pertanian di provinsi, dinas
teknis terkait provinsi, BPTP, Balai Pelatihan Pertanian, dan
perguruan tinggi, sesuai dengan Format 3;
7) setiap akhir pelatihan, masing-masing Penyuluh Pertanian
membuat rencana materi Kunjungan kepada
poktan/gapoktan/KEP di WKPP; dan
8) pimpinan satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan
di kecamatan bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan
pelatihan Penyuluh Pertanian, kemudian melaporkan hasil
pelaksanaan pelatihan yang dilaksanakan kepada pimpinan
SKPD yang melaksanakan urusan Penyuluhan Pertanian di
kabupaten/kota.
2. Kunjungan
a. Persiapan Kunjungan
Sebelum pelaksanaan Kunjungan Penyuluh Pertanian kepada
Petani/Poktan/Gapoktan/KEP, setiap Penyuluh Pertanian
melakukan persiapan sebagai berikut:
1) menyampaikan dan menyepakati rencana serta jadwal
Kunjungan ke Poktan/Gapoktan/KEP pada pertemuan
Posluhdes/Rembug Tani;
2) frekuensi Kunjungan Penyuluh Pertanian ke Poktan/
Gapoktan/KEP minimal dua minggu sekali;
3) menyesuaikan Rencana Kegiatan Tahunan Penyuluh Pertanian
(RKTP) dengan jadwal Kunjungan Poktan/Gapoktan;
4) menyediakan materi Kunjungan beserta alat peraganya yang
dibutuhkan untuk membantu pemecahan masalah yang
dihadapi oleh Poktan/Gapoktan/KEP, antara lain:
- 70 -

a) mengembangkan Usahatani, meliputi antara lain:


(1) teknologi Usahatani spesifik lokasi;
(2) pengembangan Usahatani berbasis komoditas unggulan
wilayah;
(3) program pembangunan pertanian yang sedang dan akan
dikembangkan di desa/kelurahan tersebut.
b) penumbuhan dan pengembangan Poktan/Gapoktan/ KEP;
dan
c) peningkatan kapasitas SDM Petani/Poktan/
Gapoktan/KEP.
5) Menetapkan metode penyampaian materi Kunjungan
Metode penyampaian materi Kunjungan disesuaikan dengan
materi Kunjungan, seperti materi untuk peningkatan
pengetahuan dengan metode ceramah dan diskusi, sedangkan
materi untuk meningkatkan keterampilan dengan metode
praktik.
b. Pelaksanaan Kunjungan
1) kunjungan Penyuluh Pertanian kepada Petani/Poktan/
Gapoktan/KEP:
a) Melakukan pendampingan dan bimbingan berdasarkan
materi Kunjungan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan Petani sesuai dengan materi Kunjungan
untuk memecahkan masalah yang dihadapi Petani/Poktan/
Gapoktan/KEP.
b) Mengumpulkan data dan informasi yang terkini sebagai
bahan masukan untuk SIMLUHTAN, meliputi:
(1) data Poktan, sesuai dengan Format 4;
(2) data Gapoktan, sesuai dengan Format 5;
(3) data KEP, sesuai dengan Format 6;
(4) data luas lahan baku, luas tanam, luas panen, produksi
dan produktivitas komoditas strategis, sesuai dengan
Format 7; dan
(5) permasalahan Petani/Poktan/Gapoktan/KEP.
2) setiap Penyuluh Pertanian melakukan Kunjungan ke Poktan/
Gapoktan/KEP selama 4 hari kerja dalam satu minggu (seperti
pada Gambar 2). Jadwal Kunjungan disesuaikan sebagai
berikut:
a) jadwal Kunjungan rutin yang telah disepakati dapat
- 71 -

disesuaikan berdasarkan kesepakatan antara Penyuluh


Pertanian dengan Poktan/Gapoktan/KEP;
b) apabila jumlah Poktan yang berada di WKPP lebih dari 8
Poktan, maka Penyuluh Pertanian dapat melakukan
Kunjungan lebih dari satu Poktan per hari dan dapat
ditambah satu Gapoktan;
c) apabila di WKPP ada Poktan/Gapoktan/KEP yang menjadi
pelaksana kegiatan program tertentu, maka Penyuluh
Pertanian dapat menambahkan waktu/frekuensi
Kunjungan ke Poktan tersebut.
3) kegiatan Kunjungan dapat dilakukan di tempat pertemuan
Petani/Poktan/Gapoktan/KEP (rumah Petani/balai pertemuan
/posluhdes), tempat Usahatani (lahan/saung), dan lain-lain
yang telah disepakati;
4) jadwal Kunjungan harus tercantum dalam RKTP sehingga
setiap Kunjungan Penyuluh Pertanian harus mencatat hasil
Kunjungan pada buku kerja Penyuluh Pertanian, sesuai
dengan Format 8; dan
5) Penyuluh Pertanian melaporkan hasil Kunjungan ke Poktan/
Gapoktan/KEP kepada Pimpinan satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan pada setiap
pertemuan (dua minggu sekali).
3. Supervisi
Supervisi dilakukan secara berjenjang dan terpadu mulai dari
kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai dengan pusat.
a. Kecamatan
Penyuluh Pertanian Supervisor melakukan Supervisi terhadap
kinerja Penyuluh Pertanian di lapangan setiap dua minggu sekali.
Jika Penyuluh Pertanian Supervisor belum ada, maka Supervisi
dapat dilakukan oleh Pimpinan satuan kerja yang melaksanakan
tugas penyuluhan di kecamatan atau Penyuluh Pertanian senior
yang ditunjuk.
Supervisi dilakukan secara langsung di lapangan pada saat
Penyuluh Pertanian melakukan Kunjungan ke Poktan/Gapoktan/
KEP atau pada saat pertemuan dua minggu sekali. Hasil Supervisi
Kunjungan ke Poktan/Gapoktan/KEP sebagai materi pertemuan
pada periode berikutnya, sesuai dengan Format 9.
- 72 -

b. Kabupaten/Kota
Supervisi dilakukan oleh SKPD yang melaksanakan urusan
penyuluhan di kabupaten/kota dengan satuan kerja yang
melaksanakan urusan lain kabupaten/kota pada awal tahun
untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah pelatihan
Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan dan Kunjungan Penyuluh Pertanian ke
Poktan/Gapoktan/KEP serta pencapaian sasaran program
pembangunan pertanian di kabupaten/kota.
Dalam pelaksanaan Supervisi terpadu ini, SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota dengan
instansi terkait lainnya menyepakati:
1) jadwal Supervisi (hari, tanggal) setiap 3 bulan sekali;
2) membentuk Tim Supervisi Terpadu kabupaten/kota, terdiri
dari SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di
kabupaten/kota, satuan kerja yang melaksanakan urusan lain
dan peneliti pendamping; dan
3) materi Supervisi disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing instansi.
Supervisi terpadu kabupaten/kota dapat dilakukan melalui
pertemuan para Penyuluh Pertanian, pelatihan Penyuluh
Pertanian, dan/atau langsung di lapangan. Hasil Supervisi
disusun oleh tim yang dikoordinasikan oleh SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota, mencakup:
1) materi pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan kecamatan yang
membutuhkan dukungan narasumber dari kabupaten/kota,
Peneliti dan Praktisi/Profesional;
2) kinerja Penyuluh Pertanian dalam melakukan Kunjungan ke
Poktan/Gapoktan/KEP, termasuk masalah dan pemecahannya
yang perlu mendapat dukungan untuk peningkatan kinerja
penyuluh;
3) masalah-masalah pelaksanaan program pembangunan
pertanian; dan
4) mengumpulkan data dan informasi yang terkini sebagai bahan
masukan untuk SIMLUHTAN, meliputi:
a) data Poktan, sesuai dengan Format 4;
- 73 -

b) data Gapoktan, sesuai dengan Format 5;


c) data KEP, sesuai dengan Format 6; dan
d) data luas lahan baku, luas tanam, luas panen, produksi
dan produktivitas komoditas strategis nasional, sesuai
dengan Format 7.
Hasil Supervisi terpadu ini ditindaklanjuti dan dilaporkan oleh
SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota
ke SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan provinsi.
c. Provinsi
Supervisi dilakukan oleh SKPD yang melaksanakan urusan
penyuluhan di provinsi dengan satuan kerja yang melaksanakan
urusan lain di provinsi pada awal tahun untuk mengidentifikasi
dan memecahkan masalah pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan
kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan kecamatan dan
Kunjungan Penyuluh Pertanian ke Poktan/Gapoktan/KEP serta
pencapaian sasaran program pembangunan pertanian di provinsi.
Dalam pelaksanaan Supervisi terpadu ini, SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi dengan satuan kerja
yang melaksanakan urusan lain menyepakati:
1) jadwal Supervisi (hari, tanggal) setiap 3 bulan sekali;
2) membentuk Tim Supervisi Terpadu provinsi, terdiri dari SKPD
yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi, satuan
kerja yang melaksanakan urusan lain, BPTP dan UPT lingkup
Badan PPSDMP, Profesional; dan
3) materi Supervisi disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing instansi.
Supervisi terpadu provinsi dapat dilakukan di SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota, melalui
pertemuan para Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan, pelatihan
Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan, dan/atau langsung di lapangan. Hasil
Supervisi disusun oleh tim yang dikoordinasikan oleh SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi, mencakup:
1) materi pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan yang
membutuhkan dukungan narasumber dari provinsi, antara lain
SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi,
- 74 -

satuan kerja yang melaksanakan urusan lain, BPTP dan UPT


lingkup Badan PPSDMP, Profesional;
2) kinerja Penyuluh Pertanian dalam melakukan Kunjungan ke
Poktan/Gapoktan/KEP, termasuk masalah dan pemecahannya
yang perlu mendapat dukungan untuk peningkatan kinerja
penyuluh;
3) masalah-masalah pelaksanaan program pembangunan
pertanian;
4) mengumpulkan data dan informasi yang terkini sebagai bahan
masukan untuk SIMLUHTAN, meliputi:
a) data Poktan, sesuai dengan Format 4;
b) data Gapoktan, sesuai dengan Format 5;
c) data KEP, sesuai dengan Format 6; dan
d) data luas lahan baku, luas tanam, luas panen, produksi
dan produktivitas komoditas strategis nasional, sesuai
dengan Format 7.
Hasil Supervisi terpadu ini ditindaklanjuti dan dilaporkan oleh
SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi ke
Badan PPSDMP.
d. Pusat
Supervisi dilakukan oleh Badan PPSDMP cq Pusat Penyuluhan
Pertanian dengan instansi lingkup pertanian pusat pada awal
tahun untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah pelatihan
Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan dan Kunjungan Penyuluh Pertanian ke
Poktan/Gapoktan/KEP serta pencapaian sasaran program
pembangunan pertanian nasional.
Dalam pelaksanaan Supervisi terpadu ini, Badan PPSDMP cq Pusat
Penyuluhan Pertanian dengan instansi terkait lainnya
menyepakati:
1) jadwal Supervisi (hari, tanggal) setiap 3 bulan sekali;
2) membentuk Tim Supervisi Terpadu Pusat, terdiri dari Pusat
Penyuluhan, Direktorat Teknis lingkup Pertanian, Badan
Litbang Pertanian, Pusat Data dan Informasi Pertanian
(Pusdatin), Perguruan Tinggi, Profesional; dan
3) materi Supervisi disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing instansi.
- 75 -

Supervisi terpadu pusat dapat dilakukan di SKPD yang


melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi, SKPD yang
melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota, melalui
pertemuan para Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan, pelatihan
Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan, dan/atau langsung di lapangan. Hasil
Supervisi disusun oleh tim yang dikoordinasikan oleh Badan
PPSDMP cq Pusat Penyuluhan Pertanian, mencakup:
1) materi pelatihan Penyuluh Pertanian di satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan yang
membutuhkan dukungan narasumber dari pusat, antara lain
Badan PPSDMP, Direktorat Teknis lingkup Pertanian, Peneliti
Pendamping, praktisi, profesional;
2) kinerja Penyuluh Pertanian dalam melakukan Kunjungan ke
Poktan/Gapoktan/KEP, termasuk masalah dan pemecahannya
yang perlu mendapat dukungan untuk peningkatan kinerja
penyuluh;
3) masalah-masalah pelaksanaan program pembangunan
pertanian;
4) mengumpulkan data dan informasi yang terkini sebagai bahan
masukan untuk SIMLUHTAN, meliputi:
a) data Poktan, sesuai dengan Format 4;
b) data Gapoktan, sesuai dengan Format 5;
c) data KEP, sesuai dengan Format 6; dan
d) data luas lahan baku, luas tanam, luas panen, produksi
dan produktivitas komoditas strategis nasional, sesuai
dengan Format 7.
Hasil Supervisi terpadu ini ditindaklanjuti dan dilaporkan oleh
Badan PPSDMP ke Menteri Pertanian.

BAB IV
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

D. Monitoring
Monitoring dilaksanakan dengan cara membandingkan output kegiatan
dengan rencana yang telah ditetapkan, juga dirumuskan permasalahan
yang menyebabkan tidak tercapainya hasil yang diharapkan. Selanjutnya,
- 76 -

ditetapkan tindakan untuk perbaikan dan penyempurnaan kegiatan LAKU


SUSI agar terlaksana lebih efisien dan efektif, sebagai bahan untuk
penyusunan rencana kebijakan dan kegiatan tahun berikutnya.

Pelaksanaan monitoring pada masing-masing tingkatan wilayah, sebagai


berikut:
5. di kecamatan, dilakukan oleh satuan kerja yang melaksanakan tugas
penyuluhan di kecamatan;
6. di kabupaten/kota, dilakukan oleh SKPD yang melaksanakan urusan
penyuluhan di kabupaten/kota;
7. di provinsi, dilakukan oleh SKPD yang melaksanakan urusan
penyuluhan provinsi; dan
8. di Pusat, dilakukan oleh Badan PPSDMP.

Kegiatan monitoring meliputi persiapan dan pelaksanaan LAKU SUSI,


untuk mengetahui:
7. keadaan dan ketersediaan fasilitas kerja LAKU SUSI;
8. penilaian proses pelaksanaan LAKU SUSI;
9. kinerja Penyuluh Pertanian dan petugas lainnya dalam pelaksanaan
LAKU SUSI; dan
10. peningkatan SDM Petani dan Penyuluh Pertanian.

E. Evaluasi

Evaluasi dilakukan melalui pengumpulan dan penganalisisan data dan


informasi secara sistematik dengan mengikuti prosedur tertentu dan
kaidah ilmiah serta diakui keabsahannya. Evaluasi dilakukan untuk
penilaian efektifitas dan efisiensi atas hasil suatu kegiatan dengan
membandingkan realisasi terhadap rencana serta dampak pelaksanaan
LAKU SUSI. Evaluasi LAKU SUSI dilaksanakan secara teratur, baik
evaluasi awal (pre-evaluation), evaluasi proses (on-going evaluation),
evaluasi akhir (post/terminal evaluation), maupun evaluasi dampak (ex-
post evaluation).
- 77 -

F. Pelaporan

Hasil monitoring dan evaluasi LAKU SUSI dilaporkan secara periodik dan
berjenjang mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota,
provinsi sampai dengan Pusat, untuk mengetahui perkembangan
pelaksanaan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Penyuluh Pertanian
dan petugas lain perlu menyusun laporan sebagai bahan pertimbangan
dalam perumusan, perencanaan dan penyusunan kebijakan tahun
berikutnya.
1. Penyuluh Pertanian menyampaikan laporan bulanan kepada Pimpinan
satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan,
paling lambat setiap tanggal 2, berisi antara lain:
a. pelaksanaan Kunjungan ke Poktan/Gapoktan/KEP (Format 8); dan
b. rekapitulasi data perkembangan Usahatani (luas tanam, luas
panen, produksi, produktivitas, dan standing crop) komoditas
strategis prioritas nasional di setiap desa/kelurahan (Format 7).
c. pelaporan kegiatan Kunjungan oleh Penyuluh Pertanian menjadi
bahan bagi evaluasi mandiri penyuluh melalui e-evaluh yang harus
dilaporkan secara rutin.
2. Satuan kerja yang melaksanakan tugas penyuluhan di kecamatan
menyampaikan laporan bulanan kepada SKPD yang melaksanakan
urusan penyuluhan di kabupaten/kota, paling lambat tanggal 5, berisi
antara lain:
a. pelaksanaan LAKU SUSI ke desa/kelurahan (Format 9); dan
b. rekapitulasi data perkembangan Usahatani (luas tanam, luas
panen, produksi, produktivitas, dan standing crop) komoditas
strategis prioritas nasional di setiap kecamatan (Format 7).
3. SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di kabupaten/kota
menyampaikan laporan bulanan kepada SKPD yang melaksanakan
urusan penyuluhan di provinsi, paling lambat tanggal 10, berisi antara
lain:
a. hasil pelaksanaan LAKU SUSI di setiap kecamatan (Format 10);
dan
b. rekapitulasi data perkembangan Usahatani (luas tanam, luas
panen, produksi, produktivitas, dan standing crop) komoditas
strategis prioritas nasional di setiap kecamatan (Format 10).
- 78 -

4. SKPD yang melaksanakan urusan penyuluhan di provinsi


menyampaikan laporan bulanan kepada Badan PPSDMP cq Pusat
Penyuluhan Pertanian paling lambat tanggal 15, berisi antara lain:
a. hasil pelaksanaan LAKU SUSI di setiap kabupaten/kota (Format
10); dan
b. rekapitulasi data perkembangan Usahatani (luas tanam, luas
panen, produksi, produktivitas, dan standing crop) komoditas
strategis prioritas nasional di setiap kabupaten/kota (Format 10).
5. Badan PPSDMP menyampaikan laporan triwulanan pelaksanaan
Sistem Kerja LAKU SUSI kepada Menteri Pertanian.

BAB V
PENDANAAN

Pendanaan pelaksanaan Sistem Kerja LAKU SUSI dapat bersumber dari


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota, APBD
provinsi dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta
sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB VI
PENUTUP

Peraturan Menteri ini disusun sebagai acuan dalam pelaksanaan Sistem Kerja
LAKU SUSI sehingga memotivasi Penyuluh Pertanian, serta satuan kerja yang
melaksanakan tugas penyuluhan kecamatan dalam pengembangan Usahatani
di lokasi sentra produksi pertanian. Sistem Kerja LAKU SUSI merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Pembinaan Kelembagaan Petani.

MENTERI PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

AMRAN SULAIMAN

Anda mungkin juga menyukai