Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

(Individu)

KULIAH KERJA NYATA


PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
TAHUN : 2016

SUB UNIT :3
UNIT : NTT-04
KECAMATAN : MAUROLE
KABUPATEN : ENDE
PROVINSI : NUSA TENGGARA TIMUR

Disusun Oleh :

Nama Mahasiswa : YOGA ARTA GRAHANANTYO


Nomor Mahasiswa : 13/ 349401/ PS/ 06586

SUBDIREKTORAT KKN
DIREKTORAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
I. LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
A. PENDAHULUAN
Desa Watukamba merupakan desa yang terletak di Kecamatan
Maurole, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letak
desa ini berada di pesisir utara Pulau Flores dan berada di jalur
alternative antara Kota Ende dan Kota Maumere. Desa ini
didominasi oleh orang-orang bersuku Liau dan mayoritas beragama
Kristen Katolik. Selain itu, kepercayaan mereka akan budaya dan
adat mereka juga masih sangat kuat, mereka masih mempercayai
hal-hal yang mistis dan sangat menjaga dengan baik nilai-nilai adat
mereka.
Desa Watukamba ini memiliki empat buah dusun, yaitu dusun
Watukamba, dusun Wolosambi, dusun Nanganiau dan dusun
Aepetu. Dusun Wolosambi, Nanganiau dan Aepetu terletak di
pesisir utara Pulau Flores, sedangkan dusun Watukamba terletak di
pedalaman gunung dan merupakan daerah asli tempat leluhur
masyarakat Watukamba tinggal. Hubungan antara masyarakat atas
(dusun Wolosambi) dengan masyarakat bawah (dusun Wolosambi,
Nanganiau dan Aepetu) tidak begitu baik. Masyarakat atas
menganggap bahwa masyarakat bawah ini telah meninggalkan nilai
kebudayaan mereka dan berbagai hal lainnya.
Desa Watukamba ini terletak di dekat Gunung Berapi
Rokatenda. Letaknya di pulau Flores yang berbukit-bukit membuat
daerah ini juga rawan terkena longsor. Selain itu, letaknya yang
berada di pesisir pantai juga rawan terkena tsunami dan banjir.
Walaupun begitu, masyarakat desa Watukamba ini merasa bahwa
daerah itu adalah daerah yang tidak akan terkena bencana dan
merasa tidak perlu adanya pengetahuan mengenai mitigasi
bencana.
Ketersediaan air bersih di desa ini juga masih cukup kurang.
Persediaan air yang mereka dapatkan bersumber dari PDAM.
Pendistribusian yang kurang membuat masyarakat mendapatkan
air yang terbatas karena terkadang alirannya yang kecil dan hanya
pada jam-jam tertentu. Selain itu, air yang didapat tidak jarang juga
berkualitas buruk karena kemungkinan pipa salurannya yang
bermasalah.
Masyarakat di sini menerima kami, tim KKN PPM UGM, dengan
sangat baik. Kita tinggal dengan sistem live in di rumah-rumah
warga dan menjadi anak asuh mereka. Beberapa masyarakat di sini
masih kurang menjaga kebersihan dengan baik. Mereka masih
membuang sampah dengan sembarangan, buang air kecil di
sembarang tempat dan terkadang tidak memakai alas kaki ketika
keluar rumah.
Melihat dari kebutuhan masyarakat desa Watukamba ini, tim
kami mengusung tema “Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup
dan Sumber Daya Manusia Melalui Penyediaan Air Bersih dan
Mitigasi Bencana di Desa Watukamba, Ende, NTT”. Dari tema ini
kita menyusun program-program yang dapat menunjang kebutuhan
akan air bersih dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta
cara-cara mitigasi bencana yang tepat.

B. PEMBAHASAN
– Hasil kegiatan
Banyak kegiatan yang telah kami lakukan untuk desa
Watukamba ini. Masing-masing dari mahasiswa yang tergabung di
Unit KKN-04 ini memiliki program yang mereka jalankan. Saya
sendiri juga begitu, terdapat beberapa program dengan saya
sebagai penanggungjawabnya. Berikut ini laporan beberapa
program yang telah saya lakukan.
a. Optimalisasi Organisasi Pemuda Karang Taruna di Dusun
Wolosambi
Karang Taruna yang merupakan sebuah organisasi yang
memberikan wadah bagi para pemuda untuk melakukan
kegiatan tidak berjalan seperti seharusnya. Sebelum tim
KKN ini datang, para pemuda di desa Watukamba ini
kerjanya hanya bermalas-malasan dan tidak produktif.
Program yang kita lakukan berupa pengadaan kerjasama
kegiatan dengan para pemuda karang taruna ini khususnya
pada dusun Wolosambi, seperti contohnya Program Jumat
Bersih yang dilakukan untuk membersihkan wilayah desa
Watukamba oleh mahasiswa KKN dengan pemuda karang
taruna. Pembangunan bak sampah juga dibantu oleh
pemuda karang taruna. Pengadaan Program Pesta Rakyat,
Lomba olahraga antar dusun di desa Watukamba juga
didukung oleh pemuda karang taruna yang ikut membantu
proses pengadaan lomba ini.
b. Pembentukan Divisi Karang Taruna Tanggap Bencana di
Dusun Wolosambi
Desa Watukamba yang rawan dengan berbagai bencana
seperti gunung berapi, longsor dan banjir membutuhkan
pengetahuan akan mitigasi yang tepat. Namun,
ketidaksadaran mereka akan pentingnya mitigasi bencana,
terutama pada orang tua, membuat proses sosialisasi
semakin sulit untuk dilakukan. Menyiasati hal itu,
dibentuklah divisi karang taruna tanggap bencana yang
bertugas sebagai kader tanggap bencana pada dusun
Wolosambi dengan harapannya dapat menjadi orang-orang
yang memimpin proses mitigasi bencana ketika bencana
datang serta membagikan ilmu yang mereka miliki mengenai
mitigasi bencana kepada masyarakat lain.
Pembentukan pemuda tanggap bencana ini memiliki
beberapa proses dalam pelaksanaannya, yang pertama
sosialisasi mengenai mitigasi bencana pada pemuda pada
tanggal 30 Juni 2016, dari situ dipilih pemuda yang
berkompeten untuk menjadi kader atau duta tanggap
bencana yang kemudian akan dilantik dan memberikan
sosialisasi mitigasi bencana pada masyarakat pada tanggal
13 Juli 2016.
c. Mitigasi Bencana pada Masyarakat Dusun Wolosambi
Desa Watukamba merupakan daerah yang rawan
terkena bencana, baik itu gunung berapi, tanah longsor,
maupun banjir. Pemahaman mengenai pentingnya mitigasi
bencana pada desa Watukamba ini cukup rendah. Maka dari
itu diperlukan sosialisasi mengenai mitigasi bencana untuk
masyarakat terutama pada masyarakat dusun Wolosambi.
Sosialisasi ini dilakukan pada tanggal 13 Juli 2016, dengan
bantuan para pemuda karang taruna yang sudah terpilih
menjadi duta tanggap bencana.
d. Mitigasi Bencana di SDK Watukamba
SDK Watukamba merupakan sekolah dasar yang berada
di dusun Watukamba yang berada di gunung dan aksesnya
sulit. Siswa di sana kurang mengetahui kondisi di luar desa
meraka, maka dari itu pengetahuan mengenai mitigasi
bencana pun belum mereka ketahui. Beberapa orang dari
tim kami pergi dan tinggal di dusun atas selama 4 hari pada
tanggal 18 hingga 22 Juli 2016. Selama empat hari itu kita
manfaatkan untuk melakukan program mengajar, serta
mitigasi bencana pada SDK Watukamba. Proses sosialisasi
mitigasi bencana ini dimulai dengan memberikan pengertian
mengenai bencana dengan alat bantu poster yang menarik
untuk anak-anak, cara-cara menyelamatkan diri yang benar
ketika terjadi bencana, setelah itu dilanjutkan dengan
simulasi evakuasi ketika terjadi bencana.
e. Mengadakan Pesta Rakyat berupa Lomba Balap Karung
pada Anak-Anak SD Desa Watukamba
Sebagai wujud perayaan Hari Ulang Tahun Negara
Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus kita
mengadakan kegiatan pesta rakyat berupa lomba-lomba
yang diadakan bagi masyarakat desa Watukamba. Kegiatan
lomba ini berupa lomba balap karung, memasukkan paku
dalam botol dan makan kerupuk bagi anak-anak, serta
lomba Tarik tambang dan bola voli bagi orang dewasa.
Perlombaan ini diadakan pada tanggal 26 hingga 31 Juli
2016. Banyak masyarakat ikut turut serta meramaikan
perlombaan ini, entah sebagai peserta ataupun membantu
melakukan persiapan lomba dan menjadi wasit.

– Hambatan dan tantangan


Dalam menjalani suatu kegiatan pasti memiliki hambatan dan
tantangan yang terjadi dalam proses pengerjaannya. Hambatan
yang terjadi ketika kegiatan KKN ini terjadi diantaranya adalah
a. Perbedaan budaya antara kita, masyarakat yang umumnya
berasal dari Jawa, dan masyarakat Flores, membuat kita
harus menghormati dan menyesuaikan terlebih dahulu
dengan kebudayaan setempat.
b. Adanya perselisihan antara Kepala Desa dengan
masyarakat desa Watukamba membuat proses dalam
menyelenggarakan kegiatan menjadi sulit.
c. Kurangnya sarana transportasi seperti sepeda motor
membuat kita kesulitan ketika harus mobilisasi ke tempat
yang cukup jauh dan mengakibatkan kelelahan fisik sebelum
memulai kegiatan.
d. Sulitnya akses ke dusun Watukamba membuat kita sulit
untuk menjalankan program di dusun tersebut.
Selain hambatan, terdapat juga beberapa tantangan yang harus
kita hadapi selama KKN ini berlangsung.
a. Perbedaan budaya yang kita miliki dengan masyarakat miliki
membuat kita agar lebih toleransi dalam melakukan suatu
hubungan sosial.
b. Kurang tersedianya air membuat kita harus bisa dalam
mengatur penggunaan air, seperti mandi, buang air ataupun
mencuci.
c. Perbedaan penggunaan bahasa dan pola pikir, membuat
kita harus turut memahami melalui sudut pandang mereka
dan memahami bahasa serta dialek sehari-hari mereka.

– Jejaring kemitraan dan peran serta masyarakat


Dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata ini tentunya tim kami
mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Kami mendapatkan
40 sak semen dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Ende,
untuk melancarkan program-program kami yang banyak
membangun bangunan fisik. Selain itu, bantuan dari warga sekitar
seperti om Stingki, om Figo dan Pak Nelis, dalam membangun
bangunan fisik seperti bak sampah, tugu desa dan tugu posyandu.

– Keterlibatan dalam masyarakat


Dalam waktu satu setengah bulan ini tentu saja kita banyak
berinteraksi dengan masyarakat. Tentunya dalam masyarakat ini
banyak kegiatan rutin maupun tidak rutin yang mereka adakan.
Kegiatan rutin yang diadakan ketika kita disana seperti pesta
perayaan Idul Fitri di rumah salah satu warga disana. Selain itu
beberapa warga juga mengundang kita makan bersama dalam
acara baptisan anak atau cucu mereka. Ada juga undangan
peringatan meninggalnya keluarga dari salah satu orang tua asuh.
Undangan pernikahan pun juga sempat kami ikuti.
Selain itu dalam mempersiapkan acara yang akan diadakan,
kita dari tim KKN seringkali membantu dalam hal memasak,
mendirikan tenda ataupun mempersiapkan segala hal lainnya.

– Temuan Baru dan atau unik dalam hal kekayaan alam,


teknologi lokal dan budaya
Dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata ini tentunya banyak hal
baru yang kita temukan. Kita yang mayoritas berasal dari pulau
Jawa tentunya banyak menemukan hal-hal baru ketika berada di
desa Watukamba ini. Di sini kita banyak mempelajari budaya daerah
setempat, terutama budaya suku Liau. Budaya di suku Liau ini
mempunyai upacara adat yang diselenggarakan ketika musim
panen dan musim semai, tetapi sayiang sekali kita tidak sempat
menyaksikan pelaksanaan upacara adat itu.
Di desa Watukamba ini sering diadakan pesta di rumah-rumah
warga, baik itu pesta ulang tahun, perayaan baptisan ataupun pesta
pernikahan. Pada pesta itu, setelah selesai acara makan-makan
selalu dilanjutkan dengan acara goyang bersama. Biasanya dimulai
dengan tarian gawi, dimana semua orang bergandengan tangan
dan melingkar, lalu melakukan gerakan gawi. Setelah itu dilanjutkan
dengan menari bebas sesuai dengan lagu yang tengah diputar.
Selain itu, setiap kebudayaan tentunya memiliki bahasa
masing-masing. Pada suku Liau ini memiliki memiliki bahasa daerah
mereka yang berbeda dengan suku lain. Di sini kami belajar sedikit-
sedikit mengenai bahasa daerah mereka yang beberapa kali
digunakan ketika mereka bercakap-cakap.

– Potensi pengembangan/keberlanjutan
Beberapa program yang dilaksanakan di desa Watukamba ini
membutuhkan keberlanjutan yang harus dilakukan masyarakat
ketika kami tim KKN UGM ini sudah meninggalkan lokasi KKN.
Seperti contohnya pembangunan bak sampah komunal di setiap
dusun, harapannya dengan adanya bak sampah ini membuat
masyarakat dapat meningkatkan inisiatif masyarakat dalam
membuang sampah dengan lebih teratur. Akan tetapi, melihat
kebiasaan masyarakat yang tidak memiliki tempat sampah pribadi
membuat hal itu sulit untuk dilakukan. Tetapi kami percaya bahwa
masyarakat akan dapat melanjutkan program yang telah kami
lakukan.
Organisasi karang taruna yang semula kurang aktif ini dengan
kedatangan tim KKN ini dan memberikan program-program yang
meningkatkan fungsi karang taruna ini seperti Jumat Bersih dan
kegiatan Olahraga, diharapkan mampu tetap berjalan walaupun
kami tim KKN UGM ini sudah meninggalkan lokasi KKN. Melihat dari
respon mereka yang juga menyukai kegiatan tersebut, organisasi
karang taruna ini mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk tetap
melanjutkan program-program ini.

II. KESIMPULAN
Kegiatan KKN PPM UGM di desa Watukamba ini telah berjalan
dengan lancar dan memberikan banyak pengalaman positif untuk kami
semua. Program-program tema seperti pembangunan bak sampah
komunal dan pembentukan pemuda tanggap bencana serta program-
program yang lain telah berjalan dengan lancar. Keberlanjutan program
ini sudah tergantung masyarakat sendiri. Tetapi jika melihat antusiasme
dari masyarakat sekitar kami percaya bahwa mereka akan melanjutkan
program yang sudah kami lakukan untuk mereka.

III. SARAN
Dalam melakukan suatu kegiatan pastinya terdapat kekurangan
yang terjadi sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan-
kegiatan berikutnya.
a. Kurang meratanya kegiatan KKN yang dilakukan sehingga
terdapat satu dusun yang benar-benar membutuhkan kegiatan
KKN belum dapat terjangkau. Hendaknya meratakan kegiatan
KKN yang dilakukan sehingga semua dusun dapat terbantu dan
semakin maju.
b. Meningkatkan hubungan antara kepala desa dan warga desa
serta hubungan antar warga agar kegiatan desa dapat berjalan
lebih lancar.
c. Meningkatkan rasa memiliki sesama agar semua fasilitas desa
dapat terjaga dengan baik.
IV. LAMPIRAN

Optimalisasi pemuda karang taruna desa Watukamba

Pembentukan Divisi Karang Taruna Tanggap Bencana

Mitigasi Bencana Masyarakat Wolosambi


Mitigasi bencana di SDK Watukamba

Lomba Balap Karung