Anda di halaman 1dari 147

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit
selain jumlahnya yang dominan (55 – 60%), perawat merupakan profesi yang
memberikan pelayanan konstan dan terus menerus 24 jam kepada pasien
setiap hari. Oleh karena itu, pelayanan keperawatan bagian integral dari
pelayanan kesehatan jelas mempunyai kontribusi yang sangat menentukan
kualitas pelayanan di rumah sakit (Muhammad, 2014). Pelayanan
keperawatan akan lebih memuaskan tentunya dengan penerapan model asuhan
keperawatan professional atau MAKP karena kepuasan pasien ditentukan
salah satunya dengan pelayanan keperawatan yang optimal (Jeavery, 2017).
Manajemen keperawatan merupakan suatu proses bekerja dengan melibatkan
anggota keperawatan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan
professional. Pemberian pelayanan keperawatan secara professional oleh
perawat diharapkan mampu menyelesaikan tugasnya dalam memberikan
asuahan keperawatan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien menuju
kearah kesehatan yang professional (Nursalam, 2015). Pelaksanaan asuhan
keperawatan secara profesional berkaiatan dengan tuntutan profesi dan
tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan
pengelolaan secara professional dengan memperhatikan setiap perubahan
yang terjadi di Indonesia.
Sistem metode asuhan keperawatan professional (MAKP) adalah suatu
kerangka kerja yang mendefinisikan 4 unsur, yakni standar, proses
keperawatan, pendidikan keperawatan dan sistem MAKP. Definisi tersebut
berdasarkan prinsip-prinsip nilai yang diyakini dan akan menentukan
produksi/jasa pelayanan keperawatan. Seorang perawat jika tidak memiliki
nilai-nilai tersebut sebagai sesuatu pengambilan yang independen, maka

1
tujuan pelayanan kesehatan/keperawatan dalam memenuhi kepuasan pasien
tidak akan dapat terwujud (Nursalam, 2015).
Untuk mempermudah tercapai suatu tujuan dari organisasi dibutuhkan
suatu ilmu yang disebut dengan Manajemen. Manajemen merupakan suatu
ilmu tentang upaya manusia untuk memanfaatkan semua sumber daya yg
dimilikinya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen
proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing) pengarahan
(Actuating),pengawasan (Controlling) usaha-usaha para anggota organisasi
dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya organisasi lain agar mencapai
tujuan organisasi yg telah ditetapkan.
Ruang Diponegoro sebagai salah satu unit pelayanan rawat inap dari
RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang merupakan tempat yang
memungkinkan bagi perawat untuk menerapkan sebuah asuhan keperawatan
professional. Namun perlu disadari tanpa adanya pengelolaan manajemen
yang baik dan sesuai serta adanya kemauan dan kemampuan yang tinggi,
peran aktif seluruh pihak maka pelayanan keperawatan professional hanya
akan menjadi teori semata. Berdasarkan hal tersebut kami dari kelompok 13
dan 14 profesi ners akan belajar mengidentifikasi dan menganalisa proses dari
5M (Man, Money, Method, Materials and Machine, dan Market) hingga
perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing) pengarahan
(Actuating),pengawasan (Controlling) usaha-usaha para anggota organisasi
dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya organisasi dalam mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan manajemen keperawatan di Ruang
Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang.

2
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Penulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran dari seluruh kegiatan
praktek manajemen keperawatan yang telah dilaksanakan dan merupakan
pertanggung jawaban kepada pihak RS dan Jurusan S1 Keperawatan dan Ners
STIKes Kepanjen Malang
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mempelajari Profil Rumah Sakit
b. Menganalisa situasi manajemen dari Rumah Sakit
c. Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah layanan kesehatan yang terkait
dengan manajemen keperawatan berdasarkan analisa situasi nyata di
Rumah Sakit.
d. Menetapkan prioritas kebutuhan dan masalah manajemen keperawatan
bersama pihak Rumah Sakit.
e. Menyusun tujuan dan rencana alternatif pemenuhan kebutuhan dan
penyelesaian masalah yang telah ditetapkan
f. Mengusulkan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah
yang bersifat teknik operasional bagi Rumah Sakit
g. Melaksanakan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah
disepakati bersama unit terkait di Rumah Sakit
h. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pada aspek masukan dan proses pada
manajemen keperawatan
i. Merencanakan tindak lanjut dari hasil yang dicapai berupa upaya
mempertahankan dan memperbaiki hasil melalui kerjasama dengan unit
terkait di Rumah Sakit.

3
1.3 Manfaat
1. Bagi rumah sakit
Dapat dijadikan sebagai sarana dukungan, masukan, atau
pengembangan fungsi manajemen bangsal untuk mempertahankan dan
meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan di ruangan pada khususnya
dan kualitas pelayanan rumah sakit pada umumnya.
2. Bagi institusi pendidikan
Menghasilkan lulusan mahasiswa keperawatan yang berkompeten di
bidang manajemen keperawatan.
3. Bagi mahasiswa
a. Mengaplikasikan dan mengintegrasikan konsep manajemen keperawatan
dalam tatanan praktek klinik dan pengembangan wawasan pengetahuan
atau teori manajemen melalui penerapan fungsi manajemen bangsal.
b. Memberikan kesempatan untuk berfikir kritis dalam menganalisa MAKP
(Metode Asuhan Keperawatan Profesional).
c. Mengaplikasikan metode supervisi klinis dalam praktek manajemen
keperawatan.
d. Memberikan pengalaman pada mahasiswa dalam bidang manajemen
keperawatan

4
BAB II
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT

2.1 Rumah Sakit


Rumah SakitUmum Daerah Kanjuruhan Kabupaten Malang yang disingkat
RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang adalah Instalasi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan perorang secara paripurna
dengan mengutamakan pengobatan dan pemulihan tanpa mengabaikan
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilaksanakan melalui
penyediaan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat (emergency) dan
tindakan medik.
1. Berdiri pada tahun 1952-1958 dengan nama Rumah sakit pertolongan atau
BKIA
2. Tahun 1958-1966 menjadi balai kesehatan
3. Tahun 1966-1971 berubah lagi menjadi Puskesmas
4. Tahun 1971-1978 menjadi Puskesmas Pembina
5. Tahun 1978-1983 berubah menjadi Puskesmas dengan perawatan
6. Tahun 1983-1996 menjadi Rumah Sakit Tipe C
7. Tahun 1966-2000 menjadi Rumah Sakit Umum Swadana
8. Tahun 2000-2003 berubah lagi menjadi Badan Rumah Sakit Daerah
Kabupaten Malang
9. Tahun 2003-2004 menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Malang
10. Tahun 2004-2008 perubahan status Rumah Sakit menjadi Badan Layanan
Umum dengan tipe kelas Rumah Sakit menjadi tipe B Non Pendidikan
11. Tahun 2008-sekarang terjadi perubahan nama menjadi Rumah Sakit Umum
Daerah Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang dan ditetapkan sebagai
SKPD yang menerapkan PKK BLUD status penuh (http://rsud-kanjuruhan.
malangkab. go. Id/diakses tanggal 26 Juni 2018)

5
A. Luas Lahan
Rumah sakit ini terletak diatas tanah seluas 32.140 𝑚2 dengan
bangunan yang didirikan dan digunakan untuk operasional pelayanan sampai
saat ini mencapai 11.550 𝑚2 , berada di malang selatan dan mempunyai 270
tempat tidur dengan tingkat hunian rata-rata mencapai 79,31 % per tahun.
Wilayah dispensi atau jangkauan pelayanan rumah sakit meliputi malang
selatan hingga perbatasan kabupaten blitar dan lumajang
B. Akreditasi Rumah Sakit
Berdasarkan buku pedoman pengorganisasian instalasi rawat inap
RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, telah lulus akreditasi tingkat
“PARIPURNA” 25 Nopember 2015 s/d 24 Nopember 2018)
C. Visi dan Misi
(http://rsud-kanjuruhan. malangkab. go. Id/diakses tanggal 26 Juni 2018)
VISI :
Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Malang yang MADEP MANTEB
MANETEP
MISI :
1. Melaksanakan pelayanan kesehatan rujukan secara komprehensif dan
pelayanan unggulan yang inovatif
2. Meningkatkan kualitas sumber daya Rumah Sakit yang mendukung mutu
pendidikan dengan melaksanakan pola pengelolaan keuangan Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD)
D. Nilai, Motto dan Icon
(http://rsud-kanjuruhan. malangkab. go. Id/diakses tanggal 26 Juni 2018)
NILAI-NILAI :
Cinta Kasih, Tulus Ikhlas, Kejujuran, Profesional dan kebersamaan.
MOTTO :
Kepuasan Anda adalah Tujuan Utama Layanan Kami
ICON :
Hospital Without Wall

6
E. Fasilitas Pelayanan
(http://rsud-kanjuruhan. malangkab. go. Id/diakses tanggal 26 Juni 2018)
1) Pelayanan Gawat Darurat
Melayani pasien gawat darurat, gawat tidak darurat maupun penderita
tidak gawat tidak darurat di luar jam kerja klinik rawat jalan
2) Pelayanan Rawat Inap
a. Kelas utama (10 tempat tidur)
Ruang Hasanudin
b. Kelas 1 (38 tempat tidur)
Ruang Empu Tantular dan Ruang Gajah Mada
c. Kelas 2 (56 tempat tidur)
Ruang Cut Nya’ Dien, Ruang Empu Tantular dan Ruang Fatahillah
d. Kelas 3 (140 tempat tidur)
Ruang Airlangga, Ruang Brawijaya, Ruangan Diponegoro, Ruang
Empu Tantular, Ruang Imam Bonjol.
e. Isolasi (26 tempat tidur)
3) Pelayanan Rawat Jalan
a. Klinik Paru f. Klinik Bedah Saraf
b. Klinik Gigi dan Mulut g. Klinik Mata
c. Klinik Anak h. Klinik Penyakit Dalam
d. Klinik Tumbuh Kembang i. Klinik Psikologi
e. Klinik Penyakit Kandungan j. Klinik Jiwa
dan Kebidanan k. Klinik Bedah Orthopedi
f. Klinik Bedah l. Klini Jantung
g. Klinik THT m. Klinik VCT
h. Klinik Kulit dan Kelamin n. Klinik Pelayanan Khusus
i. Klinik Saraf

7
4) Pelayanan Penunjang
a. Radiologi e. Hemodialisa
b. Patologi Klinik (Laboratorium) f. Rehabilitasi Medik
dan Bank Darah g. Gizi
c. Farmasi (Apotek) h. Kamar Jenazah
d. Kamar Operasi

2.2 Ruang Diponegoro


Berdasarkan pedoman pelayanan instalasi rawat inap tahun 2015-2018,
ruang Diponegoro adalahsalah satu ruang perawatan di instalasirawatinap untuk
kasus penyakit bedah, dan Kohorting Kasus Combustio, Diabetic Foot, Stephen
Jhonson Syndrome, Absesdenganbaudanpasiendengantempattinggatidaktentap
Ruang Diponegoro merupakan bangunan yang terletak di sebelah utara di
lantai 3 dan lantai 4 gedung IGD. Adapun jumlah tempat tidur di ruang
Diponegoro lantai 3 terdapat 20 tempat tidur yang terdiri dari 3 tempat tidur di
ruang isolasi dan 17 tempat tidur di kelas 3. Sedangkan di lantai 4 terdapat 18
tempat tidur. Jadi, total keseluruhan tempat tidur di ruang Diponegoro ada 38
tempat tidur.
Untuk tata ruang Diponegoro lantai 3, terdapat 3 kamar mandi pasien, 1
kamar mandi khusus karyawan, ruang KARU, ruang perawat, nurse station,
ruang diskusi mahasiswa, ruang obat, kamar isolasi, kamar kelas 3, musholah,
ruang dekontaminasi, ruang linen bersih, tempat linen kotor dan ruang tunggu
keluarga pasien.
Sedangkan untuk tata ruang Diponrgoro lantai 4, terdapat 1 kamar mandi
pasien, 1 kamar mandi perawat, kamar pasien, ruang KIE, gudang, ruang komite
keperawatan, ruang ganti perawat, nurse station, ruang alkes, gudang IGD +
Perinatologi, dan ruang tunggu untuk keluarga pasien

8
BAB III
HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA SERTA SINTESA PERMASALAHAN
MANAJEMEN KEPERAWATAN

3.1 Hasil Pengkajian

3.1.1 5M (Man, Material and Machine, Method, Money, Mutu)


1. Man
a. Kuantitas Sumber Daya Manusia.
Jumlah tenaga keperawatan di Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan
Kepanjen adalah 21 orang dengan rincian sebagai berikut :

Tenaga Keperawatan

Tabel 3.1 Kualifikasi Tenaga Keperawatan di Ruang Diponegoro


RSUD Kanjuruhan Kab. Malang

Jumlah
No Kualifikasi Jenis Jumlah Prosentase
total
1. S1 PNS 1
Keperawatan 3 14,3%
HHL 2
2. DIII PNS 8
Keperawatan HHL 10 18 85,7%
Magang
Jumlah 21 21 100%
Berdasarkan tabel 3.1 dapat diinterpretasikan bahwa di Ruang
Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen sebanyak 3 orang (14,3%) tenaga
keperawatan berpendidikan SI dan yang berpendidikan DIII keperawatan
PNS dan HHL berjumlah 18 orang (85,7%).

9
Tenaga Non Keperawatan

Tabel 3.2 Tenaga Non Keperawatan di Ruang Diponegoro RSUD


Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

No Kualifikasi Jumlah Prosentase


1 Administrasi 2 50%
2 Transporter 2 50%
Total 4 100%
Berdasarkan tabel 3.2 dapat diinterpretasikan bahwa ada 4 tenaga non
keperawatan yaitu tenaga administrasi dan transporter

Tabel 3.3 Tenaga Outsourcing di Ruang Diponegoro RSUD


Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

No Kualifikasi Jumlah Prosentase


1 Cleaning service (CS) 6 100%
Total 6 100%
Berdasarkan tabel 3.3 dapat diinterpretasikan bahwa ada 6 tenaga
cleaning service (outsouring).

Tabel 3.4 Tenaga Dokter di Ruang Diponegoro RSUD


Kanjuruhan Kab. Malang

No Nama Spesialisasi
1. dr. Luki Santi Ekawirawati , Sp. S., M. Syaraf
Biomed
2. dr. Agustinus Kiki Kristianto, Sp.S Syaraf
3. dr. Yahya Ari Pramono, Sp. BS Bedah Syaraf
4. dr. Sigit Wibisono, Sp.M Mata
5. dr. Chairunisa Ferdiana, Sp.M Mata
6 Dr. Catur Kurnia, Sp.M Mata
7 dr. Hendriwiyono, Sp.P Paru
8 dr. Amukti Wahana, Sp. B Bedah
9. dr. Haiman Madjedi, Sp. B Bedah
10. dr. Deddy Setyo NugrohoSp.B Bedah
11. dr. Sakinah Baraja, Sp.B Bedah
12. dr. Boedhy Setyanto, Sp. KK Kulit kelamin

10
13. dr. Bayu Sukresna, Sp. PD Penyakit dalam
14. dr. Bondan, Sp. PD Penyakit dalam
15. dr. Nurike Setiyari Mudjari, Sp. PD Penyakit dalam
16. dr. Harsono Hugeng, Sp. PD Penyakit dalam
17. dr. Johan Bastian, Sp. OT Ortopedi dan
traumatology
18. dr. Mujiyono, Sp. OT Ortopedi dan
traumatology
19. dr. RanggaAriezaFachlevi, Sp. OT Ortopedi dan
traumatology
20. dr. R. SatriyoAji, Sp. OT., (K). Spine Ortopedi dan
traumatology
21. dr. Arief Budi Santosa, Sp. JP Jantung dan pembuluh
darah
22. dr. Sapto Prihandono N, Sp. JP Jantung dan pembuluh
darah
23. dr. Dian Suprodjo, Sp. THT THT
24 dr. Ersty I, Sp.THT, KL THT
25. dr. Joni Budi Satriyo, Sp. An., M. Kes Anastesiologi
26. dr. Kararawi Listuhayu, Sp. An Anastesiologi
27. dr. Wisnu Wijanarko, Sp. An Anastesiologi
28. dr. Midasri Toto, Sp. PK Patologi klinik
29. dr. C. L. Retno Hartini, Sp. PK Patologi klinik
30. dr. Kristin Indriani, Sp. PK Patologi klinik
Sumber: file pegawai ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan tahun 2018

11
b. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Berdasarkan hasil rekapitulkasi yang dilakukan didapatkan kualifikasi tenaga perawat di Ruang Diponegoro RSUD
Kanjuruhan Kepanjen sebagai berikut :

Tabel 3.5 Kualitas Tenaga Keperawatan di Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
Masa Jenis
No Nama Pendidikan Pelatihan yang Penah Diikuti
Kerja Ketenagaan
a. Manajemen keperawatan
b. Diklat Peningkatan kompetensi tenaga perawat rumah
sakit dan puskesmas
c. Asesor kompetensi perawat
d. BLS RSUD Kanjuruhan
Siti Maropah,
1. D III 29 th PNS e. Petugas operasional (surabaya)
Amd.Kep
f. Kompetensi tim kesehatan haji indonesia
g. Emergency medicine
h. Pembimbing klinik laboratorium rumah sakit.
i. Trining penatalaksanaan pasien nyeri dan terminal
j. Pelatihan rawat luka
a. Manajemen keperawatan kritis pasien dengan CVA
b. Penanganan dan evakuasi pasien bencana kebakaran
dirumah sakit
2. Warti, Amd. Kep D III 14 th PNS
c. Diklat manajemen keperawatan
d. Latihan MPKP
e. Pelatihan kepemimpinan
Ns. Erna Puspita a. Pencegahan dan pengendalian infeksi dasar
3. S1 7 th PNS
Sari S.Kep b. Penatalaksanaan nyeri

12
c. Basic mentality training
d. Pelayanan prima
e. Pengembangan keterampilan dasar teknik intruksional
f. Hospital Benchmarking
g. Basic cardiac life suport
h. Manajemen modal praktik keperawatan profesional
a. Trining penatalaksanaan pasien nyeri dan terminal
b. Teknik aseptik penyiapan obat
c. Seminar undang undang keperawatan
Omy Eli Lamas,
4. D III 12 th PNS d. Penerapan ICD-IX dan ICD-X (SIMRS)
Amd. Kep
e. Pelatihan MPKP
f. Pelatihan pelayanan prima
g. Pengendalian HIV AIDS bagi petugas kesehatan
a. WorkShop elektrokardiografi
b. Peningkatan kompetensi tenaga perawat
rumah sakit dan puskesmas
Kaiden Budi
c. Penanganan dan evakuasi pasien
5. Wahono, Amd. D III 12 th PNS
bencana kebakaran di rumah sakit
Kep
d. BCLS
e. Sosialisasi PPI
f. Pelatihan rawat luka
a. Pengendalian HIV /AIDS bagi petugas kesehatan
b. Uji kompetensi
Anik Kasiyatin,
6. D III 12 th PNS c. Uji pelayanan prima
Amd. Kep
d. Ipdate bedah laparascopy & pemeriksaan gas darah.
e. Workshop EKG.
Surachmad, Amd. a. Emergency nursing care
7. D III 7 th PNS
Kep b. Penatalaksanaan nyeri

13
c. Workshop electro cardiograf EKG
d. Penanggulangan penderita gawat darurat
e. Pencegahan dan pengendalian infeksi
f. Workshop penatalaksanaan terkini pasien cedera otak
g. Pelatihan rawat luka
a. BCLS
b. Pelayanan prima
Mochmad Soleh, c. Pengendalian HIV/AIDS
8. D III 20 th PNS
Amd. Kep d. MPKP
e. Penanganan dan evakuasi pasien bencana kebakaran di
RS
a. Pengendalian HIV AIDS bagi petugas kesehatan
Kasmiyatun, Amd,
9. D III 12 th PNS b. Pelatihan manajemen MPKP
Kep
c. Workshop keselamatan pasien rumah sakit
a. Pelatihan menejemen model praktek keperawatan
Ida Isusrianingtyas
10. D III 11 th HHL (MPKP)
R, Amd. Kep
b. Pelatihan pelayanan prima
a. Emergency medicine basic cardiac life suport
b. Pelatihan pelayanan prima di RSUD kanjuruhan
Anita Dini L, Amd.
11. D III 16 th HHL c. Simposium perawat anestesia
Kep
d. Pencegahan dan pengendalian infeksi
e. Pelatihan penatalaksaan nyeri
a. Pelatihan pelayanan prima
12. Rafika, Amd. Kep D III 6 th HHL b. Keselamatan pasien rumah sakit
c. BCLS
a. BCLS
13. Iswiyati, Amd. Kep D III 5 th HHL b. PPGD ON
c. Service Excellen

14
a. Pelatihan standarisasi teknologi kontrasepsi terkini
b. Tatalaksana pre hopspital
Chandra Puspita
14. D III 4 th HHL c. Penatalaksaan nyeri
Sari, Amd. Kep
d. Penatalaksanaan hamil anggur dan deteksi dini
oriokarsinoma
a. BLS
Ns. Muhammad b. Fundamental homecare nursing
15. S1 2 th HHL
Ridwan, S. Kep c. Tatalaksana paliatif cace dan interprestasinya dalam
dunia kesehatan
a. BLS
Johan Salasah,
16. D III 2 th HHL b. Pembentukan posyandu lansia dan pemeriksaan
Amd. Kep
kesehatan
Yudha Ricky S, a. BLS
17. D III 2 th HHL
Amd, Kep
a. Pelatihan penerapan ICD/IX dalam program system
Ns. Andri
18. S1 6 th HHL menejemen rumah sakit
Suhartono, S. Kep
b. Pelatihan administrasi dan pengolahan dokumen arsip
Agung a. Basic life suport
19. Haristyawan, Amd. D III 2 th HHL b. Basic trauma life suport
Kep c. Technical update of minor surgery in sirkumsisi
a. Diklat penanggulangan bencana
Titak Abet Nego,
20. D III 2 th HHL b. BLS
Amd. Kep
c. KSR dasar PMI
a. BLS
Ika Putri
b. TOEFL
21. Kartikasari, Amd. D III 4 th HHL
c. Meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui
Kep
optimalisasi kesehatan reproduksi
Sumber: file pegawai ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan tahun 2018.

15
Berdasarkan tabel di atas dapat diinterpretasikan bahwa perawat
yang telah mengikutipelatihan MPKP berjumlah 7 orang, pelatihan
pelayanan prima 7 orang, pelatihan manajemen keperawatan 2 orang, 3
orang telah mengikuti pelatihan rawat luka, 11 orang telah
megikutipelatihan Basic cardiac life support.

16
c. Kebutuhan Tenaga Perawat Sesuai Tingkat Ketergantungan Pasien
Berdasarkan laporan pada tanggal 18 Juni 2018 sampai 20 juni 2018 di
Ruang Diponegoro didapatkan data kebutuhan tenaga perawat sesuai
dengan tingkat ketergantungan pasien sebagai berikut.
Tabel 3.6 Diagnosa dan Tingkat Ketergantungan Pasien di Ruang
Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang Tanggal 18
Juni 2018
No Nama Insial
Diagnosa Medis M P T
Bed Klien
1.1 Ny. Wa Ileus + HIL Sinistra 1
1.3 Ny. Se 1
2.2 Tn.S Susp Illeus 1
2.3 Tn. Ad Orchitis 1
2.6 Tn. De Orchitis 1
2.8 Tn. Nu Abses Mandibula 1
2.9 Tn. Da Open Fraktur Digiti III Pedis 1
ISO 1 Ny. Su Abcess Gluteus 1
ISO 3 Ny. Sa Post amputasi + DM 1
Jumlah 2 3 4
Jumlah Pasien Perhari 9
Keterangan: M : Minimal Care ; P : Parsial care ; T : Total care

Berdasarkan tabel di atas, dapat diipretasikan bahwa pada tanggal 18


Juni 2018 di Ruang Diponegoro terdapat 4 pasien memiliki tingkat
ketergantungan total, 3 pasien memiliki tingkat ketergantungan parsial dan 2
pasien memiliki tingkat ketergantungan minimal care.

17
Tabel 3.7 Diagnosa dan Tingkat Ketergantungan Pasien di
Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
Tanggal 19 Juni 2018
No Nama Insial
Diagnosa Medis M P T
Bed Klien
1.1 Ny. Wa Ileus + HIL Sinistra 1
1.2 Ny. In Hehoroid 1
1.3 Ny. Se 1
2.2 Tn.S Sups Illeus 1
2.3 Tn. Ad Orchitis 1
2.6 Tn. De Orchitis 1
2.8 Tn. Nu Abses Mandibula 1
2.9 Tn. Da Open Fraktur Digiti III Pedis 1
ISO 1 Ny. Su Abcess Gluteus 1
ISO 3 Ny. Sa Post amputasi + DM 1
Jumlah 3 3 4
Jumlah Pasien Perhari 10
Keterangan: M : Minimal Care ; P : Parsial care ; T : Total care
Berdasarkan tabel di atas, dapat diipretasikan bahwa pada tanggal 19
Juni 2018 di Ruang Diponegoro terdapat 4 pasien memiliki tingkat
ketergantungan total, 3 pasien memiliki tingkat ketergantungan parsial dan 3
pasien memiliki tingkat ketergantungan minimal care

18
Tabel 3.8 Diagnosa dan Tingkat Ketergantungan Pasien di
Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
Tanggal 20 Juni 2018
No Nama Insial
Diagnosa Medis M P T
Bed Klien
1.1 Ny. Wa Ileus + HIL Sinistra 1
1.2 Ny. In Hemoroid 1
1.3 Ny. Se 1
1.4 Ny. W Andominal pain, susp app 1
2.2 Tn.S Sups Illeus 1
2.3 Tn. Ad Orchitis 1
2.4 Tn. T 1
2.6 Tn. De Orchitis 1
2.8 Tn. Nu Abses Mandibula 1
2.9 Tn. Iq 1
ISO 1 Ny. Su Abcess Gluteus 1
ISO 3 Ny. Sa Post amputasi + DM 1
Jumlah 4 4 4
Jumlah Pasien Perhari 12
Keterangan: M : Minimal Care ; P : Parsial care ; T : Total care

Berdasarkan tabel di atas, dapat diipretasikan bahwa pada tanggal 20 Juni 2018 di
Ruang Diponegoro terdapat 4 pasien memiliki tingkat ketergantungan total, 4
pasien memiliki tingkat ketergantungan parsial dan 4 pasien memiliki tingkat
ketergantungan minimal care.

19
Berdasarkan tingkat ketergantungan pasien, maka Kebutuhan Tenaga
Keperawatan sebagai berikut :
Kebutuhan tenaga keperawatan per hari berdasarkan Metode Gillies :
a. Tanggal 18 Juni 2018
1. Tingkat Ketergantungan Pasien
a) Minimal : 2 orang
b) Parsial : 3 orang
c) Total : 4 orang
2. Jumlah Jam Perawatan
a) Perawatan Lamgsung
Minimal  2 x 2 = 4 jam
Parsial  4 x 3 = 12 jam
Total  6 x 4 = 24 jam +
40 jam
b) Keperawatan Tidak Langsung
9 x 1 jam = 9 jam
c) Penyuluhan
9 x 15 menit = 135 menit = 2,25 jam
d) Total waktu keperawatan per hari
Keperawatan langsung : Keperawatan tidak langsung =…… jam
40 am : 9 jam = 4,44 jam
e) Jumlah hari libur dalam 1 tahun adalah :
= 365 hari – 108 hari (hari libur + cuti bersama)
= 257 hari
f) Jumlah kebutuhan perawat perhari
=4,44 jam /pasien/hari x 9 pasien/hari x 365 hari
(365hari - 108 hari) x 7 hari
= 14,585= 8,10 = 8 orang
1,799

20
g) Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 8 = 3,76 = 4 perawat
Sore = 36% x 8 = 2,88 = 3 perawat
Malam = 17% x 8 = 1,36 = 1 perawat
b. Tanggal 19 Juni 2018
1. Tingkat Ketergantungan Pasien
a) Minimal : 3 orang
b) Parsial : 3 orang
c) Total : 4 orang
2. Jumlah Jam Perawatan
a) Perawatan Lamgsung
Minimal  2 x 3 = 6 jam
Parsial  4 x 3 = 12 jam
Total  6 x 4 = 24 jam +
42 jam
b) Keperawatan Tidak Langsung
10 x 1 jam = 10 jam
c) Penyuluhan
10 x 15 menit = 150 menit = 2,5 jam
d) Total waktu keperawatan per hari
Keperawatan langsung : Keperawatan tidak langsung =……
jam
42 jam : 10 jam = 4,2 jam
e) Jumlah hari libur dalam 1 tahun adalah :
= 365 hari – 108 hari (hari libur + cuti bersama)
= 257 hari
f) Jumlah kebutuhan perawat perhari
=4,2 jam /pasien/hari x 10 pasien/hari x 365 hari
(365hari - 108 hari) x 7 hari
= 15,330= 8,52 = 9 orang
1,799

21
g) Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 9 = 4,23 = 4 perawat
Sore = 36% x 9 = 3,24 = 3 perawat
Malam = 17% x 9 = 1,53 = 2 perawat
c. Tanggal 20 Juni 2018
1. Tingkat Ketergantungan Pasien
a. Minimal : 4 orang
b. Parsial : 4 orang
c. Total : 4 orang
2. Jumlah Jam Perawatan
a. Perawatan Lamgsung
Minimal  2 x 4 = 8 jam
Parsial  4 x 4 = 16 jam
Total  6 x 4 = 24 jam +
48 jam
b. Keperawatan Tidak Langsung
12x 1 jam = 12 jam
c. Penyuluhan
12x 15 menit = 180 menit = 3 jam
d. Total waktu keperawatan per hari
Keperawatan langsung : Keperawatan tidak langsung =……
jam
48 jam : 12 jam = 4 jam
e. Jumlah hari libur dalam 1 tahun adalah :
= 365 hari – 108 hari (hari libur + cuti bersama)
= 257 hari
f. Jumlah kebutuhan perawat perhari
=4 jam /pasien/hari x 12 pasien/hari x 365 hari
(365hari - 108 hari) x 7 hari
= 17,520= 9,73 = 10 orang
1,799

22
g. Jumlah kebutuhan per shift
Pagi = 47% x 10 = 4,7 = 5 perawat
Sore = 36% x 10 = 3,6 = 4 perawat
Malam = 17% x 10 = 1,7 = 2 perawat

Rata-rata Kebutuhan Perawat Per Hari

Jumlah tenaga perawat yang ada di Ruang Diponegoro ada 14 perawat.


Sedangkan, hasil pengkajian yang dilakukan selama 3 hari, didapatkan jumlah
rata-rata kebutuhan perawat per hari adalah :

4+3+4 11
a. Pagi = = 3,6 = 4 perawat
3 3
3+3+4 10
b. Sore = = 3,3 = 3 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡
3 3
1+3+2 6
c. Malam = 3 = 2 perawat
3

Jumlah tenaga perawat perhari = Pagi + Sore + Malam


=4+3+2
= 9 perawat
Jadi, kebutuhan perawat selama 3 hari pengkajian menurut Gillies 9
perawat. Sedangkan faktanya di ruangan Diponegoro ada 12 perawat.
Sehingga kebutuhan perawat di ruangan Diponegoro cukup.

23
2. Material and Machine
a. Fasilitas untuk Pasien di Ruang Diponegoro
Ruang Diponegoro di Rumah Sakit RSUD Kanjuruhan Kabupaten
Malang. adalah Ruang Bedah kelas 3 yang dibagi menjadi 2 lantai, yaitu
lantai 3 dan 4. dengan total 38 tempat tidur.
Lantai 3 terdapat 20 tempat tidur, yang terdiri dari 4 tempat tidur
disebelah utara dengan : skat, loker pasien, kursi penunggu, wastafel, dan
tempat sampah. 13 tempat tidur disebelah barat dengan :skat, loker pasien,
kursi penunggu, wastafel, tempat sampah, dan 2 toilet disebelah selatan
pojok kiri, disebelah kanan toilet terdapat ruang dekontaminasi, dan
sebelah kanannya lagi terdapat ruang linen. 3 tempat tidur isolasi disebelah
timur pojok kanan, dengan : loker pasien, kursi penunggu, dan 1 toilet
disebelah timur,dan disebelah timur toilet terdapat ruang tunggu keluarga.
Nurse station terletak di tengah-tengah ruangan, dan di sebelah
kirinya MK, di belakang nurse station ruang perawat yang terdiri dari
dapur, dan 1 toilet.Sebelah selatan pojok kanan mushola dan sebelah
kirinya ruang karu, dan LIF.
Lantai 4 terdapat 18 tempat tidur, yang terdiri dari 11 tempat tidur
di sebelah barat dengan : skat, loker pasien, kursi penunggu, wastafel, dan
tempat sampah, 4 tempat tidur di sebelah utara tengah dengan : skat loker
pasien, kursi penunggu, wastafel, dan tempat sampah, 3 tempat tidur di
sebelah pojok timur dengan skat, loker pasien, kursi penunggu, wastafel,
dan tempat sampah .

b. Fasilitas Untuk Perawat (Nuridurse Station)


Terdapat nurse station dengan kondisi cukup rapi dan sudah terstrukur
mengenai penempatan status dan dokumen asuhan keperawatan. Nurse
station berada di tengah-tengah ruang rawat inap Diponegoro, perawat
dapat mengakses pasien dengan cepat karena letaknya yang dekat.

24
c. Fasilitas Peralatan dan Bahan Kesehatan
Untuk menunjang pemberian pelayanan kesehatan, Ruang Diponegoro
memiliki alat-alat kesehatant untuk pemberian asuhan pelayanan
kesehatan. Berikut fasilitas yang tersedia di Ruang Diponegoro :

Tabel 3.9 Daftar Inventaris Alat Keperawatan di Ruang


Diponegoro Tahun 2018
No Nama Barang Tersedia Baik Rusak Standart
(Nursalam,
2014)
1. Ambu bag 2 2 - 1 / ruangan
2. Arteri klem bengkok 5 4 1 -
3. Arteri klem lurus 4 3 1 -
4. bak instrument kecil 10 10 - -
5. bak instrument sedang 14 5 - -
6. bak instrument besar 2 2 - -
7. Bengkok kecil 3 3 - 2 / ruangan
8. Bengkok sedang 8 8 - 2 / ruangan
9. Bengkok besar 2 2 - 2 / ruangan
10. Balon tensi meter 1 1 - -
11. bantal angina 1 1 - -
12. buli-buli panas / WWZ 1 1 - -
13 Gunting lurus 2 2 - -
14. Gunting bengkok 1 1 - -
15. Gunting AJ 2 2 - -
16. Gunting verban 4 4 - -
17. Gunting gips 1 1 - -
18. Gliserin spuit 1 1 - -
19. Irrigator 1 1 - -
20. Cucing 4 4 - -
21. Kursi roda 2 7 - 2 -3/ruangan
22 Kom tutup stenless 7 - - 3 / ruangan

23 Korentang 2 2 - 2 / ruangan
24 Kereta oksigen 1 1 - -
25 Torniquet 30 4 - -
26 Manset tensi meter 1 2 - -
dewasa
27 Pinset anatomi 6 6 - 2 / ruangan
28 pinset chirurgic 7 7 - 2 / ruangan
29 Tensimeter elektrik 3 3 - 2 / ruangan
30 Stetoscope dewasa 2 2 - 2 / ruangan
31 Stetoscope anak 2 2 - -

25
32 Sterilisator 1 1 - -
33 Standart infuse 29 29 - 1:1
34 Senter 0 0 - 2 / ruangan
35 Tabung oksigen kecil 2 2 - -
36 Tempat korentang 2 2 - 2 / ruangan
37 tensi meter lipat/air 2 2 - -
raksa
38 Manometer sentral 22 22 - -
39 Manometer manual 6 6 - 5 / ruangan
40 thermometer axilla 0 0 - -
41 Thermometer rectal 1 1 - -
42 Trolly emergency 2 2 - -
43 Timbangan BB + TB 2 2 - 1 / ruangan
44 Tromol besar 2 2 - -
45 Tromol kecil 1 1 - -
46 Urinal plastic 20 20 - -

47 Pispot 15 15 - -
48 Gungting bulu mata 1 1 - -
49 Suction pump 2 2 - 2 / ruangan
50 ECG 2 2 - -
51 Brancat 6 6 -
52 Syringe pump 8 8 - 1 / ruangan
53 Termometer digital 20 20 -
alpha one
54 Infuse pump 2 2 -
55 Trolly rawat luka 1 1
Sumber : File inventaris Ruangan Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kab. Malang

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan bahwa alat kesehatan RSUD


Kanjuruhan Kabupaten Malang pada Ruang Diponegoro didapatkan data
bahwa beberapa alat medis di atas sudah memenuhi standar alat kesehatan
bahkan ada yang melebihi standart akan tetapi dalam penempatan alat masih
berantakan.

26
d. Daftar Peralatan Inventaris Alat Tenun
Tabel 3.10 Daftar Inventaris Alat Tenun Ruang Diponegoro tahun 2018

No Nama Barang Tersedia Baik Rusak Standart


1 Sprei putih 153 149 14 1:5
2 Sprei hijau 8 6 2 1:5
3 Sarung bantal putih 211 192 19 1:6
4 Sarung bantal hijau 6 4 2 1:6
5 Stick laken 50 50 - 1:6-8
6 Selimut lorek 115 95 20 1:5
7 Baju operasi dewasa 61 61 -
8 Baju operasi anak- 8 4 4 1:1
anak
9 Sarung operasi 55 55 - 1:1
dewasa
10 Sarung op anak-anak - - - 1:1
11 Mitela 80 70 10 1:1/3
12 Duck kecil 15 15 - 1:1/3
13 Skort ruangan 0 0 - 1:3
14 Handuk 20 20 - 1:3
15 Lap tangan 85 75 10
16 Sketsel - - -
17 Perlak 30 20 10
18 Koerden plisket Uk 0 0 -
140
19 Korden plisket Uk 0 0 -
171
20 Sarung guling Oscar 10 10 -

21 Sarung kasur Oscar 10 10 -


22 Bantal dewasa dacron 90 70 20 1:1
23 Tali fiksasi 4 4 -
24 Korden coating 12 12 - 1:2
plisket
25 Bungkus instrument 4 4 - 1:1
26 Selimut tabung 8 8 -
oksigen
27 Selimut tebal biru 30 30 -
28 Sarung trolley linen 1 1 -
coklat
29 Sarung trolely linen 1 1 -
biru
30 Korden coating biasa 42 42 -

27
Sumber : Standart Peralatan Keperawatan Dan Kebidanan Di Sarana Kesehatan,
oleh Tim Departemen Kesehatan RI.
https:www.slideshare.net/mobile/ullank1/standar-peralatan-keperawatan-dan-
kebidanan-di-sarana-kesehatan

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan bahwa alat tenun RSUD


Kanjuruhan Kabupaten Malang di ruang Diponegoro masih ada alat tenun
yang rusak.
e. Daftar Inventaris Alat Rumah Tangga
Tabel 3.11 Daftar Inventaris Alat Rumah Tangga Ruang Diponegoro
Tahun 2018
NO NAMA BARANG TERSEDIA BAIK RUSAK Standart

1 Almari kayu besar 3 3 - -


2 Almari arsip 4 4 - -
3 Amari kayu kaca 1 1 - -
4 Almari loker kayu 0 1 - -
5 Almari instrument 2 2 - -
kaca
6 Meja kayu besar 3 3 - -
7 Loker 15 3 3 - -
pintu/obat
8 Kursi bulat hijau 0 0 3 -
9 Kursi bulat kuning 50 50 5 -
10 Kursi sandaran 2 1 1 -
kayu
11 Papan 1 1 - 1/
pengumuman ruangan
12 Rak handuk 0 0 0 -
13 Meja pinjaman 2 2 - -
14 Kasur busa 10 8 2 -
15 Bed side cabinet 48 48 - 1:1
16 Trolley laundry 2 2 - -

17 Trap 15 15 - -
18 Loker plastic 1 1 - -
19 Bascom seka 88 80 28 -
plastic
20 Regulator 2 1 1 -
21 Panci besar 2 2 - -
22 Kalkulator 2 1 1 -
23 Komputer 0 0 - 1/
ruangan
24 Jam dinding 8 8 - 2/

28
ruangan
25 Kipas angin 3 2 1 4/
ruangan
26 Kulkas 2 2 - 1/
ruangan
27 Telepon 3 2 1 1/
ruangan
28 Printer 2 1 1 -
29 CPU 2 2 - -
30 Rak sepatu 3 3 - -
31 Kursi putar beroda 2 2 - -
hitam
32 Tempat tidur 48 48 - 1:1
33 Gayung plastic 10 5 5 -
34 LG LED Monitor 1 0 1 -
35 Baki plastik kotak 14 14 - -
36 Kursi sandaran 2 1 1 -
beroda hitam
37 Kursi hitam putar 4 4 - -
tidak beroda
38 Sketsel beroda 10 10 - -
papan putih
Sumber : File inventaris Ruangan Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kab. Malang

Berdasarkan data tabel di atas menjelaskan bahwa alat rumah tangga


RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang pada ruang Diponegoro sebagian besar
sudah sesuai akan tetapi ada beberapa alat rumah tangga yang kurang seperti
sebagian hand towel yang tidak ada isinya pada masing-masing ruang rawat
inap dan tidak ada sabun cair pada wastafel. Dan diharapkan pengadaan sarana
& prasarana untuk barang-barang yang belum ada.

29
3. Method
Ruang Diponegoro Kanjuruhan Kabupaten Malang menerapkan
metode asuhan keperawatan dengan model keperawatan TIM
MODIFIKASI, Modifikasi Tim-Primer adalah gabungan atau kombinasi
dari model MAKP Tim dan MAKP Primer yang digunakan dengan
beberapa alasan, yaitu: Keperawatan primer tidak digunakan secara murni,
karena perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S-1
Keperawatan atau setara; Keperawatan tim tidak digunakan secara murni,
karena tanggung jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada
berbagai tim; melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan
komunitas asuhan keperawatan terdapat pada primer, karena saat ini perawat
yang ada di rumah sakit sebagian besar adalah lulusan D-3 dan SPK
sehingga bimbingan tentang asuhan keperawatan diberikan oleh
perawat/ketua tim (Sitorus R, 2006 dalam Andung Vol.3, 2017).

30
Tindakan Keperawatan di Ruang Diponegoro
Berdasarkan hasil dari observasi selama 3 hari pada tanggal 18-20
Juni 2018 didapatkan bahwa timbang terima telah dilaksanakan sesuai
dengan SOP.
a. Timbang Terima
Tabel 3.12 Timbang terima di Ruang Diponegoro tanggal 18-20 Juni
2018

Evaluasi
No Langkah-Langkah
18/06/2018 19/06/2018 20/06/2018

1 Kedua kelompok dinas D D D


sudah siap.
2 Shift yang mau D D D
menyerahkan atau
mengoperkan
mempersiapkan hal-hal
yang akan disampaikan.
3 Katim atau kepala jaga D D D
yang mau menyerahkan
dan mengoperkan dapat
menyampaikan:
a. Identifikasi klien (nama,
umur, dan no register).
b. Diagnosa medis.
c. Kondisi umum klien.
d. Diagnosa keperawatan
dan data fokus yang
menunjang sistem.
e. Tindakan keperawatan
yang sudah di lakukan
dan hasilnya.
f. Rencana tindak lanjut
untuk yang menerima
operan.
4 Penyampaian nomor 3 D D D
dilakukan dengan jelas,
singkat,akurat, dan tidak
terburu-buru.
5 Ketua tim dan semua T T T
anggota tim bersama-sama
langsung melihat keadaan
klien.

31
6 Tim yang mengoperkan D D D
tugas memberikan
kesempatan kepada tim
yang akan menjalankan
tugas untuk bertanya.
7 Tim yang mengoperkan D D D
tugas menyerahkan semua
berkas catatan perawatan
kepada tim yang akan
menjalankan tugas untuk
menerima operan alat.
8 Karu mempersilahkan T T T
perawat yang dinas malam
untuk meninggalkan
ruangan.
9 Dilanjutkan ke pre- T T T
conference.
TOTAL D 6 6 6
Prosentase % 67% 67% 67%

Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil pengamatan di atas dari tanggal 18-20 Juni 2018
kegiatan timbang terima atau operan di ruang Diponegoro telah
dilakukan dengan prosentase 67% ketika kepala ruang tidak ada
dikarenakan masih cuti hari raya.

b. Pre Conference
Dari hasil obsevasi selama 2 hari pada tanggal 21-22 Juni 2018 di
dapatkan bahwa pre conference telah dilaksanakan sesuai SOP oleh
perawat ruangan berdasarkan chek list dari Nursalam 2014 yang
digunakan sebagai instrument obeservasi.

32
Tabel 3.13 Pre Conferen di Ruang Diponegoro
Evaluasi
No Langkah-Langkah
21/06/2018 19/06/2018
1 Kepala ruang atau Ketua Tim D D
mengucapkan salam dan
memimpin do’a terlebih dulu.
2 Berikan pengarahan kepada D D
anggota tim tentang rencana
kegiatan pada shift pagi.
3 Lakukan pembagian tugas T T
kepada tim.
4 Berikan kesempatan pada D D
perawat dinas malam untuk
melaporkan pasien kelolaannya,
serta membagi tugas kepada
anggota tim.
5 Berikan kesempatan kepada Tim D D
yang lain untuk mendiskusikan,
bertanya, menanggapi, dan
memberikan masukan.
6 Karu memberikan kesempatan D D
kepada katim pagi untuk
mempresentasikan kasus khusus
yang menjadi prioritas, meliputi:
a. Identifikasi klien:nama, umur,
dan no register.
b. Diagnosa medis.
c. Diagnosa keperawatan dan
data fokus yang menunjang
sistem.
d. Tindakan keperawatan yang
sudah dilakukan dan hasilnya.
e. Rencana tindak lanjut.
f. Perubahan terapi medis.
7 Karu atau Katim mencatat hasil D D
diskusi anggota tim.
8 Karu memberikan kesimpulan D D
dari diskusi yang telah
dilakukan.
9 Karu memberikan penekanan D D
pada hal-hal yang perlu di
perhatikan.
10 Tanyakan kesiapan anggota tim D D
untuk melakukan kegiatan
pelayanan keperawatan.

33
11 Sampaikan kontrak waktu untuk T T
pelaksanaan middle conference
atau post conference.
12 Mengucapkan salam. D D
13 Mengucapkan selamat bekerja. D D
TOTAL D 11 11
Prosentase % 85% 85%

Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil pengamatan di atas dari tanggal 21-22 Juni 2018
kegiatan pre conference di ruangan Diponegoro sudah dilakukan sebesar
85%.

c. Post Conference
Dari hasil obsevasi selama 2 hari pada tanggal 21-22 Juni 2018
yang menggunakan instrument chek list deng observasi dari Nursalam
2014, di dapatkan bahwa post conference belum dilaksakan sesuai SOP.

Tabel 3.14 Post Conferen di Ruang Diponegoro


Evaluasi
No Langkah-Langkah
21/06/2018 22/06/2018

1 Kepala ruang atau Ketua D D


Tim mengucapkan salam.
2 Jelaskan tujuan konferensi T T
akhir.
3 Memberikan kesempatan D D
kepada Katim untuk
mempresentasikan kasus
khusus yang menjadi
prioritas, meliputi :
a. Identifikasi klien:
Nama, umur, dan no
register.
b. Diagnosa medis.

34
c. Diagnosa keperawatan
dan data fokus yang
menunjang sistem.
d. Tindakan keperawatan
yang sudah dilakukan
dan hasilnya.
e. Rencana tindak lanjut.
f. Masalah yang dihadapi.
4 Berikan kesempatan D D
kepada tim yang lain untuk
mendiskusikan, bertanya,
menanggapi, dan
memberikan masukan.
5 Karu atau Katim mencatat D D
hasil diskusi anggota tim.
6 Memberikan pujian akan T T
apa yang telah
dilaksanakan dengan baik.
7 Karu memberikan T T
kesimpulan dari diskusi
yang telah dilakukan.
8 Mengevaluasi hambatan T T
yang dialami setiap
anggota tim.
9 Mengucapkan terimakasih T T
atas kerjasama anggota
tim.
10 Mengucapkan salam. T T
TOTAL D 4 4
Prosentase % 40% 40%

Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan
Kesimpulan:
Dari hasil observasi pada tanggal 21-22 Juni 2018 didapatkan bahwa
post conference dilakukan mencapai 40 %.
d. Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan suatu sarana bagi perawat untuk
membahas masalah keperawatan dengan melibatkan pasien dan seluruh
tim keperawatan, konsultan keperawatan, serta divisi terkait (medis, gizi,

35
rehabilitasi medis, dan sebagainya). Ronde keperawatan ini bertujuan
untuk (Nursalam, 2014)
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang Diponegoro
pada tanggal 21 Juni 2018, bahwa ronde keperawatan di Ruang
Diponegoro dilakukan satu bulan sekali, dan terakhir ronde keperawatan
dilaksanakan pada bulan Mei 2018 dengan diagnosa Post Relaparatomi,
Release, Strength dan DM, CKD.

36
e. Supervisi

Supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya


adalah mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama, supervisi
keperawatan adalah suatu proses pemberian sumber-sumber yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dalam rangka mencapai tujuan
(Nursalam,2014).
Dari hasil observasi pada tanggal 21 Juni 2018 supervisi dilakukan
oleh kepala ruang kepada ketua tim dan ketua tim ke perawat pelaksana.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan, sebab ruang Diponegoro
terbagi 2 ruang, sehingga supervise tidak berjalan dengan maksimal.
Di bawah ini adalah pendelegasian yang dilakukan oleh ketua tim
Diponegoro kepada salah satu perawat pelaksana.
Tabel 3.15 Supervisi di Ruang Diponegoro
No Langkah – Langkah Tanggal
21/06/2018
D T
Pra Supervisi
1 Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi √
2 Supervisor menetapkan tujuan dan kompetensi yang √
akan dinilai

Pelaksanaan Supervisi
1 Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat √
ukur atau intrumen yang telah disiapkan.
2 Supervisor mendapat beberapa mendapat beberapa hal √
yang memerlukan pembinaan dan klsifikasi
permasalahan.
3 Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan √
pembinaan dan klsifikasi permasalahan.
4 Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara, da
memvalidasi data sekunder. √

a. Supervisor mengklarifikasikan permasalahan yang
ada.
b. Supervisor melakukan tanya jawab dengan
perawat

37
Pasca Supervisi – 3F
1 Supervisor memberikan penilaian supervise √
2 Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi (sesuai √
hasil laporan supervise)
3 Supervisor memberikan reinforcement dan follow up √
perbaikan
4 6
TOTAL & PROSENTASE 40% 60%
D : 40%
Sumber: Nursalam (2015), wawancara dan observasi pada perawat.
Keterangan :

D: Dilakukan  : Dilakukan

T : Tidak Dilakukan - : Tidak Dilakukan

Kesimpulan:

Berdasarkan observasi dari tanggal 21 Juni 2018 di Ruang


Diponegoro pernah melakukan Supervisi sebanyak 40%. Tetapi
supervisi kepala ruang dilakukan dengan pendelegasian oleh kepala
ruang, karena kondisi yang tidak memungkinkan diponegoro terbagi 2
ruang dipo atas dan dipo bawah.

38
f. Penerimaan Pasien Baru
Penerimaan pasien baru adalah metode dalam penerima
kedatangaan pasien baru (pasien dan keluarga) diruang pelayanan
keperawatan,khususnya pada rawat inap / keperawatan intensif. Dalam
penerimaan pasien baru, maka sampaikan beberapa hal mengenai
orientasi ruangan, pengenalan ketenagaan, dan tata tertib ruangan serta
penyakit.

Tabel 3.16 Penerimaan pasien baru di ruang Diponegoro


No Langkah – Langkah Tanggal
21 Juni
2018
D T
Persiapan
1 Karu memberitahu PP bahwa akan ada pasien baru √
2 PP menyiapkan hal-hal yang diperlukan dalam
penerimaan pasien baru diantaranya lembar pasien
masuk RS, lembar pengkajian, lembar informes consent,
status pasien, nursing kit, lembar tata tertib pasien, dan √
lembar kepuasan pasien, PP meminta bantu PA untuk
mempersiapkan tempat tidur pasien baru
3 Karu menanyakan kembali pada PP tentang √
kelengkapan untuk penerimaan pasien baru dan
memeriksa kelengkapan dokumen yang telah disiapkan
4 PP menyebut hal-hal yang telah dipersiapkan √
Pelaksanaan
1 Karu dan PP mendatangi pasien dan keluarga dengan √
memberi salam serta memperkenalkan diri, PP dan PA
pada pasien dan keluarga
2 PP mengisi lembar pasien masuk serta menjelaskan √
mengenai beberapa hal yang tercantum dalam lembar
penerimaan pasien baru, PP menjelaskan tentang
penyakit yang diderita pasien, terapi yang akan dijalani,
menjelaskan dokter yang akan menangani pasien dan
jadwal kunjungan, menjelaskan fasilitas yang ada serta
aturan yang ada dirumah sakit. PP mengorientasikan
pada pasien ruangan/lingkungan rumah sakit. PP
dibantu PA untuk melakukan pengkajian keperawatan
dan memeriksa fisik pada pasien. Penjelasan yang
terkait dengan penyakit oleh dokter yang merawat dan
atau bisa didelegasikan kepada perawat

39
3 PP menanyakan kembali pada pasien dan keluarga √
mengenai hal-hal yang belum dimengerti
4 PP, pasien, keluarga menandatangani penerimaan pasien √
baru
5 Karu, PP, dan PA kembali ke nurse station √
Penutup
1 Karu memeriksa kembali kelengkapan pengisian √
dokumen penerimaan pasien baru
2 Karu memberikan penghargaan pada PP dan PA √
3 PP merencanakan intervensi keperawatan √
5 7
TOTAL & PROSENTASE
42% 68%
D : 42 %
Sumber: Nursalam (2015), wawancara dan observasi pada perawat.
Keterangan :
D: Dilakukan  : Dilakukan

T: Tidak Dilakukan - : Tidak Dilakukan

Kesimpulan:

Berdasarkan observasi dari tanggal 21 Juni 2018 di Ruang


Diponegoro penerimaan pasien baru dilakukan 42 %. Dan hampir
dilaksanakn sesuai dengan SOPyang tidak dilakukan oleh perawat 68%

40
g. Discharge Planing

Tabel 3.17 Discharge planning di Ruang Diponegoro Selama Dua


Hari
Tanggal
No Daftar Pertanyaan 19/06/2018 20/06/2018
D T D T
1 No. Reg : √ √
Diisi sesuai dengan nomor
register pasien.
2 Nama : √ √
Diisi sesuai nama pasien
3 Jenis Kelamin : √ √
Diisi laki-laki/perempuan
4 Tanggal MRS : √ √
Sesuai pasien masuk RS
5 Diagnosis MRS : √ √
Diisi oleh dokter berdasarkan
pemeriksaan klinis.
6 Diagnosis KRS : √ √
Diagnosis pasien berdasarkan
pemeriksaan klinis setelah
pasien diperbolehkan pulang.
7 Di pulangkan dari RS dengan √ √
keadaan :
Diisi berdasarkan kondisi
pasien pulang.
8 Tanggal/tempat control : √ √
Diisi sesuai tempat dan control
ketika pasien control.
9 Lanjutan keperawatan dirumah √ √
:
Diisi keperawatan lanjutan
sesuai diagnosis sewaktu
pulang (keperawatan luka, gift,
dan lain-lain)
10 Aturan diet : √ √
Diisi berdasarkan anjuran dari
ahli gizi.
11 Obat-obat yang diminum dan √ √
jumlahnya :
Diisi sesuai obat yang dibawa
pulang aturannya, dosisnya,
jumlahnya.
12 Aktivitas dan Istirahat : √ √
Diisi sesuai advis dokter

41
tentang kegiatannya, dan
istirahatnya dirumah.
13 Hal yang dibawa pulang (hasil √ √
laboratorium, foto, EKG) :
Hasil dari pemeriksaan pasien
yang diperbolehkan dibawa
pulang.
14 Lain-lain : √ √
Diisi hal diluar ketentuan di
atas misal: obat-obat yang di
stop/dihentikan.
14 0 14 0
TOTAL & PROSENTASE 100% 0% 100% 0%
D : 100% T : 0%
Sumber: Nursalam (2015), wawancara dan observasi pada perawat.
Keterangan :
D : Dilakukan  : Dilakukan

T: Tidak Dilakukan - : Tidak Dilakukan

Berdasarkan observasi dari tanggal 19-20 Juni 2018 di Ruang


Diponegoro discharge planning dilakukan sesuai SOP 100%.

h. Sentralisai Obat
Obat merupakan salah satu program terapi yang sangat menunjang
proses kesembuhan pasien. Dalam pemberian obat diperlukan ketepatan
waktu, dosis, cara dan tempat pemberian obat. Salah satu upaya untuk
memastikan pemberian obat yang tepat dan efektif adalah sistem
sentralisasi obat yang sekarang ini sudah dikembangkan di berbagai
ruangan di Rumah Sakit. Pada sentralisasi obat perawat terlebih dahulu
memberikan informed consent kepada pasien dan keluarga kemudian
perawat mengelola obat dan memberikan obat kepada pasien (Nursalam,
2014)

42
Diagram alur pelaksanaan sentralisasi obat menurut (Nursalam, 2002)
Alur obat

DOKTER
Koordinasi
dengan perawat
Pasien atau
Keluarga

Farmasi /
Apotek

Pasien atau Surat sentralisasi obat


Keluarga dari perawat
Lembar serah terima
obat
PP / Perawat yang
menerima Buku serah terima /
masuk obat

Pengaturan dan pengelolaan


oleh perawat

Pasien / Keluarga
Dari hasil wawancara dengan kepala ruang Diponegoro, alur sentralisasi
obat yang digunakan ruang Diponegoro adalah, obat deresepkan oleh dokter,
kemudian perawat menuliskan resep di blanko obat sesuai dengan blanko BPJS
atau blanko umum. Resep dibagikan ke keluarga pasien untuk menyerahkan resep
ke depo farmasi. Setelah melalui proses di depo farmasi, keluarga pasien kembali
ke ruangan untuk menyerahkan obat ke perawat ruang Diponegoro dan perawat
ruang langsung meletakkan obat oral dan injeksi sesuai loker pasien di ruang
perawat yang sudah diberi identitas nama pasien tanpa meminta tanda tangan
serah terima obat dengan keluarga pasien. Selain itu, saat pemberian obat oral atau
injeksi pada tanggal 18- 21 Juni 2018 tidak dilakukan pendokumentasian ataupun
tanda tangan kepada pasien atau keluarga pasien. Sedangkan, pada obat injeksi
maupun obat oral hanya ditulis nama pasien dan nomer tempat tidur di spuit dan
tidak dilakukan dokumentasi surat serah terima obat, tidak ada persetujuan
sentralisasi obat dan saat injeksi pasien atau keluarga pasien tidak dimintai tanda
tangan persetujuan.

43
4. M4 (MONEY)
1. Sistem Gaji
Sistem penggajian di ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan
Kabupaten Malang dibedakan antara pegawai PNS dan Non PNS.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang, sistem penggajian
untuk tenaga PNS berdasarkan pangkat, golongan dan masa kerja
dengan sumber gaji dari pemerintah, sedangkan untuk tenaga Non PNS
berdasarkan lama masa kerja dan tingkat pendidikan dengan sumber gaji
dari Rumah Sakit.
Evaluasi kinerja karyawan dilakukan setiap satu tahun sekali.
Gaji didistribusikan oleh rumah sakit kepada staf secara periodik setiap
bulan.
2. Sumber Pendapatan Ruangan
Sumber pendapatan Ruang Diponogoro RSUD Kanjuruhan
Kabupaten Malang berasal dari tarif rawat inap serta jasa pelayanan
yang kemudian diatur di kelola oleh Rumah Sakit. Berdasarkan hasil
wawancara diketahui bahwa sumber pendapatan Ruang Diponegoro
didapatkan dari jasa pelayanan pasien yang dirawat dan membayar
secara umum dan BPJS.

44
3. Tarif Rawat Inap
Berdasarkan Perda Kabupaten Malang Nomor 8 Tahun 2013
tentang tarif retribusi pelayanan kesehatan diruang diponegoro.
Pelayanan Rawat Inap, Rawat Intensif, Rawat Isolasi Dan Rawat
Perhari.
Tabel 3.18 Tarif Rawat Inap
Jasa Jasa
No Uraian sarana pelayanan Tarif (Rp)
(Rp) (Rp)
Akomodasi kamar / hari 30.250 24.750 55.000
1
rawat
2 Visite dokter spesialis 0 45.000 45.000
3 Konsultasi dokter spesialis 5.000 40.000 45.000
4 Jasa konsultasi on call 5.000 20.000 25.000
Rawat intensif / hari
a. Akomodasi 82.500 67.500 150.000
b. Visite dokter spesialis 5.000 120.000 125.000
5
c. Konsultasi dokter 5.000 120.000 125.000
spesialis 5.000 25.000 30.000
d. Konsul on call

Tabel 3.19 Klasifikasi Tindakan Medik Non Operatif


Jasa Jasa
Klasifikasi tindakan Tarif
No. sarana pelayanan
medik non operatif (Rp)
(Rp) (Rp)
1 Sederhana 1 18.400 27.500 45.900
2 Sederhana 2 36.700 55.000 91.700
3 Sederhana 3 55.000 82.500 37.500
4 Sederhana 4 73.400 110.000 108.400
5 Sederhana 5 110.000 165.000 275.00
6 Kecil 1 220.000 330.000 550.000
7 Kecil 2 366.700 550.000 916.700
8 Kecil 3 550.000 825.000 1.375.000
9 Kecil 4 734.000 1.100.000 1.834.000
10 Kecil 5 916.700 1.375.000 2.292.000
11 Sedang 1 953.400 1.430.000 2.333.350
12 Sedang 2 1.191.700 1.783.500 2.979.200

45
13 Sedang 3 1.430.000 2.145.000 3.575.000
14 Sedang 4 1.668.350 2.502.500 4.170.900
15 Sedang 5 1.907.000 2.860.000 4.767.000
16 Besar 1 2.860.000 4.290.000 7.150.000
17 Besar 2 3.100.000 4.650.000 7.750.000
18 Besar 3 3.341.700 5.000.000 8.340.000
19 Besar 4 3.575.000 5.362.500 8.937.500
20 Besar 5 3.813.300 5.720.000 9.538.300
21 Khusus / canggih 1 4.290.000 6.435.000 10.725.000
22 Khusus / canggih 2 5.720.000 8.580.000 14.000.300
23 Khusus / canggih 3 7.150.000 10.725.000 17.875.000
24 Khusus / canggih 4 8.580.000 12.870.000 21.450.000

Kajian Data:
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruang di ruang Diponegoro
RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang adalah rumah sakit negeri dengan
sumber dana berasal dari pemerintah daerah.

46
5. M5 (MUTU)
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi
menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sangat
penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku maka proses produksi
barang akan berhenti. Artinya proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh
sebab itu penguasaan pasar merupakan faktor yang menentukan dalam suatu
organisasi atau perusahaan.
1. Daftar daerah asal pasien di ruang Diponegoro pada tanggal 18–20 Juni
2018
Daftar daerah asal pasien di ruang Diponegoro pada tanggal 18-
20 Juni 2018 terdiri dari berbagai wilayah seperti Kabupaten Malang.
Untuk rincian daerah asal pasien per tanggal 18–20 Juni 2018 dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.20 Daftar daerah asal pasien tanggal 18 Juni 2018
Nomor Bed Nama pasien Alamat
1.1 Ny Wa Tajinan
1.3 Ny Se Pagelaran
2.2 Tn S Kepanjen
2.3 Tn Ad Kepanjen
2.6 Tn De Ngajum
2.8 Tn Nu Karangkates
2.9 Tn Da Turen
ISO1 Ny Su Dampit
ISO3 Ny Sa Karangkates

Tabel 3.21 Daftar daerah asal pasien tanggal 19 Juni 2018


Nomor Bed Nama pasien Alamat
1.1 Ny Wa Tajinan
1.2 Ny In Dampit
1.3 Ny Se Pagelaran
2.2 Tn S Kepanjen
2.3 Tn Ad Kepanjen
2.6 Tn De Ngajum
2.8 Tn Nu Karangkates
2.9 Tn Da Turen
ISO1 Ny Su Dampit
ISO3 Ny Sa Karangkates

47
Tabel 3.22 Daftar daerah asal pasien tanggal 20 Juni 2018
Nomor Bed Nama pasien Alamat
1.1 Ny Wa Tajinan
1.2 Ny In Dampit
1.3 Ny Se Pagelaran
1.4 Ny W Dampet
2.2 Tn S Kepanjen
2.3 Tn Ad Kepanjen
2.4 Tn T Turen
2.6 Tn De Ngajum
2.8 Tn Nu Karangkates
2.9 Tn Iq Turen
ISO1 Ny Su Dampit
ISO3 Ny Sa Karangkates

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan pada tanggal 18 –


20 Juni 2018 didapatkan hasil bahwa pasien yang rawat inap di ruang
Diponegoro terbanyak berasal dari kepanjen.

2. Indikator Mutu Perhitungan rumah Sakit


1) BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka Penggunaan Tempat Tidur)
BOR (Bed Occupancy Ratio) adalah prosentase pemakaian
tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan
gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah
sakit. Standar BOR menurut Nursallam (2015) adalah 75-80%.

Rumus BOR adalah sebgai berikut:


Jumlah pasien
× 100%
Jumlah tempat tidur

Jumlah Tempat Tidur di Ruang Diponegoro adalah 38 TT

48
Berdasarkan pengkajian pada tanggal 18 – 20 Juni 2018
penggunaan tempat tidur di ruang Diponegoro adalah sebagai berikut:

Tabel 3.23 Perhitungan BOR Di Ruang Diponegoro Tanggal 18 – 20


Juni 2018 Rumah Sakit Umum Daerah Kanjuruhan Kabupaten
Malang
Jumlah BOR
Tanggal
Tempat Tidur Pasien (∑Px/∑Bed x 100%)
18 Juni 2018 38 9 24%
19 Juni 2018 38 10 26%
20 Juni 2018 38 12 31%
Selama kurun waktu 3 hari pada Ruang Diponegoro antara tanggal
18 – 20 Juni 2018 didapatkan rata–rata BOR sejumlah 27% nilai
parameter BOR yang ideal adalah antara 75 - 85% (Nursallam, 2015).
Dapat disimpulkan bahwa BOR di ruang Diponegoro selama 3 hari tidak
ideal.

2) ALOS (Average Length of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat)


ALOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien dirawat.
Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi juga
dapat memberikan gambaran mutu pelayanan apabila diterapkan pada
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih
lanjut. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (Nursallam,
2015).
Rumus Menghitung ALOS:
(Hari lama hari perawatan)
(Jumlah pasien keluar (hidup + mati))

Berdasarkan Pengkajian Pada Tanggal 18 – 20 Juni 2018di ruang


Diponegoro didapatkan data sebagai berikut:

49
Tabel 3.24 Lama pasien di rawat di ruang tanggal 18 Juni 2018
Nomor Bed Nama pasien Lama pasien dirawat
1.1 Ny Wa 3
1.3 Ny Se 1
2.2 Tn S 6
2.3 Tn Ad 5
2.6 Tn De 3
2.8 Tn Nu 2
2.9 Tn Da 1
ISO1 Ny Su 13
ISO3 Ny Sa 6
Jumlah pasien keluar (hidup+mati) adalah 9 pasien
ALOS per tanggal 18 adalah 40 = 4 hari
9
Tabel 3.25 Lama pasien di rawat di ruang tanggal 19 Juni 2018
Nomor Bed Nama pasien Lama pasien dirawat
1.1 Ny Wa 5
1.2 Ny In 2
1.3 Ny Se 2
2.2 Tn S 7
2.3 Tn Ad 6
2.6 Tn De 4
2.8 Tn Nu 3
2.9 Tn Da 2
ISO1 Ny Su 14
ISO3 Ny Sa 7
Jumlah pasien keluar (hidup+mati) adalah 10 pasien
ALOS per tanggal 19 adalah 97 = 9 hari
10

50
Tabel 3.26 Lama pasien di rawat di ruang tanggal 20 Juni 2018
Nomor Bed Nama pasien Lama pasien dirawat
1.1 Ny Wa 6
1.2 Ny In 3
1.3 Ny Se 3
1.4 Ny W 2
2.2 Tn S 8
2.3 Tn Ad 7
2.4 Tn T 2
2.6 Tn De 5
2.8 Tn Nu 4
2.9 Tn Iq 2
ISO1 Ny Su 15
ISO3 Ny Sa 8
Jumlah pasien keluar (hidup+mati) adalah 12 pasien
ALOS per tanggal 20 adalah 65 = 5 hari
12
Total ALOS selama 3 hari (18 – 20 Juni) yaitu 4+9+5:3 = 6 hari

Jadi selama observasi yang dilakukan mulai tanggal 18 – 20 Juni 2018


di ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang didapatkan hasil
perhitungan ALOS 6 hari. Menurut Nursallam (2015) nilai ALOS yang ideal
adalah 6-9 hari sehingga ALOS di ruang pada Diponegoro sudah ideal.

3) TOI (Turn Over Interval = Tenggang perputaran)


TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati (dari
setelah diisi ke saat terisi berikutnya). Indikator ini memberikan gambaran
tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong
tidak terisi pada 1-3 hari (Nursallam, 2015).
Rumus TOI:
((jumlah tempat tidur × Periode) − Hari Perawatan)
(Jumlah pasien keluar (hidup + mati))

51
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) pada tanggal 18 Juni 2018 adalah 9
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) pada tanggal 19 Juni 2018 adalah 10
Jumlah pasien keluar (hidup + mati) pada tanggal 20 Juni 2018 adalah 12

TOI pertanggal 18 Juni 2018: ((38 x 1) – 5) = 38-5 = 3 hari


9 9
TOI pertanggal 19 Juni 2018: ((38 x 1) – 5) = 38-5 = 3 hari
10 10
TOI pertanggal 20 Juni 2018: ((38 x 1) – 5) = 38-5 = 2 hari
12 12
Jadi total TOI dalam 3 hari (18 – 20 Juni 2018) adalah 3+3+2:3 = 2 hari

Dalam pengamatan selama 3 hari didapatkan TOI diruang


Diponegoro sejumlah 2 hari yang idealnya 1-3 hari (Nursallam, 2015) yang
berarti TOI ruang Diponegoro sudah ideal.

4) BTO (Bed Turn Over = Angka perputaran tempat tidur)


BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode,
berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.
Idealnya dalam satu tahun satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Jumlah pasien dirawat (hidup + mati)
(Jumlah tempat tidur)
Jumlah Pasien Dirawat (hidup+mati) selama 3 hari
Tanggal 18 Juni 2018 : 9 pasien
Tanggal 19 Juni 2018 : 1 pasien
Tanggal 20 Juni 2018 : 3 pasien

BTO pertanggal 18 Juni 2018 adalah 9:38 = 0.236 kali


BTO pertanggal 19 Juni 2018 adalah 1:38 = 0.026 kali
BTO pertanggal 20 Juni 2018 adalah 2:38 = 0.052 kali
Jadi total BTO selama 3 hari (18 – 20 Juni 2018) adalah 0.782

52
BTO selama 3 hari di ruang Diponogoro adalah 0.782 kali rata-rata
BTO selama 1 tahun rata-rata adalah 95 kali. Idelanya adalah 40-50 kali
(Nursallam, 2015). Jadi BTO di ruang Diponegoro melebihi standar.

5) Jenis Pembayaran Pasien


a. Jenis pembayaran
1. BPJS/JKN
Asuransi dari pemerintah (KIS, AsKes), Asuransi Mandiri,
pegawai pemerintah non negeri, pegawai swasta, pegawai lain
yang memenuhi kriteria pekerja penerima upah
2. Umum
Jenis pembayaran yang dibayar langsung oleh pasien atau
tanpa asuransi dari manapun.

53
PELAYANAN KEPERAWATAN
1. Keselamatan Pasien (Patient Safety)
Menurut sasaran keselamatan pasien (SKP) yang dikeluarkan oleh
Standar Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, maka sasaran tersebut meliputi 6
elemen berikut (Nursallam, 2015):
1) Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien
2) Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif
3) Sasaran III :Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-
alert medications)
4) Sasaran IV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat pasien
operasi.
5) Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6) Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh.

Sasaran I: Ketepatan identifikasi pasien, meliputi standar berikut.


1. Prosedur identifikasi pasien yang di rawat inap dilakukan pemasangan
gelang identitas pasien untuk setiap kalada 4 identitas yaitu
menggunakan Nama, tanggal lahir, alamat dan nomor rekam medis
pasien. Tulisan jelas mudah terbaca serta memakai tinta yang tidak
mudah luntur. Pemasangan gelang identitas ini dilaksanakan oleh
perawat ruangan yang menerima pasien pada waktu masuk ruangan.
Pemasangan gelang identitas pasien tulisan menghadap ke petugas.
Pemasangan gelang penanda (Alergi, resiko jatuh dan DNR)
dilakukan dengan ketentuan :
1) Untuk gelang penanda alergi berwarna Merah
2) Untuk gelang penanda resiko jatuh berwana kuning
3) Untuk gelang penanda DNR berwana ungu
4) Untuk gelang Biru muda pasien Iaki-laki
5) Untuk gelang Merah muda pasien perempuan
2. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh
menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

54
3. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk
darah.
4. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis (lihat juga).
5. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan
atau prosedur.
6. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik identifikasi yang
konsisten pada semua situasi dan lokasi.
Hasil Analisa:
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan selama tanggal 18 - 20
juni 2018, perawat ruangan Diponegoro melakukan identifikasi pasien yang
di rawat inap dengan memberikan gelang identitas sesuai dengan prosedur
yang sudah berlaku, mengidentifikasi identitas pasien dari buku rekam
medis pasien saja dan tidak melakukan validasi kembali seperti menanyakan
usia serta nomor registrasi sambil melihat gelang identitas pasien dan hanya
menanyakan nama pasien sebelum melakukan tindakan keperawatan. Pada
spuit injeksi hanya dituliskan nomor tempat pasien serta nama pasien saja.

Sasaran II: Peningkatan komunikasi yang efektif (SBAR)


1. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan
dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan
tersebut.
2. Perintah lisan dan melalui telepon atau hasil pemeriksaan secara lengkap
dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan
tersebut.
3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang
memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik yang konsisten dalam
melakukan verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan melalui
telepon.

55
Hasil Analisa:
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan selama tanggal 18-20 juni
2018 didapatkan seluruh perawat ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan
kabupaten Malang sudah dalam mendokumentasikan semua hal yang
berhubungan dengan komunikasi sudah dilakukan sesuai standart.

Sasaran III: Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-


alert medications)

1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengatur identifikasi,


lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-obat yang perlu
diwaspadai.
2. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan.
3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika
dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan
kebijakan.
4. Elektrolit konsentrat yang ada di unit pelayanan hanya untuk pasien
tertentu yang mendapatkan terapi.

Hasil Analisa:
Dari Hasil pengkajian selama 3 hari yang dimulai tanggal 18 – 20 juni
2018 keamanan obat high-alert medications di simpan dengan baik di
gudang farmasi dan obat-obatan emergency disimpan dengan baik di troly
emergency.

56
Sasaran lV: Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien
operasi
1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk
identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dalam proses
penandaan/pemberian tanda.
2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk
melakukan verifikasi praoperasi tepat-lokasi, tepat-prosedur, dan tepat-
pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia,
tepat/benar, dan fungsional.
3. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat
/mendokumentasikan prosedur sign in (sebelum induksi); “sebelum
insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur/tindakan
pembedahan dan sign out (sebelum meninggalkan kamar operasi).
4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman
proses guna memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien,
termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi/dental yang
dilaksanakan di luar kamar operasi.
Hasil Analisa:
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 18 - 20 Juni 2018 didapatkan
hasil bahwa DPJP sudah melakukan markering sebelum operasi.dan sesuai
dengan SOP.

57
Sasaran V: Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene
terbaru yang baru-baru ini diterbitkan dan sudah diterima secara umum
(antara lain dari WHO Patient Safety).
Semua petugas dirumah sakit termasuk dokter melaksanakan cuci
tangan dengan 6 langkah sesuai standar WHO dan dilakukan pada 5
moment, yakni:
a. Sebelum kontak dengan pasien
b. Sebelum tindakan aseptic
c. Sesudah terkena cairan tubuh pasien
d. Sesudah kontak dengan tubuh pasien
e. Sesudah kontak dengan lingkungan pasien
Handwash: dengan menggunakan air mengalir, waktunya: 40-60 detik
Handrub: dengan gel berbasis alcohol, waktunya: 20-30 detik
a. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
b. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mendukung
pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan.
Hasil Analisa:
Dari hasil observasi selama 3 hari (18 – 20 Juni) sebanyak 12 perawat
yang sedang dinas pagi di ruang diponegoro lantai 3 sudah melakukan cuci
tangan dengan menggunakan hand wash atau hand rub, namun terdapat
momen yang terlewatkan yaitu sebelum kontak dengan pasien dan sebelum
tindakan aseptif sebanyak 12 perawat tidak melakukan momen tersebut.
Dalam prosedur pengurangan resiko infeksi yang dikembangkan oleh
Rumah sakit tidak maksimal karena pasien bahkan keluarga belum ada yang
bisa melakukan cuci tangan 6 langkah sesuai standar yang berlaku.

58
Tingkat pengetahuan pasien terhadap cuci tangan
Pengukuran tingkat pengetahuan dari pasien atau keluarga terhadap
kepatuhan dan cara cuci tangan 6 langkah yang benar yaitu menggunakan
metode wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil observasi dan
wawancara di Ruang Diponegoro didapatkan hasil bahwa 8 dari 10 keluarga
memiliki tingkat kepatuhan dan pengetahuan cuci tangan 6 langkah yang
kurang dan 2 sisanya sudah patuh dan mengetahui bagaimana 6 langkah
cuci tangan yang baik dan benar.

PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP


KEPATUHAN 6 LANGKAH CUCI TANGAN

20%

Tinggi
Sedang
80 Rendah

Diagram Pie 3.1 Pengetahuan pasien terhadap kepatuhan 6 langkah


cuci tangan didapatkan hasil 80% rendah

Sasaran VI: Pengurangan risiko pasien jatuh


1. Rumah sakit menerapkan proses assesment awal resiko pasien jatuh
dan melakukan pengkajian ulang terhadap pasien bila diindikasikan
terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi resiko jatuh bagi
mereka yang pada hasil assesment dianggap beresiko.
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik tentang keberhasilan
pengurangan cedera akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan
secara tidak disengaja.
4. Kebijakan dan/atau prosedur mendukung pengurangan berkelanjutan
dari resiko cedera pasien akibat jatuh di rumah sakit.

59
Hasil Analisa:
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 18 - 20 Juni 2018 setiap ada
pasien yang baru datang perawat melakukan pengkajian resiko jatuh sesuai
dengan standar yang sudah ada.

Berikut ini beberapa parameter pengukuran keselamatan pasien


yang bisa digunakan di rumah sakit. Parameter tersebut meliputi:
1) Angka kejadian jatuh
Berdasarkan hasil pengkajian tentang tingkat kejadian klien jatuh
selama 3 hari (18-20 juni 2018) didapatkan hasil bahwa 100% pasien tidak
mengalami jatuh selama dilakukan perawatan oleh perawat ruangan.
Meskipun sebagian pasien mempunyai resiko jatuh, akan tetapi dari hasil
pengkajian selama 3 hari menunjukkan tidak ada pasien yang mengalami
jatuh.
Rumus kejadian pasien jatuh:
Jumlah pasien jatuh x 100%
Jumlah pasien yang beresiko jatuh
Tabel 3.27 Variabel angka kejadian jatuh di Ruang Diponegoro
RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
18 Juni 19 Juni 20 juni
No Variabel Total
2018 2018 2018
1 Jumlah pasien jatuh 0 0 0 0
Jumlah pasien beresiko
2 4 4 6 14
jatuh

2) Kesalahan pengobatan (medical error)


Kejadian kesalahan pemberian obat yang meliputi tidak tepat obat,
tidak tepat cara pemberian, tidak tepat dosis, tidak tepat pasien, tidak tepat
waktu pemberian dan tidak waspada terhadap efek pemberian obat
(Nursallam 2015).
Rumus Angka KTD / sentinel dalam pemberian obat:
Jumlah pasien yang terkena KTD dalam pemberian obat x100%
Jumlah pasien pada hari tersebut

60
Rumus KNC dalam pemberian obat:
Jumlah pasien yang terkena KNC dalam pemberian obat x 100%
Jumlah pasien pada hari tersebut
Tabel 3.28 Kejadian Tidak Diharapkan 18 – 20 juni 2018
Tanggal
20
No Variabel 18 Juni 19 Juni
Juni Total
2018 2018
2018
1 Jumlah pasien yang 0 0 0 0
terkena KTD dalam
pemberian obat:
1) Tidak tepat pasien
2) Tidak tepat obat
3) Tidak tepat waktu
pemberian
4) Tidak tepat dosis obat
5) Tidak tepat cara
pemberian
6) Tidak tepat dokumentasi
2 Jumlah pasien pada hari 9 10 12 31
tersebut
Angka kejadian KTD: 0%
Tabel 3,29 Kejadian Nyaris Cidera 18 – 20 juni 2018
Tanggal
20
No Variabel 18 Juni 19 Juni
Juni Total
2018 2018
2018
1 Jumlah pasien yang 0 0 0 0
terkena KNC dalam
pemberian obat :
1) Tidak tepat pasien
2) Tidak tepat obat
3) Tidak tepat waktu
pemberian
4) Tidak tepat dosis obat
5) Tidak tepat cara
pemberian
6) Tidak tepat
dokumentasi
2 Jumlah pasien pada hari 9 10 12 31
tersebut
Angka kejadian KNC: 0%

61
Hasil Analisa:
Selama dilakukan pengkajian 3 hari (18 – 20 juni 2018) tidak
ditemukannya Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Nyaris Cidera di
Ruang Diponegoro.

3) Angka kejadian Phlebitis


Salah satu penilaian mutu rumah sakit atau ruangan adalah angka
kejadian phlebitis. Phlebitis adalah peradangan akut apda lapisan intravena
yang ditandai oleh rasa sakit dan nyeri di sepanjang vena, kemerahan,
bengkak, dan hangat, serta dapat dirasakan di daerah sekitar penusukan.
Visual Infusion Phlebitis (VIP) adalah alat ukur yang digunakan untuk
memantau area pemasangan infus ( Nursallam, 2015).

Tabel 3.30 Instrumen Skala Phlebitis


Skala Tanda Keterangan
Tidak ada tanda
0 Letak IV tebalik
Phlebitis
Tanda awal
Sedikit nyeri di dekat letak IV atau
1 kemungkinan terjadi
sedikit kemerahan di dekat IV
Phlebitis
Satu dari tanda berikut:
1. Nyeri di letak IV
2 Tahap awal Phlebitis
2. Kemerahan /
3. Bengkak
Ditemukan semua tanda:
1. nyeri sepanjang kanula Tanda menengah
3
2. kemerahan Phlebitis
3. indusari
Tahap lanjut Phlebitis
Skala 3 ditambah hal berikut: Vena
4 atau awal
teraba keras, ulkus
thrombosphlebius
Tahap akhir
5 Skala 4 ditambah panas tinggi
thrombosphlebius
Keterangan: kriteria phlebitis adalah skala 2 sampai 5 (Nursallam, 2015).

62
Rumus Kejadian Phlebitis:
Jumlah kejadian Phlebitis x 100%
Jumlah pasien yang beresiko Phlebitis
Tabel 3.31 Variabel kejadian phlebitis di Ruang Diponegoro RSUD
Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
18 Juni 19 Juni 20 Juni
No Variabel Total
2018 2018 2018
1 Jumlah kejadian 0 0 1 1
Phlebitis
a. Mechanical
b. Bacterial
c. Chemical
2 Jumlah pasien beresiko 9 9 6 24
terjadi Phlebitis
Angka kejadian Phlebitis adalah 1: 24x 100% = 4.1 %. Phlebitis terjadi
kemungkinan dari injeksi terapi dengan konsentrat yang tinggi dan pemasangan
infuse yang melebihi hari (waktunya ganti tidak diganti).

2. Kepuasan
a) Tingkat kepuasan pasien
Tabel 3.32 Tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Diponegoro
RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

No Klasifikasi Frekuensi Presentase


1 Sangat Puas 6 60 %
2 Puas 4 40 %
3 Tidak Puas
4 Sangat Tidak Puas
TOTAL 10 100%

63
Diagram pie 3.2 Tingkat Kepuasan Pasien di Ruang
Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

sangat puas Puas tidak puas sangat tidak puas


0%
0%

40%

60%

Berdasarkan hasil dari kuesioner yang telah di bagikan di Ruang


Diponegoro dari 10 pasien didapatkan hasil bahwa 4 (40%) pasien merasa puas
dengan seluruh pelayanan yang telah diberikan dan 6 (60%) pasien merasa sangat
puas terhadap pelayanan yang di terima dari perawat berupa caring, empati, sopan
santun, kejujuran, serta kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pelayanan
terhadap pasien.

b) Tingkat kepuasan perawat

Tabel 3.33 Tingkat kepuasan perawat di Ruang


Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
No Klasifikasi Frekuensi Persentase
1 Sangat Tidak Puas 2 20 %
2 Tidak Puas 6 60 %
3 Cukup Puas 1 10 %
4 Puas 1 10 %
5 Sangat Puas 0 0%
TOTAL 10 100 %

64
Diagram pie 3.3 Tingkat kepuasan perawat di Ruang
Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

Sangat puas, 0%

Cukup puas, Puas, 10% Sangat tidak


10% puas, 20%

Tidak puas, 60%

Berdasarkan hasil dari kuesioner yang telah di bagikan di Ruang


Diponegoro dari 10 perawat didapatkan hasil bahwa 6 (60%) perawat tidak
puas, (20%) sangat tidak puas, 10 (10%) cukup puas dan 10 (10%) puas).
Untuk ketidak puasan perawat rata-rata terdapat pada indicator penggajian,
fasilitas, pengawasan serta promosi.

c) Kecemasan
Kecemasan merupakan reaksi pertama yang muncul atau dirasakan
oleh pasien dan keluarganya di saat pasien harus dirawat mendadak atau
tanpa terencana begitu mulai masuk rumah sakit. Kecemasan akan terus
menyertai pasien dan keluarganya dalam setiap tindakan perawat
terhadap penyakit yang di derita pasien (Nursallam, 2015).

Tabel 3.34 Tingkat kecemasan pasien di Ruang Diponegoro

NO KLASIFIKASI FREKUENSI PRESENTASE


1 Tidak Cemas 7 70 %
2 Kecemasan Ringan 3 30 %
3 Kecemasan Sedang
4 Kecemasan Berat
TOTAL 10 100 %

65
Diagram pie 3.4 Tingkat kecemasan pasien di Ruang Diponegoro

Kecemasan Kecemasan Kecemasan


Ringan, 30% sedang, 0 Berat, 0

Tidak
Cemas, 70%

Berdasarkan hasil dari kuesioner yang telah di bagikan di Ruang


Diponegoro, dari 10 pasien didapatkan hasil bahwa 3 (30%) pasien dengan
cemas ringan, dan 7 (70%) pasien tidak cemas.

66
3.1.2 Fungsi-fungsi Manajemen
1. Perencanaan
a. Visi dan Misi Organisasi
1) Visi dan Misi Rumah Sakit
a) Visi
Visi RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang mengacu pada visi
dan misi Bupati malang dan wakil Bupati Malang 2016-2021,
yaity “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Malang yang
MADEP MANTEB MANETEP”
b) Misi
1. Melaksanakan pelayanan kesehatan rujukan secara
komprehensif dan pelayanan unggulan yang inovatif
2. Meningkatkan kualitas sumber daya Rumah Sakit yang
mendukung mutu pendidikan dengan melaksanakan pola
pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah
(BLUD)
2) Visi dan Misi Keperawatan
a) Visi
Tercapainya Pelayanana Keperawatan yang berkualitas di
RSUD Kanjuruhan Tahun 2020
b) Misi
1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM Keperawatan
melalui penambahan dan peningkatan pendidikan tenaga
keperawatan.
2. Meningktakan kualitas sistem pelayanan keperawatan
dengan memberikan pelayanan secara professional, jujur,
dan ber etika.
3. Mewujudkan pelayanan pro aktif terhadap pelanggan
pelayanan keperawatan rumah sakit.
4. Mewujudkan pengelolaan pelayanana keperawatan seseuai
Standar Asuhan Keperawatan.

67
2. Pengorganisasian

Struktur Organisasi Instalasi Rawat Inap

Direktur

Wadir
Pelayanan

Kepala Bidang Kepala Bidang Kepala Instalasi Kepala Bidang


Pelayanan Pelayanan (dr. Ana Komalia) Keperawatan
Penunjang Medik

Kepala Ruang

Wakil Kepala Ruang

Administrasi

Transporter

Ketua Tim 1 Ketua Tim 2

Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana

Keterangan :
Garis Komando :
Garis Koordinasi :

68
Struktur Fungsional Keperawatan Instalasi Rawat Inap Diponegoro RSUD
Kanjuruhan Kepanjen

Kepala Ruang
Siti Maropah, Amd.Kep

Ketua Tim I Ketua Tim II


Erna Puspita Sari, S.Kep Ns Omy Ely Lamas, Amd.Kep

Perawat Pelaksana Perawat Pelaksana

Dinas Dinas Dinas Dinas Dinas Dinas


Pagi : 3 Pagi : 2 Pagi : 2 Pagi : 3 Pagi : 2 Pagi : 2
Perawat Perawat Perawat Perawat Perawat Perawat

69
1. Uraian Tugas Dalam MAKP
a. Tugas Kepala Ruang

Tabel 3.35 Tugas kepala ruang di Ruang Diponegoro RSUD


Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

Tidak
Uraian Tugas Dilakukan
Dilakukan
1. Melaksanakan fungsi perencanaan,
meliputi:
a. Menyusun rencana kerja Kepala
D
Ruangan.
b. Menyusun rencana kebutuhan
tenaga keperawatan dari segi
jumlah, kualitas di ruang rawat, D
dan koordinasi dengan kepala
bidang keperawatan.
c. Merencanakan jumlahdan jenis
peralatan yang diperlukan, sesuai D
dengan kebutuhan.
d. Merencanakan dan menentukan
model asuhan keperawatan yang
D
diselenggarakan sesuai dengan
kebutuhan pasien.
2. Melaksanakan fungsi pergerakan
dan pelaksanaan, meliputi:
a. Mengatur dan mengkoordinasikan
seluruh kegiatan pelayanan D
diruang rawat masing-masing.
b. Menyusun dan mengatur jadwal
dinas tenaga keperawatan dan
tenaga lain diruang rawat masing- D
masing sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
c. Melaksanakan orientasi kepada
tenaga keperawatan baru atau
D
tenaga lain yang akan bekerja
diruang rawat masing-masing.
d. Melaksanakan orientasi kepada
siswa atau mahasiswa
keperawatan yang menggunakan T
ruang rawatnya sebagai lahan
praktek.
e. Melaksanakan program orientasi
kepada pasien dan keluarganya
T
tentang peraturan rumah sakit,
tata tertib ruangan, fasilitas yang

70
ada, dan cara pengunaannya.
f. Melaksanakan bimbingan dan
pembinaan kepada perawat
pelaksana dalam kepatuhan D
terhadap SPO dan standar
pelayanan keperawatan.
g. Mengadakan pertemuan berkala
dengan pelaksana keperawatan
D
dan tenaga lain yang berada
dibawah tanggung jawabnya.
h. Mengatur dan mengkoordinasikan
penyediaan, penggunaan,
penyimpanan dan pemeliharaan
alat-alat keperawatan, alat medis, D
obat, dan bahan yang diperlukan
agar selalu dalam kondisi siap
pakai.
i. Mengelompokkan pasien dan
mengatur penempatannya di
ruang rawat inap menurut tingkat
D
kegawatan, infeksi atau non
infeksi, dan untuk kelancaran
pemberian asuhan keperawatan.
j. Memelihara kebersihan dan
ketertiban ruang perawatan
D
melalui koordinasi dengan
petugas terkait.
k. Meneliti pengisian formulir
D
sensus harian pasien diruangan.
l. Mengkoordinasi pelaksanaan
kegiatan pengendalian mutu
D
pelayanan keperawatan dan
patient safety.
m. Memberikan penyuluhan
kesehatan terhadap pasien dan D
keluarga sebatas kewenangannya.
n. Memelihara atau
mengembangkan sistem
pencatatan, pelaporan sistem D
asuhan keperawatan, dan kegiatan
yang dilakukan.
o. Mengatur pelaksanaan operan
D
dinas jaga.
p. Membuat laporan harian
mengenai pelaksanaan asuhan
keperawatan, serta kegiatan D
lainnya diruang rawat untuk
disampaikan kepada atasan.

71
3. Melaksanakan fungsi pengawasan,
pengendalian, dan penilaian,
meliputi:
a. Melakukan supervise pelaksanaan
asuhan keperawatan yang telah D
ditentukan.
b. Mengawasi atau mengendalikan
pendayagunaan peralatan
D
perawatan, serta stok obat secara
efektif dan efisien.
c. Mengawasi pelaksanaan
pencatatan dan pelaporan D
kegiatan asuhan keperawatan.
4. Melaksanakan fungsi administrasi,
meliputi:
a. Menyusun laporan mutu asuhan
D
keperawatan.
b. Menyusun laporan kegiatan
D
pelayanan di ruang rawat.
c. Menyusun laporan inventaris. D
d. Menyusun laporan patient safety. D
TOTAL 25 2
Prosentase 93 % 7%
Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan
Kesimpulan:
Dari hasil observasi selama 2 hari pada tanggal 21-22 Juni 2018
didapatkan bahwa kepala ruangan telah melakukan tugasnya setiap hari.
b. Tugas Ketua Tim

Tabel 3.36 Tugas Ketua tim di Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan


Kepanjen Kab. Malang

Tidak
Uraian Tugas Dilakukan
Dilakukan
1. Mengatur, mengkoordinasikan, dan
mengawasi seluruh kegiatan
D
pelayanan diruangan yang menjadi
tanggung jawabnya.
2. Melaksanakan protap-protap yang
D
berlaku di unit keperawatan.
3. Melaksanakan kerjasama yang baik
dengan perawat pelaksana guna D
kelancaran tugas.

72
4. Mendampingi visite dokter dan
mencatat instruksi dokter,
D
khususnya bila ada perubahan
program pengobatan pasien.
5. Memberikan asuhan keperawatan
dengan pendekatan proses
D
keperawatan sesuai dengan
kebutuhan pasien.
6. Memberikan bimbingan kepada
teman sekerja untuk memberikan D
asuhan keperawatan.
7. Memelihara hubungan kerja sama
yang baik dengan pasien dan D
keluarganya.
8. Membuat laporan harian ruangan
tentang pelaksanan asuhan D
keperawatan, perkembangan
pasien, masalah ketenagaan, dan
sarana.
9. Mengevalusi asuhan keperawatan
D
yang telah dilaksanakan.
10. Melaksanakan serah terima tugas
kepada penanggung jawab shift
D
selanjutnya secara lisan maupun
tulisan dengan benar.
11. Mewakili kepala ruangan apabila
berhalangan hadir atau tidak masuk D
kerja.
12. Melaksanakan penilaian kinerja
bagi pelaksana perawatan dan
tenaga lain dibagian perawatan D
yang berada dibawah tanggung
jawab untuk berbagai kepentingan.
13. Mengawasi dan menilai siswa atau
mahasiswa dari instansi pendidikan
keperawatan untuk memperoleh
pengalaman belajar, sesuai dengan D
tujuan program pendidikan yang
telah ditentukan oleh instansi
pendidikan yang bersangkutan.
TOTAL 13 0
Prosentase 100 % 0
Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan

73
Kesimpulan:
Dari hasil observasi selama 2 hari pada tanggal 21-22 Juni 2018
didapatkan bahwa masing-masing kepala tim telah melakukan tugasnya
sesuai SOP.

c. Perawat Pelaksana

Tabel 3.37 Tugas perawat pelaksana di Ruang Diponegoro RSUD


Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

Tidak
Uraian Tugas Dilakukan
Dilakukan
1. Memelihara kebersihan ruang rawat
D
dan lingkungannya.
2. Menerima pasien baru sesuai dengan
prosedur dan ketentuan yang D
berlaku.
3. Memelihara peralatan keperawatan
dan medis agar selalu dalam D
keadaan siap pakai.
4. Melaksanakan program orientasi
kepada pasien tentang ruangan dan
lingkungan, peraturan,tata tertib
T
yang berlaku, fasilitas yang ada, cara
penggunaannya, serta kegiatan rutin
sehari-hari di ruangan.
5. Menciptakan hubungan kerjasama
yang baik dengan pasien dan D
keluarga.
6. Melakukan pengkajian keperawatan
D
sesuai dengan kemampuan.
7. Menyusun rencana keperawatan
D
sesuai dengan kemampuannya.
8. Melaksanakan tindakan keperawatan
kepada pasien sesuai dengan
kebutuhan dan batas
kemampuannya, antara lain:
a. Melaksanakan tindakan
pengobatan sesuai dengan D
program pengobatan.
b. Memberi penyuluhan kesehatan
pada pasien dan keluarganya D
mengenai penyakit.
9. Melatih atau membantu pasien untuk
D
melakukan latihan gerak.
10. Mendampingi visite dokter dan D

74
mencatatat instruksi dokter,
khususnya bila ada perubahan pada
program pengobatan pasien.
11. Melakukan pertolongan pertama
pada pasien dalam keadaan darurat
secara tetap dan benar sesuai dengan
kebutuhan. Selanjutnya segera D
melaporkan tindakan yang telah
dilakukan kepada dokter yang
bertanggung jawab.
12. Melakukan evaluasi tindakan
keperawatan sesuai dengan batas D
kemampuannya.
13. Membantu merujuk pasien pada
D
petugas kesehatan atau institusi lain.
14. Mengobservasi kondisi pasien,
selanjutnya melakukan tindakan
yang tepat berdasarkan hasil D
observasi tersebut, sesuai dengan
batas kemampuannya.
15. Berperan serta dengan anggota tim
kesehatan dalam membahas kasus
D
dan upaya meningkatkan mutu
keperawatan.
16. Melaksanankan tugas pagi, sore,
malam, dan hari libur secara
D
bergiliran sesuai dengan jadwal
dinas.
17. Mengikuti pertemuan berkala yang
D
diadakan oleh kepala ruang rawat.
18. Meningkatkan pengetahuan dan
D
keterampilan di bidang keperawatan.
19. Melaksanakan sistem pelaporan dan
pencatatan asuhan keperawatan yang
D
tepat dan benar sesuai dengan
standar asuhan keperawatan.
20. Melaksanakan serah terima tugas
kepada petugas pengganti secara
D
lisan maupun tertulis pada saat
pergantian dinas.
21. Melaksanakan perawatan pasien
dalam keadaan sakaratul maut dan
D
merawat jenazah sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
22. Menyiapkan pasien yang akan
pulang, meliputi:

75
a. Menyediakan formulir untuk
penyelesaian administrasi, seperti:
- Resep obat untuk dirumah, jika
diperlukan.
- Kelengkapan pengisian status
D
pasien.
- Surat rujukan atau pemeriksaan
ulang.
- Surat keterangan istirahat sakit,
jika diperlukan.
b. Memberi penyuluhan kesehatan
kepada pasien dan keluarganya
sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan pasien, mengenai:
- Diit.
- Pengobatan yang perlu
dilanjutkan dan cara
D
penggunaannya.
- Pentingnya pemeriksaan ulang
di rumah sakit atau institusi
pelayanan kesehatan lain.

- Cara hidup sehat, seperti cara


pengaturan makan dan istirahat.
c. Melatih pasien dalam
menggunakan alat bantu yang D
dibutuhkan.
d. Melatih pasien untuk
melaksanakan tindakan
D
keperawatan yang pernah
dilakukan di rumah sakit.
e. Mengantar pasien yang akan
pulang sampai pintu keluar ruang D
rawat.
23. Membuat resume saat pasien keluar
rumah sakit (pulang, pindah rumah D
sakit lain, rujuk, dan meninggal).
TOTAL 27 1
Prosentase 97% 3%
Keterangan:
D : Dilakukan
T : Tidak dilakukan
Kesimpulan:
Dari hasil observasi selama 3 hari pada tanggal 18-20 Juni 2018
didapatkan bahwa perawat pelaksana telah melakukan tugasnya 93%.

76
2. Pendokumentasian Proses Keperawatan
Berdasarkan hasil observasi pada satatus pasien didapatkan data bahwa:

Tabel 3.38 Pendokumentasian proses keperawatan di Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

Kode Berkas
No Aspek Yang Dinilai RM. RM. RM. RM. RM. RM. RM. RM. RM. RM.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A PENGKAJIAN
1 Mencatat data yang dikaji dengan pedoman √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
pengkajian
2 Data dikelompokkan (bio-psiko-sosio-spiritual) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Data dikaji sejak pasien masuk sampai pulang √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
4 Masalah dirumuskan berdasarkan kesenjangan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
antara status kesehatan dengan norma dan pola
fungsi kehidupan
SUB TOTAL 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
TOTAL 40
PRESENTASE % 100%
B Diagnosa keperawatan
1 Diagnosa keperawatan berdasarkan masalah yang √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
telah dirumuskan
2 Diagnosa keperawatan mencerminkan PE/PES √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Merumuskan diagnosa keperawatan actual/potensial √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
SUB TOTAL 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
TOTAL 30
PRESENTASE % 100%

77
C Rencana tindakan
1 Berdasarkan diagnosa keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Disusun menurut urutan prioritas √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Rumusan tujuan mengandung komponen √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
pasien/subjek perubahan, perilaku, kondisi pasien
dan atau criteria
4 Rencana tindakan mengacu pada tujuan dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kalimat perintah, terinci dan jelas
5 Rencana tindakan menggambarkan keterlibatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
pasien atau keluarga
6 Rencana tindakan menggambarkan kerjasama tim √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kesehatan lain
SUB TOTAL 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6
TOTAL 60
PRESENTASE % 100%
D Tindakan
1 Tindakan dilaksanakan sesuai rencana √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Perawat mengobservasi respon pasien terhadap √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
tindakan keperawatan
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil evaluasi √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
4 Semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
ringkas dan jelas
SUB TOTAL 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
TOTAL 40
PRESENTASE % 100%
E Evaluasi
1 Perawat mengevaluasi respon pasien sesuai dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kriteria hasil yang sudah ditentukan

78
2 Perawat mengevaluasi respon pasien, analisa √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
masalah keperawatan dan rencana tindak lanjut.
SUB TOTAL 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
TOTAL 20
PRESENTASE % 100%
F Catatan asuhan keperawatan
1 Menulis pada format yang baku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan yang √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
dilaksanakan
3 Setiap melakukan tindakan perawat mancantumkan √ √ - √ √ √ √ √ √ -
paraf/nama jelas dan tanggal jam dilakukan tindakan
4 Berkas catatan keperawatan disimpan sesuai dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
ketentuan yang berlaku.
SUB TOTAL 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3
TOTAL 38
PRESENTASE % 95%
Jadi :100%+100%+100%+100%+100%+95%= 397.8 %= 66.3%
6
Kesimpulan :

Dari hasil pendokumentasian keperawatan yang dilakukan oleh perawat pelaksana Ruang Diponegoro tanggal 18
Juni 2018 didapatkan total keseluruhan pendokumentasian yang dilakukan sebanyak 66.3%.

79
3. Sistem Perhitungan Tenaga Keperawatan
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan,
sistem penghitungan tenaga keperawatan dan non-keperawatan,
dilakukan setiap hari oleh kepala ruang Diponegoro dengan
menggunakan Rumus Gillies.
4. Jadwal/ Sift Dinas
Penanggung jawab shift
Penanggung jawab setiap shift adalah kepala ruangan.
Namun pada saat shift sore maupun shift malam penanggung
jawab shift didelegasikan kepada kepala jaga yang telah dijelaskan
lebih lanjut pada fungsi pengarahan dan pengawasan.

Pendistribusian tenaga setiap shift

Pembagian shift di ruangan dilakukan setiap akhir bulan


oleh Kepala Ruang. Sehingga dalam pendistribusian perawat jaga
tiap shift dengan jumlah total perawat didapatkan:

a. Jaga pagi : 6 orang


b. Jaga sore : 4 orang
c. Jaga malam : 4 orang.
5. Ketenagaan
a. Rencana Kebutuhan Tenaga

Berdasarkan hasil dalam wawancara dengan kepala ruangan,


menggunakan metode penghitungan Gillies, yang dijelaskan lebih
lanjut pada kebutuhan perawat. Kepala Ruangan Diponegoro
menghitung tingkat kebutuhan pasien dalam setiap hari, sedangkan
tingkat kebutuhan tenaga dihitung setiap tahun dengan metode
perhitungan Gillies. Sehingga hasil perhitungan yang telah
dilakukan dimasukkan kedalam laporan tahunan ruangan.

80
b. Penerimaan Pegawai Baru
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruangan, pegawai
baru yang akan masuk ke Rumah Sakit, sebelumnya diaadakan
penyeleksian terlebih dahulu oleh tim penyeleksi dari Rumah
Sakit.
6. Sistem Seleksi
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruangan, bahwa ruang
Diponegoro juga memiliki persyaratan untuk pegawai (perawat) yaitu
ada SIK dan SIP. Kepala Ruang Diponegoro mengatakan bahwa sistem
seleksi pegawai baru dilakukan oleh Bagian Kepegawaian dengan
system kridensial atau pun uji kompetensi.
7. Penempatan
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruangan, untuk ruang
Diponegoro masih belum bisa melakukan penempatan tenaga kerja
(perawat) sesuai dengan keahlian masing-masing di bidangnya. Karena
hampir sebagian perawat Ruang Diponegoro memiliki keahlian yang
hampir sama dan bersifat umum dan menyeluruh, dalam arti perawat
tidak menekuni hanya satu bidang khusus untuk dikuasai.
8. Orientasi Ruangan
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruangan, kepala ruangan
dan perawat-perawat yang bertugas di Ruang Diponegoro selalu
mengorientasikan setiap karyawan baru yang telah dipilih oleh BKD.
Orientasi diantaranya pengenalan anggota tenaga kerja yang ada di
ruangan, orientasi ruangan, peralatan, visi dan misi, peraturan-peraturan
yang berlaku di ruangan, system pengelolaan obat, SOP dll.

81
9. Jenjang Karier
Dalam Peningkatan jenjang karir di Ruang Diponegoro
berdasarkan golongan bagi perawat yang sudah PNS. Jenjang karir
mengalami peningkatan pada pegawai yang telah mencapai kredit poin
tertentu atau kurang lebih 4 tahun masa kerja. Kredit poin didapatkan
dari masing-masing pegawai mencari sendiri kredit pointnya, jika sudah
memenuhi bisa mengajukan hasil penilaian ke Kepala Ruangan dan
disetorkan kepada DP3 tiap akhir tahun untuk dilakukan penilaian akhir.

A. Pengarahan Dan Pengawasan


1. Komunikasi
a. Arah Komunikasi
Berdasarkan wawancara dengan kepala ruangan, jenis
komunikasi yang berhubungan dengan instruksi penugasan
dilakukan secara vertikal dari atasan ke bawahan, yaitu dari kepala
ruang kepada ketua tim kemudian ketua tim menyampaikan kepada
perawat penanggung jawab di masing-masing tim. Sedangkan
untuk komunikasi terkait informasi yang berkaitan dengan keadaan
di ruangan, dapat dilakukan baik dari atasan ke bawahan atau
sebaliknya. Komunikasi secara horizontal juga sering dilakukan
antar perawat, antar tim dan antar ketua tim dengan sifat
komunikasi yang terbuka.
b. Jadwal Pertemuan atau Rapat
Jadwal rapat rutin di ruangan ditetapkan 1 bulan sekali yaitu di
hari sabtu minggu kedua, namun pada pelaksanaannya terkadang
tidak dapat berjalan sesuai dikarenakan ada beberapa hambatan
seperti jadwal shif yang berbeda, selain itu karena padatnya
pelayanan di ruangan.
c. Faktor penghambat komunikasi
Untuk faktor penghambat komunikasi adalah adanya perbedaan
jadwal shift dari masing-masing perawat namun dalam hal ini dapat
diatasi dengan membicarakan masalah-masalah yang ada pada saat

82
pre conference dan operan dinas serta memanfaatkan media
komunikasi berupa grup di whatsapp ataupun media lainnya.
2. Motivasi
a. Cara Memotivasi Individu / Kelompok
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruangan, kepala ruang
Diponegoro memberikan motivasi perawat dengan cara lisan dan
dilakukan saat jam dinas yaitu pada saat pre conference atau
dilakukan pada saat rapat rutin dengan memberikan saran-saran
untuk mentaati ketentuan sesuai SOP agar perawat dapat bekerja
secara aman dan dapat meningkatkan kepuasan pasien.
b. System Reward atau Panishment
Berdasarkan wawancara dengan wakil kepala ruangan
sistem reward yang diberikan kepada perawat berupa
pemberangkatan perawat untuk pelatihan dan reward juga
diberikan melalui ucapan terima kasih yang disampaikan saat pre
conference untuk mengapresiasi kinerja perawat. Apabila, terdapat
pelanggaran akan diberikan punishment berupa peringatan secara
personal atas pelanggaran yang dilakukan untuk bisa dievaluasi,
jika pelanggaran tersebut berat akan dinaikkan ke direktur.
3. Supervise
a. Mekanisme
Pelaksanaan supervise dilakukan oleh kepala ruangan dan
petugas rawat inap seperti katim. Hal-hal yang disupervisi seperti
bagaimana perawat melakukan tindakan keperawatan,
pendokumentasian askep, identifikasi pasien, sistem pembuangan
limbah, atau standar-standar prosedur dan kebijakan yang telah
ditetapkan ruangan. Selain dilakukan ke perawat ruangan,
supervise juga dilakukan ke pasien dengan mengevaluasi apa yang
dilakukan perawat pada pasien apakah sudah dilakukan dengan
benar atau tidak. Tidak ada jadwal tetap untuk supervise, tetapi
dilakukan ketika memungkinkan baik secara langsung maupun
tidak langsung, untuk supervise tidak langsung, dilakukan setiap

83
hari dengan memperhatikan kinerja perawat serta lingkungan
ruangan, sedangkan untuk supervise secara langsung dilakukan
sebagai rangkaian tahapan penilaian kinerja perawat selama
beberapa kali dalam setahun. Dari hasil supervise tidak langsung,
apabila terdapat ketidaksesuaian terhadap SOP, maka akan dibahas
saat pre conferencedengan membacakan SOP yang benar-benar
perlu diperhatikan dan dipatuhi perawat atau memperingatkan
secara personal. Pendokumentasian hasil supervisi dimasukkan
dalam penilaian kinerja perawat. Supervisi juga dilakukan oleh tim
komite keperawatan dari rumah sakit ke ruangan.
b. Faktor Penghambat
Dalam pelaksanaan supervise terdapat penghambat seperti
keterbatasan waktu dan kegiatan kepala ruangan yang banyak
sehingga tidak dapat dilaksanakan secara optimal.
4. Pendelegasian
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang dalam
proses pendelegasian tugas, wewenang dan tanggung jawab
ditentukan oleh kepala ruangan, misalnya mendelegasikan tugas
kepala ruangan kepada wakil kepala ruangan apabila kepala ruangan
berhalangan serta mendelegasikan tugas-tugas kepada ketua tim. Alur
pendelegasian dilakukan dari atasan ke bawahan dengan
menggunakan form pendelegasian. Dalam pelaksanaannya hambatan
yang muncul adalah adanya kesungkanan dikarenakan bawahan yang
usianya serta pengalaman kerja yang lebih lama daripada atasan.
5. Mekanisme Penyelesaian Masalah: Manajemen Konflik
Dalam hasil wawancara dengan kepala ruang konflik yang ada
di Ruang Diponegoro diselesaikan secara kekeluargaan. Apabila
terdapat konflik atau permasalahan akan diselesaikan secara internal
bersama kepala ruangan. Serta diupayakan sistem rolling tim
keperawatan untuk menghindari konflik akibat kejenuhan dan ada
variasi susunan tim keperawatan.

84
B. Pengendalian
1. Penampilan kerja
a. Penilaian kinerja
Pada Ruang Diponegoro setiap tahun mengikuti tes penilaian
kerja untuk mengukur seberapa berkompetensinya perawat di
RSUD Kanjuruhan Kepanjen terutama di Ruang Diponegoro. Tes
ini biasanya dilakukan serentak.
b. Alat penilaian kinerja
Penilaian kinerja ini dilakukan serentak di seluruh wilayah
Kabupaten Malang dengan menggunakan alat penilaian DP3
(Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan).
c. Hasil penilaian kinerja
Hasil penilaian kinerja dengan menggunakan penilaian DP3
satu kali setiap akhir tahun.

85
2. Pengendalian mutu (IKM dan SASARAN MUTU RS BULAN
MEI)

Tabel 3.39 Laporan Pencapaian Standart Pelayanan


Minimal RSUD Kanjuruhan Kepanjen Tahun 2018

Hasil Ket
No Indikator Standart
Jumlah %
1. Pemberi layanan 100% dilayani: 140/140 100% Tercapai
rawat inap a. Dokter
spesialis
b. Perawat
minimal D3
2. Dokter penanggung 100% 140/140 100% Tercapai
jawab pasien rawat
3. Ketersediaan Pelayanan :
pelayanan rawat inap
a. anak

b. dalam V

c. Obgyn

d. Bedah V

4. Jam visit dokter 100% (08.00- 173/176 98% Tidak


spesialis 14.00) setiap tercapai
hari
5. Kejadian infeksi ≤1,5 % 0 0% Tercapai
pasca operasi

6. Kejadian infeksi ≤1,5 % 0 0% Tercapai


nosokomial

7. Tidak adanya 100% 0 100% Tercapai


kejadian pasien jatuh
yang berakibat
kecacatan atau
kematian

8. Kematian pasien >48 0,24 % 0 0 Tercapai


jam

9. Kejadian pulang ≤ 5% 10/122 8% Tidak


paksa tercapai

86
10. Kepuasan pelanggan ≥ 90% 89,84 89,84 Tidak
% tercapai

11. Rawat inat TB 100% -

a. Penegakan 100% -
diagnosis TB
melalaui
pemeriksaan
mikroskopis TB
b. Terlaksananya -
kegiatan
pencatatan dan
pelaporan TB
12. Ketersediaan -
pelayanan Rumah
Sakit yang
memberikan pelayan
jiwa
13 Tidak adanya -
kejadian kematian
pasien gangguan
jiwa karena bunuh
diri
14. Kejadian re- -
admission pasien
gangguan jiwa dalam
waktu 1 bulan
15. Lama hari perawatan -
pasien gangguan
jiwa

87
Tabel 3.40 Sasaran Mutu Tahun 2018 Bulan Mei
Penanggung Metode Hasil Analisis
No Parameter Target Strategi Pencapaian Frekuensi
Jawab Pengukuran pengukuran
(jumlah
pengkajian
awal medis
pasien di
Rawat Inap
yang lengkap
1. Penekanan kepada dalam 24 jam
petugas untuk tertib selama
Kelengkapan administrasi dan tertin periode waktu
pengkajian awal pelayanan pasien sesuai Kepala satu bulan) 140/140 x
1 100% Bulanan Tercapai
dengan standart
medis pasien rawat Instalasi ……x100% 100% = 100
akreditasi.
inap dalam 24 jam 2. Melakukan evaluasi (Jumlah
pelaksanaan pengkajian seluruh
awal pengkajian
awal medis
pasien baru di
rawat inap
dalam periode
waktu satu
bulan)
Ketepatan waktu 1. Penekanan kepada (jumlah 128/128
petugas untuk tertib Kepala pemberian Tercapai
2 pemberian injeksi 100% Bulanan x100%=
administrasi dan tertin Instalasi antibiotika
antibiotika pada pelayanan pasien sesuai 100%

88
pasien rawat inap dengan standart yang
akreditasi. diinjeksikan
2. Melakukan evaluasi tepat waktu
pelaksanaan pemberian
selama satu
injeksi antibiotika
bulan)
……x100%
(Jumlah
seluruh
pemberian
injeksi
antibiotika
selama satu
bulan)
(Junlah pasien
1. Penekanan kepada
petugas untuk tertib yang
administrasi dan tertin mengalami
pelayanan pasien sesuai kejadian
dengan standart pemberian
Kejadian akreditasi. obat tidak
pemberian obat 2. Melakukan evaluasi Kepala sesuai prinsip 0/140 x 100%
3 0% Bulanan tercapai
pemberian obat sesuai
tidak sesuai prinsip Instalasi 7 benar dalam = 0%
prinsip tujuh benar, yaitu
tujuh benar : benar pasien, benar satu bulan)
obat, benar dosis, benar ……x100%
waktu, benar cara/rute (Jumlah
pemberian obat, benar pasien dalam
dokumentasi dan benar bulan
informasi tersebut)

89
(Junlah pasien
pra operatif
efektif yang
dilakukan
penandaan
1. Peningkatan kedisiplinan bagian tubuh
dan keakuratandalam saat akan
memberikan pelayanan dilakukan
kepada pasien pembedahan)
Kepatuhan 2. Ketepatan penandaan ……x100%
penandaan pada bagian tubuh yang akan Kepala 28/28 x 100% tercapai
4 100% Bulanan (Jumlah
pasien pra operasi dilakukan pembedahan. Instalasi = 100%
3. Melakukan evaluasi dan seluruh pasien
yang efektif
pencatatan proses pra operasi
penandaan bagian tubuh efektif yang
yang akan dilakukan perlu
penandaan dilakukan
penandaan
bagian tubuh
saat akan
dilakukan
pembedahan)
1. Melakuakn pengecekan (Jumlah
setiap pasien yang masuk pasien rawat
Ketepatan ke ruang perawatan harus Kepala inap yang 140/140 x Tercapai
5 memasang gelang 100% sudah memakai gelang Bulanan
Instalasi dipasang 100% = 100%
identitas pasien pasien
2. Memastikan ketepatan gelang
identitas dalam gelang identitas

90
pasien dengan benar
3. Melakukan evaluais dan dan tepat)
pencatatan pemakaian ……x 100%
gelang pasien
(Jumlah
seluruh pasien
rawat inap)
(Jumlah
instruksi
medis verbal
1. Peningkatan komunikasi
yang telah
dengan medis
Kepatuhan 2. Peningkatan kedisiplinan dilakukan
melakukan dalam melakukan Kepala TULBAK 99/99x100%= Tercapai
6 100% Bulanan
instruksi medis instruksi medis verbal Instalasi dengan benar) 100%
verbal (TULBAK) 3. Melakukan evaluasi dan …….x100%
pencatatan proses (jumlah
instruksi medis verbal
seluruh
instruksi
medis verbal)
(Jumlah Tidak
pasien pulang tercapau
1. Meningkatkan mutu atas .
Kejadian pasien pelayanan pasien permintaan
Kepala 10/122 Analisa
7 pulang atas < 5% 2. Meningkatkan Bulanan sendiri dalam
komunikasi dan edukasi Instalasi x100% = 8% tidak
permintaan sendiri kepada pasien dan 1 bulan) ada
keluarganya …….x100% biaya
(jumlah berobat
seluruh pasien

91
yang KRS
dalam bulan
tersebut)
1. Peningkatan pelayanan (Jumlah
2. Peningkatan pengawas pasien jatuh
pada pasien dalam satu
3. Peningkatan sarana dan bulan)
Angka kejadian prasarana Kepala 0/140 x 100% Tercapai
8 0% Bulanan …….x100%
pasien jatuh 4. Pemberian edukasi Instalasi = 0%
kepada pasien dan (jumlah
keluarganya seluruh pasien
5. Melakukan evaluasi dan pada bulan
pencatatan tersebut)
1. Penekanan kepada (format
petugas untuk tertib pengkajian
administrasi dan tertib resiko jatuh
Kepatuhan pelayanan, sebagai upaya Yng terisi
pengisian format peningkatan mutu lengkap)
pelayanan pasien sesuai Kepala 140/140 x tercapai
9 pengkajian resiko 100% Bulanan …….x100%
dengan standart Instalasi 100% = 1005
jatuh pasien rawat akreditasi. (format
inap 2. Melakukan evaluasi pengkajian
pengisian format resiko jatuh
pengkajian resiko jatuh yang harus
pada pasien rawat inap diisi)
1. Ruang perawatan (Jumlah
Pemantauan angka
merekap data pasien yang Kepala pasien yang 0/0x100% = Tercapai
10 kejadian cidera 0% Bulanan
dilakukan restrain dan Instalasi mengalami 0%
akibat restrain cidera yang terjadi akibat cidera akibat

92
pemasangan restrain. restrain)
2. Data kejadian cidera …….x100%
akibat restrain (Total pasien
dikumpulkan di bidang
yang dipasang
Pelayanan Keperawatan
3. Menganalisa hasil restrain)
laporan angka cidera
akibat pemasangan
restrai.
(Jumlah
pasien yang
1. Ruang perawatan tidak
merekap data pasien yang terpenuhi
tidak terpenuhi kebutuhan kebutuhan
dirinya dan jumlah pasien
diri)
yang dirawat dengan
tingkat ketergantungan …….x100%
Pemantauan angka parsial dan total. (Jumlah
Kepala 0/140x100% Tercapai
11 keterbatasan 0% 2. Data angka keterbatasan Bulanan pasien yang
Instalasi = 0%
perawatan diri perawatan diri dirawat
dikumpulkan di bidang dengan
Pelayanan Keperawatan tingkat
3. Menganalisa hasil
ketergantunga
laporan angka
keterbatasan perawatn n parsial dan
diri total dalam
bulan
tersebut)
Prosentase pasien 1. Ruang perawatan Kepala (Total pasien 140/140 x Tercapai
12 >90 % Bulanan
nyeri yang merekap data pasien Instalasi nyeri yang 100% = 100%

93
terdokumentasi nyeri yang terdokumenta
dalam askep didokumentasikan dalam si dalam
asuhan keperawatanndan asuhan
jumlah pasien yang
keperawatan)
dirawat di situ.
2. Data angka tata laksana …….x100%
nyeri dari ruang (total pasien
perawatan dikumpulkan yang dirawat
di bidang Pelayanan dalam bulan
Keperawatan tersebut)
3. Menganalisa hasil
laporan angka tata
laksana nyeri yang sudah
terkumpul dari Ruang
Perawatan
1. Ruang perawatan (Pasien yang
merekap data pasien yang tidak dibuat
dibuat discharge planning discharge
yang dirawat saat itu.
planning
2. Data angka discharge
Pemantauan angka planning dari ruang dalam bulan
perencanaan pasien perawatan dikumpulkan Kepala tersebut) 0/140x100% Tercapai
13 <10 % Bulanan
pulang (Discharge di bidang Pelayanan Instalasi …….x100% = 0%
Planning) Keperawatan. (total pasien
3. Menganalisa hasil yang dirawat
laporan angka discharge dalam bulan
planning yang sudah
tersebut)
terkumpul dari Ruang
Perawatan

94
Jumlah
kumulatif
hasil
penilaian
1. Melaksanakan
kepuasan dari
penyebaran kuisioner
kepada pasien, dan pasien yang 53.785
Kepuasan Tidak
keluarga pasien rawat Kepala disurvei 60
14 pelanggan rawat >90 % Bulanan tercapai
inap Instalasi ……..x100% × 100%
inap 2. Mengola data kuisioner Jumlah = 89.84%
kepuasan pelanggan seluruh pasien
3. Pencatatan dan pelaporan
yang disurvei

Ket minimal
nilai 50

95
3.2 ANALISA SWOT
1. M1 (Man)

Tabel 3.41 Analisa SWOT Man

Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Internal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Strength (kekuatan)
Jumlah tenaga keperawatan di ruang Diponegoro 21 perawat dengan
6/126
interpretasi 3 orang berpendidikan Ners dan 18 orang berpendidikan 1 6 6 4 0,16
=0,04
D III Keperawatan
Jumlah tenaga keperawatan yang telah mengikuti BCLS 11 orang, 7
orang mengikuti pelatihan pelayanan prima, 7 orang pernah 6/126
2 6 12 4 0,4
mengikuti pelatihan MAKP, dan 2 orang pernah mengikuti pelatihan = 0,1
manajemen
Adanya struktur organisasi instalasi rawat inap, struktur MAKP 30/126
5 6 30 4 0,92
=0,23
Adanya tenaga non keperawatan
36/126
a. dua transporter 6 6 36 3 0,9
= 0,3
b. dua administrasi
Kebutuhan tenaga perawat selama tiga hari pengkajian menurut 24/126
4 6 24 4 0,76
Gillies 9 perawat (jumlah perawat di Ruang Diponegoro 14 perawat) =0,19
Masa kerja tenaga keperawatan :
>15 tahun : 8 orang 18/126
3 6 18 3 0,42
6-14 tahun : 11 orang = 0,14
<5 tahun : 2 orang

96
TOTAL 126 1 3,56
Skala Konstsnta SP x
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Prioritas (K) K
Weakness (kelemahan)
Sebanyak 12 orang perawat di Ruang Diponegoro belum mengikuti 4/6
2 2 4 2 1,4
MAKP = 0,7
Sejumlah 60 % tingkat kepuasan perawat masuk kategori tidak puas 2/6
1 2 2 1 0,3
(instrument kepuasan perawat) = 0,3
TOTAL 6 1 1,7
Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Eksternal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Opportunity (peluang)
Adanya peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih 6/18
2 3 6 3 1,2
tinggi = 0,3
Adanya kesempatan pelatihan MAKP kepada perawat yang belum 3/18
1 3 3 4 0,8
mengikuti pelatihan MAKP di ruang bedah = 0,2
9/18
Adanya kerjasama dengan institusi pendidikan Ners 3 3 9 2 1,0
= 0,5
Total 18 1 2,7
Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Eksternal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Threat (ancaman)
0 0 0
Total 0 0

97
Perhitungan SWOT
Skor Faktor Internal (x) = skor kekuatan – skor kelemahan atau “S – W”
= 3,56 – 1, 17 = 2,39
Skor Faktor Eksternal (y) = skor kesempatan – skor ancaman atau “O - T”
= 2,7 – 0 = 2,7

98
2. M2 (Material & Machine)
Tabel 3.42 Analisa SWOT Material

Skala Konst
SP x
Faktor Strategi Internal Prioritas anta Bobot Rating Skor
K
(SP) (K)
Strength (kekuatan)
1. Terdapat administrasi penunjang (misalnya: buku injeksi, buku 8/40
TTV, buku laporan tim, SOP, dll) yang memadai. 2 4 8 =0,2 4 0,8

2. Tersedianya nurse station 4/40


1 4 4 4 0,4
=0,1
3. Sarana dan prasarana yang memadai 12/40
3 4 12 3 0,9
=0,3
4. Inventaris alat medis lebih 16/40
4 4 16 3 1,2
=0,4

TOTAL 40 1 3,3
Konst
Skala SP x
Faktor Strategi Internal snta Bobot Rating Skor
Prioritas K
(K)
Weakness (kelemahan)
1. Inventaris alat tenun kurang
1 1 1 1 1 1
TOTAL 1 1 1
Skala Konst SP x
Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor
Prioritas anta K

99
(SP) (K)
Opportunity (peluang)
1. Adanya kesempatan ruangan untuk mengajukan perbaikan dan
penambahan fasilitas ruangan sesuai dengan kebijakan yang
1 1 1 1/1=1 3 3
telah ada.

Total 1 3
Skala Konst
SP x
Faktor Strategi Eksternal Prioritas anta Bobot Rating Skor
K
(SP) (K)
Threat (ancaman)
1. Adanaya ruang lain yang memiliki semua fasilitas yang cukup 1 1 1 1 2 2
Total 1 1 2

Perhitungan SWOT
Skor Faktor Internal (x) = skor kekuatan – skor kelemahan atau “S – W”
= 3,3– 1 = 2,3
Skor Faktor Eksternal (y) = skor kesempatan – skor ancaman atau “O - T”
= 1-2 = -1

100
3 M3 (Method)
Tabel 3.43 Analisa SWOT Method

Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Internal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Strength (kekuatan)
1. Rumah sakit dan ruangan memiliki visi misi sebagai acuan 20/67
4 5 20 4 1,16
dalam melaksanakan kegiatan pelayanan. =0,29
2. Ruangan Diponegoro menggunakan metode MPKP 5/67
1 5 5 3 0,21
Modifikasi Tim Primer. = 0,07
3. A. Pre conference di Ruang Diponegoro sudah dilakukan 85
%. 15/67
3 5 15 3 0,6
B. Timbang terima di Ruang Diponegoro sudah dilakukan 55 =0,2
%
4. Ronde keperawatan sudah dilakukan satu bulan sekali 10/67
2 5 10 3 0,42
=0,14
5. Discharge planning 25/67
5 5 25 3 0,9
=0,3
TOTAL 67 1 3,29
Skala Konstsnta SP x
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Prioritas (K) K
Weakness (kelemahan)
1. Post conference di Ruang Diponegoro masih 40 % 16/40
4 4 16 2 1
=0,5
8/40
2. Penerimaan pasien baru masih dilakukan 42% 2 4 8 1 0,2
=0,2

101
3. Untuk pemberian obat kepada pasien hanya ditulis nama dan 4/40
1 4 4 1 0,1
nomer tempat tidur dispuit =0,1
12/40
4. Supervisi masih dilakukan 40 % 3 4 12 2 0,6
=0,3
TOTAL 40 1 1,9
Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Eksternal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Opportunity (peluang)
3/18
1. Adanya kemauan perawat untuk melaksanakan sesuai SPO 1 3 3 3 0,48
=0,16
Total 18 1 2,66
Skala
Konstanta SP x
Faktor Strategi Eksternal Prioritas Bobot Rating Skor
(K) K
(SP)
Threat (ancaman)
1. Adanya ruangan lain yang melaksankan penerimaan pasien baru,
1 1 1 1/1=1 1 1
sentralisasi obat,
Total 1 1 1

Perhitungan SWOT
Skor Faktor Internal (x) = skor kekuatan – skor kelemahan atau “S – W”
= 3,29 – 1,9 = 1,39
Skor Faktor Eksternal (y) = skor kesempatan – skor ancaman atau “O - T”
= 2,66 – 1 = 1,66

102
4 M4 (MONEY)

Tabel 3.44 Analisa SWOT Money

Faktor Strategi Internal Skala Prioritas Konstanta SP x K Bobot Rating Skor


Strength (Kekuatan)
Adanya pemberian gaji bagi perawat sebagai hak yang
1 2 2 2:6=0.3 4 1,2
dimilikinya
Adanya jasa pelayanan sesuai haknya 2 2 4 4:6=0.7 3 2,1
Total 6 1 3.3
Faktor Strategi Internal Skala Prioritas Konstanta SP x K Bobot Rating Skor
Weaknesss (Kelemahan)
Adanya ketidak puasan dari gaji yang diterima 1 1 1 1:1 = 1 1 1
Total 1 1 1
Faktor Strategi Eksternal Skala Prioritas Konstanta SP x K Bobot Rating Skor
Opportunity (O)
Pengeluaran ruangan dibiayai oleh rumah sakit 1 1 1 1:1 = 1 1 1
Total 1 1 1
Faktor Strategi Eksternal Skala Prioritas Konstanta SP x K Bobot Rating Skor
Threat (T)
Tidak terdapat ancaman 0 0 0 1 0 0
Total 1 0
Perhitungan SWOT
Skor Faktor Internal (x) = skor kekuatan – skor kelemahan atau “S – W”
= 3.3 – 1 = 2.3
Skor Faktor Eksternal (y) = skor kesempatan – skor ancaman atau “O - T”
=1–0=1

103
5. M5 Mutu
Tabel 3.45 Analisa SWOT Mutu
Skala SP x
Faktor Strategi Internal Konstanta Bobot Rating Skor
Prioritas K
Strength (Kekuatan)
Sejumlah (60%) tingkat kepuasan pasien masuk kategori sangat
4:48 =
puas dengan pelayanan yang telah diberikan (instrument kepuasan 1 4 4 4 0.4
0.1
pasien)
Tingkat keamanan pasien dijaga dengan baik terlihat tidak adanya
8:48 =
pasien jatuh atau angka kejadian pasien jatuh 0% dan tingkat 2 4 8 4 0.64
0.16
kesalahan dalam memasukkan obat 0%
ALOS ruang Diponegoro selama 3 hari (18-20 Juni 2018)
9:48 =
didapatkan hasil perhitungan 6 hari. Dan idealnya 6-9 hari 3 3 9 3 0.54
0.18
(Nursallam, 2015)
Adanya variasi jenis pasien berdasarkan pembiayaan (BPJS, 12:48 =
4 3 12 3 0.75
asuransi swasta, dan umum) 0.25
15:48 =
Sebagai tempat praktik mahasiswa keperawatann profesi ners 5 3 15 3 0.93
0.31
Total 48 1 3.26
Skala SP x
Faktor Strategi Internal Konstanta Bobot Rating Skor
Prioritas K
Weaknesss (Kelemahan)
BOR di ruang diponegoro selama 3 hari (18-20 Juni 2018) di
2:6 =
dapatkan nilai 27% dan BOR yang ideal adalah antara 75 - 85% 1 2 2 2 0.6
0.3
(Nursallam, 2015)
Pengetahuan terhadap cuci tangan didapatkan 80% pasien/keluarga 4:6 =
2 2 4 1 0.7
memiliki pengetahuan yang rendah mengenai kepatuhan dan cara 0.7

104
cuci tangan yang benar.
Total 6 1 1.3
Skala SP x
Faktor Strategi Eksternal Konstanta Bobot Rating Skor
Prioritas K
Opportunity (O)
2:6 =
Mahasiswa profesi ners praktik keperawatan manajemen 1 2 2 0.3 4 1.2

4:6 =
Adanya kerjasama yang baik antara perawat dan mahasiswa 2 2 4 4 2.8
0.7
Total 6 1 4
Skala SP x
Faktor Strategi Eksternal Konstanta Bobot Rating Skor
Prioritas K
Threat (T)
Tidak terdapat ancaman 0 0 0 1 0 0
Total 1 0
Perhitungan SWOT
Skor Faktor Internal (x) = skor kekuatan – skor kelemahan atau “S – W”
= 3.26 – 1.3 = 1.96
Skor Faktor Eksternal (y) = skor kesempatan – skor ancaman atau “O - T”
=4–0=4

105
3.2.1 Kurva SWOT
4
m5
3
m1
2
m3
1 m4
0
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
-1 m2

-2

-3

-4

Keterangan :
M1 (man) = 2,39 : 2,7
M2 (material) = 2,3 : -1
M3 (methode) = 1,39 : 1,66
M4 (money) = 2,3 : 1
M5 (mutu) = 1,96 : 4
Berdasarkan analisa SWOT di atas, didapatkan hasil, hanya M2 yang
masuk Kuadran II dengan nilai koordinat (2,3 : -1) sehingga M2 sangat
memungkinkan untuk diangkat menjadi masalah. Sedangkan M1, M3, M4 dan
M5 masuk pada Kuadran I, tetapi M3 dan M5 memiliki nilai koordinat rendah jika
dibandingkan dengan M1 dan M4. Sehingga M3 dan M5 masih dalam batas
wajar, namun juga pelu diwaspadai. Untuk M1 dan m4 masing-masing memiliki
nilai perbandingan yang cukup tinggi maka dalam posisi aman.

106
3.2.2 Daftar Masalah
1. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang pentingnya cuci
tangan.
2. Tidak terisinya lembar persetujuan sentralisasi obat di buku RM 11a
poin 7
3. Belum dilaksanakannya penerimaan pasien baru sesuai SPO
4. Tidak adanya tanda tangan persetujuan dilembar pemberian obat
5. Kurangnya identifikasi pada spuit yang akan diinjeksikan pada pasien.
6. Operan tidak sesuai dengan SPO
7. Leaflet tidak diberikan ketika pasien pulang.

107
BAB IV

PRIORITAS MASALAH, ALTERNATIF PRIORITAS MASALAH


DAN POA PENYELESAIAN MASALAH MANAJEMEN
KEPERAWATAN DI RUANG DIPONEGORO

Setelah dilakukan pengkajian selama 3 hari (18 Juni – 20 Juni 2018),


didapatkan beberapa permasalahan di ruang Diponegoro, untuk menyelesaikan
masalah tersebut maka perlu ditentukan prioritas masalah dan plan of action dari
setiap masalah yang diangkat.

4.1 Penentuan Prioritas Masalah


Teknik prioritas masalah yang digunakan disini adalah “teknik criteria
Matriks (criteria matrix technique)”, yaitu teknik pemungutan suara dengan
menggunakan criteria tertentu. Secara sederhana dapat dibedakan menjadi 5
macam yaitu :
1. Magnitude (Mg) : beberapa banyak populasi yang terkena masalah.
2. Severity (Sv) : besarnya kerugian yang timbul.
3. Managibility (Mn): bisa diselesaikan.
4. Nursing Concern (Nc) : menunjukkan sejauh mana masalah tersebut
menjadi concern perawat.
5. Affordability (Af) : menunjukkan ada tidaknya sumberdaya yang tersedia.
Tabel 3.46 Penentuan prioritas masalah di Ruang Diponegoro RSUD
Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
No Masalah Mg Sv Mn Nc Af Total Prioritas
1 Kurangnya
pengetahuan
pasien dan
5 5 4 4 4 22 I
keluarga tentang
pentingnya cuci
tangan.
2 Belum terisinya
lembar persetuan
sentralisasi obat 4 4 4 4 4 20 III
di buku RM 11a
poin 7

108
3 Belum
dilaksanakannya
penerimaan
4 4 3 4 3 18 V
pasien baru
sesuai SPO

4 Tidak adanya
tanda tangan
persetujuan 5 4 5 4 3 21 II
dilembar
pemberian obat
5 Kurangnya
identifikasi pada
spuit yang akan 5 4 4 3 3 19 IV
diinjeksikan
pada pasien.
6 Operan tidak
sesuai dengan 4 4 3 3 3 17 VI
SPO
7 Leaflet tidak
diberikan ketika 4 4 3 2 3 13 VII
pasien pulang

4.2 Penentuan Prioritas Cara Pemecahan Masalah


Prioritas cara pemecahan masalah dilakukan dengan memperhatikan aspek :
1. Besarnya masalah yang diselesaikan (magnitude = Mg)
2. Pentingnya cara penyelesaian masalah (importancy = I)
3. Sensitivitas penyelesaian masalah (vulnerability = V)
4. Efisiensi biaya ( efficiency = E)

Nilai yang diberikan pada aspek 1 sampai 5 (nilai 1 = sangat


kurang penting, nilai 2 = kurang penting, nilai 3 = cukup penting, nilai 4 =
penting dan nilai 5 = sangat penting)

Tabel 3.47 Penentuan prioritas cara pemecahan masalah di


Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang
Efektifitas Efisien Total
Alternative
No MxIxV/ Prioritas
Penyelesaian Masalah M I V E
E
1. Kurangnya pengetahuan
pasien dan keluarga 4 5 5 5 20 IV
tentang pentingnya cuci

109
tangan.
2. Tidak terisinya lembar
persetuan sentralisasi V
4 4 3 3 16
obat di buku RM 11a
poin 7
3. Belum dilaksanakannya
penerimaan pasien baru 5 4 3 3 20 III
sesuai SPO
4. Tidak adanya tanda
tangan persetujuan II
5 4 4 3 27
dilembar pemberian
obat
5. Kurangnya identifikasi
pada spuit yang akan I
5 4 4 3 27
diinjeksikan pada
pasien.
6. Operan tidak sesuai VI
4 3 3 2 18
dengan SPO
7. Leaflet tidak diberikan VII
2 3 2 2 6
ketika pasien pulang

110
4.3 POA (Planing Of Action)
Tabel 3.48 Rencana tindak lanjut (POA) di Ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kepanjen Kab. Malang

Indikator /
Alternatif Penyelesaian Penanggung
Masalah Tujuan target Waktu Evaluasi
Masalah/Program/Kegiatan jawab
keberhasilan
Kurangnya Meningkatkan 1. Memasang poster Semua pasien
pengetahuan pengetahuan 2. Penyuluhan mengerti 100% sudah
pasien dan tentang cuci pentingnya cuci mengetahui 6
Minggu langkah cuci
keluarga tentang tangann dan tangan dan bisa Dian Ratna
ke 3 tangan dan 5
pentingnya cuci praktek cuci melakukan cuci momen cuci
tangan tangan tangan dengan tangan
benar
Tidak adanya Pasien percaya Terisinya
tanda tangan dengan tindakan lembar 100% sudah
persetujuan yang dilakukan Menyarankan pasien atau pemberian obat dimintakan
Siti Auliya Minggu
dilembar oleh perawat keluarga untuk tanda tangan oleh tanda tanda tangan
Ulfah ke 3 persetujuan
pemberian obat di lembar pemberian obat tangan pasien
atau keluarga pemberian obat
pasien.
Tidak terisinya Agar keluarga 1. Melakukan persetujuan
lembar pasien percaya sentralisasi obat di RM Terisinya RM
persetujuan bahwa obat yang 11a poin nomor 7 11a poin nomor 100% buku RM
Fajar Minggu
sentralisasi obat sudah ditebus 2. Membuat lembar balik 7 dan terisinya 11a poin 7
Isdiyanto ke 3 sudah terisi.
di buku RM 11a benar-benar sentralisasi obat buku serah
poin 7 disimpan dengan 3. Mengaktifkan kembali terima obat
baik oleh perawat buku serah terima obat

111
Kurangnya Agar tidak salah 100% sudah
Tidak lagi
identifikasi pada pemberian obat dilakukan
Memberikan etiket dispuit menulis nama Siti Auliya Minggu
spuit yang akan antar pasien pemberian etiket
yang sudah dioplos obat dan nomor Ulfah ke 3 pada spuit
diinjeksikan pada
tempat tidur injeksi
pasien
Belum Agar keluarga
dilaksanakannya pasien dan pasien
penerimaan tahu batas 100% sudah
Melakukan
pasien baru sesuai berkunjung, dilaksanakan
penerimaan Kiki Putri Minggu
SPO tempat-tempat Membuat lembar balik penerimaan
pasien sesuai Nirwana ke 3 pasien baru
yang ada di
dengan SPO sesuai SPO
ruangan serta
kepala (ketua)
ruangan.
Operan tidak Agar pasien dan
sesuai dengan keluarga pasien
SPO tahu jika sudah Melaksanakan 100% operan
Memberikan contoh operan Minggu
pergantian shif operan sesuai M.Yusuf sudah sesuai
sesuai SPO selama role play Ke-3 dengan SPO
dan perawat yang SPO
menjaga sudah
berganti
Leaflet tidak Agar pasien bisa 100% leflet
diberikan ketika membaca ilmu Selalu sudah diberikan
pasien pulang yang di dapat dari Memberikan leaflet saat memberikan Suhari Minggu kepada pasien
RS ketika mereka pasien pulang leaflet ketika Wiyono Ke-3 yang
sudah di rumah pasien pulang diperbolehkan
pulang

112
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Implementasi
1. Tidak adanya tanda tangan persetujuan dilembar pemberian obat dan
kurangnya identifikasi pada spuit yang akan diinjeksikan pada pasien
Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Melekatkan etiket 02 Juli sampai 07 Siti Auliya Ulfah


pada spuit yang akan Juli 2018
diinjeksikan kepada
pasien
2. Memintakan tanda 02 Juli sampai 07 Siti Auliya Ulfah
tanga bukti Juli 2018
pemberian obat pada
pasien atau keluarga
pasien

Berdasarkan tabel di atas, setiap kali kami berdinas selalu


menempelkan etiket di spiut yang akan diinjeksikan dan kami juga
memintakan tanda tangan persetujuan di lembar pemberian obat, baik itu
obat oral maupun obat injeksi kepada pasien atau keluarga pasien.

2. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang pentingnya cuci


tangan.
Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Membuat SAP cuci 02 Juli 2018 Dian Ratna


tangan
2. Memberikan 03 Juli 2018, 05 Dian Ratna
sosialisai tentang cuci Juli 2018 dan 09
tangan (6 langkah Juli 2018
cuci tangan dan 5
momen cuci tangan)
dengan media leflet
dan lembar balik

113
Berdasarkan tabel di atas, setelah kami membuat SAP, lembar
balik dan lefleat cuci tangan 6 langkah dan 5 momen, kami mulai
melakukan penyuluhan (sosialisasi) pada hari selasa di ruang tunggu
lantai 3. Kami juga mebagikan lefleat kepada audiens.

3. Operan tidak sesuai dengan SPO


Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Membuat jadwal shift 02 Juli 2018 M. Yusuf


untuk mahasiswa
2. a. Pagi 4 orang (1 03 Juli sampai 07 M. Yusuf
Karu, 1 Katim, 2 Juli 2018
Perawat pelaksana
b. Siang 1 orang
(perawat
pelaksana)
c. Malam 1 orang
(perawat
pelaksana)

Berdasarkan tabel di atas, untuk implementasi operan yang tidak


sesuai dengan SPO, kami dijadwalkan untuk shif dan di pagi hari ada
yang bertindak sebagai karu, yang bertugas untuk memimpin saat operan
baik ada kepala ruang Diponegoro dan ketika kelapa ruang Diponegoro.

4. Belum terisinya lembar persetujuan sentralisasi obat di buku RM 11a poin


7
Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Membuat lembar 03 Juli sampai 04 Fajar Isdiyanto


balik tentang Juli 2018
sentralisasi obat
2. Mengaktifkan 05 Juli sampai 07 Fajar Isdiyanto
kembali buku serah Juli 2018
terima obat.

114
Berdasarkan tabel di atas, untuk pelaksanaan sentralisasi obat kami
sebelumnya membuat lembar balik untuk menjelaskan kepada pasien alur
untuk penebusan obat sampai penyimpanan obat yang dilakukan oleh
perawat ruangan. Selain itu, kami juga membuat buku serah terima obat
sebagai bukti tertulis bahwa keluarga dan perawat telah melakukan
transaksi penerimaan obat.
5. Belum dilaksanakannya penerimaan pasien baru sesuai SPO
Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Membuat lembar 02 Juli sampai 03 Kiki Putri


balik tentang Juli 2018 Nirwana
penerimaan pasien
baru
2. Melakukan 05 Juli 2018, 09 Kiki Putri
penjelasan kepada Juli 2018 Nirwana
setiap pasien baru
tentang ruang
Diponegoro

Berdasarkan tabel di atas, masalah penerimaan pasien baru kami


membuatkan lembar balik yang berisi tenaga yang ada di Ruang
Diponegoro, fasilitas, peraturan, tarif dan tindakan.

6. Leaflet tidak diberikan ketika pasien pulang


Penanggung
No Kegiatan Pelaksanaan Jawab

1. Berdiskusi dengan 04 Juli 2018 Suhari Wijiyono


pembimbing rumah
sakit mengenai leflet
2. Membagikan leflet 06, 07 dan 09 Juli Suhari Wijiyono
setiap pasien pulang 2018

Berdasarkan tabel di atas, untuk leflet kami meminta saran kepada


pembimbing rumah sakit. Leflet yang diberikan kepada pasien dari rumah
sakit atau tidak. Dan pemebrian leflet dibagikan setiap pasien pulang.

115
5.2 Rencana Tindak Lanjut
1. Meminta tanda tangan bukti pemberian obat pada pasien atau keluarga
pasien dan memberikan identitas (etiket) dispuit yang akan diinjeksikan
kepada pasien.
Membiasakan perawat dan mahasiswa agar disiplin untuk meminta
tanda tangan bukti pemberian obat dan melekatkan etiket pada spuit yang
akan diinjeksikan, agar obat yang akan diberikan harus melewati prinsip 7
benar pemberian obat yaitu diantaranya benar pasien (cek identitas pada
resep, gunakan minimal 2 identitas yang meliputi nama, nomor rekam
medic atau tanggal lahir).
2. Sosialisasi cuci tangan
Keluarga pasien dapat mempraktikkan 6 langkah cuci tangan dan
mengerti 5 momen cuci tangan.
3. Operan sesuai SPO
Membiasakan perawat untuk tetap operan sesuai SPO walaupun
tidak ada kepala ruang Diponegoro.
4. Terisinya kembali lembar persetujuan sentralisasi obat.
Membiasakan perawat dan keluarga untuk melakukan serah terima
obat agar tidak terjadi kesalah pahaman di kemudian hari.
5. Penerimaan pasien baru sesuai SPO
Untuk meringankan pekerjaan perawat, ketika ada pasien baru
kepala ruang, ketua tim maupun perawat pelaksana tidak perlu
mendatangi tempat tidur pasien satu persatu cukup menjelaskan secara
singkat dengan media lembar balik yang ada di nurse station.
6. Pemberian leflet setiap pasien pulang
Selalu menyediakan leflet di ruangan untuk dibagikan kepada
pasien ketika pasien pulang.

116
5.3 Evaluasi
1. Meminta tanda tangan bukti pemberian obat pada pasien atau keluarga
pasien dan melekatkan etiket pada spuit yang akan diinjeksikan kepada
pasien
a. Evaluasi Struktur
Kami melakukan observasi, ternyata kelengkapan identitas dispuit
injeksi belum lengkap hanya ditulis nomer bed dan nama pasien saja,
ketika pemberian obat ke pasien tidak dimintakan tanda tangan bukti
pemberian obat. Kemudian kami berencana untuk melakukan
kelengkapan identitas dengan cara menempelkan etiket dispuit injeksi
dan memintakan tanda tangan bukti pemberian obat pada keluarga
atau pasien.
b. Evaluasi Proses
Dalam prosesnya kami selalu melekatkan etiket pada spuit yang
akan diinjeksikan agar kelengkapan identitas dispuit dan di gelang
pasien sama. Setelah obat diinjeksikan atau diberikan ke pasien, kami
selalu memintakan tanda tangan bukti di lembar pemberian, obat baik
itu obat injeksi maupun obat oral.
c. Evaluasi Hasil
Setelah dilakukan permintaan bukti tanda tangan dan penanyaan
kelengkapan identitas pasien, keluarga dan pasien mengerti tentang
pentingnya persetujuan dan kelengkapan identitas dalam pemberian
obat.
2. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga tentang pentingnya cuci
tangan.
a. Evaluasi struktur
Kami melakukan observasi ternyata masih banyak dari keluarga
pasien yang belum bisa cuci tangan 6 langkah dan 5 momen cuci
tangan. Kemudian kami berencana untuk melakukan penyuluhan cuci
tangan, dengan mempersiapkan SAP yang sebelumnya sudah
didiskusikan dengan pembimbing Rumah Sakit, pembuatan lembar
balik dan leaflet.

117
b. Evaluasi proses
Penyuluhan cuci tangan kami sampaikan di ruang tunggu lantai 3
pada hari selasa 03 Juli 2018, dan kami juga membagikan leflet.
c. Evaluasi hasil
Setelah dilakukan penyuluhan tentang cuci tangan pada tanggal 03
Juli 2018, keluarga pasien mulai memahami pentingnya cuci tangan
dan mempraktikkan cuci tangan dengan 6 langkah cuci tangan serta
tahu 5 momen cuci tangan, yang diikuti 15 orang, sekitar 10 orang
(67%) bisa melakukan 6 langkah cuci tangan dan bisa menyebutkan 5
momen cuci tangan, sedangkan 5 orang (33%) belum bisa melakukan
6 langkah cuci tangan dan belum bisa menyebutkan 5 momen cuci
tangan.
3. Operan tidak sesuai SPO
a. Evaluasi struktur
Kami melakukan observasi, ternyata operan masih belum
dilaksanakan sesuai SPO, apalagi ketika kepala ruang tidak ada.
Kemudian kami berencana untuk membuat jadwal shif pagi, siang dan
malam selama satu minggu, yang menjadi kepala ruang menjalankan
tugas sebagai mestinya kepala ruang sesungguhnya ketika operan.
b. Evaluasi proses
Pembagian jadwal untuk role play dimulai tanggal 02 Juli sampai
07 Juli 2018 di Ruang Diponegoro lantai 3
c. Evaluasi hasil
Setelah dilakukan roleplay beberapa hari, setiap pagi rutin
dilakukan operan. Walaupun, kepala ruang berhalangan hadir, operan
tetap dilakukan sesuai SPO.
4. Tidak terisinya lembar persetujuan sentralisasi obat di buku RM 11a poin
7.
a. Evaluasi struktur
Selama kami melakukan pengkajian di ruang Diponegoro. Ketika
keluarga pasien menyerahkan obat yang sudah ditebis di farmasi tidak
ada bukti tertulis untuk sentralisasi obat. Sehingga kami berencana

118
membuat lembar balik untuk menjelaskan alur sentralisasi obat dan
mengaktifkan kembali buku persetujuan sentralisasi obat.
b. Evaluasi proses
Dalam proses pelaksanaan sentralisasi obat kami membuat lembar
balik tentang sentralisasi obat sampai tanda tangan bukti pemberian
obat. Yang sebelumnya kami diskusikan dulu dengan pembimbing
rumah sakit, setelah disetujui kami mencetak lembar balik tersebut.
Selain itu, kami juga membuatkan buku persetujuan sentralisasi obat
sebagai bukti tertulis bagi perawat dan keluarga pasien.
c. Evaluasi hasil
Setelah dilakukan penjelasan mengenai sentralisasi obat, pasien
dan keluarga mengerti alur dan tujuan adanya sentralisasi obat.
5. Belum dilaksanakannya penerimaan pasien baru sesuai SPO
a. Evaluasi struktur
Selama dilakukan pengkajian di Ruang Diponegoro, baik kepala
ruang, ketua tim maupun perawat pelaksana tidak menghampiri
tempat tidur pasien untuk menjelaskan ruang diponegoro baik itu
fasilitas yang ada sampai tariff dan tindakan. Sehingga kami
berencana membuatkan lembar balik mengenai ruangan hingga tariff
dan tindakan,
b. Evaluasi proses
Sebelum lembar balik dicetak, kami mendiskusikan terlebih dahulu
dengan pembimbing rumah sakit apa yang perlu dipaparkan ketika
penerimaan pasien baru.
c. Evaluasi hasil
Setelah diberikan lembar balik di nurse station mengenai
penjelasan secara umum ruang Diponegoro, perawat lebih mudah
menjelaskan kepada keluarga pasien dan keluarga pasien tidak
kebingungan untuk akses ke Diponegoro baik ke lantai 3 maupun
lantai 4. Pada tanggal 09 Juli 2018 ada 3 pasien baru, selalu dijelaskan
fasilitas, jumlah tenaga perawat dan peraturan.

119
6. Leaflet tidak diberikan ketika pasien pulang
a. Evaluasi struktur
Selama kami pengkajian, setiap pasien pulang tidak pernah
diberikan leflet. Sehingga kami berencana untuk memberikan leflet
setipa pasien yang diperbolehkan pulang
b. Evaluasi proses
Kami berdiskusi dengan pembimbing rumah sakit, untuk leflet dari
rumah sakit atau tidak. Setelah berdiskusi dengan pembimbing, leflet
yang akan dibagikan yaitu dari rumah sakit, yang sebelumnya kami
bertanya terlebih dahulu dengan ketua tim Diponegoro untuk
pengambilan leflet.
c. Evaluasi hasil
Di ruangan selalu tersedia leflet yang siap dibagikan ketika pasien
pulang.Pada tanggal 06, 07 dan 09 Juli 2018 ada 7 pasien KRS sudah
diberikan leflet.

120
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Setelah dilakukan implementasi selama kurang lebih 2 minggu, setiap
oplos obat spuit yang akan diinjeksikan ke pasien sudah diberi etiket
sesuai identitas pasien dan saat obat diberikan ke pasien juga dimintakan
tanda tangan persetujuan pemberian obat.
2. Setelah dilakukan penyuluhan cuci tangan baik saat di ruang tunggu
maupun ada pasien baru, keluarga pasien dapat menerapkan cuci tangan 6
langkah dan 5 momen cuci tangan.
3. Setelah dilakukan implementasi kurang lebih 2 minggu, terdapat
peningkatan operan, seperti penyebutan jumlah pasien total care, parsial
maupun mandiri.
4. Setelah dilakukan implementasi kurang lebih 3 minggu, setiap keluarga
pasien selesai menebus obat di farmasi, dimintai tanda tangan bukti serah
terima obat.
5. Setelah dilakukan implementasi, ketika ada pasien baru selalu di orientasi
agar pasien dan keluarga pasien mengenali perawat yang berjaga, fasilitas
dan akses menuju ruang Diponegoro.
6. Setelah dilakukan implementasi kurang lebih 3 minggu, pemberian leflet
saat pasien pulang terlaksana sesuai dengan rencana.

121
6.2 Saran
1. Meminta tanda tangan bukti pemberian obat pada pasien atau keluarga
pasien dan memberikan identitas (etiket) dispuit yang akan diinjeksikan
kepada pasien.
Di harapkan perawat Diponegoro selalu melengkapi identitas dispuit
injeksi dan memintakan tanda tangan kepada pasien atau keluarga saat
obat diberikan.
2. Sosialisasi cuci tangan
Diharapkan di ruang Diponegoro ada sosialisasi cuci tangan kepada
keluarga pasien terumata pada pasien baru.
3. Operan sesuai SPO
Diharapkan di ruang Diponegoro ketika operan selalu menyebutkan
jumlah tingkat ketergantungan pasien dan jumlah perawat.
4. Terisinya kembali lembar persetujuan sentralisasi obat.
Diharapkan perawat selalu memintakan tanda tangan kepada keluarga
pasien ketika menyerahkan obat atau alat yang sudah ditebus di farmasi.
5. Penerimaan pasien baru sesuai SPO.
Diharapkan perawat ruang Diponegoro, selalu menerima pasien baru
sesuai SPO, yaitu mengorientasi fasilitas dan jumlah tenaga perawat yang
berjaga.
6. Pemberian leflet setiap pasien pulang.
Diharapkan perawat ruang Diponegoro selalu memberikan leflet ketika
pasien pulang.

122
DAFTAR PUSTAKA

File inventaris Ruangan Diponegoro RSUD Kanjuruhan Kab. Malang tahun 2018
File pegawai ruang Diponegoro RSUD Kanjuruhan tahun 2018
http://rsud-kanjuruhan. malangkab. go. Id/(diakses tanggal 26 Juni 2018)
Muhammad, 2014 “Hubungan Manajeme Waktu Perawat Pelaksana dengan
Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Kelas III
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin”. PSIK-FK Universitas
Syiah Kuala Banda Aceh.
(http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/JIK/article/download/5000/4252. Diakses
pada tanggal 26 Juni 2018)
Nursalam, 2014 “Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional Edisi 4”.Jakarta: Salemba Medika
Nursalam, 2015 “Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis
Edisi 4”.Jakarta : Salemba Medika.
Jeavery, Hendro dan Muhammad, 2017 “Pengaruh Manajemen Model Asuhan
Keperawatan Profesionak Tim Terhadap Kualitas Pelayanan Keperawatab
Di Bangsal Pria RSUD Datoe Binangkang Kabupaten Bolaang
Mongondow” Universitas Sam Ratulangi Manado.
(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/16843. Diakses
pada tanggal 26 juni 2018)
Standart Peralatan Keperawatan Dan Kebidanan Di Sarana Kesehatan, oleh Tim
Departemen Kesehatan RI. (https:www.slideshare.net/mobile/ullank1/standar-
peralatan-keperawatan-dan-kebidanan-di-sarana-kesehatan. Diakses pada tanggal
28 Juni 2018)

123
Lampiran 1
KUISIONER KEPUASAN PASIEN
Diisi oleh pasien dan keluarga pasien:
Nama :
Umur : Tahun
Jenis Kelamin :
Diagnosa Medis :

Petunjuk Pengisian Kepuasan


1. Sangat tidak puas (STP)
2. Tidak puas (TP)
3. Puas (P)
4. Sangat Puas (SP)
No Kepuasan
Pernyataan
1 2 3 4
1. Caring
a. Perawat siap tanggap bila pasien membutuhkan dan
perawat mudah dihubungi.
b. Perawat memperhatikan keluhan pasien
2. Kolaborasi
a. Perawat bekerja sama dengan pasien dan keluarga
dalam menyelesaikan masalah
b. Perawat bekerja sama dengan tim sejawat perawat,
dan tim medis dalam menyelesaikan masalah pasien
3. Kecepatan
a. Perawat dalam memberikan pelayan kepada pasien
penuh perhatian sesuai dengan kebutuhan atau harapan
pasien
b. Perawat mau mendengarkan keluhan pasien dan
perawat tidak acuh tak acuh.
4. Empati
a. Perawat dalam memberikan pelayanan cepat dan tepat
b. Kecepatan perawat dalam memberikan pelayanan
membutuhkan waktu tunggu yang pendek
5. Courtesy
a. Perawat sopan terhadap pasien, keluarga pasien, tim
sejawat perawat dan tim kesehatan lain
b. Perawat menghargai pasien, keluarga pasien, tim
sejawat perawat dan tim kesehatan lain
6. Sincerity
a. Perawat jujur antara pikiran dan tindakan
b. Perawat bertanggung jawab atas tindakan dan bisa
menjaga kesehatan pasien

124
Lampiran 2
KUISIONER KEPUASAN PERAWAT
Berilah Tanda centang ( v ) pada kolom pilihan, yang sesuai
dengan apa yang dinyatakan dalam pertanyaan/pernyataan hal
STP = Sangat Tidak Puas TP = Tidak Puas CP =
Cukup Puas
P = Puas SP = Sangat Puas

No Pernyataan STP TP CP P SP
Gaji
1. Jumlah gaji yang diterima
dibandingkan pekerjaan yang saudara
lakukan saat ini
2. System penggajian yang dilakukan
institusi tempat saudara bekerja
3. Jumlah gaji yang diterima
dibandingkanpendidikan saudara
4. Pemberian insentif tambahan atas suatu
prestasi atau kerja ekstra
Fasilitas
5. Tersedianya peralatan dan
perlengkapan yang mendukung
pekerjaan
6. Tersedianya fasilitas penunjang seperti
kamar mandi, tempat parker, dan kantin
7. Kondisi ruangan kerja terutama
berkaitan dengan ventilasi udara,
kebersihan, dan kebisingan
8. Adanya jaminan atas
kesehatan/keselamatan kerja
9. Perhatian institusi rumah sakit terhadap
saudara

125
Hubungan kerja
10. Hubungan atar karyawan dalam
kelompok kerja
11. Kemampuan dalam bekerja sama antar
karyawan
12. Sikap temen teman sekerja terhadap
anda
Kesesuaian kerja
13. Kesesuanain antara pekerjaan dan latar
belakang pendidikan saudara
14. Kemampuan dalam menggunakan
waktu bekerja dengan penugasan yang
diberikan
Pengawasan
15. Kemampuan supervise/pengawas dalam
membuat keputusan
16. Perlakuan tasan selama saya bekerja di
sini
17. Kebebasan melakukan suatu metode
sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan
Promosi
18. Kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan
atau pendidikan tambahan
19. Kesempatan untuk mendapat posisi
yang lebih tinggi
20. Kesempatan untuk membuat suatu
prestasi dan mendapatkan kenaikan
pangkat

126
Lampiran 3
PENILAIAN TINGKAT KECEMASAN
Ruang :

Tidak Kadang- Sebagian Hampir


No Pertanyaan
pernah kadang waktu setiap waktu
1. Saya merasa lebih gugup dan cemas dari biasanya 1 2 3 4
2. Saya merasa takut tanpa alasan sama sekali 1 2 3 4
3. Saya mudah marah atau merasa panic 1 2 3 4
4. Saya merasa seperti jatuh terpisah dan akan hancur berkeping-keping 1 2 3 4
Saya merasa bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak adahal buruk yang
5. 4 3 2 1
akan terjadi
6. Lengan dan kaki saya gemetar 1 2 3 4
7. Saya terganggu oleh nyeri kepala leher dan nyeri punggung 1 2 3 4
8. Saya merasa lemah dan mudah lelah 1 2 3 4
9. Saya merasa tenang dan dapat duduk diam dengan mudah 4 3 2 1
10. Saya merasakan jantung saya berdebar-debar 1 2 3 4
11. Saya merasa pusing tujuh keliling 1 2 3 4
12. Saya telah pingsan atau merasa seperti itu 1 2 3 4
13. Saya dapat bernapas dengan mudah 4 3 2 1
14. Saya merasa jari-jari tangan dan kaki mati rasa dan kesemutan 1 2 3 4
15. Saya merasa terganggu oleh nyeri lambung atau gangguan pencernaan 1 2 3 4
16 Saya sering buang air kecil 1 2 3 4
17. Tangan saya biasanya kering dan hangat 4 3 2 1
18. Wajah saya terasa panas dan merah merona 1 2 3 4
19. Saya mudah tertidur dan istirahat malam dengan baik 4 3 2 1
20. Saya mimpi buruk 1 2 3 4

127
Rentang penilaian 20-80, dengan pengelompokan antara lain (Nursallam, 2015):

1. Skor 20-44: normal/tidak cemas


2. Skor 45-59: kecemasan ringan
3. Skor 60-74: kecemasan sedang
4. Skor 75-80: kecemasan berat

128
Lampiran 4

NOTULEN DESIMINASI AWAL

1. Bu Siti
a. Memberikan file untuk desiminasi H-1 desiminasi
b. Sesuaikan halaman (urut)
c. Kenutuhan tenaga perawat setelah dihitung, tambahkan kenyataan saat
di ruangan.
d. Untuk sentralisasi obat lengkapi persetujuan pemebrian obat dan fakta
di ruangan.
e. Struktur di ruangan Diponegoro menggunakan apa?
f. Untuk jadwal dirapat di raung Diponegoro setiap hari sabtu minggu
kedua, jika ada yang tidak hadir dikarenakan jam pelayanan di ruangan
yang padat bukan karena rumah jauh.
g. Untuk POA, papan kode red ada di ruang Diponegoro yang lama,
untuk papan jadwal perawat mengikuti akreditasi Rumah Sakit sudah
tidak dianjurkan.
2. Bu Erna
a. Untuk BAB I, sesuaikan dengan fakta, teori dan opini (FTO)
b. Sumber yang diperoleh ditulis dengan lengkap
c. Di metodh, tampilkan apa adanya ketika pengkajian, dan saat supervise
cantumkan nama perawat yang disupervisi.
d. Untuk Analisa SWOT dan POA dikonsulkan lagi.
3. Pak Hardiyanto
a. Sesuaikan halaman
b. Lengkapi data yang ada di diagram
c. Tujuan dan indicator di POA disesuaikan dengan data yang ada.

129
Lampiran 5
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Cuci Tangan 6 Langkah


Sasaran : Pasien dan keluarga di Ruang Diponegoro
Tempat : Ruang Diponegoro
Hari / Tanggal : Selasa
Jam/waktu : 11.00 WIB
Alokasi Waktu : 30 menit
Metode : Ceramah dan tanya jawab

A. Tujuan Intruksional
1. Umum
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai Cuci Tangan 6 Langkah
selama 30 menit pasien dan keluarga di Ruang Diponegoro mengerti dan
memahami tentang Cuci Tangan 6 Langkah secara umum.
2. Khusus
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai Cuci Tangan 6 Langkah
diharapkan pasien dan keluarga mampu:
a. Menjelaskan tentang pengertian Cuci Tangan 6 Langkah.
b. Menjelaskan tentang Tujuan Cuci Tangan 6 Langkah
c. Menjelaskan prinsip Cuci Tangan 6 Langkah
d. Menjelaskan waktu mencuci Tangan 6 Langkah
e. Menjelaskan cara mencuci tangan 6 langkah dengan benar.

B. Sub Pokok Bahasan


Konsep Cuci Tangan 6 Langkah

C. Media
- Leaflet
- Lembar balik

130
D. Metode
Ceramah dan tanya jawab
E. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan Perawat Kegiatan Peserta Metode / media Waktu
Pembukaan 1. Salam pembuka Mendengarkan Ceramah 5 Menit
2. Perkenalan
3. Menyampaikan maksud dan tujuan
4. Kontrak waktu
5. Menjelaskan materi yang akan diberikan

Pelaksanaan 1. Menjelaskan konsep tentang Cuci Tangan 6 Langkah Menyimak dan Ceramah 15
2. Menjelaskan tentang pengertian, tujuan, prinsip, mendengarkan Lembar balik Menit
waktu mencuci tangan dan cara mencuci tangan yang dan leflet
benar
3. Membuka Tanya jawab

Penutup 1. Memberikan leaflet Bertanya dan menjawab Ceramah dan 4Menit


2. Menyimpulkan materi pertanyaan Tanya jawab
3. Salam penutup

131
F. Evaluasi
1. Struktur
a. Materi dan media yang akan dibawakan pada saat penyuluhan telah
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada pembimbing klinik dan telah
mendapat persetujuan.
b. Media yang diperlukan untuk penyuluhan sudah tersedia sebelum hari - H.
c. Penyuluh telah membuat janji dan menginformasikan waktu pelaksanaan
penyuluhan kepada setiap pihak yang terlibat.
d. Pasien dan keluarga pasien di Ruang Diponegoro mengikuti kegiatan
penyuluhan.
2. Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sebelum
penyuluhan berakhir.
c. Sasaran aktif bertanya dan menjawab selama penyuluhan berlangsung.
d. Sasaran dapat tenang dan berkonsentrasi terhadap materi yang dipaparkan.
3. Hasil
a. Pengetahuan sasaran tentang pokok bahasan meningkat dibuktikan
dengan kemampuan sasaran dalam menjawab pertanyaan sebesar 80%.
b. Tingkat partisipasi dan keaktifan sasaran dalam kegiatan tinggi
mencapai 80%.

132
MATERI CUCI TANGAN 6 LANGKAH

A. Pengertian Cuci Tangan


Mencuci tangan adalah teknik dasar untuk melakukan pengontrolan dan
pencegahan infeksi bakteri. Mencuci tangan adalah proses pembuangan
kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dengan
memakai sabun atau pembersih lainnya dan dibilas dengan air bersih (WHO,
2018).

B. Tujuan Mencuci Tangan


a. Mencegah terjadinya infeksi melalui tangan.
b. Membantu menghilangkan mikroorganisme yang ada di kulit atau
tangan.
c. Agar tidak menjadi agen penular bibit penyakit kepada orang lain (WHO,
2018).

C. Prinsip Cuci Tangan


Dalam mencuci tangan terdapat beberapa prinsip, antara lain :
a. Anggap bahwa semua alat terkontaminasi : jangan terlalu sering
memegang keran, tempat sabun, wastafel, alat pengering, terutama setelah
mencuci tangan : dianjurkan untuk menggunakan tempat sampah yang
dapat dibuka tutup menggunakan injakan kaki, keran yang diputar dengan
siku.
b. Jangan memakai perhiasan : cincin meningkatkan jumlah mikroorganisme
yang ada ditangan; perhiasan juga menimbulkan kesulitan dalam mencuci
tangan secara seksama.
c. Gunakan air hangat yang mengalir, alirannya diatur sedemikian rupa demi
kenyamanan; air yang terlalu panas akan membuka pori-pori dan
menyebabkan iritasi kulit; cegah terjadinya percikan air, terutama kebaju,
karena mikroorganisme akan berpindah dan berkembang biak di tempat
yang lembab.

133
d. Gunakan sabun yang tepat dan gunakan sampai muncul busa: sabun akan
mengemulsikan lemak dan minyak serta mengurangi tegangan permukaan,
sehingga memudahkan pembersihan.
e. Gunakan gerakan memutar, menggosok dan bergeser: gerakan ini
mengangkat dan menghilangkan kotoran dan mikroorganisme.
f. Gunakan handuk atau tisu sekali pakai untuk mengeringkan tangan :
handuk ini lebih sedikit menyebarkan mikroorganisme dibandingkan
pengering udara panas atau handuk (Krishnan, 2015).

D. Waktu Mencuci Tangan


Berikut waktu mencuci tangan yang disarankan (Krishnan, 2015) :
a. Cucilah tangan SEBELUM :
 Menyiapkan makanan atau sebelum makan
 Mengobati luka, memberikan obat, merawat orang yang terluka
 Memasang atau melepas lensa kontak.
 Memegang bayi
b. Cucilah tangan SESUDAH :
 Menyiapkan makanan, terutama daging mentah dan setelah makan
 Buang air di toilet
 Menyentuh binatang atau sampah
 Membuang sampah
 Membuang ingus, bersin, atau batuk yang mengenai tangan
 Mengobati luka
 Bermain

E. Cara Mencuci Tangan yang Benar


Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka mencuci tangan haruslah
dengan air bersih yang mengalir, baik itu melalui kran air atau disiram dengan
gayung, menggunakan sabun yang standar, setelah itu keringkan dengan handuk
yang bersih atau menggunakan tisu. 6 Langkah-langkah teknik mencuci tangan
yang benar menurut WHO adalah :
a. Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.

134
b. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan, akan lebih baik jika
sabun yang mengandung antiseptik.
c. Ratakan sabun dengan menggosok pada telapak tangan
d. Gosok Punggung tangan dan sela-sela jari tangan kiri dan tangan kanan,
begitu pula sebaliknya.
e. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari kedua tangan.
f. Godok punggung jari kedua tangan dengan posisi tangan saling mengunci.
g. Gosok ibu jari dengan cara diputar dalam genggaman tangan kanan,
lakukan juga pada tangan yang satunya.
h. Usapkan ujung kuku tangan kanan dengan cara diputar di telapak tangan
kiri, lakukan juga pada tangan satunya.
i. Bilaslah kedua tangan dengan air mengalir, lalu keringkan.

135
DAFTAR PUSTAKA

Krishnan, et al. (2015). Alcohol Handrubbing and Chlorhexidine Handwashing


are Equally Effective in Removing Methicillin-Resistant Staphylococcus
Aureus from Health Care Workers' Hands: A Randomized Controlled Trial.
[Online]. Di unduh dari http://www.ajicjournal.org.
Http://www.who.int/gpsc/clean_hansd_protection/en/ diakses pada 02 juli 2018
pukul 18.00

136
Lampiran 6
LEMBAR BALIK
a. Penerimaan pasien baru

137
138
b. Sentralisasi obat

139
Lampiran 7
DOKUMENTASI
1. DESIMINASI AWAL

140
2. RONDE KEPERAWATAN

141
3. IMPLEMENTASI
a. Persetujuan tanda tangan di lembar pemberian obat dan pemberian
etiket dispuit injeksi

142
b. Penyuluhan cuci tangan

143
c. Operan sesuai SPO

144
d. Terisinya kembali lembar persetujuan sentralisasi obat

145
e. Penerimaan pasien baru sesuai SPO dan Pemberian leflet setiap pasien
pulang

146
4. DESIMINASI AKHIR

147

Anda mungkin juga menyukai