Anda di halaman 1dari 25

TUGAS UAS KEPERAWATAN GERONTIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN DIABETES


MELITUS

DI SUSUN

O
L
E
H

SITI RAHAYU
NPM 08160100012

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

JAKARTA SELATAN

2017

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2011).
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang menjadi masalah pada kesehatan
masyarakat. Oleh karena itu Diabetes Mellitus tercantum dalam urutan keempat prioritas
penelitian nasional untuk penyakit degeneratif setelah penyakit kardiovaskuler,
serebrovaskuler, rheumatik dan katarak (Tjokroprawiro, 2013).
Diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat
jumlahnya dimasa mendatang. Diabetes merupakan salah satu ancaman utama bagi
kesehatan umat manusia abad 21. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000
jumlah pengidap diabetes diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam
kurun waktu 25 tahun kemudian, pada tahun 2025 jumlah itu akan membengkak menjadi
300 juta orang (Suyono, 2011). Diabetes mellitus tipe II merupakan tipe diabetes yang
lebih umum, lebih banyak penderitanya dibandingkan Diabetes Mellitus tipe I. Penderita
diabetes mellitus tipe II mencapai 90-95 % dari keseluruhan populasi penderita Diabetes
Mellitus (Anonim, 2005).
Orang lanjut usia mengalami kemunduran dalam sistem fisiologisnya seperti kulit
yang keriput, turunnya tinggi badan, berat badan, kekuatan otot, daya lihat,daya dengar,
kemampuan berbagai rasa (senses), dan penurunan fungsi berbagai organ termasuk apa
yang terjadi terhadap fungsi homeostatis glukosa, sehingga penyakit degeneratif seperti
Diabetes Mellitus akan lebih mudah terjadi (Rochmah, 2013).
Umur secara kronologis hanya merupakan suatu determinan dari perubahan yang
berhubungan dengan penerapan terapi obat secara tepat pada orang lanjut usia. Terjadi
perubahan penting pada respon terhadap beberapa obat yang terjadi seiring dengan
bertambahnya umur pada sejumlah besar individu (Katzung, 2014).
Diabetes Mellitus (DM) pada geriatri terjadi karena timbulnya resistensi insulin
pada usia lanjut yang disebabkan oleh 4 faktor : pertama adanya perubahan komposisi
tubuh, komposisi tubuh berubah menjadi air 53%, sel solid 12%, lemak 30%, sedangkan
tulang dan mineral menurun 1% sehingga tinggal 5%. Faktor yang kedua adalah turunnya
aktivitas fisik yang akan mengakibatkan penurunan jumlah reseptor insulin yang siap
berikatan dengan insulin sehingga kecepatan transkolasi GLUT-4 (glucosetransporter-4)
juga menurun. Faktor ketiga adalah perubahan pola makan pada usia lanjut yang
disebabkan oleh berkurangnya gigi geligi sehingga prosentase bahan makanan
karbohidrat akan meningkat. Faktor keempat adalah perubahan neurohormonal,
khususnya Insulin Like Growth Factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron (DHtAS)
plasma (Rochmah, 2013).
Prevalensi Diabetes Mellitus pada lanjut usia (geriatri) cenderung meningkat, hal
ini dikarenakan Diabetes Mellitus pada lanjut usia bersifat muktifaktorial yang
dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Umur ternyata merupakan salah satu faktor
yang bersifat mandiri dalam pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh terhadap
glukosa. Dari jumlah tersebut dikatakan 50% adalah pasien berumur > 60 tahun
(Gustaviani, 2006).
Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes.
Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu
kendala pada pasien diabetes. Penderita diabetes banyak yang merasa tersiksa
sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang dianjurkan (Maulana, 2009).
Pada sebuah penelitian oleh Cardiovascular Heart Study (CHS) di Amerika dari
tahun 1996-1997 didapati hanya 12 % populasi lanjut usia dengan Diabetes Mellitus
yang mencapai kadar gula darah di bawah nilai acuan yang ditetapkan American
Diabetes Association. Pada penelitian tersebut juga diketahui 50% dari lanjut usia dengan
Diabetes Mellitus mengalami gangguan pembuluh darah besar dan 33% dari jumlah
tersebut aktif mengkonsumsi aspirin. Disisi lain banyak dari populasi lanjut usia dengan
Diabetes Mellitus memiliki tekanan darah > 140/90 mmHg, hanya 8% lanjut usia dengan
kadar kolesterol LDL < 100 mg/dl (Anonim, 2004). Banyaknya obat yang diresepkan
untuk pasien usia lanjut akan menimbulkan banyak masalah termasuk polifarmasi,
peresepan yang tidak tepat dan ketidakpatuhan. Setidaknya 25% obat yang diresepkan
untuk pasien usia lanjut tidak efektif (Prest, 2013).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Diabetes Melitus


Diabetes Militus adalah keadaan kronik,yang berkarakteristik penyakit progresif
oleh ketidakmampuan tubuh untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang
menuju pada hiperglikemia(peningkatan gula darah). Diabetes militus mengacu sebagai
“gula yang tinggi” oleh pasien dan penyedia perawatan kesehatan (Jane Hokanson
Hawks.2005).
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau mengalihkan”
(siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu. Penyakit
diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urine yang banyak
dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang
ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel
terhadap insulin (Corwin, 2009).
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis
dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer dkk, 2007).
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan defisiensi
insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddart, 2002).
Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah
suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya
sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari
insulin atau keduanya.
B. Etiologi
Pada Lansia cenderung terjadi peningkatan berat badan,bukan karena mengkonsumsi
kalori berlebih namun karena perubahan rasio lemak- otot dan penurunan laju
metabolisme basal. Hal ini dapat menjadi menjadi faktor predisposisi terjadinya Diabetes
Mellitus . penyebab Diabetes Mellitus pada lansia secara umum dapat digolongkan
kedalam dua besar :
a. Proses Menua/kemunduran (penurunan sensitif indra pengecap, penurunan fungsi
pangkreas, dan penurunan kualitas insulin sehingga insulin tidak berfungsi dengan
baik).
b. Gaya hidup (life style) yang jelek (banyak makan,jarang olahraga, minum alkohol,dll).
Keberadsan penyakit lain, sering menderita stress juga dapat menjadi penyebab
terjadinya Diabetes Mellitus. Selain itu perubahan fungsi fisik yang menyebabkan
keletihan dapat menutupi tanda dan gejala Diabetes Mellitus dan menghalangi lansia
untuk mencari bantuan medis. Keletihan, perlu bangun pada malam hari untuk buang
air kecil, dan infeksi yang sering merupakan indikator diabetes yang mungkin tidak
diperhatikan oleh lansia dan anggota keluarganya karena mereka percaya bahwa hal
tersebut adalah bagian dari proses penuaan itu sendiri.
Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi :
a). Diabetes Mellitus Tipe I (IDDM) : Diabetes Mellitus tergantung insulin
 Faktor genetic herediter
Faktor herediter menyebabkan timbulnya Diabetes Mellitus melalui kerentanan sel-
sel beta terhadap penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan
antibody autiomun melawan sel-sel beta, jadi mengarah pada penghancuran sel-sel
beta.
 Faktor infeksi virus
Berupa infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan pemicu yang
menentukan proses autoimun pada individu yang peka secara genetic
b) . Diabetes Mellitus Tipe II (NIDDM) : Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin
 Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada individu,
obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel target insulin
diseluruh tubuh. Meningkatkan efek metabolik yang biasa.
c) . Diabetes Mellitus Malnutrisi
 Fibro Calculous Pancreatic Diabetes Mellitus (FCPD)
Terjadi karena mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah protein sehingga
klasfikasi pankreas melalui proses mekanik (Fibrosis) atau toksik (Cynide) yang
menyebabkan sel-sel beta menjadi rusak.
 Protein Defesiensi Pancreatic Diabetes Mellitus (PDPD)
Karena kekurangan protein yang kronik menyebabkan hipofungsi sel Beta
Pancreas.
C. Gejala Klinis
Pada Diabetes Mellitus lansia terdapat perubahan patofisiologis akibat proses
menua,sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus
dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan
penglihatan karena katarak,rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati
perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat Diabetes Mellitus pada usia lanjut yang
sering ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaukoma
c. Retinopati
d. Gatal seluruh badan
e. Pruritus vulvae
f. Infeksi bakteri kulit
g. Dermatopati
h. Neuropati perifer
i. Neuropati viseral
j. Amiotropi
k. Ulkus neurotropik
l. Infeksi jamur dikulit
m. Penyakit ginja
n. Penyakit pembuluh darah perifer.
Menurut Budi Santoso (2007) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes
Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu :
a. Keluhan TRIAS: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat badan
b. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
c. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
Sedangkan menurut Ej Corwin (2009) keluhan yang sering terjadi pada penderita
Diabetes Mellitus adalah poliuria, polidipsia, polifagia, berat badan menurun, lemah,
kesemutan, gatal, visus menurun, bisul/luka,dan keputihan.
D. Patofisiologis
Glukosa terbentuk dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari (terdiri dari
karbohidrat,lemak, dan protein). Kemudian glukosa akan diserap melalui dinding usus
dan disalurkan dalam darah. Setelah makan. Kadar glukosa dalam darah akan lebih
tinggi. Melebihi glukosa yang dibutuhkan dalam proses pembentukan energy tubuh.
Untuk mencegah meningginya glukosa dengan tiba-tiba, insulin (hormone yang
diproduksi sel beta prankeas) berfungsi menyimpan glukosa (dinamakan glikogen) dalam
hati dan sel-sel otot. Jika kadar gula menurun maka simpanan glikogen akan kembali ke
dalam darah. Glikogen yang disimpan dalam hati bertahan 8-10 jam. Apabila tidak
digunakan dalam tempo yang ditentukan maka simpanan ini akan berubah menjadi
lemak. (Mahendra, 2008).
E. Komplikasi
Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe DM (Diabetes
Melitus) digolongkan sebagai akut dan kronik (Mansjoer dkk, 2007).
1. Komplikasi akut
Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidak seimbangan jangka pendek dari
glukosa darah.
a. Hipoglikemia/ koma hipoglikemia
Hipoglikemik adalah kadar gula darah yang rendah. Kadar gula darah yang normal
60-100 mg% yang bergantung pada berbagai keadaan. Salah satu bentuk dari
kegawatan hipoglikemik adalah koma hipoglikemik. Pada kasus spoor atau koma
yang tidak diketahui sebabnya maka harus dicurigai sebagai suatu hipoglikemik dan
merupakan alasan untuk pembarian glukosa. Koma hipoglikemik biasanya
disebabkan oleh overdosis insulin. Selain itu dapat pula disebabkan oleh karana
terlambat makan atau olahraga yang berlebih. Diagnosa dibuat dari tanda klinis
dengan gejala hipoglikemik terjadi bila kadar gula darah dibawah 50 mg% atau 40
mg% pada pemeriksaaan darah jari.
b. Sindrom Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (HHNC/ HONK)
HONK adalah keadaan hiperglikemi dan hiperosmoliti tanpa terdapatnya ketosis.
Konsentrasi gula darah lebih dari 600 mg bahkan sampai 2000, tidak terdapat
aseton, osmolitas darah tinggi melewati 350 mOsm perkilogram, tidak terdapat
asidosis dan fungsi ginjal pada umumnya terganggu dimana BUN banding kreatinin
lebih dari 30 : 1, elektrolit natrium berkisar antara 100 – 150 mEq per liter kalium
bervariasi.
2. komplikasi kronik
a. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung,
pembuluh darah tepi, dan pembuluh dara otak.
b. Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retmopati diabetik, nefropati
diabetik.
c. Neuropati diabetik
d. Rentan infeksi, seperti : TB paru, gingivitis, dan ISK.
e. Kaki diabetik
(kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid 1 halaman 582) .
F. Penatalaksanaan
Diabetes mellitus usia lanjut dapat dikendalikan dengan baik, misalnya dengan :
a. Istirahat
Bila ada komplikasi berat
b. Diet
Syarat diet Diabetes Mellitus hendaknya dapat :
1. Memperbaiki kesehatan umum penderita
2. Mengarahkan pada berat badan normal
3. Menormalkan pertumbuhan Diabetes Mellitus anak dan Diabetes Mellitus
dewasa muda.
4. Mempertahankan kadar KGD normal
5. Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic
6. Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita.
7. Menarik dan mudah diberikan
Prinsip diet Diabetes Mellitus, adalah:
1. Jumlah sesuai kebutuhan
2. Jadwal diet ketat
3. Jenis: boleh dimakan/tidak
Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan
kalorinya.
1. Diit DM I : 1100 kalori
2. Diit DM II : 1300 kalori
3. Diit DM III : 1500 kalori
4. Diit DM IV : 1700 kalori
5. Diit DM V : 1900 kalori
6. Diit DM VI : 2100 kalori
7. Diit DM VII : 2300 kalori
8. Diit DM VIII : 2500 kalori
Diet I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk

Diet IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal


Diet VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus. Diabetes remaja, atau
diabetes komplikasi.

c. Latihan
Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah:
1. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila dikerjakan setiap
1 ½ jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada
penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan
meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya.
2. Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore
3. Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen
4. Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein
5. Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang
pembentukan glikogen baru
6. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran
asam lemak menjadi lebih baik.
d. Medikamentosa
insulin dan obat anti diabetik. Dibetes Mellitus usia lanjut untuk tipe 11 sehingga
diperhatikan kasus perkasus, cara hidup pasien, keadaan gizi dan kesehatannya,
adanya penyakit lain yang menyertai serta ada/ tidaknya komplikasi Diabetes
Mellitus.

G. Pemeriksaan Diagnostik
 Glukosa darah sewaktu
 Kadar glukosa darah puasa
 Tes toleransi glukosa
Kriteria diagnostik WHO untuk Diabetes Mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan:
 Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
 Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
 Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsusmsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.

BAB III
TINJAUAN KASUS

Hari &Tanggal pengkajian : Senin, 23 Januari 2018

A. IDENTITAS UMUM

Identitas Klien
Nama : Tn. S
Umur : 70 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status : Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SD
Alamat : RT 03 RW 02 Srengseng sawah
Pekerjaan/Riwayat pekerjaan : Pedagang
Diagnosa Medis/masalah KDM : Diabetes Mellitus

Identitas Penanggungjawab
Nama : Ny. T
Umur : 53 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : RT 03 RW 02 Srengseng sawah
Hub dengan klien : Anak kandung

B. KELUHAN UTAMA
Klien mengeluh kedua kakinya terasa kesemutan namun tidak mati rasa.

C. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


Klien mengatakan sudah lama mengalami keluhan seperti yang dirasakan saat ini yaitu sejak 3
bulan yang lalu. Klien mengatakan sudah minum obat untuk DM dan kolesterol namun tidak
rutin. Klien rutin datang ke Posbindu setiap satu bulan sekali. Kontrol terakhir hasil GDS = 251
mg/dl, kolesterol = 386 mg/dl. Obat yang diminum Metformin 500 mg 3x1, Simvastatin 10 mg
1x1. Klien mengatakan masih suka makan gorengan dan makanan bersantan dan minum yang
manis. Klien mengatakan sejak 3 bulan yang lalu mempunyai keluhan cepat merasa lelah saat
beraktivitas.

D. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


Klien mengatakan mengetahui menderita penyakit DM dan kolesterol tinggi sejak 5 tahun yang
lalu. Selama 5 tahun klien tidak rutin minum obat untuk DM dan kolesterol, klien juga tidak
mengatur pola makannya, klien masih mengkonsumsi banyak gula dan makanan berminyak.
Klien pernah menjalani operasi hernia pada tahun 2011.

E. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Anak klien mengatakan tidak mengetahui riwayat kesehatan anggota keluarga terdahulu, namun
anak-anak klien belum ada yang menderita penyakit DM maupun kolesterol tinggi.

F. RIWAYAT LINGKUNGAN HIDUP


Tn. S tinggal dirumah bersama dengan istrinya. Rumah anak-anak Tn. S bersebelahan dengan
rumah Tn. S. Lingkungan tempat tinggal Tn. S bersih, jalan rata namun agak licin karena
berlumut, tidak ada sampah berserakan, kamar tidur klien tampak rapi, lantai rumahdari keramik,
lantai kamar mandi agak licin dan tidak ada pegangan dinding, penerangan di rumah Tn. S cukup
terang pada siang karena terdapat jendela dan ventilasi yang dibuka setiap pagi dan pada malam
hari lampu penerangan cukup terang namun penerangan di kamar mandi agak redup.

G. RIWAYAT REKREASI
Klien mengatakan tidak pernah berpergian jauh. Sehari-hari klien menghabiskan waktu di dalam
rumah, klien mengisi waktu luang dengan membaca majalah.

H. SUMBER/SISTEM PENDUKUNG YANG DIGUNAKAN


1. Sumber Pendapatan :
Selama ini, biaya kehidupan Tn. S tercukupi oleh anak-anak Tn. S, makan dan keperluan sehari-
hari Tn. S disediakan oleh anak-anak Tn.S.
2. Sumber Support Sosial :
Ny. S mendapat dukungan sosial dari istri, anak, menantu, cucu dan cicit yang tinggal saling
berdekatan dengan rumah Tn. S. Tn. S juga mendapat dukungan dari teman-teman lansia di
lingkungannya yang rutin bertemu saat datang di Posbindu.

I. DESKRIPSI HARI KHUSUS


Tn. S mengatakan hari khusus bagi dirinya adalah hari Idul Fitri karena pada hari itu semua
keluarganya berkumpul dan merayakan hari itu bersama-sama.

J. TINJAUAN PER SISTEM


1 Keadaan Umum : Baik
a Tekanan darah : 130/80 mmHg
b Nadi : 82 x/menit
c RR : 23 x/menit
d Suhu : 36,5 C
2 Kulit dan kuku
Inspeksi
a Warna kulit : Coklat
Warna kuku tampak kecoklatan, tampak
menebal dan mengeras
b Lesi : tidak ada lesi
c Pigmentasi berlebih : tidak ada pigmentasi berlebih
d Jaringan parut : tidak ada jaringan parut
e Distribusi rambut : rambut tipis, beruban
f Kebersihan kuku : kuku terpotong pendek, rapi dan
bersih
g Kelainan pada kuku : tidak ada kelainan pada kuku
h Bulla (lepuh) : tidak terdapat bulla (lepuh)
i Ulkus : tidak terdapat ulkus
Palpasi
a Tekstur : tekstur kulit keriput
b Turgor : turgor kulit kering, akral dingin
c Pitting edema : tidak terdapat pitting edema
d Capilarry refill time : 4 detik
3 Kepala
Inspeksi
a Bentuk kepala : Bentuk kepala mesocepal
b Kebersihan : Bersih, tidak ada ketombe dan
kotoran
c Warna rambut : Putih beruban
d Kulit kepala : Bersih, tidak terdapat ketombe,
tidak terdapat lesi.
e Distribusi rambut : Merata
f Kerontokan rambut : Tidak ada
g Benjolan di kepala : Tidak ada benjolan di kepala
h Temuan/keluhan lain : Tidak ada
Palpasi
a Nyeri kepala : Tidak ada nyeri kepala
b Temuan/keluhan lain : Tidak ada
4 Mata
Inspeksi
a Ptosis : Ya, ada penurunan kelopak mata
bagian atas.
b Iris : Warna kecoklatan
c Konjungtiva : Konjungtiva tidak anemis
d Sklera : Sklera tidak ikterik
e Kornea : Kornea jernih
f Pupil : Isokor
g Peradangan : Tidak ada peradangan
h Katarak : Tidak ada katarak
j Gerak bola mata : Gerakan bola mata simetris
k Alat bantu penglihatan : Klien menggunakan kaca mata
baca
Palpasi
a Kelopak mata : Tidak terdapat nyeri tekan pada
kelopak mata, tidak terdapat
kantung mata
5 Telinga
Inspeksi
a Bentuk telinga : Bentuk telinga simetris
b Lesi : Tidak terdapat lesi
c Peradangan : Tidak tampak adanya peradangan
pada telinga
d Kebersihan telinga luar : Telinga luar tampak bersih
e Kebersihan lubang telinga : Tampak adanya sedikit serumen
pada kedua telinga
f Membran timpani : Membran timpani utuh
g Fungsi pendengaran : Fungsi pendengaran mulai
menurun, klien sudah tidak
mampu mendengar suara yang
pelan
Palpasi
a Daun telinga : Tidak terdapat benjolan dan tidak
ada nyeri tekan pada daun telinga
6 Hidung dan sinus
Inspeksi
a Bentuk : Bentuk hidung simetris
b Peradangan : Tidak tampak adanya peradangan
pada hidung
c Penciuman : Fungsi penciuman baik, klien
dapat membedakan bau
Palpasi
a Sinusitis : Tidak tampak adanya sinusitis
b Temuan / keluhan lainnya : Tidak terdapat nyeri tekan pada
hidung

7 Mulut dan tenggorokan


Inspeksi
b Mukosa : Mukosa bibir lembab
c Bibir pecah-pecah : Tidak ada
d Kebersihan gigi : Gigi tampak bersih
e Gigi berlubang : Tidak ada
f Gusi berdarah : Tidak ada perdarahan pada gusi
g Kebersihan lidah : Lidah tampak kotor
h Pembesaran tonsil : Tidak tampak adanya
pembesaran tonsil
i Temuan yang lain : Tidak ada stomatitis, tidak ada
kesulitan menelan makanan,
namun klien mempunyai
kesulitan untuk mengunyah
makanan karena sudah banyak
gigi yang tanggal
8 Leher
Inspeksi kesimetrisan leher : Leher tampak simetris
Palpasi
a Kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran kelenjar
limfe
b Pembesaran kelenjar tyroid : Tidak ada pembesaran kelenjar
tiroid
9 Dada dan tulang belakang
Inspeksi
a Bentuk dada : Bentuk dada simetris
b Kelainan bentuk dada : Tidak ada kelainan bentuk dada
c Kelainan tulang belakang : Tidak terdapat kelainan tulang
belakang
10 Pernafasan
Inspeksi
a Pengembangan dada : Pengembangan dada simetris
b Pernafasan : Irama nafas teratur
c Retraksi interkosta : Tidak ada retraksi interkosta
d Nafas cuping hidung : Tidak ada pernafasan cuping
hidung
Palpasi
a Taktil fremitus : Taktil fremitus kanan = taktil
fremitus kiri
b Pengembangan dada : Pengembangan dada simetris
Perkusi : Perkusi sonor
Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler
a Suara tambahan : Tidak ada suara nafas tambahan
seperti wheezing, ronchi dan
krekles
b Temuan / keluhan lainnya : Tidak teraba massa dan nyeri
tekan pada area dada
11 Kardiovaskuler
Inspeksi : Ictus cordis tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICV
midclavicula sinistra
a Iktus kordis : Tidak tampak
b Nadi radialis : 82 x/menit teraba teratur
Perkusi : Redup
Auskultasi
a Bunyi jantung : Bunyi jantung I, dan II murni.
Tidak terdengar suara tambahan
12 Gastrointestinal
Inspeksi : Bentuk abdomen datar
Auskultasi : Peristaltik usus 10 x/menit
Perkusi : Timpani
Palpasi : Tidak teraba massa, tidak
terdapat nyeri tekan pada
abdomen.
14 Perkemihan
a Warna urin : Warna urin kuning
b Jumlah urin : ± 1500 cc/hari
c Nyeri saat BAK : Tidak nyeri saat BAK
d Hematuria : Tidak ada hematuria
e Rasa terbakar saat BAK : Tidak ada rasa terbakar saat BAK
f Perasaan tidak lampias : Tidak ada
(anyang-anyangan)
g Mengompol : Tidak ada
h Tidak bisa BAK : Tidak ada
15 Muskuloskeletal
Inspeksi
a Lesi kulit : Tidak ada
b Tremor : Ada
Klien jarang memakai alas kaki
Palpasi
a Tonus otot ekstremitas atas : Baik
b Tonus otot ekstremitas bawah : Baik
c Kekuatan ekstremitas atas : Kuat (skor 5)
d Kekuatan ekstremitas bawah : Kuat (skor 5)
e Rentang gerak : Klien mampu bergerak dengan
bebas
f Edema kaki : Tidak terdapat edema
g Refleks Bisep : Kanan (+) Kiri (+)
h Refleks Trisep : Kanan (+) Kiri (+)
j Refleks patella : Kanan (+) Kiri (+)
j Refleks Achilles : Kanan (+) Kiri (+)
k Deformitas sendi : Tidak ada
l Nyeri ekstremitas : Kesemutan pada kedua kaki
16 SSP (N I – XII)
a Olfaktori : Fungsi penciuman baik. Klien
masih dapat membedakan bau
b Optikus : Fungsi penglihatan sudah
berkurang. Klien tidak mampu
lagi melihat jarak jauh dengan
jelas, klien menggunakan alat
bantu kaca mata untuk membaca
c Okulomotorius : Gerakan bola mata simetris
d Throklear : Klien mampu menggerakan bola
mata ke atas dan ke bawah
e Trigeminus : Klien mampu mengunyah
f Abdusen : Baik
g Facialis : Bentuk bibir simetris
h Auditori : Fungsi pendengaran sudah mulai
menurun
i Glosofaringeal : Klien mampu merasakan sensasi
rasa pada lidah
j Vagus : Klien mampu menelan makanan
k Aksesorius : Klien mampu menoleh ke kiri
dan ke kanan, klien mampu
mengangkat kedua bahu dengan
simetris
l Hipoglosus : Pengucapan kata masih jelas,
tidak ada pelo
17 Sistem Endokrin
a Pembesaran tiroid : Tidak ada pembesaran tiroid
b Riwayat penyakit metabolik : Terdapat riwayat penyakit
metabolik seperti DM
18 Genetalia dan anal
a Kebersihan : Bersih
b Haemoroid : Tidak ada haemoroid
c Kesan (bau) : Tidak ada bau pesing atau bau
tidak enak

K. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL, EKONOMI DAN SPIRITUAL


1 Psikososial
Hubungan dengan orang lain : Klien mampu berinteraksi dengan
baik
dengan istri, anak, menantu
,cucu, cicitdan orang-orang lain
di sekitarnya.
Kebiasaan lansia berinteraksi : Tn. S berinteraksi dengan teman
dengan teman lansia saat datang di Posbindu.
Stabilitas emosi : Tn. S selalu tenang dan tidak
pernah marah-marah.
Harapan klien : Klien mengatakan ingin
tubuhnya sehat.
Frekuensi kunjungan keluarga : Keempat anak Tn. S tinggal
berdekatan dengan rumah Tn.S,
hanya 1 anak Tn. S yang tinggal di
luar kota dan mengunjungi Tn. S 3
bulan sekali.
Pertengkaran dengan teman : Klien mengatakan tidak ada
pertengkaran dengan teman-
temannya
Curiga dengan teman : Tidak ada
2 Sosial Ekonomi
Pekerjaan : Klien Tn. S sudah tidak bekerja
lagi, dulu Tn. S bekerja sebagai
pedagang.
Penghasilan : Saat ini biaya kehidupan Tn. S
dipenuhi oleh anak-anak Tn.S
Asuransi kesehatan/jaminan : Klien Tn. S memiliki jaminan
pelayanan kesehatan kesehatan (BPJS).
Jumlah keluarga : Klien memiliki 5 orang
anak,5 orang menantu, 12 cucu
dan 3 cicit
3 Identifikasi masalah emosional
Pertanyaan tahap 1 :
Mengalami kesulitan tidur? : Klien tidak mengatakan
mengalami kesulitan tidur.Klien
dapat tidur pada siang hari dan
pada malam hari tidak sering
terbangun.
Merasa gelisah? : Klien mengatakan tidak
mempunyai perasaan gelisah.
Sering murung dan menangis : Klien mengatakan tidak pernah
sendiri? merasa murung dan menangis.
Klien mengatakan selalu bahagia
dan bersyukut.
Sering khawatir? : Klien mengatakan kawatir bila
badan tidak sehat.
L. PENGKAJIAN FUNGSIONAL KLIEN
Indeks KATZ
Klien Tn. S termasuk dalam kategori mandiri dalam makan, kontinensia (BAB dan BAK),
menggunakan pakaian, mandi, pergi ke toilet dan berpindah.

Barthel Indeks
No Kriteria Skor Keterangan
1. Makan 10 Frekuensi 3 x sehari
5 : bantuan Jumlah 1 piring/sekali
10 : mandiri makan
Jenis nasi, sayur, lauk
2. Minum 10 Frekuensi 5 x sehari
5 : bantuan Jumlah ± 1000 cc
10 : mandiri Jenis air putih
3. Berpindah dari kursi roda ke 15
tempat tidur/sebaliknya
10 : bantuan
15 : mandiri
4. Personal toilet (cuci muka, 5 Frekuensi 1 x sehari pada
menyisir rambut, gosok gigi) sore hari
0 : bantuan
5 : mandiri
5. Keluar masuk toilet (mencuci 10
pakaian, menyeka tubuh dan
menyiram)
5 : bantuan
10 : mandiri
6. Mandi 15
5 : bantuan
15 : mandiri
7. Jalan di permukaan datar 5
0 : bantuan
5 : mandiri
8. Naik turun tangga 10
5 : bantuan
10 : mandiri
9. Mengenakan pakaian 10
5 : bantuan
10 : mandiri
10. Kontrol Bowel (BAB) 10 Frekuensi 2 hari sekali
5 : bantuan Konsistensi lunak
10 : mandiri
11. Kontrol Bladder (BAK) 10 Frekuensi 5-7 x/hari
5 : bantuan Warna kuning
10 : mandiri
12. Olahraga/latihan 10 Klien berolahraga jalan kaki
5 : bantuan setiap pagi hari.
10 : mandiri
13. Rekreasi/pemanfaatan waktu 10 Frekuensi setiap hari
luang dengan membaca majalah.
5 : bantuan
10 : mandiri
Keterangan :
130 : Mandiri
65-125 : Ketergantungan sebagian
60 : Ketergantungan total

Interpretasi hasil pemeriksaan : Klien Tn. S saat dilakukan pemeriksaan dengan Barthel
Indeks (instrument untuk mengukur kemandirian dalam hal perawatan diri dan mobilitas), Tn. S
memperoleh total skor 130 yang berarti Tn. S dalam kategorimandiri.

SKOR NORTON
Aspek yang Dikaji Score
Kondisi fisik umum :
Baik 4
Aspek yang Dikaji Score
Kesadaran
Komposmentis 4

Akivitas
Ambulan 4
Mobilitas
Bergerak bebas 4
Inkontinensia
Tidak ada 4
Total Score 20
Kategori skor :
16-20 : Kecil sekali/tak terjadi
12-15 :Kemungkinan kecil terjadi
<12 : Kemungkinan besar terjadi

Interpretasi/kesimpulan :
Klien Tn. S saat dilakukan pemeriksaan dengan Skala Norton, Tn. S memperoleh total
skor 20 yang berarti Tn. S dalam kategori resiko dekubitus kecil sekali/tak terjadi.

M. PENGKAJIAN STATUS MENTAL KLIEN


1. Identifikasi tingkat intelektual dengan SPMSQ (Short Portable Mental Status Quesioner)
No. Pertanyaan Benar Salah Ket.
1. Tanggal berapa hari ini? √ Klien
menjawabtanggal 23
2. Hari apa sekarang? √ Klien menjawab hari
ini hari Senin
3. Apa nama tempat ini? √ Klien menjawab ini
adalah rumahnya
4. Dimana alamat anda? √ Klien menjawab di
RT 3 RW 2 Candirejo
5. Berapa umur anda? √ Klien
menjawab87 tahun
6. Kapan anda lahir (minimal tahun √ Klien menjawab1930
lahir)?
7. Siapa presiden Indonesia √ Klien menjawabtidak
sekarang?
8. Siapa presiden Indonesia √ Klien menjawabtidak
sebelumnya? tahu
9. Siapa nama ibu anda? √ Klien menjawabNasti
10. Berapa 20-3? Tetap pengurangan √ Klien menjawab 20-3
3 dari setiap angka baru, semua = 17
secara menurun berurutan. 17 -3 = 13
Jumlah

Interpretasi Hasil :
Salah 0-2 : Fungsi intelektual utuh
Salah 3-4 : Kerusakan intelektual ringan
Salah 5-7 : Kerusakan intelektual sedang
Salah 8-10 : Kerusakan intelektual berat

Interpretasi/kesimpulan :
Klien Tn. S saat dilakukan pemeriksaan dengan kuesioner SPMSQ, Tn. S
menjawab 7 pertanyaan dengan benar dan menjawab 3 pertanyaan dengan salah. Berdasarkan
hasil pemeriksaan, Tn. S termasuk dalam kategorikerusakan intelektual ringan.
2. Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE (Mini Mental
Status Exam)
Nilai Nilai
No Aspek kognitif Kriteria
maks klien
1 Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar
□ Tahun : 2017 (benar)
□ Musim : Hujan (benar)
□ Tanggal : 23 (benar)
□ Hari: Senin (benar)
□ Bulan : Januari(benar)
Orientasi 5 5 Dimana kita sekarang
□ Kabupaten Semarang(benar)
□ Kecamatan Ungaran(benar)
□ Kelurahan Candi (benar)
□ Dusun Siroto (benar)
□ RW 02 (benar)
2 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 obyek (oleh pemeriksa) 1
detik untuk mengatakan masing-
masing obyek. Kemudian tanyakan
kepada klien ketiga obyek tadi (untuk
disebutkan)
□ Obyek 1 : Rumah Sakit(benar)
□ Obyek 2 : Kantor (benar)
□ Obyek 3 : Puskesmas (benar)
3 Perhatian dan 5 1 Minta klien untuk memulai dari
kalkulasi angka 100 kemudian dikurangi 7
sampai 5 kali
100 - 7 = 93
93 - 7 = 87

4 Mengingat 3 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga


obyek pada no 2 tadi, bila benar 1
point untuk masing-masing obyek
□ Obyek 1 : Rumah Sakit(benar)
□ Obyek 2 : Kantor (benar)
□ Obyek 3 : Puskesmas (benar)
5 Bahasa 9 5 Tunjukkan pada klien suatu benda
dan tanyakan namanya pada klien
□ Mengetahui nama : kertas(benar)
Minta pada klien untuk mengulang
kata berikut “tak ada jika, dan, atau,
tetapi”. Bila benar, nilai 1 poin.
□ Tak ada jika (salah)
□ Dan (salah)
□ Atau (salah)
□ Tetapi (salah)

Minta klien untuk mengikuti perintah


berikut yang terdiri dari 3 langkah :
“Ambil kertas di tangan anda. Lipat
dua dan taruh di lantai”
□ Ambil kertas (benar)
□ Lipat dua (benar)
□ Taruh di lantai (benar)

Perintahkan pada klien untuk hal


Nilai Nilai
No Aspek kognitif Kriteria
maks klien
berikut Tutup mata anda
□ Aktifitas sesuai perintahTutup
mata anda (benar)
Total nilai 22

>23 : Aspek kognitif dari fungsi mental baik


18-22 : Kerusakan aspek fungsi mental ringan
≤ 17 : Terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat

Interpretasi hasil :
Klien Tn. S saat dilakukan pemeriksaan dengan kuesioner MMSE, Tn.S memperoleh total skor
sebanyak 22, Tn. S termasuk dalam kategori kerusakan aspek fungsi mental ringan

3. Skala depresi
Jawaban yang
No Pertanyaan
sesuai
Apakah anda sebenarnya puas dengan
1 TIDAK ya
kehidupan anda
Apakah anda telah meninggalkan banyak
2 tidak YA
kegiatan dan minat/kesenangan anda?
Apakah anda merasa kehidupan anda
3 tidak YA
kosong?
4 Apakah anda merasa sering bosan? tidak YA
Apakah anda mempunyai semangat yang
5 TIDAK -
baik setiap saat?
Apakah anda merasa takut sesuatu yang
6 - YA
buruk akan terjadi pada anda?
Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian
7 TIDAK ya
besar hidup anda?
8 Apakah anda merasa sering tidak berdaya? tidak YA
Apakah anda lebih sering di rumah daripada
9 pergi keluar dan mengerjakan sesuatu hal - YA
yang baru?
Apakah anda merasa mempunyai banyak
10 masalah dengan daya ingat anda tidak YA
dibandingkan kebanyakan orang?
Apakah anda pikir bahwa hidup anda
11 TIDAK ya
sekarang menyenangkan?
Apakah anda merasa tidak berharga seperti
12 tidak YA
perasaan anda saat ini?
13 Apakah anda merasa penuh semangat? TIDAK -
Apakah anda merasa bahwa keadaan anda
14 tidak YA
tidak ada harapan?
Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih
15 - YA
baik keadaannya dari pada anda?
Total score 5
*) Setiap jawaban yang sesuai mempunyai skor 1
Keterangan :
Score 5 -9 : Kemungkinan depresi
Score 10 atau lebih : Depresi

Interpretasi/kesimpulan :
Klien Tn. S saat dilakukan pemeriksaan dengan kuesioner Skala Depresi,Tn.S memperoleh total
skor sejumlah 5 sehingga Tn. S dapat dikategorikan dalam kategori kemungkinan depresi.

N. PENGKAJIAN PERILAKU TERHADAP KESEHATAN


Kebiasaan merokok : Tn. S pernah merokok, nemun
sejak 3 tahun yang lalu Tn. S
sudah berhenti merokok
Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1 Kebutuhan nutrisi
Frekuensi makan : 3 x sehari, teratur
Jumlah makanan yang : 1 porsi habis
dihabiskan
Snack : Kadang-kadang
2 Pemenuhan cairan
Frekuensi minum : 6 gelas
Jenis minuman : Air putih, susu, kopi
3 Pola kebiasaan tidur
Jumlah waktu tidur : 8 jam
Gangguan tidur : Tidak ada. Tn.S dapat tidur
nyenyak pada malam hari dan
dapat tidur siang
Penggunaan waktu luang : Membaca majalah
4 Pola eliminasi BAB
Frekuensi BAB : 1 hari sekali
Konsistensi : Lembek
Gangguan BAB : Tidak ada gangguan dalam BAB
5 Pola eliminasi BAK
Frekuensi : 6-7 kali/hari
Warna urin : Kuning jernih
Gangguan BAK : Tidak ada gangguan dalam BAK
6 Pola aktifitas
Kegiatan produktif yg : Tidak ada. Tn. S hanya
dilakukan menghabiskan waktu dirumah
7 Pola pemenuhan personal
hygiene
Mandi : 1x sehari pada oagi hari
Memakai sabun : Ya
Sikat gigi : 2x sehari pagi dan sore
Menggunakan pasta gigi : Ya
Berganti pakaian bersih 1x sehari pagi setelah mandi

O. PROGRAM TERAPI
No Nama obat Dosis
1 Metformin 500 mg 3x1
2 Simvastatin 10 mg 1x1

P. ANALISA DATA
Hari/ Tgl/ Data Etiologi Problem
Jam
Senin DS : Hiperglikemi (DM) Ketidak-
23/01/18 - Klien mengeluhkedua efektifan perfusi
13.00 kakinya terasa kesemutan jaringan perifer
namun tidak mati rasa.
- Klien mengatakan
sudah lamamengalami
keluhankesemutan seperti
yang dirasakan saat
ini yaitu sejak 3 bulan yang
lalu.
DO :
- CRT 4 detik.
- Turgor kulitkering,
akral dingin
Senin DS : Kelesuan fisiologis Keletihan
23/01/18 - Klien mengatakan
13.05 sejak 3 bulan yang lalu
mempunyai keluhan cepat
merasa lelah saat
beraktivitas.
DO :
- Indeks KATZKlien Tn.
Stermasuk dalam kategori
mandiri dalam makan,
kontinensia (BAB dan
BAK), menggunakan
pakaian, mandi,pergi ke
toilet dan berpindah.
- TD : 130/80 mmHg
- Nadi : 82 x/menit
- RR : 23 x/menit
Senin DS: Gangguan sensasi Resiko Cedera
23/01/18 - Klien mengatakanfungsi
13.10 penglihatannyasudah
berkurang, sudah tidak
mampu lagi melihat jarak
jauh dengan jelas, dan
menggunakan alat bantu
kaca mata untuk membaca.
- Klien mengeluh kakinya
kesemutan tapi tidak mati
rasa.
- Klien mengatakan
jarang memakai alas kaki.
DO :
- Lingkungan tempat
tinggal Tn. S bersih, jalan
rata namun agak licin
karena berlumut, tidak
adasampah berserakan,
kamar tidur klien tampak
rapi, lantai rumah dari
keramik, lantai kamar
mandi agak licin dan tidak
ada pegangan dinding,
penerangan di rumah Tn. S
cukup terang pada siang
karena terdapat jendela dan
ventilasi yang dibuka setiap
pagi dan pada malam hari
lampu penerangan cukup
terang namun penerangan
di kamar mandi agak redup.
- Klien mampu bergerak
dengan bebas.
- Ada tremor.
- Barthel Indeks Tn.S
memperoleh total skor
130 yang berarti Tn. S
dalam kategori mandiri.

Q. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan hyperglikemia
2. Keletihan berhubungan dengan kelesuan fisiologis
3. Resiko cedera berhubungan dengan gangguan sensasi
R. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Hari/Tgl/Jam Diagnosa Tujuan/Kriteria Hasil Rencana Keperawatan
Keperawatan
1. Senin Ketidakefektifan NOC NIC
23/01/18 perfusi jaringan
13.15 berhubungan NOC label : Kelas : Manajemen
dengan diabetes  Tissue Integrity : Perfusi Jaringan
melitus/ Skin & mucous Intervensi : Pencegahan
Hyperglikemia membrane Sirkulasi
Tissue perfusion : a. Lakukan penilaian
Peripheral sirkulasi perifer (nadi perifer)
-Suhu ektremitas kulit secara komprehensif.
normal b. Monitor panas,
kemerahan, nyeri,
‐i ntegritas kulit yang parestesia pada
baik bisa dipertahankan ekstremitas.
‐ Melaporkan adanya c. Ajarkan klien cara
gangguan sensasi atau perawatan kaki dan kuku.
nyeri pada daerah kulit d. Ajarkan senam kaki
yang mengalami diabetik.
gangguan e. Anjurkan klien
‐ Suhu ektremitas kulit menggunakan pelembab
normal pada kulit kaki yang kering.

2. Senin Keletihan NOC Nic


23/01/18 berhubungan
13.20 dengan kelesuan  Endurance Energy management
fisiologis .
 Contrentation - observasi adanya
 Energy contervation pembatasan klien dalam
 Nutrional sttus : melakukan aktivitas
energi - dorong pasien untuk
mengungkapkan
Kriteria hasil : perasaan terhadap
 Memverbalisasikan keterbatasan
peningkata energi dan - kaji adanya faktor yang
merasa lebih baik menyebabkan kelelahan
 Menjelaskan - monitor nutrisi dan
penggunaan energi sumber energi yang
untuk mengatasi adekuat
kelelahan - monitor pasien akan
 Kecemasan menurun adanya kelelahan fisik
 Glukosa darah dan emosi secara
adekuat berlebihan
 Kwalitas hidup - monitor respon
meningkat kardiovaskuler terhadap
 Istrahat cukup aktivitas
 Mempertahankan - monitor pola tidur dan
kemampuan untuk lamanya tidur/istirahat
berkonsentrasi pasien
- dukung pasien dan
keluarga untuk
mengungkapkan
perasaan,berhubungan
dengan perubahan
hidup yang sebabkan
keletihan
- bantu aktivitas sehari
hari sesuai dengan
kebutuhan
- tingkatkan tirah baring
dan pembatasan
aktivitas(tingkatkan
periode istirahat )
- konsultasi dengan ahli
gizi untuk meningkatkan
asupan makanan yang
berenergi tinggi

Behavior management
Activity terapy
Energy management
Nutrition management

3. Senin Resiko cedera N0C NIC


23/01/18 berhubungan
13.25 dengan gangguan Outcomes : Manajemen Risiko
sensasi Pengetahuan Outcomes : Pencegahan
Pencegahan Jatuh Jatuh
Indikator : a. Anjurkan keluarga klien
a. Alas kaki yang tepat menyediakan pencahayaan
b. Penggunaan yang cukup terang.
pencahayaan lingkungan b. Anjurkan klien
yang benar menggunakan alas kaki
c. Strategi untuk yang aman.
menjaga permukaan lantai c. Anjurkan klien
tetap aman menghindari permukaan
d. Tidak terjadi jatuh lantai yang licin.
d. Ajarkan klien untuk
memodifikasi gaya berjalan
(terutama kecepatan dan
pergerakan).

S. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No. Tanggal Implementasi Respon


DX
1. Selasa 1. Mengajarkan senam kaki S : Tn. S mengatakan sudah memahami
24/01/18 diabetik. langkah-langkah senam kaki diabetik dan
09.30 akan rutin mempraktekkan senam.
O : Tn. S mampu mempraktekkan senam
kaki diabetik.
1. Selasa 2. Mengajarkan klien cara S : Tn. S mengatakan sudah memahami
24/01/18 perawatan kaki dan kuku. cara merawat kaki dan kuku, dan akan
10.00 mempraktekkannya.
O : Tn. S mampu menyebutkan kembali
cara merawat kaki dan kuku.

1. Selasa 3. Menganjurkan klien S : Tn. S mengatakan akan


24/01/18 menggunakan pelembab pada menggunakan lotion pada kulit kakinya.
10.30 kulit kaki yang kering. O : Tn. S mengoleskan lotion pada kulit
kaki dan kulit yang kering.
2. Rabu 4. Berdiskusi dengan klien S : Tn. S mengatakan aktivitas yang bisa
25/01/18 jenis dan banyaknya aktivitas dilakukan hanya kebutuhan dasar seperti
09.00 yang bisa dilakukan. ke kamar mandi dan makan, dan mengisi
waktu luang dengan membaca majalah.
O : Tn. S mampu memilih dan membatasi
aktivitas fisiknya.
2. Rabu 5. Melatih ROM aktif untuk S : Tn. S mengatakan otot-ototnya terasa
25/01/18 mengurangi ketegangan otot. lemas setelah dilatih.
09.15 O : Tn. S mampu mengikuti gerakan
dengan benar.
2. Rabu 6. Menganjurkan klien S : Tn. S mengatakan akan tetap makan
25/01/18 menjaga asupan nutrisi adekuat 3 kali sehari dan tidur siang jika bisa.
09.45 dan menganjurkan untuk tidur O : Tn. S tampak segar.
siang.
1. Rabu 7. Monitoring panas, S : Tn. S mengatakan kesemutan sudah
25/01/18 kemerahan, nyeri, parestesia berkurang dan sudah berlatih senam kaki.
10.00 pada ekstremitas, pengisian O : Tidak ada kemerahan pada
kapiler perifer. ekstremitas. CRT 3 detik.
2. Rabu 8. Monitoring sistem S : Tn. S mengatakan sudah membatasi
25/01/18 kardiorespirasi klien (TD, nadi, aktivitasnya.
10.00 RR). O : TD = 130/80 mmHg, Nadi = 85
x/menit, RR = 22 x/menit.
3. Kamis 9. Menganjurkan klien S : Tn. S mengatakan akan mengganti
26/01/18 menyediakan pencahayaan lampu dirumahnya dengan lampi yang
13.00 yang cukup terang. lebih terang.
O : Penerangan rumah Tn. S redup.

3. Kamis 10. Menganjurkan klien S : Tn. S mengatakan akan memakai alas


26/01/18 menggunakan alas kaki yang kaki yang aman.
13.10 aman. O : Tn. S memakai alas kaki yang aman.
3. Kamis 11. Menganjurkan klien S : Tn. S mengatakan akan berhati-hati
26/01/18 menghindari permukaan lantai bila berjalan di permukaan lantai yang
13.15 yang licin. licin.
O : Lantai dikamar mandi Tn. S licin.
3. Kamis 12. Mengajarkan klien untuk S : Tn. S mengatakan akan berjalan
26/01/18 memodifikasi gaya berjalan. pelan-pelan.
13.20 O : Tn. S tampak mempraktekkan gaya
berjalan yang pelan-pelan.
4. Kamis 13. Memberikan penyuluhan S : Tn. S mengatakan sudah memahami
26/01/18 tentang lima pilar Diabetes tentang lima pilar Diabetes Mellitus.
13.20 Mellitus. O : Tn. S mampu menyebutkan lima pilar
DM : obat, diet, edukasi, latihan fisik dan
monitor kadar gula darah.
2,3. Kamis 14. Monitoring sistem S : Tn. S mengatakan sudah rutin senam
26/01/18 kardiorespirasi klien (TD, nadi, kaki sehingga kesemutan sudah mulai
13.30 RR), parestesia, kemerahan berkurang.
ekstremitas. O : TD = 120/80 mmHg, Nadi = 80
x/menit, RR = 20 x/menit, tidak tampak
adanya kemerahan pada ekstremitas.
4. Jumat 15. Mengajarkan teknik S : Tn. S mengatakan otot tubuhnya
27/01/18 relaksasi otot progresif. terasa rileks.
09.00 O : Tn. S mampu mengikuti teknik
relaksasi otot progresif seperti yang
diajarkan.

T. EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi


Rabu Ketidakefektifan perfusi S:
25/01/18 jaringan berhubungan - Tn. S mengatakan sudah memahami langkah-
12.00 dengan hyperglikemia langkah senam kaki diabetik dan sudah rutin
mempraktekkan senam.
- Tn. S mengatakan sudah memahami cara
merawat kaki dan kuku, dan sudah
mempraktekkannya.
- Tn. S mengatakan akan menggunakan lotion
pada kulit kakinya.
- Tn. S mengatakan kesemutan sudah
berkurang dan sudah berlatih senam kaki.
O:
- Tn. S mampu mempraktekkan senam kaki
diabetik.
- Tn. S mampu menyebutkan kembali cara
merawat kaki dan kuku.
- Tn. S mengoleskan lotion pada kulit kaki dan
kulit yang kering.
- Tidak ada kemerahan pada ekstremitas.
- CRT 3 detik.
A : Masalah ketidakefektifan perfusi jaringan
teratasi.
P:
- Motivasi klien untuk mempertahankan senam
kaki secara rutin.
- Motivasi klien untuk rutin melakukan
perawatan kaki dan kuku secara rutin.
Rabu Keletihan berhubungan S:
25/01/18 dengan kelesuan fisiologis. - Tn. S mengatakan aktivitas yang bisa
12.15 dilakukan hanya kebutuhan dasar seperti ke kamar
mandi dan makan, dan mengisi waktu luang
dengan membaca majalah.
- Tn. S mengatakan otot-ototnya terasa lemas
setelah dilatih ROM.
- Tn. S mengatakan mempertahankan asupan
nutrisi dan tidur siang jika bisa.
O:
- Tn. S mampu memilih dan membatasi aktivitas
fisiknya
- Tn. S mampu mengikuti gerakan ROM dengan
benar.
- Tn. S tampak segar.
- TD = 130/80 mmHg, Nadi = 85 x/menit, RR =
22 x/menit
A : Masalah keletihan teratasi.
P:
- Motivasi klien untuk mempertahankan jenis
aktivitas yang bisa dilakukan.
- Monitor sistem kardiorespirasi klien.
Jumat Resiko cedera S:
27/01/18 berhubungan dengan - Tn. S mengatakan sudah mengganti lampu
11.15 gangguan sensasi. rumah dengan yang lebih terang dan sudah berhati-
hati saat berjalan.
O:
- Penerangan rumah Tn. S sudah cukup terang.
- Gaya berjalan Tn. S pelan dan berhati-hati.
- Tn. S memakai alas kaki yang nyaman dan
aman.
- TD = 120/80 mmHg, Nadi = 80 x/menit, RR =
20 x/menit, tidak tampak adanya kemerahan pada
ekstremitas.
A : Masalah resiko cedera teratasi.
P:
- Motivasi klien untuk mempertahankan gaya
berjalan yang pelan dan berhati-hati.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat
jumlahnya dimasa mendatang. Diabetes merupakan salah satu ancaman utama bagi
kesehatan umat manusia abad 21.
Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif.
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang menjadi masalah pada kesehatan
masyarakat. Oleh karena itu Diabetes Mellitus tercantum dalam urutan keempat prioritas
penelitian nasional untuk penyakit degeneratif setelah penyakit kardiovaskuler,
serebrovaskuler, rheumatik dan katarak.
B. Saran
1. Selalu berhati-hatilah dalam menjaga pola hidup. Sering berolahraga dan istirahat
yang cukup.
2. Jaga pola makan anda. Jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan atau
minuman yang terlalu manis. Karena itu dapat menyebabkan kadar gula melonjak
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Associaton, 2007. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus,


Diabetes Care S: 31- 42.
Perkeni, 2010. Petunjuk praktis pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2.Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku saku diagnosis keperawatan. Jakarta :EGC
Kozier, Barbara. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep Proses dan Praktik edisi VII
Volume 1. Jakarta : EGC
Tandra, Hans. 2007. Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui tentang Diabetes. Surabaya : EGC
NANDA, alih bahasa Made Sumarwati dan Nike Budhi Subekti. 2012.
NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC
Wilkinson, J. M. & Nancy R. A., alih bahasa Esty Wahyuningsih. 2012.
Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.
Jakarta: EGC
Tjokroprawiro, Askandar. 2007. ILMU PENYAKIT DALAM. Surabaya :Airlangga University Press.
Karyadi, KS Sri Hartini. 2009. Diabetes Siapa Takut!!, Panduan Lengkap
untuk Diabetasi, Keluarganya, dan Professional medis,Bandung: Qanita.
Sudoyo Aru W, Setiohadi Bambang, Alwi Idrus. 2006. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilit III, Edisi
IV, Jakarta : FK-UI
Slamet Suryono (2006). Penatalaksanaan diabetes terpadu. Jakarta : EGC
Soegondo, Sidartawan. 2005. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu, Sebagai Panduan
Penatalaksanaan Bagi Dokter Maupun Edukato