Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENYEMPURNAAN I
PENGELANTANGAN PADA KAIN KAPAS

Disusun oleh :

Kelompok 1

Nama anggota : 1. Gita Feriani Rachman (14020051)


2. Lusy Fawziah Hamdayani (14020080)
3. Dzikrina Islamiati (14020082)
4. Aji Setiawan (14020087)
5. Puspitha Nurjanah (14020095)
Dosen : M. Ichwan, AT,MS.Eng.

Tgl Praktek : 17 Maret 2016

POLITEKNIK STTT
BANDUNG
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan Tujuan


1. Untuk mengetahui pengaruh variasi zat pembasah pada proses merserisasi.
2. Untuk mengetahui pengaruh zat pembasah antara kain putih kapas dan kain grey
kapas.
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Serat Kapas


Serat kapas tumbuh menutupi seluruh permukaan biji kapas. Dalam tiap-tiap buah
terdapat 20 biji kapas atau lebih. Serat mulai tumbuh pada saat tanaman berbunga dan
merupakan pemanjangan sebuah sel tunggal dari epidermis atau selaput luar biji. Sel membesar
sampai diameter maksimum dan kemudian sel yang berbentuk silinder tersebut tumbuh yang
mencapai panjang maksimum. Pada saat itu serat merupakan sel yang sangat panjang dengan
dinding tipis yang menutup protoplesma dan inti. Pada saat yang sama dengan tumbuhnya
serat, tumbuh juga serat-serat yang sangat pendek dan kasar yang disebut linter. Lima belas
sampai delapan belas hari berikutnya mulai masa pendewasaan serat, dimana dinding sel makin
tebal dengan terbentuknya lapisan-lapisan selulosa dibagian dalam dinding yang asli.
Dinding yang asli disebut dinding primer dan dinding yang menebal pada waktu
pendewasaan disebut dinding sekunder. Pertumbuhan dinding sekunder tersebut berlangsung
terus sampai hari ke 45 sampai hari ke 75 atau satu dua hari sebelum buah terbuka.
Pada waktu serat dewasa, agar sel serat tetap bertahan dalam lapisan epidermis. Serat
selama pertumbuhan berbentuk silinder dan diameternya kurang lebih sama di bagian tengah
serat, agak membesar dibagian dasar dan mengecil kearah ujungnya. Ketika buah kapas
terbuka uap air yang ada di dalam menguap, sehingga serat tidak berbentuk silinder lagi.
Dalam proses pengeringan ini dinding serat mengerut, lumennya menjadi lebih kecil
dan lebih pipih dan terbentuk puntiran pada serat yang disebut konvolusi.
Arah puntiran baik arah S maupun arah Z dapat terjadi dalam satu serat. Jumlah
putiran berkisan antara 50 sampai 100 per inci bergantung pada jenis, kondisi pertumbuhan
dan pengeringan.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Bak Larutan Merser
2. Pengaduk kaca
3. Timbangan digital
4. Frame merser
5. Kain kapas grey
6. Kain kapas putih

3.2 Diagram Alir Proses

Timbang bahan dan larutan

Proses merserisasi

Pencucian air panas

Penetralan

Pengeringan

Evaluasi
3.3 Resep Zat dan Fungsinya

1 2 3 4
H2O2 35% (mL/L) 20 20 30 30
Pembasah (mL/L) 1 1 1 1
Na2CO3 (pH) - 11 10 11
Stabilisator (mL/L) 2 2 2 2
Vlot 1:20 1:20 1:20 1:20
Temperatur (˚C) 85 85 85 85
Waktu batch 6 jam 6 jam 6 jam 6 jam
Waktu steam 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit

Fungsi zat:
3.3 Skema Proses

NaOCl
NaClO2
Pembasah 25 - 40˚C

30˚C
30˚C

10 20 30 40 menit

H2O2
NaOH 38˚Be
Magnesium silikat
Natrium silikat 85˚C
Pembasah

30˚C 30˚C

10 20 80 90 menit

Skema Pad-Steam:

Padding Steaming Washing Drying


g
Skema Pad-batch:

Padding Batching Washing Drying

3.4 Perhitungan Zat

1 (Bella) 2 (Asep) 3 (Dzikrina) 5 (Dinda)


H2O2 35% 20 𝑥 200 20 𝑥 200 30 𝑥 200 30 𝑥 200
=4 =4 =6 =6
1000 1000 1000 1000
(ml/L)
Pembasah 1 𝑥 200 1 𝑥 200 1 𝑥 200 1 𝑥 200
= 0,2 = 0,2 = 0,2 = 0,2
1000 1000 1000 1000
(ml/L)
Stabilisator 2 𝑥 200 2 𝑥 200 2 𝑥 200 2 𝑥 200
= 0,4 = 0,4 = 0,4 = 0,4
1000 1000 1000 1000
(ml/L)

3.5 Data Percobaan dan Evaluasi

1 (Asep) 2 (Dzikrina) 3 (Dinda) 4 (Dzikrina)

Hasil
BAB IV
DISKUSI

Proses merserisasi dilakukan untuk menghasilkan benang atau kain berkualitas tinggi
dan untuk meningkatkan kekuatan serta kecerahan warna kain. Proses merserisasi juga
diartikan sebagai perendaman dalam waktu singkat dengan pemberian konsentrasi NaOH 26-
30 Be sambil diberikan tegangan pada bahan dengan menggunakan mesin khusus. Efek yang
ditimbulkan dari proses merserisasi ini adalah dengan meningkatnya kilau bahan,
meningkatnya kekuatan tarik, meningkatnya daya serap terhadap air maupun zat warna atau
lainnya.
Dilihat dari praktik yang sudah dilakukan pada kain kapas putih dan kain kapas grey,
Untuk metoda pad-batching, semula kain setelah direndam oleh resep kain
dimasukakan dalam padder kemudian di bacam selama waktu tertentu, biasanya 6 jam.
Setelah 6 jam barulah kain dicuci panas dan dindin. Sementara untuk metoda pad-steam,
setelah kain direndam dalam resep, kain di masukkan kedalam padder kemudian kain di steam
oleh mesin steam yang suhunya diatur sedemikian rupa. Dan untuk metoda perendaman pada
saat kain direndam dan mulai dipanaskan, kita harus memperhatikan suhu air tersebut, waktu
perendaman yang digunakan pada praktikum kali ini selama 45 menit, waktu ini mulai
dihitung pada suhu air sudah 100oC atau pas air mulai mendidih, ketika air sudah mendidih
dan mulai perendaman, kita harus mengaduk-ngaduk kain saat direndam,

Pengujian yang digunakan dalam praktek ini yaitu uji derajat putih. Dimana kita
akan membandingkan seberapa putih kain hasil pengelantangan dan menilainya dengan
jumlah skor. Kain hasil proses pengelantangan ini sudah jelas warnanya akan menjadi lebih
putih, karena kotoran dalam kain sudah hilang. Kemudian, untuk mengevaluasi hasil
pengelantangan pada kain, didapatkan skor untuk membandingkan derajat putihnya. Derajat
putih dapat dilakukan dengan cara meletakkan semua kain yang akan di tes dibawah
penerangan sinar matahari, kemudian bandingkan dan beri skor lalu skor diurutkan dari nilai
tertinggi ke nilai yang terendah.
BAB V

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 Yuliasti S.SiT, Lia. 2011. Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil. Bandung.


 Lubis S.Teks, Arifin, dkk. 1994. Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung: STT
Tekstil.
 2009. Silabus Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil. Soreang: SMKN 1 Katapang.
 2004. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung: STT Tekstil.
 Hasyim S.Teks, M.Si, Elina. Modul Pengantar Manufaktur Proses Persiapan
Penyempurnaan. Bandung: STT Tekstil.
 Ichwan, AT. MS.Eng, M dan Suprapto. M.Si, Agus. 2005. Teknologi Persiapan
Penyempurnaan. Bandung: STT Tekstil.

Anda mungkin juga menyukai