Anda di halaman 1dari 21

PENINGKATAN MUTU SEKOLAH

MELALUI
SUPERVISI KEGIATAN EKSTRAKURKULER
(Artikel Hasil Penelitian)

Puji Sri Winarni-942015005


Pujisriwin2@gmail.com
MMP-FKIP UKSW 2016

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu sekolah melalui supervisi


kegiatan ekstrakurikuler. Latar belakang masalah adalah kegiatan ekstrakurikuler
belum dikelola secara profesional sesuai fungsi manajemen dan juga belum sesuai
prinsip-prinsip peningkatan mutu. Padahal kegiatan ekstrakurikuler merupakan
ujung tombak strategi peningkatan mutu sekolah di sekolah ini, mengingat dari
unsur akademik sudah tidak bisa diharapkan (karena kemampuan akademik siswa
yang rendah). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan
teknik analisa secara diskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan dalam kurun
waktu hampir 4 bulan, dengan melalui 2 siklus tindakan Siklus 1 dan Siklus 2.
Pengumpulan data secara observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Subyek
penelitian adalah pelatih/pembina ekstrakurikuler, siswa dan sekolah. Teknik
pengolahan data dengan statistik sederhana prosentase perolehan skor. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengelolaan kegiatan
ekstrakurikuler belum memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) dan hanya
mencapai skor 47,3% (pra siklus) dari skor maksimal 100%, tetapi setelah melalui
tindakan supervisi tahap siklus 1, skor naik menjadi 71,7%. Setelah melalui tahap
refleksi perlu diambil tindakan dengan supervisi pada tahap siklus 2, dan hasilnya
memperoleh peningkatan dengan skor mencapai 89,6%. Hasil ini mendapat respon
positif dari pihak internal sekolah maupun eksternal sekolah, karena prestasi non
akademik di sekolah ini meningkat sehingga mampu mendongkrak nama sekolah.
Fakta ini membuat nama sekolah diperhitungkan mutunya dari segi non akademik.
Lulusan dengan bekal non akademik yang bermutu juga mampu memberi kepuasan
pada pihak penerima lulusan. Maka harapan dari penelitian ini, supervisi kegiatan
ekstrakurikuler perlu dilaksanakan secara rutin/berkala dalam rangka meningkatkan
mutu sekolah.
Kata Kunci : Supervisi Kegiatan Ekstrakurikuler, Mutu Sekolah.
PENDAHULUAN

Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar yang sengaja didesain dengan
spesifikasi masing-masing berdasar tingkatan dan otoritas bidang yang dipelajari. Sagala (2009)
mengartikan sekolah sebagai suatu institusi atau lembaga pendidikan yang melaksanakan
pelayanan belajar dan proses pendidikan, dan merupakan suatu sistem yang kompleks dan
dinamis. Sehingga tugas utama sekolah adalah menjalankan proses belajar mengajar,
mengadakan evaluasi dan meluluskan peserta didik yang berkualitas sesuai dengan standar yang
ditetapkan.
Sekolah sebagai lembaga tempat anak mendapat pendidikan yang ke dua setelah keluarga,
maka sekolah merupakan “agent of change”, yang bertugas untuk membangun peserta didik agar
sanggup memecahkan masalah (internal) dan memenangkan persaingan eksternal yang
dioreientasikan pada pembentukan manusia berkompeten dan beradab (Aedi & Elin dalam Tim
Dosen (2012: 289). Barnawi dan Arifin (2014), mengartikan sekolah sebagai salah satu tempat
yang dipakai oleh siswa dan guru untuk bertatap muka membahas hal-hal yang berkaitan dengan
masalah sekitar pembelajaran dan pendidikan, yang didukung oleh beberapa unsur demi
tercapaianya tujuan pembelajaran atau tercapainya tujuan pendidikan.
Di sekolah ada 2 komponen pokok yaitu siswa dan guru yang kemudian didukung oleh
berbagai unsur pendukung. Unsur pendukung ini yang sering menjadi alasan bagi orang tua
dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka. Asumsi mereka sekolah yang bermutu yaitu
sekolah yang memiliki fasilitas lengkap dan sering unggul dalam berbagai kompetisi. Menurut
Barnawi dan Arifin (2014) ada 2 jenis sekolah yaitu sekolah biasa dan sekolah pilihan. Sekolah
biasa adalah sekolah yang tidak menarik, yang tidak memiliki kelebihan sehingga dipandang
sebelah mata oleh masyarakat. Sekolah ini jumlahnya sangat banyak sehingga msyarakat mudah
mendapakannya, sedangkan sekolah pilihan adalah sekolah yang memiliki reputasi unggulan,
jumlahnya tidak banyak dan untuk masukpun kadang diperlukan persaingan yang ketat.
Sekolah-sekolah pilihan inilah yang biasanya dianggap bermutu, mutu disebut juga
kualitas, menurut Goetsch dan Davis (1994) dalam Tjiptono (2003: 4) kualitas ialah “suatu
kondisi yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi
atau melebihi harapan”. Sehingga berkualitas dapat mencakup: 1) usaha memenuhi /melebihi
harapan; 2) mencakup produk produk, jasa manusia, proses dan lingkungan; dan 3) merupakan
kondisi yang berubah (sekarang dianggap bermutu mungkin suatu saat dapat dianggap tidak
bermutu).
Sagala (2009) meninjau mutu sekolah dari segi sosial ekonomi, yang terdiri dari sekolah
favorit, maju, sedang dan tertinggal, maka dengan keadaan tersebut sekolah membutuhkan
pengelolaan yang profesional dalam rangka mewujudkan sekolah yang bermutu. Merujuk pada
pemikiran Edward Sallis, Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi kriteria sekolah bermutu,
yaitu: (1) sekolah berfokus pada pelanggan, (2) sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah
masalah yang muncul, (3) sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya, (4). sekolah
memiliki strategi untuk mencapai kualitas, (5) sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan
sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas, (6) sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan
untuk mencapai kualitas, (7) sekolah mengupayakan proses perbaikan, (8) sekolah mendorong
orang dipandang memiliki kreativitas, (9) sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap
orang, (10) sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas, (11) sekolah memandang
atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas layanan
lebih lanjut, (12) sekolah memandan kualitas sebagai bagian itegral dari budaya kerja, (13)
sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus.
Mutu sekolah menurut Kholis (2014) adalah mutu hasil dan proses, sekolah bermutu
dapat ditinjau dari tiga level, yaitu: berpangkal pada sistem manajemen leadership;
dikembangkan oleh guru dalam mengelola kelas; dan budaya mutu akademik yang berkembang
di kalangan civitas akademik. Dalam penelitian ini sekolah bermutu yaitu jika sekolah tersebut
berada pada level di atas sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya dan sebagai tempat rujukan
pertama masyarakat sekitar untuk menjadikan sekolah tersebut sebagai tempat belajar bagi anak-
anak mereka.
Setiap tahun orang tua siswa yang memiliki anak pada jenjang akhir pendidikan di SD
(kelas VI), maka mereka disibukan dengan mencari sekolah yang bermutu bagi anak-anak
mereka. Jika hasil ujian sekolah anak mereka sangat bagus maka mereka tidak akan mengalami
kebingungan, mereka sudah percaya diri mendaftar lebih dulu ke sokolah favorit (sekolah yang
menjadi rujukan pertama para orang tua). Hal ini berdampak pada sekolah yang tidak
favorit/kurang diminati siswa, sekolah tidak favorit ini akan mendapatkan siswa dengan rata-rata
kemampuan akademik di bawah rata-rata sekolah favorit.
Peristiwa tersebut juga terjadi di sebuah SMP negeri di ujung barat wilayah Kota
Semarang, Secara geografis letak sekolah ini tidak menguntungkan karena terletak sejauh satu
km dari jalan raya, untuk menuju ke sekolah siswa yang tidak diantar dengan menggunakan
kendaraan harus berjalan kaki kurang lebih 20 menit, atupun mereka bisa naik ojek dengan biaya
Rp. 3.000,00 (tahun 2016). Dampaknya anemo masyarakat berkurang, siswa yang memiliki
kemampuan akademik tinggi akan memilih terlebih dahulu sekolah yang letaknya lebih strategis.
Berdasar kondisi permasalahan tersebut, SMP ini telah menyusun strategi untuk
meningkatkan mutu sekolah di luar faktor akademik, yaitu melalui kegiatan non akademik/
kegiatan ekstrakurkuler. Diharapkan sekolah ini memiliki keunggulan yang mampu menjadi daya
tarik, mampu bersaing dengan sekolah negeri lain dalam wilayah yang sama. Tetapi berdasar
studi awal dari dokumentasi dan wawancara dari kepala sekolah, guru, pembina ekstrakurikuler
dan siswa dapat dicatat adanya kesamaan persepsi bahwa ternyata pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler belum mampu memberikan hasil yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan
pengelolaan dalam sistem manajemen yang belum maksimal (belum sesuai standar). Padahal
andalan utama peningkatan mutu sekolah ini adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler, maka untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
“Peningkatan Mutu Sekolah Melalui Supervisi Kegiatan Esktrakurikuler”.
Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian tentang supervisi
manajemen kegiatan ekstrakurkuler belum pernah dilakukan di sekolah ini, dan berdasar studi
dokumen serta hasil wawancara dengan orang tua/ komite sekolah, mereka belum pernah
dilibatkan dalam perencanaan program kegiatan ekstrakurikule. Supervisi pada kegiatan non
akademik (kegiatan ekstrakurikuler) sudah dilaksanakan tetapi belum menggunakan instrumen
yang baku sesuai standar peningkatan mutu. Padahal supervisi merupakan hal yang penting
dalam usaha peningkatan mutu karena supervisi adalah sebagai suatu usaha atau kegiatan
pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah atau lembaga
pendidikan lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien.
Seperti dalam kegiatan manajemen, dalam rangka mencapai mutu sekolah yang lebih baik
harus ditempuh dengan pengelolaan manajemen sekolah yang baik, dan salah satu fungsi
manajemen adalah pengawasan. Salah satu alat untuk mengadakan pengawasan dalam sekolah
adalah melalui kegiatan supoervisi. Menurut Fatkhurrohman (2011) supervisi adalah aktivitas
yang menentukan kondisi dan syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapaianya
tujuan-tujuan pendidikan. Kemendikbud (2015:5) supervisi adalah suatu kegiatan profesioanl
yang dilakukan oleh pengawas sekolah/ kepala sekolah dalam rangka membantu kepala sekolah,
guru, tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan
pendidikan dan pembelajaran. Dalam penelitian ini supervisi dimaksudkan sebagai suatu program
pengawasan terhadap berlangsungnya suatu kegiatan untuk menjaga mutu program tersebut
supaya berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan, kegiatan dalam hal ini adalah kegiatan
ekstrakurikuler.
Menurut Hendri (2008) kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesaui dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh sekolah.
Kemendikbud (2009) menjelaskan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang
dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan
kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan
kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang
dikembangkan oleh kurikulum. Dalam penelitian ini batasan kegiatan ekstrakurikuler adalah
kegiatan pendidikan di sekolah yang dilaksanakan di luar jam kurikuler yang bersifat mendukung
kegiatan kurikuler dan berfungsi mengembangkan kemampuan, potensi, bakat dan minat peserta
didik. Esensi Kegiatan ekstrakurikuler adalah salah satu perangkat operasional (supplement dan
complements) kurikulum, yang perlu disusun dan dituangkan dalam rencana kerja tahunan/
kalender pendidikan satuan pendidikan.
Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan adalah: (1)
meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik; (2) mengembangkan
bakat dan minat peserta didik dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia
seutuhnya. Sedangkan prinsip kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan adalah sebagai
berikut: (1) bersifat individual, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai
dengan potensi, bakat, dan minat peserta didik masing-masing; (2) bersifat pilihan, yakni bahwa
kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara
sukarela; (3) keterlibatan aktif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler menuntut keikutsertaan
peserta didik secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing; (4) menyenangkan,
yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan dalam suasana yang menggembirakan bagi
peserta didik; (5) membangun etos kerja, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan
dan dilaksanakan dengan prinsip membangun semangat peserta didik untuk berusaha dan bekerja
dengan baik dan giat; dan (6) kemanfaatan sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler
dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat.
Dalam rangka mendukung kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler mempunyai fungsi
yaitu: (1) fungsi pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk
mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan
potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan;
(2) fungsi sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik; (3) fungsi rekreatif, yakni bahwa
kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan
sehingga menunjang proses perkembangan peserta didik; dan (4) fungsi persiapan karir, yakni
bahwa kegiatan berfungsi untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui
pengembangan kapasitas.
Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler dalam Kurikulum 2013 dikelompokan menkadi dua
yaitu: (1) ekstrakurikuler wajib yang merupakan program ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh
seluruh peserta didik, terkecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak
memungkinkannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut, dalam hal ini adalah
kegiatan kepramukaa; dan (2) ekstrakurikuler pilihan merupakan program ekstrakurikuler yang
dapat diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Sedangkan
brntuknya oleh Kemendikbud jenis kegiatan ekstrakurikuler dikelompokan dalam tiga bentuk
yaitu (1) Krida; meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa/ LDKS, Palang
Merah Remaja/PMR, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka/ Paskibraka, dan lainnya; (2) Karya
ilmiah; meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja/ KIR, kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan
akademik, penelitian, dan lainnya; (3) Latihan/olah bakat/prestasi; meliputi pengembangan bakat
olahraga, seni dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan, dan lainnya; atau (4) Jenis
lainnya.
Tugas satuan pendidikan (kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan) harus
mengidentifikasi minat peserta didik untuk dikembangkan dalam kegiatan ekstrakurikuler yang
bermanfaat bagi peserta didik. Ide pengembangan dapat pula berasal dari peserta didik. Format
Kegiatan Kegiatan ekstrakurikuler dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk, yaitu (1)
individual; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh peserta
didik secara perorangan; (2) kelompok; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik; (3) klasikal; yakni kegiatan
ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh peserta didik dalam satu kelas;
(4) gabungan; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh
peserta didik antarkelas; (5) lapangan; yakni kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar sekolah atau
kegiatan lapangan.
Sedangkan panduan kegiatan ekstrakurikuler yang diberlakukan pada satuan pendidikan
paling sedikit memuat: (1) kebijakan mengenai program ekstrakurikuler; (2) rasional dan tujuan
kebijakan program ekstrakurikuler; (3) diskripsi program ekstrakurikuler yang berisi ragam
kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan, tujuan dan kegunaan kegiatan ekstrakurikuler,
keanggotaan/kepesertaan dan persyaratan, jadwal kegiatan, dan level supervisi yang diperlukan
dari orang tua peserta didik; (4) manajemen program ekstrakurikuler meliputi struktur organisasi
pengelolaan program ekstrakurikuler pada satuan pendidikan, level supervisi yang
disiapkan/disediakan oleh satuan pendidikan untuk masing-masing kegiatan ekstrakurikuler; dan
level asuransi yang disiapkan/disediakan oleh satuan pendidikan untuk masing-masing kegiatan
ekstrakurikuler; (5) pendanaan dan mekanisme pendanaan program ekstrakurikuler. Sedangkan
perencanaan dimulai dengan penjadwalan waktu kegiatan ekstrakurikuler yang sudah harus
dirancang pada awal tahun atau semester . Jadwal kegiatan ekstrakurikuler diatur sedemikian
rupa sehingga tidak menghambat pelaksanaan kegiatan kurikuler dan bisa diikuti peserta didik.
Dalam rangka meningkatkan mutu sekolah salah satu teknik yang digunakan adalah
dengan Penelitian Tindakan sekolah (PTS) yang diadopsi dari penelitian tindakan kelas (PTK),
dalam Depdiknas (2009: 11), penelitian tindakan sekolah adalah (1) penelitian partisipatoris yang
menekankan pada tindakan dan refleski berdasarkan pertimbangan rasional dan lagis untuk
melakukan perbaikkan terhadap suatu kondisi nyata: (2) memperdalam pemahaman terhadap
tindakan yang dilakukan; (3) memperbaiki situasi dan kondisi sekolah secara praktis. Secara
singkat PTS bertujuan mencari pemecahan atas masalah nyata yang dihadapi sekolah sekaligus
mencari jawaban ilmiah sehingga masalah yang dihadapi dapat terselesaikan melalui suatu
tindakan perbaikkan.
Sebagai kajian pustaka yaitu adanya hasil peneltian relevan, yang telah dilakukan oleh :
(1) penelitian yang dilakukan Nining Catur Ningrum tahun 2012 menyimpulkan bahwa
pelaksanaan kegiatan pengembangan diri/ kegiatan ekstrakurikuler di Kecamatan Pakis
Kabupaten Magelang masih menemui hambatan terutama tidak adanya pedoman pelaksanaan,
sehingga untuk meningkatkan mutu kegiatan ekstrakurikuler perlu adanya pembenahan pada
sistem pengelolaan dengan menyusun pedoman pelaksanaan; (2) penelitian Septiani (2011) yang
berjudul Manajemen kegiatan Ekstrakurikuler dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah
menyimpulkan bahwa pengelolaan manajemen kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan
mutu sekolah; dan (3) peneltian Abdurozi (2015) menyimpulkan bahwa pengembangan model
manajemen ekstrakurikuler dapat meningkatkan prestasi non akademik sehingga mutu sekolah
dapat meningkat.
Dari latar belakang tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini
adalah (1) apakah kegiatan esktrakurikuler di SMP Negeri 28 Semarang sudah sesuai standar?;
(2) bagaimana hasil supervisi kegiatan esktrakurikuler di SMP Negeri 28 Semarang?; dan (3)
apakah supervisi kegiatan esktrakurikuler di SMP Negeri 28 Semarang dapat meningkatkan
mutu sekolah? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui kesesuaian
pelaksanaan kegiatan esktrakurikuler di SMP Negeri di wilayah Barat Kota Semarang dengan
standar yang ada; (2) mengetahui hasil supervisi kegiatan esktrakurikuler di SMP Negeri di
wilayah Barat Kota Semarang; dan (3) mengetahui efektifitas supervisi kegiatan esktrakurikuler
dalam meningkatkan mutu sekolah di SMP Negeri di wilayah Barat Kota Semarang. Adapaun
manfaat penelitian diharapkan secara teoritis, dapat bermanfaat memberikan pengetahuan dan
wawasan tentang cara meningkatkan mutu sekolah melalui supervisi pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler, dan bagi sekolah hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai pedoman untuk
mengelola kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka meningkatkan mutu sekolah dan memberikan
kepuasan pada masyarakat pengguna lulusan baik orang tua siswa maupun sekolah yang lebih
tinggi.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan sekolah (PTS) dengan
menggunakan metode supervisi non akademik. Dalam penelitian ini kerangka berpikir dimulai dari
ditemukannya masalah, kemudian dicari solusi pemecahan melalui supervisi berdasar standar yang
ditetapkan , hasil supervisi direflesikan (siklus 1) jika ternyata berdampak positif berarti berhasi dan untuk
memastikan adanya peningkatan hasil dilaksanakan perlu dilaksanakan siklus 2.
Kondisi Pra Siklus Standar yang
kesenjangan
(sebelum supervisi) ditetapkan

Pelaksanaaan Siklus 1 Supervisi Pelaksanaaan Siklus 2

Supervisi meningkatkan Mutu


sekolah

Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian

Tahap PTS per-siklus ada 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi, yang dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Tahap PTS Per-Siklus

Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri di wilayah sebelah barat Kota Semarang
dengan jangka waktu lebih kurang tiga bulan, dengan rincian sebagai berikut:

. Tabel .1
Waktu Penelitian

Januari Pebruari Maret April


NO KEGIATAN 2016 2016 2016 2016
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Penyusunan proposal X X
2 Penyusunan Program X X X
Supervisi dan instrumen
penelelitian
3 Pelaksanaan siklus 1 X X X
4 Pelaksanaan siklus 2 X X X
5 Analisis dan Pengolahan X X X
6 Penulisan laporan X X

Data dalam penelitian ini diperoleh dari: (1) informan, (kepala sekolah, guru,
pembina/pelatih ekstra, siswa, komite tetapi kemungkinan bisa dikembangkan ke sumber lain
yaitu orang tua siswa dan masyarakat sekitar atau pemangku kebijakan); (2) dokumentasi (data-
data yang ada di sekolah atau di dinas terkait yang dapat mendukung penelitian ini, sebagai
contoh dokumen prestasi yang pernah diraih).
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui: (1) instrumen yang berisi point-point
berkaitan dengan tahap perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan
ekstrakurikuler yang kemudian dipakai dalam supervisi, sehingga didapat data secara kuantitatif
dan kualitatif; (2) wawancara dilakukan untuk mendapatkan data/informasi yang lebih mendalam
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka, yang memungkinkan responden memberikan
jawaban secara luas. Wawancara dilakukan dengan sistem snowball, yaitu pengambilan data yang
pada awalnya jumlahnya sedikit lama-lama semakin besar tergantung dari data yang terkumpul
sudah lengkap atau belum. Pada tahap awal/sementara dilakukan kepada kepala sekolah, guru,
pembina/pelatih kegiatan ekstra, siswa, komite dan orang tua siswa, serta bisa dilanjutkan kepada
masyarakat atau sumber lain yang bisa memenuhi kriteria sebagai informan; (4) studi dokumen
dilakukan untuk mencari sumber data mengenai latar belakang potensi dan masalah, dan
merupakan teknik untuk melengkapi data hasil wawancara; dan (5) observasi juga dilakukan
dalam rangka memastikan kebenaran data, yang pelaksanaanya bisa berlangsung saat proses
penelitian.
Data yang diperoleh dari hasil supervisi diolah dengan statistik sederhana, yang kemudian
disajikan dengan diskriptif kuantitatif. Analisa data dilakukan dengan tiga model, yaitu: (1)
reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok,menfokuskan pada hal-hal yang
penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu; (2) penyajian data
dimaksudkan untuk menemukan pola-pola yang bermakna serta memberikan kemungkinan
adanya penarikan kesimpulan serta memberikan data; (3) analisa data yang sudah terkumpul,
kemudian disimpulkan sehingga akan mendapatkan gambaran data yang merupakan suatu pola
tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi..
Untuk mengecek keabsahan data, penulis menggunakan teknik triangulasi, yaitu : (1)
triangulasi data dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara,
data hasil wawancara dengan dengan dokumentasi dan data hasil pengamatan dengan
dokumentasi; (2) triagulasi teknik, untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data
kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda; dan (3) triangulasi sumber, yaitu dengan cara
membandingkan kebenaran suatu fenomena yang diperoleh dari sumber yang berbeda.
Berikut ini disajikan unsur-unsur ysng akan disupervisi:

Tabel 2. UNSUR-UNSUR SUPERVISI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER


No. ASPEK YANG DISUPERVISI No. ASPEK YANG
DISUPERVISI
A. PERENCANAAN C. PELAKSANAAN
1 Analisis sumber daya yang diperlukan dalam 1 Pelaksanaan di luar jam
penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler pelajaran
2 Identifikasi kebutuhan, potensi dan minat 2 Pelaksanaan sesuai
peserta didik jadwal/secara rutin
3 Menetapkan sumber dana pendukung 3 Siswa hadir secara
rutin/antusias
4 Menetapkan bentuk kegiatan ekstrakurikuler 4 Pembina/pelatih aktif hadir &
membimbing
5 Penyusunan program kegiatan ekstrakurikuler 5 Penilaian dilaksanakan secara
berkala
6 Penyusunan tujuan kegiatan yang jelas 6 Mengikutsertakan siswa
dalam kompetisi
B. PENGORGANISASIAN D. PENGAWASAN DAN
TINDAK LANJUT
1 Memiliki struktur organisasi 1 Adanya kepengawasan dari
kepala sekolah
2 Mengupayakan sumber daya/pelatih sesuai 2 Memiliki jurnal kegiatan
pilihan peserta didik
3 Pelatih/Pembina berkualifikasi sesuai bidang 3 Memiliki daftar nilai

4 Penyusunan jadwal pelaksanaan 4 Memiliki daftar kompetesi


yang telah diikuti
5 Memiliki biodata peserta secara lengkap 5 Memiliki daftar prestasi hasil
kompetisi
6 Ada hasil penilaian kepuasan
dari siswa
7 Ada Hasil penilaian kepuasan
dari orang tua, instansi
penerima lulusan

PEMBAHASAN

Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan
melaksanakan supervisi kegiatan ekstrakurikuler, maka hasil penelitian dapat dianalisa sebagai
berikut :
Tahap Pra Siklus
Pada tahap pra siklus kegiatan ekstrakurikuler sudah dilaksanakan tetapi banyak unsur-
unsur pengelolaan manajemen kegiatan ekstrakutikuler belum memenuhi standar pelayanan
minimal (SPM), bahkan ada beberapa unsur yang berfokus pada prinsip-prinsip peningkatan
mutu belum dilaksanakan. Seperti dalam tahap perencanaan prosentase pencapaian SPM baru
41,7% karena pada analisis sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan
ekstrakurikuler, identifikasi kebutuhan potensi dan minat peserta didik belum dilaksanakan atau
belum melibatkan pihak pelanggan dalam mengakomodir kebutuhan mereka. Sedangkan unsur-
unsur penetapan sumber dana pendukung, penetapan bentuk kegiatan ekstrakurikuler,
penyusunan program kegiatan dan penyusunan tujuan kegiatan sudah ada tetapi belum
memenuhi SPM.
Pada tahap pengorganisasian pencapaian sudah 50% semua unsur sudah ada tetapi belum
sesuai dengan SPM, seperti struktur organisasi, kualifikasi sumber daya/pelatih yang sesuai
bidang, penyusunan jadwal, dan biodata peserta. Pada tahap pelaksanaan pencapaian 58,3% ,
pada unsur jadwal pelaksanaan sudah terlaksana dengan baik dan sesuai SPM, tetapi pada unsur
kehadiran siswa, keaktifan pembina/pelatih, penilaian dan keikut sertaan siswa pada kompetisi
serta dokumen prestasi hasil supervisi belum sesuai SPM.
Pada tahap pengawasan pencapaian hanya 39,3%, hal ini disebabkan dari 7 unsur
pengawasan ada 4 unsur yang tidak ada yaitu daftar kompetesi yang telah diikuti, daftar prestasi
hasil kompetisi, hasil penilaian kepuasan dari siswa dan hasil penilaian dari orang tua /instansi
penerima lulusan. Sedangkan 4 unsur lain yaitu pengawasan dari kepala sekolah, jurnal kegiatan,
daftar nilai, dan daftar prestasi hasil kompetisi sudah ada tetapi belum memenuhi SPM. Sehingga
dalam tahap pra siklus secara keseluruhan pengelolaan supervisi baru mencapai 47,3% dari yang
seharusnya 100% terpenuhi dan memberikan layanan lebih dari SPM.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahap awal/pra siklus tampak belum memenuhi
SPM, maka perlu adanya perbaikkan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melalui supervisi yang
disesuaikan dengan SPM. Kemudian disusun rencana untuk mengadakan supervisi dengan
rentang waktu persiapan dan sampai pelaksanaan lebih kurang 3 minggu yang diberi label tahap
Siklus 1.

Tahap Siklus 1
Setelah diterapkan supervsisi sesuai dengan instrumen supervisi, maka pada tahap Siklus
1secara keseluruhan pengelolaan mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasan telah
meningkat dari 47,3% menjadi 71,1%. Peningkatan terlihat pada perencanaan 41,7% tahap pra
sklus, naik menjadi 66,7% pada siklus 1. Hal ini disebabkan semua enam unsur supevisi tahap
perencanaan telah ada, empat unsur telah memenuhi SPM yaitu sumber dana pendukung, bentuk
kegiatan ekstrakurikuler, program kegiatan ekstrakurikuler dan tujuan kegiatan yang jelas,
meskipun masih ada dua unsur yang belum memenuhi SPM, yaitu unsur analisis sumber daya
yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler dan identifikasi kebutuhan,
potensi dan minat peserta didik.
Tahap siklus 1 pada pengorganisasian telah meningkat dari 50% pencapaian target
menjadi 75% karena 5 unsur pada pengorganisasian telah memenuhi SPM yaitu ada struktur
organisasi, sumber daya/pelatih sesuai pilihan peserta didik , pelatih/pembina berkualifikasi
sesuai bidang, ada penyusunan jadwal pelaksanaan dan sudah memiliki biodata peserta secara
lengkap.
Pelaksanaan kegiatan pada siklus 1 juga telah meningkat pencapaiannya dari 58,3%
menjadi 75%, hal ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya skor perolehan hasil supervisi dari ke
lima unsur yang awalnya tidak ada dan belum sesuai SPM, sekarang sudah ada sesuai SPM, ke
lima unsur pelaksanaan tersebut meliputi pelaksanaan di luar jam pelajaran , pelaksanaan telah
sesuai jadwal/secara rutin, siswa hadir secara rutin/antusias, pembina/pelatih aktif hadir &
membimbing, penilaian dilaksanakan secara rutirn dan telah mengikutsertakan siswa dalam
kompetisi secara berkala.
Pada tahap pengawasan juga pencapaian telah menunjukkan peningkatan dari 39,3% pada
tahap pra siklus naik menjadi 67,8% pada tahap siklus 1, hal ini terlihat pada peningkatan skor
pada unsur pengawasan yaitu pada dua unsur yang awalnya tidak ada sekarang telah disusun
yaitu unsur hasil penilaian kepuasan dari siswa dan orang tua serta dari pengguna lulusan yaitu
sekolah yang lebih tinggi (SMA.SMK) meskipun belum memenuhi SPM. Sedangkan lima unsur
lain yaitu kepengawasan dari kepala sekolah, jurnal kegiatan, daftar nilai, daftar kompetesi yang
telah diikuti, dan daftar prestasi hasil kompetisi telah disusun sesuai dengan SPM. Dalam rangka
mendapatkan hasil yang maksimal dan pelaksanaan yang berkesinambungan, maka penelitian
dilakukan kembali dengan tahap siklus 2. Diharapkan dari tahap siklus 2 ini juga akan
menunjukkan peningkatan yang lebih baik.

Tahap Siklus 2
Pada tahap siklus dua ini pelaksanaan supervisi telah menunjukkan peningkatan dari tahap
siklus 1, secara keseluruhan pengelolaan mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasan
telah meningkat dari 71,1% menjadi 89,6%. Peningkatan terlihat pada perencanaan 66,7% tahap
sklus 1, naik menjadi 95,8% pada siklus 2. Hal ini disebabkan semua enam unsur supevisi tahap
perencanaan telah memenuhi SPM yaitu unsur analisis sumber daya yang diperlukan dalam
penyelenggaraan , identifikasi kebutuhan potensi/ inat peserta didik, sumber dana pendukung,
program kegiatan ekstrakurikuler, bahkan dari ke enam unsur perencanaan, dua unsur yaitu
bentuk kegiatan ekstrakurikuler, dan tujuan kegiatan sudah melebihi SPM yang ditetapkan,
karena sekolah mampu memberikan 10 macam kegiatan ekstrakurikuler.
Tahap siklus 2 pada pengorganisasian telah meningkat dari 75% pencapaian target
menjadi 85% karena 5 unsur pada pengorganisasian telah memenuhi SPM yaitu ada struktur
organisasi, sumber daya/pelatih sesuai pilihan peserta didik , penyusunan jadwal pelaksanaan
bahkan dari ke lima unsur tersebut dua unsur melebih SPM yaitu adanya pelatih/pembina
berkualifikasi sesuai bidang, dan biodata peserta sudah tercatat secara lengkap.
Pelaksanaan kegiatan pada siklus 2 juga telah meningkat pencapaiannya dari 75%
menjadi 91,7%, hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya skor perolehan hasil supervisi dari ke
enam unsur, dua unsur telah sesuai SPM, yaitu pelaksanaan di luar jam pelajaran atau
pelaksanaan telah sesuai jadwal/secara rutin, dan empat unusr berikutnya yaitu : kehadiran siswa
secara rutin/antusias, kehadiran pembina/pelatih & membimbing, dan pelaksanaan penilaian
secara rutirn serta keikutertaan siswa dalam kompetisi telah mampu melebihi SPM. Hal ini
tampak dengan seringnya pihak sekolah mengirimkan siswa dalam berbagai kegiatan lomba non
akademik.
Pada tahap pengawasan pencapaian telah menunjukkan peningkatan dari 67,9% pada
siklus 1 menjadi 85,7% pada siklus 2, hal ini terlihat pada peningkatan skor pada unsur
pengawasan yaitu dari 7 unsur, terdapat empat usnur yang telah memenuhi SPM, yaitu
kelengkapan jurnal kegiatan, daftar nilai unsur, hasil penilaian kepuasan dari siswa dan orang tua
serta dari pengguna lulusan yaitu sekolah yang lebih tinggi (SMA.SMK). Bahkan tiga unsur
pengawasan telah melebihi SPM, yaitu kepengawasan dari kepala sekolah, , daftar kompetesi
yang telah diikuti, dan daftar prestasi hasil kompetisi telah disusun dengan baik dan melebihi
target yang ditetapkan sekolah, terutama dari prestasi lomba pencak silat dan kepramukaan.
Berikut disajikan tabel dan diagram hasil kegiatan supervisi

Tabel 2. Skor Hasil Supervisi Kegiatan Ekstrakurikuler

Tahap Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2


Perencanaan 41,7 66,7 95,8
Pengorganisasian 50,0 75,0 85,0
Pelaksanaan 58,3 75,0 91,7
Pengawasan 39,3 67,9 85,7
Jumlah Skor 47,3 71,1 89,6

Gambar 1. Diagram Hasil Kegiatan Supervisi Antar Siklus


Gambar 2.

Berikut ini disajikan tabel hasil perolehan prestasi siswa masa sebelum dilaksanakan
PTS/pra siklus (Supervisi belum sesuai SPM) dan sesudah pelaksanaan PTS/siklus 1 dan siklus 2
(Supervisi sesuai SPM):

Tabel 4. Daftar Prestasi Non Akademik Tahun 2014/2015

NO. KELOMPOK PRESTASI NAMA PESERTA TANGGAL


KEGIATAN
1. SILAT Juara II Lomba Silat Isa Ahmad (VIII F) 29 Sept 2014
Tingkat Kota Semarang
2. SILAT Juara IIi Lomba Silat Anggita (VIII 29 Sept 2014
Tingkat Kota Semarang H)Istiqomah (VIII F)

3. SILAT Juara IIi Lomba Silat Rafsajani(VIII ) 29 Sept 2014


Tingkat Kota Semarang

4. MAPSI (AGAMA) Juara II Dirosah Dewi Hajar (IX); 29 Sept 2014


islamiyah Kota Ananda Zulfaiyah
Semarang (IX ); Ainis Faradila
(IX)
5. MAPSI (AGAMA) Juara I Tahfida Quran Kholisatun Nikmah 29 Sept 2014
Kota Semarang (VIII)
6. PASKIBRA Juara I PBB Jawa Group Paskibra 29 Sept 2014
Tengah Open SMK 11
Semaran
7. LCCA (Agama Juara I LCC Alkitab Faradeva (VII); Pipit 29 Sept 2014
Kristen) SMA Masehi 1 (IX); Merlin (VIII)
Semarang
8. PASKIBRA Piala Bergilir Petugas Group Paskibra 26 Okt 2014
Pancasila Tebaik
(TUB) Tingkat Jawa
Tengah di SMK 7
Semarang
9. PRAMUKA di Juara 1 Menari Group Inti Pramuka 26 Okt 2014
SMP 18 Semarang
10. PRAMUKA di Juara II Putra Group Inti Pramuka 26 Okt 2014
SMP 18 Semarang (Menaksir Tinggi)
11. PRAMUKA di Juara II PUK Group Inti Pramuka 26 Okt 2014
SMP 18 Semarang
12. PRAMUKA di Juara II Sandi Group Inti Pramuka 26 Okt 2014
SMP 18 Semarang
13. PRAMUKA di Juara III PBB Group Inti Pramuka 26 Okt 2014
SMP 18 Semarang

Tabel Daftar Prestasi 2015/2016

No. Nama Kejuaraan Tingkat Penyelenggara


Siswa
1 Nur Sunti Juara II Kelas C Putri Lomba Kota Semarang Persaudaraan
Wulandari Pencak Silat Setia Hati Teratai Cup Setia Hati Terate
Kota Semarang Cab. Ota
Semarang
2 Nur Sunti Juara III Putri Kelas C Pencak Silat Kota Semarang Dinas Sosial,
Wulandari POPDA SMP?MTs Kota Semarang Pemuda dan Olah
Raga Kota
Semarang
3 Ilham Juara III Lomba Galang Manunggal Kota Semarang Kwarcab Kota
Cahyo Th. 2014 Kwarcab Kota Semarang Semarang
Nugroho
4 Rani Widi Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana
Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
5 Ranita Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana
Dewi Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Setyowati Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
6 Ade Okta Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana
Aulia Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
7 Noer Indira Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana
Majestica Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang

8 Ayuk Isti Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana


Nur Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Khasanah Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
9 Sekar Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana
Ajeng P Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang

10 Oktavia Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana


Cahya Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang

11 Aeni Mulia Juara II Lomba Menaksir Putri Propinsi Jateng Racana


Diva Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
12 Rani Widi Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
13 Ranita Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Dewi Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Setyowati Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
14 Ade Okta Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Aulia Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
15 Noer Indira Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Majestica Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
16 Ayuk Isti Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Nur Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Khasanah Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
17 Sekar Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Ajeng P Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
18 Oktavia Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Cahya Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
19 Aeni Mulia Juara II Lomba Kitchen Band Putri Propinsi Jateng Racana
Diva Lomba Galang Trampil Racana ( daerah Binaan Subiadinata
Subiadinata (LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang) UPGRIS
Wil Semarang
20 Nufal Juara II Peta Lapangan Lomba Propinsi Jateng Racana
Mubarok Galang Trampil Racana Subiadinata ( daerah Binaan Subiadinata
(LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang Wil Semarang) UPGRIS

21 Agung Juara II Peta Lapangan Lomba Propinsi Jateng Racana


Prayetno Galang Trampil Racana Subiadinata ( daerah Binaan Subiadinata
(LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang Wil Semarang) UPGRIS
22 Choirurrozi Juara II Peta Lapangan Lomba Propinsi Jateng Racana
qin Galang Trampil Racana Subiadinata ( daerah Binaan Subiadinata
(LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang Wil Semarang) UPGRIS

23 Fajri Rizkia Juara II Peta Lapangan Lomba Propinsi Jateng Racana


Naufal Galang Trampil Racana Subiadinata ( daerah Binaan Subiadinata
(LOGISTA) Se-Bin Wil Semarang Wil Semarang) UPGRIS

24 M. Risqi Juara III Tunggal Pemula Putra Propinsi Gatra Cup III Se
madya Bulutangkis Gatra Cup III (Jateng-DIY) Jateng-DIY

25 Nur Sunti Juara I O2SN SMP Cabang Pencak Kota Semarang Dinas Pendidikan
Wulandari Silat Kelas D Putri Kota Semarang
26 Vera Juara II O2SN SMP Cavang Bola Kota Semarang Dinas Pendidikan
Megadista Volley Beregu Puteri Kota Kota Semarang
Prihasta M Semarang
27 Rafsajani Juara II Kelas F Putra Kejuaraan Kota Semarang IPSI Kota
Isa A Pencak Silat Pelajar Walikota Cup Semarang
Kota Semarang
28 Dina Juara I Kelas Bebas D Putri Kota Semarang IPSI Kota
Dwiningru Kejuaraan Pencak Silat Pelajar Al- Semarang
m Wali Cup IPSI Kota Semarang
29 Arju Juara II Dirosah Islamiyah (Cerdas Kota Semarang Dinas Pendidikan
Geenand Cermat Islam) Lomba MAPSI SMP Kota Semarang
30 Qaturnnada Juara II Dirosah Islamiyah (Cerdas Kota Semarang Dinas Pendidikan
Kamilia Cermat Islam) Lomba MAPSI SMP Kota Semarang
Firdaus
31 Adelia Juara II Dirosah Islamiyah (Cerdas Kota Semarang Dinas Pendidikan
Cermat Islam) Lomba MAPSI SMP Kota Semarang
32 Nur Sunti Juara I Kelas D Putri Kejuaraan Kota Semarang IPSI Kota
Wulandari Pencak Silat Pelajar Al-Wali Cup Semarang
IPSI Kota Semarang
33 Irsa Juara II Kelas Bebas A Putri Kota Semarang IPSI Kota
Oktavia Kejuaraan Pencak Silat Pelajar Al- Semarang
Wali Cup IPSI Kota Semarang
34 Yulia Juara II Kelas Bebas F Putri Kota Semarang IPSI Kota
Prastika Kejuaraan Pencak Silat Pelajar Al- Semarang
Wali Cup IPSI Kota Semarang

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasar hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa supervisi kegiatan ekstrakurikuler


dapat meningkatkan mutu sekolah di SMP yang terletak di ujung barat wilay ah kota Semarang,
hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil prestasi siswa pada kegiatan non
akademik/ekstrakurikuler. Pihak sekolah, guru, kepala sekolah, komite, siswa, orang tua siswa
dan sekolah yang menerima lulusan sekolah ini juga telah merasa puas, karena melalui kegiatan
ekstrakurikuler yang terpantau dengan baik, mampu mendongkrak nama SMP ini di wilayah kota
Semarang. Tetapi dengan keberhasilan ini, diharapkan kegiatan supervisi hendaknya menjadi
rutinitas pada setiap awal dan akhir semester, sehingga menjadi kegaiatan yang terus menerus,
berkesinambungan dalam rangka menjaga mutu sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Barnawi dan Arifin, Mohammad, 2013. Branded School. Jakarta: Ar-Ruzz
Danim, Sudarwan,. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah Dari Unit Birokrasi ke
Lembaga Akademik, Jakarta: Bumi Aksara.
Depdiknas, 2008. Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action
Research) Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah
SMA/SMK. Jakarta: Dirjen PMPTK
Depertemen Pendidikan dan kebudayaan. 2009. Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan
Ekstrakurikuler Sebagai Salah Satu Jalur Pembinaan Kesiswaan. Jakarta:
Depdikbud-Dirjen Dikdasmen.
Fathurrohman, Pupuh dan Aa Suryana. 2011. Supervisi Pendidikan. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Kemendikbud. 2013 . Lampiran III PerMenDikBud No. 81A Tahun 213 Tentang
Implemenatsi Kurikulum Pedoman Kegiatan kstrakurikuler, Jakarta:
Kemendikbud.
Kholism, Nur dkk. 2014. Mutu Sekolah dan Budaya Partisipasi Stakeholder
(Studi Fenomenologi di Sekolah Konfesional MIN Tegalasri Wlingi
Blitar). Yogjakarta: Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
Volume 2, Nomor 2, 2014 Jurnal Pembangunan dan Pendidikan: Fondasi
dan Aplikasi.
Sagala, Syaiful. 2009. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif
dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Septiani, Irma. 2011. Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler dalam Meningkatkan
Kualitas Sekolah (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Malang).
Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana. 2003. Total Quality
Management.Yogyakarta: Penerbit Andi.