Anda di halaman 1dari 14

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

TERMS OF REFERENCE

Program
Pengkajian dan Penerapan Kebijakan Teknologi

WP 2.1
Pengembangan Sistim Inovasi Tekno-Industri Pangan
Agrowisata di Kabupaten Bantaeng

WBS 2
Sistim Inovasi dan Kebijakan Tekno-Industri Pangan

1
1. Pendahuluan

1.1. Latar belakang

Gambaran Umum Kabupaten Bantaeng.

Kabupaten Bantaeng secara geografis terletak ± 120 km arah selatan Makassar,


Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan dengan posisi 5°21’13’’- 5°35’26’’ Lintang
Selatan dan 119°51’42’’-120°05’27’’ Bujur Timur.

Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian Barat
ke Timur kota yang salah satunya berpotensi untuk perikanan, dan wilayah
daratannya mulai dari tepi laut Flores sampai ke pegunungan sekitar Gunung
Lompobattang dengan ketinggian tempat dari permukaan laut 0-25 m sampai
dengan ketinggian lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut.

Kabupaten Bantaeng dengan ketinggian antara 100-500M dari permukaan laut


merupakan wilayah yang terluas atau 29,6 persen dari luas wilayah seluruhnya,
dan terkecil adalah wilayah dengan ketinggian dari permukaan laut 0-25 m atau
hanya 10,3 persen dari luas wilayah.

Gambar 1. Gambaran Umum Kabupaten Bantaeng


a. Keadaan Iklim

Letak geografi Kabupaten Bantaeng yang strategis memiliki alam tiga dimensi,
yakni bukit pegunungan, lembah dataran dan pesisir pantai, dengan dua musim.
Iklim di daerah ini tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan rata-
rata setiap bulan 14 mm. Dengan adanya kedua musim tersebut sangat
menguntungkan bagi sektor pertanian.

b. Batas Wilayah

Kabupaten Bantaeng terletak di bagian Selatan propinsi Sulawesi Selatan yang


berbatasan dengan :

 Sebelah Utara: Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bulukumba

 Sebelah Timur: Kabupaten Bulukumba

 Sebelah Selatan: Laut Flores

 Sebelah Barat: Kabupaten Jeneponto

Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8 wilayah Kecamatan yaitu, Kecamatan Bissappu,


Uluere, Bantaeng, Eremerasa, Tompobulu, Pa’jukukkang, Sinoa dan Gantarangkeke.
Kecamatan Bissappu terdiri dari 4 desa dan 7 kelurahan, Kecamatan Uluere terdiri
dari 6 desa, Kecamatan Bantaeng terdiri dari 1 desa dan 8kelurahan, Kecamatan
Eremerasa terdiri dari 9 desa, Kecamatan Tompobulu terdiri dari 6 desa dan 4
kelurahan, Kecamatan Pa’jukukkang terdiri dari 10 desa, Kecamatan Sinoa terdiri
dari 6 desa dan Kecamatan Gantarangkeke terdiri dari 4 desa dan 2 kelurahan.

1.2. Potensi Unggulan Daerah


a. Pertanian Tanaman Pangan

Karena sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat
mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo,
sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama
ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Data
terakhir menunjukkan bahwa produksi kentang mencapai 4.847 ton (2006). Selain
kentang, holtikultura lainnya adalah kool 1.642 ton, wortel 325 ton dan
buahbuahanseperti pisang dan mangga

b. Perkebunan

Potensi perkebunan di Kabupaten Banteng cukup menjanjikan. Untuk perkebunan


kopi, jumlah produksinya pada tahun 2010 cukup tinggi. Untuk kopi robusta
sebesar 1.196 Ton dan untuk kopi arabika sebesar 406 Ton. Luas lahan perkebunan
rakyat untuk kopi robusta : 2.831 Ha, dan untuk luas perkebunan kopi arabika :
969 Ha. Untuk jumlah produksi perkebunan kelapa tahun 2010 terdiri dari kelapa
dalam sebesar 677 Ton dan kelapa hybrida sebesar 66 Ton dengan luas lahan
perkebunan rakyat untuk kelapa dalam : 883 Ha dan untuk luas perkebunan kelapa
hybrida : 131 Ha. Selain kopi dan kelapa, komoditas lain yang unggul di Kabupaten
Bantaeng adalah kokoa, cengkeh serta jambu mete.

c. Perikanan dan Kelautan

Sektor perikanan didomiansi dari budidaya tambak jenis Ikan Bandeng dengan
jumlah produksi mencapai 128 ton pada tahun 2008. Selain itu dari jenis tanaman
air seperti rumput laut produksi pada tahun 2009 mencapai 42.790,3 ton. Terdapat
pula komoditas udang putih dan udang windu yang cukup berkembang di daerah
Bantaeng.

d. Pertambangan

Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, akan membangun industri pengolahan


bahan tambang nikel (smelter nikel) melalui investasi patungan Indonesia-China.
Industri pengolahan tersebut akan dibangun di Pa’jukukang Bantaeng, sekaligus
akan dibangun pelabuhan khusus untuk memudahkan distribusi material tambang.
Industri pengolahan nikel diharapkan dapat menambah pendapatan daerah, serta
menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus industri pengolahan tambang ini
memiliki nilai strategis untuk bagi hasil pajak bagi Bantaeng. Untuk pembangunan
industri ini, Pemerintah Kabupaten akan menyuplai listrik berkekuatan 120
Megawatt (MW). Sesuai rencana, industri pengolahan nikel tersebut akan
dikerjasamakan dengan investor dari Cina dan Ukraina yang merupakan mitra
Indonesia.

e. Kehutanan

Kabupaten Bantaeng yang luasnya mencapai 0,63% dari luas Sulawesi Selatan,
masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut. Lahan yang
dimilikinya 39.583 Ha. Kabupaten Bantaeng mempunyai hutan produksi terbatas
1.262 Ha dan hutan lindung 2.773 Ha. Secara keseluruhan luas kawasan hutan
menurut fungsinya di kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Ha
(regionalinvestment.bkpm.go.id).

f. Perindustrian

Sektor industri menjadi pilihan kedua untuk dikembangkan di Kabupaten Bantaeng


yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pengembangan sektor industri
sangat berpeluang di masa mendatang, namun membutuhkan investor yang
sangat kuat. Dengan perkembangan sektor industri, dampaknya sangat positif,
sebab disamping meningkatkan pendapatan masyarakat juga menyerap banyak
tenaga kerja. Industri-industri yang berkembang antara lain adalah industri
pembersih biji kemiri, pembuatan gula merah, pertenunan godongan, pembuatan
perabot rumah tangga dari kayu, anyaman bambu atau daun lontar dan lain-lain.
g. Pariwisata

Kabupaten Bantaeng memiliki peninggalan sejarah yang tercatat dalam buku-buku


sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sangat menarik untuk
dikunjungi. Tak heran memang jika pemerintah kabupaten setempat sangat
menaruh perhatian terhadap pariwisata. Terbukti direnovasinya berbagai objek
wisata alam menjadi tempat menarik, sepeti permandian alam Bissappu. Juga
dipeliharanya peningalan-peninggalan sejarah seperti Balla Tujua yang merupakan
kebanggaan masyarakat setempat. Objek wisata lainya di Kabupaten Bantaeng
yaitu: Pantai Marina Korong Batu, Hutan Wisata Gunung Loka.

1.3. Zonasi Pengembangan Potensi Unggulan Daerah


Dalam pengembangan potensi unggulan daerah, Kabupaten Bantaeng telah
membuat zonasi pengembangan potensi daerah seperti pada Gambar 1., sebagai
berikut :

Zona-1 terletak di sisi wilayah Selatan.

Sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan antara lain :

 Jasa perkotaan

 Pelabuhan

 Pergudangan

 Rumah-sakit modern

 Perikanan/ rumput laut

 Industri

 Wisata pantai

Zona-2 terletak di Wilayah Tengah.

Sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan antara lain :

 Padi

 Jagung

 Talas

Zona-3 terletak di wilayah Utara.

Sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan antara lain :

 Hutan

 Agrowisata
Gambar 2. Zonasi Pengembangan Potensi Unggulan Daerah

1.4. Tujuan dan Sasaran


A. Tujuan Kegiatan
1. Mengidentifikasi interaksi antar elemen sistem inovasi industri agrowisata
2. Menganalisis faktor pendorong/penghambat sistem inovasi industri agrowisata
3. Merumuskan rekomendasi kebijakan untuk pengembangan sistem inovasi
industri agrowisata
4. Rekomendasi kebijakan sistem inovasi tekno-industri untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas litbang di industri agrowisata.
B. Sasaran Kegiatan
1. Teridentifikasinya elemen-elemen/aktor-aktor dari sistem inovasi agrowisata
2. Teranalisisnya keterkaitan antar elemen sistem inovasi agrowisata
3. Tersusunnya rekomendasi kebijakan untuk penguatan/pengembangan sistem
inovasi agrowisata.
2. Kegiatan

Metode dan cara teknik yang digunakan dalam kegiatan pengkajian ini diuraikan
dalam bentuk kerangka pikir; tahapan penelitian; metode pengumpulan data; dan
metode pengolahan dan analisis data.
2.1. Kerangka Pikir dan Tahapan Kegiatan
Metode yang digunakan dalam mencapai tujuan kegiatan kajian ini, sebagaimana
telah ditetapkan pada di atas, adalah dengan melakukan benchmarking
pengembangan Sistem Inovasi Tekno-Industri Pangan yang dilakukan oleh daerah
lain. Selain itu agar kegiatan ini dapat dilakukan lebih fokus maka industri Pangan
yang dikaji dibatasi pada Agrowisata. Sebenarnya Agrowisata sudah dikembangkan di
banyak daerah, namun demikian yang akan diambil sebagai benchmark adalah
Kabupaten Bandung di Provinsi Jawa Barat.

Gambar 2.1. Kerangka Pikir


 Tahap Persiapan
Tahap persiapan dilakukan untuk memperkaya pemahaman terhadap subtansi
kegiatan dan sebagai dasar dalam melakukan survei dan analisis hasil survei.
 Studi Literatur dan Pustaka
Studi literatur dan pustaka yang dilakukan terkait dengan:
 Teori dan konsep mengenai Sistem Inovasi Nasional (SIN)
 Teori SIN pendekatan Arnold Kuhlman
 Kondisi umum Industri Agrowisata di Bantaeng
 Identifikasi elemen SIN Industri Agrowisata
 Interaksi antar elemen SIN terkait
 Faktor pendorong dan pengghambat interaksi antar elemen SIN
 Tahap Pengolahan Data dan Analisis
Hasil pengumpulan data primer dan sekunder yang telah dilakukan pada tahap
survei, selanjutnya akan membentuk data kualitatif dan kuantitif. Data kualitatif
dan kuantitaif tersebut akan direkap dan diolah lebih lanjut pada tahap
pengolahan dan analisis. Data kualitatif dan kuantitatif akan diolah dengan
menggunakan analisis statistik deskriptif dengan basis teori SIN Arnold
Kuhlman, sehingga dapat diperoleh gambaran secara keseluruhan SIN industri
pangan (agrowisata).
 Tahap Perumusan Kesimpulan dan Saran
Setelah dilakukan analisis pada tahap pengolahan data dan analisis, langkah
selanjutnya adalah perumusan rekomendasi kebijakan.
2.2. Metode Pengumpulan Data
Kegiatan “Pengkajian Sistem Inovasi Tekno-Industri Pangan” ini merupakan hasil
pengumpulan data sekunder saja, yang dilakukan melalui studi literatur.
Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data:
 Perkembangan Agrowisata nasional
 Perkembangan industri agrowisata daerah lain, seperti, Kabupaten Bandung, dll
 Kebijakan pemerintah terkait industri Agrowisata khususnya
 Pelaku dari masing-masing elemen SIN Agrowisata, disesuaikan dengan
kondisi masing-masing daerah.

2.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data


Pengkajian sistem inovasi tekno-industri pangan khususnya ini merupakan hasil
kombinasi beberapa metode analisis, sehingga diperoleh hasil akhir berupa
rekomendasi kebijakan pengembangan sistem inovasi tekno-industri pangan. Metode
analisis yang digunakan yaitu:
 Metode Analisis Sistem Inovasi Arnold Kuhlman
Metode ini digunakansebagai dasar dalam menganalisis SIN industri pangan
(Agrowisata). Arnold Kuhlman mendefinisikan sistem inovasi sebagai suatu
kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, jaringan, hubungan, interaksi dan
proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi
dan difusinya (termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik), serta proses
pembelajaran. Sistem inovasi sangat penting, karena bukan semata menyangkut
pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) itu sendiri [termasuk misalnya
melalui pendidikan, penelitian, pengembangan dan kerekayasaan], tetapi juga
bagaimana iptek dapat didayagunakan secara maksimal bagi kepentingan
nasional dalam pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya. Demikian
sebaliknya, perkembangan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya, menjadi bagian
yang tidak dapat diabaikan dan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi
arah dan kecepatan pemajuan iptek. Beberapa elemen penting dalam SIN
berdasarkan skema Arnold Kuhlman dapat dilihat pada gambar 4.
Secara keseluruhan ada 7 elemen penting dalam SIN menurut Arnold Kuhlman,
elemen-elemen tersebut adalah: Permintaan (demand); Sistem politik; Sistem
pendidikan & litbang; Intermediaries; Sistem industri; Supra & infrastruktur khusus;
dan Framework conditions. Aktor/ kelembagaan tiap elemen SIN akan berbeda
antara satu industri dengan industri lain, walau mungkin ada satu/ dua yang sama,
tetapi secara keseluruhan berbeda.

Gambar 2.2. Elemen Sistem Inovasi Nasional


 Metode Analisis Benchmarking
Metode ini digunakan dalam rangka proses membandingkan, menyamai atau
mengungguli antara pihak satu yang telah berhasil menerapkan Industri pangan
dengan yang pihak lainnya yang belum berhasil. Dengan metode ini, diharapkan
pihak yang lebih unggul dapat menjadi acuan bagi pihak lainnya, agar pihak yang
belum berhasil dapat menyamai atau bahkan dapat mengungguli pihak
kompetitornya. Khususnya bagi pelaku sistem inovasi terkait seperti Asosiasi,
Litbang, dan industri terkait.
2.4. Output
Kegiatan “Sistem Inovasi Tekno–Industri Pangan” diharapkan menghasilkan output
berupa analisis SIN tekno-industri Pangan (Agrowisata) untuk pengembangan/-
penguatan SIN Industri Pangan (Agrowisata) di Kabupaten Bantaeng.

2.5. Rencana Pencapaian Kegiatan


Untuk memudahkan pencapaian kegiatan pada akhir tahun, rencana pencapaian
kegiatan “Pengkajian Sistem Inovasi Tekno–Industri Pangan (Agrowisata)” dibagi
menjadi 3 (tiga) yaitu rencana pencapaian substansi, rencana detail kegiatan dan
rencana pelaporan perekayasaan. Secara umum, rencana pencapaian substansi
kegiatan ini dari Triwulan I sampai dengan Triwulan IV dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rencana Pencapaian Substansi Triwulan I s/d Triwulan IV
Triwulan
No Substansi Kegiatan
I II III IV
1 Kebijakan Agrowisata Nasional
2 Distribusi/Sebaran Agrowisata Nasional
3 Teori Sistem Inovasi Nasional (SIN)
4 SIN model Arnold Kuhlman
5 Kondisi Agrowisata Indonesia
6 Pemetaan dan analisis elemen SIN Agrowisata
 Sistem Politik
 Sistem Pendidikan dan Litbang
 Sistem Industri
 Permintaan (Demand)
 Intermediasi
 Supra dan Infrastruktur Khusus
 Framework Conditions
7 Pemetaan dan Analisis Sistem Inovasi Industri Agrowisata
Bantaeng
 Sistem Politik
 Sistem Pendidikan dan Litbang
 Sistem Industri
 Permintaan (Demand)
 Intermediasi
 Supra dan Infrastruktur Khusus
 Framework Conditions
8 Analisis Sistem Inovasi Nasional Industri Agrowisata Daerah
lain dengan Sistem Inovasi Industri Agrowisata Bantaeng
 Sistem Politik – Permintaan
 Sistem Politik – Supra dan Infrastruktur Khusus
 Sistem Politik – Sistem Pendidikan dan Litbang
 Sistem Politik – Framework Conditions
 Sistem Pendidikan dan Litbang – Sistem Industri
 Sistem Pendidikan dan Litbang – Permintaan
 Sistem Pendidikan dan Litbang – Intemediasi
 Sistem Pendidikan dan Litbang – Supra
 Sistem Pendidikan dan Litbang – Framework
 Sistem Industri – Permintaan
 Sistem Industri – Intermediasi
 Sistem Industri – Supra dan Infrastruktur Khusus
 Supra dan Infrastruktur Khusus – Framework
9 Analisis Benchmarking Industri Daerah Lain dengan Bantaeng
10 Kesimpulan dan Saran

Rencana detail kegiatan WP 2.1 dari Triwulan I sampai dengan Triwulan IV dapat
dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rencana Detail Kegiatan Triwulan I s/d Triwulan IV
Triwulan
No Kegiatan WP 2.1
I II III IV
I TAHAP PERSIAPAN
Studi Literatur & Pustaka
1 Teori SIN
2 Teori SIN model Arnold Kuhlman
3 Kebijakan Agrowisata Nasional
4 Kondisi distribusi/sebaran Agrowisata Nasional
5 Kondisi Agrowisata Bantaeng
II TAHAP PENGOLAHAN & ANALISIS DATA
Analisis Data (Arnold Kuhlman)
1 Analisis elemen SIN
2 Analisis interaksi antar elemen SIN
3 Analisis faktor pendorong interaksi antar elemen
SIN
4 Analisis faktor penghambat interaksi antar
elemen SIN
Analisis faktor pendorong interaksi antar elemen
5
Sistem Inovasi Agrowisata Bantaeng
6 Analisis faktor penghambat interaksi antar
elemen Sistem Inovasi Agrowisata Bantaeng
III PERUMUSAN KESIMPULAN DAN SARAN
Usulan penguatan SIN Agrowisata
IV PELAPORAN
A Substansi
B Penyusunan outline (sistematika) penulisan laporan
akhir
C Penulisan laporan akhir
D Editing laporan akhir
E Perekayasaan
E1 Penentuan Target Dokumen Perekayasaan (TR, TN,
IS, WS)
E2 Penulisan Dokumen Perekayasaan (TR, TN, IS,
WS)
E3 Evaluasi Kelengkapan Dokumen Perekayasaan
(TR, TN, IS, WS)
Rencana pelaporan perekayasaan kegiatan “Pengkajian Sistem Inovasi Tekno–Industri
Pangan – Agrowisata di Kabupaten Bantaeng” dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rencana Pelaporan Perekayasaan Kegiatan WP 2.1
Target
Penanggung Jawab
Minimum
No Rencana Pelaporan
ES ES ES ES
GL 2 L 2.1
2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4
1 Technical Report (TR) 4
2 Technical Note (TN) 40
3 Instruction Sheet (IS) 40
4 Working Sheet (WS) 40

Topik Technical Note (TN) untuk setiap ES dalam satu tahun diarahkan seperti
ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Topik TN Setiap ES dalam Satu Tahun

Kode ES TN1 TN2 TN 3 TN 4 TN5 TN 6 TN 7 TN 8 TN 9 TN10

ES 2.1.1 Potensi Daerah Kebijakan Teori SIN Teori SIN Kondisi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Analisis
Kab. Bantaeng Agrowisata Arnold Arnold Industri Nasional (SIN) Nasional (SIN) Industri Industri Benchmark
Nasional Kuhlman Kuhlman Agrowisata Industri Industri Agrowisata Agrowisata SIN Industri
Kab. Bantaeng Agrowisata Agrowisata Kab. Bandung Kab. Bandung Agrowisata
Kab. Bantaeng Kab. Bantaeng Barat Barat Kab. Bantaeng

ES 2.1.2 Potensi Daerah Kebijakan Teori SIN Teori SIN Kondisi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Analisis
Kab. Bantaeng Agrowisata Arnold Arnold Industri Nasional (SIN) Nasional (SIN) Industri Industri Benchmark
Nasional Kuhlman Kuhlman Agrowisata Industri Industri Agrowisata Agrowisata SIN Industri
Kab. Bantaeng Agrowisata Agrowisata Kab. Bandung Kab. Bandung Agrowisata
Kab. Bantaeng Kab. Bantaeng Barat Barat Kab. Bantaeng

ES 2.1.3 Potensi Daerah Kebijakan Teori SIN Teori SIN Kondisi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Analisis
Kab. Bantaeng Agrowisata Arnold Arnold Industri Nasional (SIN) Nasional (SIN) Industri Industri Benchmark
Nasional Kuhlman Kuhlman Agrowisata Industri Industri Agrowisata Agrowisata SIN Industri
Kab. Bantaeng Agrowisata Agrowisata Kab. Bandung Kab. Bandung Agrowisata
Kab. Bantaeng Kab. Bantaeng Barat Barat Kab. Bantaeng

Es. 2.1.4 Potensi Daerah Kebijakan Teori SIN Teori SIN Kondisi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Sistem Inovasi Analisis
Kab. Bantaeng Agrowisata Arnold Arnold Industri Nasional (SIN) Nasional (SIN) Industri Industri Benchmark
Nasional Kuhlman Kuhlman Agrowisata Industri Industri Agrowisata Agrowisata SIN Industri
Kab. Bantaeng Agrowisata Agrowisata Kab. Bandung Kab. Bandung Agrowisata
Kab. Bantaeng Kab. Bantaeng Barat Barat Kab. Bantaeng