Anda di halaman 1dari 7

Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

Unnes Journal of Public Health


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

EVALUASI PENATALAKSANAAN GIZI BALITA STUNTING DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIRAMPOG

Himatul Khoeroh1, dan Dyah Indriyanti2


1
Prodi DIII Kebidanan, Akademi Kebidanan KH. Putra Brebes, Indonesia.
2
Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia.

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Scalling Up Nutrition (SUN) merupakan upaya global dalam rangka rencana aksi percepatan
Diterima Agustus 2016 perbaikan gizi salah satunya menanggulangi balita stunting fokus pada 1000 Hari Pertama
Disetujui September 2016 Kehidupan (HPK). Stunting merupakan prevalensi tertinggi di Wilayah kerja Puskesmas Sir-
Dipublikasikan Juli 2017 ampog di Kabupaten Brebes, ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan masih
rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penatalaksanaan status gizi balita
Keywords: stunting dengan unsur input, proses dan output. Penelitian ini merupakan penelitian kuali-
Stunting; Nutrition; Baby tatif. Informan awal ditentukan dengan teknik purposive sampling. Metode pegumpulan data
melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi terhadap 6 informan awal yang
terdiri dari kepala puskesmas, bidan koordinator KIA, koordinator gizi, bidan desa, kader
dan ibu balita sasaran. Dua informan triangulasi yang terdiri dari koordinator kesehatan ke-
lurga dan koordinator gizi Dinas Kesehatan Kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan pada
tahap input yaitu tenaga kesehatan yang terlibat masih memerlukan tambahan, belum ada
tenaga gizi. Pada unsur proses, sebagian program terlaksana dengan baik meliputi program
sehat bagi wanita hamil, pemberian ASI Eksklusif, pemantauan tumbuh kembang, pemberian
makanan tambahan, pemberian vitamin A kecuali program pemberian taburia. Pada unsur
output, cakupan prevalensi stunting di Puskesmas Sirampog Kabupaten Brebes tahun 2015
sebesar 16,74 %.

Abstract
Scalling Up Nutrition (SUN) is the global efforts from all shorts of countries in the framework of pro-
gram attractive speeding up of nutrition improvement one of them to cope with baby of stunting focused
to 1000 HPK. Stunting is highest prevalency in estate work clinic of sirampog brebes, this is indicate that
quality of health treatment is too low. The porpose of This research is to evaluate management status
nutrition of baby stunting included unsure input, proses and output.. This research is the qualitative
reseearch in estate work clinik of sirampog brebes. Initial informant determined by purposive sampling.
Methods of collecting data obtained through in-depth interviews, observation and document aboutfirst 6
top informant including heads of health centers, coordinator of midwives KIA, coordinator of nutrition,
midwives of village, cadre and postpartum mother and two informants triangulation consisting coor-
dinator of family health and nutrition coordinator health center official. The yield of research indicated
that at input stage is health staff involved need more addition in order to program run with optimal, no
one nutrition staff, In the process, part of program carried out comprises health program for pregnancy,
Giving ASI, monitoring of growing, giving and addition food, giving vit A except giving taburia doesn’t
good integreted in duty. At the output,scope of stunting prevalensi in clinik center sirmpog brebes at 2015
amount 16,74%.

© 2017 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi:
Jl. Raya Benda Sirampog Brebes, Jawa Tengah pISSN 2252-6781
E-mail: pujianiretno@yahoo.com eISSN 2584-7604
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

PENDAHULUAN nis akibat kekurangan asupan zat gizi dalam


waktu yang lama dan biasanya diikuti dengan
Usia balita merupakan masa di mana frekuensi sering sakit. Stunting secara sensitif di-
proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi sebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya
sangat pesat. Pada masa ini balita membutuhkan pengasuhan, penggunaan air yang tidak bersih,
asupan zat gizi yang cukup dalam jumlah dan ku- lingkungan yang tidak sehat, terbatasnya akses
alitas yang lebih banyak, karena pada umumnya terhadap pangan dan kemiskinan.
aktivitas fisik yang cukup tinggi dan masih da- Stunting secara spesifik dapat berawal dari
lam perubahan belajar. Apabila asupan gizi tidak ibu mengandung. Kondisi gizi ibu hamil, sebe-
terpenuhi maka pertumbuhan fisik dan intelek- lum hamil bahkan setelahnya akan menentukan
tualitas balita akan mengalami gangguan, yang pertumbuhan janin. Ibu hamil yang kekurangan
akhirnya akan menyebabkan mereka menjadi gizi akan berisiko melahirkan bayi dengan berat
generasi yang hilang (lost generation), dan dampak lahir rendah, dan ini merupakan penyebab utama
yang luas negara akan kehilangan sumber daya stunting (Hidayati, 2010). Setelah lahir, bayi yang
manusia yang berkualitas (Welasasih & Wirjat- tidak disusui secara baik akan berisiko menderi-
madi, 2012). ta berbagai infeksi penyakit karena pola makan
Masa balita merupakan kelompok umur yang tidak cukup asupan gizinya dan tidak higie-
yang rawan gizi dan penyakit. Anak balita den- nis. Pemberian Makanan Bayi dan Anak sangat
gan kekurangan gizi dapat mengakibatkan ter- menentukan petumbuhan anak. Setelah usia 6
ganggunya pertumbuhan dan perkembangan bulan anak perlu mendapat asupan gizi yang da-
fisik, mental dan spiritual serta mengakibatkan pat memenuhi kebutuhan asupan gizi mikro, gizi
rendahnya kualitas sumber daya manusia. Status makro serta aman (WHO, 2013).
gizi merupakan indikator kesehatan yang penting Menurut World Health Organization (WHO,
bagi balita karena anak usia di bawah lima tahun 2013), intervensi yang dapat digunakan untuk
merupakan kelompok yang rentan terhadap kese- menanggulangi balita stunting adalah intervensi
hatan dan gizi yang dampak fisiknya diukur seca- prenatal dan pascanatal sebagai intervensi spe-
ra antropometri dan dikategorikan berdasarkan sifik dan sensitif. Seiring dengan hal tersebut
standar baku WHO dengan indeks BB/U (Berat intervensi prenatal dan pascanatal melalui gera-
Badan/Umur) , TB/U (Tinggi Badan/Umur) kan perbaikan gizi dengan fokus pada 1000 hari
dan BB/TB (Berat Badan/Tinggi Badan). pertama kehidupan pada tataran global yaitu
Salah satu indikator status gizi adalah ba- melalui strategi SUN (Scalling Up Nutrition) dan
lita dengan keadaan tinggi badan menurut umur di Indonesia disebut dengan Gerakan Nasional
(TB/U) sangat pendek hingga melampaui defisit Perbaikan Sadar Gizi.
dua standar deviasi (SD) berdasarkan penguku- Berdasar studi pendahuluan prevalensi
ran antropometri yang dikenal dengan istilah stunting tertinggi di Kabupaten Brebes pada ta-
stunting. Prevalensi balita stunting di Asia Tengga- hun 2014 yaitu wilayah kerja Puskesmas Siram-
ra tergolong tinggi yaitu sebesar 29,1 % di tahun pog sebesar 33,58 %, angka ini terjadi peningka-
2007, sedangkan pada tahun 2013 di Indonesia tan dibanding pada tahun 2013 yaitu sebesar 31,8
berdasarkan Direktur Bina Gizi Kementerian %. Hasil wawancara kepada Kepala Puskesmas
Kesehatan RI sebesar 35,6%. Menurut Riskesdas Sirampog mengatakan, bahwa Puskesmas Siram-
tahun 2013, prevalensi balita stunting di Provin- pog sudah melakukan advokasi pada BPP (Ba-
si Jawa Tengah adalah 37% (Kemenkes, 2013). dan Penyuluh Pertanian) terkait daerah Siram-
Pada tahun 2014, prevalensi stunting di Kabupa- pog merupakan dataran tinggi yang berpotensi
ten Brebes sebesar 10.95%, angka ini sedikit me- balitanya mengalami stunting dikarenakan pegu-
nurun dibanding pada tahun 2013 yaitu sebesar nungan kurang bisa menyerap yodium sebagai
11,14%, namun Dinas Kesehatan Provinsi Jawa pertumbuhan balita. Puskesmas sirampog juga
Tengah menuturkan ada 1/3 lebih dari usia anak dapat memastikan, hasil advokasi pada BPP (Ba-
balita (200 anak) di Kabupaten Brebes menga- dan Penyuluh Pertanian) mengatakan walaupun
lami stunting. Kabupaten Brebes sampai dengan Sirampog mayoritas penduduknya petani sayur
September 2014 hanya 68,35% cakupan dalam yang menggunakan peptisida, namun tidak ber-
pemberian gizi yang baik bagi anak, sedangkan pengaruh terhadap stunting karena penggunaan
target cakupan gizi nasional sebanyak 75%. Ini peptisida masih dalam batas normal. Puskesmas
menunjukan di Kabupaten Brebes masih ada in- Sirampog juga sudah menerapkan sebagian besar
dikasi buruknya status gizi (Kemenkes, 2013). program kebijakan kesehatan dalam upaya penu-
Menurut World Healt Organization (WHO, runan balita stunting yang berorientasi pada masa
2013), Stunting merupakan kekurangan gizi kro- 1000 HPK fokus prenatal dan pascanatal.

190
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

Berdasarkan data, penelitian ini bertuju- 1000 HPK sesuai dengan buku pedoman. Pus-
an untuk mengevaluasi penatalaksanaan status kesmas sirampog juga mempunyai kebijakan
gizi balita stunting di wilayah kerja Puskesmas dalam penatalaksanaan balita stunting yaitu den-
Sirampog Kabupaten Brebes melalui unsur sis- gan memberdayakan bidan desa sebagai tenaga
tem (input, proses dan output) meliputi program pelaksana utama dengan dibantu kader dan te-
: 1) sehat bagi wanita hamil, 2) pemberian ASI naga kesehatan yang ada untuk memotivasi pada
eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan, 3) pemantauan semua ibu hamil agar dapat melaksanakan kun-
tumbuh kembang bayi, 4) Pemberian makanan jungan ANC terpadu di Puskesmas.
tambahan, 5) pemberian suplemen vitamin A Sesuai dengan World Health Organization
pada balita, 6) pemberian taburia. (WHO, 2013) Stunting dapat berawal dari Kon-
disi gizi ibu hamil, bahkan sebelum hamil akan
METODE menentukan pertumbuhan janin. Ibu hamil yang
kekurangan gizi akan berisiko melahirkan bayi
Penelitian ini merupakan penelitian ku- dengan berat lahir rendah, dan ini merupakan
alitatif di Wilayah Kerja Puskesmas Sirampog penyebab utama stunting. Setelah lahir, bayi yang
Kabupaten Brebes. Informan awal ditentukan tidak disusui secara baik akan berisiko menderi-
dengan teknik purposive sampling. Metode pe- ta berbagai infeksi penyakit karena pola makan
gumpulan data diperoleh melalui wawancara yang tidak cukup asupan gizinya dan tidak higie-
mendalam (indepth interview), observasi dan do- nis. Pemberian Makanan Bayi dan Anak sangat
kumentasi terhadap 6 informan awal yang terdiri menentukan petumbuhan anak. Setelah usia 6
dari kepala puskesmas, bidan koordinator KIA, bulan anak perlu mendapat asupan gizi dapat
koordinator gizi, bidan desa, kader dan ibu bali- memenuhi kebutuhan asupan gizi mikro, gizi
ta sasaran. Keabsahan data dilakukan pada dua makro serta aman (Putri, 2012). Kondisi sosial
informan triangulasi yang terdiri dari koordina- ekonomi, ketahanan pangan, ketersediaan air
tor kesehatan kelurga dan koordinator gizi Dinas bersih dan akses terhadap berbagai sarana pelaya-
Kesehatan Kabupaten. Teknik analisis data da- nan dasar berpengaruh pada tingginya prevalensi
lam penelitian ini dengan reduksi, display dan stunting (Sattu, 2014).
menarik kesimpulan. Didukung oleh (Sistiarani, 2008) dalam
penelitiannya mengenai Faktor maternal dan ku-
HASIL DAN PEMBAHASAN alitas pelayanan antenatal yang berisiko terhadap
kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) : Studi
Hasil wawancara penatalaksanaan status pada ibu yang periksa hamil ke tenaga kesehatan
gizi balita stunting di Puskesmas Sirampog ber- dan melahirkan di RSUD Banyumas tahun 2008
dasarkan unsur input dilihat dari segi SDM (Sum- mengatakan bahwa ibu yang memiliki kualitas
ber Daya Manusia) masih memerlukan tamba- pelayanan antenatal yang kurang baik mempuny-
han untuk posisi koordinator gizi. Tugas dalam ai peluang melahirkan bayi dengan berat badan
penatalaksanaan balita stunting sudah terinteg- lahir rendah (BBLR) 5,85 kali dibandingkan ibu
rasi namun belum ada team husus serta tupoksi yang memiliki kualitas pelayanan antenatal baik
belum sesuai dengan kompetensinya terutama karena BBLR merupakan faktor yang berperan
koordinator gizi dipegang oleh bidan. Kader kes- dalam kejadian stunting.
ehatan dalam partisipasi penatalaksanaan balita Berdasarkan unsur output prevalensi stunti-
stunting sangat membantu, disamping aktif da- ng mengalami penurunan pada tahun 2015 yaitu
lam setiap kegiatan posyandu, kader juga me- sebesar 16,74%, angka ini jauh lebih sedikit di-
laksanakan kunjungan rumah untuk memotivasi banding dengan tahun 2014 dan tahun 2013 yaitu
pada klien yang belum mendapatkan pelayanan mencapai hingga 30% lebih. Penurumam preva-
kesehatan. Hasil observasi sarana pendukung su- lensi tersebut didukung program lain meliputi :
dah cukup mendukung dalam penatalaksanaan Program sehat bagi wanita hamil, pemberian ASI
balita stunting, diantaranya obat-obatan, vitamin, Eksklusif, pemantauan tumbuh kembang, pem-
mikronutrien serta peralatan yang digunakan un- berian makanan tambahan, pemberian suplemen
tuk pemeriksaan. Semua pembiayaannya disub- vitamin A serta pemberian taburia.
sidi dari Dinas Kesehatan Kabupaten, hanya Program sehat bagi wanita hamil dalam
saja kekurangan antropometri untuk pengukuran penatalaksanaan status gizi balita stunting di
Panjang Badan (PB) pada bayi, karena hanya me- wilayah kerja Puskesmas Sirampog dari unsur
miliki satu alat. input yaitu Sumber Daya manusia (SDM) ma-
Berdasarkan unsur proses, Puskesmas Si- sih memerlukan tambahan, terutama pada saat
rampog sudah menerapkan sebagaian Program promosi kesehatan terkait peningkatan gizi serta

191
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

sosialisasi kesehatan. Tugas pokok sudah terin- kunjungan ANC terpadu. Hal ini juga didukung
tegrasi, namun belum sesuai dengan tupoksinya. dari prosentase cakupan ibu hamil yang melaku-
Puskesmas Sirampog belum ada tenaga gizi yang kan kunjungan ANC (Antenatal Care) pada saat
sesuai dengan kompetensinya, sementara tenaga kunjungan K1 yaitu sebesar 95,6%, serta kun-
pelaksana promosi kesehatan juga dipegang oleh jungan K4 sebanyak 83,5%. Artinya kepatuhan
perawat. Kader kesehatan Puskesmas Sirampog ibu hamil dalam pemeriksaan ANC sudah me-
dalam penatalaksanaan balita stunting fokus se- menuhi standar dari kebijakan Puskesmas Siram-
hat bagi wanita hamil sudah sangat memban- pog serta, dengan demikian sangat mempengaru-
tu. Tahun lalu, walaupun Puskesmas Sirampog hi prevalensi stunting.
sudah menerapkan program 1000 HPK namun Sesuai dengan penelitian (Najahah, 2012)
perbedaan ditahun 2015 selain Puskesmas Siram- mengenai Faktor resiko balita stunting salah sa-
pog tetap melaksanakan 1000 HPK, Puskesmas tunya adalah kunjungan ANC (Antenatal Care).
Sirampog juga menggerakan kader untuk kun- Kunjungan ANC yang dilakukan secara teratur
jungan rumah ibu hamil memotivasi agar melak- dapat mendeteksi dini risiko kehamilan yang
sanakan kunjungan ANC terpadu di Puskesmas. ada pada 18 ibu terutama yang berkaitan dengan
Berdasarkan hasil wawancara untuk pembiayaan masalah nutrisinya (Ni’amah, 2014). Pada pene-
penatalaksanaan balita stunting fokus sehat bagi litian ini ditemukan bahwa ibu yang melakukan
wanita hamil disubsidi dari Dinas Kesehatan Ka- kunjungan ANC hanya satu kali (Kurang dari
bupaten.Pusat perhatian terutama pada ibu ha- standar minimal yaitu empat kali) memiliki risiko
mil yang mengalami KEK (Kekurangan Energi mempunyai balita stunting 2,4 kali dibandingkan
Kalori) yaitu berupa susu. Hasil observasi terha- ibu yang melakukan kunjungan ANC standar.
dap sarana dan prasarana Puskesmas Sirampog Program pemberian ASI eksklusif pada
dalam penatalaksanaan balita stunting fokus sehat tahap input dalam penatalaksanaan balita stunti-
bagi wanita hamil sudah baik.Tersedianya vita- ng di wilayah kerja Puskesmas Sirampog kurang
min serta obat-obatan bagi wanita hamil, perala- kondusif, dikarenakan tenaga kesehatan yang
tan untuk ANC serta media konseling. mensosialisasikan pada ibu menyusui untuk
Hasil wawancara diketahui bahwa pada ta- memberikan ASI Eksklusif pada bayinya belum
hap pelaksanaan, semua tenaga kesehatan sudah sesuai dengan tupoksinya. Sebagian tenaga kese-
menjalankan program 1000 HPK sesuai dengan hatan belum mendapatkan pelatihan tentang ASI
buku pedoman, bahkan untuk menurunkan pre- eksklusif, sehingga kurang percaya diri ketika
valensi stunting Puskesmas Sirampog mempartisi- memberikan pendidikan kesehatan pada pasien.
pasikan kader untuk terjun langsung kunjungan Tenaga kesehatan menjadi kunci keberhasilan
rumah sebagai monitoring sasaran yang belum dalam edukasi ASI eksklusif pada pasien. Fakta
mendapatkan pelayanan kesehatan hususnya ini sesuai dengan penelitian Rosita (2016), yang
pada ibu hamil untuk melakukan ANC sebagai menyatakan bahwa dukungan tenaga kesehatan
pemeriksaan dan deteksi dini. Hasil dokumentasi berhubungan dengan perilaku pemberian ASI
cakupan output program sehat bagi wanita hamil eksklusif.
meliputi pelayanan kesehatan pada ibu hamil Berdasarkan wawancara kebijakan pembe-
yang dipantau melalui kunjungan Antenatal Care. rian ASI eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan di Pus-
Prosentase kunjungan K1 yaitu sebesar 95,6%, kesmas Sirampog yaitu : a) Skin to skin contact an-
serta kunjungan K4 sebanyak 83,5%. tara ibu dengan bayi segera setelah melahirkan b)
Berdasarkan hasil penelitian bahwa pena- Pemberian ASI dalam 60 menit pertama c) Pem-
talaksanaan status gizi balita stunting di wilayah berian kolostrum d) Mengosongkan satu payuda-
kerja Puskesmas Sirampog terkait program sehat ra sebelum memindahkan bayi ke payudara lain-
bagi wanita hamil sudah terintegrasi cukup baik nya e) Tidak memberikan makanan tambahan
namun belum teratasi 100%, dikarenakan Sum- apapun termasuk air putih, air gula atau maka-
ber Daya Manusia (SDM) masih memerlukan nan lainnya f) Pemberian ASI secara on-demand,
tambahan terutama tenaga pelaksana yang sesu- sesuai keinginan bayi siang dan malam minimal
ai dengan kompetensinya untuk sosialisasi lintas 8 kali perhari. Seluruh tenaga kesehatan yang ada
sektoral tentang pelayanan ANC terpadu. di Puskesmas Sirampog harus mengetahui kebija-
Terintegrasinya program sehat bagi wanita kan yang ada, sehingga minimal dapat memberi-
hamil di Puskesmas Sirampog dipengaruhi bany- kan konseling atau pendidikan kesehatan terkait
ak faktor yaitu tenaga kesehatan melaksanakan pemberian ASI Eksklusif yang sudah terstandar.
program sesuai dengan prosedur, kaderpun di- Dengan demikian untuk proses pelaksanaan su-
gerakan untuk kunjungan rumah untuk memo- dah terintegrasi sesuai dengan kebijakan Puskes-
tivasi pada ibu hamil yang belum melaksanakan mas Sirampog walaupun belum maksimal. Di-

192
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

dukung cakupan output program ASI Eksklusif hatikan karena akan mempengaruhi pada status
di Puskesmas Sirampog pada tahun 2015 yaitu gizi salah satunya stunting.
sebesar 86,8%. Artinya pemberian ASI Eksklusif Program pemberian makanan tambahan
sangat mempengaruhi prevalensi stunting. pada tahap input dalam penatalaksanaan balita
Sesuai penelitian yang dilakukan oleh stunting di wilayah kerja Puskesmas Sirampog
(Taufiqurrohman, 2009) mengatakan bahwa sudah cukup terintegrasi. Setiap bulan bidan
pertambahan panjang badan secara signifikan desa sebagai pelaksana dengan dibantu kader
bertambah baik pada tahun ke -2 dan ke -3 pada melaksanakan posyandu, dan disitulah pembe-
anak yang mendapat ASI lebih lama dari pada rian makanan tambahan diberikan pada balita
anak-anak yang disapih pada tahun ke -2, atau se- yang datang saat penimbangan dan pengukuran
baliknya semakin dini balita tidak lagi mendapat dengan biaya pengadaan PMT dari masyarakat
ASI, pertambahan panjang badan lebih rendah dan disubsidi dari dana BOK. Kebijakan pembe-
dibandingkan dengan yang mendapat ASI, aki- rian makanan tambahan di Puskesmas Sirampog
batnya peluang terjadinya stunting menjadi lebih dengan melibatkan kader beserta masyarakat
besar. pada kegiatan posyandu. Puskesmas Sirampog
Program pemantauan tumbuh kembang mempunyai prosedur yang sudah terstandar
pada tahap input dalam penatalaksanaan balita terkait PMT meliputi : 1) Makanan atau bahan
stunting di wilayah kerja Puskesmas Sirampog su- makanan lokal dan tidak diberikan dalam bentuk
dah cukup terintegrasi. Setiap bulan bidan desa uang 2) PMT Pemulihan hanya sebagai tamba-
sebagai pelaksana dengan dibantu kader melak- han terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ba-
sanakan penimbangan dan pengukuran pada lita sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti
bayi saat posyandu, hanya saja pada sarana pen- makanan utama 3) PMT dimaksudkan untuk
dukung salah satunya antropometri masih sangat memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekali-
kurang, karena Puskesmas Sirampog mempu- gus sebagai proses pembelajaran dan sarana ko-
nyai 1, dengan 13 desa binaan. Pada tahap pro- munikasi antar ibu dari balita sasaran 4) PMT
ses, Puskesmas Sirampog mempunyai kebijakan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas
dalam pemantauan tumbuh kembang bayi yaitu dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat
pemantauan berat badan di ukur tiap bulan dan yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas
tinggi badan balita diukur serentak tiap tahun. program dan sektor terkait lainnya. Berdasarkan
Hasil tersebut dicatat dan dimasukkan ke grafik wawancara cakupan program pemberian maka-
tumbuh kembang yang telah ditetapkan, apabila nan tambahan yaitu melalui kegiatan pada saat
ditemukan keganjalan dalam hasil antropometri, posyandu dengan mempartisipasikan kader serta
maka bidan desa akan melaporkan ke Puskesmas masyarakat. Cakupan output bayi dan balita saat
terkait serta dilakukan visitasi langsung kerumah posyandu yang mendapatkan PMT di Puskesmas
balita sasaran. Berdasarkan wawancara cakupan Sirampog pada tahun 2015 yaitu sebesar 76,8%.
program pemantauan tumbuh kembang bayi Artinya sesuai dengan standar kebijakan Puskes-
yaitu melalui penimbangan dan pengukuran se- mas Sirampog, namun dengan demikian anak
cara periodic setiap bulan dan serentak melalui harus selalu diperhatikan dalam kualitas dan ku-
kegiatan posyandu. Prosentase kehadiran bayi antitas makanan agar derajat kesehatanya teruta-
dan balita dalam pemantauan tumbuh kembang ma status gizi bisa optimal.
di Puskesmas Sirampog pada tahun 2015 yaitu Didukung oleh (Rahim, 2014) dalam pen-
sebesar 76,8%. elitianya mengenai Faktor risiko Underweight bali-
Sesuai dengan penelitian Rohimah (2015) ta umur 7-59 bulan mengatakan bahwa pola asuh
dan Nugroho (2014) terkait pola konsumsi, status sangat berperan dan sangat mempengaruhi pada
kesehatan dan hubungannya dengan status gizi status gizi anak salah satunya stunting. Salah satu
dan perkembangan balita mengatakan bahwa aspek kunci dalam pola asuh gizi adalah praktek
gizi pada anak balita (kelompok usia 0-5 tahun) penyusunan dan pemberian MP-ASI yaitu beru-
sangat penting karena merupakan fondasi untuk pa makanan tambahan (Septiana, 2010). Praktek
kesehatan sepanjang hidupnya nanti, juga kekua- penyusunan tersebut dapat meliputi pemberian
tan dan kemampuan intelektualnya. Hasil peneli- makanan prelaktal, kolostrum, menyusui secara
tiannya juga mengatakan bahwa balita memiliki secara eksklusif dan praktek penyapihan (Marliy-
rata-rata nilai perkembangan lebih besar yaitu ati, 2015).
sebesar 71,60±11,91 dibandingkan subjek yang Program pemberian vitamin A Pada unsur
berusia prasekolah yang memiliki rata-rata nilai input dalam penatalaksanaan status gizi balita
perkembangan sebesar 68,08±15,54 sehingga stunting di wilayah kerja Puskesmas Sirampog
pemantauan tumbuh kembang anak harus diper- sudah terintegrasi. Bidan desa sebagai pelaksana

193
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

pemberian vitamin A pada saat posyandu dan oleh Wahyuni (2013) mengenai evaluasi pro-
dengan dibantu kader untuk mencatat sasaran gram pemberian taburia bahwa dalam pengor-
yang sudah mendapatkan dan yang belum men- ganisasiannya harus terkoordinir. Program ini
dapatkan vitamin tersebut. Pengadaan vitamin A melibatkan sektor lain dari pihak kelurahan dan
disubsidi dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Kebi- kecamatan dalam melakukan sosialisasi taburia
jakan pemberian vitamin A di Puskesmas Siram- kepada masyarakat. Buku panduan manajemen
pog dilaksanakan pada bulan Februari dan Agus- pemberian taburia menyebutkan bahwa sosialisa-
tus dengan melibatkan kader untuk memberikan si merupakan bagian yang sangat penting untuk
langsung dari rumah kerumah pada sasaran yang meningkatkan cakupan pemberian taburia. Sosi-
belum menerima vitamin A pada saat didata pada alisasi perlu dilakukan dalam rangka menggerak-
kegiatan posyandu. Prosentase output distribusi kan seluruh lapisan masyarakat agar mendukung
vitamin A pada bayi di bulan Februari sebesar kegiatan pemberian taburia sebagai mikronutrien
100%, sedangkan pada bulan Agustus 98,51% untuk mencegah stunting.
dan prosentase distribusi vitamin A pada balita
di bulan Februari sebesar 100%, sedangkan pada SIMPULAN
bulan Agustus sebesar 98,77%. Hal ini yang men-
dukung terintegrasinya program pemberian vi- Program sehat bagi wanita hamil terkait
tamin A, dengan demikian sudah sesuai dengan penurunan balita stunting berjalan sangat baik,
target kebijakan Puskesmas Sirampog dan sangat hal ini didukung dari ibu hamil yang melaku-
mempengaruhi terhadap prevalensi stunting. kan kunjungan ANC pada saat K1 yaitu sebesar
Sesuai penelitian yang dilakukan oleh 95,6%, serta kunjungan K4 sebanyak 83,5%. Pro-
(Taufiqurohman, 2009) mengenai defisiensi vita- gram pemberian ASI Eksklusif terkait penurunan
min A dan Zinc sebagai faktor resiko terjadinya balita stunting berjalan sangat baik, hal ini didu-
stunting mengutarakan bahwa Defisiensi vitamin kung pada tahun 2015 cakupan bayi yang meng-
A berpengaruh terhadap sintesis protein, sehing- gunakan ASI Eksklusif yaitu sebesar 86,8%.
ga juga mempengaruhi pertumbuhan sel. Karena Program pemantauan tumbuh kembang
itulah maka, anak yang menderita defisiensi vita- balita terkait penurunan balita stunting berjalan
min A akan mengalami kegagalan pertumbuhan sangat baik, hal ini didukung dari kehadiran bayi
serta kurangnya gizi mikro (Vitamin A dan Zinc) dan balita untuk dilakukan pemantauan tumbuh
salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian kembang sebesar 86,8%. Bidan desa setiap bu-
stunting. lan juga melakukan penimbangan berat badan
Program pemberian taburia pada unsur (BB) dan serentak tiap tahun untuk pengukuran
input dalam penatalaksanaan status gizi balita panjang badan pada bayi (PB) serta tinggi badan
stunting di wilayah kerja Puskesmas Sirampog ti- pada anak (TB).
dak efektif, dikarenakan tenaga kesehatan yang Program pemberian makanan tambahan
menjadi koordinator Gizi tidak sesuai dengan terkait penurunan balita stunting berjalan sangat
kompetensinya,jadi belum begitu faham yang baik, hal ini didukung dari kehadiran bayi dan ba-
seharusnya menjadi tugas pokok dan fungsinya lita yang mendapatkan makanan tambahan pada
dalam pengadaan taburia. Pengadaan taburia di saat posyandu 76,8%. Program pemberian vita-
subsidi dari Dinas kesehatan Kabupaten, semen- min A pada balita terkait penurunan balita stun-
tara Puskesmas hanya merencanakan kebutuhan ting berjalan sangat baik, hal ini didukung dari
taburia serta mendistribusikan pada balita sasa- distribusi vitamin A pada bayi di bulan Februari
ran yang tepat berdasarkan perhitungan proyeksi sebesar 100%, sedangkan pada bulan Agustus
dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kebijakan pem- 98,51% dan prosentase distribusi vitamin A pada
berian taburia di Puskesmas Sirampog dalam balita di bulan Februari sebesar 100%, sedangkan
segi tugas dan team pelaksana belum terintegrasi, pada bulan Agustus sebesar 98,77%. Program
terutama dalam manajemen pemberian taburia pemberian taburia terkait penurunan balita stun-
yang meliputi perencanaan kebutuhan, penyedi- ting berjalan tidak efektif. Hal ini didukung koor-
aan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dinator gizi yang sebagai tenaga pelaksana tidak
dan pelaporan, pemantauan dan evaluasi belum sesuai dengan tupoksi dan kompetensinya dan
terkoordinir sama sekali. Berdasarkan wawan- cakupan program distribusi taburia tahun 2015
cara dan dokumentasi cakupan output program pada balita sebesar 0%.
distribusi taburia tahun 2015 pada balita sebesar
0%. Hal ini tidak memberikan efek positif terha- DAFTAR PUSTAKA
dap penurunan prevalensi balita stunting.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Ri-

194
Himatul Khoeroh & Dyah Indriyanti / Unnes Journal of Public Health 6 (3) (2017)

set Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013). Jakarta


: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rohimah, E. 2015. Pola Konsumi, Status Kesehata-
an dan hubungannya dengan status gizi dan
Hidayati, L. 2010. Kekurangan energi dan Zat Gizi perkembangan balita. Jurnal Gizi Pangan. 10
Merupakan Faktor Risiko Kejadian Stunted (2) : 93-100.
Pada Anak Usia 1-3 Tahun Yang Tinggal di
Wilayah Kumuh Perkotaan Surakarta. Jurnal Rosita, Neng Ayu. 2016. Peran Dukungan Orang Tua
Kesehatan. 3 (1) : 89-104. Faktor Yang Paling Berpengaruh Terhadap
Pemberian ASI Eksklusif. Unnes Journal of Pub-
Marliyati, 2015. Pertumbuhan Bayi dan Pemberian lic Health. Vol 5 (4).
ASI Eksklusif oleh Ibu Penerima Konseling
Menyusui dan Makanan Tambahan Torban- Sattu, M. 2014. Karakteristik Balita Stunting di
gun. Jurnal Gizi Pangan. 10 (2): 77-84. Wilayah KIerja Puskesmas Teku Kecamatan
Balantak Utara Kabupaten Banggai. Jurnal of
Najahah, I. 2012. Faktor risiko balita stunting usia 12- Natural Science. 3 (3) : 239-247.
36 bulan di Puskesmas Dasan Agung,Mataram,
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Ilmu Kes- Septiana, R. 2010. Hubungan Antara Pola Pemberian
ehatan Masyarakat. 1 (2) : 22-26. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan
Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan di Wilayah
Ni’amah, S. 2014. Hubungan Kualitas Pemenuhan Kerja Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta.
Konsumsi Tablet FE dengan Kejadian Anemia Jurnal Kesehatan Masyarakat. 4 (2) : 76-143.
Pada Ibu Hamil Trimester III. Jurnal Ilmu Kebi-
danan & kesehatan. 5 (2) : 13-19. Sistiarani, 2008. Faktor maternal dan kualitas pelay-
anan antenatal yang berisiko terhadap kejadian
Nugroho, A. 2014. Pengaruh Mikronutrien Taburia berat badan lahir rendah (BBLR): Studi pada
Terhadap Perkembangan Motorik Anak Usia ibu yang periksa hamil ke tenaga kesehatan dan
24-48 Bulan Yang Stunting (Studi di Tanjung- melahirkan di RSUD Banyumas tahun 2008.
karang Barat Kabupaten, Bandar Lampung. Tesis. Universitas Diponogoro.
Jurnal Gizi Indonesia. 3 (1) : 52-59.
Taufiqurrohman, 2009. Defisiensi Vitamin A dan Zinc
Putri, A. 2012. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Sebagai Faktor Risiko TerjadinyaStunting Pada
Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein Balita Di Nusa Tenggara Barat. Jurnal Media
dan Zinc dengan Stunting (Pendek) pada Bal- Penelitan dan Pengembang. Kesehatan. 21 (2) :
ita Usia 6- 35 Bulan di Kecamatan Tembalang 141-152.
Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat
(JKM). Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kes- Welasasih & Wirjatmadi, 2012.Beberapa Faktor yang
ehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro. 1 (2) Berhubungan dengan Status Gizi Balita Stunt-
: 617-626. ing. The Indonesian Journal of Public Health. 8 (3)
: 99–104.
Rahim, F. 2014. Faktor Risiko Underweight balita
umur 7-59 bulan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. World Health Organization ( WHO, 2013 ). Scalling Up
9 (2) : 15-121. Nutrition.

195