Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

BATU URETER ( URETEROLITHIASIS )

A. PENGERTIAN

Batu saluran kemih atau Urolithiasis adalah adanya batu di dalam


saluran kemih. (Luckman dan Sorensen). Dari dua definisi tersebut diatas saya
mengambil kesimpulan bahwa batu saluran kemih adalah adanya batu di
dalam saluran perkemihan yang meliputi ginjal,ureter,kandung kemih dan
uretra.

Batu saluran kemih (urolithiasis) merupakan obstruksi benda padat


pada saluran kencing yang berbentuk karena faktor presifitasi endapan dan
senyawa tertentu. Batu tersebut bias berbentuk dari berbagai senyawa,
misalnya kalsium oksalat (60%), fosfat (30%), asam urat (5%) dan sistin
(1%). (Prabowo. E dan Pranata, 2014: hal 111)

Definisi BSK Batu saluran kemih adalah batu yang terbetuk dari
berbagai macam proses kimia di dalam tubuh manusia dan terletak di dalam
ginjal serta saluran kemih pada manusia seperti ureter (Pharos, 2012: hal 4)

B. ETIOLOGI

Menurut (Purnomo, 2011: hal 2) Terbentuknya batu saluran kemih diduga


karena ada hubungannya gangguan cairan urine, gangguan metabolik, infeksi
saluran kemih dehidrasi dan keadaan lain yang masih belum terungkap
(idopatik). Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinya batu saluran kemih pada seseorang yaitu :
1. Faktor intrinsik: herediter (di duga diturunkan orang tuanya) umur, (paling
sering di dapatkan pada usia 30-50 tahun) jenis kelamin, (laki-laki tiga lebih
banyak dibandingkan dengan pasien perempuan).

2. Faktor ekstrinsik: geografi, iklim dan temperature, asupan air, diet


pekerjaan.

Mineralisasi pada semua system biologi merupakan temuan umum. Tidak


terkecuali batu saluran kemih, yang merupakan kumpulan kristal yang terdiri
dari bermacam-macam Kristal dan matrik organik. Teori yang
menjelaskanmengenai penyakit batu saluran kemih kurang lengkap. Proses
pembentukan membutuhkan supersaturasi urine. Supersaturasi tergantung
pada PH urine, kekuatan ion, konsntrasizat terlarut, dan kompleksasi. (Stoller
2010 : hal 4).

Teori Kristal inhibitor menyatakan bahwa batu terbentuk karena konsentrasi


inhibitor alami yang rendah seperti magnesium, sitrat, firofosfat, dan
sejumlah kecil logam. Teori ini tidak absolit karena tidak semua orang yang
inhibitor pembentuk kristalnya rendah terkena batu saluran kemih. (Stoller
2010 : hal 5).

1. Komponen Kristal batu terutama terdiri dari komponen Kristal dengan


ukuran dan transparansi yang mudah di identifikasi dibawah polarisasi
mikroskop. Difraksi X-ray terutama untuk menilai geometris dan arsitektur
batu. Banyak tahap yang terkait dalam pembentukan batu.

Meliputi nukleasi, perkembangan dan agregasi, nukleasi memulai proses dan


di induksi oleh beberapa subtansi sepertimatrik protein, Kristal, zatasing dan
partikel-partikel lainnya. (Stoller 2010 : hal 5)

2. Komponen matrik Sejumlah komponen matrik non Kristal dari batu saluran
kemih memiliki tipe yang berfariasi. Umumnya antara 2% hingga 10%
beratnya terdiri dari protein, dengan sejumlah kecil heksosa dan heksamin.
(Stoller, 2010: hal 5)

C. PATOFISIOLOGI

Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan


urolitiasis belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
predisposisi terjadinya batu antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan urin
akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan bahan-bahan
organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk
pembentukan batu.

Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan faktor lain
mendukung pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi
asam, jumlah solute dalam urin dan jumlah cairan urin. Masalah-masalah
dengan metabolisme purin mempengaruhi pembentukan batu asam urat. pH
urin juga mendukung pembentukan batu. Batu asam urat dan batu cystine
dapat mengendap dalam urin yang asam. Batu kalsium fosfat dan batu struvite
biasa terdapat dalam urin yang alkalin. Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH
urin.

Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju tulang


akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang
akan diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau
pengendapan semakin bertambah dan pengendapan ini semakin kompleks
sehingga terjadi batu.

Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi, ada batu yang
kecil dan batu yang besar. Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan
menimbulkan rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah
dalam urin. Sedangkan batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran
kemih yang menimbulkan dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi
refluks urin dan akibat yang fatal dapat timbul hidronefrosis karena dilatasi
ginjal.

Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan


pada organ-organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena
ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara normal.

Maka dapat terjadi penyakit GGK yang dapat menyebabkan kematian.

D. PATHWAY
E. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada


adanya obstruksi, infeksi dan edema.

1. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi piala ginjal serta
ureter proksimal.

a. Infeksi pielonefritis dan sintesis disertai menggigil, demam dan


disuria, dapat terjadi iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu
menyebabkan sedikit gejala, namun secara perlahan merusak unit
fungsional (nefron) ginjal.

b. Nyeri hebat dan ketidaknyamanan.

2. Batu di ginjal

a. Nyeri dalam dan terus menerus di area kontovertebral.

b. Hematuri.

c. Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita
nyeri kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria
mendekati testis.

d. Mual dan muntah.

e. Diare.

3. Batu di ureter

a. Nyeri menyebar kepaha dan genitalia.

b. Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar.


c. Hematuri akibat abrasi batu.

d. Biasanya batu keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5 – 1 cm.

4. Batu di kandung kemih

a. Biasanya menimbulkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi


traktus urinarius dan hematuri.

b. Jika batu menimbulkan obstruksi pada leher kandung kemih akan


terjadi retensi urin.

F. KOMPLIKASI

Menurut (S. Wahap, 2013: hal 168) batu saluran kemih selain memicu
terjadinya renal colic, ada beberapa komplikasi ada beberapa komplikasi yang
di waspadai :

1. Pembendungan dan pembengkakan ginjal

2. Kerusakan dan gagal fungsi ginjal,

3. Infeksi saluran kemih

4. Timbulnya batu berulang

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Urinalisa ; warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah, secara umum


menunjukan SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), pH
asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan
magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam
:kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin
meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin serum dan
urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap
tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

2. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau


polisitemia.

3. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH.


Merangsang reabsobsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum
dan kalsium urine.

4. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada


area ginjal dan sepanjang ureter.

5. IVP: memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri,


abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik
(distensi ureter).

6. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan


batu atau efek obstruksi.

7. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu.

H. PENATALAKSANAAN

1. Tujuan:

a. Menghilangkan obstruksi

b. Mengobati infeksi.

c. Mencegah terjadinya gagal ginjal.

d. Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).

2. Operasi dilakukan jika:


a. Sudah terjadi stasis/bendungan.

b. Tergantung letak dan besarnya batu, batu dalam pelvis dengan


bendungan positif harus dilakukan operasi.

3. Therapi

a. Analgesik untuk mengatasi nyeri.

b. Allopurinol untuk batu asam urat.

c. Antibiotik untuk mengatasi infeksi.

4. Diet

Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan.

a. Batu kalsium oksalat

Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang


mengandung kalsium oksalat seperti: bayam, daun sledri, kacang-
kacangngan, kopi, coklat; sedangkan untuk kalsium fosfat mengurangi
makanan yang mengandung tinggi kalsium seperti ikan laut, kerang,
daging, sarden, keju dan sari buah.

b. Batu struvite; makanan yang perlu dikurangi adalah keju, telur, susu
dan daging.

c. Batu cystin; makanan yang perlu dikurangi antara lain sari buah, susu,
kentang.

d. Anjurkan konsumsi air putih kurang lebih 3 -4 liter/hari serta olah raga
secara teratur.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. WAWANCARA
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan

1) Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik.

2) Riwayat infeksi saluran kemih.

3) Pajanan lingkungan: zat-zat kimia.

4) Keturunan.

5) Alkoholik, merokok.

6) Untuk pasien wanita: jumlah dan tipe persalinan (SC, forseps,


penggunaan kontrasepsi).

b. Pola nutrisi metabolik


1) Mual, muntah.

2) Demam.

3) Diet tinggi purin oksalat atau fosfat.

4) Kebiasaan mengkonsumsi air minum.

5) Distensi abdominal, penurunan bising usus.

6) Alkoholik

c. Pola eliminasi

1) Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output.

2) Hematuri.

3) Rasa terbakar, dorongan berkemih.

4) Riwayat obstruksi.

5) Penurunan hantaran urin, kandung kemih.

d. Pola aktivitas dan latihan

1) Pekerjaan (banyak duduk).

2) Keterbatasan aktivitas.

3) Gaya hidup (olah raga).

e. Pola tidur dan istirahat

1) Demam, menggigil.

2) Gangguan tidur akibat rasa nyeri.


f. Pola persepsi kognitif

Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan
posisi atau tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi

2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Inspeksi

Terlihat pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah


atas. Pembesaran ini mungkin karena hidronefrosis.

b. Palpasi

Ditemukan nyeri tekan pada abdomen sebelah atas. Bisa kiri,


kanan atau dikedua belah daerah pinggang. Pemeriksaan bimanual
dengan memakai dua tangan atau dikenal juga dengan nama tes
Ballotement. Ditemukan pembesaran ginjal yang teraba disebut
Ballotement positif.

c. Perkusi

Ditemukan nyeri ketok pada sudut kostovertebra yaitu sudut yang


dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang vertebra

B. ANALISA DATA
Analisa data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisa
data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi,
penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai social,
akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah :
mengelompokkan data berdasarkan variabel dan enis responden,
menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk
menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menjawab
rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis,
langkah terakhir tidak dilakukan.
Tujuan analisa menurut Sofian Effendi dalam bukunya Metode
Penelitian Survei (1987 : 231) adalah menyederhanakan data dalam
bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasi.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pre operasi :

a. Nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan


kontraksi uretral.

b. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan situasi kandung


kemih oleh batu, iritasi ginjal atau uretral.

c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual / muntah.

d. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan adanya batu


pada saluran kemih (ginjal).

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/


menginggat salah interpertasi informasi.

2. Post operasi

a. Resiko kurang volume cairan b.d. haemoragik/ hipovolemik

b. Nyeri b.d insisi bedah

c. Perubahan eliminasi perkemihan b.d. penggunaan kateter


d. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi operasi dan pemasangan
kateter.

e. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

D. INTERVENSI
1. Pre operasi

a. DX. Nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan


kontraksi uretral

Tujuan :

- Melaporkan nyeri hilang/berkurang dengan spasme terkontrol

- Tampak rileks mampu tidur/istirahat dengan tepat.

Intervensi

1) Catat lokasi, lamanya intensitas (0-10) dan penyebaran

Rasional : Membantu mengevaluasi tempat abstruksi dan


kemajuan gerakan kalkulus

1) Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan tentang


perubahann kejadian / karakyeristik nyeri.

Rasional : Berikan kesempatan untuk pemberian analgesic


sesuai waktu (membantu dalam meningkatkan koping pasien
dan dapat menurunkan ansietas).

2) Berikan tindakan nyaman contoh pijatan punggung lingkungan


istirahat.
Rasional : Menaikkan relaksasi menurunkan tegangan otot dan
menaikkan koping

3) Perhatikan keluhan/menetap nya nyeri abdomen.

Rasional : Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan


perforasi dan ekstravasasi urine ke dalam area perineal.

4) Berikan banyak cairan bila tidak ada mual, lakukan dan


pertahankan terapi IV yang diprogramkan bila mual dan
muntah terjadi.

Rasional : Cairan membantu membersihkan ginjal dan dapat


mengeluarkan batu kecil.

5) Dorong aktivitas sesuai toleransi, berikan analgesic dan anti


emetic sebelum bergerak bila mungkin.

Rasional : Gerakan dapat meningkatkan pasase dari beberapa


batu kecil dan mengurangi urine statis. Kenmyamanan
meningkatkan istirahat dan penyembuhan mual disebabkan
oleh peningkatan nyeri.

b. DX.Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi


kandung kemih oleh batu,iritasi ginjal oleh ureteral

Tujuan :

- Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya

- Tidak mengalami tanda obstruksi

Intervensi

1) Awasi pemasukan dan keluaran serta karakteristik urine


Rasional : Memberikan informasi tentang fungsi ginjal, dan
adanya komplikasi contoh infeksi dan perdarahan

2) Tentukan pola berkemih normal dan perhatikan variasi

Rasional : Kalkulus dapat menyebabkan ekstibilitas yang


menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera

3) Dorong meningkatjkan pemasukan cairan

Rasional : Peningkatan hidrasi membilas bakteri,darah dan


debris dan dapat membantu lewatnya batu.

4) Periksa semua urine catat adanya keluaran batu dan kirim ke


laboratorium untuk analisa

Rasional : Penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe batu


dan mempengaruhi pilihan terapi

5) Observasi perubahan status mental,perilaku atau tingkat


kesadaran

Rasional : Akumulasi sisa uremik dan ketidak seimbangan


elektrolit dapat menjadi toksik di SSP.

6) Awasi pemeriksaan laboratorium,contoh


BUN,elektrolit,kreatinin

Rasional :Peninggian BUN,kreatinin dan elektrolit


mengidentifikasikan disfungsi ginjal.

c. DX.Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual /


muntah

Tujuan :
- Mempertahankan keseimbangan cairan

- Membran mukosa lembab

- Turgor kulit baik

Intervensi

1) Awasi intake dan Output

Rasional : Membandingkan keluaran actual dan yang


diantisifikasi membantu dalam evaluasi adanya / derajat statis /
kerusakan ginjal.

2) Catat insiden muntah,diare perhatikan karakteristik dan


frekuensi mual / muntah dan diare.

Rasional : Mual / muntah, diare secara umum berdasarkan baik


kolik ginjal karena saraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan
lambung.

3) Awasi Hb /Ht, elektrolit

Rasional : Mengkaji hidrasi dan efektifian / kebutuhan


intervensi.

4) Berikan cairan IV

Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi / bila pemasukan


oral tidak cukup,/ menaik fungsi ginjal.

5) Berikan diet tepat,cairan jernih,makanan lembut sesuai


toleransi.
Rasional : Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas GI /
iritasi dan membantu mempertahankan cairan dan
keseimbangan nutrisi.

d. DX. Resiko tinggi terhadap cidera berdasarkan adanya batu pada


saluran kemih (ginjal).

Tujuan:

- Fungsi ginjal dalam batas normal

- Urine berwarna kuning / kuning jernih

- Tidak nyeri waktu berkemih.

Intervensi

1) PantauUrine berwarna,bau / tiap 8 jam, Masukan dan haluaran


tiap 8 jam,PH urine , TTV setiap 4 jam

Rasional: Untuk deteksi dini terhadap masalah.

2) Saring semua urine, observasi terhadap kristal. Simpan kristal


untuk dilihat dokter kirim ke laboratorium

Rasional: Untuk mendaptakan data-data keluarnya batu,


perubahan diet yang didasari oleh komposisi batu

3) Konsultasi dengan dokter bila pasien sering berkemih, jumlah


urine sedikit dan terus menerus, perubahan urine.

Rasional: Temuan-temuan ini menunjukkan perkembangan


obstruksi dan kebutuhan intervensi progresif.
4) Berikan obat-obatan sesuai program untuk mempertahankan
PH urine tepat.

Rasional: Dengan perubahan PH urine / peningkatan


keasamaan / alkalinitas, factor solubilitas untuk batu dapat di
control

e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/


menginggat salah interpertasi informasi.

Tujuan:

- Menyatakan pemahaman proses penyakit.

- Menghubungkan gejala dan faktor penyebab.

- Melakukan perubahan prilaku yang perlu dan berpastrisipasi dalam


program pengobatan.

Intervensi:

1) Kaji ulang proses penyakit dan harapan di masa yang datang

Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat


membuat pilihan berdasarkan informasi.

2) Tekankan pentingnya peningkatan pemasukan cairan, contoh 3-


4 liter per hari/ 6-8 liter/ hari. Dorong pasien melaporkan mulut
kering, diuresis (keringat berlebihan) dan untuk peningkatan
pemasukan cairan baik bila haus atau tidak.

Rasional: pembilasan sistem ginjal menurunkan kesempatan


statis ginjal atau pembentukan batu.
3) Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual
bebas dan membaca semua label produk/ kandungan dalam
makanan

Rasional: obat-obatan diberikan untuk mengasamkan


mengakalikan urine, tergantung pada penyebab dasar
pembentukan batu.

4) Mendengar dengan aktif tentang terapi / perubahan pola hidup.

Rasional: membantu pasien berkerja melalui perasaan dan


meningkatkan rasa kontrol apa yang terjadi.

5) Tunjukan perawatan yang tepat terhadap insisi/ kateter bila


ada.

Rasional: meningkatkan kemampuan perawatan diri, dan


kemandirian.

2. Post operasi

a. DX.Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan


haemoregik / hipovolemik

Tujuan :

- Tanda tanda vital stabil

- kulit kering dan elastic

- intake output seimbang

- insisi mulai sembuh, tidak ada perdarahan melalui selang

intervensi
1) Kaji balutan selang kateter terhadap perdarahan setiap jam dan
lapor dokter.

Rasional : mengetahui adanya perdarahan.

2) Anjurkan pasien untuk mengubah posisi selang atau kateter


saat mengubah posisi.

Rasional : mencegah perdarahan pada luka insisi

3) Pantau dan catat intake output tiap 4 jam, dan laporan ketidak
seimbangan.

Rasional : mengetahui kesimbangan dalam tubuh.

4) Kaji tanda vital dan turgor kulit, suhu tiap 4-8 jam.

Rasional : dapat menunjukan adanya dehidrasi / kurangnya


volume cairan

b. DX.Nyeri berhubungan dengan insisi bedah

Tujuan :

- Pasien melaporkan meningkatanya kenyamanan yang ditandai


dengan mudah untuk bergertak, menunjukkan ekspresi wayah dan
tubuh yang relaks.

Intervensi :

1) Kaji intensitas,sifat, lokasi pencetus daan penghalang factor


nyeri.

Rasional : menentukan tindakan selanjutnya


2) Berikan tindakan kenyamanan non farmakologis, anjarkan
tehnik relaksasi, bantu pasien memilih posisi yang nyaman.

3) Kaji nyeri tekan, bengkak dan kemerahan.

Rasional : dengan otot relkas posisi dan kenyamanan dapat


mengurangi nyeri.

4) Anjurkan pasien untuk menahan daerah insisi dengan kedua


tangan bila sedang batuk.

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.

5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.

Rasional : analgetik dapat mengurangi nyeri.

c. DX. Perubahan eliminasi perkemihan berhubungan dengan


pemasangan alat medik ( kateter).

Tujuan :

- Pasien berkemih dengan baik, warna urine kuning jernih dan dapat
berkemih spontan bila kateter dilepas setelah 7 hari.

Intervensi :

1) Kaji pola berkemih normal pasien.

Rasional : untuk membandingkan apakah ada perubahan pola


berkemih.

2) Kaji keluhan distensi kandung kemih tiap 4 jam

Rasional : kandung kemih yang tegang disebabkan karena


sumbatan kateter.
3) Ukur intake output cairan.

Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan

4) Kaji warna dan bau urine dan nyeri.

Rasional: untuk mengetahui fungsi ginjal.

5) Anjurkan klien untuk minum air putih 2 Lt / sehari, bila tidak


ada kontra indikasi.

Rasional: untuk melancarkan urine.

d. DX.Resiko infeksi berhubungan dengan insisi bedah dan


pemasangan kateter.

Tujuan :

- Insisi kering dan penyembuhan mulai terjadi.

- Drainase dan selang kateter bersih.

Intervensi

1) Kaji dan laporkan tanda dan gejala infeksi luka (demam,


kemerahan, bengkak, nyeri tekan dan pus)

Rasional: mengintervensi tindakan selanjutnya.

2) Kaji suhu tiap 4 jam.

Rasional: peningkatan suhu menandakan adanya infeksi.

3) Anjurkan klien untuk menghindari atau menyentuk insisi.

Rasional: menghindarkan infeksi.


4) Pertahankan tehnik steril untuk mengganti balutan dan
perawatan luka.

Rasional: menghindari infeksi silang

e. Hambatan mobilitas fisik

Definisi : Keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau


lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah.
Batasan Karakteristik :
· Penurunan waktu reaksi
· Kesulitan membolak-balik posisi
· Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan
(mis.,meningkatkan perhatian pada aktivitas orang lain,
mengendalikan perilaku, focus pada ketunadayaan/aktivitas sebelum
sakit)
· Dispnea setelah beraktivitas
· Perubahan cara berjalan
· Gerakan bergetar
· Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik
halus
· Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik
kasar
· Keterbatasan rentang pergerakan sendi
· Tremor akibat pergerakan
· Ketidakstabilan postur
· Pergerakan lambat
· Pergerakan tidak terkoordinasi
Faktor Yang Berhubungan :
· Intoleransi aktivitas
· Perubahan metabolisme selular
· Ansietas
· Indeks masa tubuh diatas perentil ke 75 sesuai usia
· Gangguan kognitif
· Konstraktur
· Kepercayaan budaya tentang aktivitas sesuai usia
· Fisik tidak bugar
· Penurunan ketahanan tubuh
· Penurunan kendali otot
· Penurunan massa otot
· Malnutrisi
· Gangguan muskuloskeletal
· Gangguan neuromuskular, Nyeri
· Agens obat
· Penurunan kekuatan otot
· Kurang pengetahuan tentang aktvitas fisik
· Keadaan mood depresif
· Keterlambatan perkembangan
· Ketidaknyamanan
· Disuse, Kaku sendi
· Kurang dukungan Iingkungan (mis, fisik atau sosiaI)
· Keterbatasan ketahanan kardiovaskular
· Kerusakan integritas struktur tulang
· Program pembatasan gerak
· Keengganan memulai pergerakan
· Gaya hidup monoton
· Gangguan sensori perseptual
Tujuan dan Kriteria Hasil :
NOC
· Joint Movement : Active
· Mobility level
· Self care : ADLs
· Transfer performance
Kriteria Hasil:
· Klien meningkat dalam aktivitas fisik
· Mengerti tujuan dan peningkatan mobilitas
· Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan
kemampuan berpindah
· Memperagakan penggunaan alat
· Bantu untuk mobilisasi (walker)

Intervensi Keperawatan :
NIC
Exercise therapy : ambulation
· Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon
pasien saat latihan
· Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi
sesuai dengan kebutuhan
· Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
· Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik
ambulasi
· Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
· Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri
sesuai kemampuan
· Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADLs pasien.
· Berikan alat bantu jika klien memerlukan.
· Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan
jika diperlukan

E. EVALUASI
Tahapan evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap
pencapaian hasil yang diinginkan dan respon pasien terhadap keefktifan
intervensi keperawatan kemudian mengganti rencana perawatan jika
diperlukan, tahap akhir proses keperawatan.
Jika tujuan tidsk tercapai maka perlu dikaji ulang letak kesalahannya,
dicari jalan keluarnya, kemudian catat apa yang ditemukan, serta apakah
perlu dilakukan perubahan intervensi (Tarwono, 2010).
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical
nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2002

Purnomo, B.B., 2011. Dasar-dasar Urologi. Edisi ke 3, CV. Sagung Seto, Jakarta.

Pilasri C., 2007. Epidemiology Study of Urolithiasis in South of Northteast Thailand.

DepKes RI, 2002. Statistik Rumah Sakit di Indonesia. Seri 3, Morbiditas dan
Mortalitas Direktorat Jendral Pelayanan Medik.

Depkes RI., 2005. Distribusi Penyakit-Penyakit Sistem Kemih Kelamin Pasien


Rawat Inap Menurut Golongan Sebab Sakit Indonesia

Hardjoeno., dkk, 2006. Profil Analisis Batu Saluran Kemih di Laboraturium Patologi
Klinik. Indonesia journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, vol
12, No 3, Makasar.

Lina N., 2008. Faktor-Faktor Kejadian Batu Saluran Kemih Pada Laki- Laki. Tesis
Mahasiswa Pasca Sarjana Epidemiologi UNDIP.

Prabowo dan Pranata, 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sistem

Perkemihan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Purnomo, B.B. 2010.Pedoman diagnosis & terapi smf urologi LAB ilmu

bedah.Malang: Universitas Kedokteran Brawijaya.

Anda mungkin juga menyukai