Anda di halaman 1dari 2056

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Judul Asli : Jay Hong Ci'en


Karya : Tong Hong Giok (Tong Fang Yi)
Saduran : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ dan ‘aaa’
Tiraikasih Website

http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com

JILID : 1

BUKIT BATU disebelah telaga cau oh tidak begitu tinggi


namun curam dan terjal terutama tebing sebelah utara yang
dekat telaga, tebing yang terjal mencapai ratusan kaki lebih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dipucak bukit itu penuh dengan batu cadas yang


berserakan, belasan batang pohon cemara tua melingkari
tanah datar yang tidak begitu luas, tanah yang berumput
lembut terletak lebih tinggi membuat orang bisa menyaksikan
pemandangan alam disekitarnya dengan jelas.
Malam itu kentongan pertama baru lewat rembulan
tergantung diawang-awang menyinari pohon siong yang
bergoyang terhembus angin-
Tiba-tiba, tampak sesosok bayangan manusia meluncur
keatas tebing itu dengan kecepatan tinggi.
Dia adalah seorang lelaki berjubah panjang warna hijau,
beralis mata tebal, mata jeli dan berusia empat puluh tahun-
Tiba diatas tebing dengan sorot mata yang jeli dia
memandang sekejap sekeliling tempat itu, seakan akan
sedang mencari sesuatu.
"Heran, bukankah kentongan pertama baru lewat?" dia
menggumam sendirian. Pada saat itulah terdengar seseorang
menegur dengan suara yang dalam dan menyeramkan-
"Huan tayhiap, tepat sekali kedatanganmu."
Manusia berbaju hijau yang disebut "Huan tayhiap" itu
kelihatan tertegun dan berpaling segera dari belakang sebuah
batu cadas pelan-pelan berjalan keluar seseorang.
orang itu berperawakan ceking dan jangkung mukanya
semu emas dan mengenakan baju berwarna hijau, gerak
geriknya mendatangkan suatu kesan aneh bagi yang
memandang. Diam-diam manusia berbaju hijau itu berkerut
kening kemudian menjura sahutnya:
"Aku adalah Huan Tay-seng, mungkin saudara adalah
Lenghou Cu, Lenghou tayhiap yang mengundang
kedatanganku kemari?"
Rupanya orang ini adalah Cing-san-khek (jago berbaju
hijau) Huan Tay-seng, seorang jagoan yang nama besarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah termashur baik di utara maupun selatan sungai besar.


Jago ini berdiam di dusun Kim-gou cun dibawah bukit Pek sek-
san tersebut.
"Benar, benar" Lenghhou Cu tertawa terbahak-bahak,
"Cuma aku mah bukan tayhiap-tayhiappan, sebutan tayhiap
tidak cocok bagiku"
Meski lagi tertawa, namun mimik wajah nyonya tidak
menampilkan sedikit senyumanpun, sementara sepasang
matanya memancarkan sinar tajam yang berkilauan dibalik
kegelapan malam.
" Entah ada urusan apa loko mengundang kedatanganku
kemari?" tanya Huan tay seng kemudian.
"siaute sengaja mengundang Huan tayhiap karena ingin
menanyakan satu hal kepadamu." Kata yang terakhir sengaja
dia tarik panjang kemudian tidak teruskan lebih jauh.
"Katakan saja loko, bila kuketahui pasti akan ku utarakan."
"Beberapa tahun berselang siaute mendengar orang
berkata, Huan tayhiap dan Hway lam tayhiap (pendekar dari
Hway lam) Hwee Im hong, Hee tayhiap berhasil mendapatkan
sejilid kitab pusaka peninggalan Hong lui bun dalam sebuah
bukit batu digunung wan san, kemudian membagi kitab itu
menjadi dua dan masing masing memperoleh ilmu sian hong-
ciang (pukulan angin berpusing) dan Lui hwe ci (ilmu jari api
guntur), entah benarkah ada kejadian seperti ini?"
Diam diam Huan Tay-seng merasa keheranan, sebab
kecuali dia pribadi dan kakak angkatnya Hee Im hong, bahkan
isterinya sendiri pun tidak mengetahui akan soal ini tentu saja
orang lain tak akan mengetahuinya, namun darimana orang ini
bisa tahu? sambil tersenyum dia lantas bertanya: "Dari siapa
loko mendengar akan hal ini?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Dari siapa ku dengar berita ini, aku rasa masalah tersebut


tidak penting, cukup bagi Huan tayhiap untk memberitahukan
saja kepada siaute, betulkah ada kejadian seperti itu?"
Kemudian setelah tertawa seram, sambungnya lebih jauh:
"Huan tayhiap adalah seorang pendekar, pendekar yang bisa
dipercaya perkataannya, asal kau katakan bahwa peristiwa
semacam ini, apa yang kudengar hanya isapan jempol belaka,
siaute akan segera mengundurkan diri dan tak akan mengusik
dirimu lagi. Aku percaya dengan nama besar Huan tayhiap
diwilayah utara dan selatan sungai besar, aku tak nanti akan
membohongi siaute."
sudah barang tentu sijago berbaju hijau Huan Tay seng tak
akan berbohong, katanya kemudian sambil tersenyum:
"Andaikata benar-benar telah terjadi hal seperti ini, entah
bagaimanakah sikap lohu?" Mencorong sinar tajam dari balik
mata Lenghou Cu, setelah tertawa tergelak sahutnya:
"Haaahhh........ haaahhh.......... haaahhh........ Huan
tayhiap tak usah kuatir, siaute tidak bermaksud mengincar
kitab pusaka itu, dihadapan Huan tayhiap. siaute pun tak
berani mempunyai ingatan seperti itu. Cuma.......
sebagaimana diketahui, siaute gemar belajar, ilmu silat dari
sembilan partai tiga belas aliran hampir boleh dibilang telah
siaute saksikan semua."
"Dari sekian banyak aliran, hanya ilmu silat dari Hong lui
bun dan perguruan Mi tiong bun dari see ih yang belum
kusaksikan, aku sebenarnya punya rencana untuk berkunjung
kewilayah see ih dan merasakan kelihayan ilmu silat Mi tiong
bun, tapi setelah kudengar bahwa Huan tayhiap dan Hee
tayhiap telah memperoleh ilmu silat Hong lui bun, timbullah
niatku untuk menyaksikan kelihayan tersebut dan sengaja
mengundang kedatangan Huan tayhiap untuk merasakan
kehebatan sian-hong-ciang tersebut, tentunya Huan tayhiap
tidak akan keberatan bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Tay-seng segera berpikir:


"Besar amat lagak orang ini, dia bilang ilmu silat dari
sembilan perguruan dan tiga belas aliran pernah disaksikan
semua. Kalau benar begitu, tak mungkin kalau nama Lenghou
Cu terbenam dan tak dikenal seoerti ini, tapi aku memang
belum pernah mendengar namanya.
"Aaaah, dia sudah tahu kalau aku berhasil memperoleh
ilmu sian-hong-ciang, ini berarti segala sesuatunya telah
diselidiki hingga jelas kalau orang lain sudah berbicara dengan
sejelas-jelasnya, tentu saja akupun tidak usah menyangkal
lagi."
Berpikir demikian, tanpa terasa dia berpaling kearah
Lenghou Cu dan pelan-pelang berkata:
" Tiada persoalan yang tak boleh diucapkan kepada orang
lain, kalau toh loko sudah menyinggungnya, akupun tak usah
mengetahui, betul, aku memang mendapat bagian dari ilmu
sian-hong-ciang, tapi berhubung sudah lama kitab itu
terpendam, yang berhasil kami temuka juga hanya buku
salinannya yang tidak lengkap apalagi sim hoat tenaga
dalamnya juga tak ada maka agak sulit bagiku untuk
melatihnya, tidak banyak yang berhasil kupahami dan hingga
kini sudah lama tertunda latihannya. Aku kuatir akan membuat
loko menjadi kecewa."
"Huan thiap tak sungkan-sungkan" Lenghou Cu tertawa
licik, "siaute hanya terdorong rasa ingin tahu saja asal Huan
tayhiap sudi memperlihatkan satu dua jurus agar menambah
pengetahuan siaute, hal ini sudah lebih dari cukup."
"Aku telah mengutarakan sejujurnya, apakah loko tidak
percaya?" Lenghou Cu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.......... haaahhhh........ haaaahhhh.. .. .. siapa
yang akan mempercayai perkataan dari Huan tayhiap itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bila loko enggan percaya, yaa apa boleh buat lagi, aku tak
bisa mengucapkan apa-apa lagi. Maaf, aku tak bisa
menemanimu lebih lama lagi."
sesudah berkata dia menjura dan membalikkan badan siap
berlalu dari situ.
"Berhenti" tiba-tiba Lenghou Cu membentak nyaring. Nada
suaranya sekarang kasar dan sama sekali tidak bernada
sahabat.
Huan Tay-seng yang dibentak secara kasar agar naik pitam
juga dibuatnya dia membalikkan badan lalu menegur.
"saudara masih ada petunjuk apa lagi?" Lenghou Cu
tertawa seram.
"Heeeeeehhhhh....... heeeehhhhhh......... heeeehhhh.......
dengan susah payah siaute mengundang kehadiran Huan
tayhiap. masa Huan tayhiap akan berlalu dengan begitu saja?"
"Jadi maksud loko?"
"Huan tayhiap sudah lama termasyur , banyak pengalaman
sudah yang kau miliki, tentu saja kepandaian silat yang kau
milikipun tidak lemah namun menurut pendapat siaute,
diantara sekian banyak kepandaian silat yang dimiliki Huan
tayhiap. yang paling lihay tak lain hanya sian-hong-ciang yang
kau latih selama lima tahun itu"
"Apa maksud loko?"
"Tidak apa-apa" mendadak mencorong sinar aneh dari balik
mata Lenghou Cu, " maksud siaute, Huan tayhiap adalah
seorang jagi yang berilmu tinggi namun tak mau menunjukkan
kelihayannya, tapi menurut pendapat siaute, bila seseorang
sudah dihadapkan pada masalah mati dan hidup, otomatis dia
akan mengeluarkan semua kepandaian silat yang dimilikinya
untuk dipakai melindungi diri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Tay-seng segera berkerut kening, mencorong sinar


tajam yang menggidikkan hati dari balik matanya, kemudian
dengan suara dalam dia berkata: "Loko, apakah kau berniat
mengajakku berkelahi?"
"Haaaahhh........ haaaahhhh....... haaaahhhh...... seorang
sastrawan dan seorang yang belajar silat, meski terbagi
menjadi bun (sastra) dan bu (silat) namun kedua-duanya
mempunyai suatu penyakit yang hampir mirip antara satu
dengan yang lainnya."
"oya?" Huan Tay-seng tidak menanggapi lebih jauh.
Terdengar Lenghou Cu berkata kembali.
" Hasil karya sastra merupakan hasil dari seorang
sastrawan, tapi harus ada yang memaksa, sebab bila tidak
dipaksa, hasil karyanya tak akan baik.
Begitu pula dengan orang yang belajar silat, biasanya dia
hanya menyembunyikan ilmunya saja, bila tidak ada yang
mendesak. dia tak akan turun tangan, oleh sebab itu demi
memenuhi rasa ingin tahu siaute, terpaksa akan kupaksa Huan
tayhiap untuk melakukan perlawanan."
selesai berkata, telapak tangan kirinya diayunkan kedepan
melepaskan sebuah pukulan.
orang silat bilang: Bila seorang ahli turun tangan segera
akan diketahui berisi atau tidak. Begitu serangan Lenghou Cu
tersebut dilontarkan- segera terasalah ada gulungan angin
tajam yang menyapu kearah depan.
" Hebat juga ilmu silat orang ini" Huan tay-seng segera
berpikir didalam hati. sambil tertawa dingin ia lantas
menjengek: "Loko, yakinkah kau bisa memaksa diriku?"
Mendadak dia membalikkan tubuhnya sambil melepaskan
sebuah pukulan dengan tangan kiri.
Perputaran tubuhnya ini persis berhasil menghindarkan diri
dari serangan lawan, sementara telapak tangan kirinya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diayunkan kemukapun hanya mendorong pergi serangan


lawan yang mendekati tubuhnya, oleh sebab itu tak bisa
dikatakan sebagai suatu serangan balasan.
Jago berbaju hijau Huan Tay-seng sudah lama termashur,
tentu saja dia tak akan bertarung dengan sembarangan orang.
Padahal serangan tangan kiri Lenghou Cu tadipun hanya
bermaksud untuk mencoba-coba, begitu dilihatnya Huan Tay-
seng hanya membalikkan badan menghindarkan diri dari
serangan, diapun tidak melancarkan serangan lebih jauh.
"Heeehhhh...... heeeehhhhh...... itulah sebabnya siaute
sengaja hendak mencoba," jengeknya sambil tertawa seram.
Walaupun dimulut dia tetap merendah, namun tubuhnya
sudah melejit ketengah udara, tangan kanannya dengan jurus
Nao ting kay-san (Ngo-ting membuka bukit) menghantam
bahu kiri Huan Tay-seng.
serangan yang dilepaskan dengan tangan kanan inilah baru
merupakan serangan yang sesungguhnya.
Bacokan itu mengayun dari atas hingga kebawah dengan
gerakan seperti kampak membelah bukit, kekuatannya boleh
dibilang mencapai ribuan kati.
Huan Tay-seng benar-benar amat mendongkol ia merasa
tak punya dendam ataupun sakit hati dengan lawan, namun
nyatanya musuh menerkam dengan sepenuh tenaga. Dengan
kening berkerut tegurnya kemudian dengan suara dingin
bagaikan es:
"Lenghou loko, buat apa kau mesti memaksanya?"
Tubuhnya mundur selangkah dan berkelit sejauh tiga depa.
Kemudian tangan kirinya menggunakan jurus Thian-ong-tou-
tha (raja langit menyunggih pagoda) menyongsong datangnya
bacokan itu dengan penghimpunan tenaga murni.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yang seorang membacok sementara yang lain menyambut,


kalau dibicarakan memang lamban, padahal kecepatan yang
digunakan kedua belah pihak sama-sama cepatnya seperti
sambaran kilat.
"Blaaaaaammmm" ketika sepasang tangan saling beradu,
segera timbullah segulung pukulan angin berpusing yang
menderu deru.
Lenghou Cu tertawa tergelak. tubuhnya berjumpalitan
ditengah udara lalu melayang turun kembali ketanah, lalu
setelah berpusing tiba-tiba ia maju kembali sambil berseru:
"Huan tayhiap. silahkan mencoba beberapa jurus pukulan
siaute lagi....."
Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera
melancarkan serangkaian serangan berantai, bayangan
telapak tangan berlapis lapis, sekejap kemudian dia sudah
melepaskan tiga belas buah pukulan dahsyat.
Tenaga dalam yang dimiliki orang ini memang benar-benar
luar biasa, serangkaian serangan gencar yang dilepaskan
olehnya itu hampir semuanya disertai dengan deruan angin
puyuh yang hampir saja membuat orang tak berkesempatan
untuk berganti napas.
Didalam anggapan Huan Tay-seng, bila ia sudah
menyambut serangan lawan dengan kekerasan, paling tidak
musuh akan mundur teratur.
Tapi setelah bentrokan tersebut, ia baru sadar kalau
kekuatan mereka berdua sebenarnya berimbang diam2 ia
merasa terkesiap sekali.
"Entah siapakah orang ini dan berasal dari mana? Tenaga
dalam yang dimilikinya benar-benar amat lihay, mana mungkin
dia adalah seorang manusia tanpa nama dalam dunia
persilatan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat dia masih melamun inilah, Lenghou Cu sudah


melancarkan serangkaian serangan berantai yang menggulung
tiba bagaikan amukan ombak ditengah samudra.
Huan Tay-seng telah sadar kalau malam itu sudah bertemu
dengan musuh tangguh kalau toh pihak lawan sudah datang
mencarinya berarti ia tak akan mengakhiri pertarungan
dengan begitu saja.
Berpikir demikian cepat-cepat dia menghimpun tenaga
dalamnya dan mundur beberapa langkah kebelakang, namun
dia pun hanya berhasil menghindari tiga buah pukulan lawan.
Dengan suara dalam, ia lantas menegur:
"Loko, apakah kau bersikeras hendak adu kekerasan
denganku?"
"Benar"
Begitu menyahut, serangan yang keempat segera
dilontarkan kearah depan.
"Baik" seru Huan Tay-seng keras.
Hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak
tangannya dan melancarkan serangan balasan, sambil
miringkan tubuh melepaskan pukulan tangan kiri dipakai untuk
menangkis ancaman, sementara tangan kanannya melepaskan
dengan buah pukulan-
Rupanya dia ingin menggunakan serangan kilat untuk
melihat cara lawan bergerak mengigos maupun menangkis
kemudian mencoba untuk menduga aliran ilmu silatnya.
Dengan tangan kirinya itulah Huan Tay-seng mematahkan
sepuluh buah serangan musuh, sedangkan tiga yang terakhir
dihindari dengan melompat muncul kebelakang.
sebaliknya Lenghou cu juga mengigos kesana kemari
menghindari diri dari delapan buah serangan balasan dari
Huan Tay seng, ternyata semuanya berhasil dihindari.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agak sangsi juga Huan Tayoseng setelah gagal menemukan


aliran ilmu silat lawan kendatipun ia sudah melepaskan
delapan buah pukulan, untuk sementara waktu dia jadi ragu,
apakah harus berhenti saja ataukah melanjutkan
serangannya? Lenghou Cu kembali tertawa terbahak-bahak
"Huaaaahhhh......... haaahhhh........ ilmu silat yang dimiliki
Huan tayhiap benar-benar sangat lihay, malam ini siaute
betul-betul telah menemukan lawan yang serasi."
Walaupun sedang tertawa, paras muka orang ini maih tetap
dingin dan kaku, sedikitpun tanpa perubahan emosi.
Huan Tay-seng yang menyaksikan hal ini merasa tersentak
hatinya, cepat dia berpikir.
Jangan-jangan orang ini mengenakan topeng.
Tapi setelah termenung sejenak. dia berpikir lebih jauh.
Tapi mengapa pula dia harus mengenakan topeng untuk
menutupi wajah aslinya ?
Makin pikir hatinya semakin curiga sehingga untuk
beberapa saat tak mengucapkan sepatah katapun-
Melihat lawanya membungkam, Lenghou Cu berkata lebih
jauh. "Huan tayhiap. mengapa kau tidak melancarkan
serangan lagi?"
Berkilat sepasang mata Huan Tay-seng, bentaknya dengan
suara dalam: "sobat, sebenarnya siapakah kau?"
"siaute adalah Lenghou cu, bukankah sudah kuutarakan
sedari tadi........?"
"Bukankah wajahmu bukan wajahmu asli?" kembali Huan
Tay-seng mendesak.
"Heeee......... heee.......... heeh.......... Huan tayhiap.
tampaknya kau menaruh curiga terhadap siaute?" seru
Lenghou cu sambil tertawa seram,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"selama hidup siaute tak pernah berganti nama maupun


marga. Lenghou Cu hanya seorang manusia tak bernama
dalam dunia persilatan, masa aku akan mencatut nama orang
lain?" Tiba-tiba Huan Tay-seng tertawa nyaring juga:
"Haaahhhh...... haaahhh...... haaahhhh........ sekalipun loko
enggan menjawab, aku yakin masih sanggup untuk
memeriksa sendiri"
Berbicara sampai disitu, mendadak bentaknya dengan
sepasang alis mata berkenyit: "sobat, berhati-hatilah kau"
Tangan kanannya diangkat dan diayunkan kedepan, sebuah
pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan-
serangan ini dilancarkan dengan menghimpun segenap
tenaga dalam yang dimiliki, pukulan udara kosong ini benar-
benar hebat, segulung angin pukulan yang dahsyat langsung
menyapu keudara.
"Tampaknya Huan tayhiap sedang mendesak siaute?"
jengek Lenghou cu sambil tertawa dingin-
sepasang telapak tangannya yang disilangkan didepan dada
ditekuk setengah lalu mendorong kesamping kiri
Didalam melepaskan pukulan udara kosong ini, Huan Tay-
seng boleh dibilang sudah menghimpun tenaga dalamnya
sebesar tujuh delapan bagian. Tujuannya yang terutama
adalah untuk menyelidiki sampai dimanakah taraf tenaga
dalam yang dimiliki lawa.
Sebab melepaskan pukulan udara kosong hanya bisa
dilancarkan dengan mengandalkan tenaga murni dengan
kekuatan satu bagian- orang baru bisa melancarkan satu
bagian-sedikitpun tak dapat menipu dan cocok untuk mencoba
kekuatan lawan. Dengan cepatnya tenaga pukulan kedua
orang itu saling bertemu satu sama lainnya.
Dalam anggapan Huan Tay-seng, meskipun pihak lawan
sanggup untk menerima pukulan udara kosong tersebut,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

paling tidak tubuhnya akan terdesak mundur sejauh satu- dua


bagian.
siapa tahu begitu sepasang pukulan saling bertemu, tiba-
tiba saja dia merasakan tenaga serangan yang dilancarkan itu
tahu-tahu sudah dipunahkan oleh segulung kekuatan dingin
yang lembut, bahkan tenaga pantulannya tersapu hingga
lenyap tak berbekas. Tak terlukiskan rasa terkejutnya setelah
menghadapi kejadian ini, segera pikirnya: "Jangan-jangan
orang ini merupakan jagoan dari Tiang-pek-pay?"
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, tangan kirinya
diangkat, jari tangannya seperti tombak secepat kilat
menyodok jalan Hian-ki-hiat ditubuh lawan.
serangan balasan yang dilancarkan olehnya itu dilepaskan
tanpa sungkan-sungkan, dimana jari tangannya disodok.
terdengar suara desingan tajam seperti anak panah yang
terlepas dari busurnya meluncur kearah depan-
Lenghou Cu sama sekali tidak gugup, ujung baju tangan
kanannya dikebaskan kedepan dan melepaskan selapis kabut
udara yang melindungi depan dada.
Dengan begitu, maka sodokan jari tangan Huan Tay seng
tadipun kena dipunahkan oleh segulung udara lembut yang
dingin dari kebasan ujung bajunya.
Tidak sampai Huan Tay-seng melancarkan serangan lagi,
Lenghou Cu berseru dengan suara dingin
"Huan tayhiap. kau sudah melancarkan dua jurus serangan,
jurus yang ketiga sudah sepantasnya bila siaute yang
lancarkan bukan?"
"silahkan saja loko"
Lenghou Cu mengawasi lawanya lekat-lekat, hawa
murninya dihimpun lalu tangan kirinya dari atas menuju
kedalam melepaskan pukulan dahsyat kemuka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serangan ini kalau dibilang merupakan tabokan, maka lebih


cocok kalau dibilang sebagai mengangkat tangannya belaka,
karena mirip sekali dengan gerakan orang melepaskan piau.
Terutama sekali ketika mengangkat tangan tersebut,
sewaktu menghimpun tenaga, pukulan itu nampaknya ganas,
namun setelah angin serangannya dilepaskan ternyata tidak
cukup dahsyat sebaliknya hanya berupa hembusan angin yang
lembut.
sejak pukulan dari serangan jarinya dipunahkan dengan
tenaga lembut lawan, Huan Tay seng telah menduga kalau
musuhnya kemungkinan besar adalah orang Tiang Pek Pay
diluar perbatasan.
orang orang Tiang Pek Pay jarang sekali berkelana kedalam
daratan Tiong-goan- ilmu silatnya amat aneh dan beraliran im
kang yang bersifat dingin.
Menghadapi musuh yang begitu tangguh, tentu saja ia tak
berani gegabah, sambil berdiri tegak. hawa murninya
dihimpun dan sepasang telapak tangannya pelan-pelan
diangkat kedepan dada.
Menunggu serangan pukulan berhawa dingin musuh sudah
hampir tiba didepan mata, sepasang telapak tangannya baru
didorong kedepan menyongsong datangnya ancaman
tersebut.
Terdengar deruan angin puyuh menderu deru, angin
berpusing menggulung didepan tubuh kedua orang itu, pada
saat yang bersamaan kedua gulung angin serangan itu segera
punah tak berbekas.
Tidak begitu saja, disaat sepasang tangan mereka saling
membentur itulah, mendadak tangan mereka saling
membentur itulah, mendadak tangan kanan Lenghou Cu
melepaskan sebuah pukulan lagi dengan tangan kanannya
langsung menyergap ke iga kiri Huan Tay-seng tanpa
menimbulkan sedikit suarapun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepasang tangan Huan Tay-seng sedang didorong kedepan


sejajar dengan dada, kedua gulung angin kekuatan inicun
mengikuti deruan angin bemusing langsung menggulung dan
lenyap tak berbekas.
Betapa terperanjatnya Huan Tay-seng setelah secara tiba-
tiba muncul segulung angin pukulan berhawa dingin yang
menyergap keiga kirinya, cepat-cepat ia mundur kebelakang,
mengayunkan telapak tangannya melepaskan satu pukulan
dan lolos dari ancaman musuh.
Peristiwa ini dengan cepat membangkitkan amarah Huan
Tay-seng, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah
tertawa tergelak serunya dengan lantang:
"Aku sama sekali tiada ikatan dendam atau sakit hati
dengan Lenghou loko, mengapa kau menyergapku secara
licik? Apakah kau tidak merasa cara kerjamu itu kebangetan."
Lenghou cu tertawa terkekeh.
"sebagai seorang panglima perang yang pintar, dia tak
segan menggunakan siasat perang untuk menghadapi
lawannya, yang penting musuh bisa ditaklukkan bukan? siapa
bilang kalau siaute main menyergap secara licik?"
"Baik, beranikah kau menyambut sebuah pukulanku lagi?"
dengus Huan Tay-seng kemudian dengan gusar.
sepasang bahunya bergetar dan tubuhnya menerjang maju
kemuka, tangan kanannya diangkat lalu dengan jurus Topit-
hoa-san (membacok bukit hoa san) langsung menghantam
batok kepala lawan.
Menghadapi ancaman tersebut, kembali Lenghou Cu
tertawa tergelak.
"Haaaahhhh.......... haaaahhhh........ haaaahhhhh.........
siapa bilang siaute tidak berani?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hawa murninya disalurkan kedalam telapak tangan


kemudian menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan
keras lawan keras.
"Plaaaaakkkk" sepasang telapak tangan saling membentur
dan menimbulkan suara keras, dalam bentrokan tersebut
kedua belah pihak sama sama berniat untk menahan diri,
siapapun enggan untuk menarik kembali serangannya lebih
dahulu. Dengan suara yang menyeramkan Lenghou Cu segera
berseru:
"Huan tayhiap. kami masih mempunyai tangan kiri yang
menganggur, mengapa kita biarkan mereka berdiam diri
saja?"
Ditengah pembicaraan tersebut, tangan kirinya langsung
diayunkan kemuka menhantam dada lawan-
"Bagus sekali" dengus Huan Tay-seng dengan gusar.
Bersamaan waktunya diapun mengangkat tangan kirinya
dan menyambut ancaman lawan.
Dalam waktu singkat keempat telapak tangan mereka
sudah saling menempel satu sama lainnya dan masing-masing
mengerahkan tenaga dalamnya yang makin lama semakin
dahsyat ketubuh lawan.
Beberapa saat lamanya mereka tak berkutik dari posisi
semula, jelas tenaga dalam yang mereka berdua miliki
seimbang dan siapapun tak bisa mengungguli yang lain.
Pada saat itulah, kurang lebih satu kaki dari arena
pertarungan, tepatnya dibelakang sebuah batu besar, diam-
diam muncul sesosok bayangan manusia yang berperawakan
tinggi besar.
Agaknya orang itu sudah lama bersembunyi disana, gerak
geriknya amat aneh dan mencurigakan, sementara wajahnya
ditutupi dengan selembar kain hitam sehingga tidak nampak
jelas raut wajahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya sepasang matanya saja yang jeli mencorongkan


sinar tajam penuh kebanggaan dan kelicikan.
Lambat laun bayangan manusia yang tinggi besar itu makin
lama semakin mendekati kedua orang itu.
Tanpa menimbulkan sedikit suarapun orang itu langsung
menyelinap kebelakang tubuh Huan Tay-seng, ketika jaraknya
tinggal delapan depa, ia segera berhenti tangan kirinya pelan-
pelan diangkat dan ditujukan kearah punggung Huan Tay-
seng kemudian sebuah sodokan jari tangannya dilontarkan
kedepan.
Padahal Huan Tay-seng dan Lenghou Cu sedang beradu
tangan dalam ketika itu, tentu saja dia tak ada waktu untuk
menggubris sergapan yang datangnya dari arah belakang.
Menanti serangan jari tangan itu sudah hampir tiba
disamping tubuhnya, dia baru menyadari hal ini.
Untuk sesaat tak sempat lagi baginya untuk menghindar,
dalam gugupnya dia memutar setengah badannya secara
paksa dan......
"Bluuuukkkk" angin serangan tersebut menumbuk diatas
tulang iga kanannya membuat seluruh badan bergetar keras,
hampir saja tenaga dalamnya menjadi buyar. Dalam kejut dan
terkesiapnya dia berpekik lirih, "Aaaah, mungkinkah Li......"
Menyusul ayunan tangan kanannya, ia terpental oleh
serangan jari tangan tadi dan mencelat keluar dari tebing yang
tingginya ratusan kaki itu.
Tapi disaat tangan kirinya diayunkan kedepan tadi, diam-
diam ia telah melepaskan pula ilmu sian-hong-ciang yang
dilatih dan ditekuni selama lima tahun terakhir ini.
sementara bayangan manusia yang tinggi besar itu buru-
buru mundur kebelakang begitu berhasil menyarangkan
serangannya ketubuh lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lenghou Cu tidak mengetahui sampai kesitu melihat Huan


Tay-seng mencelat kebelakang, sedangkan dia masih tetap
berdiri ditempat semula, mulutnya segera memperdengarkan
suara tertawa terkekeh yang amat menyeramkan.
"Heeehhhh..... heeehhhh...... heeehhhh..... sayang sekali
siaute belum sempat menyaksikan kelihayan dari ilmu sian-
hong-ciang."
Belum selesai dia berkata, mendadak terasa ada segulung
angin pukulan menyambar lewat dari belakang tubuhnya,
tenaga serangan tersebut nyatanya membawa tenaga
berputar yang kuat langsung menggulung ketubuh sendiri.
Dalam posisi demikian tak sempat lagi baginya untuk
menghindarkan diri, terasa angin serangan tersebut kian lama
menggulung tiba semakin kencang, seluruh tubuhnya boleh
dibilang sudah terkurung sama sekali dibalik ancaman
tersebut.
Dalam keadaan demikian, kendatipun kau memiliki tenaga
dalam yang bagaimanapun lihaynya juga tak akan mampu
untuk dikerahkan keluar.
Angin berpusing yang amat kencang itu menyapu tiba
dengan membawa terus angin serangan yang menderu deru,
dalam waktu singkat tubuh Lenghou Cu sudah terbawa oleh
gulungan angin berpusing itu kearah jurang dan lenyap tak
berbekas.
Kini, tinggal bayangan tinggi besar yang berada diatas
puncak tebing saja berdiri seorang diri ditempat, gumamnya
selesai menyaksikan semua peristiwa tersebut.
" Ilmu pukulan angin berpusing sian-hong-ciang benar-
benar lihay sekali "
oooooo0ooooo
Tengah malam sudah menjelang, semua orang dalam
dusun Kim gou cun telah terlelap dalam tidurnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Penduduk dusun yang sebagian besar hidup sebagai petani,


memang sibuk dan bekerja keras disiang hari, tidur nyenyak
dimalam hari.
Meskipun baru kentongan kedua, namun dalam perasaan
orang dusun sudah melebihi tengah malam, sebagai orang
sederhana, mereka memang tak ada kebiasaan keluar malam.
Didalam dusun Kim gou cun, terdapat sebuah sungai kecil
yang membelah dusun itu menjadi utara dan selatan.
Diatas tikungan sungai kecil pada pantai selatan terdapat
sederet bangunan rumah bata, disitulah jago berbaju hijau
Huan Tay-seng berdiam diri selama ini.
Meskipun Huan Tay-seng masih terhitung seorang manusia
kenamaan dalam dunia persilatan, namun kehidupannya amat
sederhana .Jumlah anggota keluarganya juga sedikit, sawah
seluas tiga puluh bau cukup untuk menghidupi sekeluarga.
Malam ini, meski kegelapan telah mencekam seluruh jagad,
cahaya lentera masih memancar keluar dari rumah keluarga
Huan.
Huan Tay-nio, istri Huan Tay-seng sedang menyulam
dibawah cahaya lentera.
Bila suami yang bepergian belum pulang, dia memang
selalu mengisi waktu senggangnya dengan menyulam
ataujahit menjahit, sebab dia memang seorang istri yang saleh
dan rajin-
Pelayan tua Huan Gi duduk seorang diri disudut pintu
sambil menghisap huncwee, majikan belum pulang majikan
perempuan sedang menyulam maka diapun harus ikut
bertahan juga.
Padahal sudah berulang kali Huan Tay-nio menganjurkan
kepadanya agar tidur lebih dulu, namun Huan Gi menampik,
dia lebih suka untuk duduk disudut ruangan sambil menghisap
huncwee dan tertidur ayam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbicara soal Huan Gi, dia pun bukan manusia


sembarangan, dikala majikan tua (ayah Huan seng) masih
membuka perusahaan piau kiok di kota Kim teng, dia sudah
mengikuti majikan tua malang melintang diutara dan selatan
sungai besar, golok dan panah sakunya boleh dibilang
merupakan senjata andalannya yang paling disegani oleh
setiap lawannya......
Kini usianya memang sudah lanjut, punggungnya sudah
membungkuk. tapi bila kau mengajaknya membicarakan soal
pengalamannya dulu, pasti dia akan bercerita dengan asyik.
Kini kantongan ketiga sudah makin menjelang tiba.
Diluar pintu, dikejauhan sana terdengar suara anjing
menggonggong, Huan Gi sudah hampir berumur tujuh puluh
tahunan namun ketajaman pendengarannya masih
mengagumkan, betul dia lagi menghisap huncwee sambil tidur
ayam, tapi begitu anjing menggonggong, dia segera melompat
bangun sambil berseru: "Toaya telah pulang"
Huan Tay-nio memang sudah sejak tadi menantikan
kedatangan suaminya, mendengar ucapan itu, ia segera
berhenti bekerja.
Mendadak suara anjing menggonggong itu terhenti,
sebagai seorang jago yang berpengalaman, Huan Gi segera
merasakan sesuatu keanehan, serta merta dia melompat
bangun.
Anjing hanya akan menggonggong bila bertemu orang
asing, apalagi kalau sudah menggonggong, mengapa bisa
berhenti secara tiba-tiba? Kecuali....................
Huan Tay-nio memandang dengan keheranan tidak tahan
ia lantas menegur: "Lo Koan-keh (pengurus rumah tua),
kenapa?"
"Aaaahhhh, tidak apa apa" sahut Huan Gi sambil tertawa,
"budak seperti mendengar suara anjing menggonggong,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian suara itu hilang secara tiba-tiba." Huan Tay-nio


turut tertawa.
"Aaaahhhh gonggongan anjing juga diurusi, apa sih
anehnya?"
"soalnya gonggongan tersebut berhenti secara tiba-tiba....."
Justru karena berpikir sampai kesitu, maka Huan Gi lantas
memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan dengan
lebih seksama, meski diluarnya ia tetap tenang dan menghisap
huncweenya dengan santai.
Akhirnya dia seperti menangkap suatu suara aneh, sambil
mendongakkan kepalanya dia membentak,
"siapa yang berada diluar?"
Blaaammm.... pintu ruangan ditendang orang keras-keras
hingga ambruk.
Kemudian bagaikan gulungan angin puyuh, muncul tiga
orang lelaki berkerudung hitam yang membawa golok tajam.
Punggung Huan Gi yang semula membungkuk. serentak
menjadi tegak kembali, sambil melintangkan huncweenya
didepan dada, ditatapnya ketiga orang itu lekat-lekat,
kemudian tegurnya sambil menghadang.
"Kalian bertiga berasal dari aliran mana? Mengapa ditengah
malam buta datang kemari? Apa yang hendak kalian lakukan?"
sejak menyerbu kedalam ruangan rumah, ketiga orang
lelaki berkerudung itu tak mengucapkan sepatah katapun-,
dengan dua di kiri, satu dikanan, mereka hanya mengawasi
wajah Huan Gi tanpa bersuara.
Dari depan pintu, kembali muncul seorang lelaki
berkerudung kain hitam bedanya ia tidak membawa golok.
Begitu muncul, orang itu lantas menjura dan menegur
dengan suara yang dingin menyeramkan:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lo koan keh tak usah gugup, kami hanya ingin bertanya,
benarkah tempat ini merupakan tempat tinggal dari siJago
berbaju hijau Huan Tayhiap?"
"Menggelikan Dimasa lalu, lohu sudah menjelajahi tujuh
propinsi diselatan dan enam propinsi di utara, menghadapi
keadaan seperti ini masa lohu sampai dibikin gugup?"
Walaupun diluar berkata demikian, namun Huan Gi menjadi
semakin curiga, sudah jelas, kalau pihak lawan tahu tempat ini
merupakan tempat tinggal Huan toaya, bukan saja berani
menyerbu masuk. bahkan sikapnya begitu kasar jelas
kedatangan mereka tidak bermaksud baik.
Maka sambil menarik muka serunya:
"Betul, ada urusan apa sobat mendatangi rumah keluarga
Huan?"
"Apakah Huan tayhiap tidak ada dirumah?"
"Ada dirumah atau tidak sama saja, bila ada persoalan
sampaikan saja kepada lohu." Pimpinan dari lelaki
berkerudung itu segera tertawa seram.
"Heeehhh...... heeeehhhh..........jadi kalau begitu Huan
tayhiap benar2 tidak berada dirumah."
sementara itu Huan Tay-nio sudah mengundurkan diri ke
sisi pintu kamar sebelah kanan walaupun dia berusaha keras
untuk menenangkan diri toh berubah juga paras mukanya.
Dasar kaum wanita, tidak pandai ilmu silat lagi, tentu saja
keder juga hatinya setelah menyaksikan keadaan seperti ini.
Huan Gi mengernyitkan alis matanya yang telah memutih
itu, kemudian menegur lagi dengan suara dalam:
"sobat, sebenarnya kau ada urusan apa?"
"Tidak apa apa........." lelaki berkerudung itu menengok
sekejap ke kiri dan kekanan kemudian melanjutkan, "aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hanya ingin melihat lihat saja dalam ruangan ini." Huan Gi


menjadi naik pitam.
"Kalau toh kalian sudah mengetahui bahwa tempat ini
merupakan rumah tinggal Huan toaya, mengapa begitu berani
mencari gara-gara disini," bentaknya. Kembali lelaki berbaju
hitam itu tertawa ringan.
"Lo koan-keh, dari mana datangnya api amarah sebesar
itu? Kami toh cuma melihat-lihat dan tidak berniat melukai
orang? Lebih baik lo koan-keh jangan mencoba untuk mencari
gara-gara lagi."
Berapi-api sepasang mata Huan Gi menhadapi situasi
demikian, huncwee ditangannya segera diangkat, kemudian
katanya sambil tertawa seram.
"Haaahhhh...... haaahhh...... haaahhh......, kalau begitu,
kau harus bertanya dulu kepada senjata lohu ini, apakah dia
setuju atau tidak?"
"Aaaah, hampir saja aku lupa kalau lo koan keh pun
seorang ahli silat kalau memang begitu urusan lebih mudah
untuk dibereskan"
selesai berkata, dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan
kanannya, dia langsung menyodok keatas bahu lawan.
"Serangan bagus" sahut Huan Gi dengan suara dalam.
Telapak tangan kirinya berubah menjadi serangan telapak
tangan untuk melindungi dada, setelah mundur setengah
langkah, huncwee ditengah kanannya langsung diketokkan
kedepan menggunakan jurus Cupittiam kek (pena merah
menutul jidat).
Jangan kau lihat usianya yang sudah lanjut, baik sewaktu
melancarkan serangan, maupun sewaktu menangkis dan
bertahan, semuanya dilakukan dengan mantap dan cekatan
ternyata dia menggunakan taktik dengan serangan
menghadapi serangan untuk menghadapi lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat serangannya gagal total, cepat-cepat lelaki


berkerudung hitam itu miringkan tubuhnya kesamping untuk
menghindarkan diri dari serangan huncwee Huan Gi,
kemudian serunya sambil tertawa seram: "Lo koan keh, kau
benar benar sangat hebat."
Tangan kanannya membuat satu lingkaran lain dengan jari
tangan yang dikeraskan bagaikan tombak, dia sodok urat nadi
pada tangan kanan pengurus rumah tangga tua itu. Huan Gi
menjadi naik darah segera bentaknya dengan suara dalam,
"Kau anggap lohu hanya memiliki kepandaian seperti ini saja?"
Tangan kirinya disilangkan didepan dada kemudian
direntangkan kelima jari tangannya seperti cakar dan kaki
kirinya menerobos maju kedepan secepat kilat menggunakan
Tay lek eng jiau kang (ilmu cakar garuda) dia cengkeram dada
lawan.
Agaknya lelaki berbaju hitam itu sama sekali tidak
menyangka kalau si kakek masih memiliki kepandaian yang
begitu tangguh, buru-buru dia mundur selangkah kemudian
secara beruntun sepasang telapak tangannya melancarkan
tiga buah serangan berantai sebelum berhasil mendesak
mundur Huan Gi.
Jangan dilihat Huan Gi sudah lanjut usia, ternyata dia
masih cukup berangasan, begitu kena terdesak mundur satu
langkah, dia segara mempertaruhkan jiwa tuanya untuk
menyerbu lebih kedepan.
Tangan kirinya masih tetap mempergunakan ilmu eng jiau
kang untuk mencengkeram tubuh lawan, sementara huncwee
ditangan kanannya secara beruntun melepaskan lima jurus
serangan berantai.
Terutama sekali senjata huncwenya itu khusus digunakan
sebagai pengancam jalan darah hampir setiap serangan yang
dilepaskan, sasarannya tak pernah terlepas dari jalan darah
penting ditubuh lelaki berkerudung hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyaksikan kegagalannya untuk meraih kemenangan


dengan mengandalkan tangan kosong, tampaknya lelaki
berbaju hitam itu tak berani bertarung lebih jauh, mendadak
permainan serangannya berubah, sepasang tangannya seperti
serangan jari tangan, seperti pula serangan telapak tangan,
sebentar menyodok sebentar lagi manabok. secara beruntun
melancarkan serangkaian ancaman yang dahsyat.
Dalam waktu singkat bayangan jari tangan itu sudah
menyelimuti angkasa, serangan telapak tangan tajam
bagaikan bacokan golok dengan perubahan yang pelik dan
menghimpun jurus serangan dari pelbagai aliran, meluruk
bersama kedepan, kedahsyatannya benar-benar luar biasa.
Bagaimanapun juga, Huan Gi sudah berusia lanjut, setelah
bergebrak beberapa kali, akhirnya dia merasakan lengan
kirinya menjadi kesemutan dan tidak mampu lagi untuk
membendung serangannya.
Tidak ampun, tubuhnya terkena tiga kali totokan,
huncwenya terjatuh ketanah dan tubuhnyapun ikut roboh
terkapar diatas tanah.
Huan Tay-nio menjadi amat terperanjat setelah
menyaksikan peristiwa tersebut, teriaknya cepat:
"Kau apakan Lo koan keh kami?" Lelaki berbaju hitam itu
tertawa seram.
"Heeehhh..... heeehhh...... tak usah kuatir Tay nio, lo koan
keh kalian hanya kena kutotok saja jalan darahnya."
selesai berkata dia lantas berjalan maju kedepan
menghampiri perempuan itu.
Huan Tay-nio mundur ketakutan kedepan pintu kamar,
kemudian sambil memandang kearah manusia berbaju hitam
itu, serunya. "Apa yang hendak kau lakukan?"
"sudah kukatakan tadi, aku hanya ingin melihat lihat
kedalam ruangan ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak sikap Huan Tay-nio seperti lebih tabah, dia


menghadang didepan pintu kemudian serunya dengan
lantang:
"Kalian inginkan barang apa? silahkan saja diambil, tapi
jangan kau usik si bocah yang sedang tidur didalam kamar."
Didunia ini memang hanya sang ibu yang selalu berusaha
untuk melindungi putranya, meskipun sedang menghadapi
ancaman bahaya yang bagaimanapun besarnya.
"Tak usah kuatir Tay-nio, sudah kukatakan kalau aku tak
akan melukai orang," kata lelaki berbaju hitam itu dengan
cepat.
selesai berkata jari tangannya segera disodok kedepan
melancarkan sebuah totokan.
Huan Tay-nio tak mampu untuk menghindarkan diri, tentu
saja ia segera roboh karena tertotok.
Lelaki berbaju hitam itu tertawa bangga, dia membalikkan
badan dan berjalan menuju kedepan pintu, kemudian
bertepuk tangan satu kali. Tepukan tangan tersebut tak salah
lagi sebagai suatu kode rahasia...........
Baru selesai dia bertepuk. dari depan pintu kembali muncul
sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.
orang inipun mengenakan selembar kain hitam yang
menutupi raut wajahnya sementara gerakan tubuhnya ringan
dan cekatan, lagipula seperti sangat hapal dengan keadaan
dalam rumah keluarga Huan tersebut, dengan cepat dia sudah
menyelinap keruangan sebelah timur.
Disanalah letak tempat berlatih silat dan membaca buku
dari sijago berbaju hijau Huan Tay-seng dihari-hari biasa,
setiap orang dilarang memasuki tempat itu, termasuk juga
Huan Tay-nio sendiri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu bayangan tinggi besar itu masuk kedalam, lelaki


yang berbaju hitam tadi segera mengerakkan tangannya
kearah tiga orang lelaki bersenjata golok itu.
Dengan cepat ketiga orang lelaki bersenjata golok itu
mengundurkan diri dari ruangan dan cepat menyebarkan diri
ke luar ruangan.
Kini, didalam ruang tamu hanya tinggal manusia berbaju
hitam itu seorang diri, dia tetap berdiri tak berkutik ditempat
semula, mungkin karena majikannya si manusia tinggi besar
itu tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka dia tak berani
bertindak secara sembarangan-
Tampaknya manusia bertubuh tinggi besar itu sedang
mencari sesuatu benda, terdengar dari ruangan sebelah
timursana suara laci dan almari yang dibongkar orang serta
suara buku yang dilemparkan keatas tanah.
setengah kentongan kemudian, bayangan manusia tinggi
besar itu baru mengundurkan diri dari ruangan sebelah timur
dan menuju keruangan sebelah barat.
Ruangan barat merupakan kamar tidur dari Huan Tay-nio
dan anaknya Jago berbaju hijau Huan Tay-seng mempunyai
seorang putra yang bernama Huan cu-im tahun ini baru
berusia enam tahun, dan kini ia sudah tidur nyenyak.
Ketika manusia tinggi besar itu menyelinap masuk kedalam
kamar, maka pandangan matanya yang pertama adalah
memandang wajah Huan cu-im, dari balik matanya yang tajam
mendadak memancar keluar sinar kebuasan dan kekejian yang
menggidikkan hati.
Dengan suatu lompatan lebar dia memburu kesamping
pembaringan, lalu mengangkat tangan kanannya dan
menggunakan jari tangannya yang lurus seperti tombak dia
siap menyodok jidat bocah tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi dalam detik itulah, tatkala sorot matanya membentur


dengan wajah Huan cu-im yang merah dadu seperti buah apel
lalu senyuman manis yang mengulum diujung bibirnya meski
lagi tertidur nyenyak, dia menjadi tak tega. Bocah itu nampak
begitu lucu, begitu polos dan menarik hati......
Akhirnya sinar mata penuh hawa pembunuhan yang semula
memancar keluar dari balik mata manusia tinggi besar itu
mendadak berubah menjadi lembut dan lebih ramah,
sementara jari tangannya yang siap menyodok jidatnyapun
berubah arah hanya menotok jalan darah tidurnya.
Menyusul kemudian, diapun melakukan penggeledahan
pula secara besar-besaran didalam ruangan sebelah barat ini.
Dia menggeledah dengan amat teliti, setiap peti, setiap
almari, setiap laci dan setiap pakaian diperiksa semua dengan
seksama, bahkan pembaringan, selimut, badan tak ada yang
lolos dari penggeledahannya..
Padahal diluar ruangan kamar berdiri seorang lelaki
berkerudung hitam, sedangkan diluar pintu masih ada tiga
orang lelaki besenjata golok, tapi dia tak memerintahkan
kepada mereka untuk membantunya melakukan
penggeledahan, seakan akan dia baru merasa lega setelah
diperiksa dan digeledah sendiri.
Akhirnya kentongan kelimapun menjelang datang, dari
kejauhan sana secara lamat lamat terdengar suara ayam
berkokok.
Namun manusia bertubuh tinggi besar itu belum juga
berhasil menemukan sesuatu, dia mendongakkan kepalanya
memandang cuaca diluar, akhirnya dia membalikkan badan
siap mengundurkan diri dari sana.
saat itulah, lagi-lagi sorot matanya membentur dengan
wajah Huan Cu-im yang sedang tertidur nyenyak. satu ingatan
dengan cepat melintas dalam benaknya. "Membabat rumput
keakar-akarnya"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

segulung hawa napsu membunuh kembali menyelimuti


benaknya, jari tangannya pelan pelan diangkat kembali siap
melancarkan serangan maut kebawah.
Mendadak dia seperti mendengar ada suara lembut yang
halus sedang memanggilnya dengan mesra "Empek......"
Mendadak tangannya terasa lemas kembali, hatinya terasa
menjadi lembek. "Bocah ini tak bersalah, apa salahnya kalau
kuampuni selembar jiwanya?"
Mendadak dia menerjang keluar dari ruangan itu dan
beranjak pergi dari rumah tersebut.
Begitu manusia tinggi besar itu berlalu, manusia
berkerudung hitam itupun segera membawa ketiga orang
lelaki bergolok tadi turut berlalu dari sana.
Malam yang kelabu dan penuh dengan ancaman mara
bahayapun akhirnya dapat dilalui.
oooooo0dw)oooooo
Semenjak peristiwa itu Jago berbaju hijau Huan Tay seng
tak pernah pulang kembali kerumahnya, orang persilatan juga
tak pernah melihat si jago berbaju hijau pula.
Ombak belakang sungai tiangkang selalu mendorong yang
sudah lewat, generasi yang barupun muncul kembali.
Dalam waktu singkat sepuluh tahun sudah lewat orang
persilatanpun sudah mulai melupakan nama si Jago berbaju
hijau Huan Tay-seng.
Ooooo0dw0oooo
Penduduk dusun yang sebagian petani pun masih seperti
dulu, pagi hari berangkat kesawah bekerja keras seharian
penuh, lalu malam pulang kerumah dan tidur.
selama sepuluh tahun ini Huan Tay-nio nampak jauh lebih
tua dan sayu, meskipun orang persilatan sudah makin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melupakan jago berbaju hijau Huan Tay-seng namun dalam


hati Huang Tay-nio, suaminya tetap merupakan suami yang
hidup hanya dia belum pulang saja dari bepergian.
si pengurus rumah tangga Huan Gi tentu saja semakin tua
lagi, rambutnya makin berubah, punggungnya makin bongkok
tapi ilmu silatnya tak pernah dilalaikan.
sejak dirobohkan oleh manusia berkerudung hitam pada
sepuluh tahun berselang, ia tak pernah merasa puas, selama
sepuluh tahun belakangan dia selalu melatih ilmu Toa lek eng
jiau kangnya lebih tekun-sering kali dia bersumbar:
"Bila anakan kelinci itu berani datang lagi, lohu pasti akan
mencengkeram batok kepala bajingannya sampai hancur."
orang ini boleh dibilang tua-tua keladi, makin tua makin
jadi, tentu saja jadi lebih tangguh dan kuat.
Terutama sekali sejak majikannya tidak kembali, bukan saja
ia mengoper tanggung jawabnya utnuk melindungi
keselamatan keluarga majikannya, juga selalu menjadi guru
yang memberi petunjuk dasar bagi majikan mudanya Huan
cu-im. seringkali ia berkata begini:
"Ilmu silat lohu tidak terhitung tinggi, kebanyakanpun aku
maju karena memperoleh petunjuk dari majikan tua (ayah
Huan cu-im), ilmuku juga merupakan ilmu silat keluarga Huan-
Majikan kecil, bila umurmu sudah menanjak lebih dewasa, kau
boleh berkelana untuk mencari guru pandai, tapi dasarnya
harus dipupuk mulai sekarang, oleh sebab itu lohu hanya bisa
memupuk dasar silat majikan kecil belaka."
-oo0dw0oo-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

JILID : 2
Tahun ini Huan cu Im berusia enam belas tahun, bukan
saja berwajah tampan, tubuhnya juga kekar dan berotot,
kesumanya ini adalah berkat jasa dari Huan Gi.
Sejak majikan kecilnya berusia enam belas tahun, dia telah
mengajarkan ilmu silat kepadanya, dasar silatnya ditimpa
sangat baik dan kuat sekali.
Semua ilmu golok, panah saku ilmu menotok jalan darah
yang dimiliki Lo Koan keh telah dipelajari dengan baik, bahkan
ilmu simpanan Huan Gi yakni ilmu Tay lek eng jiau kangpun
telah dilatih mencapai beberapa bagian kesempurnaan, batang
pohon siong yang besar dapat dicengkeram olehnya hingga
meninggaikan bekas lima jari tangan yang sangat jelas.
Hati lo koan keh merasa bangga sekali, dia seringkali
memuji muji bakat majikan mudanya yang dibilang amat
bagus dan pintar, bila ada guru pandai yang bersedia memberi
petunjuk, sudah pasti dia akan menjadi termashur di dunia
persilatan-
Berbicara soal guru pandai, sesungguhnya Huan cu-im
telah mengangkat seseorang menjadi gurunya, hanya
peristiwa ini dirahasiakan dihadapan ibu maupun pengurus
rumah tangga tua itu.
Peristiwa ini terjadi pada tiga tahun berselang, waktu itu
Huan cu-im baru berusia tiga belas tahun, musim semi itu
Huan Gi baru saja mengajarkan jurus seratus delapan dari
ilmu Eng jiau kang yang merupakan ilmu ki-na jiu hoat.
Ilmu Ki na jiu hoat merupakan teknik ilmu silat untuk
pertarungan jarak dekat, selain dipakai untuk menghindari
serangan musuh juga dapat digunakan untuk mencengkeram
lawan dikala pihak lawan berkelit.....
setiap kali hendak mewariskan kepandaian silatnya, Huan
Gi selalu mengajak bocah itu melatih diri ditengah hutan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bambu diatas bukit tersebut, sebab hutan bambu itu tumbuh


secara alami dan amat lebat untuk melatih ilmu silat semacam
ini memang merupakan suatu tempat yang ideal.
suatu hari Huan Gi sedang pergi kekota untuk membeli
kebutuhan sehari-hari, Huan Cu-im pun seorang diri berlatih
ilmu Yu sin ki na jiu hoat diatas bukit.
sementara dia masih berlatih menghindarkan diri diantara
pohon bambu yang lebat mendadak terdengar ada seseorang
mendehem sambil memuji dengan suara nyaring. " Engkoh
cilik, gerakanmu benar-benar lincah sekali"
Ketika mendengar ada orang berbicara tanpa terasa Huan
Cu-im menghentikan gerakan tubuhnya dan berpaling, ia
segera menyaksikan ada seorang pengemis yang berpakaian
compang camping dengan membawa sebuah tongkat pendek
sedang memandang kearahnya sambil tersenyum.
Huan cu im mengawasinya sekejap lain tidak menggubris
lagi, dia melanjutkan latihan dengan tekun.
Mendadak terdengar pengemis tua itu menghela napas dan
berkata lebih lanjut:
"Latihan tersebut mana membuang tenaga, setelah
dikuasaipun belum tentu bisa digunakan."
selesai berkata dia lantas membalikkan badan berlalu dari
tempat itu.
Meskipun Huan cu im baru berusia tiga belas tahun, tapi
dihari hari biasa dia selalu mwendengar pujian dari pengurus
rumah tangganya yang dibilang berbakat baik, dan bagaimana
setelah menguasai seratus delapan jurus ilmu Yu sin ki na jiu
hoat tersebut, meski ada empat lima orang lelaki kekarpun tak
akan mampu mendekati tubuhnya.
Maka tak heran kalau hatinya menjadi takpuas sesudah
mendengar perkataan itu, dengan cepat dia menyelinap keluar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan berteriak dengan keras: "Hei apa kau bilang tadi?"


Pengemis tua itu berpaling lalu tertawa,
"Lohu hanya bergurau saja, harap engkoh cilik jangan
menganggap sebagai sungguhan."
"Tidak" desak Huan cu-im lebih jauh "tadi kau bicara
dengan serius, kau mengatakan aku tak bisa menggunakan
ilmu tersebut meski sudah kulatih dengan tekun, bukankah
demikian?"
Pengemis tua itu manggut-manggut,
"Ya a, lohu memang berkata demikian, sebab tenaga yang
engkoh cilik gunakan hanya tenaga kasar, bukan tenaga
murni, bila sudah kau kuasai, paling banter hanya bisa dipakai
untuk bertarung melawan orang."
Huan cu im segera mendengus, meski hatinya agak
mendongkol, namun setelah menyaksikan pengemis itu
kehilangan sebuah kaki kanannya, sewaktu berjalan juga agak
terpincang-pincang, tanpa terasa dia mengulapkan tangannya
sambil berseru: "Pergilah kau, aku tak akan ribut-ribut lagi
denganmu."
Pengemis tua itu nampak tercengang, sekali lagi dia
mengawasi Huan cu-im lekat-lekat, kemudian diam-diam
mengangguk sambil membalikkan badan ia lantas berkata: "
Engkoh cilik, tampaknya kau sebetulnya ada niat untuk ribut
dengan lohu?"
"Benar, sebenarnya aku hendak mencoba kemampuanmu
setelah mendengar ucapanmu tadi, tapi berhubung kau adalah
orang cacad, maka aku tak baik untuk ribut denganmu."
"Mengapa tak baik ribut dengan orang cacad?"
"lbuku pernah berpesan bila bertemu orang cacad harus
membantunya, masa sekarang aku harus ribut denganmu?" ^
Pengemis tua itu segera tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak menjadi soal, tak ada salahnya bila engkoh cilik ingin
mencoba, kau akan segera membuktikan sendiri ilmu yang
kau latih tersebut bisa dipakai atau tidak." Huan cu im
menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak. aku tidak boleh mencoba lo koan keh pun sering
kali memperingatkan kepadaku berlatih silat untuk melindungi
diri, bukan untuk gagah-gagahan dan sok jagoan, apalagi
mencari gara-gara dengan orang lain-"
"sudah lohu katakan tidak mengapa ya tidak mengapa,
engkoh cilik begini saja, asal kau berhasil menangkap ujung
baju lohu, maka anggap saja kau memang hebat." Huan cu-im
merasa amat takpuas, segera pikirnya:
"sudah tujuh tahun aku melatih diri, masa untuk
menangkap ujung bajumu itupun tidak mampu?"
Karena merasa tak puas otomatis wajahnya menunjukkan
perasaan tidak percaya.
sambil tertawa pengemis tua itu berkata lagi:
"Mari, engkoh cilik, kau tak usah kuatir menarik robek
pakaianku ini, silahkansaja turun tangan."
Bagaimanapun juga Huan cu-im adalah seorang bocah, dia
lantas manggut-manggut. "Baik, kalau begitu aku akan segera
turun tangan."
Tangan kanannya diayunkan kedepan, langsung
mencengkeram atas bahu pengemis tua itu. "Kelewat lamban"
seru si pengemis tua tersebut, ia sama sekali tidak berkelit.
Huan cu-im menyaksikan jari tangannya segera akan
mampir diatas bahu pengemis tua itu, tapi pada saat itulah, si
pengemis yang sebenarnya berdiri dihadapan mukanya tadi
mendadak lenyap tak berbekas dalam tertegunnya cepat-
cepat dia menghentikan gerakan serangannya lebih jauh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terdengar pengemis tua itu berkata dari belakang


tubuhnya sambil tertawa.
" Engkoh cilik, bukankah kau telah melatih ilmu Yu sin ki na
jiu hoat? Mengapa tidak membalikkan badan sambil
melancarkan cengkeraman mautmu....?"
Mendengar ucapan mana Huan cu-im benar-benar
memutar tangan kanannya sementara tubuhnya ikut berputar
kencang mengikuti cengkeraman kearah belakang.
sesungguhnya gerakan ini paling sukar dipelajari, diapun
dilakukan dengan kecepatan yang bertambah.
Tapi menanti dia membalikkan tubuhnya, pengemis tua itu
sudah tidak nampak batang hidung lagi.
" Gerakan inipun terlalu lamban, bagaimana mungkin bisa
mencengkeram lohu?"
suara dari pengemis tua itu masih saja berkumandang
datang dari belakang tubuhnya.
Kali ini Huan cu-im bertindak lebih cerdik, tidak menanti
sampai lawannya selesai berbicara, dia sudah membalikkan
badan sambil melancarkan sebuah cengkeraman lagi.
sayang meski bocah itu cepat, orang tua tersebutjauh lebih
cepat lagi, bayangan tubuh dari pengemis tua itu belum
nampak juga. Akhirnya Huan cu-im menghentikan gerakannya
sembari berkata:
"Kalau kau bersembunyi terus dibelakang tubuhku,
bagaimana mungkin aku bisa menangkapmu? " Pengemis tua
itu segera tertawa,
"Waaaah, nampaknya engkoh cilik belum juga mau takluk"
Huan cu-im hanya merasakan pandangan matanya kabur
dan tahu-tahu pengemis itu sudah muncul kembali
dihadapannya dan memandang kearahnya sambil
tersenyum......
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lotiang, cepat amat gerakan tubuhmu"


Mendadak dia turun tangan mencengkeram kearah urat
nadi pada pergelangan tangan kiri pengemis tua itu.
Tidak melihat bagaimana pengemis tua itu bergerak. tahu-
tahu dia hanya merasakan cengkeramannya mengenai sasaran
kosong.
Menanti dia dapat melihat jelas kembali, pengemis tua itu
masih tetap berdiri diposisi semula.
Kenyataan ini membuat hatinya tak percaya, tiba-tiba saja
tangan kirinya bergerak sambil mencengkeram lagi siku lawan.
Kali ini dia dapat melihat dengan jelas, pengemis tua itu
memang tidak berkelit, namun cengkeramannya lagi lagi
mengenai sasaran kosong seakan akan tubuh si pengemis tua
itu tidak berujud...
Kejut dan keheranan segera menghiasi wajah Huan cu-im
dia tidak menyerang lagi karena dia tahu, sekalipun ia
menyerang sampai tua juga percuma.
sambil tertawa pengemis tua itu segera meluruskan tangan
kanannya kedepan kemudian katanya:
"Engkoh cilik, mari kita mencoba dengan cara lain, mari kau
boleh mencengkeram urat nadi lohu kuat kuat, coba akan
kulihat apakah kau mampu mencengkeramku?"
Ia membiarkan lengannya dicengkeram orang, mungkinkah
dia tak mampu untuk mencengkeram tangan lawan?
Tentu saja Huan cu-im tidak percaya, sambil berpaling dia
bertanya:
"Lotiang, kau suruh aku mencengkeram tanganmu kuat-
kuat, apakah kau hendak meronta dan melepaskan diri dari
cengkeramanku?" Pengemis itu tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

" Engkoh cilik, cengkeramlah lebih dulu, kau akan segera


mengetahui apa yang bakal terjadi, lohu tidak perlu meronta."
"Tidak perlu meronta?" Huan cu-im merasa keheranan dan
ingin tahu, maka diapun manggut-manggut tanda setuju.
"Baik" serunya.
Dengan kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar, dia
cengkeram urat nadi pengemis tua tersebut.
Pengemis tua itu memandang kearahnya sambil tertawa,
lalu katanya: " Engkoh cilik, kau harus memegangnya kecang-
kencang"
Tentu saja Huan cu-im mencengkeram erat-erat, dia telah
mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk
mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan lawan.
siapa tahu, pada saat itulah mendadak pergelangan tangan
pengemis tua itu bergetar keras mengikuti getaran tersebut,
terasa ada segulung tenaga tanpa wujud yang mengembang
keatas.
seketika itu juga kelima jari tangan Huan cu-im tak mampu
mengerahkan tenaganya lagi untuk mencengkeram.
Bukan begitu saja, bahkan kelima jari tangannya pun kena
dipentalkan oleh suatu kekuatan tanpa wujud sehingga
membuat telapak tangannya terpental setinggi beberapa inci.
sekarang Huan cu-im baru terperanjat, teriaknya cepat:
"Lotiang, kau bisa ilmu sihir?"
"HaaaHh..... haaaHh...... haaaHh...... ini mah bukan ilmu
sihir" seru pengemis tua itu sambi tertawa terbahak bahak.
"tentunya engkoh cilik masih teringat dengan perkataan lohu
bukan? oleh sebab tenaga yang digunakan engkoh cilik
hanyalah kekuatan kasar, bukan kekuatan murni, maka
asalkan lohu mengeluarkan tenaga murni, serta merta
tanganmu pun akan tergetar lepas."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang Huan cu-im baru merasa benar-benar takluk,


buru-buru dia menjatuhkan diri berlutut sembari berseru:
"Supaya lotiang adalah seorang jago lihay, aku seringkali
mendengar lo koan keh bilang katanya dia hanya bisa
menempa dasar silatku saja, bila ingin mempelajari dari ilmu
silat yang baik harus mengangkat guru pandai, ilmu silat yang
lotiang miliki sangat lihay, aku bersedia untuk mengangkat
dirimu menjadi guruku."
"Bagus, bagus sekali......" pengemis tua itu segera
membangunkan sang bocah dan memandang dengan penuh
kasih sayang " engkoh cilik memang memiliki bakat yang amat
bagus, dasar silat yang kau miliki juga baik, tentu saja lohu
bergembira bisa menerimamu menjadi murid tapi bukan
sekarang, kini lo koan keh hampir kembali, kaupun boleh
pulang ke rumah."
"Jadi lotiang keberatan menerimaku sebagai muridmu?"
tanya Huan cu-im kecewa.
"Lohu telah berjanji akan menerimamu sebagai muridku,
tentu saja aku akan menerimamu, cuma lohu tak mau
diketahui orang, sekembalinya kerumah nantipun kau tak usah
memberitahukan hal ini kepada ibumu dan lo koan keh bila
malam sudah tiba dan kentongan sudah lewat, datanglah
seorang diri kemari, lohu akan menunggumu disini."
"Mengangkat guru adalah suatu kejadian yang terbuka dan
tidak melanggar tata kesopanan, mengapa tak boleh
memberitakan kepada ibuku dan lo koan keh?"
"Aaaaai, kau masih kecil dan tidak mengetahui liciknya
orang persilatan, betul seperti ucapanmu tadi, lohu
menerimamu sebagai murid dan kau mengangkatku sebagai
guru adalah pekerjaan yang baik dan tidak melanggar
peraturan dunia persilatan, tapi dengan demikian orang lain
pasti akan mengetahui akan hal ini. oleh sebab itu kau harus
merahasiakan kejadian ini kepada orang rumah, kalau pagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau mesti tetap berbuat seperti sekarang belajar silat dari Lo


koan keh, jangan terlalu menyolok kalau berlatih."
"Mengapa harus begitu?" desak Huan cu-im.
"sebab lohu sedang menghindari seorang musuh besarku.
Itulah sebabnya aku baru muncul disini, bila ada orang tahu
kalau lohu berada disini, pasti mereka akan datang mencariku,
itulah sebabnya kau harus menutup mulut rapat-rapat dan
tidak membicarakan persoalan ini dengan siapapun."
Mendengar ucapan itu Huan cu-im segera manggut-
manggut. "Aku tahu, aku tak akan berbicara."
"Baik, sekarang kau boleh pulang dulu, tapi ingat,
kentongan pertama malam nanti jangan lupa datang kemari
lagi." Huan cu-im manggut- manggut.
"Aku akan mengingatnya selalu suhu, nah aku pergi dulu"
Dengan gembira ia segera turun gunung dan berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggung yang menjauh, pengemis
tua itu manggut manggut.
"Ehm, anak pintar memang bisa dididik"
Dia mengambil sebutir batu lalu disentilkan kedalam hutan.
Disisi hutan bambu sana tampak seseorang sedang tertidur
melingkar dalam semak belukar, tiba-tiba ia berkelejit dan
berseru tertahan, kemudian sambil menggosok matanya dan
menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata:
"sialan, mengapa aku bisa tertidur disini? sepagian molor
terus, sepikul kayu bakarpun tidak berhasil kuperoleh?"
orang ini berdandan tukang penebang kayu, usianya antara
empatpuluh tahunan, berwajah kurus dan hitam terkena
matahari, dia tak lain adalah ouw Lo si, tetangga keluarga
Huan- sudah enam tujuh tahunan lamanya dia pindah
kedusun Kim gou cun, masih bujangan dan penghidupannya
dengan mencari kayu bakar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setiap hari, bila Huan cu-im mengikuti Lo koan keh naik


gunung berlatih ilmu, dia pun membawa pikiran dan beberapa
utas tali untuk menebang kayu.
Hari ini entah mengapa ia bisa tertidur didalam rumput,
sekarang terpaksa harus pulang dengan tubuh lemas.
Kentongan pertama baru lewat, diam diam seorang diri
Huan cu-im naik keatas bukit.
Pengemis tua itu datang duluan dan sedang duduk diatas
batu besar, sambil mengelus jenggot, katanya sambil
tersenyum: "Engkoh cilik, kau sudah datang?"
"Benar" sahut Huan Cu-im.
Dia berjalan kedepan pengemis tua itu kemudian
menjatuhkan diri berlutut, katanya: "Suhu diatas, tecu Huan
Cu-im memberi hormat untukmu."
selesai berkata dia lantas menjalankan penghormatan besar
sebanyak delapan kali. "Bagus Bagus Bangunlah muridku"
kata pengemis tua itu kemudian. sementara diantara kelopak
matanya tampak air mata mengembang.
Huan Cu-im tampak bangkit berdiri sambil memandang
kearah pengemis tua, kembali ujarnya:
"Suhu, sekarang tecu telah mengangkatmu sebagai guru,
tapi tecu belum tahu siapakah kau orang tua?"
Pengemis tua itu manggut- manggut.
"Pertanyaanmu memang benar, setelah mengangkat guru
memang sepantasnya mengetahui siapakah gurunya, suhumu
she Ci, berhubung sepanjang tahun membawa sebuah tongkat
pendek. maka aku bernama Ci It koay (Ci si tongkat)."
"Tapi ada pula yang memanggilku ci It koay (Ci si manusia
aneh) karena watakku memang aneh sekali, aku merasa
kedua nama ini memang cocok sekali, terutama Ci It Koay (Ci
si manusia aneh) rasanya enak kedengarannya daripada Ci si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tongkat maka akupun menyebutku sebagai Ci It koay ( Ci


simanusia aneh), cuma...... meskipun nama ini sudah ku
beritahukan kepadamu, kau tak boleh menyinggungnya
dihadapan orang lain, ingat?"
"Tecu akan mengingatnya selalu."
"Bagus sekali, sekarang waktunya sudah tak banyak lagi
muridku kau duduklah, aku akan segera mengajarkan teori Ko
koatnya kepadamu..." Huan Cu-im menurut dan duduk-
kemudian bertanya: "suhu, aku hendak mempelajari apa
darimu?" Mendengar pertanyaan itu ci It koay segera tertawa:
"Muridku, kau sudah belajar ilmu pukulan selama banyak
tahun dengan si pengurus rumah tangga tua, cuma selama ini
belum pernah bersemedi. Maka aku akan mengajarkan Ko
koat tentang ilmu mengatur napas."
"Lo koan kek juga mengajarkan ilmu Tay lok eng jiau kang
kepada tecu, apakah ilmu tersebut bukan semacam ilmu?"
"Tay lek eng jiau kang merupakan suatu ilmu tenaga luar,
sedangkan ilmu yang kuajarkan sekarang adalah ilmu tenaga
dalam. Kau harus tahu orang pernah bilang ilmu mengatur
napas melatih tenaga, ilmu luar melatih otot."
"oleh sebab itu latihan kungfu yang kau pelajari selama ini
merupakan aliran keras yang bersifat melatih otot sebaliknya
lweekang melatih tenaga murni, dengan tenaga murni yang
lembut, kita bisa mengatasi ilmu luar yang keras."
"Mulai sekarang, saban pagi hari kau masih tetap mengikuti
lo koan keh belajar ilmu, sedang malampun kau tak perlu
saban hari datang kemari. setelah suhu mengajarkan ko
koatnya nanti, saban malam kau harus bersemedi untuk
mengatur napas, bilamana pergi aku akan muncul untuk
memberi petunjuk kepadamu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia lantas mengajarkan bagaimana caranya bersila,


bagaimana caranya berkonsentrasi, menghilangkan pikiran
dan bagaimana caranya mengatur napas......
Menanti Huan cu-im telah memahami semua dia baru
berkata sambil manggut manggut. "Bagus, malam ini
pelajaran hanya sampai disini, sekarang kau boleh pulang."
Hua Cu-im masih ingin mengucapkan sesuatu lagi, siapa
tahu ketika ia mendongakkan kepalanya gurunya yang jelas
masih duduk dihadapannyaitu dalam waktu singkat telah
lenyap tak berbekas.
sekarang dia semakin yakin kalau gurunya adalah seorang
tokoh silat yang berilmu tinggi, maka sambil menjura keudara
dia berseru "Tecu akan pergi dulu"
Dengan penuh kegembiraan, dia berangkat turun gunung.
Kembali ke rumah, diam-diam dia memanjat tembok peka
rangan dan menyelundup masuk kedalam ruangan, lalu
melepaskan pakaian dan naik kepembaringan untuk bersila,
dengan mengikuti ko-koat ajaran gurunya, ia mulai mencoba
untuk mengatur napas.
siapa tahu, meski sudah berlangsung sekian lama, namun
pikirannya masih tetap kalut, napasnya berat dan belum juga
bisa tenang.
Pada saat inilah, disisi telinganya berkumandang suara
bisikan yang amat lirih sekali seperti suara nyamuk:
"Muridku, napas yang ditarik dan napas yang dibuang harus
dilakukan secara teratur, bila tarik napas maka masukkan
udara kedalam perut, kemudian ditelan. pikiran harus tenang
sebelum napas bisa teratur, dengan begitu semedi baru bisa
berlangsung secara sempurna."
Jelas suara itu berasal dari gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu-im tahu kalau suhunya berada diluarjendela sambil


memberi petunjuk kepadanya, maka ia tak berani berayal lagi,
dengan mengikuti petunjuk dari gurunya itu, ia mengosongkan
pikiran dan pelan-pelan mengatur napas.
Entah berapa lama sudah ia berbuat demikian, lambat laun
pikirannya menjadi kosong dan berada dalam keadaan lupa
diri, menanti sadar kembali fajar telah menyingsing.
Ia benar-benar merasa terkejut bercampur keheranan,
ternyata ia sudah duduk semalaman tanpa tidur, namun
tubuhnya masih tetap segar, jauh lebih segar daripada tidur
semalaman suntuk.
Semenjak saat itulah tiap malam Huan cu-im selalu duduk
bersila mengatur napas, gurunya juga setiap malam seperti
muncul disamping memberi petunjuk. Ada kalanya disaat dia
melakukan kesalahan, meski gurunya berada diluar jendela
namun seakan akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri
saja, dengan cepat ia memberi petunjuk.
Tiga bula kemudian, Huan cu-im merasakan ketajaman
mata maupun pendengarannya sud jauh lebih maju daripada
dulu, gerakan langkahnya lebih gesit dan cekatan, apalagi
kalau digunakan untuk melatih ilmu Yu sin ki na jiu dan Tay
lek eng jiau kang ajaran lo koan keh tersebut semuanya bisa
dilakukan dengan lebih leluasa.
Huan Gi tidak tahu kalau bocah itu memperoleh petunjuk
dari guru lain dan secara diam-diam melatih tenaga dalam, dia
menganggap keberhasilan yang dicapai Huan cu-im itu
merupakan hasil latihannya yang tekun sudah barang tentu
hanya menjadi girang setengah mati.
Tiga bulan kemudian, cu It koay mulai mengajarkan
serangkaian ilmu pedang yang dimainkan dengan jari tangan
serta delapan gerakan ilmu pukulan sian sin hoat ciang, ilmu
pukulan ini diharuskan berlatih dengan mengkombinasikan
ilmu Yu sin ki na jiu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiga tahun lewat dengan cepat, siang malam Huan cu-im


melatih diri dengan tekun, boleh dibilang semua ilmu silat
ajaran gurunya dan lo koan keh telah dilatihnya hingga hapal
diluar kepala, semuanya dilakukan dengan matang dan
sempurna.
oooooo0dw0oooooo
Malam itu ketika kentongan pertama baru lewat, secara
diam-diam Huan cu-im ngeloyor pergi dari rumahnya dan
berkunjung kembali keatas bukit kecil itu.
Inilah perjalanan yang ditempuh setiap hari, bila malam
tiba dia tentu naik keatas gunung untuk berlatih silat, ada
kalanya gurunya tidak datang, maka diapun berlatih seorang
diri disana.
Ada kalanya secara beruntun sampai beberapa hari tidak
nampak gurunya muncul, maka dia pun berlatih sendiri, bila
selesai latihan, diapun pulang sendiri kerumah. Hal ini sudah
merupakan suatu kebiasaan baginya.
Padahal semenjak Cu It Koay menerima muridnya ini, tidak
seharipun ia meninggalkan sisinya, hanya saja Huan cu-im
tidak mengetahui akan hal ini.
Karena dia tidak melihat gurunya menampakkan diri, maka
dikiranya gurunya tidak datang.
Malam ini, dia datang lebih awal, tapi sewaktu naik keatas
bukit, dijumpai suhunya sudah duduk diatas batu besar, buru-
buru dia maju memberi hormat sambil berseru: "Suhu"
Ci It- koay memandang kearahnya lalu manggut- manggut,
ujarnya dengan lembut:
"Muridku, kau datang lebih awal, ehmmm, duduklah, suhu
ada persoalan hendak dibicarakan denganmu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Cu-im merasa agak keheranan, cepat-cepat


tanyanya: "suhu, apakah malam ini tecu tak usah berlatih
lagi?"
"Kau telah melatih semua ilmumu, asal dikemudian hari
mau berlatih lebih tekun, kemajuan yang pesat pasti akan
tercapai. Malam ini kau tak usah berlatih lagi, duduklah suhu
ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu."
Huan cu-im adalah seorang bocah yang pintar, dari nada
pembicaraan gurunya, dia sudah mendengar kalau gurunya
ada persoalan penting yang hendak dibicarakan dengannya
malam ini.
setelah memandang gurunya sekejap. diapun duduk
disisinya sembari bertanya, "Suhu, kau orang tua ada urusan?"
"Benar" ci It Koay manggut manggut sambil tertawa, "kau
sudah tiga tahun berlatih silat denganku, segenap kemampuan
yang kumiliki juga telah kuajarkan semua kepadamu, meski
usiamu masih kecil, kesempurnaanmu belum cukup tapi ilmu
silat kita selalu dianggap sebagai ilmu silat lurus. Kungfu
berarti ilmu yang harus dilatih dengan sungguh sungguh. satu
bagian kau berlatih, satu bagian pula hasil yang kau raih, bila
kau berlatih sepuluh bagian, maka sepuluh bagian pula
hasilmu."
"Tentu saja soal waktu dan pengalaman juga merupakan
modal besar yang penting, hal itu pun tak bisa dicapai dalam
sekejap mata namun kesemuanya ini harus dilatih dan dicari
olehmu sendiri, suhu tak mampu untuk memberikan hal
semacam ini kepadamu."
"Suhu, apa yang kau katakan telah tecu pahami serius."
"Asal sudah paham, hal ini lebih baik lagi" setelah tertawa
Ci It Koay berkata lebih jauh, "maksud suhu, gara-gara harus
mendidikmu, suhu telah berdiam selama tiga tahun disini. Kini
segenap kepandaian silat yang kumiliki juga telah ku wariskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadamu."

Huan Cu-im sudah dapat mendengar nada pembicaraan


dari gurunya ini maka sebelum gurunya berkata lebih lanjut
dia berseru dengan nada terkejut. "suhu, kau orang tua
hendak pergi?"
sambil tersenyum Ci It koay manggut2.
"sebenarnya aku masih ada satu persoalan yang harus
diselesaikan tapi demi kau, aku sudah menundanya hingga
kini, sekarang aku harus melakukan perjalanan jauh."
Mengetahui kalau gurunya akan pergi, Huan cu im segera
menjatuhkan diri berlutut, serunya dengan air mata
mengembang dalam kelopak matanya.
"suhu kau orang tua hendak kemana? Besok tecu akan
melapor kepada ibuku, bagaimana bila tecu mengikuti kau
orang tua?"
Ci It Koay segera membelai kepalanya dengan penuh kasih
sayang, bagaikan seorang ayah menyayangi anaknya lalu
ujarnya sambil tertawa ramah:
"Muridku, bangunlah tempat yang hendak ku kunjungi
terletak jauh, jauh sekali dari sini. Kau mana boleh mengikuti
diriku?"
Huan cu-im menyela air matanya dan bangkit, kemudian
sambil duduk kembali disisi gurunya dia bertanya:
"suhu sampai kapan kau baru akan beli kemari?"
"Tentu saja aku akan balik kemari. Hanya belum kuketahui
kapan waktunya."
" Lantas?"
Ci It Koay menggoyangkan tangannya berulang kali, tidak
sampai dia meneruskan kata katanya, dia telah menukas:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"sebelum aku pergi jauh, ada beberapa persoalan harus


kau perhatikan dengan seksama."
"Baik"
setelah mengelus jenggotnya, pelan-pelan Ci lo Koay
berkata:
"Pertama, ilmu Hwee sin ciang ajaran suhu harus kau
kombinasikan didalam seratus delapan ilmu Yu sin ki na jiu
dari aliran Eng jiau kang, hal ini agar kau bisa
menggunakannya lebih lincah dan hidup.
Tapi kedelapan jurus serangan itu merupakan jurus sakti
penolong hasil ciptaanku sendiri, bila digunakan pasti akan
melukai orang jika apabila keadaan tidak sangat mendesak.
kau tidak boleh mempergunakannya secara sembarangan,
sekalipun dengan orang yang paling dekat hubungannya
dengan diripun, kepandaian ini tak boleh dibocorkan.
Mengerti?"
"Akan tecu ingat sekali."
"Kedua, walaupun tahun ini, tapi dengan kepandaian silat
yang kau miliki, kecuali kesempurnaannya yang masih kurang,
asal bertemu dengan seorang jago silat kelas satu, rasanya
masih lebih dari cukup untuk menghadapinya, cita cita dari
seorang lelaki berada d it empat samudra, maka kau harus
pergi untuk melatih diri."
Huan cu-im segera berhasil menangkap kesempatan yang
baik dan tentu saja dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan
tersebut dengan begitu saja. Tidak sampai gurunya selesai
berbicara, dengan wajah berseri, cepat cepat dia berseru:
"Suhu, itulah sebabnya tecu ingin mengikuti kau orang tua
saja"
"Aku bukan bermaksud demikian."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak ada salahnya bila aku berterus terang kepadamu"


tukas Ci It Koay lagi, "dulu aku dan ayahmu adalah sahabat
karib."
Menyinggung soal ayahnya, tanpa terasa perasaan halus
Huan cu-im tersentuh kembali.
Sejak kecil kesannya terhadap ayahnya sangat kagum, dia
mendengar dari ibu dan lo koan keh bahwa ayahnya sedang
pergi, tetapi selama banyak tahun ini ayahnya belum pernah
kembali kerumah.
Dia amat rindu kepada ayahnya, sangat berharap pada
suatu hari ayahnya bisa balik kembali pulang.
Maka dengan membelalakkan matanya lebar-lebar, dia
lantas bertanya dengan keheranan:
"suhu, rupanya kau orang tua adalah sobat ayahku,
tahukah kau, ayahku kini berada dimana?"
sepasang mata ci ft koay agak basah, dengan cepat dia
menggelengkan kepalanya berkali kali.
"Entahlah aku sudah berpisah selama sepuluh tahun lebih
dengannya." Huan Cu-im menjadi amat kecewa.
"Aaaaaaai entah kemana perginya ayahku? selama banyak
tahun, dia takpernah pulang untuk menengok kami."
"Tatkala kau berusia enam tahun, ayahmu telah pergi
meninggalkan rumah karena suatu persoalan bila dihitung
hingga sekarang, paling tidak sudah sepuluh tahun lebih."
Tidak menunggu sampai Huan cu-im membuka suara, dia
menyambung lebih jauh.
"Oleh sebab itu, maksudku usiamu sekarang tidak bisa
dianggap kecil lagi kau sudah seharusnya pergi ke dunia
persilatan untuk mencari pengalaman sekalian mencari berita
tentang ayahmu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

" Ucapan suhu memang benar, aku.... aku harus pergi


mencari ayahku" kata Huan cu-im sambil menangis.
"Ayahmu mempunyai seorang kakak angkat yang bernama
Huan im hong, orang-orang menyebutnya sebagai Hway Lam
tayhiap. dia mempunyai hubungan saudara angkat dengan
ayahmu dan berdiam ditelaga Ang ci oh."
"Tak ada salahnya kau minta ijin dulu kepada ibumu
kemudian pergi mencarinya, nama besar Hoe tayhiap dalam
dunia persilatan amat termashur, pergaulannya juga luas,
siapa tahu kalau dia mengetahui kabar berita tentang
ayahmu?" Huan cu-im menjadi kegirangan-
"Ya a, dari ibupun aku pernah mendengar tentang empek
Hway, konon dia pernah berkunjung kerumahku dulu, kini
sudah banyak tahun tak pernah berkirim surat."
"Hway Lam tayhiap seorang yang suka membantu kaum
lemah dan luas pergaulannya terhadap usahamu untuk
mencari jejak ayahmu. sudah pasti akan memberikan bantuan
yang amat besar, bila kau pergi mencarinya, aku rasa ibumu
pasti akan berlega hati."
"Apakah suhu pun kenal dengan empek Hee?" ci ft koay
segera menggeleng,
"Aku tidak begitu kenal dengannya, ooya.... bila bertemu
dengannya kaupun tak usah menyinggung soal gurumu.
Katakan saja kalau ilmu silatmu itu berasal dari Lo koan keh."
"Tecu mengerti"
Ci It koay segera manggut manggut.
"Baiklah, muridku sejak kini kau harus baik baik untuk
menjaga diri......."
Tergerak hati Huan cu-im setelah mendengar ucapan itu,
dia mendongakkan kepalanya lalu bertanya
"Suhu, kau hendak pergi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika mengucapkan perkataan itu, wajahnya menampilkan


perasaan berat hati untuk berpisah.
ci It Koay segera tertawa terbahak bahak.
"HaaaHh... haaaHh... haaaHh... aku memang akan pergi.
Apa yang telah kubicarakan dengan mu pada malam ini harap
kau sudi mengingatnya selalu di dalam hati."
"Tecu pasti akan mengingatnya selalu" kata Huan cu-im
dengan air mata bercucuran.
"Bagus, sekarang kau boleh pergi"
sekali lagi Huan cu-im menjatuhkan diri berlutut diatas
tanah, kemudian katanya:
"setelah berpisah pada malam ini, entah sampai kapan tecu
baru bisa bersua lagi dengan suhu?" ci It Koay tertawa.
" Walaupun aku hendak pergi jauh, tak lama kemudian juga
akan kembali, setiap saat kita bisa bersua kembali d idalam
dunia persilatan"
"Kau orang tua harus menetapkan waktunya."
"Dalam perjalanan ku saat ini, sulit bagiku untuk
menetapkan waktunya, tapi setelah kembali kemari, pasti akan
kucari dirimu. Nah... waktu sudah tidak pagi, muridku, kau
boleh culang sekarang."
sekali lagi Huan cu-im menyembah beberapa kali sebelum
berdiri, katanya sambil menyeka air mata:
"Suhu, kalau begitu tecu akan pulang dulu."
Meskipun dimulut dia bilang hendak pulang namun
sekarang kakinya sama sekali tidak bergerak. sepasang
matanya hanya mengawasi wajah gurunya dengan perasaan
berat. sambil tersenyum Ci It Koay berkata:
"Bocah bodoh, perpisahan kita sekarang hanya perpisahan
untuk sementara, aku akan segera kembali lagi kemari. Kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

usiamu juga tidak kecil, sebagai seorang lelaki sejati, seorang


jantan, masa sikapmu seperti anak anak saja? Cepatlah
pulang, aku harus berangkat pula dari sini......"
Pelan-pelan dia berjalan menuruni bukit, tapi baru
beberapa langkah, dia tak tahan menengok kembali
kebelakang, Tapi waktu itu bayangan gurunya sudah tak
nampak lagi.
Fajar telah menyingsing, Huan tay-nio sudah bangun dan
sedang memberi makan ayam dihalaman belakang.
Huan Gi juga sudah bangun dia dengan menyapu
pekarangan luar.
semalam sekembalinya kerumah, Huan cu-im memikirkan
terus ancaman dari gurunya, hampir semalaman suntuk tak
dapat tidur. Ayah telah pergi, hingga kini sudah hampir
sepuluh tahun lebih. sepuluh tahun tak pernah kembali,
sepuluh tahun tiada kabar beritanya.......
Ucapan dari suhunya memang benar, sebagai seorang
lelaki yang berusia tidak muda lagi, sudah seharusnya dia
mengembara ke dalam dunia persilatan untuk mencari
ayahnya, walaupun harus sampai keujung langitpun,jejak
ayahnya harus ditemukan.
Maka setelah fajar menyingsing, buru-buru dia
membersihkan muka dan menuju ke halaman depan untuk
mencari ibunya. "Ibu......."
Huan Tay-nio memandang sekejap kearah putranya dengan
penuh kasih sayang, lalu katanya sambil tersenyum.
"Nak, kau tidak berlatih ilmu didepan sana? Ada urusan apa
mencariku......?"
Huan cu-im manggut- manggut.
"Ibu, ananda ada satu persoalan yang hendak dirundingkan
dengan ibu....."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ooooh, kalau begitu kita kembali kedalam......"


Huan Cu-im mengikuti dibelakang ibunya berjalan masuk
kedalam ruangan, setelah duduk. Huan Tay-nio bertanya:
"Nak, ada urusan apa yang hendak dirundingkan?
sekarang, kau boleh membicarakannya."
"Ibu, ananda hendak pergi mencari ayah" kata Huan cu-im
setelah termenung sejenak.
Huan Tay-nio merasa terperanjat sekali sehabis mendengar
perkataan itu, sambil memandang putranya dia berseru:
"Mengapa kau mempunyai ingatan untuk pergi mencari
ayahmu?"
Huan cu-im segera menjatuhkan diri berlutut didepan
ibunya, lalu dengan air mata bercucuran katanya:
"Ibu, semalam ananda telah berpikir semalaman sejak ayah
pergi sampai sekarang sudah sepuluh tahun lebih, selama
sepuluh tahunpun ayah tak pernah kembali kesini, sedikit
beritapun tentangnya tiada."
"Dulu ananda masih kecil, tetapi sekarang ananda sudah
dewasa, maka ananda hendak pergi mencari ayah dan ibu.
Kabulkanlah permintaan ananda ini......"
Menyinggung kembali soal suaminya, Huan Tay-nio merasa
amat pedih sampai airmatanya jatuh bercucuran, sambil
memeluk kepala putranya dia berkata:
"Anakku, bila kau mempunyai rasa bakti semacam itu, ibu
merasa amat gembira, cuma usiamu masih amat kecil."
Huan cu-im mendongakkan kepalanya, lalu katanya dengan
cepat:
"Ibu, tahun ini ananda sudah berusia enam belas tahun
padahal ananda sudah sepuluh tahun belajar silat, kalau
hanya busu saja dalam dunia persilatan, mereka sudah bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tandingan ananda lagi, ananda sekarang masih mampu untuk


melindungi diri sendiri, ibu, kabulkanlah permintaan ananda
ini."
"Nak, bangunlah" ujar Huan Tay-nio sambil menyeka air
mata.
Dengan girang Huan Cu-im melompat bangun serunya
dengan amat gembira:
"Ibu, jadi kau telah setuju?"
"Kapan ibu bilang sudah setuju?"
"Ibu, bukankah kau suruh ananda bangun?"
"Bukankah kau bilang ada urusan hendak dirundingkan
dengan ibu? Berunding berarti mencari penyesuaian pendapat
antara kau dan aku, masa belum lagi dibicarakan, ibu lantas
menyetujuinya? "
"Ibu, kau hendak mencari penyesuaian pendapat apa lagi?"
"Duduklah dulu nak. ibu hendak bertanya dulu kepadamu."
Huan cu-im menurut dan segera duduk didepan ibunya,
kemudian katanya:
"ibu, kau ingin bertanya soal apa?"
"Kau masih kecil, hendak kemanakah kau akan mencari
ayahmu?"
"Ananda telah teringat akan seseorang."
"Siapa?"
"Empek Hee, empek Hee yang disebut orang sebagai Hway
lam tayhiap."
"Bagaimana ceritanya kau bisa teringat dengan empek
Hee?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ananda pikir, kalau toh empek Hee disebut orang sebagai


Hway lam tayhiap. berarti hubungannya pasti luas, dia pasti
akan mengetahui kabar berita tentang ayah."
Diam-diam Huan Tay-nio mengangguk. katanya kemudian:
" Tapi sudah cukup lama kita tak pernah saling berhubungan
dengan empek Hee"
"Menurut apa yang ananda ketahui, empek Hee dengan
ayah mempunyai hubungan sebagai saudara angkat sekalipun
sudah banyak tahun tak pernah surat-suratan namun
hubungan itu toh ada. Ananda pikir ada baiknya untuk
mencari berita tentang ayah, dia pasti akan membantuku
untuk menemukan ayah."
Mendadak Huan Tay-nio seperti teringat akan sesuatu, ia
merasa perkataan semacam itu tidak mirip dengan ucapan
seorang bocah, maka sambil menatapnya lekat-lekat dia
bertanya: "Nak, apakah lo koan keh yang mengajarkan kata-
kata tersebut kepadamu?"
Huan cu im menjadi tertegun, belum sempat dia
mengucapkan sesuatu, terdengar Huan Gi si Lo koan keh
sudah menimbrung:
"Tay-nio, soal apa yang budah tua ajarkan kepadanya?"
sambil berseru dia berjalan mendekat.
"Im ji bilang hendak pergi mencari ayahnya."
Mendengar ucapan tersebut, Huan Gi segera
membusungkan dada dan memandang ke arah Huan cu-im,
kemudian katanya sambil tersenyum:
"Bagus sekali budak tua tidak pernah membicarakan soal
ini, Tapi dihati memang selalu memikirkan, toaya sudah
banyak tahun meninggalkan rumah. selama ini diapun tidak
ada kabar beritanya, sekarang siauya sudah besar, memang
sudah sepantasnya kalau dia meninggalkan rumah untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengembara, sekalian mencari berita tentang toaya didalam


dunia persilatan-"
"Lo koan keh memang benar, toaya sudah sepuluh tahun
meninggalkan rumah dan dia memang pantas untuk mencari
beritanya dalam dunia persilatan, tapi usia imji masih kecil."
"ibu, ananda sudah tidak kecil, apalagi sudah belajar ilmu
selama sepuluh tahun" buru-buru Huan cu-im berseru, "ibu
coba kau lihat kepandaian ananda ini lemah atau tidak?"
Ketika dia menyaksikan di tepi pintu terdapat sebuah
palang pintu diambilnya palang pintu tersebut, kemudian
dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya dia
menyodok kayu tadi hingga tembus.
Padahal palang kayu itu terbuat dari kayu yang sangat
keras, maklum palang kayu pada saat itu merupakan kekuatan
utama untuk menahan pintu, maka tebalnyapun mencapai
enam inci.
Tapi kenyataannya, hanya sekali ayunan tangan saja kedua
jari tangannya telah tembusi kayu tersebut.
Kepandaian semacam ini, mungkin Huan Gi sendiripun tak
mampu untuk melaksanakannya.
Huan Gi segera membelalakan matanya lebar-lebar dan
memandangnya tanpa berkedip. selang beberapa saat
kemudian dia baru berkata: "Siauya, siapa yang mengajarkan
ilmu tersebut kepadamu?"
Meski usianya sudah lanjut, bukan berarti matanya sudah
melamur dan gampang dikelabui.
"Ilmu tersebut merupakan hasil latihanku sendiri, saban
hari, bila aku sedang berlatih Eng jiu ki na jiu didalam hutan
bambu, aku selalu melatihnya dengan sungguh sungguh,
kadang kala akupun berlatih untuk menjojoh dengan jari
tanganku karena cara ini lebih kuat dan bertenaga penuh."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Oleh karena itu, setiap hari ku latih kedua juri tanganku ini
untuk menusuk batu cadas. Kemaren, sewaktu kugunakan
tenaga, ternyata batu cadas itu muncul sebuah lubang kecil.
Itulah sebabnya sengaja kudemonstrasikan dihadapan ibu
pada hari ini"
Cerita ini tentu saja hanya cerita karangan yang disusun
olehnya untuk menghadapi keadaan tersebut.
Mendadak Huan Gi menundukkan kepalanya dan berkata
dengan lirih: "Aaaaaai, sayang sekali "
"Lo koan keh, apanya yang sayang ?" tanya Huan Tay-nio
dengan cepat.
Dengan wajah sedih Huan GI berkata:
"sauya berbakat bagus dan merupakan seseorang yang
amat cocok untuk berlatih ilmu, sayang dia tidak pernah
memperoleh petunjuk dari guru pandai, kalau hanya
mengandalkan ilmu silat kucing kaki tiga ajaran budak tua
mah..... benar benar sudah memendam bakat alam"
Kemudian setelah termenung sebentar, dia berkata lebih
jauh:
"Budak tua sangat setuju, bila sauya hendak pergi mencari
toaya. Bukan saja dapat mencari pengalaman diluar, bahkan
bisa pula mencari guru kenamaan dengan begitu bakat alam
sauya menjadi tidak terpendam terus disini."
"Imji bilang, dia akan mencari empek Hee nya"
"Apakah sauya maksudkan Hway lam tayhiap Hee toaya ?"
Huan Tay-nio manggut manggut.
"Benar"
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik sinar mata Huan
Gi, wajahnya pun menunjukkan rasa gembira seakan-akan dia
teringat akan sesuatu yang menggembirakan hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat dia mengangguk berulang kali, lalu katanya:


"Dahulu, Hee toaya angkat nama bersama-sama loya.
Mereka berdua pun terikat hubungan sebagai saudara angkat,
apalagi dulupun pernah berdiam selama beberapa hari disini."
"sejak toaya pergi sepuluh tahun berselang, antara dua
keluarga tak pernah berhubungan surat lagi, bila sauya ingin
berkunjung kerumah Hee toaya, hal ini memang merupakan
suatu ide yang sangat bagus sekali......"
Tiba tiba Huan Tay-nio tertawa, lalu menyela.
"SEjak tadi aku sudah tahu kalau ucapan fmji hendak
mencari Hee toako adalah atas anjuran dari lo koan keh."
"Bukan, buka ide dari budak tua" cepat cepat Huan Gi
menggoyangkan tangannya berulang kali "budak tua tak
pernah menyinggung soal Heetoaya dengan sauya."
setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh:
"Namun usul dari sauya memang ada benarnya juga. Hee
toaya menganggap setiap orang yang berada di empat
samudra sebagai saudara, setiap orang tentu akan
mengacungkan ibu jarinya bila menyinggung nama Hee toaya
bahkan menghormatinya sebagai tayhiap sudah pasti Hee
toaya mengetahui akanjejak dari toaya." Huan Tay-nio
menghela napas panjang.
"Aaaaaaaaai, hal ini sukar untuk dibicarakan- kami semua
sebagai keluarga langsung dari toaya pun tak pernah
mendapatkan kabar berita tentang dirimu."
"Kita tak bisa membandingkan demikian, nama Hee toaya
dalam dunia persilatan cukup termashur. Diapun pandai
bergaul dan mempunyai teman banyak. lagipula banyak orang
yang masuk keluar dalam gedungnya, tentu saja kabar
beritanya jauh lebih lancar dan tajam bila sauya pergi
mencarinya sudah pasti ia akan berhasil mendapatkan berita
tentang toaya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bukankah kita dua keluarga masih termasuk hubungan


saudara angkat? Dia pasti akan sepuluh kali lipat lebih
tangguh daripada mempelajari jurus kasaran dari budak tua."
Tergerak juga hati Huan Tay-nio sesudah mendengar
perkataan itu dia lantas manggut manggut.
"Dulu Lo koan keh sering mengikuti kongkong berkelana
mengunjungi berbagai wilayah. Pengetahuan maupun
pengalamannya amat luas bila kau mengatakan bahwa Imji
harus pergi mencari empek Heenya, hal ini tentu tak bakal
salah lagi cuma aku tetap mengUatirkan usia Imji yang masih
kecil......"
Huan Gi tertawa terbahak bahak.
"HaaaHh..... haaaHh..... haaaHh..... tahun ini sauya telah
berusia enam belas tahun, dia sudah bisa dianggap telah
dewasa, padahal ketika toaya masih berusia lima belas tahun
dulu, dia sudah mengikuti budak pergi ke kota Kim leng
dengan menyandang golok dan menunggang kuda, semua
orang menghormatinya sebagai saupiautau Apabila toa nio
merasa kuatir, bagaimana bila budak tua saja yang menemani
sauya untuk berangkat ke Hway lam?"
Huan Tay-nio berpikir sebentar, kemudian manggut-
manggut.
"Kalau toh Lo koan keh telah berkata begitu, tentu saja aku
harus menyetujuinya."
Huan cu-im menjadi amat kegirangan serunya dengan
cepat:
"lbu, jadi kau telah setuju?"
Begitulah, akhirnya diputuskan Huan cu-im akan berangkat
menuju ke Hway lam ditemani oleh Huan Gi
^ooooo0dw0oooo^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari dusun Kim gou-cun yang terletak dibukit Pek shia san
dalam propinsi An- hwee sampai di benteng keluarga Hee
diutara telaga Ang ci oh didekat su yang propinsi Kang siok.
perjalanan yang ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh,
namun berhubung lalu lintas ketika itu tidak lancar, maka
perjalanan mana boleh dianggap sebagai suatu perjalanan
jauh.
Pagi ini, Huan cu-im berpamitan kepada ibunya dan
bersama Huan Gi berangkat meninggalkan dusun Kim gou cun
menuju ke benteng keluarga Hee....
setelah tiba di kota su shia, mereka membeli dua ekor kuda
untuk meneruskan perjalanannya menuju ke utara.
Meskipun Huan Gi sudah belasan tahun ini pernah keluar
masuk. namun bagaimanapun juga dia adalah seorang jago
kawakan dalam dunia persilatan, dengan didampingi seorang
jago kawakan seperti ini, tentu saja Huan cu-im tak usah
berlalu memusingkan segala persoalan yang tetek bengek.
Hari ini mereka tiba didermaga Peng ki dan menggunakan
perahu untuk meneruskan perjalanannya.
Menunding bukit Cing san dikejauhan sana Huan G i
berkata:
"Tempat itulah yang dinamakan sik bun san, tempat tinggal
Hee toaya berada disana, tapi kemudian dia pindah ketepi
telaga Ang ci oh semenjak sepuluh tahun berselang"
"Mengapa empek Hee pindah ketelaga Ang cioh..."
"Mungkin Hee toaya memang menyukai telaga Ang cioh"
sementara pembicaraan masih berlangsung mendadak
terdengar suara mendesing berkumandang dari atas kepala,
ketika mereka mendongakkan kepalanya tampak seekor
burung merpati terbang lewat dari atas kepala mereka menuju
ke pantai sebelah utara. Memandang burung merpati itu,
Huan Gi segera berbisik: "Seekor burung merpati pos "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Merpati pos ?"


"Merpati pos adalah seekor burung merpati yang bertugas
membawa surat, lohu hanya heran, kenapa dia terbang
melintas diatas kepala kita......? sungguh aneh."
Tak lama kemudian mereka sudah naik kedarat.
Pada saat itulah, mendadak Huan Gi merasakan lagi
segulungan desingan angin tajam menyambar kearah
tubuhnya, cepat-cepat dia menggerakkan tangannya untuk
meraup kebelakang, dengan cepat dia berhasil menangkap
sebuah benda.
Benda tersebut terasa enteng dan tipis seperti selembar
kertas yang digulung, dengan perasaan heran dia lantas
memeriksa, betul juga, benda itu adalah segulung kertas.
"Siapa yang menyambit surat ini? Apa maksudnya?" dengan
cepat dia berpikir. Kertas itu segera dibuka dan diperiksa
isinya, terbacalah beberapa kalimat disitu: "Didepan ada
bahaya, tapi kalian tak boleh turun tangan-"
Jelas sebuah surat peringatan. Buru-buru Huan Gi
memeriksa disekeliling tempat itu, sayang banyak orang
berlalu lalang disana, bagaimana mungkin bisa menemukan si
pelempar surat itu diantara sekian banyak orang?
-oo0dw0oo-

JILID : 3

Ketika Huan cu-im menyaksikan paras muka Huan Gi agak


berubah, dengan cepat dia bertanya:
"Lo koan keh, ada apa?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Gi sebenarnya ingin merahasiakan kejadian semacam


ini didepan pemuda yang berdarah panas, maka sambil
menyodorkan surat itu katanya: "Periksalah sendiri sauya"
Huan cu-im menerima surat itu dan diperhatikan sekejap,
kemudian bertanya: "Siapa yang menulis surat ini?"
"Baru saja ada orang yang melemparkan kearah kita."
"Tapi apa maksudnya?"
"ORang itu seakan akan sedang memperingatkan kepada
kita kalau didepan sana ada persoalan dan kita tak usah
mencampuri persoalan tersebut."
Sejak belajar silat, Huan cu im belum pernah menjajal
kepandaiannya, maka semangatnya menjadi berkobar setelah
mendengar kalau didepan situ kemungkinan besar akan terjadi
suatu peristiwa.
"Lo koan keh, menurut pendapatmu, peristiwa apakah yang
akan terjadi.....?"
"Sulit untuk dikatakan, bisa jadi merampok atau membegal
atau mungkin ada orang hendak mmbalas dendam. Ya a a,
pokoknya banyak peristiwa yang terjadi dalam dunia
persilatan-"
"Lo koan keh, seandainya menjumpai peristiwa
perampokan atau pembunuhan atau penodongan, apakah kita
tak boleh mencampurinya?"
"Menurut peraturan dunia persilatan, bila orang lain sudah
memberi peringatan, maka kita tak boleh mencampurinya."
"Tapi kalau dia sedang melakukan suatu perbuatan yang
merugikan orang banyak, apakah kitapun tak boleh
mencampurinya?"
"Bukan begitu masalahnya, sekalipun pihak lawan telah
mengirimkan pesan dan pemberitahuan tersebut, namun
apabila masalahnya yang kita hadapi adalah peristiwa yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merugikan orang banyak. tentu saja kita tak dapat berpeluk


tangan belaka, namun jika masalah tersebut tidak
menyangkut masalah kita pribadi, kalau bisa tak usah turun
tangan- Tentu saja hal ini lebih baik lagi."
"Tapi, mengapa dia memberi surat peringatan itu
kepadamu?"
"Mungkin pihak lawan sudah tahu kalau kita adalah orang
yang pandai bersilat."
sambil berjalan sambil berbincang bincang tengah hari itu
mereka meneruskan perjalanannya setelah beristirahat
sebentar untuk mengisi perut.
setelah berjalan tujuh delapan li kemudian tempat yang
mereka lewati makin lama semakin sedih, didepan jauh dari
dusun, dibelakangpun jauh dari kota, kecuali pepohonan
cemara yang lebat, di kedua sisi jalan penuh dengan semak
belukar yang tinggi. Huan Gi yang duduk dikudanya mulai
menggundel dihati:
"Yang dimaksudkan orang tadi sebagai didepan ada
gangguan, mungkinkah ditempat ini?"
Baru habis ingatan tersebut melintas, mendadak dari balik
semak belukar berkumandang suara suitan keras, lalu nampak
berpuluh sosok bayangan manusia berlompatan keluar dari
balik semak belukar yang amat lebat itu.
oooo0oooo
Belasan orang manusia itu rata-rata mengenakan kain
kerudung hitam untuk menutupi wajah sehingga tinggal
sepasang matanya saja yang kelihatan- sambil menggenggam
senjata tajam, dengan garangnya orang-orang itu
menghadang jalan pergi mereka.
Huan Gi menjadi tertegun, dalam surat peringatan tersebut
dengan jelas diterangkan agar mereka berdua jangan
mencampuri urusan orang, tapi kenyataannya sekarang, orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang itu justru muncul untuk mencari gara-gara dengan


mereka berdua.
sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, terdengar
pemimpin dari orang orang itu sudah membentak keras:
"sobat, bila tahu diri, harap turun dari kuda kalian"
Huan Gi memandang sekejap orang orang itu, kemudian
sambil menjura tanyanya: "Tolong tanya saudara sekalian
berasal dari aliran mana?"
"Kau tak usah banyak bertanya, yang penting sekarang,
turun dulu dari kuda kalian-"
"Baiklah" ucap Huan Gi sambil mengangguk. Lalu sembari
berpaling, katanya lagi:
"sauya, mari kita turun dari kuda, coba kita lihat apa lagi
yang hendak dia katakan?" sementara berbicara, diam-diam
dia memberi tandan dengan kerdipan mata kepada Huan Cu-
im agar dia menahan diri dan jangan bertindak secara
gegabah.
Tanpa membantah, kedua orang itu segera melompat turun
dari punggung kuda masing masing.
setelah kedua orang itu turun, pemimpin manusia
berkerudung itu mengulapkan tangannya kepada Huan cu-im
dan berseru: "Sekarang kau boleh menyingkir."
"Mengapa aku harus menyingkir?" tanya sang pemuda.
"Sebab urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu,
sebagai seorang muda, lebih baik jangan mengorbankan jiwa
dengan percuma."
" Hanya mengandalkan kekuatan dari kalian beberapa
orang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Anak muda memang gampang naik darah, apalagi kalau


ucapan lawan kurang sedap kedengarannya, jarang ada yang
mampu untuk menahan diri
Huan Gi sendiripun merasa keheranan setelah mendengar
dari nada ucapannya yang jelas ditujukan kepadanya, buru-
buru dia berseru:
"sauya, harap kau mundur dulu, lohU ingin bertanya
kepada mereka."
Walaupun Huan cu-im merasa enggan, namun dia tak ingin
membantah ucapan pengurus rumah tangganya ini, maka dia
melangkah mundur satu tindak kebelakang.
Tahun ini Huan Gi telah berusia delapan puluh tahun, tapi
dia tidak pernah merasakan dirinya sudah tua, bukan saja ilmu
silatnyapun sudah memperoleh kemajuan yang pesat.
Baginya, meski lawan terdiri dari belasan orang, namun dia
yakin masih mampu untuk menghadapinya .
Sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman sekali,
Huan Gi juga tahu kalau si pemberi peringatan tadi sengaja
mengirim surat peringatan kepadanya karena orang itu
mempunyai maksud tertentu, dia tak ingin bertindak kelewat
gegabah sehingga dipecundangi orang lain-
Tatkala sauyanya sudah mundur, dia maju kedepan dan
segera menegur sambil menjura:
"Sobat, kalau kudengar dari nada pembicaraanmu itu,
tampaknya kalian seperti sengaja hendak mencari gara-gara
dengan lohu?"
"Betul, kami memang hendak mencari kau si orang tua"
sahut orang itu dingin.
Menganggap pihaknya terdiri dari belasan orang,
sedangkan musuh ada dua orang, tentu saja dia tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memandang sebelah matapun terhadap Huan Gi, otomatis


lagak bicaranyapun menjadi lebih besar.
"Apakah kalian tidak salah mencari orang?" tanya Huan Gi
lagi dengan wajah keheranan.
"Tak bakal salah"
Huan Gi benar-benar merasa keheranan setengah mati, tak
tahan dia bertanya lagi: "Kalau begitu coba kalian sebutkan,
siapakah lohu?"
"Bukankah kau adalah Huan Gi?" kata pemimpin
rombongan manusia berkerudung itu
"Betul, lohu memang Huan Gi"
"Nah, itulah dia"
Dia segera mengulapkan golok Yun leng to nya kearah
enam tujuh orang yang mengurung Huan Gi itu, kemudian
bentaknya: "Maju semua"
Ternyata mereka bertiga belas, kecuali pemimpin
rombongan, tujuh orang mengurung Huan Gi sementara lima
orang mengerubuti Huan cu-im.
Ditinjau dari hal ini, jelaslah sudah kalau orang-orang itu
memusatkan segenap perhatiannya keatas tubuh lo koan keh
tersebut, sedangkan terhadap Huan cu-im hanya dilakukan
pengawasan agar pemuda itu tak dapat berlalu dari situ.
Betapa gusarnya Huan Gi ketika mendengar orang itu
menurunkan perintah untuk melakukan serangan, dengan
mata melotot bentaknya keras-keras
Bentakan ini amat nyaring, suaranya seperti genta yang
dibunyikan bertalu talu sungguh menggetarkan perasaan
orang.
"Apalagi yang hendak kau katakan?" seru orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lohu merasa tak pernah mempunyai dendam atau sakit


hati dengan kalian semua atas dasar apa kalian datang
mencari gara-gara dengan lohu......?"
"Tiada alasan apa-apa, anggap saja kami menginginkan
selembar nyawamu itu" Huan cu im turut naik darah dengan
kening berkerut dia segera membentak nyaring:
"Hei, lo koan keh sedang bertanya secara serius kepadamu,
jangan menjawab dengan seenaknya sendiri"
Huan Gi segera menggoyangkan tangannya berulang kali
mencegah si anak muda itu berkata lebih lanjut, kemudian
setelah meloloskan huncweenya, dia berkata sambil tertawa
nyaring:
"Sobat, lebih baik jangan bermain sembunyi macam kura-
kura, terhitung jagoan macam apakah dirimu itu? Boleh saja
apabila kalian menginginkan nyawa lohu, tapi lepaskan dahulu
kain kerudung hitam kalian itu....." Pemimpin rombongan
tersebut tertawa seram.
"HeeeHh..... heeeHh.... heeeHh..... kau ingin mengetahui
siapakah aku? Bagus sekali, silahkan saja tanya kepada si raja
akhirat....."
Berbicara sampai disitu, tangan kirinya segera diulapkan
sambil membentak: "Bacok dia sampai mampus"
Tujuh orang lelaki yang mengurung Huan Gi itu tetap
menggenggam senjatanya sambil melakukan gerakan seperti
hendak melakukan terkaman, namun mereka sama sekali
tidak bergerak.
Dengan cepat pemimpin itu dapat merasakan sesuatu yang
aneh, segera bentaknya: "Kalian tidak cepat....."
Mendadak seluruh tubuh mereka bergetar keras, ucapan
selanjutnya tak mampu dilanjutkan lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itulah dari sisi telaga Huan Gi menangkap


serentetan orang suara lembut yang berbisik,
"Lo koan keh, sekarang kalian boleh pergi."
Huan Gi tertegun ketika ia menengok kembali kearah
pemimpin rombongan tersebut ia saksikan sorot mata orang
itu menunjukkan perasaan gelisah, namun mereka tetap
berdiri kaku ditempat semula.
Menyaksikan kenyataan tersebut, dengan cepat dia
mendapat tahu kalau ada jago lihay yang secara diam-diam
telah membantu mereka dengan menotokjalan darah orang
orang itu.
Sudah barang tentu orang yang menolong mereka
sekarang tak lain adalah orang yang memberikan peringatan
kepadanya dengan lempengan gulungan keras tadi...
MEskipun pelbagai kecurigaan memenuhi benaknya, namun
dia tak tahu bagaimana untuk memecahkannya .
seperti, mengapa orang orang itu muncul dengan wajah
berkerudung ditengah siang hari bolong dan menghadang
jalan perginya.
Dengan mereka, boleh dibilang dia tak punya dendam sakit
hati apapun, mengapa mereka hendak membunuhnya? Apa
yang sebenarnya telah terjadi?
sebenarnya dia ingin merobek kain kerudung lawan dan
melihat siapakah gerangan pemimpin rombongan tersebut?
Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan
yang memahami akan pantangan dalam dunia persilatan,
apalagi disitupun ada jago lihay yang membantu mereka
secara diam-diam, kini orang tersebut menyuruh mereka pergi
dahulu, hal ini sudah pasti karena ada alasan satu tujuan
tertentu. setelah berpikir sampai disitu, sambil membalikkan
badan dia lantas berseru kepada si anak muda itu: "sauya
mari kita pergi saja"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Cu-im memandang sekejap kearah belasan orang


manusia berkerudung yang mengurung disekeliling mereka
berdua dengan ragu, kemudian serunya: "Mereka...."
"sauya tak usah menggubris mereka, lebih baik kita pergi
saja tanpa banyak berbicara."
"Lo koan keh, apakah kau yang telah berhasil menguasai
mereka?" seru Huan cu-im lagi dengan perasaan terperanjat.
"sauya tak usah banyak bertanya, naik saja keatas kudamu,
nanti lohu akan memberitahukan semuanya itu kepadamu
secara pelan pelan-..."
Huan cu im tidak bertanya lagi, dia menurut dan segera
naik keatas kuda, kemudian menarik tali lesnya dan
meneruskan perjalanan menuju kedepan-
Anehnya, belasan orang lelaki berkerudung itu masih tetap
berdiri ditempat semula dengan posisi tak berubah, bahkan
pemimpin merekapun hanya bisa membelalakkan matanya
membiarkan kedua orang itu berlalu dari situ tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
Menanti bayangan punggung dari dua orang itu sudah
pergi jauh, dari balik pepohonan siong disebelah kanan jalan
muncul seseorang yang berjalan sambil terpincang pincang.
orang itu berambut panjang sebahu, memakai baju
compang camping dan membawa sebuah karung goni bobrok
dibahu kanannya dengan sebuah tongkat pendek dibawah
ketiak kanannya.
sewaktu berjalan dia akan terbongkok bongkok sambil
terpincang pincang, ketika ujung tongkatnya menyentuh
tanah, segera menimbulkan suatu getaran keras. Ternyata
orang itu adalah seorang pengemis tua.
oleh karena dia jalan terpincang, tentu saja langkahnya
tidak terlalu cepat, menanti dia sudah berhasil mencapai
samping pemimpin rombongan tersebut dengan susah payah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangan kirinya baru menepuk diatas bahu orang itu dan


menegur sambil tersenyum: "Toaya, apakah kau sedang
mengantuk?"
Pemimpin rombongan manusia berkerudung itu merasakan
seluruh tubuhnya bergetar seperti melepaskan suatu beban
berat saja, dalam waktu singkatjalan darahnya yang
tertotokpun menjadi bebas kembali.
Menghadapi kenyataan tersebut, dengan perasaan terkejut
ditatapnya pengemis tua itu lekat-lekat, kemudian tegurnya:
"siapakah kau?"
"Menurut toaya, siapakah diriku ini?" pengemis tua itu balik
bertanya sambil melirik sekejap kearahnya.
"ooooh, kalau begitu kaulah yang telah membebaskan jalan
darahku barusan?"
Pengemis tua itu memperlihatkan bibirnya dan tertawa
lebar, serunya dengan cepat. "Aku mah hanya bisa makan,
siapa bilang aku pandai membebaskan jalan darah orang."
"HeeeHh.... heeeHh.... heeeHH..... sobat, kau benar benar
seorang lihay yang tak mau memperlihatkan kelihayannya,
barusan kau telah membantu untuk membebaskan jalan
darahku, jelas hal ini merupakan suatu kebaikan dan aku
merasa berterima kasih sekali, loko, buat apa kau harus
menampik?"
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata pengemis
tua itu, setelah tertawa licik dia berkata:
"sesungguhnya aku hanya secara kebetulan saja lewat
disini, oleh karena ku lihat toaya sekalian hanya berdiri terus
tak bergerak. aku mengira kalian tak sabar menunggu orang
sehingga mereka mengantuk. maka kuatir kalau merasa lelah
karena kelewat lama berdiri aku membantumu untuk
membebaskan jalan darahmu. apakah toaya hendak
memerseni beberapa tahil untukku?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang itu mencorongkan sinar tajam dari balik matanya,


mendadak ia bertanya: "Darimana kau bisa tahu kalau aku
sedang menunggu orang ditempat ini?"
Pengemis tua itu mengangkat bahunya sambil tertawa,
"Soal ini mah....."
Mendadak ia berhenti berbicara dan tidak melanjutkan
kembali kata katanya.
"Loko, bukankah kau menginginkan hadiah beberapa rence
mata uang tembaga?" tanya orang itu.
Pengemis tua itu nampak gembira sekali, dia
menganggukkan kepalanya berulang kali,
"Benar, benar, aku.... siaujin memang telah membantu
toaya untuk membebaskan jalan darahmu, silahkan saja toaya
memberi hadiah sekehendak hati toaya."
orang itu mengeluarkan sekeping uang perak dan
diletakkan diatas telapak tangannya, kemudian berkata:
"Asal loko bersedia menerangkan bagaimana kau bisa tahu
kalau aku sedang menunggu orang disini, uang perak ini akan
menjadi milikmu."
AGaknya pengemis tua itu mengharapkan hadiah beberapa
rence uang tembaga, maka menyaksikan orang itu
mengeluarkan sekeping uang perak yang beratnya mencapai
dua tiga tahil perak. kontan saja sepasang matanya terbelalak
lebar, setelah menelan air liur dan tertawa paksa, katanya:
"Baik, aku akan berbicara, tadi aku sipengemis tua sedang
merasa kelaparan karena sudah dua hari tidak bersantap.
perutku benar benar laparnya setengah mati."
"Sudah kukatakan barusan- tukas orang itu dengan cepat,
"asal kau bersedia menerangkan, uang perakku ini akan
menjadi milikmu dan cukup bagimu utnuk bersantap sampai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tujuh delapan kali, oleh sebab itu, kurangilah kata katamu


yang sama sekali tak berguna itu."
"Betul, betul, hamba memang tidak lagi berbicara yang tak
berguna." SEtelah tertawa paksa, pengemis tua itu berkata
lebih jauh:
"Kurang lebih satu jam berselang, ketika hamba sedang
berada didalam hutan sana, kusaksikan ada seekor burung
merpati yang sedang terbang merendah."
"Bagaimana dengan burung merpati tersebut?" tanya orang
itu cepat.
"Hamba sudah pandai bermain ketapil semenjak kecil."
Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah ketapil yang
terbuat dari otot kerbau dari dalam sakunya, kemudian
diacungkan didepan orang tersebut, kemudian katanya lebih
jauh:
"Ketika hamba melihat ada burung merpati sedang terbang
merendah, tentu saja hamba tak akan melepaskan
kesempatan tersebut dengan begitu saja maka dengan batu
kusambit burung itu sampai jatuh. siapa tahu burung merpati
itu adalah seekor burung merpati yang membawa sebuah
tabung surat dibawahnya,jelas merupakan seekor burung
merpati pos....."
"Apakah isi suratnya kau baca?" buru buru orang itu
bertanya.
"Kalau tidak aku baca, mana mungkin bisa kuketahui kalau
kau sedang menunggu orang disini dan bermaksud untuk
membunuh seorang lo koan keh yang bernama Huan apa......"
"Kau...." mendadak mencorong sinar buas dari balik
matanya,lalu dengan suara menggeledek dia membentak.
"Keparat"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"sreet" sebuah ayunan golok Yan leng to langsung


dibacokkan keatas bahu pengemis tersebut.
"Toaya apa yang sudah kau katakan sudah termasuk
hitungan, uang perak ini seharunsnya menjadi milikku."
sambil berkata ia lantas merampas uang perak tersebut.
Gerakan dari kedua orang itu dilakukan hampir pada saat
yang bersamaan, tahu tahu pengemis tua itu sudah merebut
uang perak itu dalam gengamannya.
Tetapi bacokan golok itupun segera menyambar pula
keatas tengkuk sipengemis tua tersebut.
orang itu hanya merasakan tangan kirinya menjadi kendor,
tahu tahu uang peraknya sudah kena dirampas, tapi
bersamaan itu juga tangan kanannya ikut menjadi kendor.
Rupanya sewaktu golok Yan leng to tersebut hampir
membacok ditubuh pengemis tua tersebut, sipengemis yang
berhasil merebut uang perak itu menjadi kegirangan setengah
mati dan mundur selangkah kebelakang, dengan begitu
bacokan goloknya yang mengancam si pengemis itupun
segera mengenai sasaran yang kosong.
sudah barang tentu orang itu tidak mau diam, mendadak
dia maju lagi ke depan sambil memutar golok Yan leng to nya,
cahaya golok berkilauan dan langsung menghujam ke ulu hati
pengemis tua tersebut.
Bacokan golok itu sangat cepat, hampir boleh dibilang tak
sempat untuk dihadapi. Tak sempat bagi pengemis tua
tersebut untuk mundur lagi, dia segera menjerit kaget.
Dalam anggapan orang itu, tusukan goloknya sudah pasti
akan berhasil menembusi ulu hati orang, siapa tahu setelah
diamati dengan lebih seksama, ternyata Yan leng to nya entah
sejak kapan sudah dijepit dibawah ketiak kanan pengemis itu.
sekarang dia baru benar-benar merasa amat terperanjat.
sambil tertawa terpaksa, pengemis tua itu segera berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Toaya, buat apa kau harus berbuat demikian? Masa gara


gara sekeping uang perak saja kau hendak membunuh orang?
Baiklah kalau toh engkau hendak membunuh, uang perakmu
lebih baik kukembalikan saja, nah toaya, ambillah"
Telapak tangan kirinya segera didorong kearah hadapan
orang tersebut....
Tatkala orang itu menyaksikan goloknya kena dijepit
dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk mencabutnya lepas,
siapa tahu tidak berhasil dilepaskan-
Maka ketika dilihatnya pengemis itu mendorong uang yang
berada diatas telapak tangan kirinya ke atas dadanya, dalam
keadaan terkejut, dia tak sempat untuk menarik kembali
goloknya, terpaksa ia mengendorkan cengkeramannya dan
melompat mundur kebelakang. Memandang orang itu,
sipengemis mengangkat bahu sambil tertawa, ejeknya:
"Toaya, bagaimana kau?Jadi uang ini sudah tidak kau maui
lagi? Masa golokpun sudah tidak maui lagi?"
Mula-mula dia masukkan dulu uangnya kedalam saku,
kemudian baru mengambil golok itu dengan tangan kirinya,
setelah memandang sekejap kearah ujung golok, katanya
sambil tertawa terkekeh kekeh:
"HeeeHh...... heeeHh...... heeeHh...... toaya, tampaknya
golokmu itu sudah pernah membunuh beberapa orang? Aku
dapat mendengus bau darah yang amat tebal dari ujung golok
ini, cuma kalau golok ini hendak dipakai untuk membunuh aku
sipengemis tua, aku pikir kurang begitu tajam. Apakah toaya
tidak percaya?" sembari berkata dia lantas maju pula
selangkah kearah depan-
Menyaksikan pengemis tua itu maju dengan golok
terhunus, pemimpin dari rombongan manusia berkerudung itu
menjadi ketakutan- Cepat-cepat dia mundur selangkah. sambil
tertawa cekikikan pengemis tua itu berkata lagi:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Berbicara sesungguhnya, golok ini kurang kuat apalagi jika


dibandingkan dengan jari tanganku ini"
Dengan tangan kirinya dia permainkan golok tersebut,
sementara kedua jari tangan kanannya mengepit ujung golok
tersebut kemudian menyentil keatas senjata tersebut.
"Traaaaangggg......" ternyata ujung golok itu patah menjadi
dua bagian, patahannya dengan merubah menjadi setitik
cahaya tajam langsung meluncur keatas dahan pohon siong
yang berada tiga kaki jauhnya itu dan menancap hingga
lenyap dibalik dahan pohon tersebut.
selesai berdemontrasi, sambil tertawa bangga pengemis tua
itu berkata lagi:
"Nah, apa aku bilang? Tidak salah bukan? Toaya adalah
seorang jagoan termashur dalam dunia persilatan, apabila
menggunakan golok besi semacam ini, apakah hal tersebut
tidak akan merusak nama baik orang tua saja?"
Kemudian setelah membuang kutungan golok tersebut
keatas tanah, sambil tersenyum kembali ujarnya:
"Namun aku sipengemis tua harus mengucapkan terima
kasih atas hadiah uang dari toaya, bila toaya tidak ada pesan
lain, aku sipengemis tua akan segera pergi kedusun depan
sana untuk minum arak." Dia membalikkan badan dan siap
berlalu dari situ.
sekarang pemimpin manusia berkerudung itu baru sadar
kalau telah berjumpa dengan jago lihay, dengan
mengandalkan kepandaian silat yang dimilikinya sudah pasti
bukan tandingan orang, maka mendengar orang itu mendadak
pergi buru-buru serunya sambil menjura.

"saudara, harap tunggu sebentar."


"Toaya, kau masih ada urusan apa lagi?" tanya sipengemis
tua itu sambil berpaling.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kepandaian silat saudara benar-benar amat lihay tapi sikap


saudara yang pandai menyembunyikan kepandaian lebih
mengagumkan diriku lagi."
"Mana, mana....."
Pemimpin manusia berkerudung itu berkata lebih jauh.
"Kalau toh saudara sudah memperlihatkan kelihayan ilmu
silatmu, tentunya tidak keberatan bukan untuk meninggalkan
nama sebelum pergi.....?"
"Nama?" pengemis tua itu menggelengkan kepalanya
berulang kali, "sayang sekali aku sipengemis tua tidak
mempunyai nama ?"
Tokkk Tongkat pendeknya ditutulkan keatas permukaan
tanah lalu melompat sejauh satu kaki lebih, mendadak dia
berhenti sambil berpaling katanya lagi,
"AaaaHh, betul toaya memimpin anak buah untuk
melakukan tugas disini sekembalinya nanti pasti akan memberi
pertanggungan jawab juga begini saja katakan kalau aku
sipengemis tua adalah Ci It koay...."
selesai berkata dia langtas meneruskan perjalanannya lagi
berlalu dari tempat tersebut....
sepeninggal pengemis itu, pemimpin manusia berkerudung
itu baru mengambil golok Yan leng to nya yang kutung dari
atas tanah dan dimasukkan kembali kedalam sarung,
kemudian gumamnya....
"Ci It koay....? Heran, mengapa belum pernah kedengaran
manusia lihay yang menggunakan nama tersebut dalam dunia
persilatan?"
Terpaksa sambil turun tangan untuk membebaskan jalan
darah dari anak buah lainnya yang tertotok. dia berusaha
untuk menghimpun ingatannya dan berpikir siapa gerangan ci
It koay tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa saat sudah lewat, akan tetapi dia belum berhasil


juga menemukan jawabannya, siapakah Ci It koay tersebut
masih tetap merupakan suatu teka teki besar baginya.
Dalam keadaan apa boleh buat akhirnya dia mengajak
beberapa orang manusia berkerudung itu untuk berlalu dari
situ.
ooo000dw000ooo
Benteng Hee keh poo terletak ditepi telaga Hong ci oh,
terletak antara kota su yang dan Hway im.
Jalan raya yang lebar beralaskan batu langsung
berhubungan dengan jelas milik pemerintah, panjangnya
belasan li dan dirindangi oleh pepohonan dikedua sisi
jalannya.
Hee keh poo baru didirikan sepuluh tahun, bangunannya
menempati daerah seluas tiga li perseft, sekeliling benteng
dilapisi dinding pekarangan yang kokoh dan megah, persis
sebuah benteng kecil.
Pemilik benteng itu, Hway lam tayhiap Hee Im hong
merupakan seorang pendekar yang terpandang dimata umat
hitam maupun putih, pergaulannya luas dan terhitung seorang
yang bijaksana dan sosial.
Tak heran kalau setahun empat musim benteng Hee keh
poo selalu dikunjungi umat persilatan, semua orang yang
kebetulan lewat atau memang sengaja mampir disitu, selalu
merasa dirinya seakan akan menjadi tamu agung dalam
benteng tersebut.
Untung saja gedung itu dilengkapi dengan banyak ruangan,
bila yang berkunjung adalah tamu dari golongan putih, maka
dia akan ditempatkan dalam gedung khusus orang-orang
golongan putih, demikian juga bila yang berkunjung kaum
hitam, mereka disambut pada ruang kaum hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak heran kalau dalam benteng keluarga Hee belum pernah


terjadi perselisihan maupun pertikaian baik orang orang dari
golongan putih maupun golongan hitam semuanya bisa hidup
secara damai.
Nama besar Hway lam tayhiap pun kian hari kian
bertambah cemerlang dan ternama, nama besar Hee keh poo
boleh dibilang diketahui oleh setiap umat persilatan baik
ditujuh propinsi selatan sungai besar maupun enam propinsi di
utara.
Hari ini diatas jalan berbatu didepan benteng kembali
diramaikan bunyi derap kaki kuda.
Menyusul kemudian muncul dua ekor kuda yang dinaiki dua
lelaki, satu tua yang satu muda.
Yang muda berusia enam tujuh belas tahun dan berwajah
tampan, ia nampak kekar dan perkasa.
sedangkan yang tua berpunggung agak bungkuk
rambutnya beruban dan berjenggot putih sebuah huncwee
terselip dipinggangnya.
Biarpun usianya telah lanjut, namun ia masih kelihatan
segar, sepasang matanya bercahaya tajam.
Kedua orang ini tak lain adalah Huan cu im dan pengurus
rumah tangganya Huan Gi yang sedang dalam perjalanan
menuju ke benteng keluarga Hee.
Tiba dipintu gerbang, Huan Gi segera melompat turun dari
kudanya dan mengetuk pintu.
Pintu disebelah kanan terbuka dan muncul seorang lelaki
berbaju hijau, setelah mengamati Huan Gi sekejap, ia menjura
dan menegur sambil tertawa: "Hei orang tua, kau mencari
siapa ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Engkoh cilik, tolong laporkan kepada pocu bahwa putra


seorang sahabatnya Huan cu im minta berjumpa" buru buru
Huan Gi menjawab sambil tertawa.
"orang tua siapa yang kau maksudkan sebagai Huan cu im
itu?"
"Majikan muda lohu."
"Kalian datang darimana?"
"Lu kang."
"Kau bilang majikan mudamu adalah putra seorang sahabat
karib pocu?"
"Benar majikan kami adalah Cing san khek (jago berbaju
hijau) Huan Tay seng, dia adalah sahabat karib pocu."
Nama besar Jago berbaju hijau Huan Tay-seng sudah
cukup termashur dalam dunia persilatan, tapi sudah sepuluh
tahun tak pernah disinggung orang lagi. Lelaki berbaju hijau
itu berseru tertahan, buru buru ia berseru:
"ooooh, harap kau orang tua dan Huan kongcu menanti
sebentar, segera ku laporkan kedatangan kalian kepada
congkoan."
Tak selang beberapa saat, lelaki berbaju hijau itu muncul
kembali mengiringi seseorang.
orang itu berusia empat puluh lima enam tahunan,
berperawakan sedang, alis mata tipis dan mata kecil, bentuk
mukanya kurus dan memelihara kumis yang tipis.
Dengan mengenakan jubah biru dia berjalan penuh gaya,
seakan akan kedudukannya amat terhormat.
setibanya didepa n pintu, tidak menunggu lelaki berbaju
hijau itu berbicara, ia sudah menjura sambil tertawa:
"siaute Cui Kay-seng, bial tidak mengetahui kehadiran Huan
kongcu, harap sudi dimaafkan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Gi tahu orang ini pastilah congkoan dari gedung


keluarga Hee, tapi kalau didengar logat suaranya seperti
pernah dikenal, hanya dia lupa dimanakah mereka pernah
bersua.
Buru buru serunya sambil membalikkan badan:
"sauya, mungkin orang ini adalah congkoan dari gedung
keluarga Hee...."
Huan cu-im segera maju kedepan dan berkata:
"cui congkoan terlalu merendah, aku khusus kemari untuk
menyambangi empek Hee."
"Huan kongcu dan lo koan keh sudah datang dari jauh,
silahkan masuk kedalam untuk minum teh."
Huan cu-im dan Huan Gi segera dipersilahkan masuk pintu
gerbang, melewati pintu lapis kedua dan menelusuri serambi
panjang sebelum sampai di suatu halaman disisi kiri ruang
tengah.
Permukaan tanah disekitar sana dilapis batu hjau, sisi
halamanpenuh dengan bambu panjang yang dihiasi aneka
bunga, betul betul indah dan mesra.
Cui Kay seng mempersilahkan tamunya duduk setelah air
teh dihidangkan diapun berkata, "Huan kongcu, silahkan
minum teh."
"cui congkoan, aku datang kemari khusus untuk
menyambangi empek Hee, harap congkoan-...."
"Baik, baik,.." tukas Ciu Kay seng sambil manggut manggut
"hanya saja......"
"Ciu congkoan, apakah ada yang kurang leluasa?" tanya
Huan Gi curiga. Yang dimaksudkan kurang leluasa, artinya
Hee pocu segan bertemu mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai seorang congkoan, tentu saja Ciu Kay seng


mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia persilatan
tentu saja diapun dapat menangkap arti lain dari ucapan Huan
Gi tersebut.
Buru-buru dia menggoyangkan tangannya berulang kali
seraya menyahut.
"Bukan, bukan begitu, harap lo koan keh jangan salah
paham, aku tidak bermaksud demikian, sesungguhnya
semenjak tiga hari berselang pocu telah pergi."
Dalam hati kecilnya Huan Gi tertawa dingin, tapi diluar
katanya cepat: "WaaaHh, kalau begitu kedatangan sauya kami
kurang beruntung.....?"
"Betul, betul" Ciu Kay seng tertawa paksa, " mungkin lusa
pocu baru kembali"
Huan cu im memandang sekejap kearah Huan Gi kemudian
katanya: "Kalau begitu lusa kita balik kemari lagi"
"Ooooh, tidak usah. Tidak usah" seru Ciu Kay seng lagi
sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, "dari jauh
Huan kongcu datang kemari, masa kau akan pergi dengan
begitu saja? Apalagi pocu dengan Huan Toaya juga terhitung
bersahabat karib dimasa lalu, uan Kongcu, lo koan keh, kita
sama sama bukan orang luar, setibanya dibenteng keluarga
Hee anggap saja seperti dalam rumah sendiri, biarpun pocu
tidak ada juga sama saja. Harap kalian berdua berdiam disini
saja toh satu dua hari lagi pocu akan kembali."
Tidak menunggu kedua orang itu bersuara, dia
menyambung lagi sambil tertawa:
"Pocu banyak urusan, dalam satu bulan pasti ada delapan
sampai sepuluh hari tidak berada dirumah, dulu Huan toaya
juga sering berkunjung kemari, bila pocu tak ada dia lantas
tinggal disini...."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ucapan Huan toaya memang betul, sebagai saudara


sendiri kenapa mesti dibedakan antara kau dan aku?
sesampainya di benteng keluarga Hee, sama juga seperti
kembali kedusun Kim gou cun....."
"Ayah sering berkunjung kemari?" menyinggung soal
ayahnya, tanpa terasa Huan cu im bertanya.
"Yaaa, sepuluh tahun berselang dia sering kemari tapi
sepuluh tahun belakangan ini Huan toaya tak pernah kembali
lagi, tahun pertama sejak tidak berkunjung kemari Pocu
merasa keheranan dan pernah mengirim seorang centeng
kedusun Kim gou cun-"
" Kemudian diperoleh kabar Huan toaya tak pernah pulang
kerumah, berita ini membuatnya sangat gelisah dan berusaha
mencari kabar Huan toaya dimana mana, namun tak seorang
umat persilatanpun yang pernah bersua dengan Huan
toaya...."
Huan cu im segera merasakan hatinya menjadi berat,
semula dia berniat minta bantuan empek Hee-nya untuk
menemukan ayahnya, tapi kalau didengar ucapan tersebut
agaknya empek Hee-nya pun tidak mengetahui kabar berita
ayahnya. Berpikir demikian, cepat dia menyela: "Apakah
sampai kini belum juga diperoleh kabar?" Ciu Kay seng
menggelengkan kepalanya berulang kali:
"Selama sepuluh tahun terakhir ini, tak seharipun pocu lupa
dengan nasib Huan toaya, asal ada orang pulang dari Leng
lam ataupun gurun pasir, dia pasti bertanya kepada mereka
adakah menerima berita tentang Huan toaya tapi selama ini
tiada kabar yang diperoleh...."
Huan cu im sangat terharu oleh perkataan itu, katanya
cepat:
"Sebenarnya kedatanganku kali ini tak lain adalah untuk
mencari kabar tentang ayahku"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Huan kongcu tak usah kuatir, aku pernah mendengar


cerita daripocu, konon Huan toaya memiliki ilmu silat yang
hebat, sepuluh tahun tidak melihat wujudnya, bagi orang
biasa mungkin dianggap lenyap. tapi bagi seseorang yang
berlatih ilmu, hal semacam ini bukan suatu kejadian yang
aneh."
"Ooooh....." mencorong sinar tajam dari balik mata Huan cu
im, "apakah maksud empek Hee berkata demikian?"
"Waktu itu aku sendiripun merasa keheranan setelah
mendengar perkataan dari pocu" ucap Ciu Kay seng sambil
tertawa, "kemudia pocu berkata bahwa Huan toaya adalah
seorang manusia yang gila ilmu silat, siapa tahu disuatu
tempat terpencil ia bertemu jago lihay dan disitu dia perdalam
ilmunya?"
"Bagi seorang yang sudah gila ilmu silat, untuk peroleh
kemajuan, meninggalkan anak istri selama puluhan tahun
bukanlah sesuatu yang aneh, kalau tidak. dengan nama besar
Huan toaya yang dikenal setiap orang, mengapa tak nampak
batang lehernya, bahkan pulang kerumahpun tak pernah?"
Timbul kembali harapan di hati Huan cu im setelah
mendengar perkataan itu, katanya kemudian:
"Yaaam betul juga perkataan ciu congkoan, mungkin saja
ayah sedang berlatih diri disuatu tempat"
"Pocu yang mengatakan kesemuanya itu kepadaku"
kembali Ciu Kay seng tertawa, "Pocu sangat erat
hubungannnya dtngan Huan toaya, tidak heran kalau tabiat
Huan toaya sangat dikenal oleh pocu kami."
Huan Gi yang berada disampingnya segera manggut
manggut tanda setuju, katanya pula sambil tersenyum:
"Perkara ini memang boleh dipercaya, sejak kecil toaya
kami ini memang sudah gila silat, lohu masih ingat ketika dia
berusia tiga belas tahun, waktu itu dia sedang berada dikota
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kim leng, entah mendengar dari siapa, dia mendapat tahu


kalau hong tiang dari kuil su soat si adalah seorang padri
lihay...."
"Dia lantas menganggap padri tersebut seorang jago
persilatan yang berilmu tinggi, suatu hari diam diam dia pergi
kekuil su soat ni seorang diri untuk mencari hwesio tersebut
dan ingin mengangkatnya sebagai guru, gara gara ulahnya
semua anggot biro ekspedisi jadi gempar, kami harus
mencarinya setengah harian sebelum berhasil di temukan
kembali."
Setelah mendengar ucapan dari pengurus rumah
tangganya ini, Huan cu-im makin percaya lagi. ujarnya
kemudian-
"Kalau begitu tak salah lagi, perkataan dari empek Hee
pasti benar." Memanfaatkan kesempatan itu ciu Kay seng
cepat berkata lagi
"Inilah sebabnya Huan kongcu tak usah cemas, biarpun tak
usah dicari suatu ketika Huan toaya pasti akan muncul sendiri
secara tiba-tiba, untuk sementara waktu lebih baik Huan
kongcu berdia disini saja, toh lusa pocu sudah kembali."
Kemudian setelah tertawa paksa, dia menambahkan-
"Didalam benteng kami masih tersedia sebuah ruangan
khusus untuk Huan toaya menginap. asal Huan toaya kemari,
tak usah dihantarpun dia akan langsung kesitu."
"Sekarang Huan kongcu datang berkunjung lebih baik
berdiamlah diruangan khusus itu, sudah sepuluh tahun kami
tetap mempertahankan wujudnya seperti semula, tiap hari
pasti ada orang yang membersihkan ruangan itu, maksudnya
agar setiap saat bisa dipakai jika Huan toaya telah kembali."
Huan Gi amat terharu oleh perkataan itu.
"Aaah pocu betul betul terlalu sayang dengan sahabat
karibnya....." Ciu Kay seng segera tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Pocu dan Huan toaya bukan cuma sahabat saja, mereka


adalah saudara angkat" Tidak menanti kedua orang itu buka
suara, dia menyambung lebih jauh sambil tertawa:
"Ketika ku dengar kedatangan Huan kongcu tadi, segera ku
ingat kalau tempat asal kongcu tak lain adalah tempat asal
Huan toaya, apalagi jika Huan kongcu masuk dan menginap
disini nanti pasti akan semakin akrab hubungan kami, mari
kuhantar kalian berdua untuk melihat lihat." Seraya berkata
dia lantas bangkit berdiri.
Huan Cu im turut bangkit berdiri: "Terima kasih banyak Ciu
congkoan-"
"Huan kongcu tak usah merendah, ayo ikuti aku."
Mendadak Huan Gi seperti teringat akan sesuatu, dia
segera berseru: "Ciu congkoan, tiba tiba saja aku teringat
akan suatu persoalan-"
"Oooh, kau teringat apa?"
"Toaya kami adalah saudara angkat pocu kalian, biarpun
pocu sedang keluar rumah tapi sauya kami baru pertama kali
ini berkunjung kemari, semestinya kalau ia menyambangi pocu
hujin lebih dulu."
"Perkataanmu memang betul, cuma...."
"Apa pendapat Ciu congkoan? Harap diutarakan secara
langsung" Huan Gi memandang sekejap kearahnya.
"Yang kau maksudkan tentunya cu hujin bukan?" ciu Kay
seng tertawa paksa.
"Benar, kalau dihitung hitung belasan tahun berselang aku
pernah berkunjung ke bukit sik bun san dan berjumpa sekali
dengan cu hujin."
"sayang Cu hujin sudah meninggal sembilan tahun
lamanya..."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"ooooh, rupanya Cu hujin sudah meninggal dunia, apakah


pocu kawin lagi?" Huan Gi terkejut.
"Pocu mempunyai gedung yang besar dan pekerjaan yang
bertumpuk, tentu saja dia harus mempunyai seorang
pembantu untuk mengurusi kesemuanya itu, nyonya sin kami
telah dinikahi delapan tahun berselang....."
"Kalau toh pocu sudah mengawini sin hujin berarti sin hujin
adalah bibi sauya kami, semestinya dia pergi
menyambanginya."
"Sin hujin orangnya suka akan ketenangan, dia paling benci
berdiam ditempat keramaian... biasanya dia hidup di bukit Lou
Cu san......"
"Lohupun masih ingat agaknya Cu hujin mempunyai
seorang putri yang berusia tiga tahun lebih tua daripada sauya
kami, tahun ini semestinya dia sudah berusia sembilan belas."
"Waaah, hebat amat daya ingatanmu"
suara tertawa ciu Kay seng kelihatan seperti agak
dipaksakan, kemudian buru-buru dia mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lain, katanya,
"Mari ku bawa jalan buat kongcu. Yang penting kita menuju
keruangan untuk beristirahat lebih dulu."
Cara ini memang merupakan suatu cara yang terbaik untuk
menghindarkan diri dari suatu kesulitan-
"Silahkan ciu congkian"
Maka dengan dipimpin oleh ciu Kay seng, berangkatlah
mereka menuju kepintu sudut timur, memasuki sebuah kebun
bunga yang sangat indah.
Dengan menelusuri aneka bunga yang berwarna warni,
mereka memasuki sebuah pintu pekarangan yang berbentuk
bulat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan akhirnya sampailah mereka didepan sebuah ruangan


yang indah dan menawan hati.
Baru mereka sampai didepan ruangan, seorang gadis
berbaju hijau yang berusia tujuh delapan belas tahunan telah
muncul menyambut kedatangan mereka lalu sambil
membungkukkan badannya memberi hormat katanya: "Budak
Ji giok menhunjuk hormat buat congkoan."
"Ji giok. cepat jumpai Huan kongcu dan Lo koan keh."
ji giok mengiakan dan buru buru memberi hormat kepada
Huan cu im berdua dengan kepala tertunduk.
"Budak Ji giok menjumpai Huan kongcu dan Lo koan keh."
Huan cu im belum pernah berbincang dengan kaum wanita,
merah padam selembar wajahnya mendengar ucapan itu.
"silahkan nona segera bangkit."
Ji giok bangkit berdiri dan berdiri disamping dengan kepala
semakin ditundukkan, katanya kemudian dengan manja.....
"Huan kongcu, sebutan nona tak berani budak terima, lain
kali harap kongcu menyebutkan nama budak saja...." Lalu
kepada Huan Gi katanya pula,
"Lo koan keh, serahkan saja barang perbekalan Huan
kongcu kepada budak "
sambil berkata dia menerima buntalan dari tangan Huan Gi.
Terpaksa Huan Gi menyerahkan buntalan tersebut
"Terima kasih nona."
"Tak perlu sungkan sungkan."
Maka Ciu Kay sengpun berkata pula
"silahkan masuk Huan kongcu"
Ketika Huan cu im melangkah masuk kedalam ruangan,
tampak dibagian tengah dari ruangan tersebut adalah sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ruangan tamu kecil, dibagian tengah dinding tergantung


sebuah lukisan yang sangat indah.
sedangkan dikedua belah sisinya tergantung pula lukisan
lukisan indah lainnya.
Pada bagian tengah merupakan sebuah meja dengan enam
buah kursi antik, semuanyan diatur dengan indah dan rapi.
sambil membuka pintu kamar sebelah kiri, Ciu Kay seng
berkata:
"Tempat ini adalah kamar baca Huan toaya sering
membaca buku dalam ruangan ini, kadang kala diapun
bermain catur bersama pocu disana."
Huan cu im melangkah masuk. kamar baca itu memang
indah selain pintu masuk pada dinding sebelah kiri dan kanan
merupakan dua deret almari buku, banyak kitab bacaan yang
disimpan rapi disana, sedangkan pada bagian yang lain
merupakan sebuah jendela yang besar, dari situ orang dapat
menikmati aneka bunga dikebun-
Dibawah jendela adalah sebuah meja baca, diatas meja
terdapat alat alat tulis, sebuah cawan antik serta sejilid kitab
syair ciptaan Li Tay pak. Ujar Ciu Kay-seng kemudian sambil
tersenyum:
"sudah sepuluh tahun keadaan kamar baca ini tidak
berubah, cawan antik ini merupakan cawan teh yang sering
digunakan Huan toaya. Kita syair Li tay adalah kitab yang
paling digemari Huan toaya dihari hari biasa...."
selama dirumah, Huan cu im jarang sekali mendengar
ibunya membicarakan tentang ayahnya, tapi kini baru tiba di
benteng keluarga Hee, ia sudah banyak mendengar tentang
ayahnya dimasa yang lalu, bisa dibayangkan betapa
gembiranya dia.
"Perkataan ciu congkoan memang benar" kata Huan Gi
sambil tersenyum, "lohu memang sering kali mendengar toaya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membawakan senandung lagi, rupanya syair ciptaan Li Tay


pak."
Ciu Kay seng tertawa, dia lantas mengajak kadua orang itu
keluar dari kamar baca dan menuju keruang sebelah barat.
Tempat itu adalah kamar tidur, katanya kemudian, "seprai dan
selimut selalu tersedia, bila Huan kongcu berdiam disini, pasti
akan mendatangkan kesan lebih akrab."
"Disini hanya tersedia sebuah pembaringan, lo koan keh
harus tidur dimana?" tanya Huan cu im kemudian.
"sesungguhnya kamar ini merupakan kamar dari Huan
toaya, oleh sebab Huan kongcu berkunjung kemari, sudah
sepantasnya kalau kau tinggal disini, sedangkan tempat tidur
lo koan keh tak perlu dikuatirkan, aku pasti akan mengaturkan
baginya."
"ciu congkoan tak usah repot repot" kata Huan Gi cepat,
"biar aku tidur dibawah lantai saja, sauya kami baru pertama
kali ini keluar rumah, lohan perlu menemaninya selalu."
"soal ini....." ciu Kay seng termenung sebentar kemudian
manggut manggut, "begini pun ada baiknya juga, tidur dilantai
sih tidak usah dibelakang mana masih terdapat tiga buah
ruang kecil, sebuah untuk tempat tidur Ji giok sedangkan yang
lain kosong, terpaksa kami harus menyiksa lo koan keh...."
"Kita toh orang sendiri, mengapa mesti memakai istilah
demikian? Bagi lohan tidur dilantaipun sudah lebih dari
cukup,"
"Lo koan keh, mari kita pergi melihat lihat" seru Huan cu im
tiba-tiba.
"Biar budak yang membawa jalan" ji giok segera
menyambung. selesai berkata dia lantas berjalan lebih dulu
didepan-
Ciu Kay seng mengikuti kedua orang tamunya dari
belakang, mereka keluar dari ruang tidur menuju ke pintu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

samping, diluarnya berupa beranda yang luas, kemudian


terdapat tiga bilik kecil.
sambil menunjuk kearah bilik bilik kecil itu ciu Kay seng
kembali berkata:
"Kamar disebelah kiri adalah kamar tidurJi giok. bagian
tengah untuk menyimpan barang sedang disebelah kanan
tetap kosong, lo koan keh silahkan melihat sendiri, kalau
cocok biar Ji giok suruh orang membereskan."
sementara dia masih berbicara Ji giok sudah membuka
pintu bilik tersebut.
Bilik itu kosong, kecuali selembar pembaringan, dua buah
kursi dan sebuah rak untuk cuci muka, tidak nampak benda
yang lain, debu tebal melekat dimana mana tapi asal
dibersihkan, ruangan tersebut tampaknya cukup nyaman-
Huan Gi segera tertawa terbahak bahak:
"Haaaa..... haaa..... haaaa...... Ciu congkoan, tempat ini
sangat bagus, sebentar biar lohan sendiri yang
membereskannya......"
"Asal lo koan keh tidak menampik, segalanya dapat diatur"
ciu Kay seng tertawa, "apalagi jauh jauh kemari kau adalah
tamu kami, masa mesti turun tangan sendiri?" Kemudian
sambil berpaling, pesannya:
"Ji Giok, coba kau suruh seorang centeng untuk
membersihkan bilik ini lalu pasang seprei dan selimut, bila ada
yang kurang minta saja keruang depan-"
"Budak terima perintah."
"Nah Huan kongcu, silahkan duduk didepan" kata Ciu Kay
seng kemudian-...
Mereka bertiga kembali keruang tamu didepan sana dan
duduk. Ji giok segera datang menghidangkan air teh dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mundur kembali. sambil tersenyum Ciu Kay seng kembali


berkata:
"Kalian berdua baru datang dan sekarang sudah
memperoleh tempat untuk beristirahat, bila membutuhkan
sesuatu, kalian tak usah sungkan sungkan, minta saja
langsung kepada Ji giok. sepanjang jalan menempuh
perjalanan cepat kalian pasti lelah, silahkan beristirahat. Kita
berjumpa lagi nanti."
"silahkan ciu congkoan mengundurkan diri, kami tidak perlu
pelayanan lagi."
"Kalau begitu aku mohon diri dulu"
Dia membalikkan badan dan segera mengundurkan diri.
sepeninggal congkoan tersebut, Huan cu im mengambil
cawan air teh dan meneguk setengah. Kemudian sambil
berjalan kedepan pintu katanya: "Hmmmmm..... tempat ini
bagus sekali."
"Yaaa, Hee toaya memang selalu teringat dengan
sahabatnya, ruangan sebesar ini ternyata dibiarkan tetap
kosong hanya untuk memperingati Huan toaya....."
Huan cu im tidak mengetahui bagaimanakah perasaan
pengurus rumah tangganya ini, dengan gembira dia berkata
pula:
"Lo koan keh, sejak kecil sampai dewasa, jarang sekali
kudengar tentang segala perbuatan ayahku, hari ini kita baru
sampai dirumah empek Hee, banyak sudah kejadian yang
kudengar, seperti misalnya ayah menyukai syair Li Tay pek.
akupun dapat merasakan ayah pasti menyukai aneka bunga,
kalau tidak mengapa disekitar ruangan ini dikelilingi oleh
bunga yang begitu indah?"
sementara pembicaraan masih berlangsung Ji giok telah
muncul sambil membawa poci berisi air, katanya kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sambil tersenyum: "Huan kongcu, budak membawakan air


untukmu."
"Terima kasih nona"
"Tak perlu berterima kasih" ji giok memenuhi poci air teh
mereka dengan air mendidih, kemudian terusnya, "bila kongcu
atau lo koan keh membutuhkan sesuatu, setiap saat katakan
saja kepada budak...."
"Apakah nona selalu tinggal disini?" tanya Huan cu-im
mendadak.
Menurut pemikirannya, seandainya budak ini sudah lama
berdiam disini, sudah barang tentu dia mengetahui tentang
masa silam ayahnya, tapi ingatan lain kembali melintas, usia
budak ini paling banter sebaya dengan usianya itu berarti
sepuluh tahun berselang dia masih seorang bocah perempuan
yang berusia lima enam tahunan-
-oo0dw0oo-

JILID : 4

Sambil tersenyum Ji Giok menyahut:


"Baru kemaren budak dipindahkan kemari."
"Nona Ji Giok dipindahkan dari mana?" tanya Huan Gi.
"Budak semua betul digedung bagian belakang, tapi
lantaran usia budak paling kecil maka ciucongkoan hilang. Usia
Huan kongcu tidak besar, maka untuk melayani Huan kongcu
mesti seseorang yang berusia lebih muda darinya itulah
sebabnya ciu congkoan memindahkan aku kemari."
Tertegun Huan Gi setelah mendengar ucapan tersebut,
pikirnya dengan cepat:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Heran, padahal kami berdua baru hari ini sampai disini,


rupanya sejak kemarin ciu congkoan sudah mengetahui atas
maksud kunjungan kami" Sementara itu Ji Giok sudah
melanjutkan sambil tertawa:
"Untuk dipindahkan kemari, budak secara langsung
dinaikkan dua tingkatan, kesemuanya ini tak lain adalah
berkat rejeki dari Huan kongcu."
"Ooooh, jadi kalianpun dibagi bagi dalam tingkatan yang
berbeda?"
"Tentu saja, semula budak tak lebih cuma seorang budak
kecil yang ditugaskan membersihkan gedung belakang, budak
hanya berasal dari tingkat ketiga, tapi untuk dipindahkan
kemari dan bertugas khusus melayani jago jago persilatan
yang berkedudukan dalam dunia persilatan, atau tamu tamu
golongan putih yang terhormat, orang itu harus berasal dari
tingkat pertama."
sekali lagi Huan Gi merasa tertegun terutama setelah
mendengar ucapan yang terakhir itu, segera pikirnya:
"Bukankah Ciu Kay seng menerangkan kalau tempat ini
adalah kamar bekas dipakai Huan toaya dimasa lalu? Mengapa
budak ini justru menerangkan kalau tempat ini khusus untuk
melayani para jago persilatan atau tamu tamu golongan putih?
Mengapa dia mesti membohongi kami berdua dengan cerita
cerita semacam itu?" Tampaknya Huan Cu im merasakan juga
hal itu, dengan cepat dia bertanya:
"Nona Ji Giok. jadi maksudmu tempat ini hanya khusus
dipakai untuk melayani para jago persilatan atau tamu tamu
dari golongan putih?"
Mendadak paras muka Ji Giok berubah sangat hebat, dia
seperti menyadari kalau telah salah berbicara, dengan
perasaan ketakutan buru buru dia membantah:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"oooh.... budak kurang jelas maaf bu.... budak belum lama


dioper kemari, jadi budak kurang jelas."
"Nona Ji Giok tak usah takut kami tak bakal
memberitahukan kesemuanya ini kepada Ciu Congkoan" hibur
Huan Gi tersenyum.
Lambat laun paras muka Ji Giok pulih kembali seperti
sediakala, ia berkata "Budak juga tahu, lo koan keh adalah
orang baik,"
"Apakah Ciu congkoan sangat galak terhadap anak
buahnya?" Huan Gi sengaja bertanya.
Ji giok tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia
celingukan sebentar ketempat luaran sana, beberapa saat
kemudian baru sahutnya
"Bila budak sampai salah berbicara maka sebagai akibatnya
akan peroleh hukuman yang amat keras, sedemikian hebatnya
sampai budak sendiripun tak dapat melukiskannya dengan
kata kata."
"Bagaimana sih kerasnya?"
"Budak sendiripun kurang tahu, pokoknya amat
mengerikan."
Ketika mengutarakan perkataan tersebut, tampak paras
mukanya diliputi oleh rasa takut dan ngeri yang sangat tebal.
Ji Giok berpikir sebentar, kemudian ujarnya lagi dengan
suara yang lirih.
"Tahun berselang, kemudian ada seorang tamu lewat disini
dan mampir dibenteng kami, waktu itu enci Giok hoa yang
ditugaskan melayaninya, enci Giok hoa paling baik orangnya
diantara rekan rekan budak lainnya. Entah apa yang telah ia
bicarakan dengan tamu tersebut, sepeninggal tamu tersebut,
Ciu congkoan menuduhnya telah membocorkan rahasia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benteng, kemudian tahu tahu enci Giok hoa hilang lenyap


dengan begitu saja......"
Mendadak selapis perasaan seram dan ngeri menghiasi
wajahnya, agak lama kemudian ia baru melanjutkan agak
tergugup.
"Akhirnya budak dapat tahu, rupanya Giok hoa cici telah
dibunuh secara keji."
"Aaaah masa begitu?" Huan cu im berseru. Paras muka Ji
Giok semakin berubah.....
"Huan kongcu harap kau jangan menanyakan soal ini
kepada siapa saja."
oooooo0dw0oooooo
Huan Gi segera menggoyangkan tangannya berulang kali
sambil menghibur.
"sauya tak akan menanyakan persoalan ini kepada siapa
saja, kau tak usah kuatir." Ji giok menarik napas panjang
panjang.
"Yaaa, budak sendiripun hanya mendengar dari cerita
orang. oya, kongcu dan lo koan keh adalah orang baik baik,
selama berdiam dibenteng ini alangkah baiknya kalau tidak
banyak menanyakan soal soal yang menyangkut rahasia
benteng ini." Huan Gi manggut manggut....
"Ehmmm, aku tahu. sudah berapa tahun nona berada
didalam benteng ini....?"
"sudah setahun lebih."
"Dirumahmu masih ada siapa saja?"
"Masih ada seorang ibu dan seorang kakak, kakakku juga
bertugas dalam benteng ini."
"Nona pernah pulang kerumah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Belum, menurut peraturan dari benteng ini barang siapa


sudah masuk dan bertugas dalam benteng maka ia tidak
diperkenankan pulang lagi. sementara kehidupan ibuku
dijamin sepenuhnya oleh pihak benteng...."
Ketika berbicara sampai disini, dia berseru lalu katanya lagi.
"Budak segera pergi, aku mesti memberi tahukan kepada
pelayan lain untuk membereskan balik buat lo koan keh."
Dengan cepat dia mengundurkan diri dari ruangan
tersebut. sepeninggal budak itu, Huan cu im segera berseru:
"Lo koan keh, tempat ini....."
Tidak sampai ucapan tersebut dilanjutkan Huan Gi sudah
menggoyangkan tangannya sambil menukas:
"sauya mesti ingat, paling baik kalau kau menganggap apa
yang telah didengar apalagi sampai ditanyakan kepada Ciu
congkoan nanti."
"Maksud mu perkataannya tadi bukan sungguhan?"
"Tidak" paras muka Huan Gi berubah sangat serius, "ia
berbicara sejujurnya, tapi semua masalah tersebut tak ada
hubungannya dengan kita, jadi paling baik kalau kita berlagak
seolah olah tidak tahu."
"Aku lihat dibalik kesemuanya ini pasti terdapat sesuatu
rahasia besar"
Paras muka Huan Gi berubah hebat, cepat cepat dia
menukas:
"sauya, selama melakukan perjalanan di tempat luaran,
yang paling penting adalah kurangi berbicara yang tak
berguna, lebih lebih lagi jangan berlagak sok pintar, yang
merupakan pantangan terbesar bagi umat persilatan pada
umumnya adalah menyelidiki rahasia pribadi orang lain, akibat
yang kecil paling banter terjadi permusuhan. Tapi kalau besar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akibatnya bisa kehilangan nyawa, dalam hal ini kau mesti


mengingatnya baik baik."
Kemudian setelah termenung sebentar, dia melanjutkan
lagi dengan suara rendah. "Menurut pendapat lohan, kita tak
boleh berdiam kelewat lama disini."
"Tapi empek Hee baru kembali lusa."
"SEtelah sampai disini, tentu saja kita harus menunggu
sekembalinya Hee pocu, bila kau bertemu dengan empek Hee
nanti, cukup kau tanyakan soal berita toaya saja dengan
harapan ia dapat membantumu untuk menemukan jejak toaya
kemudian kita segera berangkat kekota kim leng."
"Lo koan keh, mau apa kita ke Kim leng?"
"Dulu, ayahmu pernah membuka biro ekspedisi di kota Kim
leng, puluhan tahun lamanya dia bekerja disitu, jadi banyak
sahabat karibnya yang tinggal dikota tersebut. Lohan
sendiripun mempunyai banyak kenalan disana, setibanya
disitu, bisa jadi kita akan peroleh kabar berita tentang toaya."
"Lo koan keh, mengapa tak kau katakan semenjak dulu?"
seru Huan CU im girang. Huan Gi segera tertawa,
"sebab Hee pocu adalah saudara angkat toaya, maka
langkah pertama bagi kita sudah semestinya berkunjung dulu
kemari......., tapi kalau dibicarakan kembali, perkenalan toaya
dengan Hee pocu waktu itupun berlangsung dikota Kim leng"
Mereka berdua berbincang bincang didepan ruang tamu,
sementara masih asyik berbicara tampak dua orang lelaki
berbaju hijau muncul dengan membawa nampan berisi
hidangan. setelah mengatur hidangan tersebut dimeja,
mereka segera mengundurkan diri
Mereka tak berbicara, juga tak memperhatikan Huan cu im
berdua, seakan akan tugas mereka hanya menghantar
hidangan dan kemudian mengundurkan diri secepatnya. Diam
diam Huan Gi memperhatikan gerak gerik keempat lelaki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersebut, ternyata gerak gerik mereka sangat enteng dan


gesit, sudah jelas merupakan jago jago persilatan yang
berilmu tinggi. Kenyataan tersebut serta merta meningkatkan
kewaspadaan didalam hatinya.
setelah keempat orang lelaki berbaju hijau itu
mengundurkan diri, menyusul kemudian Ciu Kay seng muncul
kembali dan berkata sambil tersenyum:
"Berhubung pocu tidak ada, aku sengaja menyuruh koki
untuk menyiapkan beberapa macam hidangan sebagai
perjamuan untuk menyambut kedatangan Huan kongcu serta
lo koan keh........"
"Aaaah, Ciu congkoan tak usah repot repot."
"Biar Huan kongcu baru pertama kali ini datang berkunjung
namun hubungan Huan kongcu dengan benteng keluarga Hee
berbeda, bila aku tidak menjadi seorang tuan rumah yang
baik. pocu pasti akan mengumpat diriku habis habisan bila
tahu hal itu."
Kemudian tidak menunggu sampai kedua orang itu
menjawab, dia sudah mempersilahkan sambil serunya
berulang kali:
"silahkan, silahkan, silahkan Huan kongcu mengambil
tempat duduk."
SEtelah saling mengalah, akhirnya Huan cu im menempati
kursi utama sedangkan Huan Gi dan ciu Kay seng masing
masin menempati disisi kiri dan kanannya. Ji giok dengan
cekatan memenuhi cawan semua orang dengan arak wangi.
"Huan kongcu, kuhormati secawan arak untukmu" kata Ciu
Kay seng kemudian sambil bangkit berdiri ia mengangkat
cawannya. SElesai berkata, dia meneguk habis isinya dalam
satu tegukan.
"Aku tidak dapat minum arak" tampik Huan cu im.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi setelah dilihatnya Ciu Kay seng mengeringkan isi


cawannya, terpaksa diapun mengeringkan juga isi cawannya.
Buru buru Ji Giok menuangkan arak untuk mereka berdua.
sekali lagi Ciu Kay seng bangkit berdiri kali ini dia berkata
kepada Huan Gi sambil tersenyum:
"Lo koan keh, kau adalah pembantu tiga generasi dari
gedung keluarga Huan jadi kalau dihitung hitung kau masih
terhitung cianpwee ku, cawan arak ini sengaja
kupersembahkan sebagai rasa hormatku untukmu."
sekali teguk ia habiskan pula isi cawannya. orang yang
sudah berusia lanjut biasanya paling senang disanjung orang,
apalagi sanjungan dari Ciu Kay seng kedengaran begitu halus
dan sangat bersahaja. Huan Gi segera tertawa terbahak
bahak.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh..... ucapan ciu Congkoan
terlalu sungkan, mari lohanpun menghormati Ciu congkoan
dengan secawan arak pula." Ia pun meneguk habis isi
cawannya.
Huan cu im tidak terbiasa minum arak. maka dia hanya
bersantap belaka.
Ciu Kay seng maupun Huan Gi seolah olah amat cocok satu
sama lainnya, makin berbincang semakin cocok maka cawan
demi cawan arakpun mengalir terus kedalam perut. Tak lama
kemudian, kedua orang itu sudah dipengaruhi oleh air kata
kata (arak).
Mendadak Huan Gi seperti teringat sesuatu dia merasa baik
perawakan tubuh Ciu Kay seng maupun nada suara
pembicaraannya persis seperti lelaki berkerudung yang
memimpin penyerbuan kerumah majikannya sepuluh tahun
berselang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan diperolehnya penemuan tersebut hatinya semakin


tenggelam, pengaruh alkoholnya hilang separuh sementara
kewaspadaannya ditingkatkan.
Namun diluaran dia masih bersikap seperti mabuk. sambil
mengangkat cawannya ia menegur sambil tertawa:
"ciu congkoan, pernahkan kau berkunjung ke dusun Kim
gou cun?"
Ciu Kay seng seperti merasa terkejut dengan pertanyaan
itu, namun dengan cepat wajahnya telah pulih kembali seperti
sediakala, sahutnya sambil tertawa
"Aaaah, belum pernah. Pocu sering keluar benteng,
padahal urusan disini amat banyak bagaimana mungkin aku
punya waktu untuk berjalan jalan."
"Betul juga perkataanmu itu, lohan lupa kalau Ciu congkoan
adalah seorang yang sibuk" Kemudian sambil meneguk arak.
dia melanjutkan kembali sambil tertawa:
"Bila Ciu congkoan punya waktu senggang, berkunjunglah
kedusun Kim gou cun, biar lohan bisa menjadi tuan rumah
yang baik untuk menemani kau minum arak sampai puas."
"Bila ada kesempatan, aku memang kepingin berkunjung
kesana."
"Tahun ini ciu congkoan baru berusia empat puluh
tahunan?"
"Tidak, sudah hampir lima puluh."
"Eehmmm, masa pertengahan, memang masa ini
merupakan masa keemasan bagi seseorang. oyaa..... Ciu
congkoan berasal dari perguruan mana."
Pertanyaan inilah baru merupakan pertanyaan yang utama,
namun bila tanpa diembel embeli basa basi tak mungkin
pertanyaan semacam itu bisa dilontarkan dengan begitu saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai orang yang berpengalaman luas dalam dunia


persilatan, ia tahu bagaimana teknik untuk bertanya sehingga
tujuan sebenarnya sama sekali terselubung.
"Aaaah, perguruan kecil saja, aku berasal dari Thong long
bun...."
Coba kalau bukan lagi terpengaruh arak. tidak nanti dia
akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi sekarang apa saja
diutarakkan dengan begitu saja. Berkilat sepasang mata Huan
Gi, segera pikirnya dihati:
"Ternyata dugaanku tidak salah, biarpun pemimpin
manusia berkerudung yang melancarkan penyerbuan malam
itu berusaha untuk merahasiakan identitasnya sendiri, tapi
permainan cakarnya jauh lebih banyak daripada permainan
pukulannya, siapapUn dapat mengetahui kalau gerak jurus
serangannya berasal dari perguruan Thong long bun." Berpikir
demikian, tanpa sadar dia berseru "itulah dia........"
"Lo koan keh, apa kau bilang?" paras muka Ciu Kay seng
berubah hebat.
Huan Gi sangat terkejut tapi cepat cepat dia berkata sambil
tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... ooh, lohan maksudkan
itulah dia. Aku jadi teringat belasan tahun berselang, ketika
toaya baru pulang dari benteng kalian, dia sangat memuji
kelihayan ilmu cakar maut Ciu congkoan."
"Ketika itu lohan baru berusia enam puluh tahun biar
usianya sudah tua, hatiku tidak tua aku berhasrat bila ada
kesempatan pasti akan mencoba beberapa jurus serangan dari
Ciu congkoan. siapa tahu dalam waktu singkat empat lima
belas tahunan sudah lebat, kini aku sudah tua dan tidak
memiliki ambisi seperti dahulu lagi."
"Lo koan keh merendah saja" ciu Kay seng tertawa,
"akupun pernah mendengar orang berkata, konon lo koan keh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berasal dari Eng jiau bun, dan selama hidup belum pernah
lupa untuk melatih diri, bisa dibayangkan tenaga dalammu
tentu amat sempurna, bila ada kesempatan akupun ingin
sekali menyaksikan kehebatanmu." Dalam hati kecilnya Huan
Gi tertawa dingin pikirnya:
"darimana kau bisa tahu kalau aku berasal dari perguruan
Eng jiau bun? darimana pula kau tahu jika latihan tak bisa
mendengar......?"
Tapi diluarnya segera tertawa terbahak bahak, ujarnya:
"ciu congkoan terlalu gemar bergurau, sudah belasan tahun
lohan tak pernah melatih diri, orangnya sudah tua dan
tulangnya sudah pada mengeropos. Mana mungkin aku
mempunyai kepandaian yang bisa diandalkan?"
Ciu Kau seng segera mengalihkan pokok pembicaraan
kesoal lain kembali dia berkata: "Kita hanya tahu minum arak
melulu sampai Huan kongcu terlupakan..."
"Aaah, tidak apa apa, aku toh tak pandai minum arak. tak
nyana kalau takaran minum lo koan keh sangat hebat." Huan
Gi tertawa terbahak bahak.
^Haaahhhh.... haaaahhhh..... haaahhh.... masa sauya
belum pernah melihat lohan minum arak? Dulu sewaktu lohan
masih muda, aku tidak pernah mengenal kata " mabuk",
sekarang sudah tak berguna lagi, baru minum beberapa
cawan, jantungku sudah mulai berdebar amat keras."
"Di waktu waktu biasa akupun jarang minum arak" buru
buru ciu Kay seng berkata pula, "hari in aku merasa cocok
sekali dengan lo koan keh sehingga tanpa terasa banyak
minum arak. padahal aku sudah tidak tahan semenjak tadi."
Ketiga orang itu segera bangkit bersama sama, Ji Giok
datang memberi tiga helai handuk panas.
sambi menyeka wajahnya, Ciu Kay seng berkata lagi:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kedatangan Huan kongcu telah kukabarkan kepada pocu


dengan melalui burung merpati pos, bila tiada aral melintang
mungkin besok pocu sudah sampai kembali dibenteng."
Mendengar soal burung merpati pos sekali lagi Huan Gi
merasakan hatinya tergerak, dia jadi teringat kembali dengan
seekor burung merpati pos yang dilihatnya pagi tadi ketika
mereka sedang menyebrangi sungai.
"Terima kasih banyak atas perhatian dari Ciu congkoan"
Huan cu im segera berseru.
"Aaah kongcu lagi lagi sungkan hal ini sudah merupakan
kewajibanku...." Berbicara sampai disini, dia lantas bangkit
berdiri untuk memohon diri.
Bagaimanapun juga Huan Gi memang sudah tua, setelah
kebanyakan minum arak dia betul betul agak mabuk. mukanya
merah agak membara dan sepasang alis matanya berkenyit
dia seperti sedang memikirkan sesuatu persoalan.
"Lo koan keh, mari kuhantar kau kekamarmu untuk
berisitrahat" kata Huan cu im kemudian.
Huan Gi berpaling melihat Ji Giok tidak hadir disitu, dia
segera berbisik:
"sauya, lohan tidak mabuk. Lohan sedang berpikir, sehabis
bertemu Hee toaya esok, lebih baik kita secepatnya berangkat
ke Kim leng...."
"Apa yang sedang lo koan keh pikirkan?" tanya Huan cu im
sambil menatap wajahnya lekat lekat.
"Aaah, tidak ada apa apa" Huan Gi tertawa, "Mungkin lohan
sudah terlalu lama meninggalkan Kim leng, maka begitu
teringat Kim leng lohan jadi ingin terburu buru berangkat
kesitu."
^oooo0dw^oooo^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keesokan harinya tatkala tengah hari baru tiba Ji Giok


dengan langkah terburu buru berlarian masuk kedalam
ruangan, kemudian serunya: "Huan kongcu, lo koan keh, pocu
telah pulang"
"Nona Ji Giok. kau mendengar dari siapa?" buru buru Huan
Gi bertanya.
"Ketika budak berada didapur, kebetulan kudengar sinenek
dari ruang bawah mengatakan hal tersebut, dia adalah orang
yang ditugaskan melayani pocu, kedatangannya kedapur
adalah untuk memesan tiga mangkuk bakmi untuk pocu
begitu budak mendengar berita ini cepat cepat aku datang
memberitahukan kepada kalian berdua."
"Terima kasih nona, kini empek Hee berada dimana?" tanya
Huan cu im dengan wajah berseri.
Dia ingin terburu buru menjumpai saudara angkat ayahnya,
tentu saja sekalian mencari tahu kabar berita tentang
ayahnya. Ji giok segera tersenyum.
"Pocu baru saja pulang, paling tidak dia toh mesti
beristirahat dulu sejenak. seusai bersantap nanti, pasti akan
diutus Ciu congkoan untuk mengundang kongcu."
"Perkataan nona Ji Giok memang benar" Huan Gi manggut
manggut, "pocu baru saja pulang, dia memang perlu
beristirahat dulu."
"Biar budak siapkan air teh buat kongcu" kata Ji Giok
kemudian sambil membelokkan badan dan berlalu.
sepeninggal sang budak Huan Gi segera berpesan:
"Sauya harus sangat baik baik bila bertemu dengan Hee
toaya nanti, kau harus bilang kalau kepergian kita kali ini
hanya berniat mencari toaya dan berharap ia bisa
membantumu mencarikan tahu jejak dari toaya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bila Hee toaya bersikeras menahan kita untuk menahan


kita untuk berdiam beberapa hari lagi disini, kau bilang saja
kalau kita harus berangkat dulu ke Kim leng, sekembalinya
dari Kim leng saja baru mampir lagi"
Huan cu im yang menyaksikan pembantu tuanya ini selalu
mengajak dirinya pergi ke Kim leng menjadi sangat
keheranan, bukankah suhunya sendiri malah menganjurkan
kepadamu agar datang mencari empek Hee nya....?
Tatkala dia minta ijin kepada ibunya untuk mengunjungi
empek Hee, lo koan keh nampak sangat gembira, malah
mengatakan kalau ilmu silat empek Hee sangat lihay dan dia
bisa minta petunjuk dari padanya.
Tapi sekarang entah apa sebabnya tahu tahu lo koan keh
sudah berubah pikiran dan selalu mendesaknya agar pergi ke
Kim leng.
Melihat lo koan keh berbicara dengan serius apalagi
semenjak kecil dia memang amat menyayanginya, dia merasa
tak baik untuk menampik niat baiknya maka diapun manggut
manggut.
"setelah bersua dengan empek Hee nanti pasti akan
kuutarakan seperti apa yang lo koan keh katakan-"
Huan Gi menghembuskan napas panjang.
"Lohan terburu buru ingin ke Kim leng, hal ini tak lain agar
lebih cepat bisa menemukan toaya, sebab bila ada beberapa
orang yang membantu usaha pencarian ini, bagaimanapun
juga jauh lebih dari pengharapan."
Belum habis dia berkata, Ji Giok dengan membawa teko air
telah munculkan diri sambil menyambung :
"Lo koan keh apakah kalian berniat pergi setelah bertemu
pocu nanti? Mengapa tidak berdiam beberapa hari lagi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun dia sedang berbicara dengan lo koan keh,


namun sepasang matanya yang jeli justru mengawasi wajah
Huan cu im dengan penuh pengharapan-
"sauya datang untuk mencari toaya, tentu saja banyak
tempat harus dikunjungi olehnya sekalian menyambangi
beberapa orang sahabat ayahmu dulu" kata Huan Gi.
"Benar juga perkataan lo koan keh, bila kalian tak ada
urusan, budak sungguh berharap kalian mau berdiam
beberapa hari lagi disini sebelum pergi."
"Kami hanya pergi ke Kim leng sebentar sekembalinya dari
situ tentu akan mampir lagi."
"sungguh?" seru Ji guk dengan wajah berseri.
sementara itu, dari ruang depan terdengar suara langkah
kaki manusia yang berjalan mendekat, buru buru Ji Giok
mengundurkan diri dari situ.
Ciu Kay seng mundur dengan langkah tergesa gesa,
dengan senyum dikulum dia berkata sambil menjura:
"Pocu telah culang, ia sengaja mengutus aku untuk
mengundang Huan kongcu agar bersua dikamar baca"
"Cepat amat pocu sudah kembali" seru Huan Gi. Kembali
Ciu Kay seng tertawa paksa:
" Ketika pocu mendengar Huan kongcu telah datang, dia
buru buru berangkat pulang, belum lagi duduk dia sudah
menyuruh aku mengundang Huan kongcu agar menghadap."
"Lo koan keh, kalau begitu mari kita kesana selekasnya,
jangan biarkan empek Hee menunggu terlalu lama" seru Huan
cu im kemudian-
"Aku akan membawakan jalan buat Huan kongcu" Ciu Kay
seng segera berkata sambil tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dari halaman,


sementara Huan cu im dan Huan Gi mengikuti dibelakangnya.
setelah masuk keluar ruangan dan halaman yang ditumbuhi
pepohonan bambu, akhirnya mereka sampai disebuah gedung
yang dikelilingi aneka tumbuhan-Ciu Kay seng segera menaiki
tangga batu dan berkata dengan hormat:
" Lapor pocu, Huan kongcu telah datang."
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh...." gelak tertawa nyaring
bergema dari balik kamar baca, "cepat silahkan masuk."
Ciu Kay seng menyingkir kesamping untuk memberi jalan,
kemudian berbisik, "Pocu mengundang kalian agar masuk"
sebelum berjumpa dengan empek Hee, Huan cu im merasa
ingin terburu buru menjumpainya.
Tapi sekarang, setelah hampir menjumpainya, dia malahan
merasakan hatinya tak tentram.
Buru buru dia membereskan pakaiannya dan melangkah
masuk kedalam kamar baca.
Tampak seorang kakek berperawakan tinggi besar dan
berwajah merah segar muncul dari ruangan menyambut
kedatangannya. Huan Gi yang mengikuti dibelakangnya
segera berbisik, "sauya, cepat menjumpai Hee pocu."
Mendengar perkataan tersebut Huan Cu im segera
menjatuhkan diri berlutut sambil katanya:
"Keponakan Huan Cu im menjumpai empek Hee" Hee Im
hong tertawa terbahak bahak. "Hiantit, lo koan keh, cepat
bangun"
Baru saja Huan Cu im berlutut, dia merasa ada dua buah
tangan yang tebal tapi lembut membimbingnya bangun.
sambil menarik tangan Huan Cu im, dengan wajah berseru
Hee Im hong berkata lagi:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lohu masih ingat pada belasan tahun berselang, sewaktu


bertemu dengan hiantit. Ketika itu hiantit baru berusia dua
tiga tahun, aku paling suka membopongmu karena mulutmu
manis, setiap bertemu aku segera memanggil empek tiada
habisnya. Haaahhh... haaahhh.... haaahhh..... waktu memang
berlalu amat cepat, dalam sekejap mata hiantit sudah tumbuh
menjadi dewasa"
sembari berkata, tiada hentinya dia amati tubuhnya Huan
kongcu dari atas hingga kebawah, sikapnya hangat dan penuh
perhatian.
Huan Cu im hanya merasakan dibalik kelembutan tangan
yang menggengam tangannya, terasa ada segulung hawa
hangat yang mengalir masuk kedalam tubuhnya, dia merasa
sangat terharu.
Hee Im hong segera menariknya agar duduk disampingnya,
kemudian sambil mendongakkan kepala katanya pula: "Lo
koan keh silahkan duduk"
"selama berada dikamar baca Hee toaya, masa budak tua
punya hak untuk duduk?" Kembali Hee Im hong tertawa
terbahak bahak,
"Haaahhh... haaahhh.... lo koan keh adalah pembantu setia
keluarga Huan selama tiga generasi, bahkan Tay seng
sendiripun dibesarkan olehmu, padahal aku dan Tay seng
adalah saudara angkat, hubungan kami melebihi saudara
kandung, selama berada disini, apa bedanya dengan di
keluarga Huan? Kau sudah tua lagi, masa harus dibiarkan
berdiri melulu? Ayo cepat silahkan duduk"
"kalau begitu budak menerimanya." Dengan hormat Haun
Gi mengambil tempat duduk.
sementara itu Huan Cu im telah memperhatikan empek
Heenya dengan penuh seksama, dia merasa empeknya
mempunyai wajah yang lebar dengan telinga besar, alis
matanya tebal dan matanya besar, hidung, mulutnya lebar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meskipun sedang bergurau namun wajahnya selalu nampak


keren dan berwibawa....
"Baru semalam aku mendapat tahu akan kehadiran hiantit
dibenteng kami" kata Hee Im hong sambil berpaling, "maka
pagi tadi aku segera berangkat pulang, kerasan bukan hiantit
tinggal dibenteng ini?"
"Yaaaa, kerasan-"
Pelan pelan Hee Im hong melepaskan tangan Huan cu im,
kemudian sambil mengelus jenggotnya yang hitam dia berkata
lagi sambil manggut manggut.
"Asal kerasan saja malah baik, setelah sampai disini hiantit
boleh menganggap tempat ini sebagai rumah sendiri, tak usah
sungkan."
"Kedatangan siautit kali ini, pertama karena ingin mencari
tahu kabar berita tentang ayahku yang sudah banyak tahun
tak pernah kembali. Kedua ingin mohon bantuan empek Hee
untuk mencari kabar berita tentang ayahku karena empek Hee
mempunyai pergaulan yang cukup luas."
"Ayahmu adalah adik angkatku, tiada masalah yang
dirahasiakan olehnya dihadapanku, sebelum pulang kerumah
sepuluh tahun berselang, dia masih sempat berdiam selama
dua hari dibenteng ini, namun tiada masalah apapun yang
pernah dia bicarakan denganku."
"kalau begitu, empek Hee juga tidak mengetahui kemana
perginya ayahku?"
"Kemudian aku dengar ayahmu sudah lama meninggalkan
rumah dan tak pernah pulang kembali, bahkan setahun
lamanya dia pun tak pernah berkunjung kemari, aku merasa
amat keheranan waktu itu, berapa kali aku utus orang untuk
mencari berita ke dusun Kim gou cun tapi ibumu juga bilang
tak tahu menahu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah berhenti sejenak, tidak sampai Huan cu-im buka


suara, dia menyambung lebih jauh.
"Aku menjadi sangat gelisah segera kuutus orang untuk
mencari kabar berita ayahmu diempat penjuru tapi anehnya
seluruh umat persilatan tak ada yang pernah bertemu dengan
ayahmu, aku pernah berpikir lebih mendalam lagi, dengan
nama besar ayahmu dalam dunia persilatan, tak pernah ada
perselisihan ataupun permusuhan besar yang dilakukan
olehnya berarti tak mungkin ada suatu ancaman bahaya
baginya dari pihak lain. Maka setelah pikir punya pikir akhirnya
kuambil kesimpulan."
"Bagaimanakah kesimpulan empek Hee?"
Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil tertawa:
"Selama hidupnya ayahmu paling suka ilmu silat. Mungkin
saja dalam suatu kesempatan berpesiar kesuatu tempat, ia
telah berjumpa dengan seorang tokoh sakti dan melatih diri
lebih tekun lagi ditempat tersebut....."
Berbicara sampai disitu kembali dia berhenti sejenak.
kemudian baru sambungnya lagi sambil tertawa:
"SEpuluh tahun sekarang sudah lewat dalam pandangan
orang biasa memang merupakan suatu jangka waktu yang
amat panjang, tapi bagi seseorang yang berlatih silat, sepuluh
tahun bukan suatu jangka waktu yang terlalu panjang, sebab
kepandaian yang mendalam sering kali belum bisa berhasil
dikuasai dalam sepuluh tahun saja."
"Namun kalau dibicarakan kembali, sudah sepuluh tahun
ayahmu meninggalkan rumah biarpun dia hidup mengasingkan
diri ditengah gunung yang sepi untuk berlatih sejenis ilmu
semestinya saatnya untuk muncul kembali sudah tiba, maka
aku harap hiantit tak usah gelisah, siapa tahu beberapa hari
lagi ayahmu bakal muncul dengan sendirinya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sesungguhnya kedatangan siautit kali ini adalah untuk


mencari jejak ayahku harap empek Hee sudi membantu
usahaku ini."
"ooooh, tentu saja" Hee Im hong tersenyum, "aku dan
ayahmu sangat akrab, tak usah hiantit katakan pun selama
sepuluh tahun terakhir ini aku selalu memikirkan
keselamatannya, asal kujumpai sahabat dunia persilatan yang
baru pulang dari tempat jauh, pasti kutanyakan sekitar jejak
ayahmu."
"Terima kasih banyak empek Hee, atas perhatianmu."
"Untung hiantit dan lo koan keh telah datang, sebenarnya
akupun sedang menguatirkan kalian- Dulu hiantit masih kecil,
aku kuatir istri adikku tak lega hati, kini hiantit telah dewasa,
tentunya diapun tidak usah kuatir lagi bukan-"
"Bila kalian tidak kemari, akupun berencana hendak
mengundang hiantit untuk datang ke benteng kami serta
mempersilahkan kau berdiam disini saja, aku percaya kau
pasti dapat menemukan ayahmu."
"Ketika siautit hendak meninggalkan rumah ibu telah
berpesan agar siautit dan lo koan keh berangkat ke Kim-leng
setelah berjumpa dengan empek Hee."
Ucapan ini sudah jelas merupakan ajaran dari Huan Gi. Hee
Im hong tertegun sehabis mendengar perkataan itu, serunya
dengan cepat: "Apakah hiantit tidak berdiam beberapa hari
dulu disini? Mau apa kau ke Kim leng?"
"Menurut ibuku, dimasa lalu leluhurku pernah membuka
biro ekspedisi di Kim leng disitu banyak teman lamanya
berdiam setelah siautit keluar rumah sudah sepantasnya pula
untuk manyambangi mereka satu persatu siapa tahu masih
ada orang yang mengetahui kabar berita ayahku."
Hee Im hong tertawa terbahak bahak....
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Haaahhh.... haaahhh.... perkataan ibumu ada benar juga,


cuma congpiautau dari beberapa perusahaan biro ekspedisi
merupakan sobat karib dari lohu, bila mereka peroleh kabar
berita tentang ayahmu niscaya akan diutus orang untuk
mengabarkan kepadaku. Hiantit boleh berdiam disini saja,
apalagi kau toh belum pernah keluar rumah, buat apa mesti
menempuh perjalanan jauh?"
"Kasih sayang pocu sungguh mengharukan hati kamu,"
Huan Gi berkata, "tapi saUya baru pertama kali ini terjun
kedUnia persilatan sudah sewajibnya dia mengunjungi mereka
satu persatu sebab hal ini menyangkut sopan santun."
"Maksud toan nio, dia memang ingin menitipkan sauya
kepada pocu agar banyak peroleh bimbingan. Itulah sebabnya
budak berniat menemani sauya untuk mengunjungi Kim leng
lebih dulu, barulah sekembalinya dari Kim leng kami akan
mengganggu lagi." Hee Im hong manggut manggut, katanya
kemudian sambil tertawa:
"Kalau toh hal ini memang maksud dari adik iparku,
memang baik juga kalian mengunjungi Kim leng, namun aku
pikir tak usah terburu napsu, kalau toh sudah kemari, kalian
harus berdiam beberapa hari dulu."
Huan Gi merasa tak baik untuk banyak berbicara lagi,
terpaksa dia mengiakan berulang kali.
Hee Im hong baru berpaling dan bertanya sambil
tersenyum:
"Tahun ini hiantit sudah berusia enam belas tahun, sudah
pernah belajar ilmu silat?" MErah padam selembar wajah Huan
cu im.
"siau tit pernah berlatih beberapa tahun, tapi semuanya
ajaran dari lo koan keh."
sekali lagi Hee Im hong manggut manggut sambil tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ilmu silat yang dilatih Lo koan keh adalah ilmu aliran Eng
jiau bun, dengan dasar kepandaian silatnya, bila kau ingin
berlatih kepandaian lain dikemudian hari, maka kau telah
peroleh fondasi yang cukup kuat."
"Pocu terlalu memuji, dengan sedikit kepandaian yang
kumiliki ini dihadapan pocu ibarat kunang kunang dan
rembulan, tak bisa dibilang seberapa. sedangkan sauya juga
baru belajar beberapa tahun ilmu silat kasaran, dia masih
banyak membutuhkan petunjuk pocu."
"Itu mah tak usah dibicarakan lagi" Hee Im hong mengelus
jenggotnya sambil tertawa, "aku memang tidak berputra,
hiantit sudah kuanggap sebagai putra sendiri, berapapun
kepandaian yang kumiliki pasti akan kuwariskan semuanya,
selewatnya hari ini aku ingin melihat dahulu bagaimanakah
hasil latihanmu selama ini?" Huan cu im menjadi kegirangan
setengah mati.
"Asal empek Hee bersedia mengajarkan kepada siautit, hal
ini merupakan suatu keberuntungan bagi diri siautit."
sementara pembicaraan sedang berlangsung tampak Ciu
Kay seng muncul dengan tergesa gesa, kemudian dengan
sikap yang munduk munduk ia berkata:
"oooh..." tanpa terasa Hee Im hong bangkit berdiri, "Ceng
im totiang berada dimana sekarang?"
"Hamba tempatkan diruang tamu sebelah depan."
SEmentara itu Huan Gi telah mengerling memberi tanda
kepada Huan cu im, kemudian sambil bangkit berdiri ia
berkata:
"Sauya, pocu ada tamu sedang berkunjung, mari kita
mengundurkan diri lebih dulu untuk sementara."
"Empek Hee, keponakan hendak memohon diri" kata Huan
cu im sambil bangkit pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Duduk saja kalian disini" kata Hee Im hong, "cing im


totiang dari Go bi san adalah tamu yang jarang datang, aku
harus pergi menyambut kedatangannya." sambil berkata buru
buru dia beranjak pergi dari sana.
Huan cu im dengan mengajak pembantunya Huan Gi
mengundurkan diri pula dari situ.
Baru melewati beranda samping, tiba tiba dari depan sana
muncul seseorang tapi ketika bertemu dengan kedua orang
itu, tiba tiba dia membalikkan badan sambil berkelit.
Huan Gi segera merasakan bentuk badan orang itu seperti
sangat dikenal, apalagi gerak geriknya sangat mencurigakan,
hal ini menambah kecurigaannya. Dengan suatu gerakan
cepat dia melompat kemuka, kemudian hardiknya lirih:
"Berhenti"
sebenarnya orang itu berniat menghindar, dihardik oleh
Huan Gi, nampaknya orang itu semakin gugup, tanpa
berbicara mendadak ia melarikan diri terbirit birit.
Jangan dilihat usia Huan Gi sudah menanjak tua,
kepandaian silat yang dimilikinya tak pernah ditangguhkan
sedikitpun sudah barang tentu dia tak sudi membiarkan
mangsa dihadapannya lolos dengan begitu saja, sambil
tertawa dingin ia melejit kemuka. "Weeesssss"
seperti seekor burung elang yang terbang diangkasa, dia
melayang melalui atas kepala orang itu dan turun
dihadapannya kemudian sambil memegang bahunya ia
menghardik:
"Lohan suruh kau berhenti, mengapa kau malah ingin kabur
dengan gugup,....?"
setelah usahanya untuk melarikan diri tak berhasil terpaksa
orang itu menutupi wajahnya dengan ujung baju dan
menyahut dengan kepala tertunduk:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hamba baru datang, karena tersesat dan takut diumpat


congkoan maka hamba jadi ketakutan, harap kau orang tua
sudai mengampuni hamba."
"Lo koan keh, siapakah orang ini?" Huan cu im yang
memburu datang segera menegur.
"gerak gerik orang ini sangat mencurigakan, karena itu
lohan sengaja mengejar kemari"
"Mungkin saja dia memang baru datang dan tidak
mengenal jalan, maka wajahnya kelihatan gugup, lo koan keh,
lepaskan dia saja."
"Benar, benar, harap kau orang tua suka melepaskan aku"
seru orang itu pula berulang kali.
Rasa curiga Huan Gi belum lenyap dengan begitu saja,
apalagi orang itu tak pernah memperlihatkan wajahnya,
sambil mendengus ia segera mebentak. "Dongakkan
kepalamu"
Kemudian sambil menepiskan tangan kirinya yang dipakai
untuk menutupi paras mukanya, dia amati wajah orang itu
dengan seksama, namun dengan cepat ia menjadi tertegun-
"Hei, bukankah kau adalah ong Lo su?" dia berteriak.
Biarpun orang itu mengenakan pakaian centeng, namun
dalam sekilas pandangan saja ia dapat mengenali orang ini
sebagai ong Lo su, seorang tetangga gedung keluarga Huan
yang hidup membujang sebagai penjual kayu bakar.
"Bukan bukan" orang itu menggelengkan kepalanya
berulang kali sambil memperlihatkan rasa kaget dan gugup,
"hamba bukan ong Losu, hamba adalah Thio Tek liok yang
baru datang."
ong Lo su tiba tiba berubah menjadi Thio Tek liok. nama
memang bisa ditukar tapi mukanya yang kurus dan hitam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena terbakar matahari tak mungkin bisa dirubah dengan


begitu saja.
"Kau kenal dengan aku?" kembali Huan Gi menegur sambil
memperkencang cengkeramannya. "Tidak. hamba tak pernah
ketemu dengan kau orang tua"
"Kau juga tak pernah berkunjung ke dusun Kim gou cun?"
"Selama ini hamba berdiam diwilayah Hwaypak, belum
pernah melangkah masuk kewilayah Kim gou cun, kau orang
tua pasti sudah salah orang."
Huan Gi mendengus sambil melepaskan cengkeramannya,
lalu katanya sambil manggut manggut.
"Hmm, kalau begitu aku memang sudah salah melihat
orang, kalau begitu pergilah"
orang itu mengiakan berulang kali dan segera kabur terbirit
birit meninggalkan tempat itu.
"Lo koan keh" kata Huan cu im kemudian sepeninggal
orang itu, "aku lihat orang itu memang mirip sekali dengan
ong Lo su."
Dalam pada itu paras muka Huan Gi nampak serius sekali
dia hanya mengiakan tanpa berbicara.
Tiba kembali dihalaman sebelah timur, Ji Giok menyambut
kedatangan mereka sambil berkata:
"Huan kongcu, lo koan keh kalian sudah kembali? Apakah
telah menjumpai pocu?"
Huan cu im yang berusia hampir sebaya dengan dayang itu
lagipula dia belum pernah berhubungan dengan kaum wanita,
menghadapi penyambutan tersebut dia hanya manggut
manggut dan tergagap tak mampu mengucapakn sepatah
katapun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

SEdang Huan Gi berkerut kenign seakan akan ada sesuatu


yang mengganjal hatinya, kembali diruang tamu, dia lantas
duduk dan menghisap huncweenya tanpa berbicara.
Ji giok yang menyaksikan kedua orang itu tidak berbicara,
diapun merasa canggung untuk banyak bertanya, maka dua
cawan air teh panas segera dihidangkan-
Agaknya selama ini Huan Gi sedang memikirkan bagaimana
ceritanya sehingga ong Lo su bisa tiba di benteng keluarga
Hee.
Ia mulai membayangkan sejak ong Lo su pindah kedusun
Kim gou cun enam tujuh tahun berselang, dimana dia pindah
justru bertetangga dengan gedung keluarga Huan- hingga
penemuannya semalam atas nada suara dan perawakan
badan ciu Kay seng yang hampir mirip dengan lelaki
berkerudung hitam yang memimpin penyerbuan kegedung
keluarga Huan pada sepuluh tahun berselang.
Ketika beberapa peristiwa itu dihubungkan satu dengan
lainnya, dia merasa persoalan ini tidak sederhana, bahkan
kadangkala perasaannya seperti duduk diatas jarum, gelisah
dan tak tenang. Hal ini membuat kakek ini menghisap
huncweenya semakin gencar.
setengah harian sudah lewat dalam keadaan hening, lama
kelamaan habis sudah kesabaran Huan cu im, sambil
mendongakkan kepalanya dia segera menegur:
"Lo koan keh, aku lihat paras mukamu kurang baik, apakah
kau lelah? Masuklah untuk beristirahat"
"Baiklah" Huan Gi manggut manggut setelah
menghembuskan asap huncweenya, "aku akan mohon diri
lebih dulu."
Dengan membawa huncweeya, dia mengundurkan diri dari
situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memandang bayangan punggung lo koan keh yang


menjauh, tiba tiba Ji Giok berbisik, "Mengapa sih lo koan keh?"
Ia mengerdipkan sepasang biji matanya yang bulat dan jeli
sambil menunjukkan sikap cerdik tapi binal.
Huan cu im tak berani memandang ke arahnya, dia
menggelengkan kepalanya sambil menyahut: "Entahlah"
"Budak lihat dia seperti mempunyai rahasia hati" kembali Ji
Giok berkata sambil menggigit bibirnya.
"Lo koan keh selama ini polos dan periang dia tak pernah
merahasiakan sesuatu didalam hatinya, mustahil dia
mempunyai suatu rahasia dalam hatinya."
"Tapi budak bisa melihat, agaknya beban pikiran lo koan
keh sangat berat." Huan cu im tertawa setelah didesak
berulang kali.
"saban hari lo koan keh ribut hendak pergi ke Kim leng,
mungkin dia merasa tak senang hati setelah empek Hee
menahan kami untuk berdiam beberapa hari lagi disini." Ji giok
tertawa cekikikan.
"setelah datang, memang sepantasnya berdiam beberapa
hari sebelum pergi, kalau hanya urusan sepele saja ia tak
gembira, bukankah perbuatannya seperti anak kecil?"
Malam itu, diruang tengah bangunan timur diselenggarakan
perjamuan yang amat meriah.
Ruangan terang benderang bermandikan cahaya, dua
orang gadis berbaju hijau, seorang membawa poci perak
untuk menuangkan arak. yang lain sibuk menghidangkan
sayur yang masih hangat, sibuknya bukan kepalang, padahal
tamu dan tuan rumah hanya dua orang, sang tuan rumah
adalah Hee Im hong, sedangkan tamunya adalah Huan cu im.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perjamuan pada malam ini memang sengaja


diselenggarakan untuk menyambut kedatangan
keponakannnya.
Didepan halaman sisi gedung, terlihat pula kesibukan lain,
suasana disanapun terang benderang bermandikan cahaya.
Hidangan yang disiapkan disitu tak kalah mewahnya dengan
hidangan diruang dalam.
Yang hadir dalam perjamuan inipun hanya dua orang, yang
satu adalah congkoan benteng keluarga Hee yakni ciu Kay
seng sedangkan yang lain adalah lo koan keh Huan Gi.
PErjamuan ini memang diselenggarakan oleh sang pocu,
tetapi berhubung sang pocu dan Huan cu im punya hubungan
sebagai paman dan keponakan, tentu saja perjamuan tersebut
tidak bisa membiarkan congkoan dan pengurus rumah tangga
untuk turut menghadirinya.
Tatkala perjamuan dikedua belah pihak sudah buyar, Huan
cu im tidak mabuk. Ini disebabkan dia memang tidak minum
arak. tentu saja paman Hoe nya tak akan memaksa dia untuk
minum.
Berbeda sekali dengan Huan Gi serta ciu Kay seng, pada
hakekatnya kedua orang ini memang sama sama gentong
arak, pada akhir perjamuan tersebut, kedua belah pihak sudah
mabuk kepayang.
Kembali ke gedung timur Ji Giok telah menyiapkan air teh
kental untuk Huan kongcu dan Huan Gi.
Huan Gi hanya duduk sebentar menghisap huncweenya,
kemudian kembali kekamar untuk beristirahat.
setelah meneguk air teh Huan cu im turut bangkit berdiri Ji
giok segera menghampiri sambil bertanya
"Budak sudah menyiapkan air untuk membersihkan badan
apakah Huan kongcu akan mandi?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak usah, kau boleh pergi beristirahat, oya, aku lihat lo


koan keh kelewat banyak minum pada malam ini harap kau
ambilkan air teh untuknya"
"Kongcu tak usah kuatir, budak mengerti" dayang itu
segera mengundurkan diri Kembali kekamarnya, Huan cu im
menutup kamar, melepaskan sepatu dan tidur.
Dalam lelapnya ia tertidur, mendadak terdengar ada orang
mengetuk pintu sambil berseru
"Huan kongcu, Huan kongcu...."
Jelas suara teriakan Ji Giok biarpun ketukannya tidak
gencar, suaranya justru amat gelisah.
"Nona Ji Giok, apa yang terjadi?" tanya Huan cu im sambil
bangkit berdiri.
"Kongcu, cepat buka pintu, lo koan keh"
Buru buru Huan cu im mengenakanj ubahnya dan sambil
membetulkan kancingnya dia lari keluar sambil bertanya lagi:
"Mengapa dengan lo koan keh?"
"Aku lihat..... aku lihat lo koan keh kurang..... kurang beres
keadaanya....." jawab Ji Giok dengan wajah gugup bercampur
amat gelisah. Huan cu im semakin gelisah mendengar
perkataan itu.
"Bagaimana tidak beresnya?"
"Cepatlah ikuti kau"
sembari berkata, buru buru dia beranjak keluar dari dalam
ruangan tersebut. sambil menyusul dibelakangnya, Huan cu im
kembali bertanya: "Nona Ji Giok. sebenarnya apa yang telah
terjadi dengan diri lo koan keh?"
"Barusan lo koan keh muntah muntah hebat" sahut Ji Giok
sambil mempercepat langkahnya, "kemudian-.... kemudian-
....."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bagaimana kemudian?" Huan cu im semakin tegang.


"Dia.... dia sudah pingsan dua kali, setiap kali mendusin dia
memanggil nama kongcu, oleh karena budak lihat keadaannya
semakin tidak beres, maka kuundang kongcu agar menyusul
kesana."
"SElama ini lo koan keh selalu sehat wal'afiat tanpa
kekurangan sesuatu apapun mengapa dia bisa pingsan sampai
dua kali?" pemuda itu bertambah gelisah.
"Budak sendiri juga tak tahu, ia seperti kena angin
duduk...."
sementara pembicaraan berlangsung, mereka sudah tiba
didepan pintu ka kamar lo koan keh, pintu masih terbuka
lebar, cahaya lentera didalam sana remang remang dan sama
sekali tak kedengaran sedikit suarapun . Ji Giok segera
menghentikan langkahnya dan menyingkir kesamping untuk
memberi jalan lewat bagi Huan cu im kemudian dia baru
mengikuti dibelakangnya. Dengan perasaan sangat gelisah
Huan cu im menyerbu masuk kedalam ruangan, dia saksikan
pengurus rumah tangganya sudah tergeletak diatas
pembaringan tak berkutik matanya mendelong besar
sementara napasnya bertambah lemah. Cepat cepat dia
datang menghampirinya. "Lo koan keh......"
Hanya tiga patah kata itu yang sempat diutarakan, karena
air matanya sudah jatuh bercucuran. sorot mata yang semula
sudah medelong, pelan pelan tampak bergerak lagi setelah
Huan Gi mendengar panggilan tersebut, dia menengok
sekejap wajah Huan cu im dengan sorot mata yang sayu, lalu
sambil menggerakkan bibirnya yang kaku, ia berkata dengan
susah payah: "sau.... sau.... cepat..... cepat......."
Begitu lirih dan kaku suaranya sehingga hampir saja susah
ditangkap artinya.
"Lo koan keh, kau tak boleh banyak berbicara" tukas Huan
cu im cepat, "segera akan ku cari Ciu cong koan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencarikan seorang tabib untukmu, dengan cepat kau pasti


akan sembuh kembali....."
Huan Gi sama sekali tidak mengerdipkan matanya, namun
dua baris air mata telah bercucuran membasahi ujung
matanya, ia tak berbicara banyak.
sementara itu Huan cu im telah membalikkan badan dan
siap beranjak pergi setelah mengucapkan perkataan tadi.
"Huan kongcu" tiba tiba Ji Giok berbisik dengan air mata
berlinang: "lo koan keh..."
Suaranya menjadi sesengukkan sehingga dia menutupi
mulutnya dengan sapu tangan dan tidak berbicara pula.
" Nona Ji Giok" Huan cu im berkata sambil membalikkan
badan, "tolong kau tetap berada disini untuk merawatnya, biar
ku cari Ciu congkoan untuk mencarikan seorang tabib
baginya"
"Huan kongcu, coba kau tengok keadaan lo koan keh,
mungkin dia sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi"
Perkataan tersebut ibarat guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong, Huan cu im menjadi tertegun dan cepat
cepat lari kembali ketepi pembaringan-
-oo0dw0oo-

JILID : 5

Betul juga, paras muka lo koan keh sudah berubah menjadi


pucat keabu abuan, matanya semakin mendelong dan
cahayanya sudah pudar sama sekali, bahkan dengus napaspun
seolah olah sudah hampir berhenti.
Mati, yaa, dia sudah menghentikan napasnya yang terakhir
untuk kembali kealam baka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cU im menjadi tertegun, ia seperti tidak percaya kalau


si orang tua yang segar bugar dalam beberapa saat berselang,
kini telah meninggalkannya dengan begitu cepat. Tiba tiba ia
menubruk kedepan memeluk tubuh lo koan keh sambil
berseru "Lo koan keh..."
Sambil menjatuhkan diri berlutut dia menangis tersedu
sedu.
Haun Gi adalah orang yang mengemong dirinya semenjak
kecil, dia sering main kuda kudaan dengan menunggang
diatas punggungnya dulu, selama sepuluh tahun terakhir, dia
juga yang telah mewariskan ilmu silat kepadanya. Boleh
dibilang, semenjak dia masih kecil hingga dewasa, belum
pernah sekalipun mereka berpisah.
Tapi sekarang lo koan keh telah meninggalkan dia secara
tiba tiba bagaimana mungkin pemuda itu tidak bersedih hati
dan menangis tersedu sedu?
Memandang sang pemuda yang menangis tersedu Ji Giok
turut beriba hati sehingga tanpa terasa titik air mata turut
jatuh berlinang.
Selang beberapa saat kemudian Ji Giok baru menyeka air
matanya sambil berbisik:
"Huan kongcu, orang yang sudah mati tak mungkin bisa
hidup kembali, kini lo koan keh telah pergi menangis pun tak
ada gunanya...."
Mendadak Huan Cu im seperti teringat sesuatu, sambil
mendongakkan kepalanya ia bertanya:
"Nona Ji Giok. apakah lo koan keh telah membicarakan
sesuatu denganmu tadi" Dengan sangat cekatan Ji Giok
memandang sekejap ke halaman muka lalu berbisik: "Ada
orang datang rupanya...."
Betul juga, menyusul suara langkah kaki manusia yang
bergema datang dari halaman depan, tampak Congkoan Ciu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kay seng berjalan masuk dengan langkah tergesa gesa. Begitu


berada didalam ruangan, ia lantas menjura kearah Huan cu im
sambil berkata:
"ooooh... rupanya Huan kongcu juga berada disini, barusan
aku mendapat laporan dari centeng yang meronda malam,
mengatakan bahwa disini kedengaran suara isak tangis, entah
apa yang telah terjadi?"
Buru buru Ji Giok maju menyambut sambil menjawab:
"Budak baru saja akan melapor kepada congkoan, lo koan
keh telah meninggal dunia."
"Lhoo...? Mengapa lo koan keh meninggal dunia?" seru Ciu
Kay seng sambil melangkah masuk kedalam ruangan, "
penyakit apa yang diderita olehnya? Mengapa lo koan keh
mengapa kau tidak segera datang melapor?"
Dia berjalan menghampiri pembaringan dan meneliti
sebentar jenasah lo koan keh, setelah itu dengan air mata
berlinang katanya:
"Ooooh, Lo koan keh. Pada santap malam tadi kau masih
kelihatan segar bugar, menagapa begitu cepat kau telah
pergi? Tahukah kau, betapa hormat dan kagumku
kepadamu?" Lalu sambil menyeka air matanya, dia berkata
pula kepada Huan cu im: "Ketika lo koan keh hendak
berangkat, apakah Huan kongcu hadir pula disini?"
"Nona Ji Giok yang memanggilku" sahut Huan cu im
dengan air mata bercucuran, "dia mengatakan keadaan lo
koan keh tidak beres, siapa tahu ketika aku menyusul kemari,
ia sudah tak mampu untuk berbicara lagi" Ciu Kay seng segera
berpaling sambil menegur
"Ji giok, apakah lo koan keh pernah meninggalkan sesuatu
pesan terakhir padamu?" Ji giok amat terkejut, sambil
menundukkan kepalanya buru buru dia menjawab:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sewaktu budak berada dalam kamar tadi kudengar lo koan


keh muntah muntah, karena itu aku datang kemari, budak
mengambilkan secawan air teh untuknya sambil
membersihkan tumpahan didepan pembaringan, mendadak
budak lihat lo koan keh membuka mulutnya sambil
memandang kearah budak. la seperti hendak mengucapkan
sesuatu namun tak sanggup bersuara apa apa, oleh karena
budak melihat keadaannya tidak beres, maka segera
kuundang Huan kongcu kemari, lo koan keh sama sekali tidak
meninggalkan pesan apa apa"
Huan cu im yang mendengar perkataan tersebut, dalam
hati kecilnya segera berpikir:
"Apa yang dikatakan Ji Giok jelas bukan kata kata yang
sesungguhnya, tapi mengapa dia harus membohongi ciu
congkoan?"
sementara itu Ciu congkoan telah berkata setelah
termenung sebentar: "Kalau begitu dia pasti terkena angin
duduk"
Kemudian sambil membalikkan badan dan menjura, ia
berkata kembali:
"Huan kongcu, kematian lo koan keh yang tak disangka
sangka sungguh mengharukan kami semua, segera akan
kulaporkan kejadian ini kepada pocu agar diambil persiapan
untuk upacara penguburan baginya."
sesuai berkata, dia membalikkan badan dan buru buru
berlalu dari tempat itu. sepeninggal Ciu Kay seng, Huan cu im
baru berpaling sambil menegur.
Nona Ji Giok tidak langsung menjawab, dia berjalan dulu
kedepan pintu dan menengok sekejap keluar halaman,
kemudian baru sahutnya dengan suara lirih:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ketika lo koan keh muntah muntah, budak sudah hadir


pula disini, dia muntah muntah banyak sekali sehingga pada
akhirnya darahpun turut ditumpahkan keluar."
"Aaaai.... dia sudah lanjut usia tidak seharusnya ia minum
arak sebanyak itu" Huan Cu im bercucuran air mata dengan
sedih.
"Waktu itu, budakpun berkata demikian namun lo koan keh
segera menggelengkan kepalanya setelah mendengar
perkataan itu Dia bilang arak yang diminum tidak
memabukkan dirinya, sekalipun mabuk juga tak bakal muntah,
karena dia memaksanya keluar dengan menggunakan hawa
murni yang dimilikinya."
"Budakpun lantas bertanya bila sudah ditumpahkan apakah
keadaannya akan bertambah segar? Dia tidak menjawab
kecuali memejamkan mata dan bersemedi. Waktu itu budak
tidak berani mengusiknya. Aku segera membersihkan kotoran
dari tanah. Pada saat itulah mendadak kudengar lo koan keh
menghela napas panjang sambil berkata lohan mungkin tidak
bisa hidup lebih lama lagi....."
"Maka kaupun datang memanggil aku?" sela sang pemuda.
"Tidak. lo koan keh bilang saat itu aku tak boleh pergi
memanggil kongcu"
"Mengapa demikian?"
"Lo koan keh bertanya kepada budak apakah bersedia
membantunya, budak mengangguk dan menyahut, lo koan
keh adalah orang baik, maka apa yang kau suruh, budak pasti
akan melaksanakannya tanpa membantah. Lo koan kehpun
lantas berkata dia mempunyai suatu pesan yang penting sekali
artinya minta kepada budak untuk menyampaikan kepada
kongcu, tapi selain kongcu siapapun tak boleh diberi tahu."
"Pesan apakah itu? Tentu sangat penting artinya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lo koan keh bilang, perkataan itu baru bisa diberitahukan


kepadamu bila dia telah meninggal dunia."
"Bolehkah nona memberitahukan kepadaku sekarang
juga?"
"Harap kongcu dengarkan dulu perkataan budak hingga
selesai, pada waktu itu lo koan keh gemetar keras, tapi dia
melarang budak memberitahukan kejadian tersebut
kepadamu...."
"Mengapa begitu?"
"Ia bilang demi kebaikan kongcu sendiri, ia minta bila dia
sudah tak mampu bersuara lagi budak baru boleh
menyampaikan peristiwa tersebut kepada kongcu, apa yang
kukatakan kepada Ciu congkoan tadi pun merupakan kata
kata yang diajarkan lo koan keh."
"Mengapa lo koan keh harus berbuat demikian?" Dengan
air mata bercucuran tiba tiba Huan cu im bertanya:
"Bersediakah nona untuk memberitahukan kepada ku
pesan terakhir dari lo koan keh?" SElama pembicaraan tadi
berlangsung Ji Giok selalu berdiri didepan pintu, sekarang dia
mendekati Huan cu im secara tiba tiba dan berbisik
"Lo koan keh suruh budak memberitahukan kepada
kongcu, tempat ini tak boleh didiami terlalu lama kau harus
segera pergi ke Kim leng untuk mencari cong piautau dari biro
ekspedisi seng ji ***tak terbaca*** yang bernama seng hian
tong."
"Tempat ini tak boleh didiami terlalu lama?" Huan Cu im
nampak tertegun setelah mend engar perkataan itu.
Dengan lembut Ji Giok manggut manggut, bisiknya:
"Budak sendiripun merasa bahwa kongcu tidak boleh
berdiam kelewat lama disini bila jenasah lo koan keh telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikebumikan nanti, lebih baik turuti saja nasehat lo koan keh


dan segeralah berangkat ke kota Kim leng."
"Apakah nona juga beranggapan aku harus selekasnya
meninggalkan tempat ini?" Ji Giok menundukkan kepalanya
rendah rendah:
"Budak merasa lo koankeh sangat setia kepada kongcu,
apa yang dia ucapkan tak bakal bisa salah lagi."
sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, tampak
Hee Im hong dimuka dan ciu Kay seng dibelakang, tergesa
gesa sedang berjalan mendekat.
Buru buru Huan cu im maju menyambut kedatangannya
dan berkata sambil menjura:
"Empek Hee, lo koan keh,... dia sudah meninggal dunia."
Menyinggung lo koan keh, tak tahan air matanya kembali
jatuh bercucuran.
"Peristiwa ini sungguh diluar dugaan" Hoe Im hong berkata
dengan wajah pedih, "lohu dengar dari Ciu congkoan, konon
lo koan keh mati karena terserang angin dudu. Aaaaai....
bila berbicara dari usianya, dia telah mencapai delapan
puluh tahun, boleh dibilang usianya cukup tinggi, cuma
kejadiannya benar benar kelewat mendadak." sembari berkata
dia melangkah masuk lebih dulu kedalam kamar.
Oooooo0dw0ooooooO
Ji giok segera maju pula sambil menjatuhkan diri berlutut:
"Budak menjumpai pocu"
Hee Im hong mengulapkan tangannya sambil melanjutkan
langkahnya menuju kedepan pembaringan, setelah memeriksa
sendiri keadaan jenasah dari Huan Gi dia berkata dengan nada
sedih:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lo koan keh, kau adalah pembantu setia dari keluarga


Huan selama tiga generasi. Kini tugasmu sudah mencapai saat
terakhir, beristirahatlah dengan tenang. soal Huan hiantit, biar
aku yang akan merawatnya baik baik, kau tak usah kuatir lagi"
setelah menjura dua kali dia baru berpaling sambil berkata
lagi:
"Keponakanku orang yang sudah mati tak mungkin dapat
hidup kembali, apalagi usia lo koan keh sudah amat tua, biar
hidup seratus tahunpun akhirnya toh akan berpulang juga
kealam baka, aku harap keponakan jangan terlalu bersedih
hati."
"Perkataan empek Hee memang benar."
"Aku telah memberitahukan kepada Ciu congkoan bahwa lo
koan keh adalah pembantu setia keluarga Huan, maka sudah
sewajarnya bila ia dikuburkan dengan segala upacara
kehormatan. Nah, sudahlah, ayo turut aku kedepan, biar
urusan disini diselesaikan sendiri oleh ciu congkoan-..."
selesai berkata, dia lantas beranjak pergi dari situ.
Huan cu im mengikuti dibelakangnya menuju keruang tamu
didepan sana. setelah mengambil tempat duduk dikursi utama,
Hee Im hong kembali berkata: "Hiantit, duduklah"
Huan cu im mengiakan dan mengambil tempat duduk
disampingnya.
setelah suasana hening sebentar, Hee Im hong baru
berkata dengan ramah:
"selama ini, hubungan keluarga Hee dan keluarga Huan
bagaikan saudara kandung sendiri, selama berada
dihadapanku keponakan tak usah kelewat menuruti adat."
Kembali Huan cu im mengiakan.
"semula, aku bermaksud untuk menahanmu untuk berdiam
selama beberapa hari disini" kata Hee Im hong lagi, "bila
situasi disekitar sini sudah cukup kaupahami, baru akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kulihat apakah ilmu silat yang kau latih sudah masuk hitungan
atau belum." Kemudian setelah berhenti sejenak. dia
melanjutkan lagi:
"Tapi setelah kematian lo koan keh secara tiba tiba, maka
kupikir bila kau menganggur sepanjang hari, sudah pasti kau
akan selalu sedih dan teringat akan lo koan keh, itulah
sebabnya aku telah memutuskan sejak lusa akan kulatih
sendiri kepandaian silat hiantit setiap pagi, mula mula akan ku
lihat dulu sampai dimana taraf kepandaian yang kau miliki,
kemudian baru kuajarkan kepandaianku, entah bagaimanakah
pendapat hiantit?"
Betapa gembiranya Huan Cu im ketika mendengar janji
empek Heenya yang akan mewariskan ilmu silat kepadanya,
berbicara sebenarnya, dia merasa gembira sekali untuk
menerima tawaran tersebut.
Tapi pesan terakhir dari Huan Gi segera mengiang kembali
disisi telinganya, ia disuruh secepatnya berangkat ke kota Kim
leng untuk bergabung dengan seng bian tong,, cong piausu
dari biro ekspedisi seng kipiau kiok, apa yang mesti dilakukan
sekarang?
Terbayang kesemuanya ini, perasaan sangsi segera
menyelimuti seluruh wajahnya, ia berkata:
"Empek Hee bersedia memberi petunjuk ilmu silat
kepadaku, sesungguhnya hal ini merupakan pucuk dicintai
ulam tiba bagi keponakan, cuma..."
sebagai pemuda ingusan yang belum berpengalaman, ia
tidak pandai berbasa basi, itulah sebabnya setelah
mengucapkan kata "cuma", pemuda itu tak sanggup lagi
untuk melanjutkan kata katanya.
Hee Im hong mengawasi wajah pemuda itu lekat lekat,
kemudian tertawa ramah:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kesulitan apakah yang sebenarnya hiantit hadapi? Empek


Hee adalah saudara angkat ayahmu, katakan saja secara
bebas."
"Bagaimanapun juga lo koan keh adalah pembantu
keluarga kami selama tiga generasi, setelah kematiannya,
siautit merasa wajib untuk melindungi layannya kembali
kedusun Kim gou cun sambil mencarikan tempat yang cocok
untuk mengubur jenasahnya, siautitpun berniat sekalian
melaparkan kepada ibuku tentang kesediaan empek Hee
untuk mewariskan ilmu silat kepadaku. Dengan demikian ibu
tidak usah kuatir."
AGaknya dia berniat untuk pulang dulu kerumah dan
merundingkan persoalan ini dengan ibunya sebelum
mengambil keputusan-
sambil mengelus jenggotnya Hee Im hong tertawa
terbahak bahak:
"Haaahhh.... hhaaahhh.... hiantit terlalu memikirkan yang
bukan bukan, padahal soal la yon lo koan keh telah
kuserahkan pertanggungan jawabnya kepada Ciu congkoan,
tapi jalan pemikiran hiantit memang tak salah, bagaimanapun
jua lo koan keh memang pembantu setia dari keluarga Huan
selama tiga generasi, memang sudah sepantasnya bila
layannya dikuburkan disamping kuburan keluarga Huan."
"Meskipun demikian, hiantit tak perlu berangkat sendiri lagi
pula dalam peristiwa ini ibumu juga tak perlu direpotkan,
besok biar kuutus Ciu congkoan untuk mengawal sendiri layan
tersebut menuju kedusun Kim gou cu."
"Tentang segala keperluan pekuburan ciu congkoan bisa
mengatur semuanya dan sampai beres. Hian tit cukup menulis
sepucuk surat yang melaporkan kepada ibumu bahwa hiantit
berada disini, aku yakin ibumu pasti akan berlega hati."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah mendengar perkataan ini, Huan cu im merasa


sungkan untuk banyak berbicara lagi, terpaksa dia manggut
manggut.
"Kalau toh empek Hee telah berkata demikian, tentu saja
siautit akan menuruti perintah empek."
Hee Im hong tertawa puas, dia manggut manggut dan
berkata lagi:
"Hiantit mesti mengerti, hubunganku dengan ayahku
bagaikan hubungan saudara. Kau adalah putra adik angkatku,
berarti pula keponakanku sendiri, sudah barang tentu empek
Hee berharap kau dapat maju dan sukses dalam perjuangan."
"Bila dikemudian hari kaupun bisa membantu empek Hee
untuk menegakkan keadilan dalam dunia persilatan, maka dari
itu empek sengaja menahanmu disini, dalam hal ini keponakan
pasti mengerti bukan ?"
Ia berbicara dengan ramah dan bersungguh sungguh,
sikapnya amat simpatik.
"Keponakan mengerti" Huan cu im manggut manggut.
"Tentang ayahmu" sambung Hoe Im hong lebih jauh,
"semenjak berpisah sepuluh tahun berselang, hingga kini
belum juga ada kabar beritanya, bukan sengaja empek
membual, tujuh propinsi diselatan dan enam propinsi diutara
boleh dibilang punya hubungan semua dengan benteng
keluarga Hee."
"seandainya berita tentang ayahmu ditemukan, berita
tersebut dengan cepat akan tersiar kemari, jadi hiantit cukup
berdiam disini saja. Kau tidak perlu mengembara untuk
mencari ayahmu. Dengan berbuat demikian, justru halmana
lebih bermanfaat bagimu, dalam hal ini hiantit tentu semakin
dapat legakan hati."
Huan cu im merasa apa yang dikatakan empek Hee
memang sejujurnya, lagipula gurunya juga pernah berkata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

demikian, maka sambil mendongakkan kepalanya dia berkata:


"Kalau begitu soal pencarian ayahku akan kuserahkan
semuanya kepada empek Hee"
"Ha ha ha ha ha buat apa mesti dibicarakan lagi ?" Hee Im
hong tertawa tergelak, "nah cukup waktu masih kelewat pagi,
keponakanpun harus beristirahat." sambil berkata ia bangkit
berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Buru buru Huan cu im menghantar empeknya itu sampai
keluar dari pintu ruangan. sambil melangkah keluar, kembali
Hee Im hong berpaling dan katanya sambil tertawa:
"lbumu mendidikmu kelewat menuruti tata kesopanan
padahal empek bukan orang luar, mengapa kau mesti kelewat
sungkan ?"
^ooooo0dw0ooooo^

Keesokan harinya, ketika Huan cu im bangun dari tidurnya


dan membuka pintu, dia lihat ada seorang dayang berbaju
hijau yang berwajah asing berdiri disana sambil membawa
sebuah baskom berisi air.
Begitu melihat pemuda itu munculkan diri, dayang tadi
segera menyapa dengan lembut.
"Huan kongcu, silahkan mencuci muka " suaranya halus,
lembut dan sangat enak didengar. Ternyata orang itu bukan Ji
giok.
sepintas lalu dayang berbaju hijau ini nampak lebih tua
satu dua tahun daripada Ji Giok, perawakannya tinggi
semampai, pinggangnya ramping dan sewaktu berbicara
matanya nampak bening, pipinya merah dan senyuman yang
tersungging diujung bibirnya nampak begitu manis, indah dan
menawan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika dayang itu melihat Huan cu im sedang memandang


kearahnya tanpa berkedip, tiba tiba pipinya berubah menjadi
semu merah, sambil menundukkan kepalanya dia berkata lagi.
"Huan kongcu, silahkan mencuci muka"
"Nona baru datang?"
"Benar" dayang itu mengiakan, " budak bernama Ci giok.
selanjutnya kongcu boleh menyebut ci giok kepada budak."
"Mana Ji Giok ?"
Mendadak ia menunjukkan sikap yang amat menaruh
perhatian atas diri Ji Giok sesuatu sikap yang dia sendiripun
tak tahu apa sebabnya bisa demikian.
"Adik Ji Giok sedang tak enak badan- maka congkoan
mengutus budak untuk melayani Huan kongcu"
"Ji Giok sakit ? Bukankah semalam dia masih segar bugar,
mengapa mendadak bisa jatuh sakit?" Tiba tiba Huan Cu im
teringat kembali bagaimana Ciu congkoan bertanya kepaa Ji
Giok tentang pesan terakhir Huan Gi semalam, sedang Ji Giok
memberi jawaban sesuai dengan apa yang diajarkan oleh lo
koan keh,jangan jangan ciu congkoan tidak percaya maka dia
sengaja menyingkirkan Ji Giok dari situ?
Menyusul kemudian iapun teringat kembali akan perkataan
dari Ji Giok. bila salah berbicara maka besar kemungkinan
akan menerima hukuman yang amat keji, bahkan perbuatan
seperti Ji Giok yang membocorkan rahasia, bisa jadi akan
diganjar hukuman mati.
Membayangkan kesemuanya itu, tiba tiba saja jantungnya
terasa menyusut kencang, tanpa sadar dia mengawasi wajah
Ci giok saat bertanya: "sekarang dia berada dimana?"
Tiba tiba Ci giok menutupi bibirnya sambil tertawa
cekikikan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Adik Ji Giok cuma bilang tak enak badan, coba lihat betapa
gelisahnya..."
Huan cu imjadi rikuh sendiri karena ditertawakan orang,
buru buru ia berkata lagi:
"Aaaaah, aku hanya bertanya sekenanya saja."
"kalau begitu cepatlah Huan kongcu mencuci muka hari ini,
Ciu congkoan akan mengawal layan lo koan keh pulang ke
dusun Kim gou cun, selesai sarapan nanti Huan kongcu harus
segera menulis surat untuk lo hujin, sebentar ciu congkoan
akan datang untuk mengambilnya . "
Huan cu im manggut manggut, cepat dia membersihkan
muka, lalu selesai sarapan dia kembali kekamar untuk menulis
surat dan melaparkan peristiwa yang menimpa lo koan keh
kepada ibunya.
Tak lama kemudian ciu Kay seng telah datang, ia datang
memberitahu kalau jenasah lo koan keh akan dimasukkan
kedalam peti mati dan berharap kedatangan Huan cu im.
Benteng keluarga Hee adalah suatu keluarga yang kaya
raya dan berpengaruh, oleh karena sang pocu telah berpesan
kepada Ciu congkoan agar memberikan upacara yang megah
untuk jenasah lo koan keh, terutama sekali Ciu Kay seng
memang berniat mengambil hati Huan cu im, maka semua
persiapan atas layan lo koan keh telah diatur dengan cara
amat sempurna, jauh lebih megah daripada kematian seorang
hartawan yang kaya raya. Tidak heran kalau Huan cu im benar
benar merasa berterima kasih sekali.
ATas perintah Heepocu, Ciu Kay seng mempersiapkan pula
delapan macam hadiah yang aneka ragam serta tiga ribu tahil
perak, ditambah seorang dayang yang khusus untuk melayani
Huan Toa nio.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im yang melihat semua kebaikan tersebut menjadi


amat rikuh, berulang kali dia berusaha untuk menampik. Tapi
Hee Im hong kembali berkata:
"Hiantit, mengapa sih kau mesti berlaku sungkan terhadap
empek Hee? sebetulnya aku malah mengira ayahmu masih
mempunyai beberapa tabungan- setelah kedatangan kalian,
empek baru tahu dari Ciu congkoan yang mendengar dari lo
koan keh tentang keadaan rumah tanggamu, rupanya kalian
hidup menggantungkan diripada beberapa puluh bau sawah.
Aaaai..... kesemuanya ini memang kesalahan empek. sejak
ayahmu meninggalkan rumah, aku tak pernah memperhatikan
rumah tanggamu dengan baik baik,"
"Coba hiantit bayangkan, setelah empek mengetahui akan
kejadian tersebut, betapa sedih dan menyesalnya hatiku.
Maksudku mengutus Ciu congkoan kesana tak lebih karena
kuingin dia mewakili untuk minta maaf kepada ibumu, padahal
berapa sih nilai dari benda benda itu? Apakah aku sebagai
saudara angkat ayahmu tidak sepantasnya memperhatikan
istri saudara sendiri?"
oleh karena dia telah berkata demikian maka Huan cu im
merasa tak enak untuk menampik lagi.
siang hari itu, Hee pocu datang sendiri untuk memberi
hormat terakhirnya kepada lo koan keh, Huan cu im turut
memberi hormat sambil menangis sedih.
Akhirnya Ciu Kay seng dengan membawa delapan orang
centengnya menggotong peti mati lo koan keh naik keatas
kereta dan berangkat untuk menempuh perjalanan.
sekembalinya dari menghantar keberangkatan jenasah,
Huan cu im seorang diri kembali ke gedung timur, bisa
dibayangkan betapa murung dan masgulnya anak muda
tersebut waktu itu.
Lo koan keh bukan cuma bergaul dengannya semenjak dia
masih kecil, dalam kunjungannya kebenteng keluarga Hee kali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini, mereka berdua sama sama memasuki gedung megah itu,


tapi baru dua hari, lo koan keh telah pergi meninggalkannya
secara tiba tiba sehingga kini tinggal dia seorang diri,
bagaimana mungkin perasaannya tidak sedih?
Dengan sepasang mata berkaca kaca dia berjalan
menelusuri kebun bunga menuju ke gedung tempat
kediamannya.
Ditengah perjalanan, tiba tiba dari balik semak disisi kanan
jalan dia mendengar ada dua orang sedang kasak kusuk.
sejak dia mempelajari tenaga dalam dari gurunya,
ketajaman mata maupun pendengarannya sudah melebihi
manusia biasa, tidak heran kalau dia dapat menangkap bahwa
orang yang sedang kasak kusuk itu adalah seorang pria
dengan seorang wanita. Terdengar si pria berkata dengan
lirih: " Waktunya kita tetapkan kentongan kedua malam
nanti."
"Aku mengerti" sahut sang perempuan-
Walaupun suara perempuan itu sangat lirih, namun nada
suaranya halus dan lembut. Dalam sekilas pendengaran saja
dapat diketahui kalau dia adalah Ci giok.
Pada jaman itu, memang sudah umum terjadi bahwa
seorang dayang dan seorang centeng melakukan hubungan
gelap atau perjanjian rahasia, karena itu Huan cu im berlagak
seakan akan tidak mendengar dan meneruskan langkahnya
kedepan-
siapa sangka baru saja berjalan sejauh enam tujuh
langkah, tiba tiba terdengar lelaki itu berkata lagi:
"Mungkinkah pembicaraan kita akan terdengar olehnya?"
"Tidak mungkin, orang she Huan itu tak lebih cuma
seorang anak ayam yang baru menetas."
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul pembicaraan tersebut, terdengar suara desingan


lirih bergema lewat, orang tadi meluncur keluar dari halaman
gedung dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Menyaksikan hal tersebut, Huan cu im segera berpikir:
"Hanya seorang centeng dari benteng Hee saja dia sudah
memiliki gerakan tubuh yang begitu cepat, kalau begitu
kepandaian silat yang dimiliki empek Hee pasti lebih hebat
lagi"
Belum sempat ia duduk setibanya di kamar baca Ci giok
telah muncul pula dibelakang tubuhnya, malah sambil menjura
katanya,
"Huan kongcu telah kembali, peti mati lo koan keh pasti
sudah diberangkatkan?"
sewaktu berbicara bukan cuma suaranya yang halus
lembut, lagipula senyumannya menawan hati, menimbulkan
suatu daya tarik yang luar biasa.
"Bagus, bagus sekali" demikian Huan cu im berpikir dihati, "
dibelakang ku kau mengatakan aku sebagai anak ayam yang
baru menetas, sekarang bila berada dihadapanku kau begitu
menyanjungku"
SEmentara itu Ci giok telah mengerdipkan matanya dan
berkata lagi sambil tersenyum.
"Huan kongcu, apa yang sedang kau pikirkan dalam hati?"
Huan cu im terkejut sekali menghadapi pertanyaan tersebut
diam diam pikirnya:
"Teliti dan cerdas amat jalan pemikiran budak ini"
Tapi diluarnya dia berlagak pilon sahutnya dengan hambar:
"Aaaah, aku tidak berpikir apa apa"
"Budak akan menuangkan air teh untuk kongcu" kata Ci
giok kemudian sambil membalikkan badan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im tidak menggubris dirinya dan duduk seorang


diri dimeja baca, diambilnya sejilid kitab syair dari Li Tay pak
dan dibalik balik dua halaman, tapi ia tak tahu apa yang
sedang dibacanya.
Dalam hati kecilnya dia selalu dihantui dengan perkataan
dari lo koan keh menjelang ajalnya, dia tidak diperkenankan
berdiam lebih lama lagi disana tapi disuruh pergi ke kota Kim
lang dan mencari cong piautau dari biro ekspedisi seng
kipiaUkiok yang bernama seng bian tong.
Tapi apakah hubungan antara seng Bian tong dengan
ayahnya? Hingga kini dia belum juga habis mengerti.
Lagipula empek Hee adalah saudara angkat ayahnya dan
bersikap baik kepadanya, apa dia harus pergi dengan begitu
saja? bukankah gurunya juga berpesan agar dia datang
mencari empek Hee?
sekarang, apa yang harus dia perbuat? Menuruti perkataan
dari lo koan keh? Atau tidak usah?
sorot matanya dialihkan keluar jendela dan termangu,
begitu termangunya hingga tidak dirasakan olehnya Ci giok
sudah berdiri disisinya.
"Huan kongcu, silahkan minum teh" ujar ci giok sambil
meletakkan cawan tehnya keatas meja.
"TErima kasih nona" sahut sang pemuda agak terkejut.
Kembali Ci giok tertawa manis.
"Eeehh...... Huan kongcu, mengapa kau malah bersikap
begitu sungkan terhadap budak? oya, aku lihat Hua kongcu
seperti dibebani oleh suatu masalah yang mengganjal dalam
hati?"
sebenarnya Huan cu im tidak memandang kearahnya,
sekarang dia menutup bukunya dan mendongakkan
kepalanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak ada" sahutnya.


"Biar Huan kongcu tidak mengatakannya, budakpun dapat
melihatnya sendiri." kata Ci giok lagi sambil tertawa manis.
"Apa yang bisa kau lihat?" ci giok tertawa misterius.
"Masa kongcu memaksa budak untuk mengutarakannya?"
"Coba kau katakan"
sambil menunjukkan jari tangannya Ci giok bertanya lagi
sambil tertawa rendah. "Kongcu merasa masgul dan tak
senang hati karena sedang teringat akan seseorang."
"oya?"
"Kongcu pasti menganggap pelayanan budak kurang baik,
maka kau jadi teringat selalu dengan adik Ji Giok, bukankah
begitu?"
Merah padam selembar wajah Huan cu im setelah
mendengar perkataan itu, serunya sambil tertawa:
"Aaaah, nona ini memang suka memikirkan yang bukan
bukan"
"Benarkan budak memikirkan yang bukan bukan?" ci giok
mengerling genit, "menurut budak. justru kongcu sendiri yang
kelewat romantis."
"Noan, kau jangan sembarangan berbicara" tegur Huan cu
im dengan wajah serius.
"Harap Huan kongcu sudi memaafkan kesilafan budak"
"Tidak. aku tidak berani menegurmu"
"Terima kasih Huan kongcu" ci giok menundukkan
kepalanya.
"SEkarang aku ingin duduk tenang seorang diri, kau boleh
keluar dari sini"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ci giok mengiakan dan mengerling sekejap kearah pemuda


itu sebelum mengundurkan diri.
Huan cu im duduk beberapa kali dengan pikiran dan
perasaan yang amat gundah, kemudian ia bangkit berdiri dan
menuju ke jendela sebelah selatan, disitu ia berdiri termangu
mangu entah kemana larinya pikirannya...
Lambat laun udara semakin gelap. tapi dua masih berdiri
seorang diri didepan jendela tanpa berkutik,
Ci giok muncul dengan membawa lentera, sapanya lembut:
"Huan kongcu, silahkan bersantap"
Huan cu im menyahut sekenanya dan mengikutinya menuju
kekamar baca, disebuah meja kecil terlihat hidangan telah
dipersiapkan-
"Kongcu mau minum arak ?" kemudian ci giok bertanya.
"Tidak. aku tidak minum arak"
"Budak tahu kalau kongcu tidak minum arak. maka tidak ku
sertakan poci araknya mari budak ambilkan nasi untukmu."
SEjak berdiam digedung timur ini, Huan cu im selalu
bersantap bersama lo koan keh, malam ini dia harus
bersantap seorang diri, tak terasa lagi perasaan murung dan
kesal kembali menyelimuti perasaannya .
Apalagi selama berapa hari belakangan ini Ji Giok lah yang
selalu melayani kebutuhannya, walaupun kini ditukar dengan
ci giok yang cantik dan luwes dalam pelayanan, toh timbul
juga perasaaan yang amat tak sedap.
Ketika Ci giok mengembalikan semangkuk nasi, Huan cu im
hanya menyuap beberapa suapan saja, ia merasa tak sukar
untuk menelan nasi nasi itu melalui kerongkongan-
Walaupun hanya semangkuk nasi, ia harus membuang
banyak waktu dan tenaga untuk meng habiskannya .
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Budak akan menambahkan nasi untuk kongcu" kata ci giok


selesai pemuda itu menghabiskan nasinya.
"Tidak, tidak usah" Huan cu im menggeleng. setelah minum
dua tegukan kuah, dia pun bangkit berdiri
ci giok menghidangkan sapu tangan panas dan secawan air
teh lalu membereskan piring sisa dan mengundurkan diri
Tak selang beberapa lama, Ci giok telah muncul kembali
disitu sambil berkata: "Apakah Huan kongcu masih ada urusan
yang membutuhkan pelayanan dari budak?" Huan cu im
segera berpikir:
"Yaaa, betul, malam ini dia ada janji dengan kekasihnya,
tak heran kalau dia ingin secepatnya pergi beristirahat." Maka
jawabnya sambil tersenyum:
"sudah tak ada urusan lagi, kau boleh beristirahat"
"kalau begitu budak mohon diri lebih dulu"
Gadis itu membalikkan badan dan segera mengundurkan
diri.
Kembali kekamarnya Huan cu im menutup pintu lalu duduk
bersemedi diatas pembaringan, namun pikirannya terlalu
gundah sehingga sukar baginya untuk menenangkan pikiran-
Akhirnya ia membaringkan diri siap berangkat tidur, siapa
tahu pikiran tetap kalut sehingga mata tak mau terpejam.....
Entah beberapa saat lamanya sudah lewat, dari kejauhan
sana terdengar suara kentongan berbunyi dua kali, pertanda
sudah mendekati kentongan kedua.....
Pada saat itulah tiba tiba dari atas atap rumah terdengar
suara yang amat lirih, kelas ada orang sedang berjalan diatas
atap rumah.
"Aaah, manusia berjalan malam" pekik Huan cu im dengan
perasaan tergerak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat dia teringat kembali akan janji ci giok dengan


lelaki tersebut pada kentongan kedua, pikirnya lebih jauh:
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini lihay
sekali, jangan jangan mereka bukan melakukan suatu
pertemuan melainkan mempunyai suatu rencana tertentu?"
sementara dia masih termenung, dari depan halaman sana
terdengar lagi suara ujung baju terhembus angin, ia
berkelebat lewat dari arah barat menuju keutara.
Huan cu im segera mengenakan pakaian dan membuka
jendela sebelah utara, dari sana dia melompat keluar dari
ruangan dan melompat naik keatas atap rumah.
Angin dingin berhembus lewat membuat pikirannya menjadi
seger kembali, betul juga, dikejauhan sana tampak dua sosok
bayangan manusia sedang bergerak menuju kearah utara
dengan kecepatan luar biasa.
Biarpun sudah dua hari dia berdiam dibenteng keluarga
Hee, tapi berhubung bangunan dalam benteng itu amat rapat,
dia tak tahu kemanakah perginya kedua orang manusia
berjalan malam itu.
Tapi setelah mengetahui hal ini, dia merasa berkewajiban
untuk mengikuti dan mengetahui apa gerangan yang terjadi.
Berpikir demikian dia lantas melejit kemuka dan mengejar
kedua orang itu dengan cepat.
setelah melewati dua buah bangunan rumah, didepan sana
muncul sebuah dinding pekarangan setinggi dua kaki.
setelah dia melompati dinding pekarangan tersebut, baru
diketahui diluar sana terdapat sebuah jalan yang tembus
kekebun hanya suasana disitu gelap gulita dan tak nampak
setitik cahayapun-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam diam Huan cu im mengangguk, lenyapnya kedua


orang itu barusan sudah pasti telah menuju kekebun belakang
melaluijalan tersebut.
Adapun alasan mereka dengan melalui jalan kecil ini
pastilah dikarenakan jalanan itu jarang dilalui orang dihari hari
biasa, berarti diwaktu malam keadaannya pasti lebih sepi lagi,
jadi kemungkinan jejak mereka ketahuan pun amat minim.
Begitulah, sambil berpikir dihati Huan cu im tetap
mempercepat langkahnya menyusul kedua orang tadi untuk
menghindari jejaknya ketahuan, sepanjang jalan dia berlaku
sangat berhati hati dan mengusahakan langkah seringan
mungkin-
Tak lama kemudian ia sudah tiba diujung jalan, sebuah
dinding rendah menghadang jalan perginya.
Diatas dinding itu terdapat sebuah pintu bulat, kedua belah
pintu kayunya tertutup rapat diatas pintu terlihat gembokan
besar, namun bayangan tubuh kedua orang tadi sudah tak
nampak lagi.
Dinding itu hanya beberapa kaki berarti kedua orang itu
sudah melompati dinding tadi.
Huan cu im tak berani berayal, belum tiba dibawah dinding,
kakinya sudah menutul cepat dan melayang keatas dinding.
setibanya kembali diatas permukaan tanah, ia baru melihat
ada sebuah jalan kecil beralas batu cadas terbentang kedepan
sana, kedua sisinya penuh dengan rak bunga, tidak diketahui
jalan tersebut tembus hingga kemana?
Dalam kegelapan malam, lamat lamat dia dapat merasakan
adanya bangunan besar, gardu dan gunung gunungan yang
indah dibalik pepohonan, agaknya ia sudah berada dikebun
belakang benteng keluarga Hee.
sedang kedua sosok bayangan manusia tadi, kini sudah
pergi entah kemana?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"CElaka" ia mengeluh dihati.


Kebun bunga itu sangat luas, jangan lagi dua orang,
sekalipun dua puluh orang juga susah ditemukan setelah
berada disana.
Ditengah keraguan itu, tiba tiba Huan cu im melihat
sesosok bayangan manusia muncul dari atas gunung
gunungan dikejauhan sana, bayangan itu muncul dengan
kecepatan luar biasa, setelah berputar satu lingkaran diudara,
tiba tiba lenyap kembali.
" Cepat amat gerakan tubuh orang ini" sorak Huan cu im
dihati.
Dengan ditemukannya jejak tersebut, ia tidak akan
melepaskannya lagi dengan begitu saja, sambil mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya ia meluncur kedepan dengan
menyelinap diantara pepohonan-
Namun ketika ia sampai disisi kiri gunung gunungan itu,
bayangan lawan sudah lenyap tak berbekas, mestinya pihak
lawan sudah mengejar kearah dua orang pertama tadi.
Adegan demi adegan yang dijumpainya malam ini
menambah kecurigaan sianak muda kita, dia sadar bukan
hanya dua orang manusia yang munculkan diri malam itu, tapi
mau apakah mereka? Mungkinkah musuh musuh empek
Heenya yang datang mencari balas?
Iapun sadar, manusia seperti mereka hanya boleh diikuti
secara diam diam, sebisa mungkin dia harus menhindari
bentrokan secara langsung dengan lawan-
Maka setibanya disamping gunung gunungan dia
menyelinap kembali kebelakang pepohonan-
Dengan sorot mata yang tajam, tak lama kemudian ia
jumpai sesosok bayangan manusia tergeletak kaku ditanah,
jaraknya tak jauh dari ia berada sekarang. Penemuan ini
membuat hatinya makin terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau dilihat dari dandanan orang tersebut, ia mirip


seorang centeng, yang aneh dia tergeletak tak berkutik disitu,
entah sudah tewas? Entah sudah tertotok jalan darahnya?
Diam diam ia menyelinap kemuka dan menghampiri orang
itu, betul juga orang itu memang seorang centeng, hanya
jantungnya yang sudah berhenti berdetak karena sebuah
pukulan yang keras, tubuhnya sudah mulai mendingin-
"Benar benar keji perbuatan orang ini" pikir Huan cu im
penuh kemarahan, "tak salah lagi pasti hasil perbuatan dari
orang yang berusaha munculkan diri dari belakang gunung
gunungan, justru karena dia menyerang dengan pukulan berat
maka korbannya tewas tanpa bersuara. sekarang bisa
kusimpulkan, orang yang berdatangan pada malam ini
memang nyata musuh musuh besar empek Hee" Kemudian ia
berpikir lebih jauh:
"Aaaah, betul Tampaknya ci giok si budak itu sudah
bersekongkol dengan orang, buktinya dia punya janji dengan
orang pada kentongan kedua malam ini, Tak heran dia
mengatakan aku cuma anak ayam yang beru menetas dan
sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap
diriku. Hmmm"
"Kalau dilihat senyuman yang manis, wajahnya yang cantik
dan gerak geriknya yang lembut, tak tahunya ia bisa berhianat
terhadap majikannya sendiri dan berkomplot dengan kaum
bajingan, Hmmm setelah ketahuan rencana busuknya, aku
harus membongkar sampai tuntas pada malam ini...."
Dengan ditemukannya korban disekitar tempat itu Huan cu
im menduga pihak lawan belum pergi terlalu jauh, dengan
bersembunyi dibalik semak belukar pemuda itu bergerak maju
dengan berhati hati sekali melingkari sebuah kolam yang ada.
Di depan sana terbentang sebuah jembatan kecil yang
berbentuk lengkung, kemudian dibelakangnya terbentang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

padang rumput yang luas ditengahnya berdiri lima buah


pesanggrahan yang lamat lamat memancarkan cahaya lentera.
Melihat situasi demikian, Huan cu im menghentikan
langkahnya disisi kolam sambil mengintip keluar, sebab untuk
melewati padang rumput yang luas tanpa tempat
persembunyian jelas bukan pekerjaan mudah apalagi dibalik
rumah rumah itu jelas ada penghuninya.
"Haaahhh..... haaaahhhh...... haaahhh......"
Mendadak dibalik ruangan bergema suara tertawa yang
amat menyeramkan, menyusul kemudian terdengar seseorang
berkata dengan suara yang serak tua:
"setelah kalian masuk kedalam benteng keluarga Hee,
mengapa pula harus menyembunyikan diri? Apakah kuatir aku
memberi pelayanan yang kurang memuaskan?"
suara orang ini amat dingin dan menyeramkan, membuat
siapapun yang mendengarkan merasa amat tak sedap.
"Orang ini bukan empek Hee" Huan cu im segera berpikir,
"tapi siapakah dia? Kalau didengar dari nada pembicaraannya,
jelas amat tekebur."
sementara dia masih berpikir, terdengar suara gelak
tertawa bergema pula dari sisi kanan-
Ditengah gelak tertawa itu, sesosok bayangan manusia
melayang keluar dari balik lapangan rumput, ternyata dia
adalah seorang kakek berbaju biru yang menggembel pedang,
tampangnya kelihatan bersih dan amat keren-
Antara tempat persembunyian Huan cu im dengan
lapangan rumput itu selisih sebuah kolam, apalagi ditengah
kegelapan malam, maka yang tampak olehnya hanya sesosok
tubuh yang terlihat dari samping, otomatis wajahnya tidak
nampak jelas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia merasa usia orang itu diantara lima puluh tahunan, tapi


gerak geriknya amat lembut dan halus, diam diam pikirnya
kemudian-
"Mungkin orang inilah yang beru muncul dari balik gunung
gunungan tadi"
SEtelah tiba dilapangan rumput itu, dengan suara lantang
manusia berbaju biru itu berseru kembali.
"Aku orang she Ciang telah datang, siapakah kau? Mengapa
tidak segera menampakan diri?"
orang yang berada didalam ruangan gedung itu tertawa
tergelak:
" Kukira siapa yang telah muncul, rupanya Ciang Tayhiap
yang disebut orang sebagai Kim mau hou (Pekikan sibulu
emas)"
Ditengah pembicaraan tersebut, dari balik gedung pelan
pelan berjalan kelaur seseorang berbaju panjang, terdengar ia
berkata lebih lanjut: "Kedatangan kalian akan kusambut
dengan semestinya....."
Cahaya lentera menyorot keluar dari balik gedung, apalagi
orang itupun berjalan dengan amat lamban, maka Huan cu im
dapat menyaksikan wajahnya dengan jelas.
orang itupun berusia lima puluh tahunan, berwajah kuda
yang sempit lagi memanjang dengan dikombinasikan dengan
sepasang mata kecil yang bersinar tajam hidung membengkok
seperti paruh elang dan jenggot kambing yang panjang,
perawakan tubuhnya ceking lagi jangkung.
Dalam sekilas pandangan saja, Huan cu im dapat
merasakan hawa sesat yang terpancar keluar dari tubuhnya.
Ketika simanusia berbaju biru itu melihat munculnya
manusia ini, agaknya ia tertegun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena diluar dugaan, kemudian serunya setelah termangu


sesaat: "Aaaah, masa kau adalah soh loko?"
Dari nada suara itu, selain terlintas perasaan diluar dugaan
bahkan dipenuhi dengan rasa kaget.
Kakek ceking itu kembali tertawa seram.
"Benar, akulah orangnya, soh Han sim, apakah ciang
tayhiap merasa sedikit diluar dugaan?"
Huan cu im belum pernah mengembara didalam dunia
persilatan, tentu saja diapun tak tahu kalau nama besar Kim
mau hou Ciang cu tin sudah menggetarkan utara maupun
selatan sungai besar, sepanjang hidupnya entah berapa
banyak pertarungan besar yang pernah dialami orang itu,
pada hakekanya tiada kejadian didunia ini yang bisa
mengagetkan hatinya.....
Kalaupun dibilang ada, maka kejadian tersebut adalah
perjumpaannya dengan soh Han sim ditempat ini.
soh Han sim bergelar Kiu tau nio burung berkepala
sembilan, ia termasuk tokoh persilatan yang bernama busuk
diantara tiga belas partai sesat.
SEtelah perasaan kagetnya hilang, Kiang cu tin segera
mengendalikan kembali emosinya, kembali ia berkata
"Yaa perjumpaanku dengan soh lo kopada malam ini
memang benar benar mendatangkan perasaan tercengang
dan diluar duggan untuk aku orang she Kiang"
"Padahal sedikitpun tidak ada yang aneh" Soh Han sim
tertawa, "sebab aku telah bergabung menjadi congkoan dari
benteng keluarga Hee"
Kiang cu tin agak tertegun setelah mendengar ucapan itu,
Kiu Tau nio (Burung berkepala sembilan) soh Han sim sudah
puluhan tahun termashur dalam dunia persilatan, selama ini
dia memandang rendah segala kehidupan keduniawiaan, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang mengapa dia malah muncul sebagai congkoan dari


benteng keluarga Hee?
Huan cu im turut tertegun oleh ucapan tadi, biarpun dia
belum tahu tentang identitas soh Han sim, ia mengetahui
secara pasti bahwa congkoan dari benteng keluarga Hee
adalah ciu Kay seng, mengapa dia mengaku sebagai congkoan
dari benteng keluarga Hee sekarang..? Dalam pada itu Kiang
cu tin telah berkata lagi sambil tertawa tergelak:
"ooooh rupanya soh loko telah mendapat kehormatan
utnuk menjadi congkoan benteng keluarga Hee, kalau begitu
maaf bila siaute bersikap kurang hormat"
"Kiang tayhiap tak usah memuji" soh Han Sim masih saja
senyum tak senyum, " boleh aku tahu, ada urusan apakah
Kiang tayhiap mengunjungi benteng keluarga Hee ditengah
malam buta begini? Apakah memerlukan bantuan siaute?"
Biar ucapan tersebut enak didengar, namun bagi Huan cu
im yang sama sekali tak berpengalamanpun dapat mendengar
pula kalau soh Han sim bukan bersungguh hati hendak
membantu Kiang cu tin, sebab nada suaranya amat dingin
menyeramkan, sudah jelas mengandung nada permusuhan
yang begitu tebal.
"Pertanyaan soh loko memang amat tepat, sesungguhnya
kedatangan siaute adalah ingin menjenguk Cing im toheng"
Sekarang Huan cu im baru teringat, ketika ia bersama lo
koan keh mengunjungi empek Heenya kemarin, ciu congkoan
telah datang melaporkan bahwa Cing im totiang dari Go bi pay
datang berkunjung, kemudian empek Hee munculkan diri
dengan tergopoh gopoh untuk menyambut kedatangannya..
Dalam pada itu soh Han sim telah memperdengarkan suara
tertawa dinginnya yang menyeramkan, ia berkata:
"Ketajaman mata dan pendengaran dari Kiang tayhiap
sungguh amat hebat, agaknya Kiang tayhiap juga tahu kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cing im totiang telah diterima sebagai tamu agung oleh


benteng keluarga Hee serta dijamu dalam loteng Teng gwat
lo"
Arti dari "ketajaman mata dan pendengaran" tersebut
sudah jelas mengartikan bila Kiang cu tin tidak mempunyai
mata mata didalam benteng itu darima na ia bisa tahu tempat
kediaman dari Cing im totiang?
Maksud dari perkataan itu sudah barang tentu tak akan
dipahami oleh Huan cu im, tapi berbeda dengan Kiang cu tin
yang merupakan seorang jago silat kawakan. Paras mukanya
segera berubah hebat setelah mendengar perkataan itu,
ujarnya kemudian-
"soh loko adalah congkoan benteng keluarga Hee, setelah
siaute utarakan maksud kedatanganku sekarang, harap kau
sudi memberi laporan ke dalam."
"Aku rasa hal ini mungkin sulit."
"Apakah soh loko tidak bersedia memberi laparan?"
"Bukan begitu" jawab soh Ban sim, "kesatu, Cing im totiang
tak ingin bertemu orang, kedua kedatangan Kiang tayhiap
bukan pada saat yang tepat"
"Apa maksud soh loko berkata demikian?"
"Nama besar Kiang tayhiap dalam dunia persilatan sudah
cukup termashur, bila kedatanganmu kebenteng keluarga Hee
berdasarkan adat kesopanan maka kau tak malu menjadi
tamu agung kami, tapi sekarang..... Kiang tayhiap berkunjung
ditengah malam buta, apalagi secara langsung datang
keloteng Teng gwat lo.,..."
Pelanpelan dia mengangkat wajahnya yang sempit
memanjang serta kaku tanpa emosi itu, kemudian
melanjutkan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Loteng Teng gwat lo merupakan salah satu daerah


terlarang dalam benteng kelaurga Hee, siaute sebagai
congkoan dari benteng ini meski ada niat memberi muka
kepada Kiang tayhiap. namun hal tersebut kurang leluasa
rasanya, oleh sebab itu.... terpaksa....."
SE waktu mengucapkan kata kata yang terakhir, tiba tiba
saja ia menarik suaranya panjang panjang dan tidak
melanjutkan kata katanya....
Kiang cu tin sudah lama berkelana dalam dunia persilatan,
tentu saja diapun bisa menangkap nada yang kurang
bersahabat dari si burung berkepala sembilan soh Han sim
tersebut, tanpa terasa ujarnya kemudian dengan suara dalam:
"Mengapa soh loko tidak melanjutkan kata katamu?"
"siaute tak berani menuruti suara hati" ucap soh Han sim
dengan suara menyeramkan, "oleh sebab itu terpaksa akan
menangkap Kiang tayhiap serta menantikan hukuman dari
pocu.”
-oo0dw0oo-

JILID : 6

”oooh, rupanya soh loko bermaksud akan menantang


siaute untuk bertaruh ?” ucap Kiang cu tin sambil tertawa
nyaring
”Bilamana hal ini perlu, tentu saja aku akan melakukannya”
”Bila malam ini setelah berjumpa dengan soh loko, aku
orang she Kiang memang sudah merasa kalau masalahnya
tidak bakal bisa diselesaikan secara baik baik.”
”Itu namanya situasi bagaikan karang saiju bukan?” Soh
Han sim menjengek. ”sudahlah, sekarang siaute ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertanya lagi kepadamu pada malam ini berapa banyak anak


buah yang telah Kiang tayhiap bawa?”
”Hanya aku orang she Kiang seorang, aku sama sekali tidak
membawa konco.”
”Haaahhh.... haaahhh... haaahhh....” Soh Han sim tertawa
terbahak bahak, ”mungkin ucapan Kiang tayhiap bukan
muncul dari hati yang jujur bukan ?”
”Jadi soh loko tidak percaya?”
”Percaya atau tidak segera dapat dibuktikan dengan jelas
asal bukti yang nyata tersedia, bukan begitu? Siaute
bermaksud akan memperlihatkan dua orang kepada Kiang
tayhiap. Entah Kiang tayhiap kenali mereka atau tidak?”
Berbicara sampai disitu, dia lantas membalikkan badan sambil
membentak: ”Petugas, bawa kemari kedua orang mata mata
tersebut.”
Ditengah bentakan, terlihat empat orang lelaki berpakaian
ringkas yang membawa golok baja terhunus, munculkan diri
sambil menggusur dua orang manusia yang sepasang
tangannya digelenggu.
Kedua orang ini berusia empat puluh tahunan, perawakan
tubuhnya pendek lagi ceking, dia adalah si bintang kejora
Huan Tong sedangkan yang lain berusia tiga puluh tahunan
dan bertubuh kekar, orang ini masih terhitung keponakan
murid Kiang cu tin yang bernama Lu Siu....
Perlu diketahui, Kiang cu tin berasal dari Go bipay, dia
masih terhitung saudara seperguruan dari cing im totiang,
rupanya ketika ia lagi berbincang bincang dengan si burung
berkepala sembilan Soh Han sim, Huan Tong serta Lu Siu
telah manfaatkan kesempatan itu untuk menyelundup
kedalam rumah serta berusaha menolong cing im totiang,
siapa tahu perbuatannya itu ketahuan lawannya dan akhirnya
kena dibekuk. Kiang cu tin gusar sekali setelah menyaksikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kejadian itu, segera bentaknya : ”Soh Han sim, kau.....” soh


Han sim tertawa seram,
”Heeee, heeeee, heeeee, harap Kiang tayhiap jangan
marah, Teng Gwat lo merupakan tempat yang disediakan
untuk menyambut tamu agung apalagi saat ini cing im totiang
telah beristirahat, siapapun dilarang mengganggu
ketenangannya, oleh sebab itu sudah sewajarnya bila anak
buahku membekuk mereka.”
”Apa yang telah kalian lagi lakukan berhadap cing im
toheng?”
”Waaaah...... lagi lagi Kiang tayhiap salah berbicara, cing
im totiang adalah tamu agung kami, coba pikirkan apa yang
kami lakukan terhadapnya.”
”Tamu agung?” Kiang cu tin segera mendongakkan
kepalanya dan tertawa tergelak gelak. ”menurut apa yang
kuketahui, kalian telah menawan cing im toheng disini, loteng
Teng Gwat lo tak lebih merupakan tempat kalian menyekap
orang, ucapanku ini tak salah bukan?”
Huan cu im yang dapat pula turut mendengarkan
pembicaraan tersebut diam diam menjadi keheranan, menurut
apa yang diketahui olehnya, Go bi pay termasuk satu dia ntara
delapan partai besar, partai itu adalah sebuah perguruan
kaum lurus, tapi sekarang mengapa empek Hee malah
menahan dan menyekap cing im totiang dari Go bi pay?
Sementara itu Soh Han sim telah berkata lagi setelah
memperdengarkan suara tertawa seramnya yang menusuk
pendengaran-
” Kiang tayhiap. Tampaknya tidak sedikit yang berhasil kau
ketahui.”
”Harap Soh loko selekasnya mengabarkan kepada Hee
pocu, nama besarnya bukan diperoleh secara mudah, harap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

selekasnya ia bebaskan cing im toheng, sebab dengan begitu


keadaan masih mendingan, kalau tidak...”
” Kiang tayhiap. Pernahkah kau dengar orang bilang
tentang perkataan setelah bertindak satu, mengapa tidak
bertindak semuanya?”
”Rupanya kalian bermaksud hendak memusuhi Go bi pay
kami?” teriak Kiang cutin marah.
”Apa yang mesti ditakuti dengan Go bi pay?” jengek Soh
Han sim sambil tertawa seram, ”sekalipun sembilan partai
besarpun belum tentu akan dipandang sebelah matapun oleh
pocu kami, lebih baik Kiang tayhiap tak usah mengandaikan
nama Go bipay untuk menakut nakuti orang.”
Kiang cu tin semakin naik darah, mencorong sinar tajam
dari balik matanya, mendadak ia meloloskan pedang, lalu
sambil menuding kemuka dengan menggunakan ujung
pedangnya ia menghardik.
”orang she Soh, mari, biar aku orang she Kiang mencoba
jurus ampuhmu lebih dulu.”
Di tengah bentakan, tiba tiba sebelah kakinya menjejak
tanah dan tubuhnya secepat kilat menerjang kearah keempat
lelaki berbaju hijau yang menyandera Huan Tong serta Lu Siu
tersebut.
Pada saat tubuhnya sedang menerjang kemuka, pedangnya
secepat kilat telah melancarkan empat buah bacokan berantai,
tampak empat gulung cahaya pedang yang menyilaukan mata
seperti berkuntum kuntum bunga segera meluncur kebawah.
Si burung berkepala sembilan Soh Han sim hanya berpeluk
tangan sambil menyaksikan Kiang cu tin bertindak, wajahnya
dingin dan kaku tanpa emosi, sikapnya acuh tak acuh, seolah
olah ia sama sekali tak berminat untuk melibatkan diri dalam
pertarungan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keempat lelaki berbaju hijau yang menhadapi ancamanpun


kelihatan tenang sama sekali tak kalut, dua orang diantaranya
segera menggerakkan senjata masing masing dan melepaskan
sebuah tangkisan silang kemuka. ”Traaaang”
Serangan pedang Kiang cutin yang amat dahsyat itu segera
terbendung oleh tangkisan tersebut.
Sementara itu, dua bilah golok yang lain telah membacok
keluar, dua gulung cahaya golok secara terpisah mengancam
kedua iga Kiang cu tin.
Meskipun hanya satu jurus, namun keempat orang itu
dapat mengkominasikan gerakan gerakan bertahan serta
gerakan menyerang, benar benar sebuah kerja sama yang
sangat bagus.
Kiang cu tin amat terperanjat, buru buru dia gunakan
tenaga tangkisan lawan untuk melompat mundur keposisi
semula.
Soh Han sim sendiripun tidak bicara, dia hanya
mengulapkan tangannya menitahkan keempat lelaki berbaju
hijau itu mundur dari situ sambil menggusur kedua orang
tawanannya.
Setelah itu dia baru berkata dengan suara menyeramkan:
” Kiang tayhiap. Para centeng dari benteng kami tidak
terhitung gentong gentong nasi semua bukan? Menurut
nasihat siauwte, lebih baik buang saja senjatamu itu dan
menyerah kalah, daripada nantinya menyesal.”
” orang she Soh” Kiang cu tin tertawa keras saking
marahnya, ”kau tak usah tekebur, tak usah tekebur
dihadapanku, berapa banyak kemampuan yang kau miliki tak
ada salahnya kalau kita coba pertarungkan sampai titik darah
penghabisan-”
”Jadi kau ingin bertarung melawanku?” jengek soh Han sim
sambil tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari nada suara pembicaraannya, seakan akan dia tak sudi


untuk bertarung melawan Kiang cu tin.
Tentu saja perkataan itu semakin meluapkan hawa amarah
Kiang cu tin, segera bentaknya keras keras-
”Soh Han sim, bila kau tidak turun tangan lebih dulu, aku
orang she Kiang akan menyerang duluan.”
Soh Han sim tertawa dingin, tangan kirinya dikebaskan
pelan, dalam ulapan tangan inilah seorang lelaki baju hijau
yang menyoren pedang telah munculkan diri dari balik pintu
dengan langkah cepat.
Pelan pelan Soh Han sim mengangkat wajahnya serta
memandang kearah Kiang cutin, kemudian menitahkan-
”coba kau terima beberapa jurus serangan dari Kiang
tayhiap”.
”Hamba terima perintah” lelaki berbaju hijau itu
mengiakan-
Tiba tiba ia membalikkan badan serta mengamati wajah
Kiang cu tin lekat lekat, sesudah memberi hormat katanya:
”Silahkan Kiang tayhiap memberi petunjuk”.
Orang ini baru berusia tiga puluh lima tahunan, mukanya
kuning dengan sorot mata yang tajam, bahkan memancarkan
pula sinar kelicikan yang luar biasa. Sambil menatap wajah
lawannya, Kiang cu tin segera menegur, ”Siapakah kau?”
”Aku mendapat perintah untuk minta petunjuk dari Kiang
tayhiap. Jadi aku pikir tak perlu untuk menyebutkan nama.”
”Hmm, jadi kau tak bernama? Selama hidup aku orang she
Kiang paling tak sudi bertarung melawan manusia tanpa
nama” dengus Kiang cu tin dingin. Soh Han sim tertawa
seram, tiba tiba dia menyela.
”Kiang tayhiap cukup mengetahui kalau ia adalah anggota
dari benteng kami. Dia turun tangan mewakili aku, jadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seandainya Kiang tayhiap bisa ungguli dia, nanti siauwte pasti


akan layani pula tantanganmu. Tapi bila kau tak mampu
mengungguli dirinya, lebih baik turuti saja nasehatku dan
menyerah kalah saja”.
Kiang cu tin sungguh amat gusar oleh kata kata itu dia
segera berseru:
”Baiklah, sekarang kau boleh lancarkan seranganmu”.
”Maaf, aku akan menyerang duluan,” kata manusia berbaju
hiaju itu dingin.
Pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, lalu diantara
berkelebatnya cahaya hijau dia maju sambil melepaskan
sebuah tusukan kilat.
Kiang cu tin mendengus dingin melihat datangnya ancaman
tersebut, batinnya ”Bocah keparat ini benar benar sombong
dan tekebur”
Sambil miringkan badan meloloskan diri dari ancaman, dia
lepas pula sebuah serangan balasan, lalu dengan jurus naga
sakti melangkah berputar, dia menyerobot kehadapan lawan
kemudian-... Sreeeetttt, sreeet, secara beruntun melepaskan
tiga buah tusukan berantai yang tak kalah cepatnya.
Dia berasal dari Go bipay, asal diberi kesempatan untuk
turun tangan, maka tiga jurus serangan berantai segera
dilancarkan bersamaan waktunya, dan sekali serangan sudah
dilepaskan maka jurus jurus serangan berikutnya secara
beruntun akan mengalir keluar pula tiada hentinya.
Ilmu pedang Luanpoh hong kiam hong (ilmu pedang angin
ribut) dari Go bipay memang terhitung semacam kepandaian
ilmu pedang yang amat dahsyat, bila serangan telah
dilepaskan maka ibarat angin ribut yang menderu deru,
cahaya pedang akan menyambar terus menerus tanpa
berhenti, sebilah pedang dapat dirubah menjadi berpuluh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

batang, membuat pandangan orang akan menjadi kabur dan


kebingungan sendiri.
Sesungguhnya ilmu pedang yang dimiliki manusia berbaju
hijau itupun sangat lihay, tapi berhubung sejak pertarungan
yang pertama ia sudah kena didesak lebih dulu olah Kiang cu
tin dan terkepung dibalik lapisan cahaya pedangnya yang
berlapis lapis, maka untuk beberapa saat sulit baginya untuk
menghadapi ancaman ancaman yang bertubi tubi itu, bahkan
hampir saja tak mampu untuk menghadapinya, berulang kali
dia kena dipaksa untuk menghindar kesana kemari secara
mengenaskan.
Biarpun Kiang cutin berhasil merebut posisi diatas angin,
namun sesungguhnya ia merasa terkejut dalam hatinya,
manusia seperti lelaki berbaju hijau itu sudah jelas tak bakal
memiliki kedudukan yang tinggi didalam benteng keluarga
Heetapi kenyataannya orang ini mampu menahan puluhan
jurus serangan pedangnya.
Dari sini dapat diketahui kalau benteng keluarga Hee benar
benar merupakan sarang naga gua harimau dan tak boleh
dipandang secara enteng.
Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, mendadak
permainan pedangnya diperketat, dengan ilmu pedang angin
ributnya yang maha dahsyat sebentar ia tusuk ke timur
sebentar lagi membabat kearah barat, semuanya dilakukan
dengan cepat dan tidak kalut.
Cahaya pedang berkelebat dan menyambar tiada hentinya
ditengah udara membuat orang sukar meraba arah sasaran
dan sukar pula untuk menanggulanginya. ”Tahan”
Mendadak Soh Han sim membentak dengan suara dalam,
menyusul bentakan itu tubuhnya menerjang kemuka dengan
kecepatan luar biasa, dalam sekejap mata ia sudah menerobos
masuk kebalik bayangan pedang lawan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cahaya pedang segera lenyap dan bayangan manusiapun


saling berpisah.
Lelaki berbaju hijau itu menarik kembali pedangnya sambil
melompat mundur kebelakang.
Sebaliknya pedang yang tadinya ditangan Kiang cu tin,
dalam waktu yang singkat telah berpindah tangan, tahu tahu
senjata tersebut telah dirampas oleh Soh Han sim.
Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam Kiang cu tin
saat ini, mimpipun dia tak pernah menyangka kalau si burung
berkepala sembilan Soh Han sim memiliki kepandaian silat
yang begitu hebat.
Soh Han sim segera membuang pedang rampasannya katas
tanah, kemudian sambil menengok lawannya, dia berkata
sambil tertawa seram:
”Kiang tayhiap. Sekarang sudah tiba saatnya bagimu untuk
menyerahkan diri bukan?”
Sambil berkata demikian, selangkah demi selangkah pelan-
pelan ia menghampiri Kiang cu tin.
Kiang cu tin segera membentak keras penuh amarah: ”Aku
orang she Kiang akan beradu jiwa denganmu”
Ia menerjang maju, sepasang telapak tangannya
dipergunakan bersama melancarkan serangkaian bacokan
berantai.
” Kiang tayhiap. Benarkah kau hendak menantang siauwte
untuk bertarung?”
Dengan telapak tangan Soh Han sim menangkis ancaman
yang tiba, telapak tangan kirinya ditolak kedepan,
disambutnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
”Plaaak Plaaaak”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sewaktu keempat buah telapak tangan itu saling beradu


satu sama lainnya Kiang cu tin merasakan hatinya bergetar
keras tanpa disadari dia mundur tiga langkah secara beruntun-
Sebaliknya Soh Han sim sama sekali tidak terpengaruh oleh
hasil bentrokan itu, malah jengeknya kembali sambil tertawa
seram, ”sekarang kau sudah percaya bukan?”
Di atas wajahnya yang memanjang terselip senyum tak
senyum yang amat tak sedap dipandang, ditatapnya Kiang cu
tin lekat lekat, kemudian selangkah demi selangkah dia maju
mendekati.
Tatkala terjadi bentrokan keras tadi Kiang cu tin sempat
merasakan gejolak hawa darah dalam dadanya, dia sadar
bahwa tenaga dalamnya masih ketinggalan bila dibandingkan
lawannya, dan sekarang ia sudah tak mampu lagi untuk
mengatur napas guna menenangkan kembali gejolak hawa
darahnya, terpaksa selangkah demi selangkah pula dia
mundur kebelakang.
Biarpun Huan cu im belum mempunyai bertarung melawan
orang, namun hasil pertarungan dari Kiang cu tin melawan
Soh Han sim cukup dipahami olehnya, ia tahu kalau Kiang cu
tin bukan tandingan lawan, ingin membuat hati kecilnya mulai
berpikir perlukah dia turun tangan untuk membantu Kiang cu
tin-
Manusia memang selalu demikian, dia akan berpihak
kepada pihak yang lemah.
Semenatara dia masih ragu ragu untuk mengambil
keputusan, tiba tiba dari sebelah kanan tempat
persembunyiannya kedengaran seseorang membentak
nyaring. ” Lihat serangan ”
Segumpal senjata rahasia, diiringi desingan angin tajam
langsung menyambar ketubuh soh Han sim.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Siapa yang berani menyergapku?” Soh Han sim segera


tertawa seram.
Ujung baju kanannya segera dikebaskan kedepan, segulung
angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat
membuyarkan serangan senjata rahasia yang mengarah ke
pihaknya.
Bersamaan waktunya, tampak bayangan manusia secepat
sambaran petir menerjang kemuka memapaki datangnya
senjata rahasia yang terpukul balik jatuh.
Huan cu im segera mendengar keluhan lirih dari sisi
tubuhnya, seolah olah terdapat orang yang terluka dan roboh
disitu, padahal Soh Han sim telah menerjang tiba
kehadapannya.
Dalam keadaan begini Huan cu im tidak berpikir panjang
lagi, tiba tiba ia melompat bangun dari tempat
persembunyiannya dan mengayunkan telapak tangannya
untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Biarpun serangan ini dilontarkan ketengah udara, akan
tetapi berhubung serangan dilakukan demi menyelamatkan
jiwa orang, pada hakekatnya ia telah menggunakan seluruh
kekuatan yang dimiliki.
”Weesssss”
Segulung kekuatan yang maha dahsyat segera meluncur
kemuka menyambut datangnya ancaman itu.
Soh Han sim sama sekali tidak menduga sampai kesana,
menanti ia sadar akan tibanya ancaman angin pukulan sudah
hampir tiba dihadapan tubuhnya.
Dalam keadaan begini, terpaksa dia harus mengayunkan
pula telapak tangannya untuk menangkis datangnya serangan
tersebut. ”Blaaaammmmm. .....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam bentrokan yang kemudian terjadi, ternyata Soh Han


sim kena terhajar sampai terpental kebelakang.
”cepat lari” tiba tiba Kiang cu tin membentak keras.
Memanfaatkan kesempatan itu dia menyerang kemuka,
telapak tangan kanannya segera diayunkan menghajar dada
Soh Han sim.
Teriakan peringatan tadi rupanya khusus ditujukan kepada
sipelepas senjata rahasia tersebut agar secepatnya melarikan
diri dari situ.
Ini berarti terjangannya yang dilakukan secara nekad tanpa
memperdulikan mati hidupnya sendiripun berniat untuk
melindungi sipelepas senjata rahasia agar berhasil
menyelamatkan diri dari ancaman tersebut.
Pada dasarnya Huan cu im juga seorang pemuda yang
cerdik, begitu mendengar teriakan ”cepat lari” dari Kiang cu
tin, diam diam hatinya terkesiap. Buru-buru dia
menyembunyikan diri siap mengundurkan diri dari tempat
kejadian tersebut.
Tiba tiba dari belakang tubuhnya kedengaran suara orang
merintih, cepat cepat ia berpaling, benar juga diantara semak
belukar dijumpainya ada sesosok bayangan manusia sedang
terkapar disitu
Dengan gerakan cepat ia segera menghampiri bayangan
tadi, lalu tegurnya lirih: ”Apakah saudara telah terluka?”
orang itu hanya merintih, tak sepatah katapun yang
diutarakan-Huan cu im menjadi sangat gelisah, diam diam
pikirnya:
”Luka yang diderita orang ini cukup parah, baik ataupun
buruk, lebih baik kuselamatkan dulu jiwanya dari sini.”
Berpikir demikian dia segera membungkukkan badan dan
membopong tubuh orang itu kemudian dengan bersembunyi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diantara pepohonan, cepat cepat dia mengundurkan diri dari


situ,.
Lamat lamat ia mendengar dua kali benturan keras
bergema dari belakang tubuhnya menyusul kemudian iapun
mendengar suara gelak tertawa Soh Han sim yang menusuk
pendengaran, bahkan terlihat juga ada beberapa bayangan
manusia mulai memencarkan diri untuk melaksanakan
pengejaran-
Huan cu im semakin tak berani berhenti lama, sambil
membopong tubuh orang itu ia kabur menjauh.
Tenaga dalam yang dipelajarinya selama beberapa tahun
dari gurunya, ditambah latihan naik turun gunung yang
dilakukan setiap hari, kesemuanya itu membuat ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki olehnya cukup sempurna.
Oleh sebab itu, biarpun dia mesti membopong seseorang
pada saat ini, pemuda tersebut tidak perlu mengeluarkan
tenaga yang cukup besar untuk melompat naik keatap rumah
serta meloloskan diri.
Beruntung sekali perjalanan yang ditempuhnya kali ini
menuju ke bangunan sebelah timur, karena itu sama sekali
jejaknya tak sampai diketahui oleh lawan-
Biarpun begitu, perasaan gugup dan panik sempat juga
menyelinap kedalam hatinya. Tapi dia telah mempersiapakan
segala sesuatunya dengan matang, dia tahu tempat dimana ia
berdiam sekarang merupakan sebuah bangunan rumah yang
tersendiri dan tidak mudah diketahui orang, oleh karena itu
dia memutuskan untuk membawa korban tadi pulang
kekamarnya.
Pemuda ini tidak membuang waktu lagi, setelah melompat
turun kegedung belakang secara samar samar ia menyelinap
masuk kedalam kamarnya serta membaringkan orang tadi
keatas pembaringan sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah itu, dia baru bertanya dengan suara lirih: ”Saudara,


lukamu berada dibagian mana? Serius tidak?”
Agaknya orang itu telah sadar kembali karena perjalanan
tadi, dia merintih pelan kemudian berbisik:
”Paman Kiang, apakah...... apakah kita sudah lolos dari
mara bahaya ? Aku....Aku......... aku kena terhajar oleh.....
oleh jarum Bwee hoa-tin yang di..... dipentalkan oleh......
kebasan ujung baju bajingan tua itu, see...... sebagian besar
jarum itu telah menghajar ditubuh boanpwe.”
Tadi Huan cu im hanya ingin buru buru ingin menolong
orang, begitu membopong tubuhnya lantas kabur. Dalam
anggapannya korban adalah seorang pria, tapi setelah korban
itu berbicara, ia baru tahu kalau orang tersebut rupanya
seorang wanita. Ia menjadi tertegun, lalu tegurnya lirih:
”Siapakah nona?”
Perempuan itu masih mengira penolongnya adalah Kiang cu
tin, baru sekarang ia merasa nada suaranya tidak benar, maka
dengan perasaan terkejut ia segera meronta, lalu balik
bertanya dengan suara amat lemah: ”Sii..... siapakah kau?”
”Nona tak usah kuatir, aku bukan sekomplotan Soh Han
sim.”
”Jadi kau...... kau telah menyelamatkan aku?” perempuan
itu menjerit kaget,
”tempat..... tempat apakah ini ?”
”Biarpun tempat ini masih terletak didalam benteng
keluarga Hee, namun nona tak perlu kuatir, rawat saja lukamu
ditempat ini, tak bakal ada yang kemari”
Mengetahui kalau tempat itu masih dalam benteng keluarga
Hee, perempuan tadi semakin terkejut, segera tanyanya lagi
dengan suara gemetar. ”Seee...... sebenarnya siapakah kau?”
”Aku Huan cu im”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum selesai pemuda itu berbicara, perempuan itu telah


menjeriit kaget: ”Kau adalah Huan kongcu?”
”Nona mengenali aku?”
”Terus terang saja, budak adalah ci giok” perempuan itu
merintih lirih.
Hhuan cu im mampu memandang dalam kegelapan
denganjelas, tanpa terasa ia amati gsdis itu dengna seksama,
nada suaranya memang kedengaran amat mirip dengan ci
giok tetapi wajahnya pucat pias dan nampaknya sama sekali
tidak mirip dengan dayang itu. Maka tanpa terasa serunya
keheranan.
”Masa nona adalah ci giok?”
”Budak...... budak mengenakan topeng, maka...... maka
kongcu tidak kenali aku.”
”Asal kau jujur saja. Sudahlah sekarang kau boleh tak usah
kuatir lagi.....”
”Aaaaah....” mendadak ia teringat akan perkataan dari ci
giok tadi, bahwasanya segenggam jarum Bwee hoa ciam yang
dilepaskan olehnya telah dipentalkan oleh tenaga kibasan Soh
Han sim sehingga separuh bagian diantaranya menghantam
diatas tubuhnya. Teringat akan hal itu, maka diapun bertanya.
”Nona terkena jarum Bwee hoa ciam, bagaimana aku mesti
berbuat untuk menolongmu?”
”Soal ini.....”
Hanya kata kata itu yang diucapkan, sedangkan kata
selanjutnya tak mampu dilanjutkan lagi.
”ooooh, nona sendiri juga tak tahu? Waaaah, bagaimana
baiknya sekarang?”
”Budak..... budak.....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Jika jarum itu tak dicabut keluar, niscaya keempat anggota


badan nona tak bisa berkutik, jika mesti menunggu sampai
besok. Waaaah bisa celaka, jelas rahasia ini tak bisa
mengelabui mereka terlalu lama,” kata Huan cu im gelisah.
Agaknya ci giok sudah mengambil keputusan dalam hatinya,
dia lantas berbisik.
”Huan kongcu, kau adalah seorang lelaki sejati, budakpun
tak usah malu malu lagi untuk berbicara terus terang.”
”Betul, kau harus berbicara secepatnya, yang paling
penting sekarang adalah mencabut keluar jarum jarum
tersebut dari tubuhmu, apa akalmu? Katakan saja terus
terang, asal aku mampu untuk melakukannya tentu akan
kukerjakan untukmu.”
Pancaran sinar penuh rasa terima kasih mencorong keluar
dari balik mata ci giok, bisiknya lirih:
”Tubuh budak sudah terkena belasan batang jarum Bwee
hoa-ciam, bahkan beberapa buah nadiku sudah tersumbat
oleh jarum tersebut, jarum jarum itu hanya bisa dihisap keluar
dengan mempergunakan besi sembrani.”
”Haaaaah, sulit kalau begitu, aku mesti pergi kemana untuk
mencari besi kembari itu?”
”Budak...... budak mempunyai benda itu sekarang
tersimpan dalam saku.”
Kata kata dari ci giok itu diutarakan seperti suara nyamuk,
amat lembut dan lirih, untung saja wajahnya tertutup oleh
topeng, coba kalau tidak sudah pasti akan tertampak
wajahnya yang kemalu maluan.
”Mengapa tidak nona katakan sedari tadi?” seru Huan cu im
sambil tertawa.
Tapi secara tiba tiba ia ingat akan sesuatu, wajahnya
menjadi tertegun, kembali ia bertanya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Nona simpan dimana?”


”Dalam..... dalam saku budak”
Kalau saku itu berada dekat dada, apalagi dada seorang
dara, bagaimana caranya untuk merogoh kesaku orang untuk
mengambil benda tersebut? Huan cu imrjadi ragu ragu, ia
segera bertanya. ”Apakah nona bisa mengambil sendiri?”
Tapi pemuda itu segera menyadari akan kebodohan sendir,
bukankah ucapan tersebut
seakan akan tak berarti sama sekali? Bila ci giok mampu
mengambil sendiri, masa ia tidak mengambilnya semenjak
tadi?
”Huan kongcu” kembali ci giok berkata lirih, ”sepasang
tangan budak sudah tak mampu digerakkan lagi, terpaksa
harus mohon bantuan untuk mengambilkan.”
Huan cu im ragu ragu, tapi demi menyelamatkan orang
terpaksa dia manggut manggut, sesudah masang lilin
kemudian ia mendekati pembaringan, membungkukkan badan
dan merogoh kedalam sakunya.
Sementara itu ci giok telah memejamkan matanya rapat
rapat, seakan akan dengan berpejam mata dan tidak melihat
pemuda itu, merasa malu dalam hatinya dapat dikurangi.
Padahal hatinya sudah berdebar sedari tadi, bahkan
debaran jantungnya makin lama makin bertambah keras,
andaikata tiada topeng diwajahnya, sudah pasti mukanya
telah semerah babi panggang.
Sejak kecil Huan cu im belum pernah bersentuhan dengan
kaum wanita, tatkala tangannya merogoh kedalam saku ci
giok yang hangat, terutama sewaktu ujung jarinya menyentuh
gumpulan daging montok yang lembut dan empuk. Semangat
dan keberanian yang semula berkobar tiba tiba lenyap tak
berbekas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Darah yang mengalir didalam tubuhnya terasa seperti


mendidih, hatinya berdebar keras belum lagi jari tangannya
meraba benda yang dicari, ia sudah gemetaran keras dan tak
mau turut perintah lagi.
Bagian dada merupakan daerah yang paling sensitip bagi
seorang wanita, terutama bagi seorang dara yang masih
perawan, tak heran kalau sekujur badan ci giok gemetar keras
dan memperdengarkan rintihan lirih.
Huan cu im tak berani sembarangan gerayangan, tetapi dia
mau tak mau mesti menggerayangi juga lantaran barang tetek
bengek yang tersimpan didada nona itu banyak sekali, dalam
keadaan begini dia memang harus meraba satu persatu dan
mengeluarkannya.
Diantara benda benda yang terambil antara lain terdapat
sebuah sapu tangan, sebuah botol kemala hijau, sebuah botol
kecil porselen putih, beberapa biji mata uang yang diasah
sehingga tajam pinggirannya serta sebuah bungkusan kain
hijau.
Pemuda itu harus membagi pekerjaannya sampai dua kali
untuk mengeluarkan barang barang tadi, kemudian baru
ujarnya. ”Nona, tidak kutemukan besi sembrani itu”
Sementara itu ci giok sudah terkulai lemas akibat
gerayangan anak muda itu, dia hanya membisik lirih:
”Benda itu berada dalam bungkusan kain hijau.”
”oooooh......”
Huan cu im segera mengambil bungkusan kain hijau itu dan
membukanya, ternyata bungkusan itu berisikan sebuah benda
bulat berwarna hitam, tentu saja benda itu adalah besi
sembrani yang dimaksudkan-Tanpa terasa ia bertanya:
”Nona, bagaimana cara menggunakan batu semberani ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini ci giok sudah berhasil menenangkan kembali hatinya,


ia berkata sedih
” Untuk menghisap jarum jarum tersebut dengan besi
semberani, benda itu harus ditempelkan diatas lubang jarum,
paling baik lagi jika bisa mengerahkan tenaga dalam, dengan
begitu jarum-jarum tadi baru akan terhisap keluar. Diseluruh
tubuh budak terdapat belasan tempat yang terkena jarum,
agar bisa menghisapnya keluar, semua pakaian harus
dilepaskan- Dengan begitu mulut luka baru akan kelihatan
dengan jelas.”
”Melepaskan semua pakaian?” Huan cu im kontan saja
menjadi tertegun, bagaimana mungkin ia dapat melaksanakan
kesemuanya ini? Apalagi tubuh seorang dara muda, apakah
boleh dilihat secara bebas oleh seorang pemuda asing?
Kembali ia memandang sekejap payudara si nona yang
menonjol montok dan penuh menggairahkan itu, lalu pikirnya
lebih jauh:
”Biarpun antara sesama saudara kandung, kalau mesti
menelanjangi nona itu, waaah, bisa berabe, toh antara lelaki
dan perempuan ada bedanya?” Dengan perasaan sangsi ia
lantas berkata: ”Tentang soal ini......”
ci giok mengerdipkan matanya berulang kali, lalu berkata
dengan suara pedih
”Huan kongcu, budak tak takut mati, Cuma peristiwa ini
mempunyai sangkut paut yang amat besar, budak tidak bisa
membocorkan identitasku yang sebenarnya, oleh sebab itu
aku berharap kongcu sudi menyelamatkan aku.”
”Aku bersedia menolongmu dan membawamu kemari,
otomatis aku bersedia menyelamatkan jiwamu, hanya saja.....
hanya saja antara pria dan wanita ada bedanya, aku.....”
” Kongcu bermaksud mengobati luka budak. Berarti kau
adalah tabib yang mengobati pasien. Sekalipun antara lelaki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan wanita ada bedanya, asal hatimu lurus dan pikiranmu


tidak sesat, apa yang mesti ditakuti lagi?”
”Kongcu, aku sebagai seorang gadis sucipun tidak
mengacuhkan masalah tersebut, apa pula yang kongcu
kuatirkan?”
Huan cu im tahu, selain menghisap keluar jarum Bwee hoa
Ciam tersebut memang tiada jalan keluar, maka pikirnya
kemudian:
”Kalaupada saat dan keadaan seperti ini aku tidak berusaha
untuk menolongnya, siapa lagi yang bisa menyelamatkan
jiwanya?” Berpikir demikian, dia lantas manggut manggut.
”Baiklah, akan kubantu dirimu untuk menghisap keluar
jarum jarum tersebut.”
Ia segera meletakkan besi semberani itu kesisi
pembaringannya, kemudian mulai bekerja melepaskan pakaian
ketat si nona yang melekat ditubuhnya.
Pemuda ini terpaksa melepaskan pakaian yang dikenakan
gadis itu demi menyelamatkan jiwanya, tiada pikiran sesat
barang setitikpun yang berada dalam benaknya.
Biarpun demikian, pakaian yang sedang dilepaskan olehnya
sekarang adalah pakaian yang melekat ditubuh seorang gadis
berusia hampir sebaya dengannya, peristiwa ini boleh dibilang
baru pertama kali ia alami.
Maka sewaktu jarijari tangannya mulai menyentuh
tubuhnya yang montok dan bahenol dalam hatinya segera
timbul suatu gejolak emosi yang sangat hebat, napasnya juga
jadi turut memburu.
Perlu diketahui pada jaman itu semua wanita rata rata
mengenakan pakaian yang lebar dan kedodoran serta
mengenakan gaun panjang yang mencapai tanah guna
menyembunyikan potongan badan mereka yang meliuk liuk
menggiurkan orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seandainya ci giok mengenakan pakaian yang lebar dan


kedodoran serta gaun panjang yang mencapai tanah, gejolak
perasaan yang dialami Huan cu im mungkin masih rada
mendingan, sebab dia tak lebih hanya mencopoti jubah yang
kedodoran-
Namun berbeda sekali dengan keadaan yang dialami ci giok
sekarang, ia justru mengenakan pakaian ringkas tersebut
memang khusus di rancang agar dapat bergerak dan
melompat dengan leluasa, itulah sebabnya pakaian tadi begitu
ketat menempel dibadan sehingga pada hakekatnya seluruh
badan terbungkus rapat.
Justru karena begitu, Huan cu im jadi serba salah,
tangannya jadi gemetaran sebab dia mesti mencopoti kancing
kancing yang berada diatas tubuh yang montok dan
menggairahkan itu satu persatu, jelas bukan suatu pekerjaan
yang gampang.
Terutama sekali disaat jari jemarinya mulai menyentuh
bagian dadanya dengan sepasang payudara yang aduhai,
darah yang menggelora didalam dadanya seakan akan
mendidih, hatinya berdebar keras bahkan sampai napaspun
ikut menjadi sesak.
Makin tegang perasaannya makin gugup pula
perbuatannya, kadang kala untuk melepaskan sebuah kancing
saja ia mesti membutuhkan waktu yang cukup lama.
Untuk menyelesaikan pekerjaannya melepaskan sederet
kancing dari atas sampai kebawah, Huan cu im dibuat mandi
keringat dan mukanya berubah jadi merah membara.
Selesai melepaskan kancing kancing pakaian ringkas
tersebut, kembali pemuda itu merasakan serba salah.
Sebab didepan matanya sekarang masih tertinggal selapis
kain kutang berwarna merah yang tipis, dibalik kutang merah
itu mencuat keluar dua buah gumpalan daging yang montok.
Putih, dan aduhaiii.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im baru saja melewati masa pubernya, benih


benih cinta juga mulai berkembang dihati kecilnya, setelah
memandang kejadian tersebut otomatis ia merasa sesak
napas, tenggorokannya terasa bagaikan tersumbat. Ia benar
benar tak mempunyai keberanian lagi untuk melanjutkan
pekerjaannya guna melepaskan kancing kancing kecil diatas
kutang tersebut.
Tapi masalah besar telah berada didepan mata, sekalipun
tak beranipun harus diberanikan juga, terpaksa dia
memejamkan matanya, menenangkan pikiran dan
memberanikan diri untuk melepaskan kancing kancing kecil
diatas kutang tersebut.
Didalam waktu singkat dihadapan matanya telah muncul
sepasang payudara yang putih, montok dan kenyal dengan
sepasang puting susu yang kecil dan merah.
Kali ini dia sudah mempunyai pengalaman biarpun gadis itu
berada dalam keadaan telanjang, namun ia berhasil
menenangkan pikiran dan perasaan hatinya, seluruh perhatian
dan konsentrasinya tertuju pada luka jarum diatas tubuh
korban-
Betul juga pada bagian bagian jalan darah coat ti (disisi
bahu), Mia yong (sebuah urat diatas payudara), Hian ki
(sebuah urat dibawah payudara), Hiat cut (disisi kiri bawah ulu
hati) Hui biau, Kau hiat (dibawah sepasang puting susu) dan
jalan darah lain diseputar dada telah dipenuhi oleh bintik bintik
merah bekas luka jarum, jumlahnya mencapai puluhan. Diam
diam dia berpekik dalam hatinya. ”Sungguh hebat kebasan
ujungan baju orang itu”
Dalam keadaan begini dia tak sempat untuk meneliti lebih
jauh, buru buru diambilnya besi semberani itu diletakkan
diatas telapak tangan, kemudian setelah mengerahkan tenaga
dalamnya, dia tempelkan besi semberani itu keatas bagian
bintik bintik merah tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika telapak tangannya menempel diatas kulit badannya


yang halus dan lembut, seolah olah karena aliran listrik yang
bertegangan tinggi, sekali lagi tubuhnya terasa bergetar keras.
Semenjak kancing kancing pakaiannya dicopot orang, ci
giok sudah dibuat sangat malu sehingga memejamkan
matanya rapat rapat, dia tak berani mengucapkan sepatah
katapun malah merintihpun tak berani.
Apalagi sewaktu telapak tangannya menempel diatas
dadanya gemetar keras sekujur badannya, dadanya menjadi
naik turun tak beraturan, napasnya memburu dan bulu
kuduknya pada bangun berdiri.
Kalau pemuda itu merasakan tubuhnya seperti kena aliran
listrik bertegangan tinggi, begitu juga dengan gadis tersebut,
diapun merasakan badannya kena dialiri listrik berkekuatan
tinggi.
Huan cu im menarik napas panjang, mata memandang ke
hidung, hidung memandang ke hati, segenap pikiran dan
perasaan dipusatkan menjadi satu, lalu pelan pelan
mengerahkan hawa murninya dan mengangkat besi semberani
itu untuk menghisap keluar jarum jarum tersebut dari dalam
luka.
Ketika diamati dengan seksama, betul juga diatas besi
semberani itu menempel sebatang jarum bwee hoa ciam yang
lembut seperti bulu kerbau dan membawa noda darah.
Dengan berhati hati sekali jarum itu dibuang, kemudian
mengulangi kembali pekerjaan tersebut secara berhati hati.
Demikianlah seperempat jam kemudian Huan cu im telah
berhasil menghisap keluar sebelas batang jarum, ditambah
tiga batang yang melekat diatas bahu, jumlah seluruhnya
mencapai empat belas batang jarum bwee hoa ciam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ketika semua pekerjaan telah selesai, Huan cu im telah


bermandikan keringat, sambil menyeka keringat, sekali lagi dia
memeriksa seluruh badan nona itu dengan seksama.
Kini keadaannya seperti seorang tabib yang benar benar
memeriksa penyakit, biarpun tubuh indah terpampang
dihadapannya, ia tidak merasakan daya rangsangan barang
sedikitpun.
”Nona,” bisiknya kemudian, ”coba kau atur pernapasan,
apakah tubuhmu masih terdapat jarum yang belum terhisap
keluar?”
Selama ini ci giok hanya memejamkan mata berpura pura
tidak tahu untuk mengurangi rasa malunya, namun sekarang
mau tak mau dia mesti membuka suara.
Setelah mencoba untuk mengatur pernapasan, dia
mendesis lirih dan melompat bangun, kemudian sambil
menutupi payudaranya dengan kedua belah tangan, ujarnya
gelisah: ”Terima kasih kongcu, sekarang sudah tidak ada lagi.”
Hampir saja Huan cu im yang berdiri dimuka pembaringan
dibikin terkejut oleh perbuatannya itu, cepat cepat dia
membalikkan tubuhnya sambil berkata: ”silahkan nona
mengenakan pakaianmu”
Dengan cepat ci giok membetulkan kancing pakaiannya,
lalu baru berkata dengan sedih
”Aku sudah selesai, sekarang kongcu boleh membalikkan
badanmu......”
Huan cu im membalikkan tubuhnya, lalu dengan wajah
memerah karena jengah ujarnya: ”Kicnghi nona, karena kau
telah lolos dari mara bahaya.”
Pelan pelan ci giok melepas selembar topeng dari atas
wajahnya, paras mukanya yang cantik jelita kini memerah
karena jengah, mendadak ia jatuhkan diri berlutut dihadapan
Huan cu im, kemudian setelah memberi hormat katanya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Huan kongcu benar benar seorang lelaki bijaksana yang


berjiwa besar, malam ini kau telah selamatkan jiwaku, tiada
balasan yang hendak ku berikan kepadamu selain
menyembah”
cepat cepat Huan cu im meletakkan besi semberani itu
keatas meja, lalu dengan wajah gelagapan serunya:
”Nona, harap kau jangan berbuat demikian, silahkan segera
bangkit berdiri, harap nona tak usah memikirkan persoalan
tersebut dalam hati, anggap saja tak pernah terjadi peristiwa
semacam ini.”
Kata kata tersebut hanya merupakan kata kata menghibur.
Yaa..... bagaimanapun juga kesucian seorang gadis
merupakan mahkota yang tak ternilai harganya, bukan saja
dia telah menelanjangi gadis tersebut malah sempat
menggerayangi pula seluruh badannya....
Mengapa takpernah terjadi peristiwa macam itu, berarti
pula agar sinona tak usah mengingat ingat kembali kejadian
tersebut.
Ketika ci giok bangkit berdiri, semu merah yang mewarnai
wajahnya telah luntur, sepasang matanya bening seperti air,
pelan pelan dia menundukkan kepalanya kemudian berkata
dengan suara lembut:
”Huan kongcu telah menyelamatkan selembar jiwa budak,
budi kebaikan ini akan budak ukir didalam hatiku dan selama
hidup tak pernah akan kulupakan.”
Kalau pemuda itu menganjurkan sang nona agar
melupakan peristiwa tadi, malah sang nona sebaliknya
mengingatkan bahwa peristiwa tersebut tak pernah akan
dilupakan olehnya. Maka cepat cepat Huan cu im berkata:
”Nona, harap kau jangan berkata begitu, aku hanya ingin
menanyakan satu hal kepada nona.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu sepasang matanya saling membentur dengan sorot


mata gadis tersebut, dia segera menjumpai bahwa dibalik
sorot matanya yang bening itu selain terselip semacam
perasaan terima kasih yang tak terlukiskan dengan kata kata,
terselip pula perasaan cinta yang teramat mendalam.
Selama ini dia belum pernah berpacaran dengan gadis
manapun, kendati dalam bidang tersebut dia belum
berpengalaman, namun sebagai seorang lelaki yang sudah
meningkat dewasa, sudah barang tentu pemuda tersebut
dapat merasakan sendiri dari sorot mata lawan-

Itulah sebabnya ketika ucapannya masih ditengah jalan, ia


telah menghentikannya secara mendadak. Tiba tiba ci giok
berkata lagi:
”Sebetulnya apa saja yang kongcu tanyakan, budak wajib
memberi jawaban selengkapnya, namun berhubung budak
mempunyai kesulitan maka seandainya pertanyaan yang
hendak kongcu ajukan menyangkut soal identitas budak,
terpaksa budak harus minta maaf, sebab saat ini belum dapat
budak jelaskan kepada kongcu.”
”Kalau begitu aku takjadi menanyakan soal identitasmu”
buru buru Huan cu im berkata, Setelah mengerdipkan
matanya dan tersenyum manis, kembali ci giok berkata:
”Bukannya budak sengaja berlagak sok misterius,
sesungguhnya..... aaaai pokoknya dikemudian hari kongcu
akan mengetahui dengan sendirinya.”
Dari atas meja dia mengambil kembali barang barang yang
dikeluarkan Huan cu im dari sakunya tadi dan dimasukkan
kembali kedalam saku, kemudian bisiknya lagi:
”Budak mengerti, dalam hati kecil kongcu sudah pasti
dihantui oleh pelbagai persoalan yang mencurigakan hatimu,
tetapi malam ini sudah cukup larut, kongcupun sudah tersiksa
sudah hampir setengah malaman lebih, lebih baik beristirahat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja secepatnya, sebab biarpun semua jarum sudah tercabut


dari tubuh budak- sekarang masih harus dibubuhi obat lagi.
Begini saja.... besok malam budak baru akan datang
memberikan keterangan lagi.”
Selesai berkata, dia memungut kembali belasan batang
jarum bwee hoa ciam yang tercabut keluar dari tubuhnya tadi
dan beranjak keluar dari ruangan-
oleh karena sang nona masih perlu pulang kekamarnya
guna mengobati lukanya tentu saja Huan cu im tak enak utnuk
menghalanginya, menanti gadis itu sudah berlalu, diapun
menutup pintu, memadamkan lampu dan tidur.
Ketika berbaring diatas ranjangnya, terendus olehnya bau
harum semerbak yang tertinggal dari gadis tadi, kelopak
matanya menjadi berat untuk terpejam, adegan yang
mendebarkan hatipun satu demi satu melintas kembali
didepan matanya.
Kalau tadi dia masih berusaha keras untuk mengendalikan
perasaannya karena harus mencabut keluar jarum jarum
lembut dari tubuh nona tersebut, tentu saja dia belum
merasakan sesuatu apapun.
Tapi setelah membayangkan kembali sekarang, mukanya
kontan saja berubah menjadi merah padam, denyut nadinya
bertambah cepat, perasaannya bergolak dan tentu saja sukar
baginya untuk tidur.
Sejak kecil dia sudah peroleh pendidikan yang ketat oleh
ibunya terutama sekali dalam soal tata krama dan sopan
santun, terbayang kalau ingatan semacam itu sesat, cepat
cepat dia memusatkan pikirannya dan membuang jauh jauh
khayalan tersebut. Tapi satu ingatan teratasi, ingatan lainpun
kembali muncul.
Terbayang kembali tanya jawab antara Kiang cu tin dengan
si burung berkepala sembilan Soh Han sim, dia merasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

peristiwa yang berlangsung pada malam ini tampaknya sedikit


diliputi rahasia.
Terutama sekali masalah congkoan dari benteng keluarga
Hee, sudah jelas sekali ciu Kay seng yang menduduki jabatan
tersebut, mengapa Soh Han sim juga mengakui sebagai
congkoan dari Benteng keluarga Hee...?
Meninjau dari mimik muka Soh Han sim yang menyeramkan
serta tiada suaranya yang menggidikkan hati, jelas orang itu
tidak mirip orang baik baik, mungkinkah empek Hee tak bisa
membedakannya secara jelas?
Kalau dilihat dari kedatangan Kiang cu tin tampaknya dia
bermaksud untuk menolong cing imtotiang, dan cing im
totiang dari Go bipay juga agaknya sudah disekap diatas
loteng Teng gwat lo, mengapa empek Hee harus menyekap
cing im totiang.
Semakin dipikir, dia merasa dalam benteng keluarga Hee
seakan akan menyimpan banyak sekali rahasia besar.
Pemuda tersebut boleh dibilang sama sekali tidak
berpengalaman sekalipun ia merasa terdapat hal hal yang
tidak beres dalam benteng keluarga Hee, namun tak
terungkap olehnya dimanakah letak ketidak beresan tersebut.
Sewaktu naik kepembarungan tadi, waktu sudah
menunjukkan tengah malam lewat, apalagi pikirannya
dipenuhi pelbagai ingatan sekarang, ia semakin tak dapat
memejamkan mata, dengan cepat kentongan kelimapun
menjelang tiba.
Dari kejauhan sana mulai kedengaran suara yang berkokok,
lamat lamat setitik cahayapun mulai memancar masuk melalui
balik jendela. Setelah semalaman tak tertidur apalagi saat ini
fajarpun telah menyingsing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im semakin tak ingin tidur lagi, dia segera bangkit


berdiri, membuka pintu kamar dan berjalan menuju kekebun
bunga.
Terasa angin berhembus lembut membawa udara dingin,
namun membuat semangat orang justru bangkit kembali,
pelan pelan ia berjalan menuju kebawah rak bunga, lalu
sambil melepaskan otot otot yang kaku, pelan pelan dia
menghembuskan napas panjang. Mendadak dari belakang
tubuhnya kedengaran seseorang menegur dengan suara
lembut. ”Kongcu, mengapa sepagi ini sudah bangun? Apa
salahnya kalau tidur sebentar lagi?”
Dengan perasaan terkejut Huan cu im membalikkan
badannya, dia lihat ci giok dengan senyuman manus dikulum
telah berdiri dihadapan mukanya. Tanpa terasa pemuda itu
jadi tertegun, segera pikirnya:
”Hebat amat ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya,
walaupun ia sudah tiba dibelakang ku, ternyata aku tidak
mengetahuinya sama sekali”
Tujuannya bangun sepagi ini tak lain memang berharap
bisa menjumpai ci giok secepatnya, kini setelah bertemu
dengan orangnya dia malah gelagapan sendiri dan tak mampu
mengucapkan sepatah katapun.
Mungkinkah hal ini disebabkan perasaan cinta yang tumbuh
setelah semalam ia membantu gadis itu membuka pakaian
dan menggerayangi sekujur badannya?
Sinar berkilat segera terpancar keluar dari balik matanya,
wajahnya yang tampan juga segera bersemu merah, dengan
penuh kekuatiran ia berkata: ”Nona, setelah terluka semalam,
kau seharusnya banyak beristirahat dulu.”
Nona ci giok bukan seorang yang bodoh sudah barang
tentu diapun dapat menduga apa sebabnya pemuda tersebut
sudah terbangun sepagi ini, jelas semalaman ia tak bisa
tertidur, apalagi pancaran sinar matanya yang berkilat ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melihat dirinya dan wajah memerah yang menghiasi wajahnya


bagaimana mungkin semua perubahan perubahan tersebut
dapat lolos dari pandangan matanya?
Seketika itu juga sepasang pipi Ci giok berubah menjadi
semu merah, sambil tertawa ia menjawab:
”Budak sudah terbiasa bangun pagi....”
”Jadi nona telah sehat kembali?”
”Terima kasih banyak, budak sudah sembuh kembali,
budak akan mengambilkan air untuk kongcu mencuci muka.”
Padahal perasaannya waktu itu tak jauh berbeda seperti
Huan cu im dia memang bangun pagi pagi karena ingin
secepatnya bertemu kembali dengan Huan cu im.
Namun setelah berjumpa muka ia menjadi jengah sendiri
karena itu dengan alasan akan mengambilkan air untuk
mencuci muka, ia kabur kembali kedalam rumah.
Memandang bayangan tubuhnya yang menjauh, Huan cu
im merasakan hatinya seperti terbuai mabuk dengan cepat dia
turut melangkah masuk kedalam rumah-
Tak selang berapa saat kemudian ci giok telah muncul
kembali sambil membawa air, dengan wajah merah jengah
katanya sambil tertawa manis. ” Kongcu, silahkan mencuci
muka?”
Ketika Huan cu im selesai mencuci muka ci giok telah
menyiapkan hidangan sarapan pagi.
Baru selesai pemuda itu sarapan, seorang lelaki berbaju
hijau telah muncul dalam halaman dan menanti didepan pintu
dengan sepasang tangan diluruskan kebawah.
Ci giok yang bermata awas segera menangkap kehadiran
lelaki berbaju hijau itu, buru buru ia maju menyongsong
sembari menegur. ”Kim koan si, ada urusan apa?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Nona ci giok, aku mendapat perintah dari Pocu untuk


mengundang Huan kongcu”
Berubah paras muka ci giok setelah mendengar perkataan
tersebut, ia terbungkam secara tiba tiba.
Huan cu im yang mendengar perkataan itu dari dalam
ruangan segera berseru: ”Pocu ada urusan apa?”
”Pocu hanya menitahkan kepada hamba untuk
mengundang kongcu, mengenai urusan apa, hamba sendiri
juga kurang tahu.”
”Kini pocu berada dimana?”
”Pocu berada dilapangan latihan silat.”
”Baik aku akan kesana.”
”Biar hamba sebagai petunjuk jalan” buru buru lelaki
berbaju hijau itu berseru.
Ci giok mendongakkan kepalanya memandang kearah Huan
cu im, wabahnya memperlihatkan perasaan gelisah yang amat
tebal.
Namun Huan cu im tak terlalu memperhatikan akan
perubahan tersebut, dia sudah keluar dari halaman timur
mengikuti dibelakang Kim koansi.
Setelah membelok pada pintu masuk kedua mereka
menelusuri sebuah serambi panjang sebelum memasuki pintu
ketiga yang dibaliknya terbentang sebuah lapangan luas untuk
berlatih ilmu silat.
-oo0dw0oo-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

JILID: 7

Waktu itu, diarena hadir dua tiga puluh orang lelaki


berpakaian busu, mereka sedang berlatih ilmu silat, angin
pukulannya menderu deru dan gerakan tubuhnya lincah.
Disamping arena berdiri seorang kakek berperawakan
pendek yang berusia lima puluh tahunan, sorot matanya yang
tajam sedang mengawasi gaya lelaki lelaki lain melepaskan
pukulannya, sudah jelas orang ini bertindak sebagai pelatih.
Huan cu im mengikuti dibelakang Kim koansi mengitari
lapangan menuju kedalam ruangan sudah barang tentu tak
tersedia waktu cukup baginya untuk mengawasi lebih
seksama.
Lapangan berlatih silat memang cukup lebar, pada waktu
itu didepan ruangan lapangan terletak sebuah kursi
kebesaran, orang yang sedang duduk disana tak lain adalah
Hee Im hong, pocu benteng keluarga Hee. Dikedua belah
sisinya tersedia pula delapan buah kursi namun semua bangku
itu kosong, tapi dibagian muka undak undakan batu menuju
keruangan, berdiri empat lima orang. Bila ditinjau dari
dandanan mereka jelas orang orang itupun merupakan para
pelatih.
Huan cu im mengikuti dibelakang Kim koansi menuju
keruang depan, Hee Im hong yang melihat kedatangannya
segera berseru sambil tersenyum: "Hiantit, cepat kemari"
Huan cu im segera datang kehadapannya lalu berkata
dengan hormat: "Keponakan menjumpai empek Hee"
Hee Im hong menarik tangan Huan cu im dan
menyuruhnya duduk disampingnya lalu sambil tertawa ramah
katanya:
"Hiantit, duduklah dulu sambil menyaksikan mereka
berlatih, orang itu adalah para centeng benteng kami,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa orang suhu sedang memberi petunjuk kepada


mereka."
Lalu sambil menuding kearah kakek pendek yang berdiri
ditepi arena itu, dia memperkenalkan.
"Dia adalah Jin Siu Jin suhu, berasal dari perguruan Pek
Hok bun, kepandaian yang mereka latih adalah ilmu pukulan
Pek hok kun, maju maupun mundur semuanya dilakukan
secara gagah dan angkuh, persis gaya seekor bangau putih."
Huan cu im segera mengalihkan pandangan matanya
kedepan, betul juga kedua tiga puluh orang lelaki kekar itu
sedang merentangkan tangannya bergantian sambil memutar
badan, semua gerakan dilakukan dengan lincah dan cekatan.
Sampai jurus Pek Hok kun selesai dilatih Jin suhu baru
memberi hormat kepada pocunya serta kembali ketempat,
namun dia tidak duduk dikursi, melainkan cuma berdiri saja
disamping.
Menyusul kemudian muncul seorang lelaki jangkung yang
bertubuh ceking dan berusia empat puluh tahunan dia
memberi hormat dulu kepada pocunya sambil berkata :
"Sekarang, silahkan pocu menyaksikan latihan ilmu golok."
Sementara itu, kedua tiga puluh orang busu itu sudah
meloloskan goloknya dengan cepat, mereka berdiri sambil
menyilangkan senjata masing masing, ketika melihat lelaki
jangkung itu turun ke arena, serentak mereka melakukan
gerakan penghormatan. Sambil berpaling kearah Huan cu im,
Hee Im hong segera menerangkan :
"Yang ini adalah To It hui, To suhu, dia merupakan jagoan
lihay dari perguruan Tee siang bun aliran utara, ilmu yang
diajarkan adalah ilmu golok To siang to...."
Sementara berbincang bincang, To suhu telah memberi
kode kepada para busu tersebut, tentu saja kode itu
merupakan komando untuk mulai berlatih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kawanan busu tersebu segera memainkan ilmu golok To


siang to, sesuai dengan namanya, ilmu golok tersebut
merupakan sejenis ilmu yang khusus menyerang bawah, oleh
sebab itu ketika memainkan jurus jurus serangannya, mereka
selalu menggunakan kuda kuda Khi bo poh dengan
merendahkan tubuhnya.
Baik gerakan maju maupun gerakan mundur, semua diikuti
dengan gerakan berputar, permainan golokpun darl lamban
lambat laun menjadi semakin cepat. Pada mulanya masih
kelihatan jurus jurus serangan yang mereka pergunakan,
namun pada akhirnya cuma terlihat segulung cahaya golok
yang menyambar kian kemari tak terlihat sama sekali
bayangan tubuhnya.
Biarpun terdiri dari dua tiga puluhan gulung cahaya golok.
semuanya bergerak seragam dan gerak geriknya matang dan
sangat terlatih......
Diam diam Huan cu im memuji akan kehebatan mereka, ia
merasa seorang centeng saja sudah memiliki kepandaian silat
sedemikian hebatnya, sudah jelas kepandaian tersebut bukan
berhasil diperoleh hanya didalam satu dua hari saja.
Sementara masih termenung, mendadak kedua tiga puluh
gulung cahaya golok itu lenyap tak berbekas, dalam waktu
amat singkat, kedua tiga puluh orang busu itu sudah balik
kembali ke posisi semula, semuanya berdiri tegak. wajahnya
tidak memerah, napaspun tidak terengah engah.
To suhu segera membalikkan badan sembari memberi
hormat. "Bagus, bagus" puji Hee Im hong sambil mengangguk
berulang kali.
To suhu segera naik kembali keatas undak undakan dan
berdiri bersama dengan Jin suhu sekalian berlima. Biarpun
dibawah undak undakan disediakan delapan buah bangku
yang jelas dipersiapkan untuk tempat duduk para pelatih, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kenyataannya tak seorangpun diantara mereka yang berani


duduk disamping pocu mereka.
Hee Im hong segera mengangkat tangannya kearah
kawanan busu tersebut, serentakpara busu menyarungkan
kembali goloknya dan mengundurkan diri kedua belah sisi
dengan cepat. Sambil mengelus jenggotnya yang hitam, Hee
Im hong segera berpaling dan ujarnya sambil tertawa:
"Hiantit sekarang tiba giliranmu, sejak kecil kau sudah
mengikuti Lo koan keh berlatih ilmu silat bukan? Sekarang
empek Hee ingin mengetahui sampai dimanakah latihan yang
berhasil kau peroleh?"
Ketika Huan cu im mendengar ia diminta tampilkan diri
untuk bermain silat dihadapan orang banyak. mukanya segera
berubah menjadi merah, lalu katanya agak tergagap:
"Keponakan hanya mengikuti lo koan keh belajar beberapa
jurus ilmu silat kasaran yang jelek sekali untuk dilihat."
"Haaahhh..... haaahhh....." Hee Im hong tertawa tergelak,
"ucapan dari keponakan hasil ajaran dari lo koan keh juga
bukan? Apa kau tidak tahu, lo koan keh terhitung seorang
jagoan yang cukup lihay dalam perguruan Eng jiau bun,
ajarannya sudah pasti tak akan jelek."
"Mari, keponakan tak usah malu malu, dihadapan empek
Hee, kurang baik dalam latihanpun tak menjadi soal, toh aku
hanya ingin mengetahui dasar dasar ilmu silatmu agar empek
Hee bisa mengajarkan pula kepandaian silat lain untukmu."
Kemudian sambil menunjuk kearah beberapa orang yang
berdiri ditepi arena, dia mena mbahkan
"Beberapa orang suhu tersebut masing masing memiliki
keahlian yang berbeda, dikemudian hari keponakan akan
berjumpa dengan mreka setiap hari, tak ada salahnya kau
minta banyak petunjuk dari mereka."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jin Siu dan To It hui sekalian buru buru menjura sembari


berkata: "Perkataan pocu terlampau tinggi." Hee Im hong
tertawa tergelak.
"Dia adalah keponakanku Huan cu im, harap suhu sekalian
suka banyak memberi petunjuk kepadanya."
Huan cu im segera menjura kepada mereka. Buru buru Jin
Siu sekalian membalas memberi hormat sambil merendah:
"Memberi petunjuk mah tak berani, asal Huan kong cu
punya kegembiraan, mari kita ingin meneliti."
"Baiklah, hiantit, sekarang kau boleh turun kegelanggang,
semua yang hadir sekarang adalah orang sendiri, kau tak usah
canggung atau malu malu lagi."
Oleh karena dipaksa oleh keadaan, mau tak mau Huan cu
im harus bangkit berdiri dan turun ke gelanggang, tanpa
melepaskan jubah luarnya lagi, dia berjalan satu kaki
ketengah arena, kemudian sambil memberi hormat kepada
Hee Im hong, katanya "Siautit akan mainkan ilmu Yu sin ki na
jiu, harap petunjuk dari empek Hee"
Kemudian kepada Jin Siu sekalian dia menjura pula seraya
berkata: "Harap suhu sekalian sudi memberi petunjuk."
Begitu selesai berkata, dia mulai membuat ancang ancang
lalu dengan kelima jari tangan yang dipentangkan lebar lebar,
dia mainkan seratus delapan jurus ilmu Yu sin ki najiu yang
dipelajarinya dari aliran perguruan Engjiau bun tersebut,
semua gerakan dilatih dengan lamban tapi mantap.
Dia masih teringat akan semua pesan gurunya bahwa
segenap ilmu silat yang dipelajarinya tak boleh diperlihatkan
kepada orang luar, oleh karena itu ilmu Yu sin ki najiu yang
dimainkan sekarang, paling banter hanya disertai dengan
tenaga sebesar lima bagian.
Perlu diketahui, ilmu silat yang dipelajari dari gurunya
merupakan ilmu silat dengan menggunakan tenaga dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aliran lurus, sekalipun dia telah berusaha untuk


menyembunyikan kekuatan dan tak berani terlalu menyolok,
tapi bagi seorang dengan tenaga dalam sepuluh bagian tapi
kenyataannya hanya mempertunjukkan tenaga lima bagian
sedikit banyak kekurangan tersebut akan terlihat dalam jurus
jurus permainannya, dimana tampak tenaga dalamnya seperti
tersendat sendat. Otomatis kejadian ini menimbulkan kesan
yang lain bagi semua penonton yang menyaksikan latihan
tersebut.
Hee Im hong yang menyaksikan latihan tersebut
mengangguk tiada hentinya sambil tersenyum, dia memuji
berulang kali, sedangkan Jin Siu sekalian juga melihat meski
usia pemuda itu maish muda belia, akan tetapi tenaga
dalamnya telah mencapai tingkat yang amat sempurna.
Ketika Huan cu im menyelesaikan latihannya memainkan
seratus delapan jurus ilmu Yu sin ki najiu, wajahnya nampak
masih tetap tenang dan segar, mukanya tidak memerah,
napaspun tidak tersengal sengal.....
Jin Siu serta To It hui sekalian segera bertepuk tangan
memberi pujian.
Begitu beberapa pelatih tadi bertepuk tangan, kawanan
busu yang berada disisi arena pun sama sama ikut memberi
aplus yang meriah.
Huan cu im kembali memberi hormat sambil berkata: "Bila
latihan siautit tidak bagus, harap empek Hee jangan
mentertawakan."
Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil tersenyum:
"Ilmu Yu sin ki najiu yang hiantit latih benar benar amat
matang dan sempurna ini menandakan kalau kaupernah
berlatih giat untuk memperdalam kepandaian sia lt, hampir
semua rahasia ilmu silat Eng Jiau bun berhasil kau kuasai,
sekarang empek Hee berniat mencoba kemampuanmu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian sambil berpaling ke arah Jin Siu, serunya


"Jin suhu, coba kau pilih dua orang busu untuk turun
gelanggang melayani beberapa jurus serangan dari Huan
hiantit"
"Hamba turut perintah"Jin Siu memberi hormat.
Dari nada pembicaraan empek Hee nya, Huan cu im dapat
menangkap kalau dia hendak diadu dengan dua orang busu,
hatinya menjadi amat gelisah, buru buru serunya:
"Empek Hee, siautit tak mampu, apalagi siautitpun belum
pernah bertarung melawan orang."
"Hiantit tak usah takut" Hee Im hong mengelus jenggotnya
sambil tertawa, " belajar Ilmu silat mempunyai tujuan dipakai
untuk membela diri, menurut penilaian empek Hee, ilmu Ki
najiu yang barusan kau pelajari sudah mencapai enam bagian
sempuran, oleh sebab itu biar Jin suhu mencarikan dua orang
lawan untuk latihanmu, coba kau lihat apakah mampu untuk
menghadapi mereka? Hiantit tak perlu kuatir, pokoknya empek
Hee tidak akan membiarkan kau menderita kerugian"
Sementara itu Jin siu telah membalikkan badan sambil
berseru lantang "Siau LiongJin, Tu Liong seng"
"Hamba siap" dari sisi kiri terdengar ada orang menyahut.
Bersamaan itu pula muncul dua orang busu yang segera
bersiap siap dengan wajah serius.
"Pocu menitahkan kepada kalian berdua untuk berlatih
beberapa jurus dengan Huan kongcu, masing masing pihak
hanya membatasi diri saling menutul saja, serangan tak boleh
terlalu berat, mengerti?"
"Hamba turut perintah" kedua orang busu itu segera
memberi hormat.
Setelah tersenyum kembali Hee Inm hong berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hiantit, pertarungan ini hanya latihan saja, bukan


pertarungan sungguhan, tapi mereka adalah jago jago yang
berpengalaman dalam pertempuran, bila hiantit memang baru
pertama kali ini bertarung, kau tak usah takut takut, turun
tangan saja semampumu."
Huan cu im masih muda, rasa ingin menangpun masih
amat tebal melekat dalam sifatnya, dari pesan Jin Siu kepada
kedua orang busu tadi, ia sudah mendengar kalau
pertarungan hanya dibatasi dengan saling menutul belaka.
Sedang empek Hee sekarang menganjurkan kepadanya
agar mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki tanpa
ragu ragu. Hal ini sama artinya kalau kedua orang busu
tersebut jauh lebih mampu daripada dirinya.
Membayangkan kesemuanya ini, dia merasa amat tak puas,
maka sambil tampilkan diri, dia menjawab: "Siautit mengerti"
Dalam pada itu, Siau Liongjin dan Tu Liong seng telah
berdiri lima depa dihadapan Huan cu im, sesudah memberi
hormat, mereka berkata bersama: "Silahkan Huan kongcu
memberi petunjuk."
Huan cu im mengamati wajah kedua orang itu dengan
seksama, ternyata mereka berdua berusia antara dua puluh
lima enam tahunan, selain mempunyai tinggi badan yang
sama, perawakan tubuh merekapun sama sama kekarnya,
muka mereka juga sama sama merah dengan sorot mata yang
berkilat.
Dalam sekilas pandangan saja, dapat diketahui bahwa
mereka terlalu sering melatih diri dilapangan ini sehingga kulit
tubuhnya terjemur jadi berubah warna. Buru buru dia
memberi hormat sambil katanya:
" Kalian berdua terlalu sungkan, aku hanya sempat belajar
ilmu silat kasaran selama beberapa tahun, harap kalian berdua
sudi memberi petunjuk."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak berani" sahut kedua orang itu bersama.


Kemudian Siau Liong jin yang berada disebelah kiri berkata
pula:
"Hamba mendapat perintah untuk melayani kongcu, harap
kongcu melancarkan serangan lebih dulu."
"Aku belum pernah bertarung melawan orang , lebih baik
kalian berdua menyerang duluan."
"Apakah hal ini kurang baik?" seru Tu Liong seng yang
berdiri disebelah kanan-
"Tidak menjadi soal, kalian harus menyerang duluan,
dengan begitu aku baru bisa memikirkan cara pemecahannya,
bila aku mesti menyerang lebih dulu, aku tidak tahu jurus
serangan manakah yang harus dipergunakan lebih dulu."
Pemuda ini memang belum pernah bertarung melawan
orang, jadi semua perkataannya diutarakan dengan nada
sejujurnya.
Siau Liong jin serta Tu Liong seng yang medengar
perkataan tersebut, diam diam menjadi kegelian.
Sementara itu Jin Siu telah mengundurkan diri, tapi
berhubung dia kuatir kedua orang busu itu menyerang
kelewat berat sehingga melukai keponakan dari pocu dan
akibatnya dia yang mesti bertanggung jawab, maka dia hanya
mundur berdiri tak jauh dari sisi tubuh Huan cu im.
Sewaktu dilihatnya ketiga orang itu sama sama enggan
menyerang duluan, diapun segera berseru:
"Kalau toh Huan kongcu enggan menyerang lebih dulu,
baiklah kalian saja yang menyerang duluan-"
"Baik " sahut Siau Liong jin dan Tu Liong seng bersama
sama. Pertama tama Siau Liong jin yang maju dulu setengah
langkah, kemudian sambil mengeluarkan jurus pembukaan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bangau putih mementangkan sayap. dia berseru: "Huan


kongcu, hamba akan menyerang duluan-"
Tangan kanannya dikembangkan dengan kelima jari
menghadap keatas dia cengkeram bahu Huan cu im.
Jurus serangan tersebut tak berani dilancarkan kelewat
cepat, namun ketika dilepaskan toh disertai pula dengan
deruan angin serangan yang sangat kuat.
Ilmu silat yang dilatih Huan cu im bernama Yu sin ki najiu,
arti "sin" sendiri adalah untuk menghadapi pertarungan jarak
dekat, tentu saja termasuk cara menghindarkan diri dari
serangan jarak dekat lawan-
Ketika menyaksikan tangan kanan Siau Liong jin
menyambar kearah bahunya, ia segera miringkan badannya
menghindar sejauh satu depa kesamping.
Siapa tahu baru saja dia berkelit dari serangan siau Liong
jin, Tu Liong seng telah membuka serangan pula, sambil
berputar setengah lingkaran ia berteriak: " Kongcu, hati hati
kau"
Tangan kirinya diayunkan dari kejauhan, sebuah pukulan
jari tangan diarahkan keiga kiri Huan cu im.
Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya tak berani
dilepaskan dengan gerakan yang terlalu cepat.
Tiba tiba Huan cu im melangkah maju kemuka dan berkelit
dari sisi kanan Tu Liong seng, jurus serangan dari Tu Liong
seng tersebut secara persis menyambar lewat dari sisi
badannya serta mengenai sasaran kosong.
Begitu serangan pertama dari Siau Liong jin terhindar,
tangan kanannya segera dikebaskan kemuka sambil berganti
jurus, lalu dia membalikkan badan menghindar kebelakang
Huan cu im dan menggunakan jurus bangau putih mencakar
ular, kelima jari tangan yang dipentangkan langsung
mencengkeram tengkuk pemuda tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berhubung serangan pertamanya dapat dihindari Huan cu


im karena serangan tersebut dilepaskan terlampau lambat,
maka dalam melepaskan serangan yang kedua kali ini, dia
telah mempercepat gerakannya.....
Baru saja serangan tersebut dilancarkan Huan cu im seolah
olah mempunyai sepasan mata yang tumbuh dibelakang
punggungnya, tiba tiba dia membalikkan badan tangan kirinya
digapai dan persis mencekik punggung tangan Siau Liong jin
serta menolaknya keluar.
Dalam pada itu berhubung Huan cu im berkelit dari sisi
kanannya dan menyaksikan tangan kanannya sedang dipakai
untuk menolak cengkeraman Siau Liong jin, maka Tu Liong
seng segera melihat munculnya titik kelemahan pada tubuh
lawan karena pengangkatan pergelangan tangan kanannya
itu.
Peluang yang sangat baik ini tentu saja tak akan disia
siakan dengan begitu saja, kaki kirinya segera maju
mendesak. bahu kanannya direndahkan dan mengeluarkan
jurus pentang sayap mencari jalan, dia bacok tulang iga Huan
cu im.
Seperti juga dengan Siau Liong jin, ia tak berani
menyertakan tenaga kelewat besar didalam serangannya
tersebut, tapi kecepatan geraknya justru ditingkatkan-
Biarpun pertarungan dilangsungkan dengan sangat lamban,
sudah barang tentu kelambanan tersebut bukan berarti
lamban seperti kaum sastrawan yang lemah gemulai, hanya
gerakannya tak secepat gerakan pada umumnya saja. Padahal
dalam kenyataanpun mereka saling desak mendesak.
Tolakan tangan kanan dari Huan cu im juga dilancarkan
tidak terlalu cepat, tapi Siau Liong jin terlanjur menggunakan
jurus serangannya sampai tengah jalan, tak kuasa lagi
tubuhnya kena ditolak sampai berputar dan buru buru
melompat kesamping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im sedikitpun tidak merasa gugup ataupanik,


setelah mendorong Siau Liong jin, tiba tiba sikut kanannya
menyodok kebawah dengan sodokan tersebut sikutnya persis
menghantam diatas tulang persendian telapak tangan Tu
Liong seng yang sedang menyerang tiba (letaknya pada
lekukan dibawah ibu jari).
Tu Liong seng segera merasakan pergelangan tangan
kanannya menjadi kaku, dia sangat terkejut dan cepat cepat
melompat mundur kebelakang.
Hanya dalam satu gerakan saja selain Huan cu im berhasil
mendorong Siau Liong jin, diapun berhasil memaksa mundur
Tu Liong seng, tentu saja peristiwa tersebut disambut rasa
gembira oleh Hee Im hong, sepasang matanya segera berkilat
dan sambil tertawa ia manggut manggut berulang kali.
Perlu diketahui, Siau Liong jin serta Tu Liong seng sekalian
tiga puluh enam orang busu merupakan Thian Liong busu
atau busu naga langit yang khusus peroleh pendidikan ketat
dan merupakan jago jago pilihan dari Benteng keluarga Hee.
Mereka semua rata rata memiliki kepandaian silat yang
amat tangguh, itulah sebabnya nama mereka menggunakan
urutan nama "naga".
Kenyataannya sekarang, Huan cu im mampu melayani
kerubutan kedua orang itu dengan gerakan yang santai, sudah
barang tentu kejadian tersebut menimbulkan perasaan
gembira bagi Hee Im hong.
siau Liong jin serta Tu Liong seng berdua, kendatipun tak
berani menyerang kelewat cepat dan berat dalam pertarungan
tadi, bagaimanapun juga mereka pun enggan menampilkan
ketidak becusan mereka dihadapan pocunya, sebab hal
tersebut bisa menghilangkan pamor mereka dan bisa jadi akan
tergeser dari kedudukan mereka sekarang sebagai Thian Liong
Busu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru sekarang, setelah kedua orang itu kena didesak


sampai mundur kesisi arena, tentu saja kedua orang tersebut
semakin tidak terima.
Demi karier serta masa depan mereka sekarang, kedua
orang itu berniat memberikan sedikit hajaran kepada Huan cu
im agar bisa menyelamatkan kembali pamor mereka yang
merosot.
Oleh karena itu, setelah mundur mereka mendesak maju
lagi dengan cepat mereka mendesak kembali kesisi tubuh
Huan cu im sambil melepaskan sebuah pukulan.
Pukulan yang dikombinasikan dengan cengkeraman
tersebut ditujukan kearah sepasang bahu anak muda tersebut,
boleh dibilang serangannya amat cepat dan sangat
mengagumkan.
Jin Siu kuatir mereka melukai Huan cu im, wajahnya
berubah hebat setelah menyaksikan ancaman tersebut, baru
saja dia berniat untuk menghalangi mereka.
Pada saat itulah Huan cu im telah mengambil tindakan, kali
ini pemuda tersebut tidak menghindar ataupun berkelit, ia
menunggu sampai sergapan kedua orang itu hampir
menempel diatas bahunya.
PAda detik yang terakhir, tiba tiba Huan cu im memutar
badannya seperti gangsingan, sepasang tangannya digerakkan
bersama mencengkeram urat nadi kedua orang itu.
siau Liong jin maupun Tu Liong seng sama sama terkejut,
mereka menarik tangannya dengan cepat untuk meloloskan
diri, sayang keadaan sudah tak sempat lagi.
Dalam keadaan begini, mereka membentak bersama lalu
sebuah tendangan kilat dilontarkan-
Huan cu im tidak menunggu sampai tendangan kedua
orang itu dilepaskan, sepasang tangannya diangkat, kelima
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jari tangannya mengendor dan tubuh kedua orang itu sudah


terlempar sejauh satu kaki lebih.....
Kejadian ini dengan cepat membuat Jin Siu berdiri
melongo, menyusul kemudian beberapa kali tepukan
menyambut keberhasilan anak muda itu, sementara para busu
dikedua sisi arena juga ikut bertepuk tangan....
Siau Liong jin serta Tu Liong seng sesungguhnya bukan
lawan yang lemah, setelah terlempar mereka segera
berjumpalitan beberapa kali dan berdiri kembali.
Namun dengan wajah memerah, mereka menjura sambil
ujarnya:
"Huan kongcu memang sangat tangguh, hamba berdua
merasa bukan tandingan"
Buru buru Huan cu im balas memberi hormat:
"Aaaah, aku tak mampu menahan diri, bila menyakitkan
kalian harap sudi dimaafkan" Jin siu segera mengulapkan
tangannya dan kedua orang itupun mengundurkan diri.
Dengan wajah amat gembira, Hee Im hong segera berseru
setelah tertawa terbahak bahak.
"Hiantit memang benar benar hebat, padahal mereka
terhitung busu kelas satu didalam benteng berbincang soal
ilmu silat, mereka tidak berada dibawah kawanan busu lainnya
dalam dunia persilatan, tapi dalam kenyataan kau berhasil
melemparkan mereka berdua didalam satu gebrakan saja, ini
menandakan kalau ilmu silat hiantit memang cukup tangguh"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Jin Siu
dan ujarnya lagi sambil tertawa:
"Jin suhu, aku menyuruh kau mengirim dua orang turun
kegelanggang, maksudku tak lain adalah agar kau mau
percaya, sekarang terbukti bukan kalau aku tidak salah
melihat?" Jin Siu buru buru membungkukkan badan sambil
tertawa paksa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"SEtiap ilmu silat yang berada didunia ini, asal sudah


diperlihatkan tentu saja tak akan lolos dari pandangan mata
Pocu, barusan pocu menitahkan kepada hamba untuk
mengutus dua orang busu waktu itu hamba memang sudah
mulai curiga." Sambil mengelus jenggotnya Hee Im hong
segera tertawa terbahak bahak:
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... keponakanku ini tak
lain adalah putra saudara angkatku sijago berbaju hijau Huan
Tay seng, ayah harimau tak akan mempunyai anak anjing,
sejak dulu aku sudah tahu kalau ia berbakat bagus serta
merupakan bahan baik untuk belajar silat."
"coba kalian saksikan, dia hanya belajar ilmu Yu sin ki najiu
dari pengurus rumah tangganya, tapi kenyataannya sudah
memiliki kemampuan sehebat ini, bila aku memberi petunjuk
kepadanya, tak sampai tiga tahun tanggung dalam dunia
persialtan akan bertambah lagi dengan seorang jago muda
yang berkepandaian sangat hebat." Seusai berkata kembali ia
tertawa terbahak bahak penuh perasaan bangga.
Bagaimanapun juga Huan cu im masih muda, watak ingin
menangnya masih besar, wajahnya kontan saja berseri setelah
mendengar perkataan dari Hee Im hong tersebut, hati kecilnya
merasa gembira sekali.
Sekembalinya kesisi Hee Im hong, dengan wajah memerah
dia lantas berkata: "Pujian dari empek Hee tak berani siautit
terima."
Hee Im hong segera menariknya agar duduk disampingnya,
kemudian sambil tersenyum dia berkata:
"Hiantit tak usah terlalu merendahkan diri, kau adalah putra
sijago berbaju hijau. Keponakan dari aku orang she Hee,
sudah sepantasnya bila kau mempunyai nama yang tersohor
dalam dunia persilatan, bukan empek Hee sengaja
mengunggulkan diri sesungguhnya apa sih arti dari sembilan
partai besar dalam pandangan kami?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tergerak hati Huan Cu im mendengar perkataan itu dia


lantas teringat pula akan perkataan dari si burung berkepala
sembilan Soh Han sim semalam.
"Apakah artinya dari Go bipay? Sekalipun sembilan partai
besar juga tak bakal dipandang sebelah matapun oleh pocu."
Agaknya empek Hee benar benar tak memandang sebelah
matapun terhadap sebilan partai besar.
Kalau mendengar penuturan dari Lo koan keh, sembilan
partai besar merupakan perguruan perguruan kaum lurus
yang amat ternama didalam dunia persilatan, tapi bila
didengar dari nada pembicaraan empek Hee, tampaknya dia
seperti menaruh permusuhan terhadap sembilan partai besar.
"Hiantit" Hee Im hong segera berpaling, "apa sih yang
sedang kaupikirkan."
"Aaaaah, tidak ada apa apa."
"Pernahkan Lo koan keh mengajarkan ilmu senjata
kepadamu?"
Huan cu im tak berani mengatakan kalau gurunya pernah
mewariskan ilmu pedang ci kiam cap sa si (tiga belas jurus
ilmu pedang jari) kepadanya, terpaksa dia menggelengkan
kepalanya berulang kali. "Belum pernah."
"Baik, mulai besok pagi empek Hee akan mengajarkan ilmu
pedang Kiu Kong kiam hoat lebih dulu kepadamu."
"Terima kasih empek Hee" seru Huan cu im dengan girang.
Hee Im hong tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh..... nak. asal kau bersedia
belajar, empek Hee pasti akan mewariskan segenap
kepandaian silat yang aku miliki kepadamu, dalam tiga tahun
mendatang, aku hendak menciptakan kau sebagai seorang
jago muda nomor wahid dalam dunia persilatan-"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian sambil bengkit berdiri, dia manggut manggut


kepada Jin Siu dan To It hui sekalian sambil berkata: "Baik,
kalian boleh melanjutkan latihan" Kemudian sambil menarik
tangan Huan Cu im, serunya: "Hiantit, mari kita pergi."
Jin Siu dan To It hui sekalian kelima orang pelatih itu
segera membungkukkan badan memberi hormat:
"Hamba menghantar kepergian pocu."
Huan Cu im mengikuti dibelakang Hee Im hong kembali
kekamar baca..... Sambil melepaskan genggamannya, Hee Im
hong berkata kemudian dengan suara ramah.
"Nak. tempat ini merupakan kamar baca empek Hee,
silahkan duduk...."
Seorang dayang berbaju hijau itu segera menghidangkan
dua cawan teh wangi untuk pocu dan Huan Cu im.
Melihat dayang itu berusia hampir sebaya dengan Ji giok.
tanpa terasa Huan Cu im terbayang kembali nasib gadis
tersebut. entah Ji giok betul betul jatuh sakit? Ataukah
sengaja dipindahkan oleh Ciu congkoan?
Sebetulnya dia ingin mintakan ampun bagi Ji giok. namun
terasa sukar untuk mengutarakannya keluar.
Dalampada itu Hee Im hong telah berjalan menuju kedepan
sebaris almari buku yang berada disebelah utara, dia
membungkukkan badan membuka laci almari bagian bawah
dan mengeluarkan sebilah pedang panjang, kemudian setelah
menutup kembali almarinya dan bangkit berdir, ujarnya sambil
tersenyum:
"Hiantit, coba kau lihat bagaimana dengan pedang ini?"
Sambil berkata, "criiing" ia meloloskan sebilah pedang
panjang yang sempit memancarkan cahaya hijau yang
menyilaukan mata tubuh pedang tersebut amat tipis, sekilas
pandangan saja dapat diketahui sebagai pedang jempolan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Pedang ini biasa dipergunakan oleh empek Hee?" tanya


Huan cu im kemudian-
Hee Im hong disebut orang sebagai Hway Lam tayhiap
yang tersohor dalam dunia persilatan, sudah barang tentu ia
mempunyai sebuah pedang mustika. Hee Im hong
menyarungkan kembali pedang itu, kemudian ujarnya sambil
tersenyum:
"Empek Hee Jarang memakai pedang, pedang ini dulunya
milik seorang teman empek yang membawanya dari wilayah
Leng lam. Semula terdiri dari sepasang, yang satu bernama
Kim nie (Pedang Pelangi Hijau) yang lain bernama cai hong
(Pedang Pelangi Merah). Kalau pedang Kim nie memancarkan
sinar kehijau hijauan maka pedang cay hong justru
memancarkan cahaya merah bila terkena pancaran sinar
matahari."
"Pedang ini sangat tajam, sekalipun tak bisa membelah
pualam memotong emas. Senjata tajam biasa niscaya akan
terpapas kutung, senjata tersebut memang terhitung senjata
yang tajam sekali."
"Tapi buat empek Hee, senjata itu kelewat enteng, itulah
sebabnya selama ini selalu kusimpan dalam almari dan tak
pernah kupergunakan-Justru karena entengnya senjata
tersebut, paling cocok bila dipakai oleh mereka yang baru
belajar ilmu pedang hiantit, bila kau senang, empek Hee akan
menghadiahkan untukmu."
Tentu saja Huan Cu im amat senang, ditengoknya wajah
empek Hee lalu katanya:
"Empek Hee, pedang ini tentu mahal sekali, keponakan...."
Hee Im hong tertawa terbahak bahak:
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... nak. kau adalah satu
satunya keponakan empek, hubungan empek dengan ayahmu
melebihi saudara sekandung. Semenjak kecil empek juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

paling senang dengan kau, apalah artinya sebilah pedang?


Apalagi empek jarang mempergunakannya, bila kau memang
tertarik. ambil saja pedang mengapa bersungkan sungkan
terhadap empek?"
Dia serahkan pedang Kim nle kiam tersebut ketangan Huan
cu im......
Paras muka Huan cu im segera berseri, dengan sorot mata
penuh rasa terima kasih serunya cepat:
"Terima kasih banyak empek Hee."
Kemudian setelah menerima pedang itu, kembali dia
berkata:
"Empek Hee, lantas pedang pelangi merah berada dimana?
Bolehkah keponakan melihatnya?"
"Dulu siauli selalu ribut menginginkan pedang itu, empek
telah menghadiahkan untuk putriku itu."
"Dari cerita ibu, keponakan mendapat tahu kalau empek
mempunyai seorang putri yang tiga tahun lebih tua dari
keponakan, sudah berapa hari keponakan berdiam disini,
mengapa belum pernah bertemu dengan cici itu?"
Hee Im hong segera menghela napas panjang dan tidak
berbicara lebih jauh.
Melihat empeknya membungkam Huan cu im juga tidak
berani bertanya lebih jauh.
Kembali Hee im hong berjalan mendekati almari buku, dari
dalam rak dia mengeluarkan sejilid kitab tipis, kemudai sambil
menggapai kearah Huan cu im katanya:
" Hiantit, kemari kau. Kitab ini merupakan kitab salinan ilmu
pedang Kiu kiong kiam boh dari kiu kiong bun, setiap kali
melancarkan jurus pedang kaki harus melangkah mengikuti
gerakan kiu klong, merupakan ilmu pedang yang paling baik
ilmu langkahnya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Didalam kitab tersebut sudah dicantumkan rumus serta


penjelasannya, terdapa pula keterangan yang menjelaskan
setiap bagian, gerakan, ambil dan bawalah dahulu kitab tadi
hapalkan rahasianya, bila terdapat hal hal yang tidak
mengerti, setiap saat kau boleh datang mencari empek untuk
minta penjelasan-"
Kemudian setelah meneguk air tehnya setegukan, dia
berkata lebih jauh:
"Berhubung empek jarang sekali berada dirumah, asal kau
sudah memahami rahasianya, maka kau bisa melatih sendiri
gerak jurus serangan tersebut mengikuti gambar."
Kemudian ia membuka halaman pertama, sambil menuding
kearah tulisan yang tercantum didalamnya ia memberi
penjelasan secara ringkas, setelah itu baru bertanya: "Hiantit
sudah mengerti?"
Huan cu im pernah belajar ilmu pedang ci kiam cap sa si
dari gurunya, sekalipun menggunakan ilmu jari tangan sebagai
pengganti pedang, namun semuanya mengikuti teori ilmu
pedang, sudah berang tentu ia dapat memahami penjelasan
dari empeknya dengan cepat. Maka sambil manggut manggut
sahutnya
"Siautit mengerti."
Hee Im hong sangat gembira setelah mendengar perkataan
itu disamping memuji akan kehebatannya, dia pun
menerangkan pula banyak rahasia tentang mengerahkan
pedang serta penggunaan tenaga.
Huan Cu im mengingat semua penjelasan tersebut dengan
sepenuh hati, sejak kecil ia telah berpisah dengan ayahnya
maka sikap empek Hee yang menganggapnya sebagai
keponakan sendiri dan perhatiannya melebihi sikap seorang
ayah terhadap putranya membuat anak n^muda tersebut
merasa terharu sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tengah hari itu, Hee im hong menahannya agar bersantap


bersama dengan didalam kamar baca, kemudian pemuda itu
baru berpamitan dan pulang kekamarnya dengan membawa
pedang Kim nie kiam serta kitab ilmu pedang kiu klong kiam
hoat.
Kembali ke gedung timur, dia sudah menyaksikan ci giok
berdiri seorang diri didepan kebun bunga, seakan akan sedang
menantikan kedatangan seseorang.
Ketika melihat kemunculan pemuda itu merah dadu
selembar wajah Ci giok, buru buru dia menyambut
kedatangannya sambil menggerutu:
"Huan kongcu, mengapa kau tidak pulang pulang? Budak
menjadi gelisah setengah mati."
"Nona, apa yang kau kuatirkan?"
"Budak kuatir pocu mengetahui peristiwa semalam" bisik Ci
giok sambil menundukkan kepalanya rendah rendah. Huan Cu
im segera tertawa
"Bagaimana mungkin dia bisa tahu? oya kau sudah
bersantap?"
Sambil bertanya dia masuk kedalam kamarnya. Ci giok
membalikkan badan mengikuti dibelakang tubuhnya, lalu
menjawab lirih: "Sebelum kongcu pulang, budak mana berani
makan dulu?"
"Aku telah bersantap bersama empek Hee dlkamar
bacanya" Huan cu im tertawa, "cepat kau masuk dan
bersantap dulu"
"Aaaaah, tidak mengapa...."
Kemudian dengan nada penuh perhatian, dayang itu
bertanya lagi
"Huan kongcu, kau telah pergi hampir setengah harian
lamanya, apa sih yang kau lakukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku berada dilapangan latihan silat."


Mendengar kata kata "lapangan latihan silat", ci giok
seakan akan merasa tertarik sekali, dengan membelalakkan
matanya lebar lebar, dia bertanya lagi:
"SEtiap orang anggota benteng yang tidak mendapat ijin
dari pocu, dilarang memasuki lapangan latihan silat tersebut,
menurut pendapat budak. lapangan latihan silat tersebut,
tentu dipergunakan seseorang untuk berlatih semacam ilmu
silat rahasia, entah slapa slapa saja yang berada disitu?"
Kalau didengar dari pertanyaan ini, jelas gadis itu
bermaksud untuk menyelidik dan mencari keterangan-
"Agaknya orang yang berlatih silat ditempat itu adalah
sekawanan Busu kelas satu dari benteng, jumlahnya mencapai
tiga puluhan orang" kata Huan cu im. ci giok segera manggut
manggut.
"Kalau begitu mereka sudah pasti dari kelompok Thian liong
Busu, entah siapa siapa pula yang mengajarkan ilmu silat
kepada mereka semua?"
"Pelatihnya berjumlah lima orang, tapi aku hanya
mengetahui dua diantaranya, yang seorang bernama Jin Siu
sedangkan yang lain bernama To It hui."
Mendengar nama nama tersebut, ci giok segera mendengus
dingin: "Hmm, sibangau abu abu Jin Siu dan golok pemutus
nyawa To It hui"
"Jadi kau mengenali mereka?"
"Tidak. aku tidak kenal" Ci giok menggelengkan kepalanya
berulang kali, " budak cuma mendengar orang membicarakan
tentang mereka, kedua orang tersebut merupakan sampah
sampah masyarakat dari golongan hitam."
"Uooh, mereka adalah orang orang dari golongan hitam?"
Huan cu im menjerit kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Yang bernama Jin Siu adalah penghianat dari perguruan


bangau putih sedang berusaha mencari dia dimana mana,
rupanya dia sudah tak bisa menancapkan kakinya lagi didalam
dunia persilatan, maka akhirnya diapun bergabung dengan
Benteng keluarga Hee.."
Sambil memandang gadis itu, timbul pelbagai kecurigaan
dalam hati Huan cu im, segera dia bertanya lagi:
"Nona, sesungguhnya siapakah kau?" Ci giok tertawa
manis.
"Bukankah budak pernah bilang, soal identitas serta asal
usul budak pada saat ini belum bisa dijelaskan kepada
kongcu?"
Senyumannya kali ini seperti sekuntum bunga yang sedang
mekar, indah dan sangat menawan.
Tanpa terasa Huan cu imjadi melongo dibuatnya, dia
segera mengangguk berulang kali:
"Baik, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi."
ci giok membalikkan badannya dan berkata kemudian
"Budak akan mengambilkan air teh untuk kongcu"
Dengan cepat ia beranjak pergi, tak lama kemudian gadis
itu muncul kembali dengan membawa sebuah cawan berisi air
teh, setelah diletakkan keatas meja, diliriknya pedang yang
tersoren dipinggang pemuda itu sekejap. lalu tanyanya:
"ongcu, rasanya budak belum pernah melihat pedangmu itu."
"Barusan saja empek menghadiahkan pedang itu untukku."
"Waaah, kalau kalau begitu ilmu pedang kongcu pasti amat
bagus" ujar ci giok sambil melirik kearahnya, " mungkin pocu
khusus mengundang kongcu menuju kelapangan latihan silat
untuk menyaksikan ilmu pedangmu?" Huan cu im segera
tertawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku tak pernah belajar pedang, tetapi tebakanmu memang


betul separuh, empek Hee memang bermaksud melihat
kepandaian silatku, malah dua orang busu sempat kulempar
kebelakang."
"Akh, masa kongcu mampu melempar kedua orang Thian
Liong busu tersebut?" ci giok nampak seperti kurang percaya.
Huan cu im segera tertawa terbahak bahak:
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... bagaimana? Kau tidak
percaya? Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... apakah kau
benar benar menganggap aku orang she Huan sebagai kutu
ayam?"
"Budak tidak berani"
Mendadak ci giok seperti memahami sesuatu, wajahnya
kembali berubah menjadi merah padam, dengan kepala
tertunduk dia lantas berbisik:
"Rupanya semua pembicaraan budak kemarin berhasil
kongcu dengar? Harap kongcu sudi memaafkan kelancangan
budak." Huan cu im kembali tertawa terbahak bahak:
"Aku hanya bergurau saja, tak usah kau pikirkan persoalan
tersebut didalam hati."
"Terima kasih kongcu"
ci giok memberi hormat, lalu bisiknya lagi secara tiba tiba
"SEmalaman kongcu sudah tak tidur, sekarang seharusnya
pergi beristirahat sebentar, malam nanti bisa jadi masih ada
urusan-"
"Malam nanti masih ada urusan apa?" tanya Huan cu im
dengan perasaan ingin tahu. ci giok segera tertawa misterius.
"sampai waktunya, kongcu pasti akan mengetahui dengan
sendirinya......"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai berkata, diam diam ia lantas undurkan diri dari


situ....
Semalam, Huan cu im memang belum tidur, semalaman
suntuk. sekarang dia merasakan sedikit agak lelah, maka
setelah masuk kedalam kamar dia menutup pintu, duduk
bersila diatas pembaringan dan pelan pelan mengatur
pernapasan, tak lama kemudian pemuda itu sudah berada
dalam keadaan tak tahu apa apa.
Entah berapa lama sudah lewat, mendadak suara ketukan
pintu menyadarkan kembali pemuda itu, menyusul kemudian
terdengar Ci giok berseru dari luar pintu: "Huan kongcu, kau
harus bangun santapan malam sudah tersedia...."
Huan Cu im membuka matanya, betul juga hari sudah
mulai gelap. maka ia segera melompat turun dari
pembaringan serta membuka pintu kamar.
Ci giok dengan membawa sebaskom air untuk mencuci
muka telah berdiri menunggu diluar pintu.
selesai membersihkan muka Huan Cu im segera berjalan
keluar dari kamar tidurnya. Sementara itu Ci giok telah
menyulut lentera dalam ruangan-
Seorang lelaki berbaju hijau muncul sambil membawa
hidangan, Ci giok menerima hidangan tersebut sedangkan
lelaki berbaju hijau tadi segera mengundurkan diri.
Dengan cepat Ci giok menghidangkan sayur keatas meja,
kemudian menyiapkan semangkuk nasi sebalum ujarnya "
Kongcu, silahkan bersantap dulu."
Huan cu im manggut manggut sambil duduk. tapi tak tahan
dia toh bertanya lagi: "Nona, kau mengatakan malam nanti
ada urusan, sebenarnya apa sih yang bakal terjadi?" Ci giok
tertawa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kalau sedang bersantap lebih baik jangan berbicara,


silahkan kongcu bersantap dulu, sampai saatnya yang paling
tepat, budak pasti akan menerangkan kepadamu."
"Waaah, pandai amat kau jual mahal."
"Itu namanya rahasia langit tak boleh bocor" bisik Ci giok
sambil menempelkan jari tangannya diatas bibir dan tertawa:
Terpaksa Huan cu im tidak bertanya lebih jauh dan buru
buru bersantap.
Selesai mengisi perut, ci giok menghidangkan sebuah
handuk panas untuk membersihkan muka, lalu dihidangkan
pula secawan air teh, sebelum ia sendiri memberesi mangkuk
piring serta mengundurkan diri dari sana.
Huan cu im tahu kalau gadis itu pergi kebelakang untuk
bersantap. hanya saja ia tak tahu peristiwa apakah yang bakal
terjadi malam nanti. Terpaksa sambil menghirup air teh, dia
duduk tenang sambil menanti. Betul juga tidak lama kemudian
ci giok telah muncul kembali sembari berbisik:
"Kongcu, sekarang kau masih ada waktu untuk beristirahat
beberap saat lagi, lewat kentongan pertama nanti, budak akan
datang untuk memanggilmu."
"Nama sebenarnya apa sih yang terjadi? Bersediakah kau
menerangkan kepadaku sekarang juga?"
"Kongcu akan tahu dengan sendirinya bila waktunya sudah
tiba, sekarang tak usah banyak bertanya dulu, nah budak
akan mohon diri." Dengan cepat dia mengundurkan diri dari
tempat itu.
Huan cu im hanya merasakan perkataan maupun gerak
gerik ci giok penuh rahasia dan misterius, ia tak tahu obat
apakah yang sedang dijual didalam cupu cupunya?
Namun dia percaya Ci giok bukan orang jahat, tak mungkin
akan mencelakai dirinya, bila dia telah berjanji akan muncul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kembali pada kentongan pertama nanti, sudah pasti dia akan


muncul pada saatnya nanti.....
Maka diapun kembali kekamar, menutup pintu,
memadamkan lentera dan seorang diri duduk menanti
datangnya kentongan pertama.
Menunggu orang merupakan suatu pekerjaan yang
menjemukan dan menggelisahkan hati, apalagi perasaannya
sekarang diliputi oleh pelbagai kecurigaan yang memenuhi
benaknya. Dia ingin secepatnya tahu peristiwa apakah yang
bakal terjadi pada malam nanti? Karena itu terasa olehnya
waktu berlalu seperti rangkakan siput.
Untung saja selisih waktu sampai kentongan pertama tidak
terlalu jauh, setengah jam kemudian kentongan pertamapun
sudah tiba.
Dari luar pagar pekarangan terdengar suara kentongan
dibunyikan satu kali pertanda kentongan pertama telah tiba.
"Nah, waktunya sudah tiba...." Huan Cu im segera berpikir.
Baru saja ia akan membuka pintu dan berjalan keluar.
Pada saat itulah terdengar ada suara orang mengetuk
pintu, lalu terdengar Ci giok sedang berbisik:
"Huan kongcu, kita boleh berangkat sekarang."
Huan Cu im segera membuka pintu, ia jumpai wajah Ci giok
telah mengenakan kembali selembar topeng, rambutnya
dibungkus kain hitam dan bajunya telah berganti dengan
pakaian ringkas berwarna hitam, sebilah pedang pendek
tersoren dipinggangnya, dandanan seorang yang hendak
berjalan malam.
Menyaksikan pakaian ringkasnya yang ketat, tanpa terasa
Huan Cu im terbayang kembali peristiwa semalam ketika ia
menelanjangi gadis tersebut kontan saja hatinya terasa
berdebar keras, napaspun turut memburu. cepat cepat dia
bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Nona, sebetulnya kita hendak kemana? Tentunya kau


bersedia menerangkan sekarang bukan?"
Berkilat sepasang mata ci giok dibalik kegelapan setelah
tertawa rendah, sahutnya
"Budak hendak mengajakmu menuju kesuatu tempat dan
menjumpai seseorang, sudah cukup bukan?"
"Menjumpai seseorang?" tanya Huan cu im keheranan,
"siapakah orang itu?"
Sekali lagi ci giok menunjukkan sikap misterius, sambil
menutupi bibirnya dan tertawa rendah ia menyahut:
"Kongcu cukup mengikuti budak saja, kita akan kemana,
sebentar toh kau akan mengetahui dengan sendirinya."
Kemudian tidak menunggu sampai Huan cu im bertanya
lagi kembali dia berbisik: "Tahukah kongcu mengapa budak
harus memilih waktu kentongan pertama untuk kesana?"
"Kalau nona tidak menjelaskan, darimana aku bisa tahu?"
"Kebanyakan orang yang berjalan malam sebagian besar
akan bergerak selewatnya kentongan kedua, karena pada
waktu itu malam sudah sepi dan jejak mereka tidak mudah
kebocoran-"
"Padahal penjagaan didalam benteng akan mencapai saat
yang paling ketat selewatnya kentongan kedua, dimana mana
akan tersebar para busu yang melakukan perondaan, berbeda
sekali bila kita bertindak pada kentongan pertama, berhubung
waktunya masih terlalu pagi perondaan, maupun penjagaan
masih sedikit dan sangat mengendor."
"Ooooh, rupanya begitu."
"oleh sebab itu kita harus bertindak pada waktu begini asal
beberapa buah pos penjagaan berhasil kita lampaui, maka
jejak kita tak bakal ketahuan orang. Tapi setelah keluar dari
gedung timur nanti harap kongcu jangan mengajak budak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk berbicara lagi, segala sesuatunya bergerak menurut


kode tangan budak. lebih baik jangan bertindak sendiri
sendiri."
"Aku mengerti" Huan cu im mengangguk. "Baik, kalau
begitu kita harus segera berangkat."
Seusai berkata tiba tiba ia membalikkan badan dan segera
melompat keluar.
Gerak geriknya pada saat ini sudah tak lemah gemulai
seperti dihari hari biasa lagi sekali melompat, ternyata dia
dapat bergerak dengan kecepatan seperti segulung hembusan
angin, enteng, cepat dan sama sekali tidak menimbulkan
suara.
Pelbagai kecurigaan masih berkecamuk dalam benak Huan
cu im, tapi pada dasarnya anak muda berhati keras, tentu saja
ia tidak sudi menunjukkan kelemahan dihadapan orang,
dengan cepat dia melompat keluar dan meluncur pula dengan
cepat.
Ci giok sama sekali tak berpaling lagi setelah melompat
ketengah halaman, dia segera menjejakkan kakinya ketanah
dan sesosok bayangan tubuh yang kecil mungil seperti seekor
burung walet telah melayang keluar dari dinding pekarangan-
Aaaah jalan yan dituju sekarang masih tetap seperti
semalam, dia langsung menuju kearah jalan raya yang lurus.
Tentu saja Huan cu im tak berani berayal setelah
melompati dinding pekarangan diapun menuju kejalan lurus,
dilihatnya ci giok sudah berada pada jarak tiga kaki
dihadapannya. Maka dengan cepat dia menarik napas panjang
dan segera mengejar dari belakang.
ci giok berpaling, ketika melihat Huan cu im telah menyusul
datang, ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
berkelebat menuju kedepan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun betapapun cepatnya ia bergerak Huan cu im selalu


mengikuti dibelakang dengan santai, tak pernah ketinggalan
barang setengah langkahpun-Diam diam ci giok amat terkejut,
segera pikirnya:
"Padahal aku telah mengeluarkan ilmu gerakan tubuh awan
terbang keluar poros yang menurut suhu merupakan ilmu
meringankan tubuh paling top dalam dunia persilatan, tetapi
kenyataannya, biarpun usia Huan kongcu masih muda,
agaknya ilmu meringankan tubuh yang dia miliki masih berada
diatas ku."
-00dw00-

JILID 8

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia menghentikan


langkahnya, lalu sambil berpaling dan tertawa ringan katanya:
"Huan kongcu, ternyata kau memang seorang jagoan yang
sengaja menyembunyikan ilmu, hebat amat ilmu meringankan
tubuhmu" Mendengar ucapan tersebut, Huan cu im segera
berpikir:
"Jika ilmu meringankan tubuhku tidak baik, bagaimana
mungkin aku dapat menyelamatkan jiwamu semalam?"
Sudah barang tentu perkataan semacam itu tidak ia
utarakan, maka katanya kemudian sambil tertawa:
"Aaaaaah, nona terlalu memuji" Tiba tiba ci giok berbisik:
"Sudah sampai, budak akan naik lebih dahulu."
Sambil memutar badan, tiba tiba dia melompat naik keatas
dinding pekarangan, kemudian dengan cepat mendekam
disitu, sorot matanya yang tajam mengawasi kesekeliling sana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan seksama kemudian ia memberi kode tangan dan


melompat turun kebalik pekarangan tersebut.
Huan cu im tidak mengetahui tempat manakah itu,
perasaan tak tenang segera menyelimuti perasaannya, begitu
melihat kode tangannya, cepat cepat dia menarik napas
melompati dinding pekarangan dan melayang turun keatas
tanah.
Ketika menengok ke depan, tampak ci giok sudah
menyelinap kedalam sebuah serambi panjang dengan
menggunakan tiang tonggak sebagai pelindung diri, waktu itu
dia menongolkan sebagian tubuhnya sembari menggapai.
Huan cu im segera memburu kesana.
Gerak g erik ci giok berhati hati sekali, sering kali dia
menempelkan punggungnya diatas dinding dengan bergerak
menelusuri serambi tersebut, lalu dari sebuah pintu dia
menyelinap kedalam sebuah halaman gedung.
Pada saat dia hendak memasuki pintu tersebut, tangan
kanangnya kelihatan segera diayunkan kedepan.
Tatkala Huan cu im memburu kepintu tadi, dia baru tahu
kalau seorang Busu telah berdiri kaku ditempat tersebut,
agaknya jalan darahnya sudah tertotok oleh sambitan jarum
bwee hoa ciam.
Maka dengan gerakan cepat dia turut menyelinap masuk
kedalam...
Didalam halaman itu semuanya terdapat tiga deret kamar,
pada saat itu jendela pada ruang sebelah timur masih
kelihatan pancaran sinar lentera.
Tampaknya ci giok sangat hapal dengan keadaan
disekeliling tempat itu, dia segera menelusuri ruang serambi
barat, mengitari ruang utama dan menuju kepelataran
belakang, disitu berderet pula tiga buah ruangan yang gelap
gulita.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ci giok berjalan menuju ke ruangan sebelah timur,


meloloskan pedang pendeknya dan memapas kutung rantai
yang mengunci pintu, kemudian baru menggapai kearah sang
pemuda.
Huan cu im melompat kesisinya, belum sempat bersuara
gadis itu telah berbisik "Kongcu, cepat masuk"
"Tempat apakah ini?" tanya Huan cu im ragu.
"Aaaai, kau tak usah banyak bertanya, cepat masuk.
setibanya didalam bukankah kau akan segera tahu dengan
sendirinya? Waktu yang tersedia bagi kita tidak terlalu banyak,
yang penting kita harus menolong orang secepatnya dan tak
boleh ragu."
"Menolong orang?"
Huan cu im benar benar diliputi perasaan bingung dan tidak
habis mengerti, bahkan kakinya nampak ragu.
"Kongcuya yang kelewat romantis, cepatlah masuk"
terdengar ci giok yang berada dibelakangnya berseru sambil
tertawa ringan-
Dengan tangan sebelah dia membuka pintu, tangan lain
dipakai untuk mendorong bahunya. Tanpa terasa Huan cu im
melangkah masuk kedalam ruangan yang gelap gulita itu.
Suasana dalam ruangan tersebut begitu gelap sampai
kelima jari tangan sendiripun sukar dilihat, namun dibalik
kegelapan terdengar seorang gadis bersuara lembut menegur
dengan suara gemetar: "Siii..... siapakah..... kau......"
Pada dasarnya Huan cu im memang bisa melihat didalam
kegelapan, begitu berada dalam ruangan, dia segera dapat
melihat dengan jelas semua keadaan didalam ruangan
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tempat itu merupakan sebuah ruangan tersebut tidak


nampak meja ataupun kursi, semuanya kosong melompong
tiada sesuatu apapun-..
Seorang gadis berwajah sayu dan kusut duduk di atas
pembaringan itu, wajahnya diliputi perasaan kaget dan gugup.
Siapakah gadis tersebut? Ternyata dia tak lain adalah Ji
giok. dayang yang melayaninya beberapa hari berselang.
Tentu saja Huan cu im jadi tertegun dibuatnya, dia segera
berseru tertahan-
Ji giok yang berada dalam ruang yang gelap gulita tentu
saja tak dapat melihat Huan cu im, namun pendengarannya
cukup tajam, dalam sekejap mata ia sudah menangkap suara
Huan cu im.
sekujur tubuhnya segera gemetar keras, kejut dan girang
serunya kemudian-"Kau.... kau adalah Huan kongcu?"
Huan cu im sama sekali tidak menyangka kalau Ji giok
bakal dikurung dalam sebuah ruang kecil yang gelap gulita,
maka sahutnya kemudian sambil manggut manggut: "Aku
dengar kau sakit, maka sengaja datang untuk menjengukmu."
Ji giok sangat terharu sehingga tanpa terasa air matanya jatuh
bercucuran.
"Terima kasih Huan kongcu, budak baik baik saja, harap
kongcu pergi dari sini selekasnya."
Ketika mengucapkan kata kata yang terakhir itu, nada
suaranya kedengaran amat gelisah.
Tiba tiba terdengar seseorang berbisik dari luar pintu:
" Kongcu, kau tidak tahu, sebetulnya Ji giok tidak
menderita penyakit apa apa, dia justru disiksa habis habisan,
badannya penuh luka akibat dihajar, sekarang ia disekap
ditempat ini."
" Disiksa?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan mata terbelalak karena kaget dan tercengang,


Huan cu im berkata lebih jauh: "Siapa yang telah
menyekapmu disini?"
Takut dan gelisah perasaan Ji giok sewaktu mendengar ada
suara orang dari luar pintu, segera tanyanya dengan suara
gemetar "Siapa yang berada diluar?"
"Dia adalah ci giok, kau tak usah takut. cepat katakan,
sebenarnya siapa yang telah menyiksa dan menghajarmu
sehingga menjadi sedemikian rupa?"
"Tidak ada orang" Ji giok terisak dengan air mata
bercucuran, "^ Huan kongcu, cepat kau pergi dari sini"
"Tidak" Huan cu im berkata dengan nada terharu, "kau
harus mengatakannya kepadaku, pasti akan kulaporkan
kejadian ini kepada empek Hee...."
"Kumohon kepadaku, Huan kongcu cepatlah kau tinggalkan
tempat ini secepatnya" pinta Ji giok gelisah, "budak.... budak
meski harus mati juga akan sangat berterima kasih kepadamu
cepatlah pergi dari sini...^."
" Kongcu, kita datang untuk menolong orang" kembali ci
giok yang ada diluar berkata, "rantai dihadapan pintu sudah
kupatahkan, bila kau tidak menyelamatkannya dari situ Ji giok
betul betul akan tewas terbunuh."
"Betul" seru Huan cu im kemudian, "Ji giok. aku datang
untuk menyelamatkanmu, cepat ikut aku keluar dari sini."
"Tidak. budak tak boleh pergi" Ji giok menangis tersedu
sedu, " maksud baik kongcu akan budak ingat selalu dihati,
biarpun budi ini tak dapat ku balas dalam kehidupanku
sekarang, pasti akan kubayar pada penitisan mendatang,
tempat ini tak boleh ditinggali terlalu lama, kumohon
kepadamu pergilah secepatnya."
"Mengapa mereka menghajarmu? Kau tentunya bersedia
menerangkan kepadaku bukan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"ciu..... ciu congkoan bertanya kepada bdak... apa saja


yang dikatakan Lo koankeh sebelum ajalnya tiba, budak tidak
menjawab pertanyaan itu...."
"Jadi gara gara urusan Lo koan keh, dia telah menyiksa dan
menghajarmujadi begini rupa?" teriak Huan cu im amat gusar,
"ayo berangkat, segera ku ajak kau menjumpai empek Hee."
"Percuma kongcu" ci giok yang berada diluar pintu segera
menyela,
"bila kau tidak menyelamatkannya malam ini, dia pasti akan
mati."
Untuk beberapa saat Huan cu im jadi kebingungan, katanya
kemudian dengan serba salah: "Kita harus membawanya
kemana?" ci giok tertawa ringan-
"Bila budak tidak mempersiapkan jalan mundurnya, mana
berani kuajak kongcu untuk datang kemari? Sekarang kongcu
cukup menolongnya keluar dari sini budak akan mengatur
masalah selanjutnya."
"Baik, Ji giok mari kita pergi" seru pemuda itu kemudian-ci
giok yang berada diluar kembali berkata:
"Adik Ji giok telah dihajar sampai babak belur, jangan lagi
menempuh perjalanan jauh maju selangkah saja sudah tak
mampu. Kalau ingin menolong orang, tolonglah sampai
selesai. Kau hanya bisa membawanya pergi dari sini bila kau
gendong dia."
"Soal ini....." Huan cu im jadi ragu ragu.
"Menolong orang seperti menolong kebakaran- Kongcu tak
boleh membedakan lagi antara lelaki dan perempuan- Lagipula
waktu yang tersedia sangat terbatas, andaikata jejak kita
sampai ketahuan orang, kita semua bakal terjebak. Kongcu,
kau harus mengambil keputusa secepatnya."
"Baik. Ji giok. mari kugendong kau keluar dari sini".
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Huan kongcu, kau tak usah mengurusi budak.. .." Ji giok


berbisik dengan suara gemetar.
Huan cu im tidak berbicara lagi, dia maj menghampirinya
dan berbisik. "Ji giok. tak usah takut, pokoknya aku harus
menolongmu lolos dari sini" Sambil berkata, dia lantar
memayang tubuh gadis tersebut.
Siapa tahu begitu tangannya menyentuh tubuh gadis itu, Ji
giok segera merintih kesakitan, agaknya luka luka ditubuhnya
tersentuh dan ia merasakan kesakitan-cepat cepat Huan cu im
melepaskan tangannya sambil menyumpah dengan penuh
rasa heran "Tampaknya ciu congkoan betul betul seorang
bajingan tengik berhati kejam" Terpaksa dia berjongkok
sembari katanya:
"Ji giok. cepat kau menggendong dipunggungku, biar aku
membawamu keluar dari sini. Pokoknya aku tak bisa berpeluk
tangan belaka dalam peristiwa ini."
"Dengan berbuat demikian, apakah tidak merendahkan
derajat kongcu? "Ji giok berkata lirih.
Dia masih tetap takut dan ragu serta tak berani
menggendong diatas punggungnya. Mendadak terdengar ci
giok yang berada diluar memperingatkan "Kongcu, cepat
berangkat. Tampaknya ada orang yang datang kemari...."
Dalam keadaan demikian Ji giok tak bisa memikirkan soal
malu dan rasa sakitnya lagi, dia menurut dan segera
menggendong diatas punggungnya.
Huan cu im segera bangkit berdiri, ia merasa tubuh Ji giok
lembut dan empuk. sama sekali tidak mengganggu gerak
geriknya.
Dengan cepat dia menyelinap keluar dari ruangan dan
bertanya kepada ci giok: "Bagaimana situasi diluar sana?" ci
giok segera tertawa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Jika budak tidak mengatakan ada orang datang, kalian


pasti akan ngobrol terus tidak ada habisnya".
Merah dadu selembar wajah Huan cu im, bisiknya
kemudian-
"Kalau begitu mari kita berangkat"
"Kongcu bermaksud hendak membawa Ji giok kembali
kekamarmu?" tanya ci giok kemudian-
"Yaa, aku bermaksud akan membawanya kembali kekamar,
besok aku akan menjumpai empek Hee..."
"Kongcu ya ku, cara tersebut tak boleh dipergunakan-"
"Kenapa?"
"Budak tak dapat menerangkan semuanya dalam waktu
singkat, silahkan kongcu mengikuti budak".
Selesai berkata dia lantas melompat keluar terlebih
dahulu....
Sambil membopong Ji giok, Huan cu im mengikuti
dibelakangnya, sepanjang jalan ia merasa hatinya berdebar
keras karena perasaan tegang, untung saja gerak gerik
mereka tak sampai memancing perhatian orang.
Begitulah, dua sosok bayangan manusia, satu dimuka yang
lain dibelakang segera mengitari dinding pekarangan dan
melompat keluar, setiba dijalan lurus semula, tanpa banyak
bicara ci giok bergerak cepat menuju kearah utara. Utara
adalah arah menuju kekebun bunga.
Diam diam Huan cu im curiga, tak tahan lagi dia segera
menghimpun tenaga dalamnya dan memburu kedepan, lalu
tanyanya dengan suara lirih: "Bukankah kita sedang menuju
kekebun belakang?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ci giok sama sekali tidak menyangka kalau Huan cu im yang


sedang menggendong seseorang masih bisa mengikuti dirinya
tanpa dia berpikir:
"Jangan-jangan kedatangan Huan kongcu ke benteng
keluarganya Hee inipun mengandung suatu tujuan tertentu?
Berbicara dari ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sudah
jelas dia terhitung jago kelas satu didalam dunia persilatan,
masa seorang lo koankeh bisa mengajarkan kepandaian
seperti ini?"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia berpaling dan
memandang pemuda itu sekejap. kemudianjawabnya lirih:
"Kongcu tak usah banyak bertanya, sesampainya ditempat
tujuan, budak akan memberitahukan semuanya kepadamu".
Kendatipun mereka berdua masih berbincang bincang
gerakan tubuhnya sama sekali tidak mengendor, tak selang
beberapa saat kemudian mereka telah tiba diujung jalan-
ci giok segera berhenti, tangan kirinya diulapkan
kebelakang memberi tanda agar Huan cu im menanti
sebentar, sedangkan ia melakukan pemeriksaan terlebih
dahulu.
Sudah barang tentu Huan cu im memahami maksudnya, ia
segera menghentikan gerakan tubuhnya.
ci giok tak berayal lagi, dia menjejak kakinya ketanah dan
segera melejit keudara dan menerjang keatas dinding
pekarangan, dari situ dia memeriksa keadaan disekitarnya
dengan seksama, ketika tidak menjumpai sesuatu yang aneh,
dia baru memberi tanda kepada Huan cu im dan melompat
turun kebawah.
Huan cu im menjejakkan kaki-nya keatas tanah dan segera
menyusul dari belakangnya.
Berhubung pada saat ini dia harus membopong Ji giok
sehingga dia sendiripun tidak mengetahui apakah dia bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melompati pagar pekarangan setinggi dua kaki tersebut, maka


ketika melejit tadi, ia menarik dulu napas panjang kemudian
sambil menyalurkan hawa murninya kesepasang kaki, dia
melejit keudara.
Siapa tahu tenaga yang dipergunakan kali ini kelewat
besar, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, dia
meluncur keudara dan hampir mencapai ketinggian tiga kaki
lebih.
Setibanya ditengah udara, pemuda tu baru merasa
tertegun, cepat cepat dia menghimpun hawa murninya dan
segera melayang turun kebawah.
Sementara itu ci giok sudah menanti dibawah sebatang
pohon besar, melihat pemuda itu bisa mencapai ketinggian
tiga kaki lebih hatunya makin yakin lagi sekarang, pikirnya:
"Huan kongcu memang benar benar memiliki kepandaian silat
yang amat dahsyat". Buru buru dia menggapai kearahnya.
Baru saja Huan cu im melayang turun dari atas pohon dan
belum sempat berdiri tegak, mendadak terdengar ujung baju
terhembus angin bergema datang, tampak enam sosok
bayangan manusia munculkan diri dari balik tempat
persembunyian dan segera mengepung datang. Menyusul
kemudian terdengar seseorang membentak keras. "Sasaran
cuma dua orang, cepat kepung mereka"
" celaka" bisik Ci giok.
Dengan cepat dia mengayunkan tangannya ke depan,
segenggam jarum bwee hoa ciam segera meluncur kedepan-
Tiga orang yang sudah menampilkan diri itu serentak roboh
tergelepar diatas tanah tanpa bersuara lagi.
Huan cu im yang sedang menggendong seseorang
dipunggungnya, tentu saja semakin tak berani berayal, dia
miringkan tubuhnya kesamping, kemudian telapak tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kirinya diayunkan kemuka menghantam bayangan hitam yang


sedang menerjang kehadapannya itu.
Kendatipun dia belum berpengalaman dalam suatu
pertarungan yang sesungguhnya, namun menyerang sambil
miringkan tubuh tersebut justru merupakan satu diantara
delapan jurus Hwee sin Ciang ajaran gurunya, ketika serangan
dilancarkan, segulung desingan angin berpusing yang amat
kuat turut menggulung kemuka.
Belum sempat lelaki kekar itu melihat jelas bayangan wajah
musuhnya, tahu tahu serangan dahsyat telah bersarang telak
diatas tubuhnya...
Ia mendengus tertahan, bagaikan orang orangan terbuat
dari padi kering, wess... badannya mencelat sejauh tujuh
delapan depa dari posisi semula.
Berkilat sepasang mata ci giok ketika mengetahui serangan
daripemuda tersebut sanggup mementalkan musuhnya sejauh
itu, wajahnya segera berseri dan perasaan gembira jelas
menyelimuti air mukanya...
Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, dua
lelaki sisanya yang masih hidup menjadi gugup dan kelabakan
setengah mati, terutama setelah tahu bahwa empat orang
rekannya telah tergeletak mampus diatas tanah.
Melihat musuh mendesak maju lebih kedepan, buru buru
mereka melompat mundur dengan wajah ketakutan-
Sudah barang tentu ci giok tak akan membiarkan mereka
lolos dari situ, sambil mengejar bentaknya:
"Kongcu, cepat ambil jalan sebelah barat laut, biar budak
yang membereskan mereka, aku segera akan menyusul"
SEpasang kakinya segera menjejak tanah, tubuhnya seperti
burung walet yang menembusi hutan langsung mengejar
kebelakang tubuh seorang lelaki kekar, belum lagi orangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiba, tangannya sudah diagunkan kedepan- segumpal jarum


bwee hoa ciampun memancar dengan hebatnya....
Pada waktu itu, lelaki tersebut sudah berhasil melarikan diri
sejauh dua kaki dari posisi semula, sayang serangan tiba lebih
cepat daripada gerakan tubuhnya, tahu tahu kakinya menjadi
lemas dan roboh terjungkal keatas tanah.
Sementara itu lelaki yang lain telah berhasil kabur sejauh
tiga kaki lebih berhubung ci giok belum sempat mengejar
kearahnya, dalam takutnya, sambil melarikan diri terbirit birit,
tiada hentinya dia bunyikan sumpritan tanda bahaya.
Yang paling dikuatirkan oleh Ci giok justru adalah tanda
bahaya dari orang orang, justru adalah tanda bahaya dari
orang orang itu, dia takut gerak geriknya ketahuan musuh.
Betapa gemas dan mendongkolnya gadis itu setelah
mengetahui musuhnya membunyikan tanda bahaya tersebut
berulang ulang kali.
Dengan suatu gerakan cepat dia menerkam kebelakang
orang itu, kemudian tangannya diayunkan kemuka, sebilah
pedang pendek yang semula berada didalam gengamannya
segera melesat kemuka dan menerjang punggung lawan-
Lelaki itu tidak menyangka bahaya maut sudah mengancam
datang dari belakang, selagi dia meniup sumpritannya dengan
kalap. punggungnya tahu tahu terasa sakit.
Jeritan ngeri yang menyayat hatipun segera berkumandang
memecahkan keheningan, pedang pendek itu nembus sampai
kedepan dadanya membuat orang tadi tewas seketika.
ci giok melesat cepat kedepan setelah mencabut kembali
pedang pendek miliknya dia segera kabur secepat cepatnya
meninggaikan tempat kejadian-
Sayang sekali bunyi sumpritan yang amat lengking dari
lelaki tadi sudah terlanjur bergema diangkasa, apalagi dalam
kegelapan malam yang begitu hening dan sepi, boleh dibilang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suara tadi telah berkumandang sampai ditempat yang amat


jauh.
Ketika pos pos penjagaan lain mendengar suara tanda
bahaya itu serentak merekapun meniup sumpritan masing
masing untuk menyampaikan berita tersebut keseluruh
penjuru perkampungan.
Tak selang berapa saat kemudian, suara sumpritan telah
bergema sahut sahutan, suasana menjadi riuh dan ramai.
Dalam pada itu ci giok telah berhasil menyusul Huan cu im,
dengan suara lirih dia segera berbisik:
"Mereka menyampaikan berita gawat dengan
mempergunakan sumpritan, kejadian ini akan tersiar dengan
luas dalam waktu singkat, tak lama lagi orang orang mereka
akan muncul ditempat kejadian dan melakukan pengejaran
kemari, sementara kongcu melanjutkan perjalanan kabur
kearah barat laut, biar budak yang berusaha untuk
memancing pergi orang orang tersebut....."
"Kalau kita telusuri arah barat laut akhirnya akan sampai
dimana....?" tanya Huan cu im gelisah.
"Bila kau telusuri terus jalan tersebut, tak sampai setengah
li kemudian akan kau saksikan sebuah pagar pekarangan yang
tingginya tiga kaki, pekarangan itu menghalangi perjalanan
kita, tapi kongcu tak usah kuatir, tempat itu adalah kuil cu im
am dengan ilmu meringankan tubuh yang kongcu miliki, budak
yakin kau pasti bisa melewatinya. Asal pagar pekarangan itu
berhasil dilampaui, kita bakal selamat".
"Apakah Ji giok akan aman bila kita menghantarnya
kedalam kuil itu?" ci giok mengangguk.
"Benar SEkarang kongcu tak boleh menunda nunda waktu
lagi setelah meninggaikan kuil nanti, harap kongcu bergerak
terus kearah utara, disitu adalah wilayah diluar kebun, kau
bisa menelusuri dinding pagar menuju ketimur disanalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terletak gedung timur, andaikata jejakmu ketahuan orang,


bilang saja kongcu munculkan diri karena mendengar suara
sumpritan yang nyaring, dengan alasan tersebut, orang tak
akan menaruh curiga lagi kepadamu".
Huan cu im memperhatikan sekejap wajah si nona,
kemudian tanyanya dengan perasaan kuatir: ,
"Bagaimana dengan kau sendiri?" ci giok tertawa manis:
"Budak boleh dibilang menguasahi sekali keadaan medan
disini, mereka tak bakal akan mengetahui jejakku" .
Baru saja dia berkata sampai disitu, suara pekikan nyaring
sudah bergema makin dekat dari kejauhan sana. ci giok
segera mendesak
" Kongcu, cepat pergi, budak yang akan memancing
mereka kearah lain" Dengan cepat dia berkelebat
meninggaikan tempat tersebut.
sudah barang tentu Huan cu im tak berani berayal lagi,
cepat cepat dia melompat kedepan dan mengikuti perkataan
dari ci lok menuju kearah barat laut.
Dalam pada itu suara sumpritan telah berkumandang dari
empat penjuru, suaranya sahut menyahut sehingga segenap
kebun itu diliputi oleh suasana yang mendidih.
Huan cu im sedang melesat cepat kedepan sewaktu tiba
tiba seseorang menghardik: "Siapa disitu? cepat berhenti"
Sesosok bayangan manusia segera melayang turun
dihadapannyadengan kecepatannya luar biasa.
Kalau dilihat dari gerakan tubuhnya sewaktu melayang
turun keatas tanah itu bisa diketahui bahwa kepandaian silat
yang dimiliki orang ini tentu sangat hebat.
Huan cu im sama sekali tidak berhasrat untuk ribut
dengannnya, tanpa menghentikan gerakan tubuhnya, dia
mengayunkan tangan kirinya kearah depan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berhubung gerakan tubuh Huan cu im waktu itu cepat


sekali bagaikan sambaran kilat, tanpa terasa orang itu mundur
setengah langkah, kemudian serunya sambil tertawa dalam:
"Bagus sekali seranganmu"
Lengan kanannya disilangkan kemuka lalu menyambut
datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan-
Disatu pihak menerjang datang, dilain pihak menyambut
dengan nekad, boleh dibilang gerakan tubuh kedua belah
pihak sama sama cepatnya.
"Plaaaakkk....."
Tahu tahu telapak tangan kedua orang itu saling beradu
satu sama lainnya.
Tiba tiba saja lelaki tadi mendengus tertahan, tubuhnya
mencelat kebelakang dan roboh terkapar.
Sebagaimana diketahui, selama ini boleh dibilang Huan cu
im tak pernah bertarung melawan orang, tapi malam ini,
secara beruntun ia berhasil menghantam musuhnya sampai
mencelat kebelakang, tak heran kalau pemuda itu merasa
terkejut bercampur keheranan. segera pikirnya:
"Ternyata ilmu Hwee sin pat ciang ajaran suhu memang
hebat dan cocok sekali untuk membela diri"
Begitu berhasil menghajar musuhnya sampai mencelat
kebelakang, Huan cu im sama sekali tidak menghentikan
langkahnya, dia meneruskan perjalanannya menuju kearah
barat
Tapi dalam sekejap mata itu juga secara tiba tiba ia
merasakan ada sesuatu yang tak beres.
Kalau tadi, suara sumpritan dibunyikan orang bersahut
sahutan sehingga suasana menjadi riuh dan ramai sekali maka
dalam waktu yang amat singkat, tiba tiba saja suara sempritan
itu menjadi hening sehingga suasana menjadi sepi dan mati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau tadi, ketika suara pekikan masih berkumandang


dimana mana, pemuda itu merasakan hatinya tegang, gugup,
kaget, dan panik, maka setelah suara pekikan berhenti secara
mendadak. suasana didalam kebun pun terasa menjadi suram
gelap. sepi bagaikan mati.
Disamping itu diapun merasa dari balik pepohonan seakan
akan penuh dengan bayangan hitam yang bergerak kesana
kemari membuat pemuda itu merasa seakan akan dirinya
sedang dikepung.
Huan cu im tak berani menunda waktu lagi, sambil tiada
hentinya menghimpun hawa murni yang dimilikinya, ia
mempercepat larinya meninggalkan tempat itu.
Inilah keuntungan yang berhasil diraihnya karena kebiasaan
berlari lari diatas gunung dulu, sehingga ilmu meringankan
tubuh yang dimilikinya sekarang memiliki dasar pondasi yang
sangat kuat dan mantap apalagi setelah mengikuti gurunya
memperlajari tenaga dalam, kepesatan tenaga dalam yang
diperolehnya membuat ilmu meringankan tubuh yang
dimilikipun memperoleh kemajuan pula secara pesat.
Setelah hawa murninya dihimpun sekarang tubuhnya
seperti sesosok bayangan manusia yang melambung ditengah
awan, bergerak amat cepat kedepan, sekalipun ada orang
yang mencoba mengejarnya dalam keadaan begini, ia yakin
pasti tiada orang yang sanggup menyusulnya .
Jarak sejauh setengah li dapat dicapai dalam waktu yang
amat singkat, dihadapannya kini tampak sebuah dinding
pekarangan yang tingginya mencapai tiga kaki lebih,
dipandang dari kejauhan bentuknya seperti sebuah kota mati.
"Akhirnya sampai juga........"
Diam diam Huan cu im menghembuskan napas lega, ia
mencoba untuk berpaling, untung tiada orang yang
mengejarnya, tanpa ragu lagi dia menghimpun hawa murninya
dan melompat naik keatas dinding pekarangan, kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melayang turun dibaliknya. Ternyata dibalik dinding


pekarangan itu adalah sebuah halaman yang amat luas.
Ditengah halaman tersebut ditanam pelbagai bunga dan
pepohonan yang beraneka ragam, suasana amat bersih dan
rapi, dibagian tengahnya terbentang sebuah padang rumput
dengan rerumputan yang hijau dan lembut, sebuah jalan
beralas batu membentang kedalam menghubungkan taman
dengan sebuah gedung.
Dimuka gedung itu terdapat pula beberapa buah undak
undakan batu, pintu gerbang tertutup rapat dan tak nampak
cahaya lentera yang memancar keluar, apalagi suara manusia.
Kesemuanya itu mendatangkan perasaan seram dan aneh
bagi siapapun yang menyaksikan bangunan gedung tersebut.
"Mungkin bangunan gedung inilah yang dinamakan kuil cu
im am" pikir Huan cu im didalam hati.
Sementara itu cu giok yang berpisah dengannya, hingga
kini belum juga nampak menyusul kesitu, namun pemuda
tersebut tak dapat menunggu lebih lama lagi, terpaksa dia
harus membawa sendiri Ji giok menuju ke kuil cu im am.
Dengan menelusuri jalan beralas batu dia menuju kedepan
undak undakan batu. Benar juga, didepan pintu gerbang
terpancang sebuah papan nama yang tidak terlampau besar
dengan tulisan CU IM AN, tiga huruf hitam.
Huan cu im menarik napas panjang lalu melangkah naik
keatas undak undakan, baru saja dia bermaksud mengetuk
pintu.....
Mendadak terasa desingan angin tajam menyergap
tubuhnya, belum sempat melihat bayangan manusia, dua bilah
pedang yang tajam secara cepat dan aneh, satu dari kiri yang
lain dari kanan telah mengancam sepasang bahunya.
Walaupun Huan cu im tidak berpengalaman didalam
menghadapi musuh, namun ilmu silat yang diwariskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gurunya boleh dikata telah dikuasai sepenuhnya, begitu


terkejut menghadapi ancaman, tangan kirinya cepat bergerak,
cahaya bianglala hijaupun memancar keempat penjuru. ....
"Traaaaaaaaaaang" "Traaaaaaaang"
Dua kali dentingan nyaring berkumandang memecahkan
keheningan, tahu tahu kedua bilah pedang itu sudah kena
ditangkis hingga mencelat kesamping.
Jurus serangannya ini boleh dibilang terlepas berbareng
dengan berkelebatnya ingatan tersebut didalam benaknya,
sudah barang tentu jauh lebih cepat daripada gerak serangan
kedua orang lawannya.
Tak heran kalau dua bilah pedang yang mengancam
sepasang bahunya itu segera kena ditangkis sehingga
mencelat kebelakang.
Pada hakekatnya kedua orang penyerang tersebut tak
sempat melihat dengan jelas bagaimana cara Huan cu im
melancarkan serangannya, ketika dalam satu gebrakan saja
pedang berikut tubuh mereka kena terpental kebelakang,
jeritan kaget baru bergema memecahkan keheningan-....
Tidak. menanti mereka sudah mundur beberapa langkah
kebelakang, baru diketahui pedang yang berada ditangan
mereka sudah terpapas kutung oleh senjata lawan-
Huan cu im sendiri hanya tahu kalau jurus serangannya
berhasil mendesak musuh musuhnya hingga mundur
kebelakang, jadi dia belum tahu kalau pedangnya berhasil
memapas kutung senjata musuh, ketika menangkap jeritan
kaget yang bernada lengking dan merdu, dimana jelas suara
itu adalah suara dua orang wanita, tanpa terasa dia berpaling.
Dengan kemampuannya melihat dalam kegelapan ditambah
jarak antara kedua belah pihakpun tidak terlalu jauh, ia segera
mendapatkan kalau orang yang menyergapnya barusan
memang tak lain adalah dua orang gadis berbaju hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebelum ia sempat buka suara, nona baju hijau yang


berada disebelah kiri telah menhardik:
"Manusia latah, siapakah kau? Berani amat mencari gara
gara dalam kuil cu im an ditengah malam buta begini?"
Buru buru Huan cu im menyarungkan kembali pedangnya,
kemudian setelah menjura katanya:
"Harap nona berdua jangan marah, kedatanganku kemari
tak lain ingin bertemu dengan suthay pemimpin kuil ini"
"Hmmmm kau benar benar ngaco belo" gadis yang
disebelah kanan mendengus, "masa kau datang kemari
hendak bertemu dengan suthay pemimpin kuil? Kau pingin
ketemu setan kepala gede rupanya"
Nona yang berada disebelah kiri berseru lagi dengan penuh
amarah:
"Kau berani melanggar daerah terlarang, memapas kutung
pedang mestika kami lagi, nampaknya kau memang sudah
bosan hidup"
Huan cu im tertegun setelah mendengar perkataan itu, dia
segera menengok kearah tangan mereka berdua.
Betul juga, pedang yang berada ditangan mereka tinggal
dua bilah kutungan pedang, tanpa terasa timbul perasaan
menyesal dalam hati kecilnya, sambil menjura dan tertawa
paksa katanya kemudian-
"HArap nona berdua sudi memaafkan, barusan serangan
dari kalian berdua memang kelewat cepat, untuk melindungi
keselamatan sendiri, apa boleh buat kalau aku salah tangan,
padahal aku tak pernah bermaksud mematahkan pedang
mestika kalian berdua. Untuk kejadian tersebut, aku merasa
menyesal sekali, harap nona berdua sudi memakluminya dan
tolong sampaikan kedalam bahwa IHuan cu im khusus datang
untuk menyambangi suthay pimpinan kuil....."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itulah tiba tiba pintu gerbang dibuka orang,


kemudian muncul seorang nenek berbaju hijau pula yang
segera menegur: "ciu gwat, ciu kui, dengan siapa kalian
berkelahi?" Sembari berkata, sorot matanya segera dialihkan
kewajah Huan cu im. ciu gwat yang berada disisi kiri buru
buru menjawab:
"Ho popo, manusia latah ini telah menyusup kedalam
wilayah kita, bahkan memapas kutung pedang budak berdua".
"Tidak usah dibicarakan lagi", nenek berbaju hijau itu
menggoyangkan tangannya berulang kali, "sudah pasti kalian
berdua yang gemar menggunakan senjata untuk melakukan
kekerasan- Aku lihat siangkong ini bukan orang jahat, apalagi
diapun sedang membopong seseorang yang kelihatannya
terluka, mengapa kalian tidak menanyakan dulu maksud
kedatangan orang hingga jelas sebelum melakukan kekerasan
secara sembrono?" ciu kui yang berada disebelah kanan
segera menjawab:
"sudah jelas dia bukan orang baik baik, coba lihat ditengah
malam buta dia kabur kian kemari sambil membopong
seorang gadis muda, apalagi didepan pintu gerbang kita
memang terpancang papan nama dengan tulisan cu im an,
siapa tahu dia hanya alasan saja ingin berjumpa dengan
suthay?"
"Kalian tidak usah berbicara lagi, biar aku si nenek saja
yang bertanya kepadanya" ujar Hopopo kemudian-
sorot matanya segera dialihkan ke wajah Huan cu im,
kemudian ia bertanya: "Siang kong, bagaimana ceritanya kau
bisa sampai kesini?"
"Permisi nenek......" Huan cu im segera menjura, "aku
harus menempuh perjalanan cukup jauh sebelum berhasil
menemukan tempat ini, sudah barang tentu kedatanganku
kemari hendak bertemu dengan suthay pemimpin kuil kalian-"
Tiba tiba Hopopo menarik wajahnya kemudian menegur:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tahukah siangkong bahwa kuil cu im an adalah daerah


terlarang dari benteng keluarga Hee, barang siapa berani
memasuki kuil cu im an secara sembarangan, dia telah
melanggar pantangan yang bisa diancam dengan hukuman
mati?"
"Waaaah, soal ini tidak kuketahui sama sekali" ucap Huan
cu im dengan wajah tertegun-
"Bila kau bersedia menjawab pertanyaan yang kuajukan
secara jujur berarti kau masih mempunyai kesempatan untuk
melanjutkan hidup, ayo bicara, ada urusan apa kau datang ke
kuil cu im an ini.....?"
"Dengan bersungguh hati aku datang kemari untuk
berjumpa dengan suthay pimpinan kuil" Huan cu im menjawab
pertanyaan itu dengan wajah serius.
" Dalam kuil cu im an ini tidak terdapat suthay pimpinan."
"Jadi disini tidak mempuinyai seorang suthay yang
memimpin kuil ini....?" Huan cu im nampak tertegun, " nenek.
aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, siapakah yang
memegang pucuk pimpinan didalam kuil ini? Dapatkah aku
berjumpa dengannnya?"
Sebelum Hopopo menjawab pertanyaan itu, dari dalam
ruangan telah terdegnar seseorang menegur dengan suara
yang lembut dan sangat halus: "Hopopo. siapa yang berada
diluar?"
Menyusul suara teguran itu, dari balik pintu muncul dua
buah lentera yang dibawa oleh dua orang dayang berbaju
hijau yang berusia enam tujuh belas tahunan- Mereka
menyoren pedang dipinggang dan berjalan disisi kiri dan
kanan-
Di belakang kedua orang itu mengikuti seorang gadis
berbaju putih ang mengenakan kain kerudung hitam diatas
wajahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat kemunculan perempuan berkerudung itu, buru buru


Hopopo menjura sambil serunya:
"Aku yang tua benar benar berdosa besar, hanya gara gara
urusan kecil harus mengejutkan nona."
ciu gwat dan ciu kui turut menjatuhkan diri berlutut sambil
serunya berbareng. "Budak menjumpai nona"
Ternyata didalam kuil nikou muncul seorang nona, benar
benar suatu kejadian yang aneh.
Dengan langkah yang lemah gemulai nona berbaju putih itu
melangkah keluar dari pintu kuil, kemudian setelah berhenti
sejenak. sorot matanya yang berada dibalik kain kerudung
hitam segera ditujukan kearah Huan cu im, tegurnnya
kemudian: "Siapakah orang ini?"
"Aku dengar dia mengaku bernama Huan cu im...."
ciu gwat dan ciu kui segera berseru pula:
"Lapor nona, pedang budak berdua telah dipapas kutung
olehnya...."
Sekali lagi nona berbaju putih itu mengangkat kepalanya
dan memandang sekejap kearah Huan cu im, kemudian pelan
pelan berkata:
"Hopopo, aku lihat perempuan yang berada digendongnya
seperti menderita luka yang cukup parah, suruh dia masuk.
kita periksa dulu keadaan luka perempuan tersebut sebelum
membicarakan persoalan yang lain-"
Semua perkataan itu diutarakan olehnya dengan syarat
yang lembut dan pembawaan yang tenang, begitu selesai
berkata, diapun membalikkan badan dan berjalan masuk
kedalam.
Suatu pancaran sinar aneh terlintas diatas wajah Hopopo,
dia segera mengiakan lalu sambil berpaling katanya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Huan siangkong, nona kami mempersilahkan kau masuk.


Ikutlah dibelakang ku".
Kemudian dia membalikkan badan dan masuk kedalam
ruangan mengikuti dibelakang nona berbaju putih tadi.
Huan cu im turut masuk kedalam ruangan kuil, didalam
sana merupakan sebuah pelataran besar, setelah melalui
pelataran muncul undak undakan dan tiga deret ruang
Buddha.
Pada meja altar yang berada disebelah tengah, tampak
berdiri sebuah patung Koan im Pou sat setinggi dua depa yang
terbuat dari batu pualam putih.
Dengan mengikuti dibelakang nona berbaju putih dan
Hopopo, Huan cu im masuk kedalam ruangan tersebut.
Sambil membalikkan badan, tiba tiba Hopopo berkata:
"Huan siangkong, sekarang kau boleh menurunkan orang
yang berada digendonganmu itu."
Huan cu im menurut dan pelan pelan berjongkok,
kemudian membaringkan Ji giok keatas tanah, Tanyanya
kemudian: "Ji giok. bagaimana rasamu sekarang?"
Semenjak menggendong dipunggung anak muda tersebut,
Ji giok sebenarnya berada dalam keadaan tidak sadarkan diri
dan baru saja mendusin kembali dari pingsannya, dengan
lemas ia duduk diatas lantai sambil terengah engah, ketika
mendengar pertanyaan itu, agak terbata bata dia menjawab:
"TErima kasih Huan kongcu, budak..... budak..... masih
rada mendingan-..."
Nona berbaju putih itu diam diam merasa keheranan, kalau
didengar dari nada pembicaraan kedua orang itu, sudah jelas
mereka adalah majikan dan pelayan, tapi..... Pelan pelan dia
membenarkan letak kain kerudung wabahnya, lalu bertanya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku lihat luka yang diderita olehnya cukup parah, siapa


yang telah melukainya sehingga menjadi begini rupa?"
Kalau tadi, jubah panjang Huan cu im harus dipakai untuk
menutupi badan Ji giok maka setelah membaringkan dayang
tersebut keatas tanah, keadaannya menjadi tidak
mengenaskan sekali macam tadi, kini ia kelihatan lebih lembut
halus dan menarik. Kepada nona berbaju putih itu dia menjura
dalam dalam lalu berkata:
"Menjawab pertanyaan nona, dia bernama Ji giok, seorang
dayang dari benteng keluarga Hee, ciu Congkoanlah yang
telah menyiksanya sehingga terluka sedemikian rupa." Hopopo
yang mendengar perkataan itu segera menimbrung sambil
tertawa dingin
"Bila seorang dayang telah melanggar kesalahan besar, dia
pantas dihajar menurut peraturan rumah tangga, kejadian
macam begini sudah lumrah dan wajar, Hoan siangkong,
mengapa sih kau mempertaruhkan jiwamu untuk
menolongnya?"
Ketika dilihatnya Huan cu im masih muda dan tampan,
sedangkan Ji giok cantik dan menarik. dalam hati kecilnya dia
lantas memahami sesuatu. Agaknya kedua orang ini telah
menjalin kasih asmara yang kemudian ketahuan orang
sehingga akibatnya Ji giok harus menderita gebukan dan
siksaan dari ciu congkoan.
Sesungguhnya dia masih menaruh beberapa bagian rasa
simpatiknya terhadap Huan cu im, tapi kini pandangannya
berubah, sebab dia menilai pemuda itu bukan lelaki sejati,
melainkan hanya seorang pemuda beriman rendah yang suka
mata keranjang.
Sudah barang tentu Huan cu im dapat menangkap arti kata
tersebut, merah padam selembar wajahnya karena jengah,
sambil menjura katanya kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lopopo salah paham, berhubung urusan pribadiku


mengakibatkan Ji giok disiksa dan dianiaya itulah sebabnya
mau tak mau aku harus menolongnya dari bahaya maut."
Mendadak nona berbaju putih itu menukas sambil mendehem
pelan-
"Perduli bagaimanapun juga, luka yang dideritanya cukup
parah. Kita harus mengobati dulu luka yang dideritanya
tersebut". Kemudian dia memerintahkan pula.
"ciu gwat, ciu kui, kalian berdua bimbanglah masuk gadis
itu, beri obat lalu suruh dia minum sebungkus ci kim wan yang
khusus untuk mengobati luka dalamnya."
ciu gwat dan ciu kui mengiakan bersama, mereka berdua
segera memayang Ji giok dan mengajaknya masuk kedalam.
Kemudian nona berbaju putih itu memandang sekejap
pedang pelangi hijau yang tersoren dipinggang Huan cu im,
tiba tiba dia bertanya: "Siangkong, darimana kau peroleh
pedang tersebut?"
"Pedang ini bernama pelangi hijau, Hee pocu yang
menghadiahkan kepadaku".
"Wah, rupanya hubunganmu dengan Heepocu cukup
akrab?" tampaknya nona berbaju putih itu merasa sedikit agak
diluar dugaan-
Sebaliknya Hopopo memandang kearah Huan cu im dengan
pandangan dingin, lalu menegur:
"Huan siang kong sepanjang nona kami mengajukan
pertandaan kepadamu, lebih baik jawab saja pertanyaannya
itu sejujurnya".
Agak mendongkol juga Huan cu im oleh sikap nenek itu,
pikirnya dengan hati panas:
"Berulang kali si nenek ini menyuruh aku bicara terus
terang, masa anggap semua perkataanku tidak sejujurnya?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lantaran hatinya merasa sangat mendongkol, maka dia


lantas menarik muka dan berseru seraya mendengus.
"Lopopo selalu menganggap aku sedang berbohong, biar
Huan cu im baru pertama kali terjun kedunia persilatan aku
berani bersumpah tak pernah bohong, akupun tidak punya
alasan untuk berbohong dihadapan nona serta lopopo".
Sebagaimana diketahui anak muda tersebut memang
belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia persilatan
itulah sebabnya dia menjadi tak tahan oleh sikap orang yang
dianggapnya tidak menyenangkan hati sehingga berakibat
diapun mengumbar watak berangasannya .
Hopopo kontan menjadi tertegun sebaliknya nona berbaju
putih itu mengulapkan tangannya sambil berkata:
"Hopopo kau jangan menukas dulu, biarkan saja dia
berkata lebih jauh"
"Baik, aku tidak akan menukas Huan siangkong,
katakanlah, bagaimana ceritamu sehingga dapat berkenalan
dengan Hee Pocu?"
"HeePocu adalah empekku, dia mempunyai hubungan
persaudaraan dengan ayahku. Kedatanganku kemaripun tidak
lain karena hendak mencari ayahku"
Sekarang Hopopo baru percaya, dia manggut manggut
sambil katanya: "Kalau begitu, kau adalah putra cing sau khek
(Jago berbaju hijau) Huanji ya?"
"Betul, apa yang disebut lopopo memang nama ayahku".
Hopopo menengok sekejap kearah nona berbaju hijau itu,
kemudian bertanyanya lagi: " Lantas apa sebabnya nona Ji
giok dihajar orang sampai menderita luka parah?"
Tentu saja nona berbaju putih itupun ingin sekali
mengetahui tentang peristiwa disiksanya Ji giok oleh ciu
congkoan, namun berhubung dia adalah seorang nona,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dimana ada sementara masalah yang kurang pantas untuk


ditanyakan, maka selama ini dia hanya membungkam diri
belaka.
Huan cu im merasa kurang enak untuk merahasiakan
peristiwa tersebut, maka secara ringkas dia terangkan
bagaimana mendapat perintah dari ibunya untuk datang
mencari empek Hee, bagaimana pengurus rumah tangganya
tewas secara tiba tiba, bagaimana hanya Ji giok seorang yang
mendampingi lo koan keh ketika itu, kemudian bagaimana ciu
congkoan ingin mengorek keterangan tentang pesan terakhir
lo koan keh sehingga menyiksa Ji giok sedemikian rupa....
Ketika selesai mendengar kisah tersebut, Hopopo pun
segera bertanya
"Darimana Huan siang kong bisa ttahu kalau Ji giok telah
dihajar orang sedemikian rupa?"
Pertanyaan tersebut memang sangat tepat dalam benteng
keluarga Hee banyak terdapat bangunan rumah jadi mustahil
bila Huan cu im bisa mendapat tahu kalau Ji giok telah disiksa
orang sedemikian rupa.
"Aku mengetahui kejadian tersebut dari ci giok" Huan cu im
segera menerangkan, " dia adalah pengganti Ji giok yang
dikirim ke gedung timur sebagai pelayan"
"Lantas bagaimana caranya Huan siangkong bisa
menemukan kuil cu im an ini?"
"juga ci giok yang memberi keterangan kepadaku malam
tadi mengajak aku menuju ketempat dimana Ji giok disekap
setelah menyelamatkan Ji giok diapun memberitahukan
kepadaku, katanya asal Ji giok dihantar ke kuil cu im an maka
jiwanya pasti dapat diselamatkan" .
Hopopo segera mendengus dingin-
"Hmm, tampaknya tidak sedikit yang diketahui budak
tersebut"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apalagi yang dia katakan kepadamu?" tiba tiba nona


berbaju putih itu bertanya lagi.
"Sudah tidak ada lagi"
"Baik, kau boleh meninggalkan Ji giok di kuil cu im an
ini...." Buru buru Huan cu im menjura:
"Terima kasih banyak nona kalau begitu aku hendak mohon
diri lebih dahulu"
"Tunggu sebentar"
"Nona masih ada pesan apa lagi?"
"Ku harap siangkong jangan membocorkan setiap kejadian
yang kau alami pada malam ini kepada siapapun".
"Akan kuingat selalu pesan ini".
Nona berbaju putih itu segera berpaling dan katanya
kembali:
"Didalam kebun pasti sudah dipersiapkan penjagaan yang
sangat ketat, asal kau sudah keluar dari pagar pekarangan,
niscaya jejakmu akan ketahuan orang, Hopopo, tolong kau
hantar Huan siangkong keluar lewat pintu belakang" Hopopo
manggut manggut.
"Huan siangkong, mari ikuti diriku"
Setelah memberi hormat lagi kepada nona berbaju putih
itu, Huan cu im segera mengikuti dibelakang Hopopo menuju
keluar ruangan kuil....
Setelah keluar dari ruang utama, Hopopo mengitari
beranda dan menuju kebelakang gedung, sambil berjalan
tanyanya kemudian: " Huan siangkong, baikkah sikap pocu
kepadamu?"
"Empek Hee baik sekali kepadaku" Hopopo segera tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"SEandainya apa yang kau lakukan pada malam ini sampai


diketahui oleh pocu, aku yakin dia tentu akan marah marah
besar".
"soal ini....." Huan cu im menjadi kelabakan
"Tak usah kuatir" Hopopo segera berkata lagi sambil
tertawa, "setelah nona kami mengambil keputusan untuk
menerima Ji giok. sudah barang tentu dia tak akan memberi
tahukan kejadian tersebut kepada pocu".
"Rapatkah hubungan nona kalian dengan pocu?"
Ketika mendengar pertanyaan tersebut, Hopopo segera
tertawa cekikikan-
"Kau ini memang lucu sekali, nona kami adalah putri
kesayangan pocu, tentu saja hubungan mereka sangat rapat"
"Aaaah Jadi dia adalah enci Giok yang?" Huan cu im segera
menjerit kaget.
"Huan kongcu mengetahui nama kecil nona kami?" tanya
Hopopo seraya berpaling.
"Yaaa, aku pernah mendengar nama tersebut dari ibuku"
Hopopo manggut manggut.
"Itulah dia, sewaktu nyonya kami masih hidup dulu, Huan
toa nio memang pernah datang berkunjung, waktu itu nona
kami genap berusia satu tahun, aaaaai.... kalau dihitung
hitung delapan belas tahun telah berlalu dengan cepat, Huan
siangkong, berapa usiamu tahun ini.....?"
"Enam belas tahun"
"Ooooh, kalau begitu kau lebih muda tiga tahun dari nona
kami, tapi aku lihat kepandaian silat yang kau miliki bagus
sekali"
"Hopopo kelewat memuji, apakah Hopopo juga pernah
belajar ilmu silat?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak pernah" Hopopo menggeleng, "dulu aku melayani


hujin, setelah nyonya meninggal dunia, akupun mengikuti
nona. Selama ini belum pernah berlatih ilmu silat"
"Lantas dari mana Hopopo bisa tahu kalau ilmu silatku
bagus?" Sekali lagi Hopopo tertawa.
"Ke empat orang dayang yang mengikuti nona rata rata
memiliki kepandaian silat yang bagus, terutama sekali ciu
gwat dan ciu kui. Dua orang dayang tersebut dengan pedang
mestikanya tak pernah ada busudari benteng yang sanggup
menandingi mereka, tapi kenyataanya tadi, dalam satu
gebrakan saja Huan siang king telah berhasil memapas kutung
pedang mereka, bukankah hal ini membuktikan kalau ilmu
silat yang dimiliki Huan siangkin jauh mengungguli mereka?"
"Aaaaah, itu mah lantaran ketajaman pedang pelangi hijau
hadiah empek Hee kepada ku, dengan ketajaman pedang
mestika inilah aku baru berhasil mematahkan senjata mereka"
Hopopo manggut manggut sambil mengiakan, mendadak
dia membalikkan badan lalu sambil menatap wajah Huan cu
im, dia bertanya:
"Pedang itu pelangi hijau? Kau maksudkan pedang mestika
yang merupakan pasangan dari pedang pelangi?"
"Betul, akupun baru mendengar dari cerita empek Hee
kemarin, konon pedang itu pemberian dari seorang sahabat
empek Hee yang datang dari LEng lam"
"Ehmmm....." Hopopo manggut manggut berulang kali,
"itulah dia, aaai..... ketajaman mata pocu memang sangat
mengagumkan"
"Hopopo, apa yang kau maksudkan?"
Dengan wajah berseri seri dan senyuman manis menghiasi
wajahnya, Hopopo berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Nah, kita sudah sampai di tempat tukuan, Huan siangkong


boleh keluar dari dinding pekarangan ini, diluar sana sudah
merupakan bagian luar kebun bunga, walaupun masih berada
dalam lingkungan Benteng keluarga Hee, namun jarang sekali
dijaga orang, kau boleh langsung menuju ketimur dengan
melingkari kebun tersebut, disanalah terletak gedung sebelah
timur tempat tinggalmu".
Rupanya didalam perjalanan tadi mereka sudah berada
dibagian belakang kuil cu im an, yang berupa sebidang tanah
kosong yang berhadapan dengan sebuah dinding pekarangan
yang cukup tinggi.
"Terima kasih banyak Hopopo" kata Huan cu im kemudian-
"Tak usah berterima kasih lagi" Hopopo menunjukkan
perhatian yang amat besar, lalu pesannya lagi, "Huan
siangkong, kau harus berhati hati sepanjang jalan"
"Terima kasih banyak atas perhatianmu, aku mohon diri
lebih dulu....." kata pemuda itu seraya menjura.
Selesai berkata, diapun menjejakkan kakinya keatas tanah
dan melompat naik keatas dinding pekarangan, kemudian
dengan sekali tutulan tubuhnya tiba tiba dia sudah berada
diluar pagar.
Ternyata tempat itu merupakan sebuah padang rumput
yang tidak terawat, dimana pada kejauhan sana terbentang
pegunungan yang naik turun tak menentu.
Huan cu im mengingat ingat perkataan dari Hopopo yang
suruh dia menelusuri pagar pekarangan menuju ketimur,
malah ci giok pun berpesan demikian-
Ia tak berani berayal lagi, setelah yakin kalau disekeliling
tempat itu tiada orang lain, ia segera percepat larinya menuju
kearah timur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru saja ia berlarian dua tiga puluh kakijauhnya,


mendadak telinganya menangkap suara tertawa dingin
seseorang dengan suara yang rendah dan berat.
Tak terlukiskan rasa kaget Huan cu im setelah mendengar
suara tertawa tersebut, buru buru dia menghentikan
langkahnya sambil memandang kemuka.
Lebih kurang enam tujuh kaki dihadapannya, nampak
berdiri sesosok bayangan tubuh manusia yang jangkung lagi
ceking sedang menghadang jalan perginya.
Didalam waktu singkat dari balik kegelapan
diempatpenjurupun bermunculan empat lima sosok bayangan
manusia, dengan cepat mereka mengurung Huan cu im
ditengah arena.
Diam diam Huan cu im merasa sangat gelisah, tapi sebelum
dia sempat melihat jelas bayangan manusia tersebut, manusia
jangkung lagi ceking yang berada dihadapannya telah berkata
sambil tertawa seram:
"Bocah keparat, lebih baik kau menyerahkan diri untuk
dibelenggu saja, daripada aku mesti turun tangan sendiri".
Mendengar dari logat bicaranya, Huan cu im segera
mengetahui kalau orang tersebut adalah congkoan Benteng
keluarga Hee yang disebut orang siburung berkepala sembilan
soh Hansim.
Tanpa terasa diapun mulai berpikir:
"Sekarang biarpun kedua belah pihak sudha saling
berhadapan muka, namun didalam kegelapan malam yang
begini mencekam, belum tentu pihak lawan bisa melihat raut
wajahku dengan jelas, seandainya aku berhasil menembusi
pertahannya, ini lebih baik, kalau sampai terbekuk mereka
bagaimanakah penjelasanku dihadapan muka empek Hee
nanti"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena berpendapat demikian, dengan cepat dia


mengambil keputusan, ia tahu siapa turun tangan lebih dulu
dialah yang tangguh.
Maka tanpa mengucapkan sepata katapun juga, mendadak
ia menjejakkan kakinya sambil menerjang kemuka telaoak
tangannya segera diayunkan menghantam tubuh soh Han sim.
Walapun gerakan serangan ini dilakukan cukup cepat,
namun sayang siburung berkepala sembilan Soh Han sim
bukan manusia sembarangan, semenjak tadi ia telah
memperhitungkan akan tindakan teersebut, maka sambil
tertawa seram segera hardiknya: "Serangan yang sangat
bagus"
Dengan telapak tengan disilangkan dedepan dada, dia
sambut datangnya ancaman tersebut
-ooo0dw0ooo-

Jilid 09

Ci Giok mengiakan dengan lirih, kemudian pelan pelan


namun dengan susah payah dia bangkit berdiri dari atas
tanah.
Sampai disitu, Huan cu im segera berlagak menunjukkan
sikap diluar dugaan, cepat tanyanya.
"Empek Hee sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil tersenyum,
sahutnya.
"Sudah pasti ada orang telah merobohkan ci Giok.
kemudian mencatut namanya untuk melakukan tujuannya..."
Menyusul kemudian, sambil mengulapkan tangannya
kepada ci Giok. dia melanjutkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"sekarang kau boleh pergi beristirahat"


"Terima kasih pocu, budak akan mohon diri lebih dulu"
Sepeninggal dayang itu, Huang Cu Im kembali bertanya
dengan berlagak seakan akan tidak mengerti:
"sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Keponakanku, kau masih muda dan belum
berpengalaman" Hee Im hong tersenyum, "kau tak akan
memahami persoalan yang terjadi dalam dunia persilatan-"
setelah bangkit berdiri, ia melanjutkan, " Waktu sudah siang,
silahkan hiantit pergi beristirahat."
Kemudian dia melangkah keluar dari ruangan-
Huan cu im menghantar empeknya sampai didepan pintu
sebelum kembali ke dalam kamar tidurnya, kemudian sambil
membawa lilin dia mendekati pintu kamar dan mendorongnya.
Mendadak terasa segulung angin lembut berhembus lewat
yang memadamkan lentera ditangannya.
Sudah berapa tahun Huan cu im berlatih tenaga dalam,
tentu saja dia pun bisa membedakan kalau desingan angin
lembut itu bukan hembusan angin biasa, melainkan, angin
pukulan yang dilancarkan oleh seseorang dengan tenaga
dalam sempuna, agaknya dia sengaja melepaskan pukulan
dengan amat ringan hingga orang akan menganggap angin
biasa yang sedang berhembus.
Satu ingatan cepat melintas didalam benaknya cepat dia
mundur setengah langkah kemudian bentaknya dengan suara
dalam: "Siapa disitu ?"
Sebetulnya dia mempunyai kemampuan untuk melihat
dalam kegelapan, tapi berhubung lentera padam secara tiba
tiba, keadaan mana ibarat seseorang yang masuk ke ruang
gelap dari tempat yang terang, untuk sesaat sorot matanya
belum mampu menyesuaikan diri, itulah sebabnya dia pun tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dapat melihat jelas bayangan tubuh lawan-Tiba tiba dari


dalam ruangan terdengar seseorang menjawab dengan suara
lirih: "Muridku, gurumu yang ada disini."
Huan cu im dapat menangkap kalau suara itu memang
suara gurunya kejut dan girang dia lantas berseru:
"oooh suhu rupanya"
Buru buru dia masuk ke dalam kamar dan siap mengambil
api untuk memasang lentera. Ju it koay cepat berbisik lirih:
"Muridku, jangan memasang lentera, lebih baik kita
berbicara dalam keadaan begini saja, daripada menarik
perhatian orang."
"Baik"
Huan cu im mengiakan dan meletakkan kembali tempat lilin
tersebut keatas meja.
Sementara itu, sorot matanya telah berhasil menyesuaikan
diri dengan keadaan- betul juga ia jumpai gurunya duduk
disebuah kursi dekat jendela, maka diapun maju meng
hampirinya .
Ju it koay menunjuk ke arah sebuah kursi disisinya
kemudian berkata lagi: "Muridku, kaupun duduklah disana aku
hendak menanyakan sesuatu kepadamu"
Setelah duduk. Huan cu im baru bertanya: "Apa yang
hendak suhu tanyakan?
"Yang ingin kutanyakan adalah sebab musabab dari
kematian lo koan keh?"
Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan ,Huan cu
im mengangkat kepalanya sambil mengawasi gurunya,
kemudian katanya:
"Lo koan keh benar benar mati karena serangan angin
duduk malam itu dia kelewat banyak minum arak sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muntah muntah terus sepanjang malam, akhirnya dia


menghembuskan napas penghabisan"
"Muntah muntah hebat?" mencorong sinar aneh dari balik
mata Ju it koay, "coba kau jelaskan kembali keadaan yang kau
jumpai pada waktu itu, kalau bisa jangan sampai ada yang
tertinggal"
Secara ringkas IHuan cu im lantas menceritakan bagaimana
pada malam itu dia sudah tertidur, bagaimana Ji Giok datang
mengetuk pintu dan memanggilnya kemudian ketika ia tiba
ditempat kejadian, Lo koan keh sudah tak mampu berbicara
lagi.
Kemudian Ji Giok memberitahukan kepadanya secara diam
diam bahwa Lo koan keh telah meninggalkan pesan agar
secepatnya dia berangkat ke kota Kim leng untuk mencari
Seng Bian tong, congpiautau dari perusahaan ekspedisi Seng
ki piau kiok... Ketika selesai mendengarkan penuturan
tersebut, Ju it koay lantas berkata: "Apakah Ji Giok telah
menyampaikan pula rahasia tersebut kepada ciu congkoan?"
"Tidak!! justru gara gara peristiwa ini,Ji Giok disekap oleh
ciu congkoan bahkan dihajar sampai babak belur seluruh
tubuhnya "
"Ehmmm, kalau begitu dugaanku memang tidak meleset"
gumam Ju it koay sambil meraba cambangnya yang pendek.
"sekarang, coba kau terangkan lagi kepadaku apa yang
pernah kau lihat, pernah kau dengar atau orang yang pernah
kau jumpai dan peristiwa yang pernah kau alami, setelah kau
bersama Lo koan keh tiba dalam benteng keluarga Hee ini,
jangan sampai ada yang ketinggalan-"
Huan cu im yang mendengar permintaan tersebut diam
diam merasa keheranan, tapi secara ringakas dia lantas
menceritakan bagaimana pengalamannya semenjak tiba di
Bengteng keluarga Hee, bagaimana ciu congkoan menjamu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka berdua, bagaimana lo koan keh dan ciu congkoan


berbicara amat asyik...
Tampaknya Ju it koay sangat memperhatikan hal ini, dia
lantas bertanya: "Apa saja yang telah mereka bicarakan?
Masih ingatkah kau?"
IHuan cu im berpikir sebentar kemudian secara ringkas
menerangkan materi pembicaraan kedua orang itu.
Menyusul kemudian iapun bercerita setelah kedatangan He
Im hong dari luar kota, bagaimana Lo koan keh berulang kali
berpesan kepadanya agar setelah bertemu dengan empek
Hee, dia harus mengatakan hendak pergi ke Kim leng, dan
bagaimana empek Hee menyatakan persetujuannya .
Kemudian bagaimana dalam pembicaraan tersebut
berhubung kedatangan cing im totiang dari Go bipay, dia dan
Lo koan keh mohon diri, lalu bagaimana ditengah jalan
mereka bertemu dengan seorang centeng yang ternyata mirip
sekali dengan wajah oh Lo su, seorang tetangga mereka
dimasa lalu.
Setelah Lo koan keh mengajukan berapa pertanyaan, orang
itupun dilepaskan, tapi sekembalinya ke gedung timur, Lo
koan keh seperti dibebani oleh banyak masalah yang pelik,
danpada malam itulah dia terserang angin duduk sehingga
tewas...
Ju it koay mengepal sepasang tangannya kencang
kencang, perasaan gemas dan benci terlihat jelas diwajahnya,
tiba tiba dia bertanya lagi:
"Bagaimana kau bisa tahu kalau Ji Giok telah disiksa dan
dihajar oleh ciu congkoan-"
IHuan cu impun menceritakan kembali kisahnya bagaimana
Ji Giok diganti ci Giok setelah kematian Lo koan keh,
bagaimana ia mendengar pembicaraan ci Giok dengan
seseorang yang menjanjikan gerakan pada bagaimana dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengikuti mereka karena terdorong rasa ingin tahunya,


bagaimana menyaksikan Kiang cu tin bertarung melawan Soh
Han sim, bagaimana dia menghajar mundur Soh Han sim dan
menyelamatkan ci Giok.
Diantara sekian banyak pengalamannya, cuma kisah
pengobatannya atas tubuh ci Giok yang ditelanjangi untuk
menghisap jarum jarum dari dalam tubuhnya tetap
dirahasiakan.
Setelah itu diapun bercerita bagaimana pada pertama
malam tadi ci Giok mengajaknya pergi menolongJi Giok.
bagaimana ia menghantar Ji Giok ke kuil cu im dan bagaimana
pengurus Kim datang mencari ci Giok dan diketahui ada orang
telah mencatut dirinya... Seusai mendengarkan semua
penuturan tadi, Ju it koay mendengus dingin dan berkata
"Nampaknya si bajingan tua itu benar benar mempunyai
rencana busuk tertentu..."
"Suhu, apa yang kau maksudkan ?"
"Aaah, tidak apa apa. Kalau kudengar dari penuturanmu,
tampaknya belakangan ini sudah terjadi banyak peristiwa itu
tiada sangkut pautnya denganmu, beruntung sekali disaat kau
sedang menolong Ji Giok, ada orang yang sedang menyamar
sebagai ci Giok hingga tanggung jawabmu dapat dialihkan
keatas pundak orang lain. Lain kali lebih baik kau jangan pergi
malam, juga tidak usah membicarakan kejadian tersebut
kepada orang lain"
"Sekarang aku sudah menyanggupi tawaran Heepocu untuk
menjadi kepala pelatih, bila ada urusan, aku akan datang
memberi tahukan kepadamu kuharap kau jangan bertindak
secara sembarangan, hingga menimbulkan kecurigaan
Heepocu atas dirimu, mengerti?"
"Tecu mengerti" Huan cu im mengangguk.
Tapi kemudian ia mendongakkan kepalanya secara tiba tiba
dan melanjutkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Suhu, benarkah kau orang tua hendak menjabat sebagai


ketua pelatih dari benteng keluarga Hee?"
Sudah barang tentu Ju it koay dapat menangkap nada
suara dari muridnya itu, dia tersenyum :
"Muridku, kau akan mengetahui sendiri dikemudian hari, eh
mm, sekarang aku hendak pergi dulu."
Ia bangkit berdiri dan beranjak keluar dari situ.
Sementara itu, suasana dalam kamar baca Heepocu terang
benderang bermandikan cahaya, dua orang dayang berbaju
ringkas warna hijau yang menyoren golok berdiri tak bergerak
di depan pintu ruangan, penjagaan dilakukan sangat ketat.
Dalam kamar baca itu ada dua orang dayang berbaju hijau,
seperti dua kuntum bunga yang indah sedang sibuk melayani
majikannya.
orang yang duduk diruang tengah tak lain adalah sang
pocu, Hee Im hong.
Dikursi sebelah kirinya duduk seorang tojin berjenggot
hitam dan berjubah warna hijau, usianya lebih, lima puluh
tahun kurang. dia tak lain adalah cing im totiang. Ketua Go bi
pay yang dijabatnya belum sampai sepuluh tahun-
Disisi cing im totiang duduklah si burung berkepala
sembilan Soh Han sim yang berwajah dingin menyeramkan-
Disamping kanan Hee Pocu duduk seorang kakek berjubah
hijau yang berwajah merah dan penuh cambang, usianya
enam puluh tahunan, dia adalah dewa berwajah merah Lou
Siu thong, seorang tokoh dari Go bi pay yang kalau dihitung
hitung masih termasuk kakak seperguruan cing im totiang.
Disampingnya lagi adalah Pekikan berbulu emas Kiang
cutin, si bintang kilat IHuan Tong dan murid Lou Siu tong
yang bernama Lu Siu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa orang tamu yang hadir sekarang hampir


semuanya adalah orang orang Go bipay. Tiba tiba terdengar
Hee Im hong berkata sambil tertawa nyaring:
"Aku merasa amat bersyukur disamping setelah peroleh
janji dari totiang atas kerja sama kalian dengan pihak kami.
mulai sekarang kita semua adalah orang sendiri. buat apa
totiang mesti berlaku sungkan?" cing im totiang manggut
manggut.
"Pocu seorang yang jujur, terbuka, tidak mementingkan
kepentingan sendiri dan termashur diseantero jagad, bila kau
dapat menjadi seorang bengcu, itulah rejeki untuk segenap
umat persilatan- tentu saja pinto sekalian bersedia
mendukungmu"
"Aku rasa" tiba tiba Lou Sin tong menyela, "dalam urusan
ini Ciangbunjin harus berunding dulu dengan ketua hoa
sanpay serta Giok cing to tiang dari Bu tong pay andaikata tiga
partai bisa bersatu dalam pendirian dan bersama sama
mendukungnya nisca kita akan memperoleh kelancaran dan
kesuksesan dalam pertemuan besar di bukit Hong san pada
bulan Tiong ciu nanti."
"Perkataan suheng memang tepat sekali" kembali cing im
totiang manggut manggut. "Kalau begitu siaute putuskan akan
berangkat ke Kim leng besok juga, aku tahu saudara Siang
(ketua Hoa san san) berada dikota Kim leng saat ini, dia
berdiam diperusahaan Seng kipiau kiok, selesai berunding
dengannya aku baru punya rencana untuk mengunjung Bu
tong san-"
"Waaah, kalau begitu siaute akan merepotkan to heng
saja" buru buru Hee Im hong menjura.
"Kiang sute, Huan sute, kalianpun boleh turut
ciangbunjinpergi ke kota Kim leng kata Lou Siu tong kemudian
kepada Kiang cu tin "sedangkan aku sendiri mempunyai
hubungan persahabatan selama puluhan tahun dengan Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

totiang dari perguruan Pat kwa, aku pikir akan sekalian pergi
menengoknya, mungkin berapa hari lebih lambat baru akan
kembali ke rumah."
Kian cu tin segera bangkit berdiri sambil mengiakan-
Sampai disini, Hee Im hong baru berkata lagi tertawa
terbahak bahak:
"Sungguh tak kunyana Lou loko menunjukkan keseriusan
dalam hal ini, haaah... haaah... haaahh... hitung hitung tidak
sia sia aku bersahabat dengan Lou loko." Lou siu tong ikut
tertawa terbahak bahak:
"Haaahh... haaahh... haahh... pocu mempunyai nama dan
kedudukan yang sangat terhormat dalam dunia persilatan,
memang sudah sewajarnya bila kau memperoleh kedudukan
tinggi, sedangkan siaute tidak lebih hanya mengiringi saja"
Sementara itu cing im totiang telah bangkit berdiri setelah
memberi hormat katanya:
"Pocu, bila kau tidak mempunyai pendapat lain, pinto ingin
mohon diri lebih dulu, apalagi malam sudah larut"
Dengan berdirinya tosu itu, maka Lou Siau tang
sekalianpun turut bangkit berdiri cepat cepat Hee Im hong
bangkit berdiri pula seraya memberi hormat:
"To heng sekalian memang seharusnya segera pergi
beristirahat Soh congkoan, wakililah aku untuk menghantar
cing im totiang dan Lou loko sekalian beristirahat di gedung
tamu agung."
Siburung berkepala sembilan Soh Han sim mengiakan, dia
maju kedepan dan mendampingi cing im totiang sekalian
beranjak keluar dari kamar baca.
Hee Im hong menghantar sendiri tamu tamunya sampai
didepan pintu kamar baca sebelum balik kembali kedalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru saja ia duduk. si Bangau abu abu Jin Siu dan sigolok
pemutus nyawa To It hui sudah muncul didepan pintu sambil
menyapa "Pocu"
Hee Im hong mengangkat kepalanya dan tersenyum:
"Saudara Jin, saudara To, silahkan duduk bagaimanakah
pendapat kalian berdua atas kasus Ju it koay tadi?"
Jin Siu dan To it hui segera mengambil tempat duduk.
Setelah memberi hormat, Jin Siu baru menjawab:
"Atas pertanyaan pocu, hamba memang hendak
melaporkan satu masalah kepada pocu."
"silahkan diutarakan saudara Jin."
"Hamba rasa ilmu silat yang dimiliki Ju it koay sangat
hebat, namun kenyataan tiada seorang manusiapun yang
mengenali namanya, aku rasa hal ini sangat luar biasa"
"Jadi maksud saudara Jin, dia memang sengaja berganti
nama sebelum datang kemari?" tanya Hee Im hong sambil
mengelus jenggotnya dan tertawa.
"Hamba memang berpendapat demikian-" Hee Im hong
segera tertawa terbahak2:
"Haaa.... haaa... haaa... aku selalu memakai orang
berdasarkan bakat yang dimilikinya biarpun dia mempunyai
tujuan tertentu, akupun tak akan ambil perduli."
Merah padam selembar wajah Jin Siu, buru buru dia
menundukkan kepalanya sambil berkata lagi:
"Pocu memiliki ilmu silat yang sangat hebat tentu saja kau
tak akan takut terhadap siasat busuk orang lain, hamba tak
lebih hanya mengungkapkan hal tersebut agar bisa dibahas
bersama dengan pocu". Hee Im hong tertawa ramah:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku tahu kalian berdua adalah orang kepercayaanku, tak


usah kuatir, dalam hal ini aku sudah mempunyai rencana
tertentu."
Baru saja ia berkata sampai disitu, mendadak dari luar
pintu terdengar seseorang berseru:
"Lapor pocu, Su Kokpiau dan Be coan gi mohon bertemu."
"Suruh mereka masuk"
Tak lama kemudian dua orang lelaki berbaju hitam telah
masuk ke dalam setelah menjura katanya:
"Hamba Sun Kok piau dan Be cuan gi menjumpai pocu."
Hee Im hong segera mengulapkan tangannya, kemudian
sambil tersenyum ia berkata: "Apakah kalian berdua sudah
menemukan tempat tinggalnya ?"
Sun Kok piau seorang lelaki berwajah putih berperawakan
sedang segera maju menjura, kemudian jawabnya :
"Lapor pocu, hamba menyesal sekali tak mampu
melaksanakan tugas dengan baik. Tampaknya ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki orang itu sudah mencapai
tingkat kesempurnaan, kecepatannya luar biasa, biarpun
hamba berdua telah mengerahkan segenap kemampuan yang
dimiliki, namun setelah mengejar sejauh satu li, jarak kami
makin lama semakin bertambah jauh, dengan jelas kami
saksikan dia masuk ke dalam sebuah hutan, tapi ketika hamba
berdua menyusul sampai disitu, bayangan tubuhnya sudah
lenyap tak berbekas, kamipun melakukan pencarian diseputar
sana, namun gagal menemukan jejak orang itu, terpaksa kami
datang menunggu hukuman dari pocu."
Ternyata kedua orang itu tak lain adalah dua orang yang
menguntil Ju it- koay tadi. Hee Im hong yang mendapat
laporan tersebut segera tertawa terbahak bahak:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Haaahh... haaahh... haaahh... kalian berdua, yang satu


mendapat julukan cau sang hui (terbang diatas rumput) dan
yang lain disebut Thian se (kuda langit), sesungguhnya
merupakan dua orang Busu dalam benteng keluarga Hee yang
memiliki ilmu meringankan tubuh paling tinggi, tak nyana
kalian telah berjumpa dengan jago lihay pada malam ini"
Pucat pias wajah Sun Kokpiau dan Be cuan Gi setelah
mendengar perkataan ini, buru buru dia membungkukkan
badannya memberi hormat sambil berseru: "Hamba memang
pantas mati..." Hee Im hong tertawa cepat dia menyambung
"Untung saja dia adalah ketua pelatih sendiri, jadi kalah
dengan ketua pelatih sendiri bukan termasuk peristiwa yang
memalukan, sekarang kalian boleh pergi beristirahat dengan
tenang"
Bagaikan dibebaskan dari hukuman yang berat, Sun
Kokpiau dan Be coan gi segera membungkukkan badannya
dan memberi hormat berulang kali. "Terima kasih pocu, terima
kasih pocu."
Sambil membalikkan badan, mereka segera mengundurkan
diri dari situ.
Menyusul kemudian tampak bayangan manusia berkelebat
lewat, tanpa menimbulkan sedikit suarapun siburung
berkepala sembilan Soh Han sim telah menerobos masuk ke
dalam ruangan-
Jin Siu dan To It hui serentak bangkit berdiri seraya
menyapa: "Soh congkoan"
cukup ditinjau dari sikap hormat kedua orang itu terhadap
Soh Han sim, bisa diduga betapa tingginya kedudukan
siburung berkepala sembilan dalam Benteng keluarga Hee.
Soh Han sim hanya senyum tak senyum sambil manggut
manggut kearah kedua orang itu, kemudian katanya: "Kalian
boleh duduk kembali"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hee Im hong pun sudah menengok kearah Soh Han sim


sambil bertanya: "Soh congkoan, apakah kau ada urusan?"
"Ya, ada"
Senyuman diatas wajah Soh Han sim telah lenyap tak
berbekas, pelan pelan dia maju kedepan dan duduk dikursi
sebelah kanan pocu, kemudian katanya sambil mendongakkan
kepalanya:
"Malam ini sudah terjadi suatu peristiwa didalam kebun,
mungkin pocu belum mengetahui dengan jelas bukan ?"
"Ooh... aku memang kurang begitu jelas tentang peristiwa
itu, tapi aku rasa dengan kehadiranmu disitu urusan pasti
beres, jadi aku tidak kuatir sama sekali. Tapi kedatanganmu
memang kebetulan sekali, aku memang ada urusan yang
hendak dirundingkan denganmu."
Sikap maupun caranya berbicara dengan Soh Han sim
ternyata luar biasa sungkannya, ini menandakan betapa tinggi
dan berharganya kehadiran soh Han sim didepan mata pocu
tersebut.
Dengan wajah berat dan serius, pelan-pelan Soh Han sim
berkata:
"Peristiwa yang terjadi pertama kali pada malam ini adalah
diculiknya Ji Giok oleh seseorang orang tersebut kabur menuju
ke arah barat laut..."
"Kau maksudkan orang itu kabur kearah barat laut?" Hee
Im hong nampak tertegun
"Benar, sepanjang jalan orang itu melancarkan serangan
secara keji dan berat, secara beruntun dia telah melukai
beberapa orang centeng kita yang sedang bertugas meronda
malam, namun usahanya menculik Ji Giok tidak lebih hanya
suatu siasat memancing harimau turun gunung saja."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Jadi orang itu masih mempunyai komplotan yang lain?"


tanya Hee Im hong terkejut.
"Benar, berhubung dia kabur menuju ke barat laut,
sepanjang jalan gerak geriknya perhatian para centeng,
padahal hal tersebut cuma merupakan bagian dari rencana
mereka saja, sementara itu rombongan lain yang telah
menyelundup masuk ke loteng Teng gwat lo..."
Rupanya ketika Huan cu im dengan menggendong Ji Giok
kabur menuju ke arah barat laut, ci Giok tidak turut serta
bersamanya karena dia pergi ke loteng Teng gwat lo. Sambil
tersenyum Hee Im hong segera berkata:
"oooh, rupanya mereka mempunyai rencana untuk
menyelamatkan cing im totiang tetapi siapa yang bisa
menduga kalau cing im totiang telah tunduk dan takluk
kepada kita"
Dari ucapan tersebut jelaslah sudah kalau cing im totiang
telah menyerah kalah serta bergabung dengan pihak lawan-
Soh Han sim tertawa licik, kemudian katanya:
"Sudah dapat dipastikan orang itu sejalan dengan Kiang cu
tim pada malam itu, namun kedatangannya di loteng Teng
gwat lo pada malam ini justru disambut oleh serangan gencar
dari Kiang cu tin serta Huan Tong, akibatnya dia menjadi
terkejut dan gugup sehingga melarikan diri, sayang sekali
hamba sedang mengejar jejak musuh ditempat lain sehingga
tidak berhasil menghadang kepergian orang itu"
Sebagaimana diketahui ci Giok dan Kiang cu tin serta Huan
tong sesungguhnya berasal dari satu aliran, tapi kedatangan ci
Giok di loteng Teng gwat lo pada malam itu justru disambut
serangan gencar dari Kiang cu tin serta Huan Tong, jelas
dibalik kesemuanya itu masih terdapat hal hal yang tidak
beres. Dalam pada itu Hee Im hong telah bertanya
"Bagaimana dengan orang yang telah menculik Ji giok?"
"Dia telah masuk ke dalam kuil cu im an"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sungguhkah perkataanmu itu ?" paras muka Hee Im hong


segera berubah hebat.
"Hamba sendiri yang melakukan pengejaran ke situ, sayang
sekali terlambat selangkah sehingga tak sempat
menghalanginya masuk. diapun melompati pagar dan masuk
ke dalam kuil"
Hee Im hong termenung sebentar, setelah itu dia bertanya
lagi. "Bagaimana selanjutnya?"
"Hamba duga dia pasti akan melarikan diri lewat belakang
kuil, maka hambapun membawa orang serta bersembunyi
diluar pagar pekarangan, lebih kurang kentongan kedua,
orang itu benar benar telah melompat keluar lewat pintu
belakang..."
"Apakah kau sempat melihat jelas siapakah orang itu?"
tanya Hee Im hong kemudian sambil mengelus jenggotnya.
"Malam itu gelap tak berbintang udara sangat gelap
sehingga sulit bagi hamba untuk melihat jelas tampang
mukanya, namun menurut pengamatan hamba dari gerak
geriknya, dia masih muda dan belum berpengalaman, namun
kepandaian silatnya benar benar luar biasa sekali..."
Berkilat sepasang mata Hee Im hong, namun dia tetap
membungkam dalam seribu bahasa. Terdegar Sou Han sim
bercerita lebih jauh:
"Waktu itu dia sudah dikurung oleh keempat jago golok
hamba, siapa tahu d isaat yang kritis telah muncul seorang
perempuan berkerudung yang berhasil mementalkan senjata
golok keempat orang jago hamba hanya dalam satu gebrakan
saja bahkan berhasil pula menotok jalan darah mereka"
"Perempuan ini sanggup merobohkan keempatjago golok
kita dalam satu gebrakan saja, kehebatan ilmu pedangnya
boleh dibilang termasuk jagoan kelas satu dalam dunia
persilatan"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hamba yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat


gusar, maka hamba pun menerjang kedepan untuk
melancarkan serangan dahsyat..."
Ketika berbicara sampai disitu mendadak dia menghentikan
sebentar kata katanya, setelah itu sambil mengangkat kepala
dia bertanya lagi:
"Pocu, tahukah kau ilmu silat apakah yang telah
dipergunakan perempuan itu sewaktu hamba menerjang
kedepan dan berusaha untuk membekuknya?" Hee Im hong
tersenyum
"Sudah pasti Soh congkoan telah menjumpai semacam ilmu
silat yang menunggal dan memiliki kedahsyatan yang luar
biasa sekali, bukan demikian?" "Benar," Soh Han sim tertawa
seram "dia pergunakan ilmujari can hoa ci"
Paras muka Hee Im hong segera berubah menjadi pucat
pias bagaikan mayat, katanya setengah tercengang: "Kau
maksud hasil perbuatan putriku?"
"Hanya putri pocu seorang yang menjadi murid Kiu hoa
loni" sambung Soh Han sim menyeramkan.
Ilmu jari can hoa ci memang merupakan ilmu sakti andalan
Kiu hoa sinni yang amat termashur dalam dunia persilatan-
Agaknya Hee Im hong masih kurang percaya sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali ia berkata:
"Biarpun putriku adalah murid sinnie namun dia seorang
murid setengah resmi, selama ini belum pernah belajar silat
atas bimbingan nikou tersebut, darimana ia bisa
mempergunakan ilmu jari can hoa ci...?
"Sekalipun bukan hasil perbuatan putrimu aku yakin tentu
ada sangkut pautnya dengan putrimu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ehmm" akhirnya Hee im hong manggut manggut, "asal


kuundang putriku kemari dan kutanyakan secara langsung
persoalannya tentu akan menjadi jelas."
"Tak sudah, kita tak usah terlampau terburu napsu,
menurut pendapat hamba, belum tentu putrimu akan
menyingkap semua duduk persoalan kepada pocu malah ada
baiknya sela satu dua hari kemudian pocu undang Ho popo
datang kemari, dengan bertanya kepada Ho popo hamba rasa
hasilnya tentu akan jauh lebih baik, dari pada ditanyakan
secara langsung kepada putrimu"
"Haah haaahh haaah... ucapan Soh congkoan ada benarnya
juga, tadi aku memang belum berpikir sampai kesitu." seru
Hee Im hong sambil tertawa tergelak.
Berbicara sampai disini dia lantas mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lain, kembali ujarnya:
"Aku mempunyai suatu persoalan yang ingin kurundingkan
dengan Soh congkoan"
"Katakanlah pocu" buru buru Soh Han sim berseru
"Malam ini aku telah menjumpai seorang jago silat berilmu
tinggi yang mengaku bernama Ju it koay, aku telah membayar
tinggi dirinya agar berseria menjadi congkau tau dari benteng
kita ini"
" Ju it koay?" Soh Hansim mengerutkan dahinya, " belum
pernah hamba dengar nama semacam itu di dalam dunia
persilatan"
Hee Im hong tertawa bangga.
"Benar, dalam dunia persilatan memang belum pernah
terdengar nama seseorang yang memakai nama Ju it koay,
namun ilmu silat yang dimiliki orang tersebut memang benar
benar hebat sekali"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Jadi maksud pocu, kau hendak menarik orang itu untuk


kepentingan pribadi?"
"Untuk kepentingan pribadi", sudah jelas kata kata tersebut
mengandung makna yang sangat mendalam, harap pembaca
memperhatikan secara khusus.
Hee im hong segera tertawa ter bahak2
"Haaah... haah.... haaah... aku memang mengandung
maksud begitu"
" Urusan itu mah mudah untuk diselesaikan" kata Soh Han
sim kemudian dengan senyum tak senyum.
" Ju it koay telah berjanji besok pagi pagi sekali akan
datang ke benteng untuk memangku jabatan, aku pikir tengah
hari esok akan kuselenggarakan perjamuan untuk menyambut
kedatangannya, sekalian kuperkenalkan kepada semua orang"
"Hamba mengerti" Soh Han sim kembali mang gut mang
gut.
^oooodwoooo^

Matahari baru terbit, rerumputan dikedua sisi jalan masih


basah oleh embun pagi. Ju it koay dengan rambutnya yang
kusut bagaikan sarang burung, dengan tongkat besinya
sebagai penyangga, selangkah demi selangkah menelusuri
jalan setapak beralas batu.
Setiap kali dia melangkah setindak bergemalah suara
ketukan toya yang keras.
Tempat itu adalah sebuah jalan beralas batu yang berada
sepuluh li didepan benteng Hee keh po.
Sekarang, dia sudah menjadi kepala pelatih dari benteng
keluarga Hee, hari ini ia datang untuk memangku jabatan
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebulan memperoleh gaji sebesar tiga ribu tahil perak. bagi


seseorang yang belajar silat sudah jelas merupakan gaji
tertinggi yang mungkin bisa memperolehnya secara halal.
Tidak heran kalau Ju it koay merasa semangatnya segera
dan wajahnya cerah karena gembira setiap langkah kakinya
juga nampak lebih enteng dan ringan-
Disaat dia sudah hampir tiba disebuah tanah lapang depan
pintu gerbang benteng keluarga Hee itu, tiba tiba pintu
gerbang dibentangkan lebar lebar, kemudian muncul empat
orang centeng berbaju hijau yang segera menyebar ke dua
belah sisi dan membungkukkan badannya memberi hormat.
Ju it koay tertegun menghadapi sikap tersebut segera
pikirnya dihati.
"Aku belum lagi sampai dipintu gerbang, mereka sudah
membukakan pintu bagiku serta menyambut kedatanganku
agaknya kedudukan seorang kepala pelatih memang cukup
keren dan mentereng"
Sementara dia masih termenung, dari balik pintu gerbang
telah muncul kembali serombongan manusia.
Sebagai orang pertama adalah seorang tosu berjenggot
hitam, dia adalah ceng Im totiang dari Go bi pay, menyusul
kemudian adalah Malaikat berwajah merah Lou Siu tong, si
pekikan bulu emas Kiang Bu tin, si bintang kilat Huan Tong
serta Lu Siu, murid Lou Siu tong.
Menyusul dibelakang rombongan manusia tersebut adalah
pemilik benteng keluarga Hee yakni Hee Im hong serta si
burung berkepala sembilan Soh Han sim.
Menyaksikan kemunculan cing Im totiang sekalian, dengan
Cepat Ju it koay menghindar kesisi jalan, kemudian pikirnya:
"Menurut berita yang kuterima, mula mula si malaikat
berwajah merah Lou Siu tong lah yang mendapat undangan
dari Hee Im hong untuk berkunjung ke benteng keluarga Hee,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tapi semenjak kunjungannya, jejak orang itu hilang lenyap tak


berbekas, sampai akhirnya ceng Im totiang tiba di Kim leng
dan mendapat tahu lenyapnya Lou Sin tong, kemudian dia
berkunjung ke Hee keh poo untuk mencari jejak suhengnya
namun dia sendiri pun ditahan oleh pihak benteng keluarga
Hee.
"Menyusul peristiwa itu Kiang cutin dan Huan Tong
bersama sama menyatroni benteng keluarga Hee ditengah
malam buta, namun usaha itu gagal yang berakibat mereka
tertawan-Sudah jelas perbuatan mereka yang menangkapi
orang orang Go bi pay secara beruntun ini merupakan suatu
rangkaian siasat yang telah dipersiapkan secara sempurna
oleh pihak benteng keluarga Hee, bisa jadi mereka memang
mempunyai satu maksud tertentu. Apa lagi bila ditinjau dari
watak Hee Im hong yang licik dan berpikiran panjang,
semestinya dia tahu bahwa menangkap harimau itu gampang
melepas harimaulah yang susah, maka ia bersedia melepaskan
orang orang itu dengan begitu saja?"
cing Im totiang dan Lou Siu tong sekalian sudah berhenti
didepan pintu gerbang, mereka nampak berusaha untuk
mencegak Hee Im hong dan Soh han sim agar tidak
menghantar lebih jauh.
Hee Im hong serta Soh Han sim berdua dengan senyuman
dikulum segera mengucapkan kata kata perpisahan, hubungan
diantara tamu dan tuan rumah kelihatan amat baik dan
kelihatan akrab.
Setelah berpisah dengan Hee pocu, berangkatlah cing Im
totiang sekalian untuk melakukan perjalanan, sedang Hee Im
hong serta Soh Han tim masih tetap berdiri didepan pintu,
dengan pandangan yang cerah dan senyuman kebanggaan
menghiasi wajah, mereka menghantar tamunya sampai lenyap
dari pandangannya.
Setelah cing im totiang sekalian tak nampak, Ju it koay
baru menyeret tongkatnya sambil maju ke muka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hee Im hong segera menunjukkan wajah berseri seri begitu


melihat kedatangan Ju it koay, sambil tertawa terbahak bahak
dia maju menyambut kedatangan tamunya, kemudian
berkata:
"cong kautau memang seorang yang memegang janji,
sudah lama siaute menunggu kedatanganmu. "
Ju it koay segera memperlihatkan wajah terharu disamping
berterima kasih sekali, buru buru dia mejura seraya menyahut.
"Aku orang she Ju tidak lebih hanya seorang manusia
gelandangan, sungguh bangga hatiku bisa peroleh perhatian
yang begitu besar dari pocu untuk memangku jabatan
penting, karena itulah sedari pagi pagi aku sudah datang
untuk memangku jabatan- Masa pocu harus menyambut
sendiri kedatanganku, aku orang she Ju sungguh tak berani
menerimanya ... "
Hee Im hong merasa semakin bangga apalagi melihat rasa
terharu yang tercermin di wajah orang itu, serta merta dia
menggenggam sepasang tangan Ju it koay kencang kencang
kemudian setelah tertawa tergelak katanya
"Haaahh... haaah... haaah... Ju loko tidak usah sungkan
sungkan, dengan kepandaian silat yang dimiliki Ju loko,
sesungguhnya menjabat sebagai kepala pelatih dari benteng
kami sudah cukup menurunkan derajat serta pamormu masa
kau masih merendah juga? Sesungguhnya siaute memang
bertulus hati hendak mempergunakan saudara sebagai tenaga
ahli kami, sudah sepantasnya bila aku sendiri yang datang
menyambut kedatangan Ju loko, sudahlah, kau tak usah
sungkan sungkan lagi, apalagi sejak kini kita sudah terhitung
orang sendiri."
Setelah berhenti sebentar, dia pun menyambung lebih jauh.
"Mari, mari, biar siaute perkenalkan kalian berdua, dia
adalah congkoan benteng kami soh Han sim, dan ini adalah
kepala pelatih benteng kita yang baru Ju it koay, semoga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kalian berdua bisa bersahabat lebih akrab" Soh Han sim


segera maju kedepan sambil menjura, katanya.
"Sudah lama siaute mendengar akan nama besar Ju loko,
selamat berjumpa... selamat berjumpa "
Buru buru Ju it koay menjura pula seraya tertawa terbahak
bahak.
"Haah haah haa Soh congkoan terlampau memuji, aku tak
lebih hanya seorang pengembara didalam dunia persilatan,
bila pocu tak menilai tinggi diriku sehingga bersedia memberi
jabatan yang tinggi, aku tak lebih hanya seorang pengemis
tukang minta minta, sebaliknya Soh congkoanlah yang
tersohor sekali, sudah lama aku orang she Ju mengagumi
nama besarmu itu..."
000 ( dw ) ooo

" Ju loko memang kelewat sungkan, padahal dalam dunia


persilatan banyak terdapat tokoh tokoh silat berilmu tinggi
yang tak suka akan nama besar serta kedudukan, justru
kesediaan Ju loko untuk menjabat sebagai kepala pelatih
kami, hal ini merupakan suatu keuntungan buat benteng kami,
selanjutnya mohon Ju loko suka banyak memberi petunjuk" Ju
it koay tertawa tergelak.
"Haaah... haaah... haaah... aku orang she Ju baru saja
datang, justru akulah yang membutuhkan banyak bimbingan
dan petunjuk dari congkoan-"
tampaknya Hee Im hong merasa puas sekali terhadap
semua gerak gerik yang diperlihatkan Ju it koay selama ini, dia
segera tertawa terbahak bahak:
"Kalian berdua tidak usah saling merendah lagi, Ju loko
baru saja datang, ayo kita berbicara didalam saja."
"Pocu, silahkan masuk" Ju it koay buru buru menjura.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hee Im hong pun tidak sungkan sungkan lagi, segera


beranjak lebih dulu dari situ.
Ju it koay dan Soh Han sim saling mengalah
mempersilahkan rekannya agar berjalan dimuka, tapi akhirnya
Ju it koay beranjak lebih dulu kemudian baru disusul Soh Han
sim.
Mereka bertiga semuanya masuk melalui pintu gerbang,
menembusi pintu kedua kemudian menembusi serambi dan
menuju ke kamar baca Hee pocu.
Setelah mereka bertiga mengambil tempat duduk masing
masing, seorang dayang berbaju hijau datang menghidangkan
air teh.
Dengan senyum dikulum Hee Im hong bangkit berdiri dan
mengambil sepucuk sampul merah dari meja tulisnya,
kemudian ujarnya kepada Ju it koay:
"cong kautau baru saja datang, sebagai perasaan hormatku
terhadap saudara, harap uang sebesar selaksa delapan ribu
tahil perak sebagai gaji selama enam bulan ini harap Ju loko
terima lebih dahulu."
Sembari berkata, dia mengeluarkan selembar uang kertas
dari dalam sampul merah itu, betul juga, diatas uang kertas
tadi tertera huruf selaksa delapan ribu tahil perak.
Begitu setelah diperlihatkan kepada Ju it koay, dia
masukkan kembali uang kertas tersebut kedalam sampul
merah dan diberikan kepada Ju it koay.
Tampaknya selama hidup Ju it koay belum pernah
menjumpai uang perak sebanyak itu, sorot matanya kembali
menunjukkan sinar kerakusan yang amat hebat wajahnya
terlihat rasa kecut bercampur gembira.
Dia segera mengulurkan tangannya kedepan, namun untuk
sesaat tidak mengetahui harus menerimanya ataukah jangan ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kelima jari tangannya yang kasar lagi hitam apa lagi


sebagai tangan seorang yang bertenaga dalam amat
sempurna, kali ini ternyata nampak sedikit gemetaran-
Lama kemudian, ia baru mengangkat kepalanya
memandang sekejap kearah Hee Im hong kemudian baru
berkata agak tergagap:
"Pocu apakah... apakah uang perak sebanyak itu... men-..
menjadi milikku semua? Ham... hamba tak berani
menerimanya..."
Begitu melihat uang dalam jumlah banyak. sebutanpun
segera berubah menjadi "hamba", permainan sandiwara orang
ini memang nampaknya amat bagus.
Hee Im hong menjadi semakin senang setelah melihat
sikap lawannya, cepat cepat dia berkata:
"cong kautau boleh menerimanya dengan segera karena
uang tersebut memang merupakan hakmu, ayolah, kau tak
usah sungkan sungkan lebih jauh." Akhirnya Ju it koay
menerimanya juga, kemudian wajah agak ia berkata: "Tanpa
jasa tak akan menerima pahala hamba toh belum bekerja
untuk pocu,"
"Haaahhh... haahhh... haaahhh..." Hee Im hong
mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak. " bukankah
cong kautau sudah memangku jabatan? Uang gaji tersebut
sudah seharusnya kau terima karena memang menjadi
hakmu, apa yang aku lakukan tak lebih hanya membayar lebih
dulu, jumlah yang sedikit tak usah kaupikirkan lagi didalam
hati, sebab umat persilatan kan lebih mengutamakan soal
kesetiaan kawan? Maksudku untuk sementara waktu terpaksa
aku hanya akan merendahkan saudara Ju agar mau menjabat
sebagai kepala pelatih dulu, jika ada kesempatan lain tentu
akan kuangkat Ju loko untuk menempati kedudukan yang jauh
lebih tinggi lagL"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"UCapan pocu terlalu serius, " Ju it koay berseru penuh


rasa haru, sementara tangannya sampul merah itu kencang
kencang, "budi kebaikan yang pocu berikan kepadaku sudah
melebihi bukit yang tinggi, asal kau menghendaki tenaga
hamba, sudah barang tentu hamba akan berjuang demi diri
pocu."
Hee Im hong segera manggut manggut.
"Sejak melihat Ju loko semalam, aku sudah tahu kalau kau
adalah seorang yang amat setia, apalagi sesudah mendengar
perkataan cong kau tau hari ini, aku merasa semakin berlega
hati."
Soh Han sim segera larut menimbrung pula.
"Pagi tadi aku mendapat tahu dari pocu tentang kehebatan
Ju loko semalam, sayang sekali tak sempat menyaksikan
dengan mata kepala sendiri, boleh aku tahu, sebenarnya Ju
loko berasal dari perguruan mana...?"
Tentu saja pertanyaan itu sengaja diatur oleh Hee Im hong
dan menyuruh dia untuk mengajukan keluar.
Ju it koay segera menghela napas panjang.
"Aaai, kalau dibicarakan sungguh memalukan, sebenarnya
siaute berasal dari perguruan Engjiau bun, sayang sekali,
masa mudaku kurang benar sehingga gara gara suatu
peristiwa aku diusir dari perguruan, akibatnya sela tiga puluh
tahun terakhir ini, aku belum pernah menyinggung tentang
perguruanku ini kepada siapa saja."
Sebagaimana diketahui, benteng keluarga Hee memang
banyak mengumpulkan kawanan manusia yang berniat dari
perguruan, baik itu golongan putih maupun sampah
masyarakat dari golongan hitam sekarang Ju it koay mengaku
sebagai murid murtad dari perguruan kuku garuda, tak heran
kalau Hee Im hong segera mempercayainya, yaa kalau tidak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mana mungkin seorang itu sama sekali tak bernama padahal


memiliki ilmu silat yang sangat hebat?
"Nah, itulah dia" kata IHee Im hong kemudian sambil
tertawa, "sejak kemarin aku sudah melihat bahwa jurus jurus
serangan yang kau pergunakan kebanyakan berasal dari
perguruan kuku garuda."
Ju it koay tertawa pula, sesudah menjura dia berkata:
"Terus terang saja kukatakan pocu, semenjak hamba diusir
dari perguruan, hamba segera mengembara jauh keluar
perbatasan sana dan bergabung lagi dengan perguruan Tiang
pekpay cuma ilmu silat kuku garuda merupakan ilmu dasar
yang kulatih semenjak kecil, hingga akhirnya menjadi
kebiasaan, ada kalanya aku memang dapat menggunakan
jurus jurus tersebut tanpa kusadari, rupanya hal ini tak lolos
dari pengamatan pocu."
Sikapnya seolah olah terharu dan berterima kasih sekali
terhadap Hee Im hong, sehingga ia tak segan segan
mengungkapkan semua rahasianya secara berterus terang.
Agaknya diapun hendak menjelaskan kalau selama ini dia
hanya bergerak diwilayah luar perbatasan saja, sehingga tak
heran kalau umat persilatan di daratan Tionggoan tidak
mengetahui tentang nama Ju it koay.
"Kalau begitu, nama Ju it koay yang cong kau tau
pergunakan mungkin sekali juga bukan nama aslimu?" kata
Hee Im hong sambil tersenyum lebar.
Didengar dari nada tersebut, tampaknya ia masih juga
belum merasa berlega hati. Ju it koay segera tertawa dingin.
"Harap pocu ketahui, nama asli hamba memang bukan it
koay, nama tersebut baru kupergunakan setelah berada diluar
perbatasan, kalau dihitung hitung sudah tiga puluh tahun
kugunakan nama Ju it koay tersebut sehingga lambat laun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nama tadi menjadi namaku yang sebetulnya, rasanya sulit


bagiku untuk mengganti nama teserbut lagi..."
Hee Im hong mengangguk tiada hentinya setelah
mendengar penjelasan itu, sambil mengelus jenggotnya ia pun
bertanya:
"cong kau tau, apakah hubunganmu dengan Huan Gi,
pengurus rumah tangga adik angkatku cukup akrab ?"
"Panjang sekali untuk menceritakan persoalan ini, sebelum
hamba berangkat ke luar perbatasan tempo hari, aku pernah
mendapat bantuan yang cukup besar dari Huan Lo koankeh di
Kim leng, kemudian hari aku baru tahu kalau dia pun masih
terhitung seorang cianpwee dari perguruan kuku garuda."
"Berapa hari berselang, kami bersua lagi didermaga
penyeberangan, ternyata dia pun masih kenali aku, setelah
pembicaraan baru kuketahui ia sedang menghantar seorang
kongcu untuk bergabung dengan pocu."
"Ditengah jalan, aku pun melihat ada sekawanan
penyamun yang berniat mencelakai lo koankeh, hamba pun
segera menghajar kawanan cecunguk itu sampai kocar
kacir,aai... sayang sekali hal tersebut belum dapat membalas
budi kebaikannya dulu, maka semalam ketika secara
kebetulan aku lewat disini, aku ingin datang menjenguknya
lagi, siapa tahu justru berjumpa dengan pocu, hal ini boleh
dibilang sungguh merupakan kebanggaan untuk hamba."
Menanti Ju it koay menyelesaikan perkataannya, Hee Im
hong baru berkata lagi dengan sedih.
"Tahukah cong kautau bahwa Huan lo koankeh telah
meninggal dunia ?"
"Apa ?" sekujur badan Ju it koay bergetar keras, matanya
terbelalak lebar lebar, pocu mengatakan lo koankeh sudah
meninggal dunia. Dengan wajah sedih Hee Im hong segera
mengangguk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Benar. Lo koankeh memang sudah berusia lanjut, bisa jadi


lantaran harus menempuh perjalanan yang cukupjauh dan
melelahkan maka tak berapa lama setibanya disini, dia
terserang angin duduk sehingga meninggal dunia."
Sepasang mata Ju it koay segera nampak berkaca kaca,
buru buru dia menjura seraya berkata lagi.
"Hamba ingin memohon kepada pocu bolehkah aku tahu
dimana jenasah lo koankeh disemayamkan ? Bolehkah hamba
untuk menyambangi serta berdoa didepan lelayonnya?"
Padahal dia sudah tahu kalau jenasah dari lo koankeh
sudah dikirim pulang oleh ciu congkoan, namun dia harus
berlagak seakan akan tak tahu, sebagai pertanyaan bahwa
Huan cu im sama sekali tidak memberitahukan penjelasannya.
"Kini jenasah dari Huan lo koankeh sudah dikirim pulah
oleh salah seorang congkoan benteng kami" Hee Im hong
segera memberikan penjelasannya. Kembali Ju it koay
menghela napas.
"Aaai, kalau begitu budi kebaikan dari lo koankeh tak
mungkin bisa kubalas lagi dalam kehidupanku kali ini"
Berbicara sampai disitu, mendadak ia menjatuhkan diri
berlutut didepan Hee Im hong kemudian katanya lagi.
"Pocu sunggu seorang yang bijaksana, ternyata kau
bersedia mengaturkan segala sesuatunya bagi lo koankeh
sehingga dikebumikan di dalam tanah, atas kebaikan ini harap
terimalah hormat dari hamba ini, juga sebagai balas budi
hamba terhadap lo koankeh."
Buru buru Hee Im hong bangkit berdiri sambil
membangunkan orang itu dari tanah, katanya:
"cong kautau, harap kau jangan banyak adat, silahkan
duduk dan mari kita bicarakan sebaik baiknya, apalagi aku pun
sudah seharusnya berbuat begin!!" Ju it koay segera duduk
kembali dikursinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan demikian Hee im hong sudah mulai dapat


mengenali identitas maupun asal usul dari Ju it koay, dia juga
mulai mengenali watak serta tabiat dari orang tersebut.
Bisa jadi, semasa masih muda dulu dia telah melakukan
suatu kesalahan besar yang tak bisa diterima oleh perguruan,
karena diusir dari perguruan maka sebagai pemuda yang
berdarah panas, diapun mengembara didalam dunia
persilatan, dimana terdorong pula oleh perasaan tak puasnya,
terakhir dia mengembara jauh keluar perbatasan sana dan
berganti perguruan-
Namun begitu, dia kelihatan sebagai orang yang
berhatijujur, asal ada orang pernah melepaskan budi
kepadanya, maka ia takpernah melupakan budi kebaikan
tersebut.
cuma ada satu hal yang membuatnya kuatir, bila didengar
dari nada pembicaraannya, orang ini seperti mempunyai jiwa
yang lurus, dan gagah, andaikata rahasia mereka sampai
ketahuan-
Namun hal inipun tidak usah dikuatirkan lebih jauh, karena
dia sudah mempunyai persiapan yang cukup matang tentang
hal ini.
Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa sekulum
senyuman menghiasi wajah Hee im hong.
OoooodwooooO

Soh Han sim mendongakkan kepalanya dan memandang


sekejap keadaan cuaca, kemudian sambil bangkit berdiri
katanya sambil tersenyum:
"Waktu sudah lewat, pocu, cong kautau, silahkan menuju
keruang sebelah barat"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang ini rupanya memang berwajah senyum tak senyum,


walaupun sedang tertawa namun selalu memberikan perasaan
seram bagi yang melihatnya.
"Baik" kata Hee Im hong manggut manggut, sambil bangkit
berdiri, "hari ini cong kautau baru saja datang aku telah
menyiapkan sedikit arak untuk menyambut kedatanganmu. . .
"
Dengan penuh rasa berterima kasih Ju it koay bangkit
berdiri, lalu katanya sambil menjura berulang kali.
"Hamba baru saja datang, setitik jasa pun belum
kulakukan, tapi pocu sudah begitu baik kepadaku, sungguh
membuat hamba tak tahu bagaimana mesti menerimanya ?"
Hee Im hong tertawa.
"cong kautau tidak usah sungkan sungkan, memang
beginilah rasa hormatku atas diri cong kautau, lagi pula dalam
benteng masih terdapat beberapa orang pelatih lagi, di
kemudian hari mereka semua akan menjadi anak buahmu,
dan perlu bimbingan serta pengawasan dari cong kautau, jadi
pertemuan ini perlu juga untuk saling pertemukan kalian
semua, agar bisa saling mengenal satu sama lainnya"
"Kalau toh pocu memang berniat demikian, tentu saja
hamba tak berani menampik," kata Ju it koay kemudian
merendah.
Begitulah, Hee im hong segera berjalan lebih dulu disusul
dengan lainnya, mereka bersama sama meninggalkan kamar
baca menuju ke ruangan sebelah barat.
Ruang sebelah barat tentu saja terletak di gedung barat,
jadi saling berhadapan letaknya dengan gedung timur dimana
Huan cu im berdiam.
Sesudah keluar dari pintu bulan, sebuah kebun bunga
terbentang luas didepan mata, dekat dinding terdapat sebuah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gunung gunungan yang tingginya jauh melebihi dinding


pekarangan-
Ruangan terdiri dari lima bagian tengah terdapat tiga buah
yang dihubungkan dengan pemandangan yang indah, suasana
disitu semuanya mewah dan megah.
Sementara itu, dalam ruangan sudah menunggu empat
orang manusia, melihat kedatangan sang pocu, serentak
mereka bangkit berdiri untuk menyambut.
Dengan senyum dikulum Hee im hong manggut manggut,
lalu mengajak Ju it koay masuk ke dalam ruangan, setelah
mengulapkan tangannya dia berseru. "Harap kalian mengambil
tempat duduk"
Ia sendiri menempati kursi utama, sedang Ju it koay
dipersilahkan menempati kursi di sisi kirinya.
Beberapa kali Ju it koay menampik, tapi akhirnya setelah
dipaksa berulang kali dia baru menempatinya.
Kemudian dengan senyum dikulum Hee Im hong baru
berkata
"Kautau berempat, mari kuperkenalkan pada kalian cong
kautau baru dari benteng kita, dia adalah Ju it koay Ju loko."
Kemudian sambil menudling keempat orang itu,
diapunperkenaikan satu per satu.
"Mereka adalah si bangau abu abu Jin Siu, si golok
pemutus nyawa To It hui, si terbang di atas rumput Sun
Kokpiau serta si kuda langit Be cuan gi."
Serentak keempat orang itu menjura seraya berkata.
"Hamba sekalian menjumpai cong kautau, dikemudian hari
mohon cong kautau sudi memberi banyak petunjuk. "
Ju it koay mengetukkan tongkatnya berulang kali keatas
tanah, lalu menjura beberapa kali, sahutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Loko berempat tak usah merendah, siaute bisa memangku


jabatan ini tak lain karena kesudian pocu untuk memberi muka
kepadaku, dikemudian hari justru akulah yang masih
memerlukan kerja sama dari loko berempat, dengan begitu
baru bisa membalas budi kebaikan yang telah pocu berikan"
Hee Im hong merasa puas sekali setelah mendengar Ju it
koay berulang kali mengatakan berhutang budi kepadanya, ia
segera tertawa terbahak bahak.
"Haaah... haaahh^.. haaahah... sudahlah, selanjutnya kita
adalah orang sendiri, tak usah sungkan sungkan lagi, mari
silahkan mengambil tempat duduk"
Dalampada itu dua orang dayang baju hijau yang muncul
dari sisi kanan ruangan telah beruntun menghidangkan sayur
dan arak yang amat lezat.
"Pocu silahkan bersantap" kata Soh Han sim kemudian
sambil bangkit berdiri.
Hee Im hong segera bangkit berdiri, lalu sambil tertawa dia
mengangkat tangannya dan berkata:
"cong kautau baru datang hari ini, sudah sepantasnya bila
kau menempati kursi utama"
Dari perkataan tersebut sudah jelas terlihat bahwa sang
pemilik benteng keluarga Hee ini menaruh penghargaan yang
amat tinggi atas kepala pelatihnya. Ju it koay mengetukkan
tongkatnya serta menjura berulang kali: "Soal ini hamba tak
berani menerimanya..."

"cong kautau" Soh Han sim turut membujuk. "kau baru


datang, meski bukan tamu agung, namun perjamuan ini
khusus memang dipersiapkan pocu untuk menyambut
kedatanganmu, sudah sepantasnya bila kau menempati kursi
utama, bila kau masih sungkan sungkan terus, bukankah sama
artinya dengan memandang asing kepada kita semua ?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ju it koay memang seorang yang periang, dia lantas


menjura kepada Hee im hong. "Kalau begitu biar hamba
menurut perintah saja." Dengan cepat dia menempati kursi
disisi kiri.
Hee Im hong segera menempati kursi utama sedangkan
Soh Han sim serta keempat pelatih yang lain duduk secara
beruntun.
Kedua orang dayang baju hijau itu segera mengambil poci
dan memenuhi cawan dengan arak.
Hee Im hong mengangkat lebih dulu cawan araknya,
kepada Ju it koay katanya.
"Benteng kita dapat memperoleh Ju loko sebagai kepala
pelatih, boleh dibilang kejadian ini merupakan suatu
keberuntungan buat kami, mari, cawan arak yang pertama ini
anggap saja sebagai rasa hormatku untuk kepala pelatih, mari
kita keringkan " Selesai berkata, dia lantas meneguk isinya
sampai kering. Ju it koay mengangkat pula cawan araknya,
kemudian berseru agak gugu :
"Ucapan pocu terlalu serius, hamba bisa mengikuti pocu hal
ini dikarenakan hamba telah menemukan majikan yang
bijaksana, sudah sepantasnya hambalah yang menghormati
arak untuk diri pocu."
Diapun mengangkat cawannya serta meneguk isinya
sampai kering.
Dua orang dayang yang berdiri disisi meja perjamuan
segera maju kedepan dan memenuhi cawan mereka dengan
arak.
Menyusul kemudian Soh Han sim turut bangkit berdiri dan
berseru sambil mengangkat cawannya:
"cawan arak hamba ini kupersembahkan bagi
keberuntungan pocu yang berhasil mendapatkan pembantu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baik dan menghormati cong kautau yang telah memangku


jabatan terhormat."
sekali teguk diapun menghabiskan araknya.
Sambil tertawa dengan terbahak bahak Hee im hong serta
Ju it koay bersama sama meneguk pula isi cawan mereka
sehingga mengering.
Menyusul kemudian Jin Siu sekalian keempat orang pelatih
pun secara bergiliran menghormati Ju it koay dengan secawan
arak.
Nampak sekali kegembiraan Hee im hong, apalagi setelah
diketahui bahwa Ju it koay berilmu silat tinggi dan bersedia
pula bekerja baginya, tak heran kalau rasa riang dalam
hatinya tak terlukiskan dengan kata kata.
Setiap kali cawan diangkat, isinya segera diteguk pula
sampai habis...
Sebaliknya Ju it koay sudah puluhan tahun mengembara
dalam dunia persilatan, kini sekali loncat menjadi seorang
ketua pelatih, ditambah pula sekaligus mengantongi uang
sebesar selaksa delapan ribu tahil perak. mendapat pula
penghormatan yang sangat tinggi dari rekan rekannya,
dengan cepat ia perlihatkan rasa gembira dan bangga yang
tak terlukiskan, perasaan was was yang semula masih ada pun
kini turut hilang lenyap tak berbekas.
Setiap kali orang lain mengankat cawan, dia segera
mengangkat cawan pula serta meneguk habis isinya.
Hee Im hong semakin girang lagi setelah menyaksikan
kejadian tersebut, sebab hal ini akan semakin permudah
usahanya untuk melaksanakan rencana yang telah
dipersiapkan-
semua hidangan yang berada diatas meja rata rata
merupakan hidangan yang lezat, dalam suasana gembira,
mereka makan dan minum dengan penuh kebebasan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itulah, sang dayang telah kehabisan arak


sehingga mengundurkan diri dengan membawa poci kosong,
tapi dayang yang lain segera maju pula dengan membawa
poci yang lain-
"Pocu," soh Han sim segera berkata sambil bangkit berdiri,
"biar hamba sekali lagi menghormati dirimu dengan secawan
arak."
Setelah menghormati sang pocu, otomatis selanjutnya dia
akan menghormati sang ketua pelatih.
Hee Im hong mengangguk tanda mengerti katanya sambil
tertawa terbahak bahak: "Baik, malam ini kita harus minum
sampai sepuas puasnya" Mereka berdua segera saling
meneguk habis isi cawan masing masing
Dalam pada itu, sidayang yang mengundurkan diri tadi
sudah muncul kembali sambil membawa poci dengan penuh
arak.
Seperti sengaja tak sengaja, Soh Han sim segera
memandang sekejap kearah dayang tersebut.
Sang dayang segera menundukkan kepalanya dan
memenuhi cawan kosong didepan Soh Han sim dengan arak.
Soh Han sim sengaja mengangkat kepalanya, kemudian
berseru:
"Mengapa tidak kau lihat, bukankah cawan didepan cong
kau tau juga kosong? Masa cawanku yang dipenuhi arak lebih
dulu? Ayo cepat kau penuhi pula cawan cong kautau yang
kosong dengan arak"
Dayang tersebut mengiakan, sesudah memenuhi cawan
Soh Han sim dengan arak. diapun menutupi juga cawan Ju it
koay dengan arak. Serta merta Soh Han sim mengangkat
cawannya seraya berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak kunyana kalau takaran minum arak dari cong kautau


benar benar hebat, orang kuno bilang. Bila arak bertemu
dengan penggemarnya, sepuluh cawanpun terasa kurang.
Mari, mari, mari, biar kuhormati dirimu dengan tiga cawan
arak lagi."
Arak yang berada dalam cawannya berasal dari satu poci
dengan arak yang dituangkan kedalam cawan Ju it koay,
seharusnya kejadian macam ini tak bakal akan menimbulkah
kecurigaan diri Ju it koay.
-oo0dw0oo-

Jilid: 10

Padahal dengan waktu Ju It koay yang terbuka, pada


hakekatnya dia memang tidak terlalu memperlihatkan hal
semacam itu ia segera tertawa tergelak sesudah mendengar
perkataan tersebut:
”Haaa haaa, perkataan congkoan memang benar, kalau
minum arak secawan demi secawan rasanya menjadi jemu
sendiri, tiga cawan sekaligus baru akan menarik sekali” Maka
kedua orang itupun meneguk arak tiga cawan sekaligus.
Si dayang tadi terpaksa harus berdiri di sisi Ju It koay agar
bisa memenuhi tiga cawan arak baginya.
Dipihak Soh Han sim terpaksa dayang yang kedua harus
berdiri pula disisinya untuk melayani.
Menyusul kemudian si bangau abu-abu Jin Siu, si golok
pemutus nyawa To It hui siterbang diatas rumput Sun Kok
piau dan sikuda langit Be cuan gi secara beruntun
menghormati Ju It koay dengan tiga cawan arak sekaligus.
Tampaknya Ju It koay mempunyai kebiasaan minum arak
yang sangat hebat, diapun paling gampang bersahabat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan orang ditambah lagi dia memang ingin bertemu


dengan orang orang yang berada dihadapannya tak heran
kalau setiap kali orang mengangkat cawannya, ia segera
menanggapi tanpa menolak.
Tak selang beberapa saat kemudian sepoci arak yang
berada ditangan dayang tersebut telah diteguknya pula
sampai habis.
Isi poci arak tersebut kecuali secawan yang pertama untuk
memenuhi cawan dari Coh Han sim, boleh dibilang semuanya
tertuang kedalam perut Ju It koay.
Pada mulanya, ketika Hee Im hong melihat Ju It koay
minum arak bersama Soh Han sim, wajahnya masih
menunjukkan kewaspadaan dan rasa was was yang tinggi,
kemudian setelah melihat sepoci arak telah dihabiskan
olehnya, ia menjadi tenang dengan segera.
Sambil mengelus jenggotnya dengan senyum dikulum, ia
mulai mengawasi kedua orang itu saling meneguk.
Pada saat itulah, tiba tiba terdengar Ju It koay berseru
tertahan lalu melompat bangun.
Diam diam Hee Im hong sangat terkejut cepat cepat dia
melompat bangun pula sambil pura pura bertanya : ”Cong kau
tau, mengapa kau ?”
Tongkat besi Ju It koay terletak dibelakang sandaran
kursinya, namun ia sama sekali tidak mengambilnya, dengan
berdiri disatu kaki ia berdiri tegak dengan mata merah
membara dan rambut berdiri kaku bagai tombak, lalu sambil
memegangi keningnya dengan kedua belah tangan ia berseru
:
”Oooh... kepala... kepala hamba... sungguh... pening
sekali...” Tampaknya orang ini belum menaruh kecurigaan apa
apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam diam Soh Han sim memandang ke arah Hee Im hong


sambil menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda
bahwa ia sudah hampir mendekati saatnya, kemudian dengan
senyum tak senyum katanya
”Cong kautau, mungkin kau minum arak kelewat banyak”
”Ada... ada yang tidak beres...”
Ucapan Ju It koay sudah mulai tak jelas tubuhnya mulai
gontai dan kaki kirinya yang menginjak tanah mulai bergoyang
tiada hentinya, lalu maju dua tiga langkah dengan
sempoyongan.
Mendadak ia memperdengarkan suara tertawa aneh yang
menyeramkan, telapak tangannya segera diayunkan ke depan
dan membacok sebuah bangku kayu yang berada di
hadapannya. ”Braaaakkk..”
Bangku kayu itu seketika terbacok sehingga hancur
berkeping keping dan berantakan kemana mana.
Bayangkan saja betapa kuatnya kursi tersebut, biarpun
seseorang memiliki kekuatan yang sangat besarpun mustahil
bisa menghancurkan bangku itu sehingga berkeping keping,
paling banter bangku hanya akan patah menjadi empat lima
bagian belaka.
Tapi kenyataan berbicara lain, dari sini bisa dibayangkan
betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki
manusia bernama Ju It koay ini.
Kali ini, Hee Im hong sendiripun berdiri tertegun dibuatnya,
paras mukanya kelihatan agak berubah.
Jin Siu, To It hiu Sun Kok piau serta Be Cuan gi berempat
berubah juga paras mukanya dengan hebat, tanpa sadar
mereka mundur selangkah bersama sama dan masing masing
menyiapkan senjata yang tersoren d iping gangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Soh Han sim yang menyaksikan kejadian tersebut buru


buru menggoyangkan tangannya berulang kali sambil
mencegah:
”Cong kautau hanya mabuk biasa, kalian tak usah ribut
dulu...”
Tampaknya Ju It koay sudah mulai kehilangan kejernihan
otaknya, sehabis menghancurkan kursi kayu tadi, ia segera
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak
dengan suara yang aneh, begitu kerasnya gelak tertawa
tersebut membuat seluruh bangunan rumah sampai turun
bergetar keras.
Bagaimanapun jua, kaki kanannya sudah cacad, ia tak akan
mampu berdiri tegak pada kaki kirinya, ditengah gelak tertawa
yang amat keras itulah, dia mulai sempoyongan lalu meluncur
kemuka...
Bukan Cuma begitu, setelah berjumpalitan sejauh tujuh
delapan depa, tiba tiba sepasang tangannya dipakai untuk
memeluk kepalanya, kemudian dengan kepala dibawah dan
kaki diatas, ia mulai berdiri secara terbalik.
Tampaknya rasa sakit yang mencekam kepalanya membuat
ia tak mampu bertahan lagi, tubuhnya mulai berputar putar
diatas tanah bagaikan sebuah gangsingan. Hee Im hong yang
melihat kejadian ini kembali berpikir didalam hati kecilnya:
”Rupanya dia memang tidak bohong, ilmu yang dilatih
memang ilmu To cho kang dari Tiang pey pay diluar
perbatasan”
Dengan bukti yang tertera didepan matanya ini, maka Hee
Im hong menaruh kepercayaan yang semakin mendalam lagi
atas asal usul serta identitas dari Ju It koay.
To cho kang atau ilmu membalik adalah sejenis ilmu tenaga
dalam yang termashur dari Tiang pek pay hampir boleh
dibilang semua umat persilatan didunia ini mengenalinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Konon ilmu membalik dari Tiang pek pay itu berasal dari
wilayah yang disebut See ih, selain dapat menyempurnakan
tenaga dalam yang dimiliki seseorang, dapat pula membolak
balikkan aliran darah ditubuh manusia, sehingga tidak kuatir
ditotok jalan darahnya oleh seseorang.
Dalam pada itu Hee Im hong, Soh Han sim dan Jin Siu
sekalian empat orang pelatih ditambah lagi dengan dua orang
dayang dayang berbaju hijau yang pucat pias karena
ketakutan, telah berdiri menjauhi arena, mereka mengawasi
Ju It koay yang sedang berputar putar diatas tanah itu dengan
mulut membungkam, seolah olah sedang menyaksikan ia
bermain akrobatik saja.
Untuk beberapa saat tersebut, suasana dalam ruangan pun
terasa sepi hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Kalau ada suara yang terdengar, maka itulah suara ujung
baju Ju It koay yang menggelembung dan menimbulkan suara
desiran tajam disaat ia sedang berputar kencang diatas tanah.
Tubuhnya, bagaikan gangsingan saja, makin berputar
semakin cepat pula gerakannya.
Gejala semacam ini memperlihatkan bahwa racun yang
mengeran didalam tubuhnya sudah mulai bereaksi.
Walaupun kejernihan pikiran Ju It koay sudah hilang lenyap
sekarang, namun tenaga dalamnya yang begitu sempurna
sama sekali tidak hilang, justru karena terjadinya
pertentangan antara daya kerja obat dengan tenaga dalam
yang dimilikinya, maka ia baru memperlihatkan gerakan yang
aneh tersebut.
Kejadian semacam ini berlangsung hampir seperempat jam
lamanya, kemudian gangsingan tersebut baru lambat laun
semakin melamban-Kemudian-.. ”Blaaammm”
Tubuh Ju It koay terjengkang ke atas tanah dengan
menimbulkan suara yang keras, lalu ia tak berkutik lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Soh congkoan-..” dengan rasa kuatir Hee Im hong segera


berpaling ke arah Soh Han
Soh Han sim tertawa seram, dia mengulapkan tangan
kanannya, dan berseru kepada dua orang dayang berbaju
hijau itu:
”Cong kautau mabuk setelah minum arak, saat ini dia tentu
letih sekali, cepat kalian bimbing mereka untuk beristirahat
dalam ruang tamu agung ”
Kedua orang dayang itu mengiakan dan maju bersama
sama, kemudian setelah memayang Ju It koay, mereka berlalu
menuju ke ruangan tamu agung. Mereka juga segera bangkit
berdiri untuk memohon diri. Buru Im Hong bertanya:
”soh congkoan, sampai kapan Ju It koay baru akan
mendusin kembali...?
”Tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, itulah
sebabnya sesudah menelan bubuk pembingung pikiran, ia
masih dapat meronta dan bertahan selama banyak waktu,
namun akibatnya banyak sekali tenaga dalamnya yang hilang,
mungkin dia harus tidur sampai esok pagi sebelum dapat
mend us in kembali.”
Ternyata didalam poci arak tadi, secara diam diam ia telah
mencampurkan bubuk pembingung pikiran adalah obat
rahasia dari keluarga Un di wilayah Leng lam, keluarga Un dari
Leng lam memang termashur sekali didalam dunia persilatan
karena kehebatan obat pemabuknya.
Bubuk pembingung pikiran konon terbuat dari bau bauan
yang khusus didatangkan dari wilayah See ih, daya kerjanya
amat hebat dan menghasilkan daya pengaruh yang luar biasa.
Setelah diolah menjadi bubuk pembingung pikiran oleh
keluarga Un, maka barang siapa makan obat tersebut, maka
dia akan kehilangan kejernihan otaknya serta menjadi budak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepanjang hidup walaupun begitu tenaga dalam serta ilmu


silatnya sama sekali tak terpengaruh.
Mereka yang terkena obat tersebut, keadaannya tak jauh
berbeda seperti keadaan manusia biasa, orang lain tidak akan
menyangka kalau ia sudah terkena obat pembingung pikiran
yang sangat dahsyat...
Keluarga Un dari Leng lam selalu menganggap bubuk
pembingung pikiran tersebut sebagai benda mestika konon,
setiap miligram bubuk tersebut dijual dengan harga beribu
ribu tahil perak.
Begitulah sambil tersenyum Hee Im hong segera berkata:
”Kalau memang begitu, hal ini lebih baik lagi”
”Apakah pocu benar benar percaya dengan apa yang dia
katakan?” tanya Soh Han kemudian dengan suara dalam.
”Kenapa ? Apakah kau masih menaruh curiga atas maksud
kedatangannya kemari ?”
”Benar”
Hee Im hong segera tertawa tergelak.
”Ha a... haaa, haa... biarpun dia datang dengan membawa
suatu maksud dan tujuan tertentu, namun setelah menelan
bubuk pembingung pikiran, apa lagi yang mampu dia lakukan
?”
Soh Han sim kembali tertawa seram.
”Biarpun ia sudah makan bubuk pembingung pikiran tapi
apakah maksud dan tujuannya datang kemari ? Siapa saja
komplotannya? Kita kan mesti menyelidikinya sampai jelas?”
”Yaa, ucapan Soh congkoan memang benar” sahut Hee Im
hong dengan perasaan seram
Malam sudah semakin kelam, hari ini Puan cu im bisa
melewati hidupnya dalam suasana yang amat tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gurunya memerintahkan agar ia jangan bertindak secara


sembarangan hingga tidak menimbulkan kecurigaan empek
Hee nya, karena itu seharian penuh ia tak pernah keluar dari
halaman timur barang selangkah pun-..
Dalam menganggurnya, dia pun mengeluarkan kitab ilmu
pedang Kiu kiong kiam boh pemberian ci kiam cap sah sih
walaupun menggunakan jari tangan sebagai pengganti pedang
namun teh nik ilmu pedang dipahami olehnya. Apalagi
penjelasan yang tercantum dalam Kiu kiong kiam boh tersebut
jelas sekali, diantaranya terdapat pula catatan petunjuk dari
empeknya hal ini membuat setiap jurus dan setiap gerakan
bisa dipahami olehnya dengan cepat.
Oleh karena itulah terdapat banyak jurus serangan yang
bisa dipahami olehnya, terutama sekali ilmu langkah Kiu kiong
poh hoat yang penuh dengan seluk beluk yang aneh dan
membingungkan hal ini menambah keasyikan untuk belajar.
Demikianlah, waktu selama satu harian penuh akhirnya
dihabiskan didalam mempelajari ilmu pedang tersebut.
Selesai bersantap malam, pagi sekali ia sudah
memadamkan lentera dan tidur, bahkan sebentar kemudian
sudah terlelap tidur dengan amat nyenyaknya
Mendadak...
Didalam lelap tidurnya yang nyenyak. Dia seperti
mendengar ada orang sedang mengetuk jendela kamarnya
dari luar.
Bagi seorang yang belajar silat, meskipun dalam tidurnya ia
tetap menjaga kesigapan dan kewaspadaannya.
Apalagi Huan Cu im sudah belajar silat semenjak kecil,
dilatih oleh seorang guru yang pandai hingga tenaga
dalamnya mencapai puncak kesempurnaan, begitu suara
tersebut terdengar, dengan cepat ia dapat menangkapnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu sangat terkejut dan segera melompat bangun,


ia melompat turun dari pembaringannya serta mendekati
jendela sambil bertanya lirih. ”Siapa disitu”
”Aku” jawab orang diluar jendela lirih ”ayo cepat keluar”
Sebenarnya Huan cu im mengira gurunya yang datang tapi
sekarang ia mendapat tahu kalau suara tersebut tidak mirip
dengan suara gurunya, pemuda itu menjadi curiga.
”Siapa kau? Kembali dia menegur.
Namun orang yang berada diluar jendela itu tidak bersuara
lagi.
Kecurigaan Huan cu im semakin menjadi jadi, dengan cepat
ia menyambar pedang pelangi hijaunya dan membuka jendela
lalu melompat keluar, namun suasana disekeliling situ amat
hening, kecuali angin malam yang berhembus lewat sama
sekali tak nampak sesosok bayangan manusiapUn-
Kejadian ini membuat hatinya semakin murung, ia merasa
cemas karena dipermainkan orang.
Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana tampak
sesosok bayangan manusia sedang menggapai ke arahnya
kemudian melejit kembali keudara dan bagaikan elang raksasa
melayang keluar dari pagar pekarangan-
Huan cu im tidak mengetahui siapakah orang tersebut dan
ada urusan apa datang mencarinya? Tapi setelah memperoleh
dua kali pengalaman pada dua malam sebelumnya, ia lantas
menduga kalau orang itu adalah Manusia berjalan malam yang
mungkin sedang menyusup masuk kedalam benteng keluarga
Hee.
Waktu itu dia menjadi teringat lagi dengan sinona yang
menyaru sebagai Ci giok. Dia tak tahu siapa gerangan orang
itu, maka setelah melihat sipenjalan malam sekarang, pemuda
ini lantas menduga kalau orang tersebut bisa jadi sekomplotan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan ci giok gadungan, satu ingatan pun segera melintas


didalam benaknya:
”Mengapa aku tidak menanyakan soal jejak Ci giok
gadungan tersebut kepada orang ini?”
Teringat akan hal tersebut, ia pun menarik napas panjang,
menjejakkan kakinya ke tanah dan segera melakukan
pengejaran secara ketat...
Menunggu ia sudah melampaui pagar pekarangan, orang
itu sudah berada dua tiga belas kaki jauhnya.
Sewaktu orang itu melihat Huan cu im menyusulnya dari
belakang, ternyata ia tidak berbicara sekejap pun, malahan
membalikan badan dan meluncur kemuka semakin cepat.
Huan cu im yang sudah mengambil keputusan untuk
melakukan pengejaran tentu saja dia enggan melepaskan
musuhnya dengan begitu saja, sambil mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya ia melakukan pengerajan secepatnya
dari belakang.
Tampaknya orang yang bergerak didepan itu sangat
menguasahi keadaan didalam benteng keluarga Hee, setelah
keluar dari pekarangan halaman timur, ia masih tetap
memimpin dimuka dengan amat cepatnya.
Oleh sebab itu, walaupun sudah mengejar dengan ketat
dari belakang, ternyata tak berhasil menyusul orang tersebut.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, kadang kala ia
berjalan di tempat yang tersembunyi, kadang kala berjalan
ditempat yang terbuka namun anehnya semua jalan yang
ditempuh adalah jalan yang sepi dan sama sekali tak nampak
seorang centeng pun yang melakukan perondaan di seputar
sana. Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah keluar
dari benteng keluarga Hee, bukan berhenti, ternyata orang itu
malahan semakin mempercepat gerakan tubuhnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im yang tak ingin ketinggalan terlampau jauh


terpaksa harus menarik napas panjang dan mengerahkan
segenap ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya untuk
mengejar.
Semakin lama kedua orang itu bergerak semakin cepat,
semakin berkejaran semakin jauh mereka bergerak, tatkala
Huan cu im hampir berhasil menyusul orang itu mendadak
orang yang berada didepan itu berkelebat masuk ke dalam
sebuah hutan-
Huan cu im mengejar sampai ditepi hutan dan segera
menghentikan langkahnya secara mendadak. Pikirnya:
”Suhu pernah bilang, bila menjumpai hutan jangan masuk
secara sembarangan, hal ini disebabkan hutan penuh dengan
pepohonan yang bisa dipakai tempat persembunyian bila
berjalan dalam keadaan begini maka kita lebih mudah
disergap. Orang tadi memancing aku sampai disini lalu
menyusup kedalam hutan secara tiba tiba, jangan-jangan ia
sudah mempersiapkan jebakan atau perangkap ditempat ini?
Aku tak boleh sampai tertipu oleh muslihat muslihatnya.”
Berpikir demikian, diapun berhenti didepan hutan sambil
berteriak keras:
”Sobat, apa maksudmu memancing aku datang kemari?
Harap kau segera membari penjelasan-”
Berapa saat dia menunggu, namun suasana dalam hutan
tersebut masih tetap hening dan sama sekali tidak terdengar
suara jawaban-sekali lagi Huan cu im berseru :
”Aku sama sekali tidak bermusuhan dengan sobat tapi
ditengah malam buta kau telah memancing aku datang
kemari, apakah kau memang sengaja hendak mengajak aku
bergurau ?”
Bersamaan dengan selesainya seruan tersebut, dari dalam
hutan segera terdengar seseorang tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul kemudian, dari sebelah kiri hutan melompat


keluar sesosok bayangan manusia sambil berkata:
”Huan kongcu, aku berada disini.”
Kali ini suara tersebut kedengaran lebih nyaring, lebih
merdu dan lembut, sudah jelas suara dari seorang wanita.
Buru buru Huan Cu im berpaling ke arah mana suara
tersebut namun ia segera dibuat tertegun
Dibawah sinar rembulan, ternyata disitu telah berdiri
seorang gadis berbaju ungu
Gadis itu kelihatannya baru berusia enam tujuh belas
tahunan berwajah cantik dan menawan hati alis matanya
lentik, mu*** dan jelas tertera sifat kekanak kanakannya yang
masih tebal.
Gadis tersebut ternyata masih ter**** karena belum
pernah ****nya
Sementara itu, si nona dengan sepasang matanya yang
bulat besar sedang mengawasi Huan cu im dan menutupi
bibirnya sambil tertawa ringan-Huan cu im memandang
sekejap kearahnya, kemudian bertanya: ”Barusan, apakah
nona yang telah memancing aku datang kemari ?”
”Kalau bukan aku, siapakah menurut pendapatmu...
?”jawab sinona hambar.
”Siapa pula nona”
Kali ini gadis berbaju ungu itu tertawa cekikikan. ”Masa kau
tidak dapat mengenali suaraku ini?”
”Aku tak bisa mengenalinya”
”Kalau begitu coba kau tebak” kata si nona lagi sambil
mengerdipkan matanya berulang kali.
”Jika nona tidak menjelaskan, bagaimana mungkin aku bisa
menebaknya secara tepat?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gadis cantik berbaju ungu itu segera maju selangkah


kemuka, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia
berkata lagi :
”Sekarang coba kau perhatikan dengan seksama, apakah
kau pernah berjumpa denganku disuatu tempat ?”
Huan cu im mempunyai ketajaman mata yang dapat
melihat didalam kegelapan, sedari tadi ia sudah dapat melihat
wajah nona tersebut dengan jelas sekali apalagi sesudah
diperhatikan lebih seksama, tampak olehnya nona itu
mempunyai wajah yang merah dengan gerak gerik yang
manja, kontan saja jantungnya berdebar semakin keras.
”Nona, aku merasa asing sekali dengan wajah nona,
agaknya kita belum pernah bersua muka” sahutnya kemudian
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
”Aduuh mak. Kau benar benar seorang manusia balok”
Tapi setelah mendepak depakkan kakinya berulang kali,
sambil tertawa manis ia berkata lagi :
”Baiklah, aku bernama Siang Siau Un, sudah dengar
dengan jelas...?” Biarpun ucapannya amat cepat, namun
kedengarannya amat tajam dan jelas.
”Ooh, rupanya nona Siang” buru buru Huan cu im menjura
berulang kali
siang Siau Un tertawa cekikikan, kemudian sambil
membungkukkan badannya ia berkata pula
”Ooh, rupanya Huan kongcu”
Huan cu im menjadi tertawa geli, ia merasa nona ini
memang sangat nakal tanyanya kemudian dengan senyuman
dikulum ”Nona ada urusan apakah kau mencariku?
”Tentu saja ada urusan penting” jawab Siang Siau Un
manja, ”terus terang saja kukatakan kepadamu, aku adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jelmaan dari malaikat Tay pek seng kun yang sengaja datang
ke alam semesta ini untuk menyelamatkan jiwamu.”
”oooh nona Harap kau jangan bergurau terus, ada urusan
apa sih ? Harap kau jelaskan kepadaku.”
”Kau anggap aku sedang bergurau denganmu ?”
Huan cu im menjadi sangat keheranan, terutama setelah
melihat gadis itu berbicara dengan wajah bersungguh
sungguh maka tanyanya kemudian-”Apakah nona bukan lagi
bergurau dengan aku?”
”Siapa bilang demikian ? Kau tahu aku harus menempuh
perjalanan sejauh dua tiga puluh li sebelum sampai disini,
masa aku perlunya Cuma mengajak kau bergurau? Apa
gunanya gurauan seperti itu ?”
” Lantas dikarenakan persoalan apakah nona mengajak aku
datang kemari?”
”Bukankah sudah kukatakan kepadamu tadi ? Aku datang
untuk menolong jiwamu ”
”Menolong aku ? Nona maksudkan aku sedang menghadapi
mara bahaya, maka nona sengaja datang menolongku ?”
Siang Siauw-un manggut manggut
”Benar perkataanmu itu, jika kau tidak menghadapi mara
bahaya, maka malaikat Tay pek seng kun akan datang
menyelamatkan jiwamu ?” Huan cu im segera tertawa.
”Kalau begitu, kuharap nona suka menjelaskan, sebenarnya
mara bahaya apakah yang sedang kuhadapi ?”
”Sebelum menemui ajalnya, bukankah Lo koan keh
menyuruh kau meninggalkan benteng keluarga Hee untuk
pergi kekota Kim leng? Mengapa kau tak menuruti
permintaannya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im tertegun seketika, kemudian tanyanya


keheranan : ”Darimana kau bisa tahu?”
”Bahkan aku pun bisa tahu kalau kau hendak pergi kekota
Kim leng untuk mencari pemilik perusahaan ekspedisi Seng
kipiau kiok yang bernama Seng Bian tong, Seng lo piautau,
bukankah begitu ?”
Huan cu im segera mengawasi wajah nona itu lekat lekat,
sampai lama kemudian ia baru bertanya :
”sebenarnya siapakah kau?”
”Aku adalah jelmaan dari malaikat Tay pek seng kun” sekali
lagi Siang Siau un tertawa lebar.
Begitu ia tertawa, segera terlihatlah dua baris giginya yang
putih bersih, ini membuatnya nampak lebih genit lebih nakal
dan lebih menarik hati.
”Bagaimana kalau kita berbicara secara bersungguh
sungguh saja ” pinta Huan Cu im kemudian-
”Siapa bilang aku sedang bergurau ? Aku memang lagi
berbicara dengan bersungguh sungguh...” kemudian setelah
berhenti sejenak. Dia menambahkan : ”Aku pun ingin
memberitahukan satu hal lagi kepadamu...”
” Katakanlah”
Siang Siau-un maju ke depan, lalu bisiknya:
”Bukankah gurumu telah bergabung dengan keluarga Hee
untuk menjabat sebagai ketua pelatih mereka?”
Diam diam Huan cu im merasa sangat keheranan, ia tak
tahu siapa gerangan nona Siang tersebut tapi agaknya dia
seperti banyak megnetahui tentang persoalan yang
menyangkut dirinya.
Maka dia sengaja bertanya lagi dengan sikap keheranan
”Guruku ? Aku tak punya guru ”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Hei, kau ingin membohongi siapa ?” seru Siang Siau un


segera sambil mencibirkan bibirnya, ” masa ju It koay bukan
gurumu? Sudah jelas kudengar kau menyebutnya sebagai
suhu, maka aku bakal salah mendengar...?”
”Nona...”
Tidak sampai pemuda itu berbicara, kembali Siang Siau un
telah berkata lagi:
”Bagaimana kalau kau menunggu sampai aku selesai
berbicara? Aku ingin memberitahukan satu hal lagi kepadamu,
dan masalah ini menyangkut soal keadaan gurumu.”
”Mengapa dengan guruku ?” tanya sang pemuda tanpa
sadar.
”Nah, sekarang kau sudah mengaku bukan ?” Siang Siau-
un tertawa bangga, lalu dengan bersungguh sungguh dia
melanjutkan, ”hari ini gurumu sudah datang memangku
jabatan tengah hari tadi Hee pocu mengadakan perjamuan
untuk menghormatinya, didalam arak rupanya mereka telah
campuri dengan semacam obat...”
”Apa kau bilang?” Huan cu im merasakan hatinya sangat
terperanjat dengan gelisah ia mendesak. ”obat racun apa yang
dicampurkan kedalam arak?”
”Akupun juga tak tahu racun apa yang dicampurkan
kedalam arak, tetapi aku yakin obat racun itu tentu obat racun
dari jenis yang paling keras dan ganas.”
”Dari mana kau bisa tahu?”
”Eeei, apa kau lupa, aku toh jelmaan dari malaikat Tay pek
seng kun...”
”Tahukah kau bagaimana keadaan guruku selanjutnya?”
”Setelah menghabiskan sepoci arak. Ia membacok hancur
sebuah bangku, kemudian tubuhnya berjumpalitan dan mulai
berputar kencang diatas tanah seperti sebuah gangsingan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Jumpalitan ditanah dan berputar seperti sebuah


gangsingan?”
Lama sekali Huan cu im termenung, kemudian ia berkata
lebih lanjut:
”oh benar, sudah pasti racun jahat yang telah menyerang
tubuhnya, apa kau tahu siapa yang telah mencampurkan
racun itu kedalam poci arak?”
Siang Siau un menggeleng . ”Tidak aku tidak tahu”
”Terima kasih banyak nona atas petunjukmu” seru Huan cu
im kemudian.
Sesudah menjura dia membalikkan badan dan siap
beranjak pergi dari situ
”Eeeh, eehh... mau kemana?” gadis itu segera berteriak
keras.
”Aku harus pulang secepatnya.”
”Jangan, kau tidak boleh pulang” teriak Siang Siau un lagi
dengan wajah memucat.
”Mengapa aku tak boleh pulang? Aku harus bertanya
kepada empek Hee siapa yang telah meracuni guruku
sehingga beliau tewas?”
”Huh, kau ini memang keterlaluan, siapa sih yang bilang
kalau gurumu telah mati?” Huan Cu imjadi naik pitam, ia
berseru pula penuh amarah:
”Gutuku sudah menghabiskan sepoci arak beracun,
badannya sampai berputarputar seperti gangsingan, ini jelas
berarti racun jahat itu mulai bekerja didalam tubuhnya.”
”Kau jangan terburu napsu dulu dengarkan cerita sampai
selesai...” kata Siang siau un sambil mendepak depakkan
kakinya dengan gelisah,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

” kemudian kulihat gurumu tergeletak diatas tanah, ketika


Hee pocu menyuruh orang untuk menggotongnya ke gedung
tamu agung agar beristirahat, aku dengar ia berkata bahwa
besok pagi gurumu bakal sadar kembali, coba bayangkan
sendiri, masa gurumu sudah mati?”
”Kalau begitu bukan obat racun yang diminum” kata Huan
cu im kemudian sambil menghembuskan napas lega.
”Siapa yang bilang obat peracun?” kata Siau un ”tetapi aku
yakin mereka pasti mempunyai sesuatu rencana busuk...”
”Mereka mempunyai rencana busuk”
”soal itu tidak kuketahui, tapi aku lihat kau tak bisa berdiam
terlalu lama lagi di dalam benteng keluarga Hee”
Baru saja ia berbicara sampai disitu mendadak dari balik
hutan menyelinap masuk sesosok bayangan manusia orang itu
berada lima enam kaki jauhnya dari kedua orang itu.
Tetapi berhubung gerakan tubuhnya sangat ringan
bagaikan segulung asap, maka ia bisa datang tanpa berisik
ataupun menimbulkan sedikit suarapun, akibatnya kedua
orang itu sama sekali tidak merasakan atas kehadiran orang
ketiga.
„Kenapa?“ terdengar Huan cu im bertanya.
„Apakah kau lupa, bukankah lo koan-keh menyuruh kau
pergi keperusahaan Seng kipiau kik di kota Kim leng ?“
„Ya, aku belum lupa.“
„Nah, itulah dia,“ kata Siang Siau un sambil tertawa manis,
„ malam ini aku sengaja memancing kau datang kemari tak
lain karena hendak mengajak kau pergi ke Kim leng ?“
„Tidak. Aku harus pulang dulu ke benteng.“
„Jadi kau tak percaya dengan perkataanku“
„Aku percaya, tapi aku harus pulang dulu ke benteng.“
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang Siau un jadi sangat mendongkol, serunya kemudian


dengan nada jengkel :
„Kau memang manusia dungu yang tak tahu kebaikan
orang, hmmm Agaknya kau memang benar benar ingin
menjadi menantunya Benteng keluarga Hee, jadi kau merasa
enggan untuk pergi.“
Sehabis berkata dia mendepak depakkan kakinya berulang
kali sambil siap beranjak pergi, tapi ia berpaling kemudian
sambil menambahkan ^
”Selanjutnya aku pun tak akan datang mencarimu lagi.” Dia
membalikkan badan dan melompat pergi dari situ.
Huan cu im hanya mengawasi bayangan tubuh yang kecil
mungil itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali lalu
dia membalikkan badan dan meneruskan perjalanannya
menuju kembali kearah Benteng keluaga Hee.
Sementara itu Siang Siau un telah menghentikan gerakan
tubuhnya setelah meluncur sejauh belasan kaki, dia
membalikkan badannya kembali, dalam anggapan gadis itu
Huan cu im tentu masih berdiri ditempat semula.
Siapa tahu Huan cu im telah beranjak pergi dari tempat
semula.
Peristiwa ini kontan saja diterima oleh gadis itu sebagai
penghinaan yang tak pernah dialami sebelumnya, dia
mendepakkan kakinya dengan jengkel dan siap berlalu dari
situ.
Mendadak...
” Nona, jangan pergi dulu” seseorang menegur dari
belakang tubuhnya dengan suara keras.
Siang Siau un tertegun lalu berpaling, dari balik hutan ia
saksikan sesosok bayangan manusia yang tinggi besar sedang
berjalan menuju kearahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang itu berwajah segi empat dengan jenggot hitam yang


panjang, ia mengenakanjubah biru dan mempunyai sepasang
mata yang bersinar tajam.
Walaupun langkahnya tidak terlampau cepat, namun justru
memancarkan sinar kewibawaan yang amat besar.
Melihat kemunculan orang itu, diam diam siang Siau un
merasa terkejut, tapi dia sengaja mengerling sekejap
kearahnya sambil menegur : ”Hei, kau sedang berbicara
dengan aku ?”
”Betul ” sahut kakek berjubah biru itu sambil tersenyum,
”aku ingin mengajak nona berbincang bincang sebentar.”
Sementara mengucapkan beberapa patah kata tersebut, ia
sudah berjalan menuju kedepan Siang Siau un dan
menghentikan langkahnya.
Diam diam siang Siau un bersiap siaga untuk menghadapi
segala kemungkinan yang tak diinginkan, kemudian tegurnya
ketus.
”Siapa kau ? Aku toh tak kenal denganmu apa yang hendak
kau perbincangkan ?” Kakek berjubah biru itu tersenyum,
sambil mengelus jenggotnya ia berkata ”Aku adalah Hee Im
hong, tentunya nona tahu bukan”
”Aku tidak tahu”
Hee Im hong masih tetap tersenyum, kembali ia berkata:
”Bukankah kau kenal sangat akrab dengan Huan cu im
yang barusan pergi itu ?”
”Aku tidak tahu”
”Jika kau tak akrab dengannya, masa kau akan
mengajaknya datang kemari ?”
”Aku tidak tahu. Apakah Cuma kata kata itu saja yang
hendak kau sampaikan ? Apakah sudah selesai sekarang ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sehabis berkata ia membalikkan badan dan bersiap beran


jakpergi dari situ.
”Pertanyaanku belum selesai kuutarakan, apa nona yakin
bisa pergi dari sini ?”
Siang Siau un nampak sedikit gelisah, tapi diluar ia tetap
bersikap ketus.
”Mau apa kau ?”
Hee Im hong mendehem sebentar, sambil tetap mengelus
jenggotnya yang hitam itu berkata,
”Aku sama sekali tidak bermaksud menyulitkan dirimu, aku
hanya berharap kau bersedia menjawab dengan sejujurnya
semua pertanyaanku, setelah itu, aku pasti akan membiarkan
kau pergi dari sini”
”Apa yang ingin kau tanyakan ?”
Mencorong sinar tajam dari balik mata Hee Im hong,
ditatapnya wajah gadis itu lekat lekat, kemudian tanyanya.
”Sekarang katakan dulu kau datang darimana” Siang Siau
un tertawa cekikikan-
”Aku bernama Dewi tentu saja datangnya dari kahyangan”
Hee Im hong segera menarik wajahnya sambil mendengus.
”Nona cilik, aku harap kaujangan mengaco belo tak karuan
dihadapanku, aku tak akan memberi keuntungan bagi seorang
gadis yang kelewat binal.” ”Lantas apa yang mesti kulakukan?”
”Menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya”
”Baik, tanyalah ”
Sekali lagi Hee im hong mengawasi wajah Siang Siau un
dengan sorot mata setajam sembilu, kemudian baru bertanya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Kaukah orang yang telah menyelundup masuk kedalam


benteng keluarga Hee, menyaru sebagai ci Giok dan
menyelamatkan Ji giok?”
”Bukan, bukan aku” sahut Siang Siau un sambil
menggeleng.
”Kalau bukan kau, siapakah dia?”
”Kalau bukan aku yaa bukan aku, mana aku tahu siapakah
orang itu...?”
”Baik, sekarang katakan dulu siapa namamu?”
”Aku bernama Siau un”
”Kau tak punya nama marga?”
”Suhu hanya memanggil Siau un kepadaku, kalau dia orang
tua tidak memberitahukan kepadaku, mana aku bisa tahu?”
”Siapa pula gurumu?”
Siang Siau un mengerdipkan matanya berulang kali, lalu
menjawab:
”Suhu yaa suhu, sejak kecil aku hanya memanggil suhu
kepadanya, suhu tak pernah memberitahukan kepadaku siapa
namanya, mana aku tahu siapakah suhuku itu?”
”Mana suhumu sekarang?”
siang Siau un segera menunjuk kedepan sana.
”Suhu menyuruh aku menunggunya disini, mungkin
sebentar lagi akan menyusul kemari.”
”Bagaimana ceritanya sampai kau kenal dengan
keponakanku itu...?”
”Dia...”
Tiba tiba selembar wajah nona itu berubah menjadi semu
merah, tapi segera katanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Dia tidak kenal aku, akupun tidak kenalnya, suhuku yang


menyuruh aku memancingnya datang kemari”
”Ada urusan apa dia mesti dipancing kemari?”
oooodowoooo
”Bukankah semua pembicaraan kami sudah kau dengar?”
seru Siang Siau un-
”Aku minta kau yang mengatakannya kepadaku”
”Suhu menyuruh dia pergi ke Kim leng”
”Mau apa ke Kim leng?”
”Pergi ke perusahaan Seng kipiau klok dan mencari berita
tentang jejak ayahnya”
”Ehmmm, selain itu?” tanya Hee im hong kemudian-
Melihat kakek itu tidak menaruh curiga, diam diam Siang
Siau un merasa lega sekali, pikirinya kemudian-
”Jadi apa yang kubicarakan semula tak sampai terdengar
olehnya...”
Berpikir demikian, ia lantas menggeleng
”Sudah tak ada lagi”
”Kau tidak membohongi aku ?”
”Mengapa aku mesti membohongi dirimu ? orang lain
memancingnya keluar dengan maksud baik, dia enggan
menurutinya, benar benar sia sia belaka pekerjaanku kali ini...
sialan ” Gadis itu sengaja menunjukkan sikap mengambek dan
mendongkol.
”Baiklah” ujar Hee Im hong kemudian, ”kalah toh kau tidak
membohongi aku, lebih baik ikutilah aku untuk pergi ke
benteng keluarga Hee...”
Diam diam siang siau un merasa terkejut setelah
mendengar perkataan tersebut, dengan gelisah ia berseru,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Mengapa aku harus mengikuti kau pergi ke benteng


keluarga Hee? Aku toh tidakpunya urusan disitu ?”
”Tidak apa apa” Hee im hong tertawa dengan suara dalam,
”aku hanya menginginkan kau menjadi tamu selama beberapa
hari di benteng kami.”
Rupanya gadis itu sudah mempersiapkan jalan mundurnya
dengan sebaiknya, begitu selesai berkata, mendadak ia
menarik badannya dan secepat kliat melompat mundur ke
belakang.
Lompatan ini paling tidak mencapai jarak sejauh satu kaki
empat lima depa, kemudian membalikkan badan dan kabur
secepat cepatnya menjauhi tempat tersebut.
Sewaktu ia melompat ke belakang tadi, Hee Im hong jelas
terlihat tidak bergerak sama sekali, ketika ia membalikkan
badan, dihadapannya pun jelas tak nampak sesosok bayangan
manusia pun.
Namun setelah dia melesat ke depan sejauh lima kaki, tahu
tahu dihadapan mukanya sudah bertambah dengan sesosok
bayangan manusia yang tinggi besar, kini Hee im hong telah
berdiri hanya satu kaki saja dihadapan matanya.
”Heeeh heeh heeh selama berada dihadapanku, ingin
kulihat dengan cara apakah kau hendak melarikan diri.^.?”
Gelak tertawa Hee im hong seperti mengandung semacam
daya getaran yang tak berwujud, ini membuat Siang Siau un
merasa amat terperanjat, bukan saja telinganya dibikin
tergetar keras sampai mendengung, bahkan kepalanya ikut
dibikin pusing karena getaran yang keras tadi.
Daripada menyerah kalah dengan begitu saja, tentu lebih
baik beradu jiwa dengan sepenuh tenaga.
Mendadak Siang Siau un mencabut keluar sebilah pedang
pendek. Diantara cahaya pedang yang berkilauan, ia lepaskan
sebuah tusukan ke tubuh Hee im hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbicara dari taraf kepandaian silat yang dimiliki gadis


tersebut, tentu saja ia tak akan mampu melukai Hee im hong,
tapi saat itulah mendadak terdengar seseorang membentak
dengan suara yang tua tapi nyaring.
”Murid ku, jangan bertingkah kurang ajar”
suara bentakan itu berasal dari bawah sebatang pohon
yang besar ditengah jalan raya. Persisnya pohon itu terletak di
belakang tubuh Hee Im hong.
Seperti diketahui Siang Siau un berlarian menelusuri jalan
raya, sedang Hee im hong menghadang dihadapannya, jadi
orang itu berada dibelakang Hee Im hong tapi dimuka Siang
siau un.
Dengan perasaan terkesiap buru buru Hee Im hong
berpaling sambil membalikkan tubuhnya, ia jumpai dibawah
sebuah pohon besar, lebih kurang empat lima kaki
dihadapannya, duduk seorang nenek pengemis yang
rambutnya telah beruban.
Dengan sorot mata yang tajam, dalam sekilas pandangan
wajah Hee Im hong sudah melihat dengan jelas bahwa nenek
pengemis itu berwajah panjang mirip keledai, sepasang
matanya terpejam hingga nampak bagaikan sebuah garis,
sekilas pandangan orang akan melihat mata itu seperti melek.
Tak melek pejam pun tak pejam.
Disampingnya tergeletak sebatang tongkat Ta kau pang
yang panjangnya delapan depa, dibawah sinar rembulan,
tongkat tersebut memancarkan sinar hijau yang gemerlapan-
Begitu melihat tongkat Ta kau pang yang berwarna hijau
itu, sekali lagi Hee Im hong merasakan hatinya bergetar keras.
Sementara itu kedengaran si nenek pengemis sedang
berkata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”oooh, Hee pocu rupanya ? Maaf, maaf sekali lagi, bila


muridku telah melakukan kesalahan, harap pocu sudi
memaafkan dirinya”
”Sialan kau nenek pengemis” batin Siang Siau un segera,
siapakah yang menjadi muridmu ?”
Tentu saja ingatan tadi hanya melintas di dalam benaknya
dan tak sampai diutarakan keluar.
Sebab ia sudah melihat bahwa langkah Hee Im hong mulai
limbung dan ragu sejak bertemu dengan si nenek pengemis
tersebut, ini menandakan kalau dia merasa sangat ngeri dan
ketakutan atas kehadiran nenek pengemis itu. Ternyata apa
yang diduganya memang benar.
Ternyata Hee Im hong berseru tertahan, kemudian buru
buru menjura seraya berkata.
”oooh, aku kira siapa, rupanya Sin kay popo yang berada
disini, maaf, maaf sekali lagi. Kalau toh nona kecil itu adalah
murid cianpwee, tentu saja aku tak berani menegurnya, apa
yang kulakukan tadi tak lebih hanya mengajak muridmu
bergurau, harap cianpwee jangan sampai menjadi gusar.”
Nenek pengemis itu tertawa.
”Aaah, Hee pocu terlalu menyanjung aku si nenek, bila
pocu tak ada urusan lain, silahkan saja pergi” Hee Im hong
kembali tertawa paksa.
”Cianpwee telah berkunjung ke wilayah kami, hal ini benar
benar merupakan suatu kebanggaan untuk aku orang she
Hee, sudah sewajarnya bila cianpwee berkunjung serta
menginap selama berapa hari dalam benteng kami, agar aku
orang she Hee dapat menjadi seorang tuan rumah yang baik”
”Maksud baik pocu biar aku si nenek terima didalam hati
saja.” Ucap nenek pengemis itu sambil mendehem, ”aku si
nenek paling benci dengan segala macam macam tata cara,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bila berkunjung tentu kunjungi langsung nah Heepocu boleh


pergi sekarang...”
Buru buru Hee Im hong menjura:
”Kalau memang begitu, aku orang she Hee akan menerima
perintah dan mohon diri”
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan melejit
ketengah udara, seperti seekor bangau abu abu, dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan mata.
Mendadak si nenek pengemis itu membuka habis matanya
sehingga tampak serentetan cahaya matanya yang tajam
bagaikan sembilu, terdengar ia bergumam seorang diri:
”Suatu ilmu langkah Pek poh leng siu (seratus langkah
melambung diudara) yang hebat, agaknya Hee Im hong
sengaja hendak mempamerkan kemampuannya dihadapanku”
Kemudian setelah berpaling, katanya lagi.
”Hei muridku ayo kemari, mengapa kau masih berdiri
termangu mangu disana?”
Tentu saja perkataan itu khusus ditujukan kepada Siang
Siau un yang masih berdiri di hadapannya.
Siang Siau un tidak maju menghampirinya, Cuma ia berpikir
dihati kecilnya ” Hee Im hong sudah pergi sekarang buat apa
sih kau mesti bersungguh hati?” Namun diluarnya diapun
menjura sambil berkata.
”Nenek. Terima kasih banyak atas bantuanmu yang
menolong boanpwee sampai terlepas dari persoalan, maaf
kalau boanpwee mesti pergi dulu karena masih ada urusan
lain-”
Tidak menunggu jawaban sampai nenek pengemis itu
menjawab, ia sudah membalikkan badan dan kabur dari situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa tahu meskipun dia sudah lari sejauh tujuh delapan


langkah, namun ujung bajunya seperti ditarik seseorang dari
belakang, kendatipun ia sudah mengeluarkan segenap
kekuatan yang dimilikinya, namun selalu gagal untuk
melepaskan diri.
Kejadian tersebut menimbulkan rasa heran dalam hatinya,
maka diapun berhenti seraya berpaling.
Nenek pengemis itu masih saja duduk bersandar pada akar
pohon, dia duduk tak duduk, berbaring tak berbaring,
sepasang matanya terpejam rapat, mulutnya membungkam
dan badannya tak bergerak, seakan akan orang yang bikin
susah dirinya bukan dia.
Dalam penasarannya dia berusaha meronta dengan sekuat
tenaga, siapa tahu semakin besar tenaga yang dipakai untuk
kabur kedepan, semakin besar pula tenaga yang
membetotnya dari belakang.
Akibat dari saling membetot tersebut, hampir saja
tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.
Kejadian ini kontan saja mengobarkan hawa amarah nona
itu dengan perasaan mendongkol dia mencabut pedang
pendeknya, kemudian sambil memutar badan, senjatanya
dipakai untuk membacok sekenanya ke belakang.
Namun tak sesosok bayangan manusiapun yang terlihat.
Untuk sesaat dia menjadi mati kutunya, mau menangis tak
bisa mau tertawa pun tak dapat, namun ia mengetahui
dengan pasti, si nenek pengemislah yang sedang bermain gila
dengannya.
Dengan cepat ia menghentikan gerakannya, baru saja akan
bersuara...
Mendadak terdengar suara tertawa terkekeh kekeh
berkumandang memecahkan keheningan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Hei rekan tua, buat apa sih kau mengganggu anak gadis
orang ”
Suara itu berasal dari seorang kakek.
Siang Siau un yang mendengar seruan mana segera
berpikir dalam hati. ”Aaah, rupanya memang si nenek
pengemis yang sedang bermain gila...”
Terdengar si nenek pengemis menyahut dengan ketus.
”Kau tak usah banyak tanya”
”oooh, teringat aku sekarang” kata si kakek lagi, ”bukankah
bocah perempuan ini adalah putrinya Siang Han hui dari Hoa
san ? orang lain kan tidak mengusiknya ?”
”Heei, aku suruh kau jangan banyak bertanya, lebih baik
kau tak usah banyak tanya” teriak si nenek lagi dingin,
”pokoknya aku si nenek sudah menerima bocah perempuan ini
sebagai muridku, tapi dia tak mau mengakui, memangnya
dengan andalkan namaku Pit gan kay poo (nenek pengemis
bermata sipit) belum cocok untuk menjadi gurunya? Nah coba
kau pikir apa aku tak pantas mengusiknya.”
Menangkap nama Pit gan kay poo, Siang Sian un menjadi
terperanjat sekali, pikirnya kemudian-
”Tak heran kalau Hee Im hong menunjukkan sikap yang
begitu menaruh hormat setelah bertemu dengannya tadi”
Kemudian ia berpikir lebih jauh.
”Kalau begitu, si kakek yang berbicara barusan adalah Siau
biu sin kay (pengemis sakti berwajah senyum) aku pernah
dengar yaya membicarakan tentang sepasang kakek dan
nenek pengemis ini. Konon mereka adalah supeknya ketua kay
pang saat ini, usia mereka berdua sudah mencapai sembilan
puluh tahunan sedang kepandaian silatnya telah mencapai
puncak kesempurnaan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berpikir demikian, cepat cepat dia menjatuhkan diri berlutut


seraya berseru: ”Suhu, maafkan kebodohan tecu,
sesungguhnya tecu masih ada urusan penting lainnya...”
Belum selesai ia berkata kepalanya sudah dibongkokkan,
namun bayangan tubuh si nenek pengemis tadi sudah tak
nampak lagi di bawah pohon besar itu.
Sementara dia masih tertegun, kedengaran suara bisikan
lembut berkumandang datang dari kejauhan.
”Bocah perempuan, bini tuaku sudah pergi, sebatang serat
pancing langit dan ilmu Ki khong kijin (menangkap orang
ditengah udara) yang ia tinggalkan itu dihadiahkan untukmu,
semoga kau bisa melatihnya dengan rajin-” Ternyata suara itu
berasal dari si kakek.
Mendengar perkataan tersebut, siang siau un segera
meraba kepunggung sendiri benar juga, ternyata ada seutas
tali serat yang lembut seperti rambut telah mengait bajunya
pada ujung benang tadi terdapat pula sebuah pancing, persis
seperti mata kail yang biasa dipakai untuk memancing Ikan-
Dengan mengikuti asal tali tersebut, ia berjalan menuju
kebawah pohon, ujung senar rupanya diikat pada sebatang
akar pohon yang besar.
Cepat cepat dia menggulung tali senar tersebut berikut
mata kailnya dan disimpan dalam saku.
Ketika diperhatikan lagi, ternyata ditempat bekas tempat
duduk nenek pengemis tadi, dijumpai pula secarik kertas.
Ketika kertas itu diambil dan diperiksa isinya, tampak
olehnya bagian atas kertas tersebut tertera empat huruf besar
yang berbunyi : ”Li Khong kiau hoat”, (ilmu pancing lewat
udara).
Tak terlukiskan rasa gembira gadis itu, cepat cepat kertas
itu dimasukkan kedalam sakunya lalu berpikir :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Asal aku telah berhasil mempelajari ilmu yang diajari suhu,


maka selanjutnya aku tak perlu untuk berkelahi dengan orang
lagi. Aku bisa mengail musuh dari jauh serta membekuknya
tanpa susah payah, waah... ini baru kejutan namanya” Cepat
cepat dia beranjakpergi dan meninggalkan tempat itu...
0000 (dw) oooo
Huan cu im berlarian kencang menuju ke arah benteng
keluarga Hee, ditengah jalan mendadak ia mendengar ada
orang memanggilnya dengan suara lirih. ”Muridku, cepat
berhenti”
Huan cu im dapat mengenali suara itu sebagai suara
gurunya, ia tertegun dan cepat cepat menghentikan
langkahnya. Kedengaran suhunya berkata lagi. ”cepat datang
ke hutan sebelah kanan”
Huan cu im menurut dan menjejakkan kakinya meluncur ke
hutan sebelah kanan-
Benar juga, dibalik kegelapan ia menjumpai gurunya
sedang duduk diatas sebatang pohon besar, dengan perasaan
gembira ia pun berteriak keras. ”Suhu...”
”Ssst...” buru buru Ju It koay menempelkan^ ari
telunjuknya diatas bibir, lalu bisiknya ”Hee Im hong juga
datang, kau mesti berhati hati jika berbicara ”
”Empek Hee juga datang kemari?” tanya pemuda itu
keheranan-
”Ya, barusan saja dia lewat menuju kesana”
Huan cu im tidak menguatirkan empek Heenya, yang paling
dikuatirkan adalah keadaan gurunya, maka dengan perasaan
gelisah ia lantas bertanya:
”Suhu, aku dengar kau orang tua minum arak sampai
mabuk tengah hari tadi, badanmu tidak merasa tak enak
bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ju It koay membelai cambangnya yang lebat lalu


tersenyum^
”Rupanya kau sudah mendengar tentang persoalan ini dari
budak she Siang? Kau takut suhumu keracunan bukan?”
”Kalau begitu suhu tidak keracunan?jadi Siang Siau un yang
membohongi tecu?”
”Tidak. Dia tak membohongimu ” Ju it koay semakin
merendahkan nada suaranya, ”Soh Han sim memang sudah
mencampuri arak yang kuminum dengan obat racun, untung
sekali aku sudah membuat persiapan sebelumnya dengan
menelan pil anti bisa. Inilah yang menyebabkan aku tetap
selamat.”
”Mengapa sih empek Hee menyuruh Soh Han sim
mencampuri arakmu dengan obat beracun?”
”Aaai, cerita ini panjang sekali untuk dikisahkan, dan
akupun tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan
semua ini kepadamu, pokoknya Hee im hong mempunyai
ambisi yang sangat besar, dia sudah menjaring banyak sekali
jago jago dari golongan lurus maupun sesat untuk berbakti
kepadanya. Obat racun yang dipergunakan mereka bernama
bubuk pembingun sukma, barang siapa menelan obat tadi
maka meski kejernihan otaknya tak sampai hilang dan ilmu
silatnya tetap utuh, namun mereka akan taat, patuh dan
tunduk kepada semua perintahnya, selama hidup tak akan
berpikiran cabang, menurut dugaanku setiap umat persilatan
yang pernah berkunjung ke Benteng keluarga Hee sebagian
besar telah dicekoki obat tersebut hingga menjadi anak buah
kepercayaannya, bisa dibayangkan apa akibatnya bila keadaan
seperti ini dibiarkan berlangsung terus.”
”Aaah, begitu seriuskah masalahnya?” tanya Huan cu im.
Kembali Ju It koay menghela napas panjang.
”Sebenarnya antara aku dengan Hee Im hong hanya
terjalin sedikit urusan perselisihan pribadi, namun belakangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini kulihat dalam dunia persilatan telah dilanda arus yang


besar, itulah sebabnya sengaja kuterima tawarannya untuk
menjabat sebagai ketua pelatih dengan maksud agar tetap
berdiam disitu sambil mengawasi gerak gerik mereka.
Walaupun begitu, namun aku tak boleh berdiam lebih lama
lagi didalam benteng keluarga Hee ini.”
”Maksud suhu, tecu harus segera meninggalkan Benteng
keluarga Hee...?” tanya Huan cu im tertegun.
”Benar, kau harus menuruti perkataan dari lo koan keh,
berangkat ke Kim leng untuk mencari lopiautau, dia
mempunyai hubungan persahabatan dengan kakek serta
ayahmu, asal berdiam ditempat tinggalnya akupun dapat
merasa berlega hati.”
”Bila tecu tetap tinggal di Benteng keluarga Hee, bukankah
akan menjadi pembantu yang setia untuk suhu?” Ju It koay
tertawa,
”Muridku, kau kelewat memandang rendah kemampuan
dari Benteng keluarga Hee, dengan kehadiranmu di benteng
ini, bukan saja tak akan mampu membantu apa apa untuk
gurumu bahkan justru akan menyulitkan diriku hal inilah yang
menjadi alasanku mengapa kau mesti pergi meninggalkan
sini.”
”Sekalipun harus pergi, paling tidak tecu kan mesti
memberitahukan niatku ini kepada empek Hee.”
”Menurut aturan, ia memang seharusnya berbuat demikian”
Ju It koay segera tertawa.
”Bila kau menyampaikan hal tersebut kepadanya,
bagaimana mungkin bisa pergi dari situ ?”
”Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi” kata Ju It koay
sambil tersenyum, ”sebentar setelah Hee Im hong sudah
lewat, kaupun harus pergi dari sini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak menunggu sampai Huan cu im menyelesaikan kata


katanya, kembali ia menambahkan-
”Bila bertemu dengan Seng Bian tang nanti, jangan sekali
kali kau singgung tentang diriku, ayo, masih ada satu hal lagi
yang penting kau harus menyampaikan kepada Siang
ciangbunjin dari Hoa san pay bahwa Cing im totiang dari Go
bipay serta Lou Siu tong sekalian bisa jadi sudah diracuni oleh
Hee Im hong sehingga condong kepadanya. Ingatkan
kepadanya bahwa setiap perkataan mereka tak boleh
dipercayai dengan begitu saja...”
Baru saja berbicara sampai disini, mendadak ia membentak
dengan suara rendah: ”Muridku, jangan berisik”
Belum sampai ucapan itu diutarakan, ”Sreet” sesosok
bayangan manusia telah meluncur lewat bagaikan kilatan
halilintar, bayangan meluncur ditengah jalan besar dan
bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Dengan wajah berubah Ju It koay berbisik kemudian-
”Waah kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Hee Im hong
nampaknya jauh lebih sempurna daripada sepuluh tahun
berselang”
”Suhu, apakah baangan manusia yang melintas lewat tadi
adalah empek Hee?” tanya an cu im.
”Ehmm” Ju It koay membenarkan, ”sekarang aku harus
pergi muridku, disini terdapat enam puluh tahil perak.
Simpanlah dan kau gunakan sebagai ongkos dijalan,
sepanjang jalan aku mesti berhati hati...”
Selesai berkata, ia susupkan sekantung uang perak
ketangan Huan cu im.
Baru saja si anak muda itu hendak bertanya lagi, siapa tahu
baru saja mendongakkan kepala, bayangan tubuh gurunya
sudah lenyap entah kemana. Diam diam ia merasa terkesiap
sekali, pikirnya kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Tampaknya meski ilmu meringankan tubuh yang dimiliki


empek Hee telah mencapai puncak kesempurnaan, tapi jika
dibandingkan dengan kemampuan suhu, dia masih kalah satu
tingkat ”
Berpikir demikian, diam diam diapun menyelinap keluar dari
dalam hutan itu.
Perlu diketahui, dia belum pernah pergi jauh, setelah
mendengarpesan dari gurunya sekarang, dimana dia harus
pergi ke perusahaan Seng ki piau kiok di kota Kim leng tanpa
pamit, hatinya segera timbul perasaan tak enak, dia
beranggapan bila hal ini dilaksanakan maka ia akan bersalah
kepada empak Hee nya.
Namun apa boleh buat? Perintah gurunya tak bisa dibantah
lagi, terpaksa dia mesti melaksanakannya juga .
Setelah melangkah keluar dari hutan, di depan situ
terbentang sebuah jalan raya, sayang sekali dia tak
mengetahui harus menempuh arah manakah untuk menuju ke
kota Kim leng ?
Untuk beberapa saat lamanya si anak muda itu menjadi
tertegun
Mendadak kedengaran ada orang berteriak keras : ”Ihei,
bukankah didepan situ adalah Huan kongcu? Sudah, sudah
beres, akhirnya berhasil ditemukan juga ”
Baru saja suara itu berkumandang, sesosok bayangan
manusia sudah meluncur datang dengan kecepatan tinggi.
Huan cu im kenal dengan orang ini, sebab dia adalah
pelatih dari Benteng keluarga Hee si kuda langit Be Cuan gi.
Mengikuti dibelakang Be Cuan gi adalah empat lima orang
lelaki kekar, mereka semua adalah para centeng dari Benteng
keluarga hee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam diam Huan cu im berkerut kening, gurunya


memerintahkan agar dia berangkat meninggalkan Benteng
keluarga Hee, tapi nyatanya ia berhasil ditemukan kembali
oleh mereka, berarti dia tak akan berhasil melaksanakan
perintah tersebut.
Dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus menyongsong
kedatangan mereka dan berkata sambil menjura :
”Pelatih Be, kedatangan kalian memang kebetulan sekali,
aku sedang tersesat dan tidak tahu jalan manakah yang harus
ditempuh untuk kembali ke benteng.” Be Cuan gi tersenyum.
”Aku dan Suan Kok piau mendapat perintah dari pocu untuk
secara terpisah mencari Huan kongu, setelah kongcu berhasil
ditemukan mari kita pulang bersama sama”
”silahkan ” sahut anak muda itu.
”Mari ikutilah aku”
Huan cu im tidak mengatakan apa apa lagi dengannya,
masing masing lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuh
untuk kembali ke benteng keluarga Hee.
Waktu itu Hee Im hong masih menunggu di kamar baca
Huan cu im lantas melangkah masuk ke dalam ruangan sambil
berseru. ” Empek Hee”
Melihat anak muda itu telah kembali sambil mengelus
jenggotnya Hee Im hong tersenyum, ujarnya.
”Aaah, legalah hatiku setelah hiantit kembali ke benteng,
menurut laporan yang kudengar, konon hiantit keluar benteng
karena mengejar seorang wanita aku takut kau dipecundangi
orang, itulah sebabnya kutitipkan kepada Sun Kok piau serta
Bee cuan gi agar menyusulmu serta mengajakmu kembali”
”Terima kasih banyak atas perhatian dari empek Hee,
sebetulnya siautit sudah kembali semejak tadi, namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhubung malam sangat gelap. Lagi pula tidak kukenali jalan


kembali, akhirnya keponakanpun tersesat.”
-oo0dw0oo-

Jilid: 11

Perkataan ini segera dipercayai oleh Hee Im hong, sebab


dia memang menyaksikan Huan cu im kembali ke Benteng.
Karenanya dia manggut manggut seraya berkata ”Apakah
hiantit kenal dengan asal usul perempuan itu?”
Pada dasarnya Huan cu im memang seorang yang cerdik,
teringat bagaimana empek Hee nya melintas lewat didalam
hutan tadi ia lantas menduga bisa tadi jejaknya sudah dikuntil
semenjak tadi. Karenanya dia menggeleng seraya menjawab:
”Dia mengaku she Siang, tapi keponakan tidak mengenal
sama sekali dengannya”
”Sungguhkah hiantit tidak mengenalnya ?” ujar Hee Im
hong tersenyum, ”semisalnya setiap gerak geriknya, tingkah
lakunya atau suaranya sewaktu berbicara, apakah tiada yang
kau kenal ?”
Huan cu im jadi tertegun, serunya kemudian: ”Keponakan
benar benar tak dapat melihatnya”
”Tidakkah orang itu mirip dengan orang yang menyaru
sebagai ci giok...?”
”Dia... dia adalah orang yang menyaru sebagai ci giok ?”
Huan cu im terperanjat ”sayang sekali keponakan tidak terlalu
memperhatikan hal tersebut” Hee Im hong mengangkat
kepalanya, lalu bertanya lagi :
”Ia telah memancing hiantit meninggaikan benteng, apa sih
yang ia bicarakan denganmu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah jelas nada suara ini mengandung nada menyelidip.


Padahal apa yang mereka bicarakan tadi, ada sebagian kecil
yang sudah terdengar olehnya. Merah padam selembar wajah
Huan cu im, sahutnya agak tergagap: ”Dia... dia mengajak
siautit pergi ke Kim leng...”
Hee Im hong puas sekali setelah mendengar jawaban
tersebut, ternyata Huan cu im tidak membohonginya, maka
katanya kemudian sambil tertawa:
”Semasa lo koan keh masih hidup, iapun pernah
menyinggung tentang persoalan ini dan minta kau untuk pergi
ke Kim leng, padahal jika kau ingin ke Kim leng untuk
bermain, akupun tidak keberatan. Ehmmm... sekarang malam
sudah kelam, lebih baik hiantit kembali ke kamar untuk
beristirahat dulu ”
Betapa leganya perasaan Huan cu im karena empek Hee
nya tidak banyak bertanya diapun mengiakan, mengundurkan
diri dari kamar baca dan kembali ke gedung timur. Sementara
itu Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil termenung
seorang diri:
”Budak itu dari marga Siang, mungkinkah dia adalah putri
Siang Han hui ? Agaknya ia sudah jatuh hati kepada
keponakan Huan-”
Yaa, dugaan ini memang cukup beralasan, andaikata
seorang gadis tidak jatuh hati kepada seseorang, masa dia
akan mengajaknya untuk pergi ke Kim leng ? Ia masih teringat
akan ucapan Siang Siau un kepada Huan cu im waktu itu :
”Hmm, rupanya kau benar benar ingin menjadi
menantunya Benteng keluarga Hee, karena itu kau merasa
berat untuk pergi dari situ...”
Tanpa terasa Hee Im hong bertepuk tangan dengan
bangga lalu berseru setelah tertawa tergelak.
”Ya a, betul Aku mesti berbuat begini ”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

^oooodowoooo^

Keesokan harinya, ciu Kay seng si congkoan dari benteng


keluarga Hee telah pulang dari dusun Kim gou cun dia pun
membawa surat dari Huan Tay nio, satu untuk Hee Im hong
sebagai rasa terima kasihnya atas perhatian pocu itu terhadap
putranya, sedang yang lain untuk anaknya dengan pesan agar
ia tetap tinggal dalam Benteng keluarga Hee dan mesti
menuruti semua perkataan dari empeknya itu.
Membaca surat itu, Hee Im hong merasa sangat puas,
kepada ciu Kay seng ia manggut manggut seraya berkata :
”Bagus, bagus sekali, cin congkoan, cara kerjamu sangat
memuaskan hatiku”
Buru buru ciu Kay seng membungkukkan badannya sambil
memberi hormat. ”Aaah sudah sepantasnya bila hamba
berbuat begini”
Hee Im hong mengangkat kepalanya kemudian sambil
memandang keluarpintu, lalu serunya: ”Kim koansi”
”Siap”
Kim Koansi menjawab sambil buru buru masuk ke dalam,
lalu dengan tangan diluruskan ke bawah ia bertanya:
”Pocu, ada perintah apa ?”
”Pergilah ke kuil cu im an dan undang popo agar
menjumpai aku di kamar baca.” Kim koansi mengiakan dan
buru buru berlalu.
Tak selang berapa saat kemudian, ia sudah mengajak Ho
popo menuju ke kamar baca. Serunya setelah masuk ke pintu
ruangan^ ”Lapor pocu, Hopopo telah datang.”
”Suruh dia masuk”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ho popo melangkah masuk ke kamar baca, kemudian


memberi hormat. ”Hopopo memberi hormat untuk pocu”
”Hopopo tak usah banyak adat, silahkah duduk” kata Hee
Im hong sambil mengulapkan tangannya dengan senyum
dikulum.
”Kamar baca pocu, mana ada tempat buat aku si nenek Ho
?” Kembali Hee Im hong tersenyum.
„Kau adalah mak inang dari Yong ji, selama beberapa tahun
kaulah yang selalu merawat dan memperhatikan anak Yong
sudah banyak waktu kuanggap kau sebagai orang sendiri
kapan sih kutunjuk sikap memandangmu sebagai orang
bawahan atau orang luar?“
„Terima kasih banyak atas kesudian pocu memandang
tinggi aku si nenek Ho“
„Duduklah dulu, aku ada urusan yang akan kurundingkan
denganmu“
”Kalau begitu aku si nenek Ho akan permisi untuk duduk”
Setelah mengambil tempat duduk dibagian bawah, iapun
bertanya. ”Pocu ada urusan apa?”
”Hopopo” ucap Hee Im hong sambil tersenyum tahukah
kau, tahun ini anak Yong sudah berumur berapa?”
”Tahun ini nona berusia sembilan belas tahun”
”Ehm,” Hee Im hong tersenyum sambil manggut manggut,
”betul, sudah masanya untuk kawin-”
Hopopo segera mengangkat kepalanya dan tertegun,
serunya kemudian : ”Maksud pocu, apakah kau hendak...”
”Yaa, aku memang bermaksud demikian” Hee Im hong
membenarkan, ”Itulah sebabnya kuajak kau merundingkan
persoalan ini.”
”Pocu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia hanya menyebut kata pocu, sedang kata kata


selanjutnya tidak diutarakan, jelas ia sedang menunggu
keterangan dari pocunya.
Ooodowooo
”Yaa, aku si nenek Ho pernah dengar dia adalah Huan ji-ya
sudah lama dia bersaudara dengan pocu. Tatkala aku si nenek
masih mengikuti nyonya dulu, pernah kujumpai Huan jiya,
konon semenjak sepuluh tahun berselang ia pergi
meninggalkan rumah dan hingga kini belum juga ada kabar
beritanya ?”
„Benar“ Hee Im hong mengangguk. „Huanjite mempunyai
seorang putra yang bernama Huan cu im, tahun ini berusia
enam belas tahun, berapa hari berselang ia mendapat
perintah dari ibunya untuk datang ke benteng kita...“
Menyinggung soal Huan cu im Hopopo merasakan hatinya
berdebar keras, ia tak berani menengok Pocu nya barang
sekejap pun. Terdengar Hee Im hong berkata lebih jauh :
„orang ini berwatak baik, berilmu silat bagus, dia
merupakan pilihan yang cocok sekali...“
„Aku si nenek hanya seorang bawahan urusan macam
begini sudah sepantasnya diputuskan oleh pocu sendiri,
Cuma...“
Setelah mengucapkan Cuma tiba tiba ia berhenti berbicara
dan tidak dilanjutkan lagi
„Hopopo mempunyai usul apa silahkansaja diutarakan, ibu
anak Yong sudah meninggal lama sedang kau adalah mak
inangnya, sejak kecil anak Yong memang kau yang rawat.
Karena itulah aku mengundang kedatanganmu untuk
mendengar apa pendapatmu tentang usulku ini.“
„Ucapan Pocu kelewat serius, aku si nenek hanya merasa
bahwa usia Nona sudah cukup dewasa karena itu tentang soal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perkawinan yang merupakan masalah besar, sudah


sepantasnya bila kita dengarkan dulu pendapatnya pribadi.“
„Ehmm, betul juga“ Hee Im hong mengangguk aku pun
berpendapat demikian, „Cuma sekarang waktunya masih
terlampau awal, aku pikir lebih baik temukan dulu mereka
berdua.“
„coba kita lihat bagaimanakah pendapat anak Yong. Ehmm
aku rasa kata kataku ini kurang leluasa untuk disampaikan
sendiri kepada anak Yong, karena itu lebih baik kau saja yang
mencari tahu pendapatnya tentu saja kau pun tak perlu
berterus terang kepadanya, bila membiarkan anak Yong
merasa sendiri hal ini lebih tepat lagi. Dengan demikian aku
pun bisa mengutus orang untuk membicarakan hal tersebut
dengan Nyonya Huan”
”Bagaimana dengan nyonya Sin ?” tanya Hopopo agak
ragu.
”Anak Yong mempunyai kesan yang terlalu mendalam atas
ibu tirinya (nyonya Sin). Justru karena perselisihan paham itu
membuat ibu tirinya harus menyingkir ke Locu san. Biarpun
hari ini dia akan datang kemari, namun aku pikir lebih baik
anak Yong saja yang mengambil keputusan atas persoalan ini”
”oya...” ia berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi,
”sore nanti, sau ceng bu dari keluarga Tong di Szuchuan
suami istri dan Ban sau cengcu kakak beradik dari bukit Hong
san akan berkujung ke benteng kita ini, diantara mereka turut
hadir dua orang wanita. Itulah sebabnya ciu nie (nyonya Sin)
harus datang kemari. Coba kau sampaikan kepada anak Yong,
suruh diapun turut hadir agar bertemu dengan nyonya Sin?”
”Tidak apa apa” sahut Hee Im hong, ”kedua keluarga
tersebut mempunyai hubungan yang cukup baik dengan kita,
apalagi dengan kehadiran tamu dari luar, mereka ibu dan anak
pun tak bakal terjadi perselisihan apa apa, selain itu akupUn
hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengundang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im turut menghadirinya, dengan begitu kita bisa


mempertemukan anak Yong serta cu im tanpa menimbulkan
jejak. Seetlah pertemuan nanti, tidak ada salahnya bila kau
selidiki kesannya, bagaimanakah kesannya terhadap cu im,
lalu laporkan kepadaku. Cuma jangan kau terangkan hal ini
kepada anak Yong...”
Diam diam Hopopo merasa geli, padahal nona sudah
pernah bertemu dengan Huan siangkong, tentu saja hal ini
Cuma dipendam didalam hati dan tidak sampai diutarakan
keluar.
Maka diapun manggut manggut: ”Ya a, aku si nenek
mengerti”
”Baik, sekarang pulanglah, sore nanti temani anak Yong
kemari.”
”Kalau begitu aku sinenek mohon diri lebih dulu”
OooodwoooO
Sore itu, Huan cu im berdiri seorang diri didepan rak bunga
sambil termangu mangu.
Sekembalinya kedalam kamar semalam, semalaman suntuk
ia tak bisa tidur nyenyak, kini hatinya terasa semakin gundah.
Suhu menitahkan kepadanya agar berangkat ke Kim leng
mencari cong piautau dari perusahaan eng biantong, alhasil
dia gagalpergi dari situ, apa yang mesti dikatakan kepada
gurunya nanti?
Bila dia hendak ke Kim leng, bagaimana pula membuka
suara kepada empak Hee?
Hal tersebut sebenarnya sudah cukup menyusahkan
dirinya, apalagi kini cin cong koan telah pulang dan membawa
surat ibunya yang berpesan agar ia tetap tinggal dalam
benteng keluarga Hee serta tak boleh mengikuti adat sendiri,
terutama sekali ia tak pernah keluar rumah maka dilarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkelana dalam dunia persilatan, ia diminta menuruti semua


perkataan dari empeknya...
Dengan demikian, apa pula yang mesti dia lakukan
sekarang? Kalau bisa, dia ingin sekali beretmu dengan
gurunya serta merundingkan persoalan ini dengannya.
”Huan kongcu ”
Suara teguran yang merdu dan lembut bergema datang
dari belakang tubuhnya.
Cepat cepat Huan cu im berpaling, dilihatnya ci giok telah
berjalan mendekat dengan langkah lemah gemulai, sepasang
matanya berkedip indah begitu mendekat ia pun menegur
sambil tertawa lirihi ”Apa sih yang sedang kau pikirkan?”
Tiba tiba Huan cu im merasa bahwa nada suara maupun
gerak g erik nona ini mirip sekali dengan ci giok yang dulu
(yakni ci giok yang dibantu mencabut keluar jarum Bwee hoa
ciam dari tubuhnya itu), untuk sesaat ia menjadi tertegun dan
mengawasi nona itu dengan wajah termangu...
Ditatap seperti ini, merah jengah selembar wajah ci giok. Ia
menundukkan kepalanya rendah rendah lalu berbisik.
”Kongcu, mengapa sih kau hanya mengawasi budak terus
menerus?”
Semakin dipandang Huan cu im merasa dia semakin mirip
dengan ci giok yang dulu, akhirnya dengan tergagap ia
berseru ”Kau...”
Sebetulnya dia ingin bertanya kepadanya ”Sesungguhnya
kau adalah ci giok yang dulu atau bukan?”
Tapi, tentu saja kata kata semacam itu tak baik diutarakan
keluar secara terang terangan-
”Kenapa dengan budak?” tanya ci giok sedih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Dulu, aku pernah berkenalan dengan seorang teman, dia


mempunyai wajah yang mirip sekali dengan nona...”
”Maka kau ingin bertanya kepadaku, apakah aku adalah
dia?” kata ci giok sambil tertawa ringan-
Nada ucapan serta suara tertawa ringannya ternyata mirip
pula dengan Siang Siau un.
Hampir saja Huan cu im curiga kalau telinganya telah salah
mendengar, untuk berapa saat ia merasa ci giok yang berada
dihadapannya sekarang sangat mencurigakan- ci giok tidak
membiarkan pemuda itu berbicara lagi, ia menunjuk ke depan
pintu lalu berbisik. ”Sst, ada orang datang ”
Kemudian ia melangkah masuk ke dalam ruangan- ketika
Huan cu im berpaling ia jumpai Kim koansi sedang melangkah
masuk ke dalam pintu halaman, begitu berjumpa dengan
Huan cu im, buru buru ia menjura seraya berkata: ”Huan
kongcu, kau diundang pocu”
”sekarang pocu berada dimana?”
”Di ruang tamu bagian depan, barusan telah datang berapa
orang tamu agung, pocu pun segera mengutus hamba untuk
datang mengundang Huan kongcu.”
”Siapa saja yang datang ?”
”Sore ini telah datang dua rombongan tamu, rombongan
pertama datang dari propinsi Szuchuan, mereka adalah sau
cengcu dari keluarga Tong yakni Tong Huan bun beserta
istrinya yang baru saja dinikahi, sedangkan rombongan kedua
adalah sau cengcu dari keluarga Ban dibukit Hing san, Ban
Sian ceng dan adik perempuannya si burung hong hijau Ban
Hui jin. Untuk menjamu kehadiran dua keluarga besar ini, Sim
hujin pun sudah berangkat dari bukit Locu san untuk hadir
pula disini...”
”Apakah selama ini Sim hujin hanya berdiam dibukit Locu
san dan jarang kembali ke benteng ?” Kim Koansi tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Diatas bukit Lo cu san pun terdapat sebuah Benteng


keluarga Hee, tempat tersebut malah jauh lebih besar
daripada tempat ini, sebetulnya pocu sendiri yang mengurusi
benteng tersebut, tapi sekarang benteng itu sudah diserahkan
kepenguasaannya kepada Sim hujin- ini yang menyebabkan
nonya Sin jarang sekali pulang sini.” Huan cu im segera
mengikuti Kim koansi menuju ke ruang tamu bagian depan.
Tiba didepan pintu, Kim koansi berhenti seraya berkata:
”Silahkan masuk Huan kongcu”
Huan cu im melangkah masuk ke dalam ruangan, ia jumpai
dalam ruangan sudah hadir dua oarng pria dan dua orang
wanita mereka sedang berbincang bincang dengan tuan
rumah.
Kempat orang itu masih muda muda, usianya diantara dua
puluh tahunan, yang lelaki tampan dan gagah, sedang yang
perempuan cantik dan lembut, agaknya mereka adalah kedua
orang sau cengcu dari keluarga Tong di Szuchuan serta
keluarga Ban dari Hong san-
Disamping Hee Im hong duduk seorang nyonya berbaju
hijau yang mengenakan untaian mutiara pada sanggulnya
perempuan itu berdandan menyolok sekali, mungkin dialah
istri muda dari empeknya, nyonya sin.
Ketika Hee Im hong melihat Huan cu im berjalan masuk ke
dalam ruangan, sambil tersenyum ia lantas berseru:
”Keponakan Huan cepat kemari mati kuperkenalkan dengan
dua orang sahabat muda kita...”
Sementara Hee Im hong berbicara, keempat tamu itu
sudah bangkit berdiri.
Hee Im hong lantas menunjuk ke arah seorang pemuda
berbaju biru serta seorang nyonya muda bergaun merah yang
duduk disampingnya sambil berkata:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Mereka berdua adalah sau cengcu dari keluarga Tong di


Szuchuan, Tong Bun huan Tong lote beserta Tong sau hujin
(nyonya muda Tong)”
Lalu sambil menunjuk seorang pemuda berjubah periente
dan seorang nona bergaun hijau disisinya ia perkenalkan lebih
jauh
”Sedangkah kedua orang ini adalah sau cengcu dari
keluarga Ban di bukit Hong san, Ban Sian cing, Ban lote serta
adik perempuannya, orang menyebutnya si burung hong hijau
Ban Huijin, nona Ban-”
Lalu sambil tersenyum ia berkata lagi:
”Dan dia adalah putra seorang saudara angkatku, Huan cu
im keponakan Huan. Ayahnya disebut orang sebagai sijago
berbaju hijau Huan Tay seng kalau dibicarakan tentunya kalian
sudah tahu bukan”
Atas perkenalan tersebut, kedua belah pihak pun saling
memberi hormat sambil mengucapkan kata kata merendah.
Kemudian dengan senyum dikulum Hee Im hong baru
menuding kearah nyonya berbaju hijau itu sambil berkata
kepada Huan cu im:
”Keponakan Huan mari dia adalah bibimu, hari ini kau baru
pertama kali bertemu dengannya”
Buru buru Huan cu im maju kemuka dan memanggil
dengan hormat: ”Bibi Hee”
Sin hujin tersenyum cerah serunya genit:
”Huan toa kuanjin, kulihat kau halus dan lembut penuh
dengan sopan santun, mirip benar dirimu dengan seorang
siangkong anak sekolahan yang baru lulus dari ujian negara
aku dengar dari pocu tadi, konon ilmu silatmu sangat tangguh
hingga Thian tiong busu yang sudah memperoleh latihan ketat
dari benteng kami pun tidak mampu menghadapimu, tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

heran kalau empek Hee mu begitu memuji muji akan


kehebatanmu”
Merah dadu selembar wajah Huan cu im oleh perkataan
tersebut, ia menjadi tergagap: ”Aah, kesemuanya ini Cuma
pujian dari empek Hee.” Kembali Sin hujin tersenyum.
”Mari, silahkan duduk semua, setelah berada dalam
benteng keluarga Hee, berarti kita semua adalah orang
sendiri, harap kalian tak usah sungkan sungkan lagi.”
Sementara itu si burung hong hijau dari bukit Hong an Ban
huijin telah melirk sekejap kearah Huan cu im sambil diam
diam memperhatikan ketampanan wajahnya, merah dadu
selembar wajahnya kemudian, gerak geriknya jadi serba salah
dan penuh dengan pancaran sinar mata yang aneh.
Saat itulah dari depan ruangan terdengar lagi suara
langkah manusia, kemudian muncul seorang nona berbaju
putih, dibelakangnya mengikuti Hopopo yang berbaju hijau.
Nona berbaju putih itu tak lain adalah Hee giok yong yang
diam dikuil cu im an hari ini wajahnya tak bercadar sehingga
nampak kecantikan wajahnya yang menawan hanya sayang
mukanya rada pucat, namun tidak sampai menutupi
keayuannya.
Setelah berada dalam ruangan dan melihat kehadiran Sin
hujin disitu, paras muka nona Hee segera berubah menjadi
dingin seperti es, namun ia tetap meneruskan langkahnya
menuju ke hadapan Hee Im hong.
”Ayahkah yang mengundang putrimu ?” ia bertanya sambil
memberi hormat. Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil
tersenyum:
”Anak Yong, hari ini kita telah kedatangan berapa orang
tamu agung muda, diantaranya terdapat Tong sau hujin serta
nona Ban, mereka berdua adalah pendekar pendekar wanita
yang gagah perkasa, itulah sebabnya aku sengaja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengundangmu agar menemani mereka, mari, mari, biar


kuperkenalkan mereka semua...”
Mula mula ia perkenalkan dulu Tong Bun huan suami istri,
serta Ban Sian ceng kakak beradik, kemudian baru menunjuk
ke arah Huan cu im sembari berkata.
”Dia adalah putra paman Huan mu Huan cu im, tentunya
kau masih ingat bukan semasa masih kecil dulu, Huan jisiek
mu paling sayang dengan kau, setiap kali datang kemari
pertama tama kaulah yang dibopong lebih dulu, coba kau lihat
cu im sudah begini dewasa, ia berusia tiga tahun lebih muda
daripada umurmu, selanjutnya kalian boleh saling membahasai
kakak beradik”
Kemudian kepada Huan cu im, katanya pula:
”la bernama Giok yong, aku pun masih ingat ketika suatu
hari kau datang bersama ibumu, giok yong menarik tanganmu
sambil memanggil adik bahkan terus menerus memberi gula
gula untukmu”
Perkataan itu kontan sama membuat paras muka Huan cu
im serta Hee Giok yang berubah menjadi merah dadu.
Buru buru Huan cu im memberi hormat sambil berseru:
”Siaute menjumpai enci Giok yong”
Selembar wajah Hee Giok yang berubah menjadi merah
dadu, buru buru ia membalas hormat sambil memanggil lirih,
”Adik cu im”
Kemudian semua orang kembali mengambil tempat duduk.
Siburung hong hijau Ban Huijin duduk disamping Hee Giok
yang, katanya dengan gembira:
”Enci Hee, siumoay dengar kau adalah murid dari Kiu hoa
sinnie, dalam dunia persilatan sinni disebutjago nomor wahid
di kalangan Buddha aku yakin cici pasti sudah lama siumoay
ingin berjumpa dengan cici. Kebetulan sekali engkoh ku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendapat perintah datang ke Kim leng kali ini sekalian datang


menjenguk Hee cianpwee, maka akupun mengikutinya,
padahal ibuku tidak lega membiarkan aku pergi...”
”Enci Ban kelewat sungkan” kata Hee Giok yang,
”siaumoaypun sudah lama mendengar kalau ilmu pedang
keluarga Ban di bukit Hong san menjagoi dunia persilatan-
Sedang siaumoay tidak lebih Cuma seorang murid tercatat dari
suhu, yang kupelajari tak lebih seperseribu kemampuan
guruku kalau dibicarakan Cuma membikin wajah siaumoay jadi
merah saja...”
Begitulah kalau dua orang nona bertemu muka, mereka
segera mengobrol tiada habisnya.
Berbeda dengan Tong sau hujin, bagaimanapun ia sudah
kawin dan tak selincah gadis remaja, karenanya dia hanya
duduk mendampingi suaminya serta jarang sekali berbicara.
”Ban sau heng telah datang sehari terlambat” ucap Hee Im
hong sambil tertawa ”cing ing totiang dari Go bipay baru
berangkat kemarin, agaknya dia hendak naik kebukitBu tong,
itu berarti di kota Kim leng tinggal Siang Ciangbunjin dari Hoa
sanpay seorang, bila Ban sauheng berangkat kesitu, paling
banter kau hanya akan berjumpa dengan Siang ciangbunjin
seorang. Sebenarnya aku berniat mengundang siang toheng
agar berdiam pula selama beberapa hari dibenteng kami,
kemudian ketika aku dengar kepergian Siang toheng ke Kim
leng, lantaran urusan pribadi Hoa sanpay nya, karena itu niat
tersebut kuurungkan- Ban sauheng bila kau telah bersua
dengan Siang toheng, ajaklah dia berdiam selama berapa hari
dibenteng kami dalam perjalanan pulang nanti, agar aku bisa
mewujudkan keinginanku itu”
”Berhubung saat pertemuan sudah semakin dekat
cianpweepun merupakan seorang tokoh yang tersohor,
karenanya ibuku menitahkan boanpwee datang kemari untuk
memberi kabar kepada cianpwee” kata Ban Sian ceng
kemudian-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aaah mana, mana, pertemuan puncak dibukit Hong san


masih ada satu bulan lagi. Pertemuan puncak inipun
diselenggarakan secara bergilir oleh partai kalian bersama Hoa
sanpay serta Go bipay, aku merasa kurang baik untuk turut
mengemukakan pendapat sebelum pertemuan puncak ini
diselenggarakan” Lalu kepada Tong Bun huan katanya pula
sambil tertawa:
”Bukankah Ban sauheng hendak pergi ke Kim leng untuk
menyambut kedatangan ketua Hoa sanpay dan Go bipay ? Tak
baik kau berdiam terlalu lama dalam benteng kami, tapi Tong
sauheng suami istri tidak gampang berkunjung ke timur,
sedangkan saat diselenggarakannya pertemuan puncak pun
masih jauh, bagaimana bila kau berdiam saja disini?”
”Mengganggu ketengangan cianpwee membuat hatiku
rikuh saja” buru buru Tong Bun huan memberi hormat.
Hee Im hong segera tertawa tergelak:
”Haaahh... haaahh... haaahh... padahal ketika aku menuju
Szuchuan tempo hari, hampir sebulan lebih aku berdiam di
dalam benteng kalian, bahkan aku merasa cocok sekali
berbincang bincang dengan ayahmu, sewakti aku hendak
berpamitan, ayahmu malah bersikeras hendak menahan
kepergianku, kami adalah sobat lama, jadi selama kalian
suami istri berdiam dibenteng ini anggaplah seperti berdiam di
rumah sendiri.”
Dalam pada itu langit sudah menjadi gelap. Centeng telah
memasang lentera didalam ruangan, dua orang pelayan telah
menyiapkan pula meja perjamuan disebelah kiri ruangan
sambil mempersilahkan pocu dan nyonya menemani tamunya
bersantap
Dalam perjamuan mana, Huan cu im dan Ban Sian Ceng
serta Tong Bun huan berbincang bincang amat asik,
sedangkan Hee Giok yang, Ban huijin berdua asyik pula
berbicara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diantara sekian orang, Sin hujin lah yang menaruh


perhatian paling khusus terhadap Huan cu im, tiada hentinya
dia menyumpit sayur untuknya.
Perjamuan ini berlangsung penuh kegembiraan, Ban Sian
Ceng serta Tong Bun huan juga mulai dipengaruhi arak.
Akhirnya Hee Giok yang bangkit berdiri lebih dulu untuk
memohon diri, sebelum beranjak pergi, ia berpaling ke arah
Huan cu im dan berbisik lirih ”Setiap waktu kunantikan
kunjunganmu ke kuil cu im an ”
”Siaute pasti akan ke situ untuk mengunjungi enci” Huan cu
im buru buru menjawab. Hee Giok yang tersenyum, kemudian
baru berlalu dari ruangan diiringin Hopopo.
Pembicaraan antara kedua orang itu tentu saja diperhatikan
pula oleh Hee Im hong terutama sekali kuil cu im an
merupakan tempat abu dari cu hujin (ibu kandung Giok ya)
Dihari hari biasa, tiada orang yang diijinkan untuk
berkunjung kesitu, bahkan diutarakan sebelum pergi hal ini
tentu saja bukan Cuma bertujuan basa basi saja, dari sini bisa
disimpulkan bahwa dia menaruh kesan yang sangat baik atas
diri Huan cu im
Menyaksikan hal tersebut diam diam Hee Im hong merasa
gembira sekali dia lantas bangkit berdiri, kemudian katanya
sambil mengelus jenggotnya:
”Ban sauheng Tong sauheng, harap duduk dikamar bacaku,
aku berharap bisa bertukar pandangan dengan kalian berdua
tentang pertemuan puncak dibukit Hong san nanti”
Ban Sian ceng dan Tong Bun huan bersama sama bangkit
berdiri seraya serunya ”Kami akan menuruti perkataan
cianpwee”
Sin hujin turut bangkit berdiri, kemudian katanya pula
sambil tertawa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Tong sau hujin, nona Han, ayo ikut aku keruang belakang
saja...”
Huan cu im yang menyaksikan hal ini buru buru menjura:
”Empek Hee, bibi Hee, kalau begitu biar keponakan mohon
diri lebih dulu.”
Hee Im hong mengangguk.
”Ya a, waktu memang sudah malam, lebih baik keponakan
pulang untuk beristirahat”
Sesudah mohon diri kepada Ban Sian ceng dan Tong bun
huan, Huan cu im mengundurkan diri dari ruang tamu untuk
kembali kekamarnya.
Dari situ dia harus melewati dua buah halaman dengan
gedung yang besar, tatkala menelusuri sebuah beranda, tiba
tiba ia mendengar ada orang sedang berbisik:
”Kau tunggu saja disini, sekarang pocu baru saja mengajak
mereka menuju kamar baca, belum sampai waktunya.”
Bisikan itu sangat lirih, tetapi bagi Huan cu im yang belajar
ilmu tenaga dalam, suara yang berada sepuluh kakijauhnya
pun dapat ia dengar dengan jelas sekali.
Begitu bisikan tersebut menyusup ke dalam telinganya,
tergerak hatinya dengan segera pikirinya:
”Sudah jelas suara pembicaraaan itu berasal dari ciu
congkoan, jangan-jangan ia telah bersekongkol dengan orang
lain untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak
menguntungkan empek Hee ?”
Ketika ingatan tersebut melintas lewat di dalam benaknya,
pemuda itu segera menyelinap ke samping beranda dan
menyembunyikan diri di balik kegelapan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari situ ia perhatikan keadaan diseputar sana dengan lebih


seksama lagi, ternyata pembicaraan tadi berasal dari sebuah
kamar yang berada disebelah kiri.
Dengan peringan langkah kakinya, pelan pelan dia berjalan
menuju ke bawah jendela, kemudian mengintip ke dalam
ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu tak bersinar suasana gelap gulita,
namun hal tersebut tidak menyulitkan Huan cu im yang
mampu melihat didalam kegelapan malam.
Asal tiada lentera, ia cukup memejamkan matanya
sebentar. Ketika membuka matanya kembali, segala
sesuatunya sudah terlihat olehnya dengan jelas.
Ruang kamar tersebut tidak terlalu besar, waktu itu ciu
congkoan sudah pergi, agaknya ia sudah selesai berbicara,
disana hanya duduk seseorang.
Orang itu memakai jubah panjang berwarna biru langit,
berwajah tampan, alis mata tebal dan bermata jeli.
Ternyata orang itu adalah sau Cengcu dari keluarga Tong
dipropinsi Szuehuan, Tong Bun huan adanya.
Orang itu baru saja berpisah dengannya, sudah barang
tentu Huan cu im dapat mengenalinya, ini membuatnya
bertambah curiga, persoalan apakah yang dikasak kusukkan
Tong Bun huan dengan ciu Kay seng? Mungkinkah mereka
mempunyai suatu rencana tertentu?
”Tapi... aaah Ini tidak benar. Baru saja ia meninggalkan
ruang tamu sedang empek Hee juga telah mengajak Tong Bun
huan serta Ban Sian Ceng pergi ke kamar baca semestinya
mereka berada di kamar baca sekarang mengapa orang itu
bisa muncul disitu?”
Mau apa ciu congkoan mengajaknya ke situ? Mengapa pula
orang itu disuruh menunggu sebentar lagi ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk beberapa saat timbul pelbagai kecurigaan didalam


hatinya, hal ini membuat Huan cu im segera menyembunyikan
diri disitu dia ingin tahu apa gerangan yang telah terjadi.
Waktu berlalu dengan cepat, kurang lebih seperempat jam
kemudian baru kedengaran suara langkah kaki manusia yang
ringan lagi cepat memasuki ruangan itu.
Cepat cepat Huan cu im mengintip ke dalam ruangan lewat
celah jendela, dilihatnya ciu Kay seng masuk dengan langkah
tergesa-gesa sambil berbisik: ”cepat ikut aku, sudah
waktunya”
Tong Bun huan bangkit berdiri dengan cepat kemudian
mengangguk. Bersama ciu Kay seng keluar dari ruangan
tersebut.
Huan cu im tertawa dingin didalam hati, buru buru dia
mengundurkan diri kebalik kegelapan-
Dalam pada itu, ciu Kay seng telah mengajak Tong Bun
huan menelusuri serambi rumah, mereka berdua tak ada yang
berbicara, kedua orang itu berjalan menuju kekamar baca
dengan mulut terbungkam dalam seribu bahasa .
Huan cu im kuatir jejaknya diketahui mereka, ia peringan
langkah kakinya serta membuntuti dibelakang mereka dari
kejauhan-
Tak lama kemudian sampailah mereka di depan pintu
kamar baca, didepan kamar baca kebetulan terdapat sebuah
kebun bunga yang luas, diam diam Huan cU im menyelinap
kebalik gerombolan bunga itu.
Sementara itu ciu Kay seng telah mengulapkan tangannya
kebelakang memberi tanda kepada Tong Bun huan agar
menunggu disana, sedang ia sendiri maju kedepan dan
mengetuk pintu tiga kali.
Kemudian ciu Kay seng menggapai ke arah Tong Bun huan,
yang digapai buru buru menghampirinya, secara beruntun ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersama ciu Kay seng masuk kedalam kamar, seorang dayang


berbaju hijau cepat cepat merapatkan pintu kembali.
Menyaksikan semua peristiwa tersebut, Huan cu im kembali
berpikir di hati:
”Tampaknya mereka benar benar sedang melaksanakan
suatu rencana busuk secara diam diam sehingga dayang yang
meladeni empek Hee di kamar baca pun kena mereka suap.
Hmm.... Kalau aku tidak melihat masih mendingan, setelah
kujumpai malam ini aku bertekad akan membongkar rencana
busuk ini sampai tuntas ”
Berpikir sampai disitu, dia lantas melompat keluar dari
tempat persembunyiannya dan meng hampiri jendela .
Jendela itu merupakan sederet jendela yang menghadap ke
selatan, jendela itu tidak tertutup namun disekat dengan kain
korden berwarna kuning yang kedua ujungnya berkibar bila
terhembus angin.
Huan cu im berdiri dengan punggung menempel diatas
dinding, lalu dari bawah jendela ia mengintip ke dalam.
Suasana didalam kamar baca itu terang benderang
bermandikan cahaya, empek Hee duduk diatas kursi
kebesaran agaknya Ban Sian ceng telah berlalu dari situ.
Tak jauh dari sisi empek Hee, tepatnya di atas sebuah
bangku duduk pula seorang lelaki berjubah biru, ternyata
orang itu adalah Tong Bun huan-
Baru saja Huan cu im dibuat tertegun oleh peristiwa yang
berada didepan mata, ia kembali dikejutkan oleh
pemandangan berikut. Ternyata ciu Kay seng telah muncul
pula di dalam kamar baca didampingi seorang Tong Bun huan
lagi, apa gerangan yang telah terjadi? Mungkinkah terdapat
dua orang Tong Bun huan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu Tong Bun huan yang diajak masuk oleh ciu
Kay seng telah memberi hormat kepada Hee Im hong sambil
berkata: ”Hamba menjumpai pocu”
Hee Im hong mengelus jenggotnya sambil mengangguk.
Kemudian sambil mengangkat kepalanya ia bertanya^
”Apakah segala sesuatunya sudah tiada persoalan lagi?”
”Yaa, hamba sudah berhasil menghapalkan segala
sesuatunya” jawab Tong Bun huan dengan hormat.
”Kalau begitu bagus sekali...”
Disaat Hee im hong mengangkat kepalanya itu, tiba tiba
sorot matanya dialihkan ke arah tempat persembunyian Huan
cu im.
Baru saja si anak muda itu terkejut tiba tiba telinganya
menangkap suara bentakan lirih dari gurunya. ”Muridku, cepat
mundur ”
Huan cu im tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir
lagi, cepat dia melompat mundur dari situ.
Namun baru saja tubuhnya berdiri tegak. Dihadapan
matanya telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia
tinggi besar orang itu tak lain adalah empek Hee.
Kejut dan terkesiap menyelimuti perasaan Huan cu im,
dengan wajah merah padam panggilnya kemudian dengan
suara rikuh. ”Empek Hee.”
Orang yang munculkan diri bersama Hee Im hong adalah
Ju It koay, ia melayang turun tiga depa dibelakang Huan cu im
seperti sekilas cahaya petir berwarna hitam menati tubuhnya
sudah mencapai tanah, tongkat besinya baru berbunyi keras
karena mengetuk permukaan tanah...
Sebenarnya paras muka Hee Im hong diliputi keseriusan,
namun setelah mengetahui orang yang berada diluar jendala
adalah Huan cu im, sekulum senyuman segera menghiasi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bibirnya, sambil mengelus jenggotnya yang terurai didada,


katanya sambil tertawa ramah. ”Aku mengira siapa yang
datang, rupanya Huan hiantit.” Agak tergagap Huan cu im
berkata:
”Ketika siautit akan pulang kekamar tadi, diberanda
kudengar ciu congkoan sedang berbicara dengan seseorang
yang menyuruhnya menunggu sebentar karena sekarang
belum waktunya, siautit mengira dia telah bersekongkol
dengan orang luar hendak melakukan suatu tindakan yang
merugikan empek Hee, karena itu akupun menguntil
dibelakang mereka sampai disini...”
”Tak usah dikatakan lagi” tukas Hee Im hong sambil
mengulapkan tangannya, kemudian kepadaJu It koay yang
berada dibelakang pemuda itu katanya pula sambil tersenyum,
”Ketua pelatih, disini sudah tak ada urusan lagi”
Ju It koay memberi hormat kemudian melejit ke tengah
udara, disitu tubuhnya berputar kencang bagaikan sebuah
gangsingan, lalu meluncur ke halaman lain-
Memandang gerakan tubuh yang sangat indah itu, tanpa
terasa Hee Im hong manggut manggut berulang kali,
kemudian ujarnya kepada Huan cu im sambil tersenyum :
”Huan hiantit, setelah kau datang kemari, duduklah sebentar
didalam kamar bacaku ”
Sambil berkata ia menarik tangan Huan cu im dan pelan-
pelan masuk ke dalam kamar bacanya.
Waktu itu dayang berbaju hijau tersebut sudah
membukakan pintu, ketika Huan cu im sudah masuk kedalam
kamar baca, ia tidak menjumpai Tong Bun huan yang
berbaring diatas meja tadi, tapi dikursi telah duduk pula
seorang Tong Bun huan yang lain-
Sewaktu melihat Hee Im hong masuk ke dalam kamar
baca, dengan hormat sekali ia lantas bangkit berdiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari sikap hormat orang itu terhadap Hee Im hong, Huan


cu im segera dapat menduga kalau orang ini adalah Tong Bun
huan yang dibawa ciu Kay seng, jadi bukan Tong Bun huan
yang berbaring diatas meja seperti apa yang terlihatnya tadi.
Hanya tidak diketahui olehnya dibawa ke manakah Tong
Bun huan yang tergeletak di meja tadi?
Sudah pasti Tong Bun huan yang berada dihadapannya
sekarang adalah Tong Bun huan gadungan, tapi aneh,
mengapa empek Heenya justru mempersiapkan seorang Tong
Bun huan gadungan?
Sementara dia masih berpikir tiada hentinya, Hee Im hong
telah tertawa terbahak bahak sambil berkata:
”Tong sauheng, silahkan duduk. Kita semua adalah orang
sendiri, dikemudian hari tak usah beriaku sungkan sungkan
seperti ini”
Tong Bun huan mengiakan berulang kali kemudian baru
mengambil tempat duduk.
Dengan pandangan mata yang tajam Hee Im hong
memandang sekejap ke arah ciu Kay seng, kemudian ujarnya :
”Ketika aku menyuruh kau mengundang datang Tong
sauheng, waktu itu aku sedang membicarakan soal pertemuan
puncak dibukit Hong san bersama Ban sauheng, aku suruh
kau pergi memanggilnya sejenak lagi? Kenapa kau malah ke
situ dan menyuruh Tong sauheng yang menunggu sebentar ?
Kau tidak pantas mengatakan hal demikian, apa lagi
perkataanmu itu sampai kedengaran Huan hiantit dimana ia
mengira kau telah bersekongkol dengan orang luar untuk
mencelakai diriku betul hal ini tak sampai terjadi kesalahan
paham, namun menunjukkan kalau cara kerjamu tidak benar”
Biarpun Huan cu im tidak tahu apa sebabnya Hee Im hong
mempersiapkan seorang Tong Bun huan gadungan, namun
semua peristiwa yang telah dialami dan disaksikan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mata kepala sendiri ini tentu saja tak bisa dihapuskan hanya
oleh beberapa patah kata dari empek Heenya saja.
Dengan ketakutan buru buru ciu Kay seng menjawab:
”Hamba memang bersalah, hamba memang tak pantas
mengucapkan kata kata yang tak senonoh terhadap Tong san
cengcu, lain kali hamba tidak berani lagi”
Tong Bun huan gadungan yang duduk di samping, cepat
cepat bangkit berdiri seraya menjura, katanya:
”ciu congkoan hanya suruh boanpwee menunggu sebentar
tanpa mengucapkan perkataan lain, harap cianpwee sudi
memaafkan-” Hee Im hong tertawa hambar.
”Baiklah, oleh karena Tong sauheng telah mintakan maaf
bagimu, kali ini kuampuni kesalahanmu sekali saja.”
”Terima kasih pocu” cepat cepat ciu Kay seng memberi
hormat. Huan cu im turut bangkit berdiri pula katanya :
”Empek Hee, bila kau dan saudara Tong masih ada urusan
yang hendak dibicarakan biarlah siautit mohon diri lebih dulu.”
„Baik, pergilah“ Hee Im hong manggut manggut.
Setelah mohon diri kepada Tong Bun huan, Huan cu im
mengundurkan diri dan kembali kekamarnya.
Sepeninggal pemuda itu, ciu Kay seng baru berkata dengan
perasaan kuatir : „Pocu, aku lihat Huan kongcu telah
menyaksikan semua perbuatan kita“
„Tidak jadi soal aku bisa mengatasi hal tersebut“ jawab Hee
Im hong seraya menggeleng. Kemudian kepada Tong Bun
huan, katanya pula
„Nah sekarang kaupun boleh pergi beristirahat, Cuma
jangan sampai menunjukkan hal hal yang mencurigakan-„
Kepada seorang dayang berbaju hijau yang berdiri
disisinya, Hee Im hong segera memerintahkan ^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Kau hantariah Tong sau cengcu kembali ke kamarnya.“


”Budak terima perintah” dayang itu menjura.
Lalu sambil berpaling katanya pula :
”Tong sau cengcu, silahkan mengikuti budak”
Ia lantas melangkah keluar dari kamar baca itu.
Setelah meninggalkan Hee pocu Tong Bun huan mengikuti
dayang berbaju hijau itu keluar dari kamar baca, menelusuri
beranda dan menuju ke gedung tamu agung.
Tiba didepan pintu gedung, dayang berbaju hijau itu
berhenti, lalu bisiknya sambil mencibir bibir.
”cepatlah masuk ke dalam, sau hujin sedang menunggu
kedatanganmu...”
Tong Bun huan sangat gembira, ia memegang bahu
dayang tadi dan bisiknya sambil tertawa:
”Aku tak akan melupakan kebaikan cici”
Berubah wajah dayang berbaju hijau itu, dia mengelak ke
samping dan menegur dengan suara berat ” Kau pingin
mampus ”
Baru saja Tong Bun huan hendak minta maaf seorang
dayang berbaju hijau telah muncul dari balik gedung tamu
agung.
Ketika melihat Tong Bun huan, ia segera memberi hormat
sambil menyapa ”oooh, rupanya Tong sau cengcu telah
kembali”
Dayang berbaju hijau yang menjadi penunjuk jalan tadi
segera berkata. ”Tempat ini dilayani oleh enci Kui hiang,
budak mohon diri lebih dulu”
Dayang dari gedung tamu agung itu segera memberi
hormat lagi seraya berkata: ”Tong sau cengcu, silahkan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong Bun huan mendeham pelan, lalu dengan


membusungkan dada naik keatas loteng.
Kui hiang mengikuti dibelakangnya hingga tiba diloteng,
kemudian mengetuk pintu dua kali.
Dari dalam kamar terdengar suara Tong sau hujin bertanya
”Siapa diluar?”
”Sau hujin Tong sau cengcu telah kembali” sahut Kui hiang.
Pintu kamar segera dibuka orang, Tong sau hujin dengan
senyuman dikulum menyongsong kedatangan Tong Bun huan
didepan pintu. Kui hiang tidak ikut masuk, dari pintu luar dia
berseru cepat: ”Budak mohon diri lebih dulu”. Dan kemudian
merapatkan pintunya kembali.
Tong Bun huan gadungan segera memperiihatkan sikap
yang halus dan sopan, menyambut kedatangan Tong sau
hujin, katanya sambil tersenyum ramah ^ ”istriku, aku telah
kembali”
Tong sau hujin mengeriing sekejap kearahnya lalu menegur
lirih :
”Hei, dari mana kau pelajari istilah opera macam begitu?
Istriku istriku... kalau sampai kedengaran orang bisa
ditertawakan nanti”
Senyum tak senyum Tong Bun huan gadungan mendekati
perempuan itu, kembali ia berkata
”Kalau aku tidak memanggil istriku kepadamu, lantas aku
mesti memanggil dengan sebutan apa”
Sekali lagi Tong sau hujin mengeriing sekejap kearahnya,
kemudian dengan wajah memerah sahutnya lirih:
”Biasanya kau memanggil aku apa, masa lupa?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong Bun huan gadungan meletakan sepasang tangannya


diatas bahunya, lalu mencium rambutnya yang mulus, setelah
itu katanya lagi sambil tertawa lirih
”Sekarang kita kan berada dalam kamar, apa salahnya bila
kau mengatakannya sendiri kepadaku? Itu kan lebih asyik
rasanya?”
”Tidak- aku tak mau bicara” sahut Tong sau hujin sambil
menggoyang kan pinggulnya.
Tong Bun huan gadungan terangsang oleh tingkah laku
perempuan muda itu, ia menempelkan bibirnya ke pipi Tong
sau hujin, lalu berbisik. ”Ayo cepat katakan, kalau tidak
kucium bibirmu”
”Kau berani?” seru Tong sau hujin sambil mengkilik kilik
pinggulnya dengan kedua belah tangan-
Dengan sambaran cepat Tong Bun huan gadungan
mencium bibir si perempuan muda itu, lalu tertawa tergelak.
”Haaahh... haahhh... haaah.. aku tak akan takut kegelian,
silahkan saja mengkilik kilik diriku”
Tong sau hujin mengkilik kilik pinggulnya berulang kali,
ternyata ia memang tak takut geli serta membiarkan
perempuan muda itu berbuat sekehendak hatinya.
Diam diam Tong sau hujin keheranan, ia tahu dengan pasti
suaminya takut geli, mengapa ia seperti menjadi kebal pada
malam ini?
Tanpa terasa perempuan muda itu mengangkat kepalanya
serta mengawasi lelaki yang berada dihadapannya dengan
wajah tertegun
”Aaah, ada yang tak beres..” Tiba tiba saja ia saksikan
sepasang mata lelaki itu sedang memandang kearahnya
dengan penuh bernapsu, sepasang biji matanya merah
membara serta memancarkan sifat kerakusan yang luar biasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sorot mata tersebut mengingatkannya pada sinar mata


serigala kelaparan, padahal belum pernah ia jumpai sinar mata
semacam ini dari mata suaminya.
Dihari hari biasa suaminya selalu memandang wajahnya
dengan sinar mata yang lembut. Sorot mata penuh kasih
sayang, bukan napsu birahi macam binatang seperti apa yang
dipertunjukkan lelaki tersebut kepadanya
Kesemuanya itu kontan saja menimbulkan kecurigaan dihati
kecil perempuan muda itu.
”Yaaa, ada yang tak beres lagi..” Gelak tertawa inipun tidak
betul, gelak tertawa suaminya lembut dan halus, tapi gelak
tertawa orang ini... suara tertawanya membuat orang menjadi
ngeri dan berdiri semua bulu kuduknya.
Untuk sesaat perempuan muda itu menjadi seram dan
mundur selangkah tanpa terasa, ditatapnya wajah Tong Bun
huan gadungan lekat lekat, kemudian tegurnya : ”Mengapa sih
kau malam ini ? mengapa suaramu pun turut berubah...”
Tong Bun huan gadungan segera menyadari atas kesilafan
sendiri, cepat cepat dia mendehem menjawab:
”Aah, tadi aku sudah minum arak berapa cawan sehingga
kerongkonganku terasa kering sekali dan gatal gatal aneh, tapi
tak mengapa, mungkin gejala begini akan hilang setelah
kubasahi kerongkonganku dengan air...”
Dia membalikkan badan menuju kemeja dan mengambil
sebuah poci, kemudian poci tersebut diangkat dan diteguknya
dengan begitu saja sebanyak beberapa tegukan-
Perlu diketahui, Tong sau hujin baru tiga bulan kawin
dengan Tong sau cengcu, tapi ia tahu meski suaminya anak
keturunan dari keluarga persilatan, namun orangnya halus
lembut dan penuh tata kesopanan, dihari hari biasa dia selalu
menuang air tehnya kedalam cawan sebelum diminum, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

boleh dibilang tak pernah meneguk secara langsung dari poci


teh seperti perbuatan orang kasar begini.
Sebagai putri kesayangan dari ciok Lip sam, ketua
perguruan Seng gi bun, ciok Siu go terhitung seorang
perempuan yang teliti dan pintar, begitu timbul kecurigaan
dalam hati kecilnya diam diam dia meningkatkan kewaspadaan
diri tanpa menunjukkan perubahan tersebut diatas wajahnya.
Begitulah, dengan suara yang merdu d iapun berkata lagi:
”Eeeh, kenapa sih kau hanya tahu meneguk air teh
sehingga memanggil akupun tidak ?”
Tong Bun huan gadungan menyeka mulutnya dengan
ujung baju, kemudian baru menyahut sambil tertawa:
”Kau suka aku memanggilmu dengan sebutan apa ? Sebut
saja dengan nama itu, bukan begitu ?”
Tong sau hujin mengiakan sambil beriagak tersipu sipu
malu, bisiknya kemudian :
”Nama kecilku kan Tin cu, dihari hari biasa kan kau
memanggil adik cu kepadaku, mengapa tidak kau sebut yang
sama pada hari ini...?”
Pelan pelan Tong Bun huan gadungan berjalan
menghampirinya, kemudian sambil tertawa cabul ia berkata :
”Baik, baik, aku akan memanggilmu adik cu, adikku
sekarang waktu malam, ayo kita tidur saja”
Kali ini Tong sau hujin sudah dapat membuktikan secara
jelas sekali, orang yang berada dihadapannya memang betul
betul bukan suaminya, sudah jelas ada orang sedang menyaru
sebagai suaminya untuk menodai dirinya.
Kenyataan ini kontan saja membuat perasaan perempuan
muda ini terkesiap. Tanpa terasa dia mundur berulang kali
sehingga akhirnya tiba ditepi pembaringan-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memandang perempuan muda itu, Tong Bun huan tertawa


semakin cabul, bagaikan harimau lapar menubruk domba, ia
menubruk keatas tubuh perempuan itu sambil berseru: ”Adik
cu, mari kita nikmati malam ini...”
Hanya perkataan itu yang diucapkan, sebelum
menyelesaikan ia sudah tiba dimuka tubuh perempuan itu.
Maksudnya, setelah berhasil memeluk tubuhnya, barulah kata
berikut diucapkan, bukankah hal ini akan menambah
romantisnya suasana?
Tapi pada saat itulah ia mendengar suara gemerincingan
nyaring, kemudian cahaya perak berkelebat lewat, sebilah
pedang sudah ditempelkan diatas ulu hatinya.
Dengan wajah hijau membesi, bahkan tangan yang
memegang pedangpun kelihatan gemetar keras, Tong sau
hujin membentak keras ^
”Jika kau berani maju mendekat kubuat ulu hatimu
berlubang tertembus pedang ini ”
Tong Bun huan gadungan sangat terkejut dan cepat cepat
menghentikan langkahnya. ”Adik cu, kau... kau...” serunya
dengan wajah pucat pias.
”Tutup mulut ” bentak Tong sau hujin sambil tetap
menempelkan pedangnya diatas ulu hati lawan, ”Kau bilang
sekarang, siapakah kau...?”
”Aku... aku...” Tong Bun huan mengangkatnya sambil
tertawa getir, ”tentu saja aku adalah Tong Bun huan,
mengapa sih kau?”
”Bajingan laknat, kau berani menyamar sebagai suamiku?
Sudah bosan hidup rupanya?” teriak Tong sau hujin makin
gusar. ”Kau... kau...”
Tangan kirinya mengebas ke depan sementara tubuhnya
mundur selangkah dengan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kebasan itu persis menghantam diatas tubuh pedang


tersebut sehingga senjata mana terpental kebelakang,
menyusul kemudian tubuhnya mendesak maju kedepan,
dimana tangan kanannya berkelebat lewat, tahu tahu ia sudah
mencengkeram tangan kanan Tong sau hujin yang
menggenggam pedang itu
Tampaknya Tong sau hujin tidak menduga sampai kesitu,
pergelangan tangannya segera kena dicengkeram.
Sambil tertawa cabul Tong Bun huan gadungan segera
berkata lagi
”Bukankah semenjak tadi sudah kukatakan, mari kita
nikmati malam ini dengan penuh kesahduan, siapa suruh kau
mencari penyakit sendiri, sekarang...”
Mendadak ia saksikan Tong sau hujin sama sekali tidak
meronta, sebaliknya hanya memandang kearahnya sambil
tertawa dingin, hal ini membuatnya keheranan-
Sudah jelas perempuan muda itu berhasil membongkar
penyaruannya. Mengapa dia malah tak meronta? Atau
mungkin ia sudah pasrah pada nasib dan bersedia ditiduri
olehnya?
Tanpa terasa sinar matanya dialihkan ke arah pergelangan
tangannya yang mencengkeram, lengan itu putih halus,
empuk dan lembut, sudah jelas berada dalam cengkeraman
sendiri.
Tapi kemudian ia melihat pada punggung tangan sendiri,
entah sedari kapan ternyata sudah tertancap sebatang jarum
perak yang lembut seperti bulu kerbau, jarum tersebut
memancarkan sinar keperak perakan yang amat menyilaukan
mata. Hampir saja ia menjerit kaget, ternyata jarum itu sudah
dipolesi dengan racun jahat.
Dia... adalah nyonya muda dari keluarga Tong diSzichuan,
sudah pasti jarum itu pun merupakan senjata rahasia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menunggal dari keluarga Tong, ”Siau li gin bong” atau cahaya


perak dibalik baju yang merupakan jarum sakti pencabut
nyawa yang diwariskan kepada para menantu keluarga Tong.
Tak heran kalau tangan sendiri yang sedang
mencengkeram pergelangan tangan lawan sama sekali tidak
merasakan apa apa, lengan tersebut sudah menjadi kaku dan
mati rasa.
Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan cahaya
perak dibalik baju dari keluarga Tong merupakan senjata
rahasia dengan racun yang sangat ganas, barang siapa saja
terkena racun itu maka dalam waktu singkat dia akan
kehilangan tenaga dalamnya, sekujur badan menjadi kaku dan
mati rasa.
Kecuali obat penawar dari keluarga Tong, boleh dibilang
racun tersebut tak akan dipulihkan dengan obat apapun, bila
dua belas jam kemudian tidak peroleh bantuan, dia akan
tewas dengan tubuh mengejang keras.
Dalam pada itu Tong sau hujin telah meronta serta
melepaskan diri dari cengkeraman Tong Bun huan gadungan,
kemudian katanya dingin: ”sekarang berbicaralah, siapakah
kau sebenarnya ?”
Pada saat itu, seluruh lengan kanan Tong Bun huan telah
mati rasa dan menjadi cacad, walaupun demikian, ia justru
berhasil menenangkan kembali hatinya. Sambil mengulurkan
tangan kanannya ia berseru ”Bawa kemari”
”Apa yang kau minta?”
”Tentu saja obat pemunahnya” Tong sau hujin segera
mendengus dingin:
”Hmm, kau menghendaki obat pemunah? Berarti kau
menghendaki nyawamu? Boleh saja kuserahkan obat
pemunah tersebut kepadamu, Cuma kau harus berbicara terus
terang lebih dulu kepadaku”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong Bun huan tertawa dengan suara dalam


”Tentu saja aku menginginkan keselamatan jiwaku, tapi
akupun ingin tahu, apakah sau hujin sudah tidak menghendaki
nyawa suamimu lagi...?” Tong sau hujin jadi tertegun,
kemudian serunya gusar. ”Kau sedang menggertakku?”
”Heeeh... heeeh... heeeh... kenyataan memang begitu”
jengek Tong Bun huan gadungan sambil tertawa dingin,
”apabila aku mati, aku kuatir Tong sau cengcu...”
”Bailah, asal kau bersedia memberitahukan kepadaku
dimanakah suamiku sekarang siapa pula yang mendalangi
perbuatan terkutukmu itu, aku segera akan menyerahkan obat
penawar racun itu kepadamu”
”Sau hujin, kau anggap aku adalah seorang bocah berusia
tiga tahun...?” jengek Tong Bun huan gadungan sinis.
”Lantas, apa maumu?” tanya Tong sau hujin dengan kening
berkerut kencang.
”Sau hujin mesti memberikan dulu obat penawar racun itu
kepadaku, kemudian baru kuajak kau menjumpai Tong sau
cengcu”
”Tidak bisa” sahut Tong sau hujin tegas, ”kau harus
mengatakan dulu siapa yang mendalangi peristiwa ini dimana
suamiku sekarang kemudian baru kuberikan separuh obat
penawar racun kepadamu, bila suamiku berhasil ditemukan,
barulah kuberikan pula separuh yang lain-..”
Disaat sedang berbicara itu, Tong Bun huan gadungan
sudah mulai merasakan sekujur badannya kaku dan hilang
rasa, ini membuatnya amat terperanjat. Sesudah mendengus
dingin, katanya kemudian :
”Sekalipun aku memberitahukan kepadamu dan sau hujin
bisa menolong suamimu, memangnya kau mampu lolos dari
sini ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar ucapan mana, Tong sau hujin menjadi sangat


terkejut sehingga tanpa terasa berseru tertahan ^
”Jadi maksudmu Benteng keluarga Hee...”
Tiba tiba pintu kamar dibuka orang, Sin hujin telah berdiri
didepan pintu dengan senyum dikulum.
”Sau cengcu, sau hujin, kalian berdua memang
kebangetan. Masi baru kawin sudah cekcok sendiri ?” katanya
kemudian ”bagaimanapun juga, cekcok yaa cekcok. Janganlah
sempat menggunakan senjata segala, kalau sampai kena kan
berabe ? Untung Kui hiang cepat cepat memberi laporan
sehingga aku memburu kemari, mari untung saja tak sampai
terjadi apa apa dengan kalian”
Sembari berkata dia melangkah masuk ke dalam ruangan
Dibelakang Sin hujin mengikuti dua orang dayang berbaju
hijau, usianya masih muda, antara tujuh delapan belas
tahunan, tapi wajahnya amat genit.
Berjumpa dengan Sin hujin, Tong sau hujin seperti
berjumpa dengan sanak sendiri saja, buru buru dia
menyarungkan kembali pedangnya dan menyongsong
kedatangan perempuan itu sambil serunya :
”Hujin, kedatanganku tepat sekali, dia... dia bukan... bukan
suamiku...”
”Semalam sudah berkumpul, selamanya adalah suami isteri,
kau jangan berkata begitu sau hujin, cekcok diantara suami
istri sudah merupakan kejadian yang lumrah, orang kuno
bilang, diujung pembaringan bercekcok. Diakhir pembaringan
sudah saling membaik, kalau Cuma karena urusan kecil, biat
apa sih mesti bersungguh sungguh ?”
”Hujin, aku bukan lagi bercekcok dengannya, bajingan ini
menyaru sebagai suamiku dia bukan suamiku yang
sebenarnya” seru Tong sau hujin dengan gelisah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sun hujin segera menggenggam tangan kirinya dengan


lembut, kemudian setelah tertawa ringan katanya :
”Aah, mana mungkin? Dia kan jelas jelas adalah Tong sau
cengcu...?”
”Bukan, dia adalah orang yang menyamar sebagai
suamiku... dia bukan suamiku yang sebenarnya”
”Aaah, mustahil” pelan pelan Sin hujin berkata lagi,
”biarpun Benteng keluarga Hee bukan terbuat dari dinding
baja lantai besi, namun orang lain tak mungkin bisa
menyelundup kemari, siapa sih yang telah makan empedu
beruang sehingga berani menyaru sebagai Tong sau
cengcu...?”
”Tapi kenyataannya memang demikian, dia telah menyamar
sebagai suamiku” Sin hujin segera tertawa terkekeh kekeh.
”Mungkin hal ini Cuma khayalanmu saja setelah bercekcok
dengannya, orang lain kan tiada alasan untuk menyamar
sebagai Tong sau cengcu?
Lagi pula dia baru kembali dari kamar baca pocu,
sepanjang jalanpun dihantar oleh dayang yang bertugas
dikamar baca, mana mungkin bisa gadungan? Sudahlah, aku
lihat kalian berdua jangan cekcok lagi, cepatlah pergi tidur”
Tong sau hujin jadi tertegun pula sesudah mendengar
perkataan tersebut, diam diam pikirnya
”Betul juga perkataan ini, barusan suamiku bersama Ban
sau cengcu dan Hee pocu sama sama pergi kekamar baca,
tentu saja tak mungkin akan terjadi peristiwa apa apa,
ditambah pula bajingan ini baru datang dari kamar baca Hee
pocu yang dihantar oleh dayang yang bertugas disitu, tentu
saja tak mungkin ada orang menyarunya ditengah jalan,
jangan jangan-..”
Sementara itu Sin hujin telah berpaling tiba tiba ia
menyaksikan sinar mata Tong Bun huan gadungan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membuyar, wajahnya pucat keabu abuan, tangan kirinya


menggenggam pergelangan tangan kanannya kencang
kencang, sedang sebatang jarum perak lembut menancap
diatas lengan kanannya, ia berdiri disitu tak berbicara ataupun
bergerak. Melihat kejadian tersebut, ia berseru kaget sambil
teriaknya tertahan:
”Sau cengcu mengapa kau? Kau... oooh, tanganmu
tertancap jarum perak dari Siu li gin hong yang diajarkan
kepada menantu keluarga Tong saja, kalau begitu Tong hujin
yang mewariskan kepandaian ini kepadamu bukan sau hujin?
Tapi, tidak seharusnya sau hujin melukai suami sendiri dengan
senjata rahasia yang begitu beracun, menurut nasehatku,
lebih baik tolong dulujika suamimu, sau hujin, berikan obat
penawar racun itu kepadaku kalau tidak. Keadaan bisa
teriambat”
-oo0dw0oo-

Jilid: 12

Ia selalu bersikeras mengatakan bahwa Tong Bun huan


gadungan tidaklah gadungan-
Semenjak tadi Tong sau hujin sudah curiga. Sekarang dia
semakin mengerti lagi, ditinjau dari apa yang terpapar
dihadapan matanya sekarang, sudah jelas peristiwa penyaruan
suaminya merupakan suatu rencana keji yang diatur oleh
orang orang Benteng keluarga Hee, dari sini bisa disimpulkan
pula kalau suaminya telah terjatuh ke tangan mereka...
Membayangkan hal tersebut, tanpa terasa hatinya menjadi
bergidik, diam diam hawa murninya dihimpun kedalam lengan
kirinya siap sedia meronta dari cekalan tangan kiri lawan,
sedangkan tangan kanannya siap menggenggam gagang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedang, katanya kemudian: ”Baiklah aku akan mengambil


obat pemunahnya.” Sin hujin tertawa terkekeh kekeh :
”Kesediaanmu datangnya kelewat cepat, bukankah kau
mengatakan dia bukan suamimu ? Mengapa kau bersedia
memberi obat penawar racun kepadanya?
Tiba tiba Tong sau hujin merasa tangan kirinya yang
dipegang lawan terasa gatal sekali
Sampai detik ini dia baru sadar rupanya sejak masuk sin
hujin menggenggam tangan kirinya karena ia memang
mempunyai suatu maksud tertentu.
Perlu diketahui, ilmu siu li gin bong yang dipelajarinya
justru terletak ditangan ini berarti tujuan Sin hujin memegang
tangan kirinya tadi adalah mencegah agar dia tak bisa
mempergunakan senjata rahasia andalannya lagi.
Sekarang telapak tangannya terasa gatal sekali, hal
tersebut meningkat kewaspadaan dalam hati Tong sau hujin,
cepat cepat dia menarik tangannya sambil meronta untuk
melepaskan diri dari celakan Sin hujin, kemudian sambil
meraba gagang pedangnya dengan tangan kanan, ia mundur
dua langkah ke belakang. Katanya kemudian sambil
mengawasi wajah Sin hujin lekat lekat : ”Kalau kudengar dari
nada pembicaraan nyonya, agaknya...”
”Agaknya kenapa?” sin hujin tertawa, ”maksudmu, kau
anggap akulah yang menjadi otak atau dalang dari peristiwa
ini, bukan demikian?”
”Jadi kau... kau sudah mengaku?” tanya Tong sau hujin
kaget bercampur keheranan-
”Anggap saja memang begitu”
”Apa maksudmu berbuat demikian?” teriak Tong sau hujin
semakin terperanjat,
”Kau ingin tahu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aku hanya ingin tahu, dimanakah suamiku sekarang?”


Tertawa sesat yang menggidikkan hati segera menghias
wajah Sin hujin, sambil menuding ke arah Tong Bun huan
gadungan, ucapnya :
”Mulai sekarang, suamimu adalah dia, sudah jelas suamimu
berada dihadapanmu buat apa kau tanyakan lagi kepadaku ?”
”Tidak... tidak ” Tong sau hujin menjerit dengan perasaan
yang hancur lebur, ”dia gadungan, kemaa kalian larikan
suamiku ?”
”Sau hujin, kau jangan panik atau ribut dulu ” pelan pelan
sin hujin berkata lagi ”suamimu adalah Tong Bun huan, dan
dihadapan matamu sekarang telah berdiri seorang Tong Bun
huan yang hidup segar bugar, bukankah orang ini sudah
cukup ?”
”Sreet” Tong sau hujin meloloskan pedangnya kemudian
sambil menuding ke arah Sin hujin teriaknya :
”Bila kau tidak membebaskan suamiku, aku akan beradu
jiwa denganmu...”
”Ku nasehatkan kepadamu, lebih baik urungkan saja niat
seperti ini, apa sih bedanya antara dia dengan suamimu ?”
”Aku benar benar tak percaya, Heepocu yang begitu
termashur dalam dunia persilatan sebagai pendekar besar,
ternyata mempunyai istri yang terkutuk, biadab bejad
moralnya dan berhati busuk kau harus memikirkan baik baik
semua perbuatanmu itu, apa akibatnya dikemudian hari nanti
” Sin hujin tertawa geli.
”Tentu saja aku mengerti sangat jelas, keluarga Tong di
Szuchuan serta perguruan Heng gi bun merupakan perguruan
perguruan yang sukar untuk dihadapi”
”Asal kau sudah tahu, ini lebih baik lagi” Sin hujin segera
tertawa terkekeh kekeh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Justru karena aku mengetahui kesemuanya itu dengan


jelas, maka aku baru menyiapkan seorang suami baru bagimu.
Sekarang, kau harus menuruti perkataanku, setialah hidup
disampingnya, dengan begitu kau akan tetap sebagai sau
hujin dari keluarga Tong, tetap menjadi putri yang baik dari
ayahmu, kau sama sekali tak akan kehilangan apa apa
bagaimana ?”
Tong sau hujin menggertak giginya kencang kencang guna
menahan luapan emosinya, kemudian dengan penuh amarah
dia membentak keras.
”Kau perempuan yang tak tahu malu, tak nyana perkataan
semacam ini bisa meluncur dari mulutmu, kau...”
Berbicara sampai disini, tangan kirinya ikut digerakkan ke
depan-..
Ia menggerakkan tangan kirinya karena siap melepaskan
jarum maut Siu li gin bong nya.
Siapa tahu, mesti pergelangan tangan kirinya sudah
diangkat, namun Siu li gin bong tak ada yang memancar
keluar.
Hal ini disebabkan Siu li gin bong hanya terdiri dari
sebatang jarum perak yang lembut, benda itu baru bisa
dibidikkan keluar jika mempergunakan suatu ilmu khusus dari
keluarga Tong.
Cara khusus tersebut harus pula dikombinasikan dengan
tenaga dalam yang sempurna, bila penggunaan tenaga tepat,
maka serangan baru bisa dibidikkan sesuai dengan kehendak
hati.
Berhubung dia baru tiga bulan menjadi menantunya
keluarga Tong kepandaian itupun baru dalam taraf permulaan
belajar, sudah barang tentu serangannya tidak begitu matang.
Biar begitu, biasanya dalam jarak dua kaki ia jarang meleset.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi sekarang, berhasilnya jarum perak tersebut dibidikkan


keluar sama sekali tak ada hubungannya dengan kepandaian
tersebut, sebab disaat dia mengangkat tangannya tadi, tiba
tiba saja ditemukan bahwa kelima jari tangannya sudah
menjadi kaku dan mati rasa, sama sekali tidak menuruti
perintahnya lagi.
Tak heran kalau peristiwa tersebut membuat Tong sau
hujin merasakan hatinya tenggelam, sekarang ia baru teringat
bahwa telapak tangannya pernah terasa gatal sewaktu
digenggam oleh Sin hujin tadi ini membuktikan bahwa
perempuan tersebut sudah berbuat curang kepadanya...
Dalam pada itu Sin hujin sedang menengok ke arahnya
sambil tertawa terkekeh kekeh, lalu jengeknya :
”Kenapa? Apakah Siu li gin bong mu tak mampu
memperlihatkan kehebatannya lagi? Maka nya aku toh sudah
bilang tadi, urungkan saja niat macam begitu? Dengan sedikit
kemampuan yang kau miliki, itu mana mungkin kau bisa lolos
dari cengkeraman tangan Ji lay hud ku ini?”
Berbicara sampai disitu, ia berpaling kepada dua orang
dayang yang berada dibelakangnya sambil berpesan :
”Tong sau hujin sudah letih cepat kalian membimbingnya,
layanilah dengan berhati hati”
Dua orang dayang itu mengiyakan, satu dari kiri yang lain
dari kanan bersama sama maju kemuka menghampiri Tong
sau hujin
”Siapa yang berani mendekati aku?” bentak Tong sau hujin
penuh amarah.
Dengan pedang dilintangkan didepan dada selangkah demi
selangkah ia mundur terus kebelakang.
Sin hujin sama sekali tidak turun tangan dia hanya berdiri
disitu dengan senyuman dikulum katanya tiba tiba :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Keadaan sekarang sudah ibarat gendewa yang habis


membidik, lebih baik letakkan senjata dan menyerah kalah
saja”
Disaat Tong sau hujin sedang mundur ke belakang tadi,
tiba tiba satu ingatan melintas didalam benaknya, pikirnya
didalam hati :
”Sekarang suamiku sudah terjatuh ke tangan mereka, jika
akupun terjatuh pula ke tangan mereka, bukankah teka taki ini
tak akan terpecahkan untuk selamanya ? Sekarang aku harus
berusaha keras untuk melarikan diri dari sini, dengan demikian
mereka baru tak berani mencelakai jiwa suamiku...”
Belum habis ingatan itu melintas lewat, dua orang dayang
tadi sudah selangkah mendekatinya, cepat dia berpaling, pada
jarak tiga depa dibelakangnya tampak sederet daun jendela.
Tidak sangsi lagi, Tong sau hujin segera membentak keras.
”Berhenti ”
Tangan kanannya dikebaskan ke depan pedangnya lalu
memancarkan sekilas cahaya berbentuk kipas yang meluncur
ke arah dua orang dayang tersebut, sementara sepasang
kakinya segera menjejak tanah, dengan sekuat tenaga ia
terjang daun jendela itu.
”Blaaamm”
Diiringi suara yang keras, daun jendela itu tertumbuk
hingga terbuka Tong sau hujin segera terjun kebawah loteng
lewat jendela tersebut.
Berubah paras muka Sin hujin menyaksikan kejadian ini,
sambil mendengus dingin gumamnya ^
”Perempuan sialan itu benar benar keras kepala”
”Hujin perlukah kita kejar?” tanya dua orang dayang itu
dengan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diatas kerutan wajah sin hujin teriintas senyuman dingin


yang menggidikkan hati, sahutnya:
”Tidak usah, sewaktu kemari, aku telah menyuruh Kui
hiang memberitahukan kepada ciu Congkoan, aku yakin dia
tak akan mampu kabur terlalu jauh”
Baru selesai ia berkata, dari bawah loteng sana sudah
kedengaran ^uara ciu Kay seng sedang berseru ^
”Hujin, apa yang terjadi diatas loteng?”
”Kau orang dungu nampaknya” hardik Sin hujin sambil
mendekati daun jendela, ”memangnya tidak kau lihat Tong
sau hujin terjun lewat jendela?”
”Lapor hujin” seru ciu Kay seng sambil mendongakkan
kepalanya, ”hamba... hamba Cuma mendengar suara benturan
keras, ti... tidak kulihat siapa pun”
”Kalian memang benar benar gentong nasi yang tidak
berguna” umpat Sin hujin mendongkol. ”masa kalian tidak
melihat ia terjun lewat jendela? Ayo cepat dikejar sampai
ketemu.”
Ciu Kay seng mengiakan, cepat ia menjejakkan kakinya
melejit keudara dan meluncur keluar halaman-
ooodowooo

Waktu sudah menunjukkan tengah malam lewat, tapi


suasana didalam kamar baca Hee pocu masih terang
benderang bermandikan cahaya lentera.
Hee Im hong duduk dikursi kebesarannya dengan wajah
amat berat dan serius. Disisinya duduk sin hujin yang
berdandan menyolok dengan baju warna hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dibawah mereka berdua duduk siburung berkepala


sembilan Soh Han sim yang bermata seram, sedang di
sampingnya berdiri lagi seseorang, dia adalah ciu Kay seng.
Kedua orang itu berstatus sebagai congkoan Benteng
keluarga Hee, namun kelihatan sekali bahwa kedudukan Soh
Han sim masih jauh lebih tinggi daripada kedudukan ciu Kay
seng.
Sin hujin duduk di bangkunya sambil menghisap sebatang
hunewee, berapa saat kemudian dengan alis mata berkenyit ia
berkata:
”Kau bilang, dalam wilayah lima puluh li diseputar Benteng
keluarga Hee tidak dijumpai bayangan tubuhnya? Lantas
kemana ia telah pergi? Apa lagi ia sudah terkena bubuk
pembuyar tenagaku yang bersifat lamban, ia tak bakal bisa
kabur lebih dari lima puluh li”
”Lapor hujin, hamba telah menghubungi semua pos
penjagaan agar waspada mengawasi gerak gerik Tong sau
hujin, tapi laporan yang masuk kemudian mengabarkan bahwa
mereka tak menemukan jejaknya” sahut ciu Kay seng takut.
”Jadi maksudmu, ia punya sayap dan bisa terbang ke
angkasa?” tanya Sin hujin sambil menghisap huncweenya
dalam2.
”Hamba memang ingin melaporkan sesuatu hal kepada
pocu dan hujin-..”
”Katakan-”
”Hamba mendengar dari Sun Kokpiau, katanya sewaktu
hamba mendapat perintah dari hujin untuk menyusul ke
gedung tamu agung, Sun Kokpiau kebetulan sedang meronda
disekitar gedung tersebut, menurut laporannya ketika ia
sedang meronda di gedung nomor tiga, dimana letaknya
persis berhadapan dengan gedung loteng nomor dua, ia
mendengar suara benturan keras dari atas loteng nomor dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketika ia mendongakkan kepala, tampak ada sesosok


bayangan manusia meluncut keluar dari jendela itu.”
”Eeehmm, bukankah waktu itu kaupun berada dibawah
loteng masa tidak kau lihat?” dengus Sin hujin dingin.
”ciu nio, biarkan ia berkata lebih jauh” tukas Hee Im hong.
Ooodowooo

Setelah menarik napas panjang ciu Kay seng berkata lebih


lanjut:
”Sun Kokpiau berdiri agak jauh waktu itu sehingga tidak
melihat dengan jelas siapakah orang itu, dia Cuma melihat
bayangan manusia itu segera terjun kebawah setelah
melewati jendela . ”
”Ia melompat dari jendela, tentu saja tubuhnya akan terjun
kebawah” tukas Sin hujin sambil tertawa dingin.
”Tapi menurut Sun Kokpiau, bayangan hitam itu segera
meluncur lagi keatas setelah terjun kebawah tadi, bahkan
kecepatannya sangat tinggi, dalam sekilas pandangan saja
sudah lenyap tak berbekas, dia masih mengira matanya kabur,
tapi kenyataannya dialah satu satunya orang didalam benteng
kita yang melihat Tong sau hujin terjun dari jendela.”
”Kau anggap perempuan busuk she Tong itu sudah
menjelma jadi bidadari dan kembali ke kahyangan?” kembali
sin hujin menjengek dengan sinis.
Berbeda sekali dengan Hee Im hong ia tertarik sekali
dengan ucapan ciu Kay seng itu, segera tanyanya:
Sun Kokpiau berjuluk terbang diatas rumput, tentu saja ia
dapat menangkap gerakan itu bagaimana selanjutnya?
”Ketika menyaksikan kejadian aneh itu, ia segera menyusul
kemari, kebetulan bertemu dengan hamba, maka kamipun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melakukan pemeriksaan yang seksama disekitar situ, alhasil


kami tak berhasil menemukan setitik bayangan manusia pun.
Pada saat sewaktu Tong sau hujin terjun ke bawah tadi,
hamba pun berada dibawah loteng, hanya dikarenakan
tertutup oleh wuwungan rumah, maka hamba Cuma
mendengar suara benturan tanpa menjumpai ada orang yang
turun ke bawah, sungguh, kata kataku ini merupakan
kenyataan”
”Menanti hamba menyusul ke tengah halaman, baru
kudengar dari hujin bahwa Tong sau hujin telah melarikan diri
dari jendela. Padahal di bawah jendela tidak terdapat tempat
berpijak kaki, jika ia melompat dari jendela, niscaya akan
turun ke bumi, mustahil tubuhnya dapat melejit ke udara dan
melayang ke atas, hamba rasa peristiwa ini benar benar
merupakan suatu teka teki yang jangat besar.” Hee Im hong
termenung sebentar, kemudian baru katanya:
”Perkataanmu itu memang masuk diakal, juga kejadian ini
memang sangat mencurigakan, tapi hilang lenyapnya Tong
sau hujin pun merupakan suatu kenyataan yang benar, ia bisa
kabur dari gedung tamu agung dibawah pengawasan kalian
dan lolos dari Benteng keluarga Hee sudah merupakan
kejadian tak masuk akal, apalagi menurut laporan dari
pelbagai pos penjagaan bahwa jejaknya sama sekali tidak
terlihat dalam wilayah lima puluh li, kejadian ini semakin
mengherankan lagi. Mungkinkah penjagaan dalam benteng
keluarga Hee kita sedemikian teledornya sampai orang yang
kabur pun tak berhasil ditemukan jejaknya?
”Hamba memang pantas dihukum, inilah keteledoran
hamba dihari hari biasa dalam pengawasan” buru buru ciu Kay
seng memberi hormat dengan ketakutan-
Soh Han sim yang selama ini membungkam dalam seribu
bahasa, tiba tiba berkata pula dengan suara dingin:
”Dalam peristiwa ini, ciu congkoan tidak bisa disalahkan
Pocu, menurut pendapat hamba, bisa jadi benteng kita telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedatangan jago lihay pada malam ini, sehingga Tong sau


hujin berhasil diselamatkan olehnya.”
”Tentunya Soh congkoan ada suatu pendapat lain bukan ?”
tanya Hee Im hong.
”Hamba hanya berbicara berdasarkan kesimpulan yang
kuambil dari laporan ciu congkoan barusan, bayangkan saja,
Tong sau hujin telah terkena racun penyebar tenaga, ketika
menerjang jendela dan terjun ke bawah tadi, seharusnya dia
sudah kehabisan tenaga dan menurut teori dia pasti akan
terjerembab ke atas tanah.”
”Tapi berdasarkan kesaksian mata dari Sun Kokpiau,
setelah tubuhnya terjungkal ke bawah tadi tahu tahu
badannya melejit lagi ke udara bahkan dengan kecepatan
sangat tinggi, dalam sekilas kelebatan saja bayangan
tubuhnya sudah lenyap. Bukankah ini membuktikan ada jago
lihay yang telah menyelamatkan jiwanya?
”orang ini bisa menolong Tong sau hujin disaat ciu
congkoan melompat keluar dan Sun Kokpiau memburu ke
tempat kejadian bahkan sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Sudah barang tentu para centeng yang kita tugaskan
dipelbagai pos penjagaan lebih lebih tak mudah untuk
menemukan jejaknya.”
”Ehmmm, betul juga perkataan ini” Hee Im hong manggut
manggut setelah termenung sejenak. ”Cuma...”
Dia hanya mengucapkan kata ”Cuma” kemudian tidak
melanjutkan lagi kata katanya.
”Soh congkoan, menurut pendapatmu siapakah dia?” Sin
hujin segera bertanya dengan cemas.
Soh Han sim tertawa seram.
”orang yang bisa menolong seseorang dari tengah udara
pada dunia persilatan dewasa ini rasanya hanya beberapa
orang saja”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Yaa betul, kemungkinan besar hasil perbuatannya...”


mendadak Hee Im hong berbisik dengan wajah berubah.
”Siapa yang kau maksudkan?” tanya Sin hujin-
”Nenek pengemis bermata sipit. Semalam aku telah
berjumpa dengannya...”
”Semalam pocu telah berjumpa dengan nenek pengemis
bermata sipit...?” tergerak hati soh Han sim.
”Bukankah si nenek pengemis itu sudah banyak tahun tak
pernah munculkan diri dalam dunia persilatan?” tanya Sin
hujin pula keheranan.
”Seorang muridnya telah menyelundup masuk ke dalam
benteng kita semalam, dia telah memancing keluar Huan
hiantit serta mengajaknya pergi ke Kim leng...”
”Apakah Pocu merasa Huan kongcu ada yang
mencurigakan? Tanya Soh Han sim kemudian setelah
mendehem.
Padahal sejak permulaan ia sudah menaruh kecurigaan
terhadap Huan cu im. Hee Im hong segera menggeleng.
”curiga sih tidak. Huan hiantit tak pernah berkelana didalam
dunia persilatan diapun tidak perlu untuk menipu atau
membohongi diriku”
Secara ringkas dia menceritakan apa yang dialaminya
semalam, kemudian menambahkan ”Lagi pula aku sudah
mengatur segala sesuatunya secara rapih dan bagus”
”Maksud hati pocu sudah kulihat sejak dahulu, bukankah
kau berniat memungutnya sebagai menantu?” seru Sin hujin
kemudian sambil tertawa merdu.
”Pocu, bagaimana menurut pendapatmu atas lenyapnya
Tong sau hujin kali ini?” sela soh Han sim dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hee Im hong mengangkat kepalanya dan memandang


sekejap kearahnya, kemudian baru berkata:
”Bagaimana pula menurut pendapat Soh congkoan?”
”Satu satunya jalan adalah menunda untuk sementara
waktu atas semua rencana kita semula, kemudian membiarkan
Tong huan turut menghadiri pertemuan puncak tersebut,
bagaimanapun jua ia toh sudah kita cekoki bubuk pembingung
ingatan sehingga dia hanya tahu setia kepada pocu seorang,
biarpun tidak seleluasa cara kerja orang kita yang disarukan
sebagai dirinya, aku pikir selisihpun tidak terlalu banyak.
Dengan demikian bila ia sampai ketemu mertuanya dalam
pertemuan tersebut pun tak sampai terjadi keonaran-”
”Yaa, terpaksa kita memang harus berbuat demikian” sahut
Hee Im hong seraya mengangguk.
”ciu congkoan, urusan ini kau saja yang melaksanakan”
Selama ini ciu Kay seng hanya berdiri disamping dengan
sikap munduk. Pada hakekatnya ia tidak mempunyai hak
untuk turut berbicara. Baru sekarang ia bisa mengiakan:
”Hamba mengerti” sahutnya cepat.
Ooooodwooooo

Huan cu im telah kembali ke gedung timur, ci giok


menyambut kedatangannya didepan pintu sambil menyapa :
”Kongcu sudah kembali?”
”Kau belum tidur?” tanya Huan cu im, ci giok tersenyum
manis. ”Kongcu kan belum pulang, masa budak berani tidur
lebih dulu?”
”Sekarang kan sudah jauh malam, pergilah tidur” kata
Huan cu im lagi.
Ci giok memandang pemuda itu seperti ingin mengucapkan
sesuatu, namun niat tersebut kemudian diurungkan, setelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi hormat katanya ”Kalau begitu budak mohon diri lebih


dulu”
Menanti gadis itu sudah mengundurkan diri, Huan cu im
baru masuk kedalam kamar tidurnya.
”Muridku, cepat kau rapatkan kembali pintu kamarmu,” tiba
tiba suara gurunya bergema dari balik kegelapan-
cepat cepat Huan cu im memadamkan lentera dan
mengunci pintu kamarnya rapat rapat, kemudian bisiknya :
”Apakah suhu sudah datang sedari tadi?”
”Malam ini kau kelewat menyerempet bahaya tegur” Ju It
koay lirih.
Ketika tecu mendengar suara peringatan dari suhu yang
dikirim dengan ilmu menyampaikan suara ”keadaan sudah
terlambat tapi menurut pendapat tecu, empek Hee...”
”Tak perlu dikatakan lagi” tukasJu It koay sambil menghela
napas ringan- ”atas peristiwa malam ini, bisa jadi Hee pocu
sudah menaruh kecurigaan kepadamu, simpanlah baik baik pil
pemberianku ini, jika besok Hee pocu memanggilmu kekamar
baca entah apapun yang ia bicarakan mesti kau sanggupi
semuanya tanpa membantah, ingat entah minum teh atau
bersantap. Kau harus segera menelan pil ini, lagi pula jangan
sampai terlihat oleh siapapun.”
Sambil berkata dia menyodorkan sebutir pil kehadapannya.
Setelah menerima pil itu, Huan cu im kembali bertanya: ”Suhu
apakah...”
”Kau tak usah banyak tanya lagi,” tukas Ju It koay cepat.
”aku tak bisa berdiam terlalu lama disini, ingat saja baik baik
perkataanku ini. Oya, kaupun harus perhatiakn ci giok baik
baik, aku rasa perempuan ini bukan perempuan sembarangan,
nah, aku harus pergi dulu”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu dia sudah


menerobos jendela dan keluar dari situ.
Huan cu im menyimpan pil itu baik baik sekarang ia
semakin merasa, sejak kedatangannya dibenteng keluarga
Hee, hampir semua kejadian yang dialami ataupun disaksikan
olehnya makin lama semakin rumit rasanya, lagi pula diapun
tidak bisa membedakan apakah benteng keluarga Hee
tergolong pihak yang baik atau buruk.
Namun terlepas baik buruknya Benteng keluarga hee, yang
pasti sikap empek Hee terhadapnya memang cukup baik.
Keesokan harinya matahari sudah berada diatas awang
awang.
Diatas loteng tingkat kedua bangunan gedung tamu agung,
Tong Bun huan baru sadar kembali dari impiannya, dia merasa
kepalanya pusing sekali seperti mau pecah.
Ketika membuka matanya kembali, sinar mata memancar
masuk lewat jendela dan terasa amat menusuk pandangan,
sehingga hampir saja ia tak mampu membuka matanya lagi.
Ia bangun dan duduk. Tidak dijumpai istrinya berada disitu,
atau mungkin karena sedang bertamu, maka istrinya merasa
tak enak menemaninya berbaring terus di pembaringan?
Maka ia mengucak ucak matanya sambil turun dari
pembaringan, dalam kamar pun tidak ditemukan bayangan
tubuh istrinya.
Akhirnya Kui hiang muncul dari balik pintu sambil menyapa:
”tong sau cengcu kau sudah bangun? Biar budak siapkan
air untuk cuci muka”
”Nona Kui hiang, mana sau hujin?” Tong Bun huan segera
memanggilnya dengan cepat.
Mendengar ia menyinggung soal Sau hujin, Kui hiang
segera menutupi bibirnya dengan tangan sambil tertawa geli,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian serunya: ”Tong sau cengcu, masa kau tak bisa


mengingatnya sama sekali?”
”Apa yang kau maksudkan?” tanya Tong Bun huan
keheranan-
”Tentu saja masalah antara Tong sau cengcu dengan sau
hujin...”
Tong Bun huan semakin terkejut bercampur keheranan,
dengan mata terbelalak serunya:
”Apa yang telah terjadi dengannya? Nona Kui hiang, cepat
beritahukan kepadaku”
”ooh, kalau begitu Tong sau cengcu benar benar sudah tak
dapat mengingatnya kembali” kata Kui hiang sambil
mengawasi wajahnya, ”beginilah kejadiannya, semalam, Tong
sau cengcu dan sau hujin mungkin sudah kebanyakan minum
arak sehingga mabuk. Sekembalinya sau cengcu dari kamar
baca... budakpun tak jelas apa yang kemudian terjadi didalam
kamar budak Cuma mendengar Tong sau cengcu sedang
cekcok dengan sau hujin, budak takut kalian berkelahi terus
sehingga keadaan berabe, maka buru buru kulaporkan
kejadian ini kepada hujin...”
Tong Bun huan segera memegangi kepala sendiri sambil
memperlihatkan rasa kaget dan tercengang.
”Aku cekcok dengan sau hujin? Apa kau dengar apa yang
menyebabkan terjadinya percekcokan diantara kami berdua?”
”Budak sendiripun kurang jelas, pokoknya percekcokan
kalian berdua berlangsung amat sengit...”
”oooh Thian...” Tong Bun huan segera memagangi jidat
sendiri dengan perasaan lesu ”Aku tidak pernah cekcok
dengan Siu koh selama ini, oya, bagaimana selanjutnya?...
cepat katakan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui hiang pura pura berpikir sebentar, kemudian baru


melanjutkan:
”Kemudian nyonya datang dan menasehati kalian berdua
agar jangan cekcok. Tampaknya sau hujin seperti... seperti...”
Mendadak paras mukanya berubah menjadi merah dadu,
agaknya dia seperti tak mampu untuk melanjutkan kembali
kata katanya. Dengan gelisah Tong Bun huan segera berseru:
”Nona, cepat kau teruskan, agaknya istriku kenapa? Aaai,
sungguh mencemaskan”
Sekali lagi Kui hiang menutupi mulutnya sambil tertawa
cekikikan, kemudian baru katanya:
”Sau hujin bilang Tong sau cengcu adalah Tong sau cengcu
gadungan-..”
”Gadungan?” Tong Bun huan membelalakkan matanya
lebar lebar, wajahnya semakin keheranan, ”dia mengatakan
aku gadungan? Mana mungkin aku bisa gadungan? Oya,
apakah pun sudah mabuk?”
”Menurut pendapat budak. Delapan puluh persen sau hujin
sudah mabuk wajahnya saja merah padam amat
menggiurkan, dia pun enggan menuruti nasehat hujin, ia
bersikeras mengatakan sau cengcu bukan suaminya, ketika
hujin menyuruh dua orang dayang untuk membimbingnya, ia
menuduh hujin hendak mencelakai jiwanya...”
”Ngaco belo” seru Tong Bun huan sambil berkerut kening,
”bagaimana kemudian?”
”Sau hujin tak mau dibimbing oleh kedua orang dayang
tersebut, tiba tiba saja ia menumbuk jendela dan terjun ke
bawah.”
”Aaah” Tong Bun huan menegak sekejap keara h jendela
sambil berseru tertahan kemudian tanyanya lagi dengan
cemas, ”bagaimana kemudian...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Hujin sangat terkejut, cepat cepat dia mengirim orang


untuk mencarinya, tapi seluruh benteng tidak ditemukan
bayangan tubuh dari sau hujin akhirnya ciu congkoan
mengirim beberapa rombongan untuk mencarinya, inipun
tidak berhasil menemukan jejak sau hujin...”
”Aaai...” Tong Bun huan bergendong tangan sambil
berjalan bolak balik macam semut diatas kuali panas, dengan
amat gelisah dia berseru, ”kemana... ke mana, dia telah
pergi?”
”Tong sau cengcu tak usah gelisah, budak dengar dari ciu
congkoan, katanya sau hujin pergi meninggalkan benteng
dalam keadaan marah, mungkin dia tak enak kembali lagi
kesini setelah mabuknya hilang, oleh sebab itu bisa jadi ia
telah pergi ke bukit Kin kiong san”
”Aaai, tapi ia tak pernah meninggalkan rumah” keluh Tong
Bun huan sambil menghela napas.
”Semalam hujin pun berkata demikian, tapi ciu congkoan
berpendapat lain, dia bilang sau hujin adalah putri kesayangan
ciok elangbunjin yang sudah belajar silat sedari kecil, mana
mungkin ia bisa tersesat? Kemudian hujin pun masih tak lega
hati, maka pagi tadi ia telah mengirim orang untuk
menyusulnya kebukit Kiu kiong san.”
”Kalau begitu cepat siapkan air untukku cuci muka, aku
harus selekasnya pergi ke Kiu kiong san”
oooodwoooo

Tengah hari itu didalam kamar baca Hee Im hong kembali


disiapkan meja perjamuan . Dengan mempersiapkan meja
perjamuan di dalam kamar baca ini berarti tamu yang
diundang adalah tamu pria.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Meja perjamuan telah disiapkan, semuanya terdiri dari


empat buah tempat duduk dengan empat cawan, hanya sayur
saja yang belum dihidangkan.
Dilihat dari cara mengatur keempat cawan itu, bisa
diketahui perjamuan itu dipersiapkan untuk seorang tuan
rumah, seorang tamu utama dan dua orang tamu
pendamping.
Kini, didalam kamar baca telah duduk tiga orang, orang
pertama adalah Hee Im hong, tentu saja dia adalah tuan
rumah orang kedua adalah sau cengcu dari keluarga Ban
dibukit Hong san, Ban Siang cing, tentu dia adalah tamu.
Sedang orang ketiga adalah si burung berkepala sembilan
Soh Han sim yang bermata mengerikan meski dia disebut
sebagai salah satu congkoan dari benteng keluarga Hee,
namun ditinjau dari setiap gerak geriknya sudah jelas dia
merupakan tangan kanan dari Hee pocu yang kedudukannya
jauh melebihi ciu Kay seng.
Kini ia tinggal di kamar baca berarti dia termasuk salah
seorang tamu pendamping.
Dari keadaan ini bisa disimpulkan juga kalau Tong Bun
huan telah berangkt melakukan perjalanan ke bukit Kiu kiong
san untuk mencari bininya.
(Perguruan Heng gi bun terletak di bukit Kiu kiong, jadi Kiu
kiong san merupakan rumah mertua Tong Bun huan).
Lantas siapakah tamu pendamping yang lalu? Teka teki ini
dengan cepat terjawab, sebab dari luar kamar baca telah
muncul seseorang, orang itu tak lain adalah Huan cu im.
Setibanya didalam kamar baca, Huan cu im segera menjura
kepada Hee Im hong seraya berkata:
”Empek Hee, ada urusan apa kau memanggil siau^?”
Hee Im hong tertawa terbahak bahak :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Hiantit, cepatlah duduk. Ban sauheng adalah tamu kita,


sebagai sesama anak muda, tentu kalian lebih cocok untuk
berbincang bincang, itulah sebabnya aku khusus menyuruh
Kim koansi mengundangmu kemari untuk menemani tamu
kita”
Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kearah Soh
Hansim sambil berseru tertahan, kemudian meneruskan
”oya, kalian tentu belum pernah berkenalan bukan? Mari,
biar kuperkenalkan kalian berdua, dia adalah Soh congkoan
dari benteng ini.” Kemudian kepada Soh Hansim, katanya pula
”Dan dia adalah keponakan Huan cu im yang sering
kusinggung kepadamu”
soh Han sim segera tertawa seram.
”Huan kongcu, sudah lama kudengar namamu.”
Sebenarnya kata semacam ini hanya merupakan kata kata
sopan santun, namun diucapkan oleh nada suaranya yang
menyeramkan itu membuat orang mendapat kesan tak baik.
Huan cu im sudah dua kali pernah bertarung melawannya,
tentu saja ia cukup mengenali orang tersebut, tapi ia mesti
berlagak tak kenal, katanya pula sambil tersenyum,
”Soh congkoan terlalu memuji,justru akulah yang sudah
lama mendengar nama besar soh congkoan-”
Dengan sorot mata yang tajam Soh Han sim mengawasi
Huan cu im, kemudian katanya lagi:
”Huan kongcu, biarpun kita baru pertama kali bertemu, tapi
rasa rasanya kita seperti pernah bersua muka.”
Selama berapa hari ini, boleh dibilang pengalaman Huan cu
im semakin bertambah matang, mendengar ucapan tersebut
iapun tertawa hambar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Sudah berapa hari aku berdiam dibenteng ini, siapa tahu


Soh congkoan sudah pernah melihat aku.”
”Huan heng, silahkan duduk dulu baru berbicara” sela Ban
Sian ceng dari samping. ”Kalau begitu siaute permisi untuk
duduk” sahut Huan cu im sambil menjura.
Di hati kecilnya dia masih teringat akan peristiwa semalam
munculnya dua orang Tong Bun huan maka tanpa terasa sorot
matanya memandang sekejap kesekeliling tempat itu.
Sudah barang tentu Hee Im hong dapat menebak suara
hatinya itu, sambil mengelus jenggotnya dan tertawa katanya
:
”Keponakan Huan, apakah kau tidak melihat Tong sau heng
berada disini? Aaai, semalam Tong sauheng suami istri
dipengaruhi oleh arak sehingga cekcok hebat, dalam
marahnya Tong sau hujin telah pergi meninggalkan tempat ini,
akhirnya setelah Tong sau heng sadar dari mabuknya, cepat
cepat dia menyusul ke Kiu kiong san untuk minta maaf kepada
bininya.”
Dengan mata kepala sendiri Huan cu im menyaksikan
munculnya dua manusia kembar didalam kamar baca
semalam, sudah barang tentu dia tak akan percaya dengan
penjelasan Hee Im hong itu, tapi dia masih teringat dengan
pesan gurunya yang melarangnya banyak berbicara, oleh
sebab itu katanya kemudian-”Tak aneh kalau siautit tidak
menjumpai saudara Tong”
Setelah duduk. Seorang dayang segera datang
menghidangkan secawan air teh.
Soh Han sim pun memerintahkan.
”Semua yang diundang telah datang, perjamuan boleh
dimulai”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dayang itu mengiakan dan mengundurkan diri dengan


cepat, menyusul kemudian muncul dua orang dayang
menghidangkan sayur.
Hee Im hong segera mempersilahkanBan Sian ceng dan
Huan cu im untuk mulai bersantap. Dalam perjamuan, Hee Im
hong berkata kepada Huan cu im sambil tersenyum.
”Huan hiantit, Ban sau heng kakak beradik mendapat
perintah dari Tayhujin untuk pergi ke Kim leng kali ini untuk
menyongsong kedatangan ketua Hoa sanpay dan Go bi pay,
sebab tahun ini pertemuan puncak di bukit Hong san
diselenggarakan oleh keluarga Ban dari gunung Hong san
serta Hoa san dan Go bipay, Ban sauheng kakak beradik telah
memutuskan untuk berangkat besok pagi.”
Setelah berhenti sejenak dan mengangkat kepalanya, dia
berkata lebih jauh.
”Hal ini membuat aku teringat kembali akan keinginan
Huan hiantit, bukankah kaupun ingin pergi ke Kim leng?
Apalagi kebetulan sekali Siang Ciangbunjin dari Hoa juga
berdiam di Seng ki piaukiok, oleh sebab itu tak ada salahnya
bila hiantit berangkat bersama sama Ban sauheng kakak
beradik, sekalian mewakili diriku untuk menyampaikan salam
hormatku kepada Siang ciangbunjin, entah bagaimanakah
pendapat hiantit.”
Mendengar empeknya mengijinkan dia untuk berangkat ke
Kim leng bersama sama Ban Sian ceng kakak beradik, Huan cu
im menjadi gembira sekali, sebab hal ini memang pucuk
dicinta ulam tiba baginya, karenanya buru buru dia menjura
seraya menjawab ”Segala sesuatunya, siautit akan menuruti
perintah empek Hee.”
”Haah haah hah kalau begitu bagus sekali” Hee Im hong
tertawa bangga, Cuma ”sebelum hiantit berangkat ke Kim
leng, teriebih dulu ingin kusinggung tentang satu hal kepada
dirimu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

senyuman yang ramah menghiasi ujung bibirnya,


sementara sorot matanya dialihkan ke wajah Huan cu im, tiba
tiba saja ia berhenti berbicara. ”Empek Hee ada perintah apa,
siautit pasti akan menuruti dengan segera”
”Antara diriku dengan ayahmu terjalin hubungan
persaudaraan yang amat akrab, hubungan kami melebihi
saudara kandung sendiri, dimasa ayahmu masih hidup, ooh,
bukan maksudku disaat ayahmu berada disini, dia pun selalu
menuruti perkataan aku si engkoh tua, Huan hiantit, tentunya
perkataanku ini bukan sengaja kubuat buat bukan-..?”
Huan cu im tidak mengerti apa maksud empek Hee nya
berkata demikian, namun mau tak mau dia toh mengangguk
juga. ”Ucapan empek Hee memang benar...”
”Kalau begitu, urusan hiantit bisa kuputuskan sendiri
untukmu bukan-..?” sambung Hee Im hong cepat.
Kemudian tak sampai Huan cu im berbicara, dia telah
melanjutkan lagi dengan penuh keramahan^
”Hiantit, kemarin kau telah berjumpa dengan putriku giok
yong, biarpun usianya tiga tahun lebih tua daripadamu
wajahnya tidak terhitung jelek bukan? Antara aku dengan
ayahmu sudah bersaudara lama, jika hubungan ini
ditingkatkan sebagai berbesanan bukankah ini lebih baik lagi?
Karena itu aku punya rencana untuk menjodohkan giok yong
kepada hiantit, tentunya aku tidak menampik bukan?”
Merah padam selembar wajah Huan cu im setelah
mendengar perkataan itu, ia menjadi tergagap:
”Siautit... siautit masih muda, lagi pula kepergianku kali ini
untuk mencari jejak ayahku, sekarang ayah belum kutemukan,
ibu pun masih ada, siautit tak berani memutuskan sendiri...”
”Haaahh... haaah... haaah...” Hee Im hong tertawa
tergelak. ”aku adalah saudara angkat ayahmu, soal mencari
ayahmu sudah merupakan bagian urusanku pula, soal ini tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

usah hiantit risaukan, aku Cuma ingin bertanya kepadamu


setuju tidak? Soal ini merupakan soal besar yang menyangkut
kehidupanmu selanjutnya, apabila hiantit tidak menampik, aku
akan menjumpai orang untuk membicarakannya dengan
ibumu, tak ada salahnya jika kalian tukar cincin dulu,
bagaimana pendapat hiantit?”
Hee Giok yang yang cantik, lembut dan menaruh kesan
yang mendalam terhadapnya, sudah barang tentu Huan cu im
setuju seratus persen, Cuma sebagai pemuda yang sok malu,
apalagi berada dihadapan Ban sau cengcu dan Soh Han sim,
tentu saja ia tak mampu mengutarakannya keluar.
Untuk sesaat sepasang pipinya berubah menjadi merah
padam dan ia tak berani menjawab. Soh Han sim yang berada
disampingnya segera menimbrung,
”Huan kongcu masih malu malu kucing, menurut pendapat
hamba Huan kongcu sudah setuju.”
”Aaah... haaah... haaahhh...” dengan penuh kegembiraan
Hee Im hong tertawa tergelak,
”hiantit tak usah malu malu kucing, baiklah, kita tetapkan
begini saja sebentar akan kuutus orang untuk membicarakan
persoalan ini dengan ibumu”
Sampai disini, Ban Siau ceng segera bangkit berdiri segera
mengangkat cawannya.
”Klonghi cianpwee, kiong hi saudara Huan biar keponakan
mengeringkan secawan arak untuk kebahagiaan kalian”
serunya. Selesai berkata, ia teguk habis isi cawannya.
Hee Im hong dan Huan cu im bersama sama mengeringkan
pula isi cawan masing masing. Menyusul kemudian Soh Han
sim turut bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa,
”Hamba pun menyampaikan ucapan selamat untuk Pocu
dan Huan kongcu, terimalah secawan arak untuk pocu
berdua”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai berkata ia menggapai ke arah seorang dayang yang


berada dibelakangnya.
Seorang dayang muncul membawa baki perak yang berisi
poci arak. Soh Han sim turun tangan sendiri memenuhi cawan
Pocu dan Huan kongcu dengan arak. Kemudian ia baru
meneguk habis isinya.
Sambil tersenyum Hee Im hong mengeringkan cawannya.
Terpaksa Huan cu im harus mengeringkan pula isi cawannya.
Perjamuan ini diselenggarakan dalam suasana riang
gembira. Tapi Huan cu im selalu merasa keheranan, dia masih
teringat dengan pesan gurunya, bila ia makan atau minum
sesuatu dalam kamar baca, maka jangan lupa untuk menelan
pil yang diberikan gurunya itu.
Disamping itu diapun kuatir sekali atas kejadian yang
disaksikan semalam, dimana ia jumpa Tong Bun huan
berbaring di meja dan muncul Tong Bun huan gadungan-
oleh karena itu, setelah balas menghormati Hee Im hong
serta Soh Han sim dengan secawan arak. Dengan alasan mau
kencing ia keluar dari kamar baca, ditempat yang tiada orang
kedua, cepat cepat ia telah pil pemberian gurunya itu.
Menanti ia kembali ke kamar baca, perjamuan telah bubar,
dayangpun sudah menghidangkan air teh, waktu itu Ban Sian
ceng sedang berbincang bincang dengan Hee Im hong serta
Soh Han sim tentang perjalanannya ke Kim leng.
Huan cu im turut duduk mendampingi mereka, tapi
menggunakan kesempatan tersebut katanya kepada Hee Im
hong
”Empek Hee, baru pertama kali ini siautit pergi ke Kim leng,
entah apa petunjuk empek Hee?”
Sambil mengelus jenggotnya Hee Im hong tersenyum:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Pemilik perusahaan Seng kipiaukiok di kota Kim leng, Seng


Bian tong mempunyai hubungan persahabatan yang akrab
sekali dengan kakek dan ayahmu, tentu saja hiantit harus
pergi ke Seng ki piaukiok. Bila kau berniat untuk menemukan
jejak ayahmu, memang paling tepat jika kau minta bantuan
mereka, jadi aku tak usah berpesan apa apa, lagi pula
sepanjang jalan ada Ban sauheng yang menemani, bukan
Cuma akan menambah pengetahuanmu, pengalamanmu pun
akan bertambah jadi pesanku, bila ada sesuatu persoalan,
mintalah petunjuk kepada Ban sauheng, mengerti?” Huan cu
im mengiakan berulang kali. Sambil tersenyum Ban sian ceng
berkata pula,
”Petunjuk mah tak berani, bila dapat menempuh perjalanan
bersama saudara Huan, sepanjang jalan pun tidak usah
merasa kesepian-..”
”Empek Hee, apakah siautit harus berdiam terus di kota
Kim leng?” kembali Huan cu im bertanya.
Hee Im hong tertawa.
”Itu sih tak perlu, Ban sauheng ke situ untuk bertemu
dengan Siang ciangbunjin sedang jaraknya dengan pertemuan
puncak dibukit Hong san juga tinggal satu bulan lagi, ampai
waktunya aku akan pergi ke Hong san, karena itu Hiantit
boleh ikut bersama Ban auheng menuju ke bukit Hong san
pula.”
”Dalam pertemuan puncak di bukit Hong san, pelbagai jago
dari perguruan besar dan partai besar akan hadir semua
disitu. Pertemuan macam begini hanya akan diselenggarakan
sekali setiap sepuluh tahun, jadi untuk hiantit boleh dibilang
merupakan suatu kesempatan yang sangat baik, pertama bisa
menambah pengalaman, kedua bisa mencari kabar tentang
jejak ayahmu, bukankah hal ini bagus sekali ?”
Huan cu im sangat terharu, ia merasa Hee Im hong sangat
baik kepadanya, bukan saja telah menjodohkan putrinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadanya, lagi pula selalu berpikir demi kepentingannya,


boleh dibilang ia tidak menemukan sesuatu yang tak baik dari
empeknya terhadap dia.
Tentu saja dia pun merasa tiada alasan bagi orang tua itu
untuk mencelakai dirinya, hal mana dengan segera
menimbulkan rasa curiganya terhadap sikap maupun tindak
tanduk gurunya.
”Terima kasih banyak empek Hee ” ia berkata kemudian
terharu.
Hee Im hong tidak menjawab, dia hanya memandang
kearahnya sambil tertawa ramah.
Pada saat itulah, tiba tiba Huan cu im mendengar suara
gurunya sedang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
”Nak^ sekarang kau harus berkata kepada pocu bahwa
kepalamu rada pening, lalu mintalah diri kepada Pocu”
Mendengar bisikan gurunya, terpaksa Huan cu im
memagangi jidat sendiri seraya berkata:
”Empek Hee, siautit merasa agak pening, keponakan ingin
mohon diri lebih dulu”
”Mungkin hiantit minum arak kelewat cepat, sekarang
pergilan beristirahat sejenak, tentu keadaan akan sembuh
kembali” kata Hee Im hong sambil tertawa.
Huan cu im berpamitan pula kepada Ban Sian ceng serta
Soh Han sim, kemudian baru mengundurkan diri dari kamar
baca.
OoodwoOO

Dalam perkiraannya semula, setelah gurunya menyuruh dia


beralasan kepala pusing dan mengundurkan diri dari kamar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baca, ia pasti menantinya diberanda atau mungkin ada


perkataan yang hendak disampaikan kepadanya.
Siapa tahu meskipun sudah sampai di ruang sebelah timur,
ia tidak berjumpa dengan gurunya.
Ci giok yang menunggunya didepan halaman gedung,
ketika melihat Huan cu im munculkan diri, ia segera
menyongsongnya sambil tersenyum, lalu tegurnya: ”Huan
kongcu, kau minum arak?”
Huan cu im segera teringat dengan perkataan gurunya
semalam, bahwa ci giok bukan perempuan sembarangan,
tergerak hatinya dengan segera, pikirnya:
”Tadi aku beralasan kepada pusing kepada empek Hee,
berada dihadapannya aku pun tak boleh menunjukkan sikap
yang mencurigakan...” Berpikir demikian, dia lantas
memegangi kening sambil melanjutkan-
”Arak sih tidak banyak yang kuteguk. Tapi kepalaku terasa
pusing sekali, hingga terpaksa harus mohon diri lebih dulu”
”Kalau begitu kongcu pasti sudah mabuk. Biar budak yang
membimbingmu masuk” kata ci giok penuh perhatian-
Baru saja dia hendak membimbingnya, pemuda itu cepat
cepat menolak. ”Tak usah merepotkan nona” Kemudian
setelah tertawa terusnya,
”Aku hanya merasa kepalaku agak pening, sama sekali
tidak mabuk oleh arak”
”Kalau begitu cepatlah masuk untuk beristirahat, budak
akan segera buatkan teh kental untukmu”
Huan cu im masuk ke kamar bacanya yang berada di
sebelah kiri dan duduk disebelah bangku dekat jendela.
Dalam pada itu ci giok telah menyeduhkan secawan teh
kental sambil menyiapkan sebuah handuk panas, sambil
melangkah ke dalam ruangan tegurnya lagi. ”Kongcu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengapa kau tidak beristirahat sebentar didalam kamar


tidur...?”
”Aaah, biar duduk disini saja, sebentar toh akan membaik
sendiri”
ci giok meletakkan cawan tehnya kemeja, lalu mengambil
handuk panas itu sambil berjalan menghampirinya, katanya
kemudian-
”Kongcu bersandarlah biar budak membasahi jidatmu
dengan handuk panas, sebentar pusingmu pasti akan hilang
dengan sendirinya”
”Biar kulakukan sendiri” kata Huan cu im cepat sambil
menerima handuk itu.
”Kongcu” kata ci giok lagi dengan sedih, ”kau saja tak
segan segan mengobati lukaku, apa salahnya bila budak pun
mengompres kepalamu dengan handuk?”
Ketika mendengar ucapan yang terakhir ini, tiba tiba Huan
cu im melompat bangun, kemudian sambil memegang
sepasang tangan ci giok. Serunya dengan perasaan terkejut
bercampur girang:
”Jadi kau... kau adalah ci giok? Aku masih mengira kau
bukan ci giok yang dulu. Tahukah kau betapa rinduku padamu
selama ini...”
Ia memang selalu merindukan ci giok mungkin lantaran
teriampau gembira maka semua kata kata yang terpendam
dalam hatinya selama ini, diutarakan keluar tanpa tedeng aling
aling.
Ci giok segera dibikin terperanjat oleh perbuatan pemuda
itu, namun dihati kecilnya terasa manis dan hangat, selembar
wajahnya turut berubah pula menjadi semu merah karena
malu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan kepala tertunduk rendah rendah, buru buru ia


berkata:
”Kongcu, lepaskan tanganmu, kalau sampai ketahuan orang
kan malu...?”
”oooh maaf, aku kelewat gembira, aku kelewat gembira
sampai agak lupa daratan”
Setelah melepaskan genggamannya, pemuda itu baru
berkata lagi:
”Nona, mengapa tidak kau beritahukan hal ini kepadaku
semenjak dulu dulu?”
”Bukankah sekarang sudah kukatakan kepadamu?” jawab ci
giok tersipu sipu, ”kau masih pusing, mengapa mesti bangun
berdiri? Ayo cepat duduk dulu”
”Aku sudah tidak pusing lagi” sahut pemuda itu cepat ”oya,
malam itu kau pura pura rupanya?”
(yang dimaksudkan adalah ci giok yang tertotok jalan
darahnya, terbelenggu kaki tangannya, disembunyikan
dikolong ranjang dengan mulut tersumbat kain rongsok)
ci giok memandang wajahnya dengan sepasang mata yang
jeli, kemudian setelah tertawa rendah sahutnya.
”Kalau aku tidak berbuat begitu, mana mungkin bisa
mengelabuhi Kim koansi serta Hee pocu?”
”Masa sampai aku pun kena kau kelabuhi habis habisan?”
Sikap Huan cu im sekarang seperti baru bertemu dengan
sobat lama yang sudah banyak tahun tak dijumpainya saja, ia
mengawasi nona itu terus menerus, lalu setelah berpikir
sebentar ia bertanya lagi.
”Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, bersediakah
nona untuk menjawabnya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Ini tergantung apa yang ingin kau tanyanya” sahut si nona


sambil tertawa.
”Sebenarnya siapakah nona ? Bolehkah kuketahui siapa
namamu yang sebenarnya ?”
”Sampai waktunya, aku pasti akan memberi tahukan hal ini
kepadamu” sahut ci giok sambil mengerdipkan matanya
berulang kali.
”Menurut dugaanku, nona tak akan berdiam terlalu lama
lagi disini, jikalau hari ini nona tidak memberitahukan
kepadaku, di kemudian hari aku mesti mencarimu kemana ?”
”Lewat berapa hari lagi kan sama saja bila keburu katakan
kepadamu?”
”Besok aku hendak ke Kim leng”
”ooh, besok kongcu akan pergi ke Kim leng?”
Dengan perasaan terkejut dan diluar dugaan ci giok
mengawasi pemuda itu, tapi kemudian katanya lagi sambil
mengangguk,
”Ya a, kongcu memang seharusnya pergi ke Kim leng,
sebab inilah pengharapan dari lo koan keh sebelum ajalnya
tiba...”
Tiba tiba Huan cu im maju ke depan dan menggenggam
sepasang tangannya yang kecil mungil, kemudian bisiknya.
”ci giok. Kau jangan menyebut kongcu kepadaku, aku
bernama Huan cu im, panggil saja cu im kepadaku, aku tahu
kaupun bukan ci giok, sudah sepantasnya bila kau
memberitahukan kepadaku nama aslimu yang sebenarnya”
ci giok tertunduk malu, selembar wajahnya berubah
menjadi merah sampai ke telinga, namun ia tidak meronta, ia
membiarkan sepasang tangannya digenggam pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”cu im,” katanya kemudian dengan sedih, ”aku masih ada


tugas yang amat penting... saat ini aku belum dapat
memberitahukan kepadamu, sebab... aku masih ada tugas
yang amat penting untuk diselesaikan... hanya itu saja yang
bisa kukatakan kepadamu, harap kau bersedia mempercayai
aku”
”Aku percaya kepadamu” Huan cu im menggenggam
tangannya semakin kencang, seraya mengangguk.
Kemudian ia baru melepaskan genggaman tersebut.
”Apakah pocu sudah setuju?” tanya ci giok kemudian
sambil mengangkat kepalanya lagi.
”Empek Hee yang suruh aku kesana, besok aku akan
berangkat bersama sama Ban sau cengcu bersaudara dari
bukit Hong san-
Berkilat sepasang mata ci giok setelah mendengar
perkataan itu, katanya kemudian keheranan-
”Aneh betul, masa Hee pocu yang suruh kau pergi ke sana
?”
”Apanya yang aneh ? tanya Huan cu im tertawa. Ci giok
menggeleng.
”Aku lihat persoalannya tak akan begitu sederhana, tapi
aku tak tahu apa yang telah direncanakan olehnya ?”
Mendengar ucapan mana, Huan cu im lantas berpikir
”Tampaknya jalan pemikiran ci giok tak jauh berbeda
dengan suhu, agaknya mereka menaruh prasangka atau
pandangan yang mendalam sekali terhadap empek Hee, aaai
Hal inipun tak bisa salahkan mereka, terdapat banyak halpada
empek Hee memang gampang menimbulkan kecurigaan
orang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu ci giok telah menegur setelah melihat


pemuda itu termenung saja. ”Apa sih yang sedang kau
pikirkan?”
”oooh, tidak ” Huan cu im mendongakkan kepalanya lagi
sambil tertawa, ”bila aku kembali dari Kim leng, apakah kau
masih berada disini ?”
”Sulit untuk dikatakan” sahut Ci giok sambil tertunduk
sedih, ”sekalipun aku sudah tak berada disini, aku pasti dapat
mencari sampai ketemu”
Berbicara sampai disini ia berseru tertahan, lalu tanyanya.
„Selama di Kim leng, kau hendak berdiam dimana ?“
„Empek Hee bilang, lopiautau dari Seng kipiaukiok
mempunyai hubungan yang akrab dengan kakek serta ayahku,
tentu saja aku pergi ke perusahaan Seng kipiaukiok“
Waah, itu bagus sekali“ wajah ci giok segera berseri, biji
matanya berputar berulang kali, kemudian terusnya, „Aku
mempunyai sepucuk surat, dapatkah kau bawakan ke alamat
yang kutuju ?“
”surat itu harus kuberikan kepada siapa ?”
”Alamatnya akan kutulis diatas sampul surat itu.”
”Baik, kalau begitu cepatlah kau buatkan surat tersebut”
”Tadi, bukankah kau mengatakan sakit kepala ? Lebih baik
beristirahatlah sejenak dalam kamar ”
Huan cu im mengangguk dan bangkit berdiri menuju ke
kamar tidurnya, ia bukan benar benar hendak beristirahat,
melainkan bila ia beristirahat maka ci giok tak usah
melayaninya dan perempuan itu pun bisa kembali kekamarnya
untuk menulis surat.
Tiba kembali dalam kamar, dalam senggangnya dia hendak
bersemedi untuk memulihkan kekuatan, siapa sangka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pikirannya terasa kalut dan tak karuan, hatinya tidak dapat


ditenangkan kembali.
Sebentar ia teringat akan enci Giok yong yang cantik,
lembut dan agaknya menaruh perasaan cinta kepadanya itu,
hal ini bisa dilihat olehnya dari sikap maupun caranya
berbicara dengan dirinya.
Hari ini, Hee Im hong telah mengumumkan soal
perkawinan mereka di hadapan Ban sau cengcu serta Soh Han
sim, tampaknya kejadian ini secara resmi telah diputuskan-
Semenjak pertama kali ia bertemu dengan enci Giok yong
biarpun dia mengenakan kain cadar, tapi ia dapat merasakan
gadis itu pemurung, setelah sua muka kemarin, ia bisa
membuktikan akan dugaannya itu.
Ia pun dapat melihat bahwa gadis itu amat sedih dan
murung sekali, sama sekali tak memiliki perasaan gembira, ini
semua menambah kesan baik serta rasa simpatiknya terhadap
perempuan itu.
Kemudian diapun teringat akan Ci giok membayangkan
pemandangan disaat ia membantu gadis itu membebaskan diri
dari tusukan jarum bwee hoa ciam.
Kemudian ia pun membayangkan setelah kepergian ci giok
(padahal Ci giok sama sekali tidak pergi, tapi waktu itu
menurut anggapan Huan cu im, Ci giok telah pergi) betapa
rindunya dia terhadap gadis itu bahkan setiap saat setiap detik
selalu teringat akan dirinya ia sadar benih cinta telah tumbuh
didalam hatinya.
Dari kedua orang nona ini, mereka sama sama berwajah
cantik bak bidadari dari kahyangan, keduanya tak bisa
dibandingkan satu dengan lain, bahkan bayangan tubuh
mereka selalu terbayang dalam benaknya setiap kali ia
memejamkan mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bayangkan saja, mana mungkin ia bisa menenangkan


hatinya? Apalagi dibuat untuk mengatur napas.
Karena hatinya tak tenang, maka diapun mengurungkan
niatnya untuk bersemedi, dengan cepat pemuda itu
membaringkan diri untuk tidur.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba tiba ia mendengar
pintu kamarnya dibuka orang, kemudian terasa ada seseorang
berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Bagi mereka yang belajar silat, pendengaran maupun
pandangan mereka selalu amat tajam.
Dengan cepat Huan cu im membuka matanya, melihat yang
masuk adalah ci giok. Buru buru ia bangun sambil berseru,
”oooh, rupanya kau”
”Apakah kehadiranku membangunkan dirimu ?” tanya ci
giok sambil berseru tertahan-
”oooh, tidak” Huan cu im segera menggeleng, ”aku Cuma
membaringkan diri, belum tidur sungguhan”
”Siapa bilang kau belum tertidur sungguhnya ?” ci giok
segera tertawa cekikikan, ”sewaktu masuk tadi, kulihat kau
sedang tertidur nyenyak” Kemudian ia mengeluarkan sepucuk
surat dari sakunya, dan berkata lebih jauh, ”Suratnya sudah
selesai kutulis, simpanlah baik baik, jangan sampai ketahuan
orang.”
Huan cu im menerima surat itu, ketika dilihatnya sampul itu
putih dan kosong tanpa nama dan alamat si penerima, tanpa
terasa ia bertanya lagi:
”Jika tidak kau tulis nama serta alamatnya, bagaimana
mungkin aku bisa menyampaikan ketempat tujuan?”
ci giok tertawa manis, sahutnya lirih:
”Aku kuatir ketahuan orang, maka sengaja kugunakan dua
buah sampul, setibanya di Kim leng nanti, robeklah sampul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pertama, maka akan kau jumpai nama serta alamat si


penerima surat tersebut, Cuma persoalan ini penting sekali
artinya harap kau jangan memberitahukan kepada siapa pun”
”Kau tak usah kuatir, pasti akan kusimpan surat ini secara
berhati hati” Huan cu im mengangguk cepat.
Sementara berbicara ia telah masukkan surat itu ke dalam
sakunya dan menyimpannya secara baik baik
Dengan penuh perasaan berterima kasih Ci giok
memandang sekejap kearahnya, kemudian baru ujarnya:
”Kuucapkan hanya terima kasih dulu kepadamu”
”Antara kau dengan aku, buat apa mesti menggunakan
kata terima kasih...?” Ci giok kelihatan agak malu, tapi juga
sangat gembira katanya kemudian lirih.
”Ah mm kalau begitu aku tak akan mengatakan demikian”
Tiba tiba ia berseru tertahan, lalu sambil mendongakkan
kepalanya berkata:
”Aku hendak keluar dari sini, tadi Ciu congkoan datang
menjengukmu, karena kulihat kau sedang tertidur nyenyak
maka tidak kubangunkan dirimu, Ciu congkoan sudah bilang
sebentar lagi akan balik kemari, jika ditemukan aku berada
disini, tentu kurang enak jadinya, orang ini licik dan banyak
tipu muslihatnya, kau mesti berhati hati terhadapnya”.
Selesai berkata buru buru dia mengundurkan diri dari
dalam kamar tidur.
Baru tiba diruang tamu, tampak Ciu Kay seng berjalan
masuk dari luar, maka cepat dia menyongsong sambil
memberi hormat:
”Budak menjumpai congkoan”
”Ehmm...” ciu Kay seng meraba raba dagunya, lalu sambil
mengangkat kepala ia bertanya, ”apakah Huan kongcu telah
mendusin?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Lapor congkoan, Huan kongcu baru saja mendusin, budak


akan mengambilkan air cuci muka baginya”
sekali lagi ciu Kay seng mendehem pelan-
ci giok membalikkan badan dan lari masuk ke dalam,
serunya dengan merdu: ”Huan kongcu, ciu congkoan telah
datang”
Ketika Huan cu im berjalan keluar dari kamarnya, buru buru
ciu Kay seng maju memberi hormat.
”Aku yang rendah menjumpai Huan kongcu”
oleh karena Pocu nya telah mengumumkan akan
menjodohkan putrinya kepada Huan cu im, tentu saja ia mesti
memperlihatkan sikap yang sangat menaruh hormat. Buru
buru Huan cu im berkata:
”ciu congkoan tak usah banyak adat, nona ci giok telah
kudengar kalau congkoan telah datang satu kali, apakah ada
undangan dari empek Hee?” ciu Kay seng tertawa paksa:
”Setelah minum arak tadi kongcu kelihatan tak enak badan,
hal ini membuat pocu menjadi tak tega dan menyuruh aku
datang menengok. Apakah kongcu sudah merasa rada
baikan?”
”Terima kasih banyak atas perhatian dari empek Hee,
setelah tertidur sebentar, sekarang keadaanku sudah jauh
lebih baik”
-oo0dw0oo-

Jilid: 13

”syukurlah kalau begitu” ucap ciu Kay seng kemudian,


”berhubung besok pagi kongcu dan Ban sau Cengcu kakak
beradik hendak pergi ke Kimleng, malam ini akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diselenggarakan perjamuan perpisahan pocu khusus


menitahkan kepadaku untuk datang mengundang.”
”Kalau toh empek Hee yang mengundang ayo kita segera
berangkat”
”Silahkan kongcu”
Kedua orang itu berjalan keluar dari gedung timur,
menelusuri serambi panjang dan menuju keruang utama.
Ketika mereka sedang menelusuri serambi panjang,
mendadak Huan cu im mendengar ada seorang sedang
berbisik lirih:
”Muridku, tengah hari tadi Soh Han sim telah mencampuri
arakmu dengan bubuk pembingung pikiran untung sekali aku
telah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga kau tak
sampai cedera, Cuma setelah bertemu dengan pocu nanti kau
mesti bilang kepalanya rada pusing sebab bagi mereka yang
telah dicekoki bubuk pembingun pikiran, meskipun kejernihan
otaknya tidak terganggu namun dia akan patuh pada perintah
dan selama hidup tak akan membantah, oleh sebab itu apa
saja yang dikatakan pocu nanti mesti kau sanggupi
seluruhnya, jangan sekali kali kau tunjukkan sikap seperti
mempertimbangkan masalah itu, nah bila kau masih ada yang
mencurigakan, malam nanti akan kubicarakan lagi denganmu”
Rupanya perkataan itu diucapkan gurunya dengan ilmu
menyampaikan suara.
Tanpa terasa Huan cu im menghentikan langkahnya, lalu
berpikir:
”Ternyata empek Hee telah memerintahkan Soh Han sim
untuk mencampur arakku dengan bubuk pembingung pikiran,
tapi mengapa dia harus berbuat begini ?”
Untuk dapat menggunakan ilmu menyampaikan suara,
maka seseorang harus memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna dengan begitu nada suara baru bisa dlubah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

getaran gelombang udara dan dikirim dengan


mempergunakan tenaga dalam.
Dengan disampaikannya suara tersebut langsung ke telinga
si pendengar, maka pihak ketigapun jangan harap bisa
menangkap pembicaraan mana.
Itulah sebabnya ketika Ju It koay berbicara dengan Huan
cu im, ciu Kay seng yang mengikuti dibelakang Huan cu im
sama sekali tidak mendengar apa apa.
Hanya ketika dilihatnya Huan cu im menghentikan
langkahnya secara tiba tiba, dengan cepat ia menegur. ”Huan
kongcu, kenapa kau?”
Huan cu im memagang jidat sendiri dengan lemas,
kemudian manyahut : ”Aku merasa agak pusing”
”Biar aku membimbing kongcu untuk berjalan”
”Tidak usah, aku sudah merasa rada baikan,” sahut Huan
cu im sambil menurunkan tangannya.
Selesai berkata, ia lantas maju kemuka dengan langkah
lebar.
Tentu saja ciu Kay seng tahu, bahwa orang yang sudah
dicekoki bubuk pembingung pikiran, bila telah sadar dari
mabuknya, dia akan merasa pusing sekali sebab inilah
gejalanya yang utama, namun keadaan tersebut lambat laun
akan sembuh dengan sendirinya. Karenanya dia berjalan
mengikuti dibelakang Huan cu im.
Tatkala Ju It koay sudah minum bubuk pembingung pikiran
tempo hari ia beriagak sakit kepala sampai kehilangan pikiran
dan bergulingan diatas tanah, ini dikarenakan Soh Han sim
tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Ju It koay amat
sempurna, kuatir kadar obatnya terlampau sedikit sedikit
sehingga tak mendapat hasil, maka ia telah mencampurkan
kadar obatnya lima kali dari ukuran biasa. Ju It koay dapat
menduga sampai kesana, karena itu diapun beriagak lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mirip lagi alhasil siburung berkepala sembilan Soh Han sim


pun berhasil dikibuli olehnya.
Ketika Huan cu im melangkah masuk ke dalam ruangan
utama, Hee Im hong suami istri serta Ban Sian Ceng kakan
beradik sudah duduk menanti disitu, anak muda tersebut
segera maju kedepan memberi hormat kepada empek Hee
suami istri. Dengan wajah penuh perhatian Hee Im hong
segera bertanya: ”Huan hiantit bagaimana rasamu sekarang?”
Menyaksikan wajah Hee Im hong yang begitu ramah dan
penuh perhatian ini hampir saja Huan cu im tak berani
percaya kalau dialah yang memerintahkan Soh Han sim untuk
meracuni araknya.
Sambil memberi hormat, katanya kemudian,
”Terima kasih banyak atas perhatian empek Hee, mungkin
tengah hari tadi siautit sudah kebanyakan minum arak.
Setelah pulang dan tidur sebentar, rasanya sudah rada
mendingan, meski kepalaku terasa rada rada pening.”
Hee Im hong segera tersenyum,
”Sudah kubilang tadi, hiantit tak pandai minum arak dan
minum kelewat cepat padahal lelaki minum arak adalah
kejadian yang lumrah. Mungkin baru pertama kali ini kau
minum sehingga kepalamu terasa pening, tapi tak apa,
sebentar toh keadaanmu akan pulih kembali seperti sediakala”
Sin hujin yang berada disampingnya segera menyambung
pula sambil tertawa:
”Huan kongcu, cepat duduk. Lain kali jika tak pandai
minum, lebih baik kurangi saja minum arak”
Huan cu im mengiakan berulang kali lalu mengundurkan
diri dan duduk pada deretan bangku yang terakhir.
Saat itulah Ban Hui jin berpaling dan tersenyum kearahnya
sambil berseru:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Huan kongcu, aku dengar dari kakakku katanya, aku mesti


menyampaikan selamat untukmu”
Merah jengah selembar wajah Huan cu im, untuk sesaat dia
tak mampu menjawab. Buru buru Sin hujin menyela sambil
tertawa
”Nona Ban, persoalan ini mah masih terlalu awal untuk
dibicarakan, pocu masih harus mengirim orang guna
merundingkan persoalan ini dengan Huan hujin, sebentar bila
kau berjumpa dengan...” sebenarnya ia hendak berkata begini
:
”Sebentar, bila kau berjumpa dengan giok yong, tak usah
kau singgung persoalan ini.” Tapi sebelum kata kata tersebut
selesai diutarakan, terdengar suara langkah kaki manusia
bergema datang.
Ternyata Hee Giok yang telah masuk ke dalam ruangan
utama, karena itu terpaksa dia telan kembali kata kata
selanjutnya.
Ketika Ban Huijin melihat Hee Giok yong cepat cepat ia
bangkit dan menyambut kedatangannya, lalu berseru : ”Enci
Giok, kenapa kau baru tiba sekarang ?”
Hee Giok yang segera menarik tangan Ban Huijin seraya
minta maaf : ”Siumoay mamang sudah rupanya aku telah
membuatmu menunggu lama” Kemudian katanya lagi lirih :
”Enci Jin sebentar lagi siaumoay ada urusan hendak
diberitahukan kepadamu”
”Sedari tadi aku sudah tahu memang aku ingin
menyampaikan ucapan selamat kepadamu ” seru Ban Huijin
sambil tertawa.
”Mengapa harus mengucapkan selamat kepadaku ?” Hee
Giok yang bertanya keheranan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aaah, masa kau masih berlagak pilon Bukankah kau


hendak memberltahukan kepadaku kalau empek telah
menjodohkan kau dengan Huan kongcu ?”
”Aku mengajakmu berbicara secara serius, masa kau malah
datang menggodaku...” Hee Giok yang kontan saja tersipu
sipu malu.
”Siapa sih yang lagi menggodamu?” kata Ban Huijin
bersungguh hati, ”aku mendengar berita ini dari engkoh ku,
tengah hari tadi empek sendiri yang mengumumkan
perjodohanmu dengan Huan kongcu, Cuma harus menunggu
persetujuan dari ibu Huan kongcu lebih dulu sebelum bisa
diresmikan”
Selembar wajah Hee Giok yang segera berubah menjadi
merah dadu karena jengahnya, ia berbisik lirih :
”Kenapa aku sendiri tidak tahu?
”Mungkin empek akan menunggu sampai mendapatkan
persetujuan dari ibu Huan kongcu lebih dulu, baru
memberitahukan berita gembira ini kepadamu” Tiba tiba Giok
yang mendengus :
”Mungkin semuanya ini merupakan idee dari manusia she
Sin itu, Sin hujin yang dimaksud) selama ini dia tinggal di Lo
cu san dan selalu menganggapku sebagai duri dalam mata
itulah sebabnya...”
”Enci Giok tak usah menuduh yang bukan bukan, oya,
bukankah tadi kau bilang hendak memberitahukan sesuatu
kepadaku? Apa sih yang hendak kau sampaikan kepadaku?”
”Kau tahu, semalam Tong hujin sudah tertimpa musibah ?”
bisik Hee Giok yang.
Ban Huijin segera mengangguk. ”Yaa siaumoay mendengar
kabar ini dari engkoh ku”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aku lihat dibalik kejadian tersebut masih terdapat hal hal


yang tidak beres” kata Hee Giok yang lagi lirih.
”Lantas apa yang tak beres ?” tanya Ban Huijin tertegun.
”Mungkin kejadian ini ada sangkut pautnya dengan
perempuan she Sin itu, sebentar aku akan berbicara lebih teliti
lagi kepadamu”
Begitulah kalau dua orang nona saling bertemu, mereka
lantas mengobrol tiada hentinya, sudah barang tentu semua
orang pun tak ada yang memperhatikan mereka.
Menanti mereka sudah berbincang sekian waktu, kedua
orang itu baru kembali ke tempat duduk.
Berhubung Hee Giok yang telah diberitahukan oleh Ban
Huijin bahwa ayahnya telah menjodohkan dia dengan Huan cu
in,, maka sebagai seorang gadis yang pemalu, ia menjadi
rikuh sekali setelah bertemu muka dengan Huan cu in,,
sepasang pipinya berubah menjadi merah dadu, sikapnya
kemalu maluan sehingga tidak menunjukkan kemesrahan
seperti semalam.
Tentu saja Huan cu impun merasakan hal yang sama, ia tak
berani menyapa gadis itu, karenanya semua perhatian
ditujukan untuk berbincang bincang dengan Ban sian ceng.
Tak lama kemudian para dayang menyiapkan perjamuan,
perjamuan itu khusus diselenggarakan untuk menghantar
keberangkatan ketiga orang itu, sebagai tuan rumah, Hee Im
hong suami istri tiada hentinya meloloh tamu mereka dengan
arak.
Sementara itu, dihati kecil Huan cu im sudah timbul sebuah
borok yaitu perkataan dari gurunya yang mengatakan bahwa
Soh Han sim telah meracuni araknya tengah hari tadi, maka
dengan alasan kepalanya masih pening ia tampik pemberian
arak tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ban Sian ceng mengira tengah hari tadi anak muda


tersebut sudah mabuk maka ia tidak mencoba untuk
mengajak pemuda itu minum arak. Justru nona Ban lah yang
manfaatkan kesempatan tersebut untuk menghormati Huan cu
im dengan arak. Lalu menghormati pula Hee Giok yang
dengan secawan arak, ini membuat kedua orang itu menjadi
tersipu sipu malu meski gembira dihati.
Perjamuan ini baru berakhir setelah menjelang kentongan
pertama Hee Giok yang mengajak Ban Huijin untuk
mengundurkan diri lebih dulu, mereka berdua segera
berangkat menuju ke kuil cu im an-
Sedang Huan cu im dengan alasan kepala pening mohon
diri pula untuk kembali ke gedung timur.
Ketika ia tiba kembali di gedung timur, ci giok masih
menunggu kedatangannya di depan pintu, ia segera
menyambut kedatangan pemuda itu, begitu sang pemuda
menampakkan diri, serunya :
”Huan kongcu, bukankah kau bilang kepalamu pusing ?
Apakah sekarang sudah rada baikan ?”
”Aaah, itu kan alasan yang sengaja kukemukakan, kalau
tidak. Malam ini aku bisa diloloh lagi sampai mabuk” sahut
Huan cu im sambil tertawa. Ci giok mengerling sekejap
kearahnya, kemudian bisiknya lirih :
”Kau jahat, sampai akupun percaya dengan omonganmu
tadi, kau tahu aku jadi menguatirkan terus keselamatan
jiwamu”
Huan cu im merasa amat terharu, tapi berhubung gurunya
telah berjanji akan datang malam nanti ia tak berani banyak
berbicara dengannya, buru buru serunya: ”Sekarang hari
sudah malam lebih baik nona cepat cepat pergi tidur...”
”Apakah kau ingin mencuci muka dulu? Biar kusiapkan air
untukmu...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aaah tidak usah, besok pagi aku masih harus melanjutkan


perjalanan, sekarang aku perlu banyak beristirahat dulu”
Dengan sepasang mata yang jeli, ci giok mengawasi
wajahnya lekat lekat, kemudian setelah mengangguk dia
membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Melihat hati sudah larut malam Huan cu im tak berani
membuang waktu lagi dia segera masuk ke dalam kamar.
Setelah menutup pintu dan menghembus padam lentera,
dengan tenang ia duduk di atas bangku sambil menantikan
kedatangan gurunya Sampai kentongan kedua lewat, didepan
jendelanya baru terasa ada angin berhembus lewat, tahu tahu
Ju It koay sudah muncul didalam kamarnya sembari berbisik:
”Muridku, kau belum tidur?”
Buru buru Huan cu im bangkit berdiri seraya berseru. ”Tecu
sudah menantikan kedatangan suhu semenjak tadi”
Ju It koay manggut manggut lalu duduk disebuah bangku
yang berada didepannya, sambil menuding ke muka katanya:
”Kaupun duduklah, aku ada persoalan yang hendak
dibicarakan denganmu” Huan cu im menurut dan segera
duduk.
”Apakah hari ini pocu telah membicarakan soal perkawinan
denganmu...?” tanya Ju It koay.
Bersemu merah selembar wajah Huan cu im, ia
menundukkan kepalanya dan menyahut.
”Yaa, benar, tecu sudah bilang kepada empek Hee, tecu
datang untuk mencari ayah kini berita ayah belum ditemukan,
apalagi ibu masih ada dan tecu masih muda maka tecu tak
berani mengambil keputusan atas hal tersebut”
Tiba tiba Ju It koay menghela napas pelan, katanya
kemudian:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Giok yang memang seorang bocah yang baik, Cuma... eh


mm usiamu masih kelewat kecil, tentang masalah ini biar kita
bicarakan dikemudian hari saja, untung saja kau segera akan
meninggalkan tempat ini”
Setelah berhenti sejenak. Kembali dia berkata:
”Menurut penglihatanku, agaknya Ban sau cengcu juga
telah dikerjai oleh Soh Hansim dalam minuman araknya. Aku
masih mempunyai sebutir pil penawar, ambil dan simpanlah
baik baik, untuk sementara waktu kau tak boleh membocorkan
rahasia ini, tunggulah sampai ada kesempatan baru minumkan
obat tersebut secara diam diam.
Setibanya di Kim leng dan bersua dengan Seng locianpwee
tak ada salahnya bila kau ceritakan semua yang kau lihat dan
dengar disini kepadanya tanpa tedeng aling aling, Cuma harus
berada dalam suasana yang paling tepat, dimana tiada pihak
ketiga yang turut hadir, dalam hal ini kamu mesti
mengingatnya secara baik baik”
Lemudian setelah berhenti sejenak Ju It koay berkata lebih
jauh ”pocu belum tahu kalau bubuk pembingun pikiran yang
ditanamkan kedalam tubuhmu sudah kupunahkan, setibanya
di Seng ki piaukiok nanti, bisa jadi dia akan memberi suatu
perintah kepadamu untuk melakukan sesuatu maka aku
anjurkan dalam menghadapi persoalan apa saja, kau mesti
berunding dulu dengan Seng locianpwee sebelum melakukan
suatu gerakan. Nah, oleh karena perjalanan ini merupakan
perjalanan yang pertama bagimu, maka kau mesti berhati hati
dalam setiap tindakan, sekarang aku harus pergi dulu.”
Tidak sampai Huan Cu im banyak bertanya, bayangan
manusia sudah berkelebatan lewat dan menerobos keluar
lewat jendela.
Huan Cu im segera menutup jendela sambil bersiap siap
untuk naik ke pembaringan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiba tiba pintu kamarnya bergemericit, ini membuatnya


tertegun.
”Siapa disitu?” tegurnya kemudian-
Dari luar pintu kedengaran Ci giok menjawab dengan lirih.
”Budak disini khusus datang untuk mengantar air teh buat
kongcu.”
Mendengarjawaban mana, Huan Cu im segera berpikir:
”Sudah jelas kukatakan hendak tidur, mau apa dia datang
kemari ditengah malam buta begini?”
Meski berpikir demikian, ia toh bangkit berdiri juga untuk
membukakan pintu
Ketika pintu dibuka, Ci giok berdiri diluar sambil membawa
sebuah baki berisi air teh, ia langsung masuk kedalam dan
memandang sekejap kearah pemuda itu dengan sorot mata
yang jeli.
”Ternyata kongcu belum tidur,” katanya tertawa, ”kalau
begitu, tak salahlah jika budak menghantar air teh untukmu ”
Sambil berkata ia letakkan baki itu ke atas meja, kemudian
mengambil cawan teh dan diangsurkan kehadapan Huan Cu
im, katanya dengan merdu: ”Kongcu, silahkan minum teh ”
Huan Cu im menerima cawan teh itu dari tangannya,
kemudian berkata sambil tersenyum.
”Terima kasih nona, malam sudah larut, mengapa kau
masih datang menghantar air teh untukku ?”
Pelan pelah Ci giok menundukkan kepalanya lalu menjawab
:
”Sebab... sebab... besok pagi kau hendak pergi, entah
sampai kapan kita baru akan bersua kembali, maka... maka...”
Kepalanya ditundukkan semakin rendah, sambungnya lirih:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Maka aku... aku ingin kemari, untuk melihatmu lagi...”


Huan Cu im segera maju ke depan, serunya dengan amat
terharu:
”Terima kasih banyak. Padahal perasaanku pun sama
seperti kau, aku pun ingin sekali menengokmu lagi”
”Tadi kau bertanya siapa namaku, tapi tidak kuberitahukan
hal itu kepadamu...”
”Jadi nona khusus datang kemari untuk memberitahukan
nama aslimu...?”
”Tidak- sudah kubilang dikemudian hari kau pasti akan tahu
dengan sendirinya”
Pelan pelan Ci giok membalikkan tubuhnya, kemudian
berkata lagi dengan sedih: ”Tapi aku pikir...”
”Kau mau apa ?” tukas Huan Cu im sebelum gadis itu
menyelesaikan kata katanya Suara Ci giok semakin lirih
bisiknya lebih jauh:
”Mungkin ketika kau pulang kemari, aku sudah tidak berada
disini lagi dan tak akan bersua lagi denganku, mungkin disaat
kau bertemu kembali nanti, kaupun tak akan mengenali diriku
lagi”
”Aaa mana mungkin ini bisa terjadi?” seru Huan Cu im,
”selamanya aku tak akan pernah melupakan dirimu lagi”
Ci giok menggeleng, katanya jengah: ”Aku bukan
bermaksud begitu”
”Lantas maksudmu...”
Pelan pelan Ci giok membalikkan badan sambil
membereskan rambutnya, setelah tertawa manis katanya
”Sebab ci giok yang kau kenal bukan diriku, tentu saja
setelah bersua nanti kau tak akan mengenaliku lagi”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”oooh...” Huan Cu im berseru tertahan, kemudian


mengawasinya dengan tercengang, ”jadi wajahmu itu sudah
kau saru?”
Ci giok mengangguk pelan tapi segera menggeleng kembali
katanya dengan cepat:
”Jika aku hanya menyaru, semua orang yang berada disini
pasti akan mengetahui perbuatanku itu sebab mereka adalah
jago jago kawakan, karenanya aku hanya menghilangkan ciri
ciri khas diriku saja dengan obat penyaru muka”
”Jadi maksudmu kemari adalah untuk memperlihatkan raut
wajah aslimu itu kepadaku?” Cu giok mengangguk.
”Itulah alasanku yang terutama datang mencarimu
ditengah malam buta begini”
”Bila kau bersedia memperlihatkan wajahmu, dengan
senang hati aku akan melihatnya” kata Huan Cu im
”Kalau begitu, kau jangan mengintip dulu”
Dengan cepat sinona membalikkan badan berdiri
membelakanginya, kemudian menyeka wajahnya dengan sapu
tangan
Tak lama kemudian ia sudah membalikkan badan sambil
berbisik lirih ”Sekarang yang kau lihat adalah wajah asliku”
Sebenarnya Ci giok termasuk seorang gadis yang cantik
dan lembut, tapi setelah membalikkan tubuhnya, dia seperti
telah berubah menjadi seseorang yang lain-
Tidak. Bentuk wajahnya memang tak bisa berubah, tapi alis
matanya bagaikan semut beriring, tidak setebal tadi
hidungnya lebih mancung, bibirnya merah merekah, wajahnya
yang semula putih kekuning kuningan sekarang nampak putih
kemerah merahan putih seperti susu dan bercahaya
Pemuda itu hampir tak percaya dengan apa yang terlihat
didepan mata, dalam waktu singkat gadis itu seakan akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telah berubah menjadi bidadari yang baru turun dari


kahyangan-
Hee Giok yang termasuk cantik tapi ia cantiknya lembut
dan tenang, hanya sayang sikapnya rada dingin dan serius
Siburung hong hijau Ban Huijin juga cantik, ia lincah
bagaikan seekor burung nuri
Ci giok berada sekali dengan kedua orang itu, dibalik
kecantikan dan kelembutan terselip pula sinar kegagahan
seperti sekuntum bunga mawar yang baru mekar, penuh
memancarkan hawa kehidupan yang segar dan baru.
Untuk sesaat Huan Cu im berdiri tertegun, memandangnya
dengan termangu mangu bahkan sorot matanya seakan akan
berat sekali untuk dialihkan dari wajah nona itu.
Sinona pun memandang ke arahnya dengan pandangan
yang lembut penuh kemesraan dan perasaan cinta, sepasang
pipinya kelihatan agak bersemu merah bisiknya tiba tiba
dengan suara lirih:
”Sekarang, sudah kau kenal bukan ?”
„Kau... kau sangat cantik“ bisik Huan Cu im agak tergagap.
Dengan wajah jengah Ci giok mengerling sekejap ke arahnya,
kemudian mengomel: „Aku kan lagi bicara serius denganmu.“
Huan Cu im merasakan jantungnya berdebar sangat keras,
digenggamnya sepasang tangan nona itu, lalu rengeknya lirih:
„Berilah kesempatan kepadaku untuk memperhatikan
wajahmu lebih seksama lagi „
Ci giok tidak meronta bahkan menurut dengan lembut,
pelan-pelan ia mendongakkan kepalanya lalu bertanya: „Masa
kau belum cukup melihatnya ?“
Huan Cu im memberanikan diri untuk menarik tubuhnya
sehingga terjatuh ke dalam pelukannya, lalu sahutnya:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Biar selama hidup pun aku merasa tak cukup untuk


memandangi terus wajahmu“
Ia memeluk tubuhnya yang lembut dan kepalanya pelan-
pelan ditundukkan kebawah
Ci giok meronta pelan lalu berbisik agak gemetar:
”Kau...”
Kata kata selanjutnya tak mampu diteruskan lagi sebab dua
lembar bibir yang panas telah menyumbat bibirnya yang
mungil.
Gadis itu tidak berbicara lagi, pemuda itupun tidak. Meski
begitu kedua belah pihak sama sama dapat mendengar detak
jantung masing masing
Suasana dalam ruangan menjadi hening sepi dan tak
kedengaran sedikit suarapun sedemikian heningnya sampai
tak kedengaran suara apa pun...
”Eeehmm...” akhirnya Ci giok mendehem sambil
mendorong tubuhnya, ia malu sekali sampai pipinya menjadi
semerah buah apel, serunya kemudian: ”Kau jahat... aku...
aku tak mau...”
Selembar wajah Huan Cu impun berubah menjadi merah
padam katanya kemudian agak tergagap:
”Nona, aku... aku tadi tak dapat menahan diri tadi, kau...
kau tidak marah bukan?”
”Siapa yang marah kepadamu?” Ci giok tertunduk malu,
kemudian dengan sedih terusnya, ”besok kau hendak pergi
aku hanya ingin memberitahukan suatu hal padamu”
”Katakanlah, apa yang hendak kau beritahukan kepadaku?”
Dengan wajah memerah Ci giok tertunduk semakin rendah:
”Tempo hari... ketika kau... kau mencabutkan jarum dari...
dari tubuhku semua... semua bagian tubuhku yang suci telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau... kau lihat... maka selama hidupku ini, kecuali kau...


aku... aku...”
Tiba tiba dua titik air mata jatuh beriinang membasahi
pipinya yang halus. Huan Cu im menjadi amat gelisah, cepat
dia berseru:
”Nona tak usah kuatir, aku bukan seorang lelaki yang tak
berperasaan aku tak akan melupakan kau untuk selamanya”
Hangat dan manis perasaan Ci giok setelah mendengar
perkataan itu, meski air mata masih membasahi pipinya, ia toh
sempat tertawa.
”Setelah mendengar perkataanmu itu aku pun dapat
berlega hati sekarang waktu sudah larut malam, kau harus
beristirahat dulu”
Kemudian ia membalikkan badan dan beranjak pergi
„Nona...“ seru Huan Cu im lirih.
Ci giok berputar badan lalu berkelebat lewat dengan amat
cepat, katanya sebelum berlalu dari kamar
„Kau harus tidur, aku tak akan mengganggu dirimu lagi „
ooooooodwooooooo

Kim leng adalah sebuah kota yang cukup ramai.


Perusahaan Seng ki piaukiok terletak di suatu sudut kota
yang cukup ramai di kota tersebut, pemiliknya seng Bian tong
berusia enam puluh tiga tahun, bukan saja memiliki
perawakan tubuh yang tinggi kekar, langkahnyapun masih
tegap dan wajahnya masih merah bercahaya sehingga sekilas
pandangan usianya seperti baru mencapai lima puluh
tahunan-Dalam keadaan dan situasi seperti apa pun, kau akan
selalu menyaksikan dua biji peluru besi yang selalu berputar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

putar ditangan piautau tua ini, karena ia memang dijuluki


orang si peluru besi.
Julukan tersebut tidak diperoleh secara gampang, konon
didalam saku Seng Bian tong semuanya terdapat lima biji
peluru besi, setiap peluru dapat mengancam jalan darah orang
secara tepat dan jitu, lagipula jika lima peluru dipergunakan
bersama, tak pernah korbannya bisa selamat.
Konon semenjak ia terjun ke dunia persilatan, paling banter
dia hanya menggunakan empat biji dan belum pernah
menggunakan lima biji peluru bersama sama.
Seng lopiautau ini berasal dari Hoa san, dia termasuk kakak
seperguruan dari ketua Hoa sanpay saat ini Siang Han hui.
Atas dasar inilah perusahaan Seng kipiau kiok selalu nomor
satu di kota Kim leng dan belum pernah ada umat persilatan
yang berani mengusiknya.
Sudah lama Seng lopiautau menyerahkan tampuk pimpinan
perusahaannya kepada putranya Seng ceng hoa,jadi kalau
begitu sebetulnya ia sudah dapat penuh berbahagia.
Tapi didalam kenyataannya ia belum pernah bisa hidup
dengan aman tenteram penuh kebahagiaan-
Setelah ia menyerahkan jabatan congpiautau kepada
putranya dia sendiri justru menempati kedudukan yang lebih
rendah dengan menjadi seorang piautau dalam perusahaan
Seng ki piaukiok
Ternyata Seng lopiautau adalah seorang yang suka
bergerak, dia bilang:
„Air yang mengalir tak akan berbau, rumah yang ditempati
baru tak akan rusak, manusia memang dilahirkan didunia
untuk bergerak kalau tidak bergerak meski besi pun akan
berkarat“
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan menyerahkan kedudukan congpiautau kepada


putranya dan menyerahkan persoalan yang memusingkan
kepala kepada putrinya, dengan menjabat sebagai seorang
piautau maka ia dapat mengikuti kereta barang untuk
berkelana kemana mana melemaskan otot dan mengunjungi
teman teman lama.
Kehadiran Seng ki piaukiok dikota Kim leng tak bisa
disangkal lagi merupakan kantor cabang Hoa sanpay dikota itu
asal ada orang Hoa sanpay berkunjung ke Kim leng mereka
tentu akan menginap dalam perusahaan tersebut.
Kali ini ketua Hoa sanpay siang Han hui telah berkunjung
ke Kim leng mereka pun berdiam dikantor perusahaan
tersebut.
Oooodwoooo

Ketika Huan Cu im bersama dua bersaudara Ban Sian cing


tiba dikota Kim leng magrib telah menjelang tiba.
Ban Sian cing bersaudara datang ke kota itu adalah atas
perintah ibu mereka untuk menyongsong ketua Hoa sanpay
Siang Han hui serta ketua Go bipay Cing im totiang sebab
pertemuan puncak bukit Hong san yang diselenggarakan
malam ini diadakan oleh pihak Hong sanpay Hoa sanpay dan
Go bipay.
(Cing im totiang sebenarnya berdiam di perusahaan Pek
juan piaukiok di kota Kim leng, tapi sekarang dia telah pergi
ke Bu tong san). Untuk menjumpai sang ketua, tentu saja
mereka tak bisa mengunjungi pada waktu senja karena itulah
Ban Sian ceng kakak beradik mencari sebuah rumah
penginapan di kota sebelah barat.
Huan Cu im memang bertujuan untuk mengunjungi Seng
Bian tong, karena itu setelah membersihkan badan di rumah
penginapan tersebut, dia pun berpamitan kepada dua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersaudara Ban dan langsung mencari alamat perusahaan


Seng ki piaukiok.
Kantor seng ki piaukiok terletak disebuah jalanan disebelah
selatan kota gedungnya sangat besar didepan pintu terdapat
tanah kosong yang ditumbuhi puluhan batang pohon besar,
sedangkan didepannya terbentang jalan raya beralaskan batu.
Saat itu pintu gerbang perusahaan Seng ki piaukiok
terbentang lebar, disebelah kiri pintu tergantung sebuah
papan nama berbentuk segi panjang yang bertuliskan:
„sengko ki piau kiok“
Huan cu im melompat turun dari kudanya ditepijalan,
setelah menambat kudanya di bawah sebatang pohon dia
menyeberangi tanah lapang dan mendekati pintu gerbang, di
situ ia jumpai ada tiga orang lelaki berbaju biru sedang duduk
diatas sebuah bangku panjang.

Ketika salah seorang diantara mereka menyaksikan


kedatangan Huan cu im, ia segera bangkit berdiri seraya
menyapa. „Kongcu datang mencari siapa ?“
„Aku khusus datang untuk menyambangi Seng piaucu „
sahut Huan Cu im seraya menjura. Tentu saja ketiga orang
lelaki itu adalah para centeng penjaga pintu gerbang
Sebagai manusia yang sudah berpengalaman luas dan
sepanjang tahun ikut berkelana dalam dunia persilatan,
mereka tentu saja memiliki ketajaman mata yang luar biasa.
Biarpun Huan Cu im masih berusia muda namun sikapnya
yang anggun dan gerak gerik^ yang gagah, ditambah pula
sebilah pedang tersoren di pinggangnya membuat setiap
orang akan mengetahui bahwa dia mempunyai asal usul yang
termashur. Sambil tersenyum lelaki itu berkata „Kongcu
silahkan masuk untuk minum teh“
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembil berkata dia mengajak Huan cu im menyeberangi


sebuah halaman dan masuk ke dalam ruang tamu.
Kemudian ia baru bertanya lagi sambil tertawa paksa.
”Kongcu, siapa namamu dan berasal dari mana ? Dengan
begitu akupun bisa masuk untuk memberi laporan”
„Tidak berani, aku Huan Cu im datang dari telaga Cau oh“
„silahkan kongcu duduk sebentar, biar aku yang rendah
masuk ke dalam memberi laporan“ kata lelaki itu lagi sungkan-
„Silahkan loko“
Lelaki itu membalikkan badan dan mengundurkan diri dari
ruang tamu itu dengan langkah cepat.
Diam diam Huan Cu im mengamati sekeliling situ, ruang
tamu itu sangat luas, dibagian atas terpancang sebuah papan
nama yang bertuliskan empat huruf dari warna emas, tulisan
itu berbunyi: „Wa bu wi yang“
Diatas dinding sekeliling ruangan tergantung pula banyak
sekali papan papan nama, semuanya merupakan papan nama
hadiah dari suatu perusahaan, atau pejabat dari sini dapat
diketahui betapa termasyurnya nama perusahaan seng ki
piaukiok dimata masyarakat
Sementara Huan Cu im masih membaca papan-papan
nama itu, seorang lelaki datang menghidangkan air teh
sembari berkata: „Kongcu, silahkan minum teh“
„Terima kasih“
Tak lama kemudian terdengar lagi suara langkah kaki
manusia berkumandang dalam ruangan seorang lelaki muda
berjubah panjang warna hijau munculkan diri disitu, sambil
menyuru kepada sang pemuda ia segera menyapa:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bila aku yang rendah teriambat menjemput kedatangan


Huan Kongcu sehingga kau harus menunggu lama, harap
Kongcu sudi memaafkan“
Huan Cu im dapat melihat bahwa lelaki itu paling banter
berusia tiga puluh tahunan, berwajah merah tapi gagah,
didengar dari nada pembicaraannya dia seperti si
penganggung jawab dalam perusahaan tersebut. Maka cepat
cepat dia membalas memberi hormat seraya mejawab: „Tidak
berani, boleh aku tahu siapa nama saudara...“
„silahkan Huan Kongcu duduk“ kata lelaki berbaju hijau itu
cepat, kemudian setelah Huan Cu im duduk dan ia menemani
di sampingnya barulah berkata kembali, „aku Seng Ceng hoa,
bolehkah kutahu ada urusan apa Huan kongcujauh jauh
datang kemari ?“
„ooh, rupanya Seng loko „ kata Huan Cu im sambil
menjura, sementara dalam hati kecilnya berpikir
”Entah apa hubungan orang ini dengan Seng loya cu ?”
Maka setelah memberi hormat lagi dia berkata.
”Aku khusus datang kemari untuk menyambangi pemilik
perusahaan” seng Ceng hoa tersenyum.
”Akulah yang menjadi pemilik perusahaan ini, bila Huan
kongcu mempunyai suatu maksud, silahkan saja diutarakan
secara berterus terang...”
Ternyata lelaki muda inilah pemilik perusahaan Seng ki
piaukiok yang termashur itu Huan Cu im jadi tertegun,
kemudian sambil mengawasi lelaki itu kembali dia berkata.
”Kakekku dan ayahku mempunyai hubungan persahabatan
yang sangat erat dengan Seng loya cu, aku jauh jauh datang
dari telaga Cau oh tidak lain adalah menyambangi Seng loya”
Seng Ceng hoa segera bangkit berdiri, lalu serunya sambil
tertawa tergelak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Huan kongcu datang dari Cau oh, jangan jangan ayahmu


adalah sijago berbaju hijau Huan Tay seng...”
”Betul, yang dikatakan loko adalah ayahku” sahut Huan Cu
im sambil bangkit berdiri pula.
”Haah... haah... haah... kalau begitu kita adalah orang
sendiri” seru Seng Ceng hoa sambil tertawa tergelak. ”sudah
banyak tahun ayahku tak pernah bersua dengan Huan toa
siok, dia sering kali rindu padanya, maaf kalau aku tak
sungkan sungkan menyebutmu sebagai saudara Huan,
silahkan duduk didalamsaja, ayahku sedang menemani
ciangbunjin berbicara dalam kamar baca, ayo turuti aku”
Selesai berkata dia lantas mengajak Huan Cu im menuju ke
luar.
Huan Cu im mengikuti lelaki itu menelusuri sebuah beranda
dan memasuki halaman kedua, pada sekeliling halaman
tampak aneka bunga yang berwarna warni, suasana di sini
jauh lebih rindang dan nyaman-
Seng Ceng hoa mengajak pemuda itu memasuki sebuah
pintu samping disisi kiri dan menuju ke halaman lain-
Dalam halaman tumbuh beberapa batang pohon pinang
serta beberapa kuntum bunga anggrek yang baru mekar, baru
melangkah masuk ke dalam halaman sudah terembus bau
harumnya yang semerbak.
Disebelah timur sana berjajar tiga buah ruangan, lamat
lamat terdengar ada orang sedang berbicara disana.
Seng Ceng hoa mendekati pintu ruangan itu, kemudian
katanya sambil tertawa.
”Ayah, ada tamu dari jauh yang datang menyambangi kau
orang tua”
Dari dalam ruangan segera terdengar seseorang bertanya
dengan suara yang tua.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Siapakah dia ?”
”Ananda telah mengundangnya masuk, bila ayah telah
berjumpa dengannya pasti akan terkejut bercampur gembira”
kata Seng Ceng hoa tertawa. Kemudian sambil membalikkan
badan katanya. ”Saudara Huan, silahkan masuk”
Ruangan tersebut merupakan sebuah kamar baca berikut
tempat tidur yang diatur sangat rapi dan bersih, diatas
pembaringan kayu tampak dua orang duduk disana.
Orang yang duduk disebelah kiri adalah seorang lelaki
setengah umur berjubah hijau yang berusia lima puluh
tahunan, wajahnya tampan dan jenggotnya panjang sedada.
Ia nampak keren dan berwibawa.
Sekalipun tadi Seng Ceng hoa tidak bilang ”ayah sedang
menemani ciangbunjin berbicara dalam kamar baca” pun,
dapat diketahui bahwa orang ini adalah seorang pendekar dari
kalangan lurus.
Tentu saja dia adalah ketua Hoa sanpay Siang Han hui
yang hendak dikunjungi Ban sian ceng bersaudara.
Sedang di sebelah kanan duduk seorang kakek berjubah
biru yang berperawakan tinggi besar dan berwajah merah
bercahaya kecuali rambut dan jenggotnya yang sudah
memutih, sama sekali tidak nampak ketuaan pada orang ini.
Dia tak lain adalah Seng Bian Tong, Seng loya cu dari
perusahaan Seng ki piaukiok.
Setelah masuk ke dalam ruangan, Seng Ceng hoa segera
memperkenalkan Huan cu im kepada ayahnya:
”Saudara Huan, dia adalah ayahku”
Seng Bian tong tidak kenal dengan Huan cu im buru buru
dia bangkit berdiri dari pembaringan dan bertanya agak
tertegun-”Ceng hoa, kongcu ini...” Seng Ceng hoa tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Bukankah kau orang tua seringkali membicarakan Huan


toa siok? Dia adalah Huan toa siok. Huan cu im”
Sementara itu Huan cu im telah maju selangkah ke depan
dan berseru sambil menyembah ”Aku yang muda Huan Cu im
menjumpai loya cu”
”oooh? Haaahhh... haaahhh... haaahhh...” Seng Bian tong
segera tertawa terbahak bahak. Sambil membangunkan Huan
Cu im kembali serunya:
”Keponakanku, kau tak usah banyak beradat apakah
ayahmu sudah ada kabar beritanya?”
”Belum” sahut Huan Cu im sambil bangkit berdiri, ”adapun
kedatanganku kemari adalah untuk mencari kabar berita
tentang ayah.”
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sungguh tak nyana
keponakan sudah sebesar ini” kembali Seng Bian tong berkata
dengan gembira sambil mengawasi anak muda tersebut, ”mari
kukenalkan kepadamu, dia adalah Siang ciangbunjin dari Hoa
san pay, dengan ayahmu merupakan kenalan lama, kau boleh
menyebutnya sebagai Siang lopek” Huan cu im membalikkan
badan dan memberi hormat kepada siang Han hui serunya
”Boanpwee menjumpai Siang lopek”
Siang Han hui bangkit berdiri kemudian ujarnya sambil
tersenyum.
”Huan hiantit baru datang dari tempat yang jauh, silahkan
duduk sebelum berbicara”
”Huan bengte, silahkan duduk dulu” kata Seng Ceng hoa
pula, ”diluar sana aku masih ada urusan lain, maaf kalau tidak
bisa menemani lebih lama”
”oooh, silahkan seng loko berlalu”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepeninggal Seng Ceng hoa, seorang lelaki berbaju hijau


datang menghidangkan air teh. Sambil tersenyum Siang Han
hui bertanya ”Baik baikkah ibumu ?”
”Terima kasih banyak lopek, ibu tetap sehat walafiat”
”Bagaimana dengan lokoankeh ? Apakah ia pun masih tetap
sehat walafiat?” tanya Seng Bian tong pula sambil mengelus
jenggotnya yang memutih. Paras muka Huan Cu im segera
berubah menjadi amat sedih, sahutnya, ”Lo koankeh telah
meninggal dunia.”
”Hei, kapan peristiwa ini terjadi ?” tanya Seng Bian tong
dengan wajah tertegun.
”Bulan berselang, dia menemani aku yang muda
berkunjung ke benteng keluarga Hee, di situlah dia mati
karena angin duduk”
”Jadi keponakan telah berjumpa dengan Hee pocu ?”
”Aku yang rendah datang dari benteng keluarga Hee,
datang bersamaku adalah Ban sau cengcu kakak beradik dari
bukit Hong san mereka pun datang kemari untuk
menyambangi Siang lopek”
”Mengapa mereka tidak datang bersamamu ?”
”Ban Seng cing bersaudara berdiam di rumah penginapan
Ban an dikota barat, mereka bermaksud akan datang
menyambangi Siang lopek esok paginya”
”Ban Sian cing kakak beradik telah berada di kota Kim leng,
masa mesti menginap di rumah penginapan ? Tiang keng, kau
panggil kiok cu kemari”
Seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri didepan pintu
segera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ.
Tak lama kemudian Seng Ceng hoa telah muncul kembali
seraya bertanya. ”Ayah, ada urusan apa kau manggil ananda
?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Ban sau cengcu Ban Seng cing kakak beradik dari keluarga
Ban mendapat perintah dari ibunya untuk menyambangi
ciangbunjin, sekarang mereka berdiam dirumah penginapan
Ban an dikota barat, cepat kau bawa kemari kakak beradik itu,
masa setelah berada di Kim leng, mereka mesti menginap
dirumah penginapan ?”
”Locianpwee, biar boanpwee pergi bersama Seng loko” kata
Huan Cu im kemudian sambil bangkit berdiri.
”Yaa, begitupun memang ada baiknya” kata Seng Ceng hoa
cepat, ”aku belum pernah berjumpa dengan Ban sau cengcu,
bila ditemani saudara Huan hal ini memang lebih baik lagi”
Seng Bian tong mengelus jenggotnya yang putih, kemudian
katanya kepada Huan Cu im
”Dulu ketika kakekmu masih hidup, dia adalah seorang
angkatan tua dalam urusan pengawalan barang, waktu itu aku
belum lama terjun ke dunia persilatan, atas kebaikan hati
kakekmu, kami pun angkat saudara, aku memanggil losiok
sedang dia menyebutku lote, sedang ayahmu, berhubung aku
saling membahasai saudara dengan kakekmu, maka dia
memanggilku toa siok”
”Padahal usiaku dengan kakekmu Cuma terpaut empat lima
belas tahunan saja, maka akupun bersikeras membahasai
saudara dengannya, kupanggil dia dengan sebutan lote, jadi
akibatnya hubunganku dengan kakek dan ayahmu pun
menjadi kacau balau tidak karuan” Kemudian setealh
tersenyum kembali dia berkata.
”Sekarang keponakan membahasai diri sebagai aku yang
muda berhubung hubunganku dengan ayah serta kakekmu,
padahal aku dengan ayahmu pun bersaudara oleh sebab itu
kurasa paling cocok apabila keponakan memanggilku sebagai
lopek saja, sedang kau menyebut diri sebagai siautit, dengan
demikian rasanya hubungan kita pun lebih akrab dan
kekeluargaan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Padahal keadaan seperti ini banyak terjadi didalam dunia


persilatan, inilah yang disebut masing masing berhubungan
dengan masing masing, perduli amat bagaimanakan hubungan
dengan nenek moyang mereka, yang penting adalah
hubugnan yang terjalin sekarang. Apalagi akupun seorang
yang terbuka suka gampangan, jadi kuharap kau tak usah
bersikap sungkan sungkan lagi kepadaku di kemudian hari”
oleh karena Seng Bian tong bersikeras demikian, terpaksa
Huan cu im harus menuruti. ”Bila empek memang menitahkan
begitu, siautit pun akan turut perintah saja”
”Saudara Huan, mari kita berangkat” ajak Seng Ceng hoa
kemudian-
^ooodwooo^

Menjelang senja, Seng Ceng hoa dan Huan Cu im telah


menjemput Ban sian ceng bersaudara pindah ke Seng ki
piaukiok.
Menyusul kemudian di ruang tamu pun diselenggarakan
perjamuan yang meriah untuk menyambut kedatangan Ban
Sian ceng bersaudara serta Huan Cu im.
Selesai bersantap. Seng Cing hoa menemani Ban Sian ceng,
Ban Huijin dan Huan Cu im naik ke loteng, tempat itu
merupakan ruang khusus untuk tamu agung, setiap orang
mendapat satu kamar, ruangannya semua bersih dan nyaman,
dibandingkan dengan rumah penginapan tentu saja tempat
inijauh lebih nyaman-
Sepeninggal Seng Ceng hoa, ketiga orang itu pun masing
masing kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
^ooodowooo^
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan Cu im mengunci kamar tidurnya lalu mengeluarkan


surat yang dititipkan Ci giok kepadanya, sampul itu putih
bersih dan terbungkus rapat.
Sewaktu mengeluarkan sampul surat itu, tanpa terasa Huan
Cu im membayangkan kembali Ci giok. Untuk beberapa saat
dia sampai berdiri termangu mangu
Sampai lama kemudian ia baru merobek sampul depan,
ternyata didalamnya terdapat pula sebuah sampul surat yang
lebih kecil.
Dia tak tahu Ci giok hendak menyerahkan surat itu kepada
siapa ketika dibaca tulisan Ci giok kelihatan sangat indah,
malah setelah membaca tulisan itu dia segera tertawa geli.
Ternyata diatas sampul surat itu bertuliskan begini :
”Tolong disampaikan kepada Huan Kong cu cu im pribadi.”
Sampul itupun terbungkus sangat rapat.
”Waaah, rupanya dia menulis surat untukku” demikian
pemuda itu berpikir. Huan cu im belum pernah menerima
surat dari perempuan, apalagi surat cinta.
Tak teriukiskan rasa girang dan gembiranya saat itu, buru
buru dia merobak sampulnya dan mengeluarkan sepucuk
surat, disitu bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi begini:
”Siang ciangbunjin dari Hoa sanpay berdiam di Seng ki
piaukiok, kemungkinan besar kau akan bertemu dengannya,
dia adalah seorang manusia dari golongan lurus, maka carilah
sebuah kesempatan untuk menceritakan semua yang kau lihat
dan kau dengar didalam benteng keluarga Hee kepadanya.
”Aku tahu, antara kau dengan Heepocu mempunyai
hubungan yang cukup akrab, Tapi masalah ini mempunyai
pengaruh yang amat besar terhadap keselamatan dunia
persilatan, boleh dibilang menyangkut mati hidup, sengsara
atau gembiranya segenap umat persilatan, karena itu kuharap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau cukup bijaksana dalam hal ini, selesai membaca harap


surat ini dimusnahkan, maaf tidak kucantumkan nama”
Selesai membaca tulisan itu Huan cu im merasa sedikit
agak kecewa, tapi diapun merasa agak bimbang.
Kecewa karena setelah melihat surat itu ditujukan
kepadanya, dia mengira gadis itu tentu akan memberitahukan
siapa namanya dalam surat tersebut, atau mungkin dia akan
mengungkapkan perasaan cintanya kepada dia, tapi sekarang
semua yang diharapkan sama sekali tidak ditemukan-..
Yang membuatnya bingung adalah mengapa dia bersedia
menjadi seorang dayang didalam benteng keluarga Hee,
mengapa pula caranya berbicara persis seperti apa yang
diucapkan gurunya, seolah olah menganggap benteng
keluarga Hee sebagai sumber segala kejahatan-

Bahkan dia pun mengatakan bahwa mati hidup, sengsara


gembiranya dunia persilatan tergantung pada tindakanya yang
akan diambil, mungkinkah persoalan tersebut telah
berkembang menjadi demikian gawatnya ? Berpikir demikian
dia pun membakar surat itu diatas lilin- Pada saat itulah, tiba
tiba pintu kamarnya diketuk orang cepat cepat dia menuju ke
pintu dan membukanya.
Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Seng Ceng
hoa maka buru buru dia menyapa:
”seng loko, silahkan masuk”
seng Ceng hoa tersenyum.
”Rupanya saudara Huan belum tidur ?”
”Belum, apakah Seng loko mempunyai suatu petunjuk.”
”oooh, ayah yang menyuruh aku datang menengokmu,
apabila saudara Huan belum tidur, silahkan kau turut aku
kebawah”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Bila lopek mengundangku, sudah pasti beliau ada urusan


penting saudara Seng, ayo kita berangkat”
Kedua orang itu bersama sama turun loteng, kemudian
atas petunjuk Seng Ceng hoa mereka menuju kesebuah kamar
disebelah timur dan membuka pintunya. ”Kamar ini
merupakan kamar ayahku, silahkan saudara Huan masuk
kedalam” ia berkata.
Huan Cu im melangkah masuk kedalam ruangan tapi Seng
Ceng hoa tidak. Malah dia segera merapatkan pintu kamar.
Ruangan tersebut tidak terlalu besar, selain sebuah
pembaringan kayu, disana hanya terdapat sebuah meja kecil
yang dikelilingi empat buah kursi kayu. Seng Bian tong duduk
disitu sambil mempermainkan kedua biji peluru besinya.
Ketika melihat munculnya pemuda itu, sambil tertawa ia
berkata: ”Lo tit, silahkan duduk”
Huan Cu im maju beberapa langkah dan berhenti
dihadapannya, kemudian sambil memberi hotmat ujarnya:
”Entah ada urusan apa lopek mengundang kedatanganku?”
Seng Bian tong mengambil sebuah cawan dan diisi dengan
air teh, kemudian ia baru berkata:
”Keponakanku duduklah dulu tempat ini adalah kamar
pribadiku, tanpa perintahku tak seorangpun yang berani
masuk. Sengaja kuundang kedatanganmu dalam suasana
begini karena aku ingin menanyakan suatu masalah
kepadamu.”
Teringat akanpesan gurunya sebelum berpisah, cepat cepat
Huan Cu im berseru:
”Sekalipun lopek tidak mengundangku kemari, siautit juga
akan mencari kesempatan untuk berbicara empat mata
dengan lopek.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”oya...?” seru Seng Bian tong keheranan, ditatapnya


pemuda itu lekat lekat, kemudian baru bertanya,
”keponakanku kau ada urusan apa ?”
”Sebelum berangkat menuju ke sini, suhu telah berpesan
kepada siautit agar setelah bertemu dengan lopek maka
semua peristiwa yang kulihat dan kudengar didalam benteng
keluarga Hee harus dilaporkan kepada lopek.”
”oooyaaa...” Seng Bian tong segera memberikan perhatian
khusus, ”siapakah gurumu?”
”Suhu she Ju bernama It koay, dia orang tua cacad kaki
kanannya dan selalu berjalan dengan menggunakan sebuah
tongkat besi sebagai penyangganya, suhu bilang berhubung
orang persilatan mengatakan watak suhu amat kukoay, karena
itulah semuanya memanggil Ju It koay kepadanya...”
Seng Bian tong menaruh perhatian semakin serius, serunya
agak tercengang:
”Heran kenapa aku tak pernah mendengar nama ini? Oya,
aku baru datang dari benteng keluarga Hee, kapan bertemu
dengan gurumu itu...?”
”Saat ini suhu menjabat sebagai ketua pelatih didalam
benteng keluarga Hee”
Berkilat sinar tajam dari balik mata Seng Bian tong sesudah
mendengar ucapan itu kembali ia bertanya: ”Sejak kapan kau
belajar silat darinya ?”
”Peristiwa ini terjadi tiga tahun berselang semua
kepandaian silat yang siautit miliki berasal dari suhu”
Secara ringkas dia lantas menceritakan pengalamannya
ketika mengangkat guru dan belajar silat.
Selesai mendengar kisah itu kembali Seng Bian tong
bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Waktu itu, apakah gurumu sudah menjabat ketua pelatih


didalam benteng keluarga Hee?”
”Belum, suhu baru menjadi ketua pelatih didalam benteng
keluarga Hee belum lama berselang”
Secara ringkas Huan Cu im menceritakan kembali kisah
gurunya ketika memasuki benteng keluarga Hee belum lama
berselang.
Seperti kebiasaan semula, Seng Bian tong mengelus
jenggotnya yang putih sambil manggut manggut berulang kali,
agaknya ia seperti sudah mengetahui akan sesuatu. Setelah
termenung beberapa saat, diapun bergumam^
”Aneh, menurut apa yang kuketahui, agaknya didalam
dunia persilatan belum pernah terdapat seorang manusia
seperti ini...”
Dia segera mendongakkan kepalanya menengok wajah
Huan Cu im, kemudian baru katanya:
”Malam ini secara khusus kuundang kau kemari, tak lain
karena aku ingin mengetahui lebih jelas keadaan dalam
benteng keluarga Hee, sebelum berpisah dengan keponakan
suhumu berpesan pula agar kau menyampaikan apa yang
terlihat dalam benteng keluarga Hee kepadaku, hal ini
menunjukkan kalau gurumu ada maksud tertentu” Didalam
Huan Cu im berpikir:
”Ditengah malam begini Seng lopek mengundangku
menghadap. Ternyata yang ingin dia tanyakanpun keadaan
didalam benteng keluarga Hee, tampaknya semua orang
sudah mulai menaruh perhatian terhadap gerak gerik dalam
benteng tersebut, mungkinkah di dalam benteng keluarga Hee
benar benar sudah terkandung suatu peristiwa besar?”
Ia tidak cukup berpengalaman, sudah barang tentu tidak
dapat merasakan pula masalah besar apakah yang sedang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlangsung dalam benteng keluarga Hee sambil mengangkat


kepalanya dia lantas bertanya:
”Entah ada persoalan apa saja yang ingin lopek tanyakan
kepadaku?”
seng Bian tong tersenyum
”Kalau toh suhumu telah berpesan kepadamu, agar
menceritakan semua yang kau lihat dan semua yang kau
dengar didalam benteng keluarga Hee kepadaku, harap kau
utarakan saja kesemuanya itu, aku rasa itupun sudah cukup
bagiku.”
Sesungguhnya Huan Cu im telah menjumpai banyak
peristiwa yang aneh selama berada didalam benteng keluarga
Hee Cuma sayang dia belum berpengalaman sama sekali,
sehingga tidak dirasakan olehnya bahwa peristiwa peristiwa
tersebut patut dicurigakan-
Setelah ditanya oleh Siang Bian tong sekarang, untuk
sesaat dia jadi kebingunan sendiri, sebab persoalan yang
dijumpai terlalu banyak keadaannya pun semrawut tak
karuan, sehingga dia menjadi bingung sendiri persoalan
manakah yang harus diceritakan dulu.
Dalam bingungnya dengan wajah memerah karena jengah
ia lantas berkata:
”Siautit juga tidak tahu persoalan yang manakah yang
termasuk penting, lebih baik siautit ceritakan saja
pengalamanku sejak masuk ke benteng keluarga Hee hingga
sekarang Cuma sudah barang tentu akan disertakan pula
kejadian kejadian yang tetek bengek.”
Seng Bian tong tahu kalau Huan Cu im masih muda dan
belum berpengalaman, sambil tersenyum ia mengangguk:
”Tidak jadi soal, pertemuan puncak dibukit Hong san sudah
berada didepan mata kali ini semua perguruan besar hendak
memilih seorang Bu lim bengcu untuk angkatan kesembilan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam pemilihan ini tampaknya posisi Hee pocu paling kuat,


karena itu semua orang berharap bisa mendapat keterangan
lebih banyak tentang dirinya, Lotit sudah cukup lama berdiam
dalam benteng keluarga Hee tentunya semakin teliti ceritamu
semakin baik untuk kami semua”
Sekarang Huan Cu im baru mengetahui persoalannya
dengan lebih jelas, ternyata didalam pertemuan puncak
dibukit Hong san hariPeh cun nanti, umat persilatan hendak
memilih Bu lim Bengcu angkatan kesembilan
Rupanya posisi empek Hee nya paling kuat diantara sekian
jago persilatan tak heran kalau dalam suratnya Ci giok menulis
bahwa persoalan ini mempunyai sangkut paut yang besar
dengan keadaan dunia persilatan, bahkan dikatakan pula kunci
dari semua persoalan ini terletak diatas pundaknya.
Itu berarti dapat tidaknya Hee im hong terpilih sebagai Bu
lim bengcu, Siang lopek dari Hoa sanpay tentu mempunyai
daya pengaruh yang amat besar.
Jika dipikirkan kembali, agaknya tindakan Ci giok menjadi
dayang dalam benteng keluarga Hee tindakan gurunya
menjadi ketua pelatih dalam benteng keluarga Hee bahkan
munculnya dua orang Tong sau ceng cu di kamar baca empek
Hee nya, serta usaha siburung kepala sembilan Soh Ihansim
meracuni arak yang diminumnya, serta pemberian pil penawar
racun dari gurunya untuk membebaskan Ban Sian ceng dari
pengaruh racun jahat mempunyai hubungan yang erat dengan
pertemuan puncak dibukit Hong san itu.
Berpikir sampai disini, Huan Cu im segera merasa bahwa
semua teka teki yang selama ini mencekam perasaannya
selama berada dalam benteng keluarga Hee, kini sudah dapat
dipecahkan seluruhnya.
Tapi, biarpun semua teka teki itu berhasil dipecahkan
olehnya, muncul kembali sebuah persoalan lain yang
membuatnya semakin sedih dan bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Empek Hee dan ayahnya mempunyai hubungan


persaudaraan sejak ia tiba di benteng keluarga Hee, iapun
selalu menganggap dirinya sebagai putra sendiri, malah telah
diumumkan bahwa enci Giok yang dijodohkan kepadanya.
Ia bersikap begitu baik kepaanya, dan sekarang dia hampir
sudah berhasil meraih kedudukan sebagai Bu lim Bengcu,
sepantasnya ia membantu usaha tersebut sekuat tenaga, atau
paling tidak jangan merusak rencana baiknya.
Kini, ia sudah tahu kalau Siang lopek dari Hoa sanpay
mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam pertemuan
puncak ini, haruskah dia menceritakan semua persoalan ini
kepada mereka?
Menurut penilaian sendiri, andaikata semua persoalan
tersebut diutarakan secara blak blakan maka hal ini akan
memberikan pengaruh yang tidak menuntungkan bagi usaha
empek Hee untuk meraih jabatan Bu lim Bengcu.
Sementara itu, ketika Seng Bian tong melihat pemuda itu
Cuma termenung belaka, tanpa terasa iapun menegur.
”Keponakanku, apa yang sedang kau pikirkan?”
Merah jengah selembar wajah Huan Cu im buru buru
sahutnya agak tergagap
”Berhubung selama beberapa hari ini banyak sekali
persoalan yang kujumpai, untuk sesaat siautit menjadi
kebingungan setengah mati, ingin kuringkas ceritanya agar
yang tidak penting tak usah diceritakan-..” seng Bian tong
segera tersenyum
”Keponakanku” katanya, ”kau cukup bercerita atas
pengalamanmu sendiri secara garis besarpun boleh juga”
Sementara itu Huan cu im telah mengambil sebuah
keputusan yang amat besar dalam detik itu, ia merasa
walaupun Hee Im hong bersikap baik kepadanya, tapi
berdasarkan pengamatannya selama beberapa waktu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benteng keluarga Hee memang agak misterius, seakan akan


dibaliknya terkandung suatu rahasia besr yang tak boleh
diketahui orang luar...
Seperti misalnya perbuatan mereka mencampurkan bubuk
pembingung pikiran ke dalam minuman guru dan dirinya
kemudian perbuatan mereka memalsukan Tong sau cengcu,
kesemuanya itu sudah jelas bukan perbuatan dari seorang
lelaki dari golongan lurus. Sebelum menjadi seorang Bu lim
bengcu saja mereka sudah banyak melakukan perbuatan yang
mencelakakan orang, andaikata sudah menjadi seorang Bu lim
Bengcu, bukankah akan lebih banyak manusia yang menjadi
korban.
Suhu adalah gurunya yang paling berjasa dan berbudi
baginya, Ci giok pun mempunyai hubungan cinta dengan
dirinya, tak mungkin mereka berdua akan menjerumuskan
dirinya ke dalam perbuatan yang tak senonoh, kenyataannya
kedua orang yang dikasihi itu minta kepadanya agar memberi
tahukan apa yang dilihat dan didengar dalam benteng
keluarga Hee kepada Seng lopek serta siang ciangbunjin,
sudah pasti anjuran mereka ini tidak bakal salah lagi.
Ditambah pula Seng lopek mempunyai hubungan tiga
keturunan dengan keluarganya, Siang ciangbunjin juga
merupakan kenalan lama ayahnya, ia wajib untuk
memberitahukan kesemuanya itu kepada mereka.
Berpikir sampai disini, pikiran Huan Cu im yang semula
cupat kini terbuka sama sekali, diambilnya cawan dan
meneguk setegukan teh, kemudian ia baru bercerita
bagaimana dia bersama Lo koan keh pergi ke benteng
keluarga Hee.
Kemudian bagaimana Lo koan keh meninggal akibat
terkena angin duduk, bagaimana menjelang ajalnya
menitipkan pesan kepada Ji giok yang meminta kepadanya
agar segera meninggalkan benteng keluarga hee untuk
menjumpai empek Seng...
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

-oo0dw0oo-

Jilid: 14

”Tunggu sebentar ” tiba tiba Seng Bian tong mengulapkan


tangannya sambil menukas, ”kau bilang Lo koan keh mati
karena terserang angin duduk...? Setelah minum arak apakah
dia muntah muntah hebat? Bahkan menjelang ajalnya sekujur
badan gemetar keras, sepasang tangannya seperti hendak
menggenggam sesuatu, setelah mati matanya melotot dan
mengucurkan darah dari ujung bibirnya ?”
”Perkataan lopek tepat sekali, keadaan Lo koan keh
sewaktu mati memang dalam keadaan begitu”
Seng Bian tong segera manggut manggut kemudian sambil
mengangkat kepala katanya lagi dengan suara dalam:
”Kalau ditinjau dari keteranganmu tadi, besar kemungkinan
Lo koan keh meninggal karena keracunan”
”Keracunan?”
Huan cu im merasa kepalanya seperti disambar geledek
ditengah hari bolong, ia terbelalak lebar lebar dengan mulut
melongo.
”Atas dasar apa kau mengatakan Lo koan keh mati akibat
keracunan...” tanyanya kemudian
”Aaai... inilah akibat dari pengalamanmu yang kurang
cukup, keadaan lo koan keh sewaktu tewas sudah jelas
merupakan gejala keracunan hebat, sudah pasti ada orang
telha mencampurkan racun penembus usus didalam araknya,
aai... menurut pendapatku...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Apaka lopek berhasil menemukan suatu jejak?” buru buru


Huan cu im bertanya. Seng Bian tong menggeleng, selang
berapa saat kemudian ia baru berkata:
”Walaupun aku tidak mengetahui apa tujuan mereka
membunuh lo koan keh, tapi bisa jadi lo koan keh mempunyai
banyak sebab yang mengharuskan dia disingkirkan-”
Dari ucapan itu, bisa diartikan bahwa Lo koan keh
menjelang ajalnya mungkin telah mengetahui suatu rahasia
dalam benteng keluarga Hee, atau mendengar, atau melihat
sesuatu di tempat tersebut.
Tentu saja Huan cu im dapat memahami maksud dari
perkataan ini... Tiba tiba Huan cu im berteriak keras
”Kalau begitu pasti perbuatan dari ciu congkoan, malam itu
ciu Kay seng yang menemani Lo koan keh minum arak. Ciu
Kay seng manusia biadab, mengapa dia harus membunuh Lo
koan keh?”
Perkataan tersebut diutarakan dengan penuh emosi,
bahkan tak bisa dibendung lagi air matanya jatuh bercucuran.
Memandang si anak muda tersebut pelan pelan Seng Bian
tong menghembuskan napas panjang, hiburnya kemudian-
”Keponakan, orang yang sudah mati tak mungkin bisa
hidup kembali, kau tak usah terlalu emosi lebih baik ceritakan
dulu keadaan yang kau alami didalam benteng keluarga Hee,
siapa tahu aku dapat menarik sedikit kesimpulan dari ceritamu
itu”
Huan cu im mengatakan, kemudian diapun bercerita bagian
Ji giok diseret pergi karena menutupi pesan terakhir Lo koan
keh dan bagaimana sebagai gantinya dia di layani oleh ci giok.
Malam itu ketika ia pulang dari kamar baca empek Hee,
didengarnya ci giok sedang berbicara dengan seseorang yang
berjanji akan bekerja pada kentongan kedua iapun curiga
mereka hendak melakukan suatu perbuatan yang tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menguntungkan benteng keluarga Hee.

Ketika malam tiba iapun menguntil dibelakang ci giok


sampai dikebun belakang dimana dilihatnya sidewa bermuka
merah Siu tong sedang bertarung melawan burung berkepala
sembilan Soh Han sim, dari pembicaraan mereka agaknya ci
im totiang dari Go bi pay sudah terjatuh ketangan pihak
benteng keluarga Hee.
Kemudian bagaimana ci giok melepaskan segenggam jarum
bwee hoa ciam yang dipentaikan oleh Soh Han sim, kemudian
dia melarikan gadis yang terluka dan bagaimana dia memukul
mundur Soh Han sim.
Cuma soal bagaimana dia menyelamatkan ci giok dari
jarum jarum bwee hoa ciam saja yang tidak dikemukakan.
Seng Bian tong yang mendengar sampai disitu segera
mengangguk berulang kali.
Ternyata siburung berkepala sembilan soh Han sim benar
benar berada didalam benteng keluarga Hee dulu orang itu
pernah menjadi pelindung hukum dari perkumpulan teratai
putih dan merupakan buronan kerajaan, sudah banyak tahun
ia tak pernah muncul didalam dunia persilatan-
”Dewa bermuka merah loko juga berapa hari berselang
baru kembali ke Kim leng, sewaktu bertemu denganku,
kenapa tidak ia ungkapkan peristiwa ini? Baik sekarang coba
kau lanjutkan ceritamu?”
Menyusul kemudian Huan cu im bercerita bagaimana
malam itu ci giok mengajaknya menolong Ji giok dan
menghantarnya ke kuil cu im an, sewaktu meninggaikan kuil
itu bagaimana dia dihadang Soh Han sim, untuk muncul
seorang perempuan berkerudung yang menyelamatkan
dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Tahukah kau siapakah perempuan berkerudung itu?”


tanya Seng Bian tong kemudian sambil tertawa.
Huan cu im tertegun.
”Hingga sekarang keponakan masih belum tahu siapakah
dia” sahutnya cepat. Seng Bian tong segera tersenyum.
”Kepandaian silat yang digunakan adalah cian hoa ci,
padahal kepandaian tersebut merupakan ilmu andalan Kiu hoa
sinni, putri Hee im hong tidak lain adalah muri Kiu hoa sinni”
”Aaah, jadi dia adalah enci Giok yong” seru Huan cu im
sedikit diluar dugaan-
Menyusul kemudian ia pun bercerita bagaimana dia kembali
ke kamarnya dan sewaktu berbicara dengan gurunya
ketahuan Hee Im hong kemudian bagaimana Hee Im hong
mengundang gurunya menjadi ketua pelatih benteng mereka.
Kemudian bagaimana pula keesokan harinya gurunya
datang menepati janji bagaimana melihat empek Hee dan Soh
Han im menghantar cing im totiang dan Dewa bermuka merah
Lou siu tong meninggaikan benteng, lalu bagaimana tengah
hari itu Soh Han sim mencampurkan bubuk pembingung
pikiran ke dalam arak gurunya...
Mendengar sampai disitu paras muka Seng Bian tong
berubah hebat, ia segera bertanya: ”Kau mendengar cerita ini
dari mana ?”
Huan cu im segera bercerita bagaimana Siang Siau un
memancingnya keluar dari benteng dan memberitahukan
kepadanya kalau gurunya keracunan dan minta dia kabur
secepatnya, lalu bagaimana ia bertemu dengan gurunya yang
ternyata sudah menelan pil penawar racun sebelum sempat
dikerjai orang.
Kemudian dia pun bercerita bagaimana Tong sau cengcu
suami istri dari Szuchuan dan BansaU cengcu kakak beradik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari Hong san datang berkunjung, bagaimana malam itu


diselenggarakan perjamuan untuk mereka.
Ketika perjamuan selesai, Hee Im hong menahan Tong
danBan sau cengcu dalam kamar bacanya, bagaimana ia
curiga mendengar orang berbisik bisik dan menemukan dalam
kamar duduk Tong Bun huan yang lain-
Ketika mendengar sampai disini, tak tahan lagi Seng Bian
tong menukas
”Keponakanku, bukankah kau berkata Tong Bun huan dan
Ban Sian ceng diundang Hee pocu menuju kamar bacanya ?”
”Benar ”
Maka Huan cu impun bercerita bagaimana ciu Kay seng
mengajak Tong Bun huan menuju ke kamar baca, bagaimana
ia menguntit secara diam diam dan menemukan Tong Bun
huan yang lain tertidur diatas meja.
Sewaktu mendengar sampai disini, Seng Bian tong
menghentikan permainan peluru besinya secara tiba tiba,
ditatapnya Huan cu im lekat lekat kemudian bertanya : ”Jadi
terdapat dua Tong Bun huan? Apakah keponakan tidak salah
melihat?” Dengan wajah serius Huan cu im menjawab:
”Siautit makan dan berbicara semeja dengan Tong sau
cengcu, bahkan kami sempat berbicara banyak. Tak mungkin
aku salah melihat”
”Ehmm...” Seng Bian tong segera manggut manggut, ”coba
kau lanjutkan ceritamu, bagaimana kemudian ?”
Jelas dia sudah menaruh perhatian khusus atas munculnya
dua orang Tong Bun huan dikamar baca Hee Im hong
tersebut.
Maka Huan cu impun bercerita bagaimana jejaknya
ketahuan Hee Im hong, bagaimana dia dipanggil masuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kamar baca dan waktu itu Tong Bun huan yang tertidur dimeja
sudah lenyap.
Sekali lagi Seng Bian tong mendengus ”Hee Im hong
memang benar benar hebat tak disangka ia bisa
menggunakan siasat selicik ini Hmm, apakah dia tidak
menaruh curiga padamu?”
”Untung sekali apa yang siautit ucapkan sejujurnya
dipercaya oleh empek Hee.”
Selanjutnya Huan cu impun bercerita bagaimana
sekembalinya kedalam kamar gurunya telah menyerahkan
sebutir pil penawar racun kepadanya.
Keesokan harinya, Hee Im hong pun mengundangnya
kekamar baca, disitu ia mendengar Tong Bun huan suami istri
cekcok semalam, dalam marahnya Tong sau hujin telah pergi
tanpa pamit sedang Tong Bun huan telah pergi mengejar
istrinya.
Saat itu didalam kamar baca tinggal Ban Sian ceng dan Soh
Han sim, dalam perjamuan mana Hee Im hong menyinggung
soal perkawinan, menggunakan kesempatan tersebut Soh Han
sim memberi selamat kepadanya, ternyata arak itu sudah
dicampuri bubuk pembingung pikiran maka ketika perjamuan
itu selesai, dia beralasan kepala pusing buru buru
meninggalkan tempat tersebut.
Seng Bian tong kembali manggut manggut, katanya
kemudian Soh Han sim mencampurkan racun ke dalam arak
ini berarti atas persetujuan Hee Im hong kalau begitu soal
perkawinan hanya alasan saja agar Soh Han sim punya
kesempatan untuk meracunimu. Untung suheng liehay
sehingga musibah ini bisa dilewatkan dengan begitu saja”
Setelah berhenti sejenak kembali dia berkata :
”Aaah benar, kenapa dia rela melepaskan kau datang ke
Kim leng ? Apakah hal ini disebabkan kau sudah dicekoki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bubuk pembingung pikiran sehingga mereka tidak kuatir kau


berpikiran cabang ?”
”Benar, suhupun berkata demikian, semalam sebelum
keberangkatanku, suhu telah berpesan kepadaku agar
menceritakan semua peristiwa yang dijumpai dalam benteng
keluarga Hee kepada lopek.”
”Bahkan suhu bilang, setelah siautit tiba di sini,
kemungkinan besar empek Hee akan memberi tugas kepadaku
dan memerintahkan siautit untuk melakukan suatu tugas,
dalam menghadapi persoalan apa pun siautit dianjurkan untuk
berunding dulu dengan lopek kemudian baru
melaksanakannya.”
”Akan menyusul perintah ?” mendadak Seng Bian tong
seperti memahami akan suatu, dia segera mengangguk, ”yaa
gurumu memang berotak tajam dan pintar sekali, andaikata
suhumu tidak menyinggung masalah ini, aku benar benar tak
akan menduga sampai kesitu”
Huan cu im belum cukup pengalaman oleh sebab itu dia
tidak memahami maksud ucapan dari Seng Bian tong tersebut,
karenanya dia hanya mengiakan berulang kali. Menyusul
kemudian Seng Bian tong bertanya lagi : ”Suhumu masih
berpesan apa lagi kepadamu ?” Huan cu im berpikir sebentar,
kemudian baru menjawab : ”sudah tidak ada lagi...”
Tapi secara tiba tiba ia seperti teringat akan sesuatu segera
ujarnya kembali :
”Menurut suhu, bisa jadi Ban sau ceng juga telah dicekoki
obat pembingung pikiran oleh Soh Han sim, dia orang tua
telah menyerahkan sebutir pil penawar racun kepadaku, dan
menyuruh siautit mencari kesempatan untuk mencekokkan pil
itu kemulutnya.” Seng Bian tong kembali mengelus jenggotnya
sambil mengangguk berulang kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Kemungkinan tersebut memang ada, Cuma untuk


sementara waktu kau jangan berikan dulu obat tersebut pada
Ban sau cengcu, coba kita tunggu beberapa hari lagi.”
”Selain itu...” tiba tiba Huan cu im teringat dengan surat
yang dititipkan ”ci giok kepadanya telah menitipkan sepucuk
surat agar kubawa.”
”Dia menitipkan surat itu untuk siapa?” tanya Seng Bian
tong sambil tersenyum.
”Semula dia tidak bilang, katanya sampai itu baru boleh
diperiksa setelah tiba disini barusan siautit telah
memeriksanya, ternyata surat itu untuk siautit dan menyuruh
aku laporkan semua yang kulihat dan kudengar dalam
benteng keluarga Hee kepada lopek, sebab masalah ini
mempengaruhi keadaan dunia persilatan-”
”Mana suratnya sekarang?”
Merah padam selembar wajah Huan cu im
”Dia berpesan agar surat itu dimusnahkan setelah dibaca,
maka siautit pun telah membakarnya ”
”Bagus sekali” seng Bian tong tersenyum, ”biar kubicarakan
persoalan ini kepada ciangbunjin”
Kemudian setelah mempermainkan peluru besinya, sambil
tersenyum ia berkata lagi
”Kedatanganmu kali ini benar benar telah membawa berita
yang amat penting, bahkan amat mempengaruhi keadaan
dunia persilatan dimasa mendatang aku sama sekali tidak
menyangka kalau Hee Im hong memiliki nama baik diluar
ternyata mempunyai rencana busuk didalam kejadian tersebut
benar benar membuat orang tidak mau percaya saja”
”Sebenarnya apa sih maksud tujuan empek Hee dengan
perbuatannya itu...” tak tahan Huan cu im bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Apa lagi? Tentu saja dia sedang mengincar kedudukan Bu


lim Bengcu angkatan keempat tersebut” Seng Bian tong
menghela napas panjang, ”padahal seorang Bu lim Bengcu
adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang bertujuan
untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia
persilatan, membereskan pertikaian antara partai dengan
partai, perguruan dengan perguruan, jadi sifatnya merupakan
kerja sosial tanpa memperoleh imbalan belaka, biarpun
demikian, jika kedudukan ini sampai terjatuh ke tangan
seorang manusia yang bertujuan jahat, bisa jadi kejadian
tersebut akan memancing datangnya bencana besar bagi
seluruh dunia persilatan-.”
Kemudian setelah mengangkat kepalanya memandang
sekejap wajah pemuda itu, katanya sambil tertawa :
”Sekarang waktu sudah larut malam, kau harus pergi untuk
beristirahat”
Huan cu impun segera berpamitan dan kembali keatas
loteng, ketika membuka pintu, mendadak ia seperti merasa
pintu tersebut pernah dibuka orang sebelum kedatangannya.
Sebetulnya hal itu Cuma siasat saja, jadi bukan suatu yang
pasti, maka setelah berada didalam kamar, serta merta
diperiksanya seluruh ruangan tersebut dengan seksama,
alhasil tidak dijumpai suatu apapun-
Maka dia menutup pintu dan siap membaringkan diri diatas
pembaringan-
Tapi pada saat itulah mendadak ia menemukan secarik
kertas diletakkan disamping bantalnya ketika diambil kertas itu
penuh tulisan, Cuma sayang tenaga dalamnya belum
mencapai tingkat kesepuluh sehingga meski dapat melihat
dalam kegelapan namun tak jelas membaca tulisan yang kecil
itu.
Tapi ia tahu surat tersebut tentu ditulis oleh orang yang
telah memasuki kamarnya itu lantas siapakah dia ? Apa pula
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang tercantum didalam surat tersebut ? Manusia memang tak


akan lepas dari rasa ingin tahu.
Terdorong untuk mengetahui siapa yang telah memasuki
kamarnya dan apa yang ditulis dalam kertas tadi Huan cu im
kembali memasang lentera kemudian membaca isi surat
tersebut.
”Besok pagi tunggu ditepi jembatan Bun tek kiau, bila
menjumpai seorang yang memakai topi pet bulu mengenakan
jubah panjang dan mengempit payung, ikutilah di
belakangnya, tiba ditujuan sebelum masing masing berbicara,
kau harus membunuh orang tadi”
Tulisan ini sangat aneh, dibawah tidak dicantumkan tanda
tangan seseorang, Tanpa terasa pemuda itu mulai berpikir:
”Surat ini diletakkan disisi bantalku, sudah pasti surat
tersebut untukku, tapi siapakah dia ?”
”oaaah... bukankah suhu bilang setelah Soh Han sim
meracuni seseorang dengan bubuk pembingung pikiran,
kemungkinan besar empek Hee akan menyusulkan
perintahnya, jangan jangan surat ini adalah perintah empek
Hee yang disampaikan suruhannya ?”
”Lantas mengapa dia bisa tahu kalau besok pagi bakal ada
orang semacam itu bakal lewat di jembatan Bun tek kiau ?”
Dia melipat surat itu dan dimasukkan kesaku kemudian
pergi tidur...
Keesokan harinya baru saja Huan cu im selesai
membersihkan badan, tampak si burung hong hijau Ban hui jin
telah muncul di situ dengan kecepatan bagaikan hembusan
angin.
Hari ini ia mengenakan baju biru dengan gaun ungu,
rambutnya yang panjang diikat dengan tali biru pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan senyuman dikulum dia berdiri dihadapannya


dengan gagah dan lincah. Berklat sepasang mata Huan cu im
menjumpai nona itu, buru buru serunya ”Selamat pagi nona
Ban”
Ban Hui jin mengerdipkan matanya kemudian tertawa.
”Huan siangkong” ia berkata, ”kakakku bilang hari ini dia
hendak berpesiar ke Ya hua tay, disitu dapat dipungut batuan
kecil panca warna indah sekali, kita bisa mengambilnya untuk
dipakai sebagai senjata senjata rahasia, kau kan tidak ada
urusan? Selesai bersarapan nanti bagaimana kalau kita kesana
bersama sama?”
”Tidak bisa, hari ini aku masih ada urusan” tolak Huan cu
im cepat.
Senyum riang yang semula menghiasi wajah Ban Huijin
seketika berubah menjadi dingin membeku, serunya cepat
cepat :
”Apakah urusanmu tak bisa ditundak sehari saja? Kemarin
malam aku sudah bilang dengan kakakku, akupun sudah
kegirangan semalam tapi kau... hmm, kau justru
menghilangkan kegembiraanku. ” Buru buru Huan cu im
tertawa.
”Hari ini aku benar benar ada urusan, biariah lain waktu
saja kutemani lagi nona dan kakakmu”
”Tidak. Aku tak mau pergi, kemana pun aku tak mau” seru
Ban Huijin mengambek.
Tidak menunggu Huan cu im menjawab ia sudah
membalikkan badan dan beranjak keluar dari kamar.
Menyaksikan gerak tubuhnya yang begitu lincah, tanpa
terasa Huan cu im memuji hati
”Dia memang benar benar bagaikan seekor burung hong ”
Blaaammm...”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rupanya ketika keluar dari kamar, Ban Ihujijintelah


mengutup pintu kamar tersebut keras keras.
Ini menandakan kalau gadis tersebut benar benar sudah
marah
Ketika Huan cu im melangkah keluar dari kamarnya
kebetulan Ban Sian Ceng juga sedang keluar dari kamarnya,
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali katanya :
”Aaai... nona besarku itu endah mengambek kepada siapa
lagi ?”
”Agaknya ia sedang marah kepada siaute” jawab Huan cu
im dengan wajah merah, ”tadi nona Ban bilang telah berjanji
dengan saudara Ban untuk berpesiar ke Yu hoa tay dia
mengajak siaute turut serta sayang sekali siaute masih ada
urusan hari ini.”
”Kalau toh saudara Huan memang ada urusan lebih baik
kita pergi lain waktu saja toh kita mesti pergi ke Yu hoa tay
hari ini, mengapa sih dia mesti marah ?”
”Lebih baik saudara Ban yang membujuknya, besok pagi
siaute tentu akan menemaninya.”
”Sudahlah, kau tak usah menggubrisnya lagi,” Ban Sian
Ceng tertawa ramah. ”Dia memang masih berwatak kekanak
kanakan semakin dibujuk semakin menjadi kalau tak
diperdulikan, sebentarpun dia akan baik dengan sendirinya.”
Mereka berdua turun ke bawah bersama sama, disebuah
meja telah tersedia berapa macam hidangan dengan
setumpuk bakpao untuk sarapan-
Seorang nenek yang melayani sarapan datang menyambut
kedatangan mereka, katanya kemudian dengan ramah :
”Kongcu berdua, silahkan sarapan.”
”Saudara Huan, silahkan duduk,” kata Ban Sian cing sambil
mengangkat tangannya. Huan cu im memandang sekejap ka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

atas loteng, lalu tanyanya : ”Perlukah kita mengundang


adikmu ?”
”Tadikan sudah kubilang, tak usah menggubris dia lagi,”
kata Ban sian Ceng sambil tertawa, ”dalam keadaan demikian,
sekalipun kau pergi mengundangnya pun dia tak akan
menggubris, lebih baik kita bersarapan lebih dahulu.”
Ban sian ching bersama Huan cu im mengambil tempat
duduk untuk bersarapan, setelah itu baru pergi ke kamar
bacanya Seng Bian tong.
Waktu itu Seng Bian tong sedang berdiri ditengah halaman
sambil menghisap huncwee. Melihat kedatangan kedua orang
itu segera sapanya ramah : ”Apakah hiantit berdua dapat tidur
dengan nyenyak semalam ?” Ban Sian ceng segera
membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya
”Pelayan yang diberikan perusahaan anda benar benar
amat sempurnya dan menyenangkan, boanpwee memang
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga
buat locianpwee.”
”Mari kita duduk berbincang didalam kamar baca.” Undang
seng Bian tong kemudian sambil mengangkat tangannya.
”Lapor lopek, siautit masih ada sedikit persoalan yang harus
diselesaikan dulu, maaf kami tak bisa menemani kau orang
tua,” kata Huan cu im cepat.
”ooooh... keponakan hendak kemana ? Kau baru sampai di
Kim leng daerah sekitar sinipun tidak hapal, bagaimana kalau
kuutus seorang pegawai perusahaan untuk menemanimu?”
Diam diam Huan cu im memberi kerdipan mata rahasia
kepadanya, sesudah itu baru sahutnya:
”oooh, tidak usah biar siautit pergi mencari sendiri.”
Selesai berkata diapun berpamitan dengan Seng Bian tong
kemudian bersama Ban sian ceng berdua menuju ke luar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Didepan pintu gerbang secara kebetulan berjumpa dengan


Seng ceng hoa, terdengar orang itu menyapa sambil
tersenyum.
”Saudara Huan, apakah kau datang kemari hendak
mencariku?”
”Saudara Seng siaute berniat untuk berjalan jalan sebentar,
aku hanya ingin mohon petunjuk dari saudara Seng, kalau
ingin menuju kejembatan Buntek kiau, kita harus melalui jalan
yang mana?”
”oooh, saudara Huan hendak pergi ke jembatan Bun tek
kiau? Biar aku utus seseorang untuk menemanimu”
”Tidak usah, lebih baik siaute pergi sendirian saja, cukup
saudara yang jelaskan kepada kujalan yang manakah yang
harus kulewati...”
Sebelum Seng ceng hoa menjawab, Huan cu im sudah
Celingukan sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu sambil
merendahkan suaranya dia berbisik
”Siaute hanya akan pergi sebentar saja, sekembalinya nanti
baru akan memberi laporan yang selengkapnya kepada Seng
lopek. Harap saudara Seng jangan mengungkapkan persoalan
ini kepada siapapun.”
Karena mendengar perkataan terse but, terpaksa Seng
ceng hoa manggut manggut seraya menjawab :
”Baiklah saudara Huan bila ingin pergi keBun tek kiau,
tempat tersebut terletak dipantai utara sungai chin hway
hoo...”
Secara ringkas dia lantas menjelaskan bagaimana harus
menempuh perjalanan untuk pergi keBun tek kiau...
Huan cu im mengingat baik baik keterangan setelah
berpamitan dengan Seng ceng hoa dan keluar dari Seng ki
kiaukiok, berangkatlah dia menuju ketimur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ooooodwooooo

Tempat yang termashur disebelah timur kota Kim leng tak


lain adalah kuil Hu cu bio serta sungai chin hway hoo.
Hu cu bio seharusnya merupakan sebuah bangunan yang
angker dan anggun sebab bangunan ini melambangkan
kemajuan kebudayaan bangsa Tionghoa selama lima ribu
tahun lamanya.
Tapi bangunan tersebut justru lebih mirip sebuah pasar di
Peibing atau kuil Hian biau bio di siok ciu.
Di sekeliling kuil tumbuh aneka toko dan warung penjual
makanan pedagang kaki lima, rumah makan serta berbagai
ragam warung lainnya tumbuh disitu, boleh dibilang tempat ini
merupakan tempat hiburan yang terbesar dan teramai bagi
masyarakat kota Kim leng.
Ditepi kuil itu mengalirlah sungai ching hway hoo yang
amat termashur disenatero negeri, banyak seniman dan
sastrawan yang mempergunakan tempat itu untuk mencari
inspirasi baru, para pembesar memanfaatkan tempat itu untuk
menghibur diri, tak heran kalau tempat hiburan berada
dimana mana perahu pesiarpun berlalu lalang tiada habisnya.
Suatu pemandangan yang amat menawan.
Jembatan Bun tek kiau berada dipantai utara sungai chin
hway hoo disamping atas kuil Hu cu bio.
Dengan bersusah payah Huan cu im baru berhasil
menemukan jembatan Bun tek kiau tersebut namun manusia
yang berlalu lalang, laki perempuan dengan pakaian aneka
hilir mudik tiada hentinya, benar benar merupakan sebuah
tempat yang ramai sekali.
Menyaksikan kesemuanya ini timbul keraguan dalam
hatinya, bagaimana mungkin dia bisa menemukan seseorang
dengan ciri yang khusus ditempat keramaian seperti ini ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia mengangkat kepalanya matahari sudah beradaa diatas


kepala hampir hampir mendekati tengah hari, namun pemuda
itu tetap berdiri ditepi atas jembatan sambil memperhatikan
setiap orang berlalu lalang.
Pada tahun belakangan ini orang yang mengenakan topi
pet dengan jubah panjang memang tak sedikit jumlahnya.
Apabila kau ingin melihat apakah dibelakang punggungnya
terdapat tambalan kain biru atau tidak- terutama sekali
ditempat keramaian seperti ini, berarti kau mesti menunggu
sampai orang itu lewat lebih dulu, kemudian baru memeriksa
punggungnya.
Pada hakekatnya Huan cu im hampir tak sanggup untuk
memejamkan matanya barang sekejap pun.
Tengah hari kini sudah menjelang tiba, tapi belum tampak
juga kemunculan orang tersebut, apakah dia sudah
menyeberang lewat, ataukah belum tiba ?
Diam diam Huan cu im mulai menggerutu didalam hati,
siapa tahu belum tentu ada orang semacam ini yang benar
benar akan lewat disitu...?
Sementara dia masih termenung sambil melamun, tiba tiba
sesosok bayangan manusia melintas lewat dalam kelopak
matanya.
Perawakan orang itu tidak teriampau tinggi dia
mengenakan sebuah topi pet yang sudah lusuh dan penuh
kerutan, pakaian panjangnya sudah luntur sehingga
mendekati putih, punggungnya bungkuk dan dibawah
ketiaknya mengempit sebuah payung, selangkah demi
selangkah ia berjalan naik ke atas jembatan.
Cepat cepat Huan cu im memperhatikan punggungnya
betul juga disitu ia temukan tambalan kain berwarna biru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dialah orangnya. Ternyata pada tengah hari tepat benar


benar terdapat manusia dalam dandanan semikian melewati
jembatan tersebut.
Huan cu im benar benar merasa terkejut bercampur
keheranan, darimana orang yang meninggalkan pesan
kepadanya semalam bisa tahu kalau hari ini tengah hari tepat
akan muncul seseorang dengan dandanan demikian meleati
jembatan Bun tek kiau ?
Dia harus meng until dibelakangnya, sesampainya di
tempat tujuan harus membinasakan orang orang itu, tapi...
mengapa dia harus berbuat demikian ?
Sebenarnya ia datang atas dorongan rasa ingin tahu,
sebenarnya dia mengira belum tentu ada manusia demikian
yang benar benar akan melewati tempat ini tapi sekarang
terbukti sudah kalau benar benar ada manusia macam begini
yang melewatijembatan Bun tek kiau, itu berarti dia harus
membuntutinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi...
Sementara dia masih termenung, orang itu sudah pergi
jauh maka Huan cu impun mulai mengikuti dibelakangnya,
bukan bermaksud untuk mengejarnya, melainkan hanya
mengikuti dari kejauhan saja.
Tentu saja orang itu tidak bakal tahu kalau di belakang
tubuhnya ada seseorang sedang mengikutinya, oleh sebab itu
dengan punggung terbungkuk dia hanya berjalan terus
menuju kearah barat dengan kepala tertunduk.
Huan cu im mengikuti terus dibelakang tubuhnya, entah
berapa jauh sudah mereka tempuh, hanya terasa perjalanan
semakin lama makin memasuki daerah sepi dan jauh dari
keramaian, kini di hadapan mereka telah terbentang sebuah
bukit tinggi yang terjal, curam dan berbahaya.
Namun orang itu masih berjalan terus ke depan, berpaling
sekejap pun tidak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak selang berapa saat kemudian ia sudah keluar dari pintu


cing liang bun dan mendekati hutan yang lebat dengan
kicauan burung dikejauhan sana.
Ketika sampai ditepi hutan, mendadak orang itu
menghentikan langkahnya, lalu tanpa berpaling katanya
dengan suara yang berat dan parau : ”Sudah tiba ditempat
tujuan, letaknya dalam rumah kayu dibalik hutan tersebut.”
Huan cu im sekali lagi dibuat tertegun, segera pikirinya:
”Sekalipun dia tak berpaling, namun perkataan itu jelas
ditujukan kepadaku, ini berarti dia sudah tahu sejak tadi kalau
aku sedang mengikutinya... aaah tidak mungkin sudah jelas
sipenulis surat semalam yang menyuruh dia memancing
kedatanganku kemari, lantas mengapa pula aku mesti
membunuhnya setelah dia selesai membuka suara...?”
Suhu pernah pula berkata, dalam dunia persilatan, berlaku
sebuah pantangan yakni ”bertemu hutan jangan masuk”,
sekarang haruskah dia memasuki hutan itu?
Ternyata orang yang meninggalkan surat itu berbuat begitu
misterius, dengan bersusah payah dia memancing
kedatangannya kemari, tapi apakah tujuan yang sebenarnya?
Setelah berada disini, bila tidak memasuki sarang macan,
mana mungkin bisa peroleh anak harimau ?
Kalau memang dibalik hutan terdapat rumah kayu, ini
berarti sipembuat surat itu pasti menantikan kedatangannya di
dalam bangunan rumah itu paling tidak dia harus menyelidik
sampai jelas siapakah gerangan lawan dan apa maksud serta
tujuannya.
Dalam pada itu, ketika orang tersebut selesai berbicara, dia
segera melayang mengitari hutan dan berusaha kembali ke
arah semula, gerakan tubuhnya tidak terlampau cepat tapi
justru gesit dan cekatan bagaikan seekor monyet, tahu tahu
saja bayangan sudah menjauh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah barang tentu Huan cu im tidak akan melaksanakan


perintah seperti apa yang dicantumkan dalam surat itu, tanpa
sebab tanpa musabab harus membunuh seseorang, dia hanya
mengikut petunjuk orang tadi, berjalan menelusuri sebuah
jalan kecil disisi Hutan itu.
Disaat dia sedang menelusuri jalan kecil dibalik hutan
inilah, tiba tiba berkumandang suara jeritan ngeri yang
memilukan hati dari kejauhan sana.
Jerit kesakitan itu bagaikan jeritan sekarat seseorang yang
mengalami penderitaan hebat dan menjelang saat
kematiannya tiba, lagi pula bila ditinjau dari arah datangnya
suara jeritan tersebut, sudah jelas berasal dari arah dimana
orang tadi melarikan diri.
Tertegun juga Huan cu im mendengar seruan tadi, ini
berarti orang tersebut sudah menemui bencana dan mati
terbunuh, mungkinkah si penulis surat tersebut yang sudah
turun tangan membinasakan orang itu sendiri, karena ia tidak
membunuhnya?
Tapi, mengapa pula harus begitu? Apakah orang itu
mempunyai dosa besar yang pantas untuk menemui
kematiannya?
Huan cu im segera berpendapat bahwa sipenulis surat itu
sudah pasti bukan manusia baik hati, kalau tidak. Mustahil dia
akan menganggap nyawa manusia bagaikan batang rumput
yang berarti.
Dia tidak ragu lagi, dengan menelusuri jalan yang kecil
yang berkelak kelok itu dia berjalan terus ke depan, makin
masuk ke hutan semakin dalam, matahari semakin redup daun
yang rindang hampir membuat setitik cahaya pun tak mampu
menerobos masuk ke dalam.

Betul juga, diujung jalan kecil itu berdiri sebuah bangunan


rumah kayu yang gelap gulita, rumah tersebut hanya terdapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebuah pintu berwarna hitam, tiada suara tiada pula sesosok


bayangan manusia pun berada disitu.
Dengan memperbesar keberaniannya Huan cu im berjalan
menuju ke depan pintu, baru saja dia hendak mengetuk
pintu...
Mendadak dari balik pintu rumah berkumandang suara
seruan seseorang dengan nada yang amat aneh.
”Setelah sampai di depan pintu, mengapa tidak langsung
membuka pintu dan masuk ke dalam ?”
Nada suara orang itu memang benar benar rada aneh,
sukar rasanya untuk diketahui apakah dia sudah tua ? Atau
masih muda ? Pokoknya membuat si pendengar merasakan
hatinya sangat tak enak.
Huan cu im tidak ambil perduli siapakah orang itu, yang
penting baginya setelah sampai disini maka setelah bersua
nanti segala sesuatunya akan menjadi jelas. Oleh sebab itu dia
segera membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan-
Suasana di dalam ruangan rumah kayu itu jauh lebih redup
dan gelap. Hampir boleh dibilang susah untuk melihat kelima
jari tangan sendiri.
Disaat Huan cu im telah melangkah masuk ke dalam rumah
kayu itu tahu tahu... ”Blam” pintu rumah dibelakang tubuhnya
telah menutup sendiri secara otomatis.
Huan cu im baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan,
belum pernah ia jumpai peristiwa aneh dan seram seperti ini,
tidak urung hatinya menjadi tegang sambil menghentikan
langkahnya, diam diam ia persiapkan sepasang telapak
tangannya untuk menghadapi segala sesuatu yang tak
diinginkan.
Sepasang matanya dicoba untuk dipejamkan sebentar lalu
membukanya kembali dan memperhatikan sekejap sekeliling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempat itu, namun suasana didalam rumah kayu itu masih


tetap gelap gulita dan sukar untuk melihat sesuatu apa pun.
Pada saat itulah, tiba tiba terdengar suara yang sangat
aneh itu pelan pelan berkata lagi.
”Akulah yang mengundang kau untuk bersua disini, jangan
kuatir, biarpun ruangan ini gelap gulita, tidak bakal ada
kejadian yang tak menguntungkan akan menimpa dirimu”
Ditinjau dari arah berasalanya suara pembicaraan tersebut,
Huan cu im menduga orang itu seharusnya berada
dihadapannya, namun anehnya, ia justru tak berhasil
menemukan jejak orang itu. Maka sekali lagi ia bertanya.
”Sobat, sebenarnya siapakah kau? Apa maksudmu
mengundang kehadiranku disini ?” suara yang aneh tadi
segera tertawa,
”Tak usah kau ketahui siapakah aku, aku sendiripun tidak
akan bertanya kepadamu siapakah kau”
”Lantas ada urusan apa kau ?”
”Bukankah dalam sakumu terdapat sebuah mata uang kuno
yang terbuat dari perak? Ambillah keluar”
Mendengar perkataan itu, Huan cu im segera berpikir.
”Yaa..betul sebelum keberangkatanku tempo hari, empek
Hee pernah menyerahkan sebuah mata uang kuno yang
terbuat dari perak kepadaku, dia menyuruh aku membawa
terus benda tadi dan tak boleh dihilangkan, waktu itu dia tidak
banyak memberi penjelasan dan akupun tidak mengetahui apa
kegunaan dari mata uang tersebut, heran, mengapa orang ini
pun bisa tahu?”
Berpikir demikian, dia pun menjawab.
”Benar, aku memang mempunyai sebuah mata uang
semacam itu, sobat, apakah dikarenakan mata uang kuno itu
maka kau berdaya upaya memancing kedatanganku kemari ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara yang aneh itu tertawa, suara tertawanya kedengaran


agak parau dan aneh, selanya,
”Kau keliru besar, kusuruh kau mengeluarkan mata uang
kuno itu karena hendak kuperiksa keaslian benda tersebut.”
”Apa yang hendak kau periksa ? Dan apa gunanya ?” Huan
cu im semakin kebingungan-
„Heehh... heehh... heeh...“ kali ini suara yang aneh
tersebut tidak berkata, melainkan tertawa rendah dengan
suara yang menyeramkan-
Dibalik gelak tertawanya yang aneh itu, Huan cu im melihat
dari balik kegelapan lebih kurang delapan sembilan depa
dihadapan-nya, tiba tiba muncul sebuah tangan manusia,
telapak tangannya terbuka lebar, pada jari tengah tangan
tersebut tergantung sebuah rantai tipis yang membelenggu
sebuah mata uang kuno terbuat dari emas, benda itu
menggeletak pada telapak tangan kanannya.
Ternyata mata uang tersebut mempunyai motip dan ukiran
yang sama dan persis seperti mata uang perak yang
diserahkan empek Hee kepadanya itu.
(Pada permulaan tadi dikatakan, Huan cu im mampu
melihat dalam kegelapan, meski tenaga dalamnya masih
Cetek. Dan ruangan tersebut gelap gulita, namun berhubung
mata uang emas itu terbuat dari emas yang dapat
memancarkan sinar, maka anak muda tersebut dapat melihat
kesemuanya itu dengan jelas).
Dalam sebuah rumah kayu yang gelap gulita, tidak nampak
tubuh seseorang secara seutuhnya, tapi hanya melihat sebuah
tangan aneh digerak gerakkan dihadapannya, siapa pun yang
menyaksikan hal tersebut pasti akan terkejut dibuatnya. Tanpa
terasa Huan cu im mundur selangkah, lalu tegurnya dengan
perasaan bergidik. „Sobat, sebenarnya kau ini manusia atau
setan ?“ Suara yang aneh itu kembali tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Lote, kau tak perlu takut, aku tentu saja manusia, Cuma
kau tak sempat melihat dengan jelas, eh mm. Sekarang
tentunya kau sudah melihat mata uang emasku ini bukan ?“
„Yaa, sudah kulihat“ jawab Huan cu im sambil
mengangguk.
„Baiklah...“
Bersamaan dengan ucapan itu, tangan aneh yang muncul
di depan mata tadi segera ditarik kembali dan lenyap dari
pandangan mata, menyusul kemudian terdengar suara yang
aneh itu kembali berkata:
„sekarang, keluarkan mata uang perakmu dan perlihatkan
kepadaku.“ Hhuan cu im segera berpikir.
„Agaknya empek Hee memberikan mata uang perak itu
kepadaku dengan mengandung suatu maksud tertentu dibalik
kesemuanya ini pasti tersimpan pula sesuatu rahasia,
karenanya orang ini selalu berusaha untuk memeriksa mata
uang perakku, bila tidak kuberikan mata uang tersebut
kepadanya sudah jelas orang inipun tak bakal mengucapkan
sesuatu kepadaku...
Karena berpendapat demikian, maka dia merogoh ke dalam
sakunya, dan mengeluarkan mata uang perak itu, lalu
mengenakan rantainya diatas jari tengah tangan kanannya,
kemudian ia baru berkata
”Bailah, jika kau ingin memeriksa, sekarang periksalah
dengan seksama ” Sembari berkata, dia lantas
mengangsurkan tangan kanannya ke depan...
”Bagus sekali” suara aneh itu berseru kemudian, ”ternyata
kau memang utusan perak, sekarang kau boleh menyimpan
kembali mata uang perakmu itu” Setelah Huan cu im
menyimpan kembali mata uang peraknya, dia baru bertanya
”Apa kau bilang? Aku adalah utusan perak?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Benar, padahal usiamu masih muda, namun dapat


menempati kedudukan sebagai Utusan perak, ini sudah
merupakan sesuatu yang luar biasa...”
”Lantas siapa kau sendiri?”
”Eeeh... sewaktu Hee pocu menyerahkan kedudukan
utusan perak kepadamu, apakah dia tidak menjelaskan
tentang sesuatu kepadamu?”
”Aaah, nampaknya dibalik kesemuanya ini memang masih
terdapat sesuatu yang luar biasa...” pikir Huan cu im. Cepat-
cepat dia menggeleng, lalu jawabnya
”Empek Hee menyerahkan benda ini kepadaku sehari
sebelum keberangkatanku ke Kim leng, dia hanya berpesan
agar benda itu kusimpan terus didalam saku dan tak boleh
sampai hilang, selain itu dia tak berkata apa apa”
”Baiklah, kalau begitu biar aku yang memberitahukan
kepadamu mata uang kuno ini semuanya terbagi menjadi
empat tingkatan, yang terbuat dari emas disebut Lengcu
emas, yang perak disebut Utusan perak- yang tembaga
disebut tembaga sedangkan yang besi disebut Busu besi, kau
adalah utusan perak dan kini tiba di Kim leng, itu berarti kau
akan melaksanakan semua perintah yang diberikan Lengcu
emas kepadamu, nah sekarang sudah mengerti ?”
Satu ingatan segera melintas dalam benak Huan cu im,
diam diam pikirnya:
”Soh Han sim telah mencampurkan bubuk pembingung
sukma ke dalam arakku maka aku harus berlagak seakan akan
kesadaran dan jalan pikiranku masih terpengaruh oleh obat
tersebut serta menuruti semua perintahnya...”
Berpikir demikian, dia lantas maju dan memberi hormat
seraya ujarnya.
”Walaupun empek Hee belum pernah memberi penjelasan
kepadaku, tapi Lengcu bisa membuktikan dengan mata uang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

emas tersebut, ini berarti kau tak bakal berbohong entah ada
urusan serta perintah apakah Lengcu mengundang
kedatanganku kemari?”
Suara yang aneh itu segera tertawa puas, sahutnya.
”Bagus sekali, tampaknya memang kau yang dimaksud, ada
pun maksudku mengundang kedatanganmu adalah untuk
menyerahkan sebuah tugas kepadamu untuk dilaksanakan-”
”Silahkan lengcu memberi perintah, aku pasti akan
melaksanakan dengan sebaik baiknya”
”Baik Disini terdapat sebutir pil, entah dimasukkan kedalam
air teh ataupun arak, pil tersebut akan segera mencair, obat
ini tiada berwarna ataupun berbau carilah suatu kesempatan
baik untuk memasukkan pil tersebut kedalam air teh atau arak
yang diminum Siang Han hui dari Hoa san, asal hal ini sudah
kau laksanakan maka tugasmu berarti telah selesai”
Begitu selesai berkata, tangan aneh tadi kembali muncul
didepan mata, pada telapak tangannya benar benar terdapat
sebuah bungkusan kecil yang segera dilemparkan ke depan
Huan cu im.
Dengan cepat Huan cu im menerimanya, baru saja dia
hendak bertanya lagi... Mendadak terdengar suara aneh tadi
menegur sambil mendengus dalam: ”Huan cu im, adakah
seseorang yang datang kemari bersama kau...?”
”Tidak ada, aku hanya datang seorang diri”
”Ini berarti orang tersebut datang kemari dengan menguntil
dibelakang mu” kata suara aneh tadi dengan nada dingin,
”barang siapa berani memasuki daerah terlarangku, berarti dia
hanya akan mati dan tak punya kesempatan hidup lagi,
sekarang kuperintahkan kepadamu untuk segera
membunuhnya”
Kalau disuruh membunuh orang, maka Huan cu impun
menjadi ragu ragu,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Soal ini...”
”Ayo cepat berangkat” bentak suara aneh itu lagi,
”memangnya aku harus turun tangan sendiri?”
Huan cu im tidak mengetahui siapa yang telah datang
dihati kecilnya ia segera berpikir.
”Jangan jangan Seng ceng hoa yang secara diam diam
datang menguntil diriku? Orang ini adalah Lengcu emas,
berarti ilmu silat yang dimilikinya pasti sangat hebat padahal
aku hanya seorang diri belaka, andaikata yang datang betul
betul adalah Seng toako, dengan tenaga gabungan kami
berdua mungkin saja masih dapat membekuknya serta
menyingkap latar belakangnya”
Ingatan tersebut secepat kilat melintas di dalam benaknya,
dengan cepat dia mengiakan kemudian membalikkan badan
dan menerobos keluar lewat pintu.
Baru saja ia melangkah keluar dari pintu kayu, tiba tiba
terasa angin tajam menerpa wajahnya, tahu-tahu sesosok
bayangan manusia telah muncul dihadapannya, orang itu
adalah seorang kakek bermuka merah yang beralis mata tebal
dan bermata besar, cambangnya kaku bagaikan tombak.
Orang ini mengenakan sebuah jubah panjang berwarna
biru, tapi dibagian muka maupun belakangnya sudah dipenuhi
tujuh delapan belas buah tambalan, perawakannya sedang
tapi nampaknya keren, gagah dan perkasa.
Sesudah berdiri dihadapan Huan cu im, sepasang matanya
yang tajam bagaikan sambaran petir mengawasi wajah Huan
cu im beberapa kejap. Kemudian tegurnya^
”Engkoh cilik, siapakah kau?”
”Aku Huan cu im, dan siapa pula lotiang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Aku Lian Sam sin, aku lihat engkoh cilik tidak mirip
seorang manusia buas yang suka melakukan kejahatan, apa
yang sedang kau perbuat disini?”
Lian Sam sin adalah tiang lo kanan dari tiang lo kiri kanan
perkumpulan Kay pang, orang menyebutnya sebagai pengemis
penakluk harimau, ia termasuk seseorang yang termashur
namanya dalam dunia persilatan-
Huan cu im belum pernah melakukan perjalanan dalam
dunia persilatan, oleh sebab itu diapun tidak mengetahui akan
asal usul lawannya, sambil angkat kepala dan tersenyum
sahutnya,
”oooh, rupanya kakek Lian, ada urusan apa sih kakek Lian
datang kemari?”
Menyaksikan mimik muka anak muda itu sama sekali tidak
berubah meski dia telah mengutarakan nama serta
julukannya, Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin segera
menganggap Huan cu im adalah seorang jago lihay yang
sengaja merahasiakan ilmunya, karena itu sambil tertawa
tergelak katanya.
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh..^ rupanya engkoh cilik
adalah seorang jagoan lihay, kalau begitu aku pengemis tua
benar benar sudah salah melihat, jadi engkoh cilik adalah
pemilik rumah kayu tersebut ?”
Berhubung si pendatang tersebut bukan Seng ceng hoa,
maka Huan cu im enggan menyangkal pun tak mau mengaku,
dia malah balik bertanya: ”Kakek Lian ada urusan apa sih ?”
Berkilat sepasang mata Lian Sam sin, telah mendengus dia
berkata:
”Kalau memang engkoh cilik berdiam di kawasan hutan ini,
berarti kaulah yang bertanggung jawab terhadap setiap
peristiwa yang terjadi dalam hutan ini.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Hai, persoalan apa sih yang dimaksudkan kakek Lian?”


tanya Huan cu im keheranan-Lian Sam sin tertawa dalam.
”Engkoh cilik, masa terhadap pekerjaan yang kau lakukan
sendiri, kau mesti bertanya lagi kepada aku si pengemis tua?”
”Seharusnya kakek Lian menerangkan duduknya persoalan
sejelas mungkin, bila caramu berkata pun macam orang
mengajukan teka taki, dari mana aku bisa tahu ?”
”Baik”
Kata ”baik” tersebut sengaja diutarakan Lian Sam sin
dengan suara yang dalam dan berat, kemudian melanjutkan:
”Aku si pengemis tua ingin bertanya kepadamu, apakah
seorang anggota pengemis yang tergeletak dibalik hutan sana
tewas terbunuh ditanganmu?”
”Bukan” sahut Huan cu im sambil menggeleng setelah
tertegun beberapa saat.
”Haaahhh... haaahhh... haaahhh... engkoh cilik tak berani
mengakui?” Lian Sam sin tertawa tergelak.
”Seandainya orang itu memang mati di tanganku, mengapa
aku tak berani mengakui? Bila orang itu bukan tewas
ditanganku, mengapa pula aku harus mengakui?”
”Haaahhh... haaah, haaah...” sekali lagi Lian Sam sin
tertawa terbahak bahak. ”engkoh cilik telah mengubah
kawasan hutan ini sebagai daerah terlarang, diatas pohon kau
gantungkan papan peringatan yang berbunyi ”Barang siapa
yang memasuki hutan ini akan mati”, dan sekarang ditemukan
jenasah seorang anggota Kay pang dalam kawasan hutan ini
bila orang itu bukan mati ditanganmu, lantas perbuatan dari
siapakah itu?”
Mendadak Huan cu im teringat akan si manusia bertopi pet
yang mengempit payung rongsok itu, bukankah sewaktu dia
memasuki kawasan hutan itu, dari kejauhan sana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkumandang suara jeritan kesakitan yang memilukan hati?


Rupanya dia adalah seorang anggota perkumpulan Kay pang.
Semasa masih berada dibenteng keluarga Hee tempo hari,
dia pernah mendengar empeknya membicarakan soal Kay
pang yang dikatakan sebagai perkumpulan yang paling setia
kawan dan terhitung perkumpulan paling besar dalam dunia
persilatan-
Konon anggota perkumpulan ini menyebar sampai disetiap
propinsi, malah pihak sembilan partai besar seperti Siau lim
dan Bu tong pay pun menaruh sikap hormat terhadap mereka,
itulah sebabnya kesannya terhadap Kay pang pun boleh
dibilang baik sekali.
Setelah mengetahui dari Lian Sam sin bahwa yang tewas
adalah anggota Kay pang, dengan perasaan terkejut ia lantas
berseru: ”Jadi dia... dia adalah anggota Kay pang?” Lian Sam
sin segera tertawa^
”Nah, sekarang engkoh cilik baru mengaku, bagus sekali,
kau membunuh seorang anggota perkumpulan kami, maka
kau mesti menebus dosamu itu, harap engkoh cilik suka
mengikuti aku si pengemis tua...”
”Aaah Lotiang kembali telah salah paham” buru buru Huan
cu im menggoyangkan tangannya berulang kali, ”anggota
perkumpulanmu itu bukan tewas ditanganku”
Pengemis penakluk harimau segera mengerutkan alis
matanya yang tebal, kemudian membentak dengan suara
dalam.
”Engko cilik, mengapa sih kau berusaha untuk mungkir
terus? Kau anggap aku si pengemis tua adalah manusia
gampang dipermainkan-..”
”Harap kakek Lian jangan salah paham dulu, aku sama
sekali tidak mempunyai maksud demikian-..”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tidak sampai anak muda itu menyelesaikan kata katanya,


Lian Sam sin kembali telah menukas dengan suara dalam.
”Aku si pengemis tua tak mau tahu apa maksud yang
sebenarnya, bila ingin memberi penjelasan, silahkan
disampaikan sesudah sampai di kantor cabang kami untuk
wilayah Kim leng”
”Kakek Lian-..”
”Bila kau sendiri enggan beranjak dari sini, biar aku si
pengemis tua yang membantumu berjalan” bentak Lian Sam
sin keras keras.
Oleh karena perkataannya sudah dua kali ditukas orang
ditengah jalan, lama kelamaan Huan cu im dibuat mendongkol
juga, dengan perasaan mangkel segera tegurnya. ”Lotiang,
sebetulnya kau bisa diajak berbicara soal Cengli tidak...?”
oooodwoooo

”Dalam hal yang mana aku tak berbicara soal cengli ?”


Baru selesai pengemis tua itu berkata, tiba tiba terdengar
suara seorang perempuan yang merdu bergema tiba, ”Hm
Tentu saja kau tak tahu soal cengli”
Dengan perasaan terkejut Pengemis penakluk harimau
berpaling ke arah sebuah pohon besar disisi kiri, lalu
bentaknya. ”Siapa di situ?”
Tampak sesosok bayangan biru berkelebat lewat, tahu tahu
sesosok bayangan manusia yang ramping dan lembut telah
melesat turun dari atas pohon dan melayang turun diantara
kedua orang tersebut.
Gadis itu berambut panjang, mengenakan baju ketat
berwarna biru langit dengan gaun berwarna putih, biji
matanya yang jeli berputar kian kemari, sementara sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencibir bibir, sahutnya dingin. ”Aku yang berada disini, ada


apa ?”
Melihat kemunculan nona itu, Huan cu im sendiripun
merasa sedikit agak diluar dugaan segera serunya pula. ”Nona
Ban, rupanya kau...”
Yang datang memang si burung hong hijau Ban Huijin,
kalau selama berbicara dengan pengemis penakluk harimau
wajah maupun nada suaranya kedengaran dingin dan kaku,
maka selama berbicara dengan Huan cu im sikap maupun
nada suaranya justru halus, merdu dan hangat, bahkan
sekulum senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya.
”Memangnya aku tak boleh kemari ?” kedengaran nona itu
berseru sambil memutar sepasang biji matanya.
Huan cu im segera tertawa rikuh.
”Dari mana nona bisa tahu kalau aku berada disini?”
tanyanya kemudian-
Sekali lagi Ban Huijin mengerdipkan sepasang matanya
yang jeli dan bening, kemudian katanya sambil tertawa
ringan-”Aku ogah memberitahukan kepadamu...”
”Biar nona ogah berbicara, aku pun dapat menebaknya,
bukankah kau bisa sampai kesini karena menguntil dibelakang
ku ?”
Merah dadu selembar wajah Ban Huijin, setelah
mencibirkan bibirnya ia memutar tubuhnya setengah
lingkaran, lalu sahutnya merdu. ”Aaah, aku mah tak sudi...”
”Hmm, sudah selesaikan pembicaraan kalian ?” tiba tiba
pengemis penakluk harimau Lian Sam sin menegur dengan
suara dalam dan berat diiringi dengusan dingin. Ban Huijin
mengerling sekejap ke arahnya, kemudian menegur:
”Bagaimana kalau sudah selesai, dan bagaimana pula kalau
belum selesai?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Ketahuilah, kesabaranku ada batasnya, engkoh cilik itu


mesti turut aku pergi ke kantor”
”Hmm, dengan mengandalkan apa kau hendak mengajak
Huan siangkong pergi dari sini?” dengus Ban Huijin.
”Sebab dia telah membunuh anggota Kay pang”
”Huuh, jangan kau anggap nama Kay pang bisa menakut
nakuti orang, atas dasar dan bukti apa kau mengatakan Huan
siangkong telah membunuh anggota Kaypang?”
Dengan pandangan penuh amarah Lian Sam sin melotot
sekejap kearahnya lalu menjawab:
”Saat ini Cuma dia seorang yang berada dalam hutan ini,
sedang diluar hutan situ dia tulis papa n peringatan yang
berbunyi Barang siapa memasuki hutan ini mati, nyatanya
anggota Kay pang ditemukan tewas dalam hutan, apakah
kesemuanya ini belum cukup untuk membuktikan
perbuatannya?”
”Hm, betul betul mengaco belo tak karuan” dengus Ban
Huijin lagi.
Lian Sam sin semakin bertambah geram, tiba tiba
bentaknya dengan suara keras.
”Apa kau bilang?”
”Aku bilang kau sedang mengaco belo karuan” teriak Ban
Huijin sambil membusungkan dadanya, ”Huan siangkong...”
”Hari ini, aku pengemis tua bersumpah akan membekuk
kalian berdua dan membawa kalian berdua ke kantor...”
bentak Lian Sam sin keras keras.
Tiba tiba tangan kanannya menyambar ke muka, dengan
kelima jari tangannya yang tajam seperti kaitan dia cengkeram
pergelangan tangan Huan cu im secepat kilat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Huan cu im sama sekali tidak menyangka kalau lawannya


akan melancarkan serangan secara tiba tiba dan dengan
kecepatan luar biasa, seketika itu juga ia terdesak sampai
mundur sejauh setengah langkah, kemudian telapak tangan
kanannya dibalik dan balas membacok pergelangan tangan
Lian Sam sin-
Perlu diketahui, pengemis penakluk harimau Lian Sam sin
adalah satu diantara dua tianglo Kay pang padahal kedudukan
seorang tianglo dalam Kay pang amat tinggi dan terhormat,
tidak dibawah kedudukan seorang pangcu, tentu saja tidak
gampang untuk menjadi seorang tiang lo dalam perkumpulan
Kay pang.
Kedudukan maupun nama besar bagi seorang jago
persilatan bukanlah bisa diperoleh secara kebetulan ataupun
untung untungan-
Itu berarti ilmu silat yang dimiliki pengemis penakluk
harimau Lian Sam sin bukan Cuma ilmu silat biasa saja, begitu
melihat datangnya bacokan dari Huan cu im, reaksinya
ternyata amat cepat.
”Bagus sekali” serunya sambil tertawa dingin. Dia menarik
tangan kanannya dengan cepat untuk menghindari bacokan
dari Huan cu im, lalu tubuhnya menerjang ke muka secara tiba
tiba, tangan kanannya dengan ilmu ”sikutan keulu hati”
menumbuk lawan, kemudian karena tak sampai menangkis
ancaman musuh, dengan jari tengah dan telunjuknya yang
ditekuk bagaikan kaitan, dia menyerang lawan bagaikan
sambaran petir. Bayangan jari tangan menyelimuti angkasa
dan langsung mendesak kehadapan muka.
Walaupun Huan cu im tidak tahu kalau Lian Sam sin adalah
seorang tianglo dari Kay pang, namun diapun mengerti kalau
ilmu silat yang dimiliki pengemis tua ini teramat hebat, cepat
cepat sepasang tangannya disilangkan didepan dada memuat
guntingan dan menyapu keluar teriaknya kemudian ”Lotiang,
harap tunggu dulu, kau sudah salah paham”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jurus serangan yang dipergunakan barusan adalah jurus


”Bintang dan rembulan saling berebut” dari tiga belas jurus
ilmu jari pedang sepasang tangannya seperti sambaran
pedang menyapu ke kiri dan ke kanan dari depan dada.
Meskipun Cuma jari tangan saja, namun oleh karena
tangan itu sebagai pengganti pedang maka terasa juga
pengaruhnya sebagai pedang dimana jari tangannya
menyambar, hawa pedang turut terpancar keluar pula,
membuat semua ancaman jari tangan musuh terbendung
semuanya...
Pengemis penakluk harimau Lian Sam sin hampir saja tak
percaya kalau musuhnya hanya orang bocah ingusan yang
masih tetek. Ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu
hebat, untuk sesaat dia menjadi kaget dan terkesiap sehingga
mundur dua langkah kebelakang.
Bentrokan yang terjadi dalam pertarungan jarak dekat ini
meski tidak ada suatu kelebihan yang luar biasa, namun bagi
pandangan seorang ahli, pertarungan tersebut sudah terhitung
amat dahsyat dan mengerikan semua peristiwa hanya
berlangsung dalam sekejap mata saja.
Begitu tubuh mereka berdua saling berpisah, Lian sam sin
segera melotot kearah Huan cu im dengan sorot mata yang
tajam kemudian katanya^
”Gerak serangan engkoh cilik amat hebat, dan luar biasa,
mari, mari, sudah puluhan tahun aku si pengemis tua belum
pernah menjumpai jago muda yang begitu tangguh macam
kau, ayo kita bertarung diluar hutan saja”
„Lotiang, kau salah paham“ kembali Huan cu im berseru.
”Siapa bilang aku si pengemis tua salah paham?
Pertarungan kita ini hanya dibatasi kita berdua saja, kita
bertarung secara satu lawan satu asal kau mampu
mengungguli aku si pengemis aku segera putar badan dan
angkat kaki, sebaliknya bila aku si pengemis yang menang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maka kau mesti turut aku pergi ke kantor cabang kami di Kim
leng, tentunya hal ini adil bukan?”
”Tidak adil” tukas Ban Huijin-
Lian Sam sin segera melototkan matanya bulat bulat,
kemudian tegurnya terhadap Ban Hui jin ini
”Dalam hal yang mana perkataan aku si pengemis tidak
adil?”
”Kalau Huan cu im yang menang, maka kau balik badan
segera pergi sebaliknya bila dia kalah harus turut kau pergi ke
kantor cabangmu, itu mah namanya tidak adil, bila dia yang
kalah mengapa ia tak boleh seperti kau, balik badan lantas
pergi?”
”Sebab dia telah membunuh anggota Kay pang kami”
”Hmm, selama ini aku selalu menguntil di belakangnya, aku
sama sekali tidak melihat ia mencelakai anggota Kay pang
kalian, pembunuhnya jelas orang lain, kini kau bukannya pergi
mencari si pembunuh yang sesungguhnya, sebaliknya malah
melimpahkan dosa itu kepadanya, apakah ini adil namanya?
Memangnya kau melihat Huan siang kong telah membunuh
anggota Kay pang?”
-oo0dw0oo-

Jilid: 15

Lian Sam sin jadi tertegun, kemudian tanyanya:


”Sungguhkah pertanyaanmu itu ?”
”Buat apa aku mesti membohongi dirimu”
Lian Sam sin segera berpaling kearah Huan cu im,
kemudian tegurnya pula : ”Engkoh cilik mengapa tidak kau
katakan sedari tadi ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Tadi aku sudah berapa kali hendak berkata, tapi lotiang


selalu menukas perkataanku bagaimana mungkin aku bisa
menerangkan kepadamu ?”
”Baik,” kata Lian Sam sin kemudian, ”kalau begitu aku
pingin bertanya, tulisan di luar hutan yang berbunyi Barang
siapa yang memasuki hutan ini mati, apakah tulisanmu ?”
”Bukan”
”Apakah kau juga tidak berdiam didalam rumah kayu ini?”
kembali Lian Sam sin bertanya.
”Tidak”
Lian Sam sin segera menatap pemuda itu lekat lekat
kemudian tanyanya: ”Lantas ada urusan apakah engkoh cilik
datang kemari ?”
”Sewaktu berada di tepi jembatan Bun tek kiau, jumpai
seorang lelaki bertopi pet lalu dan mengempit sebuah payung
rongsok lewat dihadapanku, maka akupun menguntil di
belakangnya sampai disini, aku bisa menguntilnya hanya
terdorong rasa ingin tahu, ketika orang itu tiba didepan hutan,
akupun ikut masuk kedalam kawasan hutan ini dengan
menelusuri jalan kecil yang ada sementara dia mengintari
hutan tersebut belum sampai berapa langkah kumasuki hutan
ini dari kejauhan situ sudah terdengar suara jeritan ngeri yang
memilukan hati aku tidak tahu kalau dia sudah mati dibunuh
seseorang, lebih lebih tidak kuketahui dia adalah anggota Kay
pang.”
Semua pengakuannya ini memang suatu pengakuan yang
sejujurnya, hanya saja ia tidak menerangkan kalau ada orang
telah meninggalkan surat diatas pembaringannya.
Tatkala sianak mugaitu berkata Lian Sam sin dengan sorot
matanya yang tajam mengawasi wajahnya tanpa berkedip.
Seolah olah dia hendak mengamati apakah dia telah
berbohong ataukah berbicara yang sesungguhnya ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti Huan cu im telah menyelesaikan perkataannya, dia


baru berkata :
”Engkoh cilik, kau langsung mencari sampai disini dan kau
temukan rumah kayu tersebut, lantas apa yang kau perbuat?”
”Terdorong oleh rasa ingin tahuku, akupun maju mengetuk
pintu, namun tiada seorang manusiapun yang menjawab,
karena itu kudorong pintu rumah dan masuk kedalam,
ternyata rumah itu sangat gelap sehingga untuk melihat
kelima jari tangan sendiripun susahnya amat terpaksa aku
mengundurkan diri dari situ, dan akupun berjumpa dengan
lotiang.”
Sedang mengenai suara aneh yang terdengar dalam
ruangan gelap itu, Huan cu imtak ingin menjelaskan kepada
orang luar sebelum dia merundingkan hal ini dengan Seng
lopek.
Tentu saja banyak titik kelemahan yang terdapat dalam
pembicaraan tersebut, seperti misalnya kemarin ia baru
sampai di Kim leng mengapa dia datang seorang diri
kejembatan Bun tek kiau ? Dan apa pula maksudnya kesitu ?
Cuma tentang persoalan seperti ini sudah barang tentu Lian
Sam sin tak akan merasakannya.
Sekalipun demikian, hal tersebut sama sekali tak dapat
mengelabui Ban Huijin yang pintar dan berotak encer, sambil
mengedipkan sepasang matanya yang bulat dan jeli dia
memandang pemuda itu sambil tertawa.
Menurut pengamatan Lian Sam sin selama ini, dia merasa
Huan cu im tidak lebih hanya seorang pemuda yang baru
terjun ke dunia persilatan, semua pengakuannya seperti tidak
bohong. Karenanya sesudah termenung sejenak ia berkata :
”Baiklah, aku sipengemis tua percaya dengan perkataanmu
itu mati kita masuk kedalam ruangan itu dan coba kita periksa
apa isinya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ban Huijin terhitung juga seorang yang besar rasa ingin


tahunya, dia segera berteriak sesudah mendengar perkataan
tersebut:
”Yaa..betul, kita memang sudah seharusnya masuk
kedalam dan siap menyerbu masuk ke dalam rumah kayu itu.”
”Nona Ban, tunggu sebentar” buru buru Huan cu im
berteriak dengan cemas.
Mendengar teriakan itu, Ban Huijin segera menghentikan
langkahnya, kemudian sambil berpaling tanyanya : ”Ada apa
?”
Huan cu im segera memburu kemuka, kemudian
menjawab:
”Suasana di dalam rumah kayu itu gelap gulita sehingga
susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, lebih baik aku
saja yang berjalan didepan-”
Melihat pemuda itu begitu menaruh perhatian terhadap
dirinya, Ban Huijin segera berpaling dan melemparkan
sekulum senyum yang amat manis kearahnya sambil katanya
”Terima kasih banyak atas perhatianmu kepadaku...”
Ketika mengucapkan kata ”kepadaku” tiba tiba saja paras
mukanya berubah menjadi semu merah.
Sementara kedua orang itu masih berbicara, si Pengemis
penakluk harimau telah berebut berjalan dimuka dan
memasuki rumah kayu itu terlebih dulu
cepat cepat kedua orang itu mengikuti pula di belakangnya,
mereka masuk kerumah itu bersama sama.
Kali ini Huan cu im sudah mempunyai pengalaman, ketika
memasuki pintu, dia memungut sebutir batu dan dihanjalkan
di depan pintu sehingga pintu tersebut tidak merapat kembali,
dengan demikian sinar matahari dapat mencorong masuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam biarpun tidak terlalu terang paling tidak bisa


menyaksikan keadaan disekitar tempat itu secara lamat lamat.
Rumah kayu itu hanya terdiri dari sebuah ruangan
berbentuk persegi panjang pada bagian dalamnya digantung
sebuah tirai berwarna hitam sehingga ruangan tersebut
terbagi menjadi bagian luar dan bagian dalam.
Begitu menyerbu ke dalam ruangan Lian Sam sin langsung
menyingkap tirai hitam itu dan menuju kebelakang.
Diam diam Huan cu im manggut manggut sambil berpikir :
”oooh... rupanya didalam ruangan telah digantung sebuah
tirai warna hitam tak aneh kalau aku hanya mendengar
suaranya tak kelihatan manusianya, rupanya orang itu
berbicara dengan menyembunyikan diri dibalik tirai. Sudah
barang tentu aku tak dapat melihatnya, karena yang
diperlihatkan dari balik tirai hanya sebuah tangan saja,
makanya yang kujumpai hanya sebuah tangan pula.”
Berpikir demikian, dia turut pula melangkah masuk ke
dalam ruangan belakang^
Bagian ruangan yang berada dibelakang tirai hitam itu amat
sempit dibelakang Cuma terdapat sebuah jendela kayu, saat
itu Lian Sam sin telah membuka jendela tersebut dan
melongok keluar.
Diluar jendela terbentang pula sebuah hutan yang lebat,
tentu saja tidak terlihat apa apa disitu.
Huan cu im yang menyaksikan kejadian tersebut diam diam
menghembuskan napas lega, pikirnya :
”Kalau begitu, Lengcu mata uang emas telah pergi dari
sini.”
Dalam pada itu Lian Sam sin telah menutup kembali jendela
tersebut seraya berpaling, lalu tanyanya :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Sewaktu engkoh cilik masuk kemari tadi, benarkah kau


tidak menjumpai seseorang ?”
”Sewaktu aku masuk keruangan ini, berhubung tempatnya
gelap gulita sehingga sukar untuk menyaksikan sesuatu,
dengan cepat aku mengundurkan diri dari situ, tidak kujumpai
seorang manusiapun disitu.”
Lian Sam sin tidak berkata, dia Cuma mengangguk
berulang kali sebagai pertanda bahwa dia menaruh
kepercayaan penuh terhadap pengakuan dari Huan cu im itu.
Selang beberapa saat kemudian, ia baru berkata lagi :
”Mungkin sewaktu engkoh cilik masuk ke dalam rumah tadi,
di ruangan ini sudah tersembunyi seseorang, hanya saja
engkoh cilik tidak melihat akan kehadirannya saja.”
Diam diam Huan cu im terkejut juga mendengar perkataan
itu, Tapi sambil berlagak kaget tanyanya:
”Rupanya Lotiang telah menjumpai sesuatu?”
”E eh h mm...” Lian Sam sin manggut manggut
membenarkan, kemudian sambil mengangkat kepala, dan
tertawa dia melanjutkan ”walaupun aku sipengemis tua tidak
menyaksikan dengan mata kepala sendiri namun hidungku ini
dapat mengendus baunya.”
”Kenapa aku tidak dapat mengendus bau apapun?” tanya
Ban Huijin keheranan-Sambil mengelus jenggotnya Lian Sam
sin segera tertawa.
”Aku sipengemis tua sudah berkelana cukup lama dalam
dunia persilatan, puluhan tahun berkecimpung dalam hal yang
sama, lama kelamaan membuat aku dapat membedakan bau
manusia. Orang ini sudah cukup lama berdiam dalam ruangan
ini, tentu saja dia meninggalkan pula bau manusia di situ.”
Huan cu im yang mendengar semua pembicaraan tersebut,
diam diam berpikir. ”Tampaknya sipengemis tua ini benar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

benar lihay dan banyak pengalamannya.” Sementara itu Ban


Huijin telah bertanya lagi :
”Apakah lotiang bisa mengendus pula manusia macam
apakah dirinya ?”
”Soal ini...” Lian Sam sin tertawa paksa, kemudian baru
ujarnya, ”aku sipengemis tua hanya dapat mengendus bau
manusia, sedangkan tentang manusia macam apakah dirinya
itu, dari mana aku mampu untuk mengendusnya ?”
Tampaknya dia seperti enggan untuk dapat membicarakan
tentang manusia yang bersembunyi didalam ruangan itu
dengan mereka berdua sambil mengangkat kepalanya lagi dia
meneruskan :
”Mari kita pergi, orang itu sudah lama berlalu kita tak
berguna berada disini terlalu lama, lebih baik keluar dulu
sebelum berbicara lebih jauh”
Selesai berkata, dia lantas berjalan keluar lebih dulu dari
ruangan tersebut. Huan cu im danBan Huijin segera mengikuti
pula dibelakangnya.
Lian Sam sin sama sekali tidak menghentikan langkahnya
Ia menelusuri jalan setapak dalam hutan tersebut dan
langsung menuju keluar. Sambil berjalan ia bertanya pula
kepada Huan cu im :
”Engkoh cilik masih muda belia semestinya kau tidak
mempunyai musuh besar bukan ?”
Tentu saja pertanyaan semacam ini harus diajukan olehnya
karena anggota Kay pang yang telah tewas itu tak mungkin
tanpa sebab musabab akan memancing kedatangan Huan cu
im dari jembatan Bun tek kiau yang begitu jauh sampai disini,
sedangkan didalam rumah kayu itu pun sudah tersembunyi
seseorang yang tampaknya sudah lama menunggu, tentu saja
dibalik kesemuanya itu pasti terdapat alasan tertentu.
Sebelum Huan cu im menjawab, Ban Huijin telah menimbrung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lebih dulu ”Mana mungkin Huan siang kong punya musuh ?


Kami baru tiba di Kim leng kemarin.”
”oooh...” gumam Lian sam sin kemudian, ”kalau begitu
aneh sekali.”
Tak lama kemudian mereka bertiga sudah keluar dari
hutan, mendadak Lian Sam sin menghentikan langkahnya
seraya berpaling, kepada Huan cu im dia berkata :
”Walaupun aku sipengemis tua percaya bahwa semua
pengakuan engkoh cilik ini adalah sejujurnya, tapi kau si
engkoh cilik pun tak bisa dikatakan bebas sama sekali dari
kecurigaan bukan ?”
”Apa yang lotiang inginkan untuk dapat mempercayai diriku
?”
”Aku sipengemis tua masih tetap mengulangi perkataanku
yang semula, lebih baik kita bertarung dengan sebaik baiknya
di sini, jika engkoh cilik yang unggul, kau boleh segera
meninggalkan tempat ini, sebaliknya kalau kalah, harap kau
suka mengikuti aku si pengemis tua untuk berkunjung
kekantor cabang di Kim leng, tapi aku sipengemis tua jamin
perkumpulan kami hanya akan menyelidiki sebab sebab
kematian dari anggota kami saja, kepergian engkoh cilik tak
lebih hanya sebagai saksi, tiada orang yang akan
menyusahkan dirimu.” Huan cu im segera tertawa dingin.
”Heeeh... heeeh... heeeh... semua kisah pengalamanku
telah kututurkan kepadamu, mau percaya atau tidak terserah
kepadamu sendiri, aku sih tak sudi menerima ancaman atau
tekanan dari seseorang, apabila lotiang membutuhkan
kehadiranku sebagai saksi silahkan saja kau memberi alamat
kantor cabangmu aku bisa pergi sendiri ke sana dan tak bakal
mengingkar janji. . . ”
”Tidak bisa” Lian Sam sin menggelengkan kepalanya
berulang kali, ”pertarungan diantara kita berdua harus
dilangsungkan sehingga menang kalah dapat ditentukan”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Maaf, aku tak mau melayani kehendakmu itu, sampai


jumpa.” Kata Huan cu im sambil menjura.
Selesai berkata dia membalikkan badan dan siap berlalu
dari situ...
Lian Sam sin tertawa dingin, menyusul kemudian
terdengarBan Huijin menjerit kesakitan sambil berteriak keras
: ”Hei, lepaskan aku, mau apa kau ?”
Ketika Huan cu im berpaling, dia menyaksikan tangan kiri
Lian Sam sin telah mencengkeram urat nadi pada pergelangan
tangan kanan Ban Hui jin, sedangkan telapak tangan
kanannya ditempelkan di atas punggungnya.
Sebelum dia berucap sesuatu, sipengemis tua itu sudah
berkata lagi sambil tertawa dingin :
”Engkoh cilik, apabila kau menolak untuk melangsungkan
suatu pertarungan yang adil denganku, terpaksa aku
sipengemis tua akan menawan nona ini untuk kujadiakan
sebagai sandera...”
Huan cu imjadi amat gusar setelah menyaksikan peristiwa
ini, dengan kening berkerut bentaknya keras keras :
”Kalau kulihat dari usiamu yang sudah lanjut, tak kusangka
kau bisa melakukan perbuatan semacam ini, hmmm Apa
maksudmu menganiaya nona Ban disaat ia tak siap ? Baik,
Baik lepaskan dia terlebih dulu, aku akan melangsungkan
pertarungan yang sejujurnya melawanmu disini juga.”
Melihat pemuda itu sudah menyanggupi paras muka Lian
Sam sin berubah menjadi lembut kembali, dia segera
melepaskan cekalannya atas Ban Huijin lalu katanya :
”Tahukah engkoh cilik mengapa aku sipengemis tua
bersikeras hendak melangsungkan pertarungan melawanmu ?”
Dengan wajah merah padam karena mendongkol dan
marah, Ban Huijin segera menimbrung sambil mengumpat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Kau situa bangka celaka, jahatnya setengah mati.”


Sedangkan Huan cu im berdiri dengan wajah serius dan
menyahut ketus.
Bukankah kau mengatakan hendak menentukan siapa yang
lebih unggul diantara kita berdua ?”
Dalam marahnya, dia segan menyebut lawan sebagai
”lotiang” lagi, sopan santun telah ditangguhkan dengan begitu
saja.
”Benar” Lian Sam sin segera tersenyum ”selama puluhan
tahun terakhir ini belum pernah aku sipengemis tua didesak
mundur oleh seseorang dalam gebrakan yang pertama, tapi
barusan aku telah dipaksa mundur sejauh dua langkah oleh
engkoh cilik dalam satu gebrakan saja, itulah sebabnya aku
ingin tahu akan asal usul perguruan engkoh cilik. Yang lebih
penting lagi adalah untuk mencoba sampai dimanakah
kemampuan yang dimiliki engkoh cilik.”
”Kedua, berhubung seorang anggota Kay pang kami
terbunuh, padahal dia termasuk satu diantara delapan
pelindung hukum perkumpulan kami yang berilmu silat tinggi
maka aku si pengemis tua merasa wajib untuk mencoba
kemampuan yang dimiliki engkoh cilik sedangkan perbuatanku
mencengkeram pergelangan tangan nona tadi, sesungguhnya
tak lebih hanya ingin memanasi hatimu, masa aku sipengemis
tua benar benar hendak menganiaya seorang nona ?”
”Setelah kusanggupi tantanganmu itu, tentu saja tak akan
kupungkiri lagi, silahkan lotiang mulai melancarkan
seranganmu ”
Saat itu rasa mendongkol dan gusar yang membara didada
Ban Huijin belum hilang dengan mulut cemberut dia segera
ikut berteriak dari samping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Huan siangkong, dia kan mencari gara gara kepadamu,


buat apa sih kau mesti bersikap sungkan sungkan kepadanya
?” Lian Sam sin tertawa terbahak bahak.
”Haa... haah... kalau begitu aku sipengemis tua tak akan
sungkan sungkan lagi...”
Sambil membentak keras mendadak dia maju selangkah ke
depan, dari posisi Tiong-kiong tangan kirinya bagaikan gaitan
mencakar kemuka, sementara telapak tangan kanannya
membacok ke depan dada secepat kilat.
Jurus serangan yang digunakan itu tak lebih Cuma jurus
”menaklukkan naga dengan tangan kosong” sebuah jurus
serangan biasa saja, namun dibalik cakarnya itu terasa hawa
serangan yang tajam memancar keluar dari kelima jari
tangannya.
Huan cu im tak berani berlaku gegabah cepat cepat dia
mundur setengah langkah, sementara tangan kanannya
dengan ilmu jari pedang melepaskan sebuah bacokan balasan-
Dalam dunia persilatan, orang sering kali mempergunakan
telapak tangan, atau kepalan atau jari tangan untuk
menghadapi serangan musuh, tapi jarang sekali
mempergunakan jari tangan sebagai pengganti pedang untuk
melancarkan serangan, Lian Sam sin yang menghadapi
keadaan demikian, tampaknya segera menaruh perhatian
khusus atas kemampuan lawannya ini.
Benar juga dalam bacokan yang dilancarkan Huan cu im
itu, terasa ada segulung desingan angin tajam yang turut
memancar dari balik serangan tadi, keadaannya sangat
mengerikan-
Didalam hati kecilnya