Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSIP

KASUS MEDIS
LEPTOSPIROSIS

Oleh :
dr. Liza Amanda Saphira

Pembimbing :
dr. Bobby Prabowo, Sp.EM

Pendamping :
dr. Heru Dwi Cahyono
dr. Ravi

INSTALASI GAWAT DARURAT


RSUD Dr. ISKAK, TULUNGAGUNG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1
1.1. Latar Belakang
Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global.
Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering
menimbulkan KLB, berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta
dapat mengakibatkan kematian. Penyakit ini dapat bersifat akut, laten atau kronis
Penyakit malaria hingga kini masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia dan endemik di 92 negara dengan
41% penduduk dunia berada dalam keadaan risiko. Malaria tersebar di daerah
tropis dan subtropis seperti India, Amerika Selatan (kecuali Cili), Afghanistan, Sri
Lanka, Thailand, Indonesia, Kamboja, Cina, Filipina, Amerika Tengah, Meksiko,
dan Afrika. Berdasarkan WHO (2015), di dunia terdapat 214 juta kasus malaria
dengan 438 000 kematian. Jumlah ini sebenarnya telah menurun apabila
dibandingakn dengan data jumlah kematian pada tahun 2000 sekitar 839 000.
(WHO, 2008). Angka mortalitas malaria paling tinggi adalah wilayah Afrika yang
mencapai 90%. Sedangangkan di wilayah Asie tenggara, angka mortalitas malaria
adalah 7%. (WHO, 2015)
Insiden Malaria penduduk Indonesia mulai tahun 2007 adalah 2,9 persen
dan tahun 2013 adalah 1,9 persen. Prevalensi malaria tahun 2013 adalah 6,0
persen. Lima provinsi dengan insiden dan prevalensi tertinggi adalah Papua, Nusa
Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku. Dari 33 provinsi di
Indonesia, 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria di atas angka nasional,
sebagian besar berada di Indonesia Timur. Provinsi di Jawa-Bali merupakan
daerah dengan prevalensi malaria lebih rendah dibanding provinsi lain, tetapi
sebagian kasus malaria di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh
tenaga kesehatan. (RISKESDAS, 2013)
Pengendalian Malaria di Indonesia masih menghadapi tantangan,
khususnya dalam hal pengobatan Malaria, antara lain: beragamnya tatalaksana
kasus malaria di semua jenjang pelayanan kesehatan, dan timbulnya resistensi
parasit Malaria terhadap anti malaria yang ada, seperti klorokuin dan sulfadoksin
pirimetamin. Kurangnya cakupan pengobatan malaria menggunakan ACT salah
satunya dikarenakan bebarapa lokasi yang sudah bukan daerah endemis Malaria,

2
seringkali lengah dengan adanya kasus malaria yang datang dari daerah endemis,
sehingga pasien tidak segera terdiagnosis sebagai pasien malaria.
Di Indonesia, malaria masih tersebar diseluruh pulau dengan derajat
endemisitas yang berbeda-beda dan dapat menyebar ke daerah dengan ketinggian
1.800 meter diatas permukaan laut, sehingga malaria di Indonesia masih
ditemukan sepanjang tahun (Harijanto, 2010). Secara topografi, Tulungagung
terletak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (dpl). Bagian barat laut
Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian
dari pegunungan Wilis-Liman. Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan
bagian selatan adalah pegunungan yang dan pantai. Di tengah Kota Tulungagung,
terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali Brantas (BPS, 2015).
Secara epidemologis, daerah Tulungagung bukan merupakan daerah
endemis malaria. Namun, kasus Malaria selama tahun 2012 sebanyak 59 kasus
malaria dengan pemeriksaan. Kasus malaria ditemukan pada 7 puskesmas dengan
kasus terbanyak ditemukan di Puskesmas Kedungwaru. Angka Kesakitan Malaria
(Annual Parasit Incidence) 0,06 per 1.000 Penduduk (Dinkes Tulungagung, 2012)
Penderita malaria memerlukan penanganan yang tepat. Pasien dengan
malaria sering pertama kali kontak dengan dokter umum, sehingga perlu adanya
memberikan penanganan yang tepat dan komprehensif.. RSUD dr. Iskak
merupakan rumah sakit dengan wilayah cakupan Tulungagung, Trenggalek dan
sekitarnya dimana masih dapat ditemukan pasien penderita malaria. Makalah ini
dibuat untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang malaria sehingga
diharapkan dapat digunakan untuk diagnosis dan tatalaksana dengan tepat.

1.1. Rumusan Masalah


Bagaimana diagnosis dan tatalaksana leptospirosis di Indonesia?

1.2. Tujuan Penulisan


Mengetahui diagnosis dan tatalaksana leptospirosis di Indonesia

1.3. Manfaat Penulisan

3
1. Memberikan wawasan tentang jenis parasit penyebab leptospirosis bagi
dokter umum.
2. Memberikan tambahan wawasan kepada dr Interensip tentang penangan
leptospirosis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian

Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh patogen


spirochaeta, genus Leptospira. Spirochaeta ini pertama kali diisolasi di Jepang
oleh Inada setelah sebelumnya digambarkan oleh Adolf Weil tahun 1886. Weil
menemukan bahwa penyakit ini menyerang manusia dengan gejala demam,
ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. (Widoyono, 2008).

Di Indonesia, gambaran klinis leptospirosis dilaporkan pertama kali oleh Van


der Scheer di Jakarta pada tahun 1892, sedang isolasinya dilakukan oleh Vervoot
pada tahun 1922. Penyakit ini disebut juga sebagai Weil disease, Canicola fever,
Hemorrhagic jaundice, Mud fever, atau Swineherd disease. (Widoyono, 2008).

2.1.1. Etiologi

Leptospirosis disebabkan oleh genus leptospira, famili treponemataceae,


suatu mikroorganisme spirochaeta. Ciri khas organisme ini yakni berbelit, tipis,
fleksibel, panjangnya 5-15 µm, dengan spiral yang sangat halus, lebarnya 0,1-0,2
µm (Gambar 1). Salah satu ujnh organisme sering membengkak, membentuk
suatu kait. Terdapat gerak rotasi aktif, tetapi tidak ditemukan adanya flagella.
Spirochaeta ini demikian halus sehingga dalam mikroskop lapangan gelap hanya

4
dapat terlihat sebagai rantai kokus kecil-kecil. Dengan pemeriksaan lapangan
redup pada mikroskop biasa morfologi leptospira secara umum dapat dilihat.
Untuk mengamati lebih jelas gerakan leptospira digunakan mikroskop lapangan
gelap (darkfield microscope). Leptospira membutuhkan media dan kondisi yang
khusus untuk tumbuh dan mungkin membutuhkan waktu berminggu-minggu
untuk membuat kultur yang positif. Dengan medium Fletcher’s dapat tumbuh
dengan sebagai obligat aerob.(Zein. 2014).

Leptospira merupakan Spirochaeta yang paling mudah dibiakkan, tumbuh


paling baik pada keadaan aerob pada suhu 28-30ºC dan pada pH 7,4. Media yang
bisa digunakan adalah media semisolid yang kaya protein, misalnya media Fletch
atau Stuart. Lingkungan yang sesuai untuk hidup leptospira adalah lingkungan
lembab seperti kondisi pada daerah tropis. (Widarso,2000). Leptospirosis
disebabkan oleh genus leptospira, famili treponemataceae, suatu mikroorganisme
spirocheata. Secara sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies yaitu
L.interrogans yang patogen dan L. biflexa yang hidup bebas

2.1.2. Tahapan Siklus Plasmodium

2.1.3. Penularan Malaria

2.1.4 Penyebaran Malaria

2.2. Patogenesis

2.3. Diagnosis Malaria

2.3.1 Anamnesis

1.

2.3.2. Pemeriksaan Fisik

5
2.3.3. Pemeriksaan Laboratorium

2.3.4. Diagnosis Banding Malaria

E. Deteksi Dini Kasus Malaria

2.3.5. Pengobatan Malaria

2.3.6. Pemantauan (Follow – up) pengobatan malaria :

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. W

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Lahir : 12 Agustus 1989

Usia : 28 tahun

Alamat : Petungroto, Kab. Tulungagung

Pekerjaan : Petani Tebu

Pendidikan : SMA

Status : Menikah

Suku : Jawa

Agama : Islam

Tanggal MRS : 04 Januari 2018; Jam: 02.45

6
ANAMNESIS

Keluhan Utama: Demam

Riwayat penyakit sekarang:

Pasien mengeluh demam sejak 4 hari yang lalu. Demam dirasakan naik
dan turun. Periode naik dan turun tidak teratur. Pasien mengatakan nyeri kepala
dan merasa mual dan muntah.

Pasien juga mengeluh mata menjadi kuning. Mata kuning timbul semakin
memberat seiring dengan demam. Selain pada mata pada telapak tangan juga
menjadi kuning. Pasien merasa tidak nyaman pada perut dan merasa perutnya
mengeras. Air kencing pasien berubah warna menjadi kecoklatan dan pekat,
namun jumlahnya tidak berkurang.

Pasien baru pulang dari Papua sekitar 10 hari yang lalu. Pasien bekereja
sebagai kuli bangunan. Selama disana pasien mengatakan tidak pernah
mengkonsumsi obat-obat pencegahan malaria.. Keluhan kejang disangkal,
gangguan kesadaran disangkal, keluar pendarahan disangkal, BAB hitam atau
muntah kehitaman disangkal dan sesak nafas disangkal.

Riwayat Rujukan dan Pengobatan Sebelumnya:

Pasien rujukan dari puskesmas Sendang. Pasien dirujuk dengan Demam, anemia
dan trombositopenia. Sebelumnya pasien MRS di Papua selam 3 hari. Pasien telah
diterapi:

 RL 500 cc
 Inj. Ranitidine
 Inj. Vincilin
 Inj. Diphenhidramin

7
 Tab Omeprazole 2x1
 Tab. Antasid 3x1
Saat dirujuk ke RSUD dr Iskak pasien dalam kondisi stabil. TD 110/70. Nadi 84x
permenit dan suhu 36,50 C

Riwayat penyakit lain saat ini:

Pasien tidak sedang sakit. Pasien juga tidak mengkonsumsi obat-obatan.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Pasien pernah demam sekitar 1 tahun yang lalu. Pasien mengatakan pernah
menderita malaria, namun pasien tidak diberitahu jenis malaria apa. Riwayat
kelainan darah sebelumnya disangkal. Riwayat transfusi darah disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:

Keluarga pasien tinggal di Jawa. Tidak ada anggota keluatga pasien yang
pernah menderita penyakit yang sama. Tidak ada keluarga pasien yang menderita
darah tinggi, kencing manis dan riwayat penyakit lain yang berkaitan dengan
pembekuan darah.

Riwayat Sosial:

Pasien merupakan pekerja proyek bangunan. Satu bulan yang lalu


berangkat ke Papau untuk mengrjakan proyek. Selama disanya hamper semua
pekerja proyek (sekitar 50 orang) terkena malaria. Pasien beserta ke-6 orang
temanya dari Tulungagung dan Trenggalek juga mengalami gejala malaria dan
pulang ke Jawa Timur.

8
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

Kesan sakit : tampak sakit sedang

Gizi : kesan gizi cukup

Berat Badan : 68 kg

Tinggi Badan : 169 cm

Skor nyeri :3

Tanda-tanda vital

Kesadaran : Compos Mentis

GCS : 456

Pernafasan : 24 kali per-menit

Frekuensi Nadi : 140 kali per-menit, teratur, kuat angkat

Tekanan Darah : 80 / 60 mmHg

Suhu : 37,8o C

KEPALA DAN LEHER


Inspeksi: rambut, bentuk kepala, bengkak I: Rambut dalam batas normal. Sklera
konjunctiva, perdarahan konjunctiva, ikterik. Tampak perdarahan subkonjuctiva.
konjunctiva anemis, sklera ikterik, Epitaksis (-), gum bleeding (-)
epistaksis, gum bleeding, sikatrik, P: Tidak terdapat pembengkakan kelenjar
pembengkakan. limfe, trakea di tengah.
Palpasi: kelenjar limfe, pembengkakan, P: JVP flat, kaku kuduk (-)
trakea.
Kesimpulan : Icterus (+) Perdarahan
Pemeriksaan: JVP, kaku kuduk subkonjuctiva dx dan sin (+)

9
TORAKS
PARU-PARU I: gerakan nafas simetris
Inspeksi: simetri, gerakan, respirasi, irama, P: fremitus vocal D=S
payudara, tumor
P: perkusi
Palpasi: gerakan, fremitus fokal
S Sonor resonansi
Perkusi:
o
Auskultasi: suara nafas, rhales, rhonki,
n
wheezing, bronkofoni.
o
r A:
Sonor Sonor suara nafas
Sonor Sonor
ronchi
wheezing

v v
v- -v
v- -v
- -
-- -- Kesimpulan : dalam batas normal
JANTUNG
- -
Inspeksi: iktus I: Ictus tidak tampak

Palpasi: iktus, thrill P: ictus teraba di ICS V, MCL sinistra


Perkusi: batas kiri, batas kanan, pinggang P: batas kanan jantung kesan normal
jantung A: S1, S2 tunggal, reguler, murmur -, gallop
Auskultasi: denyut jantung (frekuensi, -
irama) S1, S2, S3, S4, gallop, murmur, Kesimpulan : dalam batas normal
ejection click, rub
ABDOMEN
Inspeksi: kontur, striae, sikatrik, vena I: tidak terdapat kontur, striae, sikatrik, vena

Palpasi: nyeri, defans/rigiditas, massa, hati, P: soepel, terdapat nyeri tekan (+) pada
limpa, ginjal LUQ, rigiditas, massa, limpa teraba S3.

Perkusi: resonansi, shifting dullness, Hepar tidak teraba.


undulasi P: resonansi timpani, shifting dullness -,

10
Auskultasi: peristaltic usus, bruit, rub tidak terdapat undulasi, liver tidak teraba
A: bising usus normal

Kesimpulan : Nyeri tekan (+),


Spleenomegali (+)
EKSTREMITAS
Inspeksi: simetri, merah, pucat, sianosis, I: ekstremitas atas dektra-sinistra dalam batas
ptekie, purpura, ekimosis, perdarahan di luka normal. ekstremitas bawah dexxtra dalam
bekas gigitan, edema, deformitas, , ulkus, batas normal.
varises, kuku, gerak sendi.
Palpasi: nyeri tekan, panas, edema, denyut P: akral hangat, kering, merah, CRT < 2dtk
nadi perifer, CRT
Edema:

- -
- -

Kesimpulan: dalam batas normal

GENITALIA Tidak Dievaluasi


ANUS Tidak Dievaluasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG

20 Januari 2017 pukul 19.01 di IGD – Yellow Zone

Darah Lengkap

Parameter Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hemoglobin 7,0 g/dL 13,0 - 18,0

RBC 2,38 106/uL 4,50 - 6,20

HCT 20,0 % 40,0 - 54,0

MCV 84,0 fL 81,0 - 99,0

MCH 29,4 Pg 27,0 - 31,0

MCHC 35,0 g/dL 33,0 - 37,0

11
WBC 6,26 103/uL 4,0 - 10,0

EO% 0,8 % 0 - 4,0

BASO% 0,2 % 0 - 1,0

NEUT% 73,6 % 50,0 - 70,0

LYMPH% 15,0 % 20,0 - 40,0

MONO% 10,4 % 2,0 - 8,0

PLT 66 103/uL 150 - 450

KIMIA DARAH

Parameter Hasil Satuan Nilai Rujukan

ICT Malaria Positif P. - negatif


falciparum

WORKING DIAGNOSIS

Malaria

TATALAKSANA DI IGD

Tatalaksana pasien di IGD meliputi Primary Survey (sebelum anamnesis):

A – Airway

Jalan nafas pasien bersih.

B – Breathing

Gerakan dada simetris, frekuensi nafas: 24 x/menit, teratur

C – Circulation

Akral hangat kering merah, capillary refill time < 2 detik, tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 90x/menit, reguler

12
D - Disability

GCS 456, pupil isokor, reflek cahaya +/+

E - Exposure

Dalam batas normal

Planning Terapi:

- Loading RL 500 cc dilanjutkan 1500 cc/24 jam


- Drip paracetamol 3x1 gram iv
- Inj. Ranitidine 2x50 mg iv
- DHP
- Bila Hb turun tranfusi

Planning Monitoring:

- Keluhan Pasien
- Tanda-Tanda Vital
- Cek Ulang Darah Lengkap (DL Serial) tiap 24 jam
- Pasien dirawat inapkan di ruang Virtual

FOLLOW UP PASIEN DI RUANGAN

Waktu S O A P

21/1/17 Demam masih KU lemah  Malaria Injeksi


naik turun. falciparum
T=100/60mmHg - Drip paracetamol
Pasien merasa

13
sedikit mual, N=88x/mnt 3x1 gram
tidak mau - Inj. Ranitidine 2x50
RR=20x/mnt
makan. Nyeri mg
perut (+), nyeri Suhu=38,4 C0

kepala (-).
PO:
Keluhan lemas
mulai berkurang Hb: 7,0 - Tab primaquin 1x1
tablet (stok kosong)
PLT: 66.000
- DHP 4x1
- (stok kosong)
22/1/17 Pasien KU lemah  Malaria Injeksi
mengatakan falciparum
T=110/70mmHg - Drip paracetamol
masih demam
3x1 gram
naik turun. N=84x/mnt
Kepala sedikit - Inj. Ranitidine 2x50
RR=20x/mnt mg
pusing. Lemas
(+). Sulit kencing Suhu=36,50C
- Tranfusi PRC
sampai Hb 8.0

Hb: 6,2

PLT: 92.000 PO:

- Tab primaquin 1x1


tablet belum ada)
- Tab Artemisin 4x1
(belum ada)
- Tab Amodiaquin
4x1 (belum ada)
23/1/17 Pasien KU lemah  Injeksi
mengatakan
T=110/70mmHg - Drip paracetamol
masih demam.
3x1 gram
Badan lemas N=80x/mnt
berkurang. Mual - Inj. Ranitidine 2x50

14
muntah (-) RR=18x/mnt mg
- Tranfusi PRC 2
Suhu=37,20C
labu sampai Hb 8.0

Hb: 5,0 PO:

PLT: 116.000 - Tab primaquin 1x1


tablet
- Tab Artemisin 4x1
(H-1)
- Tab Amodiaquin
4x1 (H-1)
24/1/17 Pasien KU lemah  Malaria Injeksi
mengatakan falciparum
T=100/60mmHg - Drip paracetamol
demam sudah
3x1 gram
turun. Kencing N=82x/mnt
berwarna kuning. - Inj. Ranitidine 2x50
RR=20x/mnt mg
Mual muntah
hilang. Suhu=37,0 0C
- Tranfusi PRC 2
Mengeluh perut labu sampai Hb 8.0
terasa sebah

Hb: 5,0 PO:

PLT: 111.000 - Tab primaquin 1x1


tablet
- Tab Artemisin 4x1
(H-2)
- Tab Amodiaquin
4x1 (H-2)
25/1/17 Pasien KU lemah  Malaria Injeksi
mengatakan falciparum
T=110/70mmHg - Drip paracetamol
sudah membaik.
3x1 gram
Bisa kencing N=88x/mnt
dengan
- Inj. Ranitidine 2x50

15
lancar.Perut tidak RR=20x/mnt mg
nyeri Mual
Suhu=36,30C
muntah (-)
PO:

- Tab primaquin 1x1


tablet
- Tab Artemisin 4x1
(H-3)
- Tab Amodiaquin
4x1 (H-3)

Obat Jalan:

Tab primaquin 1x1


(selama 14 hari)

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien mengeluh demam sejak 6 hari yang lalu. Demam dirasakan naik
dan turun. Periode naik dan turun tidak teratur. Sebelum demam pasien
mengatakan menggigil, kemudian demam tinggi. Setelah itu pasien merasa
demamnya turun dan berkeringat banyak. Pasien mengatakan nyeri kepala dan
merasa mual dan muntah. Pasien mengeluh nyeri seluruh badan saat demam. Pada
pasien dengan ini telah menunjukan didapatkan trias malaria, diamana ada periode
menggigil, demam, dan dingin. Panas naik turun yang tidak teratur menyingkirkan
adanya demam tertiana maupun kuartana.
Pasien juga mengeluh mata menjadi kuning. Mata kuning timbul semakin
memberat seiring dengan demam. Hal ini menunjukan ada proses hemolitik
terjadi pada pasien sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin pada darah. Selain

16
itu icterus pada pasien malaria dapat terjadi karena gangguan hepar.
(Pradipta,2014)
Pasien merupakan orang jawa yang bekerja di Papua. Pasien baru pulang
dari Papua sekitar 10 hari yang lalu. Papua merupakan salah satu dari lima daerah
tertinggi jumlah kasus malaria. Daerah ini hingga saat ini masih endemis malaria.
(Riskesdas, 2013)
Dari pemeriksaan fisik ditemukan hepatospleenomegali. Dalam kondisi
normal, hepar tidak akan teraba. Tetapi dalam kasus ini, hepar teraba disebabkan karena
terjadi pembesaran. Hepatomegali atau pembesaran pada hepar disebabkan karena
parasitemia. Sebagai organ yang berfungsi sebagai penyaring dan penyimpan darah, hati
dapat beresiko tinggi terjadi gangguan. Hal ini dikarenakan dalam darah banyak
mengandung parasit atau parasitemia. (Pradipta,2014)
Untuk mendapatkan kepastian diagnosis malaria harus dilakukan
pemeriksaan sediaan darah. Ditemukan parasite pada sediaan darah, baik tetes
tebal maupun tetes tipis, merupakan gold standart dari pemeriksaan malaria.
Pemeriksaan lain yang dapat dilkuakan adalah Rapid diagnostic test (RDT) dan
menggunakan PCR. Pada saat pasien ii dating ke UGD RSUD dr Iskak
Tulungagung, dilakukan pemeriksaan ICT malaria dan didapatkan pasien positif
memiliki antigen Plasmodium falciparum. Pemeriksaan ini mennujang kondisi
klinis pasein sehingga ditegakan diagnosis Malaria pada pasien ini.
Selama observasi di UGD kondisi pasien stabil. Tidak ada masalah saat
dilakukan primary survey. Pasien masih meneluh demam, lemas dan perut terassa
tidak nyaman. Terapi yang diberikan saat di UGD adalah pemeberian cairan RL
500 cc, Drip paracetamol 1 gram, Inj. Ranitidine 50 mg, tranfusi PRC dan
diberikan ACT (Artemisisnin combination terapy). Namun saat itu, kondisi obat
kosong sehingga pemberian obat direncalan saat di runagan.
Salama di ruangan pasien ditranfusi pada hari-2, ke-3 dan ke-4. Masing-
masing sebnyak 2 kolf PRC/hari. Antimlaria baru didapatkan setelah hari ke-2 di
rungan. Pasien mendapatkan terapi tab Artemisin 4x1 tablet dan Amodiaquin 4x1
tablet selama 3 hari, dilanjutkan dengan pemberian Primaquin selama 14 hari.
Selama rawat dirungan pasien diobservasi, keluhan pasien, tanda-tanda vital

17
dancek ulang darah lengkap (DL Serial) tiap 24 jam. Pada hari ke-5 perawatan
kondisi pasien membaik dan dapat dipulangkan.
Pada kasus ini menunjukan masih ditemukan kasus malaria di kawasan
Tuungagung, khususnya RSUD Dr Iskak Tulungagung, meskipun bukan
merupakan daerah yang endemis. Kewaspadaan tenaga medis diperlukan, baik
untuk mengatsi kondisi kegawatan maupun diagnosis kasus malaria. Perlunya
modalitas diagnosis lengkap terhadap kasus malaria dan ketersediaan terapi yang
adekuat sehingga pelayanan terhapat pasien penderita malaria dapat ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U. F. 2010. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Universitas


Indonesia-Press. Jakarta. Anis. 2006. Manajemen Berbasis
Lingkungan. PT Elex Media Komputindo. Jakatra.
BPS Tulungagung. 2015. Dopografi Wilayah Tulungagung dan Jumlah Desa
menurut Kecamatan, 2015. Available at
https://tulungagungkab.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/759 (Diakses
pada 4 Januari 2017)
CDC. 2016. CDC’s Malaria Program. Available at:
https://www.cdc.gov/malaria/resources/pdf/fsp/cdc_malaria_program_
508.pdf (Diakses pada 5 Januari 2017)
Depkes. 2008. Pedoman Tatalaksana Kasus Malaria di Indonesia. Available at
http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/Pedoman_Penatalaksa
na_Kasus_Malaria_di_Indonesia.pdf. (Diakses pada 4 Januari 2017)
Dinkes Tulungagung. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Tulungagung Tahun
2012. Available at
http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_K
OTA_2012/3504_Jatim_Kab_Tulungagung_2012.pdf (Diakses pada
27 Januari 2017)
Harijanto, P. N., Nugroho. A., & Gunawan, C. A. 2010. Malaria dari Molekuler
Ke
Klinis. EGC. Jakarta.
Harijanto, P.N.,dkk, 2009. Malaria dari Molekuler ke Klinis. Edisi II. Jakarta:
EGC8.

18
Harijanto. 2011. Kalbe: ACT sebagai Obat Pilihan Malaria Ringan di Indonesia
available at www.kalbemed.com/Portals/6/11_183Actobatmalaria.pdf
(Diakses pada 5 Januari 2017)
Kemenkes. 2012. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR : ............................ TENTANG PEDOMAN
TATA LAKSANA MALARIA
Prabowo, A. 2008. Malaria Mencegah dan Mengatasinya. Puspa Swara, Jakarta.
Pradipta, Eka P dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV. Jakarta: Media
Esculapius
Rahayu, Dwi Sri, 2007. Malaria. Available at http://www.riau.go.id
Riskesdas, 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 - Kementerian
Kesehatan. Available at:
www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%202013.pdf (Diakses pada 27 Januari 2017)
Soedarto, 2003. Zoonosis Kedokteran. Cetakan I. Surabaya: Universitas Airlangga
Press
Syohadi, Bambang dkk. 2015. EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam.
Jakarta: Internal Publising
WHO. 2015. Global Health Observatory (GHO) data. Available at
http://www.who.int/gho/malaria/epidemic/deaths/en/ (Diakses pada 27
Januari 2017)
WHO. 2016. World Malaria Report 2016. Available at
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/252038/1/9789241511711-
eng.pdf?ua=1 (Diakses pada 27 Januari 2017)

19