Anda di halaman 1dari 5

A.

KONSEP DIRI

1. Pengertian Konsep Diri


Konsep diri (self-concept) merupakan bagian dari masalah kebutuhan
psikologi yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai
hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Konsep diri ini
berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan
psikososial seseorang.
Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan, dan
pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang
dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain, termasuk karakter,
kemampuan nilai, ide dan tujuan.

2. Komponen konsep diri


a) Gambaran Citra Diri
Gambaran atau citra diri (body image) mencakup sikap individu
terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur, dan
fungsinya. Perasaan mengenai citra diri meliputi hal – hal yang terkait
dengan seksualitas, feminitas, dan maskulinitas, keremajaan
kesehatan, dan kekuatan. Citra mental tersebut tidak selalu konsistan
dengan struktur atau penampilan fisik yang sesungguhnya beberapa
kelainan citra diri memiliki akar psikologi yang dalam, misalnya kelaian
pola makan seperti anoreksia.
Citra diri dipengaruhi oleh perubahan kognitif dan
perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal seperti
pubertas dan penuaan terlihat lebih jelas terhadap citra diri
dibandingkan dengan askep – askep konsep diri lainnya.
Selain itu, citra diri juga dipengaruhi oleh nilai social budaya.
Budaya dan masyarakat menentukan norma – norma yang diterima
luas mengenai citra diri dan dapat memengaruhi sikap seseorang.
Misalnya berat tubuh yang ideal, warna kulit, tindik tubuh serta tato dan
sebagainya.
b) Harga diri
Harga diri (self-esteem) adalah penilaian individu tentang dirinya
dengan menganalisis kesesuaian antara perilaku dan ideal diri yang
lain. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan dari diri sendiri
maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh
perasaan diterima, dicintai, dihormati oleh orang lain, serta
keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya.
c) Peran
Peran adalah serangakaian perilaku yang diharapkan oleh
masyarakat yang sesuai dengan mfungsi yang ada dalam masyarakat
atau suatu pola sikap, perilaku, nilai, dan tujuan yang diharapkan dari
seseorang berdasarkan posisinya dimsyarakat, misalnya seperti orang
tua, atasan, teman dekat dan sebagainya. Setiap peran berhubungan
dengan pemenuhan harapan – harapan tertentu. Apabila harapan
tersebut dapat dipengaruhi, rasa percaya diiri seseorang akan
meningkat. Sebaliknya kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran
dapat menyebabkan penurunan harga diri atau tergantungnya konsep
diri seseorang.
d) Identitas Diri
Identitas diri adalah penilaian idividu tentang dirinya sebagai
suatu kesatuan yang utuh. Identitas konsistensi seseorang sepanjang
waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau
keunikan dibandingkan dengan orang lain. Identitas sering kali didapat
melalui pengamatan sendiri dan dari apa yang didengarseseorang dari
orang lainmengenai dirinya.
Pembentukan identitas sangat diperlukan demi hubungan yang
intim identitas seseorang dinyatakan dalam hubungannya dengan
orang lain. Seksualitas merupakan bagian dari identitas. Identitas
seksual merupakan konseptualitas seseorang atas dirinya sebagai pria
atau wanita dan mencakup orientasi seksual.

3. Tahap perkembangan konsep diri


Menurut teori psikososial, perkembangan konsep diri dapat dibagi kedalam
beberapa tahap yaitu:

a. 1 – 1 Tahun
1) Menumbuhkan rasa percaya diri konsistensi dalam interaksi pengasuhan
dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain.
2) Membedakan dirinya dan lingkungan.
b. 3-3 tahun
1) Mulai menyatakan apa yang disukai dan yang tidak disukai
2) Meningkatnya kemandirian dalam berpikir dan bertindak
3) Menghargai penampilan dan fungsi tubuh
4) Mengembangkan diri dengan mencontoh orang yang dikagumi,meniru dan
bersosialisasi
c. 3-6 tahun
1) Memiliki inisiatif
2) Mengenai jenis kelamin
3) Meningkatnya kesadaran diri
4) Meningkatnya ketrampilan berbahasa,termasuk pengenalan akan perasaan
seperti senang,kecewa, dan sebagainya
5) Sensitif terhadap umpan balik dengan keluarga
d. 6-12 tahun
Menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru,keluarga tidak
lagi dominan
1) Meningkatkan harga diri dengan penguasaan ketrampilan baru (misalnya
membaca,musik)
2) Menguatkan identitas seksual dan menyadari kekuatan dan kelemahan
e. 12-20 tahun
1) Menerima perubahan tubuh
2) Belajar tentang sikap,niali,dan keyakinan menentukan tujuan masa depan
3) Merasa positif atas berkembangnya konsep diri
4) Berinteraksi dengan orang-orang yang menurutnya menarik secara seksual
atau intelektual
f. 20 – 40 tahun
1) Memiliki hubungan yang intim dengan keluarga dan orang lain
2) Memiliki perasaan yang stabil dan positif mengenai diri
3) Mengalami keberhasilan transisi peran dan meningkatnya tanggung
jawab
g. 40 -60 tahun
1) Dapat menerima perubahan penampilan dan ketahanan fisik
2) Mengevaluasi ulang tujuan hidup
3) Merasa nyaman dengan proses penuaan
h. Diatas 60 tahun
1) Merasa positif mengenai hidup dan makna kehidupan
2) Keinginan untuk meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya

4. Faktor yang mempengaruhi konsep diri


a. Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan fisik dan
lingkungan psikologi. Lingkungan fisik adalah segala sarana yang dapat
menunjang pengembangan konsep diri, sedangkan lingkungan psikologis
adalah segala lingkungan yang dapat menunjang kenyamanan dan
perbaikan psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep
diri.
b. Pengalaman masa lalu
Adanya umpan balik dari orang-orang penting, situasi stressor
sebelumnya, penghargaan diri dan pengalaman sukses atau gagal
sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup, atau faktor yang berkaitan
dengan masalah stresor, usia sakit yang diderita, atau trauma, semuanya
dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri.
c. Tingkat tumbuh kembang
Adanya dukungan mental yang cukup akan membentuk konsep diri
yang cukup baik. Sebaliknya, kegagalan selama masa tumbuh kembang
akan membentuk konsep diri yang kurang memadai.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Pengkajian terhadap masalah konsep diri adalah persepsi diri atau pola
konsep diri, pola berhubungan atau peran, pola reproduksi, koping terhadap
stres, serta adanya nilai keyakinan dan tanda-tanda kearah perubahan fisik,
seperti kecemasan, ketakutan, rasa marah, dll.

2. Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan konsep diri (gambaran diri) di karenakan perubahan fisik
atau kehilangan bagian tubuh.
b) Gangguan konsep diri (harga diri) dikarenakan harapan diri yang tidak
realistis.
c) Gangguan konsep diri (identitas diri) dikarenakan harapan orang tua
yang tidak realistis
d) Gangguan konsep diri (peran) dikarenakan ketidakmampuan
menerima peran dan pekerjaan baru di masyarakat.

3. Perencanaan dan tindakan keperawatan


a) Meningkatnya gambaran (citra) diri pasien, dengan cara:
1) Menciptakan hubungan saling percaya dengan mendorong
pasien untuk membicarakan perasaan tentang dirinya.
2) Meningkatnya interaksi sosial dengan cara membantu pasien
untuk menerima pertolongan dari orang lain, mendorong pasien
untuk melakukan aktivitas sosial, menerima keadaan dirinya,
dll.
3) Bila terjadi perubahan atau kehilangan fungsi tubuh, berikan
pemahaman tentang arti kehilangan. Mendorong pasien untuk
bereaksi terhadap kehilangan dan mengenali alternatif yang
nyata guna membantu mengatasinya.
b) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
1) Membantu pasien untuk mengurangi ketergantungan dengan
bersikap mendukung dan menerima, memberi kesadaran
kepada pasien akan pentingnya keinginan atau semangat hidup
yang tinggi.
2) Meningkatkan sensitivitas pasien terhadap dirinya dengan
memberi perhatian, membangun harga diri, dengan memberi
umpan balikpositif atas penyelesaian yang dicapai, menghargai
privasi, dan mendorong pasien untuk melakukan latihan yang
membangkitkan harga dirinya.
3) Membantu pasien mengekspresikan pikiran dan perasaan
dengan mendorong pengungkapan perasaan, baik positif
maupun negatif.
4) Memberi kesempatan untuk melakukan aktivitas sosial yang
positif. Mendorong pasien untuk berhubungan dengan teman
atau kerabat dekat dan terlibat dengan aktivitas sosial. Jangan
biarkan pasien mengisolasi diri.
5) Memberi kesempatan mengembangkan keterampilan sosial dan
vokasional dengan cara mendorong sikap optimis dan
berpartisipasi dalam segala aktivitas.
c) Memperbaiki identitas diri pasien, dengan cara:
1) Mengenal diri sendiri sebagai bagian dari tubuh dan terpisah
dengan orang lain.
2) Mengakui seksualitasnya sendiri.
3) Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu
keselarasan.
4) Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian di masyarakat.
d) Meningkatkan atau memperbaiki peran pasien, dengan cara:
1) Membantu meningkatkan kejelasan perilaku dan pengetahuan
yang sesuai dengan pasien.
2) Mempertahankan konsistensi terhadap peran yang dilakukan.
3) Menyesuaikan antara peran yang diemban.
4) Menyelaraskan antara budaya dan harapan terhadap perilaku
peran.