Anda di halaman 1dari 430

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Giok Hou Ko Kiam


Saduran SD Liong
Sumber Andu di Indozone.net
Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website :
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

1. Fitnah Berdarah
Hoasan di sebelah barat, Hengsan di sebelah timur,
Hengsan di sebelah selatan dan Hengsan di sebelah tengah,
merupakan Ngo-gak atau lima buah gunung yang termasyhur
di Tiongkok, (note: Hengsan-Hengsan itu ejaan sama, huruf
berlainan).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Di dunia ada tiga puncak yang sukar didaki", demikian


seorang penyair ahala Tong menulis. Kiranya yang
dimaksudkan itu ialah Tiau-yang-nia, Lian-hoa-nia dan Lok-
gan-nia, tiga buah puncak dari pegunungan Hoasan yang
teramat curam serta berbahaya.
Cerita ini terjadi pada musim rontok, dimana daerah-daerah
di propinsi Tiongkok utara, sudah dilanda hawa dingin. Pohon-
pohon layu, daun-daun berguguran. Angin barat mulai
menyanyi gemuruh. Suasana malam di pertengahan bulan
sembilan itu, gelap pekat sekali. Hanya beberapa bintang yang
menghias cakrawala pada malam nan panjang itu .........
Tak jauh dari kaki puncak Lok-gan-nia, terdapat sebuah
biara tua, walaupun karena tuanya, bangunan itu sudah
banyak yang rusak namun dari kejauhan wajah biara itu masih
memantulkan perbawa kemegahannya pada masa yang
lampau. Dalam malam nan pekat itu, suasana di biara itu
makin sunyi kelam, yang terdengar hanya desiran daun
pohon-pohon pek yang di sekeliling biara yang berguguran
ditiup sang angin. Suasana disitu makin menyeramkan.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak ada sesosok bayangan
hitam lari seperti terbang menuju ke biara tua itu. Dalam
beberapa kejap saja, bayangan hitam itu sudah tiba di luar
tembok biara. Kiranya dia itu seorang pemuda berusia lebih
kurang duapuluh tujuh tahun, mengenakan pakaian ringkas
warna hitam, menyanggul sebatang pedang di belakang
bahunya. Perawakannya tegap besar.
Dia berhenti di muka biara dan memandang ke dalam.
Demi tampak dalam biara itu gelap gulita tiada penerangannya
sama sekali, hatinya tercekat. Merenungkan sejenak, dia
membungkukkan tubuh menghadap pintu, lalu berseru: „Tecu
Siau Hong yang berdosa, menerima titah untuk menghadap
insu."
Tecu artinya murid, in-su ialah guru yang berbudi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru seruan itu diucapkan, sekonyong-konyong lampu


lentera dalam biara itu dinyalakan. Menyusul dari dalam biara
itu terdengar seorang tua berseru nyaring: „Kiranya kau masih
taat pada perguruan, masuklah!”
Siau Hong benarkan dugaannya bahwa sang suhu sudah
disitu. Buru-buru dia menyahut dengan hormatnya: „Tecu
menurut perintah!"
Setelah membetulkan pakaian, dia melangkah masuk.
Ruangan dalam biara itu ternyata penuh daun-daun kering
berserakan di lantai. Disana sini menunjukkan suasana tak
terpelihara dan banyak kerusakan. Satu-satunya yang masih
baik keadaannya ialah di bagian ruangan tengah. Disitu
terdapat sepetik penerangan yang remang-remang.
Tampak oleh Siau Hong, di ruangan tengah itu terdapat
sebuah meja sembahyangan yang besar. Meja itu, catnya
sudah banyak yang tetel (hilang). Di atas meja ditaruh sebuah
pelita minyak. Tertiup oleh angin malam, api pelita itu padam-
padam menyala. Suasana disitu terasa menyeramkan sekali.
Di depan meja tampak duduk bersila seorang tojin tua yang
bertubuh kurus dan pendek. Sepasang matanya dikatupkan ke
bawah. Melihat sang suhu, Siau Hong bergegas-gegas masuk
lalu berlutut. Dengan kepala menunduk, dia berdatang
sembah: „Dengan hormat tecu datang menghadap insu."
Sepasang alis tojin itu agak dijungkatkan, sepasang
matanya berkilat dan kedengaran mulutnya berkata pelahan:
„Jadi kau masih mengakui insumu ini?”
„Insu .....,” tersipu-sipu Siu Hong menjawab dengan nada
getar.
„Siau Hong, angkatlah kepalamu!" kata tojin tua itu.
Siau Hong menurut. Baru dia gerakkan kepala, “trang” ......
sebuah badik dan sepucuk sampul surat, melayang jatuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dihadapannya. Melihat itu wajah pemuda itu berobah seketika.


Kembali dia tundukkan kepala.
„Kau tahu kedosaanmu?” seru tojin itu dengan tertawa
dingin.
Siau Hong mendongak, menatap wajah suhunya yang
keren. Sahutnya dengan nada tergetar: „Sejak tecu
menjalankan titah insu untuk berkelana di dunia persilatan
selama lima tahun, rasanya tecu tak melakukan sesuatu hal
yang melanggar larangan perguruan. Bulan yang lalu setelah
menerima ceng-hu-leng (“Pertandaan kupu hijau", untuk
meminta pertanggungan jawab sesuatu kesalahan), tecu
renungkan bolak balik tanpa mengerti apa kesalahan tecu itu.
Kini insu menjatuhkan dakwaan ‘dosa tak berampun' kepada
diri tecu, makin kacaulah perasaan tecu. Mohon insu sudi
menjelaskannya."
Tojin tua itu mendengus, tukasnya: „Hem, benar-benar tak
menginsyafi. Jawablah pertanyaanku ini, setiap anak murid
kita yang berbuat zinah, apakah hukumannya?”
„Berharakiri membelek dada, selaku menghaturkan terima
kasih kepada perguruan," sahut Siau Hong.
„Bagus! Lebih dahulu bacalah surat itu!” kata si tojin.
Siau Hong memungut sampul surat itu, lalu membacanya.
Habis membaca, dia kucurkan keringat dingin.
“Siapakah yang melakukan fitnah sedemikian kejinya ini.
Memutar balikkan kenyataan dan mendakwa aku sebagai
seorang yang berlumuran dosa tak berampun?” diam-diam
Siau Hong membatin. Teringat dia akan watak pribadi suhunya
yang keras terhadap setiap kejahatan. Menilik suhunya begitu
cenderung percaya pada fitnahan itu, bergidiklah Siau Hong.
Tapi baru dia hendak buka mulut membela diri, suhunya
sudah mendahului: „Sekarang apa kau sudah mengetahui
kedosaanmu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Insu, surat itu sengaya hendak memfitnah tecu, memutar


balikkan kenyataan, putih dikatakan hitam. Dan lagi surat itu
tentu bukan Shin-tok locianpwe yang menulis, karena .........”
„Diam! Bagaimana kau dapat memastikan surat ini bukan
ditulis Shin-tok Kek, hem, dalam keadaan begitu rupa, kau
masih hendak membersihkan diri. Benar dengan Giok-hou
Shin-tok Kek aku digolongkan dalam daftar sepuluh Datuk
persilatan, tapi selama ini aku tak pernah berhubungan
dengan dia. Jika harus menunggu sampai dia datang sendiri
meminta pertanggungan jawab ke biara Siang Ceng Kiong sini,
dimanakah mukaku hendak kusembunyikan?"
Tojin tua itu berhenti sejenak, lalu berseru pula: „Siau
Hong, pantangan dari Siang Ceng Kiong kita sangat keras.
Terhadap siapapun murid yang melanggar, tiada
pengecualiannya. Meskipun kau adalah murid kesayanganku
yang kuwarisi seluruh kepandaianku, tapi dalam hal ini,
akupun tak dapat memberi ampun padamu. Oleh karena kau
sudah mengetahui sendiri apa hukuman menurut perguruan
kita, rasanya tentu tahulah sudah bagaimana kau harus
bertindak. Nah, kau habisi jiwamu sendirilah!"
Melihat suhunya dirangsang hawa amarah, Siau Hong
insyaf segala pembelaan tentu tak berguna. Akhirnya
berkatalah dia dengan rawan: „Sejak tecu tinggalkan
perguruan selama lima tahun, tecu merasa yakin tak pernah
berbuat sesuatu hal pelanggaran besar. Sekalipun ada
kesalahan, tapi bukan dosa tak berampun. Dua bulan yang
lampau, dua kali tecu naik gunung tetapi insu kebetulan
sedang berkelana, jadi tak dapat menjumpai ..........”
„Kini insu ternyata percaya penuh bunyi surat itu, walaupun
tecu tak berani membantah, tapi dalam sanubari, tecu tetap
menolak tuduhan itu. Tecu telah menerima budi besar dari
insu, apa yang insu titahkan, tecu tak berani ingkar. Tecu
sedia bunuh diri, hanya saja tecu berharap semoga
dikemudian hari, dosa yang dituduhkan kepada tecu itu dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibersihkan, sehingga nama tecu dapat direhabilitasi


(dikembalikan) pula. Dengan begitu, dapatlah tecu meram di
alam baka. Untuk budi besar yang insu limpahkan itu, kelak
dipenjelmaan lagi, barulah tecu dapat membalasnya!"
Ucapan itu ditutup dengan menyambarnya badik di atas
lantai dan secepat kilat, “cret .......” badik itu tertanam di dada
Siau Hong. Darah menyembur, tubuh terkapar!
Berbareng dengan rubuhnya tubuh pemuda itu, si tojin tua
berputar tubuh. Rupanya diapun tak tega melihat murid
kesayangannya mengakhiri hidupnya secara begitu
mengenaskan!
Tiba-tiba dari jauh di luar biara sana, terdengar kumandang
tertawa memanjang macam naga meringkik. Mendengar itu, si
tojin tua berobah wajahnya, ya, hanya dalam berapa kejapan
mata saja, suara tertawa itu sudah berada di luar biara. Dan
pada lain kejap lagi, seorang tua bertubuh gemuk pendek dan
berwajah merah muncul di ruangan tengah itu bersama
seorang nona yang mengenakan baju warna merah.
Demi melihat tubuh Siau Hong terkapar di lantai,
menjeritlah nona itu, terus lari menubruknya. Si orang tua
gemuk pendek banting-banting kaki menghela napas:
„Terlambat setindak .........”
Sewaktu tojin kate itu terkejut melihat kedatangan tamu-
tamu yang tak diundang itu, si orang tua gemuk tertawa keras
dan menegurnya: „Ay-kui, sudah beberapa tahun kita tak
berjumpa, tak kunyana temperaturmu (hawa panas), masih
seperti dulu. Mengapa kau tinggalkan biara Siang Ceng Kiong
yang megah dan mengadakan persidangan di biara rusak
semacam ini? Sebenamya, kesemuanya itu omong kosong
belaka. Aku hanya hendak bertanya sepatah padamu,
bukankah anak itu kau yang mendesaknya supaya bunuh
diri?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepasang alis si tojin kate berjungkat. Ujarnya: „Bok loji,


aku tengah menjalankan peraturan kaumku, mengadakan
pembersihan perguruanku, apa sangkut pautnya dengan kau?
Akupun hendak balas bertanya padamu, siapakah anak
perempuan itu?”
Si orang tua gemuk tertawa terbahak-bahak, sahutnya
dengan sinis: „Hebat sekali rasanya peraturan dan
pembersihan yang kau lakukan itu, ha? Aku Siau-sian-ong Bok
Tong memang suka usil, ini diketahui oleh orang sejagat. Coba
katakan, apa dosa anak itu hingga kau paksa supaya bunuh
diri!"
Tojin tua yang dipanggil Ay-kui (setan cebol) oleh si orang
tua gemuk yang bergelar Siau-sian-ong atau Dewa Tertawa
itu, menyahut dengan dingin: „Dia melakukan zinah, tidakkah
selayaknya dihukum mati!"
Si Dewa Tertawa Bok Tong tersenyum: „Hem, kiranya
begitu!" Secepat itu, wajahnya berobah sungguh-sungguh,
katanya pula: „Apa kau mempunyai bukti?”
Si tojin pendekpun tak kurang marahnya, lantang-lantang
dia menghardik: „Aku mengurus anak perguruanku sendiri,
apa sangkutannya denganmu? Datang-datang kau lantas
marah-marah, aturan mana itu? Kalau tak mengingat kita
bersama dijajarkan dalam sepuluh Datuk, malam ini aku tentu
minta keadilan padamu?”
Kemudian menunjuk ke arah si nona baju merah yang
menelungkupi tubuh Siau Hong dengan menangis terlara-lara,
bertanya pula dia: „Bok loji, siapakah budak perempuan itu?"
Si Dewa Tertawa tertawa: „Sudah tentu aku tak berhak
mencampuri urusan rumah tangga perguruanmu. Jangankan
kau bunuh seorang, sekalipun kau sembelih sepuluh-duapuluh
anak muridmu, akupun tak peduli. Tentang pernyataanmu
untuk minta keadilan padaku, memang aku sudah jemu hidup
begini lama, maka alangkah bahagianya kalau aku dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertemu dengan seorang tojin berilmu yang dapat


menyempurnakan jiwaku, hanya saja ......”
Berkata sampai disini, dia terhenti sejenak, lalu kembali
tertawa keras: „Ay-kui, sudahlah jangan omongkan yang
tidak-tidak. Bukankah kautanyakan anak perempuan itu? Dia
adalah anak pungutku puteri si Rase Kumala (Giok-hou) Shin-
tok Kek yang bernama Shin-tok Lan. Karena dialah maka
kudatang dari ribuan li akan meminta keadilan padamu. Nah,
kini janganlah salahkan lohu kalau usilan!”
Mendengar itu si tojin pendek terkejut dan marah. Namun
si Dewa Tertawa tak menghiraukannya, dia melangkah
menghampiri kedekat si Lan. Dibelai-belainya rambut nona
baju merah itu, katanya: „A Lan, orang yang sudah mati
takkan hidup lagi, menangispun tiada berguna. Malam ini aku
si tua bangka ini tentu akan minta peradilan pada setan
pendek itu."
Sampai pada saat itu, si tojin pendek tak dapat menguasai
dirinya lagi. Tertawalah dia dengan sinis: „Bok loji, apa kau
kira akupun tak layak minta keadilan padamu?"
Memandang ke arah si nona baju merah dengan perasaan
menghina, tojin pendek itu berkata pula: „Ia puterinya si Rase
Kumala, itu sungguh kebenaran sekali. Jangan membabi buta
lemparkan tuduhan padaku dulu, tapi lihatlah surat ini,
kemudian baru nanti akan kuminta pertanggungan jawabnya
Shin-tok Lan yang telah memikat muridku!"
Sekarang giliran si Dewa Tertawa Bok Tong yang terkesiap.
Melihat kesungguhan wajah tojin pendek itu, tentulah ada
bukti yang kuat. Benar ketua Siang Ceng Kiong itu pemarah
dan berhati tinggi (angkuh), tapi pribadinya amat keras
terhadap kejahatan, baginya putih tetap dikatakan putih,
hitam ya hitam. Kalau tiada memegang bukti, tak nanti dia
seyakin itu. Berpaling ke belakang, Bok Tong melihat si Lan
masih menangisi jenazah Siau Hong, tanpa mempedulikan
percakapan kedua tokoh itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Shin-tok Lan lurus perangai dan Siau Hong seorang murid


terkemuka dari perguruan terkenal. Sepintas tinjau, keduanya
tentu tak mungkin berbuat sesuatu yang melanggar
kesusilaan. Tapi apabila seorang pemuda itu galang-gulung
dengan seorang pemudi, kemungkinan pelanggaran itu
memang mungkin terjadi. Menilik anak perempuan itu begitu
mendukai kematian Siau Hong, kecenderungan tuduhan itu
bukan tak mungkin. Ah, kalau benar demikian halnya,
bagaimana tindakanku nanti .........?”
Demikian Bok Tong menimang-nimang dalam hati. Tapi
pada lain kilas, dia berpikir: „Ah, sekalipun benar begitu, toh
Shin-tok si rase tua itu sebelumnya sudah merestui
perkawinan itu. Jadi kalau terjadi pelanggaran itu, sekalipun
Siau Hong harus mendapat hukuman tapi tak seharusnya
dihukum mati. Ah, mengapa perlu jeri terhadap setan cebol
ini!"
Dengan kesimpulan itu, si Dewa Tertawa menjemput surat
dari sisi tubuh Siau Hong, lalu dibacanya:
Dihaturkan kepada yth.,
Goan Goan Totiang
di biara Siang Ceng Kiong
Dengan hormat,
Lama nian aku mengagumi kebesaran nama totiang dan
kediaman totiang di gunung Mosan yang terkenal keindahan
alamnya. Sayang sang waktu belum mengizinkan.
Ada suatu hal yang perlu kumohon perhatian dari totiang.
Pada musim semi yang lalu ketika siao-li (anak perempuanku)
Shin-tok Lan berkelana di dunia persilatan, secara tak terduga
telah berkenalan dengan murid totiang yang bernama Siau
Hong. Lekas sekali keduanya makin erat hubungannya, saling
membantu saling tukar menukar ilmu silat. Tapi ternyata Siau
Hong itu berhati culas. Menggunai kesempatan yang tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terduga, dia telah berani berbuat sesuatu yang hina, sehingga


kesucian siao-li tercemar. Ini suatu perbuatan zinah yang
membangkitkan kemarahan umum.
Demi menjaga nama baik perguruan totiang, maka telah
kukirim seorang anak murid untuk menghukum siao-li. Dalam
pada itu, mengingat totiang seorang ulama yang memegang
teguh kesucian dan peraturan perguruan, maka dengan ini
mengharap dengan hormat agar menjatuhkan hukuman
kepada Siau Hong.
Kubersedia menantikan kabar baik totiang dalam waktu tiga
bulan. Apabila belum menerima kabar apa-apa, maaf, aku
terpaksa akan membikin kunjungan pribadi kepada totiang,
untuk mohon keadilan.
Sekian terhiring doa selamat dan hormat.
Pemilik gubuk Kiam-jui-suan dari lembah Liu-hun-kiap
gunung Tiam-jong-san.
Waktu membaca jantung Bok Tong serasa mendebur keras
bahna saking kejutnya. Akhirnya dia menghela napas longgar.
Surat disimpan ke dalam baju, lalu katanya: „Kukira sebuah
bukti apa, sehingga telah menggoncangkan seorang datuk
persilatan seperti Goan Goan totiang yang dengan tak
menghiraukan jarak ribuan telah perlukan datang ke biara tua
sini untuk mengadakan persidangan. Ay-kui, kecuali surat ini,
apakah masih ada bukti lain?"
“It-ceng, ji-to, sam-siancu, Giok-hou, Song-sat, Siau-sian-
ong''. Demikian orang persilatan menggelari nama dari ke
sepuluh Datuk itu. Artinya ialah: seorang paderi, dua orang
tojin (imam), tiga dewa, si Rase Kumala, sepasang iblis dan si
Dewa Tertawa.
Goan Goan totiang yang digolongkan dari ji-to (2 orang
tojin) itu, tampak membesi wajahnya demi ditertawai oleh si
Dewa Tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Apakah surat itu belum cukup menjadi bukti?" serunya


dengan nada berat.
Tertawa si Dewa Tertawa atau Siau-sian-ong: „Fui!
Kecewalah kau seorang setan pendek yang tak kenal malu.
Siapakah yang mengatakan kau seorang alim ulama yang taat
bersembahyang dan tak pernah limbung pikiranmu? Tidakkah
kau pernah melihat seekor babi berjalan? Walaupun tak
pernah berhubungan dengan setan tua she Shin-tok itu,
sedikitnya kau mempunyai telinga untuk sekurang-kurangnya
mendengar juga akan wataknya yang serba sederhana, aneh
dan tenang sabar. Tidak seperti dirimu, seorang yang mudah
marah-marah. Kecewa kiranya kau hidup sampai sekian tua,
tapi ternyata mudah percaya akan sebuah surat palsu
sehingga mengorbankan seorang murid. Sudah begitu, kau
masih berani jual lagak mau memarahi orang. Huh, kalau
malam ini kau tak memberi keadilan padaku, jangan harap
dapat keluar dari biara rusak ini!"
Mendengar itu bukan kepalang kejut Goan Goan totiang.
Tersipu-sipu dia menegas: „Bok loji, benarkah ucapanmu itu?”
„Masakan lohu sudi membohongimu!" sahut Bok Tong.
„Kalau begitu, coba kau terangkan ciri-ciri kepalsuan surat
itu!"
Si Dewa Tertawa sejenak sapukan matanya ke arah Goan
Goan totiang, kemudian dengan wajah keren dia berkata:
„Ketahuilah, sepanjang hidupnya Shin-tok si lokoay itu,
seorang pemuja seni keindahan. Dia seorang ahli penyair, ahli
musik, main catur, menulis dan melukis. Dalam bidang-bidang
kesenian itu, dia mahir semuanya. Baik ilmu sastera dan ilmu
silat, dia seorang gene (bakat) yang cemerlang.
Pengetahuannya amat luas, otaknya sangat tajam. Oleh
karena itulah maka kaum persilatan menggelarinya dengan
julukan Giok-hou (Rase Kumala). Sebuah julukan yang
mengunjukkan kekaguman dan pemujaan. Berpuluh tahun
lamanya dia begitu gandrung dengan gelaran itu. Baik menulis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

surat maupun meninggalkan alamat nama dimanapun, selalu


dia memberi sebuah simbol yang berupa lukisan seekor rase
terbang berwarna putih perak.”
„Tapi coba kauperiksa surat tadi. Disitu hanya dibubuhi tiga
buah huruf nama Shin-tok Kek. Ini berlawanan dengan
kebiasaannya. Demikian alasanku yang pertama. Dan yang
kedua kalinya. Selama menulis, Shin-tok lokoay tentu
menggunakan huruf bentuk aliran ahala Song, kurus namun
kuat. Tetapi huruf-huruf dalam surat ini, menggunakan bentuk
aliran ahala Gui. Benar guratannya cukup gagah, tapi yang
terang, bukanlah buah tangan si lokoay she Shin-tok itu.”
„Pribadi lokoay itu dingin, tinggi hati. Angkuhnya bukan
kepalang. Kalau benar Siau Hong gunakan tipu muslihat
mencemarkan anak gadisnya yang tunggal itu, masakan dia
begitu sungkan mau memberi tempo tiga bulan padamu?
Mungkin siang-siang Siang Ceng Kiong sudah akan ludas
sampai ayam dan anjingnya semua. Inilah alasan yang
ketiga.”
„Nah, dengan tiga faktor itu, cukuplah membuktikan surat
itu palsu adanya. Disamping itu, seorang jumawa macam si
lokoay Shin-tok, ternyata penuju kepada murid kesayanganmu
itu. Terhadap pribadi dan ilmu silat Siau Hong, dia memberi
pujian tinggi dan menilainya sebagai seorang tunas muda
yang berbakat. Tiga bulan yang lalu, dia memberi restu
puterinya diperisteri Siau Hong, Sebuah mainan kumala milik
Siau Hong, diambilnya selaku panjar pertunangan, kemudian
disuruhnya kedua calon pasangan itu menuju ke Mosan guna
meminta persetujuanmu. Turut keterangan si Lan, dua kali
Siau Hong pulang ke Mosan, tapi tak berhasil menemuimu
karena kau sedang keluar pintu. Jadi tak dapatlah dia
memberi laporan kepadamu.”
„Duapuluh hari yang lalu, secara kebetulan dari mulut
seorang penjahat aku memperoleh keterangan, bahwa ada
seseorang hendak mencelakai kedua anak muda itu secara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggelap. Walaupun lika-likunya belum jelas, tapi pertama,


budak perempuan itu adalah anak pungutku, kedua, memang
aku si tua bangka ini suka usilan mengurus perkara. Maka
akupun tak segan-segan lagi mencari mereka. Tiga hari
kemudian, baru kujumpai mereka diperbatasan Kansu. Tapi
kala itu karena menerima lencana Ceng-hu-leng, Siau Hong
sudah bergegas menuju ke Hoasan sini. Mendengar itu,
segera kuajak si Lan menyusul. Tapi cialat ....... ternyata
sudah terlambatlah. Kaulah seorang setan cebol yang
senantiasa menuruti nafsu sendiri, sehingga menghancurkan
sebuah mahligai perjodohhan yang bahagia!"
Bok Tong mengakhiri penuturan dan dampratannya itu
dengan sebuah helaan napas panjang ...... Goan Goan Cu
tegak membisu, rupanya sang nurani berkabut sesal. Namun
wataknya yang keras itu, melarang mulutnya mengakui
kesalahannya. Dengan wajah muram, dia mondar-mandir
sembari tundukkan kepala. Sejenak kemudian .........
Tiba-tiba dilihatnya Siau-sian-ong Bok Tong yang berdiri di
pinggir itu, memandangnya dengan senyum sinis, seolah-olah
mengejeknya. Seketika bangkitlah hawa amarahnya!
„Bok loji, taruh kata apa yang kau beberkan tadi benar
semuanya, tapi masih hendak kutanya padamu, apakah
mereka berdua itu, seperti apa yang dikatakan surat itu, sudah
melakukan perbuatan yang terlarang?" serentak dia ajukan
pertanyaan. Suatu pertanyaan yang membuat si Dewa
Tertawa pusing tujuh keliling.
“Ah, bagaimana harus kujawab pertanyaan itu,” dia
mengeluh dalam hati. Tanpa terasa, dia melirik ke arah Shin-
tok Lan, lalu menundukkan kepala.
„Bok loji, kiranya kau tak dapat menjawab hal itu!" Goan
Goan Cu tertawa dingin.
Seketika wajah seperti bulan purnama dari Dewa Tertawa
itu, merah padam. Tiba-tiba dia mendongak dan tertawa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keras. Serunya: „Ay-kui, kalau kau mengira aku bungkam


dalam seribu bahasa, itu salah besar. Seorang anak muda
yang sudah mendapat izin pernikahan dari orang tuanya,
mungkin ada kalanya tak dapat mengendalikan diri. Tapi hal
itu hanyalah soal formalitas (peresmian) belaka, sekali-kali tak
dapat dikatakan melanggar susila, lebih tak dapat dituduh
berzinah pula. Apalagi mereka tidak ...........”
„Bagaimana kauyakin kalau tidak? Hem, dengan mengingat
pertunangan tanpa meminta persetujuan pihak guru, dalam
perguruan kami sudah berarti dosa. Kalau bukan kawanan tua
bangka yang enggan mati seperti kamu yang berdiri di
belakangnya, dia tentu tak sebesar itu nyalinya!"
Goan Goan berhenti sejenak, lalu menyambungnya lagi:
„Bok loji, kau telah mencampuri urusan dalam Siang Ceng
Kiong, apa katamu selanyutnya?”
Amarah Goan Goan makin membara, nadanya makin keras.
Mukanya yang kurus berobah-robah wamanya. Kuning
menjadi putih, lalu kereng gelap.
Diam-diam Bok Tong mengeluh. Melihat naga-naganya,
sukarlah urusan malam ini diselesaikan secara damai. Tapi
diapun seorang jago tua yang masih suka turuti hawa nafsu.
Sekalipun suasana menjadi genting, namun sedapat mungkin
dia tetap berlaku tenang.
Menatap ke arah wajah Goan Goan Cu, dia tertawa
mengikik: „Ay-kui, untuk minta aku membayar keadilan,
mudah sekali. Kecuali terhadap diri Siau Hong calon anak
menantuku yang gagal itu, akupun berhak mencampuri urusan
orang-orang yang suka jual kejumawaan.”
Bahwa setelah sadar dirinya tertipu surat kaleng sehingga
keliru membunuh murid kesayangannya, Goan Goan Cu sudah
penuh sesal. Kini tambahan lagi didamprat dengan tertawa
oleh si Dewa Tertawa, darahnya naik. Untuk ejekan yang
terakhir dari Bok Tong itu, tak dapat dia kendalikan diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

---ooo0dw0ooo---
2. Pertempuran Dua Datuk Persilatan
„Bok loji, kau keliwat menghina!" bentaknya dengan
menggerung. “Wut,” dia jotos dada Bok Tong.
Tahu karena malu orang lantas marah-marah, si Dewa
Tertawa gerakan tangan menangkis, seraya berseru setengah
mengejek: „Bagus!"
Begitu angin pukulan lawan hampir mengenai tubuh, Bok
Tong angkat kaki kirinya ke atas. Dengan berdiri pada kakinya
kanan, dia berputar-putar macam daun teratai tertiup angin.
Secepat pukulan orang lalu di sisinya, dia kibaskan lengan
baju kiri dalam gerak hun-hoa-hud-liu (bunga berhamburan,
batang liu bergoyang). Cepat laksana kilat, dia sambar jalan
darah meh-bun-hiat lawan.
Sebelum Goan Goan Cu sempat merobah serangannya,
laksana burung elang menyambar anak ayam, tangan kanan
merangkul pinggang Shin-tok Lan. Sekali tubuh bergerak,
Dewa Tertawa itu sudah menerbangkan anak dara itu keluar
ruangan.
Shin-tok Lan ternyata sudah seperti patung tanpa jiwa. Ia
tak tahu sama sekali akan kegentingan kedua tokoh datuk itu.
“Ah, cinta itu memang dapat membutakan orang.”
Demikian pikir Bok Tong.
Ditepuknya pelahan-lahan bahu nona itu, katanya „Lan,
setan kate itu sukar dihadapi. Kuatkanlah semangatmu dan
bersembunyi di belakang, agar jangan sampai kesasar
terluka!"
Dengan berlinang-linang air mata, Shin-tok Lan mengawasi
si Dewa Tertawa sembari mengangguk-angguk. Tapi entah dia
mendengar tidak kata-kata Bok Tong itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Saat itu Goan Goan Cu sudah mengejar keluar. Wajahnya


membesi, rambut janggutnya menjulai tegak, pertanda
kemarahannya yang meluap-luap. Berdiri di atas tangga
ruangan, dia menatap Bok Tong dan tertawa dingin beberapa
kali.
„Bok loji, kau kira dapat melarikan diri, hem, tidaklah
semudah itu?”
Siau-sian-ong tertawa gelak-gelak, sahutnya: „seumur
hidup, lohu tak dapat menulis kata-kata “lari". Mari, marilah,
ruangan dalam amat sempit, lohu akan menemanimu
bermain-main disini, agar kau si setan kate ini dapat mati
dengan meram.”
Tanpa menyahut, Goan Goan Cu melambung setombak
tingginya, dua buah lengan dipentang ke atas, dalam gerak
kim-tiau-can-ki (burung alap-alap pentang sayap), dia
menyerang ke bawah. Serangkum angin keras, menyerbu atas
kepala Bok Tong.
Kuatir kalau Shin-tok Lan terluka, buru-buru dia dorong
nona itu mundur, kemudian dengan gerak oh-gan-kiau-hun
atau rebah melihat awan, setengah mendongak ke atas, dia
miringkan tubuhnya ke samping. Sebuah jurus yang indah,
dan lihay, hingga dengan mudahnya serangan Goan Goan Cu
tadi dapat dielakkan.
Dua kali serangannya dapat dihindari, marah Goan Goan Cu
meluap-luap. Begitu turun ke bumi, sepasang lengan
dijulurkan lurus ke muka dalam jurus keng-thau-liat-an
(ombak dahsyat mendampar tepi). Angin yang mengandung
tenaga macam barisan gunung rubuh ke laut, menyambar ke
arah Siau-sian-ong.
Dewa Tertawa ini tetap berseri wajahnya. Kaki kiri agak
dilintang dalam kuda-kuda to-jay-chit-sing-poh, lengan baju
dikibaskan terbalik, dua buah tangannya gemuk kemerah-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

merahan, didorongkan ke muka dada. Nyata dia hendak


menyambut kekerasan dengan kekerasan juga.
Keduanya adalah dua datuk dari zaman itu. Mereka sama-
sama tergolong dalam sepuluh Datuk. Jadi bagaimana
kesaktian mereka, kiranya tak perlu komentar panjang lebar
lagi. Cukuplah dikatakan hebat, dahsyat, menggemparkan!
Sewaktu rumput-rumput yang kena terbabat sambaran
angin pukulan mereka itu sama berhamburan terbang
kemana-mana, dua-duanya ternyata sama mundur dua
langkah. Si Dewa Tertawa wajahnya memerah darah, rambut
kepalanya yang sudah putih, sama menjingkrak.
Sedang wajah Goan Goan Cu berwarna kelabu besi,
sikapnya keren sekali. Mereka berdua terpisah dua tombak,
tegak membisu saling berpandangan. Dua-duanya sama
menginsyafi, bahwa lawannya ternyata memang tak bernama
kosong. .
Sejenak kemudian, tiba-tiba Siau-sian-ong tertawa keras,
serunya: „Ay-kui, kalau belum menguji kepandaian tentu
belum ada penyelesaian. Nah, kaupun harus menerima
pukulan satu kali!"
Mulut berkata, tangan menghantam. Serangkum angin
panas segera menyerang Goan Goan Cu.
Tojin inipun tak mau unjuk kelemahan. Kaki kiri agak
mundur setengah langkah, kedua tangan dibalikkan ke muka
untuk mengadu kekerasan. Kembali terdengar suara tamparan
yang dahsyat.
Kedua bahu Siau-sian-ong bergoyang-goyang, tubuhnya
menyurut ke belakang sampai dua langkah.
Sedangkan Goan Goan Cu, ternyata tersurut sampai tiga
langkah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam suatu pertandingan para tokoh ternama, terpaut


seinci dua saja, sudah dapat diketahui menang kalahnya. Jadi
menurut ukuran, Goan Goan Cu harus mengaku kalah unggul.
Saat itu wajahnya yang kurus tirus, menjadi merah padam.
Sepasang matanya memancarkan sinar api. Sekonyong-
konyong tojin ini menggerung keras. Melangkah maju,
sepasang tangan dipecah, dengan gerak song-yang-hing-chiu
(sepasang matahari memencar tangan), dia merangsang jalan
darah ki-bun-hiat Bok Tong.
Walaupun sudah unggul, namun Bok Tong cukup
menginsyafi bahwa serangan Goan Goan Cu yang dilancarkan
dengan penuh kemarahan itu, hebatnya bukan kepalang.
Serangan kalap yang dilakukan oleh seorang tokoh dari
sepuluh Datuk, dapat dibayangkan kedahsyatannya. Diapun
tak berani lengah. Begitu tubuh setengah diputar ke belakang,
lebih dahulu dia kirim dorongan tangan kiri ke arah Shin-tok
Lan. Begitu nona itu terdorong mundur sampai dua tombak
lebih, baru dia berjumpalitan mundur untuk menghindari
serangan lawan.
Goan Goan Cu tertawa dingin. Bagaikan bayangan dia
membayangi maju.
„Mau lari kemana kau!" bentaknya dengan keren. Tangan
kanan dihantamkan ke muka, sambaran anginnya dibuat
mencegat Bok Tong yang hendak lari mundur. Dalam pada itu,
tangan kiri digerakkan dalam jurus oh-liong-tham-cu (naga
hitam merebut mustika), mencengkeram jalan darah yu-kian-
hiat.
Terperanjat juga Bok Tong melihat gaya serangan Goan
Goan Cu yang sedemikian dahsyatnya itu. Kalau tak berusaha,
tentu dia akan mati berdiri. Secepat otaknya bekerja, tiba-tiba
dia berhenti tegak. Dengan begitu dapatlah secara indah dan
mengagumkan, dia biarkan rangsangan lawan lewat di sisi
bahunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagi tokoh persilatan kelas berat, menang kalahnya


bertanding, hanya berlangsung dalam beberapa detik saja.
Cara menghindar dari Siau-sian-ong Bok Tong itu, luar biasa
berbahayanya. Serambut saja dia kurang tepat bergerak kalau
tak binasa tentu akan terluka berat. Benar-benar ajaib dan
mengherankan, sehingga seorang tokoh Goan Goan Cu
sampai terkesiap dibuatnya.
Adalah diwaktu lawan tertegun, bukannya mundur
sebaliknya si Dewa Tertawa malah maju. kedua lengan
disorongkan ke muka, jari dan kepalan digunakan menyerang.
Sekali gus dia lancarkan tiga buah serangan.
Dirangsang secara begitu, Goan Goan Cu terpaksa mundur
dua langkah.
Mendapat hati, Bok Tong tak mau sia-siakan kesempatan,
cepat dia gunakan ilmu simpanannya tun-yang-cap-pwe-ciap
(delapanbelas buah pembuka hawa yang murni) untuk
memburu Goan Goan Cu.
Goan Goan Cu pun segera gunakan ilmunya yang sudah
termasyhur di kolong persilatan yakni sam-im-coat-hu-ciang,
untuk menghadapi lawan. Sam-im-coat-hu-ciang artinya ilmu
pukulan "tiga pukulan hawa negatif pemusna”. Keduanya
sama meyakinkan ilmunya selama berpuluh tahun. Tun-yang-
cap-pwe-ciap, sifatnya keras macam hawa positif. Sedang
sam-im-coat-hu-ciang berkadar lunak lemas macam kapas.
Dua-duanya dapat menguasai permainannya sedemikian
rupa, hingga seolah-olah orang dan gerakannya menunggal
jadi satu. Yang tampak hanya berkelebat bayangan kelabu
dan kuning dengan sebentar-sebentar kedengaran suara
tamparan keras yang memecah telinga. Setiap gerak, setiap
jurus, mengandung angin hawa kong-gi. Ruangan depan yang
sekian besamya itu, seolah-olah dilingkungi oleh sambaran
angin pukulan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam biara tua di atas pegunungan Hoa-san yang sunyi


senyap itu, terjadi pertempuran dahsyat yang jarang terjadi di
dunia persilatan. Dalam sesingkat waktu saja, pertempuran itu
sudah berlangsung lebih dari seratus jurus.
Selagi kedua datuk itu bertempur mati-matian saling
keluarkan keyakinannya selama berpuluh tahun itu,
sekonyong-konyong terdengar tembok rubuh yang gempar.
Api muncrat, disusul dengan sebuah jeritan yang
menyeramkan.
Kedua tokoh yang sedang bertempur itu kaget tak terkira.
Tanpa ajak-ajakan, mereka sama loncat keluar jendela:
Ternyata mereka dapatkan bahwa ruangan dalam tempat
Goan Goan Cu mengadili muridnya tadi, karena temboknya
sudah banyak yang pecah, tak kuat menahan deru sambaran
angin yang terbit dari hantaman kedua tokoh itu. Ruangan itu
kini ambruk seluruhnya, dan mayat Siau Hong pun teruruk di
bawahnya. Jeritan seram tadi, keluar dari mulut Shin-tok Lan.
Saat itu Shin-tok Lan laksana seorang gila, tangisnya
mengiang-ngiang „engkoh Hong, engkoh Hong”. Luapan
hatinya yang hancur berkeping-keping, membuat tubuhnya
gemetar terhuyung-huyung. Tanpa menghiraukan segala apa,
nona yang bemasib malang itu segera lari menuju
ketumpukan puing, lalu jatuhkan diri, menelungkupi dan
menangis tersedu-sedan.
Suasana yang penuh hawa pembunuhan tadi, seketika sirap
berganti dengan suasana sayu yang merawankan. Tiada tahan
lagi si Dewa Tertawa menahan haru napasnya.
“Mengapa nasib yang menyedihkan, menimpa diri nona
yang baik itu? Mana ia dapat menahan kedukaan yang
sehebat itu, ah, lohu tak boleh membawa kemauan sendiri!”
pikirnya.
Kuatir Shin-tok Lan akan menderita goncangan bathin yang
hebat, maka Bok Tong segera loncat menghampiri. Masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terpisah beberapa meter jauhnya, dia gerakkan jarinya


menusuk. Tenaga tusukan dari jauh itu, cukup membuat si
nona rubuh.
Setelah itu Siau-sian-ong berputar tubuh menghadap ke
arah Goan Goan Cu, serunya: „Ay-kui, rupanya perhitungan
malam ini belum dapat dibereskan. Si Lan menanggung derita
hebat, agar jangan melukai hawa murninya, perlulah harus
lekas-lekas ditolong. Dalam hal ini karena aku si tua bangka
sudah campur tangan, jadi tentu akan bertanggung jawab
penuh. Tentang soal apakah kesalahan Siau Hong layak
mendapat hukuman sekejam itu, dan siapakah yang mengirim
surat fitnah berdarah itu, kelak aku tentu menyelidiki sampai
terang. Dengan begitu kiranya tentu dapat membuat seorang
setan kate seperti kau ini akan mengakui ketololanmu.
Matahari tetap akan bersinar, kalau kita berdua tua bangka ini
masih sama hidup, lohu tentu akan mengunyungi Siang Ceng
Kiong untuk membereskan semua persoalan ini!"
Tanpa menunggu jawaban Goan Goan Cu, tubuh Shin-tok
Lan dikepitnya. Sekali bergerak tubuh orang tua gemuk itu
sudah melambung dua tombak tingginya, disitu dia
berputaran, lalu bagaikan seekor burung garuda terbang, dia
sudah melayang keluar dari biara rusak itu. Suara tertawa
keras macam naga mengaum, terdengar dari arah luar, makin
lama makin jauh dan pada lain saat sirap lenyap.
Kini yang tertinggal hanya si tojin pendek Goan Goan Cu.
Ditabur oleh angin malam nan dingin, matanya terpaku
memandang ke arah tumpukan puing yang menguruk jenazah
Siau Hong.
Pikiran melayang, hati berkabut sesal ..........
Dinihari di awal musim panas. Bulan dan bintang di
cakrawala mulai menjuram. Barisan gunung yang merupakan
tapal batas antara propinsi Siamsay selatan - Kansu - Suchan,
mulai menampilkan puncak-puncaknya dari selimut awan
malam. Awan yang beterbaran itu, dihias dengan latar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

belakang langit yang berwarna keperak-perakan, membuat


pemandangan alam pegunungan dikala menjelang pagi itu,
sebuah panorama yang indah menyengsamkan.
Permukaan puncaknya yang mulai menghijau, bergariskan
saluran-saluran air dan bertaburkan karang-karang yang
beraneka bentuknya. Hari makin terang, fajar mulai
menyingsing. Di dataran luas pada sebuah puncak yang
menjulang tinggi, tampak ada seorang anak lelaki berumur
tigabelas-empatbelas tahun, sedang bergerak kian kemari.
Rupanya dia tengah berlatih suatu ilmu silat yang tinggi.
Jejaka tanggung itu berwajah putih, gigi rata bertutupkan
sepasang bibir yang merah segar. Menurut ukuran, dia
tergolong seorang pemuda yang cakap. Hanya sayang ada
cirinya sedikit, yakni sepasang alisnya yang tebal jengat itu,
memancarkan hawa pembunuhan.
Setelah sekian lama berputar-putar, dia berhenti merenung,
sebentar mengerut, sebentar berseri girang. Seolah-olah
pelajarannya itu amat tinggi dan sulit, hingga dia harus peras
otak memecahkannya. Pada lain saat, sekonyong-konyong dia
bergerak lagi, kali ini bahkan lebih cepat dari tadi. Yang
kelihatan hanyalah sesosok bayangan warna hijau berputar-
putar mengelilingi tanah seluas dua tombak.
Berbareng itu, wajahnyapun berseri kegirang-girangan.
Kiranya sudah berhari-hari dan bermalam-malam dia putar
otak memecahkan pelajaran itu, namun belum dapat
menyingkap rahasia dari gerakan ajaib itu. Bahwa pada saat
itu, akhirnya dapat juga dia menembus tabir rahasia itu, sudah
tentu dia girang setengah mati.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang ketawa.
Cepat si pemuda kecil itu hentikan gerakannya dan berpaling
ke belakang. Pada dahan sebuah pohon sepuluhan tombak
jauhnya, berbaring seorang tua bertubuh gemuk pendek,
wajah merah rambut putih menguban. Orang tua itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengulum senyum, mengangguk-angguk kepada pemuda


kecil itu. Rupanya dia memuji hasil anak itu.
Melihat orang tua itu berlaku begitu, merahlah muka si
anak.
Serentak mulutnya berteriak: „Yah, kau .......” dan secepat
itu dia sudah loncat ke tempat si orang tua.
Pak tua gemuk mendongak tertawa terkial-kial. Desis
anginnya sampai merontokkan daun-daun di sekitarnya,
burung-burung sama terkejut beterbangan. Sesaat kemudian
tiba-tiba lengan baju orang tua itu dikebutkan dan
„terbanglah" dia ke arah pohon lain. Caranya dia bergerak, tak
ubah seperti seekor burung.
„Yah, kau mau lari? Akan kukejar sampai dapat!" seru si
jejaka tanggung sembari ayun tubuh loncat ke dahan tempat
si orang tua tidur tadi. Dari itu, dengan gunakan gerak it-ho-
jong-thian atau burung bangau menobros langit, dia
melambung sampai tiga tombak lalu melayang turun di
tengah-tengah rimba itu. Suatu loncat indah yang
mengagumkan dan jatuhnyapun tak mengeluarkan suara
sedikitpun juga.
Kini keduanya saling kejar, menyusup rimba pohon yang
lebat, daun dan dahan yang malang melintang, ada kalanya
loncat naik ada kalanya melayang turun, kejar mengejar mati-
matian. Sampai sepenanak nasi lamanya, sekalipun sudah
tumplek seluruh kepandaiannya namun anak itu tetap tak
dapat mencandak. Jarak mereka senantiasa tetap pada tiga-
empat langkah.
Selagi anak itu gemas-gemas bingung, tiba-tiba dilihatnya
gerakan pak tua itu agak diperlambat. Wah, girangnya bukan
kepalang. Sekali tancap gas, dia loncat berlari dan “plak”,
dipeluknyalah erat-erat pinggang pak tua gemuk itu.
„Yah, aku dapat menangkapmu!" serunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi di luar dugaan, ketika tangan anak itu hampir dapat


memeluk pinggang, tiba-tiba semak-semak daun yang diinjak
kaki pak tua itu, entah apa sebabnya, merekah sendiri dan
meluncurlah tubuhnya ke bawah. Kembali anak itu menangkap
angin! Masih anak itu tak terima. Dilihatnya “lubang" pada
semak daun yang diterbitkan oleh semburan napas pak tua
tadi, masih belum menutup. “Wut”, loncatlah anak itu ke
bawah menyusulnya!
Jatuh ke dalam hutan, dilihatnya sekeliling itu sunyi senyap.
Bayangan si pak tua, seolah-olah ditelan hilang. Mau tak mau,
anak itu kewalahan juga.
„Yah, yah, kau berada dimana? Aku tak mengejarmu
lagilah!"
Baru seruan itu dicanangkan, tiba-tiba terdengar suara
tertawa mengekeh dari seorang tua: „Buyung, ayahmu kan di
sini!”
Menurut arah suara itu, astaga, kiranya pak tua itu berdiri
di sebelah luar hutan dan tengah bersenyum melambaikan
tangan. Bagai anak kijang menyongsong induknya, sekali dua
berloncat, anak itu memburu keluar dan jatuhkan diri ke
dalam pelukan si pak tua.

Dengan mesranya pak tua itu memeluk si bocah. Dilihatnya


baju hijau anak itu banyak yang robek berlubang kecantol
ranting.
„Sebuah baju utuh, kau bikin berlubang seribu ya!" ujarnya.
Anak itu kusap-kusapkan kepalanya ke dada pak tua.
Dengan malu dan aleman dia menyahut: „Biarlah, siapa suruh
ayah mencuri lihat aku berlatih tadi. Nah, ayah ku denda
mengganti sebuah baju baru dan mendongengkan sebuah
cerita!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ini kan namanya dunia terbalik. Belum lagi


kumenghukummu, kau sudah mendenda ayah!" damprat pak
tua sembari tertawa.
Si anak menarik baju ayahnya, sikapnya amat manja sekali.
Pak tua hanya ganda tertawa, serunya: „Sudah begini besar,
masih aleman, ai, semua-semuanya adalah salahku sendiri
terlalu memanjakanmu!''
Mendengar itu si anak terus angkat kepala yang disusupkan
dalam dada pak tua tadi, serunya dengan girang: „Kalau
begitu ayah harus dihukum. Siapa suruh kau memanjakan
sampai merusak diriku ini?"
Dibantah begitu, pak tua makin mengikik tertawa.
„Setan cilik seperti kau ini memang tajam benar lidahmu,
sampai yang menjadi bapak tak menang berbantah!"
„Jadi kau meluluskan bukan? Mengganti baju baru dan
bercerita!" seru si anak sambil tertawa riang.
„Ya, ayah meluluskan!"
Si bocah bertepuk tangan, serunya menegas: „Apa
sungguh, tidak bohong?"
„Selamanya belum pernah ayah membohongi kau. Tapi,
tahukah kau apa sebabnya hari ini ayah begini gembira?”
Pemuda kecil itu menggeleng.
„Ayah gembira karena melihat kau memperoleh kemajuan
pesat itu," menerangkan pak tua sembari tertawa, „ketahuilah,
apa yang kuajarkan padamu sepuluh hari yang lalu itu ialah
ilmu 'ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh', sebuah ilmu sakti
yang lama lenyap dari dunia persilatan. Memang tampaknya
sederhana sekali, tetapi apabila sudah diyakinkan mendalam,
keindahannya sukar dijajaki, perobahannya tiada batasnya.
Kalau sudah dapat mempelajari inti rahasianya, sekalipun
bertanding dengan jago lihay, tetap takkan sampai kalah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apalagi kalau dapat mengimbangkan gerakan itu dengan


permainan pukulan dan pedang, tentu akan lebih dahsyat lagi.
Benar-benar tak kusangka, dalam waktu sesingkat itu,
ternyata kau dapat menyingkap tabir rahasia ilmu itu. Ini
menandakan kau seorang anak yang berbakat dan cerdas
..........”
Tiba-tiba nada pak tua berobah sungguh-sungguh, katanya
pula: „Ih-ji, ingatlah, memang hal yang menggembirakan
bahwa seseorang itu memiliki kecerdasan cemerlang, tapi
kalau kemauannya tak keras, pun tentu mudah menyeleweng
dan kesasar kelumpur kejahatan. Dengan begitu, kecerdasan
itu bahkan akan menjadi alat pendorong untuk
menjerumuskan kau ke dalam jurang kemusnaan. Mengertikah
kau akan maksud ucapanku ini?"
Pemuda kecil yang dipanggil Ih-ji itu terkesiap. Wajahnya
yang berseri girang tadi, berobah keren seketika.
„Yah, aku mengerti. Tapi kuminta kau legakan hatimu,
kelak tentu Ih-ji takkan mengecewakan harapanmu!" sahutnya
dengan lantang.
„Bagus, sepatah katamu itu, cukup menggembirakan hatiku
selama beberapa hari ini," kata pak tua dengan tertawa.
Memang boleh dikata, pak tua gemuk itu selalu tak pernah
lupa untuk tertawa.
Dalam pada bercakap-cakap itu, mereka berdua sudah
mengitari hutan dan berjalan menuju kesebuah rumah kayu.
Rumah itu seluruhnya terbuat dari bahan kayu. Sekalipun
sederhana dan kasar, namun cukup kuat dan bersih.
Tiba di muka rumah, pak tua hentikan langkahnya.
Mengawasi kepada anaknya, berkatalah dia: „Sebelum
kubercerita nanti, lebih dahulu aku hendak mengujimu, berapa
jauhkah kemajuanmu dalam ilmu lwekang. Kalau hasilnya
memuaskan hatiku, nanti ayah akan menuturkan sebuah
cerita menurut permintaanmu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Yah, aku ingin mendengar cerita dalam dunia persilatan


yang paling menarik sendiri," kata Ih-ji.
Pak tua mengiakan: „Baik, kululuskan. Nah, sekarang
gunakanlah kian-gun-sin-kang, tangan kiri memukul dengan
tenaga lunak dan tangan kanan menghantam dengan tenaga
keras. Yang harus kau pukul ialah batu besar yang terpisah
sepuluh langkah dari sini itu!"
Ih-ji menghampiri batu dan berhenti pada jarak sepuluh
langkah. Sejenak mengerahkan semangatnya, tangannya yang
kiri segera memukul pelahan-lahan, kemudian tangan kanan
dibalikkan mendatar ke muka dada dan “wut”,
menghantamlah dia sekuat-kuatnya. Hasilnya, sebelah kiri
batu itu "dicap" sebuah telapak tangan sementara beberapa
tonjolan di sebelah kanan batu itu, hancur lebur beterbangan.
Pak tua tersenyum dan angguk-anggukkan kepalanya.
„Benar tenaga pukulan itu masih belum sempurna, tapi
tujuh bagian sudah berhasil. Mengingat baru dalam beberapa
tahun saja mempelajari, hasil yang kau capai itu sudah
bolehlah. Nah, kau lulus ' dalam ujian kali ini, sekarang aku
hendak bercerita!"
Saking girangnya, Ih-ji sampai lompat berjingkrak-jingkrak
seperti anak kecil. Cepat-cepat dia lari ke muka jendela.
Sebuah papan batu, diangkatnya untuk duduk pak tua, sedang
dia sendiri mandah duduk di tanah menelungkupi haribaan
(pangkuan) ayahnya itu, Sepasang matanya yang besar dan
bercahaya, menatap kewajah pak tua.
Melihat wajah yang cakap dan sikap wajar kekanak-anakan
itu, makin besar rasa sayang pak tua itu kepada sang putera.
Dengan mesranya dibelai-belai rambut anak itu. Kemudian
mulailah dia bercerita.
„Berpuluh tahun yang lampau, semua perguruan dan partai
dunia persilatan, rukun dan damai. Masing-masing ayem
tenteram tinggal di tempatnya untuk meyakinkan ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

silatnya. Pada suatu ketika, diadakanlah pertemuan besar


dalam kalangan mereka. Benar dalam pertemuan itu dapat
lebih mengeratkan persahabatan dan berlangsung dengan
ramah tamah, tapi tak urung disitu timbullah suatu urusan
kecil yang tak menyenangkan. Tapi karena urusan itu sepele
saja, jadi ibarat suatu alun kecil beriak dalam samudera besar,
sebentar saja siraplah sudah.
Demikian sampai berpuluh tahun, dunia persilatan aman
tenteram. Kala itu, di samping beberapa partai besar seperti
Go-bi-pay, Siao-lim-pay, Kun-lun-Pay dan Kong-tong-pay serta
Bu-tong-pay, masih ada lagi sepuluh orang sakti yang aneh
tabiatnya. Bukan hanya dalam perangai saja kesepuluh tokoh
itu aneh, pun dalam ilmu silat, mereka amat sakti dan masing-
masing mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Kesaktian
kesepuluh tokoh itu, konon katanya di atas dari pemimpin-
pemimpin partai besar itu ............”
Ih-ji menyelutuk: „Yah, siapakah kesepuluh tokoh aneh
itu?"
Melihat nafsu ingin buru-buru tahu dari anak itu, tertawalah
pak. tua itu, dampratnya: „Kunjuk kecil, jangan keburu nafsu,
masakan ayah tak mau menceritakan padamu nanti!"
„Yah, lekas katakanlah!" seru Ih-ji. Pak tua mengangguk.
„Kesepuluh tokoh aneh itu ialah seorang paderi, dua tosu
tua, tiga saudara perawan tua, sepasang suami isteri, seorang
pelajar, dan seorang tua sebatang kara," katanya pula.
„Mereka ialah Beng Keng Siangjin dari gunung Thian-bok-
san timur, Kho Goan-thong dari biara Li Cu Kiong di pulau
Peng-to laut Tang-hay; Goan Goan Cinjin dari biara Siang
Ceng Kiong di gunung Mosan; Tiga taci beradik dari biara Peh
Hoa Kiong di gunung Lou-hu-san, suami isteri Li Hau bergelar
Sat-sin-kun dari lembah Ceng-lin-ko, Shin-tok Kek, gelar Rase
Kumala dari lembah Liu-hun-hiap gunung Tiam-jong-san, dan
si Dewa Tertawa yang lupa akan she dan namanya yang aseli.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesepuluh tokoh itu, diagungkan sebagai sepuluh Datuk


Persilatan. Mulut orang iseng, merangkai nama mereka
menjadi: it-ceng, ji-to, sam-siancu, giok hou, song sat, Siau-
sian-ong.
Enambelas tahun yang lalu, tokoh-tokoh partai persilatan
sama menganggap bahwa peyakinan ilmu mereka sudah
matang. Untuk mengetahui sampai dimana tinggi rendah
ilmunya itu, mereka menyuruh anak muridnya keluar
mengembara untuk mencari pengalaman dan pengetahuan.
Maksud sih baik, tapi kenyataan malah menimbulkan onar
yang berlarut-larut sampai duapuluhan tahun belum saja
selesai."
--ooo0dw0ooo-
3. Orang Baik, Nasib Mengenaskan
Siau-sian-ong berhenti sejenak untuk memandang anak
yang tengkurep di dalam pangkuannya itu, lalu menghela
napas. Pikiran pak tua itu melayang jauh kekejadian yang
lampau. Sejenak kemudian baru dia dapat melanyutkan
penuturannya.
„Peristiwa itu bukan menimpah kalangan partai-partai, tapi
terjadi dalam lingkungan sepuluh Datuk, makapun bukan
urusan biasa. Dalam kalangan sepuluh Datuk itu, hanyalah it-
ceng Beng Keng Siangjin dengan ilmu silat kalangan gerejanya
yang sakti dan si Rase Kumala Shin-tok Kek, yang
berkepandaian setingkat lebih tinggi dari kedelapan rekan-
rekannya. Cerita ini berkisar pada diri si Rase Kumala itu. Dia
memilik kecerdasan yang cemerlang, tapi berhati dingin dan
tinggi, sombong tak suka bergaul. Sejak isterinya yang
tercinta menutup mata, dia mengasingkan diri di lembah Liu-
hun-hiap di gunung Tiam-jong-san dan tinggal di gubuk
pertapaan Kiu-jui-suan. Disitulah dia menghibur diri berkawan
dengan arak dan syair. Kecuali dengan Siau-sian-ong, dia
sudah putuskan hubungan dengan dunia persilatan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Adalah mungkin sudah jalannya nasib, maka berita


tentang partai-partai menyuruh masing-masing anak muridnya
keluar mengembara mencari pengalaman itu, sampai juga ke
tempat pertapaannya yang terasing itu. Seorang tokoh
cemerlang dalam angkasa persilatan macam Shin-tok Kek itu,
ternyata masih belum dapat melepaskan diri dari nafsu ingin
menang. Diutusnya Shin-tok Lan, puteri tunggal yang menjadi
biji matanya itu, untuk turun gunung. Bukan melainkan cantik
saja Shin-tok Lan itu, pun kepandaiannya telah menerima
warisan dari ayahnya. Hanya satu hal yang berlainan, ialah
perangai gadis itu amat peramah dan baik budi, jauh bedanya
dengan sang ayah. Sekalipun begitu, ternyata si Rase Kumala
itu masih belum tega betul-betul akan puterinya, maka
dimintanya sang sahabat Siau-sian-ong untuk diam-diam
mengikuti perjalanan nona itu.”
Selain menjadi sahabat kental Shin-tok Kek, pun si Dewa
Tertawa itu memungut Shin-tok Lan sebagai puteri angkatnya.
Jadi tiada alasan lagi, baginya untuk menolak permintaan
menjadi pelindung. Bermula setelah turun dari Tiam-jong-san
itu, Shin-tok Lan tak mengalami suatu apa. Tapi dikarenakan
sejak kecil hidup di tengah pegunungan yang sepi, jadi begitu
berada dimasyarakat ramai, Shin-tok Lan tak ubah seperti
seorang nenek tua yang masuk kota. Apa saja dia kepingin
tahu. Ada kalanya, ia turun tangan juga untuk membantu
yang lemah membasmi si jahat. Nona cantik yang berilmu
tinggi dan gagah budiman itu, dalam sesingkat waktu saja
telah menjadi buah bibir setiap orang persilatan. Juga jago-
jago muda dari partai-partai yang sedang bertugas
mengembara itu, tertarik akan sepak terjang Shin-tok Lan.
Mereka beramai-ramai menyanjungnya dengan sebuah
julukan “San-hoa sian-cu" atau Dewi penabur bunga.
Dalam sesingkat waktu itu, banyak sudah Shin-tok Lan
mengikat persahabatan dengan jago-jago muda dari berbagai
partai persilatan. Salah seorang yang paling akrab, ialah anak
murid Ay-tojin Goan Goan Cu yang bemama Siau Hong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergelar Giok-sian-thong si Anak Dewa. Seorang pemuda dan


pemudi yang bergaul lama, sukar terhindar dari kasih asmara.
Juga Shin-tok Lan dan Siau Hong tak terkecuali. Dengan
berjalannya sang hari, sepasang muda mudi itu makin kelebuh
dalam lautan asmara. Hal ini sudah tentu menimbulkan dengki
sirik para jago muda lainnya terhadap Siau Hong.
Diantara yang paling kentara kemarahannya, ialah anak
murid Pak-thian-san Song Sat, (juga tokoh sepuluh Datuk)
bernama Li Hun-liong bergelar Siau-sat-sin (Iblis kecil). Di
depan umum, dia sumbar-sumbar tak mau hidup bersama di
bawah kolong langit dengan Siau Hong. Mendengar itu, Shin-
tok Lan dan Siau Hong terperanjat, namun dasar watak anak
muda, dalam tempo tak berapa lama saja, mereka melupakan
hal itu.
Menilik sang ayah amat mengasihinya, Shin-tok Lan ajak
Siau Hong menghadap ke Tiam-jong-san. Memang walaupun
si Rase Kumala itu aneh wataknya, tetapi terhadap puterinya
dia amat memanjakan sekali. Dengan alasan menghaturkan
sembah kepada Shin-tok Kek yang sangat dikaguminya itu,
akhirnya mau juga Siau Hong mengikut ke Tiam-jong-san.
Tapi bagi si Rase Kumala yang bermata tajam, hal itu tak
dapat mengelabuhinya bahwa sang puteri dan anak muda itu
sama saling menyinta.
Melalui penilaian beberapa hari, Shin-tok Kek mengetahui
bahwa Siau Hong bukan saja seorang murid dari tokoh
termasyhur, pun pribadinya juga luhur berbudi. Diam-diam
orang tua itu bersyukur dalam hati. Harapan kepada puteri
satu-satunya itu, ternyata bakal tak tersia-sia. Pada hari
kesepuluh dari kedatangan Siau Hong di. Tiam-jong-san, si
Rase Kumala menyatakan bahwa dia memberi persetujuan
puterinya diperisteri Siau Hong.
Walaupun girang, namun Siau Hong tak berani
meninggalkan gurunya. Sebelum ‘mendapat izin suhunya dia
tak berani mengambil keputusan sendiri. Si Rase Kumala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tertawa sinis dan menyatakan dengan jumawa, bahwa dengan


kemasyhuran gengsinya dan kecantikan puterinya itu, tak
nanti Goan Goan Cu menolak. Dia berkeras minta Siau Hong
tinggalkan mainan permata yang dipakainya selaku panjar
pertunangan. Setelah itu dia suruh kedua anak muda itu
menuju ke Mosan untuk menghadap Goan Goan Cu.
Tiga bulan berlalu dan dua kali sudah mereka mengunjungi
Mosan, namun tak dapat berjumpa dengan suhunya, karena
kala itu Goan Goan Cu belum pulang dari kelananya, Siau
Hongpun sungkan untuk memberitahukan hal itu kepada
saudara-saudara seperguruannya, terpaksa dia ajak sang
tunangan turun gunung mengembara lagi untuk beberapa
waktu, baru nanti pergi ke Mosan untuk yang ketiga kalinya.
Awan dan angin di langit sukar diduga datangnya, untung
dan kesialan orang sukar ditentukan tibanya. Dikala kedua
sejoli itu pesiar menikmati alam pemandangan yang permai,
halilintar-malapetaka menyambar mereka. Kala itu mereka
berada diperbatasan Kansu dan Se-liang dan menginap di
sebuah hotel.
Malam hari selagi tengah bercakap-cakap, tiba-tiba hidung
mereka mencium serangkum asap wangi yang datang dari
arah jendela. Tanpa disadari, keduanya menyedot-nyedot
bebauan harum itu, dari hidung terus menyalur ke seluruh
tubuh. Ketika Siau Hong sadar dan curiga, ternyata sudah
kasip. Darah dalam tubuhnya serasa membakar, nafsunya
bergolak-golak. Dalam pandangannya, Shin-tok Lan yang
berbaring di tempat tidur itu, laksana bidadari cantiknya.
Siau Hong masih sadar pikirannya. Dia tahu bahwa mereka
berdua dibokong orang. Dia berusaha keras untuk
menghadapi keadaan yang genting itu, namun bagaimanapun
juga ternyata hawa jahat dari bebauan wangi itu, lebih
berkuasa. Baru setelah keduanya tersadar, ternyata ibarat
“bunga sudah terhisap sarinya oleh sang kumbang”. Shin-tok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lan menangis tersedu-sedu. Siau Hong kerak keruk


menyumpahi dirinya. Namun nasi sudah menjadi bubur.
Akhirnya kedua pasangan itu mengambil putusan,
walaupun perbuatan itu kurang layak, tapi pertama sudah
mendapat persetujuan Shin-tok Kek, kedua kalinya, dipedayai
orang. Maka meskipun menurut susila kurang layak, tapi
karena sudah terlanjur jadi lebih baik itu, bulat tekad mereka
untuk menuntut balas kepada orang yang mencelakainya itu.
Mereka bersumpah akan mencarinya sampai ketemu.
Pada kala itu si Dewa Tertawapun mendapat berita, bahwa
ada seseorang yang bermaksud mencelakai Shin-tok Lan –
Siau Hong. Sebagai orang yang sanggup menjadi pelindung
nona itu, buru-buru dia mencari kedua anak muda itu. Pada
waktu dia berhasil menemukan mereka di daerah Se-liang,
ternyata Siau Hong sudah sejak 3 hari yang lalu menerima
amanat Ceng-hu-leng dari suhunya dan sudah menuju ke
biara tua di puncak Loh-gan-nia gunung Hoasan.
Kaget Siau-sian-ong bukan kepalang. Siau Hong pasti akan
celaka. Bergegas-gegas dia ajak Shin-tok Lan menyusul ke
Hoasan. Walaupun perjalanan itu dilakukan siang malam,
namun tiba disana ternyata sudah terlambat selangkah. Siau
Hong sudah berlumuran darah tak bernyawa lagi.
Setelah terjadi perdebatan, dimana Siau-sian-ong dapat
membuktikan bahwa surat pengaduan yang diterima Goan
Goan Cu itu palsu belaka, dari malu Goan Goan Cu berobah
menjadi murka. Dimana sang mulut tak kuasa mencari
penyelesaian, pukulan segera berbicara. Dikala kedua datuk
itu bertempur mati-matian biara tua yang sudah rusak itu
saking tak kuat menahan deru angin pukulan mereka, menjadi
rubuh dan menguruki mayat Siau Hong. Memang amat
mengenaskan sekali nasib pemuda itu, sudah jatuh dihimpit
tangga pula.
Terkejut oleh peristiwa itu, kedua tokoh itu sama berhenti
bertempur. Siau-sian-ong kuatir jangan-jangan Shin-tok Lan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang menderita kedukaan hebat itu sampai terluka dalam


pada hawa murninya. Nona itu harus ditolong dahulu.
Begitulah setelah menangguhkan pertempuran itu pada lain
waktu. Siau-sian-ong lalu membawa nona yang malang itu
pergi .........
Mendengar sampai disini, Ih-ji menghela napas: „Yah,
mengapa orang baik sebagai kedua anak muda itu, sampai
mengalami nasib yang begitu mengenaskan, ah, sungguh
kasihan sekali!”
Orang tua itu dapatkan anak dipangkuannya itu berlinang-
linang air mata. Dengan terharu diapun mengiakan: „Ah,
benar katamu itu. Mengapa orang baik mendapat balasan
yang begitu mengenaskan? Memang kalau dirasa, Allah tidak
adil!"
„Yah lalu bagaimana kelanjutannya?" tiba-tiba si anak
mendesaknya lagi.
Sampai sekian saat pak tua itu belum membuka mulut. Dia
hanya memandang ke arah wajah anak itu dengan rasa haru.
Berselang beberapa lama, barulah dia mulai lagi,
„Siau-sian-ong ternyata membawa Shin-tok Lan ke suatu
tempat yang sepi untuk mengobatinya. Adalah dikala itu, dia
baru mengetahui bahwa nona itu sudah mengandung. Sudah
tentu dia menjadi kaget sekali. Setelah Shin-tok Lan sadar,
barulah dia menanyainya. Dengan kemalu-maluan Shin-tok
Lan menceritakan peristiwa fitnah yang dialaminya di hotel itu.
Siau-sian-ong banting-banting kaki dan menghela napas
panjang pendek. Sebagai orang yang telah menyanggupi
permintaan seorang sahabatnya, dia merasa turut
bertanggung jawab juga. Tapi karena nasi sudah menjadi
bubur, jadi yang penting ialah harus berusaha untuk menolong
nona itu.
Akhirnya dia bawa Shin-tok Lan ke tempat tinggalnya di
sebuah tempat yang terpencil. Selama itu tak jemu-jemunya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia memberi nasehat dan menghibur hati Shin-tok Lan, namun


rupanya nona itu tak dapat melupakan peristiwa yang
menggoncangkan seluruh jiwa raganya itu.
Setelah tiba waktunya, maka Shin-tok Lan melahirkan
seorang bayi lelaki. Tiga hari setelah kelahiran itu, karena tak
kuat menanggung derita kedukaannya, Shin-tok Lan pun
menutup mata menyusul arwah sang kekasih. Si Dewa
Tertawa yang diwarisi seorang orok itu, menjadi kelabakan,
tak tahu bagaimana hendak merawatnya.
Akhirnya dia mengambil putusan, menitipkan dahulu bayi
itu pada seorang keluarga petani yang tinggal di dekat itu,
kemudian dia bawa jenazah Shin-tok Lan ke Tiam-jong-san
untuk diserahkan pada Shin-tok Kek. Disitu dia akan
menjelaskan duduknya perkara sekalian menghaturkan maaf
sebesar-besamya kepada sang sahabat. Dia bersedia
menerima tegur makian dari si Rase Kumala. Dia tak berani
membayangkan bagaimana perasaan Shin-tok Kek dikala
menerima kedatangan puteri kesayangannya itu sudah
menjadi mayat.
Tapi di luar dugaan, sikap si Rase Kumala dingin-dingin
saja, seolah-olah kematian puteri biji hatinya itu, bukan
perkara apa-apa. Sikap itu membuat si Dewa Tertawa
kelabakan setengah mati. Beberapa kali dia hendak
menceritakan, tapi mulut serasa terkancing demi melihat sikap
yang melebihi es dinginnya dari si Rase Kumala pada saat itu.
Siau-sian-ong menginap sampai tiga hari lamanya disitu, untuk
menunggu kesempatan menjelaskan duduk perkaranya,
namun kesempatan itu tak kunjung tiba. Si Rase Kumala tetap
bersikap aneh. Akhirnya si Dewa Tertawa pamitan pulang dan
si Rase Kumalapun tak mau banyak kata untuk menahannya.
Sepeninggalnya dari Tiam-jong-san, diam-diam si Dewa
Tertawa bersumpah dalam hati, akan menggembleng putera
Siau Hong - Shin-tok Lan, agar dapat mencuci penasaran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang tuanya dan dapat diterima kembali dalam lingkungan


keluarganya (Shin-tok Kek).
Sejak itulah maka si Dewa Tertawa lenyap dari pergaulan
ramai. Banyak nian desas-desus yang tersiar di kalangan
persilatan tentang jago sakti itu, namun tiada seorangpun
yang mengetahui bahwa sebenamya dia mengasingkan diri di
pedalaman gunung yang sunyi, merawati dan mendidik putera
calon suami isteri yang bemasib malang itu.”
Sampai disini, tak kuasa lagi Ih-ji menahan kucuran air
matanya. Memandang si pak tua, bertanyalah dia: „Yah,
apakah benar-benar si Rase Kumala Shin-tok Kek itu tak
menghiraukan sama sekali atas kematian puterinya itu?
Bukankah tadi ayah mengatakan bahwa dia amat cinta sekali
kepada puteri tunggalnya itu?”
Wajah pak tua yang keren, tiba-tiba mengulum senyum
getir, sahutnya: „Si Rase Kumala memang menyintai sekali
kepada puterinya itu. Hanya karena dia seorang pribadi yang
kuat dalam menahan getar perasaan duka atau gembira, jadi
sukarlah orang untuk menyelami hatinya.
Adalah berselang dua tahun kemudian sejak si Dewa
Tertawa menyepi di gunung, pada suatu hari dia turun gunung
untuk mencari daun obat-obatan dan bahan keperluan sehari-
hari, tak terduga dari mulut seorang persilatan, didengarnya
sebuah berita yang membuat jago tua itu sedih-sedih girang.
Kiranya dukacita si Rase Kumala tak terperikan besamya.
Beberapa hari setelah si Dewa Tertawa meninggalkan Tiam-
jong-san, si Rase Kumala pun juga turun gunung. Kecuali
tentang menghilangnya si Dewa Tertawa dan Shin-tok Lan
melahirkan putera, semua yang terjadi di luar telah
diselidikinya. Setelah diketahui duduk perkaranya yang benar,
kini dia tumpahkan seluruh kemarahannya kepada Goan Goan
Cu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada suatu petang, kawanan paderi dari biara Siang Ceng


Kiong sama mengambil angin di luar, karena habis
menyelesaikan pelajaran malam. Tiba-tiba dari kaki gunung,
tampak ada dua orang anak memanggul sebuah tandu.
Walaupun mendaki namun kedua anak itu dapat berjalan
dengan cepat, ya begitu amat cepatnya, hingga dalam
beberapa menit saja sudah tiba di muka biara Siang Ceng
Kiong.
Tandu itu berisi seorang sekolahan yang berparas cakap,
kira-kira berumur 35-36 tahun. Pada kain kepalanya, melekat
sebuah zamrud yang berkilau-kilauan, tubuhnya yang tinggi
kurus itu tertutup dengan pakaian orang sekolahan dari bahan
sutera berwarna kelabu perak. Sungguh seorang pribadi yang
berwibawa. Sedikit cacadnya, ialah wajahnya menampilkan
sifat-sifat jumawa.
Dengan tenang, turunlah dia dari tandu. Begitu tangannya
dikipaskan pelahan-lahan, maka kedua anak tadi segera cepat-
cepat turun gunung lagi. Setelah itu barulah orang terpelajar
itu ayunkan langkah. Kira-kira terpisah satu tombak dari biara,
dia berhenti. Dia mendongak mengawasi biara itu dengan
pandangan yang dingin, lalu perdengarkan tertawa sinis.
Kawanan anak murid Siang Ceng Kiong yang tengah mencari
angin di luar halaman itu, seolah-olah tak diacuhkan sama
sekali.
Setelah tegak berdiri beberapa lama, sekonyong-konyong
kedua tangannya dirangkapkan ke dada. Gerakan itu telah
membuat lengan bajunya bergoncangan dan tiba-tiba “brak,
bum” terdengarlah suara benda berat jatuh berkerontangan ke
tangga. Papan bertuliskan huruf emas “Ki Kian Siang Ceng
Kiong” (Siang Ceng Kiong yang didirikan atas titah raja) telah
jatuh dari tempatnya di atas pintu. Papan itu panjangnya
hampir dua tombak, lebar setombak. Begitu jatuh di tangga,
pecahlah papan besar itu menjadi berkeping-keping
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti disamber petirlah kaget kawanan paderi tadi. Buru-


buru mereka mengepung pendatang yang mengacau itu.
Orang terpelajar itu hanya acuh tak acuh kedipkan mata
melirik kawanan pengepungnya itu. Sinar matanya yang amat
berpengaruh, telah membuat kawanan paderi itu sama
bercekat dan menyurut mundur beberapa langkah lagi.
Pada saat itu tiba-tiba dari dalam biara terdengar suara
sebuah giok-ceng (alat tetabuhan dari batu kumala) yang
amat nyaring. Kawanan paderi itu serempak sama menyingkir
ke samping.
Si orang terpelajar lirikkan matanya dan dapatkan dari
dalam biara itu muncul tigapuluhan tosu lengkap dengan
pakaian keagamaannya berwarna kuning. Yang agak istimewa,
kawanan tosu itu sama menyanggul pedang di punggung.
Begitu terpisah dua tombak dari orang sekolahan tadi, mereka
cepat pecah diri dalam formasi barisan kipas.
Suasana di biara itu menjadi hening lelap, tapi penuh
dengan kegentingan meruncing. Sekalipun begitu orang
sekolahan tadi, tetap tenang-tenang saja sikapnya. Pada lain
saat, seorang tojin yang bertubuh tinggi besar, tampil ke
muka dan berkata kepada si orang sekolahan: „Bu-liang-siu-
hud, tolong tanya, apa sebabnya sicu menggempur papan
biara kami ini?"
Si orang sekolahan sapukan matanya memandang tojin itu
dengan seksama, wajahnya bagai bulan pudar, alis panjang
menjulai lima kepang janggutnya menjulai berkibaran di muka
dada, matanya berkilat-kilat, tubuhnya tinggi tegar, walaupun
tojin itu usianya ditaksir hampir limapuluhan, namun sikapnya
masih gagah. Terang kalau dia memiliki ilmu lwekang yang
tinggi.
„Kau tak layak menanya aku, panggil Goan Goan Cu
keluar!" sejenak habis menaksir diri orang, orang sekolahan
itu menyahut dengan angkuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepasang alis tojin tua itu menyungkat.


„Pinto Kat Hian Cin, kamsi (penilik) biara Siang Ceng Kiong
ini. Karena menyangkut kewajibanku, maka pinto berhak
untuk bertanya."
Mendengar itu, tampillah kerut amarah wajah si orang
sekolahan, serunya: „Cukup sebuah pertanyaan padamu,
apakah Goan Goan Cu ada di dalam biara?”
„Kwan-cu sedang keluar, dua hari lagi baru pulang," sahut
Kat Hian Cin.
„Kalau begitu, akupun takkan membikin susah kalian, nanti
dua hari lagi aku datang pula kemari," ujar si orang sekolahan.
Sikap yang tak memandang orang itu, membuat Kat Hian
Cin tak dapat menahan sabar lagi, serunya: „Bu-liang-siu-hud!
Si-cu hendak begini saja berlalu, lalu bagaimana dengan
urusan papan biara itu?”
Si orang sekolahan yang sebenamya sudah ayunkan
langkah itu, tertegun mendengarnya. Diiring tertawa dingin,
dia menantang: „Habis bagaimana kehendakmu?”
Sedari kecil Kat Hian Cin sudah masuk ke dunia gereja.
Ajaran keagamaan yang diterimanya sejak berpuluh-puluh
tahun itu, telah membuatnya seorang alim ulama yang saleh,
penuh kesabaran. Namun menghadapi sikap yang congkak
dari tetamu tak dikenal itu, tak urung darahnya bergolak juga.
„Tiada lain permohonan, kecuali mengembalikan papan itu
di tempatnya!"
Kontan si orang sekolahan menyahut dengan tawar: „Kalau
tak dapat?"
„Terpaksa akan minta keadilan pada sicu," jawab Kat Hian
Cin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ha, ha, ha .....” tiba-tiba pecahlah mulut si orang


sekolahan tertawa nyaring. Nadanya sedemikian
menggetarkan sehingga kawanan tosu tadi sama bercekat.
Kat Hian Cin sendiripun tak kurang kagetnya. Lwekang
murni dalam nada ketawa itu, belum pernah didengarnya.
Sekalipun suhu mereka, Goan Goan Cu, juga masih kalah
setingkat kepandaiannya.
Habis tertawa, wajah orang sekolahan itu berobah keren,
serunya: „Sudah hampir duapuluhan tahun aku si orang tua
itu tak menginjak dunia persilatan, tak kusangka kalian berani
jual kesombongan begitu rupa. Kalau kini tak kuberi keadilan,
kalian tentu tak tahu siapakah aku si orang tua ini!"
Sekonyong-konyong dari belakang Kat Hian Cin, tampil
maju seorang imam muda. Setelah memberi hormat kepada
Kat Hian Cin, dia berputar menghadapi si orang sekolahan.
„Tinggi nian sikap sicu sampai menonjol langit, tentulah
karena memiliki kepandaian sakti. Pinto ingin benar mendapat
pelajaran barang sejurus dua saja!"
Kembali orang sekolahan itu terbahak-bahak, serunya:
„Buyung, nyalimu besar juga! Kalau tak kupenuhi
permintaanmu, aku si orang tua ini tentu akan membikin
kecewa hatimu. Nah, cabutlah pedangmu!"
Mundur dua langkah, tojin muda itu mencabut pedang,
kemudian dengan mengambil sikap dalam gerak hoay-tiong-
po-gwat (dalam dada memeluk rembulan), dia memberi
hormat.
„Mohon sicu suka memberitahukan nama gelaran sicu yang
mulia, agar pinto lebih mantep!"
Serempak menyahutlah si orang sekolahan itu dengan nada
berat: „Aku si orang tua ini orang she Shin-tok, bernama
tunggal Kek. Buyung, ayuh kau mulailah menyerang!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demi mendengar ucapan itu, hiruk berisiklah ratusan tojin


yang berada dalam gelanggang itu. Kat Hian Cin sampai
berhenti denyut jantungnya untuk sesaat. Mimpipun tidak dia,
bahwa si orang sekolahan yang jumawa itu, bukan lain
ternyata bintang cemerlang dari sepuluh Datuk, seorang tokoh
berwatak aneh, seorang datuk yang menggetarkan seluruh
dunia persilatan, si Rase Kumala Shin-tok Kek.
Kecuali memiliki kepandaian yang sakti, dia mempunyai
perangai yang luar biasa. Setiap kali muncul digelanggang
pertempuran, belum mau sudah kalau lawan belum jatuh
bangun sungsang sumbal.
Kalau pertempuran sampai berkorbar, Siang Ceng Kiong
pasti akan berantakan karena kwan-cu (kepala biara) Goan
Goan Cu sedang tak ada. Namun karena keadaan sudah ibarat
anak panah terpentang pada busurnya, jadi terpaksa harus
gunakan dua siasat, sembari bertahan sedapat mungkin,
sembari kirim orang lekas-lekas minta kwan-cu pulang.
Demikian Kat Hian Cin mendapat pikiran begitu, demikian dia
diam-diam segera menyuruh orang memberitahu pada Goan
Goan Cu.
Kesemuanya itu tak lepas dari mata si Rase Kumala yang
tajam, namun acuh tak acuh tokoh itu kicupkan ekor matanya
memandang kian kemari. Melihat kesibukan Kat Hian Cin dan
kegelisahan tojin muda tadi, dia tertawa nyaring.
„Hai, buyung, takutkah kau?"
Memang siapa orangnya yang tak jeri berhadapan dengan
datuk pemimpin ke sepuluh Datuk itu? Tapi dasar darah
muda, tojin itupun naik pitam (marah). Lantang-lantang dia
menyahut: „Anak murid Siang Ceng Kiong haram akan kata-
kata 'takut'. Sekalipun nama besar sicu laksana halilintar di
angkasa, tapi perbuatan merusakkan papan nama itu, tetap
menyatakan permusuhan pada Siang Ceng Kiong. Sebagai
anak murid Siang Ceng Kiong, pinto mempunyai tanggung
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jawab untuk melindungi. Kesampingkan lain-lain kata yang tak


berguna dan marilah sicu memberi pelajaran!”
Si Rase Kumala tertawa: „Melihat keberanianmu, kusuka
memberi kelonggaran. Silahkan menyerang sepuas-puasmu,
aku si orang tua akan mengalah sampai tiga jurus!"
Tanpa menyahut lagi, si tojin muda melangkah maju.
Pedang diangkat, dia tusuk pundak kanan Shin-tok Kek dalam
jurus sian-jin-ci-lo (dewa menunjuk jalan). Tanpa sang kaki
bergerak, bahu si Rase Kumala agak dimiringkan dan ini sudah
cukup untuk menghindari serangan itu.
„Buyung, jurus yang pertama!" serunya.
Si tojin muda tetap membisu. Tanpa merobah kuda-
kudanya, tubuhnya diacungkan maju, pedang dibabatkan ke
perut orang dengan jurus hong-sao-loh-yap (angin meniup
daun). Kali ini si Rase Kumala unjukkan kegesitan. Seperti kilat
menyambar, tahu-tahu tubuhnya melesat ke samping kanan.
Sabetan pedang lewat di sisi tubuhnya.
Tojin muda susuli lagi serangannya dengan jurus li-liong-hi-
cu atau naga memain mustika. Pedang maju menusuk
tenggorokan.
Kembali si Rase Kumala unjukkan demonstrasi. Tubuh
didongakkan ke belakang dan lewatlah ujung pedang
beberapa senti di atas tenggorokannya. Jurus ketiga, tetap tak
berhasil.
Si tojin muda mengertak gigi. Membarengi lawan belum
sempat bergerak dia hendak tabaskan pedangnya ke bawah,
mengarah kepala si Rase Kumala. Keadaan si Rase Kumala
tertimpa mara bahaya.
Tapi suatu kejadian istimewa terjadi. Gelak tertawa keras
berderai-derai dari mulut tokoh aneh itu, tubuh diangkat dan
kedua lengan baju dibalikkan ke atas dan tahu-tahu
tangannya si tojin muda sakit seperti dipatahkan dan saking
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak kuatnya maka terlemparlah pedangnya ke udara. Kebutan


lengan baju si Rase Kumala tadi ternyata menerbitkan angin
kong-hong (angin tenaga dalam) yang luar biasa dahsyatnya.
Wajah si tojin muda berobah pucat. Baru dia hendak
mundur, tahu-tahu separoh tubuhnya serasa mati rasa dan
tanpa dapat di tahan lagi, mendumprahlah dia ke tanah. Dua
orang to-thong kecil buru-buru maju menggotongnya.
Melihat tojin muda itu pucat kelabu wajahnya dan tak
sadarkan diri, tahulah Kat Hian Cin bahwa kawannya itu kena
tertutuk jalan darahnya. Dia segera coba untuk menolongnya
membuka, tapi tak mampu. Gagal menolong, dengan alis
mengerut, dia memandang ke arah si Rase Kumala.
„Bahwa sicu memiliki kepandaian yang menggetarkan
dunia, ternyata memang nyata, namun tak selayaknyalah
menurunkan tangan keliwat ganas''.
Si Rase Kumala tertawa dingin, sahutnya: „Dia sendiri yang
tak tahu diri, jangan salahkan orang lain. Aku si orang tua kan
sudah keliwat bermurah hati, masakan kau masih belum
terima?”
Dalam keadaan begitu, betapapun toleransinya Kat Hian
Cu. namun tak kuasa lagi untuk mengendalikan diri. Sepasang
alisnya menjungkat, dia berkata dengan keras: „Sungguhpun
sicu teramat sakti, tapi Siang Ceng Kiong pun bukan tempat
orang pengecut. Hari ini .........”
„Harap penilik mengizinkan, tecu berempat siap sedia
menempur lawan!" sekonyong-konyong empat orang tojin
datang dan menukas kata-kata Kai Hian Cin tadi.
Alis panjang dari Kat Hian Cin menggontai, hendak dia
mencegah, tapi disana si Rase Kumala sudah mendengus dan
menyahut: „Asal tak takut mati, aku si orang tua ini tetap tak
menolak setiap pendatang!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa boleh buat, Kat Hian Cin tak dapat mencegahnya. Dia
hanya membisiki keempat tojin itu supaya berhati-hati.
Setelah mengiakan, keempat orang tojin itu berputar diri dan
berpencaran dalam empat penjuru. Pedang dilolos, tanpa
pendahuluan kata-kata lagi, mereka berbareng maju menusuk
si Rase Kumala.
Gerakan keempat tojin itu memang rapi dan cepat, tapi
bagi mata seorang datuk macam si Rase Rumala, cepat dapat
mengetahui isi serangan musuh, Dari keempat pedang itu,
ternyata tiga serangan kosong dan satu serangan isi
(sungguh). Diantar oleh tertawa dingin, tubuh si Rase Kumala
berputar, lengan baju kanan dikebutkan pelahan-lahan. Angin
kong-hong, segera mendorong dua serangan dari arah timur
dan selatan.
---ooo0dw0ooo-
4. Pertempuran Di Biara
Empat sekawan itu, lihay juga. Melihat kedua kawannya
terbuka, tojin yang menyerang dari barat dan utara, lalu robah
serangannya, dari kosong menjadi sesungguhnya. Si Rase
Kumala tak bergerak menghindar, seolah-olah dia biarkan saja
kedua pedang, itu menyentuh tubuhnya. Tapi sewaktu hampir
mengenal, tiba-tiba tubuhnya menghindar, jari tangan ditekuk
macam cakar terus dikebutkan ke atas.
“Tring, tring,” dua buah suara gemerincing terdengar dan
dua buah benda berwarna perak melayang ke udara.
Menyusul, terdengar jeritan kaget dan sesosok bayangan
kelabu melesat-lesat. “Ak, uk, ak, uk,” berturut-turut
terdengar suara mengerang dan rubuhlah keempat tojin itu ke
tanah ..........
Kesemuanya itu hanya berlangsung dalam beberapa detik
saja. Sebelum orang tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka
(kawanan tojin lainnya) sudah melihat keempat kawannya itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersungkur, tiada berkutik lagi. Rasa kagum dan jeri


membayangi wajah sekalian tojin itu.
Tegak tak acuh disana, tampak si Rase Kumala sejenak
mengicupkan mata ke arah keempat tojin yang telah ditutuk
jalan darahnya itu, sembari tangannya mengebut-kebut debu
di pakaiannya. Setelah itu, dia memandang Kat Hian Cin.
„Nah, siapa lagi yang tak takut mati, silahkan maju!"
serunya.
Melihat kesaktian si Rase Kumala tadi, Kat Hian Cin kagum
dan marah. Pikirnya: „menilik gelagatnya, kalau tak
menggunakan siasat bertahan sampai kwan-cu datang,
keadaan tentu runyam, ini .........”
Sampai disini, tiba-tiba dia mendapat pikiran bagus.
Menentang ke arah si Rase Kumala, dia berseru: „Pihak biara
kami mempunyai sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang tak
berarti. Bagai seorang kojin yang termasyhur di kolong dunia,
dipercaya sicu tentu suka memberi petunjuk!"
Si Rase Kumala tertawa gelak-gelak, balasnya: „Kat Hian
Cin, seorang pengabdi gereja tak mau bohong. Barisan ngo-
heng-pat-kwa-kiam-tin dari Siang Ceng Kiong, jauh tersiar
kemasyhurannya. Bukankah kau mempunyai rencana begini,
akan gunakan barisan itu untuk mengepung diriku. Menang ya
syukur, kalau tidak, sekurang-kurangnya akan dapat
mengulurkan waktu sampai Goan Goan Cu sudah dapat
datang!
Tapi biarlah aku seorang tua ini, menuruti permintaan itu.
Dalam seratus jurus, kalau sampai tak .dapat menjebolkan
barisanmu itu, aku Shin-tok Kek akan mengirim surat
undangan pada para tokoh-tokoh persilatan, untuk
menyaksikan upacara aku menghaturkan maaf dan memasang
papan biara Siang Ceng Kiong disini. Pula, hutang Goan Goan
Cu. padaku, akan kuhapuskan dan sejak itu juga nama Rase
Kumala itu, biar dicoret dalam daftar persilatan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Masih aku si orang tua hendak memberi keringanan


padamu. Habis membobolkan barisanmu itu, aku takkan
mengapa-apakan dirimu dan kawan-kawan, tetap akan
menantikan kedatangan Goan Goan Cu untuk membikin beres
perhitungan. Nah, kau anggap bagaimana?”
Memang demikian yang dimaukan Kat Hian Cin. Jadi nyata
si Rase Kumala dapat meneropong isi hatinya. Dengan
kesaktiannya itu, Kat Hian Cin yakin tiada seorangpun dari
pihaknya yang sanggup menandingi. Dengan barisan kiam-tin
itu, sekalipun tak dapat merebut kemenangan, tapi sekurang-
kurangnya dapat juga mengulur waktu sampai Goan Goan Cu
datang. Memang si Rase Kumala bintang cemerlang dari
angkasa persilatan itu, tinggi ilmunya sastera, sakti ilmunya
silat.
Barisan-barisan ngo-heng-tin, kiu-kiong-pat-kwa, tentulah
amat mahir. Tapi ngo-heng-pat-kwa-kiam-tin itu adalah
pusaka pelajaran dari biara Siang Ceng Kiong, kedasyatannya
bukan olah-olah. Mungkin dengan barisan itu. siapa tahu
gengsi Siang Ceng Kiong akan direhabilitir (dikembalikan
semula). Demikian angan-angan yang memenuhi benak Kat
Hian Cin.
„Bu-liang-siu-hud, sicu amat cekat dalam segala hal. Pinto
tak berani membantah lagi," serunya dengan bersemangat.
Tangannya diangkat dan empat orang tojin yang usianya agak
tua dari tadi, tampil ke muka. Mereka bantu Kat Hian Cin
mengatur barisan ngo-heng.
Baru kelima orang itu mengambil posisi masing-masing, lalu
ada enambelas tojin berjajar-jajar melingkari mereka, seolah-
olah dinding yang melapisi di luar. Sebenamya itulah
dimaksudkan dengan delapan pintu yang disebut pintu kian,
gan, tin, kin, sun li, gun dan tui, atau yang disebut pat-kwa.
Berbareng, dengan selesainya barisan itu, maka ratusan
kawanan tojin lainnya, segera menyingkir dan terbukalah di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tengah gelanggang itu sebuah lapangan seluas sepuluh


tombak persegi.
Kini ke duapuluh satu tojin (lima di dalam enambelas di
luar), sama menghunus pedang. Setelah memberi hormat
kepada si Rase Kumala, Kat Hian Cin memberi isyarat tangan
dan bergeraklah barisan pedang ngo-heng-pat-kwa-kiam-tin
itu ......
Si Rase Kumala mengawasi dengan tajam. Dilihatnya
kelima tojin yang berada disebelah dalam, tegak berdiri
dengan pedang di dada. Sedang ke enambelas tojin yang
memagari di luarnya, hilir mudik bergantian posisi. Isi mengisi,
tutup menutup, rapat kokoh sampaipun hujan tak dapat
menetes masuk. Sedemikian hebat perbawanya, sampaipun
pribadi jumawa seperti si Rase Kumala. menjadi terkejut juga.
„Melihat gelagatnya, kalau tak mengeluarkan kesaktian,
tentu sukar memenangkan, apalagi terbatas dalam seratus
jurus," diam-diam dia berpikir.
Merenung beberapa jenak, segera dia dapat meneropong
inti rahasia barisan itu. "Lawan diam, akupun diam. Tapi kalau
lawan hendak bergerak, aku harus mendahului bergerak."
Demikian resepnya. Si cerdas Rase Kumala itu, cepat dapat
mereka siasat. Dia hendak gunakan siasat „berjalan
menyungsang, kemudian baru menghancurkan". Kaki kiri
menekan tanah, tangan kanan mengibas dan tubuh berputar
mendorong kiam-tin.
Barisan pedang yang terdiri dari duapuluh satu tojin itu,
segera menurutkan gerakan orang. Mereka berputar-putar
menunggu serangan lawan, untuk segera membuat reaksi
balasan. Tapi ditunggu-tunggu, si Rase Kumala tak juga
menyerang.
Begitulah mereka berputar-putar sampai sekian lama tanpa
mulai serang menyerang, hanya lebih banyak mirip dengan
perang urat syaraf saja. Terlintas dalam pikiran Kat Hian Cin:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Kalau begini naga-naganya, sekalipun berputar-putar sampai


tiga hari tiga malam, tetap tiada kesudahannya. Sakti
sekalipun dia itu, namun ngo-heng-pat-kwa-tin juga bukan
barisan biasa, apalagi dia sudah sumbar-sumbar hanya
bertempur dalam seratus jurus saja. Ah, lebih baik
menyerempet bahaya sedikit. dari bertahan berganti
menyerang. Asal seratus jurus sudah lampau, masakan dia
berani menelan ludahnya!"
Secepat berpikir, secepat itu juga dia mengeluarkan
komando rahasia kepada keempat tojin, siapapun dapat
menangkap maksudnya.
Melihat itu, diam-diam si Rase Kumala bergirang hati.
Sengaya dia perlambat tindakan kaki untuk akhirnya hentikan
seluruh gerakannya.
Keempat tojin yang menerima isyarat dari Kat Hian Cin tadi,
segera merapat satu sama lain. Serempak mereka berbareng
menusuk punggung si Rase Kumala. Gerakannya amat cepat
dan jitu. Dikala mereka mengira serangannya akan berhasil, di
luar persangkaan. si Rase Kumala loncat ke muka sembari
kebutkan lengan kiri ke belakang dalam gerak to-cwan-tiang-
hong (membalik lingkarkan bianglala). Lengan bayunya yang
panjang gerombyongan itu, telah menampar batang pedang
lawan.
“Tring,” tahu-tahu keempat batang pedang itu terbang ke
udara dan melayang jatuh ke arah kawanan tojin yang
menonton di pinggir sana.
Mendapat hasil, si Rase Kumala tak mau berhenti. Tubuh
berputar, jarinya berturut-turut bekerja menutuki darah
keempat tojin .itu. Tanpa sempat menghindar lagi, keempat
tojin itu rubuh mendumprah di tanah. Kejadian itu hanya
berlangsung dalam sekejapan mata saja. Dalam kagetnya, Kat
Hian Cin menusuk punggung si Rase Kumala dalam jurus Siau-
ci-thian-lam (tertawa menunjuk Thian-lam).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk serangan dari belakang itu. si Rase Kumala sedikit


condongkan tubuh ke muka, berbareng itu dia sambar dua
orang tojin yang tertutuk rubuh di tanah tadi, terus
dilemparkan keluar gelanggang. Barisan menjadi panik dan si
Rase Kumala bergerak-gerak seperti kupu menyusup bunga.
Kedua lengan bayunya dikebut-kebutkan. Sekejap saja, disana
sini ke duapuluh tojin sama rubuh tumpang tindih.
Habis “menyelesaikan", tenang-tenang si Rase Kumala
menghampiri ke muka Kat Hian, ujarnya: „Ngo-heng-pat-kwa-
kiam-tin yang begitu disohorkan, ternyata hanya bernama
kosong, Kat Hian Cin, apa katamu sekarang?"
Kecewa dan dendam perasaan Kat Hian Cin saat itu.
Mimpipun tidak dia, bahwa ngo-heng-pat-kwa-kiam-tin yang
tiada tandingan di dunia persilatan selama ini, ternyata dapat
dipukul hancur berantakan oleh si Rase Kumala. Hanya karena
sedikit salah perhitungan saja, maka dia sampai menderita
kekalahan yang begitu menyedihkan ...........
Saking dendam dan malunya, timbul pikiran nekad dari
pemilik Siang Ceng Kiong itu untuk bunuh diri. Tapi demi
matanya tertumbuk akan kawanan tojin yang menggeletak di
tanah itu sama pucat wajahnya seperti tak bernyawa, dia
menghela napas. Pedangnya yang sedianya hendak
ditabaskan kebatang lehernya sendiri, dilemparkan. Serunya:
„Jenderal yang kalah perang, tak berani temberang
(sombong). Silahkan sicu menghukum diri pinto, hanya saja
..........
Tertawa gelak-gelak si Rase Kamala, tukasnya
„Tenteramkanlah hatimu, Kat Hian Cin. Penasaran ada
awalnya, hutang ada yang menanggungnya. Setelah
kuselesaikan rekening lama dengan Goan Goan Cu, tentu akan
kukembalikan padamu lagi duapuluh orang hidup. Tapi untuk
sekarang, biarlah mereka tenang-tenang berbaring disitu dulu.
Kalau terlalu mengurusi soal itu, dikuatirkan akan merusak
kemurahan hatiku si orang tua ini!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kawanan tojin yang menonton di sekeliling tempat itu,


sama belum bubaran. Melihat itu, alis si Rase Kumala agak
menjungkat. Tiba-tiba dia melangkah setindak ke muka,.
tangan kiri menyambar lambung kanan Kat Hian, Seperti
sesosok tubuh yang tak punya tenaga lagi, tubuh Kat Hian
dibawa loncat oleh si Rase Kumala, melayang ke arah
rombongan tojin sana.
Seperti kumbang dijolok sarangnya, maka berserabutanlah
kawanan tojin itu lari tunggang langgang keempat penjuru. Si
Rase Kumala tertawa keras, sembari kebut-kebutkan lengan
baju kian kemari. Serasa ditiup angin taufan rombongan tojin
yang tak kurang dari seratusan orang jumlahnya itu, sama
tersungkur ke tanah.
„Kalau berdiri disana tadi, mereka menjadi penghalang,
maka biarlah mereka tiduran mengasoh saja untuk menemani
kawannya yang ke duapuluh orang tadi,” kata si Rase Kumala
dengan jumawa kepada Kat Hian Cin.
Keadaan Kat Hian Cin, lebih menderita dari orang disiksa.
Melihat anak murid Siang Ceng Kiong didera orang, dia tak
dapat berbuat suatu apa, karena dirinya sendiripun berada
dalam kekuasaan orang. Dia terdiam tak dapat bicara.
„Lama sudah nama biara Siang Ceng Kiong termasyhur di
seluruh jagad, sayang kwancu belum pulang. Tapi apakah
kian-wan (penilik) suka mengantarkan aku melihat-lihat
dalamnya?" tanya si Rase Kumala dengan tertawa.
Pertanyaan sederhana yang mengandung olok tajam itu,
membuat darah Kat Hian bergolak. Dia mendongak, lalu
menyahut dengan geram, "Seorang kesatria boleh dibunuh,
tak boleh dihina. Janganlah sicu keterlaluan!"
„Kamu pihak Siang Ceng Kiong sendiri yang tak genah,
mengapa salahkan lain orang. Dengan sejujurnya aku minta
kautemani melihat-lihat, tapi kau sendiri yang cari penyakit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

.....” tukas si Rase Kumala sembari pijatkan kelima jari


kanannya.
Serangkum hawa panas mengalir ke tubuh Kat Hian dan
segera dia merasa ulu hatinya seperti digigiti ribuan semut.
Bermula masih dapat dia bertahan, tapi sejenak kemudian,
dahinya mengucurkan butir-butir keringat sebesar kedele.
Mulutnya menggereng sakit, namun sang geraham
mengancingkan gigi rapat-rapat untuk bertahan sampai mati.
Si Rase Kumala mendengus.
„Kat Hian Cin, sepatah kau berani membangkang,
seratusan kawanmu itu, akan menjadi bangkai semua!"
serunya.
Belum pernah sepanjang hidup Kat Hian mengalami dera
derita yang segetir seperti kala itu. Dirinya disiksa, kini
mendengar lagi ancaman yang mengerikan. Dia yakin, tokoh
aneh yang sakti itu selalu mengerjakan apa yang diucapkan.
„Aku ..... menurut ...... permintaanmu", akhirnya mulutnya
menggetar kata.
"Telah kuduga bahwa kau tentu tak mau membangkang,"
sahut si Rase Kumala sembari kendorkan jepitannya.
Begitulah seperti sepasang sahabat karib, keduanya masuk
ke dalam Siang Ceng Kiong untuk melihat-lihat. Adalah selagi
mereka berdua mulai keliling, di bawah kaki gunung Mosan
sana, tampak sesosok bayangan kecil pendek melesat naik ke
atas gunung. Laksana bintang meluncur, dalam sekejap saja
tibalah orang itu ke muka Siang Ceng Kiong.
Pemandangan pertama yang disuguhkan kepadanya telah
membuat sang jantung mendebar keras. Seratusan lebih anak
murid Siang Ceng Kiong berserakan tersungkur di halaman
muka dengan wajah pucat lesi. Mendongak ke atas. papan
nama ''Siang Ceng Kiong" yang tergantung di atas pintu biara,
sudah tiada tampak lagi. Dia banting-banting kaki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Shin-tok Kek, perbuatanmu serendah itu, sungguh


keliwatan sekali. Goan Goan Cu menunggu disini!" serunya
dengan lantang.
Tepat kumandang seruan itu berhenti. dari dalam biara
terdengar suara ketawa keras, menyusul dua sosok bayangan
kelabu dan kuning melesat keluar muka pintu. Sejenak
memandang, Goan Goan Cu dapatkan kedua bayangan itu
adalah seorang pelajar setengah umur yang bertubuh tinggi
kurus sedang menggandeng Kat Hian Cu, sutitnya (keponakan
murid Goan Goan Cu). Orang sekolahan itu mengulum senyum
memandang kepadanya.
Diam-diam Goan Goan Cu terkesiap, pikirnya: "Menurut
perhitungan si Rase Kumala itu sudah hampir tujuhpuluhan
umurnya, mengapa tampaknya dia masih begitu muda?
Jangan-jangan dia sudah dapat mencapai tingkat peyakinan
yang sempurna, atau ..........”
„Ah, jangan hiraukan hal itu.” Demikian dia mengambil
ketetapan, terus menegur dengan geramnya: „Adakah yang
datang ini Shin-tok Kek?"
„Ha, ha,” demikian si Rase Kumala menertawainya, lalu
menyahut: „Kau mempunyai mata tapi tak dapat melihat
gunung Thaysan. Lohu sudah lama menantimu disini!"
Mimik muka Goan Goan Cu berobah.
„Shin-tok Kek, selama ini kau dan aku tak pernah
berhubungan, ibarat air sumur tak melanggar air sungai.
Sekarang kau datang ke Siang Ceng Kiong, merusakkan papan
biara dan melukai orang, apakah maksudmu ?" bentaknya.
Dengan wajah membeku, menyahutlah si Rase Kumala:
„Masih ingatkah kau akan peristiwa Siau Hong ?"
Atas kerusakan yang diderita biara Siang Ceng Kiong, Goan
Goan Cu sudah naik darah. Kini mendengar diungkatnya
peristiwa Siau Hong, darahnya makin panas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Terhadap murid murtad, tak perlu diingat lagi. Dan lagi itu
adalah urusan intern kaum kami, orang luar tak berhak turut
campur!" sahutnya dengan tertawa dingin.
„Sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan, membabi
buta tak dapat membedakan salah dari yang benar, aturan
partai apakah itu? Benar urusan intern Siang Ceng Kiong tiada
sangkut pautnya dengan diriku, tapi bagaimanakah kau
hendak mempertanggung jawabkan kematian puteriku karena
disebabkan ‘kebijaksanaanmu’ itu!" balas si Rase Kumala
dengan tajam.
„Setiap perbuatan harus ditanggung sendiri, mengapa
ditimpahkan pada lain orang ?" Goan Goan Cu mendebat.
„Heh, heh,” tertawa si Rase Kumala dengan nada sedingin
es.
„Berdasarkan 'falsafatmu' itu, menjelang usia mendekati
liang kubur ini, lohu hendak berbuat jahat sekali lagi. Pada
hari dan detik ini, kalau tak dapat minta kembali keadilan
padamu, tiga huruf ‘Shin-tok Kek' itu, sejak ini akan kuhapus
selama-lamanya!"
Habis berkata itu, tangannya kanan yang masih menguasai
jalan darah Kat Hian, segera dilepaskan. Diiring dengan
sebuah jentikan jari, menjeritlah Kat Hian terus rubuh
tersungkur. Kasihan tojin itu. Dia menjadi korban kemarahan
bintang cemerlang dari sepuluh Datuk.
Tahu bahwa sang sutit menderita luka hebat dalam hawa
cin-gi nya, amarah Goan Goan Cu makin meluap.
„Shin-tok Kek, tidakkah kau malu berbuat seganas itu
terhadap seorang angkatan muda ?" jengeknya.
Namun si Rase Kumala tokoh yang aneh itu. tetap tak
mengacuhkan kemarahan lawan Dingin-dingin dia menyahut:
„Cara lohu menyelesaikan urusan, memang berbeda-beda
menurut terhadap siapa orangnya. Terhadap seorang yang tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kenal rasa kemanusian seperti kau ini, apa perlunya lohu pakai
aturan ini itu!"
Sungguh mata Goan Goan Cu hendak melotot keluar bahna
marahnya, namun berhadapan dengan seorang lawan yang
kuat, dia tak berani gegabah. Sekali salah urus, akan jatuhlah
namanya yang agung selama ini.
Selagi ketua Siang Ceng Kiong memutar otak mencari
siasat perlawanan, si Rase Kumala sudah menantangnya:
„Goan Goan Cu, urusan hari ini, tiada lain jalan kecuali harus
diputuskan dengan adu kepandaian, siapa kuat siapa lemah.
Kalau lohu kalah, kecuali akan menghaturkan maaf pada
dewa-dewa penunggu biaramu serta memasang kembali
papan nama Siang Ceng Kiong, pun urusan anak
perempuanku, tak kutarik panjang lagi. Dan sejak itu, aku
akan menutup diri di Tiam-jong-san, takkan menginjak di
dunia persilatan untuk selama-lamanya lagi. Tapi ...........”
Sampai disini, dia berhenti sejenak. Dengan mata berkilat-
kilat ditatapnya Goan Goan Cu, baru melanyutkan pula: „Jika
kau tak mampu menangkan lohu, apakah katamu ?"
Dirangsang oleh kemarahan, tanpa berpikir lagi
menyahutlah Goan Goan Cu: „Kalau pinto kalah, pedang akan
mengakhiri hidupku!"
„Bagus!" seru si Rase Kumala dengan jumawanya,
„Seorang yang mati di tempat tinggalnya, juga takkan
mengecewakan. Hanya saja aku si Shin-tok Kek ini, selamanya
tak mau minta kemurahan. Pertandingan kali ini, kuminta
hanya dalam tiga macam babak saja. Bagaimana caranya,
terserah padamu!"
Sejenak kesadarannya pulih, menyesal juga Goan Goan Cu.
Namun kata sudah terlanjur diucapkan, malu juga dia hendak
menariknya.
„Adu tajamnya lidah, adalah perbuatan seorang rendah.
Lama nian kemasyhuran ilmumu lwekang tay-ceng-kong-gi,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sungguhpun pinto tidak becus, namun ingin sekali menerima


pelajaranmu itu!" sahutnya dengan geram.
Si Rase Kumala mengangguk: „Tak nanti lohu mensia-
siakan harapanmu itu. Tapi entah bagaimana caranya
bertanding".
Goan Goan Cu menerangkan: „Dalam lingkaran tanah
seluas satu tombak persegi, kita berdua berdiri di dalamnya
dan bertanding ilmu lwekang. Siapa yang terlempar keluar dari
lingkaran itu, dialahyang kalah!”
Si Rase Kumala menyatakan setuju. Tanpa buang waktu
lagi, Goan Goan Cu lantas gunakan dua buah jarinya
berputaran menuding ke tanah. Batu dan pasir seluas satu
tombak di sekelilingnya, sama berserakan. Dan disitu
terdapatlah sebuah garis lingkaran sedalam tiga inci. Setelah
itu, dia mundur beberapa langkah, siap sedia menanti musuh.
Si Rase Kumala hanya tertawa dingin, lalu tenang-tenang
melangkah masuk. Kira-kira terpisah dua meter dari Goan
Goan Cu, dia berdiri tegak sembari julurkan tangan kanan ke
muka. Melihat ketenangan orang, Goan Goan Cupun tak
berani berayal. Peyakinan ilmu lwekang sam-im-sin-kang
(tenaga sakti hawa negatif) yang dipelajari berpuluh tahun,
dikerahkan di tangan kiri, lalu dijulurkan ke muka menghadapi
tangan lawan.
Sekalipun lahirnya tenang jumawa, namun dalam batin si
Rase Kumala tak berani memandang enteng pada lawan.
Bahwa orang sudah digolongkan dalam daftar sepuluh Datuk,
tentulah menguasai ilmu kepandaian yang sakti.
Bagaimanapun Goan Goan Cu juga anggauta ke sepuluh
Datuk zaman itu. Hanya saja, pribadi si Rase Kumala itu dapat
menguasai mimik pada wajahnya.
Benar thay-ceng-kong-gi merajai dunia lwekang, tapi sam-
im-sin-kang pun juga luar biasa. Apalagi kedua lwekang itu
tergolong lwekang im (gaya lemah), jadi serumpun. Memang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikala kedua hawa lwekang itu saling memancar, kedua tokoh


itu sama merasakan hawa dingin bergaya lunak, merasuk ke
dalam ulu hati.
Beberapa detik adu lwekang itu berlangsung, masing-
masing sudah sama dapat mengadakan penilaian. Goan Goan
Cu merasa, walaupun tenaga thay-ceng-kong-gi itu laksana
gunung menindih, tapi perbawanya tak sedahsyat yang
disohorkan orang. Sekalipun tak menang, kemungkinan
kalahpun tak nanti terjadi Rupanya isi hati Goan Goan Cu itu
dapat juga diteropong oleh si Rase Kumala yang tajam panca
inderanya. Dengan mengeram pelahan, dia perlipat gandakan
kekuatan thay-ceng-kong-gi nya.
Dalam suatu pertempuran antara tokoh sakti, lebih-lebih
kalau adu lwekang, terpaut sedikit saja tingkatannya. akan
sudah kentara. Demikianlah keadaan Goan Goan Cu yang
memang kalah setingkat dengan si Rase Kumala. Baru dia
memperhitungkan kekuatan lawan, tahu-tahu tenaga tekanan
si Rase Kumala menjadi lipat dua kali kerasnya. Dalam
kejutnya, buru-buru kerahkan seluruh lwekangnya untuk
mempergandakan kekuatan sam-im-sin-kangnya sampai
sepuluh kali.
Sekalipun begitu, namun sudah terlambat setindak. Tanpa
dapat ditahan lagi, tubuhnya terdorong mundur. Dia mundur
selangkah, si Rase Kumala maju setindak. Adegan satu
mundur satu maju itu berlangsung pelahan sekali. Tanah yang
bekas diinjaknya itu, meninggalkan bekas telapak kaki yang
dalam.
Pada saat itu dahi Goan Goan Cu sudah berketetesan
keringat. Ketika terdorong mundur sampai di tepi garis
lingkaran, hilanglah sudah harapannya. Dalam detik-detik
kekalahan itu, dia nekad. Dikerahkannya seluruh tenaga untuk
memberi perlawanan terakhir. Tapi sekonyong-konyong
desakan si Rase Kumala itu ditarik, lalu orangnyapun loncat
keluar lingkaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Merah padam selebar muka ketua Siang Ceng Kiong itu.


Mau tak mau dia harus mengakui kekalahannya. Belum
sempat dia membuka mulut, si Rase Kumala sudah
mendahului: „Batas waktu pertandingan tadi sudah tiba. Oleh
karena kedua pihak belum terdorong keluar garis, jadi
pertandingan ini boleh dianggap seri. Nah, katakanlah cara
pertandingan yang kedua!”
Lapang dan gamblang kata-kata itu diucapkan, namun bagi
telinga Goan Goan Cu dirasakan seperti sebilah pisau yang
menyayat-nyayat hati. Memandang ke arah lawan, berkatalah
dia dengan geramnya: „Pinto mengaku kalah, usah kau
berlaku ramah. Acara yang kedua tetap dijiwai dengan mati
hidupnya biara Siang Ceng Kiong. Lama sudah dunia
persilatan mengagungkan permainan, seratusdelapan jurus
dari senjata ji-i-san-chiu itu amat gaibnya. Ingin pinto dengan
sebilah pedang, menerima lagi pelajaran!”
Melihat kejujuran lawan mengakui kekalahan, terbit rasa
kagum pada si Rase Kumala. Diam-diam dia menghargai sifat
kesatria lawan.
„Sifat kesatria totiang itu, pantas dikagumi. Ilmu pedang
totiang cap-sa-kiam itu, mengguntur di angkasa persilatan.
Shin-tok Kek akan mengiringkan kehendak totiang,” ujarnya,
lalu mundur tiga langkah. Dari bajunya, dia merogoh keluar
sebuah senjata aneh bentuknya. Benda itu berkilat-kilat
kebiru-biruan cahanya. Itulah senjata ji-i (menurut kehendak
orang) yang terbuat dari cui-giok (kumala biru).
Melihat orang sudah mengeluarkan senjata cui-giok-ji-i
yang berpuluh tahun tak pernah digunakan. Goan Goan Cu
pun segera menyiapkan sebatang pedang di tangan kiri.
Tubuh tegak lurus, pedang siap di dada, diimbangi dengan
gerakan tangan kanan. Sikapnya amat perkasa.
Ilmu pedang adalah rajanya ilmu senjata, lebih-lebih kalau
permainan itu dilakukan dengan tangan kiri. Sukarlah orang
menduga gerak perobahannya. Demikian Goan Goan Cu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan ilmu pedangnya ki-bun-cap-sa-kiam (tigabelas pedang


sakot) yang menggetarkan dunia persilatan itu. Namun
sedikitpun si Rase Kumala tak gentar.
Ilmu permainannya senjata ji-i-san-chiu yang terdiri dari
seratusdelapan jurus itu, adalah mencangkum semua inti sari
dari berbagai jenis permainan ilmu senjata. Kebagusan dari
pelbagai ilmu senjata itu dilebur menjadi satu kreasi (ciptaan)
ilmu ji-i-san-chiu. Jadi dapat dibayangkan betapa
kesaktiannya. Disamping itu senjata ji-i-san-chiu terbuat dari
mustika kumala kuno. Sebuah senjata pusaka yang tak
terkutungkan dengan senjata apapun juga.
Kalau Goan Goan Cu tersirap kaget dengan lawan yang
mengeluarkan senjata ampuh itu, adalah si Rase Kumala juga
tak kurang kejutnya. Dalam keadaan segenting itu, kedua
tokoh dari sepuluh Datuk itu, sama tak berani meninggalkan
kewaspadaannya. Goan Goan Cu sangat prihatin, si Rase
Kumalapun tak lagi bersikap jumawa.
Setelah masing-masing mempersilahkan lawan, keduanya
sama bergerak putaran sejenak. Pada lain saat, mulailah
pertandingan di dunia. Diiringkan keseimbangan gerakan
tangan kanan, pedang di tangan kiri Goan Goan Cu menusuk
dada lawan dengan jurus Siau-cin-thing-lam. Begitu ujung
pedang hampir mengenai, harus lah si Rase Kumala miringkan
tubuh sedikit, senjata diputar dalam jurus kiau-hi-liom-hoan
untuk balas menutuk jalan darah di-bun-hiat di tetek lawan.
Gebrak pertama yang dilakukan oleh dua orang datuk
persilatan itu, perbawanya menerbitkan desus angin yang
santer laksana naga bertempur dengan harimau. Sinar putih
dari pedang deras bagai hujan mencurah, sinar hijau dari
senjata cui-giok-ji-i memagut-magut bianglala mengarungi
angkasa. Setiap jurus dan gerak, adalah ilmu sakti yang jarang
tertampak dalam dunia persilatan.
Goan Goan Cu gunakan ilmu pedang hoan-ki-bun-kiam-
hwat yang seumur hidup belum pemah dikeluarkan dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pertempuran. Hoan-ki-bun-kiam-hwat atau ilmu pedang


sungsang balik, setingkat lebih dahsyat dari ilmu pedang
biasa. Dikata sungsang balik, karena arah serangannya,
berlawanan dengan serangan ilmu pedang biasa. Lain dari itu,
seluruh tenaga lwekang dicurahkan ke batang pedang, jadi
setiap jurus serangannya tentu menderu-deru laksana
halilintar menyambar.
Bagaimana dengan si Rase Kumala? Si Rase dengan senjata
kumalanya itu tak kurang hebatnya. Dalam sambaran pedang
yang deras, dia berlincahan menghindar, menangkis,
menutuk, membabat, mengait, menyodok, memapas, delapan
inti sari ilmu cui-giok-ji-i. Senjata kumala yang berkeredipan
laksana kunang-kunang di malam hari itu, bertebaran dengan
gerakan yang serba aneh.
Begitulah dalam sekejap saja, pertempuran telah berjalan
lebih dari duaratus jurus. Sesaat Goan Goan Cu lancarkan tiga
buah serangan berantai, liong-siang-hong-bu (naga melayang
burung hong menari), to-kwa-thian-sin (menggantung terbalik
malaekat langit) dan ban-hwat-kui-cong atau selaksa ilmu
kembali pada pusatnya. Udara penuh dengan suara deru
halilintar menyambar, ribuan sinar pedang berhamburan ke
bawah.
Si Rase Kumala mendongak bersuit nyaring, lalu
sekonyong-konyong melambung ke udara. Laksana biangkala
melayang ke angkasa, dia terbang menyusup ke dalam hujan
sinar pedang. “Tring, tring, tring....” berbareng dengan
buyarnya hujan sinar berhamburan keempat penjuru, dua
sosok bayangan loncat keluar dari gelanggang. Apa yang
terjadi?
Kedua bayangan itu adalah si Rase Kumala dan Goan Goan
Cu yang sama loncat keluar. Ketika memeriksa pedangnya,
Goan Goan Cu dapatkan senjatanya itu ujungnya gempil dan
kutung beberapa centi. Kala itu hampir menjelang jam 4 pagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rembulan sudah condong kebarat. Di bawah cahaya bulan


remang itu, tampak wajah Goan Goan Cu pucat seperti kertas.
Pedang kutung dibuangnya dan berserulah ketua Siang
Ceng Kiong itu dengan geram: „Ilmu ji-i-san-chiu, nyata tak
bernama kosong. Dua kali pinto menderita kekalahan, tak ada
lain kata lagi kecuali hendak menurutkan janji membunuh
diri!"
Si Rase Kumala adalah seorang tokoh yang jumawa berhati
dingin. Hanya ada satu hal yang dia paling indahkan, yakni
kepribadian. Melihat Goan Goan Cu seorang tokoh yang
berkepribadian kesatria, dia menaruh perindahan juga. Tiada
lagi dia bersikap jumawa, dengan bersungguh-sungguh
berkatalah dia: „Shin-tok Kek menaruh respek (perindahan)
besar atas sikap totiang. Semua dendam penasaran berakhir
sampai disini saja dan aku hendak minta diri!"
Ucapan itu ditutup dengan sebuah bungkukan menghormat
kepada Goan Goan Cu. Namun ketua Siang Ceng Kiong itu
tidak balas menghormat. Wajahnya menampil senyum getir.
Memandang sejenak ke arah kawanan tojin yang
menggeletak di muka halaman Siang Ceng Kiong, sekonyong-
konyong dia angkat tangannya menghantam ke atas batok
kepalanya sendiri ..........
---ooo0dw0ooo---
5. Banteng Lawan Harimau
Tepat pada saat tinju Goan Goan Cu melayang ke batok
kepalanya, sekonyong-konyong dari udara terdengar sebuah
doa keagamaan melengking nyaring. Menyusul, serangkum
angin lembut yang berbau harum, meniup lemah ke bahunya.
Tangan yang akan membawa maut tadipun terpental.
Dalam kejutnya, Goan Goan Cu membuka mata dan
dapatkan seorang paderi tua bertubuh tinggi besar berdiri
dihadapannya. Wajah berseri paderi itu mengulum senyum,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebuah senyum yang membuat Goan Goan Cu sesal kemalu-


maluan.
Melihat kepala Siang Ceng Kiong menundukkan kepala
kemalu-maluan, berserulah hwesio tua itu dengan nada
ramah. „Urusan toheng, telah kuketahui semua. Untuk
sahabat lama, aku bersedia mengulurkan bantuan."
Dan belum lagi Goan Goan Cu menyahut, paderi tua itu
sudah berputar tubuh menghadapi si Rase Kumala. Sambil
memberi hormat berkatalah dia: „Loni Bing King ........”
„Taysu adalah seorang saleh sakti yang termasyhur.
Kedatangan taysu secara tiba-tiba kemari ini, bukankah
karena hendak memberi pengajaran pada Shin-tok Kek?"
Paderi tua yang bukan lain memang Bing King Siangjin, itu
tokoh nomor satu dalam sepuluh Datuk, tersenyum menyahut.
„Kedatangan loni kemari ini hanya secara kebetulan saja
karena hendak menyambangi seorang sahabat lama. Tapi
urusan Shin-tok sicu dengan Goan Goan toheng itu, telah loni
ketahui. Sungguhpun cara Goan Goan toheng menghukum
muridnya Siau Hong itu terlampau keras, namun layak
tidaknya anak itu menerima hukuman begitu serta benar
tidaknya dia dicelakai orang, pada waktu ini masih belum
ketahuan jelas. Oleh sebab itu, apa yang sicu lakukan malam
ini, turut keadilan yang jujur, juga tak terluput dari kurang
pertimbangan yang mendalam."
Tertawalah si Rase Kumala nyaring-nyaring, bantahnya:
„Shin-tok Kek amat mengagumi ketajaman lidah tay-hweshio.
Hanya apakah kematian puteriku itu juga cukup sampai disini
saja?"
Hweshio tua yang telah mencapai kesempurnaan ajaran
agama itu, tak tersinggung dengan ucapan si Rase Kumala
yang sinis itu. Dengan wajah tetap berseri ramah, dia
kembalikan bantahan: „Membalas dendam, tetap menggelora
dalam dada manusia sepanjang masa. Kematian leng-ay
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

(anakmu perempuan), disebabkan musabab lain. Mengapa


sicu tak mencarinya kesitu? Setelah sebab musababnya
diketemukan, barulah dapat dijatuhkan putusan mana yang
salah dan benar. Entah bagaimana pendapat sicu?”
Si Rase Kumala tertawa.
„Peribahasa mengatakan: 'obat takkan mematikan
penyakit, mengabdi agama itu memang ada jodohnya’.
Sayang Shin-tok Kek tak berjodoh dengan Buddha, jadi
betapapun taysu cape-cape putar lidah, sukar untuk
menyadarkan pikiran yang sudah kalut. Dalam melakukan
sepak terjang, Shin-tok Kek mengutamakan leganya sang hati.
Oleh karena itu dalam soal jiwa siao-li, Shin-tok Kek baru akan
merasa puas kalau sudah mendapat ganti jiwa orang yang
tersangkut. Ah, lama nian toa-hwesio memiliki ilmu kesaktian
kalangan sian-bun (agama). Bahwasanya dengan berkunjung
kemari mencampuri urusan ini, tentulah toa-hweshio
mempunyai maksud tertentu. Tambahan pula, berita tentang
bertemunya tiga orang datuk di gunung Mosan sini, tentu
akan menjadi buah tutur yang menggemparkan di kalangan
persilatan. Dipercaya toa-hweshio tentu tak mau pelit memberi
pelajaran!"
Melihat wajah orang membengis murka, mau tak mau
mengerut juga alis hweshio besar itu, ujarnya: „Sesuai dengan
ajaran kasih sayang dari agama kami, loni selalu
menggunakan jalan damai dalam setiap persengketaan. Cara
kekerasan, pantang ditempuh oleh kaum agama. Namun
karena urusan malam ini rasanya tak mungkin diselesaikan
dengan kata-kata saja, maka loni ikhlas serahkan tubuh loni
untuk menerima sebuah hantaman dari sicu. Semoga hal itu
dapat menjadi cara penyelesaiannya. Apabila loni sampai
rubuh atau terluka dengan pukulan sicu itu, silahkan sicu
sekehendak hati menyelesaikan urusan malam ini, loni takkan
ikut-ikutan. Namun apabila Hud memberkahi loni, harap, sicu
suka tangguhkan urusan ini sampai lain kali apabila sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketahuan terang siapa yang bersalah. Entah apakah sicu dapat


menerima usul loni ini?"
Mendengar itu pecahlah gelak tawa si Rase Kumala.
„Sungguh malam yang berbahagia dapat berjumpa dengan
seorang kojin (sakti). Prinsip kasih sayang yang toa-hweshio
pegang teguh itu, betul-betul Shin-tok Kek amat menjunjung
tinggi dan tak berani membantah. Silahkan toa-hweshio
segera bersedia, agar Shin-tok Kek dapat menunaikan 'jodoh
sebuah pukulan' itu."
Habis berkata, serentak dia menyimpan senjata cui-giok-ji-i
ke dalam lengan baju, kemudian melangkah maju dan berdiri
dengan jumawanya. Sebenarnya Goan Goan Cu sudah hendak
mencegah Bing King Siangjin, namun urusan sudah sampai
sedemikian rupa, dia tak berdaya lagi dan terpaksa diam.
Benar dia mendengar bahwa ilmu Bing King Siangjin telah
mencapai tingkat kesempumaan "Kim-kong-put-huay"
(malaekat yang tak rusak atau kebal), namun si Rase Kumala
adalah bintang cemerlang dari sepuluh Datuk. Betapa dahsyat
pukulannya, dapat dikira-kirakan sendiri. Kalau sampai terjadi
sesuatu, bukankah dia (Goan Goan Cu) seperti mencelakai
sahabatnya itu?
Dengan kekuatiran itu, dia melangkah maju, maksudnya
hendak melerai. Tapi dikala sang kaki baru diayun, Bing King
sudah mencegahnya.
„Harap toheng jangan kuatir. Kalau loni benar-benar tak
dapat bertahan, kiranya tak terlambat apabila pada saat itu
toheng menghabisi jiwa!"
Mundur teraturlah Goan Goan Cu. Tapi demi mengawasi ke
arah si Rase Kumala, dia menjadi terkesiap. Wajah si Rase
Kumala itu menampilkan hawa pembunuhan yang bernyala-
nyala, ubun-ubun kepalanya mengeluarkan asap. Diam-diam
kepala Siang Ceng Kiong itu kucurkan keringat dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebaliknya, Bing King Siangjin tetap tenang. Seperti tak


merasa apa-apa dia tampil ke muka dan berdiri kira-kira
setombak jauhnya dari si Rase Kumala. Kemudian dia
mempersilahkan orang segera melancarkan pukulan.
Si Rase Kumala tertawa tawar sambil diam-diam
memusatkan sembilan bagian dari lwekang tay-ceng-kong-gi
ke tangan kanan.
„Toa-hweshio, bersiaplah!"
Maju setengah langkah, lengan kanan dilempangkan lurus
ke muka dan sekali telapak tangan digerakkan, dia mendorong
ke arah dada Bing King. Angin menderu, baju berkibar-kibar.
Sepasang alis Bing King mengerut, matanya menunduk ke
bawah. Tubuhnya yang tinggi besar itu, berayun-ayun
menuruntukan deru angin pukulan. Bumi yang dipijaknya,
pelahan demi pelahan turut ambles. Sebuah adegan yang
ngeri penuh maut.
Demikian kira-kira sepeminum teh lamanya, tiba-tiba si
Rase Kumala tarik pulang tangannya. Sorot matanya
memancarkan sinar kekaguman yang tak terhingga. Ditiup
desir angin malam, baju Bing King sekonyong-konyong
menghamburkan debu, beterbaran keempat penjuru. Di
bawah leher bayunya, sama rowak berkeping-keping seperti
dicakar dengan lima buah jari.
Kala itu, Bing King mulai membuka mata. Dengan agak
terengah, dia berkata: „Syukur hud-cou memberi berkah dan
terkabullah penyelesaian dengan sebuah pukulan."
Tiba-tiba si Rase Kumala tertawa nyaring, serunya: „Toa-
hweshio benar-benar sakti, Shin-tok Kek kagum tak terhingga.
Dengan ini selesailah persoalan malam ini, selanjutnya
perkembangan lain harilah yang akan memutuskan. Sekalian
tojin itu, hanya tertutuk jalan darah hun-hiatnya, rasanya
dengan ilmu Hud-hwat toa-hweshio yang tiada terbatas itu,
tentu aku dapat mengembalikan mereka. Hanya dikarenakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka sudah cukup lama tertutup jalan darahnya, jadi


perlulah dirawat seperlunya. Disini tersedia pil ceng-leng-wan,
cukup diaduk dengan air bersih dan diminumkan, tentulah
akan jadi baik."
Habis berkata, diambilnya sebuah botol kumala lalu
ditaruhkan di atas tanah. Begitu bersuit panjang, dua orang
anak muncul dengan menggotong sebuah tandu. Secepat si
Rase Kumala loncat ke dalam, kedua anak itu segera
memanggulnya turun gunung .........
Menutur sampai disini, pak tua berhenti. Dia mendongak ke
atas, seolah-olah seperti mengenangkan kejadian pada masa
yang lampau. Pemuda tanggung yang tengah asyik
mendengarkan itu, sudah tentu tak mau tahu.
„Yah, bukankah Siau-sat-sin Li Hun-liong putera dari Pak-
thian-san Song-sat pernah mngatakan, tak mau hidup
bersama-sama dengan Siau Hong? Dari ucapan itu, terang
yang menulis surat kaleng itu tentulah dia. Apakah begitu
mudah saja si Rase Kumala melepaskan dia?” tanyanya.
Pak tua merenung sejenak. Kemudian menatap wajah si
anak, dia kedengaran menghela napas, ujarnya: „Dulu ketika
ayah mendengar cerita itu, juga mengajukan pertanyaan
serupa dengan kau ini. Tapi perkembangan kisahnya, ternyata
di luar dugaan orang! Turut kata orang yang membawakan
cerita ini padaku, sepergi dari gunung Mosan, si Rase Kumala
terus langsung menuju ke gunung Pak-thian-san untuk
mencari Song-sat. Ternyata disana Song-sat menyambutnya
dengan tenang dan berterus terang. Dia amat menghormat
sekali kepada si Rase Kumala, kemudian menyuruh puteranya
(Li Hun-liong) keluar mengadakan testing tulisan. Setelah
dipadu, ternyata tulisannya itu tak sama dengan tulisan dalam
surat kaleng itu.
Hal itu telah membuat si Rase Kumala yang cerdik jumawa,
bungkam dalam seribu bahasa. Walaupun biasanya dia suka
membawa kemauan sendiri tak menghiraukan segala alasan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang, namun dalam keadaan seperti itu, tak dapat lagi dia
berkeras kepala menuduh secara membabi buta. Datang
dengan kemarahan menyala-nyala, terpaksa si Rase Kumala
kembali dengan semangat padam lesu. Sejak itu, walaupun
sudah berpuluh tahun lamanya dia tak henti-hentinya
melakukan penyelidikan, namun hingga kini tetap belum
berhasil. Berpuluh tahun lamanya, peristiwa itu tetap
terbungkus kabut ......”
„Yah, siapa si curang yang telah mencelakai dan menulis
surat kaleng itu? Apakah Siau Hong sungguh dicelakai orang
sehingga tak sadar melakukan perbuatan itu?” tanya Ih-ji.
Dihujani pertanyaan, pak tua hanya ganda tertawa,
sahutnya: „Anak tolol, itulah pertanyaan-pertanyaan yang
tetap menjadl rahasia sampai sekarang. Kalau dulu-dulu sudah
terpecahkan, tentu urusan akan sudah selesai!"
Muka si bocah tampak kesal, ujarnya: „Yah, dalam
peristiwa itu, turut penglihatan Ih-ji, kesemua-semuanya
terletak pada Goan Goan Cu yang memberi hukuman menurut
kemauannya sendiri. Seharusnya dia menyelidiki sampai
terang, baru menjalankan keputusan, dengan begitu tentulah
tak sampai terjadi onar besar, yang paling kasihan adalah
Shin-tok Lan, hem ...... kalau aku menjadi si Rase Kumala,
bukan hanya meminta ganti jiwa Goan Goan Cu pun
menjadikan biara Ceng Kiong Kiong sebuah karang arang!"
Menampak bagaimana si Ih-ji dengan wajah murka dan
nada dendam mengucapkan kata-katanya itu, kejut si pak tua
tak terkira. Serentak dicekalnya tangan si bocah itu.
„Betapapun kurang bijaksananya tindakan Goan Goan Cu,
namun tak seharusnya kau berpikir demikian, bagaimanapun
juga dia adalah kau ......”
Baru mengucap sampai disini, seperti terkena stroom listrik,
buru-buru si pak tua berhenti. Dia merasa sudah kelepasan
omong. Namun Ih-ji yang cerdik itu sudah dapat mencium
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bau. Loncat dari pelukan sang ayah, dia tegak berdiri


menggagah (memandang dengan bernyala-nyala) ke arah pak
tua, serunya: „Yah, kaukatakan Goan Goan Cu itu apaku?!"
Pak tua menghela napas panjang.
„Apakah yang seharusnya tak boleh dikatakan, terpaksa
kukata kan juga ........" gerutunya.
Bahwa berlainan jawab dengan apa yang ditanyakan, Ih-ji
segera menggoyang-goyang kedua bahu sang ayah, seraya
merengek: „Yah, bilanglah, apa hubunganku dengan Goan
Goan Cu itu?"
Sekonyong-konyong sepasang biji mata pak tua membeliak
dan dengan nada berat berkatalah dia: „Dia ....... adalah
sucoumu (kakek guru)!”
Ih-ji menyambut kata-kata ayahnya itu dengan sebuah
teriakan kaget. Setelah termenung sampai sekian saat,
akhirnya dengan nada gentar, dia berkata: „Yah, kalau begitu,
Ih-ji ini adalah Siau .......”
Belum Ih-ji menyelesaikan kata-katanya, pak tua sudah
merangkulnya kedalarn pelukan, katanya dengan rawan:
„Benar, kau adalah putera dari Siau Hong. Ayahmu ini adalah
orang yang mengemban titipan seorang sahabat tapi ternyata
tak dapat menyelesaikan tugas itu, yakni si Dewa Tertawa
......”
Bayangan peristiwa yang lampau, menyebabkan dia tak
dapat meneruskan kata-katanya. Alam pegunungan yang
bermandikan cahaya gemilang dari sang surya, terasa diliputi
oleh suasana haru duka. Tokoh terkemuka dunia persilatan
pada zaman itu, tampak membelai-belai rambut Ih-ji dengan
sebentar-sebentar menghela napas panjang pendek. Muka si
anak yang tertelungkup dalam pelukannya itu, diangkatnya
pelahan-lahan, lalu dengan kasih sayangnya diusapinya air
mata yang menggenangi muka anak itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Sebenarnya setelah kau dewasa, baru ayah akan


menuturkan hal itu padamu, tapi ah, apa mau dikata .........”
Tapi Ih-ji segera menukasnya: „Yah, tapi begitu ada lebih
baik. Dengan mengetahui kalau mempunyai tugas besar
membalas dendam orang tua, Ih-ji tentu lebih giat belajar. Ih-
ji bersumpah akan menuntut balas dan mencuci bersih noda
cemar ayah bunda itu. Musuh besar almarhum ayah bunda itu
akan kucingcang menjadi frikadel, agar arwah ayah bunda
dapat mengasoh dengan tenteram di alam baka!"
Jalan sang waktu seperti anak panah terlepas dari
busurnya. Musim ganti berganti menunaikan tugasnya di
bumi. Tak terasa tiga tahun telah lalu. Jejaka tanggung kini
sudah berusia enambelas tahun. Dalam sesingkat waktu itu,
dia seperti didorong oleh suatu kemauan keras untuk belajar
giat. Maka tak heranlah, dalam segala hal baik ilmu silat
maupun surat, dia telah mencapai prestasi yang gilang
gemilang.
Seorang anak yang naik dewasa, bukan melainkan
pertumbuhan tubuhnya saja yang pesat, pun orangnya akan
menjadi lebih cakap dan ganteng. Sifat kekanak-kanakan yang
suka ceriwis itupun hanyut ditelan alam kedewasaannya. Dia
lebih tenang dan anteng. Selama belasan tahun berkumpul
dengan tokoh Dewa Tertawa itu, kecuali dengan ayah-
angkatnya itu, jarang benar dia bersuara. Dia seolah-olah
dikejar waktu.
Sepanjang hari hanya berlatih keras dan sepanjang malam
hanya mencita-citakan menuntut balas. Walaupun ada kalanya
senggang (tak berlatih), namun dia tak mau nganggur. Ya,
hanya belajar dan berlatih terus!
Kesemuanya itu tak terlepas dari tinjauan si Dewa Tertawa.
Diam-diam tokoh-tokoh itu makin sayang akan anak-
angkatnya yang berbakat bagus dan berhati keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ibarat burung bagus hinggap di dahan bagus, begitulah


seorang tunas yang berbakat bagus telah mendapat
bimbingan dari seorang tokoh yang lihay. Dalam waktu tiga
tahun saja, Ih-ji telah menjadi seorang pemuda yang tinggi
ilmu silatnya baik dalam hal gwakang (tenaga luar) maupun
lwekang (tenaga dalam).
Pada suatu sore, si Dewa Tertawa memanggil Ih-ji.
„Dalam tiga tahun terakhir ini, kau telah mencapai
kemajuan pesat. Seluruh kepandaian ayah, telah kuturunkan
semua padamu. Kekurangan satu-satunya padamu, hanyalah
berlatih terus sampai sempurna. Asal mau berlatih giat, tentu
akan berhasil. Sekalipun demikian, tingkat kepandaian yang
kaumiliki sekarang ini, tiada sembarang ko-khiu (tokoh kelas
berat) dalam dunia persilatan dapat menandingi kau.
Kini kau sudah berusia enambelas tahun. Sudah tiba
waktunya kau turun ke dunia persilatan, mencari pengalaman
disamping mengembangkan pelajaranmu. Kalau terus-terusan
ikut pada ayah, sekalipun sepuluh tahun lagi, kau akan tetap
menjadi seorang anak kecil. Oleh karena itu, walaupun dengan
berat hati, namun terpaksa ayah hendak menyuruhmu turun
gunung besok pagi. Juga ayah sendiripun akan menuju ke
daerah Lamkiang untuk menyelesaikan suatu urusan lama.
Setahun kemudian, kau harus kembali lagi ke gunung Hoan-
ke-san sini, pada waktu itu ayah tentu sudah menunggu disini.
Dalam setahun ini, kau bebas bergerak kemana saja, pesiar
menikmati pemandangan di berbagai daerah, sekalian mencari
jejak musuhmu.
Tapi ingatlah senantiasa! Jangan agulkan karena sudah
memiliki kepandaian tinggi, karena dunia persilatan itu sebuah
gelanggang yang penuh bahaya. Gunakanlah kecerdasan otak
dan kesaktian ilmu untuk menghadapi segala sesuatu!"
Sewaktu si Dewa Tertawa mengakhiri pesannya, Ih-ji
tampak termangu-mangu. Benar menuntut balas senantiasa
menjadi idam-idamannya, tapi serambutpun dia tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyangka bahwa waktunya bakal datang secara begitu


singkat. Juga untuk berpisah dengan ayah angkatnya yang
telah mengasuhnya selama belasan tahun itu, terasa amat
berat dalam hatinya. Tanpa dikuasai lagi, air matanya
bercucuran membasahi kedua belah pipinya. Terkejut, girang
atau sedihkah dia? Entah tak tahu dia merasakannya.
Demikian perasaan Ih-ji, demikian perasaan Siau-sian-ong.
Jago tua itupun seperti disayat-sayat hatinya. Namun
mengingat bahwa harapan selama belasan tahun itu sudah
terlaksana, hatinya terhibur juga.
Dengan sedih-sedih girang, diusapinya air mata Ih-ji, lalu
dengan sikap amat menyayang dielus-elusnya bahu pemuda
itu.
„Hari sudah malam, karena besok kau akan berangkat, baik
lekas beristirahat sana!"
Begitulah malam itu tak terjadi suatu apa dan pada
keesokan harinya, si Dewa Tertawa memanggil anak
angkatnya.
„Ayah tak mempunyai suatu barang berharga sebagai
bingkisan perjalananmu, kecuali beberapa patah kata ini:
„Hati tak boleh melamun kosong, tubuh tak boleh
sembarangan bergerak, mulut tak boleh semau-maunya
bicara. Ini artinya cermin dari kesungguhan hati yang bersih.
Ke dalam tak menipu diri sendiri, keluar tak menghina orang,
ke atas tak menyalahi Tuhan, ini namanya dapat bertindak
secara hati-hati dan bijaksana.
Harap camkan baik-baik!”.
Habis memberi pesan itu, diambilnya sebuah bungkusan
kecil dan sebilah pedang, katanya pula: „Dalam bungkusan ini
terdapat seratus tail mas, berpuluh tail perak hancur dan
beberapa potong pakaian yang baru yang khusus kubuat
untukmu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berkata sampai disini, mendadak wajah si Dewa Tertawa


berobah keren. Memandang ke arah pedang yang dicekal
dalam tangannya itu, dia berkata dengan nada berat: „Pedang
ini bernama Thian-coat-kiam. Benar bukan rajanya sekalian
pedang, namun dapat juga mengutungkan tebaran rambut
dan memapas segala logam. Dia pernah mengikut aku selama
berpuluh-puluh tahun, menjelajah negeri menyelam laut.
Entah sudah berapa banyak kepala bangsa durjana yang
kutung, entah berapa banyak darah orang jahat yang
diminumnya. Saat ini ayah, hendak serahkan pedang itu
padamu, dengan harapan agar kau dapat menyintai dan
menggunakannya seperti dahulu ayah memperlakukannya.
Ingat, sejak dahulu kala hingga sekarang, pusaka itu
mempunyai khasiat gawat. Barang siapa yang menjalankan
dharma kebajikan, dia tentu kuat memiliki. Tapi bagi siapa
yang memiliki pusaka dan berbuat jahat, dia tentu menerima
kutukan kemusnahan. Sekali lagi kuharap kau suka mengukir
baik-baik dalam hatimu, kalau tidak ayahpun berdaya untuk
melindungimu
Sewaktu mengucapkan dua patah kata-kata yang terakhir.
wajah si Dewa Tertawa mengerut keren. Ih-ji bercekat dan
dengan hormatnya dia tersipu-sipu menyambutinya. Ketika
menjentik dengan jari, pedang itu berdering nyaring laksana
aum seekor naga. Panjang pedang itu hanya tak sampai satu
meter, bentuknya seperti ekor burung seriti.
Begitu Ih-ji melolosnya, serangkum cahaya berkilauan yang
dingin segera memancar. Pedang dilintangkan ke muka dada,
kemudian berlutut ke tanah dia mengucapkan sebuah
sumpah:
„Kalau Ih-ji sampai menyeleweng dari petuah ajaran ayah,
biarlah Tuhan memusnahkan diriku!"
Kerut wajah si Dewa Tertawa pulih tenang, lalu tersenyum:
"Bagus, bangunlah, ayah masih ada pesan lagi!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ih-ji menurut perintah. Dari dalam baju, si Dewa Tertawa


merogoh keluar sepucuk sampul dan sebuah mainan kumala.
„Begitu turun gunung, kau, harus segera menyambangi
kuburan ayah bundamu. Bundamu dimakamkan di selat Liu-
hun-hiap gunung Tiam-jong-san, sementara jenazah ayahmu
yang kala itu teruruk runtuhan puing, konon kabarnya
dipindah Goan Goan Cu untuk di kubur di belakang biara Siang
Ceng Kiong. Entah benar entah tidak. Lebih dahulu kau boleh
menuju ke Mosan, tapi ingat, jangan sekali-kali bentrok
dengan para tojin Siang Ceng Kiong, lebih-lebih terhadap
Goan Goan Cu tak boleh mendendam rasa permusuhan.
Percayalah, bahwa meskipun dia keras adatnya, tapi tak nanti
mencelakai anak-anak angkatan muda.
Jangan tinggal lama-lama di Mosan, begitu sudah
menyambangi kuburan ayahmu, harus lekas pergi ke Tiam-
jong-san untuk menghadap gwakong-mu (kakek), disitu
sekalian menyambangi makam ibumu. Gwakongmu itu aneh
wataknya, tak dapat kubayangkan bagaimana sikapnya
apabila bertemu denganmu nanti. Tapi ingatlah, apapun
pelayanan yang kau terima, harus tetap menghormatinya
jangan sekali-kali unjuk kekurang-ajaran. Sampul surat ini,
boleh kau terimakan pada gwakongmu. Dan mustika kumala
ini adalah milik almarhum ayahmu yang diberikan pada ibumu
selaku panjar kawin. Ini dapat dijadikan barang bukti. Nah,
sekian pesan ayah dan sekali lagi harap kau selalu berhati-hati
dalam perjalanan!"
Bicara sampai disini, hidung si Dewa Tertawa tampak
berkembang kempis karena menahan air mata. Demikianpun
Ih-ji Suatu perpisahan yang dirasakan amat berat sekali.
Dengan menahan kucuran air mata, sampul dan mustika
kumala disambuti dan dimasukkan ke dalam dada bayunya,
kemudian menyanggulkan bungkusan dan pedang di belakang
bahunya. Sejenak menyapukan matanya ke sekeliling gubuk
kayu yang menjadi tempat tinggalnya selama belasan tahun,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia terlongong seperti berat meninggalkan. Akhirnya setelah


puas merenung, barulah dia bersama sang ayah angkat turun
gunung.
Tiba dimulut gunung, kembali si Dewa Tertawa memberi
nasehat panjang lebar, bagaimana seharusnya membawa diri
dalam masyarakat dunia persilatan yang penuh golak bahaya
itu. Menjelang tengah hari, barulah kedua sama berpisah
dengan berat hati.
---ooo0dw0ooo-
6. Oh, Ayah ......
Pada zaman ahala Han, adalah seorang bernama Mo Ing
dan kedua adiknya Mo Ko dan Mo Ay, bertapa di gunung
Mosan dan berhasil mencapai kesempurnaan menjadi sian
(dewa). Demikian cerita orang-orang tua dari zaman ke
zaman. Untuk mengabadikan peristiwa itu, maka sampai
sekarang gunung itu dinamakan Mosan. Goa tempat bertapa
ketiga saudara itu, sampai kinipun masih ada, disebut goa
keramat Hoa-yang-tong.
Gunung Mosan terletak di sebelah tenggara kabupaten Ki-
yong-hian propinsi Kiangsu. Alam pemandangan disitu amat
indah dan tenang. Disana sini terdapat biara-biara suci.
Diantaranya yang terbesar ialah biara Siang Ceng Kiong. Biara
yang dibangun dengan membelakangi gunung itu, amat besar
dan megah sekali.
Kalau itu adalah permulaan musim rontok. Baru saja sang
surya mengintip di ufuk timur, sinamya keemasan segera
menembus kabut yang membungkus alam pegunungan itu.
Laksana sang dewi baru terjaga dari peraduannya (tidur),
alam pemandangan gunung Mosan makin tampak indah
dengan permainya.
Adalah baru saja biara Siang Ceng Kiong selesai dengan
pelajaran pagi, tiba-tiba di muka biara muncul seorang
pemuda cakap berusia diantara 16-17 tahun. Walaupun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pakaiannya warna biru itu terbuat dari kain kasar, namun


kesederhanaan itu tak mengurangkan perbawa pemuda itu.
Dia menjinjing sebuah bungkusan kecil dan berjalan mondar
mandir di muka biara itu. Sejenak tertegun merenung, sejenak
memandang ke biara dengan sangsi-sangsi dan sejenak
mondar mandir seperti orang mencari pikiran. Beberapa saat
kemudian. akhirnya dia seperti sudah mengambil ketetapan
lalu melangkah masuk ke dalam pintu.
Baru saja kakinya melangkah di pintu, seorang tojin
pertengahan umur sudah muncul menyongsongnya.
„Bu-liang-siu-hud, sicu dari mana?” tegurnya memberi
salam keagamaan.
Pemuda itu cepat memberi hormat seraya menyahut:
„Cayhe sedang pesiar ke gunung sini, karena mendengar
kemasyhuran kui-kwan (biara saudara), ingin sekali
berkunjung menunaikan hormat, entah apakah
diperbolehkan?"
„Ah, silahkan sicu masuk!" jawab si tojin.
Setelah menghaturkan terima kasih, pemuda itu masuk ke
dalam biara. Membiluk sebuah ruangan luas, tibalah dia di
muka sebuah sin-tian (ruangan pemujaan dewa). Mendongak
ke atas, pemuda itu melihat ada sebuah papan besar
bertuliskan tiga buah huruf “Lu-cou-tian”. Tahu dia, bahwa
ruangan itu adalah tempat pemujaan dewa Lu Tun-yang atau
Lu Tong-pin.
Dan memang waktu melangkah masuk, disitu terdapat
sebuah arca besar dari dewa Lu Tong-pin yang memegang
hud-tim (kebut pertapaan) dan memanggul sebatang pedang
pusaka. Arca itu tampaknya seperti hidup. Api pedupaan
bergulung-gulung menyiarkan asap wangi.
Tengah pemuda itu menikmati pemandangan di ruangan
itu, tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebuah suara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkumandang nyaring: „Bu-liang-siu-hud! Sicu tentu


menunggu lama, maafkan!"
Berpaling ke belakang, pemuda itu menampak di luar pintu
ruangan ada seorang tojin berjubah kuning, tengah memberi
hormat kepadanya.
„Totiang keliwat sungkan, adalah sebaliknya cayhe yang
hendak merepotkan Totiang untuk melihat-lihat kui-kwan,”
tersipu-sipu pemuda itu balas memberi hormat.
Tojin itu menyatakan kesediaannya, karena hal itu sudah
menjadi tugas kewajibannya. Kemudian atas pertanyaan si
pemuda, tojin itu menerangkan bahwa nama gelarannya ialah
Hian Long. Setelah saling mengucap beberapa patah kata
merendah, si pemuda lalu ikut Hian Long tojin keluar dari Lu-
cou-tian untuk melihat-lihat ke dalam biara.
Ternyata bangunan biara itu amat luas sekali, ruangan-
ruangannya pun besar-besar. Walaupun memuat ratusan
paderi, tapi keadaan biara itu tampak sunyi tenteram.
Disiplin para tojin disitu pun baik sekali. Setiap kali si
pemuda masuk ke dalam ruangan pemujaan, tojin penjaga
disitu tentu menyambutnya dengan hormat. Diam-diam
pemuda itu menduga, tentulah Hian Long itu menempati
kedudukan tinggi dalam biara itu sehingga mendapat
penghormatan sedemikian rupa oleh para tojin. Juga dalam
perkenalan sesingkat itu, tahulah pemuda itu bahwa bukan
melainkan dalam ilmu keagamaan Hian Long itu amat dalam,
pun ilmu silatnya juga tinggi.
Setelah mengunjungi habis seluruh ruangan-ruangan
pemujaan, rupanya anak muda itu masih belum puas. Sembari
tertawa dia menanyakan: „Maaf, Totiang. Apakah masih ada
lainnya yang sekiranya Totiang berkenan membawa cayhe
melihat-lihat?"
Dalam perkenalan singkat itu, Hian Long dapatkan bahwa
tetamunya muda itu selain cakap dan gagah, pun tingkah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lakunya amat sopan rendah. Sungguh seorang pemuda yang


tak tercela. Hanya sayang sedikit pada kedua alisnya itu
menampilkan sifat-sifat hawa membunuh. Dan sebagai
seorang paderi yang berilmu, menilik dari pancaran matanya
yang berkilat-kilat, dia yakin pemuda itu tentu ahli dalam ilmu
lwekang. Bebarapa kali dia coba mengorek keterangan,
namun setiap kali pemuda itu selalu menyimpangkan
pertanyaan atau hanya ganda tertawa saja.
Walaupun menginsyafi bahwa tetamunya itu bukan tetamu
biasa, tojin itu tetap tak mengetahui apa maksud
kedatangannya. Apalagi pemuda itu selalu membawa sikap
yang hormat, ini lebih membingungkan. Kini mendengar
pertanyaan si anak muda tadi dia merenungkan sejenak.
Kemudian setelah mengawasi wajah sang tetamu itu
dirangsang dengan rasa ingin tahu, dia menyahut: „Rupanya
sicu amat gemar menikmati segala sesuatu, untuk itu
sebenarnya pinto tak layak membikin kecewa. Tapi memang
tempat-tempat yang pantas dilihat dalam biara ini sudah pinto
unjukkan tadi. Yang masih belum dilihat hanyalah sebuah
taman tak terurus di belakang biara. Disitu tumbuh berpuluh-
puluh batang pohon bambu merah. Kalau sicu ingin melihat,
pintopun suka mengunjukinya".
Girang sekali pemuda itu mendengarnya.
„Ada sebuah taman yang begitu bagus, mengapa tak
Totiang katakan tadi-tadi. Bambu merah, adalah bambu
istimewa keluaran Thian Tiok (India). Lama benar kepingin
melihatnya, maka sudilah Totiang membawa cayhe kesana."
Namun Hian Long masih bersangsi dan mengatakan bahwa
taman itu sudah lama tak terawat. Pemuda itu tetap
memintanya, maka terpaksa Hiang Long menuruti.
Sepeminum teh lamanya berjalan melalui ruangan demi
ruangan, akhirnya tibalah mereka di belakang biara. Disitu
terdapat sebuah jalan panjang yang menuju ke sebuah pintu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

besar terbuat dari kayu. Pintu itu tertutup rapat dengan


sebuah gembok besar yang sudah karatan. Menandakan
bahwa sudah beberapa tahun, pintu itu tak pernah dibuka.
Tiba di muka pintu, Hian Long tertegun, tapi pada lain saat
dia tertawa sendiri, ujarnya: „Karena bergegas-gegas
membawa sicu ke mari, pinto sampai lupa kalau pintu itu
dikunci. Kalau balik mengambil anak kunci, tentu akan makan
tempo, maka terpaksa pinto hendak merusakkan gemboknya
saja.”
Si pemuda menghaturkan terima kasih atas kesediaan si
tojin. Sesaat Hian Long lalu gunakan ibu jari dan jari telunjuk
kanan, memijat pelahan-lahan pada gembok besar itu. Ajaib,
gembok yang tak kurang dari berpuluh kati beratnya itu,
seketika menjadi putus.
„Sakti nian Totiang,” seru si pemuda memuji.
Sebaliknya Hian Long diam-diam menjadi terkesiap. Nyata
melihat demonstrasi tenaga hebat begitu, si pemuda hanya
memuji dengan nada yang wajar, sedikitpun tak menyatakan
kekagetannya. Kalau begitu, nyata kepandaian pemuda itu
sukar diukur.
Malah pada saat itu si pemuda menyusuli kata-kata:
„Meskipun cayhe seorang bunsu (sekolahan), tapi banyak
bergaul dengan kaum hiapsu (orang gagah). Baik tokoh-tokoh
ternama maupun tokoh-tokoh pemimpin partai persilatan,
cayhe banyak yang kenal. Kui-kwancu Goan Goan Totiang
adalah seorang ketua cabang persilatan yang termasyhur,
entah apakah cayhe diperkenankan menghadap untuk
menyampaikan hormat?"
Bahwa pemuda yang sikapnya menjadi teka teki itu kini
menanyakan ketua Siang Ceng Kiong, makin membuat
keheranan Hian Long menjadi-jadi. Dia menduga, tentu ada
sebabnya. Namun hati berpikir begitu, wajahnya tetap tenang
lalu dengan masih ramah tertawa dia menyahut: „Lebih dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepuluh tahun yang lalu, Goan Goan Totiang belum kembali


dari perkelanaannya. Kemana beliau menuju, tiada
seorangpun yang mengetahui. Oleh karenanya terpaksa sejak
enam tahun yang lampau, pejabat kuancu dipegang oleh Hian
Cin Totiang.”
Mendengar itu, si pemuda tampak kecewa. Dengan nada
sesal, dia minta agar kelak apabila Goan Goan Totiang sudah
pulang, sudilah Hian Long tojin menyampaikan hormatnya
kepada pemimpin biara itu. Untuk itu Hian Long
menyanggupinya.
Pada lain saat, sekali Hian Long mendorong pelahan-lahan,
kedua daun pintu yang berat itu terpentang lebar. Mengikuti di
belakang si tojin, pemuda itu melangkah masuk lalu
memandang keadaan taman itu.
Benar seperti yang dikatakan Hian Long, taman biara itu
tampaknya terbengkelai tak terurus. Tanahnya sih luas sekali,
tapi penuh ditumbuhi rumput alang-alang dan rotan. Sebuah
bungalow kecil yang berada di kebun itu, sudah hampir rubuh
karena reyotnya. Satu-satunya pemandangan yang
menyedapkan mata, hanyalah bunga-bunga seruni hutan yang
merajalela semau-maunya memain dalam tiupuan sang angin.
Tepat ditengah-tengah taman itu, berbaris berpuluh-puluh
batang bambu besar yang berwarna merah. Itulah yang
disebut cu-tiok atau bambu merah dari Thian Tiok.
Memeriksa ke dekat tanaman bambu itu, si pemuda
dapatkan batang bambu itu amat besar lagi kokoh, wamanya
merah seperti api. Ketika dijentik dengan jari, bambu istimewa
itu mengeluarkan suara kumandang nyaring macam
genderang berbunyi.
„Alam semesta ini penuh dengan keanehan, memang benar
kiranya .....” demikian baru saja mulut pemuda itu
mengeluarkan pujian, matanya segera tertumbuk akan suatu
benda yang menggoncangkan hatinya. Di ujung taman
sebelah barat laut sana, tampak ada serumpun rimba kecil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari pohon hong. Di tengah-tengah rimba kecil itu, berkilat-


kilat cahaya dari sebuah batu nisan .......
„Belum pernah cayhe melihat rumpunan pohon hong yang
tumbuh sedemikian suburnya seperti itu, kini cayhe hendak
memuaskan mata kesana!" berpaling ke arah Hian Long,
pemuda itu tersenyum berkata.
Hendak Hian Long mencegahnya, tapi seperti tak mau
melihatnya lagi, pemuda itu terus saja melangkah kesana.
Terpaksa Hian Long cepat-cepat mengikuti dan sebentar saja
mereka sudah berada dalam hutan pohon hong itu. Ternyata
memang di tengah rimba kecil itu, terdapat sebuah gundukan
tanah yang menonjol ke atas dan di mukanya terpasang
sebuah batu nisan besar. Pada batu nisan itu terukir 13 huruf
yang berbunyi:
„Tempat kuburan tulang Siau Hong anak murid yang
berdosa dari Siang Ceng Kiong.”
Aneh. pemuda itu tampak tegak di muka nisan,
pemandangannya dengan termangu-mangu. Wajahnya
menampil haru kerawanan. Hian Long tojin karena berdiri di
belakangnya jadi tak melihat perobahan air muka pemuda itu.
Beberapa jurus kemudian, tiba-tiba pemuda itu berputar
tubuh, lalu tertawa kepada Hian Long, ujarnya: „Turut
penglihatan cayhe, adanya taman ini sampai dibiarkan tak
terawat, adalah karena berhubungan dengan almarhum orang
yang berada dalam kuburan ini.”
„Ai, siao-sicu benar-benar cerdas!" Hian Long balas
tertawa.
„Cayhe memang gemar mengetahui apa-apa. Apakah
kiranya Totiang tak keberatan menceritakan kedosaan dari
orang itu?” kata si pemuda.
Menurut tata peraturan persilatan, menanyakan sesuatu
rahasia atau urusan intern dari sebuah perguruan atau partai,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah suatu kesalahan besar. Juga tak nanti ada seorang


persilatan yang mau membocorkan rahasia urusan intern
perguruannya. Pemuda itu sudah melanggar pantangan,
semestinya Hian Long tentu marah.
Tapi di luar dugaan, sedikitpun tojin itu tak mengambil
dihati. Apakah dia itu seorang tokoh tolol atau naif? Bukan,
Hian Long bukan seorang goblok, melainkan seorang yang
cerdik. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai jelas akan maksud
kunjungan anak muda itu kesitu. Kalau tak berada-ada,
masakan burung tempua terbang rendah. Demikian kata
sebuah pepatah yang artinya, kalau tiada sesuatu maksud,
masakan orang berjeri payah datang menyelidikinya.
“Mengibiri siasat”, artinya menurutkan siasat lawan untuk
mencari tahu keadaannya (lawan). Dengan keputusan itu,
tanpa tedeng aling-aling lagi, Hian Long memberi keterangan.
„Orang yang beristirahat dalam kuburan itu, turut silsilah
masih suheng pinto, ialah satu-satunya murid orang luar
(bukan kaum paderi) dari Siang Ceng Kiong. Dalam hal
kepandaian, dia sudah memiliki seluruh ilmu kepandaian
supeh pinto Goan Goan Totiang. Tapi sungguh lacur, beberapa
belas tahun yang lalu karena tergoda oleh seorang wanita, dia
mendapat hukuman perguruan. Dan adalah karena peristiwa
itu, hampir saja biara ini mengalami kemusnahan. Dalam
kedukaannya, Goan Goan Totiang biarkan saja taman ini tak
terurus, kemudian beliau sendiri lalu berkelana tak ketahuan
rimbanya.
Gelombang reaksi dari peristiwa itu, sampai sekarang masih
tetap belum reda. Benar tampaknya tenang, tapi tetap
mengandung unsur-unsur yang eksplosif (mudah meledak).
Adakah nantinya peristiwa itu akan berbuntut mengakibatkan
banjir darah di dunia persilatan, tak seorang pun dapat
memastikan. Karena yang nyata, kematian Siau-suheng itu
masih tetap menjadi teka teki besar. Adakah layak dia
menerima hukuman seberat itu, masih belum dapat diketahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

persoalannya yang jelas. Pinto sendiri tak begitu jelas, jadi tak
dapat menerangkan sejelasnya pada Siau-sicu.”
Sembari memberi keterangan itu, Hian Long tak berkesip
memperhatikan wajah si anak muda. Bahwa mimik wajah
pemuda itu tampak bersungguh-sungguh, membuktikan makin
benarnya dugaannya (Hian Long) tadi.
Selesai mendengar penuturan, kembali wajah pemuda itu
menjadi tenang. Dengan menghela napas berkatalah dia:
„Walaupun Totiang tak dapat menjelaskan, namun dapatlah
sudah cayhe mengadakan kesimpulan. Segala urusan di dunia
ini, memang tak mudah menentukan hitam putihnya. Hanya
saja asal segala itu disertai kebijaksanaan yang adil, artinya
tak mudah dipengaruhi rangsangan hati dan membawa
rnaunya sendiri, sekurang-kurangnya penilaian akan salah
atau benar itu tentu mendekati yang seadil-adilnya. Turut
pikiran cayhe yang picik, dalam urusan suheng totiang itu,
walaupun ada sebab-sebabnya, namun keputusan Goan Goan
Totiang itupun rasanya amat keburu nafsu. Entah bagaimana
pendapat Totiang?”
Berobahlah wajah Hian Long tojin saat itu. Sampai sekian
jenak dia tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mengapa? Ini tak
lain karena disebabkan kelancangan pemuda itu. Orang
persilatan paling menjunjung tinggi paras suhunya. Bahwa
pemuda itu sudah berani memberi keritik terhadap Goan Goan
Totiang, itu sama artinya dengan menghina.
Dengan wajah murka, Hian Long segera akan
mendampratnya tapi pemuda itu yang rupanya insyaf akan
kelancangannya, buru-buru mendahuluinya: „Rasanya sudah
terlalu lama membikin repot Totiang, maka dengan ini cayhe
hendak minta diri.”
Hiang Long terpaksa menahan diri. Begitulah keduanya
kembali masuk lagi ke dalam biara. Setiba di ruang Lu-cou-
tian, pemuda itu berhenti lalu mengeluarkan sekeping perak
hancur lebih kurang sepuluhan tail, lalu menyerahkannya pada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hian Long, ujarnya: „Karena terburu-buru datang kemari,


cayhe tak membekal banyak uang. Uang yang tak berarti ini
mohon Totiang suka menerima selaku tanda hormat cayhe
kepada para Hud di sini.”
Sejak dari taman tadi, sebenarnya Hian Long sudah kurang
senang. Tapi untuk jangan dikata kurang hormat, terpaksa dia
sambuti pemberian tetamunya itu juga.
„Bu-liang-siu-hud, mohon Siau-sicu suka memberitahukan
nama yang mulia, agar pinto dapat mencatatnya dalam buku
sumbangan
„Atas budi kebaikan totiang, sudah selayaknya dihaturkan
terima kasih. Dengan ini Siau Ih mohon diri!” sahut si pemuda
sembari memberi hormat.
Mendengar dua patah kata “Siau Ih", kejut Hian Long
bukan kepalang. Tapi pada saat dia terbeliak kaget itu, si anak
muda sudah melangkah keluar pintu biara terus berjalan pergi
......
JJJ
Jauh malam, kentongan terdengar dipukul tiga kali. Cahaya
dewi malam nan lemah sejuk seolah-olah tengah membuai-
buai (membuat tidur) alam dan hutan di sekeliling biara Siang
Ceng Kiong. Sunyi senyap, damai di seluruh dunia.
Sekonyong-konyong di bawah kaki gunung Mosan itu,
muncul sesosok bayangan hitam. Bagaikan asap bergulung-
gulung, bayangan itu “terbang" mendaki ke atas menuju ke
biara Siang Ceng Kiong. Tiba di muka pintu biara, bayangan
itu berhenti. Kiranya dia adalah seorang yang mengenakan
pakaian ringkas wama biru, mukanya ditutupi kain selubung
warna hitam, di belakang bahunya menyanggul sebatang
pedang pandak, sementara tangannya menjinjing sebuah
bungkusan kecil.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejenak tertegun di muka pintu biara, dia lalu berputar


tubuh terus mengitar tembok menuju ke taman di belakang
biara. Tiba di belakang tembok taman, dengan sebuah gerak
ciam-liong-seng-thian atau naga silam melambung ke udara,
dia loncati tembok yang dua tombak tingginya itu.
Menginjak di dalam lingkungan taman, sejenak dia
memandang ke sekeliling penjuru. Setelah mendapatkan tiada
barang sesosok bayangan orang, barulah hatinya legah.
Pelahan-lahan dia ayunkan langkah menghampiri rimba kecil
pohon hong yang berada di ujung barat laut dari taman itu.
Begitu tiba disitu, langsung dia berhenti di muka kuburan
yang ada batu nisannya itu. Setelah beberapa saat diam
tertegak disitu, bungkusan yang dijinjingnya itu diletakkan di
atas tanah. Kemudian dengan khidmatnya, dia
membungkukkan tubuh, mengulurkan tangan kanan merabah
batu nisan. Sekali mengusap, maka tulisan yang terpahat pada
batu nisan itu, hancur musna. Hanya dalam beberapa detik
saja, dia dapat membuat rata lagi permukaan batu nisan itu,
hanya saja kini makin tipis.
Selesai bekerja, mulutnya kedengaran menghela napas
longgar. Pada lain saat, dia segera gunakan dua buah jari
telunjuk dan tengah, menggurat kepermukaan batu nisan.
Pada batu itu kini tampak melekuk delapan buah huruf
berbunyi:
„Peristirahat Siau Hong yang belum jelas penasaran
dosanya.”
Habis menggurat, orang berpakaian hitam itu membuka
bungkusannya dan mengeluarkan sebuah benda, diletakkan di
muka, batu nisan. Disulutnya lilin dan dupa, lalu berlututlah
dia dihadapan kuburan itu dengan khidmatnya. Ditengah
rimba kecil pada malam nan pekat sunyi itu, sang angin
berkesiur meniup api lilin. Sang tenggoret meringkik nyaring,
burung-burung kukkubeluk merintih-rintih, menambahkan
kerawanan suasana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tengah orang berkerudung itu bersembahyang, tiba-tiba


dari sebelah luar rimba terdengar berkesiurnya pakaian orang.
Rupanya orang berkerudung itu mencium bau. Sekali
rangkum, api lilin dipadamkan. Baru dia hendak berputar
tubuh, terdengarlah sudah sebuah suara nyaring: „Bu-liang-
siu-hud! Apa yang pinto duga kiranya benar, karena Siau-sicu
berkunjung pula kemari!"
Terpisah setombak jauhnya dari rimba pohon hong itu,
berdirilah sesosok tubuh berpakaian warna kuning yang bukan
lain ialah Hian Long tojin adanya! Serta merta orang
berkerudung itu menghampiri dan berdiri menghadapinya.
Kiranya Hian Long sudah menduga bahwa anak muda yang
datang ke biara itu, tentu akan kembali lagi pada malamnya.
Rupanya anak itu mempunyai hubungan rapat dengan
mendiang Siau Hong. Maka dari itu, Hian Long lalu siapkan
empat orang anak murid Siang Ceng Kiong angkatan ke tiga,
untuk pada tengah malam meronda ke taman belakang.
Pertama-tama yang dilihatnya, ialah sinar api yang kelap
kelip ditengah rimba pohon hong. Makin cenderunglah dia
bahwa memang anak itu masih ada hubungan darah dengan
suhengnya (Siau Hong). Benar tindakan masuk secara diam-
diam ke dalam taman itu, termasuk pelanggaran, tapi Hian
Long anggap bersembahyang dikuburan orang tua adalah
suatu kebaktian yang utama. Oleh karenanya, diapun tak mau
membikin kaget dan hanya berseru dari luar rimba.
Baru saja dia berseru, atau orang berkerudung yang diduga
keras tentu si pemuda she Siau siang tadi, sudah
menyongsong keluar. Hian Long tak puas dengan tindakan
anak muda itu. Tambahan lagi, ketika melirik ke arah kuburan
didapatinya tulisan semula pada batu nisan itu sudah berobah
bunyinya. Suatu tulisan yang benar-benar membangkitkan
amarah Hian Long. Namun diam-diam dia terperanjat juga
melihat kelihayan ilmu pemuda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bahwa Siau-sicu tengah malam buta berkerudung muka


datang kemari sudah mengabaikan peraturan. Tambahan pula
merusak nisan dan mengganti tulisannya, apakah maksud sicu
itu?" tegur Han Long dengan nada berat.
Memang orang yang mengenakan kerudung muka itu, ialah
Siau Ih. Adanya dia berbuat begitu, karena terpaksa. Pertama
karena hendak mengindahkan pesan ayah angkatnya supaya
jangan cari setori dengan kawanan paderi Siang Ceng Kiong.
Kedua kalinya, selama dendam penasaran almarhum ayahnya
itu masih belum tercuci, hatinya tetap tak rela.
Oleh sebab itulah dia terpaksa menyaru dan memakai
kerudung muka tengah malam menyambang kuburan
ayahnya. Tak terduga, rencananya itu sudah di tangan Hian
Long semua. Kini dia berada dalam posisi serta salah.
Teguran tajam dari Hian Long tadi, sampai tak terjawabnya
untuk beberapa saat. Sampai sekian lama merenung cari
alasan, tetap otaknya buntu, jadi dia diam membisu saja.
Sudah tentu hal itu diartikan lain oleh Hian Long yang
tampak makin meradang. Diiring dengan sebuah tertawa
dingin, berkatalah penilik biara itu: „Menilik kepandaian Siau-
sicu yang luar biasa itu, tentulah Siau-sicu ini anak murid dari
perguruan yang terkenal. Tapi dengan perbuatan Siau-sicu kali
ini, amatlah memalukan. Kalau benar Siau-sicu mempunyai
hubungan darah dengan mendiang Siau-suheng, asal Siau-sicu
bersumpah dihadapan para sin (malaekat) di biara sini untuk
mengakui kesalahan, demi melihat muka sesama saudara
seperguruan, pinto rela menghabiskan urusan ini sampai disini
saja. Harap Siau-sicu suka mempertimbangkannya!"
Siau Ih yang tengah mencari pikiran tadi, menjadi marah.
Lebih-lebih kalau mengingat nasib ayah bundanya yang belum
tentu hilir mudiknya (kesalahannya) itu.
„Hem,” dia mendengus lalu menyahut: „Pantaskah kau
mengucapkan begitu? Kalau tak mengindahkan pesan ayahku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan servis (pelayananmu) siang tadi, tentu sudah kubikin


cacad tubuhmu!"
Betapa gusarnya Hian Long dapat dibayangkan. Namun
sebagai seorang paderi yang sudah dalam ilmunya, dia tetap
berusaha mengendalikan diri, serunya: „Siau-sicu, pernah apa
kau dengan Siau-suheng? Kalau memang masih ada hubungan
darah, masih pinto suka mengalah kali ini, tapi kalau tidak .....
„Kalau tidak, mau apa kau?" tukas Siau Ih tertawa dingin.
„Pinto terpaksa akan ambil tindakan!"
„Ha, ha ..... Siau Ih tertawa lebar, serunya: „yang baik
tentu tak datang. Kata orang macam itu, belum tentu benar!"
Habis berkata, dia mundur beberapa tindak dan secepat itu
pula tangannya sudah siap dengan pedang Thian-coat-kiam
Pedang dipalangkan di dada, dengan nada jumawa, dia
menantang : ''Siau Ih, dengan hormat menanti pengajaran!"
Ingin menang, adalah perasaan yang pada umumnya tentu
dimiliki orang. Kaum paderipun tak terkecuali. Provokasi itu,
telah membuat Hian Long seperti dibakar.
„Kata orang bahwa pahlawan itu sudah kentara sewaktu
kecilnya, memang tak salah. Karena demikian yang sicu
kehendaki, terpaksa aku akan melayani dengan kebut hun-ciu
ini!" sahut Hian Long dengan keren. Segera dia memberi
isyarat kepada keempat tojin kawannya, supaya menyingkir ke
samping.
Siau Ih mendengus dan berbareng tangan kiri bergerak,
pedang di tangan kanan membabat perut lawan dalam gerak
hong-soh-lok-hoa atau angin meniup jatuh daun.
Melihat serangan si anak muda yang luar biasa dan penuh
berisi lwekang itu, bukan kepalang kejut Hian Long. Pikirnya:
”Oh, makanya dia begitu congkak. Serangannya ini, tak
sembarang orang persilatan dapat menyambuti!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia tak berani menyambuti, lalu loncat menghindar


beberapa langkah. Bersuit nyaring, Siau Ih mengikuti laksana
bayangan. Pedang Thian-coat-kiam membolang-baling dalam
tiga rangkaian serangan kilat, kian-gwat-cay-hun
(menggunting rembulan memotong bintang), tiang-hong-
koan-jit (bianglala menutup matahari) dan to-sia-sing-ho (air
sungai mengalir terbalik). Ribuan sinar bertaburan seluas satu
tombak, bagaikan sebuah hujan sinar yang mencurah dari
langit.
Dalam serangan serupa itu, Hian Long hanya dapat main
mundur, sedikitpun dia tak mampu membalas.
Tiba-tiba Siau Ih tarik pulang serangannya. Tertawa
memanjang, dia berseru: „Totiang, bukankah tadi kau hendak
menindak cayhe? Tapi mengapa kini tak mau membalas?
Bukankah itu memberi kemurahan pada cayhe?”
Terperanjat, kagum dan marah adalah perasaan yang
mengaduk dibenak Hian Long. Benar-benar dia tak
menyangka bahwa ilmu pedang pemuda itu sedemikian
dahsyatnya. Rasa memandang rendah, kini bagai tertiup
angin.
„Siau-sicu, kata-kata tajam tak usah dilancarkan. Dalam
seratus jurus, kalau pinto kalah, bagaimana nanti keputusan
kwan-cu, pintolah yang menanggungnya semua!" akhirnya dia
mengeluarkan gengsi.
Siau Ih tertawa, sahutnya: ''Totiang cekat bertindak cekat
ucapan. Dalam seratus jurus kalau cayhe tak dapat menang,
terserah bagaimana Totiang hendak memberi hukuman!"
Hian Long tak mau adu lidah. Pikiran dipusatkan, lwekang
dikerahkan. Sekali kebutan hun-ciu, dia gunakan jurus Sian-
jin-chit-loh (dewa menunjuk jalan) menusuk dada Siau Ih.
Baru ujung hun-ciu sampai di tengah jalan, tiba-tiba dibalik,
ujungnya disabatkan ke arah jalan darah kian-king-hiat si anak
muda.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bagus!" teriak Siau Ih. Bahu digoyangkan untuk


menghindari serangan, pedang dibabatkan ke lambung kanan
lawan.
Pertempuran saat itu, memasuki babak baru. Tidak seperti
tadi, kini keduanya balas membalas menyerang. Sebatang
kebut hun-ciu yang digunakan Hian Long itu, sudah diyakinkan
selama duapuluhan tahun lebih. Waktu dimainkan, hanya
lingkaran sinar putih yang kelihatan berputar-putar dan
menderu-deru. Setiap serangannya tentu jalan darah yang
diarah.
Sebaliknya Siau Ihpun sudah mewarisi kepandaian si Dewa
Tertawa. Ilmu pedangnya itu disebut lui-im-kiam-hwat atau
ilmu pedang suara halilintar. Sinar berkilat-kilat diiring angin
menderu-deru, dapat mengoyakkan semangat orang. Dan
yang lebih hebat lagi, dia berbareng gunakan juga apa yang
disebut ceng-hoan-kiu-kiong-leng-long-poh atau gerak lincah
kiu-kiong-poh (bentuk kuda-kuda kaki) bolak-balik. Jadi hanya
slnar berkelebatnya pedang saja yang menyambar-nyambar,
sedang orangnya seperti bayangan setan yang, berkelebatan
kian kemari Saking hebat deru sambaran anginnya, pohon-
pohon disekeliling itu sama bergoyang-goyang, daun-daunnya
berhamburan jatuh .........
Benar-benar Hian Long puyeng dibuatnya. Gerakan tubuh
yang aneh dan ilmu pedang si anak muda yang luar biasa itu,
belum pernah dia melihat selama ini. Lewat jurus yang ke
sembilanpuluh, Hian Long sudah kelabakan. Kebut hun-ciunya
dimainkan makin gencar, saluran lwekangnya pun makin
ditambah. Bayangan putih yang mengandung sambaran
tenaga kong-gi, ditaburkan ke arah si anak muda. Hanya
kurang sepuluh jurus lagi, biar bagaimana dia harus dapat
bertahan.
Sekejap lagi akan sudah cukuplah seratus jurus yang
dijanjikan itu. Sekonyong-konyong terdengar Siau Ih bersuit
nyaring. Jari kiri dipentang dan dalam jurus heng-tui-pat-bhe
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

(melintang dorong delapan kuda), tangan kiri memancarkan


semacam hawa serangan yang amat panas, sementara
pedang di tangan kanan berhamburan menabur ke atas kepala
Hian Long.
Hian Long terpaksa mundur selangkah, namun hawa dingin
dari sinar pedang lawan terasa sudah tiba di atas kepalanya.
Jalan satu-satunya hanyalah loncat ke samping. Tapi justeru
itulah yang dimaukan Siau Ih Begitu Hian Long loncat,
sekonyong-konyong pedang Thian-coat-kiam ditarik, menyusul
jari tangan kirinya laksana kilat sudah menekan batok kepala
orang.
Kali ini benar-benar Hian Long mati kutu. Mimpipun tidak ia
duga kalau dirinya bakal diburu dengan terkaman macam
begitu. Bagaimana pun juga, dia tak sempat lagi akan
menghindar. Sesaat terasa kepalanya dingin, kopiah
pertapaannya sudah dijambret oleh Siau Ih. Kini berdirilah
anak muda itu dengan tenangnya disebelah sana, tangan
kanan mencekal pedang, tangan kiri memegang koplah.
Selebar muka penilik biara Siang Ceng Kiong itu seperti
kepiting direbus. Rasanya dia tak dapat menyembunyikan
muka lagi.
„Cayhe menghaturkan terima kasih atas pelajaran Totiang
tadi. Mohon akan membawa kopiah ini sebagai tanda mata,
sekian cayhe akan mohon diri!
Habis berkata, anak muda itu sudah enjot tubuhnya loncat
melalui pagar tembok.
---oo0dw0ooo---
7. Mendapat Kawan dan Lawan
Lepas dari kepungan. Siau Ih amat kegirangan.
Ditimangnya, bagaimana akan dilakukan dengan kopiah itu.
Sekilas dia mendapat pikiran. Cepat dia lari ke muka biara.
Begitu tiba di muka pintu, dia enjot tubuhnya ke atas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wuwungan serambi. Kopiah pertapaan milik Hian -Long tojin


itu, digantungkan di atas papan nama "Ki Kian Siang Ceng
Kiong".
Kemudian setelah melayang turun, kain kerudung mukanya
dilepas. Memandang ke arah kopiah di atas papan itu, dia
tertawa kebangga-banggaan. Sejenak kemudian, barulah dia
turun ke bawah gunung.
Hari pun sudah mulai terang tanah. Oleh karena sudah
banyak orang jalan jadi dia terpaksa tak mau gunakan gin-
kang (ilmu berlari cepat). Namun sekalipun berjalan pelahan-
lahan, masih dia lebih cepat dari orang biasa.
Menjelang tengah hari, tibalah dia di kota Li-yang. Kota ini
walaupun kecil, tapi merupakan sebuah kota yang penting
dimana perdagangan anak negeri amat ramainya. Karena
justeru hari pasaran, bukan kepalang ramainya orang hilir
mudik.
Karena semalam suntuk tak tidur, Siau Ih merasa lelah dan
lapar. Mendongak ke muka, dilihatnya tak jauh dari itu ada
sebuah papan nama menonjol dengan empat buah huruf emas
yang berbunyi “Cui-hoa-ciu-lou”. Kesanalah sang kaki segera
diayun.
Ternyata rumah makan itu amat mentereng sekali. Bagian
dapurnya berisik dengan suara orang mencacah daging dan
menggoreng masakah. Nyata rumah makan itu laris sekali.
Baru Siau Ih tengah melihat-lihat, seorang jongos sudah
menyilahkannya: „Rumah makan ini bersih dan selalu sedia
segala macam hidangan yang lezat-lezat. Silahkan tuan duduk
di atas loteng, tentu akan puas!"
Dengan tertawa, Siau Ih melangkah masuk. Naik ke atas
loteng, disitu ternyata sudah ada belasan tamu duduk. Dia
memilih sebuah meja yang dekat jendela.
Jongos segera menanyai akan pesan hidangan apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Apa saja asal enak dan cepat selesai!" sahutnya.


Ketika jongos berlalu, Siau Ih merasa kalau para tetamu
yang berada disitu tengah memandang kepadanya. Diam-diam
dia kebingungan sendiri, jangan-jangan ada sesuatu yang tak
beres pada dirinya.
Memandang ke arah pakaiannya sendiri, mau tak mau dia
tertawa urung, pikirnya: „Ai, makanya mereka sama
memandang aku dengan keheranan, kiranya aku masih
mengenakan pakaian ringkas dan memanggul pedang!"
Buru-buru pedang diambil dan ditaruhkan di sisi meja.
Tepat pada saat itu terdengarlah suara berisik dan munculnya
seorang anak sekolah muda. Wajahnya berseri bersih, bibir
merah segar melapis dua baris gigi yang putih, hidung
mancung, sepasang alis lengkung menaungi dua buah mata
yang memancarkan sinar berkilat-kilat.
Kopiah pelajar yang membungkus kepalanya, dihias dengan
mutiara berkilau. Pakaian sutera warna biru muda disulam
dengan bunga-bungaan tho. Tangannya mencekal sebuah
kipas dari kerangka tulang hitam. Sepintas pandang, Siau Ih
dapatkan seorang pribadi yang penuh wibawa pada diri anak
muda sekolahan itu.
„Inilah baru boleh dikatakan seorang pria cantik di dunia!"
diam-diam Siau Ih memuji dalam hati.
Tanpa disengaja, pelajar cantik itu mengambil tempat
duduk persis disebelah muka Siau Ih. Mau tak mau mata Siau
Ih memandang beberapa kali kepada pria cantik itu, tapi di
luar dugaan, pemuda itupun memandangnya juga.
Ketika mata saling berpandangan, muka Siau Ih terasa
panas. Sebaliknya pria cantik itu hanya ganda tersenyum saja.
Siau Ih menjadi likat sendiri, mau tak mau dia unjuk tertawa
juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Syukur saat itu jongos sudah datang membawa


pesanannya. Inilah suatu kesempatan baik untuk menghindar
dari „bentrokan" mata itu. Buru-buru dia tundukkan kepala
memandang hidangan.
Oleh karena sang perut sudah me-rintih-rintih, seperti
seekor harimau kelaparan mendapat anak kambing, Siau Ih
segera gasak hidangannya itu. Dalam sekejap saja, bersihlah
sudah hidangan itu disapunya.
Setelah puas makan dan minum, jongos dipanggilnya untuk
menghitung rekening, karena dia hendak lekas-lekas
berangkat lagi. Tapi ketika meraba baju, astaga ....
sepeserpun tiada terdapat! Saat itu barulah dia teringat bahwa
bungkusannya kecil masih ketinggalan dalam taman belakang
biara Siang Ceng Kiong.
„Ai, celaka ini. Kalau tahu tak bawa uang, tak nanti aku
masuk kesini. Sekarang kecuali mustika kumala, tiada lain
bekal berharga, mustika itu akan kuserahkan pada gwakong
selaku barang bukti, tak boleh dijadikan barang, cekalan disini
...... Thian-coat-kiam? Ai, itu lebih tak boleh lagi ......”
Demikian Siau Ih menjadi kelabakan. Muka merah,
sebentar duduk sebentar berdiri.
Gerak geriknya itu tak luput dari pandangan si jongos yang
rupanya sudah kenyang pengalaman akan hal-hal begituan.
Berdiri disamping, dia awasi kelakuan anak muda itu dengan
senyum ewah.
Siau Ih muring-muring dan sibuk seorang diri, namun tetap
dia tak dapat berdaya apa-apa. Saking bingung dan malu,
dahinya sampai basah kujup dengan keringat.
„Bung pelajan, rekening hidangan tuan itu, boleh hitung
padaku!" sekonyong-konyong pelajar „cantik" itu berseru
kepada jongos. Malah dengan kontan, dia sudah merogoh
keluar uang lima tail lalu dilemparkan di atas meja, serunya:
„Ni, sisanya boleh kau ambil!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kerut wajah si jongos yang sudah menampil kekuatiran


tadi, segera berobah terang. Dia kerak keruk menghaturkan
terima kasih atas keroyalan orang. Rupanya pelajar itu jemu
akan tingkah laku dibuat-buat dari si jongos itu, cepat-cepat
dia menyuruhnya pergi.
Dengan wajah kemerah-merahan, Siau Ih menghaturkan
penyesalan karena sudah menyibuki pelajar itu.
Namun pelajar cantik itu, cepat-cepat menanggapi: „Empat
penjuru lautan, semua adalah saudara. Usah dipikirkan,
apalagi diantara kaum perantau, tentu harus tolong
menolong!"
Siau Ih yang biasanya pandai bicara, kala itu benar-benar
kehabisan kata-kata.
„Siaute bernama Liong Go, mohon tanya siapakah nama
terhormat dari hengtay?" kata pelajar cantik itu pula.
Siau Ih pun memperkenalkan dirinya.
Berkata lagi pelajar Liong Go itu: „Menilik membekal
pedang, tentulah Siau-heng ini juga kaum persilatan."
Siau Ih menyahut dengan merendah, bahwa pedangnya itu
adalah warisan keluarganya untuk sekedar menjaga diri saja.
„Ah, Siau-heng keliwat merendah. Sejak kecil Siaute pun
gemar belajar silat. Pedang Siau-heng itu tentulah bukan
senjata sembarangan, apakah Siaute boleh meminjam lihat
barang sebentar saja?"
Siau Ih menjadi kewalahan. Hati menolak namun mulut
berat menyatakan. Sejenak merenung, akhirnya dia
menyahut: „Sudah tentu boleh, mari silahkan Liong-heng
melihatnya." Thian-coat-kiam segera diangsurkan.
Liong Go menyambuti dengan kedua tangan. Sekali
menjentik pelahan-lahan, batang pedang itu berdering nyaring
laksana aum naga. Demi dilolos dari kerangkanya, pedang itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memancarkan cahaya bening berkilau-kilauan. Wajah Liong Go


mengerut kejut.
„Sudah lama sekali pedang Thian-coat-kiam itu menghilang.
Benar tak menyamai kesaktian pedang-pedang Kan-ciang,
Bok-ya, Ki-kwat dan Liong-cwan, namun juga sebuah pusaka
persilatan yang jarang terdapat. Dengan memiliki pedang
pusaka macam begini, ilmu kepandaian saudara tentu amat
tinggi. Entah siapakah suhu terhormat dari hengtay itu?"
Ditanya begitu, kembali wajah Siau Ih menjadi merah.
Tersipu-sipu dia menyahut: „kepandaian Siaute hanya berasal
dari engkong, mana dapat mencapai tingkat tinggi."
Setelah memasukkan pedang ke dalam sarung dan
menyerahkan kembali, berkatalah Liong Go: „Kalau begitu,
seperti halnya dengan Siaute, pun sejak kecil hanya mendapat
pelajaran silat dari engkongku. Dahulu sewaktu engkong
masih aktif, kaum persilatan telah memberi gelaran Thiat-san-
sian (si Dewa Kipas Besi)."
Siau Ih terbeliak kaget, serunya: „Oh, kiranya Liong-heng
ini adalah cucu dari Liong Bu-ki locianpwe, tokoh dari sepuluh
Datuk yang bergelar Tui-hun-cap-sa-san (Tigabelas kipas
perengut jiwa). Kipas yang Liong-heng bawa itu, tentulah
pusaka milik Liong locianpwe dahulu, maaf, Siaute sudah
berlaku kurang hormat tadi!"
„Memang benar yang Siau-heng katakan, benda yang
Siaute bawa ini adalah kipas tui-hun-san kepunyaan engkong.
Dengan dapat mengenal kipas ini, leng-cou (engkongmu)
tentulah bukan tokoh sembarangan, tapi entah siapakah
namanya yang terhormat?"
Jawab Siau Ih dengan minta maaf: „Waktu turun gunung,
engkong pesan agar untuk sementara ini jangan
menguwarkan namanya, harap Liong-heng maafkan keadaan
Siaute itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Kalau begitu, baiklah, Siaute tak menanyakan lagilah.


Hanya saja apakah kiranya Siau-heng sudi mengikat
persahabatan dengan orang-orang yang lebih rendah?" kata
Liong-Go.
„Alangkah bahagia Siaute tadi, pada waktu pertama-tama
terjun dalam masyarakat ramai, dapat berjumpa dengan
seorang sahabat baik. Kalau tiada Liong-heng, Siaute mungkin
akan mendapat malu besar. Untuk itu, lebih dahulu Siaute
hendak menghaturkan terima kasih," kata Siau Ih sembari
berbangkit lalu membungkuk di hadapan Liong Go.
Sudah tentu Liong Go menjadi tersipu-sipu dan balas
memberi hormat. Katanya pula: „Kalau Siau-heng berlaku
demikian, Siaute merasa tak enak. Kalau kita berdua memang
benar-benar hendak mengikat persahabatan, mengapa tak
mengangkat saudara saja, bukanlah hal itu akan lebih
merapatkan perhubungan lagi?”
Siau Ih serta merta menyetujui. Menurut perhitungan Liong
Go berusia delapanbelas tahun. dan Siau Ih enambelas tahun,
jadi Liong Go lah yang menjadi kakak. Hubungan mereka
menjadi lebih akrab. Dari pertukaran percakapan, panjang
lebar mereka mempersoalkan kesusasteraan dan ilmu silat
serta kaum gagah dari dunia persilatan.
Rupanya Liong Go lebih banyak pengalamannya. Boleh
dikata seluruh pembicaraan itu diborong olehnya. Siau Ih
hanya mendengari saja dengan rasa kesengsam. Saking
asyiknya, tahu-tahu hari sudah petang.
„Hiante, karena kelebuh dalam percakapan, sampai lupa
diri. Malam ini terpaksa kita makan malam lagi dirumah makan
sini," kata Liong Go.
Siau Ih hanya tertawa saja. Begitulah setelah memesan
hidangan lagi, keduanya lanjutkan mengobrol. Atas
pertanyaan Liong Go, Siau Ih menerangkan kalau belum
mendapat penginapan untuk malam itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong Go usulkan lebih baik menginap dihotel sebelah muka


sana itu, karena tempatnya bersih. Siau Ihpun tak menolak.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, Liong Go
menanyakan kemanakah gerangan Siau Ih hendak pergi.
„Sebenarnya Siaute mendapat perintah pergi ke Tiam-jong-
san, tapi karena waktunya masih jauh, jadi lebih dahulu
hendak menikmati alam pemandangan di daerah Kanglam,"
sahut Siau Ih.
„Aku justeru hendak pesiar ke Hangciu, mengapa hiante tak
mau ikut kesana, melihat-lihat pemandangan nan indah
permai dari telaga Se-ouw, dari itu menuju ke Kiangse lalu
Suchwan terus membelok ke Hunlam. Suatu tamasya yang
menyengsamkan bukan?"
„Di atas langit terdapat sorgaloka, di atas bumi terdapat
Sociu dan Hangciu". Demikian rangkaikan kata-kata para
penyair untuk melukiskan keindahan alam daerah Kanglam itu.
Sudah tentu Siau Ih ketarik juga.
Setelah membayar rekening hotel, Liong Go membeli dua
ekor kuda lalu ajak Siau Ih berangkat. Tak sampai sehari,
tibalah mereka di kota Hangciu yang termasyhur.
Hangciu
Pernah menjadi ibukota dari baginda-baginda Go-ong,
Gwat-ong, Khi-ong, Bu-ong, Siok-ong dan kerajaan Lam Song.
Letaknya disepanjang sungai yang mengalir kelaut, banyak
terdapat rawa dan telaga serta bendungan-bendungan air.
Tata tenteram kerta raharjo atau rakyat aman sentausa,
perdagangan makmur.
Itulah maka mendapat julukan sebagai ''sorga"
dipermukaan bumi Disebelah barat kota, terbentanglah telaga
Se-ouw yang termasyhur di seluruh negeri. Telaga itu
dikelilingi oleh barisan gunung. Alam pemandangannya indah
permai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari zaman ke zaman merupakan tempat para ulama saleh


mencari ketenteraman batin, para pujangga menggali ilham
dan tempat rakyat negeri berkreasi (cari hiburan). Hangciu
benar-benar merupakan tempat yang romantik.
Liong Go dan Siau Ih lambatkan kudanya. Walaupun
matahari musim rontok amat teriknya, namun jalanan-jalanan
besar maupun kecil dalam kota itu, rumah-rumah makan dan
kedai-kedai minum, penuh sesak orang berhilir mudik. Mereka
berdua segera mencari sebuah penginapan.
Setelah membersihkan diri, mereka keluar pesiar. Liong Go
ajak Siau Ih ketelaga Se-ouw. Disitu mereka menyewa sebuah
perahu.
Ternyata ditengah telaga itu penuh berkeliaran perahu-
perahu pesiar. Riang canda gelak tawa, selalu terdengar dari
setiap perahu yang diturapangi. Siau Ih yang berhari-hari naik
kuda, kini merasa luang bebas. –
Selagi kedua anak muda itu minum-minum sembari
menikmati pemandangan telaga, tiba-tiba dari tepi sebelah
sana terdengar suara hiruk pikuk. Letakkan cawan arak yang
sedianya akan diminum, Siau Ih melongok keluar.
Jauh ditepi telaga sana, tampak ada beberapa lelaki gagah
sedang mengepung seorang tua bersama seorang gadis. Di
bawah jerit makian orang-orang itu, si pak tua berlutut
sembari mengangguk-anggukkan kepala. Sedang gadis itu
melindungi ayahnya, dari kemungkinan serangan orang-orang
lelaki kasar itu.
Siau Ih menduga tentulah segerombolan kawanan durjana
tengah unjuk aksi tengik menganiaya orang, Serentak
bangunlah nuraninya. Kala itu Liong Go pun keluar ke geladak.
Demi melihat wajah Siau Ih menampil kegusaran, dia buru-
buru menanyakan halnya.
„Toako, coba lihat tu!" seru Siau Ih sembari menuding ke
tepi telaga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demi memandang, Liong Go pun mengerutkan alis,


ujarnya: „Di bawah sinar matahari yang terang benderang,
kawanan bangsat mau jual ketengikannya. Hiante, ayuh kita
pergi kesana!"
Tapi ketika diperintah, si tukang perahu tampak pucat dan
geleng-gelengkan kepala sembari komat kamit berbicara
bahasa daerah itu. Siau Ih tak mengerti tapi ditilik dari gerak
geriknya nyata kalau tukang perahu itu jeri terhadap kawanan
tukang kepruk itu.
„Jangan kuatir, kita tentu dapat memberesi mereka," kata
Siau Ih menenangkan si tukang perahu, sembari menjanjikan
tarnbahan upah.
Akhirnya mau juga si tukang perahu itu. Tiba di tepi telaga,
setelah membayar sewa perahu, Liong Go dan Siau Ih cepat
menuju ke tempat ramai-ramai itu.
Seorang lelaki tinggi kurus, tampak mencaci si orang tua
yang berlutut itu: „Orang tua she Ih, kau punya muka tidak?
Karena berhutang pada Teng tongcu, kau seharusnya
menerima apa keputusannya. Kini Teng-tongcu tak mau
menerima pembayaran uang, melainkan menghendaki anak
perempuanmu sebagai gundik. Disamping itu kau akan
mendapat hadiah duapuluh bahu sawah. Turut nalar, itu
sudah terlampau murah hati, mengapa kau masih main tolak
saja? Hari ini adalah hari jatuhnya waktu pembayaran, dari
membayar kau malah hendak membawa lari gadismu kelain
tempat. Kedosaanmu itu pantas dihukum mati, nah,
katakanlah bagaimana kehendakmu?"
Pak tua she Ih itu anggukkan kepala sampai mengenai
tanah, lalu meratap: „Anakku itu telah ditundangkan pada lain
orang. Untuk kebaikan hati Teng-tongcu, nanti pada lain
penjelmaan si tua yang rendah ini baru dapat membalasnya.
Tentang hutangku itu, sudilah kiranya para toaya sekalian
menyampaikan pada Teng-tongcu agar bermurah hati untuk
memberi kelonggaran beberapa hari lagi ..........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Heh, heh," tukas si kurus jangkung, „enak saja kau


bermain lidah. Sudah jangan banyak kata, kalau benar-benar
arak-kebahagiaan tak mau minum dan minta arak-hukuman,
jangan salahkan toayamu berhati kejam ya!"
Selagi kawanan tukang kepruk itu berisik menambah
keangkeran ancaman si tinggi kurus, Siau Ih sudah lantas
melangkah maju. Dengan dua buah jari, dia tepuk bahu si
tinggi kurus itu pelahan-lahan, serunya berbisik: „Bunuh orang
ganti jiwa, hutang uang bayar uang. Di bawah gemilang
matahari, berani mengancam orang sewenang-wenang,
aturan mana itu?”
Si tinggi kurus itu terkejut berpaling. Demi dilihatnya hanya
seorang pemuda berumur 16-17 tahun, kecongkakan timbul.
Dengan galak, dia memaki: „Bangsat kecil, kau berani usilan,
apa mau cari ..........”
Belum sempat dia lanjutkan kata „mati", plak, pipinya kiri
telah ditampar si anak muda. Begitu keras tarnparan itu,
sampai dia terhuyung mundur beberapa langkah, mata
berkunang kepala pusing tujuh keliling. Separoh pipi kirinya
menjadi begap biru dan tergurat dengan 5 buah jari tangan.
Melihat itu, kawan-kawan si tinggi kurus segera menyerbu
Siau Ih dan Liong Go.
„Toako, rupanya kawanan anjing ini biasa bikin onar. Hari
ini Siaute hendak membasminya, supaya rakyat terhindar dari
bahaya!" seru Siau Ih.
Belum sempat Liong Go menyahut, kawanan tukang kepruk
itu sudah menyerangnya dengan senjata tajam.
„Toako, tolong lindungi ayah dan gadisnya itu, biar Siaute
yang menghajar kawanan budak ini!" seru Siau Ih pula.
Liong Go menurut. Dia ajak si pak tua dan gadis untuk
minggir disamping, menyaksikan Siau Ih beraksi. Terhadap
kawanan tukang kepruk kelas kambing, Siau Ih tak banyak
keluarkan tenaga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam beberapa gerakan saja, dapatlah dia menutuk rebah


enam orang musuh yang bengis-bengis itu. Setelah itu, dia
menghampiri ke tempat orang tua she Ih tadi.
„Kawanan budak hina itu telah cayhe beri sedikit ajaran.
Tapi bagaimanapun rasanya lo-jinke (pak tua) tak akan tinggal
di kota Hangciu sini. Lebih baik lekas-lekas pergi, sementara
waktu mengungsi ke tempat famili dulu ........”
Baru berkata sampai disini, Siau Ih berputar ke arah Liong
Go dan berseru: „Toako ......”
Liong Go sudah dapat menangkap apa yang hendak
dikatakan saudaranya angkat itu. Cepat-cepat dia sudah
mengambil serangkum perak hancur untuk diberikan kepada
orang tua itu, katanya: „Sedikit uang yang sempat kubawa ini,
harap Iojinke suka menerimanya untuk ongkos perjalanan!"
Betapa rasa terima kasih orang tua kepada kedua anak
muda itu, sukar dilukis. Lengan bercucuran air mata, dia
berkata: „Mohon tanya siapa nama inkong berdua ini, agar
aku si orang tua dapat ........”
„Usah lo-jinke mengatakan begitu. Menolong yang lemah
menin das yang lalim, adalah kewajiban setiap orang.
Mumpung hari masih terang, lebih baik Lekas-lekas
berangkatlah!"
Bersama anak gadisnya, pak tua itu beberapa kali menjura,
kemudian berkata dengan nada gemetar: „Karena inkong
berdua tak mau memberitahukan nama, aku si orang tuapun
tak berani mendesak. Hanya mengenai kawanan tukang
kepruk itu, adalah anak buah dari ketua partai Thiat-sian-pang
cabang Hangciu yang bernama To-thau-thayswe Teng Hiong.
Dia banyak kenalannya dengan kaum pembesar, kejahatannya
keliwat takeran. Semua penduduk Hangciu tahu siapa 'raja'
yang punya banyak jagoan kepruk itu. Memang Thiat-sian-
pang besar sekali pengaruhnya, harap inkong berdua berhati-
hati."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

--0dw0--
8. Benggolan Thiat-sian-pang
Siau Ih menyatakan terima kasih atas peringatan orang tua
itu. Setelah didesak Liong Go, barulah orang tua itu
menghaturkan terima kasih lalu ajak gadisnya pergi.
„Toako, rasanya masih enak kalau kawanan budak itu
hanya diberi hajaran begitu, Siaute hendak menambahnya
lagi." kata Siau Ih. Dan sebelum Liong Go sempat mencegah,
dia sudah menghampiri ke enam orang tadi.
„Blak, blak,” demikian kakinya memberi persen dupakan
untuk membuka jalan darah yang tertutuk, maka bangunlah
ke enam jagoan itu. Namun baru saja mereka hendak
melarikan diri, Siau Ih sudah membentaknya „berhenti!".
Tidak begitu keras bentakan Siau Ih itu, namun semangat
mereka sudah copot dan berhentilah mereka terpaku di tanah.
„Mau ngacir? Hem, mana di dunia ada barang yang begitu
enak. Turut kejahatanmu tadi, hukuman sudah jauh dari
murah. Tapi karena hari ini Siauya sedang bermurah hati,
maka tak mau menjatuhkan hukuman berat. Yang kuminta
hanya kalian berenam harus motong kuping kirimu sendiri,
selanjutnya harus bersumpah takkan melakukan kejahatan
lagi, barulah boleh pergi. Kalau tidak, hem, jangan salahkan
aku berlaku kejam!"
Biasanya keenam jagoan itu amat galak, berlagak tuan
besar sudah menjadi air mandinya (kebiasaan buruk).
Mendengar perintah anak muda itu, mata mereka mendelik
gusar.
„Hoo, apakah sauya perlu turun tangan sendiri?" Siau Ih
tertawa dingin. Sepasang alisnya yang luar biasa itu,
mengerut sehingga membuat keenam orang itu mengkirik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menolak tidak dapat, menurutpun berat. Keenam orang itu


seperti orang gagu yang menelan getah, menderita tapi sukar
mengatakan.
Akhirnya salah seorang yang rupanya menjadi pemimpin,
menyahut dengan suara keras: „Benar toaya hari ini kalah,
tapi Thiat-sian-pang pun bukan sebuah partai yang gampang
dihina. Saudara-saudara, ayuh kita potong kuping sendiri!"
Habis berseru, dia segera memungut badiknya yang jatuh
di tanah. lalu “cris,” diperungnyalah (dipotong) telinganya kiri
sendiri. Kelima kawannya juga lantas meniru. Saat itu
berserakanlah enam buah daun telinga dengan darahnya
memerah di tanah. Walaupun wajah pucat, keringat dingin
mengucur, namun keenam orang itu tetap tak mau sesambat.
Diam-diam Siau Ih terkejut melihat kekerasan, hati mereka,
namun pada lahirnya dia tetap bersikap dingin. ujarnya:
„Kalau tak terima, boleh cari padaku, ayuh lekas enyah!"
Memandang sejenak dengan dendamnya, sembari
mendekap telinga keenam jagoan itu ngelojor pergi. Tak
kurang dari duaratusan orang yang melihat kejadian itu dari
kejauhan, sama bersorak memuji.
Siau Ih menanyakan Liong Go bagaimana dengan caranya
dia memberi pelajaran pada keenam jagoan tadi.
,,Benar dapat menggembirakan hati orang-orang, tapi agak
terlalu kejam!" sahut Liong Go.
„Dahulu sewaktu Tui-hun-cap-sa-san malang melintang di
dunia persilatan, rasanya tak semurah hati seperti toako
sekarang. Turut pendapat Siau-te, hukuman itu sudah terlalu
murah bagi mereka!" bantah Siau Ih dengan tertawa.
Liong Go hanya menggeleng. Karena gangguan itu,
kegembiraan pesiar merekapun agak berkurang, maka mereka
lalu pulang ke hotel.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Mungkin karena baru-baru terjun di dunia persilatan,


hiante tentu tak begitu jelas akan keadaannya. Thiat-sian-
pang itu adalah sebuah partai yang baru beberapa tahun ini
mengangkat diri. Pangcunya bernama Sut Cu-bing gelar Seng-
si-poan (hakim yang memutuskan mati hidup). Kecuali
memiliki ilmu tinggi, diapun mempunyai kecerdasan yang
cemerlang, orangnya amat ambisius (kemaruk). Dengan
bayaran dan hadiah bagaimana pun besarnya, dia tak sayang
mengeluarkan asal dapat membeli tenaga-naga kosen. Maka
banyaklah benggolan-benggolan dan durjana-durjana yang
sudah lama mengasingkan diri, semua masuk ke dalam
partainya. Oleh karena itu, Thiat-sian-pang mempunyai
jagoan-jagoan yang sakti. Tindakan hiante tadi, berarti sudah
mengikat permusuhan dengan mereka, dan untuk itu tentu
bakal menjumpai beberapa kesukaran," kata Liong Go
sewaktu berada di hotel.
Siau Ih hanya ganda tertawa, sanggahnya: „Turut ucapan
toako itu, habis siapakah yang berani membasmi perbuatan
jahat semacam itu?"
„Bukannya aku takut urusan, tapi karena mereka itu gemar
melakukan pembalasan dendam, baik secara terang maupun
gelap, maka selanjutnya, kita harus selalu berhati-hati,” kata
Liong Go.
Baru mereka tengah bercakap-cakap itu, masuklah jongos
dengan wajah ketakutan sembari memberikan sepucuk surat
kepada Siau Ih. Setelah diongos pergi dan Siau Ih
membukanya, ternyata surat itu berbunyi seperti berikut:
„Atas pengajaran tadi siang, kami membilang banyak
terima kasih. Tengah malam nanti, kami nantikan kedatangan
saudara di makam Gak-ong.
Sekian maaf dan sampai ketemu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ini sungguh kebetulan sekali. Harap toako suka membantu


Siaute membasmi malapetaka rakyat," kata Siau Ih sembari
serahkan surat itu kepada Liong Go.
Habis membaca, Liong Go memberi nasehat: „Benar
kemungkinan besar kita tentu menang tapi janganlah kita
dimabuk kegirangan."
Sore itu setelah makan, mereka sama duduk bersemadhi
memelihara semangat. Begitu kentongan dipukul duabelas
kali, Siau Ih dengan membekal pedangnya dan Liong Go
masih dalam dandanan seperti siang tadi, segera keluar
menuju ke belakang. Setelah melompati tembok belakang,
mereka lalu gunakan ilmu berlari cepat menuju kemakam Gak-
ong.
Dalam tengah malam seperti kala itu, jalan-jalan pun sudah
sepi orang. Dengan "terbang" di atas rumah demi rumah, tak
berapa lama kemudian tibalah sudah keduanya dimakam itu.
Makam itu adalah tempat kuburan dari Gak Hui, seorang
jenderal besar dari kerajaan Lam Song. Letaknya di puncak Ki-
he-nia, bangunannya amat megah sekali. Di depan makam
ditanami pohon-pohon siong-pik. Oleh orang-orang zaman
belakangan, pohon-pohon itu disebut khing-tiong-pik atau
pohon pik patriot. Pohonnya menjulang tinggi, daunnya amat
rindang.
Di muka makam Gak-ong yang sunyi senyap itu, muncullah
empat orang dengan pakaian ringkas. Mereka tengah
berunding. Kata salah seorang: „Sekarang sudah pukul
duabelas, jangan-jangan bangsat kecil itu diam-diam
melarikan diri, ah, tentu berabe untuk mencarinya!”
„Kami berdua sudah lama berada disini, sesalilah dirimu
sendiri yang punya mata tapi tak dapat melihat!" serempak
terdengar sebuah suara menyahut dengan tiba-tiba.
Kejut ke empat orang tadi tak terkira. Memandang ke arah
suara tadi, sekonyong-konyong terdengar suara “bret,” dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari sebatang pohon pek tua yang tinggi, melayanglah dua


sosok tubuh turun kehadapan mereka.
Berbareng pada saat itu, di bagian belakang makam yang
berbentuk oval itu, muncul sebuah bayangan. Dengan hati-
hati orang itu menyembunyikan diri dan mengawasi kesebelah
muka dengan penuh perhatian.
Dua sosok tubuh yang melayang dari atas pohon pek itu
ialah Siau Ih dan Liong Go. Gerak melayang turun keduanya
yang begitu indah dan tenang, belum-belum sudah membuat
bercekat ke empat orang tadi. Kini mereka sudah saling
berhadapan. Keadaan hening sejenak.
Sekonyong-konyong pecahlah sebuah ketawa yang nyaring
memanjang. Salah seorang dari keempat orang tadi, tampak
tampil ke muka Siau Ih berdua. Orang itu bertubuh kekar,
mata bundar beralis tebal, pada dahinya tumbuh sebuah tahi-
lalat. Usianya lebih kurang empatpuluh tahun.
„Kalian berdua bukankah bocah yang mengadu biru cari
urusan siang tadi?" tegurnya dengan suara menggeledek.
Melihat sikapnya yang garang, Siau Ih menduga tentulah
orang itu si To-thau-thayswe Teng Hiong, itu tongcu Thiat-
sian-pang (partai kawat besi) cabang Hangciu. Anak muda itu
hanya tertawa dingin, sahutnya: „Tentunya kau ialah To-thau-
thay-swe Teng Hiong itu. Tengah malam mengundang sauya
kemari, mau ada urusan apa?”
Memang orang itu bukan lain Teng Hiong adanya. Demi
melihat sikap jumawa dari Siau Ih, amarahnya meluap-luap.
Bentaknya dengan murka: „Kau dan aku tiada saling
bermusuhan, tapi mengapa kau berlaku kejam kepada anak
murid partai kami?”
Kembali Siau Ih tertawa mengejek.
„Umat dunia mengurus urusan dunia, adalah sudah jamak.
Untuk perbuatanmu dan kawan-kawan itu, mati adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hukuman yang setimpal. Apa yang kulakukan siang tadi


hanyalah hukuman enteng, sudah keliwat murah, masakah
kau tak terima?"
Karena marahnya, Teng Hiong berjingkrak-jingkrak seperti
katak loncat. Tiba-tiba terdengar sebuah seruan yang
melengking nyaring: „Teng-tongcu, banyak bicara buang
waktu saja. Masakah dua anak yang masih berbau tetek itu
dapat berbuat apa, ringkus dulu baru didamprat lagi!"
Nadanya seperti anak bayi, tapi mengandung keseraman.
Kumandangnya sampai lama masih terdengar di udara. Semua
orang yang berada dihalaman makam itu, menjadi merinding
(berdiri bulu tengkuknya).
Liong Go yang sejak tiba di lapangan itu belum buka suara,
kini memandang ke arah suara itu. Ternyata orang yang
bersuara seram itu, hanyalah seorang tua yang berwajah
pucat, kurus kering dan mengenakan baju kuning.
Di belakang pundaknya menggantung sepasang senjata
yang berkilau-kilauan hitam. Bentuknya aneh, gaetan bukan
gaetan, pedang bukan pedang. Tegak berdiri di tempat, orang
tua itu tersenyum dingin, wajahnya menampil hawa
pembunuhan.
Melihat dia, Liong Go terperanjat. Sekilas teringatlah dia
akan seseorang, pikirnya: „Apakah dia benar-benar muncul
lagi di dunia persilatan, kalau benar dianya .........”
Melangkah ke muka, dia memberi hormat, serunya:
„Apakah yang berseru tadi bukannya Jin-mo Kiau Hoan?”
Sepasang mata si orang tua kurus yang setengah dibuka
setengah meram itu, tiba-tiba dibeliakkan. Dengan sinar
berkilat-kilat dia menatap Liong Go. Hanya bahunya saja yang
tampak agak bergerak dan tahu-tahu dia sudah ‘terbang’.
melalui Teng Hiong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Buyung, mengapa kau ketahui nama lohu?" serunya


dengan lantang.
Bahwa perkiraannya betul, telah membuat Liong Go
terkesiap. Menyahut dia dengan tertawa: „Kiau Hoan, masih
kenalkan kau pada benda ini?'' Berbareng itu, Liong Go sudah
mengeluarkan kipasnya.
Menatap sejenak, wajah Kiau Hoan berobah, kakinyapun
mundur selangkah. „Pernah apakah kau dengan Liong Bu-ki?”
„Itulah engkongku!" sahut Liong Go.
Wajah perok (pucat kurus) Kiau Hoan, menunduk.
Kemudian tertawa dengan seramnya: „Penasaran harus
dilampiaskan pada biangkeladinya. Namun sejak lohu
menerima 'hadiah' sebuah kipasan dari engkongmu pada
duapuluh tahun berselang, sedetikpun lohu tak pernah
melupakan. Meskipun tak beruntung mencari dapat Liong Bu-
ki, tetapi dengan cucunya, boleh jugalah lohu melampiaskan
dendam itu!"
Liong Go balas tertawa, sahutnya: „Dengan kejahatanmu
pada masa itu, mati adalah bagianmu yang pantas. Tapi
karena sayang akan bakatmu, engkong hanya membikin cacad
dirimu saja menjadi seorang yang ludas kepandaian.
Bahwasanya kau beruntung mendapat jodoh orang sakti
sehingga dapat berlatih silat lagi, seharusnya kau harus
perbarui cara hidupmu, dari kegelapan menuju ke jalan
terang. Tapi ternyata kau masih belum insyaf dan mau
menjadi kaki tangan Thiat-sian-pang. Perbuatanmu itu pantas
dikutuk dan jangan kira aku tak dapat menggoreng dirimu
seperti yang dilakukan engkong tempo dulu!"
Mendengar itu, si Jin-mo atau Manusia Iblis Kiau Hoan
menjadi merah padam. Dia tertawa melengking: „Buyung, kau
sungguh berlidah tajam, tapi biarlah lohu tak mengurusi hal
itu. Kini kalau kau sanggup menerima sepuluh jurus
seranganku, lohu akan lepas tangan dari urusan ini. Tapi kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak, hutang lama itu terpaksa kaupun harus ikut


membayarnya!"
„Ha, ha ......” Liong Go terbahak-bahak: „Jangankan
sepuluh, seratus juruspun aku bersedia menyambutnya!"
Jin-mopun tertawa iblis, katanya kepada Teng Hiong:
„Malam ini justeru kebetulan sekali dapat kesempatan untuk
melampiaskan dendam lama. Tapi entah apakah Teng-tongcu
suka memberi ketika lebih dahulu pada lohu?”
Teng Hiong ter-sipu-sipu memberi hormat, jawabnya.
„Peraturan dari Hok-siu-tong mengatakan, apabila pangcu
datang berkunjung, tecu harus menurut perintah." Habis
berkata, dengan hormat sekali Teng Hiong mundur.
„Buyung, lebih baik urusan kita ini lekas-lekas dibereskan!"
seru Kiau Hoan.
Dari sang engkong, Liong Go pernah diceritakan tentang
kesaktian Kiau Hoan itu dan keganasannya malang melintang
di dunia persilatan. Oleh sebab itulah maka dia mendapat
julukan Jin-mo si Manusia Iblis. Duapuluh tahun berselang
kalangan persilatan geger dengan kekejaman Manusia Iblis
itu.
Disitulah dirangsang kemarahan, Tui-hun-san Liong Bu Ki
melumpuhkannya menjadi seorang invalid. Tak nyana durjana
itu dapat meyakinkan ilmu silat lagi dan begitu muncul di
dunia persilatan lantas menggabung dalam Thiat-san-pang
dengan menduduki pangkat sebagai hu-hwat atau pelaksana
undang-undang.
Jin-mo itu seorang manusia yang licik dengan kejamnya.
Bahwa seorang manusia iblis itu sumbar-sumbar hanya akan
mengujinya (Liong Go) dalam sepuluh jurus terang tentu
memiliki kepandaian yang sakti.
Diam-diam Liong Go sangsi, apakah dia dapat bertahan
nanti. Karena sangsi, dia menjadi agak tegang. Namun karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

urusan sudah sampai sedemikian rupa, tiada lain jalan kecuali


harus menghadapinya dengan seluruh kepandaian.
Sambil merapikan pakaiannya, berkatalah Liong Go kepada
Siau Ih: „Harap hiante melihat disamping saja, biar kulayani
sepuluh jurus serangan iblis tua itu!"
Mendengar nada Liong Go agak gentar, tahulah Siau Ih apa
yang dikandung dalam hati saudara angkatnya itu. Dengan
tertawa dia menyahut: „Sejak dahulu, golongan iblis itu tentu
tak dapat memenangkan golongan suci. Harap toako
lapangkan dada, Siaute akan mengawasi disamping."
Liong Go hanya tersenyum, mengipas-ngipaskan Tui-hun-
san, dengan tenang dia melangkah ke dalam gelanggang.
Melihat ketenangan anak muda itu, terutama sinar matanya
yang berapi-api, tak urung Kiau Hoan terperanjat juga. Apalagi
dia pernah merasakan betapa kehebatan kipas tui-hun-cap-sa-
san itu, maka diapun tak berani memandang rendah lagi
kepada si anak muda. Begitu tubuh agak dimiringkan, maka
senjata aneh yang menggemblok di belakang punggungnya itu
sudah beralih ke dalam tangan.
Melihat itu, tertawalah Liong Go dengan jumawa: „Malam
ini Tui-hun-san akan bertemu kembali dengan oh-kim-cat,
sungguh suatu pertemuan yang menggembirakan. Setan tua,
lekaslah menyerang lebih dulu!"
Diiring dengan tertawa dingin, tanpa tampak mengadakan
gerakan apa-apa, tahu-tahu tubuh si Manusia Iblis sudah
maju. Tangan kiri menampar ke atas sampai menerbitkan
suara keras, lalu oh-kim-cat berputar-putar menusuk.
Untuk itu Liong Go gunakan gerak ing-loh-han-tong
(bayangan jatuh diempang dingin), miring ke samping. Begitu
menghindar tusukan, tubuhnya memanjang memuka, dengan
gerak khong-jiok-thi-leng (burung gereja kibaskan sayap), dia
balas menutuk ulu hati orang dengan kipasnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiau Hoan mundur sembari tertawa iblis dan tahu-tahu


sudah merobah kuda-kuda kakinya. Lalu dalam gerak
setengah menutuk setengah menabas, oh-kim-cat menyerang
pula dengan tenaga kong-gi penuh. Sederhana saja
tampaknya serangan itu, namun gerak perobahannya sukar
diduga. Liong Go seolah-olah dikepung dalam sinar oh-kim-
cat. Kemana dia hendak menyingkir, senjata cat yang terbuat
dari emas hitam itu selalu membayanginya.
Tapi sebagai ahliwaris dari Tui-hun-cap-sa-san Liong Bu-ki
yang pernah menggegerkan dunia persilatan, Liong Go pun
ketahui akan serangan itu. Tak mau dia menghindar kemana-
mana, cukup hanya mendongakkan separoh tubuhnya ke
belakang, lalu dengan menurutkan posisi tubuhnya itu kipas
dikebutkan terbuka, untuk dalam gerak hui-oh-bu-hwat (anai
terbang ke arah api) menampar oh-kim-cat dari samping.
Di dunia persilatan terdapat sebuah pepatah: „Kalau
seorang ahli bergerak, segera dapat diketahui isi kosongnya".
Begitulah berlaku pada pertempuran Liong Go - Kiau Hoan.
Walaupun hanya dua gebrak saja, tahulah si Manusia Iblis
Kiau Hoan bahwa anak muda lawannya itu benar-benar sudah
mewarisi seluruh kepandaian engkongnya. Disamping dapat
mengambil putusan secara cepat tepat, pun permainan kipas
pemuda itu sudah mencapai kesempurnaan. Diam-diam Kiau
Hoan gelisah.
„Sudah terlanjur kukatakan, dalam sepuluh jurus tentu
dapat mengalahkannya. Kalau sampai meleset, kemana
hendak kutaruh mukaku dihadapan Teng Hiong dan kawan-
kawan itu?" pikirnya. Dirangsang oleh nafsu menjaga
gengsinya, nafsu-bunuhnya berkobar-kobar. Sekonyong-
konyong bersuit keras, dia loncat mundur setombak jauhnya.
Melihat itu, Liong Go hanya ganda tertawa saja: „Setan tua.
bukannya maju menyerang malah loncat mundur itu
bagaimana? Takutkah?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kata-katanya itu dibarengi dengan gerak liong-heng-it-si


atau naga bergerak melempeng lurus, tubuhnya maju
menutukkan kipasnya ke arah tenggorokan lawan.
„Buyung, ini kau cari mati namanya!" Kiau Hoan
menyambutnya dengan lengking tertawa tajam. Sepasang cat
dipindah ke tangan kiri, begitu sepasang lutut ditekuk, dia
melambung ke atas. Sebelum Liong Go sempat menangkis,
jari kanan Kiau Hoan laksana cakar besi sudah menampar
kipas, sementara sepasang kim-cat di tangan kiri dibabatkan
ke pinggang orang.
Mimpipun tidak Liong Go, bahwa gerakan lawan sedemikian
luar biasanya. Ketika insaf ada ancaman, ternyata sudah
kasip. Batang kipas yang dicekal di tangan kanan serasa
tergentar keras, sehingga hampir saja kipas itu terlepas jatuh,
dalam pada itu pinggangnya terasa disambar angin keras.
Dalam kejutnya, dia cepat tarik pulang kipasnya, kemudian
dengan tangan kiri dia tolak sepasang kim-cat. Menyusul sang
kaki berputar dalam gerak liu-si-ing-hong dan dia menyurut
mundur beberapa langkah.
Gesit sekalipun Liong Go berusaha menghindar, namun tak
urung pakaian suteranya terpapas rowak sampai beberapa
centi panjangnya. Keringat dingin mengucur, wajah merah
padam. Siau Ih yang berdiri mengawasi disamping jantungnya
sudah serasa mau loncat keluar .........
Sebaliknya disana Kiau Hoan pun menampilkan rasa kejut-
kejut kagum yang tak tertara. Pada lain saat, dia kedengaran
tertawa seram lalu berseru dengan nyaring lengking: „Buyung,
dengan dapat lolos dari seranganku tadi, bolehlah dianggap
lihay juga kau ini. Nah, sekarang sambutilah seranganku yang
nomor empat ini!"
Suara masih berkumandang, orangnyapun sudah melesat
tiba. Tinju kanan mendorong lurus ke muka membawa tenaga
tekanan laksana gunung roboh menindih dada, sepasang kim-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cat dilayangkan ke bawah dalam gerak to-ceng-kim-ciong


(menghantamkan jungkir lonceng emas), mengancam keperut
Liong Go .........
--0dw0--
9. Satu Di Luar Lautan Satu Menghilang
Kini tak berani lagi Liong Go meremehkan, kaki melangkah
mengayun tubuh, dia hindari sepasang cat. Kemudian dengan
mengundang seluruh tenaga, dia tangkis pukulan Kiau Hoan.
Adu kekerasan itu memberi penilaian jelas, Kiau Hoan
terhuyung sedikit, sedangkan Liong Go matanya berkunang-
kunang, kakinya menyurut mundur lima tindak baru dapat
berdiri jejak.
Kini tahulah sebabnya Liong Go, mengapa si Manusia Iblis
itu dapat malang melintang di dunia persilatan. Memang
ternyata dia masih kalah setingkat tenaganya. Kalau adu
kekerasan, berarti cari penyakit. Lebih baik dia gunakan ilmu
ajaib permainan tui-hun-cap-sa-san ajaran sang engkong,
agar dapat bertempur penuh sampai sepuluh jurus yang
dijanjikan. Tidak menang asalpun jangan kalah. Demikian dia
mengambil putusan.
Pada saat itu, si Manusia Iblispun sudah maju menyerang
lagi. Pertempuran kali ini, berbeda dari tadi. Kalau Liong Go
menggunakan siasat defensif (bertahan), adalah si Manusia
Iblis sangat agresif (menyerang) sekali. Iblis ini sangat
bernafsu sekali untuk lekas-lekas dapat memukul roboh anak
muda itu agar dapat menghimpaskan dendamnya pada
duapuluh tahun yang lampau.
Tubuh Kiau Hoan berputar-putar mengepung rapat-rapat
sang lawan. Berkelebatan laksana petir menyambar, dia terus
mencari lubang kesempatan untuk memberi pukulan maut.
Setiap gerak dan jurus serangannya adalah fatal (mematikan).
Sebaliknya Liong Go telah keluarkan seluruh permainan
kipas tui-hun-cap-sa-san, ilmu permainan yang pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggemparkan dunia persilatan pada masa yang lampau.


Kipas tui-hun-san melayang-layang bagai tebaran awan
membungkus dirinya. Tiga buah serangan maut dari si
Manusia Iblis, meskipun amat dahsyat, namun dapat
dibuyarkan oleh permainan kipas tui-hun-san yang istimewa
anehnya. Saking gusarnya, si Manusia Iblis sampai
berjingkrak-jingkrak dan bersuit-suit.
Sebuah serangan dalam jurus peng-tee-hong-lui atau
halilintar menyambar di tanah datar, kembali dilancarkan si
Manusia Iblis. Bermula mengancam pinggang, tapi sekonyong-
konyong sepasang oh-catnya yang berada di tangan kiri,
dibalikkan ke atas untuk menghantam kepala lawan.
Terhadap serangan tangan kanan yang keras itu, tak berani
Liong Go menyambutinya. Begitu menghindar, dengan gerak
Loan-tiam-gan-yang (menutuk burung belibis), kipasnya
menampar serangan sepasang oh-cat. Tertutuk sedikit oleh
kipas tui-hun-san, cepat-cepat si Manusia Iblis menarik oh-
catnya. Adalah sesaat tubuh Liong Go agak terhuyung, iblis itu
melengking tertawa.
„Buyung, sambutilah seranganku yang terakhir!” serunya
sembari enjot tubuh sampai satu setengah tombak ke udara.
Dari itu dia berjumpalitan, dengan kaki di atas kepala di
bawah, sepasang oh-cat dihantamkan ke batok kepala lawan
dalam gerak tiang-coa-jip-tong atau ular panjang masuk ke
goa.
Dalam posisi sang tubuh agak mendongak, Liong Go robah
gerakan kipas dari menampar menjadi menghantam.
Maksudnya ialah hendak menangkis dari samping. Tapi dalam
pada itu, diam-diam dia merasa heran sendiri mengapa
serangan terakhir si iblis itu hanya begitu biasa sekali.
Tapi sekonyong-konyong terdengar si Manusia Iblis
tertawa. Kedua oh-kim-cat agak dikesampingkan, berbareng
itu tangan kanan bergerak menyusup ketubuh orang yang tak
terjaga itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika itu Liong Go rasakan tubuhnya tersambar oleh


serangkum angin halus yang amat dingin menggigil. Ya,
begitu dingin sekali, hingga tubuhnya serasa membeku.
Sampai disini barulah dia insyaf kalau kena dibokong si iblis.
„Celaka!" serunya sambil loncat keluar. Tapi begitu kakinya
menginjak tanah, tubuhnya segera akan terkapar jatuh.
Bukan kepalang kejut Siau Ih. Secepat kilat dia loncat
memapah tubuh Liong Go. Astaga, kiranya tubuh sang kawan
itu gemetar, wajah pucat dan giginya berkeretekan menahan
kesakitan yang hebat ........
„Buyung, selamanya lohu tentu melakukan apa yang
kukatakan. Tapi bahwasanya kau telah dapat menerima
sepuluh seranganku, itu sudah cukup lihay. Untuk urusan
selanjutnya, lohu tak mau campur tangan lagi. Tapi karena
kau telah terkena pukulanku thou-kut-im-hong-ciang (angin
Jahat yang merembes ketulang) maka dalam sepuluh hari,
tulang belulangmu akan membeku dan jiwamu pasti
melayang. Satu-satunya obat, ialah apabila kau berjumpa
dengan orang yang paham akan ilmu lwekang kong-tun-yang-
sin-kang. Tapi pada masa ini, hanya ada dua orang tokoh
yang mahir akan ilmu sakti itu. Yang satu berada di luar negeri
dan yang lain sudah tak pernah muncul di dunia ramai lagi,
mungkin sudah mati. Maka biar lohu memberitahukan cara
pengobatannya, juga tiada dapat menolongmu. Dengan
tersiksa mati secara pelahan itu, dapatlah kiranya lohu
melampiaskan hutang dendam itu!" seru si Manusia Iblis
sembari tertawa seram.
Pada saat itu, Teng Hiong dengan pemimpin dua orang
anak buah, sudah menghampiri. Serta merta dengan
hormatnya, dia memberi pujian: „Kesaktian cianpwe sungguh
merajai dunia ......”
„Teng-tongcu!" Kiau Hoan cepat menukasnya, „tak dapat
disangsikan lagi buyung itu pasti akan mati. Tapi karena lohu
tak pernah mengingkari janji, maka setelah dapat menahan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sepuluh serangan, lohupun tak mau campur tangan lagi


dengan urusan ini. Untung hanya tinggal seorang budak kecil,
rasanya kau tentu dapat mengurusi sendiri. Lohu akan kembali
dulu menanti kabar!"
Dan sebelum Teng Hiong menyahut, Manusia Iblis itu
sudah berputar diri terus loncat menghilang.
Mendengar betapa ganasnya pukulan thou-kut-im-hong-
ciang itu, bergidik juga Siau Ih. Dengan begitu, dia tak sempat
menghadang si Manusia Iblis. Sewaktu melihati Liong Go,
didapatinya wajah anak muda itu makin menyatakan
kesakitan.
Diam-diam Siau Ih menjadi gelisah. Sekonyong-konyong
dia mendapat pikiran: „Jin-mo tadi mengatakan bahwa kecuali
dengan kong-tun-yang-sin-kang, luka toako tentu tak dapat
sembuh. Dikolong jagad ini hanya ada dua orang yang
memiliki ilmu lwekang itu, satu di luar lautan satu menghilang
...... ha, jangan-jangan tokoh yang sudah lama tak muncul itu
ayah sendiri .......”
Memikir sampai disini, girangnya meluap. Cepat dikeluarkan
sebuah botol kumala lalu dituangnya sebiji pil warna merah,
yang harum sekali baunya. Pil itu dimasukkan ke dalam mulut
Liong Go, bisiknya: „Engkong telah gunakan waktu sepuluh
tahun untuk membuat pil ini. Dicipta dengan sari lwekang tun-
yang (hawa positif murni). Harap toako salurkan tenaga dalam
agar pil itu bekerja. Nanti siaote mempunyai daya bagus untuk
mengobati luka toako."
Setelah terkena pukulan thou-kut-im-hong-ciang, Liong Go
rasakan suatu derita hawa dingin yang luar biasa sakitnya.
Tapi begitu menelan pil itu, serasa ada hawa panas masuk ke
dalam tubuh. Cepat-cepat dia duduk bersila, lalu salurkan
lwekang. Sungguh ajaib, tak berapa lama kemudian, hawa
yang istimewa dinginnya itu, terasa berkurang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat wajah sang toako makin mulai merah, Siau Ih amat


girang. Dia yakin pasti akan dapat mengobati Liong Go.
Berpaling ke belakang, dilihatnya Teng Hiong bertiga masih
berdiri kira-kira dua tombak disebelah sana. Wajah mereka
bersenyum dingin, seolah-olah jenderal yang menang perang.
Seketika marahlah Siau Ih. Dia terus berbangkit menghampiri.
„Hm", Teng Hiong denguskan hidung, berkata: „Bocah
kawanmu itu sudah meregang jiwanya, masakah kau masih
berani jual lagak?"
Bahwa dirinya dan sang toako dianggap sebagai anak
kambing, makin meluaplah hawa pembunuhan dalam hati Siau
Ih, sahutnya dengan tawar: „Memang aku hendak membikin
perhitungan padamu!”
„Bocah yang tak kenal tingginya langit, ayuh serahkan
jiwamulah!" teriak Teng Hiong sembari loncat menerkam dada
Siau Ih dalam gerak kim-pa-lo-jiao atau macan tutul ulurkan
cakar.
Sambil tertawa dingin, Siau Ih menyelinap ke samping.
Anak buah Teng Hiong yang berada disitu, cepat menghadang
dengan goloknya.
„Bocah kurang ajar, hendak lari kemana kau!" serunya
sembari menabas dengan gerak poan-hoa-kay-ting atau
bunga bertebaran ke atas atap.
Namun dengan miringkan tubuh, dapatlah Siau Ih
menghindar. Menyusul tangan kiri menghantam batang golok,
tangan kanan menutuk sepasang mata lawan dalam gerak
song-liong-hi-cu atau sepasang naga berebut mustika. Waktu
musuh buang kepalanya ke belakang, Siau lh tertawa: „Tolol,
kau tertipu!"
„Plak,” tahu-tahu pipi kiri orang itu tertampar. Karena Siau
Ih gunakan separoh bagian dari tenaganya, maka beberapa
gigi dari orang itu sampai putus. Sambil menyemburkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

darah, dia terhuyung-huyung ke belakang terus jatuh


terduduk.
Saat itu Teng Hiong bersama anak buahnya yang bertubuh
tinggi kurus, sudah menyerbu datang. Mereka gunakan
pedang song-bun-kiam dan sepasang tangan besi
menghantam punggung Siau Ih.
Tanpa menoleh lagi, Siau Ih ajukan tubuh ke muka,
sehingga serangan itu tak mengenai.
Si kurus yang bersenjata song-bun-kiam itu ajukan ujung
pedangnya ke muka untuk menusuk lagi.
Tapi untuk kekagetannya, begitu tangan Siau Ih menjamah
tanah, dengan gerak hi-yau-liong-bun, tubuhnya mencelat ke
udara sampai satu tombak lebih. Setelah berjumpalitan
sebentar, dia meluncur lagi ke bawah tepat di muka kedua
lawannya.
„Datang-datang terus menyerang, itu tak punya aturan
namanya. Nah, terimalah ini," serunya sembari kerjakan sang
tangan.
„Plak, plak,” pipi kiri Teng Hiong dan pipi kanan si kurus,
tahu-tahu menerima "persenan" istimewa. Dengan mata ber-
kunang-kunang kedua orang itu terhuyung mundur.
Siau Ih tak mau mendesak, melainkan tegak berdiri
sembari rangkapkan kedua tangan. Dia awasi kedua lawan itu
dengan senyum menghina.
Kaget, murka, malu dan muring-muring adalah si Teng
Hiong. “Tring,” cepat dia melolos senjata gelang kiu-ciat-kong-
hoan (gelang baja sembilan buku).
„Toh hu-tongcu, Li hu-tongcu, majulah!" serunya
menggerung.
Si kurus dan orang yang pertama kali ditampar pipinya
sampai giginya rompal tadi, segera menyerbu. Kini tiga orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan tiga macam senjata, menghujani serangan pada Siau


Ih.
Mundur selangkah, Siau Ih gunakan gerak hu-yan-tho-lim
(burung walet menobros hutan). Bagaikan seekor kupu-kupu
beterbangan di antara kuntum bunga, dia berlincahan di
bawah hujan senjata ketiga lawannya.
Betapapun bernafsunya Teng Hiong untuk lekas-lekas
dapat menggebuk „si bocah", namun dia selalu mendapat
hidung panjang. Setiap kali dengan gerak yang luar biasa,
dapatlah Siau Ih menghindar atau membuyarkan serangannya
itu.
Sebenarnya kalau mau, dapatlah Siau Ih segera
menjengkelit roboh ketiga musuhnya itu. Namun dia tak mau
lekas-lekas berbuat begitu, karena hendak mengocok mereka
lebih dahulu. Ada kalanya menjiwir telinga, atau menampar
pipi atau menjelentik hidung, suatu hal yang membuat Teng
Hiong bertiga makin kalap seperti orang kerangsokan setan.
Mereka menjerit-jerit dan menggerung-gerung, namun tak
dapat berbuat apa-apa.
Kira-kira sepeminum teh lamanya, Teng Hiong bertiga
sudah bersimbah peluh, napasnya senin kemis. Karena kala itu
rembulan sudah condong, Siau Ih tak mau memperpanjang
waktu lagi. Saat itu si orang tinggi besar menyabat dengan
goloknya. Secepat menghindar, Siau Ih segera menyambar
sang lawan, terus dipijat pada jalan meh-bun-hiatnya.
„Trang,” jatuhlah golok dari tangan orang itu. Si kurus
cepat menusuk dengan song-bun-kiam, namun dengan
tertawa dingin, Siau Ih segera gelandang orang tinggi besar
tadi untuk menangkis serangan pedang. Sudah tentu si kurus
tersipu-sipu menarik pulang pedangnya.
Berbareng pada saat itu, Teng Hiong menyapu dengan kiu-
ciat-kong-hoannya. Siau Ih lepaskan lawannya, terus loncat ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

udara. Begitu terhindar dari kiu-ciat-kong-hoan, dia gerakkan


tangan menghantam “tawanannya" tadi.
Tak ampun lagi, orang tinggi besar yang tubuhnya sudah
menjorok ke muka itu, makin seperti didorong maju. „Auuk,”
sebuah jeritan seram terdengar dan orang itu pun
terpanggang ujung pedang song-bun-kiam si kurus. Dalam
pada itu, Siau Ih menggeliat turun di luar gelanggang.
Bahwa sang kawan telah tertusuk pedangnya, telah
membuat si kurus serasa terbang semangatnya. Cepat-cepat
dia tarik Song-bun-kiam keluar, namun sang kawan yang
bertubuh tinggi besar itu sudah terkulai tak bernyawa lagi.
Melihat itu Teng Hiong mengeretek gigi. Betapa inginnya dia
dapat mengganyang anak muda itu!
„Bangsat kecil, mau ngacir kemana kau?" serunya sembari
loncat menyerbu kepada Siau Ih.
„Bangsat, tak usah buru-buru minta mati, tunggu saja
giliranmu nanti!" seru Siau Ih sembari mundur.
Hantaman pertama luput, Teng Hiong teruskan dengan
gerak oh-liong-joan-tha atau naga hitam menyusup pagoda,
Kiu-ciat-kong-hoan ditebarkan lurus ke muka untuk menyodok
dada Siau lh. Juga berbareng itu, si kurus pun datang
memapas bahu Siau Ih dalam jurus lat-biat-hoa-hu.
Siau Ih tenang-tenang menunggu sampai kedua senjata itu
datang, baru dia sedot dadanya ke belakang, lalu gerakkan
sepasang tangannya menangkis. Karena kiu-ciat-kong-hoan
yang tiba dulu, maka senjata gelang itulah yang terpental
lebih dulu dan menghantam song-bun-kiam si kurus-sendiri.
Karena tak menyangka sama sekali, si kurus tak keburu
menarik pedangnya, “trang” ....... kiu-ciat-kong-hoan dan
song-bun-kiam saling beradu.
Membarengi selagi si kurus gelagapan dan tubuhnya tak
terlindung, dengan tertawa nyaring, Siau Ih menghantam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan tangan kiri ke arah Teng Hiong dan jari tangan


kanannya menutuk dada si kurus.
„Hek” ...... hanya sekali mulut dapat bersuara, atau
putuslah sudah jiwa si kurus itu.
Melihat kedua wakilnya binasa, Teng Hiong naik pitam.
Tahu bahwa kepandaian anak muda itu jauh lebih lihay dari
dirinya, namun karena dirangsang oleh hawa amarah, lupalah
sudah Teng Hiong. Dengan kalap, dia terus maju menyerang
lagi.
Mundur sampal tiga langkah, kedengaran Siau Ih tertawa
dingin: „Bangsat, sekarang tiba giliranmu!"
„Cring,” pedang pusaka Thian-coat-kiam dilolos. Sesaat
tubuh Siau Ih melambung ke udara, maka berhamburan hujan
sinar perak yang memancarkan hawa seram-seram dingin.
Teng Hiong dikurung rapat oleh taburan sinar pedang itu.
Kini barulah benggolan itu menjadi kelabakan. Pedang
istimewa, ilmu permainan luar biasa. Dalam keripuhan mencari
jalan lolos, akhirnya Teng Hiong berlaku nekad: „Kalau tak
nekad adu kekerasan, aku bisa mati konyol. Benar dia
memegang pedang pusaka, tapi kiu-ciat-kong-hoan ini juga
amat berat, mungkin tak ada halangan.
Baru dia memikir sampai disini, hawa pedang yang dingin
seram itu sudah terasa menabur dikepalanya. Setelah
pusatkan seluruh pikiran, dengan menggerung keras, dia
hantamkan kiu-ciat-kong-hoan ke atas untuk menangkis.
Menyusul dengan itu, kakinya menyurut ke belakang.
„Trang,” kiu-ciat-kong-hoan yang panjangnya hampir
setengah tombak itu terpapas kutung oleh sabetan Thian-coat
kiam.
Kali ini si Teng Hiong jagoan yang menguasai kota Hangciu,
si raja kecil yang suka berbuat sewenang-wenang itu, kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

betul-betul pecah nyalinya. Tanpa malu-malu lagi, dia segera


enjot tubuhnya loncat ke balik makam Gak-ong.
„Wut,” separoh bagian kiu-ciat-kong-hoan yang masih
berada di tangannya itu, ditimpukkan sekuat-kuatnya ke arah
Siau Ih. Dengan tenangnya, anak muda itu tangkiskan
pedangnya.
„Bangsat, tak mudah kiranya kau hendak melarikan diri!"
seru Siau Ih sembari sudah enjot sang kaki loncat memburu.
Ketika pedang Thian-coat-kiam yang bentuknya seperti
ekor burung seriti itu melayang akan menusuk punggung Teng
Hiong, sekonyong-konyong dari belakang makam Gak-ong itu
muncul sesosok tubuh hitam terus ayunkan kedua tangannya.
Sembilan butir sinar, melayang ke muka Siau Ih. Karena masih
melayang di udara dan jaraknya amat dekat, Siau Ih tak
keburu menghindar lagi.
Dalam gugupnya dia cepat-cepat tarik pulang pedangnya
sembari lontarkan sebuah hantaman tangan kiri dalam
lwekang Kun-goan-sin-kang. Menyusul dengan itu, dalam
gerak lo-wan-sui-ci atau orang-utan jatuh dari dahan, dia
melayang ke samping beberapa meter jauhnya.
Bahwa ternyata orang-orang Thiat-sian-pang sudah
mempersiapkan barisan gelap dan menggunakan senjata
rahasia yang ganas sekali, telah membuat Siau Ih meluap
hawa pembunuhannya. Begitu sang kaki menginjak bumi, dia
enjot lagi dirinya ke udara. Jong-eng-hu-tho atau alap-alap
menangkap kelinci, adalah jurus yang dia gunakan ketika
menghantarkan sebuah hantaman lwekang ke arah
pembokong dibalik makam itu.
Ketika timpukannya gagal, si bayangan hitam itu terkejut
sekali dan terus hendak melarikan diri, namun pedang Thian-
coat-kiam sudah mengaum di atas kepalanya. Sebuah jeritan
seram dan terpisahlah kepala orang itu dari tubuhnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi karena keayalan itu, Teng Hiong sudah jauh lari


sepuluhan tombak jauhnya.
„Bangsat Teng Hiong. kalau kau sampai terlolos, aku
bersumpah tak mau menjadi orang!" seru Siau Ih sembari
terus gunakan ilmu pat-poh-kam-sian (delapan tindak
mengejar tenggoret) untuk mengejar. Pat-poh-kam-sian
adalah sebuah ilmu mengentengi tubuh yang amat lihay.
Melihat dirinya dikejar, semangat Teng Hiong seperti kabur.
Diapun segera tambah gas, berlari secepat-cepatnya. Tiba-tiba
tampak olehnya bahwa disebelah muka sana ada sebuah
hutan.
„Asal dapat masuk kehutan itu, tentu selamatlah jiwaku!"
diam-diam dia bergirang dalam hati.
Berbareng pada saat itu muncullah sesosok bayangan kecil
dari dalam hutan itu, terus lari menyongsong kedatangan
Teng Hiong. Kira-kira terpisah pada jarak satu tombak,
berserulah orang itu: „Adakah yang datang ini Teng-tongcu?"
„Benar, orang she Teng lah ini!" sahut Teng Hiong dengan
terkesiap. Selagi dia hentikan langkah untuk mengawasi lawan
atau kawankah kiranya orang itu, segera terdengar orang itu
melengking nyaring: „Bangsat Teng, serahkan jiwamu!"
Mulut berseru, orangnya datang, pedangnyapun sudah
menyerang ke dada Teng Hiong.
Justeru pada saat itu Siau Ih pun tiba serta melontarkan
sebuah pukulan biat-gong-ciang dari belakang.
Diserang dari muka belakang, Teng Hiong mati kutunya.
Belum lagi dia sempat memikir daya menghindari, “bum,”
punggungnya sudah terhantam keras. Matanya berkunang-
kunang, mulutnya mengulum ludah amis-amis asin. Belum lagi
sang mulut sempat menyemburkan darah, atau dadanya
sudah merasa kesakitan hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Habislah jiwaku!” dia berteriak keras. Namun tak kecewa


kiranya dia menjadi benggolan besar. Walaupun dalam detik-
detik direnggut maut, tetap dia hendak mengadu jiwa sampai
saat yang terakhir. Mata membeliak, berserulah dia keras-
keras: „Aku hendak mengadu jiwa padamu!"
Karena seruan itu, mulutnya segera menyemburkan
segumpal darah segar. Setelah seluruh sisa tenaganya
dipusatkan ke arah tangan, tiba-tiba dia menjotos ke muka.
Orang yang baru muncul itu sama sekali tak menyangka
bahwa sang korban yang sudah mendekati ajalnya itu masih
dapat memberi hantaman. Dia tak sempat menghindar dan
termakanlah iganya dengan pukulan kalap itu.
Namun dia pun tak kurang kalapnya. Sambil mengerang
kesakitan, pedang ditimpukkan sekuat-kuatnya ke arah Teng
Hiong. Darah muncrat, usus berodol dan menjeritlah Teng
Hiong terkapar ke tanah .........
Adegan maut itu hanya berlangsung dalam sekejapan mata
saja, hingga ketika Siau Ih tiba, orang yang baru muncul
tadipun sudah roboh ke tanah karena terluka parah. Pada
dada Teng Hiong masih menancap sebatang pedang. Dingin
sekalipun hati Siau Ih, namun demi menyaksikan
pemandangan ngeri semacam itu, tak urung dia merasa seram
juga.
Ketika memeriksa, Siau Ih dapatkan orang itu bertubuh
kurus kecil. Tengkurep di tanah, kepalanya disusupkan
kebahu, sedang tangannya masih memegangi erat-erat
tangkai pedang. Dengan hati-hati Siau Ih membalikkan tubuh
orang itu, ai, sebuah muka yang cantik sekali. Hanya karena
menderita luka berat, wajah orang itu pucat seperti kertas,
napasnya berangsur lemah.
Cepat-cepat Siau Ih memberi pertolongan dengan menutuk
pada tiga buah jalan darahnya bagian ki-hay, ciang-bun dan
peh-hwe. Setelah itu, tubuhnya lalu diangkat. Waktu hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipondong, ternyata kain kepala orang.itu terlepas dan seikal


rambut yang indah memanjang segera berhamburan menjulai
pada bahu Siau Ih.
„Ha, kiranya dia seorang gadis, makanya bertubuh kecil.
Tapi ah, ini kurang sopan namanya ......... Dia terluka parah,
kalau tak lekas-lekas ditolong tentu membahayakan jiwanya.
Ah, peduli apa dengan kesusilaan, menolong jiwa orang
adalah lebih penting!”
Dengan pikiran itu, tak lagi dia ragu-ragu. Sekali enjot sang
kaki, dia angkat tubuh nona itu ke tempat Liong Go.
Ternyata pemuda ini masih duduk sembari pejamkan mata.
Dahinya berketes-ketes keringat, wajahnya mulai terang
bercahaya. Tahu bahwa sang toako tengah menyalurkan
tenaga dalam, Siau Ih tak mau mengganggu hanya
meletakkan pelahan-lahan gadis itu ke tanah.
Suasana di muka halaman makam Gak-ong itu kembali
dalam kesunyiannya. Siau Ih tampak mondar mandir mencari
pikiran bagaimana hendak mengurus keempat mayat itu, pula
bagaimana nantinya akan menolong gadis yang terluka itu.
Lama nian belum juga dia mendapat daya, sampai akhirnya
tiba-tiba dia teringat akan si penjahat yang melepaskan
senjata rahasia beracun tadi. Kalau senjata itu sampai ditemu
orang, tentu akan mencelakai entah berapa banyak jiwa lagi.
Terus saja dia menghampiri ke arah orang yang ditabas kepala
dan dihantamnya dengan biat-gong-ciang tadi itu.
Sejenak memeriksa dilihatnya disamping mayat orang. itu
terdapat sebuah bumbung warna hitam. Buru-buru bumbung
itu dipungutnya. Ternyata benda itu cukup berat, terbuat dari
baja. Panjangnya antara tujuh dim, bentuknya oval seperti
telur itik, atas pecah seperti kuntum teratai dan diberi lubang
kecil-kecil sebanyak sembilan buah yang disusun seperti segi
tiga. Ujung bawahnya, diberi tali halus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benda itu disimpan, lalu dia balik ke tempat Liong Go lagi.


Ternyata sang toako itu sudah terjaga (bangun) Buru-buru dia
menanyakan keadaan luka toakonya itu.
Liong Go unjuk senyuman getir, sahutnya: „Pil dari hiante
itu sungguh manjur sekali. Kini aku sudah banyak baikan,
hanya masih merasa kedinginan, hawa dalam belum lancar.
Iblis itu sakti benar-benar, namun jiwaku tak sampai terancam
berkat pertolongan hiante .......”
„Ah, janganlah toako mengadakan pikiran begitu. Kita toh
sudah mengikat persaudaraan, jadi sudah jamaknya. Nantinya
siaote masih akan berusaha lagi untuk mengobati racun dingin
dalam tubuh toako itu," tukas Siau Ih.
Liong Go sejenak memandang ke sekeliling kuburan itu dan
demi menampak beberapa tubuh terkapar malang melintang
di tanah, alisnya berjungkat: „Hiante, sekalipun membasmi
kejahatan itu merupakan suatu tugas mulia, namun
membunuhnya secara begitu kejam itu, rasanya juga
melanggar nurani."
Siau Ih merah mukanya, lalu menuturkan bagaimana tadi
salah seorang anak buah Teng Hiong telah melepaskan
senjata rahasia yang amat beracun. Habis itu dia segera
mengeluarkan benda hitam untuk diberikan kepada Liong Go,
ujarnya: „Tadi siaote hampir tercelaka dengan benda itu.
Siaote hanya tahu bahwa benda itu adalah sebuah senjata
rahasia yang dilarang digunakan dalam dunia persilatan,
namun tak jelas akan asal usulnya. Dapatkah kira toako
memberi penjelasan?"
Menyambuti benda hitam itu, Liong Go terkesiap kaget,
serunya: „Ini disebut Kiu-tiam-ting-seng-ciam (jarum
berbentuk sembilan ujung paku). Dengan senjata ngo-hun-
pang-jit-sip-hun-ting (paku lima awan menutup matahari),
merupakan dua serangkai senjata rahasia beracun yang amat
ganas. Senjata ganas itu adalah buah ciptaan dari Ngo-tok-
sin-kun Ih Bun-ki. Turut penuturan engkongku, karena melihat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kejahatan Ngo-tok-Sin-kian sudah meliwati takaran maka


seluruh partai dalam dunia persilatan telah menantang tokoh
itu untuk bertanding dipuntiak gunung Ko-san. Disitulah tokoh
jahat itu mati konyol dikerubuti jago-jago dari segala aliran.
Sejak itu senjata rahasia kiu-tiam-seng-ciam turut lenyap
bersama kematian penciptanya. Sungguh tak terduga bahwa
senjata ganas itu kini muncul pula di dunia persilatan. Lebih
baik hiante menyimpannya baik-baik agar jangan sampai
terjatuh ke tangan orang jahat hingga menimbulkan onar
besar."
Habis memberi keterangan, Liong Go serahkan kembali
benda itu kepada Siau Ih, siapa lalu menyimpannya dengan
hati-hati. Menuding ke arah si nona, Siau Ih menuturkan
bagaimana tadi Teng Hiong menemui ajalnya.
„Toako, karena dia perlu harus lekas-lekas ditolong
jiwanya, maka terpaksa siaote tak menghiraukan lagi batas-
batas pantangan pergaulan pria wanita. Untuk itu, bagaimana
pendapat toako?" tanyanya.
Memandang ke arah yang ditunjuk Siau Ih, Liong Go
tampak terperanjat. Buru-buru dia minta agar sang adik
angkat menceritakan lagi yang jelas. Setelah Siau Ih menutur
lagi dari awal sampai munculnya nona itu, Liong Go tampak
menunduk.
Rupanya tengah memutar otak. Sesaat kemudian, barulah
dia mendongak lagi dan berkata: „Nona itu tentu mempunyai
dendam kesumat terhadap Teng Hiong. Kita harus
menolongnya lekas-lekas, lukanya memang parah betul. Tapi
adakah nanti berhasil dapat mengobatinya, aku sendiripun tak
berani memastikan. Kini kita sudah mengikat permusuhan
dengan pihak Thiat-sian-pang. Tak boleh kita lama-lama
tinggal disini atau balik ke hotel lagi. Iblis Kiau Hoan itu
berada di kota Hangciu, meskipun hiante tak jeri padanya, tapi
pada saat ini aku seperti invalid masih ketambahan lagi
dengan nona yang parah keadaannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka turut pendapatku, mumpung hari belum fajar, kita


lekas mencari rumah penduduk desa di dekat sini untuk
bermalam disitu. Setelah nona itu dapat diobati, barulah kita
melanjutkan perjalanan lagi. Kalau kita lanjutkan perjalanan
dengan membawa seorang nona yang terluka, pasti akan
menarik perhatian orang. Entah bagaimana pendapat hiante?"
Siau Ih mengiakan, namun dia menyatakan sesalnya
karena tak dapat berhadapan dengan si Manusia Iblis itu.
Tiba-tiba dia teringat akan keempat mayat Teng Hiong dan
kawan-kawan, lalu buru-buru menanyakan pikiran Liong Go
bagaimana jalan yang baik untuk mengurusnya.
„Ai, memang sukarlah," sahut Liong Go. Namun pada lain
kilas dia teringat bahwa biasanya seorang tokoh persilatan
jahat itu tentu membekal semacam obat yang dinamakan hoa-
kut-san atau puder pelenyap tulang. Buru-buru dia suruh Siau
Ih menggeledah tubuh keempat korban itu.
Siau Ih menurut perintah. Ketika memeriksa tubuh korban
yang menimpuk senjata rahasia kiu-tiam-ting-seng-ciam itu,
ternyata terdapat sebuah kotak baja kecil panjang.
Waktu dibuka, ternyata disitu terdapat tigapuluh enam
batang jarum kecil. Dari warnanya yang kebiru-biruan, tahulah
Siau Ih bahwa jarum itu tentu dilumuri racun yang jahat.
Didekat jarum itu, masih ada pula dua buah botol gepeng
yang dilekati dengan kertas bertuliskan „obat penawar" dan
yong-kut-tan" atau pil peleleh tulang.
„Dugaan toako kiranya tepat sekali, penjahat ini
menyimpan obat itu!" serunya dengan girang. Setelah jarum
dan obat penawar disimpannya, dengan menjinjing botol pil
yong-kut-tan itu, dia menghampiri Liong Go dan menanyakan
bagaimana cara menggunakannya.
„Cukup dengan delapan butir pil saja, sisanya harap hiante
simpan lagi, mungkin lain hari kita masih memerlukannya",
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kata Liong Go. Karena hari sudah hampir terang tanah, dia
minta supaya Siau Ih lekas-lekas memberesi mayat-mayat itu.
Siau Ih dapat bekerja cepat. Kedelapan butir pil itu
diremasnya menjadi bubukan lalu ditaburkan di atas tubuh
keempat sosok mayat itu.
--0dw0—
10. ‘Tiga Tidak’, Pesan Engkong
Liong Go menerangkan bahwa dalam beberapa detik saja,
mayat-mayat itu tentu akan meleleh jadi cair dan merembes
ke dalam tanah. Habis itu dia segera ajak Siau Ih berangkat.
„Luka toako masih belum sembuh betul, apakah dapat
berjalan?” tanya Siau Ih.
„Harap hiante jangan kuatir, rasanya masih dapat tahan
berjalan beberapa waktu. Hanya nona itulah yang terpaksa
harus hiante dukung lagi,” sahut Liong Go.
Tanpa berayal lagi, Siau Ih terus pondong nona itu. Ditiup
angin malam nan halus, hidung Siau Ih tersampok dengan
hawa harum-harum sedap. Pemuda itu buru-buru menguasai
panca inderanya, terus ayunkan langkah, diikuti dari belakang
oleh Liong Go. Tapi oleh karena kuatir tubuh nona itu
mengalami kegoncangan dan mengingat Liong Go masih
belum sembuh betul, terpaksa Siau Ih tak berani berjalan
cepat-cepat. Maka ketika terang tanah, barulah mereka
berjalan beberapa li jauhnya.
Kala itu dijalanan masih sepi dengan orang, tetapi
disekeliling penjuru dimana terbentang luas sawah-sawah dan
ladang-ladang, para petani sudah mulai bekerja. Berpaling ke
belakang. Siau Ih melihat dahi Liong Go penuh bercucuran
keringat, napasnya terengah-engah. Buru-buru Siau Ih
kendorkan langkahnya.
„Kita sekarang sudah terpisah belasan li dari Hangciu, tapi
rasanya masih belum keluar dari jaringan pengaruh Thit-sian-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pang. Untuk saat ini, kita dapat meneduh untuk sementara


waktu ditempat seorang dusun. Entah bagaimana pendapat
toako?” katanya.
Adalah karena berkat khasiat pil dari Siau Ih tadi, Liong Go
dapat bertahan dari serangan hawa racun dingin. Tapi karena
berjalan cepat itu, ya sekalipun jauh lebih pelahan kalau
dibandingkan dengan biasanya, racun dingin itu mulai terasa
merangsang lagi. Sebenarnya sakitnya bukan kepalang, tapi
sekuat mungkin dia bertahan juga. Atas Pertanyaan Siau Ih
tadi, dia hanya bersenyum getir mengiakan.
Keadaan toakonya itu tak terluput dari perhatian Siau Ih.
Buru-buru dia menghampiri dan mengatakan supaya Liong Go
berjalan pelahan-lahan saja, biar dia (Siau Ih) yang berjalan di
muka untuk mencari rumah penduduk.
Begitulah setelah melalui tiga buah semak-semak
pepohonan, tak jauh disebelah muka sana tampak ada tiga
buah rumah yang meskipun bangunannya jelek tapi cukup
bersih. Di- sekelilingnya ditumbuhi dengan pohon-pohon
bambu yang rindang.
Siau Ih yang berjalan lebih dulu sudah tiba di muka pintu
rumah itu dan tampak tengah bicara dengan tuan rumah yang
dandanannya seperti seorang petani. Ketika Liong Go
menyusul tiba, Siau Ih menerangkan bahwa pemilik rumah
gubuk itu bersedia memberi tempat pada mereka.
„Saudara Li pemilik pondok ini, demi mendengar toako dan
sam-moay (adik perempuan ketiga) terluka oleh orang jahat,
rela menyerahkan kamarnya untuk kami bertiga. Siaote
suungguh berterima kasih sekali kepadanya!”
Mendengar disebutnya sam-moay itu, Liong Go terkesiap.
Tapi lain saat dia tersadar akan maksud Siau Ih membohong
itu, agar jangan menimbulkan kecurigaan orang. Buru-buru
dia menjurah untuk menghaturkan terima kasih kepada
pemilik pondok itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat Liong Go itu berdandan sebagai seorang terpelajar


dan sopan santun pula sikapnya, orang she Li itu cepat-cepat
membalas hormat, sahutnya: „Harap kongcu jangan pakai
banyak peradatan. Walaupun aku Li Seng seorang dusun, tapi
semasa kecil pernah belajar sekolah sampai 2 tahun.
Menolong orang adalah kegemaranku. Terhadap urusan kecil
kali ini, asal kongcu tak buat celaan, aku senang sekali
menerima kedatangan kongcu bertiga. Ah, kongcu tentulah
lelah, silahkan masuk mengaso di dalam.”
Li Seng segera mengajak tetamunya masuk ke dalam.
Ternyata halaman rumah cukup luas, penuh dengan alat-alat
pertanian dan beberapa binatang ternak, namun karena
caranya mengatur rapih, jadi keadaannya cukup bersih. Saat
itu dari sebuah gubuk, muncullah seorang wanita. „Lekas
kenalkanlah diri pada kedua tuan muda ini,” seru Li Seng
kepada wanita yang bukan lain isterinya itu.
„Kami berdua saudara, memberi hormat kepada toa-soh,”
Liong Go sudah mendahului memberi hormat karena menduga
si wanita itu tentulah isteri Li Seng.
Wanita itu tersipu-sipu balas memberi hormat. Sementara
Li Seng yang melihat Liong Go begitu sungkannya, mereka tak
enak sendiri lalu buru-buru ajak sang tetamu masuk ke dalam
rumah.
Sebenarnya Liong Go sudah tak kuat lagi menahan
sakitnya. Makin lama makin terasa bagaimana racun dingin itu
bagaikan laksaan semut mengigiti ulu hatinya. Namun dia
tetap kertak gigi kepalkan tangan untuk menahannya dan
memaksa bersenyum, senyum pahit dari penderitaan yang
sukar dilukis.
Keadaan toakonya itu tak luput dari tinjauan Siau Ih. Dia
kuatir kalau berlangsung sedikit lama lagi, keadaan Liong Go
tentu sudah payah. Dicarinya akal untuk menghindar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Dihadapan saudara Li yang jujur, kiranya tak layaklah


kalau toako berlaku sungkan-sungkanan. Toako amat lelah
dan sam-moay luka parah, lebih baik lekas-lekas berobat,
jangan sampai terlambat. Nanti saja apabila sudah sembuh,
kita dapat mengobrol panjang lebar lagi dengan saudara Li.
Maaf, saudara, Li, atas bicaraku yang kurang hormat ini,”
katanya.
Liong Go diam-diam memuji atas kecerdikan sang adik
angkat itu. Dan diplomasinya itu ternyata berhasil karena Li
Seng segera berkata: „Ah, memang kongcu benar, yang
penting ialah Lekas-lekas mengobati luka. Menilik nona Siau
tak sadarkan diri, tentu lukanya parah sekali. Harap kongcu
berdua jangan sungkan-sungkan lagi, jika memerlukan apa
saja harap lekas-lekas memberitahukan.”
Karena selain memikirkan lukanya juga memikirkan luka
nona yang tak dikenalnya itu, Liong Go tak mau bersungkan
lagi. Dengan tertawa dia mengangguk, lalu ikut Siau Ih masuk
ke dalam kamar di sebelah timur. Li Seng dan isterinyapun
segera pergi.
Kamar itu walaupun sederhana namun cukup bersih. Selain
sebuah pembaringan kayu, pun terdapat alat-alat keperluan
cuci muka serta meja kursi lengkap dengan peralatan minum.
Nona itu dibaringkan di atas pembaringan, kedua matanya
masih tertutup, wajahnya pucat lesi.
Sejenak memandang, tampak alis Liong Go menjungkat,
ujarnya dengan tertawa tawar: „Walaupun luka nona itu amat
parah, tapi karena hiante sudah menutuk jalan darahnya,
untuk sementara rasanya tiada menguatirkan. Kalau dalam
keadaan biasa, dengan gunakan kipas tui-hun-san dapatlah ku
memberi pengobatan dengan menutuk jalan darahnya.
Setelah darahnya menyalur normal, lalu kuberi obat. Dalam
beberapa hari tentu ia akan sembuh. Tapi karena diriku sendiri
belum ada ketentuannya, maka kuserahkan saja bagaimana
hiante akan berbuat”.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Turut penglihatan toako, apakah dalam berapa jam ini


keadaannya tak menguatirkan?” tanya Siau Ih.
„Rasanya untuk satu dua jam, tak nanti dia mengalami apa-
apa,” sahut Liong Go.
„Bagus,” seru Siau Ih, „setelah melukai toako, iblis Kian
Hoan sumbar-sumbar memberitahukan cara pengobatannya.
Kebetulan sekali, lwekang yang Siaute pelajari itu termasuk
jenis kong-tun-yang, jadi merupakan penakluk dari ilmu
lwekang jahat macam thou-kut-im-hong-ciang itu. Kini harap
toako suka membuka baju, agar siaote dapat gunakan
lwekang untuk mengusir racun dingin itu. Walaupun lwekang
siaote belum sempurna, tapi berkat bantuan pil buatan
engkong itu, rasanya sembilanpuluh persen tentu akan dapat
disembuhkan. Setelah itu kita cari lain daya lagi. Tentang diri
nona itu, begitu nanti toako sudah sembuh, dapatlah kiranya
toako mengobatinya.”
Walaupun sangsi-sangsi percaya, namun kenyataan pil tadi
amat mujarab, Liong Go mau coba-coba juga. Apalagi demi
menampak kesungguhan sikap Siau Ih, tanpa ragu-ragu lagi
segera dia membuka bajunya, lalu duduk bersila di lantai.
Lebih dahulu Siau Ih menuang lagi sebutir pil dari botol,
diberikan kepada Liong Go supaya diminum. Setelah itu,
diapun duduk bersila, kedua tangannya dilekatkan di pinggang
belakang pada jalan darah beng-bun-hiat Liong Go. Dengan
itu dia salurkan lwekang kian-goan-sin-kong.
Buru-buru Liong Go meramkan mata, sambil berusaha
keras untuk menyalurkan tenaga-dalam. Setelah tenaga dalam
itu berjumpa dengan lwekang kian-goan-sin-kong yang panas,
terus akan disalurkan keseluruh tubuh.
Setengah jam kemudian, dari lubang pori tubuh Liong Go
seperti mengeluarkan uap putih. Dan sepeminum teh
lamanya, tiba-tiba Siau Ih tarik pulang tangannya, lalu
pelahan-lahan menepuk jalan darah beng-bun-hiat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong Go tergetar dan membuka mata. Tampak olehnya


wajah Siau Ih amat lelah sekali, keringat sebesar butir-butir
kedele tampak berketetesan turun dari dahinya.
„Hiante, kau amat letih,” kata Liong Go dengan perasaan
terima kasih yang tak terhingga.
„Ah, janganlah toako mengatakan begitu. Karena
kepandaian siaote masih dangkal, jadi menggunakan waktu
lama. Untunglah berkat khasiat pil engkong, dan yang
terutama lwekang toako sangat tinggi, barulah kita dapat
berhasil dengan memuaskan. Terus terang saja, bermula
siaote tak menduga kalau bakal dapat menghalau habis racun
dingin itu. Kini asal toako beristirahat mengadakan latihan
napas, tentu akan sembuh betul-betul. Kalau tak percaya,
cobalah toako salurkan hawa murni, bagaimana rasanya.”
Liong Go menurut dan benarlah apa yang dikatakan Siau Ih
itu. Kecuali masih merasa lemah, tanda-tanda racun dingin itu
sudah tak terasa lagi. Girangnya bukan kepalang.
„Bukannya aku hendak banyak mulut, tapi rasanya dikolong
jagad ini hanya ada dua orang yang memiliki lwekang kong-
tun-yang-sin-kang itu. Yang satu ialah Gan Li Cinjin, salah
seorang tokoh dalam sepuluh Datuk. Hanya sayang, lwekang
yang diyakinkannya itu termasuk lwekang jahat. Sedangkan
tokoh yang satunya, menurut kata si Manusia Iblis tadi, ialah
si Dewa Tertawa Bok lo-cianpwe yang sudah berpuluh tahun
lenyap jejaknya itu. Ilmu silat hiante mirip dengan tokoh Bok
locianpwe itu. Pil yang kumakan tadi, begitu hebat khasiatnya,
mirip benar dengan pil mujijat yang diceritakan kaum
persilatan yakni kiu-caon-kian-goan-tan. Tapi anehnya hian-te
mengatakan bahwa kepandaian hiante itu berasal dari ajaran
engkongmu. Telah kuputar otak menggali ingatan, namun tak
berhasil juga menebak-nebak siapakah engkongmu yang sakti
itu,” kata Liong Go.
Siau Ih diam sampai sekian jenak, baru menyahut:
„Dengan sudah angkat persaudaraan, sebenarnya siaote harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menerangkan dengan sejujurnya. Namun siaote telah


menyanggupi, jadi terpaksa ini waktu belum dapat
mengatakan. Harap toako memaafkanlah!”
„Ah, tak apalah,” kata Liong Go, „karena sekarang aku
sudah baik, seyogyanya kita lekas-lekas menolong nona itu.”
Tapi Siau Ih mencegahnya karena baru saja sembuh tak
bolehlah Liong Go menghamburkan tenaga murninya. Dia
minta agar sang toako itu beristirahat lagi untuk mengatur
pernapasannya. Liong Go mengiakan tapi dalam pada itu dia
pun suruh Siau Ih melepaskan lelah juga. Memang baru kali
itu sepanjang hidupnya, Siau Ih merasa amat letih. Maka
tanpa sungkan lagi, dia segera bersila berhadapan dengan
Liong Go untuk bersemadhi.
Kira-kira sejam kemudian, keduanya sama membuka mata,
lalu sama-sama, tertawa riang. Dilihatnya wajah masing-
masing sudah tampak segar lagi. Liong Go berbangkit,
memberesi pakaian lalu memungut kipasnya.
„Baru saja tertolong jiwa lantas mau menolong lain jiwa,
ah, benar-benar suatu kejadian yang aneh,” katanya dengan
tertawa.
„Mudah-mudahan kita jangan sering berjumpa dengan
kejadian langka semacam ini,” Siau Ih memberi komentar.
Liong Go tertawa lebar, lalu menghampiri ke dekat
pembaringan. Sekonyong-konyong dia kerutkan alis,
gerutunya: „Kalau mau memeriksa lukanya, tentu harus
membuka bajunya. Tapi dia seorang gadis ......”
„Memang kalau menurut adat, kita tak leluasa turun
tangan. Namun mengingat keadaannya, harus lekas-lekas
ditolong. Ketika turun gunung, engkong pernah memberi
pesanan. Dalam mengerjakan sesuatu haruslah berpegang
pada tiga hal yakni tidak boleh menipu diri, tidak boleh
membohongi orang dan tak boleh berlaku curang pada Tuhan.
Rasanya tiga ’tidak’ itu, tepat digunakan dalam urusan saat ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Asal kita bersih hati menolong orang, usah kiranya ragu-ragu.


Bukankah begitu, toako?”
Liong Go mengangguk dan menyetujui pendapat Siau Ih.
Habis itu, segera dia membuka baju si gadis. Ternyata luka
dirusuknya sudah berwarna hijau kehitam-hitaman Liong Go
menghela napas, ujarnya: „Nona ini untung sekali, coba luka
itu terdapat dua dim di atasnya, tentu tepat dijalan darah ki-
bun-hiat. Dia pasti takkan ketolongan lagi jiwanya. Sekalipun
begitu, coba Teng Hiong tak kehabisan tenaga karena terluka
dengan tusukan pedang, hantamannya itupun cukup
memutuskan jiwa nona ini .......”
Tiba-tiba dia berhenti karena matanya melihat pada leher
nona itu terdapat sebuah kalung kumala. Ketika dipandang
dengan seksama, kumala itu berukirkan sembilan ekor burung
hong (cenderawasih). Sedemikian halus ukirannya itu
sehingga nampaknya seperti hidup.
„Dengan memiliki giok-hu (cap kumala) sembilan ekor
cenderawasih, tentu nona ini anak murid dari Peh-hoa-kiong
Hun-si sam-sian. Ah, ini amat berabe!” pada lain saat Liong Go
berseru kaget.
Peh-hoa-kiong artinya Istana Seratus Bunga, Hun-si sam-
sian artinya Tiga Dewi she Hun.
„Apakah toako mempunyai permusuhan dengan Hun-si
sam-sian?” tanya Siau Ih.
Liong Go menggeleng, ujarnya: „Bukannya begitu,
melainkan Hun-si sam-sian itu aneh tabiatnya. Mereka
membenci kaum pria. Kecuali diri mereka tetap membujang,
pun sembilan orang muridnya ketika masuk ke dalam
perguruan, telah mengucapkan sumpah berat takkan
berhubungan dengan kaum Adam. Istana Peh-hoa-kiong
itupun merupakan daerah terlarang bagi orang lelaki. Benar
dengan pertolongan ini kita tak mengharap balasan, namun
mengingat watak-watak mereka yang aneh itu, kelak kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu akan dibalas dengan air tuba. Dari itu lebih baik aku
menghemat tangan saja.”
„Toako, kita dengan hati jujur memberi pertolongan,
mengapa menghiraukan yang bukan-bukan. Menolong
setengah jalan, berarti menyalahi dharma kita. Kelak apabila
terjadi sesuatu, biarlah siaote yang menanggungnya,” Siau Ih
menyanggah.
„Ucapan hiante itu membuat aku malu diri. Bukannya aku
takut urusan, tapi akan mencari siasat yang sempurna,” kata
Liong Go.
„Waktu sudah keliwat mendesak, harap toako suka
menolong lebih dahulu setelah itu baru mencari akalan lagi
demi untuk kebaikan kedua pihak,” Siau Ih mendesaknya.
Merenung sebentar, Liong Go mengiakan. Dikeluarkannya
sebuah kantong kecil, dari situ diambilnya tiga butir pil wangi
yang hijau bening warnanya, lalu dimasukkan ke dalam mulut
si nona. Setelah dikancingkan bajunya, barulah Liong Go
gunakan kipasnya untuk menutuki ke seratus delapan jalan
darah tubuh nona itu. Tutukannya itu dilakukan dengan amat
tangkas dan cepatnya. Kemudian menyanggah pinggang si
gadis supaya dapat duduk bersila, dia minta agar Siau Ih suka
menjagai tubuh si nona.
Setelah Siau Ih mencekali kedua lengan si gadis, Liong Go
naik ke atas pembaringan dan duduk di belakang gadis itu,
serunya: „Sekarang harap hiante buka bajunya dan gunakan
tanganmu untuk menyaluri tun-yang-kang ke jalan darah tan-
thian-hiatnya”.
Siau Ih bersangsi sejenak, lalu melakukan perintah
toakonya itu. Lwekang kian-goan-sin-kong disalurkan ke arah
tangan kanan ditempelkan kebagian jalan darah tan-thian-hiat
si nona. Serentak lwekang tun-yang-kang itu menyalurkan
keseluruh tubuh si nona. Dalam pada itu, dengan gagahnya
Liong Go mulai mengurutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lewat sepeminum teh lamanya, kedengaran gadis itu


merintih. Dalam saat-saat yang segenting itu, Siau Ih melirik
ke arah Liong Go. Dilihatnya kepala sang toako sudah mandi
keringat, napasnya tersengal-sengal. Diam-diam Siau Ih
terkejut. Sang toako baru saja sembuh dari lukanya, kalau
keliwat mengeluarkan tenaga, tentu akan celaka. Buru-buru
dia tambahkan lwekangnya sampai sepuluh kali besarnya.
Si nona mengeluh pelahan dan membuka mata. Demi
melihat dihadapannya duduk seorang pemuda cakap yang
beralis tebal tengah menempelkan tangannya ke tubuhnya, ia
menjadi terkejut. Wajahnya kemerah-merahan.
Kuatir si nona salah mengerti hingga menggagalkan
usahanya terakhir, buru-buru Siau Ih membisiki: „Semalam
nona telah kena terhantam oleh Teng Hiong sampai terluka
parah. Kami berdua saudara tengah melakukan penyembuhan
terhadap nona, sekali-kali jauh dari maksud tak senonoh.
Harap nona jangan berkata-kata maupun bergerak, agar
memudahkan usaha kami berdua.”
Si nona tampak terkesiap, namun demi melihat wajah
pemuda itu merah membara bercucuran keringat, tahulah ia
bahwa ucapan pemuda itu memang sungguh-sungguh. Malu
dan bersyukur memenuhi rongga hati si nona. Ia
menggangguk selaku tanda menerima kasih lalu pejamkan lagi
kedua matanya.
Ketika beberapa saat Siau Ih dan Liong Go sama tarik
pulang tangannya, nona itupun terjaga. Liong Go basah kuyup
dengan keringat, tenaganya habis, napas senin kemis. Cepat-
cepat dia loncat turun dari pembaringan lalu berpaling
membelakangi si nona. Siau Ihpun meniru perbuatan toakonya
itu.
Setelah si nona membereskan bajunya lagi, dia segera
turun dari pembaringan, ujarnya: „Harap saudara berdua
berpaling kemari untuk menerima hormatku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong Go dan Siau Ih tersipu-sipu membalas hormat si


nona. Siau Ih menatap tajam-tajam ke arah si nona. Alis
melengkung bagai barisan pegunungan, mata bersorot bening
laksana air telaga, walaupun wajahnya yang agak pucat tak
memakai bedak, namun kecantikannya yang agung tetap
menonjol.
Melihat dirinya diawasi begitu rupa, nona itu tundukkan
kepalanya dengan kemalu-maluan. Ai, memang begitulah sifat
anak perempuan itu, demikian Siau Ih geli dalam hatinya.
„Aku Liong Go dan ini adik angkatku Siau Ih,” Liong Go
segera perkenalkan diri, „Waktu nona pingsan, Siau hiante
sudah menutup jalan darah nona dan dibawa kemari untuk
diobati. Atas kelancangan itu, harap nona suka maafkan.”
„Terkena pukulan Teng Hiong itu, sebenarnya aku tentu
mati. Syukurlah jiwi telah sudi menolongku. Atas budi besar
itu, kelak tentu kubalas,” kata si nona.
„Semalam ketika nona terluka, aku sendiripun terkena
pukulan jahat tho-kut-im-hong-ciang dari Jin-mo Kiau Hoan.
Baru setelah racun dingin dalam tubuhku itu dapat diobati
oleh Siau hiante, dapatlah aku berusaha menolong nona.
Karena itu telah memakan waktu lama, hingga hawa cin-goan
nona sampai terluka. Oleh karena kepandaianku dangkal,
maka walaupun mendapat bantuan pil bik-hun-tan buatan
engkongku, pula mendapat bantuan lwekang sin-kang dari
Siau Ih, tetap belum dapat menyembuhkan luka nona sama
sekali. Syukurlah kenalan baik dari engkongku yakni Hwat-
yok-ong To Kong-ong, To-cianpwe tinggal di puncak Ki-he-nia
yang tak berapa jauh dari sini. Asal bisa bertemu dengan tabib
sakti To locianpwe itu, luka nona pasti akan akan segera
sembuh,” kata Liong Go.
Si nona terkesiap ujarnya: „Tokoh aneh itu sudah lama
melenyapkan diri, konon kabarnya sudah bertekun akan
mencapai kedewaan. Bahwa ternyata beliau bersembunyi tak
berapa jauh dari sini, ingin benar aku menghaturkan hormat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada beliau. Atas budi pertolongan jiwi, tak terhinggalah


rasa terima kasihku. Adakah pengobatan jiwi tadi akan
berhasil atau tidak, biarlah kita serahkan kepada Tuhan.”
„Ai, kini sudah hampir tengah hari, perutku merintih-rintih.
Sudikah kiranya jiwi bermurah hati mengganggu tuan rumah
supaya menyiapkan hidangan?” Siau Ih menyelutuk.
Kata-katanya yang melucu itu, telah membuat Liong Go
dan si nona tertawa.
„Karena tak ada lain usul, usulku itu berarti diterima. Hanya
ada sedikit tambahan. Tadi karena menjaga jangan sampai
menerbitkan kecurigaan tuan rumah, aku telah mengatakan
kalau kita bertiga ini adalah kakak beradik. Jika bertemu
dengan tuan rumah, harap nona tetap pegang teguh rahasia
itu,” Siau Ih lanjutkan pula kata-katanya sembari menjurah
dihadapan si nona, sembari menirukan nada ucapan nona itu
tadi: „Atas budi pertolongan jiwi, tak terhinggalah rasa terima
kasihku.”
Tingkah membanyol dari anak muda itu, telah
menyebabkan si nona tertawa cekikikan. Sesaat terhiburlah
hatinya. Pikirnya: „Walapun dari sikap dan budi bahasanya,
kedua pemuda itu tentu anak murid dari tokoh ternama,
namun apabila peristiwa tadi (pertolongan dengan lwekang
tadi) sampai teruwar tentu akan menjadi buah cerita orang.
Apalagi hal itu melanggar peraturan suhunya. Ah, lebih baik
aku mengangkat saudara dengan mereka, kalau tidak
bagaimana aku dapat membalas budi mereka.”
Setelah mengambil keputusan, segera ia berkata dengan
nada bersungguh: „Siaumoay bernama Lo Hui-yan, sejak kecil
sudah sebatang kara dan dipelihara oleh Sam-sian suhu di
gunung Lo-hu-san. Jika sekiranya tak memandang hina diri
Siaumoay, ingin sekali Siaumoay mengangkat saudara.”
Liong Go tertawa: „Mendapat adik seperti Yan-moay,
alangkah berbahagianya, hanya ........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Kalau begitu, harap toako dan jiko suka terima hormatku,”


tukas Hui-yan sembari terus memberi hormat dengan berlutut.
Buru-buru Liong Go dan Siau Ih membalas hormat dan
menyilakan Hui-yan berbangkit. Berkata Siau Ih dengan
gembira: „seharusnya kita rayakan hari gembira ini, sayang
tak ada persiapan, maka terpaksa melanjutkan rencana
bermula tadi, menggerecoki tuan rumah. Tapi rasanya bagi
kita kaum persilatan ini, sudah biasa mengisi perut dengan
nasi kasar dan lauk pauk murah. Tapi entah bagaimana
pendapat toako dan Yan-moay berdua?”
Liong Go tertawa mengiakan dan Siau Ih pun terus
membuka pintu kamar memanggil tuan rumah.
Li Seng tergopoh-gopoh keluar dari kamar dan berseru:
„Kini sudah hampir lohor, sebenarnya tadi aku hendak
mengundang kongcu berdua dahar, tapi karena kuatir
mengganggu usaha kongcu berdua menolong nona, jadi
terpaksa kupertangguhkan. Harap maafkan.”
Siau Ih memberi hormat dan mengatakan bahwa adiknya
perempuan kini sudah sembuh dan kalau sekiranya tak
merepotkan hendak minta makan pada tuan rumah.
„Syukur nona sudah cepat sembuh. Hidangan sudah dari
tadi tersedia. Kuatir karena Siau toa-kongcu dan nona Siau tak
dapat makan hidangan keras karena baru sembuh, maka tadi
aku telah memasak bubur. Nah, biarlah kubawanya kemari.”
Kata Li Seng sembari terus lari masuk.
Tak berselang berapa lama, petani yang baik hati itu sudah
muncul dengan senampan bakpao hangat serta empat macam
sayur. Disilahkannya ketiga tetamunya itu makan seadanya.
Liong Go dan Siau Ih tak henti-hentinya mengucapkan
terima kasihnya. Walaupun sayurnya sederhana, namun
karena lapar, mereka makan dengan lahapnya. Sembari
makan itu, Siau Ih tanyakan hal ikhwal permusuhan Lo Hui-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yan dengan Thiat-sian-pang. Dengan sayu, nona itu


menuturkan kisah hidupnya.
„Sejak masih orok, Siaumoay sudah ditinggal mati ayah dan
bunda dan dipelihara oleh pamanku di gunung Hong-hong-
san. Ketika umur lima tahun, baru diterima menjadi murid
suhuku, dibawa ke gunung Lo-hu-san. Disana kutinggal
sampai sebelas tahun. Beberapa hari yang lalu ketika
diperbolehkan turun gunung, aku coba-coba menengok
kampung halaman. Di luar dugaan, ternyata rumah paman,
telah hancur berantakan.
Turut keterangan yang kuperoleh, taci misanku hendak
dijadikan gundik oleh Teng Hiong, tapi ditolak keras oleh
paman. Tahu-tahu pada suatu tengah malam, seluruh rumah
tangga paman telah dibinasakan orang jahat. Siapa lagi kalau
bukan perbuatan si Teng Hiong. Dalam gusar, kemaren malam
aku terus ngeluruk ke Hanciu untuk membikin perhitungan
dengan si jahanam itu. Tapi tiba di kota itu aku berpapasan
dengan seorang tua yang kurus kering.
Orang tua itu amat lihaynya, kalau tak waspada, mungkin
aku akan kepergok. Orang tua itu mengatakan kepada dua
orang anak buah Thiat-sian-pang, bahwa Teng Hiong tengah
menunggu seorang musuh ditempat makam Gak-ong.
Begitu tiba dimakam itu, Teng Hiong tampak lari ke arah
tempat persembunyianku. Untuk memastikan lebih dahulu
kutegur, baru kemudian kuserangnya. Ah, kalau tiada kalian
yang melancarkan pukulan biat-gong-ciang, tak nanti jahanam
itu mudah dibinasakan. Kini sakit hatiku, sudah terbalas.
Setelah lukaku sembuh, aku terpaksa harus pulang ke gunung
lagi!”
Berkata sampai disini, nada Hui-yan menjadi sember,
matanya mengembang air mata. Teringat akan dirinya yang
masih mempunyai sakit hati besar, Siau Ih melayang-layang
pikirannya. Liong Go pun terhening, sehingga suasana makan
itu tampak sayu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akhirnya terlintas sesuatu pada pikiran Siau Ih, ujarnya:


„Dengan hilangnya Teng Hiong dan ketiga anak buahnya itu,
walaupun kita sudah gunakan obat yong-kut-tan untuk
melenyapkan jejaknya, namun orang-orang Thiat-sian-pang
tentu akan mencium bau juga. Dan apabila sampai mereka
mengetahui kita berada disini, tentu akan membikin repot
saudara Li Seng juga. Lebih baik kita minta tolong saudara Li
itu membelikan sebuah kereta dengan empat kuda, untuk kita
berangkat malam ini juga!”
Liong Go menyetujui. Memang tak baik untuk merembet-
rembet seorang berbudi macam Li Seng itu.
Sebaliknya Hui-Yan heran mengapa mesti membeli serakit
kereta itu.
Liong Go menerangkan bahwa luka nona itu masih belum
sembuh betul, jadi tak boleh banyak bergerak mengeluarkan
tenaga.
„Ah, sungguh tak kira ini aku menjadi seorang invalid,” Hui-
yan menghela napas, setelah ia coba mengambil napas tadi
ternyata memang masih terasa agak sakit.
Siau Ih terus menghibur dan membesarkan hati nona itu.
Saat itu Li Seng kembali muncul dengan membawa minuman
teh hangat. Datang-datang dia lantas minta ketiga tetamunya
itu mencicipinya. Untuk itu serta merta Liong Go haturkan
terima kasih.
„Ai, aku si orang dusun ini tak biasa berlaku sungkan,
kongcu perlu apa, silahkan .........”
„Kebetulan memang aku hendak minta tolong pada
saudara. Li,” tukas Siau Ih. Lalu menerangkan maksudnya
untuk minta tuan rumah itu membeli serakit kereta dengan
kudanya.
„Ai, itu mudah sekali ....... ha, apa kongcu hendak
berangkat malam ini juga?” tanya Li Seng dengan terkesiap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih menerangkan bahwa luka sam-moaynya itu amat


berat, kalau tak lekas-lekas mendapat pertolongan tentu akan
membahayakan jiwanya. Sementara itu Liong Go segera
serahkan segenggam perak hancur kepada Li Seng, siapa
segera pergi untuk melakukan permintaan tetamunya.
Karena hari masih sore, maka Siau Ih ajak kedua kawannya
beristirahat memulangkan semangat.
Malamnya Li Seng pun sudah berhasil membeli sebuah
kereta lengkap dengan empat ekor kuda yang tegar. Setelah
menghaturkan terima kasih kepada suami isteri petani yang
baik hati itu, maka naiklah ketiga anak muda itu ke dalam
kereta.
Menjelang berangkat, tiba-tiba Siau Ih berkata dengan
nada bersungguh: „Saudara Li, hampir lupa saja mengatakan
sesuatu hal yang penting. Malam nanti apabila ada seorang
tua baju kuning datang kemari mencari kami bertiga, tolong
kasih tahu padanya, karena ada keperluan penting kami
bertiga saudara berangkat lebih dahulu dan menantinya
disebelah muka. Harap saudara, Li jangan lupa menyampaikan
ucapanku ini kepadanya!”
Li Seng mengiakan dan bergeraklah roda kereta itu
meluncur ke muka. Sembari mengiring dengan pandangan
mata, diam-diam mulut Li Seng berkata-kata:
„Mengapa terburu-buru pergi ....... orang tua baju kuning
....... siapakah gerangan dianya?”
Tapi ketika dia teringat akan menanyakan, ternyata kereta
itu sudah jauh!
--0dw0--
11. Manusia Iblis Sipat Kuping.
Malam belum larut, namun rembulan sudah purnama.
Sekalipun begitu, desa kediaman Li Seng itu sudah sepi
dengan orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekonyong-konyong dari sebuah tegalan, muncul tiga sosok


bayangan. Bagaikan bintang jatuh, ketiga bayangan itu
meluncur dengan pesatnya ke arah pondok Li Seng. Sekejap
saja, mereka sudah berhenti diantara pagar pohon bambu
yang mengelilingi pondok Li Seng.
Di bawah cahaya bulan remang, jelas kelihatan yang
menjadi pemimpinnya itu bukan lain ialah si Manusia Iblis Kiau
Hoan itu, ho-hwat atau pelaksana undang-undang dari Thiat-
sian-pang. Dia tetap mengenakan baju warna kuning. Di
belakang pundaknya menggamblok sepasang oh-kim-song-
catnya.
Sejenak mengawasi ke muka, dengan nada dingin yang
mengandung kebengisan, dia tegur kedua orang pengikutnya:
„Apakah sudah kalian selidiki benar, ketiga bocah itu
bersembunyi dipondok itu?”
Kedua pengikutnya itu membungkukkan tubuh seraya
menyahut: „Tecu sudah menyelidiki dengan sungguh-
sungguh, kalau tidak masakah berani melapor pada ho-hwat?”
Kiau Hoan menyengir dingin.
„Ketiga budak itu, yang dua sudah dekat ajal. Tinggal satu,
tak perlu dikuatirkan. Malam ini kalau tak dapat mencincang
mereka, aku jangan dipanggil Manusia Iblis!” demikian dia
sumbar-sumbar.
Mereka bertiga sahut menyahut seenaknya sendiri, seolah-
olah tak menghiraukan penghuni dalam pondok itu. Karena
berisiknya, lebih-lebih suara si Manusia Iblis yang melengking
kering itu tak sedap didengar, maka tiba-tiba dari dalam
pondok itu, lampunya dinyalakan. Menyusul terdengarlah
seorang lelaki berseru: „Siapakah yang ramai-ramai di luar
itu?”
Kiau Hoan tak menyahut. Wajahnya menampil senyum iblis,
mata berkilat-kilat buas dan sekali tubuh bergerak, dia loncat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melalui pagar pohon bambu, melayang masuk ke dalam


halaman rumah. Kedua pengikutnyapun meniru.
Berbareng pada saat itu, penerangan dinyalakan amat
terangnya dan muncullah seorang lelaki bercelana pendek. Dia
bukan lain Li Seng adanya.
Bahwa tahu-tahu dihalaman rumah terdapat seorang tua
kurus kecil berwajah pucat dan membekal senjata bersama
dua orang pengikut yang bertubuh tegap, telah membuat Li
Seng terbeliak kaget. Sikap kedua orang pengikut itu yang
bercekak pinggang sambil memandang dengan sorot mata
buas, telah membuat tubuh tuan rumah gemetar.
„Tuan bertiga ......... hendak ..... cari ......”
„Jangan banyak omong, lekas suruh ketiga anak itu
keluar!” bentaknya Kiau Hoan dengan aseran.
Mendengar kata-kata „ketiga anak” itu, Li Seng menduga
tentu ketiga pemuda she Siau itu yang dimaksudkan. Seketika
teringatlah dia akan pesan Siau Ih tempo hendak berlalu itu.
Ketika diawasi, memang benar orang itu memakai baju warna
kuning.
„Oh, kiranya lo-jinke (orangtua) hendak mencari kongcu
Siau bertiga itu. Ah, sayang, kalau lo-jinke datang kemari tiga
jam lebih pagi, mereka belum pergi .........”
„Apa? Mereka sudah pergi?!” tukas Kiau Hoan dengan
nyaring.
Li Seng mengiakan, sahutnya: „Tapi sebelum pergi, ji-
kongcu pesan padaku, apabila ada seorang tua yang
dandanannya mirip dengan lo-jinke ini, boleh memberitahukan
bahwa karena ada urusan, dia terpaksa berangkat lebih
dahulu dan akan menanti ditengah jalan saja. Walaupun
sudah berangkat, tapi karena mereka hendak menunggu,
tentunya juga tak berjalan cepat-cepat. Jika sekarang lo-jinke
lekas mengejarnya, tentu akan berjumpalah!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar rencana pengejarannya itu sudah diketahui


lawan, apalagi ketiga anak muda itu tak gentar dan
menyatakan akan menunggunya, marah Kiau Hoan bukan
kepalang.
„Sombong benar bocah itu. Kalau kau dapat lolos dari
tangan si Manusia Iblis ini, aku bersumpah tak mau hidup!”
dampratnya dengan gusar. Habis memaki, dia mulai memikir-
mikir kemanakah gerangan lari ketiga pemuda itu. Akhirnya
dia ambil putusan hendak mengorek keterangan dari tuan
rumah itu.
„Ho, kiranya begitu. Apa kau tahu kemana mereka
menuju?” tanyanya dengan senyum meringis yang dibuat-
buat.
„Mereka tak mengatakan apa-apa, tapi yang nyata mereka
itu menuju ke arah utara!” menerangkan Li Seng.
Kiau Hoan mendengus, lalu mengerutu seorang diri:
„Keutara ..... itulah arah ke gunung Ki-he-nia, baik .......”
Sesaat wajahnya membengis, berkatalah dia dengan
garangnya: „Turut kedosaanmu memberi tempat perlindungan
pada ketiga budak itu, seharusnya menerima hukuman mati.
Tapi menilik kau tak mengerti persoalannya, serta mau
memberitahu dengan terus terang, maka kau mendapat
pengampunan jiwamu. Dihukum mati sih tidak, tapi juga tak
bebas dari hukuman sama sekali ......”
Berkata sampai disini, tangan kiri si Manusia Iblis mengebut
pelahan-lahan dan segera terdengarlah jeritan Li Seng yang
seram.
„Bluk,” tubuh petani yang tak berdosa itu terpental sampai
beberapa meter dan terus rubuh tak sadarkan diri.
Bersuit nyaring, si Manusia Iblis enjot tubuhnya loncat
melalui pagar bambu, terus lari sekencang-kencangnya ke
arah utara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

--0dw0--
Pada sebuah jalan di luar kota Hangciu, tampak meluncur
sebuah kereta dengan cepatnya. Kala itu malam hari. Tak
usah kami terangkan lagi, tentulah pembaca akan maklum
sudah siapa yang berada dalam kereta itu. Ya, benar memang
di dalamnya terisi Liong Go, Siau Ih dan Lo Hui-yan.
Ketika Siau Ih mendongak ke atas, didapatinya rembulan
memancarkan sinarnya dengan gilang gemilang. Cuaca cerah,
bumi bagaikan bermandikan cahaya sang dewi malam.
Pemandangan yang indah permai itu telah berkesan sekali
dalam hati anak muda itu.
„Toako, alangkah bahagianya orang-orang dulu yang suka
pesiar menikmati keindahan malam purnama sidi. Tidak
seperti kita yang buru-buru berjalan seperti dikejar setan ini.
Jangan-jangan kita mirip dengan manusia yang buta akan seni
keindahan,” katanya.
Liong Go tertawa: „Ini kan hiante sendiri yang
mengaturnya, jadi tak dapat menyalahkan lain orang. Nanti
apabila musuh tiada mengejar, bolehlah kita menikmati
rembulan dengan sepuas-puasnya!"
Siau Ih tertawa dingin: „Kalau iblis tua itu tak datang, itu
sih baik. Tapi kalau dia berani datang, ingin benar Siaute
menjajal pukulannya thou-kut-im-hong-ciang yang lihay itu!"
Melihat Siautenya itu hendak mengagulkan diri, dengan
wajah bersungguh berkatalah Liong Go: „Bukannya aku
bermaksud akan mengagungkan pihak lawan dan
meremehkan kekuatan diri sendiri. Benar ilmu sakti yang
hiante pelajari itu adalah penumpasnya ilmu jahat macam im-
ham-tok-kang itu, namun peyakinan iblis tua itu memang
sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Kalau nanti sampai
bertempur, harap hiante berlaku hati-hati!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih dapat menerima peringatan sang toako itu, namun


disamping itu dia cenderung kalau toakonya itu agak jeri
dengan si iblis.
„Mungkin setelah mendapat pukulan dari iblis itu, toako
menjadi agak jeri. Adik Yan, bagaimana pendapatmu?"
katanya sembari berpaling ke dalam ruang kereta.
Tapi ternyata Hui-yan tak menyahut karena tidur dengan
nyenyaknya.
„Menilik keadaannya begitu letih, terang kalau ia terluka
parah. Mudah-mudahan kita lekas berhasil mendapatkan
Hwat-yok-ong Toh Kong locianpwe itu .......“
Baru dia merenung begitu, sekonyong-konyong dari arah
belakang terdengar sebuah suitan nyaring melengking,
bernada seram membikin sakit anak telinga. Suitan itu
mengalun tinggi rendah, jauh-jauh dekat, kumandangnya
lama terdengar mengarungi angkasa.
„Cepat benar iblis itu menyusul kita!” seru Liong Go dengan
terkejut.
Siau Ih pun tak urung tergetar juga. Dia segera minta Liong
Go tetap tinggal didalam kereta untuk melindungi Hui-yan,
sedang dia sendiri hendak keluar menyongsong kedatangan
iblis itu.
„Hiante, bukannya aku takut, tapi sebaiknia hiante jangan
sampai meninggalkan kewaspadaan!" kata Liong Go.
Siau Ih mengiakan dan memberi jaminan kepada sang
toako. Saat itu suara suitan makin dekat. Sekali enjot, Siau Ih
melambung ke udara. Setelah berjumpalitan satu kali, kakinya
menjejak ke udara, lalu meluncur turun terus "terbang" ke
muka.
Liong Go pun melarikan keretanya cepat-cepat. Sedang
begitu lari sampai sepuluhan tombak jauhnya, Siau Ih segera
melihat ada tiga sosok bayangan berlarian mendatangi. Dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menduga yang lari paling depan itu tentulah si Manusia iblis.


Dilihatnya saat itu kereta Liong Go sudah jauh, maka sengaja
dia hentikan langkah dan berdiri di tengah jalan.
Begitu ketiga bayangan itu tiba, Siau Ih segera
membentaknya: „Berhenti!"
Orang yang terdepan mendengus dan berhenti.
„Siapa yang berani menghadang ini!" serunya dengan
bengis.
Siau Ih menatap tajam-tajam dan memang benar seperti
yang diduga, orang itu ialah si Manusia Iblis Kiau Hoan.
„Iblis tua, hanya semalam berpisah masakah kau tak dapat
mengenali aku lagi?!" sahutnya dengan tertawa dingin.
Mata si iblis berjelilitan. Demi mengetahui yang berdiri
dihadapannya pemuda satunya yang semalam bertempur
dimakam Gak-ong, tertawalah dia dengan congkaknya.
„Mengapa kedua kawanmu itu tak muncul? Jangan-jangan
mereka sudah menghadap raja akhirat, he?" serunya
menyindir.
Siau Ih tertawa sinis, sahutnya: „Mati hidup itu sudah
suratan nasib. Hanya karena agak lengah maka toakoku itu
telah terkena pukulanmu gelap, apanya yang dibuat bangga
itu? Kini dia tengah pesiar menikmati rembulan purnama.
Karena tak mau diganggu, dia lantas suruh aku kemari
mengusirmu!"
Betapa kejut Kiau Hoan demi mendengar bahwa yang
menjadi korban pukulannya itu ternyata tak kurang suatu apa.
Dan kekagetannya itu berobah menjadi kemarahan besar
karena melihat sikap Siau Ih yang jumawa itu. Dengan
berjingkrak-jingkrak seperti orang kebakaran janggut, dia
segera perintah kedua pengikut: „Hai tolol, mengapa hanya
melihati saja? Ayuh lekas kejar, aku masih harus memberesi
dulu budak kurang ajar ini, baru nanti menyusul!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti anjing digebuk, kedua pengikut itu terbirit-birit lari


mengejar kereta Liong Go.
Siau Ih biarkan saja mereka lewat. Asal sang benggolan
sudah diremuk atau dihalau, tentulah kedua kerucuk itu dapat
diberesi Liong Go sendiri. Maka tenang-tenang saja dia
melihati.
Sebaliknya sikap itu, telah membuat Kiau Hoan kelabakan.
„Tenang-tenang saja dia biarkan orang mengejar, jangan-
jangan dia sudah mengatur persiapan?" pikirnya. Dengan
dugaan itu, dia mundur selangkah.
Melihat kesibukan orang, tertawalah Siau Ih, ujarnya: „Iblis
tua, kalau dengar nasehatku, lebih baik kau lekas pulang saja.
Kalau sampai membuat siaoyamu marah, Teng Hiong dan
kawan-kawan itulah contohnya!"
„Jadi Teng-tongcu bersama empat orangnya itu kaulah
yang membunuhnya?" seru Kiau Hoan dengan terbeliak.
„Benarlah! Terhadap tindakan siaoyamu menumpas orang
jahat begitu, puas tidak kau?" Siau Ih balas bertanya dengan
tertawa.
„Anjing buduk, kalau hari ini tak kuhancur leburkan
tulangmu, hatiku sungguh tak puas!" teriak Kiau Hoan dengan
geramnya.
Sebaliknya tak kurang jitunya Siau Ih membalas: „Justru
siaoyamu hendak menjajal sampai dimanakah kelihayan ilmu
tho-kut-im-hong-ciang yang kau bangga-banggakan itu!"
Kala itu kebencian Kiau Hoan terhadap Siau Ih sudah
menyusup sampai kesumsum. Berbareng dengan tertawa
melengking, tangannya segera menghantam ke muka. Ketika
Siau Ih menghindar, dia susuli pula dengan menggerakkan
sepasang tangan. Sekali gus, enam buah serangan
dilancarkan. Begitu rupa Manusia Iblis itu mengumbar
kemarahannya, sampai pasir dan batu-batu sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhamburan. Setiap jurus serangannya, selalu mengarah


tempat-tempat maut.
Melihat lawan begitu kalap dan menyerangnya dengan
hebat, Siau Ih pun tak berani mengabaikan. Segera dia
keluarkan ilmu ginkang ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh-
hwat. Berlincahan dia diantara samberan angin pukulan
musuh. Walaupun diam-diam dia terkejut akan tenaga
pukulan si iblis yang luar biasa hebatnya itu, namun dia
percaya ginkang ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh-hwat itu
tentu dapat menghadapinya.
Ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh-hwat atau gerakan
kaki dari kiu-kiong terbalik arahnya itu, adalah sebuah ilmu
yang sakti dalam dunia persilatan. Keindahan dan
perobahannya sukar diduga, lincahnya bukan kepalang.
„Iblis tua, mengingat umurmu lebih tua, maka siaoya suka
mengalah sampai seratus jurus. Setelah itu, jangan kau
sesalkan siaoya berlaku kejam, ya!" seru Siau Ih sembari
berlincahan.
Seumur hidup, kecuali tempo dahulu pernah dijatuhkan
Thiat-san-sian Liong Bu-ki, belum pernah dia mendapat hinaan
semacam ini. Apalagi setelah muncul untuk yang kedua
kalinya di dunia persilatan, dia telah diangkat menjadi ho-hwat
dari partai Thiat-sian-pang, sebuah partai yang amat besar
pengaruhnya. Ilmu kebanggaannya yakni thou-kut-im-hong-
ciang itu, belum pernah mendapat tandingannya.
Bahwa seorang anak muda berani sumbar-sumbar mau
mengalah sampai seratus jurus tanpa membalas menyerang,
telah membuat Kiau Hoan hampir mati kaku saking marahnya.
Rambutnya yang sudah bertabur uban sama menjingrak,
sepasang tangannya bergerak laksana angin pujuh, wajahnya
merah padam seperti kepiting direbus. Keadaan orang tua she
Kiau itu, benar-benar mirip dengan sesosok iblis yang haus
darah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepatnya limapuluh jurus telah berlalu. Betapapun


si Manusia Iblis tumpahkan seluruh kepandaiannya untuk
menyerang, namun jangankan dapat melukai sedangkan
menyentuh baju lawan saja dia tak mampu. Setiap serangan
bermulai tampaknya tentu akan tepat mengenai sasarannya,
tetapi ketika hampir terpisah beberapa dim saja, entah
bagaimana dengan mudah dan indahnya Siau Ih tentu dapat
menghindarinya. Aneh tapi nyata.
Akhirnya mau tak mau, bercekatlah hati Kiau Hoan,
pikirnya: „Bocah ini masih begini mudanya, namun
kepandaiannya melebihi cucu Liong Bu-ki itu. Yang istimewa,
ialah gerakan kakinya itu, mengapa sedemikian aneh luar
biasanya. Kalau terus menerus begini, tentu malam ini aku tak
dapat merebut kemenangan. Apabila seratus jurus sudah
habis, kemana hendak kusembunyikan mukaku, ah lebih baik
.........”
Dia mengambil putusan hendak gunakan jurus yang ganas.
Dengan tertawa seram, dia mundur selangkah. Dua buah
tangannya yang kurus panjang macam cakar burung, diangkat
ke muka dada. Membarengi dengan gerakan mundurnya tadi,
dia menghantam ke arah lawan.
Siau Ih tak kurang waspadanya. Bahwa si iblis
perdengarkan tertawa seram itu, dia sudah menduga kalau
hendak gunakan pukulan maut thou-kut-im-hong-ciang yang
termasyhur itu. Anak muda tetap suka segala avontuur
(petualangan). Tahu bahwa thou-kut-im-hong-ciang itu
termasyhur ganas, namun masih dia ingin mencobanya
dengan kian-goan-sin-kong. Begitulah diam-diam dia segera
salurkan lwekang kian-goan-sin-kong itu keseluruh tubuh, lalu
tertawa mengejek.
„Iblis tua, mau lari kemana kau? Hari masih begini sore!"
serunya sembari julurkan sang tubuh. Dengan gerak ji-hong-
si-pit, dia siap menyambut pukulan lawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu angin pukulan saling berbentur, Kiau Hoan segera


rasakan ada sambaran hawa panas yang keras sekali. Bukan
saja hawa dingin dari pukulannya thou-kut-im-hong-ciang itu
punah gayanya, pun hawa panas itu masih kuat pula
menyerangnya. Bagaimana kejut si Manusia Iblis, sukar
dibayangkan. Tanpa malu-malu lagi, dia gerakkan dua buah
pukulan untuk menangkis dan dengan meminjam tenaga
pukulan itu, tubuhnyapun segera melesat mundur dua
tombak.
Disana tampak Siau Ih seperti tak terjadi suatu apa, tegak
berdiri tersenyum bangga.
Dengan mulut komat kamit dan mata dipentang lebar-
lebar, Kiau Hoan menatap pemuda lawannya itu tajam-tajam.
„Buyung, pernah apa kau dengan si Dewa Tertawa ?!"
serunya.
„Peduli apa kau!" sahut Siau Ih dengan tertawa dingin.
Berbareng itu, sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar
beberapa kali jeritan seram. Karena terkejut, Siau Ih dan Kiau
Hoan pada berputar tubuh lalu memburu ke arah datangnya
jeritan itu.
Kiau Hoan di depan dan Siau Ih mengikuti dari belakang.
Tanpa disengaja, kedua lawan itu saling adu kecepatan lari.
Ternyata keduanya sama lihaynya. Hanya dalam beberapa
kejap saja, mereka sudah tiba ditempat tujuannya.
Ditepi jalan terdapat sebuah kereta, di sisinya berdiri
seorang muda tengah mencekal sebuah kipas. Di bawah
cahaya bulan terang, di atas jalanan yang lebar itu,
terkaparlah dua sosok tubuh yang sudah menjadi mayat.
Sekali lihat tahulah Kiau Hoan apa yang terjadi.
Saat itu mata si Manusia Iblis bagai memancar api. Dengan
menggerung keras, dia cepat cabut sepasang oh-kim-cat, lalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyerang Liong Go. Pemuda itu cepat menghindar sembari


mainkan kipasnya untuk menyampok senjata lawan.
„Tring,” letikan bunga api muncrat dan kedua orang itupun
sama mundur selangkah.
Kuatir sang toako yang baru saja sembuh dari lukanya itu
akan kehabisan tenaga, buru-buru Siau Ih loncat maju.
Dengan sinarnya yang berbentuk macam ekor burung walet,
pedang thian-coat-kiam segera diserangkan si iblis.
Melihat sinar pedang yang luar biasa itu, Kiau Hoan tak
berani adu kekerasan. Tubuh agak didongakkan, dia enjot
sang kaki melesat ke belakang. Betapapun hebat dendam
kebenciannya, namun dia tetap memakai perhitungan juga.
Satu saja sudah sukar, apalagi dua maju berbareng, tentu
akan kalahlah dia nanti.
„Selama masih ada gunung, masakah kuatir tak dapat kayu
bakar," demikian dia menimang, lalu tertawa dingin: „Budak,
hari ini biarlah kutitipkan dulu kepalamu di atas batang
lehermu. Kalau kalian dapat lolos dari tanganku, jangan
panggil aku si Manusia Iblis!"
Habis berkata, dia loncat ke samping. Dengan beberapa
loncatan lagi, Manusia Iblis itu sudah menghilang di dalam
kegelapan.
Hal itu telah membuat kedua anak muda terlongong-
longong heran. Waktu Siau Ih hendak berseru mengejek
lawan, tiba-tiba dilihatnya Hui-yan bersandar dipintu kereta,
wajahnya pucat lesi, dadanya berombak keras.
„Adik Yan, kau ......," seru Siau Ih sembari loncat
menghampiri.
Liong Go pun terkejut dan ikut menghampiri. Didapatinya
Hui-yan memejamkan mata, dadanya berkembang kempis
memburu napas, wajahnya pucat seperti kertas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Toako, mengapa tiba-tiba adik Yan menjadi begini?" tanya


Siau Ih.
Liong Go kerutkan alis dan menggelengkan kepala: „Tak
lama setelah hiante pergi tadi, kulihat ada orang mengejar
kemari, maka segera kupinggirkan kereta untuk
menyambutnya. Siapa kira ternyata kedua pengikut Kiau Hoan
itu berkepandaian tinggi. Dikarenakan aku baru sembuh dan
pula membantu pengobatan lwekang pada adik Yan, maka
dalam menghadapi serangan kedua orang itu hampir saja aku
kewalahan.
Entah bagaimana, pada saat-saat berbahaya, tiba-tiba
kedua orang itu sekonyong-konyong tutupi mukanya dengan
kedua tangan, darah mengucur tak henti-hentinya Rupanya
mereka kena dibokong orang. Dengan mudah dapatlah
kuhabisi jiwa mereka. Kemudian baru diketahui, kalau mata
kedua orang itu tertancap jarum halus.
Terang kalau adik Yan yang melepaskannya. Mungkin
karena menampak aku terdesak, adik Yan lalu taburkan jarum
san-hoa-ciam. Hanya dikarenakan timpukan jarum itu harus
menggunakan tenaga lwekang, maka luka dalamnya yang
belum sembuh betul itu menjadi kambuh lagi.
Tadi karena melihat hiante berlarian datang bersama Kiau
Hoan, aku sampai tak memikirkan keadaan adik Yan lagi. Kini
nyata kalau luka dalamnya parah lagi, kita tak boleh
mempertangguhkannya lagi. Kita minumi dulu dengan pil bik-
hun-tan untuk menahan sementara, habis itu harus lekas-
lekas menuju ke Ki-he-nia."
Bagi Siau Ih tak ada lain daya kecuali menurut saja. Liong
Go mengeluarkan dua biji pil bik-hun-tan lalu dimasukkan ke
dalam mulut Hui-yan. Setelah menutup jalan darah
penidurnya, tubuh Hui-yan dibaringkan di dalam kereta.
Kemudian bertanyalah Liong Go kepada Siau Ih, akan
diapakan kedua mayat orang Thiat-sian-pang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ai, mengapa toako lupa? Kita toh masih punya pil yong-
kut-tan ? Pil itu dapat melenyapkan segala jejak," sahut Siau
Ih.
Dikeluarkannya tiga biji pil yong-kut-tan, setelah diremas
hancur lalu ditaburkan di atas mayat kedua orang itu.
„Toako, karena urusan sudah beres, sebaiknya kita lekas-
lekas berangkat menuju ke Ki-he-nia, rasanya lebih cepat lebih
baik bagi adik Yan," kata Siau Ih.
Melihat anak muda itu sangat memperhatikan sekali kepada
si nona, Liong Go menggodanya : „Ai, benarlah, lebih lekas
lebih baik!"
--0dw0--
12. Tabib Kukoay, Hwat-yok-ong
Begitulah kereta segera dijalankan pula dengan cepatnya.
Namun walaupun sudah mencapai kecepatan maksimal,
namun Siau Ih masih kurang puas. Kalau dapat, sekali
melangkah bisalah sudah dia tiba di Ki-he-nia.
Sepanjang jalan, pikirannya selalu dibayangi dengan
kegelisahan, jangan-jangan nanti setiba di Ki-he-nia tak dapat
berjumpa dengan Hwat-yok-ong atau si Raja Obat To Kong-
ong itu. Diam-diam dia tak mengerti sendiri, mengapa dia
mempunyai pikiran semacam itu. Sepanjang hidup, baru
pertama kali itu dia dihinggapi oleh suatu perasaan aneh
seperti itu.
Diam-diam Liong Go pun memperhatikan sikap adik
angkatnya itu. Dia menduga sesuatu, namun Siau Ih tak
terasa. Begitulah dalam perjalanan itu, mereka berdiam hanya
cambuk yang sering terdengar memecah kesunyian malam.
Menjelang fajar, puncak Ki-he-nia pun sudah tampak dari
kejauhan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih seperti orang yang mendapat semangat baru.


Diiring helaan napas longgar, dia tertawa: "Toako, bagaimana
dengan kepandaianku mengendarai kereta itu?"
„Bagus juga, tapi yang menderita kuda itu," sahut Liong
Go.
Siau Ih mengusap keringat didahi, lalu menjawab:
„Bukannya siaote tak mengetahui hal itu, namun apa boleh
buat karena keadaan memaksa."
Liong Go mengangguk, sembari mengulum senyum dia
menggoda: „Siaote, dapatkah kau menjawab pertanyaan ini
'dari mana datangnya lintah' itu ?"
Siau Ih tahu kemana jatuhnya perkataan sang toako itu.
Selebar mukanya menjadi merah.
„Kita bertigakan sudah mengangkat persaudaraan,
mengapa pikirkan yang tidak-tidak? Pula Toako juga
mengobati adik Yan, apakah itu dianggap yang bukan-bukan?
Pantun kiasan toako itu, salah alamat!" ujarnya.
„Ha, ha, demikian Liong Go tertawa terbahak-bahak.
„Debatan yang jitu, aku tak dapat membuat replik (debat
balasan), aku terima salahlah!" katanya.
Biasanya Siau Ih itu pandai sekali merangkai kata-kata,
lebih-lebih kalau adu perdebatan, musuh tentu dikocok habis-
habisan. Tapi pada saat itu, dia seperti kehabisan kata-kata.
Melihat itu, Liong Go memandangnya dengan senyum simpul
Siau Ih makin kemalu-maluan dibuatnya.
Tak berapa lama, tibalah kereta di bawah gunung Ki-he-
nia.
Ki-he-nia adalah sebuah gunung ternama dari propinsi
Ciatkang, letaknya disebelah barat dari gunung Kat-nia. Setiap
musim semi tiba, sepasang gunung itu merupakan dua buah
raksasa yang berhias bunga, laksana bersunting pelangi warna
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

warni. Dari zaman ke zaman, kedua gunung itu merupakan


tempat berziarah bagi kaum pujangga dan penyair yang
memuja seni keindahan alam.
Kala itu ditengah musim rontok. Walaupun pohon-pohon
tho sudah banyak yang layu, namun kepermaian alam
pemandangan di gunung itu, masih tetap membekas.
Menghentikan keretanya, berkatalah Siau Ih: „Toako,
jalanan gunung ini berkelok-kelok, kalau tetap naik kereta,
tentu sukar menempuhnya. Lebih baik mumpung sekarang
masih sepi orang, biarlah siaote panggul adik Yan untuk
mendaki ke atas. Selain cepat pun aman rasanya, entah
bagimana pikiran toako?"
Merenung sejenak, Liong Go menyahut: „Aku setuju juga,
tapi bagaimana dengan kereta dan kuda kita ini?"
„Bukankah tadi toako mengatakan aku berlaku kejam
terhadap kuda itu? Ai, lepaskan saja mereka biar bebas
semalam ini," kata Siau Ih tertawa.
Liong Go mengiakan. Begitulah setelah kereta dipinggirkan,
kudanyapun dilepas. Menyingkap kerai kereta, Siau Ih lalu
mendukung tubuh Hui-yan, setelah itu dia minta agar Liong
Go berjalan disebelah muka mencari jalan.
Dengan gunakan ilmu berjalan cepat, kedua anak muda itu
mulai mendaki ke atas. Tak berapa lamanya, tibalah mereka
dilamping gunung. Kala itu matahari sudah mulai menyingsing
di atas puncak. Cahaya keemasan yang gilang gemilang
menabur di seluruh hutan-hutan pegunungan itu. Burung-
burung berkicau, angin sepoi-sepoi mengembus, daun-daun
bergontai, pohon-pohon menggeliat. Rupanya mereka
menyambut dengan riang akan kedatangan sang pagi.
Tiba-tiba, dari daerah pedalaman di atas puncak, terdengar
suara khim (harpa). Alun suaranya begitu tinggi melengking,
laksana air mengalir di gunung tinggi, bagaikan burung
cenderawasih bersiul nyanyi. Sebuah irama yang biasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diperdengarkan untuk menyambut kedatangan para dewa.


Halus merdu melayang-layang .......
Liong Go berhenti sejenak untuk mendengari. Serentak
berserulah dia dengan girangnya: „Hiante, perjalanan kita tak
sia-sia, To locianpwe ada di rumah!"
„Bagaimana toako mengetahui?”
„Meskipun sudah mengasingkan diri, namun setempo-
tempo To locianpwe suka pergi ke gunung-gunung dan
lembah-lembah untuk mencari daun-daunan obat. Dulu
pernah aku mengikut engkong beberapa kali mengunjungi
beliau. Turut keterangan engkong, tokoh dunia pengobatan
yang luar biasa itu mempunyai perangai aneh juga. Setiap
perbuatannya, seringkali di luar dugaan orang, tidak umum.
Misalnya, kebiasaannya bangun pagi-pagi dan memetik khim,
sangatlah mengherankan orang. Saat ini baru saja terang
tanah dan dengan adanya bunyi khim itu, bukankah pertanda
kalau beliau berada dirumah?”
Siau Ih tertawa: „Apa yang siaote ketahui, orang bermain
musik untuk menyambut kedatangan rembulan, tapi tak
pernah mendengar ada orang menabuh musik karena hendak
menyongsong kedatangan matahari. Memang aneh juga tabib
Hwat-yok-ong itu!"
„Irama khim itu menandakan sang pemain sedang riang
hatinya, ayuh, kita lekas-lekas kesana," ajak Liong Go.
Begitulah keduanya teruskan langkah, menyusur kelok
tikungan gunung yang curam. Akhirnya tibalah mereka di
sebuah batu besar hampir setombak tingginya. Batu itu
terletak dipinggir jalan dan di sisinya terdapat sebuah
terowongan yang hanya pas untuk dimasuki tubuh seseorang.
Suara khim itu jelas terdengar dari balik batu itu.
Berhenti di muka batu, Liong Go menunjuk pada lubang
terowongan, lalu masuk ke dalamnya. Siau Ihpun ikut masuk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata terowongan itu merupakan sebuah jalanan kecil


yang hanya untuk seorang saja berliku-liku naik turun. Pada
kedua samping jalan itu, tumbuh jajaran pohon pik yang
rindang daunnya. Dihembus angin lembut, maka terasalah
suatu bau harum yang menyegarkan semangat.
Lebih kurang sepuluh tombak jauhnya, tiba-tiba ada sebuah
batu yang aneh bentuknya, menghadang ditengah jalan. Di
atas batu itu terdapat ukiran yang berbunyi
„Piat yu tong thian”
sebuah tempat lain yang menyambung kelangit. Keempat
huruf itu ditulis dengan huruf kuno yang besar-besar.
Menduga sudah tiba ditempat tujuan, Siau Ih hendak
bertanya, tapi tiba-tiba terdengar suara “krak” dari snaar khim
yang putus. Menyusul dengan itu, terdengar suara seseorang
yang nyaring bening: „Tetamu yang terhormat dari mana yang
sudi berkunjung kepondok jelek sini?”
Siau Ih menduga kalau yang berseru itu tentulah Hwat-yok-
ong To Kong-ong sendiri. Sementara itu Liong Go segera
memberi hormat, sahutnya: „Wanpwe Liong Go mohon
menghadap!"
„Oh, kiranya putera kenalan lama. Dan siapakah yang
satunya?" seru To Kong-ong dengan tertawa.
Pertanyaan itu membikin Siau Ih terbeliak. Belum melihat,
mengapa sudah mengetahui ada lain orang lagi? Demikian
pikirnya.
Liong Gopun terkejut, namun dia memberi isyarat kepala
agar Siau Ih jangan buka suara.
„Gi-te Siau Ih dan gi-moay Lo Hui-yan ikut menghadap,”
sahut Liong Go.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Sekalian tetamu ini memang berjodoh, hanya saja karena


Piat-yu-tong-thian ini tiada berpintu, harap samwi masuk
dengan meloncati batu itu,” kembali To Kong-ong tertawa.
Demi melihat batu yang aneh bentuknya itu tak kurang dari
delapan tombak tingginya Liong Go berpikir: „Aneh benar
orang tua ini, meskipun batu itu tak begitu tinggi, tapi jite
mendukung adik Yan, mungkin agak sulit.
Liong Go kerutkan alis. Sebaliknya Siau Ih yang melihat
sikap toakonya itu segera mengerti apa yang dipikirkan. Cepat
dia menggelengkan kepala sambil tersenyum, pertanda dia
sanggup mengatasi percobaan itu. Sudah tentu Liong Go lega
hatinya.
„Kalau begitu, maafkan, wanpwe tak tahu adat,” serunya
sembari terus enjot kakinya meloncati batu itu.
Siau Ih pun bersiap. Setelah menghimpun tenaga, dengan
gerak tit-siang-ceng-hun atau lurus menjulang ke awan, tanpa
tubuh bergerak, tahu-tahu dia sudah melambung sampai
empat tombak tingginya. Di udara, ujung kaki kanan
dipijakkan kepunggung kaki kiri, dengan meminjam tenaga
injakan itu, kembali dia melambung sampai lima tombak lagi.
Sembari mengepit tubuh Hui-yan di tangan kiri, lengan
bajunya dikebutkan, indah dan tepat sekali dia melampaui
batu tinggi itu, terus melayang turun.
Baru saja kakinya menginjak bumi, atau terdengar To
Kong-ong berseru memuji: „Gerakan yang indah sekali!”
Mendongak ke muka, Siau Ih dapatkan sebuah dataran
seluas satu hektar. Sekelilingnya dilingkungi puncak-puncak
kecil yang hijau, penuh dengan berbagai pohon dan bunga-
bungaan. Sebuah air terjun kecil, mencurah dari lamping
puncak, menghamburkan ribuan permata titik air. Panorama
disitu benar-benar seperti dalam lukisan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak jauh dari air terjun itu, diantara bayang-bayang pohon


bambu, tampak menonjol sebuah pondok. Diserambi pondok
itu ada sebuah batu besar yang bening seperti kaca. Di
atasnya duduklah seorang orang tua berbaju putih, tengah
memangku sebuah khim. Sebuah api perdupaan berada di sisi
orang tua itu, asapnya bergulung-gulung ke angkasa .........
Pemandangan disitu tak ubah seperti tempat keinderaan
(dewa), sehingga Siau Ih menjadi terlongong-longong
dibuatnya. Tapi pada lain kilas serta diketahuinya orang tua itu
memandang dirinya dengan berseri senyum, dia (Siau Ih)
menjadi likat. Buru-buru dia tenangkan pikiran, membungkuk
lalu berkata dengan hormatnya: „Wanpwe Siau Ih memberi
hormat!"
Orang tua itu bukan lain adalah Hwat-yok-ong To Kong-
ong, tokoh sakti dalam dunia persilatan dan tabib mujizat
dalam dunia pengobatan. Berpuluh tahun namanya harum
memasyhur di dunia persilatan.
„Sudah sekian lama losiu mengasingkan diri, lupa sudah
akan segala peradatan, maka harap lo-tethay jangan banyak
peradatan lagi,” si orang tua lambaikan tangan dengan
tersenyum. Sepasang matanya berkilat mengawasi ke arah Lo
Hui-yan, lalu berpaling kepada Liong Go.
„Hai, buyung, kalau tak ada urusan masakah kau sudi
datang kemari? Kedatanganmu kemari bukankah karena untuk
nona itu?” tegurnya.
Wajah Liong Go menjadi merah, ujarnya: „Lo-jinke benar,
wanpwe memang hendak mohon pertolongan guna gi-moay
Lo Hui-yan ini.”
Merenung sejenak, tokoh aneh itu memberi isyarat kepada
Siau Ih: „Harap lo-tethay membawa nona Lo kemari, losiu
hendak memeriksanya."
Setelah Siau Ih meletakkan tubuh Hui-yan di atas batu
altar, maka tabib sakti itu lalu memeriksa pergelangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya. Lewat sejenak kemudian, kedengaran dia berkata:


„Coba kalian ceritakan bagaimana nona Lo ini sampai terluka."
Melihat wajah To Kong-ong mengerut dalam-dalam,
tahulah Liong Go bahwa luka adik angkat perempuan itu berat
sekali. Segera dia tuturkan semua apa yang terjadi.
Mendengar itu, To Kong-ong mengangguk.
„Oh, kiranya begitu. Mendapat pukulan dari Teng Hiong,
sebenarnya nona Lo sudah terluka-dalam yang parah,
walaupun telah kaugunakan kipas tui-hun-san untuk menutuki
jalan darah kemudian kausaluri lwekang, namun lukanya itu
masih belum sembuh sama sekali. Bahwa ketika di dalam
kereta ia sudah gunakan lwekang untuk menaburkan jarum
kepada musuh, telah menyebabkan lukanya merekah lagi.
Untung segera kauberi makan pil bik-hun-tan kalau tidak,
tentu sudah takkan ketolongan lagi.
Sekalipun begitu, keadaannya sekarang amat berbahaya
sekali. Terlambat sejam lagi kau datang kemari, walaupun ada
pil dewa, juga takkan dapat menolong jiwanya lagi. Menolong
jiwa orang adalah kegemaran losiu, apalagi telah kukatakan
tadi bahwa kedatangan kalian ini memang berjodoh. Biar
bagaimana aku tentu akan berusaha untuk menolongnya."
Mendengar keterangan dari tabib aneh itu, hati Siau Ih
sudah kebat kebit. Buru-buru dia memberi hormat dan
memohon: „Sudilah kiranya locianpwe bermurah hati
menolongnya."
To Kong-ong tertawa, ujarnya: „Harap lo-tethay legakan
pikiran. Karena sudah berada di Piat-yu-tong sini, apabila
sampai terjadi apa-apa, bukankah ilmu ketabibanku akan
ditertawai orang. Apalagi rupanya nona Lo itu mempunyai
rejeki besar.
Setahun yang lalu, secara tak terduga losiu telah berhasil
mendapat ho-siu-oh (semacam tanaman yang hidup beratus
tahun hingga seperti berjiwa). Losiu gunakan waktu delapan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bulan lamanya, menjelajah gunung dan hutan untuk mencari


128 ramuan daun obat. Dan setelah memakan tempo 49 hari,
berhasillah losiu membuat semacam pil yang dinamakan siok-
beng-cek-soh-tan (pil perebut jiwa). Semua itu terjadi pada
beberapa hari yang lalu.
Siok-beng-cek-soh-tan walaupun bukan pil dewa, tapi untuk
mengobati segala luka dalam, tak nanti sampai gagal. Asal
korban masih ada setitik napasnya, tentu akan dapat
disembuhkannya. Tapi ada satu hal yang patut disayangkan.
Setelah makan pil mujijat itu, walaupun nantinya nona Lo
akan sembuh, tapi ilmu kepandaiannyapun akan berkurang
sampai separoh."
To Kong-ong berhenti sejurus, lalu berkata pula dengan
tertawa: „Losiu hanya membuat siok-beng-cek-soh-tan itu
sebanyak 34 butir saja. Walaupun pil itu merupakan obat
berharga yang jarang ada, namun mengingat kita saling
berjodoh, jadi losiu pun takkan berlaku pelit."
Bahwa tabib sakti itu ternyata mau bersungguh-sungguh
menolong, telah membuat Siau Ih kegirangan. Pikirnya:
„Orang menyohorkan Hwat-yok-ong itu beradat aneh sukar
diduga hatinya. Tapi apa yang kulihat sekarang, ternyata jauh
dengan desas desus itu.”
Memang disitulah letak keanehan To Kong-ong itu, suatu
hal yang tak mudah dipahami oleh Siau Ih. Seperti telah
dikatakan berulang kali, bahwa kedatangan ketiga muda-mudi
itu dikatakan ada jodoh padanya, dari itulah dengan mudah
saja ia telah bersedia menolong dan memberi obat pil yang
dibuatnya dengan susah payah itu.
To Kong-ong kembali berkata kepada Liong Go: „Walaupun
sudah mendapat pertolongan pil siok-beng-cek-soh-tan,
namun luka nona Lo tak dapat disembuhkan dalam waktu
sehari dua. Losiu sudah puluhan tahun menghuni dipondok ini
seorang diri. Disini hanya terdapat tiga buah kamar. Setelah
kupikirkan, kamar sebelah barat yang biasanya losiu gunakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebagai kamar tulis itu, akan kuberikan untuk tempat tinggal


sementara kepada nona Lo. Kau buyung dan Siau lote, untuk
sementara tinggal di ruangan tengah sajalah."
Liong Go mengiakan dan menghaturkan terima kasih.
Kemudian berbangkit pelahan-lahan dari atas batu,
berkatalah tokoh aneh itu dengan kurang senang: „Seumur
hidup, losiu tak suka akan segala aturan dunia, lebih-lebih
kalau yang melakukan kaum muda yang pada hakekatnya
hanya suka main etiket-etiketan palsu saja. Maka kalau kau
masih mempertahankan sikap etiketmu itu, losiu pasti tak
ambil mumet lagi!"
Mendengar itu buru-buru Siau Ih menyanggapi: „Toako,
karena lo-jinke tak suka segala peradatan, kitapun harus
mengindahkan!"
„Ha, itu baru mencocoki selera. Nah, sekarang mari ikut
aku masuk," kata To Kong-ong sambil tertawa.
Dengan memondong Hui-yan, Siau Ih mengikuti Liong Go
turut masuk dengan To Kong-ong.
Ternyata hutan bambu disitu, luas sekali. Di tengah-
tengahnya terdapat tiga buah pondok terbuat dari bambu. Di
muka pintu tergantung tirai bambu yang tinggi, di bawah
serambinya terdapat sebuah tiang baja. Di atas tiang itu,
terikat seekor burung kakaktua yang besar. Bulunya yang
merah tercampur hijau itu, amatlah indahnya. Sementara di
muka jendelanya, dihias dengan empat buah vaas kembang
yang harum baunya.
To Kong-ong berhenti di muka pintu, dia tampak tersenyum
dan memberi isyarat tangan. Ketika Liong Go dan Siau Ih naik
ke atas dan masuk ke dalam pondok, ternyata keadaan dalam
pondok itu sangat bersih sekali. Boleh dikata tiada setitik
debupun yang melekat pada semua pekakas. Di tengah
ruangan, terdapat tempat perapiannya, sedang disebelahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibentangi dampar permadani. Kitab-kitab yang terletak di


atas meja, diatur dengan rapi sekali.
Ruangan sebelah barat, adalah kamar tulis To Kong-ong.
Boleh dikata, ruangan itu berdindingkan buku, karena
keempat dindingnya penuh dengan jajaran buku-buku.
Beberapa lukisan dan ukiran-ukiran gading yang terdapat
disitu, amat menarik sekali. Sebuah pembaringan yang diberi
alas rami sebagai kasurnya, terletak didekat dinding.
„Harap letakkan nona Lo dipembaringan ini, "kata To Kong-
ong.
Siau Ih segera melakukan perintah.
Setelah menengok sebentar ke arah Hui-yan, maka To
Kong-ong pun tinggalkan ruangan itu. Tak lama kemudian, dia
sudah kembali dengan membawa sebuah peti obat dari batu
kumala hijau dan sebuah botol kecil juga dari batu kumala.
Diletakkan peti itu di atas meja lalu dibukanya. Peti itu berisi
berpuluh-puluh pil terbungkus malam (paraffin). Dijemputnya
tiga buah pil, lalu ditutupnya pula peti obat itu.
„Peti ini berisi 34 butir pil siok-beng-cek-soh-tan, obat yang
telah menghabiskan waktuku selama satu tahun,” kata tabib
itu.
Setelah pembungkusnya diremas, maka keluarlah sebutir pil
warna ungu sebesar biji mata naga. Serangkum hawa wangi
segera semerbak memenuhi ruangan. Sekali pijat, pil besar itu
hancur menjadi sepuluh pil kecil lalu dimasukkan ke dalam
botol kumala.
Begitulah dalam sekejap saja, To Kong-ong telah meremas
tiga pil besar menjadi tigapuluh pil kecil-kecil dan dimasukkan
ke dalam botol. Hanya ada sebutir yang ditinggalkan di dalam
tangan, katanya: „Sekarang losiu hendak mulai mengobati
nona Lo!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Secepat itu, dia sudah menutuk buka jalan darah penidur


Lo Hui-yan. Demi membuka mata dan melihat ada seorang tua
berpakaian serba putih tengah memandangnya dengan
mengulum senyum, kejut Hui-yan bukan kepalang.
Tapi baru ia hendak membuka mulut, Siau Ih sudah
mendahului: „Adik Yan, ini adalah Piat-yu-tong-thian di puncak
Ki-he-nia, ialah tempat kediaman To locianpwe. Semalam
karena kau gunakan lwekang, lukamu kambuh kembali. Kini
To locianpwe sudah bermurah hati hendak memberimu pil
mujizat untuk mengobati lukamu
Belum selesai Siau Ih berkata, Hui-yan tampak akan
berusaha bangun, tapi buru-buru dicegah To Kong-ong,
ujarnya: „Nona, selamanya losiu tak suka akan segala
peradatan kosong. Kalau nona ada pembicaraan apa-apa,
harap tunggu nanti saja apabila sudah sembuh."
Habis itu, To Kong-ong minta Siau Ih mengangkat si nona
supaya duduk. Liong Go dan Siau Ih segera sama menyangga
tubuh Hui-yan. Setelah memasukkan pil ke dalam mulut si
nona, To Kong-ong lalu duduk bersila, katanya: „Nona,
ulurkan kedua tanganmu!"
Tahu orang hendak menyalurkan pengobatan lwekang,
buru-buru Hui-yan julurkan kedua tangannya ke muka.
Setelah saling berapatan tangan, maka mulailah To Kong-ong
salurkan hawa-murninya ketubuh si nona Seketika itu Hui-yan
rasakan ada aliran hawa panas merangsang tubuhnya. Buru-
buru ia jalankan lwekangnya.
Bahwa tokoh yang pandai ilmu silat dan ketabiban itu
disamping memberi obat pun mau juga menyumbangkan
lwekangnya untuk mengobati si nona, tak terkira rasa terima
kasih Siau Ih dan Liong Go.
Saat itu ubun-ubun kepala To Kong-ong mengeluarkan uap
panas, butir-butir keringat mengucur pada dahinya. Lewat
beberapa saat kemudian, barulah tokoh itu menarik pulang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya. Serunya: „Harap nona jangan membuat gerakan


dahulu, tapi jalankan penyaluran hawa, agar obat dapat
bekerja untuk menyembuhkan luka dalam."
Lo Hui-yan tersenyum mengangguk selaku pernyataan
terima kasih, kemudian ia meramkan mata mulai menjalankan
penyaluran hawa.
Mengusap keringatnya, To Kong-ong berkata pula: „Tenaga
dalam nona Lo cukup kokoh, kalau tiap hari minum obat ini
tiga kali, dalam sepuluh hari tentu akan sembuh sama sekali!"
Botol kumala yang berisi 29 butir pil siok-beng-cek-soh-tan
itu berikut resep penggunaannya diberikan kepada Siau Ih,
lalu katanya: „Dalam dapur sana tersedia lengkap segala alat-
alat perkakas. Sewaktu-waktu kalian lapar, boleh masak
sendiri. Losiu tak tentu makannya, boleh tak usah tunggu
aku!"
Mengetahui watak-watak yang aneh dari tabib itu, kedua
pemuda itupun hanya mengiakannya saja. Karena merasa
lelah, To Kong-ong lalu tinggalkan ruangan itu. Siau Ih dan
Liong Go mengantar sampai keluar pintu baru balik.
Kala itu didapatinya Hui-yan masih duduk bersila meramkan
mata, tampak berseri merah wajahnya. Suatu hal yang
membuat kedua pemuda itu lega. Karena semalam penuh tak
tidur dan kemasukan nasi, Siau Ih dan Liong Go merasa lapar.
Siau Ih nyatakan hendak menyiapkan hidangan. Begitulah ke
duanya menuju kedapur.
Siau Ih singsingkan lengan baju menanak nasi memasak
sayur. Sebaliknya karena tak biasa masak Liong Go menjadi
canggung. Tak tahu dia bagaimana harus membantu. Melihat
itu Siau Ih tertawa dan mempersilahkan toakonya itu menjaga
Hui-yan saja, apabila nona itu memerlukan sesuatu.
Bermula Liong Go menyatakan enggan, tapi setelah didesak
Siau Ih terpaksa dia menurut juga. Benar juga, dengan
bekerja sendiri, Siau Ih malah lebih lekas. Tak berapa lama,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hidanganpun telah siap. Karena Hui-yan belum terjaga,


mereka berdua makan lebih dahulu. Tengah makan Liong Go
teringat bagaimana nanti kalau Hui-yan bangun dan
makanannya habis.
„Harap toako tak usah pikiri, siaote sudah menyediakan
bubur untuknya, ' kata Siau Ih.
„Ai, hiante sungguh memikirkan sekali," Liong Go
menggodanya.
Wajah Siau Ih bersemu merah, ujarnya: „Ah, janganlah
toako menggoda begitu, kalau didengar adik Yan, malu sih!"
---ooo0dw0ooo---

13. Hasrat Hati dan Aturan Perguruan


Habis makan, Hui-yan tetap belum bangun. Walaupun
semalam tak tidur, tapi karena memiliki lwekang tinggi, maka
dengan beristirahat sebentar saja kedua pemuda itupun sudah
pulih lagi kesegarannya.
Waktu berbangkit, keduanya dapatkan matahari sudah
condong kebarat, namun anehnya Hui-yan masih tetap belum
tersadar. Sudah tentu mereka menjadi heran.
Syukur pada saat itu To Kong-ong datang. Baru Siau Ih
hendak menanyakan, tuan rumah itu sudah menerangkan
kalau nona itu tak kena suatu apa hanya karena disebabkan
obat tengah bekerja saja.
Tepat dia berkata, Hui-yan tiba-tiba bangun. To Kong-ong
memberi isyarat supaya ia jangan bicara, kemudian dia
memeriksa pergelangan tangan nona itu.
„Luka nona sudah banyak sembuhnya. Dasar lwekang nona
ternyata di luar dugaan losiu. Dengan begini tak sampai
sepuluh hari, tentu akan sembuh" kata si tabib To itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian dia mengatakan nona itu boleh makan, setengah


jam kemudian baru minum obat lagi.
Siau Ih buru-buru lari kedapur dan membawa sepiring
bubur panas serta dua mangkok sayur. Melihat perhatian
orang, Hui-yan tergerak hatinya.
To Kong-ong minta dari Siau Ih dua butir pil siok-beng-tan
diberikan pada Hui-yan. Habis makan obat, nona itu disuruh
menyalurkan hawa dalam lagi.
Dalam pada Hui-yan duduk pula menyalurkan lwekang,
berkata lah To Kong-ong pada Liong Go: „Dahulu engkongmu
adalah kawanku bermain catur, tentunya kaupun pandai
permainan itu. Untuk mengisi kesenggangan, mau tidak kau
menemani aku bermain catur?"
Liong Go serta merta mengiakan.
Siau Ih mengatakan sama sekali tak dapat, tapi suka juga
melihatnya. Mendengar itu To Kong-ong tertawa dan segera
ajak mereka ke ruang belajar. Setelah mengambil papan dan
biji-biji catur, dia menuju ke batu altar yang terletak di luar
halaman.
Selama Liong Go bermain catur dengan tuan rumah, Siau
Ih duduk melihat di sebelahnya. Rembulan menjulang tinggi,
barulah permainan itu selesai, dengan kesudahan Liong Go
kalah. Tampaknya To Kong-ong gembira benar. Siau Ih sibuk
mengambil arak dan sayuran.
Begitulah semalam itu dilewati dengan main catur, minum
arak dan mengobrol kebarat ketimur. Berturut-turut tiga
malam, mereka berbuat begitu. Dalam pada itu, keadaan Hui-
yan makin bertambah baik.
Malam itu selagi Hui-yan duduk menyalurkan lwekang,
kembali To Kong-ong ajak Liong Go bermain catur lagi. Siau Ih
tetap menemani disamping. Ronde pertama berakhir, To
Kong-ong tertawa: „Ai, buyung, kau ini benar-benar tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berguna, seranganmu kurang agressip. Siau lote, kau saja


yang maju ya?”
Selama tiga hari menonton, Siau Ih sudah tahu-tahu cara
jalan-jalannya. Diajak tuan rumah, tanpa sungkan lagi dia
terus menerimanya. Dengan kecerdasan otaknya, walaupun
kalah tapi Siau Ih dapat memberi perlawanan yang gigih.
„Siau lote, selama tiga hari baru inilah yang paling
menggembirakan, ai, kau benar-benar lihay!" To Kong-ong
sampai-sampai memujinya.
Siau Ih pun tambah bersemangat. Begitulah sampai pada
hari ke lima, disamping Hui-yan sudah banyak sembuh dan
boleh turun pembaringan, permainan catur Siau Ih tambah
maju pesat. Dari kalah enam biji catur, kini dia hanya kalah
dua biji saja.
Semakin anak muda itu lihay, makin besar kegembiraan To
Kong-ong. Boleh dikata kecuali hanya berhenti makan dan
tidur, dia tentu ajak anak muda itu bermain catur.
Kebalikannya kini Liong Go malah menjadi penontonnya.
Siau Ih bo-hwat (tobat) benar-benar. Disamping masak dan
meladeni Hui-yan. dia harus menemani tuan rumah bermain
catur.
Sebenarnya dapat juga Liong Go mengerjakan, tapi selalu
Siau Ih mencari alasan ini itu, tinggalkan To Kong-ong dan
melayani keperluan Hui-yan sendiri. Karena itu, walaupun
hanya beberapa hari bergaul, Siau Ih dan Hui-yan sama
menaruh hati. Inilah yang dibilang “begitu melihat, begitu
jatuh cinta".
Pada suatu malam, seperti biasanya Siau Ih dan Liong Go
menemani To Kong-ong main catur.
Karena iseng, Hui-yan jalan-jalan ke bawah air terjun.
Kolam di bawah air terjun itu, bening sekali airnya hingga
ikan-ikan yang berkeliaran di dalamnya dapat kelihatan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekeliling alam amat sunyi, hanya debur air tumpah itu saja
yang kedengaran amat berisik.
Memandang ke arah ribuan titik air yang bagaikan mutiara
lepas dari untaiannya itu, pikiran Hui-yan melayang-layang.
Terbayanglah wajah yang cakap dari Siau Ih serta sikapnya
yang begitu memperhatikan itu. Itulah yang disebut cinta? Ah,
bayang-bayang itu memenuhi ruang kalbu si nona.
Sekilas teringatlah ia akan peraturan perguruannya yang
keras itu. Tapi suara hatinya tetap merintih-rintih ditingkah
pancaran kalbu. Rasa asmara, pancaran bahagia, cemas dan
gangguan urat syaraf, bagaikan ombak pasang surut
mengamuk dalam hati Hui-yan.
Tiba-tiba tampak olehnya sebuah bayangan wajah cakap
dalam permukaan kolam itu. Wajahnya segera bersemu merah
dan dengan cepat berpaling ke belakang. Amboi! Disana
tampak Siau Ih berdiri dengan tegaknya. Betapa ia itu seorang
gadis persilatan, namun sifat kegadisannya tetap ada.
Bagaimana ia tak menjadi jengah diawasi begitu rupa oleh
seorang pemuda!
„Engkoh Ih!" serunya sembari menunduk.
„Begini malam mengapa adik Yan berada disini, nanti bisa
kena hawa dingin,” sahut Siau Ih tertawa.
„Aku toh bukan gadis pingitan, tak nanti gampang masuk
angin!"
„Ya, sekalipun begitu, karena baru saja sembuh, lebih baik
adik Yan berhati-hati menjaga diri," kata Siau Ih.
Benar dengan ucapan itu, Hui-yan tahu kalau dirinya
diperhatikan, tapi umumlah kalau seorang nona itu bersifat
aleman membandel, ia balas bertanya: „Engkoh Ih, bilamana
kau belajar merangkai kata-kata seperti orang tua begitu?”.
Siau Ih kemerah-merahan tak dapat menyahut. Hui-yan tak
menggodanya lebih jauh dan menanyakan Liong Go.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Toako sedang bermain catur dengan To locianpwe ......”


„Maka kau lantas menyelinap kemari ya?" tukas Hui-yan.
Setelah termangu beberapa jenak, barulah Siau Ih dapat
membuka mulut: „Benar, tadi karena melihat adik Yan keluar,
begitu selesai sebabak buru-buru kusuruh toako menggantikan
bermain, karena ....... karena ...........
Sampai disitu, Siau Ih tak dapat melanjutkan kata-katanya,
wajahnya makin merah. Jantung Hui-yan pun mendebur
keras. Ia tahu pemuda itu tentu akan berkata-kata banyak
sekali, kata-kata yang sebenarnya ia kepingin sekali
mendengarnya tapipun paling takut mendengarnya. Kembali
benaknya penuh dibayangi berbagai perasaan, rasa cinta,
terima kasih, peraturan perguruan dan sumpahnya ketika
memasuki perguruan. Dengan menundukkan kepala dan
tangannya memainkan ujung baju, Hui-yan terdiam sampai
sekian lama, terbit pertentangan dalam batinnya.
Akhirnya berkatalah ia dengan nada gemetar: „Engkoh Ih,
lukaku rasanya sudah sembuh, karena itu besok pagi kupikir
hendak minta diri pada To-locianpwe untuk pulang ke Lo-hu-
san.”
Seperti disedot magnit, hati Siau Ih melangkah setindak,
dan mulut berseru dengan suara sember: „Adik Yan, kau.......”
Tanpa tunggu si anak muda lanjutkan kata-katanya, Hui-
yan sudah berbangkit dan lambaikan tangannya: „Engkoh Ih,
apa yang hendak kaukatakan aku sudah tahu dan apa isi
hatimu pun aku sudah mengetahui, hanya ..........”
Belum si nona menghabisi ucapannya, Siau Ih sudah
melangkah maju dan memeluknya.
„Adik Yan semoga kita dapat mengarungi samudera
penghidupan bersama-sama," bisik Siau Ih.
Sampai pada saat itu, tenggelamlah Hui-yan dalam lautan
asmara. Hilang tak berbekas lagi segala pantangan dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perguruannya. Lewat beberapa jenak, tiba-tiba terdengar


gelak tawa To Kong-ong. Tertawa itu telah membuat sejoli
muda- mudi yang sedang belebuh dalam buaian asmara,
menjadi tersadar.
„Engkoh Ih," seru Hui-yan dengan terkejut sembari
mendorong tubuh si pemuda. Sudah tentu Siau Ih menjadi
gelagapan dan menanyakan.
„Engkoh Ih, kini baru kuakui bahwa manusia itu
mempunyai hati perasaan," kata Hui-yan setelah melepaskan
diri.
Siau Ih mengiakan.
Hui-yan memandang ke angkasa yang bertaburkan bintang,
ujarnya dengan rawan: „Sebenarnya atas budi pertolongan
itu, aku harus membalasnya dengan segenap jiwa ragaku.
Tapi dikarenakan peraturan perguruanku tak mengizinkan
sesuatu perjodohan, maka ketika itu akupun lantas
mengangkat saudara padamu. Itulah satu-satunya jalan untuk
menolong diriku dari cerca hinaan orang dan hubungan
perguruan. Tapi sedikitpun tak kusangka, bahwa dalam
sesingkat waktu berada di Ki-he-nia sini hubungan kita makin
erat. Bahwa setiap insan wanita itu harus berjodoh dengan
pria, belum pernah terlintas dalam pikiranku dan memang aku
tak berani memikirkannya. Keadaanlah yang menjadikan aku
seorang gadis macam begitu, akupun tak menyesal. Tapi kini
keadaan berobah sama sekali, namun diriku tetap terpancang
dengan pantangan-pantangan itu. Inilah yang menyiksa
perasaanku. Kalau kita tetap berkumpul bersama-sama,
dikuatirkan tentu terjadi sesuatu yang tak diinginkan .........”
"Adik Yan, janganlah kau .........”
Hui-yan menggeleng minta Siau Ih jangan memotong
bicaranya, kemudian dengan berlinang-linang air mata ia
melanjutkan: „Oleh karena itu, kupikir lebih baik aku lekas-
lekas menyingkir dari sini. Makilah aku sebagai seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

manusia yang tak berperasaan, biarlah kuterimanya dalam


derita batinku. Engkoh Ih, dapatkah kau memahami
kesulitanku, aku .........”
Siau Ih mengusap air mata si nona, dia menghiburnya:
„Adik Yan, kupercaya bahwa manusia itu tentu berhati
perasaan, dan kuyakin kita tentu dapat merobah nasib .......”
Cepat-cepat Hui-yan menutup mulut Siau Ih dengan
jarinya, tukasnya dengan tertawa getir. „Benar kau belum
mengatakan asal usul perguruanmu, tapi ditilik dari
kepandaianmu yang setinggi itu, terang kalau anak murid dari
perguruan yang ternama, oleh karena itu tentunya kau dapat
memaklumi apa artinya budi seorang guru itu. Kuberpendapat
bagaimanapun juga, tak selayaknya karena urusan muda
mudi, kita lantas membelakangi peraturan perguruan."
Ia berhenti sejenak untuk menenangkan perasaannya,
kemudian dengan nada tetap, ia melanjutkan: „Engkoh Ih, kita
adalah pemuda persilatan, seharusnya memiliki semangat
yang lebih unggul dari orang biasa. Dalam memilih antara
suara hati dan budi suhu, kita harus berani mengambil
tindakan tegas memberatkan yang tersebut belakangan itu.
Ini barulah sikap yang utama. Lain dari pada itu, seorang
pemuda gagah seperti kau, masakah takut tak bakal
mendapat jodoh. Jangan kau sudah berpatah hati yang
menyebabkan semangatmu pudar. Besok aku tetap
mengambil putusan pulang ke Lo-hu-san, tapi ini bukan
merupakan perpisahan kita selama-lamanya. Pada suatu hari
kita tentu bakal berjumpa lagi!
Lencana kiu-hong-giok-hu ini adalah pemberian suhuku.
Hendak kuberikan padamu untuk kenangan. Kelak apabila kau
terkenang padaku dan ingin berkunjung ke Lo-hu-san, carilah
seorang petani disekeliling daerah itu, dia tentu akan
menolongmu memanggilkan aku. Jangan sekali berani masuk
ke dalam Peh-hoa-kiong, nanti kita tentu mengalami banyak
kesulitan. Tentang hubungan kita yang terjalin dalam waktu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesingkat ini, tetap akan kuukir dalam lubuk hatiku. Nah,


karena waktunya sudah larut, sampai sekian saja ucapanku!"
Habis itu, sekali melesat Hui-yan tinggalkan si anak muda
yang masih termangu-mangu seperti orang kehilangan
semangat.
Keesokan harinya, benar juga Lo Hui-yan membenahi
pakaiannya dan minta diri pada To Kong-ong. Putusannya
yang tergesa-gesa itu telah membuat tuan rumah dan Liong
Go keheran-heranan. Demi melihat Siau Ih bermuram durja,
tahulah Liong Go persoalannya.
To Kong-ong coba menahannya lagi, tapi nona itu tetap
pada putusannya. Apa boleh buat, To Kong-ong pun tak
berani mencegahnya lagi. Memberikan botol yang masih berisi
dengan pil siok-beng-cek-soh-tan itu, dia berkata: „Losiu
hanya dapat memberikan bekal pil ini kepada nona. Mungkin
dikemudian hari nona masih memerlukannya lagi. Tolong
sampaikan hormatku pada suhumu!"
Sekali lagi menghaturkan rasa terima kasihnya yang tak
terhingga. Hui-yan pun segera berangkat.
Siau Ih dan Liong Go mengantar sampai di luar terowongan
batu.
„Ribuan li mengantarkan, toh akhirnya tetap akan berpisah.
Toako, engkoh Ih, sudah sampai disini sajalah, lain hari
semoga kita dapat berjumpa pula," kata Lo Hui-yan dengan
nada rawan.
Dengan kuatkan hati, nona itu segara berputar tubuh terus
lari menyusur sepanjang jalanan gunung. Siau Ih
mengantarkan bayangan nona itu dengan mata yang sayu.
Setelah Hui-yan menghilang di antara lebatan rimba, barulah
kedua kembali. Ternyata To Kong-ong menyongsong mereka
di muka halaman sembari bersimpul tangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Siau lote, menilik wajahmu yang sayu, benar-benar bibit


cinta sudah bersemi dalam hatimu," menggoda tabib itu
dengan senyum tawa.
Wajah Siau Ih merah lalu tersipu-sipu menyahut: „Ah. lo-
cianpwe menggoda saja.”
Namun dengan wajah bersungguh To Kong-ong berkata:
„Losiu memang suka berkata blak-blakan saja. Menyinta,
itulah sudah wajar. Tapi janganlah kena dipengaruhinya
hingga melesukan semangat, memutuskan asa dengan akibat
merusak hari depan. Benarkah begitu, lote?”
Siau Ih tundukkan kepala mengiakan.
„Janganlah lote malu-malu. Orang muda dirundung cinta,
itu sudah jamak. Yang penting, janganlah karena hal itu akan
merusak jiwa," kembali tabib itu berkata.
Mendongak ke atas, dia tertawa, ujarnya: „Dalam beberapa
hari ini, permainan catur lote maju pesat sekali sampai aku
sukar menghadapi. Ayuh, kita main satu set lagi!"
„Ai, locianpwe ini benar-benar beradat aneh. Senja pagi
bermain khim, tengah hari menantang main catur. Tapi
dengan bermain catur rasanya kedukaan Siau hiante dapat
terhibur," diam-diam Liong Go membatin. Belum Siau Ih
menyahut, dia sudah mendahului menyetujui ajakan si tabib.
Sebaliknya To Kong-ong dengan tertawa lantas
mendampratnya: „Hai buyung, apa kau juga ketagihan main
catur? Tapi ah, enggan aku menghadapi permainanmu yang
tak begitu lihay!”
Liong Go hanya ganda tertawa dan menyatakan, asal dapat
nemani tuan rumah bermain catur, itu sudah cukup. Menang
kalah tak dihiraukannya.
„Ai, kasihan juga kau. Ayuh, lekas ambilkan catur sana!"
seru To Kong-ong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong Go buru-buru melakukan perintah. Sebenarnya hati


Siau Ih tak tenteram, namun dia tak dapat menolak ajakan
tuan rumah. Begitulah mereka kembali adu otak memainkan
biji-biji catur. Sehari penuh mereka bermain dan baru berhenti
setelah rembulan naik tinggi.
Keesokan harinya, Siau Ih mengutarakan maksudnya
berangkat ke Tiam-jong-san pada Liong Go. Karena sekian
lama bergaul, jadi Liong Go sudah mengenal baik watak adik
angkatnya itu. Untuk menghibur hati Siau Ih yang dirundung
rindu itu, membuat perjalanan menikmati pemandangan alam
adalah jalan satu-satunya yang terbaik. Disamping itu, diapun
merasa perlu untuk lekas-lekas memberitahukan kepada
engkongnya tentang peristiwa Thiat-sian-pang itu.
„Karena hiante perlu lekas-lekas ke Tiam-jong-san, akupun
juga akan pulang ke Po-gwat-san untuk memberitahukan
engkong tentang peristiwa bentrokan kita dengan orang-orang
Thiat-sian-pang di Hangciu itu," akhirnya dia berkata.
Siau Ih menyetujui dan ajak sang toako untuk pamitan
pada To Kong-ong. Begitulah setelah berkemas, mereka lalu
menuju keluar.
Di bawah gerombolan pohon yang merupakan garis-garis
halaman rumah itu, tampak To Kong-ong sedang duduk di
atas batu altar seraya memandang ke arah air terjun. Setelah
memberi salam, Liong Go lalu mengutarakan maksudnya.
„Tak usah kalian menghaturkan terima kasih untuk apa
yang kulakukan kepada nona Lo. Sebenarnya aku masih ingin
menahan kalian untuk beberapa hari lagi, tapi karena kalian
mempunyai urusan penting, jadi akupun tak berani
mencegahnya. Hanya saja aku hendak minta tolong pada Siau
lote untuk melakukan sedikit urusan .......”
„Asal wanpwe dapat melakukan, tentu dengan senang hati
menerima perintah locianpwe," buru-buru Siau Ih menyahut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejenak merenung, tabib itu tertawa, katanya: „Yang paling


tak kusukai sepanjang hidup, ialah hutang budi pada orang.
Begini sajalah, karena kita berjodoh dalam catur, maka
dengan caturlah kita putuskan soal itu. Sebelum berpisah, kita
main lagi satu set. Kalau lote menang, aku hendak
memberikan sebuah barang. Tapi jika kalah, permintaan
tolongku pada lote, jangan dianggap hutang budi. Nah,
bagaimana?”
„Ah, kukoay benar orang ini. Minta tolong, tapi tidak mau
dianggap hutang budi, ya, biar bagaimana juga aku harus
mengerjakan permintaannya itu, maka dalam set nanti aku
akan mengalah" kata Siau Ih dalam hati. Lalu dia pun
menerima baik syarat si tuan rumah itu.
To Kong-ong berseri girang. Menunjuk ke arah biji-biji catur
yang belum dikemasinya tadi, dia berkata: „Kita tetapkan
waktunya bertanding dalam tiga jam. Begitu habis waktunya,
kita putuskan siapa kalah dan menang. Setujukah lote?”
Siau Ih tetap menyetujuinya. Begitulah mereka segera
mengatur biji-biji catur dan mulai bermain. Oleh karena Siau
Ih sudah mengambil putusan untuk kalah, maka diapun tak
mau banyak berpikir lagi. Biji catur dijalankan dengan cepat.
Benar juga tak berapa lama, posisinya kelihatan dipihak kalah.
Dan tak sampai dua jam saja, To Kong-ong sudah dapat
menundukkan barisan lawan.
Melirik ke arah Liong Go, Siau Ih berbangkit, katanya:
„Hebat benar permainan lociapwe, wanpwe menyerah!”
To Kong-ong menghela napas, ujarnya: „Sudahlah,
bagaimana pun aku tetap tak dapat terhindar dari hutang
budi. Walaupun pada alis lote itu mengandung sifat-sifat suka
membunuh, tapi ternyata nurani lote tetap baik. Peribahasa
mengatakan, ‘Barang siapa menanam, tentu akan memetik,
hasilnya'. Melepas budi, tentu akan mendapat balasan budi
juga. Karena tadi lote mengalah, itu berarti melepas budi".
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

To Kong-ong berhenti sejenak untuk memasukkan tangan


ke dalam baju. Dikeluarkannya sebuah buku kecil lalu
diberikan kepada Siau Ih, ujarnya: „Buku Peh-co-ki ini memuat
ilmu mengobati luka-luka, kena racun dan lain-lain. Benar
bukan sebuah buku yang luar biasa, namun itulah hasil
penyelidikanku seumur hidup. Kuberikan buku itu kepada lote,
selaku membalas budi lote tadi.”
Mendengar itu bukan kepalang kejut dan girangnya Siau Ih,
tapi dia sungkan juga: „Untuk main catur yang tak berarti tadi,
masakah locianpwe menghadiahkan buku yang begitu
berkhasiat, sungguh wanpwe tak berani menerimanya .......”
„Lote, apa kau takut kalau aku akan menyusahkan dirimu?”
tukas To Kong-ong.
„Buru-buru Siau Ih menyatakan kerendahan hatinya.
„Ah, losiu hanya main-main saja," sahut To Kong-ong.
Tapi pada lain kilas, wajahnya berobah bersungguh-
sungguh, katanya: „Buku Peh-co-ki itu, losiu pandang sebagai
nyawa sendiri. Dengan buku itu, losiu bercita-cita hendak
menolong umat manusia, tapi karena percaya pada jodoh
(takdir), jadi betapapun muluk cita-cita losiu itu, namun
prakteknya tetap tak bisa. Sungguh losiu kecewa dan
menyesal sepanjang hidup. Oleh karena sekarang telah
mendapatkan ‘orangnya', maka buku itupun akan
kupersembahkan kepadanya. Kuharap lote dapat
melaksanakan cita-cita untuk menolong umat manusia itu,
sehingga dengan begitu dapatlah tercapai harapanku. Losiu
sendiri sudah tua, sebelum masuk liang kubur, tak mau losiu
tersangkut lagi dalam hutang piutang budi. Mungkin lote
menganggap diriku To Kong-ong ini seorang manusia yang tak
kenal budi perasaan, tapi seperti pepatah mengatakan 'sungai
gunung dapat dipindah, tapi watak orang sukar dirobah'."
Siau Ih pun segera memberikan janjinya: „Wanpwe akan
selalu mengukir dalam hati nasehat locianpwe itu. Wanpwe,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih, pasti akan berusaha keras untuk melaksanakan cita-


cita locianpwe. Sekarang harap locianpwe katakan urusan
apakah yang hendak locianpwe titahkan pada wanpwe itu!"
Sejenak To Kong-ong merenung, lalu berkata: „Urusan itu
dikata mudah, tapi sukar juga. Beginilah, dahulu losiu
mempunyai seorang sahabat karib ialah salah satu tokoh dari
sepuluh Datuk, si Dewa Tertawa Bok Tong. Kira-kira tigapuluh
tahun yang lalu, losiu pernah tertimpa bahaya besar, kalau
tiada Bok Tong yang menolongnya, entah bagaimana jadinya
losiu sekarang. Losiu hendak membalas budinya, tapi sejak
berpisah waktu itu, sampai sekarang tak pernah dengar kabar
ceritanya lagi.
Lewat sepuluh tahun dari peristiwa itu, kembali losiu turun
gunung untuk menyirapi kabar beritanya, tapi tetap sia-sia
juga. Duapuluh tahun telah lampau, kini di dunia persilatan
tersiar desas desus tentang si Dewa Tertawa itu lagi, namun
belum ada bukti-bukti kebenarannya. Kupikir, dalam dunia
persilatan hanya ada seorang tokoh yang mungkin
mengetahui tempat beradanya Bok Tong itu, jaitu si Rase
Kumala Shin-tok Kek yang sudah sejak lama mengasing diri di
gunung Tiam-jong-san. Sayang losiu tak kenal padanya, jadi
tak dapat menanyakan.
Karena kudengar tadi lote hendak menuju ke gunung Tiam-
jong-san, maka losiu hendak minta tolong agar lote suka
sekalian mampir di lembah Lin-hun-hiap tempat kediaman
tokoh she Shin-tok itu. Tapi watak perangai Shin-tok Kek itu
lebih kukoay lagi dari losiu. Itulah sebabnya tadi losiu katakan
bahwa urusan ini dibilang mudah ya mudah, tapi sukar juga
sukar. Entah apakah lote tak keberatan dengan permintaanku
itu?”
Bermula Siau Ih tak mengerti permintaan apa yang hendak
diajukan To Kong-ong kepadanya itu. Serta didengarnya
sudah, hatinya serentak lapang. Kalau lain orang mungkin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sukar, tapi baginya hal itu mudah seperti orang membalikkan


telapak tangan saja.
Mendengar disebut-sebutkannya nama sang ayah angkat,
Siau Ih pun segera terkenang akan orang tua yang amat
berbudi itu. Dimanakah saat ini ayahnya itu berada? Apakah
ayahnya juga terkenang padanya? Pikiran Siau Ih, jauh
melayang-layang .........
Melihat anak muda itu tiba-tiba terdiam, wajahnya sebentar
girang sebentar gelisah, To Kong-ong menduga kalau dia
(Siau Ih) tentu merasa berat dengan permintaannya tadi, tapi
sungkan mengatakan. Perkiraan itu telah membuat si tabib
berobah wajahnya.
Melihat sikap kedua orang itu. Liong Go menjadi bingung.
Buru-buru dia mengutik lengan baju Siau Ih, hendak
diperingatkan. Tiba-tiba sepasang alis putih dari To Kong-ong
menjungkat, lalu memandang kepada Siau Ih.
„Lote, jika kau merasa tak leluasa, losiu pun tak memaksa,”
katanya.
Teguran itu telah membuat Siau Ih gelagapan. Dengan
wajah kemerah-merahan buru-buru dia menyahut: „Harap
locianpwe legahkan hati. Lain orang mungkin merasa sukar,
tapi bagi wanpwe amatlah mudahnya. Percayalah, selamanya
wanpwe tak suka berbohong, lebih-lebih kalau terhadap orang
golongan tua."
Betapa girangnya To Kong-ong sukar dikata. Pujinya
dengan tertawa: „Lote benar-benar seorang pemuda yang
bercita-cita luhur, tadi losiu terlalu banyak curiga. Hanya saja
lembah Lin-hun-hiap itu bukan tempat sembarangan. Si Rase
Kumala terkenal sebagai orang yang sukar diajak berembuk.
Kalau sampai terjadi suatu apa padamu, sungguh losiu tak
enak sekali. Harap lote suka menjaga diri baik-baik".
„Untuk budi besar yang locianpwe limpahkan pada hari ini,
Wanpwe merasa menyesal sekali kalau tak dapat membalas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua tahun kemudian, wanpwe tentu akan menghadap lagi


kemari untuk memberi keterangan," kata Siau Ih.
„Perbuatan lote itu sungguh mengharukan, asal losiu masih
bernyawa tentu akan membalasmu pula,” kata To Kong-ong
seraya menjabat tangan Siau Ih.
Liong Go yang selama itu seolah-olah tak diajak bicara,
sudah membuat dugaan sendiri: „Terang Siau hiante itu
meyakinkan ilmu lwekang kian-goan-sin-kong yang hanya
dimiliki oleh Dewa Tertawa Bok Tong. Namun dia selalu main
merahasiakan nama suhunya. Kini dengan yakin dia berani
menyanggupi permintaan To-locianpwe. Ditilik naga-naganya,
dia tentu mempunyai hubungan dengan Dewa Tertawa yang
sudah menghilang bertahun-tahun itu Aneh, mengapa dia
main sembunyi saja ............."
Tanpa merasa Liong Go menatap tajam-tajam ke arah
hiantenya.
Seketika itu Siau Ih merasa, bahwa pembicaraannya tadi
secara tak langsung telah membocorkan rahasianya. Tapi
selama dendam penasaran ayah bundanya belum terhimpas,
dia tetap tak mau memberitahukan asal usul dirinya. Teringat
peristiwa orang tuanya, amarahnya mendidih. Tapi agar
jangan kentara, terpaksa dia menguasai perasaannya itu.
„Ah, kiranya sudah waktunya wanpwe mohon diri," katanya
kepada tuan rumah.
„Buyung, kalau tiba di Po-gwat-san, sampaikan pada
engkongmu bahwa sahabatnya si orang she To sangat
merindukannya dan mengharap sebelum menutup mata
dapatlah berjumpa pula,” kata To Kong-ong kepada Liong Go.
Anak muda itu mengiakan dan terus ajak Siau Ih memberi
hormat kepada tuan rumah, lalu tinggalkan tempat itu. Kira-
kira lewat tengah hari, barulah mereka turun dari daerah
gunung Ki-he-nia itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

14. Keganasan Thiat-sian-pang


Setelah beristirahat sebentar mengisi perut, mereka
menuju ke kota kabupaten dari daerah gunung itu. Dari situ
mereka lalu berpisah. Liong Go menuju ke Hokkian terus ke
Kwitang, sedang Siau Ih mengarah ke Kiangse terus ke Oulam
dan Tiam-jong-san.
Sebelum berpisah mereka menetapkan hari bertemunya
lagi dan Liong Go segera menyerahkan empat biji uang mas
serta dua butir mutiara kepada Siau Ih untuk bekal perjalanan.
Siau Ih tak banyak ini itu lagi menyambutinya, katanya:
„Walaupun perjalanan yang siaote tempuh itu amat jauh, tapi
tak memerlukan ongkos banyak, maka mutiara berharga ini
harap toako simpan saja ........”
Tapi Liong Go berkeras mendesaknya, maka terpaksa Siau
Ih pun menerimanya dan menghaturkan terima kasih.
Begitulah dengan hati berat, keduanya saling berpisah.
***
Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Siau Ih lebih dahulu.
Pertama yang dikerjakan ialah membeli seekor kuda bagus
lalu menuju ke Kiangse. Selama melintasi propinsi itu, tidak
terjadi suatu apa dalam perjalanan. Begitulah pada hari itu,
dia sudah tiba di derah pegunungan Kiu-ling-san yang menjadi
tapal batas propinsi Kiangse dengan Oulam. Dihitung-
hitungnya bahwa janjinya untuk bertemu pula dengan sang
ayah angkat itu masih lama sekali, maka dia ingat hendak
pesiar dahulu ke telaga Tong-thing-hu yang termasyhur
permai alam pemandangannya itu. Secepat mengambil
putusan, secepat itu pula dia segera mencongklang ke kota
Goan-kian-koan.
Tong-thing-hu termasuk yang terbesar sendiri diantara lima
telaga besar di Tiongkok. Luas telaga itu ada ratusan li. Maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setiap air meluap pada musim-musim panas dan rontok, tentu


telaga itu tampak makin luas. Ditengah telaga itu banyak
terdapat bukit-bukit. Diantaranya yang paling termasyhur ialah
gunung Kun-san yang indah. Banyak sudah penyair-penyair
dari zaman ke zaman mengubah rangkaian syair pujaan untuk
telaga tong-thing-hu dan gunung Kun-sannya.
Menjelang petang hari, tibalah sudah Siau Ih di kota
kabupaten Goan-ciang-koan. Walaupun letih menempuh
perjalanan beberapa hari, namun pemandangan alam disitu
dapat melipur jerih payahnya. Cepat-cepat dia mencari sebuah
hotel. Setelah menitipkan kuda, tanpa bersabar lagi dia terus
membeli sayur dan arak, menyewa perahu lalu meluncur ke
tengah telaga.
Kala itu telaga tengah bermandikan cahaya keemas-
emasan dari sinar matahari tenggelam. Diantara kerut riak
gelombang permukaan air, penuh berhiaskan lajar putih dari
perahu-perahu yang mondar mandir. Pemandangan yang
indah itu, telah membuat Siau Ih tak habis-habis memuji.
Selagi dia terbenam dalam kekaguman, sekonyong-
konyong dari arah belakang meluncur pesat sebuah perahu.
Penumpangnya ada lima orang lelaki. Perahu itu juga akan
menuju ke gunung Kun-san, tapi saking cepatnya sampai
menimbulkan gelombang yang hampir saja membuat perahu
Siau Ih oleng keras. Dalam sekejap saja, perahu itu sudah
jauh disebelah muka.
Siau Ih berusaha menahan kemarahannya. Didengarnya
beberapa perahu yang berada disekelilingnya itu juga oleng
tak keruan. Disana sini terdengar gumam makian dari orang-
orang.
Sambil mengusap air yang menciprat ke mukanya, Siau Ih
berpaling pada si tukang perahu yang berada di belakangnya.
Tampak tukang perahu itu menatap ke arah perahu yang
meluncur cepat tadi, dengan wajah terkejut cemas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Siapakah orang-orang yang begitu ugal-ugalan itu?"


tanyanya.
Si tukang perahu terbeliak. Menggoyang-goyangkan
tangannya, dia menyahut dengan berbisik: „Harap tuan
jangan tanyakan hal itu. Kalau sampai terdengar mereka,
tentu akan runyam."
Sebaliknya Siau Ih yang sudah menduga sesuatu, malah-
tertawa: „Di bawah langit yang terang benderang ini, masakah
ada orang yang tak kenal aturan. Kejar mereka, hendak
kutanyai apakah mereka itu mengerti peraturan lalu lintas di
air, tidak?"
Wajah si tukang perahu berobah pucat, ujarnya setengah
merintih: „Tuankan hendak pesiar ditelaga sini, perlu apa cari
urusan."
Namun Siau Ih tetap minta tukang perahu itu lakukan
perintahnya dengan dijanjikan ongkos ekstra.
„Sekalipun tuan menambah berapa saja, aku tetap tak
berani. Dan lagi kuanggap tuan tentu lebih menghargai jiwa
daripada cari perkara pada orang-orang begitu,” jawab si
tukang perahu.
Makin keras dugaan Siau Ih terhadap kawanan orang tadi.
Namun karena tukang perahu begitu ketakutan, diapun tak
enak untuk memaksanya. Nanti saja bila terjadi sesuatu yang
melanggar peri keadilan, dia tentu akan campur tangan.
„Ah, aku tak percaya omonganmu itu. Masakah orang-
orang itu tak takut pada undang-undang negeri?" tanyanya.
Si tukang perahu gelengkan kepala: „Tuan, lebih baik tuan
jangan bertanya lebih lanjut. Bagi mereka, undang-undang itu
tiada artinya."
„Ai, benarkah? Coba kauceritakan," Siau Ih sengaja unjuk
kekagetan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lebih dahulu mata si tukang perahu itu berkeliaran, setelah


didapatinya disekeliling itu sepi, ada sebuah dua perahu tapi
jaraknya amat jauh, barulah kendor kerut mukanya. Diiring
dengan sebuah elahan napas, mulailah dia bercerita.
„Setahun yang lalu, di Gak-ciu telah muncul sebuah partai
yang menamakan dirinya sebagai Thiat-sian-pang cabang
Tong-thing. Tongcunya (kepala cabang) orang she Tham
nama Liong, bergelar Hun-san-tiau (rajawali dari gunung Hun-
san). Bermula mereka hanya bersekongkol dengan kaum
pembesar negeri untuk melakukan perdagangan garam gelap.
Kemudian mereka makin berani, membeli delapanratusan
buah perahu nelayan di telaga Tong-thing sini. Kalau tidak
boleh dibeli, tentu akan dibawa dan dibunuh di gunung Kun-
san. Maka kini apabila orang mendengar nama Thiat-sian-
pang disebut, tentu akan pucatlah wajahnya.
Pun setengah tahun belakangan ini, para rombongan piau-
kiok (kantor mengirim barang) yang lalu di daerah Oulam sini,
seringkali dirampas dan orangnya dibunuh-bunuhi. Turut
pengiraan orang, perbuatan itu tentulah orang-orang Thiat-
sian-pang yang melakukan. Terhadap kawanan orang yang
membunuh jiwa orang seperti ayam itu, siapakah yang berani
cari perkara. Oleh karena itu maka segera kucegah waktu tuan
menanyakan tadi.
Perahu yang melampaui kita tadi, adalah kepunyaan Thiat-
sian-pang, mereka menuju ke Kun-san. Melihat mereka begitu
terburu-buru dan perahu itu oleng, tentulah di dalamnya ada
orang tawanan yang coba meronta-ronta. Terang mereka
hendak melakukan kekejaman lagi di Kun-san".
Siau Ih yang benci akan perbuatan tidak adil, apalagi Thiat-
sian-pang yang mengadu biru, amarahnya meluap-luap.
Serentak menampar pedang yang dibungkusnya, dia tertawa
dingin: „Kawanan manusia yang suka mengumbar kelaliman,
tuan mudamu ini tentu takkan membiarkan lebih lanjut. Demi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepentingan rakyat, membasmi kejahatan adalah tugas yang


mulia. Lopek, ayuh.... dayunglah kesana!"
Masih si tukang perahu tak mengerti sikap si anak muda
yang dikiranya terlalu idealistis (bercita-cita muluk). Buru-buru
dia mencegahnya: „Bukan aku usil mulut, tapi seandainya tuan
sudah belajar silat empat-lima tahun saja, lebih baik jangan
menempur mereka. Kita serahkan saja pada Allah yang tentu
menghukum orang jahat."
„Kalau aku sudah berani berkata, tentu aku sudah punya
pegangan, janganlah kau takut!"
Tetapi bagaimanapun juga, tetap si tukang perahu itu
menggelengkan kepala. Siau Ih bo-hwat (kewalahan) juga.
Kala itu malam mulai menebarkan kegelapan, rembulan
sudah mengintip di lereng gunung. Perahu-perahu nelayan
yang tersebar di telaga itu, sudah sama menyalakan lampu,
hingga permukaan telaga itu menjadi terang benderang.
Sekalipun begitu, Siau Ih tak dapat menikmati pemandangan
seindah itu, dia tengah memutar otak cara bagaimana dapat
menyuruh tukang perahu mendayung ke Kun-san.
Beberapa kali membujuknya, tetap tukang perahu itu
menggeleng. Dia makin cemas. Kalau kelewat lama, tentu
anak buah Thiat-sian-pang itu sempat melakukan
keganasannya nanti.
Akhirnya dia duduk menghadapi tukang perahu itu seraya
berkata: „Beberapa kali kuminta, tetap kau tak mau saja. Apa
yang hendak kulakukan itu tetap tak dapat dirobah. Oleh
karena kau menolak, terpaksa aku mencari daya sendiri.”
Habis berkata itu, diam-diam dia kerahkan lwekang, begitu
kedua tangan dipentang, dia berbareng menghantam kekanan
kiri. Angin pukulan itu menampar keras air telaga dan perahu
pun seperti dilontarkan ke muka beberapa meter. Karena tak
bersiap, tukang perahu itu hampir saja kejungkal ke dalam air.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Tuan, jangan sekali-kali!" serunya tukang perahu dengan


terkejut.
Namun Siau Ih hanya ganda tertawa, sepasang lengannya
tetap dihantam-hantamkan kepermukaan air. Dengan cara
mendayung istimewa itu, perahu dengan pesatnya dapat
meluncur menuju ke Kun-san. Tak berselang berada lama,
tampaklah sudah bukit Kun-san di depan mata.
Kuatir kalau perahu nanti terdampar keras ketepi pantai
kaki gunung hingga hancur dan penumpangnya terbanting,
buru-buru Siau Ih hantamkan tangannya ke udara dan
bagaikan tertindih tenaga berat, perahu itu berhenti tepat
dipinggir pantai. Demonstrasi itu, telah membuat si tukang
perahu ketakutan setengah mati.
Berdiri memandang keempat penjuru, tiba-tiba Siau Ih
melihat ada serumpun lebat pohon-pohon siong yang di
bawahnya terdapat sebuah perahu. Itulah perahu kawanan
anak buah Thiat-sian-pang tadi. Jadi keterangan si tukang
perahu tadi ternyata benar. Kiranya dia tak terlambat kesini.
Baru dia hendak loncat turun, tiba-tiba teringat sesuatu.
„Menilik tukang perahu ini begitu ketakutan terhadap
kawanan Thiat-sian-pang, kalau disuruh tunggu, tentu tak
mau. Tapi kalau dia pergi, diapun (Siau Ih) tentu repot kalau
hendak pulang. Ah, terpaksa aku harus gunakan cara begini
......“ berkata sampai disini dia cepat berputar tubuh dan
menutuk iga si tukang perahu. Seperti batang pisang
ditebang, tubuh si tukang perahu rubuh ke belakang, untung
Siau Ih cepat-cepat menarik leher bajunya untuk menahan.
„Lopek, terpaksa kututuk jalan darah peniduranmu. Kau
boleh mengasoh dulu disini sebentar, begitu nanti sudah
selesai, aku tentu memberimu ekstra upah,” kata Siau Ih
sembari membaringkan si tukang perahu ke dalam perahu
sementara dia sendiri lantas loncat turun menuju ke arah
gunung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rimba pohon siong di gunung itu, amatlah rindangnya.


Disana sini terdapat batu-batu gunung yang aneh bentuknya,
menambah keindahan alam gunung itu. Hanya yang
membuatnya heran, mengapa keadaan disekitar gunung itu
sunyi-sunyi saja.
„Ai, siapa bilang Kun-san tidak luas. Kalau begini cara
mencarinya, repot jugalah. Dimanakah letaknya tempat
penjagalan kawanan Thiat-sian-pang itu?" pikirnya dengan
gelisah.
Tiba-tiba di luar dugaan, terdengar angin membawa suara
makian dan bentakan diseling dengan teriakan seram.
Diperhatikannya, suara itu berasal dari tempat yang tak
berapa jauh. Girangnya bukan kepalang, lalu cepat-cepat
menurutkan datangnya suara itu. Benar juga tak berapa lama,
suara makian itu makin jelas berasal dari balik sebuah
tikungan gunung. Jeritan seram itupun makin nyata, malah
sebentar-sebentar terdengar juga bunyi cambuk berderai. Ah,
tentulah orang-orang Thiat-sian-pang itu tengah melakukan
keganasannya.
Siau Ih cepat mengitari tikungan itu dan kira-kira lima
tombak disebelah muka terdapat sebuah hutan pohon siong
yang lebat. Jerit makian dan rintihan tadi berasal dari sebelah
hutan itu. Maju mendekat sampai dua tombak. Siau Ih segera
melihat ada seorang pemuda telanjang bulat digantung secara
jungkir balik pada sebuah pohon siong tua yang tinggi.
Disebelah mukanya, terdapat seorang lelaki tengah
menghajarnya dengan cambuk. Sementara empat orang
kawannya, melihat disamping sembari memaki-maki.
Punggung pemuda itu sudah habis berlumuran darah, jerit
ritihannya makin lemah. Melihat pemandangan yang kejam
itu, kemarahan Siau Ih tak dapat dikendalikan lagi. Tanpa
disadari, dia mendengus benci. Adalah karena keadaan
disekitar tempat itu sunyi, jadi dengusan itu terdengar jelas
juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Siapa itu?" serempak kelima orang itu berputar tubuh


berseru.
„Setan pencabut nyawa,” sahut Siau Ih sembari tertawa
dingin.
Saking kejutnya, kelima orang itu sampai terpaku di tanah.
Tapi demi dilihatnya yang muncul itu hanya seorang pemuda
sekolahan, bukan kepalang marah mereka.
„Anak haram, kau berani mengadu biru?” teriak mereka.
„Ha, ha,” Siau Ih tertawa, serunya: „Orang yang berhati
bersih tentu tak jeri akan segala hantu iblis. Tuanmu melihat-
lihat, apa salahnya?”
„Kau cari mampus, ya!” terdengar seorang berteriak dan si
orang yang mencekal cambuk tadi sudah lantas loncat
menghajarkan cambuknya.
Siau Ih tertawa dingin. Begitu cambuk sudah hampir
mengenai, dia hanya berkisar sedikit dan cambuk dari kulit
kerbau yang besarnya hampir sama dengan telur itik itu,
sudah menyabet angin. Siau Ih memang sudah mendendam
terhadap kaum Thiat-sian-pang, apalagi dia menyaksikan
sendiri betapa ganasnya kawanan itu. Belum cambuk keburu
ditarik, dia sudah ayun tubuhnya ke atas untuk menyambar
batang cambuk itu.
Kejut orang itu tak terkira. Dengan sekuat-kuat hendak
menariknya, mulut membentak: „Ayuh, lepaskan tanganmu
tidak!"
Sangkanya, masakah seorang anak sekolahan yang lemah
dapat kuasa menahan betotannya itu. Maka dapatlah
dibayangkan betapa rasa kagetnya demi didapatinya pemuda
itu sedikitpun tak bergeming.
„Celaka ......” belum lagi dia sempat meneruskan kata-
katanya, Siau Ih sudah balas menghardik: „Lebih baik kau
sendiri yang lepaskan!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesaat itu pemilik cambuk itu rasakan cambuknya ditarik


oleh suatu tenaga yang luar biasa kuatnya dan karena dia
mencekalnya erat-erat, maka tak ampun lagi tubuhnya kena
ditarik sempoyongan ke muka dan tahu-tahu cambuknya
sudah berpindah tangan. Insaf menghadapi seorang pemuda
lihay, orang itu buru-buru hendak meneriaki kawan-kawannya,
tapi pada detik itu Siau Ih kedengaran tertawa panjang.
„Bangsat, raja akhirat sudah menantimu!” demikian Siau Ih
berseru, orangnya tiba cambuknya pun melayang.
Cambuk kulit kerbau itu bagaikan ular melilit-lilit pinggang
orang itu dan sekali menggentak “naiklah”, maka tubuh orang
itupun bagaikan layang-layang putus, terlempar ke udara.
Keempat kawannya bergegas-gegas datang menolong, tapi
“bluk”, orang itu sudah jatuh terbanting dibatu, kepala hancur
otaknya berhamburan.
Melihat sang kawan binasa, keempat orang itu cepat
meloloskan belati terus menyerbu Siau Ih dengan kalapnya.
Tapi pemuda itu sudah dapat menaksir kekuatan mereka.
Keempat orang itu hanyalah bangsa kerucuk saja, namun
sudah sedemikian jahatnya, apalagi kaum atasannya. Orang-
orang begitu, tak boleh dibiarkan hidup di dunia.
Mundur setengah langkah, Siau Ih tertawa dingin: „Bagus,
kalian sudah datang mencari mati sendiri. Ayuh, majulah
berbareng agar kawanmu yang tadi tidak menjadi setan yang
kesepihan!”
Kemarahan keempat orang itu makin menyala-nyala. Belati
serentak diserangkan mati-matian. Adalah ketika empat buah
belati itu hampir mengenai sasarannya, tubuh Siau Ih
bergeliatan kekanan kiri. Melihat serangannya menusuk angin,
keempat orang itu cepat pecahkan diri menjadi dua
rombongan. Dari situ, mereka kembali menyerang.
Memang serangan pertama tadi, tak keruan macamnya.
Tapi serangan yang kedua ini, tampak genah caranya. Selagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih menganggap bahwa orang-orang Thiat-sian-pang itu


ternyata tak boleh dipandang remeh, keempat belati itu sudah
melayang tiba. Tanpa berayal, dia cepat kisarkan kuda-kuda
kakinya.
Begitu dapat menghindari serangan dua orang dari sebelah
kiri, dia segera menghantam dengan jurus chui-jong-bong-
gwat (buka jendela melihat rembulan) kepada dua orang dari
sebelah kanan. Karena pukulan Siau Ih berwibawa keras,
kedua orang ini tak berani menangkis dan buru-buru
menghindar mundur. Dua kawannya yang menyerang dari
sebelah kiri tadi, kala itu sudah mengitar ke belakang dan
terus menusuk lambung si anak muda.
Melihat gerak serangan mereka teratur juga, diam-diam
Siau Ih mengeluh jangan-jangan pertandingan itu akan
memakan waktu lama. Merenung sejenak, dia segera
mendapat siasat. Tanpa merobah kedudukan kaki, tubuhnya
agak dicondongkan kemuka, sehingga serangan belati dari
belakang tadi hanya terpisah satu dim jaraknya dari lambung.
Dan dengan membarengi gerakan mencondong ke muka itu,
jari tangan kanan menutuk dalam gerak jong-eng-ki-yan
(burung alap-alap menerkam seriti), pedang di tangan kiri
ditusukkan dalam jurus sian-jin-ci-loh (dewan menunjuk
jalan).
Serambutpun tak mengira kedua orang yang di muka itu,
bahwa si anak muda ternyata dapat merobah kedudukan
bertahan menjadi menyerang. Bahkan serangannya itu luar
biasa cepatnya. Yang terasa, mata mereka berkunang dan
tahu-tahu jalan darah Ki-bun-hiat di dada, kena tertusuk
keras. „Auk,” mulut menguak dan jiwanya pun putus.
Kedua orang yang menusuk dari belakang tadi, mengira
lawan tentu sudah seperti ikan dalam jaring, tak dapat
terlepas dari tusukannya. Maka betapalah terperanjat mereka,
demi kedua kawannya yang menyerang dari muka itu malah
kena dicabut nyawanya. Kini barulah mereka tersadar bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

anak muda lawannya itu ternyata jauh lebih lihay dari mereka,
pula amat ganas sekali. Betapapun kejam mereka itu
biasanya, tapi mau tak mau nyali menjadi copot juga. Dari
tigapuluh dua jurus, lari adalah yang paling baik sendiri. Tanpa
ajak-ajakan lagi, keduanya cepat berputar diri lalu sipat
kuping.
Siau Ih tertawa panjang, aum ketawanya seperti membelah
batu pegunungan itu. Dan selagi kumandang tertawanya
masih bergelora, tubuhnyapun sudah melambung beberapa
tombak ke udara. Bagai seekor burung rajawali, dia melayang
turun ke atas kepala kedua orang itu.
„Datang bersama, pergipun harus bersama. Bagi seorang
kesatria, raga kalah jiwapun menyerah, masakah kalian tak
mengerti adat kebiasaan orang persilatan!”
Habis mengucapkan kata-kata itu, Siau Ih pun sudah lantas
gunakan rangka pedangnya untuk menutuk belakang batok
kepala orang yang berada disebelah kiri sedang tangan kanan
dijulurkan untuk menghantam lawan yang lari disebelah
kanan.
Dalam kejutnya kedua orang itu hendak menghindar, tapi
sudah kasip. Hanya dua buah jeritan seram yang terdengar
dan menyusul dua sosok tubuh bergedebukan tersungkur di
tanah tiada bernapas lagi.
Sewaktu turun ke bumi, Siau Ih melihat mayat kelima
orang Thiat-sian-pang itu berserakan di empat penjuru.
Bermula dia hendak gunakan pil yong-kut-tan untuk
melenyapkan mayat-mayat itu, tapi pada lain kilas dia
berpendapat lain. Lebih baik mayat-mayat itu dibiarkan begitu
saja dan diberi secarik tulisan untuk alamat Thiat-sian-pang.
Pertama pihak Thiat-sian-pang menjadi jeri dan kedua supaya
penduduk disitu tak menjadi korban kemarahan partai itu.
Dipungutnya salah sebuah belati, lalu menggurat beberapa
huruf pada sebuah batang pohon yang didekat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Mengirim mayat selaku hormat. Siau Ih”


demikian bunyi tulisan itu.
Habis itu dia lantas melangkah ke dalam hutan.
Diperiksanya si anak muda yang digantung di atas pohon tadi.
Kiranya pemuda itu baru berumur delapanbelasan tahun,
berperawakan kokoh tegar. Walaupun keadaannya begitu
mengenaskan, telanjang bulat tak sadarkan diri, namun tak
memudarkan sikapnya yang gagah. Punggungnya yang lebar
itu sudah habis dengan gurat-gurat bekas cambuk. Dia tentu
terluka parah.
Dengan dua buah jari, dijepitnya tali gantungan yang
terbuat dari urat kerbau itu. Setelah putus, tubuh pemuda itu
diletakkan di atas tanah lalu diminumi sebutir pil kiu-coan-
kian-wan-tan. Setelah menutuk jalan darah penidurnya, Siau
Ih mengambil pakaian si anak muda yang masih berada di sisi
pohon siong itu untuk ditutupkan ketubuhnya. Kemudian
dipanggulnya anak itu untuk dibawa ketepi pantai.
Perahu yang disewanya tadi masih berada disitu, tapi si
tukang perahu masih menggeros pingsan. Pertama
dibaringkan pemuda itu ke dalam ruang perahu, kemudian
baru membuka jalan darah si tukang perahu yang ditutuknya
tadi.
Mengucek-ngucek kedua matanya, si tukang perahu itu tak
percaya bahwa tuan muda yang menyewa perahunya tadi
berada dihadapannya mengulum senyum. Sedang ketika
memandang ke lantai perahu, disitu tambah pula seorang
penumpang baru ialah seorang pemuda yang berlumuran
darah dan tak ingat diri.
„Tuan .......... kau .........”
„Jangan takut, lopek, aku bukan bangsa siluman,” tukas
Siau Ih, „segala urusan aku yang tanggung sendiri. Kini aku
hendak pulang, ayuh kayuhlah secepat mungkin!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa banyak bertanya lagi, si tukang perahu terus


bergegas-gegas mendayung perahunya. Kira-kira sejam lebih
sedikit, tibalah mereka sudah dipantai Tong-thing.
Mengeluarkan beberapa keping perak, Siau Ih berkata:
„Sepuluh tail perak ini untuk ongkos jerih payahmu selama
setengah malam ini, lopek. Apa yang terjadi tadi jangan
sekali-kali kaukatakan pada lain orang, atau jiwamu nanti
bakal terancam bahaya, ingatlah baik-baik!"
Memanggul tubuh si anak muda, Siau Ih loncat turun dan
dengan gunakan ilmu lari cepat, terus menuju ke kota Goan-
kiang. Tiba di kota itu sudah menjelang pukul empat pagi.
Dengan diam-diam, dia menyelinap masuk ke dalam
hotelnya dan letakkan pemuda itu di atas pembaringan. Dia
nyalakan lampu dan mulai memeriksa luka pemuda itu.
Punggung anak muda itu sama pecah belah berlumuran
darah. Benar tulang tak sampai putus, tapi berat juga lukanya.
„Dia terluka begini parah, dalam empat-lima hari tentu
belum sembuh sama sekali. Tempat ini menjadi daerah
kekuasaan cabang Thiat-san-pang. Aku sih tak jeri, tapi dia
...... tapi ah, paling perlu menolong dulu luka-lukanya itu. Ai,
kecuali pil kin-coan-kian-wan-tan itu aku tak mempunyai obat
untuk luka luar apa-apa, bagaimana ni .......”
Tengah dia kebingungan, tiba-tiba teringatlah dia akan
kitab Peh-co-ki pemberian tabib sakti To Kong-ong itu. Dengan
girang, cepat-cepat diambilnya kitab itu lalu diperiksanya
dengan teliti. Benar juga pada bagian belakang, terdapat
beberapa resep untuk luka luar. Dihafalkannya salah sebuah
resep yang paling sederhana racikan dan penggunaannya.
Tapi ah, lagi-lagi dia kebentur dengan kenyataan bahwa
rumah obat baru besok pagi bukanya. Kuatir kalau sampai
kasip, terpaksa dia memberinya lagi sebuah pil untuk
menahan sakit. Habis itu baru dia duduk memulangkan
semangat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak berapa lama, haripun sudah terang tanah. Siau Ih


panggil jongos, katanya: „Semalam pulang dari pesiar
ketelaga, aku membawa seorang sahabat yang terluka parah.
Tolong pinjam alat tulis untuk menulis resep."
Mata si jongos melirik ke atas ranjang dan didapatinya
disitu ada seorang pemuda menggeletak berlumuran darah.
Baru dia hendak bertanya, sudah buru-buru tak jadi demi
dilihatnya Siau Ih dengan wajah membesi tengah
memandangnya dengan berkilat-kilat. Anak muda itu
mencekal sebatang pedang pendek, sikapnya menakutkan
sekali.
Tersipu-sipu jongos itu mengiakan dan tinggalkan kamar
itu. Tak lama kemudian dia kembali pula dengan seperangkat
alat tulis.
Selesai menulis resep dari kitab Peh-co-ki, Siau Ih
memberikannya kepada jongos dengan disertai sekeping
perak.
„Belikan ini dan lekas-lekas kembali. Sisanya boleh kau
ambil!"
Pertama tak mau banyak urusan dan kedua melihat sang
tetamu itu royal sekali, jongos itupun tak banyak bertanya lagi
terus pergi. Belum setengah jam, dia sudah kembali dengan
membawa obat Siau Ih meminta air bersih dan kain putih.
Lebih dahulu dicucinya luka pemuda itu baru dilumuri obat.
Ternyata resep kitab Peh-co-ki itu amat manjur sekali. Apalagi
diberi pil kiu-coan-kian-goan-tan, dalam sehari saja luka
pemuda itu sudah kering.
Melihat perobahan itu, barulah Siau Ih membuka jalan
darahnya. Demi terjaga, serta merta pemuda itu
menghaturkan terima kasih kepada anak muda cakap gagah
yang sudah menolong jiwanya itu. Ternyata usia mereka
hampir sebaya dan melalui percakapan singkat, keduanya
merasa cocok satu sama lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu bernama Tan Wan, murid tunggal dari begal


budiman Kiau Bo bergelar Sin-heng-bu-ing atau si Kelana sakti
tanpa bayangan. Karena pemuda itu mempunyai kelebihan
satu jari (si wil), maka orang persilatan menggelarinya sebagai
Liok-ci-sin-bi (si Kera berjari enam).
Semasa masih hidup, Sin-heng-hu-ing Kiau Bo pernah
bentrok dengan partai Thiat-sian-pang cabang Tong-thing
mengenai sebuah „urusan dagang" (rampasan). Karena
lengah, Kiau Bo telah masuk dalam perangkap „harimau
tinggalkan gunung" (kena dipancing). Dia kena dilukai berat
oleh Tham Liong sehingga menyebabkan kematiannya.
Sebagai murid yang telah menerima budi besar dari
suhunya, Tan Wan mengumumkan akan menuntut balas
kematian suhunya itu. Tapi orang Thiat-sian-pang sudah
memasang jaring. Begitu anak muda itu menginjak tapal batas
Oulam, begitu dia disergap dan ditawan.
Akhirnya, pihak Thiat-sian-pang memutuskan hendak
melenyapkan sekali anak muda itu. Ditetapkan bukit Kun-san
sebagai tempat pelaksanaan hukumannya mati. Kalau tiada
kebetulan Siau Ih pesiar di telaga Tong-thing itu, tentu jiwa
Tan Wan sudah melayang.
Waktu mengutarakan dendam hatinya, biji mata Tan Wan
seperti mau melotot keluar. Dia mempunyai kesan yang baik
sekali terhadap Siau Ih. Pertama dilihatnya sang penolong itu
sikapnya gagah dan perwira, kedua kali dia merasa berhutang
jiwa, maka dia nyatakan mulai hari itu akan tinggalkan
lapangan pekerjaannya yang lama (menjadi begal haguna)
untuk ikut pada Siau Ih. Sekalipun menjadi pelayan, diapun
puas karena dapat membalas budi dan sekalian akan
memperdalam peyakinannya silat untuk kelak menuntut balas
lagi.
Siau Ih hanya tertawa saja mendengarnya. Dia nasehati
supaya pemuda itu baik-baik merawat, lukanya dulu, kelak
kalau sudah sembuh akan dirundingkan lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitulah tiga hari telah lewat dengan tak terjadi suatu apa.
Luka Tan Wan sudah sembuh sama sekali, hanya berjalan dia
masih kurang leluasa. Ketenteraman suasana itu, sebaliknya
dianggap berbahaya oleh Siau Ih. Makin tenteram, makin
cepat datangnya bencana itu. Hanya saja, Siau Ih tak
menyatakan apa-apa melainkan bersikap tenang.

15. Buronan Kiau Hu-Hwat ......


Benar juga apa yang diduganya itu. Waktunya terjadi pada
hari keempat sekira tengah malam. Kala itu tetamu-tetamu
lain sudah pada tidur. Setelah mengganti obat pada luka Tan
Wan, Siau Ih duduk bersama-sama dengan anak itu.
Sekonyong-konyong terdengarlah sebuah suara yang
melengking halus. Menyusul, di atas wuwungan serambi luar,
terdengar seseorang berseru dengan nada yang besar.
„Orang she Siau, lekas keluar terima kematianmu!"
Siau Ih segera tahu siapa yang berbuat itu. Namun dengan
tertawa mengejek dia menyahut: „Hidup bertempat tinggal,
mati berliang kubur. Karena hendak mengantar jiwa, tuanmu
inipun takkan mengecewakan permintaanmu itu!"
Secepat mengalungkan pedang Thian-coat-kiam ke atas
bahu, Siau Ih cepat mendorong pintu dan melangkah keluar.
Tapi baru sang kaki tiba disamping pintu, tiba-tiba dia teringat
sesuatu: „Menurut gelagat, musuh datang dalam jumlah
banyak. Kalau aku pergi, Tan Wan yang masih belum leluasa
bergerak itu, pasti tak mampu membela diri. Kalau sampai
terjadi sesuatu padanya, bukankah akan sia-sia pertolonganku
itu .........”
Merenung sejenak, dia mendapat suatu keputusan:
„Membasmi kejahatan adalah perbuatan mulia.
Menghancurkan tindakan jahat untuk mengobati orangnya
adalah yang paling tepat!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Secepat keputusan itu terkilas, secepat itu juga dia


menyurut mundur dan mengeluarkan senjata rahasia kiu-go-
ting-seng-ciam yang diambilnya dari mayat seorang penjahat
yang bertempur di makam Gak-ong tempo hari itu. Dengan
cekatnya, dia masukkan jarum-jarum yang berbentuk seperti
paku ke dalam bumbung, lalu diberikan kepada Tan Wan.
„Kalau menghadapi apa-apa, harus berlaku tenang. Begitu
ada orang masuk kedalam kamar sini, sambutlah dengan ini,”
katanya dengan berbisik.
„Orang she Siau, kalau tetap tak mau keluar, sekalian tuan
besarmu ini terpaksa akan mengobrak-abrik ke dalam
sarangmu!" tiba-tiba terdengar lagi sebuah seruan.
Lebih dahulu Siau Ih salurkan lwekang kian-goan-sin-kong
untuk melindungi tubuh, kemudian baru tertawa dingin
menyahut: „Sebetulnya kamu sekalian harus mengucap
syukur, karena saat kematianmu diperpanjang beberapa
menit. Mengapa merengek-rengek begitu terburu-buru mau
mampus?"
Sekali tangan menekan pintu, tubuh Siau Ih sudah lantas
mencelat keluar. Sejenak menyapukan mata, dilihatnya di luar
dan di belakang ruangan itu terdapat tujuh-delapan sosok
bayangan.
Seluruh kamar-kamar dalam hotel yang cukup besar itu,
penerangannya sudah padam semua. Dalam kesunyian tengah
malam yang gelap gulita itu, hanya terdengar suara pakaian
bergontaian dihembus angin malam.
Dengan bersimpul tangan, Siau Ih berdiri di depan pintu.
Tampaknya tenang tapi sebenarnya dia kuatir juga. Pertama,
Tan Wan masih belum dapat bergerak leluasa, kedua, kalau
bertempur di dalam hotel itu tentu pembesar negeri akan turut
campur tangan. Ah, lebih baik dia pancing musuh ke tempat
lain dan menghancurkan mereka disana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum lagi dia bertindak, tiba-tiba terdengar suara gelak


tertawa: „Orang she Siau, kau benar-benar berhati jantan!"
Sesosok tubuh melayang turun ditengah halaman serambi
itu. Seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, mata
berkeliaran, hidung kakaktua, tangannya mencekal sepasang
senjata macam cakar ayam. Dengan jumawa, dia memandang
Siau Ih.
„Kau ialah Hun-san-tiau Tham Liong, bukan?" tegur Siau Ih.
Orang itu tertawa sinis: „Sudah kenal kemasyhuran
namaku, mengapa tak lekas-lekas serahkan jiwamu!"
Nada suaranya amat parau, macam tambur pecah. Siau Ih
muak melihatnya. Diam-diam dia ambil putusan untuk
melenyapkan manusia itu.
„Tham Liong, tuanmu ini meyakinkan ilmu melihat tampang
muka. Menilik air mukamu bersemu gelap, tandanya kau
sudah dekat ajal. Orang dahulu mengatakan 'barang siapa
pernah berjumpa itu tandanya berjodoh'. Nah, akupun hendak
memberi amal kebaikan, ialah hendak memilihkan tempat
yang bagus untuk tempat tinggalmu selama-lamanya. Sewaktu
hidup dapat mengetahui bakal tempat peristirahatan abadinya
itu, adalah suatu keberuntungan. Maukah kau turut padaku
menjenguk tempatmu itu?"
Siau Ih menutup olok-oloknya dengan tertawa nyaring dan
sekali sang tubuh bergerak, dia sudah loncat berjumpalitan ke
atas atap rumah.
Seorang anak buah Tham Liong yang menjaga di atas,
sudah lantas menyerangkan golok kui-thau-to dalam jurus
poan-hoa-kay-ting atau bunga melingkar menutup wuwungan.
Siau Ih tertawa dingin. Tanpa menghindar, kakinya
menginjak ke atas genteng dan dengan gaya hong-pay-jan-ho
(angin menggoyang bunga teratai), dia melompat sampai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setengah meter. Golok kui-thau-to lewat di sisi bahu


menghantam angin.
Karena terlalu banyak menggunakan tenaga, tubuh orang
itu menjorok ke muka. Sudah begitu, masih Siau Ih
membarengi dengan sebuah hantaman. Tubuh terlempar dan
mulut menjerit seram, orang itu jatuh ke bawah halaman.
Kepala pecah terbentur lantai dan jiwanya melayang.
Seorang kawannya yang melihat kejadian itu dengan kalap
segera maju menusuk dengan sepasang senjata tiam-hiat-
kwat (supit penutuk jalan darah) yang terbuat dari baja murni.
Tapi bukan mundur, sebaliknya Siau Ih malah
menyongsong maju. Tubuh bergoyang untuk menghindar
tusukan tiam-hiat-kwat dari sebelah kiri, sementara cepat luar
biasa, tangan kirinya sudah mencengkeram lengan kanan
lawan. Sekali ditarik, tangannya kanan membarengi dengan
sebuah tamparan, “plak” ......batok kepala orang itu hancur
mumur, otaknya berhamburan.
„Tham Liong, inilah contohmu!" seru Siau Ih sembari
lemparkan mayat orang itu ke arah Tham Liong.
Betapa kaget dan gusarnya kepala cabang Thiat-sian-pang
itu, dapat dibayangkan. Tapi dia terpaksa sibuk menghindar
dulu dari timpukan „senjata" istimewa lawan itu. Ketika
memandang ke atas, ternyata anak muda lawannya itu sudah
loncat turun terus melompati pagar tembok.
„Mana Ong Sim-tek?" serunya seperti orang kebakaran
jenggot.
„Disinilah!" seru seorang dari sebelah kiri wuwungan
rumah.
„Budak dalam kamar itu, kaulah yang mengurus. Selesai
itu, segera kembali ke dalam markas hun-tong. Yang lainnya,
semua ikut aku mengejar!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan membawa empat orang anak buah, Tham Liong


segera melakukan pengejaran. Orang yang disuruh
„mengerjai" Tan Wan itu, bernama Ong Sim-tek gelar Te-ci
atau tikus tanah.
Sebelumnya menggabung dalam Thiat-sian-pang, dia itu
adalah seorang pencuri yang mengadakan operasinya pada
malam hari. Benar ilmu silatnya tak berapa tinggi, tapi dia
amat kaya akan akal-akal busuk. Berbagai kejahatan yang
dilakukan Thiat-sian-pang selama ini, sebagian besar adalah
tercipta dari buah pikirannya. Sebagai manusia dia senang
menjilat pantat, karena itu amat dikasihi oleh Tham Liong.
Ikut dalam penyergapan itu, bermula dia hendak unjuk
kegarangan, tapi demi menyaksikan betapa lihay dan
ganasnya anak muda itu, siang-siang dia sudah copot
nyalinya. Sebagai ahli pikir, segera dia dapat menentukan
bahwa sekalipun pihaknya berjumlah banyak, tapi tak nanti
dapat mengalahkan lawan. Diam-diam dia sudah
merencanakan siasat untuk mundur saja. Bahwa tiba-tiba
Tham Liong memberi perintah begitu kepadanya, telah
membuatnya kegirangan.
„Sama-sama bakal berbuat jasa, tapi bagianku ini tidak
mengandung bahaya. Terhadap seorang bocah yang sudah
setengah mati dirangket cambuk, masakah tak dapat
membekuknya," demikian pikirannya.
Dengan menghunus senjata, dia menghampiri ke dalam
kamar. Senjatanya itu istimewa juga, yakni chit-sing-kian-cu
atau cempuling bintang tujuh. Pintu kamar didorong, namun
sebagai seorang yang licin, dia tak mau lekas-lekas masuk,
melainkan menunggu dulu sampai sekian jenak. Setelah tak
terdengar sesuatu yang mencurigakan, barulah dia julurkan
tubuh melongok ke dalam.
Ai, kamar itu gulita. Samar-samar tampak ada sesosok
tubuh berbaring di atas ranjang. Dia tentulah si anak muda
yang ditolong Siau Ih siang tadi. Nyata dia terluka parah, jadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mudahlah diberesi. Demikian melamun si Tikus tanah Ong


Sim-tek dengan girangnya. Tanpa banyak berpikir lagi, segera
dia menerobos masuk dan terus angkat cempulingnya ..........
„Bangsat serahkan nyawamu!" tiba-tiba terdengar sebuah
seruan dan “wut”, sembilan bintik benda berkilat melayang
menyambar ke mukanya.
Serambutpun si Tikus tanah tak mengira bahwa dia bakal
diselomoti mentah-mentah oleh si anak muda. Ini namanya
„sepandai-pandai tupai melornpat, sekali jatuh juga". Otak
gerombolan Thiat-sian-pang yang telah merencanakan
berpuluh-puluh perbuatan jahat, akhirnya harus menerima.
ganjarannya.
Jarak keduanya begitu dekat seka!i, sedang serangan itu
datangnya secara mendadak.
„Ce ........” hanya begitu saja mulut si Tikus tanah sempat
berseru, karena pada lain saat seluruh mukanya serasa nyeri
kesemutan, menusuk sampai ke hulu hati. Sembilan mata
jarum beracun telah menyusup ke dalam mata, pipi dan
janggut. Senjata terlepas, tubuh terkulai di lantai dan tujuh
lubang pada mukanya mengalirkan darah. Demikian tamat
riwajat seorang yang berlumuran dosa.
Sekarang mari kita ikuti keadaan Siau Ih yang memancing
Tham Liong berempat ke sebuah tempat sepi di luar kota.
Bermula, sekeluarnya dari hotel itu, dia berpaling ke belakang.
Tham Liong dan kawan-kawan tak tampak mengejar.
„Celaka, musuh lebih pintar dan Tan Wan tentu terancam
ni," demikian dia mengeluh.
Tapi baru dia hendak berputar tubuh untuk kembali, tiba-
tiba dari tembok hotel itu terlihat ada beberapa sosok
bayangan loncat keluar. Diam-diam dia memperhitungkan:
„Yang dua tadi sudah dibunuh, kini muncul lima orang, jadi
yang tertinggal dihotel hanya seorang saja. Rasanya Tan Wan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu dapat layani dan dengan demikian dapatlah dia


tinggalkan kota ini.”
„Tham Liong, tempat kuburan berada disebelah muka itu,"
segera ia berteriak ke arah pengejarnya, lalu tanpa menunggu
penyahutan lagi, dia loncat ke atas rumah penduduk disitu dan
lari keluar kota.
Hun-san-tiau Tham Liong biasanya bersikap jumawa dan
garang, belum pernah dia mendapat hinaan hebat seperti itu.
Jadi belum bertempur, rasanya sudah setengah mati sakitnya.
„Kejar!” serunya sambil memberi isyarat dengan sepasang
arit kepada anak buahnya.
Demikian terjadi kejar mengejar antara enam orang. Orang
yang dikejar itu pesat sekali larinya. Untuk menggambarkan
kecepatannya itu, dapatlah diumpamakan seperti sebuah
bintang jatuh.
Kepandaian dari Hun-san-tiau Tham Liong sebenarnya
sudah tergolong jago kelas satu dari dunia persilatan. Itulah
sebabnya dia menjabat sebagai pemimpin Thiat-sian-pang
cabang Tong-thing. Sebagai pemimpin gerombolan, dia amat
congkak, tiada memandang sama sekali kepada lain orang.
Tapi apa yang dia alami pada malam itu, benar-benar
membuatnya kelabakan.
Dalam adu lari itu, dia sudah keluarkan seluruh
kepandaiannya, namun tetap tak dapat mencandak si anak
muda. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, ialah sikap si anak
muda yang seolah-olah sengaja mempermainkannya itu. Kalau
dia lari keras, anak muda itupun cepatkan larinya. Tapi begitu
dia agak kendorkan langkah, anak muda itupun perlambat
larinya. Jarak keduanya tetap terpisah tiga tombak jauhnya.
„Ilmu mengentengi tubuh anak itu benar lihay sekali,"
akhirnya mau tak mau dia memuji sang lawan. Memang tak
kecewa si Tham Liong itu menjadi benggolan pemimpin,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena walaupun hatinya panas, namun kepalanya tetap


dingin.
Sekilas tersadar dia bahwa anak muda itu akan
menggunakan siasat 'pancing harimau tinggalkan sarang’. Tapi
pada lain saat, dia tetap hatinya lagi. Te-ci Ong Sim-tek masih
disana, masakah bocah itu dapat lolos. Demikian
perhitungannya, suatu perhitungan yang ternyata jauh sekali
kenyataannya. Mimpipun tidak dia, bahwa pada saat itu si
Tikus tanah sudah menjadi badan halus.
Setelah melompati tembok kota, Tham Liong kehilangan
jejak pemuda yang dikejarnya. Dia celingukan dan hai, kiranya
pemuda itu tengah tegak berdiri di muka sebuah hutan yang
terpisah kira-kira duapuluhan tombak disebelah depan sana.
Bergegas-gegas dia ajak sekalian anak buahnya menuju
kesana.
„Bocah she Siau, sekarang coba kau mau lari kemana lagi?"
serunya demi berhadapan dengan anak muda itu. Dan segera
dia memberi isyarat kepada keempat anak buahnya untuk
mengepung pemuda itu dari empat penjuru.
Tenang-tenang saja Siau Ih berputar tubuh, lalu mengolok:
„Tham Liong, mengapa kau terlambat? Tuanmu ini sudah
menunggu lama sekali. Tu lihatlah .........”
Menunjuk kesekeliling tempat itu, dengan tenang Siau Ih
berkata pula: „Dimuka menghadapi sungai, disebelah
belakang berlatar hutan, sungguh suatu tempat peristirahatan
yang bagus sekali. Telah kupilihkan tempat untukmu,
seharusnya kau mengucap syukur!”
Hati Tham Liong seperti ditusuki jarum rasanya. Masa
seorang pemimpin cabang sebuah partai yang sangat ditakuti,
dikocok semau-maunya oleh seorang anak muda. Untuk
melampiaskan kemarahannya, dia tertawa keras.
„Ai, Tham Liong, menilik kau begitu kegirangan, rasanya
jerih payahku itu tak sia-sia juga .........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bocah edan, jangan mengicau tak keruan!” tukas Tham


Liong mengerat kata-kata Siau Ih, „kalau ada pesanan apa-
apa, lekas katakan sekarang. Kalau terlambat, kau tentu
menyesal!”
Wajah Siau Ih tiba-tiba berobah membesi dan dengan nada
dalam, berserulah dia: „Mendapat tempat sebagus ini,
masakah kau belum puas. Dibanding dengan Teng Hiong, kau
sudah jauh lebih beruntung!"
Mendengar itu, Tham Liong tersurut selangkah.
„Apa? Jadi Teng-tongcu itu binasa di tanganmu?"
„Mengapa tidak! Pembesar korup, bangsa penjahat, setiap
orang berhak memberantasnya!" Siau Ih tertawa dingin.
Saking marahnya, rambut Tham Liong sampai menjingrak
semua. Dengan suara mengguntur, berteriaklah dia: „Dicari
tiada dapat, jebul ketemu datang sendiri. Bocah, apa kau
masih mengangkangi jiwamu?"
Ke-jiao-lian atau arit cakar ajam ditangan kiri, bergerak
dalam jurus swat-koa-gin-kau (menyanggul miring kait perak)
menyerang pundak lawan, berbareng ke-jiao-lian di tangan
kanannya, membabat perut dalam gerak to-thih-kim-teng atau
menjinjing terbalik lampu emas.
Melihat serangan itu. masih Siau Ih tertawa dengan
tenangnya: „Ai, karena kau minta buru-buru mati, tuanmu pun
terpaksa akan mempersingkat waktu.”
Kedua bahu bergerak dan orangnya pun sudah melesat
beberapa meter. Baru Tham Liong hendak mengejar, dari arah
belakang terdengar sebuah seruan: „Bunuh ayam tak perlu
pakai golok kerbau. Tongcu, silahkan mundur, biar kami
berempat maju memberesi bocah edan itu!"
Yang berkata itu ternyata ialah keempat anak buahnya
yang sudah tegak berdiri di empat jurusan sembari siap
dengan senjatanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bocah itu adalah yang dimaui oleh Kiau hu-hwat. Dapat


meringkusnya mati atau hidup, tetap akan mendapat hadiah
besar. Saudara-saudara, hati-hatilah!" kata Tham Liong seraya
mundur.
Siau Ih tegak dengan tenangnya. Sepasang alisnya yang
tebal, tampak menjungkat sedikit dan sambil tertawa sinis, dia
berseru: „Tempat ini cukup luas. Jangan kata hanya empat
orang, sekalipun empatpuluh mayatpun tetap bisa masuk!”
Saat itu, orang yang mengepung disebelah kiri dengan
bersenjata pedang song-bun-kiam dan kawannya yang
mengepung dari sebelah kanan dengan kapak baja, sudah
lantas maju menyerang. Satu menabas kepala, satu
membabat perut. Tapi hanya dengan gerakan menyurut yang
diiring tertawa dingin, dapatlah sudah Siau Ih menghindarinya.
“Wut”, kedua senjata itu saling bersimpangan.
Habis mundur, Siau Ih cepat miringkan tubuh sembari
dorongkan sepasang tangannya kekanan kiri. Belum kedua
pengepung dari sebelah muka dan belakang sempat bergerak,
tahu-tahu sudah tersambar angin pukulan yang keras hingga
terdorong mundur sampai setengah meter. Gebrak pertama,
keempat orang itu sudah terdesak.
Sekalipun begitu, mereka bukan kerucuk yang lemah.
Dengan senjata terhunus, kembali mereka maju menyerang.
Karena bergabung jadi satu, jadi serangan keempat orang
itupun berganda hebatnya. Pedang song-bun-kiam, golok gan-
leng-to, kapak baja dan rujung kiu-ciat-kong-pian,
berseliweran laksana badai meniup salju.
Setiap serangan, tentu mengarah jalan yang mematikan.
Baik maju menyerang maupun mundur menghindar, mereka
berempat itu teratur dalam gaya yang rapi indah. Begitulah
dalam beberapa detik saja, pertempuran sudah berjalan
tigapuluhan jurus. Keempat orang itu makin lama, makin
garang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Kalau tak mengeluarkan pukulan sakti, entah sampai


berapa lama pertempuran ini akan selesai,” demikian Siau Ih
berpikir, secepat itu pula dia segera merobah gerakannya, dari
bertahan menjadi menyerang. Ilmu permainan tun-yang-cap-
peh-ciat dikeluarkannya.
Tun-yang-cap-peh-ciat itu adalah ilmu pedang ciptaan dari
si Dewa Tertawa Bok Tong. Bertahun-tahun tokoh itu
memutar otak menciptakan ilmu pedang itu yang digabung
dengan gerakan kaki ceng-hoan-kiong-leng-liong-poh. Jadi
sampai dimana kelihayannya, tak perlu diberi komentar lagi.
Yang tampak kini hanyalah sesosok bayangan warna hijau.
Dalam radius dua tombak persegi, terbitlah angin badai yang
menderu-deru, sehingga batu-batu dan pasir sama
berhamburan kemana-mana. Hanya sekejap peralihan itu
berganti, dan kini Siau Ih lah yang memegang inisiatip
menyerang. Keempat anak buah Tham Liong itu, bukan
melainkan tak dapat menyerang lagi, pun malah terkendali.
Gerakan ilmu silat yang aneh dan lihay luar biasa dari anak
muda itu, telah membuat pandangan keempat orang itu
menjadi kabur. Berkali-kali mereka saling tubruk dan gasak
sendiri.
Lewat limapuluh jurus lagi, keempat orang itu sudah tak
berdaya lagi. Mereka seolah-olah terlibat dalam lingkaran
angin pukulan Siau Ih. Bukan melain keempat orang itu saja
yang kini serasa terbang semangatnya, pun Hun-san-tiau
Tham Liong yang berdiri di sebelah sana, menjadi terkejut
setengah mati. Dia insyaf, beberapa saat lagi tentulah
keempat orangnya itu akan celaka. Buru-buru dia hendak
meneriaki mereka, tapi pada saat itu keadaan dalam
gelanggang sudah terjadi perobahan.
Tanpa menghiraukan tekanan angin keras, keempat orang
itu serentak maju menyerang dengan berbareng. Melihat
kekalapan mereka itu, Siau Ih terpaksa tertawa sinis „Kalau
memang hendak serahkan jiwa, itulah mudah!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam berseru itu, orangnyapun sudah melambung ke


udara. Kira-kira berada empat tombak di atas, diam-diam Siau
Ih sudah kerahkan lwekang kian-goan-sin-kong ke arah
tangannya. Ditengah udara, dia segera berjumpalitan, kepala
di bawah kaki di atas. Kemudian dengan jurus song-liong-po-
cu atau sepasang naga melibat tiang, dia gerakan kedua
tangannya. Bagaikan terhampar angin puyuh, keempat orang
itu segera terjorok ke muka. “Trang, tring”, senjata mereka
saling beradu satu sama lain.
Siau Ih sudah mempunyai rencana. Begitu keempat orang
itu saling menumpuk jadi satu, dia lantas gunakan pukulan bu-
ciang-kan-lim menghantam ke bawah.
Melihat ancaman itu, Tham Liong tak mau tinggal diam lagi.
Sekali enjot, dia loncat ke atas menghantam dengan sepasang
aritnya.
Karena tengah meluncur turun, jadi Siau Ih tak dapat
menghindar. Namun itu bukan halangan baginya. Dengan
bergeliatan macam badan ular, dia dapat mengegos serangan
arit itu dengan indahnya. Dan sewaktu kakinya menginjak
bumi di depan hutan itu, disana terdengarlah empat buah
jeritan yang menyeramkan.
Pukulan bu-ciang-kan-lim yang dilancarkan dengan lwekang
kian-goan-sin-kong tadi, telah meremukkan batok kepala
keempat orang itu. Tulang kepala remuk, benak berhamburan,
darah muncrat dan tubuhnya terkapar malang melintang
Tham Liong tercengang mendelu. Serangannya luput,
keempat anak buahnya binasa, sedang disebelah sana si anak
muda tegak berdiri, menyeringai ejek.
„Tham Liong, dengan jurus bu-ciang-kan-lim, telah
kuantarkan anak buahmu pulang keakhirat. Mereka tentu
sudah tertawa girang disana!”
Sebenarnya jeri juga Tham Liong akan kelihayan anak
muda itu. Namun teringat bahwa dalam beberapa jam saja,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pemuda itu telah membinasakan enam orang anak buahnya,


kemarahannya tak dapat dikendalikan lagi. Dengan suara
parau macam tambur pecah, dia berseru: „Malam ini kalau aku
tak dapat membeset kulitmu, biarlah aku pakai rok dan
berbedak pupur saja .....”
„Kau kan sudah berpakaian ringkas, perlu apa pakai rok
lagi. Tentang bedak pupur, kalau kau memang gemar, nanti
akan kukirim satu doos,” tukas Siau Ih dengan tertawa gelak-
gelak.
Luapan amarah telah membuat Tham Liong menggerung
seperti macan. Maju ke muka dia menabas pundak lawan
dengan gerak song-liong-jut-cui atau sepasang naga muncul
di air.
Tampak orang menyerang dengan kalap. Siau Ih kisarkan
tubuh menghindar. Dan sekali geliatkan bahu, maka pedang
Thian-coat-kiam yang menyelip dibahunya itu sudah terhunus
di tangannya. Justeru kala itu Tham Liong sudah menyerang
lagi. Lebih dahulu, dia menghindar ke samping, kemudian
baru balas menusuk dada orang dengan gerak kim-ciam-than-
hay atau jarum emas menyusup ke laut.
Melihat gemerlap pedang si anak muda yang memancarkan
sinar kehijau-hijauan menyilaukan, Tham Liong sudah
terkejut. Dan demi menampak serangan lawan yang walaupun
lambat tapi ternyata cepat penuh dengan perobahan, dia tak
berani menangkis, melainkan buru-buru menyurut mundur.
Tapi belum lagi sang kaki berdiri jejak, dengan tertawa dingin
lawan sudah melambung ke udara dan menusukkan ujung
pedangnya dalam jurus liong-sing-it-si.
Mimpipun tidak dia bahwa anak yang begitu mudanya,
memiliki gerakan yang sedemikian tangkasnya. Seketika
pecahlah nyalinya dan belum lagi dia sempat memikir daya
untuk memecahkan serangan lawan, tahu-tahu ujung pedang
sudah tiba di dadanya, untuk menghindar terang sudah
terlambat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah jamaklah kiranya, bahwa manusia itu tentu sayang


sekali akan jiwanya. Lebih-lebih kalau berada dalam bahaya
yang menentukan hidup matinya.
Demikianpun Tham Liong. Dalam saat-saat yang genting
itu, timbullah pikirannya. Kaki memaku tanah, tubuh condong
ke belakang. Secepat dia menggunakan gerak gan-loh-ping-
sat atau burung belibis jatuh di pasir itu, secepat itu pula dia
teruskan dengan gerak le-hi-to-joan-boh atau ikan lehi
membalik badan menyusup ke dalam ombak.
Dalam posisi miring, dia teruskan buang tubuhnya ke
samping sampai tiga tombak. Sekalipun begitu, tak urung baju
bagian dadanya tergurat lubang beberapa dim.
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Mendongak ke muka,
didapatinya anak muda lawannya itu tegak berdiri
melintangkan pedang di dada. Mulutnya mengulum senyum
getir. Benci sekalipun Tham Liong kepada anak muda itu,
namun karena insyaf bukan tandingannya, dia pikir kalau tak
lekas-lekas angkat kaki tentu akan menjadi seperti keempat
anak buahnya tadi.
Selama gunung masih menghijau, masakah takut tak
mendapat kayu bakar. Demikian peribahasa mengatakan yang
berarti, selama hayat masih dikandung badan, tentulah masih
dapat melakukan pembalasan lagi.
„Malam ini aku ada urusan penting, lain hari akan
kuselesaikan hutangmu itu!" seru Tham Liong dan secepat
kilat berputar tubuh, dia lantas loncat kabur.
Benar Siau Ih cerdas, tapi karena kurang pengalaman jadi
dia tak menyangka sama sekali bahwa lawan akan lari begitu
tiba-tiba. Selagi dia masih terkesiap, Tham Liong sudah dua
tombak lebih jauhnya.
„Hai, hendak lari kemana kau, bangsat?“ serunya. Tapi
baru dia hendak mengejar, dilihatnya hari sudah mulai fajar.
Dia teringat akan Tan Wan yang berada di dalam hotel
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang diri serta kedua penjahat yang telah dibunuhnya itu.


Terpaksa dia hentikan langkah.
„Bangsat, kalau tuanmu ini tiada punya urusan penting, tak
nanti kau dapat lolos semudah itu,” serunya sembari memetik
serangkum dahan pohon, lalu diayunkan.
„Dahan-dahan ini kuhadiahkan untuk bekal perjalananmu!”

16. Wanita Tiga Dimensi


Dahan dan ranting pohon, sebenarnya lemas saja. Tapi di
tangan Siau Ih benda itu berobah menjadi seperti senjata
panah yang tajam, berhamburan mengaung di udara.
Sekalipun jaraknya amat jauh sehingga tenaga timpukan itu
berkurang dayanya, namun jauh disebelah muka tampak
Tham Liong terhuyung-huyung. Rupanya dia terkena juga,
namun dengan kuatkan diri, benggolan itu tetap kencangkan
langkah. Pada lain saat, dia sudah menghilang di dalam
keremangan malam.
Lebih dahulu Siau Ih gunakan obat yon-kut-san untuk
melenyapkan mayat keempat orang itu, baru kemudian dia
kembali ke hotel. Baru tiba di luar hotel, sudah didengarnya
suara orang ribut-ribut mempercakapkan sesuatu. Ternyata
pemilik hotel, jongos-jongos dan tetamu-tetamu tengah
mengerumuni kamar yang disewanya. Mereka sedang
membicarakan, sesosok mayat yang menggeletak disitu.
Kebanyakan mereka merasa syukur penjahat itu dapat
dibunuh. Ada pula yang mengusulkan supaya orang gagah
yang membunuhnya itu, lekas-lekas menyingkirkan diri supaya
tak berurusan dengan pembesar negeri.
Siau Ih pun menginsyafi bahwa kalau keburu terang tanah
tentu bakal mengalami kerepotan. Maka melangkah masuk,
segera dia berseru: „Kawanan Thiat-sian-pang terkenal jahat,
sudah selayaknya kalau dibasmi. Karena kebetulan singgah
disini, terpaksa aku turun tangan. Kini kawanan penjahat itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah kabur, harap saudara-saudara sekalian jangan kuatir


apa-apa. Tentang permusuhanku dengan kaum Thiat-sian-
pang, itulah menjadi tanggung jawabku sendiri, saudara-
saudara tak ada sangkut pautnya .......”
Belum selesai bicara, sekalian orang itu sudah sama
berpaling dengan kagetnya. Lebih terkejut lagi mereka itu,
demi dilihatnya yang berseru itu bukan lain, si anak muda
yang menyewa kamar itu. Serta melihat anak muda itu tegak
berdiri menghunus pedang dan beringas sikapnya, orang-
orang itu sama mundur ketakutan.
„Aku bukan penjahat, harap saudara-saudara jangan
takut!” Siau Ih tertawa, lalu melangkah masuk ke dalam
kamarnya.
Beberapa langkah di muka pembaringan, menggeletak
sesosok tubuh yang sudah tak dapat berkutik. Sebuah
bumbung jarum kiu-tiam-ting-sing-ciam terhampar di depan
ranjang itu, di sisinya terdapat Tan Wan yang menelungkupi
tepi ranjang.
Buru-buru Siau Ih memeriksanya, dan dapatkan punggung
anak itu berlumuran darah lagi. Ketika diraba hidungnya,
ternyata masih mengeluarkan hawa. Dia duga, karena keliwat
pakai tenaga untuk menempur si penjahat, Tan Wan menjadi
pingsan. Bumbung jarum lekas-lekas disimpan, kemudian baru
menepuk pelahan-lahan pinggang belakang anak itu.
„Kawanan penjahat yang kurang ajar, aku hendak
mengadu jiwa dengan kamu!” seru Tan Wan demi membuka
mata dan melihat ada seseorang berdiri dihadapannya.
Dengan kuatkan diri, dia duduk lalu ayunkan tangan
menghantam.
„Akulah!” seru Siau Ih cepat-cepat menyambar lengan
anak. itu.
„Ai, kongcu, kau ........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ya, kecuali si Tham Liong yang berhasil lolos, lain-lain


sudah beres semua. Tempat ini terlalu panas buat kita, ayuh
lekas pergi saja!" tukas Siau Ih yang mengetahui apa yang
hendak ditanyakan anak itu. Diambilnya sebuah pil kiu-coan-
tian-goan-tan, lalu disuruhnya telan Tan Wan.
„Saudara Tan, lukamu dipunggung itu merekah lagi. Tapi
karena untuk memburu waktu, biarlah kugendongmu. Asal
sudah tinggalkan kota ini, nanti kita cari tempat lain lagi,
untuk mengobati lukamu itu."
Dan tanpa menunggu penyahutan, Siau Ih segera
mengambil selimut untuk ditutupkan pada Tan Wan. Setelah
mengemasi barang-barang yang perlu, Siau Ih lalu
memanggul Tan Wan, tinggalkan kamar itu. Orang-orang tadi
ternyata belum bubaran, demi menampak si anak muda
memanggul kawannya keluar, kembali mereka terkejut
gempar.
Kepada pemilik hotel, Siau Ih menerangkan bahwa
bukannya dia hendak melarikan diri dari peristiwa
pembunuhan itu, tetapi melainkan karena hendak menolong
kawannya yang terluka berat itu. Dia berikan duapuluh tail
perak kepada pemilik hotel itu selaku uang sewa dan ongkos
penguburan mayat si penjahat itu.
Habis itu, baru dia melangkah keluar, terus menuju ke
pintu kota. Ternyata pintu kota masih tertutup. Terpaksa dia
melompat tembok kota, dari itu terus gunakan ilmu
mengentengi tubuh lari ke arah selatan. Menjelang fajar, dia
sudah lari beberapa puluh li jauhnya.
Menurut perhitungan, semestinya dia akan tiba di kota Ik-
yang-koan. Tapi dikarenakan dalam keadaan begitu, dia
merasa tak leluasa masuk kota. Ah, lebih baik cari sebuah kuil
atau biara dipinggiran kota saja, dimana dia dapat meneduh
sementara untuk mengobati luka Tan Wan. Dilihatnya
walaupun anak itu cukup kuat, namun karena lukanya amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

parah, jadi dalam perjalanan itu mukanya tampak pucat,


tubuh mulai lemas.
„Tentunya saudara Tan tak kuat, lebih baik kita berhenti
dulu,” kata Siau Ih. Namun anak itu, tetap kuatkan diri
mengatakan masih dapat bertahan.
Mulut membantah, tapi nada suaranya gemetar. Siau Ih
merasa kasihan dan kendorkan larinya. Beberapa li lagi,
haripun makin terang. Untuk kegirangannya, demi mendongak
ke muka Siau Ih melihat sebuah wuwungan rumah beratap
merah menonjol diantara lebatan hutan. Buru-buru dia
kencangkan langkah dan beberapa kejap saja sudah tiba di
muka pintu sebuah kuil. Tapi sepasang daun pintunya yang
sudah kusam catnya, ternyata terbuka sedikit. Sekali dorong,
Siau Ih melangkah masuk.
Kuil itu ternyata tak berapa besar. Hanya terdiri dari sebuah
ruangan tengah dan sepasang ruangan samping.
Keadaannyapun sudah tak terawat, disana sini penuh dengan
gelagasi dan jaring laba-laba. Sebuah halaman kecil yang
terdapat di luar ruangan itu, penuh ditumbuhi rumput.
Walaupun kala itu sudah agak siang, namun suasana kuil itu
terasa menyeramkan.
Melintasi ruang tengah, terdapat sebuah loteng
penggantung lonceng. Juga tempat lonceng itu rusak tak
keruan, tapi cukup buat tempat meneduh. Diam-diam Siau Ih
menjadi heran, mengapa ditempat yang belum termasuk
pedalaman yang sunyi itu, tiada orang yang mau merawat kuil
itu. Namun rusak sekalipun kuil itu, rasanya baik juga untuk
tempat beristirahat sementara waktu.
Sekali enjot sang kaki, Siau Ih loncat ke atas loteng dan
membaringkan Tan Wan di lantai. Memeriksa disekeliling
tempat itu, Siau Ih dapatkan loteng itu kurang lebih hanya
dua tombak persegi luasnya. Pada tempat gantungan, yang
ada hanyalah tali rantai besi, sementara loncengnya entah
kemana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bagian belakang dan muka kuil ini rusak tak keruan. Tapi
anehnya mengapa loteng ini cukup bersih keadaannya?” Siau
Ih terheran sehabis memeriksa itu.
Berpaling ke arah tembok, dilihatnya disitu terdapat
beberapa tu¬lang ayam. Kembali dia merasa heran.
„Menilik keadaan ini, terang ada orang yang lebih dulu
tinggal disini. Entah siapakah dia itu?" pikirnya.
Selagi dia dalam keheranan, tiba-tiba dilihatnya wajah Tan
Wan makin pucat, sepasang alisnya mengerut dan napasnya
tersengal-sengal. Buru-buru dihampiri dan dipanggilnya
berulang-ulang.
„Tak apalah ........” akhimja dengan paksakan diri Tan Wan
menyahut sember. Dan sehabis itu, kembali sepasang
matanya menutup.
Siau Ih kasihan melihat keadaan anak itu. Diberinya sebuah
pil lagi, lalu dilumurinya luka-luka dipunggung anak itu,
kemudian ditutuk jalan darah penidurnya. Lewat beberapa
menit kemudian, Siau Ihpun merasa letih lalu duduk disebelah
Tan Wan untuk bersemadhi.
Waktu terjaga, haripun sudah menjelang magrib. Saat itu
Siau Ih rasakan perutnya lapar dan timbul pikirannya untuk
pergi ke tempat didekat itu membeli makanan. Berpaling ke
arah Tan Wan, dilihatnya anak itu masih tidur nyenyak. Buru-
buru Siau Ih rapihkan pakaian, menyelipkan pedang terus
loncat ke bawah.
Maksud Siau Ih sebenarnya hendak pergi sebentar untuk
membeli makanan. Tapi ternyata lima li jauhnya, dia baru
berhasil membeli sebungkus bakpao dan dua ikat ayam
panggang. Apa boleh buat, terpaksa dia bergegas-gegas
kembali ke kuil. Tapi setiba dikuil, ternyata rembulanpun
sudah mulai muncul dilamping gunung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru sang kaki melangkah masuk dan melintasi ruang


besar, tiba-tiba dilihatnya ada sesosok bayangan hijau
berkelebat di atas loteng. Sudah tentu dia menjadi terkejut
dan terus loncat ke atas, seraya berseru tegas: „Siapa itu?”
Sebagai penyahutan, sesosok tubuh dalam pakaian warna
hijau melayang turun di atas lantai loteng itu. Hebat nian
ilmunya mengentengi tubuh. Lantai yang dipijaknya itu,
sedikitpun tak mengepulkan debu.
Siau Ih mengawasi tajam-tajam. Ternyata ia itu seorang
nona sekira berumur 27-28 tahun, mengenakan pakaian
warna hijau. Sampaipun kain kepala, mantel dan
sepatunyapun hijau semua. Wajahnya cantik, hidung
mancung, gigi laksana butir mutiara, namun sayang senyum
simpulnya mengandung romantis, sinar matanya nakal-nakal
cabul.
Memandang si anak muda habis-habisan, mulutnya
mengikik tawa.
„Seumur hidup, baru pertama ini aku melihat seorang yang
tak tahu peraturan seperti kau. Sekalipun dalam kuil rusak
ditempat sunyi, juga ada yang datang dulu dan datang
belakangan. Belum aku bertanya siapa kau ini, kau sudah
menanyakan diriku dulu!" katanya sambil tertawa lagi.
Sejak turun dari gunung, wanita yang pertama Siau Ih
jumpai ialah Lo Hui-yan, si cantik yang lemah lembut itu. Maka
begitu berhadapan dengan seorang nona yang sikapnya amat
centil begitu, reaksi pertama ialah jemu.
Mundur setengah langkah, berkatalah dia dengn wajah
bersungguh: „Oleh karena nona yang lebih dahulu datang,
sudah seharusnya aku pindah, harap nona tunggu sebentar!"
Habis berkata, dia terus hendak loncat ke atas loteng, tapi
sekali bergerak, nona itu sudah cepat menghadang.
„Tunggu dulu!" ujarnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau tak cepat-cepat mundur, tentulah Siau Ih akan


berbenturan dengan nona itu. Membelalakkan mata,
bertanyalah dia: „Apakah nona masih hendak mengatakan
sesuatu lagi?”
Nona baju hijau itu tertawa genit, serunya. „Aku toh tak
mengusir, mengapa kau terburu-buru.”
Sampai disitu, Siau Ih sudah tak dapat bersabar lagi. Keras-
keras dia berseru: „Dikuil ini hanyalah loteng tempat lonceng
itu yang kena dibuat meneduh. Kalau aku tak pindah, nona
akan tinggal di mana?”
Kembali nona itu tertawa dibuat-buat.
„Tampaknya kau ini cerdik, tapi ternyata tolol. Menilik kau
membekal pedang, tentulah kau ini pemuda persilatan,
seharusnya tak main etiket-etiketan (tata kesopanan). Orang
yang berkelana, harus dapat menyesuaikan diri. Bukankah di
empat penjuru lautan ini kita semua bersaudara? Taruh kata
tinggal dalam satu kamar, apa halangannya? Apalagi lima li
disekeliling tempat sini, tiada perumahan orang sama sekali.
Apakah kau tak memikirkan yang terluka setengah mati itu?"
Siau Ih terkesiap, pikirnya: „Ucapannya itu benar beralasan,
tapi menilik sikapnya yang genit, terang ia pasti bukan wanita
baik. Tapi karena Tan Wan belum sembuh, lebih baik jangan
cari perkaralah,” pikirnya.
Habis itu, berkatalah dia dengan nada bersungguh: „Atas
kebaikan nona, aku mengucap terima kasih. Meskipun kaum
persilatan itu tak menghiraukan etiket, namun antara pria dan
wanita tetap ada batas perbedaan, amatlah tak leluasanya.”
Mendengar pemuda itu tak terpikat oleh sikap dan kata-
katanya tadi, nona baju hijau itu agak tertegun. Namun
dengan masih lengkingkan tertawa romantis, ia berseru: „Ai,
kau ini ternyata masih begitu kolot ........”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berhenti sejenak, ia mainkan ekor matanya mengerling ke


wajah si anak muda, kemudian dengan nada memikat rayu, ia
bertanya: „Engkoh kecil, berapakah usiamu tahun ini .....?”
Dan sehabis itu, dengan lemah gemulai, ia melangkah maju
dan aduh mak ..... sebuah lengannya yang halus putih itu
sudah dijamahkan ke bahu Siau Ih.
Serentak anak muda itu tersampok dengan bau yang
harum, hatinya bergoncang. Dia terkejut dan buru-buru
tenangkan semangatnya. Bahu dikisarkan, dia menyurut
kebelakang dan dengan gusarnya dia mendamprat: „Benar
disekeliling tempat ini tiada lain orang, tapi perbuatan nona itu
rasanya kurang pantas."
Tangannya merabah angin, wajah nona baju hijau itu,
berobah seketika. Kecantikannya yang berseri tadi, lenyap
berganti dengan kerut pembunuhan.
„Anjing mau menggigit dewa Lu Tong-ping, sungguh
seorang yang tak tahu kebaikan orang. Nonamu sudah
penuju, tapi kau berani membangkang. Kalau hari ini kau
sampai terlepas dari cengkeramku, jangan panggil aku Kau-
hun-sam-nio-cu!” serunya lantang-lantang.
Mendengar itu, sekilas teringatlah Siau Ih akan
pembicaraannya dengan Liong Go sewaktu berada di gunung
Ki-he-nia tempo hari. Liong Go menerangkan bahwa Pak-
thian-san Song-sat mempunyai seorang keponakan
perempuan yang bernama Li Thing-thing. Nona itu cantik
laksana kuntum bunga, tapi ganas bagai ular berbisa,
cabulnya bukan kepalang. Ia mendapat warisan kepandaian
dari ayah bundanya, suami isteri Li Ho.
Meskipun umurnya sudah mendekati empatpuluhan, tapi
tampaknya masih secantik anak perawan. Entah sudah berapa
jumlahnya, pemuda-pemuda anak murid berbagai partai
persilatan yang kena terpikat dan dibinasakan olehnya. Karena
ia memiliki tiga sifat: cantik, culas, cabul, maka kaum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

persilatan menjulukinya dengan gelar „Kau-hun-sam-nio-cu


atau si Wanita 3 sifat pemikat jiwa atau istilah populer: Wanita
3 dimensi.
Waktu Siau Ih mengeluh karena kesamplokan dengan
wanita cabul itu, tiba-tiba terkilas dalam ingatannya bahwa
turut dugaan ayah angkatnya (si Dewa Tertawa), kematian
ayah bundanya itu, kebanyakan adalah perbuatan putera dari
Pak-thian-san Song-sat yang bernama Li Hun-liong. Teringat
akan hal itu, kebenciannya ditumpahkan pada si wanita cabul
yang juga kaum kerabat orang she Li itu.
„Benarkah kau ini si Li Thing-thing itu?” serunya dengan
keras.
Menyahut Kau-hun-sam-nio-cu sambil tertawa dingin:
„Kalau toh sudah mendengar akan kebesaran namaku,
mengapa masih membangkang?"
„Ha, ha,” Siau Ih tertawa nyaring, serunya: „Wanita busuk,
kematianmu sudah di depan mata, masakah masih berani
......”
Belum sampai dia lanjutkan makiannya, Kau-hun-sam-nio-
cu sudah menutukkan sepasang jarinya ke dada Siau Ih.
Karena tangannya mencekal bakpao dan ayam panggang, jadi
Siau Ih tak dapat menangkis. Begitu jari lawan tiba, kakinya
mengisar ke samping, dari itu terus enjot tubuhnya melayang
melampaui kepala Li Thing-thing. Tiba di muka loteng,
bawaannya disongsongkan ke lantai loteng.
Kau-hun-sam-nio-cu ternyata tangkas sekali. Tutukannya
luput dan si anak muda lenyap, tanpa berputar ke belakang
lagi, ia terus hantamkan tangannya ke belakang.
Saat itu Siau Ih belum sempat berputar badan, atau tiba-
tiba dia merasa ada tenaga keras menyambar dari arah
belakang. Terpaksa dia maju terus ke muka sembari diam-
diam kerahkan lwekang kian-goan-sin-kong. Mendadak dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berbalik diri dalam gerak hong-kek-hoan-sim atau merpati


kuning membalik badan.
Menyusul kedua tangannya pun berbareng digerakkan.
Tangan kanan, menyambut serangan dengan jurus heng-thui-
pik-ma atau mendorong delapan ekor kuda. Sementara tangan
kiri dalam jurus seng-liong-in-hong (naik naga memikat
burung hong), balas menyerang dengan tenaga lwekang yang
lemah halus.
Bermula Kau-hun-sam-nio-cu tak memandang samasekali
terhadap anak muda itu. Pikirnya, sekali gebrak tentu akan
berhasil meringkusnya. Maka dapatlah dibayangkan betapa
kagetnya ia, demi anak muda itu melancarkan dua buah
serangan lwekang keras dan lemah. Angin pukulannya tadi,
menjadi sirna dayanya.
Namun tak kecewa ia dimalui oleh kaum persilatan. Dalam
gugupnya, masih ia dapat gunakan jurus-jurus hu-yan-kui-soh
dan hun-liong-san-sian, untuk berjumpalitan beberapa kali
sehingga mencapai kedekat dinding. Dengan begitu dapatlah
ia terhindar dari serangan si anak muda yang lihay itu.
Sebaliknya melihat wanita itu pontang panting begitu rupa,
Siau Ih tertawa dingin, serunya mengejek: „Ilmu kepandaian
kaum Song-sat, kiranya hanya begitu saja!"
Saat itu wajah Li Thing-thing sudah gelap membesi, hawa
pembunuhan memancar-mancar. Dengan geramnya ia
berseru: „Anak liar, jangan kira nonamu tak dapat memikat
jiwamu, merampas ragamu. Coba kau rasakan ini lagi!"
Sekali tangan merabah ke pinggang, ia sudah lantas
menarik ikat pinggangnya. Ikat pinggang itu terbuat dari kain
sutera berwarna pelangi: merah, oranye, kuning, biru laut,
hijau, biru, dan ungu. Lebarnya antara tiga jari dan
panjangnya ada dua tombak lebih. Sabuk atau ikat pinggang
itu bukan benda sembarangan, melainkan senjata istimewa
yang telah mengangkat nama dari bibinya (isterinya Hiat-sat)
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempo dahulu. Itulah yang disebut chit-po-to-hun-tay atau


sabuk tujuh mustika perampas jiwa.
Siau Ih tak mengetahui akan senjata itu. Namun menilik
kepandaian lawan itu cukup tinggi, diapun tak berani
meremehkan. Untuk mengimbangi, diapun melolos pedang
pusaka Thian-coat-kiam. Melintangkannya ke dada, berserulah
dia dengan tertawa dingin: „Lain orang mungkin jeri terhadap
kaum Song-sat, tapi hal itu tak berlaku padaku!"
Api kemarahan Li Thing-thing makin seperti disiram minyak.
Di iring dengan suitan melengking nyaring, ia kebutkan ikat
pinggang itu ke arah kepala si anak muda. Melihat
perbawanya amat dahsyat, Siau Ih cepat-cepat salurkan
lwekang lalu dengan jurus hun-jum-mu-soh (awan bergerak
embun menutup), pedang diputar deras untuk melindungi
dirinya.
Sejak kecil Kau-hun-sam-nio-cu Li Thing-thing itu telah
digembleng oleh ayah dan pamannya yang bergelar Song-sat
atau sepasang iblis itu. Bahwa kedua Song-sat itu tergolong
dalam sepuluh Datuk, maka dapat dibayangkan kalau Li
Thing-thing itu bukan alang-alang lihaynya. Gebrak permulaan
tadi, ia segera mengetahui bahwa kepandaian anak muda itu
lebih tinggi sedikit dari dia. Kalau tak menggunakan otak dan
kelincahan, ia pasti kalah.
Sebagai ahli silat, iapun cepat dapat mengetahui bahwa
pedang pemuda lawannya itu, bukan sembarang pedang,
sekurang-kurangnya pasti sebuah pedang pusaka yang dapat
menabas putus tebaran rambut. Kuatir kalau ikat pinggangnya
terpapas kutung, ia turunkan gerakannya. Kini dari atas, ikat
pinggang itu berombang-ambing turun menyapu perut si anak
muda.
„Bagus!” Siau Ih tertawa dingin, ujung kaki ditekan pada
lantai terus melambung dalam gerak cek-siang-ceng-hun
(langsung melonjak ke awan), sembari putar pedangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dalam jurus pian-say-thian-hoa Sepuyuh angin dahsyat


menyambar-nyambar.
Ternyata Kau-hun-sam-nio-cu tak kecewa menjadi momok
perempuan. Waktu pedang menyambar, pinggangnya yang
kecil ramping bergeliatan laksana seekor ular, mengisar
kesebelah kiri. Begitu pundak hampir mendatar kelantai,
tangan kanan mengibaskan jurus to-thoan-cu-lian. Ikat
pinggang chit-po-toh-hun-tay, melilit-lilit ke atas. Syukur Siau
Ih yang serangannya gagal tadi, buru-buru pijakkan kaki kiri
ke atas punggung kaki kanan dan dengan meminjam tenaga
pijakan itu, dia melayang ke samping beberapa meter.
Walaupun baru bergebrak dalam tiga jurus, namun kedua
seteru itu sudah menginsyafi bahwa kepandaian lawan
memang luar biasa. Bagi Siau Ih, sejak keluar dari perguruan,
belum pernah dia mendapat lawan setangguh Kau-hun-sam-
nio-cu itu. Oleh karenanya, dalam setiap gerak dan jurus, dia
selalu amat berhati-hati.
Sedang Kau-hun-sam-nio-cu pun demikian juga. Melihat
pedang dan ilmu permainan anak muda itu lain dari yang lain,
iapun tak berani lengah.
Dalam beberapa kejap saja, duaratus jurus telah
berlangsung, suatu pertempuran yang benar-benar memeras
tenaga. Li Thing-thing adalah seorang wanita, tambahan pula
ia gemar pelesir. Makin pertempuran berjalan lama, makin
payah baginya. Napasnya tersengal-sengal, dahinya
bercucuran keringat dan gerakannyapun makin kurang
kecepatannya.
Sedang celakanya, anak muda lawannya itu adalah
sebaliknya. Pertama, dia hendak menuntut balas atas
kematian sang ayah bunda dan kedua kali, dia masih seorang
taruna yang masih sedang kuat-kuatnya. Lebih-lebih dia
merasa muak terhadap gerak gerik wanita cabul itu. Dia tak
mau sungkan-sungkan lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thui-jong-ong-gwat atau mendorong jendela melihat


rembulan, adalah jurus yang saat itu dilancarkan dengan
sekuat tenaga. Dan karena Kau-hun-sam-nio-cu sudah kurang
tenaganya, maka ikat pinggang chit-po-toh-hun-tay nya pun
kena ditampar ke atas udara. Dan kesempatan itu segera
digunakan Siau Ih untuk meneruskan dengan sebuah tusukan
ke mukanya.
Li Thing-thing menjerit kaget, namun betapa cepatnya ia
coba menyurutkan kepalanya, tak urung beberapa tali kain
pembungkus kepalanya telah kena terpapas.
Wajah wanita cabul itu pucat lesi, semangatnya serasa
terbang. Diam-diam dia mengeluh, bahwa kali ini terang ia tak
bakal menang. Sebagai seorang persilatan yang kaya
pengalaman, walaupun menghadapi bahaya, tetap ia berlaku
tenang.
Secepat tangan kiri dibalikkan, dua buah jarinya ditusukkan
kepergelangan tangan si anak muda. Dan ketika lawan
menarik pulang tangannya, ia sudah enjot tubuhnya melayang
ke atas tembok. Untuk mencegah pengejaran lawan, ia
timpukkan sebuah obat pasang yang menghamburkan awan
hijau.
Siau Ih mundur tiga langkah sembari putar pedangnya
untuk melindungi diri. Tapi ketika awan hijau itu sudah
menipis, ternyata Li Thing-thing sudah tak tampak
bayangannya lagi. Cepat dia loncat ke atas tembok untuk
mengejar, tapi sekilas dia teringat sesuatu: „Ah, wanita jahat
itu amat licin, jangan-jangan dia hendak memikat aku, lalu
balik kemari mencelakai Tan Wan .........”
Terpaksa dia batalkan langkah dan kembali ke atas loteng
lagi.

17. Lolos Dari Lubang Jarum


Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tan Wan masih tidur, tapi kuatir kalau Li Thing-thing telah


melakukan sesuatu padanya, dia cepat-cepat memeriksa
tubuh anak itu.
Setelah ternyata tak kurang suatu apa, barulah lega
hatinya. Dia duduk menyandar pada tembok. Lebih dulu
diambilnya bakpao dan ayam panggang tadi, baru kemudian
membuka jalan darah Tan Wan yang tertutuk tadi.
Melihat Siau Ih duduk didekatnya dengan mengulum
senyum, Tan Wan bersyukur tak terhingga. Dia coba bergeliat
bangun, lalu berkata: „Karena seorang Tan Wan, kongcu telah
mendapat banyak kesulitan ...........”
„Memberi pertolongan pada orang yang mendapat
kecelakaan, adalah sudah menjadi tugas kaum persilatan
seperti kita. Kalau saudara Tan masih mengungkat yang tidak-
tidak, pertanda pikiranmu itu berlainan!" tukas Siau Ih.
Diambilnya sebiji bakpao dan separoh ayam panggang, lalu
diberikan pada kawannya itu.
„Manusia bukan mesin, jadi tak dapat hidup tanpa makan.
Lebih-lebih saudara Tan baru sembuh betul, jadi tak boleh
berkosong perut. Ayuh, kita makan bakpao dan ayam
panggang ini!”
Terhadap pribadi dan kepandaian Siau Ih, Tan Wan kagum
tak terhingga. Apalagi pemuda itu amat memperhatikan sekali
padanya, ini membuatnya makin menggores dalam-dalam rasa
patuhnya.
„Terhadap pribadi kongcu yang gagah budiman itu, Tan
Wan amat mengindahkan sekali. Kongcu telah menolong
jiwaku, entah bagaimana aku dapat membalasnya. Asal Tan
Wan masih bernyawa sekalipun kongcu menyuruh aku
menerjang lautan api rimba golok, Tan Wan tak nanti
menolak."
Sejak berada dibukit Kun-san, Tan Wan selalu
membahasakan ‘kongcu’ (tuan muda) pada Siau Ih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebaliknya untuk menyatakan sikapnya yang terbuka, Siau Ih


memanggilnya ‘saudara’.
Dulupun Tan Wan pernah mengutarakan maksudnya untuk
mengikut Siau Ih, agar dengan demikian dapatlah dia
menunaikan dua macam tugasnya. Pertama, membalas budi
Siau Ih dan kedua membalas budi suhunya dalam menuntut
balas kepada orang-orang Thiat-san-pang.
Tapi Siau Ih hanya ganda tertawa saja dan belum
menyatakan sesuatu.
Kini setelah beberapa hari bergaul, keduanya makin lebih
mengetahui pribadi masing-masing. Tan Wan dapatkan bukan
saja Siau Ih seorang pemuda yang cerdas, pun juga berbudi
terbuka tangannya.
Sebaliknya Siau Ih pun menganggap bahwa sekalipun Tan
Wan itu berasal dari kaum persilatan penyamun, tapi
mempunyai rasa setia dan tahu membalas budi. Apa yang
diucapkan anak muda itu tadi, tentulah benar-benar keluar
dari setulus hatinya.
„Nilai dari orang bersahabat, ialah kenal hati masing-
masing. Apabila setiap kali mengucapkan terima kasih untuk
suatu urusan kecil saja, tandanya dia itu berhati palsu. Semisal
bunga teratai merah dan putih, pun semua aliran persilatan
itu, serumpun asalnya. Saling bantu membantu, adalah sudah
menjadi kewajiban bagi kaum persilatan. Entah bagaimana
pendapat saudara Tan tentang kata-kataku,” kata Siau Ih.
Karena dipandang lekat-lekat, muka Tan Wan menjadi
merah dan dengan kemalu-maluan menundukkan kepala dia
mengiakan.
„Kalau saudara Tan menganggap benar, maka mulai saat
ini janganlah memanggil aku dengan sebutan ‘kongcu’ lagi!"
Tergerak hati Tan Wan akan pernyataan terbuka dari
pemuda gagah itu. Dengan suara nyaring, dia berseru: „Tan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wan merasa bersyukur sekali, bahwa seorang yang berasal


dari kalangan begal macam aku ini, dapat diterima menjadi
seorang sahabat .....”
„Ai, batas antara baik dan jahat itu, amatlah tipis sekali.
Penghidupan ini bagaikan sebuah bahtera melayari lautan.
Sedikit kita nyeleweng mengayuh, tentu akan membiluk ke
jalan yang hina. Tapi asal kita sadar dan buru-buru
memperbaiki kesesatan itu, itupun sudah cukup. Sesama
kaum persilatan, rasanya tiada perbedaan siapa golongan liok-
lim (begal), siapa golongan ceng-pay (baik).”
Mendengar itu, Tan Wan menghela napas, ujarnya:
„Mendengar petuah seorang bijaksana, jauh lebih bermanfaat
dari membaca buku sepuluhan tahun. Tan Wan akan
berterima kasih sekali apabila sering-sering mendapat nasehat
berharga.”
Siau Ih peringatkan bahwa pemuda she Tan itu masih
belum sembuh betul, sebaiknya lekas makan dan beristirahat
lagi. Begitulah keduanya segera menggasak habis-habisan
beberapa bakpao dan dua ekor ayam panggang itu.
Habis makan, kembali Siau Ih suruh kawannya menelan
sebuah pil. Kuatir kalau membikin kaget, Siau Ih sengaja tak
mau menceritakan tentang peristiwa Li Thing-thing tadi.
Singkatnya saja, malam itu mereka tidur dengan tiada terjadi
suatu apa.
Keesokan harinya, sesudah memberi obat lagi, Siau Ih
mengeluarkan bumbung yang berisi sembilan butir jarum
beracun itu. Dia mengatakan hendak membeli rangsum kering
dan memesan pada Tan Wan, apabila ada musuh datang
mengganggu, boleh disambut dengan jarum itu.
Menyambuti bumbung jarum itu, bertanyalah Tan Wan
dengan heran: „Kalau tak salah inilah jarum beracun kiu-tiam-
ting-sing-ciam yang dilarang dipergunakan oleh kaum
persilatan. Maaf, dari mana saudara Siau mendapatkannya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk menghilangkan salah paham, terpaksa Siau Ih


menuturkan apa yang terjadi dihalaman muka makam Gak-
ong tempo hari.
Tan Wan makin terkejut dan menyatakan akan menjaga
senjata rahasia itu baik-baik, agar jangan sampai jatuh
ketangan sesuatu orang persilatan.
Siau Ih yang masih kuatir terhadap Kau-hun-sam-niocu,
sebenarnya hendak menceritakan peristiwa itu kepada Tan
Wan, tapi pada lain kilas dia merasa tak leluasa. Akhirnya dia
hanya memesan supaya sang kawan itu berlaku hati-hati saja.
Demikianlah Siau Ih segera pergi keluar untuk membeli
rangsum dan dua guci arak, lalu kembali ke kuil rusak lagi.
Oleh karena beberapa hari kemudian tak terjadi suatu apa,
Siau Ih pun sudah mengesampingkan peristiwa Li Thing-thing
itu. Dalam pada itu, luka-luka hajaran cambuk dipunggung
Tan Wan pun sudah sembuh sama sekali.
Kembali Tan Wan utarakan maksudnya untuk mengikut
anak muda itu.
Kali ini terpaksa Siau Ih menerima perbaik. Pertama,
karena melihat kesungguhan hati anak itu dan kedua kali
dengan mempunyai seorang kawan, rasanya dia takkan
kesepian dalam perjalanan. Sudah tentu Tan Wan kegirangan
setengah mati.
Mereka tinggalkan kuil itu menuju ke dalam kota Ik-yang-
seng. Disitu Siau Ih membeli dua ekor kuda dan beberapa stel
pakaian, baru meneruskan perjalanan lagi.
Kira-kira sepuluhan hari, tibalah mereka di propinsi Kwiciu.
Oleh karenanya senjata toja kiu-hap-kim-si-pang telah hilang
di Gak-ciu, maka Tan Wan segera mencari tukang besi untuk
membuatnya lagi sebatang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai itu, mereka lanjutkan pula perjalanan. Setelah


memasuki daerah pegunungan mereka siap melintasi sebuah
gunung, masuk ke propinsi Oulam terus ke Tiang-jong-sam.
Keadaan gunung itu, ternyata penuh dengan tebing karang
yang curam, puncak-puncak yang menjulang menyusup awan
dan jalanan-jalanan yang berliku-liku amat berbahayanya.
Meskipun kala itu baru bulan sepuluh, namun matahari
dimusim rontok masih terik.
Belum tengah hari, keduanya sudah masuk sampai
seratusan li. Tiba-tiba Siau Ih tarik kendalinya. Menunjuk ke
arah sebuah pohon besar. Dia ajak Tan Wan beristirahat
mengisi perut.
Selagi mereka duduk di bawah pohon besar, sembari
menikmati ransum kering, tiba-tiba terdengar angin
membawakan suara kelinting kuda. Mendongak ke muka, Siau
Ih tampak ada dua ekor kuda tegar tengah mendatangi
dengan pesat.
Yang dimuka, seorang lelaki tegap bermuka brewok,
mengenakan pakaian ringkas warna merah. Usianya kurang
lebih empatpuluhan tahun.
Sedang yang di belakangnya, ialah seorang wanita
berkerudung muka dan mengenakan pa¬kaian ringkas warna
hijau. Dalam sekejap mata saja, kedua penunggang kuda itu
sudah tiba di muka pohon besar.
Wanita pakaian hijau itu tiba-tiba gunakan tangan kiri
untuk menjambret kerudung mukanya. Dua biji mata yang
memancarkan sinar mendendam benci, segera memandang
lekat-lekat ke arah Siau Ih. Mulut mendengus, tangannya
bergerak mengantarkan sang tubuh loncat dari atas kuda,
terus berlari melewati tempat Siau Ih dengan cepatnya.
„Dia lagi!" diam-diam Siau Ih mengeluh kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memang wanita itu bukan lain ialah si Kau-hun-sam-niocu


Li Thing-thing, itu wanita cabul yang coba hendak memikat
Siau Ih dikuil rusak. Munculnya wanita itu ditempat yang
sesunyi seperti daerah pedalaman gunung Tay-lou-san, telah
membuat Siau Ih terkejut bukan kepalang.
„Siau-heng, mengapa wanita itu mengawasi begitu
membenci kepadamu?" tanya Tan Wan yang tak mengerti
duduk perkaranya.
Sejenak merenung, Siau Ih gelengkan kepalanya: „Dalam
perjalanan nanti, kita mungkin menghadapi beberapa
peristiwa. Tapi apapun yang akan terjadi, harap saudara Tan
jangan ikut campur tangan."
Masih Tan Wan bersitegang leher: „Meskipun Siau-heng tak
mengatakan, tapi kiranya sudah jelaslah. Wanita baju hijau itu
tentu mempunyai dengki asmara terhadap Siau-heng, kalau
tidak masakah sorot matanya begitu buas?"
Menyandarkan kepalanya ke batang pohon, Tan Wan
melirik ke arah Siau Ih lalu kembali tertawa: „Seorang anak
muda seperti Siau-heng itu, tentu sukar menghindarkan diri
dari libatan-libatan macam itu. Tapi biar bagaimana juga,
kalau suruh siaote berpeluk tangan, sungguh sukar sekali.
Sudah tentu siaote tak mau ikut campur dalam urusan pribadi
Siau-heng."
Ai, anak itu! Dia sudah salah taksir, siapa Siau Ih dan, siapa
wanita Li Thing-thing itu. Suatu hal yang membuat Siau Ih
tertawa meringis.
Apa boleh buat, terpaksa dia tuturkan apa yang telah
terjadi ketika berada dalam kuil rusak tempo hari itu. Tapi
yang diceritakan hanyalah pertempurannya dengan wanita itu,
sedang perbuatan tak senonoh dari Li Thing-thing tiada
disinggung-singgungnya.
„Mengapa Siau-heng tak siang-siang memberitahukan
siaote?" tanya Tan Wan dengan heran-heran menyesal.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih hanya tertawa dan menerangkan bahwa mengingat


Tan Wan masih dalam keadaan sakit, sebaiknya tak usah
memikirkan urusan-urusan tetek bengek semacam itu.
Li Thing-thing seorang durjana perempuan yang
termasyhur jahat dalam dunia persilatan, maka lebih baik Tan
Wan jangan turut terlibat dalam peristiwa itu.
„Kalau toh wanita itu sedemikian jahatnya, tak perlu kita
takut. Apalagi demi untuk ‘kepentingan sahabat’, sekalipun
tubuh berhias luka, juga harus memberi bantuan. Lebih-lebih
Siau-heng adalah penolong jiwaku," kata Tan Wan.
Sejenak kemudian, dia berkata pula: „Tapi kalau Siau-heng
menganggap Tan Wan ini seorang yang berkepandaian rendah
dan tiada berguna, sampai disini saja aku hendak minta diri.”
Mengetahui orang sudah salah paham dan menilik sikap
Tan Wan begitu sungguh, Siau Ih tergerak hatinya.
Berbangkit bangun, dia cekal sepasang tangan anak itu,
katanya: „Sedikitpun tiada aku mengandung hati begitu, harap
saudara Tan jangan salah mengerti. Seorang yang mempunyai
sahabat sejati, meskipun hanya seorang saja, tapi itu sudah
cukup membahagiakan."
Kini baru Tan Wan dapat tertawa lebar dan menyatakan
agar Siau Ih basmi saja wanita sejahat itu.
„Ah, aku tak berani mengharap terlalu banyak. Seorang
yang masih muda dan kurang pengalaman seperti aku ini,
harus tahu diri. Li Thing-thing seorang jagoan wanita yang
termasyhur. Terhadap dia, paling banyak aku hanya dapat
menghancurkan kegarangannya tapi tak dapat
membunuhnya.''
„Itu sudah cukup menggembirakan,” Tan Wan memberi
komentar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua saling tertawa dan karena matahari sudah condong


ke sebelah barat, buru-buru mereka mengemasi ransum dan
guci arak.
„Kalau tiada terjadi suatu apa, malam ini kita tentu dapat
melintasi gunung ini. Tapi menurut perasaan siaote, rasanya
tidak seperti apa yang kita harapkan,” kata Tan Wan sembari
mengusap-usap senjatanya kiu-hap-kim-si-pang".
Mereka mencongklangkan kudanya menyusur jalanan yang
melingkar-lingkar di antara lamping dan puncak gunung.
Sekonyong-konyong dari tempat yang tak berapa jauh,
terdengarlah sebuah suitan nyaring. Ya, sedemikian
nyaringnya hingga seperti memekakkan telinga dan menyusup
ke dalam angkasa.
Siau Ih yang memiliki lwekang tinggi, tampak biasa saja.
Sebaliknya Tan Wan sudah kaget seperti terbang
semangatnya. Sampaipun kedua ekor kuda tunggangan
mereka itupun, saking kagetnya sampai meringkik-ringkik dan
melonjak ke atas.
Siau Ih jepitkan kakinya kencang-kencang ke perut kuda.
Dengan tangan kiri menekan kepala kudanya, tangan kanan
menyambar kepala kuda Tan Wan terus ditekan ke bawah,
katanya: „Tenangkan hatimu, jangan takut!"
Mendongak ke atas, Siau Ih lepaskan sebuah tertawa
panjang. Nadanyapun tak kurang hebatnya, bergema jauh
sampai ke atas awan. Seperti tertekan tenaga kuat, lengking
tertawa yang pertama tadi, segera cep-kelalep (sirap).
„Ah, sungguh berbahaya. Kalau Siau-heng tak hebat
lwekangnya, entah bagaimana akibatnya tadi. Menilik semuda
itu usianya dia sudah memiliki kepandaian yang sedemikian
saktinya, sungguh aku harus merasa malu," diam-diam Tan
Wan berkata dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam pada itu, Siau Ih pun sudah berhenti tertawa,


katanya: „Memang tepat dugaan saudara Tan itu. Wanita
jahat itu benar akan memegat kita, mari kita saksikan
bagaimana nanti."
Mencongklang lagi ke muka, mereka mengitari sebuah
tikungan dan kini tibalah mereka pada sebuah tanah terbuka.
Karena di empat penjuru dikelilingi puncak-puncak gunung,
jadi daerah itu mirip dengan sebuah lembah cekung. Siau Ih
hentikan kudanya dan mengawasi ke sekeliling itu.
Sayup-sayup di atas sebuah batu besar yang terletak
ditengah karang, tampak berdiri sesosok tubuh langsing
berwarna hijau. Meskipun masih jauh, tapi dapatlah diduga
bahwa orang itu tentulah si Kau-hun-sam-niocu Li Thing-thing.
Siau Ih heran juga mengapa tadi ada dua orang tapi
sekarang hanya ada seorang saja. Buru-buru dia berpaling ke
belakang dan memperingatkan agar Tan Wan berlaku
waspada.
Oleh karena sejak kecil sudah biasa ikut pada suhunya Sin-
heng bu-ing Kiau Bo berkelana di dunia persilatan, jadi
pengalaman Tan Wan pun sudah cukup banyak. Diapun heran
juga mengapa tak melihat si lelaki brewok yang berpakaian
warna merah tadi. Sembari mengiakan peringatan Siau Ih,
diapun lekas-lekas mempersiapkan senjatanya.
Pada saat itu, tiba-tiba tampak Li Thing-thing gerakkan
kedua lengannya dan bagaikan kapas terbang, ia melayang ke
bawah.
Siau Ihpun cepat-cepat loncat turun dari kudanya.
Sewaktu menurun, wanita itu cepat sudah tamparkan
tangannya ke bawah.
Siau Ih bersuit keras, kedua lengan bajunya agak
dikebutkan, tubuhnya loncat ke atas sampai satu tombak.
Sesudah berhasil menghindari angin pukulan lwekang lawan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia berjumpalitan di atas udara dengan kaki di atas dan kepala


di bawah, dia balas menghantam lawan.
“Plak,” terdengarlah suara benturan keras, ketika Kau-hun-
sam-niocu balikkan tangan menangkis. Dan apa yang terdjadi?
Sekali berjumpalitan, Siau Ih turun dengan tenangnya ke
bumi.
Sebaliknya Li Thing-thing terhuyung-huyung sampai tujuh-
delapan tindak. baru dapat berdiri jejak.
„Li Thing-thing, malam itu aku telah memberi ampun
padamu, seharusnya kau tahu diri dan angkat kaki jauh-jauh.
Tapi mengapa kau masih berani menghadang aku lagi?
Apakah kau sudah tak mempunyai rasa malu lagi!" seru Siau
Ih tenang-tenang.
Oleh karena sudah melepaskan kain kerudung, jadi jelaslah
bagaimana wajah Li Thing-thing saat itu berwarna gelap,
sepasang matanya memancarkan api pembunuhan.
Menatap si anak muda, ia tertawa iblis: „Aku selalu
membayar setiap hutang. Oleh karena kebetulan bertemu di
selat gunung sini, maka akupun hendak melunaskan rekening
lama. Beritahukan nama, agar mudah nanti aku melapor pada
raja akhirat!”
Siau Ih mendongak tertawa lepas.
„Masih menepuk dada bermulut besar hem, sungguh tak
malu. Tuanmu ini bernama Siau Ih, ayuh, kau mau apa?”
„Hendak kurenggut jiwamu kuganyang dagingmu ……”
„Hem, enaknya,” tukas Siau Ih sejenak tertawa lalu berseru
lagi dengan wajah keren: „Li Thing-thing, tanganmu
berlepotan darah, tubuhmu berlumuran dosa. Bertahun-tahun
kau malang melintang mengumbar keganasan. Pepatah
mengatakan 'membasmi seorang jahat itu, jasanya tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ternilai'. Malam ini aku hendak melakukan amanat bertuah itu,


melenyapkan seorang siluman jahat!''
Dengan kata-kata itu, Siau Ih sudah menumpahkan seluruh
isi dendamnya atas kematian sang ayah bunda. Dari seorang
pemuda yang cakap, saat itu Siau Ih berobah menjadi
harimau buas yang haus darah. Pedang Thian-coat-kiam cepat
disiapkan dan dengan mata berkilat-kilat dia siap menanti
lawan.
Tan Wan yang mengawasi dari samping, hanya mengetahui
bahwa sang kawan itu amat marah sekali terhadap wanita
cabul yang jahat itu. Tapi dia tak tahu sama sekali akan
libatan urusannya lebih jauh.
Kau-hun-sam-niocu Li Thing-ting balas tertawa melengking
nyaring. Dalam tertawa itu, tubuhnya menyurut mundur dan
secara tak terduga-duga sebuah kain pelangi sudah
menyambar ke arah Siau Ih.
Waktu Siau Ih gunakan pedang untuk memapas, Kau-hun-
sam-niocu perdengarkan tertawa dingin. Kakinya bergerak
mundur lalu maju pula. Tangan kanan menyambar bagian
tengah kain ikat pinggang itu, terus dikebutkan ke muka.
Selembar ikat pinggang chit-po-toh-hun-tay yang
panjangnya dua tombak, dalam permainan Li Thing-thing, kini
berobah menjadi dua.
Siau Ih tunggu sampai ujung senjata lawan itu hampir
mengenai bahunya, baru dia agak turunkan tubuhnya ke
bawah. Setelah menghindar itu, dengan tangkas dia kirim
sebuah tusukan ke arah tenggorokan lawan.
Kembali kedua seteru itu, lanjutkan pertempuran dahulu
yang belum selesai. Hanya saja dalam gebrak permulaan itu,
keduanya gunakan jurus-jurus baru.
Sedetikpun Kau-hun-sam-niocu tak pernah melupakan
kekalahannya di kuil rusak itu. Sekali gebrak, ia sudah lantas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gunakan ilmu pusaka ajaran Song-sat yang disebut im-yang-


toh-hun-cap-jit-si atau tujuhbelas jurus lwekang im-yang
perampas jiwa.
Sementara melampiaskan kebenciannya, Siau Ihpun tak
segan-segan mengeluarkan kepandaian simpanannya. Dibantu
oleh gerakan kaki ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh, dia
mainkan ilmu pedang lui-im-kiam-hwat atau ilmu pedang
suara halilintar.
Dahulu dengan ilmu pedang itulah, si Dewa Tertawa Bok
Tong menggemparkan dunia persilatan.
Di tengah lembah dari pegunungan yang sunyi senyap,
pada saat itu terdengar gemuruh angin menyambar-nyambar,
sinar pedang berkilat-kilat dan warna pelangi berkibar-kibar.
Sesaat diseling dengan benturan pukulan tangan dan sesaat
pula dengan gemerincing senjata beradu.
Tan Wan yang melihatnya sampai melongo, karena seumur
hidup belum pernah dia menyaksikan suatu per¬tempuran
yang segempar itu.
Dalam beberapa detik kemudian, pertempuran sudah
berjalan sampai seratusan jurus.
Tampaknya Kau-hun-sam-niocu men¬jadi tak sabaran lagi.
Bersuit keras, ia merangsek maju. Tangan kanan membalikkan
toh-hun-tay menabas pundak, dua buah jari tangan kirinya,
secepat kilat menusuk ke arah mata lawan!
Siau Ih menarik ke belakang tubuhnya, lalu menusuk ke
arah lengan Li Thing-thing. Kemudian sang pundak digeliatkan
memutar tubuh, dia hindari sabetan toh-hun-tay, lalu tangan
kiri menghantam dada lawan dengan jurus hun-toan-bu-san
(awan menutup gunung Busan).
Li Thing-thing tarik pulang tangannya sembari kempiskan
dada. Ujung tumitnya diinjakkan ke tanah, lalu gunakan gin-
kang istimewa hong-ji-liu-si (angin meniup tangkai pohon liu).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagaikan segumpal kapas, tubuhnya seperti tak bertulang,


ikut sambaran angin pukulan lawan melayang sampai
setombak jauhnya. Begitu sang kaki menginjak tanah, ia terus
ngacir pergi.
Perbuatan itu telah menyebabkan Siau Ih melongo tak
habis mengerti. Tapi berkat kecerdasan otaknya, sekilas dia
teringat akan si lelaki brewok yang belum munculkan diri itu.
Pikirnya: „Menilik perangai Li Thing-thing yang begitu
temberang ganas, tentu tak nanti ia mau menyudahi urusan
pembalasan sakit hati yang belum selesai itu. Namun karena
ia ngacir, terang tentu akan menggunakan siasat.”
Hanya sayangnya, sekalipun sudah mempunyai dugaan
begitu, namun Siau Ih tak dapat lepaskan diri dari pengaruh
kesombongannya. Menganggap sepi gerak gerik musuh, dia
tertawa mengejek: „Bukankah kau hendak meregut jiwaku
tadi? Mengapa belum ketahuan kalah menang, kau sudah
lantas mau angkat kaki?”
Habis berkata, dia terus hendak ayunkan kaki mengejar.
Melihat itu Tan Wan yang sudah banyak pengalamannya,
buru-buru meneriaki dengan gugup: „Siau-heng, hati-hatilah
akan tipu muslihat wanita busuk itu!”
“Harap saudara jangan kuatir. Raja kera Sun Go-kong
mempunyai ilmu merobah diri menjadi tujuhpuluh dua macam,
tapi toh akhirnya tak dapat lolos dari tangan Ji Lay Hud!"
sahut Siau Ih dengan tertawa sembari cepatkan
pengejarannya.
Tapi karena kuatir akan keselamatan sang kawan. Tan Wan
cepat-cepat turun dari kudanya, lalu ikut menyusul.
Begitulah ketiga orang itu, kejar mengejar dengan pesatnya
dan tahu-tahu sudah melintasi dua buah lamping puncak.
Tiba-tiba disebelah muka, tampak sebuah hutan yang lebat.
Tiba di muka hutan itu, Li Thing-thing berhenti sebentar untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpaling ke belakang dan perdengarkan sebuah tertawa


dingin. Habis itu, ia menyelinap ke dalam hutan.
Siau Ih tertawa mengejeknya.
„Li Thing-thing, masakah kau dapat menembus langit.
Menyusup kebumi?"
Bagaikan seekor burung garuda, dia kibaskan lengan baju
dan melayang ke arah hutan. Tiga tombak di atas udara,
tangan kirinya menghantam ke bawah. Pohon-pohon dalam
hutan itu tersiak daunnya dan masuklah Siau Ih menurun ke
dalam hutan.
„Celaka!” Tan Wan yang berada jauh di belakang sana,
mengeluh terkejut. Dengan gerak yan-cu-sam-jo-cui atau
Burung Walet Tiga Kali Menyiak Air, dia berloncatan beberapa
kali. Tiba di muka hutan, dia lintangkan toya kiu-hap-kim-si-
pang untuk melindungi diri dan menerobos masuk.
Tapi untuk kekagetannya, ternyata di dalam hutan itu
sunyi-sunyi saja keadaannya. Dengan gugup, dia menerjang
ke muka. Di luar hutan yang disebelah sana, adalah sebuah
karang yang menjulang tinggi, ditengah-tengahnya terdapat
sebuah jalanan kecil yang amat sempit, kira-kiranya hanya
setombak lebarnya.
Siau Ih ternyata tengah berdiri tegak disitu, sembari
lintangkan pedang di dada dia memandang tak berkesiap ke
atas dinding karang.
Bergegas-gegas Tan Wan menghampiri dan berseru
perlahan-lahan: „Siau-heng ………”
Siau Ih berpaling, sahutnya: „Wanita busuk itu memikat
aku kemari, tentulah memasang tipu muslihat."
Menyapukan pandangan keempat penjuru, dia tertawa
jumawa, serunya: „Sekalipun memasang gunung golok pohon
pedang, tak nanti dapat mengapa-apakan diriku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan langkah tegap, dia perlahan-lahan maju ke muka.


Sampai pada saat itu, Tan Wan sudah mengetahui bahwa
sahabatnya itu memiliki sifat congkak, jadi mencegah tiada
berguna. Apa boleh buat, terpaksa dia mengikutinya.
Kira-kira beberapa puluh tombak jauhnya, tibalah mereka
ditengah-tengah jalanan sempit itu.
Tiba-tiba di ujung sana, tampak ada sesosok bayangan
hijau berkelebat. Itulah si Kau-hun-sam-niocu Li Thing-thing.
Nyatanya ia siap memegat si anak muda.
Siau Ih berhenti, tegurnya: „Apa maksudmu main
bersembunyi macam begini itu?"
Tertawalah Kau-hun-sam-niocu dengan sinis, sahutnya:
„Siau Ih, tempat inilah bakal menjadi tempat kuburmu!"
Habis berkata, jarinya dimasukkan ke dalam mulut dan
bersuitlah ia dengan lengking yang memecahkan telinga
membelah bumi. Sebuah suitan lain, terdengar menyambut
dari arah gunung disebelah kanan.
Siau Ih mendongak. Ha, itulah lelaki brewok berpakaian
merah. Dengan tiba-tiba kini dia muncul ditepi karang.
Tangannya mengayun dan lima buah sinar merah melayang di
belakang Siau Ih.
„Bum,” terdengarlah letusan dahsyat. Hutan lebat yang
penuh dengan pohon-pohon itu, segera berobah menjadi
lautan api.
Sudah tentu Siau Ih terkejut sekali. Cepat-cepat dia
menarik Tan Wan maju menyerang ke muka.
Tapi baru kedua pemuda itu loncat maju, Kau-hun-sam-
niocu sudah kedengaran tertawa dingin.
„Kembali!” mulut berteriak, tangan menimpukkan dua buah
gulung asap hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tahu bahwa asap hijau itu mengandung pasir beracun,


Siau Ih tak berani membenturnya. Memperingatkan Tan Wan,
dia menyurut ke belakang sembari putar pedang untuk
membuyarkan asap itu. Kemudian memasukkan pedang ke
dalam sarungnya, dia dorongkan sepasang tangannya ke
muka melancarkan angin lwekang.
Memang dalam keadaan terjepit, di belakang ada lautan api
di muka diserang pasir beracun, tiada lain jalan lagi baginya
kecuali harus lekas-lekas menerjang. Dengan keputusan itu,
diam-diam dia sudah kerahkan lwekang kian-goan-sin-kong ke
seluruh tubuh.
Selagi kedua anak muda itu bahu membahu siap-siap
hendak menerjang dari jebakan musuh, tiba-tiba dari atas
karang berpuluh-puluh biji senjata rahasia thiat-yan (seriti
besi) melayang berhamburan. Tersambar angin, mulut thiat-
yan itu menyemburkan letikan api. Thiat-yan-thiat-yan itu
berputar-putar di udara, lalu meluncur turun.
Thiat-yan atau burung-burungan seriti yang terbuat dari
besi itu, tampaknya seperti hidup. Bukan melainkan dapat
terbang seperti burung hidup, pun api yang disemburkan dari
mulutnya itu, benar-benar seperti burung seriti yang
menyemburkan ludah.
Dinding karang yang menjulang tinggi itu, pun berkilat-kilat
membara. Hanya dalam sekejap mata saja, dan kedua buah
batu besar yang terletak di atasnya itu, berobah menjadi
tembok api.
Untuk memperlengkapi kedahsyatannya, Kau-hun-sam-
niocu Li Thing-thing ayunkan kedua tangannya, beberapa kali
menimpukkan asap hijau. Saat itu, keadaan lembah situ
seperti berobah menjadi sebuah neraka. Asap membubung
tinggi, api berkobar menjilat-jilat.
Beberapa kali Siau Ih dan Tan Wan, coba menerjang
keluar. tapi selalu terhadang dengan taburan asap hijau yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membawa angin lwekang. Apalagi mereka harus menjaga dari


serangan thiat-yan.
Dengan terlindung oleh lwekang kian-goan-sin-kong, Siau
Ih kerjakan kedua tangannya untuk menghantam kian kemari.
Benar, setiap kali kawanan thiat-yan itu dapat dihancurkan,
namun kelompok pertama belum habis dihancurkan,
gelombang kedua sudah datang lagi.
Menghancurkan thiat-yan, menolak asap beracun dan
memperhatikan keselamatan Tan Wan, benar-benar telah
membuat Siau Ih kalang kabut.
„Bocah liar, kini baru kau tahu bagaimana kelihayan
nonamu,” teriak Kau-hun-sam-niocu dengan lengking
kegirangan.
Benar Siau Ih telah menduga bahwa wanita jahat itu tentu
akan menggunakan tipu muslihat untuk menjebaknya ke
tempat itu, namun setitikpun Siau Ih tak mengira bahwa
muslihat itu ternyata sedemikian ganasnya. Seketika
amarahnya, meluap-luap.
„Perempuan busuk, jika tubuhmu belum kucingcang,
rasanya belum puas hatiku," serunya dengan kalap.
„Coba saja kalau kau masih dapat hidup nanti!" sahut Kau-
hun-sam-niocu tertawa mengejek. Dan kembali dia timpukkan
asap hijau.
Siau Ih menggerung keras. Tangan kiri didorongkan ke
muka menghalau taburan asap hijau, tangan kanan bergerak
menghantam untuk menghancurkan serbuan thiat-yan.
Dan menggunakan sejenak keluangan itu, secepat kilat dia
merogoh keluar bumbung jarum kiu-tiap-ting-seng-ciam. Dia
siap sedia akan menggunakan setiap kesempatan untuk
menghancurkan Kau-hun-sam-niocu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat Siau Ih bergerak maju beberapa langkah, dengan


tertawa dingin, kembali si lelaki muka brewok lepaskan
berpuluh-puluh thiat-yan.
Siau Ih dan Tan Wan, saling merapat satu sama lain.
Walaupun pada saat itu, Tan Wan sudah mandi keringat,
namun dia terpaksa tak berani mengasoh. Toya kiu-hap-kim-
si-pang diputarnya dengan gencar.
Sekonyong-konyong terdengarlah sebuah jeritan seram dan
entah apa sebabnya, lelaki brewok yang melepaskan thiat-yan
dari atas karang itu, melayang ke bawah.
Siau Ih yang sudah benci sekali kepada orang itu, cepat
hantamkan tangan kiri. Beberapa biji thiat-yan yang melayang
tiba, segera hancur berantakan keempat penjuru. Menyusul
tangan kanan diangkat ke atas, serangkum jarum kiu-tiam
menyambar ke arah lelaki brewok itu.

18. Penyelamat Tak Terduga


„Auuuuh,” mulut orang itu menjerit keras dan „bum” ……
kepalanya jatuh membentur karang, batok kepala hancur,
benak berhamburan dan putuslah jiwanya. Sembilan batang
jarum yang dilepas Siau Ih tadi, semua tepat mengenai
sasarannya.
Berbareng pada saat itu, dari atas karang sama terdengar
sebuah suitan nyaring. Menyusul sesosok tubuh warna kelabu
melayang turun.
Begitu menginjak bumi, orang itu kebutkan lengan bajunya
yang gerombyongan. Berpuluh-puluh thiat-yan yang
memenuhi udara itu, seketika menjadi hancur berantakan.
Siau Ih terkesiap dan mengawasi orang itu. Ternyata dia itu
adalah iman tua yang bertubuh kecil kurus. Sebatang pedang
menyelip di belakang bahunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Menilik kesaktian orang ini, nyata setingkat dengan ayah,”


diam-diam Siau Ih membatin. Tapi baru dia memikir begitu,
didengarnya imam tua itu berseru pelahan: „Mengapa tak
lekas ikut aku keluar!"
Tanpa berayal lagi, Siau Ih segera tarik lengan Tan Wan
dan ikut imam yang ‘turun dari langit’ itu menerobos keluar ke
mulut lembah.
Melihat perobahan secara mendadak itu, bukan main kejut
Kau-hun-sam-niocu. Cepat dia kerjakan kedua tangannya
untuk menghamburkan asap beracun ke arah ketiga orang itu.
"Bangsa kurcaci yang tak tahu diri!" seru imam tua itu
dengan tertawa dingin. Lengan jubahnya dikebutkan perlahan-
lahan dan seketika itu serangkum angin halus yang
mengandung tenaga lwekang kuat, menyambar ke udara.
Amboi! Asap hijau yang membawa pasir beracun itu, baru
sampai ditengah jalan sudah bergulung-gulung balik kepada
alamat pengirimnya.
Sudah tentu kejut dan takut Kau-hun-sam-niocu tak terkira.
Kaki menekan tubuh loncat ke samping sampai dua tombak.
Dengan cara begitu, barulah ia dapat terhindar dari
gelombang serangan asap beracun.
Dalam pada itu, si imam tua teruskan langkahnya
memimpin Siau Ih dan Tan Wan keluar ke mulut lembah.
Kaget dan ketakutan setengah mati sekalipun Li Thing-
thing menyaksikan kesaktian si imam tua itu, namun ia tetap
seorang hantu perempuan yang ganas. Sudah tentu ia tak
mau begitu gampang saja melepaskan korbannya.
„Dahulu kita belum pernah mendendam, sekarangpun tidak
bermusuhan. Tapi mengapa kau mengadu biru urusanku?"
teriaknya dengan geram kepada imam tak dikenal itu.
Sepasang biji mata yang aneh dari imam itu, sejenak
mengicup, kemudian tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Dendam permusuhan apa kau kandung terhadap kedua


anak muda itu, hingga kau sampai perlu pinjam senjata hui-
thian-hwat-yan dari murid Gan-li Cinjin Kho Goan-thang dan
menggunakan ceng-lin-tok-sat dari pihak Song-sat untuk
membinasakannya? Kalau pinto tak mengingat prikasih
kemanusiaan, terhadap manusia yang suka berbuat jahat dan
ganas tak mengindahkan kaum angkatan tua seperti dirimu
itu, tentu tadi-tadi sudah kubelah tubuhmu!"
Hui-thian-hwat-yan artinya senjata rahasia Burung-
burungan seriti dari baja yang dapat beterbangan di udara
dan menyemburkan api. Sedang Gan-li Cinjin Kho Goan-thang
adalah salah seorang tokoh yang termasuk dalam golongan
sepuluh Datuk. Ceng-lin-tok-sat ialah senjata rahasia pasir
beracun yang mengandung phosporus. Senjata rahasia ini
menjadi milik kedua Song-sat.
Bahwa si imam tua itu dapat mengetahui asal usul dirinya
dan kawannya si lelaki brewok itu, telah membuat Kau-hun-
sam-niocu terkejut bukan kepalang. Matanya berkilat-kilat,
memandang si imam tua itu dari ujung kaki sampai ke atas
kepala.
„Turut perkataanmu yang begitu besar, rasanya kau tentu
berani memberitahukan nama. Nonamu kepingin minta
pengajaran nanti.” Li Thing-thing tertawa dingin.
Tertawalah si imam tua dengan lebarnya.
„Huh, sungguh seorang budak yang tak kenal tingginya
langit dalamnya laut. Jangankan kau, sedangkan sepasang
suami isteri Li Ho itupun kalau bertemu dengan pinto, tentu
juga menaruh perindahan!”
Berkata sampai disini, wajah imam itu tiba-tiba berobah
gelap dan dengan nada berat, berkatalah dia: „Mengingat
dirimu tergolong angkatan lebih muda, kali ini pinto tak mau
membikin susah. Nanti bila kau pulang ke gunungmu,
sampaikan saja pada suhumu bahwa Goan Goan Cu dari biara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siang-ceng-kiong di gunung Mosan, masih tetap teringat akan


hutangnya dahulu. Dalam lima tahun nanti, tentu akan datang
menagih hutang ke Thian-san. Cukup sampai sekian saja,
ayuh, enyah sana!"
Berbareng dengan kata-kata ‘enyah’ diucapkan, sepasang
lengan bajunya tampak dikebutkan ke arah Kau-hun-sam-
niocu. Lambat sekalipun tampaknya gerakan itu, namun bagi
Li Thing-thing serasa sudah didorong oleh sebuah tenaga
halus yang sedahsyat gunung roboh.
Sewaktu mendengarkan si imam memperkenalkan diri,
Kau-hun-sam-niocu sudah serasa copot nyalinya. Ia insaf,
sekalipun menumplak seluruh kepandaiannya, tak nanti ia
dapat melawan imam itu. Kalau masih bersitegang leher ia
tentu akan mendapat malu saja.
Maka begitu angin kebutan itu baru menyentuh tubuh,
secepat agak membungkukkan tubuh, sepasang kakinya
menjejak bumi dan serentak mencelatlah ia ke samping
beberapa meter.
„Goan Goan Cu, meskipun namamu tercantum dalam
sepuluh Datuk, namun selama hayat masih dikandung badan,
nonamu ini tentu akan mengadakan pembalasan untuk hinaan
hari ini,” serunya dengan lengking suara yang tajam menusuk
telinga.
Wajah Goan Goan Cu serentak berobah. Sepasang alis
menyungkat menambah keangkeran mimiknya. Sepasang
lengan perlahan-lahan di angkat ke atas, begitu tiba di muka
dada, tiba-tiba mulutnya menghela napas panjang.
Entah apa sebabnya, sepasang tangannya itu diturunkan
kembali. Dalam pada itu, dengan beberapa ayunan tubuh,
Kau-hun-sam-niocu sudah menghilang diantara hutan lebat.
Kejadian yang tak tersangka-sangka itu, telah membuat
Siau Ih bukan kepalang kejutnya. Serambut dibelah tujuhpun
dia tak mengira, bahwa orang yang telah membebaskannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari kesukaran itu bukan lain ialah Ay-to-jin Goan Goan Cu, itu
kepala biara Siang Cing Kiong yang sudah menghilang hampir
duapuluhan tahun lamanya.
Tokoh yang mempunyai ikatan dengannya dan untuk
menyelesaikan itu dia (Siau Ih) siang malam mengharap-harap
dapat menjumpahi, kini secara tak disangka-sangka telah
muncul dihadapannya.
Begitu goncang perasaan Siau Ih, hingga sampai sekian
jenak dia tak dapat mengucap apa-apa. Kalbunya penuh
dengan beraneka ragam perasaan, budi, dendam, penasaran
…….
Adalah Tan Wan yang memperhatikan kerut wajah Siau Ih
kala itu, juga merasa heran. Pikirnya: „Aneh, dia itu. Terlepas
dari bahaya, seharusnya bergirang, tapi mengapa dia tampak
bergolak-golak warna mukanya ……”
Saat itu Goan Goan Cu sudah berputar tubuh. Wajahnya
yang kurus perok tapi mengandung perbawa itu, menampilkan
senyum ke arah kedua anak muda itu.
„Siapakah nama kalian ini dan menjadi anak murid siapa?
Mengapa sampai mengikat permusuhan dengan anak murid si
Li Ho!" tegurnya dengan nada ramah.
Berhadapan dengan seorang koay-hiap (tokoh aneh) yang
mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia persilatan, saat itu
mulut Tan Wan serasa terkancing. Tubuhnya agak mengisar,
lalu pelahan-lahan menarik lengan Siau Ih. Pikirnya biarlah
sang kawan itu yang me¬nyahutnya saja.
Tetapi ternyata Siau Ih pada saat itu seperti orang limbung.
Bagai patung tak bernyawa, dia terlongong-longong
memandang jauh ke sebelah muka.
Mata Goan Goan Cu yang tajam segera melihat keadaan
itu. Senyum yang menghias wajahnya tadi, serentak hilang
berganti dengan kerut yang kurang senang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tan Wan terkejut. Kuatir kalau terbit salah paham yang


dapat menimbulkan ‘salah urus’, buru-buru dia melangkah
maju lalu membungkukkan tubuh selaku memberi hormat.
„Wanpwe Tan Wan dan ini sahabat Siau Ih …….”
Belum lagi dia dapat menyelesaikan kata-katanya, Siau Ih
sudah lantas tampil ke muka. Dengan mata berkilat dan wajah
menampil duka-marah, berserulah dia dengan nada getar:
„Idzinkanlah wanpwe lebih dahulu menghaturkan dosa dan
terima kasih atas pertolongan locianpwe!" Serta merta dia
membungkukkan tubuh hingga mengenai tanah.
Sikap anak muda itu telah membuat Goan Goan Cu
terkesiap. Ujarnya dengan heran: „Pinto baru pertama kali ini
berjumpa, pertolongan apa yang telah kuberikan? Tapi menilik
sahabat kecil tadi mengatakan hendak menghaturkan dosa,
tentu masih ada keterangan selanjutnya lagi.”
Siau Ih mendongak tertawa panjang.
„Locianpwe sungguh bijaksana!" serunya dengan nyaring.
Keheranan Goan Goan Cu makin menjadi-jadi.
„Kalau benar begitu, pinto bersedia mendengarkan,”
serunya dengan alis menjungkat.
Wajah Siau Ih membesi. Tiba-tiba menyurut mundur tiga
langkah, tangan kanan cepat sudah melolos pedang Thian-
coat-kiam.
Kemudian melintangkannya ke muka dada, berserulah dia
dengan nada berat: „Sebagai seorang sakti dunia yang
namanya tergolong dalam sepuluh Datuk, tentulah locianpwe
dapat mengenal pedang wanpwe ini!"
Merasa heran dengan ucapan anak muda itu, sepasang
mata Goan Goan Cu yang aneh itu berkilat memandang ke
arah pedang yang dicekal si anak muda. Selekas
pandangannya tertumbuk akan pedang yang memancarkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sinar hijau bening laksana air telaga namun memancarkan


perbawa yang menyeramkan itu, serentak tersurutlah Goan
Goan Cu ke belakang.
„Pernah apa kau dengan si Dewa Tertawa Bok Tong?"
tegurnya dengan wajah kaget.
Tubuh lurus, kepala tegak, menyahutlah Siau Ih: „Itulah
engkong wanpwe ………."
Goan Goan Cu, seorang imam yang sudah kuat semadhinya
hingga tak mudah terpengaruh perasaannya itu, namun mau
tak mau menjadi tersirap darahnya juga. Sepasang matanya
yang aneh itu, namun mau tak mau menjadi tersirap darahnya
juga. Sepasang matanya yang aneh itu, terbeliak.
„Jadi kau ……..”
„Wanpwe adalah Siau Ih!" tukas Siau Ih dengan melantang.
Ucapan itu telah membuat Goan Goan Cu menggigil
persendiannya. Menatap lekat-lekat, dia mengawasi anak
muda itu dari bawah sampai ke atas.
„Pernah apa kau dengan Siau Hong?" serunya beberapa
saat kemudian.
Seketika wajah Siau Ih mengerut duka dan gusar. Balas
mengawasi ke arah Goan Goan Cu, dia menyahut dengan
nyaring tetap: „Orang yang locianpwe katakan itu, adalah
mendiang ayahku!"
Tubuh Goan Goan Cu tampak tergetar, wajahnya berobah
sekali. Mundur lagi beberapa langkah, sepasang matanya tak
berkesip memandang ke arah si anak muda. Jelas walaupun
anak muda itu berusaha keras untuk berlaku tenang, namun
sepasang matanya tak kuasa menyembunyikan rasa kedukaan
dan kemarahannya.
Tan Wan yang melihat tegas keadaan kedua orang yang
bersikap aneh itu, menjadi bingung tak keruan sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kala itu sudah menjelang petang, cuaca mulai gelap.


Lautan api yang mengganas di dalam lembah itu masih terasa
panas membara.
Walaupun tertingkah oleh cahaya api marong, wajah Goan
Goan Cu masih tetap memucat. Perobahan yang mendadak
itu, telah menggoncangkan sanubarinya.
Siau Hong, murid kesayangan yang menjadi ahliwarisnya
itu, kini sudah mempunyai keturunan. Kematian Siau Hong
benar tersebab surat fitnah, namun adanya Siau Ih di dunia
ini, suatu bukti yang cukup berbicara.
Shin-tok Lan dan Siau Hong nyata sudah melanggar
kesusilaan.
Telah bertahun-tahun lamanya dia menyelidiki perkara itu
dan memang muridnya itu telah dicelakai orang, tapi siapa
yang melakukan, tetap belum jelas. Tuduhan berat memang
terjatuh pada diri Siao-sat-sin Li Hun-liong, tapi dikarenakan
belum ada bukti-bukti yang kuat, jadi diapun tak mau
sembarangan bertindak.
Tempo berjalan dengan cepatnya. Belasan tahun telah
lampau dan dunia persilatanpun sudah mulai melupakan hal
itu.
Namun selama peristiwa fitnah itu belum dibikin terang,
Goan Goan Cu tetap tak tenteram hatinya. Memandang ke
arah pemuda yang tegak dengan wajah penuh dendam duka
itu, pikirannya kembali terbayang akan adegan yang tragis di
biara tua di gunung Hoasan dahulu itu.
Sementara sang mata beralih memandang ke arah lautan
api di dalam selat lembah di belakangnya sana, tanpa terasa
mulutnya mengingau: „Anak murid Gan Li telah binasa secara
mengenaskan, lalu dihanguskan oleh api pula, ini ……..”
Wajah Goan Goan Cu tiba-tiba membayangkan kedukaan
hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengira imam itu terkenang akan sang ayah (Siau Hong),


Siau Ih pun seperti tersajat hatinya. Air mata yang tadi
sedapat kuasa ditahannya, kini berketes-ketes turun
membasahi leher bajunya.
Tiba-tiba terdengarlah suara "bum" yang keras, serangkum
angin panas meniup datang. Goan Goan Cu, Siau Ih dan Tan
Wan terkejut lalu loncat mundur.
Hutan yang tumbuh di belakang lembah itu telah dimakan
api. Sebatang demi sebatang, pohon-pohon sama berdebum-
debum jatuh. Asap bergulung-gulung tinggi membawa bunga
api yang berhamburan di udara.
Pemandangan itu telah menggugah lamunan Goan Goan
Cu, siapa lalu mendongak dan tertawa nyaring. Sebuah
tertawa yang melengking menembus ke atas awan.
Siau Ih tercekat dan cepat-cepat beraling ke arah Goan
Goan Cu. Didapatinya wajah imam tua itu membesi dan mata
berkilat-kilat tengah memandang kepadanya.
Suatu pandangan yang berarti hingga Siau Ih menyurut
setengah langkah lalu palingkan pedang ke muka dada.
„Apakah locianpwe hendak memberi pelajaran padaku?"
tanya Siau Ih.
Suatu pertanyaan yang sederhana, namun dalam telinga
Goan Goan Cu berlainan rasanya.
Sejenak agak tertegun, wajah Goan Goan Cu kembali gelap
dan dengan nada berat berseru: „Hal yang paling dijunjung
tinggi oleh kaum persilatan, ialah hubungan antara suhu dan
murid. Siau Hong adalah ahliwaris pinto satu-satunya. Kaupun
tadi membahasakan cianpwe padaku. Tapi kata-katamu itu
amat menusuk!"
Wajah Siau Ih pun berobah keras, sahutnya: „Apa yang
cianpwe ucapkan itu memang benar. Tapi rasanya wanpwe
sudah banyak menerima wejangan akan hal itu. Mendiang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ayahku karena menjunjung ajaran itu, telah bunuh diri dengan


penasaran. Kemudian akibatnya, almarhum mamaku pun mati
mereras, wanpwe hidup sebatang kara. Kesemuanya itu,
adalah gara-gara dalil ‘hubungan suhu dan murid’ itu.
Karenanya, pandangan wanpwe mengenai ajaran itu, amat
berbeda. Cianpwe adalah seorang sakti dikolong jagad,
tentulah dapat memberi kuliah ajaran padaku!"
Rendah bahasanya, namun telinga Goan Goan Cu seperti
ditusuk-tusuk jarum. Wajah berobah, sejenak dia diam
terpaku. Pada lain saat, tiba-tiba dia kedengaran menghela
napas.
„Sudahlah! Walaupun kau tak menghormat pinto, tapi rasa
kesayangan itu tak dapat kehilangan sumbernya. Apalagi kau
bukan segolonganku, jadi tak dapat mempersalahkanmu.
Bagaimanapun perkembangannya nanti, pinto tetap berusaha
ke arah kebaikan!"
Siau Ih membungkukkan tubuh, berseru lantang: ,,Atas
budi kecintaan cianpwe, wanpwe menjunjung tinggi. Apabila
nantinya memang ternyata mendiang ayahku itu berdosa,
wanpwe rela memikulnya!"
Goan Goan Cu tertawa rawan, ujarnya: „Hukum keadilan
itu hanyalah berlaku pada manusia yang masih hidup. Semoga
Tuhan meridhoi agar perkara dendam penasaran ini dapat
diselesaikan sebagaimana mestinya. Hitam putihnya, kelak
pasti akan ketahuan. Rasanya sang waktupun tak lama lagi
…….”
Berkata sampai disini, tiba-tiba Goan Goan Cu terhenti, lalu
bertanya: „Menilik kau mengambil jalan sini, rasanya tentu
akan menuju ke Tiam-jong-san, bukan?"
Siau Ih mengiakan.
„Bila menghadap kakekmu nanti, sampaikan padanya,
jangan lupa peristiwa di Siang Ceng Kiong tempo hari. Pinto
takkan mengecewakan orang dan tak mau dibikin kecewa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang. Tak lama lagi, pinto tentu akan menemuinya untuk


mengakhiri segala budi dendam. Nah, cukup sekian, mudah-
mudahan kita masing-masing selalu selamat!"
Tanpa menunggu penyahutan Siau Ih, sekali kibaskan
lengan baju, ketua biara Siang Ceng Kiong itu sudah ayunkan
tubuh menghilang dalam kegelapan.
Siau Ih terlongong-longong dilamun berbagai perasaan.
Meniupnya angin malam, telah membuat Tan Wan yang
sedari tadi terlongong mengawasi saja, menjadi tersadar. Jelas
baginya kini, bahwa antara Siau Ih dengan Goan Goan Cu
tadi, terdapat hubungan budi dan dendam yang berliku-liku.
Kini terhadap pribadi dan keperwiraan penolongnya (Siau Ih)
itu, dia makin mengindahkan sekali.
„Siau-heng, Goan Goan Totiang sudah pergi!" bisiknya
seraya menghampiri dan menepuk bahu anak muda itu.
Siau Ih menghela napas dalam. Pelahan-lahan dia
palingkan kepala: „Bertahun-tahun diharap, sekali bertemu,
hanya menambah kedukaan saja …….”
„Segala apa harus diterima dengan lapang hati, jangan
keliwat dipikir susah-susah," Tan Wan menghiburnya.
„Untuk urusan lainnya, memang tepat begitu. Tapi
terhadap dendam ayah bunda, bagaimana aku dapat
melupakan?" Siau Ih menghela napas.
„Sejak Siau-heng menolong jiwaku, sampai sekarang
apabila kulihat Siau-heng termenung, walaupun aku turut
prihatin tapi tak berani membuka mulut. Tadi setelah Goan
Goan Cu muncul, barulah sedikit banyak siaote mengetahui
keadaan Siau-heng. Yang dikata sahabat sejati itu, adalah
susah-senang dibagi bersama. Oleh karena Siau-heng sudah
sudi menerima penghambaan siaote, maka sudilah kiranya
juga membagi kesusahan hati pada siaote!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat kesungguhan hati pemuda itu, tergeraklah hati Siau


Ih. Kemudian diapun tak segan lagi menuturkan riwajat
hidupnya dan sakit hati ayah bundanya yang kini belum juga
dapat terhimpas itu.
„Adanya aku hendak pergi ke Tiam-jong-san itu, pertama
hendak menyambangi kuburan mamaku dan kedua kalinya
hendak menghadap pada engkong guna minta petunjuk untuk
menyelidiki jejak musuh," katanya.
Tan Wan tampak merenung sejenak, lalu bertanya: „Tadi
Goan Goan Totiang pun mengatakan bahwa engkong Siau-
heng itu tinggal di Tiam-jong-san. Apakah beliau itu bukannya
tokoh terkemuka dari sepuluh Datuk Shin-tok locianpwe itu?"
Siau Ih mengiakan.
Tan Wan menyatakan kegirangannya dapat ikut serta
menghadap tokoh yang amat dikaguminya itu.
Siau Ih menerangkan bahwa dia sendiripun baru pertama
kali itu hendak menyumpai engkongnya. Kemudian ajak
kawannya itu segera meneruskan perjalanan. Sembari
berjalan, dapatlah pembicaraan itu disambung lagi.
Tapi Tan Wan segera mengingatkan bahwa kuda mereka
masih berada dalam lembah sana.
Tampak bagaimana selat lembah itu masih menyala api dan
banyak ular-ular berbisa yang berserabutan lari
menyelamatkan diri.
Siau Ih menghela napas: „Rasanya kuda kita tak dapat
tertolong lagi, apa boleh buat, kita tinggalkan sajalah!”
Begitulah dengan gunakan ilmu berjalan cepatnya,
keduanya segera lari melintasi pegunungan Lou-san itu.
Sekeluarnya dari pegunungan itu, haripun sudah menjelang
terang tanah, petani sudah mulai turun ke sawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk jangan membuat orang kaget, terpaksa Siau Ih dan


Tan Wan berjalan biasa. Kira-kira berjalan belasan
disepanjang jalan besar, tibalah keduanya disebuah kota kecil.
Sekalipun terletak ditempat yang mencil, kota pedalaman
itu cukup ramai. Keduanya mencari hotel. Setelah dahar dan
membeli dua ekor kuda lengkap dengan rangsum kering,
sorenya mereka lanjutkan perjalanan lagi.
Dalam perjalanan itu mereka cukup menikmati
pemandangan alam yang menghibur hati. Dan singkatnya
saja, setelah belasan hari menempuh perjalanan, gunung
Tiam-jong-san yang membujur seluas tigaratusan li ditengah
propinsi Hunlam, sudah tampak di depan mata.
Kedua anak muda itu keprak kudanya cepat-cepat.
Menjelang petang, tibalah mereka di kota Tay-li-koan. Disini
mereka menginap semalam.
Keesokan harinya, karena tak leluasa mendaki gunung
dengan berkuda, kedua ekor kuda mereka titipkan di hotel.
Oleh karena ingin lekas-lekas menyambangi kuburan ibunya,
maka begitu berada di luar kota yang sepi, Siau Ih segera
gunakan ilmu berlari cepat.
Kota Tay-li-koan tak berapa jauh dari Tiam-jong-san, maka
tak berapa lama kemudian, mereka sudah berada dikaki
gunung itu. Sewaktu mendaki ke atas, ternyata gunung itu
menjulang tinggi dengan megahnya, alam pemandangan
indah permai berhiaskan hutan belantara yang lebat.
Si Dewa Tertawa telah memberikan keterangan jelas letak
tempat kediaman si Rase Kumala, tapi karena terburu-buru
dan berat merasakan akan berpisah, Siau Ih sudah tak
menanyakan jelas. Kini dihadapi dengan keadaan pegunungan
yang membentang luas, penuh dengan hutan belantara itu,
dia terpaksa tertegun.
Waktu Tan Wan menyusul datang, dia lantas menanyakan
apa sebab sang kawan berhenti disitu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ah, waktu turun gunung aku sudah tak menanyakan jelas


letak lembah Liu-hun-hiap kepada engkong luar. Untuk
mencari sebuah tempat pada gunung seluas begini, mungkin
tiga hari tiga malam belum tentu bertemu!” kata Siau Ih.
Tan Wan menyatakan bahwa sesuai dengan namanya,
tentulah si Rase Kumala itu berdiam disebuah lembah yang
terpencil. Asal dicari tentu ketemu.
Siau Ih mengiakan dan segera ajak kawannya menyusup ke
daerah pedalaman gunung. Namun setelah tiba jauh
dipedalaman, tetap mereka belum menemukan lembah itu.
Untuk melepaskan kekesalan hatinya, Siau Ih bersuit panjang.
Nadanya berkumandang jauh diempat penjuru. Jauh
memandang ke barisan puncak dan saluran air yang
membentang malang melintang. Siau Ih menghela napas
panjang.
„Sejauh mata memandang hanya barisan gunung yang
tampak, ah, dimanakah rumahku ………?”
Tan Wan ikut berduka dan menghiburi sang kawan.
Begitulah kedua anak muda itu, sesaat sama tegak terpaku
di atas sebuah karang buntu. Jauh disebelah bawah,
terbentang jurang yang cu¬ram.
Tiba-tiba terkilas sesuatu pada pikiran Tan Wan.
„Siau-heng, telah siaote katakan tadi bahwa karena tempat
kediaman Shin-tok locianpwe itu disebut lembah, tentulah
disitu terdapat gunung dan air. Tempat kita ini sebuah karang
yang tinggi, dan di bawahnya terdapat aliran air, jangan-
jangan inilah Liu-hun-hiap!"
Namun Siau Ih hanya tersenyum getir dan menyatakan
bahwa Liu-hun-hiap adalah sebuah tempat kedewaan yang
indah, bukan serawan seperti ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun Tan Wan tetap membantahnya. Tempat kediaman


tokoh seperti si Rase Kumala, tentulah memilih yang sepi dan
tenteram.
„Apa yang Tan-heng katakan itu memang benar. Namun
sungai jurang itu amat lebar sekali, sekalipun engkong
memiliki kepandaian sakti, rasanya sukar juga untuk
melompatinya ……”
„Tempat ini benar berbahaya, tapi sangat luas. Kalau kita
menyelidiki, mungkin ada sesuatu jalan," tukas Tan Wan
seraya menarik lengan Siau Ih diajak berjalan kesebelah kiri.
Setelah berjalan entah berapa lama, tiba-tiba Tan Wan
berseru: „Siau-heng, tu lihatlah!”
Dengan berdebar-debar Siau Ih memandang ke muka.
Pada tepi karang yang terpisah lima tombak jauhnya, tampak
ada seutas rantai besi yang sebesar telur itik. Rantai itu
menyambung sampai ke karang sebelah sana. Kedua ujung
rantai itu, dipaku pada karang.
Rantai itu tergantung di atas sungai jurang, bergontaian
kian kemari. Girang Siau Ih bukan kepalang.
Ternyata rantai itu basah dengan embun, jadi licin sekali.
Kembali Siau Ih mengerut alis berkata: „Kedua tepi karang
ini terpisah begitu jauh dan rantai ini amat licinnya. Sekali
terlepas, orang pasti akan jadi tahi-udang di dalam jurang
…...”
Siau Ih terhening, memandang terkesiap pada Tan Wan.
Yang tersebut belakangan ini mengerti apa yang dipikirkan
Siau Ih. Dia tersenyum: „Harap Siau-heng jangan kuatirkan
diri siaote. Suhuku bergelar sin-seng-bu-ing (malaekat tanpa
bayangan). Siaote mendapat julukan Liok-ci-sin-bi. Bi adalah
sejenis kera, jadi amat tangkas. Jalan yang tampak berbahaya
itu, rasanya takkan mempersulit siaote!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih tertawa dan minta maaf, lalu menyatakan hendak


menyeberang lebih dahulu. Sekali loncat sampai tiga tombak
tingginya, dia melayang turun di atas jembatan rantai itu.
Begitu ujung kaki menginjak rantai, dengan bantuan
gerakan sepasang lengan, dia melayang turun di atas rantai.
Empat lima kali loncatan, dapatlah dia diseberang karang
sana.
Itulah ilmu ginkang it-wi-tok-kiang atau sebatang rumput
alang-alang menyeberang sungai.
Diam-diam Tan Wan memuji dan malu dihati sendiri. Dia
tak berani berbuat semacam itu dan menggunakan cara lain.
Dengan sepasang tangan memegang rantai, dia merayap
ke muka. Sekalipun begitu, cukup cepat juga jalannya, persis
seperti laku kera bergelantungan.
Begitu tiba didekat tepi sana, sekali gunakan jurus ki-lun-
to-hoan atau roda berputar terbalik, dia ayunkan tubuh loncat
ke atas karang. Keringatnya berketes-ketes turun di dahi,
dadanya berkembang kempis.
„Hai, Tan-heng, caramu melintasi itu sungguh
mendebarkan sekali," kata Siau Ih.
Tan Wan mengusap keringatnya, lalu menyambut dengan
masih tersengal-sengal: „Ah, siaote tak mengira kalau rantai
itu begitu licinnya. Ketika tiba ditengah, hampir saja aku
terlepas jatuh ke bawah.”
Selanjutnya jalanan yang mereka tempuh ialah šebuah
jalan kecil. Sekira tigapuluhan tombak jauhnya, pada karang di
sebelah atas, tampak seutas jalan kecil, jadi nyata jalan kecil
itu menyusur ke atas panjang sekali.
Tiba-tiba dari karang yang tak seberapa jauh disebelah atas
sana, terdengar sebuah suara nyaring: „Besar sekali nyalimu
berani mengaduk ke Liu-hun-hiap!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar itu Siau Ih amat girang. Belum lagi dia


menyahut, sesosok bayangan sudah muncul beberapa meter
disebelah mukanya.
Seorang pemuda kira-kira berumur 26-27 tahun tegak
berdiri menghadang. Pemuda itu mengenakan baju dan celana
pendek warna hijau, alis tebal mata bundar. Dadanya lebar
kokoh, tegak bercekak pinggang.
Siau Ih buru-buru menghampiri maju dan memberi hormat,
serunya: „Mohon saudara sudi menyampaikan, bahwa anak
piatu dari orang she Siau hendak mohon menghadap."
Diambilnya sepucuk surat pemberian si Dewa Tertawa serta
batu Kumala yang pernah diberikan Siau Hong kepada Shin-
tok Lan selaku panjar kawin tempo dahulu. Kedua benda itu
diberikan kepada pemuda tadi.
Pemuda itu terkejut juga mendengar kata-kata ‘anak piatu
dari orang she Siau’ tadi. Dan demi melihat kedua barang
yang diangsurkan Siau Ih, dia makin terkesiap memandang
Siau Ih.
Akhirnya berselang beberapa jenak kemudian, barulah
pemuda itu menyambuti surat dan kumala, katanya sambil
mengangguk: „Sudah duapuluhan tahun majikanku tak pernah
menerima barang seorang tamu, tetapi .......
Dia terhening sejenak, memandang Siau Ih lalu berkata
pula: „Harap tuan berdua tunggu sebentar, aku hendak
melaporkan dulu!"
Dengan tangkasnya, orang itu sudah lantas lari pergi.
Siau Ih dan Tan Wan kagum melihat kegesitan pemuda itu.
Sepeminum teh lamanya, pemuda itu masih belum kembali.
Siau Ih gelisah dan baru saja dia hendak mengatakan sesuatu
pada Tan Wan, tiba-tiba pemuda baju hijau sudah muncul.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Majikanku mempersilahkan tuan berdua datang


bersamaku,” kata pemuda itu sembari terus berjalan lebih
dahulu.
Siau Ih dan Tan Wan dengan girang segera mengikut.
Ternyata jalan kecil itu amatlah panjangnya. Seratusan
tombak jauhnya masih belum habis, bahkan jalan itu makin
lama makin sempit dan suasananyapun makin lelap sunyi.
Menampak bahwa pada kedua tepi karang yang menjulang
tinggi itu tiada tumbuh barang sebatang rumputpun, diam-
diam Siau Ih heran. Teringat dia bagaimana tempo hari si
Dewa Tertawa mengatakan bahwa alam pemandangan di
lembah Liu-hun-hiap itu indah laksana tempat dewa.
Tiba-tiba pemuda penunjuk jalan itu membiluk disebuah
tikungan diikuti Siau Ih dan Tan Wan dengan tergopoh-gopoh.
Baru kedua pemuda itu membiluk dan mengawasi ke muka,
dilihatnya pemuda penunjuk jalan tadi sudah berdiri sambil
bersenyum di muka pintu sebuah pondok.
Ketika menghampiri datang, Siau Ih dan Tan Wan baru
mengetahui bahwa pintunya itu terbuat dari batu, lebarnya
lebih dari setombak. Pintu itu didirikan menyandar pada
karang. Di atas pintu itu terukir beberapa lukisan burung dan
bunga. Ukirannya amat indah, tampak seperti hidup. Di
pinggir pintu itu terdapat ukiran sajak:
Tempat keramat kediaman dewa di Tiam-jong-san.
Liu-hun-hiap tempat bahagia yang menembus nirwana.
Siau Ih dan Tan Wan, mempunyai kesan yang sama.
Sekalipun huruf-huruf itu hanya empat, ah, namun cukup
menggambar betapa tinggi angkuh sang penulisnya.
---ooo0dw0ooo---
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

19. Si Rase Kumala


Ketika pemuda penunjuk jalan itu menekan dengan jarinya,
kedua buah daun pintu batu yang berat itu terbuka pelahan-
lahan. Begitu masuk, Siau Ih dan Tan Wan segera tertumbuk
dengan cahaya terang.
Sebuah padang yang subur dengan rumput dan bunga
beraneka warna, terbentang dihadapan. Angin mendesir,
bunga berlomba-lomba mengadu kecantikan, batang bambu
berbaris dengan daunnya yang rindang. Di bawah tempat
yang teduh, samar-samar tertampak sebuah pondok.
Sampai pada detik itu, barulah Siau Ih percaya apa yang
diucapkan si Dewa Tertawa dahulu. Keindahan selat Liu-hun-
hiap itu benar-benar seperti sebuah lukisan.
Siau Ih yakin itulah Kam-jui-suan, pondok tempat
pertapaan enkongnya Iuar si Rase Kumala Shin-tok Kek.
Membayangkan bagaimana sebentar lagi dia bakal berjumpa
dengan engkongnya yang belum pernah dilihatnya itu, hati
Siau Ih berdebar keras.
Sepintas terbayanglah dia akan makam almarhum
mamanya. Sesaat tertegun, dia termangu-mangu seperti
terpaku di tanah.
Juga Tan Wan pun tak luput dari kegoncangan hati. Betapa
tidak? Sejenak lagi dia bakal berhadapan muka dengan tokoh
termasyhur yang memiliki kepandaian sakti dan berperangai
aneh. Bagaimana sikap tokoh yang menggetarkan dunia
persilatan itu?
Tampak kedua pemuda itu tertegun mengandung
kesangsian, tertawalah penunjuk jalan tadi, serunya:
„Majikanku tengah menunggu, harap kalian berdua ikut
padaku.”
Teguran itu telah membuat Siau lh berdua tersadar, buru-
buru dia menghaturkan terima kasih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikianlah mereka bertiga berjalan pula dengan


cepatnya. Setelah melalui padang bunga yang semerbak,
mereka segera tiba di muka sebuah pondok yang bersih.
Pondok itu terdiri dari lima buah ruangan besar kecil,
sederhana tapi cukup terawat resik. Pada pintu yang tertutup
tirai, di atasnya tergantung sebuah papan besar bertuliskan
tiga buah huruf
"Kam Jui Sian"
Di kedua samping pintu terdapat sepasang sajak dari
bambu, berbunyi demikian:
Bebas dari kemilikan, lepas tiada terikat, adalah laksana
salju cair di api air tertimpa matahari.
Pandangan mata yang lepas, hati nan bebas, setiap waktu
dapat menikmatl bayangan langit dipermukaan air.
Melihat itu, diam-diam Siau Ih membatin bahwa sekalipun
engkongnya itu tinggal mengasingkan diri, namun merasa
bebas lepas dari urusan duniawi. Menandakan bahwa si Rase
Kumala itu seorang pemuja keindahan hidup bebas.
Tiba di muka pondok, tiba-tiba tirai itu tersingkap dan
muncullah pula seorang pemuda bercelana pendek warna
hijau memberi hormat kepada Siau Ih berdua, ujarnya:
„Majikan kami mempersilahkan kongcu berdua masuk."
Pemuda pertama yang menjadi penunjuk jalan tadipun
segera menjajari kawannya yang baru muncul itu, tegak
berdiri di kanan kiri pintu sambil menyingkap tirai.
Setelah mengucap terima masih, Siau Ih ajak Tan Wan
melangkah masuk. Di dalam ruangan itu, terdapat sepasang
pintu angin terbuat dari batu marmer putih berlukiskan
pemandangan alam.
Dibalik pintu angin itu, terdapat sebuah ruangan yang
indah. Meja kursi di itu, terbuat daripada batu kumala hijau.
Beberapa buah lukisan pelukis ternama, menghias dinding.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebuah tempat perapian dan tempat alat minum dan lain-lain


benda yang antik (kuno). Ruangan itu dipisahkan menjadi dua
oleh sebuah tirai berukirkan lukisan bunga.
Siau Ih dan Tan Wan masuk ke dalam lagi. Ruangan disitu
lebih menyengsamkan lagi. Sebuah meja yang terbuat dari
jalinan akar pohon yang berumur seratusan tahun, dengan di
atasnya terdapat sebuah alat khim dan empat sudut kamarnya
berjajar beberapa pohon bunga yang aneh. Sederhana
sekalipun hiasannya, namun ruangan yang cukup sedang
besarnya itu, menjadi sebuah tempat yang tenteram suci.
Di dekat dinding terbentang sebuah tempat duduk dari
kayu mahoni yang bertutupkan selembar tikar dari anyaman
jenggot naga. Disitu tengah duduk seorang yang berwajah
agung. Dilihat dandanannya, dia itu mirip dengan orang
terpelajar, usianya disekitar empatpuluhan tahun. Dia tengah
memegang sepucuk surat dan sebuah kumala, wajahnya
merenung dalam.
Walaupun belum pernah bertemu muka, tapi sepintas
pandang dapatlah Siau Ih menduga bahwa orang itu tentu
engkongnya sendiri. Melangkah maju ke muka tempat duduk,
dia menjurah memberi hormat, ujarnya: „Cucu luar Siau Ih,
mengunjuk hormat pada engkong!"
Memang orang terpelajar itu bukan lain ialah orang tua
yang telah kehilangan puterinya, kemudian mengasingkan diri
me¬yakinkan sin-kang (ilmu sakti), si Rase Kumala Shin-tok
Kek. Pelahan-lahan tampak tokoh itu mengangkat kepala
sepasang matanya yang memancarkan sinar penuh perbawa,
agak dibukanya.
Lebih dahulu memandang ke arah Tan Wan yang tengah
berlutut disamping pintu, baru kemudian mengalihkan
pandangannya ke arah Siau Ih, lalu berkata dengan nada
berat: „Angkatlah kepalamu ke muka!"
Siau Ih mengiakan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demi dia mendongak, tampak si Rase Kumala


memandangnya lekat-lekat, dari ujung kaki sampai ke atas
kepala. Rupanya dia tengah mencari sesuatu pada anak muda
itu.
Beberapa jenak kemudian, dia tiba-tiba ulurkan tangannya
kanan yang halus mengelus-elus kepala Siau Ih. Ujarnya
dengan didahului helaan napas: „Anak mengganti ayah, itu
sudah sewajarnya. Kau mirip benar dengan Siau Hong."
Berkata sampai disini, sepasang alisnya yang melengkung
bagai batang pedang itu tampak agak menyungkat, lalu
katanya pula: „Apa maksudmu datang kemari?”
Beberapa butir air mata menitik dari pelapuk Siau Ih,
sahutnya dengan sayu: „Menghadap pada engkong, menebar
bunga dikuburan mama dan masih lagi …… dendam ayah
bunda yang harus dihimpaskan. Atas titah kakek Dewa
Tertawa, Ih-ji disuruh menghadap kepada engkong untuk
mohon petunjuk."
Mendengar kata itu, wajah si Rase Kumala agak berobah,
menampilkan rasa benci. Dengan menganggukkan kepala dia
berkata: „Puluhan tahun tetap tak melupakan, menandakan
bahwa kau mempunyai rasa bakti terhadap orang tua. Hanya
saja …..... sejak berpisah tempo dahulu, mengapa dia si Bok
Tong itu menyembunyikan diri. Pula, mengapa baru hari ini
dia mengatakan tentang dirimu."
Tak kurang rawannya, Siau Ih menjawab: „Kata kakek
karena peristiwa mamaku itulah maka dia malu menemui
engkong ……”
Belum lagi dia selesaikan kata-katanya, si Rase Kumala
sudah menukasnya dengan sebuah tertawa nyaring. Nada
ketawanya melengking menyusur atap.
Puas tertawa, berkatalah dia dengan nada geram: „Jika
benar dia mempunyai perasaan begitu, mengapa tak dulu-dulu
membunuh diri saja?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benar si Dewa Tertawa itu bukan orang tuanya sendiri,


namun karena diasuh dan dirawat berpuluh tahun, rasanya
kecintaan Siau Ih terhadap orang tua itu sudah sangat
mendalam. Mendengar engkongnya seperti menyesali
perbuatan si Dewa Tertawa. Siau Ih tidak puas.
„Apa yang terjadi tempo dahulu, baik jangan diungkat lagi.
Taruh kata beliau benar bersalah karena lalai melindungi
ibuku, tapi beliau orang tua itu sudah menebus dosanya.
Belasan tahun mengasing diri di pegunungan sepi, rela
melepas kewajibannya sebagai orang persilatan, rela pula
memikul beban sukar untuk merawat dan mengasuh seorang
anak piatu. Perbuatan itu rasanya sudah cukup untuk
membayar kedosaannya. Apalagi, masih beliau mengantarkan
jenazah mamaku ke Tiam-jong-san dan bersedia untuk
menerima hukuman. Mengapa beliau tak dulu-dulu
mengemukakan perihal diri Ih-ji, rasanya engkong tentu
maklum sendiri. Maafkan, Ih-ji hendak kelepasan omong.
Manusia itu bukan dewa, bagaimanapun juga sesekali tentu
takkan terluput dari kesalahan, engkong kau ………..”
Baru berkata sampai disini, tiba-tiba si Rase Kumala
memberi isyarat supaya Siau Ih berhenti bicara. Wajah tokoh
aneh ltu menampilkan kekerenan.
Siau Ih terkesima.
Sekonyong-konyong mata si Rase Kumala menyapu ke arah
Tan Wan. Mulutnya tampak bergerak-gerak seperti hendak
mengatakan sesuatu.
Tan Wan yang sejak masuk di ruangan itu terus berlutut di
belakang Siau Ih, kini buru-buru mengisut ke muka lalu
menganggukkan kepalanya berkata: „Wan-pwe Tan Wan
dengan hormat datang menghadap."
Siau Ih heran juga terhadap sikap engkongnya yang aneh
itu. Kuatir kalau terbit salah paham, buru-buru dia memberi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

penjelasan. Mendengar itu tampaknya si Rase Kumala berobah


tenang lalu menyuruh kedua pemuda itu berdiri.
Siau Ih dan Tan Wan lalu mengambil tempat duduk
disebelah itu.
Kembali si Rase Ktunala menatap ke arah Tan Wan dan
menanyakan siapakah suhu dari anak muda itu.
Dengan sikap menghormat sekali, Tan Wan menuturkan
asal usul dirinya.
Si Rase Kumala tampak mengangguk, ujarnya: „Melihat
sikapmu dan tulang-tulangmu amat bagus, rasanya dapat
digembleng. Asal dapat melatih diri dengan disiplin keras, hari
depanmu pasti gemilang."
Siau Ih longgar perasaannya dan turut bergirang atas rejeki
sang kawan yang di ‘sir’ (disukai) oleh engkongnya itu.
Sedangkan Tan Wan sudah lantas berbangkit dan menyatakan
kesediaannya dengan tetap: „Wanpwe dengan penuh ketaatan
sedia menerima kebaikan cianpwe dan berjanji akan belajar
sungguh-sungguh. Kelak wanpwe tentu tak bakal
mengecewakan kebaikan cianpwe itu."
Si Rase Kumala bersenyum dan menyuruhnya duduk
kembali. Kemudian dengan wajah bersungguh dia berkata
kepada Siau Ih: „Kata-kata pembelaanmu untuk si Bok Tong
tadi, meskipun kedengarannya penuh dengan ikatan budi, tapi
mengandung sifat menentang!"
Sudah tentu kejut Siau Ih yang baru saja bergirang itu,
bukan kepalang. Buru-buru dia tundukkan kepala menyahut:
„Apa yang Ih-ji ucapkan tadi adalah keluar dari setulus hatiku.
Apabila engkong menganggap hal itu menentang, Ih-ji rela
terima kesalahan."
Sejenak menatap si anak muda, tiba-tiba wajah si Rase
Kumala menampil seri senyum, katanya: „Kau bersedia
menerima kesalahan, tapi tentunya kau tak mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah aku mempersalahkan kau atau tidak! Kukira kau tentu


sudah banyak mendengar tentang sepak terjang engkongmu
ini dahulu. Mungkin orang menganggap aku ini seorang yang
berhati dingin berwatak aneh tak mengenal budi kecintaan.
Tapi pada hakekatnya tidak begitu halnya. Benar setiap
tindakanku itu sepintas pandang hanya seperti menuruti
kepuasan hatiku saja. Namun sebenarnya setiap apa yang
kulakukan itu, telah kupertimbangkan masak-masak.
Kuadakan garis tajam mana budi mana dendam, tak nanti
kulalaikan cengli (nalar). Dan, ketahuilah bahwa aku ini
seorang yang paling menjunjung ikatan rasa kecintaan.
Ucapanmu tadi memang bersifat pembelaan, tapi keluar dari
hati sanubarimu. Manusia tetap takkan melupakan ikatan
kebaikan.”
Sampai disini, barulah membuktikan sendiri bahwa
engkongnya itu benar-benar seorang biasa dengan watak
yang luar biasa Kini tak berani lagi dia membantahnya.
Saat itu, mendadak si Rase Kumala angkat tangannya
memukul tiga kali dan masukkan kedua pemuda bercelana
pendek tadi.
„Inilah cucuku luar Siau Ih dan ini sahabatnya Tan Wan,"
katanya sembari menuding pada Siau Ih dan Tan Wan. Kedua
pemuda bercelana pendek itu tersipu-sipu memberi hormat
dan menyebut kongcu (tuan muda) pada Siau Ih berdua.
Kemudian si Rase Kumala memperkenalkan kedua
orangnya itu kepada Siau Ih berdua.
„Dia bernama Liong-ji." katanya sambil menunjuk kepada
pemuda berparas cakap, Liong-ji artinya si Naga.
Kemudian menuding ke arah pemuda yang bermata bundar
besar, beralis tebal dia berkata: „Dia bernama Hou-ji (si
Harimau). Sejak kecil mereka berdua ikut padaku. Karena
tiada berorang tua dan tiada mempunyai she, maka ikut aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

she Shin-tok. Kamu berdua boleh membahasakan Liong-ko


dan Hou-ko pada mereka!"
Berhenti sejenak merenung, berkata pula si Rase Kumala:
„Menyambangi kuburan orang tua, adalah kewajiban anak.
Nah, kini boleh kusuruh Liong-ji dan Hou-ji membawamu
kesana."
Berkata sampai disini, nada si Rase Kumala mengunjuk rasa
kekeluargaan.
Siau Ih berlinang-linang air matanya. Antara engkong
dengan cucu, telah terdapat perpaduan kalbu.
Tan Wan pun ikut terharu. Untuk menyimpangkan suasana
haru itu, dia buru-buru ajak Siau Ih untuk lekas-lekas ikut
pada si Liong dan si Hou.
Kira-kira sepeminum teh lamanya berjalan melalui
beberapa tikungan di belakang pondok Kam Jui Sian, tibalah
mereka berempat di sebuah hutan bunga. Dibilang hutan
bunga karena lapangan yang cukup luasnya itu penuh
ditumbuhi ratusan batang pohon tinggi yang tengah berbunga.
Warnanya biru muda, besarnya hampir menyerupai
mangkuk, sungguh suatu jenis bunga yang aneh. Bergontaian
dihembus angin, bunga itu menebarkan bau yang harum.
Ditengah hutan bunga itu, terdapat sebuah bungalow
(Pagoda kecil) yang terbuat dari batu marmar hijau, berpayon
atap biru. Shin-tok Liong dan Shin-tok Hou berbenti di muka
hutan.
Sementara dengan sepintas pandang, tahulah Siau Ih
bahwa bangunan indah itu tentulah makam ibunya. Tanpa
terasa air mata bercucuran membasahi kedua belah pipinya.
Setelah puas melepaskan kedukaannya, barulah dia
melangkah masuk menghampiri bangunan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benar juga ditengah ruangan itu, terdapat sebuah makam


dari batu marmar hijau. Di muka makam, terdapat sebuah
batu nisan bertuliskan:
‘Makam puteriku tercinta Lan-ji'
Tak dapat lagi Siau Ih membendung air matanya yang
membanjir turun. Segera dia masuk dan bertekuk lutut
menangis tersedu-sedu. Ratap tangis dihutan bunga nan sunyi
senyap itu, telah menimbulkan suatu suasana haru rawan.
Tan Wan, Shin-tok Liong dan Shin-tok Hou ikut-ikutan
menetes air mata.
Puas menangis, Siau Ih mencabut pedang thiat-coat-kiam.
Melintangkannya di dada, dia segera mengikrarkan
sumpahnya untuk membalas dendam ayah bunda.
Habis bersumpah, digunakannya pedang itu pada jari
tengah. Beberapa titik darah menetes di muka batu nisan.
Kemudian setelah bersujud dengan khidmatnya, barulah dia
berdiri.
Tan Wan segera memberi hormat.
Begitulah setelah agak lama mengelu-elu makam mendiang
ibunya, barulah Siau Ih dan kawan-kawan kembali ke pondok.
Karena berjumpa dengan cucu satu-satunya, waktu makan
siang, si Rase Kumala sengaja datang menemani. Untuk
pertama kali sejak kehilangan puteri kesayangannya, barulah
saat itu dia merasa gembira, namun pada lahirnya dia tetap
tenang.
Selama makan itu, disuruhnya Siau Ih menuturkan masa
kecilnya serta pengalamannya selama turun gunung itu.
Diam-diam si Rase Kumala puas akan pengorbanan si Dewa
Tertawa mendidik anak itu. Tapi demi mendengar sampai di
bagian Siau Ih bertemu dengan Goan Goan Cu, si Rase
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kumala menyela dengan kejutnya: „Masakah ia mandah saja


menerima kata-katamu yang menusuk hati itu?"
Merenung sejenak, Siau Ih menerangkan bahwa disaat
hendak pergi, kepala biara Siang Ceng Kiong itu titip omongan
padanya, kelak dia tetap akan menyelesaikan peristiwa di
Siang Ceng Kiong tempo dahulu.
Mendengar itu, si Rase Kumala tertawa dingin, ujarnya:
„Kematian mendiang ayahmu itu, terang dicelakai orang. Tapi
siapa durjana itu, hingga kini masih belum ketahuan. Justru
inilah yang menjadikan kita, angkatan tua, merasa malu. Kini
sudah berselang puluhan tahun, namun dia (Goan Goan Cu)
masih berlagak tinggi. Yang nyata biar bagaimana juga, dia
tak terluput dari kesalahan telah menghukum murid secara
sewenang-wenang. Selebihnya, apa yang diucapkan itu
hanyalah sebagai pelabi (alasan) menutup malunya saja.''
Sebenarnya saat itu, demi melihat wajah engkongnya
menampilkan dendam kemarahan, Siau Ih sudah lantas mau
minta petunjuk untuk rencana melakukan pembalasan.
Tapi kala itu, si Rase Kumala mempunyai pikiran lain.
Ditatapnya anak muda itu lekat-lekat.
„Ibumu adalah anak perempuanku tunggal, sementara kau
adalah satu-satunya darah dagingnya. Harapanku ialah
hendak menjadikan kau seorang manusia gemblengan. Kaum
muda di kalangan persilatan, walaupun lebih dahulu belajar
ilmu silat, tapi sekali-kali tak boleh meninggalkan ilmu sastera.
Kedua hal itu, harus dituntut bersama barulah dapat dikata
sempurna jasmaniah dan rokhaniah. Yang dibilang ilmu, ialah
ilmu silat dan ilmu sastera itu. Untuk mencapai kedua hal itu,
pertama-tama harus melatih watak pribadi. Hanya saja
membentuk kepribadian itu laksana menempa emas. Beratus
kali menempanya, barulah dapat sempurna.”
„Kau memiliki kecerdasan dan berbakat bagus. Apalagi
sejak kecil telah mendapat warisan seluruh kepandaian si Bok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tong. Ibarat pisau, makin tajam makin berbahaya kalau salah


yang menggunakan, kaupun demikian juga. Setelah memiliki
ilmu silat yang tinggi, haruslah membentuk kepribadian yang
kuat. Oleh karena itu, sejak hari ini kusuruh kau tinggal di
pondok Chui-hun-lou yang berada di belakang selat ini. Tiap
hari akan kuberimu pelajaran surat. Kuberi batas waktu satu
tahun, kalau selama itu kau mematuhi apa yang telah
kutetapkan itu, kelak seluruh kepandaianku akan kuberikan
semua padamu. Kemudian kauboleh turun gunung melakukan
pembalasan. Tapi ingat, selama setahun itu, kau hanya
diperbolehkan bergerak seluas sepuluh tombak di muka
pondok itu. Apabila berani melanggar, akan menerima
hukuman berat."
Siau Ih tak menyana sama sekali bahwa engkongnya
mengemukakan hal seperti itu. Benar engkongnya itu
mempunyai maksud baik, tapi dalam kebatinan Siau Ih
mengeluh. Masakah untuk membalas sakit hati orang tuanya,
dia harus belajar sastera sampai satu tahun lamanya.
Namun demi memperhatikan wajah sang engkong
mengerut keren, dia bercekat dalam hati. Tanpa terasa, dia
tundukkan kepala dan menelan kembali kata-kata yang
sedianya hendak diajukan.
Si Rase Kumala bukan bintang cemerlang dari sepuluh
Datuk, kalau dia tak dapat membaca hati cucunya itu.
„Apakah kau merasa enggan?" tanyanya dengan berat.
Dalam kejutnya Siau Ih buru-buru mendongak dan
menyahut lantang: „Ih-ji tak berani menentang, hanya ……..”
Dia berhenti sejenak, tapi ketika hendak melanjutkan lagi
dilihatnya wajah si Rase Kumala berobah membesi, sepasang
matanya membeliak. Dengan isyarat tangan, tokoh itu segera
menukas: „Karena tiada keberatan, baik jangan banyak
omong lagi!”
Habis itu, segera dia panggil Shin-tok Liong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bawalah adikmu Ih ini ke Jui-hun-lou sana. Selama satu


tahun, baik mengenai pelajaran yang kutetapkan dan makan
pakainya, kaulah yang mengurus. Tapi dia dilarang keluar
seluas sepuluh tombak dari pondoknya. Apabila berani
melanggar, aku akan minta pertanggungan jawab padamu,"
katanya.
Shin-tok Liong terkesiap. Dengan penuh keheranan dia
melirik ke arah Siau Ih, tapi baru saja dia berniat membuka
mulut, si Rase Kumala sudah mengisyaratkan supaya dia lekas
kerjakan apa yang diperintahnya itu.
Dengan agak mendongkol, Siau Ih berbangkit, katanya:
„Titah engkong itu, Ih-ji tak berani membantah, tapi …….”
„Apa isi hatimu, aku cukup mengerti. Benar sakit hati orang
tua itu, harus diutamakan. Tetapi ketahuilah, bahwa kematian
ayahmu itu mempunyai sebab-akibat yang berliku-liku. Dan
lagi orang orang yang tersangkut, bukan tokoh sembarangan.
Sekali terjadi penyelesaian, tentu akan menimbulkan
kegoncangan besar yang belum pernah terjadi di dunia
persilatan. Pun pihak lawan itu dapat menyimpan rahasia itu
sebaik-baiknya. Untuk menjaga gengsi, aku tak berani
bergerak sembarangan. Harus mempunyai rencana yang
cermat, baru boleh bertindak. Selamanya aku tak mau berbuat
kalau belum mempunyai pegangan yang meyakinkan. Tentang
bagaimana sifat seluk-beluknya itu, kelak kau pasti
mengetahui sendiri. Pendek kata, pasti tak membuatmu
kecewa ……."
Tiba-tiba dengan bergelora, Siau Ih menyela: „Pihak lawan
yang engkong maksudkan itu, tentulah durjana yang
mencelakai ayah. Menurut gejala pada masa terjadinya
peristiwa itu, apakah Siao-sat-sin Li Hun-liong tiada
tersangkut?"
Dengan penuh perhatian, Siau Ih menunggu jawaban yang
positif dari engkongnya. Tapi di luar dugaan, si Rase Kumala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tertawa dingin, serunya: „Bukti apa yang kau dapat


kemukakan bahwa Li Hun-liong yang melakukan hal itu?"
Pertanyaan itu telah membuat Siau Ih bungkam dalam
seribu bahasa. Sesaat kemudian kembali si Rase Kumala
menghela napas panjang.
„Aku tak mau main menyangka saja, tapi harus memiliki
bukti yang kuat, baru dapat menuduh positif. Kedua song-sat
itu bukan tokoh picisan, tentu mereka tak begitu saja mandah
melihat puteranya dicelakai orang. Dan taruh kata memang
berbukti anak itu yang berbuat, juga harus diselesaikan
dengan pertandingan jiwa. Belasan tahun aku menyikap diri
ditempat yang sepi sini, bukan berarti sudah melupakan
dendam itu. Sedianya tiga tahun lagi, aku hendak turun
gunung untuk yang kedua kalinya guna menghabiskan
dendaman itu. Kini sekall pun rencana itu masih belum
berobah, namun pelakunya terpaksa harus diganti. Tugas
berat itu, kini akan kuletakkan padamu. Ah, banyak bicara
kurang bermanfaat, kuharap kau dapat melatih diri baik-baik.”
Betapapun rongga dada Siau Ih penuh dengan seribu satu
pertanyaan, namun sikap engkongnya itu telah membuatnya
tak dapat berbuat apa-apa lagi. Setelah memberi hormat, dia
tinggalkan ruangan itu. Tiba di muka pintu, dia tertegun
sebentar memandang ke arah Tan Wan, kemudian berjalan
keluar mengikut Shin-tok Liong.
Tan Wan tergerak hatinya. Segera dia berbangkit dan
mengajukan permintaan pada si Rase Kumala agar diijinkan
mengawani Siau Ih.
Si Rase Kumala tak mau lekas-lekas menjawab, melainkan
menatap tajam-tajam ke arah pemuda itu.
„Tak usah, biar dia seorang diri saja. Dengan begitu,
mungkin dia akan lebih berhasil melatih diri. Ih-ji amat cerdas,
tapi kurang toleransinya. Benar setingkat lebih atas dengan
pemuda kebanyakan, tapi masih jauh sempurna dari pikiran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang bijak. Karena digembleng Bok Tong, dia tentu tergolong


jago kelas satu. Justeru inilah yang mempertebal sifat
kecongkakannya. Congkak mudah menjurus keganasan,
mudah menuruti kemauannya sendiri.”
„Hal itu telah kualami sendiri. Selama bertahun-tahun
menyepi ini, pikiranku makin sadar. Oleh karena itu, banyaklah
sudah terjadi perobahan pada watak perangaiku. Apa yang
telah berhasil kucapai itu, hendak kuajarkan pada orang lain.
Mungkin kau mengira bahwa aku keliwat tawar terhadap Ih-ji,
tapi pada, hakekatnya tidak demikian. Ingatlah akan
peribahasa yang mengatakan behwa, kalau tak digosok batu
kumala itu takkan jadi barang berharga. Apa yang kelak
dicapainya, pasti amat berguna baginya."
„Wanpwe tak berani menduga yang tidak-tidak," buru-buru
Tan Wan menyatakan.
„Ah, kau tentu belum yakin benar," tukas si Rase Kumala.
Diterka isi hatinya, wajah Tan Wan menjadi merah padam.
Dia tundukkan kepala tak berani bercuit.
Si Rase Kumala tertawa.
„Tak usah kau resahkan hal itu. Memang bagi siapa yang
sudah mempunyai penerangan batin, tentu mengerti ceng-li
(logika). Buktinya, Liong-ji sama sekali tak kaget mendengar
perintahku tadi. Setelah sadar akan maknanya, tentulah orang
tak menganggap aku buta perasaan," kata si Rase Kumala.
Rasa mengindahkan terhadap tokoh termasyhur dari
kalangan sepuluh Datuk itu, makin besar dalam hati Tan Wan.
Serta merta dia menghaturkan maaf terhadap si Rase Kumala.
„Manusia tak luput dari kesalahan. Yang penting, ialah
dapat memperbaiki kesalahan itu. Kau mempunyai tulang
bagus. Sementara akupun belum mendapatkan calon
ahliwaris. Puteriku satu-satunya, siang-siang sudah menutup
mata. Darah keturunanku yang semena-menanya hanyalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih seorang. Oleh karena itu, kubermaksud hendak


menggernblengmu!”
Mungkin pada saat itu, Tan Wan merasa dirinya sebagai
seorang yang paling berbahagia di atas bumi. Mengapa tidak?
Bagi orang persilatan, ilmu pelajaran silat merupakan benda
yang paling dihargakan. Bakal diangkat menjadi pewaris dari
tokoh semacam si Rase Kumala, siapa orangnya yang tidak
kegirangan setengah mati!
Namun Tan Wan bukan seorang yang mudah melupakan
budi. Terhadap suhunya yang dulu, dia belum berhasil
membalaskan sakit hati. Kalau dia sekarang berguru pada lain
orang, bukankah akan meninggalkan budi kebaikan gurunya
yang lama?
Tapi kalau saat itu dia menampik kebaikan si Rase Kumala,
mungkin dia akan menyesal seumur bidup. Ah, serba sulit. Tan
Wan tundukkan kepala tiada memberi pernyataan apa-apa.
Si Rase Kumala cukup mengetahui apa yang diresahkan
anak muda itu. Mengangguk dia dengan tersenyum simpul,
serunya: „Bukankah kau mengenangkan mendiang suhumu?”
Dengan suara rawan Tan Wan mengiakan.
„Minum air, mengenangkan sumbernya, berarti tak
melupakan asal-usulnya. Itulah suatu pertanda yang baik bagi
seorang murid. Sekali aku hendak menjadikan kau, tetap akan
menjadikan sampai sempurna. Begini sajalah. Anggap saja
kau ini menjadi anak angkat dari almarhum puteriku Shin-tok
Lan, dengan begitu berarti kau tak berguru pada lain
perguruan, sedang rencanaku pun tetap berjalan. Mengenai
upacara, kita nanti pilih hari baik!”
Tersipu-sipu Tan Wan berlutut dihadapan si Rase Kumala
untuk menghaturkan terima kasihnya. Girangnya bukan
kepalang. Si Rase Kumala segera suruh Shin-tok Liong
menyediakan tempat tinggal bagi Tan Wan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikianlah lembah Liu-hun-hiap yang belasan tahun hidup


cialam ketenangan, pada hari itu diliputi oleh suasana
kegirangan. Tan Wan tinggal di muka lembah, sementara Siau
Ih dibagian belakang pondok Jui-hun-lau.
---oo0dw0oo--

20. Kekecewaan Terhadap Engkong


Tempo berjalan amat cepat sekali. Rasanya hanya dalam
beberapa kejap saja dan sang musim rontok sudah
menyerahkan tugasnya pada musim dingin. Namun musim
dingin itupun tak kuasa mengganggu pemandangan indah
permai dari lembah Liu-hun-hiap.
Memang Siau Ih bergirang atas rejeki Tan Wan yang
diterima menjadi murid engkongnya itu. Tapi dia sendiri
sebaliknya merasa sebal memikirkan nasibnya.
Bagi seorang pemuda yang biasanya hidup dalam alam
kebebasan, tentu merasa jemu disekap dalam sebuah tahanan
berupa pondok Jui-hun-lou itu. Lebih-lebih pelajaran yang
diberikan oleh engkongnya itu, adalah terdiri dari pelajaran
kitab kerokhanian yang sukar ditelaah.
Ditambah pula Shin-tok Liong yang diwajibkan mengurus
kepentingannya itu, bersikap dingin sekali. Kecuali tiap hari
membersihkan ruangan pondok, menyediakan makanan dan
mengantarkan bahan pelajaran dari si Rase Kumala,
sepatahpun Shin-tok Liong itu tak mau ngajak Siau Ih bicara.
Bermula Siau Ih masih mengharap pemuda itu dapat diajak
bercakap-cakap barang sebentar untuk melepas kesepian, tapi
tiap kali dia membuka mulut, tentu Shin-tok Liong cepat-cepat
menyahut masih ada lain kerjaan atau dinanti oleh majikannya
si Rase Kumala. Lama kelamaan Siau Ih merasa bahwa
pemuda itu memang sengaja hendak menyingkir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah tentu dalam hal itu, karena di perintah oleh


engkongnya. Akhirnya Siau Ih pun tak mau menegur sapa lagi
kepada Shin-tok Liong. Dengan begitu rasa kesepiannya pun
makin besar.
Alam disekeliling pondok itu, sebenarnya indah bagaikan
sebuah lukisan. Tapi karena tiap hari memandangnya, jadi
diapun merasa bosan.
Baru dua tiga bulan berjalan, Siau Ih sudah merasa seperti
dua tiga tahun lamanya. Kesunyian itu hampir saja
membuatnya kalap. Beberapa kali dia mengandung pikiran
untuk menerobos kebagian depan dari lembah bahkan
meloloskan diri sekali, namun setiap kali terbayang akan
wajah engkongnya yang berwibawa itu, hatinya menjadi
gentar.
Berulang kali dia coba menekan perasaannya, namun sang
hati tetap berontak saja menginginkan kebebasan.
Pada hari itu, Siau Ih tengah berdiri di muka pondoknya.
Diam-diam dia memperhitungkan bahwa waktunya berjanji
bertemu dengan si Dewa Tertawa di gunung Ban-ke-san
sudah hampir tiba. Suatu hal yang membuatnya makin resah
gelisah.
Berjam-jam lamanya dia mondar-mandir dalam pondok
mencari pikiran. Benar dia menaruh perindahan besar
terhadap pribadi engkongnya itu, namun kecintaannya
terhadap si Dewa Tertawa sudah membekas dalam.
Ah, alangkah baiknya kalau ayah angkatnya di Dewa
Tertawa itu dapat berkunjung dipondok Jui-hun-lou itu.
Akhirnya dia mengambil putusan hendak menghadap engkong
untuk mengajukan suatu permohonan.
Dengan keputusan itu, barulah hatinya dapat tenang
kembali. Dihampirinya meja tulis lalu menulis beberapa patah
perkataan di atas secarik kertas. Tulisan itu berbunyi begini:
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Rambut putih bertebaran, bersandar dipintu menjelang


harapan. Pulang sudah anakku yang mengembara? Ah,
diempat penjuru masih tetap tenang."
Dimasukkannya surat itu dalam sampul. Kebetulan saat
itupun Shin-tok Liong datang mengantar makanan siang.
Buru-buru dia menyambuti kiriman itu sembari menghaturkan
terima kasih atas jerih payah orang.
Teguran itu telah membuat Shin-tok Liong terkesiap karena
sudah sebulan lebih Siau Ih tak berbicara padanya. Biasanya
pemuda itu (Siau Ih) bermuram durja, mengapa hari ini dia
tampak berseri wajahnya?
„Siaote hendak minta bantuan, entah apakah Liong-koko
sudi membantu?"
Kembali Shin-tok Liong terkesiap. Pertolongan apa yang
diminta oleh pemuda itu? Tak berani gegabah menyanggupi,
Shin-tok Liong hanya memandang ke arah Siau Ih sembari
mendengus.
„Apa yang siaote hendak mohon itu, bukanlah suatu yang
sukar, melainkan hendak minta Liong koko menyampaikan
surat ini kepada engkong," buru-buru Siau Ih menjelaskan.
Shin-tok Liong menghela napas longgar, lalu menyahut:
„Ah, tak jadi apa, tentu kukerjakan.
Begitulah setelah Siau Ih menerimakan suratnya, Shin-tok-
Liong pun segera berlalu. Sesore itu, Siau Ih menunggu
dengan hati berdebar. Biasanya menjelang magrib tentu Shin-
tok Liong datang menghantar makanan, tapi anehnya kala itu
dia tak kunjung muncul.
Siau Ih makin gelisah. Untunglah tak lama kemudian
tampak sesosok bayangan berkelebat tiba di muka pondok.
Baru Siau Ih hendak turun dari loteng, atau Shin-tok Liong
sudah muncul dihadapannya.
„Liong koko, apa kabar?” tanyanya dengan tergesa-gesa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan tertawa Shin-tok Liong mengeluarkan sepucuk


sampul dan diberikan kepada Siau Ih. Hati anak muda itu
makin berdebar keras. Begitu menerima sampul, dia tak mau
lekas-lekas membuka melainkan menatap lekat pada Shin-tok
Liong.
Rupanya Shin-tok Liong mengerti apa yang dimaukan
pemuda itu. Buru-buru dia menerangkan bahwa dia tak
mengetahui apa isi surat dari majikannya itu.
Dengan berdebar-debar, Siau Ih membuka sampul.
Selembar surat warna biru muda, bertuliskan perkataan
sebagai berikut:
„Selama tiga bulan kau belajar, ternyata tidak mendapat
suatu apa. Setiap hari pikiranmu melamun, apakah sebabnya?
Telah kusuruh Hou-ji mencari Bok Tong, dalam waktu singkat
tentu akan dapat bertemu padamu. Jangan keliwat dipikirkan.
Adanya kusuruh kau belajar, ialah supaya kau dapat
melatih watak pribadian, otak terang pikiran tenang. Jangan
suka melamun, jangan meraikirkan yang tidak-tidak. Disitulah
kau baru dapat berhasil.
Demikianlah permintaanku. Camkan benar-benar."
Walaupun bakal berjumpa dengan ayahnya angkat si Dewa
Tertawa, namun Siau Ih masih belum puas karena dendam
ayah bundanya belum diketahui bilamana akan diusahakan.
„Kutahu bahwa engkong bermaksud baik terhadap diriku
tapi mengapa soal itu tidak dijalankan saja setelah nanti
pembalasan sakit hati ayah bunda itu selesai? Dengan cara
begini, apakah engkong itu tidak keliwat dingin terhadap
diriku?" ujarnya dengan geram.
Shin-tok Liong menaruh simpati terhadap pemuda itu,
namun karena sudah diperintah oleh majikannya, diapun tak
dapat berbuat apa-apa. Beberapa saat kemudian, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tinggalkan pondok itu lagi. Lama Siau Ih berdiri tertegun


seorang diri.
Tiba-tiba dia mendapat pikiran, ujarnya sendiri: „Dendam
ayah bunda adalah suatu kewajiban besar. Dengan
memerintahkan begini, entah bilamana engkong dapat
menyelesaikan pembalasan sakit hati itu. Dari pembicaraannya
tempo hari, nyata engkong juga menaruh dendam terhadap
kedua Song-sat itu. Juga dalam penyelidikan masa itu, terang
Siao-sat-sin Li Hun-liong itu tak terlepas dari dakwaan.
Engkong menghendaki bukti yang kuat baru mau bertindak.
Ah, mengapa aku tak mau nyerempet bahaya sedikit,
tinggalkan tempat ini untuk melakukan penyelidikan. Asal
berhasil menemukan bukti, biar engkong memarahi, tapi
rasanya aku sudah dapat menunaikan kewajibanku sebagai
anak terhadap orang tua …….”
Namun pada lain kilas, dia berpikir sendiri: „Rencana tadi
memang bagus, tapi bagaimana caraku untuk menerobos dari
pintu batu selat Liu-hun-hiap itu? Bukankah pintu itu dijaga
oleh Liong koko ……”
Kembali Siau Ih gelisah hatinya. Beberapa kali dia naik
turun loteng memikirkan daya yang sempurna, namun sia-sia
jua. Baru ketika menjelang jauh malam, dia mendapat
ketetapan hati.
„Dalam surat tadi engkong mengatakan kalau Hou koko
tengah menuju ke Ban-ke-san, jadi yang menjaga pintu selat
hanyalah Liong koko seorang. Tadi kuperhatikan dia agak
menaruh simpati padaku, ah, asal aku dapat mengomonginya
……….”
Memikir sampai disini, kembali hatinya bergoncang keras.
Teori sih bagus, tapi bagaimana kenyataannya nanti,
wallahualam.
Keesokan harinya, dia menunggu kedatangan Shin-tok
Liong dengan penuh harapan. Begitu pemuda itu mengantar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makanan, Siau Ih segera menuturkan hasratnya. Begitu


meluap rangsangan hatinya itu, hingga tak kuasa lagi dia
menahan kucuran air matanya.
Shin-tok Liong seorang pemuda yang cerdas dan mendapat
gemblengan dari si Rase Kumala. Tapi dikarenakan dia tak
pernah turun gunung, jadi hatinya masih jujur, tak kenal akan
kepalsuan dunia. Tergerak hatinya melihat penderitaan Siau
Ih. Diam-diam diapun menganggap perbuatan majikannya (si
Rase Kumala) itu kelewat bengis terhadap cucunya sendiri.
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya dipandangnya
wajah anak muda yang basah dengan air mata itu.
„Baiklah, biar bagaimana aku sedia membantu hiante.
Segala kesalahan, aku yang menanggung. Tapi Hou-te sudah
mencari Bok-lo-sian-ong dan tak lama lagi, beliau tentu sudah
tiba kemari. Kalau hiante pergi terlalu lama, tentu akan dibuat
pikiran oleh kedua cianpwe itu," kata Shin-tok Liong dengan
nada tetap.
Mendengar itu serta merta Siau Ih memberi hormat selaku
terima kasihnya.
„Ih hiante, ketahuilah apa sebabnya aku suka memberi
bantuan padamu. Pertama, aku ketarik akan rasa baktimu
terhadap orang tua. Kedua, semasa hidupnya bibi Lan itu
memperlakukan kami baik sekali. Adalah demi untuk
kepentingan mendiang, aku hendak membalas budi. Ai, bila
kau hendak berangkat?"
„Kupikir malam nanti juga,” sahut Siau Ih.
Shin-tok Liong mengiakan dan menyatakan supaya anak
muda itu berhati-hati dan lekas-lekas pulang kembali. Setelah
itu, dia ngeloyor pergi lagi.
Saking girang mendapat kesanggupan itu, Siau Ih sampai
mengucurkan air mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitulah ketika malam tiba, dengan melalui jendela, dia


loncat turun terus lari keluar menuju ke mulut lembah. Ketika
tiba didekat pondok Kiam Jui Suan, dilihatnya ruangan pondok
itu masih terang lampunya, lapat-lapat kedengaran suara sang
engkong menerangkan suatu pelajaran pada Tan Wan.
Siau Ih tak berani berayal, pun jeri untuk menerbitkan
sesuatu suara yang menimbulkan kecurigaan engkongnya.
Dengan berindap-indap, dia menyusup ke dalam semak-semak
pohon bunga.
Dengan jalan cara begitu, setengah jam lamanya barulah
dia dapat tiba dimulut lembah. Pintu batu yang berdaun dua
itu, ternyata tampak terbuka sedikit, tapi cukup untuk
dimasuki tubuh orang. Betapa girang dan rasa syukurnya
terhadap bantuan Shin-tok Liong, sukar dilukis. Tanpa berayal
lagi, dia segera menyusup keluar.
Berada di luar, dia sejenak berhenti untuk menghela napas
longgar. Kemudian lalu gunakan ilmu berlari cepat, berlarian
disepanjang jalanan sempit menuju jembatan rantai besi yang
menghubung lembah itu dengan dunia luar.
Sekeluarnya dari lembah yang berbahaya itu, pertama-
tama dia menuju ke kota Tay-li-seng untuk mengambil kuda
yang dititipkan dirumah penginapan tempo hari. Untuk
kegirangannya, kedua ekor kuda itu masih ada bahkan
tambah gemuk dan segar. Setelah memberi uang pengganti
ongkos perawatan pada jongos, dia segera mencongklang
menuju ke selatan.
Walau hatinya amat lapang karena dapat menghirup alam
yang bebas lagi, namun pikirannya masih tetap tertindih.
Dengan berbagai jalan, dia coba mendekati beberapa
kalangan persilatan, tetapi tetap tak berhasil mendapatkan
keterangan siapakah pembunuh ayahnya itu.
Satu-satunya hasil yang diperolehnya selama dalam
perjalanan tanpa arah tujuan itu, ialah pengalaman. Kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terbukalah matanya, bahwa dunia persilatan itu penuh


pergolakan, tak setenang seperti yang disangkanya.
Orang tak boleh hanya mengandalkan akan ilmu silat saja,
tapi juga kecerdasan. Jadi mengapa sebuah partai persilatan
besar macam Thiat-sian-pang beberapa kali kalah dengan dia,
adalah hanya karena kebetulan saja.
Kesal memikirkan usahanya yang sia-sia, teringat dia akan
saudaranya angkat Liong Go. Dalam hal pengalaman, dia
mengaku kalah dengan pemuda itu. Maka dia mengambil
keputusan akan minta bantuannya. Segera dia menuju ke
propinsi Hok-Kian.
Begitulah setelah mengadakan perjalanan selama sepuluh
hari, menjelang magrib dia tiba di sebuah kota kecil
dikabupaten Jiok-kiang-koan. Kalau melanjutkan perjalanan ke
arah tempat penyeberangan sungai Jiok-kiang, terang tengah
malam baru sampai, maka lebih baik dia bermalam di kota
kecil itu saja.
Kota kecil yang dapat disamakan dengan desa itu, hanya
terdiri dari dua-tigapuluh perusahaan yang sederhana. Disitu
hanya terdapat sebuah rumah penginapan yang kamarnya
diperuntukkan tidur beberapa orang.
Sebenarnya Siau Ih enggan untuk menginap disitu, tapi apa
boleh buat, toh dia tak perlu tidur. Hidangan disitupun hanya
terdiri dari ayam goreng dan telur rebus saja.
Selagi dia menikmati hidangannya, tiba-tiba dia melihat ada
seorang tua diantara umur limapuluhan tahun tengah
memandang ke arahnya. Orang itu duduk tak berapa jauh dari
tempatnya. Didapatinya orang tua itu masih sehat gagah,
teristimewa sepasang matanya berkilat-kilat macam orang
yang berisi (ahli silat).
„Mengapa dia memandang begitu rupa padaku?” Siau Ih
bertanya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Justru dia baru berpikiran begitu, orang tua itu sudah


bersenyum dan menegur: „Saudara tentu bukan orang sini,
bukan?"
Siau Ih terkesiap, sahutnya: „Benar, cayhe berasal dari
Siamsay. Tapi rasanya lotiang sendiri juga dari lain daerah."
Orang tua itu mengiakan dan menerangkan bahwa dia
berasal dari Khay-hong. Kemudian dengan masih memandang
lekat-lekat pada Siau Ih, dia menanyakan apa keperluan
pemuda itu datang kesitu.
Pertanyaan itu telah menimbulkan rasa kecurigaan Siau Ih,
namun dengan tak mengunjukkan perasaannya, dia
mengatakan kalau hanya akan tinggal semalam, karena sudah
kemalaman.
Orang tua itu mengangguk, ujarnya: „Menilik sikap saudara
ini, tentulah bukan orang sembarangan, rasanya pasti tak
senang menginap ditempat semacaam ini. Kalau tak buat
celahan, sukalah menginap dirumah losiu saja!"
Kecurigaan Siam Ih makin menjadi. Namun karena dia
memang gemar akan petualangan, dia menerima tawaran itu.
Orang tua itu minta dikenalkan namanya.
„Aku Siau Ih dan siapakah nama yang mulia dari lotiang?”
sahut Siau Ih.
Orang tua itu bernama Song Jin-kiat, kemudian dia segera
ajak Siau Ih pulang kerumahnya. Siau Ih tak mau main
sungkan, suatu hal yang membuat orang tua itu girang,
membayari rekening makan Siau Ih dan terus ajak pemuda itu
menuju ke arah barat.
Setelah membelok beberapa kali, tibalah mereka disebuah
perkampungan yang bersih. Disitu terdapat sebuah gedung
dengan halamannya yang luas sekali. Si orang tua
mengatakan bahwa itulah rumahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih rnakin curiga, pikirnya: „Seorang yang memiliki


rumah halaman yang begitu luas dan bagus, mengapa
keluyuran ke tempat rumah makan murah?”
Tiba digedung itu, dari pintunya yang bercat hitam, segera
muncul dua orang budak yang menyambuti kuda sang tamu.
Dengan mengulum senyum, Song Jin-kiat ajak Siau Ih masuk
ke dalam. Segera disuruhnya menyediakan hidangan.
Sewaktu dahar, secara berbelakar Jin-kiat berkata;
„Saudara Siau, kau pasti merasa heran segala apa sudah
tersedia dirumah, tapi aku masih keluyuran dirumah makan
sekotor itu. Ini tak lain, karena setempo aku sudah bosan
dengan hidangan dirumah dan sesekali kepingin jajan-jajan."
Keterangan itu makin menambah kecurigaan Siau Ih. Orang
apakah gerangan tuan rumah itu dan apakah maksudnya dia
mengundangnya kesitu? Diperhatikannya bagaimana Song Jin-
kiat itu kerap kali menatapnya lekat-lekat, namun dia pura-
pura tak mengetahui.
Sebaliknya Song Jin-kiat pun tahu apa yang dikandung
tetamunya itu. Ujarnya dengan tertawa: ,,Saudara Siau,
meskipun kita baru berkenalan, tapi sudah seperti sahabat
lama. Losiu hendak memperkenalkan isteri dan anakku, agar
kelak, persahabatan kita dapat lebih erat."
Tanpa menunggu jawahan orang, Song Jin-kiat segera
suruh bujang untuk memanggil isteri dan anaknya.
„Aneh benar, dia baru berkenalan, mengapa bersikap
begitu?” Siau Ih menimbang dalam hati.
Pada lain saat, masuklah seorang wanita yang bersolek
secara menyolok sekali. Usianya diantara tigapuluhan tahun.
Sikapnya agak genit, lebih-lebih sinar matanya mengunjuk
bahwa ia itu seorang perempuan yang cabul.
Di belakangnya mengikut seorang pemuda diantara umur
duapuluhan tahun. Walaupun parasnya cakap, tapi sikapnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tidak simpatik. Kepalanya menunduk, wajahnya kurang


senang.
Begitu melangkah masuk dan melihat Siau Ih, nyonyah
rumah itu segera berobah wajahnya. Belum lagi Siau Ih habis
herannya, tiba-tiba terdengar Song Jin-kiat tertawa sinis. Siau
Ih makin terkesiap.
„Saudara Siau, kuperkenalkan, inilah isteriku Tian-si!”
Wanita itu sudah dapat menguasai perasaan kagetnya, lalu
bersenyum kepada Siau Ih selaku memberi hormat. Pemuda
itu buru-buru membalas hormat.
„Dan ini puteraku Song Wan," kata tuan rumah seraya
menunjuk kepada pemuda murung tadi.
Aneh benar Song Wan itu. Walaupun Siau Ih memberi
hormat padanya, tapi dia seolah-olah tak melihatnya, sampai
kelopak, matanya yang sejak tadi ditutup, pun tak dibukanya.
Sudah tentu Siau Ih merasa heran.
„Ai, anakku itu memang jarang bergaul, jadi kurang tahu
adat, harap dimaafkan," kata Song Jin-kiat.
Siau Ih betul-betul berhadapan dengan rumah tangga gila.
Ayah dan anak tidak akrab, suami isteri tidak sepadan. Disitu
tentu terselip sesuatu. Dan puncak keanehannya, ialah
mengapa orang she Song itu mengundangnya bermalam
disitu.
Song Jin-kiat segera perintah bujangnya untuk mengganti
hidangan dengan arak. Secara luar biasa ramahnya, dia
berkali-kali menuang arak kecawan Siau Ih. Namun pemuda
itu sudah mulai curiga dan tak mau minum terlalu banyak.
Menjelang tengah malam, akhirnya Siau Ih menyatakan tak
kuat lagi minum dan ingin beristirahat. Tuan rumah sendirilah
yang mengantarkannya kekamar tulis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah berada seorang diri, Siau Ih dapatkan kamarnya itu


walaupun sebuah kamar tulis, namun hiasan disitu tak karuan
juntrungannya. Siau Ih membuat penilaian terhadap diri tuan
rumah.
Kalau dia itu seorang durjana, wajah dan gerak-geriknya
tentu tak sedemikian ramah dan baik. Namun kalau dikata Jin-
kiat itu seorang terpelajar, sikapnya agak kasar blak-blakan
seperti orang persilatan. Tetapi orang persilatan yang jujur,
juga tak begitu aneh gerak-geriknya. Pusing Siau Ih
memikirkannya.
Waktu sudah mengunjuk pukul dua malam, namun Siau Ih
masih belum dapat tidur. Tiba-tiba di atas genteng
ruangannya, terdengar derap kaki yang enteng sekali. Buru-
buru lilin dipadamkan, diambilnya pedang, terus loncat keluar
dari jendela.
Di luar suasana amat gelap. Langit tiada berembulan hanya
diterangi oleh ribuan bintang. Sekalipun begitu, mata Siau Ih
yang celi segera dapat melihat bahwa kira-kira sepemanah
jauhnya terdapat sesosok tubuh menyusup masuk ke dalam
halaman. Tapa berayal lagi, dia segera memburu.
Rupanya bayangan itu sudah paham seluk beluk gedung
itu. Langsung dia menuju ke sebuah ruangan. Dari
gerakannya, Siau Ih mengetahui bahwa orang itu tinggi
ilmunya ginkang. Tapi dilihat dari gerak geriknya, terang kalau
bukan orang baik-baik.
Dengan gunakan ginkang pat-poh-kam-sian, Siau Ih cepat
sudah menyusul masuk, namun orang tadi sudah lenyap.
Didapatinya halaman disitu, diatur dengan indah.
Diantara ruangan-ruangan yang dibangun pada tembok,
terdapat ada yang masih memancarkan penerangan. Dan
menyusul, terdengar gelak tertawa halus dari ruangan itu.
Sekali loncat, Siau Ih segera menghampiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendapat warisan pelajaran dari si Dewa Tertawa, sudah


tentu ginkang Siau Ih amat tinggi. Sekalipun malam amat
sunyi, namun sedikitpun dia tak mengeluarkan suara apa-apa.
Loncat ke atas genteng, dia segera kaitkan sepasang kaki ke
atas serambi lalu bergelantungan melongok ke dalam
ruangan.
Dari cahaya lilin besar yang menerangi, nyata ruangan itu
merupakan sebuah kamar yang indah hiasannya. Didekat
dinding terdapat sebuah ranjang kayu bercat merah.
Di atas ranjang duduk seorang wanita yang berpakaian
amat tipis. Sementara di muka ranjang, berdiri seorang lelaki
mengenakan pakaian ringkas warna hitam.
---ooo0dw0ooo---

21. Tersangka Pemetik Bunga


Walaupun orang itu menghadap kesebelah sana, namun
dari potongan tubuhnya, dapatlah Siau Ih menentukan kalau
dia itu tentu seorang gagah. Wanita itu bukan lain ialah isteri
Song Jin-kiat yang masih muda itu. Nyata wanita itu sedang
mengadakan pertemuan dengan seorang gendaknya
(kekasih).
Dengan tingkah genit dan aleman sekali, wanita itu
memijat lengan si orang berpakaian hitam, ujarnya: „Gila
benar, waktu aku bertemu padamu tengah berbincang-
bincang dengan si tua bangka tadi, hampir saja aku menjerit
kaget. Kalau lain kali kau berbuat begitu lagi, aku tak mau
kenal padamu lagi.”
„Aku bercakap-cakap dengan dia? Ai, kau ini bagaimana
to?” sahut orang itu dengan herannya.
Tian-si tertawa mengikik, serunia: „Kau seperti kura di
dalam perahu (pura-pura tidak tahu). Masakah mataku buta
……..!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rupanya lelaki itu sudah tak tahan lagi melihat tingkah laku
jantung hatinya yang genit. Segera dia memeluk wanita itu
dan merayunya. Adegan itu telah menimbulkan amarah Siau
Ih. Segera dia ambil putusan untuk menyikat manusia
binatang itu.
Tapi belum lagi dia sempat bergerak, atau di ruangan itu
segera terdengar orang tertawa keras, lalu disusul dengan
hamun makian: „Orang she Siau, waktu makan malam lohu
sudah mengetahui kedokmu. Sekarang jangan banyak cincong
lagi, ayuh keluar terima kematian!"
Kejut Siau Ih bukan kepalang. Berpaling ke arah datangnya
suara itu, nyata yang meriaki itu ialah Song Jin-kiat. Orang tua
itu tegak berdiri ditengah halaman sembari mencekal
sepasang senjata tun-kang-tian-hiat-kwat atau senjata
penutuk jalan darah terbuat dari baja murni.
Sebenarnya Siau Ih sudah tak dapat mengendalikan
kemarahannya, tapi serta merasa ada sesuatu yang kurang
beres, terpaksa dia bersabar untuk melihat perkembangan.
Sebagai sambutan dari makian Song Jin-kiat tadi, dari
dalam kamar Tian-si terdengar suara ketawa sinis, menyusul si
orang berpakaian hitam sudah loncat keluar kehalaman.
Tanpa banyak ini itu lagi, Jin-kiat segera menyambutnya
dengan tusukkan ji-liong-hi-cu ke arah kedua mata lawan.
Dengan perdengarkan ketawa mengejek, orang itu
berputar diri untuk menghindar. Dan adalah karena dia
berputar tubuh, maka Siau Ih segera dapat melihat
tampangnya. Astagafirullah ……
„Mengapa dikolong dunia ini terdapat orang yang berwajah
mirip dengan aku!" Siau Ih mengeluh kaget.
Pada saat itu, Song Jin-kiat susuli pula serangannya ke arah
pundak orang, namun dengan sekali gerak, kembali orang itu
dapat memaksa tuan rumah menusuk angin. Jin-kiat makin
naik pitam. Sembari menurunkan tubuh, dia maju menusuk ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dada lawan dengan jurus kim-cia-than-hay atau jarum emas


menyusup ke laut.
Kali ini si orang berpakaian hitam mulai naik darah. Begitu
menyurut mundur, dia sudah melolos sebuah jwan-pian yang
berkilat keemasan. Sebelum Jim-kiat sempat melancarkan
serangan yang keempat, dia sudah mendahului menyabet
jwan-pian ke arah kepalanya.
Jin-kiat tak berani menangkis. Kaki kiri mengisar ke
samping, tangan kanan mendorong ruyung lawan, disusul
tangan kiri menutuk jalan darah ciang-thay-hiat di dada.
Namun si orang berbaju hitampun tidak lemah. Tertawa
dingin, tubuhnya berputar ke kiri. Begitu tusukan lawan di
bawah ketiaknya, dia kirim sabetan ruyung ke muka orang.
Sudah tentu Jin-kiat kaget sejengah mati. Syukur dia dapat
loncat ke belakang. Sekalipun begitu, sabetan ruyung yang
mengenai badannya itu, cukup membuatnya meringis.
Song Jin-kiat jeri terhadap kelihayan lawan yang mahir ilmu
lwekang, namun dalam keadaan marah, dia tak mau pikirkan
ini itu lagi.
„Aku atau kau!" serunya sembari menyerbu lagi.
Orang itu hanya tertawa dingin. Ternyata selain ilmunya
tinggi, pencuri isteri orang itupun amat ganas. Jin-kiat sangat
bernafsu lekas-lekas membunuhnya, tapi sebaliknya, setelah
lewat jurus yang ke tigapuluh, dia malah menjadi kalang
kabut.
„He, he, setan tua, sebelum fajar, akan kukirim kau
keakhirat!" bangsat itu tertawa mengejek dan lalu robah
gerakannya. Ruyung diputar seru, hingga Jin-kiat seperti
terkurung dalam beberapa lapisan bayangan.
Jin-kiat makin payah. Kekalahannya sudah tinggal soal
waktu saja. Tubuhnya berhias beberapa luka berdarah. Isteri
diganggu, suami akan dibunuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam marahnya, Jin-kiat menjadi kalap: „Bangsat, aku


hendak mengadu jiwa padamu!"
Saat itu si orang berpakaian hitam tengah melancarkan
serangan suan-hong-soh-swat, untuk menghantam
pundaknya. Namun tak mau menghindar, Jin-kiat malah
melangkah maju. Dengan kalap dia tusukkan sepasang
senjatanya kelambung lawan.
Kenekadan itu telah membuat si orang berpakaian hitam
terkejut. Buru-buru dia sedot dadanya ke belakang, namun tak
urung pakaiannya rowak dan di bawah lambungnya tertusuk
sampai lima dim lukanya. Hal itu membuatnya marah besar.
Dengan menggerung keras, dia merangsek keras. „Trang,”
tahu-tahu sepasang tun-kong-tiam-hiat-kwat kepunyaan Jin-
kiat, telah melayang terlepas ke atas udara. Kim-liong-joan-
tha atau naga mas menyusup ke pagoda, adalah jurus susulan
yang dilancarkan si orang berpakaian hitam untuk memberesi
Jin-kiat.
Tapi belum lagi ruyung mengenai ubun-ubun kepala Jin-
kiat, tiba-tiba terdengar suara bentakan: „Tahan!"
Sebenarnya saat itu Jin-kiat sudah tak berdaya kecuali
menjerit seram, tapi demi ruyung agak kendor jalannya,
cepat-cepat dia buang tubuhnya ke belakang untuk
menghindar. Sedangkan si orang berpakaian hitampun segera
berputar ke arah datangnya suara gangguan tadi.
Di bawah talang, tampak berdiri seorang pemuda yang
berpakaian hijau. Pada tangan kanan pemuda itu mencekal
sebatang pedang berkilat-kilat, sedang tangan kirinya
menjinjing sesosok tubuh wanita.
Wanita itu bukan lain ialah Tian-si, isteri Jin-kiat yang
serong itu. Dari wajahnya yang pucat dan tangan terkulai,
nyata wanita itu sudah tak bernyawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memang pemuda itu ialah Siau Ih adanya. Dan demi


tampak bagaimana wajahnya yang keren itu, ialah
menampilkan hawa pembunuhan, si orang berpakaian hitam
menjadi terkesiap.
Lebih-lebih ketika didapatinya bahwa pemuda itu mirip
sekali dengan dia. Tapi kekagetan itu segera berobah menjadi
kemarahan besar, demi tampak siapa wanita itu.
„Siapa kau ini?" bentaknya dengan keras.
„Alcu adalah malaekat pencabut nyawa!” sahut Siau Ih
dengan tertawa dingin. „Ia menunggumu di akhirat."
Dengan marahnya si orang berpakaian hitam melejit ke
muka. Ruyung dihantamkan dalam jurus jin-hong-soh-lok-yap,
sembari tangan kirinya menyambar tubuh Tian-si dari cekalan
Siau Ih.
Siau Ih mendengus. Tubuh mengisar, tangan mengangkat
mayat Tian-si untuk menangkis ruyung, serunya: „Kau tak
menghormat kedatanganku, akupun akan mengembalikan
kebaikanmu itu!"
Pedang Thian-coat-kiam ditusukkan ketenggorokan orang.
Sedemikian cepat serangannya itu, hingga membuat si orang
berpakaian hitam menjadi terbeliak kaget. Buru-buru dia
surutkan kepala terus loncat mundur.
Dia cepat, tapi Siau Ih lebih gesit. Karena ternyata sebagian
kulit kepala orang itu telah terpapas dengan Thian-coat-kiam.
„Bangsat, itu baru sedikit hajaran, yang lihay nanti akan
segera menyusul!” seru Siau Ih.
Kaget, getar dan marah memenuhi dada si orang
berpakaian hitam yang berdiri tegak seperti patung itu.
Sebaliknya kini Jin-kiat baru terbuka matanya. Dia insyaf
akan kekeliruannya menduga Siau Ih sebagai pemuda lacur.
Siapa tahu pemuda itulah yang telah menolong jiwanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Saudara Siau, maafkan segala kekhilafanku, kini yang


perlu jangan lepaskan bangsat itu!” seru Jin-kiat.
„Jangan kuatir, Song toako. Kalau tak dapat melenyapkan
bebodoran ini aku malu melihat matahari!" sahut Siau Ih.
Orang berpakaian hitam itu tertawa nyaring, serunya
dengan geram: „Aku si Wajah Kumala Tio Gun, selalu
menghimpas segala dendam. Kau berani mengadu biru, tentu
akan kucincang menjadi bakso!"
„Bagus, aku yang menjadi bakso atau kau yang mnejadi
frikadel!" sahut Siau Ih sembari lemparkan mayat Tian-si,
kemudian melangkah maju.
Jerih akan ketangkasan si anak muda tadi, si Wajah Kumala
setapak semi setapak melangkah mundur. Siau Ih tertawa
sinis, serunya: „Kemana saja kegaranganmu tadi. Mengapa
main mundur saja?"
Ejekan itu telah membangkit kemarahan si Wajah Kumala.
„Baik, lihat saja nanti siapa yang jantan?"
Ruyung terus diangkatnya dan dihantamkan ke arah kepala
Siau Ih. Pemuda itu mundur selangkah, serunya dengan
tawar: „Bangsat cabul, meskipun dosamu tak berampun, tapi
aku tetap suka mengalah sampai lima jurus!"
Tio Gun menjawabnya dengan serangan kedua yang
ditujukan ke arah perut orang, tapi dengan sebuah loncatan
kembali Siau Ih dapat menghindar. Serangan kedua luput, si
Wajah Kumala teruskan dengan sebuah tutukan ke pantat
lawan.
Sebenarnya Siau Ih akan menangkap hidup-hidup bangsat
itu, untuk diserahkan pada Song Jin-kiat, agar dirinya bersih
dari tuduhan. Tapi demi melibat keganasan penjahat itu, nafsu
pembunuhannya berkobar.
Untuk menghindari dari kejaran ruyung, Siau Ih pijakan
kaki kiri ke atas kaki kanan dan dengan meninjau tenaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pijakan itu, dia melambung lagi setinggi tiga tombak. Disitu


dia berjumpalitan. Dengan kaki di atas kepala di bawah, dia
melorot turun sembari putar pedangnya untuk membacok Tio
Gun.
Serangannya tak tercapai, tahu-tahu Tio Gun merasa
kepalanya tersambar hawa dingin. Hendak menghindar, sudah
tak buru. Benar, bangsat pengrusak wanita itu berkepandaian
tinggi, tapi hari itu dia ketemu dengan batunya.
Satu-satunya jalan ialah berlaku nekad. Dengan kerahkan
seluruh lwekangnya ke arah tangan, dia putar jwan-pian
gencar sekali untuk menangkis.
„Trang, trang,” menyusul dengan gemerincing beradunya
senjata tajam, Siau Ihpun sudah melayang turun ke bumi.
Sedang si Wajah Kumala pun tak kurang cekatnya, sudah
loncat ke samping. Benar dengan begitu dia terhindar dari
maut, tapi jwan-piannya sudah kutung menjadi dua.
Siau Ih lintangkan pedang ke dada. Menatap ke arah Tio
Gun, dia berseru sambil tertawa sinis: „Dapat menghindari
seranganku jun-u-lian-bian, nyata kau mempunyai modal juga.
Tapi karena tadi telah kujanjikan pada malaekat maut untuk
mengantarkan kau, jadi pertempuran ini masih harus
dilanjutkan lagi!"
Han-hoa-tho-lui atau bunga memantulkan kuntum, Siau Ih
sudah lantas maju menusuk ke dada orang. Dengan gebrakan
pertama tadi, tahulah Siau Ih bahwa si Wajah Kumala itu tak
boleh dibuat main-main. Oleh karenanya dalam serangan
berikutnya, dia menyerang dengan sungguh-sungguh.
Sebaliknya karena jwan-pian sudah kutung, semangat si
Wajah Kumala pun menjadi kuncup. Apalagi demi pemuda
lawannya maju pula dengan serangan yang dahsyat, dia tak
berani adu kekerasan lagi. Tapi baru dia loncat menghindar ke
samping, Siau Ih mengejarkan pedangnya dengan jurus hui-si-
ing-hong yang disapukan ke arah perut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali si Wajah Kumala terbirit-birit menghindar. Namun


laksana bayangan, Siau Ih memburu terus dengan serangan
yang gencar. Jarak mereka amat dekat, jadi si Wajah Kumala
sudah tak dapat lari lagi.
Tapi pada saat itu, sekonyong-konyong wajah Tio Gun
membesi dan perdengarkan tertawa sinis. Sesaat pedang Siau
Ih hampir mengenai, secepat itu si Wajah Kumala sudah
lantas gerakkan tangannya kiri. Serangkum hujan sinar perak
segera menabur ke arah tubuh Siau Ih.
Siau Ih kaget bukan kepalang, cepat dia tarik pulang
pedang dan menyurut ke belakang. Sembari kerahkan
lwekang untuk menutup seluruh jalan darah ditubuhnya, dia
putar thian-coat-kiam gencar-gencar untuk menangkis
serangan senjata gelap dari lawan. Benar tiada sebuah senjata
gelap lawan yang mengenai tubuhnya namun tak urung dia
menjadi keripuhan juga.
Sejak turun gunung, kecuali berhadapan dengan wanita
cabul Li Thing-thing yang lihay, baru pertama kali ini dia
dibikin kelabakan oleh seorang musuh. Amarahnya berkobar,
nafsu membunuh orang menyala-nyala.
Didahului oleh sebuah suitan yang melengking, Siau Ih
loncat ke atas untuk menghantam musuh. Tepat pada saat itu,
si Wajah Kumala pun loncat maju untuk melancarkan dua
buah serangan, jwan-pian ditutukkan ke arah pergelangan
tangan lawan, sementara tangan kiri menghantam sekeras-
kerasnya.
Siau Ih kisarkan lengannya kanan untuk menghindari
tutukan pian, lalu tangannya kiri maju menangkis. „Plak,”
terdengar dua buah tangan beradu keras. Dengan
berjumpalitan, Siau Ih turun ke bumi. Sedangkan si Wajah
Kumala menjadi jungkir balik beberapa kali baru dapat berdiri
tegak lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini baru terbukalah mata penjahat cabul itu, bahwa selain


memiliki pedang pusaka pemuda lawannya itu juga memiliki
ilmu kepandaian yang tinggi. Seketika semangatnya padam,
nyalinya runtuh dan keinginan untuk melarikan diri segera
timbul.
Tapi belum lagi dia dapat melaksanakan rencananya, Siau
Ih sudah merangsang maju lagi. Apa boleh buat, terpaksa dia
melayani. Hanya saja pertempuran kali ini memasuki babak
baru.
Mengetahui berhadapan dengan penjahat yang tangguh,
Siau Ih terpaksa keluarkan ilmu pedang lui-im-kiam-hwat dan
gerakan kaki ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh, dua buah
ilmu ajaran si Dewa Tertawa yang pernah menggemparkan
dunia persilatan. Seketika itu juga, dua tombak sekeliling
tempat itu, seperti dipenuhi oleh sinar pedang.
Si Wajah Kumala yang sudah jeri, kini makin ketakutan.
Untung jwan-piannya itu masih dapat digunakan. Satu-
satunya harapannya ialah akan mencari kesempatan untuk
lolos. Halaman kecil yang berada di belakang gedung Song
Jin-kiat itu, ternyata menjadi berisik sekali dengan deru
sambaran pedang Thian-coat-kiam.
Sesuai dengan namanya lui-im-kiam-hwat atau ilmu pedang
halilintar menyambar, maka halaman itu menjadi bising
dengan suara dahsyat. Song Jin-kiat yang menyaksikan
permainan itu, menjadi melongo kaget.
Sampai pada jurus yang ke limapuluh, rasanya si Wajah
Kumala sudah mengeluarkan habis seluruh kepandaiannya
untuk melayani, namun dia seperti masih dikurung oleh empat
buah bayangan Siau Ih yang merangsang dari empat jurusan.
Beberapa lubang tusukan pedang, telah membuat pakaiannya
hitam itu rompang-ramping.
Diam-diam dia mengeluh. Kalau berjalan duapuluhan jurus
lagi dia tak mampu keluar dari kepungan si pemuda, dia pasti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bakal celaka. Apa boleh buat, dia terpaksa merobah caranya


bertempur, dari menyerang menjadi bertahan.
„Hai, belum lama bertempur mengapa kau jadi lembek?”
seru Siau Ih yang tahu akan keadaan lawan. Dan habis itu, dia
perhebat serangannya.
„Hem, karena rencanaku sudah dlketahui, lebih baik aku
mengadu jiwa pikir si Wajah Kumala. Tiba-tiba permainannya
berganti, dari bertahan menjadi menyerang.
„Bagus, ini baru menarik. Tapi bagaimanapun juga, jangan
harap kau dapat kabur!" Siau Ih tertawa mengejek.
Tio Gun tak mau adu lidah, dia seolah-olah menulikan
telinga mendengar ejekan perruda itu. Untuk menumpahkan
kemarahannya, dia pusatkan perhatian untuk menyerang
bagian-bagian yang fatal (mematikan) dari lawan.
Sebaliknya Siau Ih makin gembira untuk mengoloknya.
Dengan mendengus, dia putar pedangnya bukan untuk
menusuk tubuh lawan tapi hendak mencari jwan-pian saja.
Sudah tentu si Wajah Kumala menjadi kelabakan setengah
mati. Dia tak berani beradu dengan pedang pusaka thian-coat-
kiam, tapi kalau dia menyingkirkan jwan-pian, pedang itu
tentu menyusup maju untuk menusuk tubuhnya. Ai, runyam
ini. Maka tak mengherankanlah, belum sampai duapuluh jurus,
si Wajah Kumala sudah mandi keringat dingin.
Kini pikiran untuk meloloskan diri, sudah lenyap dari otak
Tio Gun. Benar-benar kali ini dia bertemu dengan batunya.
Pemuda lawannya itu, tangguh, cerdas dan ganas.
„Aku hendak mengadu jiwa padamu!” akhirnya dia berseru
dengan kalap terus menghantamkan ruyung ke arah kepala
lawan.
Siau Ih tertawa, dengan jurus thay-kong-tiau-hi dia
tangkiskan pedangnya. „Trang,” letikan bunga api
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhamburan dan jwan-pian si Wajah Kumala kembali


terpapas kutung beberapa centi.
Sekalipun demikian, orang itu masih terus maju
merangsang. Karena kekalapannya itu, untuk beberapa saat
Siau Ih terpaksa bertahan sembari sesekali lancarkan
serangan.
Berjalan sepuluhan jurus lagi, terdengarlah berulang kali
senjata beradu dan makin lama jwan-pian Tio Gun makin
pandak. Akhirnya sebatang ruyung yang panjang hampir tiga
meter itu, kini hanya tinggal beberapa centi saja. Tiba-tiba
Siau Ih tarik pulang pedang dan melintangkannya ke muka
dada.
„Bangsat cabul, kini tibalah saatnya kau harus
menyerahkan jiwamu!" serunya dengan seram.
Keadaan si Wajah Kumala pada saat itu, tak keruan
macamnya. Rambut kusut masai, pakaiannya compang-
camping, wajahnya pucat, sepasang matanya melotot buas. Si
Wajah Kumala sudah berobah menjadi si wajah sengsara.
Dengan tenangnya, Siau Ih melangkah maju. Terpisah
antara dua meter, dia ajukan pedang ke muka untuk menusuk
dada Tio Gun. Sekonyong-konyong si Wajah Kumala
menghindar ke samping, berbareng itu tangannya kanan
menaburkan senjata gelap ke arah Siau Ih.
Sebenarnya itu bukan senjata rahasia, melainkan sisa
ruyung yang sudah tinggal remuk tangkainya. Oleh karena
tahu bahwa dia tak nanti dapat lolos, maka dia mengambil
putusan untuk gugur bersama.
Maka waktu Siau Ih menarik pulang pedangnya tadi, diam-
diam dia sudah himpun lwekangnya. Dan begitu Siau Ih maju
menyerang, dia segera menyambutnya dengan sebuah
sambitan dahsyat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kesalahan Siau Ih terletak karena terlalu congkak,


meremehkan lawan yang dikiranya sudah tak berdaya itu.
Jaraknya begitu dekat, dan kutungan jwan-pian itu berjumlah
banyak.
Dalam kagetnya, Siau Ih coba berusaha menghindar, tapi
sudah terlambat. Syukur masih dapat gerakkan tangan kiri
untuk melindungi tubuh, namun sekalipun begitu tak urung
pundaknya termakan juga oleh beberapa kutungan besi.
Sakitnya sampai menusuk ke tulang. Saking gusarnya, dia
membabat sekuat-kuatnya dan kutunglah lengan kiri si Wajah
Kumala.
Pundak Siau Ih terkena sambitan besi dan lengan si Wajah
Kumala terpapas kutung itu, terjadi dalam waktu yang
bersamaan. Rupanya si Wajah Kumala itu seorang jago yang
keras hatinya.
Dengan menahan sakit, begitu melihat Siau Ih agak
tertegun, dia terus loncat mundur dan lari tunggang langgang.
Sudah tentu Siau Ih tak menduga akan terjadi hal itu. Waktu
dia tersadar, si wajah Kumala pun sudah tak ketahuan
bayangannya.
Saat itu Song Jin-kiat datang menghampiri menghaturkan
maaf, tapi Siau Ih memberi isyarat supaya dia jangan bicara
dulu. Setelah menyarungkan pedang, diperiksalah lukanya
tadi.
„Astaga, Siau-kongcu terluka?" seru Jin-kiat dengan kaget.
Siau Ih tak mau menyahut. Hatinya penuh kemengkalan.
Pertama karena dituduh sebagai tukang pengrusak rumah
tangga, kedua untuk pertama kali itu dia terluka dalam
pertempuran dan ketiga karena lawan dapat melarikan diri.
Setelah didapatinya luka dipundaknya itu tak berat, maka
setelah dibalut dengan kain, ia memberi hormat pada tuan
rumah lalu loncat ke halaman luar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Song Jin-kiat melongo melihat kelakuan pemuda itu. Buru-


buru dia mengejar, tapi ketika tiba di halaman luar, ternyata
Siau Ih sudah mencongklangkan kudanya tanpa pamit.
Jin-kiat tahu bagaimana perasaan anak muda itu. Diam-
diam dia menyesal tak terhingga. Namun karena pemuda itu
sudah pergi, terpaksa dia masuk kembali ke dalam gedung.
Malam di daerah Kwitang itu, walaupun terletak di daerah
selatan, namun pada malam itu amat dingin hawanya. Siau Ih
tak menghiraukannya, tengah malam buta dia terus berkuda
menuju ke Jiok-kiang. Dia tak mau masuk kota hanya mencari
sebuah rumah makan di luar kota.
Habis beristirahat sejenak, dia mengitari kota, langsung
menuju ke gunung Tay-tong-san. Oleh karena hanya
seratusan li jaraknya, jadi menjelang sore dia sudah
menampak gunung itu menjulang dengan megahnya.
Kala tiba dikaki gunung, haripun sudah magrib. Puncak
gunung itu sudah berselimutkan awan hitam. Baru dia hendak
mulai mendaki, tiba-tiba dia berpikir: „Benar pegunungan ini
tak seberapa luasnya, tapi puncak Pao-gwat-san itu tentu
berada ditempat yang sepi. Daripada berjeri payah mencari,
lebih baik cari tempat bermalam di sekitar daerah sini saja.
Pagi-pagi mencari rasanya lebih leluasa."
Walaupun di pegunungan itu amat gelap, namun dengan
memiliki lwekang tinggi dapatlah Siau Ih berjalan dengan
leluasa. Belum jauh masuk ke daerah pegunungan, dia segera
memilih sebuah hutan yang terletak di tepi jalan untuk
beristirahat.
Singkatnya saja malam itu tak terjadi suatu apa dan
keesokan harinya, mulailah dia melanjutkan pendakiannya.
Pegunungan Tay-tong-san termasyhur sebagai gunung
yang indah dan megah didaerah Kwitang. Batu-batunya yang
aneh beraneka warna mendaki, Siau Ih mengharap mudah-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mudahan dapat bertemu dengan seseorang untuk ditanyai


keterangan letak puncak Pao-gwat-san itu.
Namun entah sudah berapa lamping gunung dan tikungan
yang dilaluinya, tetap dia belum bersua dengan orang.
Haripun sudah hampir siang. Diam-diam Siau Ih menjadi
heran, jangan-jangan dia tersesat.
Dia berhenti sejenak untuk memandang kesekeliling tempat
itu. Jalanan disebelah muka, makin menaik dan makin
berbahaya. Satu-satunya hal yang diperolehnya, ialah ditepi
jalanan gunung masih terdapat bekas reruntuh bangunan
rumah.
Pikirnya: „Kalau begitu aku tak tersesat. Yang nyata,
sebelum aku tiba, disini tentu terjadi sesuatu peristiwa
sehingga orang-orang yang mendiami tempat ini sama pindah.
Entah apakah peristiwa itu, ya?”
Sekilas dia tiba pada dugaan, jangan-jangan jalanan itu
akan langsung menuju kedesa Pao-gwat-chung. Ah, biar
bagaimana lebih baik dia lanjutkan mendaki terus.
Dibeberapa tempat, kembali dia melihat bekas-bekas
runtuhan bangunan rumah, namun anehnya tempat
disekeliling itu tetap tiada kelihatan barang seorang pendu-duk
Diam-diam dia menjadi kuatir juga. Untunglah saat itu, jauh
disebelah muka sana, dilihatnya ada asap mengepul. Girang
Siau Ih bukan kepalang.
---ooo0dw0ooo---

22. Penilaian Para Tokoh Tua


Jalanan ke atas makin sukar, berkuda tidak dapat,
menggunakan ilmu ginkang pun tak leluasa. Jadi terpaksa dia
berjalan sembari menuntun kudanya. Dengan demikian
menjelang tengah hari, barulah dia dapat mencapai tempat
berasap itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disitu ternyata adalah sebuah dataran karang yang luasnya


beberapa puluh tombak, serta tingginya beberatus tombak.
Ditengah-tengahnya terdapat sebuah jalanan kecil tiba cukup
untuk dijangkah seseorang. Dikanan kiri jalan itu, berdiri
sebaris kira-kira beberapa belas rumah kayu. Diserambi muka
rumah itu, tampak ada beberapa orang lelaki berpakaian hijau
sedang membakar daging.
Derap kaki kuda Siau Ih itu, telah membuat terkejut
mereka. Jelas kelihatan bagaimana kejut wajah mereka demi
melihat kedatangan anak muda itu. Mereka saling
berpandangan. Sementara pada saat itu, Siau Ih pun sudah
tiba dihadapan mereka. Dengan memberi hormat, dia
bertanyakan jalanan.
Tiba-tiba seorang lelaki tampil ke muka. Setelah
memandang lekat-lekat ke arah Siau Ih, dia bertanya dengan
keren: „Pegunungan ini amat luas, entah tempat manakah
yang saudara cari itu?”
„Pao-gwat-chung,” sahut Siau Ih.
Mendengar itu si orarg lelaki menyurut mundur setengah
langkah. Untuk beberapa saat dia mengawasi Siau Ih baru
kemudian membuka mulut pelahan-lahan: „Pao-gwat-chung
tak berapa jauh dari sini. Tapi entah siapakah nama saudara
ini dan siapakah yang hendak saudara cari itu?“
Hormat sekalipun nadanya, tapi sebenarnya tidak pantas.
Siau Ih tenang-tenang saja. Dia duga orang-orang itu tentu
ada hubungannya dengan Pao-gwat-chung.
„Tentulah saudara. mempunyai hubungan dengan desa
Pao-gwat-san itu. Aku bernama Siau Ih, kawan karib dari
Liong-siao chungcu, harap saudara. membawa aku kesana,”
sahutnya dengan ramah.
Memang kawanan orang lelaki itu adalah penduduk Pao-
gwat-chung. Mendengar keterangan Siau Ih, orang tadi
tampak tenang wajahnya. Dia menyatakan bahwa setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetamu yang berkunjung harus menunggu dulu sebentar guna


dilaporkan.
Habis itu, dia menyalakan semacam benda. Benda itu
meletus dan memancarkan asap warna biru ke udara.
Anehnya sekalipun ditiup angin, asap itu tetap membubung
tinggi.
Tak lama kemudian, dari mulut jalanan kecil itu muncul
seorang anak muda sekira berumur enam-tujuhbelas tahun.
„Ji-yanko tolong laporkan pada siao-chungcu, ada seorang
Siau kongcu datang berkunjung,” kata si orang lelaki tadi.
Anak muda memberi hormat, lalu dengan tangkas sekali
pergi. Memang sejak turun gunung, banyak sekali Siau Ih
menjumpahi pengalaman-pengalaman yang aneh-aneh, tapi
tingkah laku yang disaksikan saat itu, barulah untuk pertama
kali itu dia mengalaminya.
Kira-kira sepeminum teh lamanya, dari arah jalanan
disebelah sana terdengar sebuah suara nyaring: „Maaf, aku
terlambat menyambut kedatangan siaote!"
Sesosok tubuh melesat dan muncullah Liong Go, saudara
angkat tunggal hati dari Siau Ih. Siau Ih tersipu-sipu memberi
hormat dan minta maaf karena tak memberi kabar lebih
dahulu.
Liong Go menyatakan kegirangannya dapat bertemu lagi
dengan pemuda itu. Dari dandanan Siau Ih, tahulah Liong Go
bahwa pemuda itu tentu habis menempuh perjalanan jauh.
Buru-buru dia ajak Siau Ih naik ke atas.
Selama berjalan menyusur jalanan kecil yang menaik ke
atas itu, Siau Ih dapatkan bahwa jalanan itu setengahnya
memang dibuat oleh orang. Batu karang yang melingkungi di
kedua samping, menjulang tinggi sampai ratusan meter. Pun
disamping kecilnya, jalanan itu berliku-liku sukar didaki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Ih menduga, rupanya jalanan itu memang sengaja


dibuat begitu untuk menjaga kedatangan musuh. Dalam pada
kagum terhadap tokoh Liong Bu-ki (engkong Liong Go) yang
telah merencanakan penjagaan sedemikian rapinya, pun Siau
Ih mempunyai perasaan lain terhadap jago tua itu.
Sewaktu Thiat-san-sian Liong Bu-ki masih belum
mengundurkan diri dari medan persilatan, kepandaiannya
termasyhur amat sakti hingga dapat digolongkan dengan
kesepuluh Datuk. Terutama tokoh itu terkenal dengan sepak
terjangnya budiman dan bijaksana dalam memperlakukan
kawan dan lawan. Tapi setelah mengundurkan diri, tokoh itu
lebih suka menuntut penghidupan yang aman tenteram.
Siau Ih membandingkan keadaan Pao-gwat-san itu dengan
selat Liu-hun-hiap. Thiat-san-sian Liong Bu-ki yang begitu
cermat menjaga musuh dan si Rase Kumahle yang lepas
bebas segala-galanya. Suatu perbedaan yang amat menyolok
sekali. Diam-diam dia makin menghargai pribadi engkongnya
itu.
Saat itu Liong Go mulai kendorkan langkahnya. Ternyata
pemandangan disekeliling tempat itu, jauh berbeda dari tadi.
Kecuali penuh dengan liku-liku dan persimpangan yang ruwet
seperti jaring laba-laba, pun jalanan itu sepintas pandang
seperti tak dapat dijalani orang.
Tengah Siau Ih tertegun, Liong Go berpaling kebelakang
dan tersenyum: „Hante, mulut jalanan sudah tak jauh, ini
adalah jalanan yang terakhir dari Kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian
(sembilan liku delapan tikungan), memang amat rumit."
„Hebat benar susunan jalan kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian
itu. Kalau tiada toako yang menunjukkan, siaote pasti
tersesat," sahut Siau Ih.
Menerangkan Liong Go lebih jauh: „Jalanan pelik ini tanpa
disengaja telah diketemukan engkong. Bermula beliau tak
menaruh perhatian. Setelah mengundurkan diri, baru dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

teringat tempat ini. Untuk menjaga pembalasan kaum


penjahat yang binasa ditangannya, maka engkong telah
pindahkan seluruh keluarganya kemari. Tempat ini ternyata
sangat mencil sekali, hingga kecuali beberapa kenalannya
yang akrab, tiada seorangpun yang mengetahui tempat
peristirahatan engkong di Pao-gwat-san sini ……..”
Menutur sampai disini, Liong Go berhenti sejenak,
wajahnya menampil kedukaan. Suatu hal yang tak lepas dari
pandangan Siau Ih, siapa lalu buru-buru berkata: „Sekalipun
toako tak mengatakan, siaotepun sudah mengetahui."
„Apa? Hiante sudah mengetahui?” tanya Liong Go.
„Sekalipun tak tahu jelas, tapi sewaktu memasuki gunung
ini, siaote telah melihat beberapa runtuhan rumah. Kedua kali,
selama dalam pendakian itu, siaote tak pernah berjumpa
dengan barang seorangpun jua. Siaote menduga tentu terjadi
sesuatu peristiwa kalau tiada bencana alam, pasti perbuatan
orang. Tapi menilik bekas-bekas runtuhan itu, teranglah bukan
bencana alam. Sewaktu bertemu dengan beberapa saudara
tadi, wajah mereka agak cemas, jadi siaote menduga pasti
telah terjadi sesuatu …...”
Siau Ih berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula: „oleh
karena siaote sudah seperti saudara kandung, maka haraplah
toako memberitahukan sejelasnya."
Liong Go menghaturkan terima kasih, ujarnya: „Meskipun
hiante tak mau menerangkan siapa gurumu, namun aku telah
mengetahui bagaimana kepandaian hiante itu. Mendapat
seorang pembantu seperti hiante, rasanya aku seperti
menerima kunjungan malaekat dari langit."
Siau Ih kemalu-maluan.
„Ai, hiante tak usah sungkan, kita toh sudah seperti
saudara sendiri. Peristiwa yang kuhadapi itu, sebenarnya tak
hebat, namun karena engkong amat berhati-hati, jadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tampaknya seperti peristiwa besar. Dan kejadian itu, rasanya


pun tak asing bagi hiante," kata Liong Go.
„Benarkah itu?” Siau Ih menegas, kemudian bertanya pula:
„Apakah dia si Kiau Hoan?"
Liong Go menyahut bahwa disitu bukan tempatnya untuk
bicara, ia ajak Siau Ih membelok ke jalanan di sebelah kanan.
Selama itu, Siau Ih selalu memperhatikan keadaan
disekelilingnya, namun pada akhirnya dia merasa pusing tak
ingat lagi akan belat-belit jalanan yang dilaluinya tadi.
Baru saat itu dia mengakui bahwa jalanan kiu-jiok-pat-poa-
it-sian-thian itu benar-benar merupakan pertahanan yang
kokoh.
Tiba diujung jalan, mereka berhenti. Liong Go memandang
ke arah dinding karang yang penuh dengan batu-batu yang
menonjol itu. Kemudian dia ulurkan tangan menekan pada
sebuah batu.
Seketika terdengar bunyi batu roboh yang amat gemuruh.
Tapi tiada tampak perobahan apa-apa. Waktu Siau Ih masih
dalam keheranan Liong Go berputar ke belakang dan
menepuk bahunya: „Hiante, jalanan keluar, berada diujung
sana, mari ikut aku!"
Siau Ih mengikut Liong Go yang melangkah ke arah jalanan
di sebelah muka. Setelah tujuh-delapan kali berbelok-belok,
tibalah mereka diujung buntu. Disitu terdapat cahaya
penerangan. Membelok keujung karang, tak jauh disebelah
muka tampak ada sebuah pintu batu yang kecil. Di atasnya
terdapat tumbuhan rotan.
Sekeluarnya dari pintu itu, Siau Ih baru dapat menghela
napas longgar. Masa itu adalah dalam musim dingin, tapi hari
itu amat cerahnya, langit bersih dari gangguan awan.
Liong Go menerangkan bahwa sebenarnya jalanan kiu-jiok-
pat-poa-it-sian-thian itu taklah begitu mengherankan. Asal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah biasa tentu mudah berhilir mudik. Setelah itu dia


menghampiri ke sebuah rumpun rotan dan menekannya
pelahan-lahan.
Seketika terdengar suara gemuruh pula dan pintu besi
itupun tertutup sendiri. Kemudian menunjuk pada sebuah
hutan yang luas dtsebelah muka, Liong Go menerangkan
bahwa di belakang hutan itulah terdapat pondoknya.
Memandang ke arah hutan itu, kembali Siau Ih kagum.
Selain lebat, pun setiap pohon yang tumbuh dihutan itu
besarnya rata-rata sepemeluk tangan orang. Waktu
diperhatikan lebih lanjut, nyatalah barisan pohon itu seperti
diatur menurut bentuk suatu barisan perang. Kembali dia
menanyakan hal itu kepada Liong Go.
„Sepertinya hal dengan kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian, pun
hutan itu memang diatur oleh engkong. Dimana letak
keindahannya, akupun tak dapat menerangkan dengan jelas.
Kita hanya dapat menurut petanya saja."
Siau Ih tak habisnya memuji kelihayan Thiat-san-sian Liong
Bu-ki.
Untuk itu Liong Go hanya menghela napas, ujarnya:
„Memang harus diakui bahwa engkong itu selain seorang yang
berbakatpun memiliki pengalaman yang luas. Mendiang
ayahkupun keturunan darahnya, cerdas dan tangkas. Sayang
beliau sudah keburu menutup mata dalam usia muda.
Sebaliknya aku ini, tiada berguna. Belasan tahun engkong
mendidik, namun aku tetap begini saja, sungguh memalukan."
Siau Ih menghiburnya dengan mengatakan bahwa
toakonya itu terlalu merendah hati. Memang kaum muda tak
terluput dari kecongkakan, tapi kalau dibandingkan dengan
tokoh-tokoh angkatan tua, mereka masih belum menempil.
Pokok asal giat, kesempurnaan itu pasti akan dapat dicapai.
Diam-diam Liong Go merasa heran melihat perobahan
saudaranya angkat itu. Bgaimana seorang pemuda yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tempo hari begitu sombong congkak, kini ternyata dapat


mengucapkan beberapa falsafat yang tinggi.
Dalam pembicaraan selanjutnya, Siau Ih minta agar
diperkenalkan engkong Liong Go. Saking asyiknya mereka
ber¬cakap-cakap itu, tahu-tahu sudah memasuki hutan itu.
Kiranya sepeminum teh lamanya, mereka keluar dari hutan
itu. Di sebelah luar hutan itu, terbentang sebuah tanah lapang
yang amat luas. Empat penjuru dikelilingi oleh puncak gunung
yang menjulang tinggi.
Di kaki gunung itu, masih ada dua buah rentetan rumah
kayu. Di depan rumah itu kelihatan beberapa orang lelaki
berpakaian ringkas. Mereka tampak bicara dengan berisik,
entah apa yang dipercakapkannya itu. Yang nyata wajah
mereka itu mengunjuk ketegangan. Oleh karena barisan
rumah itu diatur sedemikian rupa, jadi tengah-tengahnya
seperti merupakan sebuah pintu masuk.
Ketika Liong Go dan Siau Ih tiba, orang-orang itu sama
berhenti bicara dan memberi hormat pada Liong Go. Liong Go
hanya ganda tertawa membalas salam.
Memasuki pintu alam itu, Siau Ih disuguhi oleh suatu
pemandangan yang mempesonakan. Sebuah tanah lapang
yang penuh ditumbuhi rumput hijau dan beraneka bunga.
Hutan bambu, tumbuh di sana-sini.
Di bawah naungan barisan gunung, tampak beberapa
rumah. Alam pemandangan disitu, mempunyai selera
keindahan lain dari alam di Tiam-jong-san. Siau Ih terhibur
hatinya.
„Pemandangan disini, benar-benar merupakan sebuah
taman sorga di luar dunia," pujinya.
Liong Go hanya tertawa saja dan mengucapkan beberapa
kata merendah. Yang satu memuji yang lain merendah. Kedua
pemuda itu bercakap-cakap dengan gembira sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba Liong Go teringat bahwa Siau Ih tentunya belum


makan siang. Waktu berjalan ditengah-tengah padang bunga
itu, Liong Go menunjuk ke arah sebuah hutan bambu,
katanya: „Itulah pondok Soh-yap-suan, tempat peristirahatan
engkong."
Memang disana terdapat beberapa puluh batang bambu
yang rindang daunnya. Di belakangnya, ada beberapa petak
rumah. Kala itu tampak ada seorang anak berpakaian putih,
tengah masuk ke dalam pondok sembari membawa sebuah
ikat pinggang kumala. Tiba-tiba Liong Go berhenti, dia seperti
teringat sesuatu.
„Ai, aku benar-benar linglung, hampir lupa memberitahukan
siaote. Beberapa hari yang lalu seorang sahabat lama dari
engkong telah datang kemari dan tinggal disini beberapa hari.
Locianpwe itu selama ini tinggal di luar lautan, jarang
berkunjung ke daratan Tiong-goan. Entah apa sebabnya,
mendadak dia datang kemari beserta beberapa orang anak
muridnya. Rupanya dia mempunyai urusan penting. Orang tua
itu beradat aneh, sombongnya bukan main. Kecuali dengan
engkong dan satu dua tokoh persilatan, dia tak mempunyai
kenalan lain lagi. Siaote pasti tahu siapa dia, ialah salah satu
tokoh dari sepuluh Datuk yang bernama Gan-li Cinjin Kho
Goan-thong. Sejak beliau datang kemari, kerjanya tak lain
hanya bercakap-cakap sepanjang hari dengan engkong. Nanti
apabila hiante menghadap engkong, tentu akan berjumpa
juga dengan orang tua itu."
Mendengar nama orang itu, Siau Ih menjadi terkesiap. Si
orang lelaki berpakaian merah yang membantu Li Thing-thing
untuk mencelakai dirinya di lembah gunung Tay-lo-san itu,
adalah murid dari Gan-li Cinjin Kho Goan-thong. Tanpa
disadari, timbullah rasa dendam pada wajah Siau Ih. Melihat
itu diam-diam Liong Go terkejut.
„Celaka, jangan-jangan Siau-hiante ini pernah bentrok
dengan Kho Cinjin itu,” pikir Liong Go. Dia makin mengeluh,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

demi teringat akan sepak terjang pemuda itu jika menuntut


balas terhadap seseorang musuh.
„Harap toako jangan kuatir, siaote pasti takkan berbuat
kurang hormat,” kata Siau Ih menghibur toakonya.
Sabar nada ucapan itu kedengarannya, namun tak urung
Liong Go berjengit juga. Dia kenal bagaimana watak Siau Ih
itu. Entah bagaimana kini pemuda itu dapat mengendalikan
diri begitu rupa. Tapi demi dia memperhatikan kesungguhan
wajah saudaranya angkat itu, diam-diam iapun memuji sikap
anak muda itu.
Pada lain saat, keduanya segera menuju kepondok Soh-
yap-suan. Tiba di muka pondok itu, Liong Go minta Siau Ih
menunggu di luar dulu, biar dia masuk melapor. Tak berapa
lama kemudian, Liong Go keluar dan mengundang Siau Ih
masuk.
„Kho Cinjin juga berada di dalam,” bisik Liong Go.
Siau Ih tahu juga kemana jatuhnya perkataan Liong Go
yang terakhir itu. Segera dia menyahut dengan tersenyum:
„Toako jangan kuatir. Kalau berhadapan dengan seorang
cianpwe, biar bagaimana juga, siote pasti tak berani berlaku
kurang adat."
Demikian kedua pemuda itu segera melangkah masuk.
Pondok Soh-yap-suan hanya terdiri dari dua buah ruangan
yang bersih. Ruang maka penuh berhiaskan buku-buku dan
lukisan-lukisan. Seorang kacung segera menyingkap tirai dari
mempersilahkan kedua pemuda itu masuk.
Di atas sebuah dipan yang berdiri dekat dinding, tampaklah
duduk dua orang tua. Yang seorang bertubuh tinggal besar,
berwajah bersih. Sedang satunya seorang iman tua bertubuh
kecil kurus. Jubahnya berwarna merah, wajahnya amat
congkak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tahulah Siau Ih bahwa yang duduk bersila itu tentu tokoh


termasyhur masa silam, Thiat-san-sian Liong Bu-ki. Sementara
imam tua itu, pasti tokoh yang dikatakan Liong Go, yakni Gan-
li Cinjin Kho Goan-thong yang tinggal di pulau Cip-peng-to.
Dengan khidmat, Siau Ih menjurah memberi hormat,
serunya: „Wanpwe Siau Ih menghaturkan hormat pada
cianpwe!”
Memang orang tua yang duduk bersila itu, ialah Liong Bu-
ki. Pelahan-lahan kedua matanya dipentang dan disapukan ke
arah pemuda itu. Wajahnya menampil seri senyum dan
dengan suara ramah dia berkata: „Usah banyak peradatan,
inilah Kho Cinjin."
Kesan mengenai peristiwa di gunung Tay-lo-san itu, masih
segar dalam ingatan Siau Ih, namun dia tak mau dikata
kurang hormat terhadap Kho Goan-thong. Buru-buru dia
menjurah ke arah Cinjin itu selaku menghaturkan hormat,
namun mulutnya tak mengatakan sepatah perkataan apa-apa.
Gan-li Cinjin Kho Goan-thong, menempati tingkatan atas di
dunia persilatan, tambahan pula orangnya pun berhati tinggi
(sombong). Melihat pemuda itu memberi hormat dengan
membisu, marahlah dia. Dengan nada dingin, dia mendengus:
„Kau dan aku tak mempunyai hubungan apa-apa, pinto tak
berani menerima penghormatan yang besar!”
Siau Ih tertawa dingin, lalu menyurut ke belakang. Liong
Bu-ki terkejut melihat sikap kedua orang tua dan pemuda itu.
Sedang Liong Go pun menjadi tak enak.
Saat itu, si kacung membawakan dua buah dingklik, maka
Liong Bu-ki pun menyuruh kedua pemuda itu duduk.
„Tempo hari ketika dimakam Gak-ong, kalau tiada bantuan
hiantit, Go-ji tentu celaka, untuk hal itu losiu amat berterima
kasih,” ujar Thiat-san-sian Liong Bu-ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Orang yang sudah angkat saudara, adalah sudah jamak


bantu membantu, Locianpwe begitu sungkan, wanpwe
sungguh malu dihati," Siau Ih tersipu berbangkit menyahut.
„Ah, losiu tak menyukai peradatan, harap hiantit duduk
saja,” kata tuan rumah. Kemudian jago tua itu berpaling ke
arah Gan-li Cinjin yang duduk disebelahnya, berkata: „Menilik
anak itu memiliki bakat tulang yang bagus dan pribadi yang
kuat, apabila dia dapat melatih diri, kelak pasti akan berhasil.
Sayang dia mempunyai watak ganas, hingga tentu sering
mengalami kesulitan. Entah bagaimana pendapat to-heng?”
Dengan wajah yang masih tetap membeku, Kho Goan
Thong menyahut dingin: „Dikolong dunia yang lebar ini,
banyak sekali tunas-tunas yang bagus. Oleh karena sering
mendapat kesulitan, maka harapan untuk berhasil tentu amat
kecil. Orang macam begitu, tak boleh diharap."
Sebagai sahabat lama, Thiat-sian-san Liong Bu-ki cukup
kenal akan perangai Gan-li Cinjin itu. Dia tahu karena Siau Ih
kurang menghormat, maka Gan-li Cinjin sudah memberi
penilaian begitu.
Sebagai tuan rumah, dia tak mau berdebat panjang lebar.
Dengan tertawa tawar, kembali dia berpaling ke arah Siau Ih.
Dia mulai mananyai anak muda itu mengenai bermacam-
macam hal di dunia persilatan.
Digembleng oleh tokoh si Dewa Tertawa, Siau Ih berangkat
dewasa menjadi seorang pemuda yang lihay dalam ilmu silat
dan ilmu sastera. Apalagi setelah ‘dikurung’ selama berbulan-
bulan di Tiam-jong-san, dia telah mendapat latihan rokhani
yang cukup baik dari engkongnya. Semua pertanyaan tuan
rumah, telah dijawabnya dengan lancar dan hormat.
Sebaliknya Liong Bu-ki yang sudah lama mengasingkan diri,
sudah tentu ketinggalan zaman. Benar ia mendengar di dunia
persilatan banyak muncul jago-jago muda yang lihay, tapi
selama itu belum pernah dia menyaksikan sendiri. Kini setelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhadapan muka dengan Siau Ih, kesannya terhadap


pemuda itu amat memuaskan sekali.
Selain memiliki kepandaian silat yang tinggi, nyata pemuda
itu mempunyai kepribadian yang menonjol. Apa yang di
katakan Liong Go tempo hari kepadanya (Liong Bu-ki) itu,
bukan saja benar malah melebihi kenyataan.
Diam-diam jago tua itu kagum di dalam hati. Bahkan Gan-li
Cinjin Kho Goan-thong yang muring-muring itu, diam-diampun
juga terperanjat.
Saking gembiranya, Liong Bu-ki terus menerus menghujani
pertanyaan pada anak muda itu. Pertanyaannya pun makin
lama makin sulit, hingga Siau Ih harus menggunakan waktu
untuk menjawab.
Melihat engkongnya penuju dengan Siau Ih, Liong Go amat
gembira. Tapi diam-diam dia berdebar-debar juga
mendengarkan ujian lisan yang berat itu. Syukur saudaranya
angkat itu dapat menjawab semua pertanyaan.
Dalam pada itu, Siau Ih sendiri diam-diam mengeluh. Tak
tahu dia, bila tuan rumah akan menyudahi pertanyaannya.
Lebih berdebar lagi dia, bila nanti jago tua itu bertanya
tentang nama suhunya.
Maka sembari menjawab bermacam pertanyaan itu, diam-
diam Siau Ih memutar otak bagaimana nanti dapat
menghindari pertanyaan yang menyangkut diri suhunya. Ah,
susah sekali kiranya.
Untuk kegirangannya, saat itu Liong Bu-ki hentikan
pertanyaannya, dengan wajah berseri gembira tokoh itu
berpaling ke arah sahabatnya Gan-li Cinjin, ujarnya: „Memang
benar ucapan bahwa 'ombak disungai Tiang-kang itu yang di
belakang mendorong yang di muka'. Setiap zaman tentu
melahirkan tunas-tunas baru. Kini baru losiu dapat merasakan
sendiri kebenaran ucapan itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berhenti sejenak, Thiat-san-sian kembali berkata:


„Pengetahuan anak itu cukup luas, walaupun kurang
pengalaman, tapi dalam usia seperti itu, kiranya sudah boleh
dipuji. Entah bagaimana ilmunya silat, tapi kurasa tentu
suhunya itu bukan tokoh sembarangan. Asal dia giat berlatih
diri, kelak pasti akan sangat gemilang. Apakah to-heng berani
bertaruh dengan aku?"
Sepasang mata Gan-li Cinjin berkilat-kilat, menantang
dingin ke arah Siau Ih, dia mendengus, ujarnya: „Kata-kata
'sangat' itu amat luas artinya. Sedang kata 'gemilang' itu, dari
dulu sampai sekarang tiada seorang yang berani mengakui.
Misalnya, kita berdua ini, nama kita sampai sekarangpun
masih belum punah, tapi adakah kita berani menganggap diri
kita ini 'sangat gemilang'? Sekalipun si Rase Kumala Shin-tok
Kek yang begitu congkak, rasanya juga tak berani menepuk
dada begitu. Maka apa yang Liong-heng ucapkan tadi, pinto
belum dapat menyetujui. Tentang bertaruh, maafkan, pinto
kurang tertarik.”
Thiat-san-sian hanya ganda tertawa, bantahnya: „Uraian
to-heng itu memang benar, tapi menurut pendapat losiu,
kedua kata tadi bukannya tak mungkin. Benar karena hidup
manusia itu amat terbatas, tak dapat sempurna segala-
galanya. Namun dalam bidang-bidang yang tertentu, tentu
mungkinlah mencapai prestasi yang tinggi. Pameo 'ombak
sungai Tiang-kang yang di belakang mendorong yang di
muka', tetap tak berkurang kebenarannya. Siapakah yang
berani memastikan bahwa angkatan muda itu takkan dapat
melebihi angkatan tua?”
Wajah Kho Goan-thong yang sudah keren itu, makin gelap.
Pada lain saat tampak dia berbangkit, katanya: „Ah, tiada
berguna untuk berdebat tentang urusan kecil itu. Pinto hendak
mengasoh dulu."
Habis itu, dia lantas melangkah keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thiat-san-sian menggeleng dan menghela napas melihat


kelakuan sobatnya itu.
Siau Ihpun terperanjat hatinya. Diam-diam dia menduga,
kepergian Gan-li Cinjin itu tentu akan mempercepat datangnya
kesulitan. Ah, lebih baik dia juga akan minta diri saja. Cepat
dia mengutik Liong Go yang duduk di sampingnya.
Liong Go mengerti maksud saudaranya angkat, maka
dengan alasan Siau Ih sejak pagi belum makan, dia minta diri
pada engkongnya. Engkongnya mengiakan dan bahkan
menyesali Liong Go yang tak memperhatikan kepentingan
sahabatnya itu.
Siau Ih menghaturkan terima kasih atas kebaikan budi
orang tua itu. Setelah keluar dari ruangan itu, dapatlah Siau Ih
menghela napas longgar.
„Pondok kecil itu, adalah tempat tinggalku. Biar kusuruh
mereka siapkan beberapa hidangan. Nanti malam kita
lewatkan dengan mengobrol lagi,” kata Liong Go sambil
menunjuk ke arah beberapa petak rumah yang berada di
bawah kaki sebuah puncak yang tinggi.
Setiba di muka pondok itu, penjaga pintunya ternyata
adalah si anak muda yang dijumpai Siau Ih ketika bertanya
jalan pada beberapa orang disebelah bawah sana.
„Ji-yan, ayuh haturkan hormat pada Siau kongcu!" seru
Liong Go. Anak itupun menurut perintah.
Waktu masuk ke dalam ruangan, ternyata disitu selain
dirawat bersih pun penuh berhias dengan lukisan-lukisan yang
menarik. Sungguh sebuah tempat yang amat sesuai untuk
belajar. Siau Ih memuji kebersihan dan keindahan pondok itu.
Tak lama kemudian, hidanganpun segera disuguhkan.
Ternyata masakannya amat lezat dan arakpun arak pilihan.
Habis dahar, Liong Go lalu perintah Ji-yan pindahkan tempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

duduk di muka jendela. Begitu sembari menikmati arak wangi,


kedua pemuda itu mengobrol ke barat ke timur.
„Toako, tadi semakin berhadapan dengan locianpwe,
sebenarnya aku hanya kepingin lekas-lekas undurkan diri,
bukan karena lapar," kata Siau Ih.
„Mengapa?” tanya Liong Go.
Siau Ih menghela napas, ujarnya: „Bukannya maksud
siaote hendak berlaku kurang hormat terhadap orang tua,
tetapi karena kuatir dalam pertanyaan itu nanti, locianpwe
akan menanyakan asal-usul dan suhu siaote. Siaote
menyembunyi kedua hal itu, bukan karena bermaksud jahat
tapi karena sakit hati ayah bunda belum terhimpas. Hal ini
harap toako berlapang dada memaafkan."
"Rahasia pribadi yang tak boleh diceritakan pada lain
orang, rasanya setiap orang tentu mempunyai. Tapi sekiranya
siaote percaya, aku suka sekali untuk membagi kedukaan
siaote itu."
Sampai disini, Siau Ih tak dapat menghindar lagi. Begitulah
dia segera menuturkan riwajat hidupnya dengan jelas.
Ketika menuturkan tentang peristiwa yang dialami ayah
bundanya, dia tak kuasa menahan air matanya lagi. Liong Go
pun turut bersedih atas kemalangan nasib anak muda itu.
Sampai sekian saat, mereka diam membisu.
„Membalas sakit hati orang tua, adalah tugas kewajiban
seorang putera. Tapi sebaiknya jangan kita bertindak secara
gegabah. Coba hiante pikirkan, peristiwa itu sudah berselang
puluhan tahun lamanya, namun tetap belum jelas. Bahkan
beberapa cianpwe yang berkepandaian tinggi turut
menyelidiki, pun tetap sia-sia. Jadi nyatalah urusan itu amat
pelik sekali. Maka dapat dipastikan, apabila salah urus,
peristiwa itu pasti akan menimbulkan kegoncangan besar
dalam dunia persilatan. Menurut pendapatku, lebih baik hiante
berlaku hati-hati dan menurut petunjuk yang diberikan oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedua locianpwe itu. Percayalah, bahwa sakit hati itu pasti


akan ada akhirnya.”

23. Arti Persaudaraan …….


Siau Ih menghaturkan terima kasih atas nasehat itu. Selang
berapa jenak kemudian, Siau Ih menerangkan rencana
perjalanannya.
Pertama dia akan tinggal beberapa hari di Pao-gwat-san
itu, lalu menuju ke Lo-hu-san untuk menjenguk Lo Hui-yan,
setelah itu baru pulang ke Tiam-jong-san menerima
dampratan engkongnya.
Mendengar Siau Ih hendak pergi ke Lo-hu-san, Liong Go
bercekat, ujarnya: „Rencana hiante itu bagus sekali, tapi
sebaiknya perjalanan ke Lo-hu-san itu ditiadakan sajalah!"
Siau Ih ganda bersenyum, katanya: „Meskipun Peh-hoa-
kiong itu suatu daerah terlarang bagi kaum lelaki, tapi kita
bertiga sudah saling angkat saudara, jadi rasanya lebih dari
pantas kalau siaote menyambanginya. Apalagi ketika hendak
pulang, adik Yan pernah memberitahukan siaote, bahwa asal
lebih dahulu mencari pada seorang petani she Kau, siaote
pasti akan dapat berjumpa pada adik Yan. Jadi tak perlu siaote
masuk ke daerah Peh-hoa-kiong, harap toako jangan kuatir.”
Liong Go tahu bahwa antara kedua muda-mudi itu sudah
terjalin suatu ikatan asmara yang berkesan, jadi diapun
merasa tak enak untuk mencegahnya.
Setelah meneguk habis araknya, Siau Ih mengingatkan
akan keterangan Liong Go tempo mendaki ke atas gunung tadi
pagi, bahwa Pao-gwat-san dalam beberapa hari belakangan
ini, terjadi suatu peristiwa.
„Ah, kejadian itu boleh dianggap akulah yang menjadi gara-
garanya saja, ceritanya amat panjang. Sembari minum-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

minum, akan kututurkan hal itu pelahan-lahan,” sahut Liong


Go.
Setelah menghabiskan araknya, mulailah Liong Go
menutur: „Sepulangnya ke gunung, segera kuceritakan pada
engkong tentang munculnya kembali si Jin-mo Kiau Hoan dan
pertempuran dimakam Gak-ong itu. Engkong menerangkan,
bahwa Manusia Iblis itu tentu akan melakukan pembalasan
kepada beliau atas kekalahannya tempo hari. Dalam waktu
setahun, Kiau Hoan tentu melakukan pembalasan."
Liong Go berhenti sejenak menghirup arak, lalu
melanjutkan pula: „Bermula aku kurang percaya atas
keterangan engkong itu. Pertama letak Pao-gwat-san sini
amat pelik, kedua kali rakyat disini jarang turun gunung jadi
tak mudah dimata-matai orang. Tapi kenyataan, memang
tepat sekali dugaan engkong itu. Kira-kira setengah bulan lalu,
daerah sini telah kemasukan seorang kaum persilatan. Dua
buah keluarga pemburu yang menghuni disekitar tempat ini,
telah dibunuh dan dibakar rumahnya.”
„Engkong segera menentukan bahwa yang melakukan
keganasan itu, pasti si Jin-mo. Karena tak mau menunjukkan
letak Pao-gwat-san, maka Manusia Iblis tentu membasmi
kedua keluarga pemburu itu. Engkong sangat memikirkan
kepentingan beberapa keluarga pemburu yang tersebar
tinggal disekitar daerah gunung sini. Agar jangan sampai
mereka diganas si Jin-mo, engkong menyuruh mereka sama
pindah kemari. Selanjutnya engkong telah mengambil putusan
untuk menghadapi durjana itu secara terang-terangan.
Seorang yang pernah diberi ampun tapi ternyata tak dapat
insyaf, sudah seharusnya dibasmi.”
„Benar juga pada suatu hari muncullah Manusia Iblis itu.
Tapi dia belum bertindak apa-apa, melainkan sesumbar di
muka jalanan kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian, bahwa dalam
waktu sepuluh hari, dia akan datang untuk menghancurkan
Pao-gwat-chung. Untuk menghadapi ancaman itu, maka telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kusiapkan penjagaan yang rapi. Tiga hari kemudian, datang


Kho Cinjin, namun engkong tak mau menceritakan hal itu
kepadanya, karena beliau tak mau lain orang terlibat dalam
urusan itu. Menurut perhitungan, besok pagi itu sudah genap
sepuluh hari, apabila terjadi suatu apa, kuharap hiante jangan
turut campur.”
Siau Ih tenang-tenang meneguk cawannya, kemudian
membuka mulut: „Apakah toako masih ingat tentang asal-usul
diri siaote dan bagaimana suhu telah menggembleng siaote
itu?”
Liong Go terkesiap dan mengiakan.
„Bagus, bagaimanakah sepak terjang ayah angkatku si
Dewa Tertawa itu pada masa dahulu?" tanya Siau Ih.
„Beliau adalah seorang tokoh yang gigih memperjoangkan
keadilan dan kebenaran. Angkatan muda dalam dunia
persilatan sangat mengagungkannya,” sahut Liong Go.
„Jadi pada hakekatnya, ayahku angkat itu memang tak mau
berpeluk tangan terhadap sesuatu yang tak adil. Sejak kecil
siaote digemblengnya, sudah tentu perangai siaote pun tak
terlepas dari ………..”
„Hiante ……..,” tukas Liong Go.
„Toako, orang bijaksana bicara dengan otaknya, masakah
toako tak kenal pribadiku. Apalagi aku pernah bentrok dengan
iblis itu.”
Kembali Liong Go mencegahnya, namun dengan wajah
bersungguh Siau Ih menegaskan: „Pertempuran di makam
Gak-ong itu termasuk tugas kaum persilatan dalam rangka
membasmi kejahatan. Segala resiko, biarlah siaote yang
tanggung. Benar locianpwe (Liong Bu-ki) tak mau menerima
bantuanku, tapi urusan itu siaote sendiri yang bertanggung
jawab, tak nanti menyusahkan toako.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Masih Liong Go hendak memberi penjelasan untuk


menasehatinya, tapi Siau Ih segera menyimpangkan
pembicaraan: „Toako, sudahlah jangan plkirkan hal itu, mari
kita rayakan pertemuan kita ini dengan minum dan mengobrol
puas-puas.”
Liong Go terpaksa menerima cawan yang diangsurkan
pemuda itu dan meneguknya habis.
Kemudian Siau Ih menceritakan panjang lebar tentang
pengalamannya selama ini, Bagaimana dia menolong Tan
Wan, bertempur dengan Li Thing-thing, menje¬nguk si Rase
Kumala dan disekap selama tiga bulan di Tiam-jong-san dan
lain-lain.
Tapi ada sebuah hal yang dirahasiakan ialah tentang
pertempuran di gunung Tay-lo-san, dimana anak murid Gan-li
Cinjin telah binasa. Bukan karena dia takut terhadap Kho
Goan-thong, tapi karena dia tak mau Liong Go terlibat di
dalamnya.
Hanya saja sewaktu dia menceritakan tentang
pertempurannya dengan si Wajah Kemala Tio Gun. Liong Go
tampak terperanjat.
„Tio Gun itu kecuali berkepandaian tinggi, juga wajahnya
mirip sekali dengan siaote. Karena hal itulah maka siaote
hampir disangka orang sebagai tukang pengrusak wanita.
Sayang walaupun Siaote berhasil mengutungi sebelah
tangannya, bangsat itu dapat meloloskan diri."
Liong Go menerangkan bahwa sebenarnya si Wajah Kumala
itu bernama Tio Giok-gun, anak murid dari Ngo Siu-wan
Totiang. ketua Bu-tong-pay.
„Orangnya sih cerdas dan berkepandaian tinggi, hanya
sayang gemar paras cantik. Sebenarnya Ngo Siu-wan Totiang
hendak menghukumnya berat, tapi mengingat hubungan suhu
dan murid, dia tak tega dan hanya mengusirnya dari
perguruan. Sejak itu, dia pun berganti nama dengan Tio Gun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan menurutkan kemauan hatinya. Nah, jelas sudah bahwa


rumah perguruan baik belum tentu menghasilkan anak murid
baik. Baik buruk itu tergantung dari dasar sanubarinya.”
Siau Ih menanyakan kalau-kalau Liong Go kenal dengan
orang itu.
Liong Go menggeleng kepala, ujarnya: „Aku tidak kenal
padanya, melainkan dengan sutenya Kin-kiong-hoan Sun Kian-
hin, aku memang kenal baik. Adalah dari Sun Kian-hin, aku
mengetahui riwayat si Wajah Kumala itu."
Demikian Kedua pemuda itu mengobrol sampai jauh
malam. Tahu-tahu langit sudah muiai terang tanah. Keduanya
segera berpisah untuk beristirahat dikamar masing-masing.
Siangnya setelah habis makan, Liong Go ajak Siau Ih
berjalan-jalan diperkampungan itu. Kecuali beberapa petak
rumah pondok Soh-yap-suan, Thing-hong-simo-cu dan Khim-
kwat, desa Pao-gwat-chung itu seluruhnya adalah tanah
lapang yang penuh ditumbuhi bunga-bunga.
Memang propinsi Kwitang di daerah selatan, dalam empat
musim selalu menghidangkan pemandangan alam yang
permai. Siau Ih tak putu-putusnya memuji.
„Ah, hiante terlalu memuji, masakah Pao-gwat-san menang
dengan Tiam-jong-san dengan selat Liu-hun-hiap yang
keramat dan suci itu?” sahut Liong Go.
„Indah sih indah, tapi disini lebih bebas".
„Ah, memang di rumah sendiri itu ibarat kuda lepas, kalau
tak dikekang tentu membawa maunya sendiri."
Mendengar ucapan Liong Go itu, Siau Ih agak terkesiap,
katanya: „Siaote telah mengetahui kesalahan siaote. Rindu
akan toako, telah terpenuhi. Nanti setelah mengunjungi Lo-hu-
san, siaote tentu segera pulang ke Tiam-jong-san untuk
menerima dampratan dan menunggu kesempatan melakukan
pembalasan dendam yang tak kunjung datang itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong Go mengangguk, serunya dengan sungguh: „Tahu


kesalahan dan dapat merobahnya, itulah orang yang
bijaksana. Dan tak pernah melupakan dendam orang tua,
itulah orang yang berbakti.”
„Memang benar. Tapi kalau berlarut terlalu lama, mungkin
bukti-bukti peristiwa itu makin hilang. Kalau sampai demikian,
siaote hidup pun menanggung penasaran, mati juga tak ada
muka bertemu dengan kedua ayah bunda."
Liong Go menghiburnya: „Segala apa tak dapat lepas dari
hukum alam. Siapa menanam pasti akan memetik buahnya.
Misalnya, si Jin-mo itu. Tanpa diharap diapun muncul sendiri
kemari untuk mempertanggung-jawabkan kedosaannya. Harap
hiante jangan putus asa."
„Dalam, kamus hidup siaote, tak terdapat kata putus asa
itu. Setiap perbuatan yang benar, tentu siaote lakukan sampai
selesai. Mengenai hukum alam, uraiannya memang begitu,
namun prakteknya belum tentu bahwa perbuatan baik itu
tentu mendapat buah baik. Seperti si Jin-mo yang telah diberi
kemurahan oleh Locianpwe, sebaliknya malah memberi
kesempatan pada durjana itu untuk melanjutkan
kejahatannya. Kesimpulannya, baik buruknya hasil yang kita
petik itu, tergantung juga bagaimana tempatnya kita
menanam ……”
Liong Go agak terbeliak.
„Juga nasib seperti yang di alami oleh kedua almarhum
ayahbundaku itu. Apa salah mereka terhadap orang lain?
Hanya karena mereka dilahirkan sebagai sejoli rupawan dan
budiman, maka telah menimbulkan iri hati orang. Dari iri hati
orang lalu mencelakai mereka. Menurut hukum alam,
bagaimana hendak menjelaskan? Pada hakekatnya, dunia itu
memang tidak adil,” Siau Ih melanjutkan pula.
Kembali dia berhenti sejenak, lalu berkata pula: „Memiliki
hati welas asih dan menjalankan kebaikan, memang suatu hal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang mulia. Namun kalau tidak menyesuaikan dengan waktu


dan tempat, akibatnya akan runyam sendiri."
Liong Go merenung beberapa detik, baru dia mengiakan.
Dia memuji kematangan pikiran hiantenya itu.
Siau Ih mengucapkan kata-kata merendah, lalu katanya:
„Ai, toako, karena mengobrol kita baru berjalan beberapa
puluh langkah saja. Kalau begini gelagatnya, mungkin dalam
tiga hari, siaote tak dapat menjelajahi Pao-gwat-chung ini
sampai habis."
Liong Go tersadar dan buru-buru ajak hiantenya itu
lanjutkan perjalanan lagi.
Tapi belum berapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba
terdengar lengking orang tertawa.
„Suheng, alangkah indahnya bunga ini!" seru seorang
nona.
„Sumoay, tanpa ijin yang empunya, jangan gegabah
memetiknya," sahut seorang pemuda.
Membantah si gadis tadi: „Berapakah harganya setangkai
bunga, masakah si pemilik begitu sekaker?”
Rupanya kedua muda mudi itu tengah berbantah.
Siau Ih segera menanyakan mereka kepada Liong Go.
„Rasanya tentu puteri kesayangan Kho Cinjin yang bernama
Cek-i-liong-li Kho Wan-ji ……,” baru Liong Go berbisik sampai
disini, dari semak disebelah muka, berkelebat keluar seorang
gadis berbaju wungu, beserta seorang imam muda.
Nona itu berumur duapuluhan tahun dipunggung menyelip
sebatang pedang. Sedang imam itu berjubah merah.
Menampak Liong Go, nona itu menghampiri. Dengan
bersenyum-senyum ia mununjuk ke arah bunga yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disunting dirambutnya, serunya: „Liong toako, kupetik


setangkai bungamu, apakah kau keberatan?”
Biasanya Liong Go amat sayang terhadap pohon-pohon
bunganya. Dia sendiri yang menanam dan merawat bunga-
bunga itu. Orang dilarang memetiknya. Dengan hobby itu,
hatinya terhibur. Sebenarnya dia kurang senang, namun
dipaksakan juga bibirnya bersenyum.
„Jika nona Yan suka, setangkai bunga tak menjadi soal!"
Nona baju ungu itu, adalah puteri tunggal dari Gan-li Cinjin
Kho Goan-thong. Kho Goan-thong mulai menjadi orang
pertapaan, ketika sudah dalam pertengahan umur.
Tigapuluh tahun berselang, dia ajak seluruh keluarga dan
anak muridnya ke pulau Cip-peng-to. Disitu dia mendirikan
istana-biara Li-cu-kiong.
Meskipun dia mempunyai banyak selir, tapi ketika berusia
lanjut baru dia memperoleh seorang puteri. Maka dapat
dibayangkan betapa kasih sayangnya terhadap sang buah hati
itu.
Inilah yang menjadikan Yan-ji, seorang nona yang manja.
Karena sejak kecil tak pernah meninggalkan pulau
kediamannya, maka terhadap tata cara pergaulan, ia tak
mengerti.
Waktu ayahnya pergi kedaratan Tiong-goan ia berkeras
mau ikut. Direngeki puterinya, Kho Goan-thong terpaksa
meluluskan.
Mengingat puterinya sudah dewasa, maka baik jugalah
kiranya tambah pengalaman dan sekalian barangkali dia (Kho
Goan-thong) dapat mencarikan anak mantu yang sesuai
dengan puterinya itu.
Wan-ji amat gembira mendapat bunga itu. Berpaling ke
arah si imam muda, berkatalah ia dengan rasa bangga: „Ngo-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suheng, bagaimana, kan sudah kukatakan bahwa Liong toako


tak nanti begitu pelit."
Si imam muda tak mau menyahuti ejekan sumoaynya,
melainkan sepasang matanya berkilat-kilat menatap Liong Go,
kemudian hidungnya mendengus dingin.
Sudah tentu Liong Go terkesiap, pikirnya: „Jangan-jangan
dia tak senang padaku karena bunga itu."
Karena memikirkan hal itu, mau tak mau wajah Liong Go
agak berobah. Sedang si imam mudapun tampak membesi
mukanya.
Kesemuanya itu tak lepas dari pandangan Siau Ih. Dia tahu
bahwa antara kedua orang itu diam-diam telah terbit ganjelan.
Buru-buru dia menyela: „Toako, mengapa tak mengenalkan
siaote?"
Sebagai seorang terpelajar, Liong Go malu di dalam hati
karena telah memperlihatkan tanda-tanda yang kurang
menyenangkan tadi. Segera dia tertawa terbahak-bahak,
serunya: „Kedua pihak adalah tetamu-tetamu yang mulia,
sukar aku menjadi tuan rumah."
Kemudian menunjuk kepada si nona, dia berkata: „Inilah
puteri kesayangan dari salah seorang tokoh sepuluh Datuk
Gan-li Cinjin Kho Goan-thong Totiang, nona Kho Wan-ji.
Sedang Totiang ini adalah Hwat-poan-koan Lu Wi, murid
pilihan dari Kho Cinjin. Dan ini adalah Siau Ih, adik angkatku,
harap ……..”
Belum lagi Liong Go menghabiskan kata-katanya, Siau Ih
sudah segera tampil ke muka memberi hormat pada Wan-ji:
„Sungguh beruntung dapat berjumpa dengan nona dan
Totiang."
Wan-ji balas memberi hormat. Menatap si anak muda,
diam-diam ia membatin: „Seorang anak muda yang gagah dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tampan, hanya sayang sepasang alisnya memancarkan hawa


pembunuhan."
Dilihati begitu rupa, Siau Ih tak senang. Apalagi dia sudah
mempunyai purbasangka terhadap anak murid Gan-li Cinjin.
Namun sedapat mungkin, dia mengendalikan perasaannya.
Hwat-poan-koan Lu Wi terpaksa membalas hormat juga.
Melihat itu, diam-diam Liong Go malu hati terhadap Siau Ih.
Masakah hanya karena setangkai bunga, dia hampir saja
kehilangan harga sebagai tuan rumah.
Tiba-tiba kedengaran Wan-ji tertawa, ujarnya: „Sewaktu di
pulau Cip-peng-to, ayah telah menceritakan bahwa alam
pemandangan di gunung Pao-goat-san sini indah bagai
lukisan. Dan memang kenyataannya begitu. Hanya saja ayah
pernah memesan bahwa setiap jengkal tanah di Pao-gwat-
chung sini penuh dengan perkakas rahasia, kalau tidak diantar
tuan rumah tentu akan celaka. Oleh karena itu, sejak tiba
disini, aku tak berani keluar-keluar. Kini apakah Liong toako
senggang dan suka membawa aku berjalan-jalan!"
Sebenarnya karena masih menguatirkan kedatangan Jin-
mo. Liong Go tiada mempunyai kegembiraan. Tapi untuk
jangan dikatakan kurang ramah, terpaksa dia menyahut:
„Sebagai tuan rumah, sudah sewajibnya aku menemani
keinginan nona. Hanya saja diperdesaan sini, tiada apa-apa
yang menarik, kecuali beberapa pohon dan beberapa
bangunan yang didirikan engkong. Apabila nona Wan sudah
menyaksikan, tentu akan kecewa."
„Ai, Liong toako terlalu merendah," sahut Wan-ji, kemudian
katanya kepada Lu Wi, „Ngo-suheng, mumpung tuan rumah
mempunyai kegembiraan, apalagi ada Siau-siaohiap, ayuh kita
puaskan mata."
Hwat-poan-koan Lu Wi memandang Liong Go dengan
dingin. Dia hanya mengangguk tak mau menyahut apa-apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun rupanya Wan-ji tak merasa akan sikap aneh dari


suhengnya itu. Dengan riangnya, segera dia ajak Liong Go
berangkat.
Sekonyong-konyong terdengarlah suitan pelahan, tapi
nadanya amat penuh hingga berkumandang sampai lama.
Liong Go dan Siau Ih terbeliak.
Sebaliknya sepasang mata yang bersorot aneh dari Lu Wi
tadi, segera menatap kepada Wan-ji.
„Suhu memanggil, mungkin akan memberi perintah,"
serunya. „Ah, kesempatan bagus ini tersia-sia lagi,” gerutu
Wan-ji dengan kurang puas.
„Asal nona Yan suka, lain hari masih dapat kuantar,” buru-
buru Liong Go membujuknya.
Wan-ji mengangguk. Entah sengaja entah tidak, kembali
matanya melirik kepada Siau Ih. Setelah tertegun sejenak,
baru ia melangkah ke arah pondok Khim-kwat. Hwat-poan-
koan Lu Wi mengikutinya.
Setelah mereka pergi, kedengaran Liong Go menghela
napas, ujarnya : „Urusan dunia ini memang sukar diduga,
lebih-lebih kaum wanita. Menilik naga-naganya, nona tadi
rupanya ada hati pada hiante. Kalau benar begitu, urusan
pribadi hiante bakal tambah banyak lagi."
Siau Ih ganda tertawa, tiba-tiba dia berkata dengan nada
sungguh: „Benar bunga yang jatuh itu ada artinya, tapi belum
tentu air yang mengalir itu mempunyai maksud (kiasannya:
bertepuk sebelah tangan). Godaan kejahatan tak mempan
pada siaote, apalagi soal cinta, tidaklah semudah itu.”
Begitulah kedua pemuda itu lanjutkan langkah. Tanpa
terasa haripun sudah mulai petang.
Habis makan malam, kembali Liong Go ajak Siau Ih duduk
diserambi muka minum arak. Sebenarnya Liong Go itu seorang
pemuda yang mempunyai didikan tinggi. Tapi dikarenakan hari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu adalah hari penghabisan dari janji Jin-mo, jadi tak urung
dia tampak gelisah juga.
Tanpa terasa waktu sudah hampir tengah malam. Suasana
di Pao-gwat-chung itu makin lelap. Langit bertabur bintang,
angin malam membawakan bau bunga, membuat tempat itu
seperti tempat dewata.
Sebaliknya Liong Go merasa, justeru dalam ketenangan
itulah, alamat akan datangnya bahaya.
Siau Ih tak dapat menyelami perasaan toakonya. Belum
pernah dia merasakan ketenangan yang seperti saat itu, maka
enak-enak saja dia menikmati araknya. Akhirnya dia terpaksa
tak tega melihat kegelisahan Liong Go.
„Dimisalkan si Jin-mo datang, itu adalah suatu kejadian
jamak dalam dunia persilatan. Mengapa toako begitu gelisah?
Kewibawaan tui-hun-cap-sa-san, tak mengizinkan perasaan
semacam itu,” dia membatin.
Pada lain saat, dia menduga mungkin Jin-mo Kiau Hoan itu
akan datang dengan konco-konconya yang banyak. Sekalipun
ada Gan-li Cinjin dan anak muridnya, dikuatirkan engkong
Liong Go itu tak mau meminta bantuannya. Ah, biar
bagaimana, dia (Siau Ih) akan berusaha untuk membantu
sekuat mungkin.
„Toako kemarin malam telah memberi nasehat tentang
keperwiraan pada siaote, tapi mengapa kini toako sendiri
begitu gelisah? Ai, biarlah siaote menghaturkan secawan arak
pada toako, sekedar untuk penenang hati."
Liong Go tersipu-sipu malu, dan lalu mengangkat cawan
meminumnya. Siau Ih menuangkan lagi arak ke dalam cawan
Liong Go, ujarnya: „Ai, tak usah toako likat-likat …….”
Baru dia mengucap begitu, tiba-tiba dari kejauhan
terdengar suara letusan. Siau Ih cepat loncat untuk
mengambil pedangnya yang digantungkan ditembok, tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ketika melihat Liong Go, ternyata toakonya itu sudah lari


keluar.
Cepat Siau Ih memanggil Ji-yan dan suruh anak itu
mengikutnya. Begitu loncat keluar halaman, dilihatnya
dijalanan kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian sana, asap me¬ngepul
mengantar ledakan batu yang muncrat ke udara. Memang
Siau Ih menduga bahwa si Manusia Iblis Kiau Hoan tentu
datang, tapi dia tak menyangka sama sekali bahwa musuh
begitu ganasnya.
Liong Go tak tampak sama sekali.
Setelah memanggil Ji-yan, dengan gunakan gerak yan-cu-
sam-jo-khi, dia berloncatan menuju ke mulut jalanan itu.
Makin dekat, letusan itu makin keras bunyinya. Dari udara
berhamburan pecahan batu sebesar mangkok.
Pada lain saat, letusan itu membawa juga jeritan orang
yang mengerikan. Terang itulah tentu para keluarga pemburu
yang mengungsi di Pao-gwat-chung.
Dengan amarah yang meluap-luap, Siau Ih berlari keras
dan sebentar saja dia sudah tiba dimulut jalanan. Beberapa
jenak kemudian, Ji-yan pun menyusul datang.
Saat itu, Siau Ih melihat Thiat-san-sian Liong Bu-ki bersama
Gan-li Cinjin Kho Goan-thong berjajar berdiri kira-kira
seratusan langkah dari mulut jalanan. Di belakangnya tampak
Cek-i-liong-li Kho Wan-ji, Hwat-poan-koan Lu Wi dan Liong
Go.
Siau Ih tarik tangan Ji-yan. Sekali loncat sampai satu
tombak tingginya, lebih dulu dia lemparkan Ji-yan ke muka.
Begitu anak itu tiba disebelah kedua jago tua tadi, Siau Ihpun
sudah menyusul tiba.
Namun belum lagi dia sempat memberi hormat, kedua
tokoh itu sudah membentaknya: „Mundur!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyusul dengan mementang kedua tangan, maka


memancarlah suatu tenaga lembek yang luar biasa beratnya,
mendorong Siau Ih berlima mundur.
Kemudian pada lain saat, terdengarlah letusan dahsyat.
Dua buah puncak bukit batu yang berada di sebelah muka,
telah meledak menghamburkan beribu-ribu pecahan batu.
Dalam hujan batu itu, tiba-tiba melesat datang lima buah
bayangan.
Yang paling muka, ialah Jin-mo Kiau Hoan. Dia tetap
mengenakan pakaian warna kuning, pundaknya memanggul
sepasang senjata oh-kim-song-cat, senjata yang mirip pedang
bukan pedang, gaetan bukan gaetan. Wajahnya yang tirus
pucat, be-ringas haus darah.
Di belakangnya tampak seorang tua berwajah merah,
brewok, hidung dan mata seperti kukuk beluk, membawa
senjata tongkat besi ciang-mo-thiat-jo. Kawannya yang dua
lagi, berumur kira-kira tigapuluhan tahun, wajahnya buas-
buas.
Mereka berdiri pada jarak satu tombak jauhnya. Reaksi
Kiau Hoan waktu melihat Gan-li Cinjin Kho Goan-thong berada
disitu, ialah terperanjat.
„Bukanlah saudara ini kepala pulau Cip-peng-to yang
pernah menginjak Tiong-goan?" tegurnya.
Benar Gan-li Cinjin sudah berpuluh tahun tinggal di luar
lautan sehingga seolah-olah terputus hubungannya dengan
kaum persilatan. Tapi warna jubahnya yang merah membara
itu, memang sangat istimewa sekali sehingga mudah dikenal
orang.
Mendengar teguran orang, dengan sikap dan nada yang
dingin, dia menyahut: „Jika sudah tahu pinto berada disini,
mengapa tak lekas-lekas pergi …….”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Manusia Iblis Kiau Hoan cepat menukasnya dengan sebuah


tertawa yang seram: „Kemasyhuran nama sepuluh Datuk
berkumandang sampai diseluruh pelosok, namun tak dapat
menggertak orang she Kiau ini. Pulau Cip-peng-to boleh kau
kuasai, tapi di daratan Tiong-goan sini, lain halnya!"
Seorang tokoh yang congkak macam Gan-li Cinjin mana
mau menelan sindiran begitu. Amarahnya meluap, terus
membentak garang. „Manusia yang tak kenal tingginya langit.
Kalau tak kuhajar, tentu kau belum tahu kelihayan pinto!”
Habis berkata, dia kibaskan lengan baju kanan. Serangkum
hawa panas telah menyambar ke arah Kiau Hoan. Cepat
Manusia Iblis ini surutkan dada, lalu loncat ke samping.
Serunya: „Sekarang masih terlalu pagi, aku masih belum
membereskan hutang lama. Nanti setelah itu selesai, baru
akan kuminta pelajaran!"
Gagah ucapannya itu, namun sebenarnya di dalam hati dia
sudah gentar. Ci-yang-sin-kang (lwekang positif) yang
diyakinkan Gan-li Cinjin itu, adalah penakluk dari him-han-
kong-lat (lwekang negatif) kepunyaan Kiau Hoan. Sayang
Gan-li Cinjin tak mengetahui kelemahan itu, sebaliknya Liong
Go dan Siau Ih terang gamblang.
Thiat-san-sian Liong Bu-ki sudah menyala amarahnya.
Sebenarnya tokoh itu tak mengingat lagi permusuhannya
dengan si Manusia Iblis. Dia yakin jalanan kiu-jiok-pat-poa-it-
san-thian dan hutan yang tersusun seperti barisan itu, cukup
buat menahan Kiau Hoan dan kawan-kawan menyerbu masuk.
Ditambah oleh perangai Liong Bu-ki yang berhati angkuh itu,
dia melarang Liong Go untuk menceritakan hal permusuhan
itu kepada lain orang.
Tapi di luar dugaan, dengan menggunakan senjata ganas
pik-li-cu, dapatlah Kiau Hoan menghancurkan benteng
pertahanan Pao-gwat-chung. Rombongan keluarga pemburu
yang mengungsi disitu, telah menjadi korban dan para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tetamupun menjadi kaget. Suatu hal yang telah membuat


Liong Bu-ki marah seperti orang kemasukan setan.
„Balas membalas dendam, adalah hal yang jamak bagi
kaum persilatan. Tapi mengapa kau telah mengganas juga
keluarga pengungsi yang tak berdosa itu?" tegurnya dengan
marah.
Kiau Hoan si Manusia Iblis mendongak tertawa memanjang.
Habis tertawa, mukanya yang tirus pucat itu segera membesi,
serunya: „Dendam puluhan tahun itu, tiada sedetikpun
kulupakan. Yang tadi hanyalah selaku bunganya (rente) saja!"
„Dahulu karena kasihan, telah kuberi hidup. Siapa tahu hal
itu malah menimbulkan bencana bagi rakyat. Sekarang kalau
kau dapat terlepas, aku bersumpah tak mau jadi orang," seru
Liong Bu-ki dengan geramnya.
„Kalau dapat melaksanakan, itulah bagus. Hanya
dikuatirkan jiwamu hanya tinggal beberapa jam saja,” Kiau
Hoan membalas dengan tertawa seram.
Sejak melihat cecongor si Kiau Hoan, sebenarnya Siau Ih
sudah tak sabar lagi. Tapi karena ada para cianpwe jadi dia
tak berani melancangi.
Tapi demi melihat sikap Kiau Hoan yang begitu
congkaknya, dia sudah tak kuat menahan hatinya lagi. Tampil
ke muka, dia segera memberi hormat kepada Liong Bu-ki:
„Maafkan, kelancangan wanpwe."
Habis itu, tanpa menunggu jawaban orang, dia segera
membalik diri menghadapi Kiau Hoan.
„Tua bangka yang tak tahu malu. Masih ingatkah kau akan
hadiahku di Ki-he-nia dulu?" tanyanya dengan tajam.

24. Pertempuran Sadis …….


Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat si anak muda, kembali Kiau Hoan bercekat.


Keluhnya: „Berpuluh tahun kusiksa diri meyakinkan thou-kut-
im-kang yang tiada lawannya di dunia, kecuali hanya ilmu
lwekang gan-li-ci dan kian-wan-sin-kang. Justeru kedua ilmu
itu, kini sama muncul keluar. Entah angin apa yang membawa
Kho Goan-thong muncul kembali ke Tiong-goan setelah absen
selama duapuluhan tahun itu? Ah, rasanya pembalasan sakit
hatiku malam ini, akan gagal ……”
Sebenarnya dia sudah putus asa, namun bagaimanapun
juga, tak rela dia menghapus begitu saja dendam yang
dikandungnya selama bertahun-tahun itu. Diam-diam dia telah
mengambil ketetapan.
Dengan tertawa dingin, dia tak mau menyahuti ejekan Siau
Ih, melainkan berpaling ke arah si tua berwajah merah dan
kedua orang yang berwajah bengis.
„Inilah yang dibilang, penasaran selalu berbalas. Budak itu
ialah musuh kaum kita!" katanya dengan tertawa tajam.
Kedua orang berwajah bengis itu segera tampil ke muka.
Serempak mereka bertanya: „Apakah kau ini Siau Ih?”
„Benar. Siapa kalian ini?” sahut Siau Ih dengan tertawa
congkak.
Kedengaran Kiau Hoan tertawa mengejek dan mewakili
menyahut: „Budak yang belum hilang bau pupukmu. Masakah
tokoh termasyhur Cian-chiu-wi-tho Go Ki dan Kui-chiu-sian-
seng Ko Ling, kau tidak kenal. Nah, telah kuberitahukan
padamu supaya kau tak mati penasaran!”
Siau Ih belum lama turun gunung, pun Gan-li Cinjin sudah
lama tak menginjak Tiong-goan, jadi mereka dingin-dingin
saja mendengar nama kedua tokoh itu. Tetapi Liong Go
tergetar hatinya.
Cian-chiu-wi-tho atau si Dewa Tangan Seribu Go Ki dan
Kui-chiu-sian-seng atau si Tangan Setan Ko Leng itu, adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

algojo-algojo di dunia persilatan. Muncul lenyapnya tiada


berketentuan, ganasnya bukan kepalang.
Mereka sudah bertahun-tahun tak kelihatan, kini tahu-tahu
sudah masuk menjadi anggauta Thiat-sian-pang.
„Burung yang sama bulunya, tentu berkumpul bersama.
Orang-orang yang menjadi koncomu, mana ada bangsa yang
baik!" sahut Siau Ih dengan ejeknya.
Mendengar itu, si Tangan Setan Ko Leng sudah segera
bersuit nyaring terus loncat menerkam bahu Siau Ih. Siau Ih
yang tak menyangka sama sekali, sudah tentu menjadi kaget.
„Menilik jari-jarinya berwarna hitam, tentulah mengandung
racun. Kalau sampai menjamah tubuhku, pasti celaka aku …”
Secepat kilat, Siau Ih segera bertindak. Lwekang kian-wan-
sin-kang disalurkan ke seluruh tubuh untuk menutup semua
jalan darah. Setelah itu dia rubuhkan badannya ke belakang
sedikit, lalu taburkan kedua tangannya ke atas dalam gerakan
hong-jit-ing-hun atau menyongsong matahari menyambut
awan.
Si Tangan Setan tertawa mengekeh, serunya: „Di bawah
telapak tanganku, tiada pernah orang masih dapat bernapas.
Kau mau lari, heh?“
Bagaikan setan menjulurkan tangan, dia robah
cengkeramannya itu menjadi gerak menekan. Bagaimanapun
lihaynya anak itu, tentu akan tertindih binasa juga. Demikian
pikirnya.
Tapi di luar dugaannya, ternyata dorongan anak muda itu
telah mengeluarkan tenaga yang luar biasa dahsyatnya. Begitu
saling berbentur, dia terguncang keras. Bahu Siau Ih
berguncang dan menyurut mundur sampai empat tindak.
Bagaimana dengan si Tangan Setan? Dia terhuyung-huyung
sampai sepuluh langkah baru dapat berdiri tegak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semua orang yang menyaksikan pertempuran itu, kini sama


jelas. Benar kesudahannya dua-duanya sama menderita, tapi
lain penilaiannya. Yang satu memang memandang remeh,
sedang yang lain karena tergesa-gesa melindungi diri.
Yang satu jago kawakan yang terkenal, yang lain seorang
anak muda yang baru turun dari gunung. Baik kawan maupun
lawan, sama terperanjat kagum melihat kehebatan lwekang
Siau Ih.
Siau Ih kala itu tampak beringas. Rambutnya agak kusut,
wajah merah padam, sepasang alisnya menjungkat ke atas.
Tiba-tiba dia tertawa nyaring, serunya: „Setiap budi, tentu
berbalas. Nah, kaupun harus menerima sebuah pukulankul!” -
Tangan menghantam dan melancarlah suatu tenaga yang
panas membara ke arah si Tangan Setan yang berdiri pada
jarak duapuluhan tindak itu.
Benar wajah si Tangan Setan Ko Leng masih sedingin
setan, tapi kemarahannya telah menyalur ke sepasang
matanya yang berkilat-kilat buas. Melihat lawan menghantam,
dia mendengus lalu undurkan kakinya setengah langkah dan
balikkan kedua tangannya untuk menyambut.
„Bum,” kedua-duanya sama tersurut sampai tiga langkah!
„Buyung, pernah apa kau dengan si Dewan Tertawa Bok
Tong?" tiba-tiba si Tangan Setan bertanya.
„Pernah apaku, tiada sangkut pautnya dengan kau!" sahut
Siau Ih tertawa dingin.
Selain terkenal sebagai algojo ganas, dulu si Tangan Setan
itu amat doyan paras cantik. Dalam beberapa tahun saja,
entah sudah berapa banyak jago kalangan putih dan hitam
serta wanita yang menjadi korbannya.
Pada masa tokoh-tokoh sepuluh Datuk itu berturut-turut
mengundurkan diri. Pemimpin-pemimpin angkatan tua dari
partai Bu-tong, Siau-lim, dan lain-lain aliran suci, telah sama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cuci tangan tak mau campur urusan dunia lagi. Dengan


kepandaiannya yang hebat itu, Ko Leng telah
bersimaharajalela semau-maunya. Tapi segala kejahatan itu
tentu akan berbalas.
Pada suatu hari bertemulah dia dengan si Dewa Tertawa
Bok Tong, tokoh luar biasa yang gemar membasmi kejahatan
itu. Si Dewa Tertawa tak mau melepaskan serigala buas itu.
Si Tangan Setan kalah dan coba melarikan diri tapi tetap
dikejar mati-matian oleh Bok Tong. Akhirnya ketika kecandak
di puncak gunung Hong-san, dia telah dipukul jatuh ke dalam
lembah oleh si Dewa Tertawa.
Sejak itu, si Tangan Setan tiada kabar beritanya lagi.
Orang-orang menyangkanya sudah mati.
Tapi diluar dugaan, dari binasa sebaliknya di dasar lembah
itu dia bahkan bertemu dengan keberuntungan besar. Disitu
tinggallah seorang jago tua jahat yang karena cacad
bersembunyi ditempat itu sampai beberapa tahun. Si Tangan
Setan Ko Leng diterima menjadi murid.
Ketika untuk yang kedua kalinya muncul lagi di dunia
persilatan, Ko Leng sudah menjadi makin lihay. Tapi untuk
kekecewaannya, si Dewa Tertawa sudah tak ketahuan
rimbanya.
Kala itu kebetulan Seng-si-poan Sut Cu-ping yang sangat
bernafsu untuk merajai dunia persilatan, mulai mendirikan
partai Thiat-sian-pang. Dengan perantaraan si Manusia Iblis
Kiau Hoan, Ko Leng masuk ke dalam partai itu. Dia diangkat
menjadi pemimpin gwa-sam-tong dengan pangkat hiang-cu.
Dengan menggunakan jaringan mata-mata Thiat-sian-pang
yang amat luasnya, dia coba menyirapi kabar berita musuhnya
besar itu. Namun tetap sia-sia. Karena itu, dendamnya
terhadap si Dewa Tertawa makin meluap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kali ini dia memenuhi undangan Kiau Hoan yang katanya


akan mencari musuh Thiat-sian-pang. Dia tak mengira kalau di
Pao-gwat-chung itu, akan berhadapan dengan Siau Ih.
Ditilik dari sikapnya, terang anak muda itu bukan anak
murid Gan-li Cinjin. Tuduhannya lalu jatuh pada si Dewa
Tertawa. Tapi jawaban yang diberikan anak muda itu, telah
membuatnya marah besar.
"Bagus, karena kau hendak mewakili si tua Bok Tong, maka
akupun segera akan menyempurnakan dirimu!" serunya
mengekeh seram. Menyusul tangannya diangkat ke atas, dia
segera bersuit nyaring terus menerkam Siau Ih.
Pada saat itu, dari pembicaraan yang ditangkapnya tahulah
Siau Ih bahwa si Tangan Setan itu mempunyai dendam
permusuhan dengan ayahnya angkat. Namun dia tak sempat
berpikir macam-macam, karena harus menghindar dari
serangan orang.
„Buyung, mau lari kemana kau?" seru Ko Leng melengking
marah. Dengan gerakan yang tangkas, dia segera berputar
tubuh menghadang si anak muda, terus dorongkan sepasang
tangannya menghantam.
Siau Ih bersikap tenang. Begitu angin pukulan lawan
hampir mengenai bajunya, tiba-tiba dia tertawa mengejek:
„Kau kira tuanmu muda ini jeri pada cecongormu yang mirip
iblis itu?"
Dengan ucapan itu, dia sudah separoh miringkan tubuh
untuk hantamkan tangan kiri ke arah lengan orang, dua buah
jari tangan kanan menusuk jalan darah ciang-thay-hiat di
bawah tetek si iblis. Cara menangkis sembari menyerang itu
dilakukan dengan cepat sekali. Ko Leng terpaksa tarik pulang
serangan dan mundur dulu, baru kemudian maju lagi.
Demikianlah keduanya serang menyerang dengan jurus-
jurus yang indah dan berbahaya. Tangan Setan Ko Leng
sangat bernafsu sekali untuk menghancurkan anak muda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lawannya itu, karenanya jurus-jurus yang dilancarkan itu serba


gencar dan ganas. Tubuhnya seolah-olah terpecah menjadi
empat untuk mengurung Siau Ih dari segala jurusan.
Sepintas pandang, Siau Ih tampaknya seperti terbungkus
oleh bayang-bayang si Tangan Setan. Tapi benarkah itu?
Begitu bergebrak Siau Ih sudah merasa bahwa sekalipun ia
tak sampai kalah, pun untuk merebut kemenangan juga sukar.
Cepat dia keluarkan ilmu istimewa ajaran si Dewa Tertawa
yakni ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh.
Setelah kedudukannya stabil, barulah dia keluarkan ilmu
tun-yang-sip-pat-ciat untuk bertahan sembari menyerang.
Maka betapa gencar serangan lawan, dengan lenggangnya
dapatlah dia melayani. Sewaktu mencuri lubang kesempatan,
segera dia balas menyerang. Musuh menyerang empat-lima
kali, baru dia membalas satu kali.
Yang satu bernafsu, yang satu tenang. Sekejap saja
pertempuran sudah berjalan limapuluhan jurus. Ko Leng
sudah menumpahkan seluruh kepandaiannya, namun ujung
baju si anak muda itupun saja, tak mampu dia menjamahnya.
Rombongan orang-orang dari kedua pihak yang menyaksikan
pertandingan itu, sama terpikat perhatiannya.
Bermula Thiat-san-sian Liong Bu-ki mengawasi dengan
perasaan kuatir terhadap Siau Ih, tapi demi pertempuran
sudah berlangsung tigapuluhan jurus, wajahnya berseri
senyum dan mengangguk-angguk. Nyata dia puas dengan
permainan anak muda itu.
Sampaipun Gan-li Cinjin Kho Goan-thong yang bermula tak
menyukai anak muda itu, kinipun agak terkesiap juga. Hwat-
poan-koan Lu Wi tetap berwajah dingin, sementara Liong Go
amat tegang.
Tapi mungkin ketegangan Liong Go itu, masih kalah besar
dengan Cek-i-liong-li Kho Wan-ji.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebesar itu, belum pernah ia menyaksikan pertempuran


yang sedemikian serunya, apalagi disitu tersangkut seorang
pemuda yang ia kagumi. Maka taklah mengherankan kalau
gadis dari pulau Cip-peng-to itu sampai mengucurkan keringat
dingin.
Tanpa disadari, tangannya merabah pedang. Begitu si anak
muda dalam bahaya, begitu ia segera akan menolong. Sayang
isi hati nona itu belum diketahui Siau Ih.
Sementara pada pihak musuh, Kiau Hoan lah yang paling
gelisah. Dialah yang mengajak si Tangan Setan kesitu.
Harapan bahwa malam itu dia bakal dapat menghimpaskan
sakit hatinya, ternyata makin pudar.
Si Tangan Setan Ko Leng yang diharap dapat memberi
bantuan besar itu, ternyata tak dapat berbuat apa-apa
ter¬hadap Siau Ih. Dan yang paling menggetarkan hatinya,
ialah hadirnya Gan-li Cinjin Kho Goan-thong disitu. Bagaimana
kegelisahannya, dapat sudah dibayangkan!
Saat itu keadaan digelanggang pertempuran makin tegang
meruncing. Siau Ih yang melakukan siasat bertahan kini
berganti dengan siasat menyerang. Dengan serangannya
gencar dan luar biasa anehnya itu, dapatlah dia memaksa Ko
Leng mundur beberapa kali.
Ko Leng makin kalap. Dengan bersuit nyaring, dia
keluarkan seluruh kebiasaannya agar jangan sampai kalah
angin. Kini keras lawan keras, cepat tanding gesit. Barang
siapa ayal sedikit saja, pasti akan rubuh mandi darah.
Sekonyong-konyong Thiat-san-sian Liong Bu-ki meringkik
tertawa. Kemudian katanya kepada si Manusia Iblis Kiau Hoan:
„Yang mempunyai kepentingan dalam pertemuan malam ini,
ialah aku dan kau. Tapi kalau kita hanya menonton saja,
bukankah ganjil namanya? Apalagi para keluarga pemburu
yang tak berdosa itu, telah binasa ditanganmu. Lo-siu akan
minta keadilan padamu!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Liong loji," sahut Kiau Hoan tertawa nyaring, „telah


kukatakan tadi bahwa kematian beberapa orang pemburu itu
hanyalah sekedar bunga dari hutangmu pada beberapa tahun
yang lalu. Sekarang aku hendak menagih induk hutang itu!” –
Mundur selangkah, dia sudah siapkan sepasang oh-kim-cat
ditangan.
Liong Bu-ki tertawa lalu menebarkan sebuah kipas dan
melangkah maju. Melihat kipas itu, wajah Kiau Hoan berobah,
serunya: „Liong loji, mengapa tak kau keluarkan kipasmu tui-
hun-thiat-san yang termasyhur itu?"
Kembali Thiat-san-sian tertawa lebar, sahutnya: „Kipas
pusaka itu, telah kuberikan pada cucuku, maka losiu hanya
menggunakan kipas biasa saja, untuk menghadapimu!"
Pada lain saat, jago tua itu mengerut, lalu berkata dengan
nada dalam: „Tapi walaupun kipas ini hanya terbuat dari
bambu biasa, tetap dia akan menjadi senjata ampuh
pembasmi kawanan iblis!"
Kiau Hoan tak mau adu lidah lagi. Dengan tertawa sinis, dia
enjot tubuhnya sampai satu setengah tombak tingginya. Disitu
dia pentang sepasang oh-kim-cat. Setelah dimainkan dalam
jurus thian-mo-gong-wu, sembari bersuit nyaring, dia
meluncur menghantam kepala lawan.
Liong Bu-ki pun bersuit nyaring dan enjot tubuhnya ke
atas. Lengan baju kiri dibalikkan dalam gerak jun-hong-hud-liu
sehingga menerbitkan deru angin lwekang yang dahsyat,
menyusul dalam jurus gui-seng-tiam-goan, kipasnya
ditusukkan kejalan darah thian-tho-hiat Kiau Hoan.
Cara bertempur semacam itu, sungguh belum pernah
terjadi. Sehingga saking kagetnya, Kiau Hoan buru-buru
menangkiskan senjatanya dan sekali tubuhnya bergoyang
dalam gerak kek-cu-toa-hoan-sin atau burung dara berbalik
badan, dia buang tubuhnya berjumpalitan ke belakang. Tapi
baru sang kaki menginjak tanah, Thiat-san-sian sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meluncur datang dengan kebutkan kipasnya ke arah dada.


Gebrak kedua itupun dilangsungkan secara sengit.
Cian-chiu-wi-tho Go Ki yang sejak tadi berdiam diri, saat itu
tiba-tiba tertawa dan berkata kepada Gan-li Cinjin: „Ibarat
masuk ke gunung harta, tak boleh kita pulang dengan tangan
kosong. Go Ki pun ingin melayakni seorang ko-jin yang
termasyhur.”
Kemudian berpaling ke arah kedua kawannya, dia berseru:
„Mengapa Te tongcu berdua tak mau melemaskan urat
bermain-main dengan beberapa anak itu? Lebih enak bergerak
daripada kedinginan."
Rupanya enak sekali orang she Go itu bicara dan bertindak.
Habis berkata dia lantas mencabut tongkat besi ciang-mo-
thiat-ngo dan tanpa menunggu penyahutan orang lagi, dia
segera menyerang Gan-li Cinjin. Memang Go Ki sama halnya
dengan Ko Leng, juga seorang algojo kenamaan di dunia
persilatan.
Bedanya kalau dia berwajah jujur, tapi Ko Leng buruk
seperti setan, jadi orang menilai Ko Leng lebih ganas dari dia.
Tapi sebenarnya tidak demikian. Dia lebih licin dan ganas
serta tinggi kepandaiannya dari si Tangan Setan itu.
Pemimpin Thiat-sian-pang si Seng-si-poan Sut Cu-peng
telah mengangkatnya sebagai salah seorang dari ketiga
hiangcu. Sebagai hiangcu dari Loan-tong, dia amat dihormati
dan ditakuti oleh anak buah Thit-sian-pang.
Inilah yang menjadikan dia congkak tak kepalang. Maka
sekali tampil, dia segera menantang Gan-li Cinjin.
Sebenarnya Gan-li Cinjin tak tahu menahu tentang si
Manusia iblis akan menuntut balas itu. Baru setelah kedua
pihak saling berhadapan, dia jelas soalnya.
Melihat kesombongan Kiau Hoan, dia sudah tak sabar lagi.
Manusia seperti Kiau Hoan itu harus dllenyapkan saja dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

segera. Sudah tentu kemarahannya itu seperti disiram minyak


demi dia ditantang Go Ki.
„Bangsat, kau cari mampus!” serunya dengan murka.
Begitu tongkat si Go Ki tiba, cepat dia kebutkan lengan
bajunya kiri untuk menampar senjata itu, menyusul dia
kibaskan tangan kanan menyampok ke arah lawan.
Berbareng pada saat itu, kedua orang yang dipanggil Te-
tongcu itupun sudah mencabut senjata dan mencari lawan.
Senjata mereka ialah sebatang cap-sa-ciat-ko-lo-pian (ruyung
limabelas buah ruas tengkorak).
Yang satu menyerang Liong Go dan Ji-yan, yang satu
menyerbu Kho Wan-ji dan Lu Wi. Pikir mereka, keempat anak
muda itu dengan beberapa belas jurus saja, tentu akan sudah
dapat diringkus.
Apa lacur? Dugaan mereka itu salah besar. Selain Ji-yan,
ketiga orang muda itu bukan daging empuk, melainkan jago-
jago kelas satu juga. Satu lawan satu saja belum tentu
menang, apalagi mereka cari penyakit sendiri, satu orang cari
dua musuh.
Kedua orang, she Te itu, adalah kakak beradik. Yang tua
bernama Te Cik, adiknya bernama Te Tong. Mereka menjadi
tongcu Thiat-sian-pang untuk wilayah Kwitang.
Demikianlah segera terjadi pertempuran yang seru. Desa
Pao-gwat-chung yang tenang tenteram, saat itu berobah
menjadi medan pertumpahan darah yang dahsyat. Batu-batu
pecah berhamburan, rumput-rumput siak-beriak beterbangan.
Sekarang mari kita ikuti pertempuran itu partai demi partai.
Pertama partai Wan-ji. Nona ini telah mewarisi seluruh
kepandaian ayahnya, namun karena belum pernah berkelana,
jadi belum pernah juga bertempur dengan orang, lebih-lebih
dalam pertempuran sedahsyat saat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebenarnya ketika melihat Siau Ih turun kegelanggang, ia


sudah gatal tangannya. Kini tahu-tahu Te Cik datang mencari
penyakit. Begitu ruyung tengkorak lawan melayang ke arah
kepalanya, nona itu segera melolos pedang lalu dengan ki-
hwat-so-thian dia tusukkan ujung pedang ke arah ruas kelima
ruyung tengkorak.
„Tring,” tahu-tahu ruyung tengkorak itu mental kembali.
Cara menolak, serangan yang digunakan Wan-ji itu sungguh
amat berbahaya namun indah bukan buatan. Tepat waktunya
tepat pula sasarannya.
Mendapat hati, Wan-ji tambah bersemangat. Dia teruskan
pedangnya menusuk dada orang.
Te Cik terkejut melihat gaya serangan si nona yang tangkas
ganas itu. Buru-buru kibaskan ruyung untuk menghantam
batang pedang, berbareng itu tubuhnya mengisar kekiri,
menyusul tangannya kiri menjotos Hwat-poan-koan Lu Wi.
Sebenarnya kepandaian Te Cik itu tidak berlebih-lebihan,
tapi dia mempunyai pengalaman luas. Tahu sudah dia bahwa
serangannya itu hanya tipis kemungkinnya untuk berhasil,
namun tetap dia mencobanya juga.
Dia insyaf bahwa nona yang menjadi lawannya itu, jauh
lebih lihay dari dirinya. Apalagi disamping itu ada Lu Wi. Kuatir
dirinya akan terjepit dari muka belakang, dia lekas-lekas turun
tangan dulu.
Dengan menutup kemungkinan serangan dari Lu Wi, dia
harap akan dapat kesempatan leluasa untuk mundur. Memang
bagus juga rencana Te Cik itu. Tapi siapa duga. Justeru jalan
mundur yang direncanakan itu, bakal menjadi jalan
kebinasaannya.
Sebenarnya waktu sempat melirik ke arah partai Te Cik
dengan Wan-ji itu, Lu Wi menjadi lega hatinya. Te Cik hanya
begitu saja kepandaiannya, Wan-ji pasti dapat mengatasi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagai salah seorang dari kelima poan-koan (hakim) di


istana-biara Li¬cu-kiong, dia tak mau mengerojok seorang
lawan yang lebih rendah kepandaiannya. Tapi demi Te Cik
secara menggelap menyerangnya, Lu Wi menjadi marah
besar.
„Kawanan tikus yang tak tahu diri, kau minta lekas-lekas
mampus ya?" serunya dengan sinis. Begitu pukulan Te Cik
hampir tiba, secepat kilat dia menyurut mundur, tapi tak
kurang cepatnya pula pada lain saat dia sudah maju lagi terus
menerkam.
„Cela ……!" belum sempat mulut Te Cik melanjutkan kata-
katanya, meh-bun-hiat di lengan kirinya sudah kena
dicengkeram. Separoh tubuhnya segera terasa mati,
kekuatannya lumpuh.
Justeru pada saat itu Wan-ji datang membabat. Betapa dia
hendak menghindar, namun tak dapat berkutik lagi. Mulut
menjerit seram, tubuhnya segera terpapas kutung ……..
Telah diterangkan tadi, bahwa sebenarnya Lu Wi malu
untuk main kerojok. Tapi ternyata sang sumoay terlampau
cepat gerakannya.
Belum sempat dia berseru mencegahnya, tubuh Te Cik
sudah kutung. Karena kuatir kecipratan darah, buru-buru dia
lemparkan separoh tubuh Te Cik yang sudah kutung itu.
Suatu pemandangan ngeri, segera terjadi di udara. Tubuh
orang yang tinggal separoh, dengan tangan masih mencekali
sebatang ruyung, melayang di udara sembari menghamburkan
hujan darah yang berbau amis.
Secara kebetulan, kutungan tubuh itu jatuh ke tengah
gelanggang, melayang ke arah si Tangan Setan Ko Leng.
Sampai pada saat itu, Ko Leng sudah bertempur tigaratusan
jurus dengan Siau Ih. Dia sudah keluarkan seluruh
kepandaian, namun tetap belum dapat mengapa-apakan anak
muda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Dalam sepuluh jurus lagi kalau belum menang, biar mati


bersama-sama, aku tetap akan mengadu jiwa,” diam-diam dia
sudah mengambil ketetapan.
Baru dia berpiklr begitu, tiba-tiba dia dikejutkan dengan
jeritan seram dari Te Cik tadi. Dan belum lagi kejutnya itu
hilang, tahu-tahu ada sesosok tubuh kutung yang berbau amis
melayang ke arahnya.
Sejak berkelana di dunia persilatan, tangan Ko Leng itu
sudah penuh berlepotan darah korban-korbannya. Boleh
dikata membunuh itu, sudah menjadi air mandinya
(kebiasaannya). Tapi melihat pemandangan ngeri seperti saat
itu, benar-benar baru sekali itu saja.
Dalam kagetnya, dia menyurut mundur lalu menghantam.
„Bum,” separoh tubuh mayat Te Cik itu terlempar dan jatuh
ke tanah kira-kira tiga tombak jauhnya.
Dan karena menghantam itu, Ko Leng agak ayal sedikit.
Kesempatan itu tak disia-siakan Siau Ih. Dengan bersuit
panjang, Siau Ih segera lancarkan tiga buah serangan
ber¬turut-turut.
Tepat pada saat Ko Leng terancam dalam hujan pukulan, di
partai sana si Manusia Iblis Kiau Hoan dan Cian-chiu-wi-tho Go
Ki, pun karena terkejut menjadi kacau juga. Kini mereka
berdua hanya dapat membela diri, tak mampu balas
menyerang lagi.
Lebih mengenaskan adalah si Te Tong. Dia bukan
tandingan Liong Go. Apalagi karena terpengaruh dengan
kematian kakaknya yang begitu mengenaskan, dia makin
gugup.
Sekali lambat sedikit, Ji-yan segera menusuknya. Seperti
diguyur air dingin, dengan gelagapan dia kisarkan tubuh untuk
menghindar, tapi pada saat itu, kipas tui-hun-san dari Liong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Go sudah tiba. Karena cepatnya Liong Go menyerang, Te


Tong tiada kesempatan untuk menghindar lagi.
Dalam keputusan asa, dia hendak berlaku nekad mengadu
jiwa. Tapi baru hendak mengayunkan ruyungnya, tiba-tiba
dadanya terasa sakit sekali hingga putuslah jantungnya.
Kematian kedua saudara Te itu, telah berlangsung dalam
beberapa gebrak saja. Dan kini Liong Go berempat nganggur
lagi. Mereka berdiri di empat penjuru, menyaksikan
pertempuran.
Karena kelabakan dirangsang oleh serangan Siau Ih yang
gencar, Ko Leng menjadi meluap amarahnya. Saat itu, Siau Ih
tengah gunakan tangan kanan menghantam kepalanya (Ko
Leng).
„Nah ini suatu kesempatan bagus,” demikian Ko Leng
berpikir. Demikian dia menggerung keras, tangan kiri
ditabaskan kepergelangan siku, tangan kanan dibalikkan ke
atas untuk mencengkeram tangan Siau Ih.
Dengan serangan itu, dia yakin si anak muda tentu akan
menghindar mundur, dengan demikian dapatlah dia balas
mendesak.
Tapi apa yang terjadi? Di luar dugaan, Siau Ih tak mau
menghindar.
Tiba-tiba dia turunkan tangan kanan tadi, berbareng itu
tangan kiri menjulur ke muka menyusup ditengah-tengah sela
kedua lengan Ko Leng, lalu secepat kilat dipentangkan.
Sungguh suatu gerak tangkisan yang amat berbahaya.
Ko Leng tersadar apa yang bakal terjadi, namun sudah
terlambat karena sepasang lengannya sudah kena disiakkan
kekanan kiri, hingga bagian dadanya tak terlindung lagi.
Sudah tentu kejutnya bukan main.
Baru hendak gerakkan tangan untuk menutupi lubang itu,
Siau Ih sudah tertawa mengejeknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Setan kejam, lekas serahkan jiwamu!” serunya, sembari


rapatkan sepasang tinju. Dengan gerak liat-ciok-gui-pay atau
batu pecah nisan terbuka, secepat kilat dia menjotos ke dada
lawan.
„Aukkk …..,” mulut menjerit, darah menyembur dan
bagaikan layang-layang putus tali, tubuh si Tangan Setan Ko
Leng telah terlempar sampai setombak jauhnya. Algojo yang
sudah banyak berhutang darah manusia itu, kini harus
menebus dosanya dengan mati remuk dalam!
Sebaliknya saking kesima dapat membinasakan seorang
musuh yang lebih kuat dari dirinya, Siau Ih menjadi
terlongong-longong. Setelah mendengar teriak pujian dari
keempat kawannya, barulah dia tersadar. Dengan tersenyum
membalas pujian mereka, dia berpaling ke belakang untuk
melihat pertempuran di partai lain.
Ternyata kedua partai itu masih bertempur seru. Tapi yang
nyata, Kiau Hoan dan Go Ki sudah di bawah angin,
kekalahannya tinggal tunggu waktu saja. Go Ki yang tadi
berani menantang Gan-li Cinjin, kini menjadi kelabakan.
Sebenarnya diapun berkepandaian tinggi. Dalam dunia
perbegalan (penyamun), dia menduduki kelas yang tertinggi.
Dengan tongkat besi ciang-mo-thiat-ngo itu, dia pernah
menjatuhkan keempat paderi hu-hwat dari Siau-lim-si dan tiga
tokoh Cinjin dari Bu-tong-pay yang terkemuka semua.
Kemenangan itulah yang menjadikan dirinya makin
congkak. Begitu besar dia menilai dirinya sendiri sebagai jago
yang tiada terlawan, sehingga dia bernafsu keras untuk
menjajal tokoh-tokoh dari sepuluh Datuk. Maka dia tak mau
menyia-nyiakan kesempatan bagus dapat bertemu dengan
salah seorang tokoh sepuluh Datuk yang sudah lama dicari
tapi belum pernah dijumpainya itu.
Tapi begitu merasakan tangan Gan-li Cinjin, dia segera
mengucurkan keringat dingin. Nyata tokoh dari sepuluh Datuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, beberapa tingkat lebih lihay dari dia. Untung Gan-li Cinjin
hanya menggunakan tangan kosong, sehingga dia masih
dapat bertahan. Coba Gan-li memakai pedang, jangan harap
dia dapat bernyawa.
Pada partai lainnya, keadaan Kiau Hoan masih mendingan.
Tapi dikarenakan kegoncangan hatinya melihat Ko Leng mati,
diapun menjadi terdesak lawan. Tanpa ajak-ajakan, Kiau Hoan
dan Go Ki mempunyai rencana yang sama. Daripada mati
konyol, lebih baik ngacir lebih dulu.

25. Pria Mati, Bila Masuk


„Tidak berhasil membalas sakit hati, pun Pao-gwat-chung
tetap akan kuhancurkan!" Kiau Hoan membulatkan tekadnya.
Selagi dia berpikir begitu, disana Gan-li Cinjin telah
tutukkan dua buah jarinya ke arah jalan darah ciang-thay-hiat
Go Ki. Namun seperti tak merasa apa-apa, Go Ki kerahkan
tongkatnya untuk menghantam kepala Gan-li.
Tokoh dari pulau Cip-peng-to itu tertawa dingin. Dia tahu
lawan akan mengayak mati sama-sama. Begitu bahunya
tergetar, dia segera nyelonong ke samping.
Inilah memang yang dikehendaki Go Ki. Begitu Gan-li
hendak menyerang, dia (Go Ki) sudah mendahului enjot
tubuhnya ke atas udara. Sekali berputaran, dia sudah
melayang turun empat tombak jauhnya, terus hendak
melarikan diri.
„Mau lari kemana kau?" seru Gan-li setelah mengetahui
dirinya diselomoti. Malah berbareng dengan seruannya itu,
orangnya pun sudah terbang mengejar, sembari kebut-
kebutkan lengan jubahnya. Beberapa bintik sinar biru macam
ular hidup segera melayang ke arah punggung Go Ki.
Saat itu Kiau Hoan pun lancarkan beberapa serangan hebat
untuk mendesak Liong Bu-ki. Dan begitu lawan mundur, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terus enjot kakinya. Begitu di atas udara, matanya segera


tertumbuk akan beberapa sinar biru yang berkelip-kelip tadi.
Kejutnya bukan kepalang.
„Go hiangcu, awas, senjata rahasia coa-yan-cian Kho Goan-
thong, lekas membungkuk ……..”
Belum habis Kiau Hoan memberi peringatan, disana Go Ki
sudah menjerit ngeri.
„Nah, rasakanlah coa-yan-cian yang akan membakar
dirimu, pengecut!" Gan-li Cinjin tertawa sinis.
Memang Cian-ciu-wi-tho Go Ki telah terkena dua batang
panah dipundaknya. Begitu menyentuh daging, coa-yan-cian
itu mengeluarkan suara letikan pelahan, lalu memancarkan
bintik-bintik sinar biru macam kunang-kunang. Memang dari
kejauhan tubuh Go Ki tampak bergemerlapan seperti berhias
bintang, tapi sakitnya bukan kepalang.
Kelihayan dari senjata panah coa-yan-cian itu, begitu
mengenai tubuh, lantas pecah membiak. Ya, hanya dalam
beberapa kejap saja, tubuh Go Ki sudah dijalari sinar kunang-
kunang.
Pakaiannya luar dalam, sudah habis terbakar. Hidup Go Ki
penuh berlumuran darah, tapi akhirnya diapun harus
menerima kematian yang mengerikan. Dengan mengerang-
erang kesakitan, dia segera bergelundungan ke tanah untuk
memadamkan api itu.
Tapi api itu memang luar biasa anehnya. Waktu
dipadamkan makin membakar dan Go Ki pun makin merintih-
rintih memilukan hati.
Orang-orang yang menyaksikan, sama bercekat kaget.
Dunia persilatan menyohorkan sebagai raja api, namun
kecuali Siau Ih yang pernah merasakan serangan hui-thian-
hwat-yan (burung walet berapi) dari murid Gan-li Cinjin,
sekalipun Thiat-san-sian Liong Bu-ki yang menjadi sahabatnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpuluh tahun serta puterinya sendiri (Kho Wan-ji), semua


belum pernah menyaksikan kelihayan senjata panah yang
ganas itu.
Saking ngerinya, Wan-ji menjadi pucat dan terus lari
menubruk sang ayah: „Ayah ……”
Gan-li memeluk puterinya. Meskipun maksudnya hendak
menghibur, tapi wajahnya yang dingin itu tetap menampilkan
kemarahan.
Melihat sang kawan mengalami nasib ngeri, nyali Kiau Hoan
menjadi copot. Dia harus lekas-lekas bertindak untuk lolos.
Secepat mengambil keputusan, segera dia enjot tubuh
melayang melampaui kepala Liong Bu-ki lalu melayang turun
ke padang bunga. Jadi dia tak mengambil jalan turun gunung,
sebaliknya malah kembali masuk ke Pao-gwat-chung lagi.
Cepat dia merogoh kedalam bajunya. Tapi baru dia hendak
berpaling untuk menimpukkannya, terlintas sesuatu pada
pikirannya: „Ah, kalau seranganku ini gagal, berarti
membuang kesempatan untuk lolos. Lebih baik kuteruskan
rencana semula, menghancur leburkan desa ini!"
Ketika sekalian orang menyadari, Kiau Hoan sudah berada
sepuluh tombak jauhnya. Dengan menggerung keras, Liong
Bu-ki cepat mengejar. Tapi secepat itu pula dia segera melihat
si Manusia Iblis berulang-ulang mengayunkan tangan,
menaburkan berpuluh-puluh sinar ungu sebesar biji kacang ke
seluruh pelosok.
„Celaka!" teriak Liong Bu-ki dengan gusarnya.
„Bum, bum,” desa Pao-gwat-chung yang sunyi tenteram
itu, segera berobah hiruk pikuk dengan berpuluh letusan
petasan. Menyusul, dahan-dahan pohon mencelat kian kemari,
batu-batu meledak berhamburan. Bumi Pao-gwat-tihung
seolah-olah ditimpah gempa yang dahsyat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan menerjang ke daerah ledakan yang amat


berbahaya itu, Kiau Hoan lari ke arah desa lain yang terletak
disebelah atas lagi, dari situ terus turun meloloskan diri.
Ketika letusan-letusan itu sirap, desa Pao-gwat-chung yang
indah seperti lukisan, sudah berobah menjadi tumpukan
puing. Yang masih tampak hanyalah beberapa batang pohon
bunga. Pondok-pondok dan barisan pohon telah hancur lebur.
Saking gusarnya, mata Liong Bu-ki sampai melotot.
Beberapa saat kemudian barulah dia dapat berkata: „Berpuluh
tahun losiu mengasingkan diri di tempat yang terpencil, toh
akhirnya tetap dikejar musuh juga. Daripada begitu, lebih baik
losiu buang sampah losiu dahulu saja dan terjun kembali ke
dunia persilatan untuk membasmi kawanan manusia jahat!"
Karena masygulnya, Liong Go dan Ji-yan, diam kesima.
Pun Gan-li Cinjin turut marah melihat perbuatan Kiau Hoan
tadi, ujarnya: „Tak kira setelah berpuluh tahun berada di luar
lautan, ternyata di Tiong-goan masih tetap banyak urusan.
Kemungkinan dalam mencari murid pinto nanti, pinto akan
berhadapan juga dengan jago-jago lihay dari kalangan hijau
(begal)!"
Mendengar itu, Siau Ih terkesiap. Dia tahu murid yang
dimaksudkan Gan-li Cinjin itu, ialah orang berbaju merah
kawan Li Thing-thing yang telah dibinasakan di gunung Tay-
lo-san itu.
"Aku yang membinasakan, harus aku sendiri yang
menanggung jawabkan. Rasanya tak perlu takut. Pertama, dia
ternyata galang-gulung dengan seorana wanita cabul macam
Li Thing-thing. Kedua kalinya, dialah yang lebih dulu
menggunakan tipu keji untuk menyerang dan yang ketiga
kalinya, ada Goan Goan Totiang yang menjadi saksi," diam-
diam Siau Ih berpikir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Habis itu, dia terus hendak tampil ke muka memberi


pengakuan kepada Gan-li Cinjin. Tapi tiba-tiba terlintas
sesuatu pada pikirannya.
„Ah, tetapi dahulu ayahku pernah menceritakan bahwa
Gan-li Cinjin itu sering-sering membawa maunya sendiri. Kalau
karena malu dia lantas marah, bukankah akan runyam nanti?
Kiranya baik kutangguhkan saja sampai lain kali apabila
waktunya sudah mengizinkan."
Kata-kata yang sudah disiapkan dibibir tadi, ditelannya
kembali. Wajah Siau Ih pun kembali pulih tenang.
Kesemuanya itu berlangsung dalam waktu yang singkat,
hingga orang-orang tiada mengetahuinya, kecuali Liong Go.
Liong Go cukup kenal watak saudaranya angkat itu. Dia
terkejut melihat perobahan wajah Siau Ih tadi dan diam-diam
menduga anak itu tentu mengetahui persoalan murid Gan-li
Cinjin.
Tanpa disadari, Liong Go menatap tajam-tajam ke arah
Siau Ih. Anak muda itupun rupanya merasa. Wajahnya
bersemu merah. lalu cepat-cepat mmeberi isyarat mata
kepada Liong Go agar jangan membuka mulut.
Liong Go makin cenderung akan dugaannya tadi. Diam-
diam dia heran melihat sikap Siau Ih, pikirnya: „Biasanya Siau
hiante itu tiada kenal takut, tapi mengapa kini dia berlaku
aneh? Jangan-jangan apa dia yang dipihak salah?”
Tapi pada lain kilas, Liong Go membantah pikirannya
sendiri. Dia kenal siapa Siau Ih itu, seorang pemuda yang
diamuk oleh rasa dendam membalas sakit hati orang tua,
namun belum pernah berlaku jahat pada lain urusan. Sampai
sekian saat, Liong Go tak dapat menemukan jawaban.
Pada saat itu, kedengaran Thiat-san-sian Liong Bu-ki
menyatakan sesalnya kepada Gan-li Cinjin: „Sebenarnya aku
sudah mengetahui hal itu, tapi memang sengaja aku tak
memberitahukan to-heng karena tak ingin mengganggu to-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

heng. Tapi ternyata urusan telah berlarut begini. Gubuk


musnah, tak punya tempat untuk melayani tetamu. Sungguh
menyesal sekali."
Saking hendak menghiburnya, wajah Gan-li sampai
menampil kerut tawa yang aneh, ujarnya: „Liong-heng, kita
bukan kenalan baru melainkan sahahat karib yang sudah
berpuluh tahun. Jangan begitu sungkan. Karena turut
mengalami, sudah tentu pinto campur tangan juga. Pintopun
turut menyesal tempat istirahat yang Liong-heng bangun
bertahun-tahun itu, dalam beberapa kejap saja menjadi
musnah."
Gan-li tampak berhenti sejenak. Pada lain saat air mukanya
berobah keren lagi, katanya pula: „Urusan pinto hendak
mencari murid murtad itu, tak dapat dipertangguhkan lama-
lama lagi. Mungkin pinto akan agak lama tinggal di daerah
Tiong-goan. Oleh karena Liong-heng telah memutuskan
hendak aktif dalam masyarakat persilatan lagi, tentulah lain
hari kita bakal berjumpa lagi. Sekarang haripun sudah
menjelang terang, oleh karena kita masih mempunyai urusan
sendiri-sendiri, dengan ini pinto hendak minta diri."
Tanpa menunggu jawaban tuan rumah, Cinjin itu
anggukkan kepala memberi hormat lalu melesat pergi. Hwat-
poan-koan Lu Wi dan Cek-i-liong-li Kho Wan-ji tersipu-sipu
memberi hormat kepada tuan rumah, lalu mengikut jejak
suhunya. Dalam beberapa kejap saja, mereka sudah lenyap
dari pemandangan.
Sewaktu hendak angkat kaki tadi, Kho Wan-ji mencuri
kesempatan sejenak untuk memanahkan lirikan mata ke arah
Siau Ih. Suatu lirikan yang mengandung arti dalam. Namun
pemuda yang berhati baja itu, tiada mempunyai kesan suatu
apa.
Kepergian sang sahabat secara begitu mendadak itu, telah
membuat Liong Bu-ki makin berduka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berselang beberapa saat kemudian, dia berpaling ke arah


Siau Ih, ujarnya: „Losiu pun pernah berpuluh tahun
berkecimpung dalam gelombang dunia persilatan. Pasang
surutnya derita kesulitan, pernah losiu alami juga. Tapi tidak
seperti hari ini. Usia losiu makin loyo, sehingga tak mampu
melindungi rumah tangga, ah benar-benar memalukan."
Dengan tegas Siau Ih menyahut: „Tombak yang
diserangkan secara terang-terangan mudah dihindari, tapi
panah gelap sukar dijaga. Perbuatan pengecut dari kawanan
manusia jahat, memang sering berhasil menjatuhkan kaum
kesatria. Locianpwe, mengapa kau anggap dirimu tiada
berguna?”
„Walaupun sisa hidup losiu tinggal tak berapa lama, tapi
selama hayat masih dikandung badan, losiu tentu akan
menghaturkan si Kiau Hoan itu," dengan mata berkilat-kilat
Liong Bu-ki mengikrarkan tekadnya. Setelah itu sikapnya
berobah tenang kembali.
„Hian-tit, menilik pribadi dan kecerdasanmu, hari depanmu
tentu amat gemilang. Hanya sayang pada sepasang alismu itu
mencerminkan hawa pembunuhan, jadi kau tentu banyak
menghadapi kesulitan-kesulitan. Namun kalau tiada digosok,
berlian itu takkan menampakkan wajahnya yang gemilang.
Manusia kalau tak digembleng, takkan sempurna. Asal teguh
iman, pantang surut menghadapi segala coba derita, semua
tujuan pasti berhasil. Losiu tiada mempunyai suatu apa yang
berharga untuk kuberikan padamu. Hanya dengan sedikit
ucapan itulah, Losiu persembahkan pada hiantit."
Serta merta Siau Ih menjurah dan menghaturkan terima
kasih. Ujarnya: „Karena locianpwe masih mempunyai banyak
urusan, wanpwe tak berani mengganggu lebih lama dan
dengan inipun hendak mohon diri.”
„Dalam keadaan begini, losiu terpaksa tak dapat menahan
hiantit. Begitu urusan disini selesai, losiu pun hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkelana. Kelak apabila hiantit bertemu dengan engkongmu,


toiong sampaikan salam losiu padanya!"
Kembali Siau Ih haturkan terima kasih. Kemudian setelah
memberi selamat tinggal pada Liong Go, dia segera ayunkan
langkah.
Ketika tiba di padang bunga, tampak olehnya mayat Cian-
chiu-wi-tho Go Ki sudah terbakar menjadi abu. Juga jalanan
kiu-jiok-pat-poa-it-sian-thian itu, sudah rusak porak poranda.
Dua deret rumah kayu yang berada dipinggir karang, pun
sudah lenyap.
Berpuluh-puluh sosok mayat malang melintang, ada yang
pecah kepa¬lanya, ada yang jebol dadanya dan ada yang
sudah tak keruan tubuhnya. Benar Siau Ih satu waktu juga
berbuat ganas, tapi pemandangan yang disaksikan pada saat
itu, benar-benar membuatnya bergidik.
Sekeluarnya dimulut gunung, mataharipun sudah terbit.
Walaupun dijalan itu tiada tampak orang berjalan, namun dia
tak mau gunakan ilmu berjalan cepat.
♠♠♠♠♠
Dini hari dijalanan yang menuju ke gunung Lou-hu-san,
tampak seorang pemuda cakap tengah naik kuda dengan
pelahan-lahan.
Alam pemandangan disepanjang jalan ke Lou-hu-san itu,
terkenal cantik. Walaupun Lou-hu-san di propinsi Kwitang itu
termasuk daerah beriklim sedang, namun dikala pagi hari,
hawanya pun cukup dingin.
Tampak pemuda yang berpakaian warna biru itu, tak terlalu
menghiraukan alam sekelilingnya, karena tengah sibuk kelelap
dalam lamunannya pribadi. Hal itu kelihatan dari perobahan
mimik wajahnya yang sebentar mengerut dahi, sebentar
mengilas senyum dan sebentar pula memangu muka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapakah gerangan pemuda itu, kiranya pembaca tentu


sudah dapat memaklumi sendiri.
Banar, memang dialah Siau Ih yang hendak melaksanakan
hasratnya menuju ke Lou-hu-san. Menurutkan suara hatinya,
dia ingin mengadakan pertemuan empat mata dulu dengan
juwita Lo Hui-yan, sebelum kembali ke ‘tahanan’ di Tiam-jong-
san.
Kejadian singkat yang di alaminya di Pao-gwat-san itu,
telah menyadarkan pikirannya. Hanya dengan kesabaran
derita dan gemblengan lahir batin, barulah dia akan berhasil
membalaskan sakit hati orang tuanya.
Kaum muda banyak yang dihinggapi bercita-cita muluk,
melamun yang indah-indah, Siau Ih pun tak terkecuali. Dia
mempunyai lamunan sendiri akan hari depannya.
Menuntut balas, menjalankan dharma kebajikan,
mempersunting juwita idamannya, mendirikan mahligai
penghidupan yang bahagia.
Demikian lamunan yang menyelubungi lubuk pikiran anak
muda itu. Rangsangan hati itu, memerlukan tempat untuk
menyalurkan dan Lo Hui-yan adalah tempatnya yang sesuai.
Biara Peh-hoa-kiong di gunung Lou-hu-san adalah sebuah
biara wanita yang terkenal keras peraturannya. Di bawah
pimpinan ketiga perawan suci Hun-si-sam-sian yang berilmu
tinggi, daerah itu merupakan daerah terlarang bagi kaum pria.
Mereka melarang anak murid Peh-hoa-kiong menikah. Lo
Hui-yan menjadi murid kesayangan Hun-si sam-sian, jadi
diapun tunduk dengan peraturan itu.
Siau Ih telah membayangkan kesukaran-kesukaran itu,
namun dia datang dengan membawa keyakinan. Kisah roman
dikolam gunung Ki-he-nia, tetap menggores dalam kalbunya.
„Manusia tetap insan yang berperasaan ……."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kata-kata Lo Hui-yan itu amat membesarkan semangat


Siau Ih. Namun bila teringat akan peraturan keras dari Peh-
hoa-kiong, mau tak mau dia menjadi gelisah juga. Makin dekat
ke Lou-hu-san makin keras debar hatinya.
Derap kaki kudanya makin lambat dan akhirnya berhenti.
Siau Ih termangu-mangu lama sekali. Akhirnya dia tersadar.
Mengapa takut akan bayang-bayang sendiri? Asal Hui-yan
setuju, segala rintangan pasti akan dapat diatasi.
Semangatnya bangun kembali dan bersuitlah dia dengan
kerasnya laksana seekor ajam jago menunjuk kejantanannya.
Kuda mencongklang pula dengan pesatnya.
Lou-hu-san termasuk salah satu dari sepuluh gunung besar
di Tiongkok, yang puncaknya dapat menembus ke nirwana.
Demikian menurut anggapan kaum paderi agama Buddha itu.
Nama aseli dari gunung itu sebenarnya adalah Lo-san.
Menurut kitab Goan-ho-ci, sebelah bagian barat dari
gunung itu terus membentang ke laut. Karena bagian atas
gunung yang masuk laut itu penuh ditumbuhi hutan alang-
alang, jadi tampaknya seperti terapung di laut. Itulah
sebabnya maka dinamakan Lo-hu-san (hu artinya terapung).
Menjelang sore, tibalah Siau Ih di kaki gunung tersebut.
Dilihatnya dibeberapa tempat dari kaki gunung itu terdapat
beberapa petak rumah petani.
Sekilas teringatlah dia akan pesan Hui-yan tempo hari,
supaya jika datang ke Lo-hu-san, lebih dulu mencari petani
she Kau. Nona itu telah memberikan kalung kiu-hong-giok-hu
padanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menurut petunjuk
nona itu.
Kala itu hari sudah petang. Belasan petak rumah petani itu
sudah menyalakan lampu. Pada pintu dari salah sebuah
rumah, terdapat dua larik lian (poster) menyambut
kedatangan musim semi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ah, setiap keluarga tengah bersuka ria merayakan Tahun


Baru, hanya aku sendiri ……. ai!" sesaat dia mengeluh, tapi
pada lain kilas dia buang pikiran itu, lalu mengetuk pintu itu.
Seorang petani berumur empatpuluhan tahun, muncul
menyambut. Demi melihat orang itu terbeliak kaget, buru-buru
Siau Ih memberi hormat dan menyatakan maksud kedatangan
mencari petani she Kau itu. Belum lagi Siau Ih habis bicara,
petani itu sudah goyang-goyang tangan seraya menunjuk
telinganya.
Bermula Siau Ih terkesiap, tapi segera dia mengetahui apa
sebabnya. Petani itu orang Kwitang, jadi tak mengerti logat
bahasa daerah utara.
Siau Ih tak keputusan akal, segera dia mencorat-coret
ditanah. Tapi petani itupun hanya menunjuk matanya sembari
tersenyum menggelengkan kepala. Siau Ih terpaksa pamitan.
Dari satu ke lain rumah, dia sudah mendatangi enam-tujuh
keluarga, namun hasilnya sama saja. Mereka tak dapat
sambung bicara pun buta huruf. Diam dia mengeluh.
Syukur akhirnya dia bertemu juga dengan sebuah keluarga
petani yang berasal dari lain daerah.
Menurut keterangan orang itu, petani Kau itu tidak tetap
tinggal disitu. Kebanyakan dia pergi ke lain daerah dan hanya
dua-tiga kali saja pulang menjenguk rumah. Dua bulan yang
lalu, orang itu pergi hingga kini belum pulang lagi.
Siau Ih tertegun kecewa.
„Jauh-jauh kongcu datang kemari, tentulah mempunyai
urusan penting. Sayang Kau-loya tak ada, sekalipun begitu,
aku bersedia melakukan perintah kongcu," kata tuan rumah
demi melihat sikap anak muda itu.
Siau Ih menjadi lega. Setelah menghaturkan terima kasih,
menerangkan bahwa maksudnya mencari orang she Kau itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ialah hendak minta tolong supaya menyampaikan suatu berita


ke Peh-hoa-kiong.
Demi mendengar itu, pucatlah seketika wajah petani itu.
Serunya sembari geleng-geleng kepala: „Maaf, kongcu, aku
tak dapat melakukannya."
„Mengapa …….?”
„Peh-hoa-kiong di Hiang-swat-hay adalah tempat pertapaan
dari Hun-si-sam-sian, merupakan daerah terlarang bagi kaum
lelaki. Berpuluh tahun lamanya, tiada orang yang berani
melanggar. Memang pernah ada beberapa orang yang coba-
coba kesana, tapi tiada seorangpun yang kembali. Kau-loya
pun hanya membelikan barang-barang keperluan dari
beberapa anak murid Peh-hoa-kiong, namun tak berani masuk
kesitu. Mengingat kongcu orang persilatan, tentulah
memaklumi kesukaranku dan sudi memaafkan.”
Siau Ih mendengarkan keterangan itu dengan merenung.
Akhirnya dia tak mau memaksa hanya menanyakan letak
jalanan menuju ke Peh-hoa-kiong itu.
Tapi untuk keherannya, kembali orang itu mengunjuk
wajah gelisah. Akhirnya terpaksa orang itu memberi
keterangan.
„Hiang-swat-hay Peh-hoa-kiong terpisah hanya seratusan li
dari sini. Tempatnya mudah dicari, asal berjumpa dengan
sebuah puncak indah. Peh-hoa-kiong berada di dalam
lembahnya. Pada waktu ini lembah Hiang-swat-hay sedang
musim bunga bwe, baunya se-merbak sampai sepuluhan li,
jadi mudah dicarinya. Hanya saja, kuharap kongcu suka
berhati-hati memasuki daerah terlarang itu."
Siau Ih menghaturkan terima kasih dan minta tolong titip
kuda, karena malam itu juga dia segera hendak berangkat.
„Maaf, kongcu, sebenarnya aku suka sekali menolong
orang. Tapi dikarenakan kongcu hendak menuju ke Peh-hoa-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kiong jadi aku kurang leluasa. Kiranya kongcu tentu dapat


memaklumi kesulitanku ini," kata orang itu.
Siau Ih hanya tersenyum dan segera berlalu. Tak lama
masuk ke daerah gunung, lebih dulu dia ambil buntelan yang
menggamblok dipunggung kuda, kemudian baru dia tepuk
pantat binatang itu. Meringkik keras, kuda itu mencongklang
lepas masuk kedalam hutan.
Kini bebaslah Siau Ih gunakan ilmu mengentengi tubuhnya,
menyusup ke dalam pegunungan.
Kira-kira berlari seratusan li jauhnya, tiba-tiba hidungnya
tersampok dengan angin harum. Dia cepat berhenti dan
memandang ke sekeliling. Benar juga tak berapa jauhnya
disebelah muka, sebuah puncak menonjol dalam bungkusan
kabut.
Keadaan puncak itu, tepat seperti yang dilukiskan petani
tadi. Bau wangi tadi, mengunjuk bahwa daerah terlarang bagi
kaum lelaki, sudah berada di depan mata.
„Adik Yan, beratnya hatiku hendak bertemu padamu,
terpaksa aku melanggar larangan suhumu," demikian dia
berkata seorang diri, lalu lari turun ke lembah.
Tak lama kemudian, tibalah dia di sebuah mulut lembah
yang sempit. Itulah batas dari daerah terlarang Peh-hoa-
kiong. Setelah menenangkan hatinya yang berdebur keras,
barulah dia melangkah pelahan-lahan.
Makin masuk, hawa wangi itu makin keras. Kira-kira
sepeminum teh lamanya, tiba-tiba disebelah muka tampak ada
penerangan remang-remang.
Peh-hoa-kiong makin dekat dan jantung Siau Ih makin
berdetak keras. Kalau sampai urusan pribadinya itu menjadi
onar besar, apakah dia takkan menjadi malu pada ayah dan
engkongnya luar?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memikir akan akibat itu, keringat mengucur deras pada


dahinya. Kaki serasa berat untuk melangkah. Akhirnya setelah
meragu sekian saat, dia mendapat ketetapan hati.
„Cinta suci pantang mundur menghadapi segala rintangan.
Dan pula seorang lelaki harus berani memikul resiko atas
setiap perbuatannya …….”
Begitu jalanan itu habis, dia segera berhadapan dengan
sebuah hutan pohon bwe. Setiap batang pohon itu, hampir
dua tombak tingginya, daunnya rindang, bunganya penuh
meratai setiap ranting.
Karena pohon bwe disitu berpuluh ribu jumlahnya, jadi
hutan itu laksanakan merupakan lautan bunga bwe. Itulah
sebabnya maka lembah itu dinamakan Hiang-swat-hay atau
lautan salju wangi. Di depan hutan itu, terpancang sebuah
papan batu kumala yang berukiran tiga buah huruf
„Hiang-swat-hay”
Walaupun sudah larut malam, tapi karena langit cerah jadi
dapatlah Siau Ih memandang ke muka.
Jauh diujung hutan itu, samar-samar tampak suatu
bangunan yang dindingnya berwarna merah, atapnya hijau.
Tak salah lagi, itulah biara Peh-hoa-kiong.

26. Ujian Dari Para Wanita


Kuatir terjadi apa-apa, lebih dulu Siau Ih salurkan lwekang
kian-gun-sin-kong melindungi tubuh, baru dia masuk ke dalam
hutan. Tapi sampai diujung penghabisan ternyata tak terjadi
suatu apa. Diam-diam dia heran sendiri, mengapa tempat itu
tak dijaga sama sekali.
Ujung hutan itu merupakan sebuah tanah lapang seluas
sepuluhan hektar, ditaburi dengan pasir halus. Berpuluh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tombak disebelah muka, tampak sebuah gedung mewah,


dindingnya merah atapnya hijau.
Pintunya yang lebar bercat merah. Dikanan kiri, terdapat
ciok-say (singa batu). Di atas pintu itu tergantung sebuah
papan besar yang bertuliskan tiga huruf emas
„Peh-hoa-kiong”
(istana seratus bunga).
Kala itu Peh-hoa-kiong sudah diterangi lampu, namun
keadaannya sunyi sekali. Kini tibalah Siau Ih ditempat tujuan
terakhir. Tanpa banyak ragu-ragu lagi, dia segera loncat ke
atas pintu gerbang, dari itu melayang turun ke dalam. Lampu
yang terang benderang dalam biara, telah membuatnya
terkesiap.
Belum lagi dia mendapat kembali ketenangannya, tiba-tiba
terdengar suara seruan yang dingin: „Siapakah yang bernyali
besar berani masuk ke Peh-hoa-kiong ini? Lekas beritahukan
nama perguruanmu, kalau memang tak sengaja, bisa diberi
ampun. Tapi kalau membandel, akan dihukum berat!”
Sekalipun sudah mengetahui apa yang akan terjadi, namun
hati Siau Ih bercekat juga. Dan belum lagi dia sempat
menyahut, angin berkesiur mengantar munculnya empat gadis
dari empat jurusan.
Mereka sama berpakaian warna hitam. Kesebatannya mirip
dengan asap bergulung. Dan yang lebih mengesankan, adalah
kecantikan mereka yang amat menonjol itu.
Waktu menghampiri lebih dekat, nyata keempat nona itu
memakai pakaian seragam hitam, rambut terurai kepundak
dan pinggang masing-masing menyelip pedang. Kini mereka
sama berdiri berjajar memandang Siau Ih sambil meraba
pedang.
Sepintas pandang tahulah Siau Ih bahwa mereka berempat
itu adalah dari apa yang disebut kiu-hong atau sembilan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

burung cenderawasih, yakni sembilan murid kesayangan dari


Hun-si-sam-sian. Lo Hui-yan tak tampak diantara mereka.
Dalam keadaan begitu, Siau Ih tak dapat mengumpet lagi.
Dengan memberi hormat, dia menyahut: „Siau Ih murid Liu-
hun-yan Tiam-jong-san, hendak mohon menghadap pada
Hun-si bertiga cianpwe!”
Wajah keempat dara itu terbeliak kaget, tapi pada lain kilas
mereka menguasai perobahan mukanya pula.
Siau Ih pun berlaku tenang sedapat mungkin. Dia tahu
bahwa sekalipun nama Liu-hun-yap itu telah meredakan
kemarahan mereka, namun ketegangan suasana sewaktu-
waktu dapat pecah menjadi pertempuran.
„Sebagai murid dari Tiam-jong-san, tentulah saudara
mengetahui peraturan Peh-hoa-kiong. Tapi mengapa tengah
malam buta datang kemari?” kedengaran dara yang berdiri
paling kiri sendiri berseru dengan dingin.
„Musim rontok tahun lalu karena bertempur dengan tiga
penjahat di muka makam Gak-ong, aku telah berkenalan dan
mengangkat saudara dengan salah seorang dari kiu-hong Peh-
hoa-kiong. Karena sudah berbulan-bulan tak bertemu, aku
amat merindukannya. Kumerasa perbuatanku datang kemari
pada tengah malam ini tidak pantas, maka dengan hormat
kumohon Hun-si cianpwe bertiga sudi memberi maaf sebesar-
besarnya!”
Keempat dara itu memang mengetahui bahwa pemuda
yang tampan garang itu tentu anak murid dari perguruan
terkenal. Tapi setitikpun mereka tak mengira kalau anak muda
itu berani bicara secara blak-blakan begitu.
Habis tertegun, dara tadi bertanya dengan, tertawa dingin:
„Saudara mengaku kenal dengan salah seorang dari kiu-hong.
tapi entah yang manakah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Lo Hui-yan!" tanpa tedeng aling-aling lagi Siau Ih cepat


menjawab.
Dara itu tertawa sinis, serunya: „Apa buktinya?”
Wajah Siau Ih bertebar merah, tapi cepat berganti dengan
sikap keangkuhan
„Maaf, walaupun aku ini masih muda dan dangkal
pengetahuan, tapi tetap taat akan peraturan perguruan yang
melarang bersikap sombong menghina orang …….”
Sembari berkata itu dia merogoh keluar sebuah lencana
kumala putih. Kiu-hong-giok-hu atau pertandaan anggauta
kiu-hong diperlihatkannya.
Serunya: „Karena nona juga termasuk kiu-hong dari Peh-
hoa-kiong, tentulah kenal akan benda itu. Adik Yan telah
memberikan barang ini kepadaku selaku tanda sehidup semati
……” — dia berhenti sejenak.
Dengan wajah mengulum senyum kenangan yang
romantis, dia tertawa pula, katanya: „Maka sebelum kembali
ke Tiam-jong-san, aku terpaksa menempuh bahaya, malam-
malam masuk ke daerah terlarang ini, dengan harapan akan
dapat bertemu sebentar dengan adik Yan."
Sampai disini wajah Siau Ih berobah sungguh, ujarnya:
„Walaupun aku telah melanggar peraturan, tapi sekali-kali tak
mengandung maksud jahat, demi kehormatanku harap nona
suka mempercayai keteranganku ini."
Biasanya orang yang pernah masuk didaerah terlarang Peh-
hoa-kiong adalah kaum persilatan bebodoran. Maka betapa
kejut keempat nona itu bahwa pemuda yang dihadapan
mereka itu adalah murid dari si Rase Kumala Shin-tok Kek,
bintang cemerlang dari sepuluh Datuk. Dan lebih kaget pula
mereka sewaktu mendengar bahwa Siau Ih hendak berjumpa
dengan Lo Hui-yan, yakni suci (kakak perguruan) mereka yang
kelima.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bermula mereka masih belum percaya, tapi kalung kumala


kiu-hong-giok-hu itu menjadi saksi kuat. Memang go-suci
mereka, Lo Hui-yan, ketika diijinkan turun gunung melakukan
pembalasan sakit hati, pernah ditolong orang. Tapi keempat
gadis itu tak mengira bahwa penolong suci mereka itu,
ternyata seorang pemuda tampan yang gagah perwira.
Keempat kiu-hong itu saling berpandangan satu sama lain,
tak tahu mereka bagaimana harus berbuat. Sekonyong-
konyong terdengar suara lonceng mengalun dengan gencar.
Seketika berobahlah muka keempat dara itu. Cepat mereka
menyingkir ke samping menjadi dua rombongan.
„Suhu telah mengetahui, harap berhati-hati!” kata gadis
tadi kepada Siau Ih.
„Apakah ketiga Hun-si cianpwe akan kemari?" tanya Siau
Ih.
Gadis itu mengangguk dengan wajah muram. Jantung Siau
Ih berdebur keras, tapi dia segera tetapkan hatinya dan tegak
berdiri menanti apa yang akan terjadi.
Saat itu dari arah ruangan besar terdengar bunyi musik,
kemudian ruangan itu menjadi terang benderang. Enambelas
dara cantik keluar membawa alat-alat musik.
Begitu tiba ditangga, mereka lalu pecah diri menjadi dua
rombongan, berdiri dikedua samping. Menyusul muncul lagi
lima gadis berpakaian serba hitam dan mengenakan pedang.
Dandanan mereka itu persis seperti keempat dara yang
menemui Siau Ih tadi.
Hati Siau Ih berguncang keras. Kelima gadis itu tentulah
anggauta kiu-hong Peh-hoa-kiong, jadi Hui-yan tentu berada
diantara mereka. Siau Ih memandang mereka dengan tak
terkesiap. Benar juga gadis nomor satu pada deretan sebetah
kiri, adalah Lo Hui-yan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hati Siau Ih merangsang dan tak dapat dikuasai lagi


mulutnya berseru: „Adik Yan ……..”
Hui-yan pun mengetahui siapa pemuda itu, seketika
wajahnya berobah kaget, jantungnya serasa berhenti
berdetak. Sehelai rambut dibelah tujuhpun ia tak mengira,
bahwa orang yang berani masuk ke Peh-hoa-kiong itu,
ternyata pemuda yang menjadi kenangan kalbunya.
Hui-yan dapat menerka apa maksud kedatangan Siau Ih
itu, diam-diam ia merasa bahagia. Tapi demi teringat akan
peraturan Peh-hoa-kiong dan hukuman-hukuman ngeri yang
dijatuhkan pada mereka yang berani melanggar, hatinya
menjadi gelisah cemas.
Seruan Siau Ih yang diucapkan dengan mesra itu, telah
menggemparkan suasana di ruangan itu.
Di biara Peh-hoa-kiong yang menjadi daerah terlarang bagi
kaum lelaki, telah terjadi adegan romantis. Hal ini benar-benar
seperti halilintar berbunyi ditengah siang hari.
Getaran kalbu, telah membuat kedua muda mudi itu kelelap
dalam saling pandang yang girang-girang cemas. Lupa
mereka, bahwa kala itu mereka sedang berada ditengah-
tengah suasana yang tegang meruncing.
Tiba-tiba terdengarlah suatu seruan lirih yang amat
berpe¬ngaruh: „Yan-ji, kemarilah!"
Seruan itu telah membuat Siau Ih gelagapan. Memandang
ke arah datangnya suara, entah kapan munculnya, diambang
pintu ruangan besar itu tampak tegak berdiri tiga orang wanita
setengah tua yang tampaknya masih cantik.
Mereka mengenakan pakaian indah war¬na wungu muda,
kuning telur dan biru muda. Rambutnya disanggul tinggi,
wajahnya tirus, masing-masing menyelip pedang dipinggang
dan mencekal hud-tim (kebut pertapaan).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Memang apa yang diduga Siau Ih itu benar. Ketiga wanita


cantik pertengahan umur itu, adalah pemimpin dari biara suci
Peh-hoa-kiong, tiga saudara she Hun yang masing-masing
bernama Ko-shia-siancu Hun Yak-lun. Hui-yong-siancu Hun
Yak-cian dan Leng-bok-siancu Hun Yak-hwa.
Ketiga kakak beradik itu terkenal dengan sebutan Hun-si-
sam-sian atau tiga dewi she Hun. Karena ilmu silatnya tinggi,
mereka digolongkan dalam anggauta ke sepuluh Datuk.
Dengun wajah yang sedingin es, Hun-si-sam-sian tampak
meram-meram melek, seolah-olah tak mengacuhkan pemuda
yang berada dihadapannya itu.
Sebaliknya saat itu tubuh Hui-yan kelihatan gemetar,
sedang semua anak murid Peh-hoa-kiong yang berada dalam
ruangan itu, sama tundukkan kepala tak berani bercuit.
Suasana yang hening tegang itu, menggelisahkan Siau Ih
juga.
Kisah kematian ayahnya yang tragis itu, terbayang pula
dipelupuk matanya. „Kejadian yang menyedihkan itu, tak
boleh terulang lagi di depan mataku ……..”
Dengan tekad demikian, ia bersedia menolong Hui-yan dari
malapetaka. Tapi baru dia hendak melangkah maju, Hui-yan
sudah mendahului naik ke atas tangga terus menjatuhkan diri
berlutut dihadapan ketiga suhunya itu.
„Ah, celaka ……” keluh Siau Ih dalam hati. Namun dia tak
dapat berbuat apa-apa karena terpancang oleh peraturan-
peraturan disini. Hanya saja dia telah membulatkan tekadnya,
kalau Hun-si-sam-sian bertindak seperti Goan Goan Cu
terhadap mendiang ayahnya dahulu, dia tentu akan turun
tangan juga.
Setelah mengambil ketetapan, darahnya yang bergolak-
golak membakar tubuhnya tadi, agak menjadi sirap tenang
pula. Tahu sudah dia bahwa urusan dalam perguruan, orang
luar tak boleh turut campur, tapi pelajaran dari nasib ayahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu, telah merobah pandangannya terhadap segala peraturan


perguruan yang tak adil.
„Yan-ji, kenalkah kau pada orang itu?” kedengaran wanita
baju wungu yang berdiri ditengah kedua saudaranya,
membuka mata dan bertanya dengan dingin. Sambil berkata
itu, ia menunjukkan hud-tim ke arah Siau Ih, namun mata
tetap memandang lekat pada Hui-yan.
Siau Ih merasa tersinggung dengan sikap yang menghina
itu, namun dia coba tindas perasaannya.
Hui-yan amat gelisah. Siau Ih adalah penolongnya yang
telah mengembalikan jiwanya. Lebih dari itu, anak muda itu
ternyata telah mencuri hatinya. Hati anak muda manakah
yang takkan terkenang pada saat-saat pertemuannya dengan
sang jantung hati?
Tapi sebagai seorang murid, iapun tak lupa akan budi besar
dari sang suhu yang telah mendidik selama belasan tahun.
Lebih tak dapat melupakan pula ia akan peraturan yang
bengis dari perguruannya itu.
Merenung sejenak, dengan menggigit gigi, ia menyahut:
„Ya, tecu kenal padanya!”
„Hem ………“ dengus si dewi baju wungu mengangguk,
„tuturkan perkenalan kalian dengan terus terang!"
Hui-yan makin gemetar, mendongakkan kepala ia menjerit
pilu: „Suhu …….” Hanya begitu sang mulut dapat mengucap
karena tersumbat beserta air matanya yang membanjir.
„Kau hendak melanggar perintah suhu?" tetap Sam-sian itu
berseru dengan nada bengis.
„Tecu tak berani,” seru Hui-yan dengan gemetar.
Sam-sian itu mendengus.
„Kalau begitu, mengapa tak lekas-lekas bercerita? Kalau
kau tak bersalah, mengingat selama belasan tahun ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kelakuanmu tak tercela, tentu akan mendapat keringanan.


Tapi jika tidak begitu, jangan persalahkan aku berhati kejam!”
berkata Sam-sian itu dengan nada membesi dan sejenak
menyapukan matanya yang berkilat-kilat ke arah Siau Ih.
Kesempatan terbuka bagi Hui-yan. Asal ia dapat mengatur
ceritanya begitu rupa tentu akan bebas. Tapi dia bukan
seorang nona yang temaha hidup, dan suka berbohong.
Bagaimanapun juga tak dapat ia melupakan pemuda yang
sudah menolong jiwa, mengangkat saudara dan mencuri
hatinya itu. Setiap manusia tentu ingin hidup, tapi apa guna
kehidupan itu kalau tak dapat berdampingan dengan orang
yang dicintainya?
Akhirnya setelah terjadi pertarungan hebat dalam batin,
antara kebaktian terhadap budi suhu dan kecintaan terhadap
pemuda yang menolong jiwanya, ia memilih yang tersebut
belakang. Mati karena cinta, adalah bahagia.
Hui-yan pelahan-lahan mendongak, disingkapnya
rambutnya yang terurai lalu mengusap air matanya. Kemudian
dengan nada tenang, ia menuturkan pengalamannya.
Bagaimana ia bertempur dengan Teng Hiong dimakam Gak-
ong dan dilukainya, kemudian ditolong Siau Ih terus dibawa ke
gunung Ki-he-nia untuk berobat pada To Kong-ong. Setelah
sembuh, ia mengangkat saudara dengan Siau Ih selaku tanda
terima kasihnya, dan untuk menghindari tuduhan orang yang
bukan-bukan.
„Sungguh tak nyana, sampai akhirnya ……” berkata sampai
disini Hui-yan terhenti sejenak, wajahnya agak menyuram.
Rupanya dia tengah berusaha untuk menguasai perasaannya.
„Hal itu mungkin disebabkan karena manusia itu
mempunyai perasaan, bukan macam pepohonan. Akhirnya
tecu terjerumus dalam perangkap asmara. Namun tecu masih
tetap mengindahkan peraturan perguruan. Setelah
menimbang masak-masak, akhirnya tecu ambil putusan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kembali ke Peh-hoa-kiong sebelum perangkap itu makin erat


menjerat. Namun menurut suara nurani, tecu telah
mengabaikan peraturan perguruan dan memberikannya giok-
hu selaku tanda mata. Demikian penuturan tecu yang
sejujurnya."
Menurut irama nada Hui-yan yang bercerita, kerut wajah
Sam-sian baju wungu itupun turut terlihat makin gelap. Habis
mendengar seluruh cerita, alis Sam-sian itu menjungkat naik,
wajahnya menampil amarah.
„Jadi kau akui telah mengadakan hubungan kasih dengan
dia?!"
Gemetar tubuh Hui-yan mendengar pertanyaan suhunya
itu. Dengan suara berat dia mengiakan.
„Yan-ji, coba kau ucapkan bagian yang terakhir dari
sepuluh pantangan Peh-hoa-kiong?" Sam-sian berseru murka.
Seketika wajah Hui-yan berobah ngeri, tapi pada lain jenak,
sudah tenang kembali dan bahkan tampak tenang sekali.
Dengan nyaring dan tegas, ia mulai mengucapkan kalimat
itu: „Barang siapa anak murid kami, mengadakan hubungan
cinta dengan orang, akan menerima hukuman dipunahkan
kepandaian lebih dulu, kemudian disuruh menghabisi jiwanya
sendiri."
„Kau mengaku berdosa?" tanya Sam-sian baju wungu.
„Tecu mengaku berdosa."
Sam-sian mengangukkan kepala, ujarnya pula: „Apa kau
masih ada lain perkataan lagi?"
„Tecu hanya mempunyai dua buah harapan. Pertama, tecu
amat kecewa karena belum dapat membalas budi suhu.
Kedua, setelah tecu nanti meninggal, sukalah suhu memberi
kebebasan pada Siau Ih gi-heng itu. Tecu merasa sangat
berterima kasih sekali," kata Hui-yan dengan rawan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sam-sian baju wungu mendengus dingin, berkata: „Sebagai


suhu, aku meluluskan permintaanmu itu."
Hui-yan tertawa pilu lalu menghaturkan terima kasih.
Berputar ke arah sam-sian baju biru dan Sam-sian baju
kuning, ia berdatang sembah: „Tecu menghaturkan selamat
tinggal pada susiok berdua.”
Mau tak mau, Hun-si-sam-sian yang berwajah dingin itu,
menampil kerut haru juga. Namun dengan cepatnya mereka
dapat menguasai perobahan mimiknya.
„Kini sebagai suhu aku hendak menjalankan hukuman
perguruan," sesaat kemudian berkatalah Sam-sian baju wungu
sembari gerakkan pelahan-lahan hud-timnya ke arah Hui-yan
yang masih berlutut dihadapannya.
Siau Ih terperanjat. Dia harus bertindak cepat. Sebat sekali
ia sudah melesat ke muka ditengah Hui-yan dan Hun-si-sam-
sian.
Menjurah memberi hormat, dia berkata: „Apakah wanpwe
boleh menghaturkan sepatah kata?” - Dalam pada itu, diam-
diam dia sudah ke¬rahkan tenaga dalam untuk mendorong
pelahan-lahan kebut hud-tim sampai dua-tiga dim ke samping.
Karena tak bersiaga, Sam-sian baju wungu itu sampai
menyurut setengah tindak. Seketika meluaplah amarahnya.
Sepasang matanya berkilat-kilat.
„Jadi kau hendak mencampuri urusan Peh-hoa-kiong, Ya?”
tanyanya dengan bengis.
Tindakan Siau Ih itu bukan melainkan membuat semua
orang terkejut, sampaipun Hui-yan sendiri terperanjat sekali.
Sebalik nya Siau Ih tetap tenang saja.
„Wanpwe tak berani," sahutnya dengan pelahan.
„Habis apa maksudmu tadi?" seru Sam-sian makin naik
pitam. „Wanpwe hanya hendak mengucap sepatah kata."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Katakanlah!" Sam-sian itu tertawa dingin.


„Wanpwe Siau Ih adalah anak murid dari Lan-chui-suan
lembah Liu-hun-hiap Tiam-jong-san …….”
„Siaocu, jangan tekebur," tukas Sam-sian dengan marah
besar, „Shin-tok Kek belum pernah menerima murid
seorangpun jua. Apa buktinya kau mengaku muridnya? Hem,
kau kira kami bertiga tak pernah turun gunung, ya? Bilang
terus terang, mungkin ada keringanan, tapi jika tidak,
bangkaimu tentu tak ada tempat berkubur!"
Menghadapi Sam-sian pemimpin biara Peh-hoa-kiong yang
tengah marah besar itu, Siau Ih bersikap tenang saja. Sembari
mengulum senyum. dia berkata: „Sukakah kiranya cianpwe
lebih dahulu memberitahukan gelaran yang mulia?”
„Aku Hun Yak-lun! murid siapakah kau ini sebenarnya?"
Kini wajah Siau Ih berobah bersungguh, ujarnya: „Apa yang
Cianpwe katakan tadi memang benar. Lan-chui-suan belum
pernah menerima murid. Tetapi engkau hanya tahu satu, tidak
mengerti dua."
Memang Sam-sian baju wungu itu adalah Ko-shia-siancu
Hun Yak-lun, sedang yang berdiri dikanan kirinya adalah Hu-
yong-siancu Hun Yak-ciau dan Leng-boh-siancu Hun Yak-hwa.
Penyahutan Siau Ih tadi telah membuat ketiga Sam-sian itu
terperanjat. Hampir saja mereka, tak dapat menguasai
kemurkaannya lagi.
Bagaimana dengan Siau Ih? Sebenarnya walaupun lahirnya
tampak tenang, tetapi batin Siau Ih juga tegang sekali.
Sesaat kemudian, Siau Ih menyambung perkataannya lagi:
„Pemilik Lan-chui-suan itu, adalah engkongku luar!”
Wajah ketiga Sam-sian itu berobah seketika.
„Kalau begitu, kau ini anaknya Siau Hong dan Shin-tok
Lan?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertanyaan itu bagaikan sembilu menusuk hati Siau Ih.


Seperti tak bertulang, lehernya mengulai tunduk dan
menyahut dengan pilu: „Benar."
Ko-sia-siancu merenung sejenak. Tiba-tiba wajahnya
berobah membesi dan mulutnya berseru bengis: „Sebagai
keturunan dari tokoh kenamaan tentunya kau tahu akan
peraturan Pek-hoa-kiong. Dengan nekad melanggar peraturan
itu, apakah kau memang hendak menghina?”
Siau Ih bercekat. Dia insyaf betapa berbahayanya ucapan
Ko-shia-siancu itu. Sekali dia memberi penjelasan keliru, tentu
akan menerbitkan onar besar.
„Dampratan cianpwe itu, wanpwe terima dengan ikhlas.
Tapi hendaknya cianpwe jangan salah paham. Kedatangan
wanpwe kemari ini, semata-mata hanya ingin bertemu dengan
adik Yan, sebelum wanpwe kembali pulang lagi ke Tiam-jong-
san. Walaupun wanpwe mengakui adanya ikatan-hati dengan
adik Yan, namun selama itu wanpwe selalu memegang teguh
batas-batas kesopanan. Mengenai hubungan wanpwe dengan
adik Yan itu, engkong wanpwe pun sudah mengetahui.
Berdasarkan jalan yang wanpwe tempuh itu selalu suci lurus,
wanpwe baru berani datang kemari. Tapi apabila cianpwe tak
dapat memaafkan perbuatan wanpwe itu, wanpwe pun rela
menerima hukuman.”
Siau Ih telah menggubah kata-katanya sedemikian rupa,
tidak sombong tidak merendah dan tetap sopan. Sampai Ko-
shia-siancu tanpa terasa anggukkan kepala selaku memuji
akan penyahutan anak muda itu. Namun pada lain kejap,
wajah siancu itu sudah berobah menjadi dingin lagi.
„Jadi kau maksudkan, engkongmu luar itu amat
memanjakan dirimu bukan?” tanyanya.
„Harap cianpwe jangan salah menafsir. Kedatangan
wanpwe kemari ini adalah dari kehendak wanpwe sendiri."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Hem,” tukas Ko-shia-siancu, „meskipun watak dari Lan-


chui-suan itu aneh sekali, tapi sejauh itu belum pernah
mem¬bikin susah orang atau bertindak sembarangan.” - Ko-
shia-siancu berhenti sejenak, sepasang matanya yang bagus
berkilat-kilat memancar ke arah Siau Ih.
„Watak kaum persilatan selalu menjunjung budi kebaikan.
Kaum Peh-hoa-kiong pantang bohong. Aku bertiga saudara
memang benar dahulu pernah menerima budi pertolongan
dari engkongmu, budi itu sampai sekarang belum terbalas
…..,” berkata sampai disini Ko-shia-siancu segera berpaling, ke
arah kedua saudaranya: „Ji-moay, sam-moay ……….”
Hu-yong-siancu Hun Yak-ciau dan Leng-boh-siancu Hun
Yak-hwa yang sejak tadi belum buka suara, kini cepat-cepat
menyahut: „Setiap budi, memang harus dibalas. Bagaimana
hendak memutuskan, terserah saja pada cici. Hanya saja,
sejak berpuluh tahun peraturan Peh-hoa-kiong itu selalu
dipegang teguh, kiranya cici tentu dapat menimbang dengan
bijaksana.”

27. Pasrah Dengan Nasib .....


Mendengar itu, wajah Ko-shia-siancu agak muram. Setelah
merenung sekian jenak, baru dia berkata pula kepada Siau Ih:
„Memang, setiap budi harus dibalas. Tapi muka Peh-hoa-kiong
pun harus diselamatkan. Kini aku hendak memberi
kelonggaran padamu untuk memilih salah satu dari syarat
yang kuajukan ini.”
„Wanpwe menunggu dengan hormat,” kata Siau Ih.
Ko-shia-siancu tertawa dingin, ujarnya: „Syarat pertama,
tinggalkan pedangmu disini dan kau boleh bebas pulang. Yang
kedua, kalau kau mampu memecahkan barisan pedang kiu-
kiu-kui-goan-kiam-tin dari Peh-hoa-kiong, bukan saja
kesalahan masuk kesini hebas, pun kedosaan murid murtad
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

(Hui-yan) yang berani melanggar peraturan perguruan itu,


takkan ditarik panjang lagi!"
Siau Ih bersenyum, tanyanya: .,Kalau wanpwe tak dapat
memecahkan barisan pedang itu ……..”
„Kalau begitu, akupun takkan mengambil jiwamu,
melainkan akan menyimpan kau dan muridku murtad itu
dalam penjara terpisah, kemudian mengundang engkongmu
kemari. Terlebih dulu nanti akan kujalankan hukuman pada
muridku itu, baru kuserahkan kau pada engkongmu!”
Siau Ih tertawa memanjang.
„Kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin adalah ilmu pusaka Lo-hu-san
yang menggetarkan dunia persilatan. Kalaupun wanpwe tidak
becus, namun ingin juga mencobanya. Wanpwe suka
menerima syarat yang kedua itu.”
Melihat sikap meremehkan dari anak muda itu, Ko-shia-
siancu terkesiap dan suruh dia menimbang lagi masak-masak.
Masih Siau Ih tertawa getir, sahutnya dengan tegas:
„Dengan mengesampingkan soal mati-hidup, barulah wanpwe
berani berkunjung kemari. Jadi apa yang wanpwe pilih tadi,
sudah terpikir masak-masak. Hanya wanpwe mohon, sukalah
cianpwe mengampuni jiwa adik Yan. Sekalipun tubuh wanpwe
nanti mati tercincang, wanpwe takkan penasaran lagi.”
„Baik, kalau memang niatmu sudah tetap, akupun tak mau
banyak omong lagi,” kata Ko-shia-siancu, lalu memanggil
salah seorang dari rombongan delapan gadis kiu-hong.
Begitu gadis itu datang menghadap, Ko-shia-siancu
memberi perintah supaya membawa Hui-yan kekamar tahanan
Hui-lo lebih dahulu, baru kelak akan diputuskan hukumannya.
Nona itu mengiakan dan Ko-shia-siancu memesannya supaya
ia lekas-lekas datang kembali ke ruangan itu.
Begitu gadis itu menghampiri, Hui-yan sudah cepat
berbangkit. Dengan air mata bercucuran, kembali dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memohon kepada suhunya: „Suhu, tecu rela menerima


hukuman perguruan. Hanya saja sekali lagi tecu mohon suhu
suka bermurah hati kepada giheng Siau Ih.”
Ko-shia-siancu bersikap dingin saja atas permintaan
muridnya itu. Hui-yan menjadi putus asa, dengan air mata
bercucuran dia memandang sejenak ke arah Siau Ih.
Kemudian dengan menahan isak tangis, ia segera berjalan
masuk ke pintu samping. Leng-ji cepat-cepat mengikutinya.
Menampak pemandangan yang memilukan itu, semangat
Siau Ih menyala-nyala. Biar bagaimana ia hendak tumplak
seluruh kepandaiannya untuk menghadapi ujian malam itu.
Tak berapa lama, Leng-ji muncul pula. Ko-shia-siancu
menatap tajam-tajam ke arah Siau Ih, kemudian memberi
isyarat dengan tepukan pelahan. Rombongan gadis pemusik
yang ternyata menjadi murid angkatan ketiga dari Peh-hoa-
kiong, segera bubar masuk ke dalam pintu samping.
Sementara ke delapan dara kiu-hong yang termasuk murid
angkatan kedua, dengan dipimpin oleh Leng-ji segera melolos
pedang dan mengatur diri dalam formasi barisan. Segala
sesuatu berlangsung dengan rapi dan cepat.
Melihat itu, Siau Ih tersenyum, ujarnya: „Sesuai dengan
namanya, kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin seharusnya dilakukan oleh
sembilan orang, mengapa kini hanya delapan orang. Adakah
cianpwe memang tak ber¬sungguh-sungguh hendak memberi
ajaran pada wanpwe?”
Ko-shia-siancu mendengus dengan wajah murka, serunya:
„Aku bertiga saudara, tak sudi bertempur dengan kaum hopwe
(angkatan muda). Itu berarti kemurahan besar bagimu.
Apakah kau masih kurang puas?”
„Wanpwe tak berani kurang hormat dan menghaturkan
terima kasih," sahut Siau Ih. Kemudian sebat sekali dia sudah
melolos pedang Thian-coat-kiam yang bentuknya seperti ekor
burung seriti itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Maafkan atas kekurang ajaran wanpwe ini," serunya


sembari enjot sang kaki melambung sampai setombak lebih
tingginya. Dengan gerak ui-liong-coan-sin (naga kuning
membalik badan), dia melayang turun ditengah-tengah
barisan.
Gerakannya yang indah, telah membuat ketiga Sam-sian
mengangguk-angguk memuji. Siau Ih sendiri tegang hatinya,
tapi dia coba berlaku tenang dengan menghias senyum.
Saat itu, Leng-ji pun sudah pindahkan pedang ke tangan
kanan, lalu melintangkan ke muka dada, sedang dua buah jari
tangannya kiri menjepit ujung pedang. Itulah cara memberi
hormat dengan pedang.
„Sik Leng-ji menjalankan titah suhu, harap Siau-siaohiap
siap sedia,” serunya.
Siau Ih cepat membalas hormat dan menyilahkan pona itu
memulai lebih dulu. Leng-ji pun tak mau banyak bicara. Begitu
ia gerakkan pedang, maka ketujuh dara dari Lo-hu-san segera
mulai bergerak bergantian tempat untuk mengepung Siau Ih.
Kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin dari Peh-hoa-kiong dan ngo-
heng-pat-kwa-kiam-tin dari biara Sing-ceng-kiong, merupakan
dua buah barisan pedang yang sangat dimalui dunia
persilatan. Hanya saja menurut penilaian, kiu-kiu-kui-goan-
kiam-tin lebih unggul setingkat.
Gerakan itu terdiri dari sembilan perobahan dari satu
sampai sembilan kemudian balik kembali ke satu, maka
dinamakan kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin (sembilan kali lalu
kembali pada permulaan).
Tapi oleh karena Hui-yan tak ikut, jadi barisan itu hanya
bergerak sampai pada perobahan ke delapan saja.
Siau Ih dengan tenang, menunggu dengan penuh
perhatian. Ke delapan dara itu masing-masing menjulurkan
pedangnya sedikit ke muka, diimbangi oleh tangan kiri yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diangkat hingga sampai ke alis, lalu bergerak-gerak pindah


tempat dengan rapi.
Sebelumnya Siau Ih sudah terisi oleh rasa jeri terhadap
kebesaran nama Hun-si-sam-sian, namun beratnya hendak
membela orang yang dicintai, dia bersedia bertempur mati-
matian juga.
Kala itu sudah hampir jam tiga malam, bintang-bintang
hampir memudar. Cepat dia ambil keputusan untuk lekas
turun tangan. Leng-ji adalah kepala dari barisan itu.
Untuk menghancurkan barisan itu, haruslah pokoknya yang
digempur. Justeru pada saat itu, Leng-ji sedang berputaran
dihadapannya. Kesempatan itu tak boleh disia-siakan. Dengan
bersuit nyaring, dia segera maju menyerangnya.
Siau Ih gunakan tujuh bagian tenaganya, dan serangannya
dengan jurus hui-poh-liu-cwan (air terjun mencurahkan
sumber) mengandung perobahannya sukar diduga. Rasanya
Leng-ji tentu sukar menghindar.
Tapi pada detik itu, Leng-ji sudah bergerak beralih tempat.
Siau Ih tertawa, memutar tubuh dia robah hantaman menjadi
tutukan ke arah jalan darah dipundak si nona. Dia yakin,
betapapun lihay dan tangkasnya nona itu, tentu tak mampu
mengelak.
Tapi selagi dia diam-diam bergirang, tahu-tahu dua dara
yang berada disamping kanan dan kiri, saat itu sama berputar
datang. Tahu-tahu Siau Ih rasakan dua buah benda dingin
menusuk dari kedua sampingnya.
Terpaksa Siau Ih tak dapat mengejar Leng-ji. Begitu kedua
pedang kedua nona itu tiba, dia ajukan tubuh ke muka.
Pada saat itu, dilihatnya Leng-ji sudah maju mengganti lain
tempat rekannya, selagi tempat Leng-ji itu masih luang, Siau
Ih terus menyelonong maju. Pikirnya hendak menerobos
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keluar barisan. Biarpun tidak menang, asal bisa menerobos


keluar, berarti diapun tak kalah.
Tapi ternyata lain teori lain kenyataannya. Baru Siau ih tiba
dilubang barisan itu, sekonyong-konyong Leng-ji berputar
tubuh terus, membabatkan pedangnya kepinggang Siau Ih.
Menurut teori seharusnya Leng-ji bergerak maju kedepan
mengganti tempat yang ditinggalkan rekannya, tapi
kenyataannya dia berputar balik untuk menghantam. Inilah
yang menyebabkan Siau Ih kaget setengah mati. Oleh karena
tubuhnya dienjot ke atas, jadi dia tak sempat untuk
menghindar lagi.
Syukur dia masih dapat memikirkan sebuah jalan lolos.
Dengan mengertak gigi kegeraman, dia injakkan kaki kanan ke
punggung kaki kiri, berbareng itu tangannya kiripun
menghantam kebawah.
Dua buah tenaga pinjaman itu cukup membuat tubuhnya
melambung sampai setombak tingginya, dari itu dia
berjumpalitan ke belakang untuk kembali melayang …… ke
dalam barisan!
Sudah maksudnya lolos menjadi gagal, dia kalang kabut
jungkir balik dan tak urungpun bajunya sebelah bawah robek
tergurat ujung pedang si nona.
Barisan pedang kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin, tetap bergerak
dengan Leng-ji sebagai porosnya. Sejak turun gunung dan
mengalami pertempuran beberapa kali, baru pertama kali itu
Siau Ih pontang panting begitu macam. Sudah tentu dia
menjadi naik darah. Saking marahnya, matanya menjadi
merah seperti banteng buas.
Tiba-tiba dia bersuit nyaring, kini dia gunakan pedang
pusakanya untuk membuka serangan. Dara yang kebetulan
bergilir di depan Siau Ih, jeri melihat sinar pedang si anak
muda yang berkilat luar biasa itu. Ia tak berani menangkis,
melainkan menghindar ke samping. Siau Ih tertawa dingin, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membayangi dan memburu dengan tiga buah serangan


berturut-turut. Dara yang diincarnya itu, seketika menjadi
terkurung dalam hujan sinar pedang.
Dari sekian ratus jago persilatan, hanya terpilih sepuluh
yang digolongkan sebagai sepuluh Datuk. Dan Hun-si-sam-
sian, termasuk dalam daftar ke sepuluh datuk itu. Jadi sampai
dimana kepandaian dari pemimpin Peh-hoa-kiong itu, dapat
dimaklumi.
Kesembilan dara kiu-hong itu, sejak kecil dilatih sendiri oleh
Hun-si-sam-sian. Dengan Siau Ih, kesembilan nona itu
seimbang kepandaiannya. Jadi barisan yang dimainkan
menjadi pat-kwa-kiam-tin oleh kedelapan dara itu, mana
dapat ditembus dengan mudah.
Waktu salah seorang rekannya terancam, Leng-ji berteriak
memberi komando. Ketujuh dara kiu-hong itu serempak
memutar pedangnya terus menusuk punggung, pinggang,
bahu dan lain-lain bagian fatal (mematikan) dari tubuh Siau
Ih.
Anak muda itu bersuit keras, pedang dibalikkan menabas
dalam jurus to-sia-sing-bo atau mencurahkan terbalik bintang
bima sakti, berbareng itu tangan kiri menjotos lurus ke muka.
Serangkum hawa panas, tetap menyerang nona yang terlolos
dari serangannya pedang tadi. Sekaligus, dia menyerang dua
lawan.
Sinar berkilat, logam bergemerincing dan jeritan seram
terdengar. Siau Ih terkejut karena tak tahu apa yang telah
terjadi. Begitu dia sempat memperhatikan keadaan lawan,
ternyata barisan pat-kwa-kiam-tin itu sudah berobah. Delapan
dara dari kawanan kiu-hong, ternyata tinggal enam orang dan
barisan pat-kwa pun berobah bentuknya menjadi liok-hap. Apa
yang terjadi?
Beberapa meter dari tempatnya, Siau Ih melihat dua orang
dara berhenti bergerak. Yang satu kesima melihati pedangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kutung separoh, yang satu terkapar di tanah dengan wajah


pucat. Siau Ih sendiri menjadi terperanjat. Pada lain saat dara
yang pedangnya kutung itu segera menghampiri ke tempat
rekannya yang rubuh lalu mengangkatnya terus dibawa masuk
ke belakang ruangan.
„Seorang pedangnya kutung, seorang lagi terluka berat,
rasanya urusan malam ini akan menjadi berlarut-larut hebat.
Tapi biar bagaimana, aku tetap akan berjuang
mempertaruhkan nasib kita berdua,” diam-diam Siau Ih
berkata dalam hati. Malah setelah mempunyai ketetapan itu,
hatinya makin tenang.
Selagi dia siap hendak menggempur barisan liok-hap-kiam-
tin, tiba-tiba disebelah tangga atas sana kedengaran Ko-shia-
siancu Hun Yak-lun berseru: „Siau Ih, tadi kau mengaku
putera Siau Hong, tapi ternyata permainanmu pedang itu
adalah ajaran Siau-sian-ong Bok Tong, mengapa?”
Berhenti sejenak, Sam-sian itu melanjutkan pula: „Jika kau
mengira Peh-hoa-kiong gampang dipermainkan, itu berarti
hari kematianmu sudah tiba!"
Dengan adanya kesudahan pertempuran tadi, Sam-sian
menuduh Siau Ih bohong dan hendak menghina kaum Peh-
hoa-kiong, maka dia tinjau lagi keputusannya tadi. Sebaliknya
diberi keringanan, kini Siau Ih hendak diperberat
hukumannya.
Tapi sebaliknya Siau Ih merasa tersinggung dengan ucapan
Sam-sian itu. Sahutnya dengan rawan-rawan mendongkol:
„Apa yang cianpwe tanyakan itu memang benar. Kepandaian
wanpwe ini memang berasal ajaran dari ayahku angkat Bok
Tong. Hal itu disebabkan karena nasib wanpwe yang malang,
tapi maaf, wanpwe tak dapat menuturkan soalnya. Hanya
saja, sekalipun berumur muda wanpwe tak pernah menghina
orang, lebih-lebih terhadap kaum cianpwe.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ko-shia-siancu memperhatikan wajah pemuda itu. Katanya:


„Baik Siau-sian-ong Bok Tong maupun si Rase Kumala Shin-
tok Kek keduanya adalah tokoh-tokoh istimewa. Kau sebagai
muridnya, seharusnya berlaku jujur …..”
Kembali Ko-shia-siancu melirik ke arah Siau Ih. Oleh karena
tadi telah berlaku kurang hati-hati, Siau Ih menjadi makin tak
tenteram hatinya. Serta merta dia memberi hormat
menghaturkan maaf atas kesembronoannya tadi.
„Dalam pertempuran, memang sukar terhindar dari terluka
atau terbunuh. Asal sebelum besok pagi kau dapat
membobolkan barisan itu, aku tak nanti mengingkari janji,”
kata Ko-shia-Siancu.
Kala itu hari hampir menjelang fajar. Nasib Hui-yan dan dia
sendiri, tergantung dari apa yang akan terjadi dalam satu dua
jam saja. Maka secepat menghaturkan terima kasih, Siau Ih
terus berputar tubuh menghadapi keenam dara dan
mempersilahkan mereka memulai.
Leng-ji pun tak mau banyak cakap. Cepat dia memberi
isyarat agar kawan-kawannya mulai bergerak dalam barisan
liok-hap-kiam-tin. Pertempuran kali ini berbeda dengan yang
tadi. Melihat keganasan si anak muda, keenam dara itu
hendak melakukan pembalasan.
Siau Ih sendiripun sudah merasa keterlaluan, dia menyesal
dan tak mau berbuat ganas lagi. Dengan demikian, Siau Ih
sudah kalah moril.
Sewaktu memperhatikan gerak gerik keenam dara itu, Siau
Ih dapatkan apa yang disebut liok-hap-kiam-tin itu terdiri dari
dua lapisan. Lapisan dalam terdiri dari tiga orang, lapisan
luarpun tiga orang. Mereka merupakan sebuah lingkaran yang
mengepung anak muda itu rapat-rapat, ibarat air hujanpun tak
nanti dapat menerobos masuk ke dalam barisan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam-diam dia mengeluh dan putus asa. Namun karena dia


masih berdarah panas dan berwatak congkak, jadi tetap tak
mau menyerah.
Setelah sekian saat memperhatikan dan mempelajari
barisan itu, diam-diam dia membatin: „Mereka terus menerus
mengitari aku saja tapi tak mau menyerang. Jangan-jangan
barisan ini serupa dengan barisan ngo-heng-pat-kwa-tin dari
Siang-ceng-kiong. Musuh diam, merekapun diam, tapi begitu
musuh mulai bergerak, mereka terus mendahului bergerak
dulu untuk menindas ……..”
Berpikir begitu, dia teringat sewaktu dahulu engkongnya
luar (si Rase Kumala) menghancurkan barisan ngo-heng-pat-
kwa-kiam-tin. Akhirnya dia ambil putusan lebih baik
mencobanya saja.
Kaki kanan agak dipijakkan keras-keras ke tanah, diantar
oleh gerakan tangan kiri, tubuhnya condong ke muka
menutukkan pedangnya ke arah Leng-ji yang saat itu
kebetulan bergerak dihadapannya. Bagaimana reaksinya?
Ternyata apa yang diduga Siau Ih tadi, memang benar.
Begitu ujung Siau Ih hampir kena, Leng-ji cepat menghindar
ke samping, sedang dalam pada itu dua orang dara lainnya
sudah lantas menusuk ke arah Siau Ih.
Serangan Siau Ih tadi hanyalah hendak memancing saja,
jadi posisinya tetap tak berobah. Cukup dengan turunkan
sedikit pundaknya, dia kelit pedang yang menyerang atas,
sementara untuk pedang yang menyerang bawah, cepat-cepat
dia balikkan pedangnya untuk menangkis. Gerakan berkelit
sembari menangkis itu teramat sebatnya. Dia percaya lawan
tentu akan kocar-kacir.
Tapi ternyata kedua dara penyerangnya itu sudah
menyelinap keluar. Leng-ji dan kedua dara itu termasuk
lingkaran dalam, begitu mereka bergeser keluar, maka ketiga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dara dari lingkaran luar, cepat masuk menggantikan tempat


Leng-ji bertiga.
Jadi antara barisan dalam dan barisan luar itu, ternyata
bergantian tempat. Malah begitu mengganti ke dalam, ketiga
dara itu berbareng menyerangkan pedangnya.
Lain engkong lain cucunya. Dahulu si Rase Kumala dengan
kepandaiannya yang tinggi dan kegesitannya yang luar biasa,
dapat menerobos dan mengocar-ngacirkan barisan ngo-heng-
pat-kwa-tin, tapi Siau Ih tidak mampu. Hal ini disebabkan
karena anak muda itu masih kalah jauh dengan engkongnya.
Pergantian tempat yang berlangsung cepat dan tepat itu,
telah membuat Siau Ih kelabakan. Kalau tak mengandalkan
gerakan kaki ceng-hoan-kiu-kiong-leng-liong-poh, dia tentu
sudah terluka.
Kebagusan barisan liok-hap-kiam-tin terletak disitu. Begitu
diserang, barisan itu akan memberi reaksi yang cepat. Makin
diserang, barisan itu makin hidup dan makin hebat
perbawanya.
Bagaikan kupu-kupu menyusup diantara pohon bunga,
keenam dara itu berkeliaran terbang berputar-putar
mengepung Siau Ih. Bertubi-tubi bacokan pedang menghujani
anak muda itu.
Bermula Siau Ih masih dapat membela diri dengan
permainan pedang yang disaluri dengan lwekang kian-goan-
sin-kong. Tapi dengan berjalannya sang waktu, dia menjadi
keripuhan juga. Keringat mulai membasahi tubuh, napas
tersengal-sengal dan kaki tangan mulai lambat gerakannya.
Kini dia sudah menyadari keadaannya. Harapan menang
sudah ludas, yang ada hanyalah kekalahan yang akan
menyebabkan engkong luarnya turut dapat malu juga. Dalam
keputusan asanya, dia menjadi kalap.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hong-lui-kiau-ki (angin geledek saling berhantam), hong-


gan-soh-i (burung meliwis pentang sayap), ban-hwat-kui-cong
(seribu ilmu kembali ke asal), tiga buah serangan pedang
sekali gus dilancarkan, dibarengi dengan tiga kali pukulan
tangan kiri. Hujan sinar pedang dan samberan angin lwekang,
menderu-deru dengan dahsyatnya.
Sebenarnya dua dara yang kebetulan berada di belakang
Siau Ih, sudah menusuk punggungnya. Tapi demi dilihatnya
anak muda itu tak mau menghiraukan jiwanya lagi karena
sudah kalap, kedua dara itupun menjadi terkesiap sendiri.
Memang cara Siau Ih bertempur itu, sudah mata gelap.
Kalau punggungnya tertusuk, tiga dara yang diserangnya
itupun tentu terancam jiwanya.
Melihat sang tikus sudah masuk keperangkap, Leng-ji
bersuit. Kelima kawannya cepat hentikan serangan dan
mundur setombak jauhnya. Sudah tentu Siau Ih menjadi
kaget.
„Mengapa mereka ………?”
Belum habis dia menimang dalam hati, atau keenam kiu-
hong itu dengan tiba-tiba maju menyerang lagi. Siau Ih
menjadi kelabakan lagi. Dia diserang dari enam jurusan.
Betapa dia hendak menanggulangi, namun tenaganya tak
mengizinkan.
Setelah dikocok selama hampir sejam itu, tenaganya seperti
diperas habis-habisan. Baru tiga jurus saja, dia sudah rasakan
lengannya kanan linu.
“Trang,” tanpa dikuasainya lagi, Thian-coat-kiam terpukul
jatuh ke tanah. Bagaikan kumbang mengerumuni bunga,
pedang keenam dara itu sudah lantas menempel di dada, kaki,
lambung kanan kiri, kepala dan punggung Siau Ih. Dalam
keadaan demikian, Siau Ih benar-benar mati kutunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Untuk pertama kali sejak turun gunung, baru inilah dia


mengalami kekalahan yang getir. Dan kekalahan itu telah
membuyarkan seluruh harapannya. Dia menghela napas,
sedih dan kecewa.
Melihat keenam kiu-hong itu masih tetap memagarinya
dengan ujung pedang, meluaplah kemarahannya.
„Kesatria boleh dibunuh, tak boleh dihina. Karena
berkepandaian rendah, aku menyerah kalah, tapi mengapa
nona sekalian tetap menghina begitu macam?"
Leng-ji merah mukanya. Dipungutnya pedang Thian-coat-
kiam di tanah, kemudian memberi isyarat kepada kawan-
kawannya supaya menyingkir ke samping.
Siau Ih tertawa getir. Setelah membersihkan pakaiannya
dari debu dia memberi hormat kepada Sam-sian: „Wanpwe
Siau Ih siap menerima hukuman."
Atas sikap jujur dari anak muda itu, ketiga Sam-sian itu
diam-diam memuji. Kata Ko-shia-siancu: „Menang atau kalah,
adalah lumrah. Bahwa semuda itu usiamu, kau dapat bertahan
sampai lama dalam kepungan barisan kiu-kiu-kui-goan-kiam-
cu, itu sudah cukup baik. Asal kau dapat memelihara, kelak
tentu berhasil.”
Sian-cu itu berhenti sejenak, lalu menyambung lagi: „Kini
akan kusuruh Leng-ji membawamu ke pondok yang-thay-
suan. Setelah engkongmu datang dan sehabis kuberi hukuman
pada muridku murtad itu, baru kuserahkan kau pada
engkongmu. Leng-ji, antarkan Siau-siaohiap ini ke belakang
gunung sana!"
Rasa hati Siau Ih seperti ditusuk-tusuk jarum, namun
sebagai jago yang keok, dia tak dapat berbuat apa-apa.
Setelah memberi hormat kepada ketiga siancu, dia lalu ikut
Leng-ji.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kala itu hari mulai terang tanah. Bunga-bunga bwe dihutan


Hiang-swat-hay mulai bangun menghias diri. Burung berkicau
menyambut datangnya sang pagi. Seluruh penghuni gunung
Lo-hu-san kembali bersuka ria, kecuali dua buah hati dari
sepasang kekasih tengah dilanda kesedihan ……..
♠♠♠♠♠
Gunung Tiam-jong-san tengah bermandikan cahaya
keemasan dari matahari yang mulai silam ke dalam laut. Di
jalan besar kota Tay-li-seng, tampak mencongklang seorang
penunggang kuda.
Begitu berada ditengah kota, kuda itu dihentikan. Kudanya
tinggi besar berbulu hijau gelap, tapi penunggangnya seorang
pemuda yang bertubuh kecil langsing. Serasi dengan warna
bulu pemuda itu mengenakan serba hijau, baju, celana, ikat
kepala sampai sepatunya.
Sehelai kain yang menutup hidung sampai kemulutnya.
juga berwarna hijau. Sepasang matanya bening, dinaungi oleh
sepasang alis rembulan tanggal muda. Pedang yang terselip
dipinggangnya, diikat oleh sepotong sabuk warna hijau pula.
Kuda dan penunggangnya yang serba hijau itu, mudah
menarik perhatian orang. Dari pakaian si penunggang yang
penuh debu dan keringat yang membasahi tubuh kuda,
menyatakan bahwa mereka habis datang dari perjalanan jauh.
Penunggang kuda asing itu cepat menjadi sasaran
perhatian orang-orang dijalan itu. Namun penunggang kuda
itu rupanya tak mengacuhkan. Kudanya dijalankan pelahan-
lahan, sembari memandang kesana-sini.
Tak berapa lama, pemuda berkuda tiba di muka sebuah
hotel. Dia turun dari tunggangannya terus menghampiri
masuk.
„Mari, tuan, hotel ini terawat bersih, pasti Tuan puas," seru
kawanan jongos yang tersipu-sipu menyambut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda baju hijau itu segera serahkan kudanya pada


jongos, kemudian melangkah masuk. Tiba di ruangan tengah,
pemuda itu dapatkan keadaan disitu amat ramai. Tetamu-
tetamu tengah mengepung hidangan malam yang disiapkan
sampai beberapa belas meja.
„Tuan, di ruangan belakang masih tersedia kamar kosong.
Kalau tuan merasa keberisikan, silahkan pakai yang disana.
Sebentar segera kami siapkan hidangan malam untuk Tuan”
cepat-cepat jongos itu menawari demi melihat si pemuda
kerutkan alis.

28. Ujian Terhadap Pendekar Wanita


Pemuda itu mengangguk. Begitulah setelah melalui
beberapa serambi, tibalah mereka disebuah pintu bundar.
Sekali dorong, pintu itu terbuka.
Di belakang pintu itu, ternyata terdapat sebuah kebun.
Walaupun tidak teratur indah, namun cukup menyenangkan,
ada beberapa pohon bunga. Diujung kiri kebun itu, terdapat
tiga buah kamar yang bersih.
„Bung, malam ini aku nginap disini!" setelah memeriksa
salah sebuah kamar, pemuda itu menyatakan setujunya. Nada
suaranya melengking nyaring.
Siao-ji (jongos) terkesiap heran, justeru saat itu si pemuda
sudah menyingkap kain kerudung mulutnya. Sebuah wajah
yang cakap berseri-seri, dihias dengan mata dan alis yang
indah.
Kembali jongos itu tertegun, pikirnya: „Ditilik dari wajah
dan nada suaranya, jangan-jangan tetamu ini seorang nona
yang menyaru jadi lelaki …….”
Gerak gerik Siao-ji diketahui juga oleh pemuda itu. Buru-
buru dia menyuruh jongos itu pergi ambilkan air dan hidangan
malam. Malah untuk menggertaknya, pemuda itu merabah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangkai pedangnya. Keruan saja jongos itu menjadi ketakutan


dan buru-buru memberi hormat hendak menyediakan
permintaannya itu.
Tak berapa lama, jongos kembali dengan sebaskom air
panas dan seperangkat hidangan. Setelah selesai cuci muka
dan makan, pemuda itu padamkan lampu lalu duduk
bersemadhi di atas tempat tidur.
Ketika kentongan terdengar dipukul empat kali, tiba-tiba
pemuda itu berbangkit. Memanggul pedang dibahu,
meletakkan sepotong perak di atas meja, lalu mendorong
pintu terus loncat ke atas wuwungan rumah.
Dari itu dia lari keluar hotel. Dengan gunakan ilmu ginkang,
dia keluar kota dan berlarian dijalan yang menuju ke gunung
Tiam-jong-san.
♠♠♠♠♠
Begitu tiba dikaki gunung, pemuda itu berhenti sejenak
memandang kebesaran gunung Tiam-jong-san yang
membujur sampai ratusan li luasnya itu. Puas merenung,
pemuda itu tancap gas pula lari masuk ke daerah gunung.
Karena waktu itu masih dinihari, jadi jalanan di gunung itu
masih sepi orang, dengan begitu dapatlah dia gunakan ilmu
berlari cepat dengan leluasa.
Sekalipun begitu karena tak paham akan jalanan disitu, jadi
hampir tengah hari barulah sampai dibalik gunung. Tempat
tujuannya masih belum tercapai. Pemuda itu menjadi gelisah
tampaknya.
Sekilas mendapat pikiran, dia terus mendaki sebuah puncak
dan memandang ke sekeliling penjuru. Tiam-jong-san dengan
puncak-puncaknya yang hijau meluas, seolah-olah tiada
bertepi. Bingung dia dibuatnya, hendak bertanya orang,
terang tak mungkin. Kecuali siur angin membuai pohon, tiada
lain makhluk yang tampak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Di daerah gunung yang begini luasnya, kalau aku


membabi buta saja, mungkin sepuluh hari juga tak dapat
mencari tempat itu ……..”
Sesaat berpikir begitu, tiba-tiba dia teringat sesuatu:
„Karena bernama kiap (selat), tentu ada gunung dan air. Dan
konon kabarnya Lan-chui-suan itu indah seperti lukisan.
Mengapa aku tak mencari tempat semacam itu ……..”
Kini dia berganti haluan, tak mau cari jalan besar, tetapi
jalanan gunung yang kecil sempit. Lebih dari sejam dia
menyusur masuk ke daerah pedalaman, namun bayangan Liu-
hun-kiap tetap belum tampak.
Kala itu dia sudah berada di ujung puncak karang buntu.
Disebelah belakang karang itu, terbentang jurang yang curam
sekali. Sambil menghapus keringat, pemuda itu memandang
ke bawah jurang dengan rasa putus asa.
„Jalanan ini putus sampai disini. Tiam-jong-san mempunyai
berpuluh puncak, tapi Liu-hun-hiap tiada jejaknya sama sekali.
Kalau sampai tak berhasil, bagaimana harus mengatakan pada
suhu ……. dan pula ……. bagaimana menyelesaikan persoalan
itu …….?”
Pemuda itu makin resah. Tiba-tiba dari karang sebelah
muka yang terputus oleh jurang itu, terdengar suara
nyanyian:
Bilakah bulan purnama tiba, hendak kupersembahkan arak,
Adakah istana dilangit, masih tetap senantiasa semarak?
Ingin kunaik angin pulang
Tapi kukuatir tangga langit terlampau tinggi
Wahai rembulan, sinarmu mengarungi
Istana maupun gubuk tanpa diskriminasi
Mengapa dikau selalu tak berwajah penuh?
Nada nyanyian itu melengking tinggi, bernapaskan gagah
perwira. Pemuda baju hijau itu terpikat pikirannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara nyanyian itu makin lama makin dekat dan muncullah


seseorang dari semak belukar. Usianya lebih kurang duapuluh
tujuh tahun, bertubuh kekar dada lebar, alis tebal mata
bundar.
Dia mengenakan baju dan celana pendek dari kain kasar,
hingga potongan tubuhnya makin tegas. Mencekal sebatang
bambu, pemuda itu berjalan pelahan-lahan sembari membuka
suara.
Tampak ada orang untuk bertanya, pemuda baju hijau itu
cepat enjot tubuhnya maju ketepi karang, lalu angkat
tangannya tinggi-tinggi sembari berteriak keras: „Hai, saudara!
Harap berhenti dulu, aku hendak mohon tanya.”
Pemuda baju pendek itu berhenti, lalu balas berseru dari
tempatnya yang jauh: „Apakah saudara kesasar?”
„Bukan, aku memang sengaja datang dari jauh. Saudara
tentu tinggal disini, bolehkah aku bertanya satu dua hal?"
Rupanya pemuda pakaian pendek itu menjadi curiga.
Bagaimana pun juga, nada suara pemuda baju hijau itu tetap
kecil, sikapnya bukan seperti orang lelaki. Dan yang paling
menarik perhatian, dia menyanggul pedang. Namun pemuda
baju pendek itu tak mau mengentarakan keheranannya.
„Benar, aku memang orang sini. Saudara hendak
menanyakan apa?" serunya dengan tersenyum.
Pemuda baju hijau itu girang sekali, teriaknya: „Yang
hendak kucari ialah Liu-hun-hiap. Kalau saudara suka
menunjukkan, akan kuberi hadiah besar."
Walaupun keduanya terpisah oleh sebuah jurang selebar
belasan tombak, tapi dapat tukar pembicaraan dengan jelas.
„Liu-hun-hiap adalah tempat pertapaan Shin-tok lo-sin-sian.
Menilik saudara membekal pedang, tentulah seorang pendekar
silat," kata pemuda baju pendek.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda baju hijau itu kemerah-merahan mukanya. Buru-


buru dia merendah: „Gelar pendekar silat itu, terlampau tinggi
bagiku. Aku hanyalah murid Peh-hoa-kiong di Lo-hu-san yang
mendapat perintah suhu untuk menghadap Shin-tok sianseng.
Karena tak paham jalanan, jadi hampir setengah harian aku
tak dapat menemukan tempat tinggalnya. Sukalah saudara
memberi bantuan!"
Memang pemuda baju hijau itu bukan lain adalah Sik Leng-
ji, pemimpin dara kiu-hong dari Peh-hoa-kiong. Dia
diperintahkan suhunya untuk membawa surat kepada Shin-tok
Kek. Kebetulan pula pemuda baju pendek itu, adalah Shin-tok
Hou, coba tidak, pasti Leng-ji akan pulang dengan tangan
kosong.
Shin-tok Hou tahu bagaimana hubungan antara Siau Ih
dengan Lo Hui-yan. Dia sudah kuatir akan kepergian Siau Ih
ke Peh-hoa-kiong yang merupakan daerah terlarang bagi
kaum laki-laki itu. Bahwa kini ada seorang anak murid Peh-
hoa-kiong datang ke Tiam-jong-san, tentulah membawa berita
tentang Siau Ih.
„Kalau kau membawa berita buruk tentang Ih-te (adik Ih),
biar nanti aku digegeri suhu, lebih dulu hendak kusuruh kau
minum pil pahit," demikian dia mengambil putusan, terus
menyambut: „Dapat membantu orang lain, adalah suatu
kebahagiaan. Apalagi hanya menunjukkan jalan …….”
Berkata sampai disitu, tahu-tahu dia sudah melambung
tinggi sampai dua tombak, terus meluncur miring ke bawah
jurang.
Sudah tentu kejut Leng-ji tak terhingga. Pertama ternyata
pemuda baju pendek itu mempunyai kepandaian hebat dan
kedua karena jurang itu tiada tempat berpijak. Sekali jatuh,
pasti akan remuk binasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun matanya yang tajam segera melihat bahwa


sepuluhan tombak jauhnya ternyata terdapat seutas rantai
besi yang menghubungkan kedua tepi karang.
Tepat pada saat itu, Shin-tok Hou melayang turun ke atas
rantai. Begitu sang kaki diinjakkan, kembali dia melambung
lagi ke udara. Sebelum Leng-ji hilang kejutnya, tahu-tahu
Shin-tok Hou sudah tiba dihadapannya.
„Nona adalah tetamu dari jauh, aku mewajibkan diri
sebagai tuan rumah," kata Shin-tok Hou sembari tersenyum
menampak kekagetan wajah Leng-ji.
„Siapa kau ini?”
„Lebih baik nona jangan menanyakan," sahut Shin-tok Hou
Leng-ji marah. Maju beberapa tindak, dia cabut pedangnya
dan membentak keras: „Bilang, siapa kau ini? Kalau tetap
membandel, jangan salahkan nonamu tak tahu adat!"
Kini Shin-tok Hou tampak bersungguh, jawabnya: „Karena
nona memaksa, baiklah, aku adalah Shin-tok Hou salah
seorang siang-thong (sepasang kacung) dari pemilik Lan-chui-
suan!"
Kejut Leng-ji lebih hebat dari tadi, hingga ia sampai tak
dapat berkata-kata.
„Dari tempat ribuan li nona datang kemari, apakah karena
perihal Siau Ih?” kini Shin-tok Hou yang ganti bertanya.
Leng-ji terkejut gelagapan. Namun melihat sikap dingin dari
anak muda itu, ya amat mendongkol. Tak kurang dinginnya
menyahut: „Benar, Sik Leng-ji datang kemari karena untuk hal
itu. Tolong saudara sampalkan pada Shin-tok sianseng bahwa
Sik Leng-ji hendak mohon menghadap."
Dugaannya benar, Shin-tok Hou menjadi terperanjat.
Pikirnya: „Jadi nyata Ih-te sudah pergi ke Lo-hu-san. Dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nada ucapan nona ini, terang Ih-te menemui kesulitan,


rasanya dia tentu ditawan di Lo-hu-san."
Memikir begitu, amarahnya meluap. Menatap lekat-lekat ke
arah Leng-ji, dia tertawa dingin, ujarnya: „Liu-hun-hiap sudah
berada di depan mata. Hanya saja pertapaan Lan-chui-suan
juga mengadakan pantangan keras seperti halnya dengan
biara Peh-hoa-kiong, yakni setiap kaum wanita yang hendak
datang ke Liu-hun-hiap harus lebih dahulu diuji dengan
tigaratus jurus, kalau gagal, boleh pulang saja …………”
Dia berhenti sejenak untuk mengawasi wajah si nona yang
merah padam dirangsang kemarahannya itu. Habis itu, dia
tertawa meneruskan pula: „Karena nona mendapat perintah
suhu, tentu tak suka pulang tangan hampa. Apalagi ilmu
kepandatan Lo-hu-san, menggetarkan dunia persilatan.
Nonapun sudah melolos pedang jadi jangan pelit memberi
pelajaran."
Habis berkata, kontan saja Shin-tok Hou putar batang
bambunya dalam gerak han-tong-hud-liu ke arah kepala Leng-
ji.
Serangan kilat itu, membuat Leng-ji terkejut, terus
menyurut mundur.
Namun Shin-tok Hou teruskan menutuk bahu kiri si nona
dengan gerak han-hoa-tho-lui.
Belum lagi kaki Leng-ji berdiri jejak, ujung bambu sudah
tiba, keruan saja ia menjadi geregetan. Pundak agak
diegoskan, ia barengi menabas bambu lawan.
Untuk itu, Shin-tok Hou turunkan bambunya ke bawah
untuk diteruskan menyapu pinggang.
Leng-ji keripuhan. Setiap serangannya, selalu dapat
ditindas malah mendapat serangan balasan secara cepat.
Terpaksa dengan mendongkol, ia main mundur. Cepat sekali,
mereka sudah bertempur belasan jurus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Timbul keangkuhan Leng-ji, kalau ia tak mampu mengatasi


pemuda itu, keharuman nama Peh-hoa-kiong, pasti akan
jatuh. Saat itu kebetulan ujung bambu si anak muda menusuk
ke arah tenggorokannya.
Dia menunggunya dengan tenang. Begitu hampir tiba,
secepat kilat dia miringkan kepala sembari ayunkan pedang
membacok lengan kanan Shin-tok Hou.
Kini gilirannya Shin-tok Hou yang kelabakan. Dia tak
menyangka si nona akan gunakan gerakan yang amat
berbahaya begitu. Terpaksa dia enjot tubuhnya loncat
mundur.
Tapi Leng-ji tak mau memberi hati. Serangan pertama
berhasil dia mencecernya lagi dengan lima buah serangan
berturut-turut. Keadan berganti, sekarang Shin-tok Hou yang
main mundur.
Memang sebagai kepala dari kiu-hong, Leng-ji telah
menerima warisan kepandaian dari Hun-si-sam-sian. Untuk
memberantas kesombongan lawan dan demi menjaga pamor
perguruannya, Leng-ji keluarkan ilmu pedang it-goan-kiam-
hwat, yakni ilmu kebanggaan Peh-hoa-kiong yang termasyhur.
Memang lihay sekali ilmu pedang itu. Sesaat tubuh Shin-tok
Hou seperti dilibat oleh sinar pedang.
Walaupun hanya menjadi kacung pelayan dari Si Rase
Kumala, namun sejak kecil Shin-tok Hou mendapat
gemblengan ilmu silat dari tokoh lihay itu. Dibanding dengan
Siau Ih, sebenarnya dia lebih lihay. Sekalipun hanya mencekal
sepotong bambu, tapi kehebatannya tak berkurang.
Ditepi karang jurang yang curam, terjadilah pertempuran
dari dua jago muda yang lihay. Kepandaian mereka terpaut
tak seberapa. Gesit lawan cepat, tangkas tanding lincah.
Hanya dalam beberapa kejap saja, keduanya sudah bertempur
sampai seratusan jurus lebih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terbatas oleh keadaan jasmaniah, dalam hal ilmu lwekang


wanita agak kalah dengan kaum pria. Apalagi dasar
kepandaian Leng-ji memang setingkat lebih rendah dari Shin-
tok Hou.
Makin lama dara dari Peh-hoa-kiong itu makin lelah,
keringat mengalir deras, napas terengah-engah. Namun
sekalipun kekalahan sudah terbayang di depan mata, Leng-ji
tak mau menyerah mentah-mentah. Ia robah taktik, dari
menyerang menjadi bertahan.
Sebaliknya Shin-tok Hou makin gagah. Sejak kecil
mendapat gemblengan dari si Rase Kumala, dia memiliki
pancaindera yang tajam sekali. Tahu si nona sudah hampir
menyerah, dia segera, keluarkan ilmu pukulan ji-i-san-chiu.
Sebuah ilmu pukulan terdiri dari seratusdelapan jurus yang
menggetar dunia persilatan. Seketika itu, Leng-ji terkurung
oleh hujan jari. Kekalahan Leng-ji makin jelas.
„Dari pada membikin jatuh pamor perguruan, lebih baik aku
gugur bersama dia," demikian Leng-ji membulatkan tekadnya.
Kini ia menjadi tenang. Saat itu ujung bambu menusuk
tiba, sedang tangan kiri Shin-tok Hou pun bergerak
menghantam pundaknya. Ia cepat laksanakan rencananya.
Untuk tutukan bambu, ia goyangkan pundaknya
menghindar. Tapi untuk hantaman tangan si anak muda, ia
malah memapaki maju sembari membacokkan pedangnya.
Biar ia menerima pukulan, tapi dada lawanpun tentu akan
pecah.
Shin-tok Hou terkejut sekali. Buru-buru dia tarik pulang
tangan kiri, tubuhnya cepat dimiringkan ke samping.
“Siut,” pedang Leng-ji hanya terpisah satu dim menyambar
di atas pundaknya. Karena tabasannya luput, Leng-ji menjorok
ke muka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam posisi miring tadi, secepat kilat Shin-tok Hou


gunakan jurus oh-yang-kiau-hun atau telentang memandang
awan, ujung bambu cepat dibalikkan untuk menghantam
pedang.
Seketika itu Leng-ji rasakan pedangnya seperti ditekuk oleh
suatu tenaga kuat. Baru ia mengeluh celaka, tahu-tahu
telinganya dipekakkan oleh suara benda yang mengiang
nyaring, „tring …….”
Pedang Leng-ji yang terbuat dari baja murni, telah putus
menjadi dua! Saking kagetnya, Leng-ji sampai loncat ke
belakang.
Shin-tok Hou tak mau mengejar, melainkan berseru dengan
senyum tawa: "Maafkanlah, nona. Biar kulaporkan pada suhu
kedatangan nona ini."
Wajah pemimpin kiu-hong itu pucat lesi, matanya memerah
darah. Ucapan pemuda itu, amat menusuk sekali. Serentak
pedang dibanting ke tanah, ia berteriak geram: „Aku akan
mengadu jiwa padamu!"
Teriakan itu ditutup dengan loncatan menghantam.
„Kalau nona belum puas, Sin-tok Hou terpaksa melayani,"
seru Shin-tok Hou sambil tertawa dan menghindar ke
samping.
Karena sudah kalap, Leng-ji gunakan ilmu pukulan istimewa
ciptaan Hun-si-sam-sian, yakni can-hoa-chiu. Setiap pukulan
dan hantaman selalu dipusatkan ke arah bagian yang fatal
(mematikan) dari tubuh si anak muda.
Sampai tigapuluh jurus, ia merangsang dengan hebat
seolah-olah seperti hendak menelan lawan.
Namun walaupun terkurung, Shin-tok Hou tetap dapat
menghadapi dengan tepat. Hanya saja kini, anak muda itu tak
berani bersikap sombong lagi. Dia bertempur dengan hati-hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertempuran sengit itu berlangsung dari tengah hari


sampai lohor. Dua-duanya tampak mulai tele-tele. Wajah Shin-
tok Hou merah padam, dahinya berketesan keringat.
Leng-ji pucat lesi, napasnya senin kemis. Pelahan-lahan ia
mulai terdesak mundur hingga sampai ke tepi jurang.
Sekonyong-konyong Shin-tok Hou menggerung keras.
Dengan gerak ngo-ting-gui-san, dia dorongkan kedua
tangannya ke arah lawan.
Leng-ji ibarat sebuah pelita yang kehabisan minyak, iapun
buru-buru mendorongkan sepasang tangannya ke muka. Ia
sudah nekad, sehingga lupa pada kenyataan. Kalau kedua
hantaman itu saling berbentur, akibatnya sudah dapat
diperhitungkan. Kalau tidak terluka parah, nona itu pasti akan
terlempar jatuh dalam jurang ……..
Dalam saat yang tegang meruncing itu, tiba-tiba dari arah
karang diseberang sana, terdengar seorang berseru nyaring:
„Hou-te, tahan!"
Shin-tok Hou memberi reaksi cepat. Tangan kiri ditarik,
tangan kanan dibuat melindungi dada lalu loncat mundur.
Selagi Leng-ji kesima, sesosok tubuh melayang ke arah
karang itu. Ia hanya melihat yang datang itu baik potongan
pakaian, maupun perawakan dan usianya, hampir sama
dengan Shin-tok Hou. Tapi siapa dianya itu, Leng-ji tak
sempat memperhatikan lebih lanjut karena ia merasa
tubuhnya seperti melayang-layang hendak rubuh.
Diperas habis tenaganya, geram pedih memikirkan
tugasnya yang belum selesai itu, telah membuatnya ngenas
lahir dan batin. Sedikit saja tubuhnya yang lemah gemelai itu
terhuyung, tak ampun lagi ia tentu terlempar jatuh ke dalam
jurang ……..
„Aku Shin-tok Liong, menghaturkan maaf atas
kesembronoan adikku tadi. Kedatangan nona kemari, aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah mengetahui. Liu-hun-hiap berada disebelah karang itu.


Tapi karena nona lelah, lebih baik beristirahat dulu, nanti
kuantarkan kesana." kata pemuda yang baru datang itu.
Leng-ji tersadar. Waktu membuka mata, dilihatnya Shin-tok
Liong dan Shin-tok Hou loncat menghampiri. Betapa malu dan
geramnya, sukar dilukis. Hanya mengingat tugas yang
diberikan suhunya belum selesai, terpaksa ia menekan
perasaannya.
Untuk menghadapi tokoh dari selat Liu-hun-hiap yang
tersohor aneh sifatnya itu, ia harus mengumpulkan tenaga.
Demikianlah segera ia duduk bersila menyalurkan napas.
Ketika membuka mata, ternyata matahari sudah condong
kebarat.
Dengan semangat segar, ia berbangkit. Dikala memberesi
pakaiannya yang kucal, matanya tertumbuk akan kutungan
pedangnya yang berserakan di tanah.
Seketika ia tertawa pilu, namun pada lain saat ia keraskan
hati, terus ayunkan langkah menuju ke jembatan rantai.
Setelah agak meragu sebentar, ia segera enjot tubuhnya ke
muka. Dengan gunakan ginkang yan-cu-sam-jo-cui atau
burung seriti tiga kali menyentuh air, ia berloncatan di atas
rantai besi dan loncat ke tepi karang diseberang.
Begitulah setelah melalui jalanan kecil, kira-kira sepeminum
teh lamanya, tibalah ia disebuah pintu batu yang atasnya
terdapat plakat nama Liu-hun-hiap dan Shin-tok Liong sudah
menunggu disitu.
„Tuanku mempersilahkan nona masuk," katanya sembari
tersenyum. Sekali mendorong pelahan-lahan, pintu itu
terbuka. Dia persilahkan si nona masuk.
Begitu masuk, Leng-ji rasakan matanya amat sedap
menampak pemandangan alam disitu. Indah bagai lukisan,
demikian satu-satunya komentar dalam hatinya. Diantara
rindangnya pohon-pohon bunga, tampak sebuah pondok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Tuanku tengah menunggu. Harap nona ikut,” kata Shin-


tok Liong sembari cepatkan langkahnya.
Leng-ji pun mengikutinya. Setelah melintasi padang bunga,
tibalah mereka di muka sebuah pondok. Pemandangan
pertama yang mengejutkan hati Leng-ji ialah Shin-tok Hou
saat itu tampak sedang berlutut menghadap tembok.
„Karena melanggar peraturan, adikku telah dihukum,” buru-
buru Shin-tok Liong memberi penjelasan.
Diam-diam Leng-ji memuji kebijaksanaan Shin-tok Kek
yang disohorkan sebagai orang yang berwatak aneh kaku itu.
Otomatis, amarahnya tadi banyak berkurang, sebagai gantinya
kini timbul rasa menghormat pada tuan rumah.
Tiba-tiba tirai bambu yang menutupi pintu pondok itu
tersingkap. Seorang pemuda bertubuh kokoh kekar, muncul
keluar. Dia mempersilahkan Leng-ji masuk.
Bahwa dalam beberapa detik lagi bakal berhadapan dengan
seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, mau tak mau
hati Leng-ji berdebar keras. Debar hatinya itu berobah
menjadi semacam kecemasan demi membayangkan
bagaimana nanti sikap tuan rumah apabila menerima surat
dari suhunya.
Melangkah masuk, ia dapatkan ternyata pondok itu tak
seberapa besar, namun dirawat resik sekali. Disebuah dipan
pendek yang bertutupkan tikar sulaman lukisan kepala naga,
duduk dua orang.
Yang kiri usianya antara empatpuluhan tahun. Wajahnya
agung, mengenakan kain kepala dan pakaian sebagai orang
pelajar. Yang sebelah kanan, adalah seorang tua gemuk
pendek. berwajah merah. Rambut dan jenggotnya sudah
sama putih, seri wajahnya riang tertawa.
Leng-ji agak tertegun, lalu menjurah memberi hormat
kepada orang pelajar itu, ujarnya: „Wanpwe Sik Leng-ji anak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

murid Hun-si-sam-sian dari biara Peh-hoa-kiong. mohon


menghadap pada Shin-tok sianseng.”
Memang tokoh pertengahan umur yang dandanannya
seperti orang pelajar itu, bukan lain ialah si Rase Kumala Shin-
tok Kek. Tenang-tenang saja dia sapukan mata ke arah Leng-
ji.
Sejenak bersenyum, berkatalah dia dengan nada ramah:
„Lohu sudah keliwat lama mengasingkan diri, tentang
peradatan tak terlalu mempersoalkan, harap nona duduk."

29. Taruhan Tokoh Sepuluh Datuk


Leng-ji menghaturkan terima kasih, tapi bukannya duduk,
ia mengisar kekanan dan memberi hormat kepada orang tua
gemuk pendek, ujarnya: „Kalau wanpwe tak salah, bukankah
lo-jin-ke ini Siau-sian-ong Bok locianpwe yang termasyhur
suka berkelana menyebarkan kebajikan?”
Si tua gemuk itu mendongak tertawa, sahutnya: „Dara,
caramu berlaku begitu menghormat itu, telah membuat lohu
tak enak dihati sendiri. Lekaslah duduk, biar enak yang
bicara.”
Tahu bahwa kaum cianpwe yang berilmu tinggi biasanya
memang tak suka banyak peradatan, Leng-ji pun tak mau
sungkan lagi, lalu duduk di sebuah dingklik.
Ia merogoh keluar sepucuk sampul besar lalu
menghaturkannya dengan kedua tangan kepada si Rase
Kumala. „Suhu menitahkan wanpwe supaya menghaturkan
surat ini kepada locianpwe."
Setelah menerima dan membukanya, wajah si Rase Kumala
tampak berobah, tapi pada lain jenak kembali sudah tenang
lagi. Sehabis membaca, lalu diberikan kepada Siau-sian-ong (si
Dewa Tertawa).
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berpaling kembali kepada Leng-ji dia berkata: „Karena lama


tak campur urusan dunia, adat lohu menjadi malas, jadi tak
usah membuat surat balasan. Cukup nona sampaikan pada
gurumu bahwa dua bulan lagi pada malam purnama, lohu
akan berkunjung ke Lo-hu-san guna menyelesaikan urusan
cucuku yang kurang ajar itu."
„Atas nama suhu, wanpwe menghaturkan terima kasih dan
mohon diri," sahut Leng-ji sembari berbangkit memberi
hormat.
Si Rase Kumala mengangguk sambil tertawa. Tiba di muka
pintu. tiba-tiba Leng-ji teringat sesuatu. Kembali dia berputar
tubuh dan memberi hormat kepada si Rase Kumala.
„Wanpwe hendak mengajukan sedikit permohonan, entah
apakah locianpwe sudi meluluskan?"
Si Rase Kumala tercengang, kemudian tertawa: „Asal lohu
mampu melakukan, tentu dengan segala senang hati akan
nerimanya."
Memandang keluar pintu, Leng-ji berkata: „Dalam
bentrokan dengan Shin-tok siaohiap tadi, wanpwe pun juga
bersalah, apalagi Shin-tok siaohiap cukup mengalah. Wanpwe
mohon locianpwe suka memberi keringanan pada Shin-tok
siaohiap itu.”
Shin-tok Kek tertawa, ujarnya: ,,Nona cukup berbudi,
terima kasih. Tapi karena hal itu menyangkut peraturan
pondok pertapaanku, jadi terpaksa tak dapat meluluskan.''
Dalam keramahannya itu, nada si Rase Kuinala
mengandung kewibawaan yang mengesankan. Leng-ji tak
berani banyak omong lagi, terus memberi hormat dan pergi.
Secepat bayangan nona itu hilang dari pemandangan,
wajah si Rase Kumala pun berganti menjadi keren.
„Lo-koay, bagaimana kau hendak mengurus soal ini,” seru
si Dewa Tertawa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dingin-dingin saja si Rase Kumala menyahut: „Bok loji,


jangan membakar hatiku. Kalau Ih-ji sampai kesalahan,
kaupun tak terlepas dari pertanggungan jawab. Sekalipun
anak itu berbuat salah, juga kita berdua yang berhak
mengajar, bukan lain orang.”
Berhenti sejenak, tokoh itu melanjutkan kata-katanya:
„Soal percintaan dalam kalangan muda-mudi, adalah sudah
jamak. Kali ini lohu hendak campur tangan membuat suatu
penyelesaian yang memuaskan bagi mereka.”
Sudah puluhan tahun si Dewa Tertawa galang-gulung
dengan Shin-tok Kek, jadi sudah cukup paham isi hatinya.
„Apa yang peribahasa mengatakan itu memang benar,
'sungai dan gunung mudah dipindah, tapi watak orang sukar
dirobah'. Menilik naga-naganya, Peh-hoa-kiong tentu akan
kocar-kacir ……..” diam-diam si Dewa Tertawa itu membatin.
♠♠♠♠♠
Tempo berjalan laksana anak panah cepatnya. Tahu-tahu
kini sudah masuk bulan ketiga. Tiga hari yang lalu, si Dewa
Tertawa sudah tinggalkan Tiam-jong-san. Dia berjanji akan
bertemu lagi di Lo-hu-san untuk mendampingi si Rase Kumala
menghadapi Hun-si-sam-sian.
Batas janjinya dengan Peh-hoa-kiong sudah tiba, Shin-tok
Kek pun segera berkemas. Tan Wan disuruh jaga rumah,
sedang dia lalu naik tandu yang digotong oleh Shin-tok Liong
dan Shin-tok Hou berdua.
Memang apa yang diramalkan si Dewa Tertawa itu tepat.
Kepergian si Rase Kumala ke Lo-hu-san itu berarti datangnya
bencana bagi Peh-hoa-kiong.
Malam purnama pada permulaan musim panas. Di muka
hutan pohon bwe Hiang-swat-hay yang terletak disebelah
dalam dari gunung Lo-hu-san, tampak ada sebuah tandu yang
dipanggul oleh dua pemuda gagah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu berhenti, keluarlah seorang pelajar setengah umur.


Wajahnya putih beseri, sepasang matanya berkilat-kilat tajam
amat berpengaruh. Kain kepala yang berhias batu kumala
cemerlang dan pakaian sutera berwarna kelabu perak, serasi
sekali dengan potongan tubuhnya yang tinggi langsing.
Sikapnya agung berwibawa.
Dia memberi isyarat supaya kedua pemuda tadi
mengundurkan diri, lalu melangkah masuk ke dalam daerah
hutan bwe. Dia berkeliaran memandang kian kemari, seolah-
olah mencari sesuatu. Tapi sekeliling itu tetap sunyi senyap
saja. Suatu hal yang membuatnya mengerut dahi keheranan.
„Klik …….” tiba-tiba terdengar angin berkesiur meniup jatuh
sekelompok bunga bwe. Bunga itu bertebaran jatuh ke bawah,
Tiba-tiba orang pelajar itu berputar tubuh, menyusul dengan
gerak hong-kek-hong-hui, dia enjot tubuhnya ke atas sebuah
pohon besar yang tumbuh disebelah kiri.
Baru tubuhnya melambung di udara, dari semak daun
pohon itu terdengar gelak tertawa macam naga meringkik.
„Brak,” semak daun menyingkap dan sesosok tubuh melayang
turun ke bawah.
Si orang pelajar yang tengah melayang naik tadi, terpaksa
ditengah jalan berhenti berjumpalitan, lalu meluncur turun ke
arah orang tadi, serunya: „Bok loji, kalau main sembunyi
jangan salahkan Shin-tok Kek tak kenal ampun."
Begitu menginjak tanah, bayangan tadi terus melesat ke
samping dan tertawa gelak-gelak: „Lo-koay, kau benar-benar
lihay!"
Setelah saling berhadapan, kedua orang itu sama bergelak-
gelak. Kini jelaslah siapa-apa mereka itu. Yang bersembunyi
dibalik daun pohon tadi, ternyata ialah si Dewa Tertawa Bok
Tong, tokoh Sepuluh Datuk yang selalu bersikap riang.
Sementara si orang pelajar yang naik tandu tadi, bukan lain
ialah si Rase Kumala Shin-tok Kek.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kuatir akan keselamatan Siau Ih, maka si Dewa Tertawa


minta diri pada Shin-tok Kek lebih dulu dan berjanji akan
berjumpa di Hiang-swat-hay. Sebagai tokoh kenamaan, si
Dewa Tertawa sungkan untuk datang ke Peh-hoa-kiong
sebelum tiba waktunya perjanjian.
Namun secara diam-diam, dia dapat menyelundup ke
dalam tahanan yang-thay-suan untuk menjenguk Siau Ih dan
menghiburinya.
Begitulah setelah malam purnama tiba, si Dewa Tertawa
bersembunyi dihutan bwe menunggu kedatangan si Rase
Kumala. Tapi dasarnya suka berolok-olok, waktu sang sahabat
datang, diapun sengaja main sembunyi.
Kedua tokoh itu lain wataknya, yang satu bersungguh-
sungguh dan yang lain suka berolok-olok. Namun dalam
menghadapi musuh, keduanya mempunyai persamaan sikap
yakni bersungguh-sungguh. Begitulah sembari masuk ke
dalam hutan, si Dewa Tertawa menceritakan pengalamannya
kepada sang sahabat.
„Malam-malam masuk ke Peh-hoa-kiong, memang tidak
pantas. Tapi Hun Yak-lun kakak beradik itupun tidak
seharusnya memperlakukan seorang anak begitu rupa,
membekuk dulu baru memberitahukan orang tuanya. Cara
membunuh orang masih pula hendak membeset kulitnya
macam itu, tidak sesuai dengan jalan yang harus ditempuh
oleh kaum tiangcia (angkatan tua)." habis mendengar
penuturan, si Rase Kumala menyatakan pikirannya.
Sebaliknya si Dewa Tertawa mempunyai pendapat sendiri,
kata nya: „Ih-ji sejak kecil kuasuh dan kudidik seperti anakku
sendiri. Memang aku merasa sedih atas terjadinya hal itu,
namun kalau dipandang dari sudut peraturan, aku tak berani
terlalu memihak padanya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Shin-tok Kek terkesiap berpaling menatap tajam-tajam ke


arah si Dewa Tertawa. „Bok loji, apa artinya perkataanmu
itu?” tanyanya.
Kembali sepasang alis si Dewa Tertawa menjungkat ke
atas. ujarnya: „Negara mempunyai undang-undang, rumah
tangga mempunyai peraturan. Sudah sejak berpuluh-puluh
tahun Peh-hoa-kiong merupakan daerah terlarang bagi kaum
lelaki dan melarang anak muridnya menikah. Peraturan itu
dipegang teguh. Ih-ji berani mati melanggar peraturan itu.
Kalau dia tak mempunyai hubungan apa-apa dengan kau,
mungkin jiwanya sudah melayang."
Si Rase Kumala tertawa dingin.
„Setiap memecahkan persoalan, Shin-tok Kek selalu tak
mengabaikan perasaan dan nalar (cengli). Soal perkawinan
adalah sudah menjadi kodrat alam. Peraturan Peh-hoa-kiong
itu, berjiwa melanggar hukum alam. Dan kalau mengingat
peristiwa dulu, perlakuan Hun-si-sam-sian terhadap Ih-ji itu,
juga melupakan budi perasaan," kata Shin-tok Kek.
Sejenak berhenti lalu melanjutkan pula: „Bok loji, aku tak
suka dengan segala peraturan mati. Aku hanya menjunjung
logika (nalar) yang nyata. Lepas dari persoalan Ih-ji, aku akan
menggunakan kesempatan kali ini untuk mencicipi ilmu
kesaktian dari Peh-hoa-kiong yang termasyhur itu."
Lepas bebas si Rase Kumala menyatakan perasaan hatinya,
hingga dalam suasana yang sunyi senyap itu, kedengaran
makin nyaring.
Si Dewa Tertawa menjadi tegang juga perasaannya.
Sebenarnya dia mengharap urusan itu dapat diselesaikan
secara damai.
Tetapi mengingat akan perangai sahabatnya itu, dia kuatir
kalau mencegah malah akan menambah minyak dalam api.
Membayangkan akibatnya nanti, wajah si Dewa Tertawa yang
biasanya berseri girang itu, menjadi lesu muram.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini mereka berdua sudah melintasi hutan bwe dan


melangkah kedataran luas dimana biara Peh-hoa-kiong berdiri
dengan tegaknya. Suasana biara itu sunyi senyap, pintunya
tertutup rapat-rapat.
„Perjanjian sudah tiba saatnya, mengapa tak tampak suatu
apa?” Si Rase Kumala tertawa dingin sembari menghampiri ke
pintu, „apa boleh buat, terpaksa harus mengetuk pintu."
Sampai ditangga yang menjurus kepintu, tetap tak ada
perobahan. Si Rase Kumala hentikan langkah dan berseru
lantang-lantang: „Apakah benar-benar tuan rumah tak mau
menyambut kedatangan Shin-tok Kek ini?"
Sembari berkata begitu, sepasang tangannya didorongkan
kemuka. Pintu yang letaknya masih jauh itu kedengaran
berbunyi keretekan dan terpentang lebar.
Ruangan biara itu ternyata terang-benderang, tapi tiada
seorangpun yang kelihatan. Si Rase Kumala tertegun tapi
lantas tertawa dan berpaling ke arah Bok Tong: „Rupanya kita
berdua terpaksa masuk sendiri!''
Si Dewa Tertawa mengerut kening, pikirnya: „Biarpun Hun-
si-sam-sian berwatak aneh, tapi terhadap kita berdua, tak
seharusnya dia berbuat begini. Entah apa maksudnya!''
Dalam pada itu, Shin-tok Kek sudah naik ke atas tangga
dan masuk ke dalam pintu. Terpaksa si Dewa Tertawa
mengikuti. Di belakang pintu terdapat sebuah halaman luas
yang lantainya terbuat dari batu marmar hijau mengkilap.
Sebuah ruangan besar yang megah, berdiri ditengah
halaman itu. Sepintas pandang, ruangan itu seolah-olah
bermandikan cahaya lampu.
Dengan langkah tenang, si Rase Kumala masuk pelahan-
lahan sembari sapukan matanya ke sekeliling penjuru. Seri
wajahnya setitik pun tak menampilkan perasaan marahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suatu hal yang membuat kagum si Dewa Tertawa, disamping


cemas akan nasib Peh-hoa-kiong.
„Dari tempat jauh Shin-tok Kek datang kemari, apakah tuan
rumah baik-baik saja?” ke arah ruang besar si Rase Kumala
berseru nyaring.
Sesosok tubuh muncul dari ruangan dalam. Itulah Sik Leng-
ji.
„Suhu mempersilahkan dan menyuruh wanpwe mengantar
sianseng,” kata nona itu dengan menghaturkan hormat
kepada kedua tetamunya.
Si Rase hanya mengulum senyum seraya memberi isyarat
tangan. Tapi begitu Leng-ji dan kedua tetamunya tiba di muka
ruangan besar, Hun-si-sam-sian dengan rombongan anak
muridnya sudah keluar menyongsong.
Setelah memberi hormat, Ko-shia-siancu Hun Yak-lun
berkata: „Sianseng adalah tetamu-tetamu terhormat, tapi
karena Peh-hoa-kiong tak pernah menerima kunjungan kaum
lelaki, jadi tadi telah tak menyambut sebagaimana mestinya,
harap sianseng memaafkan!”
Si Rase Kumala balas memberi hormat, kemudian sambil
tertawa panjang dan menyahut: „Pun sebaliknya kami berdua
minta maaf atas kelancangan masuk ke dalam biara suci ini.”
Wajah Ko-shia-siancu Hun Yak-lun agak merah.
„Adalah kesalahan kami bertiga saudara yang kurang
sopan, bukan pihak sianseng, yang perlu minta maaf. Apalagi
tempo dahulu ibu kami pernah menerima budi kebaikan
siangseng …….”
„Sudahlah, urusan lama jangan diungkat lagi. Shin-tok Kek
sudah lama melupakannya. Hanya sampai disini mata si Rase
Kumala menyapu kesekeliling ruangan, lalu melanjutkan
berkata: „Cucuku yang tak tahu adat itu, berada dimana?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sikap si Rase Kumala yang sombong angkuh itu,


sebenarnya sudah membangkitkan amarah Hun-si-sam-sian.
Namun dengan penuh toleransi, Hun Yak-lun menjawab
dengan tenangnya: „Kini Siau saohiap tengah beristirahat
dipondok Yang-thay-suan.”
„Yang-thay-suan adalah sebuah tempat yang suci. Sungguh
aneh, mengapa seorang anak yang melanggar peraturan,
diberi tempat disitu?” habis berkata begitu, Shin-tok Kek
berpaling dan menanyakan pendapat si Dewa Tertawa.
Belum si Dewa Tertawa menyahut, Ko-shia-siancu sudah
mendahului berkata dengan nada bersungguh: „Dikatakan
bahwa kalau hanya dipelihara tanpa dididik, itulah kesalahan
orang tua. Tapi kalau mendidik tak keras, itulah kelalaian
guru. Terhadap kaum angkatan muda, asal tak berbuat
kejahatan, Peh-hoa-kiong takkan menghukum keterlaluan
……..”
„Dengan begitu, tanggung jawab seluruhnya terletak
dibahu orang tua, bukan?” tukas si Rase Kumala tertawa
dingin.
„Benar!" sahut Ko-shia-siancu tak kurang tawar.
Si Rase Kumala kembali tertawa dingin, ujarnya pula:
„Apakah hal itu cukup adil?”
Betapapun berkobarnya amarah Ko-shia-siaucu kala itu,
namun mengingat mendiang ibunya pernah menerima budi
kebaikan dari si Rase Kumala, terpaksa ia kendalikan diri.
Hanya wajahnya segera tampak membeku dingin dan
menyahut tegas: „Bagi yang memegang teguh aturan, tentu
tak merasa diperlakukan tak adil.”
Tertawalah si Rase Kumala, sanggahnya: „Sepanjang
melakukan perbuatan, Shin-tok Kek selalu bertindak secara
terang. Entah dalam hal apa dianggap menyalahi peraturan
itu? Aku dan Bok Lo-ji sengaja datang memenuhi undangan
siancu untuk menerima koreksi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sikap dan nada si Rase Kumala yang makin jumawa itu,


membuat Ko-shia-siancu makin mendidih hatinya. Dengan
wajah geram, ia berkata: „Karena sianseng menanyakan,
kamipun harus menjawab. Untuk urusan malam ini, kami
bertiga saudara hanya akan mengutarakan tiga buah
permintaan. Tentang memberi koreksi, kami sungguh tak
berani.”
„Ah, untung hanya tiga buah permintaan. Biarlah Shin-tok
Kek menunggu dengan hormat,” tertawa si Rase Kumala
dengan angkuh.
Sejenak melirik dengan gusar kepada sang tetamu,
berkatalah Ko-shia-siancu: „Pertama, mengeluarkan murid
murtad itu dari perguruan.”
„Itukan urusan siancu sendiri, Shin-tok Kek tak berhak
campur tangan,” cepat-cepat si Rase Kumala memberi ulasan.
Ko-shia-siancu tak mau menghiraukan. Katanya pula: „yang
kedua, kami serahkan Siau Ih pada sianseng supaya diberi
didikan.
Si Rase Kumala mendengus dingin.
Sejenak sapukan mata ke arah Shin-tok Kek dan si Dewa
Tertawa, berkata pula Ko-shia-siancu dengan nada yang
lemah lembut mengandung tantangan: „Dan yang ketiga,
karena Siau Ih berani tengah malam memasuki daerah
terlarang seluas sepuluh li, dengan begitu melanggar
peraturan Peh-hoa-kiong yang sudah beratus tahun itu, kami
akan minta peradilan dari sianseng berdua!"
Si Dewa Tertawa yang mengharapkan perdamaian, sudah
tentu menjadi kaget. Tapi tidak demikian dengan si Rase
Kumala.
„Mengapa daerah Hiang-swat-hay seluas sepuluh li,
menjadi daerah terlarang? Hal apakah yang menjadi larangan
Peh-hoa-kiong selama seratusan tahun itu? Ingin sekali Shin-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tok Kek mendengar penjelasan!” tenang dan tegas si Rase


Kumala memberi reaksi.
„Peh-hoa-kiong menjadi daerah terlarang bagi kaum lelaki,
anak murid Peh-hoa-kiong dilarang kawin, setiap kaum
persilatan tentu sudah mengetahui. Mana bisa seorang tokoh
macam si Rase Kumala tak tahu! Jadi terang kalau tokoh itu
‘sudah bersuluh menjemput api' atau sudah tahu masih
bertanya pula.”
„Siau Ih mengadakan hubungan rahasia dengan muridku
yang murtad. menjadi bukti bahwa dia telah melanggar
peraturan yang sudah menjadi tradisi ratusan tahun dari Peh-
hoa-kiong!" sahut Ko-shia-siancu dengan suara tajam.
Pecah mulut si Rase Kumala tertawa gelak-gelak. „Oh,
kiranya begitu ………” katanya lalu serentak mengganti wajah
tertawa menjadi kereng angkuh: „Sudah sembilanpuluh tahun
Shin-tok Kek melihat matahari, selama itu tak mau bertindak
dalam hal bertentangan de-ngan hukum alam. Perkawinan
antara pemuda dan pemudi, asal tidak melanggar garis-garis
kesopanan, adalah sesuai dengan kodrat alam. Mengapa harus
mengadakan larangan terhadap sesuatu yang menjadi kodrat
manusia ……..”
Berkata sampai disini kembali Shin-tok Kek tertawa nyaring
pula dan berkata: „Lohu memang gemar mengurus segala
macam urusan, apalagi mengenai urusan cucu sendiri. Oleh
karena hal itu bukannya suatu kejahatan, mengapa tak mau
bantu menyelesaikan? Lohu hendak mewakili cucu lohu itu,
untuk mengajukan permohonan kepada siancu agar sudi
menjadikan pernikahan itu.”
Saking murkanya, sepasang alis Ko-shia-siancu menjungkat
naik, wajahnya pucat seperti kertas.
„Pemilik pertapaan Lan-chui-suan meskipun amat
dimuliakan dunia persilatan, tapi Peh-hoa-kiong pun bukan
sebuah tempat yang mudah dihina. Atas budi yang sianseng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

limpahkan kepada mendiang ibu kami, biarlah lebih dahulu


kami bertiga saudara memberi hormat selaku terima kasih
kami. Setelah itu, barulah kita bereskan persoalan ini."
Diikuti oleh kedua saudaranya, Ko-shia-siancu segera
mundur tiga langkah, lalu memberi hormat setinggi-tingginya
kepada Shin-tok Kek.
Pun Shin-tok Kek menarik pulang keangkuhannya dan
membalas hormat, ujarnya: „Bunga merah maupun teratai
putih, semua berdaun hijau. Kaum persilatan pun semuanya
sekeluarga. Bahwa dahulu telah memberi bantuan, itulah
sudah menjadi kewajiban kita, bagaimana lohu berani
menerima pernyataan terima kasih siancu? Tapi untuk rasa
berbakti yang siancu bertiga unjukkan itu, Shin-tok Kek amat
memuji.”
Sehabis memberi hormat, tiba-tiba wajah Ko-shia-siancu
berobah muram lagi, katanya: „Sudah lama kami mengagumi
akan kesaktian Shin-tok sianseng dan Bok tayhiap yang
menggetarkan dunia persilatan. Bahwa hari ini dapat bertemu
muka, sungguh suatu keberuntungan besar. Rasanya tiada
lain jalan yang dapat ditempuh lagi untuk menyelesaikan
urusan ini, selain dengan cara kaum persilatan. Berdua pihak
mengeluarkan kepandaiannya untuk menemukan kebenaran!"
Kembali keangkuhan si Rase Kumala bangkit yang
diutarakan dengan tertawanya. „Siancu serba tangkas dalam
perkataan dan perbuatan. Shin-tok Kek sungguh kagum.
Urusan malam ini, lohu hanya mengiringkan saja kehendak
siancu itu.”
„Pertempuran malam ini, cukup dilakukan dalam tiga
babak. Tentang bagaimana caranya, karena sianseng sebagai
tetamu, Hun Yak-lun dengan segala senang hati akan menurut
saja.”
Si Rase Kumala berhamburan gelak, serunya: „Seumur
hidup lohu tak mau minta murah (menindas) orang. Terhadap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pihak Siang Ceng Kiong dan Goan Goan Cu, pun tak
terkecuali. Bok loji pun bukan bangsa tikus yang temaha
menang secara murah. Karenanya kami kembalikan saja acara
pertandingan ini kepada pilihan siancu saja."
Tiba-tiba si Dewa Tertawa yang sejak tadi diam saja kini
buka suara: „Kalian dan aku, bukan bangsa anak kecil lagi
yang mudah dipengaruhi oleh luapan perasaan. Dahulu aku si
Dewa Tertawa memang terkenal sebagai orang yang
berangasan, tapi dengan bertambahnya usia, sifat
keberangasanku itu hilang ditelan masa. Kini aku lebih
mengutamakan cara damai. Meskipun aku tersangkut juga,
tapi masih kuharapkan penyelesaian secara damai ini, bukan
berarti, bahwa aku Bok Tong takut perkara. Kalau sudah
terlanjur, sekalipun tubuh hancur lebur, aku tetap pantang
mundur!"
Ko-shia-siancu mengangguk, serunya: „Sungguh pantas
dipuji bahwa Bok tayhiap mempunyai pandangan yang begitu
bijak. Kami bertiga berpuluh tahun menyekap diri di Lo-hu-
san. Anak murid kamipun jarang turun gunung. Dengan
sendirinya kami tak suka setori dengan orang. Bahwa kali ini
Shin-tok sianseng sudi berkunjung kemari, sudah tentu kami
akan menyambut dengan hormat dan pula kami jamin Siau Ih
tentu tak kurang suatu apa.”
Baru si Dewa Tertawa hendak menjawab, si Rase Kumala
sudah memberi isyarat tangan dan mendahului: „Apa yang
Shin-tok Kek ucapkan, belum pernah ditarik kembali. Hanya
dengan ngukur kepandaian, kita putuskan soal ini dengan adil.
Ketetapan ini tak perlu dirobah lagi. Dengan tak menghiraukan
kerendahan diri, Shin-tok Kek tetap akan mengajukan
peminangan itu kepada siancu guna cucuku itu."
Sampai disini, si Dewa Tertawa menjadi putus asa. Urusan
tak kena didamaikan lagi.
„Dahulu sam-coat (tiga datuk) bertemu di Siang Ceng Kiong
dan kini ngo-coat (lima datuk) berjumpa di Peh-hoa-kiong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sungguh dunia persilatan akan tambah kaya dengan cerita


yang menarik," demikian Ko-shia-siancu tertawa tawar.
Duapuluh tahun berselang, untuk menolong Goan Goan Cu,
Bing King Siangjin rela menerima sebuah pukulan dari si Rase
Kumala. Peristiwa itu masih tetap mengganjel dihati si Rase
Kumala. Bahwa Ko-shia-siancu mengungkat hal itu, perasaan
si Rase Kumala menjadi tertusuk. Dari malu, dia menjadi
murka.
„Memang bayangan masa yang lampau tetap memancar
sampai sekarang. Sayang Bing King Hweshio tak ketahuan
rimbanya, kalau tidak, dapatlah Shin-tok Kek menyelesaikan
urusan itu sama sekali, agar tidak selalu mengganjel dihati,"
Shin-tok Kek tertawa angkuh.
„Ah, sudahlah, waktu amat berharga. Silahkan menyebut
acaranya, Shin-tok Kek akan menyambut dengan patuh,"
katanya pula.
Betapapun kemarahan Ko-shia-siancu atas permintaan
yang kurang ajar dan sikap yang sombong dari Shin-tok Kek
itu, namun ia tak berani terlalu mengumbar perasaan. Ia tahu
siapa si Rase Kumala itu.
Akhirnya setelah merenung sebentar, Ko-shia-siancu
berkata: „Kita berdua bukan bangsa anak kecil, jadi harus bisa
bertindak secara tepat ringkas. Acara pertama, kita adu gin-
kang dan ilmu pukulan di hutan bwe sana. Kemudian, adu
ilmu pedang sebagai acara nomor dua, selanjutnya yang
penghabisan ialah memecah sebuah barisan Peh-hoa-kiong.
Entah apakah Shin-tok sianseng dan Bok tayhiap setuju
dengan acara sederhana itu?”
Si Rase Kumala yang cerdas segera dapat menangkap
kemana tujuan tuan rumah. Tetap mengunjuk senyum
keangkuhan, dia menyatakan persetujuannya: „Baik, memang
tak perlu kita tawar menawar. Hanya konon kabarnya selain
barisan kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin, Peh-hoa-kiong masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki sebuah barisan sakti it-sam-goan-kiam-tin yang amat


dirahasiakan Shin-tok Kek hendak memakai sebatang pit untuk
menerimanya, entah apakah Sam-sian sudi memberi
pelajaran."
„Karena siangseng menghendakinya, kami bertiga pasti
suka menghaturkan ……..” kata Ko-shia-siancu sambil berhenti
sebentar untuk melonggarkan kesesakan napasnya. Kemudian
katanya pula: „Apabila Peh-hoa-kiong beruntung
memenangkan dua dari tiga pertandingan itu, harap Shin-tok
sianseng dan Bok tayhiap sudi membawa pulang Siau Ih dan
diberi didikan yang lebih keras. Selangkahpun dia dilarang
menginjak daerah Lo-hu-san lagi!“
Shin-tok Kek tertawa lebar, sahutnya dengan serentak:
„Kalau Shin-tok Kek kalah, bukan saja cucuku yang kurang
adat itu akan kuserahkan bagaimana siancu hendak
menghukumnya, pun aku dan Bok loji akan meninggalkan
dunia persilatan untuk selama-lamanya. Tapi ………” - dia
berhenti sesaat. Sepasang matanya berkilat-kilat menatap
Hun-si-sam-sian. Lalu meneruskan berkata: „Tapi kalau Peh-
hoa-kiong tak dapat mengalahkan kami berdua,
bagaimanakah putusannya!"
„Tradisi larangan Pek-hoa-kiong yang sudah beratus tahun
itu, akan hapus sejak itu!" sahut Ko-shia-siancu dengan tak
kurang tegasnya.
„Baik, kita sudah sama-sama sepakat, silahkan!" kata si
Rase Kumala sembari terus menarik si Dewa Tertawa diajak
keluar.
Hun-si-sam-sian dengan diiringkan oleh anak murid
angkatan kedua dan ketiga, segera mengikuti. Mereka kini
saling berhadapan di tanah lapang.
„Dalam acara pertama, pihak siancu hendak mengajukan
siapa?" tanya si Rase Kumala.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagai penyahutan, Leng-boh-siancu Hun Yak-hwa tampil


ke muka. Setelah memberi hormat kepada Shin-tok Kek, tanpa
melakukan gerakan apa-apa, tahu-tahu tubuhnya melambung
ke udara melayang ke puncak sebatang pohon bwe.
Gerakannya sedemikian halus, hingga setitik debu pun tak
tergoyang.
Sejak dalam pertukaran bicara tadi, Leng-boh-siancu Hun
Yak-hoa tak mengambil bagian. Begitu pertandingan dimulai,
tahu-tahu dia sudah tampil yang pertama. Mau tak mau si
Rase Kumala dan si Dewa Tertawa terkejut juga.
„Menilik kenyataannya, Hun-si-sam-sian memang pantas
termasuk golongan sepuluh Datuk,” diam-diam si Rase Kumala
membatin. Tapi sebagai seorang yang berhati tinggi, sudah
tentu dia tak mau unjuk kelemahan.

30. Akhirnya ........


Segera dia hendak melangkah, tapi sudah didahului oleh si
Dewa Tertawa yang maju sembari tertawa gelak-gelak:
„Biasanya acara yang menarik tentu berada dibelakang. Lo-
koay, biarlah aku yang maju pertama."
Si Rase Kumala tahu kalau sahabatnya memandang ringan
lawan.
Hun-si-sam-sian bukan musuh yang empuk. Acara yang
belakangan tentu lebih dahsyat, karena itu dia (si Dewa
Tertawa) suka menyediakan diri lebih dulu supaya si Rase
Kumala dapat memelihara tenaga.
„Bok loji, mengingat persahabatan kita yang begitu lama,
baiklah, kau boleh jual tingkah,” sahut si Rase Kumala dengan
tersenyum.
Bok Tong tertawa keras, sekali mengibaskan lengan baju,
dia melayang ke atas dahan pohon. Leng-boh-siancu tenang
menantinya. Begitu kaki lawan menginjak dahan, segera ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kebutkan kedua lengan bajunya. Serangkum hawa yang


mengandung tenaga negatif lunak, menyambar dada si Dewa
Tertawa.
Menurut peraturan dunia persilatan, dalam setiap
pertempuran, kecuali berhadapan dengan musuh besar atau
memang memandang rendah lawan, orang tentu akan saling
memberi salam. Jadi nyata Leng-boh-siancu tadi sudah
melanggar peraturan itu.
Namun si Dewa Tertawa tak mengacuhkan. Berbareng
tertawa keras, dia luruskan kedua tangannya ke muka dada
lalu dibalikkan untuk menangkis.
Sama sekali Leng-boh-siancu tak mau adu lwekang dalam
gebrak pertama, maka ia hanya gunakan seperempat bagian
tenaganya untuk menjajaki lawan. Tapi si Dewa Tertawapun
sudah mengetahui hal itu, jadi diapun tak sungguh-sungguh
menangkis. Maka begitu kedua tenaga itu saling berbentur,
kedua tokoh itu sama-sama mundur.
Pertempuran di atas pohon yang besarnya hanya
menyamai jari tangan, jauh bedanya dengan di atas tanah. Di
atas ranting, memerlukan kepandaian gin-kang yang tinggi.
Demikian kedua tokoh itu saling berlincahan dengan
gesitnya, tukar menukar pukulan lwekang dan baku hantam
yang dahsyat. Leng-boh-siancu Hun Yak-hoa gunakan ilmu
pusaka Peh-hoa-kiong yang termasyhur, yakni can-hoa-chiu.
Sementara si Dewa Tertawa keluarkan ilmu tun-yang sip-pat-
ciat yang sakti.
Yang tampak di bawah cahaya rembulan, hanyalah dua
bayangan hijau dan kuning saling bersilang rapat-rapat. Dalam
sekejap saja, mereka sudah bertempur lebih dari limapuluh
jurus.
Hebatnya pertempuran itu telah membuat Shin-tok Kek dan
kedua siancu menjadi ketar-ketir. Sedikit berayal saja, salah
seorang yang bertempur itu tentu akan terjungkal luka parah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertempuran kini sudah menginjak seratus jurus.


Berhadapan dengan musuh berat, Leng-boh-siancu keluarkan
seluruh kebiasaannya. Tapi ternyata sampai sekian lama
masih belum berhasil, hingga membuatnya gelisah.
Kebetulan saat itu, si Dewa Tertawa maju merapat sembari
dorongkan tangan kanannya kemuka. Untuk itu ia tak mau
menghindar. Begitu tangan si Dewa Tertawa hampir
mengenai, ia cepat mendongak ke belakang sembari tabaskan
tangan kiri kesiku tangan lawan. Menyusul ia berputar
menggeliat sambil kerjakan dua buah jari tangannya kanan
untuk menutuk pundak si Dewa Tertawa.
Kejut Bok Tong bukan kepalang. Tak kira dia bahwa dalam
saat-saat menghadapi kekalahan, Leng-boh-siancu sudah
gunakan jurus-jurus yang sedemikian berbahayanya. Jarak
mereka begitu rapat, untuk menghindar terang tak mungkin.
Dalam gugupnya, si Dewa Tertawa buru-buru kerahkan
lwekang ke arah pundaknya untuk menerima tutukan. Tapi
dalam pada itu, dia menggerung keras dan menjotos dada
lawan, huk …………
Oleh karena sebagian besar lwekangnya dipusatkan ke
pundak, jotosan si Dewa Tertawa tadi tak begitu dahsyat.
Sekalipun begitu, hasilnya tetap mengerikan.
Dalam teriakan kejut dari orang-orang yang menyaksikan
dibawah, Leng-boh-siancu dan si Dewa Tertawa sama-sama
terpelanting jatuh. Si Rase Kumala dan Hu-yong-siancu
serempak sama loncat menyanggapi.
Si Dewa Tertawa tampak meramkan mata, wajahnya
menampil kesakitan. Setelah didudukkan di tanah, si Rase
Kumala lalu memeriksa pundaknya. Disitu terdapat tanda
matang biru, lengannya kiri kaku tak dapat digerakkan, tapi
hanya luka luar saja.
Suatu hal yang membuat si Rase Kumala menjadi lega, lalu
menutuk jalan darah dilengan itu dan memberinya minum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebutir pil. Setelah itu disuruhnya si Dewa Tertawa beristirahat


memulangkan napas.
Bagaimana dengan Leng-boh-siancu? Ternyata Hun Yak-
hoa itu terluka berat, wajahnya pucat seperti kertas dan
orangnya pun tak sadarkan diri lagi. Ko-shia-siancu cepat
menutup jalan darahnya, lalu suruh muridnya menggotong ke
dalam Peh-hoa-kiong.
Kini dengan wajah merah padam, Hu-yong-siancu Hun Yak-
ciau menghadapi si Rase Kumla, ujarnya. „Dalam babak
pertama, kedua belah pihak sama-sama menderita luka, jadi
seri. Konon lama sekali sebatang cui-giok-ji-i dari Shin-tok
sianseng itu amat termasyhur kesaktiannya. Hun Yak-ciau
yang bodoh ini, senang sekali menerima pelajaran dari
sianseng!"
Si Rase Kumala tertawa ewa, sahutnya: „Ah, siancu keliwat
me rendah. Ilmu pedang it-goan-kiam-hwat dari Peh-hoa-
kiong, juga teramat saktinya. Sebaiknya jangan membuang
waktu lagi, silahkan siancu menghunus pedang!"
Hanya dengan sebuah tertawa dingin, Hu-yong-siancu
sudah lantas siapkan pedang dan si Rase Kumala pun juga
sudah mencabut senjatanya cui-giok-ji-i yang termasyhur. Hu-
yong-siancu berlaku sangat hati-hati. Ia membuka
serangannya dengan jurus kiau-li-jin-ciam, dari samping
menusuk dada lawan.
Bermula heran juga si Rase Kumala mengapa siancu itu tak
gunakan ilmu pedang it-goan-kiam-hwat. Tapi sekilas
pikirannya yang cerdas segera dapat menangkap maksud
orang. Dia tegak berdiri diam saja, tak menangkis atau
menghindar.
Hu-yong-siancu menjadi kelabakan sendiri. Adanya dia tadi
gunakan jurus biasa, ialah karena hendak memancing. Begitu
lawan bergerak menyerang, ia segera akan keluarkan ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedang it-goan-kiam-hwat. Tapi nyatanya, si Rase Kumala


telah mengetahui siasat itu.
Dalam malunya, Hu-yong-siancu teruskan serangannya itu
menjadi sebuah tusukan yang sesungguhnya. Begitu ujung
pedang hampir tiba, kedengaran si Rase Kumala tertawa
mengejek: „Karena siancu berlaku pelit, Shin-tok Kek terpaksa
meminta."
Tubuh agak dimiringkan, cui-giok-ji-i dibalikkan untuk
menangkis pedang. Hu-yong-sian-cu mundur lalu maju pula
menyerang. It-goan-kiam-hwat mulai dikembangkan.
Tubuhnya seperti menjadi satu dengan pedang, baik
menyerang maupun menjaga diri selalu dalam gerakan yang
indah dahsyat. Lebih-lebih ia salurkan lwekang ke batang
pedang.
Si Rase Kumala tak berani berayal. Diapun keluarkan ilmu
ji-i-san-chiu. Ilmu itu terdiri dari seratusdelapan jurus, khusus
mendasarkan delapan pokok kegunaan, yakni menggempur,
membentur, menutuk, memukul, melibat, mengunci,
mengacip dan membetot.
Dalam beberapa kejap saja, mereka sudah saling serang
menyerang sampai duaratusan jurus lebih. Saat itu Hu-yong-
siancu mencecer lawan dengan tiga buah serangan keras
berturut-turut. Udara penuh dengan hamburan sinar pedang
yang menyilaukan.
Tokoh angkuh si Rase Kumala mendongak tertawa
panjang, lalu berseru lantang-lantang: „Peristiwa lampau di
Siong Ceng Kiong itu. Shin-tok Kek tetap tak melupakan, kini
terpaksa kucobanya!"
Sekonyong-konyong tubuh tokoh itu melambung ke udara.
Bagaikan sinar pelangi, cui-giok-ji-i melayang ke dalam
gulungan sinar pedang. „Tring, tring,” dua sosok tubuh sama-
sama loncat kejurusan yang berlawanan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu mereka menginjak tanah, dapatlah diketahui


keadaannya. Si Rase Kumala tetap tegak berdiri mengulum
senyum. Hu-yong-siancu termangu-mangu berdiri dengan
wajah pucat. Pedangnya tinggal separoh bagian saja!
„Shin-tok Kek meminta maaf dan ingin menerima
pengajaran pula untuk kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin dan sam-
goan-kiam-tin!" kata si Rase Kumala.
Benar Ko-shia-siancu sudah mendengar kesohoran nama si
Rase Kumala, tapi sedikitpun tak terbayang dalam pikirannya
bahwa kepandaian orang itu sedemikian saktinya. Namun
sebagai pemimpin dari sebuah biara termasyhur, tak mau
kentarakan goncangan hatinya.
Dengan wajah membeku, ia berkata kepada sang tetamu:
„Kalau dalam babak terakhir ini, Peh-hoa-kiong kalah pula,
kami akan mentaati perjanjian tadi!"
Segera ia pelahan-lahan lambaikan tangan. Kedelapan Lo-
hu-pat-hong yang berdiri di belakangnya, segera tampil ke
muka. Dengan menghunus pedang, mereka pencar diri dalam
delapan jurusan mengepung si Rase Kumala. Ko-shia-siancu
sendiri yang memegang ko¬mando.
Wajah si Rase Kumala tetap tenang, tapi diam-diam dia
merasa tegang juga dalam hatinya. Demi dilihatnya barisan
sudah tersusun selesai, dia segera mempersilahkan. Ko-shia-
sian-cu tak mau menyahut. Dengan wajah membesi ia
kebutkan pedang dan mulailah barisan kiu-kiu-kui-goan-kiam-
tin itu bergerak.
Si Rase Kumala memperhatikan bagaimana Ko-shia-siancu
dan kedelapan muridnya itu bergerak-gerak dalam formasi
kiu-kiong, saling bergantian mengisi setiap pos yang
ditinggalkan.
„Menilik keadaan barisan itu, kalau tak menyerang secara
kilat, tentu sukar membobolkan,” pikirnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Secepat kilat dia ambil putusan untuk menggunakan cara


seperti ketika membobolkan ngo-heng-pat-kwa-kiam-tin dari
Siang Ceng Kiong dahulu. Begitulah dia segera bertindak.
Lengan baju kiri di kebutkan untuk melancarkan angin kong-
gi, menyusul cui-giok-ji-i menutuk salah seorang kiu-hong
yang berada disebelah mukanya.
Memang kiu-kiu-kui-goan-tin bukan olah-olah indahnya.
Begitu ujung cui-giok-ji-i hampir mengenai, kiu-hong itu
melejit ke muka, sedang kiu-hong yang di belakangnya
serentak sudah maju menggantikan posnya seraya menusuk si
Rase Kumala.
Si Rase Kumala tertawa. Tangannya kanan yang hendak
ditusuk pedang itu diturunkan, tubuh mundur pundak berputar
menyongsongkan jarinya untuk mengejar kiu-hong yang
sudah berpindah tempat tadi. Seketika nona itu terjungkal.
Dalam kejutnya, Ko-shia-siancu cepat lambaikan
pedangnya dan barisan berobah seketika. Tapi perobahan itu
kalah cepat dengan si Rase Kumala yang mendapat angin
lebih dulu. Menurutkan gerakan perobahan dari barisan itu, si
Rase Kumala berlincahan kekanan kiri untuk bolang-balingkan
cui-giok-ji-i dan tutukan jarinya.
Barisan menjadi kacau balau. Dari formasi kiu-kiong
(sembilan istana) menjadi pat-kwa, dari pat-kwa menjadi chit-
siu, chit-siu menjadi liok-hap, lalu ngo-heng dan su-chiu ……..
Setiap barisan itu berobah tentu jatuh korban seorang kiu-
hong. Kiu-kiu-kui-goan-kiam-tin yang bermula terdiri dari
sembilan dara kiu-hong, dalam sekejap mata saja sudah
tinggal dua. Pada lain saat ketika si Rase Kumala bersuit
keras, tubuhnya melambung ke udara lalu melayang turun
sembari kembangkan ‘payung’ sinar hijau kemilau dari cui-
giok-ji-i.
Hanya dengusan tertahan yang terdengar dan kedua
anggauta kiu-hong yang menjadi sisa barisan itupun rubuh ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanah tertutuk pingsan. Si Rase Kumala melayang turun


setombak jauhnya.
„It-goan-kiam-hwat telah kuterima. Apabila tak keberatan,
Shin-tok Kek sedia menerima lagi pelajaran sam-goan-kiam-
tin,” ujarnya dengan tersenyum.
Ko-shia-siancu menghela napas panjang. Tiba-tiba pedang
komandonya dibanting ke tanah, serunya: „Sudahlah,
kemasyhuran nama Shin-tok sianseng memang bukan pujian
kosong. Sejak ini Peh-hoa-kiong akan menghapuskan
larangannya dan terserah bagalmana kau akan
menghukumnya!”
Mendengar itu si Rase Kumala menganggukkan kepala.
Keangkuhan wajahnya tadi tiba-tiba lenyap. Dengan wajah
bersungguh, dia berkata: „Shin-tok Kek tiada lain permintaan
kecuali urusan peminangan tadi."
Ko-shia-siancu hanya menyeringai, sahutnya: „Jenderal
yang kalah perang, tak boleh menyombongkan kegagahan.
Karena urusan sudah sampai disini, tiada berguna untuk
bersitegang leher lagi, hanya saja ……..” - pemimpin Peh-hoa-
kiong itu tertegun sebentar, kemudian dia panggil dua orang
anak muridnya dan perintahkan mereka untuk mengambil Siau
Ih dan Lo Hui-yan.
Tak berapa lama, kembalilah mereka bersama
‘tawanannya’. Demi melihat kedelapan dara kiu-hong malang
melintang di tanah, Siau Ih sudah terkejut. Kemudian waktu
melihat wajah engkongnya luar membesi, dia makin bercekat.
Akhirnya ketika mengetahui ayah angkatnya duduk bersila
memulangkan napas, tahulah dia bahwa si Dewa Tertawa
tentu terluka. Inilah yang paling mengoyak perasaannya.
Kecintaannya terhadap sang ayah angkat yang telah
merawatnya sejak kecil telah membuat matanya mengucurkan
air mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si Rase Kumala menghela napas, ujarnya: „Gihu-mu hanya


terluka luar saja, tidak membahayakan!”
Mendengar itu, Siau Ih seperti tersadar dari mimpinya.
Serta merta dia menubruk kaki sang engkong. Berbareng saat
itu, Lo Hui-yan pun berlutut dihadapan Ko-shia-siancu.
Kedengaran si Rase Kumala mendamprat Siau Ih: „Secara
diam-diam minggat dari Chui-hun-lou, sudah seharusnya
dihajar, apalagi kau berani mati datang kemari. Nanti setelah
pulang kerumah, tentu akan kuhukum seberat-beratnya!"
„Engkong, Ih-ji mengaku salah,” sahut Siau Ih.
Si Rase Kumala mendengus, lalu berkata pula:
„Persoalanmu dengan Lo Hui-yan, kini telah mendapat
perkenan siancu, mengapa kau tak lekas-lekas menghaturkan
terima kasih pada siancu!"
Mendengar hal itu, hati Siau Ih bergoncang keras. Dengan
berdebar-debar dia menghampiri kehadapan Ko-shia-siancu
lalu memberi hormat dengan khidmat.
„Wanpwe menghaturkan beribu terima kasih atas
kemurahan hati tiang-cia!”
Ko-shia-siancu kerutkan kening, ujarnya dengan nada
berat: „Siau Ih, apakah benar-benar kau mencintai Yan-ji?”
Siau Ih terbeliak kaget. Heran dia mengapa Ko-sia-siancu
masih menyangsikan dirinya. Bukankah kedatangannya
didaerah terlarang Peh-hoa-kiong itu, cukup menjadi bukti
yang berbicara? Ah, mungkin Ko-shia-siancu amat menyintai
muridnya itu dan memikirkan ke-pentingannya, demikian
rabahan Siau Ih.
„Demi kehormatan wanpwe," sahutnya dengan tegas.
„Betapapun asal-usulnya Yan-ji?”
Siau Ih memberikan janjinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ko-shia-siancu mendengus, lalu mengelah napas panjang.


Habis itu ia mengeluarkan sebuah sampul kecil warna kuning.
„Shin-tok sianseng, memang urusan di dunia ini seringkali
berlaku aneh. Kita manusia tak boleh mengingkari kuasa alam.
Patahnya tradisi Peh-hoa-kiong pada malam ini, dirayakan
dengan suatu kejadian aneh ……..” Ko-shia-siancu seraya
berhenti meramkan mata. Kemudian ia melanjutkan pula:
„Permintaan sianseng telah terlaksana. Siau Ih pun sudah
memberikan janjinya. Sejak kini Yan-ji menjadi miliknya. Aku
tak dapat berbuat apa-apa, karena hal itu sudah kemauan
nasib. Surat ini merupakan sumber daripada permainan nasib
yang kukatakan itu.
Si Rase Kumala menyambuti surat itu dan membukanya.
Wajahnya tampak berobah merah, lalu pucat dan kemudian
menjadi tenang lagi. Dia menghela napas, matanya jauh
memandang kepuncak Lo-hu-san yang tertutup awan ……..
Ko-shia-siancu meramkan mata merenung, Siau Ih
terlongong-¬longong heran memandang sikap sang engkong
yang aneh namun dia tak berani menanyakan. Suasana
menjadi hening senyap.
Akhirnya, berkatalah si Rase Kumala: „Shin-tok Kek merasa
berhutang terima kasih atas ucapan siancu tadi. Memang
manusia, lebih-lebih orang persilatan, selalu dirundung dengan
budi dendam, balas membalas, kejar mengejar kemasyhuran
nama kosong. Seperti Shin-tok Kek yang berwatak aneh dan
angkuh ini, akhirnya mendapat pengajaran pahit juga. Anak
perempuan mati mereras, cucu diasuh orang akhirnya harus
menghadapi kenyataan yang menusuk ……….”
Sampai disini si Rase Kumala berhenti sejenak. Setelah
mengatur napasnya yang agak getar itu, dia menatap Siau Ih,
ujarnya:
„Ih-ji, memang segala sesuatu sudah tergaris oleh nasib.
Janji sudah kau ikrarkan, sebagai laki-laki kau harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menepatinya. Ujian ini memang berat, tapi kau harus


menghadapi kenyataan itu dengan hati terbuka …….”
Siau Ih seperti orang yang mendaki gunung kabut, tak tahu
dia kemana jatuhnya perkataan sang engkong itu. Apakah
gerangan isi surat itu, mengapa sang engkong menyebut-
nyebut tentang janji, kenyataan dan nasib? Tak tahu dia
bagaimana harus menyahut ucapan engkongnya itu.
„Ih-ji, bacalah surat ini!" tiba-tiba si Rase Kumala berseru
seraya mengangsurkan surat itu.
Siau Ih tersipu-sipu menyambutnya. Demi membacanya,
kepalanya serasa pening, bumi yang dipijaknya seperti
amblong …….
Hui-yan puteriku,
Bila kau membuka surat ini, mungkin sudah belasan tahun
aku menyusul ayahmu di alam baka. Jangan kau sesali kedua
ayah bundamu yang telah tinggalkan kau sebatang kara.
Lebih-lebih jangan kau kutuk perbuatan ayahmu yang berbuat
salah karena dipaksa oleh keadaan kita. Setelah kau jelas akan
duduk perkaranya, lakukan dua macam tugas yang berat:
membalas dendam dan budi! Beginilah kisahnya :
Ayahmu dan aku bermula hidup sebagai petani yang
sederhana tapi berbahagia. Sampai akhirnya sewaktu kau
lahir, barulah terjadi perobahan besar. Desa kita terserang
paceklik dan terpaksa ayahmu ajak aku pindah ke kota
mengadu nasib. Disitu kita berjualan kecil-kecilan dan hasilnya
pun lumayan. Selama di kota, ayahmu mempunyai banyak
kawan, sampai akhirnya dia terjerumus dalam kalangan
perjudian. Dagangan kita makin habis, ayahmu pun makin
kelelap, galang-gulung dengan orang jahat, menjadi
gundalnya seorang kongcu kaya bernama Teng Hiong.
Pada suatu hari kongcu yang bermata keranjang itu, telah
melihat sepasang muda mudi yang menginap dihotel. Dia
amat penuju sekali dengan nona yang cantik itu. Hanya saja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karena nona dan pemuda itu berkepandaian tinggi, jadi dia


jeri. Namun dia tak mau melepaskan nafsunya yang keji.
Dengan menjanjikan upah besar, dia suruh ayahmu
mencelakai mereka. Dengan menyogok jongos, berhasillah
ayahmu menyaru jadi jongos hotel itu. Sewaktu kedua anak
muda itu berada dikamarnya, ayahmu telah berhasil
meniupkan asap yang mengandung bius. Tapi dikarenakan
ayahmu takut kepergok, baru sedikit dia lantas buru-buru
pergi keluar.
Keesokan harinya, ayahmu dipanggil oleh orang she Teng
itu, tapi bukannya diberi upah uang melainkan diperseni
pukulan yang menyebabkan ayahmu muntah darah dan
meninggal beberapa hari kemudian.
Ayahmu menceritakan padaku bahwa si Teng Hiong begitu
marah karena maksudnya tak tercapai. Waktu malamnya Teng
Hiong datang ke hotel, ternyata didapatinya kedua anak muda
itu tidak pingsan melainkan tengah menangis. Si nona yang
ternyata bernama Shin-tok Lan menangis sesenggukan, si
pemuda yang bernama Siau Hong pun menghela napas
panjang lebar menyesali dirinya. Obat itu karena kurang
banyak, tidak dapat membuat mereka pingsan tapi
merangsang nafsu birahi mereka. Buah yang diinginkan telah
kedahuluan orang, menyebabkan si Teng Hiong marah besar.
Kematian ayahmu telah mengundang bermacam
malapetaka. Begundal-begundalnya Teng Hiong berani
mempermainkan diriku. Malu dan gusar, akhirnya aku
mengambil putusan pendek, bunuh diri. Kudengar biara Peh-
hoa-kiong adalah biara suci dari kaum nikoh (rahib) yang
berilmu tinggi. Kesana kubawamu. Setelah kuletakkan kau di
depan pintu biara, aku lantas menggantung diri. Semoga
siancu sudi menerima perhambaanmu itu. Kau masih
mempunyai seorang paman di gunung Hong-hong-san. Kelak
kalau Tuhan melindungimu, sambangilah dia.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yan-ji, begitulah nasib sedih yang menimpah ayah


bundamu. Ingat betul, nama musuh besarmu itu. Lakukahlah
pembalasan. Dari alam baka aku dan ayahmu akan
memohonkan restu kepadamu! Sedapat mungkin, berusahalah
keras mencari anak keturunan pemuda Siau itu untuk
menghaturkan maaf.
Yan-ji, puteri kesayanganku. Jangan menangis, kuatkan
hatimu dan teguhkan imanmu.
Bundamu yang bemasib malang,
Liu-si.
Tanpa terasa, surat di tangan Siau Ih itu terlepas dibawa
angin. Hui-yan cepat memungutnya. Demi membacanya,
iapun rubuh tak ingat diri. Siau Ih tersadar dari limbungnya.
Tanpa likat-likat lagi, dia segera menolongnya.
„Ih-ji, Yan-ji!” mendadak si Dewa Tertawa kedengaran
berseru demi tahu persoalannya, kesemua-semuanya adalah
sudah suratan takdir. Tinggi rendahnya martabat manusia,
dinilai dari kebesaran hatinya. Dendam orang tua, sang anak
tak ikut memikul dosa. Orang tua Hui-yan sudah mengakui
kesalahannya, seharusnya kau dapat berlapang hati
memaafkan, apalagi mereka sudah menutup mata, lebih-lebih
kau bakal menjadi menantunya. Lupakan persoalan lama dan
mulailah hidup baru. Tugas kalian masih banyak dan berat.
Lihat itu, selama rakyat masih selalu ditindas oleh hartawan-
hartawan jahat, selama keadilan dan kebenaran masih
dikuasai oleh kaum persilatan ganas, selama itu dharma tugas
kita kaum persilatan, pantang berhenti. Kita dari angkatan tua
akan lekas undurkan diri dan menyerahkan beban suci itu
kepada kalian semua.”
Siau Ih terbuka pikirannya. Dia melirik ke arah Hui-yan
dengan pandangan penuh seri harapan hari depan yang
gemilang. Hui-yan tersipu-sipu tundukkan kepala. Si Rase
Kumala kedengaran menghela napas. Tapi bahwasanya dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak membuat sanggahan (protes) suatu apa, berarti secara


diam-diam dia dapat menerima pandangan si Dewa Tertawa
tadi. Wajah dingin dari Ko-shia-siancu mengulas senyum.
Entah senyum simpati entah mengejek. Keadaan menjadi
hening sejenak.
„Siancu telah banyak memberi bantuan, terimalah hormat
dan terima kasih Shin-tok Kek!" akhirnya Shin-tok Kek
menghadap ke arah Ko-shia-siancu seraya menjura.
Tanpa menunggu penyahutan orang, dia segera bersuit
keras memanggil Shin-tok Liong dan Shin-tok Hou. Disuruhnya
mereka membawa si Dewa Tertawa ke dalam tandu.
Demikianlah dengan membawa Siau Ih dan Hui-yan,
rombongan si Rase Kumala segera tinggalkan Lo-hu-san.
Dalam sebuah kesempatan di tengah perjalanan, Siau Ih
menanyakan kepada sang engkong tentang surat kaleng yang
diterima Goan Goan Cu itu.
"Kemungkinan bukan Teng Hiong atau Li Hun-liong yang
membuat. Mungkin dalam keadaan yang tak diinsyafi. Teng
Hiong telah membocorkan hal itu kepada lain orang. Menilik
bahwa banyak anak-anak muda yang mengiri atas
keberuntungan ayahmu yang berhasil menawan hati
mamamu, maka kemungkinan besar tentu ada yang
melakukan fitnah keji itu," menerangkan si Rase Kumala.
Begitulah bertahun-tahun sepasang suami isteri Siau Ih -
Hui-yan itu mendapat gemblengan lahir batin oleh si Rase
Kumala dan si Dewa Tertawa. Dengan Tan Wan, Shin-tok
Liong dan Shin-tok Hou, Siau Ih, Hui-yan merupakan
pendekar-pendekar Tiam-jong-san yang banyak melakukan
kebaikan dan membasmi kejahatan. Akhirnya Thiat-sian-pang
dapat diobrak-abrik, termasuk si Manusia Iblis Kiau Hoan pun
dilenyapkan.
- TAMAT -
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Trims yee Andu