Anda di halaman 1dari 5

OH CARITA

 Perhitungan Dosis Obat


Berdasarkan hasil penimbangan berat badan diketahui berat badan
kucing adalah 3,11 kg kg sehingga dosis obat yang dibutuhkan adalah sebagai
berikut:

Jumlah yang diberikan = bobot badan x dosis


sediaan

Atropin Sulfat = 0,04 mg/kg x 3,11 kg = 0,49 ml


0,25 mg/ml
Ketamine = 10 mg/kg x 3,11 kg = 0,3 ml
100 mg/ml

Xylazine = 2 mg/kg x 3,11 kg = 0,3 ml


20 mg/ml
Amoxicillin = 20 mg/kg x 3,11 kg = 0,6 ml
100 mg/ml

Ketoprofen = 2 mg/kg x 3,11 kg = 0,12 ml


50 mg/ml

Vitamin K = 1 mg/kg x 3,11 kg = 0,3 ml


10 mg/ml

Amoxicillin = 20 mg/kg × 3,11 kg = 62,2 mg (PO)

Ketoprofen = 1mg/kg x 3,11 kg = 3,11 mg (PO)


PEMBAHASAN

Ovariohisterectomy (OH) merupakan istilah kedokteran yang terdiri dari dua kata
yaitu ovariectomy dan histerectomy. Ovariectomy adalah tindakan pengamputasian,
mengeluarkan dan menghilangkan ovarium dari rongga abdomen, sedangkan Hysterectomy
adalah tindakan pengamputasian, mengeluarkan dan menghilangkan organ uterus dari dalam
tubuh, sehingga dapat didefinisikan ovariohisterectomy merupakan tindakan bedah atau
operasi pengangkatan organ reproduksi betina dari ovarium sampai dengan uterus (Ibrahim,
2000). Prosedur operasi terdiri atas pre operasi yaitu persiapan hewan, persiapan alat dan
bahan, persiapan ruang operasi, persiapan operator dan asisten operator; prosedur operasi dan
prosedur post operasi.
Persiapan hewan pertama-tama kucing Carita dipuasakan selama 12 jam untuk
mengosongkan lambung. Hal ini sesuai pada pernyataan Fossum (2002) yang menyatakan
bahwa, hewan dipuasakan makan selama 12 jam dan puasa minum 6 jam sebelum operasi.
Lambung yang terisi penuh dapat menyebabkan muntah sehingga menimbulkan terjadinya
aspirasi yang dikhawatirkan berakibat slipneumonia, selain itu lambung yang penuh akan
mengurangi pergerakan diafragma sehingga mengganggu respirasi (Sardjana, 2011).
Persiapan hewan dilakukan melalui physical examination (PE) untuk mengetahui kondisi
kucing meliputi penimbangan berat badan, temperatur, pulsus, respirasi, kondisi rambut,
membran mukosa, muskulosketal (otot dan pertulangan), sistem sirkulasi, sistem respirasi,
sistem digesti, sistem urogenital, sistem syaraf, dan sistem panca indera. Pemeriksaan umum
ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan kucing, bila kucing berada dalam kondisi
yang tidak sehat, maka dianjurkan untuk ditunda operasi atau mengganti dengan kucing lain.
Berat kucing ditimbang untuk menentukan perhitungan dosis obat. Kucing kemudian
dilakukan pencukuran pada daerah yang akan dilakukan insisi, kemudian dilakukan
pemasangan iv cath dengan cairan infus Normal Saline (NS).
Sebelum dilakukan induksi anesthesi, terlebih dahulu diberikan injeksi antibiotik
amoxicillin 0,6 ml secara intravena untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder yang
mungkin terjadi selama operasi. Amoxicillin merupakan adalah nama dagang dari obat
antibiotik golongan penisilin sub golongan amoksisilin, yaitu amoksisilin trihidrat. Obat
golongan ini bekerja sebagai broad-spectrum (bisa untuk membunuh bakteri gram positif dan
negatif), seperti salmonella, shigella dan lainnya. Obat ini tidak membunuh bakteri secara
langsung tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat
disekujur tubuhnya. Lapisan ini bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi
bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak tercerai berai.
Bakteri tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini. Amoxicillin sangat
efektif untuk beberapa bakteri seperti H. influenzae, N. gonorrhoea, E. coli, Pneumococci,
Streptococci, dan beberapa strain dari Staphylococci (Hosgoog, 2008).

Operasi dimulai dengan menginjeksikan medikasi pra anasthesi atau sering disebut
premedikasi. Tujuan pemberian agen premedikasi adalah untuk mengurangi sekresi kelenjar
saliva, memperlancar induksi anastesi, mencegah efek bradikardi dan vomit setelah ataupun
selama anastesi, mendepres reflek vasovagal, mengurangi rasa sakit dan mengurangi gerakan
yang tidak terkendali selama recovery. Pada operasi OH kali ini premedikasi yang diberikan
adalah atropine sulfat. Atropin sulfat merupakan agen premedikasi yang digolongkan
sebagai antikolinergik. Atropin sulfat diinjeksikan secara subcutan (SC) sebanyak 0,49 ml.
Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai antikolinergik atau
parasimpatolitik. Atropin sebagai premedikasi diberikan pada kisaran dosis 0.022-0.044
mg/kg BB, yang diberikan baik secara subkutan, intra vena maupun intramuskuler. Pada
dosis normal, atropin dapat mencegah bradikardia dan sekresi berlebih saliva serta
mengurangi motilitas gastrointestinal. Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai
kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos.
Hambatan ini bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah
berlebihan atau pemberian antikolinesterase (Latief dkk., 2001). Atropin dapat menimbulkan
beberapa efek, misalnya pada susunan syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat
lain di otak, menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus, pada dosis
yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih lanjut dapat
menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek atropin pada mata menyebabkan
midriasis dan siklopegia. Pada saluran nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut
dan bronkus. Efek atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu atropin
tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara langsung dan
menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran pencernaan, atropin sebagai
antispasmodik yaitu menghambat peristaltik usus dan lambung, sedangkan pada otot polos
atropin mendilatasi pada saluran kemih sehingga menyebabkan retensi urin (Fendrick, 2008).
Setelah induksi premedikasi, ditunggu kurang lebih 15 menit hingga kucing tampak
tenang, kemudian segera diberikan anesthesi. Anesthesi yang digunakan yaitu kombinasi
ketamin 0,3 ml dan xylazine 0,3 ml (1:1). Ketamin HCl bekerja dengan memutus syaraf
asosiasi serta korteks otak dan thalamus optikus dihentikan sementara, sedangkan sistem
limbik sedikit dipengaruhi. Ketamin HCl merupakan analgesia yang tidak menyebabkan
depresi dan hipnotika pada syaraf pusat tetapi berperan sebagai kataleptika. Setelah
pemberian ketamin, refleks mulut dan menelan tetap ada dan mata masih terbuka (Saeeda and
Jain, 2004). Dosis ketamin untuk semua hewan kecil melalui injeksi intravena adalah 5-10
mg/kg BB, sedangkan dosis untuk injeksi intramuscular adalah 10-40 mg/kg BB (Hosgoog,
2008). Xylazine menimbulkan efek relaksasi muskulus juga analgesik. Kondisi tidur yang
ringan sampai dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies
hewan. Obat ini dapat berfungsi sebagai sedatif yang efeknya tercapai maksimal 20 menit
setelah pemberian intramuskular dan berakhir setelah 60 menit. Xylazin untuk tujuan
relaksasi muskulus pada umumnya dikombinasikan dengan ketamin untuk beberapa spesies
termasuk kucing. Pada hewan kecil, efek sampingnya meliputi bradikardia dan penurunan
cardiac output, vomit, tremor, motilitas intestinal menurun tetapi kontraksi uterus meningkat,
selain itu juga mempengaruhi keseimbangan hormonal antara lain menghambat produksi
insulin dan ADH (Sardjana, 2011). Kombinasi kedua obat ini memberikan efek saling
melengkapi antara efek analgesik yang didapatkan dari pemberian ketamin dan efek relaksasi
otot dari penggunaan xylazine. Manfaat lain yang didapatkan dari penggunaan kombinasi
ketamin-xylazin pada kucing akan menyebabkan perlambatan absorpsi ketamin sehingga
eliminasi ketamin lebih lama, hal ini menyebabkan durasi anestesi lebih panjang (Jacqueline,
2005).

Terapi Post Operasi

Perlakuan terapi post operasi adalah pemberian ketoprofen sebagai agen analgesik dan
Amoxicilin sebagai antibiotik. Pemberian masing - masing dilakukan setiap 1 hari sekali
untuk ketoprofen dan 2 kali sehari untuk Amoxicilin masing-masing pemberian selama 5
hari, pemilihan pemberian terapi ini adalah untuk mengurangi rasa sakit dan menghindari
infeksi luka. Pemberian ketoprofen berfungsi sebagai penghilang rasa nyeri dan sebagai
antiinflamasi. Ketoprofen adalah golongan Nonsteroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAIDs)
long action yang penggunannya biasanya secara injeksi secara subcutan ataupun
intramuscular dengan mekanisme kerja menghambat terbentuknya prostaglandin melalui
aktifitas enzim siklooksigenase (Jacqueline, 2005).

Sedangkan Amoxicilin adalah produk antibiotik golongan beta laktam aminobenzyl


penicillin dari Sanbe Farma dengan kandungan amoxicillin trihydrate. Amoxicillin stabil
dalam keadaan asam, diserap cepat melalui saluran pencernaan tanpa terpengaruh adanya
makanan di lambung dan mencapai dosis efektif dalam 1 jam. Kemampuan
bakterisida amoxicillin efektif terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Dengan cara
menghambat sintesis pada dinding sel bakteri.

DAPUS

Fendrick, A.M., Pan, D.E., and Johnson, G.E., 2008. OTC Analgesics and Drug Interactions:
Clinical Implications. Osteopathic Medicine and Primary Care 2 (2).
Fossum, T.W. (2002) Small Animal Surgery, ed 2nd Mosby, St. Lois London. Philandelphia
sydney. Toronto.
Hosgood, G and D.H. Johnny. 1998. Small Animal Paediatric Medicine and
Surgery. London: Reed Educational and Professional Publishing Ltd.
Hosgoog, G., et al. 2008. Small Animal Pediatric Medicine and Surgery. Oxford:
Butterworth-heinemann

Ibrahim, R. 2000. Pengantar Ilmu Bedah Veteriner, Edisi Pertama. Syiah Kuala University
Press. Darussalam. Banda Aceh.
Jacqueline R. Davidson and Daniel J. Burba. 2005. Surgical and Medical Nursing. Di dalam :
Mc Curnin DM and Bassert JM, editor. Clinical Textbook for Veterinary Technicians.
Ed. Ke-6. USA : Elsevier Saunders.
Latief, S,A, Surjadi K, Dachlan R., 2001. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Pertama.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. h 41 – 9.
Sardjana, I.K.W. 2011. Bedah Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya.