Anda di halaman 1dari 17

RESUME BAB 4

ANALISIS AKTIVITAS
INVESTASI: ASET

Nama : Vidia Ainnie

NIM : 1502120667

Tugas Matakuliah Analisis Laporan Keuangan

ANALISIS AKTIVITAS INVESTASI : ASET

Aset merupakan sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan untuk


menghasilkan laba. Aset dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok:

 Aset Lancar: sumberdaya yang dapat segera dikonversikan menjadi kas


selama siklus operasi perusahaan. Kelompok utama aset lancar : kas,
setara kas, piutang, dan biaya dibayar dimuka.
 Aset tidak lancar: sumber daya yang diharapkan dapat memberikan
manfaat pada perusahaan selama periode melebihi periode berjalan.

Suatu perbedaan alternatif yang biasanya berguna bagi analisis adalah untuk
menetapkan aset sebagai aset keuangan atau aset operasi. Aset keuangan teutama
terdiri dari efek yang dapat diperdagangkan dan investasi lain dalam aset non-
operasi.dinilai berdasarkan nilai pasar dan diharapkan dapat memberikan imbalan
hasil yang sama dengan biaya modal yang disesuaikan dengan risikonya. Aset
operasi merupakan sebagian dari aset perusahaan. Biasanya dinilai sebesar biaya
perolehan.

PENGANTAR ASET LANCAR

Aset lancar (current asset) adalah mencakup kas dan asset lain yang dapat
dikonversi menjadi kas, biasanya dalam siklus operasi perusahan. Siklus operasi
adalah jumlah waktu dari komitmen atas kas selama pembelian sampai
penerimaan kas dari penjualan barang atau jasa. Siklus operasi ini digunakan
untuk mengklasifikasikan aset dan liabilitas menjadi lancar atau tidak lancar.

1
Siklus Operasi

Kelebihan aset lancar dan liabilitas lancar disebut sebagai modal kerja.
Modal kerja seperti pedang bermata dua bagi perusahaan. Perusahaan
memerlukan modal kerja agar dapat beroperasi secara efektif, namun modal kerja
sangat mahal karena harus dibiayai dan memerlukan biaya operasi lain, seperti
kerugian kredit atas piutang usaha serta biaya penyimpanan dan logistik untuk
perusahaan. Oleh karena dampat aset lancar dan liabilitas jangka pendekt terhadap
likuiditas dan profitabilitas, analisis aset lancar dan liabilitas jangka pendek ini
sangat penting unuk analisis kredit dan profitabilitas.

1. Kas Dan Setara Kas

Kas merupakan aset yang paling likuid, mencakup mata uang yang
tersedia dan dana deposito. Setara kas merupakan investasi jangka pendek dan
sangat likuid yang mudah dikonversi menjadi kas dan jatuh tempo sangat pendek.

Konsep lkuiditas sangat penting dalam analisis laporan keuangan.


Likuiditas beratti jumlah kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan dan jumlah
kas yang dapat dihasilkan perusahaan dalam periode waktu yang singkat.
Likuiditas juga berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya saat jatuh tempo.

Selain memeriksa jumlah aset likuid yang tersedia untuk perusahaan,


analis juga harus mempertimbangkan hal berikut :

1. sejauh mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas, perushaan dapat
mengalami risiko penurunan likuiditas jika nilai pasar atas investasi
tersebut mengalami penurunan.

2
2. Kas dan setara kas kadang perlu disimpan sebagai kompensaso saldo
untuk mendukung pengaturan pinjaman yang telah ada atau sebagai
jaminan hutang.

2. Piutang

Piutang merupakan jumlah yang harus dibayar perusahaan yang timbul


akibat penjualan produk atau jasa, atau dari uang muka (peminjaman uang)
kepada perusahaan lain.

a. Piutang usaha : jumlah yang harus dibayarkan kepada perusahaan yang


timbul akibat penjualan produk atau jasa.
b. Wesel tagih : janji tertulis atas utang yang harus dibayarkan.

Piutang yang dikelompokkan sebagai aset lancar diharapkan dapat tertagih


dalam satu tahun atau siklus operasi, tergantung mana yang lebih lama.

2.1 Penliaian piutang

Analisis piutang penting karena akan memberikan dampat pada posisi aset
dan arus laba perusahaan yang saling berkaitan. Pengalaman menunjukkan bahwa
tidak semua piutang tak tertagih. Risiko dalam analisis ini adalah bahwa
pengalaman masa lalu mungkin tida k bisa dijadikan alat prediksi yang layak atas
kerugian masa depan. Dalam praktiknya perusahaan melaporkan piutangnya
sbesar nilai realisasi neto. Realisasi neto adalah total jumlah piutang dikurangi
penyisihan piutang tak tertagih. Manajemen memperkirakan piutang tak tertagih
berdasarkan pengalaman, kekayaan pelanggan, harapan ekonomi dan industri
serta kebijakan penagihan.

2.3 Analisis piutang

Terdapat beberapa pertanyaan penting yang harus dihadapi dalam analisis pitang

1. Risiko penagihan

Informasi lengkap untuk menilai risiko penagihan tidak biasanya disajikan dalam
laporan keuangan. Informasi yang berguna harus diperoleh dari sumber lain atau
dari perusahaan. Alat analisis untu memeriksa kolektibilitas mencakup :

1. Memebandingkan presentase piutang terhadap penjualan perusahaan


pesaing dengan perusahaan yang sedang dianalisis.
2. Memerikasa konsentrasi pelangggan-resiko meningkat jika piutang
terkosentrasi pada satu atau sedikit pelanggan.
3. Menghitung menyelidiki tren periode rata-rata kolektabilitas piutang
disbanding dengan syarat kredit pelanggan untuk industry yang
bersangkutan.

3
4. Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan dari piutang atau
wesel tagih masa lalu.
Analisis posisis keuangan terkini dan kemampuan perusahaan memenuhi utang
lancar yag tercermnin dalam pengukuran seperti rasio lancar juga harus mengakui
pentingnya siklus operasi untuk mengklasifikasi piutang lancar. Siklus operasi
dapat menghasilkan piutang cicilan nyang belum dapat tertagih selama beberapa
tahun dapat dilaporkan sebagai asset lancar. Analisis asset lancer dan kaitanya
dengan kewajiban lancer harus diakui dan disesuaikan dengan risiko waktu ini.

2. Keaslian piutang.

Pemahaman mengenai praktik industry dan sumber informasi tambahan


digunakan untuk menambah keyakinan. Pelanggan pada industry tertentu
mengembaikan hak untuk mengembakikan barang. Analisis harus
mempertimbangkan hak pengembalian tersebut. Hak pengembalian yang bebas
dapat menurunkan kualitas piutang.

3. Sekuritas piutang.

Masalah analisis penting lainnya timbul ketika perusahaan menjual semua


atau sebagian piutangnya pada pihak ketiga yang biasanya mendanai penjualan
tersebut dengan menjual obligasi ke pasar modal. Praktik tersebut disebut sebagai
sekuritisasi.

Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan menjual semua
atau again piutanganya pada pihak ketiga yang disebut anjak piutang atau
skuritisasi, piutang dapat dijual dengan ataupun tanpa recourse pada pembeli
jaminan kolektabilitas.

Sekuritas piutang sering kali dilakukan dengan menciptakan entitas bertujuan


khusus seperti perwalian pembelian piutang dari perusahaan dan mendanai
pembelian ini melalui penjualan obligasi ke pasar.

3. Beban Dibayar Dimuka

Beban dibayar dimuka merupakan pembayaran dimuka atas barang atau


jasa yang belum diterima. Beban dibayar dimuka digolongkan ke dalam asset
karena mencerminkan jasa yang diberikan jika tidak afa membutuhkan
penggunaan asset lancer lain.

4
4. Persediaan

4.1 Akuntansi dan Penilaian Persediaan

Persediaan merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal


perusahaan. Pentingnya metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan
disebabakan oleh dampaknya pada laba bersih dan penilaian asset. Metode
persediaan digunakan untukm mengalokasikan biaya barag tersedia untuk dijual
pada harga pokok penjualan atau persediaan akhir.

Persamaan persediaan dapat digunakan untuk memahami arus persediaan.


Untuk perusahaan:

Persediaan awal + pembelian bersih – harga pokok penjualan


= persediaan akhir

Persamaan ini menekankan arus biaya dalam perusahaan. Arus ini secara
alternative dapat dinyatakan pada grafik sebelah kiri.

Biaya persediaan awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual,


biaya ini dipindahkan dari nerca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai
harga pokok penjualan. Biaya tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada
waktu bersamaan, melainkan dapat dicatat pada neraca sebagai beban masa depan,
atau diakui saat ini pada lapiran laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan
pendapatan penjualan.

Konsep penting akuntansi persediaa adalah arus biaya. Jika seluruh


persediaan diperoleh pada periede terjualnya, maka HPP akan sama dengan biaya
pembelian barang. Namun jika persediaan tersedia pada akhir periade akuntansi,
penting untuk menentukan persediaan mana yang telah terjual dan iaya mana yang
tersdia pada neraca.

4.2 Arus Biaya Persediaan

GAAP memperbolehkan opsi dalam menentukan biaya mana yang dikaitkan


dengan penjualan. Opsi tersebut antara lain :

1. First- in, firs-out (FIFO).


Metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli pertama merupakan yang
pertama dijual.
2. Last-in, first-out (LIFO)
Metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli terakhir merupaka yang
pertama dijual.
3. Average cost (Biaya persediaan rata-rata)
Unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliannya dan menghitung
HPP serta persediaan akhir seagai rata-rata tertimbang sederhana.

5
4.3 Analisis Persediaan

Berdasarkan ilustrasi soal yang terdapat di buku halaman 256 dapat


disimpulkan sebagai berikut :

a. Dampak Penetapan Biaya Persediaan Terhadap Profitabilitas

Pada periode dimana harga meningkat, FIFO memberikan laba kotor yang lebih
tinggi disbanding LIFO karena biaya persediaan yang lebih rendah dikaitkan
dengan pendapatan penjualan dengan harga pasar terkini. Hal ini sering
dinyatakan segai keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya
merupakan penjumlahan dari laba ekonomi dan laba kepemilikan.

 Laba ekonomi adalah jumlah yang terjual dikalikan dengan selisish


antar harga juala dsan biaya penggantian persdiaan.
 Laba kepemilikan merupakan kenaikan biaya penggantian karena
persediaan telah diperoleh dan sama dengan jumlah unit terjual
dikalikan dengan selisish biaya penggntian terkini dengan biaya
perolehan awal.

Laba kepemilikan merupakan fungsi dari perpuratan persediaan – berapa lama


persediaan tersimpan- dan tingkat inflasi.

b. Dampak Penetapan Biaya Persediaan Terhadap Laporan Posisi


Keuangan

Pada periode harga meningkat dan dengan asumsi persediaan belum


melikuiditasi layer persediaan lamanya,LIFO melaporkan persediaan akhir pada
harga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya penggantian.Hasilnya
neraca perusahaan yang menggunakan LIFO tidak secara akurat mencerminkan
investasi lancar yang dimiliki perusahaan dalam persediaannya.

c. Dampak Penetapan Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas

Peningkatan laba kotor dengan metode FIFO juga menyebabkan laba


sebelum pajak yang lebih tinggi, dan karenanya, utang pajak yang lebih tinggi.
Pada periode dimana harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada
pengurangan arus kas karena mereka membayar pajak yang ebih tinggi
dibandingkan dengan pembelian yang lebih awal.

Salah satu alas an ynag sering kali digunakan untuk mengadopsi LIFO
adalah pengurangan kewajiban pajak pada periode harga meningkat. Namun IRS
mengharuskan bahwa perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO
untuk tujuan pajak juga harus menggunakan metode ini untuk laporan keuangan.
Ini merupakan aturan ketaatan LIFO (Lifo conformity rule).

6
Perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO diharuskan untuk
mengungkapkan jumlah yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan
metode FIFO. Selisih antara kedua jumlah ini dinamakan cadangan LIFO (LIFO
reserve). Analisis dapat menggunkan cadangan ini untuk menghitung jumlah yang
akan memengaruhi arus kas komulatif maupun periode berjalan karena
penggunaan LIFO.

4.4 Masalah Penilaian Persediaan Lainnya

1. Likuidasi LIFO.

Perusahaan diwajibkan untuk mencatat tiap tingkat biaya sebagai


kelompok persediaan terpisah. Saat terjadi pengurangan kuantitas persediaan,
yang dapat terjadi jika suatu perusahaan menjadi lebih ramping atau mengecil,
perusahaan akan menggunakan lapisan biaya yang lebih awal untuk dikaitkan
dengan harga jual saat ini. Untuk biaya persediaan FIFO, hal ini tidak menjadi
masalah yang signifikan karena persediaan akhir dilaporkan pada biaya pembelian
yang terkini dan lapisan biaya awal tidak berbeda secara signifikan dengan biaya
saat ini. Namun untuk biaya persediaan LIFO, persediaan akhir dilaporkan pada
biaya pembelian yang terdahulu yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi secara
signifikan dari biaya saat ini. Paa periode harga meningkat, pengurangan kuantitas
masalah, yang disebut likuidasi LIFO, menghasilkan peningkatan pada laba kotor
yang dilaporkan karena biaya persediaan yang lebih tinggi dikaitkan dengan
penjualan saat ini.

2. Penyajian Kembali (Restatement) Analitis dari LIFO ke FIFO.

Jika laporan keuangan yang tersedia menggunakan LIFO, yang merupakan


metode yang lebih diinginkan untuk analisi kita, maka laporan laba rugi tidak
membutuhkan penyesuaian besar karena harga pokok penjualan telah mendekati
biaya terkini. Namun metode LIFO yang menyebabkan persediaan pada neraca
tidak mencerminkan harga pada saat ini, seringkali dinyatakan terlalu rendah. Hal
ini dapat mengurangi kegunaan berbagai pengukuran seperti “rasio lancar”
(current rasio) atau rasio “perputaran persediaan” (inventory turnover).
Sebelumnya telah diperlihatkan bahwa LIFO menyebabkan persediaan dinyatakan
terlalu rendah saat harga meningkat. Konsekuensinya, LIFO menyebabkan
kemampuan perusahaan untuk membayar utang (yang diukur dengan, sebagai
contoh, rasio lancar) terlalu rendah, perputaran persediaan terlalu tinggi. Untuk
mengatasinya kita dapat menggunakan teknik analisis untuk menyesuaikan LIFO
agar mendekati situasi proforma dengan mengasumsikan FIFO. Penyesuaian
neraca ini dimungkinksn jika perusahaan mengungkapkan selisih lebih biaya kini
atas persediaan yang dihitung dengan LIFO, atau cadangan LIFO. Diperlukan tiga
penyesuaian berikut:

7
a) Persediaan = Persediaan yang dilaporkan berdasarkan LIFO + Cadangan
LIFO.
b) Pertambahan kewajiban pajak tangguhan sebesar: (Cadangan LIFO x (1-
Tarif pajak))
c) Saldo laba = saldo laba yang dilaporkan + (cadangan LIFO x (1-tarif
pajak))

3. Penyajian kembali analitis dari FIFO ke LIFO

penyesuaian dari FIFO ke LIFO Mencakup asumsi penting, sehingga


kemungkinan akan rentan terhadap kesalahan. Laba LIFO mencakup laba
kepemilikan atas persediaan awal.

4. Menetapkan Biaya Persediaan untuk Perusahaan Manufaktur dan


Dampak Peningkatan Produksi

Biaya manufaktur terdiri atas tiga komponen :

a) Bahan baku atau bahan mentah : biaya dari bahan dasar yang digunakan
untuk membuat produk.
b) Tenaga kerja : biaya tenaga langsng yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
produk jadi.
c) Overhead : biaya tidak langsung pada prises manufaktur.

Overhead sering kali merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling
sulit diukur untuk tingkat produksi. Total overhead harus dialokasikan pada
seluruh hasil produksi. Analisi biaya ini harus waspada bahwa alokasi biaya
overhead bukan merupakan ilmu pasti dan sangat tergantung pada asumsi yang
digunakan. Jika peningkatan pada tingkat produksi menyebabkan persediaan akhir
meningkat, lebih banyak biaya overhead yang tinggal dineraca dan profitabilitas
meningkat. Kemudian saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba rugi tidak
hanya terbebani biaya overhead periode berjalan tetapi juga biaya overhead
perode sebelumnya yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanaya laba
menjadi turun. Oleh karena itu analisi harus waspada terhadap dampak perubahan
tingkat prduksi terhadap laba yang dilaporkan

5. Lower of Cost Or Market

GAAP Dari penilaian persediaan adalah menyajikan sebesar Nilai yang lebih
rendah antara biaya perolehan atau nilai pasar. Pasar (market) dijabarkan sebagai
biaya penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun begitu,
nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai
realisasi bersih setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai
pasar, atau nilai realisasi bersih, mencerminkan biaya oenyelesaian dan
penyerahan yang terkait dengan penjualan barang. Batas bawah memastikan

8
bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya perolehan awal menjadi nilai
pasar, maka angka penurunan yang terjadi telah mencakup realisasi laba kotor
normal atas penjualan ayng akan dilakukan.

Sedangkan Biaya (cost) yang dimaksud merupakan biaya perolehan


persediaan. Biaya ini dihitung dengan salah satu dari metode biaya persediaan.
Misalnya, FIFO, LIFO, atau Biaya Rata-rata. A

PENGANTAR ASET JANGKA PANJANG

Aset jangka panjang metupakan aset yuang digunakan untuk menghasilkan


penghasilan operasi atau mengurangi biaya operasi untuk lebih dari satu periode.
Asset jangka panjang yang paling umum adalah asset tetap berwujudseperti
bangunan, pabrik dan peralatan. Aset jangka panjang juga mencakup aset tak
berwujud seperti hak paten, merk dagang, copyright, dan goodwill.

1. Akuntansi Aset Jangka Panjang

1.1 Kapitalisasi, Alokasi, dan Penurunan Nilai

Proses akuntansi aset jangka panjang mencakup tiga aktivitas terpisah,


diantaranya

1. Kapitalisasi (capitalization)
merupakan proses penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan,
tetapi manfaatnya diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode
di masa depan. Kapitalisasi ini yang menciptakan akun asset.
2. Alokasi (allocation)
merupakan proses pembebanan biaya tangguhan (aset) secara periodic
sepanjang satu atau lebih periode amnfaat yang diharapkan. Proses alokasi
ini dinamakna penyusutan untuk asset berwujud, amortisasi untuk asset tak
berwujud, dan deplesi untuk sumber daya alam.
3. Penurunan nilai (impairment)
merupakan proses penurunan nilai buku asset saat arus kas yang
diharapkan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya tersisa yan masih
tercatat pada neraca.

1.2 Kapitalisasi

Aset jangka panjang diciptakan melalui proses kapitalisasi. Kapitalisasi


berarti menempatkan aset di neraca, bukan membebankan biayanya dilaporan laba
rugi. Untuk aset berwujud (hard asset) seperti Plant Property and Equiptment
(PPE), aset dicatat sesuai nilai perolehan. Sedangkan untuk aset tak berwujud
(soft asset) seperti litbang, iklan, biaya upah, kapitalisasi lebih bermasalah. Semua

9
aset ini tidak menghasilkan keuntugan di masa depan, meskipun dapat ditempakan
sebagai aset. Konsekuensinya, biaya aset tidak berwujud segera dibiayakan dan
tidak dicatat pada neraca.

1.3 Alokasi

Alokasi merupakan pembebanan biaya aset secara periodik sepanjang


periode manfaat yang diharapkan. Alokasi biaya disebut penyusutan
(depreciation) jika terkait dengan aset tetap, amortisasi (amortization) jika
digunakan untuk aset tak berwujud, dan deplesi (depletion) untuk sumber daya
alam, ketiga istilah tersebut mengacu pada alokasi. Alokasi biaya meruoakan
proses untuk mengaitkan biaya aset dengan manfaatnya dan bukan merupakan
proses valuasi. Nilai tercatat aset (niali kapitalisasi dikurangi alokasi biaya
kumulatif) tidak perlu mencerminkan nilai wajar. Tiga faktor yang menentukan
nilai alokasi biaya, yaitu periode manfaat, nilai sisa, dan metode alokasi.
Namun tiap-tiap faktor tersebut memerlukan estimasi yang mencakup kebijakan
manajemen. Analis harus mempertimbangkan dampak dari estimasi ini terhadap
laporan keuangan.

1.4 Penurunan Nilai (Impairment)

Jika arus kas yang diharapkan (tidak didiskonto) lebih kecil disbanding dengan
nilai tercatat aset (biaya dikurangi akumulasi penyusutan), aset perlu diturunkan
nilainya dan dinyatakan sebesar nilai pasar wajar (jumlah diskonto taksiran arus
kas). Dampaknya adalah untuk mengurangi nilai tercatat aset pada neraca dan
mengurangi profitabilitas sebesar jumlah yang sama.

Ada dua distorsi terkait dengan penurunan aset, yaitu.

1. Bias konservatif mendistorsi valuasi aset jangka panjang karena nilai aset
dapat diturunkan namun tidak dapat dinaikkan
2. Dampak peralihan yang besar dari pengakuan penurunan nilai asset yang
mendistorsi laba neto.

KAPITALISASI VERSUS PEMBEBANAN: DAMPAK LAPORAN


KEUANGAN DAN RASIO
Kapitalisasi memengaruhi laporan keuangan dan rasionya, serta
berpengaruh terhadap superioritas laba atas arus kas sebagai pengukuran kinerja
keuangan.

1. Dampak Kapitalisasi terhadap Laba


Kapitalisasi memiliki dua dampak terhadap laba:
1. Kapitalisasi menunda pengakuan beban dalam laporan laba rugi

10
Artinya, kapitalisasi menyebabkan laba yang lebih tinggi pada periode
akuisisi, tetapi menghasilkan laba yang lebih rendah untuk periode
berikutnya jika dibandingkan dengan pembebanan biaya.
2. Kapitalisasi menyebabkan serangkaian laba yang merata.
2. Dampak Kapitalisasi terhadap Imbal Hasil Investasi
Kapitalisasi menurunkan volatilitas pengukuran laba dan rasio imbal hasil
investasi. Kapitalisasi memengaruhi pembilang (laba) dan penyebut (dasar
investasi) dari rasio imbal hasil atas investasi. Sebaliknya, pembebanan biaya
asset menyebabkan dasar investasi yang lebih rendah dan meningkatkan
volatilitas laba. Naiknya volatilitas pada pembilang (laba) diperbesar dengan
semakin kecilnya penyebut (dasar investasi), menyebabkan rasio imbal hasil lebih
mudah berubah dan kurang berguna. Pembebanan juga menimbulkan bias dalam
pengukuran laba, karena laba dinyatakan terlalu rendah pada tahun akuisisi dan
dinyatakan terlalu tinggi pada tahun-tahun berikutnya.
3. Dampak Kapitalisasi terhadap Rasio Solvabilitas
Dalam pembebanan biaya asset secara langsung, rasio solvabilitas, seperti
rasio utang terhadap ekuitas, mencerminkan kondisi perusahaan yang lebih buruk
dari kondisi yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena dalam pembebanan biaya
langsung, ekuitas dinyatakan terlalu rendah untuk perusahaan yang memiliki asset
produktif.
4. Dampak Kapitalisasi terhadap Arus Kas Operasi
Ketika biaya asset dibebankan langsung, biaya tersebut dilaporkan sebagai
arus kas keluar. Sebaliknya, ketika biaya dikapitalisasi, biaya akan dilaporkan
sebagai arus keluar investasi, hal ini berarti bahwa pembebanan biaya asset secara
langsung menyatakan arus kas keluar operasi terlalu tinggi dan arus kas keluar
investasi terlalu rendah pada tahun akuisisi dibandingkan dengan kapitalisasi
biaya.

ASET TETAP DAN SUMBER DAYA ALAM


Aset tetap merupakan asset berwujud tidak lancar yang digunakan dalam
berbagai proses manufaktur, penjualan atau jasa untuk menghasilkan pendapatan
dan arus kas selama lebih dari satu periode.
Menilai asset tetap dan sumber daya alam
1. Menilai property, pabrik, dan peralatan
Prinsip biaya historis digunakan saat menilai property, pabrik, dan
peralatan. Penilaian biaya historis menunjukkan bahwa perusahaan awalnya
mencatat asset sebesar harga belinya.
Menilai Sumber Daya Alam
Sumber daya alam juga disebut dengan asset yang dihabiskan. Sumber
daya ini merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam.
Contohnya adalah hak pembelian atas mineral, kayu, gas alam dan minyak.

11
Perusahaan biasanya mengalokasikan biaya sumber daya alam pada total unit
perkiraan cadangan yang tersedia. Proses alokasi ini disebut deplesi.

1. Penyusutan
Prinsip dasar dalam penentuan laba adalah bahwa pengahasilan yang
memperoleh manfaat dari penggunaan asset jangka panjang harus menanggung
bagian proporsional dari biaya asset tersebut. Penyusutan merupakan alokasi
biaya pabrik dan peralatan (tanah tidak disusutkan) selama masa manfaatnya.
Tingkat Penyusutan
Tingkat penyusutan bergantung pada dua faktor:
1. Masa Manfaat
Masa manfaat asset sangat beragam, asumsi terkait masa manfaat asset
didasarkan pada kondisi ekonomi, pemahaman teknis, pengalaman, dan
informasi mengenai fisik dan sifat produktif asset.
2. Metode alokasi
Setelah masa manfaat asset ditentukan, beban penyusutan periodic
bergantung pada metode alokasi. Penyusutan yang bervariasi sangat
tergantung pada metode yang dipilih. Ada dua jenis metode penyusutan
yang paling umum dilakukan:
 Garis Lurus
Metode penyusutan garis lurus mengalokasikan biaya asset selama
masa manfaatnya berdasarkan beban periodic yang sama.
 Dipercepat
Metode penyusutan dipercepat mengalokasikan biaya asset selama
masa manfaatnya dengan cara menurun.
 Khusus
Metode penyusutan khusus dijumpai pada industry tertentu seperti
alat berat. Metode ini mengaitkan beban penyusutan dengan
aktivitas atau intensitas penggunaan asset.
2. Deplesi
Deplesi merupakan alokasi biaya sumber daya alam berdasarkan tingkat
pengolahan atau produksi. Perbedaan antara penyusutan dan deplesi adalah bahwa
penyusutan biasanya merupakan alokasi biaya asset produktif sepanjang waktu,
sedangkan deplesi merupakan alokasi biaya berdasarkan unit yang dieksploitasi
dari sumber daya alam seperti batu bara, minyak, mineral atau kayu.
3. Penurunan Nilai
Aturan akuntansi mencerminkan nilai kini asset pada laporan posisi
keuangan atas dasar konsevatif. Artinya ketika nilai wajar, asset lebih kecil di
bawah nilai tercatat yang disusutkan pada laporan posisi keuangan, nilai tercatat
pada laporan posisi keuangan tersebut diturunkan pada nilai wajarnya. Penurunan
atau penghapusan atas nilai asset jangka panjang disebut dengan penurunan nilai.

12
MENGANALISIS ASET TETAP DAN SUMBER DAYA ALAM
Penilaian asset tetap dan sumber daya alam menekankan objektivitas biaya
historis. Sayangnya, biaya historis tidak relevan untuk menetapkan nilai
penggantian atau dalam menentukan kebutuhan asset operasi di masa mendatang.
Biaya historis juga tidak dapat dibandingkan dengan laporan perusahan yang
berbeda dan tidak berguna untuk mengukur biaya peluang atas pelepasan atau
dalam penilaian alternatif penggunaan dana. Lebih lanjut, pada waktu perubahan
tingkat harga, biaya historis mencerminkan gabungan pengeluaran yang
menunjukkan daya beli yang berbeda.
Kenaikan nilai asset tetap menjadi nilai pasar merupakan tindakan yang
tidak diterima dalam akuntansi. Namun, konservatisme mengizinkan penurunan
nilai jika penurunan nilai terjadi secara permanen. Penurunan nilai menghilangkan
periode masa depan dari beban yang terkait dengan aktivitas operasi.
1. Menganalisis Penyusutan dan Deplesi
Kebanyakan perusahaan menggunakan asset produktif jangka panjang
dalam aktivitas operasinya, dan dalam hal ini, penyusutan biasanya menjadi
beban utama. Para manajer mengambil keputusan yang melibatkan dasar
penyusutan, masa manfaat, dan metode alokasi. Keputusan ini dapat
menyebabkan beban penyusutan yang sangat berbeda. Analisis harus mencakup
informasi mengenai faktor-faktor ini agar dapat secara efektif menilai laba dan
untuk menganalisis perbandingan laba perusahaan.
Biasanya tidak ada pengungkapan mengenai hubungan antara tingkat
penyusutan dan ukuran kelompok asset, maupun antara tingkat yang digunakan
dan metode alokasi. Meskipun penggunaan metode garis lurus memungkinkan
untuk memperkirakan penyusutan masa depan, metode dipercepat membuat
perkiraan ini kurang andal jika tidak memperoleh informasi tambahan yang sering
kali tidak diungkapkan.
Tantangan lain untuk analisis timbul dari perbedaan dalam metode alokasi
yang digunakan untuk pelaporan keuangan dan tujuan pajak. Ada tiga
kemungkinan yang umum adalah sebagai berikut:
 Penggunaan garis lurus untuk pelaporan keuangan dan tujuan
pajak.
 Penggunaan garis lurus untuk pelaporan keuangan dan metode
dipercepat untuk pajak.
 Penggunaan metode dipercepat untuk pelaporan keuangan dan
pajak. Hal ini menyebabkan penyusutan yang lebih tinggi pada
tahun-tahun awal, yang dapat diperpanjang selama beberapa tahun
dengan memperluas perusahaan.
Dalam menganalisis penyusutan memerlukan evaluasi kecukupan. Untuk
tujuan ini, kita dapat menggunakan pengukuran seperti rasio penyusutan terhadap
total asset atau rasio penyusutan terhadap faktor yang terkait ukuran lainnya.
Selain itu, terdapat beberapa pengukuran seperti rasio penyusutan terhadap faktor

13
yang terkait ukuran lainnya. Selain itu, terdapat beberapa pengukuran yang
berkaitan dengan umur asset tetap yang berguna untuk membandingkan kebijakan
penyusutan sepanjang waktu dan antar perusahaan, termasuk pengukuran ini:

asset tetap bruto


𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐫𝐚𝐭𝐚 − 𝐫𝐚𝐭𝐚 𝐫𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 = beban penyusutan tahun berjalan
Akumulasi penyusutan
𝐔𝐦𝐮𝐫 𝐫𝐚𝐭𝐚 − 𝐫𝐚𝐭𝐚 =
beban penyusutan tahun berjalan
Aset tetap neto
𝐒𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐦𝐮𝐫 𝐫𝐚𝐭𝐚 − 𝐫𝐚𝐭𝐚 =
beban penyusutan tahun berjalan

2. Menganalisis Penurunan Nilai


Ada tiga masalah analisis yang timbul karena penurunan nilai yaitu:
1. mengevaluasi kesesuaian jumlah penuruna nilai
2. Mengevaluasi kesesuaian waktu penurunan nilai
3. Serta menganalisis dampak penurunan nilai pada laba

3. Aset tak Berwujud


Aset tak berwujud merupakan hak, keistimewaan dan manfaat dari
kepemilikan atau pengendalian. Dua karakteristik umum asset tak berwujud
adalah:
1. Ketidakpasatian yang tinggi atas manfaat masa depan
2. Tidak adanya keberadaan fisik.
Aset tak berwujud sering kali:
1. Tidak dapat dipisahkan dari perusahaan atau segmennya.
2. Memiliki periode manfaat yang tidak terbatas
3. Mengalami perubahan penilaian yang besar berdasarkan kondisi yang
kompetitif.
Beberapa kategori asset tak berwujud:
1. Goodwill
2. Paten, hak cipta, nama dagang, dan merek dagang.
3. Sewa, leaseholds, dan perbaikan gedung yang disewa.
4. Hak eksplorasi dan biaya pengembangan sumber daya alam
5. Formula, proses, teknologi, dan desain khusus.
6. Lisensi, waralaba, keanggotaan dan daftar pelanggan.

AKUNTANSI ASET TAKBERWUJUD

1. Aset Tak berwujud yang dapat diidentifikasi


Aset takberwujud yang dapat diidentifikasi merupakan asset tak berwujud
yang dapat diidentifikasi secara terpisah dan dikaitkan dengan hak atau
keistimewaan tertentu yang memiliki periode manfaat yang terbatas. Aset tak

14
berwujud yang termasuk ke dalam jenis ini antara lain paten, merek dagang, hak
cipta, dan waralaba. Perusahaan mencatatnya sebesar biaya perolehan dan
mengamortisasinya selama periode manfaatnya. Penghapusan untuk
membebankan keseluruhan biaya asset tak berwujud yang dapat diidentifikasi
pada saat akuisisi tidak diperbolehkan.
2. Amortisasi asset takberwujud
Ketika biaya dikapitalisasi untuk asset berwujud dan asset tak berwujud
yang dapat diidentifikasi, biaya tersebut selanjutnya harus diamortisasi selama
periode manfaat asset. Lamanya periode manfaat bergantung pada jenis asset tak
berwujud, kondisi permintaan, kondisi kompetitif dan keterbatasan hokum,
kontraktual, peraturan atau ekonomi lainnya.

ASET TAK BERWUJUD DAN KONTINJENSI YANG TIDAK


TERCATAT
Pembahasan asset tidak lengkap tanpa menangani asset tak berwujud dan
kontijensi yang tidak tercatat pada laporan posisi keuangan. Salah satu asset
penting dalam kategori ini adalah goodwill yang dihasilkan secara internal. Dalam
praktiknya, pengeluaran untuk menciptakan goodwill dibebankan pada saat
terjadinya. Ketika goodwill telah diciptakan dan dapat dijual atau menghasilkan
laba superior, laba perusahaan saat ini disajikan lebiih rendah karena adanya
beban yang terkait dengan pengembangan goodwill. Sama dengan halnya, asetnya
akan gagal untuk mencerminkan kemampuan untuk menghasilkan laba di masa
depan ini. Analisis kita harus mengakui kasus ini dan menyesuaikan asset dengan
labanya.

REVALUASI ASET MENURUT IFRS


Di Amerika Serikat, asset operasi- asset berwujud dan tak berwujud
dilaporkan pada laporan posisi keuangan sebesar nilai terendah dari biaya
perolehan atau nilai pasar. Biasanya, asset dilaporkan sebesar biaya historisnya
dikurangi akumulasi penyusutan. Namun, semua asset secara berkala akan diuji
penurunan nilainya dan diturunkan ke nilai wajarnya jika terjadi penurunan nilai.
US GAAP tidak mengizinkan nilai asset dinaikkan dalam kondisi apapun.
IFRS memiliki perlakuan yang sangat berbeda dengan konservatisme yang
sudah lama ini. Menurut IFRS, perusahaan dapat memilih untuk melaporkan
kelompok asset operasi-berwujud atau takberwujud dengan menggunakan model
revaluasi.
Model revaluasi, memungkinkan perusahaan untuk menilai kembali asset
secara periodic dan melaporkannya pada nilai wajar, bahkan jika jumlah yang
dinilai kembali lebih tinggi dari nilai asset yang disusutkan.

15
1. Perlakuan Akuntansi
IFRS mengizinkan asset untuk dinaikkan nilainya dalam dua kondisi
terpisah:
a. Perusahaan diizinkan untuk menilai kembali asetnya di atas biaya historis
yang disusutkan melalui surplus revaluasi.
b. Perusahaan diizinkan untuk membalik penurunan nilai sebelumnya selama
nilai yang dinaikkan melebihi biaya historis yang disusutkan.
2. Pembalikan Penurunan Nilai Sebelumya
Dalam IFRS (IAS 26), penurunan nilai sebelumnya dapat dibalik-untuk
asset berwujud maupun tidak berwujud jika nilai asset yang diturunkan berikutnya
mengalami kenaikan. Pembalikan ini dapat terjadi karena beberapa alasan:
a. Pasar dapat membalik penurunan sebelumnya dalam nilai asset.
b. Kondisi bisnis yang memburuk mengalami penurunan nilai penggunaan
asset dapat membaik dikemudian hari.
c. Perusahaan mungkin menemukan penggunaan alternatif asset sehingga
menaikkan nilai penggunannya.
Pembalikan penurunan nilai asset akan memiliki dampak berikut pada lap
keuangan:
a. Aset dengan pembalikan penurunan nilai akan dimasukkan pada laporan
posisi keuangan sebesar nilai yang dinaikkan.
b. Pembalikan tsb akan menghasilkan keuntungan yang akan dimasukkan
dalam laba neto periode bersangkutan sehingga dimasukkan dalam saldo
laba.
c. Penyusutan periode mendatang akan ditentukan sebagai proporsi nilai
asset yang dinaikkan sehingga nilainya akan lebih besar daripada sebelum
dibalikkan.
3. Model Revaluasi
IFRS (IAS 16) mengizinkan perusahaan untuk menaikkan nilai tercatat
asset jangka panjang, bahkan ketika nilainya di atas biaya historis yang
disusutkan. Untuk hal ini, perusahaan harus menggunakan model revaluasi untuk
seluruh kelompok asset yang termasuk dalam asset tertentu.
4. Implikasi analisis
Revaluasi asset- ke atas atau ke bawah dapat memiliki dampak signifikan
pada laporan keuangan.
Analis perlu mengetahui bahwa penilaian asset saat memeriksa perusahaan
yang meggunakan IFRS. Berikut ini masalah yang harus dipertimbangkan saat
menganalisis revaluasi asset:
 Jika dikaitkan untuk alasan yang sah, revaluasi asset sebenarnya dapat
memperbaiki angka laporan posisi keuangan.
 Angka laba umumnya terpengaruh negatif oleh besarnya jumlah
sementaara yang muncul melalui revaluasi asset, baik ke atas dan ke
bawah.

16
 Revaluasi sering kali dilakukan berdasarkan kebijaksanaan manajemen.
 Perbandingan antar waktu dapat dipengaruhi oleh revalusi asset.

Terakhir, analis harus menguji semua revaluasi ke atas dengan sikap skeptic.

17