Anda di halaman 1dari 38

A. Mari membaca materi utama dan diskusi!

1. Bacalah materi utama pada Kegiatan Belajar 3 dan tuliskan hal-hal yang sulit
dipahami pada tabel di bawah!
2. Diskusikanlah hal-hal yang sulit dipahami tersebut bersama rekan guru di sekolah
dan tulislah hasilnya pada tabel di bawah ini!
Materi yang Hasil diskusi
sulit dipahami
Pembelajaran - Koneksi matematika terjadi antara matematika dengan
matematika matematika itu sendiri atau antara matematika dengan
dengan di luar matematika dan antara matematika dengan
penggunaan kehidupan sehari-hari.
hubungan- - Dengan kemampuan koneksi matematika, selain
hubungan memahami manfaat matematika, siswa mampu
(koneksi) memandang bahwa topik-topik matematika saling
berkaitan.
- Menuliskan masalah kehidupan sehari-hari dalam
bentuk model matematika. Pada aspek ini, diharapkan
siswa mampu mengkoneksikan antara masalah pada
kehidupan sehari-hari dan matematika.
- Menuliskan konsep matematika yang mendasari
jawaban. Pada aspek ini, diharapkan siswa mampu
menuliskan konsep matematika yang mendasari
jawaban guna memahami keterkaitan antar konsep
matematika yang akan digunakan.
- Menuliskan hubungan antar obyek dan konsep
matematika. Pada aspek ini, diharapkan siswa mampu
menuliskan hubungan antar konsep matematika yang
digunakan dalam menjawab soal yang diberikan
Salah satu - Hard skills adalah penguasaan ilmu pengetahuan,
pembelajaran teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan
IPA adalah dengan bidang ilmunya
peningkatan - Soft skills adalah hal yang bersifat halus yang meliputi
keseimbangan, keterampilan fsikologis, emosional dan spritual. Soft
kesinambungan skills mencakup penegertian non-teknis,kemampuan
antara hard yang dapat melengkapi kemampuan akademik dan
skills dan soft kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap orang
skills
Ciri pendekatan - Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses
kontekstulal mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep
adalah relevan yang terdapat dalam struktur kognitif
meaningfull seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-
learning. konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah
Penerapan dipelajari dan diingat siswa.
meaningfull - materi yang akan dipelajari harus bermakna secara
learning dalam potensial
pembelajaran. - anak yang akan belajar harus bertujuan belajar
bermakna
- Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama
dapat diingat.
- Informasi yang dipelajari secara bermakna
memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi
pelajaran yang mirip.
- Informasi yang dipelajari secara bermakna
mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun
telah terjadi lupa.
-

3. Tulislah materi-materi yang penting untuk dipelajari pada materi utama!


Materi-materi Deskripsi Materi
penting
Kekhasan Bidang - Bahasa Indonesia merupakan sarana untuk
Studi Bahasa mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam diri
Indonesia seseorang, baik berbentuk perasaan, pikiran,
gagasan, dan keinginan yang dimilikinya (sebagai
alat ekspresi diri) serta untuk menyatakan dan
memperkenalkan keberadaan diri seseorang kepada
orang lain dalam berbagai tempat dan situasi.
- Hakikat mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain:
Sarana Berpikir, Sarana perekat bangsa, penghela
ilmu pengetahuan, penghalus budi
- Kegiatan bahasa Indoesia melipurti kegiatan
produkti (berbicara, menulis) dan kegiatan reseptif
(membaca dan menyimak)
- Prinsip pembelajaran bahasa berbasis teks terdiri
dari:
(1) bahasa dipandang sebagai teks, bukan semata-
mata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah
kebahasaan,
(2) penggunaan bahasa merupakan proses
pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk
mengungkapkan makna,
(3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan
bahasa yang yang tidak pernah dapat
dilepaskan dari konteks karena dalam bentuk
bahasa yang digunakan itu tercermin ide,
sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan
(4) bahasa merupakan sarana pembentukan
kemampuan berpikir manusia.
- Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum
2013 menerapkan pendekatan berbasis teks
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Membangun konteks->pemodelan->menyusun teks
secara bersama-> menyusun teks secara mandiri
Kekhasan Bidang - Matematika sebagai ilmu memiliki beberapa
Studi Matematika karakteristik sebagai ciri khasnya antara lain:
Memiliki objek kajian yang abstrak, Bertumpu pada
kesepakatan, Berpola pikir deduktif , Konsisten
dalam sistemnya, Memperhatikan semesta
pembicaraan.
- Berdasarkan karakteristik dan tujuan di atas,
pembelajaran Matematika sekolah dasar hendaknya
dirancang sebagai berikut:
a. Pembelajaran matematika menggunakan
metode spiral
b. Pembelajaran matematika dilakukan secara
bertahap
c. Pembelajaran matematika menggunakan
metode induktif
d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran
konsistensi
e. Pembelajaran matematika hendaknya
bermakna
f. Pembelajaran matematika menerapkan
pendekatan matematika realistic
g. Pembelajaran matematika menerapkan metode
penemuan terbimbing
h. Pembelajaran matematika berbasis masalah
i. Pembelajaran matematika menerapkan
pendekatan kontekstual
Kekhasan Bidang - ruang lingkup bahan kajian IPA untuk Sekolah
Studi Ilmu Dasar meliputi aspek-aspek berikut:
Pengetahuan a) Makhluk hidup dan proses kehidupannya, yaitu
Alam manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya
dengan lingkungan, serta kesehatan.
b) Benda/materi, sifat-sifat kegunaannya meliputi:
benda cair, padat dan gas.
c) Energi dan perubahannya meliputi : gaya ,bunyi,
panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat
sederhana.
d) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah ,bumi,
tata surya, dan benda-benda langit lainnya.
- Menurut BNSP (2006: 484) mata pelajaran IPA
bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai
berikut:
a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran
Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan
keberadaban, keindahan dan keteraturan alam
ciptaan-Nya.
b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif
dan kesadaran adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilan proses untuk
menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah
dan membuat keputusan.
e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta
dalam memelihara, menjaga dan melestarikan
lingkungan alam.
f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai
alam dan segala keteraturannya sebagai salah
satu ciptaan Tuhan.
g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan
keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.
- PRINSIP PEMBELAJARAN IPA DI SD
 Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu
 Peserta didik belajar dari berbagai sumber
belajar
 Proses pembelajaran menggunakan pendekatan
ilmiah
 Pembelajaran berbasis kompetensi
 Pembelajaran terpadu
 Pembelajaran yang menekankan pada jawaban
divergen yang memiliki kebenaran multi
dimensi
 Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif
 Peningkatan keseimbangan, kesinambungan,
dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills
 Pembelajaran yang mengutamakan
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
sebagai pembelajar sepanjang hayat
 Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai
dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung
tulodo), membangun kemauan (ing madyo
mangun karso), dan mengembangkan
kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani)
 Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di
sekolah, dan di masyarakat
 Pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran m. Pengakuan atas
perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik n. Suasana belajar menyenangkan
dan menantang
Kekhasan Bidang - Ruang lingkup IPS terdiri atas pengetahuan,
Studi Ilmu ketrampilan, nilai dan sikap yang dikembangkan dari
Pendidikan Sosial masyarakat dan disiplin ilmu sosial.
- Pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di
sekitarnya, bangsa, dan umat manusia dalam
berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya.
Ruang lingkup materi IPS SD terdiri dari kehidupan
manusia dalam: 1) Tempat dan Lingkungan 2)
Waktu Perubahan dan Keberlanjutan 3) Organisasi
dan Sistem Sosial 4) Organisasi dan Nilai Budaya 5)
Kehidupan dan Sistem Ekonomi 6) Komunikasi dan
Teknologi
- Keterampilan: berpikir logis dan kritis, membaca,
belajar (learning skills, inquiry), memecahkan
masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam
kehidupan bermasyarakat-berbangsa
- Nilai: nilai-nilai kejujuran, kerja keras, sosial,
budaya, kebangsaan, cinta damai, dan kemanusiaan
serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai
tersebut
- Sikap: rasa ingin tahu, mandiri, menghargai prestasi,
kompetitif, kreatif dan inovatif, dan
bertanggungjawab
-
Kekhasan Bidang - Ruang lingkup mata pelajaran PPKn terdiri atas:
Studi Pendidikan - Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup
Pancasila dan bangsa diperankan dan dimaknai sebagai identitas
Kewarganegaraan inti yang menjadi sumber rujukan dan kriteria
keberhasilan pencapaian tingkat kompetensi dan
pengorganisasian dari keseluruhan ruang lingkup
mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan;
- Substansi dan jiwa Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, nilai dan semangat
Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara
Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan sebagai
bagian integral dari Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan, yang menjadi wahana psikologis-
pedagogis pembangunan warganegara Indonesia
yang berkarakter Pancasila.
- Secara umum tujuan mata pelajaran PPKn pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah
mengembangkan potensi siswa dalam seluruh
dimensi kewarganegaraan, yakni: (1) sikap
kewarganegaraan termasuk keteguhan, komitmen
dan tanggung jawab kewarganegaraan (civic
confidence, civic committment, and civic
responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan;
(3) keterampilan kewarganegaraan termasuk
kecakapan dan partisipasi kewarganegaraan (civic
competence and civic responsibility).
- Secara khusus Tujuan PPKn yang berisikan
keseluruhan dimensi tersebut sehingga siswa
mampu:
- menampilkan karakter yang mencerminkan
penghayatan, pemahaman, dan pengamalan nilai dan
moral Pancasila secara personal dan sosial
- memiliki komitmen konstitusional yang ditopang
oleh sikap positif dan pemahaman utuh tentang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945
- berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif serta
memiliki semangat kebangsaan serta cinta tanah air
yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, Undang
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan
komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia
- berpartisipasi secara aktif, cerdas, dan bertanggung
jawab sebagai anggota masyarakat, tunas bangsa,
dan warga negara sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa yang hidup bersama dalam berbagai
tatanan sosial budaya.
Kekhasan Bidang - Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Studi Pendidikan (PJOK) pada hakikatnya adalah proses pendidikan
Jasmani Olahraga yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk
dan Kesehatan menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas
individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional.
- Ruang Lingkup Mata pelajaran PJOK : Pola gerak
dasar, Aktivitas permainan bola besar dan bola kecil,
Aktivitas kebugaran, Aktivitas senam dan gerak
ritmik, Aktivitas air, Kesehatan.
- Tujuan mata pelajaran PJOK sesuai dengan
ruanglingkup di atas adalah sebagai berikut:
a) Mengembangkan kesadaran tentang arti penting
aktivitas fisik untuk mencapai pertubuhan dan
perkembangan tubuh serta gaya hidup aktif
sepanjang hayat.
b) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri
dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan
kebugaran jasmani, mengelola kesehatan dan
kesejahteraan dengan benar serta pola hidup
sehat.
c) Mengembangkan keterampilan gerak dasar,
motorik, keterampilan, konsep/ pengetahuan,
prinsip, strategi dan taktik permainan dan
olahraga serta konsep gerakan.
d) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat
melalui internalisasi nilai-nilai percaya diri,
sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab,
kerjasama, pegendalian diri, kepemimpinan, dan
demokratis dalam melakukan aktivisas fisik.
e) Meletakkan dasar kompetitif diri (self
competitive) yang sportif, percaya diri,disiplin,
dan jujur.
f) Menciptakan iklim sekolah yang lebih positif g.
Mengembangkan muatan lokal yang berkembang
di masyarakat
g) Menciptakan suasana yang rekretif, berisi
tantangan, ekspresi diri
h) Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
untuk aktif dan sehat sepanjang hayat, dan
meningkatkan kebugaran pribadi.
- Pendekatan Pembelajaran dan Implementasinya
di SD
Pendekatan pembelajaran adalah cara pandang guru
terhadap proses pembelajaran yang dilatarbelakangi
dengan landasan konsep tertentu dan dihasilkan dari
kajian teoretik. Ada tiga pasangan pendekatan yang
berbeda, yaitu
1. pendekatan yang berpusat pada siswa versus
berpusat pada guru
2. pendekatan proses versus pendekatan konsep,
pendekatan induktif versus pendekatan
deduktif.
- Dalam menentukan strategi pembelajaran perlu
memperhatikan prinsip perumusan strategi
yaitu:
a) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi hasil (out put) pembelajaran yang
harus dicapai siswa.
b) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-
langkah yang akan ditempuh sejak titik awal
sampai akhir sehingga tercapai sasaran.
c) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur
atau kriteria keberhasilan dari proses
pembelajaran.
- Pendekatan Deduktif
• Guru menanyakan definisi ini dan itu dan guru
“bersemangat” untuk menjelaskan di depan kelas
• Guru menanyakan definisi ini dan itu dan guru
“bersemangat” untuk menjelaskan di depan kelas
- Prinsip perumusan strategi dalam pendekatan
deduktif:
a) Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan
kualifikasi hasil (out put) pembelajaran yang
harus dicapai siswa.
b) Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-
langkah yang akan ditempuh sejak titik awal
sampai akhir sehingga tercapai sasaran.
c) Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur
atau kriteria keberhasilan dari proses
pembelajaran.
- Pendekatan belajar dengan cara deduktif tidak
dianjurkan, karena tidak sesuai dengan prinsip
pada standar proses pembelajaran
- Setelah strategi pembelajaran ditetapkan, selanjutnya
guru menetapkan sejumlah metode yang relevan
untuk memenuhi strategi pembelajaran. Perbedaan
antara strategi dan metode dapat dilihat dari
pendapat Sanjaya (2008). Strategi merupakan “a
plan of operation achieving something” sedangkan
metode adalah “a way in achieving something”.
Dengan demikian, metode pembelajaran diartikan
sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun
dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
- Hubungan antara pendekatan, strategi, metode, dan
teknik
a) Pendekatan Pembelajaran
(Berpusat Pada Guru atau Berpusat pada Siswa)
b) Strategi Pembelajaran
Exposition-Discovery Learning atau Group-
Individual Learning
c) Metode Pembelajaran
Ceramah, Diskusi, Demonstrasi, Simulasi, dsb)
d) Teknik dan Taktik Pembelajaran
(Spesifik, Invidual, Unik)
- Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
 Pendekatan pembelajaran saintifik adalah
pendekatan pembelajaran yang dirancang agar
siswa aktif mengkonstruksi konsep, prinsip
atau teori melalui tahapan-tahapan
mengamati, menanya, menalar,
mengumpulkan informasi/ mencoba,
menganalisis data dan menarik kesimpulan
(mengasosiasi) dan mengomunikasikan
konsep, prinsip atau teori yang ditemukan.
 Persepsi guru bahwa “ belajar adalah proses
aktif secara ilmiah yang dilakukan oleh
siswa”, sehingga guru berusaha untuk
mengaktifkan siswa melalui pembelajaran
dengan pendekatan ilmiah.
 Guru harus memikirkan bagaimana caranya
agar siswa aktif mencari tahu bukan diberi
tahu oleh guru atau disebut sebagai
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa (student center).
 Idealnya pembelajaran merupakan kegiatan
“meneliti” yang melibatkan dua pendekatan
tersebut (rasional dan empirik) yang pada
implementasinya melibatkan keterampilan
proses ilmiah, prosedur ilmiah dan aktivitas
berpikir ilmiah siswa.
- Karakteristik Pembelajaran Saintifik
a. Berpusat pada siswa.
b. Melibatkan keterampilan proses sains dalam
mengkonstruksi konsep, prinsip atau teori
(mengamati, menanya, menalar,
mengumpulkan informasi/ mencoba,
mengasosiasi dan mengomunikasikan)
c. Melibatkan proses-proses kognitif yang
potensial dalam merangsang perkembangan
intelektual, khususnya keterampilan berpikir
tingkat tinggi siswa.
d. Dapat mengembangkan karakter siswa (teliti,
rasa ingin tahu, kerja keras, pantang
menyerah, komunikatif, dll.)
- Tujuan Pendekatan Saintifik
a. Untuk meningkatkan kemampuan intelektual
siswa, khususnya kemampuan berpikir tingkat
tinggi.
b. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam
menyelesaikan suatu masalah secara sistematis.
c. Terciptanya kondisi pembelajaran yang
mendorong minat dan keinginan siswa bahwa
belajar merupakan kebutuhan.
d. Untuk melatih keterampilan proses ilmiah siswa
(mengamati, menanya, menalar, mengumpulkan
informasi/mencoba, mengasosiasi dan
mengomunikasikan).
e. Diperolehnya hasil belajar siswa yang tinggi
f. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan
ide-idenya.
g. Untuk mengembangkan karakter/ sikap ilmiah
siswa (teliti, rasa ingin tahu, kerja keras, pantang
menyerah, komunikatif, dll.)
- Prinsip Pendekatan Saintifik
a. Pembelajaran berpusat pada aktivitas siswa
dalam mengamati, menanya, menalar,
mengumpulkan informasi/ mencoba,
mengasosiasi dan mengomunikasikan.
b. Pembelajaran mengarah kepada penemuan dan
pengembangan pengetahuan oleh siswa dan
terhindar dari verbalisme (transfer pengetahuan).
c. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan
kemampuan berpikir siswa
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melatih kemampuan keterampilan proses ilmiah
(mengamati, menanya, menalar, mengumpulkan
informasi/ mencoba, mengasosiasi dan
mengomunikasikan).
e. Adanya proses validasi terhadap konsep, prinsip
atau teori yang dikonstruksi siswa baik melalui
penguatan oleh guru maupun siswa.
- Prosedur implementasi pendekatan saintifik
berdasarkan Permendikbud Nomor 22 tahun 2016
a. Kegiatan Mengamati
b. Kegiatan Menanya
c. Kegiatan Mengumpulkan Informasi/Mencoba
d. Kegiatan Menalar/Mengasosiasikan
e. Kegiatan Mengkomunikasikan
- Kelima kegiatan pokok (5M) di atas adalah aktivitas
minimal, guru dapat mengembangkannya sesuai
kebutuhan
- Pendekatan saintifik berbasis penelitian dapat
diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Jika guru
khususnya guru SD mengalami kesulitan untuk
menerapkan pendekatan saintifik berbasis penelitian
maka guru dapat memilih pendekatan saintifik
lainnya.
- Dalam pembelajaran pada tingkat sekolah dasar,
yang terpenting adalah :
- Bagaimana melatih dan membiasakan siswa agar
memiliki keterampilan proses ilmiah (mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi/ mencoba,
mengasosiasi dan mengomunikasikan), dan
- sikap ilmiah (teliti, terbuka, jujur, komunikatif,
pantang menyerah, kerja keras dan memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi) sehingga pada masa
mendatang,
- Siswa diharapkan memiliki keterampilan proses dan
sikap ilmiah yang diharapkan untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya.
- Prosedur penerapan pendekatan saintifik
dalam pembelajaran
a. Kenalilah kemampuan guru sendiri,
karakteristik siswa, kompetensi dasar, mata
pelajaran yang terkait dengan tema, materi ajar
dan bentuk pertanyaan siswa!
b. Pilihlah pendekatan saintifik yang akan
diterapkan dalam pembelajaran sesuai dengan
karakteristik di atas (pendekatan saintifik
berbasis penelitian atau pendekatan saintifik
dengan kegiatan 5M yang tidak terurut)!
c. Jika tidak memungkinkan untuk melaksanakan
pendekatan saintifik berbasis penelitian, maka
terapkanlah pendekatan saintifik dengan
kegiatan 5M yang tidak terurut!
d. Kembangkanlah kelima kegiatan pokok pada
pendekatan saintifik sesuai dengan karakteristik
di atas!
e. Kelima kegiatan pokok pada pendekatan
saintifik dilakukan oleh siswa, guru bertugas
sebagai fasilitator agar kegiatan 5M berjalan
dengan baik.
- Pembelajaran Berbasis Proyek
Proses pembelajaran seyogyanya dapat
menumbuhkan kreativitas, keterampilan/ sikap, dan
kemampuan bernalar siswa. Hal ini sesuai dengan
pernyataan pada Permendikbud Nomor 22 Tahun
2016 tentang Standar proses yang dinyatakan bahwa
proses pembelajaran pada satuan pendidikan
seyogyanya diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Pembelajaran ini mendorong siswa untuk berkarya
baik secara individu maupun secara kelompok.
Dengan demikian, dalam pembelajaran berbasis
proyek, siswa aktif menghasilkan karya bermakna
sebagai solusi masalah nyata di sekitar siswa dalam
kehidupan sehari-harinya.
- Pembelajaran berbasis proyek diawali dengan
masalah nyata di sekitar siswa untuk dipecahkan
melalui karya kreatif dan bermakna
- Karakteristik pembelajaran berbasis proyek
a. Adanya kerangka kerja
b. Adanya permasalahan atau tantangan yang
diajukan kepada siswa
c. Hasil belajar siswa berupa solusi atas
permasalahan atau tantangan yang diajukan
d. Adanya kolaborasi yang bertanggungjawab
untuk mengakses dan mengelola informasi
untuk memecahkan permasalahan
e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu
f. Proses refleksi dilakukan secara berkelanjutan
atas aktivitas yang sudah dijalankan
g. Produk akhir aktivitas belajar dievaluasi secara
kualitatif
h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap
kesalahan dan perubahan
- Pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan dengan
tujuan:
a. Mengembangkan kreativitas siswa
b. Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat
tinggi siswa
c. Mengembangkan sikap kerjasama, tanggung
jawab dan saling menghargai antarsiswa
d. Meningkatkan kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah
e. Mengembangkan keterampilan proses
(mengamati, menanya, menalar, mencoba dan
mengomunikasikan) dan sikap ilmiah siswa
(rasa ingin tahu, jujur, terbuka, disiplin)
- Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek:
a. Pembelajaran berpusat pada siswa yang
melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata
sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
siswa
b. Tugas/ proyek menekankan pada kegiatan
penyelidikan berdasarkan suatu tema atau topik
yang telah ditentukan dalam pembelajaran
c. Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara
otentik dan menghasilkan produk nyata.
d. Produk, laporan atau hasil karya tersebut
dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan
dan umpan balik untuk perbaikan proyek
berikutnya.
- Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning)
Penetuan proyek, perancangan langkah-langkah
penyelesaian proyek, penyusunan jadwal
pelaksanaan proyek, penyelesaian proyek dengan
fasilitas dan monitoring guru, penyusunan laporan
dan presentasi hasil proyek, evaluasi proyek.
- Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menerapkan pembelajaran berbasis proyek adalah
sebagai berikut:
a) Pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan
setiap berakhir satu tema pembelajaran dengan
rentang waktu paling lama satu minggu tentang
tema yang telah dipelajari sebelum masuk ke
tema berikutnya.
b) Pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan
tanpa mengganggu kegiatan pembelajaran pada
tema berikutnya.
c) Dalam menerapkan model pembelajaran berbasis
proyek hendaknya sesuai dengan tema dan
diawali dengan pengajuan masalah dari siswa
atau guru untuk dipecahkan oleh siswa melalui
pembelajaran berbasis proyek.
d) Topik proyek yang akan dipilih siswa dalam
pembelajaran berbasis proyek hendaknya
beragam (variatif) sehingga karya siswa yang
dihasikan juga beragam (variatif).
e) Karya yang dihasilkan oleh siswa melalui
pembelajaran berbasis proyek adalah karya
berbasis masalah yang bermakna sebagai
pemecahan masalah yang muncul sesuai topik
yang dipilih siswa.
f) Pembelajaran berbasis proyek memerlukan
banyak waktu dan peralatan yang harus
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan
yang kompleks. Untuk itu direkomendasikan
menggunakan team teaching dalam proses
pembelajaran.
g) Dalam pembelajaran berbasis proyek, kondisikan
suasana belajar supaya menyenangkan dan tidak
monoton.
- Model Pembelajaran Berbasis Proyek Menurut
Iriawan (2014)
1. Penentuan pertanyaan/ masalah mendasar
2. Penentuan topik-topik proyek
3. Pemilihan topik proyek
4. Perencanaan dan penyusunan jadwal proyek
5. Pelaksanaan dan pelaporan progres proyek
6. Penyusunan laporan proyek
7. Pameran proyek dan produk siswa
8. Refleksi kegiatan proyek
Pembelajaran - Pendekatan pembelajaran konstruktivisme adalah
dengan salah satu pendekatan yang berorientasi atau
Pendekatan berpusat pada siswa (student centered approach)
Konstruktivisme karena menekankan pada kegiatan siswa.
Pendekatan konstruktivisme adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang menekankan pada
pengetahun awal siswa sebagai tolak ukur dalam
belajar. Pendekatan konstruktivisme menekankan
bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah
aktivitas siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti
bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas
lainnya disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut.
- Prinsip tentang belajar dan mengajar yang
merupakan dasar bagi pendekatan-pendekatan
berbasis konstruktivisme (Widodo : 2010)
1. pembelajar telah memiliki pengetahuan awal.
2. belajar merupakan proses pengkonstruksian
suatu pengatahuan berdasarkan pengatahuan
yang telah dimiliki.
3. belajar adalah perubahan konsepsi pembelajar
4. proses pengkonstruksian pengetahuan
berlangsung dalam suatu konteks sosial tertentu.
5. pembelajar bertanggung jawab terhadap proses
belajarnya
- Menurut Driver & Leaach, ciri-ciri pembelajaran
dengan pendekatan konstruktivisme adalah sebagai
berikut:
1) Beranjak dari pengetahuan
2) siswa (prior knowledge)
3) Mengaktifkan interaksi sosial (social
interaktions) dan konteks natural &cultural yang
cocok dengan kehidupan siswa
4) Pencapaian kepahaman (sense making); dengan
terjadinya perubahan konseptual pada diri siswa.
- Implikasi dari pendekatan belajar konstruktivisme
dalam pembelajaran meliputi empat tahapan yaitu,
Eksplorasi pengetahuan alam, pemberian
pengalaman langsung, mengaktifkan interaksi sosial,
pencapaian kepahaman siswa.
- Kelebihan pendekatan belajar kontruktivisme adalah
sebagai berikut:
1. Pembelajaran diperoleh siswa melalui
pengalaman langsung
2. Pendekatan konstruktivisme dapat diterapkan
untuk berbagai macam materi ajar
3. Dapat diterapkan untuk semua jenjang
pendidikan atau dalam pelatihan diorganisasi.
4. Pendekatan konstruktivisme membuat
pembelajaran lebih bermakna
- Kekurangan pendekatan belajar kontruktivisme
adalah sebagai berikut:
a) Memerlukan waktu yang cukup bagi setiap siswa
untuk membangun pengetahuannya sendiri.
b) Memerlukan latihan agar siswa terbiasa belajar
dengan pendekatan tersebut.
c) Pendekatan konstruktivisme yang diterapkan
harus sesuai dengan pembahasan materi ajar
yang harus dipilih dengan sebaik-baiknya
d) Memerlukan format penilaian yang berbeda.

Pembelajaran - Problem solving menuntut mahasiswa secara


Pendekatan individual mencari jawaban dari serangkaian
dengan berbasis pertanyaan berdasarkan informais yang diberikan
masalah dosen. Dipihak lain PBL mengarahkan mahasiswa
dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencari
situasi masalah dan melalui pencarian ini diharapkan
dapat menguji kesenjangan dalam pengetahuan dan
keterampilan mereka untuk menentukan informasi
mana yang perlu mereka peroleh untuk
menyelesaikan masalah dan mengolah situasi yang
ada.
- Hal tersebut sesuai dengan karakteristik PBL
(Barrows dan Tamblyn, 1980) di antaranya yaitu:
a) kompleks, dalam mengorganisasikan fokus
pembelajaran tidak ada satu jawaban yang
“benar” seperti keadaan nyata dalam kehidupan.
b) mahasiswa bekerja dalam kelompok-kelompok
dalam memecahkan masalah, mengidentifikasi
kesenjangan dalam pembelajaran, dan
mengembangkan pemecahan yang mungkin.
c) mahasiswa mengumpulkan informasi baru
melalui pembelajaran yang diarahkannya sendiri
(self-directed learning).
d) dosen hanya berperan sebagai fasilitator
e) permasalahan diarahkan untuk mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah dalam
profesinya.
- Kelebihan Pembelajaran Pendekatan dengan
berbasis masalah
a) mengakui pengalaman dasar siswa
b) menekankan pada pertanggungjawaban siswa
sendiri terhadap pembelajaran mereka
c) bersifat lintas disiplin
d) memadukan teori dan praktik
e) lebih berfokus pada perolehan proses daripada
hasil
f) perubahan peran guru dari instruktur menjadi
fasilitator
g) perubahan pola asesmen sendiri (self-
assessment) dan asesmen rekan sebaya (peer
assessment)
h) berfokus pada keterampilan berkomunikasi
interpersonal yang meyakinkan siswa saling
menghubungkan pengetahuan yang mereka
miliki
- Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery)
- Pembelajaran discovery adalah proses pembelajaran
yang terjadi bila siswa tidak disajikan materi ajar
dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan
mengorganisasi sendiri.
- Berawal dari konsep Bruner tentang Discovery
Learning
- Discovery Learning adalah memahami konsep, arti,
dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya
sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih,
2005: 43).
- Discovery dilakukan melalui : Observasi,
Klasifikasi, Pengukuran, Prediksi , Penentuan, inferi
- Keseluruhan proses ini juga disebut Cognitive
Process
- Tahap perkembangan kognitif menurut Bruner:
Tahap enaktive
seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya
untuk memahami lingkungan sekitarnya
Tahap iconic
seseorang memahami objek-objek atau dunianya
melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
Tahap symbolic
seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau
gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi
oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
- Manfaat dari penerapan Discovery Leraning
dalam pembelajaran :
Dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri
individu yang bersangkutan
Mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif
dan kreatif.
Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke
student oriented.
Mengubah modus Ekspositori siswa hanya
menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke
modus Discovery siswa menemukan informasi
sendiri.
- Kelebihan penerapan Discovery Learning untuk
dilaksanakan di kelas adalah:
Membantu siswa untuk memperbaiki dan
meningkatkan keterampilan-keterampilan dan
proses-proses kognitif.
Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih
baik.
Mendorong siswa berpikir dan bekerja mandiri
Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena
tumbuhnya rasa menyelidiki dan mencapai
keberhasilan.
Metode ini memungkinkan siswa berkembang
dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya
sendiri.
Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan
belajarnya sendiri dengan melibatkan imajinasi dan
motivasi sendiri.
- Kelemahan penerapan Discovery Learning dalam
pembelajaran di kelas adalah:
Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada
kesiapan siswa untuk belajar. Bagi siswa yang
kurang pandai, akan sulit menghubungkan konsep
Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah
siswa yang banyak
Tujuan sulit tercapai bila berhadapan dengan siswa
yang sudah biasa mendapat cara mengajar lama
Pengajaran discovery lebih cocok untuk
mengembangkan pemahaman, sedangkan
pengembangan aspek konsep, keterampilan dan
emosi secara keseluruhan kurang mendapat
perhatian.
Pada beberapa muatan pelajaran misalnya IPA
kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang
dikemukakan oleh para siswa.
- Langkah-Langkah Mengaplikasikan
Model Discovery Leraning :
LANGKAH PERSIAPAN
a) Menentukan tujuan pembelajaran.
b) Melakukan identifikasi karakteristik
siswa
c) Memilih materi pelajaran.
d) Menentukan topik-topik yang harus
dipelajari siswa secara induktif
e) Mengembangkan bahan-bahan belajar
yang berupa contoh/ilustrasi
f) Mengatur topik pembelajaran dari
sederhana ke komplek
g) Melakukan evaluasi belajar siswa
LANGKAH PELAKSANAAN :
1. Stimulation ( Pemberian Stimulus)
2. Problem Statement ( Identifikasi Masalah)
3. Data Collection (Pengumpulan Data)
4. Data Processing (Pengelolaan Data)
5. Vertification (Pembuktian)
6. Generalization (Menarik Kesimpulan)

- Pembelajaran pendekatan kontekstual


Pembelajaran Kontekstual adalah suatu
pembelajaran yang membangun hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki siswa dengan
penerapannya dalam kehidupan keseharian mereka.
Menurut Muslich (2007: 42), karakteristik
pendekatan kontekstual sebagai berikut:
• Pembelajaran autentik (learning in real life
setting).
• Pembelajaran bermakna (meaningfull learning).
• Pembelajaran memberikan pengalaman
(learning by doing).
• Pembelajaran dengan kerjasama (learning in a
group).
• Pembelajaran memahami antara satu dengan
yang lain secara mendalam (learning to know
each other deeply).
• Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif,
produktif, dan mementingkan kerja sama
(learning to ask, to inquiry, to work together).
- 7 Kompenen utama pendekatan kontekstual
menurut Muslich (2009: 43)
1. constructivism (konstruktivisme, membangun,
membentuk)
2. questioning (bertanya)
3. inquiry (menyelidiki, menemukan)
4. learning community (masyarakat belajar)
5. modelling (pemodelan)
6. reflection (refleksi atau umpan balik)
7. authentic assessment (Penilaian Sebenarnya)
- Kelebihan dan Kekurangan pendekatan
kontekstual menurut Sutardi & Sudirjo (2007:
96) yaitu:
- Kelebihan :
Real world learning (belajar dunia nyata)
Mengutamakan pengalaman nyata yang erat dengan
pengalaman sesungguhnya atau realita.
Berpikir tingkat tinggi, sebagai proses dari diskoveri,
pemecahan masalah, dan inkuiri.
Berpusat pada siswa, merupakan hakikat kontekstual
yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa.
- Sedangkan Kelemahannya adalah :
Bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan
mendalam tentang: konsep, prinsip-prinsip, potensi
perbedaan individual siswa di kelas, sarana belajar.
Bagi siswa, diperlukan inisiatif, kreativitas dalam
belajar, memiliki tanggung jawab menyelesaikan
tugas.
- Langkah-langkah model jigsaw yang telah dikaji
secara ilmiah oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes
dan Snapp (1978) dan dikenal dengan model tim
ahli:
a) Siswa dikelompokkan kedalam beberapa
kelompok yang disebut kelompok asal
b) Setiap orang dalam kelompok diberi bagian
materi yang berbeda
c) Setiap orang dalam kelompok diberi bagian
materi yang berbeda
d) Setiap orang dalam kelompok diberi bagian
materi yang ditugaskan
e) Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah
mempelajari bagian materi /sub bab yang sama
bertemu dalam kelompok baru yang disebut
kelompok ahli untuk mendiskusikan bagian
materi mereka.
f) Setelah selesai diskusi sebagai kelompok ahli,
setiap anggota kembali ke kelompok asal dan
bergantian mengajar teman satu kelompok
mereka tentang bagian materi yang mereka
kuasai dan anggota lainnya mendengarkan
dengan sungguh-sungguh
g) Setiap kelompok ahli mempresentasikan hasil
diskusi tentang bagian materi yang mereka
kuasai.
h) Guru bersama siswa menyimpulkan materi
secara umum
i) Guru menutup pembelajaran
- Berikut merupakan beberapa tipe dari model
pembelajaran kooperatif yang telah dikaji secara
ilmiah oleh penemunya.
a. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Make a
Match
b. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Snowball
Throwing
c. Model Pembelajaran Kooperatif tipe
Snowballing
d. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head
Together (NHT)
e. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think
Pair Share
f. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation
g. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Creative
Problem Solving
h. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think
Talk Write
i. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-
Two Stray
j. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team
Game Tornament (TGT)
k. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team
Assisted Individualy
l. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Role
Playing
m. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC
- Langkah-Langkah Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Make a Match:
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi
beberapa konsep atau topik yang cocok untuk
sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian
lainnya kartu jawaban.
2) Setiap siswa mendapat satu kartu.
3) Setiap siswa memikirkan jawaban/ soal dari
kartu yang dipegang.
4) Setiap siswa mencari pasangan yang
mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya
(soal jawaban).
5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya
sebelum batas waktu diberi poin.
6) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar
setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari
sebelumnya.
7) Kesimpulan/ penutup.
- Model Pembelajaran Kooperatif tipe Snowball
Throwing
Menurut Suprijono (2009:128) dan Saminanto
(2010:37), langkah–langkah pembelajaran Snowball
Throwing adalah sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan materi yang akan
disajikan, dan Kompetensi dasar yang ingin
dicapai.
2) Guru membentuk siswa berkelompok, lalu
memanggil masing-masing ketua kelompok
untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3) Masing–masing ketua kelompok kembali ke
kelompoknya, kemudian menjelaskan materi
yang disampaikan oleh guru kepada teman-
temannya.
4) Kemudian masing–masing siswa diberikan satu
lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi
yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan
tersebut dibuat seperti bola dan dilemparkan
dari siswa ke siswa yang lainnya selama kurang
lebih 5 menit.
6) Setelah siswa dapat satu bola berate mendapat
satu pertanyaan maka siswa tersebut harus
menjawab pertanyaan yang tertulis dalam
kertas yang berbentuk bola tersebut secara
bergantian.
7) Evaluasi
8) Penutup
- Pembelajaran Kooperatif Tipe
Numbered Head Together (NHT)
NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran
koperatif dengan langkahlangkah sebagai berikut:
1) Pengarahan
2) Pembentukan kelompok heterogen
3) Pemberian nomor untuk setiap siswa
4) Pemberian persoalan materi bahan ajar (untuk
tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa
tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap
siswa dengan nomor sama mendapat tugas
yang sama)
5) Pelaksanaan kerja kelompok
6) Presentasi kelompok dengan nomor siswa
yang sama sesuai tugas masingmasing
sehingga terjadi diskusi kelas
7) Pelaksanaan kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa
8) Pengumuman hasil kuis
9) Pemberian reward
- Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Think Pair Share
Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru menyajikan materi klasikal
2) Guru memberikan persoalan kepada siswa dan
siswa bekerja kelompok dengan cara
berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs)
3) Presentasi kelompok (share)
4) Pelaksanaan kuis individual dan membuat
skor perkembangan tiap siswa
5) Pengumuman hasil kuis dan pemberian
reward.
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Group Investigation
Model koperatif tipe GI terdiri dari langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
1) Pengarahan
2) Pembentukan kelompok heterogen dengan
orientasi tugas
3) Perencanaan pelaksanaan investigasi
4) Pelaksanaan investigasi proyek tertentu (bisa
di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon,
mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam
sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di
kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah)
5) Pengolahan data dan penyajian data hasil
investigasi
6) Pelaksanaan presentasi
7) Pelaksanaan kuis individual dan pembuatan
skor perkembangan siswa
8) Pengumuman hasil kuis dan pemberian
reward.
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Creative Problem Solving
Model pembelajaran ini adalah variasi dari
pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Pembentukan kelompok heterogen
2) Memunculkan fakta aktual sesuai dengan
materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan
3) Identifikasi permasalahan dan memilih fokus
secara kelompok.
4) Mengolah pikiran sehingga muncul gagasan
orisinil untuk menentukan solusi
5) Presentasi dan diskusi kelompok
Pemberian reward
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Think Talk Write
Model pembelajaran ini terdiri dari langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
1) Pengelompokan secara heterogen
2) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir
melalui bahan bacaan (menyimak,
mengkritisi, dan memikirkan alternatif solusi)
secara berkelompok
3) Hasil bacaannya dikomunikasikan dengan
presentasi dan diskusi kelompok
4) Kemudian membuat laporan hasil diskusi
5) Pemberian reward.

- Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-


Two Stray
Pembelajaran model ini terdiri dari langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
1) Pengarahan
2) Pembentukan kelompok heterogen
3) Pelaksanaan kerja kelompok
4) Dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua
siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk
menerima dua orang dari kelompok lain
kemudian dua siswa yang bertamu kembali ke
kelompok asal.
5) Pelaksanaan kerja kelompok untuk
menyempurnakan hasil kerja
6) Presentasi kelompok
7) Pemberian reward.
- Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Team Game Tornament (TGT)
dari langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
1) Buat kelompok siswa heterogen 4 orang
kemudian berikan informasi pokok materi dan
mekanisme kegiatan.
2) Siapkan meja turnamen secukupnya, misalnya
10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa
yang berkemampuan setara, meja ke-1 diisi
oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap
kelompok dan seterusnya sampai meja ke-10
ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah.
3) Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen,
setiap siswa mengambil kartu soal yang telah
disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya
untuk jangka waktu tertentu (misal 3 menit).
Siswa pada tiap meja turnamen sesuai dengan
skor yang diperolehnya diberikan sebutan
(gelar) superior, very good, good, medium.
4) Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga
untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan
pergeseran tempat duduk pada meja turnamen
sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior
dalam kelompok meja turnamen yang sama,
begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya
diisi oleh siswa dengan gelar yang sama
5) Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap
kelompok asal dan skor individual, berikan
penghargaan kelompok dan individual.
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Team Assisted Individualy
Model ini dalam bahasa Indonesia disebut dengan
Bantuan Individual dalam Kelompok (Bidak)
dengan karateristik bahwa tanggung jawab belajar
adalah pada siswa. Model pembelajaran ini terdiri
dari langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut
(Slavin, 1985):
1) Buat kelompok heterogen dan berikan bahan
ajar berupak modul
2) Siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh
siswa pandai anggota kelompok secara
individual
3) Saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga
terjadi diskusi
4) Penghargaan kelompok dan refleksi serta tes
formatif.
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Role Playing
Model pembelajaran ini terdiri dari langkah-langkah
pembelajaran sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan skenario pembelajaran
2) Guru menunjuk beberapa siswa untuk
mempelajari skenario tersebut
3) Pembentukan kelompok siswa
4) Penyampaian kompetensi
5) Guru menunjuk siswa untuk melakonkan
skenario yang telah dipelajarinya
6) Kelompok siswa membahas peran yang
dilakukan oleh pelakon
7) Presentasi hasil kerja kelompok
8) Kesimpulan dan refleksi
- Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe CIRC
Model pembelajaran ini diinisiasi oleh Steven dan
Slavin (1995). CIRC terdiri dari empat kata yaitu
Cooperative Integrated Reading Composition
dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai
berikut:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4
orang yang secara heterogen
2) Guru memberikan wacana/kliping sesuai
dengan topik pembelajaran
3) Siswa bekerja sama saling membacakan dan
menemukan ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis
pada lembar kertas
4) Mempresentasikan/membacakan hasil
kelompok
5) Guru membuat kesimpulan bersama
6) Penutup
- Pembelajaran dengan Pendekatan Kuantum
Pendekatan kuantum atau disebut juga dengan
Quantum Teaching and Learning merupakan cara
pandang masyarakat belajar bahwa belajar itu harus
berenergi dan membangkitkan Segala metode,
strategi, model dan juga termasuk segala hal yang
dilakukan yang meliputi interaksi antara guru dan
siswa, kurikulum, dan lain sebagainya yang ada
dalam pembelajaran dibangun atas dasar prinsip
“Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan
Antarkan Dunia Mereka ke Dunia Kita”.
Pendekatan pembelajaran kuantum memiliki prinsip-
prinsip dasar sebagai berikut:
a. Segalanya berbicara
b. Segalanya bertujuan
c. Pengalaman sebelum pemberian nama
d. Akui setiap usaha
e. Jika layak dipelajarai maka layak pula
dirayakan

- Pembelajaran Berbasis Aktivitas


Pembelajaran berbasis aktivitas merupakan proses
belajar yang melibatkan proses fisik dan mental
siswa melalui kegiatan mengamati, menanya,
menduga, mencoba, mengeksplorasi, mengukur,
menyimpulkan, mengomunikasikan, dll. dengan
tujuan:
a. Meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam
pembelajaran
b. Meningkatkan interaksi sosial antara siswa
dengan lingkungan sekitarnya
c. Mendorong siswa untuk dapat menemukan
dan menyelidiki sendiri konsep yang dipejari
agar mudah diingat
d. Membantu siswa membentuk cara kerja
bersama yang efektif, saling berbagi
informasi, serta mendengar dan menggunakan
ide-ide siswa lain
e. Melatih siswa belajar berpikir analitis dan
mencoba memecahkan masalah yang dihadapi
sendiri
- Manfaat pembelajaran berbasis aktivitas bagi siswa
adalah sebagai berikut:
a. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia
berpikir dan menggunakan kemampuan untuk
menemukan hasil akhir.
b. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab
mengalami sendiri proses menemukannya.
Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih
lama diingat.
c. Siswa menemukan sendiri konsep, prinsip atau
teori yang dapat menimbulkan rasa puas.
Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan
penemuan lagi sehingga minat belajarnya
meningkat.
d. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan
metode penemuan akan lebih mampu
mentransfer pengetahuannya kepada berbagai
konteks.
e. Kegiatan ini melatih siswa untuk lebih banyak
belajar mandiri dan bertanggung jawab.
- Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis aktivitas
terdiri dari:
a. Somatis yaitu siswa mengalami aktivitas fisik
yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan
siswa lain secara berpasangan atau kelompok.
b. Auditori yaitu siswa dimungkinkan untuk
mendengar secara aktif dari berbagai sumber
informasi.
c. Visual yaitu siswa dimungkinkan untuk
melakukan pengamatan gambar atau lingkungan
sekitar.
d. Intelektual yaitu siswa dimungkinkan untuk
melakukan proses berpikir.
- Karakteristik pembelajaran berbasis
aktivitas terdiri dari:
a. Interaktif dan inspiratif
b. Menyenangkan, menantang, dan memotivasi
siswa untuk berpartisipasi aktif
c. Kontekstual dan kolaboratif
d. Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian siswa
Sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan
perkembangan fisik serta psikologis siswa