Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

KEHAMILAN EKTOPIK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi
dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus
atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik
Terganggu.
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula
dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-
keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul,
pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam
rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas,
kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.
Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi.
Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan
berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian.
Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak
mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua wanita terutama
pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, adanya kecenderungan pada
kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan
angka kejadiannya semakin berlipat ganda.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektropik terganggu.
2. Untuk mengetahui etiologi terjadinya kehamilan etropik terganggu
3. Untuk mengetahui kalangan usia yang rentan terhadap terjadinya kehamilan ektropik.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi kehamilan ektopik

Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani,
topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar tempat yang
semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi abortus atau pecah, dalam hal ini dapat
berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik
terganggu.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, tuba
falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik,sebagian
besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi implantasi pada ovarium,rongga
perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada
uterus.(Sarwono Prawiroharjho, 2005)

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus.
Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik
(lebih besar dari 90 %). (Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal)

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi terjadi diluar


endometrium kavum uteri. Hamper 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba uteria. Kehamilan
ektopik dapat mengalami abortus atau rupture apabila masa kehamilan berkembang melebihi
kapasitas ruang implantasi (misalnya tuba) dan peristiwa ini disebut sebagai kehamilan
ektopik terganggu. (Saifudin, dkk, 2006)

Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot terimplantasi di lokasi-lokasi selain
cavum uteri, seperti ovarium, tuba, seviks, bahkan rongga abdomen. Istilah kehamilan
ektopik terganggu (KET). Merujuk pada keadaan dimana timbul gangguan pada kehamilan
tersebut sehingga terjadi abortus maupun rupture yang menyebabkan penurunan keadaan
umum pasien. (Anik Maryunani. Asuhan kegawatdaruratan dalam kebidanan, 2009 : 36)
B. Etiologi
Kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya
tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang
berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu: 1.Faktor mekanis.

Hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi ke dalam


kavum uteri, antara lain:

• Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan


mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong buntu.
Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan implantasi
hasil zigot pada tuba falopii.
• Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas, apendisitis, atau
endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen
• Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius dan
hipoplasi. Namun ini jarang terjadi
• Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha
untuk memperbaiki patensi tuba Pada sterilisasi
• Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan
pada adneksia
• Penggunaan IUD

Faktor Fungsional
• Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri
yang abnormal
• Refluks menstruasi
• Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan
progesteron
• Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.
• Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.
C. Tanda dan gejala

Tanda :

1. Nyeri abdomen bawah atau pelvic, disertai amenorrhea atau spotting atau perdarahan
vaginal.
2. Menstruasi abnormal.
3. Abdomen dan pelvis yang lunak.
4. Perubahan pada uterus yang dapat terdorong ke satu sisi oleh massa kehamilan, atau
tergeser akibat perdarahan. Dapat ditemukan sel desidua pada endometrium uterus.
5. Penurunan tekanan darah dan takikardi bila terjadi hipovolemi.
6. Kolaps dan kelelahan
7. Pucat
8. Nyeri bahu dan leher (iritasi diafragma)
9. Nyeri pada palpasi, perut pasien biasanya tegang dan agak gembung.
10. Gangguan kencing

Kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangangan peritoneum oleh darah di
dalam rongga perut.

1. Pembesaran uterus
Pada kehamilan ektopik uterus membesar juga karena pengaruh hormon-hormon
kehamilan tapi pada umumnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan uterus pada
kehamilan intrauterin yang sama umurnya.
2. Nyeri pada toucher
Terutama kalau cervix digerakkan atau pada perabaan cavumdouglasi (nyeri
digoyang)
3. Tumor dalam rongga panggul
Dalam rongga panggul teraba tumor lunak kenyal yang disebabkan kumpulan darah di
tuba dan sekitarnya.
4. Perubahan darah
Dapat diduga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu,
karena perdarahan yang banyak ke dalam rongga perut.
Gejala:

1. Nyeri:
Nyeri panggul atau perut hampir terjadi hampir 100% kasus kehamilan ektopik. Nyeri
dapat bersifat unilateral atau bilateral , terlokalisasi atau tersebar.
2. Perdarahan:
Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose dan dikeluarkan
dengan perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya sedikit, perdarahan yang banyak
dari vagina harus mengarahkan pikiran kita ke abortus biasa.Perdarahan abnormal
uterin, biasanya membentuk bercak. Biasanya terjadi pada 75% kasus
3. Amenorhea:
Hampir sebagian besar wanita dengan kehamilan ektopik yang memiliki berkas
perdarahan pada saat mereka mendapatkan menstruasi, dan mereka tidak menyadari
bahwa mereka hamil

D. Klasifikasi
Sarwono Prawirohardjo dan Cunimgham masing-masing dalam bukunya
mengklasifikasikan kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya :

1. Tuba Fallopi
a). Pars-nterstisialis
b). Ishtmus
c). Ampula
d). Infundibulum
e). Fimbrae
2. Uterus
a). Kanalis servikalis
b). Divertikulum
c). Kornu
d). Tanduk rudimenter
3. Ovarium
4. Intraligamenter
5. Abdominal
a). Primer
b). Sekunder
c). Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus
6. Faktor lain
a) Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun
b) Fertilisasi in vitro
c) Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
d) Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
e) Infertilitas
f) Mioma uteri
g) Hidrosalping
(Rachimhadhi, 2005)

E. Manifestasi klinis

Gambaran klinik kehamilan ektopik sangat bervariasi tergantung dari ada tidaknya
ruptur. Triad klasik dari kehamilan ektopik adalah nyeri, amenorrhea, dan perdarahan per
vaginam. Pada setiap pasien wanita dalam usia reproduktif, yang datang dengan keluhan
amenorrhea dan nyeri abdomen bagian bawah, harus selalu dipikirkan kemungkinan
terjadinya kehamilan ektopik.

Selain gejala-gejala tersebut, pasien juga dapat mengalami gangguan vasomotor berupa
vertigo atau sinkop; nausea, payudara terasa penuh, fatigue, nyeri abdomen bagian
bawah,dan dispareuni. Dapat juga ditemukan tanda iritasi diafragma bila perdarahan
intraperitoneal cukup banyak, berupa kram yang berat dan nyeri pada bahu atau leher,
terutama saat inspirasi.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri tekan pelvis, pembesaran uterus, atau
massa pada adnexa. Namun tanda dan gejala dari kehamilan ektopik harus dibedakan dengan
appendisitis, salpingitis, ruptur kista korpus luteum atau folikel ovarium. Pada pemeriksaan
vaginal, timbul nyeri jika serviks digerakkan, kavum Douglas menonjol dan nyeri pada
perabaan.

Pada umumnya pasien menunjukkan gejala kehamilan muda, seperti nyeri di perut bagian
bawah, vagina uterus membesar dan lembek, yang mungkin tidak sesuai dengan usia
kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi menjadi sukar diraba karena lembek.
Nyeri merupakan keluhan utama. Pada ruptur, nyeri terjadi secara tiba-tiba dengan
intensitas tinggi disertai perdarahan, sehingga pasien dapat jatuh dalam keadaan syok.
Perdarahan per vaginam menunjukkan terjadi kematian janin.

Amenorrhea juga merupakan tanda penting dari kehamilan ektopik. Namun sebagian
pasien tidak mengalami amenorrhea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya.

F. Gejala Klinis

Trias gejala dan tanda dari kehamilan ektopik adalah riwayat keterlambatan haid atau
amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal (60-80%), nyeri abdominal atau pelvik (95%).
Biasanya kehamilan ektopik baru dapat ditegakkan pada usia kehamilan 6 – 8 minggu saat
timbulnya gejala tersebut di atas. Gejala lain yang muncul biasanya sama seperti gejala pada
kehamilan muda, seperti mual, rasa penuh pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan
dispareunia. Selain itu pada pemeriksaan fisik didapatkan pelvic tenderness, pembesaran
uterus dan massa adneksa. (Saifiddin, 2002; Cunninghametal, 2005).

Dikenal dengan sebutan “trias” adapun gejala kliniknya adalah :

a. Amenorhoe (berhenti haid)


Lamanya amenorhoe bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan. Dengan
amenorhoe terdapat tanda hamil muda yaitu : morning sickness, mual-mual, perasaan
ngidam .
b. Terjadi nyeri abdomen
Nyeri abdomen disebabkan kehamilan tuba yang pecah. Rasa nyeri dapat menjalar
keseluruhan abdomen tergantung dari perdarahan didalamnya. Bila rangsangan darah
dalam abdomen mencapai diafragma dapat terjadi nyeri didaerah bahu. Bila darahnya
membentuk hematokel yaitu timbunan didaerah Cavum Dauglass akan terjadi rasa
nyeri dibagian bawah dan saat buang air besar.
c. Perdarahan
Terjadinya abortus atau rupture kehamilan tuba terdapat pendarahan kedalam cavum
abdomen dalam jumlah yang bervariasi. Darah yang tertimbun dalam cavum
abdomen tidak berfungsi sehingga terjadi gangguan dalam sirkulasi umum yang
menyebabkan nadi meningkat, tekanan darah menurun, sampai jatuh kedalam ke
keadaan syok.
Hilangnya darah dari peredaran darah umum yang mengakibatkan penderita tampak
anemia, ekstrimitas dingin, berkeringan dingin, kesadaran menurun dan pada
abdomen terdapat tumpukan darah. Setelah kehamilannya mati, desidua dalam cavum
uteri dikeluarkan dalam bentuk desidua seperti seluruhnya dikeluarkan bersama
dalam bentuk perdarahan hitam seperti menstruasi.
(Anik Maryunani. Asuhan kegawatdaruratan dalam kebidanan, 2009 : 41)

G. Penatalaksanaan

Penanganan kehamilan ektropik pada umumnya adalalah laparotomi. Dalam tindakan


demikian, beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut.

a) Kondisi ibu pada saat itu.


b) Keinginan ibu untuk mempertahankan fungsi reproduksinya.
c) Lokasi kehamilan ektropik.
d) Kondisi anatomis organ pelvis.
e) Kemampuan teknik bedah mikro dokter.
f) Kemampuan teknologi fertilasi in vitro setempat.

Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu di lakukan salpingektomi pada


kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedahan konservatif. Apakah kondisi ibu buruk,
misalnya dalam keadaan syok, lebih baik di lakukan salpingektomi. Pada kasus kehamilan
ektropik di pars ampularis tuba yang belum pecah biasanya di tangani dengan menggunakan
kemoterapi untung menghindari tindakan pembedahan.

Karena kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa, maka deteksi dini dan pengakhiran
kehamilan adalah tatalaksana yang disarankan. Pengakhiran kehamilan dapat dilakukan
melalui:

1. Obat-obatan

Dapat diberikan apabila kehamilan ektopik diketahui sejak dini. Obat yang digunakan
adalah methotrexate (obat anti kanker).

2. Operasi
Untuk kehamilan yang sudah berusia lebih dari beberapa minggu, operasi adalah
tindakan yang lebih aman dan memiliki angka keberhasilan lebih besar daripada obat-
obatan. Apabila memungkinkan, akan dilakukan operasi laparaskopi.

Bila diagnosa kehamilan ektopik sudah ditegakkan, terapi definitif adalah pembedahan :

1. Laparotomi : eksisi tuba yang berisi kantung kehamilan (salfingo-ovarektomi) atau


insisi longitudinal pada tuba dan dilanjutkan dengan pemencetan agar kantung
kehamilan keluar dari luka insisi dan kemudian luka insisi dijahit kembali.
2. Laparoskop : untuk mengamati tuba falopii dan bila mungkin lakukan insisi pada
tepi superior dan kantung kehamilan dihisap keluar tuba.

Operasi Laparoskopik : Salfingostomi

Bila tuba tidak pecah dengan ukuran kantung kehamilan kecil serta kadar β-hCG rendah maka
dapat diberikan injeksi methrotexatekedalam kantung gestasi dengan harapan bahwa
trofoblas dan janin dapat diabsorbsi atau diberikan injeksi methrotexate 50 mg/m3
intramuskuler.

Syarat pemberian methrotexate pada kehamilan ektopik:

a) Ukuran kantung kehamilan


b) Keadaan umum baik (“hemodynamically stabil”)
c) Tindak lanjut (evaluasi) dapat dilaksanakan dengan baik

Keberhasilan pemberian methrotexate yang cukup baik bila :

1. Masa tuba
2. Usia kehamilan
3. Janin mati
4. Kadar β-hCG

Kontraindikasi pemberian Methrotexate :

1. Laktasi
2. Status Imunodefisiensi
3. Alkoholisme
4. Penyakit ginjal dan hepar
5. Diskrasia darah
6. Penyakit paru aktif
7. Ulkus peptikum

Pasca terapi konservatif atau dengan methrotexate, lakukan pengukuran serum hCG setiap
minggu sampai negatif. Bila perlu lakukan “second look operation”.

H. Komplikasi
Komplikasi kehamilan ektopik dapat terjadi sekunder akibat kesalahan diagnosis,
diagnosis yang terlambat, atau pendekatan tatalaksana. Kegagalan penegakan diagnosis
secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan terjadinya ruptur tuba atau uterus, tergantung
lokasi kehamilan, dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan masif, syok, DIC, dan
kematian.
Komplikasi yang timbul akibat pembedahan antara lain adalah perdarahan, infeksi,
kerusakan organ sekitar (usus, kandung kemih, ureter, dan pembuluh darah besar). Selain itu
ada juga komplikasi terkait tindakan anestesi.
I. Pencegahan
Berhenti merokok akan menurunkan risiko kehamilan ektopik. Wanita yang merokok
memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik. Berhubungan
seksual secara aman seperti menggunakan kondom akan mengurangi risiko kehamilan
ektopik dalam arti berhubungan seks secara aman akan melindungi seseorang dari penyakit
menular seksual yang pada akhirnya dapat menjadi penyakit radang panggul. Penyakit
radang panggul dapat menyebabkan jaringan parut pada saluran tuba yang akan
meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.
Kita tidak dapat menghindari 100% risiko kehamilan ektopik, namun kita dapat
mengurangi komplikasi yang mengancam nyawa dengan deteksi dini dan tatalaksana secepat
mungkin. Jika kita memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, maka kerjasama antara
dokter dan ibu sebaiknya ditingkatkan untuk mencegah komplikasi kehamilan ektopik.
Kasus :

Seorang perempuan 30 tahun dengan status obsetri G1P0A0 hamil 12 minggu datang ke
IGD dengan keluhan nyeri perut menjalar keseluruh perut. Keluar darah pervagina. Hasil
pemeriksaan USG transvagina tampak cairan diluar uterus . Hasil pemeriksaan fisik TD
100/70 mmHG , Nadi 80x/ menit RR24x/menit , SpO2 90% .

ASUHAN KEPERAWATAN

KEHAMILAN EKTOPIK

1. IDENTITAS
Identitas Pasien
Nama : Ny. Y
Usia : 30 th
Jenis Kelamin : Perempuan
pendidikan : SD
Agama : Islam
Alamat : Tanjung Emas RT.04/RW.09
Dx.Medis : OBSETRI G1P0A0
NO RM :-
Tanggal Masuk : 16 Juni 2018 pukul 18.00 WIB
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Bp. X
Usia : 40 tahun
Alamat : Tanjung Emas RT.04/RW.09
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan pasien : Suami klien

2. KELUHAN UTAMA
Nyeri perut menjalar keseluruh perut
3. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kesehatan Sekarang
Hamil 12 minggu datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut menjalar keseluruh perut.
Keluar darah pervagina dengan TD: 100/70 mmHg, nadi: 80 x/menit, SaPO2: 90%.
Setelah masuk ruang Bugenfil TD: 110/90 mmHg, nadi: 90 x/menit, SaPO2: 95 %.
B. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit dan belum pernah menderita penyakit ini.
C. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tak ada yang menderita penyakit seperti ini.

4. POLA PENGKAJIAN FUNGSIANAL

Pola Kesehatan (Gordon)

1. Pola Manajemen Kesehatan


Keluarga pasien mengatakan jika ada anggota keluarga yang sakit selalu di bawa ke
pelayanan kesehatan misal dokter, Puskesmas, rumah sakit.
2. Pola Kebutuhan Nutrisi
Klien mengalami tidak nafsu makan sebelum masuk rumah sakit. Klien makan habis 3-4
sendok makan sehari 3x, setelah masuk rumah sakit klien makan habis 1/3 porsi sehari
3x. Pola minum klien sebelum masuk rumah sakit  1 gelas 1 hari, setelah masuk rumah
sakit klien minum  3 gelas air putih,2 gelas susu.
3. Pola Eliminasi
Sebelum masuk rumah sakit klien BAB 3 hari sekali, BAK 3x sehari, setelah masuk
rumah sakit dan mendapat perawatan BAB 1 hari sekali, BAK 5x sehari.
4. Pola Aktifitas dan Latihan
Sebelum masuk rumah sakit klien biasa melakukan kegiatan di pesantren seperti makan
dan minum sendiri, semenjak sakit dan di rawat di rumah sakit aktifitas klien dibantu
oleh ibunya seperti makan, minum dan perawatan diri.
5. Pola Istirahat dan Tidur
Semenjak sakit, sebelum di rawat di rumah sakit klien tidur hanya 5 jam malam/hari,
setelah masuk rumah sakit tidur 7-8 jam malam/hari.
6. Pola Perseptual
Klien merasa dirinya sakit dan ketika dirawat di rumah sakit merasa takut dengan
lingkungan tersebut.
7. Pola Kognitif
Pendengaran dan penglihatan pasien tidak mengalami gangguan.
8. Pola Hubungan Sosial
Klien sebelum masuk rumah sakit bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Setelah
masuk rumah sakit klien tidak bisa bermain dan bergaul dengan temannya.
9. Pola Seksual dan Reproduksi
Klien sudah menikah, Klien mengatakan siklus tanggal menstruasi klien sama yaitu
setiap tanggal 12 sebelum hamil.
10. Pola Menangani Masalah
Klien mengetahuai bahwa dia sakit, klien hanya bisa menangis dan diam dengan
kondisinya sekarang.
11. Pola Kepercayaan dan Nilai
Klien beragama Islam, klien menjalankan ibadahnya semampunya.

5. PEMERIKSAAN FISIK
A. Kesadaran : Compos Mentis
Kesadaran umum :
BB/TB : 50/158
B. Tanda-Tanda Vital
TD : 100/70 mmhg
Nadi : 80x/menit
RR : 24x/menit
Suhu : 36,80 C
C. Pemeriksaan Head To Toe
1. Kepala : bentuk simetris, kontrol kepala baik, tidak ada pembesaran lingkar kepala misal
hidrosefalus dan lingkar yang kecil misal mikrosefali, fontanel rata, halus dan bedenyut.
2. Rambut : bersih, tidak berbau
3. Mata : kelopak mata simetris, tidak sembab, tidak ada perdagangan, konjungtiva merah
muda, pupil isokor yaitu memiliki bentuk dan ukuran pupil yang sama, reflek cahaya
positif.
4. Hidung: lubang hidung simetris, tidak ada sumbatan, pendarahan, secret atau cairan,
inflamasi, tidak ada nyeri tekan, lesi/massa.
5. Mulut dan Tenggorokan: bibir tidak ada lesi maupun inflamasi, tidak sumbing, tidak ada
caries gigi, gusi tidak inflamasi dan nyeri. tidak ada pembesaran tonsil, bibir tidak
sianosis, simetris, dan kering. Lidah merah muda tidak ada bereak putih
6. Telinga: telinga kanan dan kiri simetris, sistem pendengaran baik, tidak nyeri ada nyeri
tekan.
7. Leher: bentuk leher kanan dan kiri simetri, tidak ada pembengkakan leher, kelenjar
Tyroid tidak teraba
8. Dada

 Thorax :
Inspeksi : pernapasan diafragma : abdomen timbul dengan inspirasi
Palpasi : gerakan simetris pada setiap pernapasan.
Perkusi : resonasi terdengar di seluruh permukaan paru.
Auskultasi : vesikuler diseluruh lapisan paru.
 Abdomen
Inspeksi : tidak ada lesi, simetris, tidak ada retraksi interkosta dan frekuensi
normal 20x/mnt
Palpasi : nyeri tekan pada kuadran kiri bawah .
Perkusi : nyaring, resonasi terdengar diseluruh permukaan paru.
Auskultasi : bunyi nafas vesikuler terdengar dan semua lopang paru.
9. Genetalia : keluar darah pervagina
10. Integmumen : kulit lembab
11. Ekstermitas
 Pemeriksaan kekuatan otot: otot dapat berkontraksi dengan baik, tidak ada
kelumpuhan
 Ekstermitas atas: tangan atas dapat berfungsi dengan baik, tidak ada nyeri tekan
 Ekstermitas bawah: kedua kaki berfungsi dengan baik, tidak ada nyeri tekan.
6. ANALISA DATA

No TANGGAL DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI


1 16 Juni 2018 DS: mengatakan nyeri akut Agen cidera
pukul 18.00 WIB nyeri perut menjalar biologis (infeksi)
keseluruh perut

DO: klien meringis-


ringis menahan rasa
nyeri dengan skala
nyeri 4

2 DS : keluar darah Resiko perdarahan Komplikasi


pervagina kehamilan
DO: hasil USG
tranasvagina tampak
cairan diluar uterus

3 DS: pasien Kurangnya sumber kurang


mengatakan belum informasi pemahaman
mengetahui

Do : pasien tampak
bingung

7. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


A. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ditandai dengan nyeri perut
menjalar keseluruh perut
B. Resiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi kehamilan ditandai dengan
perdarahan pervagina
C. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemahaman atau tidak
mengenal sumber-sumber informasi.
8. INTERVENSI TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama Pasien : Ny. Y
NO ROM :-

NO TANGGAL DX TUJUAN DAN INTERVENSI TTD


KEP KH
1 16 Juni 2018 I setelah dilakukan  monitor TTV Kelompok
pukul 18.00 tindakan  lakukan pengkajian
WIB keperawatan nyeri komprehensif
selama 2 x24 jam yang meliputi lokasi,
dengan KH: karakteristik,onset/dur
asi, frekuaensi,
 Nyeri yang kualitas, intensitas atau
di laporkan beratnya nyeri
dari berat
 Berikan obat penurun
menjadi
nyeri yang adekuat
tidak ada
 Ekspresi
nyeri
menjadi
tampak
rileks

II Setelah dilakukan  monitor dengan


tindakan ketat resiko
keperawatan terjadinya
selama 2 x24 jam perdarahan pada
diharapkan resiko pasien
perdarahan  berikan obat-obat
teratasi dengan jika diperlukan
KH:  lindungi pasien
 Resiko dari trauma yang
terjadi dapat
pendaraha menyebabkan
n sudah perdarahan
tidak ada  Evaluasi, catat dan
atau laporkan jumlah
berkurang serta sifat
 Pasien kehilangan darah
tidak  Posisikan klien
mengalami telentang dengan
trauma panggul
ditinggikan
 Catat TTV,
capillary refill,
warna kulit dan
suhu tubuh

III Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2 x24
jam diharapkan kurangnya
pengetahuan dapat teratasi
dengan KH:

 pasien sudah
mengetahui
mengenai nyeri

III Setelah dilakukan  Gali pengetahuan
tindakan dan kepercayaan
keperawatan pasien mengenai
selama 2 x24 jam nyeri
diharapkan
kurangnya
pengetahuan dapat
teratasi dengan
KH:

 pasien
sudah
mengetahu
i mengenai
nyeri

9. TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama Pasien : Ny. Y
NO ROM :

NO TANGGAL/JAM DX IMPLENTASI RESPON TTD


KEP
1. 16 Juni 2018 I Memonitor TTV DS: pasien Kelompok
pukul 18.00 WIB bersedia
melakuakan

DO: S:370C,
N:80X/mnt,
RR:24x/mnt
2. Pukul 21.00 I Melakukan pengkajian DS: pasien Kelompok
nyeri komprehensif yang mengatakan
meliputi lokasi, nyeri berada di
karakteristik,onset/durasi, perut menjalar
frekuaensi, kualitas, ke seluruh perut
intensitas atau beratnya , nyeri seperti di
nyeri dan faktor pencetus tusuk benda
tajam,
berlangsung
terus menerus

DO: raut muka


pasien tampak
kesakitan

3. 17 Juni 2018 Mengobservasi adanya DS: pasien


pukul 06.00 WIB petunjuk non-verbal mengatakan
mengenai masih merasa
ketidaknyamanan nyeri

DO: tampak
menahan nyeri
perutnya
4. Pukul 08.00 I Memberikan obat DS:pasien Kelompok
penurun nyeri yang merasa
adekuat nyerinya
berkurang

DO:pasien
tampak lebih
tenang dan
nyaman
5. Pukul 10.00 I Memberikan relaksasi DS:pasien Kelompok
nafas dalam melakukan
relaksasi
dengan baik
dan mengatakan
nyerinya mulai
hilanng

DO:pasien
tampak lebih
Nyaman dari
sebelumnya

6. Pukul 14.00 II  monitor dengan DS: pasien mau Kelompok


ketat resiko melakukan
terjadinya
perdarahan pada DO: mengecek
pasien terjadinya
pendarahan
7. Pukul 16.00 II  berikan obat-obat DS: pasien Kelompok
jika diperlukan mengatakan
tidak ada alergi
obat

DO: tidak
Nampak klien
alergi obat
8. pukul 18.00 II  lindungi pasien DS: pasien mau Kelompok
dari trauma yang melakukan
dapat
menyebabkan DO: pasien
perdarahan Nampak
melakukan
yang dianjurkan
perawat
9. Pukul 20.00 III  Gali pengetahuan DS: pasien Kelompok
dan kepercayaan mengatakan
pasien mengenai tidak tahu
nyeri
DO: pasien
tampak bingung

10. 18 Juni 2018 III Memastikan diet DS: pasien Kelompok


pukul 08.00 WIB mencakup makanan bersedia
tinggi kandungan serat melakukan

DO: pasien
memakan bubur
yang sudah di
sediakan
11. Pukul 10.00 III Lakukan penilaian DS: pasien Kelompok
lengkap terhadap mual mual saat
termasuk frekuensi, makan terlalu
durasi dan tingkat banyak dalam
keparahan waktu
bersamaan

DO: pasien
tampak lemas
dan pucat
10. EVALUASI /CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien : Ny. Y

NO ROM :-

NO TANGGAL/JAM DX EVALUASI TTD


KEP
1. 18 Juni 2018 I S: pasien mengatakan perut sebelah kiri kelompok
nyeri seperti ditusuk benda tajam

O: pasien Nampak lemas dan berbaring di


tempat tidur sambil meringis kesakitan

A: masalah nyeri akut klien belum teratasi

P: lanjutan intervensi:

 monitor TTV
 memberikan teknik relaksasi nafas
dalam
 memberikan terapi obat yang adekuat
 membut lingkungan sekitar pasien
nyaman
II S: Resiko terjadi pendarahan sudah tidak ada
atau berkurang Pasien tidak mengalami
trauma

O: pasien sudah tidak pendarahan

A: resiko pendarahan pasien belum teratasi

P: lanjutan intervensi

 mengecek terjadinya pendarahan


 memberikan obat untuk mengatasi
pendarahan
III S: pasien mengatakan belum terlalu
mengerti

O: pasien masih tampak bingung

A: masalah kurang pengetahuan belum


teratasi

P: lanjutan intervensi

 Gali pengetahuan dan kepercayaan


pasien mengenai nyeri
 Memberikan pengertian mengenai
pendarahan
Daftar pustaka

Mocthar R, 1998, Sinopsis Obstetri Cetakan I,EGC, Jakarta.


Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates , jakarta
Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta
Manuaba,Ida Bagus Gede, 1998, Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan keluarga
berencana, EGC, Jakarta