Anda di halaman 1dari 10

Senin, 22 Februari 2016

ALUR PELAYARAN
http://umarcivilengineering.blogspot.co.id/2016/02/alur-
pelayaran.html

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia, yang memiliki 17.504 pulau
yang membentang dari Sabang sampai Meraoke dengan panjang garis pantai
kurang lebih 81.000 Km serta luas wilayah laut sekitar 5,9 juta Km². Sebagai
negara kepulauan berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan
Negara Kepulauan (Archipelago State) oleh konfrensi PBB yang diakui oleh dunia
Internasional maka lndonesia mempunyai kedaulatan atas keseluruhan wilayah laut
lndonesia. Indonesia terletak pada posisi silang yang sangat strategis di antara
Benua Asia dan Benua Australia. Peranan laut sangat penting sebagai pemersatu
bangsa serta wilayah lndonesia dan konsekwensinya Pemerintah berkewajiban atas
penyelenggaraan pemerintahan dibidang penegakan hukum baik terhadap ancaman
pelanggaran terhadap pemanfaatan perairan serta menjaga dan menciptakan
keselamatan dan keamanan pelayaran.

Dalam perencanaan pelabuhan /bangunan dermaga hal yang terpenting yang


harus diperhatikan adalah pengetahuan tentang alur pelayaran . Alur pelayaran
adalah untuk mengatur lalulintas kapal yang keluar-masuk ke pelabuhan serta untuk
memastikan keselamatan navigasi dari kapal kapal yang akan berlabuh, maka perlu
dibuat alur pelayaran yang akan digunakan kapal-kapal sebagai panduan untuk
memasuki dan keluar pelabuhan. Selain alasan diatas, karena adanya gaya-gaya
arus, gelombang dan angin yang dapat merubah arah kapal untuk memasuki
gerbang pelabuhan yang memiliki lebar tertentu, maka pengetahuan tentang alur
pelayaran sangat penting adanya agar tidak terjadi perubahan orientasi kapal yang
dapat berakibat fatal juga menjadikan satu parameter keberhasilan / kesempurnaan
pembangunan sarana dan prasana pelabuhan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Alur pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas
hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari
oleh kapal di laut, sungai atau danau. Alur pelayaran dicantumkan dalam peta laut
dan buku petunjuk-pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang. Alur
pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal masuk ke kolam pelabuhan, oleh
karena itu harus melalui suatu perairan yang tenang terhadap gelombang dan arus
yang tidak terlalu kuat.
Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal yang akan digunakan untuk
mengarahkan kapal yang akan masuk kekolam pelabuhan. Alur pelayaran dan
kolam pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus.
Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhan ditentukan oleh kapal besar yang
akan masuk kepelabuhan dan kondisi metereologi dan oseanografi.
Dalam perjalanan masuk kepelabuhan melalui alur pelayaran, kapal mengurangi
kecepatan sampai kemudian berhenti di dermaga. Secara umum ada bebberapa
daerah yang dilewati selama perjalanan tersebut yaitu :
1. Daerah tempat kapal melempar sauh diluar pelabuhan
2. Daerah pendekatan diluar alur masuk
3. Alur masuk diluar pelabuhan dan kemudian didalam daerah terlindung
4. Saluran menuju kedermaga, apabila pelabuhan berada didalam daerah daratan
5. Kolam putar

Penguasa pelabuhan berkewajiban untuk melakukan perawatan terhadap alur


pelayaran, perambuan dan pengendalian penggunaan alur. Persyaratan perawatan
harus menjamin: keselamatan berlayar, kelestarian lingkungan, tata ruang perairan
dan tata pengairan untuk pekerjaan di sungai dan danau.
[sunting] Peranan pemerintah
Berdasarkan Undang-Undang Pelayaran No. 17 Tahun 2008, Pemerintah
mempunyai kewajiban untuk:
1. menetapkan alur-pelayaran;
2. menetapkan sistem rute;
3. menetapkan tata cara berlalu lintas; dan
4. menetapkan daerah labuh kapal sesuai dengan kepentingannya.

B. Faktor‐faktor yang mempengaruhi pemilihan karakteristik alur masuk ke


pelabuhan:
· Keadaan trafik kapal
· Keadaan geografi dan meteorologi di daerah alur
· Sifat‐sifat fisik dan variasi dasar saluran
· Fasilitas‐fasilitas atau bantuan‐bantuan yang diberikan pada pelayaran
· Karakteristik maksimum kapal‐kapal yang menggunakan pelabuhan
· Kondisi pasang surut, arus dan gelombang

Suatu alur masuk ke pelabuhan yang lebar dan dalam akan memberikan
keuntungan:
· Jumlah kapal yang dapat bergerak tanpa tergantung pada pasang surut akan lebih
besar
· Berkurangnya batasan gerak dari kapal‐kapal yang mempunyai draft besar
· Dapat menerima kapal yang berukuran besar ke pelabuhan
· Mengurangi waktu penungguan kapal‐kapal yang hanya dapat masuk ke pelabuhan
pada waktu air pasang
· Mengurangi waktu transito barang‐barang
C. Standar dan Kriteria Desain Alur Pelayaran
1. Dasar Perencanaan
Keselamatan navigasi, kemudahan operasi kapal, topografi, cuaca dan fenomena
laut serta koordinasi dengan fasilitas harus menjadi pertimbangan dalam
merencanakan alur pelayaran.
2. Layout Alur Pelayaran

Sudut dari garis pusat pada perpotongan alur pelayaran berbentuk kurva tidak boleh
melebihi 30 derajat. Radius kurva tidak boleh kurang dari 1500m atau 4 kali atau
lebih keseluruhan panjang kapal, sedangkan lebarnya harus cukup untuk kapal
bermanuver.

Meski begitu hal ini tidak berlaku jika alur pelayaran hanya dikhususkan untuk kapal
dengan kemampuan berputar tinggi seperti kapal pesiar dan perahu motor atau
ketika keselamatan dan kelancaran operasi kapal dapat dibantu oleh kendali
lalulintas seperti marka dan sinyal

3. Lebar Alur Pelayaran


Lebar alur pelayaran ditentukan berdasarkan:
1. Alur pelayaran standar: 2 jalur alur pelayaran dibuat berdasarkan Table 6.1
tergantung panjang dari alur pelayaran dan kondisi navigasi.
2. Alur pelayaran untuk perahu nelayan atau kapal dengan bobot kurang dari 500 ton:
lebar ditentukan menurut kondisi aktual.

3. Kedalaman Alur Pelayaran


Kedalaman alur pelayaran harus ditentukan berdasarkan draft kapal dengan beban
penuh dari kapal terbesar yang akan direncanakan pada Chart Datum, terutama
pada level Low Water Spring, ditambah dengan keel-clearance. Kapal rencana harus
ditentukan atas dasar pertimbangan ekonomi.
Pertimbangan serupa harus diberikan terhadap jenis tanah pada alur pelayaran dan
kolam saat menentukan keel clearance.
4. Jarak Pemberhentian
Panjang alur pelayaran pada gerbang masuk pelabuhan dan daerah kolam
tambatan harus memperhitungkan jarak pemberhentian kapal.
5. Ketenangan Alur
Ketenangan alur harus ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan
kapal, tempat keberangkatan dan pemakaian tugboat. Terutama pada daerah kolam,
perlu diambil tindakan-tindakan untuk membuat ketenangan sesuai dengan ukuran
serta jenis kapal, dan ukuran tugboat ketika digunakan. Lebih jauh lagi, gelombang
yang muncul yang mempengaruhi gelombang pantai dan refleksi dari breakwater
atau tembok dermaga harus diperhitungkan
6. Perawatan Alur
Kedalaman serta lebar alur harus dirawat secara menyeluruh untuk efisiensi
pelabuhan dan keselamatan navigasi kapal.
Ketika alur direncanakan pada mulut sungai atau pantai dimana arus pesisir
diharapkan, tingkat perawatan pengerukan diperlukan untuk waktu yang akan
datang harus diperkirakan dengan memperhitungkang tingkat transpor sedimen oleh
arus sungai atau tingkat arus pesisir yang disebabkan oleh gelombang dan arus.

D. Standar Desain dan Kriteria Kolam Basin


1. Dasar Perencanaan
Kolam harus mempunyai ketenangan, memiliki perairan lebar yang sesuai dan
kedalaman untuk buang jangkar, tambatan dan manuver kapal dengan aman.
2. Lokasi dan Area Basin
Kolam harus menempati tempat dengan air yang tenang yang dapat diperoleh
dengan mempertimbangkan layout dari fasilitas seperti breakwater, piers dan alur
pelayaran.

3. Area Basin untuk Buang Sauh atau Jangkar


a. Basin digunakan untuk buang jangkar atau tambatan selain itu didepan dermaga,
titik tambatan, harus memiliki luas permukaan air melebihi lingkaran yang disebutkan
pada Table 6.2, dan sesuai dengan kondisi alam seperti topografi, cuaca dan
fenomena laut.

b. Dalam hal kolam untuk tambatan, radius putaran dapat dikurangi sesuai dengan
Table 6.3. Namun jika penempatan horizontal dari pelampung harus diperbesar
karena kondisi seperti pasang surut yang tinggi, radius harus disesuaikan.
c. Kolam untuk buang jangkar atau tambatan pada dermaga, titik tambat ataupun
dermaga apung harus memilik permukaan air yang cukup. Panjang minimal harus
didapat dengan menambahkan lebar terhadap keseluruhan kapal, untuk
memungkinkan kegiatan tambatan dan keberangkata kapal berlangsung aman.

d. Lebar kolam antara dua dermaga yang saling berhadapan harus ditentukan dengan
mempertimbangkan kondisi seperti ukuran kapal, jumlah dermaga dan pemakaian
tugboat. Kolam antara dermaga paralel harus memiliki lebar minimum 8B, dimana B
adalah lebar kapal terbesar.
e. Untuk menentukan lokasi, pertimbangkan hal-hal berikut:
deviasi dari posisi sandar dan jangkar, dan
jarak aman dalam hal kapal sandar dengan muatan barang berbahaya

4. Luas Kolam untuk Manuver Kapal


1. Kolam Putar
Luas kolam untuk berputar haluan harus melebihi luas lingkaran dengan radius 1,5
kali panjang keseluruhan kapal. Agar dapat berputar haluan (putar haluan) dengan
menggunakan jangkar ataupun tugboat, luas kolam harus melebihi luas lingkaran
dengan radius panjang keseluruhan kapal. Namun untuk kolam yang sangat tenang
dan kapal dengan kemampuan putar haluan tinggi, luas dapat dikurangi dengan
jarak yang tidak menyulitkan putar haluan.
2. Kolam Tambat
Ukuran kolam tambat harus ditentukan dengan hati-hati mempertimbangkan
pemakaian tugboat, pendorong haluan dan buritan, serta pengaruh angin dan arus.

5. Kedalaman Kolam
Kedalaman kolam harus 1,05 – 1,15 kali draft dengan beban penuh dari kapal yang
direncanakan dibawah level chart datum, mempertimbangkan gerak oscilatoris dari
kapal akibat kondisi alam seperti gelombang, angin dan arus pasang. Dimana:
a. kedalaman kolam berhubungan dengan gelombang laut (dasar laut)
b. .05 = keel clearance di kolam dalam
c. .15 = keel clearance di kolam luar

Namun hal ini tidak akan berlaku untuk kolam yang digunakan untuk jangkar atau
tambatan khusus. Dalam hal kolam digunakan untuk kapal feri, perbedaan draft
antara haluan dan buritan harus diperhitungkan untuk menentukan kedalaman
basin. Lebih jauh, dimana tinggi permukaan laut dari kolam dapat saja dibawah
tingkat Chart Datum karena perubahan musiman dari ketinggian rata-rata muka air
lebih besar dari perubahan tinggi pasang, atau karena kolam terbuka terhadap
gelombang tinggi dan swell, pengaruh-pengaruh in harus dipertimbangkan.
6. Ketenangan Kolam
Kolam harus memiliki air yang tenang, untuk manuver kapal dan kegiatan pelabuhan.
Untuk memperoleh ketenangan tersebut, rencana menyeluruh harus dibuat dengan
memperhatikan pengaturan panjang dan tinggi puncak breakwater, dan pembuatan
penyerapan gelombang untuk mengurangi pengaruh fenomena kapal seperti
difraksi, overtopping dan refleksi

E. Pengerukan alur pelayaran


Untuk mempertahankan kedalaman dan lebar alur pelayaran sebagaimana
dikehendaki perlu dilakukan pengerukan. Pengerukan secara reguler penting
khususnya dipelabuhan-pelabuhan yang sedimentasinya tinggi ataupun disungai-
sungai yang banyak membawa material erosi atau sampah dari hulu sungai.
Pengerukan (Bahasa Inggris: Dredging) berasal dari kata dasar keruk (dredge),
menurut kamus berarti proses, cara, perbuatan mengeruk. Sedangkan definisi
pengerukan menurut Asosiasi Internasional Perusahaan Pengerukan adalah
mengambil tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya perairan dangkal
seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan memindahkan atau
membuangnya ke lokasi lain.
Menurut SNI 19-6471.3-2000 tentang Tata Cara Pengerukan Muara Sungai dan
Pantai Bagian 3: Pemilihan Pantai; Pengerukan adalah pemindahan tanah, batuan
atau debris dari bawah air dan diangkat melalui air keatas.
Pengerukan agitasi adalah pengerukan endapan dari dasar laut dan dengan
pengadukan ember bila diisi pada elevasi ujung pemotongan.
Kapal Keruk adalah peralatan mekanik, hidraulik atau listrik yang digunakan untuk
pengerukan.
Karakteristik Jenis kapal Keruk, antara lain:
a. Kapal Keruk Hisap berpalka bergerak;
b. Kapal Keruk Hisap Stationer Berpalka;
c. Kapal Keruk Potong Hisap;
d. Kapal Keruk Hisap
e. Kapal Keruk Roda Berember;
f. Kapal Keruk Grab Hopper
g. Kapal Keruk Ponton Grab
h. Kapal Keruk ’backhoe’
i. Kapal Keruk Dipper
Sebuah trailing suction hopper dredger atau TSHD menyeret pipa penghisap ketika
bekerja, dan mengisi material yang diisap tersebut ke satu atau beberapa
penampung (hopper) di dalam kapal. Ketika penampung suda penuh, TSHD akan
berlayar ke lokasi pembuangan dan membuang material tersebut melalui pintu yang
ada di bawah kapal atau dapat pula memompa material tersebut ke luar kapal.
TSHD terbesar di dunia adalah milik perusahaan Belgia yaitu Jan De Nul TSHD.
Vasco Da Gama (33.000 m3 penampung, 37,060 kW total tenaga yang ada) dan
perusahaan Belanda Boskalis TSHD. W.D. Fairway (35.000 m3 penampung).
PT Pengerukan Indonesia memiliki pula kapal keruk jenis ini seperti TSHD.
Halmahera dan TSHD. Irian Jaya. Digunakan untuk melakukan maintenance
dredging di pelabuhan-pelabuhan seluruh Indonesia.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alur pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas
hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari
oleh kapal di laut, sungai atau danau.