Anda di halaman 1dari 8

Contoh Naskah untuk Drama Mini Seri

RAINKARNASI-MAN (Drama Mini Seri Satukan Persepsi Iklan Aman)


“Vitamin C meruah, Uang dan Nyawaku Bertarung”

Bagian I
Aji :“Perkenalin, gue Aji, gue tinggal di sebuah kontrakan yang sangat mewah” (sambil
menggerakkan kedua jari telunjuk dan jari manisnya)”
“Ups... maksud gue itu mepet sawah”
“Dijamin loe semua nggak ngerti apa artinya mepet kan?” (Sambil melototkan matanya)
“Mepet itu penjelmaan manusia menjadi babi yang suka ngambil uang pada malem hari”
(dengan muka meyakinkan)
“eh, itu sih babi ngepet ya” (Menggelengkan kepala)
“Mepet itu berasal dari bahasa sasak yang berasal dari Lombok, artinya dekat”
“Gimana, loe semua sudah ngerti kan?” (memajukan sedikit badannya)
“Walaupun mepet sawah, kontrakan gue ini adem banget”
“Jelas adem, kiri kanan depan belakang di kelilingi sawah”
“Gue disini tinggal bareng dua sahabat gue yang kalah ganteng sama gue” (lebih
menonjolkan wajahnya)
“Mereka berdua adalah Saka dan Koko” (memperlihatkan foto Saka dan Koko yang ada di
dompetnya)
“Kalah ganteng kan sama gue?” (tertawa kecil)
“Kita kuliah di fakultas yang berbeda, tapi di universitas yang sama, gue di Fakultas Teknik
Elektro, Saka di teknik mesin, dan Koko yang paling lain daripada yang lain, dia di Fakultas
Kedokteran Hewan” (Mata melotot)
“Pantes aja sampai-sampai jenis pencernaan semut dia tahu” (Menggeleng)
“Kita sangat sibuk, padat dengan jadwal terbang, terbang ke kampus maksudnya, pake mobil
buntut si Saka yang sangat manja, selalu ingin didorong setiap pagi, seperti anak bayi”
(Menggelengkan kepala), “Saka nggak mau mengganti mobilnya, karena sekalian untuk
praktik kuliahnya, secara dia kan kuliah di teknik mesin”
“Tapi, asal loe semua tahu, walaupun jadwal terbang yang begitu padat, kita selalu sempat
untuk berkumpul malam hari sambil menonton televisi, tapi Koko suka banget nonton
sinetron. So, sebagian besar sampah kontrakan ini berupa tisu”

BAGIAN II = Menonton Televisi


Koko : “Coba liat si Fitri, pacarnya mutusin dia karena dia kena kudis” (menangis tersedu-sedu)
Aji : “Astaga Ko, itu kan mirip banget sama kisah cinta si Saka yang diputusin gara-gara ada
kudis di jidatnya yang selalu di tutupi oleh rambutnya” (Memandang saka yang lagi
menyandarkan badannya di tembok)
Saka : “Ah kalian mengungkit kisah masa lalu gue yang begitu berwarna aja, sekarang gue kan gak
kudisan lagi” (sambil memperlihatkan jidatnya), “Ini semua berkat obat anti kudis yang gue
liat di iklan sebulan yang lalu” (Menunjuk obat anti kudis)
Aji : “Loe mah, semua produk iklan loe coba, ntar malah ketipu loh” (mengkerutkan wajahnya)
Saka : “nggak bakal, kan kalau udah masuk TV pasti produknya aman” (Meyakinkan Aji)
Koko : “Kalian ini, ngomongin apa sih?”
“Nggak liat temen kalian yang lagi tersedu-sedu nih” (sambil mengusap ingusnya dengan tisu)
Aji : “Loe ngeluarin ingus sebanyak itu karena sinetron itu doang?” (sambil menunjuk ke arah
TV”
Koko : “Bukan, tapi karena tadi pas ujian aku belum jawab semua soalnya karena kehabisan waktu”
(mengusap ingusnya lagi)
Aji : “Oalah, cuma karena itu doang, gue punya solusinya”
“Mau cepet ngerjain soal UAS ? Pake RINSO kekuatan 10 tangan!” (sambil tertawa terbahak-
bahak)
Saka : “Bener banget, kalau pake kekuatan 10 tangan, cepet kan tuh nulis jawabannya walaupun
mengarang indah” (tertawa terbahak-bahak)
Koko : “Ah, ide kalian semua masih standar”
“Ide gue nih yang lebih bagus buat loe Jik yang sedang bermasalah dengan skripsi”
Aji : “Apa?” (penasaran)
Koko : “Ingin skripsi lebih selesai dengan cepat? Pakai MOLTO ULTRA sekali bilas” (tertawa puas
dapat membalas Aji)
Aji : “Eh, yang ada tulisan di skripsi gue gak ada, dibilas terus”
Saka : (Tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dua sahabatnya tersebut), “Oh iya, gara-gara kalian
ngomongin skripsi, aku jadi inget sama kejadian tadi pagi, fantastis banget” (mencoba
mengingat kejadiannya tadi pagi saat di raungan dosen)
“Loe semua tahu nggak?”
Aji : “Temen gue yang satu ini emang aneh banget ya, belum aja cerita, bagaimana kita bisa tahu”
(mengkerutkan keningnya)
Saka : (sambil tertawa kecil), “sorry gue lupa bro”
“Tadi ke ruang dosen PA gue, pas aku getok pintunya, gak ada yang respon, akhirnya dengan
pertimbangan yang sangat matang, gue memberanikan diri untuk membuka pintunya”
“Betapa kagetnya gue, saat aku lihat dosen PA gue itu, dosen PA gue itu, dosen PA gue itu...”
(Meninggikan nada suaranya)
“Kalian semua tahu apa yang beliau lakukan?”
Koko : “Saka, jelas nggak tahu lah, kan kita gak punya video rekaman CCTV ruangan dosen PA
loe”
Saka : “Oh iya, gue lupa lagi” (tertawa kecil), “ternyata beliau sedang menggunakan headset” (mata
melotot)
Aji : “Eh, gue kira dosen PA loe lagi joget dangdut” (Membayangkan)
Koko : “Bener banget, gue kira begitu juga” (wajah serius), “cerita loe cuma itu aja. Sak?”
“Fantastisnya mana?” (Mengkerutkan kening)
Saka : “Gue belum selesai cerita nih”
“ Gue ke dosen PA gue buat mengambil skripsi gue yang dikoreksi beliau”
“Betapa kagetnya gue pada saat membuka lembaran demi lembaran skripsi gue, penuh dengan
coretan-coretan berharga dan berwarna” (Mengingat kembali coretan di skripsinya)
Aji : “Pantesan aja tuh muka kamu yang udah kusut tambah kusut” (Memperlihatkan wajah yang
menunjukkan keprihatinan)
Koko : “Iya, Loe juga lesu banget tuh akhir-akhir ini”
Saka : “Iya, sepertinya daya tahan tubuh gue menurun, gue membutuhkan suatu suplemen nih
sepertinya”
Aji : “Mulai lagi nih orang, banyak banget mengkonsumsi sesuatu yang aneh-aneh”
(menggelengkan kepala)
Saka : “Coba kalian liat itu!” (Reflek menunjukkan ke arah televisi)
Aji : “Ada apa Sak dengan televisi itu?” (bingung)
Saka : “Iklannya loh”
Koko : “Wah, bintang iklannya catik ya”
Aji : “Bener, itu kan aktris internasional”
Saka : “Ah, mata kalian ini, cepet banget kalau masalah cewek cantik”
Aji : “Jelas dong, kita kan lelaki sejati”
Koko : “Tepat banget”
Saka : “Eh, gue juga lelaki sejati loh”
Aji : ”Yang bilang loe bukan lelaki sejati siapa?”
Saka : “Ah, cukup-cukup” (penuh ekspresi)
“Gue mau beli suplemen vitamin C yang diiklankan itu loh”
Koko : “Sudah gue duga” (mengkerutkan kening)
Saka : “Suplemen itu mengandung vitamin C 1000 mg , kata iklan itu jika mengkonsumsi vitamin
C, akan menambah daya tahan tubuh dan terhindar dari berbagai penyakit, cocok banget buat
gue. yang harus menjaga daya tahan tubuh gue selama mengerjakan skripsi”
“Secara, gue sekarang harus sering begadang untuk nyelesein skripsi gue”
Aji : “Ah, itu aman nggak?”
Saka : “Amanlah bro, bintang iklannya kan aktris internasional, nggak mungkin mau menjadi
bintang iklan kalau produk yang dipromosikannya nggak aman” (mencoba meyakinkan)
“Kata bintang iklannya, vitamin C 1000 mg bisa memenuhi kebutuhan vitamin C tubuh sehari
penuh, gue bakal minum setiap hari deh”.
“Supaya tubuh dan wajah gue fresh kembali walaupun begadang terus”
Aji : “Ya udah, terserah loe aja deh, gue sih nggak minat”
Koko : (Tiba-tiba nyeletuk), “Sesudah begadang, tetap berasa healthy inside fresh outside” (tertawa
geli)
Saka : “Sumpah, loe cocok banget jadi bintang iklan itu” (Mengacungkan kedua jempol ke arah
Koko)
Karena sudah larut malam, mereka memutuskan untuk tidur.

Bagian III
Keesokan harinya, Saka memutuskan untuk membeli suplemen yang mengandung vitamin C
itu di supermarket dekat kontrakannya.
Saka : (Bangun tidur), “Gue sekarang harus cao nih menuju supermarket terdekat, membeli
suplemen vitamin C 1000 mg supaya gue healthy inside fresh outside” (langsung
bergegas keluar rumah dan memakai sandal jepit)

Perjalanan menuju supermarket ditempuh dengan jalan kaki. Saka berjalan dibawah terik
matahari yang begitu menyengat.

Saka : ”Sumpah, mi apah” (korban virus alay), “Matahari ini begitu indah, bersinar dengan
begitu cerah. Fuh” (Mengusap keringat di kening)
“Nah, akhirnya gue sampai juga” (mengatur nafas dan segera masuk)
Saka :”dimana yah suplemen itu?” (bertanya dalam hati sambil menengok ke kanan dan kiri
rak-rak di minimarket)
“ Ini dia, akhirnya ku menemukanmu” (membayangkan sebuah lagu)
Pelayan toko : “Mas, ada yang perlu saya bantu?”
Saka : “Ada mas, saya butuh suplemen ini sebanyak 3 lusin” (Mata melotot)
Pelayan toko : (Ikut melototkan mata), “Hah?, banyak banget mas”
Saka : “Saya membutuhkan itu semua agar saya sehat kuat, rajin belajar” (Dengan nada
bernyanyi)
Pelayan toko : (Kening mengkerut), “Oke mas, tunggu sebentar, saya ambilkan”
Saka : (Menuju ke kasir, siap untuk membayar)

Setelah selesai membayar, Saka bergegas pulang. Sesampainya dirumah, dia langsung
membuka wadah dari suplemen tersebut.

Saka : “Nah, ini dia suplemen yang bakal membuat gue sehat sentosa walaupun begadang ngerjain
skripsi” (Dengan bangga sambil memegang suplemen tersebut)
Aji : “Eh, itu apaan Sak?” (Baru bangun, sambil mengusap-ngusap matanya)
Saka : “Ini loh, suplemen yang mengandung vitamin C 1000 mg, gue bakal minum ini setiap hari”
(Wajah bangga)
Aji : “Eh, gila loe, setiap hari?, harganya berapa?”
Saka : “hem, lumayan mahal sih, selusin.........”
Aji : “Gila loe, mahal amat” (kaget)
Saka : “Ah, biarin aja, yang penting gua healthy inside, fresh outside”
Aji : “Lebih mending aku pakai buat hangout”
Saka : “Ya udah, terserah gue, gue mau minum suplemen ini dulu ya”
Aji : “Ya udah, gue mau bangunin si Koko, mau pinjem pasta gigi dia” (Menuju kamar Koko)
Saka : “Ya ampun, pasta gigi aja di pinjem, gimana cara ngembalikannya coba” (Menggaruk
kepala)
Saka langsung meminum suplemen tersebut tanpa melihat petunjuk yang terdapat di wadahnya.
Hal ini dikarenakan iklan tersebut tidak menampilkan spot peringatan konsumen, seperti ”baca aturan
pakai!”

BAGIAN IV
Setelah 6 bulan mengkonsumsi suplemen vitamin C 1000 mg tersebut, Saka menjadi tidak
pernah sakit 6 bulan terakhir dan tetap bugar.
Aji : “Sak, loe akhir-akhir ini gue liat gak pernah sakit and keliatan bugar, padahal loe kan
begadang terus, apa rahasiannya bro?”
Saka : “Lah, loe lupa?, ini kan gara-gara gue rajin mengkonsumsi suplemen vitamin C 1000 mg
setiap hari” (memegang suplemen vitamin C)
Aji : “Wah, yang bener?, mempan juga y”
“Tapi, loe jarang hangout nih 6 bulan terakhir nih, kenapa?”
Koko : (Keluar dari kamar, tiba-tiba nyeletuk), “Gue tahu, Saka sekarang rajin nyeleng loh”
(tertawa kecil)
Aji : “Beneran loe rajin nabung sekarang?”
“Mana celengan loe?, gak pernah gue liat tuh di kamar loe”
Koko : “Loe polos banget sih Jik, Saka itu nyeleng di di perutnya, nyeleng vitamin C” (tertawa geli)
Aji : (Tertawa terbahak-bahak), “Bener banget Ko, uangnya berubah menjadi vitamin c”
Saka : “Biarin, yang penting gue sehat walafiat terus” (Membela diri)
Aji : “Gue dan Koko aja sehat kuat dan rajin belajar juga kok walaupun nggak minum suplemen
itu” (mengejek)
Koko : “Bener tuh, soalnya kita berdua rajin fitnes dan makan makanan 4 sehat 5 sempurna”
Aji : “Kalau saka 4 sehat, 6 sempurna” (tertawa geli)
Saka : “Ah, terserah kalian” (Bergegas masuk kamar)
Koko : “Yah, jangan marah bro, becanda doang” (tertawa kecil)

BAGIAN V

Beberapa hari kemudian


Saka : (terduduk lesu di sofa ruang tamu)
Koko : (Turun dari mobil buntut Saka)
“Gila mobil loe ni Sak, Mogok hampir 9 kali di 9 lampu stop-an” (Flash back kejadian tadi)
Saka : “Lah, siapa suruh pinjem mobil gue?” (sedikit mengejek)
Koko : “Loe liat sendiri, hujan, petir dan kilat cetar membahana gitu, nggak mungkin gue pake
motor”
Saka : “Tapi loe tetep basah aja tuh” (tertawa kecil)
Koko : “Ini mah karena keringat dingin gue, di klakson sama mobil-mobil di belakang gue gara-gara
mobil loe ini macet, untungnya 5 menit kemudian baru bisa nyala, huh” (Mengeluarkan tisu
dari tas sambil membayangkan musibah yang menimpanya tadi)
Saka : “Sabar ya bro” (tertawa kecil)
Koko : “iya, aku sudah terbiasa dengan semua ini”
“Bye the way, kenapa loe kelihatan lesu banget?”
Saka : “udah 2 hari terakhir ini saat gue pipis, pasti sakit gitu” (Muka lesu)
Koko : “Kok bisa ya, kalau menurut ilmu kedokteran hewan, pasti ada kelainan tuh” (muka serius)
Saka : “Loe kira gue hewan?” (Mata melotot)
Koko : “Nggak sih, tapi fisiologi manusia mirip sama fisiologi tikus, sehingga...”
Aji : (Tiba-tiba datang dan memotok pembicaraan Koko) “Sehingga obat tikus cocok buat obat loe
Sak” (muka serius)
Koko : “Bukan gue yang bilang” (Mengangkat kedua tangan)
Saka : “Ah, gue serius nih bro” (Muka memprihatinkan)
Aji : “Gue juga serius, kalau begitu periksain ke dokter langganan kita aja”
Koko : “Dokter di kampus gue aja, gratis loh” (Memberi solusi baru)
Saka : “Itu kan dokter hewan, Kokooo”
Koko : “Oh iya, gue lupa kalau loe manusia” (dengan polos)
Saka : (memukul keningnya)
Aji : “Ya Udah, nanti gue bookingin ya”
Koko : “Mau booking tempat fitnes yang dimana bro?”
Aji : “Hah?, tempat fitnes?”
“Loe ini, nggak nyambung deh, gue mau booking dokter karina”
Koko : “Astaga, loe tega jahat banget mau booking dokter Karina yang cantik jelita itu” (Mata
melotot)
Saka : “Astaga, ni anak otaknya ngeres banget ya, gue mau booking dokter Karina buat si Saka yang
mau berobat ke dia nanti malam supaya nggak ngantri lama” (mencoba menjelaskan)
Koko : “Oalah, kiraen” (menggaruk kepala)
Aji : “Ya udah, loe mandi gih, nanti malam kita anterin Saka ke dokter, biar gue yang nelpon ke
asisten dokter Karina untuk booking” (Menyuruh Koko mandi)
Koko : “Sip bos, harus tampil ganteng supaya dokter Karina terpesona” (bergegas menuju kamar
mandi)
Aji : “Dasar Koko”
“Loe juga mandi gih Sak, gue juga mau mandi, gue harus tampil ganteng malem ini”(bergegas
menuju kamar mandi)
Saka : “Eh, katanya loe mau nelpon dokter Karina”
Aji : “Loe aja deh, gue nggak ada pulsa”
Saka : “Dasar nggak ada modal”
Akhirnya, siang itu juga Saka menelpon ke asisten dokter Karina untuk mendapat nomor antri.

BAGIAN VI
Ketiga sahabat tersebut sedang menunggu giliran nomor antrenya di klinik dokter Karina.
Setelah sekitar 2 jam menunggu, akhirnya giliran Saka untuk diperiksa.
Asisten klinik : “Nomor urut 29, atas nama Saka dipersilahkan untuk masuk ke ruangan dokter
Karina!”
Aji : (Membangunkan Saka yang tertidur di kursi), “Sakaaa, giliran loe masuk” (sedikit
berteriak di telinga Saka)
Saka : “Siap pak” (Refleks berdiri walaupun dengan mata masih sayu-sayu)
Aji : “Eh, loe kira gue dosen loe” (Sedikit menyadarkan Saka)
Koko : (tertawa kecil), “Wah, si Saka mimpiin dosennya tuh, so sweet banget” (Muka imut)
Saka : “Aduh, kalian ngomong apaan sih, gangguin gue tidur aja” (Mengucek-ngucek mata)
Aji : “Udah, yok Sak, giliran loe tuh” (mendorong Saka menuju ruangan dokter Karina)
Saka : “Iya, tapi loe jangan ikut masuk ya, gua mau berduaan aja sama dokter Karina yang
cantik jelita itu” (Merapikan rambut)
Aji dan Koko : “Nggak bisa” (serempak)
Koko : “Gue mau nemenin loe karena gue pengen ngeliat dokter Karina” (Merapikan kerah
baju)
Aji : “Bener banget tuh, kita berdua udah lama nggak ketemu dokter Karina”
“Kebetulan loe sakit, kita bisa ketemu dokter Karina deh”
Saka : “Modus” (Menaikkan satu alis)
Asisten : “Saudara Saka bisa segera masuk!” (peringatan kedua)
Koko : “Sudah diperingatin tuh, asistennya galak loh, ayok cepet deh kita masuk”
(Mendorong kedua temannya untuk segera masuk)

BAGIAN VII
Mereka bertiga langsung dipersilahkan duduk oleh dokter Karina.
Dokter Karina : “Saka, Aji, Koko, sudah lama tidak bertemu dengan kalian” (menjulurkan tangan
untuk bersalaman)
Aji : “Baik bu Dok cantik” (bersalaman dengan dokter Karina)
Koko : “Super sekali bu Dok Manis” (bersalaman dengan dokter Karina)
Saka : “Kurang baik bu Dok” (bersalaman dengan dokter Karina)
Dokter Karina : “Kamu yang sakit toh Sak”
“Kamu ada keluhan apa?”
Aji : “Kalau pipis, dia merasa sakit di daerah genitalnya Dok”
Saka : “Kok loe yang jawab, kan gue yang ditanya, huh” (menyenggol tangan Aji)
Aji : “Gue kan peduli sama loe” (sediki berbisik sambil tersenyum ke arah dokter Karina)
Dokter Karina : “Wah, Aji tahu saja keluhannya Saka, sahabat yang baik”
Aji : “Iya Dok, harus saling peduli” (tersenyum)
Koko dan Saka : “Modus” (sedikit berbisik)
Dokter Karina : “Ya sudah, mari Saka saya periksa dahulu”
Saka : “Oke ibu dokter” (segera beranjak menuju tempat pemeriksaan)
Lima belas menit kemudian, Saka selesai diperika.
Koko : “Bagaimana keadaan sahabat saya dok?” (sedikit serius)
Dokter Karina : “Tekanan darahnya agak rendah, tetapi tidak berbahaya, mungkin karena dia terlalu
kecapean”
Aji : “Mungkin karena Saka sering begadang dok” (menambahkan)
Dokter Karina : “Mungkin saja, tapi kalau masalah sakit pada saat pipis harus dilakukan pemeriksaan
urin dan Rotgen di laboratorium”
Saka : “Ya sudah, sekarang saja diperiksa dok”
Dokter Karina : “Iya, sekarang saya berikan rujukan untuk melakukan test di laboratorium, rujukan
ini segera diberikan ke dokter Parit di lantai 3 ya”
Saka : “Berarti yang menguji urin saya dokter Parit ya dok?” (melotot)
Dokter Karina : “Iya Saka, nanti hasilnya diberikan ke Saya”
Aji dan Koko : (tertawa kecil)

Saka menjalani test laboratorium malam itu juga. Setelah beberapa lama menunggu, hasilnya
pun keluar. Hasilnya segera diserahkan ke dokter Karina untuk dibacakan dan dijelaskan hasilnya.

Saka : “Ini hasil tes laboratorium dok” (menyerahkan amplop berisi hasil tes laboratorium)
Dokter Karina : “Sekarang kita bisa tahu ada masalah apa dengan Saka” (Membuka amplop tersebut)
Aji : “Gue penasaran nih”
Saka : “Gue lebih penasaran, Jik” (mengkerutkan kening)
Koko : “Gue penasaran sama kelanjutan sinetron yang kemaren”
Aji : “Astaga Ko, loe nggak bisa kekurangan sinetron y”
Dokter Karina : “Astaga” (Nada kaget)
Saka : “Kenapa, dok?”
“Gimana hasilnya?” (Sedikit mencondongkan tubuh)
Dokter Karina : “Urine kamu mengandung banyak vitamin C dan menurut hasil Rotgen, ada batu ginjal
di tubuh kamu”
Saka,Aji,Koko: “Apa?” (serempak spontan kaget)
Dokter Karina : “Tetapi tenang, belum terlalu parah, untung saja segera diperiksakan” (Menjelaskan)
Aji : “Dokter bilang, Saka kelebihan vitamin C?”
Dokter Karina : “Iya, dengan mengkonsumsi vitamin berlebihan, maka akan memperberat kinerja
ginjal. Vitamin C yang larut dalam air berarti membuat pengeluaran urin yang
mengandung vitamin C menjadi meningkat dibandingkan biasanya. Bahkan batu ginjal
pun lebih mudah terbentuk.
Koko : “Nah, Saka selalu mengkonsumsi suplemen vitamin C 1000 mg setiap hari dok”
(muka serius)
Dokter Karina : “Pantas saja, sudah berapa lama dikonsumsi”
Saka : “Hem, sekitar 6 bulan dok”
Dokter Karina : “Astaga”, (Kaget)
“Kenapa kamu mengkonsumsi suplemen tersebut setiap hari?”
Saka : “Awalnya saya menonton iklan di TV, ada iklan yang mempromosikan suplemen
tersebut”
“Di iklan itu sijelaskan jika mengkonsumsi vitamin C akan membuat kita lebih fresh
luar dalam serta terhindar dari penyakit dan dianjurkan untuk mengkonsumsi setiap
hari”
“Telah terbukti, saya menjadi jarang sakit, sukar mengantuk, jarang stress walaupun
saya sangat sibuk” (Menjelaskan)
Koko : “Jarang sakit iya, tapi sakarang sakitnya sekalian” (sedikit berbisik)
Saka : (Menyenggol lengan Koko)
Dokter Karina : “Iya, memang benar begitu. Hal ini disebabkan karena vitamin C memberikan efek
anti-histamin. Sedangkan histamin hampir selalu dilepas dalam saluran pernafasan
sebagai reaksi serupa alergi terhadap selesma. Vitamin C ini dapat bertindak sebagai
obat anti-histamin alias obat anti stress, karena dapat mengurangi gejala stress dan
memberikan perasaan tenang. Perasaan inilah yang kemudian membuat banyak
konsumen meminum vitamin C dosis tinggi, padahal terdapat dampak negatif di balik
semua itu” (Menjelaskan secara detail)
Saka : “Kok, iklan itu menyarankan meminum vitamin C 1000 mg tiap hari, memangnya,
batas normal vitamin C yang boleh dikonsumsi perhari berapa dok?”
Dokter Karina : “Dosis anjuran untuk pria dewasa adalah 90 mg/hari dan untuk wanita dewasa adalah
75 mg/hari.
Koko : “Lalu bagaimana bisa dijual suplemen dengan dosis sampai 1000mg/hari?”
Dokter Karina :“Tentu itu semua demi kebutuhan produsen. Karena dengan konsumsi secara banyak,
tentu akan diserap tubuh dengan maksimal. Sisanya akan dikeluarkan melalui urin.
Jika Saka mengkonsumsi 1000 mg per hari, berarti kan sudah kelebihan 910 mg
vitamin C dan itu terbuang beitu saja bersama urin serta ada yang mengendap menjadi
batu ginjal. Selain batu ginjal, dampak negatif dari kelebihan vitamin C ini, yaitu sakit
kepala, mual, muntah, perut sakit, kram usus, diare, gangguan pencernaan, kemudian
iritasi di kerongkongan, hingga pengeroposan gigi”
Aji : “Saka sih, cepat banget percaya sama produk iklan, dok” (mengadu)
Saka : “Kalau yang di iklan, pasti aman” (membela)
Dokter Karina : “Saka, belum tentu produk yang diiklankan itu benar”
“Kamu harus lebih peka dan selektif dalam memilih produk iklan untuk dikonsumsi
karena iklan-iklan saat ini sudah banyak yang tidak memenuhi syarat yang
ditetapkan”
Koko : “Bagaimana syarat dari iklan yang baik itu, dok?” (wajah penasaran)
Dokter Karina : “Iklan sediaan farmasi yang secara ideal salah satunya zat aktif yang digunakan serta
efek yang ditimbulkan baik efek yang berkhasiat dan efek samping.
Aji : “Wah, jarang banget ada iklan yang menampilkan efek samping dari obatnya, bisa
gulung karpet mereka. Eh salah, gulung tikar” (mengetuk-ngetuk pelipis kanan dengan
jari telunjuk)
Dokter Karina : “Selain itu program siaran iklan untuk produk rokok dan obat yang tidak dibacakan
sebagai narasi, wajib menayangkan peringatan konsumen dengan panjang sekurang-
kurangnya 3 detik untuk semua durasi spot”
Koko : “Wah, itu maksudnya apa ya dok?”
Dokter Karina : “Maksudnya itu, misalnya saja iklan rokok, pasti ada peringatan kalau merokok dapat
menyebabkan impotensi dan lain-lainnya kan. Nah, kalimat itu tidak diucapkan dalam
iklan, hanya saja pada akhir dari iklan, kalimat tersebut ditayangkan dengan latar
belakang layar putih atau hitam. Sekurang-kurangnya sekitar 3 detik. Begitu juga
dengan iklan obat”
Koko : “Saya mengerti” (nada suara seperti anak-anak yang baru saja diajarkan ibu guru)
Aji : “Nah, di iklan suplemen vitamin C itu ada spot peringatan nggak, Sak?”
Saka : “Hem, sepertinya nggak ada deh” (mencoba mengingat)
Aji : “Pantes aja” (memukul keningnya pelan)
Dokter Karina : “Kalau tidak ada spot peringatan begitu, kamu harus mewaspadainya. Kamu bisa
mencari info yang akurat dari media massa seperti internet. Selain itu, kamu juga
harus memperhatikan anjuran pada kemasan produk tersebut. Biasanya tertulis
peringatan dosis yang aman dan efek samping dari produk obat tersebut. Sehingga,
semua kembali kepada kita sebagai konsumen. Kita harus cerdas dalam memilih
produk, terutama produk sediaan farmasi seperti obat untuk dikonsumsi. Jangan
menelan mentah-mentah iklan yang ada di televisi ya”
Koko : “Wah, dokter Karina hebat, pintar, cantik lagi” (Gaya alay)
Aji : “Kalau nggak pintar, nggak bakal jadi dokter, Ko”
Koko : “Oh iya” (tertawa kecil)
Dokter Karina : “Kalian ini ada-ada saja, dasar anak muda” (tersenyum)
Saka : “So, Bagaimana pengobatan untuk penyakit saya ini, dok?”
Dokter Karina : “Karena batu ginjalnya kecil, tidak perlu dilakukan operasi, nanti saya akan
memberikan obat penghancur batu ginjalnya. Selain itu kamu juga harus
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam amino dengan begitu
mencegah terbentuknya kristal yang dapat membuat batu ginjal membesar”.
Saka : “Apa saja contoh makanan yang mengandung asam amino, dok?
Dokter Karina : “Contohnya teripang, kulit buah manggis dan roti gandum. Selain itu kamu juga harus
mengurangi makan makanan yg berkalsium
Saka : “Oke deh dok, siap dilaksanakan” (hormat)
Dokter Karina : “Satu lagi, kamu harus rajin olahraga karena olahraga teratur kan lebih memudahkan
pengaliran air kencing keluar. Otot-otot yang terlatih akan membantu memperlancar
urin keluar. Selain itu, gerakan tubuh yang teratur tidak memudahkan pengendapan
unsur-unsur pembentuk batu saluran kencing. Di samping olahraga perlu juga diikuti
dengan minum air bersih antara 2-3 liter sehari. Pengeluaran keringat yang cukup
banyak selama berolahraga akan menyebabkan berkurangnya air di dalam tubuh.
Untuk ini, perlu diimbangi dengan cairan yang diminum”
“Ini semua bisa dijadikan unuk pencegahan juga untuk kalian berdua” (Menatap Aji
dan Koko)
Aji : “Pastinya dok, kita berdua selalu rajin olah raga. Ya kan, Ko? (menyenggol lengan
Koko)
Koko : “Yup, tepat sekali. Cuma si Saka aja nih yang malas olah raga. Malah minum obat
yang nggak aman gitu.
Aji : “Habisin duit juga”
“Vitamin C Meruah, Uang dan nyawaku Bertarung” (Tertawa)
Koko : “Bener banget tu, Jik” (Tertawa)
Saka : “Jangan gitu dong, gue khilaf bro”
“Gue akan lebih waspada lagi dan hidup sehat deh”
Aji : “Bercanda bro” (masih tertawa kecil)
Koko : “Kalau begitu, kita mulai dari nol”
Saka : “Oke bro. Tapi, kayak mau lebaran aja” (tertawa)
Dokter Karina : “Nah, begitu dong. Ini baru namanya sahabat” (tersenyum)

Saka menyadari kebiasaan buruknya yang mudah percaya dengan produk yang diiklankan di
media massa terutama di televisi. Akhirnya, Saka mulai menerapkan hidup sehat bersama kedua
sahabatnya. Hasilnya, dia sembuh dari penyakitnya dan tetap fresh serta mampu menyelesaikan
skripsinya tepat waktu.