Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ACUTE


MYELOID LEUKEMIA (AML) DI RUANG ASTER
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

oleh:

Nikmatul Khoiriyah
NIM 122311101075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
AGUSTUS, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ACUTE MYELOID
LEUKEMIA (AML)
Oleh: Nikmatul Khoiriyah NIM 122311101075

A. Konsep Teori Acute Myeloid Leukemia (AML)


1. Definisi
Leukemia adalah penyakit ganas, progresif pada organ-organ pembentuk
darah yang ditandai dengan ploriferasi dan perkembangan leukosit serta
pendahulunya secara abnormal di dalam darah dan sumsum tulang (Ramadi,
2005). Sedangkan menurut Setiawan (2005), Leukemia adalah penyakit yang
ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah.
Sel- sel abnormal ini menyebabkan timbulnya gejala karena :
a. Kegagalan sumsum tulang (anemia, netropenia, trombositopenia)
b. Infiltrasi organ ( hati, limpa, kelenjar getah bening)

Leukemia mieloid akut atau acute myeloid leukaemia (AML) merupakan


keganasan pada sumsum tulang yang berkembang secara cepat pada jalur
perkembangan sel myeloid (Safitri, 2005). Leukemia mieloblastik akut (LMA)
adalah suatu penyakit yang ditandai dengan transformasi neoplastik dan gangguan
diferensiasi sel-sel progenitor dari seri myeloid (Sutoyo dan Setiyohadi, 2006).
Acute Myeloid Leukemia merupakan suatu bentuk kelainan sel hematopoetik yang
dikarakteristikkan dengan adanya proliferasi berlebihan dari sel myeloid yang
dikenal dengan myeloblas (Rogers, 2010).

2. Epidemiologi
Pada tahun 2016, di AS diperkirakan ada sekitar 8.220 kasus baru leukemia
mieloid kronik dan sekitar 1.070 orang meninggal karena penyakit tersebut. Usia
median saat didiagnosis leukemia mieloid kronik 55-60 tahun, penyakit ini
terutama dijumpai pada orang dewasa. Di Indonesia median usia saat didiagnosis
leukemia mieloid kronik adalah 34-35 tahun. Leukemia mieloid kronik dijumpai
sekitar 15% dari semua leukemia dan 7-20% dari leukemia pada dewasa. Pria
sedikit lebih sering dibandingkan wanita (1,3-2,2 : 1).

3. Etiologi
Pada sebagian besar kasus, etiologi dari LMA tidak diketahui. Namun terdapat
beberapa faktor prediposisi dari LMA pada populasi tertentu (Jabbour, Estey, and
Kantarjian, 2006) diantaranya:
a. Faktor Genetik
Anak-anak dengan down’s syndrome memiliki risiko 10-20 kali lipat
mengalami AML dari pada anak-anak normal. Terdapat pula penyakit turunan
lainnya seperti Fanconi’s anemia, klinefelter anemia dan Bloom syndrome, yang
ditandai dengan dengan ketidakstabilan genetik dan ketidakmampuan
memperbaiki kerusakan DNA yang berhubungan dengan meningkatnya risiko
menderita leukemia.
b. Bahan Kimia
Paparan jangka panjang terhadap benzene dapat mengakibatkan leukemia
akut. Paparan jangka panjang terhadap herbisida, pestisida dan bahan kimia
pertanian lain, berhubungan dengan meningkatnya risiko leukemia. Banyak
pewarna rambut yang mengandung bahan kimia yang menyebabkan kanker dan
berhuhungan dengan leukemia, terutama dalam jangka panjang.
c. Merokok
Menghisap rokok dapat menyebabkan leukemia, terlebih bila mengandung
senyawa penyebab leukemia seperti benzene. Merokok pada usia remaja
menyebabkan peningkatan yang relative tidak terlalu besar berkembangnya
leukemia. Tapi, pada orang di atas usia 60 tahun merokok meningkatkan risiko
dua kali lipat berkembangnya LGA/LMA dan tiga kali lipat LLA.
d. Virus
Acute T cell leukemia berhubungan dengan infeksi oleh human T cell
leukemia virus (HTLV); human lymphotrophic virus-1 penyebab leukemia pada
manusia. Pada pasien yang terinfeksi, protein HTLV melekat pada protein
lymphocytes yang bertanggung jawab dalam mengatur pertumbuhan sel. Jika
HLTV melekat, maka dia mengganggu pertumbuhan sel normal dan mengkorup
fungsinya. Leukemia ini jarang terjadi di Amerika Serikat. Umumnya terjadi di
Asia dan sebagian Karibia.
e. Obat-obatan
Obat-obatan seperti chloramphenicol, phenylbutazone, chloroquine dan
methoxypsoralen dapat merangsang terjadinya kerusakan pada sumsum tulang
yang kemudian beresiko terhadap terjadinya LMA.
f. Radiasi
Radiasi ionik juga diketahui dapat menyebabkan LMA, seperti pada orang-
orang yang selamat dari bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada 1945. Efek
leukomogenik dari paparan ion radiasi tersebut mulai tampak sejak 1,5 tahun
sesudah pengeboman dan mencapai puncaknya 6 atau 7 tahun sesudah
pengeboman.
Terapi radiasi dengan menggunakan golongan alkylating agent dan
topoisomerase II inhibitor diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya LMA.
Golongan alkylating agent seperti cychlophospamide, melphalan, dan nitrogen
mustard sering dihubungkan dengan kejadian abnormalitas pada kromosom 5
dan/atau 7. Terpapar golongan topoisomerase II inhibitor seperti etoposide dan
teniposide sering menyebabkan abnormalitas pada kromosom 11 dan/atau 27.

4. Klasifikasi Leukemia
French-American-British (FAB) sejak tahun 1976 telah mengklasifikasikan
LMA menjadi 8 subtipe, berdasarkan pada hasil pemeriksaan morfologi sel dan
pengecatan sitokimia (Sutoyo & Setiyohadi, 2006; Wakui, 2008).
Klasifikasi FAB (Wakui, 2008):
No Subtipe Penjelasan
1 M0 LMA berdiferensiasi minimal
2 M1 LMA tanpa maturasi
3 M2 LMA dengan berbagai derajat maturasi
4 M3 Leukemia promielositik hipergranular
5 M4 Leukemia mielomonositik
6 M5 Leukemia monoblastik
7 M6 Eritroleukemia
8 M7 Leukemia megakarioblastik

5. Patofisiologi
Patogenesis utama LMA adalah adanya gangguan pematangan yang
menyebabkan proses diferensiasi sel-sel mieloid terhenti pada sel-sel muda (blast)
dengan akibat terjadi akumulasi blast di sumsum tulang. Akumulasi Blast di
dalam sumsum tulang akan menyebabkan terjadinya gangguan hematopoesis
normal yang akhirnya akan mengakibatkan sindrom kegagalan sumsum tulang
(bone marrow failure syndrome) yang ditandai dengan adanya sitopenia (anemia,
leukopeni, trombositopeni). Adanya anemia akan menyebabkan pasien mudah
lelah dan pada kasus yang lebih berat akan sesak nafas, adanya trombositopenia
akan menyebabkan tanda-tanda perdarahan, serta adanya leukopenia akan
menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi. Selain itu, sel-sel blast yang
terbentuk juga dapat bermigrasi keluar sumsum tulang atau berinfiltrasi ke organ-
organ lain seperti kulit, tulang, jaringan lunak dan sistem saraf pusat dan merusak
organ-organ tersebut.
Pada hematopoiesis normal, myeloblast merupakan sel myeloid yang belum
matang yang normal dan secara bertahap akan tumbuh menjadi sel darah putih
dewasa. Namun, pada AML myeloblast mengalami perubahan genetik atau mutasi
sel yang mencegah adanya diferensiasi sel dan mempertahankan keadaan sel yang
imatur, selain itu mutasi sel juga menyebabkan terjadinya pertumbuhan tidak
terkendali sehingga terjadi peningkatan jumlah sel blast (Sutoyo dan Setiyohadi,
2006).

6. Manifestasi Klinis
Gejala leukemia akut biasanya terjadi setelah beberapa minggu dan dapat
dibedakan menjadi 3 tipe (Safitri, 2005), yaitu:

a. Gejala kegagalan sumsum tulang


Gejala kegagalan sumsum merupakan keluhan umum yang paling sering.
Leukemia menekan fungsi sumsum tulang sehingga menyebabkan kombinasi
dari anemia, leukopenia dan trombositopenia. Gejala yang khas adalah lelah
dan sesak nafas (akibat anemia), infeksi bakteri (akibat leukopenia) dan
perdarahan (akibat trombositopenia atau terkadang akibat koagulasi
intravaskuler diseminata/DIC). Pada pemeriksaan fisik juga sering ditemukan
kulit pucat, memar dan perdarahan serta demam sebagai tanda infeksi.
Perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia yang sering
dijumpai di ekstremitas bawah atau berupa epistaksis, perdarahan gusi dan
retina.
b. Gejala sistemik
Gejala sistemik yang ditemukan dapat berupa malaise, penurunan berat
badan, berkeringat dan penurunan nafsu makan, serta kelainan metabolik
seperti hiperkalsemia (sangat jarang).
c. Gejala lokal
Gejala lokal yang terkadang ditemukan berupa tanda infiltrasi
leukemia/sel blast di kulit, gusi atau sistem saraf pusat. Infiltrasi sel-sel blast
di kulit akan menyebabkan leukemia kutis yaitu berupa benjolan yang tidak
berpigmen dan tanpa rasa sakit. Infiltrasi sel-sel blast di jaringan lunak akan
menyebabkan nodul di bawah kulit (kloroma). Infiltrasi sel-sel blast di dalam
tulang akan menimbulkan nyeri tulang yang spontan atau dengan stimulasi
ringan. Infiltrasi sel-sel blast ke dalam gusi akan menyebabkan pembekakan
pada gusi. Selain itu dapat terjadi hepatomegali dan splenomegali akibat
infiltrasi sel-sel blast di hati dan limpa. Meskipun jarang, pada LMA juga
dapat dijumpai infiltrasi sel-sel blast ke daerah meningen.

7. Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada penyakit
leukemia akut (Safitri, 2005), meliputi:
a. Pemeriksaan darah lengkap, bertujuan untuk mengetahui perubahan pada
jumlah dari masing-masing komponen darah yang ada. Dari pemeriksaan
ini akan didapatkan gambaran adanya anemia, trombositopenia, leukopenia,
leukositosis ataupun kadar leukosit yang normal.
b. Biopsi sumsum tulang, dilakukan ketika ditemukan adanya kelainan pada
hasil pemeriksaan darah lengkap, yang bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya peningkatan pada jumlah sel blast.
c. Lumbal pungsi, bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penyebaran
penyakit ke cairan serebrospinal (sistem saraf pusat).
d. Pemeriksaan radiologi, seperti Ultrasound, X-ray, CT scan, dan MRI,
bertujuan untuk membantu penegakan diagnosis dan mengetahui ada
tidaknya infiltrasi ke organ lain.
8. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis
1) Transfusi darah, biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6g%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi
trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin
2) Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah
dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
3) Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6-merkaptopurin atau 6-mp,
metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih
poten seperti vinkristin (Oncovin), rubidomisin (daunorubycine) dan
berbagai nama obat lainnya. Umumnya sitostatika diberikan dalam
kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini
sering terdapat efek samping berupa alopesia (botak), stomatitis, leukopenia,
infeksi sekunder atau kandidiasis. Bila jumlah leukosit kurang dari
2000/mm3 pemberiannya harus hati-hati.
4) Imunoterapi, merupakan cara pengobatan terbaru. Setelah tercapai remisi
dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai
diberikan (mengenai cara pengobatan yang terbaru masih dalam
pengembangan).

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan umumnya sama dengan pasien lain
yang menderita penyakit darah. Tetapi karena prognosis pasien pada umumnya
kurang menggembirakan (sama seperti pasien kanker lainnya) maka pendekatan
psikososial harus diutamakan. Yang perlu diusahakan ialah ruangan yang aseptik
dan cara bekerja yang aseptik pula. Sikap perawat yang ramah dan lembut
diharapkan tidak hanya untuk pasien saja tetapi juga pada keluarga yang dalam
hal ini sangat peka perasaannya jika mengetahui penyakit anaknya atau
keluarganya.
Beberapa cara yang bisa kita anjurkan adalah hindari menyikat gigi terlalu
keras, karena bulu sikat gigi dapat mencederai gusi. Menyarankan klien supaya
berhati-hati ketika berjalan di lantai yang licin seperti kamar mandi agar tidak
jatuh. Memberikan klien dan keluarganya pendidikan kesehatan bagaimana cara
mengatasi perdarahan hidung, misalnya dibendung dengan kapas atau perban,
posisi kepala menengadah.
Untuk menangani infeksi klien harus menjaga kebersihan diri, seperti mencuci
tangan, mandi 3x sehari. Menganjurkan keluarga klien untuk menjaga keersihan
diri mereka, membatasi jumlah pengunjung karena dikhawatirkan dapat
menularkan penyaki-penyakit seperti flu dan batuk. Menciptakan lingkungan yang
bersih dan jika perlu pertahankan tehnik isolasi.
B. Clinical Pathway

Virus (Enzyme Retrovirus Transcriptase) Genetik Sinar Radioaktif

Kelainan Kromosom 21 Perubahan Ionisasi Sumsum


Invasi ke Sumsum (Syndroma Down) Tulang Belakang
Tulang

Kurangnya pajanan informasi Leukemia Pengobatan kemoterapi Gangguan rasa nyaman


mengenai penyakit

Defisiensi Pengetahuan Proliferasi Sel Darah Putih


Immatur

Khawatir terhadap kondisinya

Imunosupresi Sumsung Tulang Hematopiosis Eritrosit, Neutrofil & Trombosit


Ansietas

Nyeri Akut Eritroprnia Neutropenia Trombositopenia Kelelahan

Intoleransi
Hemoglobin Pertahanan Imunitas Pendarahan
Aktivitas

Sirkulasi O2 Dalam Darah menurun Risiko Infeksi Risiko syok

ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer
C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama: mengetahui identitas klien
Umur dan tanggal lahir: sering terjadi pada usia anak-anak.
Jenis kelamin: bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan
b. Keluhan utama : Biasanya keluhan utama klien adalah adanya tanda-tanda
perdarahan pada kulit seperti petekie, tanda-tanda infeksi seperti demam,
menggigil, serta tanda anemia seperti kelelahan dan pucat.
c. Riwayat penyakit sekarang: Biasanya klien tampak lemah dan pucat, mengeluh
lelah, dan sesak. Selain itu disertai juga dengan demam dan menggigil,
penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
d. Riwayat penyakit dahulu : Adanya riwayat penyakit dengan gangguan pada
kromosom atau pernah mengalami kemoterapi atau terapi radiasi
e. Riwayat penyakit keluarga : Adanya keluarga yang pernah menderita leukemia
atau penyakit keganasan lain sebelumnya .
f. Pemeriksaan Fisik :
B1 (Breath) : terjadi peningkatan respiration rate, ditemukan adanya
perubahan pada suara dan frekuensi nafas karena sesak akibat
anemia.
B2 (Blood) : Nadi 120x/menit, CRT > 2detik, anemia, trombositopenia,
neutropenia, terjadi kelemahan, tampak pucat, tanda-tanda
perdarahan seperti petekie, ekimosis, perdarahan pada gusi, serta
adanya luka yang menandakan kelemahan imun tubuh (sariawan/
stomatitis).
B3 (Brain) : Composmentis, tidak terjadi defisit neurologis
B4 (Bladder) : berkemih dengan normal
B5 (Bowel) : abdomen
I: tampak normal, datar
A: terdengar bising usus dengan intensitas normal (5x/menit)
P: turgor kulit normal
P: timpani, tidak ada distensi abdomen, hepatomegali dan
splenomegali
B6 (Bone) : terdapat nyeri tulang dan sendi
g. Hasil pemeriksaan penunjang
1. Dari hasil pemeriksaan darah akan didapatkan adanya penurunan jumlah
eritrosit sampai dengan ≤7,5 g/dl (anemia berat), penurunan trombosit
<100.000 g/ml (trombositopenia) dan penurunan leukosit (leukositopenia).
2. Dari hasil biopsi sumsum tulang belakang akan didapatkan gambaran
adanya peningkatan jumlah sel blast (myeloblas) ≥20%.
3. Dari hasil pemeriksaan pengecatan sitokimia dengan menggunakan
Suddan Black B atau myeloperoxidase akan didapatkan hasil yang positif.

1. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan infiltrasi leukosit ke jaringan
sistemik
b. Resiko Infeksi berhubungan dengan menurunnya daya tahan
tubuh yang berkaitan dengan neutropenia/ menurunnya sistem imun
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan secara
menyeluruh akibat anemia
d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan,
ancaman kematian t/d kontak mata kurang, susah tidur, khawatir.
e. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan
informasi t/d kurangnya pengetahuan terkait penyakit.
f. Gangguan Rasa Nyaman berhubungan dengan regimen
pengobatan (kemoterapi) t/d muntah, nyeri.
3 Rencana Tindakan Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC


1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada a. Kaji karakteristik nyeri : lokasi, kualitas, frekuensi,
dengan infiltrasi leukosit klien nyeri akan berkurang. Kriteria Hasil : dan durasi.
ke jaringan sistemik Rasional : Memberikan dasar untuk mengkaji
1) Menyatakan nyeri
perubahan pada tingkat nyeri dan mengevaluasi
berkurang dengan indikator 1-3 (tidak
intervensi.
ada, ringan, sedang )
b. Berikan terapi analgetik sesuai dengan instruksi
2) Ekspresi wajah tenang.
dokter. Lakukan penilaian respon pasien terhadap
3) Tidak ada petunjuk non
pemberian analgetik
verbal tentang nyeri
Rasional : analgetik merupakan agen farmakologi
4) HR 60-100x/mnt, RR
yang berfungsi mengurangi rasa nyeri, analgetik
16-24x/mnt, TD 120/80mmHg.
cenderung lebih efektif ketika diberikan secara dini
5) Menerima medikasi
pada siklus nyeri, respon pasien memberikan
nyeri sesuai yang diresepkan
informasi tambahan tentang nyeri klien.
6) Mengambil peran aktif
c. Berikan dukungan emosional dan menentramkan
dalam pemberian analgetik.
kekuatiaran pasien.
7) Skala nyeri 1-3 (tidak
Rasional : mengurangi ketakutan dan ansietas
ada, ringan, sedang)
akibat penyakit yang di derita. Ketakutan dan
ansietas akan meningkatkan persepsi nyeri.
d. Gunakan metode distraksi seperti relaksasi, teknik
pernapsan dalam, mendengarkan musik, dan
imajinasi.
Raional : teknik pengalihan perhatian atau distraksi
dapat membuat mengurangi nyeri yang dirasakan
pasien karena pasien tidak fokus terhadap nyeri
yang dialaminya
2. Resiko Infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan pada 1) Pantau tanda / gejala infeksi
berhubungan dengan
klien, klien akan terbebas dari gejala infeksi. (misalnya suhu tubuh, denyut jantung,
menurunnya daya tahan
tubuh yang berkaitan Kriteria Hasil: pembuangan, penampilan luka, sekresi,
dengan neutropenia/
penampilan urin, suhu kulit, lesi kulit, keletihan
menurunnya sistem imun 1) Faktor resiko akan
dan malaise, nilai leukosit).
hilang ditunjukkan dengan status imun
Rasional : memberikan dasar untuk mengkaji
pasien
perubahan jika terjadi kemungkinan infeksi
2) Pasien menunjukkan
2) Kaji faktor yang meningkatkan
pengendalian resiko, dibuktikan dengan
serangan infeksi (misalnya: usia lanjut, tanggap
indikator berikut ini (antara 1-3: tidak
imun rendah, malnutrisi).
pernah, jarang, kadang-kadang,).
Rasional : untuk menentukan intervensi
3) Mengindikasi status
gastrointestinal, pernapasan, selanjutnya
genitourinaria, dan imum dalam batas 3) Instruksikan untuk menjaga
normal. higiene pribadi untuk melindungi tubuh terhadap
4) Menunjukkan higiene infeksi baik pada pasien maupun keluarga.
pribadi yang adekuat. Rasional : higiene pribadi dapat melindungi tubuh
5) Leukosit 4000 - untuk meminimalkan pajanan pada organisme
11.000/L, Neutrofil : 150-300/L infektif.
6) Suhu 36-37oC 4) Berikan terapi antibiotik bila
diperlukan sesuai dengan instruksi dokter.
Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau
mengobati infeksi khusus
5) Pertahankan teknik isolasi, bila
diperlukan.
Rasional : ruangan yang terisolasi dapat
meminimalkan terpaparnya pasien dari sumber
infeksi.
6) Lindungi pasien dari
kontaminasi silang dengan tidak menugaskan
perawat yang sama untuk setiap pasien infeksi dan
memisahkan pasien infeksi dalam kamar yang
berbeda.
Rasional : kontaminasi silang dapat memperbesar
resiko infeksi pada klien.
3. Intoleransi aktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan pada 1) Kaji Tanda-tanda Vital
berhubungan dengan klien, terjadi peningkatan toleransi aktifitas. serta pantau respons kardiorespirasi terhadap
kelemahan secara Kriteria Hasil: aktivitas (misalnya, takikardia, disaritmia lain,
menyeluruh akibat dispnea, diaforesis, pucat, tekanan, hemodinamik,
1) Mentolenrasi
anemia dan frekuensi respirasi) pasien dan kadar Hb dalam
aktivitas yang biasa dilakukan dan
darah.
ditunjukan dengan daya tahan,
Rasional : memberikan dasar untuk menentukan
penghematan energi, dan perawatan diri :
intervensi serta tingkat kemampuan klien
Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKSI).
2) Evaluasi laporan
2) Menunjukkan
kelemahan, perhatikan kemampuan untuk
penghematan energi, ditandai dengan
berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari.
indikator 1-5 (tidak sama sekali, ringan,
Rasional : menentukan derajat dan efek
sedang, berat, atau sangat berat),
ketidakmampuan.
menyadari keterbatasan energi,
3) Berikan lingkungan
menyeimbangkan aktivitas dan istirahat.
tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan.
3) Mengungkapkan
secara verbal pemahaman tentang Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan
kebutuhan oksigen, pengobatan, dan/atau regenerasi seluler atau penyambungan jaringan.
peralatan yang dapat meningkatkan 4) Pantau asupan nutrisi
toleransi terhadap aktivitas. untuk memastikan keadekuatan sumber-sumber
4) Istirahat jika energi serta berikan masukan protein dan kalori
mengalami keletihan yang adekuat.
5) Melaporkan Rasional : nutrisi kalori dan proten yang cukup
tingkat keletihan dapat membantu mengembalikan energi yang
hilang dan meningkatkan toleransi aktivitas.
5) Ajarkan pengaturan
aktivitas dan teknik menajemen waktu untuk
mencegah kelelahan.
Rasional : pengaturan aktivitas dan menejemen
waktu dapat mengatur penggunaan energi sehingga
dapat mencegah kelelahan
DAFTAR PUSTAKA
Aguayo, Bieker, Podar, Greaves, Espositon, Felix, etc. 2006. Management of
Surgical Injury and Critical Gynecology. Ethical Digest.
Berg SL, Steuber CP, Poplack DG. 2000. Clinical Manifestation of Acute
Lymphoblastic Leukemia. In Hoffman ed: Hematology: Basic Principles
and Practice 3rd ed. Churchill Livingstone Inc.
Bulechek, et al. 2017. Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi Keenam
Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Bulechek, et al. 2017. Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi Keenam


Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Handayani, W. & Haribowo, A. S. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada


Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba Medika.

Jabbour, E. J., Estey, E., and Kantarjian, H. M. 2006. Adult Acute Myeloid
Leukemia. Mayo Clinic Proceedings. (Online), diakses pada tanggal 06
Agustus 2018, melalui http://media.proquest.com/

Long, B.C., 2006. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran: EGC.
NANDA. 2017. Diagnosa Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017, Edisi
10. Jakarta: EGC.

Price and Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Vol.
1, Ed. 6. Jakarta: EGC.

Rogers, B. B. 2010. Advances in the Management of Acute Myeloid Leukemia in


Older Adult Patients. Oncology Nursing Forum. (Online), diakses pada
tanggal 06 Agustus 2018, melalui http://media.proquest.com/.

Safitri, A. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta: Erlangga. (Online), diakses pada


tanggal 06 Agustus 2018, melalui https://books.google.co.id/

Soeparman. 2005. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta


Sudoyo et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan
IPD FK UI.
UPF Ilmu Bedah, 2007. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas
Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Wakui, et al. 2008. Diagnosis of acute myeloid leukemia according to the WHO
classification in the Japan Adult Leukemia Study Group AML-97 protocol.
Int J Hematol. (Online), diakses pada tanggal 06 Agustus 2018, melalui
http://media.proquest.com/.