Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

“Melaksanakan Asuhan Keperawatan Maternitas : Perdarahan di Luar Haid


(Polips, Erosi portio, Ulkus Portio, Trauma, dan Polips Endometrium)”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

Dosen pengampu : Ns. Grace Carol Sipasulta, M.Kep.,Sp.Kep.Mat

Disusun oleh:

Tingkat II Keperawatan

1. MANDA PINGKI HALENIA (P07220116100)

2. MEIDYNA LARASATI (P07220116103)

3. NUR AINUN (P07220116109)

4. SARMILA (P07220116115)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“Asuhan Keperawatan Maternitas : Perdarahan di Luar Haid”. Meskipun masih banyak
kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi
tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai beberapa hal yang bersangkutan
dengan materi tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Balikpapan, 16 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1

C. Tujuan ................................................................................................................. 2

BAB II. PEMBAHASAN 3

A. Pengertian Perdarahan di Luar Haid................................................................... 3

B. Polips Serviks ..................................................................................................... 3

C. Erosi Portio ....................................................................................................... 15

D. Ulkus Portio ...................................................................................................... 20

E. Trauma .............................................................................................................. 30

F. Polips Endometrium ......................................................................................... 31

BAB III. PENUTUP 33

A. Kesimpulan ....................................................................................................... 33

B. Saran ................................................................................................................. 33

DAFTAR PUSTAKA 34

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perdarahan di luar masa haid adalah perdarahan yang terjadi setelah masa
haid berhenti atau dapat didefinisikan perdarahan yang terjadi pada seorang
wanita dimana wanita tersebut tidak berada pada siklus menstruasi.Jika terjadi
di luar masa haid, meskipun darah yang keluar cuma sedikit atau sekadar vlek,
tetap disebut perdarahan(dr. Arju Arnita Sp.OG).
Ada kalanya ditemukan adanya perdarahan per vaginam yang terjadi di
luar haid. Terjadinya perdarahan di luar haid ini bisa disebabkan berbagai faktor
penyebab, salah satunya karena adanya kelainan. Sebagaimana diketahui
perdarahan di luar haid adalah perdarahan yang terjadi di antara 2 siklus haid.
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik,
dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan disfungsional dapat terjadi
pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi kelainan ini lebih
sering dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungís ovarium.
Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk
perdarahan disfungsional berumur diatas 40tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun.
Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa
pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, sarana
diperlukan perawatan di rumah sakit.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari perdarahan di luar haid ?
2. Bagaimana tanda, gejala dan penanganan : Polip, Eroportio,Ulcus portio,
Trauma dan Polips endometrium ?

1
3. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan Polip, Eroportio,Ulcus portio,
Trauma dan Polips endometrium ?

C. Tujuan
Tujuan penulisan dalam penyusunan makalah ini :
1. Untuk mengetahui pengertian dari perdarahan di luar haid ?
2. Untuk mengetahui dan memahami tanda, gejala dan penanganan pada Polip,
Eroportio, Ulcus portio, Trauma dan Polips endometrium.
3. Untuk mengetahui, memahami dan mempelajari asuhan keperawatan klien
dengan Polip, Eroportio, Ulcus portio, Trauma dan Polips endometrium.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Perdarahan di Luar Haid

Perdarahan bukan haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2
haid. Ada dua macam perdarahan di luar haid yaitu :
1. Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan
siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai
suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal
tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik ( polip endometrium, karsinoma
endometrium, karsinoma serviks ), kelainan fungsional dan penggunaan
estrogen eksogen
2. Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari
dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan
pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea.
Penyebab dari pendarahan diluar haid antara lain:
a. Polips serviks
b. Erosi portio
c. Ulkus portio
d. Trauma
e. Polips endomatrium.

B. Polips Serviks

1. Pengertian
Polip adalah pertumbuhan bertangkai vaskular jinak yang biasanya muncul
pada endometrium serviks dan menonjol melebihi ostium uteri eksternaum. Polip
lazim menyebabkan pendarahan serviks, karena ujungnya cenderung mudah
berdarah pada sentuhan (pencuncian atau sanggama). Polip juga sering berdarah
beberapa hari setelah atau sebelum haid.

3
Polip serviks (cervical polyp) adalah pertumbuhan jaringan serviks
(stroma) yang berlebihan sehingga tampak sebagai benjolan berwarna merah,
bertangkai, yang menjulur keluar dari serviks. Benjolan dapat berukuran
beberapa mm hingga beberapa cm yang biasanya tampak saat dilakukan
pemeriksaan dalam. Polip serviks termasuk kelainan jinak yang sering
ditemukan.
Servikal polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Denise
tiran : 2005).
Jenis polip serviks :
a. Polip ektoserviks Yaitu Polip serviks dapat tumbuh dari lapisan permukaan
luar serviks. Polip ektoserviks sering diderita oleh wanita yang telah
memasuki periode paska-menopause, meskipun dapat pula diderita oleh
wanita usia produktif. Prevalensi kasus polip serviks berkisar antara 2
hingga 5% wanita.
b. Polip endoserviks yaitu pertumbuhan polip berasal dari bagian dalam
serviks. Biasanya Pada wanita premenopause (di atas usia 20 tahun) dan
telah memiliki setidaknya satu anak.

2. Tanda dan Gejala Polip Serviks


Polip khas ditandai dengan : Berwarna merah gelap, Lunak, Bertangkai
yang menonjol dari kanalis servikalis, Tangkai panjang keluar dari vulva,
Bagian ujung polip dapat mengalami nerkosis, serta mudah berdarah.
Gejala-gejala Berupa leukorea : secret vagina mucus atau mukopurelen
yang meningkat.Perdarahan : biasanya tanpa nyeri.

3. Penanganan Polip Serviks


Bila dijumpai polip serviks, dokter dapat mengambil 2 macam tindakan :
a. Konservatif, yakni bila ukuran polip kecil, tidak mengganggu, dan tidak
menimbulkan keluhan (misal sering bleeding, sering keputihan). dokter
akan membiarkan dan mengobservasi perkembangan polip secara
berkala.

4
b. Agresif, yakni bila ukuran polip besar, ukuran membesar, mengganggu
aktifitas, atau menimbulkan keluhan. tindakan agresif ini berupa tindakan
curettage atau pemotongan tangkai polip. tindakan kauter ini bisa
dilakukan dengan rawat jalan, biasanya tidak perlu rawat inap. untuk
tindakan pengobatan selain curettage untuk saat ini belum ada. tapi untuk
polip-polip yang ukurannya kecil (beberapa milimeter) bisa dicoba
pemberian obat yang dimasukkan melalui vagina, untuk mengurangi
reaksi radang. setelah pemberiannya tuntas, diperiksa lagi, apakah
pengobatan tersebut ada efeknya pada polip atau tidak. jika tidak, maka
untuk pengobatannya dengan kauterisasi.

4. Asuhan keperawatan Polip Serviks


a. Pengkajian
1) Identitas Klien
2) Keluhan Utama
Nyeri,luka, dan perubahan fungsi seksual.
3) Riwayat Penyakit :
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan Klien menderita infeksi alat kelamin
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien pernah menderita infeksi alat kelamin.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga mempunyai penyakit serupa, gangguan
reproduksi.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan Bagian Luar
a) Inspeksi :
(1) Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia
perkembangan klien.

5
(2) Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia
dan eksoria
(3) Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap
pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul.
2) Pemeriksaan Bagian Dalam
a) Inspeksi :
(1) Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan
warnanya.
b) Palpasi
(1) Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula.
(2) Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas dan
nyeri tekan.
(3) Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas.
(4) Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri
tekan.
c. Pola Aktivitas Sehari-Hari
1) Sirkulasi
Perubahan tekanan darah dan nadi (mungkin tidak tejadi sampai
kehilangan darah bermakna), Pelambatan pengisian kapiler, Pucat,
kulit dingin/lembab, Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara
eksternal , Haemoragi berat atau gejala syock diluar proporsi jumlah
kehilangan darah.
2) Eliminasi
Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsio atau
serviks.
3) Nyeri/Ketidaknyamanan
Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), dan nyeri uterus lateral.
4) Keamanan
Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap (mungkin
tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik; robekan
terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke

6
perineum; robekan luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi
kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.
5) Seksualitas
Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol
(fragmen placenta yang tertahan)., Kehamilan baru dapat
mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi multipel, polihidramnion,
makrosomia), abrupsio placenta, placenta previa.

d. Diagnosa Keperawatan
1) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan vascular yang
berlebihan.
2) Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan, pembedahan.
3) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi
seksualitas.
4) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5) Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
6) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kegagalan memperoleh
informasi yang adekuat sehubungan dengan keadaannya.
7) Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme

e. Intervensi keperawatan
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler
yang berlebihan.
Intervensi :
a) Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran,
perhatikan faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi
hemoragi.
b) Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan
hitung pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi
oleh perawat.

7
c) Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler
atau sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.
d) Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau
tekanan baji arteri pulmonal bila ada.
e) Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan
tubuh horizontal.
2) Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan, prosedur
pembedahan.
Intervensi :
a) Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien
terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada
vagina, kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.
b) Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.
c) Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada
perineum.
d) Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi
3) Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status
kesehatan atau kematian.
Intervensi :
a) Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian
b) Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik; misalnya tachikardi,
tachipnea, gelisah atau iritabilitas.
c) Tunjukan sikap tenang, empati dan mendukung.
d) Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ancietas, berikan
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
4) Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
Intervensi :
a) Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik
perawatan diri. Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani
dan membuang material yang terkontaminasi misalnya
pembalut, tissue, dan balutan.

8
b) Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP
c) Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan
uterus atau nyeri pelvis.
d) Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan
(perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent),
mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih
(urine keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).
e) Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai
indikasi.
5) Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
Intervensi:
a) Ciptakan lingkungan saling percaya dan beri kesempatan kepada
klien untuk menggambarkan masalahnya dakata-kata sendiri.
b) Beri informasi tentang kondisi individu
c) Anjurkan klien untuk berbagi pikiran/masalah dengan
pasangan/orang dekat
d) Diskusikan pada klien tentang penggunaan cara teknik khusus saat
berhubungan.
e) Kolaborasi dengan dokter
6) Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Intervensi :
a) Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus
terhadap penyebab hemoragi.
b) Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien
untuk belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan
waktu untuk bertanya dan meninjau materi.
c) Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi, seperti klien
tidak mampu melakukan perawatan terhadap bayi dan dirinya.
d) Diskusikan implikasi jangka panjang Ca Seriks dengan tepat,
misalnya resiko hemoragi kehamilan selanjutnya, atonia uterus,

9
atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak pada masa datang
bila histerektomie dilakukan.

5. Tinjauan Kasus Polips Serviks


a. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 19 Agustus 2013 Jam : 10. 03 WIB
b. Data Subjektif
1) Identitas
Nama : Ny.”E“ Nama suami : Tn.”S”
Umur : 52 tahun Umur : 55 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wirausaha
Usia saat kawin : 20 tahun Penghasilan : 2,5 juta / bulan
Jumlah anak :3 Status kawin : sah, kawin 1x
Status kawin : sah, kawin 1x
Alamat : Balenrejo, Bojonegoro
2) Keluhan Utama
Mengalami keputihan di daerah kemaluannya
3) Riwayat Kesehatan
a) Sekarang
Ibu mengatakan mengalami keputihan di daerah kemaluan agak
banyak, disertai gatal dan berbau sejak 1 bulan yang lalu, ibu juga
mengatakan setelah bersenggama keluar darah. Kemudian ibu
datang ke RS untuk memeriksanya.
b) Dahulu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti
TBC, Hepatitis, penyakit menurun seperti kencing manis,
penyakit menahun seperti darah tinggi.

10
c) Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak pernah ada
yang menderita penyakit menular seperti TBC, Hepatitis,
penyakit menurun seperti kencing manis, penyakit menahun
seperti darah tinggi.
4) Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Teratur/Tidak : Teratur,1 bulan sekali
Lama : 6-7 hari
Jumlah : 1 hari habis 4 kotek
Sifat darah : Cair tidak bergumpal
Disminorhoe : Kadang – kadang
Flour albus : Ya, sering. Kental, agak banyak, gatal, dan berbau
HPHT : 17 – 08 – 2013
5) Riwayat Kehamilan, Persalinan, Anak, Nifas yang lalu
Hamil Persalinan Anak Nifas
ke usia tempat jenis penolong H/M L/B BB PB Usia ASI Penyakit
1 9bln BPS N Bidan H P 3,1 50 32th - -
2 10bln BPS N Bidan H L 3 48 29th - -
3 9bln BPS N Bidan H L 3 51 27th - -

6) Riwayat Ginekologi
Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit
menular seksual seperti HIV, Infeksi pada alat - alat kandungan dan
tidak ada tumor pada alat kandungan. Ibu belum pernah melakukan
pap smear.
7) Pola Kebiasaan Sehari – hari
a) Pola personal hygine
Ibu mandi 3x sehari, keramas 3x seminggu, gosok gigi 3x
sehari, ganti baju 2x sehari, ganti pakaian dalam 2x sehari.

11
b) Pola Nutrisi
Ibu makan 3x sehari, porsi sedang habis dengan komposisi
nasi, lauk pauk, sayur bervariasi, dan kadang buah. Minum air
putih 6 – 7 gelas sehari
c) Pola Aktifitas
Ibu sebagai Ibu rumah tangga, hanya mengurus rumah, suami dan
anak.
d) Pola Eliminasi
BAB dan BAK tidak ada gangguan.
BAB 1x sehari, warna kuning, konsisten lunak. BAK 6 – 7x
sehari, warna kuning jernih.
e) Pola Istirahat
Ibu mengatakan sering tidur siang, tidur malam mulai jam 21.00
– 05.00 WIB. Dan tidak ada gangguan.
f) Pola Seksual
Ibu melakukan hubungan suami istri 3 – 4 x seminggu, pernah
perdarahan setelah melakukan hubungan.

c. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum :Baik
Kesadaran :Composmentis
TD :112 / 81 mmHg
RR :20 x/menit
Nadi :82 x/menit
Suhu :36,6 0C
2. Pemeriksaan fisik
a) Kepala : Rambut warna hitam, lurus, bersih, tidak mudah
rontok, distribusi merata, kulit kepala bersih, tidak ada
cicatrix, tidak terdapat nyeri tekan maupun benjolan abnormal.

12
b) Wajah : Simetris, bentuk oval, tidak ada odema, pucat
c) Mata : Simetris, tidak oedem, conjungtiva merah muda, sclera
berwarna putih terdapat gambaran tipis pembuluh darah, pupil
isokor
d) Hidung : Pernafasan spontan, hidung bersih tidak ada polip,
tidak ada benda asing, tidak ada secret, terdapat bulu – bulu
halus, dan tidak ada cyanosis.
e) Mulut : Bibir lembab, tidak ada stomatitis, gigi bersih, tidak
ada karang gigi, dan lidah bersih.
f) Telinga : Pendengaran baik, bersih, tidak ada serumen, tidak
ada benda asing, membrane tympani utuh.
g) Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid. Tidak terdapat bendungan
vena jugularis, dan tidak ada kaku kuduk.
h) Dada : Simetris, bentuk bulat datar, tidak ada retraksi
intercostae, tidak ada nyeri tekan, tidak ada krepitasi, dan
tidak ada jejas.
i) Payudara : Bentuk simetris, konsistensi kenyal, putting susu
menonjol keluar, tidak ada benjolan abnormal.
j) Abdomen : Tidak ada bekas luka, kelainan kulit dan odema
k) Genitalia : Penyebaran rambut pubis merata, bersih, terdapat
pengeluaran cairan putih dari vagina yang purulen, warna
kekuningan, agak banyak, bau, tidak ada lesi, vulva dan
vagina tidak ada odema tidak ada varises, tidak ada
peradangan pada kelenjar bartholin dan skene.
l) Anus : Bersih, tidak ada hemoroid
m) Ekstremitas
1) Atas : Tidak ada oedem kanan/kiri
2) Bawah : Tidak ada oedem kanan/kiri, tidak ada varises

13
3. Pemeriksaan Penunjang
Inspekulo.Adanya keputihan dari mulut rahim,warna putih, agak
banyak, bau, hanya bersifat local, ada jaringan tambahan (polip)
menjulur keluar servik uteri, berwarna cokelat, permukaan halus.

d. Interpretasi Data Dasar


DX : Ny. “E” P3003 dengan polip servik
DS : Ibu mengatakan keputihan sejak sebulan yang lalu, agak
banyak, disertai gatal dan bau, ibu juuga mengatakan setelah
bersenggama terjadi perdarahan kemudian ibu datang ke RS untuk
memeriksakan
DO :
Genitallia : Penyebaran rambut pubis merata, bersih, terdapat
pengeluaran cairan putih dari vagina yang purulen, warna
kekuningan, agak banyak, bau, tidak ada lesi, vulva dan vagina tidak
ada odema tidak ada varises, tidak ada peradangan pada kelenjar
bartholin dan skene.
Inspekulo : Adanya keputihan dari mulut rahim, warna putih, agak
banyak, bau, hanya bersifat lokal. Ada jaringan tambahan (polip)
menjulur keluar servik uteri berwarna cokelat, permukaan halus

e. Intervensi dan Implementasi


1) Jelaskan pada ibu hasil pemeriksaan dan kondisinya saat ini
R/ Agar ibu dan keluarganya lebih kooperatif dalam menerima
asuhan yang diberikan
2) Berikan HE tentang personal hygiene sehubungan dengan
keputihan
R/ Membantu ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri
3) Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk menentukan tindakan
selanjutnya

14
R/ Fungsi independent
4) Anjurkan ibu MRS untuk melakukan curetage pada 20-08-2013
R/ Untuk proses penyembuhan dan pemulihan lebih cepat
5) Dokumentasikan tindakan dan kolaborasi dengan ruangan sakinah
R/ agar bisa mempertanggung jawabkan tindakan kita

f. Evaluasi
S : Ibu mengatakan lebih tenang setelah mendapatkan
penjelasan tentang kondisinya saat ini. Ibu bersedia menjalani
anjuran (dilakukan curetage)
O : Ibu tampak lebih tenang dan dapat menerima tindakan yang
akan dilakukan
A : Ny.”E” P3003 dengan polip servik dengan tujuan jangka
pendek teratasi
P : Antar pasien dan rekam medik keruang sakinah untuk MRS

C. Erosi Portio

1. Pengertian Erosi Portio


Erosi portio adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi
pada daerah porsio serviks uteri (mulut rahim). Penyebabnya bisa karena
infeksi dengan kuman-kuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat
kimia /alat tertentu; umumnya disebabkan oleh infeksi. Erosi porsio atau
disebut juga dengan erosi porsio adalah hilangnya sebagian / seluruh
permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada
permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami
inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan
granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi
porsio dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.

15
2. Tanda dan Gejala Erosi Portio
a. Mayoritas tanpa gejala
b. Perdarahan vagina abnormal (yang tidak berhubungan dengan siklus
menstruasi) yang terjadi :
1) Setelah berhubungan seksual (postcoital).
2) Diantara siklus menstruasi
3) Disertai keluarnya cairan mucus yang jernih / kekuningan, dapat
berbau jika disertai infeksi vagina.
4) Erosi porsio disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks
meningkat secarasignifikan, membentuk mukus, mengandung banyak
sel darah putih, sehingga ketika sperma melewati serviks akan
mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan perjalanan sperma.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada wanita.

3. Penanganan Erosi Portio


a) Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio.
b) Melakukan penatalaksanaan pemberian obat.
1) Lyncopar 3 x 1 untuk infeksi berat yang disebabkan oleh
bakteri/streptokokus pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan
jaringan lunak.
2) Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan.
3) Mefinal 3 x 1 berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit.

4. Asuhan Keperawatan pada Erosi Portio


a. Pengkajian :
1) Keluhan Utama
2) Riwayat Penyakit Sekarang
3) Riwayat Penyakit Dahulu
4) Riwayat Penyakit Keluarga
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi

16
i. Mata : Terdapat tanda konjungtiva pucat merupakan salah satu
tanda anemia.
ii. Genetalia : Vaginitis karena Candida albicans atau
trikomonas vaginalis hebat dapat merupakan masalah, terdapat
leukorea yang hebat bila terdapat jamur jenis ini. Keluaran darah
dapat menyertai tanda gejala erosi porsio
2) Palpasi
a) Abdomen: Pada palpasi abdomen normal tidak didapatkan nyeri
tekan, tidak terda massa. Mioma uteri dapat mempengaruhi besar,
bentuk uterus. Pada erosi porsio yang disertai dengan kecurigaan
radang panggul, maka dapat ditemukan adanya nyeri tekan saat
palpasi abdomen.

c. Diagnosa Keperawatan
1) Cemas berhubungan dengan stress, perubahan status kesehatan.
2) Kekurangan cairan berhubungan dengan perdarahan.
3) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi seksual.
4) Nyeri berhubungan dengan infeksi pada sistem reproduksi
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penyakit,prognosis dan kebutuhan pengobatan
6) Resiko infeksi berhubungan dengan kontak dengan mikroorganisme.
7) Resiko Shock berhubungan dengan output yang berlebihan

d. Intervensi Keperawatan
1) Cemas berhubungan dengan stress, perubahan status kesehatan.
Intervensi:
a) Gunakan pendekatan yang menenangkan.
b) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
c) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur.
d) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut.

17
e) Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
prognosis.

2) Kekurangan cairan berhubungan dengan perdarahan.


Intervensi:
a) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
b) Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi
adekuat,tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan.
c) Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt
,osmolalitas urin, albumin, total protein )
d) Monitor vital sign setiap 15menit – 1 jam
e) Kolaborasi pemberian cairan IV

3) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi seksual.


Intervensi:
a) Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh
termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya usia.
b) Berikan pendidikan kesehatan tentang penurunan fungsi seksual.
c) Motivasi klien untuk mengkonsumsi makanan yang rendah lemak,
rendah kolestrol, dan berupa diet vegetarian.
d) Anjurkan klien untuk menggunakan krim vagina dan gel

4) Nyeri berhubungan dengan infeksi pada sistem reproduksi.


Intervensi:
a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
b) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
c) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan.
d) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

18
e) Kurangi faktor presipitasi nyeri

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


tentang penyakit,prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Intervensi:
a) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
b) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
tepat.
c) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
d) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
e) Identifikasi kemungkinan penyebab,dengan cara yang tepat.

6) Resiko infeksi berhubungan dengan kontak dengan mikroorganisme.


Intervensi:
a) Pertahankan teknik aseptif.
b) Batasi pengunjung bila perlu
c) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
d) Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.
e) Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum

7) Resiko Syok berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan.


Intervensi :
a) Monitor keadaan umum pasien.
b) Observasi tanda-tanda vital setiap 3 jam atau lebih.
c) Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera
laporkan jika terjadi perdarahan.
d) Kolaborasi : Pemberian cairan intravena.
e) Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit

19
5. Tinjauan Kasus Erosi Portio

D. Ulkus Portio

1. Pengertian Ulkus Portio


Ulkus porsio merupakan salah satu penyakit yang terjadi pada porsio.
Bisa karena trauma, perilaku seksual yang tidak sehat, bisa juga karena
penggunaan kontrasepsi dalam rahim, yaitu IUD. Karena terjadi infeksi,
maka pada porsio lama - kelamaan akan terjadi perlukaan. Tidak jarang juga
bisa terjadi perdarahan.
Oleh karena itu jika terjadi ulkus porsio, sebaiknya dengan segera
dilakukan penanggulangan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten.

2. Tanda dan Gejala Ulkus Portio


a) Tanda
1) Adanya fluxus.
2) Portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas.
3) Adanya kontak berdarah.
4) Portio teraba tidak rata.
5) Pada perlukaan portio bisa tertutup cairan atau lendir.
6) Berwujud gumpalan- gumpalan seperti bunga kol.
7) Dapat dengan mudah berdarah atau tidak.
8) Sekret bercampur darah setelah bersenggama.
9) Portio uterus disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-
merahan yang sulit dipisahkan secara jelas dan Epitel Portio.
b) Gejala kliniknya dalam bentuk :
1) Gangguan emosional- mudah tersinggung.
2) Sukar tidur, gelisah, sakit kepala.
3) Perut kembung, mual sampai muntah.
4) Payudara terasa tegang dan sakit.
5) Pada kasus yang lebih berat sering merasa tertekan

20
3. Penanganan Ulkus Portio
a. Membatasi hubungan suami istri
b. Adanya ulkus porsio membuat portio mudah sekali berdarah setiap kali
mengalami gesekan sekecil apapun, sehingga sebaiknya koitus dihindari
sampai ulkus sembuh.
c. Menjaga kebersihan vagina.
d. Bila kebersihan vagina tidak dijaga, maka akan dapat memperburuk
kondisi portio, sebab akan semakin rentan terkena infeksi lainnya.
e. Lama pemakaian IUD harus diperhatikan.

4. Asuhan Keperawatan pada Ulkus Portio


a. Pengkajian
1) Identitas Klien
2) Keluhan Utama
3) Riwayat Penyakit Sekarang
4) Riwayat Penyakit Dahulu
5) Riwayat Penyakit Keluarga

b. Pemeriksaan Fisik

1) Mata : Simetris, palpebra tidak oedem, sklera tidak ikterus,


conjunctiva pucat.
2) Hidung : Bersih, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada
sekret, tidak ada polip.
3) Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen , daun telinga tidak ada
kelainan.
4) Mulut : Bersih, lidah bersih, bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak
ada caries gigi.
5) Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada bendungan
Vena Jugularis.

21
6) Mammae : Bersih, Simetris ka/ki , pembesaran : ada, tidak ada massa
abnormal , Putting susu kanan dan kiri menonjol, terdapat
pengeluaran colostrum, puting susu normal.
7) Dada : Simetris, tidak ada retraksi interkosta.
8) Abdomen : Bersih, tidak ada massa abdomen, tidak ada nyeri tekan,
Tidak ada bekasluka operasi, Bising usus terdengar.
9) Genetalia :Inspeksi genetalia eksterna : kotor, terdapat pengeluaran
darah, Tidak oedem, tidak ada varices, terdapat flour albus berbau,
perih, warna keju.Palpasi kelenjar bartolini : tidak ada
pembengkakan kelenjar bartholmi.

10) Anus : Bersih, tidak ada haemorroid.


11) Ekstremitas (at/bw) : Simetris, tidak oedema, tidak ada varices.

c. Diagnosa Keperawatan
1) Cemas berhubungan dengan stress, perubahan status kesehatan.
2) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi seksual.
3) Nyeri berhubungan dengan infeksi pada sistem reproduksi.
4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penyakit,prognosis dan kebutuhan pengobatan.
5) Resiko infeksi berhubungan dengan kontak dengan mikroorganisme

d. Intervensi Keperawatan
1) Cemas berhubungan dengan stress perubahan status kesehatan.
Intervensi :
a) Gunakan pendekatan yang menenangkan.
b) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
c) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur.
d) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut.

22
e) Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
prognosis.

2) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi seksual.


Intervensi :
a) Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual,pengetahuan
seksual, masalah seksual.
b) Identifikasi penghambat untuk memuaskan seksual.
c) Berikan dorong untuk bertanya tentang seksual atau fungsi
seksual.

3) Nyeri berhubungan dengan infeksi pada sistem reproduksi


Intervensi :
a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi.
b) Karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
c) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
d) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan.
e) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

4) Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


tentang penyakit,prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Intervensi :
a) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga.
b) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
tepat.
c) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat.
d) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat.

23
e) Identifikasi kemungkinan penyebab,dengan cara yang tepat.

5) Resiko infeksi berhubungan dengan kontak dengan


mikroorganisme.
Intervensi:
a) Pertahankan teknik aseptif.
b) Batasi pengunjung bila perlu.
c) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
d) Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.
e) Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk
umum.

5. Tinjauan Kasus Ulkus Portio


Asuhan Keperawatan pada Akseptor KB IUD, pada NY. K P1A0Ah1 umur
27 tahun dengan ulkus portio di BPM SY.Trihana Joton, Jogonalan Klaten.
a. Pengkajian
1. Identitas
Nama Klien : Ny. K
Umur : 27 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Joton
No. Register :-
Masuk PKM : 6 September 2018 Pukul 08.30 WIB
Tanggal Pengkajian : 6 September 2018 Pukul 08.30 WIB

Nama Suami : Tn. P


Umur : 29 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA

24
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Jl. Joton

2. Keluhan Utama :
Ibu mengatakan mengalami keputihan disertai darah sejak 3 hari
yang lalu, nyeri pada perut dan alat kelamin terasa sakit setelah
berhubungan.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche : 14 tahun Sifat darah : cair
Siklus : 28 hari Keluhan : tidak ada
Lama : 7 hari Bau : khas darah
4. Riwayat Perkawinan
Status perkawinan : Sah Menikah ke :1
Lama perkawinan : 4 tahun Umur waktu menikah : 27 th

5. Riwayat Obstetri : P1A0AH1


Hamil tgl Umur Jenis penolong BB Laktasi
ke kehamilan persalinan lahir

1 2010 30 mg Spontan bidan 3000 ya


gr

6. Riwayat kontrasepsi yang digunakan : IUD pada tahun 2010


7. Riwayat Kesehatan :
a) Sekarang
Ibu mengatakan mengalami keputihan disertai darah sejak 3
hari yang lalu, nyeri pada perut dan alat kelamin terasa sakit
setelah berhubungan.
b) Dahulu
Ibu mengatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit
menular seperti TBC, HIV, AIDS, IMS, penyakit menurun

25
seperti hipertensi,DM, dan penyakit menahun seperti jantung
dan ginjal, kanker serviks
c) Keluarga
Ibu mengatakan keluarga tidak pernah atau sedang menderita
penyakit menular seperti TBC, HIV, AIDS, IMS. Penyakit
menurun seperti hipertensi,DM dan penyakit menahun seperti
jantung, ginjal, dan kanker serviks.

8. Pola Pemenuhan Kebutuhan


a) Nutrisi
1) Makan : pasien mengatakan makan 3x/hari, nasi sayur
lauk, dan tidak ada pantangan makanan.
2) Minum : pasien mengatakan minum 6-7x/hari. Air putih
dan the.
b) Eliminasi
1) BAK : pasien mengatakan BAK 5x/hari, warna urin
kuning jernih
2) BAB : pasien mengatakan BAB 1x/hari, warna kuning
kecoklatan, konsistensi lunak.
c) Istirahat/Tidur
Pasien mengatakan tidur malam 7 jam dan tidur siang 1 jam.
d) Personal Hygiene
1) Mandi : Pasien mengatakan mandi 2x/hari
2) Gosok gigi : pasien mengatakan gosok gigi 2x/hari.
e) Pola seksualitas
Frekuensi :5 x/minggu
f) Pola aktivitas (terkait kegiatan fisik, olah raga)
Ibu mengatakan melakukan kegiatan sehari-hari seperti
menyapu, mencuci, dan lain sebagainya. Ibu tidak pernah
olahraga.

26
g) Data psiko-sosio-spiritual(pengetahuan ibu dan keluarga
tentang kontrasepsi,pengambilan keputusan, kegiatan ibadah,
keadaan ekonomi keluarga) :
Ibu mengatakan KB Iud 3 tahun sekali dan efek sampingnya
tidak begitu memberatkan. Ibu mengatakan suami sebagai
pengambil keputusan utama. Ibu mengatakan menjalankan
sholat 5 waktu. Ibu mengatakan mengikuti kegiatan arisan.
Ibu mengatakan kebutuhan sehari-hari terpenuhi

b. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : composmentis
Status emosional : stabil
2. Tanda – tanda vital
TD : 110/70 mmHg R : 22x/menit
N : 84x/menit S : 37,2 oC
BB : 50 kg TB : 155 cm

3. Kepala : Rambut warna hitam, bersih,kulit kepala tidak ada lesi.


4. Wajah : simetris, tidak ada oedem
5. Mata : konjungtiva pucat, sklera tidak ikterik, tidak ada secret
6. Hidung : bersih, tidak ada polip, simetris, tidak ada secret
7. Mulut : siemtris,gigi tidak ada caries, tidak ada karang gigi,
8. Telinga : bersih,tidak ada serumen
9. Leher
a) Kelenjar thyroid : tidak ada pembengkakan
b) Kelenjar lymfe : tidak ada pembengkakan
c) Kelenjar paratiroid : tidak ada pembengkakan
d) vena jugularis : tidak ada pembengkakan

27
10. Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada bunyi
wheezing.
11. Payudara
a) Pembesaran : ada
b) Bentuk : simetris
c) Keadaan putting : menonjol
d) Pengeluaran : tidak ada
e) Hyeprpigmentasi : tidak ada
f) Benjolan : tidak ada
12. Abdomen : tidak ada bekas luka operasi, tidak ada
massa,ada nyeri tekan.
13. Ekstremitas
a) Atas : simetris, gerakan aktif
b) Bawah : simetris, gerakan aktif, tidak ada oedem
c) Anus : tidak haemorroid
14. Genetalia luar : Tidak ada varises, ada cairan bercampur darah.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Inspekulo : tanggal 6 September 2013 Pukul:
08.37 WIB. Terlihat portio tertutupi banyak lendir, portio tidak rata.

d. Diagnosa
Ny. K umur 27 tahun P1A0 Ah1 akseptor KB IUD dengan ulkus
portio.
Data Dasar :
Data Subjektif :
- Ibu mengatakan telah berumur 27 tahun.
- Ibu mengatakan mempunyai anak 1 ,tidak pernah abortus.
- Ibu mengatakan menggunakan kb IUD

28
- Ibu mengatakan mengalami keputihan disertai darah sejak 3 hari
yang lalu, nyeri pada perut dan alat kelamin terasa sakit setelah
berhubungan
Data Objektif :
KU : Baik.
Kesadaran : Composmentis
Status emosional : Stabil
VS
TD : 110/70 mmHg N : 84x/menit
S : 37,2 C R : 22x/menit
BB :50 kg TB :155 cm
Genetalia : terdapat lendir becampur darah
Pemeriksaan Penunjang : Inspekulo (Terlihat portio tertutupi banyak
lendir dan portio terlihat tidak rata)

Masalah :
Ibu cemas dengan keadaannya.
Data Dasar
DS : ibu mengatakan merasa cemas dengan keadaannya.
DO : Ibu tampak pucat

e. Intervensi dan Implementasi


1) Beritahu keadaan ibu berdasarkan hasil pemeriksaan yang
dilakukan .
2) Jelaskan keadaan yang ibu rasakan.
3) Beri dukungan moral pada ibu.
4) Jelaskan pada ibu faktor yang berkaitan dengan iud.
5) Berikan ibu terapi.
6) Anjurkan ibu untuk melakukan Pap smear setiap 6 bulan.
7) Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene.

29
8) Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi atau
TKTP
9) Anjurkan ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih
dahulu sebelum ulcus benar-benar sembuh untuk mencegah
bertambah parahnya peradangan dan lesi pada portio.
10) Lakukan kolaborasi dengan dokter obgyn
11) Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 1 minggu untuk
memeriksakan keadaan ibu
f. Evaluasi
1) Ibu mengerti dengan hasil pemeriksaan yang di lakukan .
2) Ibu sudah mengerti dengan keadaan yang dirasakan.
3) Ibu tampak tenang.
4) Ibu mengerti dengan faktor yang mempengaruhi penggunaan IUD.
5) Terapi telah diberikan.
6) Ibu bersedia untuk memeriksa dengan pap smear.
7) Ibu bersedia menjaga personal hygiene.
8) Ibu bersedia makan makanan yang bergizi.
9) Ibu bersedia untuk tidak berhubungan seksual dahulu.
10) Ibu bersedia untuk dilakukan kolaborasi.
11) Ibu bersedia untuk kunjungan ulang

E. Trauma

1. Pengertian Trauma
Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian
medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya
diskontinuitas dari jaringan.
Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan
tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat
efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan.

30
Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang
sering terjadi pada akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada
wanita yang telah menopause) Tempat perlukaan yang paling sering akibat
koitus adalah dinding lateral Vagina, verniks posterior dan kubah Vagina
(setelah histerektomi).

2. Tanda dan Gejala Trauma


Nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan
gejala-gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan
dalam urinasi dan ambulasi.

3. Pencegahan Trauma
Penanganannya sesuai dengan penyebabnya , misalnya trauma yang
disebabkan translokasi IUD, maka IUD nya harus dicabut, dan diganti dengan
alat kontrasepsi lain.Sedangkan buat para wanita yang menopause yang
mengalami perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi hormon.

F. Polips Endometrium

1. Pengertian Polips Endometrium


Polip endometrium merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan
karena dapat mengganggu penempelan embrio di dalam rahim. Karena itu
bila hasil 3 pemeriksaan dasar normal (sperma, sel telur dan saluran telur)
maka perlu dilakukan tindakan untuk mengambil polip di dalam rahim.
Polip endometrium atau polip uterus adalah massa atau jaringan lunak
yang tumbuh pada lapisan dinding bagian dalam endometrium dan menonjol
ke dalam rongga endometrium. Pertumbuhan sel – sel yang berlebih pada
lapisan endometrium (rahim) mengarah pada pembentukan polip. Besarnya
polip endometrium mulai dari beberapa millimeter hingga beberapa
sentimeter yang seukuran bola golf atau lebih besar. Polip endometrium
melekat pada dinding endometrium yang dihubungkan melalui sebuah
tangkai tipis.

31
Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan
kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan
ketidaknyamanan. Polip endometrium dapat menyebabkan kram karena
mereka melanggar pembukaan leher rahim. Polip ini dapat terjangkit jika
mereka bengkok dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada kejadian
langka saat ini polip menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya
terkadang sulit untuk hamil.

2. Tanda dan Gejala Polips Endometrium


Tidak ada penyebab pasti dari polip endometrium, tetapi pertumbuhan
mereka dapat dipengaruhi oleh kadar hormon, terutama estrogen. Seringkali
tidak ada gejala, tetapi beberapa gejala dapat diidentifikasi terkait dengan
pembentukannya, seperti:
a. sebuah kesenjangan antara perdarahan haid.
b. Tidak teratur atau perdarahan menstruasi yang berkepanjangan.
c. Perdarahan haid yang terlalu berat .
d. Rasa sakit atau dismenore (nyeri dengan menstruasi)

3. Penanganan Polips Endometrium


Penanganannya sesuai dengan penyebabnya, misalnya: trauma yang
disebabkan translokasi IUD, maka IUD-nya harus dicabut dan diganti
dengan alat kontrasepsi lain. Sedangkan buat para wanita yang menopause
yang mengalami perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi hormon.

32
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada


uterus dan ovario pada waktu yang sama. Dapat dinarik kesimpulan bahwa
gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia hemorrágica terjadi karena
persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan
pembentukan corpus luteum. Akibatnya terjadilah hiperplasia endometrium
karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus menerus.
Penelitian menunjukan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat
ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium yaitu: endometrium
atropik, hiperplastik, ploriferatif, dan sekretoris, dengan endometrium jenis non
sekresi merupakan bagian terbesar. Endometrium jenis nonsekresi dan jenis
sekresi penting artinya karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan
anovulatori dari perdarahan ovuloatoir.
Klasifikasi ini mempunyai nilai klinik karena kedua jenis perdarahan
disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan
penanganan yang berbeda.
Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoir gangguan dianggap berasal
dari factor-faktor neuromuskular, vasomotorik, atau hematologik, yang
mekanismenya Belem seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoir
biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin.

B. Saran

Saran untuk petugas kesehatan, terutama perawat yaitu agar dapat mengenali
tanda dan gejala dari perdarahan di luar haid agar diagnosa penatalaksaan yang
diberikan menjadi efektif sehingga didapatan hasil penyembuhan yang optimal.

33
DAFTAR PUSTAKA

Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Obstetri Patologi. Jakarta: EGC

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

Yanuarti, Yayuk. 2013. Makalah Askeb Pada Ibu dengan Ulkus Portio. Link :
http://yayuk-yanuarti.blogspot.co.id/2013/10/makalah-askeb-pada-ibu-
dengan-ulkus.html (diakses pada Sabtu, 17 Februari 2018 pukul 12.17
WITA)

Iksa, Zindy. 2014. Askeb Polip Serviks. Link :


http://zindyiksarinata.blogspot.co.id/2014/03/asuhan-kebidanan-gangguan-
reproduksi.html (diakses pada Sabtu, 16 Februari 2018 pukul 13.13 WITA)

34