Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

DINAMIKA PANTAI

(Dampak Penambangan Pasir Laut Terhadap Dinamika Pantai)

OLEH :

AAN PRATAMA

I1A4 14 001

JURUSAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pantai merupakan salah satu kawasan hunian atau tempat tinggal paling

penting di dunia bagi manusia dengan segala macam aktifitasnya. Awal tahun

1990 diperkirakan 50 % sampai 70 % penduduk di dunia tinggal di daerah pantai.

Bila pada saat itu penduduk di dunia berjumlah kurang lebih 5,3 milyar maka 2,65

sampai 3,7 milyar tinggal di pantai (Robert Kay, 1999, Hal. 21). Penduduk yang

tinggal di daerah pantai pada era 1990 adalah sama dengan seluruh penduduk

dunia pada tahun 1950-an. Dalam dua puluh tahun ke depan penduduk di daerah

ini akan meningkat (NOAA, 1999 dalam Robert Kay, 1999, Hal. 21) yaitu bahwa

sampai tahun 2020, tiga perempat (75 %) penduduk dunia di prediksi tinggal di

dalam kawasan garis pantai sampai sejauh 60 km ke daratan (Robert Kay, 1999,

Hal. 21).

Secara teoritis, penambangan pasir di kawasan pantai akan merubah struktur

geomorfologi pantai dan batimetri yang secara lebih lanjut akan merubah pola

arus susur pantai yang berpotensi menyebabkan erosi dan akresi pantai di kawasan

penambangan pasir dan di sekitarnya. Teraduknya lumpur/ lanau akibat

penambangan pasir tersebut dapat juga berpotensi berdampak terhadap kualitas

air, dimana kekeruhan air yang kontinyu dan/atau tersuspensinya kandungan

biogeokimia yang lain. Kekeruhan air tersebut dapat menghambat penetrasi sinar

matahari yang merupakan energi utama yang menggerakkan siklus hidup

ekosistem perairan pesisir. Apabila suatu ekosistem terganggu, maka ekosistem

tersebut akan mencari suatu kesetimbangan yang baru ataupun hilang.


Dikawatirkan, kedepan, akibat adanya kegiatan penambangan pasir secara besar-

besaran yang akan berdampak kepada ekosistem perairan pesisir, secara lebih jauh

juga akan berdampak kepada kegiatan aktivitas kelautan dan perikanan di daerah

tersebut.

Penambangan pasir di laut merupakan salah satu aktivitas yang dilarang.

Aktivitas ini melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 (revisi atas

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007) tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan

Pulau-Pulau Kecil. Pelarangan penambangan pasir baik di wilayah pesisir maupun

di wilayah pulau-pulau kecil bukan tanpa alasan. Aktivitas ini memiliki

efek/dampak negatif untuk pantai.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :

1. Apa akibat penambangan pasir laut terhadap dinamika pantai

2. Apa akibat penambangan pasir laut terhadap perikanan dan ekosistem

pantai

3. Apa antisipasi atau peraturan pembangan pasir laut


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Akibat penambangan pasir laut terhadap dinamika pantai

Penambangan pasir laut telah berkembang menjadi polemik nasional.

Dampaknya seperti nelayan yang kehilangan mata pencarian hingga

tenggelamnya sebuah pulau telah berkembang menjadi bahan pembicaraan di

masyarakat. Secara obyektif pasir laut memang bisa disebut salah satu sumber

daya kelautan yang berkembang menjadi komoditas ekonomi. Namun,

penambangan pasir laut berdampak pada pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

Kegiatan penambangan pasir laut apabila tidak dilakukan di daerah yang tepat dan

dengan cara yang tepat akan berdampak pada lingkungan, baik fisik, biologi,

maupun sosial.

Penambangan pasir laut yang sebagian besar dilakukan di daerah nearshore

dapat mengganggu stabilitas pantai yang selama ini dipahami sebagai penyebab

tenggelamnya sebuah pulau.

Bagaimana sebenarnya akibat penambangan pasir laut terhadap dinamika

pantai? Pantai dikatakan stabil jika untuk waktu lama hampir tak mengalami

perubahan bentuk. Kestabilan pantai ditentukan oleh berbagai faktor eksternal dan

internal. Faktor eksternal meliputi arus, gelombang, angin, maupun pasang surut,

sedangkan faktor internal menyangkut karakteristik, tipe sedimen, serta lapisan

dasar di mana sedimen itu berada.

Penggalian pasir pantai akan mengakibatkan dampak berupa perubahan

batimetri, pola arus, pola gelombang, dan erosi pantai. Apabila dasar perairan

digali untuk penambangan pasir, maka permukaan dasar perairan akan semakin
dalam. Dampaknya, lereng pantai menjadi lebih terjal sehingga menimbulkan

ketidakstabilan lereng pantai.

Aktivitas penambangan pasir laut mengakibatkan perubahan pola arus, baik

arus yang diakibatkan oleh pasang surut maupun oleh gelombang, perubahan

energi gelombang, dan perubahan pola sebaran sedimen pantai. Perubahan pola

faktor-faktor eksternal ini dapat berdampak pada pemacuan intensitas erosi.

Mengingat pendalaman dasar perairan depan garis pantai akan

menurunkan/menghilangkan efek peredaman gelombang, energi gelombang yang

menggempur pantai menjadi semakin besar.

Selain menurunkan efek peredaman, pendalaman dasar perairan di sekitar

pantai juga menimbulkan perubahan pola arah gelombang yang lebih dikenal

sebagai refraksi. Di daerah laut dalam, gelombang merambat tidak dipengaruhi

dasar laut. Akan tetapi, di daerah laut transisi dan dangkal penjalaran perambatan

gelombang sangatlah dipengaruhi oleh dasar laut. Refraksi mempunyai pengaruh

besar terhadap distribusi energi gelombang di sepanjang pantai. Perubahan arah

gelombang akibat refraksi akan menghasilkan konvergensi (konsentrasi) dan

divergensi (penyebaran) energi gelombang. Pada titik terjadinya konsentrasi

gelombang, intensitas erosi akan meningkat.

Pantai dikatakan stabil apabila massa sedimen yang ditranspor oleh arus

sejajar pantai dalam jumlah konstan sepanjang pantai. Penambangan pasir

menimbulkan kawah yang bisa mengganggu keseimbangan transpor sedimen

sejajar pantai. Kawah menyebabkan terperangkapnya sedimen sejajar pantai

sehingga jumlah massa sedimen berkurang. Untuk menutupi defisit ini,


gelombang dan arus sejajar pantai berusaha mengerosi dinding pantai sebelah hilir

(downdrift) kawah.

Dampak yang ditimbulkan penambangan pasir laut terhadap perubahan garis

pantai pastilah berbeda, bergantung pada tipe dan material pembentuk pantai.

Secara umum, berdasarkan material penyusunnya, pantai dapat dibedakan sebagai

berikut. Pertama, pantai berbatu. Biasanya dicirikan dengan dinding pantai terjal

yang langsung berhubungan dengan laut. Pada daerah yang terlindung,

keberadaan tebing pantai ini terdapat agak jauh dari pantai, dengan karakteristik

pantai berpasir. Jenis pantai tebing dapat ditemukan dalam dua tipe, yaitu tebing

karang dengan material lepas yang gampang hancur atau runtuh dan tebing batuan

induk yang umumnya keras dan tidak mudah hancur.

Pengikisan pantai merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan

garis pantai. Apabila proses ini berlangsung secara terus-menerus tanpa ada faktor

penghambat, maka proses pengikisan akan berlanjut pada daratan pulau tersebut.

Skala waktu, luas daratan, besaran energi eksternal, dan daya tahan material

penyusun daratan pulau akan menentukan apakah daratan tersebut akan hilang

atau tenggelam. Upaya mitigasi Kembali pada apakah penambangan pasir laut

akan berdampak tenggelamnya sebuah pulau, ini perlu dijawab secara hati-hati.

Secara tidak langsung dan pada skala waktu yang lama, kemungkinan ini akan

terjadi. Namun di sisi lain, dengan mengenal sifat dasar dinamika pantai dan

faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perubahan bentuk garis pantai, kita

dapat merekomendasi lokasi optimal untuk penambangan pasir laut dengan

dampak minimal perubahan keseimbangan alam dengan beberapa upaya. Pertama,

menetapkan kedalaman dan kemiringan/keterjalan maksimum lereng pantai yang


dapat mencegah terjadinya longsoran di daerah pantai akibat penambangan pasir

laut di daerah pantai (aspek geoteknologi). Kedua, menetapkan kedalaman

penambangan pasir untuk mencegah terjadinya perubahan pola gelombang yang

mengakibatkan konsentrasi gelombang di suatu tempat tertentu di pantai yang

dapat mengakibatkan terjadinya gangguan stabilitas pantai (aspek

hidrooseanografi). Mengingat penambangan pasir laut di sekitar pantai berdampak

signifikan terhadap stabilitas pantai, maka penetapan zona penambangan pasir

akan ideal apabila dilakukan di daerah perairan laut dalam.

2.2. Akibat penambangan pasir laut terhadap perikanan dan ekosistem

pantai

Penambangan pasir di laut merupakan salah satu aktivitas yang dilarang. Aktivitas

ini melanggar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 (revisi atas Undang-Undang

Nomor 27 Tahun 2007) tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau

Kecil. Pelarangan penambangan pasir baik di wilayah pesisir maupun di wilayah

pulau-pulau kecil bukan tanpa alasan.

Aktivitas ini memiliki efek/dampak negatif diantaranya : penambangan

pasir laut menyebabkan tingkat kekeruhan air laut sangat tinggi. Keruhnya air laut

akan berdampak pada terumbu karang sebagai habitat pemijahan, peneluran,

pembesaran anak, dan mencari makan bagi sejumlah besar organisme laut,

terutama yang memiliki nilai ekonomis penting. jika terumbu karang tercemar,

kematian biota laut di dalamnya pun akan tercemar. Hanya beberapa jenis biota

yang bisa bertahan.


Terumbu karang keberadaannya dipengaruhi kejernihan air, mudah rusak

bahkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan endapan. Penambangan pasir

laut juga memicu berkurangnya hasil tangkapan ikan oleh nelayan. Hal ini

disebabkan seluruh isi laut disedot tanpa pandang buluh. Tidak hanya pasir yang

diangkat, tetapi telur-telur, anak ikan, terumbu karang, serta biota lainnya juga

ikut musnah.

Salah satu kerusakan lingkungan yaitu terjadi pada wilayah pantai,

misalnya penambangan pasir laut yang berdampak pada rusaknya lingkungan

pantai. Secara spesifik dampak yang ditimbulkan dari penambangan pasir laut

adalah :

1. Rusaknya Infrastuktur di sekitar lokasi penambangan, hal ini terjadi karena

banyaknya truk pengangkut pasir di sekitar lokasi yang hilir mudik dengan

jumlah tonase yang melebihi kapasitas.

2. Rusaknya berbagai ekosistem pesisir dan laut, antara lain :

a. Ekosistem Hutan Bakau (Mangrove), Akibat dari kegiatan penambangan

pasir laut, menyebabkan kerusakan yang terjadi antara lain berkurangnya

kadar oksigen dalam air akibat sedimentasi/pengendapan yang berlebihan,

berubahnya fungsi hutan bakau sebagai penahan abrasi dan ekosistem

biota laut.

b. Ekosistem trumbu karang Rusaknya trumbu karang dapat mengakibatkan

antara lain abrasi, penurunan produktifitas perairan menurunnya daya tarik

wisata bahari dan menurunnya tingkat kesejahteraan nelayan.

3. Menimbulkan lingkungan kritis di wilayah pesisir, dalam jangka panjang

penambangan pasir laut menimbulkan kerusakan pada lingkungan pesisir


sehingga membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya. Hal ini sudah

terjadi di berbagai wilayah Indonesia

4. Bergesernya bibir pantai akan berpengaruh pada pengelolaan batas wilayah,

karena berubahnya Zona Ekonomi Eksklusif. Dimana disatu pihak bahwa

kabupaten atau kota hanya punya kewenangan pengelolaan wilayah laut saja

tetapi tidak punya wilayah laut, namun ada pula yang menginterprestasikan

bahwa kabupaten atau kota mempunyai wilayah laut dan kewenangan sejauh

4 mil laut. Sedangkan, provinsi mempunyai laut dari 4 mil sampai 12 mil

serta pemerintah pusat mempunyai wilayah laut dari 12 mil samapi Zona

Ekonomi Eksklusif (ZEE).

2.3. Antisipasi atau peraturan pembangan pasir laut

Penambangan pasir laut dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dampak

lingkungan, dampak ekonomi, maupun dampak sosial. Kegiatan penambangan,

pengerukan, pengangkutan, dan perdagangan pasir laut yang berlangsung tidak

terkendali telah menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir dan laut. Penambangan

pasir laut mengakibatkan perairan laut menjadi keruh sehingga ikan-ikan

bermigrasi dan akhirnya nelayan mengalami penurunan hasil tangkapan.

Kerusakan tambak udang di beberapa wilayah penambangan pasir laut pun telah

mengakibatkan penurunan pendapatan petani tambak pada tingkat yang sangat

rendah. Selain itu terjadinya kerusakan sarana produksi nelayan (alat-alat tengkap)

yang semua itu bermuara pada menurunnya kesejahteraan nelayan.

Penambangan pasir laut juga telah memunculkan dampak sosial berupa

terjadinya konflik baik antara masyarakat dengan pemda, masyarakat dengan

pengusaha penambangan pasir laut maupun konflik internal dalam masyarakat itu
sendiri. Konflik antara masyarakat dengan pemerintah berujung pada demonstrasi

yang menuntut dihentikannya penambangan pasir laut. Konflik internal yang

terjadi di masyarakat ditandai dengan adanya ketidakpercayaan antar anggota

masyarakat. Masyarakat tersegmentasi menjadi kelompok yang pro dan kelompok

yang kontra terhadap penambangan pasir laut. Konflik sebenarnya juga terjadi

antara pemda dan perusahaan penambang. Perusahaan harus membayar pajak

sesuai dengan data laporan yang didasari transported volume, sedangkan

perusahaan menerima harga pasir laut berdasarkan produksi yang didasari oleh

pengukuran topografi di darat, kondisi ini jelas rawan manipulasi.

Menghadapi dilema tersebut, maka implikasi kebijakan yang muncul

semestinya adalah bagaimana penambangan pasir laut memberikan manfaat

optimal serta terjadi alokasi manfaat yang dirasakan lebih adil diantara

stakeholder terutama masyarakat nelayan serta meminimalkan berbagai dampak,

baik lingkungan, ekonomi maupun sosial. Pengendalian ini dilaksanakan mulai

tahap perencanaan hingga pengawasan/monitoring.

Selama ini, minimnya sistem pengendalian telah mengakibatkan tidak

diketahuinya apa yang sebenarnya terjadi dalam operasi penambangan pasir laut

di lapangan. Untuk itu pengendalian penting dilakukan, baik pada aspek

eksploitasi, biofisik maupun lingkungan.

Pengendalian eksploitasi harus dilakukan mulai dari tahap pra

penambangan, tahap penambangan, dan pasca penambangan sesuai dengan

Kepmen Kelautan dan Perikanan No 01/K/P4L/VIII/2002. Mengingat dampak

lingkungan yang ditimbulkan dari penambangan pasir laut yang berdimensi

jangka panjang maka diperlukan suatu pembatasan eksploitasi baik pembatasan


produksi pasir laut maupun pembatasan hak (limited term right) pemanfaatan

pasir laut, sehingga pihak pemanfaat pasir laut tidak terus menerus melakukan

ekstraksi jangka panjang. Selain itu diperlukan sistem kuota untuk membatasi

eksploitasi pasir laut yang berlebihan. Hal ini diperlukan agar pihak pemanfaat

pasir laut melakukan aktivitas penambangan secara terkendali. Pengendalian

biofisik dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan dampak fisik dari

penambangan pasir laut yaitu abrasi.

Upaya dilakukan dengan membuat tanggul-tanggul pemecah ombak,

penanaman kembali tanaman bakau untuk meredam energi gelombang sebelum

menghempas ke pantai, juga dapat dilakukan dengan membuat terumbu karang

buatan.Dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penambangan pasir laut

merupakan isu terbesar dalam pengelolaan pasir laut sehingga pengendalian

dampak ini memberikan porsi yang besar. Upaya pengendalian dilakukan dengan

pengaturan lokasi penambangan, pengaturan aktivitas penambangan, pengaturan

kualitas air serta pengawasan.

Hal ini perlu dilakukan karena seringkali penambangan dilakukan pada

daerah-daerah tangkapan nelayan (fishing ground), sementara sebagian besar

nelayan lokal hanya memiliki daya jelajah maksimal 2 mil, sehingga perlu diatur

zona-zona penambangan yang tidak berbenturan dengan daerah-daerah tangkapan

nelayan.

Selain itu zona penambangan harus memperhatikan keberadaan pulau-pulau

kecil karena merupakan daerah potensial untuk pengembangan perikanan maupun

wisata bahari.Semua upaya pengendalian harus diiringi dengan pengawasan yang

intensif dan sungguh-sungguh, yang memiliki kekuatan hukum serta ditunjang


oleh sumberdaya manusia yang berintegritas dan memiliki kemampuan teknis

yang memadai.

Pengelolaan pasir laut juga perlu diintegrasikan dengan pengelolaan wilayah

pesisir secara lebih luas yakni dengan mengintegrasikan kebijakan penambangan

pasir laut dengan kegiatan industri dan perikanan. Diperlukan upaya alternatif

pemyelesaian untuk mengatasi konflik yg terjadi disertai dengan program-

program community development yang lebih intensif dan terarah. Secara lebih

luas pengelolaan pasir laut harus terintegrasi dengan pengelolaan wilayah pesisir

sehingga diperlukan koordinasi dan integrasi kebijakan antara pemerintah

kabupaten, propinsi dan pemerintah pusat.